Amarah Pedang Bunga Iblis Bagian 3.2

Mode Malam
 
BAGIAN 3.2

BAB 6 Biksu di dalam kuil biksuni

Walaupun Jian memiliki perasaan, dia pun tidak akan bisa merasakan ketakutan manusia. Dia juga tidak akan bisa mendengar jeritan hati manusia.

Seperti bunga jika dia bisa bicara, manusia tidak akan bisa mendengar jeritan kesedihan dan keluh kesahnya.

Pedang sudah menusuk ke punggung Bai Tian Yu.Darah seperti bunga yang mekar dan jatuh seperti air hujan.

Sore sudah tiba.

Matahari musim semi dengan malu-malu bersembunyi di balik gunung sebelah barat.

Cahaya matahari yang terbenam, menyinari wajah Zang Hua. Seperti cahaya lampu yang ada di depan Budha yang berada di dalam kelenteng. Zang Hua melihat matahari yang mulai terbenam dan kuil Wu Xin An yang berada di luar hutan. Tiba-tiba dia merasa ada yang tidak dimengerti olehnya. Dia seperti berkata sendiri, "Aneh?"

Ren Piao Ling membalikkan kepalanya dan bertanya, "Apa yang aneh?" "Apakah sekarang sudah sore?" "Benar."

"Apakah pada sore hari seperti ini, dapur mulai sibuk?" pertanyaan Zang Hua sangat aneh.

"Seharusnya seperti itu," Ren Piao Ling tiba-tiba tertawa dan berkata, "apakah kau sudah lapar? sehingga tiba-tiba menanyakan hal itu?"

"Di kuil ada makanan vegetarian, seharusnya kuil Wu Xin An mulai menyiapkan makanan,"  Zang Hua melihat lubang asap kuil Wu Xin An dan berkata, "Kenapa lubang asap mereka tidak ada keluar asapnya?"

"Mungkin karena hari ini mereka mempunyai makanan kering." "Bisa saja."

"Kalau hari ini mereka makan makanan kering, sekarang adalah saatnya mereka sekolah malam, tapi mengapa tidak terdengar sedikit pun suara?" tanya Zang Hua.

"Mungkin hari ini mereka sedang libur."

Zang Hua membalikkan kepala, dengan sikap marah dia melihat Ren Piao Ling, "Dalam otakmu kecuali diisi pikiran aneh, masih bisa diisi apalagi?"

"Masih bisa diisi dengan ide-ide yang bisa membuatmu marah," Ren Piao Ling tertawa. "Kau.."

Zang Hua marah tapi Ren Piao Ling terus tertawa dan tawanya terlihat riang.

"Pada saat kau marah', kau terlihat sangat cantik dan sewaktu kau marah, kau baru mirip seorang perempuan," Ren Piao Ling masih tertawa kemudian dia berkata, "apa yang kau katakan tadi, sudah kuperhatikan."

"Kalau sudah tahu mengapa tidak bilang kepadaku?" Zang Hua masih marah, "harus aku yang bicara dulu, kau baru merasa puas."

"Gerakan kita ini apakah akan berhasil atau tidak, kita belum tahu. aku hanya ingin agar pikiran kita tenang dan santai," kata Ren Piao Ling, "tidak kusangka, kau tidak bisa diajak bersantai."

"Siapa bilang aku tidak bisa diajak bercanda? Aku hanya tidak mau ditipu," walaupun Zang Hua marah tapi dari sudut matanya terlihat ada tawa geli.

”Mengapa dari dulu kuil atau kelenteng selalu dibangun di tempat sepi?”

”Karena kuil bangun jika semakin jauh dan berada di tempat sepi, maka akan terlihat semakin misterius.”

”Apakah betul ada perasaan misterius? Biasanya perasaan misterius membuat orang merasa aneh.”

”Benar, manusia sering merasa takut kepada hal yang membuat mereka tidak mengerti.” ”Jika mereka takut, maka mereka harus pergi bersembahyang.”

"Dan manusia senang pergi ke tempat jauh untuk bersembahyang," kata Zang Hua, "hanya dengan cara seperti itu baru bisa terlihat sampai dimana kesetiaan mereka."

"Semua kata-katamu benar," kata Ren Piao Ling. "hanya kurang sedikit." "Kurang di bagian mana?"

"Orang yang bersembahyang karena jarak yang ditempuh sangat jauh, maka mereka pasti akan merasa lapar, kalau perut terasa lapar, makanan yang dimakan pun pasti akan terasa lebih enak."

"Karena itu orang selalu merasa sayur vegetarian yang ada di kuil lebih enak rasanya," kata Zang Hua. "Akhirnya kau mengerti juga," kata Ren Piao Ling, "makanan vegetarian adalah daya tarik bagi mereka yang datang ke kuil."

Banyak orang yang bersembahyang ke kelenteng selayaknya orang yang bertamasya ke luar kota, karena itu jika biksu atau biksuni yang pintar mereka pasti akan membangun kuil dan kelenteng di tempat yang sangat jauh.

"Apakah kau tahu mengapa orang-orang pergi bersembahyang ke kuil atau kelenteng selalu pada sore hari?" tanya Ren Piao Ling.

"Mengapa?"

"Karena orang yang bersembahyang akan berangkat pada pagi hari, siang mereka baru tiba di kuil," kata Ren Piao Ling, "setelah selesai bersembahyang, hari sudah sore dan tiba waktunya untuk makan malam, karena itu kuil atau kelenteng pada sore hari mempunyai bisnis lebih ramai."

"Sekarang aku merasa kata-katamu masuk akal," kata Zang Hua, "tapi kalau ada biksu atau biksuni yang mendengar kau berkata mereka berbisnis, mereka pasti akan marah sampai mati."

"Mereka tidak akan mati." "Mengapa?"

"Arak, wanita, uang, marah, semuanya adalah kosong," kata Ren I*iao Ling, "apakah kau tidak mengerti kalimat ini?"

"Betul, marah adalah kosong, tidak marah pun adalah kosong. Biksu dan biksuni pasti tidak akan mati karena marah."

"Kalau begitu, kita bisa masuk dan membuat mereka marah," kata Zang Hua. "Mari kita masuk."

---ooo0dw0ooo---

Hutan yang sepi. Di ujung hutan ada kuil Wu Xin An. Zang Hua dan Ren Piao Ling sudah keluar dari hutan, tiba-tiba di langit tampak awan hitam menutupi matahari yang akan.terbenam. Di balik awan hitam itu terdengar suara guntur.

Zang Hua melihat langit dan berkata, "Sepertinya hujan besar akan segera tiba."

"Hari hujan adalah hari yang tepat untuk membunuh orang," kata Ren Piao Ling, "udara seperti itu sangat cocok untuk membunuh orang."

"Siapa yang ingin membunuh orang?" "Orang yang ingin membunuh orang.

---ooo0dw0ooo---

Pintu besar kuil Wu Xin An ditiup oleh angin kencang, dan mengeluarkan suara besar. Di halaman Wu Xin An seperti ada kabut hitam besar yang digulung oleh angin dan menari-nari di udara.

Kalau mengatakan itu adalah kabut juga tidak mirip kabut, setelah dilihat dengan seksama lagi, tampak mirip sekali. Di hari yang begitu gelap, benar-benar terlihat sedikit misterius dan menakutkan.

Zang Hua sudah melihat keadaan di halaman itu "Apa itu?"

Ren Piao Ling juga merasa curiga, tapi langkah kakinya tidak berhenti. Dia masuk ke halaman kuil.

Zang Hua juga ikut masuk. Dia bertanya, "Apa itu?"

Ren Piao Ling tidak menjawab, dia melemparkan barang yang ada di tangannya. Benda itu lembut, seperti sutra tapi seperti juga bukan sutra. Begitu dilihat dengan teliti, dia berteriak, "Rambut!"

"Betul, ini rambut."

"Darimana datangnya begitu banyak rambut?"

Di halaman banyak rambut yang terbang, benar-benar terasa sangat menakutkan.

Ren Piao ling melihat rambut yang memenuhi halaman. Dia tertawa dan berkata, "Mungkin kuil Wu Xin An akan berubah fungsi menjadi toko pemangkas rambut,"

---ooo0dw0ooo--- ”Kau tidak akan kaget bila melihat banyak biksu di kuil.” ”Tapi bagaimana jika menemukan biksu di kuil biksuni?”

Di sini adalah Wu Xin An. Wu Xin An adalah kuil untuk para biksuni yang terkenal di dunia persilatan.

Kalau di kuil biksuni tidak ada biksuni, lalu ada apa? Di Wu Xin An ternyata ada biksu.

Besar, kecil, tua, muda ada beberapa puluh orang biksu. Setiap biksu sedang duduk bersila di bawah. Sepasang tangannya dikepalkan, matanya melihat hidung. Mereka duduk di sebuah ruang tengah yang besar.

Dari jauh hanya terlihat kepala botak dan sangat licin seperti berminyak.

Sekarang Zang Hua baru mengerti, rambut di pekarangan tadi berasal dari mana tapi dia tetap tidak mengerti mengapa tiba-tiba mereka mencukur rambutnya menjadi biksu?

Pergi kemana semua biksuni yang ada di Wu Xin An?

Di dalam ruangan itu ada 20-30 orang, tapi sama sekali tidak terdengar suara dan tidak terdengar suara yang membaca kitab suci.

Biksu memang biksu tapi mereka tidak bisa membaca kitab suci, apakah mereka tidak pernah belajar membaca kitab suci?

Dengan pelan Zang Hua mendekati mereka, dia menyelidiki mereka satu per satu. Tiba-tiba pandangannya berhenti pada salah satu biksu yang ada di depannya. Dia melihat biksu itu.

Tapi biksu ini tetap melihat hidungnya. Hidungnya menghadap ke tubuhnya. Dia duduk bersila di bawah, kepalanya botak dan licin, wajahnya pun licin.

Zang Hua melihatnya, ekpresi wajah Zang Hua seperti sudah melihat setan. Dia memandang lagi kemudian dengan nada yang tidak percaya dia berkata, "Ketua Biao Wu?"

Biksu itu ternyata adalah ketua kantor Biao Zheng Xing yang bernama Wu Zheng Xing. Ren Piao Ling juga melihat Wu Zheng Xing, tapi dia sama sekali tidak bergeming.

Zang Hua melihat Wu Zheng Xing dengan lama, kemudian menepuk pundaknya. "Apakah kau sakit?"

Wu Zheng Xing mengangkat matanya dan melihat Zang Hua lalu berkata, "Nona sedang bicara dengan siapa?"

"Denganmu," jawab Zang Hua, "Wu Zheng Xing."

"A Mi Ta Ba," Wu Zheng Xing dengan tangan terkatup berkata, "Wu Zheng Xing sudah mati.

Mana bisa Nona bicara dengannya?" "Apakah kau bukan Wu Zheng Xing?" "Aku adalah Wu Kuang."

Kata Ren Piao Ling tiba-tiba, "Mengapa Wu Zheng Xing bisa mati dengan tiba-tiba?" "Orang yang harus mati ya akan mati," kata Wu Zheng Xing. "Bagaimana dengan orang yang tidak pantas mati?"

"Yang tidak pantas mati, akhirnya pasti akan mati juga."

Sejak tadi Wu Zheng Xing duduk bersila, wajahnya sama sekali tidak ada ekspresi. Sekarang setelah melihatnya dengan seksama, dia sama sekali tidak mirip dengan ketua Biao Zheng Xing.

Sekarang dia mirip dengan biksu yang mempunyai ilmu silat tinggi.

Zang Hua melihatnya, matanya berputar, kemudian dia tertawa dan berkata, "Kalau ketua Biao Wu Zheng Xing sudah mati, bagaimana dengan istrinya?''

"Apakah dia mempunyai istri?" tanya Ren Piao Ling.

"Ada dan mereka baru saja menikah," Zang Hua tertawa dan berkata, "coba kau pikir apakah istri yang baru dinikahi akan pergi ke lain tempat?"

Biasanya orang yang baru menikah pasti sangat menyayangi istrinya, tapi mengapa dia tega meninggalkan istrinya? Dan mengapa secara tiba-tiba mencukur rambutnya dan memutuskan untuk menjadi biksu?

Wu Zheng Xing berusaha menguasai dirinya tapi dahinya sudah mulai berkeringat.

Ren Piao Ling tertawa dan berkata, "Wu Zheng Xing sudah mati, istrinya pasti akan kawin lagi." "Kawin lagi?" Zang Hua berkata, "begitu cepatkah?"

"Jika ingin menikah, segeralah menikah," kata Zang Hua, "dengan siapa dia akan menikah?"

"Mungkin saja dengan pelajar, atau mungkin dengan pendeta," jawab Ren Piao Ling sambil tertawa, "bunga adalah merah, daun adalah hijau, mereka adalah satu keluarga."

Kata-katanya belum selesai, tiba-tiba Wu Zheng Xing meraung. Dia berdiri, baru saja dia berdiri tiba-tiba di tengah langit ada pemukul yang biasa dipakai mengetok ikan kayu, melayang dan jatuh tepat di atas kepalanya.

Pengetok itu sangat berat, walaupun kepalanya tidak pecah, tapi pasti akan benjol. Begitu kepalanya diketok sedikit, terasa menjadi pusing, sampai berdiri pun dia tidak sanggup. Dia mundur beberapa langkah kemudian dengan cepat duduk kembali di bawah.

"A Mi Ta Ba," orang yang membaca doa akhirnya muncul, tapi dia bukan biksu melainkan biksuni.

Seorang biksuni dengan perlahan mendekati mereka sambil membaca A Mi Ta Ba. Tangannya membawa ikan kayu tapi tidak membawa ketokan untuk memukul.

Begitu melihat biksuni ini muncul, Zang Hua terkejut. Dia berkata di dalam hati, "Xin Wu Shi Tai." Biksuni ini adalah orang yang menemani Zang Hua bersembahyang. Dengan perlahan dia berjalan mendekati Wu Zheng Xing. Dia menarik nafas dan berkata, "Perempuan adalah kosong, kosong adalah perempuan; Tahap ini saja tidak bisa kau lewati, bagaimana kau bisa menjadi seorang biksu?"

Begitu melihat Xin Wu Shi Tai keluar, Wu Zheng Xing langsung gemetar. Dia berkata, "Aku...aku memang tidak ingin menjadi biksu, kau yang telah memaksaku—"

Kata-katanya belum selesai, kepalanya diketok lagi, tapi kali ini dipukul dengari tangan.

Tangan Xin Wu Shi Tai sepertinya lebih keras dari ketokan kayu. Dia berkata, "Siapa yang memaksamu menjadi biksu?"

Begitu tubuh Wu Zheng Xing diketok, dia segera merangkak di lantai. Pastinya kepalanya bertambah dengan satu benjolan lagi. Benjolan itu lebih besar dari benjolan sebelumnya.

"Tidak...tidak ada yang memaksaku." "Apakah kau ingin menjadi biksu?" "Ingin...aku sangat ingin menjadi biksu, ingin sampai aku mati."

Kepala Wu Zheng Xing diketok lagi. Xin Wu Shi Tai berkata, "Mengapa seorang biksu sekali membuka mulut langsung bicara kematian?"

"Aku tidak akan berkata seperti, itu lagi...tidak akan," suara Wu Zheng Xing seperti yang ingin menangis.

"A Mi Ta Ba. Kesulitan ada di mana-mana, palingkan lah kepala itu daratan, letakkan lah senjatamu, segera menjadi Budha...." Xin Wu Shi Tai mulai membaca kitab suci, "Na Mo A Mi Ta Ba.'

Suara yang membaca kitab suci semakin keras. Wu Zheng Xing yang merangkak di lantai semakin kencang menangis.

Zang Hua terpaku. Dia bengong setelah lama dia baru membalikkan kepala. Dengan tertawa kecut dia melihat Ren Piao Ling, "Biksuni itu sangat pintar memaksa orang untuk menjadi biksu. Dia juga sangat pintar membaca kitab suci."

"Kecuali bisa membaca kitab suci, dia juga pintar mengetok kepala Orang," kata Ren Piao Ling sambil tertawa, "mengetok kepala orang lebih pandai dibandingkan membaca kitab suci."

"Dia tidak salah tempat membaca kitab suci," kata Zang Hua, "tapi salah mengetok kepala orang."

"Seharus dia mengetok kepala siapa?" tanya Ren Piao Ling. "Dia sendiri."

Tiba-tiba Xin Wu Shi Tai berhenti membaca kitab sucinya, dia membalikkan kepalanya melihat Zang Hua. Kemudian dia menggelengkan kepalanya, "Ternyata kau!"

"Ya ini aku."

"Mengapa kau datang lagi?" "Aku bisa pergi, mengapa tidak bisa kembali ke sini lagi?" "Kalau sudah pergi seharusnya kau tidak kembali."

"Siapa yang bilang seperti itu?" tanya Zang Hua. "Biksuni yang bicara."

"Mengapa biksuni bisa berkata seperti itu?"

"Biksuni bisa mengetok kepala orang," kata Xin Wu Shi Tai. "Kelihatannya biksuni ingin mengusirku?" tanya Zang Hua menarik nafas.

