Bentroknya Rimba Persilatan Jilid 11

Mode Malam
 
Pada saat tubuhnya miring kesamping telah dapat melihat bahwa dibelakang dari balok kayu yang menerjang dirinya itu terdapat dua buah rantai besi besar, hal ini dapat membuktikan kalau semua itu digerakkan oleh alat-alat rahasia yang tersembunyi, hatinya menjadi sedikit bergerak, pedangnya dilancarkan dari samping menerjang dua buah kayu yang besar itu, diikuti dengan tanpa ragu2 lagi Ie Bok Kiamnya segera lepas dari tangannya, Ie Bok Kiam tersebut membuat setengah lingkaran terlebih dahulu ditengah udara kemudian mematahkan dua buah rantai besi yang terdapat dibelakang kayu tersebut.

Baru saja Ie Bok Kiamnya kembali ketangannya, dua batang kayu dari belakang tubuhnya telah melayang menerjang kearahnya.

DIA tak dapat berbuat apa-apa, terpaksa tangan kanannya diangkat untuk menempel pada tubuh kayu dibelakangnya itu, tak menanti kayu tersebut menerjang tubuhnya, kaki kanannya mengikuti datangnya kayu besar itu melancarkan tendangan, terlihat kayu besar itu berputar tak henti2nya terdengar suara yang nyaring dua batang kayu besar saling bertubrukan satu sama lainmya dan bersama-sama jatuh keatas tanah.

Pada saat ini lweekang yang dimiliki oleh Boen ching dapat dihitung sebagai jago yang lihay didalam Bulim, apalagi dia berhasil melatih memandang didalam kegelapan, sedang jurus yang baru saja digunakan itu ternyata adalah jurus "Kiam  coan Thian Hwee" dari ilmu pedang Ie Bok Kiam Hoatnya.

Pada waktu dia menghindari dua buah kayu yang menerjang kearahnya itu, Ie Bok Kiamnya telah meluncur kearah dinding sebelah kirinya, terdengar dua kali suara yang sangat perlahan dua buah rantai besi yang terdapat dibelakang kayu itupun telah terputus oleh sambaran pedangnya itu.

Dari dinding sebelah kiri menjadi tidak bergerak lagi, tetapi dari dinding sebelah kanan masih terdapat sebuah kayu besar yang secepat kilat menerjang kearahnya, dengan disertai oleh suatu angin yang sangat dahsyat sekali menerjang ketubuhnya. Boen ching nampak alat rahasia pada dinding yang ada disebelah kirinya itu ternyata dapat dirusak sesuai dengan keinginannya, dalam hatinya merasa sangat girang, tubuhnya berkelebat secepat kilat menempel pada dinding sebelah kanan, tangannya segera mencabut kembali pedang Ie Bok Kiamnya yang tertancap pada dinding tersebut.

Dengan sinar mata yang sangat tajam dia memandang kayu besar yang dapat menyerang orang dengan bersilang didalam lorong itu, sedang dalam hatinya diam2 merasa sedikit terkejut, pikirnya.

"Jika tadi aku berada ditengah lorong itu dan mendadak dari kanan kiri bersamaan waktunya dua buah kayu raksasa menyerang, bukankah aku akan mengalami kematian yang sangat mengerikan ditempat itu untung aja Ie Bok Kiam ini telah menolong jiwaku."

Jika dia bukannya telah melatih ilmu memandang dalam keadaan gelap. kiranya tidak sampai lorong ini, sekalipun rintangan pertama pun tidak akan berhasil menerobosnya, berpikir sampai disini, tanpa terasa dia agak merasa sedikit ngeri.

Disebelah kanan dari lorong tersebut, kayu2 raksaaa telah dapat dipatahkan seluruhnya dan berserakan tak keruan di dalam lorong tersebut, Boen ching yang memandang kayu2 yang berserakan tak karuan itu dalam hatinya membatin, entah dibawah sana dua buah rintangan yang lain itu terdiri dari apa saja.

Setelah mengatur pernapasan sejenak. sekali lagi dia gerakan tubuhnya berjalan menuju kelorong yang lain-

Keluar dari lorong itu, pada ujungnya terlihat sebuah ruangan batu yang tertutup rapat sekali.

Boen ching berdiri tertegun sejenak didepan pintu batu itu. Mendadak pintu batu tersebut dengan sendirinya dengan perlahan2 membuka, hawa panas dari dalam pintu batu itu memaksa Boen ching untuk mundur setindak kebelakang terlihat sinar merah memancar keempat penjuru didalam ruangan itu, ternyata terdapat sebuah liang api yang besar sekali, sedang dalam liang tersebut api ber-kobar2 dengan hebatnya.

Dalam hatinya sedikit merasa terperanjat, pada ujung liang api itupun terdapat sebuah pintu batu, tetapi masih tertutup dengan rapatnya kini, ketika itu pintu batu tersebut saking panasnya hawa telah berubah warnanya menjadi merah padam.

Boen ching sekalipun berdiri didepan pintu batu itu, tetapi diapun dapat merasakan panasnya hawa yang sukar untuk ditahan, terpaksa sekali lagi dia mundur kebelakang selangkah.

Tetapi begitu dia mundur dirinya ke belakang, dari belakang tubuhnya segera berkelebat keluar belasan pemuda berbaju merah yang memegang pedang ditangan, tangan kanannya mencekal pedang sedang pada tangan kirinya tampak memegang obor.

Boen ching mengerutkan alisnya, dia tahu bahwa orang2 ini telah bersiap untuk memaksa dia terjun kedalam liang api yang berkobar kobar itu, tangannya segera dibalikkan mencabut pedangnya dan berdiri tegak ditempat itu.

Belasan pemuda yang mencekal pedang itu setelah dengan tenang berdiri ditempat itu sejenak. segera mulailah melancarkan serangan menerjang kearah Boen ching,  luas dari lorong tersebut tidaklah begitu lebar, hanya empat lima enam orang menerjang seCara bersama-sama, tetapi belasan orang itu agaknya telah mendapatkan latihan yang lama, terlihat dihadapannya terdapat enam orang pemuda yang mengangkat pedangnya mendesak maju, sedang yang lainnya berdiri diatas dinding, dan berkelebat ke kaman dan kekiri, dengan pedangnya menerjang kearah Boen ching. Tampak hal ini Boen ching menjadi mengerutkan alisnya, mana dia mau dengan begitu saja terpaksa oleh beberapa orang pemudaitu masuk kedalam liang api itu, pedang panjangnya segera melancarkan serangan bertubi-tubi mematahkan setiap serangan yang dilancarkan oleh belasan orang itu.

Tetapi yang paling dikuatirkan olehnya bukanlah pedang panjang yang berada ditangannya itu, karena kepandaian yang dimiliki oleh belasan orang itu tidaklah begitu tinggi, tetapi pada tangan kiri dari orang-orang itu mencekal sebuah obor dan diletakkan dibelakang punggungnya, entah apa kegunaannya dari obor tersebut.

Dalam sekejap mata saja sepuluh jurus telah berlalu, mendadak tubuh dari belasan pemuda itu melayang berkelebat, sedang belasan pedang panjangnya meluncur seluruhnya kearah Boen ching, ternyata dalam waktu yang singkat itu telah berganti tempat kedudukan- 

Boen ching menjadi sangat terkejut, begitu pedang panjang dari orang-orang itu bergerak dia baru dapat melihat bahwa belasan pedang panjang itu bersamaan waktunya telah meluncur keseluruh tubuhnya, dia terperanjat atas kerja sama yang demikian eratnya diantara belasan orang pemuda itu.

Tidak menanti dia untuk berpikir panjang lagi, pedangnya segera dengan datar menyorong kedepan, sedang tubuhnyapun meloncat ketengah udara, memukul jatuh lima bilah pedang yang menyerang didepan tubuhnya itu.

Baru saja Boen ching menggerakkan pedangnya, belasan pemuda berbaju merah itu telah menggerakan tangan kirinya, belasan gulungan api telah meluncur ketubuhnya.

Boen ching menjadi sangat terkejut, dengan tergesa-gesa ia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang paling lihay, "Hui Sie Yu-She " Tubuhnya segera melayang ketengah udara tetapi gerakan tubuhnya ternyata masih tetap terlambat setindak. ilmu "Hui Se Yu She" sekalipun merupakan ilmu meringankan tubuh yang sangat aneh, tetapi bagaimanapun juga masih tetap terdapat kekurangan, tubuhnya yang berada ditengah udara itu dengan meminjam angin kencang yang menyambar segera melayangkan tubuhnya lagijauh keatas, tetapi dengan demikian tak dapat mengerahkan tenaga lagi, begitu sedikit mengerahkan tenaga maka tubuhnya akan terjatuh kembali keatas tanah.

Tubuhnya yang melayang ketengah udara itu sekalipun telah berhasil menghindarkan diri dari serangan pedang 2 itu, tetapi belasan gumpalan minyak bakar dan api itu tak dapat lagi dihindarkan seluruhnya, terdengar suara minyak yang mengenai jubah panjang yang dipakainya, sekalipun hanya terkena separuh saja, tetapi dengan segera api berkobar keseluruh tubuh.

Dia tak berani berpikir panjang lagi, dengan cepat dia jatuhkan dirinya keatas tanah dan berguling tak hentinya untuk memadamkan api yang sedang berkobar.

Belasan pemuda berbaju merah itu bersama-sama segera menubruk ketubuh Boen ching, hati Boen ching pada saat ini telah dibikin menjadi sangat gusar, sekali Ie Bok Kiamnya segera dilancarkan keluar, terdengar suara jeritan ngeri, seorang pemuda berbaju merah telah terpancang diatas dinding oleh tusukan pedang itu.

Tangan dan kakinya segera dikerahkan melancarkan seluruh jurus dari ilmu "Thay Thien Koei sih." dengan segera pula belasan pemuda yang menubruk kearah itu telah herhasil melemparkan keluar dua orang diantaranya terjatuh di dalam liang api itu terdengar suara yang sangat mengerikan dari mulut pemuda itu, membuat pemuda yang berbaju merah lainnya saking terkejutnya lantas saja telah mundur ke belakang. Boen ching segera bangkit berdiri, api yang telah berkobar pada tubuhnya pada saat ini telah berhasil memadamkan, dengan termangu-mangu dia berdiri disana, dan memandang pemuda berbaju merah yang telah binasa dibawah pedang Ie Bok Kiamnya dan tertancap diatas dinding itu.

Terlihat pemuda berbaju merah itu, kedua tangannya dengan lemah lurus kebawah, sedang dari mulutnya mengalir darah segar.

Didalam hati Boen ching entah merasa kan bagaimana rasanya pada saat ini orang tersebut telah binasa sedang dua orang lainnya yang terlempar kedalam liang api itupun tak terdengar gerakan apa- apa lagi setelah termenung sesaat tanpa terasa dia tertawa tawar.

Lima barisan yang diatur aleh golongan istana Chie Lan Kong itu juga tidak berarti apa- apa dan tidak lain juga diatur menurut kedudukan "Ngo Heng" setelah lewat barisan ini, dibawahnya pastilah termasuk kedudukan "Toh" atau tanah.

Dia memandang pada bajunya sejenak yang telah robek itu, tangannya segera digerakkan merobek baju itu yang kemudian dirobek lagi menjadi dua bagian dan dibuang kedalam liang api itu.

Api dari liang segera berkobar dengan cepat membuat potongan baju itu menjadi abu.

Boen ching balikkan tubuhnya mencabut kembali pedang Ie Bok Kiamnya, sedang tangan kirinya menahan jatuhnya mayat pemuda berbaju merah tersebut.

Dengan diam-diam dia kerahkan tenaga dalamnya, tangan kirinya didorongkan kedepan dengan kerasnya, dan melemparkan mayat dari pemuda berbaju merah itu kepintu batu yang ada dihadapannya itu, pintu batu itu dengan cepat terpentang lebar begitu mendapat serangan yang demikian kerasnya itu, sedang mayat pemuda berbaju merah itupun terjatuh masuk daldam ruangan tersebut. Boen ching setelah menarik napas panjang-2, tubuhnya segera melayang ke tengah udara, bagaikan kilat Cepatnya tubuhnya menubruk ke ruang sebelah itu, sekalipun gerakan itu dilakukan dengan sangat Cepat sekali, tetapi dia tetap merasakan hawa panas yang sukar ditahan.

Tubuhnya dengan cepat melayang masuk ke dalam ruangan itu, begitu dia masuk segera hidungnya dapat mencium bau harum yang menusuk sekali.

sepasang mata Boen ching segera menyapu memandang keempat penjuru tempat itu, nampak diluar dari pintu batu itu ternyata terdapat sebuah kebun bunga, gunung-2,jembatan keCil dan sungai yang mengalir dengan perlahan, Sinar mataharipun memancarkan sinarnya dengan terang, jika dibandingkan dengan ruangan-2 sebelumnya jauh berbeda sekali.

dalam hati dia merasakan sangat heran, entah Kong Ku dengan begundal2nya itu akan berbuat apa, ditempat yang demikian ini entah masih mempunyai alat-alat lihay apa lagi.

Didalam kebun bunga itu sangat sunyi sekali keadaannya, sekalipun keempat penjuru dari kebun itu adalah dinding tembok yang tinggi, tetapi tidaklah sampai mengurangi keindahannya, bunga- bunga yang tumbuh samar-samar mengeluarkan bau harum yang menusuk hidung.

Boen ching tidak berani gegabah, setelah memeriksa sebentar pedang Ie Bok Kiam yang dicekal pada tangannya itu, dengan perlahan bertindak kedepan.

Mendadak dia menghela napas, ditengah kebun bunga itu ternyata berdiri tegak sebuah batu nisan yang tinggi besar, entah apa kegunaannya.

Baru saja dia merasa heran, batu nisan yang tinggi besar tersebut dengan perlahan telah mulai membuka dan membelah kesamping. Ketika Boen ching memperhatikan dimana batu nisan membelah mendadak dia terjerumus dalam suasana yang sangat tegang sekali, dia telah dapat melihat dari tempat Celah dimana tadi membelah menjadi dua itu bergerak keluar segerombolan tawon-tawon beraCun

Dia balikkan tubuhnya bersiap hendak mundur, tetapi pintu batu dibelakang tubuhnya itu telah menutup dengan kerasnya, dia menjadi sangat terkejut ketika menoleh kebelakang sekali lagi, batu nisan yang membelah itu makin lama makin besar celahnya, dan telah ada belasan tawon-tawon beracun yang berwarna hitam terbang keluar.

