Wanita iblis Jilid 41

Mode Malam
Jilid 41

SEKONYONG KONYONG Gan Leng-poh meraung keras. Tinggalkan Ceng Hun totiang, ia terus menyerbu Bwe Hong Swat. Tetapi cepat disambut Kat Hong dengan sebuah  pukulan Bu ing sin kun.

Hek…. karena tak sempat menjaga, tabib itu terpental mundur sampa i beberapa langkah dan akhirnya rubuh kelantai….

Ciok sam kong, Tek Cin, Cau Yan hui seperti disayat sembilu hatinya melihat Bwe Hong Swat me mbakar kitab pusaka itu.

Betapapun hendak menahan perasaannya namun akhirnya Ciok sa m-ko ng tak kuat lagi.

“Nona,  kitab-kitab  peninggalan  Lo   Hian   ini,   me mang ke mungkinan     dapat      me mbawa      bencana       tetapi ke mungkinanpun dapat mendatangkan kesejahteraan bagi dunia persilatan. Hal itu tergantung pada orang yang mendapatkannya, me mbakar kitab kitab itu, itu  apakah engkau tak mengecewakan jerih payah Lo Hian yang berpuluh tahun me mbuatnya dengan susah payah?”

Dengan sikap yang dingin. Bwe Hong-Swat tersenyum, “Apakah engkau ingin me lihat salah sebuah jilid?”

Ciok sam kong merenung sejenak lalu menjawab,  “Sekali kali aku tak me mpunyai keinginan untuk me ndapatkan kitab pusaka itu, sa mpai lenyap dari dunia….”

“Kalau engkau tak menghendaki sendiri, perlu apa engkau ribut ribut merasa sayang?” kata Bwe Hong Swat.

Ciok sam kong terkesiap, ucapnya, “Setiap orang tentu kepingin me miliki barang pusaka, Apalagi kitab-kitab pusaka yang mengandung pelajaran ilmu sakti. Terus terang, me mang aku pun me mpunyai rasa me mikir kan juga, hanya saja….”

Bwe Hong-Swat menya mbar sebuah kitab berkulit kuning dan di lemparkan kepada Ciok sa m-kong, “Jika engkau menginginkan, cobalah engkau a mbil yang ini!”

Ketika menya mbut kitab itu, ke mbali Ciok sam kong terlongocg. Diam diam ia menggerutu, “Hem perangai budak perempuan itu me mang sukar diduga orang….”

Melihat Ciok sam kong mendapat bagian sebuah  kitab, irilah Tek Cin. Ia berbatuk-batuk dan me mberanikan diri berkata, “Nona, sudah lama kudengar nama Lo Hian, sayang tiada rejeki berte mu muka. Tetapi jika beruntung melibat karyanya, hatipun puas juga….” 

“Hai, engkau juga mau?” seru Bwe Hong Swat  seraya menje mput sebuah kitab dan dile mpar kan kepada Tek Cin.

Cau Yan bui pun segera berseru, “Nona ingin juga….” “Baik terima lah ini!”

Tiba tiba Gan Leng Poh loncat bangun dan berseru,  “Akupun ingin sebuah!”

Bwe Hong Swat menyambar sejilid buku terus dile mparkan kepada tabib itu.

sinona baju merah  tak ketinggalan, “Sam sumoay, mengingat kita tinggal seperguruan dan terikat persaudaraan….”

“Tak usah bicara apa-apa, kau pun mendapat bagian sebuah!” tukas Bwe Hong Swat seraya mele mparkan sebuah kitab kearah sucinya. Kemudian ia berseru, “Siapa lagi yang minta?”

Ia mengulang beberapa kali tapi tiada seorangpun yang menyahut. Ceng Hun Totiang me libat  api makin menyala besar. Kecuali lima jilid kitab yang dibagi-bagikan Bwe Hong Swat tadi, semua kitab yang berada diatas meja itu telah terbakar semua. Tiba-tiba ketangan ima m Ceng Hun luluh dan ia pun menghe la napas.

“Bagus, sekalipun tidak se mua terbakar, tetapi sebagian besar bencana sudah lenyap….”

habis berkata Ceng Hun Totiang terhuyung huyung dan rubuh.

setelah buku buku  terbakar semua Bwe Hong  Swat mengha mpiri kete mpat Siu- la m. Ta mpak kepala dan pakaian Hian Song basah kuyup bermandi peluh. sedang wajah Siu- lam pucat lesi, tabuhnya menggigil.

Bwe Hong Swat menyadari bahwa kedua anak muda itu telah me masuki babak yang berbahaya. sesungguhnya tenaga dalam Hian-Song belum cukup tapi dara itu tetap  mema ksa diri untuk me mbuka jalan darah utama  seng-si-hian-kwan ditubuh Siu-la m. Akibatnya, darah dan bagian dalam tubuh pemuda itu menyusup kearah jantung dan paru paru sehingga me mbahayakan jiwanya. sedang Hian Song sudah habis tenaga dan tak kuat lagi bertahan….

setelah mengamati keadaan kedua anak muda itu beberapa jenak. Bwe Hong Swat menutuk jalan darah dikepala Siu-la m lalu mena mpar punggung Hian-song. seketika Hian-Song rasakan tenaga dalam yang dipancarkan ketubuh Siu- la m, bergelombang menda mpar balik kedalam tubuhnya lagi dan me mbanjir kearah kepala. Kepala pening, mata berkunang kunang dan pingsanlah dara itu.

Ketika me mbuka mata, dara itu dapatkah dirinya bersandar kesebilah dinding ruangan Siu- lam masih tetap duduk pejamkan mata  seperti orang tidur pulas. Menilik desis pernapasannya, pemuda itu sudah me lalui keadaannya yang gawat. sedang si dara baju putih Bwe Hong Swat tegak dihadapan kedua anak muda itu. Ciok sam kong, Ceng Hun Totiang dan lain la innya sudah tak tampak lagi. Kat Hong masih berdiri dibelakang Bwe Hong Swat.

Hian Song berbangkit bangun. Diam diam ia kerahkan tenaga untuk mencoba. Ternyata tenaganya masih cukup.

Bwe Hong Swat menghela napas, ujarnya “Sungguh tak kukira kau sedemikian cepat sudah pulih ke mbali….” menunjuk kearah Siu-la m, ia melanjutkan, “Racun dalam tubuh sudah hilang. setelah beristirahat beberapa Waktu, tentu akan sembuh. semua peninggalan Lo Hian dalam Telaga Darah sini, sudah lenyap. Lorong di sebelah kanan, adalah jalan-rahasia untuk keluar dari Telaga Darah ini. Menyusuri terowongan itu terus biluk kekanan, tentu sudah berada diluar. Lekaslah bswa dia pergi.”

Tiba-tiba timbul rasa malu dalam hati Hian song, serunya, “Kau sudah me lepaskan budi kepadaku. Akan kuingat dalam hati. Kelak pasti akan kubalas budimu itu!”

Tapi Bwe Hong Bwat tak mengacuhkan dan berbutar tubuh terus melangkah pergi.

Ketika me manggul Siu-la m dan me langkah beberapa tindak, Hian Song berhenti lalu berseru lantang, “Kalau dalam Telaga Darah sini sudah tak ada apa apanya, mengapa kau  tak mau tinggalkan tempat ini?”

sahut Bwe Hong Swat dingin, “Ini bukan urusanmu, tak perlu kau mengurus!”

Hian Song mendengus, “Meskipun aku berhutang budi kepadamu tapi kau adalah manusia yang paling kubenci….” dara itupun berputar tubuh terus lari keluar.

Bwe Hong Swat tak mau menghiraukan. Ia me lanjutkan langkahnya pelahan lahan. Rupanya Kat Hong gelisah. Maju dua langkah dibelakang Bwe Hong Swat, ia bertanya, “Nona, sikapmu yang baik  kepada mereka telah dibalas dengan dendam kebencian. Mengapa tak menghabiskan mere ka saja?”

“Dalam Telaga darah ini sudah tiada sesuatu yang menar ik selera. Kitapun keluar,” kata Bwe Hong Swat tanpa menyinggung pernyataan Kat Hong itu.

“Ke mana?” Kat Hong terkesiap.

“Mencari suatu tempat yang terpencil untuk meyakinkan ilmu silat,” sahut Bwe Hong Swat.

“Ilmu silat apa?”

“Lo Hian telah meninggalkan banyak sekali ilmu kesaktian yang belum se mpat kufahami. Mencari tempat yang sunyi dan tenang untuk meyakinkan ilmu itu sa mpai faha m. Ah, almarhum Lo Hian telah meninggalkan pesan banyak sekali. Barang siapa yang dapat me mpelajari ilmu  peninggalannya, dia harus me laksanakan pesannya itu….”

“Bukankah benda peninggalannya sudah terbakar habis semua?” Kat Hong heran.

