Heng Thian Siau To BAGIAN 31 : NYARIS TERBUKA KEDOKNYA

Mode Malam
 
BAGIAN 31 : NYARIS TERBUKA KEDOKNYA

Dalam perjalanan selanjutnya, ayah dan anak  itu selalu asyik bercakap-cakap dengan gembira. Menjelang terang tanah, tibalah mereka dikaki gunung Lo-hu-san.

Ternyata setelah terjadi peristiwa peracunan pada Siau-beng-siang secara mysterieus itu, kini penjagaan di Lo-hu-san diperkuat. Teringat bahwa satu-satunya orang Lo-hu-san yang symphati pada dirinya yalah Kui-ing-cu, Tong Ko ajak ayahnya mampir kewarung arak yang diusahakan oleh tokoh itu.

"Kui locianpwe!" Tong Ko segera berseru begitu masuk kedalam ruangan warung.

Kui-ing-cu dan Thaysan sin-tho berpaling. Serentak berbangkitlah si bongkok, lalu berseru keras2: "Cian-bin long-kun, kau berani datang kemari lagi?"

Wut......, wut......, tangannya bergerak menghantamkan pukulan lwekang dan tubuhnyapun menyusuli loncat kemuka. The Go cepat menghindar kesamping, sedang Tong Ko sudah sebat melintangkan pi-lik-to kedada, bentaknya: "Thocu, kalau masih tak kenal adat, tentu kuhajar!"

"Bah....... anak busuk, kau berani kurangajar padaku!" bentak Ih Liok sembari terus rangsangkan tangannya kanan untuk menyambar siku Tong Ko.

Tong Ko tertawa, begitu miringkan tubuh, dia segera menabas dengan jurus lui-tong-in-in.

Benar lwekang si bongkok itu sudah mencapai tingkat sempurna, tapi berhadapan dengan golok pusaka kian- thian-it-gwan-pi-lik-to serta dengan jurus permainannya yang luar biasa anehnya, dia menjadi gugup. Peristiwa aneh, ber-tubi2 terjadi didepan matanya. Tubuh anak muda itu silang berganti dengan kilat benda, yang menyilaukan dan tahu2 ubun2 disambar angin. Buru2 dia hendak kerahkan lwekang untuk menghalau, tapi anehnya, lwekang itu menjadi macet.

Kui-ing-cu buru2 loncat menghadang, tapi Tong Ko menenangkannya: "Harap Kui lociangpwe jangan kuatir!"

Saat itu Ih Liok rasanya kepalanya silir, maka lekas2 dia loncat kesamping. Ketika merabah, setan alas

............ rambutnya sudah kelimis! Saking kagetnya, dia sampai kucurkan keringat dingin.

"Thocu, kau sudah tua jangan tetap berdarah panas. Ingat, dalam sungai Tiangkang, ombak yang dibelakang selalu mendorong yang dimuka. Dia mempunyai pi-lik-to, rasanya kita tak dapat berbuat apa2" Kui-ing-cu setengah menghibur setengah menyesali si bongkok. Habis itu dia lalu tanyakan maksud kedatangan Tong Ko.

"Urusan ini, sebenarnya dulu sudah hendak kujelaskan, tapi karena kuatir orang tak mempercayai, jadi tetap kusimpan saja. Sekarang ayahku berada disini, mengenai rahasia itu, dia jelas, maka biarlah dia yang menuturkan!" kata Tong Ko.

"Urusan apa? Rupanya sangat penting!" tanya Kui-ing- cu dgn keheranan.

"Ko-ji, kau sajalah yang menceritakan!" kata The Go kepada Tong Ko.

"Baiklah!," sahut Tong Ko. "Kui locianpwe, Tio Tay-keng itu seorang kaki tangan musuh. Peracunan terhadap Siau-beng-siang itu, kemungkinan besar dialah yang melakukan!"

Kalau Kui-ing-cu terkesiap kaget, adalah si bongkok yang dengan kontan terus mendamprat: "Ngaco, kau sendiri membawa kaki tangan Ceng membunuh putera Siau-beng-siang, mau menuduh orang lain  yang bukan2!"

Tong Ko bergelak tawa, serunya: "Thocu, kau seorang bongkok yang tak mengerti nul puntul urusan apa2, masakan mengerti?"

Sindiran itu hebat, diucapkan dengan nada yang jumawa.

Belum pernah seumur hidupnya Ih Liok dihina macam begitu.

"Binatang, besar sekali nyalimu!" "

Ih Liok tampil selangkah, matanya ber-api2 memancarkan kemarahan.

