Heng Thian Siau To BAGIAN 27 : TIO JIANG KERACUNAN

Mode Malam
 
BAGIAN 27 : TIO JIANG KERACUNAN DAN MENGAMUK

Kalau itu hari sudah mulai gelap.

Tiba dibawah puncak Giok-li-nia, mereka berhenti.

Terkenang akan peristiwa 20 tahun berselang dimana untuk pertama kali berjumpa dengan Cian-bin-long-kun The Go, hati Bek Lian serasa pilu.

Sebaliknya The Ing yang terkenang akan pertemuannya dengan Tong Ko, juga ditempat itu, pun ter-longong2 seperti orang kehilangan semangat.

Mereka berdua tanpa berjanji, sama termenung mengenangkan kejadian yang pernah mengambil tempat dalam takhta hatinya.

Tiba2 dari atas puncak sana terdengar suara hiruk- pikuk dari orang2 yang sama membawa obor.

Diantara suara yang amat gempar itu. terdengar suara teriakan seorang wanita: "Jiang suko, kau mengapa, Jiang suko, itu saudara2 kita sendiri!"

Yang paling nyaring adalah gerungan sebuah suara yang laksana guntur menyambar.

Dari nada teriakannya yang mengunjuk ke-marahan hebat itu, orang itu memiliki lwekang yang dalam.

Bek Lian tersentak kaget, wajahnya serentak berobah dan lekas2 ajak The Ing tinggalkan tempat itu.

"Nona Bek, siapa lelaki dan perempuan yang ber- teriak2 itu?" tanya The Ing. "Si perempuan bernama Liau Yan-chiu, yang laki bernama Tio Jiang!" sahut Bek Lian dengan dingin.

The Ing terkesiap. Adanya ia dapat berjumpa dengan Tong Ko adalah karena disuruh ayahnya (The Go) supaya datang membantu usaha Siau-beng-siang Tio Jiang.

Tapi karena percaya akan cerita Tong Ko tentang tindakan Tio Jiang yang kurang bijaksana itu, The Ing gusar dan tak jadi pergi ke Giok-li-nia, jadi selama itu belum pernah ia melihat bagaimana perwujudan Siau- beng-siang.

Sesaat timbullah hasratnya untuk menemui  tokoh yang namanya begitu agung dalam dunia pergerakan menentang penjajah itu.

Ingin sekali ia mendamprat Tio Jiang atas tindakannya yang begitu kejam memaksa Tong Ko loncat kedalam jurang.

The Ing enggan pergi dan merontak dari cekalan Bek Lian, serunya: "Aku hendak melihat bagaimana sebenarnya perwujudan suami isteri Siau-beng-siang - Hui-lay-hong itu. Nona Bek, kau.......", sembari berkata itu The Ing berpaling, tapi untuk kekagetannya, ternyata Bek Lian sudah tak berada disitu. Ber-ulang2 ia meneriakinya, tetap tiada penyahutan. Dalam pada itu, suara hiruk-pikuk diatas puntiak itu, makin lama makin jelas menurun kearah kaki gunung. Jerit siwanita yang meneriakkan "Jian, suko" itu, sedemikian nyaring dan gelisah.

The Ing. cukup faham akan watak Bek Lian yang aneh, maka iapun tak kuatir lagi. Tampak olehnya bagaimana rerotan obor itu sudah tiba disitu.

Diantara ratusan orang2, ada seorang lelaki gagah tengah mengamuk dengan membolang-balingkan sebatang pedang pusaka.

Bagaikan seekor kerbau gila dia mengamuk kian kemari.

Kemana dia merangsang, disitu tentu terdengar jeritan orang mengaduh kesakitan hebat.

Sementara wanita yang meneriaki "Jiang suko" itu, sebaya umurnya dengan Bek Lian, dan juga mencekal sebatang pedang pusaka.

Ia tampak gugup gelisah sekali, menghadang kesana, mencegat kemari.

Terdorong oleh keinginan tahu apa yang telah terjadi itu, The Ing maju menghampiri. Tampak ada seorang tua bertubuh pendek tampil kemuka dengan bersenjata sepasang sarung tangan macam cakar.

Kelima jarinya, hampir setengah meter panjangnya. "Saudara2, jangan panik. Ki-toako, Kiau jiko, ayuh kita

bertiga kepung dia!" serunya dengan lantang.

Suasana hiruk pikuk menjadi hening. Menyusul loncat kemuka dua orang lelaki.

Yang satu membawa jwan-pian, yang satu sebatang kong-cian.

Mereka bertiga lalu pecah diri menjadi segi tiga. Tapi seketika itu juga, siorang kalap tadi segera menyerang orang yang mencekal senjata kong-cian itu.

Bagi The Ing, karena wajah wanita yang berteriak2 "Jiang suko" itu mirip dengan Tio In, maka ia menduganya kalau Hui-lay-hong Yan-chiu, sedang sipengamuk itu tentulah Siau-beng-siang Tio Jiang.

la tak tahu bahwa ketiga orang lainnya itu adalah Siang-eng Ko Thay, Ki Ce-tiong dan Kiau To.

"Ki toako, hati2lah dia gunakan jurus ceng-wi-tian-hay untuk menyerang kebawah," Yan-chiu meneriaki Ki Ce- tiong yang hendak diserang Tio Jiang itu.

Sebenarnya Ki Ce-tiong dan kawan2 sudah hendak masuk tidur, karena kala itupun sudah tengah malam. Tapi tiba2 mereka dikejutkan oleh suara orang menggerung keras disusul dengan ayeritan ngeri. Ber- gegas2, mereka sama memburu keluar dan dilihatnya Tay-keng berlumuran darah bahunya lari pontang panting. Dibelakangnya mengejar Tio Jiang dengan pedang terhunus. Sedang dibelakangnya, tampak Yan- chiu ber-teriak2 memanggil

"Jiang suko...., Jiang suko. ".

