Heng Thian Siau To BAGIAN 13 : DI GUNUNG SERIBU

Mode Malam
 
BAGIAN 13 : DI GUNUNG SERIBU

Sekeluarnya dari Lo-hu-san dia membeli seekor kuda lalu berangkat ketempat yang dituju itu. Untuk menghilangkan kecurigaan orang, selama dalam perjalanan itu Tong Ko menyaru sebagai seorang pedagang. Begitulah singkatnya saja, hari itu dia tiba dikaki gunung Sip-ban-tay-san (Gunung seribu).

Pegunungan Sip-ban-tay-san membujur ditengah perbatasan. propinsi Kwitang dan Kwisay, luasnya sampai beberapa ratus li. Sesuai dengan namanya, Sip-ban-tay- san atau Gunung Seribu itu penuh dengan lembah dan tebing curam serta puncak yang tinggi menjulang diselimuti oleh hutan belantara. Untuk mencari dua orang yang berupa orang tua The Ing, ibarat seperti mencari sebatang jarum didalam lautan sukarnya. Tambahan pula nona itu belum pernah menerangkan tentang ciri2 kedua orang tuanya itu.

Menghadapi kesulitan itu, Tong Ko tertegun sejenak dan lalu turun dari kudanya untuk melepaskan lelah. Beratnya melakukan pesan seorang sahabat berbudi, biar bagaimana dan betapapun lamanya, dia tetap hendak mencarinya sampai dapat. Seminggu lama nya dia menjelajahi daerah gunung itu, makhluk buas maupun bangsa ular yang menghuni dihutan pegunungan situ, sudah banyak yang dijumpainya, namun seorang manusiapun belum pernah dilihatnya.

Malam itu dia tengah rebahkan diri diatas sebuah pohon besar. Se-koayong2 didengarnya ada derap kaki mendatangi. Tong Ko menggeliat bangun, tapi buru2 rebahkan diri lekat2 pada dahan pohon lagi. Pada lain saat derap kaki itu makin dekat dan tampaklah 3 orang berjalan menghampiri. Yang dimuka sendiri, bukan lain adalah Tio Tay-keng, putera sulung Tio Jiang. Dibelakangnya mengikuti dua orang, siorang tua  kate dan Ci-ceng-long Shin Hiat-ji!

"Tio-heng, ucapan ayahmu, rasanya tentu tak keliru bukan?" tiba2 kedengaran Hiat-ji membuka mulut.

"Sudah tentu benar. Ayahku selalu memegang teguh apa yang diucapkan, tak pernah dia menelan ludahnya lagi!" sahut Tay-keng sambil tertawa.

"Bagus, Tio-heng. Bilamana usaha kita kali ini berbasil, pemerintah Ceng tentu akan memberi pangkat besar padamu. Kedosaan ayahmu selama ini, tentu juga akan diberi pengampunan. Orang mengatakan bahwa tiong (setia pada negara) dan hau (berbakti pada orang tua)  itu tak dapat dikerjakan sekaligus. Tetapi kau, Tio-heng, ternyata membuktikan ketidak benarnya ujar2 usang  itu!"

"Ah, Shin-beng terlalu memuji" sahut Tay-keng mengulum tawa. Mereka bertiga berjalan seenaknya saja sambil pasang omong, hingga ketika lalu dibawah tempat persembunyian Tong Ko, mereka tak memperhatikan diatas pohon.

Kini barulah Tong Ko mendapat kepastian sungguh2, bahwa Tay-keng, putera Siau-beng-siang Tio Jiang sang patriotik itu, ternyata bersekongkol dengan kawanan kaki-tangan pemerintah Ceng. Entah untuk tujuan apa mereka datang ke Sip-ban-tay-san situ. Mengingat fitnah yang dideritanya dari mereka, turut kemauan sang hati, ingin benar Tong Ko segera loncat turun untuk melabraknya. Namun sang kesadaran mencegahnya, karena insyaf akan kekuatannya sendiri. Pada waktu ketiga orang berjalan tiga-empat tombak jauhnya dari tempat persembunyiannya. Tong Ko samar2 masih dapat menangkap kata2 mereka yang antara lain menyebut2 "Thiat-nia", "Kit-bong-to” kepala suku Thiat- theng-biau", "Apa yang dikatakan ayahku itu, tentulah ilmu golok It-gwan-to-hwat" dan lain lain. Timbullah dugaan Tong Ko, bahwa kedatangan ketiga orang kegunung situ tentulah mempunyai rencana yang tidak- baik, Rupanya mereka itu akan mencari sumber ilmu golok It-gwan-to-hwat yang sakti itu.

Ah...., inilah suatu kesempatan yang bagus untuk mengikutinya. Resikonya memang besar apabila sampai ketahuan, namun Tong Ko tak gentar menghadapinya. Segala usaha, besar atau kecil tentu mengandung risiko, demikianlah ia merangkai putusan dan dengan hati2 dia loricat turun.