Tong Kopun siap dengan pi-lik-tonya.

"Sebenarnya hal itu tak ada sangkut pautnya dengan diriku" kata Tong Ko, "tapi karena hati nuraniku tak tega membiarkan sekalian orang gagah di Lo-hu-san binasa ditangan anak itu, terpaksa aku turut campur. Jika aku hanya bersentimen pada Tay-keng, tak usah kumenfitnahnya, tapi terus kubunuhnya saja, rasanya semudah orang membalikkan telapak tangan!"

"Ai, ai jangan gitu, engkoh kecil. Mungkiri kami berdua tua bangka ini bangsa kantong nasi yang tak berguna, tapi jika Siau-beng-siang dan isterinya sudah bergabung dengan pi-i-song-hong-kiamnya, rasanya kau  tentu belum dapat mengalahkan" kata Kui-ing-cu dengan terus terang.

Diam2 Tong Ko mengakui kebenaran ucapan  tokoh itu.

Dan hal itu makin membuatnya perihatin untuk mendapat ilmugolok it-gwan-to-hwat yang sakti itu.

"Tapi kedatanganku kemari, bukan mencari permusuhan tapi persahabatan" Tong Ko menjelaskan kata2nya tadi. Setelah itu dia lalu tuturkan pengalaman sendiri selama ini. Bagaimana dia dipitenah oleh kawanan Sin Tok, bagaimana Tay-keng,  hendak menukari pedang ayahnya dan apa yang dipercakapkan anak itu dengan Shin Hiat-ji tatkala dihutan Sip-ban-tay- san. Kesemuanya itu merupakan rangkaian faktor yang menjelaskan siapakah Tay-keng itu sebenarnya.

The Go menyambung penuturan puteranya dengan ceritakan kejadian digereja Kong Hau Si. Namun Kui-ing- cu dan si bongkok Ih Liok tak henti2nya menggeleng kepala, pertanda mereka masih belum percaya penuh.

Tong Ko marah2.

"Baik, aku hendak naik kepuncak untuk menanyai Tay- keng. Coba lihat saja dia berani menyangkal tidak!" serunya dgn gemas.

Kui-ing-cu setuju dan menyatakan suka ikut.

Begitulah mereka berlima segera naik kepuncak Gio-li- nia.

Sekalian orang gagah terkejut melihat Kui-ing-cu datang bersama seorang buntung. Sikap tokoh aneh itu seperti sedang menghadapi persoalan penting. Denqan berisik sekalian orang gagah disitu sama ber-bondong2 menuju keruang Cip-gi-tong (permusyawarahan).

Kala rombongan Kui-ing-cu masuk ke Cip-gi-tong, saat itu Siau beng-siang tengah berunding dengan beberapa orang tokoh. Mereka kebanyakan adalah bekas pemuka2 Thien Te Hui yang lalu. Benar mereka itu  masing2 pernah meminum kopi pahit dari The Go, tapi setelah dia insyaf dan berbuat jasa terhadap Thian Te Hui khususnya dan kalangann pergerakan menentang penjajah Ceng umumnya, orang2 gagah itu sama menaruh perindahan. Melihat kedatangan rombongan Kui-ing-cu dengan The Go yang tak di-sangka2nya itu, mereka ter-sipu2 menyambutnya.

"The-heng, sudah hampir 20 tahun kita tak berjumpa, angin apakah yang meniup The-heng kemari ini?" tanya" Kiau To siberangasan itu.

The Go hanya ganda tertawa.

Begitupun ketika Yan-chiu perdengarkan suara ketawa sinis, diapun tak menghiraukan.

Kui-ing-cu minta sekalian orang sama duduk tenang. Suasana mendiadi hening sejenak.

Memang Kui-ing-cu mempunyai wibawa besar terhadap orang2 gagah di Lo-hu-san itu. Tampak tokoh itu menyapukan sepasang matanya yang ber-kilat2 kesekelilingnya sebentar, lalu memanggil anak muda yang berdiri disebelah Siau-beng-siang.

"Tay-keng, kemarilah!" Sejak peristiwa ayahnya itu, saking takutnya Tay-keng tak berani keluar rumah.

Untung tiada orang yang menaruh kecurigaan padanya.

Tetapi orang yang berbuat jahat, selalu dikejar dengan perasaan takut.

Tampak dengan wajah keren Kui-ing-cu memanggilnya, pucatlah  segera wajahnya. "A da

apa?" ia tanya.