"Pagi tadi aku sudah menyuruhmu pergi, sekarang kau malah kembali lagi," kata Xin Wu Shi Tai.

Mata Zang Hua berputar, segera dia berkata, "Kalau sekarang aku pergi, apakah ada yang akan memberiku uang?"

"Tidak ada."

"Kalau begitu aku tidak akan pergi." "Mengapa?"

"Aku ke sini karena ada seseorang akan memberiku uang," kata Zang Hua sambil tertawa, "kalau tidak ada orang yang memberiku uang, bagaimana aku bisa pergi?"

Xin Wu Shi Tai mulai marah, dia berkata, "Apakah kau tahu tempat apa ini?"

"Kalau pagi hari tempat ini adalah kuil biksuni sekarang pun tetap kuil biksu," Zang Hua melihat biksu-biksu yang masih duduk bersila di bawah.

"Pagi adalah kuil sekarang adalah kelenteng," jawab Xin Wu Shi Tai. "Memangnya kenapa kalau kelenteng?" tanya Zang Hua, "pelacur pun boleh bersembahyang, mengapa aku tidak boleh?"

"Kau datang untuk apa?" "Berjudi."

"Kelenteng bukan tempat perjudian."

"Biksuni bisa memaksa orang menjadi biksu, mengapa aku tidak boleh berjudi di kelenteng?" "Di sini banyak biksu, siapa yang bisa berjudi denganmu?"

"Biksu."

"Biksu tidak boleh berjudi," kata Xin Wu Shi Tai.

"Sudahlah, kalau adu mulut terus kau tidak akan bisa menang darinya," tiba-tiba Ren Piao Ling bicara, "dia pasti yang akan menang. Budha Ru Lai pun berjudi, kenapa biksu tidak boleh berjudi?"

"Benar," timpal Zang Hua.

"Siapa yang mengatakan kalau Budha Ru Lai berjudi? Dengan siapa Budha Ru Lai berjudi?" "Dengan Shun Wu Kong," jawab Zang Hua.

"Mereka bertaruh apa?"

"Taruhannya adalah Shun Wu Kong tidak bisa keluar dari telapak tangan Budha Ru Lai," jawab Zang Hua.

"Sekalipun kau mempunyai alasan, tapi biksu tidak mempunyai uang," kata Xin Wu Shi Tai. "Biksu tidak mempunyai uang, tapi biksuni bisa meminta uang kepada orang biasa." "Meminta uang? Meminta uang kepada siapa?"

"Setahuku, biksu-biksu ini tadi pagi hanya orang biasa," kata Zang Hua, "apalagi ketua Wu Zheng Xing. Kalau dia menjadi biksu, berarti kantungnya harus kosong. Harta benda yang begitu banyak secara otomatis akan disumbangkan kepada para biksuni."

"Katanya biksuni mempunyai cara lebih banyak untuk meminta sumbangan dibandingkan dengan para biksu," kata Ren Piao Ling.

"Kadang-kadang merampok uang lebih pintar dari pada perampok itu sendiri."

Tiba-tiba Xin Wu Shi Tai terdiam. Dia melihat Zang Hua dan Ren Piao Ling dengan lama, kemudian dia berkata, "Dengan apa kalian akan bertaruh?"

"Aku," kata Zang Hua.

"Mana bisa orang dijadikan sebagai barang taruhan?"

"Bisa, kalau aku kalah, aku akan mengikutimu menjadi biksuni. Dan dia tetap menjadi biksu," kata Zang Hua. "kalau kau kalah maka kuil ini akan menjadi milikku, biksu-biksu itu pun menjadi milikku."

"Dengan cara apa kau kan bertaruh?" tanya Xin Wu Shi Tai.

"Kau senang mengetok kepala orang, kita bertaruh dengan cara mengetok kepala orang," kata Zang Hua.

"Mengetok kepala siapa?"

"Kau mengetok kepalaku, aku akan mengetok kepalamu," Zang Hua tertawa dan berkata lagi, "siapa yang pertama kali bisa mengetok kepala lawannya, maka dia lah yang menang."

"Kepala bukan ikan kayu, kepala diketok akan pecah," dengan dingin Xin Wu Shi Tai bicara. Tiba-tiba Zang Hua mengedipkan matanya kepada Xin Wu Shi Tai dan berkata, "Apakah kau tahu kepala seperti apa yang mudah diketok hingga pecah?"

Tidak perlu dijawab, kepala botak lebih mudah diketok sampai pecah.

Tiba-tiba Xin Wu Shi Tai tertawa terbahak-bahak. Diiringi tawanya, tiba-tiba dia menghilang.

---ooo0dw0ooo---

Begitu pedang menusuk, darah pun bercucuran. Ternyata pedang itu menembus hingga ke dalam daging. Tidak terasa sakit, yang ada hanya sedikit rasa bingung. Bai Tian Yu sekarang tidak merasa sakit juga tidak takut, hanya ada kebingungan. Dia tidak menyangka kalau ujung pedang yang menusuk ke dalam dagingnya terasa dingin.

Pedang yang ada di belakangnya telah menusuk hingga merobek bajunya dan masuk ke dalam punggungnya.

Darah seperti hujan musim semi. Bai Tian Yu sudah siap menyambut datangnya kematian, waktu ini lah dia merasakan satu hal.

Hal yang membuatnya merasa senang.

Pedang yang menusuk dari belakang pada saat akan menembus jantungnya tiba-tiba berhenti. Hawa pembunuh yang terdapat di ujung pedang pun segera menghilang.

Yin Hu bergerak saat itu juga. Begitu dia bergerak, pedang Bai Tian Yu akan ikut bergerak.

Tangan kiri Yin Hu bergerak sedikit. Dia sudah menembakkan 20 senjata rahasia berbentuk Biao. Kemudian dia membalikkan badan dan menembakkan 20 lebih senjata jarum dan mulut mengeluarkan 10 jarum sakti.

Seratus senjata rahasia. Dari semua penjuru menembak keluar. Ada yang cepat, ada juga yang lambat, ada yang menembak ke belakang dan tiba terlebih dulu. Ada yang saling beradu, kemudian berganti arah. Semua senjata rahasia mengarah kepada Bai Tian Yu.

Sekalipun Bai Tian Yu mempunyai seribu tangan tetap tidak akan sempat menyambut senjata rahasia itu. Untungnya dia mempunyai sebilah pedang.

Pedang Chun Yu.

Pedang yang diukir, bercahaya seperti bulan melengkung. Cahaya melengkung seperti bulan yang ada di dalam air.

Air seperti bergerak, seperti bergoyang juga seperti menyebar. Hanya ada satu pedang. Hanya satu kali kelebatan.

Seratus macam senjata rahasia itu seperti hujan jatuh ke dalam danau, tidak meninggalkan jejak sedikit pun.

Sewaktu Yin Hu melihat cahaya melengkung itu, dia juga melihat cahaya seperti bulan sabit itu ada di dadanya lalu menghilang.

Begitu cahaya itu menghilang, Yin Hu melihat hal aneh lainnya. Hal yang dalam hidupnya belum pernah dia lihat, karena mata kirinya bisa melihat mata kanan. Mata kanannya pun bisa melihat mata kirinya.

Seorang manusia mana bisa mata kirinya melihat mata kanannya?

---ooo0dw0ooo--- Melihat Xin Wu Shi Tai tertawa, dan melihat dia menghilang. Mengapa dia bisa menghilang? Di sebuah ruangan besar di kuil Wu Xin An, semua ditutupi oleh papan-papan hijau yang terbuat dari batu. Xin Wu Shi Tai berdiri di atas papan-papan batu itu, sewaktu dia tertawa terbahak-bahak, papan batu itu tiba-tiba terbelah dan terbuka.

Begitu papan batu itu terbuka, Xin Wu Shi Tai jatuh ke dalamnya kemudian papan itu segera menutup kembali.

Melihat keadaan ini Zang Hua sangat kaget.

Ren Piao Ling juga melihatnya, dia juga terpaku. Tapi kemudian dia tertawa, dia tertawa dan berkata kepada Zang Hua, "Sepertinya dia tidak ingin bertaruh denganmu."

"Dia tahu kalau kepalanya sangat mudah diketok hingga pecah," Zang Hua juga tertawa. "Apakah kau benar akan mengetok kepalanya?" "Hanya satu ketokan saja kepalanya pasti akan

sobek."

"Mengapa?" tanya Ren Piao Ling, "Xin Wu Shi Tai sangat terkenal, secara garis besar dia bukan orang yang sangat jahat."

"Tapi dia tidak boleh memaksa orang untuk menjadi biksu."

"Pengemis pun boleh menjadi biksu, yang membuka kantor Biao pun boleh menjadi biksu," kata Ren Piao Ling sambil tertawa, "mungkin mereka sendiri yang menginginkannya "

Kalimat ini belum selesai, biksu-biksu yang ada di dalam ruangan itu berteriak, "Kami tidak ingin menjadi biksu."

"Kami mempunyai anak, istri, dan ibu. Kami hidup dengan bahagia, mengapa harus menjadi biksu?"

"Orang biasa mana mau menjadi biksu?"

Suara Wu Zheng Xing lah yang paling keras. Dia berlutut dan berkata, "Kami dipaksa menjadi biksu, kami berharap Pendekar Ren bisa menegakkan keadilan untuk kami."

"Hai!" Ren Piao Ling menarik nafas, "tadinya aku mengira kalau kau adalah laki-laki sejati, tapi nyatanya begitu dipaksa kau mau saja menjadi biksu."

"Kalau kami tidak mau menjadi biksu, dia akan mengambil nyawa kami," kata Wu Zheng Xing.

"Kalian semua berjumlah 20-30 orang, masa takut dengan seorang biksuni?" tanya Zang Hua. "Biksuni itu sangat galak dan jahat, ilmu silatnya pun tinggi," kata Wu Zheng Xing, "dan ada 2

orang yang wajahnya selalu ditutup, siap membantunya." "Dua orang yang bertopeng?"

"Apakah dengan gabungan diri kalian masih tidak bisa melawan mereka?" tanya Zang Hua. "Kalau bisa mengalahkan, kami tidak akan mau menjadi biksu," kata Wu Zheng Xing.

Zang Hua bertanya lagi, "Kenapa dia memaksa kalian menjadi biksu? Apakah dengan begitu dia mendapat kebaikan?"

"Yang pasti dia akan mendapatkan kebaikan." "Apa kebaikannya?"

"Katanya jika kita menjadi biksu, semua hati akan menjadi kosong," kata Wu Zheng Xing, "begitu kami menjadi biksu, harta kekayaan* kami akan menjadi miliknya."

"Kalau begitu aku juga ingin mengetok kepalanya," kata Ren Piao Ling sambil tertawa kecut. "Bukan mengetok hingga pecah sedikit, melainkan membocorkan kepalanya," kata Zang Hua.

Ren Piao Ling berpikir sejenak lalu dia berkata, "Ke mana perginya Xin Wu Shi Tai? Kenapa dia mengijinkan Xin Wu An melakukan semua ini ini?" "Manusia bisa berubah," kata Zang Hua, "mungkin kedua orang yang wajahnya bertopeng itu adalah salah satu adalah Xin Wu Shi Tai?"

"Benar," tanggap Wu Zheng Xing, "biksuni ini sepertinya sangat menurut kepada kedua orang yang wajahnya bertopeng itu."

"Para biksuni itu tidak akan melepaskan kami," wajah-wajah para biksu ini terlihat ketakutan. "Kalian jangan takut, kalau dia berani mengejar kalian, masih ada Pendekar Ren yang bisa

menghadangnya," kata Zang Hua.

"Betul, dengan adanya Pendekar Ren, jadi kami merasa tenang."

Kata-kata ini belum selesai, biksu-biksu yang ada di dalam sudah berebut ingin keluar. Ada yang berjalan melalui pintu, ada yang melalui jendela. Hanya dalam waktu sekejap mereka semua sudah lari keluar dari kuil.

Tidak ada yang mengerti, mengapa Xin Wu Shi Tai tidak menampakan diri. 2 orang yang wajahnya bertopeng itu pun tidak kelihatan muncul.

"Wibawamu sangat besar," kata Zang Hua tertawa, "biksu-biksu itu sudah melarikan diri, para biksuni pun tidak berani mengejar mereka."

Ren Piao Ling tertawa kecut, "Lain kali jika bertemu dengan hal-hal seperti ini, jangan mengangap itu adalah karena Pendekar Ren."

"Kalau bukan karenamu, lalu karena siapa?"

"Kau sendiri juga bisa! Bukankah ilmu silatmu juga tinggi?"

"Aku memang ingin mengatasinya sendiri, tapi wibawaku tidak cukup besar." "Kau terlalu sungkan."

Zang Hua tertawa. Tiba-tiba dia bertanya, "Menurutmu biksuni yang jatuh ke bawah, kemana dia akan jatuh?"

"Kita ikuti saja kemana dia jatuh, bukankah kita akan segera tahu?" Begitu selesai bicara, Ren Piao Ling pun menghilang.

Tempat Ren Piao Ling berdiri dan tempat Xin Wu Shi Tai jatuh, posisinya tidak sama. tapi tempat mereka berpijak tetap bisa dibuka. Karena itu Ren Piao Ling segera terjatuh ke bawah.

Tapi saat Zang Hua menendangnya, papan batu itu tetap tidak bisa dibuka karena itu dia merasa kaget.

Papan batu itu sangat tebal, sela-sela papan pun sangat padat, tidak ada yang tahu di mana tombol pembukanya.

Ruangan itu kembali sepi. Zang Hua melihat ruangan besar itu, dia mulai gemetar.

---ooo0dw0ooo---

BAB 7 Siapa pembunuh Xin Wu Shi Tai?

Pedang membawa cahaya bulat.

Darah bercipratan seperti angin yang lewat.

Angin musim semi berhembus, air mengalir. Bulan yang terpantul di atas permukaan air seperti menjadi besar dan lebar.

Semakin lebar... dan lebar. Mata Yin Hu ikut melebar. Mata kirinya bisa melihat mata kanannya. Matanya semakin melebar, kemudian terbelah menjadi dua dan jatuh kepada kedua belah sisi.

Pedang bergerak begitu cepat, itulah pedang setan.

Sekali mengangkat pedang, dia bisa menepis senjata rahasia sebanyak 100 macam lebih, dan pada saat yang sama dia membelah tubuh Yin Hu menjadi dua dengan pedangnya.

Pedang itu tetap menancap di punggung Bai Tian Yu, begitu dia maju selangkah. Pedang itu segera terlepas, dengan perlahan-lahan dia membalikkan badannya.

Setelah dia membalikkan badan, dia melihat ada sepasang mata yang dipenuhi dengan air mata yang melihatnya.

Mata ini sarat dengan perasaan, tapi juga terlihat seperti menyesal dan ada kepasrahan di matanya.

Bai Tian Yu melihat sepasang mata itu. Wajahnya sama sekali tidak terlihat marah atau kaget, Bai Tian Yu terlihat mengerti dan juga sudah memaafkan orang itu.

Mereka saling memandang dengan diam dan lama. Akhirnya Bai Tian Yu menarik nafas dan berkata, "Aku tahu itu adalah perbuatanmu."

"Ya, memang perbuatanku."

"Hanya kau yang baru bisa membuat strategi seperti ini, hanya kau yang baru bisa mengeluarkan tusukan seperti ini, hanya kau yang baru bisa—"

"Baru bisa pada saat yang tepat berhenti," Matanya terlihat sarat dengan perasaan, "Apakah kau tahu, mengapa bisa seperti ini?"

Bai Tian Yu terdiam.

Laki-laki pintar dalam situasi seperti itu lebih baik memilih untuk berdiam diri. Tapi perempuan itu tidak puas dengan jawabannya, dia bertanya lagi, "Apakah kau tahu apa alasannya?"

Bai Tian Yu tidak bisa tidak menjawab lagi, dia menarik nafas dan berkata, "Pedang sudah masuk kedalam tubuhku, tapi mengapa kau malah menghentikannya?"

Jawaban apakah ini?

Hanya laki-laki pintar yang baru bisa menjawab seperti itu.

Perempuan itu sepertinya sangat puas dengan jawaban yang diberikan oleh Bai Tian Yu. "Hanya karena kau dan hanya karena kau lah, aku bisa menghentikan tusukan pedangku." Bai Tian Yu tetap mendengar, dia hanya bisa mendengar saja saat ini.

"Aku menghabiskan begitu banyak waktu dan tenaga, agar kau mati," dia berkata dengan lembut, "tapi sewaktu aku menusukkan pedang ke dalam tubuhmu, akupun malah merasa hatiku pun tertusuk oleh pedang."

Perasaan yang ada di matanya terlihat seperti kabut. Dia melihat Bai Tian Yu dan berkata lagi, "Pedang itu ditusukkan ke tubuhmu tapi rasa sakitnya seperti pedang yang ditusuk ke dalam tubuhku. Apakah kau tahu apa penyebabnya?"

Bagaimana harus menjawab pertanyaan ini? "Karena aku mencintaimu."

"Aku mencintaimu." ketiga kata ini terdengar begitu biasa kecuali kau pernah mendengarnya atau pernah menjawab tidak, maka kau tidak akan mengerti dengan arti 3 kata ini, tidak mengerti bagaimana pahit, manis, dan sedihnya perasan hati?

