Jiwa Ksatria Jilid 06

Mode Malam
 
Tiat Ceng yang sudah hertempur sekian lamanya, tenaganya mulai berkurang. U-tie Cun yang melihat kesempatan baik, segera mendesak hebat, ia bermaksud hendak menangkap hidup-hidup Tiat Ceng, agar dapat digunakan sebagai orang tawanan untuk memeras.

Selagi pecutnya hendak menggulung badan Tiat Ceng, sesosok bayangan orang tiba-tiba melayang turun dari tengah udara, yang jatuh tepat untuk menggantikan dirinya Tiat Ceng, sehingga terkena oleh pecutnya. Kiranya orang itu adalah seorang tentara dari anak buahnya yang tertangkap hidup-hidup oleh Hoa Ciong Tay, ia kemudian dilemparkan untuk menolong Tiat Ceng.

U-tie Cun yang dipermainkan oleh Hoa Ciong Tay, merasa kaget dan gusar, ketika hendak melepaskan pecutnya, kembali sesosok bayangan orang melayang turun, dan kali ini ternyata Hoa Ciong Tay sendiri yang masuk ke dalam kalangan.

U-tie Cun tidak mendapat kesempatan untuk melihat siapa yang melayang turun itu, dianggapnya dirinya hendak dipermainkan lagi, maka ia lalu melontarkan makian dan menarik kembali pecutnya untuk menghindarkan terulangnya kembali kejadian semacam tadi, bahkan dengan cepat menyerang Tiat Ceng lagi.

Hoa Ciong Tay tak memberikan kesempatan kepadanya, ia menyambar dengan tangannya sehingga pecutnya tertangkap olehnya.

Jago tua itu segera mengeluarkan suara bentakan keras:

“Lepaskan senjatamu!”

U-tie Cun cuma merasakan tangannya seperti terpotong oleh senjata tajam, benar saja badannya terasa ambruk dan pecutnya terlepas dari tangannya.

Anak buahnya segera memberi pertolongan, sedang Hoa Ciong Tay yang maksudnya hendak menolong Tiat Ceng maka tak melukainya lagi.

Dengan terlukanya U-tie Cun, dengan sendirinya barisannya menjadi kalut, Hoa Ciong Tay dengan mengajak Tiat Ceng keluar dari kepungan dengan mudah.

Pasukan tentara yang mengepung Can Pek Sin dan Tiat Leng, tiada satupun yang mempunyai kepandaian seperti U-tie Cun, tetapi ada beberapa puluh orang yang menggunakan pakaian berlapis baja dan berperisai besi. Pasukan tentara Tian Sin Cie, yang terdiri dari tenaga pilihan, dan pasukan yang membawa perisai besi itu merupakan ‘inti’ pasukan, karena mereka mengenakan baju berlapis baja sehingga tidak dapat ditembus oleh senjata tajam. Pasukan itu dengan satu golok di tangan dan perisai di lain tangan, paling tepat untuk pertempuran jarak dekat. Satu-satunya rintangan ialah pakaiannya yang berat sehiagga tidaklah leluasa bergerak.

Hoa Khiam Hong dan Tiat Ceng yang menerjang masuk dengan bahu membahu, telah berjumpa dengan pasukan ini, ketika pedang mereka menikam ke badan-badan pasukan itu, seperti menusuk benda keras, sedikitpun tak berhasil melukai dirinya, bahkan masih mendesak dengan hebatnya.

Hoa Ciong Tay menyaksikan keadaan demikian berkata:

“Biarlah aku yang menghadapi barisan ini!”

Ia lalu merampas satu batang tombak dari tangan seorang tentara digunakan untuk menyerang pasukan yang kebal dengan senjata tajam itu, senjata itu setiap kalinya di arahkan kepada bagian lutut pasukan tentara tersebut, karena bagian itu tidak dilindungi oleh lapisan baja maka mudah ditusukan, sehingga pasukan itu tidak dapat berdiri dan rubuh satu persatu.

Pasukan perisai itu yang gerak majunya secara berbaris karena gerakannya yang kurang laluasa, maka beberapa orang yang rubuh itu merupakan rintangan bagi kawan-kawannya, sehingga dalam waktu sekejap mata saja, keadaan menjadi kalut.

Hoa Ciong Tay dengan mudah dapat menghalaukan pasukan itu dan berhasil menolong keluar Can Pek Sin serta Tiat Leng.

Tiat Leng merasa sangat bersyukur, berkata kepada Hoa Khiam Hong:

“Enci Hoa untung kalian datang dengan waktu yang tepat sehingga berhasil menolong diri kita. Biar bagaimana kau harus berkunjung ke kediamanku.”

Hoa Khiam Hong lalu berkata:

“Dalam peristiwa ini sebetulnya adalah kita yang menyulitkan dirimu. Kita seharusnya bahu membahu untuk menghadapi segala rintangan. Sekarang kita masih belum berhasil menerobos keluar dari kepungan pasukan tentara yang jumlahnya terlalu besar ini, belum waktunya bagi kita merasa girang. Kita ingin kunjungi kediamanmu, tetapi hal itu setelah terlepas dari bahaya ini nanti kita bicarakan lagi.”

Pasukan tentara yang mengepung mereka itu jumlahnya ada beberapa ribu. Tiat Ceng berlima hanya berhasil menembus beberapa lapis saja maka disekitarnya masih terdapat banyak musuh. Hanya orang yang jumlahnya begitu banyak sudah tentu tidak dapat berkumpul di suatu tempat yang sempit. Tiat Ceng berlima setelah keluar dari kepungan, sudah tentu agak leluasa untuk menghadapi yang lainnya.

Meskipun keadaan mereka sudah mulai letih hendak menerjang keluar dari kepungan, juga bukan merupakan suatu pekerjaan yang mudah.

Andaikata berhasil, mungkin juga masih sulit menghindarkan kejaran pasukan kuda itu. Tiat Ceng yang memikirkan sual itu lalu berkata:

“Kita perla cari kuda tunggangan dulu.”

Ternyata kuda tunggangan mereka bertiga, semua merupakan kuda-kuda pilihan yang sudah terlatih, baik kuda itu meski sudah dirampas oleh musuh, tetapi Tiat Ceng bertiga bersiul nyaring, kuda-kuda itu segera mengenali suara panggilan majikannya.

Tiga ekor kuda itu yang hanya mau ditunggangi oleh majikannya sendiri, meskipun di tangan musuh, tiada satupun dari tentara itu yang berhasil menundukkan sehingga ditarik dengan paksa. Ketika mendengar siulan majikannya segera bergerak dan berusaha loloskan diri dari tentara yang membawanya.

Pada saat itu tentara itu dipecah menjadi dua rombongan, satu rombongan mundur sambil melindungi Tian Yat, lain rombongan di bawah pimpinan Pak-kiong Hong, kembali menyerang orang itu. Kiranya Tian Yat, yang sudah mendapat tahu bahwa kereta yang berisi barang berharga itu sudah berhasil dikuasainya, karena tujuannya sudah tercapai, ia lalu balik bersama barang rampasan itu lebih dahulu. Sementara tugas untuk menangkap kawanan berandal diserahkan kepada Pak-kiong Hong.

Tian Yat yang baru datang dengan pasukannya yang berjumlah demikian besar, dikiranya akan menjumpai rombongan pasukan berandal yang berjumlah besar juga. Sungguh tidak diduga bahwa ia hanya menjumpai duaa pemuda seorang laki-laki tua dan dua orang gadis cilik, sudah tentu tidak menggunakan tentara begitu besar.

Setelah Tian Yat berlalu, dalam hati Pak-kiong Hong lalu berpikir kalau bertanding satu lawan satu belum tentu aku dapat melawan Hoa Ciong Tay. Sebaiknya dengan tentara yang banyak jumlahnya ini untuk menyingkirkannya, meskipun hal ini mungkin akan juga menjadi buah tertawaan orang dunia Kang-ouw, tetapi aku hanya menjalankan perintah, aku menyatakan bahwa dalam perjalanan tugas tidak perlu menurut peraturan dunia Kang-ouw.

Atas pernyataan Tiat Ceng tadi Hoa Ciong Tay lalu berkata:

“Kalian jalan dulu, biar aku yang menghadapi pasukan tentara ini.”

Tiat Leng yang usianya paling muda setelah bertempur hampir setengah hari, keadaannya lebih baik dari kakaknya, maka ketika mendengar ucapan Hoa Ciong Tay dalam hati lalu berkata sendiri: Enak kau berbicara aku lari saja mungkin juga tidak kuat lagi.

Tetapi adalah seorang gadis yang berkeras hati tidak suka menunjukkan kelemahannya di depan orang meskipun dalam hati mengeluh, mulutnya masih berkata:

“Koko mari kita terjang!”

Tetapi sebelum ia bertindak, Hoa Ciong Tay sudah bergerak lebih dulu, bagaikan harimau kelaparan yang menangkap mangsanya, hanya beberapa kali gerakan saja sudah berhasil merobohkan beberapa orang tentara. Ia merebut senjata panjang dari mereka, senjata itu digunakan untuk menyambit pasukan tentara itu.

Dalam pasukan itu ada beberapa antaranya yang coba menundukkan tiga ekor kuda tunggangan Tiat Ceng bertiga yang saat itu sedang meronta-ronta. Dua senjata tombak panjang itu dengan tepat mengenakan belakang panggung dua tentara dan terus menembus ke depan dada!

Pak-kiong Hong sangat murka, ia lalu keprak kudanya lari menghampiri Hoa Ciong Tay.

Hoa Ciong Tay tenang-tenang saja, kembali ia sudah berhasil merampas dua tombak panjang dan dua tombak pendek. Dua tombak panjang merenggut dua jiwa tentara yang sedang menarik kuda Tiat Ceng, sedang dua tombak pendek melayang ke arah Pak-kiong Hong.

Pak-kiong Hong memutar senjatanya orang-orangan tembaga berhasil mematahkan senjata yang melayang ke arahnya tetapi kaki kudanya sudah terluka sehingga roboh.

Pak-kiong Hong melompat turun dari kudanya dan mengejar Hoa Ciong Tay. Serombongan besar tentaranya, juga ikut mengejar.

Tentara yang hendak membawa kabur kuda Tiat Ceng bertiga ketika sudah terluka, empat orang yang lainnya merasa ketakutan. Kuda itu karena sudah tidak ada yang menghalangi lagi maka segera kabur kepada majikannya masing-masing.

Tiat Ceng bertiga yang mendapatkan kembali kuda tunggangannya merasa sangat girang.

Menurut pikiran Tiat Ceng, sebetulnya masih ingin menunggu Hoa Ciong Tay dan putrinya, supaya jalan bersama-sama, tetapi Hoa Ciong Tay berulang-ulang melambaikan tangannya seraya berkata:

“Lekas lari, dikemudian hari aku bisa datang mencari kalian sendiri.”

Tiat Ceng berpikir Hoa Ciong Tay berkepandaian tinggi, dengan kepandaiannya itu ia pasti dapat melindungi putrinya menerobos keluar kepungan musuh. Sedangkan di pihaknya sendiri bertiga, karena semua terlalu lelah, bukan saja tidak dapat memberi bantuan apa-apa bahkan mungkin akan memberatkan dirinya. Maka sebaiknya menurut kata-katanya dan menerjang, keluar lebih dulu.

Maka lalu ia berkata:

“Baiklah, kita mengikuti kehendakmu, Hoa Locianpwee, sampai berjumpa lagi!”

Kuda mereka merupakan kuda peperangan yang sudah terlatih baik, tanpa diperintah oleh majikannya, dapat memilih ke bagian-bagian yang orangnya sedikit, kabur ke arah yang aman. Hoa Ciong Tay juga menerjang keluar mengikuti jejaknya.

Tiga ekor kuda itu berlari dengan pesatnya, tidak antara lama, sudah keluar dari lembah sehingga terlepas dari kejaran musuh.

Dengan cepat Tiat Leng bertiga sudah lari sejauh tigapuluh pal, cuaca sudah mulai gelap barulah ia mulai berjalan agak pelahan. Tidak antara lama lagi, rembulan sudah muncul, tetapi tidak terlihat jejaknya Hoa Ciong Tay dan anaknya.

Tiat Leng lalu berkata:

“Mengapa masih belum kelihatan mereka menyusul? Bukankah Hoa Locianpwee menyuruh kita jalan dulu, ia seharusnya tahu kalau kita menempuh jalan kecil ini? Kita sudah lama jalan perlahan, dengan ilmu lari pesat mereka, seharusnya sudah dapat menyusul.”