Sekejap mata saja telah keluar berpuluh-2 tawon beracun yang segera berterbangan disekitar batu nisan tersebut. Boan ching tidak berani lagi memikirkan bagaimana akhirnya, begitu batu nisan tersebut rubuh keatas tanah, tawon-tawon beracun itu pastilah akan terbang menyerang dirinya, kecuali kalau memiliki kepandaian yang tinggi seperti Thian Jan Shu, sehingga dengan ilmu Khiekangnya melindungi seluruh tubuhnya dan tahan terhadap serangan tawon beracun itu.

Dia nampak rubuhnya batu nisan itu telah tinggal menunggu saatnya saja, hatinya tiba-tiba bergerak matanya melirik pada pintu batu di ujung kebun bunga itu sejenak, mendadak tangan kanannya bergerak mencekal mayat pemuda berbaju merah yang terdahulu, kemudian tangan kanannya didorong kedepan, mayat dari pemuda berbaju merah itu segera melesat ke tengah udara dan berputar setengah lingkaran kemudian menubruk batu nisan itu dengan hebatnya.

begitu dia melemparkan mayat dari pemuda berbaju merah itu, tubuhnya segera pula menerjang kearah pintu batu.

Terdengar suara yang sangat keras, batu nisan itu telah berhasil dirobohkan, suara tawon segera berbunyi dengan kerasnya bagaikan sekumpulan awan hitam, tawon-tawon beracun itu bersama-sama menubruk mayat pemuda berbaju merah itu. Boen ching yang nampak menubruk kepintu batu itu, kedua telapak tangannya segera melancarkan serangan untuk membuka pintu batu itu sedang tubuhnya bagaikan kilat Cepatnya melayang masuk kedalam.

Baru keluar dari pintu batu itu sepuluh tindak. diluar sana berdirilah Kong Ku dengan wajah yang masam.

Boen ching menghembus napas lega, dan berdiri dihadapan dengan Kong Ku, dia dengan Kong Ku memangnya pernah bertemu satu kali, dia tahu bahwa telinga Kong Ku sangat tajam sekali, bahkan jauh lebih hebat dari sepasang mata orang biasa..

Dua orang saling berhadapan dan berdiam diri, tak lama kemudian Kong Ku baru membuka mulut, dengan dingin ujarnya.

"Tidak kusangka ternyata kau masih tetap hidup, masuk kedalam Telaga naga dingin tidak binasa, hal ini sudah merupakan suatu peristiwa yang aneh dan kini ternyata kaupun tidak mengalami kematian juga."

Boen ching setelah mendengarkan perkataan dari Kong Ku ini barulah dapat menghembus napas, jago-jago kepandaian tinggi waktu bertanding haruslah memusatkan keseluruh perhatiannya, kini Kong Ku telah membuka mulut untuk berbicara sudah tentu tidak mungkin akan melancarkan serangan bokongan terhadapnya lagi.

Sinar matanya dengan perlahan bergerak memandang keadaan-keadaan dari sekitar ruangan itu, terdengar suara perlahan, pintu belakang batu tubuhnya ternyata telah menutup kembali, pada saat ini dia nampak dirinya ternyata telah berada didalam suatu ruangan istana yang sangat tinggi dan luas.

Atap dari ruangan itu dibuat dari kaca yang berwarna ungu, dibawah sorotan sinar matahari warna tersebut memancar kebawah sedang kedua sisinya berdiri tegak belasan orang pemuda dan diatas dari istana tersebut terletak dua buah kursi. Dengan perlahan dia tertawa ujarnya..

"Ini hari aku telah berada dihadapanmu, engkau seharusnyalah memberikan suatu pertanggung jawabkan kepadaku." Kong Ku dengan dingin tertawa kalap. sahutnya:

"Sungguh besar sekali omonganmu, kau harus mengetahui orang yang masuk ke dalam istana ini tidaklah sedikit jumlahnya, tetapi yang dapat keluar dari tempat ini secara hidup,hidup hanyalah Thian Jan shu seorang saja, kecuali jika kau memiliki kepandaian seperti Thian Jan Shu tingginya, kalau tidak aku kira hanya dapat memasuki istana ini secara hidup, hidup tetapi jika ingin keluar secara hidup pula, aku kira masih jauh dari dUgaan". ^

Boen ching tertawa mengejek ujarnya.

"Golongan istana chie Lan Kong, ingin menahan diriku, aku kira tidaklah demikian mudahnya, aku menasehatkan dirimu, lebih baik lepaskan saja Bwee Giok serta Shie siaw In"

Dari mulut Kong Ku terlihat terlintas senyuman yang dingin sekali, ujarnya.

"Aku mengira nyawamupun tidak akan lebih panjang lagi, sehingga menanti pada pertemuan diloteng oei Hok Lo pada bulan delapan malam Tiong chiu barulah menyelesaikan urusan diantara kita, tetapi kini kau telah datang kemari, hal ini adalah lebih baik lagi."

Dengan dingin sahut Boen ching:

"Aku masih lupaakan sesuatu lagi, aku dengar ada berita yang mengatakan hioloo kuno yang terdapat di dalam Telaga naga dingin itu telah kau dapatkan, dan aku masih belum memintanya kembali."

Kong Ku tertawa dingin ujarnya. "Engkau sekarangpun boleh minta kembali" Boen ching dengan perlahan bertindak selangkah kedepan, dia mengetahui bahwa lweekang yang dimiliki Keng Ku ini sangat tinggi, bahkan masih diatas dari empat iblis sakti, apalagi ilmu "Mie Huan Kiam Hoat" dari golongan istana chie Lan Kong pun dia pernah mencoba dari tangan Yuen cong Hong dan bukanlah dapat dilawan dengan seenaknya.

Kong Ku sekalipun tak melihat dengan sepasang matanya, tapi telinganya jauh melebihi matanya, dari majunya Boen ching setindak ke depan, serta pernapasannya dia telah mengetahui bahwa lweekang yang dimiliki Boen ching sekarang ini jauh lebih tinggi dari dahulu. Sedang perkataan yang diucapkan oleh Yuen cong Hong pun tidaklah bohong, dengan kepandaian yang dimiliki Boen ching sekarang ini bukanlah dengan tangan kosong dirinya dapat menahan serangannya.

Dengan perlahan dia mencabut keluar pedangnya dari belakang punggungnya. Boen ching sambil sedikit menggetarkan pedangnya ujarnya:

"Lebih baik kita berjanji dahulu. Jika aku mengalami kekalahan kau bolehlah menghukum aku, tapi apa bila kau yang mengalami kekalahan, kau harus menyerahkan dua orang nona itu kepadaku, sedang hioloo kuno tersebut saat ini aku tak menginginkannya, kalau tidak akuakan membumi hang us kan istana chie Lan Kong mU ini."

Kong Ku mendengar perkataan yang diucapkan oleh Boen ching demikian tegasnya, dia tertawa dingin, pedang ditangan kanan nya di kiblatkan kesamping, sambil ujarnya.

"Bangs at, omonganmu itu bukanlah terlalu ber-lebih2 an?? ingin membumi hang us kan istana chie Lan Kong ?? sungguh besar sekali omonganmu, aku kira kau harus terkubur di tempat ini terlebih dahulu." .

Boen ching mengerutkanalis nya, kegu-saran didalam hatinya memuncak. dalam hati pikirnya, aku hanya ingin menanyakanBwee Giok-^rta ShieSiauw In, kau ternyata malah tak mau membicarakannya.

Pedang panjangnya membuat setengah lingkaran ditengah udara kemudian melin-tang kannya didepan dadanya^

Wajah Kong Ku sedikit dikerutkan, dia takperCaya kalau Boen ching memiliki ilmu pedang yang demikian lihaynya, sekalipun Boen ching hanya dengan sangat perlahan sekali menyabetkan pedang nya, tapi telah disertaioleh suara petir dan angin yang menyambar.

Dia pernah mendengar bahwa waktu masasebelumnya itu ada ilmu pedang yang disebu "Hong Lui chiet Kiam" ilmu tersebut adalah suatu ilmu sakti yang dapat menundukkan iblis, kehebatannya luar bias a, samba ran pedang nya baru saja dilakukan Boen ching ini ternyata mirip sekali dengan ilmu "Hong Loei chiet Kiam yang pernah dia dengar, tapi dia takperCaya kalau Boen ching dapat memiliki ilmusilat yang demikian saktinya itu, hal itu tak mungkin bisa terjadi.

Boen ching sambil melintang kan pedang Ie Bok Kiamnya didepan dada, dia berpikir hendak menggunakan ilmu "Hong Loei chiet Kiam" ini bertempur mati-matian melawan Kong Ku, tetapi diapun tak menginginkan ilmu sakti tersebut, apabila Kong Ku lari bersembunyi sehingga hawa pedang yang dilancarkan tak mengenai sasaran, bukankah dia hanya sia-sia belaka mengerahkan ilmu sakti itu ?? ?

Pikirannya segera bergerak. dia memutuskan untuk menggunakan ilmu "Thian San Kiam IHoat" mencoba mengukur kekuatan musuh terlebih dahulu,pada waktu itu ketika dipuncak gunung Hwee Ing dia pernah lihat pertempuran yang terjadi antara Thian Jan Shu dengan Thian San chiet Kiam, sehingga jurus2 yang lihay dari ilmu pedang Thian San Pay itu sebagian besar masih diingat didalam otaknya. Pedang Ie Bok Kiamnya segera menyabet ke depan, ilmu "Tui Yun Toan Jiet cap Sah Seh" dari ilmu pedang Thian San Kiam Hoat segera dilancarkan- jurus pertama "Thian Way Lay Hong" ini adalah suatu jurus untuk mencoba kekuatan musuh.

Kong Ku yang nampak jurus ini menjadi mengerutkan alisnya, terhadap Thian San Kiam IHoat diapun memahami. begitu Boen ching melancarkan serangan dengan jurus ini ia segera pula dia mengetahui kalau Boen ching telah menggunakan ilmu pedang dari Thian San Pay.

Sekalipun ia tak takut terhadap jurus serangan ini, tetapi didalam hatinya dia merasa sangat heran sekali, bagaimana Boen ching dapat memahami ilmu pedang dari Thian San Pay ini.

Tanpa berpikir panjang2 lagi, pedang nya diangkat keatas untuk menangkis serangan musuh.

Pada saat ini kepandaian yang dimiliki Boen ching telah dapat dijajarkan sebagai jago berkepandaian tinggi dalam Bu lim, ilmu "Tui Yun Toan Jiet cap Sah Sih" yang dilancarkan ditangannya, kehebatan dan kelihayannya tidak kalah dengan kehebatannya ketika Thiat San chiet Kiam bertempur melawan Thian Jan Shu.

jurus- jurus dari ilmu "Tui Yun Toan Jiet- cap Sah sih" ini semuanya mengutamakan gerakan yang cepat dan ganas, begitu dia mulai melancarkan jurus- jurus serangan, pedang Ie Bok Kiamnya bagaikan ombak yang menggulung ditengah samudra terus mengejar kearah Kong Ku dengan serangan- serangan hebat.

Kong Ku terdesak mundur dua langkah kebelakang, dengan dingin dia mendengus dengan perlahan pedangnya menyambar keluar, segulung tenaga dalam yang sangat hebat menyambar keluar membuat jurus serangan yang dilancarkan Boen ching menjadi miring kesamping. Boen ching merasa sangat terkejut, sambaran pedang yang dilakukan Kong Ku ini kiranya mengandung tenaga dalam yang sakti sekali, dia tak mengetahui mengapa Tan coe coen yang mengangkat nama bersama-sama dengan Thian Jan Shu itu, tetapi ternyata tak melatih ilmu Khiekang yang tinggi.

Dia tak mengetahui jika pada waktu itu membicarakan tentang jurus- jurus serangan, maka Tan coe coen dapat dikatakan paling lihay, tetapi oleh karena Tan coe coen mengalami penderitaan jalan api menuju neraka, sehingga tidak dapat melatih ilmu sema cam Khie-kang lagi, dengan demikian telah mengalami kekalahan-

Begitu dia yang ditarik oleh tenaga Khie kang Kong Ku ini, kakinya yang berkedudukan disebelah utara itu segera dipaksa berdiri miring kesamping, Kong Ku tertawa dingin dan tidak melancarkan serangan lagi, dia mengira kepandaian yang dimiliki oleh Boen ching itu ternyata tidak seberapa.

Pada saat diatas gunung Siong-san, dia pernah mengira Boen ching melatih ilmu "Hiat Mo Kang^, tetapi jika  dipandang sekarang ini, agaknya Boen ching tidak melatih ilmu itu dan juga ketinggian dari lweekangnya tak setinggi yang dipikirnya, sehingga hatinya sedikit merasa lega.

Boen ching yang dalam satu jurus telah dipaksa berdiri miring dari kedudukan semula, sebenarnya menduga tentunya Kong Ku akan mengangkat pedangnya untuk menyerang lagi, tetapi kini nampak pedang ditangan kanan Kong Ku dengan lemas ditunjukkan kebawah, bahkan dengan sombongnya berdiri disana, bagaikan tidak memandang sebelah matapun kepadanya:

Hatinya menjadi bergerak, pedangnya mulai bergerak lagi dan melancarkan ilmu pedang yang paling sakti dari golongan Thian San Pay, yakni "chieh sian chiet Kiam" ilmu "chien Sian chiet Kiam" ini merupakan ilmu pedang yang disertai tenaga murni pula, Kong Ku tak berani berayal lagi pedang panjangnya digetarkan dengan sangat mudah sekali telah memusnahkan jurus pedang yang dilancarkan oleh Boenching itu.

Gerakan pedang Boen ching berubah lagi ilmu "Ie Bok Kiam IHoat" segera dilancarkan tetapi Kong Ku dengan congkaknya telah berdiri tegak dengan mengerahkan ilmu "Im Yang ceng Khie" yang dilatihnya selama empat puluh tahun dan disalurkan kedalam pedang nya dia menghadapi serangan musuh.

Boen ching mengalami kerugian karena tidak pernah mendapatkan pelajaran ilmu Khie-kang untuk melindungi tubuhnya, sehingga lwekangnya mengalami kerugian yang besar, sekalipun dia telah menelan pil berwarna emas dari naga emas, tetapi kekuatan yang ditimbulkan oleh pil berwarna emas itu tak mungkin akan bisa menandingi dari Khiekang sekalipun Iwee-kangnya mengalami kemajuan yang pesat, tetapi masih tetap tak dapat menandingi kekuatan Kong Ku.

Dua orang yang saling serang menyerang itu, dalam sekejap mata saja seratus jurus telah lewat. Lweekang Boen ching yang tak dapat menandingi ketinggian daripada lweekang Kong Ku, dalam hatinya segera mengambil keputusan hendak menggunakan ilmu "Hong Loei chiet Kiam" untuk melawan musuh.