Untuk mengucapkan 3 kata ini yaitu *Wo Ai Ni', kadang-kadang kau harus melewati jalan yang panjang dan sulit. Setelah mengucapkan ketiga kata ini, kau harus menerima masa depan yang belum kau ketahui, apakah masa depanmu akan manis atau akan .menyedihkan? Atau malah terasa lebih pedih?

Ribuan tahun yang lalu banyak orang yang telah mengungkapkan ketiga kata ini.

Setelah berlangsung selama ribuan tahun, sekarang pun tetap banyak orang yang mengucapkan ketiga huruf ini.

Walaupun kau sendiri yang mengatakannya atau mendengarnya sendiri atau bahkan  kau sendiri yang mengalaminya, kau tetap akan merasakannya sendiri.

"Karena aku mencintaimu.''

Menghadapi perempuan seperti ini, mendengar kata-kata itu, Bai Tian Yu tidak tahu apa yang harus dia jawab.

Dari kejauhan tampak awam hitam. Awan ini menutupi matahari yang akan terbenam. Sore akan segera berlalu dan malam pun akan datang.

Hujan belum turun, tapi angin besar sudah berhembus ke tempat ini.

Angin besar meniup jendela. Jendela terus berderit, pintu pun ikut terus berbunyi. Di dalam Wu Xin An kecuali Zang Hua, yang terdengar adalah suara angin.

Zang Hua melihat patung Guan Yin yang berada di atas meja. Dia mundur selangkah demi selangkah, dia bukan takut hanya tidak suka dengan suasana yang begitu seram. Angin masih berhembus. Ruang besar yang kosong hanya ada Zang Hua. Tiba-tiba dia merasa kalau ruangan itu ternyata sangat besar. Rumah makin besar, maka penghuni akan merasa semakin kecil dan sendirian, semakin membuat orang merasa takut.

Tiba-tiba Zang Hua membalikkan badannya dan lari ke halaman. Di luar angin berhembus sangat besar. Begitu Zang Hua keluar dari ruangan itu, angin besar berhembus lagi. Angin meniup rambut-rambut dari kepala orang yang telah dicukur. Beribu-ribu helai rambut tiba-tiba menggulung ke arahnya, menggulung ke arah lehernya dan juga ke wajahnya.

Semua ini terasa sangat ringan, lembut, dan dingin seperti ada beribu-ribu pasang tangan setan yang meraba ke wajahnya dan mencoba mencekik tenggorokannya.

Zang Hua tidak- pernah merasa takut, tapi keadaan sekarang membuatnya menjadi sesak nafas. Tiba-tiba dia bersalto dan dengan cepat kembali ke ruangan besar itu.

Dengan cepat dia menutup pintu dan dihalangi oleh badannya. Setelah lama dia baru bisa bernafas dengan teratur. Angin masih bertiup. Sebuah jendela yang tertiup angin tampak terbuka kemudian terdengar suara petir, hujan pun turun.

Akhirnya hujan angin datang juga.

Zang Hua melihat ruangan besar ini, tiba-tiba dia berteriak, "Ren Piao Ling, di mana kau berada?"

Suasana begitu gelap, ruangan itu lebih gelap lagi.

Sewaktu Zang Hua ingin mencari lilin dan siap untuk dinyalakan, tiba-tiba dia mendengar di belakangnya ada suara aneh. Suara itu seperti suara tirai yang digulung.

Dengan cepat dia membalikkan badannya. Segera dia melihat tirai yang tadinya lurus, sekarang terguling dan sedang digulung oleh sepasang tangan setan yang tidak terlihat.

.. Walaupun Zang Hua bukan seorang yang penakut, tapi begitu melihat keadaan seperti itu, bulu kuduknya pun merinding.

Tirai tergulung, dari balik dinding terlihat sebuah pintu. Di balik pintu sangat gelap, tidak terlihat apa pun di sana. "Siapa di sana? Keluarlah!"

Tidak ada yang menjawab, bayangan orang pun tidak terlihat, Cang Hua melangkah mendekati pintu itu. Dia berjalan dengan pelan, akhirnya dia memberanikan diri masuk ke balik pintu itu.

Di balik pintu ternyata ada ruang rahasia. Tidak ada jendela di sana karena itu adalah ruang rahasia, terlihat lebih gelap lagi. Tapi Zang Hua masih bisa melihat bayangan seseorang yang sedang duduk bersila di bawah.

Seseorang dengan kepala botak.

Zang Hua mendekat dan dengan teliti melihat orang yang kepalanya botak ini. Ternyata dia adalah seorang biksuni.

Zang Hua baru melihat kalau biksuni botak itu adalah biksuni yang tadi melarikan diri ke bawah, yaitu Xin Wu Shi Tai.

Dia berada di sini, tapi di manakah Ren Piao Ling? "Hai! Mengapa kau ada di sini?" tanya Zang Hua.

Xin Wu Shi Tai tidak menjawab, juga tidak begerak. Matanya pun malas untuk dibuka, dia seperti orang tuli.

"Jangan berpura-pura menjadi bisu dan tuli!" teriak Zang Hua, "walaupun kau tidak menjawab, aku tetap ingin mengetok kepalamu."

Xin Wu Shi Tai tetap tidak menjawab, dia seperti berpura-pura menjadi bisu dan tuli. "Apakah kau mengira aku tidak berani melakukan ancamanku?"

Kalau Zang Hua sudah marah, dia berani melakukan apa pun. Segera dia berjalan mendekari biksuni itu dan benar-benar akan mengetok kepala Xin Wu Shi Tai.

Karena kepalanya diketok, maka badan Xin Wu Shi Tai pun bergoyang kemudian dengan pelan- pelan dia roboh.

"Kau kenapa?" tanya Zang Hua dengan dingin, "kau masih ingin berpura-pura mati?" Zang Hua menarik baju Xin Wu Shi Tai pada bagian depannya.

Wajah Xin Wu Shi Tai yang tadinya merah dan terang, sekarang berubah menjadi abu seperti mati.

Wajahnya berwarna abu, ada darah yang menetes dengan perlahan dari dahinya. Mengalir melalui alis, mata kemudian hidung dan masuk ke dalam mulutnya.

Xin Wu Shi Tai ternyata sudah mati.

Zang Hua kaget, dia mundur selangkah. Xin Wu Shi Tai pun segera jatuh ke depan.

Begitu dia terjatuh, Zang Hua baru tahu bahwa kepalanya sudah berlubang. Dan darah keluar dari lubang itu.

"Apakah karena aku yang mengetok kepala itu hingga berlubang?"

Tentu bukan. Mengenai ketokannya tadi, Zang Hua sangat yakin tidak akan terjadi seperti itu, apalagi tubuh Xin Wu Shi Tai sudah menjadi dingin dan kaku. Kelihatannya dia sudah mati sejak tadi.

Siapa yang telah membunuh Xin Wu Shi Tai? Apakah Ren Piao Ling?

Sekarang dimana dia berada? Bagaimana pun dia harus segera meninggalkan rumah setan ini. Zang Hua membalikkan badannya bersiap akan pergi, sekarang dia baru menyadari satu-satunya pintu masuk ke ruangan ini sudah terkunci dan digembok dari luar.

Dengan cara apa pun pintu itu tetap tidak bisa dibuka. Akhirnya Zang Hua menendang pintu itu, tapi segera jari-jari kakinya terasa sakit seperti hampir putus.

Walaupun pintu ini tidak terbuat dari besi tapi papan pintu itu lebih kuat dari besi. Sekalipun Zang Hua memegang golok, belum tentu dia bisa membelah pintu itu. '

Dinding yang ada di sekeliling ruangan itu malah terlihat lebih tebal lagi.

Tiba-tiba Zang Hua merasa kalau dia seperti seekor binatang yang terkurung. Dia merasa marah, takut, dan juga sedih.

Yang paling menyedihkan adalah dia sama sekali tidak tahu siapa yang telah memasang perangkap ini.

---ooo0dw0ooo---

Air hujan masuk melalui atap yang telah bocor. Angin besar masuk dari pintu usang dan masuk ke Wang Cia Qi.

Angin dan hujan membasahi rambut, baju dan tubuhnya, tapi tidak bisa mencuci bersih perasaan sayang yang terlihat di matanya.

Melihat mata yang sarat dengan perasaan sayang, melihat mata yang dipenuhi dengan perasaan manis seperti madu, hati Bai Tian Yu dibuat mabuk dan juga sedih.

Siapa laki-laki di depan sepasang mata yang begitu penuh dengan perasaan sayang, tidak akan menjadi mabuk kepayang?

"Untuk apa?" Bai Tian Yu menarik nafas, "apakah ini pantas?"

"Bukan dengan kata-kata bertanya untuk apa? Apakah hal ini pantas untuk dijelaskan." Perempuan itu berkata dengan setengah berbisik, "Aku tahu bahwa sejak awal kau tidak pernah memandangku, tapi aku tidak peduli dengan semua itu."

"Kalau...kalau di Wisma Shen Jian tadi kau tidak mengenakan baju seperti itu dan tidak berkata-kata seperti itu, mungkin "

Ternyata mata perempuan yang terlihat lembut dan penuh dengan rasa sayang itu, dan yang telah menusuk Bai Tian Yu dari belakang tak lain adalah Xie Xiao Yu.

"Mungkin apa?" Xie Xiao Yu terus melihat Bai Tian Yu. "mungkin akhirnya akan sama saja." "Mungkin," Bai Tian Yu tertawa, "mungkin juga tidak sama."

Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana jawabannya. Peristiwa yang belum terjadi, siapa yang akan tahu akhir ceritanya?

Bai Tian Yu melihat Xie Xiao Yu, dia bertanya, "Kalau kau ingin membunuhku, sewaktu di Wisma Shen Jian kau memiliki banyak kesempatan, mengapa kau tidak membunuhku?"

Di Wisma Shen Jian memang banyak kesempatan untuk membunuh Bai Tian Yu. Dan tidak perlu melibatkan Xie Xiao Yu.

"Bila di dalam Wisma Shen Jian aku membunuhmu, berarti secara otomatis  menjelaskan kepada orang-orang dunia persilatan kalau kau sudah mati di Wisma Shen Jian?"

Mati di Wisma Shen Jian, berarti mati di tangan Xie Xiao Yu. Semua orang akan tahu kalau Tuan Xie Xiao Feng tidak membunuh Bai Tian Yu.

"Dan kami tidak akan mengijinkanmu mati di Wisma Shen Jian, kau harus mati di sini," jelas Xie Xiao Yu, "kalau kau mati di sini, rencana kami berikutnya baru bisa berjalan lancar."

"Rencana apa?" "Aku akans memberitahukannya kepadamu, tapi tidak saat ini." "Kapan?"

"Saat kau telah pergi jauh."

"Pergi jauh?" Bai Tian Yu terpaku, "mengapa aku harus pergi jauh?"

"Karena aku," Xie Xiao Yu melihatnya, "hari ini aku tidak akan membunuhmu. Perkumpulanku tidak akan melepaskanku begitu saja. Mereka akan mencari orang lain untuk membunuhmu karena itu kau harus membawaku pergi dari sini. Membawaku meninggalkan orang-orang itu."

Mata Xie Xiao Yu dipenuhi dengan air mata dan terus melihat pada Bai Tian Yu.

"Mencari sebuah tempat di mana tidak ada seorang pun yang kenal dengan kita, kita akan membangun rumah, kita akan menanam sayur dan padi. Pagi kau akari bekerja di ladang, sedangkan aku akan memasak nasi dan sayur sambil menunggumu pulang. Aku juga akan menyiapkan arak yang kau sukai. Kemudian aku akan menemanimu minum."

Ini adalah gambaran sebuah keluarga yang begitu hangat dan manis. Bai Tian Yu sejak dulu sudah menginginkan hal ini tapi belum saatnya.

Dia harus menyelesaikan dulu hidupnya sekarang baru bisa menikmati kehidupan seperti itu.

Itulah tujuannya masuk ke dunia persilatan.

Apakah tujuannya?

Apakah ingin dikenal orang?

Kalau hanya ingin terkenal saja, sekarang dia sudah sangat terkenal. Kalau bukan karena ingin terkenal, jadi dia melakukannya karena apa?

Hujan terus turun. Hujan membasahi Xie Xiao Yu. Air hujan membasahi badannya, membuat lekukan tubuhnya terlihat dengan jelas.

Tubuh seperti setan.

Tubuh seperti ini lah yang diinginkan oleh setiap laki-laki. Bisa mendapatkan seorang istri seperti Xie Xiao Yu merupakan suatu hal yang menyenangkan dan juga membanggakan.

Mata Xie Xiao Yu dipenuhi dengan air mata, semua ini malah menambah daya tarik kecantikannya.

Wajahnya seperti bidadari, lekukan badannya seperti setan. Perempuan seperti ini, laki-laki mana yang bisa tahan menghadapinya?

"Di rumah kita nanti tidak akan ada pedang, golok, tidak akan ada dendam dunia persilatan, tidak ada kebencian, semua kejelekan dunia persilatan, tidak akan ada di rumah kita yang kedi," suara Xie Xiao Yu terdengar sangat lembut, "di sana hanya akan ada aku dan kau. Mungkin 2-3 tahun lagi" rumah kita akan bertambah 1 orang."

Bertambah satu orang? Ditambah dengan siapa? Pastinya buah hasil perkawinan mereka.

"Hidup seperti itu alangkah baiknya," kata Xie Xiao Yu, "apakah kau menyukainya?"

Suka, yang pasti sangat suka. Ada perempuan seperti Xie Xiao Yu yang menemaninya. Asalkan dia adalah laki-laki normal dia pasti akan sangat menyukainya.

Bai Tian Yu melihat Xie Xiao Yu yang berada di bawah siraman air hujan, tiba-tiba dia menarik nafas dan berkata, "Tapi sayang aku hanya Bai Tian Yu."

Kata-kata apakah ini? Apa maksud kata-katanya? Tapi Xie Xiao Yu mengerti apa yang dimaksud oleh Bai Tian Yu. Dia ikut menarik nafas. "Aku sudah tahu kalau kau tidak akan mau menemaniku pergi dan aku memang harus membunuhmu," kata Xie Xiao Yu, "bila menuruti sifatku, benda yang aku tidak dapat kuperoleh, orang lain jangan harap bisa mendapatkannya. Karena Aku tidak bisa mendapatkan cintamu tapi aku bisa membunuhmu."

Dia menarik nafas lagi dan berkata, "Tapi sayang walau aku tidak mendapatkan hatimu tapi aku juga tidak tega membunuhmu, sekarang aku harus bagaimana?"

Bagaimana? Bai Tian Yu harus bagaimana? Kecuali hanya bisa tertawa kecut, Bai Tian Yu tidak bisa melakukan apa pun. Membunuh Xie Xiao Yu.

Sebenarnya Bai Tian Yu harus membunuh Xie Xiao Yu, kalau dia tidak ingin membunuh Xie Xiao Yu, paling sedikit dia harus bertanya kepada Xie Xiao Yu, mengapa dia ingin membunuh Bai Tian Yu? Apakah sebenarnya rencana mereka? Seperti apakah perkumpulan mereka? Siapa saja yang ada didalam perkumpulan? Yang terpenting, siapakah ketua mereka? Tapi Bai Tian Yu tidak bertanya kepada Xie Xiao Yu dan juga tidak membunuh Xie Xiao Yu. Bai Tian Yu hanya tertawa kemudian berkata, "Aku harus bagaimana sekarang? Menurutmu aku harus melakukan apa?"

"Pergi, cepat pergi! Pergi ke tempat jauh. Kalau bisa jangan melihatku lagi," kata Xie Xiao Yu, "aku tidak tega membunuhmu tapi orang lain pasti akan membunuhmu."

Kemudian Xie Xiao Yu melihat Chun Yu yang ada di tangan Bai Tian Yu. Dia berkata, "Walaupun kau mempunyai Chun Yu, dan bisa menggunakan jurus setan tapi begitu kau bertemu dengan ketua kami, jurusmu hanya akan terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang bermain pedang." "Ketua? Siapakah dia?"

"Tentu saja beliau adalah ketua perkumpulan kami," jawab Xie Xiao Yu, "hayo cepat pergi!"

---ooo0dw0ooo---

Di ruangan rahasia suasana lebih gelap dan lebih sempit. Zang Hua mulai merasa sesak nafas.

Darah yang berasal dari kepala Xin Wu Shi Tai mulai membeku. Mungkin saja dia tahu siapa yang telah membunuh Xin Wu Shi Tai. Mungkin juga dia tidak tahu siapa yang telah Xin Wu Shi Tai.

Siapakah yang tahu?

Tidak terdengar suara hujan, tidak terdengar suara angin, ruangan rahasia ini benar-benar seperti kuburan.

Apakah mereka memang berniat mengubur Xin Wu Shi Tai di sini?

Tapi bagaimanapun juga dia dan Xin Wu Shi Tai sudah ada di dalam kuburan ini. Dalam mimpi pun Zang Hua belum pernah berpikir kalau dia akan terkubur bersama-sama dengan seorang biksuni.