"Tay-keng, adanya Kui locianpwe memanggilmu tentu ada urusan, tak usah kau tanya ini itu!" bentak ayahnya.

"Tio suko, jangan keliwat bengis terhadap anaklah," lagi-lagi Yan-chiu, ibu yang memanjakan anak itu, menyelutuk. Ia tak puas dengan sikap Kui-ing-cu.

Mau tak mau terpaksa Tay-keng maju menghampiri ketempat Kui-ing-cu.

Sekalian orang yang berada disitu sama menahan napas.

Mereka tak-tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Hanya yang diketahui, biasanya Kui-ing-cu itu selalu periang, mengapa kalini begitu keren (bengis), tentu ada sesuatu urusan yang sangat gawatnya.

"Tay-keng, waktu kau memberikan racun, apa kau tahu kalau itu hong-sin-san?" begitu Tay-keng datang, Kui-ing-cu terus melancarkan pertanyaan langsung.

Mimpipun tidak Tay-keng, bahwa locianpwe itu menanyakan urusan itu. Saking keras goncangan hatinya, dia kelepasan menyahut : "Tidak tahu!" Ucapan Tay-keng itu bagaikan halilintar berbunyi ditengah hari.

Suasana ruang Cip-gi-tong situ menjadi tegang.

Yan-chiu dan Tio Jiang serentak loncat berdiri dari tempat duduknya.

"Tay-keng, apa katamu? Jadi hong-sin-san itu kau yang meminumkan?!" seru Tio Jiang dengan bengis.

Saat ini barulah Tay-keng tersadar dari kesalahannya omong.

Karena gugup tadi dia telah memberi pengakuan. Tapi secepat itu dia sudah segera dapat memungkir, sahutnya

: "Yah, mana aku mau melakukan perbuatan serendah itu?"

Kui-ing-cu berpaling kearah The Go dan Tong Ko, serunya : "Ayah dan anak orang she The, kini aku percaya pada keteranganmu!" Setelah itu dia kembali menuding Tay-keng dan berkata : "Tay-keng, mereka berdua mengatakan kau ini seorang kaki tangan Ceng, apa kata pembelaanmu?"

Tubuh Tay-keng bergemetaran.

Dia insaf saat2 itulah yang menentukan nasibnya, mati atau hidup. "Hem....., mengapa tuduhan mereka dipercaya?" ia coba membela diri.

"Sebenarnya akupun masih setengah tak mernpercayai, masakan kau dapat berbuat sehina itu. Tapi begitu kutanya kau lantas menyahut 'tidak tahu'. Jadi tak dapat disangsikan lagi, kaulah yang memberikan racun itu!" kata Kui-ing-cu. Kehilangan akal, Tay-keng berpaling kepada tiang andalannya: "Ma, pertanyaan Kui locipwe itu, suruh aku bagaimana menjawabnya?"

Memang sudah tadi2 Yan-chiu tak  puas, serentak menyahutlah dia dengan lantang : "Kui locianpwe, tadi Tay-keng mengatakan bahwa dia tak tahu apa2, mengapa kau lantas tuduh dia kaki tangan. Ceng?"

Kui-ing-cu terbeliak. Jawaban Tay-keng "aku tak tahu" itu, dubieus (samar2 artinya, bisa diartikan begitu, tapi juga. "Aku tak tahu" dapat diartikan : aku tak tahu bahwa racun itu adalah hong-sin-san (tafsiran Kui-ing- cu). "Aku tak tahu" pun dapat diartikan : aku tak tahu urusan peracunan itu sama sekali (tafsiran Yan-chiu).

Kui-ing-cu tampak ragu2. Melihat itu, Tay-keng melancarkan desakan : "Kui locianpwe, kau termakan tipu merekalah!"

The Go perdengarkan tertawa dingin, tegurnya : "Tio tay-keng, sewaktu kau bersama adikmu berada digereja Kong Hau Si, apa yang kau kerjakan?"

The Ing yang sedari tadi berdiri dibelakang mamahnya, pun teringat akan gerak gerik engkohnya yang aneh sewaktu di Kwiciu tempo hari. Maka iapun turut mengeluarkan suara : "Ya, koko, apa yang sebenarnya terjadi dalam gereja Kong Hau Si itu?"

