Jiwa Ksatria Jilid 02

Mode Malam
 
Thie Sui lantas nyeletuk sambil angguk-anggukkan kepala:

“Ya begitu selanjutnya kau dengan Thie Po Leng sudah merupakan orang sendiri, ada apa-apa tidak usah malu-malu.”

Sejak hari itu Thie Sui lantas suruh Can Pek Sin melatih ilmu silat bersama-sama Thie Po Leng. Gadis itu benar-benar memperlakukan padanya seperti masih anak-anak, sedikitpun tidak ada mengganjal perasaan apa-apa. Sebaliknya dengan Can Pek Sin dalam hatinya selalu diliputi oleh bayangan gelap, ia tidak suka terlalu rapat dengan encinya.

Biar bagaimana Can Pek Sin juga ada satu anak muda yang baru mangkat dewasa, Thie Po Leng adalah kawan mainnya di masa anak-anak, dan kini mendapat kesempatan berkumpul lagi. Walaupun ia coba menindas perasaannya sendiri, tapi setiap kali encinya itu berada dihadapannya dengan paras berseri-seri dan senyumnya yang menggiurkan sering membuat jantungnya berdebaran, hampir-hampir tidak dapat menguasai dirinya sendiri. Thie Po Leng bagaikan bunga mawar berduri walaupun bunga itu sudah ada yang punya, ia tidak dapat dan tidak berani memetiknya. Betapa hebatnya penderitaan itu, dapat kita bayangkan sendiri.

Thie Po Leng mentaati pesan Yayanya, terhadap Can Pek Sin ia bersikap seperti orang yang tidak tahu menahu. Can Pek Sin juga mengerti maksud kong-kongnya, belum pernah ia menyebut-nyebut nama pemuda she Lauw itu di depan encinya. Mengenai perhubungan encinya dengan pemuda she Lauw itu, walaupun ia sudah menyaksikan sendiri, akan tetapi ia bersikap pura-pura tidak tahu.

Latihan ilmu silat Can Pek Sin dengan cepat sudah memakan waktu setengah bulan. Selama setengah bulan itu ia belum pernah melihat mata hidungnya pemuda she Lauw itu, juga tidak pernah dengar suara menyanyinya. Mungkin karena takut kepada Thie Sui sehingga benar-benar ia tidak berani menyanyi di sekitar rumah keluarga Thie.

Ilmu silat Thie Sui tidak terhitung terlalu tinggi apabila dibandingkan dengan ilmu silat keluarga Can, tapi termasuk salah satu ilmu silat yang berguna. Setiap serangan mengandung sifat keganasan, cukup mematikan lawannya. Can Pek Sin tidak begitu suka menggunakan tipu serangan yang sifatnya ganas itu, tapi kalau dipikir bahwa tipu serangan yang demikian itu mungkin dapat digunakan untuk menghadapi musuhnya, maka ia ingin mempelajarinya dengan tekun.

Thie Sui yang menyaksikan keadaan dua anak muda itu diam-diam juga merasa puas. Setengah bulan kemudian, ia sering-sering mencari alasan untuk tidak bersama mereka, supaya mereka melatih secara berduaan saja.

Pada satu hari, Thie Sui setelah memberi petunjuk beberapa jurus lantas berkata kepada Can Pek Sin:

“Tipu silat tangan menembus awan ini kau sudah paham, sekarang kau boleh suruh encimu melatih bersama-sama. Aku sudah letih, begitulah keadaan orang tua, semangatnya sudah menurun!”

Po Leng lantas berkata:

“Yaya, kalau begitu kau boleh beristirahat. Tipu serangan tangan menembus awan ini seluruhnya terdiri dari tigapuluh enam jurus, adalah gerak tipu yang aku paling mahir. Siao-sin hendak melatih ilmu silat ini, aku sanggup melatihnya. Yaya kau tidak usah khawatir.”

Thie Sui memang sengaja berbuat demikian supaya dua anak muda itu berada bersama-sama. Mereka juga mengerti maksud orang tua itu.

Kalau di waktu biasa, Can Pek Sin selalu merasa kurang senang, walaupan Thie Po Leng tidak sampai mengunjukkan perasaan yang tidak senangnya. Sikapnya pendiam, terang ia merasa tidak senang terhadap sikap Yayanya itu, yang hendak memaksa ia berada selalu bersama-sama dengan Can Pek Sin.

Tapi hari itu, Thie Po Leng sikapnya berbeda daripada biasanya, ia nampaknya sangat gembira, bahkan sambil mendorong Yayanya supaya lekas berlalu. Thie Sui mengira cucunya itu sudah berobah pikirannya atau sudah melupakan bocah she Lauw itu, hingga senang berada berduaan dengan Can Pek Sin.

Setelah Yayanya berlalu, Thie Po Leng lantas berkata:

“Siao-sin, hari ini kita berlatih ke tempat yang agak jauh, kebun ini sangat luas, di banyak tempat masih belum pernah kau kunjungi.”

“Terserah pikiran enci, aku memang juga ingin pesiar di kebun ini,” jawabnya Can Pek Sin.

Thie Po Leng lalu mengajak padanya ke suatu tempat di mana ada sebuah bangunan gunung-gunungan yang terbuat dari batu kali dan di sekitarnya gunung-gunungan itu tumbuh banyak rumput hutan, yang bentuknya berbeda dengan rumput biasa.

Thie Po Leng berkata sambil menunjuk ke rumput dan tanaman bunga:

“Semua ini adalah bekas tanaman kakek luarmu di masa jayanya, karena kemudian tidak ada orang yang mengurus, akhirnya menjadi sedemikian rupa. Hanya rumput ini saja yang masih tumbuh dengan suburnya. Pantas kalau orang berkata bahwa rumput tidak dapat dibakar habis, kalau musim semi telah tiba akan tumbuh kembali. Rumput memang lebih gampang tumbuh daripada bunga lainnya.”

“Kebun begini indahnya sayang sekarang sudah menjadi gundul,” berkata Can Pek Sin.

“Hanya Yaya dan aku berdua bagaimana dapat mengurus kebun begini luas? Maka Yaya mengharap nanti supaya kau bisa membangun tempat ini lagi.”

“Aku tidak mempunyai hasrat begitu besar. Sudah cukup kalau aku bisa menjadi pembantumu merawat kebun ini. Jangan kita terlalu sibuk membicarakan kebun ini saja enci, bukankah kau berjanji hendak melatih aku?” Thie Po Leng mendadak tertawa terkekeh-kekeh, kedua sujennya nampak tegas dengan sikap nakal ia berkata:

“Siao-sin apa kau benar-benar ingin belajar dari padaku ilmu silat?” “Bagaimana anggapanmu terhadapku?”

“Aku lihat kau seperti ingin mencoba kepandaianku. Tadi pada jam tiga tengah malam telah kuketahui bahwa kau seorang diri diam-diam melatih ilmu ‘siao-kin-na-hoat’ di kebun. Emm, Siao-sin, rupanya kau hendak mencoba kepandaianku! Itu tidak soal, tapi untuk mencoba ilmu tangan menembus awan agaknya kurang baik, lebih baik yang lainnya saja.”

Can Pek Sin berlatih ilmu silat dengan sungguh-sungguh, apa yang dapat dipelajarinya pada siang harinya, pada malamnya ia juga melatih lagi dengan tekun, tidak tahu kalau perbuatannya itu diketahui oleh Thie Po Leng.

Terbukanya rahasia itu, wajah Can Pek Sin lantas merah. Kiranya tipu serangan ‘Siao-kin-na-hoat ini, digunakan untuk pertempuran jarak dekat. Kadang-kadang memerlukan ketangkasan dan keuletan, tidak jarang pula harus digunakan untuk bergulat, hanya untuk menghadapi musuh tangguh baru dapat digunakan. Apabila digunakan untuk berlatih bersama-sama dengan seorang wanita, seharusnya kurang pantas.

Can Pek Sin tidak memikirkan itu, juga karena sikap Thie Po Leng yang tulus, tidak membedakan perbedaan kelamin. Kini setelah mendengar ucapan Thie Po Leng, ia baru merasa jengah.

Thie Po Leng sebetulnya hanya main-main saja, maksudnya hendak menggoda Can Pek Sin.

“Enci, kalau kau tidak suka melatih ilmu serangan itu, berilah pelajaran yang lain,” demikian akhirnya ia berkata.

“Kau tentunya tahu apa artinya tukar menukar?” “Lalu?”

“Kepandaian ilmu silat keturunan keluarga Can, sebetulnya jauh lebih tinggi daripada kepandaian kepunyaan keluarga ku, dalam setengah bulan ini, kau selalu mempelajari ilmu silat keturunan keluargaku, sekarang adalah giliranku yang akan belajar kepandaian keturunan keluargamu. Hari ini biarlah kau yang memberi pelajaran gerak tipu Ngo-khim-ciang-hoat kepadaku, bagaimana?”

Can Pek Sin juga ingin melatih kepandaiannya sendiri, karena ia ada seorang jujur tidak pandai berlaga, terutama terhadap enci Lengnya itu, sudah tentu tidak dapat menolak permintaan itu. Maka ia lantas menjawab:

“Kepandaianku masih cetek, kalau enci ingin belajar, aku juga tidak berani mengatakan ‘mengajar’ , biarlah kita sama-sama berlatih saja.”

Thie Po Leng waktu masih anak-anak memang sudah pernah menyaksikan ayah dan anak keluarga Can melatih ilmu silat ‘Ngo-khim-ciang-hoat’, hingga ia masih ingat baik. Setelah berlatih beberapa jurus dengan Can Pek Sin, ternyata lantas paham.

Can Pek Sin lalu memuji: “Enci Leng, kau sungguh cerdas, sudah sekian tahun lamanya kepandaian yang kau pernah saksikan ternyata masih belum kau lupakan.”

Tapi tipu silat itu sangat dalam dan ruwet, karena setiap gerakannya meniru gerak gerik binatang terbang, dengan digabung ilmu meringankan tubuh yang sudah mahir sekali. Sewaktu berlatih sampai di bagian yang harus lompat melesat tinggi dan mengadu serangan di tengah udara, gerakan Thie Po Leng ternyata salah, hingga badannya kehilangan imbangan. Can Pek Sin yang mengetahui kesalahan itu, sudah tidak keburu menarik kembali serangannya, tatkala tangan kedua pihak saling beradu, badan Thie Po Leng sudah melayang turun bagaikan layangan putus dengan keadaan kaki di atas dan kepala di bawah.

Di antara rumput itu ada sebuah batu besar, apabila kepala Thie Po Leng terjatuh di atas batu itu, tidak ampun lagi pasti remuk, setidak-tidaknya akan terluka parah. Bukan kepalang kagetnya Can Pek Sin, untung ia sudah mahir sekali, dengan cepat ia berjumpalitan di tengah udara, kemudian meluncur turun menyambar tubuh Thie Po Leng. Karena keadaan sudah mendesak, ia tidak sempat memikir lagi, tangannya menyambar sedapat-dapatnya, ternyata telah menyambar mata kaki sang enci.

Thie Po Leng karena kakinya sudah dapat dipegang, badannya cepat membalik ke atas, sehingga pada waktu tiba di tanah, hanya ujung kakinya yang menginjak batu itu, sedangkan badannya terpental keluar, tepat bertumbukan dengan Can Pek Sin.

Dalam keadaan demikian, siapapun sudah tak dapat menyingkir lagi, Can Pek Sin pentang kedua lengannya, tepat merangkul tubuh Thie Po Leng.

Can Pek Sin walaupun sudah bergaul sejak masa kanak-kanak dengan Thie Po Leng, tapi belum pernah berpelukan. Kini dalam keadaan yang mendesak sudah berlaku sedemikian, maka mukanya lantas merasa panas, jantungnya berdebaran, buru-buru ia melepaskan pelukannya. Ia terkejut, tetapi tangannya masih memegang erat-erat kedua tangan Thie Po Leng supaya tidak jatuh.

Muka Thie Po Leng merah membara, dengan napas tersengal-sengal ia berkata: “Sudah tidak apa-apa.”

“Syukurlah. Kau bikin aku kaget saja...!”

Thie Po Leng yang saat itu mengawasi Can Pek Sin, juga dapat melihat wajah pemuda itu memang pucat pasi, keringat dingin masih mengetel, jari-jari yang menggenggam kedua tangannya dirasakan masih gemetaran, mungkin benar semangatnya sudah terbang. Meskipun ia sudah mengatakan tidak mengapa- mengapa, ia masih lupa untuk melepaskan kedua tangan si nona.

Thie Po Leng yang menyaksikan keadaan si anak muda itu, hatinya juga tergerak. Sambil bersenyum ia menanya:

“Siao-sin, apa namanya gerakan tipumu yang barusan kau gunakan itu?” “Namanya burung meliwis patah sayap.”

Thie Po Leng tertawa geli, katanya,

“Satu gerak tipu yang indah sekali, kenapa diberikan nama begitu jelek?”

“Aku tidak tahu. Ayah yang mengajarkan aku dan ia yang memberikan nama sedemikian.”

Kiranya gerak tipu itu ada ciptaan kakek Can Pek Sin, Can Liong Hui yang kemudian diturunkan kepada anaknya ialah Can Goan Siu, ayahnya Can Pek Sin.

Can Pek Sin sedang bicara, sehingga ia tidak berjaga-jaga sama sekali kalau Thie Po Leng menggunakan gerak tipu Siao-kin-na-hoat mengibaskan tangannya, hingga anak muda itu terlempar sejauh tiga tombak lebih!