Hawa pedang nya segera menyebar keempat penjuru, K^ong Ku yang nampak hal itu dengan dingin mendengus, baru akan mengangkat pedangnya balas menerjang, mendadak sinar pedang Boen ching berkelebat menyilaukan mata, sedang suara angin dan petir menyambar keempat penjuru sebuah sinar hijau tua yang diiringi oleh suara angin dan guntur telah menyambar ketubuhnya.

Kong Ku menjadi sangat terkejut, hal ini membuktikan bahwa ilmu pedang tersebut memang benar-benar adalah ilmu pedang "Hong Loei chiet-kiam". Dia merasakan empat penjuru dari tubuhnya diliputi sinar pedang yang menyambar-nyambar dengan diikuti oleh suara menyambarnya guntur dan angin taupan, membuatnya hampir2 tak dapat bernapas lagi.

Dengan gusar dia memekik nyaring, pedangnya dengan jurus "Hui HongJu chau" atau burung hong terbang kembali kesarang yang disertakan seluruh tenaga "im Yang cheng khie" nya menerjang kearah Boen ching dengan hebatnya.

Terdengar suara yang nyaring bentrokan dua buah pedang menjadi bergetar dengan kerasnya dan meluncur keatas  istana tersebut.

Boen ching tidak menyangka kalau Kong Ku ternyata berani mengadu kekuatan dengannya, sekalipun dia menggunakan jurus pedang yang dapat menundukkan naga untuk menghadapi musuh, tetapi tetap tak tahan terhadap serangan Kong Ku yang menggunakan seluruh tenaganya, ilmu "Hong Loei chiet Kiam" nya itu seluruhnya hanya terdiri dari jurus serangan saja, dan tak terdapat sejuruspun untuk bertahan, begitu kedua belah pedang tersebut bentrok satu sama lainnya, kedua- dua nya segera terlepas dari tangan dan meluncur keatas istana sedang Boen ching pun dengan sempoyongan terdesak mundur beberapa tindak kebelakang.

Tubuh Kong Ku segera melayang datang dan mendesak kearah Boen ching.

Tubuh Boen ching belum saja berdiri tegak nampak Kong Ku sudah mendesak kembali kearah dia, di dalam keadaan yang kritis itu segera dia malancarkan jurus terakhir Sari ilmu "Thay Thien Kioe Sih" yaitu jurus Ta Kan Kun atau menjungkir balikkan bumi tubuhnya belum berdiri tegak, tangan kanannya segera dimundurkan kedepan.

Kong Ku dengan dingin mendengus, ia balikkan tangannya balas mencekal urat nadi tangan kanan Boen ching sedang kaki kanannya segera melancarkan tendangan mengancam jalan darah "Nan Hu Hiat" dibelakang batok kepalaBoen ching, dia ber-siap2 hendak dengan jurus serangan ini membinasakan Boen ching.

Tapi dia tak sadar bahwa dirinya telah terpancing oleh akal musuh, justru kehebatan dan kelihayan dari ilmu "Thay Thien Kioe Sih" itu adalah hal-hal yang tak pernah dia duga sebelumnya, tubuh manusia yang belum berdiri tegak dan melancarkan serangan hal ini pasti akan tidak mencapai pada sasarannya tapi apabila sekali lagi melancarkan serangan pastilah akan mengalami hal yang diluar dugaan-

Kong Ku sebenarnya tak salah, salahnya adalah Boen chin sejak sebelumnya telah menduga bahwa dia pasti akan melancarkan jurus yang demikian itu, tangannya baru saja menempel pada pergelangan kanan Boen ching, tahu2 tangan kanan Boen ching membalik dan kini ternyata saling berCekalan dengan tangan kanan Kong Ku.

Kaki kanan Kong ku tak menghentikan gerakannya dan melanjutkan serangannya menyapu belakang batok kepala Boen ching. Lima jari tangan kanan Boen ching segera merosot turut kebawah dan tepat menekan pada urat nadi di tangan Kong ku, kemudian di ikuti dengan membalikkan tubuhnya melemparkan tubuh Kong ku ketengah udara.

Kong ku hanya merasakan lima jari dari tangan kanannya jadi kaku, tempat yang dicekal oleh Boen ching itu sedemikian tepat dan anehnya membuat separoh tubuh kanannya sedikitpun tak mempunyai tenaga untuk mengadakan perlawanan, segera tubuhnya berhasil dilemparkan oleh Boen ching ketengah udara.

Tapi kaki kanannya tak berhenti, sekalipun Boen ching berhasil menghindarkan dari- dari tendangan yang mengancam batok kepalanya itu tapi tak urung bahu kirinya tetap terkena sapuan dari Kong ku ini. Kedua orang itu segera bangkit berdiri dan berhadapan dengan terpesona, bahu kiri Boen ching segera terasa linu dan sakit sekali, dalam hatinya diam-diam merasa terkejut, jikalau seandainya tadi terlambat satu langkah saja, kiranya sekarang ini bahu sebelah kirinya itu akan terlepas dari tempat aslinya.

Sedang dalam hati Kong ku pun jauh merasa lebih terkejut lagi, saat pengerahan tenaga dari Boen ching yang demikian tepatnya itu belum pernah dia menemui sebelumnya, sekalipun pedang panjang dari Boen ching telah terlepas dari tangannya, kiranya juga belum dapat dilawan dengan enteng.

Dengan kepandaian silat demikian tingginya ini sekali kali tidaklah boleh memperkenankan Boen ching lolos dari tempat ini, pada bulan yang lalu ketika bertempur melawannya, dirinya dengan demikian mudahnya telah berhasil melemparkan dia kedalam dasar telaga Naga Dingin, hanya berpisah selama satu bulan saja, kepandaian yang dimiliki itu ternyata dapat mengalami kemajuan yang demikian pesatnya, bukan saja dapat bertempur seimbang dengan dirinya, jika dilihat keadaan dihadapan mata ini, dirinya tak mungkin berhasil dapat mengalahkan dirinya.

Boen ching setelah berdiri termangu sejenak dia melirik memandang dua bilah pedang yang tertancap diatas atap istana tersebut, dua bilah pedang itu tertancap demikian dekatnya, jaraknya tak lebih hanya setengah cun saja, sedang kedua bilah pedang itu membentuk suatu bentuk sudut, jarak gagang pedang yang satu denugan yang lain hanya dua coen.

Didalam hatinya dia telah mempunyai perhitungan, sekarang ini saja yang berhasil merebut pedang terlebih dahulu, dialah yang akan menguasai keadaan, sekalipun keadaannya sekarang ini dapat dikatakan seimbang, tapi dia hanya menggantungkan diri dari ilmu " Thay Thien Kioe Sih" saja adalah tidak cukup, ilmu "Thay Thien Kioe Sih" tersebut hanya dapat digunakan untuk menyerang musuh apabila pihak musuh tak mengadakan persiapan terlebih dahulu, dalam hal ini haruslah merebut kedudukan terlebih dahulu dan ketepatan saat bergeraklah yang mempengaruhi, sedang apabila harus bertempur saling berhadapan pastilah dirinya akan mengalami kekalahan-

Kong ku dengan dingin mendengus, dalam hati diapun telah mempunyai perhitungan, dia takkan bertempur dengan Boen ching dalam jarak dekat dia ingin menggunakan hawa "im Ya ceng Khie" untuk membinasakanBoen ching di bawah telapak tangannya.

Boen ching dengan perlahan menggeserkan tubuhnya kesebelah kiri, tubuhnya segera melompat keatas, dan melayang menubruk keatas istana

Kong ku menjadi tertegun segera dia sadar bahwa Boen ching adalah hendak merebut pedang, apabila Boen ching berhasil mendapatkan pedangnya kembali dan melancarkan ilmu Hong Loei chiet Kiam, dirinya yang melawan dengan tangan kosong sudah tentu takkan sanggup untuk menahan serangan tersebut. Tubuhnyapun segera meloncat keatas mengejar kearah Boen ching.

Kedua orang itu semuanya terhitung sebagai jago2 berkepandaian tinggi didalam Bulim, sekalipun Kong ku mengejar dari belakang tapi jika dilihat kedua orang itu hanya terpaut setengah badan saja.

Boen chingpun sejak tadi telah menduga kalau Kong ku tentu akan mengejar dirinya, sepasang kakinya berturut-turut melancarkan tendangan dengan menggunakan ilmu "cing Po chiet Your dan mengancam jalan darah terpenting di depan tubuh Kong ku.

Kong ku dengan gusar mendengus, sepasang tangannya menyambar dengan menggunakan tenaga ^Im Yang ceng Khinya menerjang Boen ching.

Boen ching dengan cepat menarik kembali sepasang kakinya, dan menarik napas panjang-panjang, tubuhnya tahu- tahu telah mencapai jarak satu orang lebih dari Kong Ku, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Boen ching itu didapatkan dari Ie Bok Tocu, dan dapat disebut sebagai jago nomor wahid, sedang Kong Ku, ditengah udara harus mengerahkan tenaga, sehingga membuat tubuhnya agak merosot ke bawah, dengan demikian Boen ching menjadi dapat melampaui jauh diatas, saking gusarnya dia tak henti-hentinya mendengus, dan tidak lagi mengejar kearah Boen ching, sambil memberatkan tubuhnya dia turun kembali keatas tanah.

Boen ching segera mencabut pedang Ie Bok Kiamnya, sambil balikan tubuhnya bersiap akan mengadakan penyerangan, tetapi nampak Kong Ku ternyata telah  menerima sebatang pedang dari anak murid istana chie Lan Kong, dengan memegang pedang dia berdiri tegak.

Dalam hatinya terasa agak keCewa. dengan perlahan dia mendengus, tubuhnya segera melayang turun kebawah, dan berdiri dihadapan Kong Ku dengan jarak tiga kaki jauhnya.

Dengan dingin ujar Kong Ku:

"Pada saat kedua belah pihak kehilangan pedang nya, pada saat itu pula waktumu untuk menerima binasa".

sekalipun dalam hati Boen ching merasa terkejut, tetapi tetap dengan dingin ujarnya.

"Aku kira kali ini tidaklah sampai kedua belah pihak harus kehilangan pedang lagi, jika kau sekali lagi melancarkan serangan, aku kira kaupun akan mengalami kematian dibawah ilmu "Hong Loei chiet Kiam" yang aku lancarkan".

Kong Ku dengan perlahan memandang pedang  panjangnya, bersiap-siap melancarkan serangan-

Boen ching dengan dingin mendengus, kepada Kong Ku ujarnya lagi,

"Sedikit-sedikitnya kali ini kedua belah pihak akan mengalami luka parah, ilmu "Hong Loei chiet Kiam" merupakan jurus- jurus serangan, jikalau bukannya tadi menyerang menjadi kedudukan bertahan aku kira pada saat ini darahmu menjadi berCeCeran diatas tanah."

Dalam hati Kong Ku diam-diam merasa sangat terkejut, dirinya membatin, bahwa perkataan yang diucapkan Boen ching ini agaknya tidak berbohong, pada saat ini dia tidak mengijinkan dirinya binasa bersama-sama dengan Boen ching, dengan tindakan dari Boen ching diatas gunung siong San itu, dia juga dapat melakukannya.

Boen ching nampak Kong Ku tidak berbicara lagi, ujarnya kemudian. "Mana Bwee Giok dan Shie Siauw In???"

Kong Ku tidak ingin bertempur mati-matian melawan Boen ching, tetapi kalau dengan demikian melepaskan Boen ching sebenarnya dalam hatinya tidaklah mengijinkan, setelah berhenti sejenak dia tidak membuka mulut bercakap-cakap lagii Tanya Boen ching lagi: "Mana mereka ??"

Kong Ku membuka lebar mulutnya tapi sepatah katapun tak keluar dari mulutnya, yang terbuka itu, sebenarnya dia ingin mengucapkan beberapa kata yang membuat Boen ching menjadi gusar, tapi diapun tak ingin bertempur secara  mati2an melawan Boen ching. Boen ching yang nampak sikapnya yang demikian itu dengan cepat bertanya lagi. "Mengapa kau tak menjawabnya ??"

Hati Kong Ku menjadi tergerak. dalam hati pikirnya "kesempatan selanjutnya untuk bertemu dengannya masih sangat banyak sekali, mengapa harus ini hari membereskannya, "dengan suara yang serak ujarnya. "Bagaimana aku dapat mengetahuinya"

Boen ching menjadi tertegun, tapi segera dia menarik napas panjang-panjang, dia takut Kong Ku melancarkan serangan kearah nya dia tak berani memeCahkan perhatiannya lagi. Pendengaran dari Kong Ku itu sangat tajam sekali melebihi orang biasa, begitu dia mendengar Boen ching menarik napas panjang2, kaki kanannya dengan perlahan mundur setengah langkah kebelakang, sedang pedang ditangan kanannya sedikit diangkat, dia mengira Boen ching akan mengadu jiwa dengan dirinya. Boen ching setelah berdiri tertegun sesaat, kemudian ujarnya:

"Kalau memangnya demikian, kukira urusan diantara kita dapat kita selesaikan pada malam Tiong chiu pada bulan Delapan "

Kong Ku tertawa dingin ujarnya. "Maksudmu apa kau mau pergi dari sini??"

Sekalipun didalam hatinya dia tak menyetujuinya, tetapi didalam ucapannya dia bagaimanapun juga harus memperlihatkan sedikit kekerasan.

"Kau apakah menginginkan pada saat ini juga menentukan siapa yang menang dan siapa yang akan mengalami kekalahan ??"

Pada ujung bibir Kong Ku memperlihatkan senyuman yang sangat dingin, ujarnya.

"Begitupun baik, kita tak usah membereskan urusan tersebut pada hari ini juga, apa lagi kau masih mempunyai janji dengan Bu Kie chie dan kawan-kawannya, sedang akupun mempunyai ikatan persahabatan dengan mereka, sampaipada waktunya kita dapat membicarakan lagi"

Boen ching segera mendengus, diapun mengetahui maksud perkataan dari Kong Ku itu, pada pertemuan diloteng oei Hok Lo itu seluruh pendekar dan jago-jago dari empat penjuru dunia akan berkumpul menjadi satu, danpada saat itu dirinya tentu yang menjadi sasaran mereka, apabila Kong Ku dapat berserikat dengan salah seorangpun sudahlah Cukup untuk mengalahkan dirinya. Dia melirik memandang orang-orang yang ada dalam istana chie Lan Kong itu sejenak sambil menarik napas, tubuhnya bagaikan elang raksasa, telah melayang keatas istana itu.

Kong Ku menjadi tertegun, segera dia merasakan apa maksud tujuan dari Boen ching itu, tubuhnya segera meloncat mengejar dibelakang Boen ching.

