Heng Thian Siau To BAGIAN 15 : SUKU THIAT TENG BIAU

 
BAGIAN 15 : SUKU THIAT TENG BIAU

Menjelang petang, tampak ada sebuah puncak menjulang masuk kedalam awan. Itulah puncak Thiat- nia. Dia pesatkan langkah dan tak berselang berapa lama, tibalah dia dikaki gunung tersebut. Baru dia hendak mulai mendaki, tiba2 dari arah belakang ada deru angin menyambar. Setelah beristirahat kurang lebih seminggu luka Tong Ko sudah sembuh dan karena selama itu dia terus menerus berlatih, jadi kini lwekangnyapun bertambah maju. Deru angin tadi terang adalah sebuah senjata dari seorang penyerang gelap. Dan cukup diketahuinya juga, bahwa kepandaian penyerang itu masih rendah. Dia biarkan saja tak mau bergerak. Adalah setelah sebelah belakang kepalanya terasa dingin, secepat kilat tangannya menghantam dan berbareng memutar diri sret...... tahu2 senjata gelap itu telah dapat dijepit dalam tangannya. Dan sekali kakinya bergerak menendang lambung, rubuhlah penyerang gelap itu. Ketika diperiksanya, seluruh tubuh orang itu dibungkus dengan anyaman rotan, telinganya mengenakan sepasang anting2 besar, dandanannya aneh sekali. Terang dia itu seorang suku Thiat-theng-biau.

Yang membuat Tong Ko terkejut adalah senjata golok orang itu. Golok itu berbentuk lengkung seperti sabit, mirip dengan pi-lik-to pemberian Sik-Lo-sam tempo hari.

Dalam saat2 Tong Ko tertegun itu, se-konyong2 orang Biau itu loncat bangun terus menyambar sebuah akar rotan dan laksana terbang dia merayap keatas puncak. 8

Dengan cepat Tong Ko memburu si orang Suku Biau yang sedang merambat keatas bukit tandus itu, dan menimpukkan sepotong batu . . . . . . .

Tong Ko mengejarnya. Sekalipun dia gunakan gin- kang (ilmu berlari cepat) namun jarak keduanya terpisah tiga empat tombak jauhnya. Ini disebabkan karena orang Biau disitu sudah biasa menggunakan rotan untuk naik turun gunung. Hanya dalam beberapa kejab saja, sampai sudah mereka dilamping gunung. Disitu terdengar suara drum...... (grenderang) ditabuh dlseling dengan gelak tawa yang keras. Hal, itulah gelak tawa siorang tua kate Liat Hwat cousu. Kalau saja orang Biau itu berhasil mencapai kesana, pasti dirinya (Tong Ko) celaka nanti. Saking gugupnya Tong Ko segera menjemput sebuah batu kecil lalu ditimpukkan kebelakang batok kepala orang Biau itu. Tanpa berkuik lagi, tangan orang itu kendor dan tubuhnya segera meluncur turun jatuh kebawah.

Tong Ko menyesal telah membunuh orang. Tapi apa boleh buat, toh sudah terlanjur kelepasan tangan. Dia lanjuntukan pendakiannya. Dari balik sebuah karang dia melongok kemuka dan didapatinya diatas sana tampak ada be-ratus2 orang Biau tengah me-nari2 dan ber- nyanyi2 dalam sebuah lingkaran. Dltengah lingkaran situ tampak duduk seorang Biau tua yang bertubuh tinggi besar. Disebelahnya adalah Tio Tay-keng, Hiat-ji dan Liat Hwat cousu. Mereka tengah menenggak arak. Tampak bibir mereka komat kamit, tapi entahlah tak kedengaran apa yang dibicarakannya itu.