Ruang rahasia itu terasa semakin panas dan juga semakin membuat orang menjadi sesak nafas. Menurut perhitungan Zang Hua, dia hanya bisa bertahan setengah jam lagi. Jika dalam setengah jam ini tidak ada orang yang datang untuk menolongnya, maka selamanya dia akan tertidur di sini.

Begitu teringat tidur, Zang Hua baru sadar kalau dia merasa sangat lelah. Kedua kaki terasa kaku karena terus berdiri. Dia menggerakkan sepasang kakinya kemudian dia bersandar  ke dinding dan duduk.

Baru saja dia duduk, dia mendengar suara aneh lagi. Suara ini berasal dari bawah tanah.

Dia belum bisa membedakan suara itu, tiba-tiba dia melihat papan batu itu terbalik, muncul kepala seseorang dari lubang itu.

—Ren Piao Ling.

Begitu melihat dia, Zang Hua merasa kaget dan juga senang, dia berteriak kegirangan. Ren Piao Ling melihat Zang Hua, dia juga kaget. Begitu melihat Xin Wu Shi Tai yang tergeletak di bawah, dia bertambah kaget lagi.

"Mengapa kau mengetok kepalanya hingga pecah?"

"Aku baru saja akan bertanya kepadamu, walaupun kau sangat ingin mengetok kepalanya, tidak perlu sampai mengambil nyawanya," kata Zang Hua.

"Siapa yang mengetok kepalanya? Dia ada di mana, aku juga tidak tahu." "Bukankah saat dia menghilang, kau pun ikut menghilang?" tanya Zang Hua. "Tapi sewaktu aku terjatuh, aku tidak melihatnya," jawab Ren Piao Ling.

Zang Hua terpaku, "Kau melihat apa saja di sana?"

"Apa pun tidak terlihat, di bawah sana ternyata tidak ada apa-apa," jelas Ren Piao Ling, "walaupun ada, aku tidak bisa melihatnya."

"Mengapa?"

"Karena di bawah sana tidak ada lampu dan suasana sangat gelap. Aku bukan kelelawar, aku tidak bisa melihat apa pun."

"Mengapa kau bisa muncul di sini?"

"Karena di sana ada tangga, setelah aku meraba-raba dengan lama aku baru bisa sampai di sini," jawab Ren Piao Ling, "begitu menaiki tangga, papan batu itu terbalik. Aku mengira kau yang ada di atas ingin menolongku."

Zang Hua tertawa kecut, "Mana sanggup aku menolong Ren Piao Ling." "Jangan bergurau. Sewaktu aku datang, dia memang sudah seperti itu." "Siapa yang telah membunuhnya?"

"Hanya setan yang tahu."

Ren Piao Ling berpikir sebentar dan bertanya, "Mengapa kau di sini terus?" "Kau mengira aku tidak ingin pergi dari sini?"

"Aku mengira kau sedang menungguku."

"Siapa yang menunggumu?" wajah Zang Hua memerah dan berkata lagi, "aku tidak tahu kalau kau bisa keluar dari sana."

"Kalau kau tidak sedang menungguku, mengapa kau tidak pergi dari sini?" "Karena aku tidak bisa pergi."

"Mengapa?"

"Begitu aku masuk ke sini, pintu sudah dikunci dari luar."

"Siapa yang menutup pintu itu?" Zang Hua mengangkat bahunya. "Apakah kau tidak mencoba untuk mendorong pintu?"

"Aku sudah mencobanya."

"Mungkin kau tidak menggunakan seluruh tenagamu," kata Ren Piao Ling. "Kenapa kau tidak mencobanya sendiri?"

Ren Piao Ling pasti akan mencobanya, kalau tidak bagaimana mereka bisa keluar dari sana? Begitu dia mendorong pintu dengan sedikit tenaga, ternyata pintu bisa dibuka.

Zang Hua hampir tidak percaya dengan penglihatan matanya sendiri. Dia hanya bengong dan berteriak, "Pintu ini tadinya dikunci dari luar, mengapa sekali dorong pintu itu bisa terbuka?" Sebenarnya ini adalah hal yang menyenangkan, tapi Zang Hua malah marah-marah?

—Bukankah dia merasa tadinya dia akan mati karena kekurangan oksigen atau karena dia dicurigai, itu adalah 2 alasan yang berbeda. Zang Hua tidak ingin dicurigai oleh Ren Piao Ling.

Ren Piao Ling melihat Zang Hua, dia menarik nafas dan berkata, "Kita anggap saja pintu itu tadi dikunci dari luar, sekarang kita bisa keluar dari sini. Ayo kita pergi."

"Aku tidak mau pergi." "Mengapa?"

"Kau tentu mengira aku telah membohongimu," jawab Zang Hua.

"Siapa yang mengatakan kalau kau telah membohongiku?" tanya Ren Piao Ling, "lagi pula mengapa kau harus membohongiku?"

"Walaupun mulutmu tidak berkata seperti itu tapi hatimu menuduh kalau aku telah membohongimu," kata Zang Hua.

"Tapi pintu itu. "

"Orang itu bisa secara sembunyi-sembunyi menguncinya, juga bisa secara sembunyi-sembunyi membukanya," jelas Ren Piao Ling.

"Untuk apa melakukan hal ini secara sembunyi-sembunyi?" "Asal kita bisa mencari orang itu, kita bisa bertanya kepadanya." "Benar, ayo kita cari orang itu."

Kali ini dia tidak menunggu Ren Piao Ling melangkah, dia sudah berjalan terlebih dulu. Begitu sampai di depan pintu, Zang Hua melihat Ren Piao Ling yang masih terpaku di tempatnya.

"Mengapa sekarang kau yang malah tidak mau pergi?" tanya Zang hua, "kau sedang bingung karena apa? Kau berpilar apa lagi?"

Ren Piao Ling tertawa dan menjawab, "Aku sedang berpikir kalau pintu ini tidak bisa dibuka keadaan ini akan menjadi lucu."

"Lucu?" Zang Hua tidak mengerti maksud Ren Piao Ling, "apa yang lucu?"

"Kalau pintu itu benar-benar tidak bisa dibuka, kita akan terkurung di sini, terkurung selamanya."

Wajah Zang Hua memerah seperti pantat binatang. "Ternyata kau juga bukan orang baik-baik."

"Laki-laki mana ada yang disebut lelaki baik-baik?" Ren Piao Ling tertawa.

Zang Hua melihatnya, tiba-tiba dia berkata, "Kalau kita benar-benar terkurung di sini selamanya, aku tidak akan menikah denganmu."

"Jangan menyakiti hatiku!"

"Kau memang baik, wajahmu pun tampan, tapi kau bukan tipe laki-laki yang kusukai." "Kau ingin menikah dengan laki-laki macam apa?"

Zang Hua tertawa dan mata dikedipkan. Dia berkata, "Kalau aku sudah bertemu dengan laki- laki impianku, aku akan memberitahukannya kepadamu."

"Kalau begitu, aku tidak mau terkurung bersamamu dalam satu ruangan."

Sewaktu Zang Hua ingin mendorong pintu itu, di luar pintu sudah terdengar suara aneh lagi. Suara apakah itu? Kalau kau pernah sembahyang di kelenteng, kau pasti bisa mendengar suara kecil ini yaitu suara orang yang sedang membaca kitab suci dan suara orang yang berbicara.

Zang Hua mendengar suara seperti itu.

Tempat itu adalah kuil biksuni, terdengar suara seperti itu merupakan hal yang wajar.

Tapi bukankah sejak tadi para biksuni yang tinggal di kuil itu tidak terlihat seorang pun dan bukankah tempat itu sudah menjadi kuil untuk para biksu? Bukankah biksu-biksu tadi sudah pergi dari sana? Sejak tadi kuil itu sudah kosong mengapa terdengar suara itu?

Zang Hua dengan kaget melihat Ren Piao Ling, Ren Piao Ling tampak mengerutkan dahinya sambil melihat Zang Hua.

Pintu dibuka dan Zang Hua melihat-lihat keluar, hampir saja dia meloncat. Siapa yang mengatakan kalau di luar adalah ruangan yang kosong?

Siapa yang mengatakan kalau di luar adalah kuil untuk para biksu?

Ternyata di luar adalah kuil biksuni, lampunya bersinar sangat terang, di ruangan besar itu terdengar suara kecil yang sedang membaca kitab suci dan ada berbagai macam orang sedang bersembahyang.

Ada banyak orang tapi tidak ada biksu.

Seorang biksu pun tidak ada. Tadinya adalah kuil biksuni yang tiba-tiba menghilang sekarang seperti mujizat muncul kembali. Ada apa ini?

Siapa yang bisa menjelaskannya?

Di kuil Wu Xin An lampu bersinar sangat terang. Dalam ruangan itu dipenuhi dengan berbagai macam orang dan juga biksuni. Sewaktu lampu dipasang adalah saat suasana Wu Xin An paling ramai.

Semua kelenteng atau kuil pun seperti itu.

Zang Hua yang melihat keadaan itu tampak lebih kaget dibandingkan saat dia melihat kuil itu dipenuhi oleh para biksu.

Dia sempat terpana cukup lama, baru saja dia membalikkan kepalanya untuk melihat Ren Piao Ling, mata Zang Hua terbuka dengan lebar, ekspresi wajahnya seperti saat dia melihat nenek- nenek yang berusia 50-60 yang sedang membuka bajunya untuk berdansa.

—Ekspresi apakah itu?

Zang Hua membasahi bibirnya yang terasa kering. Dia dengan gugup dia bertanya, "Apa yang telah kau lihat?"

"...sebuah kuil biksuni."

"Apakah kau benar-benar melihatnya?"

"Aku tidak tahu apakah ini benar atau salah?"

Zang Hua ingin mengatakan sesuatu tiba-tiba ada seorang biksuni dengan tersenyum mulai mendekatinya.

Seorang biksuni yang terlihat masih muda tapi badannya tinggi besar. Dia berkata,"A Mi Ta Ba."

Tidak menunggu dia selesai berbicara, Zang Hua mulai bertanya, "Permisi Shi Tai, sudah  berapa lama kuil ini dibuka?"

Biksuni itu merasa aneh ketika Zang Hua menanyakan pertanyaan ini. Dia melihat Zang Hua dari atas ke bawah lalu dari bawah ke atas. Kemudian dia berkata sambil tertawa, "Wu Xin An sudah dibuka sejak ayah dan ibuku masih belum saling mengenal."

"Apakah hari ini Shi Ti selalu ada di kuil?" "Benar."

"Apakah semenit pun dia tidak pernah meninggalkan kuil ini?" "Mengapa Nona bertanya seperti itu?" mata biksuni ini bersorot aneh.

Sorot mata ini seperti menganggap Zang Hua adalah binatang aneh yang datang dari tempat jauh.

"Karena. ”

Tadinya Zang Hua ingin menceritakan apa yang telah terjadi, tapi tiba-tiba dia sadar sekalipun dia bercerita dengan jelas tetap tidak akan ada yang mempercayainya.

Zang Hua sendiri pun tidak percaya apa yang telah dia alami, apalagi orang lain. Ren Piao Ling melangkah maju dan bertanya, "Shi Tai, siapa nama Anda?"

"Aku bernama Xin Jing."

"Permisi tanya, Xin Jing Shi Tai, apakah tadi siang ada yang datang ke sini untuk bersembahyang?" Ren Piao Ling bertanya.

"Ada."

"Apakah Shi Tai kenal dengan ketua kantor Biao Wu Zheng Xing?" tanya Ren Piao Ling.

"Aku pernah bertemu 3 kali dengannya," jawab Xin Jing Shi Tai, "dia sering datang ke sini untuk bersembahyang."

"Apakah Shi Tai pernah melihatnya?"

"Sore tadi aku tidak melihatnya," jawab Xin Jing dengan tersenyum, "tapi tadi aku baru saja bertemu dengannya."

"Baru saja?" Ren Piao Ling terpaku, "apakah sekarang dia ada di kuil Wu Xin An?" "Benar."

Xin Jing Shi Tai menunjuk ke arah utara. Di sana berdiri beberapa orang, mereka sedang mengobrol. Seseorang yang berumur setengah baya dan berperawakan agak gemuk, mengenakan baju panjang berwarna abu dan pinggangnya diikat oleh ikat pinggang berwarna biru. Bukankah dia adalah Wu Zheng Xing?

Melihat dia yang sedang asyik mengobrol, sedikit pun dia tidak seperti sedang dipaksa untuk menjadi biksu, apalagi rambutnya tampak melambai-lambai mengikuti suaranya. Langsung melihatnya saja sudah tahu kalau itu bukan rambut palsu.

Tapi apakah semua ini mungkin?

Tadi sore dia dipaksa mencukur rambutnya untuk menjadi biksu, apakah mungkin dalam waktu singkat rambutnya bisa tumbuh lagi?

Melihat keadaannya yang begitu ceria, sama sekali tidak terlihat seperti keadaannya tadi sore, sangat dikasihani.

Walaupun hidup Ren Piao Ling penuh dengan pengalaman, tapi begitu melihat Wu Zheng Xing, dia pun hanya bisa menjadi bengong.

Apalagi Zang Hua, dia segera maju ke depan Wu Zheng Xing. Dengan mata yang dibuka lebar- lebar dia melihat Wu Zheng Xing, kemudian dia menarik rambut Wu Zheng Xing.

"Kau sedang apa?" Wu Zheng Xing kaget karena perbuatan Zang Hua. "Apakah. rambutmu asli?" tanya Zang Hua penasaran.

Wu Zheng Xing dengan terpana melihatnya dan menjawab, "Kau ini perempuan atau laki-laki?" "Aku adalah perempuan." "Kalau begitu rambutku bukan rambut palsu," Wu Zheng Xing tertawa.

"Bukankah tadi sore kau sudah mencukur rambutmu hingga botak dan dipaksa untuk menjadi biksu?"

"Aku menjadi biksu?" Wu Zheng Xing bengong lagi. Tapi dia segera tertawa dan berkata, "memangnya kenapa kalau aku menjadi biksu?"

Teman-teman Wu Zheng Xing ikut tertawa. Salah satu dari mereka berkata, "Kalau Ketua Wu menjadi biksu, matahari akan terbit dari barat."

"Kehidupan Ketua Wu sangat bahagia, kenapa dia harus menjadi seorang biksu?" "Karena dia dipaksa," jawab Zang Hua.

"Dipaksa? Aku dipaksa oleh siapa?" Wu Zheng Xing masih tertawa. "Dipaksa oleh Xin Wu Shi Tai."

"Xin Wu Shi Tai? Apakah Xin Wu Shi Tai yang ada di Wu Xin An?" Wu Zheng Xing berhenti tertawa.

"Kau kenal dengannya?"

Tiba-tiba Wu Zheng Xing dengan ekspresi yang aneh melihat Zang Hua dan dengan nada yang aneh pula dia bertanya, "Kau mengatakan kalau aku dipaksa oleh Xin Wu Shi Tai untuk menjadi biksu, kapan hal itu terjadi? Dan di mana?"

"Di sini, tadi sore."

Nada Wu Zheng Xing lebih aneh lagi. Ekspresi wajahnya terlihat dia menganggap Zang Hua seperti seekor binatang aneh yang datang dari tempat jauh.

Wu Zheng Xing melihat Zang Hua kemudian melihat teman-temannya, mereka pun terdiam. Tapi mereka dengan ekspresi aneh melihat Zang Hua. Karena merasa dilihat terus, Zang Hua menjadi marah, dia berteriak, "Tadi sore kepala botakmu sempat diketok oleh palu pengetok ikan kayu oleh Xin Wu Shi Tai," kata Zang Hua, "apakah kau sudah lupa?"

"Yang Nona maksud Xin Wu Shi Tai, apakah dia adalah biksuni Xin Wu Shi Tai yang di kuil kami?"

Suara yang merdu tapi tidak kurang wibawanya datang dari belakang Zang Hua. Zang Hua segera membalikkan kepalanya, dan Zang Hua melihat ada orang yang begitu mirip.

Orang ini terlihat berusia 40-50 tahun, tapi wajahnya tidak ada kerutan yang biasanya dimiliki orang yang berusia 40-50 tahun.

Wajahnya terlihat lembut, cantik, bersinar, seperti seorang gadis yang berumur 17-18 tahun. Tapi wajahnya memperlihatkan banyaknya pengalaman yang biasanya hanya dimiliki oleh orang berusia 70-80 tahun.

Matanya tidak besar, tapi sangat hitam. Hitam dan terlihat bersemangat dan penuh dengan daya tarik.

Hidungnya mancung. Sudut mulutnya sedikit ke atas, giginya rata dan putih.

Kulitnya terlihat lembut seperti susu dan madu. Lekukan pinggangnya terlihat lentur seperti air dan payudara keras, besar seperti gunung yang terlihat dari kejauhan.

Dia jenis perempuan yang bisa membuat para laki-laki yang begitu melihatnya maka detak jantung mereka akan bertambah kencang tapi sekarang ini para laki-laki melihat dia dengan sorot mata penghormatan.

Dia cantik, dia pun pengurus Wu Xin An.

—Xin Wu Shi Tai, 30 tahun yang lalu adalah Ikan Duyung yang terkenal di dunia persilatan. Dengan sorot mata yang tenang, Xin Wu Shi Tai melihat Zang Hua. Suaranya pun sangat tenang.