Tapi baru saja kakinya menginjak tanah  atau terdengar suara nada anak kecil dari siorang tua kate itu yang melengking: "Hiat-ji, kabarnya Sip-ban-tay-san sini banyak sekali didiami bangsa ular berbisa. Baru saja kudengar pada jarak 3 tombak disebelah belakang ada suara ular merayap Hati2-lahl"

Bukan main kejut Tong Ko saat itu. Pendengaran orang tua kate itu benar2 tajam sekali. Dia mendekam ditanah tak berani berkutik. Baru setelah ketiga orang itu jauh. Tong Ko bangun mengikutinya. Dibawah cahaya bulan, tampak ketiga orang itu lari dengan pesatnya. Apaboleh buat terpaksa dia 'tancap gas' juga. Setelah melintasi 3 buah puncak, tampak disebelah muka ada sebuah puncak lagi yang lebih tinggi. Batu2 yang  terdapat dipuncak gunung itu ke-hitam2an warnanya. Tiba2 ketiga orang itu berhenti disitu. Tong Ko pun buru2 hentikan larinya, lalu bersembunyi dibalik sebuah batu besar. Ketika dia melongok keluar, tampak siorang tua kate itu berpaling kebelakang dan tertawa kepadanya! Seri-tawanya cukup manis dengan ramahnya se-olah2 seperti seorang sahabat kental yang lama tak bertemu.

Ber-detak2 jantung Tong Ko serasa dibuatnya. Adakah jejaknya telah diketahui siorang kate itu. Satu2nya harapan, mudah2an orang tua itu hanya secara kebetulan saja berpaling dan melihatnya. Maka diapun tetap diam tak berani bergerak.

"Hai, buyung, apakah disini ini puncak Thiat-nia tempat kediaman suku Thiat-theng-biau?" tlba2- orang tua kate itu berseru.

Cialat, demikian Tong Ko mengeluh. Untuk sesaat tak dapat dia berbuat apa2..

"Suhu,. kau bicara, dengan siapakah?” Hiat-ji bertanya dengan heran.

"Entah siapa dia itu, tapi sudah sedari tadi dia mengintil dibelakang kita dan sekarang bersembunyi dibalik batu tu. Lihatlah kemaril" sahut sikate.

Hiat-ji loncat menghampiri. Tong Ko sudah mau loncat keluar untuk menyongsongnya dengan serangan, tapi anak bermata ungu itu sudah tiba lebih dahulu dihadapannya dan dengan cengar-cengir segera berseru: "Ho, kiranya kaulah si............, kukira sudah mampus, jebul kau sianjing buduk ini masih bernyawal"

"Kau anjing buduk....., budak hina dina dari.......pemerintah Cengl" seru Tong Ko seraya memburu maju dengan kedua belah tangannya. Sudah tentu Hiat-ji tak mengetahui bahwa selama waktu perpisahannya yang sesingkat ini, Tong Ko telah memperoleh "masakan" ilmu lwekang yang sakti dari kedua tokoh aneh Sik Lo-sam dan Soa-kim kong. Buru2 diu menghantam kemuka untuk membuyarkan angin pukulan lwekang Tong Ko itu. Tapi secepat kilat, Tong Ko sudah meloloskan liong-kau-pian, terus diserangkan dalam jurus kou-la-kiao dan tun-yang-hui-kiam.

Memang adat Hiat-ji keliwat sombong. Sudah tahu bagaimana kedahsyatan deru angin pukulan Tong Ko tadi, namun dia masih membanggakan kepandaiannya. Baru setelah matanya kabur dengan kilat merah dan sambaran angin yang men-deru2, dia menjadi kelabakan setengah mati. Terang pian yang dicekal Tong Ko itu bukan pian sembarangan dan ilmu permainananyapun luar biasa dahsyatnya. Dalam kegugupannya dia buang dirinya berjumpalitan kebelakang. Namun sekalipun begitu, keningnya telah tergurat dengan ujung pian, kulitnya pecah dan sakitnya sampai menusuk keulu hati.

Waktu tangannya merabah kekening dan dapatkan berlumuran darah, dengan menggerung keras, dia merangsang Tong Ko.

Bahwa serangan pertama telah memberi hasil, lupalah Tong Ko akan rasa rendah dirinya terhadap seorang jago macam Hiat-ji. Dan lupalah pula bahwa dibelakang anak mata ungu itu masih terdapat Tay-keng dan siorang kate yang lihay. Sebaliknya dari melarikan diri, Tong Ko menyusuli lagi dengan dua buah serangan. Hiat-ji pun juga mencabut jwan-piannya. Begitulah kedua sateru itu segera terlibat dalam pertempuran pian yang seru. Ilmu permainan pat-siat-pian-hwat (8 dewa memain pian) yang dipelajari dari Soa-kim-kong Ciang Tay-lo itu, mempunyai 64 gerak perobahan yang sukar  diduga. Sinar kilap merah yang ditimbulkan akibat permainan liong-kau-pian itu se-olah2 memenuhi udara, sehingga Hiat-ji tak dapat berbuat apa2. Kedua bertempur dalam tempo yang cepat, maka dalam beberapa kejab saja pertandingan sudah berjalan 20-an diurus.