Semua orang sama mengira kalau Tay-keng kesalahan besar terhadap ayahnya hingga dihajar. Tapi bagi Ki Ce- tiong, Kiau To, Ko Thay dan kawan2 cukup tahu bahwa sekalipun Tio Jiang bersikap bengis terhadap puteranya, namun tetap tak tega untuk membunuh puteranya itu.

Cepat2 mereka menolongi Tay-keng dan melerainya: "Segala apa boleh  dirunding,  mengapa  ayah  dan anak. " Baru mulut orang itu hendak mengatakan "saling berkelahi", atau, ujung pedang Tio Jiang cepat menusuk kedadanya. Orang itu adalah seorang tokoh dari Holam yang baru saja datang ke Lo-hu-san untuk menggabungkan diri. Dia tak menyangka sama sekali kalau bakal mendapat serangan yang secepat itu datangnya, Au. rubuhlah dia tak bernyawa lagi!

Kaget semua orang bukan kepalang.

Pedang kuan-wi-kiamm itu adalah sebuah pusaka  yarig dapat memapas kutung segala macam logam, ditambah dengan ilmu pedang to-hay-kiam-hwat yang termasyhur itu, menjadikan Tio Jiang seekor harimau yang menggasak kawanan kambing.

Dalam lain kejab, kembali ada 5 orang yang terluka, salah seorang dari mereka adalah cecu no. 9 dari markas Hoasan.

Kini gegerlah semua orang.

Bagaikan dikejar setan, mereka sama lari turun kebawah gunung.

Namun Tio Jiang tetap mengubernya.

Demikianlah setiba dikaki gunung, kepanikan itu dapat dibikin sirap setelah Sin-eng Ko Thay ajak Kiau To dan Ki Ce-tiong untuk mengepung sikalap itu.

Tapi akibat bekerjanya racun hong-sin-san yang ganas, Tio Jiang sudah lupa diri sama sekali. Sampaikan Yan-chiu dia sudah tak ingat siapa lagi. Dalam pandangannya, setiap orang itu adalah setan muka hijau yang bercaling, mereka harus dibasmi semua. Tak menghiraukan lagi adakah ketiga tokoh itu tergolong cianpwe, Tio Jiang segera menyerang dengan gerak ceng-wi-tiam-hay kearah Ki Ce-tiong: Atas peringatan Yan-ciu tadi, Ki Ce-tiong cepat memutar kongciannya untuk melindungi seluruh tubuhnya.

Tapi secepat itu pula, Tio Jiang robah gerakannya menjadi boan-thiau-kok-hay, trang....... sebilah benda hitam terlepas dari tangan Ki Cetiong.

Senjata kong-cian itu terbuat dari baja murni yang beratnya tak kurang dari 70-an kati. Tapi terhadap kuan- wi-kiam, amblaslah kutung menjadi dua.

Ki Ce-tiong sebat sekali menghindar kesamping, tapi tak urung pundaknya kena dimakan ujung kuan-wi-kiam juga.

Dari kanan dan kiri Kiau To dan Ko Thay cepat merangsang.

Sarung cakar Ko Thay itu dengan disaluri lwekang menerkam bahu Tio Jiang, sedang Kiau To dalam jurus sim-ji-cek-keng, menyapu kaki Tio Jiang.

Tapi oleh karena mereka berdua belum jelas duduk perkaranya, mereka sudah tak mau menyerang dibagian yang berbahaya.

Tapi tidak demikian dengan Tio Jiang yang sudah lupa daratan itu.

Secepatnya dia membalik tubuh, segera dia lancarkan dua buah serangan yang ganas. Terlebih dahulu dia kalau Ko Thay mundur, lalu dengan jurus hay-siang-tiau- go, dia hantam kepala Kiau To. Bermula Kiau To gembira begitu kaki Tio Jiang tergaet jwan-pian, tentulah mudahlah untuk menariknya jatuh.

Tapi waktu dia menariknya, ternyata sepasang kaki Tio Jiang itu bagaikan tumbuh akarnya masuk kedalam tanah.

Hendak dia kerahkan tenaga untuk menariknya lagi tapi pada saat itu kepalanya terasa tersambar deru  angin.

Waktu mendongak, semangatnya serasa terbang. Kuan-wi-kiam dengan cahayanya yang hijau kemilau, sudah berada dua tiga puluh senti jauhnya dari mukanya.

Celaka, mati aku!

Demikian Kiau To sudah pejamkan mata menunggu ajalnya.

Tring........, berbareng dengan terdengarnya benturan senjata, mukanya terasa sakit kena muncratan apinya.

Namun dia insyaf bahwa dirinya tertolong, sebat sekali dia segera loncat kesamping.

Ketika mengawasi, kiranya yang menolong merebut jiwanya dari tangan Tio Jiang tadi, bukan lain Yan-chiu adanya.

Ya, memang hanya Yan-chiu dengan pedang yap-kun- kiamnya yang dapat menahan babatan kuan-wi-kiam itu. Andaikata lain senjata, tetap muka Kiau To akan terbelah menjadi dua.

"Siao Chiu....., Siao Chiu....." seru Kiau To meneriaki Yan-chiu dengan cemasnya, Kiau To kenal Yan-chiu sedari ia masih. Umur l7-an tahun, Sampai sekarang dia tetap memanggilnya Siao Chiu (Chiu kecil). "Aku tak jeri padanya, dengan kupunya hoan-kiang- kiam-hwat, tak nanti Jiang suko dapat melukai akul" sahut Yau-chiu.