Tiba tiba Bwe Hong twat berpaling dan tersenyum, “Tumpukan kitab-kitab itu walaupun me mang benar benar tulisan Lo Hian, tetapi hanya mengenai ilmu pelajaran  yang tak berapa nilainya. Ilmu kesaktian yang diciptakannya, tidak berada dalam tumpukan kitab kitab itu….!”

Meuhat Bwe Hong Swat teisenyum berseru, bagai kuntum bunga mekar dipagi hari itu Kat Hong terlongong- longong.

Rupanya Bwe Hong Swat mengetahui bagaimana perasaan anak muda itu kepadanya. Buru-buru ia kerutkan wajah dan berkata dengan diingin, “Engkau seorang manusia yang tidak bersih hati….” Merahlah muka Kat Hong. Ia tundukkan kepala. Ia tetap berjalan dengan kepala menunduk ketika  terdengar Bwe Hong-Swat lanjutkan langkahnya. Entah berapa lama dan sampai dimana berjalan dengan cara itu, tiba tiba didengarnya Bwe Hong Swat berseru, “Tunggulah aku disini. Aku hendak menge masi beberapa barang kemudian baru kita keluar!”

Kat Hong mcngiakan. Tetapi ia tetap tak berani mengangkat mukanya.

Kira kira sepenanak nasi la manya, terdengar Bwe Hong Swat muncul dan mengajaknya keluar Kat Hong sudah kehilangan faham. Ia me nurut saja apa yang diperintah nona si jelita itu. Juga ia tak berani, bertanya apa apa kecuali mengikut i di belakangnya.

Beberapa waktu kemudian, Bwe Hong Swat berpaling dan hendak mengucap sesuatu kepada Kat Hong tetapi tak jadi. Kemudian ia percepat langkahnya. Rupanya nona itu faham benar dengan jalan-jalan disitu. Langkahnya sepesat  orang lari.

Kat Hong tetap menundukkan kepala. Ia dapatkan langkah si nona makin la ma makin pesat dan akhirnya menyusup ke sebuah tikungan gelap gulita sehingga tak dapat me lihat jari jemarinya sendiri.

Tiba-tiba Bwe Hong Swat berhenti. Karena  mendadak  sekali, Kat Hong tak sempat hentikan langkahnya.  Ia menubruk tubuh nona itu. Bukan kepalang kejutnya. Ia takut kepada Bwe Hong-Swat. Waktu hendak meminta maaf, tiba tiba tebuah jari yang harum menutup mulutnya

“Jangan bergerak, ada orang kemari!” bisik Bwe Hong- Swat.

Ketika me magang telinga, benar juga. Kat Hong mendengar derap langkah yang halus tengah mendatangi. Rupanya karena tak faham akan keadaan terowongan situ, orang itu berjalan dengan perlahan lahan. Diam diam Kat Hong bersiap. Asal melihat  seseorang muncul, tentu akan disongSong dengan pukulan Bu ing sin- kun.

Orang itu ma kin la ma makin dekat dan sa mar samar terdengar suara napasnya yang berat.

Tiba tiba Bwe Hong Swat menghela napas perlahan, bisiknya, “Rupanya orang itu menderita luka parah. Kita temui!”

“Bagaimana nona tahu?” Kat Hong heran.

“Kudengar suara napasnya,” kata Bwe Hong  Swat seraya me langkah maju.

setelah membiluk dua buah tikungan, mereka melihat sesosok tubuh. Kedua tangan orang itu mcayanggah dinding terowongan dan melangkah pelahan dengan terhuyung huyung. Rupanya sepasang tangannya itu sudah tak kuat menahan tubuhnya yang berat.

Walaupun dalam terowongan yang sangat gelap tetapi segera Bwe Hong Swat dapat melihat jelas raut muka orang  itu. Ia berhenti dan suruh Kat Hong, “Lekas tolong, dia adalah saudaramu!”

sekalipun tumpahkan seluruh ketajaman matanya tetapi Kat Hong hanya ma mpu me libat sejauh tujuh delapan to mbak. Yang dilihatnya hanya sesosok tubuh orang berjalan merayapi dinding terowongan. Tetapi ia tak tahu siapakah orang itu. Mendengar perintah Bwe Hong Swat tanpa ragu ragu lagi ia cepat lari ke muka. Dan ketika menga mati, ternyata memang adiknya Kat Wi.

“Adik Wi, adikku, mengapa engkau!” serunya cemas seraya me me luk orang itu.

Dengan terengah-engah Kat Wi menyahut, “Aku, aku mender ita….luka….parah….” “Siapakah yang melukaimu. Lekas bilang!”

Bwe Hong- Swat cepat menyeletuk, “Dia sedang terluka berat, jangan ditanya apa-apa lagi.  Lekss tutuk supaya pingsan agar tenaganya jangan terhambur habis. setelah keluar dari sini, sembuhkan dulu lukanya baru engkau tanyai dia.”

Kat Hong menurut saja apa yang diperintah si jelita. selain kagum akan kesaktian Bwe Hong Swat, pun yang penting ia benar benar sudah menha mba kan diri dalam kepatuhan yang tulus  ikhlas.   segera   ia   menutuk  adiknya   pingsan   lalu me manggulnya.

Mereka  melanjut kan  perjalanan  lagi.  Bwe  Hong-Swat me mang faham benar jalanan disitu. satelah mela lui entah berapa banyak tikungan dan persimpangan, akhirnya mereka me libat cahaya matahari.

Ternyata mulut jalanan keluar itu merupakan dasar le mbah yang dipagari karang gunung yang tinggi cura m. Karang bukan main licin dan tajamnya. Kecuali menggunakan ilmu Pik hou-kaug atau Cicak merayap, tak mungkin dapat me manjat keatas.

Bwe Hong Swat berpaling. Wajahnya tetap dingin. Dipandangnya Kat Wi yang dipanggul Kat Hong itu, ujarnya “Tak apalah, lukanya mes kipun patah tetapi masih ada harapan ditolong. Tunggulah dimulut le mbah sini. setelah aku berhasil mencapai puncak karang, akan kuturunkan tali untuk menarik kalian keatas.”

Tanpa menunggu jawaban Kat Hong, si jelita itu segera lekatkan punggungnya kekarang lalu mulai menyusur keatas.

Gerak si jelita itu tak ubah seperti seekor ikan me luncur dalam air. Cepatnya bukan kepalang. Dalam waktu tak berapa la ma, sudah mencapai puncak dan lenyap. “Celaka, nona itu selalu dingin kepadaku Jika ia menggunakan kese mpatan ini untuk lolos, bukankah berarti aku dan adikku akan terda mpar  dalam  dasar  jurang  ini?” dia m-dia m ia meragukan Bwe Hong-Swat.

Tiba-tiba sesosok bayangan putih muncul dan seutas  tali me luncur turun tepat jatuh di muka mulut terowongan.

“Pegang erat-erat ujung tali, akan kutarik kalian keatas. Awas, hati-hatilah, adikmu sedang sakit berat!” teriak Bwe Hong Swat pada lain saat.

Girang Kat Hong bukan kepalang, sahutnya, “Harap nona jangan kuatir!” ia me megang tali dengan tangan kanan dan tangan kiri me meluk adiknya.

Pada saat tubuh kedua pe muda itu terangkat naik beberapa tombak, tiba tiba dari mulut terowongan itu menghe mbus segelombang angin prahara yang dahsyat sekali. Dahsyatnya seperti gunung rubuh.

“Berbahaya sekali,” diam diam Kat Hong mengeluh, “Jika terlambat sedikit, kita pasti mati.”

Tak berapa lama, kedua saudara itupun tiba dipuncak. Bwe Hong Swat sudah tak mengenakan pakaian putih  lagi. Ternyata nona itu merobek pakaiannya untuk dijadikan tali tadi. Nona itu hanya me maka i pakaian dalam Warna merah.

Ditimpah sinar mentari pagi, kulit sijelita yang putih itu makin gilang gemilang menonjo lkan kecantikannya.

Kat Hong terlongong….

“Libat apa engkau! Mungkin nasib kalian belum ditakdirkan mati!” bentak Bwe Hong Swat.

“Atas budi pertolongan nona, takkan ku lupakan seumur hidup….” Bwe Hong-Swat suruh pe muda itu lekas meletakkan adiknya, kemudian ia me meriksa nadi Kat Wi Lalu mulai mengurut urutnya.

“Apakah engkau luka karena adu pukulan? Dengan siapakah engkau berkelahi?” tanyanya.

Kat Wi pelahan pelahan me mbuka mata dan me mandang Bwe Hong Swat dan berseru kaget, “Siapakah engkau? Dimanakah engkoh ku?”

“Aku disini,” buru buru Kat Hong menyahut. “Engkoh, siapakah nona ini!” seru Kat Wi.