"Bah, siapa yang tahul" Tay-keng mengangkat bahu. "Hem" The Go  mendeham,  "kau  berjanji dengan tay-

lwe    kochiu    Shin    Hiat-ji    untuk    bertemu  diruang

perpustakaan gereja itu. Surat dari Shin Hiat-ji, telah kutukar, sehingga ber-jam2 kau menunggunya dikakus umum. Surat Hiat-ji itu kuselipkan di tangan nona Tio, ia pergi keruang perpustakaan dan bertemu dengan Hiat-ji. Tapi disitu ia segera ditawan oleh Hiat-ji, dibawa kegedung ti-hu. Hampir saja ia tak dapat lolos dari sarang harimau itu. Benar atau tidak, nona Tio?"

Tio In mengangguk.

The Go dan Tong Ko lalu bentangkan semua apa yang dilihat dan didengarnya mengenai komplotan Hiat-ji yang menggunakan Tay-keng untuk meracuni Siau-beng-siang itu. Seketika itu, gemparlah Cip-gi-tong.

Para orang gagah, baik yang berada didalam maupun diluar ruangan itu, sama hiruk pikuk.

Tay-keng tampak ber-kaok2 kalang kabut, wajahnya pucat seperti kertas.

Lagi2 Yan-chiu, induk semang yang keliwat memanjakan anak itu, unjuk gigi.

Diperhatikan bahwa wajah suaminya  masih mengunjuk keraguan, maka induk betina yang selalu mengiloni puteranya itu, segera tampilkan suaranya: "Tio suko, jangan percaya omongan mereka yang beracun. Suruh mereka membawa buktinya!"

Dalam istilah tinju, keadaan The Go dan Tong Ko disebut groggy (terhuyung) kena "pukulan" lidah Yan- chiu yang tajam itu. Kalau Shin Leng-sian masih hidup, tentu bisa dijadikan bukti. Pada saat itu, dimintai mengunjukkan bukti, sudah tentu tak dapat.

The Go dan Tong Ko kesima sedang ada bebrapa orang gagah yang sudah me-rabah2 senjatanya.

Begitu tajam Yan-chiu memainkan lidahnya, sehingga barang yang sudah hitam dapat dikatakan putih. Akibatnya, beberapa orang yang cupat pandangan, segera terpengaruh.

Dalam keheningan yang exploisif (dapat meledak) itu, tiba2 ada seorang menobros masuk dan mendekati Siau- beng-siang.

Dia membisiki telinga Sian-beng-siang.

Entah apa yang dibisikkannya itu, tapi yang nyata wajah Siau-beng-siang berobah seketika. Dia segera memberi kerlingan mata kepada Yan-chiu, habis itu lalu mencabut pedangnya, dan menuding pada The Go:

"Cian-bin long-kun, tak kira setelah kakimu buntung, kau masih tak insyaf. Dari laporan saudara2 kita di Kwiciu kau telah mengangkat guru pada. Liat Hwat cousu Mo Put-siu dan berhamba pada penjajah Ceng lagi. Bukantah kedatanganmu kemari ini karena hendak mengambil kepalaku?"

The Go terbeliak. Diam2 dia mengakui luasnya jaring organisasi Lo-hu-san itu.

Rahasia yang belum diketahui umum itu, toh sudah diketahui mata2 Lo-hu-san.

Percuma saja dia hendak sumpah kerak keruk bahwa penaklukannya kepada pemerintah Ceng itu hanyalah suatu siasat saja, toh nanti orang2 Lo-husan itu akan menertawakannya saja.

"Ko-ji, ayuh kita pergi dari sini, nanti kita berunding lagi!"

Serentak berbangkit mengajak puteranya, The Go lalu tekankan tongkatnya kelantai. Bagaikan burung  alap2, dia sudah melayang bebrapa tombak jauhnya. Beberapa orang yang tersambar anginnya, sudah sama terhuyung rubuh.

"Tahan” seru Tio Jiang dan isterinya sembari rangsangkan pedangnya.

Tapi secepat itu pula, Tong Ko sudah babatkan pi-lik- to, trang......seketika Tong Ko rasakan bahwa sepasang pedang yap-kun dan kuan-wi itu bukan olah2 hebatnya.

Memang benar seperti yang dikatakan Kui-ing-cu, dewasa itu dia (Tong-Ko) masih belum cukup kuat untuk menandingi suami isteri Siau-beng-siang.

Buru2 dia mundur keluar sembari bolang balingkan pi- lik-tonya, serunya: "Jangan mendesak aku melukai orang, lekas menyingkir!"

Tapi kala itu semua orang gagah Lo-hu-san sudah sama menganggap, bahwa kedatangan The Go ayah dan anak itu, adalah hendak menumpas keluarga Siau-beng- siang. Sudah tentu mereka tak mau melepaskan kedua "penjahat" itu.