Memang benarlah kiranya.

Tiga kali Tio Jiang lancarkan serangan, tapi kesemuanya. itu dapat dihindar oleh isterinya dengan tepatnya.

Malah Yan-chiu merapat kedekat sang suami. Sebenarnya to-hay-kiam-hwat dan hoan-kiang-kiam-

hwat itu, merupakan sepasang ilmu pedang suami isteri.

Kalau bersatu padu menyerang musuh, hebatnya bukan tertara.

Tapi kalau untuk berkelahi saling gasak sendiri, tiada yang kalah atau menang alias serie. Maka Yan-chiu pun tak gentar menghadapi amukan suaminya.

Ketika rapat kedekat Tio Jiang, tampak oleh Yan-chiu urat2 pada muka suaminya sama menonjol besar2, matanya tak berkesiap, biji matanya bagian yang putih penuh dengan urat2 merah.

Sudah lebih 20 tahun lamanya Yan-chiu menjadi isteri Tio Jiang, tapi belum pernah selama itu dia menampak wajah suaminya sedemikian buas menakutkan itu.

Dalam   pedihnya,   ia   mengeluh:   "Jiang    suko, kau. !"

Saking sedihnya, Yan-chiu tak dapat melanjutkan kata2nya. Sekalian orang sama mencemaskan keadaan Yan-chiu, Pedang Tio Jiang tetap tak berkurang kedahsyatannya, sedikit lengah saja Yan-chiu pasti celaka. Dalam pada itu mereka saling tanya menanya, apakah yang sebenarnya terjadi dengan Tio Jiang itu. Tio In yang melihat ayah bundanya saling bertempur dengan gigihnya itu, gelisah bukan kepalang. Tapi ia tak tahu, cara bagaimana dapat melerai mereka itu.

Tak dapat lekas2 merobohkan lawan, Tio Jiang menjadi makin beringas.

Dengan menggerung keras, dia gerakkan tangan kiri untuk menghantam dada "musuh"nya itu. Dalam kagetnya, Yan-chiu cepat miring kesamping, tapi tak urung, pundaknya kena terhantam.

Tio Jiang yang sekarang jauh berbeda dengan Tio Jiang 20 tahun yang lalu dimana dia belum menjadi pemimpin Lo-hu-san dengan gelar Siau-beng-siang itu.

Apalagi minum obat hong-sin-san, wah, tenaganya menjadi berlipat ganda saktinya.

Yan-chiu rasakan tulang pundaknya patah, serta menderita luka dalam yang tak ringan. la terhuyung kebelakang sampai bebrapa langkah, sambatan angin dari pukulan Tio Jiang yang berikut-nya segera menyusul.

Sebenarnya dapat Yan-chiu mengelakkan diri dari serangan fatal itu, tapi karena ia mengira Tio Jiang hanya sedang dirangsang oleh hawa kemarahannya, ia malah maju menyongsong seraya menangis: "Jiang suko!"

Pukulan kedua dari Tio Jiang, lebih hebat dari yang pertama.

Dapat dibayangkan Yan-chiu pasti akan binasa karenanya. Tapi pada saat2 segenting itu, tiba2 melayanglah datang sesosok bayangan hitam.

Tio Jiang cepat tarik pulang tangannya tadi, begitu bayangan hitam itu melayang dekat, segera dia sambut dengan hantaman dahsyat.

Siapakah gerangan bayangan hitam itu?

Ternyata dia bukan lain yalah Sin-eng Ko Thay. Si Garuda sakti ini, enjot tubuhnya menyambar pundak Yan-chiu, justeru yang disambar itu pundaknya yang terluka tadi, maka sekali menjerit rubuhlah Yan-chiu tak ingat orang lagi.

Memang itulah yang dikehendaki Ko Thay.

Begitu orang sudah pingsan tentu tak dapat meronta dan dengan sigapnya dia segera lemparkan tubuh Yan- chiu kesamping seraya berseru: "Saudara, sambutlah ia!"

Dua orang gagah cepat maju menyanggapi tubuh Yan- chiu.

Dengan cemasnya buru2 Tio In menghampiri mamahnya

"Mah, bagaimana keadaanmu?"

Yan-chiu paksakan membuka mata seraya menyahut dengan suara ter-putus2: "Jangan........ hiraukan .......

aku...... ayahmu.......". Yan-chiu tak dapat lanjutkan kata2nya lagi, karena napasnya serasa memburu keras.

Kalau dahulu ia tak pernah memakan mustika kuning dalam batu, mungkin saat itu ia akan sudah bertamasya keakhirat.

Tio In bercucuran pir matanya. Sewaktu: berpaling kesebelah sana, dilihatnya Sin-eng Ko Thay menderita kesakitan hebat. Tadi karena melemparkan tubuh Yan-chiu, dia agak berayal sedikit. Sekalipun dengan sebatnya dia coba menghindar dari pukulan Tio Jiang yang ketiga itu, namun tak urung ketika sudah berdiri jejak disebelah sama, dia muntah darah.

Begitulah dalam beberapa kejab saja, tiga tokoh lihay: Kiau To, Ko Thay dan Yan-chiu, terluka semua.

Sekalian orang menjadi panik lagi.

Tapi Ki-Ce-tiong cepat mengangkat kong-cian berseru nyaring2: "Saudara2. Siau-beng-siang Tio Jiang tentu kena dicelakai orang. Kita tak boleh panik, kalau panik itu berarti termakan siasat musuh. Lekas selidiki barangkali ada orang asing disini!"

