Wanita iblis Jilid 39

Mode Malam
Jilid 39

NONA Baju Merah itu tertegun. Pada lain saat ia tertawa, “Ah, tak kira, sam sumoay yang sedingin es itu ternyata penuh dengan gelora perasaan….”

Bwee Hong swat hanya ganda tertawa tak menyahut.

Nona baju merah itu menyusun ke mba li ra mbutnya yang terurai  tak   karuan,   kemudian   berkata,   “Sumoay   selalu me megang megang  kata aku takkan bersangsi lagi.  Asal sudah mendapatkan barang barang peninggalan Lo Hian itu, tentu akan segera kubebaskan jalan darahnya dan tali pengikatnya!”.

“Setelah kalah, toa-suci tentu akan melapor pada Bengcu. Karena paham jalanan disini, paling banyak dalam waktu sejam, dia tentu akan datang. sekalipun engkau mendapatkan barang barang berharga itu, rasanya sukar untuk me miliki!”

sementara itu setelah mengusap air matanya,Hian Songpun mengha mpiri Siu-la m, bisiknya, “Suko, apakah luka mu berat?”

“Luka pada daging, tidaklah menjadi soal. Jangan kuatir, aku masih kuat bertahan!” sahut Siu- la m. Tiba-tiba Tek Cin menngaduh. Tubuhnya menggigil seperti orang mender ita pukulan. Kakinyapun terhuyung buyung mau roboh.

Bwee Hong-swat tertawa dingin, “Hm, luka itu sudah mulai bekerja. Coba saja rasakanlah jalan darah yang tersumbat dan darah yang macet jalannya….”

Tiba-tiba Ciok sam kong menyamber lengan Tek Cin. “Tek heng dimanakah yang sakit….” belum selesai, tiba-tiba jago tua she Ciok itu lepaskan cengkeramannya dan mundur dua langkah.

Tring…. terdengar pedang Cau Yan-hui tiba-tiba jatuh ketanah. serempak ketiga tokoh itu mengerang kesakitan. Mereka berguling guling ditanah. Tubuh mandi keringat, muka merah padam dan mena mpilkan kerut kesakitan yang luar biasa….

Nona baju merah kerutkan alis, me mandang Bwee Hong- swat, “Ah, sam sumoay apakah engkau me mber i mereka minum racun?”

Bwee Hong-swat hanya tertawa sinis.

sekonyong konyong Tek Cin menjerit keras lalu rubuh dan berguling guling  ketanah.  dengan  mata   yang  beriba-iba me mandang Bwee Hong-swat.

“Kiranya sam sumoay mas ih seganas dulu,” ke mbali sinona baju merah berkata.

“Ah, suci kelewat me muji,” sahut Bwee Hong-swat.

Menyusul Cau Yan-hui, Ciok sa m- kongpun rubuh dan berguling-guling ditanah. Mereka me mandang kearah Bwee Hong-swat dengan pandang me minta kasihan.

Tiba-tiba Bwee Hong-swat loncat menginja k dada Tek C in, serunya, “Bagaimana rasanya?” “Aku…. aku….” seketika Tek Cin rasakan uratnya yang tertutuk itu seperti digigiti ular. sakitnya bukan alang kepalang sehingga lidahnya kaku dan tak dapat melanjutkan katanya. Ia hanya anggukkan kepala.

Bwee Hong swat tertawa tawar. Dengan dua buah jari ia menutuk dua  buah  jalan  darah  tubuh  tokoh  itu.  Lalu mena mpar punggungnya.

seketika Tek Cin rasakan tubuhnya yang kesakitan itu, agak longgar dan sakitnyapun henti. Cepat ia loncat bangun.

Kemudian Bwee Hong swatpun bergantian me mbuka jalan darah Cau Yan-hui Ciok sam kong, serunya, “Kali ini hanya suruh kalian rasakan betapa rasanya tutukanku itu. Kecuali kalian benar-benar sedia mati, barulah kalian tahan akan kesakitan itu….”

sejenak darah baju putih itu me mandang Ciok sam- kong dan Cau Yan hui, lalu berkata pula, “Jika rasa sakit itu merangsang, tentu jadi lebih hebat dari yang tadi. Kalian bakal menrasakan kesakitan yang lebih ngeri dari yang tadi!”

Ketiga tokoh itu menggigil dan tundukkan kepala, Jelas bahwa tokoh yang biasanya angkuh itu, saat itu benar benar tunduk kepada Bwee Hong swat.

“Adik yang baik, mar ilah kita pergi,” seru si Baju Merah.

Bwee Hong swat kerutkan alis, sahutnya, “Merdu benar panggilan itu. Apakah tidak terasa gatal dihati….”

Tiba tiba Siu- lam menyeletuk, “Nona Bwe, barang peninggalan Lo Hian itu besar sekali pengaruhnya atas keselamatan dunia persilatan. Jika sampai jatuh ketangan orang yang tak bertanggung jawab, alangkah bahaya….”

“Tutup mulut!” tiba t iba nona baju merah itu me mbentak seraya kebutkan hud tim arah punggung Siu- la m. Bret….baju dipunggung pe muda itu ro mpa l dan darah mengucur deras…. siu-la m menengadahkan kepala keatas dan tertawa gelak gelak. “Dan de mi kesela matan dunia persilatan, Pui Siu-la m bersedia mati. jangankan hanya luka yang tak berarti ini, sekalipun mati Pui Siu- lam tak takut!”

suara yang dilantangkan pe muda itu penuh dengan nada keperwiraan sehingga Ciok sam kong, Cau Yan Hui dan Tek Cin tersipu sipu ma lu.

sedangkan saat itu, meluaplah a marah Hian Song. sa mbil putar pedang, ia terus menyerang nona baju merah itu.

sambil kebutkan hud-tim me nangkis pedang, nona baju merah itu berseru sinis, “Apakah kau menghendaki supaya dia lekas mati?”

Beberapa patah kata yang sederhana itu ternyata membuat Hian Song tak berdaya. Cepat dara itu menyurut mundur lagi.

Nona baju merah itu mengebut punggung Siu- lam lagi dan me mbentaknya, “Aku tak percaya kau berotot besi, bertubuh baja.”

Terdengar suara kebutan beberapa kali disusul dengan suara baju robek. Lengan dan bahu baju Siu- lam hancur, darahnya mengucur derai.

sepasang mata Bwee Hong swat me mancar sinar kilat tajam. Pipinya yaug putihpun me merah delima. Tubuhnya menggigil. suatu petanda bahwa ia sudah tak menguasai getaran hatinya lagi.

Tetapi Hian Song jauh lebih agresip. Dara itu tak peduli apa apa lagi, terus lagi meme luk Siu-la m. Air matanya membanjir. Kemudian berpaling kepada nona baju merah itu, “Bolehkah aku mewakilinya?”

Nona baju merah itu tertawa mengikik, “Hanya luka di badan, tak sampai merenggut jiwa nya. Mengapa kau begitu bingung? Lekas menyingkir lah!” Tetapi Hian Song me mbantah, “Bahu dan punggungnya sudah pecah pecah. Lukanya  cukup  berat.  Bagaimana  dia ma mpu bertahan lagi. Biarlah aku saja yang mewakilimu….”

Nona baju merah itu tertawa dingin, “Jika kau masih menginginkan dia hidup beberapa hari. cepatlah menyingkir!”

Kata kata itu benar-benar ampuh sekali. setiap kali sinona baju merah berkata begitu. Hian Song tentu tunduk. Begitu pula saat itu. Hian Song lepaskan pelukannya dan mundur.

Kembali nona baju merah itu mendera Siu ta m.  Kali  ini yang ditampar kebut adalah kaki nya yang kiri. Celananya hancur, pahanya pecah.

Nona baju merah itu hentikan kebutnya dan tertawa, “Oh, sam sumoay hendak me mintakan penga mpunan untuknya”.

“Jika dia sampa i mati, engkau harus bertanggung jawab. Akan kusuruh engkau merasakan penderitaan dari ja lan darah yang tertutup tiga hari tiga mala m engkau tentu menjerit jerit seperti babi dsembe lih. setelah puas mendengar erang kesakitan sa mpai tiga hari, barulah kuhabisi jiwa mu….”