Apa boleh buat, Tong Ko terpaksa unjuk gigi. Trang....., trang....., trang...., bebrapa senjata telah kena dibabatnya putus.

Juga kala itu Siao-lan sudah dikepung oleh beberapa orang.

Diruang Cip-gi-tong situ, menjadi kalut.

Pedang, golok, ruyung, kepal, silih berganti berseliweran membawa samberan angin yang men- deru2. Oleh karena tempatnya kecil orangnya banyak, maka pertempuran itu sifatnya desak mendesak tak dapat mengembangkan permainannya. Beberapa kali The Go dan Tong Ko hendak menobros keluar, tapi selalu gagal.

Lawan keliwat banyak. Sepasang suami isteri Tio Jiang dan Yan-chiu, dengan sepasang pedang yap-kun-kuan-wi dan sepasang ilmu pedang Hoan-kang-kiam-hwat dan To-haykiam-hwat, bagaikan sepasang naga muncul dari laut. Meskipun ilmugolok Tong Ko cukup sakti, tapi toh hanya dapat bermain seri.

"Semua diharap mundur! Kui-heng, Kiau loji, Ki lotoa dan Ko-heng, kita menjagai pintu, biarkan Jiang koji dan isterinya yang menangkapnya!" si bongkok Ih Liok berseru untuk menguasai kekalutan itu.

Oleh karena hebatnya hiruk pikuk, jadi setelah menyerukan bebrapa kali, barulah orang2 sama menyingkir. Sibangkok. Sin-eng Ko Thay, Ki Ce-tiong dan Kiau To menjaga dipintu. Siao-lan sudah dapat diringkus. Selama dalam ramai2 itu, Kui-ing-cu hanya enak2 diam saja melihati dipinggir. Tak mau dia turut2an mengumbar sentimen.

Kini yang tertinggal ditengah ruang Cip-gi-tong, hanyalah The Go dan Tong Ko berhadapan dengan Tio Jiang suami isteri. Benar The Go dan Tong Ko dapat bertahan, tapi merekapun tak  dapat lolos. Kalau pertempuran ber-larut2 sampai lama tentu payahlah keadaannya. Ini diinsyafi The Go.

"Ko-ji, tinggalkan aku, ada suatu hari urusan ini tentu menjadi terang. Meskipun aku terbunuh, kelak mereka tentu menyesal!" The Go segera perintah puteranya.

"Tidak yah, biar mati aku tetap disampingmu!" Tong Ko menyahut tegas sembari menangkis serangan Yan- chiu. Begitu pedang lawan terdorong, dia mendesak  maju terus membabat. Tapi saat itu Tio Jiang sudah menabas, maka terpaksa Tong Ko mundur lagi.

"Tong- Ko, kau panggil apa pada Cian-bin-long-kun?" tegur Tio Jiang. Dia tadi agak terkejut mendengar pembicaraan ayah dan anak itu.

"Dia adalah ayahku!" sahut Tong Ko.

Tio Jiang tertegun, lalu menegas pula: "Kalau begitu, siapa mamahmu?"

Tring....., lebih dahulu Tong Ko menghalau serangan Tio Jiang ceng-wi-tiam-hay, baru dia menyahut: "Say- hong-hong Bek Lian!"

Tio Jiang terperanjat bukan kepalang, buru2 dia tarik tangan isterinya untuk diajak loncat mundur.

"Ada apa?" tanya Yan-chiu keheranan.

Tio Jiang putar pedangnya dalam sebuah lingkaran sinar, lalu berseru agar The Go dan Tong Ko hentikan permainannya. The Go menekan dengan tongkatnya, loncat berjajar dengan puteranya Juga kalian orang gagah sama menjadi heran. Mengapa Siau-beng-siang itu? 

"Siao Chiu," sesaat kemudian terdengar Tio Jiang membuka mulut, "memang sejak semula sudah kuduga, bahwa antara Tong Ko dan Lian suci yang seperti pinang dibelah dua itu tentu ada hubungannya darah. Maka bukan tak ada sebabnya mengapa begitu melihatnya, subo sudah begitu kegirangan sekali sehingga binasa!"

"Lalu bagaimana?" tanya Yan-chiu dengan tawar. "Suhu mengembara sampai sekarang belum ketahuan rimbanya, subo, sudah meninggal. Dia adalah cucu luarnya suhu, kurasa kita maafkan dia sekali lagilah!"

