Wanita iblis Jilid 46

Mode Malam
Jilid 46

IA BERHENTI untuk batuk-batuk, nafasnya terengah engah.

“Ah, kalau menilik napasnya, dia seperti sedang mender ita sakit berat. Kalau begitu, cita citaku untuk mengadu kepandaian dengan orang itu tentu tak terlaksana.” diam-dia m Siu-la m me mbatin.

“Suhu me miliki tenaga dalam yang sakti dan ber maca m- maca m ilmu istimewa. Jika suhu beristirahat, tentulah tenaga suhu akan pulih ke mbali…”

“Ah …” orang tua aneh cepat menukas kata-kata Bwe Hong Swat.   “Obat   hanya   mengobati   penyakit    tidak   dapat me mbas mi. dan di dunia  ini  tidak  ada  obat  yang  dapat  me mbuat orang panjang umur. Tak perduli bagaima na tinggi lwekang seseorang, semua tentu akan mati,

Dan aku si tua yang sudah begini lanjut usia ini,  matipun tak kecewa. Hanya sip  siau-hong,si  budak  keparat  itu  …” ke mbali ia batuk-batuk beberapa saat  sehingga  tak  dapat me lanjutkan ucapannya.

“Harap suhu jangan banyak bicara dulu dan tenangkan diri mengobati sakit. Te mpat ini anginnya keras pada mala m hari, Lebih baik cari tempat ist irahat yang terlindung dari angin. Nanti kita bicara lagi” kata Bwe Hong-Swat.

“Tidak,” kata orang tua itu. “Aku sudah seperti pelita kehabisan minyak. suatu saat tentu mati. sedang pertemuan Jembatan Prenyak itu menyangkut kepentingan dunia persilatan. Di dunia  tiada  seorang  manusia  yang  ma mpu  me mecahkan rahasia itu, Maka aku kuatir, mereka akan menjadi korban keganasan budak pere mpuan itu …”

Rupanya Bwe Hong Swat tak dapat menahan keinginannya tahu lagi, tanyanya, “Mengapa barisan itu disebut Je mbatan Prenyak?” “Kugunakan cara cara bangsa burung bergerak. Perobahan barisan itu menga mbil intisari gerak gerik buruug yang khusus menabur kan racun. Tetapi di dalam barisan itu penuh berhias dengan nyanyian burung dan wanginya bunga serta merdunya dendang suara gadis-gadis cantik, dan tarian yang mengasikan. Di dalam ke megahan dan keagungannya tersembunyi suasana penbununan. Nama Jembatan Prenyak merupakan garis pe misah yang kabur antara mati dan hidup!”

“O. begitu,” kata Bwe Hong Swat.

Orang tua itu tiba-tiba bangun dan duduk, ujarnya, “Mungkin aku tak ada harapan lagi. Lekas papahlah aku!”

“Sebaiknya suhu rebah saja, mengapa mau bangun?” tanya Bwe Hong Swat.

“Di bawah te mpat dudukku ini terdapat sehelai peta Jembatan Prenyak dan la mpiran cara pe mecahannya. sip siau hong menganggap dirinya pandai tetapi tak tahu kalau aku sudah bersedia. setelah menciptakan barisan abeh itu, lalu kuperas otak uatuk mencari cara pe mecahannya. Dan setelah ketemu lalu kucatat dalam sebuah buku, Apabila aku mati, kau harus me mpelajari cara pe mecahan barisan itu decgan teliti. Ketahuilah bahwa hal itu menyangkut kepentingan besar, jangan menelantarkannya!”

“Baiklah, mur id pasti akan melaksana kannya” kata Bwe Hong Swat me mapah gurunya dengan sebelah tangan, lalu tangannva yang kiri merogoh ke bawah tempat duduk. Benar saja, ia dapat mene mukan sebuah kitab.

“Simpanlah kitab itu. Dan carikanlah te mpat yang sesuai untuk panguburanku…” kata orang tua itu.

Siu lam terkejut, pikirnya, “Apakah dia sudah tahu kalau bakal mati?” Setelah msnyimpan kitab, Bwe Hong Swat minta orang tua itu beristirahat. Rupanya orang tua aneh itu sudah terlaksana isi hatinya. Ia merebahkan diri di atas kereta lagi.

Saat itu Siu lam sudah me mastikan bahwa orang tua kurus kering itu adalah Lo Hian, tokoh yang paling agung di dunia persilatan. Mengingat bagaimana gagah perkasa ketika dia masih malang melintang di dunia persilatan dulu, ke mudian pada saat itu berubah menjadi seorang tua jompo yang sudah loyo, Siu-la m me nghela napas rawan.

Telinga Bwe Hong-swat luar biasa tajamnya. Begitu mendengar helaan napas siu la m, nona itu cepat berteriak, “siapakah itu ?” wuuut, ia terus ayunkan  tangannya menghanta m.

Terlintas dalam pikiran Siu la m.  Dalam setengah tahun itu ia sudah mendapat pelajaran dari paderi Kak Bong. Entah sampai dimana kah ke majuan yang dicapainya saat itu. Ah, bagaimana kalau ia coba coba untuk me nguji kepandaian dengan nona itu.

Dengan pertimbangan itu, segera ia menangkis.

Bum … ketika kedua putulan itu saling beradu, siu-la m rasakan  tubuhnya  menggigil.   tetapi   ketika  me mandang ke muka, dilihatnya Bwe Hong Swat pun tersurut mundur beberapa langkah.

Rupanya Lo Hian pun ms ngetahui juga kesaktian Siu lam segera ia bangkit dan berteru mencegah Bwe Hong Swat.

Karena terpental mundur, Bwe Hong Swat marah sekali. Tetapi sebelum ia bertindak, Lo Hian sudah me larangnya. Terhadap guru itu, Bwe Hong Swat me mang tunduk.

Kemudian terdengar orang tua itu berseru, “sahabat dari manakah isu? sudah bertemu berarti ada jodoh. Harap suka keluar unjuk diri?” Terngiang dalam telinga Siu- lam akan pesan mendiang Kak Hui. Bahwa ia disuruh mencari  Lo Hian  dan mengadu kepandaian. Tetapi melihat keadaannya, sukarlah untuk menantang Orang tua itu. Ah, diam diam ia kecewa dau menyesal karena tak dapat mela ksanakan per mintaan paderi itu…

Karena sampa i beberapa saat tak muncul, Bwe Hong Swat tak sabar lagi dan me mbentak “Jika tak ma u keluar, jangan salahkan aku bertindak kejam !”

Kedua mahluk berbulu itupun bersuit marah. Mata mereka berapi-api me mandang kearah te mpat Siu lam berse mbunyi. Terpaksa Siu- lam herbangkit dan keluar dari tempatnya.

Pada saat itu sebenarnya Bwe Hong swat sudah mengangkat tinju, siap  hendak  dihantamkan.  Tetapi  demi me lihat siapa yang muncul ia tertegun, serunya, “Ah, kiranya kau!”

Siu lam tertawa, “Benar, me mang aku…” ia me mberi hormat kepada orang tua aneh itu “Adakah locianpwe ini Lo Hian yang ter mashyur itu?”

“Tutup mulut mu!” bentak Bwe Hong swat dengan mur ka, “kurang ajar, kau berani begitu saja memanggil na ma guruku?”

Orang tua aneh berbatuk-batuk dan tertawa:

“Swat-ji, jangan banyak mulut……..” ia me mandang lekat- lekat pada Siu- la m, lalu, “Benar, me mang aku ini Lo Hian, siapakah na ma mu ?”

Sambil busungkan dada, Siu lam menjawab. “Aku yang rendah ini Pui Siu la m?”

“Saudara Pui…” “Ah, tidak tidak, aku yang rendah ini dipanggil Pui Siu-la m,” buru-buru Siu- lam menukas ketika Lo Hian menggunakan kata kata yang sungkan kepadanya.

Dengan le mah, Lo Hian tertawa, “Kepandaian saudara Pui, hebat sekali. Entah siapakah gurumu?”

“Guruku adalah Ciu Pwe…”

“Diantara sekian banyak tokoh-tokoh sakti didunia persilatan, jarang sekali yang me miliki kepandaian seperti kau. Ah, aku tak percaya,” tukas Lo Hian.

Dengan  terus  terang  Siu  lam  mengatakan  bahwa  ia  me mang telah me mperoleh ajaran ilmu kesaktian dari dua paderi sakti Kak Bong dan Kak Hui.

“Tepat! Memang aku teringat kepada mereka, “kata  Lo Hian

Siu lam menghela napas panjang. Ditatapnya Lo Hian lekat.

Mau bicara tapi tak jadi.

“Anak muda, apakah kau me mpunyai kandungan hati yang belum kau tumpahkan?” tegur Lo Hian.

“Me mang ada tetapi karena mungkin dapat di anggap tak mengindahkan maka lebih baik tak kukatakan saja!”