Tong Ko jengkel tak dapat mendengarkan pembicaraan mereka itu. Kebetulan pada saat itu ada seorang Biau berjalan lalu disitu. Dia mendapat akal. Tanpa diketahui sama sekali, dia sergap orang itu dan ditutuknya jalan darahnya. Maksudnya hendak melucuti pakaian orang guna menyusup ketempat perjamuan sana. Tapi diluar dugaan, pakaian rotan yang dipakai orang itu, terbuat dari rotan besi keluaran istimewa dari gunung situ. Jangan lagi hanya tangan, sedang ujung golok dan senjata apapun tak dapat menembus rotan itu. Benar Tong Ko dapat menutuk dengan tepat, tapi orang itu hanya jatuh tersungkur saja tapi jalan darahnya tetap tak kena apa2. Dan celakanya, orang itu lalu berteriak se-keras2nya Buru2 Tong Ko menyusup masuk kedalam sebuah goa. Keliling lamping gunung itu bentuknya mirip dengan sarang tawon. Disitu terdapat banyak sekali goanya.

Didalam goa situ ternyata terdapat banyak tumpukan rumput kering dan kedalamnyalah Tong Ko lalu menyusup. Didengarnya disebelah luar sana  suara ramai2 dan berselang beberapa lama baru lah sirap. Baru dia hendak keluar atau tiba2 terdengar kaki orang mendatangi, sehingga dia rebahkan diri lagi. Ternyata yang masuk itu adalah Hiat-ji bertiga. Tong Ko makin tak berani berkutik.

"Tio-heng, apa yang dikatakan Kit-bong-to tadi jangan2 memang benar. Kalau ayahmu tempo dahulu mengunjungi gunung ini. bukankah juga tak mendapat hasil apa?" kedengaran Hiat-ji berkata.

"Memang ayahku mengatakan begitu. Tapi apa yang dilihat oleh Mo locinpwe itu apakah bukannya golok kian- thian-it-guan pik-li-to?" sahut Tay-keng.

Iiat Hwat cousu Itu sebenarnya orang she Mo bernama Put-siu. Dia orang Tibet, jadi namanya agak aneh. Berkatalah dia: "Sekalipun begitu, tapi belum pasti Kit-bong-to mempunyai banyak simpanan obat racun. Telah kusanggupkan dia suatu pangkat kedudukan kosong yakni menjadi tho-si (kepala) dari suku Biau di Sip-ban-tay-san sini, tentu dia akan kegirangan sekali. Besok hendak kutanyakan dia tentang suatu  ramuan obat racun, tentu dia akan memberitahukan!”

"Hai....., konon kabarnya dia mempunyal semacam obat racun 'hong-sin-san'. Barangsiapa yang memakannya dalam tempo sehari akan berobah menjadi seperti anjing gila, menyerang kepada siapa saja yang dijumpainya. Kalau dia itu seorang yang- berilmu silat, tenaganya akan bertambah hebat. Dengan lawan yang setingkat lebih tinggi kepandaiannya, tetap bisa menang. Akhirnya, diapun akan mati sendiri!" "Ho...., ho.....! Andaikata yang meminumnya itu ayahmu, rasanya dalam 3 hari saja seluruh penghuni Giok-li-nia itu akan tumpas dibawah sepasang pedang pi- i-song-hong-kiam!" Hiat-ji menyeringat iblis.

Mendengar itu, bulu roma Tong Ko sama berdiri. Sebaliknya Tay-keng hanya ganda tertawa saja, ujarnya: "Masakan tidak?"

Kiranya goa yang terdapat rumput kering. itu, adalah tempat penginapan ketiga orang yang menjadi tetamu suku Biau itu. Memang orang2 Biau itu tinggal didalam goa2. Setelah berbicara sejenak, ketiga orang itupun masuk tidur. Dalam pada itu, Tong Ko sibuk tak keruan. Dia cukup mengetahui kelihayan Liat Hwat cousu yang tentunya tajam sekali alat Inderanya. Kalau dia nekad menobros keluar, tak boleh tidak tentu akan ketahuan. Namun tetap berada ditempat persembunyian, dia kuatir akan terlambat mencegah suatu malapetaka besar. Bukantah dari nada pembicaraan

Hiat-ji dan Tay-keng tadi, mereka hendak minta obat hong-sin-san itu kepada Kit-bong-to? Walaupun Tay-keng "itu putera kandung Tio Jiang, namun rasanya dia tentu akan menurut perintah si Hiat-ji untuk meminumkan obat jahat itu kepada ayah bundanya sendiri. Dan kalau hal itu sampai terjadi, bagaimanakah nasib kawanan orang gagah di Giok-li-nia itu? Ah, biar bagaimana dia harus mencegah hal itu.