“jangan kuatir, dia takkan mati….” sinona baju merah tertawa nyaring, “Barang peninggalan Lo Hian ditukar dengan seorang kakasih, bukankah suatu tukar yang adil?”

Bwee Hong-swat diam saja- Hanya sepasang matanya menatap tajam tajam kearah nona baju merah itu. sinar matanya mulai me mancarkan hawa pe mbunuhan….

Rupanya sinona baju merah tahu akan kemarahun Bwee Hong swat. Cepat ia berseru nyaring,  “jangan dianggap samoay dapat menolong atau hendak mencelaka i diriku. sekali engkau luput menyerangku, segera akan kujadikan dia….”

Bwee Hong swat peja mkan mata, berseru, “Aku kuatir engkau tak mau pegang janji. setelah mendapat peninggalan Lo Hian, tetap tak mau melepaskannya!” “Apakah aku perlu mengangkat sumpah?” tanya sinona baju merah.

Siu-la m yang sela ma itu pejamkan mata tiba tiba me mbuka mata dan menatap kearah Bwee Hong swat, “Perempuan ini licik sekali, tak dapat dipercaya. Apalagi peninggalan Lo Hian itu penting sekali bagi dunia persilatan. Hanya karena diriku seorang dan menyerah padanya, tentu berakibat suatu pertumpahan darah besar didunia persilatan. sekalipun dapat meno long diriku, tetapi akupun merasa berdosa dan lebih baik mati….”

sekonyong konyong terdengar angin menderu  dahsyat sekali sehingga kata-kata Siu-la m terputus.

sambil me mandang keangkasa, Bwee Hong-swat berkata seorang diri, “Ah, kembali mala m tiba. Hari ini sudah tanggal lima belas bulan delapan.”

Tiba-tiba Siu- lam teringat sesuatu. segera memanggil bisik bisik kepada Hian Song.

“Apakah engkau me manggilku?” Hian-Song mengusap air matanya.

siu-la m menghe la napas, “Dikala Tan lo-cianpwe menutup mata, beliau telah me mesan kita sebuah hal. Apakah sumoay lupa?”

Hian Song mengangguk, “Benar, benar.”

“Eh, kasak kusuk apa kalian ini?” tiba tiba sinona baju merah menegur.

Angin prahara itu ma kin la ma makin keras. Walaupun sudah banyak pengalaman, tetapi Ciok sam kong, Tek Cin dan Cau Yan-hui belum pernah mendengar deru suara se maca m itu. Mau tak mau mereka terkejut juga.

setelah me masang telinga beberapa kejap, sinona baju merah berkata bisik, “Aku kagum sekali atas kepandaian sam sumoay. Tentu sumoay tahu dari mana arah datangnya angin besar ini.”

Dengan sikap dingin, Bwee Hong-swat menatap nona baju merah itu, sahutnya, “Tak  apalah jika kuberi tahukan kepadamu. Karena sudah dapat mene mukan telaga darah, engkau tentu sudah pernah me lihat peta Telaga darah itu.”

“Peta penuh dengan garis-garis lingkaran yang ruwet sekali….”

“Engkau tentu tak mengerti. Tetapi tulisan dalam peta itu engkau tentu ingat…. “

sinona baju merah segera menghafal dengan suara pelahan, “Tiga mahluk ganas melindungi pusaka,  lima  binatang beracun itu penjaga obat, angin prahara api panas, berbahaya penuh keajaiban….”

“Angin itulah yang dimaksud dalam tulisan tersebut….” Bwee Hong swat menukas. Ia kerutkan alis dan me mandang sekalian orang lalu berkata pula, “Angin prahara itu timbul setiap tanggal lima belas ma la m. Dan berlangsung selama tujuh hari. Jika angin itu menghe mbus liang liang guha, akan menimbulkan hawa dingin….jika me lalui aliran lahar, akan menimbulkan hawa panas yang hebat. Pada saat angin prahara itu timbul, seluruh Telaga darah akan diliputi oleh kebinasaan!”

Ciok sam- kong menghela napas, “Hal semaca m ini benar benar belum pernah kudengar!”

Bwee Hong-swat tertawa dingin, “jika keluar dari ruang ini, seluruh tempat penuh dengan bahaya maut. Kecuali aku, tiada seorangpun yang dapat me lindungi kesela matan dirinya!”

Tiba-tiba terdengar suitan tajam menyusup diantara deru prahara itu. serentak berobahlah wajah sinona baju merah, “Suhu datang!” Bwee Hong swat hanya tertawa tawar, “Benar, suhu datang bersama banyak anak buahnya!”

sinona baju merah yang cantik tetapi ganas itu, tiba-tiba berobah ketakutan sikapnya.

“jika kita sa mpai tertangkap suhu, tentu akan menerima hukuman berat. Dan yang paling mengerikan, wajah kita akun berobah menjadi seorang nenek yang buruk….” ia menghela napas. Tiba-tiba ia teringat sesuatu serunya tegang. “Sumoay, seharusnya engkau sudah harus makan obat penjaga wajah, tetapi mengapa engkau mas ih tetap cantik?”

“Antara  mati  dan  rupa  jelek,  rupanya   engkau   lebih me mberatkan yang tersebut belakangan,” sahut Bwee Hong- swat dingin.

“Ah, jika wajah yang cantik dalam waktu singkat tiba tiba berobah tua dan jelek, dan lebih baik mati saja,” jawab sinona baju merah.

suitan tajam itu makin la ma makin terdengar jelas. Tetapi anehnya suitan itu tetap berhenti pada jarak tertentu. Tidak dapat mendekati ka mar rahasia itu.

Kata Bwee Hong-swat kepada sinona baju merah- “Mereka terhalang oleh angin prahara. Untuk beberapa waktu mereka tentu tak dapat datang kesini…. tetapi jangan buru-buru bergirang dulu. Walaupun angin prahara ini akan berlangsung selama tujuh hari, tetapi pada setiap saat yang tertentu, akan berhenti dulu. saat berhenti itu kira-kira berlangsung sepenanak nasi la manya. Begitu prahara berhenti, mereka tentu akan masuk ke mari!”

Walaupun takut tetapi nona baju merah itu berusaha untuk menenangkan diri. Katanya “Jika suhu benar datang kesini. akan celakapun bukan hanya aku seorang….” ia melirik kearah Bwee Hong swat. Tetapi Bwee Hong swat tampak acuh tak acuh. Tiba-tiba Ciok sam kong me langkah mengha mpir i Bwee Hong-swat, “Nona….”

“Apa.” sahut Bwee Hong-swat dingin.

“Seorang lelaki lebih baik dibunuh dari pada dihina,” kata Ciok sam- kong, “aku dan kawan kawan adalah tokoh tokoh persilatan yang ternama. Karena nona telah berhasil menutuk kami, kelak kami tentu akan menjadi buah tertawaan orang. Dengan begitu kami tiada muka lagi muncul didunia persilatan!”

“Jika engkau takut ditertawakan orang, sekarang sebelum luka mu ka mbuh, engkau masih punya tenaga  untuk bunuh diri. silahkan, aku takkan mencegahmu!” sahut Bwee Hong swat dengan nada dingin.

Diam diam Ciok sa m- kong me ma ki dara yang berhati sedingin itu. Ia batuk-batuk, katanya, “Maksud kami, hendak mohon nona….”

Bwee Hong swat mendengus, “Hm, tak usah bilang! Bukankah kalian  kepingin mendapat bagian dari barang- barang Lo Hian itu?”

“Agar kelak dalam dunia persilatan, kami masih me mpunyai alasan” kata Ciok sa m-kong.

“Ah, kuasa lebih baik kalian bunuh diri sajalah agar habis segala urusan,” kata Bwee Hong-swat, “Sekalipun dima ki orang, kalian tentu tak mendengar!”

Ciok sam kong terbeliak. Perlahan lahan ia menyurut mundur dua langkah dengan wajah ke ma lu ma luan dan kepala menunduk.

Wajah Bwee Hong-swat yang sedingin es itu telah menghancur kan rencana Ciok sam kong yang telah dipersiapkannya. saat itu penerangan dalam kamar makin redup  dan akhirnya padam sa ma sekali sehingga gelap gulita. sementara suitan tajam itu ma kin mengiang keras ditelinga.

