Jiwa Ksatria Jilid 12

Mode Malam
  
Liong Seng Hong yang sedang belum dapat mengambil keputusan perlu ataukah tidak ia membantu Thie Po Leng saat itu telah melihat Soa Thiat San menghampiri, ia yang masih tidak tahu kepandaian orang she Soa itu, lalu berkata sambil tertawa dingin:

“Apakah kau adalah orang yang bernama Soa Thiat San itu? Kau menjadi Pangcu apa? Mengapa sebagai seorang pemimpin, kau tidak bisa kendalikan anak buahmu? Dan sekarang bahkan masih berani akan bertindak terhadap diriku. Hem, nampaknya kalian hanya merupakan gerombolan manusia rendah kalangan Kang-ouw, tentunya bukan orang-orang dari golongan yang mempunyai nama.”

Soa Thiat San sesaat tercengang mendengar perkataan yang tidak enak itu, tetapi kemudian ia tertawa terbahak-bahak dan berkata:

“Budak hina tidak tahu diri, kau sungguh berani mati buka mulut dan berkata sembarangan dihadapanku. Tahukah kau bahwa aku si orang she Soa bukanlah seorang yang gemar pipi licin, sudah tentu aku tidak merasa kasihan atau sayang dengan kecantikanmu. Sekarang kau bertemu denganku, sedikit banyak harus kau merasakan tangan besiku. He, he, kau mempunyai mata tetapi tidak ada bijinya. Sekarang aku suruh kau menyaksikan dan merasakan kepandaiannya orang yang kau anggap golongan rendah dari kalangan kang-ouw itu.”

Liong Seng Hong acuh tak acuh saja, ia segera menyerang Soa Thiat San dengan goloknya.

Soa Thiat San merasa geli, ia memutar kedua tangannya, dengan menggunakan gerak tipu merampas senjata musuh dengan tangan kosong, ia hendak merampas golok Liong Seng Hong.

Ilmunya menggeser kaki menukar serangan, adalah setiap menggeser kakinya satu langkah, mengganti gerak tipu serangan tangannya. Bagi orang biasa saja, di dalam tujuh langkah dan tujuh kali serangan pasti akan binasa, maka serangannya itu dinamakan memindahkan nyawa dalam tujuh langkah.

Untung Liong Seng Hong sangat gesit dan lincah, dengan kelincahan itu ia berhasil menghindarkan dirinya tertangkap, sebaliknya goloknya kadang-kadang mengancam tangan musuhnya. Namun demikian, karena serangan Soa Thiat San itu tiap kali berlainan gerak tipunya maka baru sepuluh jurus lebih, Liong Seng Hong juga mulai kewalahan.

Im masih untung ilmu golok Liong Seng Hong mempunyai perobahan-perobahan gerak tipu yang sangat aneh, dan semua itu, belum pernah disaksikan oleh Soa Thiat San, sehingga tidak berani bertindak secara ceroboh. Jikalau tidak, sudah sejak tadi Liong Seng Hong tidak sanggup melawannya.

Di pihaknya Can Pek Sin berdua yang menghadapi tiga lawan, sebaliknya malah berada di atas angin. Tetapi ketika melihat keadaan Liong Seng Hong sangat berbahaya ia berusaha hendak mempercepat jalannya pertempuran, maka dalam satu serangan yang sangat ganas ia melukai salah satu musuhnya supaya mengundurkan diri.

Serangan Liong Seng Hong yang hanya memperhatikan serangannya tetapi tidak memikirkan penjagaannya, inilah tidak semestinya dilakukan oleh orang yang berkepandaian tinggi dan sudah banyak pengalaman. Maka Soa Thiat San segera menganggap bahwa gadis itu hanya merupakan seorang anak ayam yang baru keluar dari kandang, dalam satu serangan, dianggapnya pasti berhasil merampas senjatanya.

Tak disangka bahwa ilmu golok Liong Seng Hong ini sangat aneh. Ia berkeberanian besar tetapi mempunyai perhitungan cermat, ia memang sengaja memancing musuhnya supaya merampas goloknya. Maka sewaktu Soa Thiat San hendak turun tangan, ilmu golok Liong Seng Hong tiba-tiba berobah, ia menyerang ke arah bagian yang tidak dapat diduga oleh Soa Thiat San.

Soa Thiat San terperanjat. Ia merasakan angin dingin menyambar mukanya, ternyata golok Liong Seng Hong lewat di pipinya, hampir saja terpapas putung.

Serangan Liong Seng Hong tadi sebetulnya hendak membacok kepala, tetapi ternyata meleset maka diam-diam ia merasa sayang. Ia tak menyangka bahwa kepandaian Soa Thiat San sebetulnya masih jauh di atas dirinya.

Setelah Soa Thiat San berhasil menghindarkan serangan itu, ia juga tidak berani memandang ringan musuhnya.

Pada saat itu pikiran Thie Po Leng juga sudah jernih kembali, maka ilmu pedangnya dapat digunakan seperti biasa.

Can Pek Sin menarik napas lagi, ia berkata dengan suara perlahan:

“Enci Leng, kita harus bekerja sama dengan nona Liong untuk menghadapi musuh tangguh ini, pertikaian antara kita sendiri, boleh tinggalkan dulu. Sekarang aku hendak membantunya, kau harus berlaku hati- hati.”

“Kau pergi saja, aku tidak perlu dengan bantuanmu,” jawabnya Thie Po Leng meskipun masih mengandung rasa gusar, tetapi sudah mau bicara dengan Can Pek Sin. Mukanya juga tidak menunjukkan sikap marah lagi.

Can Pek Sin juga tidak menghiraukan, karena dianggapnya kepandaian enci Leng nya itu tidak di bawah musuhnya, sekalipun menghadapi dua musuh tetapi tentu masih bertahan satu jam. Sebabnya adalah Liong Seng Hong yang segera perlu dibantu, karena jikalau tidak pasti akan jatuh di tangan musuhnya.

Dugaan Can Pek Sin ternyata tepat, saat itu Soa Thiat San sedang mendesak hebat dan hendak menotok jalan darah Liong Seng Hong.

Can Pek Sin segera bertindak, sambil berseru: “Tahan!” pedangnya juga mengarah jalan darah Soa Thiat San.

Serangannya itu ditujukan ke arah yang sangat berbahaya. Sudah tentu Soa Thiat San harus menolong dirinya sendiri lebih dulu. Dengan demikian, ia terpaksa mengurungkan maksudnya menotok Liong Seng Hong, sebaliknya menyambut serangan Can Pek Sin lebih dulu.

Liong Seng Hong yang terlepas dari bahaya dengan cepat segera menyerang musuhnya dari tiga jurusan.  Soa Thiat San sangat marah, katanya dengan suara keras:

“Bagus sekali, kau bocah ini untung dapat meloloskan jiwamu satu kali, tetapi kau berani main gila! Aku

pasti tidak akan membiarkan kalian bisa hidup lagi.”

Dengan kedua tangannya ia melancarkan serangan serentak dengan gerak tipu berlainan, sebentar menyerang Can Pek Sin dan sebentar menyerang Liong Seng Hong.

Can Pek Sin melesat tinggi, ia mengeluarkan ilmu serangannya yang meniru burung terbang, serangan yang seharusnya menggunakan tangan kini telah digunakan dengan senjata pedang. Liong Seng Hong juga mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk menyerang musuhnya.

Karena ilmu pedang dan ilmu golok dua anak muda itu, semua terdiri dari gerak tipu serangan tingkatan kelas satu, meskipun kekuatan tenaganya belum sebanding dengan Soa Thiat San, tetapi juga tidak mudah bagi Soa Thiat San untuk merebut kemenangan.

Soa Thiat San yang tidak berhasil menjatuhkan dua lawannya yang masih muda belia itu hatinya merasa sangat cemas.

Sementara Thay Lok menyaksikan pertandingan itu sambil berpeluk tangan, kadang-kadang memberikan pujiannya.

Kiranya kedatangannya ke daerah Tiong-goan justru ingin menggunakan kesempatan tersebut untuk mempelajari ilmu silat berbagai partai dan golongan di daerah Tiong-goan, gerak tipu serangan mengambil nyawa dalam tujuh langkah digunakan oleh Soa Thiat San, gerak tipu serangan Liong Seng Hong yang boleh digunakan dengan memakai pedang atau golok serta gerak tipu Can Pek Sin yang meniru gerakan binatang terbang.

Semua ini nerupakan gerak tipu tersendiri dari daerah Tiong-goan. Walaupun kepandaian orang-orang itu masih belum dapat dibandingkan dengan kepandaiannya sendiri, tetapi semua kepandaian itu ada harganya untuk dijadikan bahan pengetahuan, maka ia menyaksikannya dengan seksama.

Ia juga menahan diri, sebelum diminta oleh Soa Thiat San ia tidak mau bertindak.

Karena pujiannya itu bukan hanya ditujukan terhadap Soa Thiat San saja, tetapi juga terhadap Can Pek Sin dan Liong Seng Hong, maka dalam telinga Soa Thiat San, suara pujian itu sangat tidak enak baginya. Ia merasa malu apabila tidak sanggup menjatuhkan dua lawannya yang masih ingusan itu.

Setelah mengeluarkan seluruh kepandaianya, akhirnya ia mendapat posisi agak baik, tetapi keadaan itu hanya sebentar saja, biar bagaimana ia masih belum mampu merebut kemenangan.

Di lain pihak, keadaan Thie Po Leng juga hampir serupa.

Selagi pertempuran masih berlangsung sengit, dari jauh tiba-tiba tampak dua orang lari mendatangi. Seorang yang berjalan di muka segera memperdengarkan suara tertawanya terbahak-bahak kemudian disusul oleh kata-katanya: “Soa pangcu, bagus sekali kepandaianmu. Hanya sayang sedikit kau bertanding dengan dua bocah yang masih ingusan. Apakah kau tidak akan merasa kehilangan muka dan kedudukanmu? Mereka semua adalah sahabat-sahabat kecilku, urusan apa mereka telah melanggar kau? Biarlah aku yang menggantikannya.”

Dua orang yang baru datang itu adalah Lam Hee Lui dan Lam Chun Lui kakak beradik. Meskipun usia Lam Hee Lui juga belum tua tetapi dalam usia sekitar lima-enambelas tahun ia sudah mulai merantau di kalangan Kang-ouw, ia sudah berkelana hampir sepuluh tahun. Selama sepuluh tahun itu, jago-jago golongan muda di kalangan Kang-ouw, kecuali Toan Khek Gee, dialah yang terhitung mendapat nama cemerlang. Maka kedudukannya setaraf dengan Soa Thiat San.

Sementara dengan cara bagaimana mereka bisa datang kemari? Itulah disebabkan setelah Can Pek Sin pergi, Lam Chun Lui merasa tidak enak. Semula ia menganggap Can Pek Sin ada mempunyai hubungan asmara dengan Liong Seng Hong, tetapi kemudian ia pikir lagi bahwa hal itu tidaklah sewajarnya, maka diam-diam lalu memberitahukan kepada saudara tuanya. Lam Hee Lui setelah mendengar laporannya adiknya juga merasa heran. Ia dengan keluarga Liong dan keluarga Bok yang menjadi kakak menantu Liong Seng Hong, juga bersahabat erat dengan encinya Liong Seng Hong juga pernah memintanya supaya mengawasi sang adik yang sifatnya agak galak itu. Meskipun antara ia dengan Liong Seng Hong masih merasa kurang enak hati karena gagalnya soal perkawinan mereka, tetapi apabila terjadi sesuatu atas diri nona itu di mana ia sedang berada, bagaimana ia ada muka untuk menghadapi kakak perempuannya dan suaminya.

Oleh karenanya, maka ia segera mengajak adiknya untuk menyusul Can Pek Sin.

Lam Hee Lui hanya khawatir jikalau kedatangannya itu akan menimbulkan salah paham semakin besar dari Liong Seng Hong. Ia sungguh tidak menduga akan menjumpai Soa Thiat San sendiri.

Soa Thiat San yang sedang bermusuhan keras dengan Chiu Tong, dan Lam Hee Lui itu merupakan sahabat baik Chiu Tong, dengan sendirinya merupakan musuh besarnya juga, maka setelah berhadapan satu sama lain, tidak mungkin lagi untuk menghindarkan pertempuran itu. Itulah sebabnya Lam Hee Lui segera merasa tanggung jawab atas semua kejadian yang ditimbulkan oleh Can Pek Sin maupun Liong Seng Hong dengan secara terang-terangan yang menantang Soa Thiat San.