“Kalau begitu,lebih baik jangan kau ucapkan saja agar jangan sampa i menimbulkan bahaya,” tukas Bwe Hong- Swat dengan dingin.

Siu lam berpaling me mandang nona itu, “Engkau banyak sekali melepas budi kepadaku-Akan kuterima apa saja yang kau hendak ha mburkan kepadaku.”

Tiba-tiba Bwe Hong Swat menengadah dan  berteriak  dingin, “Kita sudah terikat ssbagai suami isteri. sudah menjadi kewajibanku untuk melindungi dirimu. Tetapi kalau kau menghina guruku, terpaksa akan kubunuhmu juga, Walaupun aku nanti harus menyesal seumur hidup!” Lo Hian mengulur kan tangan kanannya yang kurus kering dan mela mbai beberapa kali lalu berkata bisik- bisik kepada Bwe Hong Swat, “Swat ji, jangan kau ikut ca mpur. Aku hendak bicara panjang dengan saudara Pui ini!”

Sambil me mandang kepada Bwe Hong Swat, Siu lam menyahut, “sekalipun kau akan berpaling haluan me musuhi diriku tetapi akupun terpaksa tetap hendak mengutarakan isi hatiku.”

Lo Hian mengangguk, “Katakanlah! Atas perintahku, tak nanti Swat ji berani turun tangan…” ia menghe la napas pelahan, “tetapi sekali pun ia turun tangan belum tentu ia menang.”

“Suhu, benarkah itu?” teriak Bwe Hong Swat dengan nada tak puas.

“Sedikitpun tak salah. Jika benar kedua paderi itu Kak Bong dan Kak Hui itu telah me mber ikan seluruh kepandaian kepadanya, tak, mungkin kau mengalahkannya….”

Kemudian Lo Hian beralih me mandang muka Siu la m, “Jika kau telah me mpelajar i habis seluruh kesaktian Kak Bong dan Kak Hui, saat ini Swat-ji tentu bukan taadinganmu. Tetapi apa-bila aku sudah meninggal, kepandaian Swat ji tentu tak ada yang mengalahkan! sekalipun tenaga dalam lebih unggul dari Swat ji, tetapi orang tentu tak mampu melawan ilmu pedangnya!”

Siu-la m heran, serunya, “Tetapi aku sama sekali takkan bermusuhan dengan nona Bwe. Maka sangguh mengherankan sekali me ngapa lo-Cianpwe mengatakan begitu!”

Lo Hian menghela napas pelahan. Tiba tiba  ia  berganti nada ramah, “Nak, masih banyak hal yang kau belum mengetahui. Kecerdikkan dan kepandaian ilmu silat, laksana lautan bebas yang tiada berujung. Didunia ini tak mungkin terdapat tokoh yang nomor satu. Karena betapapun cerdas otak seseorang namun tak mungkin dapat  me mpelajari seluruh ilmu dalam dunia…”

Ia batuk pelahan lahan lagi dan berkata, “Benar, Kak Bong dan Kak Hui merupakan manus ia luar biasa pada masa itu. Dalam kecerdikan, me mang mereka tak ma mpu mengungguli aku. Tetapi mereka sabar dan tekun sekali dan hanya mencurahkan seluruh perhatian kepada sejenis ilmu kesaktian. Tidak seperti aku me mpelajari terlalu banyak maca m kepandaian….,”

ia batuk-batuk lagi.

Bwe Hong Swat menge lus elus punggung suhunya, “Ah, harap suhu jangan banyak bicara dulu”

Lo Hian menghela napas pelahan, “semula hendak kukubur rahasia dalam hatiku bersama tubuhku. An, tetapi saat ini kurubah keputusan-ku…”

Tokoh itu pelahan lahan mengangkat muka, sepasang matanya yang pudar menumpah kearah Bwe Hong Swat ujarnya, “Swat ji, kau dan sip siau hong merupakan tunas tunas yang berbakat bagus sekali. Kepandaian kalianpun hampir berimbang. yang  berbeda  ialah,  kau  dapat  kukuh me mpertahankan kebaikan….”

Ia tak melanjutkan kata-katanya melainkan  mengigau ssperti berkata kepada dirinya sendiri, “Ah, terjadinya pertumpahan darah, dunia persilatan sekarang ini, tak dapat seluruhnya dibebankan pada sip siau hong.  Aku sendiripun ikut bertanggung jawab …” Ia beralih me mandang ke arah Siu la m, katanya, “Katakanlah, nak, seumur hidup aku jarang mendengar kata kata yang menghor mat. Asal kau bicara dengan betul, aku tentu rela menerima. Ai…. sekalipun kau berkata salah, aku tak apa apa. Bilanglah”

Setitikpun Siu lam tak mimpi bahwa tokoh agung dari dunia persilatan itu ternyata begitu ra mah kepadanya. sesaat ia tak dapat berkata apa apa. setelah merenung beberapa jenak, barulah ia dapat me mbuka mulut, “Banyak dongeng yang tersiar di dunia persilatan. Jangankan bisa diterima menjadi anak mur id, bahkan dapat bertemu dengan locianpwe saja, orang tentu sudab merasa bangga dan mendapat kehor matan besar-Tetapi dari kedua paderi sakti siau lim si, aku mendapat keterangan bahwa locianpwe ini seorang yang berhati dingin, menyendir i dan tak kenal peradatan …”

“Paderi tua itu ngaco belo…..” tukas Bwe Hong-Swat.

Lo Hian tersenyum, “Mereka benar, memang aku berhati dingin dan tak acuh.”

Siu lam menghe la napas, “Tetapi setelah bertemu dengan locianpwe sendiri, kurasa…” tiba tiba ia teringat akan mendiang Kak Bong dan Kak Hui. Ia percaya kedua paderi sakti itu tentu tak akan sembarangan menila i orang jika sesungguhnya begitu.

“ih, mengapa engkau tak mau me lanjutkan?” tegur Bwe Hong Swat.

Siu lam batuk batuk perlahan. “selain tak mendapatkan locianpwe itu berhati dingin….”

“Apa lagi yang mereka katakan kepada mu?” tukas Lo Hian. “Segala tindakan yang locianpwe lakukan selalu melanggar

kehendak Alam sehingga me nimbulkan kehebohan dunia persilatan. Entah apakah hal itu benar?” tanya Siu- la m.

“Walaupun hal itu sudah dalam dugaanku tetapi sesungguhnya bukan aku ber maksud begitu,” sahut Lo Hian.

“Pada saat Kak Hui taysu hendak menutup mata, beliau telah pesan kepadaku agar mengadu kepandaian dengan locianpwe. Dan de mi me mbalas budi kebaikan orang tua yang sudah menjelang maut,  saat itu akupun meluluskan  agar beliau dapat mera m di alam baka….” “Hm. besar sungguh mulut mu! Apakah engkau tak takut lidahmu akan hilang tertiup angin?”seru Bwe Hong Swat.

Siu lam berpaling me mandang nona itu, katanya, “Kupikir, setelah me mbas mi wanita Beng gak itu, barulah aku hendak mencari cian-pwe untuk me laksanakan pesan Kak Hui taysu. Tetapi tak kira, sip siau hong telah muncul lagi bersekutu dengan Dewa Iblis Ban Thian seng, me mbentuk barisan Jembatan prenjak melenyapkan seluruh tokoh-tokoh persilatan. Ah, dan tak kira sama sekali kalau ma lam ini aku bakal berte mu dengan locianpwe disini !”

“Nak, masih ada lagi sebuah hal yang tak engkau  kira,” kata Lo Hian dengan ha mbar, “bahwa pada saat berjumpa dengan aku, keadaan ku sudah tunggu saat mati sehingga sukar untuk melayani keinginanmu sehingga engkau dapat menuna ikan pesan kak Hui taysu.”

“Me mang hal itu benar-bener diluar dugaanku,” sahut  Siu la m, “benar benar tak kukira kalau locianpwe ternyata masih hidup. Ah, alat rahasia yang begitu banyak jumlahnya dalam Telaga darah itu, kiranya tentulah locianpwe yang merencanakan…”

Lo Hian mengangguk, “seumur hidup aku selalu menentang alam. Ah, siapa tahu akhirnya aku harus pulang kealam asal..”

“Mengapa?” Siu lam heran.

“Kurasa dalam dunia persilatan disaat ini, tiada seorangpun yang berani menentang suhu. Hm, sungguh picik sekali pengetahuanmu’” tukas Bwe Houg-Swat dengan dingin.

Tiba-tiba Siu lam tertawa nyaring. Nadanya penuh kerawanan dan kekecewaan.

“Mengapa engkau tertawa?” bentak Bwe Hong Swat marah, “jika engkau berkeras hendak mela ksanakan penan paderi tua itu, boleh coba coba adu kepandaian dengan aku saja. toh tidak beda!” Siu lam hentikan tertawanya, me mandang Lo  Hian  dan  me mbentaknya, “Ya, aku mengerti.., aku mengerti… ”

“Engkau berani berlaku kurang hor mat begitu. Apakab engkau sudah bosan hidup…,” teriak Bwe Hong Swat seraya menghanta m.