Dan angin prahara itupnn agaknya mulai reda. Tiba-tiba sinona baju merah itu mencengkeram siku lengan Siu-la m dan me mijatnya.

siu-la m kerahkan tenaga tetapi tetap tak kuat menahan darahnya yang menyerang balik  kaarah jantungnya. Ia mengerang pelahan dan mundur dua langkah.

“Sam sumoay, selagi suhu belum datang, marilah kita lekas tinggalkan tempat ini! ” seru nona baju merah itu.

Bwee Hong swat tertegun sejenak, sahutnya “Baiklah, akan aku bawa engkau kesana!”

Siu-la m hendak me ncegah, tetapi karena lengannya dicengkera m, ia tak dapat me mbuka suara.

Berpaling kepada Ciok sam kong, berkatalah Bwee Hong swat, “Kuberi mu kese mpatan me milih sekali lagi. Jika ka mu yakin dapat menahan penderitaan dan tak takut  mati, silahkan. Mau tetap berada di kamar ini atau mau pergi, Aku takkan mer intangimu. Tetapi jika ka mu merasa sanggup menahan penderitaan, ikutlah aku.”

Tanpa menunggu jawaban lagi, dara itu terus ayunkan langkah.

Kat Wi segera mengikutinya. setelah saling berbisik,  Tek Cin dan Ciok sam- kong pun ikut juga. sedang Cau Yan hui dengan menghe la napas mengikuti di belakang sendiri. Tetapi selangkah, tiba-tiba telinganya terdengar ngiang suara yang amat halus, “Cau toyu, aku Ceng Hun telah dikuasai oleh gadis siluman itu. Untung sebelumnya aku sudah siap dan tak sempat terkena obat bius. Tetapi aku sudah berjanji kepadanya. sebelum me ndapat peninggalan Lo Hian takkan me musuhinya. Dan janji itu diperkuat dengan sumpah yang berat sehingga sukar untuk mengingkarinya….”

Cau Yan-hui berpaling. Ta mpak seorang lelaki yang rambutnya kusut masai dan pakaian compang camping tengah me mandangnya. Pada saat ia hendak me mbuka  mulut menegur, tiba tiba terdengar pula ngiang suara halus itu di telinganya, “Rambut dan jenggotku telah dipapas habis oleh siluman itu sehingga me njadi begini maca m. soal ini  harap Cau toyu menjaga rahasia.”

Cau Yan-hui batuk-batuk tanda mengerti.

“Hayo engkau yang jalan di muka!” tiba-tiba si nona berbaju merah berseru kepada Hian Song.

Demi kesela matan Siu-la m, terpaksa Hian-Song menekan segala perasaannya dan menuruti perintah nona baju merah itu.

saat itu deru angin prahara ma kin le mah tetapi suitan itu makin jelas dan dekat. seperti sudah tiba di ma ka ka mar.

Tiba tiba si nona baju merah lepaskan cengkera mannya pada lengan  Siu-la m  dan  menghe la  napas  perlahan  lalu me mbisiki pe muda itu, “Ah, selama perjalanan ini terpaksa menyakit i engkau. Bukan atas kemauanku tetapi karena terdesak oleh keadaan yang me maksa.”

Siu-la m hanya menghela napas panjang.

Terdengarlah suitan nyaring yang memecah angkasa dan gema suitan itu seperti menyambar datang. Bwee Hong swat berhenti lalu menghanta m seketika terdengarlah suara jeritan ngeri….

Ciok sam kong terkejut. Ia membisiki Tek Cin, “Tek heng, pukulan budak pere mpuan itu luar biasa dahsyatnya.”

serempak pada saat itu belasan tubuh menerobos mas uk ke dalam guha. sekalipun guha itu gelap tetapi ternyata pendatang pendatang itu me mpunyai pandangan mata yang tajam sekali. Dalam sekejap saja mereka sudah dapat melihat keadaan di sekeliling.

Rombongan Bwee Hong swat berhenti dan bersiap siap. Begitu pula dengan belasan orang yang muncul itu. Mereka pun berhenti.

Oleh karena Bwee Hong-swat berpakaian putih maka pertama tama, dialah yang menjadi pusat perhatian dari pendatang pendatang itu.

Redanya angin prahara, disusul pula oleh lenyapnya suara suitan nyaring tadi.

Kini kedua belah pihak saling berhadapan dan bersiap-siap.

Tiba-tiba menyala seberkas api yang cukup  menerangi keadaan seluas beberapa tomba k.

Kat Hong segera mengha mpiri Bwee Hong swat, “Nona, apakah kita akan bertempur?”

Bwee Hong swat berpaling. Ketika melihat mata anak muda itu me mancarkan sinar kasih, dara itu tersipu sipu.

Tiba tiba terdengar derap langkah yang halus r ingan dan pada lain saat muncullah seorang wanita cantik dengan pakaian sutera tipis.

Pelahan, lahan wanita cantik itu me langkah me ngha mpir i. “Ketua Beng-gak,” serentak berteriaklah Kat Hui dengan

kaget. Dia masih ingat akan peristiwa pertempuran di Beng  gak beberapa waktu berselang. Maka begitu melihat wanita itu, cepat ia dapat mengenalinya.

Bwee Hong-swat mena mpar dan pada mlah se mua penerangan dalam ka mar itu. Dan Kat Hong pun menyerempaki dengan sebuah pukulan Bu ing sin-kun. segera terdengar suara erang tertahan. Jelas seseorang telah termakan pukulan tanpa suara itu. Tring, tring, terdengar dering ge mer incing senjata dilolos. Kedua belah pihak telah siap dengan senjata masing masing.

“Tidak boleh bergerak se mau sendiri!” tiba-tiba terdengar bentakan nyaring lalu disusul dengan suara tertawa mengikik nyaring sehingga suasana yang tegang meregang itu berobah agak tenang.

Kembali suara melengking itu me lantang lagi, “Swat-ji, karena   ternyata   engkau   masih   hidup,  engkau   malah me mpero leh keuntungan yang besar sekali karena dapat masuk kedalam Telaga darah sini!”

Bwee Hong swat menghela napas perlahan sahutnya, “Hubungan antara guru dan murid,  kini sudah putus. danganlah engkau coba menipu ku lagi.”

Tertawalah ketua Beng-gak itu dengan  nada  yang  mengge mer incing, “Eh, hanya dalam waktu yang singkat saja, sekalipun engkau berhasil mene mukan peninggalan Lo Hian, tetapi pun belum tentu dapat me maka mkannya. Aku tak percaya engkau sungguh berani me mbangkang perintah….”

Tiba-tiba ia berganti nada bengis-bengis dingin.” “Masih ingatkah engkau bagaima na orang yang berani me mbantah perintahku?”

“Hai,” Bwee Hoogswat mendengus, ” sekali pun engkau telah me lepas budi me mberi pelajaran ilmu silat kepadaku, tapi dia sudah engkau paksa mencebur kedalam gunung berapi dan sudah mati terbakar hangus….”

“Ngaco!” bentak ketua Beng-gak, “bukankah  saat ini engkau masih hidup?”

“Tetapi Bwee Hong-swat yang hidup saat saat ini,  bukau lagi anak mur id Beng gak….”

“Bagus!” ketua Beng-gak itu tertawa dingin, “jadi engkau benar benar berani me mbantah perintahku?” Bwee Hong swat balas tertawa dingin, “Mengapa tak  berani? Terus terang, bukan mela inkan sudah lepas dari lingkungan  Beng  gak,  bahkan  akupun  me mpunyai  tugas me mbas mi….”

Tiba tiba ia berhenti dan merogoh  kedalam bajunya. Dikeluarkaanya sepucuk sa mpul lalu dilontarkan kepada bekas gurunya itu, “Bacalah lebih dulu!”

Ketua Beng-gak menyambuti sa mpul itu dan merobeknya. Habis me mbaca seketika berubahlah wajahnya. surat  itu dirobeknya berkeping-keping dan dile mpar ke tanah.

Bwee Hong swat tertawa dingin “Apa guna engkau robek robek? setiap patah huruf dalam surat itu sudah terukir dalam sanubariku.”

Ketua Beng-gak me mbentaknya nyaring, “Apakah dia masih hidup? Lekas bawa aku….” tiba-tiba ia berhenti.

