Wanita iblis Jilid 36

Mode Malam
Jilid 36

“TETAPI Tio Gan seolah olah tak menghiraukan pertanyaan itu. Ia masih me meriksa dengan tekun sekali. Mulutnya tak henti-hentinya berkomat ka mit. Seperti orang yang sedang menghitung.

Beberapa waktu kemudian barulah ia berbangkit perlahan- lahan. Wajahnya mengerut gelap,

“Bagaimana?” tegur Cau Yan-hui ce mas.

“Ah, Suhu telah dikuasai orang dan dibawa kete mpat yang jauh….”

“Hai, Siapakah tokoh yang sedemikian lihaynya dapat  menga lahkan Ceng Hun toheng?” Thian Ce terkejut.

“Tentulah orang Beng-ga k,” jawab Tay Ih

“Siapa orang itu, Wanpwe tak dapat memastikan. Tetapi dalam tanda rahasia yang di tinggalkan itu, suhu mengatakan bahwa perjalanan kali ini tera mat jauh sekali. Yang wanpwe heran ialah bahwa dalam tanda rahasia itu suhu berpesan supaya kita jangan terlalu dekat dengan mereka agar jangan ketahuan….”

“Huh, masakan terjadi peristiwa se maca m itu?” Ciok Sam kong mendengus. “ke mungkinan  suhumu telah ditangkap orang dan dalam keadaan terpaksa, meningga lkan pesan agar kitapun terjebak dalam perangkap musuh!” Tio Gan menyahut tandas, “Suhu seorang ksatrya. Kematian tak mungkin dapat me matahkan se mangatnya. Jangan lo cianpwe bicara se mbarangan begitu!”

Ciok Sam kong tak dapat menahan ke marahannya lagi, “Huh, anak ke marin sore berani berlaku kurang ajar terhadap orang tua. Biar ku beri sedikit hajaran!”

Walaupun penasaran, tetapi Tio Gan menyadari, dalam keadaan saat itu tak me mbenarkan dia bentrok dengan Ciok Sam- kong. Bukan karena dia takut mat i tetapi yang penting ialah tentang kesela matan suhunya yang perlu ditolong. Maka ia tak mau me ladeni kata kata yang kasar dari Ciok Sa m-kong itu.

Berpaling kepada Thian Ce totiang, ia berkata; “Wanpwe benar benar tak dapat menjelaskan apa isi pesan suhu itu. Harap lo cianpwee suka me mberi maaf!”

Ketua Kun lun pay itu mengurut jenggot seraya tertawa, “Dalam hal kecerdasan dan kepandaian Ceng Hun toheng. kita semua sudah mengetahui. Apalagi dalam peristiwa ini msnyangkut kebesaran nama Ceng-sia pay, sudah bareng tentu ia telah mengatur rencana yang sebaik-baiknya. Menurut hemat pinto, baiklah kita turutkan saja pesannya!”

Can Yan hui menyetujui. Tetapi Ciok Sam kong menyanggah, “Jika tak boleh mendekati dan me mberi pertolongan apakah jika mere ka berliaran sepuluh tahun, kitapun harus ikut berkeliaran sepuluh tahun?”

Peryataan jago tua Swat-san pay itu cepat disokong oleh Tek Cin, “Aku setuju dengan pernyataan Ciok-heng. Dan lagi, masih ada lain pertimbangan. Jika kita ter makan siasat yang di gunakan musuh agar kita terpikat dan meninggalkan urusan dunia persilan, bukankah tahu-tahu kita bakal menjadi macan yang tiada me mpunyai sarang lagi?”

Cau Yan-gui ketua wanita dari partay Tiam jong pay kesal mendengar ucapan kedua jago tua yang selalu menentang itu. Katanya dengan getas, “Menurut pendapatku, kita lanjutkan pengejaran ini. Siapa yang tak suka ikut, silahkan kembali ke Siau lim Si!”

Tek Cin menatap ketua Tiam jong pay itu dengan taja m. Pada saat ia hendak me mbuka mulut, Tay Ih Siansu sudah mendahuluinya, “Lohu juga setuju  pengejaran  ini dilanjutkan!’”

Dan Thian Ce-pun segera menyusuli, “Pinto merasa peristiwa ini terse mbunyi suatu rahasia aneh, hayo, kita berangkat!”

Karena diantara keenam orang, sudah e mpat orang yang setuju, terpaksa Ciok Sam kong dan Tek Cin tak dapat berbuat apa apa.

Benar juga, selama dalam perjalanan, beberapa  kali mereka mene mukan tanda rahasia yang ditinggalkan  Ceng Hun totiang. Jalan yang di tempuh, me lintas ja lan kecil dihutan belantara. Dalam pertandaan rahasia itu, setiap kali Ceng Hun tentu me mesan supaya mereka dengan terlalu mende kat. Suatu hal yang membuat jago-jago tua rombongan pengejar itu makin heran.

Setelah sehari mene mpuh perjalanan, akhirnya Thian Ce totiang bertanya kepada Tio Gan, “Kapankah kiranya kita akan bertemu dengan gurumu.”

“Dalam pesan rahasia itu, agaknya Suhu tak menghendaki kita mengejarnya….”

“Kalau begitu lebih baik kita ke mbali saja?” Ciok Sa m- kong bersungut sungut.

Demikian Thian Ce totiang yang semula setuju me lanjutkan pengejaran, akhirnya juga me mpunyai perasaan seperti Ciok Sam kong.

Buru buru Tio Gan menerangkan, “Dalam pesan itu, tahu me mang bukan ber maksud melarang kita mengejarnya.” Cau Yan-hui berpendapat “Oleh karena sudah terlanjur mengejar sa mpai disini, lebih baik meneruskan pengejaran itu sampai akhir”.

Tay Ih Siansu-pun mendukungnya, “Dengan diketemukan tanda rahasia dari Ceng Hun totiang, jelas bahwa dia tentu masih hidup. Demi menolong kesela matannya, Kita harus meneruskan pengejaran ini!”

Kuatir akan terbit perdebatan lagi, Tio Gan cepat menyatakan bersedia menjadi penunjuk ja lan. Bahkan ia terus lari lagi.

Kembali mere ka telah mene mpuh perjalanan sela ma dua hari satu ma la m. Dari jalan kecil dihutan belantara, tiba tiba msreka me masuki barisan gunung,

“Kalau tak salah, sekarang kita sudah tiba diperbatasan wilayah Shoa tang. Dengan begitu kita telah memasuki daerah pegunungan Thay san” kata Ciok Sam kong.

“Benar, Ciok heng. kurasa me mang sedang me masuki daerah gunung Thay san,” kata Tek Cin.

Thian Ce segera menanyakan kepada Tio Gan apakah dalam tanda rahasia itu, gurunya tidak menyebut tentang nama te mpat. Tio Gan me ngatakan tidak.