Bermula Tong Ko masih dihinggapi penyakit rendah diri dan tetap mengira bukan lawan Hiat-ji. Maka tadi dia hanya mengandal ketekadan saja untuk maju. Tapi setelah 20 jurus itu, dia dapatkan baik dalam ilmu permainan pian maupun Iwekang, rasanya dapatlah dia mengimbangi Hiat-ji. Maka timbullah semangatnya dengan serempak dan piannyapun dimainkan makin gencar.

Sebaliknya karena mempunyai andalan (suhunya), Hiat-ji tak gentar. Hanya yang tak habis dibuat heran, darimana anak itu memperoleh pelajaran ilmu pian yang begitu lihay. Kini dia berganti siasat untuk meaghadapinya. Tiba2 gerakan piannya berobah, baik menangkis maupun menerang, nampaknya sangat pelahan sekali. Namun setiap gerakannya Itu menganduag tekanan tenaga yang berat. Benar juga dengan perobahan itu, dalam tiga empat jurus saja, Tong Ko sudah dibikin kalut permainannya. Liong-kaupiannya tak mau bergerak menurut kemauannya lagi, se-olah2 tersedot oleh pian Hiat-ji. Kemana Hiat-ji gerakan piannya, kesitulah liong-kau-pian mengikut. Insyaflah Tong Ko, bahwa dengan cara begitu dalam beberapa jurus lagi dia tentu akan ditekan oleh lwekang lawan. Dalam gugupnya, dia segera menghantam dengan dengan tangan kirinya, wut ...........

"Hai tak  boleh bercabang", adalah ujar2 dalam pedoman pelajaran silat. Memang belum pernah terdapat seorang jago silat sembari memainkan pian sembari kerahkan kekuatan untuk menjotos. Tapi keadaan itu tak berlaku pada diri Tong Ko. Sejak dia mendapat bantuan lwekang dari Sik Lo-sam dan Soa-kim-kong, terutama pada waktu yang kedua kalinya yalah ketika dia menderita luka parah, hampir 7 bagian dari lwekang kedua tokoh aneh itu disalurkan kedalam tubuh Tong Ko. Menjadilah Tong Ko itu seorang "bertubuh dua". Tangan kanannya yang memain pian itu hanya menggunakan tenaga lwekang yang terdapat pada separoh tubuhnya bagian kanan.

Sedang tangan kirinya masih bebas dan penuh tenaganya. Maka begitu digerakkan, hasilnya diluar dugaan. Tadi Hiat-ji sudah memastikan kalau dia tentu dapat memenangkan pertandingan itu. Adalah ketika dia sedang mengincar lubang kesempatan pada dada Tong Ko, se-konyong2 ada serangkum tenaga dahsyat menghantam jwan-piannya hingga sampai terpental.

Karena kejutnya Hiat-ji masih mengira kalau Tong Ko mendapat bantuan seseorang. Jwan-pian diturunkan kebawah untuk menutuk jalan darah hiat-hay-hiat dipaha Tong Ko. Tapi kala itu Tong Ko sudah sadar akan keadaan dirinya yang seolah2 bertubuh dua itu. Diapun turunkan Liong-kau-pian. Dua buah pian kini saling berlibatan.

Hiat-ji menarik kebelakang, tapi Tong Kopun menyentok kebelakang. Keduanya bagai terpaku ditanah. Melihat dada Hiat-ji tak terjaga lagi, Tong Ko segera ayunkan tangan kirinya.

Terang Hiat-ji tak dapat mundur, kerna kalau dia berbuat begitu, jwan-piannya pasti terpaksa dilepaskan. Ini sungguh berbahaya karena Tong Ko dapat menyabatkan liong-kau-piannya lagi. Namun tak mau menghindar, dia hanya mempunyai dua pilihan mati atau terluka berat.

"Suhu, tolonglah aku!" tiba2 mulut Hait-ji berteriak minta tolong pada gurunya.

Dengan mengekeh orang kate itu menyahut: "Hiat-ji, jangan kuatir!"

Sewaktu kata "kuatir" itu diserukan, tangan kiri Tong Ko sudah terpisah hanya seperempat meter dari dada Hiat-ji. Tiba2 kedua lengannya serasa kesemutan, karena jalan darahnya thian-keng-hiat tertutuk orang. Seketika hilanglah daya lwekang Tong Ko. Benar tangannya kiri itu tetap mengayun kedada Hiat-ji, tapi dengan mengerahkan Iwekang dapatlah Hiat-ji menolak serangan itu, krek.... patahlah (keseleo) sambungan lengan dan bahu Tong Ko. Sakitnya bukan alang kepalang. Dalam pada itu Hiat-ji tampak loncat kebelakang sembari menarik liong-kau-pian Iawannya.