Bwee Hong-swat menengadah dan tertawa nyaring, “Mengapa engkau takut? H m, apakah engkau sungguh- sungguh hendak mene muinya?”

Tiba tiba angin prahara menderu lagi. Me mbaur deru yang dahsyat, lebih hebat dari yang tadi.

Ketua Beng gak merenung sa mpai la ma. Tiba-tiba ia berpaling dan berseru dingin, “Bawalah aku kepadanya!”

“Me mbawa mu mene mui suhu, mudah saja. Tetapi ada dua syarat yang harus engkau penuhi. Kalau tidak, lebih baik kita selesaikan saja di-s ini. dengan harap aku mau me mbawa mu kesana!”

“Hm, engkau berani menuntut syarat kepadaku?” seru ketua Beng-gak.

“Tiga puluh tahun la manya musim beredar masa berganti.

Apakah engkau mas ih meno lak?” Ketua Beng-gak mendengus, “Hm, baiklah. Pada suatu hari pasti akan kuberimu kepuluh enam rupa hukuman itu. setelah itu baru kucincang tubuhmu….”

“Nah, sebutkanlah syaratmu itu!” katanya sesaat kemudian. sahut Bwee Hong swat, “Siapa yang akan terbunuh, saat ini

belum dapat dipastikan….”

Tiba tiba si nona baju biru  cepat cepat melangkah kesamping ketua Beng gak dan mengucapkan beberapa patah kata dengan berbisik.

Tampak ketua Beng-gak itu mengangguk. Lalu tertawa, serunya, “Swat jie, kemarilah. Hendak kuuji sampa i dimana kepandaianmu sekarang ini. Jika kau bersedia, me mang terbukti kalau kau pernah berte mu dengannya!”

sambil bersiap siap, Bwee Hong swat melangkah  maju,  “Jika tidak terbukti, kau tentu tak puas. silahkan mencoba apakah kepandaian-ku sekarang sudah maju pesat!”

si nona baju biru me mang sudah siap. Begitu kaki Bwee Hong swat belum berdiri tegak, diam-dia m dia sudah lepaskan tutukan Iwekang yang cukup me mbuat orang binasa….

Tapi Bwee Hong swat pun sudah siap. Ia tebarkan telapak tangannya,mengha mburkan Iwekang untuk menghalau tutukan jari itu.

Ketika dua aliran Iwekang itu saling berbentur, sinona baju biru tersurut mundur selangkah. Bwee Hong swat pun bergoyang goyang dua kali.

Dalam adu Iwekang itu jelas bahwa kepandaian sinona baju biru jauh sekali dengan Bwee kong swat.

Ketua Beng gak tertawa mengekeh,  “Swat-jie hanya dengan toa sucimu saja kau belum ma mpu, mau melawan suhumu?” “Asal kau dapat me mbawa aku ketempat penyimpanan barang barang peninggalan Lo Hian jasamu dapat menebus kedosaannmu,” katanya pula.

“Diantara kita sudah tiada hubungan apa-apa lagi! Ikatan guru dan murid sudah putus. saat ini kedudukan kita adalah sederajat!” sahut Bwee Hong swat,

Dalam kepekatan mala m tak dapat dilihat jelas bagaimana perobahan air muka ketua Beng gak saat itu, Hanya dari sepasang matanya, memancar lah sinar api yang berkilat kilat tajam sekali tak sa ma hendak me mbakar Bwee Hong swat….

Bwee Hong swat tertawa dingin. Ujarnya, “Tak perlu kau sedih dan marah. Dalam kehidupanmu sekarang ini, entah sudah berapa ratus jiwa yang melayang.  Hm,  bahkan tarhadap guru yang telah melepas budi besar kepada mu. kau pun sa mpai hati juga untuk mencela kainya. Jika sudah berani berbuat begitu, rasanya tak perlu kau bersedih lagi….”

Ketua Beng gak tak dapat menahan ke marahannya. serentak ia ayunkan tangan menghanta m.

Tetapi Bwee Hong swat sudah siap. Dengan gesit ia loncat mundur sampa i setomba k dan berpaling kepada Ciok Sam kong, “Lekas siapkan senjatamu menghadapi musuh. setiap saat akan timbul ke mungkinan berbahaya. Jika bertempur hindarkan sedapat mungkin pertumpahan darah. Harus diketahui banwa anak buah Beng-ga k itu telah diminumi obat bius sehingga sudah cukup menderita!”

“Budak hina, engkau cari mati!” seru wanita Beng  gak sambil loncat menyerang lagi-

Kat Hong yang bersembunyi di balik dinding batu, tiba-tiba gerakan tangannya melepas pukulan Bu ing-sin- kun….

sesuai dengan nama Bu ing sin-kun atau pukulan sakti tanpa bayangan, pukulan itu sama sekali tiada mengeluarkan desis suara. sekalipun katua Beng-ga k itu berkepandaian tinggi, tetapi terhadap pukulan yang tiada bersuara dan dilepas secara tak terduga-duga, ia tak mampu menjaga. seketika dadanya terasa dilanda serangkum gelo mbang tenaga dahsyat.

seumur hidup jarang sekali wanita Beng-gak itu mendapat serangan gelap dari orang. Ia terdampar kebelakang. selekas menginjak tanah, cepat ia ayunkan tangan kearah Kat Hong.

Tetapi Kat Hong lincah sekali. sehabis lontarkan pukulan Bu-ing sin- kun iapun cepat loncat menghindar. Pukulan ketua Beng-gak menyasar kedinding karang, menimbulkan deru angin yang hebat dan mental ke mba li.

“Lekas nyalakan obor!” teriak sinona baju biru.

Lima batang obor segera menyala dan saat itu sekeliling tempat terang benderang Bwee Hong swat dan  rombongannya ternyata berada pada jarak tiga to mbak.

sambil melo los pedang sinona baju biru me mberi perintah kepada anak buah Beng gak supaya mengejar.

Belasan orang segera lari mengejar. Tiba tiba ketua Beng- gak melesat mendahului mereka.

saat  itu  Bwee  Hong-swat  dan  rombangaannya  sudah me mbiluk kesebuah tikungan. Pada saat ketua Beng-gak tiba ditikungan, sekonyong konyong dia disambut dengan belasan ujung senjata.

Tetapi ketua Beng gak itu cukup waspada. Tahu-tahu ia sudah loncat mundur. serangan senjata itupun ditarik ke mba li.

“Harap suhu tenangkan ke marahan,” kata sinona baju biru bepada ketua Beng-gak. “Sam sumoay licin sekali. Dia sengaja mengatur barisan pendam untuk me mbangkitkan a marah dan mengacaukan pikiran suhu…. “

Terdengar jeritan ngeri. sebutir kepala manusia me layang disusul rubuhnya sesosok tubuh Kiranya ketika sinona baju biru anak buah Beng-gak tiba ditikungan, karena tak menduga, telah disambut dengan tusukan sebatang pedang. seorang anak buah Beng gak telah kehilangan kepalanya.

“Mundur!” teriak sinona baju biru. Tiba tiba dari tikungan terdengar suara Bwee Hong swat, “Ketua Beng  gak, mengingat engkau pernah me lepas budi kepadaku, dengan tandas hendak kuberitahukan kepadamu sebuah hal. Engkau me mpunyai empat orang mur id tetapi sekarang yang berada disa mpingmu tinggal berapa murid? Murid pertama telah engkau tekan supaya bunuh diri. selain akupun masih ada seorang mur id lagi yang me mberontak kepadamu….”

“Bukankah engkau juga berkhianat?” teriak ketua Beng gak dengan murka.

“Tentu berbeda.” sahut Bwee Hong swat, jelasnya. “Bwee Hong swat muridmu itu telah, engkau desak supaya mencebur kedalam kawah gunung berapi. Bahwa aku tak mati, itulah karena takdirku belum mat i. Tetapi dengan tindakanmu itu, hubungan kita sebagai guru dan murid sudah putus. Bwee Hong-swat sekarang, sudah tiada hubungan sama sekali dengan engkau….”