Siu lam menghindar Ke samping tetapi tak mau balas menyerang.

Keduanya terpisah dengan kereta tandu Lo Hian.  Bwe Hong-Swat kuatir kalau salah pukul sa mpai mengena i Lo Hian maka ia tak berani menyerang lagi. Nona itu loncat setombak jauhnya lalu menantang, “Ke marilah, ma lam ini kita dapat bertempur dengan puas!” 

Lo Hian mencegah muridnya untuk itu lalu bertanya kepada Siu la m, “Apa yang engkau ketahui?”

“Penghianat dan durjana besar, memang sudah dirabah jejaknya,” kata Siu-lam, “sudah tahu bahwa sip siau hong itu berwatak jahat tetapi toh tetap engkau terima sebagai mur id. Engkau berikan ilmu pelajaran sakti agar dia dapat mengaduk dunia persilatan. Engkau tinggalkan peta Telaga darah agar kaum    persilatan    saling    bunuh    me mbunuh    untuk   me mperebutkannya. Tantu belasan tahun sip siau hong ikut kepadamu sekalipun ia berwatak jelek, tetapi seharusnya engkau dapat mendidiknya kearah yang baik. Tetapi sewaktu dia tinggalkan perburuannya, tabiatnya bahkan  semakin ganas. Engkau menciptakan ilmu jarum pe maku  jiwa,  jelas me mber i jalan kepada sip siau hong untuk menguasai tokoh tokoh persilatan. Kuyakin Lo Hian yang terkenal pandai itu tentu menyadari bahwa ilmu seganas  itu  kelak  tentu  akan me lupakan bencana besar. Dengan demikian  tak dapat diragukan lagi, engkau telah me mbiarkan dia berbuat kejahatan….” Lo Hian menengadah me mandang bintang dilangit lalu berkata seorang diri, “Makian yang bagus sekali! Hebat benar karena setiap patah makian itu belum pernah kudengar….”

Ia menghela napas lalu  berkata  pula,  “Lanjutkanlah! seumur hidup aku tak pernah dimaki orang. Bahwa dalam saat saat kematianku, aku dapat menerima koreksi orang, sungguh suatu kebahagiaan!”

Siu lam tertawa dingin, “sayang engkau mati terlambat sekali. Kalau dulu-dulu sadah wafat, aku tentu tak sampai ketemu lagi. Aku me mpunyai kesangsian besar kepada mu, tetapi selama itu hanya dalam dugaan saja bahwa dalam pertemuan mala m ini, dapatlah kubuktikan kebenaran dari kecurigaanku itu. Hm, aku Pui Siu lam jika mala m ini beruntung lolos dan tangan ganas tentu akan kusiarkan tujuanmu yang ganas itu kepada dunia.”

Lo Hian mengangguk tertawa, “Nak, apakah masih ada lainnya lagi?”

“Agar keharuman na ma mu yang dipuji orang sela ma ini, remuk redam dalam jurang kehinaan orang” kata siu la m.

Pelahan lahan Lo Hian mengangkat kedua tangannya yang kurus  kering.  Ia  bertepuk  sekali  la lu  berkata,  “sWat   ji, ke marilah engkau. ma lam ini hendak kuberitahu isi hatiku kepadamu!”

Bwe Hong-Swat melangkah mengha mpiri, Matanya yang me mancar ke marahan, tertumpah pada siu la m, serunya, “Ingat, apa yang engkau lakukan pada suhuku mala m ini, tentu akan kubalas kepada Kedua tua baugka paderi siau lim yang enggan mati itu!”

Lo   Hian    gelengkan    kepala,    “Swat-ji,    tak    dapat me mpersalahkannya. Memang dia benar. Dalam sepak terjangku sepanjang hidup ini, aku terlalu bangga kepada diriku, dimana dan dengan siapa saja, aku selalu hendak menentang. Tetapi tujuan hatiku t idak benar seperti yang dikatakan anak muda itu. Aku tidak seganas itu, dan hal ini siapapun tentu mengetahui….”

Saat itu tokoh yang diagungkan paling tinggi dalam dunia persilatan, nadanya berubah rawan, penuh ke menyesalan seorang tua..

Siu lam berdebar debar hatinya. Teringat akan kata  katanya tadi, ia tundukkan kepala.

“Kalian duduklah,” tiba-tiba Lo Hian menyuruh.

Bwe Hong Swat dan Siu lam me langkah maju dan duduk di samping kereta tandu.

Lo Hian ulurkan tangannya me mbelai ra mbut Siu lam yang morat marit seraya bertanya; “Apakah engkau pernah berjumpa dengan sip siau hong.?”

“Pernah,” sahut Siu la m. “Bagaimana Orangnya?”

“Cantik laksana bunga, berbisa seperti ular!”

“Ah, itu hanya penilaian lahir saja. sesungguhnya  ia seorang wanita cantik yang jarang terdapat didunia. Jika tidak kuterima sebagai murid dan sering kuajak berkelana, didunia persilatan sekarang jadi mungkin berlainan keadaannya!”

“Sudah tentu demikian,” sabut Siu la m, “ia hanya seorang wanita biasa. sekalipun berbakat luar biasa tetapi sukar untuk menonjo l didunia!”

Lo Hian menghe la napas, “Anak muda, jangan terburu buru. Dengarkanlah aku me lanjutkan penuturan dengan pelahan lahan….’”

Ia batuk batuk beberapa kali lagi baru menerus kan, “Wanita cantik mer upakan bencana negara. Hal itu me mang terjadi sejak dari dahulu kala hingga sekarang. sip siau hong berwatak seperti ular yang cantik sekali tertawa tentu me mbua i se mangat orang. Dengan kecantikan dan kecerdasannya, tak nanti ia mau menjadi seorang  istri biasa. Ia dapat mengacau dunia persilatan menggoncangkan negara dan menyengsarakan rakyat. suatu hal yang bukan mustahil….”

Siu lam tercengang, “Ini, ini…”

“Peristiwa ini terjadi pada puluhan tahun yang la lu. Yang mene mukan sip siau hong, bukanlah aku tetapi ketiga paderi sakti dari siau-lim si itu. Adalah karena sip siau hong, maka ketiga paderi saudara seperguruan itu saling  bermusuhan sendiri …”

“Hai, benarkah?” Siu-la m terkejut.

“Aku seorang sedang menjelang maut, perlu apa aku harus me mboho ngimu!”

Siu lam merenung beberapa jenak la lu gelengkan kepala, “Aku tak pecaya! Memang aku belum pernah berjumpa dengan Kak seng taysu Tetapi aku sudah melihat sendiri Kak Bang dan Kak Hui taysu, mereka menutup diri bertapa  mencari kese mpurnaan.  Paderi   seukuran   itu,   masakan me mpunyai tindakan yang mustahil pada akal. Kuatir kalau engkau sengaja hendek me mfitnah na ma baik mereka….”

“Tutup mulut mu!” bentak Bwe Hong Swat.

Siu lam berpaling me mandang nona itu dan menurut permintaannya.

Lo Hian menghela napas,  ujarnya,  “Anak  muda  hal  itu me mang seratus persen benar. De mi peristiwa itulah maka Kak Bong dan Kak Hui telah mencari aku sela ma puluhan tahun!”

Siu lam menimang. “Me mang benar, kedua paderi itu pernah mengatakan hal itu kepadaku, Tentulah mereka hendak menantangmu me ngadu kesaktian.” sahutnya. Lo Hian tertawa hambar. “Apa sebab mereka hendak mencari aku mengadu kepandaian? Anak muda, pada saat itu aku hanya seorang yang tak begitu ternama. Kalau kedua paderi itu hendak mengadu kepandaian denganku, bukankah kedudukanku akan naik berpuluh derajat!”

Kembali Siu lam merenung la ma dan akhirnya me mbentak, “Jika hanya atas dasar itu saja, locianpwe hendak menghina nama baik kedua paderi itu, aku tak dapat mener ima!”

“Ah, anak muda yang keras kepala kau ini.” kata Lo Hian. “Tetapi sengaja aku telah menghina kedua  paderi siau-lim.  Me mang mereka sesungguhnya tak berbuat kesalahan besar…”

Siu-la m tak dapat berkata apa apa.