Selama menyaksikan pengamukan itu, The Ing terpikat sekali akan permainan pedang Tio Jiang yang sedemikian hebatnya itu.

Ia baru gelagapan ketika Ki-Ce-tiong mengucapkan perintahnya yang terakhir itu.

Kalau sampal ketahuan, bukankah dirinya bakal celaka nanti.

Buru2 ia hendak menyelinap kesamping, tapi  pada saat itu ada 3 orang datang menghapiri kedekatnya. dengan membawa obor.

"Hai, budak perempuan, kau datang dari mana ini?" tegur mereka.

Tampak oleh The Ing bahwa ketiga orang itu sama tegap2 perawakannya. Pikir The ing tak berguna untuk memberi penjeIasan pada orang2 kasar macam begitu. Maka dengan deliki, mata, ia mendamprat: "Peduli apa dengan kamu?!"

Ketiga orang itu sama terbelalak.

Tapi pada lain saat mereka segera berteriak keras2: "Ki toako, inilah orang yang mencelakai Siang-beng- siang!"

Ki Ce-tiong cepat menyuruh 3 orang ko-chiu (jago lihay) untuk membekuk hidup2an nona itu.

Bukan kepalang marah The Ing karena dituduh mencelakai Tio Jiang itu.

"Kentut busukl" dampratnya seraya lontarkan tali cheng-si kearah ketiga orang itu.

Mereka bertiga segera rasakan kepala, muka, kaki dan tangan seperti disayat pisau silet, sakitnya jangan ditanya. Yang membuat ketiga jago itu marah bukan terkira, yalah mereka tak tahu sama sekali senjata apa yang digunakan oleh si nona untuk melukainya itu.

"Budak hina, kau berani melukai orangl" mereka berteriak dengan kalap terus hendak merangsang maju. Tapi saat itu Ki Ce-tiong keburu datang mencegahnya.

Sejenak mengawasi, dapatkan orang asing itu adalah seorang nona cantik yang menggenggam semacam senjata aneh, yani segulung benang merah yang halusnya sama dengan rambut kepala. Dia tak kenal siapa, nona itu, maka ditegurnya dan ditanyainya nama dan maksud kedatangan The Ing ke Lo-hu-san situ.

Mendengar kisah Tong Ko, The Ing sudah mempunyai purbasangka terhadap orang2 Lo-hu-san yang dianggapnya bangsa kasar yang bo-ceng-li  (tiada aturan).

Tuduhan yang dilancar oleh ketiga orang kepadanya tadi, makin menambah besar rasa antipathinya.

"Apakah ada larangan bagi orang yang datang ketempat seluas Lo-hu-san ini? Adakah orang harus memberitahukan nama dan maksudnya dahulu baru boleh datang kemari?" sahutnya dengan tajam.

Ki Ce-tiong terkesiap atas tajamnya mulut sinona itu.

Tapi karena urusan itu amat penting, jadi dia tak mau mengalah juga.

"Sewaktu Siau-beng-siang tiba2 menjadi kalap, kau justeru berada disini. Adakah itu kurang pantas, kalau aku bertanya padamu?"

The Ing tertawa menghina, balasnya: "Ucapan yang tekebur! Kalau aku tak menghiraukan, kau mau apa?"

Saat itu Kiau To yang terluka pundaknya tadi, datang juga melihat ramai2 itu.

Dia adalah seorang berangasan yang beradat keras.

Mendengar penyahutan The Ing yang memanaskan telinga itu, tanpa banyak kata lagi, dia terus ulurkan kelima jarinya untuk mencengkeram bahu The Ing.

Itulah gerak oh-liong-tham-jiau (naga hitam menjulurkan cakarnya), salah satu jurus yang  terlihay dari ilmu cengkeram toh-beng-cap-jit-jian (17 cengkeraman maut).

Melihat kekurang ajaran orang itu, The Ing makin gusar. Secepatnya menghindar kesamping, dengan jari tengah dan manis, ia jemput tali cheng-si. Setelah di- putar2 menjadi beberapa lingkaran merah, terus dilontarkan kemuka.

Kalau lain orang mungkin akan memandang remeh pada tali ceng-si yang sebesar rambut itu. Tapi Kiau To benar orangnya berangasan, namun dalam ilmusilat, dia juga mempunyal pengetahuan yang luas. Dalam ilmu permainan ruyung liok-kin-pian-hwat yang diterimanya dari sang suhu Tay Siang siansu, juga terdapat gerakan2 istimewa yang sukar diduga orang. Melihat gaya melayangnya tall cheng-si itu, dia terkejut juga. Itulah suatu permainan yang tak dibawah liok-kin-pian- hwatnya.. Cepat dia enjot kakinya loncat rmundur.

Jurus yang digunakan oleh The Ing itu, adalah jurus ceng-ay-ho-sin.

Begitu lawan menghindar kebelakang, cepat iapun turunkan tangan kebawah berganti jurus ham-ceng-meh- meh. Lingkaran tali cheng-si itu tiba2 menurun ketanah.

Begitu tiba didekat Kiau To, The Ing berganti lagi dengan jurus ceng-hay-seng-bo.

Tahu2 lingkaran tali itu melayang keatas lagi.

Dalam kagetnya Kiau To buru2 menghindar lagi, tapi sesaat itu betisnya terasa terikat kencang untuk kemudian diseret kemuka.

Untuk kesekian kalinya Kiau To terperanjat lagi, bahkan kali ini serasa terbang semangatnya. Dengan menggerung keras, dia salurkan kekuatannya kebawah untuk gunakan gerak cian-hin-tui (tindihan seribu kati). Berpuluh tahun dia meyakinkan gerak cin-kin-tui itu, sehingga kedua kakinya itu se-olah2 terpancar kedalam bumi saja.