Ia berhenti sejenak lalu me lanjutkan lagi. “Ketahuilah bahwa ditakdirkan untuk melaksanakan perintah Lo Hian guna me mbuat muridnya yang berkhianat. Hm, dengan setelah engkau robek robek surat peninggalan Lo Hian itu sudah selesai urusannya. Tidak! soal itu sudah kuperhitungkan lebih dulu. Maka kabuat lagi sebuah turunan. Pada Waktunya akan kubeber surat warisan itu dihadapan seluruh kaum persilatan….”

“Budak bernyali besar, asal engkau kutangkap tentu akan kucincang tubuhmu!” teriak wanita  Beng-gak  itu  dengan mur ka. Namun Bwee Hong-swat hanya tertawa masam, sahutnya. “Jangan mengumbar keganasan dulu. orang yang berada di sampingmu dan mulutnya bermanis menyebut suhu pada mu itu, apakah kau kira benar-benar setia padamu?  Begitu mendapat kese mpatan, diapun akan me mberontak. Barang siapa me mercik air didulang pasti akan terpercik mukanya. Dikuatirkan, tindakanku terhadap Lo Hian itu akan menimpa li dirimu juga!”

Bwee Hong-swat me lantangkan kata-katanya itu sepatah demi sepatah dengan nada yang tandas hingga ketua Beng gak tanpa disadari telah berpaling ke arah si nona baju biru.

si nona baju biru terkesiap gentar. Dan gemetarlah tubuhnya, “Suhu, harap dengan percaya ocehan sam sumoay yang hendak menjaiankan siasat adu do mba itu!”

Ketua Beng-gak yang namanya begitu mengge mparkan seluruh dunia persilatan saat itu terdengar menghela napas panjang.

“Tetapi kemungkinan kata katanya itu me mang benar,” tiba-tiba ketua Beng gak itu mengigau.

si nona baju biru cepat le mparkan pedang dan serta merta berlutut di tanah, “Suhu, murid telah menerima budi besar. Dalam kehidupan sekarang ini, tidak nanti mur id me mpunyai hati bercabang….”

“Bangunlah!” seru wanita Beng gak itu seraya ulurkan tangan seperti hendak mengangkat.

si nona baju birupun ulurkan tangan. seru nya, “Suhu tentulah sudah jelas….” belum selesai ia berkata, tiba tiba siku lengannya terasa mengencang, jalan darahnya telah di cengkeram suhunya.

wanita Beng gak itu tertawa mengekoh, “Kwan-ji, benarkah engkau tidak mengandung hati bercabang?” Dahi nona itu bercucuran keringat dan menjawablah ia dengan suara gemetar, “Murid, murid…. dalam kehidupan sekarang tak akan meningga lkan suhu!”

sepasang mata dari wanita Beng gak itu berkilat-kilat menyapu kepada ro mbo ngan anak buah para tokoh-tokoh persilatan ternama.

“orang orang itu tentulah benci sekali kepadaku. Tetapi mengapa mere ka tak mau menghianatiku?” katanya.

“Karena mereka telah terminum obat pelenyap kesadaran pikiran sehingga kehilangan daya ingatannya lagi….”

“Jika dulu-dulu kuperlakukan Bwee Hong-swat seperti mereka, tentulah dia takkan me mpunyai kese mpatan untuk me mberontak!” kata wanita Beng-gak itu.

Menggigillah hati si nona baju biru, ujarnya setengah menatap, “Suhu. suhu, bukankah wajah mur id sudah dikuasai suhu? Apakah suhu masih belum merasa tenang….”

“Hati orang sukar diduga. setiap saat dapat berobah. sekalipun dia sudah dirantai dan disiksa, tetap masih ada setitik hati untuk berontak. satu-satunya jalan ialah menghilangkan kesadaran pikirannya. Contoh yang dilakukan kedua saudara seperguruanmu itu, tak mau terjadi lagi kepadamu….”

Dari ujung tikungan terdengarlah suara tertawa ejekan dari Bwee Hong swat, serunya, “Tong Bun kwan, sekali engkau minum obat dari gurumu, engkau tentu akan menjadi manusia boneka. Jika engkau menjadi seperti anak buah Beng gak itu, ah rasanya lebih baik mati dari pada hidup menanggung aib sengsara!”

Ucapan Bwee Hong swat bagaikan sembilu yang menus uk ulu hati Tong Bun kwan atau si nona baju biru. seketika timbullah nafsunya untuk me lawan. sebelum ajal terpentang maut! Tetapi ketika ia mengangkat  muka, matanya segera tertumbuk akan sepasang mata suhunya yang luar biasa ganasnya. Nafsu perlawanannya padam seketika.

Belasan tahun hidup di bawah asuhan sang guru telah menjadikan suatu kesan dalam sanubari si nona baju biru atau Tong Bun kwan.

Betapa dendam ke marahannya, begitu tertumbuk pandangannya dongan gurunya, seketika itu juga menggigillah hatinya.

“Pengkhianat yang -bernyali besar! sekali engkau dapat kutangkap, tentu akan kuberimu  hukuman yang paling ngeri….” terdengar wanita Beng gak tertawa seram.

Dari balik tikungan terdengar penyahutan Bwee Hong swat, “Sebagai murid Lo Hian, engkau tentu dapat mengetahui betapa rasanya orang yang ditutup urat nadinya.”

wanita ketua Beng-gak itu seorang wanita yang so mbong dan angkuh. seumur hidup belum pernah ia mener ima sindiran yang sedemikian taja m. Apalagi yang menyindir  itu  adalah mur idnya. Murid yang biasanya paling mengindahkan dan takut kepadanya. Dadanya serasa meledak dilanda ke marahan yang menyala nyala.

Cepat ia merogoh sebuah botol kumala dan menuang sebutir pil merah. serunya dengan tajam, “Kwan ji, minumlah pil ini!”

Tong Bun kwan tertegun. Dua butir air mata menitik turun dari kedua celah pipinya. Dengan pelahan ia me mbuka mulut. Rupanya ia sudah menyerah dan merelakan apa saja yang akan dilakukan gurunya. Dan me ma ng ia tidak dapat berbuat apa-apa karena pergelang tangannya dicengkeram suhunya.

wanita Beng-gak itu me njentikkan pil ke mulut muridnya. saat itu benar- benar merupakan  suatu adegan yang menyedihkan. Tiada seorang pun di sekitar tempat itu yang berani berbuat apa-apa. Karena orang-orang itupun sudah kehilangan kesadaran pikirannya juga. Mereka tak ubahnya seperti patung bernyawa yang melakukan segala perintah tuannya.

setelah me minumkan pil, ketua Beng gak itu lepaskan cengkeramannya. Ke mudian ia me mber i perintah kepada rombongan anak buahnya, “Serbu!”

Dua orang lelaki yang bermuka pucat segera menerjang ke tikungan. Dua sinar pedang berkelebat menya mbut serbuan kedua orang itu.

Gerakan pedang dari balik tikungan itu kecuali cepat sekalipun luar biasa per ma inan nya. Karena tidak se mpat menangkis. salah seorang penyerbu itu menjerit dan tubuhnya terbelah menjadi dua!

sekalipun me lihat nasib lawannya yang begitu ngeri na mun yang seorang itu tetap tak gentar dan menerjang maju.

Hek!…. tiba tiba ia mengerang tertahan karena dadanya terlanda sebuah angin pukulan yang dahsyat. Ia terhuyung- huyung ke-belakang dan muntah darah la lu rubuh….

Ketua Beng-gak rupanya sudah tak  dapat  mengendalikan ke marahannya lagi. Menyambar sebatang obor dari tangan salah seorang anak buahnya, ia terus mele mparkannya  ke arah tikungan. seketika tikungan yang gelap itu  menjadi terang benderang. Tetapi serempak dengan itu, sesosok bayangan melesat me mada mkan obor.

Ketua Beng gak tertawa seram. serentak ia ayunkan tangannya. Baru orang itu tiba di-muka obor, dia sudah terlempar mundur.

setelah mengundurkan orang itu, ketua Beng gak segera menyuruh Tong Bun- kwan menyerbu. Nona baju biru itu tertawa hambar. sambil lintangkan pedang  melindungi tubuh ia maju perlahan-lahan. Tiba tiba terdengar deru angin menyambar dan pada mlah obor itu. Tikungan gelap lagi.

Melihat itu ketua Beng gak segera mengikuti di belakang Tong Bun-kwan.