Pedang Ie Bok Kiam ditangannya segera diputar, terdengar suara petir dan angin topan yang menyambar, diiringi dengan suara benda yang hancur, atap istana chie Lan Kong yang dibuat dari kaCa itu telah hancur satu lobang yang luasnya beberapa depa, sedang Boen ching bersama pedangnya telah menerobos keluar dari istana tersebut.

Kong Ku mehjadi gemas berCampur gusar, segera dia menggerakkan tubuhnya mengejar ke arah Boen ching, ketika dia mencapai diatas atap istana itu, Boen ching telah berada dua tiga-puluh kaki jauhnya, dengan menahan perasaan gusarnya, dia mengejar terus.

Tubuh Boen ching bagaikan anak panah yang lepas dari busur, bagaikan kilat cepatnya terus ke depan, ketika Kong Ku mencapai ditepi rantai baja itu, Boen ching telah berada ditengah dari rantai baja itu.

Kong Ku mengetahui betapa hebat ginkang yang dimiliki Boen ching itu tidak dibawah dirinya segera pedang ditangannya itu ingin mematahkan rantai baja tersebut, tetapi pikirannya segera berubah, berbuat demikian ini belum tentu Boen ching akan mengalami kematian ditangannya, malah sebaliknya rantai baja yang dibangun dengan susah payah itu musnah ditangannya sendiri, berpikir sampai disini sambil menghela napas dia balikkan tubuhnya dan berjalan pergi.

Boen ching sambil memasukkan pedangnya kedalam sarung, dia terus lari turun dari puncak sin Tok Hong itu, dia masih ingat Sek Giok Siang pernah memberitahukan kepadanya, bahwa dia akan menunggu dirinya dibawah puncak Sin Tok Hong ini, entah ada urusan apa

Pandangannya segera berputar kekiri dan kekanan, nampak Sek Giok siang seorang diri dengan ter-mangu2 berdiri dibawah sebuah pohon yang besar. Boen ching lari kesana, samail tertawa panggilnya.

"Nona Sek"

Sek Giok siang mengangkat kepalanya terpesona memandang kearah Boen ching, bagaikan tidak mengenalinya sama sekali, Boen ching menjadi tertegun, entah karena apa Sek Giok siang memandang dirinya dengan sinar mata yang demikian-setelah lewat beberapa waktu, mendadak Sek Giok siang dengan tertawa ujarnya^ "Kiranya adalah engkau baru datang, aku telah menanti sangat lama sekali.

Boen ching pun tersenyum sahutnya. "Nona Sek mencari aku entah mempunyai urusan apa??"

sek Giok siang mendongakkan kepalanya memandang angkasa, dengan seenaknya tanyanya. "Engkau datang kemari apakah hendak mencari dua orang nona ??".

"Benar Yang seorang adalah putri dari Pangcu perkumpulan Elang Sakti, Bwee Giok, sedang yang lain adalah sumoayku, shie Siauw In". Sahut Boen ching dengan cepat.

Sek Giok siang memandang ujung langit, agaknya dia sedang memikirkan urusan yang lain, setelah lewat sesaat, dia baru miringkan kepalanya sambil bertanya pada Boen ching. "Kau sudah mendapatkan mereka ??".

Boen ching dengan lemas menggelengkan kepalanya. Ketika dia naik keatas gunung tadi pernah merasakan kalau Sek Giok siang sedikit membawa hawa jahat, tetapi kini Sek Giok siang demikian memperhatikan urusannya, membuat dalam hatinya sedikit merasa menyesaL Sek Giok siang mendongakkan kepalanya lagi memandang ujung langit, dengan seenak nya pula ujarnya.

"Aku sejak tadi telah menduga kalau kau tentu tidak akan berhasil mencari mereka berdua".

Boen ching menjadi tertegun, belum sempat dia berbicara Sek Giok siang telah melanjutkan ucapannya.

"Karena, mereka memangnya bukan berada di istana chie Lan Kong".

Boen ching sedikit menjadi bingung, dia terhadap sikap dari Sek Giok siang ini makin tidak dapat menduga, tanyanya:

"Kalau begitu mereka berdua dimana ?? ". Sek Giok siang tersenyum, ujarnya:

"sudah tentu aku mengetahuinya, bahkan hanya aku seorang yang mengetahuinya"

Boen ching tidak mengetahui perkataan yang diucapkan oleh sek Giok siang itu benar atau tidak^ tetapi dia tetap mengharapkan Sek Giok siang mengetahuinya dengan sungguh2. Dengan cepat tanyanya.

"Apa nona Sek dapat memberitahukan kepada ku??".

sek Giok siang tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya ujarnya.

"Mana aku dapat memberitahukan kepada mu, tetapi aku dapat membawa kau pergi kesana, hanya aku takut kau tak dapat mengikuti diriku." Boen ching tak dapat berbuat apa2, sambil tersenyum pahit ujarnya:

"Nona Sek, jika mau membawa akupegi, aku pasti akan sangat berterima kasih sekali, aku pasti dapat menyusul dirimu". Sek Giok siang sambil tersenyum menganggukkan kepalanya, tubuhnya segera berkelebat, masuk kedalam rimba dan berlari terus.

Boen ching segera bangkit berdiri dan lari mengejar, hatinya terasa sangat terkejut,

kecepatan dari gerakan tubuh Sek Giok siang ini ternyata tidak dibawah dari suhunya Ie Bok Tocu, ternyata tak dapat mengejarnya.

Tubuh Sek Giok siang dalam sekejap mata saja telah lenyap dari pandangan, Boen ching yang berada ditengah hutan ini entah harus berbuat bagaimana baiknya, sungguh tak disangka olehnya kalau Sek Giok siang ternyata memiliki kepandaian silat yang demikian tingginya, teringat olehnya sikap serta perkataan yang diucapkan oleh iblis yang gemar paras elok, Ouw Yang Bu Kie, kini entah Sek Giok siang telah pergi kemana, berpikir sampai disini tanpa terasa dia menghela napas.

sek Giok siang mendadak muncul kembali dihadapannya, sambil tersenyum ujarnya.

"Aku bilang kau tentu tidak akan berhasil mengejar aku  toh, tetapi aku tak ingin menunggu dirimu, ditengah jalan aku meninggalkan tanda, kau turuttlah tanda itu mengejar diriku."

Dalam hati Boen ching sedikit merasa keCewa, semula Sek Giok siang berkata padanya bahwa dia tak mungkin akan berhasil mengejarnya, dia masih mengira perkataan yang diucapkan olehnya itu bohong, tetapi kini ternyata terbukti memang benar, terpaksa dia hanya menganggukkan kepalanya.

Sek Giok siang sambil tersenyum, tubuhnya segera bergerak. sekejap mata saja telah lenyap dari pandangan. Boen ching berdiri termangu-mangu di sana, setelah lewat beberapa waktu dia baru mulai mengggerakkan tubuhnya mengejar Sek Giok siang.

Diatas batu gunung atau pada pohon sering kali terlihat tanda-tanda yang ditinggaikan oleh Sek Giok siang, gambar tersebut dibuat oleh jari tangannya dan membentuk suatu gambar cermin pualam Thian Tuen, sedang diatas dari gambar tersebut terdapat panah yang menunjukkan arah yang harus ditempuh.

Dalam hati diam-diam Boen ching merasa sangat terkejut, kepandaian yang dimiliki sek Giok siang ini ternyata demikian tingginya, cukup dilihat dari kekuatan Sek Giok siang saja telah jauh melebihi kepandaian dirinya.

Demikianlah selama tiga empat hari Sek -Giok siang selalu meninggalkan tanda petunjuk jalan. Boon ching sendiripun tidak mengetahui Sek Giok siang ini sebenarnya hendak membawa dirinya kemana, dia hanya mengejar dengan kencangnya.

Dia perCaya kalau Sek Giok siang dapat menipu dirinya, apalagi dia memiliki kepandaian silat yang demikian tingginya, sudah tentu dia jauh lebih mengetahui urusan yang dirinya sendiri, tidak mengetahuinya.

Telah lewat dua tiga hari lagi, masih tetap sepanjang jalan terdapat tanda-tanda petujuk jalan, sedang dalam hati Boen ching pun merasa agak tegang, jalan yang ditunjukkan oleh Sek Giok.siang itu ternyata adalah jalan yang menuju ke gurun pasir. Tetapi dia masih tetap terus mengejar dari belakang.

Akhirnya sampailah dia ditepi gurun pasir, sedang tanda petunjuk jalan yang terakhir pun menunjukkan kearah gurun pasir.

Boen ching menjadi sedikit bimbang, dengan seorang diri dia berdiri ditepi padang pasir, dan memandang gurun yang tak ada ujung pangkalnya itu, dia sama sekali tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan sekarang ini.

Apakah boleh dikata dia akan memasuki gurun pasir ini?. jika dikatakanBwee Giok dan shie Siauw In berada ditengah gurun pasir yang demikian luasnya itu, dia tidak akan mempercayainya, mereka berdua bagaimana dapat berada disana?"

Sesosok bayangan manusia berkelebat, sekali pandang saja dia telah mengenalnya dialah Sek Giok siang adanya. Kepada Boen ching ujarnya. "Sudah hampir sampai, kau turutlah aku."

Sambil berkata tubuhnya bergerak dan lari menuju ketengah gurun pasir tersebut. Hati Boen ching seperti bergerak, pikirnya:

"Selama tiga puluh tahun lamanya Ouw Yang Bu Kie berdiam digurun pasir yang sunyi ini, bahkan katanya pada tiga puluh tahun yang lalu itu bukanlah disebabkan karena didesak oleh Thian Jan Shu, sudah pastilah mempunyai hubungan yang erat dengan Sek Giok siang ini. "

Berpikir sampai disini, tubuhnya segera bergerak. dengan Cepatnya ia mengejar kearah sek Giok siang.

Empat penjuru hanya terlihat pasir berwarna kuning melulu, dari ke jauhan Boen ching hanya dapat melihat setitik bayangan punggung dari Sek Giok siang, pada dadanya terasa sakit sekali, jikalau dia kehilangan jejak dari Sek Giok siang, mungkin juga selama nya dia akan terkubur ditengah gurun pasir yang sunyi ini. Dia tidak paham mengapa Sek Giok siang berbuat demikian-

oooXooo

DIA BENAR2 tak sanggup untuk mengejarnya lagi, pada ujung langit mulai nampak mega yang mempunyai lima  warna, sebuah demi sebuah terbang dan melayang ditengah udara, sekejap mata saja telah berubah menjadi sebuah layar yang dengan perlahan bergerak ditengah udara itu.

Boen ching saking lelahnya dia tertunduk diatas pasir berwarna kuning yang sangat panas itu, sedang bayangan dari Sek Giok siang pun telah lenyap dari pandangan mata.

-oooo0dw0oooo-

TUBUH Boen ching merasa sangat lelah sekali, berturut- turut beberapa hari ini hampir dia tidak mendapatkan istirahat yang cukup,

Sejak lolos dari Telaga naga Dingin, bertempur melawan lblis sakti dari daerah selatan, dengan ilmu Ngo Heng Kiam Hoatnya menyadarkan Lam Kong Hun, terus naik ke istana chie Lan Kong, ditengah lima barisan dalam istana chie Lan Kong, harus menempuh bahaya kemudian diikuti dengan setelah keluar dari barisan bertempur melawan Kong Ku, turun dari istana chie Lan Kong dan melakukan perjalanan yang demikian jauhnya, setiap hari sampai tidur pun tak berani terlalu lama, dengan sekuat tenaga melakukan pengejaran, ditambah lagi baru saja lari dengan sekuat tenaga, bagaimana dia dapat bertahan terhadap penderitaan yang demikian hebatnya itu

Dia merangkak diatas pasir yang berwarna kuning itu, setelah menghembuskan napas dengan keras dia menggoyangkan kepalanya, barulah pandangan yang melamur tadi dapat dihilangkan-

Dia menutup kedua belah matanya, setelah beristirahat sejenak dari dalam sakunya dia mengeluarkan pil "Liong Hiat Sin Tan- pemberian suhunya Ie Bok Tocu dan menelannya  tiga butir, kemudian berisirahat sejenak lagi, barulah bangkit berdiri mengejar kearah dimana tadi Sek Giok siang pergi. cuaca makin menjadi gelap. Boen ching mengangkat kepalanya memandang bintang2ya bertebaran dilangit, dan diingatnya kedudukan dari bintang2 tersebut, benar2 saat ini dia merasa sangat lelah, saking tak tahannya dia merebahkan dirinya diatas pasir dan jatuh tertidur dengan nyenyaknya.

Ditengah gurun pasir yang sunyi itu, kalau dipagi hari hawanya panas tak tertahan, sedang pada malam hari sangat dingin sekali hawanya, Boen ching yang pernah tinggal ditengah "Han Sien Leng Uh" serta Telaga Naga Dingin yang demikian dinginnya itu, sudah tentupada saat ini tidak merasakan dinginnya hawa.

cuaca baru saja menjadi terang, Boen ching baru mementangkan kedua matanya, tampak sek Giok siang telah berdiri didepannya.

Dia menjadi terkejut, dengan cepat bangkit berdiri, belum sempat dia membuka mulut untuk berkata, terlihat Sek Giok siang sambil tersenyum telah berkata. "Sungguh tak enak denganmu, membuat kau menjadi kedinginan-"

Boen ching menjadi termangu-mangu, ia nampak pada wajah Sek Giok siang sekalipun menampilkan senyuman yang menarik. tetapi sinar matanya ternyata telah memancarkan sinar yang sangat sesat sekali, dalam hatinya merasa sangat takut, tetapi dia tetap tersenyum, sedang dalam hati pikirnya.

"Aku terhadapnya tidak pernah berbuat sesuatu kesalahan, mengapa harus takut padanya ?"

Sekalipun dia berpikir demikian tetapi pada mulutnya dia tetap berdiam diri tak berbicara.

sek Giok Siang dengan perlahan menghela napas, sambil tertawa ujarnya.

"Kau ikutlah aku, kali ini aku akan berjalan lebih lambat lagi, dengan demikian mungkin kau masih dapat mengikutinya." Boen ching merasa sedikit keCewa, tetapi ia tetap mengikuti Sek Giok siang dari belakang.

Sek Giok siang yang berjalan didepan itu, dengan kencang Boen ching mengikuti dari belakangnya, dia memandang wajah Sek Giok siang dari samping, nampak sinar matanya berkedip terus, pipinya yang berwarna merah dadu itu membuat wajahnya kelihatan sangat Cantik.

Boen ching tak dapat mengatakan apa- apa, ternyata dia merasa sangat takut dengan gadis cantik dihadapannya itu.

