BPEHK Bagian 04 : Persahabatan

Mode Malam
 
Bagian 04 : Persahabatan 

I

Jian-jian dengan kepala tertunduk menghirup arak dalam cawannya. Arak itu berwarna hijau pupus.

Cahaya lampu berwarna merah memancar keluar dari balik kain cadar tipis menyinari di atas tangannya. Sebuah tangan yang putih, mulus dan indah.

Sepasang mata Kim Cwan masih terpancang kaku di atas tangannya yang lembut itu, mengawasinya tanpa berkedip. Kini dia sudah tak perlu mengintipnya secara sembunyi- sembunyi. Apapun yang ingin dia lihat, dia akan memandangnya secara langsung.

Kini, waktu tinggalnya di kamar gadis tersebut makin lama semakin panjang, sudah bukan pekerjaan yang gampang untuk mengusir pemuda tersebut dari tempat itu. Lambat laun gadis itu sudah dianggapnya sebagai barang milik pribadinya.

Jian-jian masih tertunduk mengawasi pakaian yang di- kenakannya. Pakaian hijau muda yang bening bagai air telaga, bordiran berwarna hijau menghiasi sisi pakaiannya. Bukan cuma terbuat dari bahan yang mahal harganya, jahitannya pun sangat rapi dan indah. Itulah pakaian pemberian Kim Cwan kepadanya.

Selama berapa hari belakangan, apa yang dimakan, yang dipakai, yang digunakan, semuanya berasal dari kocek di pinggang pemuda itu. Kini ia semakin sadar, semakin tak gampang baginya untuk menyingkirkan pemuda tersebut dari hadapannya.

Apalagi pada malam ini, tampaknya ia sudah memutuskan untuk tetap tinggal dalam kamar itu, ia sudah kelewat banyak menenggak air kata-kata.

Entah siapa pun orangnya, bila ingin mendapatkan sesuatu maka ia harus rela mengorbankan segala apa pun.

Khususnya bila kau membiarkan seorang pria rela me- ngorbankan diri demi dirimu, maka kau pun wajib mengorbankan sesuatu demi dirinya.

Dalam hati Jian-jian menghela napas, ia sudah siap melakukan pengorbanan. Tapi... berhargakah pengorbanan tersebut?

Sinar lampu menyoroti juga wajah Kim-cwan, terus terang ia terhitung juga seorang lelaki tampan yang menarik hari, selain ganteng dan lembut. Ia pun mengerti mengambil hati seorang wanita, tahu bagaimana caranya membuat gembira seorang perempuan. Dia kelihatan seakan-akan selamanya bersih. Namun di balik kerangka tubuhnya yang kelihatan bersih itu sebenarnya tersembunyi sebuah hati macam apa?

Jian-jian tak berani membayangkan, ia kuatir jadi muak bila memikirkan persoalan tersebut. Apa yang harus dipikirkan sekarang adalah, bisa dipercayakah lelaki ini? Sungguh- hatikah dia melindungi dirinya? Benarkah dia berasal dari keluarga yang baik, yang bisa diandalkan?

Secara sembunyi-sembunyi ia coba melirik kantung goanpo yang tergantung di pinggangnya. Selama berapa hari belakangan boleh dibilang seluruh pengeluarannya berasal dari dalam kantung kulit itu.

Kim Cwan bukan termasuk orang pelit, tapi kini masih tersisa berapa banyak isi kantung goanpo tersebut?

Membayangkan hal semacam ini, ia mulai merasa muak dan pingin tumpah, tapi bagaimana pun jua ia mesti memikirkan masalah tersebut.

Boleh saja ia tidak memikirkan kepentingan pribadi, tapi ia mesti berusaha mencarikan seorang ayah yang bisa dipercaya bagi jabang bayi yang masih berada dalam rahimnya.

Tentu saja beda bila pengorbanan tersebut demi Siau Lui. Demi dia, ia rela tidur dalam istal kuda, rela minum air putih saja tiap hari, karena ia sangat mencintainya.

Demi lelaki yang dicintainya seorang perempuan memang rela merasakan penderitaan macam apa pun. Entah berapa besar siksaan yang harus mendera dirinya, berapa berat beban yang harus dipikulnya, ia rela menerima semuanya itu tanpa berkeluh kesah.

Tapi bila ia harus berkorban demi seorang lelaki yang sa ma sekal i tak dicintainya, maka semuanya itu harus dibayar dengan suatu imbalan yang setimpal.

Dalam situasi seperti ini, perempuan selalu berpikir lebih cermat, lebih matang dan lebih jauh ketimbang seorang lelaki, dan biasanya lebih berkepala dingin.

Jian-jian masih menunduk mengawasi cawan kosong di hadapannya dengan termangu. Kim-cwan juga lagi mengawasinya, tiba-tiba tegurnya sambil tertawa, "Apa yang sedang kau pikirkan? Ingin mengusir aku dari sini?"

"Mana berani aku mengusirmu?" sahut Jian-jian semakin tertunduk rendah. "Tapi..."

"Tapi kenapa?"

"Aku... aku selalu merasa ... kita tak boleh gegabah dan tergesa-gesa dalam memutuskan masalah sebesar ini, kau seharusnya pulang dulu dan beritahu persoalan ini kepada orang-tuamu."

Kim Cwan termenung.

"Aku mengerti, mungkin kau anggap aku kelewat bawel, kelewat banyak urusan," sambung Jian-jian lagi. "Tapi... Aku hanya seorang perempuan sebatang kara yang tak punya apa- apa, tak punya teman, tak punya sanak, jika di kemudian hari..."

Tiba tiba wajahnya berubah jadi merah padam, sambil menggigit bibir terusnya, "Jika di kemudian hari kau jahat padaku, membuat aku menderita... paling tidak aku masih punya satu jaminan."

Perkataan itu diutarakan sangat lirih, amat mengenaskan, tapi artinya sangat jelas, yaitu bila kau pingin dapatkan aku maka orang-tuamu harus jadi jaminan, orang-tuamu harus melamarku secara resmi dan menikah secara resmi pula.

Sesungguhnya prasyarat semacam ini tidak termasuk berlebihan, siapapun itu orangnya, bila seorang wanita sudah bersiap siap melakukan pengorbanan, mereka tentu akan mengajukan juga syarat yang sama.

Kembali Kim Cwan termenung, sampai lama kemudian ia baru menghela napas panjang, katanya, "Tampaknya aku belum pernah bercerita tentang asal usulku selama ini?"

"Yaaa, belum pernah."

"Aku sama seperti kau, seorang yatim-piatu yang sudah kehilangan ayah dan ibu, bahkan teman pun hanya ada satu dua."