Tiat Ceng berkata,

“Hoa Locianpwee sudah kata bahwa dikemudian hari ia akan datang kekediaman kita, mungkin setelah berhasil menerobos keluar ia jalan ke lain jurusan yang kita tidak tahu. Kepandaian Hoa Locianpwee tinggi sekali tidak mungkin ia tidak dapat lolos dari kepungan mereka.”

Akan tetapi walaupun mulutnya mengatakan demikian, hatinya juga tidak merasa tidak tenang. Can Pek Sin berkata:

“Mari kita cari tempat untuk beristirahat, sekalipun orangnya tidak letih kudanya juga merasa payah.” Tiat Leng berkata sambil tertawa:

“Siapa kata orangnya tidak letih? Sebaiknya kau jangan sebut-sebut karena kata-katamu itu sekarang aku benar-benar merasa lapar dan dahaga. Lapar sih bisa ditahan, tetapi sudah hampir satu hari tidak kemasukan setetes air, tenggorokan rasanya sudah kering sekali.”

Tiat Ceng berkata:

“Baiklah malam ini kita beristirahat dan tidur di rimba ini.”

Di antara mereka bertiga adalah ia yang kekuatan tenaga dalamnya lebih sempurna, tetapi setelah mengalami pertempuran sengit setengah hari lamanya juga sudah merasa letih sekali.

Setelah masuk ke dalam rimba, mereka berhenti dulu di tepi sungai kecil untuk minum air. Tiat Leng, sehabis minum air dan mencuci mukanya, lalu berkata sambil tertawa: “Sekarang aku merasa segar, juga tidak merasa dahaga lagi. Tetapi perutku merasa lapar.”

Peruntungan mereka masih baik, tidak antara lama mereka sudah berhasil menangkap seekor binatang rusa. Sedangkan Can Pek Sin yang sudah biasa hidup di daerah pegunungan, kenal baik berbagai jenis buah-buahan, maka ia mencari buah-buahan itu untuk hidangan malam mereka.

Ketika Can Pek Sin balik di tempatnya, kakak beradik itu sedang menyalakan api untuk memanggang binatang rusa tadi, ia nampak Tiat Leng duduk menekur di perapian nampaknya seperti sedang mengantuk.  Tiat Ceng mendorong adiknya dan berkata:

“Anak tolol, kau bagaimana boleh tidur seorang diri? Bagaimana kalau ada ular datang menggigit?

Bagaimana pula kalau ada api menjilat badanmu?” Tiat Leng membuka matanya dan berkata:

“Siapa kata aku sedang tidur, aku tengah memikir suatu urusan!” Tiat Ceng berkata:

“Oh, kiranya kau juga bisa menggunakan pikiran. Apa saja yang kau sedang pikirkan?”

“Kau jangan memandang rendah diriku, aku sedang memikirkan suatu rencana. Sehabis makan kenyang aku nanti beritahukan padamu.”

Tiga orang itu lalu memakan daging rusa dan buah-buahan. Tiat Leng setelah perutnya merasa kenyang lalu berkata:

“Daging rusa enak sih enak tetapi sayang sedikit tidak ada garamnya.” Tiat Ceng berkata:

“Nona rakus, rencana apa yang kau sedang pikirkan tadi sekarang bolehkah kau ceritakan?” Tiat Leng lebih dulu menghela nepas, kemudian baru berkata:

“Kita kehilangan harta benda Can Toako, ransum di atas gunung merupakan suatu persoalan lagi. Apa kita masih mempunyai muka untuk menjumpai ayah?”

Tiat Ceng berkata sambil ketawa,

“Kau tidak perlu bicara memutar, aku juga sudah tahu soal apa yang sedang kau pikirkan.”

“Benar. Kita harus mencari daya upaya, untuk merampas kembali barang-barang yang mereka rampas.”

“Tetapi kita hanya bertiga, Hoa Locianpwee dan anaknya kita baru kenal kali ini saja, sekalipun kita berhasil mencari mereka, kita juga tidak enak minta bantuannya.”

“Minta bantuan kepada orang luar, mana kita punya muka berbuat demikian? Sudah tentu kita cuma bisa mengandalkan kekuatan tenaga sendiri. Kalau kita tidak sanggup melawan dengan tenaga, apakah kita boleh melawan dengan pikiran atau akal?”

Can Pek Sin lalu berkata:

“Benar kita dengar dulu rencana adik Leng.” Tiat Leng berkata,

“Koko, kau jangan menertawakan aku, rencanaku ini bukan keluar dari pikiranku sendiri tetapi aku mencuri dari orang lain dan orang itu adalah orang yang kau kagumi.”

Tiat Ceng berkata,

“Perkataanmu semakin lama semakin melantur. Siapakah orang itu? Apakah ia juga mengalami nasib serupa dengan kita?”

“Apakah kau masih ingat kisah bibi Toan yang diceritakan oleh ayah? Dahulu, bibi Toan adalah puteri angkat Sie Siong, kepala daerah Lo-ciu. Kala itu Tian Sin Cie bermaksud hendak menguasai daerah itu dan ingin memaksa. “Bibi Toan malam-malam masuk ke gedungnya Tian Sin Cie mencuri sebuah kotak mas. Kotak mas itu diletakkan di bawah bantal Tian Sin Cie. Maka perbuatannya itu mengejutkannya sehingga tidak berani memikirkan yang bukan-bukan lagi. Kala itu Tian Yat bukan saja tidak mendapatkan diri bibi Toan sebagai isterinya, malah kehilangan barang yang digunakan untuk meminang.”

Bibi Toan yang disebut oleh Tiat Leng itu adalah isteri Toan Khek Gee, Su Yak Bwee waktu ia masih menjadi puteri angkat keluarga Sie bernama Ang Soan. Kisah tentang perbuatan Ang Soan yang mencuri kotak mas itu tersiar luas di kalangan Kang-ouw, bukan saja sudah diketahui oleh Tiat Ceng dengan adiknya, Can Pek Sin juga sudah pernah tahu dari ayah bundanya.

Tiat Ceng berkata:

“Oh, kiranya kau hendak menelad perbuatan bibi Toan. Tetapi bibi Toan dahulu dibantu oleh paman Toan, sedangkan Tian Sin Cie pada dewasa ini sudah mempunyai pengawal kuat yang banyak jumlahnya, umpamanya perwira she U-tie yang menggunakan senjata pecut juga merupakan salah satu di antaranya.”

Tiat Ceng masih belum tahu bahwa disamping U-tie Cun masih ada Pak-kiong Hong yang kuat sepuluh kali dari pada U-tie Cun. Sebab sewaktu Hoa Ciong Tay bertempur dengan Pak-kiong Hong, mereka bertiga sedang terkurung dalam kepungan musuh, sehingga belum menyaksikan kepandaian Pak-kiong Hong.

Tiat Leng lalu bertanya:

“Paman dan bibi Toan kala itu juga berusia tujuh atau delapanbelas tahun, lebih tua beberapa tahun saja dengan kita sekarang ini, bahkan di pihak kita sekarang lebih satu orang. Kalau mereka berani berbuat mengapa kita tak berani?”

Tiat Ceng yang lebih hati-hati dari pada adiknya bukan berarti seorang bernyali kecil. Sifatnya adalah setelah mengambil suatu keputusan sekalipun menghadapi rintangan besar bagaimanapun juga ia akan menerjangnya. Ketika adiknya bicara, dalam hatinya sudah akan menolak balik.

Satu-satunya cara yang paling baik, sudah tentu pulang untuk memberitahukan kepada ayahnya lebih dulu, tetapi gunung Hok-gu-san terpisah dengan daerah Gui-pok masih ribuan pal, sudah tentu tak bisa menggerakkan pasukan besar untuk memukulnya. Maka dalam hati lalu berpikir: Ayah dengan paman To, harus menjaga di gunung. Lain-lain kepala pasukan, kepandaiannya masih belum seimbang dengan kita. Kalau aku pulang melaporkan, ayah juga tidak dapat mengirim orang yang berkepandaian tinggi untuk membantu kita. Perlu apa aku harus menyusahkan dirinya?

Sementara itu Can Pek Sin bangkit semangatnya karena mendengar perkataan Tiat Leng tadi, ia lebih dulu yang menyetujui rencana itu seraya berkata:

“Baik adik Leng, kakakmu berani menerjang goa harimau, mengapa aku harus merasa takut!” Tiat Leng berkata:

“Can toako sudah setuju, koko, bagaimana dengan kau?”

Tiat Ceng yang sudah berpikir masak-masak lalu berkata sambil tersenyum:

“Rencanamu ini bukannya tak boleh dijalankan, tetapi kita harus berpikir masak-masak dulu.” “Apa yang harus dipikirkan lagi?”

“Pasukan tentara Gui-pok sebagian besar sudah kenali muka kita. Kita tokh tidak boleh masuk ke kota seenaknya saja dengan menunggang kuda, maka aku pikir kita harus mencari tempat beristirahat lebih dulu. Kita kirim kuda kita di sana, tengah malam baru kita masuk ke daerah Gui-pok. Lagi pula kompleks kediaman Tian Sin Cie, paling sedikit juga ada bangunan ratusan rumah. Kita juga perlu mengetahui lebih dulu keadaan tempat itu. Jikalau kita tidak menerjang secara membabi buta, ini berarti suatu perbuatan untung-untungan.”

Semua ini belum pernah dipikirkan oleh Tiat Leng, maka seketika lalu melengkap tetapi ia masih coba bertahan dengan pendiriannya, ia berkata: “Mengandalkan keuntungannya apa boleh buat, setidak-tidaknya ada lebih baik tidak bertindak sama sekali.”

Can Pek Sin berkata:

“Saudara Tiat, sudah memikir sampai sekian jauh, dalam hati tentu mempunyai rencana yang lebih baik.” Tiat Ceng berkata:

“Aku tiba-tiba teringat kepada dirinya dua orang. Adik Leng, ini juga kau yang mengingatkan aku.” Tiat Leng dipuji oleh kakaknya seketika merasa girang, lalu ia berkata:

“Siapa dua orang itu? Mengapa aku sendiri tidak ingat?”

“Siapakah itu orang yang merupakan sahabat paling baik bibi Toan?”

“Oh, yang kau maksudkan apakah bukan bibi Jie? Ya benar suaminya justru susiok kita. Tetapi mereka merupakan pasangan pendekar yang suka berkelana, sehingga tidak mempunyai kediaman yang tetap. Bagaimana kau tahu di mana saat ini mereka berada?”

Dua orang yang dimaksudkan oleh kakak beradik itu, adalah Pui Pek Hu dan istrinya Jie Im Nio.

Pui Pek Hu adalah murid terakhir dari Boh Kia Lojin, dengan Tiat Mo Lek merapakan saudara seperguruan, maka kedudukan dan tingkatannya masih merupakan Susiok atau paman seperguruaa kakak beradik itu.

Sementara itu hubungan keluarga Jie Im Nio dengan keluarga Tiat ada lebih dalam lagi. Ia dengan isteri Toan Khek Gee merupakan kakak beradik berlainan she, tetapi sejak kecil hidup dan tinggal bersama- sama.

Ayah Jie Im Nio adalah satu Jendral dari tentara Kerajaan, juga pernah menjadi kepala pasukan, kepala tentaranya Tian Sin Cie, sehingga masih sering mengadakan hubungan dengannya. Kemudian karena tidak menuruti keinginan pemerintah, ayah Jie Im Nio dilepas dari jabatannya menjadi rakyat biasa dan sudah meninggal dunia pada dua tahun berselang.

Setelah Jie Im Nio menikah dengan Pui Pek Hu, telah memutuskan hubungan semua dengan sahabat- sahabat ayahnya di dalam ketentaraan dahulu, dan mengembara ke mana-mana sebagai pendekar yang sering suka berkelana.

Tiat Ceng lalu berkata:

“Pui susiok berdua dengan kita tidak dapat dibandingkan dengan orang luar, kita boleh minta bantuan mereka, Jie Im Nio dahulu sering keluar masuk ke daerah Gui-pok. Kita tidak perlu memintanya keluar sendiri, tetapi setidak-tidaknya dapat minta kepadanya sebagai penunjuk jalan.

Tiat Leng menggelengkan kepala dan berkata:

“Dapat menemukan mereka, sudah tentu paling baik. Tetapi jejak mereka tidak karuan arahnya, bagaimana kau tahu di mana sekarang mereka berada?”

“Sudah tentu aku tahu, jikalau tidak aku juga tidak perlu menyebut diri mereka. Mereka berada di dalam satu kampung yang terpisah hanya limapuluh pal dari Gui-pok. Dari kota itu meski letaknya tidak jauh, tetapi kampung itu sangat terpencil.”