“Inilah nona Bwe. Jiwa kita dia yang menyelamatkan. Lekas jawab pertanyaannya!”

Kat Wi mengangguk dan menyahut kepada Bwe Hong- Swat, “Benar aku telah beradu pukulan dan menderita luka dalam….”

“Cukup, tak perlu banyak bicara. Tutup mata mu, akan kuurut lagi beberapa jalan darahmu  baru nanti kuberimu minum pil. Tentu se mbuh,” Kata Bwe Hong-Swat.

Kat Wi tak berani membantah. Ia rasaksn jari jemari yang halus menelusur i tubuhnya. setiap jari nona itu menekan, tentu  Kat  Wi  rasakan  suatu  gelombang  hawa   hangat mene mbus dadanya.

Melihat adiknya dipijiti jari jari yang seperti mutiara, timbullah rasa ir i hati pada Kat Hong. Diam diam ia merancang rencana yang indah, “Jika dapat selalu berkumpul  dengan jelita itu, aku harus mencar i kese mpatan untuk terluka….”

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sebuah tertawa dingin. Ketika Kat Hong me mandang  ke muka ternyata tampak seorang nona baju biru tegak diujung gunung. Tangannya mence kal sebuah senjata aneh mir ip dengan tanduk rusa merah me mbara. Itulah Tong Bun kwan, murid pertama dari Beng Gak.

Melihat itu Kat Hong cepat loncat bangun dan menje mput dua butir batu. Ia bersiap-s iap untuk menjaga ke mungkinan nona baju biru akan mengganggu Bwe Hong gwat yang tengah mengobati Kat Wi.

“Sam sumoay,” nona Tong itu tak mengacuhkan sikap Kat Houg dan me mandang ke arah Bwe Hong Swat, “melepaskan pakaian putih berganti pakaian merah, tentu mempunyai hajat yang mengge mbirakan….”

Bwe Hong Swat tak ma u menghiraukan. Dia  tetap mengurut tubuh Kat Wi.

“Bwe Hong-Swat, berpaling dan lihatlah siapa yang datang ini!” teriak Tong Bun- kwan dengan marah.

Bwe Hong Swat me mpercepat urutannya setelah itu baru ia perlahan sahan mengangkat kepala dan  me mandang  Tong Bun kwan.

“Apakah aagkau belum dibunuh Oleh pemimpin Beng gak itu?” tegurnya dengan segan lalu tundukkan kepalanya lagi. Mengeluarkan botol obat dan menuang sebutir pil lalu disusupkan ke mulut Kat Wi

semasa masih digunung, pengaruh Tong Bun kwan besar sekali. setiap kali berjumpa, kecuali me mberi hor mat dan tunduk. Bwe Hong swat pun diharuskan menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan Tong Bun kwan.

Karena kebiasaan itu maka sikap yang di unjuk Bwe Hong Swat saat itu, sangat menusuk perasaan Tong Bun  kwan. Nona itu meraung seperti singa betina kelaparan lalu lari menyerbu.

Kat Hong yang sudah siap sedia, segera menggembor keras. Dengan tangan kanan menimpuk kedua butir batu, tangan kiri menghanta m dengan pukulan Bu- ing-sin- kun…. Dengan  angkuh  Tong  Bun  Kwan  tersenyum  aneh.  Ia me mutar senjatanya yang aneh untuk menangkis batu seraya me langkah  maju.  Tetapi  tiba-tiba  serangkum  angin  kuat me landanya.

Dia tak menyangka sama sekali bahwa Kat Hong me miliki pukulan Bu-ing-sin kun. Maka sa ma sekali ia tak berjaga-jaga. Bahu kirinya termakan pukulan tak kelihatan itu dan tersurat mundur dua langkah….

Untunglah Tong Bun kwan sudah me miliki tenaga dalam yang tinggi. Dengan cepat ia mir ingkan bahu, menghapus tenaga pukulan lawan dan maju ke muka.

Kat Hong tidak me mbe kal senjata. Tetapi ia tak gentar. Ilmu kepandaiannya beraneka ragam. sambil berputar diri, ia gunakan ilmu Cong chiu jip-peh jim atau dengan tangan koSong menyusup kedalam barisan senjata. Dia maju menyongSong tetapi dicegah oleh Bwe Hong Swat, “Mundurlah!”

Kat Hong me nyurut mundur.

Dengan mengena kan pakaian dalam warna merah. Bwe Hong-Swat maju menyongsong.

Tong Bun kwan hentikan langkah. Ia mencabut  pedang yang tersanggul dipunggung.

Bwe Hong-Swat tertawa dingin, “Pedang itu miliknya, lekas berikan padaku!”

“Siapa yang engkau maksudkan?” Tong Bun-kwan balas tertawa hina.

“Pui Siu-la m!” sabut Bwe Hong Swat.

sejenak Tong Bun kwan me mandang kepada Kat Hong dan KatWi la lu bertanya, “Siapakah mereka itu?”

“Tak perlu engkau tahu!” jawab Bwe Hong Swat singkat. “Tetapi rupanya engkau beralih hati. Tak menghendaki orang she Pui itu lagi….”

“Jangan ngoceh tak keruan!” tukas Bwe Hong Swat, “aku sudah mengikat sumpah dengan dia untuk sehidup se mati. Masakan se mudah itu berbalik bati?”

Tong Bun-kwan tertawa mengekeb, “Uh, sam sumOay yang halus budi….” riba tiba ia  berganti nada  dingin  lalu,  “begitu ke matian-ke matian engkau menumpahkan cinta kepadanya. Tetapi tahukah engkau bagaimana sikapnya kepadamu?”

“Bagaimana aku tahu hal itu betapapun halnya, diriku adalah menjadi tanggungannya dan aku tak berhak campur tangan!”

Tong Ban kwan terkesima ujarnya, “Sam sumoay, kita sudah belasan tahun hidup bersama dalam perguruan. Tetapi makin la ma makin tak tahu bagaimana  jalan  pikiranmu. Engkau bukan seorang wanita jalang tetapipun bukan seorang istri yang suci….”

Tiba tiba Bwe Hong Swat me mbentak bengis, “Hati hatilah aku hendak mewakilinya merebut pedangmu itu!”

Ucapan itu disere mpaki dengan gerakan melesat kesa mping Tong Bun-kwan dan menyambar tangan kiri Tong Bun-kwan yang menceka l pedang.

Bukan kepalang kejut Tong Bun kwan atas gerakan Bwe Hong Swat yang sede mikian gesitnya. Ia loncat mundur.

“Apakah engkau ma mpu menghindari?” seru Bwe Hong Swat dengan dingin dan laksana bayangan ia loncat mengejar.

Tong Bun kwan mengendspkan tangan kirinya dan menghanta m dengan senjata tanduk rusa di tangan kanan.

Bwe Hong Swat mengangkat telunjuk jarinya dan  scangkum angin me landa jalan darah Jok ti hiat di lengan kanan Tong Bun kwan. Tong Bun kwan terpaksa hentikan serangannya dan loncat mundur lagi. Tetapi dia kalah cepat. Lengan kirinya telah di cengkeram Bwe hong Swat. seketika lengan kirinya itu kesemutan dan tahu-tahu pedang Ceng liong kiam sudah pindah ke tangan Bwe bong Swat….

Cara merebut senjata semaca m itu benar-benar jarang tampak dalam kalangan persilatan. Kat bong dan Kat Wi terlongong kesima.

setelah merebut pedang, Bwe Hong Swat tujukan ujung pedang kedada Tong Bun- kwan dan berkata, “Jika saat ini kubunuh kau, hanya cukup untuk menggerakkan tangan saja,” tiba-tiba ia lepaskan cengkeramannya dan melanjut kan kata- katanya, “Tetapi aku tak ingin me mbunuhmu. Lekas enyah dari sini!”

Tong Bun- kwan terbeliak dan menghela napas, “Benar benar tidak nyana hanya dalam waktu setengah tahun saja, kepandaianmu telah maju sedemikian pesat. Ketika di Beng gak aku kira aku lebih unggul dari sumoay.”

sahut Bwe Hong Swat, “Dahulu sebutan suci dan sumoay, sekarang sudah hapus. Jangan panggil aku sebagai sumoay lagi. Lekas pergilah!”

Tong Bun kwan me nga mati Bwe Hong-Swat dari kepala sampai ke ujung kaki. Entah bagaimana, ia merasa kehilangan perbawa.

“Betapapun saktinya kepandaianmu kini, tetapi kita tetap me mpunyai ikatan sebagai saudara seperguruan. seumur hidup, aku tetap sucimu!”