Dengan keputusan itu, dia menyingkap tumpukan rumput kering perlahan2 Diluar. rembulan remang2. Hiat-ji bertiga tampak tidur disudut, sedang pada sudut lain terdapat dua orang suku Biau yang mendengkur dengan kerasnya. Tong Ko girang dibuatnya. Dengan adanya orang lain didalam goa situ, tentulah Liat Hwat cousu tak bercuriga kalau disitu terdapat orang yang bersembuayi. Kalau dia melangkah keluar, andaikata dipergoki, tentunya hanya dikira kalau orang Biau saja.

Setelah bulat keputusan, dia segera bangkit dan sengaja batuk2. Tay-keng menggeliat bangun  dan duduk. Hati Tong Ko tergetar, kalau ketahuan, celakalah dia. Tapi syukurlah Tay-keng hanya duduk saja sembari mendamprat uring2an: "Tengah malam buta begini  masih kelayapan, ayuh lekas tidur sana!"

Legah hati Tong Ko dikira sebagal orang Biau itu. Dengan tak lampias dia mengiakan dan terus melangkah keluar goa. Ketika tiba diambang mulut goa, dia melirik lagi kebelakang. Disana dilihatnya Tay-keng rebah pula dan kedengaranlah Hiat-ji membuka mulut: "Tio-heng, dengan siapa kau bicara itu?"

"Seorang Biau, entah mau apa dia tengah malam begini keluar?" sahut Tay-keng.

”Apa ya?"

Tay-keng mendongkol karena tak dipercaya itu, namun tak berani dia menyalahi si Hiat-ji. "Masakan bukan? Tu dia masih berdiri dimulut goal" serunya.

Tong Ko seperti terpaku ditempatnya. Hatinya kebat kebit tak keruan, takut kalau2 kedua orang itu menyusulnya. Hem..., kedengaran Hiat-ji mendengus sembari menggeliat balikkan tubuh untuk tidur lagi. Tanpa menoleh lagi, Tong Ko cepatkan langkahnya keluar. 

Saking girangnya bisa keluar dari sarang harimau, Tong Ko segera tundukkan kepala melihat ketanah, astaga.......disamping bayangannya yang memanjang karena ditimpa cahaya rembulan itu, tampak lagi ada sebuah bayangan lain!

Dalam kagetnya pikiran Tong Ko membayangkan dugaan. Yang mengikutinya itu hanya salah satu dari ketiga orang lawannya tadi, yakni kalau bukan Tay-keng tentulah Hiat-ji atau Liat Hwat cousu. Tapi anehnya mengapa orang itu tak menyerangnya? Pikirannya pun mereka berbagai Ingatan. Bukan dia takut binasa digunung Thiat-nia situ, tapi dia menyesal mengapa tak dapat lekas2 menuju ke Giok-li-nia saja? Di Thiat-nia situ paling banyak dia dapat menyelidiki asal asul ilmu golok it-guan-to-hwat, itupun kalau saja berhasil. Tapi kalau  dia menuju ke Giok li-nia, manfaatnya pasti jauh lebih besar lagi. Ber-puluh2 orang gagah patriot akan dapat diselamatkan dari kebinasaan akibat penghianatan putera Tio Jiang itu. Dan itu akan berarti suatu sumbangan besar bagi kelangsungan gerakan menentang penjajah Ceng.