“Apakah yang kau maksudkan Jie-liong-kao?”

“Benar, kediaman Pui susiok adalah di Jie-liong-kao itu.”

“Tentang ini aku juga tahu, Tetapi bagaimana kau tahu mereka pasti ada di rumah?” “Paman Lam bulan yang lalu di perjalanan Lo-ciu pernah berjumpa dengan mereka. Pui susiok telah memberi tahukan kepadanya bahwa dia hendak pulang ke tempat kediamannya untuk berdiam tiga bulan lamanya. Paman Lam karena kuatir akan terjadi apa-apa atas diri kita di perjalanan, pernah memberi tahukan kepadaku beberapa nama yang merupakan sahabat baik ayah, di sepanjang perjalanan kita yang boleh kita minta bantuannya. Sebagai orang pertama ia menyebut dirinya Pui susiok. Aku sebetulnya hendak memberitahukan kepadamu, tetapi selama beberapa hari ini perasaanku terpengaruh, sehingga lupa sama sekali.

Tiat Leng meski usianya masih muda tetapi cerdas pikirannya, mendengar uraian kakaknya lalu berkata: “Eh, dalam hal ini agak aneh.”

“Apa yang membuat aneh? Jie Im Nio tidak suka berhubungan dengan keluarganya, gedung besar peninggalan ayahnya sudah lama ia tidak lama ia tidak mau mendiaminya lagi. Ia bukan seorang yang ingin hidup kaya, mengapa ia tidak bisa berdiam bersama-sama dengan suaminya di daerah pegunungan?”

“Bukan begitu. Bukankah paman Lam hendak ke selatan untuk merampas ransum kerajaan? Mengapa ia tidak ajak Pui susiok dan Pui sunio, membantu dirinya? Pui susiok sudah ditinggal mati oleh ayah bundanya waktu masih anak-anak mengapa mendadak ingat pulang dan berdiam beberapa bulan di rumahnya?”

Tiat Ceng juga sudah pernah memikirkan soal itu, tetapi kala itu karena Lam Hee Lui, berlalu secara tergesa-gesa, ia tidak menanya dengan teliti. Maka ia lalu berkata:

“Tidak mungkin paman Lam, membohongi kita. Pui susiok dan Pui sunio dengan kita sudah seperti orang- orang sekeluarga sendiri, sudah tentu boleh kita percaya. Mereka pulang ke rumah kediamannya sendiri, pasti ada sebabnya. Kita pergi menengok mereka lebih dulu, kau nanti baru bertanya kepada Pui sunio.”

“Jikalau Pui susiok dan Pui sunio, juga tidak boleh dipercaya, maka dalam dunia ini sudah tidak ada orang yang boleh dipercaya lagi. Aku sudah tentu percaya kepada mereka dan aku hanya merasa heran saja. Baiklah, kalau begitu kita tidak perlu menunggu Hoa Locianpwee dengan anaknya, esok pagi kita boleh berangkat.”

“Tidak, kita harus berangkat sekarang juga. Kalau sudah terang tanah nanti bisa berpapasan dengan tentara negeri sehingga bocor rahasia kita. Kau sudah kenyang makan seharusnya sudah seharusnya tenagamu sudah pulih lagi.”

“Hanya merasa sedikit mengantuk. Tetapi baiklah, aku coba bertahan sedapat mungkin, setiba di rumah Pui susiok baru tidur.”

Itulah sifatnya anak muda, kalau bertindak segera bertindak, sekalipun merasa mengantuk, tetapi begitu berada di atas kuda lalu bersemangat lagi.

Untung malam itu adalah malam terang bulan, meskipun Tiat Ceng belum pernah pergi ke Jie-liong-kao, namun sudah tahu bahwa limapuluh pal sebelah kota Gui-pok terdapat sebuah bukit, dari tempat mereka sekarang, terpisah kira-kira tujuhpuluh pal.

Tiat Ceng bertindak sebagai pemimpin, melarikan kudanya menuju ke tempat tersebut.

Kuda mereka semua merupakan kuda perang meskipun berjalan malam buta di daerah pegunungan, juga mengerti mencari jalan yang agak aman dan memilih jalan yang mudah dengan tanpa petunjuk yang menunggang. Dengan adanya sebuah bukit itu sebagai tujuan, tidak mungkin mereka akan tersesat jalan. Waktu mereka berangkat sudah lewat tengah malam, kira-kira hampir subuh sudah sampai ke tempat yang dituju.

Mereka mencari seorang penebang kayu yang biasanya keluar rumah pagi-pagi sekali. Penebang kayu itu kebetulan sejak kecil kenal Pui Pek Hu meskipun ia merasa bahwa kedatangan tiga muda mudi itu agak mengherankan hatinya, tetapi ia masih memberikan petunjuk jalan bagi mereka.

Rumah keluarga Pui terbuat dari batu bata, di luar dikelilingi oleh dinding tembok rendah, tampak tegas bahwa dinding tembok rumah bekas dikapur belum lama. Bangunan itu apabila dibanding dengan gedung- gedung orang kaya, memang kalah mentereng, tetapi dalam daerah perkampungan sesunyi itu, rumah itu sudah merupakan satu-satunya rumah yang termewah. Ditilik dari keadaannya, suami isteri Pui mungkin ingin berdiam agak lama di rumahnya, jikalau tidak, mereka tentunya tidak perlu mengapur segala.

Dinding pekarangan yang pendek itu, Tiat Ceng bertiga sebetulnya dapat melompati dengan mudahnya, tetapi mereka adalah orang-orang tingkatan muda, cara demikian ada melanggar tata krama.

Tiat Ceng mengetuk pintu luar, tetapi tidak terdengar jawaban. Ia lalu berkata kepada Can Pek Sin: “Apakah kita perlu memberi tahu nama kita?”

Tiat Ceng kenal baik pantangan dunia Kang-ouw. Ia adalah putra seorang Beng-cu rimba hijau, karena hubungan ayahnya, di kalang Kang-ouw banyak orang kenal kepadanya.

Tempat itu meskipun sangat terpencil, tetapi juga harus berjaga-jaga di balik dinding ada orang yang mendengar.

Sebelum Can Pek Sin memberi jawaban, tiba-tiba terdengar suara membisik. Dari dalam tembok pekarangan menyambar keluar senjata rahasia.

Tiat Ceng terperanjat, dengan cepat lompat menyingkir. Tiat Leng mendongkol ia berkata:

“Pui susiok, bagaimana kau menyerang aku?”

Ia menyambut senjata rahasia itu, ternyata cuma dua butir buah lengkeng yang sudah masak.

Pada saat itu, pintu pekarangan terbuka lebar orang yang keluar bukan lain dari pada Pui Pek Hu sendiri.

“Kalian dua setan cilik ini sekarang sudah begini tinggi, susiokmu hampir tidak dapat mengenali lagi. Dan ini...” berkata Pui Pek Hu itu.

“Dia adalah Can toako,” jawab Tiat Ceng. “Oh, aku tahu, mari masuk!”

Tiat Leng kini baru tahu bahwa Pui Pek Hu, menggunakan buah lengkeng sebagai senjata rahasia, untuk mencoba tamunya.

Jie Im Nio sudah mempunyai hubungan baik lebih dulu dengan keluarga Tiat dan Toan. Tiat Ceng bersama adiknya sejak masih kanak-kanak sudah sering berada bersama-sama dengan Jie Im Nio. Pui Pek Hu yang muncul belakangan, meskipun merupakan susiok mereka, tetapi waktunya bertemu muka sedikit sekali. Mereka berpisah dengan Tiat Ceng berdua sudah lima-enam tahun. Tetapi anak-anak pertumbuhan badannya cepat sekali sudah tentu Pui Pek Hu sudah hampir tidak mengenalnya lagi.

Tiat Leng setelah mengupas kulit lengkeng, dua buah lengkeng itu lalu dimasukan ke mulutnya, kemudian ia berkata sambil tertawa:

“Terima kasih atas pemberian lengkeng Pui susiok, di mana Jie sunio?” “Jie sunio mu belum bangun,” jawabnya Pui Pek Hu.

Waktu itu sudah terang tanah, menurut kebiasaan orang-orang yang mengerti ilmu silat, bangunnya pagi- pagi sekali untuk melatih ilmu silatnya sehingga jawaban susioknya itu menimbulkan curiga hati Tiat Leng, maka diam-diam lalu berpikir: Jie sunio pada waktu ini masih belum bangun dari tempat tidur, apakah ia sedang sakit?

Tetapi baru saja datang berkunjung, sudah tentu tidak pantas bertanya demikian. Pui Pek Hu mengajak mereka masuk ke rumah, lalu berkata kepada isterinya:  “Im Nio, kau lihat siapa yang datang nih?”

Jie Im Nio yang baru saja habis bersisir, lalu keluar menyambut, setelah mengetahni siapa tetamunya, lalu

berkata sambil tersenyum:

“Dari mana nona yang begitu manis? Oh, kiranya adalah Ah-leng. Mari kau kemari untuk bibi lihat, sudah berapa tahun tidak bertemu, bibimu memikirkan setengah mati. Em, masih ada Ceng-tit dan saudara Can. Kalian semua sudah begini tinggi, semua sudah menjadi orang dewasa. Angin apa yang meniup kalian kemari?”

Perhubungan mereka memang sangat akrab, apalagi Tiat Leng, maka sudah seperti keluarga sendiri, sehingga bertemu muka, Jie Im Nio sudah menggoda Tiat Leng.

Tiat Leng memperhatikan bibinya. Muka bibi itu nampaknya agak pucat, pinggangnya besar perutnya gendut, tetapi matanya bersinar terang. Keadaannya juga segar tidak terdapat tanda-tanda seperti orang sedang sakit. Maka diam-diam merasa heran, pikirnya: Mengapa bibi kini berubah gemuk sekali?

Ia ingat dahulu pinggang bibinya itu ceking langsing, tidak segemuk itu. Ia segera menegurnya:

“Jie Kow-kow, kau benar-benar gemuk sekali.” Jie Im Nio tertawa geli, ia balas menanya, “Benarkah?”

Pada saat itu seorang pelayan sedang mengantar teh, pelayan itu bekas anak buah Tiat Mo Lek, maka kenal baik dengan dua saudara Tiat itu. Ketika mendengar ucapan Tiat Leng, mengunjukkan rasa geli.

Tiat Leng lalu menegurnya:

“Eh, mengapa kalian tertawai aku? Apakah aku salah kata?”

“Nona Tiat, kalian berdiam beberapa hari dulu di sini, nanti akan dapat makan telur merah bibimu,” jawabnya pelayan wanita itu.

Tiat Leng kini baru tahu bahwa badan bibinya bukan gemuk, melainkan sedang mengandung. Ia juga merasa geli sendiri, lalu berkata:

“Aku benar-benar sudah linglung. Bibi aku menghaturkan selamat kepadamu.” Pui Pek Hu lalu berkata:

“Oleh karena bibimu mengandung, maka aku tidak bisa berkelana lagi ke dunia Kang-ouw, dan perlu pulang beristirahat di rumah. Tetapi aku benar-benar tidak mengerti bagaimana kalian mengetahui kediamanku ini?”

“Pada sepuluh hari berselang, kita telah berjumpa dengan paman Lam, paman Lam itulah yang memberitahukan kepada kita,” berkata Tiat Ceng.

“Lam Hee Lui hendak ke Selatan untuk merampas ransum kerajaan, sayang bibimu sedang mengandung tua, sehingga kita tidak dapat membantunya Apakah kedatangan kalian ini lantaran urusannya?” berkata Pui Pek Hu.

“Bukan,” jawabnya Tiat Ceng. Sedang dalam hatinya berpikir: Bibi sedang mengandung tua, apakah aku baik memberitahukannya?

Tiat Ceng meski mengerti urusan, tetapi sebagai pemuda yang baru berusia enam-tujuh belasan, terhadap urusan perempuan mengandung sedikitpun tidak mengerti, ia malah khawatir kalau mengganggu bayi dalam kandungan bibinya. Pui Pek Hu terperanjat, ia berkata:

“Apakah di atas gunung terjadi apa-apa?” Jie Im Nio lalu berkata sambil tertawa:

“Kau tidak usah khawatir, bicaralah terus terang, sekalipun aku tidak bisa membantu kalian, juga bisa bantu memikirkan untuk kalian.”