Jian-jian merasa hatinya seolah-olah tenggelam, bagai seseorang yang tenggelam di tengah samudra luas, tiba-tiba saja ia merasa balok kayu yang hendak dipegang sebagai penopang hidupnya ternyata hanya balok kayu keropos yang kosong dan nyaris hampir tenggelam pula di tengah laut.

Kim-cwan kembali memandang ke arahnya sambil menyeringai, menampilkan sekulum senyuman yang amat licik, tapi dengan nada suara yang tetap lembut ia berkata, "Justru karena kita sama-sama orang yang terlunta dan sebatang kara, maka kita wajib saling menopang, bukan begitu?"

Jian-jian tidak menjawab, ia tak tahu harus berkata apa?

Saat itulah tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda dan suara keleningan nyaring bergema dari kejauhan, irama keleningan itu amat merdu bagaikan pualam.

Berdetak keras jantung Jian-jian mendengar suara tersebut, ia tahu siapa yang telah datang.

Sore tadi sewaktu mereka sedang beristirahat minum teh, ia sudah bersua dengan kelompok manusia tersebut. Padahal hanya satu orang yang dilihatnya.

Usia orang itu belum terlalu banyak, dibandingkan dengan yang lain malah kelihatan paling muda, tapi siapapun yang memandang ke arahnya, dalam sekilas pandang saja pasti akan tahu bahwa dia adalah majikan dari kelompok manusia tersebut.

Ini bukan dikarenakan pakaian yang dikenakan lebih mewah dan halus ketimbang orang lain, bukan disebabkan keleningan emas yang tergantung di kudanya, juga bukan lantaran pedang bertaburkan batu pualam yang tergantung di atas pelananya.

Kesemuanya ini hanya disebabkan pancaran sinar matanya, penampilannya dan gerak-geriknya. Ada sementara orang yang seolah-olah selalu tampil lebih anggun dan berwibawa ketimbang orang lain, dan dia termasuk manusia macam ini.

Perawakan tubuhnya tinggi, tatkala berdiri dalam kerumunan manusia, ia seperti burung bangau berdiri di tengah kerumunan ayam. Wajahnya termasuk tampan, gerak-gerik dan tindak- tanduknya selalu pakai aturan dan tata krama, namun pancaran sinar matanya menampilkan hawa kesombongan yang tak terlukiskan dengan kata, seolah-olah ia tak pernah pandang sebelah mata pun terhadap orang lain.

Namun sejak pandangan matanya yang pertama ditujukan ke arah Jian-jian, sorot mata tersebut seakan-akan selalu mengawasi gerak-gerik gadis itu, ia seperti tak perlu merasa kuatir, tak perlu takut dan tak merasa harus berpantang melakukan tindakan macam itu.

Biasanya bila seseorang sudah memandang orang lain dangau pancaran mata semacam ini, bila dia ingin mendapatkannya maka dengan cara apapun ia pasti akan berusaha untuk mendapatkannya. Apakah dia ingin mendapatkan Jian-jian?

Debaran jantung Jian-jian semakin keras. Tadi, secara jelas ia menyaksikan gerombolan manusia itu bergerak menuju ke arah yang berlawanan, mengapa sekarang bisa balik lagi kemari?

Mungkinkah dia balik lantaran dirinya?

Kim Cwan juga telah mendengar suara keleningan yang bergema dari luar kamar, tiba-tiba ia bangkit berdiri, menurunkan tirai jendela dan mengunci pintu kamar rapat- rapat. Paras mukanya kelihatan telah berubah jadi pucat kehijau-hijauan.

Tiba tiba Jian-jian teringat kembali, sore tadi sewaktu ia bertemu pemuda tersebut Kim-cwan juga menunjukkan perubahan wajah semacam ini, malah dengan cepat ia tarik tangannya, mengajaknya masuk ke dalam kereta.

Mungkinkah dia sangat takut dengan orang ini? Tapi siapakah dia?

Waktu itu Jian-jian seperti mendengar orang lain memang- gilnya sebagai "Siau Ho-ya," tapi secara lamat-lamat diapun sempat membaca huruf "Tio" yang amat besar tersulam di atas sarung golok para pengikut yang menyertainya. Waktu itu ia tidak mendengar terlalu jelas, juga tidak melihat terlalu jelas, tak baik bagi seorang perempuan macam dia untuk memperhatikan gerak-gerik pria lain secara berani dan terang-terangan. Tapi, bila ia betul-betul tidak mendengar, benar -benar tidak melihat, darimana bisa mengetahui persoalan tersebut?

Kuda telah berhenti berlari, suasana di luar kamar sudah mulai tenang kembali.

Paras muka Kim Cwan yang pucat pias kini sudah berubah normal kembali. Sesudah meneguk beberapa cawan arak dan terbatuk ringan, katanya, "Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku tadi?"

"Tadi... Tadi... Kau bicara apa?"

"Manusia macam kita berdua sudah ditakdirkan untuk hidup dan kumpul bersama, jika bukan aku yang baik kepadamu, siapa lagi yang akan baik kepadamu...? Masa kau masih ragu dan menguatirkan hal lain?"

Tiba-tiba Kim Cwan menggerakkan tangannya dan meng- genggam tangan gadis itu erat-erat.

Jian-jian tidak meronta, ia biarkan tangannya digenggam pemuda itu, bagaimana pun jua ia tak boleh bersikap kelewat dingin dan hambar terhadapnya.

Tapi... ternyata gerak tangannya diikuti dengan gerakan rubuhnya, dengan memakai tangannya yang lain Kim Cwan merangkul pinggang Jian-jian kuat-kuat, bisiknya, "Jian-jian. .. tahukah kau, sejak pandangan mata pertama dulu aku sudah jatuh cinta kepadamu...? Aku sudah amat menyukaimu."

Dengan suara yang lebih lembut dan halus, kembali lanjutnya, "Semenjak hari itu, aku tak pernah bisa melupakan kau walau hanya sedetik pun... bahkan sampai waktu bermimpi pun aku selalu memimpikan dirimu... aku sering bayangkan seandainya kau..."

Di tengah malam yang dingin, dalam ruang kamar yang sepi, dalam redup cahaya lampu yang remang-remang, berapa banyak wanita yang bisa melawan bujuk rayu seorang lelaki terhadapnya? Tapi dengan sigap Jian-jian memotong rayuannya itu.

"Jadi kau selalu berharap aku bisa segera ribut dengan Siau Lui? Segera berpisahan dengan Siau Lui agar kau mendapat kesempatan untuk mendapatkan aku?"

Berubah hebat wajah Kim Cwan, tapi masih memaksakan diri untuk tertawa sahutnya, "Kau kan sudah berjanji tak akan mengungkitnya lagi selamanya, tak akan memikirkannya lagi selama hidup?"