“Yang menyebabkan kesalahan besar abad ini, adalah aku. Oleh karena itu, sebelum mati aku hendak me mberikan rencana untuk menghahadapi wanita itu …”

Perlahan lahan ia me mandang wajah Siu la m, ujarnya, “Nak, ini suatu peristiwa belasan tahun yang lalu. Kala itu Kak seng taysu masih menjabat ketua siau lim-s i. Aku a mat mengindahkan sekali kepada gereja siau lim si yang sudah berumur ratusan tahun. Maka kuputuskan untuk mengadakan kunjungan kehor matan. Tetapi sebelum menikmati kebesaran dan keagungan gereja itu, aku telah mene mukan sebuah hal yang menggoncangkan…”

“Apakah locianpwe berjumpa dengan Kak Bong taysu?” “Benar,  me mang  Kak seng,  Kak Hui dan Kak Bong bertiga

itu.  saat  itu  aku  heran  mengapa  meraka  bertiga  berada di

sebuah tempat di, kaki gunung yang sepi. Dalam  perindahanku terhadap para paderi sakti dari siau lim si, aku merasa heran mengapa mereka berada di te mpat begitu pada ma lam  buta.  Aku   segera   menyembunyikan   diri.   Ketika me longok ke luar untuk mengetahui apa yang akan terjadi, tiba  tiba  ku-dengar  suara  wanita   menangis.   Tetapi  suara tangis itu segera berhenti. Kuduga tentu wanita itu telah ditotok jalan darahnya …”

“Dima na kau bertemu mereka ?” tanya siu la m.

“Kalau bicara dengan suhuku pakailah aturan sedikit !” Bwe Hong-Swat mendengus geram.

Lo Hian tertawa ha mbar. “Swat-ji, jangan menghiraukannya. seumur hidup aku sudah kenyang mendapat penghor matan dan pemujaan orang. Bahwa dalam saat menjelang ajal seperti ini, biarlah kuterima juga beberaoa patah makian. Tak apalah, malah me nyenangkan juga !”

Bwe Hong Swat menghela napas. “Mengapa suhu begitu sabar kepadanya ?”

“Nak, seumur hidup aku tak kawin. Dan kini habislah keturunanku. sekalipun sip siau hong menerima budiku, tetapi dia mengkhianati aku. Yang menerima seluruh warisan ajaranku dan menjadi pewarisku adalah kau. Oleh karena dia itu suamimu, biarlah kau menga lah saja dan biarkan dia bicara semaunya …”

Kemudian ia alihkan pandang matanya ke arah Siu- la m, katanya, “Didalam le mbah dibawah puncak gunung Kosan!”

Siu lam cepat me mberi hor mat, katanya, “Harap locianpwe suka melanjut kan lagi.”

“Me mang pada saat itu aku heran sekali. Karena pengurusan gereja siau lim si itu keras sekali peraturannya. Apalagi Kak seng taysu adalah ketua  gereja.  Tak nanti dia  me lakukan hal yang menurunkan martabatnya. Tetapi jelas lengking teriakan wanita itu tajam sekali. Ya, aku tak salah dengar lagi seketika timbullah kecurigaanku.  Kuputuskan untuk menyelidiki peristiwa itu. segera aku mengha mpiri dan bersembunyi dibalik sebatang pohon siong. Dari situ aku menunggu apa yang akan terjadi.” “Sip siau hong tentu baru berumur tujuh-delapan tahun,” Siu lam menyeletuk.

Lo Hian menghela napas “Tak berapa la ma, timbullah perbantahan sengit antara Kak Bong dan Kak seng taysu. Menurut Kak seng taysu, akan merusakkan satu dua jalan darah penting dalam tubuh wanita itu agar selamanya tak dapat belajar silat. Tetapi Kak Bong dan Kak Hui t idak setuju. Lama sekali mereka bertiga, berselisih na mun tetap tiada kebulatan pendapat. Pada saat itu dari dalam le mbah merangka k keluar seorang wanita pertengahan umur….”

“Siapa?” Siu-la m terkejut.

“Ibu dari sip siau hong,” kata Lo Hiat “tampaknya dia sudah terluka berat sehingga tak dapat berjalan dan  hanya merangka k. Dari tumpukan batu batu didalam le mbah, ia merangka k sampa i di hadapan Kak seng taysu bertiga. Di belakang wanita itu ikut seorang anak perempuan kecil berumur tujuh delapan tahun. Walau pun masih kecil tetapi anak itu bertabiat ketus. Ia tak gentar berhadapan dengan ketiga paderi sakti itu. ia betdiri dengan  kepala  tegak dada  me mbus ung.”

“Anak pere mpuan itu tentulah siap siau hong, bukan?” tanya Siu la m.

Lo Hian mengangguk, “sudah tiba dihadapan Kak seng taysu. Wanita itu beriba iba meratap agar Kak seng taysu suka me lepaskan darah dagingnya sendiri….”

Siu lam terpagut kaget, serunya, “Apa? Ayah sip siau hong itu Kak seng taysu sendiri?”

“Hal itu merupakan sebuah rahasia pelik. Pada masa itu mungkin tiada seorangpun yang dapat mengatakan hal itu. Mungkin hanya Kak Hui dan Kak Bong berdua paderi itu yang tahu isi dala mnya. Tetapi karena hal itu menyangkut nama baik sela ma ratusan tahun dari gereja siau lim si, sekalipun tahu, kemungkinan kedua paderi itu tak ma u me mberitahu kepada orang la in!”

Agaknya Bwe Hong Swat juga terkejut mendengar penuturan itu. serentak ia tak tahan lagi dan bertanya, “Adakah paderi itu menga kui anak pere mpuannya?”

Lo Hian gelengkan kepala, “Jika Kang seng taysu mengakui, segala kesulitan tentu sudah diselesaikan para paderi angkatan yang lebih tua Dan mungkin aku sendiripun tak sampai jatuh dalam keadaan yang begini mengenas kan. Ban Thian seng juga mungkin takkan me laksanakan rencananya yang busuk!”

Siu lam menghela napas, “Ah, kiranya dalam persoalan itu terjalin suatu liku-liku kar ma. silahkan lo cianpwe melanjutkan lagi!”

“Mendengar rintihan yang mengibakan dari wanita itu, Kak seng taysu tertegun seperti patung. sedang Kak Bong dan Kak Hui dengan marah segera angkat kaki. Jelas bahwa mereka bertiga kenal dengan wanita itu. Tiada angin yang tak menimbulkan gelombang. Adakah kat kata wanita itu benar atau tidak, tetapi sayangnya Kak Bong dan Kak Hui telah mengandung salah faham terhadap suheng mereka yang menjabat sebagai ketua gereja itu.”

“Lalu?” tanya Siu la m.

“Setelah Kak Bong dan Kak Hui pergi di le mbah sunyi itu hanya terdapat Kak seng dan wanita itu. Dan anak perempuan yang keras hati….”

“Dan lo cianpwe sendiri yang menyembunyikan diri itu,” tukas siu-la m.

Lo Hian tertawa getir, “Ta mpa knya Kak seng taysu tegang sekali dan hendak me manggil ke mbali kedua sutenya. Tetapi sebagai seorang ketua gereja, sukar baginya untuk me mbuka mulut. Dipandangnya kedua sute itu sampai lenyap dalam kegelapan baru ia menghe la napas. Kemudian ia menegur wanita itu apakah maksud tujuannya…,”

“Kalau begitu je las mulut wanita itu tak dapat dipercaya! Ah, jika lo cianpwe tak menyaksikan ditempat perse mbunyian, seumur hidup Kak seng taysu tentu akan berlumuran kenistaan,” kata Siu la m.

“Anak muda, jangan terburu menentukan kesimpulan dulu,” kata Lo Hian, “kutahu engkau me mang sangat mengindahkan sekali kepada beberapa paderi sakti siau lim si. Tetapi manusia yang hidup berpuluh puluh tahun itu me mang sukar untuk menjaga kesadaran pikirannya. Anak muda, me mang bagi peredaran bulan dan matahari, waktu berpuluh, puluh  tahun itu tidaklah la ma. Tetapi bagi kehidupan manusia, masa berpuluh puluh tahun itu dapat menimbulkan perbuatan salah yang sukar dihindari …”

“Adakah Kak seng taysu mengaku?” tanya Siu la m.

“Kak seng taysu merupakan pimpinan siau lim si yang disegani sebagai bintang Kejora dunia persilatan. Kedudukannya dan kesaktiannya me mang sangat tinggi. Jika  ia mengakui hal itu, tentulah takkan terlepas dari…..”

“Jika Kak seng taysu berkeras tak menga kui, jelaslah kalau wanita itu hanya menghe mbus fitnah belaka …” kata Siu la m.

“Hm, bagaimana kau tahu ?” Bwe  Hong Swat menyeletuk.

Pertanyaan itu me mbuat Siu lam terpukau tak dapat menjawab.

Lo Hian me lanjutkan lagi, “sekalipun Kak seng tak mengakui tetapi wanita itu tetap mengukuhi pendiriannya. Ia menyatakan bahwa anak perempuan itu adalah darah daging Kak seng sendiri. Dikatakan dengan jelas tentang hari dan kelahiran anak itu.”

“Has, paderi licik ! Masakan anaknya sendiri tak mau mengakui!” da mprat Hong Swat. “Eh, mengapa kau me mastikan ucapan wanita itu me mang sesungguhnya?” tegur Siu la m.

“Kalau wanita itu gila, mengapa dia tak mengatakan lain orang tetapi berkeras menuduh tetesan darah Kak seng?” sahut si nona.