"Yang Nona maksud Xin Wu Shi Tai, apakah dia adalah biksuni Xin Wu yang ada di kuil ini?" "Betul."

"Kapan Nona bertemu dengan Xin Wu?" tanya Xin Wu Shi Tai, "apakah tadi sore?" sorot mata Xin Wu Shi Tai terlihat cahaya, "di sini?"

"Benar," jawab Zang Hua, "di sini dan tadi sore."

Kemudian dengan dingin Zang Hua melihat Wu Zheng Xing dan berkata, "Sewaktu aku bertemu dengan Xin Wu Shi Tai, untung masih ada orang yang ikut bicara dengannya. Orang itu melihat Xin Wu Shi Tai dan kepalanya pun diketok hingga benjol."

"Siapakah orang itu?" tanya Xin Wu Shi Tai.

"Aku," Wu Zheng Xing maju selangkah, "dia mengatakan orang itu adalah aku." "Kau?" Xin Wu Shi Tai sedikit kaget.

"Benar, orang itu adalah dia," jawab Zang Hua, "dia melihat Xin Wu Shi Tai dan dia dipaksa oleh Xin Wu Shi Tai untuk menjadi biksu."

Xin Wu Shi Tai melihat Zang Hua. Sorot matanya seperti saat Wu Zheng Xing melihat Zang Hua tadi, ekspresi aneh.

Melihat sorot Xin Wu Shi Tai, hati Zang Hua mulai mendingin. Dalam waktu satu hari ini, dia sudah menemukan bermacam-macam hal yang aneh. Yang mana benar? Yang mana salah? Sekarang dia pun menjadi bingung.

Xin Wu Shi Tai melihat Zang Hua dengan lama, dia menarik nafas dan berkata, "Kalau Wu Zheng Xing memang ingin menjadi biksu, mungkin semua orang pun akan menjadi biksu." Dia berkata lagi, "Apalagi kalau Wu Zheng Xing menjadi biksu, bukan Xin Wu yang memaksanya."

”Mengapa?"

"Karena nama Xin Wu tadinya adalah Wu Jing Ling," kata Xin Wu Shi Tai. "Wu Jing Ling?" tanya Zang Hua, "dia adalah "

"Adik," lanjut Xin Wu Shi Tai, "dia adalah adik kandung Wu Zheng Xing."

Selapis demi selapis mulai terbuka tapi semakin terbuka lapisan itu, hati Zang Hua semakin terasa dingin. Dia merasa di balik semua itu ada rencana busuk yang sedang dimainkan.

Wu Zheng Xing dipaksa mencukur rambutnya dan menjadi biksu, mengapa sekarang  rambutnya seperti orang biasa?

Sore hari di Wu Xin An tidak ada yang bersembahyang dan juga tidak ada biksuni, hanya ada seorang biksu yang telah mencukur rambutnya. Tapi sekarang mereka mengatakan kalau seharian ini mereka berada di Wu Xin An.

Tadi sore Zang Hua melihat Xin Wu memaksa Wu Zheng Xing menjadi biksu, sekarang dia baru tahu kalau Xin Wu Shi Tai ternyata adalah adik kandung Wu Zheng Xing. Apa rencana busuk di balik semua itu?

Zang Hua tidak tahu jawabannya, wajahnya masih kaget juga tidak percaya.

Ren Piao Ling yang sejak tadi tidak bicara, melihat ekspresi wajah Zang Hua sepertinya dia sudah tahu rencana busuk mereka. Wajahnya terlihat ada sedikit rasa takut dan khawatir.

Apa yang dia khawatirkan? Dia takut apa?

---ooo0dw0ooo- BAB 8 Rencana busuk

Hujan angin sudah berhenti, di langit muncul beberapa bintang yang tampak bercahaya terang seperti mata Xin Wu Shi Tai.

"Ketua Biao Wu Zheng Xing sejak tadi selalu bersamaku," jelas Xin Wu Shi Tai, "karena Xin Wu itu sudah menghilang selama sehari semalam, maka aku memutuskan untuk mencari Ketua Biao Wu dan merundingkan hal ini. Itu semua karena Xin Wu itu."

Xin Wu sudah menghilang, mengapa sekarang dia bisa muncul satu Xin Wu lagi? Wu Zheng Xing sejak sore tadi selalu bersama-sama dengan Xin Wu Shi Tai, mana mungkin dia bisa dipaksa menjadi biksu?

"Tadi Nona mengatakan bahwa sore tadi kau pernah bertemu dengan Xin Wu itu, sekarang dimanakah dia berada?" tanya Xin Wu Shi Tai.

"Biksuni itu sudah mati," jawab Zang Hua.

Wajah Xin Wu Shi Tai tidak memperlihatkan ekspresi apa pun, tiba-tiba papan batu di mana dia berdiri terpeta jejak telapak kaki.

Melihat keadaan seperti itu, semua orang dengan pelan menarik nafas, tidak ada yang berani bersuara. Setelah lama baru terdengar suara Xin Wu Shi Tai.

"Dia sudah mati tapi di mana tubuhnya sekarang?"

Ren Piao Ling ingin melarang Zang Hua menjawab, tapi Zang Hua dengan cepat sudah menunjuk pintu itu.

Melihat keadaan seperti itu sebelum Ren Piao Ling sempat menarik nafas, Xin Wu sudah meloncat tinggi dan menuju kearah yang ditunjuk.

Zang Hua melihat Ren Piao Ling yang wajahnya terlihat sangat serius. Keringat di daninya tampak mengucur.

Dari balik pintu itu Xin Wu Shi Tai menggendong orang yang mirip Xin Wu keluar. Walaupun Xin Wu Shi Tai berusaha menahan diri, tapi sorot matanya terlihat penuh dengan kemarahan. Wu Zheng Xing melihat Xin Wu Shi Tai yang keluar sambil menggendong orang yang mirip Xin Wu, dia segera mendekatinya. Begitu melihat orangnya yang sudah mati, wajahnya pun terlihat penuh dengan kemarahan, "Siapa yang membunuhnya?"

Belum sempat Zang Hua menjawab, dia sudah melihat sepasang mata Xin Wu Shi Tai berkilat- kilat melihat ke arahnya dan Xin Wu Shi Tai berjalan mendekati Zang Hua. Dia  bertanya, "Siapakah namamu?"

"Zang Hua."

Dengan diam Xin Wu Shi Tai melihat Zang Hua kemudian sorot matanya berpindah ke Ren Piao Ling. "Siapa nama Tuan ini?"

"Aku Ren Piao Ling."

Xin Wu Shi Tai dengan pelan mengangguk, kemudian dengan pelan pula dia meletakkan Xin  Wu yang sudah mati. Urat-urat hijau di wajahnya bertonjolan satu per satu, tapi suaranya masih terdengar sangat tenang.

"Baiklah, ilmu silat yang sangat hebat," kata Xin Wu Shi Tai, "benar-benar tidak salah mempunyai ilmu silat begitu hebat."

"Bukan dia yang membunuh biksuni itu," jelas Zang Hua dengan suara keras, "kau jangan salah paham!"

"Kalau bukan dia yang membunuh, apakah kau yang melakukannya?" "Mengapa jadi aku? Sewaktu aku masuk ke sana pun, dia sudah mati," jawab Zang Hua. "Masuk ke mana?"

"Ke tempat yang kau masuk tadi." "Apakah waktu itu Tuan Ren ada di sana?"

"Tidak ada," jawab Zang Hua, "terakhir dia baru masuk dan itu tidak lama."

"Di dalam sana hanya ada satu ruangan tidak ada jalan lain. Kalau Pendekar Ren baru masuk, mengapa aku tidak melihatnya?" tanya Xin Wu Shi Tai.

"Dia masuk bukan melalui jalan itu."

"Sejak tadi aku sudah menerangkan, kecuali jalan itu tidak ada jalan lainnya." "Dia...dia keluar dari bawah tanah."

Zang Hua sendiri pun mulai merasa kalau kata-katanya sulit untuk membuat orang percaya, karena itu dia segera menjelaskannya lagi.

"Sore tadi sewaktu kami datang, Xin Wu Shi Tai yang ini belum mati. Sewaktu dia bicara dengan kami, tiba-tiba dia terjatuh ke jalan bawah tanah," jelas Zang Hua, "waktu itu di ruangan besar ini, kecuali ada Wu Zheng Xing, masih ada banyak biksu lainnya."

"Lalu bagaimana?"

"Tiba-tiba di ruangan besar ini hanya tinggal aku sendiri. Aku berjalan pelan-pelan sambil mencari jalan tiba-tiba terowongan itu terbuka kemudian akupun masuk untuk melihat-lihat, ternyata Xin Wu Shi Tai sudah mati di dalam sana. Aku ingin keluar lagi, tapi pintu itu sudah dikunci dari luar."

Zang Hua menceritakan semuanya tapi mata orang-orang di sana terus memelototinya.

Mereka seperti sedang menertawakannya tapi tidak berani secara terang-terangan, tapi mata Xin Wu Shi Tai sama sekali tidak terlihat kalau dia ingin tertawa. Dia berkata, "Apakah sore tadi Nona baru pertama kalinya datang ke Wu Xin An?"

"Betul, waktu itu hari belum begitu sore," jelas Zang Hua, "aku datang ke sini kira-kira 2.5 jam yang lalu."

"Dan ada beberapa orang."

"Apakah yang kau maksud adalah orang-orang ini?" Xin Wu Shi Tai menunjuk orang-orang  yang ada di dalam ruangan itu.

"Tidak, di tempat ini penuh dengan para biksu," jawab" Zang Hua, "Ketua Biao Wu Zheng Xing adalah salah satunya."

Wu Zheng Xing tidak tahan lagi akhirnya dia pun tertawa, "Aku belum pernah menjadi biksu, setiap orang bisa membuktikannya."

"Apakah ada orang yang bisa kau jadikan saksi. Satu-satunya saksi yang ada adalah Xin Wu Shi Tai itu, tapi dia sekarang sudah mati."

Yang satu lagi adalah Wu Zheng Xing, tapi dia sekarang benar-benar tidak seperti orang yang pernah menjadi biksu.

"Biksu-biksu yang. dimaksudkan oleh Nona sekarang ada di mana?"

Biksu-biksu yang memenuhi ruangan tadi memang bisa dijadikan sebagai saksi, tapi ke mana dia harus mencari mereka?

"Semuanya sudah pergi." "Kemana mereka pergi?" "Aku tidak tahu.: "Begitu mereka pergi, apakah di ruangan ini masih ada orang yang tertinggal?" tanya Xin Wu Shi Tai.

"Tidak ada," jawab Zang Hua, "satu orang pun tidak ada."

Setelah selesai berkata, Zang Hua melihat orang-orang yang bersembahyang di sana sedang mentertawakannya.

Mata Xin Wu Shi Tai melihat ke sekeliling lalu berkata, "Kalian tadi sore ada di mana?" "Kami ada di sini."

"Sejak tadi kami sedang bersembahyang di sini."

"Aku tidak ada di sini, aku sedang makan di ruang makan."

Mereka berebut berkata. Setelah selesai berkata, Xin Wu Shi Tai bertanya lagi kepada biksuni- biksuni yang ada di sisinya, "Pernahkah kalian meninggalkan tempat ini?"

"Tidak."

"Begitu kalian masuk ke kuil ini, apakah pernah meninggalkan kuil ini?" "Tidak!"

"Mereka berbohong," Zang Hua marah seakan-akan dia bisa menjadi gila, "tadi sore di sini tidak ada orang. Orang-orang ini semua tidak ada di sini."

Dengan dingin Xin Wu Shi Tai melihatnya dan berkata, "Orang-orang yang ada di sini berbohong, sebaliknya apakah kau tidak?" Dengan suara keras Xin Wu Shi Tai bertanya, "Apakah kau tahu siapa biksuni ini?"

"Dia adalah Xin Wu Shi Tai, adik Wu Zheng Xing."

"Dia juga pengurus di masa yang akan datang," jelas Xin Wu Shi Tai, "dia juga adalah murid yang paling kusayangi."

Sejak tadi Zang Hua hanya marah-marah, tapi begitu mendengar kata-kata Xin Wu Shi Tai dia malah terdiam.

Karena tiba-tiba dia merasa ada udara dingin keluar dari tulang sumsumnya. Seperti pada waktu malam pada saat dia ditendang tiba-tiba dan masuk ke dalam kolam yang sudah membeku.

Apakah di sini adalah kuil Wu Xin atau kelenteng Wu Xin? Apakah Wu Zheng Xing adalah biksu atau bukan biksu? Semua seperti sudah tidak ada hubungannya lagi.

Tapi kalau orang itu sudah membunuh biksuni Wu Xin sama artinya sudah membunuh murid kesayangan Xin Wu Shi Tai yang selalu membela keadilan dan kebenaran, sekarang semua sama sekali tidak ada bedanya lagi.

Sampai sekarang Zang Hua baru merasakan ada rencana yang rahasia, semua adalah rencana busuk yang sudah direncanakan sebelumnya.

Rencana busuk yang sangat menakutkan, dan merengut nyawa manusia.

Dia dan Ren Piao Ling sudah masuk ke dalam perangkap, untuk melepaskan diri sepertinya lebih sulit dari pada mati.

Untuk pertama kalinya Zang Hua merasa dipermainkankan orang lain adalah hal yang begitu menakutkan.

Orang-orang yang ada di ruangan besar itu terus menatap Zang Hua tapi sikap mereka sudah tidak sama sekarang.

Tadi dia hanya dianggap gadis setengah gila dan kata-kata yang keluar pun seperti tidak waras. Mereka merasa kalau dia itu sangat lucu, tapi sekarang mereka melihatnya seperti melihat orang mati.

Suasana di ruangan besar itu terasa sangat mencekam, tiba-tiba Zang Hua berteriak, "Mengapa aku harus berbohong kepada kalian?" "Pasti kau harus berbohong, siapa pun yang sudah membunuh murid kesayangan Xin Wu Shi Tai, mereka tidak akan pernah mau mengakuinya."

"Di antara kita tidak ada dendam dan permusuhan, mengapa kalian ingin membuatku celaka?" Zang Hua berteriak.

Ada sebagian orang yang ada di ruangan itu mundur beberapa langkah, sepertinya Zang Hua membawa penyakit menular dan mereka takut tertular.

Tiba-tiba Zang Hua maju selangkah dan menarik baju bagian depan orang itu, "Aku tahu kau adalah orang jujur, mengapa kau tidak mau memberitahu kepada mereka bahwa sore tadi kau ada di sini?"

"Kalau sore tadi aku tidak ada di sini, Wu Xin An tidak akan mempunyai uang lebih 500 tail perak," walaupun wajah orang ini sudah pucat tapi dia masih bisa tetap menjawab dengan meyakinkan.

Xin Wu Shi Tai memang sangat berpengalaman, dalam situasi seperti itu dia masih bisa membaca kitab suci. Dia seperti sedang membacakan kitab suci untuk menentramkan roh Xin Wu yang sudah meninggal.

Dia tidak perlu terburu-buru.

—Orang mati tidak akan lari ke mana pun.

Zang Hua melihat orang-orang yang ada di dalam ruangan itu, mereka tidak menghiraukannya. Segera dia berlari ke depan Xin Wu Shi Tai, dengan-suara keras dia berkata, "Sekali lagi aku terangkan, aku dan Xin Wu itu tidak ada dendam dan permusuhan, mengapa aku harus membunuhnya?"

Pelan-pelan mata Xin Wu Shi Tai terbuka dan mengawasinya. Setelah lama dia baru berkata, "Karena Xin Wu sudah masuk Wu Lei."

"Wu Lei?"

Apakah Wu Lei itu?

"Karena dia sudah masuk Wu Lei (tidak ber-airmata), maka kau harus membunuhnya. Orang yang ingin membunuhnya bukan kalian saja," Xin Wu Shi Tai menarik nafas dan berkata lagi, "seseorang bila tidak mempunyai air mata, dia seperti masuk neraka."

"Kau benar-benar kurang ajar, Wu Lei itu apa, aku juga belum tahu, mengapa aku harus membunuhnya?"

Bila Zang Hua sudah marah, kata-kata apa pun akan dia keluarkan.

Wajah Xin Wu Shi Tai mulai marah, dia berkata, "Di depan biksuni kau tidak boleh berbuat tidak sopan."

"Kau yang tidak tahu aturan? Atau aku yang tidak tahu aturan?" sekarang Zang Hua benar- benar sudah marah, "meskipun aku memang ingin membuminya, aku tidak akan sanggup melakukannya."

"Tidak ada gunanya kau bicara lagi."

Sejak tadi Ren Piao Ling hanya berdiri di pinggir, sekarang dia mulai bicara, "Dengan cara apa pun kau menerangkannya tidak akan ada gunanya."

"Apa yang tidak berguna?" tanya Zang Hua.

"Dengan cara apa pun kau berusaha semua akan percuma," kata Ren Piao Ling sambil tertawa kecut, "kau tidak sanggup membunuhnya, tapi aku bisa."

"Tapi kau tidak membunuhnya."

"Kecuali kau, siapa yang bisa membuktikan kalau aku tidak membunuhnya?" Siapa yang bisa membuktikannya? Zang Hua terpaku.