Bwe Hong-Swat dingin, “Sudah tentu ada bedanya. Pemimpin Benggak itu berguru pada Lo Hian. Dengan demikian kepandaian yang kita peroleh selama ini adalah berasal dari ajaran Lo Hian. Ketika kalian me maksa aku bunuh diri terjun kedalam Telaga darah, diluar dugaan, aku malah mendapat peruntungan besar bertemu, dengan Lo hian yang menerima ku sebagai muridnya. Dalam surat Wasiatnya almarhum Lo-hian jelas mengatakan bahwa sekalipun pernah menerima murid tetapi murid mur id itu sudah diusir dan tak di akuinya lagi. Aku adalah mur idnya yang terakhir dan diakui sebagai mur id satu satunya. Meskipun dia tidak mendir ikan partai atau perguruan, tetapi barang siapa menerima ajaran dan Lo-hian, harus menganggap aku sebagai pe mimpin mereka. Oleh karena itu, kedudukan kita  sekarang sudah berbeda. Jangankan hanya engkau, sekalipun gurumu wanita dari Benggak itu, pun harus me mberi hor mat kepadaku….”

Bwe Hong gwat berhenti sejenak lalu me lanjutkan lagi, “Mengingat dahulu kita pernah bersama, kali ini kuberimu kelonggaran. Lekaslah angkat kaki dari sini! Pedang ini bukan milikmu. untuk se mentara, akan  kusimpan.   Kelak  akan kuke mbalikan kepada yang empunya” Rupanya Tong Bun kwan jeri terhadap kesaktian Bwe Hong  swat.  Ia tak berani me mbantah lagi. Berputar tubuh ia terus bergegas pergi.

“Tunggu!” tiba t iba Bwe Hong Swat berseru.

Tong Bun kwan tertegun tetapi ia tetap menurut perintah. “Mengapa?” ia berpaling.

“Pinjamkan pakaian luar mu itu padaku!”

Tong Bun kwan kerutkan alis dan mengge leng, “Ah, jangan bergurau….”

Bwe Hong Swat melangkah maju dan menukasnya, “Siapa yang bergurau padamu. sekali lagi kuminta pinjam pakaianmu itu. Kalau keberatan, engkau harus tinggal disini! ”

Tong Bun- kwan terbeliak. Akhirnya ia me lolos juga pakaiannya dan diberikan. setelah msnyambut i, Bwe Hong Swat perintahkan Tong Buta kwan pergi. Dan tanpa menghiraukan bagaimana reaksi orang, Bwe Hong Swat terus me ma kai pakaian luar itu la lu ayunkan langkah menur uni gunung. Kat Hong mengajak adiknya menyusul nona itu. Bwe Hong Swat tak mengacuhkan kedua anak muda itu. setelah berjalan tujuh delapan li jauhnya, ia berhenti dan menegur, “Kenapa kalian mengikuti aku?”

Kat Hong terkesiap. Pada lain saat ia tertawa, “Kami akan mengikut i sela ma- la manya untuk menjaga nona!”

“Wanita dan pria pantang bergaul. Kalian pria mengapa mengikut i aku seorang gadis. Bukankah dunia ini luas sekali? sekarang sudah aman, kalian tidak perlu mengikut i aku lagi!” kata Bwe Hong- Swat.

Kat Hong menghe la napas, “Apakah nona menganggap alasan kami mengikuti nona itu hanya karena akan berlindung pada nona?”

“Entah aku tidak tahu,” sahut Bwe Hong Swat. “Sesungguhnya ada dua tujuan mengapa aku ikut nona,”

kata Kat Hong pula.

“Katakan!”

“Ka mi berdua telah me mpe lajari sekian banyak maca m ilmu silat tetapi masih banyak yang belum jelas penggunaannya. Bila selalu dengan nona, tentu dapat me minta petunjuk. Di samping itu, apabila dapat me lakukan perintah nona. hatiku sudah puas….” berkata sampai disitu, Kat Hong me mberanikan diri menatap wajah Bwe Hong-Swat. Pandang matanya mencurah ratap permo honan kasih.

Bwe Hong Swat tertegun, sahutnya- “Tidak! Mana boleh pemuda dan pemudi bergaul la ma-la ma. Jika tersiar didunia persilatan tentu menimbulkan esmohan orang orang yang iseng mulut!” habis berkata Bwe Hong-Swat berputar  terus lari.

Kat Hong me ngajak adiknya mengejar. Bwe Hong-Swat berhenti dan berpaling. Ketika  melihat kedua saudara itu mengejar, ia marah sskali, “Mengapa kalian terus menerus mengikuti aku saja!”

Kat Hong hendak me mbuka mulut  tetapi ia tak  dapat mene mukan jawaban. Akhirnya ia diam saja.

Bwe Hong-Swat tertawa dingin, “Jika kalian tetap mengikuti aku saja, jangan sesalkan tindakanku nanti!” ia berputar tubuh lalu berjalan lagi.

Kat Hong ter mangu. Pada lain saat ia  menyusul lagi. setelah melintasi dua buah puncak bukit tibalah  Bwe Hong-

Swat dimulut  gunung.  Ta mpa k sepasang  muda  mudi tengah

duduk di bawah pohon rindang. Ketika  mengetahui siapa mereka itu, Bwe Hong Swat terkesiap.

Kedua muda mudi itu bukan lain adalah Siu-la m dan Hian- Song. Mereka rupanya letih sekali. Bersandar pada batang pohon dan tidur le lap.

Bwe Hoog Swat maju mengha mpiri. Disa mping Hian Song terletak pedangnya dan dibawah pohon itu terdapat ceceran bekas darah. Tentu belum berselang la ma, ditempat itu terjadi pertempuran dahsyat. Kedua  anak  muda  itu  berhasil mengha lau musuh tetapi mereka sendirian letih  sekali sehingga tertidur.

Bwe   Hong-Swat   pelahan   lahan   me mbungkuk    dan me mungut pedang Hian song. Diam diam ia me mbatin, “Jika saat  ini  kubunuh  anak  perempuan  ini  adalah   semudah  me mba likkan telapak tangan. Ah, dia telah merebut  suami, me mang sudah seharusnya dibunuh…. “

serentak pedang diayun menuju kedada Hian song. Pada saat maut hendak merenggut jiwa dara itu, tiba  tiba  Bwe Hong Swat menar ik, ke mba li pedang itu.

“Jika kubunuhnya, Siu-la m tentu benci kepadaku seumur hidup. tentu takkan selesai persoalanku dengan pemuda itu….” ia menimang dan pelahan lahan turunkan pedangnya. Tring…. karena terbenam dalam la munan, tak terasa pedang itupun jatuh ketanah dan menerbit kan bunyi bergemerincingan….

Tiba tiba Hian-Song me mbuka mata, loncat bangun dan menghanta m Bwe Hong Swat. Bwe Hong Swat menghindar, menje mput pedang ditanah dan mele mpar kan kepada Hian song, “Dengan tangan kosong, tak mungkin engkau menang dengan aku. Pakailah pedangmu!”

Menyambuti pedang, Hian Song tegak me matung. sepasang matanya memancarkan dendam ke marahan yang berapi api, “Berapa banyak engkau me mbawa kawan kawanmu ke mari?”

“Jika hendak kubunuhmu, sekalipun engkau me mpunyai nyawa rangkap sepuluh, tetapi dapat kubunuh!” sahut Bwe Hong Swat.

Hian Song me mbungkuk kebawah untuk me manggul Siu- lam lalu berkata, “Kelak jika engkau jatuh ketanganku, akupun akan menga mpuni jiwa mu satu kali, untuk me mbalas budimu saat ini.” Dara itu terus lari me mbawa Siu- la m.

Dengan beberapa loncatan, Bwe Hong-Swat menghadang dimuka Hian song, “Jangan terburu buru dulu.”

sebagai penyahutan, Hian Song menjabat dengan pedang. sekaligus lima jurus telah dilancarkan. Cepatnya laksana kilat menya mbar nya mbar me mecah angkasa.

Bwe Hong Swat tak mau balas menyerang melainkan berlincahan menghindar seraya berseru, “Jangan menyerang dulu, aku hendak bicara!”

“Lekat bilang!” bentak Hian song.

“Ilmu pedangmu me mang hebat dan luar biasa perubahannya. Tetapi sumbernya dari ajaran Lo Hian. Orang lain tentu dapat kau tundukkan tetapi jangan harap engkau ma mpu merontokkan sele mbar ra mbutku jua. Jika berkelahi, jangan harap engkau dapat menang dengan aku!”

Me mang lima jurus serangan yang dilancarkan Hian soug tadi, meupakan ilmu pedang istimewa. Tetapi ternyata dengan mudah Bwe Hong Swat dapat menghidari. Jelas ucapan Bwe Hong Swat itu me mang suatu kenyataan, bukan pernyataan kosong.

Hian-Song termangu dia m. Bws  Hong-Swat  menghela napas panjang lalu berkata pula, “Kita tak ber musuhan tetapi engkau me mbenci aku setengah mati? Bukankah karena diri Pui Siu-la m? sesungguhnya dia adalah sua miku. Engkau mentah mentah merebut suamiku, akulah yang seharusnya benci kepadamu….”