Tiat Leng tahu benar bibinya itu, yang mempunyai kecerdasan otak luar biasa. Selama hidupnya entah sudah berapa banyak bahaya yang ditempuhnya, belum pernah merasa gentar atau bingung. Apa yang terpikir dalam hatinya itu ia segera utarakan:

“Bukan terjadi urusan di atas gunung, melainkan kita yang menemukan kejadian di luar dugaan. Kita membawa satu kereta barang berharga yang berupa barang permata, telah dirampas oleh pasukan tentaranya Tian Sin Cie.”

Jie Im Nio berkata:

“Oh, ada kejadian demikian? Dari mana kalian dapatkan barang permata sedemikian banyak itu? Dan dengan cara bagaimana pula bisa dirampas oleh pasukan Tian Sin Cie?”

Tiat Ceng dengan ringkas menceritakan semua apa yang telah terjadi, Tiat Leng lalu menyelak:

“Bibi tidak leluasa bergerak, kita tidak berani mengganggu bibi dan susiok, cuma ingin minta petunjuk bibi. Malam ini kita ingin menyelundup ke gedung pemerintahan daerah, tetapi tidak kenal baik keadaan di sana.”

Jie Im Nio lala berkata sambil tertawa:

“Kiranya kalian hendak menelad perbuatan bibi Toan kalian. Keberanian memang patut dipuji, tetapi barangkali harus dipikirkan dulu masak-masak, karena Tian Sin Cie mempunyai banyak pahlawan gagah kuat!”

“Kita sudah memikirkannya. Cuma satu jalan ini yang dapat kita tempuh, kita tidak takut bahaya,” kata Tiat Leng.

“Baiklah, anak-anak muda juga sudah seharusnya diberi banyak pengalaman, malam ini biarlah susiok kalian yang ikut kalian pergi.”

Tiat Ceng lalu berkata:

“Jangan Pui susiok harus berdiam di rumah menungggu bibi. Kedatangan kita hari ini, meskipun sepanjang jalan kita menjumpai orang-orang yang patut dicurigai, tetapi tidak boleh tidak juga harus menjaga kejadian di luar dugaan. Andaikata ada kaki tangan pembesar negeri datang mengadakan pemeriksaan, kalau susiok ada di rumah tentu mudah menghadapinya.”

Sifat Tiat Ceng sama dengan ayahnya, dalam segala hal selalu memikirkan diri orang lain lebih dulu. Jie Im Nio lalu berkata sambil tertawa:

“Pek Hu lihat betapa hebatnya anak-anak jaman sekarang, kalau dibandingkan dengan keadaan di waktu kita seumur mereka, sesungguhnya jauh lebih menang. Baiklah, kalian makan lebih dulu nanti aku atur lebih jauh.”

Tiat Leng melihat Jie Im Nio menyetujui rencananya, lalu menarik napas lega. Ia berkata sambil tertawa: “Kita semalam jam tiga, habis makan seekor rusa, perut belum merasa lapar, hanya ingin tidur.”

“Baik kalau begitu kalian pergi tidur dulu, legakan hatimu, tidurlah dengan pikiran tenang, malam ini kalau kurang semangat sesungguhnya sangat berbahaya bagi kalian sendiri.” Mereka tidur nyenyak sekali, senja hari baru dibangunkan oleh Jie Im Nio. Setelah makan malam, Jie Im Nio lalu memberi petunjuk kepada mereka rencana yang harus dilakukan malam ini.

Ia sudah membuat sebuah gambar peta katanya:

“Sudah hampir sepuluh tahun aku tidak pernah ke gedung kepala daerah Tian Sin Cie itu. Tetapi aku percaya, meskipun bangunannya ditambah, kebanyakan masih tidak banyak perubahan.

“Tian Sin Cie dahulu mendiami kamar sebelah timur, sedang anaknya mendiami loteng sebelah Barat. Kalian boleh coba memeriksa tempat itu, jika dapat menangkap salah satu di antara dua orang itu, kita tidak usah khawatir mereka tidak akan mengembalikan barang-barang kalian itu. Aku tahu kalian semuanya sudah mempunyai kepandaian cukup tinggi tetapi di gedung Tian Sin Cie mempunyai banyak tenaga yang kuat, sebaiknya kalian bertindak lebih hati-hati.

“Setelah kalian masuki gedung kepala daerah, jangan berjalan bersama-sama. Tiga orang boleh mengambil jalan sendiri-sendiri, satu ke kamar sebelah timur, satu ke loteng sebelah barat, dan satu lagi jaga di atas gunung-gunungan yang letaknya di tengah-tengah antara dua tempat tersebut.

“Dengan begini ada baiknya bagi keselamatan diri kalian, apabila ada satu yang dipergoki, dua orang yang lainnya boleh keluar untuk menghalau pihak musuh, supaya mereka menjadi bingung dan kacau, karena tidak tahu tepat berapa jumlahnya orang yang datang. Dengan demikian kalian agak kurang berbahayanya terkurung oleh pasukan besar, bahkan banyak kesempatan untuk melarikan diri.”

Jie Im Nio ternyata bertindak sangat hati-hati, banyak bagian yang belum dapat dipikirkan oleh Tiat Ceng, ia telah memberi petunjuk dengan terang. Setelah membentangkan keadaan gedung kepala daerah menurut gambar peta yang dibuatnya sendiri itu, lalu memberi mereka tiga stel pakaian malam, tiga kantong senjata rahasia, ia berkata:

“Malam ini rembulan akan terang, kalian semua harus tukar pakaian malam. Dalam kantong ini terdapat senjata rahasia jarum Bwee-hoa-ciam, biji peluru Tiat-lian-cie dan sebagainya, juga ada batu api, aku telah sediakan untuk keperluan apa bila keadaan mendesak, supaya bisa digunakan untuk membakar rumah.”

Tiat Ceng bertiga baru tahu bahwa sewaktu mereka tidur, Jie Im Nio sudah membuatkan mereka tiga stel pakaian baru buat jalan malam.

Jie Im Nio hanya lebih tua daripada mereka kira-kira sepuluh tahun usianya, tetapi bukan saja seperti kakak mereka, tetapi juga seperti ibu yang bijaksana.

Mereka bertiga lalu berganti pakaian malam. Waktu jam dua malam telah tiba, Jie Im Nio memberi pesan kepada mereka:

“Gambar peta Tiat Ceng boleh dibawa, kalian periksa sekali gambar itu, ingat baik-baik dalam otak. Kalau sudah masuk ke sana, kalian sudah harus jalan berpencaran, sehingga tidak bisa memeriksa gambar lagi. Sudah, kalian boleh berangkat, aku doakan supaya kalian berhasil. Di rumah aku menunggu kabar baikmu!”

Tiga orang muda mudi keluar dari rumah keluarga Pui, segera mengeerahkan ilmunya berlari pesat, menuju ke kota Gui-pok.

Di tengah jalan, Tiat Ceng berkata:

“Bibi Jie telah menyiapkan segalanya dengan sangat sempurna, hanya ada satu hal di luar dugaanku.” “Hal apa?” bertanya Tiat Leng.

“Bukankah Pui susiok berkata hendak melindungi kita? Aku semula menduga kita harus berunding dulu baru dapat mencegah maksudnya, siapa tahu bibi Jie dan Pui susiok akhirnya tidak membicarakan soal itu lagi.”

“Apakah itu tidak baik? Ini suatu tanda bahwa bibi Jie sudah percaya kepada diri kita, maka bibi Jie dan Pui susiok juga tidak perlu berlaku merendah kepada kita lagi.” Tiat Leng tidak tahu bahwa mereka suami istri sudah berunding masak-masak. Pui Pek Hu akan melindungi mereka secara menggelap, jangan sampai diketahui oleh mereka, supaya mereka tidak terganggu pikirannya.

Maka begitu mereka keluar, Pui Pek Hu juga berangkat dengan mengenakan pakaian jalan malam, bahkan menggunakan kedok di mukanya.

Sebab ia masih akan berdiam beberapa bulan di rumahnya, sehingga perlu menjaga jangan sampai dikenali mukanya. Tetapi ia masih belum tega meninggalkan istrinya seorang diri, beberapa kali ia merasa ragu-ragu.

Sang istri agaknya dapat melihat keraguan suaminya, maka lalu berkata:

“Kau boleh berangkat, kalau terlambat barang kali tidak dapat menyusul mereka.”

“Kau baru saja bukan sudah merasa sakit perutmu? Apakah tidak mungkin malam ini...” berkata suaminya.

“Sudah tidak sakit lagi, tidak mungkin begitu kebetulan. Apa lagi andaikata benar melahirkan, kau juga tidak bisa memberi bantuan apa-apa.”

“Karena aku hendak menjadi ayah untuk pertama kalinya, dengan sendirinya hati merasa tegang. Entah apakah sebabnya, mataku selalu kekedutan, sehingga aku khawatir akan terjadi apa-apa.”

“Seorang laki-laki yang berjiwa jantan juga percaya segala takhayul? Pergilah, aku bisa mengurus diriku sendiri.”

Sebetulnya Pui Pek Hu sudah bertekad hendak pergi membantu Tiat Ceng bertiga, tetapi dalam keadaan demikian harus meninggalkan isterinya yang sedang hamil tua, apalagi dalam rumah tidak ada orang yang dapat diandalkan untuk menjaga, sedikit banyak merasa tak tega.

Pui Pek Hu turun daerah pegunungan, mulai melakukan perjalanannya melalui jalan raya. Waktu itu sudah hampir jam tiga malam, tiba-tiba ia dapat melihat tiga penunggang kuda lari mendatangi ke arahnya dari jalan persimpangan. Ia lalu bersembunyi di belakang pohon, membiarkan mereka lewat.

Di bawah sinar rembulan remang-remang ia dapat melihat bahwa tiga penunggang kuda itu adalah tiga orang laki-laki berperawakan tegap, semuanya membawa senjata. Dalam hati ia lalu berpikir: Tiga orang itu entah dari golongan mana? Pakaian mereka menandakan dari golongan biasa, tidak mungkin kaki tangannya Tian Sin Cie.

Dalam waktu sekejap mata saja, tiga orang penunggang kuda itu sudah berlalu jauh. Tetapi mereka melarikan kudanya ke arah jalan kecil di bawah bukit, tiba-tiba dalam otaknya timbul perasaan khawatir, andaikata mereka itu menggeledah rumahnya, bagaimana?

Tetapi kemudian ia berpikir pula: Orang asing sama sekali, bagaimana tahu rumahku. Tiat Ceng bertiga semalam hampir pagi baru datang, tidak mungkin kabar kedatangannya bisa tersiar demikian cepat.

Dalam hati Pui Pek Hu meskipun merasa tak enak meninggalkan isterinya sendirian di rumah tetapi ia lebih mengutamakan kesetia kawan dunia Kang-ouw, maka dalam hatinya berpikir lagi: Tiat Ceng bertiga merupakan anak-anak yang baru menginjak dewasa dan baru muncul di dunia Kang-ouw, kalau aku tidak mengetahui persoalan ini masih tak apa, tetapi aku sudah diberitahu, sudah seharusnya aku melindungi mereka secara diam-diam. Jikalau tidak, andaikata mereka jatuh di tangan kepala daerah Tian Sin Cie, bagaimana aku mempunyai muka untuk bertemu dengan Tiat Suheng?

Berpikir demikian, maka kekhawatirannya terhadap diri istrinya telah disingkirkan ke samping. Ia mempercepat gerak kakinya, melanjutkan perjalanannya, sehingga sudah dapat melihat bayangan Tiat Ceng bertiga, ia baru bisa menarik napas lega.

<>

Tiat Ceng bertiga tidak berjumpa dengan tiga penunggang kuda itu, juga tidak tahu Pui Pek Hu mengikuti di belakangnya. Pemuda semuanya berdarah panas, mereka ingin cepat-cepat masuk kota Gui-pok.

Tiat Ceng bertiga mempunyai kepandaian ilmu lari pesat cukup sempurna, perjalanan sejauh limapuluh pal, telah dicapai dalam waktu satu jam. Baru lewat jam tiga malam, mereka sudah sampai di kota Gui- pok.

Tembok kota tinggi kira-kira dua tombak, pintu kota juga dijaga pasukan penjaga, tetapi semua ini bukan merupakan rintangan berat bagi muda mudi itu. Setelah berada dalam kota, mereka bertiga lari menuju ke gedung Tian Sin Cie.

Menurut petunjuk dalam gambar peta, mereka harus masuk dari ujung barat daya taman bunga yang letaknya di belakang gedung kepala daerah itu.

Sudah berapa puluh tahun Tian Sin Cie menjabat jabatan kepala daerah, kekejamnya sudah tidak terhitung. Hanya taman bunganya saja, sudah menempati tanah seluas beberapa hektar, bangunan rumah berderet-deret, tanaman pohon bagaikan rimba.