Can Pek Sin jatuh numprah di tanah, kemudian ia melesat bangun dan berseru: “Aduh!” Thie Po Leng ketawa terkekeh-kekeh, ia maju menghampiri dan menanya:

“Bagaimana sih? Sakit tidak?”

“Tidak. Apa sebabnya kau kibaskan aku?” tanya Can Pek Sin sambil usap-usap pantatnya.

“Bukankah kau ingin aku ajarkan gerak tipu ‘Kin-na-chiu-hoat, barusan aku memberi pelajaran padamu selagi kedua tanganmu tergenggam dalam tangan musuh dan bagaimana caranya untuk melepaskan diri dan merebut kedudukanmu kembali.” Can Pek Sin baru sadar, kiranya Thie Po Leng hendak melepaskan tangannya yang digenggam hingga mukanya merah seketika, ia kemudian menghela napas.

Thie Po Leng yang menyaksikan keadaannya, dalam hati juga merasa kurang senang dan sambil menepuk pundaknya ia berkata:

“Siao-sin, aku hanya main-main denganmu, apa kau marah terhadapku?” “Mana berani aku marah terhadap enci?”

“Kalau begitu, apa kau suka padaku?”

Hati Can Pek Sin dirasakan hampir melompat keluar, jawabnya dengan hati pilu: “Aku tidak mempunyai itu rejeki.”

“Di waktu anak-anak bukankah kau pernah berkata kalau kau suka padaku, dalam segala hal kau akan menuruti aku?”

“Itu di waktu masih anak-anak, tapi sekarang sudah dewasa keadaannya sudah berlainan.”

“Apa bedanya? Siao-sin, aku masih tetap menyukaimu seperti di waktu anak-anak! Apakah sekarang kita tidak boleh seperti kakak dan adik?”

Perlahan-lahan Can Pek Sin mengerti maksudnya, dalam hatinya merasa pilu, rupanya itu sudah diatur oleh takdir, walaupun Thie Po Leng pandang padanya seperti adik, tapi ia juga merasa sangat terharu dan berterima kasih padanya. Dengan hati berat ia terpaksa menjawab:

“Enci tidak anggap aku seperti orang lain, sudah tentu aku juga suka padamu seperti waktu kita masih anak-anak.”

Thie Po Leng sangat girang, katanya pula:

“Siao-sin, kau suka encimu, apakah kau masih suka dengar kata-kataku seperti dulu?”

“Kalau aku tidak suka dengar kata-kata enci, kepada siapa aku harus dengar? Enci, apa saja kau perintahkan padaku aku akan tetap menurut!”

“Apa itu benar? Apakah kau sudah tidak suka dengar perkataan Yaya? Bukankah Yaya suruh kau mengawasi aku?”

“Enci, kiranya kau masih merasa tidak senang dengan ucapan itu? Perkataan Yaya sudah tentu aku harus dengar, tapi aku justru tidak mau turut ucapan itu!”

“Baiklah, kalau begitu, sekarang aku hendak minta pertolonganmu, apa kau suka bantu aku?” “Sudah tentu, urusan apa?”

“Kau jangan tanya dulu. Tapi kau harus berjanji akan terima baik. Urusan ini, kau hanya cukup bantu aku supaya Yaya jangan sampai tahu.”

Hati Can Pek Sin merasa curiga, tapi di bawah pengaruh enci Lengnya, terpaksa ia menjawab. “Enci Leng. kau suruh aku melakukan apa saja, aku akan lakukan. Mengenai urusanmu sedikitpun aku tidak akan bocorkan.”

“Benar?”

“Seorang laki-laki tak akan mengingkari janjinya sendiri, kalau kau tidak percaya, apa perlu aku harus angkat sumpah?”

Thio Po Leng merasa puas, ia berkata: “Ya, sekarang Siao-sin sudah dewasa, sudah merupakan seorang laki-laki yang gagah. Kalau aku tidak percaya ucapanmu, ini berarti aku menghina kau. Tidak perlu bersumpah, mari kau ikut aku.”

Thie Po Leng ajak padanya masuk ke dalam terowongan gunung-gunungan. Di dalam terowongan itu ada sebuah batu besar yang sudah berlumut di atasnya serta di bawahnya banyak batu kerikil yang juga sudah penuh lumut.

Thie Po Leng lantas berkata:

“Kau bantu aku mengorek sekitar tanah batu ini, berlakulah hati-hati sedikit, jangan sampai memotong lumut yang tumbuh diatasnya, juga jangan bikin rusak tanah yang ada lumutnya.”

Can Pek Sin mengeluarkan goloknya, dengan sangat hati-hati ia bantu mengorek tanah. Setelah itu Thie Po Leng lantas berkata pula:

“Batu besar ini aku tidak mampu menggeser dengan tenagaku sendiri, kau bantu aku untuk menggesernya. Kau harus pegang di atasnya yang tak berlumut.”

“Untuk apa? Apakah di bawah batu ini...?”

“Aku sekarang juga tidak tahu barang apa yang ada di bawah batu ini!” berkata Thie Po Leng, lalu melongok keluar, kemudian berkata pula sambil ketawa: “Kau ada bersama-sama aku, Yaya tidak nanti akan mencari lagi hingga aku tidak perlu merasa khawatir.”

Kini Can Pek Sin baru tahu bahwa sang enci itu memang sengaja ajak ia melatih ilmu silat di tempat itu.

Tenaga Can Pek Sin cukup kuat, dengan kekuatan dua orang, meskipun agak susah payah, akhirnya batu besar itu bergerak juga.

Bawah batu itu merupakan satu lubang dalam, di situ terdapat tumpukan peti besi besar. Thie Po Leng dengan sangat girang berseru, “Benar saja disini!”

Can Pek Sin lantas menanya:

“Enci Leng, kau mencari apa di antara beberapa peti besi ini...?” “Aku nanti buka sebuah peti untuk kau lihat. Nah, lihat ini!”

Mata Can Pek Sin terbuka lebar, dari dalam goa yang agak gelap, nampak sinar terangnya benda mutiara. Di dalam peti besar itu berisi penuh dengan barang permata yang sangat berharga.

“Peti yang lainnya serupa saja isinya, tidak usah kita buka lagi,” berkata Thie Po Leng. Setelah sekian lama dalam keadaan kesima, Can Pek Sin baru bisa buka mulut:

“Enci Leng, bagaimana kau tahu kalau disini ada tersimpan beberapa peti berharga ini? Kenapa harus mengelabuhi Yaya untuk mencarinya?”

Pemuda itu ternyata tidak dibikin tergiur oleh benda berharga itu, melainkan dalam hatinya timbul perasaan curiga.

“Simpanan barang berharga ini sebetulnya cuma Yaya seorang yang tahu, ia juga tidak beritahukan padaku. Aku dapat curi gambar petanya, maka aku baru bisa mencari kemari, sudah tentu aku tidak dapat beritahukan padanya.”

“Ini ada barang simpanan keluargamu, mengapa kau harus membuka secara mencuri? Bukankah di kemudian hari Yaya akan tinggalkan untuk kau?”

Thie Po Leng ketawa geli, jawabnya: “Tahukah kau barang ini kepunyaan siapa?” “Bukankah kepunyaan keluargamu? Dari mana Yayamu dapat itu peta?” “Dengan sebetulnya, barang ini seharusnya adalah kepunyaanmu.”

“Ah, enci bisa saja.”

“Bukan aku omong main-main, itu adalah benar-benar kepunyaanmu.” “Sebabnya?”

“Ini adalah barang peninggalan dari kakekmu, Ong Pek Thong. Kakekmu adalah orang terkaya dalam kalangan rimba hijau, turun menurun seratus tahun lebih lamanya menjadi berandal. Ia sendiri menjadi Beng-cu sudah beberapa puluh tahun lamanya. Tidak usah ia turun tangan sendiri, Ceecu dari berbagai tempat setiap tahunnya entah berapa banyak jumlahnya yang diantarkan ke rumahnya. Kakekmu hanya mempunyai seorang putri yaitu ibumu. Kini ibumu sudah meninggal dunia dan pada saat ini, hanya kau seorang yang merupakan keturunan kakekmu. Maka, barang ini sudah seharusnya menjadi milikmu.”

“Tapi ibuku selamanya belum pernah menyebut-nyebut tentang barang simpanan ini.”

“Sebab ibumu sendiri juga tidak tahu, yang tahu hanya Yaya, dia adalah saudara angkat kakekmu, dengan kakekmu dia merupakan pembantu yang paling dipercaya. Aku duga gambar peta itu tentunya pada waktu kakekmu hendak menutup mata, telah menyerahkan padanya. Tapi Yaya tidak memberitahukan kepada ibumu!”

“Mengapa Yaya tidak memberitahukan kepada ibu? Juga tidak kepada kau? Yaya tidak mempunyai keluarga lain, untuk apa ia simpan kekayaan begitu banyak? Aku lihat Yaya bukan itu orang yang temaha dengan kekayaan.”

“Apa sebabnya Yaya berbuat demikian, aku sendiri tidak tahu maksudnya. Aku cuma tahu karena Yaya harus menjaga barang pusaka itu maka barulah ia ajak aku pindah kemari. Siao-sin, apakah kau masih ingat? Ayah dan ibumu pernah minta kita tinggal bersama-sama di gunung Hok-gu-san. Tiat Mo Lek juga pernah undang Yaya tinggal di dalam markasnya, dan perlakukan padanya sebagai orang tingkatan tua, tapi Yaya telah menolak. Setelah habis pertemuan, biar bagaimana ia memaksa kembali disini.”

“Ya, waktu itupun juga aku tidak habis mengerti, Yaya begitu suka kepada kau dan aku, tapi ia tidak mau tinggal bersama-sama dengan ayah dan ibu, memaksa kau harus berpisah dengan aku. Sekarang setelah mendengar kata-katamu ini aku baru mengerti. Rupa-rupanya ia benar-benar hendak menjaga barang berharga ini!”

“Kelakuan Yaya sangat aneh, aku juga tidak dapat menduga apa sebabnya. Tapi kita tidak perlu mencari tahu sebabnya, aku sekarang hanya ingin menanyakan padamu satu soal saja.”

“Katakanlah.”

“Barang simpanan ini sebetulnya memang kepunyaanmu, sekarang sudah kita ketemukan, apa sekiranya kau merasa senang atau tidak?”

“Kau kata barang ini ada kepunyaanku, tapi aku anggap tidak ada hubungannya dengan aku. Aku juga tidak perlu merasa terlalu gembira mengenai soal ini.”

“Jadi kau tidak begitu ketarik oleh barang berharga ini? Kalau begitu, apa kau suka berikan padaku?”

Can Pek Sin terkejut, ia bukan sayang kepada barang itu, tapi ia tidak sangka enci Lengnya itu akan majukan permintaan yang demikian, sehingga dalam hatinya timbut pertanyaan: Untuk apa enci Leng menghendaki barang ini? Apa ia juga seorang perempuan yang temaha dengan harta kekayaan?

“Bagaimana? Kau sayang?” demikian Thie Po Leng mendesak.

“Menurut pikiranku, barang ini seharusnya kepunyaanmu. Meski aku ada keturunan keluarga Ong, tapi dengan kakek aku belum pernah melihatnya, Yayamu adalah saudara angkat kakekku, dipandang dari sudut persaudaraan dan hubungan di masa hidupnya, sudah sepatutnya barang ini menjadi hak milik Yayamu. Dan kau adalah cucu perempuan Yaya, sudah tentu barang ini akan jatuh di tanganmu.”

“Kau sungguh pandai bicara. Baiklah, kalau kau memang tidak tertarik dengan harta kekayaan ini, kita juga tidak perlu memperbincangkan siapa yang berhak atas barang ini. Begini saja, harta kekayaan ini selanjutnya biarlah aku saja yang mengatur, untuk apa yang aku suka gunakan, kita akan gunakan, setujukah kau atas usulku?”

“Aku sudah katakan bahwa barang ini adalah kepunyaanmu. Sudah tentu terserah bagaimana kau sendiri hendak mengaturnya, aku tidak akan campur tangan!”

“Siao-sin, kalau begitu aku harus ucapkan terima kasih dulu padamu. Tolong kau tutup lagi seperti semula.”

Pikiran Can Pek Sin agak terganggu, pikirnya: Apa enci Leng benar-benar sudah berobah? Berobah menjadi seorang yang aku tidak kenal, seorang yang haus dengan kekayaan dunia?

Thie Po Leng seperti merasa dirinya dicurigai, mendadak ia ketawa geli dan berkata: “Siao-sin, apa kau sudah tidak kenal aku?”

Can Pek Sin gelagapan, jawabnya dengan suara gugup:

“Enci, aku tidak mengerti, apa yang kau maksudkan?”

“Apa kau tidak mengerti? Justru aku yang tidak mengerti benar-benar! Mengapa kau selalu memandang aku saja? Encimu masih tetap seperti encimu yang dahulu, tidak berobah menjadi orang lain, apakah kau sudah tidak kenal aku?”

Ucapan Thie Po Leng ini ada mengandung arti rangkap, entah disengaja atau kebetulan, sebab apa yang diucapkan itu justru mengenakan apa yang sedang dipikirkan oleh Can Pek Sin.

Can Pek Sin terperanjat, dalam hatinya berpikir: Ucapan enci Leng ini terang-terang hendak mengutarakan isi hatinya kepadaku. Ia menghendaki barang kekayaan ini, pasti ada sebab musababnya. Aku sebenarnya tidak perlu terlalu banyak mencurigainya.