Dirinya pun tidak dapat mengatakan mengapa dia dapat berbuat demikian, sebelumnya ia pernah mengagumi gadis ini, tetapi kini ternyata dia demikian takutnya terhadap dia, Sek Giok siang belum pernah melakukan kejahatan atau mengandung maksud jahat sedikitpun kepadanya bahkan pernah menolong jiwanya, tetapi ternyata dia sangat takut,  dia takut terhadap sinar mata yang mengandung hawa sesat dari mata Sek Giok siang.

Itukah yang dinamakan sinar yang sesat? Dia sendiripun tak mengetahuinya, dia hanya tahu bahwa sinar mata itu membUat dirinya sangat takut sekali.

Sek Giok siang terus tidak mengangkat bicara, dengan diam2 dia berjalan kedepan kali ini, dia telah memper^lambat tindakannya, sedang Boen ching pun dapat mengikutinya.

Dia membawa Boen ching terus menuju ketengah gurun pasir, dalam hati Boen ching menjadi ragu-ragu, apakah dua orang nona itu benar-benar berada ditengah gurun pasir ini? tapi urusan ini membuat orang sukar untuk memperCayainya.

Dengan diam-diam sambil melanjutkan perjalanannya dia mengingat arah yang ditujunya.

Kedua orang itu setelah berjalan setengah harian terdengar Sek Giok Siang sambil tersenyum ujarnya. "Sudah sampai. " Boen ching mendongak memandang ke depan, nampak ditengah gurun pasir terdapat sebuah tanah yang subur dan hijau disamping sebuah kolam tumbuh rumput hijau dengan suburnya, dia segera mengusap kedua matanya, dia tak perCaya kalau ditempat semaCam ini dapat muncul tanah yang demikian subur itu.

Tampak disamping kolam keCil itu berdiri sebuah rumah yang dibuat dari kayu. sek Giok Siang tertawa kepada Boen ching, ujarnya. "Mereka berdua berada dalam rumah kayu itu."

Boen ching jadi termangu-mangu, dia memandang sejenak pada rumah kayu itu, kepada sek Giok Siang tanyanya. "Siapakah yang berdiam dirumah kayu itu"

SAMBIL tertawa, ujar Sek Giok Siang:

"Engkau menanyakan majikan dari rumah itu? "

Boen ching menganggukkan kepalanya, sedang dalam hati pikirnya. "Apa bedanya dengan pertanyaanku? ? "

Sambil tersenyum sahut Sek Giok Siang: "Akulah majikannya"

Boen ching menjadi terkejut dia mundur selangkah kebelakang, dengan terpesona memandang wajahnya,  sejenak kemudian setelah menghembuskan napas, sambil tertawa ujarnya: "Nona Sek, janganlah kau bergurau ".

Sambil tersenyum balas Sek Giok Siang:

"Perkataan yang aku ucapkan adalah ucapan yang sungguh-sungguh " .

Boen ching menjadi tertegun, dengan tertawa yang dipaksa tanyanya: "Lalu siapakah yang menawan Nona Bwee serta sumoayku kemari? ? ? " . Sehabis berbicara, dia menduga mungkin Sek Giok Siang sedang bergurau dengan dirinya, sambil tersenyum ujarnya lagi:

"Nona Bwee dan sumoayku apa benar-benar didalam rumah kayu itu? ? ? "

Sek Giok Siang tersenyum, pada matanya sekali lagi berkelebat sinar mata yang sesat, ujarnya.

"Berbicara terus terang, mereka berdua adalah aku yang menangkap dan membawanya disini, oleh sebab itu selain aku tak seorangpun yang akan mengetahui tempat di mana mereka berada"

Boen ching menjadi termangu, dia mundur selangkah kebelakang, dengan nada yang sungguh-sungguh tanyanya:

"Nona Sek bukankah sedang bergurau? ". Sambil tersenyum sahut Sek Giok Siang.

"Kalau kau tak percaya bolehlah pergi kesana untuk melihatnya"

Sehabis berkata dia berjalan lebih dahulu memimpin Boen ching kerumah kayu disisi kolam keCil tersebut. dalam hati Boen ching merasa setengah perCaya dan setengahnya ragu- ragu, dengan Cepat dia berjalan disisi Sek Giok Siang.

Belum sampai didepan rumah kayu itu, dari dalam rumah itu muncul dua orang gadis yang bersama-sama memanggil: "ching Toako "

Boen ching menjadi sangat terkejut, kedua orang gadis itu jika bukannya Bwee Giok dengan Shie Siauw In masih ada siapa lagi? dengan termangu-mangu dia berdiri mematung disana, matanya terasa sedikit menjadi basah, kedua gadis itu semuanya adalah karena dirinya sehingga mengalami penderitaan yang demikian itu. Sambil tersenyum Sek Giok Siang berkata lagi. "Bagaimana? aku tidak menipu dirimu bukan? "

Boen ching balikkan tubuhnya memandang sek ciok Siang, kemudian ujarnya dengan perlahan.

"Nona Sek, dapatkah kau melepaskan diri mereka berdua, biar aku yang membawanya pulang? "

sek Giok Siang dengan perlahan menggelengkan  kepalanya, sambil tertawa ujarnya.

"Tidak dapat, aku telah menangkap mereka berdua kemari, bagaimana dapat melepaskan mereka begitu saja "

Boen ching memandang kearah rumah kayu itu, nampak kedua orang gadis itu agaknya dikurung didalam rumah itu dan tak dapat keluar lagi.

Dia sadar bahwa kepandaiannya yang dimiliki Sek Giok Siang itu jauh lebih tinggi dari dirinya, tetapi entah karena apa dia telah mengurung Bwee Giok dan Shie Siauw In ditempat ini.

Apakah mungkin mereka berdua telah menyalahi Sek Giok Siang? Dia termenung sejenak, kepada Sek Giok ujarnya lagi.

"Jika mereka berdua telah membuat salah terhadap nona Sek, aku mewakili mereka berdua meminta maaf kepadamu, harap nona Sek mau melepaskan mereka berdua".

Jarak antara Boen ching serta Sek Giok Siang dengan rumah kayu itu masih jauh sekali, sehingga perkataan yang diucapkan oleh kedua orang itu tak dapat didengar oleh kedua gadis tersebut, terdengar Shie Siauw In dengan nada yang keras berteriak.. "ching Toako, engkau sedang membicarakan apa dengan dia? " sek Giok Siang tersenyum, kepada Boen ching ujarnya.

"Mereka berdua tidak pernah berbuat salah terhadapku, aku menawan mereka berdua adalah bermaksud hendak memancing kau datang kemari, tak usahlah kau mewakili mereka meminta maaf terhadapku" Boen ching menjadi tertegun, ujarnya.

"Nona Sek, kau adalah tuan penolongku ada urusan apa, aku Boen ching, jika dapat melakukannya tentu akan kukerjakan dengan sekuat tenaga, agar Nona Sek jangan menyulitkan diri mereka berdua" sek Giok Siang tertawa tawar, dia menggelengkan kepalanya, sambil ujarnya.

"Tidaklah demikian mudahnya, tahukah kau urusan apa yang aku inginkan? "

Boen ching termenung sejenak. lalu sahutnya Boen ching "sekalipun disuruh menyebrangi lautan apipun akan kukerjakan".

Terlihat sinar mata yang sesat berkelebat dimata Sek Giok Siang, dengan suara yang tegas ujarnya.

"Aku ingin kau pergi merebutkan tujuh buah hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu itu kepadaku".

Hati Boen ching menjadi bergetar, pikirnya. "Kiranya adalah karena urusan tujuh hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu itu, urusan ini sungguh-sungguh tak ku nyana sekali, jika menurut pandangan yang aku lihat, kepandaian yang dimiliki Sek Giok.-siang ini jauh lebih tinggi setinggi dari kepaedaian yang dimiliki oleh Kong Ku, ternyata diapun juga ingin memperebutkan tujuh buah hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu itu". Dia termenung agak lama, sepatah kata pun, tak diucapkan. sek Giok Siang dengan nada yang keren tanyanya. "Bagaimana, engkau tidak sanggup? "

Boen ching sambil menundukkan kepalanya ujarnya.

"Nona sek, kau harus tahu bahwa tujuh buah hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu itu seluruhnya berada ditangan ciangbunjin dari enam partai besar Serta pemilik IStana chie Lan Kong-Kong Ku, sedang perjanjian yang diadakan pada Bulan delapan malam Tiong chiu entah masih berapa banyak tokoh-tokoh berkepandaian tinggi yang menghadirinya, aku Boen ching hanyalah seorang dari angkatan muda, mana mempunyai hak untuk merebutkan tujuh buah hioloo kuno tersebut" Sek Giok Siang tersenyum ujarnya.

"Siapa yang tidak tahu kalau lima orang murid Tan coe coen jika bergabung bersama-sama turun tangan pada saat ini sukar untuk mencari tandingannya, tujuh buah hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu itu akhirnya pasti jatuh ke tanganmu."

Dengan Cemas sahut Boen ching.

"Nona sek, kau tidak tahu, Su supekku Seh TU Hoa telah menghindari pergUruan, aku kira barisan Ngo Heng Tin tidak mungkin bisa diatur lagi". Dengan tawar ujar Sek Giok Siang lagi.

"Engkau jangan menolak. pokoknya kau haruslah membawah tujuh buah hioloo peninggalan Thian Jan Shu itu datang kemari untuk ditukar dengan mereka berdua, aku membawa kau datang kemari hanyalah untuk memberitahukan kepadamu babwa mereka berdua benar- benar telah terjatuh di tanganku, dan aku tidak sedang  menipu dirimu".

Boen ching segera mundur selangkah, dengan terpesona dia memandang Sek Giok siang, dia tidak pernah menyangka kalau gadis yang demikian Cantiknya itu ternyata adalah seorang yang rakus akan harta pusaka berhati kejam dan sangat licik sekali.

Didalam hatinya segera terasa suatu perasaan yang tidak enak sekali, mendesaknya sehingga sukar untuk ditahan.

Sinar mata yang mengandung hawa sesat itu terasa memancar keluar dari mata Sek Giok Siang. kemudian sambil menutup kedua matanya ujarnya dengan perlahan. "Aku sekarang akan melepaskan kau pergi, cepatlah kau meninggalkan tempat ini, setelah mendapatkan tujub buah hioloo kuno itu bawalah kembali kemari".

"Sreeet-----" Tahu ditangan Boen ching telah mencekal pedang Ie Bok Kiamnya dengan terpesona memantang Sek Giok-siang. sek Giok-siang tertawa ringan ujarnya.. "Kiranya hendak bergebrak dengan aku."

Boen ching menutup mulutnya tidak menjawab, setelah berdiri tertegun sesaat barulah ujarnya.

"Nona Sek. engkau pernah melepaskan budi padaku dan menolong jiwaku, tetapi budi dan dendam tidaklah dapat menjadi satu, jika kau tidak melepaskan sumoayku dan nona Bwee maka kita berhadapan sebagai musuh." Terdengar Shie siauw In berterlak lagi.

"Boen Toako, jangan kau bertempur melawan dia, kepandaian yang dimiliki sangat tinggi sekali, engkau tidak mungkin dapat mengalahkan dirinya."

sek Giok-siang tidak berbicara, hanya dengan tawar ejeknya: "Engkau dengar tidak perkataaan Sumoay mu itu"

Boen ching tidak memperdulikannya, pedang ditangan kanannya digetarkan, dan melanjutkan serangan mengancam pelipis Sek Giok-siang.

Sek Giok-siang tersenyum, tubuhnya berkelebat dua jari kanannya berkelebat bagaikan ular mendesak mengancam sepasang mata Boen ching.

Boen ching segera menghindar kekanan, tubuh Sek Giok siang bergerak seCepat kilat, sejak sebelumnya dia telah menduga Boen ching tentu akan menghindar ketempat itu, kedua jari kanannya dikerahkan, dengan perlahan ditotokan keatas urat nadi ditangan Boen ching, pedang panjangnya segera terpukul jatuh ketanah. sek Giok-siang memandang tajam kearah Boen ching sejenak. kemudian baru ujarnya. "Engkau pergilah, sekarang ini aku masih tidak ingin membunuh dirimu, jika kau tidak pergi lagi, janganlah menyalahkan aku kalau akan menggunakan kekerasan".

Boen ching memungut kembali pedang Ie Bok Kiamnya, dia merasa sangat berduka sekali, sebenarnya dia ingin menggunakan ilmu pedang “Hong Loei chiet Kiam" untuk bertempur mati-matian melawan Sek Giok-siang, tetapi mendadak semangatnya untuk bertempur menjadi hilang, sedikit semangatpun tidak ada. Terdengar sekali lagi Shie Siauw In berteriak dari jendela.

"ching Toako, Cepatlah kau pergi memanggil ibuku datang Kemari".

Boen ching segera memandang kearah Shie Siauw In berteriak, sedang pada saat itu Bwe Giok sebelumnya telah bersembunyi kembali, dia tahu kedua orang gadis itu tentunya tidak akur dalam hatinya merasa sangat berduka sekali. Sek Giok-siang berkata lagi kepada Boen ching.

"cepatlah kau pergi dari sini, jarak pertemuan pada bulan delapan malam Tiong chin tanggal sepuluh dari hari ini, jika kau tidak berangkat lagi kiranya akan terlambat datang dalam pertemuan tersebut".

Boen ching segera memasukan pedang Ie Bok Kiamnya kedalam sarung, setelah menghela napas panjang, dengan gemasnya dia menepukkan kakinya diatas tanah, dengan keras kemudian baru membalikkan tubuhnya lari pergi.

Ditengah perjalanan dia terus berpikir, dengan seorang macam Sek Giok Siang ini bagaimana dapat menjadi sesat? ketika dia tertawa sungguh Cantik sekali, bahkan diapun tak mempunyai alasan untuk berbuat demikian-Sungguh tak disangka kepandaiannya demikian tingginya, ternyata sifatnya sangat kejam. Dia sambil berpikir, sambil melakukan perjalanan Siang malam untuk memenuhi pertemuan yang diadakan diloteng oei Hok Lo pada bulan delapan pada malam Tiong chiu.

Bulan delapan malam Tiong chiu, udara demikian Cerahnya, sedang loteng oei Hok Lo berdiri dengan teguhnya, tetapi didalam gedung yang megah itu terkumpullah jago-jago dari dunia kangouw sedang memperebutkan tujuh buah hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu. oei Hok Lo sejak tadi telah diatur sedemikian rupa oleh anak murid dari enam partai besar, sedang diatas loteng tersebut kosong melompong tak nampak sesuatu bendapun .

ciang bunjin dari enam partai besar satu demi muncul diatas loteng oei Hok Lo itu, ciangbunjin dari Go bie Pay, Gong Yun Suthay, ciang bunjin dari Kong tong Pay, Bu Kie chie, Butong Pay, Siang Kok Toosu, Thian cong Pay chiet Poh Tui Hun Kiam, chie Kun-Tie, ciangbunjin dari Kun Lun Pay, Kiam Kiem Siu cay chiang Thian Yu, dan ketua Hoa San Pay, sui Gwat ciang, shia cie soat, pada sepuluh tahun yang lalu ketua- ketua tujuh partai besar yang telah mengakibatkan Boen ching menderita luka berat, pada saat ini diantara tujuh orang telah datang enam orang.