"Pian yang bagus!" mulut Hiat-ji memuji ketika memeriksa liong-kau-pian itu. Dicobanyalah pian itu untuk menghantam tanah.

Tong Ko insyaf bahwa penderitaannya itu disebabkan campur tangan sikate. Dalam kalapnya dia benturkan kepalanya kearah Hiat-ji. Tapi anak mata ungu itu menyeringai, tar...... disongsongnya kedatangan Tong Ko itu dengan sabetan liong-kau-pian. Tak ampun lagi, tubuh Tong Ko menggelepar ditanah. Masih si Hiat-ji itu tak kenal kasihan, dia mengirim pula dua buah cambukan, kedada dan kebahu Tong Ko. Pakaian Tong Ko compang-camping, darah mengalir dan orangnyapun tak ingat diri lagi.

Hiat-ji mengekeh iblis. Sementara Tay-keng sebenarnya sudah siap sedia untuk turun tangan apabila Hiat-ji tak berhasil membereskan Tong Ko. Karena dalam pikirannya kalau sampai anak itu lolos dan melapor pada ayahnya (Tio Jiang), celakalah dia tentul

"Shin-heng, biar kuhabiskan sekali jiwanya!" serunya dengan girang kala Tong Ko rubuh. Maju kemuka dia ayunkan pedang untuk menusuk, hai....., diluar dugaan tubuh Tong Ko itu dapat menggelundung untuk menghindar.

Memang walaupun terluka sampai pingsan, tapi Tong Ko hanya menderita luka luar. Berkat kemajuan Iwekang yang diperolehnya, dalam sekejab saja dia sudah siuman lagi. Baru membuka mata atau sinar ujung pedang Tay- keng sudah menusuk kedadanya. Dalam sibuknya, terpaksa Tong Ko bergelundung kesamping. Benar dia terluput dari kematian, namun tak urung dadanya tergores dengan ujung pedang hingga berlumuran darah.

Dengan sigapnya Tong Ko segera loncat bangun. Kini keadaannya menyerupai seorang manusia darah. Hiat-dii dan Tay-keng saling memberi isyarat, yang satu dari kiri dan yang lain dari kanan, mereka menghampiri dengan send iata terhunus, Tong Ko buru2 meleset keatas sebuah batu. Kini dia tak takut menghadapi ancaman maut itu, hanya yang disesalkan dengan adanya seorang penghianat macam Tay-keng, dikuatirkan nanti para perserekatan orang gagah itu akan mendiadi korban semua. Sebelum Tay-keng dilenyapkan, rasanya dia enggan mati dulu.

Dengan kebulatan hati itu, dia kerahkan seluruh tenaganya untuk memeluk batu besar itu yang beratnya beratus kati. Bagian yang kasar dan runcing dari batu itu tatkala menempel pada luka2 ditubuhnya, sakitnya bukan olah2 darah makin mencucur deras. Namun dia kertek gigi, dia angkat batu besar itu. Ketika Tay-keng hampir dekat, dengan menggerung keras dan tanpa pedulikan ancaman serangan dari Hiat-ji, Tong Ko lontarkan batu itu kearah Tay-keng.

Bermula Tay-keng menganggap sepi akan Tong Ko yang sudah terluka parah itu. Maka mimpipun tidak dia, kalau anak muda yang sudah seperti kerangsokan setan itu dapat mengeluarkan kesaktian yang begitu menakjubkan. Wut, sedemikian hebat deru angin yang ditimbulkan lontaran itu. Saking gugup tak keburu menghindar, Tay-keng menangkis dengan pedangnya, krek...., kutunglah pedang Itu menjadi dua dilanggar oleh batu. Tay-keng dengan sebatnya Ioncat menyingkir, namun tak urung lututnya terbentur juga oleh batu itu, hingga tulangnya remuk. Seperti sebuah layang2, Tay- keng terlempar bebrapa meter jauhnya sebelum dia terhampar ditanah.

Tong Ko belum puas. Dengan beringas dia hendak menghajar Iagi pemuda penghianat itu. Tetapi pada saat itu, Hiat-ji sudah memapakinya dengan sebuah sabatan liong-kau-pian kearah kakinya. Sekali pian itu disentakkan, maka Tong Ko terlempar sampai 4 tombak jauhnya. Tanah disitu, semua terdiri dari batu2. Tubuh Tong Ko itu tak hanya sekali saja jatuhnya tapi ber- gulung2, sampai beberapa kali. Kini2 benar dia menyerupal seorang manusia darah. Menganggap bahwa Tong Ko pasti binasa karena luka2-nya itu, Hiat-ji tak mau mengejar. Sambil tertawa menghina dia selipkan liong-kou-pian kepinggannya.