Tapi karena The Ing menarik, maka akibatnya betis Kiau To itu seperti disayat pisau silet, sakitnya jangan dikata lagi.

Saking marahnya, Kiau To menyabet dengan jwan- pian kearah tali ceng-si.

Ini suatu kekeliruan lagi.

Kalau dia tak begitu buru2 hendak menapas  kutung tali cheng-si itu, mungkin saat itu Ki Ce-tiong akan maju menyerang The Ing.

Karena diserang itu, The Ingpun tentu akan kendorkan gubatannya untuk menghadapi Ki Ce-tiong. Tapi karena dia (Kiau To) telah menghantamnya, bukannya tali itu putus, sebaliknya malah menambahkana daya tarik The Ing.

Seketika itu, betis kirinya yang tergubat tali ceng-si, kelihatan tertarik kemuka bebrapa inci.

The Ing tak sia2kan kesempatan itu. Liang-cheng- siang-gwat dan ceng-hay-seng-bo, sekaligus dilontarkan ber-turut2.

Bluk......, dihadapan sekian banyak orang gagah dari Lo-hu-san, Kiau To siberangasan yang pernah menjabat pemimpin nomor dua dari Thian Te Hui itu, terjerembab jatuh mencium tanah. Hinaan itu cukup meledakkan dada Kiau To.

Dan memangnya The Ing itu agak keliwatan juga. Baru orang tengel2 bangun, atau ia sudah imbuhi lagi dengan gerak ham-ceng-meh-meh. Tali cheng-si berkeliaran merubung kemuka Kiau To.

Pipi kiri siberangasan itu segera timbul 3  buah bengkak merah.

Kini baru The Ing puas.

Menarik pulang talinya, ia tertawa mengejek: "Ho. ,

kukira kawanan hohan dari Lo-hu-san itu lihay2, sehingga main gertak pada setiap orang yang datang pesiar ke Lo-hu-san sini. Tak tahunya kalau mereka itu adalah bangsa kantong nasi belaka!"

Adanya The Ing mengobral olok2nya itu, bukan karena ia dituduh mencelakai Tio Jiang tadi, tapi karena teringat akan pengalaman Tong Ko yang pernah dipaksa bunuh diri oleh orang2 Lohu-san. Maka ia hendak balaskan sakit hati pemuda yang dikasihinya itu.

Pada saat itu, Kiau To pun sudah bangun berdiri, dengan wajah beriagas dia hendak menyerang lagi, tapi berbareng dengan itu Tio In pun sudah mendahului berseru: "Jangan lepaskan ia, ia sekaum dengan Tong Ko!"

Atas seruan Tio In, tertumpahlah amarah sekalian orang kepada The Ing.

Para orang gagah yang berkumpul di Lo-hu-san itu, adaIah patriot2 yang menentang penjajah Ceng.

Mereka tinggalkan rumah dan kekayaannya untuk menggabungkan diri ke Lo-husan.

Kebencian mereka terhadap pemerintah Ceng dan segala antek2nya, me-luap2lah sekali. Dalam anggapan mereka, Tong Ko itu adalah salah seorang kaki tangan penjajah Ceng. Putera bungsu dari Tio Jiang, mereka tuduh Tong Ko yang membunuhnya. Maka kalau The Ing itu kawan Tong Ko, itu harus dihajar.

Berpuluh orang gagah2 segera mengepung The Ing dengan senjata terhunus.

Dari cahaya obor, The Ing seram juga melihat wajah orang2 itu sama beringas se-olah2 hendak meminum darahnya. Cepat ia pasang kuda2, siap menunggu setiap serangan. Tapi sampai sekian lama, tiada seorangpun yang mulai bergerak.

"Paman sekalian, ayah terang ia yang mencelakai, mengapa tak lekas2 menghajarnya?" seru Tio In sembari terus memberi contoh maju menyerang dengan jurus kiang-sim-poh-lou.

The Ing berlaku tenang, sedang Tio In tampak bernapsu, apalagi jurus itu tak seberapa hebatnya. Baru orang hendak bergerak, The lng telah mendahuluinya dengan sebuah sabatan ceng-hay-seng-bo.

Seketika itu tangan Tio In terasa sakit sekali, tring.......

pedangnya jatuh ketanah. The Ing tertawa dingin, begitu tangannya bergerak, ia libat pedang orang dengan tali cheng-si terus disentak keatas udara.

Ditingkah cahaya obor, pedang itu bagaikan sebuah meteor jatuh. Tio In kesima seperti patung.

"Nona Tio, taruh kata aku benar sekaum dengan Tong Ko, toh belum tentu tergolong orang jahat. Bukantah kau sendiri menjadi gadis pujaan Tong Ko?" The Ing tertawa lagi. Serangan ini lebih tajam rasanya dari tali cheng-si itu. Dada Tio In penuh sesak, matanya ber-kunang2,

hampir2 ia rubuh coba tidak Kiau To buru2 memapahnya "Lekas katakan, kau apakan Siau-beng-siang Tio Jiang itu? Kalau Siau-beng-siang bisa sembuh, kita tentu ada pertimbangan yang adil, jiwamu tetap terpelihara!" seru siberangasan itu.

The Ing tertawa ter-kial2, serunya: "Garang benar! Ya, memang aku kawan Tong Ko, kalau mau andalkan jumlah banyak, ayuh kalian boleh maju semual"

Jalan menggabung diri kedalam perserekatan Lo- husan, telah tertutup untuk The Ing. Dia benci akan kelakuan bo-ceng-li dari orang2 Lo-hu-san, sebaliknya orang Lo-hu-sanpun keliru menyangkanya sebagai kaki tangan Ceng.