“Sebagai pimpinan siau- lim si, Kak seng Taysu  a mat  dihor mati orang. Jika ia mau melindunginya, siapakah yang berani mencari musuh pada wanita itu ?”

Bwe Hong Swat tertegun. Tak tahu apa yang barut ia katakan.

Lo Hian menya mbung ceritanya lagi, “sekalipun wanita itu dapat menerangkan hari dan bulan kelahirannya, namun Kak seng taysu tetap tak mau me ngakui. Karena ratapannya tak berbasil, marahlah wanita itu. Ia manda mprat tandas kepada Kak seng taysu. Percaya atau tidak, tetapi ia tetap mengatakan bahwa anak pere mpuan itu tetesan darah Kok seng taysu, Dan sebelum menjadi paderi. Kak seng itu orang she sip, maka wanita itu me mberikan she sip kepada anak itu dan mena makannya siau hong, Hong adalah nama dari wanita itu. siau-hong artinya si Hong kecil …”

“Kalau begitu, paderi itu seharusnya percaya !” tukas Bwe Hong-Swat.

Lo Hian menggelengkan kepala. “Kak seng taysu tetap tak mau menga kui tetapi meluluskan akan me mper kenalkan seorang sahabat untuk me meliharanya !”

“Kalau begitu, dalam hatinya ia sudah menyadari tetapi lahirnya dia tak mau mengakui…” kata Bwe Hong-Swat.

“Jika soalnya begitu sederhana, akupun takkan muncul mengurus i hal itu lagi,” kata Lo Hian.

“Apakah masih ada perubahan lagi,  mengajukan pertanyaan kepada Kak seng bagaimana kah paderi itu hendak bertindak terhadap dirinya.” “Me mang telah kuduga ma ksud tujuan wanita itu. Ialah hendak mencar i perlindungan di bawah kebesaran nama gereja siau lim si,” kata Siu-la m.

Lo Hian batuk batuk dua kali lalu menyambung kata- katanya, “Mendengar pertanyaan wanita itu, tiba tiba Kak seng taysu tertawa dingin dan berseru, “Huh, memang telah kuduga tujuan mu. Dan ternyata benar.” habis berkata Kak seng terus kebutkan lengan bajunya dan pergi,

“Wanita itu bingung ketika melihat Kal seng pergi.” kata Lo Hian lebih lanjut, “tiba-tiba ia loncat membentur Kak seng Taysu, Paderi itupun menghindar kesa mping wanita itu sedang mender ita luka parah. Karena mengguna kan tenaganya untuk mnmbenturkan diri, begitu benturannya luput, ia tak menahan peluncuran tubuhnya lagi. Kepalanya me mbentur  karang, benaknya berhamburan dan me layanglah jiwanya seketika “

“Ah, benar-benar tak terduga sekali. Dalam hal itu Kak seng taysu tak dapat dipersalahkan!” kata Siu-la m.

Lo Hian tertawa hambar, “Ketika mengetahui wanita  itu mati, Kak seng menyesal. Dipandangnya jenazah itu dengan helaan napas panjang. Kemudian ia sendiri yang menguburnya…”

“Apakah ketika me nyaksikan peristiwa yang mengenaskan itu, anak perempuan itu tak menangis i ibunya?” tanya Bwe Hong Swat.

“Tidak, ia tetap tabah melihat peristiwa ngeri itu tanpa berkata suatu apa. setelah Kak seng selesai mengubur,  barulah anak itu bertanya; “Apakah kau ini benar benar bukan ayahku?”

Sekecil itu ternyata anak perempuan ia sudah me mpunyai keberanian yang mengagumkan. Bukan hanya Kak seng taysu yang terpukau, aku sedikitpun terkejut sekali.  Anak perempuan itu benar-benar sudah lebih dewasa dari usianya” “Karena wanita itu sudah menggigil, seharusnya Kak seng taysu mau mengakui hal itu.” Bwe Hong Swat menyeletuk.

“Tidak!” sahut Lo Hian, “Kak seng me mandang anak itu lekat-lekat sa mpai ia sekali. Tiba-tiba ia menengadah kepala dan berkata “Ah, muncul lagi seorang binatang Ke mukus. Jika kubiarkan kau hidup, kelak tentu akan menimbulkan bencana yang jauh lebih hebat dari ibumu itu. Buddha maha murah, maafkan bedosaanku….” habis berkata tiba tiba paderi itu mencengkeram anak itu…”

“Hai! Apakah Kak seng taysu sampai hati berbuat sedemikian terhadap seorang anak perempuan yang tak berdosa?” teriak Siu- lam terkejut,

“Jika benar-benar dia turun tangan, mungkin dunia persilatan takkan dilanda banjir darah seperti dewasa ini. Ketika ia mengangkat anak itu, tiba tika ia menghela  napas dan perlahan lahan menur unkannya lagi. Adalah karena penundaan itu ma ka Kak Bong den Kak Hui muncul ke mbali. Melihat apa yang telah terjadi di situ, dengan menggerung kedua pideri itu segera menyerang Kak seng. Kak seng berulang kali berseru me minta kedua adik seperguruannya itu berhenti dulu. Tetapi kedua paderi itu tak menghiraukan. Mereka me lancarkan serangan yang fatal. Bsrmula me mang Kak seng taysu masih dapat melayani, tetapi lewat beberapa jurus, ketua siau-lim-si itu menjadi  kelabakan sehingga terpaksa balas menyerang….”

Siu lam menghela napas perlahan. Ia hendak bertanya tetapi tak jadi.

Sementara itu Lo Hian pun sedikit menggeserkan tubuhnya lalu menya mbung penuturannya, “Melihat ketiga paderi itu saling baku hantam sendiri, anak peremouan itu dia m-dia m me larikan diri. Ah, hebat benar anak itu. Menghadapi peristiwa sedahsyat itu, bukan saja dia tak menangis, tetapi bahkan dapat berpikir untuk melo loskan diri. De mikianlah rasa kagumku timbul pada saat itu. Tetapi sekarang, ah, aku menyesal….”"

“Adakah anak itu me mang sudah me mpunyai pengala man menyela matkan diri?” tanya Bwe Hong-Swat.

“Benar,” sahut Lo Hian. “sekalipun masih kecil, tetapi anak itu sudab berulang kali menghadapi peristiwa ngeri semca m itu Dan dia lari justru kearah aku berse mbunyi. Adalah karena terdorong oleh rasa kasihan. saat itu kutolong-nya. selagi tiga paderi itu masih berhantam hebat, ku bawanya menyelinap pergi….”

“Ah, siapapun yang melihat keadaan itu tentu bersedia meno longnya… ,” kata Siu-la m.

Tiba-tiba Lo Hian bangun dan duduk. “Anak perempuan itu bukan lain adalah sip  siau-ho ng. setelah lari belasan li jauhnya, kuajak dia berhenti dibawah pohon. Teringat kata- kata Kak seng tadi, kuamat amati wajah anak itu dengan seksama. Memang disela-sela kedua alisnya me mancarkan hawa siluman. saat itu baru kuakui kebenaran ucapan Kak seng. Jika me mbiarkan dia hidup sa mpa i dewasa tentu akan menimbulkan bencana pada rakyat. Tetapi… ah, sayang sekali saat itu aku tak sampai hati untuk me mbunuh anak itu….”

Lo Hian menghela napas, ujarnya pula, “Adalah karena watakku keras maka kulanjutkan usanaku. Pikirku, asal aku dapat mendidiknya dengan sekuat  tenaga,  tentulah  dapat  me mpengaruhi sifat sifatnya yang jelek. Tetapi tak kira, jerih payah itu sia-sia belaka….”

Kembali ia me meja mkan mata. Dua butir air mata menit ik dari pelupuk matanya.

Siu lam dan Bwe Hong-Swat saling berpandangan. Ingin mereka hendak me nghibur tetapi tak tahu bagaimana harus me mulai kata-katanya. Kira-kira seper minum teh la manya keheningan itu berlangsung, dan tiba t iba Lo  Hian  me mbuka  mulut  lagi; “De mikian dia berangkat dewasa dalam asuhanku. Wajahnyapun makin me kar sere mpak dengan kedewasaannya. Makin dewasa makin cantik. Karena sebenarnya sudah me mpunyai prasangka jelek maka kudidiknva dengan keras sekali. seringkali dia harus mene mani disa mpingku. Dan demi melenyapkan sifat-sifatnya yang jelek, kuputuskan hubunganku dengan dunia persilatan. Aku jarang muncul keluar dan me mbentuk sebuah te mpat yang terasing dari dunia rama i. Kuperindah tempat itu dengan tanaman- tanaman yang aneh dan jarang terdapat. Demikian pula kupelihara unggas dan burung-burung yang sukar diperoleh didunia. Disa mping binatang rusa dan bangau,  Apa bila bermain ma in ditaman itu, kuharap dia akan terpengaruh oleh keindahan ala mnya dan dapat melepaskan tulang tulang pembawaannya yang jelek itu. Ahh jika merenungkan hal itu, kesemuanya jerih payah yang kuha mbur kan itu hanyalah dikarenakan pengaruh Ke Akuan saja (egois). Karena diluar kesadaranku, diam-dia m aku telah terpengaruh oleh kecantikannya. Hanya saja pada saat itu aku tak merasakan hal itu …”

Siu-la m dan Bwe Hong Swat tertarik sekali mendengar penuturan itu. Mereka saling bertukar pandangan mata sejenak lalu saling tertegun dengan berbagai pikiran.