“Jangan ngaco!” bentak Hian Song, “kapankah suhengku menga mbilmu sebagai isteri? Mengapa tak pernah kudengar ia mencer itakan hal itu?”

“Disaksikan oleh Dewi Re mbulan kami telah bersumpah untuk hidup se mati. Bumi dan Langit menyaksikan perjodohan itu, apakah hal itu palsu?”

“Siapa mau percaya obrolanmu itu, Jika me mang benar, tentu dulu dulu suheng sudah mengatakan kepadaku,” kata Hian Song.

Bwe Hong-Swat kerutkan alis, ujarnya, “Engkau tak mau percaya, akupun tak dapat berbuat apa apa….” Ia menghela napas panjang lalu berkata, “Tak peduli engkau percaya atau tidak, tetapi dalam kehidupan sekarang ini aku adalah milik keluarga Pui. seorang wanita suci takkan bersua mi dua orang. Aku Bwe Hong Swat bukanlah wanita pasaran….”

“Sudahlah jangan omo ng lagi, aku tak sudi mendengar. kata katamu itu bohong se mua!”  teriak Hian  Song  sa mbil me mutar pedang dan menerjang lagi. Bwe Hong Swat menyingkir me mberi ja lan  serunya, “Bila dia sudah sadar tanyakanlah padanya benar atau tidak keteranganku tadi!”

Tetapi Hian-Song sudah menerobos jauh….  Tanpa berpaling lagi, ia gudah lenyap dalam kegelapan.

setelah dara itu lenyap, barulah Bwe Hong Swat berpaling kebelakang Kat Hong dan Kat Wi berada beberapa tombak jauhnya. Melihat itu, kemarahan Bwe Hong Swat ditumpahkan kepada kedua pe muda itu.

“Jika kalian tetap mengikuti saja, awas, tentu kuremukan batok kepala kalian!” teriaknya dengan murka.

Lalu ia berjalan lagi tetapi dengan langkah pelahan sekali. Kira-kira tiga empat li, ia berpaling dan ah….Kat Hong dan Kat Wi sudah tak tampa k lagi.

sementara  dengan  menahan   ke marahan,   Hian  Song me mbawa lari Siu-la m sampai belasan  li jauhnya.  setelah me lihat tiada yang mengejar barulah dara itu berhenti disebuah tempat yang sunyi. Ia meletakkan Siu-la m dan mulai mengurut beberapa jalan darah ditubuh pe muda itu.

Terdengar Siu-la m me nghela napas panjang dan perlahan lahan me mbuka matanya, “Apakah kawanan orang itu sudah pergi?”

“Sudah kuhalau se mua,” sahut Hian Song dengan nada segan.

“Ah, banyak menyibukan sumoy. Lukaku baru se mbuh, tenagaku belum pulih sehingga tak dapat me mbantu sumoy. sungguh aku merasa menyesal,” kata Siu- lam pula.

“Andaikata aku tak dapat mengundurkan mere ka, mereka tentu membunuh kita. Dan rasanya hal itu malah lebih baik,” sabut Hian-soag dengan dingin. Siu-la m tertegun, “Sumoay mengapa  engkau berkata begitu….” tiba tiba ia teringat bahwa selama beberapa hari ini, Hian Song banyak sekali meno long dan me lindungi jiwanya dari gengga man sinona baju biru. Terpaksa ia menahan ucapannya dan berganti tertawa hambar, “Ah, selama beberapa hari ini aku me mang me mbikin repot engkau. Ai, demi menjaga kesela matanku, engkau banyak menga la mi peristiwa peristiwa yang berbahaya…”

“Jangan bicara lagi!” bentak Hian Song marah. Dara itu menda lam sekali cintanya kepada Siu-la m. Maka sampai saat itu ia masih marah sekali mendengar keterangan Bwe Hong Swat tadi.

Siu-la m tertegun dia m. Akhirnya setelah sa ma berdiam diri beberapa waktu, Hian Song tak dapat bersabar lagi, serunya, “Apakah engkau sudah beristeri?”

Siu-la m terbeliak kaget, sahutnya tersipu, “Tak pernah terjadi hal itu. siapakah yang mengatakan?”

“Hm, yang mengatakan itu mas ih hidup orangnya, mengapa engkau menyangka l!”

“Siapa yang bilang!”

“Bwe Hong Swat!” sahut Hian-song, “bahkan sucinya yang berbaju biru itupun mengatakan kepadaku juga!”

Teringat akan sumpah dibawah sinar Rembulan dahulu, Siu-la m tak dapat bicara.

“Mengapa engkau diam saja!” bentak Hian song, “apakah karena dia cantik ma ka engkau lantas terkenang padanya?”

Siu-la m mengangkat kepala dan menatap si dara dengan tajam. Ia tahu babwa kalau tak diberi panjelasan sejujurnya, tentulah urusan itu akan berlarut larut. Ia menghela napas. “Kalau ia mengatakan dirinya sebagai istriku,  bukanlah  tiada sebabnya!” katanya. Wajah Hian Song meregang tegang. “Hemm. kalau begitu keterangannya itu me mang benar….?”

sejenak Siu- lam tergugu. Pada lain kejab ia me nyabut, “Persoalan itu me mpunyai liku liku yang panjang. Mungkin orang tak percaya apabila kuceritakan….”

“Ceritakanlah!”  kata  Hian song.  Siu-lam  terpaksa menutur kan peristiwa itu. Tentang ia dengan Bwe Hong Swat mengangkat sumpah dibawah re mbulan, de mi untuk menghindari bahaya pada saat itu.

Hian-Song mendengus, “Masalah penting se maca m itu, bagaimana ga mpang ga mpang saja kau meluluskan. seharusnya mala m itu kau meno lak!”

“Ah, aku tak menyangka peristiwa itu akan dianggapnya sungguh sungguh,” kata Siu-la m.

Hian-Song tundukkan kepala merenung.

Tiba-tiba ia menatap Siu- lam dengan iekat dan bertanya, “Jawablah, bagaimana dengan diri ku?”

Siu-la m terbeliak. “Aku tak mengerti bagaimana maksud sumoay?”

Tiba tiba dara itu bercucuran air mata, ujarnya, “Sejak kecil aku sudah sebatang kara. Dilahirkan tanpa dipelihara. sayang sampaipun siapa nama ibuku itu aku tak tahu. Kakekku yang berwatak aneh itu yang merawat aku. Meski-pun dia a mat menyayang padaku, tetapi karena dia mengidap penyakit, wataknya pun aneh. Dua tiga hari belum tentu bicara sepatah katapun dengan aku….”

Siu-la m menghe la napas, “Karena menderita penyakit itulah maka Tan lo cianpwe ta mpaknya tak me mperhatikan dirimu. Tetapi sebenarnya, beliau amat sayang sekali  kepada mu. Demi kau beliau telah berjuang keras untuk me mpertahankan hidupnya, mender ita siksaan penyakit yaug hebat!” Hian Song mengulap air matanya, “Tetapi kakek sudah meninggal. Dalam dunia seluas ini aku hanya sebatang kara. Tiada sanak sandang kecuali kau!”

“Asal aku masih hidup, tentu akan merawatmu,” Siu- lam menghiburnya.

Dara itu menghela napas, “Tetapi lebih baik kau mati dari pada hidup!”

“Mengapa?” Siu- lam terkesiap.

“Jika kau mati, akupun akan menderita tapi hatiku lega karena tak kuatir Bwe Hong-Swat akan merebut mu!” sahut Hian-song.

Siu-la m terkecoh hatinya. Ketika ia hendak me nghibur dara itu, tiba tiba ia teringat akan Ciu Hui-ing, sumoay  yang menjadi kawan seper mainan dalam masa kanak-kanaknya. Buru-buru ia batalkan ucapannya.

“Ab, ternyata Bwe Hong Swat menganggap sungguh sumpah ikatan jodoh ditepi telaga dulu, pikir Siu- la m, di mana ia menyatakan dirinya sebagai istri keluarga, Pui.”

Melihat Siu- lam ter menung menung me mandang re mbulan, Hian Song bercucuran airmata. Katanya pelahan, “Memang kutahu dalam hatimu tiada diriku lagi. Hanya karena mengingat budi telah meno long jiwa mu, ma ka engkau sungkam terhadapku….”

Siu-la m berpaling me mandang dara itu. Di lihatnya dara itu kecewa putus asa. Dalam keputusasaan itu, tampaklah sinar kenekatan yang me mancarkan bawa pembunuhan.

Karena sekian la ma belum juga Siu- lam bicara, makin marahlah Hian Song. Melirik kearahnya tampak pe muda itu masih me mandang langit dengan asyiknya.