Thie Po Leng tutup lagi peti besi itu, ia berkata pula sambil ketawa:

“Apa kau merasa bahwa kejadian ini agak mengherankan?” “Benar, memang aku merasa agak heran. Enci, kau...”

“Aku tidak akan menutup rahasia terhadap kau, tapi sekarang masih belum tiba waktunya untuk diberitahukan padamu. Apa kau percaya encimu?”

“Percaya!”

“Kalau begitu kau tidak usah banyak bertanya-tanya, mati kita tutup lagi.” Setelah lobang itu ditutup kembali, Thie Po Leng merasa puas, ia berkata:

“Malam ini asal turun hujan, pada esoknya jalan yang bekas kita lalui akan tumbuh lumutnya lagi, hingga Yaya tidak akan mengetahui kalau kita sudah datang ke tempat ini.”

“Encie, mengapa kau harus merahasiakan kepada Yaya?”

“Bukankah aku sudah beritahukan padamu? Karena ia merahasiakan sesuatu padaku, maka aku juga harus merahasiakan sesuatu padanya.”

“Tapi aku masih belum mengerti...” “Banyak hal yang kau masih belum mengerti. Jangan kata kau, mengenai urusan Yaya aku juga banyak yang tidak mengerti. Pendek kata, urusan hari ini kau tidak boleh beritahukan kepada Yaya, kecuali kalau kau ingin membikin celaka diriku.”

“Aku sudah berjanji padamu. Apa kau anggap aku ada seorang manusia rendah yang tidak boleh dipercaya?”

“Baiklah aku percaya padamu. Kau adalah adikku yang baik, selanjutnya tidak perduli bagaimana, seumur hidupku aku tidak akan melupakan bantuanmu pada hari ini. Siao-sin, aku masih ingin minta bantuanmu dalam satu hal lagi.”

Mendengar perkataan yang lemah lembut dan merayu itu, hati Can Pek Sin merasa bimbang, andaikata Thie Po Leng suruh ia mencebur ke dalam jurang mungkin ia juga akan melakukannya.

Thie Po Leng berkata pula:

“Nah, mari kau temani aku bermain ke atas gunung, sebab di dalam kebun aku sudah merasa bosan.”

“Hari ini kau nampaknya sangat gembira. Sudah satu bulan lebih aku berada disini, belum pernah aku keluar pintu, aku juga ingin pesiar keluar.”

Thie Po Leng membuka salah satu pintu kebun, bersama Can Pek Sin, naik ke atas gunung.

Pemandangan alam di atas gunung, sudah tentu berlainan dengan pemandangan di dalam kebun. Tumbuhan bunga yang tidak terawat, bertumbuh dengan suburnya.

Thie Po Leng nampaknya sangat gembira, sepanjang jalan tangannya memetik bunga yang disukainya. Tiba-tiba ia menanya Can Pek Sin:

“Siao-sin, aku ingin membuatkan bagimu kalung bunga, apa sekiranya kau suka?”

Can Pek Sin mendadak teringat apa yang disaksikan ketika ia baru tiba di pegunungan ini. Thie Po Leng bersama pemuda she Lauw itu bersembunyi di bawah pohon yang di sekitarnya bertumbuh banyak bunga, kala itu Thie Po Leng juga sedang membuat kalung bunga untuk pemuda she Lauw itu.

Karena teringat kejadian itu, hatinya mendadak merasa pilu, maka ia menjawab sambil tundukkan kepalanya.

“Enci Leng, terima kasih atas tawaranmu itu, aku merasa tidak pantas memakai kalung bungamu.” “Eh Siao-sin, apa yang sedang kau pikirkan?”

“Tidak ada. Aku cuma merasa bahwa aku tidak tepat untuk memakai kalung bungamu. Sebaiknya kau berikan saja kepada orang lain!”

“Siao-sin apa kau merasa tidak senang?”

“Bagaimana aku berani merasa tidak senang? Kepada siapa kau suka buatkan, aku tokh tidak berhak melarang kau.”

Thie Po Leng menepuk pundak Can Pek Sin, ia berkata dengan suara lemah lembut:

“Siao-sin, kau adalah adikku, juga adalah sahabatku yang paling baik. Seorang tokh tidak cukup mempunyai seorang sahabat saja. Jika kau sudah mempunyai sahabat nona lain, aku juga masih tetap berlaku baik terhadap kau. Katakanlah dengan sejujurnya, kau merasa senang atau tidak kalau aku mempunyai lain sahabat?”

Merah muka Can Pek Sin, sedang dalam hatinya lantas berpikir: Itu memang benar. Tapi pemuda she Lauw itu rasanya bukan cuma sekedar sahabat biasa saja.

Walaupun dalam hati Can Pek Sin berpikir demikian, tapi ia tidak berani mengatakan terus terang dihadapan enci Leng nya itu, sehingga membuat pikirannya kalut, lama ia baru bisa menjawab: “Enci Leng, kau ajak aku naik ke gunung, apakah sebenarnya hanya untuk membuat kalung bunga untukku saja?”

“Siao-sin, kau sungguh pandai. Yaya menjaga aku terlalu keras, kalau aku tidak keluar bersamamu, malam ini begitu sampai di rumah pasti aku akan ditegur dan dikompes olehnya.”

Can Pek Sin merasa seperti diguyur air dingin, dalam hatinya berpikir: Kiranya kau hendak pergunakan diriku sebagai alat belaka...

“Aku sudah berkata terus terang kepadamu, apakah sekiranya kau masih merasa kurang senang?” tanya Thie Po Leng.

“Kalau begitu tentunya kau masih ada lain urusan yang mendorongmu mengajakku kemari?”

“Siao-sin, tadi kau telah berjanji akan membantuku, apa sekarang kau masih tetap memegang janjimu itu?”

Can Pek Sin memang sudah dapat menduga, maka ketika ditanya demikian hatinya tambah kebat-kebit, ia tidak tahu lagi bagaimana harus menjawabnya.

Sepasang biji mata Thie Po Leng yang jeli berputaran menjelajahi sekujur tubuh anak muda yang berada dihadapannya, Can Pek Sin, kemudian dengan suara perlahan berkata:

“Siao-sin, apa dalam hatimu masih merasa kurang senang? Aih Siao-sin, tahukah kau bahwa urusan ini amat penting sekali? Dan aku hanya dapat mengandalkan dan mempercayakan kau seorang? Jikalau kau tak mau kumintai bantuan, lalu kepada siapa lagikah harus aku mohon pertolongan sekali ini?”

Can Pek Sin diam-diam menghela napas, sambil kertak gigi menindas perasaan sedihnya ia menjawab juga dengan terpaksa:

“Kau ingin aku membantumu dalam soal apa? Katakan sajalah!”

Sambil menunjuk ke suatu arah di seberang sana Thie Po Leng berkata:

“Di sana ada sebuah rumah, adakah kau melihatnya?”

Memang di sana, di suatu tempat yang agak di ketinggian letaknya, ada sebuah bangunan rumah batu yang dikelilingi oleh pepohonan yang amat lebat, tertampak hanya ujungnya saja, tinggi menjulang ke atas. Tadi, Can Pek Sin tidak terlalu taruh perhatian ke situ, setelah ditunjuk Thie Po Leng barulah diketahuinya akan adanya bangunan rumah tersebut.

“Ada kulihat,” jawab Can Pek Sin agak curiga. “Kenapa?” tanyanya pula.

“Aku akan pergi ke rumah itu,” berkata Thie Po Leng tenang. “Kau tunggu sebentar disini, ya?” katanya pula. “Jika Yayaku datang, kau menyanyilah sebagai kode untukku.”

“Tapi aku tak bisa menyanyi... bagaimana?”

“Nyanyi apapun bolehlah. Kalau tidak, kau boleh berlagak seakan-akan kau sedang bercakap-cakap denganku, sebagai tanda kau tertawa keras-keras, dengan begitu aku jadi bisa tahu kalau Yayaku datang, dan berarti pula kau telah menolongku.”

“Aku mengerti, maksudmu ialah suruh aku menjaga kau! Enci Leng, siapakah yang berdiam di rumah itu? Kau suruh aku menjaga, juga tidak seharusnya kau merahasiakan terhadap aku!”

“Siao-sin, kalau dilihat dari sikapmu ini, aku berani berkata bahwa kau sudah tahu tapi pura-pura menanya.”

“Apakah itu ada rumahnya sahabatmu she Lauw yang sekarang kau bermaksud hendak jumpai padanya?”

“Benar. Siao-sin, harap kau jangan gusar. Aku sendiri tidak berdaya, maka aku minta bantuanmu. Apakah kau pernah mendengar Yaya mengatakan tentang itu? Jika ia mengatakan aku ada perhubungan dengan Lauw Bong, ini bisa celaka! Soal aku dimarahi masih tidak apa-apa, yang aku kuatirkan kalau kedua kaki Lauw Bong nanti dipatahkan! Siao-sin, berbuatlah kebaikan untuk encimu!”

Hati Can Pek Sin semula memang mendongkol, tapi melihat sikap encinya yang patut dikasihani, apalagi meminta padanya dengan suara merendah, dalam hatinya lantas ia berpikir: Dalam hati enci Leng sudah mempunyai pilihan lain pemuda, hal ini tidak boleh diperkosa. Satu laki-laki tidak usah takut tidak akan mendapat istri, kalau aku tidak terima baik permintaannya, sebaliknya akan menunjukkan piciknya pikiranku.

Ia tekan perasaannya dan berkata sambil angkat kepala:

“Enci Leng, pergilah kau! Terima kasih atas kepercayaanmu kepadaku.” Dengan girang Thie Po Leng berkata:

“Siao-sin, kau benar-benar ada adikku yang baik. Aku tahu kau sayang aku dan suka pula membantuku, baiklah aku pergi dulu.”

Can Pek Sin cuma bisa mengawasi berlalunya sang enci, dalam hatinya timbul suatu perasaan ‘lucu’. Mengapakah tidak? Sejak masih anak-anak ia sudah merupakan sepasang ‘kekasih kecil’ dengan Thie Po Leng, ibunya sudah pandang Thie Po Leng sebagai calon menantunya, sedang pun Thie Sui juga sudah anggap Can Pek Sin sebagai bakal cucu menantunya.

Sekalipun ia sendiri juga belum pernah memikirkan kalau enci Lengnya bisa mempunyai kesukaan lelaki lain, tidak akan menikah padanya. Kali ini ia juga ada menerima pesan ibunya untuk melamar dirinya Thie Po Leng, dan Yayanya sendiri juga pernah membicarakan soal itu, siapa akan menduga kalau urusan ini ternyata mendapat rintangan? Sekarang ini ia harus menjadi ‘tukang pukul’ nya sang enci, supaya ‘kekasih’ kecilnya itu mengadakan pertemuan dengan kekasihnya yang baru, bukankah ini ada merupakan satu hal yang sangat lucu?

Tapi Can Pek Sin tidak bisa ketawa, kalau bisa, tentunya ketawa getir. Sekalipun ia coba berlaga menjadi seorang lelaki yang berjiwa besar, tidak akan mengekang kemerdekaan orang lain, tapi sedikit banyak tokh masih merasa kecewa dan masgul, bahkan merasa agak malu terhadap dirinya sendiri.

Bayangan Thie Po Leng sudah lenyap dari pandangan matanya, ia tahu bahwa si enci itu sudah masuk ke rumah. Ia tidak dapat lihat keadaan dalam rumah, tidak dapat dengar apa yang sedang dibicarakan. Tapi ia dapat membayangkan bagaimana mesranya sang enci pada saat itu.

Can Pek Sin mundar mandir di lereng gunung, pikirannya terus bekerja. Aku tidak boleh berlaku begini tolol, apa dalam dunia ini sudah tidak ada perempuan cantik lain yang melebihi enci Leng? Aku masih perlu mempertinggi ilmu silatku, sekalipun tidak untuk membalas sakit hati ayah bunda, juga harus digunakan untuk kebaikan sesama manusia! Enci Leng sukai pemuda itu, juga tidak ada salahnya, tidak seharusnya Yaya kekang begitu keras. Aku harus junjung tinggi persahabatan enci Leng, aku harus membantu padanya.

Dengan tanpa dirasa, matahari sudah mulai mendojong ke barat. Mendadak hatinya tergoncang hebat, ia mendadak ingat ucapan Thie Sui, lalu berpikir, ini rasanya tidak beres!

Setelah enci Leng menemukan harta kekayaan itu, lantas pergi mencari pemuda she Lauw, apakah dua hal ini ada hubungannya satu sama lain? Yaya selalu menaruh curiga, maka ia larang enci Leng berhubungan dengan pemuda itu, rasanya bukan karena tidak suka saja. Apa lagi Yaya pernah berkata bahwa pemuda itu tidak diketahui asal usulnya, dan apa sebabnya pindah ke tempat pegunungan yang sunyi ini?

Pikiran Can Pek Sin semakin tidak tentram, tapi sekarang apa daya? Kalau pemuda she Lauw itu ada seorang jahat, bagaimana ia dapat membiarkan enci Lengnya tertipu? Apa lebih baik segera beritahukan kepada Yayanya? Tapi tadi ia sudah berjanji hendak membantu padanya, bagaimana boleh mengingkari janjinya? Apakah nanti saja ia beri nasihat kepada encinya? Juga salah, sebab pemuda she Lauw itu baik atau jahat, ia sendiri sedikitpun tidak menyalahkannya, bagaimana boleh lantas menganggap orang jahat? Taruh kata ia benar-benar ada orang jahat, tapi karena tidak ada buktinya, mungkin nanti akan timbul salah paham bagi encinya. Ia merasa serba salah, tiba-tiba ia dapat satu pikiran: Ya aku hendak mendapatkan bukti, setidak-tidaknya juga tahu sedikit urusannya, mengapa aku tidak mencuri dengar apa yang mereka sedang bicarakan?