Soa Thiat San sudah tentu juga tidak mau mengunjukan kelemahannya, sambil tertawa terbahak-bahak, ia berkata:

“Perempuan baju merah ini telah melukai anak buahku, dan bocah she Can ini adalah musuh besar Touw toako, dengan terus terang aku hendak tangkap bocah ini dan ini budak perempuan itu aku juga hendak bacok dengan golokku seperti apa yang ia lakukan terhadap anak buahku. Sekarang Lam Tayhiap hendak menanggung urusan ini, aku ingin bertanya, bagaimana harus dibuatnya perhitungan?”

“Siapa yang betul dan siapa yang salah, sekarang jangan dibicarakan dulu. Karena aku sudah menyatakan hendak tanggung jawab urusan mereka, maka rekening ini kau boleh minta kepadaku. Asal kau bisa menangkan aku, baik kau hendak tangkap hidup aku atau potong badanku, semua terserah kepadamu sendiri!” jawab Lam Hee Lui sambil tertawa dingin.

“Bagus, Lam tayhiap ternyata adalah seorang yang suka berterus terang, baiklah kita membuat perhitungan begitu saja. Tetapi, aku hendak menerangkan lebih dahulu, dalam suatu pertandingan sudah tentu pihak yang menang berarti kuat, namun sebelum dapat ketentuan siapa yang menang dan siapa yang kalah, orang yang berada di sini semua tidak boleh pergi! Baiklah kalian berdua sekarang boleh mundur, aku akan bertanding dengan Lam Tayhiap!”

Can Pek Sin dan Liong Seng Hong sudah mengundurkan diri, Siu Gouw di lain pihak karena khawatir mereka membantu Thie Po Leng maka ketika mendengar perkataan Pangcunya, juga menghentikan serangannya.

Thie Po Leng tidak suka tinggal bersama-sama dengan Can Pek Sin dan Liong Seng Hong lalu berkata: “Kalian ada bermusuhan apa, ada hubungan apa denganku?”

Tanpa memperdulikan permintaan Soa Thiat San tadi, ia hendak memaksa untuk berlalu. Siu Gouw menganggap dirinya tidak sanggup menahan berlalunya nona itu dan Can Pek Sin, terpaksa minta bantuan Thay Lok.

Sambil menengadah ke atas Thay Lok berkata dengan suara hambar, “Kau turut saja perintah Pangcu kalian, ada aku di sini, takut apa?”

Siu Gouw karena mendapat tunjangan Thay Lok, sikapnya menjadi lain, sambil melintangkan goloknya ia berkata dengan suara bengis:

“Jangan pergi!”

Thie Po Leng masih belum tahu kelihaian Thay Lok. Ia masih hendak memaksa jalan selagi hendak bentrok lagi dengan Siu Gouw.

Can Pek Sin sudah kenal benar kepandaian Thay Lok segera mencegahnya dan berkata: “Enci Leng jangan pergi dulu, aku ingin bicara denganmu. Urusan Yaya mu aku masih belum menjelaskannya.”

Bagaimana kematian Yayanya? Itu memang masih merupakan suatu pertanyaan dalam hati Thie Po Leng. Apakah karena marah terhadapnya ataukah mati di tangan Lauw Bong atau ayahnya?

Hanya itu kedua sebab saja yang ia dapat pikirkan, tetapi bagaimanapun juga serupa saja, semua merupakan suatu pukulan hebat bagi dirinya.

Ucapan Can Pek Sin itu justru menyangkut persoalan yang menjadi perhatiannya. Salah paham yang sudah terlalu dalam terhadap Can Pek Sin itu terpaksa di kesampingkan dengan sendirinya lalu berhenti.

“Aku hanya ingin satu hal saja, kapan meninggalnya Yaya ku itu?” demikian Thie Po Leng berkata dengan suara gemetar. Ia tidak berani bertanya secara langsung sebab kematiannya, sehingga harus mengajukan pertanyaan secara memutar.

“Tepat pada malam itu ketika kau meninggalkan rumah.”

Hati Thie Po Leng berdebaran, karena malam itu bukankah berarti binasa di tangan Lauw Bong atau ayahnya?

Paras Thie Po Leng berubah seketika pucat bagaikan kertas. “Apakah mati terbunuh?”

“Mati karena terluka parah.”

Thie Po Leng menangis, ia tidak berani bertanya lagi.

“Apakah kau tidak ingin tahu siapa yang membunuh Yaya mu?” demikian Can Pek Sin bertanya. “Kau, kau tidak perlu menerangkan lagi!”

“Tidak, aku harus memberitahukannya kepadamu, sebab pembunuh Yaya mu adalah Touw Goan!” Thie Po Leng tercengang, katanya:

“Apa? Siapa katamu?” “Touw Goan!”

Saat itu hati Thie Po Leng merasa, meskipun masih ragu-ragu, sudah agak ringan.

“Touw Goan? Orang itu bukankah justru musuh besarmu sendiri yang telah membinasakan ayah bundamu?” berkata Thie Po Leng yang ia ucapkan dengan tanpa sadar. Sebab selama ini ia belum pernah menceritakan kepada Can Pek Sin bahwa ia sudah mencuri dengar rahasia itu.

“Benar, Touw Goan adalah musuh besarku, juga menjadi musuhmu! Aku masih perlu memberitahukannya kepadamu, Soa Thiat San ini adalah adik angkat Touw Goan!”

Siu Gouw yang mendengarkan pembicaraan mereka, lalu berkata sambil tertawa menyengir:

“Kiranya kalian berdua adalah musuh toako! Ha, ha, ini sungguh kebetulan! Bagus sekali, kau budak hina ini bahkan masih berani mengatakan tidak ada hubungannya dengan urusan di sini!”

Soa Thiat San yang mendengar ucapan Siu Gouw, lalu berkata:

“Siu jitee, jangan merusak peraturan, nanti setelah aku mendapat keputusan siapa yang menang dan yang kalah dengan Lam tayhiap, baru boleh membereskan mereka.”

Siu Gouw berdiri tegak sambil mendekap golok dalam pelukannya, ia berkata: “Itu benar. Biar bagaimana mereka tokh tidak akan bisa terbang dari sini.” Thie Po Leng marah sekali, ia berkata dengan suara keras:

“Bagus, aku sebetulnya hendak pergi, tetapi sekarang tidak lagi.”

Can Pek Sin memang hendak menahannya supaya bisa menerangkan persoalan yang menimpa nasib kakeknya, maka sebelum enci Lengnya berlalu, ia mengatakan soal permusuhannya dengan Touw Goan.

Iapun mengerti, menurut tata tertib dunia Kang-ouw, masih ada kesempatan untuk mengharapkan pihak Lam Hee Lui terhadap Soa Thiat San, kemudian baru bersama-sama menghadapi Thay Lok. Apabila saat itu Thie Po Leng memaksa pergi, pasti tidak bisa lolos dari tangan Thay Lok.

Lam Hee Lui yang sudah tidak sabar, segera berkata:

“Sudahlah, mari kita mulai!”

Ilmu serangan Soa Thiat San, sebetulnya terdiri dari kelincahan, kecepatan, kekerasan dan keganasan, baginya sangat menguntungkan apabila melakukan serangan lebih dulu, maka ucapan Lam Hee Lui itu justru yang dikehendaki olehnya. Namun demikian, mulutnya masih pura-pura berlaku merendah, katanya:

“Lam tayhiap sebagai orang yang datang dari jauh, termasuk tetamu kita. Tuan rumah seharusnya mempersilahkan tetamunya bertindak lebih dulu, ini adalah suatu keharusan dalam tata tertib dunia Kang- ouw...”

“Siapa ingin kau mengalah? Tidak usah banyak bicara! Lekas turun tangan!” bentak Lam Hee Lui. Namun Soa Thiat San masih berkata:

“Ini, mana boleh? Aku si orang she Soa ada lebih tua beberapa tahun darimu.” Lam Hee Lui sudah tidak sabar lagi, bentaknya pula:

“Kau sebetulnya mau menurut atau tidak?”

Soa Thiat San tiba-tiba melancarkan satu serangan ke arah Lam Hee Lui sambil mengeluarkan perkataan: “Baiklah.”

Dan setelah melakukan serangannya, baru berkata pula: “Kalau Lam tayhiap memang berlaku merendah, aku si orang she Soa terpaksa menuruti kehendakmu!”

Semua orang mengira ia belum bertindak, tak diduga ia sudah melancarkan serangannya dengan tiba-tiba. Ini sesungguhnya di luar dugaan semua orang. Kiranya Soa Thiat San yang memang sangat licik, ia sengaja berlaku ayal-ayalan dan mengucapkan perkataan merendah, supaya lawannya tidak siap sedia.

Tetapi Lam Hee Lui sedikitpun ia tidak gugup, selagi serangan itu akan mengenakan dirinya, dengan cepat menggerakkan goloknya, balas menyerang lengan kanan Soa Thiat San.

Serangan itu sangat tepat pada waktunya, lagi pula sangat jitu arahnya, apabila Soa Thiat San tidak segera menarik kembali tangannya, kedua-duanya pasti terluka.

Lam Hee Lui paling-paling terluka oleh serangan tangannya, tetapi ia sendiri akan kehilangan sebelah tangannya.

Dalam keadaan demikian, tentu Soa Thiat San tidak mau mengadu kekerasan. Tetapi ia juga tidak menarik kembali tangannya. Dalam saat yang cepat sekali, ia sudah merubah serangannya, tangannya membuat satu lingkaran, kakinya sudah bergerak mengikuti arah yang ditujukan oleh ujung golok Lam Hee Lui, berputaran dengan sangat lincahnya.

Dengan demikian, ujung golok Lam Hee Lui hanya terpisah tiga dim saja, tidak berhasil mengutungi lengannya, sedang telapakan tangan Soa Thiat San liwat di bawah ketiak kiri Lam Hee Lui. Kedua orang itu bergerak sama-sama cepat dan gesit, sebentar saja Soa Thiat San sudah menggeser kakinya tiga kali, serangannya sudah berganti tiga rupa, Lam Hee Lui juga sudah melancarkan serangan goloknya, sampai tigapuluh enam kali. Tetapi kedua pihak masih belum ada tanda-tanda siapa yang lebih unggul dan siapa yang asor.

Pertempuran itu semakin lama semakin hebat, setiap gerak tipu serangannya juga semakin berbahaya. Kedua pihak sudah bermandikan keringat.

Thay Lok ingin menggantikan kedudukan Soa Thiat San, tetapi itu ada melanggar tata tertib dunia Kang- ouw, juga akan merendahkan kedudukannya sendiri.

Dengan tanpa dirasa, fajar sudah menyingsing. Dua orang bertempur sudah tigaratus jurus lebih, keduanya sudah basah kuyup dengan air peluh, napas mereka terdengar jauh.

Thay Lok khawatir kedua-duanya akan terluka, maka lalu berkata:

“Soa pangcu kau beristirahatlah dahulu sebentar, biarlah aku yang melayani Lam tayhiap, bagaimana?”

Soa Thiat San yang kedudukannya agak baik, hatinya merasa bimbang. Ia tidak ingin menunjukkan kelemahan dihadapan Thay Lok, tetapi ia sendiri tidak mempunyai keyakinan untuk mendapat kemenangan, maka juga takut kalau-kalau dia terluka.

Sebelum ia menjawab, tiba-tiba terdengar suara siulan panjang. Mula-mula kedengarannya jauh sekali tetapi dalam waktu sekejap mata saja, suara itu agaknya sudah di samping telinga, sehingga semua yang mendengarnya sangat terkejut.

Dengan secara tiba-tiba, terdengar suara tertawa dan ucapannya Khong-khong Jie. “Soa Thiat San, kali ini aku telah mendapat kamu, kau masih hendak lari kemana?”

Bukan kepalang terkejutnya Soa Thiat San, ia yang memang selisih tidak banyak dengan kepandaian Lam Hee Lui, kini karena mendadak dikejutkan oleh kedatangan Khong-khong Jie, sehingga terkena serangan golok Lam Hee Lui, untung lukanya tidak parah.

Kecepatan Khong-khong Jie sesungguhnya tidak dapat dibayangkan oleh pikiran manusia, masih terdengar suara tertawanya, orangnya tiba-tiba sudah berada di depan mata Soa Thiat San, dengan mengeluarkan suara “plak” pipi Soa Thiat San sudah ditampar dengan telak.