Tapi ....... ah, dengan binasanya putera bungsu Tio Jiang dan Nyo Kong-lim, para orang gagah itu sudah sama membenci dirinya (Tong Ko). Betapapun dia memberi laporan diatas sumpah yang berat, tak nanti mereka mau mempercayainya. Dilamun oleh pikiran semacam itu, tanpa terasa Tong Ko tertegun dan ter- mangu2 sampai sekian sa'at. Setelah tersadar, didapatinya keadaan disekelilingnya situ tetap tenang2 saja. Dan ketika dia memandang ketanah lagi hai..............kemana perginya bayangan tadi? Mengapa yang terbentang ditanah itu hanya bayangan sendiri? Juga waktu dia berpaling kebelakang, tiada barang sebuah insanpun yang kelihatan. Heran Tong Ko men-jadi2. Ya, tak salah lagi tadi terang dia melihat sebuah bayangan disisinya. Sejak dia mendapat saluran Iwekang dari Sik Lo-sam dan Ciang Tay-lo, lwekangnya maju pesat dan dengan sendirinya pancainderanyapun tajam sekali. Tapi anehnya orang gaib itu telah mondar mandir tanpa mengeluarkan sedikit suarapun juga, bahkan sesilir anginpun tak terasa meniup. Ah, masakan didunia ini terdapat orang yang sedemikian saktinya? Dari kurang percaya akhirnya dia menarik kesimpulan bahwa kesemuanya' itu mungkin terbit dari pikirannya sendiri yang gugup karena takut kepergok lawan Benar dia percaya dirinya telah memperoleh kemajuan ilmu kepandaian yang pesat, namun sampai dimana tingkat kemajuannya itu belumlah dia mengetahui dengan pasti.

Begitulah setelah yakin tiada seorangpun yang menguntitnya, dia lalu memandang keseluruh goa disitu. Tampak di-tengah2 sana ada sebuah goa yang besar dijaga oleh dua orang Biau yang ketiduran pulas. Berbeda dengan lain2 goa, goa itu pintunya tertutup dengan kerai rotan. Menduga gua itu tentulah tempat kediaman Kit-bong-to, kepala suku Thiat-theng-biau, maka dengan melangkahi penjaganya yang masih menggeros pulas itu, ia masuk kedalam. Begitu melangkah masuk, hidungnya segera tersampok dengan bebauan yang harum sekali. Tapi keadaan dalam goa situ gelap sekali, sampaipun dia tak dapat melihat tangannya sendiri. Setelah sejenak memulangkan kegoncangan hatinya, Tong Ko segera berindap2 melangkah maju. Dalam kegelapan tangannya merabah sebuah meja. Ketika tangannya menekan meja Itu, biar...........

seketika terang benderanglah ruang goa itu! Mengira kalau dirinya akan dijebak orang, sebat sekali Tong Ko segera melolos jwan-pian terus dibolang- balingkan dalam dua jurus gerakan. Tapi ternyata dia hanya menghantam angin karena disitu tiada terdapat barang seorang manusiapun jua. Kini insyaflah dia, bahwa penerangan itu adalah dia sendiri yang menimbulkan sewaktu tangannya menekan meja  batu itu. Diperiksanya meja itu, kiranya disitu terdapat 4 butir ya-beng-cu mutiara bercahaya terang). Mutiara2 ini ditutupi ber-lapis2 kain hitam Tadi tanpa sengaja tangannya telah menarik kain selubungnya, hingga terjadi penerangan itu. Walaupun kaget, namun legah juga hati Tong Ko sewaktu mengetahui bahwa tiada orang yang berada disitu.

Tetapi kegirangan Tong Ko Itu hanya sekejab saja, karena pada lain saat terdengar derap kaki orang mendatangi. Kiranya waktu Tong Ko membolong- balingkan piannya tadi telah menimbulkan  deru sambaran angin yang keras. Tambahan pula timbulnya penerangan yang mendadak itu, telah membangunkan kedua penjaga tadi. Serentak mereki masuk kedalam. Buru2 Tong Ko meuyusup kebawah meja. Dia tetap tak habis mengerti mengapa hanya goa ini saja yang dijaga orang. Apakah karena adanya mustika ya-beng-cu itu?