Berpikir sampai di situ, mendadak ia merasa malu sendiri. Mencuri dengar, ah, ini ada satu perbuatan yang kurang hormat.

Dengan tanpa sadar kakinya sudah mendekati rumah tersebut. Ia baru merasa kesima ketika matanya mendapat lihat bangunan rumah itu.

Rumah itu dikitari oleh pohon besar, terutama pohon yang berada di belakang rumah tersebut tingginya melebihi atap rumah. Can Pek Sin lalu berpikir, apabila ia sembunyi di atas pohon itu, tentunya dapat melihat keadaan di dalam rumah itu, dan apa yang mereka bicara-bicarakan, tentunya juga dapat didengarnya.

Ia lalu mengambil keputusan untuk kebaikkan enci Lengnya, tidak boleh tidak ia harus mencuri dengar pembicaraan mereka, tidak menghiraukan apa yang akan terjadi.

Dengan tanpa sangsi lagi ia lantas lompat naik ke atas pohon yang besar dan tinggi itu. Tapi apa yang ia saksikan membuat ia kecewa.

Apa yang ia lihat bukan itu orang yang diharapkan. Dalam rumah itu ada duduk dua orang, satu berusia kira-kira empatpuluhan tahun, mukanya penuh berewok, yang lain ada seorang seperti pelajar, usianya kira-kira tigapuluhan, sedang berkipas, dan sikapnya seperti orang alim.

Can Pek Sin terus pasang mata, kecuali kedua orang itu, ia tidak dapat melihat bayangan enci Lengnya, atau pemuda she Lauw itu.

Laki-laki pelajar itu membuka mulut, terdengar pertanyaannya: “Siapa itu nona cantik yang barusan datang kemari. Nampaknya baik sekali perhubungannya dengan Bong-tit!”

Laki-laki berewokan itu lantas menjawab: “Lembah Phoan-liong-kok ini kecuali kita dan keluarga Thie, sudah tidak ada orang ketiga lagi.”

“Oh, kalau begitu dia adalah cucu perempuannya Thie Sui?” “Benar, dia memang cucu perempuannya Thie Sui!”

Laki-laki pelajar itu ketawa terbahak-bahak.

“Tidak kusangka Thie Sui ada mempunyai cucu perempuan demikian cantiknya! Lauw toako, aku haturkan selamat padamu!”

“Tok-kow lotee, kau jangan terburu napsu menghaturkan selamat!”

“Bukankah ini ada satu hal yang sangat menggirangkan? Aku yang menjadi pamannya sudah dapat melihat, apakah kau yang menjadi orang tuanya masih tidak tahu? Kalau dilihat gelagatnya nona she Thie itu tidak lama lagi tentu akan menjadi keluargamu. O ya, Bong-tit tahun ini bukankah sudah masuk usia duapuluh tahun? Sudah pada waktunya untuk berumah tangga. Terus terang aku sedang menantikan waktunya untuk minum arakmu, baru akan pulang.”

“Enak saja kau omong, gadis itu memang mempunyai maksud, tapi Yayanya tidak mengijinkan ia bergaul dengan si Bong.”

“Apa kau sudah pernah melamar? Sebab apa Yayanya tidak mengidzinkan?”

“Si tua bangka itu kalau melihat Bong-jie lantas marah, ia pernah berkata bahwa anakku itu tidak tahu diri, kalau berani berada bersama-sama cucunya, Bong-jie akan dikutungi kedua kakinya. Kau pikir saja bagaimana aku berani pergi melamar?”

“Tua bangka she Thie itu juga keterlaluan. ia mau mencari mantu orang yang bagaimana? Memang benar keluarga Thie dalam rimba hijau ada sedikit nama tapi kalian keluarga Lauw juga tidak boleh merendah dari padanya. Dengan hak apa ia pandang rendah tit-jie?” “Tentang ini..., aih, dia ada mempunyai pendapatnya sendiri, dia ingin kawinkan cucu perempuannya dengan orang lain, kita tokh tidak bisa mencegah, maka lebih baik kita jangan bicarakan lagi!”

“Bagaimana kalau aku bantu melamarkan? Aku sendiri mungkin masih tidak dipandang mata oleh Thie Sui, tapi aku masih bisa mengundang beberapa sahabat yang bisa membujuk orang tua itu.”

“Terima kasih atas kebaikanmu, tapi tidak usah saja.”

“Kenapa? Terhadap urusan perkawinan anakmu, kau seperti tidak ambil perhatian. Meski tua bangka itu menjemukan, tapi kita harus ingat kepentingan hari depan anak itu, kita seharusnya berusaha membantu mereka agar terangkap jodohnya. Coba saja apa salahnya?

Tok-kow lotee, sudah tidak usah! Perkataanmu memang benar, terhadap soal perkawinan ini aku memang tidak begitu ambil perhatian. Jadi juga baik, tidakpun tidak apa-apa!”

Pelajar itu nampaknya tercengang. “Toako, aku benar-benar tidak mengerti maksudmu. Kau pindah ke lembah Phoan-liong-kok ini, apakah...”

“Tok-kow lotee, kita ada sahabat lawas, aku juga tidak perlu menutup rahasia lagi terhadap kau, maksudku ke lembah yang sunyi ini, bukannya mencari jodoh untuk anakku!”

“Kalan begitu untuk apa?”

“Apakah kau pernah mendengar kisahnya Ong Pek Thong? Setelah ia meninggal dunia, harta kekayaannya yang besar jumlahnya, entah kemana jatuhnya. Ada orang berkata sudah dibagi-bagi, yang sebenarnya tidak sedemikian. Harta kekayaan itu sudah ditelan oleh Thie Sui sendiri. Terus terang, aku sekarang sudah mendapat kabar positip, tahu benar di mana disimpannya harta kekayaan itu!”

“Oh, kiranya begitu, jadi tujuanmu adalah harta kekayaan, bukan untuk mendapatkan mantu. Apakah berita ini diberitahukan padamu oleh nona keluarga Thie itu?”

“Benar. Kalau bukan lantaran itu, aku juga tidak ijinkan anakku bergaul dengan cucu perempuannya Thie Sui itu, sehingga harus mandah dihina! Bicara tentang harta itu aku akan minta bantuan tenagamu, lho.”

“Maksudmu, supaya aku turut campur dalam urusan harta itu?”

“Benar. Cucu perempuannya Thie Sui hari itu sudah berjanji dengan Bong-jie untuk mencarikan tempat disimpannya harta kekayaan itu. Hari ini mungkin dia sudah melanggar perintah Yayanya dan dengan diam-diam akan datang kemari menjumpai Bong-jie, barangkali dia juga membawa gambar peta tempat disimpannya harta itu. Tapi jika hanya diketemukan hartanya saja, bukan berarti urusan sudah selesai sampai di situ. Yang paling penting ialah harta itu secepat mungkin harus sudah berada di tangan kita.

“Kepandaian Thie Sui sangat tinggi sekali, aku sebetulnya ingin minta bantuan cucu perempuannya sebagai pembantu dari dalam untuk mengambil harta itu dengan akal. Hasil atau tidak bagaimana nanti, sebab mungkin si gadis tidak mau atau jika sampai keburu diketahui Thie Sui, siapa tahu? Maka kupikir, kalau sampai dengan akal kita tidak berhasil, terpaksa harus kita gunakan kekerasan serbu rumahnya! Tok-kow Lotee, inilah yang kukehendaki dari padamu, ingin minta bantuanmu.”

“Jadi kau akan menyuruhku mencuri harta orang...?”

“Kutahu kalian suami isteri merupakan sepasang pendekar, selalu melakukan perbuatan-perbuatan mulia. Kuketahui pula bahwa meminta pertolongan darimu itu sebetulnya kurang pantas. Tapi... tapi harta itu adalah harta tak halal dari Ong Pek Thong. Siapapun boleh mengambilnya! Kalau kita yang mendapatkan harta itu, adalah besar sekali kegunaannya. Lotee, ingatkah kau bagaimana pembicaraan kita dulu mengenai usaha besar kita itu?”

Pelajar itu rupanya tergerak juga hatinya, sambil kebaskan kipasnya dan tertawa ia berkata: “Benar! Harta kekayaan itu dibiarkan terpendam dalam tangan Thie Sui, sesungguhnya memang harus disayangkan sekali. Kalau saja bisa berada di tangan kita, memang betul dapat kita pergunakan untuk melaksanakan usaha besar kita!” Pembicaraan mereka telah dapat didengar seluruhnya oleh Can Pek Sin, meski ia belum mengetahui usaha besar apa yang dimaksud oleh kedua orang tersebut. Tetapi yang diarah dan diincar oleh orang she Lauw itu, yakni harta kekayaan itu, ia sudah tahu terang dan jelas dari pengakuannya sendiri. Didengar dari pembicaraan kedua orang tersebut barusan, setelah harta kekayaan berhasil mereka dapatkan, lantas Lauw Bong disuruh ‘depak’ Thie Po Leng.

Can Pek Sin diam-diam merasa sedih memikirkan nasibnya Thie Po Leng, kata-kata berikutnya dalam pembicaraan kedua orang tersebut selanjutnya sudah tak mau didengarnya lagi. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri: Apakah perlu hal ini diberitahukan pada enci Leng? Bahwa maksud keluarga Lauw itu cuma hendak mengakali harta kekayaannya saja? Tetapi kalau ditanya dari mana aku tahu itu lalu bagaimana harus kujawab? Apakah perlu kuberitahukan kalau aku telah curi dengar pembicaraan kedua orang ini? Mungkin ia akan marah! Atau nanti dia pikir aku ada niat akan memecah belah perhubungan mereka!

Ia berpikir bulak balik, tetap tidak mendapat suatu keputusan. Mendadak ia tertarik lagi oleh pembicaraan dua orang itu, karena saat itu dua orang tersebut sedang membicarakan ayah bundanya.

Laki-laki berewokan itu agaknya sangat gembira, setelah tertawa terbahak-babak lantas berkata:

“Tok-kow lotee, jadi sekarang kita tetapkan saja. Hanya aku yang berdiam di tempat ini, tidak begitu tahu lagi urusan dunia Kang ouw entah ada kejadian apa pada waktu belakangan ini? Bolehkah lotee tuturkan sedikit, supaya kita dapat menetapkan rencana kita selanjutnya.”

“Keadaan dalam dunia Kang-ouw hampir tidak berbeda banyak dengan keadaan dua tahun berselang, cuma ada sedikit perobahan, nanti aku tuturkan perlahan-lahan.”

“Baiklah, kau tuturkan saja yang penting.”

Laki-laki pelajar itu kibas-kibaskan kipasnya, ia mulai bercerita dengan sikap tenang.

“Ada satu berita yang cukup menggemparkan, ini juga ada hubungannya dengan Thie Sui si tua bangka, apakah kau sudah tahu?”

“Apakah yang kau maksudkan kabar tentang kematiannya suami isteri Can Goan Siu?” “Benar. Kalau begitu kau ternyata sudah tahu.”

“Tidak, aku cuma dengar sedikit, tidak tahu jelas. Bagaimana kematian mereka?”

“Mati terbunuh. Kalau tidak, bagaimana bisa dikata ada satu kabar yang menggemparkan? Tapi, kabar yang menggemparkan ini, sedikit sekali jumlahnya orang yang mtngetahuinya.”

“Aku sendiri juga merasa curiga. Mereka suami isteri masih segar bugar dan sehat-sehat saja, kepandaian mereka juga sangat tinggi, bagaimana bisa mati terbunuh? Ha, aku justru ingin mencari tahu soal ini, kiranya kau mengetahui persoalan ini dengan jelas?”

“Pembunuhnya suami istri itu, setelah melakukan pembunuhan pernah menjumpai aku!” “Siapakah dia itu? Masakan ia mempunyai kepandaian sedemikian tingginya?”

“Orang itu adalah keturunan keluarga Touw di gunung Hui-houw-san, yang dulu berhasil lolos dari lobang jarum bernama Touw Goan, ia berlatih dengan tekun sampai tigapuluh tahun lebih lamanya, dengan tujuan hendak menuntut balas dendam kematian keluarganya. Tapi Ong Pek Thong sudah lama meninggal dunia, ia cuma mempunyai seorang anak perempuan, itu adalah isterinya Can Goan Siu. Maka Can Goan Siu lantas terembet-rembet turut menanggung resiko atas perbuatan isterinya di masa lampau.”

Laki-laki pelajar itu tidak menyaksikan sendiri pertempuran hebat antara dua musuh besar itu, ia cuma mengira Touw Goan telah membunuh dua suami istri itu dengan mengandalkan kepandaiannya sendiri.

Laki-laki berewokan itu nampaknya terkejut dan terheran-heran.

“Aku selamanya belum pernah dengar kau menyebutkan tentang orang itu, apa kalian dulu pernah kenal? Bagaimana ia bisa mencari kau?” “Aku juga baru pertama kali berjumpa dengannya. Orang she Touw ltu entah dengan cara bagaimana, bisa mengetahui bahwa di rumahku ada obat untuk menyembuhkan segala bisa racun, sehingga dia telah datang padaku untuk minta obat tersebut.”

“Oh, jadi dia terluka?”