Kiranya setiap tiga puluh lie, tentu terdapat tanda rahasia dari Ceng Hun totiang. Tetapi sejak me masuki daerah gunung, sampai lima enam puluh lie, Tio Gan tak mene mukan tanda rahasia itu lagi. Tetapi de mi me melihara kepercayaan Thian Ce totiang dan rombongannya terpaksa setiap tiga puluh lie  ia pura pura mencari tanda rahasia dari gurunya. Berjongkok dibawah pohon, mene liti dan bangun. Tetapi sesungguhnya dalam hati, pemuda itu gelisah tak keruan. Namun ia tak berani menyatakan apa apa dan teruskan perjalanan. Setelah melintas dua buah puncak gunung,  keadaan tempat yang dilalui itu ta mpak berbahaya sekali.  Puncak disebelah muka ta mpak menjulang menyusup awan.

Diam diam Tio Gan menghela napas, batinnya, “Dalam daerah gunung yang sedemikian tinggi dan  lebat,  tentu mudah tersesat jalan. Apa lagi suhu tak meninggalkan pertandaan lagi. Ke manakah akan kubawa ro mbo ngan ini?”

Saat itu mulailah Tio Gan gelisah. Tiba-tiba pandang matanya terbentur pada sebuah benda putih yang aneh. Hai, Sehelai sutera putih berkibar kibar diatas sebatang pohon siong besar! Dan ketika dipandang dengan seksa ma, ternyata di tengah sutera putih itu tertera warna merah.

Seketika tergeraklah hati Tio Gan.  Dalam  daerah pedalaman gunung belantara yang tak pernah  dijelajahi manus ia itu tak mungkin terdapat sutera putih apa bila tak sengaja dipandang oleh orang. Ya, benar, tentu seseorang telah meningga lkan sutera putih itu.

Timbul serentak harapan Tio Gan. Adakah sutera putih itu berasal dari gurunya atau bukan, tidaklah menjadi soal. Yang penting, sekarang ia me mpunyai setitik harapan, Semoga sutera putih itu benar benar gurunya yang me mancang.

Dengan menumpahkan seluruh harapannya, Tio Ganpun mulai lanjutkan larinya lagi menuju kete mpat pohon siong itu.

“Hai, awas, karang disebelah a mat curam dan tiada terdapat jalanan sama sekali. Hendak kemana kau!”  seru Thian Ce totiang.

Tetapi Tio Gan terpaksa tak menghiraukan, Ia lari sekencang mungkin. Akhirnya ia berhasil mencapai tempat itu. Sekali menya mbar dahan pohon, ia terus apungkan diri berayun ke atas dahan dan menyambar sutera putih.

Kiranya sutera putih itu tengahnya dilumur i dengan darah. Mungkin supaya menarik pandangan mata  orang, Ketika meneliti tulisan yang terdapat pada sutera putih itu, hatinya serasa terhindar dari himpitan batu besar. Serentak ia berseru me manggil para lo cianpwe.

Sambil me ngha mpir i Ciok Sa m-kong mas ih bersungut- sungut “Hmm, rupanya budak itu tersesat jalan. Kalau tidak dia tentu terjebak dalam siasat musuh yang menggunakan siasat me mancing harimau t inggalkan gunung.”

Agaknya Tay Ih siansu terpengaruh oleh kata-kata tokoh Swat-san-pay itu. ia menghela napas, “Jika dugaan lo cianpwe benar, kemungkinan saat ini Siau-lim si tentu sudah hancur lebur “

Ciok Sam- kong tertawa dingin, “De mikian juga dengan rombongan mur id partai partai persilatan yang datang ke Siauw lim-s i itu.”

Ketika ro mbo ngan tokoh tokoh itu tiba, Tio Gan buru buru berteriak, “Ketemu, sudah ketemu….” dan tertawalah anak muda itu nyaring nyaring.

“Apa yang engkau ketemukan sehingga engkau begitu gembira sekali?” tegur Thian Ce totiang.

“Telah kute mukan petunjuk suhu!” teriak Tio Gan.

“Selain anak murid Ceng-Sia-pay, apakah ada lain orang yang kenal akan tanda rahasia dari partaimu itu?” tanya Thian Ce totiang-

“Dalam tanda rahasia itu suhu sudah mengatakan dengan jelas bahwa dia telah dikuasai oleh seorang murid Beng-gak dan dipaksanya untuk bersama sa ma me ncari pusaka di Telaga darah.”

Mendengar itu Ciok Sam kong melonja k kaget, serunya, “Telaga darah? Benarkah didunia ini terdapat tempat itu….” “Tenru saja ada!” sahut Tio Gan. “suhu telah mengatakan tempat itu dengan jelas sekali. Mungkin tempat itu berada disekeliling kita ini!”

“Jika Telaga darah benar ada, kabar tentang Lo Kian menyimpan pusaka itu juga tentu sungguhan!” seru Tek Cin.

“Soal itu tak dikatakan suhu. Suhu hanya mengatakan, ia akan berusaha sedapat mungkin untuk me mberi petunjuk tentang jalan ketempat itu. Asal kita turutkan petunjuknya, tentu akan mencapai te mpat itu!”

“Kira kira berapa lamakah suhumu telah meningga lkan tanda rahasia itu?” tanya Thian Ce Totiang.

“Kurang lebih e mpat jam yang lalu.” Sahut Tio Gan.

“Baik, kita harus cepat menyusul agar tanda rahasia yang ditinggalkan suhumu itu tak terhapus oleh binatang atau tukang cari kayu!”.

Juga Cau Yan hui, ketua wanita dari Partay Tiam jong pay yang sejak tadi hanya berdiam diri saja, tiba tiba manyeletuk, “Bagaimana kalau andai kata wanita Beng-gak itu menyiapkan sebuah tempat berbahaya dan sengaja mena makannya sebagai Telaga darah, bukankah kita  akan jatuh kedalam perangkapnya?”

“Omitohud, Me mang hal itu tak boleh t idak harus kita jaga,” Seru Tay Ih siansu.

“Dengan tenaga kita berenam, masakan kita  jeri akan segala macam perangkap!” seru Ciok Sam kong.

Teringat selama dalam perjalanan tadi, melulu mendapat ejekan dan tantangan dari tokoh Swat san pay itu, kali ini Tio Gan tertawa dingin- “Sejak dalam perjalanan tadi, lo cianpwe paling menentang sendiri, Tapi kali ini locianpwelah yaag paling gigih mendukung” Wajah Ciok Sam kong berubah, serunya “Nanti begitu berjumpa dengan Suhumu, aku tentu akan menghajar mu. Sekarang kuberitahukan lebih dulu kepada mu agar kau jangan kaget.”

Tio Gan hendak balas menyahut, tetapi Thian Ce totiang mendahului mendengus, “Ciok lo cianpwe adalah satu satunya tokoh angkatan tua dari Swat san pay. Dalam kedudukan, dia lebih tinggi dari suhumu. Jika Ciok lo cianpwe menda mprat mu, itu sudah selayaknya. Hmmnn, benar-benar tak tahu diri!”

Dia m-dia m Tio Gan tertawa mendengar ma kian tak keruan tujuannya   itu.   Namun   ia   tak   mau   me mbantah    dan me mpers ilahkan para lo-cianpwe me lanjutkan perjalanan lagi. Kali ini Ciok Sam kong paling ngotot. Ia berjalan paling depan di belakang Tio Gan.