Paras muka Jian-jian yang semula lembut tiba-tiba ikut berubah jadi dingin beku bagaikan salju, katanya, "Sebenarnya aku memang tak ingin memikirkan dia lagi, tapi setiap kali aku melihatmu secara otomatis akan teringat pula dengannya, karena kalian berdua adalah sahabat karib, tidak sepantasnya kau berbuat demikian terhadapku."

Kini paras muka Kim Cwan benar-benar berubah hebat, dia merasa seolah-olah ditampar keras wajahnya secara tiba-tiba. Jian-jian tertawa dingin, memandangnya dengan pandang-

an sinis.

Semestinya dia tak pantas mengucapkan kata-kata semacam ini, seharusnya ia menahan diri, merelakan dirinya sedikit tersiksa, sedikit menuruti kemauannya, demi penghidupan. Demi masa depan jabang bayi yang dikandungnya, seharusnya dia mau menerima semua penderitaan termasuk mengorbankan tubuhnya uni u k pemuda tersebut

Bukankah banyak perempuan di dunia ini yang rela badannya diacak-acak lelaki hidung belang hanya disebabkan demi kehidupan diri? Tapi sekarang tampaknya situasi telah berubah secara tiba-tiba.

Timbul suatu perasaan yang aneh dalam hati Jian-jian waklu itu, ia merasa mendapat kesempatan emas untuk meraih sesuatu yang lebih tinggi, sesuatu yang lebih berharga ketimbang yang sudah ada di depan mata sekarang.

Sejak kapan perasaan aneh semacam ini muncul dalam hatinya? Ia sendiri juga tak jelas. Perempuan memang seringkali bisa muncul perasaan aneh macam ini, semacam naluri hewan buas atas buruannya.

Tanpa memiliki kelebihan semacam ini memang sulit bagi kaum wanita untuk hidup tenang di dunia milik lelaki macam ini.

Jian-jian sudah tidak menunduk, dia angkat kepalanya tinggi-tinggi.

Kim Cwan sangat geram, dengan mata yang melotot besar penuh garis-garis merah darah dia awasi gadis itu tanpa berkedip, serunya, "Kau bilang tidak sepatutnya aku berbuat demikian? Tahukah kau, kenapa aku bisa berbuat begini kepadamu?"

"Kenapa?"

"Karena kau! Kaulah yang suruh aku berbuat demikian, sejak awal hingga kini kau selalu merayuku, selalu memancingku, menjebakku!"

Jian-jian tertawa, tertawa dingin... bila seorang wanita sudah menjawab ucapanmu dengan tertawa dingin, jika kau seorang lelaki cerdas, lebih baik cepatlah angkat kaki dan tinggalkan dia jauh-jauh!

Sayang Kim Cwan sudah tidak merasakan hal itu, seolah- olah dia tak mendengar tertawa dingin gadis itu, kembali katanya, "Bila kau tidak menjebakku, tidak merayuku, kenapa kau buatkan pakaian untukku? Kenapa secara diam-diam kau robek bajuku dan kemudian pura-pura menambalkan?"

Jian-jian tertegun.

Tiba-tiba Kim Cwan tertawa keras, tertawa kalap, sambil menuding gadis itu teriaknya, "Kau anggap aku tak tahu apa- apa? Kau kira aku goblok? Seorang lelaki dungu yang tak punya otak? Kau anggap aku benar-benar sudah terpikat oleh rayuan dan kemolekan tubuhmu?"

Jian-jian hanya memandangnya, dia merasa seperti lagi memandang seorang asing yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Ia memang baru pertama kali ini melihat jelas manusia macam apakah dia itu. Ternyata hati yang tersembunyi di balik rongga tubuhnya yang bersih dan rapi itu bukan saja jauh lebih memuakkan, jauh lebih menyebalkan daripada yang dibayangkan semula, hatinya juga lebih kejam dan sadis dari perkiraannya semula.

Apa yang menyebabkan semua kedok kemunafikan dan kepura-puraannya terbongkar? Arakkah? Atau ia sudah sampai pada taraf di mana mustahil untuk mendapatkannya lagi dengan segala akal muslihat?

Bagaimana pun juga, belum termasuk kelewat terlambat gadis itu mengetahui kedok kemunafikan serta kebohongannya.

Dengan tenang Jian-jian berdiri di situ, kini hubungan mereka sudah buntu, sudah tak mungkin untuk berbicara lagi, sudah tiba saat baginya untuk pergi dari situ.

Walau ia tahu dengan pasti, begitu keluar dari situ berarti sulit baginya untuk hidup terus, tapi ia tetap harus pergi dari situ. Karena perasaan hatinya terhadap pemuda itu sudah mati, sudah membeku.

"Kau masih ingin pergi?" tiba tiba Kim Cwan menghardik sambil melotot.

Jian-jian tertawa, hambar sekali tawanya. Dalam kondisi dan situasi semacam ini, suara tertawanya lebih banyak mengandung nada kesal, menyesal dan mencemooh.

Ia melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan ruangan, tiba-tiba Kim Cwan melompat ke depan, menyambar pinggangnya dan memeluk erat-erat.

Kini tangannya sudah mulai kurang-ajar, mulai tak pakai aturan lagi. Dia mulai menggerayang, meraba sekujur tubuh gadis itu, dengan napas terengah-engah dan menyeringai seram katanya, "Kau memang seharusnya menjadi milikku, jangan salahkan kalau aku akan berbuat kasar... Aku harus menikmati tubuhmu..."

Jian-jian meronta keras, tapi pelukan itu terlalu kuat, ia tak sanggup melepaskan diri. Akhirnya tak tahan ia mulai berteriak keras, "Lepaskan aku... biarkan aku pergi..."

Pada saat itulah tiba-tiba pintu kamar dibuka orang. Padahal pintu itu sudah terkunci dari dalam, tapi saat ini, entah karena apa ternyata kunci itu seperti lapuk, sama sekali tak berguna.

Cahaya lentera menyorot keluar dari balik pintu, menyinari tubuh seseorang.

Orang itu berperawakan jangkung, bajunya putih bersih bagai salju, sebuah ikat pinggang pulih kemala yang lebar melilit di alas pinggangnya,kecuali itu tak nampak perhiasan lain di tubuhnya. Ia memang tak butuh perhiasan apa pun untuk menghiasi tubuhnya.

Sambil bergendong tangan ia berdiri tenang di luar pintu, mengawasi Kim Cwan dengan sinis, sinar matanya memancarkan tigapuluh persen perasaan menghina dan tujuhpuluh persen rasa muak dan sebal, katanya hambar, "Sudah kau dengar perkataannya?"

Berubah hebat paras muka Kim Cwan setelah menyaksikan kehadiran orang itu, sekujur tubuhnya seolah-olah berubah jadi kaku secara tiba-tiba, sampai lama kemudian ia baru mengangguk dengan terpaksa.