Tetapi ia hanya memberi tamparan keras saja, tidak menurunkan tangan kejam.

Terdengar pula suaranya, “Sungguh sial, anjing yang sudah terluka, aku Khong-khong Jie tidak boleh membunuhnya, kali ini kau boleh merasa beruntung nyawamu tidak melayang.”

Soa Thiat San sungguh tidak menyangka, bahwa golok Lam Hee Lui yang melukai dirinya berarti menolong selembar jiwanya. Maka ia segera lari terbirit-birit.

Sewaktu Khong-khong Jie muncul secara tiba-tiba, Thay Lok tidak tahu kalau ia tak akan membinasakan Soa Thiat San.

Kedatangannya yang diminta oleh Soa Thiat San justru untuk menghadapi lawan tangguh ini, maka seketika itu juga ia segera siap untuk menghadapi lawan tangguh ini, maka seketika itu juga ia segera menerjang maju dan tepat setelah Soa Thiat San tertampar pipinya oleh Khong-khong Jie, ia sudah menggantikan kedudukan Soa Thiat San.

Thay Lok segera melancarkan serangannya dengan menggunakan ilmu ‘Hut-kut-ciang’ yang mengandung racun, sehingga telapak tangan Khong-khong Jie merasa kesemutan dan badannya tergoncang.

“Aku justru merasa gatal tanganku, karena tidak menemukan lawan yang setimpal. Kedatanganmu sangat kebetulan, karena dengan demikian aku boleh melatih otot-ototku, jangan sampai menjadi kendor. Sekalipun serangan tanganmu yang beracun ini dari golongan sesat, dan kekuatanmu juga cukup sempurna, sehingga masih pantas menjadi lawan main-mainku! Bagus, bagus, mari mengadu sekali lagi. Aku ingin melihat ilmu serangan tangan beracunmu dapat melukai diriku atau tidak?” demikian Khong- khong Jie berkata sambil tertawa bergelak-gelak.

Thay Lok mendengar kata Khong-khong Jie tidak takut tangan beracun, dalam hati juga terkejut. Tetapi dalam perjalanannya ke daerah Tiong-goan hari ini, ia sudah sesumbar hendak mengadu kekuatan dengan orang-orang kuat daerah Tiong-goan, sedangkan undangan Soa Thiat San kali maksudnya juga memintanya khusus menghadapi Khong-khong Jie. Apabila ia dalam satu gebrakan sudah kena digertak oleh Khong-khong Jie, bukankah itu akan ditertawakan orang?

Khong-khong Jie berkata pula sambil tertawa:

“Bagaimana? Kau berani atan tidak? Aku memberi kesempatan kepadamu untuk menyerang tiga jurus lebih dulu.”

“Siapa sudi kau memberikan kesempatan?” jawab Thay Lok dengan suara keras, yang segera melancarkan serangannya lagi.

Khong-khong Jie dengan gayanya yang manis mengelakkan serangan tersebut, sehingga serangan itu mengenakan tempat kosong.

“Aku sudah berkata memberikan kesempatan kepadamu untuk menyerang lebih dulu, sudah tentu tidak akan balas menyerang. Kau tidak usah khawatir, boleh melakukan serangan sesukamu tidak perlu kau menggunakan pikiran untuk menjaga dirimu,” berkata Khong-khong Jie sambil tertawa.

Thay Lok tidak banyak bicara lagi, karena tubuhnya lebih tinggi dari pada Khong-khong Jie, maka sambil merangkap dua tangannya, tiba-tiba menyerang kepala Khong-khong Jie.

Dengan cepat ia menjongkokkan badannya, ia molos meliwati bawah ketiak Thay Lok, sambil melemparkan sebuah dompet seraya berkata:

“Aku sedang kekurangan uang, maka ingin pinjam uangmu untuk dipakai, harap kau jangan kecil hati.”

Kiranya sewaktu ia molos dari bawah ketiak orang tadi, sebagai seorang tukang copet yang lihai, tangannya sudah berhasil merogoh saku orang, setelah mengambil uang itu, dikembalikan dompetnya.

Kerugian sedikit uang bagi Thay Lok tidak berarti apa-apa, tetapi kehilangan muka dihadapan orang begitu banyak, inilah yang dirasakan hebat. Dan apa yang sangat mendongkolkan, Khong-khong Jie setelah mengembalikan dompetnya, bahkan maju di hadapannya sambil tertawa cengar cengir mengejeknya.

Thay Lok menggeram kaki dan tangannya melakukan serangan serentak, serangan tangannya tidak terhitung aneh, tetapi serangan dengan kakinya merupakan gerakan kaki tersendiri. Ia dapat melakukan tendangan dengan kedua kakinya secara beruntun meliwati kepala Khong-khong Jie sedang tumit kakinya masih dapat mengarah jalan darah di atas jidat Khong-khong Jie.

Serangan ini sangat hebat dan berbahaya, oleh karena Khong-khong Jie diam-diam sudah berkata tidak akan balas menyerang, maka ia berani menggunakannya.

Khong-khong Jie diam-diam juga memuji hebatnya serangan itu, bagaikan asap ia melesat tinggi ke atas, sehingga ujung kaki Thay Lok hanya menyentuh celana Khong-khong Jie. Sebetulnya Thay Lok masih hendak menendang kakinya, tetapi tidak kena, sebaliknya sepatu Thay Lok kena disambar oleh Khong- khong Jie sehingga terlepas dari kakinya.

Khong-khong Jie lalu tertawa terbahak-bahak kemudian berkata:

“Aku hanya main-main saja denganmu, ini bukan terhitung balas menyerang. Nah, sekarang tiga jurus sudah lewat harus menjadi giliranku untuk menyambut seranganmu. Lekaslah pakai sepatumu.”

Dengan muka merah padam Thay Lok membentak dengan suara keras:

“Kau hanya menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk menghindari seranganku, ini apa artinya? Apakah kau berani mengadu kekuatan denganku?” “Mengapa tidak berani?” berkata Khong-khong Jie sambil tertawa. Dengan cepat segera melanjutkan serangannya!”

Karena Thay Lok menyambut serangan itu dengan menggunakan kekerasan, maka beradunya kedua kekuatan itu menimbulkan suara hebat.

Tay-lok merasakan dadanya bagaikan terkena pukulan palu godam, sehingga darahnya dirasakan menggolak. Ia terperanjat, sehingga dalam hatinya berpikir: Aku hanya mengira ilmu meringankan tubuh Khong-khong Jie sudah tidak ada duanya di dalam dunia, kekuatan tenaga dalamnya belum tentu dapat menandingi kekuatanku. Sungguh tidak disangka kekuatannya agaknya lebih tinggi setingkat dariku. Apabila mengadu kekuatan terus menerus secara begini, barangkali sebelum racun yang ia terima itu bekerja, aku sudah tidak sanggup melayani lagi.

Karena berpikir demikian, maka ia segera melompat mundur, tetapi kakinya masih belum bisa berdiri tegak, sehingga harus berputaran untuk menahan supaya dirinya jangan rubuh.

Khong-khong Jie tidak maju menyerang lagi, sebaliknya berkata sambil tertawa terbahak-bahak:

“Bagaimana, agaknya kau tidak sanggup menerima pukulanku. Tidak apa, aku boleh memberikan kesempatan bagimu untuk bernapas sebentar. Sungguh sayang apabila kau jatuh begitu saja, dan dengan tidak mudah aku baru menemukan tandingan yang agak setimpal. Aku masih belum merasa puas benar- benar. Maka biar bagaimana kau harus melayani aku sampai puas.”

Khong-khong Jie juga menggunakan kesempatan itu untuk membasmi racun dalam tubuhnya. Setelah Thay-lok berdiri tegak ia baru maju lagi dan berkata sambil tertawa:

“Kau sudah berani berkelahi denganku, ini berarti kau harus menuruti keinginanku. Aku suka berkelahi berapa lama, kau juga harus melayani sampai berapa lama. Apabila kau masih mempunyai kepandaian lain, kau boleh keluarkan seluruhnya!”

Pada saat itu Soa Thiat San dan anak buahnya tiba-tiba lari simpang siur. Karena Soa Thiat San yang semula mengharapkan Thay Lok dapat mengalahkan Khong-khong Jie, ternyata kini telah dipermainkan olehnya, maka ia sangat khawatir. Apabila Khong-khong Jie sudah membereskan Thay Lok nanti akan menyerang dia lagi.

Thay Lok yang ditinggalkan begitu saja, benar-benar terkejut dan mendongkol sekali. Ia sangat mendongkol karena ditinggalkan begitu saja oleh Soa Thiat San tanpa memikirkan keadaannya. Ini berarti sudah tidak memandang sahabat lagi terhadapnya. Ia terkejut karena dirinya yang dianggapnya sudah merupakan satu jago terkuat, tidak tahunya dipermainkan oleh Khong-khong Jie demikian rupa. Sekalipun ia hendak menyerah, Khong-khong Jie juga tidak akan melepaskannya begitu saja.

Ketika diserang lagi oleh Khong-khong Jie, tanpa memandang kedudukannya sendiri Thay Lok bergelindingan di tanah, tangannya meraup pasir dilemparkan kepada Khong-khong Jie.

Khong-khong Jie segera berseru:

“Loh! ini berkelahi cara apa?”

Ia segera maju menghampiri hendak menghantamnya. Thay Lok segera melompat bangun dengan demikian terhindar dari serangan Khong-khong Jie.

Khong-khong Jie berkata pula:

“Eh, gerakanmu ini sedikit luar biasa, ya begitulah, apa yang kau mampu kau boleh keluarkan semuanya, dengan demikian aku baru merasa puas.”

Kiranya pada waktu itu tubuh Thay Lok yang tinggi besar nampak bergoyang-goyang bagaikan orang mabuk arak, serangannya juga tidak keruan.

Can Pek Sin dan lain-lainnya yang menyaksikan gerakan itu, setelah memandang beberapa lama, baru memahami kedahsyatan gerakan itu. Karena dengan cara yang demikian, ia dapat menghindarkan mengadu kekuatan terus menerus dari serangan yang dilancarkan oleh Khong-khong Jie, dengan cara itu ia baru menyambuti dengan kekerasan apabila sudah terpaksa tidak dapat menyingkir lagi. Maksud Thay Lok dengan menggunakan ilmu silat itu ialah hendak mengulur waktu, supaya racun dalam tubuh Khong-khong Jie lekas bekerja.

Lam Hee Lui dapat menebak maksud Thay Lok itu, ia merasa agak khawatir, maka lalu berseru:

“Khong-khong cianpwee, Chiu pangcu mendengar kabar kau datang kemari, ia ingin sekali bertemu denganmu. Tidak perlu permainkan orang itu lagi, lekas dibereskan saja, supaya kita bisa pergi bersama- sama menemui Chiu pangcu.”

Tetapi Khong-khong Jie menjawab sambil tertawa,

“Perlu apa kau merasa cemas? Hendak bertemu dengan Chiu Tong, ini sulit. Aku masih ingin mencoba kekuatan tenaga dalamku sampai di mana menahan serangan beracun orang ini!”

Thay Lok mengeluarlan gerak tipunya yang aneh-aneh. Khong-khong Jie juga melancarkan serangannya semakin lama semakin cepat, sehingga Lam Hee Lui juga tidak dapat melihat dengan nyata gerak tipu mereka. Tidak lama kemudian, di atas kepala Khong-khong Jie mengepul hawa putih bagaikan kabut menutupi kepalanya. Kiranya Khong-khong Jie telah menggunakan kekuatan tenaga dalam, sehingga racun dari serangan tangan Thay Lok yang ada di dalam tubuhnya, semua dikeluarkan melalui keringatnya.

Selagi pertempuran berlangsung ramai, tiba-tiba terdengar suara bentakan Khong-khong Jie: “Sahabat orang kuat dari mana, bolehkah aku menanyakan maksud kedatanganmu?”

Khong-khong Jie selalu tidak menggunakan istilah orang kuat secara serampangan, maka semua orang yang mendengarnya terkejut. Sesaat kemudian mereka baru mengetahui bahwa di luar kalangan sudah tambah satu orang lagi, yang merupakan seorang laki-laki dan berpakaian berwarna hijau.