"Harap saudara2 mundur, biar kuminta pengajaran darinya beberapa jurus!" sahut Kiau To atas tantangan The Ing.

Setelah mendorong Tio In kesamping, lalu mainkan jwan-pian sebagai tanda siap bertempur.

Memang The Ing sudah menduga bakal menghadapi pertempu-an berat.

Asal kali ini ia dapat mengatasi Kiau To, mudahlah untuk lolos dari situ.

Tapi baru ia hendak gerakkan talinya, tiba2 orang banyak sama hiruk-pikuk lagi menyisih kesamping. Kiau To menengoh kebelakang dan didapatinya Siau-beng- siang mengamuk kesitu. Bebrapa ko-chiu yang mengepungnya tadi, kena dilukai semua. Orang2 sama menyisih tadi, karena gentar melihat tandangnya.

Hati Kiau To seperti diremas.

Benar tadi ia bentrok dengan Tio Jiang karena urusan Go Sam-kui, tapi tali persaudaraan yang di pupuknya sejak berpuluh tahun itu, telah menganggap Tio Jiang itu seperti saudara sendiri, Apa boleh buat, ia tinggalkan The Ing dulu untuk menghadang Siau-beng-siang.

Tapi berbareng pada saat itu terdengarlah seseorang berseru keras: "Kiau loji, kasih aku yang melayaninya!"

Ketika semua mata memandang kepada orang itu, ternyata dia seorang lelaki berusid 50 tahun lebih, mencekal sebatang pikulan, sikapnya seperti orang tukang cari kayu digunung.

Ho , itulah si Hoa-san-kiau-cu Ma Cap-jit.

Ilmu permainan pikulannya itu, berasal dari salah seorang gagah dari perserekatan Liang-san yang bernama Long-cu Yan-ceng.

"Cap-jit-ko, hati2lah!” seru Kiau To.

Ma Cap-jit mengiakan, lalu menyongsong maju.

Bluk....., untuk pertama kali Tio Jiang rubuh mencium tanah.

Tio Jiang menggerung keras, begitu, loncat bangun dia terus merangsang Ma Cap-jit.

Tapi Hoa-san-kiau-cu itu tak menjadi gugup.

Begitu dia menghindar kesamping, pikulannya disodokkan kebawah. Tio Jiang hendak membabatnya, tapi secepat kilat Ma Cap-jit kaitkan pikulan dan blug......, lagi2 Tio Jiang jatuh meloso.

Tio Jiang yang sudah tak ingat siapa2 lagi, makin beringas. Dia loncat tinggi keatas, Magi masih  diudara dia bolang balingkan pedangnya dalam jurus boan-thian- kok-hay, hay-siang-tiau-go dan ceng-wi-tiam-hay.

Bagaikan gunung pedang, roboh kearah kepala Ma Cap-jit.

Keistimewaan ilmu pikulan Hoa-san-kiau-cu itu yalah kalau lawan berada dibawah.

Atas serangan dari udara itu, betul2 dia menjadi gugup.

Apa boleh buat terpaksa ia tangkiskan pikulannia keatas. Saat2 itu sangat menggelisahkan sekali. Kalau pedang Siau-beng-siang tiba, tak ampun pikulan akan terpapas kutung dan Ma Cap-citpun tentu celaka.

Untung seketika itu, dari empat jurusan segera meluncur bantuan berupa ber-macam2 senjata rahasia.

Diantaranya yang paling hebat adalah senjata pelor yang dilepas oleh Sin-tan Gong Lian, seorang sahabat Sin-thok Ih Liok yang baru saja setahun yang lalu datang ke Lo-hu-san. Jago yang berasal dari Shoatang itu seorang akhli Panah pelor.

Wut..., wut..., wut..., 8 butir pelor menghujani Siau- beng-siang.

Orang yang meminum hong-sin-san, walaupun pikirannya sudah kabur, tapi ilmu silatnya tetap tak terpengaruh. Tio Jiang putar pedangnya untuk menghalau hujan senjata rahasia itu.

Ber-turut2 terdengar suara gemerincing dari benda logam yang tersampok jatuh.

Siau-beng-biang telah dapat menyapu bersih semua senjata rahasia itu.

Salah  sebuah  pelor darl Sin-tan Gong Lian telah mengenai punggung pedang Tio Jiang, tring. , pelor itu

mental kelain arah dan menimpah pundak kawan sendiri.

Pedang Tio Jiang masih berputar, tring...., pikulan Ma Cap-jit terbabat kutung ujungnya. Membarengi itu, Tio Jiang hendak teruskan menabas lawannya.

Melihat itu Gong Lian lepaskan lagi 8 buah pelor untuk meng-halang2inya.

Sebenarnya kalau semua orang gagah itu maju mengeroyok, Tio Jiang pasti keok.

Tapi yang sulit, tiada seorangpun yang tega untuk melukai Tio Jiang.

Mereka tahu, kelakuan Tio Jiang itu bukan atas kehendaknya sendiri.

Ada belasan orang yang maju lagi, tapi itu hanya penundaan sementara waktu saja, karena tak lama kemudian kembali orang2 itu kena dihajar kocar-kacir oleh Siau-beng-siang.

Kiau To makin gelisah.

Satu2nya jalan untuk menolong Siau-beng-siang yalah harus meringkus The Ing. 

Tapi baru dia hendak bergerak maju, tiba-tiba muncullah Yan-chiu dipapah oleh dua orang wanita. "Ki toako....., Kiau jiko....., kulihat Jiang suko itu macamnya seperti orang minum hong-sing-san!" seru Yan-chiu.