Jantung Jian-jian ikut berdebar keras, ternyata perhitungannya tidak meleset, ia betul-betul balik ke situ mencarinya, dan ternyata muncul tepat waktu. Dia pun sadar, setelah kemunculannya kembali di situ, ia tak mungkin melepaskan dirinya begitu saja.

Tuan "Siau Ho-ya," tiga huruf kata yang penuh rangsangan, penuh godaan, cukup bikin bergetar perasaan anak gadis manapun.

Apalagi ia masih terhitung seorang lelaki tampan yang gagah dan menarik hati.

Jian-jian pejamkan matanya, apa yang didoakan, yang diharapkan kini sudah muncul di depan mata, belum pernah sedekat ini pada masa yang silam.

Kehidupan yang serba mewah, serba terhormat, sandang- pangan yang berlimpah, harta kekayaan yang menumpuk setinggi bukit... gemerlapan cahaya intan berlian mutu- manikam... dia seolah-olah sudah melihatnya di depan mata, seolah-olah sudah dapat menyentuh dan merasakannya.

Tapi entah kenapa, tiap kali ia pejamkan matanya, yang muncul dalam perasaan hatinya hanya bayangan seseorang.

Seorang lelaki yang keras kepala, terasing, sombong, tak mau tunduk dan menyerah kepada siapa pun... Siau Lui!

Dia telah mendapatkan semua yang ada di dunia ini. Tapi, asal Siau Lui menggapai ke arahnya maka dia rela meninggalkan semuanya itu, rela hidup berkelana bersamanya hingga ke ujung dunia.

Semakin dendam perasaan seseorang, semakin dalam pula perasaan cinta terhadapnya. Bagaimana cara ia menerima semua siksaan ini bila cinta dan dendam telah menggurat dalam dalam di hatinya?

"Aku tak boleh memikirkannya lagi, saat ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan dia!"

Yaaa, kesempatan emas telah tiba, dia harus pandai pandai memegang dan memanfaatkannya.

Kim Cwan telah melepaskan genggamannya, cepat-cepat Jian-jian lari ke depan, bersembunyi di belakang Siau Ho-ya, lalu sambil merangkul kencang lengannya ia berbisik dengan suara gemetar:

"Suruh dia pergi, suruh dia cepat-cepat pergi..." "Sudah kau dengar perkataannya?" tegur Siau Ho-ya

dingin, ia mengawasi Kim Cwan dengan pandangan sinis.

Kim Cwan menggertak gigi kencang-kencang, perasaan marah, benci dan dendam terpancar keluar dari sorot matanya, tetapi ia tak berani membantah. Akhirnya dengan terpaksa ia mengangguk.

"Apa yang dia katakan?" kembali Siau Ho-ya bertanya. "Dia... dia suruh aku pergi dari sini..."

Ketika selesai mengucapkan perkataan tersebut, sekujur badannya telah gemetar keras karena menahan perasaan marah, benci dan penderitaan yang luar biasa. Begitu keras ia gemetar persis seperti seekor anjing yang baru ditarik keluar dari kubangan salju. Sekarang ia dapat mencicipi bagaimana rasanya dikhianati orang, akhirnya dapat ia sadari betapa sakit dan menderitanya perasaan tersebut.

"Kalau toh sudah tahu harus segera pergi dari sini, kenapa kau tidak segera menggelinding pergi?" kembali Siau Ho-ya berkata.

Kim Cwan mengepal tinjunya kuat-kuat, kalau bisa dia ingin sekali menjotos wajah pemuda yang sombong dan menghina itu hingga babak belur.

Siau Ho-ya sama sekali tak ambil perduli kepadanya, bahkan memandang sekejap pun tidak, ia berpaling dan mulai mengamati wajah Jian-jian.

Mengawasi butiran air mata yang masih membasahi wajah Jian-jian, sorot matanya yang dingin tiba-tiba berubah jadi begitu halus dan hangat

Jian-jianmasih terus melelehkan air matanya, entah buat siapa ia mencucurkan terus air matanya itu? Asal Siau Lui mau memandangnya sekejap saja seperti pandangan pemuda ini, asal... Perasaan hatinya makin tertusuk, semakin sakit rasanya... Mendadak dia peluk kencang lengan anak muda itu dan mulai menangis tersedu-sedu.

Siau Ho-ya tidak berkata apa-apa, dia ambil keluar sebuah saputangan dan mulai mengusap bekas air mata di pipinya, bagi mereka, seolah-olah dalam ruangan itu tak ada orang ketiga selain mereka berdua.

Kim Cwan menggertak kencang bibirnya, melotot ke arah mereka dengan sorot mata penuh kebencian, seluruh badannya seperti mau meledak.

Tapi pada akhirnya ia dapat mengendalikan diri, pelan- pelan mengendorkan kepalan tinjunya, lalu dengan kepala tertunduk katanya, "Baiklah, aku pergi dari sini..."

Sedetik sebelum semua peristiwa ini terjadi, apa pun yang berada dalam kamar itu masih menjadi miliknya seorang.

Tapi secara tiba-tiba segala sesuatunya telah berubah, segals sesuatu yang berada dalam ruangan itu kini sudah tak ada sangkut-paut dengan dirinya. Orang yang seharusnya bakal menjadi bini kesayangannya, kini memandangnya dengan pandangan menghina, seakan-akan sedang mengawasi seekor anjing... Seekor anjing yang sangat asing baginya.

Bintang bertaburan di angkasa, dinginnya malam semakin menusuk tulang.

Dengan kepala tertunduk Kim-cwanberjalan keluar dari situ dengan langkah lambat... Berjalan melalui sisi tubuh mereka berdua.

Tak ada yang menggubrisnya, juga tak seorang pun yang memandangnya lagi, walau hanya sekejap saja.

Hanya angin malam yang berhembus dari kejauahan, meniup di atas wajahnya, mendatangkan rasa dingin yang membeku dan menusuk tulang. Dia seakan-akan sudah ditinggalkan oleh dunia ini, ditinggalkan semua yang ada di dunia fana ini.

Ternyata begini pedih, begini menderita dan begini sakit bila dikhianati orang, ditinggalkan orang yang dikasihi.

Sekarang ia sudah paham, sudah mengerti, tapi tak setitik perasaan menyesal pun yang muncul dalam hatinya. Yang tinggal hanya kebencian, hanya rasa benci dan dendam. Dia pun ikut balas dendam.

Kegelapan menyelimuti seluruh kota, mendekam semua jalanan. Sekilas memandang, seolah-olah tak nampak setitik cahaya lentera pun di sana.

Di pinggir jalan masih kelihatan sebuah kedai penjual teh, dalam poci masih tersisa sedikit air teh, sayang airnya sudah dingin.