Laki-laki itu lalu segera menyahut sambil tertawa:

“Bagus, ini benar-benar merupakan kepandaian yang jarang ada di dalam dunia, hingga membuka mataku si orang she Hoa!”

Can Pek Sin lalu berkata dengan suara girang: “Hoa lo-cianpwee, kau datang!”

Kiranya laki-laki itu bukan lain daripada Hoa Ciong Tay. Thay Lok dan Hoa Ciong Thay keduanya merupakan orang ternama dari pada daerah luar perbatasan, satu sama lain sudah saling mengenalnya. Thay Lok yang saat itu sedang dalam kedudukan sulit tidak bisa melepaskan diri maka ketika melihat kedatangannya, lalu berkata dengan suara girang:

“Hoa tayhiap, tahukah kau siapa orang ini? Orang ini adalah Khong-khong Jie yang dahulu pernah sesumbar hendak mencari kau untuk mengadu kepandaian. Kedatanganmu kebetulan, apakah kau ingin turun ke gelanggang main-main dengannya?”

“Aku sudah tua, sudah tidak mempunyai kegembiraan semacam itu lagi. Sebaiknya biarlah aku berdiri di samping sebagai penonton saja,” jawab Hoa Ciong Tay sambil tertawa.

Thay Lok sangat gelisah, ia terpaksa meminta bantuannya secara terus terang tanpa malu-malu lagi. “Hoa tayhiap, benarkah kau tidak pandang mata sahabat? Bantulah aku!”

“Menonton sandiwara di bawah panggung bukankah lebih nikmat dari pada main sendiri di atas panggung? Mengapa aku harus membantumu?”

Khong-khong Jie tiba-tiba tertawa panjang, kedua tangannya bergerak, bagaikan kucing menerkam tikus, ia menangkap Thay Lok yang bertubuh tinggi besar kemudian dibantingnya, seraya berkata:

“Aku sudah mempunyai tandingan yang lebih baik, sekarang tidak perlu kau lagi, enyahlah!”

Thay Lok bagaikan pesakitan yang mendapat ampun, ia segera merayap bangun dan lari terbirit-birit. Khong-khong Jie dengan cepat sudah berada di hadapan Hoa Ciong Tay, katanya dengan nada suara dingin:

“Kau tidak ingin berkelahi denganku, tetapi aku justru mencari kau untuk berkelahi. Pendek kata sandiwara ini tidak boleh tidak kau harus turut main!”

Hoa Ciong Tay juga seorang yang beradat tinggi, dahulu ia selalu menghindarkan diri dari Khong-khong Jie, itu semata-mata karena masih mengingat hubungannya dengan Sin Cie Kow.

Pada saat itu melihat sikapnya Khong-khong Jie yang mendesak terus, juga merasa tidak senang, katanya,

“Kalau begitu, kau bermaksud memaksa aku mengawani kau main sandiwara. Hanya, hari ini aku tidak ingin menarik keuntungan darimu.”

“Keuntungan apa yang kau dapatkan dariku?”

“Kau tadi sudah bertempur sekian lama dengan Thay Lok, biarlah aku tunggu kau sehingga pulih tenagamu, baru bicara lagi.”

“Apakah kau kira aku bertempur dengan Thay Lok, pernah menggunakan tenaga? Coba kau lihat apakah aku ada tanda-tanda terkena racun serangan tangannya?”

Karena racun dalam tubuhnya sudah dikeluarkan semua, memang benar sudah tidak ada sedikitpun racun dalam tubuhnya. Tetapi karena mengeluarkan keringat terlalu banyak, pakaiannya sudah basah kuyup bagaikan ayam kecebur sungai, keadaannya memang menyedihkan. Kalau dikata sama sekali tidak menggunakan tenaga itulah tidak benar.

Hoa Ciong Tay mengawasinya sejenak, lalu berkata sambil tertawa:

“Manusia harus mengenal keadaan sendiri. Memang benar, kau tidak bisa terkena racun tetapi biar bagaimana tenagamu tokh terpengaruh juga. Kalau kita terpaksa berkelahi harus berkelahi sepuas- puasnya, perlu apa aku harus menarik keuntungan darimu?”

“Kau berani memandang rendah diriku? Apa salahnya tenagaku terpengaruh sedikit saja. Apa kau kira aku harus menggunakan seluruh kekuatan tenaga baru dapat mengalahkan kau?”

Hoa Ciong Tay paling benci orang lain tidak pandang mata dirinya, maka seketika itu wajahnya segera berobah, katanya:

“Khong-khong Jie apakah kau kira aku takut kepadamu? Tetapi kau harus memenuhi permintaanku, aku baru suka bertanding denganmu.”

“Permintaan apa? Lekas kau katakan!”

“Kau boleh menyebutkan suatu cara, tetapi kau harus memilih cara pertandingan yang menguntungkan bagimu. Jikalau tidak, aku tidak mau bertanding. Sebab dengan demikian barulah adil. Siapapun tidak ada yang menarik keuntungan!”

Khong-khong Jie yang sudah lama ingin mengadu kepandaian dengan Hoa Ciong Tay, sesaat itu lalu berpikir: Apabila aku menyebutkan suatu cara sembarangan, ia pasti tidak akan menerima baik. Apa boleh buat, ia juga terhitung salah seorang terkuat dalam rimba persilatan, biar bagaimana harus memberi muka kepadanya.

Khong-khong Jie setelah berpikir demikian lalu berkata:

“Baiklah, bukankah tadi kau berkata hendak mengawani aku main sandiwara di atas panggung? Sekarang mari kita gunakan pagoda ini sebagai panggung komedi. Aku dengan kau bertanding di tingkat paling atas pagoda ini.” Pagoda itu terdiri tujuh susun. Bagian bawah besar, bagian atas kecil. Dari permukaan tanah sehingga tingkat paling atas setinggi delapanbelas tombak. Apabila dua orang bertanding di ujung tinggi atas pagoda itu, tempat itu tidak seberapa luas. Tidak saja bisa segera terjatuh dari atas apabila terkena serangan lawannya, tetapi juga bisa terpeleset jatuh apabila salah bertindak.

Hoa Ciong Tay yang masih belum lenyap rasa mendongkolnya, lalu berkata sambil menganggukkan kepala:

“Baik, dengan demikian barulah adil!”

Harus diketahui bahwa ilmu meringankan tubuh Khong-khong Jie dalam dunia rimba persilatan sudah tidak ada tandingannya. Bertanding di atas pagoda, sudah tentu menguntungkan Khong-khong Jie.

Can Pek Sin yang mendengarkan itu, bukan kepalang terkejutnya, maka segera berkata:

“Untuk menguji kepandaian, itulah merupakan suatu hal yang wajar, tetapi kedua locianpwee sama-sama merupakan orang sendiri, perlu apa demikian sungguh sungguh?”

Khong-khong Jie tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata:

“Kau bocah ini mengerti apa? Jikalau tidak sungguh-sungguh, perlu apa bertanding? Baiklah, orang she Hoa, silahkan!”

Khong-khong Jie segera bergerak, bagaikan seekor burung bangau yang melesat tinggi ke atas, ujung kaki menotol payon pagoda tingkat ketiga, ujung kaki kanan sewaktu menginjak, ternyata sudah berada di tingkat kelima. Ketika untuk ketiga kali ia bergerak lagi tahu-tahu sudah berdiri di bagian yang paling atas.

Oleh karena gerak badannya terlalu cepat, semua orang yang di bawah tidak dapat melihat dengan nyata, dengan cara bagaimana kakinya itu bergerak, itu seolah-olah burung yang terbang ke atas.

Sebaliknya dengan Hoa Ciong Tay, sekali meloncat ia dapat mencapai ketingkat ketiga. Ia juga tidak dapat menggunakan ujung kakinya dengan beruntun mencapai ke tempat itu. Ia hanya menggunakan tangan naik ke atas setingkat demi setingkat. Meskipun juga cepat, tetapi kalau dibanding dengan ilmu meringankan tubuh Khong-khong Jie, ternyata masih kalah.

“Kau mempunyai gelar dengan sepasang pena dapat menyapu ribuan tentara, aku justru ingin belajar kenal dengan senjatamu yang ampuh itu!” demikian Khong-khong Jie berkata.

“Ini hanya sahabat-sahabat dunia Kang-ouw yang menempelkan mas di mukaku. Bagaimana aku sesuai dengan gelar? Tetapi jikalau kau pasti menginginkan aku menunjukan pertunjukkan dengan senjata itu, aku minta supaya kau menunjukkan kesalahannya! Ilmu pedangmu yang bernama Wan-kong-kiam-hoat sekali bergerak dapat menotok sembilan tempat bagian jalan darah, ilmu pedangmu ini aku juga sudah lama ingin mengenalnya. Sudikah kiranya kau juga memberikan pertunjukkan dengan ilmu pedangmu itu?”

Khong-khong Jie yang dalam waktu belakangan ini sudah meningkatkan ilmu kepandaiannya itu sampai demikian rupa, sehingga dapat menggunakan jari tangannya sebagai gantinya pedang, maka ia tidak menggunakan pedang lagi. Sebaliknya dengan jari tangannya ia segera melakukan serangan terhadap Hoa Ciong Tay. Benar saja serangan itu merupakan semacam serangan mengarah jalan darah yang sangat dahsyat, bahkan lebih lihay daripada menggunakan pedang.

Hoa Ciong Tay juga diam-diam terkejut, untung dahulu ia pernah mencoba kepandaian Tiat Ceng, sehingga sedikit banyak sudah dapat mengenal gerak geriknya ilmu pedang itu, jikalau tidak mungkin agak sulit untuk menghadapinya.

Dalam waktu sekejap mata saja serangan Khong-khong Jie itu, sudah mengancam sembilan tempat bagian jalan darah Hoa Ciong Tay dengan gerak tipunya yang sangat aneh dan kekuatan tenaganya yang sangat hebat.

Sambil memberi pujian Hoa Ciong Tay juga menggunakan kedua senjatanya yang berbentuk alat tulis itu, mengarahkan urat nadi dan otot-otot sekujur badan Khong-khong Jie. Karena senjata itu lebih panjang dari pada jari tangan, maka dalam hal senjata ia menarik sedikit keuntungan.

Kekuatan serangan Khong-khong Jie ternyata tidak dapat menggerakkan badannya, dan serangan senjata Hoa Ciong Tay sedikitpun tidak menunjukkan tanda kalut. Sebaliknya adalah Khong-khong Jie yang  terdesak tidak dapat mendekati badannya, sehingga Khong-khong Jie diam-diam memuji kepandaian lawannya.

Keduanya saling mengagumi, tetapi pertandingan berjalan semakin seru dan berbahaya.

Khong-khong Jie menggunakan ilmu meringankan tubuh yang tanpa tandingan, dengan kepandaian itu untuk melayani lawannya.

Genteng pagoda yang terbuat dari bahan beling, permukaan genteng itu sangat licin, dengan sendirinya agak sulit dapat diinjaknya dengan tegak. Khong-khong Jie dengan rupa-rupa akal, mengeluarkan serangannya yang sangat berbahaya, hendak memancing Hoa Ciong Tay ke pinggir supaya dapat mendorongnya turun ke bawah.

Belum pernah terjadi suatu pertandingan yang sangat berbahaya seperti itu. Can Pek Sin dan lain-lainnya yang menyaksikan dari bawah, semua sudah mengeluarkan keringat dingin dan menahan napas.

Hoa Ciong Tay mengeluarkan seluruh kepandaiannya, dengan sangat hati-hati ia menghadapi lawannya, supaya jangan sampai terpancing olehnya. Namun demikian gerak tipu Khong-khong Jie yang luar biasa anehnya itu, ada beberapa bagian yang Hoa Ciong Tay belum mengenalnya, sehingga beberapa kali hampir terdesak ke pinggir.

Tetapi kepandaian Hoa Ciong Tay menggunakan sepasang senjata itu, benar-benar sudah mahir sekali, dengan kepandaian ilmu menotok jalan darah Khong-khong Jie sangat berimbang.

Dalam hal kekuatan tenaga dalam Hoa Ciong Tay masih menang setingkat.

Tetapi dalam hal ilmu meringankan tubuh, sebaliknya adalah Khong-khong Jie yang lebih tinggi. Hanya Khong-khong Jie yang sedang bernapsu, hampir saja permulaan menguasai keadaan. Ia selalu mengambil inisiatip menyerang, maka dipandangan orang luar, Hoa Ciong Tay berada dalam keadaan sangat berbahaya.