Se-konyong2 dari arah semak rumput terdengar suara berkerontalan dan muncullah seseorang dengan senjatanya sebatang garu ikan berujung tiga. Pada ujung garu itu, dipasangi gelangan baja. Dan gelangan itulah yang mengeluarkan bunyi kerontangan tadi. Diatas senjata penggaru itu, melekat seekor macan tutul yang sudah tak bernyawa. Dan tahu2 pula, bangkai macan tutul itu dilemparkan pada Tong Ko. Seketika itu juga, tubuh Tong Ko serasa dikerudungi oleh sebuah selimut empuk dan hangat. Hai....., kiranya bangkai macan tutul itu hanya terdiri dari kulit binatang itu saja. Sewaktu Tong Ko mendongak, didapatinya bahwa penolong nya itu adalah seorang wanita dari pertengah umur. Wajahnya hitam manis, dandanannya macam wanita pencari ikan. Baru2 Tong Ko hendak berbangkit untuk menghaturkan terima kasih.

"Siao-hengte, kau sudah menjadi seorang manusia darah, jangan ber-gerak2, rebahlah!" Wanita itu mendahului mencegahnya. Dan dengan tangkasnya dia guratkan ujung senjatanya itu 3 kali keatas kulit macan tutul. "Lekas tempelkan lembaran kulit macan tutul itu pada luka2mu. Itu dapat mencegah pendarahan. Kalau keliwat banyak mengeluarkan darah, jiwamu pasti takkan tertolong lagi!"

Tong Ko mengerjakan perintah itu. Kesemuanya itu berlangsung dalam waktu beberapa detik saja, sehingga walaupun Hiat-ji mengetahui akan kejadian itu, tapi dalam saat2 itu" dia hanya terlongong2 saja. Hanya Tay- kenglah yang walaupun tak dapat ber-kutik karena terluka, sadar apa yang akan terjadi kalau Tong Ko sampai lolos.

"Shin-heng, Mo locianpwe, janganlah anak itu sampai bisa lolos, atau jerih payah kita selama ini akan sia2 saja nanti!" serunya memperingatkan Hiat-ji dan siorang tua kate.

"Jangan kuatirl" sahut Hiat-ji seraya maju menyerang dengan liong-kau-pian. Melihat senjata yang dimainkan anak itu adalah liong-kau-pian, berserulah siwanita tadi: "Hai, kiranya kau ini adalah orang dari keluarga The. Dahulu aku adalah sahabat karib dari The Ci-liong. Anak itu terluka parah, usah kau menyiksanya lagi!"

Sebagai tokoh persilatan laut, wanita itu kenal akan soal usul dan pemilik liong-kau-pian itu, yani The Ci- liong. The Ci-liong memberikan pian pusaka itu pada puteranya, The Som. Oleh The som, pian itu kemudian diberikan kepada Soa-Kim-kong Ciang Toa-lo. 

”Aku orang she Shin, jangan ngacau balau tak keruan!" Sa hut Hiat-ji yang tak mengetahui riwayat liong-kau-pian yang dicekalnya itu. Malah sekali melesat, dia menyelinap disisi wanita itu untuk menghajar Tong Ko lagi,

"Ah, kita adalah orang sendiri, mengapa saling bunuh?" Didahului dengan helaan napas, wanita itu berseru sembari lintangkan senjata garunya menghadang tobrosan Hiat-ji. Hiat-ji marah, dia sambar garu itu dengan tangan kiri dan terperanjatnya bukan main ketika didapati bahwa senjata itu terbuat dari bahan besi. Dia menarik dan mendorong se-kuat2nya, tetapi sedikitpun tak bergeming. Ini makin menambah keherannya dan buru2 melepaskannya sembari menyurut kebelakang.

"Siapa namamu berani mengadu biru padaku?" tegurnya dengan keras.

Wanita itu kedengaran tertawa, sahutnya: "Terhadap seorang penghuni rimba, mengapa perlu menanyakan nama? Pergilah jangan mengganggu anak itu lagi!"

Sudah tentu Hiat-ji tak mau, lalu menyerang dengan liong-kau-pian. Dengan seenaknya saja, wanita itu gerak2an senjata garunya yang hampir 2 meter panjangnya itu untuk mencegah Hiat-ji merapat maju. Tampaknya gerakaannya itu tak sesuai dengan permainan ilmu silat, namun kemana ujung garu itu menusuk kesitulah liong-kau-pian pasti terpapak. Hiat-ji tak dapat berbuat apa, kecuali main mundur. Dalam sekejab saja, sepuluh jurus telah berlangsung dan kini barulah Hiat-ji insyaf kalau bukan tandingannya wanita itu. Buru2 dia loncat menyingkir seraya meneriaki suhunya: "Suhu, apa yang dikatakan Tio-heng tadi memang benar. Kalau si Tong Ko berhasil lolos, usaha kita tentu gagal semua dan bagaimana nanti pertangungan jawab kita dihadapan baginda?"