Kim Cwan berjalan menghampiri, ia duduk di bangku panjang dekat tiang tenda.

Angin berhembus menggoyangkan dedaunan pohon yang tumbuh di tepi jalan, seekor anjing liar berjalan keluar dari balik bayangan pohon sambil mengempit ekornya. Anjing itu seperti mau menggonggong, tapi setelah memandang pemuda itu berapa saat, kembali ia ngeloyor pergi. Mengapa dunia begitu kejam terhadapnya? Siapa yang menciptakan akibat seperti ini? Apakah dirinya sendiri?

Tentu saja dia tak akan berpikir begitu, hanya orang yang paling pintar dan paling jujur yang akan mencoba introspeksi diri setelah mengalami pukulan dan penderitaan hebat semacam ini.

Mungkin saja ia termasuk anak muda pintar, tapi sayangtidak jujur.

"Terserah bagaimana sikap orang lain terhadapku, paling tidak aku toh masih memiliki..."

Berpikir sampai kesitu, tak tertahan sekulum senyuman penuh rasa bangga dan puas tersungging di ujung bibirnya. Tanpa sadar tangannya merogoh ke dalam kantung kulit yang tergantung di pinggangnya.

Dalam saku kulit itu tersimpan butiran-butiran mutiara yang memancarkan sinar tajam serta setumpuk kertas uang yang masih baru.

Tangannya yang tengah merogoh ke dalam saku itu terasa begitu enggan untuk ditarik keluar kembali, sebab semuanya itu merupakan pengharapan terbesar yang dimilikinya saat ini, satu satunya pengharapan yang dimilikinya.

Asal tangannya masih bisa menyentuh benda-benda tersebut, perasaan hangat dan puas segera akan muncul menyelimuti perasaan hatinya, dari ujung jari tersalur hingga ke lubuk hatinya yang terdalam.

Perasaan semacam ini bahkan jauh lebih nikmat ketimbang perasaan di kala jari-jemarinya meremas buah dada seorang gadis cantik.

Ia betul-betul sudah terjerumus dalam perasaan tersebut, benar-benar merasa mabuk... dia mulai berkhayal... seolah- olah ada sepasang payudara yang montok dan bulat sedang muncul di hadapannya dan mulai diremas...

II Siau Lui masih berbaring di atas lantai, dia tak tahu sudah berapa lama menangis di situ. Ketika ia mulai mendengar suara isak tangis sendiri tadi, bahkan dirinya pun ikut terperanjat.

Mimpipun ia tak mengira dirinya bisa menangis hingga bersuara, terlebih tak menyangka kalau suara tangisannya bisa begitu menakutkan. Entah berapa tahun berselang ia pernah mendengar suara yang sama seperti itu.

Ia menyaksikan ada tiga ekor serigala liar sedang dikejar sekelompok pemburu, terkejar hingga ke tempat yang buntu dan terpojok di mana hujan panah sedang terarah ke tubuh binatang tersebut dengan derasnya.

Serigala jantan dan serigala betina berhasil bersembunyi di dalam gua, terhindar dari kejaran maut.

Tapi seekor serigala muda yang telah kehabisan tenaga agak terlambat menyelamatkan diri, hingga akhirnya tertembus tiga batang anak panah.

Rupanya serigala betina itu adalah ibunya, tanpa memperduli keselamatan jiwanya ia terobos keluar dari gua ingin menarik putranya yang terluka itu ke tempat yang aman. Tapi pada saat yang bersamaan pemburu itu telah melompat ke hadapannya dan sekali tebas goloknya membabat persis di punggungnya.

Walau tubuhnya sudah roboh bermandikan darah, namun serigala betina itu masih coba meronta sambil tidak melepaskan gigitan di tubuh putranya.

Sayang sekali tenaganya lenyap mengikuti kucuran darah yang mengalir deras, walaupun tinggal dua depa dari mulut gua, ia sudah tak sanggup melarikan diri lagi.

Ketika melihat bininya meronta kesakitan di tanah, serigala jantan itu nampak sangat masgul, sepasang matanya yang abu-abu memancarkan sinar keputusasaan.

Penderitaan serigala jantan itu semakin hebat, tubuhnya mulai gemetar keras, tiba-tiba ia menerobos keluar dari dalam gua dan sekali tubruk menggigit persis di leher serigala betina itu, dia berniat membantu bininya melepaskan diri dari penderitaan.

Tapi sayang para pemburu telah mengepung tempat tersebut. Ketika memandang bangkai bininya tiba tiba saja serigala itu melolong panjang, suaranya sangat mengerikan...

Begitu menyeramkan suara lolongan itu membuat kawanan pemburu itu pun ikut terkesiap.

Kini Siau Lui merasa, suara tangisan yang muncul dari dirinya tadi persis sama seperti suara lolongan sedih serigala itu, membayangkan semuanya ini hampir-hampir saja dia tumpah.

Air mata telah mengering, tapi darah justru mulai mengalir kembali. Menangis, memang termasuk sejenis olah raga yang membutuhkan banyak tenaga.

Jika seseorang benar-benar sedang menangis sedih, bukan saja dia akan menangis dengan segenap perasaannya, bahkan seluruh tenaga yang dimiliki pun ikut digunakan.

Siau Lui dapat merasakan bekas luka bacok di dadanya yang semula sudah menutup, kini mulai robek dan berdarah lagi, tapi dia tak ambil perduli.

Wajahnya yang tergesek batu dan pasir ketika dirinya rebah di tanah tadi juga mulai berdarah, tapi dia tak perduli.

Kegelapan malam telah lewat, hari terang pun sudah menjelang, ia tak tahu sudah berapa lama tidak makan maupun minum, tapi dia tak perduli.

Benarkah ia tak perduli dengan semua persoalan disekelilingnya? Lalu... Mengapa dia menangis?

Dia bukan binatang juga bukan sebatang balok kayu, dia tak lebih hanya ingin memaksa diri agar bisa menerima nasib yang lebih tragis daripada nasib seekor binatang, memaksa diri agar orang lain menganggapnya sebagai sebuah balok kayu walau semuanya ini tidakmudah.

Tiba-tiba terendus bau harum yang terbawa angin, bukan harumnya pepohonan, juga bukan bau harum bunga dari bukit di kejauhan sana. Cepat dia mendongak, tampaklah seorang gadis berbaju putih bersih telah berdiri tegak persis di depan nisan kuburan, gadis itu muncul dengan sikapnya semula, dingin, angkuh dan hambar. Sorot matanya yang indah sama sekali tidak memancarkan rasa iba atau kasihan, dia hanya mengawasinya dengan pandangan dingin.

Ketika melihat ia angkat wajahnya, gadis itu baru menegur dengan suara dingin, "Sudah cukup tangismu?"