Perlahan  lahan   Lo   Hian   mulai   baringkan   diri   lalu  me lanjutkan kata-katanya, “Akhirnya pada mala m prahara, aku telah melakukan suatu kesalahan besar dalam hidupku. setelah peristiwa itu lewat, sesalku tak terkatakan lagi. Ingin aku mati saja. Tetapi pikirku, kalau aku bunuh diri  begitu saja,, masih ringanlah hukumanku. Ku putuskan untuk hidup terus menderita siksaan

Penyesalan telah menyebabkan sikapku berubah dingin kepadanya. Kuanggap dia seekor cantik yang berbisa. Perubahan sikapku itu, di sadarinya. Rupanya ia merasa tak betah lagi tinggal disitu dan merencanakan hendak me larikan diri. Ia bersekutu dengan seorang jago pecundangku, Ban Thian seng, untuk meracuniku. sebenarnya kuketahui hal itu tetapi aku tak marah. Aku merasa telah merusak kesuciannya dan ia me mbunuhku,  itulah sudah sewajarnya. Dengan pertimbangan   itu,   akupun   pura-pura   tidak   tahu    dan me mbiarkan ia bertindak menurut rencananya. Tetapi ketika aku sudah keracunan dan hampir mati, tiba-tiba kupikir bahwa aku tak boleh mati. Karena  jika  aku  mat i,  siapakah  yang ma mpu mengalahkannya? JiKa ia menimbulkan gara gara di dunia, bukanjkah aku juga yang bersalah? Dengan keputusan baru itu, aku segera mengatur rencana.  Diam  diam kukerahkan tenaga dalam untuk me musatkan racun dalam tubuhku itu ke arah kaki. Biar aku cacad, aku masih  hidup.  Dan kuatur siasat. Aku pura-puri mati dan terkapar di pintu supaya diketahuinya. Diam diam aku telah me mutuskan dalam hati, Jika ia dapat merobah perangainya dan berlaku  baik, akan kubiarkan racun itu mengaliri tubuh ku lagi dan mati.

Tetapi ah, ternyata setelah lolos dari perguruan, dia telah me lakukan serangkaian pe mbunuhan yang mengge mparkan. saat itu kedua kaki ku sudah lumpuh sehingga tak le luasa berjalan,    sekalipun    me mpunyai    ke ma mpuan    untuk me mberantasnya tetapi harus me merlukan waktu yang lama. Karena sekali ular itu sudah berkeliaran ke luar,  sukarlah diburu jejaknya. Dalam kebingungan aku segera menerima seorang murid lagi. sebelumnya, dia me mang sudah seorang tokoh termasyur dalam dunia persilatan. Tiga tahun lamanya kuberikan ilmu ajaran kepadanya, agar dia ma mpu mewa kili aku untuk me mbersihkan na ma perguruan, me mbas mi si Ular sip siau-hong. Tetapi ketika dia sudah  menyelesaikan pelajaran dan turun gunung, tiba-tiba kupikir lagi, Jika dia sampai mengkhianati, bukanlah berarti aku mena mbah dosa lagi ? Akhirnya kusuruh dia bersabar dulu sampa i tiga bulan. Dalam waktu itu, kubuatlah sehelai peta Telaga Darah. Karena saat itu aku merasa bahwa racun yang kupusatkan pada kaki, mulai menyerang ketubuh lagi. Mungkin aku tak dapat hidup lebih la ma lagi. satu satunya untuk me mpertahankan hidup, yalah harus masuk ke dalam sumber air panas dalam gunung berapi. Dengan me minja m hawa panas dan dita mbah dengan tenaga dalam, mungkin dapat menahan menjalarnya racun itu

…”

“Murid baru yang locianpwe terima itu apakah bukan orang she Tan ?” tiba tiba Siu-la m menyeletuk.

“Benar, dia bernama Tan Thian- siang,” Lo Hian mengiyakan.

“Kalau begitu dia tentu kakek dari Tan sumoay.” kata Siu- lam seorang diri.

“Lebih baik jangan mengganggu!” dengus Bwe Hong Swat, bentakan itu me mbuat Siu lam terdia m.

Kemudian Lo Hian  me lanjutkan ceritanya lagi, “setelah selesai me mbuat peta Telaga Darah, kuberikan kepadanya tiga buah Kim-liong

(kantong azimat). Kusuruhnya dia me mbuka Kantong azimat itu sesuai dengan waktunya. Dan menjalankan pesan dalam kantong azimat itu.

Kantong azimat pertama berisi, supaya dia menyaru diriku dan me ma kai na ma ku, muncul didunia persilatan sesuai dengan rencanaku, setelah rencana kesatu itu dijalankan, banyaklah kaum persilatan yang gempar dan berbondong- bondong mengejar jejakku …

Pada Kantong azimat kedua, kusuruh dia nyiarkan peta Telaga darah itu keseluruh dunia. Dia harus ke mbali menjadi Tan Thian siang asli yang pura pura mendapatkan peta itu. Bila ada orang yang sanggup bertempur melawannya sampai lima puluh jurus, dia harus pura pura kalah dan melepaskan peta itu. Setelah me laksanakan kedua isi Kantong azimat itu, barulah dia boleh me mbuka Kantong yang ketiga. Dalam kantong ketiga   itu   kuperintahkan    dia    mewakili    aku    uutuk   me mbers ihkan na ma perguruan, membunuh sip siau hong. Apa bila tiga Kantong itu telah dilaksanakan dengan baik, berarti dia telah me mba las budiku. Dengan  penegasan  itu me mang sengaja kujaga agar dia jangan sampai jauh dibawah pengaruh kecantikan sip sian hong sehingga berbalik dia yang akan diperalat atau mungkin dibunuh oleh sip siau hong….”

“Perhitungan locianpwe me mang….” baru Siu lam hendak me mber i tanggapan, Lo Hian su  dah  mendahului,  “Kutahu me mang dalam kecerdikan dia tak mungkin menang dengan sip siau hong. Aku harus bertahan hidup untuk mencar i daya menundukkan ular cantik itu. Untuk itu aku harus tinggalkan kampung hala man den masuk kedalam Telaga darah. Akan kutunggu  seorang  tunas  yang  berbakat   istimewa.   Yang ma mpu masuk kedalam Telaga darah dan bertemu muka dengan aku atau mendapatkan barang peninggalanku. Kemudian keluar lagi untuk menundukkan sip siau-hong.

“Ah, tak kira walaupun sudah me mbenam diri dalam perut gunung berapi sela ma berpuluh tahun, tetap belum muncul orang yang dapat mamecahkan rahasia Telaga darah itu Aku me mang ge mar alam pe mandangan yang indah untuk mencari ketenangan dan menyelidiki rahasia alam. sebelum menerima sip siau hong, kupernah masuk sekali kedalam Telaga darah itu. Dia m-dia m telah kurancangkan cara cara masuk kete mpat itu. Asal dapat me mecahkan rahasia peta itu tentu dapat masuk kedalam Telaga darah….”

Lo Hian menghe la napas panjang la lu perlahan lahan menga lihkan matanya kearah Bwe Hong Swat.

“Tiada kusangka sa ma sekali dia telah di desak sip siau hong supaya bunuh diri loncat dalam kawah gunung. Dan tak sengaja telah masuk kedalam Telaga darah.  Walaupun telah ku berikan seluruh ilmu kepandaianku kepadanya, tetapi karena tenaganya masih belum cukup ma ka sukar untuk menandingi sip siau hong. Paling t idak me mer lukan latihan giat sela ma tiga tahun, baru dia dapat menghadapi ular itu !”

Kata Bwe Hong-Swat, “Ah, suhu harus me nghadapi kesulitan lagi. Tetapi jika dapat merawat sakit dengan  baik baik tentulah akan terlepas dari bahaya maut!”

Lo Hian gelengkan kepala, “Ah, tidak! Keadaanku sembarang saat bisa mati. siksaan selama  berpuluh-puluh tahun ini, telah menghabiskan tenaga murniku. Bahwa kita masih dapat bertemu muka ini, sungguh suatu kebahagiaan yang diluar dugaanku….”

Setiup angin pegunungan tiba-tiba me mbawa suara mendengung dengung.

Lo Hian menghela napas, serunya, “Apakah suara itu?” “Mungkin berasal dari tawon raksasa yang kubawa dalam

Bok-liong,” sahut Siu la m.

“Apa? Engkau ma mpu menguasai tawon raksasa?” tanya Lo Hian pula.