Belum lagi dia mendapat jawaban dari dugaannya itu, dua pasang kaki yang dibungkus dengan rotan sudah kelihatan dimukanya, kira-kira hanya terpisah satu setengah meter jaraknya. Tong Ko anggap sudah tiba temponya untuk turun tangan. Liong-kau-pian dijulurkan merayap keluar. Waktu kedua orang Biau  itu mengetahui, sudah terlambat. Ujung liong-kau-pian itu sudah melilit pada kaki salah seorang dan sekali disentakkan, maka terjerembablah orang itu menjatuhi kawannya. Kedua penjaga itu tengel2 hendak bangun tapi Tong Ko yang membarengi menorobos keluar segera mengirim dua sabetan pian pada seorang dan mengirim sebuah tendangan pada yang lain. Tak ampun lagi, kedua orang Biau itu jatuh sungsang sumbal. Rupanya kedua orang itu hendak berteriak minta tolong,  tapi sebat sekali Tong Ko sudah julurkan jarinya menutuk jalan darah su-pek-hiat salah seorang dari mereka. Jalan darah Itu terletak dibawah pelapuk mata, jadi tak dikerudungi rotan. yang seorang lagi  hendak memberosot keluar, tapi secepat kilat Tong Ko sambar golok orang itu terus dilekatkan dimukanya.

Bruk......., orang Biau itu ngelumpruk jatuh berlutut ditanah meratap: "Hohan, ampunilah jiwakui"

Tong Ko girang mendengar orang Biau dapat berbahasa Han. Setelah mendengari disebelah luar sana tiada terdapat perobahan suatu apa, dia lalu menanyai. Bermula hendak dia tanyakan lebih dahulu mengapa orang Biau itu menjaga disitu. Tapi terkilas pada pikirannya, bahwa dalam keadaan segenting itu tak boleh dia terlalu buang2 waktu.

Lebih baik chi langsung tanyakan dimana Kit-bong-to simpan obat2annya beracun itu. Memang sudah menjadi watak Tong Ko sejak kecil mula, dia tak suka memikirkan kepentingan diri sendiri. Beg;tupun dengan pertanyaan itu, maksudnya yalah agar dia lekas2 dapat mendahulu ambil obat berbisa itu agar Tio Jiang suami isteri tak sampai mengalami malapetaka. Tapi justeru karena itu, dia telah kehilangan suatu kesempatan yang bagus. Dan untuk kesempatan itu, kelak dikemudian hari dia harus menebusnya dengan jerih payah yang sangat. Tapi baiklah haI itu kami tangguhkan dahulu pada bagian belakang dari kisah ini.

"Dimana yu-tio (kepala suku) menyimpan obat2nya?"

Orang Biau itu mengatupkan matanya sejenak lalu menyahut: ”Tidak disinil"

"Ayuh, lekas antarkan aku kesana dan tak nanti kuganggu jiwamu!"

Orang itu berbangkit dan Tong Ko segera menggandeng tangannya untuk diajak pergi. Berliku-liku jalanan yang ditempuh, melalui perkampungan goa yang banyak sekali jumlahnya. Tong Ko sampai kehilangan pedoman arah jalanan, tak tahu dia hendak dibawa kemana. Tetapi karena dilihatnya orang Biau itu tak mengunjuk tanda2 membangkang, jadi diapun  tak curiga. Memang. dia tak menyelami alam pikiran. suku Thiat-theng-biau. Mereka itu ternyata menyayangi obat racunnya, melebihi dari jiwanya sendiri. Sekalipun kepala suku yang memberikan sedikit kepada lain orang, merekapun tak puas. Bahwa per-tama2 yang ditanyakan adalah tentang obat racun yang khas menjadi pusaka warisan bangsanya, orang Biau itu diam2 telah mereka suatu rencana.