"Bekas luka yang ada di tubuhku ada 200 lebih," Ren Piao Ling tiba-tiba tertawa terbahak- bahak, "kalau aku yang dituduh telah membunuhnya, itu tidak masalah."

"Kalau yang membunuhnya adalah kau, mengapa kau harus membantah?" "Kau yang membantah? Atau dia yang membantah?" tanya Zang Hua.

"Kalian harus ingat, pembunuhnya pun harus mati," tiba-tiba Xin Jing Shi Tai berkata seperti itu, "ini adalah aturan negara dan juga aturan dari Tuhan."

"Kau pun jangan lupa kalau kau adalah seorang biksuni, mengapa kau selalu bicara tentang kematian atau hidup?" kata Zang Hua, "di dalam agama Budha tidak diajarkan untuk membunuh, apakah gurumu tidak mengajarkan hal ini kepadamu?"

"Mulut Nona sangat tajam," kata Xin Jing Shi Tai.

"Karena biksuni tua ini tidak mempunyai mata yang bagus, orang baik atau orang jahat pun,  dia tidak bisa membedakannya."

"Walaupun mulut biksuni tidak tajam tapi "

"Diam!" Xin Wu Shi Tai marah, "kau sudah lama menjadi biksuni, mengapa ikut bertengkar?" "Murid bersalah," Xin Jing dengan cepat mundur dan keluar dari sana.

Sorot mata Xin Wu menatap Zang Hua lagi, "Karena aku tidak ingin membunuh, maka aku harus bertanya dulu dengan jelas."

"Kalau sudah jelas, lalu kau mau apa?" tanya Zang Hua.

"Mengikuti aturan kuil, menjalankan hukuman kepada mereka yang bersalah."

"Dia bukan biksuni, juga bukan orang Wu Xin An. Mengapa kau harus menghukumnya dengan aturan kuil ini?"

"Dia sudah membunuh murid kuil ini, karena itu aku berhak menghukum dia dengan aturan kuil ini," kata Xin Wu Shi Tai.

"Siapa yang mengatakan kalau dia telah membunuh biksuni Wu Xin An?" "Sudah ada bukti jelas, tidak perlu orang lain yang mengatakannya."

Dia membunuh Xin Wu? Siapa yang bisa membuktikan kalau dia adalah pembunuhnya? "Waktu itu kalian mempunyai kesempatan jnembunuhnya," kata Xin Wu Shi Tai.

"Lalu mengapa?"

"Karena hanya ada kalian berdua yang bersama dengannya saat itu." "Waktu itu kau ada di mana?" tiba-tiba Zang Hua bertanya.

Xin Wu Shi Tai belum menjawab, Ren Piao Ling sudah tertawa karena dia sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh Zang Hua.

"Waktu itu kau ada di mana?" "Aku tentu ada di dalam kuil ini."

"Kau ada di dalam kuil ini, mengapa kau tidak tahu siapa yang telah membunuh Xin Wu?" tanya Zang Hua, "kau ada di dalam kuil lalu mengapa kau mengijinkan orang lain di depan matamu membunuh Xin Wu?"

"Mengapa kata-kata Nona semakin tidak sopan?"

"Karena kau yang terlebih dulu yang tidak tahu aturan, bukan aku," jawab Zang Hua. "Mulutmu benar-benar sangat tajam," wajah Xin Wu Shi Tai mulai terlihat marah. Dia berkata lagi, "Kalau mulutku tidak perlu tajam hanya aku mempunyai cara jitu untuk menangkap setan."

—Mengapa dia mengucapkan kata-kata itu, itu adalah kata-kata yang tadi dia larang muridnya untuk dikeluarkan.

Zang Hua tertawa.

"Ternyata biksuni tua dibolehkan perang mulut dan mempunyai hati ingin membunuh, sedangkan biksuni kecil tidak "

"Diam!" kali ini Xin Wu Shi Tai benar-benar marah. Dia berkata lagi, "Kalau ada yang berani berbuat tidak sopan lagi, jangan salahkan aku jika tidak mempunyai perasaan."

"Apakah kau ingin bertarung?" Zang Hua berkata sambil menarik pundak Ren Piao Ling, "dia ingin berkelahi denganmu, apakah kau sudah mendengarnya?"

Ta aku sudah mendengarnya," Ren Piao Ling mengangguk, "ucapannya begitu keras, semua orangpun pasti bisa mendengarnya."

"Apakah kau takut?"

"Aku takut, tapi apa boleh buat?"

"Benar, laki-laki sejati lebih baik kepalanya pecah dari pada dihina," Zang Hua tertawa dan berkata lagi, "kalau dia bukan laki-laki sejati, dia hanyalah sepotong tahu."

"Dia ingin bertarung, apakah kau sudah mendengarnya?" tiba-tiba Ren Piap Ling bertanya kepada Zang Hua.

"Aku dengar, aku pasti dengar." "Apakah kau takut?"

"Tidak!"

"Kau tidak takut, mengapa?" "Karena ada kau di sini."

"Apakah bila ada aku, kau tidak merasa takut?"

"Benar!" jawab Zang Hua sambil tertawa dan berkata lagi, "bagianku adalah menggerakan mulut, sedangkan bagianmu adalah bagian menggerakkan tangan."

Kata-kata Ren Piao Ling belum selesai, kepalan tangan sudah keluar dan memukul wajah Wu Zheng Xing yang paling dekat dengannya.

Kepalan tangan bergerak dengan sangat cepat, lebih cepat dari pedangnya. Wu Zheng Xing bukan orang lemah. Tangan kirinya mengangkat tangan kanan siap membalas.

Bisa jadi ilmu silat ketua Biao biasa saja tapi Ren Piao Ling tidak menghindar, dia menerima pukulan keras itu.

Pukulan Wu Zheng Xing mengenai perut Ren Piao Ling.

Orang-orang di sana semua berteriak, tidak ada yang menyangka kalau Ren Piao Ling yang begitu terkenal begitu mudah dipukul.

Walaupun orang-orang di sana berteriak, tapi orang yang terkena pukulan itu malah sepertinya tidak apa-apa. Kepalan tangan Wu Zheng Xing memukul perut

Ren Piao Ling dan kepalan Ren Piao Ling juga sudah memukul perutnya.

Wu Zheng Xing tidak seperti Ren Piao Ling, dia tidak bisa menahan rasa sakit pukulan itu. Rasa sakit membuatnya mundur beberapa langkah dan kedua tangan Wu Zheng Xing memegang perutnya. Keringat mulai bercucuran. Zang Hua menarik nafas dan berkata, "Ilmu silat apa ini?"

"Namanya adalah ilmu silat kena pukul," Ren Piao Ling tertawa. "Apakah dipukul pun termasuk ilmu silat?"

"Betul! kalau ingin memukul orang, dia harus belajar untuk menerima pukulan dulu."

"Benar juga, kau memukulnya, dia pun memukulmu, jadi tidak ada yang kalah atau menang," Zang Hua tertawa, "dia hanya kalah karena tidak kuat kau pukul."

"Kau mengerti aturan-aturan seperti ini."

"Baiklah. Aku ingin tahu berapa kali Tuan bisa menahan pukulannya," kata Xin Wu Shi Tai sambil mendekat.

Sesorang yang mempunyai ilmu tinggi, pada saat lawannya mengeluarkan serangan dia akan tahu serangan itu berisi atau tidak.

Xin Wu Shi Tai tidak memasang kuda-kuda, dia hanya berdiri tapi semua orang bisa melihat kalau tubuhnya penuh dengan tenaga dalam.

Dari arah mana pun lawan mengeluarkan serangan, semua akan diatasikan oleh tenaganya.

Ren Piao Ling tidak bergerak. Sewaktu Xin Wu Shi Tai mulai bicara, dia sudah tidak bisa bergerak. Dia pun berdiri tapi semua tenaganya tertahan oleh tenaga dalam Xin Wu Shi Tai.

Di ruangan besar itu sangat sepi. Sepi seperti terasa ada kematian. Lei Hen ada di tangan Ren Piao Ling, tapi dia tidak bisa mencabutnya.

Karena tenaga dalam Xin Wu Shi Tai seperti beribu-ribu gembok yang mengunci Lei Hen.

Menguncinya sampai mati. Walaupun tangan Ren Piao Ling sangat lincah seperti tangan kera tapi dia tetap tidak bisa bergerak.

Kedua pesilat tangguh yang bertarung seperti berada di antara hidup dan mati, semua harus segera dihentikan.

Tapi semua ini akan berhenti bila telah ada yang mati.

Mereka berdua saling berhadapan, berapa lama kah mereka bertahan? Atau, harus berdiri berapa lama kah mereka? Apakah akan berlangsung seumur hidup? Atau hanya sebentar saja?

Wajah Xin Wu Shi Tai tetap tenang dan kalem, tapi diujung bibirnya seperti ada tawa kecil. Ren Piao Ling sudah sulit untuk bertahan. Sewaktu dia sedang berada dalam kesulitan tiba-tiba diatas atap terbelah sebuah lubang besar.

Begitu atap itu berlubang genting pun berjatuhan, dalam lingkaran tenaga dalam Xin Wu Shi Tai terdengar beberapa kali suara genting pecah, berantakan karena terkena tenaga dalam Xin Wu Shi Tai.

Dan waktu itu juga di atas atap melayang beberapa bintang. Bintang-bintang berkilauan ini memadamkan lampu-lampu yang ada di ruangan itu.

Lampu padam, ruangan menjadi gelap gulita. Dalam kegelapan, kerumunan orang itu menjadi kacau.

Di dalam kegelapan, terlihat bayangan Xin Wu Shi Tai yang melayang keluar melalui lubang besar itu.

Bintang-bintang memenuhi langit.

Bumi yang dibasahi oleh air hujan, basah juga dari terasa dingin.

Zang Hua dan Ren Piao Ling berlari tidak begitu jauh. Mereka hanya lari ke dalam hutan dan berhenti di luar Wu Xin An.

Xin Wu Shi Tai sedang mengejar orang yang memecahkan atap kuil. Dia pasti sudah mengejar jauh. Orang-orang yang di dalam Wu Xin An pasti sudah lari dari sana. Sekarang tempat yang paling aman adalah hutan yang ada di luar Wu Xin An. —Tempat yang paling berbahaya sekaligus tempat yang paling aman.

Zang Hua berhenti dan mulai mengatur nafasnya. Baru dia berkata, "Biksuni tua itu benar- benar lihai, tenaga dalamnya sudah terlatih, bisa keluar dan bisa ditarik kembali seenaknya," Zang Hua berkata lagi, "pada waktu genting berjatuhan dia bisa menarik tenaga dalamnya sampai ke titik terendah. Begitu genting pecah, dia segera kembali bisa menghimpun tenaganya.."

Kata Zang Hua lagi, "Kalau bukan orang yang ada di atas atap yang mengeluarkan senjata rahasia untuk memadamkan lampu, mungkin kita tidak akan semudah ini meloloskan diri dari sana."

"Wu Xin An mempunyai puluhan biksuni, tidak ada satunya pun yang gampang kita hadapi," Ren Piao Ling tertawa kecut, "Xin Wu Shi Tai adalah salah satu di antara mereka yang paling sulit untuk dihadapi."

Angin malam berhembus, membuat air yang ada di daun berjatuhan.

"Tadi biksuni tua itu pernah mengatakan sebuah kalimat aneh, apakah kau mengerti isi kalimat itu?" tanya Zang Hua.

"Dalam 10 kata yang diucapkan, ada 7-8 kata yang sangat aneh," kata Ren Piao Ling sambil tertawa.

"Tapi kalimat itu tidak sama." "Kalimat yang mana?"

"Sebenarnya juga tidak termasuk dalam satu kalimat," kata Zang Hua, "hanya ada 2 kata." "Wu Lei."

- Begitu mendengar 2 kata itu, eksprei Ren Piao Ling sudah tidak sama lagi.

"Menurut biksuni tua itu, Xin Wu seharusnya masuk neraka karena dia sudah masuk Wu Lei," kata Zang Hua, "apakah kau dengar kalimat itu?"

Ren Piao Ling mengangguk.

"Apa artinya Wu Lei?" tanya Zang Hua, "apakah Wu Lei berarti Xin Wu Shi Tai tidak mempunyai air mata lagi?"

Ren Piao Ling tidak segera menjelaskan apa arti dari kedua kata itu, dia menatap ke tempat jauh dan memandang sambil merenung. Diam dengan lama, pelan-pelan dia berkata lagi, "Wu Lei itu adalah nama dari sekelompok orang."

"Sekelompok orang?"

"Sekelompok teman," kata Ren Piao Ling, "hobi mereka sama karena itu mereka senang berkumpul. Kata Wu Lei menjadi kode rahasia mereka."

"Apa hobi mereka?" "Masuk neraka."

"Masuk neraka?" ulang Zang Hua, "Masuk neraka dengan tujuan untuk menolong orang?" "Benar."

"Banyak hal di dunia persilatan ini pernah kudengar, mengapa aku tidak pernah mendengar kata Wu Lei?"

"Karena Wu Lei adalah suatu perkumpulan rahasia."

"Persoalan yang mereka lakukan bukan hal yang memalukan, mengapa harus dirahasiakan?"

Ren Piao Ling melihatnya dan menjawab, "Bila melakukan suatu perbuatan baik dan perbuatan itu tidak ingin diketahui orang lain, itu benar-benar suatu perbuatan yang mengagumkan."

"Tapi untuk melakukan suatu perbuatan baik, bukan suatu hal yang mudah." "Benar, memang tidak mudah."

"Biasanya bila ingin melakukan perbuatan baik pasti akan menyinggung banyak orang," Zang Hua tertawa, "banyak orang jahat hidup di luar sana."

"Benar."

"Orang yang berbuat kejahatan adalah orang yang sulit untk dihadapi."

"Karena itu mereka yang melakukan perbuatan baik, akan selalu menghadapi bahaya," kata Ren Piao Ling, "kalau kau tidak berhati-hati maka nasibmu akan berakhir seperti Xin Wu Shi Tai, yang tidak tahu apa-ap;i tapi sudah mati di tangan orang lain."

"Tapi mereka terus melakukan perbuatan baik," kata Zang Hua, "sudah tahu kalau itu berbahaya tapi mereka tetap melakukannya."

"Sesulit apa pun, dan bagaimanapun bahayanya, mereka tidak akan peduli dengan semua itu," kata Ren Piao Ling, "Mereka sudah tidak takut dengan kematian."

Sorot mata Zang Hua berpindah ke tempat jauh lagi. Bintang-bintang yang tampak di kejauhan tampak berkedip-kedip. Dia melihat dan menarik nafas, tapi sekarang matanya bersinar seperti bintang.

"Tidak mengenal orang-orang seperti ini benar-benar hal yang patut disayangkan," kata Zang Hua, "hanya saja kita tidak tahu apakah masih ada kesempatan lain lagi untuk bertemu dengan mereka?"

"Sepertinya kesempatan ini sangat jarang terjadi."

"Karena mereka tidak menghiraukan nama baik dan juga tidak ingin mencari keuntungan," Ren Piao Ling sepertinya sangat mengerti tentang mereka, "orang-orang belum tentu mengenal diri mereka."

Zang Hua melihat Ren Piao Ling dan bertanya, "Kau tidak tahu siapa mereka?"

"Sampai sekarang aku hanya tahu Xin Wu Shi Tai saja." jawab Ren Piao Ling, "kalau bukan karena dia mati, Xin Wu Shi Tai asli tidak akan membocorkan identitas mereka."

"Di antara mereka ada biksuni, pasti ada biksu, pendeta, dan semua orang yang ada di lapisan masyarakat."

"Betul!" kata Ren Piao Ling sambil mengangguk, "katanya anggota Wu Lei mempunyai bermacam-macam anggota, tidak ada perkumpulan silat lainnya yang bisa menandingi mereka."

"Dengan cara apa mereka bisa mengumpulkan anggotanya?"

"Dengan hobi mereka," jawab Ren Piao Ling, "karena hobi maka ada kepercayaan." "Kecuali ini tidak ada lainnya?"

"Ada!" Ren Piao Ling tertawa, "pastinya ada seseorang yang bisa mengumpulkan mereka." "Orang ini pastinya sangat pintar dan juga berwibawa?"

"Betul!"

"Aku harus berkenalan dengan orang itu," mata Zang Hua bertambah terang lagi. "Tidak bisa."

"Mengapa?"

"Karena tidak ada seorang pun yang tahu siapa dia sebenarnya," kata Ren Piao Ling, "kalau tidak ada yang tahu siapa dia, bagaimana bisa kenal dengannya?"

"Karena itu bisa jadi dia adalah orang yang kita temui sehari-hari." "Betul juga." Zang Hua melihatnya, tiba-tiba dia tertawa dan berkata, "Mungkin kau adalah dia."

"Kalau aku adalah dia, aku pasti akan memberitahukannya kepadamu," Ren Piao Ling ikut tertawa.

"Benarkah?"

"Jangan lupa kita adalah teman baik," Ren Piao Ling tiba-tiba menarik nafas dan berkata, "aku bukan orang Wu Lei, aku tidak pantas."