Tiba-tiba sekilas sinar dingin menusuk. Tong Bon kwan cepat menangkis. ‘Tring!…. sinar pedang yang menyerang itu segera kutung terbabat pedang pusaka Tong Bin- kwan. Pedang  Tong   Bin   kwan   adalah   milik  Siu- lam   yang  dira mpasnya. Tajamnya bukan kepalang.

setelah berhasil me mapas pedang musuh. Tong Bun- kwan terus maju. seketika ia disa mbut serangkum angin pukulan yang dahsyat Tong Bun kwanpun cepat balas menghantam. Begitu pula ketua Beng gak. Dia juga me ndorongkan tangannya. Dua gelombang tenaga pukulan melanda serangan dari balik tikungan itu. seketika timbullah letupan dari benturan yang dahsyat. Dan menyusul terdengar  derap langkah bergerak gerak. suatu pertanda bahwa, penyerang dari balik tikungan telah tersurut mundur karena tak kuat menahan serangan kedua guru dan murid.

saat itu rombongan tokoh tokoh yang telah menjadi anak buah Beng-gak, pun mengikuti di belakang ketua Beng gak. Dibawah cahaya sinar obor, tampak empat lima sosok tubuh lari menyusur lorong. Dan kira kira lima to mbak jauhnya, mereka lenyap.

sejenak me mandang dengan tajam tahulah ketua Beng-gak itu bahwa disebelah muka terdapat. sebuah tikungan lagi. Rombongan Bwee Hong-swat tentu melenyapkan diri kcdalam tikungan itu.

Diam diam ketua Beng gak itu kerutkan dahi, pikirnya, “Entah berapa banyak tikungan yang terdapat  dalam lorong ini. setiap kali mereka tentu bersembunyi di belakang tikungan dan mela kukan serangan-serangan gelap lagi.  Jika  terus berlangsung begini, tentu lama-la ma ro mbonganku akan payah. Ah, jika tak cepat menyelesaikan mereka, kita sendiri yang celaka”

Belum ia bertindak, tiba tiba terdengar lengking seruan bernada sinis, “Setelah mengakhiri ujung lorong ini, kalian tentu akan me masuki daerah berbahaya. Angin prahara dan uap api ditambah pula dengan alat-alat rahasia ciptaan Lo Hian, akan mengantar kalian ke akhirat….”

Ketua Beng gak cepat mengena li bahwa suara itu berasal dari Bwee Hong-swat. Ke marahannya makin menyala, serunya, “Hai, budak hina, mengapa  engkau tak berani berhadapan dengan aku?”

Dari balik tikungan itu ke mbali terdengar suara tawa seram, “Perlu apa kau terburu-buru? La mbat atau cepat, nanti kita tentu akan melangsungkan pertempuran yang menentukan. Tetapi sekarang belum tiba waktunya….”

Makin berkobar ke marahan wanita ganas dari Beng gak itu. Cepat ia melesat  maju me mbuka  jalan. Tetapi sebelum kakinya menginjak tapah, dia sudah disambut oleh dua titik benda berkilat.

wanita itu mena mpar dan dua benda berkilat itupun berhamburan jatuh ketanah. Ternyata benda itu dua buah senjata rahasia yang mirip daun ba mbu, runcing dan taja m.

sebagai tokoh yang kaya pengalaman, cepat sekali ketua Beng gak itu mengetahui bahwa senjata rahasia itu dalam dunia persilatan disebut Ciok yap piau atau paser daun bambu.

Tiba tiba dari balik tikungan mengha mbur angin keras yang me landa obor. Obor padam dan seketika gelaplah lorong jalan. Menyusul orang yang mencekal obor itupun menjerit rubuh ke tanah. Ternyata dia termakan senjata rahasia.

“Serbu!” bisik ketua Beng gak sa mbil me mberi isyarat tangan. sedang ia sendiri terus menerjang. Begitu tiba ditikungan, ia disambut lagi oleh sebuah angin pukulan keras. Tetapi wanita dari Beng gak itu me miliki lwekang yang tinggi. Matanya luar biasa tajamnya. sekalipun dalam keadaan gelap gulita, ia masih dapat mengena li bahwa penyerangannya itu  adalah  Bwee  Hong-swat.  seketika  ia  me lengking dan balas menghanta m.

Pukulan yang dilontarkan dengan ke marahan itu. dile mbari dengan lwekang penuh. Hebatnya bukan alang kepalang. Ketika saling berbentur, timbullah angin puyuh mendesis desis keras.

Bwee Hong swat berkibaran mundur kebelakang….

Ketua Beng-gak tertegun. Tetapi pada lain saat ia tertawa dingin, “Budak hina, kepandaianmu me mang bertambah maju. Engkau ma mpu menghindari pukulan….”

Belum kata kata itu selesai, tiga gumpal sinar pedang menyerang tiga buah jalan darah pada tubuhnya. selain cepat serangan itupun tak terduga duga datangnya.

Tetapi wanita Beng-gak itu me mang sakti sekali, Tangan kiri mendorong untuk menahan dan tangan kanan menyerempaki dengan sebuah pukulan.

Tetapi penyerang itu juga bukan tokoh le mah. Tiba-tiba pedang ditarik dan orangnyapun menyingkir kesa mping. pukulan kedua Beng gak hanya mengenai dinding karang.

saat itulah barulah ketua Beng-gak mengetahui bahwa  yang menyerangnya itu seorang pendek yang berpakaian hitam. orang itu lincah sekali selekas menghindar terus menyerang lagi.

Dia m-dia m wanita Beng gak itu terkejut. Mengapa dalam lorong guha diperut gunung terdapat sekian banyak tokoh tokoh berilmu. Akhirnya ia me mutus kan. Harus merubuhkan paling tidak dua orang musuh agar nyali mereka berantakan. segera ia keluarkan jurus istimewa.  sambil tamparkan tangan kiri untuk me nutup jalan pengunduran lawan, tangan kanannya ma inkan jurus ilmu merebut senjata.

Ilmu merebut senjata dengan tangan kosong itu me mang luar biasa. Didalam gerakannya terdapat gerak menabas urat dan jalan darah musuh.

Tak sa mpai sepuluh jurus, penyerang baju hitam itu sudah kewalahan dan mundur.

Ternyata baju hitam bertubuh kecil itu adalah Hian Song. Walaupun kepandaian keduanya berasal dari satu sumber ajaran Lo Hian, tetapi tenaga wanita Beng-gak itu jauh lebih tinggi dari Hian-Song. Begitu juga perma inannya lebih mahir dan pengala mannyapun lebih banyak.

setelah paksakan diri me nghadapi serangan sampai sepuluh jurus, tiba-tiba Hian-Song malah merasa tenang. Permainan pedangnya lebih mantap sehingga ia dapat memperbaiki  keadaannya yang sudah terdesak.

wanita Beng gak itu terkejut. Pada permulaan tiga jurus, ia me lihat Hian Song sudah kewalahan. Pikirnya, dalam sepuluh jurus saja dara itu tentu sudah selesai. Rencananya tak perlu me lukai, ia hendak merebut senjatanya saja lalu menawannya. Tetapi diluar dugaan. setelah sepuluh jurus, bukan saja tak dapat merebut senjatanya, bahkan dara itu telah bangun lagi daya perlawanannya.

sudah tentu ia tak tahu bahwa jalan darah si hian  kwan dari Hian-Song sudah terbuka. Dengan demikian dara itu tak pernah habis tenaga dalamnya. Tanpa beristirahat tenaganya tak letih.

Mereka berasal dari satu sumber. Walaupm terdapat sedikit perbedaan dalam gerakan gerakannya, tetapi pada hakekatnya tak berarti. Kepandaian mereka berasal dari ajaran Lo Hian se mua. Pada permulaan menghadapi musuh yang setangguh itu,  me mang Hian-Song agak kaku sehingga terdesak. Ia terpaksa mencurahkan seluruh pikiran dan se mangatnya untuk menghadapi serangan musuh. Dengan de mikian ia tak se mpat lagi me mikirkan la in-la in.

Bertempur sa mpai sekian la ma, belum juga Mereka menyadari akan persa maan per mainannya itu.