Siorang tua kate itu tertawa berkelutukan. Dengan mengibas-kibaskan bajunya dan bergontai tubuh, dia maju kemuka. Dalam pada itu, siwanita tampak mengawasi Tong Ko dengan kejut keheranan, tegurnya: "Sahabat kecil, apakah kau ini Tong Ko?"

Setelah melekatkan kulit macan tutul tadi pada badannya, "luka2 Tong Ko sudah tak mengucurkan darah lagi. Dia sangat menerima kasih kepada pertolongan wanita itu. Ditegur dengan nada se-olah2 sudah mengenalnya, ter-sipu2 Tong Ko menyahut: "Memang wanpwe ini benar Tong Ko, entah siapakah gelaran yang mulia dari cianpwe ini?"

"Nanti kau pasti mengetahui sendiri", ujar wanita itu sambil tertawa. Nada kata2nya makin ramah. Berpaling kearah Hiat-ji, berkatalah wanita itu: "Sahabat kecil ini, justeru orang yang hendak kami cari. Baiklah kalian jangan mengganggunya lagi dan lekaslah tinggalkan tempat ini. Apabila suamiku sampai tiba kemari, oleh karena perangainya tak sesabar aku, kalian pasti akan mengalami hal2 yang tak diinginkanl" .

Huh....., gila perempuan itu. Kalau suhuku turun tangan, suamimu nanti hanya pasti akan mendapatkan kau sudah mendiadi bangkai, demikian pikir Hiat-ji. Karena itu dia hanya ganda tertawa, tak mau menyahut.

Siorang kate tadi sudah berada pada jarak dua tombak dari siwanita dan lalu menuding: "Dengan bergegaman hi-jat (garu) itu, kalau tak salah toasoh ini tentulah tokoh keluarga The, Ciok, Wa dan Chi yang malang melintang dilautan bukan?"

Siwanita terkesiap mendengar nada suara sikate yang kering melengking seperti anak kecil itu. la duga, sikate itu tentu bukan tokoh sembarangan.

"Benar, aku orang she Ciok, nama Siao-lan, salah seorang dari keluarga yang kausebutukan itu," sahutnya.

Sikate menengadah kelangit dan lepaskan tetawanya yang panjang. "Dengan kepandaianmu yang dangkal itu, bagimana toasoh hendak jual lagak dihadapanku?" Berbareng dengan ucapannya itu, sikate sudah loncat kemuka lalu ulurkan kedua tangannya untuk menangkap senjata hi-jat Siao-lan. Selama 20-an tahun lamanya, Ciok Siao-lan digelari orang sebagai Lamhay hi li (gadis pencaril ikan dari Laut Selatan). la disegani karena senjatanya hi-jat itu. Sejak belasan tahun menyepi, didalam rimba pegunungan Sip-ban-tay-san, ia berhasil mendapatkan sebuah kitab pusaka. Sudah tentu kiai ia jauh lebih lihay dari 20 tahun yang lampau. Namun tak urung ia terperanjat dan kagum juga akan gerakan yang secepat kilat dari siorang tua kate itu tadi.

"Ai, sahabat, bagus nian kepandaianmu itul" serunya dengan tertawa karena ia tak berhasrat untuk mencelakai seorang tua macam sikate itu.

"Ha, kepandaian yang sebenarnya, masih ada dibelakang nantil" dengan tertawa aneh sikate tarik sepasang tangannya. Seketika itu Siao-lan rasakan ada sebuah tenaga dahsyat mendorongnya hingga dia terlempar kebelakang, sedang hi-jatnyapun sudah berpindah ketangan sikate.

Begitu merampas hi-jat, sikate tertawa dingin. Sepasang tangannya diputar2 kekanan kiri dan sendiata yang terbuat dari baja murni itu kini berobah menjadi semacam kuwih untir-untir. Senjata itu oleh sikate lalu dilemparkan kesamping.

"Toasoh, apa katamu?" tanya sikate dengan bangga. "Lwekang yang sakti!" sahut Siao-lan.

"Toa-soh, kulihat kaupun hebat. Sepanjang hidupku, aku  gemar  mengikat  persahabatan.  Kalau  kau hendak

mencari ketegangan ditempat ini, akupun tak mau mengganggu usik. Jika kau ingin keluar dari pertapaanmu, kutanggung kau pasti akan memperoleh kedudukan tinggi dan kemewahan hidup. Tapi serahkan anak itu padaku".

Belum sempat Siao-lan menjawab, atau. terdengar suara ber-kerontangan dan sebatang hi-jat melayang kearahnya. Cepat2 ia menyambutinya. Kini hi-jat yang tadinya sudah menjadi untir-untir itu, sudah lempang lagi. Siao-lan berpaling kearah semak belukar dari mana hi-jat tadi melayang, lalu tertawa, se-akan2 ia  sudah tahu siapakah yang melempangkan dan melemparkan hijat itu.