Tiat Ceng menggunakan hancuran tanah lempung, disambitkan ke atas pohon. Beberapa ekor burung gagak yang berada di atas pohon, segera berterbangan. Tiada seorangpun yang menduga ada orang datang memasuki taman. Salah satu di antara mereka malah menggunakan anak panah, untuk memanah burung-burung yang tidak tahu diri itu.

Seorang di antara mereka lalu berkata:

“Aku kira ada orang datang, sampai aku hampir melompat.” Seorang lagi berkata:

“Siapa yang berani memasuki taman ini? Kecuali kalau memang sudah tidak menyayangi jiwanya sendiri!” Si jago panah itu lalu berkata:

“Kau tidak tahu, bocah kemarin itu kepandaiannya tinggi sekali. Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri tentara kita yang jumlahnya ribuan jiwa, juga tidak sanggup menangkap satupun juga. Cukong justru takut bangsat-bangsat kecil itu akan datang menuntut balas, baru menyuruh kita memperkuat penjagaan taman bunga ini.”

Sang kawan itu berkata sambil tertawa

“Andaikata aku musuh, aku juga tidak akan berlaku begitu bodoh, baru saja kemarin terjadinya pertempuran itu, mungkinkah malam ini berani datang? Setidak-tidaknya juga harus menunggu beberapa hari lagi. Karena dalam beberapa hari ini kita pasti akan mengadakan penjagaan lebih kuat, apakah hal ini mereka tidak bisa berpikir?”

Beberapa peronda itu tidak menduga bahwa selagi mereka saling bertengkar, Tiat Ceng bertiga sudah melompati tembok dari lain sudut dan memasuki taman bunga.

Menurut rencana yang sudah ditetapkan Tiat Ceng harus pergi menyelidiki kamar sebelah timur, Tiat Leng menyelidiki loteng sebelah barat, sedangkan Can Pek Sin ditugaskan untuk menjaga dan membantu apabila perlu.

Mereka masuk dari sudut barat laut, terpisah kamar sebelah timur agak jauh. Kamar itu merupakan kamar kediaman Tian Sin Cie, penjagaan tentu sangat kuat oleh karena itu, maka tugas itu harus dipegang sendiri oleh Tiat Ceng.

Bertiga lalu berpencaran, tetapi Can Pek Sin masih mengkhawatirkan diri Tiat Leng, maka meski tugasnya mengawasi dua kawannya, namun perhatiannya banyak ditujukan kepada diri nona cilik itu. Ia memilih tempat sembunyi di gunung-gunungan yang letaknya agak dekat dengan loteng sebelah barat.

Dalam taman bunga itu terdapat banyak gunung-gunungan pohon besar. Tiat Leng dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya mahir sekali, bahkan sudah berhasil mendekati loteng yang dituju. Loteng itu dibangun di tengah-tengah gunung-gunungan yang mempunyai pemandangan indah. Saat itu sudah jam tiga lewat tengah malam, tetapi di atas loteng lampu api masih menyala. Dari samar-samar dapat dilihat bayangan-bayangan penari perempuan yang sedang menari juga terdengar suara menyanyi dan musik.

Tiat Leng sudah lompat ke atas gunung-gunung di samping loteng, karena tempat itu letaknya agak tinggi sehingga dapat terlihat jelas keadaan di dalam loteng. Ia melihat Tian Yat, sedang duduk di tengah-tengah para penari sambil minum arak. Disamping tidak terdapat seorang pengawalpun yang mengawal dirinya. Itulah merupakan kesempatan yang sangat baik bagi Tiat Leng bertindak.

Jikalau Tiat Leng adalah seorang pejalan malam yang sudah berpengalaman, pasti akan timbul perasaan curiga, karena loteng itu adalah tempat kediaman Tian Yat, bagaimana mungkin tidak terjaga kuat?

Akan tetapi Tiat Leng adalah seorang gadis cilik yang baru muncul di dunia Kang-ouw, ketika melihat Tian Yat berada di loteng dalam keadaan demikian, karena girangnya, ia sudah tidak bisa berpikir panjang lagi.

Ia segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, dari tempat berdirinya ia melesat ke loteng! Bersama dengan itu tangannya sudah menggunakan tiga macam senjata rahasia untuk menyerang Tian Yat.

Diluar dugaannya, ketika ujung kaki Tiat Leng baru saja menginjak kayu langkan itu tiba-tiba roboh sehingga papan-papan loteng juga turut pecah dan mengeluarkan suara gemuruh.

Sedangkan senjata rahasia yang dilancarkan olehnya, terang tadi sudah meluncur masuk, tetapi seolah- olah kebentur dengan dinding tembok sehingga terpental balik semuanya.

Ternyata loteng itu sudah dirobah bangunannya serta diperlengkapi dengan berbagai alat jebakan. Sebab- sebabnya diadakan perubahan itu ialah karena dahulu gedung itu pernah dikacau oleh Toan Khek Gee dan istrinya.

Tian Sin Cie telah kehilangan kotak mas yang di dekat bantalnya. Setelah kejadian tersebut Tian Sin Cie merasa ketakutan, maka ia mengundang tukang yang pandai untuk merobah bentuk bangunan tempat kediamannya sendiri dan kediaman anaknya, serta diperlengkapi oleh pesawat jebakan...

Loteng itu semua bagian bisa bergerak, apabila tersentuh oleh barang berat segera roboh seketika. Hanya tempat-tempat yang melalui loteng di bagian tengah yang tidak bisa bergerak. Sedangkan semua lobang jendela telah diperlengkapi dengan selapis batu kristal yang dapat digunakan untuk menahan senjata rahasia.

Semua perobahan ini tidak diketahui oleh Jie Im Nio.

Tiat Leng masih terhitung mujur. Andaikata ia menginjak papan loteng, maka ia akan terjatuh ke dalam kolam air, akibatnya akan lebih hebat. Kini ia hanya menginjak langkan, dan langkan itu lalu rubuh, meskipun ia terperanjat sehingga jatuh di tanah. Tetapi ia sangat cerdik, begitu jatuh di tanah segera bergelindingan, sehingga tidak sampai tertindih oleh balok-balok itu.

Tian Yat segera mengetahui ada orang mengarah jiwanya, maka ia lantas berteriak: “Ada maling, ada maling!”

Sebetulnya tidak perlu ia berteriak, sebab rubuhnya langkan tadi sudah menyadarkan semua pengawal di dalam taman itu, segera muncul ke luar dari belakang gunung-gunungan, dan dari gerombolan pohon melompat keluar para pengawal yang jumlahnya tidak sedikit itu.

Tiat Leng baru saja terhindar dari tindihan balok besar, sudah dibacok oleh sebilah golok besar, tetapi baru saja ia berhasil mengelakkan bacokan itu serta belum sempat melompat berdiri dua tombak panjang kembali menusuk ke arah dadanya. Tiat Leng melintangkan pedangnya, tetapi karena ia telentang di tanah tidak dapat mengeluarkan tenaga dan tidak dapat menahan meluncurnya ujung tombak.

Tiat Leng selagi dalam keadaan bahaya, tiba-tiba terdengar suara jeritan yang keluar dari mulut pengawal jang hendak menusuk dirinya. Pengawal itu segera rubuh tidak bisa berkutik lagi. Pengawal yang satunya karena dikejutkan oleh kejadian yang tidak terduga-duga itu seketika agak terkejut, kesempatan itu digunakan oleh Tiat Leng, ia lalu menyambar ujung tombak yang kemudian dipapas putung oleh pedangnya.

Ternyata pengawal ini telah diserang oleh Can Pek Sin dengan senjata rahasia, tetapi karena jaraknya agak jauh, sehingga hanya merobohkan seorang saja.

Tiat Leng segera lompat jauh, semangatnya terbangun seketika. Tiat Leng unggul dalam ilmu meringankan tubuh dan ilmu pedangnya yang sangat aneh tetapi kelemahan adalah usianya yang masih terlalu muda sehingga tenaganya masih kurang. Dalam keadaan telentang tadi ia tidak bisa berkata apa-apa, tetapi setelah melompat berdiri beberapa pengawal yang biasa saja sudah tentu tidak mampu mendekati dirinya.

Ujung pedangnya lebih dulu merobohkan pengawal yang hendak menikam dirinya. Setelah itu ia bergerak ke sana kemari dengan lincahnya, kembali dua pengawal telah dirobohkan.

Seorang pengawal yang bersenjatakan golok besar tiba-tiba berseru:

“Eh, seorang nona cilik!” Tiat Leng lalu berkata,

“Benar nona cilik, dan kau mau apa?” Pedangnya bergerak pula menikam pengawal tersebut.

Pengawal itu memutar goloknya, berhasil menangkis serangan Tiat Leng yang dilancarkan demikian hebat, sedang mulutnya berseru:

“Nona cilik yang begini galak sesungguhnya jarang kulihat. Koko lekas datang!” Tiat Leng lalu berkata:

“Suruhlah kakakmu datang aku juga tidak takut.” Tiba-tiba terdengar suara seorang menyahut:

“Aku kira siapa? Ternyata adalah kau bocah cilik yang tidak tahu diri. Kau bukan tandinganku, lekas menyerah saja!”

Orang itu adalah seorang perwira yang bukan lain dari pada U-tie Cun. Tiat Leng berkata dengan suara gusar:

“Kepandaianmu juga tidak berapa tinggi, kalian kakak beradik boleh maju serentak.”

Ia mengira U-tie Cun adalah kakak pengawal yang menggunakan senjata golok itu, tetapi setelah pengawal itu mendengar perkataan Tiat Leng lalu berkata sambil tertawa:

“U-tie Ciangkun, budak perempuan ini mengajak bertempur dengan kita kakak beradik. Ciangkun kiranya juga tidak memandang jasa itu. Biarlah kita berdua yang menghadapinya!”

Mendengar perkataan itu Tiat Leng baru tahu bahwa perwira itu bukan kakak pengawal tersebut, sedang seorang perwira lain yang membawa senjata golok, yang saat itu menghampiri padanya, mukanya mirip dengan pengawal tersebut.

Dua orang perwira dan seorang pengawal itu sudah mengambil sikap mengurung diri Tiat Leng tetapi Can Pek Sin saat itu juga sudah tiba di tempat itu, lalu berkata dengan suara keras:

“U-tie Cun, kau berani bertempur secara laki-laki melawan aku?”

Can Pek Sin tahu bahwa U-tie Cun adalah seorang perwira tinggi yang adatnya sangat sombong maka ia sengaja menantang dirinya untuk mengurangi musuh Tiat Leng.

Perwira itu berkata dengan suara dingin: “Kau bangsat kecil ini juga mengerti akal untuk memanaskan hati orang. Baiklah biar bagaimana kalian juga tidak bisa keluar lagi, biarlah kau kalah dengan hati puas!”

U-tie Cun lalu menghadapi Can Pek Sin. Sebelum bertindak ia memesan kepada dua kawannya tadi:

“Baik, nona cilik ini kuserahkan kepada kalian. Tetapi kalian harus hati-hati, supaya dapat menangkap hidup-hidup.”

Dua saudara itu berkata:

“Ciangkun jangan khawatir, kita tidak akan berbuat salah.”

Dengan demikian lima orang itu lalu bertempur jadi dua rombongan.

Can Pek Sin sudah mulai melancarkan serangan, ujung pedang mengarah muka U- tie Cun.

U-tie Cun dengan cara berputaran bagaikan gansing, berhasil mengelakkan serangan tersebut.

Tetapi Can Pek Sin terus mendesak, pedangnya kembali menikam jalan darah di belakang punggung U-tie Cun.

Sambil berseru: “Hei gesit sekali kau!” Ia membalikkan tangannya dengan beruntun, pecutnya digunakan untuk menangkis, baru berhasil menyingkirkan serangan Can Pek Sin yang hebat itu.

Keduanya bertempur secara sengit, tetapi karena U-tie Cun kalah cepat, selalu didesak oleh Can Pek Sin yang bergerak lebih gesit.

Anak buah U-tie Cun semua tahu adat perwira itu. Kalau maju membantu malah akan disemprot olehnya, maka tiada seorangpun yang berani maju membantu, sebaliknya pada berdiri sebagai penonton.

U-tie Cun semula tidak pandang mata Can Pek Sin, setelah bertempur sepuluh jurus lebih, ia masih belum mampu mengimbangi kepandaiannya, baru hatinya mengeluh, tetapi ia adalah seorang yang sangat sombong, ia merasa malu minta bantuan kepada anak buahnya.