"Mengapa tidak pantas?" "Bagaimana denganmu?"

"Aku pun tidak bisa karena aku masih senang menikmati hidup ini."

"Dan kau pun terlalu terkenal," kata Zang Hua, "ke mana pun kau pergi, ada orang yang selalu memperhatikanmu."

"Ini adalah kelemahanku yang paling besar," kata Ren Piao Ling.

"Mereka menuduhmu sebagai si pembunuh, aku katakan karena kau terlalu terkenal," kata Zang Hua, "ke mana kau pergi selalu ada orang mengenalmu. Ingin melarikan diri pun sudah tidak bisa."

"Orang takut terkenal, babi takut terlalu gemuk," Ren Piao Ling tertawa kecut, "kata-kata ini tidak salah."

"Sekarang Xin Wu Shi Tai mencarimu, orang-orang Wu Lei pun pasti ingin mencarimu," kata Zang Hua.

"Orang-orang Wu Lei lebih menakutkan dari pada Xin Wu Shi Tai."

"Kau baru saja pergi, tapi mereka sudah menganggap bahwa kau adalah pembunuhnya," Zang Hua melihatnya dan menarik nafas panjang. Dia berkata lagi, "Sekarang aku baru tahu kalau aku telah melakukan kesalahan."

"Melakukan kesalahan apa?"

"Seharusnya aku tadi tidak menyuruhmu lari," kata Zang Hua.

"Betul, seharusnya itu jangan kita lakukan," Ren Piao Ling ikut tertawa, "tapi bukan kau yang menyebabkan aku lari."

"Bukan aku?" Zang Hua terpaku, "lalu siapa?"

"Orang yang telah menolongku tadi." "Apakah kau tahu siapa dia?"

Sorot mata Ren Piao Ling melihat ke tempat yang jauh lagi. Di kejauhan tampak sebuah awan yang sedang bergerak.

"Kecuali dia, tidak ada orang yang bisa membuatku lari dari sana," suara Ren Piao Ling seperti datang dari tempat jauh.

"Mengapa?"

"Karena hatiku hanya kagum kepadanya saja," jawab Ren Piao Ling.

Mata Zang Hua terbuka dengan lebar. Matanya yang besar memancarkan sinar keterkejutan dan berkata, "Tidak disangka kau pun mempunyai seseorang yang dikagumi."

"Orang seperti dia pantas untuk dikagumi," Ren Piao Ling tertawa. "Seperti apakah dia?"

"Dia bisa membuatku kagum." "Siapakah dia?"

Tawa malas Ren Piao Ling muncul lagi. Tapi kali ini tawanya mengandung banyak misteri.

---ooo0dw0ooo---

BAB 9 Kesedihan tumbuh-tumbuhan

"Siapakah dia?"

Melihat tawa Ren Piao Ling, Zang Hua merasa marah. Dia adalah orang yang sangat terburu- buru. Bila ada sesuatu yang belum selesai, maka dia tidak akan tahan dan segera ingin membereskannya apalagi ada orang yang membuatnya menjadi penasaran. Ren Piao Ling sengaja tidak menuntaskan pembicaraannya, dia malah menepuk-nepuk pantatnya seakan-akan ingin pergi dari sana.

"Hai, ada apa denganmu?" tanya Zang Hua, "kau mau ke mana?" "Aku mau pulang!"

"Pulang?" tanya Zang Hua seperti orang bodoh, "Pulang ke mana?"

"Ke tempat di mana aku bisa menginap," jawab Ren Piao Ling sambil tertawa, "pulang ke tempat di mana aku bisa menginap."

"Kau akan pulang begitu saja?"

"Benar! Apakah aku harus digotong dengan tandu?"

"Apakah kau sudah lupa, hari ini banyak yang telah terjadi di Wu Xin An?" tanya Zang Hua, "sampai hari terang kita masih ada sedikit waktu, kita mencari seseorang pun bukan hal yang mudah. Sekarang Xin Wu Shi Tai tidak ada tapi biksuni-biksuni yang lain pun tidak mudah dihadapi."

Ren Piao Ling tertawa. Dia membalikkan badannya ingin berlalu dari sana, tapi Zang Hua tidak akan mengijinkan dia pergi dari sana. Dia menghalangi langkah Ren Piao Ling. Dengan marah Zang Hua melihatnya dan juga dengan nada ketus dia berkata, "Jadi orang harus bisa dipercaya bila dia melaksanakan semua pekerjaan dengan penuh rasa tanggung jawab," kata Zang Hua, "bila sudah berjanji dengan seseorang maka kau harus menepatinya, mana boleh melakukan separuh-separuh lalu meninggalkannya begitu saja."

"Sejak kapan aku tidak bisa dipercaya lagi? Kapan aku pernah bekerja setengah-setengah dan meninggalkannya begitu saja?"

"Sekarang, sekarang ini kau sudah tidak bisa dipercaya lagi. Sekarang kau bekerja hanya setengah-setengah," kata Zang Hua, "bukankah kau sudah berjanji sebelum hari terang kau akan menolong Hua Yu Ren? Jangan lupa kau sendiri yang mengatakan kalau Hua Yu Ren berada di Wu Xin An."

"Benar, aku memang telah berjanji seperti itu dan aku yang mengatakan semuanya." "Kalau begitu apakah kau masih tetap ingin pulang?"

"Tentu saja pulang," Ren Piao Ling tertawa, "aku tetap harus pulang."

"Bagaimana janjimu kepada Jun Wang?" tanya Zang Hua, "bagaimana niatmu untuk menolong Hua Yu Ren?"

"Sudah selesai."

"Sudah selesai?" Zang Hua sama sekali tidak percaya, "kapan kau menyelesaikannnya?" "Sudah selesai, berarti apa yang sudah kujanjikan kepada Nan Jun Wang dan persoalan mengenai menolong Hua Yu Ren sudah kulakukan."

Zang Hua tidak mengerti maksud Ren Piao Ling, kemudian Zang Hua bertanya lagi, "Sudah selesai berarti perjanjian antara kau dan Nan Jun Wang dan persoalan menolong Hua Yu Ren telah selesai."

"Akhirnya kau mengerti juga."

"Aku tetap tidak mengerti," jawab Zang Hua, "apakah di Wu Xin An kita telah melihat Hua Yu Ren?"

"Tidak!"

"Apakah kita sudah menolong Hua Yu Ren?"

"Kita tidak bertemu dengan Hua Yu Ren, bagaimana kita bisa menolongnya?"

"Kalau kita tidak menolongnya, mengapa tadi kau mengatakan kalau kita sudah menyelesaikan semuanya?"

Ren Piao Ling tertawa dengan misterius, semua membuat Zang Hua bertambah marah. "Kelihatannya jika aku tidak menjelaskan semua ini, kau tidak akan membiarkanku pergi begitu

saja," jata Ren Piao Ling sambil tertawa. "Akhirnya kau mengerti juga," kata Zang Hua.

Dengan cara yang sangat nyaman, Ren Piao Ling berdiri kemudian dia mulai menjelaskan. "Pada saat sore waktu kita masuk ke Wu Xin An, apakah kita melihat banyak biksu?" "Betul."

"Apakah kita melihat Xin Wu Shi Tai sedang mengetuk kepala Ketua Biao Wu Zheng Xing?" "Benar."

"Kemudian apakah kau masuk ke ruang rahasia itu?" "Benar."

"Kemudian kau melihat Xin Wu Shi Tai yang sudah mati ada di dalam?" "Kemudian kau keluar dari bawah tanah."

"Benar," kata Ren Piao Ling sambil tertawa, "kemudian kita keluar dari ruang rahasia itu, lalu kita melihat di ruang besar itu semua biksuni baik yang tua maupun yang muda sudah ada di sana."

"Kemudian kita melihat Ketua Biao Wu Zheng Xing yang seharusnya sudah menjadi biksu tapi malah berdiri di sana dan mengobrol," kata Zang Hua, "semua ini sudah kita lewati bersama, mengapa kau menanyakannya lagi?"

Ren Piao Ling tidak menjawab pertanyaan Zang Hua, dia hanya tertawa kemudian berkata lagi, "Kemudian kita bertemu dengan Xin Wu Shi Tai, lalu ada seseorang yang mengatakan kalau Xin Wu sudah mati di ruang rahasia itu, apakah itu benar?"

"Benar!"

"Kemudian Xin Wu Shi Tai tidak mengijinkan kita pergi dari kuil itu, apakah benar?" "Benar!" "Kemudian kau dan Xin Wu Shi Tai bertengkar, apakah betul?"

"Kemudian seseorang memecahkan atap genting, membuat lampu-lampu yang ada di ruangan itu padam dan memancing Xin Wu Shi Tai pergi dari sana, lalu sekarang kita ada di sini, apakah betul?"

"Kemudian kau dengan alasan tidak jelas akan pergi dari sini, apakah betul?" "Benari" "Lalu?"

"Kemudian aku tetap harus pergi," jawab Ren Piao Ling sambil tertawa.

"Di mana Hua Yu Ren?" tanya Zang Hua, "kau bicara saja dari tadi, tapi tidak menjelaskan bagaimana caramu menolong Hua Yu Ren?"

Ren Piao Ling tidak menjawab, tapi dia mala tertawa misterius lalu melihat Zang Hua. "Katakan! Kau belum mengatakannya. "

Tiba-tiba Zang Hua berhenti bicara, karena tiba-tiba saja dia teringat sesuatu. Begitu mengingat hal ini, mata Zang Hua lebih cerah, wajahnya lebih berseri-seri.

"Apakah ketika aku bertengkar dengan Xin Wu Shi Tai ada seseorang yang sudah menolong Hua Yu Ren?"

Ren Piao Ling masih tertawa.

"Orang yang menolong Hua Yu Ren adalah orang yang memecahkan genteng itu dan membantu kita lolos dari bahaya," tawa Ren Piao Ling tampak mulai ada pengakuan.

"Orang ini adalah orang yang kau kagumi, apakah benar?" "Benar!"

"Siapa sebenarnya orang itu?"

Pertanyaan yang dilontarkan kembali lagi ke pertanyaan semula. Kali ini Ren Piao Ling tidak tertawa misterius lagi. Dia berkata, "Kalau kau sudah bertemu dengannya maka kau akan tahu siapa dia sebenarnya." kata Ren Piao Ling dengan santai, "pada saat itu walaupun kau tidak mau tahu pun sudah tidak bisa lagi."

---oo0dw0ooo---

Huang Fu Qing Tian sangat percaya kepada Ren Piao Ling. Dia percaya bahwa Ren Piao Ling bisa menolong Hua Yu Ren tepat pada waktunya, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau Hua Yu Ren pulang dalam keadaan seperti itu.

Bagaimana keadaan Hua Yu Ren pada saat pulang?

Menjelang hari akan terang, bumi masih tertidur dengan nyenyak. Di kamar itu Hua Yu Ren tiba-tiba terdengar suara rintihan.

Pengawal yang menjaga malam itu mendengar suara itu, segera mereka melaporkan hal ini kepada atasan mereka. Begitu Zai Si mendapat laporan itu, dia segera lari ke kamar Hua Yu Ren.

Semenjak Hua Yu Ren diculik, tidak ada yang tidur di sana, mengapa sekarang terdengar suara rintihan?

Angin malam menyerang orang dengan rasa dingin seperti es dan menusuk hingga ke tulang.

Zai Si berdiri di depan pintu kamar Hua Yu Ren, dia mendengar sebentar. Benar saja suara rintihan itu terdengar lagi dari kamar Hua Yu Ren. Walaupun suaranya kecil tapi tetap terdengar di antara desiran angin malam.

Zai Si tidak berani membuka pintu kamar itu karena ini adalah kamar putri Nan Jun Wang. Walaupun Hua Yu Ren tidak ada di dalam kamar, tapi suara yang terdengar dari kamar itu sangat mencurigakan. Tapi Zai Si tetap tidak berani membuka pintu kamar dan masuk ke dalam, dia terus menunggu hingga Nan Jun Wang datang.

Huang Fu Qing Tian datang dengan tergesa-gesa dan tampak dia memakai baju malam dia mendatangi kamar Hua Yu Ren. Begitu sampai, di depan kamar dia langsung membuka pintu kamar itu. Pintu terbuka, keadaan di dalam sana membuat Huang Fu dan Zai Si terpaku. Di kamar itu tidak ada setan ataupun siluman ataupun orang yang sedang melakukan sesuatu di dalam sana.

Ternyata di kamar ada seseorang.

Ada orang yang terbaring di tempat tidur dan dia sedang merintih. Dia seorang perempuan.

Perempuan ini tak lain adalah Hua Yu Ren.

Walaupun wajahnya pucat dan dahinya penuh dengan keringat, tapi dia adalah Hua Yu Ren. Dengan cara apakah dia bisa kembali?

Siapa yang mengantarkan dia pulang? Apakah orang itu adalah Ren Piao Ling?

Kalau Ren Piao Ling yang mengantar Hua Yu Ren pulang, mengapa dia tidak mau menemui Huang Fu Qing Tian?

Kalau bukan Ren Piao Ling, siapakah orang itu?

Bermacam-macam pertanyaan terbersit dalam benak Huang Fu Qing Tian. Satu-satunya orang yang bisa menjawab pertanyaan ini adalah Hua Yu Ren sendiri, tapi melihat keadaan Hua Yu Ren sekarang, tampaknya dia masih belum sadarkan diri.

Sesudah diperiksa nadinya oleh Zai Si, Zai Si tampak berpikir sebentar lalu berkata, "Nadi Hua Yu Ren sangat lemah, dia terkena racun."

"Terkena racun?" "Benar," jawab Zai Si.

"Apakah bisa diketahui dia terkena racun apa?"

"Dia terkena racun yang hanya terdapat di perbatasan, racun ini bernama Guan Ji. Tu Si yang ada di Tian Li, Wu Mei yang ada di Jepang."

"Apa?" mata Huang Fu Qing Tian membesar, "racun-racun ini termasuk jenis racun apa?

Mengapa aku belum pernah mendengarnya?"

"Di perbatasan udara di sana lebih kering, hawanya lebih panas, orang-orang di sana sulit  untuk buang air besar," jelas Zai Si, "Qian Ji adalah obat untuk mengobati orang yang sulit buang air besar."

—Obat untuk mengobati orang yang sulit buang air besar, mengapa obat ini menjadi racun? Huang Fu Qing Tian tidak bertanya kepada Zai Si, tak lama kemudian dia bertanya lagi,

"Apakah Tu Si berasal dari Tian Li?"

"Tian Li adalah negara yang udaranya lebih panas lagi dibandingkan di perbatasan negara kita, tapi kehidupan rakyat di sana sangat sengsara. Barang apa pun asal bisa dimakan, benda yang enak atau tidak enak, mereka tetap akan memakannya," Zai Si tertawa dan berkata lagi, "karena itu mereka sering buang air, begitu buang air besar tidak akan berhenti kecuali mereka makan Tu Si."

”Tu Si adalah obat untuk mengobati orang yang buang air besar, mengapa bisa disebut sebagai racun?"

Huang Fu Qing Tian tidak menanyakankan pertanyaan ini. Dia bertanya lagi, "Bagaimana dengan Wu Mei? Apakah Wu Mei berasal dari Jepang?"

"Orang Jepang biasanya sangat pendek dan kecil tapi mereka lebih kejam, lebih ganas, lebih jahat, dan lebih beracun dari orang-orang yang tinggal di perbatasan negara kita," kata Zai Si, "racun yang dibuat mereka biasanya adalah raja segala racun."

Tiba-tiba Zai Si tertawa, setelah selesai tertawa dia berkata lagi, "Racun Wu Mei adalah racun orang-orang pendek dan kecil ini tapi racun ini termasuk termasuk racun yang lebih lembut." "Oh ya?" Huang Fu Qing Tian merasa aneh, " "mengapa lebih lembut?"

"Obat ini bermanfaat bagi laki-laki, biasanya obat ini tidak diperuntukkan kepada laki-laki," kata Zai Si, "mereka selalu memberikannya kepada perempuan."

"Perempuan?"

"Betul dan selalu diberikan kepada perempuan cantik," kata Zai Si, "racun ini tidak akan membuat orang mati, hanya akan membuat kaki dan tangan orang itu merasa lemas."

—kalau sepasang kaki dan tangan dari seorang perempuan terasa lemas, apakah yang akan dia alami?

Pasti Huang Fu Qing Tian tahu begitu kaki dan tangan seorang perempuan cantik terasa lemas akan terjadi apa? Hanya dia yang tidak mengerti, 3 macam racun itu dicampur menjadi satu, apa yang akan terjadi pada orang ini?

Dia tidak bertanya lagi kepada Zai Si, karena dia tahu Zai Si akan menj awabnnya. Zai Si benar- benar tidak mengecewakannya. Dengan cepat Zai Si memberi jawabannya.

"Ketiga macam obat itu dicampur dan diberikan kepada orang dan ini akan membuat orang itu menjadi...menjadi orang berbentuk tumbuhan."

"Orang berbentuk tumbuhan?" Huang Fu terpaku, "apa arti dari orang berbentuk tumbuhan?" "Artinya sesudah dia memakan 3 macam ramuan racun ini, di sekujur tubuh kecuali otaknya

yang masih hidup, semua organ dalam tubuh sudah mati," jelas Zai Si, "walaupun orang itu  masih

hidup, tapi dia hidup seperti sebatang tumbuhan."