Adalah akhirnya wanita Beng-gak itu yang lebih dulu merasakan sesuatu yang tak beres dalam pertempuran itu. Dan keheranannya itupun makin la ma makin me mbesar. Ia merasa per mainan pedang dara itu sa ma seperti ilmu pedang yang dimiliki. Mirip dengan ajaran Lo Hian.

Akhirnya wanita itu tak dapat menahan keheranannya lagi. Dua buah hantaman ia lontarkan untuk mengundurkan  si dara. setelah Hian-Song mundur, wanita Beng gak itu segera berseru, “Berhenti!”

Hian Song lintangkan pedang didada, sahut nya, “Mengapa?”

“Hai, engkau juga seorang perempuan?” ketua Beng gak terkejut mendengar suaranya.

Me mang dengan muka suara itu dapatlah diketahui bahwa Hian-Song itu seorang anak pere mpuan.

“Benar, mau apa?” sahut Hian-Song.

wanita Beng gak tertawa dingin, “Dengar baik baik kutanya padamu, sebaliknya engkau berani bersikap menantang….” ia berhenti sejenak lalu berkata pula, “Hm, jika aku mau berlaku kejam, dalam tiga jurus tentu dapat menga mbil jiwamu!”

“Hm, belum tentu!” jawab Hian Song. “bukankah tadi kita sudah bertempur sa mpai puluban jurus?”

“Budak yang tak tahu diri, terimalah pukulanku ini!” dengan mur ka wanita Beng-gak itu menghantam. Hian-Song menyadari bahwa pukulan wanita itu me mang sukar ditangkis. Tetapi ia panas mendengar kata kata besar dari wanita itu. Tanpa banyak pikir. Hian-song menangkisnya.

Blaaa m…. adu pukulan itu segera diketahui hasilnya. Hian Song tersurut mundur sa mpai tiga empat langkah. Jika wanita Beng  gak   itu   menyusul   lagi   dengan   pukulan   kedua,  ke mungkinan besar Hian Song tentu tcrluka. Tetapi ternyata ia tak mau.

“Jurus jurus per mainanmu, sekalipun sa ma dengan perguruanku, tetapi tenagamu, ke mahiran dan pengalamanmu, masih kalah jauh dengan aku. Jika aku sungguh hendak me lukaimu, hanyalah ibarat me mbalik telapak tangan mudahnya….”

Ia batuk batuk sebentar lalu berkata pula, “Engkau dapat bertahan sampai belasan jurus tadi, bukan karena  aku tak ma mpu merubuhkanmu mengenai guru dan perguruanmu…. “

“Jika aku tak mau bilang, engkau akan berbuat apa?” tukas Hian Song.

“Aku tak percaya engkau seorang gadis baja dan tak takut kesakitan. Jika tak mau bilang, akan kututuk beberapa jalan darahmu agar engkau dapat merasakan betapa penderitaannya!”

Hian-Song ingat, memang dalam pelajaran ilmu silat terdapat pelajaran semaca m itu. Jika jalan darah ditutuk, darah akan menyungsang balik kejantung. Tetapl saat itu ia lupa, bagian jalan darah dimana yang harus ditutuk itu.

“Siapakah na ma mu?”  tiba tiba wanita Beng gak itu bertanya dengan nada ramah.

“Aku orang she Tan…. tiba tiba Hian Song merasa telah kelepasan o mong ia tak bicara lagi.

Tiba tiba ia rasakan tali yang mengikat lehernya mengencang. Tahulah ia bahwa nona baju merah yang menguasai Siu-la m itu, menyuruh ia mundur. Buru-buru lari kebelakang.

“Hai, hendak lari ke mana kau!” wanita Beng-gak marah sekali dan lontarkan pukulan. Tetapi pukulan itu tidak langsung diarahkan pada Hiang-So ng, melainkan ditujukan beberapa langkah dimukanya.

Pada saat tenaga pukulan tiba, Hian  Song pun tiba ditempat itu. sungguh lihay sekali perhitungan wanita Beng- gak itu. Oleh karena dengan keadaan itu, betapapun saktinya Hian Song tetapi ia tak se mpat menangkis lagi.

Tiba tiba ketika ia terancam  bahaya,  dari arah  samping me landa serangkum gelo mbang tenaga yang menghalau tenaga pukulan si wanita Beng gak itu. Dengan de mikian terhindarlah Hian Song dari malapetaka.

Hian song berpaling. Dilihatnya yang menolong dirinya itu adalah Bwee Hong swat. Ia mendengus tak mau mengucap terima kasih.

wanita Beng gak ma kin marah. Ia menyerbu maju. Kali ini Bwee Hong swat tak mau lari, Ia menghadang ditengah jalan.

“Sepuluh to mba k lagi, akan mencapai daerah bahaya dari Lo Hian. Dia telah  mencurahkan  seluruh  pikirannya  untuk me mbuat beberapa maca m alat rahasia. Tak lain diperuntukkan menghadapi engkau….”

“Budak hina, terimalah pukulanku!” teriak wanita Beng gak dengan murka. seumur hidup belum pernah ia menerima sindiran se maca m itu. Dia tak sabar bicara lagi. Bernafsu sekali ia hendak menghanta m mat i mur id yang murtad itu,

Bwee Hong swat tak gentar. Ia tebarkan jari tangannya untuk menebas pergelangan tangan bekas gurunya itu.

Tampaknya gerakan Bwee liong swat itu biasa saja. Tetapi rupanya wanita Beng gak itu tahu kedahsyatan gerakan jari Bwee Hong-swat. Terpaksa ia menyurut mundur. “Budak hina, kiranya engkau benar-benar telah mendapat warisan pelajaran dari Lo Hian!” serunya. secepat mundur, ia balas menutuk jalan darah Bwee Hong swat dengan kedua tangannya.

“Asal engkau sudah kenal kelihayanku, cukuplah!”  kata Bwee Hong-swat seraya pentang kedua tangannya  untuk balas menutuk kedua siku lengan bckas gurunya.

Cara serangan merapat dan saling menutuk jalan darah itu, me mang berbahaya sekali. sekali salah langkah, jalan darah tentu dikuasai lawan. Dan sekali ja lan darah kena tertutuk. tentulah akan dikuasai lawan.

Pertempuran maut antara guru dan bekas murid itu berlangsung sampa i puluhan jurua. Masing  masing telah menge luarkan jurus jurus yang aneh aneh dan berbahaya.

Tiba tiba Bwee Hong-swat mela mbung ke-atas dan dari udara ia menghanta m.

Diam diam wanita Beng-gak itu girang. Karena sejak tadi ia menunggu suatu kesempatan yang baik. Dan gerakan Bwee Hong-swat itu merupakan saat saat yang dinantikan. Ia kerahkan seluruh tenaganya untuk menyongsong pukulan lawan.

Ketika tenaga pukulan saling beradu, dengan me minjam tenaga memba l dari pukulannya, Bwee HOug swat bergeliatan diudara dan me layang turun kebelakang terus me lesat lenyap.

Kiranya dalam pertempuran itu, diam- diam Bwee Hong swat merasa tak dapat bertahan lagi, Walaupun banyak pelajaran yang diterimanya,, tetapi mas ih kurang se mpurna.

Menghadapi seorang musuh yang sedemikian sakti, sekali salah gerak, tentu akan binasa. Jika me lanjutkan pertempuran itu tentu akan  ketahuan  kelemahannya.  Maka  ia  segera  me lakukan siasat, sehabis memukul lalu me minjam tenaga pukulan lawan untuk meluncur lari. Beberapa kali merasa diper mainkan, dengan marah wanita Beng gak mengejarnya. Tong Bun- kwan dan anak buah Beng gak pun mengikuti di-be lakang pemimpin mereka.

Bwee Hong swat lari pesat tapi ketua Beng gakpun mengejar pesat. Keduanya kejar kejaran dalam kegelapan.

Tiba-tiba dari arah muka meniup angin prahara dingin. Tetapi Bwee Hong swat tetap maju. setelah lari beberapa tombak, ketua Beng gak rasakan hawa dingin itu ma kin la ma makin keras. Dan lorong ja lanpun sudah tiba diujung terakhir yang buntu. sedang angin makin dahsyat sehingga menggumpal seperti kabut.