Kiau To seperti orang disadarkan. Memang ketika Kui- ing-cu kalap digereja Ang Hun Kiong dahulu, tingkah lakunya seperti Tio Jiang sekarang. Itu waktu beruntung mendapatkan obat penawarnya yang tersimpan ditubuh Ti-an Bik-san. "Siao Chiu, apakah obatnya Kui-ing-cu itu masih ada?".

"Ini harus ditanyakan padanya sendiri. Dia bersama Thaysan sin-thok membuka warung minuman dikaki gunung sana. Lekas suruh orang memanggilnya!" sahut Yan-chiu.

"Biar kupergi sendiri!" kata Kiau To terus ayunkan langkah.

"Hai, bagaimana, apa tak jadi minta pengajaran dari aku?" tegur The Ing.

Kiau To berhenti, tapi dia hanya mendengus sebentar lalu lari kebawah gunung.

Melihat bahwa untuk sementara ini suaminya dapat dibatasi oleh kepungan orang2 gagah, Yan-chiu lalu arahkan perhatiannya kepada The Ing. Setelah mengawasi beberapa jenak, bertanyalah ia "Siapakah nama nona yang mulia?

Suamiku tiada mempunyal dendaman padamu, mengapa kau kaniaya dia?"

"Namaku tidak mulia, sederhana saja yani The Ing. Memang aku tak mendendam apa2 terhadap Siau-beng- siang, juga tak mencelakainya. Adalah orang2mu itu sendiri yang menuduh serampangan saja!"

Yan-chiu mendapat kesan bahwa nona itu mirip dengan seseorang yang dikenalnya.

Waktu mendengar nona itu orang she The, wajahnya segera berobah pucat, tanyanya dengan tandas : "Entah siapakah ayah nona ini?"

The Ing terkesiap. Ayahnya pesan jangan ia mengatakan nama ayahnya itu kepada Bek Lian  tapi tidak apa2 kalau kepada orang lain.

"Ayahku bernama The Go, pada 20 tahun yang lalu, orang menggelarinya sebagai Cian-bin-long kun!"

Serentak mendengar nama itu, naiklah darah Yan- chiu.

Oleh karena tadi ia sudah terluka berat, maka seketika itu juga ia segera muntahkan darah segar, namun dengan ter-engah2 ia paksakan diri berseru : "Serigala tentu beranak serigala, saudara2 ayuh tangkap budak ini!".

Ki Ce-tiongpun terpengaruh, tanpa banyak pikir lagi  dia segera memberi komando untuk menyerang. Tiga orang gagah, cepat tampil kemuka. Mereka adalah sanak jauh dari Kang Siang Yan, yani 3 saudara she In. Senjatanya adalah 3 buah kim-kong-gwan (lingkaran baja, macam gelang besar).

Tatkala masih digunung Sip-ban-tay-san, The Go sering menceritakan tentang kesesatannya dimasa mudanya, untuk itu dia benar2 menyesal dan insyaf. The Ing percaya penuh bahwa kini ayah-nya sudah bertobat betul2.

Maka ia gusar sekali mendengar umpat caci Yan-chiu dan Ki Ce-tiong itu.

"Kalau mau berkelahi, aku sedia melayani. Tapi jangan mengobral caci makian terhadap ayahku!"

Ketiga saudara In itupun sudah siap mengepung The Ing, serunya: "Kami bertiga saudara, selalu maju berbareng. Terhadap satu maupun seratus musuh, kami tetap begitu. Harap nona jangan tuduh kami main keroyok!"

"Terhadap kawanan babi, aku memang tak dapat memberi komentar apa2 lagi!" jawab The Ing sembari mainkan tali cheng-si untuk melingkungi tubuhnya.

Setelah saling memberi isyarat mata, ketiga orang itu lalu ber-suit keras dan mainkan kim-kong-gwan sebentar, terus dilontarkan kearah The Ing.

The Ing terkesiap, mengapa kim-kong-gwan dapat dilepas dan kembali ketangan, si-pemilik lagi? Cepat ia mendak kebawah, lalu gerakkan jurus ceng-hay-seng-bo.

Sebenarnya dalam permainan tali cheng-si itu, ia baru saja habis meyakinkan jadi belum. faham betul. Tadi dicobanya terhadap Kiau To dan dalam percobaan itu ia mendapat pengalaman2 yang berharga lagi. Maka dalam serangannya yang ini, gayanya makin hebat.

Ternyata ketiga, saudara itu, memiliki kim-kong-gwan yang serupa. Habis melempar mereka lalu berputar, maka tak heranlah kalau kim-kong-gwan se-olah2 seperti kembali lagi ketangannya. Serangan The Ing tadi benar dapat mengenyahkan mereka bebrapa langkah jauhnya, tapi dalam sekejab waktu mereka maju merapat lagi.

Demikianlah orang disuguhi dengan pertempuran yang menarik.

Si nona bagaikan seekor kupu2 menari2  diantara hujan kim-kong-gwan.

Benar tali cheng-si itu teramat halusnya, tapi setiap kali berbentur, tentu kim-kong-gwan itu terpental kesamping.

Begitulah pertempuran antara 3 orang lelaki lawan seorang gadis itu berjalan dengan serunya.

Dalam waktu setengah jam saja, pertempuran itu sudah berlangsung sampai tiga empat puluh jurus. Karena halusnya tali cheng-si itu, maka sukarlah ketiga saudara In itu menjagainya. Pundak dan lengan mereka bebrapa kali kena tersayat, benar tak parah tapi cukup membuatnya meringis kesakitan. Sebaliknya The Ing pun nyaris dari bodor kepala, melainkan hanya rambutnya saja yang kena terpapas kim-kong-gwan itu.