“Tawon tawon itu peninggalan dari Raja Tawon Nyo Ko yang suruh aku me me liharanya.”

“Apakah Nyo Ko sudah mati ?”

“Sudah meninggal kira-kira setengah tahun la lu.”

“Ah. pernah kudengar orang me ngatakan tentang kepandaiannya me melihara tawon itu, tiada dapat menandinginya. setelah memiliki kepandaiannya, jangan kau menggunakan hanya untuk kepentingan dirimu sendiri sehingga kelak ilmu itu akan ikut lenyap setelah kau mati.” Lo Hian me mberi nasehat.

Siu-la m mengiyakan. Bwe   Hong   Swat    mendengus    dingin.    “Kepandaian me me lihara tawon, apanya yang aneh? Bukankah masih kalah jauh apabila dibandingkan dengan kepandaian suhu menundukkan binatang liar dari ular berbisa ?”

“Sa ma sajalah,” Lo Hian menyeletuk “Nak, bawalah sarang tawon itu ke mari.”

Siu lam segera me lakukan perintah.  Tak berapa  la ma  ia ke mbali dengan me mbawa Bok liong. Berkat ketekunan Nyo Ko. ma ka selain badannya besar sekali, tawon tawon itupun berkumpul dalam sarang dan tak berani terbang keluar sebelum mendapat perintah.

Sejenak me mandang tawon tawon itu, tiba tiba wajah Lo Hian berseru girang. “Nak, jika kau mau me mber ikan sedikit madu tawon mu itu, mungkin aku dapat  bertahan  hidup sampai beberapa hari lagi.”

Sudah tentu Siu-la m me mber ikan dengan serta merta, “Asal dapat mengobati luka locianpwe, sekalipun se mua madu dalam sarang itu tentu akan kuberikan kepada locianpwe,”

Ia terus menga mbil sekeping madu.

“Cukuplah ….” kata Lo Hian sambi menya mbuti.  Kemudian ia menghela napas “Aku sudah laksana sebuah pelita yang kehabisan minyak. sekalipun mendapatkan pil dewa yang kuasa menghidupkan ke matian, tetap tak mungkin dapat merebut    jiwaku.    sekeping    madu    ini     hanya     dapat me mpertahankan jiwaku sa mpa k e mpat lima hari. Tetapi hal itu sudah cukup.”

Barulah ia bangun dan bersandar pada kedua orang hutan itu. Kemudian berpaling, serunya, “Ambilkan kipas di bawah kursiku itu”

Setelah menga mbil kipas, Bwe Hong swat  memapah  Lo Hian duduk di kursi lagi. Tampak napasnya terengah engah seperti orang yang kehabisan tenaga. Katanya kepada Siu la m, “Nak, tunjukkan kipas  ini kepada para ketua partay persilatan. Undang mereka pada tiga hari ke mudian tengah hari, menghadir i pertemuan Jembatan Prenyak yang diselenggarakan sip siau hong. Usahakan sekuat tenaga supaya mereka dapat bertahan sa mpai tengah ma lam …”

“Aku seorang pemuda yang tak ternama. Masakan pula ketua persilatan itu mau mendengar perintahku ?” bantah sip- la m.

“Tunjukkan kipas itu kepada mereka!”

Siu lam menya mbut kipas itu dari Bwe Hong-Swat. Ketika ditebarkan, tampak permukaan kipas itu berlukiskan Naga terbang dan burung Hong menar i. Penuh dengan garis garis Warna merah hitam dan tulisan tulisan. Ada yang disula m, Ada yang ditulis tangan. Antara kain ada terdapat juga nama Kak seng taysu.

Lo  Hian  batuk  batuk  kecil   lalu   berkata   pula,   “Yang me mbubuhkan tanda tangan pada kipas itu, se mua adalah tokoh tokoh persilatan yang terkenal. Ketua dari sembilan partay, pun sama me mberikan tanda tangannya.  Tetapi mereka kini sebagian bssar sudah meninggal dunia. Para ahli warisnya, harus mengetahui rahasia itu. Asal kau tunjukkan kipas itu dan silahkan mereka untuk meneliti tandatangan dari para leluhur mereka, sama artinya seperti aku sendiri yang datang untuk menjumpai mere ka.”

Siu lam seperti disadarkan, tanyanya, “Adakah orang-orang itu pernah berjumpa dengan locianpwe?”

Lo Hian menghela napas perlahan, ujarnya, “Peristiwa yang la mpau bagai awan mengejut di angkasa. Akupun tak suka mengungkit lagi soal kegagahan di masa la mpau. Nah, mengapa aku selalu menghindari Kak Bong dan Kak Hui yang tak henti-hentinya mengejar aku. bukanlah dari keinginan hatiku sendiri me lainkan atas ajaran Kak seng taysu. Kak seng seorang yang berbakat luar biasa. selain kepandaiannya jauh kbih sakti dari kedua sutenya, juga di kalangan tokoh tokoh sakti dalam dunia persilatan, tiada seorangpun yang dapat menandinginya..”

“Tapi bukankah dia kalah dengan suhu?” Bwe Hong Swat nyeletuk.

“Dia telah berte mpur denganku sa mpai lima ratus jurus, baru kena tertotok jariku.  Ah, sudahlah! Apakah artinya kegagahan masa lalu itu? Manusia hidup hanya berpuluh tahun, bagaikan suatu impian belaka …”

Berkat otaknya yang cerdas, dapatlah Siu lam menar ik kesimpulan bahwa na ma-na ma yang tertera pada kipas itu adalah jago-jago yang dikalahkan Lo Hian. Benar benar hal itu merupakan peristiwa yang mengge mpar kan dunia persilatan. Tatapi anehnya, dunia persilatan belum pernah tersiar berita itu. Lo Hian tak mau menyiar kan rahasia itu dengan tujuan yang luhur.

Lo Hian menghela napas pelahan, ujarnya;

“Nah, kasih tahu kepada para ketua partai persilatan itu bahwa setelah mereka menghadir i pertemuan Je mbatan prenyak, kipas ini kau bakar di hadapan mereka.”

Siu lam menga mbil pula segumpal madu dan diletakkan disisi kursi Lo Hian, katanya “Aku segera akan mela ksakannya perintah locianpwe.” Ia me mber i hor mat lalu melangkah pergi.

Tetapi beberapa langkah ke mudian, tiba-tiba kedengaran Lo Hian me manggilnya, “Jangan terburu-buru, aku masih hendak bicara padamu”

Siu lam hentikan langkah dan menanyakan apa  pesan oraog tua itu.

Lo Hian pelahan lahan merogoh keluar sebuah bool kecil, katanya, “Bawalah ini juga!”

“Bagaimana cara me nggunakan botol ini?” tanya Siu la m. “Dalam perte muan Jembatan prenyak itu, diam diam sip siau hong tentu me mbekal obat bius yang sama sekali tak berbau. Tetapi entah pada saat bagaimana  ia hendak menggunakan obat itu dan dengan cara bagaimana. Tetapi yang jelas obat bius itu tentu akan berha mburan me menuhi sidang pertemuan dan sekalian hadirin tentu terkena racun bius….”

“Lalu bagaimana menjaganya?” tanya Siu lam

“Walaupun obat bius itu sama sekali tidak menge luarkan suara dan bau, tetapi orang yang terkena tentu akan merasa sesuatu yang aneh pada dirinya. Nah, pada saat itu segeralah menutup pernapasan dan me mbuka botol ini. Tuangkanlah isinya lalu bakarlah, Nanti akan me mancar kan semaca m hawa yang  harum  sekali.  Tapi  bau  harum  itu   tak   dapat menge mbang sa mpa i jauh maka sekalian hadirin  harus berkumpul dalam lingkaran seluas tiga tombak, racun bius tentu tak dapat mencelaka i. Bahkan sekalipun sudah terkena bius. asal belum menyusup kedalam ulu bati. tentu  masih dapat tertolong.”

Siu lam menghaturkan terima kasih.

“Masih ada sebuah hal penting yang kau harus  ingat dengan baik,” kata Lo Hian pula, “berapa barisan  pendam yang paling berbahaya dari barisan jembatan prenyak itu, terletak di belakang Jembatan. setelah menyerang kedalam barisan, jangan sekali kali kalian mela lui Je mbatan prenyak itu. Bersama dengan Swat ji, aku akan datang kira kira pada tengah ma la m. Pada saat itu aku akan mengutus Swat-ji untuk mengundang kalian !”

“Baiklah, lo cianpwe,”kata Siu la m. Dengan me manggul sarang tawon Bok-liong, ia segera melenyapkan diri dalam kegelapan mala m. Sepasang mata Bwe Hong Swat yang besar dan bundar meegantarkan bayangan pemuda dengan helaan napas yang menda la m.

Sementara itu Lo Hian segera me mberi perintah kepada kedua ekor orang utan supaya mengangkat kursinya kedalam tandu. setelah menutup kain penutup, kedua ma khluk aneh itu segera menggotong lagi tandu itu.