Demikianlah ke enam orang itu mulai menyusur jalanan gunung yang berliku liku seperti ular. Tio Gan yang berjalan sebagai penunjuk jalan, setiap tiba di sebuah tikungan selalu berhenti dan mela kukan pe meriksaan teliti.

Tetapi pergunungan yang puncaknya tinggi mene mbus awan itu, penuh dengan hutan belantara dan jurang yang curam. Betapapun Tio Gan berlaku hati-hati, tetapi sela ma dua jam ia sia sia mencari petunjuk yang di tinggalkan suhunya, Untung para lo cianpwee yang ikut dalam ro mbongan penyelidik itu sekarang sudah percaya. Tidak lagi mereka mengejek dan mendesak anak muda itu. Bahkan Ciok Sam- kong yang keras kepala dan berangasan, saat itu berobah sabar dan ramah.

“Carilah dengan perlahan lahan, tak perlu gugup. Kamipun tidak me mpunyai lain urusan lagi!” kata jago tua Swat san pay itu.

Dengan adanya sikap dan pernyataan dari para anggauta rombongannya, kebingungan Tio Ganpun berkurang. Satelah berjalan sejam lagi, akhirnya ia berhasil mene mukan tanda petunjuk dari suhunya lagi. Tetapi setelah di teliti. ia termangu mangu.

Ternyata tanda petunjuk kali ini, a mat sederhana sekali. Kecuali me ngatakan bahwa mereka  akan  me masuki sebuah le mbah yang berbahaya, tak ada lain keterangan lagi. Di duga, Ceng Hun totiang tentu dalam keadaan terburu buru sehingga tak sempat menulis banyak.

“Apakah terjadi sesuatu kesulitan?” tanya Thian Ce totiang.

TiO Gan mengiakan, “Benar, dalam tanda rahasia itu suhu hanya member i petunjuk bahwa le mbah yang kita masuki ini berbahaya sekali, entah apa ma ksudnya!”

Me mang karang yang menjulang mendindingi le mbah dihadapan mereka, curam dan me landat sekali. Benar benar sebuah le mbah yang berbahaya sekali.  Dasar le mbahpun penuh bertaburan dengan batu batu yang berbentuk aneh.

“Apakah petunjuk suhumu itu tidak salah?” tanya Ciok Sam kong.

Tio Gan me mber i pernyataan yang tandas bahwa ia sudah meneliti tulisan suhunya secermat cer matnya. Rasanya takkan salah lagi.

“Kalau begitu mari kita menuruni le mbah ini!” Seru Ciok  Sam kong. Jago Swat san pay itu tampak bersemangat sekali. Begitu berkata dia terus turun kebawah. Jika bertemu dengan lereng yang me landai cura m, ia gunakan ilmu Pek hau kang atau cicak merayap. Sebuah ilmu Iwekang tinggi untuk mendaki dan menuruni dinding yang melandai curam atau menjulang t inggi

Tek Cin dan Cau Yan hui segera mengikut i jejak Swat San pay itu.

“Tio hiantit, apakah engkau merasa dapat menuruni le mbah itu?” tanya Thian Ce totiang Tio Gan menyatakan bahwa kemungkinan besar  ia  dapat me lakukan. Tetapi  Thian  Ce  totiang  tetap  kuatir.  Ia  menge luarkan seutas tali dan suruh anak muda itu mengikat pada tubuhnya, “Peganglah erat erat tali ini di waktu  turun kele mbah.  Apabila  terjadi   sesuatu,   pinto   tentu   dapat  me mbantu hiantit!”

Tio Gan menghaturkan terima kasih. Ia melakukan permintaan ketua Kun lun pay itu.

Setelah itu barulah yang terakhir Tay Ih siansu bergerak turun.

Sesungguhnya kepandaian Tio Gan me mang terpaut jauh sekali dengan para lo-cianpwe itu. Ketika dapat  mencapai dasar lembah, ternyata ia sudah kehabisan napas  dan terjatuhlah ke bawah. Untung Thian Ce dapat menolongnya dengan tali itu.

Dalam  pada  itu  ternyata  Ciok   Sam  kong-pun   sudah me mperhitungkan ke mungkinan hal itu akan menimpa Tio Gan. Maka begitu pemuda terjatuh, dengan cepat ia loncat menyanggapinya. Lalu loncat kesa mping. Ternyata dari dalam le mbah, mereka masih terpisah beberapa meter tingginya. Jago Swat san pay itu lepaskan pukulan  kebatu karang. Dengan me minjam tenaga pukulan itu, ia bersama Tio Gan selamat dapat menginjakkan kakinya ditanah.

Sekalipun tak puas dengan Ciok Sam kong, tetapi karena mendapat pertolongannya, Tio Gan segera menghaturkan terima kasih.

“Tak usah sungkan akan bantuan yang tak berarti itu. Cobalah kau teliti apakah dalam le mbah ini terdapat tanda rahasia dari gurumu,” kata Ciok Sam kong.

Tio Gan  mengiakan.  Setelah  sejenak  peja mkan   mata me mulangkan napas, barulah ia mulai  mela kukan penyelidikan. Dalam pada itu Tay Ih siansu yang me mandang keadaan disekelilingnya, menyatakan bahwa lembah itu benar-benar sebuah tempat yang berbahaya.

Sementara Ciok Sam kongpun menanyakan kepada Tek Cin tentang perbekalan ransum kecil, “Tek- heng, berapa hari kiranya ransum yang kita bawa itu dapat dipakai? Menilik namanya, Telaga darah ini tentu berbahaya sekali. Kemungkinan kita tak dapat mene mukan makanan disitu!”

Tek Cin menyatakan bahwa ransum cukup dimakan beberapa hari.

Cau Yan-hui kicupkan ekor mata kepada Ciok Sam kong, ujarnya “Jika Telaga darah itu me mang benar ada maka cerita tentang Lo Hian menye mbunyikan pusaka, tentulah bukan kabar bohong!”

“sudah tentu bukan desas desus kosong!” sahut Ciok Sam kong,

Ketua waniia dari partai Tiam jong pay itu tertawa dingin, “Menurut he matku, jika tidak dalam perangkap musuh, kita sedang dikepung oleh bahaya maut dalam Telaga Darah”

Thian Ce totiang menyahut tertawa,  “  Ah,  kiranya  toya me miliki kecerdasan yang tak terduga duga….”

“Ah, toheng terlalu me muji padaku. Menilik kecerdasan toheng, tentu toheng sudah menyadari apa yang kita hadapi ini….” Cau Yan hui berhenti sejak, la lu lanjutnya, “Tetapi toheng rupanya tak mau mengatakan dan me mbiarkan aku yang bicara. Yang kupikir, dapatkah kita mene mukan te mpat itu. Dan apakah kita dengan mudah me masukinya?”

“Aneh sekali,” tiba tiba Ciok Sam kong menyelutuk.” tadi  ma lam perjalanan akulah yang selalu cerewet menyangsikan pengejaran ini. Dan engkau selalu menentang serta berkeras tetap melanjutkan perjalanan. Ha ha, aku dan Tek heng me mang sudah tua sehingga tak mengerti jalan pikiran angkatan sekarang ini!”