Dalam suatu pertempuran sengit, Khong-khong Jie melesat keluar dan mengitari atap genteng dengan menggunakan gerak tipu bunga jatuh ke tanah, tiba-tiba memutar kedua tangannya menotok jalan darah bagian lutut dan paha Hoa Ciong Tay.

Serangan itu luar biasa anehnya dan berbahaya pula, dalam keadaan demikian Hoa Ciong Tay lalu berpikir: Kalau aku tidak melukainya, dia pasti melukai aku.

Dengan tanpa banyak pikir lagi, ia segera mengerahkan tenaganya ke ujung senjata, segera menancapkannya ke permukaan genteng, maksudnya hendak melepaskan diri dari serangan Khong- khong Jie juga hendak mendesaknya supaya tidak dapat mendekati dirinya.

Serangan Khong-khong Jie tadi terlalu berbahaya. Dalam keadaan demikian, sekarang dialah yang mengalami sedikit kerugian. Sekalipun ia segera melesat menyingkir, tetapi bajunya juga sudah terlubang oleh senjata Hoa Ciong Tay.

Tetapi bersaman dengan itu kaki Hoa Ciong Tay juga sudah menghancurkan genteng yang diinjaknya.

Hoa Ciong Tay mengira bahwa serangan pembalasannya tadi, sedikit banyak akan melukai Khong-khong Jie, tak disangka hanya melobangi bajunya saja, maka diam-diam ia merasa kagum, lalu berkata:

“Hitunglah aku kalah satu jurus, bolehkah menghentikan pertandingan ini?”

Hoa Ciong Tay mengajukan usul itu karena merasa sayang dan takut apabila terluka keduanya, maka ia ingin menyudahi pertandingan supaya satu sama lainnya jangan sampai kehilangan muka. Tetapi karena ucapannya yang mengaku kalah tadi, dalam pendengaran Khong-khong Jie dianggapnya ia yang sudah kalah, maka adat Khong-khong Jie yang mau menang saja, sudah tentu tidak mau menerimanya. Maka ucapan itu bukan saja menarik hasil baik, sebaliknya mengakibatkan bertambah marahnya Khong-khong Jie.

“Kau tidak perlu mengejek aku, kau masih belum kalah, apakah aku harus menerima kekalahanmu begitu saja? Biar bagaimana hari ini kita harus berkelahi sampai mendapatkan keputusan siapa yang lebih unggul,” jawab Khong-khong Jie gusar. Sementara itu ia sudah melancarkan serangannya yang bertubi- tubi, sehingga Hoa Ciong Tay yang hendak menunda pertandingan itu tidak berdaya sama sekali.

Meskipun sifat Hoa Ciong Tay tidak seperti Khong-khong Jie yang mau menang sendiri saja, tetapi ia juga seorang yang beradat tinggi hati, mendengar ucapan Khong-khong Jie itu, juga tidak dapat mengendalikan amarahnya lagi.

Pertempuran berlangsung lagi, kedua pihak sama-sama mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Pertempuran itu mendebarkan hati Can Pek Sin dan lain-lainnya yang menyaksikan dari bawah.

Tidak lama lagi, di atas kepala Khong-khong Jie sudah mengepul hawa putih, badannya sudah bermandikan keringat.

Hoa Ciong Tay di bawah serangan begitu hebat, beberapa kali keadaannya sangat berbahaya. Walaupun dapat menghadapinya dengan baik, tetapi diam-diam juga terkejut. Dalam hatinya berpikir: Jikalau bukan karena ia tadi tidak bertempur dengan Thay Lok, mungkin aku benar-benar tidak sanggup menghadapinya.

Khong-khong Jie yang berulang-ulang melancarkan serangannya masih tidak berhasil menjatuhkan lawannya, diam-diam juga terkejut, pikirannya: Pertandingan di atas pagoda ini aku sebetulnya sudah dapat keuntungan, namun masih belum berhasil menjatuhkannya, apabila bertanding di atas tanah, mungkin belum dapat mengalahkannya.

Tetapi walaupun kedua pihak sama-sama mengagumi kepandaian lawannya, karena sudah telanjur omong besar, siapapun tidak mau mengaku kalah lebih dulu, maka terpaksa bertempur terus.

Dilihat sepintas lalu, kelihatannya Khong-khong Jie yang menguasai seluruh keadaan dengan serangannya yang bertubi-tubi, tetapi sebetulnya adalah Hoa Ciong Tay yang berada di atas angin.

Pertandingan itu sangat mengkhawatirkan Can Pek Sin dan lain-lain. Mereka tidak tahu dengan cara bagaimana dapat menghentikan pertandingan itu, karena salah satu pihak saja yang terluka, merupakan suatu hal yang tidak dikehendaki oleh mereka.

Lam Chun Lui dengan suara perlahan bertanya kepada Can Pek Sin:

“Can toako, Hoa lo-cianpwee inilah yang kau katakan orang luar biasa rimba persilatan yang pernah menolong Tiat Ceng? Bukankah Tiat Ceng sedang berobat dengannya? Bukankah lo-cianpwee ini masih mempunyai seorang putri? Mengapa mereka tidak ikut bersama-sama?”

Can Pek Sin segera tergerak hatinya, ia lalu berseru kepada Khong-khong Jie:

“Khong-khong cianpwee, harap mengingat budi baik lo-cianpwee yang pernah menolong jiwa muridmu, hentikanlah pertandingan ini!”

Sebelum Khong-khong Jie menjawab, Hoa Ciong Tay sudah berkata:

“Tidak perlu urusan muridnya dibawa-bawa kepada suhunya. Aku menolong Tiat Ceng semata-mata karena berjodoh denganku, tidak perlu suhunya turut menanggung budi.”

Can Pek Sin sebetulnya bermaksud baik, tetapi dalam keadaan bingung bicaranya tanpa dipikir, sehingga ucapannya itu justru melanggar pantangan Hoa Ciong Tay.

Khong-khong Jie yang beradat suka menang sendiri, walaupun agak payah tetapi juga tidak mau menyerah mentah-mentah maka segera menjawabnya dengan nada suara dingin:

“Benar, pertandingan ini biar bagaimana harus sampai habis. Setelah dapat ketentuan, aku nanti akan berlutut dihadapanmu untuk mengucapkan terima kasih!” Can Pek Sin semakin gelisah, tetapi ia tidak berdaya sama sekali.

Selagi masing-masing dalam keadaan serba salah, dari jauh tiba-tiba melihat seorang berlari mendatangi bagaikan terbang. Setiba di bawah pagoda, orang baru melihat tegas bahwa orang itu adalah seorang perempuan setengah umur yang berdandan bagaikan paderi perempuan.

Can Pek Sin segera dapat mengenali perempuan itu, dengan suara girang ia berseru: “Sin lo-cianpwee, kedatanganmu sangat kebetulan!”

Perempuan itu yang bukan lain dari pada Sin Cie Kow, tidak menghiraukan ucapan Can Pek Sin, sebaliknya membentak kepada dua orang yang sedang berkelahi:

“Kalian berebut apa? Perlu apa bertanding? Lekas berhenti! Hem, hem, Khong-khong Jie kau dengar ucapanku atau tidak?”

Khong-khong Jie yang tidak takut segala apa, hanya takut kepada istrinya. Ketika mendengar ucapan istrinya hatinya sedikit bimbang.

Ia takut apabila segera menghentikan pertandingan itu berarti menyerah terhadap Hoa Ciong Tay, namun demikian, gerakannya mulai kendor.

Sebelum ia membuka mulutnya untuk menghentikan pertandingan itu, tiba-tiba Hoa Ciong Tay berseru: “Oh”, kemudian melayang turun dari atas pagoda.

Kiranya Hoa Ciong Tay ketika melihat kedatangan Sin Cie Kow, karena hendak memberi muka kepadanya, maka ia sengaja mengalah, ia pura-pura terpeleset dan melayang turun.

Sebaliknya dengan Khong-khong Jie yang tidak menduga tindakan Hoa Ciong Tay itu, maka seketika itu ia terkejut dan berseru:

“Apakah artinya ini?”

Belum lagi hilang perasaan herannya, tiba-tiba dikejutkan oleh kejadian yang lain.

Kiranya ilmu meringankan tubuhnya tak semahir Khong-khong Jie. Sewaktu dirinya masih jumpalitan di tengah udara, tiba-tiba terdengar suara menyambarnya senjata rahasia. Dua buah batu kecil entah dari mana, tetapi sudah terang dilepaskan orang berkepandaian tinggi secara menggelap ke arah Hoa Ciong Tay.

Hoa Ciong Tay yang masih berjumpalitan di tengah udara sudah tentu tidak dapat mengelakkan serangan itu. Untung Khong-khong Jie yang mengetahui bahaya itu, dengan kecepatan bagaikan kilat ia melompat turun, tangannya menyambar butir yang pertama, kemudian menggunakan batu itu untuk menyerang batu yang kedua sehingga terjatuh di tanah, bersama dengan Hoa Ciong Tay melayang turun ke tanah dengan selamat.

Khong-khong Jie sangat marah, ia segera berkata dengan suara keras:

“Bersembunyi di tempat gelap dan membokong orang secara pengecut, apakah itu perbuatannya seorang gagah? Hem, kau sekarang hendak sembunyi juga sudah tidak mungkin lagi, tidak boleh tidak aku akan menyeret kau keluar!”

Khong-khong Jie dari suara melayangnya batu tadi dapat mengenali arah penyerangnya maka secepat kilat ia segera melayang ke arah sebuah tempat yang agak tinggi. Benar saja di belakang tanah yang menonjol itu nampak keluar dirinya seseorang.

Orang itu bentuknya sangat aneh. Tubuhnya kurus kering bagaikan gala, tetapi kepalanya sangat besar, rambutnya tak teratur, kulitnya kuning pucat. Nampaknya seperti seorang berpenyakitan, tetapi sepasang matanya yang lebar, memancarkan sinar tajam. Orang itu ketika melihat kedatangan Khong-khong Jie, ternyata sedikitpun tidak merasa takut, sebaliknya malah menyambut sambil berkata dengan nada suara dingin:

“Khong-khong Jie, orang lain boleh takut kepadamu, tetapi aku tidak!” “Kau mahluk macam apa, berani buka mulut besar di hadapanku!” Kedua tangannya lalu bergerak menghajar kepala orang itu.

Khong-khong Jie nampaknya gusar sekali karena perbuatan pengecut orang itu dan ucapannya yang  terlalu sombong, maka sekali bergerak sudah mengeluarkan serangannya yang mematikan.

Orang itu juga menggunakan sepasang tangan kosong untuk menyambut serangan Khong-khong Jie. Ketika kedua kekuatan saling beradu, Khong-khong Jie terdorong mundur oleh kekuatan tangan orang itu.

Ia terperanjat dan terheran-heran, entah dari mana munculnya manusia itu? Apakah lebih kuat daripada Hoa Ciong Tay?

Sebetulnya, kekuatan dan kepandaian orang itu meskipun tergolong ‘orang terkuat’, tetapi apabila dibandingkan dengan Hoa Ciong Tay, masih belum seimbang. Sedangkan kekuatan tenaga dalam Khong- khong Jie juga lebih menang setingkat. Tetapi karena Khong-khong Jie agak gegabah, ia lupa bahwa tadi habis bertempur dengan Hoa Ciong Tay, sehingga kekuatan tenaganya terhambur tidak sedikit.

Orang itu mulutnya mengatakan tidak takut Khong-khong Jie, itulah bohong. Justru karena takut Khong- khong Jie dan Hoa Ciong Tay maka barulah ia melakukan pembokongan, dengan maksud untuk menarik keuntungan.

Ia bersembunyi di tempat gelap, menggunakan senjata gelap menyerang orang yang sedang berada dalam keadaan tidak berjaga-jaga. Maksudnya ialah lebih dulu ia hendak membinasakan Hoa Ciong Tay, dan kemudian Khong-khong Jie. Ia benar-benar tidak menyangka kalau khong-khong Jie bisa menolong musuhnya,sehingga rencana orang itu buyar seluruhnya.

Tetapi kini setelah mengadu kekuatan, benar-benar ia tidak takut kepada Khong-khong Jie, ia hanya takut kalau-kalau Sin Cie Kow datang memberi bantuan. Maka ia segera mengambil keputusan, sebelum Sin Cie Kow tiba, ia akan membunuh atau setidak-tidaknya melukai dulu Khong-khong Jie baru kabur.