“Benar, menurut keterangannya ia telah kena senjata rahasia beracun istri Can Goan Siu, walaupun ia ada mempunyai obat pemunah, tapi sisa racunnya tidak mungkin terbasmi dalam waktu singkat, maka ia datang padaku untuk minta obat.”

Can Pek Sin yang mendengar penuturan itu diam-diam terkejut, pikirnya: Obat pemunah yang diberikan oleh ibu tempo hari itu harus memerlukan waktu tiga tahun, sehingga kekuatannya dapat pulih kembali. Entah bagaimana khasiatnya obat orang she Tok-kow itu? Apakah ia berikan padanya? Kini kepandaianku belum sempurna, apabila musuh itu sudah pulih kembali kekuatannya, aku harus lebih berhati-hati.

Kembali ia dengar suaranya orang she Tok-kow itu: “Sebetulnya aku tidak ingin memberikan padanya, tapi ia datang ke rumah bersama-sama salah satu sahabatku, dan sahabat itulah yang minta aku untuk tidak menolak permintaannya. Orang she Touw itu sangat sempurna kekuatan tenaga dalamnya, meski racunnya belum lenyap sama sekali, tapi gerak geriknya dan tindakan kakinya masih gagah, suaranya terang. Dilihat dari keadaan luarnya, sedikitpun tidak ada tanda-tanda kalau sedang terluka. Waktu ia datang di rumahku, ia pernah mengunjukan kepandaiannya menyampaikan suara ke dalam telinga.

“Aku sebenarnya bukan takut kepandaiannya yang sempurna itu, dengan terus terang bagi aku sendiri baik terhadap keluarga Ong, maupun terhadap keluarga Touw, semuanya tidak mempunyai kesan baik, tapi aku berpikir, juga tidak ada perlunya menanam dendam, apalagi ia datang bersama sahabatku, maka aku lantas berikan padanya sebutir pil, hitung-hitung mengikat persahabatan dengannya.”

“Tidak disangka keturunan keluarga Touw kembali akan muncul di rimba hijau, mengikat tali persahabatan dengannya juga tidak ada halangan.”

“Orang itu ambisinya besar sekali, sehabis ia minta obat, kembali ajak aku masuk ke dalam persekutuannya.”

“Ia ajak kau bersekutu? Emmm, apakah ia tahu perhubunganmu dengan aku serta usaha besar kita yang sedang kita rencanakan?”

“Hal itu ia tidak tahu, ia cuma ingin membangun sesuatu kekuatan lain di kalangan rimba hijau, maka setelah membunuh suami isteri Can Goan Siu, ia lantas mulai gerakannya untuk mengumpulkan orang- orang kuat dari berbagai tempat.

“Beng-cu yang sekarang yaitu Tiat Mo Lek, sebenarnya memang anak pungut keluarga Touw. Kalau dipikir-pikir masih terhitung saudara angkatnya. Apabila ia ingin mendirikan kekuatan yang lain, bukankah ini berarti bertentangan dengan Tiat Mo Lek?”

“Soal ini aku tidak tahu bagaimana ia hendak mengaturnya. Hanya menurut apa yang aku ketahui, suami isteri Can dengan Tiat Mo Lek merupakan sahabat paling baik, kalau Tiat Mo Lek tahu perbuatan kejam Touw Goan atas diri suami isteri itu, belum tentu dia mau membantu.”

“Persengketaan antara mereka tidak mau aku perdulikan, hanya aku ingin tahu pada saat Touw Goan ajak kau bersekutu, bagaimana jawabmu?”

“Apa itu masih perlu kujelaskan? Sudah tentu aku tolak! Kita berdua ingin melakukan sesuatu usaha besar, perlu apa minta bantuannya?”

“Ya! kita sudah mempunyai itu harta kekayaan, tidak perlu takut kalau sampai tidak dapat mengumpulkan orang kuat!”

“Kau juga jangan girang lebih dulu, kita masih harus berlaku hati-hati!” “Kenapa?” “Harta kekayaan Ong Pek Thong itu, separuhnya merupakan harta kekayaan keluarga Touw, sewaktu Ong Pek Thong berhasil menghancurkan markasnya di gunung Hui-how-san. Touw Goan adalah keturunan keluarga Touw, sudah tentu tahu hal itu. Sekarang ia bermaksud hendak menjadi raja di kalangan rimba hijau, barangkali juga menginginkan harta kekayaan itu. Aku mendengar kabar bahwa ia sedang mencari keterangan di mana tempat tinggalnya Thie Sui!”

“Kalau hegitu kita harus turun tangan lebih dulu. Nanti setelah Touw Goan menemukan tempat ini, kita sudah bawa pergi harta kekayaan itu untuk kabur sejauh mungkin!”

“Apakah kau dapat menjamin sepenuhnya, bahwa cucu perempuan Thie Sui itu benar-benar akan datang untuk menyerahkan gambar petanya dan mau menjadi pembantumu?”

“Cintanya ia terhadap Bong-jie, kau juga sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Aku berani katakan pasti akan berhasil. Heh, heh, ada beberapa hal yang kau masih belum ketahui.”

“Apa?”

“Anak piatunya Can Goan Siu, pada satu bulan berselang sudah datang kemari, menumpang kepada Thie Sui. Justru karena Thie Sui ingin menikahkan cucu perempuannya dengan bocah itu, maka ia berlaku demikian kasar dan benci terhadap Bong-jie.”

“Oh, kiranya begitu! Entah bagaimana bocah itu bisa lolos dari golok Touw Goan?”

“Hal itu aku tidak tahu. Nona Thie itu hanya mengatakan hal demikian, mengenai terbunuhnya suami istri Can, ia tidak mau memberikan keterangan selanjutnya. Ia berani menentang kehendak Yayanya, untuk tidak menikah dengan bocah itu, dapat dilihat kecintaannya dan ketulusan hatinya terhadap Bong-jie. Yang mengherankan adalah sikapnya Bong-jie, semula ia sangat cemburu, bahkan handak mencari bocah she Cin itu untuk mengadu jiwa. Baiknya ia tidak berlaku sembrono, kalau tidak urusan besar kita akan rusak olehnya. Ha ha, Bocah she Can itu diam-diam menjadi pembantu kita, hari ini aku baru tahu. Cuma, hal ini mungkin belum disadari oleh bocah itu sendiri.”

Mendengar itu hati Can Pek Sin menjadi panas, ia gusar sekali karena dirinya telah diperalat oleh kawanan orang jahat itu.

Sebelum ia dapat bertindak lebih jauh, laki-laki berewokan itu mendadak berkata dengan suara pelahan: “Sst, mereka datang! Jangan bicarakan urusan Touw Goan dengan keluarga Can.”

Benar saja, tidak antara lama terdengar suara tindakan kaki, dan Thie Po Leng muncul ke kamar itu bersama Lauw Bong.

Laki-laki berewokan itu dan laki-laki she Tok-kow itu dengan wajah berseri-seri menyambut kedatangan mereka seraya berkata: “Nona Thie, kenapa tidak duduk lagi sebentar? Apa kau hendak pulang sekarang juga?”

“Sudah terlalu lama aku keluar, aku takut kalau dicari oleh Yaya.”

“Yayamu nampaknya terlalu mengekang kau, anak sudah dewasa masak takut akan terbang? Heh, heh, aku harap gadis seperti kau ini ada satu hari nanti bisa menjadi keluargaku.”

Selembar muka Thie Po Leng merah semringah, sejenak kemudian ia baru bisa berkata:

“Yaya mengekang aku, itu juga disebabkan karena ia sayang terhadapku. Paman Lauw, paman Tok-kow, ada satu hal yang aku ingin minta tolong dari kalian...”

“Nona, kau terlalu merendah. Kita semua ada orang-orang sendiri, katakan saja.” Thie Po Leng dengan perlahan menyentuh Lauw Bong, pemuda itu lantas berkata:

“Ayah, urusan itu sudah selesai. Nona Thie ingin tahu tindakan apa selanjutnya yang harus disetesaikannya.”

“Oh, sudah beres?” “Inilah barangnya ayah, terimalah ini.”

Can Pek Sin perhatikan semua pembicaraan mereka, samar-samar ia dapat melihat bahwa barang yang diberikan pemuda she Lauw itu kepada ayahnya adalah segulungan kertas, mungkin adalah gambar peta tempat menyimpan harta kekayaan itu.

Laki berewokan itu setelah menyimpan gambar peta tersebut lalu berkata:

“Kami merasa sangat bersyukur atas bantuan nona. Nanti malam aku akan adakan kunjungan ke tempat Yayamu.”

Thie Po Leng lantas berkata: “Jangan, jangan. Sewaktu urusan begini kau tidak boleh datang secara terang-terangan!”

“Apa yang kukatakan ‘kunjungan’ adalah menurut peraturan dunia Kang-ouw. Setelah urusan selesai, aku nanti tinggalkan surat pernyataan maaf padanya.”

“Barangkali Yaya akan tahu juga. Jangan sekali-kali kalian turun tangan terhadap Yaya, inilah permintaanku satu-satunya pada kalian!”

“Tidak pandang muka paderi, juga perlu melihat muka budhanya! Mana berani aku bikin retak persahabatan dengan Yayamu? Hanya dalam soal ini kita sudah bertekad harus berhasil, kalau tidak ingin memperburuk persahabatan kita, terpaksa kita minta bantuan nona lagi.”

“Asal kalian tidak akan turun tangan terhadap Yaya, apa yang kau kehendaki akan kuturuti. Apabila segala urusan telah beres baru aku nanti akan minggat ikut kalian.”

“Barang ini kau simpan baik-baik. Jam tiga tengah malam kita nanti bekerja menurut rencana!”

Can Pek Sin coba pasang mata, tapi tidak melihat barang apa yang diberikan kepada Thie Po Leng. Dan kata-kata selanjutnya tak kedengaran, laki-laki berewokan itu hanya berbisik-bisik di telinga Thie Po Leng hingga tidak dapat didengar olehnya. Cuma enci Leng nya itu nampaknya agak keberatan, tapi akhirnya anggukkan kepalanya.

Setelah Thie Po Leng pamitan pulang, Can Pek Sin buru-buru merosot turun dari atas pohon dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, ia lari balik ke tempatnya semula. Tidak antara lama ia nampak enci Leng nya sudah balik dengan tindakan terbirit-birit.

Pikiran Can Pek Sin kusut, ia tidak tahu bagaimana harus berkata kepada Thie Po Leng. Apa yang menjadi pusat perhatiannya sekarang bukanlah soal pertemuannya sang enci dengan pemuda she Lauw itu, melainkan soal rencana apa yang mereka hendak lakukan. Dan bagaimana mereka hendak pergunakan tenaga enci Lengnya dalam menghadapi Yayanya? Ia tahu bahwa enci Lengnya sudah bukan seperti anak-anak lagi, soal apa saja memberitahukan padanya, sedangkan ia sendiri juga tidak boleh berlaku terang-terangan untuk meminta keterangan kepada sang enci itu.

Tiba-tiba perasaan aneh timbul dalam hatinya. Enci Lengnya itu sebetulnya merupakan seorang yang paling dekat dengannya, tapi sekarang mendadak telah berobah menjadi sangat asing, ia sungguh tidak nyana bahwa enci Lengnya itu bisa berkomplot dengan ‘orang luar’, yang telah menggunakan dirinya. Ia menganggap masih merupakan urusan kecil, selain dari pada itu hendak ‘mengarah’ Yayanya sendiri.

Thie Po Leng rupa-rupanya dapat melihat perobahan sikap pemuda itu, tanyanya sambil ketawa: “Siao-sin, kenapa kau diam saja? Apa kau tidak senang?”

“Enci Leng, kau tidak tahu betapa cemas hatiku menantikan kau! Kenapa begitu lama sekali kau omong- omong dengan keluarga Lauw itu? Emm, aku masih mengira kau tidak ingin pulang.”

Pemuda itu sengaja memberikan sang enci satu kesan seolah-olah ia sedang dicemburui, pada sebetulnya cuma untuk menutupi perasaan hatinya agar encinya tidak terlalu mencurigainya.

Thie Po Leng benar saja lantas ketawa terbahak-bahak dan kemudian berkata: “Tokh tidak terlalu lama bukan? Ku khawatirkan kalau-kalau nanti kau cemas terhadapku, maka buru-buru aku pulang. Siao-sin, terima kasih jangan sampai kau merasa cemas atau kurang senang terhadapku.”

Walaupun semua perkataannya itu diucapkan dengan paras berseri-seri dan berlaku seperti biasanya yang suka menggoda, tapi Can Pek Sin masih dapat melihat bahwa sikapnya itu berbeda dengan biasanya, ketawanya pun tidak wajar seperti dibikin-bikin.

Can Pek Sin terpaksa unjukkan senyumnya, ia lalu berkata:

“Kata-katamu tidak lama? Lihat matahari sudah doyong ke Barat. Aku menunggumu terlalu lama tidak apa, hanya ku takut Yaya nanti cemas sekali menunggu kita.”

“Kalau Yaya tahu kita pulang bersama-sama, hatinya pasti gembira. Tidak nanti ia akan mengomel.”

Meski di mulutnya ia mengatakan demikian tapi terang ia sudah merasa takut. Ia mempercepat jalannya, menunjukkan sikap yang terburu-buru.

Dua anak muda itu dengan dua pikiran berlainan, berjalan pulang dengan membisu. Akhirnya Thie Po Leng yang memecahkan kesunyian itu, ia bertanya:

“Siao-sin, kau agaknya sedang memikirkan sesuatu, benarkah itu!” “Sebaliknya, enci sendiri yang nampaknya banyak memikirkan sesuatu!”