“Mati se mut karena gula, Mati manusia karena harta. Jumlah kita benar sedikit, tetapi setiap  anggota  rombongan ini, mewa kili partai persilatan yang ternama sekali berhasil mendapat pusaka Li Hian itu, tentu akan timbul perebutan. Pada saat itulah mulainya babak saling bunuh me mbunuh!”

“Rama lan Cau toyu me mang tepat,” kata Thian Ce totiang, “lebih baik soal itu kita atur dulu agar jangan sa mpai timbul pertentangan yang menyedihkan….”

“Lo cianpwe sekalian, ke marilah!” t iba-tiba-tiba Tio Gan berseru.

Cepat Ciok Sam kong mendahului lari me ngha mpir i. Tek Cin, Ciu Yan hui, Thian Ce dan Tay Ih Siansu sere mpak menyusul,

Tio Gan tengah berjongkok di bawah sebuah batu karang dan mengawasi sebuah goha yang cukup besar.

“Bagaimana anak muda? Apakah engkau menemukan petunjuk jalan?” seru Ciok Sa m-kong dengan nada tegang.

Menunjuk pada goha, berkatalah Tio Gan. “Benar  dan tanda petunjuk suhu itu mengatakan jalan itu berada di dalam goha. Karena itu wanpwe tak berani gegabah masuk dulu!”

Melongok ke dalam goha, Ciok Sam- kong dapatkan di dalamnya  gelap  sekali.  Pandang  matanya   hanya   dapat me mandang sejauh tiga to mba k.

“Tetapi kalau me mang de mikian petunjuk gurumu, kitapun terpaksa harus me masukinya!” katanya.

“Jika tidak masuk kesarang harimau, tidak mungkin medapat anaknya. Aku setuju dengan pernyataan Ciok-heng,” seru Tek Cin.

Demikianpun Thian Ce totiang. “Jika me mang demikian keputusan para locianpwe, akupun bersedia menjadi petunjuk ja lan.” kata Tio Gan.

Tetapi buru buru Thian Ce totiang, “Janganlah. Tio sutit mene mpuh bahaya. Lebih baik pinto saja yang berjalan di depan.”

Ciok Sam kong tertawa geiak-gelak, “Paling tepat aku saja yang di muka!” Habis berkata terus saja jago tua Swat San pay itu mendahului masuk. Sekalian orangpun  segera mengikut i.

Goha yang gelap, keadaan dala mnya naik turun tak rata. Kira kira dua to mbak jauhnya, lalu me mbiluk kesebelah kiri. Makin la ma makin gelap sekali sehingga tiap tiap orang tidak dapat melihat jari tangannya sendiri.

Ciok Sam kong menyulut api dan me meriksa ke empat dinding, “Tentu sudah puluhan tahun guha ini tak pernah di datangi orang. Dindingnya penuh dengan pakis!”

Tiba tiba serangkum angin dingin menitiup padam api. Dan gohapun gelap gulita lagi.

“Hai, mengapa angin begini dingin? Aku duga di  dalam goha ini terdapat timbunan es-yang tak pernah cair!” kata Ciok Sam kong.

Cau Yan hui tertawa, “sudah berpuluh tahun pinto  tinggal di gunung Kun lun. Kiranya pengala man pinto cukup banyak mengenai le mbah-le mbah yang terdapat saljunya. Walaupun angin tadi dingin, tetapi menurut he mat pinto, bukanlah berasal dari tumpukan es!”

Tiba-tiba serangkum hawa degin bertiup ke arahnya. Selain dingin, pun mengandung bau amis. Sekalian orang buru buru menutup pernapasannya.

“Ah, kemungkinan besar didalam goha ini, di huni ular besar!” akhirnya Tek Cin bicara. “Benar, tentulah ular yang didala mnya. Goha a mat sempit, kita harus hati-hati!” Seru Ciu Yan hui seraya mencabut pedang.

Tiba tiba ciok Sam kong berpaling dan berseru menegas; “Apakah engkau tak salah me nelit i tanda rahasia gurumu itu?”

“Tidak, wanpwe telah mene liti dengan je las!”

“Baiklah, jika engkau sa mpa i salah, Jangan harap kita semua dapat hidup….” tiba-tiba jago tua  Swat  san  pay  itu me langkah masuk kegoha,

Entah berapa panjangnya lorong jalan goha itu. Gelap dan berliku liku. Tiap sepuluh tombak tentu biluk. Setelah berbiluk empat kali, mereka tiba di persimpangan jalan.

Ciok Sam- kong berhenti dan bertanya pula kepada Tio Gan, “Cooalah cari apakah suhumu meningga lkan tanda rahasia disini!”

Karena gelap, terpaksa Tio Gan berjongkok dan meneliti tempat itu dengan cermat, tiba-tiba ia mendengar derap suara langkah  kaki  orang  yang  berat.   Bukan   manusia   biasa, me lainkan langkah dari seorang raksasa. Derap kakinya menggetarkan bumi, mirip dengan puncak gunung yang berguguran.

Tio Gan lekatkan telinganya ketanah. Ah, suara langkah  kaki itu se ma kin jelas.

Ciok Sa m- kong menyulut api, serunya:

“Apakah sudah mene mukan?”

Tio Gan gelengkan kepala dan menyatakan masih belum mene mukan sesuatu karena te mpat gelap sekali.

Serangkum angin a mis me nyerbak hidungnya dan menyusul terdengar bunyi mendesis-des is dan menyusul sesosok makhluk yang besar berjalan mendatangkan mereka. “Lekas bersandar pada dinding dan tutup pernapasan!” teriak Thian Ce totiang.

Ciok Sam kong kerahkan tenaga dalamnya lalu le mparkan korek apinya. Korek api me mbentur dinding, api tetap menyala terang. Dua butir mut iara sebesar cawan arak berkilau- kilauan tertimpa sinar api….

“Hai, apa itu….” tanya Thian Ce totiang.

Ciok Sam kong yang berdiri paling muka dan dengan cepat meneliti benda itu segera menyahut dingin, “Sepasang gundu mata….”

“Mata? Masakan gundu mata sebesar itu? Tentu mata binatang raksasa!” teriak Ciu Yan-hui.

“Yang di kuatirkan adalah ular besar yang beracun,!” kata Thian Ce totiang.

Tay Ih siansu yang lama berdiam diri, saat itupun menyeletuk; “Totiang benar. Dari bau amis yang menyembur tadi, lohu merasakan tentulah dari bangsa ular besar.”

Rupanya binatang itu sudah me lihat orang orang yang berada disini. Kepalanya berputar-putar dan mata berkeliaran. Tetapi tidak lagi mulutnya mendesis-desis.

“Kalau ular, mengapa sekarang?” seru Cau Yan- hui heran.

Sahut Ciok Sam- kong, “Rupanya habis menelan Ceng Hun totiang….”