"Lwekang sahabat memang tlnggi, tapi tetap aku hendak mohon pengajaran barang bebrapa jurus saja!" serunya sembari putar hi-jat.

Ada istilah persilatan yang mengatakan begitu: "Tombak takut. bundar, pian jeri lurus". Artinya kalau orang dapat memainkan tombak hingga menjadi sebuah lingkaran dan dapat memainkan pian dengan gaya yang lurus, orang itu pasti adalah seorang ko-chiu (akhli) yang jempolan. Hi-jat yang dimainkan Siau-lan itu dapat berobah gayanya macam sebatang tombak. Suara putarannya men-deru2. Dari sini dapat diketahui, sampai dimana ilmu kepandaian Siao-lan sekarang ini.

Siorang tua kate melangkah setindak kesamping. Terhadap ancaman Siao-lan, dia tak menghiraukan. Tetapi terhadap orang yang dalam beberapa detik saja telah dapat melempangkan hi-jat yang sudah bengkak bengkok itu, benar2 dia menaruh kewaspadaan. Rumput semak2 disitu, tingginya melebihi orang, pula sangat lebat sekali. Jadi betapapun tajamnya sang mata, tetap orang kate itu tak mengetahui siapa yang bersembunyi didalam situ.

"Toasoh, kau hendak bertanding satu lawan satu atau dua lawan satu?" tegurnya sambil perdengarkan tertawa sinis.

"Sudah tentu satu lawan satul" "sahut  Siao-lan sembari maju menusuk. Sikate menyambar ujung hi-jat lalu dipelintirnya dan lagi2 hi-jat itu menjadi melengkung bengkok pula.

Kini barulah Siao-lan benar2 tunduk akan lwekang yang lihay dari siorang tua kate itu. la insyaf bukan lawannya.

"Aku mengaku kalahlah. Lwekangmu memang jauh melebihi akul" serunya sembari lepaskan cekalan tangannya dan mundur kebelakang.

Siorang tua kate itu sangat bernapsu hendak memikat keluar orang yang bersembunyi tadi, Ingin benar dia mengetahui siapakah gerangan tokoh yang lihay itu. Sejak dia tinggalkan daerah barat dan berkunjung kekota raja, tugasnya yalah untuk membasmi 'tokoh2 persilatan didaerah Kwitang dan Kwisay. Bahwasanya orang yang bersembunyi itu dapat melempangkan lagi hi-jat tadi, membuktikan kalau dia itu seorang jago yang lihay.

"Toasoh, jangan pergi dahulu!" serunya sembari mengejar sembari mutar hi-jat itu. Loncat keatas dia menggertak Siao-lan dengan sebuah tusukan.

Siao-lan terkejut, terus menyusup masuk kedalam semak. Kini siorang kate yang terkesiap heran. Tadi dia meluncur dari atas, tapi mengapa tak nampak jejak siwanita itu sama sekali. Dan kejutnya itu makin memuncak, ketika tiba2 ada dua buah angkin pelangi (sabuk kain berwarna) meluncur keluar dari semak2 itu. Yang sebuah, seperti ular merayap kebawah menuju kearah Tong Ko sedang yang satu lagi, laksana seekor naga melayang menyambar kearahnya. Yang diketahui angkin itu kurang lebih 2 meter lebarnya, tapi mana pangkalnya tak kelihatan karena masih berada dalam semak. Warnanya gilang gemilang, warna yang hanya terdapat pada kain sutera pilihan. Waktu melayang, benda itu menerbitkan deru angin yang keras

Sebagai seorang jago lihay, segeralah siorang tua kate itu mengetahui betapa hebat lwekang orang yang melepaskan itu. Masa angkin sepanjang 4 tombak dapat dibuat menyerang menurut sekehendak hatinya? Insyaf akan bahaya, orang tua kate itu buru2 menyingkir, maka jatuhlah angkin itu ketanah. Tapi begitu jatuh, begitu ujungnya lalu bergerak melayang keatas lagi untuk menyerang kepadanya. Gila, masakan sebuah kain ikat pinggang dapat menyerupai seekor ular hidup!

Dengan gemas, siorang kate itu segera ulurkan tangan untuk menyambarnya, pletek....... seperti meremas sebuah bambu, begitulah bunyi kain angkin itu ketika dicengkeram siorang kate.

Kini angkin itu menjulai kebawah, lemas lunglai seperti kain biasa. Buru2 ditariknyalah angkin itu dari dalam semak. Kiranya kini hanya tinggal sehelai saja, sedang yang sehelai yang merayap kearah Tong Ko tadi, sudah tak kelihatan berikut. sianak muda itu!

