Heng Thian Siau To BAGIAN 30 : AYAHKU

Mode Malam
 
BAGIAN 30 : AYAHKU

Diluar dugaan setelah menatap sejenak kearah The Go, Liat Hwat kedengaran berkata : "Tak usahlah, biar kusuruh Shin Leng-siau ikut kalian saja. Kapan kalian hendak berangkat?"

"Urusan ini amat penting, rasanya lebih baik berangkat sekarang juga!" serentak The Go memberi penegasan, lalu memesan The Ing : "Ing-ji, kau tinggal disini belajar silat pada sucou. Paling lama setengah bulan, aku tentu kembali!"

The Ing kaget, namun dihadapan Liat Hwat, ia tak mau menyatakan apa2 dan hanya mengiakan. Tapi Tong Ko yang menguatirkan keselamatan nona itu, segera mengusulkan dirinya : "Susiok, biarlah aku mengawani Ing-moay disini!"

"Kita kekurangan orang, sukar berhasil, lebih baik kau ikut!" The Go tetap dengan pendiriannya.

Tong Ko tak dapat membantah. Begitulah mereka berkemas, lalu bersama Shin Leng-siau berangkat naik kuda. Dua jam kemudian, mereka sudah jauh dari  Kwiciu.

"The-heng, kemana rencana kita ini?" tanya Shin Leng-siau.

The Go hentikan kudanya, memberi isyarat pada Tong Ko Pemuda itu mengerti, diam2 siapkan golok pi-lik-to. Setelah melihat disekeliling tempat itu sunyi dari orang, menyahutlah The Go : "Kami bertiga hendak menuju ke Lo-hu-san, tapi Shin tayjin kelain tempat" "Kemana aku?" tanya orang she Shin itu karena masih terselubung kegelapan.

The Go tertawa, ujarnya : "Ketempat yang aman sentausa, disebut neraka!”

Kejut Shin Leng-siau seperti orang disambar petir. Dia jelas sudah apa artinya itu. Baru dia hendak kebutkan kendali mencongklangkan kudanya, Tong Ko sudah loncat dari kuda menabas dergan jurus lui-tian-kiau-co. Dalam kagetnya Shin Leng-siau buang dirinya kebawah, tapi tak kurang sebatnya begitu menginjak tanah, Tong Ko sudah lantas loncat menginjak lawan. Sebelum Shin Leng-siau tengel2 bangun, tahu2 dadanya sudah terinjak kaki Tong Ko.

Teringat Tong Ko bagaimana fitnah muslihat Sin Tok, Shin Leng-siau dan Hiat-ji, Siau Beng-siang telah kehilangan seorang putera, sementara dia (Tong Ko) mengalami dera hinaan yang ber-tubi2. Coba kalau tiada mempunyai peruntungan besar, siang2 dia tentu sudah binasa. Saat itu kedengaran The Go mencegah jangan membunuhnya, tapi Tong Ko yang sudah kerangsokan setan haus darah, sudah seperti orang tuli dan terus hantamkan goloknya. Tanpa berkuik lagi, tubuh Shin Leng-siau terbelah menjadi dua.

Tong Ko mengantar kematian musuhnya itu dengan serangkum tertawa panjang.

Puas tertawa dia berputar untuk, menghampiri The Go. Tapi saat itu kedengaran Cian-bin-long-kun seperti menyesali perbuatannya tadi. "Ing-ji masih ditawan di Kwiciu, kalau bangsat itu dibiarkan hidup, tentu ada gunanya. Tapi sekarang dia sudah mati, dan kita kehilangan barang pegangan!"

Mendengar ucapan suaminya itu, Siao-lanpun menjadi cemas, katanya : "Engkoh Go, bagaimana dengan Ing-ji nanti?"

Tong Ko terkesiap. Sesaat darah mudanya mendidih, serentak dia berseru tegas : "Harap jiwi jangan kuatir, dengan golok pi-lik-to ini aku sanggup masuk kesarang harimau untuk menolong Ing-moay.”

Begitu naik keatas kuda, dia terus hendak kembali ke Kwiciu. Tapi The Go cepat mencegahnya. Tong Ko hentikan kudanya. Memandang kearah The Go, didapatinya ayah The Ing itu ber-sungguh2 wajahnya. Diam2 Tong Ko tercekat hatinya. Pada lain saat kedengaran The Go menghela napas dan berkata

:"Dimana kau berjumpa dengan Ing-ji lagi?"