Tiba tiba meluaplah ke marahan Hian-song. Ia tertawa nyaring. Nadanya melengking menutuk ulu hati. “Sumoay, mengapa engkau?” tanya Siu-la m.

Hian Song hentikan tertawanya. sahutnya dingin, “Apakah engkau masih ingat akan sepatah kataku dahulu?”

“Apa?”

“Jika kuberimu hidup sehari, engkau tak boleh meninggalkan aku!”

Siu-la m terkesiap, “Sumoay….”

Hian Song tertawa hambar, “Nanti pelahan lahan engkau tentu mengetahui….” tiba-tiba dara itu menutuk jalan darah Siu-la m sehingga pe muda itu pingsan seketika.

Entah berselang berapa lama, Siu-la m rasakan jalan darahnya telah terbuka. Ketika me mbuka  mata, tampak dihadapannya tersedia sepinggan daging sapi dan dua biji bakpau serta sebaki gulai. Hian Song tertawa-tawa duduk disebelahnya.

sekalipun lapar tetapi diam diam Siu-la m curiga, “Sumoay, bagaimana artinya ini?”

“Makanlah, kita masih akan melanjutkan perjalanan lagi,” Hian Song tertawa.

“Ke mana?” tanya Siu-la m heran, “aku akan mencari tempat yang  sunyi  untuk  mengobati luka  ku.  setelah   itu   akan me menuhi perjanjian dengan Kak Hong dan Kak Hui.”

“Siapa kedua orang itu?”

“Dua orang locianpwe  yang masih hidup dalam gereja siaulim-si!”

Hian Song menengadah dan tertawa mengikik. “Kita  pergi ke tempat yang sunyi, ya sunyi sekali. Disana hanya terdapat kita berdua saja….”

Ia berhenti sejenak lalu berkata pula, “Sudah sehari untuk engkau tak ma kan. Makanlah dulu baru nanti bicara lagi.” Diam diam Siu-la m me mperhatikan bahwa sikap dan nada ucapan Hian Song saat itu berubah tak sewajarnya. Apakah ia sudah dapat me mbebaskan diri dari keresahan soal asmara? Demikian Siu- lam menduga duga girang.

Siu-la m pun segera makan hidangan itu.

“Kenyang?” tanya Hiau-song. Siu-la m me ngiakan. Tiba tiba jari dara itu menutuk tubuh Siu-la m lagi. Belum se mpat pemuda itu bertanya, ia sudah pingsan lagi.

Ds mikian hal itu berulang ulang terjadi sampa i beberapa hari. Siu-la m tersadar, disuruh makan lalu ditutuk jalan darahnya lagi.

setiap kali tersadar Siu-lam menanyakan tempat ia berada tetapi selalu dijawab tak je las oleh Hian song.

Hari itu ke mbali Siu- lam tersadar. Ketika me mbuka mata, ia terperanjat. Kiranya kedua lengan dan kedua kakinya telah dirantai. Begitu pula dadanya diikat dengan tali urat kerbau. Dia hanya diberi kelonggaran untuk dapat duduk.

Pedang Hian Song dan benda benda perbekalannya ditaruh tak jauh sebelah muka. Tetapi dara itu entah dimana.

Kini Siu- lam tersadar bahwa dirinya akan mengalami keadaan baru. Keadaan yang penuh dengan siksa derita. suatu pengalaman yang akan menghias lagi sejarah hidupnya. Untuk itu ia harus berlaku setenang mungkin.

Siu-la m pejamkan mata dan menyalurkan peredaran darahnya untuk menekan ke marahan yang mulai me luap.

Kira kira sepenanak nasi la manya, tiba-tiba terdengar derap orang mendatangi. Ia berpaling. Tampak Hian Song dengan wajah berseri seri mengeluakan pakaian baru, melangkah masuk. sejenak dara itu me mandang Siu-la m dengan tertawa “Pui suheng, engkau sudah tersadar?” Siu-la m sudah me mperoleh ketenangannya ke mbali. Ia menginsyafi bahwa tak perlu ia mengumbar ke marahan.

“Sudah beberapa saat,” sebutnya tawar.

Hian-soug berjongkok dan tertawa ramah,  “Kini kedua lengan dan kakimu terikat rantai. Makan dan berpakaian harus kubantu!”

Dengan sekuat usaha Siu-la m menyahut setenang mungkin, “Entah apakah ma ksud sumoay mengikat diriku begini?”

“Mengapa masih bertanya lagi?”

“Bagaimana kutahu kalau tak bertanya?” bantah Siu- la m. “Engkau  me mang   tak  bersalah  padaku.   Hanya kutakut

engkau berobah hatimu. Ai, aku hendak  merawat mu  sela ma

la manya. Terpaksa banya mengguna kan cara ini!”

Siu-la m kerutkan alis dan tertawa hambar, “Kusadari sedalam dala mnya ma ksud sumoay kepada diriku. Tetapi sumoay telah me lalaikan suatu hal.”

“Apa?”

“Tali rantai yang berat ini hanya dapat mengikat jaiima niku.

Tetapi tak dapat merantai hatiku!”

Hian-Song terkesiap, ujarnya rawan, “Jika tak me ma kai cara itu, mungkin orangnyapun tak dapat kukuasai.”

Siu-la m tak mau mendesak lebih lanjut. Ia kuatir dara yang sedang dimabuk kepayang itu akan salah fabam jika mendengar kata-kata yang tak berkenan  pada  hatinya.  Ia me mutus kan untuk me mber i penjelasan secara pelahan-lahan.

Kembali Hian Song berkata dengan  ramah,  “Aku  sudah me mbe li ber maca m macam kain sutera, gunting, jarum dan benang serta perlengkapan dapur….” Diam diam Siu-la m menduga bahwa dara itu benar benar hendak me mbawanya kesuatu te mpat yang jauh dari masyarakat rama i.

“Perlu apa engkau me mbeli barang barang itu?” tanyanya.

Hian Song menghe la napas panjang, “Hendak kubuatkan banyak sekali pakaian untukmu”

“Hab, masakan aku sering me maka i pakaian baru, tapi masih dirantai begini?” diam diam Siu-la m menggerutu.

“Siang ma lam aku senantiasa akan berada dida mpingmu mene mani engkau,” dara itu ke mbali menghela napas.

“Ah, mengapa sumoay  begitu menyiksa diri?” Siu- lam geleng geleng kepala.

“Jangan kuatir, aku telah mendapatkan suatu tempat untuk tempat tinggal kita sela ma la manya. Alamnya indah sekali, penuh dengan rumput hijau dan bunga bunga yang senantiasa me kar sepanjang tahun. Dua hari lagi setelah kusiapkan bekal perjalanan, kita nanti berangkat,” kata Hian song.

“Dengan merantai kaki tanganku begini, aku takkan dapat menikmati hidangan yang betapa lezatnyapun.”

“Tak apalah, nanti setelah persiapan selesai, tentu akan kulepaskan rantai pengikat itu dan akan kuganti  dengan seutas rantai panjang agar engkau dapat oergerak lebih bebas. Tetapi hanya sejauh seratus langkah saja engkau boleh bergerak.”

“Engkau masih akan me mpersiapkan apa lagi?” tanya Siu-  la m. Dia m-dia m  ia  geli  masakan   seutas  rantai  ma mpu   me mbatasi gerak geriknya.

“Ahh, jangan bersorak kegilangan dulu,”  Hian-Song tertawa, “begitu kubebaskan rantai pengikatmu itu, saat itu juga seluruh kepandaianmupun turut kulenyapkan!” “Apa? Engkau hendak me lenyapkan ilmu kepandaianku?” Siu-la m terkejut bukan kepalang.

“Perlu apa engkau me miliki kepandaian silat yang tinggi?

Bukankah makan dan pakaianmu telah kusediakan se mua!”

“Wanita adalah makhluk yang paling keja m. Rupanya kata kata itu me mang tepat,” diam diam Siu-la m berkata dalam hati. Namun ia tak mengucapkan apa-apa kecuali tundukkan kepala.

“Pui suheng, apakah engkau membenciku?” dengan nada halus lembut, Hian-Song bertanya.

Siu-la m mengangkat kepalanya pelahan-lahan, sahutnya, “Jiwaku adalah engkau yang menolong. Jika diriku akan hancur ditanganmu, hal itu sudah selayaknya.”

Hian song terkesiap, “Apakah engkau hendak bunuh diri?”

Siu-la m  tertawa  masam,  “  Jika  engkau  benar   benar me lenyapkan kepandaianku, apa perlunya aku hidup didunia lagi?”

“Ketika masih hidup, kakek pernah berkata kepadaku. Jika kau ingin hidup bahagia, janganlah me mpe lajari ilmu silat. Lebih baik hidup mengasingkan diri sebagai petani atau nelayan-Kupikir, ucapan kakek itu me mang tepat….”