“Sungguh kau licin sekali! Aku katakan kau, akhirnya kau juga mengatakan aku! Asal kau mau bantu aku merahasiakan halku terhadap Yaya, apa lagi yang perlu aku pikirkan?”

Pikiran Can Pek Sin agak bimbang. Ia memikir sekian lama, baru berkata:

“Enci Leng, aku, aku... sebetulnya ingin menanya sesuatu padamu.”

“Eh Siao-sin, hari ini kau kenapa. Kau ingin tanya apa? Terus terang saja! Kenapa mesti gelagapan dulu?” “Ya, aku ingin bertanya padamu, Yaya ataukah Lauw Bong yang lebih sayang padamu?”

“Apakah maksud perkataanmu ini?”

“Maaf, aku tidak pandai bicara. Maksudku ialah begitu.” “Kenapa kau mendadak berpikir demikian?”

“Yaya begitu bengis, melarang kau mengadakan perhubungan dengan dia, tapi kau sebaliknya dengan segala daya upaya akhirnya mencuri-curi pergi juga menjumpai dia. Aku merasa bahwa di dalam hatimu, tentu sudah pandang Lauw Bong lebih penting daripada Yaya.” 

Thie Po Leng menghela napas, ia berkata:

“Siao-sin kau tidak megerti.”

“Justru karena tidak mengerti inilah maka aku baru bertanya padamu.”

“Sejak kecil aku hidup bersama Yaya, dalam dunia ini tidak ada yang lebih dekat dan lebih sayang lagi kepadaku selain Yaya. Tapi Yaya kini sudah lanjut usianya. Ia tokh tidak dapat menemani aku untuk selama-lamanya?”

“Oh kiranya kau, kau...”

Thie Po Leng lantas merasa malu dengan setengah geli ia menyahut: “Siao-sin, kau jangan memikirkan yang bukan-bukan. Aku tidak berkata bahwa di kemudian hari aku harus menikah dengan Lauw Bong, tapi setidak-tidaknya aku tokh harus mempunyai beberapa orang sahabat! Kita ada anak-anak orang Kang-ouw, di kemudian hari tentunya juga akan berkecimpungan dalam dunia Kang-ouw.

“Keadaan Yaya sekarang ini seperti sebuah pohon besar yang masih bisa mengayomi aku. Tapi kalau pohon itu sudah lapuk dan rubuh, bukankah aku harus belajar berdiri sendiri? Siao-sin, ini ada ucapan yang timbul dari dalam hati nuraniku, karena telah kuanggap kau sebagai saudara sendiri, maka aku baru mau beritahukan ini padamu. Kau jangan salah paham dulu, mengira aku telah menyumpahi Yaya.”

Berkata sampai di situ, matanya Thie Po Leng nampak merah. Can Pek Sin diam-diam juga menghela napas, ia lantas berkata dengan suara pelahan:

“Ya, aku mengerti.”

Ia bukan saja sudah mengerti perkataan yang diucapkan oleh encinya itu, bahkan ia juga mengerti apa yang dipikirkan dalam hati sang enci, yang belum diucapkan. Ia tahu bahwa ucapan Thie Po Leng yang mengatakan ‘di kemudian hari belum tentu akan menikah dengan Lauw Bong’, sebetulnya cuma merupakan satu alasan saja, padahal ia sudah bersedia hendak sehidup semati dengan pemuda idamannya itu. Ia membutuhkan sebuah ‘pohon’ besar sebagai ‘pengayom’ bagi dirinya, pohon besar itu adalah Lauw Bong.

Justru karena ia mengerti baik isi hatinya Thie Po Leng, maka banyak perkataan lainnya juga tidak berani dikeluarkan lagi.

Thie Po Leng berkata pula sambil ketawa:

“Siao-sin, kau tidak bisa disamakan dengan Yaya. Kau tokh tidak akan membenci Lauw Bong dengan secara membabi buta, bukan?”

“Pengetahuan enci lebih tinggi daripadaku, orang yang kau cintai sudah tentu bukanlah orang jahat. Tapi Yaya mengatakan bahwa mereka ada orang-orang yang tidak diketahui asal-usulnya, apakah kau pernah mencari keterangan tentang diri mereka?”

Thie Po Leng kerutkan keningnya, lalu menanya:

“Apakah Yaya yang meminta kau supaya mencari keterangan dariku?”

Can Pek Sin ingat semua ucapan dari orang-orang itu, dalam hati merasa pilu, ia berkata: “Bukannya Yaya yang menyuruh aku mencari keterangan, tapi adalah aku sendiri yang merasa tidak tentram.”

“Oh, ada urusan apa yang telah menimpa diriku sehingga membuat hatimu tidak tentram? Apa kau benar- benar akan turut perkataan Yaya buat mengekang diriku?”

“Bukan itu yang kumaksudkan. Aku pikir, kalau kau ingin bersahabat dengan Lauw toa-ko, setidak-tidaknya harus tahu keadaannya itu ada lebih baik.”

“Yaya selalu banyak curiga, mengatakan orang tidak terang asal-usulnya, hm, kalau mau dikata tidak benar perjalanannya, bukankah keluarga Thie dan Lauw juga serupa saja?”

“Oh, kiranya mereka juga dari kalangan rimba hijau?”

“Memangnya kenapa? Yayaku adalah berandal besar dari kalangan rimba hijau, ibumu juga pernah menjadi anak perempuan ‘Beng-cu’ dari rimba hijau.”

“Aku cuma berkata sepatah saja, kau sudah marah padaku.”

Thie Po Leng juga merasa bahwa sikapnya terhadap anak muda itu agak keterlaluan, maka lantas memberi keterangan:

“Siao-sin, aku bukan marah terhadap kau, aku hanya katakan Yaya. Emmm, aku tahu kau dengar perkataan Yaya, hingga dalam hatimu sudah mempunyai kesan jelek terhadap diri Lauw Bong. Sebetulnya dia bukan orang jahat, meski ia dari kalangan rimba hijau, ia mempunyai cita-cita tinggi, pula berjiwa besar dan juga suka bersahabat. Aku katakan padanya bahwa kau telah banyak membantu aku, ia juga merasa berterima kasih padamu, sehingga ia ingin ikat tali persahabatan dengan kau.”

“Kalau enci katakan dia adalah seorang baik, sudah tentu tidak akan salah,” berkata Can Pek Sin sambil ketawa, namun dalam hatinya telah berpikir: Apa berjiwa besar, ketika aku baru tiba ia pernah ingin mencari aku untuk mengadu jiwa, kau tokh masih memuji dirinya. Tapi karena Thie Po Leng memuji begitu muluk, apakah ia harus mencela diri Lauw Bong di depan enci Lengnya?

Dua orang itu berjalan sambil mengobrol, dengan tanpa dirasa sudah tiba di depan pintu rumahnya. Thie Sui berdiri di depan pintu, begitu melibat mereka lantas menanya:

“Kemana saja kalian pergi bermain, mengapa sampai begitu lama? Aku sedang berniat mencari kalian!” Thie Po Leng lantas menjawab sambil ketawa:

“Yaya, sudah satu bulan lebih aku tidak keluar pintu, hatiku sangat pepat. Hari ini aku ajak Siao-sin pergi bermain ke atas gunung, sekalian melatih ilmu silat.”

Thie Sui lalu menanya kepada Can Pek Sin:

“Siao-sin apa dia tidak medusta?”

Can Pek Sin bersangsi, tapi di bawah lirikan mata Thie Po Leng terpaksa ia membohong:

“Tidak! Enci Leng sungguh cerdas, hari ini dengan aku berlatih ilmu silat Ngo-khim-ciang-hoat, ilmu meringankan tubuh keturunan keluarga ku, sehingga ia sudah paham semuanya.”

Thie Po Leng berkata sambil monyongkan mulutnya:

“Yaya kau selalu percaya omongan Siao-sin saja, tidak percaya omonganku.” “Kalau tidak ada apa-apa ya sudah. Lekas sedia makanan.”

Di waktu biasanya kalau Thie Po Leng berlaku aleman terhadap Yayanya, asal tidak melanggar kesalahan besar, Yayanya selalu berkata manis sambil ketawa-tawa, tapi kali ini sikapnya sangat berbeda dengan biasanya, nampaknya dingin sekali…..

********************

Sewaktu ketiga orang itu sedang makan, mereka masing-masing tenggelam dalam urusannya sendiri- sendiri. Thie Sui tidak banyak bertanya, Thie Po Leng hanya bicara sedikit, Can Pek Sin sama sekali tidak bersuara, yang belakangan ini, terus makan sambil tundukkan kepala.

Sehabis makan malam Can Pek Sin terus masuk ke kamarnya. Ia rebahkan diri di pembaringan dengan pikiran kalut dan kusut, bulak-balik sampai tidak bisa tidur.

Kentongan sudah berbunyi, menunjukkan tepat pukul dua tengah malam. Satu jam lagi berarti jam tiga, itulah waktunya yang telah ditetapkan untuk Thie Po Leng berkumpul dengan orang she Lauw dan anaknya beserta itu orang she Tok-kow! Mereka telah bersekutu akan membawa kabur harta besar yang tersimpan dalam gua yang telah disimpan Thie Sui selama berpuluh-puluh tahun itu!

Di waktu-waktu begini, lantas terbayang-bayang semua kejadian tadi siang dalam otaknya Can Pek Sin. Terutama itu adegan terakhir, kejadian di mana orang she Lauw itu telah memberikan semacam barang kepada Thie Po Leng, yang diberikutkan kata-katanya bahwa barang itu harus digunakan oleh Thie Po Leng untuk membuat Thie Sui tak berdaya...

Dalam hati Can Pek Sin lalu berpikir: Meski enci Leng kata tak akan melukai Yayanya, tapi apakah ia tidak mengetahui kalau orang she Lauw itu sebenarnya ada mengandung maksud tidak baik? Mereka telah bersekutu akan merampas harta besar itu, dengan sendirinya apapun dapat mereka lakukan. Entah barang apakah yang telah mereka berikan kepada enci Leng nya? Jikalau encinya pun sampai tertipu oleh mereka dan sampai melakukan perbuatan jahat yang tak disengaja mencelakakan Yayanya, apakah itu bukan merupakan suatu dosa besar yang tak mungkin terhapuskan? Benar, sekalipun aku telah berjanji tidak akan memberitahukan rahasia ini kepada Yaya, tapi mengingat perkara sekarang ini bukan lagi soal biasa apakah pernah aku terus tutup mulut tidak mengisiki kepada Yaya kalau mereka akan datang malam ini? 

Ia lantas membayangkan betapa mengerikan kejadian yang akan, disaksikan oleh mata kepalanya sendiri nanti malam, andaikata barang itu adalah racun. Tapi orang-orang itu mengatakan bahwa barang itu adalah obat pulas, lalu digunakan Thie Po Leng, bukankah itu sama berarti orang-orang jahat itu telah meminjam tangan Thie Po Leng mencelakakan kakeknya sendiri?

Benar, meskipun tidak binasa, orang-orang itu bisa mendapatkan barang kekayaannya, kemudian Thie Po Leng mau tak mau tentu akan diajak pergi bersama-sama mereka. Ia akan kehilangan enci Lengnya sudahlah pasti, tapi itu masih tidak mengapa. Bagaimana nanti dengan kakek Thie Po Leng? Apakah orang tua yang sudah sedemikian lanjut usianya ini dapat bertahan menderita demikian hebatnya. Karena dengan demikian bukankah sama berarti, selain kehilangan harta, pun cucu kesayangannya, yang disayang dimanjakan sejak dia masih anak-anak akan lenyap pula?

Yang terberat dan harus dipikirkan sekarang ini olehnya bahwa, menurut keterangan orang-orang itu musuh besar pembunuh ayah ibunya akan datang juga mencari harta tersebut. Tak dapat dibayangkan apabila ia sampai bertemu orang itu yang tentunya kini telah kembali kesehatannya. Apakah ia bisa luput dari bahaya kekejaman orang itu? Lalu Thie Sui apakah bisa diam berpeluk tangan melihat saja? Tentu tidak! Tapi dengan demikian berarti dia harus juga turut berkorban tanpa mengetahui urusan!

Memikir demikian ia lalu memutuskan akan memberitahukan kepada Thie Sui, supaya dapat dipikirkan bersama daya upaya apa sebaiknya akan dilakukan nanti guna menghadapi orang-orang semacam perampas-perampas harta itu. Tapi terpikir pula olehnya hal Thie Po Leng, apakah enci Lengnya tidak akan membenci mendendamnya?

Selagi terbenam dalam keragu-raguannya itu tiba-tiba daun jendela kamar terpentang! Lalu sesosok tubuh melayang masuk! Bukan main terkejutnya Can Pek Sin, tapi sebelum ia buka mulut orang itu sudah ulap- ulapkan tangannya sambil berkata dengan suara perlahan: “Siao-sin jangan berisik ini aku!”

Meminjam sinarnya sang rembulan Can Pek Sin melihat, orang itu ternyata bukan lain daripada Thie Sui adanya. Yang tidak dimengerti olehnya, mengapa orang tua itu berbuat demikian di rumahnya sendiri? Mengapa ia datang seolah-olah lakunya pencuri?

Sementara itu Thie Sui telah berkata pula: “Siao-sin, jangan kau kaget! Duduklah, aku akan menanyakan sesuatu darimu!”