Tong Ko menuturkan pengalamannya ketika menolongi The Ing yang sedang dikepung oleh orang2 Lo-hu-san. Dari situ ke Sip-ban-tay-san terus menuju ke Kwiciu.

"Apakah selama bergaul itu, kalian, telah melanggar batas2 kesusilaan?" nada The Go berobah dalam.

"Harap The pehpeh legakan pikiran. Aku hanya menyintai,Tio In, mana aku mau melakukan perbuatan seperti binatang itu?"

The Go menghembuskan napas lega, tukasnya : "Tepat sekali makianmu itu, nak?" "The pehpeh, aku tak memaki padamu!" Tong Ko menjelaskan.

Kembali The Go menghela napas panjang. Berputar tubuh kearah Siao-lan, dia bertanya : "Siao-lan, siapakah anak muda ini, seharusnya sekarang kau tentu mengetahui?"

Tapi ternyata otak Siao-lan memang tumpul. la tetap tak mengetahui; lalu balas bertanya : "Dia ini siapa? Masakan dia ini bukan Tong Ko?"

Sebaliknya Tong Ko yang cerdas menduga, tentu terselip sesuatu dalam pertanyaan The Go tadi, maka buru2 dia bertanya : "The pehpeh, rasanya kau mengetahui jelas asal keturunanku ini, makanya mengatakan begitu tadi bukan?"

The Go menarik napas, ujarnya : "Waktu kau di Lo-hu- san dulu masakan tidak merasakan sesuatu yang ganjil?"

"Ya, ada. Aku sendiripun sampai heran, Siau-beng- siang beberapa kali mengatakan diriku ini menyerupai seseorang. Dan begitu Kang Siang Yan melihat aku, dia tertawa kegirangan sampai putus uratnya!"

"Benar, memang begitulah. Baik Kang Siang Yan maupun Siau-beng-siang, keduanya sama terkenang akan seseorang. Orang itu bukan lain adalah sucinya Tio Jiang, suci yang pernah menjadi gadis pujaannya, ialah puteri tunggal dari Kang Siang Yan”

"Say-hong-hong Bek Lian!" tukas Tong Ko, "apa hubunganku dengan dia?" The Go tundukkan kepala, menyahut dengan terharu : "Dahulu Say-hong-hong pernah melahirkan seorang putera, anak itu adalah kau!'

Seperti ada gempa bumi, tubuh Tong Ko tampak menggigil keras. Memang pernah dia dengar cerita tentang percintaan antara Bek Lian dan The Go yang berakhir dengan tragis itu. Setelah melahirkan seorang putera, Bek Lian lalu mengasingkan diri entah kemana. Waktu Tong Ko bertemu pertama kali dengan The Go, memang The Go pernah menuturkan hal itu.

Kalau Say-hong-hong itu ibunya, bukantah The Go itu ayahnya? Hal-hal yang tak terduga itu, telah menggoncangkan seluruh sendi perasaannya, hingga sesaat dia sampai ter-longong2. Pada lain saat, tampak anak itu mendongak dan tertawa keras2. The Go menghela napas.

"Ko-ji, aku telah keliwatan menyiksa kalian ibu dan anak. Sekarang apa kemauanmu, bilanglah !"

Tong Ko memutar tubuh berkata : "The locianpwe, anggap saja kata2-mu tadi seperti sendau gurau, bukan hal yang sebenarnya. Sekarang aku hendak ke Kwiciu!"

The Go tahu bahwa dada anak muda itu tentu sedang dirundung kedukaan dan kemarahan. Adanya The Go menyimpan rahasia itu sampai sekarang, adalah dikarenakan hal itu. Cepat dia menghadang dimuka Tong Ko, ujarnya : "Kau tak mau mengakui aku sebagai ayah, itu tak menjadi soal. Perbuatanku tempo dulu, membuat aku tak layak menjadi ayahmu. Tapi sekali-kali jangan kau kembali ke Kwiciu! Kau bukan tandingannya Liat Hwat ! Kau hanya memiliki pi-lik-to, tapi apa memperoleh juga ilmu permainannya ?" Tong Ko menggeleng.

"Nah, itulah ! Lebih baik kita kubur mayat Shin Leng- siau, lalu menuju ke Lo-hu-san dulu saja !" kata The Go pula.