“Tak mungkin suhu kalah dengan ular itu. Harap  Lo cianpwe jangan me nghina orang!”

karena suhunya di ce mooh. Tio Gan pun kurang senang. “Hah, budak engkau me ma ng sudah bosan hidup!” damprat

Ciok Sa m- kong marah. Thian Ce totiang cepat melerai dan mengharap dalam tempat dan saat seperti itu hendaknya sekalian orang harus bersatu padu.

Sementara Ciu  Yan-huipun  mendesak  agar  segera  menga mbil tindakan. Terus maju atau keluar dari goha itu.

Tiba-tiDa Tio Gan melangkah maju kearah muka seraya berseru, “Jika Ciok lo cianpwe takut di makan ular, lebih baik wanpwe saja yang berjalan dimuka!”

Bukan kepalang marah jago tua Swat san-pay itu. Ia ayunkan tangan menampar punggung anak muda itu. Tapi Tio Gan pun tak segan-segan lagi. Ia me nangkis menyabetkan pedang. sehingga Ciok Sam kong  terpaksa tarik lagi tangannya.

“Jika Ciok lo cianpwe sa mpa i me mbunuhnya. apakah kita perlu cari lain petunjuk jalan lagi?” seru Thian Ce totiang

Ciok Sam kong  mendengus,  “Hm,  jika  kau  tak  selalu me mbe lanya, dia tentu tak berani sekurang ajar itu!”

“Harap jangan salah paha m. Pinto hanya menilai  dari kenyataan. Sama sekali tak bermaks ud hendak menantang Ciok lo cianpwe,” Sahut Thian Ce.

Tiba tiba Tio Gan yang sudah berjalan beberapa langkah berteriak keras, “Disini!” Tubuhnya berputar dan tiba t iba ia lenyap.

Sekalian orang bergegas gegas lari mengha mpiri. Ternyata anak muda itu menyusup kesebuah cekung karang yang dapat dimasuki seorang tubuh manusia.

“Tio hiantit, apakah kau mene mukan tanda rahasia suhumu?” teriak Cau Yan hui.

“Suhu selalu berhati hati. tak mungkin me mbuat kesalahan,” sahut Tio Gan. Tapi suara pemuda itu makin la ma makin jauh- Agaknya me mpercepat langkahnya lari ke muka. “Hm, rupanya budak itu hendak melarikan diri! ” Ciok Sam kong cepat mengejar.

Tapi sampa i dua tiga puluh tombak jauhnya, mereka tak dapaj me lihat jejak Tio Gan lagi.

“Kurang ajar budak itu ternyata benar melarikan diri. Awas, kalau  ketemu  tentu  akan  kupatahkan  kakinya!”  Tek  Cin me ma ki ma ki.

Kembali Thian Ce totiang menyahut dingin, “Karena  kedua lo cianpwe selalu hendak me mbunuhnya ma ka dia takut dan menyela matkan diri!”

“Hayo, kita jangan buang waktu. Kejar saja terus!” seru  Cau Yan hui.

Tak berapa jauh berlari, mereka melihat sebuah perapian besar. Ciok Sam kong yang berjalan paling cepat, berhenti dan berteriak, “Astaga kita masuk kedalam sebuah gunung berapi!”

Thian Ce Totiang msnyelinap me ndahului dimuka, ujarnya, “Mati hidup sudah takdir. Sekalipun gunung berapi kita harus menerjangnya!”

Hawa sesak dalam tempat itu telah me mbuat beberapa tokoh yang berkepandaian tinggi itu agak terganggu kesadaran pikirannya.

Tek Cin tertawa tergelak gelak, “Aku sudah tua,  matipun tak menyesal!”

Lorong makin lebar tapi hawapun ma kin panas meranggas. Samar samar mereka melihat dua belah dinding karang yang merah marong.

“Ya, benar, me mang kita sedang me masuki kedalam gunung berapi” seru Cau Yan hui.

“Siapa!” tiba tiba Thian Ce todong berteriak seraya menghanta m. Dan Cau Yan huipun cepat loncat me mburu. Kiranya disebelah muka tampak seorang manusia pendek berbaju hitam. Rambutnya panjang terurai. Mencekal  sebatang pedang dan tegak menghadang dimuka tikungan jalan. Disebelah kirinya, terdapat lubang api yang menyala- nyala.

Saat itu Thian Ce Totiangpun sudah bertempur dengan si pendek baju hita m. Keduanya sama melancar kan jurus jurus ilmu per mainan pedang yang hebat.

Samar sa mar pada leher siku lengan orang pendek itu seperti terikat oleh seutas tali sehingga mengha mbat gerakkannya oleh karena tak leluasa menge mbangkan seluruh permainannya, Maka Thian Ce Totiang mendapat keringanan yang tak sedikit.

Keduanya telah bertempur sa mpai belasan jurus, na mun belum ada yang kalah. Menilik gerak per mainannya, orang pendek itu lebih ganas dan lebih dahsyat. Tampa knya dia lebih unggul setingkat dari Thian Ce Totiang. Hanya karena badannya   terikat   maka    ia    tak    dapat    menyelesaikan ke menangannya terhadap lawan. Sebab asal Thian  Ce mundur, orang itu tak dapat mengejarnya.

Ciok Sam kong mendengus dingin, “Tak di sangka ditempat ini terdapat, seorang yang berilmu sede mikian t ingginya.”

Merahlah wajah Thian Ce Totiang, bathin nya, “Jelas Ciok Sam kong hendak mengejek aku. Aku seorang ketua partay persilatan. Namun tak ma mpu me ngalahkan seorang yang tak terkenal, serta akan di ejek dunia persilatan. Suatu hal yang akan merendahkan martabat partay Kun lun pay….”

Seketika timbulah nafsu pe mbunuhan dalam hati ima m itu, dan pedangnyapun bertabur lebih  dahsyat.  Bagai  kilat menya mbar nyambar dihujan prahara, berhamburan me nebar pada orang pendek itu. Perobahan permainan pedang ketua Kun- lan pay itu ternyata memang me mbawa pengaruh besar. Si orang pendek seperti dilingkupi oleh sinar pedang.

Dalam pada itu Tek Cin berbisik kepada Ciok Sam kong bahwa ke mungkinan besar Tio Gan tentu mendapat kecelakaan.

“Apa dasarnya?” tanya Ciok Sam kong.

“Disini hanya terdapat dua simpang jalan. Jika tak melalui jalan yang dijaga orang pendek, tentulah harus melintasi jalan yang satunya, tak mungkin ia tahan menyeberang lautan api itu. Kemungkinan dia tentu me milih jalan ini. Tetapi menilik orang pendek itu sakti sekali, Tio Gan tentu bukan tandingannya. Kekuatir anak itu tentu sudah biasa.”

Ciok Sam kong mengia kan.

Tiba tiba terdengar benturan senjata yang dahsyat. Ternyata orang pendek itu telah mengadu kekerasan dengan Thian Ce. Lentikan api berha mburan….

“Bagus!” teriak Thian Ce totiang, tak nyana diperut gunung berapi ini pinto berte mu dengan musuh yang tangguh!”

Tian Ce menperang lagi dan orang pendek itupun adu kekerasan.  Letikan  api  berha mburan,  dering   melengking me me kakkan telinga. Keduanya sama sama mundur selangkah….