Khong-khong Jie diam-diam mengeluh, tetapi seumur hidupnya ia belum pernah minta pertolongan orang, sekalipun terhadap istrinya sendiri, karena perbuatan demikian dianggapnya menunjukkan kelemahannya sendiri.

Untung meski kekuatan tenaganya hampir habis tetapi ilmu meringankan tubuhnya masih lebih dari cukup untuk menghadapi musuhnya. Begitu melihat gelagat tidak baik, ia segera main kucing-kucingan dengan orang itu, maka orang itu juga tidak mudah mencapai maksud busuknya.

Di mata orang lain, gerak badan Khong-khong Jie masih tetap lincah gesit, seolah-olah masih bisa menguasai keadaan.

Hoa Ciong Tay juga benci kepada perbuatan pengecut orang itu, tetapi karena ia tahu bahwa Khong- khong Jie sudah mulai bertindak terhadap orang itu, sudah tentu ia tidak pergi menghampiri lagi.

Ia maju ke depan Sin Cie Kow, lalu berkata sambil memberi hormat:

“Kalian berdua suami istri telah mendapat nama baik di kalangan Kang-ouw, aku si orang she Hoa sebagai kawan lama, sudah tentu juga turut mendapat kehormatan. Hanya, tadi dengan tidak sengaja aku telah mengganggu suamimu harap kau sampaikan maafku kepada suamimu. Kini maaf aku hendak pergi dulu.”

Ia lalu memutar tubuhnya hendak berlalu.

Sin Cie Kow coba mencegah dengan kata-katanya:

“Sudah sepuluh tahun lebih kita tidak bertemu muka. Apakah dengan demikian kau lalu hendak berlalu begitu saja?” Dengan menindas perasaannya sendiri, Hoa Ciong Tay menjawab dengan suara hambar, “Aku tidak mau mengganggu kalian, sebaiknya aku pergi saja.”

Sin Cie Kow tahu benar adat suaminya, ia juga khawatir akan menimbulkan kecurigaan suaminya, maka ia diam saja.

Walaupun ia diam saja, tetapi suaminya segera berseru:

“Hoa Ciong Tay, bagaimana kau hendak pergi begitu saja? Tidak bisa!” Hoa Ciong Tay tercengang, jawabnya dingin:

“Aku sudah mengaku kalah, kau masih mau apa?”

“Tidak benar, tidak benar! Kau belum kalah, bagaimana boleh mengaku kalah? Aku justru hendak menerangkan soal ini denganmu, kau tunggu aku sebentar. Setelah aku membereskan manusia busuk ini, nanti kita berunding lagi tentang ilmu silat.”

Dalam hati Hoa Ciong Tay merasa mendongkol tetapi juga geli, maka lalu mendongakkan kepala dan tertawa bergelak-gelak, kemudian berkata:

“Tidak perlu siapa yang menang siapa yang kalah, namun aku sudah tidak sempat mengawani kau lagi.”

Hoa Ciong Tay mana tahu, meskipun Khong-khong Jie adalah seorang yang mau menang sendiri tetapi dia seorang jantan. Ia sendiri mengerti bahwa tadi sebetulnya sudah dikalahkan oleh Hoa Ciong Tay maka ia tidak mau menarik keuntungan secara tidak jujur. Khong-khong Jie sifatnya suka bergurau, hanya terhadap ilmu silat ia paling memperhatikan sungguh-sungguh. Menang tetap menang dan kalah tetap kalah, ia dalam hal ini ia harus menjelaskan kepada Hoa Ciong Tay.

Tetapi karena ia bertindak sedikit lengah, musuhnya itu segera mendapat kesempatan balas menyerang. Khong-khong Jie sangat murka, ia ingin segera membinasakannya, tetapi kepandaian orang itu sebaliknya tidak mudah dapat dibinasakan dengan segera. Apa lagi kekuatan tenaga Khong-khong Jie sudah hampir habis. Jangankan membinasakan, sedangkan menghadapinya saja ia harus hati-hati sekali.

Hoa Ciong Tay dan Sin Cie Kow tidak tahu bahwa kepandaian orang itu sedemikan tinggi, mereka hanya menganggapnya Khong-khong Jie sedang mempermainkannya, maka semua tidak ambil perhatian.

Dalam rimba persilatan, memang sedikit sekali jumlahnya orang yang mampu menandingi kepandaian Khong-khong Jie. Bagaimanapun mereka tidak dapat memikirkan Khong-khong Jie bisa kalah di tangan orang itu, walaupun Khong-khong Jie sudah bertempur setengah harian.

Hoa Ciong Tay takut tidak dapat melepaskan diri dari gangguan Khong-khong Jie. Setelah berbicara sebentar, ia berlalu dengan tergesa-gesa. Can Pek Sin segera memburu dan berseru:

“Hoa lo-cianpwee, di mana engko Tiat Ceng? Bagaimana keadaannya?” “Ia baik-baik saja, kau tunggu sebentar, segera akan dapat melihatnya.” Can Pek Sin sangat girang, ia bertanya pula:

“Apakah ia juga sudah datang?”

Hoa Ciong Tay tidak menjawab, sehingga sebentar sudah pergi jauh. Lam Hee Lui berkata sambil menghela napas:

“Kepandaian lo-cianpwee ini benar-benar hebat! Dengan paman Khong-khong Jie sudah bertempur setengah hari dan tokh masih bisa berjalan demikian pesat bagaikan terbang.”

Lam Chun Lui lalu berkata: “Ayahnya begitu hebat, putrinya kiranya juga tidak lemah. Entah nona Hoa itu turut datang atau tidak? Hem, apabila Tiat Ceng datang bersama-sama ia, kita di sini benar-benar ramai sekali!”

Lam Chun Lui sangat mengkhawatirkan soal perjodoban adiknya, tetapi ia tidak dapat mengatakan di hadapan Can Pek Sin dan Sin Cie Kow.

Sementara itu Sin Cie Kow nampak sangat masgul, ia berkata kepada suaminya sambil mengkerutkan alisnya:

“Khong-khong Jie, kau dengar atau tidak? Muridmu juga sudah tiba. Kau ingin menjumpainya atau tidak? Lekas bereskan manusia busuk itu, kau jangan main-main lagi!”

Belum habis ucapannya. tiba-tiba terdengar suara seruan tertahan Khong-khong Jie, orangnya lompat melesat beberapa tombak. Sewaktu turun tanah, kakinya ternyata tidak dapat berdiri tegak.

Kiranya Khong-khong Jie tadi di waktu bicara telah memberikan kesempatan kepada musuhnya untuk balas menyerang. Karena musuhnya mendesak demikian hebat, Khong-khong Jie yang benar-benar sudah kehabisan napas, terpaksa lompat menyingkir.

Sin Cie Kow yang menyaksikan keadaan demikian sangat terkejut, ia buru-buru lari menghampiri. Orang itu karena tidak dapat melukai Khong-khong Jie, ketika melihat Sin Cie Kow mengkampiri, juga lalu kabur.

Khong-khong Jie duduk bersemedi, semua orang sudah datang menghampirinya, tetapi tiada satupun yang berani buka mulut.

Tidak lama kemudian, wajah Khong-khong Jie perlahan-lahan berobah merah lagi, lalu membuka matanya.

Sin Cie Kow lalu berkata padanya:

“Kau kenapa? Apakah terluka?”

Khong-khong Jie melompat berdiri dan berkata:

“Mustahil! Bangsat itu bagaimana bisa melukai diriku? Hm, bangsat itu berani membokong selagi orang dalam keadaan bahaya, aku pasti hendak mencarinya untuk membuat perhitungan!”

“Hendak mencarinya untuk membuat perhitungan, juga tidak perlu tergesa-gesa, beristirahatlah dulu dua hari.” Demikian sang istri membujuknya.

Tetapi Khong-khong Jie memelototkan mata, dia berkata:

“Apa? Apakah kau kira aku sekarang tidak mampu menghajar manusia busuk itu? Perlu apa harus beristirahat dua hari!”

Sikap Sin Cie Kow segera berubah keren, katanya:

“Aku tidak ijinkan kau demikian mengumbar napsu dan tidak menyayangi diri sendiri, kau mendengar kataku atau tidak?’

“Hem, kau benar juga, untuk mencari bangsat itu, juga tidak perlu tergesa-gesa, aku masih ada urusan yang lebih penting, mengapa aku sudah lupa?”

“Itu benar, sebaiknya kita pergi berkunjung kepada Chiu Tong lebih dulu, minta tolong kepadanya untuk mencari kabar tentang diri Tiat Ceng.”

Di luar dugaan, Khong-khong Jie telah menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata:

“Ini bukan urusan penting.” Kemudian berkata lagi seolah-olah pada dirinya sendiri: “Musuh boleh ditunda dulu, tetapi sahabat karib tidak boleh diabaikan begitu saja. Benar, aku harus segera mengejar Hoa Ciong Tay.” Sin Cie Kow yang mendengar ucapanya itu lalu berkata:

“Kau jangan berlaku gila-gilaan lagi.”

“Kau jangan khawatir. Aku mencarinya bukan untuk diajak berkelahi, tetapi aku hendak merundingkan soal ilmu silat dengannya, bahkan aku masih hendak minta maaf kepadanya.”

Ia agaknya takut akan dirintangi oleh istrinya, maka sehabis berkata lalu lari.

Sin Cie Kow tidak bisa berbuat apa-apa, maka juga tidak bisa merintanginya lagi. Ia lalu berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala:

“Adatnya benar-benar semakin tua malah semakin seperti anak-anak. Sudahlah, kita jangan memperdulikannya, mari kita bicarakan soal kita sendiri. Lam Hiantit, bagaimana kau datang kemari? Apakah ibumu baik-baik saja?”

Sin Cie Kow dengan ibu persaudaraan Lam, kedua-duanya sama-sama terkenal di kalangan Kang-ouw sebagai pendekar wanita, apa lagi setelah ia menikah dengan Khong-khong Jie, hubungan kedua keluarga semakin erat.

Thie Po Leng sementara itu lalu berkata:

“Di sini sudah tidak ada urusanku lagi, aku hendak pergi.”

Ia masih belum lenyap rasa mendongkolnya terhadap Liong Seng Hong, ditambah lagi dengan kedukaannya atas kematian kakeknya, maka ia tidak mau berdiam lebih lama. Ia ingin sendirian dan menangis sepuas-puasnya.

Adalah Can Pek Sin yang merasa serba salah, mendengar bahwa Tiat Ceng sudah tiba di Yang-ciu, sudah tentu ingin segera menjumpainya. Tetapi dia juga tidak tega hati membiarkan Thie Po Leng pergi seorang diri. Ini bukan hanya karena cinta kasihnya yang masih belum putus, melainkan masih banyak kata-kata yang perlu dijelaskannya. Jikalau tidak hatinya tidak akan merasa tenang.

Ketika menampak Thie Po Leng hendak berlalu, ia buru-buru berkata:

“Enci Leng, apakah kau masih marah terhadapku? Urusan malam itu karena aku terpaksa. Apakah kau ingin tahu jalannya persoalan itu? Apakah kau tidak ingin tahu apa yang Yaya pesan kepadaku? Hem, enci Leng, tinggallah dulu satu atau dua hari. Tiat Ceng dan adiknya denganmu juga merupakan sahabat sejak masih anak-anak, banyak tahun tidak melihat. Apakah kau tidak ingin bertemu dulu dengan mereka baru pergi?”

Selagi Can Pek Sin masih berusaha menahan enci Lengnya, Liong Seng Hong yang tidak tahu diri juga sudah menghampiri. Meskipun ia galak, tetapi sifatnya polos dan berterus terang, begitu sampai, lalu tertawa mengikik dan berkata:

“Saudara Can, kalau enci Lengmu marah terhadapmu itu adalah bohong, yang benar adalah ia membenci aku. Baiklah, tadi malam aku berlaku salah terhadapmu, disini aku minta maaf kepadamu.”

Ia berbuat demikian sebahagian karena mengagumi kepandaian Thie Po Leng, sebahagian karena mengira Thie Po Leng mungkin balik lagi dengan Can Pek Sin. Dengan demikian berarti ia sudah bukan musuhnya lagi. Kalau bukan musuh apa salahnya bersahabat dengannya?