Orang2 gagah yang berkumpul di Lo-hu-san itu datang dari seluruh peloksok. Yang berasal dari daerah utara, sampai meliputi orang2 gagah daerah Kwangwa. Sedang yang dari selatan, berasal dari Hun-lam. Tapi tiada seorangpun yang kenal akan permainan The Ing yang aneh itu. Selagi mereka menikmati dengan penuh perhatian, tiba2 ada orang berteriak. nyaring : "Hore, itulah Kui locianpwe dan Thaysan sin-thok sudah datang!"

Siapa tokoh Kui-ing-cu itu, tentulah pembaca sudah maklum adanya. Dia kini sudah menjadi seoranng kakek berusia 80-an tahun.

Sekalipun begitu, adatnya yang aneh itu, tetap masih dipraktekkan.

Begitu tokoh itu muncul, orang2 yang mengepung Tio Jiang tadipun segera menyingkir.

"Jiang ko-ji, apa2an kau ini? Apa kau sedang marah2 karena bertengkar dengan isterimu?" orang aneh itu berdiri dihadapan Tio Jiang sembari tertawa mengikik.

Ya, memang anehlah tokoh itu, masa dalam keadaan segenting itu, ia masih sempat ber-olok2.

Dalam sibuknya, The Ing mencuri kesempatan untuk melihatnya.

Seorang kakek yang pakaiannya penuh tambalan, tampak menghadapi Tio Jiang.

Sikap orang tua itu tiada sesuatu yang luar biasa, kecuali sepasang matanya yang ber-api2, pertanda dia  itu seorang akhli Iwekang yang sudah mencapai kesempurnaan.

Benar kata2nya tadi secara bergurau, tapi ternyata kumandangnya melengking nyaring sekali sehingga memekakkan telinga orang.

Sampaipun Tio Jiang kelihatan tertegun sejenak, seperti agak sadar.

Tapi karena hebatnya pengaruh hong-sin-san, pada lain saat dia sudah lantas menyerang tenggorokan orang.

Kui-ing-cu masih mengikik, tegak seperti patung. Melihat itu semua orang sama mengucurkan keringat dingin.

Tapi Kui-ing-cu adalah seorang cianpwe yang diagungkan kaum persilatan.

Tatkala ujung pedang terpisah hanya bebrapa dim dari tenggorokannya, barulah dia berkisar kesamping. Tepat dan necis sekali penghindarannya itu, mata pedang yang membawa angin dingin itu, lewat disisi pipinya.

Secepat kilat, dua buah jari Kui-ing-cu menyulur kearah kedua mata Tio Jiang.

Tenang tapi ganaslah gerakan Kui-ing-cu itu, sehingga kalau bukan seorang ko-chiu pasti sukar menghindar dari serangannya itu.

Semua orang sama menahan napas, malah Yan-chiu cepat sudah menjerit :"Kui locianpwe!"

"Ho, ho, jangan kuatir, tak nanti kulukai lakimu ini!" sembari bergurau itu, tangan kiri Kui-ing-cu menerkam dada Tio Jiang.

Saat itu pada perasaan Tio Jiang, setiap orang yang dijumpai adalah musuhnya.

Dia rebahkan badannya kebelakang untuk  menghindari terkaman jurus song-liong-jiang-cu (sepasang naga berebut mustika) itu.

Tapi Kui-ing-cu sudah memperhitungkan hal itu. Tangan kanan yang hendak menerkam mata itu,

diteruskan kemuka untuk mencengkeram dada orang.

Tapi sudah berulang kali diterangkan, keadaan Tio Jiang itu sudah seperti orang gila, maka tak anehlah kalau dia mempunyai pikiran untuk sama2 mati dengan "musuh"nya itu.

Sembari miringkan tubuh, dia babatkan pedangnya kepundak orang.

Gila benar Siau-beng-siang itu.

Tapi memang demikian ketekadannya.

Biar separoh tubuhnya kena dicengkeram, tapi pundak lawanpun tentu kena terpapas.

Sakti sekalipun tokoh Kui-ing-cu itu, namun pada saat itu tak urung ia terkejut juga. Sebenarnya mudahlah ia untuk menghadapi serangan itu. Cukup mengisar kesamping, lalu menghantam, To Jiang pasti tak dapat menghindar lagi, jiwanyapun tentu melayang. Tapi kalau dia tak mau berbuat begitu, pundaknya tentu akan menjadi korban tabasan pedang. Namun Kui-ing-cu bukan Kui-ing-cu kalau dia tak dapat memecahkan kesukaran itu. Berbareng dengan datangnya pedang, diapun sudah mendapat siasat. Apa boleh buat, dia balikkan lengan, lima jarinya yang bagai kaitan besi itu se-konyong2 merangsang. Berbareng dengan mengeluarhan bentakan keras, tahu2 tangannya itu sudah menjepit batang pedang.

Kejadian itu hanya berlangsung dalam sekejap mata. Tio Jiang hanya terpisah setengah meter darinya. Kalau lain orang mungkin sudah terluka berat rontok pekakasnya dalam karena teriakan Kui-ing-cu yang sedahsyat halilintar memecah bumi itu. Tapi oleh karena lwekang Tio Jiang sudah bertambah sempurna, jadl dia hanya tertegun sejenak saja. Pada lain saat, ketika meerasa pedangnya dijepit orang, cepat2 dia menariknya kebelakang.

---oo<dwkz)0(kupay>oo--- 
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Heng Thian Siau To BAGIAN 27 : TIO JIANG KERACUNAN"

Post a Comment

close