"Hidup seperti tumbuh-tumbuhan?" Huang Fu terus mengingat kata-kata ini. Apakah pohon bisa merasa sedih?

Walaupun pohon merasa sedih, manusia tetap tidak akan bisa mengerti karena manusia bukan tumbuhan. Mana bisa dia mengerti kesedihan tumbuhan?

Tapi ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri yaitu sebagian orang selalu menganggap bahwa tumbuhan adalah makhluk yang patut dikasihani.

Pohon tumbuh dari tunas hingga menjadi besar kemudian pohon itu akan menjadi tua dan mati, dan pohon itu tetap ada di sana, kecuali ada yang memindahkan dia. Kalau tidak seumui hidup dia selalu berada di sana.

Manusia berbeda dengan tumbuhan, manusia bisa pergi ke sini dan ke sana, mreka bisa memakan makanan yang mereka sukai. Bisa memainkan apa yang mereka inginkan atau mengerjakan apa yang mereka ingin lakukan.

Walaupun ada yang mengerjakan pekerjaan yang tidak mereka diinginkan, makan yang tidak ingin mereka makan, tapi paling sedikit manusia masih bisa bergerak, bisa berjalan.

Bagaimana dengan pohon?

Kalau dia tidak menyukai sinar matahari, apakah dia bisa bersembunyi?

Bila dia tidak senang dengan tanah di mana dia tumbuh, apakah dia bisa mencari tanah yang lebih baik?

Tidak bisa!

Karena itu bila manusia berubah menjadi pohon itu adalah suatu kesedihan dan patut untuk dikasihani.

Kalau pohon saja bisa dikasihani, bagaimana dengan manusia pohon?

Orang yang tumbuh seperti pohon apakah dia merasa lebih sedih, lebih dikasihani.

Ketiga macam obat dicampur lalu dimakan, mengapa bisa berubah menjadi manusia pohon?

Pertanyaan ini benar-benar membuat Huang Fu Qing Tian penasaran. Karena Guan Ji adalah obat yang bersifat dingin, Sedangkan Tu Si adalah obat yang bersifat panas. Kedua obat itu bila masuk ke dalam perut, apa yang akan terjadi?

Zai Si tidak menunggu jawaban Huang Fu Qing Tian, dia langsung menjawab.

"Pasti obat itu akan merusak organ dalam manusia," jelas Zai Si, "kalau organ tubuh rusak, tapi dia masih bisa bergerak, bisa bicara, semua karena ditambahkan Wu Mei yang didatangkan dari Jepang."

"Setelah memakan campuran obat ini, apakah ada obat penawarnya?*" "Tidak ada."

"Tidak ada?"

Kali ini Huang Fu Qing Tian kaget. Dia segera melihat Hua Yu Ren yang terbaring di tempat tidur.

Zai Si mengerti maksud Huang Fu Ging Tian yang melihat Hua Yu Ren, karena itu dia segera tertawa dan berkata lagi, "Racun yang ada di dalam Hua Yu Ren sudah ditawarkan."

"Sudah ditawarkan?" Huang Fu Qing Tian melihat Zai Si, "bukankah kau tadi mengatakan tidak ada obat penawarnya?"

"Memang tidak ada obat penawarnya, tapi ada suatu cara bisa membuang racun itu," jawab Zai Si, "harus mengumpulkan 3 orang yang mempunyai tenaga dalam yang tidak sama. tapi mereka harus mempunyai tenaga dalam dengan dasar yang kuat. Mereka bertiga secara bersama-sama mengeluarkan racun yang ada di dalam tubuh tapi sama sekali tidak boleh mengalami kesalahan."

"Apakah ketiga orang itu yang mempunyai 3 macam tenaga dalam?" tanya Huang Fu, "macam bagaimana tenaga dalam itu?"

"Guan Ji adalah obat yang bersifat dingin, dia harus dilawan tenaga dalam yang jauh lebih dingin baru bisa memancing racun itu keluar dari dalam tubuh."

"Apakah harus menggunakan jurus dari gunung Sheng Mu yang bernama ilmu Han Ye Bing Xin baru bisa menetralkan racun itu (malam dingin, hati es)?" tanya Huang Fu.

"Benar, hanya dengan ilmu Han Ye Bing Xin lah kita baru bisa memancing Guan Ji keluar dari dalam tubuh."

Kata Zai Si lagi, "Tu Si adalah obat yang bersifat panas, harus menggunakan tenaga dalam yang jauh lebih panas baru bisa mengeluarkan racun itu."

"Bukankah dulu ada agama Ming yang mempunyai ilmu sakti Chun Yang?"

"Ilmu sakti Chun Yang sudah menghilang selama ratusan tahun, apalagi sudah lama tidak terdengar ada ilmu sakti ini lagi," suara Zai Si ada sedikit rasa menyayangkan.

"Kalau begitu dengan tenaga dalam apa baru bisa memancing Wu Mei keluar dari dalam tubuh?" tanya Huang Fu Qing Tian.

"Bila orang itu mempunyai tenaga dalam yang sudah terlatih selama 30 tahun, itu saja sudah cukup," jelas Zai Si, "Wu Mei hanya membuat kaki dan tangan terasa lemas. Orang yang mempunyai tenaga dalam yang kuat baru bisa mengeluarkan racun ini."

Walaupun hari sudah terang, tapi sinar matahari belum muncul.

Huang Fu Qing Tian mengangkat cangkir teh panasnya. Sedikit demi sedikit diminumnya teh itu. Begitu teh itu mengalir ke tenggorokannya, dia baru melihat Zai Si.

Tempat itu adalah perpustakaan Huang Fu Qing Tian. Setelah merawat Hua Yu Ren, mereka langsung ke sana.

"Racun Hua Yu Ren sudah bisa ditawarkan, siapakah yang membantu menawarkan racun itu?" tanya Huang Fu Oing Tian, "kita harus mencari orang yang sudah melatih ilmu Han Ye Bing Xin Gong, dan ini sangat sulit tapi tetap bisa kita temukan. Kemudian kita masih harus mencari orang yang mempunyai tenaga dalam terlatih selama 30 tahun, itu pun tidak sulit. Tapi ilmu sakti Chiu Yang yang sudah berumur ratusan tahun, orang yang sudah terlatih selama 30 tahun, aku belum pernah mendengarnya. Siapakah yang mempunyai ilmu silat seperti itu?"

Zai Si tidak bersuara. Sepasang matanya seperti burung elang tiba-tiba bersorot aneh. Dia tidak melihat Huang Fu Qing Tian. Sorot matanya mendarat pada sekuntum bunga mawar yang berada di luar kebun.

Di atas bunga mawar itu ternyata masih tersisa embun yang tampak berkilauan. Seperti mata Zai Si.

Hari masih pagi, dengan ringan angin berhembus melewati taman bunga. Embun yang berada di atas bunga mawar segera tertiup angin dan terjatuh ke tanah. Embun terjatuh, kilauannya pun menghilang. Sorot mata Zai Si kembali seperti sediakala. Sekarang dia membuka mulut, walaupun dia sedang bicara tapi kepala tidak berbalik. Matanya pun masih terpaku pada bunga mawar itu.

"Walaupun Chiu Yang Shen Gong sudah tidak ada selama 100 tahun, tapi masih ada satu orang yang menguasai ilmu sakti ini," kata Zai Si, "Dia adalah satu-satunya pesilat yeng bisa ilmu sakti  ini dalam kurun waktu 50 tahun ini."

"Siapakah dia?" tanya Huang Fu Qing Tian, "siapakah dia?"

"Perempuan ini bisa ilmu silat Chiu Yang Shen Gong, bahkan dia lebih mahir ilmu Han Ye Bing Xin," jelas Zai Si.

"Kalau begitu dia pasti salah satu pesilat tangguh yang ada di dunia persilatan ini."

"Bukan hanya sebagai pesilat tangguh. 50 tahun yang lalu yang bisa bertarung dengannya hingga mencapai 20 jurus tidak terlalu banyak," Zai Si tersenyum.

"Siapakah dia?" "Zhou Chun Yu." "Zhou Chun Yu?"

"Dulu dia adalah nyonya ketua dari perkumpulan Zhou Chun Yu," jawab Zai Si, "Xiao Lou Yi Ye Ting Chun Yu."(Mendengar rintik hujan di tengah malam disebuah loteng kecil)

Xiao Lou Yi Ye Ting Chun Yu.

Ketujuh kata ini mengandung arti yang lain.

Ketujuh kata ini pun menggambarkan dua orang, dua senjata yang tidak ada tandingannya.

Bai Xiao Lou adalah orang sakti yang tidak ada tandingannya di dunia ini. Sebilah golok sakti yang tidak ada bandingannya di dunia ini.

Si cantik yang tidak ada keduanya yaitu Zhou Chun Yu. Sebilah pedang Chun Yu yang tidak ada bandingannya.

Xiao Lou Yi Ye Ting Chun Yu. Ketujuh kata ini mewakili perkumpulan setan. Perkumpulan setan( Mo Kau). Waktu itu kekuatan perkumpulan setan sedang naik daun tapi jarang ada orang yang pernah melihat

ketua perkumpulan setan itu, Bai Xiao Lou, apalagi istrinya yang bernama Zhou Chun Yu. Perkumpulan setan adalah perkumpulan yang datang dari luar. Mereka melebarkan sayapnya ke Tiongkok, secara otomatis mereka dilawan oleh orang-orang dunia persilatan Zhong Yuan.

Tapi pengaruh perkumpulan setan ini terlalu kuat. Untuk dapat melawan mereka, orang-orang Zhong Yuan banyak yang terluka dan bahkan ada yang mati.

Untung Wisma Shen Jian. Tuan Muda Ketiga, Xie Xiao Feng akhirnya ikut membantu membasmi perkumpulan setan ini, karena kelima perkumpulan terkenal yang ada di Zhong Yuan terus memaksanya.

Hanya pedang saktinya yang bisa menahan pedang setan dan golok sakti.

Pertarungan waktu itu berlangsung di puncak Qi Lian Shan. Bagaimana serunya pertarungan itu sangat sulit dilukiskan dengan pena, dan pertarungan seru seperti itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Hingga setan dan dewa pun meneteskan air mata melihat pertarungan itu.

Pertarungan itu membuat ketua perkumpulan setan terjatuh ke dalam jurang yang dalamnya ribuan meter.

Jatuh dari tempat yang begitu tinggi, tidak ada yang percaya kalau seandainya dia masih bisa hidup.

Setelah kejadian itu perkumpulan setan pun menghilang dari Zhong Yuan.

Sebenarnya jika tidak ada yang menjadi pengkhianat dalam perkumpulan itu maka perkumpulan setan itu tidak akan begitu cepat dimusnahkan dari Zhong Yuan.

Semua orang pun tahu tentang hal ini.

Tapi jarang ada yang tahu siapa yang telah mengkhianati ketua perkumpulan setan itu, kecuali mereka sendiri.

Siapakah dia?

---ooo0dw0ooo---

Di taman bunga itu ada seekor burung ytttfl terbang ke sana dan kemari. Dia berkicau, matahari pagi telah melewati awan, sinarnya masuk melewati jendela dan dengan pelan naik ke wajah Zai Si.

Matahari pagi terasa sangat lembut, lembut seperti angin musim semi. Sorot mata Zai Si pun tampak lembut seperti angin musim semi. Dia melihat Huang Fu Qing Tian.

Suaranya pun terdengar seperti sinar matahari pagi, "Walaupun perkumpulan itu sudah dibasmi tapi kelima perkumpulan terbesar yang ada di Zhong Yuan tetap tidak merasa puas karena istri ketua perkumpulan setan dan putrinya menghilang," kata Zai Si, "sewaktu mereka memeriksa rumah ketua perkumpulan setan itu, mereka tidak mendapatkan kedua orang itu."

"Zhou Chun Yu dan putrinya?" Huang Fu Qing Tian bertanya.

"Benar!" jawab Zai Si, "setelah berjalan beberapa tahun semua orang sudah melupakan perkumpulan setan yang pernah ada ada di Zhong Yuan. tapi katanya pengkhianat perkumpulan setan masih merasa tidak tenang."

"Dia mengkhawatirkan apa?"

"Karena ketua perkumpulan setan itu walaupun telah masuk ke dalam jurang yang sangat dalam tapi mereka tidak pernah menemukan jenasah ketua perkumpulan setan itu," kata Zai Si, "ilmu silat Bai Xiao Lou tinggi seperti dewa dan anggota dalam perkumpulan itu pun banyak memiliki ilmu gaib, termasuk mereka yang sudah mati katanya bisa hidup kembali. Mereka mengkhawatirkan jika ketua perkumpulan itu tidak mati, maka dia akan kembali untuk membalas dendam ."

"Dulu di dunia persilatan ada sebuah kalimat, aku pernah mendengarnya," kata Huang Fu Qing Tian, "bermusuhan dengan orang-orang dunia persilatan kecuali kau sudah memenggal kepalanya kau akan merasa tentram kalau tidak jangan menganggapnya sudah mati."

Zai Si mengangguk, "Masih ada lagi, istri ketua itu dan putrinya belum ditemukan hingga saat ini.

Selama beberapa tahun ini putrinya pasti sudah tumbuh menjadi dewasa. Kapanpun dia bisa kembali lagi untuk membalas dendam. Huang Fu Qing Tian menarik nafas dan berkata, "Dendam dunia persilatan kapan baru bisa dihentikan?”

Zai Si melihat Huang Fu Qing Tian, kemudian pembicaraan mereka kembali lagi ke topik Hua Yu Ren.

"Putri Tuan terkena racun, sekarang di dunia persilatan ini hanya istri ketua perkumpulan itu yang bisa membantu."

"Kalau begitu berarti Zhou Chun Yu yang telah menawarkan racun Zhou Chun Yu?" "Benar," jawab Zai Si, "semua hal yang terjadi sepertinya memang harus seperti itu."

Angin berhembus ke taman bunga, bunga-bunga di sana tampak bergerak seperti ingin memberontak. Di kejauhan tampak awan yang sedang bergerak. Sorot mata Huang Fu Qing Tian walaupun melihat ke luar jendela tapi sorot itu pun seperti awan yang sedang bergerak.

"Aku dan Zhou Chun Yu bukan saudara juga bukan teman, lebih-lebih tidak ada hubungannya dengan perkumpulan, setan, mengapa Zhou Chun Yu sudi menolong putriku?" tanya Huang Fu Qing Tian, "apa tujuannya melakukan semua ini?"

Pertanyaan ini tidak ada yang bisa menjawab. Zai Si pun tidak bisa menjawab, karena itu dia hanya diam saja. Tapi Huang Fu Qing Tian tidak ingin dia terus diam. Tiba-tiba dia menanyakan sebuah pertanyaan, mau tidak mau Zai Si harus menjawabnya.

"Zhong Hui Mie dari Mo Mo kali ini akan kembali untuk memilih 3 raja. Ketiga raja ini kecuali mengantarkan 1 kotak uang untuk membeli nyawa, tapi sampai sekarang mereka belum pernah keluar dan bertemu langsung denganku."

Huang Fu Qing Tian melanjutkan lagi, "Kalau tidak ingin bertemu dengan Zhong Hui Mie itu tidak aneh, karena jika bertemu denganku pasti sudah sampai batas akhir. Tapi ketiga raja itu, mengapa mereka tidak berani muncul?"

Huang Fu Oing Tian melihat wajah Zai Si dan bertanya, "Apakah ketiga raja ini adalah orang yang kukenal?"

Melihat sorot mata Huang Fu Cjing Tian, Zai Si sama sekali tidak gentar. Dia tetap dengan tenang menjawab, "Mungkin juga."

Kata Zai Si, "Aku tidak pernah memikirkan masalah ini, 3 bulan ini kota Ji Nan kecuali Zhou Wu Ji yang pernah muncul, aku tidak melihat ada orang yang patut untuk dicurigai."

"Aku pun pernah menyelidiki masalah ini," kata Huang Fu Qing Tian, "karena itu aku tidak pernah terpikirkan siapa ketiga raja itu? Mungkinkah Zhou Wu Ji adalah salah satunya, mungkin juga ketiga raja itu hanya orang-orang yang sangat tidak terkenal."

"Mungkin juga orang yang terkenal," kata Zai Si. "Mungkin saja."

Huang Fu Qing Tian tertawa. Dia berdiri sepertinya dia ingin menyelesaikan pembicaraan kali ini.

Dia berjalan ke arah pintu. Begitu sampai di depan pintu, dia berhenti dan meninggalkan sebuah kalimat, setelah itu dia baru melangkah keluar.

Dia meninggalkan sebuah kalimat yang membuat Zai Si mengerutkan dahi.

"Pernah suatu kali aku bermimpi tentang Zhong Hui Mie yang sudah mati dan semua hal yang terjadi pada diriku hanyalah seseorang meminjam nama Zhong Hui Mie dan melakukan semua ini."

---ooo0dw0ooo--- 
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Amarah Pedang Bunga Iblis Bagian 3.2"

Post a Comment

close