“Sekianpun benar tetapi waktunya sudah terla mbat. Kita sudah terlanjur berkecimpung dalam dudia persilatan dengan segala kebaikan dan kejahatannya. sekalipun kita takkan campur urusan dunia persilatan lagi tetapi mereka tetap akan mencari kita. Untuk menghindarkan diri dari gejolak dunia persilatan me mang hanya mudah dalam kata-kata saja.”

Hian Song tertawa, “Karena itu maka aku hendak mencari sebuah tempat yang terpencil untuk menghindari orang. Masakan  dalam  dunia  yang  begini  luas,  kita  tak  dapat me mpero leh suatu tempat menetap yang tenang dan aman….” Tiba tiba dara itu hetikan kata katanya, Mukanya  tersipu sipu merah. tertawa dan menundukkan kepala.

Siu-la m makin terkejut. Tetapi karena kedua  kaki tangannya terikat rantai dan lukanya pun belum se mbuh ia tak dapat berbuat apa apa,

“Ah,  aku  harus  menanak  nasi,”  tiba  t iba   Hian  Song me mandang ke cakrawala dan berbangkit lalu me langkah keluar. Ia me mbuat tungku dari tumpukan batu, me mbuat api lalu me maso kkan kayu bakar.

Siu-la m hanya terlongong mengawas i dara itu sibuk mencuci mangkuk, me motong sayur dan membasuh beras. Mulutnya selalu tersenyum. Rupanya dara itu ge mbira sekali me lakukan pekerjaan itu.

Siu-la m menghela napas dan palingkan muka. Dia m-dia m ia mencari akal bagaimana cara untuk menyadarkan dara itu. Tetapi sampai tiga hari  tiga  mala m,  Siu-la m  tetap  belum me mpero leh suatu daya dan harus mengala mi siksaan.

selama tiga hari itu, Hian Song bertikap ramah sekali kepadanya. Ganti pakaian dan makan dan meladeni dengan tekun sekali. Kecuali rantai pengikat  itu.  Hian  Song  selalu me lakukan apa saja yang diperintah Siu-la m.

setelah beristirabat beberapa hari, Siu-la m rasakan tenaganya pulih ke mbali. Dia m-dia m ia menima ng, “Besok pagi akan kucari akal untuk menyuruhnya pergi. Lalu kucoba untuk me mutus kan tali pengikatku ini.”

Keesokan harinya Siu-lam sengaja bersikap gembira. Berkatalah ia dengan ra mah kepada Hian Song, “Sumoay, tempat apakah ini? Rupanya seperti dibawah cekung karang, bukan?”

“Benar, cekung karang ini terletak disa mping sebuah gunung yang menjulang kelangit. Dibawah tempat ini  terentang karang yang curam sekali!” “Te mpat ini gersang sekali. Tiap hari yang kulihat hanya gunduk karang yang kering. Tak pernah kunikmati  rumput hijau dan bunga-bunga yang cantik. sumoay pernah mengatakan tantang tempat yang indah alamnya, entah masih berapa jauhkah te mpat itu dari sini?”

“Sudah dekat sekali ialah dibalik gunung ini  terdapat sebuah puncak lagi”

“Kapankah sumoay hendak pindah ke mana?” tanya Siu-la m pula,

“Akan kudirikan sebuah rumah kayu di atas puncak itu untuk te mpat tinggalmu!”

“Kapan sumoay hendak mulai?” dia m-dia m Siu-la m girang dalam hati.

“Sebenarnya segera juga akan kumula i. Tetapi mengingat gerak gerikmu mas ih belum seperti biasa, aku tak sampai hati meninggalkanmu,” Hian Song menghela napas.

Siu-la m tertawa, “Silahkan sumoay mula i mengerjakan agar kita lekas pindah kesana.”

sejenak merenung, Hian Song mengiakkan. Dan supaya jangan menimbulkan kecurigaan, Siu-la m tak mau mendesaknya lagi.

setelah menyediakan ma kanan disa mping Siu-la m, dara itu menya mbar golok dan melangkah keluar.

setelah dara itu pergi, diam diam Siu- lam kerahkan tenaganya. Dengan sekuat kuatnya is meronta. Ah….tali rantai itu kuat sekali. sekalipun sudah mengerahkan seluruh tenaganya, namun Siu- lam tak berhasil me mutuskannya.

Ia menghela napas panjang la lu mulai mengerahkan tenaga lagi. setelah merasa penuh, ia mulai meronta lagi sekuat kuatnya. Ia yakin tentu mampu me mutuskan. Tapi hasilnya tetap gagal. “Hai, apakah  tenaga  dalamku  masih  belum  pulih  atau me mang rantai ini yang luar biasa?” dia m-dia m ia terkejut.

Dia mat amatinya rantai itu. Besarnya hanya seperti jari kelingking, samar sa mar rantai itu seperti me mancar kan sinar emas warnanya. Tak tahu ia, dari bahan apakah rantai itu dibuatnya.

Masih dicobanya lagi untuk me mutuskan rantai itu. Tapi sampai beberapa kali, tetap belum berhasil juga.

Tengah ia berusaha untuk mengerahkan tenaga, tiba tiba muncullah seorang le laki aneh di mulut karang. Dikata aneh karena wajahnya pucat seperti mayat. Pakaian hitam, menyanggul sebatang pedang dipunggung. Orang itu tegak di mulut karang.

“Siapakah kau!” tegur Siu- la m.

Rupanya orang itu tak  mendengar  teguran  Siu-la m  Ia me langkah masuk pelahan lahan.

Diam diam Siu- lam menge luh, “Menilik pakaian dan wajahnya yang seram, kemungkinan besar orang itu tentu seorang manus ia ganas. Dia tentu takkan melepaskan  aku. Ah, hari ini aku pasti binasa….”

sekalipun sadar bahwa ia tak dapat melawan na mun Siu- lam tetap diam diam kerahkan tenaganya dan bersiap siap. Dia tak mau mati sia-sia dan me mber i perlawanan sekuat tenaganya.

Orang aneh baju hitam itu perlahan lahan mengha mpiri kesudut dan duduk bersila, serunya, “Apakah engkau hendak bunuh diri atau hendak hidup?”

Dalam berkata kata, orang aneh itu me mandang keluar. Siu-la m pun mernanpang keluar. setelah tak me lihat barang sesuatu, ia baru bertanya, “Apakah engkau berkata kepadaku?” Orang aneh itu tertawa dingin, serunya, “Tidak dengan engkau, habis apakah aku bertanya pada diriku sendiri?”

Siu-la m batuk-batuk ke mudian “Kalau mau mati bagaimana kalau hidup bagaimana?”

Orang aneh itu tertawa dingin, “Mau mati  mudah  saja. Akan kujadikan engkau sasaran untuk latihanku ber main pedang. Mau hidup? Juga ga mpang. Engkau harus menjawab pertanyaanku dengan jujur!”

“Kedua kaki tanganku sedang terikat. Tak mungkin dapat me lawan. Jika sampai terbunuh begitu saja, bukankah akan penasaran….”

diam diam Siu-la m menimang.

Lalu ia menyahut, “Akan kudengar dulu  bagaimana pertanyaanmu, baru nanti kuputuskan aku harus mat i atau harus hidup?”

“Ringkas saja pertanyaanku ini,” kata si orang aneh, “tetapi sepatah saja engkau berani bohong, jangan harap hidup lagi.”

sahut Siu-la m, “Mati hidup  apa yang harus ditakutkan?

Tanyalah!”

“Apakah didalam cekung gunung ini terdapat seorang nona?”

“Bagaimana engkau tahu?” Siu-la m heran.

“Tetapi kulihatnya dan kulihat pakaiannya berada disini maka kusimpulkan dia tentu tinggal disini!”

“Kalau sudah tahu mengapa me nanyakan?” sahut Siu- la m. sepasang  mata  orang  aneh  itu  berkilat  kilat   menumpah

kearah  Siu-la m,  serunya  dingin,  “Jika  dalam  keadaan biasa,

biarpun nyawa mu rangkap sepuluh tentu akan a mblas dibawah pedangku!” “Mengapa hari ini engkau tak berani me mbunuhku?” tanya Siu-la m.

Orang aneh itu tertawa. “Mengapa tak berani? Karena aku tak suka melibat ceceran darah mengotori  cengkung  hingga me mua kkan pe mandangan” ia menje mput sebutir batu dan dile mparkan.

Melihat lontaran batu orang itu menghambur kearah ke dua belas jalan darahnya, Siu-la m terkejut. Tetapi apa daya, ia tak dapat berkutik kecuali ngangakan mulut dan menggigit  batu itu

Ia rasakan gigi dan gerahamnya hampir copot.  Diam diam ia terkejut atas tenaga orang itu

Kembali tiga butir batu melayang. Kali ini Siu-la m tak berdaya menghindar lagi. sebutir batu telah menimpa jalan darahnya. seketika tubuhnya kesemutan dan terkapar ditanah. Untung kesadaran pikirannya masih terang hanya tak dapat berkutik dan bicara.

setelah dapat, merubuhkan Siu-la m, orang itupun duduk bersemedhi diujung ruang cekung itu.