Pada lain saat ketika membiluk pada sebuah tikungan, merontalah orang itu se-kuat2nya lalu ber-teriak2 keras2. Kaget Tong Ko bukan alang kepalang. Mimpipun tidak dia kalau orang itu hendak mengelabuhnya. Tadi karena dia tak bercuriga, cekalannyapun agak kendor, maka gitu meronta dapatlah orang Biau itu terlepas terus lari kebelang sembari ber-teriak2. "Plak", cepat Tong Ko timpukkan golok lengkung dan tepat mengenai ulu punggung orang itu. Tetapi karena tubuh orang itu dibungkus dengan rotan besi yang keras, jadi tak kena apa2.

Bebrapa kejab saja, hiruk pikuklah suasana disekeliling situ. Be-ratus obor keluar darl goa2. Tiada lain daya bagi Tong Ko kecuali bersembunyi dibalik sebuah batu besar

Tak berselang berapa lama, muncullah Kit-bong-to membawa ratusan orang Biau yang sama siap lengkap dengan golok sabitnya. Mereka lalu pecah diri berpencaran mencarinya.

Ada dua dua regu yang makin mendekati ketempat persembunyian Tong Ko. Terhadap suku Thiat-theng- biau, karena dirinya merasa salah, rela sudah Tong Ko ditangkap. Tapi mengingat apabila sampai kepergok kawanan. Hiat-ji dirinya pasti akan binasa, Tong Ko mengambil putusan lain. Sebelum mati bercermin bangkai (sebelum mati lebih baik berusaha dulu menentangnya). Setelah menghimpun semangat, dia segera enjot kakinya melayang keluar. Belum kakinya menginjak tanah, liong-kau-pian sudah ber-putar2 menjadi sebuah lingkaran sinar merah. Tujuh atau delapan orang Biau terjungkal mundur. tapi belum Tong Ko dapat membuka d'alan, orang2 Biau yang lain sudah maju mengerumuninya lagi sembarl ber-teriak2 keras

Sebenarnya Tong Ko pun tak ingin terlalu banyak mengorbankan jiwa orang Biau, namun betapa usahanya untuk menobros kian kemari, tetap dia gagal membuka kepungan pagar golok sabit yang mengelilingi rapat2 itu. Dalam pada dia gelisah kebingungan itu, tiba2 terdengar suara suitan nyaring dan siraplah hiruk teriakan orang2 Blau itu. Kini mereka sama tegak berdiri diam. Pada lain detik, muncullah Kit-bong-to kemuka. Setelah mengawasi beberapa jenak pada Tong Ko, dia berseru: "Siapakah yang pada siang hari ini mem-bunuh2i saudara2 suku kami? Kaukah?"

"Ya!" sahut Tong Ko dengan tegas ringkas.

Kepala suku Thiat-theng-biau itu mengangguk, ujarnya: "Kiranya kau ini seorang jantan yang keras, seperti juga kami suku Thiat-theng-biau. Ada apa kau datang kemari?"

Melihat orang tak bernada gusar legalah hati Tong Ko, sahutnya: Kit-yu-tio, ketiga orang yang datang kemari itu adalah kaki tangan kerajaan Ceng. Apabila mereka hendak meminta obat racun padamu, harap jangan diberi!"

"Mengapa?"

Dalam detik itu tak dapatlah Tong Ko mencari jawaban yang jitu, maka dengan ter-sipu2 dia menjawab: "Tentara Ceng telah merampas wilayah kami, main  bunuh main perkosa dan berlaku se-wenang2. Rakyat ingin benar me-ngunyah2 daging dan menguliti tubuh mereka. Bagaimana kau hendak membantu mereka?"

Kit-bong-to goyang kepala, ujarnya: "Hal itu tiada sangkut pautnya dengan kami. Liat Hwat consu telah menyampaikan firman kerajaan Ceng yang mengangkat diriku sebagai yang dipertuan dari suku Biau Sip-ban-tay- san. Jadi akupun kini seorang pembesar kerajaan!"

Bermula Tong Ko hendak membangkitkan rasa cinta- negeri pada sanubari Kit-bong-to. Tapi serta didengarnya keterangan itu, dia tertegun diam. Belum dia sempat merangkai jawaban atau dari arah belakang Kit-bong-to suara tertawa kata orang: "Ucapan Kit tho-si memang benar seratus persen. Adalah orang she Tong itu yang bermata tapi se-olah2 buta!"