Keenam orang tersebut pada masing-masing tangannya membawa sebuah hioloo kuno, begitu naik keatas loteng tak seorang pun yang membuka mulut untuk berbiCara, bersama- sama duduk bersila diatas tanah, sedang Hioloo kunonya diletakan dihadapannya masing-masing .

Terlihat bulan yang bulat itu dengan perlahan terbit dari sebelah timur, bayangan bulan baru saja timbul, ditengah suara tertawa yang sangat kalap telah muncul pemilik istana chie Lan Kong, Kong Ku. Tubuhnya berkelebat seCara kilat melayang masuk kedalam loteng itu, sedang pada tangan kanannya pun menyungging sebuah hioloo. ciang bunjin dari enam partai tersebut segera bersama-sama bangkit berdiri, sambil tertawa besar, ujar Kong Ku: "Kiranya ciangbunjin dari enam partai besar telah hadir seluruhnya. Tetapi mengapa Boen ching masih belum hadir?".

Bu Kie chie tertawa dingin, ujarnya"Dia pasti akan hadir? " .

Peristiwa sepuluh tahun yang lalu dipuncak gunung Hwee Ing dia masih ingat di benaknya, sedang gerak gerik dari Boen ching pun masih sangat jelas sekali didalam benaknya itu, dia tahu Boen ching pasti akan hadir ditempat ini.

Mendadak segulung angin yang kencang menyambar datang, terlihat empat buah bayangan manusia bersama-sama turun di atas loteng tersebut.

Kong Ku begitu mendengar suara menyambarnya angin diam-diam merasa terkejut, sambil membelakangi tubuhnya ujarnya.

"Sungguh sangat beruntung sekali, setan arak, paras elok, harta serta kedudukan, empat orang iblis sakti ternyata dapat bersama-sama muncul ditempat ini" . Toan Bok ci Jien tertawa dingin, ujarnya:

"Hal ini tidaklah aneh sekali, mengapa harus demikian kagetnya" . ciangbunjin dari enam partai nampak munculnya empat iblis sakti ditempat itu, juga tanpa terasa menjadi terkejut .

Kong Ku dengan dingin mendengus, dia tetap tidak menoleh memandang, tanyanya kemudian:

"Kalian berempat apa juga datang karena urusan Tujuh buah hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu ini? "

Empat iblis Sakti itu semuanya merupakan orang-orang yang telah lama mempUnyai nama, mana dapat menahan perasaannya melihat Kong Ku demikian memandang rendah diri mereka. Kong Beng Sang pertama yang menjadi tidak sabar, dengan dingin ujarnya: "Aku kira Kong Ku adalah seorang yang sangat lihay sekali, tak tahunya hanyalah sebuah gentong nasi yang tak berharga ".

Kong Ku dengan dingin tertawa panjang, dia sebenarnya hendak membuat gusar keempat orang iblis sakti itu baru bertempur, Kong Beng Sang membuka mulut membuat dia menjadi gusar, hioloo kuno ditangan kanannya itu segera diletakkan diatas tanah, yang kemudian melancarkan  serangan hebat ketubuh Kong Beng Sang.

Sekalipun pada mulutnya Kong Beng Sang kelihatannya tidak jeri kepada siapapun juga , tetapi saat ini diapun tidak berani untuk tidak lebih berhati-hati lagi, pedang tembaga serta pit peraknya bersamaan waktu melancarkan serangan secara berbareng, pedang tembaga ditangan kirinya mengancam leher Kong Ku, sedang pit peraknya menotok dada kanannya.

Kong Ku begitu nampak Keng Beng Sang melancarkan serangan secara demikian, dalam hatinya diam-diam merasa sangat terkejut, kecepatan Kong Beng Sang didalam melancarkan serangan ternyata diluar dari dugaannya, ketika digunumg Siong San, Toan Bok ci Jien belum sampai bertempur dengannya telah lari pergi, dia mengira kelihayan dari keempat iblis sakti itu jauh berbeda dengan berita yang tersiar, tetapi kini setelah lewat satu jurus, dia segera paham, jika dia ingin menggunakan tangan kosong untuk melawan sepasang senjata dari Kong Beng Sang, sukar sekali baginya untuk merebut kemenangan-Telapak tangan kanannya segera melancarkan pukulan mematahkan serangan pit perak dari Kong Beng Sang, tubuhnya miring kesamping, telapak tangan kirinya balas menerjang keiga kanannya.

Kong Beng Sang juga tidak menghindari serangan itu, dengan Cepat dia menarik kembali sepasang senjatanya untuk melin-dungi tubuhnya, sedang dalam hatinya diam-diam dia merasa terkejut. ternyata Kong Ku dengan tangan kosong telah menerima serangan sepasang senjatanya, membuat dia tak berlutik sama sekali.

Dua orang itu saling melancarkan serangan hanya  dilakukan dalam waktu sekejap mata saja, orang-2 di empat penjuru yang melihat pertempuran seru inipun diam-diam merasa terkejut, sedang ke enam ciangbunjin dari enam partai besar, diam-diam pun dalam hatinya bercekat.

Dengan tenaga dalam setiap orang yang hadir ditempat ini jika dibandingkan dengan tenaga dalam dari keenam ciangbunjin dari enam partai jauh lebih tinggi sepuluh kali lipat, tetapi dalam hati mereka telah mempunyai rencananya masing-masing, mereka semua hanya mengandaikan satu jurus saja, satu jurus yang mereka berhasil mendapatkannya dari tubuh hioloo kuno yang mereka miliki.

Apabila satu jurus ini tidak mendatangkan hasil, kiranya jika pertempuran dilanjutkan lagi sukarlah bagi mereka untuk mendapatkan kemenangan.

Kong Ku yang saling serang menyerang dengan Kong Beng Sang, dalam hati kedua orang tersebut masing-2 merasa terkejut, dalam kalangan itu segera menjadi sunyi senyap sama sekali tak nampak seorangpun yang membuka mulut mengangkat bicara.

Lama kemudian terdengar Ouw Yang Bu Kie tertawa tawar, setelah menyapu sekejap pada orang yang hadir ditempat itu, baru ujarnya:

"Waktu itu Thian Jan Shu telah meninggaikan telapak tangan pada tubuh ketujuh buah hioloo kuno itu, dan meninggalkan kepandaian silatnya, sudah tentu tujuh buah hioloo kuno itu setiap orang berhak untuk mendapatkannya, kita berempat selamanya tidak bersama-sama tetapi bila dilihat keadaan ini hari, kita berempat tidak akan mengijinkan orang lain selain kita berempat untuk mendapatkan ketujuh buah hioloo kuno tersebut. Sehabis berkata sepasang matanya yang memancarkan sinar tajam itu menyapu ke sekeliling kalangan-Perkataan yang baru saja diucapkan itu terang-terangan mengatakan bahwa ini hari empat iblis sakti akan bergabung menjadi satu, dan tidak mengijinkan orang lain ikut campur.

Urusan ini adalah hasil pemikiran dari ke empat iblis sakti itu dan berguna bagi mereka, sudah tentu diantara keempat orang itu tak seorangpun yang membantahnya.

Kong Ku diam-diam merasa terkejut, setan arak. paras elok. harta dan kedudukan apabila menjadi satu, kiranya merupakan lawan yang paling tangguh dari tujuh orang pada saat ini, ke empat orang itu masing2 memiliki ilmu silat yang sangat lihay, hal ini adalah sukar sekali untuk dihadapinya. Terdengar Bu Kie chie dengan dingin mendengus ujarnya: "Apa kau kira demikian mudahnya? "

Kiem cang Thiat cie mengerutkan alisnya, dengan dingin  dia tertawa panjang, ujarnya.

"Ditempat ini kau kira tidak mempunyai kesempatan bagimu untuk ikut serta angkat bicara."

Bu Kie chie tertawa dingin, sahutnya.

"Tahukah kau waktu itu, Thian Jan Shu bagaimana mengalami kematian? "

Dia binasa dibawah senjata pusaka "Thian Liong Suo kepandaian silat yang kau milik sekarang ini apa jauh lebih lihay dari kepandaian silat yang dimilikinya? " Chang Sun Loei yang mendengar ucapan Bu Kie chie ini, tahu bahwa senjata pusaka Thian Liong Suo kini berada ditangannya, dia tertawa besar ujarnya.

"Aku Chang Sun Loei selamanya paling gemar mengumpulkan segala benda pusaka, bagaimana bentuk dari Thiang Liong Suo aku ingin melihatnya." Bu Kie chie tertawa dingin, pada saat itu dia masih tidak menginginkan untuk mengeluarkan senjata pusaka Thian Liong Suo tersebut, senjata pusaka untuk melindungi tubuhnya itu didalam kalangan yang baru saja dibuka itu bahkan Boen ching pun belum menampakkan dirinya, dia tidak ingin menggunakan senjata pusaka tersebut untuk menghadapi Chang Sun Loei. Dengan dingin ujarnya.

"Aku kira kau masih belum mempunyai hak untuk memerintahkan aku mengeluarkan senjata Thian Liong Suo."

Chang Sun Loei dengan dingin mendengus, terhadap ciang bunjin-2 dari partai besar, dia memangnya sedikipun tidak memandang sebelah matapun terhadap mereka, kini ternyata tidak mau mengeluarkan senjata Thian Liong Suo itu.

Tetapi tidak menanti sampai dia mulai melancarkan serangan, lima orang ciangbunjin dari lima partai besar lainnya telah berkumpul menjadi satu membantuk setengah lingkaran- Chang Sun Loei tidak mengetahui mereka itu  sedang membuat sandiwara apa, dengan dingin dia menyapu sekejap pada enam orang itu, dalam hatinya dia berpikir.

"IHm. . . kalian hanya enam orang saja, sekalipun enam puluh orang juga belum tentu dapat berbuat apa-apa terhadap aku"

Berpikir sampai disitu, tubuhnya berkelebat mendesak mendekat kearah enam orang itu.

Kong Ku sekalipun telah bekerja sama dengan ciangbunjin dari keenam partai, tetapi dia mempunyai rencana yang tersendiri, dia menduga tidaklah mungkin kalau ciangbunjin dari enam partai itu sedikitpun tak dapat berbuat apa-apa, pada saat inipun dia tidak ingin turun tangan memberikan bantuannya.

Tubuh Chang Sun Loei makin mendesak mendekat, tetapi baru saja berjalan sampai di tengah kalangan dari setengah lingkaran tersebut, tahu-tahu keenam orang itu bersama-sama melancarkan serangan, dia begitu nampak serangan yang dilancarkan keenam orang itu sangat aneh sekali, dalam hatinya terasa sangat terkejut mendadak dia teringat kembali pada tujuh buah telapak yang tertera diatas tubuh tujuh buah hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu itu.

Keenam ciangbunjin dari enam partai ini telah  mendapatkan hioloo kuno itu sepuluh tahun lamanya, tidaklah mungkin kalau mereka tidak mendapatkan sedikit ilmu kepandaianpun sekalipun kepandaian dari ke enam orang itu tidak terpandang sebelah matapun olehnya, tetapi kepandaian silat diri Thian Jan Shu tidaklah dapat dipandang rendah.

Tetapi pada saat itu sekalipun telah terpikir olehnya, tetapi telah terlambat, terdengar angin pukulan menyambar dari empat penjuru, dalam hatinya sebelumnya telah merasa terkejut, kini ia tak berani mendesak lebih mendakat lagi, dengan cepat dia menghindar kesamping, tetapi bagaimanapun juga tubuhnya tetap terkena tiga pukulan hebat. Dengan sempoyongan dia mundur dua langkah kebelakang, dan mundur ke belakang, untung baginya ketiga pukulan itu tidak begitu berat, sehingga dia hanya menderita luka ringan saja.

Keenarn ciangbunjin dari enam partai besar itu tetap tidak bergerak sedikitpun juga , tetapi pada wajahnya mulai menampilkan rasa girangnya yang tak terkendali.

Ketiga iblis sakti lainnya nampak hal ini menjadi terkejut. Diantara empat iblis itu masing-masing dalam hal kepandaian silat mempunyai keistimewaannya tersendiri, kini Chang Sun Loei baru saja bergerak satu jurus telah menderita luka dalam, hanya dalam hal ini saja, bahwa kepandaian silat yang dimiliki keenam ciangbunjin dari enam partai besar saat ini tak dapat dianggap ringan-Kong Ku tertawa dingin. diatas hioloo kuno itu ternyata memang tertera ilmu silat yang sangat aneh sekali, dengan tenaga dalam yang dimiliki keenam orang ciangbunjin dari enam partai itu saja telah sanggup untuk memukul luka Chang Sun Loei, hal ini semuanya tergantung pada enam telapak tangan yang ditinggalkan oleh Thian Jan Shu saja. Chang Sun Loei tanpa mengucapkan sepatah katapun telah mengundurkan diri kebelakang, sekalipun luka yang dideritanya tidak parah, tetapi hal ini merupakan suatu peristiwa yang sangat memalukan sekali.

Kong Ku menyapu sekejap pada empat orang itu kemudian ujarnya dengan dingin.

"Bagaimana? , aku lihat lebih baik kalian berempat memadamkan keinginan untuk merebut ketujuh buah hioloo kuno itu saja, aku lihat demikian jauh lebih baik sedikit..." sehabis berkata ia tertawa mengejek.

Suasana saat ini dapat dilihat pihak mana yang lemah dan pihak mana yang lebih kuat, ke empat ibis sakti apabila masih hendak meneruskan niatnya untuk memusuhi ke tujuh orang itu, untuk menghadapi Keng Ku terang saja haruslah ada dua orang untuk menghadapinya, sedang barisan yang diatur oleh keenam orang itupun sukar sekali untuk dibobolkan, lagi di tambah sekarang Chang Sun Loei telah menderita luka dalam.

Toan Bok ci Jien dengan nyaring tertawa besar, gentong araknya dituangkan, setelah meneguk araknya kemudian ujarnya.

"Tujuh buah hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu yang berada ditangan kalian bertujuh itu belum tentu adalah suatu benda pusaka, aku lihat sudahlah kalian berenam orangpun tak dapat bergerak apa gunanya? "

Perkataannya baru diucapkan selesai, tubuh Bu Kie chie mendadak berkelebat, sedang sisanya lima orangpun mulai bergerak kedepan, bersama-sama melancarkan serangan kearah Toan Bok cie Jien.