Haripun makin gelap dan cekung itupun makin gelita sekali. Tiba-tiba dari luar terdengar derap kaki yang ringan dan menyusul terdengar suara teriakan melengking, “Suheng, kupetikKan seikat bunga untukmu!”

Dan sesaat kemudian Hian Song pun me nerobos masuk. Bukan main kejut Siu- la m. Tetapi ia tak dapat berbuat apa apa karena tak dapat bicara. Hatinya gelisah bukan kepalang.

Hian-Song me lihat juga Siu- lam yang rebah berdiam diri ditanah.  Tiba  tiba  ia  menghe la  napas  panjang  dan mengha mpiri. Diletakkannya ikat bunga hutan itu disamping Siu-la m dan ditepuknya pelahan lahan tubuh pe muda itu, “Suko, apakah engkau tidur?” Dalam rebah tadi tanpa disengaja, siu-la m letakkan rantai pengikatnya diatas mukanya dan menutupi kedua mata. Dari celah-celah lubang rantai ia dapat mengikuti gerak gerik si dara. Tetapi sidara tak dapat melibat wajahnya dan menyangkanya tidur.

Orang aneh tadi tiba tiba berbangkit tanpa menge luarkan suara apa apa, ia sudah mengha mpir i dan berdiri di belakang Hian-song.

Siu-la m ma kin gelisah. Diam diam ia kerahkan tenaga dalam untuk me mbuka jalan darahnya yang tertutuk itu. Tetapi lantaran orang itu berat sekali sehingga ia tak mampu me mbuka ja lan darahnya itu.

Perlahan-lahan orang aneh itu ulurkan tangannya yang kurus kering seperti cakar, mencengkera m bahu Hian-song. semeutara Hian Song masih belum menyadari dan tetap berjongkok disa mping Siu- la m.

Keadaan Siu-la m saat itu benar benar seperti orang kebakaran. Darahnya tiba tiba menebar keras sehingga air mukanya merah pada m.

Melihat itu Hian Song ma lah tundukkan kepala dan berseru mesra, “Ai, engkau pulas sekali rupanya. Engkau tak tahu hatiku lebih menderita dari engkau….”

Belum selesai ia mengucap tiba-tiba bahunya kesemutan.

Jalan darahnya telah dicengkeram orang dengan kuat.

Dan sesaat itu terdengar suara orang tertawa dingin, “Siapakah orang itu? Mengapa kau begitu mesra kepadanya?”

Pengalaman yang penuh derita, telah menyebabkan Hian- Song cepat matang. Ia tak lekas gugup menghadapi bahaya. Diam diam ia kerahkan tenaga murni untuk siap lancarkan serangan balasan. Tetapi ia pura pura diam  saja  lalu menyahut dingin, “Siapakah engkau?”

“Aku yang bertanya kepadamu!” bentak Orang itu. “Sudah la makah engkau masuk tadi?” Hian Song simpangkan jawaban.

“Sudah setengah hari aku duduk disini! ”

“Kalau begitu, engkau tentu menutuk jalan darah suhengku itu!” kata Hian-song. Diam diam ia me maki dirinya  sendiri yang begitu tolol. Mengapa ia tak cepat menyadari keadaan Siu-la m.

Orang itu tertawa menge keh.”Hooo, dia suhengmu?”

Hian-Song rssakan jalan darahnya yang tercengkeram itu makin la ma se makin mengencang keras. Rupanya karena tahu dara itu me miliki tenaga dalam yang tinggi, si orang aneh kuatir.

Ia harus cari akal untuk menghilangkan kecurigaan orang itu ke mudian baru perlahan-lahan mencari peluang untuk turun tangan.

“Benar, dia me mang suhengku!” sahutnya.

“Apakah di dalam cekung ini hanya kalian berdua saja?” tanya orang aneh itu pula.

“Kecuali ta mbah engkau lagi, me mang sebelumnya hanya kami berdua,” jawab Hian-Song Tiba tiba orang aneh itu berganti dengan nada dingin, “Anak pere mpuan kalau bicara harus yang lembut. Atau apakah engkau menganggap pedangmu kurang tajam?”

“Caramu menyerang secara gelap. Bukanlah laku seorang ksatriya!” seru Hian song.

Orang aneh itu tertawa gelak-gelak, “Budak yang ber mulut tajam, jangan coba coba membuat panas hatiku….” ia agak gemetar la lu, “Siapa yang merantai suhengmu itu?”

Diam diam Hian Song menimang. Jika tak menghiraukan, ia kuatir orang itu akan curiga. Maka tenang-tenang saja ia menyahut, “Aku!” Karena kepalanya tak dapat berpaling dan tubuh tak dapat berkutik, ia tak dapat me lihat bagaimana wajah orang itu. Hanya dari nada suara yang bengis, ia duga orang itu tentu seorang ganas.

Rupanya orang itu merasa aneh. Beberapa saat  kemudian  ia berkata, “Engkau merantainya disini?”

“Ya” tiba tiba Hian Song geliatkan bahunya. Tetapi ternyata jari orang itu kuat sekali.

Bukan saja gagal menyentakkan, bahkan Hian Song rasakan bahunya ma kin kese mutan dan tenaganya lenyap.

“hooo, jangan coba-coba menyiasati aku. Berani meronta lagi, berarti engkau cari ma mpus «endiri!” terdengar pula orang itu berseru.

Hian-Song tahankan sakit dan menyahut angkuh, “Engkau mencengkeram jalan darahku secara gelap sekalipun  dapat me mbunuh, tapi aku tetap penataran!”

Orang aneh itu tertawa nyaring, “Sekali pun kulepaskan, engkaupun bukan tandinganku!”

“Lepaskan aku dan mar i kita adu kepandaian. Jika engkau menang, aku akan tunduk padamu!” sa mbut Hian  Song serempak.

“Minta di lepas, mudah saja. Tetapi kau harus bicara jujur. Aku tak mau mengguna kan cara paksaan padamu. Tetapi kalau engkau nanti kalah, engkau harus bersedia mela kukan tiga buah syaratku!”

Karena ingin lekas bebas, Hian Song segera  menyahut, “Jika benar-benar kau ma mpu mengalahkan aku dengan kesaktian, jangankan hanya tiga, sekalipun tiga puluh syarat, aku akan me lakukan!” “Jangan terburu-buru meluluskan dulu agar kau jangan menyesal di belakang. Akan kukatakan dulu ketiga syaratku itu agar engkau dapat me mpertimbangkan.”

“Katakanlah!” seru Hian song

“Yang pertama, engkau harus mengangkat aku gebagai guru!”

Hian Song yang sudah banyak pengala man tentang urusan dunia persilatan, cepat menghindari pertanyaan itu, “Katakanlah syarat kedua!”

“Bunuhlah suhengmu dengan segera!”

Hian Song tercengang, serunya, “Dan yang ketiga?” “Engkau  hatus  mengangkat sumpah berat untuk me matuhi

peraturan  dari perkumpulan  aga ma Yu  beng- kau. Peraturan

yang pertama, segala apa harus dipersembahkan de mi kepentingan guru. Apapun yang kusuruh, engkau tak boleh meno lak dan me mbangkang!”

Diam diam hati Hian Song me maki tetapi mulutnya bertanya, “Jika aku tak melulus kan?”

“Pun engkau terpaksa harus meluluskan. Nanti kuhapuskan pertandingan itu!” tukas si Orang aneh.

“Hm, lebih baik engkau bunuh aku saja!”

“Ho, tak semudah itu!” sahut siorang aneh, “tetap akan kupaksa engkau masuk dalam perkumpulan Yu beng kau itu dengan cara lain!”

“Tidak, aku  tak  mau masuk  kedalam  perkumpulan agama mu itu….”

“Tak seorang manusia didunia yang tahan mender ita siksaan dari Hun kin jo kut (urat ambyar, tulang meleset) yang hebat. Aku tak percaya engkau seorang manusia besi!” tukas orang aneh itu. Hian Song menggigil. Diam diam ia menimang. Jalan darahnya tertutuk dan Siu-la m rebah dengan tubuh terantai. Keduanya tak dapat berkutik. Jika ia berkeras kepala, hanya kebinasaan yang akan diterimanya. Lebih baik untuk sementara ia meluluskan syarat orang itu dan pelahan lahan mencari kese mpatan.

“Kecuali syarat yang kedua, aku dapat meluluskan se mua!” serunya
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Wanita iblis Jilid 41"

Post a Comment

close