Yan-chiu penasaran, sanggahnya: "Kalau memberi ampun, sedikitnya harus. dipunahkan seluruh kepandaiannya!"

"Kentut!" damprat Tong Ko dengan tertawa sinis.

Yan-chiu cepat angkat pedangnya hendak menyerang, tapi dicegah suaminya.

"Dengan memandang muka suhu, biarlah, kita lepaskan dia sekali lagi!"

"Kalau suhu berada disini, rasanya beliau tentu takkan mengampuni binatang itu!"

Tong Ko tertawa ter-bahak2, sahutnya dengap kontan: "Kalau engkong luar disini, tak nanti dia menjadi orang buta macam kalian ini!"

Setapakpun Tong. Ko tak mau mundur, adu pedang atau adu tajamnya lidah.

Pada saat itu barulah Kui-ing-cu berbangkit  dari tempat duduknya, pe-lahan2 maju menghampiri: "Siao Ciu, ucapan Jiang koji itu benar juga. Darah daging Bek- heng hanya tinggal satu ini, melepaskan mereka sekali lagi, tak lebih dari pantas!"

"Kui locianpwe, mengapa kau selalu berfihak pada mereka?" tanya Yan-ciu dengan tak puas.

Kui-ing-cu tertawa, sahutnya: "Karena aku tetap percaya keterangan mereka itu benar, Siao Chiu, coba pikirkan, pada malam Jiang koji keracunan, siapakah yang berada didekatnya? waktu racun itu mulai bekerja siapa yang berada dirumahmu?"

Yan-chiu terpukul knock-out dengan rangkaian pertanyaan itu.

Lama baru dia buka mulut, bukan merupakan jawaban tapi balas bertanya: "Tapi mengapa mereka mau lari dari sini?"

"Entahlah, tapi tentu ada sebabnya. Dihadapan sekalian saudara yang berada disini, aku berani mempertaruhkan jiwaku, bahwa setelah turun gunung, mereka tentu akan naik kemari lagi. Siau Chiu, Jiang koji, jagalah Tay-keng, sebelum mereka kembali kemari, jangan kasih anakmu pergi ke-mana2!" kata Kui-ing-cu, Ialu berpaling kepada Tong Ko: "Nak akulah yang tanggung, kalian boleh turun gunung.!"

"Kui locianpwe, terima kasih atas kebaikanmu! Cepatnya satu bulan, lambatnya 3 bulan, aku tentu kembali kesini lagi!"

Habis berkata, Tong Ko lalu ajak ayahnya melangkah keluar.

Oleh karena Kui-ing-cu yang tanggung, maka tiada seorang yang berani menghadangnya.

Tiba dikaki gunung, mereka beristirahat.

Mengenangkan pengalamannya tadi, The Go menghela napas, tapi sebaliknya Tong Ko tertawa lepas.

"Ko-ji, mengapa kau tertawa?"

Tong Ko tak menyahut pertanyaan ayahnya itu, tapi tetap ketawa terus, namun wajahnya mengerutkan kemuraman. Nyatalah anak muda itu hendak melepaskan kemarahannya dengan tertawa.

The Go pilu menampak keadaan puteranya itu.

Dia sih sudah tua dan cacad, sebaliknya Tong Ko adalah laksana matahari terbit, hari depannya penuh dengan harapan yang gilang gemilang.

Serentak dia mengambil dua pilihan: kalau urusan Tay-keng itu dapat beres, itu tak menjadi persoalan lagi. Tapi kalau tidak, dia hendak ke Kwiciu untuk mencari Liat Hwat.

Biarlah dia, terbunuh mati, asal dengan kematian itu Tong Ko akan diterima kedalam barisan orang gagah Lo- hu-san.

"Ko-ji, pergilah ke Sip-ban-tay-san untuk menengok bagaimana kesudahannya pertempuran antara sucou dan Kwan Tay-kin. Aku hendak ke Kwiciu untuk menolongi In-ji!"

Sudah tentu Tong Ko tak mengetahui isi hati ayahnya itu.

Coba dia tahu bagaimana ayahnya hendak berkorban untuknya, sudah tentu dia akan menolak. Maka setelah mengiakan, mereka lalu berangkat.

Disuatu tempat, mereka berpisah, satu ke Sip-ban- taysan dan satu ke Kwiciu.

---oo*dwkz^0^kupay*oo---
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Heng Thian Siau To BAGIAN 31 : NYARIS TERBUKA KEDOKNYA"

Post a Comment

close