Bwee Hong swat tetap lari dan lenyap dalam gumpalan angin kabut itu. Kebalikkannya ketua Beng-gak tak berani. Ia berhenti.

“Saat ini sudah masuk kelorong angin prahara. Lo  Hian telah me mbuat tiga buah alat rahasia. Jika  kau  ma mpu mene mbus, silahkan mencobanya!” seru Bwee Hong swat dari dalam kabut.

“Kalau kau berani masakan aku tidak!” seru siwanita Beng gak makin murka seraya terus melangkah maju.

Walaupun garang kata katanya tetapi sesungguhnya ia tak berani gegabah. Langkahnya-pun sangat hati hati sekali- Dan ternyata me mang mereka tak salah. Baru beberapa langkah, angin prahara makin dahsyat sehingga dirinya seperti dilanda hujan pukulan. Terpaksa ia kerahkan lwekang untuk bertahan.

Tetapi angin prahara itu makin la ma makin bebat dan ubah seperti taburan pedang tajamnya. Pakaian wanita Beng-gak  itu robek dan pecahannya berhamburan ke mana mana.

Walaupun me miliki  lwekang  sakti,  tetapi menghadapi gelo mbang prahara yang sedemikian dahsyat dan dingin, mau tak mau ia harus menyerah juga. Namun wanita itu me mang luar biasa. Ia tak  mau menyerah begitu saja. “Ah. walaupun Bwee Hong-swat maju sekali kepandaiannya, tetapi masakan dia ma mpu menghadapi angin prahara sejahat ini. Kurasa tentu ada suatu tempat rahasia yang dapat me lindungi dirinya,” ia menimang.

Cepat ia mundur dua langkah lalu menuju ke dinding terowongan sebelah kanan. Wahai! sekalipun hanya berkisar dua langkah, tetapi serangan prahara itu sudah berkurang banyak.

saat itu Tong Bun kwan dengan ro mbongannyapun sudah tiba. sekalipun tokoh-to koh itu sudah kehilangan kesadaran pikirannya tetapi mereka pun jeri juga terhadap serangan prahara itu mereka berhenti.

Karena pakaiannya hancur lebur dilanda angin, saat itu wanita Beng-gak hanya me makai baju dan celana  pendek saja. seumur hidup belum pernah ia menga la mi peristiwa yang sedemikian me ma lukan. Ia berpaling kepada Tong Bun-kwan dan me manggilnya. Nona baju biru itu menghampiri dan tegak terlongong-longong di hadapannya.

Ternyata wanita Beng gak melolos pakaian luar Tong Bun kwan lalu dipakainya. Kemudian berkata, “Anak, berjalanlah di belakangku!”

Kemudian ia mela mba ikan tangan. Dua orang  anak buahnya bergegas mengha mpir inya. wanita Beng-gak itu menge luarkan sempritau berwarna kuning e mas lalu meniupnya  dengan  keras.  Kedua  anak   buah   itu   terus me langkah maju. sekalian anak buah Beng-gak pun segera mengikut i. Ketua Beng gak berjalan di belakang mereka sedang Tong Bun-kwan mengikut i di belakang gurunya.

Prahara dingin itu benar-benar menusuk tulang belulang. Dan makin maju ke muka angin ma kin dahsyat. Dan karena lorong gelap sekali, merekapun tak dapat mengenal jalan lagi. Tiba-tiba terdengar jeritan ngeri. Anak buah Beng-gak yang berjalan paling depan sendiri tadi telah terlanda prahara dan mence lat entah ke mana jatuhnya….

sementara ketua Beng-gak tak henti-hentinya meniup sempritannya untuk menggelorakan se mangat anak buahnya itu.

Akhirnya kenekatan itu berbuah. Ia dapat menemukan tempat yang melintasi gelombang prahara itu.

Kiranya dalam lorong angin itu terdapat seutas tali halus yang  berwarna   hitam   merentang   di   tanah.   Jika  tak me mperhatikan  dengan  seksama tentu   takkan   dapat mene mukannya.

Penemuan itu telah menge mbalikan kepercayaan ketua Beg gak. Dengan tertawa sinis ia menda mprat, “Huh, kukira budak hina itu benar benar telah mendapat pelajaran Lo Hian sehingga ia ma mpu  me lintasi serangan prahara dingin. Kiranya hanya begini caranya!”

Ia me merintahkan supaya anak buah Beng gak itu berjalan sambil berjongkok dan me megang  tali untuk menjaga keseimbangan tubuh. Dengan cara itu akhirnya ro mbongan Beng-gak dapat me lintasi prahara maut.

Tetapi mereka harus menghadapi sebuah lorong  se mpit lagi. sebuah lilin redup menyinari sebutir mutiara beng-cu. Mutiara itu me mantulkan sinarnya kesekeliling. Dibawah sinar mut iara terdapat sekeping papan batu yang bertulis beberapa huruf, “Te mpat kuburan murid- murid sip siau-hong

Dibawahnya diberi tanda na ma: Lo Hian.”

Huruf huruf itu bagaikan ujung pisau menusuk ulu hati ketua Beng-gak yang ternyata bernama sip siau hong-

sekilas terkenanglah wanita itu akan kehidupannya dimasa la mpau sewaktu ia mengikut i suhunya Lo Hian, berkeliling dan menje lajahi te mpat-tempat yang terkenal indah alam pemandangannya.

Tersirap hati Tong Bun-kwan ketika me mbaca tulisan pada papan batu itu. Diam diam ia mencur i lir ik kearah suhunya. Tampak  wanita  Beng-ga k   itu   seperti   terbenam   dalam la munan. sikapnya yang dingin dan bengis, saat itu tak tampak lagi. sip siau-ho ng pulih dalam perwujudannya yang asli dahulu….

sayang keadaan itu hanya berlangsung sekejap mata. Pada lain saat sip siau-hong kembali berubah menjadi ketua Beng- gak, wanita mo mok yang ganas dan me ngerikan….

Tertawalah ia menyeringai. Tiba-tiba ia mengangkat tangan dan menghanta m batu nisan itu sekeras kerasnya. Batu itu hancur berkeping keping….

Masih belum puas rasanya amarah wanita itu, Lilin itupun dihantamnya berantakan. setelah itu baru ia melangkah maju lagi.

Baru dia beberapa langkah tiba tiba dari arah belakang terdengar dua buah jeritan ngeri. Dan ketika berpaling tampak dua orang tokoh yang menjadi anak buahnya, terkapar di tanah.

Ternyata begitu batu nisan hancur, tiba-tiba batu itu muntahkan serangkum jarum beracun. Dua anak buah Beng- gak yang bernasib ma lang, terpanggang jarum dan binasa.

Diam diam sip siau hong mengeluh kaget. Jika terlambat sedikit saja, ia tentu menjadi korban jarum itu.

Berpaling kepada Tong Bun kwan, ia menghela napas. “Ah, kakek gurumu itu berhati….!”

Tiba tiba ia hentikan kata katanya karena menyadari bahwa Tong-bun kwan telah diminumi obat pembius kesadaran pikiran. Percuma me mbicarakan diri Lo Hian dengan anak perempuan itu. Tong bun- kwan me mandang bayangan suhu nya. dengan senyum menyeringai. Tiba tiba ia muntahkan sebulir pil dari mulutnya lalu cepat cepat menyusul suhunya.

Pintar benar nona baju biru itu. Ketika gurunya memaksa ia menelan obat pe mbius karena tak dapat melawan terpaksa ia menelannya. Tetapi bukan terus dilangsungkan  kedalam perut, melainkan menye mbunyikan dibawah lidahnya. Dan karena ia sudah faham akan perobahan gerak gerik tokoh tokoh yang sudah diminumi obat pe mbius itu, maka iapun pura- pura meniru lagak mere ka. Dengan siasat itu ia berbasil menge labui suhunya.

sip sio hong tetap me mperhatikan peringatan Bwee Hong swat. Ia berjalan dengan hati hati sekali, Jalanan disebelah muka makin la ma makin gelap. Mereka seperti  me lintasi lautan kabut-tebal.

Beberapa saat kemudian, rombongan Beng-gak itu ditabur oleh percikan air sehingga tak lama kemudian pakaian mereka basah kuyup.
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Wanita iblis Jilid 39"

Post a Comment

close