Can Pek Sin merasa hatinya tak karuan kala itu, ia lantas menduga kalau ada apa-apa atas dirinya Thie Sui ini. Tapi belum lagi ia buka mulut hendak bertanya, kembali telah keduluan oleh Thie Sui.

“Hari ini adakah kau merasa gembira pesiar jauh-jauh bersama enci Leng mu?”

“Ng, ya!” gugup Can Pek Sin menjawab. “Ya, gembira!” Mau tak mau ia harus menjawab demikian.

Wajah Thie Sui si orang tua mendadak berubah. “Rasanya tidak demikian!” katanya dengas sikap sungguh-sungguh. “Kalau kau memang gembira mengapa setelah berada di rumah kau kelihatan lesu dan masygul?”

Kini Can Pek Sin benar-benar bingung. Dalam keadaan begini ia tak tahu bagaimana harus berbuat. Itu adalah urusan yang menyangkut diri enci Leng nya. Tapi iapun telah yakin bahwa urusan tak dapat disembunyikan lebih lama lagi. Thie Sui yang melihat Can Pek Sin bingung, kembali berkata:

“Aku tahu kau anak baik, dan tentu tidak mungkin mau menutupi rahasia penting dihadapanku. Coba kau kata, tadi siapa apa yang kau temukan dalam gunung-gunungan itu? Bicaralah dengan terus terang!”

Mendengar pertanyaan ini Can Pek Sin seketika lantas mengetahui kalau Thie Sui tentunya telah memeriksa hartanya, dan meski Thie Po Leng telah menutup rapi-rapi tempat penyimpanan harta itu, orang tua tersebut masih tak dapat dikelabui, maka terpaksa ia menjawab, “Adalah enci Leng yang minta aku membantunya membuka tutup gua itu, aku... aku... sama sekali tidak kuingini barang-barang itu!”

“Oh kiranya Po Leng juga telah beritahukan asal usul harta itu padamu? Ya, barang-barang itu sebetulnya memang milikmu! Tapi tahukah kau mengapa tak kuberitahu siapapun, sekalipun ibumu?”

“Yaya tak perlu menjelaskan itu padaku. Aku... aku...”

“Jangan ini itu! Sekalipun kau tidak bisa kata aku sebetulnya sudah tahu semua! Bukankah siang tadi kau ada pergi ke rumah keluarga Lauw di sana? Betul tidak?”

Can Pek Sin merasa tak berdaya. “Benar,” akhirnya ia memutuskan akan berterus terang juga. “Benar Yaya, tapi cuma enci sendiri yang masuk. Enci belum tahu kalau keluarga Lauw itu adalah orang-orang jahat semua hingga mau saja disuruh-suruh oleh mereka. Kau... Yaya... janganlah kau terlalu salahkan dia...”

“Oh begitu? dengan diam-diam telah pergi mengadakan pertemuan rahasia dengan si bangsat kecil itu dan kau masih mau mintakan ampun buat dia? Aih, aih sayang sekali budak itu tidak bisa bedakan mana yang baik dan mana jahat...” Sejenak Thie Sui berhenti, ia menghela napas, lalu melanjutkan pula:

“Cara bagaimana akan kuhajar dia nanti adalah urusanku, tidak perlu kau perdulikan. Aku sekarang mau tanya, tadi siang, bukankah mula kau disuruh jaga di luar tapi kemudian di luar tahu enci Lengmu kau lantas curi dengar pembicaraan mereka? Apa yang kau dengar? Cobalah kau ceritakan padaku.”

Can Pek Sin sekali lagi terperanjat. “Yaya,” ia berkata, “kiranya siang tadi kau juga telah pergi ke rumah keluarga Lauw itu?”

“Aku adalah orang tua yang telah banyak makan asam garamnya penghidupan. Masakah untuk menilik sepak terjangnya anak-anak muda saja sampai memerlukan banyak tenaga dan harus melihat dengan mata kepala sendiri? Aku tahu A Leng pergi seorang diri, sudah tentu dia memerlukan tenagamu untuk menjaga dari jauh supaya tidak sampai ketahuan olehku. Lalu, jikalau kau tidak curi dengar pembicaraan mereka, dari manakah kau bisa tahu kalau keluarga Lauw itu terdiri dari orang-orang yang tidak baik kelakuannya?”

“Itu cuma duga-dugaanku saja, belum berani pastikan kalau mereka orang jahat. Mungkin juga dugaanku tadi keliru. Tapi, sebenarnya memang aku telah mendengar pembicaraan mereka, antaranya dapat kutangkap mereka hendak mempergunakan dirinya enci Leng buat membantu usaha mereka melihat-lihat dari dalam.”

Lalu secara singkat dituturkannya semua apa yang telah didengar dan diketahuinya.

“Kiranya Tok-kow U sudah akan buka kedok ‘Kesatria budiman’ nya, dan sekarang bermaksud akan turut komplotan orang-orang jahat itu dalam perampasan harta kita?” Thie Sui berkata demikian sambil ketawa dingin.

Can Pek Sin terus bertanya:

“Apakah orang pertengahan umur itu yang kau sebut Tok-kow U?”

Can Pek Sin sebenarnya telah pernah mendengar dari ayah dan ibunya bahwa Tok-kow U dan adiknya perempuan Tok-kow Ing adalah dua orang yang telah merupakan sepasang pendekar dengan nama harum dalam rimba persilatan. Mereka dengan Toan Khek Gee suami isteri adalah sahabat-sahabat baik, tetapi waktu ini ia sudah tidak ingat siapa adanya orang yang disebut Tok-kow U tersebut.

Thie Sui berkata:

“Orang pertengahan umur she Tok-kow yang berdandan sebagai pelajar, yang membawa kipas dijadikan senjata, kecuali Tok-kow U tidak ada orang lain lagi. Biarlah! Tak perduli Tayhiap tak perduli siaohiap! Pokoknya siapapun yang berani main gila di atas kepalaku, bagiannya adalah kepalan atau senjata golokku! Coba katakan, kapan mereka akan kemari?” “Yaya,” Can Pek Sin dengan roman heran bertanya: ”Dari siapa Yaya tahu kalau mereka akan datang kemari?” Ia masih belum mau menceriterakan perbuatannya Thie Po Leng yang telah menyerahkan gambar tempat penyimpanan harta besar itu kepada orang tua ini.

Thie Sui berkata:

“Perginya A Leng kerumah keluarga Lauw tidak perlu kutanyakan darimu. Aku telah dapat membayangkan bagaimana dan apa yang telah dilakukannya di sana. Hmm! Mereka telah mengetahui tempat disimpannya harta kita mustahillah kalau mereka tidak datang kemari!” 

Can Pek Sin mengagumi sekali orang tua yang berada dihadapannya. Diam-diam dalam hatinya ia berpikir: Memang benar kata pribahasa bahwa jahe tua itu pedas. Yaya cuma mengetahui hartanya dibongkar orang, lantas mengetahui segala-galanya.

Mengira bahwa Thie Sui telah mengetahui banyak dalam hal itu, ia merasa tak perlu lagi menutup lebih lama rahasia enci Lengnya, maka dengan cepat lantas berkata:

“Mereka akan datang jam tiga malam ini!”

Thie Sui melongok keluar jendela. “Bagus!” ia berseru. “Kalau begitu, masih ada tempo setengah jam buat kita berjaga-jaga. Akan kutanya lagi sebelum pergi, Apa enci Leng mu sudah berkata sedia akan membantu mereka?”

Can Pek Sin merasa serba salah, setelah menimbang-nimbang akhirnya mengaku juga. “Tentang ini,” ia berkata, “Ya! Enci Leng tapinya sudah memberi nasehat pada mereka supaya jangan merusak persahabatan dengan Yaya! Ia... ia... ia masih menyayangi Yaya...”

“Aku tidak suruh kau ucapkan segala perkataan yang tak ada gunanya! Katakan saja dengan pendek bagaimana cara mereka menyuruh enci Leng mu buat mencelakakan aku!”

“Ayah Lauw Bong memberikan enci Leng sesuatu, tapi aku belum tahu entah barang apa yang diberikan kepadanya itu...”

Mendadak Thie Sui memberi isyarat supaya Can Pek Sin tidak bicara terus! Dengan sebat dan cepat dikoyaknya kain gorden yang ada di dekatnya, lantas dikepal dan dijadikan dua gulungan, seterusnya dimasukkan ke liang hidungnya Can Pek Sin.

“Mari ikut aku!” katanya, dan ia lebih dahulu lompat keluar melalui jendela.

Can Pek Sin melihat kelakuan orang tua itu heran, ia lantas berpikir: Apakah orang-orang itu sudah datang? Atau apakah Yaya sudah dapat endus baunya obat pulas mereka?

Ia berpikir demikian, namun kakinya terus berjalan mengikuti Thie Sui...

Melalui sebuah kamar lagi, akan tibalah mereka di bagian belakang kamar Thie Sui.

Can Pek Sin cepat-cepat pasang mata. Segera dilihatnya ada sesuatu bergerak-gerak di bawah jendela kamar tidurnya Thie Sui. Tak dapat dilukiskan betapa risau dan kacaunya perasaan Can Pek Sin kala itu, bagai akan terlompat keluar hatinya mengetahui siapa yang berdiri di muka jendela kamar Thie Sui itu! Ingin ia berteriak, tetapi tenggorokannya serasa tersumbat!

Memang benar, di situ, di muka jendela kamarnya Thie Sui, ada seseorang sedang bekerja. Rupanya saat itu orang itu sedang akan menyulut obat pulas. Yang membuat Can Pek Sin kaget ialah, orang itu bukan Lauw Bong bukan pula ayahnya pemuda .she Lauw itu, melainkan adalah enci Leng nya sendiri, Thie Po Leng cucunya Thie Sui!

Tangan Thie Po Leng kelihatan sedang memegang sebatang tempurung bambu yang panjang, asap putih mulai nampak mengepul dari lubang tempurung tersebut, terus masuk bagai seberkas sinar ke dalam kamarnya Thie Sui melalui lubang-lubang jendela itu...”

‘Tidak kelihatan tegas bagaimana sikap dan perubahan penyulut obat pulas itu, cuma badannya saja yang nampak terus bergetar, rupanya ia masih ragu-ragu namun terus memaksa menguatkan hati dan bekerja! Pintar adalah ayahnya pemuda she Lauw itu. Ia cukup mengetahui bahwa dengan obat pulas biasa saja takkan ada artinya apa-apa buat Thie Sui. Maka sengaja diberikan obat keras (yang spesial dibuatnya sendiri) kepada Thie Po Leng untuk membuat Thie Sui terbius lama. Tak perlu kiranya kami tuturkan bahwa, siapapun yang mengendus baunya atau kemasukan asap obat tersebut tentu akan kontan mengelepak pingsan dan baru akan siuman setelah disuruh tidur pulas selama beberapa jam! Obat tersebut dibuatnya sedemikian rupa pula sehingga orang yang menjadi korbannya, sekalipun sudah siuman, masih harus memerlukan waktu duabelas jam lagi baru bisa pulih kembali kekuatannya seperti sediakala.

Thie Po Leng sudah meminta kepada mereka supaya mereka tidak sampai mencelakakan diri kakeknya, karena itu ia kini berani melaksanakan titah orang she Lauw tersebut untuk menuruti rencana bersama, sekalipun dengan perasaan yang tidak enak sekali. Bagaimana kalau sampai Yaya kenapa-kenapa?

Justru karena pikirannya demikian, di waktu meniup asap obat tersebut ke dalam kamar kakeknya, badannya terus nampak bergetar. Jelas ia masih sayang kakeknya, namun karena terpaksa, demi kekasihnya ia telah kuatkan hatinya meniup dan meniup terus! Kelakuannya demikian sebetulnya ada menguntungkan sedikit dirinya, sebab dengan begitu Thie Sui jadi tahu bahwa sang cucu berbuat demikian karena terpaksa. Amarahnya agak mereda juga.

Adalah Can Pek Sin yang masih berdiri bagaikan patung, ia khawatirkan sangat keselamatan enci Leng nya. Ia tidak tahu dengan cara bagaimana nanti sang kakek akan menghukum cucunya. Lalu bagaimana perasaan enci Leng nya jika mengetahui dirinya telah dipergoki oleh kakeknya yang berada bersama-sama dengan dia? Inilah perasaannya Can Pek Sin, yang takut dicurigai telah mengadukan semua rahasia Thie Po Leng kepada kakeknya.

Selagi masih memikirkan keselamatan sang enci, mendadak terdengar suara ‘Tingngng’ yang amat nyaring!

Kiranya, Thie Sui telah tak dapat tahan memperhatikan terus kelakuan cucunya, dengan sebuah uang logam telah menyambit tempurung yang dipegangi cucunya...

Thie Po Leng terperanjat. Ia cepat menoleh ke belakang dan segera terlihat olehnya siapa berdiri di situ! Sang kakek, dengan paras pucat pasi dan jenggot gemetaran telah berdiri di dekatnya, Can Pek Sin berada agak jauh daripadanya...

Ketakutan Thie Po Leng bukan kepalang. Baru ia akan berseru, “Yaya,” sang kakek tersebut telah mendahuluinya dengan berkata sinis: “Kau masih anggap aku sebagai Yaya mu? Bagus sekali kelakuanmu, hehh! Telah kupelihara, kudidik, kubesarkan kau sampai dewasa, sekarang begitukah balasmu terhadapku? Hmmm!”

Thie Po Leng jatuhkan dirinya di depan sang kakek sambil menangis tersedu-sedu.