Siau Lui tertegun, ia tak mampu menjawab apa pun, tubuhnya kaku bagaikan sebuah balok kayu.

"Bila kau sudah cukup menangis, sekarang berdirilah!" kembali gadis berbaju putih itu berkata.

Siau Lui bangkit berdiri. Sekujur badannya terasa amat lemas bagai seorang bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya, tapi dia berdiri juga...

"Tak nyana hewan pun bisa menangis" kembali gadis berbaju putih itu mengejek sambil tertawa dingin.

Pelan-pelan Siau Lui mengangguk.

"Yaaa, hewan bisa menangis, anjing betina pun bisa menangis," sahutnya.

"Anjing betina?"

"Aku hewan dan kau anjing betina!"

Pucat pias wajah si gadis berbaju putih itu, namun ia tidak marah, malah katanya sambil tertawa, "Bila semua perempuan yang kau kenal adalah anjing betina, mungkin kau tak perlu menangis sesedih ini."

Siau Lui hanya mengawasinya tanpa berkata, ia belum jelas apa yang dimaksud perempuan itu.

Kembali gadis berbaju putih itu berkata, "Paling tidak anjing betina masih tahu setia dengan tuannya, paling tidak dia tak akan lari dengan orang lain."

Tiba-tiba Siau Lui melotot besar, dengan wajah yang berubah jadi seram selangkah demi selangkah ia maju ke depan lalu mencekik leher perempuan itu keras-keras.

Gadis berbaju putih itu tidak bergerak, menghindar pun tidak. Dengan senyuman dingin masih tersungging di ujung bibirnya, kembali gadis itu berkata ketus, "Kau telah patahkan sebelah lenganku, juga telah cukup menghina dan mencemooh aku, memang tak keliru jika sekarang kau cekik aku sampai mati!"

Kuku jari Siau Lui yang kotor karena lumpur dan pasir itu sudah mulai menembus kulit tengkuk si gadis yang putih mulus, tapi keringat dingin justru bercucuran membasahi jidat sendiri.

Kembali gadis berbaju putih itu berkata, "Tahukah kau mengapa kubiarkan kau patahkan lenganku, biarkan kau mencemooh menghinaku, rela kau cekik hingga mampus?"

Siau Lui tak sanggup menjawab, tak ada orang yang bisa menjawab. Sejujurnya dia memang mempunyai banyak kesempatan untuk menghabisi nyawanya, tapi... mengapa ia rela dihina olehnya? Mengapa ia berbuat begitu?

"Aku berbuat demikian karena aku kasihan kepadamu," terdengar gadis itu berkata lagi hambar. "Karena kau sudah tak berharga lagi untuk kubunuh..."

Tiba tiba Siau Lui mengencangkan cekikkannya, gadis berbaju putih itu segera tercekik hingga otot-otot wajahnya pada menonjol keluar, napasnya kian lama kian bertambah susah.

Walau begitu senyuman yang tersungging di ujung bibirnya masih begitu mengejek dan menghina. Setelah tertawa dingin, dengan suara yang agak dipaksa sepatah demi sepatah katanya, "Kau sudah tak bernilai untuk dibunuh orang lain, karena kau telah menghancurkan dirimu sendiri, ketika orang lain sedang tertawa cekikikan di atas ranjang, kau justru mengkaing-kaing bagai anjing budukan di tempat ini!"

"Krekkk... kreekk..." tenggorokan Siau Lui ikut berbunyi keras, seolah-olah dia pun sedang dicekik sepasang tangan yang tak terlihat dengan mata telanjang.

"Orang lain... siapa yang kau maksud?" "Seharusnya kau tahu siapa yang dimaksud." "Kau... kau telah melihat mereka?" "Sekarang yang kulihat hanya sepasang tanganmu yang sedang mencekikku!" sahut gadis berbaju putih itu sambil menggertak gigi dan napas tersengal-sengal.

Siau Lui memandang tangan sendiri, mengawasi lumpur dan pasir yang masih melekat di kuku jari tangannya, akhirnya dia kendorkan cekikan itu.

Ketika mengawasi tangan sendiri tadi ia merasa seperti lagi mengawasi tangan milik seorang asing, hampir saja ia tak percaya kalau tangan itu milik sendiri.

Seandainya ia dapat melihat diri sendiri, apakah dalam hatinya akan timbul juga perasaan yang sama? Apakah dia pun tak akan percaya kalau orang itu adalah diri sendiri?

Gadis berbaju putih itu duduk bersandar di atas kuburan dengan napas tersengal, ia meraba pelan bekas jari tangan yang membekas di tengkuk sendiri.

Lewat lama kemudian ia baru berkata lagi sambil tertawa, "Aku telah melihat mereka, juga telah melihat dia... yaaa, dia masih terhitung seekor anjing betina, seekor anjing betina yang sudah amat kelaparan!"

Siau Lui angkat tangannya, tapi tangan itu tidak digunakan untuk menampar wajah gadis itu. Tiba-tiba dia pergi meninggalkan tempat itu.

Sewaktu menurunkan kembali tangannya, ia seperti sedang membuang ingus dari hidungnya, kemudian balik badan dan ngeloyor pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tindakan semacam ini terasa jauh lebih kejam ketimbang sebuah bacokan yang bersarang di wajah gadis itu. Melihat Siau Lui pergi menjauh, tiba-tiba air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.

"Sekalipun kau enggan menyentuhku, tak sudi bicara denganku, paling tidak kau harus tanya namaku..."

"Mau anggap aku kekasihmu atau bahkan menganggapku sebagai musuh besar pun tak soal, tapi... paling tidak kau harus tanya siapa namaku..."

"Apakah dalam hatimu, aku hanya seorang yang sama sekali tak ada nilainya?" "Apakah kau benar-benar telah melupakan semua budi dan dendam di antara kita berdua?"

Dalam hati dia menjerit, mengeluh dan berteriak sementara air mata bercucuran makin deras.

Tiba-tiba dia angkat wajahnya. Terhadap awan yang melayang di udara, terhadap angin gunung yang berhembus dingin ia berteria k keras, "Aku juga manusia, aku punya nama... Namaku Ting Jan-coat. ..”

III

Bendera Piaukiok berkibar terhembus angin, bendera yang berkibar tertancap di atas batang sebuah pohon setinggi lima kaki.

Kuda serta penunggangnya telah lama beristirahat di dalam tenda di bawah pohon. Dalam tenda berjajar enam-tujuh buah meja dan kini sudah penuh ditempati kawanan pengawal barang itu.

Sekarang mereka sedang beristirahat melepaskan lelah sambil minum-minum karena dalam tenda ini selain tersedia air teh, tersedia juga air kata-kata dan aneka hidangan.