Menyusul dengan seruan itu, muncul seorang pemuda gagah sembari menghunus sebatang pedang. Itulah Tio Tay-keng! Melihat dia, mata Tong Ko seperti memancar api.

Dengan mengaum keras dia lontarkan liong-kou-pian meniapu tubuh orang. Tay-keng menggeliat kesamping, melolos pedang dia lalu kembangkan permainan pedang to-hay-kiam-hwat yang termasyhur itu. Malah dua jurus sekaligus diserangkan yani Ceng-wi-tiam-hay dan boan- thian-kok-hay, gaya kedahsyatan tiada taranya. Belum lagi Tong Ko sempat menggerakkan piannya, dia sudah didesak rapat.

Tong Ko balikkan sikunya robah gerakannya dalam jurus kou-lo-ki-lu, barulah dia dapat meloloskan diri lalu loncat kesamping.

Ketika dia siap untuk memu!ai menyerang lagi, se- konyong2 telinga nya dilengkingi oleh tiupan suara orang: "Hai, kau juga harus mengasoh!" Seketika pinggangnya scrasa kesemutan dan tubuhnya condong kesamping. Kiranya separoh tubuhnya sebelah kanan tak dapat digerakkan lag!, terang kalau kena ditutuk orang~. Namun sebagaimana telah diketahui, tubuh Tong Ko itu terbagi menjadi dua, "masakan" Sik Lo-sam dan gemblengan Ciang Tay-lo. Dia memiliki dua macam lwekang yang sakti, hanya sayangnya sampai pada saat itu latihannya masih belum sempurna. Tubuh yang sebelah kanan tertutuk, yang sebelah kiri masih tetap biasa. Bermula hendak dia pindahkan pian ketangan kirl tapi pada lain saat terkilas pada pikirannya, lebih baik dia pura2 tak berdaya. Pertama hendak dia lihat perkembangannya lebih jauh dan kedua kali dia cukup mengingsyafi kelihayan Liat Hwat cousu. Biar dia gunakan simpanan tenaganya itu untuk mengadu jiwa dengan Tay-keng!

Begitulah dia pura2 rubuh ketanah dan benar juga tampak Liat Hwat cou-su dan Hiat-ji menghampiri dengan pe-lahan2.

"Sekali jaring ditebar, tiada mata lubangnya. Kalau tak kuberesi budak ini, tentu akan menimbulkan bahaya dikemudian haril" seru Tay-keng dengan kegirangan Melangkah maju dia lalu tusukkan ujung pedang ketenggorokan Tong Ko.

Adalah menjadi harapan Tong Ko agar ujung pedang Taykeng Itu lekas2 tiba, supaya dia dapat gunakan tenaga tangannya kiri. Tapi baru dia hendak bergerak, terdengarlah Kit-bong-to keburu berseru: "Tio kongcu tahan dululah!"

"Kit tho-si hendak memberi pesan apa?" tanya Tay- keng agak terkesiap.

"Anak muda ini adalah seorang jantan keras. Kupenuju padanya, biar dia bekerja pada kami disini" sahut Kit- bong-to.

Tay-keng berobah wajahnya. Baru dia hendak membuka mulut, Hiat-ji sudah memberi isyarat mata, ujarnya: "Tio-heng, semalam kami telah mengemukakan obat itu dan rupanya dia meluluskan. Baiklah kau simpan dulu pedangmu dan cukup jaga saja padanya!"

Rupanya Tay-keng mengerti bahwa Hiat-ji dan suhunya itu "ngesir" (dendam) pada Kit-bong-to, maka sembari mengangguk dia menyahut: "Kit tho-si, hal ini perlu dirundingkan lagi!" Dia mundur selangkah, ujung pedangnya dijulaikan kearah bawah (tanah) sembari masih di-gerak2an pelahan-lahan. Itulah gaya sikap gerakan Ceng-wi-tiam-hay. Asal tangannya membalik keatas, maka dapatlah ujung pedangnya itu menusuk Kit- bong-to.