Kini tahulah siorang tua kate itu bahwa dia sudah "kena tercocok hidungnya" (diakali). "Hiat-ji, cara bagaimana siaocu tadi menghilang?" tanyanya dengan murka. Tapi tiada penyahutan.

"Hiat-ji, apa kau tak mendengar? Bagaimana siaocu tadi lenyap?!" dia ulangi lagi dengan ketus. Namun si Hiat-ji tetap bungkam. Saking geramnya, sikate lalu berputar untuk menengok dan didapatinya muridnya itu matanya terbelalak ketakutan se-olah2 hendak dipukul orang, tangannya kini sudah tak mencekal pian lagi, sedang tubuhnya kaku tak dapat bergerak.

Siorang tua kate segera tahu bahwa muridnya  itu telah kena ditutuk orang, maka buru2 dihampirinya untuk ditolong. Sewaktu ditutuk punggungnya, Hiat-ji segera muntahkan segumpal ludah kental.

"Bangsat yang tak punya malu, beraninya hanya main membokong saja!" begitu sudah dapat bergerak, begitu mulut si Hiat-ji segera me-maki2. Siorang tua kate memberi isyarat, supaya dia jangan bicara.

"Hiat-ji, kita telah diingusi orang, tak perlu ribut2!" seru sikate sembari mengambil sebuah benda kecil dari dalam bajunya. Benda itu hitam mulus  warnanya. Dengan jari tengah, dijentikkannya benda itu kearah semak2. Waktu melayang benda itu berobah menjadi selarik asap dan ketika jatuh kedalam semak2 segera meledak dengan kerasnya. Disekeliling tempat itu segera menjadi lautan api. Cepat siorang tua kate menarik tangan Hiat-ji untuk diajak loncat menyingkir.

"Huh, sahabat yang suka main unjuk ekor sembunyikan kepala, coba kau mau keluar tidak?" serunya dengan tertawa dingin. Dalam sekejaban saja, semak yang lebat dengan tanaman rumput setinggi orang, telah dimakan api sampai habis. Namun sungguhpun begitu, tetap tiada seorangpun yang tampak keluar dari situ, Siao-lan, Tong Ko dan orang ketiga yang misterius itu tetap hilang. Suatu hal yang meinbuat siorang tua kate termenung dalam 12 pikiran. Sejak dia muncul dari gurun dan datang dikota raja, ilmunya dikagumi dan dijerikan oleh kawanan tay-lwe kochiu (jagoan istana kelas satu). Dalam perjalanannya kedaerah selatan ini, tokoh2 dari pelbagai aliran persilatan pernah dia temui semua. Tapi kali ini benar2 dia ketemu dengan batunya. Seorang misterius yang tak mau unjuk diri itu, rupanya mempunyai kepandaian yang tangguh sekali dan seorang yang cerdik pula!

Dengan hati2 dia maju menghampiri kemuka untuk memeriksanya. Kiranya diujung bekas semak2 itu adalah sebuah lambing gunung yang tiada jalanannya sama sekali. Jadi tak murigkin kalau ketiga orang Itu lari dari situ. Dia makin curiga. Maju pula dua langkah, tiba2 kakinya terasa memijak tanah lunak dan terus terperosok kedalam.

Tahu akan masuk perangkap, buru2 dia empos semangat lalu dengnan gunakan gin-kang (ilmu mengentengi tubuh) dia melambung sampai satu tombak tingginya. Namun sekali pun begitu, tak urung betisnya termakan sebuah anak panah. Dengan menahan sakit, dicabutnya anak panah (paser) itu. Ketika melongok kebawah kiranya iubang rerangkap itu hanya sebuah perangkap biasa yang sering dibuat oleh kaum pemburu. Dia meluncur turun kedalam lubang perangkap itu untuk meriksanya. Pun disitu tiada terdapat sesuatu yang mencurigakan.

Hampir setengah harian, siorang tua kate itu sibuk seorang diri. Siorang misterius tetap tak kelihatan, sebaliknya dia sendiri telah menderita luka. Saking marahnya, dia mengaum bagaikan harimau kelaparan, hingga empat penjuru lembah gunung situ sama2 menggetarkan kumandang suara. yang dahsyat. Itupun tak menolong suatu apa.

"Suhu, lebih baik kita naik kepuncak Thiat-nia, nanti setelah berjumpa dengan kepala suku Thiat-theng-biau, kita rundingkan siasat lebih jauh!" akhirnya Hiat-ji ajukan usul.

Rupanya siorang tua kate itu tiada mempunyai daya lain. Dengan gemas dia menggerutu panjang pendek. Pun si Tay-keng dengan ber-ingsut2 menghampiri. Mereka berunding dengan kesimpulan bahwa dalam perjalanan nanti harus berlaku waspada karena menghadapi seorang musuh lihay yang tak kelihatan.

---oo^dwkz0tah^oo---
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Heng Thian Siau To BAGIAN 13 : DI GUNUNG SERIBU"

Post a Comment

close