Rupanya   Bwe   Hong   Swat   masih   ter mangu   mangu me mandang bayangan Siu- lam sehingga ia tak mengetahui kalau tandu segera akan berangkat….

Terdengar helaan napas panjang dari dalam tandu “Swat ji, naiklah kedalam tandu! Hendak kupergunakan waktu tiga hari ini untuk me mberikan seluruh kepandaianku kepada mu!”

Bwe Hong  Swat  gelagapan.  Buru  baru  ia  mengha mpiri ke muka tandu dan berbisik, “Disekitar tempat ini, mur id telah mene mukan sebuah te mpat meneduh yang sesuai sekali. Apa bila suhu suka menetap disitu, segala keperluan dan keinginan suhu, dapat kulaksanakan sebaik baiknya”

Lo Hian gelengkan kepala, “Tidak.. waktu tiga hari ini, menyangkut kepentingan dan nasib dunia persilatan!”

“Mengapa?”

“Sekalipun aku telah mener ima dua mur id, sip siau hong dan Tan Thian-s iang, tetapi mereka hanya dapat menerima lima enam bagian kepandaianku saja. Hanya selain ilmu kesaktian, sip siau hong menang me mpelajar i juga tentang ilmu obat racun. Oleh karena itu maka dia telah menimbulkan banjir darah di dunia persilatan.”

“Adakah suhu hendak me mber i aku pelajaran tentang ilmu penawar rncun?” tarya nona.

“Beberapa ilmu kesaktian istime wa. akan semua berikan kepadamu. Oleh karenanya, dalam waktu tiga hari ini kita harus mencari te mpat yang sepi, agar jangan diganggu orang. Ah, kini kepandaianku sudah punah semua. Aku hanya dapat mengajarkan secara lisan saja. Ya, akan kuturunkan semua kepandaianku itu. satupun tak ada yang kuse mbunyikan lagi!”

“Budi suhu yang de mikian besar, mur id. Murid…”

“Ayo, kita berangkat!” tukas Lo Hian, “sekarang engkau cerdas sekali, tetapi tak mungkin dalam waktu tiga hari itu dapat mengingat seluruh pelajaran yang kuberikan! Coba saja bagaimana peruntunganmu. Engkau ma mpu  mengingat sampai dimana, sa mpai disitulah engkau akan berhasil.. “

Lo Hian mengetuk tandu perlahan lahan dan kedua orang utan itupun segera berlari menggotong tandu. Bwe Hong-Swat mengikut i dibelakang.

Singkatnya tiga hari cepat telah berlalu.

Pada hari keempat ketika matahari me mancarkan sinarnya yang gilang gemilang, dari pintu sebelah timur kota Khik-cia, muncullah, orang orang yang berpakaian aneka ragam. Ada paderinya, ada ima m dan orang orang tua yang berjenggot putih. Adalah pula yang mengenakan pakaian ringkas kaum persilatan dengan meyelip golok atau pedang. Bahkan  ada pula kaum gadis yang cantik dan berpakaian indah. Tetapi pun terdapat juga para tokoh tokoh persilatan aneh yang berpakaian jembe l dan gondrong. Pendek kata rombongan orang itu terdiri dari berbagai lapisan masyarakat persilatan.

Tetapi walaupun berbeda golongannya dan berlainan cara pakaiannya, mereka me mpunyai ciri yang sama. Yalah wajah mereka sa ma mengerut tegang den serius.

Mereka berbondong-bondong menuju satu arah  dengan hati yang berat. Angin gunung makin keras meniup.  Daun daun berguguran ketanah.

Kira kira sepuluh li jauhnya, tibalah mereka disebuah gunung. sebuah daerah pegunungan yang mempunyai barisan puncak berlapis lapis. Pada puncak disebelah muka, tampak sebuah tanah kuburan yang luas, penuh dengan gunduk gunduk,  tanah kuburan itu terdapat  sebuah jalan kesebuah  le mbah.

Ketika tiba dipuncak gunung itu, rombongan beraneka orang itu berhenti salah seorang anggota rombongan, seorang paderi tua berjubah putih, tampil ke muka. setelah mengucap salam O mitohud, ia berkata, “saudara saudara sekalian, sejak mulai dari tanah kuburan ini, kita sudah me masuki barisan Jembatan prenyak. Pertempuran ini bukan saja akan menyangkut mati hidup kita sekalian, pun menyangkut nasib seluruh dunia persilatan…”

Ia berhenti sejenak lalu menyambung lagi, “Dahulu ketua Beng-gak telah mengirim undangan dengan Jarum Jit jiau soh, mengundang se mua tokoh persilatan menghadir i pesta Pemanggil-nyawa. sayang karena sku masih dalam bertapa, maka aku dapat hadir. Demi menghadapi pesta maut  itu, gereja siau-lim si telah mengutus ketuanya Tay Hong siansu untuk mengadakan pertemuan dengan kaum persilatan digunung Thay-saa. Boleh dikata seluruh tokoh tokoh persilatan datang menghadiri. sekali lagi, saat itu aku-pun tak dapat hadir Tetapi tak apa karena pimpinan rapat, tetap seorang paderi sakti dari siau hm si..”

Sekalian orang diam mendengarkan pe mbicaraan paderi tua itu dengan penuh perhatian.

Paderi tua itu menghela napas panjang, katanya pula, “Tetapi akhirnya dari pertempuran itu, benar-benar diluar dugaanku. Bukan saja banyak paderi siau lim  si  yang  mender ita kekalahan, juga telah menggoncangkan dunia persilatan. Kecuali hanya beberapa orang yang beruntung lolos, boleb dikata sebagian besar tokoh tokoh itu binasa atau ditawan dan dijadikan budak oleh wanita dari Beng gak. Peristiwa yang menyedihkan itu belum pernah sebelumnya terjadi dalam dunia persilatan. sebagian besar tokoh-tokoh dari kesembilan partai, ikut serta dalam pertempuran itu. Kiranya tak perlu kuuraikan lagi disini tentu saudara-saudara sudah mengetahuinya. Demi menyela matkan Keadilan dan Kebenaran, kita yang masih hidup ini harus tetap melanjutkan perjuangan….”

“Ucapan taysu tepat sekali.” tiba-tiba terdengar sebuah seruan lantang, “pertempuran hari ini menyangkut nasib dunia persilatan. Ular tanpa kepala tak mungkin jalan, burung tanpa sayap tak mungkin terbang. De mikianpun ro mbongan kita sekarang ini. Kurasa baiklah taysu suka me mimpin ro mbongan ini dan ka mi pasti akan me ntaati segala perintah taysu,”

“Ah, mana aku berani,” kata padsri tua itu.

Ketika berpaling, sekalian orang baru mengetahui bahwa yang bicara itu adalah ketua partai Hoa-san pay yakni Pedang pembelah gunung Ang Hoang. Dia seorang tokoh yang cerdas dan bertenaga besar. senjatanya sebilah pedang e mas yang beratnya tiga puluh kati. Gagah dan sakti sekali, melupakan seorang bintang ce merlang sejak partai itu berdiri beratus- ratus tahun.

Terdengar sebuah suara lain mendukung pernyataan ketua Hoa-san pay itu, “Aku setuju usul saudara Ang. Kami seluruh anak mur id partai Kong tong-pay akan berdiri dibelakang taysu!”

“Ya, janganlah taysu menolak lagi,” terdengar lagi sebuah suara yang mantap nyaring dari arah ro mbongan tokoh tokoh persilatan itu,

“partai gereja siau lim boleh dikata hampir ludes ditangab Kuntilanak itu. Tay Hong suheng bwlum se mbuh dari terkena racun. Begitu pula  Tay In suheng yang menggantikan kedudukan pimpinan gereja, Juga  lenyap  dalam  usahanya me mbur u musuh sehingga sa mpai sekarang belum ketahuan nasibnya, Tay Hui, Tay  Ceng  dan  beberapa  suheng,  demi me mbe la gereja siau lims i, telah gugur binasa. Ah, hampir seluruh tokoh tokoh sakti gereja siau lim telah hancur lebur. sin Ciong totiang dari Bu-tong pay mati di Beng gak. Ceng Hun toheng dari Ceng sia pay dan Thian Ce toheng dari Kun lun  pay serta ketua Tiam jong pay Cau Yan bu, dua tokoh tua dari Swat san pay dan Kong tong pay yakni Tek Cin dan Ciok sam- kong lo cianpwe, dan suhengku sendiri Tay Ih siansu, telah hilang tanpa jejak. Tetapi sekalipun gereja telah morat-mar it tak keruan, namun tetap me merintah aku bersama delapan orang paderi siau lim, datang menghadir i ke mar i. Taysu adalah pimpinan Go-bi pay selama e mpat puluh tahun. De mi menjaga kelangsungan na ma Go bi pay yang sudah sedemikian harum, harap jangan menolak ma ksud sekalian saudara disini!”
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Wanita iblis Jilid 46"

Post a Comment

close