Memang ilmu silat Kit-bong-to itu tak sebrapa tingginya, jadi sedikit pun dia tak menginsyafi "bom waktu" yang dipasang tetamunya itu. Disamping itu dia dimabuk kegirangan atas kedatangan ketiga tetamunya yang membawa firman kerajaan itu. Namun karena din sebagai kepala suku yang perintahnya selalu diturut oleh anak buahnya, maka diapun marah mendengar penyahutan Tay-keng tadi.

"Apa yang akan dirundingkan lagi?" serunya dengan gusar.

Hiat-ji tertawa menyeringai, ujarnya: "Oleh karena yutio hendak mengambil anak itu, maka sebaiknya kita lakukan barter. Kami serahkan anak itu dan yutio berikan kita resep pembuatan obat beracun itu."

"Ngaco!" seketika Kit-bong-to menghardik dengan keras. Hiat-ji menggeram keras2 dan Tay-keng yang dapat menangkap isyarat itu segera balikkan tangannya menusuk tenggorokan kepala suku itu.

Mimpipun tidak Kit-bong-to kalau "duta kerajaan" itu berpaling haluan secara tak di-sangka2. Dan begitu cepat kiblat pedang itu menyambar, jangankan hendak menghindar sedang untuk berteriak saja tak mempunyai kesempatan lagi. Adalah pada saat2 maut merangsang itu, tiba2 kedengaran Tay-keng menjerit keras dan terlempar jatuh kesamping, crak ....., ujung pedang Itu hanya menggurat disamping dada kepala suku Biau yang ditutupi rotan besi saja, jadi dia tak kurang suatu apa.

Apa yang terjadi? Ketika dia mengawasi, kiranya ujung pian Tong Ko telah memakan segumpal daging betis Tay- keng, sehingga putera Tio Jiang yang "manis" itu berlumuran darah kakinya. Kini Kit-bong-to tahu bahwa Tong Ko lah yang menolong jiwanya. Dan karena kedok ketiga "duta kerajaan" Itu telah ketahuan, dia lalu berseru keras2 memberi komando. Bagaikan sarang tawon dionggok, bergelombanglah orang2 Thiat-theng- biau itu mengepung ketiga tetamunya.

Juga Hiat-ji dan Liat Hwat cousu tahu jelas apa yang telah terjadi. Heran mereka dibuatnya mengapa anak yang sudah ter-tutuk jalan darahnya itu dapat melakukan serangan tiba2 sedemikian dahsyatnya. Dalam pada itu orang2 Thiat-theng-biau sudah menyusun kepungannya dengan rapat dan rapi sekali. Tiba2 ketika Kit-bong-to hendak undurkan diri masuk kedalam barisannya, Liat Hwat cousu tertawa melengking dan tahu2 tubuhnya melayang kearah Kit-bong-to. Belum orangnya tiba ditanah 4 buah hantaman sudah dilancarkan, buk..., buk.., buk.., buk..., dan 4 orang Thiat-theng-biau segera muntah darah terus rubuh binasa. Cepat bagai burung rajawali dia mencengkeram tulang pipeh (pundak) Kit- bong-to terus diangkatnya keatas, serunya: "Barang  siapa berani bergerak, kau pasti hilang nyawamu. Lekas perintahkan orang2mu berhenti!"

Liat Hwat mempunyai lwekang yang sempurna. Walaupun seruannya itu pelahan2 namun kumandangnya jauh menggema ke-mana2. Melihat kepala sukunya ditawan dengan sendirinya orang2 Thiat-theng-biau itu sama ketakutan. Sebaliknya Kit-bong-to sendiri tetap diam membisu.

"He...., he....," Liat Hwat tertawa mengekeh, "rupanya kau tak kenal kelihayan. Ayuh, berikan tidak resep obatmu itu? Kalau membangkang, kau akan segera menjadi bangkai!"

---oo<dw-kz0tah>oo---