Tanpa mengucap apa-apa, Tong Ko menanam mayat Shin Leng-siau, lalu naiki kudanya ikut The Go. Selama dalam perjalanan itu, mereka tak bicara. Malamnya mereka bermalam disebuah hutan kecil. Pikiran Tong Ko masih bergolak-golak, bagaimanapun matanya tak mau dibawa tidur. Sejak berkenalan dengan The Go, dia anggap itulah dia orang pertama yang tahu betul peribadinya. Tapi kalau mendadak sontak disuruh mengakuinya sebagai ayah, sungguh tak mudah termasuk dalam hatinya.

Tengah malam dia bangun dan menghampiri kesamping The Go.

Dilihatnya The Go tidur dengan pulasnya. Tong Ko termangu-mangu mengawasinya.

Hubungan darah antara ayah dan anak, telah menangkan pertentangan batin Tong Ko. Air matanya bercucuran, tanpa disadarinya, mulutnya berseru : "Yah

!"

Kiranya The Go masih belum tidur, cepat dia buka matanya dan tertawa, katanya menghiburi : "Ko-ji, jangan terlalu goncang perasaanmu !"

Tong Ko berjongkok, keduanya saling berpandangan.

Bahwa puteranya telah mau mengakui dirinya sebagai ayah, hatinya meluap-luap sehingga tak dapat mengucap apa-apa. Sampai sekian lama barulah dia berkata : "Ko-ji dalam sepanjang hidupku, belum pernah aku merasakan kebahagiaan seperti waktu mendengar kata-katamu tadi!"

Tong Ko hanya tersenyum, lalu alihkan pembicaraan : "Yah, kepergian kita ke Lo-hu-san ini sebenarnya untuk apa? Ing-moay ditahan Liat Hwat, cara bagaimana kita menolongnya ?"

The Go menghela napas, sahutnya :"Dua-duanya merupakan soal yang sulit, Tio Tay-keng bersekongkel dengan kaki tangan Ceng, mungkin Tio Jiang mau percaya, tapi susah bagi Yan-chiu untuk menerima kenyataan itu. Sedang untuk menolong Ing-ji, ah !"

"Hanya Ang Hwat sucou seorang yang dapat mengatasi kesukaran itu !" tiba-tiba Tong Ko teringat.

The Go menghela napas sedih, berkata :"Setelah mendengar penuturanmu tadi, saat ini kukuatir Ang Hwat cin-jin sudah tak berada didunia fana lagi !"

"Mengapa ?" Tong Ko tersentak kaget.

"Adanya dia menyuruh kau berdua menyingkir jauh, ialah karena dia sudah bertekad hendak sama-sama binasa dengan Kwan Tay-kin itu. Kedua gembong itu tokoh2 sakti yang jarang terdapat didunia. Sekali mereka bertempur, sebelum ada kesudahannya tentu tak mau berhenti. Bagi kedua gembong itu, menang kalah serupa, tentu sama2 terluka parah atau mungkin binasa ! Sejak peristiwa digereja Ang Hun Kiong dahulu itu, beliau telah mengasingkan diri. Kuyakin bathin beliau tentu serupa dengan aku, sudah insyaf. Beliau tentu bercita-cita untuk melepas kebaikan pada kaum persilatan. Mati bersama Kwan Tay-kin, berarti menghilangkan suatu malapetaka bagi dunia persilatan. Rasanya beliau tentu akan puas dengan kematiannya yang berharga itu !"

Tong Ko menghibur ayahnya bahwa biar bagaimana dia tentu akan berhasil menolong The Ing, karena kini  dia sudah memiliki sebuah golok pusaka macam pi-lik-to.

Melihat setelah ganti pakaian lelaki, puteranya itu tampak amat gagah, hati The Go terhibur, ujarnya : "Konon kabarnya : ilmu golok it-gwan-to-hwat itu, mempunyai kesaktian yang sukar dijajaki. Kalau kau dapat mempelajari ilmu itu, mungkin baru bisa menandingi Liat Hwat!"

Memang Tong Ko yang mendapat pengunjukan dari Sik Losam sudah beberapa kali ke Sip-ban-tay-san untuk mencari jejak ilmu golok sakti itu, tapi selalu gagal. Maka dia menjadi terdiam waktu mendengar pernyataan ayahnya itu.

---oo(dw^kz)0(kupay)oo---
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Heng Thian Siau To BAGIAN 30 : AYAHKU"

Post a Comment

close