Kiranya kemarin waktu U-tie Cun bertempur dengan Can Pek Sin dan Tiat Leng, Can Pek Sin karena lebih dulu sudah bertempur hampir satu hari penuh maka waktu bertempur sengit itu tidak dapat mengunjukkan seluruh kepandaiannya. Dalam mata U-tie Cun, kepandaian pemuda itu biasa saja, tetapi sebetulnya jauh lebih tinggi dari pada kepandaian U-tie Cun sendiri. Sayang pengalamannya masih belum ada, jikalau tidak dalam limapuluh jurus ia sudah dapat merebut kemenangan.

Kalau di pihak Can Pek Sin sudah unggul, sebaliknya pihak Tiat Leng sangat berbahaya.

Dua orang kakak beradik yang melawan Tiat Leng itu adalah, Ciok Kung dan Ciok Chio. Kepandaian dua saudara Ciok itu sebetulnya tidak bisa menandingi Tiat Leng, tetapi mereka melatih semacam ilmu golok aneh, yang digunakan secara bahu membahu, karena kerja sama yang sangat rapi dua saudara itu, sehingga Tiat Leng tidak sanggup melawannya.

Dua saudara itu, sang kakak menggunakan tangan kiri, sedang sang adik menggunakan tangan kanan, dengan demikian dua golok itu merupakan dua senjata ampuh yang sulit dicari lowongannya.

Ilmu pedang Tiat Leng meskipun aneh, dan bagus sekali, tetapi pengalamannya masih belum ada. Apa lagi ia belum biasa menghadapi musuh yang menggunakan golok di tangan kiri, maka akhirnya ia hanya mampu menangkis saja.

Untung ilmu meringankan tubuh Tiat Leng masih di atasnya dua saudara Ciok itu. Ketika melihat gelagat kurang baik, ia lalu menggunakan kelincahan dan kegesitannya, sehingga ilmu golok dua saudara itu tidak berhasil mengenakan dirinya.

Tetapi dua saudara Ciok itu sudah biasa menghadapi pertempuran besar, lama kelamaan sudah dapat mengetahui keunggulan dan kelemahan Tiat Leng maka segera merobah ilmu goloknya. Sang kakak menyerang dari kiri ke kanan dengan satu lingkaran besar, sedangkan sang adik dari kanan ke kiri juga membuat satu lingkaran besar. Tiat Leng lalu terkurung dalam lingkaran serangan golok itu, dengan susah payah ia menangkis dan mengelakkan serangan tetapi masih belum bisa melepaskan diri dari kurungan lingkaran pedang itu.

Dua saudara itu mendesak semakin hebat, hingga Tiat Leng makin susah menggunakan kelincahannya.

Can Pek Sin yang baru saja berada di atas angin, ketika menyaksikan Tiat Leng dalam bahaya hatinya sangat cemas, ia ingin mencoba keluar bergandengan dengannya. Tetapi U-tie Cun juga bukan bangsa lemah, senjata pecutnya yang merupakan senjata panjang, kalau diputar jarak tiga tombak di sekitarnya, semua di bawah pengaruh pecutnya. Sekalipun kepandaiannya belum sebanding dengan Can Pek Sin, tetapi kalau digunakan untuk merintangi Can Pek Sin masih cukup mampu.

Can Pek Sin selalu terbentur oleh pengalamannya yang belum banyak, maka hatinya semakin cemas gerakannya semakin kalut. Kesempatan itu lalu digunakan oleh U-tie Cun untuk merebut kedudukannya, sehingga Can Pek Sin berbalik menjadi pihak yang terdesak.

Can Pek Sin bukan saja cemas hatinya karena Tiat Leng, tetapi juga sangat mengkhawatirkan dirinya Tiat Ceng. Karena mereka sudah berjanji, barang siapa menjumpai kejadian di luar dugaan, dua yang lainnya segera memberi bantuan, sekalipun rencana mereka tidak akan terwujud, juga perlu menolong orangnya lebih dulu.

Tetapi kini Tiat Leng telah mengalami kegagalan, pertempuran juga sudah berlangsung satu jam lamanya, suara pengawal terdengar amat riuh, meskipun Tiat Ceng berada kira-kira satu pal dari tempat terjadinya pertempuran itu juga tak mungkin kalau tidak dapat dengar, dengan kepandaiannya lari pesat Tiat Ceng, sudah seharusnya akan tiba untuk memberi bantuan.

Tetapi hingga saat itu masih belum nampak bayangan Tiat Ceng. Sang waktu berlangsung terus, kedudukan Tiat Leng semakin berbahaya, apakah Tiat Ceng di sana juga mengalami kegagalan?

Kalau Can Pek Sin bisa menduga demikian sudah tentu Tiat Leng pun bisa. Ia yang berada dalam keadaan bahaya tetapi masih belum melihat bayangan kakaknya, sudah tentu merasa lebih cemas dari pada Can Pek Sin. Dalam suatu saat karena hatinya cemas golok Ciok Chio telah menyambar kepalanya dan menjatuhkan tusuk kondenya, untung ia berlaku gesit, jikalau tidak disayat kepalanya tentu akan terbelah jadi dua.

Serangan Ciok Chio tadi sebetulnya cuma hendak membikin takut dirinya, sebab ia hendak menangkap hidup-hidup, jikalau tidak terpaksa ia tidak mau membunuhnya.

Sehabis berhasil memapas tusuk konde Tiat Leng, Ciok Chio lalu berkata sambil tertawa terbahak-bahak:

“Nona kecil, jangan keras kepala, lekas menyerah, kita akan mengampuni jiwamu. Kau jadi tawanan Tian Kongcu, nasibmu akan lebih baik dari pada menjadi berandal di atas gunung!”

Tiat Leng membentak dengan alis berdiri, karena gusarnya ia malah tak merasa cemas lagi. Ia telah bertekad hendak mengadu jiwa, menyerang dua musuhnya itu dengan secara ganas.

Ilmu pedang Tiat Leng merupakan ilmu pedang kelas wahid, karena ia berkelahi secara nekad maka setiap serangannya merupakan serangan kematian.

Tetapi, walaupun untuk sementara Tiat Leng berhasil memperbaiki kedudukannya, namun karena tenaganya kurang, ia masih belum berhasil menembus dua bendungan golok Ciok bersaudara.

Dua saudara Ciok itu sudah mengambil keputusan, mereka rupanya hendak menghabiskan tenaga Tiat Leng supaya bisa ditangkap hidup-hidup.

Can Pek Sin yang juga dalam keadaan cemas, punggungnya telah terkena terserang oleh pecut U-tie Cun sehingga menimbulkan rasa sakit. Dalam gusarnya, ia sudah hendak menerjang keluar secara nekad, tetapi pada saat itu tiba-tiba terdengar suara bunyi gembreng riuh yang disertai oleh suara orang yang berteriak, “Kebakaran, kebakaran! Lekas padamkan api! Maling-maling lekas tangkap maling!” Suara itu datang dari arah utara, tidak antara lama dari sebelah selatan juga terdengar suara orang berteriak: “Celaka, ruangan kantor juga terbakar!”

Ruangan kantor itu merupakan tempat sangat penting. Semua surat-surat penting dan dokumen-dokumen tersimpan di tempat tersebut. Oleh karena terjadinya kebakaran itu sehingga keadaan menyadi kalut.

Sementara, api yang berkohar di dua tempat itu belum dipadamkan, kembali terdengar suara orang berteriak yang mengatakan bahwa kamar kediaman Tian Sin Cie juga sudah dibakar, sehingga keadaan semakin kalut.

Can Pek Sin dan Tiat Leng merasa girang mereka semua menduga bahwa itu pasti adalah perbuatannya Tiat Ceng.

U-tie Cun yang menyaksikan keadaan itu lalu berkata dengan suara keras:

“Jangan gugup, bagi beberapa orang pergi menolong kebakaran, biar bagaimana dua bangsat kecil ini tidak boleh dibiarkan begitu saja!”

Orang she U-tie itu sebetulnya ingin sebahagian anak buahnya membantunya menangkap dua bangsat kecil itu, karena ia sedang khawatir tidak menghadapi Can Pek Sin dengan seorang diri saja. Saat itulah dianggap merupakan saat yang terbaik, yang ia dapat gunakan sebagai alasan supaya dapat memerintahkan anak buahnya membantu dirinya.

Para pengawal itu lalu maju menyerbu. Can Pek Sin terpaksa memutar pedangnya untuk melawan mati- matian. Untuk sementara ia masih dapat menahan datangnya arus manusia itu tetapi Tiat Leng sudah sangat berbahaya lagi, sehingga terpaksa berseru: “Koko lekas kemari!”

Tepat pada saat itu golok Ciok Chio yang sedang menyerang Tiat Leng, tiba-tiba mengeluarkan suara “teng,” sebuah batu kecil entah darimana datangnya sudah menerbangkan golok di tangan Ciok Chio.

Karena ilmu golok persaudaraan Ciok harus dimainkan dengan serentak, maka waktu golok adiknya terlepas dari tangan, sedang gerakan golok di tangan sang kakak belum keburu dirobah hingga tempat itu merupakan satu tempat terluang.

Gerak pedang Tiat Leng yang gesit sekali, sudah tentu tidak mau melepaskan kesempatannya yang baik itu, ia segera gerakan pedangnya untuk menikam lengan kanannya. Kalau kemaren ia masih takut melihat darah, tetapi malam itu karena jiwanya terancam ia terpaksa menggunakan serangannya yang ganas sehingga tidak takut melihat darah lagi.

Dua saudara Ciok itu terpaksa melarikan diri, dengan demikian Tiat Leng terlepas dari bahaya. Sementara para pegawal itu tiba-tiba berseru: ”Maling ada di sana mari kita tangkap!”

Dalam herannya Tiat Leng segera angkat kepala. Di bawah sinar rembulan remang-remang ia dapat melihat di atas gunungan di seberang kolam, berdiri seorang berpakaian hitam yang selalu menyambit batu ke arah para pengawal itu dengan tanpa suara.

Beberapa pengawal yang lari ke sana, belum berhasil mendekati gunung-gunungan itu semua sudah kena disambit bagian jalan darahnya dengan batu itu sehingga roboh satu persatu.

Tiat Leng berseru girang: “Koko!”

Tetapi orang berpakaian hitam itu tidak menjawab, hanya beberapa batu kecil berterbangan ke arahnya untuk merobohkan pengawal yang mengepung dirinya.

Gunung-gunungan itu terpisah kira-kira tigapuluh tombak jauhnya, sehingga Tiat Leng tidak dapat lihat jelas muka orang itu hanya dalam hatinya saja berpikir: Kekuatan tenaga dalam Koko, meski lebih tinggi dariku, tetapi biasanya di waktu kita melatih senjata rahasia agaknya belum mempunyai kepandaian demikian tinggi, yang dapat melukai orang sejarak tigapuluh tombak. Dalam hatinya mulai curiga bahwa orang itu bukanlah kakaknya, tetapi biar bagaimana kedatangan orang itu dengan maksud memberi bantuan mereka, maka Tiat Leng juga tidak perlu mencari tahu siapa orangnya.

Pada saat itu Can Pek Sin juga sedang berusaha nerobos keluar dari kepungan, sehingga Tiat Leng dengan cepat memberi bantuan.

Batu yang disambitin orang itu kini telah berubah arahnya, semua ditujukan kepada orang-orangnya U-tie Cun itu yang mengepung Can Pek Sin, sehingga beberapa di antaranya sudah rubuh.

U-tie Cun lalu berkata dengan suara gusar:

“Melukai orang secara menggelap apakah itu perbuatannya seorang gagah? Kalau kau mempunyai kepandaian mari keluar boleh mengadu kepandaian dengan aku.”

Belum lagi ia menutup mulutnya, sebuah batu sudah menghantam pergelangan tangannya.

U-tie Cun nekat juga, ia dengan cepat mengibaskan tangannya, meskipun terkena serangan tetapi tidak mengenakan bagian jalan darahnya.

Namun demikian tangannya juga dirasakan kesemutan sehingga senjatanya hampir terlepas jatuh. Diam- diam ia terkejut juga merasa gentar akan kepandaian dan kekuatan orang itu.

Karena ia merasa tidak akan mampu menandingi kepandaian orang itu maka ia buru-buru kabur dan pergi menolong kebakaran.

Dengan demikian Can Pek Sin juga terlepas dari kepungan dan gabungkan diri dengan Tiat Leng, mereka segera bergerak lari ke arah gunung-gunungan itu.