Thie Po Leng sebaliknya menjawab dengan suara dingin:

“Aku suka siapa atau marah kepada siapa, ini adalah urusanku sendiri, tidak perlu orang lain turut campur tangan.”

Liong Seng Hong yang mendapat jawaban demikian masih berkata sambil tertawa: “Anggap saja aku bergurau. Baiklah, aku tidak mengganggu kalian lagi.” Sin Cie Kow lalu berkata:

“Hong-jie, kau kemari. Bagaimana kau pergi kemana-mana seorang diri saja? Encimu justru memintakan untuk mengendalikan dirimu.”

Sin Cie Kow tidak menyaksikan Liong Seng Hong pernah bertempur dengan Thie Po Leng, ia hanya menyaksikan sikap dua orang itu agaknya tidak akur, maka merasa agak heran.

Liong Seng Hong segera menghampiri untuk memberi hormat, hatinya kebat-kebit. Ia takut kalau Thie Po Leng mengadu.

Thie Po Leng sudah tentu tidak akan berbuat demikian, ia melihat Can Pek Sin sejenak hatinya menjadi kalut, katanya:

“Baiklah, Siao-sin, kau ingin berkata apa ceritakanlah semuanya.”

Can Pek Sin sudah lama tidak pernah mendengar sebutan namanya yang demikian hangat, maka sebutan di waktu masih anak-anak itu dirasakannya sangat mesra. Tetapi kemudian ia berpikir: Enci Leng, karena Lauw Bong telah berkelahi dengan Liong Seng Hong. Dapat dibayangkan betapa besar cinta kasihnya terhadap Lauw Bong. Apa yang tadi dikatakannya memang benar, ia suka kepada siapa atau marah terhadap siapa, itu adalah urusannya sendiri. Aku seharusnya juga berusaha agar mereka bisa terangkat jodoh. Perlu apa mengganggu hatinya lagi?

Selagi ia masih belum tahu bagaimana harus memulai, Thie Po Leng sudah berkata lebih dulu:

“Urusan yang sudah lalu tidak perlu disebut lagi aku juga tidak sesalkan kau. Katakan saja sewaktu Yaya hendak menutup mata, meninggalkan pesan apa untukku?”

Can Pek Sin merasa berat untuk membuka mulut, sebab di waktu hendak menutup mata, Thie Sui pernah berpesan sungguh-sungguh tidak mengijinkan Thie Po Leng mengadakan perhubungan lagi dengan Lauw Bong. Tetapi bagaimana pesan itu ia dapat diberitahukan terus terang kepadanya? Maka akhirnya ia terpaksa membohong:

“Kata Yaya sangat menyesal telah mencampuri urusan dengan Lauw Bong, sehingga kau kabur meninggalkan rumah tangga, dan sampai pada akhir hayatnya Yaya tidak dapat melihat mukamu. Selanjutnya biarlah kau mengambil keputusan sendiri.”

Thie Po Leng menangis sedih sekali, ia berkata dengan suara terisak-isak:

“Yaya biar bagaimana masih cinta diriku, sebaliknya aku berlaku tidak patut terhadap Yaya. Aw! Yaya meski kau membiarkan aku mengambil keputusan sendiri, tetapi aku tidak tahu bagaimana harus berbuat?”

Can Pek Sin selagi hendak menghiburnya, tiba-tiba terdengar suara orang ribut-ribut. Banyak orang lari menuju ke bawah pagoda, yang berjalan paling depan adalah Pangcu Hay-ho-pang Chiu Tong, Tiat Ceng bersama Hoa Khiam Hong serta Lam Chiu Lui dan lain-lainnya mengikuti di belakangnya.

Kiranya Tiat Ceng tak tahu kalau ayahnya sudah pindah ke gunung Kim-kee-nia. Setelah sembuh dari lukanya, bersama Hoa Ciong Tay dan putrinya pulang ke gunung Hok-gu-san. Hoa Khiam Hong menerima baik undangannya, ia bersedia berdiam lebih lama. Sebaliknya dengan Hoa Ciong Tay, setelah mengunjungi Tiat Mo Lek akan menerjunkan diri ke dunia Kang-ouw lagi untuk mencari sahabat-sahabat lamanya di daerah Tiong-goan, sekalian mencari kabar jejak Khong-khong Jie suami istri, apabila ada kesempatan ia juga ingin bertemu muka dengan Sin Cie Kow.

Dalam perjalanan ke gunung Hok-gu-san, mereka mendengar kabar tentang jatuhnya gunung Hok-gu-san di tangan pasukan tentara negeri sedangkan ke mana perginya Tiat Mo Lek masih belum diketahui. Maka mereka lalu merobah rencana, melakukan perjalanan ke kota Yang-ciu, dengan pengharapan dapat menemukan Toan Khek Gee, baru mengambil keputusan lagi.

Tentang perginya Can Pek Sin yang hendak memenuhi perjanjian Liong Seng Hong, yang kemudian disusul oleh Lam Hee Lui dan akhirnya semua ini belum diberitahukan kepada Chiu Tong. Tetapi Lam Hee Lui yang lebih hati-hati hanya meninggalkan sepotong surat kepada Chiu Tong, dengan ringkas diterangkannya tentang maksudnya hendak mencari Can Pek Sin, setelah kembali akan mendjelaskan duduk perkaranya.

Esok paginya ketika Chiu Tong mendapat lihat surat itu, ia menunggu sampai hampir tengah hari, tetapi masih belum kelihatan mereka kembali, sehingga hatinya merasa tidak tenang. Selagi hendak mencari sendiri dengan membawa anak buahnya, kebetulan pada saat itu Hoa Ciong Tay bersama putrinya dan Tiat Ceng, telah datang berkunjung.

Chiu Tong dengan Hoa Ciong Tay satu sama lain masih belum mengenalnya, tetapi nama besar Hoa Ciong Tay sudah lama Chiu Tong mendengar dari banyak orang rimba persilatan tingkatan tua. Ketika mendengar kabar ia datang bersama anaknya Tiat Mo Lek, ia merasa terkejut bercampur girang, maka segera keluar menyambut sendiri dan memberitahukan soal itu kepada mereka.

Tiat Ceng dengar kata-kata mereka hendak mencari Can Pek Sin, sudah tentu sangat gelisah tanpa beristrahat lagi sudah ikut Chiu Tong keluar.

Hoa Ciong Tay bersama putrinya juga bantu mencari. Karena ilmu lari cepat Hoa Ciong Tay lebih mahir dari pada mereka, oleh karena ingin segera dapat menemukan Can Pek Sin, maka seorang diri ia lari lebih dulu, dan menyerahkan putrinya bersama Tiat Ceng kepada Chiu Tong.

Karena Hoa Ciong Tay lari pesat sekali, arahnya juga tepat, maka meski ia sudah bertempur dengan Khong-kkong Jie, rombongan Chiu Tong masih belum tiba.

Hoa Ciong Tay yang semula hendak mencari Can Pek Sin, diluar dugaan telah berjumpa dengan Khong- khong Jie suami istri. Setelah bertanding dengan Khong-khong Jie dan bertemu muka dengan Sin Cie Kow, tercapailah maksudnya yang sudah lama terkandung dalam hatinya maka segera hendak pergi jauh. Tentang putrinya dan Tiat Ceng ia sudah serahkan kepada Chiu Tong, sulah tentu takkan khawatir lagi. Ia membiarkan putrinya sendirian bersama-sama Tiat Ceng, juga ada maksud hendak menjodohkan putrinya dengan pemuda itu.

Kita balik kepada Can Pek Sin, setelah bertemu muka dengan Tiat Ceng, keduanya sangat girang.

Lam Hee Lui menyaksikan adik perempuannya berjalan bersama-sama dengan Hoa Khiam Hong sambil bergandengan tangan, nampaknya sangat mesra juga merasa heran.

Hoa Khiam Hong yang tidak melihat ayahnya lalu bertanya:

“Di mana ayah? Datang kemari atau tidak?” “Ia telah pergi!” menjawab Can Pek Sin.

“Ayah benar-benar keterlaluan, mengapa ia tidak menunggu kita?” berkata Hoa Khiam Hong. Tiat Ceng lalu tertawa:

“Bukankah ayahmu pernah berkata, bahwa kau sudah dewasa, bukan lagi gadis cilik yang perlu rawatannya lagi. Ia sebetulnya ingin meninggalkan kau di tempat ayah sana, supaya ia bisa pergi sendirian untuk mencari kawan-kawannya. Mungkin karena ia setelah bertemu muka dengan Can toako, maka segera pergi seorang diri.”

“Tetapi seharusnya ia juga berkata dulu kepadaku.”

Lam Chiu Lui yang mendengar pembicaraan-pembicaraan mereka yang sangat mesra dalam hati sedikit banyak merasa cemburu. Tetapi karena didikan keras dari ibunya, sifatnya tidak begitu liar seperti Liong Seng Hong atau Thie Po Leng, yang mudah kentaraan.

Tiat Ceng di waktu masih kanak-kanak juga pernah main bersama-sama dengan persaudaraan Lam itu, tetapi setelah berpisahan sekian tahun lamanya, maka dengan Lam Chiu Lui nampaknya malah seperti asing. Ia juga tidak tahu apa yang dipikir oleh Lam Chiu Lui. Ketika melihat subonya ada di situ, setelah berkata beberapa kata dengan Hoa Khiam Hong, tidak sempat berbicara dengan persaudaraan Lam segera menghampiri Sin Cie Kow untuk memberi hormat, kemudian bertanya:

“Subo, kemana suhu?”

“Hem, suhumu juga aneh dia bertempur setengah harian dengan ayah nona Hoa, sekarang juga pergi mengejarnya,” jawab Sin Cie Kow.

Tiat Ceng terperanjat, ia bertanya pula:

“Apakah suhu sudah bertanding dengan Hoa lo-cianpwee?”

Hoa Khiam Hong makin terkejut, dalam hati berpikir: Apakah ayah dikalahkan oleh Khong-khong Jie? Bagaimana Khong-khong Jie pergi mengejar?

Can Pek Sin segera menerangkan duduk perkaranya ia berkata sambil tertawa:

“Kalian berdua tidak perlu khawatir, suhumu dengan ayahnya, benar-benar tidak akan mengenal satu sama lain apabila tidak mengadakan pertandingan tadi. Mereka bertanding hampir setengah hari, yang satu kata kau yang menang, tetapi yang lain berkata aku yang kalah, satu sama lain sama-sama merasa sayang kepandaian masing-masing. Oleh karena itu, maka suhumu hendak menyusul Hoa lo-cianpwee, maksudnya ialah hendak menahannya untuk merundingkan ilmu silat, bukanlah akan bertanding lagi.”

Chiu Tong yang hendak menghadapi tantangan, Touw Goan dan Soa Thiat San justru membutuhkan orang-orang kuat. Kedatangan Hoa Ciong Tay dan Khong-khong Jie, baginya benar-benar sangat menggirangkan. Ia takut apabila kedua orang itu pergi, maka lalu berkata: 

“Mari kita pergi mencari. Sungguh tidak mudah untuk mengundang Khong-khong Jie cianpwee, aku seharusnya juga pergi menyambut sendiri .”

<>

Mari sekarang, kita balik, kepada Khong-kbong Jie yang pergi menyusul Hoa Ciong Tay.

Lari kira-kira tigapuluh pal baru dapat melihat bayangan Hoa Ciong Tay, bahkan bukan Hoa Ciong Tay seorang saja. Karena pada saat itu Hoa Ciong Tay sedang bertempur sengit dengan seorang yang bertubuh pendek kecil tetapi kekar.

Khong-khong Jie senang sekali menyaksikan pertandingan silat dari orang-orang terkuat, maka begitu melihatnya tangannya sudah merasa gatal, lalu tertawa terbahak-bahak kemudian berkata:

“Hoa laoko, kiranya kau masih belum puas bertempur setengah harian, di sini kau berkelahi lagi.” Dengan sangat gembira ia lari menghampiri tetapi setelah berada dekat ia sangat terperanjat.

Sebab Hoa Ciong Tay yang sedang bertempur dengan orang pendek kecil itu, nampaknya dalam kedudukan hanya dapat mempertahankan dirinya saja.

Kekuatan tenaga dalam Hoa Ciong Tay masih di atas Khong-khong Jie, itu sudah diketahui sendiri olehnya, maka pertama kali ia melihat Hoa Ciong Tay bertempur dengan orang pendek kecil itu sedikitpun tidak merasa khawatir, meskipun ia juga dapat menduga bahwa orang pendek kecil itu berani mengadu kekuatan dengan Hoa Ciong Tay, pasti bukan orang sembarangan.