“Yaya!” katanya sambil terus meratap, “Bunuhlah aku! Ambillah nyawaku! Aku yang berdosa besar Aku... aku... sebetulnya sekali-kali tiada kubermaksud akan mencelakakan dirimu...”

Can Pek Sin buru-buru menghampiri, ia lekas memegang lengan Thie Sui yang hampir memukul. “Yaya, jangan!” demikian ia berseru. “Enci Leng memang telah terbujuk oleh kata-kata manis, tapi pandanglah mukaku Yaya... ampunilah kesalahannya sekali ini...”

Thie Sui gerakkan lengannya mengebas tangan Can Pek Sin yang mencekalinya sementara tangan kirinya tetap masih memukul Thie Po Leng dengan cepat!

“Yaya, jangan!” Can Pek Sin kembali berteriak, lantas menubruk Thie Sui untuk mencegah, namun sudah tak keburu. Thie Po Leng menggeletak numprah di tanah, mukanya pucat. Dengan lekas ia menghampirinya, dan memondongnya jauh-jauh dari Thie Sui. Setelah diperiksa, ternyata sedikitpun tak ada tanda-tanda darah, urat nadinya pun masih bergerak normal, hanya tubuhnya saja yang rupanya lemas kehabisan tenaga.

Thie Sui yang dalam keadaan murka ternyata masih tidak sampai hati buat membunuh sang cucu. Ia hanya menotok jalan darah sang cucu supaya tidak bisa bergerak saja. Jadi, sekalipun Thie Po Leng tak dapat gerakkan badannya, tapi indera dan perasaanya masih bekerja secara normal, dapat mendengar dan menyaksikan sikap dan perkataan kakeknya, pikirannya masih terang.

Thie Sui sudah berkata pula sambil menghela napas: “Siao-sin, aku masih memandangmu! Sekarang takkan ku apa-apakan dia! Tapi nanti, setelah dapat kubekuk bangsat kecil itu, ada perhitungan tersendiri yang akan kubuat dengannya. Sekarang, ikatlah dia jangan sampai dia lolos!”

“Sudahlah Yaya,” Can Pek Sin dalam kagetnyn coba meredakan amarah Thie Sui. “Sudahlah, jangan kau perlakukan dia keterlaluan...”

“Kalau tidak diikat, apa kau senang melihat aku dengan mata kepala sendiri menyaksikan dia bersepakat dengan orang luar menjual diriku? Kau ini seorang laki-laki yang tak ada guna! Tahumu cuma membela dan membela terus enci Leng mu yang sebetulnya tak patut kau bela mati-matian secara itu! Lekas, kalau kau tidak mau turun tangan biarlah nanti aku kerjakan sendiri!”

Can Pek Sin tidak berdaya. “Yaya jangan marah dulu,” terpaksa ia berkata, “biarlah akan kucarikan tambangnya lebih dahulu...”

“Tidak perlu cari jauh-jauh,” Thie Sui kata sambil keluarkan seutas tambang kasar. “Ini, sudah ada padaku! Sebenarnya kusediakan ini untuk meringkus si bangsat kecil Lauw itu. Tapi sekarang, biarlah kau pakai dulu buat ikat dia! Ikat dia di kamar, dengan kaki ranjang!”

Can Pek Sin menurut, terpaksa ia memondong Thie Po Leng sementara hatinya diam-diam terus mengeluh. “Celaka! Bagaimana nanti sikapnya terhadapku setelah jadi begini?”

Benar seperti apa yang diduga Can Pek Sin, Thie Po Leng sejak saat itu telah menaruh rasa benci dalam hatinya. Ia hanya menyangka bahwa rahasianya telah dibocorkan Can Pek Sin. Ia mendongkol amat karena mulutnya tiada dapat dipergunakan untuk berkata-kata, ia hanya bisa memandang sang ‘adik Sin’ dengan sorot beringas.

Can Pek Sin merasa hancur hatinya, ia tak berani menatap langsung paras encinya, dengan sekenanya saja ia membubat-bubat tubuh sang enci setelah berkata, “Maafkan aku, enci!”

Thie Sui tadi perintahkan Can Pek Sin supaya mengikat Thie Po Leng erat-erat pada kaki tempat tidur. Tapi Can Pek Sin orangnya tidak tegaan, ia hanya mengikat dengan sekenanya saja dan tidak membuat ikatan mati.

Sebenarnya, Thie Sui pun tidak nanti turunkan tangan kejam. Sewaktu menotok tadi saja sudah terbukti bahwa ia tidak sampai hati menyiksa cucunya, hanya mempergunakan sedikit tenaga sekedar buat ‘ajar adat’. Supaya sang cucu jangan kabur, disuruhnya Can Pek Sin mengikatnya dengan tambang. Dalam keadaan demikian ia pikir tak perlu memeriksa lagi sekalipun tokh telah diketahuinya kalau Can Pek Sin tak mungkin mau mengikat keras, hal mana tidak dijadikan pikiran sama sekali olehnya. Malah ia seharusnya meski merasa girang sekali melihat kenyataan damikian, melihat sikap pembelaan Can Pek Sin terhadap encinya itu.

Can Pek Sin tidak berani menatap mukanya Thie Po Leng lagi. Setelah mengikat secara sembarangan lalu ditinggalnya sang enci sendirian dalam kamar.

Saat itu Thie Sui sudah memegang sebuah golok, dikirakan sudah hampir tigapuluh tahun lebih lamanya senjata tersebut tergantung terus di atas tembok, dan baru sekarang akan dipergunakan oleh pemiliknya.

Sambil menemang goloknya keluar, Thie Sui yang melihat Can Pek Sin pun sudah menyelesaikan tugasnya, lantas berkata, “Siao-sin, sudah limapuluh tahun lebih tak kupergunakan golok pusaka ini, mungkin malam ini dia akan merasa enaknya darah bangsat-bangsat yang akan menyatroni rumahku!”

Thie Po Leng merasa sedih di hati mendengar ucapan Thie Sui, ia khawatir sekali. Bagaimana kalau sampai kakeknya benar-benar membuktikan perkataannya? Benar ia tidak suka orang-orang she Lauw dan Tok-kow itu mengapa-apakan Thie Sui, namun iapun tidak menghendaki pula orangtua ini membunuh- bunuhi orang-orang tersebut! Terutama kecintaannya Lauw Bong itu! Thie Sui sudah ajak Can Pek Sin keluar. Kamar Thie Po Leng dikuncinya dari luar, setelah berjalan beberapa lama ia barkata. “Siao-sin, ambil pedangmu! Malam ini kau harus bantu aku menghadapi musuh bersama-sama!”

“Apa Yaya malam ini benar-benar akan membunuh orang?”

“Menghadapi orang-orang jahat serupa mereka tidak boleh kita kenal istilah kasihan! Coba pikir saja: mereka terus akan rampas harta kita. Jikalau mereka kita pergoki secara berhadapan, apakah tidak mungkin mereka akan terus berlaku nekad untuk menyingkirkan kita sebagai pemilik harta yang mereka incar? Dan jika sudah begitu sekalipun tidak mau kita bunuh mereka, mereka pasti akan membunuh kita lebih dulu! Betul tidak?”

Can Pek Sin berdiri termanggu-manggu. Ia tahu bertempur sudahlah mesti, dan tidak mungkin dapat dihindarkan pula. Apa yang dikatakan oleh Thie Sui semua benar. Tetapi setelah dipikirkannya hubungan antara encinya dengan itu pemuda she Lauw, ia lantas merasa tak enak sendiri.

Ia masih melamun, Thie Sui sudah berkata pula: “Nanti aku yang akan menghadapi dua orang tua itu! Dan kau, hadapilah Lauw Bong si bangsat kecil itu dengan sungguh-sungguh, ingat, kau harus bisa selalu tenang. Tidak boleh ada rasa takut, pun tak boleh taruh belas kasihan! Kau harus gunakan tipu-tipu serangan yang paling ganas, yang paling mematikan. Baik sekali kalau kau bisa lekas-lekas mengakhiri pertempuran melawan bangsat kecil itu.

“Siao-sin, ingat, ini perlu! Bukan saja buat jaga nama baik keluargamu, pun hitung-hitung kulepas kau buat menguji kepandaianmu! Jika kau tak mampu lekas-lekas akhiri pertempuran, lalu sebaliknya aku sebentar- sebentar, harus tilik kau, berarti harus kupecah perhatianku buat dua pertempuran, itu berat sekali bagiku! Kau harus pula sadar, bahwa ayah si bangsat kecil itu, dan si orang she Tok-kow itu, semuanya adalah merupakan orang-orang kuat nomor satu dalam kalangan persilatan!”

Mendengar kata-kata Thie Sui yang bersemangat itu Can Pek Sin mulai bimbang. Dalam hatinya diam- diam ia mulai berpikir: Kalau sampai aku membunuh Lauw Bong, bagaimana perasaan enci Leng nanti terhadapku? Tapi, jikalau tak kubinasakan dia, itupun keliru sebab dengan begitu seperti sengaja kuperberat beban Yaya. Bagaimana aku harus bertindak? Bagaimana jalan sebaiknya yang harus kutempuh?

Thie Sui melihat Can Pek Sin termenung lagi. sudah berkata pula: “Ingat, bangsat kecil itu sekali-kali jangan kau pandang rendah! Untungnya sudah kuberi didikan selama sebulan ini kepadamu, dan kulihat banyak kemajuan yang telah kau capai. Dalam menghadapinya kau boleh pergunakan tipu silat ‘Ngo-khim- ciang-hoat’ keturunan keluargamu, atau kalau bisa lebih baik kau keluarkan permainan pedang ‘Toan-bu- kiam’ yang selama telah kuturunkan padamu. Perlu kuberitahu padamu, kelemahan bangsat kecil itu ialah, bagian bawah kurang dijaga teguh, dan kepandaian meringankan tubuhnya kurang sempurna, ingatlah ini baik-baik!”

Can Pek Sin terus menyahut “Baik,” sementara dalam hatinya terus berpikir: “Ya, Lauw Bong lebih tua dari padaku, dan badannya lebih tegap pula dariku. Entah mampu atau tidak aku berusaha nanti? kalau tidak dapat kubinasakan dia paling banter aku yang harus mati. Aku belum lagi berhadapan dengan orangnya mengapa sudah harus takut atau mengasihaninya lebih dulu?

Setelah berpikir demikian ia lalu mengambil suatu keputusan. Setelah berhadapan dan mengadu kekuatan baru kemudian melihat keadaan pula. Namun demikian, hatinya masih belum bisa ditenangkan, ia masih khawatirkan keretakkan persahabatan antara ia dengan Thie Po Leng.

Dengan Thie Sui tahu-tahu ia sudah tiba di tempat penyimpanan harta, menelad perbuatan Thie Sui, iapun lantas bersembunyi di belakang sebuah gunung-gunungan batu.

Tak lama antaranya, kentongan telah terpukul sampai tiga kali.

Thie Sui dengan bisik-bisik berkata, “Datang temponya, kau tunggu dulu! Biar aku duluan akan turun tangan, kau boleh menyerang belakangan.”

Saat itu benar saja lantas tertampak tiga sosok tubuh bergerak mendatangi, mereka dengan melompati pagar tembok terus memasuki pekarangan dalam, kini sedang berjalan ke arah gua penyimpan harta. Yang berjalan terdepan kelihatan seorang laki-laki berewokan, lalu Tok-kow U, itu pelajar berkipas dan Lauw Bong yang paling di belakang. Laki-laki berewok yang berjalan terdepan menoleh kepada kawannya yang berkipas, lalu seolah-olah di rumahnya sendiri dengan suara besar berkata:

“Tua bangka Thie Sui saat ini masih mimpi enak sekali! Ha, ha... Setelah dia mendusin nanti, hartanya sudah lenyap sama sekali! Ha, ha...”

“Bangsat!” Thie Sui yang tak dapat menahan dihina sudah lompat keluar dan berseru. “Apa kau kata?! Aku ada disini, hehh!” Sementara ia berkata-kata dan mendatangi tamu-tamu tak diundangnya itu tangannya terus bekerja, enam bilah golok terbang lantas melesat keluar mencari mangsa!

Laki-laki berewok yang tak menduga akan disambut golok-golok terbang, tak keburu mengelit, ditambah jarak antara ia dan penyerangnya sudah terlalu dekat mau tak mau lengannya harus merasakan cekat- cekit karena tersambar golok-golok terbang tersebut. Tapi tak dapat dicela kepandaiannya. Adapun maksud Thie Sui menyebar golok-golok terbangnya ialah untuk dalam waktu sekejap bisa cabut nyawa orang. Siapa tahu ‘tamu’ nya masih cukup gesit, hingga yang terkena hanya lengannya saja, bagian yang sama sekali tidak membahayakan!

Tok-kow U berada di tengah, ia tidak sampai demikian ripu! Seperti kawannya. Ia buru-buru kibaskan kipasnya, untuk menyampok empat golok terbang.

Laki-laki berewokan itu nampaknya sangat heran, terutama dengan munculnya Thie Sui, sesungguhnya di luar dugaannya sama sekali.

Thie Sui berkata sambil ketawa bergelak-gelak:

“Kau tidak menduga bukan? Sudah lama aku menantikan kedatangan kalian! Hm, apa kau kira cucuku bisa membantu kalian? Kau sendirilah yang sedang mimpi!”
*** ***
Note 25 oktober 2020
Cersil terbaru hari ini akan diupload pukul 20.00 WIB
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Jiwa Ksatria Jilid 02"

Post a Comment

close