Ciok Sam kong berpaling kepada Tay Ih siansu, “Orang pendek itu ternyata hebat sekali.  Dalam waktu singkat, sukarlah Thian Ce totiang mengalahkannye Menurut pendapatku, lebih-baik Cau ciangbun me mbantunya agar manus ia pendek itu lekas selesai. Entah bagaimana  pendapat lo siansu?”

Sengaja ia me mperkeras suaranya agar di dengar Cau Yan hui, ketua wanita Tia m-jong-pay. “Ha! itu terserah kepada Cau ciangbun sendiri” jawab Tay Ih siansu.

Lalu wanita itu tertawa dingin, “C iok lo-cianpwe,  sayang kau dapat me mikirkan soal itu tetapi kau sendiri tak mau turun tangan”.

Ciok Sam kong tertawa, “Kalau aku turun tangan, Thian Ce totiang tentu salah paha m!”

“Uh, kalau aku yang turun tangan apakah, Thian Ce totiang akan menyambut dengan girang?” balas wanita itu.

“Ah. tidak begitu,” jawab Ciok Sam kong,

“Cau ciangbun seorang wanita dan seorang ketua partay.

Thian Ce totiang tentu sungkan.”

“Ah, me mang bagus sekali rencana lo-cianpwe itu hendak menjadikan diriku menjadi perisai,” sindir Cau Yan hui.

Ciok Sa m- kong tersenyum, “Saat ini keadaan penuh dengan perobahan yang sukar diduga. Mati atau hidup  sukar diketahui. Jika kita tak mau kerja sama,  tentu  lebih  sukar lagi!”

Berpaling kearah pertempuran, tampak Thian Ce sedang bertempur seru sekali dengan orang pendek itu. Kedua orang itu seolah-olah terbungkus oleh sinar pedang.

Benar benar suatu peristiwa pertempuran yang jarang terjadi. Kun lun pay termasyur sebagai salah sebuah partay dari e mpat partay pedang yang termasyur. Thian Ce totiang adalah jago pedang no mor satu dalam partay Kun lun-pay tetapi tak ma mpu me ngalahkan seorang pendek yang tak diketahui asal usulnya.

Akhirnya Tek Cin menghela napas dan berbisik seorang diri, “Ah, cara bertempur se maca m itu, kapankah akan berakhir?”

Tiba tiba Cau Yan-hui mencabut pedangnya seraya me langkah maju. Rupanya orang aneh itu masih me mpunyai kelebihan perhatian untuk mengawasi keadaan di sekelilingnya  Begitu me lihat ketua wanita itu bergerak, cepat ia sambut dengan sebuah tusukan.

Cau Yan-hui seorang ketua wanita yang cukup cerdik. Jika semata-mata datang me mbantu, Ia kuatir akan menimbulkan ketidak puasan dari Thian Ce totiang. Ia tak mau langsung menyerang melainkan ayunkan langkah langsung hendak menerobos mulut jalanan. sudah tentu Orang pendek itu segera menusuknya. Dengan demikian dapatlah Cau Yan hui me mpero leh alasan untuk berte mpur.

Thian Ce totiang kerutkan alisnya; “Cau tasu”.

Cau Yan hui menyiak pedang orang lalu balas menyerang sekaligus tiga buah tusukan. Sebelumnya ia me mang sudah siap, Maka sekali menyerang, ia gunakan jurus yang ganas, Setiap tusukannya mengarah ke jalan darah ma ut dari lawan.

Cau Yan-hui sudah me mperhitungkan. Sekalipun serangannya itu tak dapat me mbinasakan tetapi sekurang kurangnya orang tentu akan kelabakan menangkis. Tetapi apa yang disaksikan benar diluar dugaannya. Bukan saja orang pendek itu tetap tenang, bahkan malah dapat menghalau semua serangannya!

Dalam pada itu demi menjaga gengsinya sebagai seorang ketua persilatan, begitu melihat orang aneh itu bertempur dengan Cau Yan hui, Thian Ce pun segera menarik pulang pedangnya dan menyurut mundur. Ia tak mau mengeroyok lawan.

“Celaka, tak heran kalau Thian Ce  totiang  kampai  begitu la ma menghadapi orang ini. Ternyata kepandaian ilmu pedangnya luar biasa sekali,” diam diam Cau Yan-hui terkejut dalam hati.

Ia pun tak berani me ma ndang ringan lagi. Pedang dimainkan dengan gencar untuk mendesak lawan. Tampaknya orang pendek itu memiliki sumber tenaga  dalam yang tak kering. Sehabis berte mpur seru dengan Thian Ce totiang, ia masih me mpunyai tenaga dalam yang hebat untuk me layani Cau Yan-hui. Betapapun ketua Tiam jong-pav itu hendak menyerang dengan jurus yang hebat tetap dapat dipunahkan se mua.

Tujuh belas jurus serangan ist imewa telah dilancarkan Cau Yan hui. Bukan saja tak mampu mendesak lawan, kebalikannya ma lah menerima serangan balasan dari orang itu.

Jurus ilmu pedang orang pendek itu aneh sekali. Seolah  olah ia dapat memainkan semua ilmu pedangnya dari tiap partay persilatan,

Sesaat ia menggunakan ilmu  pedang  dari  Bu-tong  pay, ke mudian pada lain saat berganti dengan ilmu pedang partay Kun-lun-pay dan tiba-tiba berobah lagi dengan ilmu pedang Tiam jong pay. Adalah kerena perubahan itu dilakukan dengan cepat sekali dan ca mpur baur, maka sekalipun orang aneh itu ma inkan ilmu pedang Tiam jong Pay, tetapi Cau Yan hui tak dapat mene mukan lubang kele mahannya.

Setelah bertempur dua puluh jurus kini harapan menang dari ketua Tiam-jong pay itu kini menipis. Diam diam timbullah kecurigaan dalam hati ketua Tiam jong pay itu. Setelah lancarkan tiga buah serangan dahsyat untuk mengundurkan lawan, tiba tiba Cau Yan hui lintangkan pedang  didada  dan me mbentak, “Berhenti! Aku hendak bertanya!”

Orang aneh itupun tegak dite mpatnya.

“Ilmu pedangmu benar benar aneh sekali. Sebentar kebarat sebentar ketimur, tanpa urutan yang tegas.”

Mulut orang itu bergerak gerak seperti hendak bicara tapi diam ke mbali.

“Dari perguruan manakah kau?!” seru Cau Yan-hui pula. Orang pendek itu tetap me mbisu. “Apakah kau tuli!”‘ Cau Yan- hui marah

Sepasang gundu mata besar dari orang pendek itu berkilat kilat me mandang Cau Yan-hui.Rupanya ia marah  karena mendapat dampratan itu. Tapi mulutnya tetap tak bicara apa apa.

Cau Yan hui berpaling kepada Thian Ce Totiang, serunya, “Kita tak boleh me mbuang waktu dengan sia sia. Kepandaian orang ini luar biasa hebatnya. Sukar untuk menghadapinya. Lebih baik kita bersatu menghadapinya. Lenyapkan dulu baru kita bicara lagi!,”

Cau Yan-hui me nyadari bahwa ia seorang  diri tentu  tak ma mpu mengalahkan orang pendek itu-

Thian Ce Totiang gelengkan kepala; “Ah-tindakan itu kurang layak!”