Tak disangka setelah berada dekat, ia segera dapat melihat bahwa serangan tangan orang itu bagaikan serangan golok, ilmu kin-na-chiu-hoat juga sangat ganas, gerak tipunya bagus sekali, semua itu belum pernah disaksikannya oleh Khong-khong Jie.

Bukan hanya itu saja, Khong-khong Jie yang masih terpisah tiga tombak juga dapat merasakan hembusan angin yang keluar dari serangan tangannya itu. Sebagai satu ahli ilmu silat yang sudah ulung, sudah tentu Khong-khong Jie diam-diam merasa terkejut. Khong-khong Jie diam-diam lalu berpikir: Apabila hanya mengadu kekuatan tenaga, aku sendiri juga belum tentu dapat mengalahkan orang itu. Hoa Ciong Tay dirugikan karena tadi ia sudah bertempur setengah harian denganku. Apabila bertempur terus, mungkin sangat berbahaya baginya.

Di lain pihak, orang itu juga sangat khawatir. Ia takut Khong-khong Jie akan membantu Hoa Ciong Tay, maka ia mendesak dengan hebat, supaya dapat merobohkan Hoa Ciong Tay sebelum Khong-khong Jie bertindak.

Hoa Ciong Tay yang belum dapat kesempatan untuk beristirahat, kekuatan tenaganya saat itu hanya tinggal limapuluh persen saja, ia hanya mengandalkan sepasang senjatanya yang luar biasa itu untuk mempertahankan dirinya.

Khong-khong Jie ia sudah merasa gatal tangannya. Ia ingin sekali mengadu kepandaian dengan orang itu, tetapi mengingat kedudukannya sendiri, sudah tentu tidak baik baginya kalau bersama-sama Hoa Ciong Tay mengeroyok satu orang.

Sebelum Khong-khong Jie dapat mengambil keputusan Hoa Ciong Tay sudah mengalami serangan berbahaya. Orang itu menggunakan ilmunya Kin-na-chiu-hoat mengancam tujuh bagian jalan darah Hoa Ciong Tay. Khong-khong Jie terkejut, dengan tanpa sadar melangkah maju dua tindak. Dalam saat yang sangat kritis itu, Hoa Ciong Tay dengan gaya yang manis berhasil menghindarkan serangan yang hebat itu!

Ini sudah tentu disebabkan kepandaian Hoa Ciong Tay yang sudah tinggi sekali, tetapi majunya Khong- khong Jie tadi, juga mempengaruhi mental orang itu, sehingga sedikit banyak harus memberi perhatian untuk waspada terhadapnya. Jikalau tidak demikian mungkin sedikit banyak Hoa Ciong Tay akan mendapat luka ringan.

Orang melototkan matanya dan membentak dengan suara keras:

“Khong-khong Jie, jikalau kau ingin menarik keuntungan, majulah sekalian. Jikalau tidak, berdirilah jauh- jauh.”

Orang itu tahu benar kedudukan Khong-khong Jie, maka sengaja mengeluarkan perkataan yang bersifat mengejek, supaya ia tidak membantu Hoa Ciong Tay.

Khong-khong Jie marah, katanya dengan suara keras:

“Hoa laoko, kau sudah bertempur cukup lama, biarlah aku yang menggantikan, harap kau mundur. Aku ingin belajar kenal dengan kepandaiannya!”

Orang itu lalu berkata sambil tertawa besar:

“Khong-khong Jie, kiranya kau ingin menggunakan taktik bergilir! Baiklah aku juga tidak takut kepadamu, mari!”

Khong-khong Jie yang diejek demikian rupa, benar-benar sangat mendongkol, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Khong-khong Jie adalah seorang keras kepala dan tinggi hati, dengan orang yang belum pernah dikenalnya itu sudah tentu tidak suka banyak bicara. Saat itu apabila ia maju menggantikan Hoa Ciong Tay, pasti akan dikatakan menggunakan taktik bergilir oleh orang itu, tetapi apabila ia tidak maju, juga takut Hoa Ciong Tay tidak dapat bertahan lebih lama. Benar-benar serba salah.

Hoa Ciong Tay setelah mendesak mundur lawannya lalu berkata kepada Khong-khong Jie:

“Khong-khong Jie, aku dengan saudara Su-khong ini hanya main-main saja kau jangan turut campur tangan, pergilah!”

Khong-khong Jie jing mendengar perkataan ‘Su-khong’, seketika sangat terkejut, ia berkata,

“Ow, jadi kau manusia pendek kate ini adalah anaknya Su-khong To siluman tua dari gunung Soat-san itu.” “Khong-khong Jie kau berani menghina ayahku. Kalau kau tidak pergi, aku pasti akan hajar dirimu, atau jikalau tidak, sekarangpun kau boleh maju,” berkata orang pendek kecil itu.

“Sudah tentu aku tidak pergi, hah! Hoa laoko kalian sebetulnya berkelahi sungguh-sungguh ataukah main- main saja. Aku lihat seperti bukan main-main! Baiklah, biar aku dikatakan oleh manusia cebol ini menggunakan taktik bergilir juga tidak apa. Hoa laoko kau mundurlah!”

Hoa Ciong Tay tidak tahu bahwa suhu Khong-khong Jie dahulu pernah timbul perselisihan dengan Su- khong To, ia sengaja menyebutkan she nya orang itu dan mengatakan main-main saja. Maksudnya supaya Khong-khong Jie meninggalkannya, agar jangan sampai terbawa-bawa. Sebab ia tahu benar bahwa siluman dari gunung Soat-san bersama anaknya ini merupakan orang-orang terkuat dari golongan sesat yang tidak mudah dihadapinya. Apabila bermusuhan dengan mereka, akan membawa ekor panjang di kemudian hari. Apalagi Khong-khong Jie sudah bertempur tigakali, juga belum tentu dapat menjatuhkan anaknya siluman tua itu.

Hoa Ciong Tay sangat berterima kasih bantuan Khong-khong Jie, tetapi ia tidak ingin Khong-khong Jie terlibat dalam persengketaan itu.

Selagi mereka berada dalam kedudukan serba salah, tiba-tiba terdengar suara orang berkata sambil tertawa:

“Khong-khong Jie, apakah kau ingin berkelahi? Baiklah, mari aku mengiringi kehendakmu. Tapi pertempuran kita itu masih belum selesai, kedatanganmu ini sangat kebetulan. Mari sekarang kita satu lawan satu.”

Orang yang bersuara itu adalah manusia pengecut yang tadi membokong Hoa Ciong Tay dengan serangan yang menggelap, karena ia takut dikeroyok oleh Khong-khong Jie suami istri maka segera kabur.

Di luar dugaan kini berjumpa lagi.

Orang pendek kecil itu sebetulnya juga takut Khong-khong Jie benar-benar menyerang dirinya. Ketika melihat kedatangan orang itu hatinya merasa lega lalu berkata sambil tertawa:

“Itu betul, satu mulut tidak dapat makan dua buah apel. Suheng, kau pilihlah yang empuk, kita lihat siapa yang akan menelan ke perut lebih dulu?”

Kiranya manusia pengecut kurus kering itu adalah Toa-suheng Su-khong Beng yang bernama See-bun Ong.

Su-khong To mempunyai dua murid, murid pertama adalah See-bun Ong ini, dan murid kedua adalah Pak- kiong Hong, yang kini mengabdi kepada Tian Sin Cie kepala daerah Gui-pok.

See-bun Ong dan Pak-kiong Hong meskipun menjadi murid Su-khong To, tetapi kepandaiannya masih kalah dengan suteenya yang paling kecil ialah Su-khong Beng itu.

Maka dahulu waktu Pak-kiong Hong kalah di tangan Hoa Ciong Tay, ia segera minta bantuan suteenya yang terkecil itu.

Kala itu Su-khong Beng yang hendak membantu suhengnya, sebetulnya ingin mencari keputusan dengan Hoa Ciong Tay. Di luar dugaan muncul Toan Khek Gee yang menggunakan ilmunya meringankan tubuh yang luar biasa, dapat mengakali Su-khong Beng sehingga kabur.

Su-khong Beng setelah kejadian itu merasa sangat masgul. Ia mengira kepandaiannya sendiri sudah tanpa tandingan. Kali ini turun gunung, ia memang sudah bertekad hendak membuat nama di kalangan Kang-ouw. Hoa Ciong Tay, Tiat Mo Lek, Khong-khong Jie dan lain-lainnya, semua merupakan orang yang ingin dijatuhkannya. Tetapi sebelum bertanding dengan Hoa Ciong Tay sudah dibikin kabur oleh Toan Khek Gee, sudah tentu hatinya merasa penasaran.

Kali ini datang ke kota Yang-ciu, adalah karena ia mendengar kabar bahwa Toan Khek Gee telah datang ke kota tersebut. Tetapi untuk menjaga kalau-kalau Hoa Ciong Tay suka bersama-sama dengan Toan Khek Gee, maka ia sengaja ajak Toa suhengnya datang ke sana untuk memberi bantuan. Ketika tiba di kota Yang-ciu, baru tahu bahwa Toan Khek Gee sudah pergi ke lain tempat, tetapi itu hanya untuk sementara waktu saja, sebab sengketa antara Touw Goan dengan Chiu Tong, sudah tidak dapat dielakkan lagi, mungkin setiap saat pertempuran kedua pihak akan meledak, maka biar bagaimana Toan Khek Gee pasti akan balik lagi.

Mereka setelah mencari keterangan keadaan rimba persilatan daerah Kang-lam, tidak lama kemudian lalu bergabung diri dengan Touw Goan dan Soa Thiat San.

Ketika mereka tahu dari mulut Thay Lok bahwa Khong-khong Jie sedang bertempur sengit dengan Hoa Ciong Tay di atas pagoda, See-bun Ong yang sifatnya pengecut menganggap bahwa itu adalah kesempatan yang paling baik, maka ia sembunyi di tempat gelap untuk menantikan setelah dua orang itu sama-sama terluka segera menyerangnya secara menggelap. Sebaliknya dengan Su-khong Beng yang agak tinggi hati, tidak suka berbuat demikian, tetapi ia juga tidak menghalangi maksud Toa-suhengnya.

Dengan demikian dua saudara seperguruan itu masing-masing melakukan tugasnya sendiri-sendiri yang satu melakukan pembokongan, dan yang lain menjaga di tengah jalan.

Su-khong Beng tidak mau menyerang secara membokong, dan kelihatamya seperti menunjukkan kelakuannya yang agak jantan, tetapi dalam hatinya sebetulnya lebih berbahaya. Karena ia hendak meninggalkan nama dan derajat Soat-san-pai di daerah Tiong-goan. Jikalau ia menggunakan tindakan pengecut itu, pasti akan membuat tertawaan orang-orang gagah seluruh dunia. Maka sebaiknya mencegat di tengah jalan, sebab dalam keadaan yang sudah lelah sudah pasti mudah dijatuhkan.

Rencana dan perhitungan Su-khong Beng itu dianggapnya sangat sempurna, ia hanya salah hitung terhadap kekuatan lawannya. Hoa Ciong Tay bukanlah orang yang mudah dirobohkan, di lain pihak dengan kedatangannya suheng itu, Khong-khong Jie segera mengetahui hubungan mereka, dengan demikian segera akal muslihatnya pasti juga diketahui olehnya.

Walaupun Hoa Ciong Tay masih sanggup melawan, tetapi Su-khong Beng beranggapan masih yakin dapat mengalahkannya.

Karena ia sudah tahu benar kepandaian meringankan tubuh Toan Khek Gee, maka terhadap Khong-khong Jie yang ilmu meringankan tubuhnya lebih mahir daripada Toan Khek Gee, ia yakin tidak sanggup mengalahkannya. Maka menyerahkan Khong-khong Jie kepada suhengnya untuk menghadapinya.

Khong-khong Jie tahu akal bulus manusia licik itu, seketika amarahnya meluap, karena ia juga segera mengetahui tindakannya tadi yang ternyata sudah direncanakan lebih dahulu.

See-bun Ong yang mendengar ucapan suteenya, dalam hati merasa tidak senang, tetapi karena sutee itu adalah anak suhunya yang tersayang, sudah tentu ia tidak berani membantahnya.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Jiwa Ksatria Jilid 12"

Post a Comment

close