Sejak sebelumnya, keenam orang ciang bunjin dari enam partai besar itu telah mengadakan perundingan dan melatih baik-baik barisan ini selama berbulan-bulan lamanya, Bu Kie chie dengan senjata pusaka Thian Liong Suo ita menduduki sebagai pimpinan, untuk tetap memegang kesatuan diantara mereka, terpaksa lima orang lainnya menurut saja.

Toan Bok ci Jien nampak barisan itu mulai bergerak. dia menjadi terkejut, tetapi dengan gerakan tubuhnya yang demikian gesitnya itu, keenam orang ciangbunjin itu mana dapat mengejarnya terlihat tubuhnya terus mundur kebelakang. Bu Kie chie tidak memperdulikannya, dia terus mendesak kearah Toan Bok ci Jien.

Toan Bok ci Jien sebagai pimpinan dari empat iblis sakti itu, mana mau didesak orang sehingga harus mundur kebelakang terus-terusan, dengan gusar dia mendengus, sambil tertawa kalap. kemudian ujarnya.

"Ini hari aku kira ada orang mau mengangkatkan gentong arakku."

Sehabis berkata tangan kanannya didorongkan kedepan, gentong arak yang terbuat dari tembaga itu segera mengeluarkan suaranya ring, disertai dengan angin tajam yang dahsat menerjang ketubuh enam orang itu, kemudian sepasang telapaknya berturut-turut melancarkan serangan bertubi-tubi, sedang tubuhnya bukannya mundur kebelakang, dia malah maju ke depan mendesak enam orang itu.

Ke enam orang cianbunjin yang sedang mendesak kearah Toan Bok ci Jien tidak pernah menyangka kalau Toan Bok ci Jien menggunakan gentong araknya mendorong kearah mereka.

Sedang kan keenam orang itu menjadi gugup, Kong Ku sambil tertawa besar telah maju ke depan, ujarnya.

"Ini hari beruntung sekali dapat bertemu dengan kau, biarlah aku saja yang mengangkatkan gentong arakmu itu." Sambil berkata dia mengulurkan tangannya untuk menyambut Toan Bok cie Jien menjadi terkejut, sepasang telapak tangannya melancarkan serangan serentak.

tetapi dari pihak lawanpun melancarkan serangan berbareng pula, dalam hatinya terasa berdesir. Tadipun Chang Sun Loei mengalami luka dalam karena serangan itu, dengan demikian kedudukannya kini menjadi terdesak.

Ouw Yang Bu Kie nampak Toan Bok cie Jien dalam keadaan bahaya, dia tertawa besar, kipasnya dibuka ditutup, terlihatlah gambar tulang manusia berwarna merah dan melancarkan serangan hebat kearah enam orang itu, menurut anggapannya diantara empat orang pada saat ini haruslah bersatu padu baru dapat mencapai kemenangan.

Kong Ku dengan dingin tertawa panjang, gentong arak dari Toan Bok cie Jien segera didorong keluar jendela, sedang tubuhnya berkelebat menubruk kearah Toan Bok cie Jien serta Ouw Yang Bu Kie. Toya emas serta pedang tembaga, pit perak dari Chang Sun Loei serta Kong Beng Sang segera bergerak menghalang jalan pergi dari Kong Ku. Pedang Kong Ku belum dicabut keluar dari sarung nya, dia tidak berani menyambut tiga buah senjata itu dengan tangan kosong, tubuhnya segera bergerak mundur ke belakang.

Dipihak sana, Toan Bok cie Jien yang mendapatkan bantuan dari Ouw Yang Bu Kie segera membentuk barisan menanti serangan lawan-Keenam orang itupun tidak berani melawan kipas emas dari Ouw Yang Bu Kie dengan bertangan kosong, sehingga dengan demikian kedua belah pihak segera mengundurkan dirinya masing-masing. Ouw Yang Bu Kie tertawa dingin, sambil menyimpan kembali kipasnya dia mengundurkan diri ke belakang.

Wajah Toan Bok cie Jien berubah menjadi merah padam, dia dengan nama setan arak menjadi terkenal, kini gentong araknya berhasil di lempar keluar oleh Keng Ku keluar jendela mana tidak membuat dia menjadi malu. Begitu kedua belah pihak mengundurkan diri kebelakang, dari jendela luar terlihat bertiupnya angin tajam, Boen ching sambit membawa gentong arak milik Toan Bok cie Jien ditangan kanannya telah muncul diatas loteng itu.

Boen ching adalah merupakan orang yang terpenting didalam pertemuan pada bulan Tiong chiu ini, begitu dia muncul ditengah kalangan suasananya segera berubah menjadi tegang.

Tubuhnya terlihat sangat kotor, sekali pandang saja telah dapat dilihat bahwa dia baru saja melakukan perjalanan jauh, tetapi dia yang berdiri dihadapan demikian banyak orang itu sedikitpun tidak memperlihatkan sikapnya yang gugup, Dengan tawar dia menyapu orang-orang yang hadir sekejap. pada matanya menampilkan sinar yaag sangat heran, bagaimana dengan tidak hadirnya Ie Bok Tocu sekalian ditempat ini, dia agak merasa heran sekali.

Sinar mata yang menyapu orang-orang itu membuat hati mereka menjadi agak tegang, sinar mata Boen ching itu sedikitpun tidak menampilkan rasa takutnya. siapapun tidak tahu apa yang akan diucapkan pertama kali olehnya dan siapapun tidak akan mengetahui gerakan apa yang akaa dilakukan olehnya pertama kali.

-ooo0dw0ooo-

SEPASANG mata Boen ching setelah menyapu sekejap pada orang2 yang hadir ditempat itu, dengan perlahan tangan kanannya didorongkan kedepan dan mendorong kembali gentong arak itu ke hadapan Toan Bok cie Jien, dengan tawar ujarnya: "Gentong arakmu ..."

Toan Bok cie Jien menyambut kembali gentong arak itu, tetapi tak mengucapkan sepatah katapun juga . Boen ching dengan dingin memandang ciang bunjin dari enam partai besar, sesaat kemudian baru berkata.

"Telah sepuluh tahun lamanya, aku masih dapat bertemu dengan kalian lagi."

Sehabis berkata dia mendengus dengan dingin sedang matanya menyapu sekejap pada tujuh buah hioloo kuno yang berada diatas loteng.

Bu Kie chie melirik kearah lima orang lainnya sekejap. sedang tubuhnya bersiap bangkit berdiri untuk bertempur melawan Boen ching.

Kong Ku segera menggoyangkan tangannya mencegah Bu Kie chie bang kit berdiri, kepada Boen ching ujarnya.

"Sungguh bagus kau datang kemari, pertemuan yang diadakan ini hari diatas loteng oei Hok Loo ini sebenarnya adalah bertujuan hendak menyelesaikan urusan diantara kau dengan kami tujuh orang sebagai pemilik dari tujuh buah hioloo, tetapi orang luar terlalu banyak. aku kira lebih baik kita mengusir pergi mereka itu terlebih dahulu baru menyelesaikan urusan di antara kita."

Boen ching tertawa tawar, dia tahu maksud dari ucapan Kong Ku itu yang ingin bergabung dengan dirinya untuk mengusir pergi empat orang itu, untuk sesaat dalam hatinya tak dapat mengambil suatu keputusan apapun.

Dia yang berangkat secara tergesa-gesa dari gurun pasir untuk menghadiri pertemuan di loteng oei hok loo, semula dia menduga tentu ia terlambat menghadirinya, tetapi sungguh tak di sangka selain enam orang ciangbunjin dari enam partai besar serta Kong Ku, hanyalah empat iblis sakti saja yang hadir ditempat itu.

Setan arak. paras elok, harta serta kedudukan empat iblis sakti itu begitu mendengar perkataan yang diucapkan oleh Kong Ku diam2 dalam hatinya merasa terkejut, jika dilihat cara Boen ching meloncat masuk kedalam loteng itu saja didalam hati mereka telah mempunyai perhitungan, apabila benar2 Boen ching bergabung dengan Kong Ku sekalian, dirinya empat orang mana dapat melawannya? Ouw Yang Bu Kie tertawa dingin, ujarnya.

"Tujuh buah hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu itu sebenarnya memang barang-barang yang ditinggaikan Thian Jan Shu untuk Boen ching. Tujuh orang ciangbunjin telah merebut benda tersebut dari tangan Boen ching sudah dapat dikatakan tidak beraturan, kini masih juga tidak mau mengembalikan kepadanya, dengan sengaja memperpanjang waktu, bukankah mempunyai niat untuk mengangkanginya."

Wajah Bu Kie chie segera berubah, dengan dingin ujarnya. "Urusan ini adalah urusan kami dengan dia, kau tak usah ikut Campur."

Toan Bok cie Jien melirik, nampak Kong Beng Sang masih merawat luka dalamnya, dengan tawar ujarnya kemudian- "Kalau begitu kami berempat akan berdiri disamping menonton, kalian bolehlah menyelesaikan urusan kalian terlebih dahulu."

Kong Ku dengan dingin mendengus, setelah memandang sekejap pada empat orang iblis sakti itu, kepada Boen ching ujarnya. "Bagaimana pendapatmu?"

Boen ching masih tetap tertawa tawar, sesaat kemudian baru dengan perlahan ujarnya.

"Kalau begitu kalian bolehlah mengusir mereka berempat terlebih dahulu barulah kita membicarakan urusan diantara kita". Kong Ku tertawa dingin dalam hati pikirnya.

"Biarlah kami akan mengusir mereka terlebih dahulu, pada saat itu aku akan melihat mu seorang diri dapat berbuat apa? "

Dengan dingin kemudian ujarnya. Baiklah " Bu Kie chie yang berdiri disamping mendadak berteriak. "Tahan "

Boen ching sebenarnya ingin tujuh orang itu bertempur mati2-an melawan empat iblis sakti, kini nampak Bu Kie chie mengangkat bicara lagi, dalam hatinya diam-diam merasa gusar, dia tahu Bu Kie chie jadi orang yang sangat licik sekali dan kejam, sudah tentu dia tak akan dapat melakukan pekerjaan yang baik.

Bu Kie chie yang mendengar Boen ching berkata demikian, hatinya menjadi bergerak, napsu untuk membunuh menjadi timbul, dengan dingin ujarnya kepada Boen ching. "Thian Jan Shu apakah waktu itu telah menghadiahkan tujuh buah hioloo kuno kepada mu"

Dengan dingin sahut Boen ching. "Benar, memang  demikian adanya"

Bu Kie chie tertawa dingin, ujarnya:

"Apabila begitu baik, tujuh-buah hioloo kuno aku kembalikan kepadamu, hitunglah kau yang mendapatkannya"

Hati Boen ching menjadi bertambah berat, dengan Cepat dia telah mengetahui maksud hati dari Bu Kie chie itu.

Terdengar Bu Kie chie, meneruskan perkataan nya.

"Thian Jan Shu adalah iblis yang harus dibasmi, barang- barang yang ditinggaikan olehnya setiap orang berhak untuk mendapatkannya, kau berhati-hatilah, jangan sampai kehilangan nyawa"

Setelah tertawa dingin dia berkata. orang-orang yang hadir dikalangan itu semuanya mengetahui maksud dari Bu Kie chie itu, tujuh buah hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu itu sekarang telah menjadi barang yang sangat berbahaya. Bu Kie chie dengan enaknya mengatakan hendak mengembalikannya kepada Boen ching, sudah tentu agar dia terbinasa oleh orang-orang itu. Ditengah kalangan itu segera berubah menjadi sunyi, sedang orang-orang yang berada dikalangan itupun merasa sangat takpuas dengan keputusan yang diambil oleh Bu Kie chie .

Maksud dari Bu Kie chie yang sebenarnya ingin untuk sementara tak menggerakkan pusakanya, sehingga boen  ching harus bertempur mati-matian untuk mempertahankan tujuh buah hioloo kuno itu, asalkan mereka menjaga agar tujuh buah hioloo kuno itu tidak sampai direbut oleh orang lain bukankah sudah cukup, Boen ching setelah termenung sejenak. segera dia mengetahui akal kejam dariBu Kie chie ini, apa dia dapat mengatakan bahwa dia tidak menghendaki dengan dingin. dia tertawa panjang, ujarnya dengan nada yang keras.

"Sepuluh tahun yang lalu dengan licik kau bersama-sama hendak membunuh seorang anak kecil dan merebut pergi benda-bendanya, kini kau mengembalikan kepadaku apa gunanya? apa kau kira dapat menebus semua dosamu? " Kong Ku tertawa dingin ujarnya.

"Engkau lebih baik menjaga nyawamu sendiri terlebih dahulu baru berbicara lagi."

Boen chiug dengan tawar menyapu ketujuh hioloo kuno itu sekejap. kemudian tersenyum, bagaikan sedang berbicara sendiri, terdengar dia berkata.

"Sepuluh tahun yang lalu ketika berada dipuncak gunung Hwee Ing bukankan demikian letaknya."

Perkataannya baru saja selesai diucapkan tubuhnya telah bergerak. diantara berkelebatnya tubuh itu ke tujuh buah hioloo kuno itu telah dilemparkan ketengah udara, sekejap mata saja hioloo-hioloo kuno itu telah diatur menjadi satu menjadi bentuk bersilang. 

Boen ching dengan tenang berdiri ditengah ruangan, sedang pada mulutnya menampilkan suatu senyuman-orang- orang yang hadir ditengah kalangan itu tak seorangpun yang turun tangan untuk mencegahnya, bahkan mereka terkejut atas kemajuan yang dicapai oleh Boen ching didalam kepandaian silat, yang membuat mereka itu terpesona dan tak sanggup untuk turun tangan.

Boen ching sendiripun juga sadar bahwa kalau tidak mengangkat tujuh buah hioloo kuno itu keluar loteng oei Hok Lo maka tak seorang pun yang akan turun tangan mencegahnya.

Dia setelah memandang sekejap pada tujuh buah hioloo kuno itu, dengan perlahan dia duduk diatas lantai loteng itu, dia tahu sebentar lagi Ie Bok Tocu akan berkunjung ditempat itu pula, dan dia pada waktu itu juga dirinya dapat mulai membawa pergi ketujuh buah hioloo kuno tersebut.

Boen ching tidak bergerak. dalam ruangan itu tak seorangpun mengeluarkan suaranya masing-masing sedang memikirkan urusannya masing2, tetapi urusan tersebut juga tidak lebih dari urusan cara bagaimana dapat merebut ketujuh buah hioloo kuno itu ketangannya. Mendadak Ouw Yang Bu Kie tertawa besar, kepada Boen ching ujarnya: "Saudara  Boen, mengapa kau masih tidak pergi dari sini?".