Tiba tiba Ciok Sa m-ko ng berteriak, “Dalam dan tempat seperti ini, tak usah kita terlalu mengikat diri dengan segala gengsi kedudukan. Aku bersedia me mbantumu, Cau toyu!”

Jago tua Swat San-pay itu menutup pembicaraannya dengan sebuah pukulan. Serangkum angin me nderu deru, segera me mburu orang aneh itu.

Orang aneh itu me mandang dingin Ciok Sam kong. Dan diangkatnya tangan kiri untuk mena mpar. Dar….terdengar letupan keras. Orang

aneh itu tersurut mundur dua langkah. Tapi dada Ciok Sam kongpun tergetar keras.

Sepintas selalu, pukulan Ciok Sam kong lebih dahsyat dan dapat mengundurkan orang pendek itu. Ciok Sam kong sendiri diam diam bergetar perasaannya. Diam diam ia terkejut, “Iwekangnya   hebat   sekali!  Jika    aku    seorang    diri mene mpur nya, mungkin sukar me ngalahkan….” Belum selesai ia menilai, tiba tiba orang itu gerakan jarinya menutuk dari jauh. Ciok Sam kong buru baru kebutkan lengan bajunya yang kiri la lu mena mpar dengan tangan kanan.

Keduanya terpisah pada jarak empat meter. Tutukan jari dan tamparan itu sa ma sa ma menggunakan ilmu Iwekang. Ketika kedua tenaga saling berbentur Ciok Sam kong terperanjat. Angin sambaran dari tutukan orang itu, luar biasa tajamnya. Mampu mene mbus angin ta mparannya. Buru buru ia berputar tubuh untuk menghindarinya, Sreett….angin tajam mendesis mela lui sisinya.

“Berbahaya….” diam diam Ciok Sam kong  menge luh didalam hati. Ia mengisar dua langkah untuk mendekati dan meninju dada orang.

Orang  aneh  itu  cepat  menabas   dengan   pedangnya, me mbabat tangan lawan.

Ciok Sam kong mengisar kaki, menghindar. sepasang tangannya susul melepaskan hanta man. Dan orang aneh itu menyongsong dengan tebasan pedangnya.

Keduanya bertempur seru sekali. Tapi jurus permainan pedang orang aneh itu, me mang luar-biasa. Cepat dan ganas. Tujuh delapan jurus kemudian, ia dapat menguasai pertempuran.

Ciok Sam kong bertangan kosong sehingga sukar untuk mengha lau tebasan lawan. Dengan demikian makin la ma ia makin terdesak dibawah angin.

Tek Cin kerutkan alis, serunya, “Sungguh tak terduga didalam perut gunung berapi ini terdapat seorang manusia ganas. Ah, jika tak lekas lekas melenyapkannya, sukar untuk me lewati jalan ini!”

Jago tua dari Kang tong pay itu menyabut senjatanya. Sebatang Kiu-ciat kim hoat atau Gelang emas-Se mbilan-ruas. Sekali digentakan, Kim hoat menjulur lurus  menghantam musuh.

Senjata itu me mang khusus untuk menghancurkan senjata musuh yang berupa pedang, golok dan sebagainya. Kiu hoat itu mengiang ngiang nyaring, mengha mburkan segumpal sinar bayangan yang menabur pedang orang pendek itu.

Orang pendek itupun segera ma inkan pedangnya untuk menusuk. Trang….Kim hoat terpental.

“Jurus Thian chiu gin-boa yang bagus!” Seru Thian Ce Totiang.

Ciok Sam kong menggunakan kese mpatan itu untuk lepaskan dua pukulan dan dapat mendesak mundur  orang aneh itu.

Tapi orang aneh berbaju hitam itupun segera balas menyerang dua jurus. Dan iapun berhasil juga mengundurkan Ciok Sam kong sa mpai dua langkah.

Sepasang mata orang itu berkilat kilat me mancarkan api.

Rupanya ia marah sekali.

Tek Cin ke mbali mainkan kim hoat dalam jurus Sin-liong-pa wi atau Naga sakti- menggoyang ekor. Senjata itu mengaung ngaung menyerang lawan.

Orang aneh itu ke mba li mundur tiga langkah lagi untuk menghindari serangan, itulah baru pertama kali ia terpaksa tinggalkan tempatnya. Karena baik sewaktu melawan Thian Ce totiang maupun Cau Yan hui, dia tetap tak menghindar dari tempatnya.

“Harap jiwi berdua berhali hati!” bisik Thian Ce totiang.

Tek Cin ke mba li me ma inkan kiam hoan. Tiba tiba kim-hoan tegak melurus untuk ditusukan tetapi serempak dengan itu, Orang aneh itupun taburkan pedangnya. Rupanya kali ini dia gunakan seluruh tenaganya. Pedang berhamburan seperti gelo mbang sungai Tiangkiang yang tak henti hentinya mengurung kedua lawan.

Ilmu pedangnya, luas dan beraneka ragam. Sesaat  bergerak dengan tenang. Tetapi pada lain saat ganas dan luar biasa anehnya,

Sepuluh jurus ke mudian, kedua tokoh itu telah terdesak dalam kesibukan. Sambil lontarkan pukulan-pukulan dahsyat, diam diam Ciok Sa m- kong me nimang dalam hati, “Jika kali ini tak dapat mengalahkannya, habislah ke mashyuran na maku selama ini, Aku terpaksa harus mengeluarkan jurus jurus yang ganas untuk merebut ke menangan!”

Sekonyong konyong jago tua dari Swat-san pay itu menyurut mundur, menerobos keluar dari lingkaran sinar pedang.

Kini sinar pedang orang aneh itu menyerang kearah Tek  Cin sehingga jago kong tong-pay itupun menjadi kelabakan bertahan diri.

Tiba tiba Ciok Sa m-kong gunakan ilmu menyusup suara, berbisik kepada Tek Cin, “Harap Tek heng menahannya beberapa saat. Aku segera akan me mbantumu!”

Hahis berkata, jago tua itu pejamkan mata. Ia kerahkan seluruh Iwekangnya. Tetapi pada saat ia me mbuka mata dan hendak menghanta m, orang pendek itu loncat  mundur  dan me lenyapkan diri dalam goha yang gelap sera m.

Pada waktu menyimpan Gelang  emasnva.  Tek  Cin menghe la napas; “Me mang nyata bahwa o mbak di bengawan Tiangkang itu selalu mengalir. Tunas  muda  akan menggantikan angkatan tua. Ilmu per mainan orang tua itu, adalah yang paling ganas sejauh lawan yang pernah kuhadapi selama ini!” Tokoh tua yang biasanya congkak ilu tiba tiba berobah sikapnya. Rupanya ia sudah melawan  dengan seluruh tenaganya tetapi tak berbasil me nundukkan si orang aneh.

Thian Ce totiang menghela napas, “Tetapi orang itu tak mengandung ma ksud untuk mence lakai….”