Liong Su duduk di bagian paling luar, bersandar pada tiang bambu sambil mengawasi awan yangbergerak di angkasa, entah apa yang sedang dipikirkan.

Ouyang Ci masih tetap berangasan dan tak sabaran seperti semula, saat itu dia sedang merecoki pelayan kedai untuk segera menghidangkan sayur dan arak.

Di kala sayur dan arak baru saja dihidangkan itulah mereka melihat kehadiran Siau Lui.

Bekas darah yang telah membeku di wajah Siau Lui ditambah pasir dan lumpur yang membekas di sekujur tubuh pemuda itu membuat ia kelihatan seperti seorang gelandangan.

Namun di dalam kelopak matanya justru terpancar sinar teguh, ulet dan tak mau tunduk yang sangat kuat. Ia memang kelihatan sangat letih, sangat kusam dan sangat hancur penampilannya. Namun keangkuhan dan keras kepalanya sama sekali tidak berubah. Tak seorang pun dan persoalan apa pun dapat merubah hal ini.

Liong Su segera berseri begitu melihat kehadirannya, cepat dia melompat bangun dan menggapai seraya berteriak keras, "Saudara...Saudara Lui... Liong Su ada disini!"

Tak perlu dipanggil pun Siau Lui sudah datang menghampir, sahutnya dingin dari luar tenda kedai, "Aku bukan saudaramu!"

"Aku tahu," jawab Liong Su masih tertawa, " kita bukan teman juga bukan saudara, tapi mau kah masuk untuk minum satu-dua cawan arak?"

"Boleh!"

Dengan langkah lebar ia masuk ke dalam tenda kedai, duduk lalu katanya lagi tiba-tiba, "Aku memang datang untuk mencarimu."

"Mencari aku?" Liong Su tertegun, sama sekali di luar dugaannya, tapi ia segera tertawa, tertawa kegirangan.

Termangu-mangu Siau Lui mengawasi cawan di hadapannya, lewat lama kemudiania baru berkata sepatah demi sepatah, "Aku tak pernah mau hutang budi kepada siapa pun."

"Kau tak berhutang kepadaku," tukas Liong Su cepat. “Tidak, aku berhutang!"

Setelah angkat wajahnya mengawasi Liong Su lekat-lekat, kembali dia menyambung, "Hanya saja, orang-orang keluarga Lui yang telah mati tak perlu kau orang she Liong yang menguburkan."

Liong Su gelengkan kepalanya berulang-kali, katanya sambil tertawa getir, "Hai, sejak awal sudah kuduga si tua bangka itu pasti banyak mulut... tampaknya makin lama semakin sedikit orang di dunia ini yang betul-betul bisa menyimpan rahasia!"

Belum selesai ucapan itu diutarakan, Ouyang Ci sudah mencak-mencak kegusaran sambil berteriak keras, "Bagaimana pun juga masalah ini toh bukan suatu masalah yang memalukan. Kalau seandainya ada orang yang mem- bantu menguburkan keluargaku, aku pasti akan sangat berterima kasih"

"Lain kali, seandainya ada anggota keluargamu yang mati walau berapa banyak pun, aku pasti akan menguburkan untukmu" sahut Siau Lui ketus, bahkan melirik sekejap ke arahnya pun tidak.

Merah padam seluruh wajah Ouyang Ci, ia jadi salah tingkah, mau duduk salah mau berdiri pun tak benar.

Kembali Siau Lui berkata:

"Sayang sekali aku bukan kau, selamanya aku tak punya kebiasaan semacam ini."

"Kau... kau mau apa? Masa keluargaku benar-benar harus mati berapa puluh orang agar bisa kau kuburkan mereka dan membayar impas hutang ini?"

Siau Lui tidak menggubris, kembali ia menatap Liong Su sambil ujarnya, "Aku telah berhutang budi kepadamu, seandainya aku miliki berapa ratus tahil perak tentu akan kubayarkan kepadamu. Tapi aku tak punya, maka aku datang mencarimu"

Dengan suara yang keras dan tegas bagaikan paku baja, sepatah demi sepatah kembali lanjutnya, "Apapun yang kau inginkan pasli akan kulakukan, katakan saja tenis terang!"

Liong Su tertawa terbahakk-bahak.

"Mau anggap kau berhutang budi kepadaku juga boleh, tidak berhutang juga tak apa-apa. Yang penting asal kau mau menemani aku minum berapa teguk arak,aku Liong Su sudah merasa puas sekali!"

Siau Lui mengawasi wajah orang itu dengan termangu, sampai lama, lama sekali, ia baru menggebrak meja seraya berseru, "Ambilkan arak!"

Arak itu pedas rasanya, Siau Lui penuhi terus cawan besarnya dengan arak, tangannya tak pernah berhenti, arak juga tak pernah berhenti, semangkuk demi semangkuk sekaligus dia habiskan tigabelas mangkuk besar arak. Dari tigabelas cawan arak itu paling tidak sudah ada enam- tujuh kati arak yang mengalir masuk ke perutnya. Biarpun enam-tujuh kati arak yang pedas dan panas telah masuk perut, paras mukanya sama sekali tidak berubah.

Ouyang Ci mengawasi pemuda itu dengan pandangan tertegun bercampur kagum, tiba-tiba ia menggebrak meja sambil berteriak keras, "Hei orang gagah, dari takaran arak yang kau miliki, aku Ouyang Ci patut menghormati kau dengan tiga mangkuk arak!"

"Hahaha... Tak nyana ada juga saatnya kau takluk kepada orang lain!" seru Liong Su sambil tergelak.

"Takluk yaaa takluk, tidak takluk yaaa tidak takluk!" seru Ouyang Ci mendelik.

"Bagus! Memandang ucapanmu itu, aku juga patut menghormati kau dengan tiga mangkuk arak!"

Kembali enam mangkuk arak mengalir masuk ke dalam perut, paras muka Siau Lui masih tetap pucat pias bagai mayat, namun sinar matanya tetap teguh dan keras.

Ia sudah bukan lagi minum arak tapi menenggak arak. Semangkuk demi semangkuk arak yang pedas dan panas bagaikan bara api dengan begitu saja mengalir masuk ke dalam perutnya.

Memang begitulah macam orang gagah yang berkeliaran di sungai telaga, kawanan pegawai pengawal barang sudah mulai datang merubung, paras muka mereka rata-rata menunjukkan perasaan kagum yang tak terhingga.

Mendadak ada seseorang menerobos masuk dari balik kerumunan orang, ia merangsek masuk ke dalam kedai tersebut, dia adalah seorang kakek pendek kurus-kering berambut putih.

Ia menjinjing sebuah buntalan panjang berwarna kuning, tampaknya di situ ia sembunyikan senjatanya.