Begitu Ouw Yang Bu Kie mengeluarkan perkataan itu, Kong ku sekalian dalam hatinya mulai menjadi tegang pada saat ini Ouw Yang Bu kie ternyata telah menyebut Boen ching sebagai saudara, bahkan tadi Ouw Yang Bu kie lah yang mengusulkan agar ketujuh buah hiolooa kuno itu dikembalikan kepada Boen ching, sekalipun apa yang sedang direncanakan itu sukar diduga, tetapi apabila keempat orang itu akan menghantar kan Boen ching keluar dari loteng oei Hok Lo, hal ini bukanlah suatu urusan yang enteng. Kong Ku tertawa dingin, pedang panjangnya dengan perlahan dicabut keluar, ujarnya:

"Pada ketujuh buah hioloo kuno ini terkandung kepandaian silat yang sangat tinggi dari Thian Jan Shu, orang2 dari bulim semuanya berhak untuk mendapatkannya, kini aku Kong Ku berada disini. aku tidak akan mengijinkan setiaparang manapun untuk memindahkan tujuh buah hioloo kuno ini keluar dari loteng ini"

Ouw Yang Bu Kie memandang sekejap pada Toan Bok cie Jien, kemudian tertawa dingin, tanya nya: "Benarkah-..? ?"

Sambil berkata dia mengambil keluar kipas emasnya dan dicekal ditangan, kipasnya digerak buka tutup, sehingga terlihat sinar emas yang gemerlapan agaknya dia bersiap-siap untuk bertempur.

Kong Ku dengan dingin tertawa panjang, ujarnya. "ini hari aku akan meminta pengajaran dari kepandaian kalian berempat" Ouw Yang Bu Kie tertawa panjang, kipas emasnya dibUka dan disabetkan kearah Kong Ku.

Kong Ku tertawa dingin, dia tetap berani tak bergerak, menanti setelah Ouw Yang Bu Kie mendesak mendekat, pedang panjangnya baru diputar keluar dengan gagang pedangnya mencekal kipas emas dari Ouw Yang Bu Kie.

Ouw Yang Bu Kie tidak berani menyambut serangan dari Kong Ku ini, kipasnya segera ditarik kembali sedang tangan kirinya melancarkan satu serangan hebat menggempur bahu kanan Kong Ku.

Begitu Ouw Yang Bu Kie turun tangan, semangat dari Toan Bok cie Jien-pun menjadi berkobar, sepasang alisnya dikerutkan, sedang dalam hati diam2 pikirnya.

"Aku sebagai pemimpin dari empat iblis sakti, bagaimana tidak memiliki semangat sedikitpun, apakah sungguh takut pada Kong Ku?"

Berpikir sampai disini, dia tertawa kalap tubuhnya berkelebat, gentong arak ditangan kanannya diterjangkan kearah Kong Ku. Kong Ku yang diserang oleh dua orang musuh tangguh, tubuhnya segera meloncat keatas, pedangnya ditekuk keluar menutul ujUng gentong arak dari Toan Bok ciJien itu. .

KedUa belah pihak segera terpisah, Untuk menubruk kedUa kalinya, serangan gencar segera memenuhi seluruh kalangan.

Kiem ciang Thiat, Chang Sun Loei memandang kalangan itu sejenak. nampak Ouw Yang Bu Kie dan Toan Bok cleJien yang bersama-sama mengerubuti Kong Ku telah menduduki diatas angin, dua orang itu tak henti-hentinya tertawa kalap.

Dia menoleh kebelakang nampak Kong Beng sang pun pada saat ini sedang memandang tajam ketengah kalangan, dia tahu luka yang diderita oleh Kong Beng Sang tidaklah berat, dia hanya terkena sambaran pukulan saja, dan pada saat ini tentunya telah sembuh sama sekali.

Kepada Boen ching ujar Chang sun Loei. " Boen ching saat ini kita boleh berangkat."

Boen ching dengan perlahap membuka kedua matanya, dan menyapu sekejap pada Bu Kie chie yang nampak hal ini mendengus dengan dinginnya, dia tahu tidak bergerakpun kini tidak mungkin terjadi dengan dingin ujarnya. “Hm---aku kira haruslah melewati aku terlebih dahulu"

Chang Sun Loei dengan dingin tertawa panjang, ujarnya.. "Kau mempunyai Cara apa untuk menahanku?"

Sambil berkata tangan kanannya bergerak menarik keluar toya emasnya, terlihatlah toya emas itu sedikit bergetar sinar permata yang berada pada ujung toya segera berkelebat menyilaukan mata.

Bu Kie chie masih belum membuka mulutnya terdengar Kong Ku mendengus dengan beratnya pedangnya dengan sangat hebat menyambar terdengar suara yang nyaring, ketiga orang itu segera berpisah, dia menutup matanya mengatur pernapasan- Boen ching telah dapat melihat bahwa ketiga orang itu tadi telah menyambut satu kali serangan dengan sekuat tenaga, sehingga kedua belah pihak mengalami luka dalam, dan saat ini belumlah tiba saatnya untuk beradu secara mati2an, ketika orang itu tidak menginginkan bergebrak seCara keras  melawan keras, sehingga menambah berat luka dalam yang dideritanya.

Bu Kie chie tertawa dingin, ujarnya:

"Kalian jika benar2 ingin bergerak janganlah menyalahkan aku kalau aku menggunakan senjata pusaka "Thian Liong Suo".

Selesai berkata tangan kanannya cerkelebat, tahu-tahu diatas tangannya telah bertambah dengan suatu benda yang berbentuk naga dan panjangnya lima coen lebih, sinar emas berkilauan sedang pada ujung senjata tersebut terlihat bekas darah yang telah kering, membuat orang yang melihatnya menjadi bertambah terperanjat dan jeri.

Inilah senjata pusaka dari Bulim Thian Liong Suo, pada waktu itu Thian San chiet Kiam mengandalkan senjata ini pula telah berhasil membinasakan Thian Jan Shu, hal ini dapat dimengerti karena senjata pusaka ini memangnya khusus untuk memeCahkan ilmu tenaga khiekang. Begitu senjata pusaka Thian Liong Suo muncul didalam ruangan loteng itu segera diliputi suasana yang sangat sunyi.

Kong Ku, Toan Bok cie Jien serta 0uw Yang Bu Kie sekuat tenaga sedang berusaha menyembuhkan luka dalam yang dideritanya, terhadap urusan luar bagaikan tak melihatnya, ketiga orang itu memusatkan seluruh perhatiannya untbuk menyembuhkan luka dalamnya.

Sesaat kemudian ketiga orang itu nampak mulai bergerak bersamaan waktunya pula mereka bertiga telah  menyelesaikan semedinya didalam menyembuhkan lukanya itu. Toan Bok cie Jien tertawa kalap. kaki kirinya diangkat sedang gentong arak di tangan kanannya dituangkan segumpal arak segera menerjang kearah Kong ku, sehingga hawa arak memenuhi ruangan diatas loteng tersebut.

Kong ku dengan dingin mendengus, tangan kirinya segera melancarkan serangan dengan menggunakan hawa "im Yang ceng khie"nya dia memukul kearah gumpalan arak yang menyerang dirinya itu, sedang pedang ditangan kanannya dari pinggang kirinya menusuk keluar mengancam Ouw Yang Bu Kie.

Ouw Yang Bu Kie tertawa besar, kipasnya di buka ditutup dengan sangat ringan memaksa miring pedang Kong Ku, sedang tangan kirinya dengan menggunakan jurus "Suat ciang Jui Sin" atau telapak salju pembetot hari memukul ke arah Keng ku.

Arah dengan tenaga pukulan yang dilancarkan oleh Keng ku segera bertemu, diantara suara getaran, arak itu berubah menjadi uap. berturut2 melancarkan serangan lagi.

Kong Ku tak berani berayal, kaki kirinya segera menutul tanah, dan melompat satu kaki lebih ketengah udara, pedangnya diputar sedemikian rupa dan melancarkan ilmu pedang "Mee Huang Kiam Hoat" yang pernah menggetarkan sungai telaga, dalam sekejap mata saja sinar pedang berkelebat memenuhi ruangan, sebentar santar perlahan tak henti-hentinya menerjang ke arah Ouw Yang Bu Kie serta Toan Bk cie Jien, Ouw Yang Bu Kie disebut orang sebagai Kiam Shan Suat ciang atau si kipas emas pukulan salju, sudah tentu kepandaian silatnya sanagat tinggi, ilmu "ceng Thian Liok Shan-serta ilmu "chieh Hun pan ciang"nya bersamaan waktu dilancarkan keluar menerjang kearah Keng Ku, Toan Bok cie Jien tertawa kalap. dengan gentong araknya dia menahan setiap serangan yang dilancarkan oleh Keng Ku .

Ketiga orang itu begitu bertempur seCara bersungguh- sungguh, diatas loteng oei Hok Lo itu diliputi oleh angin taupan yang menyambar-nyambar, membuat orang sukar untuk bernapas.

Bu Kie chie dengan dingin memandang sekejap ketengah kalangan, sedang dalam hatinya diam-diam menjadi cemas, pikirnya:

"Bagaimana jadinya masih tidak ada yang datang ..."

Dia memandang sekejap keluar jendela, dengan nada yang berat bentaknya:

"Tahan, kalau tidak senjata pusaka Thian liong Suo ditanganku tak akan sungkan-sungkan lagi."

Sahut Keng Beng Sang dengan dingin. "Bu Kie chie, saat kau melepaskan senjata pusaka Thian Liong Suo tersebut dari tanganmu berarti saatnya pula bagi kematianmu"

Perkataan tersebut diucapkan dengan nada yang sangat dingin, tanpa terasa hatinya merasa agak berdesir.

Dia mendongakkan kepalanya memandang ke arah Kong Beng Sang, dalam tubuhnya kini dia menyimpan tiga buah senjata Thian Liong Suo, tetapi waktu dia melancarkan senjata Thian Liong Suo yang pertama, senjata yang kedua memangnya belum diambil keluar, dan saat itu dirinya sedikitpun tak terdapat penjagaan bagi dirinya.

Suara bentakan itu begitu keluar dari mulutnya, tetapi ketiga orang yang berada ditengah kalangan itu bagaikan tidak pernah mendengarnya, jago-jago berkepandain tinggi waktu bertempur harus memusatkan seluruh perhatiannya kepada jurus-jurus serangan yang dilancarkan pihak lawan, mana mereka sempat untuk mendengarkan segala perkataan yang diucapkan orang-orang di samping.

Bu Kie chie menjadi termangu-mangu kemudian sambil tertawa dingin ujarnya: "Aku telah melupakan kau berdua yang masih berdiri disamping, kalian kalau tidak mau mundur kebelakang lagi, janganlah menyalahkan aku kalau tidak sungkan-sungkan lagi".

Wajah Kong Beng Sang segera berubah, tetapi hanya sekejap saja telah menjadi biasa lagi sambil tertawa panjang ujarnya: "Kau boleh mencoba-coba . . "

Diam-diam Bu Kie chie membatin, disamping dirinya bukannya tidak terdapat orang lain, apa masih takut kepada kalian? ? berpikir sampai disini segera dia mengangkat senjata pusaka Thian Liong Suonya dan bersiap hendak menyerang .

Pada saat itu pula, dari kejauhan berkumandang suara suitan yang sangat nyaring sekali, suara suitan itu tinggi melengking tak enak di telinga, begitu suara suitan berhenti, orang2 yang hadir didalam kalangan itu segera berubah wajahnya.

Kong Ku Ouw Yang Bu Kie serta Toan Bok cie Jien sedang memusatkan perhatiannya bertempur, tetapi saat ini mau tak mau juga harus undurkan dirinya masing-masing dan berdiri disamping, sedang wajah merekapun segera berubah hebat.

Tenaga dalam yang dimiliki orang yang baru datang itu dapat diketahui sangat tinggi sekali, hal ini dapat diketahui dari suara suitan yang begitu tinggi melengking sehingga menyakitkan telinga.

Sesudah ditengah ruangan segera berubah menjadi sunyi senyap sedikit suarapun tak terdengar.

Baru saja suara yang melengking itu masuk di telinga, dari kejauhan berkelebat dengan Cepatnya sesosok tubuh manusia menubruk naik ke atas loteng oei Hok Lo itu.

Dalam hati Boen ching tiba-tiba sadar siapakah sebenarnya orang itu, tanpa terasa wajahnya berubah. Dua buah bayangan manusia serta disertai angin yang kencang berkelebat masuk kedalam loteng.

Kedua orang itu memakai baju dari kain blacu, rambutnya digulung seperti seorang toosu, wajahnya pucat pasi, sedang sepasang matanya memancarkan sinar yang sangat dingin sekali.

Ternyata dugaan Boen ching tidak meleset, orang yang baru datang itu ternyata adalah iblis nomor satu pada saat ini, bekas murid dari Thian Jan shu, Tok Thian coen Liauw Hoa Liong, serta muridnya, Thiat Pek Tocu, atau sipunggung baja Cakar beracun, Mo cing adanya.

sepasang mata Liauw Hoa Liong dengan dingin menyapu sekejap ketengah kalangan, sedang Mo cing sambil meluruskan kedua tangannya kebawah berdiri dibelakang tubuhnya dia telah menyapa sekejap pada orang-orang yang hadir ditempat, lalu ujarnya kepada Mo cing. "Angkat ketujuh buah hiolo kuno itu"

Tubuh Mo cing segera bergerak, Chang sun Loei yang nampak hal ini bentaknya dengan nada yang sangat berat

"Tahan-."

Perkataannya baru saja diucapkan, toya emas ditangan kanannya bagaikan kilat Cepatnya telah menotok jalan darah "Jung Hiat To" dibawah telinga Mo ching.

Mo cing dengan dingin mendengus, dia miringkan kepalanya menghindar dari serangan itu, sedang tangan kanannya berkelebat, tahu2 ditangannya telah bertambah dengan sebuah pedang panjang berwarna hitam gelap yang panjangnya tiga depa lebih, dengan ujung pedangnya dia balas menutul kepelipis Chang Sun Loei.

Chang Sun Loei merasa agak terkejut tetapi namanya yang terCantum diantara empat iblis sakti mana dapat dengan demikian mudahnya dapat ditundukkan, dia tertawa dingin, toya emasnya berturut-turut berkelebat beberapa kali, dan mendesak kembali pedang panjang yang berada ditangan Mo cing.

Diikuti tubuhnya melayang mendesak dengan toya  emasnya dia menotok mata Mo cing.
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bentroknya Rimba Persilatan Jilid 11"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close