Orang berpakaian hitam itu sembari menyambit batu untuk menahan majunya para pengawal, ia meninggalkan tempat itu dan memimpin Can Pek Sin dan Tiat Leng menyingkir ke tempat aman.

Karena saat itu api yang menjilat di tiga tempat makin berkobar, maka semua orang lari menuju ke tempat kebakaran untuk memadamkan api.

Orang berpakaian hitam yang selalu mencari tempat gelap dan sunyi sehingga sebentar kemudian sudah berada jauh dari tempat kebakaran. Tiba di belakang sebuah gunung-gunungan yang sepi, baru menghentikan kakinya.

Tiat Leng kini sudah dapat lihat nyata bahwa orang itu bukanlah kakaknya, semula ia masih mengira Hoa Ciong Tay, tetapi Hoa Ciong Tay perawakan badannya agak tinggi tidak mirip den¬gan potongan orang ini. Selagi hendak bertanya, orang itu sudah berpaling dan bertanya kepadanya: “Dimana kakakmu?”

Tiat Leng merasa kaget dan girang, ia lalu berkata:

“Pui susiok, kiranya adalah kau! Eh, bagaimana kau sampai hati meninggalkan bibi seorang diri?”

“Aku justru karena khawatir kepada kalian maka aku lalu menyusul kemari! Tentang bibimu kau tidak usah khawatir, sekarang yang paling penting ialah segera mencari kakakmu. Apakah ia sudah pergi ke kamar Tian Sin Cie?” berkata Pui Pek Hu.

Namun demikian Pui Pek Hu sebetulnya juga memikirkan isterinya di rumah yang sedang hamil tua, terutama kalau ia ingat tiga orang penunggang kuda yang ia jumpai di tengah jalan, kekhawatirannya semakin besar. Tetapi ia tidak suka dua muda mudi itu turut merasa khawatir maka hal itu ia tidak beritahukan kepada mereka.

Tiat Leng kini benar-benar terperanjat ia lalu bertanya:

“Beberapa tempat kebakaran itu apakah bukan Susiok yang membakar? Bukankah Susiok sudah pergi ke kamar kediaman Tian Sin Cie, mengapa tidak dapat melihat kakak?” “Memang benar, api di beberapa tempat itu akulah yang membakar. Tetapi api sebelah timur itu yang kubakar, bukanlah kamar kediaman Tian Sin Cie, melainkan sebuah rumah yang berada di dekatnya. Waktu itu aku sudah tahu kalau di sini mengalami kegagalan. Maksudku melepas api hanya hendak memisahkan perhatian musuh, karena kamar kediaman Tian Sin Cie penjagaannya sangat kuat tidak perlu kita pergi mengganggu.”

Can Pek Sin lalu bertanya:

“Kalau begitu waktu kau tadi membakar rumah di sebelah Timur itu, apakah tidak terjadi keributan?” “Di sana keadaannya sepi sunyi seperti tak pernah terjadi apa-apa.”

Tiat Leng sangat gelisah ia lalu berkata:

“Ini aneh, jikalau kakak belum tiba di sana, kemana dia telah pergi? Kita sudah berjanji apabila terjadi apa- apa, harus segera berkumpul. Tetapi mengapa hingga kini belum kelihatan kakak muncul, kalau begitu pasti entah di mana telah terjadi apa-apa atas dirinya.”

Pui Pek Hu lalu menghiburnya:

“Kau jangan cemas dulu, nanti aku pergi mencari keterangan. Ilmu meringankan tubuh kakakmu mahir sekali, orangnya juga cerdik, rasanya tak mungkin ia bisa terjatuh di tangan musuh.”

“Baiklah, mari aku pergi bersama kau!”

“Tidak, kalian disini menunggu aku. Sekarang seluruh taman ini sudah penuh dengan musuh, orang banyak pergi malah kurang leluasa. Di sini tempatnya sangat sunyi, kalian diam saja, jangan ke mana- mana, jikalau tidak perlu jangan sembarangan bertindak.”

Tiat Leng terpaksa menurut.

Saat itu beberapa tempat kebakaran itu sudah hampir dipadamkan apinya, tetapi keadaan di dalam taman makin kalut, terutama kamar kediamannya Tian Sin Cie, sudah penuh orang yang datang menanyakan kesehatannya.

Keadaan demikian itu ada baiknya bagi Pui Pek Hu. Dengan mengandalkan gerak badannya yang lincah dan gesit, dia lari di antara orang banyak tiada seorangpun yang tertarik perhatiannya.

Para pengawal Tian Sin Cie, setelah mengalami keributan itu, semua mengira musuh sudah kabur. Siapapun tak menduga bahwa Pui Pek Hu berkeberanian begitu besar, bukan saja masih berdiam di dalam taman, bahkan masih berani mundar mandir di dalam rombongan orang banyak.

Waktu ia sudah berada dekat kamar kediaman Tian Sin Cie. Ia tidak menemukan Tiat Ceng. Ia coba mencuri dengar pembicaraan para pengawal, juga tiada seorangpun yang mengatakan bahwa tempat itu pernah kedatangan orang. Karena penyelidikannya itu tidak mendapatkan hasil apa-apa, dalam hatinya merasa tak tenang.

Ia lalu berpikir: Mungkin ia telah tersesat jalan, taman ini sangat luas, entah dimana ia bersembunyi.

Selagi masih memikirkan tindakan selanjutnya, mendadak mendengar suara orang membentak: “Siapa?” Dari samping lalu muncul seorang perwira yang segera menepuk keras pundaknya.

Pui Pek Hu yang sudah banyak pengalaman sedikitpun tak merasa gugup ataupun gentar, dengan kedua tangannya ia mendorong hendak menjatuhkan orang itu. Di luar dugaan ketika tangan kedua pihak beradu, ia segera dapat merasakan suatu kekuatan hebat mendorong ke arahnya, sehingga menggagalkan gerakannya sendiri. Pui Pek Hu mundur sempoyongan hampir saja jatuh sedangkan lawannya itu juga mundur terhuyung-huyung sampai tiga langkah.

Pui Pek Hu baru merasa kaget, sementara dalam hatinya berpikir: Tian Sin Cie juga mempunyai pengawal yang berkepandaian demikian tinggi, semoga Tiat Ceng, tadi tidak berjumpa dengannya.

Selagi masih berpikir, orang itu menyerangnya dengan kedua tangannya. Pui Pek Hu lalu berkata dengan suara gusar: “Apakah kau kira aku benar-benar takut kepadamu?”

Ia lalu mengeluarkan kepandaian untuk menyambut serangan orang itu. Ketika kekuatan kedua pihak saling beradu telah menimbulkan tiga kali suara nyaring, kekuatan kedua pihak ternyata se¬imbang, sehingga tiada seorangpun yang berani maju lagi.

Orang itu mengeluarkan suara kaget, ia agaknya juga merasa heran. Kiranya orang itu bukan lain dan pada Pak-kiong Hong.

Empat kali ia mengadu kekuatan dengan Pui Pek Hu, meskipun belum dirugikan, tetapi tangannya sudah merasa sakit.

Pui Pek Hu meskipun darahnya bergolak, tetapi ia dapat merasakan bahwa lawannya merasa agak jeri, maka ia segera menyerang dengan tangannya.

Pak-kiong Hong benar saja tidak berani menyambuti, ia melompat minggir ke samping dengan menggunakan kekuatan tenaga keras dan lunak hendak memunahkan kekuatan lawannya.

Serangan Pui Pek Hu tadi maksudnya memang hendak mendesak ia menyingkir, maka sebelum lawannya menyerang, ia sudah angkat kaki untuk lari.

Ia sudah tahu bahwa Pak-kiong Hong adalah seorang lawan kuat. Jika ia tidak melepaskan diri padanya, apabila musuh datang lebih banyak, semakin lebih banyak, semakin sulit baginya untuk meloloskan diri.

Ada beberapa pengawal yang tidak tahu diri, mencoba merintanginya, tetapi bagaikan menyambar ayam Pui Pek Hu menyambar dua di antaranya dan kemudian dilemparkan kepada Pak-kiong Hong. Waktu Pak- kiong Hong menyambut tubuh dua orang anak buahnya itu, Pui Pek Hu sudah kabur ke tempat gelap.

Pak-kiong Hong hanya bisa berkaok-kaok sambil menggentakkan kakinya ke tanah. Tetapi bagaimanapun ia gusar, karena harus melindungi keselamatan Tian Sin Cie. Ia tidak berani meninggalkannya, hanya memberikan perintah untuk melakukan penggeledahan.

Saat itu sudah hampir pagi. Pui Pek Hu diam-diam lalu berpikir: Apabila sudah terang tanah, Tiat Leng, Can Pek Sin tidak dapat menyembunyikan dirinya lagi. Bagi aku tidak mengapa tetapi aku tidak boleh menyusahkan diri mereka. Jika dilihat keadaan perwira tadi, Tiat Ceng agaknya masih belum terjatuh di tangan musuh, sebaiknya aku ajak mereka berlalu dari sini lebih dulu.

<>

Can Pek Sin dan Tiat Leng yang bersembunyi di belakang gunung-gunungan, benar saja menurut pesan Pui Pek Hu tidak berani bergerak.

Tiat Leng yang berasa agak cemas lalu mengajak bicara dengan Can Pek Sin, apa yang dibicarakan sudah tentu soal mengenai keselamatan diri kakaknya.

Can Pek Sin coba menghibur dan menenangkan hatinya, kemudian ia berkata sambil menghela napas:

“Barang perhiasan peninggalan kakek luarku ini sesungguhnya merupakan barang yang membawa nasib sial. Sejak diketemukan sudah menimbulkan banyak bencana, dan kali ini juga menyusahkan diri kita.”

Tiat Leng adalah seorang gadis cerdik. Mendengar kata pemuda itu segera mengetahui bahwa perkataan itu dikeluarkan karena terpengaruh perasaannya, maka lalu berkata sambil tertawa:

“Can Toako, apa kau ingat diri enci Po Leng lagi? Menurut pikiranku, yang berdosa bukanlah harta benda itu, semua bencana itu terjadi karena ketamakan hati manusia. Hanya ini meskipun kita mengalami kesusahan, tetapi bencana pada akhirnya pasti akan jatuh di badan Tian Sin Cie.”

Ucapan Tiat Leng itu sebetulnya mengandung celaan terhadap perbuatan Thie Po Leng yang berserikat dengan orang luar untuk mendapatkan harta benda itu, tetapi ia tahu bahwa Can Pek Sin melindungi kesalahan Thi Po Leng maka ia sengaja mengelakkan dan menimpahkan kesalahannya kepada Tian Sin Cie. Can Pek Sin dapat mengerti bahwa ucapan Tiat Leng itu mengandung maksud makanya lalu berkata dengan mata merah:

“Adik Leng kau menggoda saja, pada saat seperti ini mana aku mempunyai pikiran untuk memikirkan lain soal?”

Selagi mereka bicara, tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki, terdengar pula dua orang sedang berbicara.

Can Pek Sin ingat benar pesan Pui Pek Hu, ia takut Tiat Leng akan bertindak, maka ia buru-buru menarik tangannya masuk ke dalam gua.

Ia mendengar seorang di antaranya berkata: “Sudah menemukan lima orang penjahat, tetapi satupun tidak tertangkap, maka besok kita pasti akan menerima hukuman.”

Seorang lagi berkata sambil tertawa: “Kau takut apa? Sekalipun langit roboh kita juga tidak perlu khawatir. Orang kuat seperti Pak-kiong Hong masih belum mampu menangkap satu bangsat kecil. Andai kata Cu- kong hendak menghukum juga belum tentu menghukum kita orang.”

Tiat Leng yang mendengar percakapan itu lalu berbisik-bisik di telinga Can Pek Sin:

“Bangsat kecil yang mereka bicarakan itu apakah kakakku? Tetapi di pihak kita termasuk Pui susiok, jumlahnya juga cuma ada empat orang, dari mana datangnya orang yang kelima. Mari kita dengarkan lagi pembicaraan mereka.”

Tetapi dua orang yang berada diluar tidak ada lagi, sedangkan suara tindakan kaki semakin dekat. Gunung-gunugan itu buatan manusia maka gua sempit. Dua orang yang berada di dalamnya harus berimpitan demikian rupa, sehingga susah bernapas.

Tiat Leng meskipun baru berusia limabelas tahun, tetapi juga sudah merupakan seorang gadis tanggung. Can Pek Sin sejak meningkat dewasa, kecuali dengan Thie Po Leng, belum pernah bergaul begitu erat dengan lain gadis. Kalau ia ingat bagaimana keadaannya dulu ia dengan Thie Po Leng mukanya lalu dirasakan panas, ia sedapat mungkin menggeser kakinya, maka dengan tak sengaja telah menimbulkan sedikit suara.