Salah seorang anggota piaukiok segera menghampirinya seraya menegur, "Sahabat, mau apa kau kemari?"

"Memangnya aku tak boleh kemari?" kata kakek itu sambil menarik muka. "Apa isi buntalanmu itu?"

"Apa kau bilang?" kakek itu tertawa dingin. "Paling tidak seharusnya senjata yang pernah dipakai untuk bunuh orang!"

"Ooh, rupanya sahabat sengaja ingin cari gara-gara, kalau begitu gampang sekali," kata anggota piaukiok itu sambil tertawa dingin.

Ia merangsek maju ke depan lalu berusaha menyambar buntalan yang berada di tubuh kakek itu.

Baru saja tangannya bergerak ke depan, tiba-tiba kakek itu sudah menyodorkan buntalan tersebut ke arahnya seraya berteriak, "Tak heran banyak orang bilang pengawal barang tak bedanya dengan perampok, jika menginginkan barang ini... Nih, kuhadiahkan kepadamu!"

Sambil berteriak, ia segera lari sipat kuping.

Pengawal itu seperti hendak mengejar, tapi Liong Su sudah menghardik sambil berkerut dahi.

"Biarkan dia pergi, periksa saja apa isi buntalan itu?"

Isi buntalan itu hanya sebuah gulungan lukisan, di atas gulungan lukisan itu dipenuhi banyak debu.

Pengawal itu segera membuka gulungan tersebut, tapi sebelum melihat jelas isinya tiba tiba ia bersin berulang-kali, mungkin ada debu yang telah masuk ke lubang hidungnya.

Liong Su terima gulungan lukisan tersebut, setelah me- mandangnya sekejap, tiba-tiba paras mukanya berubah hebat.

Gulungan lukisan itu berisi lukisan seorang kakek berambut putih yang memakai baju warna hijau, seorang diri ia sedang berjalan di jalanan perbukitan, tangannya menenteng sebuah payung kertas.

Mendung gelap terlihat menyelimuti udara, hujan rintik- rintik muncul di balik awan, sebuah cakar naga tampak muncul dari kegelapan diikuti sebuah ekor naga yang tinggal sebelah, agaknya ekor itu sudah terbabat kutung hingga mengucurkan darah, titik darah jatuh di atas payung kertas yang berada di tangan si kakek. Dari balik hujan rintik kelihatan juga bintik darah sehingga air hujan berubah menjadi kemerah-merahan. Kakek dalam lukisan itu kelihatan sangat santai, ia sedang mendongak melihat langit sambil mengulumkan senyuman di bibir.

Ketika wajahnya dilihat lebih teliti lagi, ternyata persis seperti wajah si kakek kurus pendek yang muncul membawa buntalan tadi.

Hijau membesi paras muka Liong Su, termangu mangu dia awasi lukisan si kakek dalam gulungan lukisan tersebut.

Sorot mata Ouyang Ci juga ikut berubah memerah, hawa membunuh sudah menyelimuti wajahnya, dengan kepalan dikencangkan gumamnya seraya tertawa dingin, "Bagus, akhirnya datang juga... awal juga kehadirannya..."

Belum selesai ia bergumam, pengawal tadi sudah menjerit tertahan sambil roboh ke tanah, paras mukanya menampilkan rasa takut dan ngeri yang luar biasa, ternyata ia tak mampu lagi untuk menarik napas.

"Kenapa kau?" seru Ouyang Ci dengan wajah berubah. "Kroook... krooook..." dari tenggorokan pengawal itu hanya

mengeluarkan suara aneh, tak sepatah kata pun sanggup diucapkan keluar.

"Dia pasti kena angin duduk dalam perjalanan tadi," seru Liong Su dengan wajah serius. "Cepat gotong pergi untuk istirahat, sebentar juga akan baikan."

Ouyang Ci seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi Liong Su serta berkedip memberi tanda agar tidak bicara.

Siau Lui masih meneguk arak semangkuk demi semangkuk, dia seolah-olah tidak perduli dengan urusan orang lain.

Tiba tiba Liong Su tertawa tergelak, katanya, "Lui Kongcu, takaran arakmu betul-betul hebat dan tiada tandingan. Sayang cayhe sudah tak bisa menemani lagi!"

Walaupun bicara sambil tertawa namun panggilannya telah berubah, sikapnya juga berubah lebih dingin dan hambar.

Siau Lui tidak menjawab, dia angkat gentong arak lalu meneguknya hingga habis isinya, lalu... "brakkk!" dia banting gentong itu hingga hancur berkeping, setelah itu sambil bertepuk tangan dan bangkit berdiri serunya: "Baik, kita boleh berangkat!" "Silahkan Lui kongcu!"

"Apa maksudmu silahkan?" Liong Su tertawa paksa.

"Antara Lui kongcu dengan cayhe tak ada hubungan apa- apa, kita bukan berasal dari aliran yang sama, tak ada perjamuan yang tak bubar, sekarang sudah waktunya buat kita untuk berpisah."

Siau Lui menatapnya tajam-tajam, lama... lama kemudian tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak- bahak.

"Bagus, sahabat sejati... Liong Kong, Liong Su, kau betul betul seorang sahabat sejati" serunya.

"Kita bukan sahabat!" tukas Liong Su sambil menarik muka. "Kita sahabat!"

"Bukan!"

"Perduli amat kita bersahabat atau bukan, pokoknya aku sejalan dengan kau..."

"Tidak!"

"Ya!"

Liong Su menatapnya tak berkedip, sampai lama kemudian ia baru menghela napas panjang, katanya, "Kenapa kau harus memaksa untuk jalan sealiran denganku?"

"Karena sejak lahir watak keledaiku memang begini," sahut Siau Lui, kemudian setelah menepuk bahu Ouyang Ci, lanjutnya, "bukan begitu?"

"Bukan!"

"Yaa!"

"Tak ada manfaatnya jadi keledai..." sela Liong Su. "Paling tidak masih ada sedikit kebaikan!" "Oya...?"

"Paling tidak seekor keledai tak akan mengkhianati sahabatnya. Bila sahabatnya menghadapi ancaman mara bahaya, dia tak akan ngeloyor pergi menyelamatkan diri, sekalipun kau cambuk dia dengan cambuk keledai, jika dia bilang tak akan pergi, sampai mati pun tak bakal pergi!" Liong Su mengawasinya dengan mata berkaca-kaca, kelopak matanya telah dipenuhi air mata hangat, tiba-tiba ia menggenggam tangan Siau Lui dan dipegang erat-erat.

Mereka tidak berkata lagi.

Yaa, apa yang perlu dikatakan lagi terhadap sebuah tali persahabatan yang begitu mulia dan murni?
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "BPEHK Bagian 04 : Persahabatan "

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close