Dua orang itu juga merupakan salah satu orang kuat dalam barisan pengawal kantor daerah tersebut, juga merupakan orang Kang-ouw kawakan, maka ketika mendengar suara segera mengetahui bahwa dalam gua itu ada orang bersembunyi. Namun mereka diam, setelah berjalan mendekati jarak dekat barulah mengayunkan tangannya, menyerang dengan menggunakan senjata rahasia.

Can Pek Sin dan Tiat Leng mendengar senjata rahasia, lalu disusul dengan berkelebatnya sinar api. Can Pek Sin terperanjat, dengan cepatnya memutar pedangnya untuk menjaga diri lalu melompat keluar. Di luar gua ia dapat melihat dua bangkai manusia, bukan lain dari pada dua orangnya kantor kepala daerah yang baru saja telah berbicara, sedangkan rumput alang-alang yang tumbuh di gunung-gunungan itu sudah terbakar, di antara gunung-gunungan ada sebatang anak panah yang juga sedang terbakar.

Can Pek Sin kenal berbagai jenis senjata, maka ia segera dapat mengenali bahwa anak panah itu adalah senjata rahasia yang dapat menyemburkan api.

Tiat Leng yang sementara itu juga sudah melompat keluar, ketika menyaksikan keadaan demikian ia lalu berkata dengan terheran-heran:

“Apakah artinya ini? Kau lihat batok kepala dua orang ini semua telah berlubang, tokh tidak mungkin itu ada tanda luka terjatuh, tetapi di sekitar tempat ini tidak tampak bayangan seorang pun juga.”

Can Pek Sin menyusut keringat dingin ia berkata:

“Dua orang ini telah menggunakan panah berapi menyerang ke dalam gua, maksudnya tentu ingin membakar kita. Untung ada orang pandai yang datang menolong kita dan membunuh mereka. Lobang di batok kepala mereka itu adalah bekas serangan senjata rahasia berbentuk paku. Mungkin senjata rahasia itu tepat mengenai kepalanya selagi mereka melepaskan senjata, anak panah itu menyasar ke lain jurusan.” “Apakah Pui susiok sudah kembali?”

Ia lalu memanggil-manggil dengan suara agak keras: “Pui susiok kau keluarlah jangan mempermainkan aku.”

Siapa tahu karena ia membuka suara, akhirnya bukan Pui susioknya yang muncul, sebaliknya justru orang-orang yang meronda di dekat tempat itu yang lalu datang. Tetapi, walaupun ia tak bersuara, kawanan peronda yang melihat api berkobar juga bisa membunuh.

Can Pek Sin dan Tiat Leng, karena sudah berjanji dengan Pui Pek Hu tidak berani meninggalkan tempat tersebut, untung kawanan peronda itu kepandaian silatnya biasa saja sudah tentu bukan tandingan mereka. Dengan tanpa menggunakan banyak tenaga, dua muda mudi itu sudah merobohkan mereka semua. Dan sebelum banyak pengawal kantor kepala daerah datang, Pui Pek Hu sudah kembali lebih dulu.

Tiat Leng takut disesali oleh Pui Pek Hu, maka terlebih dahulu ia memberikan keterangan:

“Bukan kita yang bertindak lebih dulu untuk mendatangkan musuh. Dan bagaimana dengan kakakku?” Pui Pek Hu berkata:

“Aku masih belum dapat menemukan, tetapi menurut tanda-tanda dapat kuduga, mungkin ia tidak sampai terjatuh di tangan musuh. Mari kita keluar dulu, nanti kita bicarakan lagi.”

Tiat Leng lalu menjawab sambil menganggukkan kepala:

“Ya, aku juga menduga demikian, ada seorang berkepandaian sangat tinggi yang diam-diam membantu kita. Nanti setelah kita keluar dari sini aku beritahukan kepadamu.”

Mereka bertiga dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh, sudah tentu orang-orang dalam kantor kepala daerah itu tak dapat mengejar, maka akhirnya cuma melepaskan anak panah secara membabi buta.

Tidak antara lama tiga orang itu sudah melompati pagar tembok dan keluar dari kepala kantor daerah. Tiba di jalan raya, mereka lari kira-kira sepuluh pal, baru memperlahan jalannya, dan satu sama lain menceritakan pengalamannya.

Ketika Pui Pek Hu mendengar apa yang diceritakan oleh Tiat Leng mengenai semua kejadian yang habis dialami, ia juga merasa heran, lalu berkata:

“Kalau begitu nampaknya benar ada orang pandai yang diam-diam telah membantu kita. Hanya entah siapa orangnya?”

Can Pek Sin berpikir sejenak ia berkata:

“Apakah mungkin Hoa Ciong Tay lo-cianpwee?”

Pui Pek Hu terperanjat ketika mendengar disebutnya nama itu, ia lalu bertanya: “Bagaimana kalian kenal orang pandai tingkatan tua itu?”

Can Pek Sin dan dua saudara Tiat, kemaren setiba di rumah keluarga Pui, karena terlalu letih maka cuma menceritakan soal terampasnya barang-barang berharga, belum sampai menceritakan halnya Hoa Ciong Tay yang sudah pergi itu.

Tiat Leng lalu menceritakan perkenalannya dengan Hoa Ciong Tay dengan anak perempuannya, setelah itu ia berkata:

“Aku sebetulnya juga curiga, itu adalah Hoa lo-cianpwee yang membantu kita, tetapi setelah kupikir lagi, aku merasa heran. Kalau benar ia sudah menolong kakak mengapa tidak menemui aku? Memberi kabarpun tidak, sedangkan anak perempuannya sudah menjadi sahabat baikku. Ia malah berkata akan berkunjung ke tempat ayah dan tinggal bersama-sama denganku untuk beberapa hari lamanya.”

“Tindak tanduk lo-cianpwee ini memang aneh, kadang-kadang di luar pemikiran biasa. Mungkin ia masih mempunyai lain sebab. Semoga Tiat Ceng benar-benar sudah ditolong olehnya.”

Tiat Leng tiba-tiba tertawa dan berkata:

“Pui susiok, mengapa kau juga sebut lo-cianpwee kepada Hoa Ciong Tay lo-cianpwee?” Can Pek Sin sudah berkata:

“Pui susiok, dari pembicaraan ini, kau tentunya tahu asal usul Hoa lo-cianpwee?”

“Benar, meski dulu, aku belum pernah melihatnya, tetapi tahu sedikit riwayatnya. Kalian baru kemarin melihatnya, menurut pandangan kalian, berapakah kira-kira usianya?”

Tiat Leng berkata:

“Aku lihat paling banter baru empatpuluh tahun ke atas, anak perempuannya sebaya usianya dengan kakak, juga baru enambelas atau tujuhbelas tahunan.”

Pui Pek Hu tertawa dan berkata:

“Dugaanmu keliru, usia anak perempuannya mungkin benar. Tetapi usia Hoa Ciong Tay sendiri bukanlah sekitar empatpuluhan, menurut perhitunganku, sedikitnya mendekati enampuluh tahun. Jika dihitung tingkatannya di dalam rimba persilatan, meskipun ia dengan perguruan ayahmu tidak ada sangkut pautnya, tetapi masih tinggi setingkat dengan ayahmu.”

Bagi seorang yang tinggi sekali ilmu kekuatan tenaga dalamnya memang tidak mudah lekas tua. Orang yang sudah berusia enampuluh tahun nampaknya seperti empatpuluhan tahun, itu memang bukan hal aneh.

Tiat Leng lalu berkata sambil tertawa:

“Kita tidak usah bicarakan usianya. Aku cuma ingin tahu asal usulnya. Selama aku merasa heran seorang yang berkepandaian begitu tinggi, mengapa ayah belum pernah menyebut-nyebut namanya?”

“Apakah suhu kalian kakak beradik juga belum pernah menyebut namanya?” “Belum. Mengapa kau menanyakan tentang suhu kita?”

“Sebab Hoa Ciong Tay dengan suhu kalian ada sedikit perselisihan. Tidak, istilah perselisihan ini mungkin kurang tepat, cuma boleh dikata ada sedikit sebab musabab yang kurang enak dalam sesuatu perkara. Di antara mereka juga belum pernah ketemu muka, apa lagi bertanding.”

“Kata-katamu ini semakin melantur, apakah sebetulnya yang terjadi?”

“Hoa lo-cianpwee ini adalah seorang aneh yang mengasingkan diri di daerah barat. Kabarnya ia adalah keturunan orang hartawan yang mempunyai kedudukan baik dari daerah Tiong-goan. Karena hendak menyingkir dari bahaya peperangan, serumah tangga berpindah ke daerah barat.

“Maka Hoa Ciong Tay yang merupakan keturunan orang pintar dan kaya, tinggi sekali ilmu surat dan ilmu silatnya. Meskipun ia sudah lama tinggal di daerah barat tetapi masih suka berpakaian secara daerah Tionggoan, ia selamanya suka berpakaian seorang pelajar.

“Daerah barat dengan daerah Thiang Khek, di daerah perbatasan itu, ada sebuah gunung yang bernama gunung Leng-ciu-san. Di atas gunung itu berdiam seorang paderi yang berkepandaian luar biasa, paderi itu menamakan dirinya Leng Ciu Siangjin. Di daerah barat ia mendirikan partai persilatan yang ia namakan Leng-ciu-pay. Ia menerima banyak murid tidak perduli orang dari golongan biasa atau kaum paderi. Orang- orang rimba persilatan daerah barat, sebahagian besar masih ada hubungannya dengan Leng-ciu-pay. Hoa Ciong Tay juga merupakan sahabat baiknya Leng Ciu Siangjin. “Pada tigapuluh tahun berselang, satu kali Hoa Ciong Tay pernah datang ke daerah Tiong-goan. Dalam suatu pertemuan antara orang-orang gagah, ketika diadakan pertandingan ilmu silat secara persahabatan, dengan sepasang senjata Phoan-koan-pit, ia pernah menjatuhkan delapanbelas orang yang pada waktu itu mempunyai kepandaian cukup tinggi, sehingga ia mendapatkan nama julukan dengan sepasang pena menyapu ribuan tentara.

“Kala itu ayahnya Toan Khek Gee, Toan Kui Ciang tayhiap belum lama muncul di dunia Kang-ouw, dengan ilmu pedangnya Hui-liong-kiam-hoat, telah berkesudahan seri dengan ia. Keduanya lalu menjadi sahabat baik, sayang Hoa Ciong Tay tidak berdiam lama di daerah Tiong-goan, sudah pulang lagi ke daerah barat.

“Selanjutnya Toan tayhiap juga pernah dua kali ke daerah barat mengunjunginya, tetapi belum pernah ketemu. Sebab ia hanya satu kali saja datang ke daerah Tiong-goan, sedangkan dalam pertandingan kala itu, hanya merupakan suatu pertandingan persahabatan, juga merupakan suatu pertemuan antara orang- orang gagah secara pribadi. Berlainan sifatnya dengan pertemuan para jago rimba persilatan, maka sedikit sekali orang-orang dunia Kang-ouw yang tahu.

“Setelah kejadian itu tigapuluh tahun telah berlalu. Orang-orang kuat tingkatan tua yang turut bertanding pada kala itu, ada yang sudah menutup mata, ada juga yang sudah mengundurkan diri. Sudah tentu tidak ada orang yang menyebut namanya lagi.

“Tetapi suhu kalian kakak beradik tahu tentang diri Hoa Ciong Tay. Pada kira-kira sepuluh tahun berselang, suhumu karena bermusuhan dengan partai Leng-ciu-pay, terjadilah suatu kejadian besar yang pernah menggemparkan dunia rimba persilatan. Apakah kau pernah dengar perkara ini?”

“Aku pernah dengar kata ayah, kabarnya salah seorang murid Leng Ciu Siangjin telah berlaku salah terhadap suhu hingga dibunuh oleh suhu. Kemudian Leng Ciu Siangjin mengajak bertanding dengan suhu, kembali dikalahkan oleh suhu.”

“Dalam pertandingan waktu itu, adalah Khong-khong Jie yang membantu suhumu secara diam-diam sehingga Leng Ciu Siangjin jatuh di tangannya. Leng Ciu Siangjin merasa penasaran, tetapi terikat peraturan dalam rimba persilatan, ia tidak bisa menentang lagi. Kabarnya ia pernah minta Hoa Ciong Tay untuk menempur suhu kalian.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Jiwa Ksatria Jilid 06"

Post a Comment

close