“Bagaimana buktinya?” tukas Ciok Sa m- kong

“Baju pundak kiri Tek heng, hanya robek tertusuk ujung pedangnya. Jika dia benar-benar mau melukai tentu tak begitu halnya,” jawab Thian Ce.

Ciok Sam kong menga mati Tek Cin- Me mang benar baju dipundak Tek Cin itu telah tergurat pecah beberapa dim panjangnya,

Rupanya Tek Cin sendiri sudah me ngetahui hal itu maka dia diam saja.

“Ada sebuah hal yang sukar dimengerti orang. Adakah saudara saudara mengetahui hal itu?” tiba tiba Cau Yan hui mengajukan pertanyaan.

“Bukankah Cou tOyu maks udkan si orang aneh itu terikat dengan tali?” kata Thian Ce.

“Benar, Ilmu pedangnya tidak kalah dengan kita.  Ganas dan luar biasa. Agaknya dia faham akan ilmu pedang segala aliran persilatan. Tetapi mengapa, tubuhnya terikat tali? Dan tali itu rupanya dikendalikan oleh seorang yang tentunya lebih ganas lagi!” kata Cau Yan hui.

Thian Ce totiang merenung beberapa saat lalu katanya;  “Hal itu me mang mungkin Tetapi jelas sebelumnya dia tentu dibius dulu baru ke mudian diikat….”

Tay Ih Siansu tiba-tiba menyeletuk, “Ah, lohu teringat akan Ceng Han toheng. Apakah tak mungkin dia mengala mi nasib begitu juga!” Thian Ce totiang maagangguk,  “Ucapan taysu benar. Betapapun kesaktian seseorang dan betapapun berbahaya keadaan goha ini, tetapi kita sudah terlanjue seperti anak panab yang terlepas dari busur. Mau tak mau harus me luncur terus. Biarlah pinto yang me mpelopor i ja lan dulu!”

Sambil me mutar pedangnya, ketua  Kunlun pay  itu  maju ke muka. Sekalipun ucapannya gagah, tetapi ia tak berani gegabah dan tinggalkan kewaspadaan.

Begitu tiba ditengah goha, ia rasakan hawa yang le mbab sekali. Suatu perbedaan menyolok dengan mulut goha yang panas hawanya tadi.

Kesaktian orang aneh tadi telah menyebabkan sekalian tokoh tokoh berhati hati. Lorong goha gelap dan dingin bukan ma in. Jago jago itu me miliki mata yang tajam sekali tetapi mereka tetap hanya mampu melihat sejauh dua tiga meter saja.

Setelah mengala mi kekalahan tadi, sikap Tek Cin banyak berobah. Dia tak sombong legi dan tak berani lengah. Ia menghe la napas-. “Jika musuh se mbunyi dite mpat gelap dan me lepaskan senjata rahasia, kita tentu tak dapat menjaga!”

Thian Ce mengusulkan. Mengingat keadaan saat itu benar benar berbahaya sekali ma ka sebaliknya jika me mbawa senjata rahasia supaya disiapkan juga.

Baru ia berkata begitu, tiba tiba ia menyurut mundur dan mendengus tertahan.

“Toheng, apakah kau terluka?” tanya Cau Yan hui.

“Masih untung….” jawab ketua Kun- lun pay lalu berseru dengan lantang, “Hai, dengan menyerang orang dengan  menge lap. Bukan laku seorang ksatria!”

Tiba tiba Ciok Sam kongpun mendengus tertahan dan mundur selangkah. Rupanya dia-pun terkena senjata gelap. “Apakah  Ciok  heng  terluka?  buru-buru   Tek   Cin mengha mpiri.

“Rupanya orang itu tepatkan pukulan Biat gOng ciang dan semaca m Peh-poh sin- kua,” jawab Ciok Sa m- kong.

“Dalam te mpat sesunyi ini, jika Biat gong ciang atau Peh poh-8in kun tentu terdengar suara anginnya,” kata Cau Yan- hui.

“Benar, rasa yang jiwi derita itu adalah dari pukulan Bu ing sin kun,” kata Tay Ih siansu-,

“Bu ing sin kun? Eh, mengapa  aku belum pernah mendengar pukulan se maca m itu?” seru Cau Yan hui.

Tay Ih siansu menerangkan bahwa Beng-gak telah menguasai seorang jago sakti dari Se-ga k yang me miliki pukulan tanpa bayangan itu.

“Kalau begitu, goha ini sudah dikuasai orang Beng gak,” kata Ciak Sa m- kong.

“Yang lohu ketahui, tokoh yang memiliki ilmu pedang Biat gong sin kun itu hanya seorang ” kata Tay Ih siansu pula.

“Siapa?” tiba-tiba Tek Cin  mendengus  tertahan  lalu menda mprat, “main se mbunyi dite mpat gelap adalah pengecut!”

Rupanya jago tua dari Kong tong-pay juga termakan pukulan aneh.

Thian Ce totiang me mbis iki Tay Ih sianSu; “Pinto rasakan tenaga pukulannya tak berapa berat. Jika orang itu me mang tak bermaksud hendak melukai kita, tentunya dia belum cukup tinggi kepandaiannya!”

“Aah .”baru Tay Ih menyahut tiba tiba dadanya terlanda oleh serangkum angin yang tak bersuara. Mau tak mau ia harus mundur selangkah. Walaupun tenaga pukulan itu tak berapa keras, tetapi karena datangnya secara mendadak sehingga tak sempat berjaga jaga, mau tak mau sakit juga rasanya bagian tubuh terkena hantaman itu.

“Ha, apakah taysu juga terkena?” Thian Ce totiang terkejut. “Menang benar tak berapa keras,” sahut ketua Siau lim si

itu.

Cau Yan hui menge luarkan sebatang senjata Thiat lin khek atau tanduk besi, sebuah besi bundar yang panjang.

“Partay kami me mang punya senjata rahasia, tetapi aku jarang sekali mengguna kan. Sekarang terpaksa akan kucoba!”

Habis berkata, tangannya menebar. Sebatang Thiat ling kak me luncur. Tring…. senjata itu berdering me mbentur dinding. Agaknya  dilorong goha   itu   tidak   berapa   dala m.   Atau ke mungkinan lorong goha itu me mbiluk.

“Harap jiwi tinggal  disini,  pinto  hendak menyelidiki kedala m” tiba tiba Thian Ce totiang berkata.

“Aku ikut!” seru Cau Yan hui.

“Tak perlu! Jika seorang yang pegri, mudah untuk menghindari bahaya serangan gelap!” kata ketua Kun- lun-pay itu seraya melangkah masuk.

Goha teramat gelap. Baru belasan langkah jago Kun-lun- pay itu tak tampak lagi.  Hanya  derap langkah  yang  ma kin  la ma makin terdengar jauh.

Tapi sampai la ma menunggu, sekalian tokoh tokoh itu tak terdengar berita Thian Ce Totiang lagi.

Cau Yaan-hui tak sabar ldgi. Setelah me minta sekalian orang menunggu, ia segera lagi masuk.

“Tunggu dulu Cau Ciangbun!” cegah Ciok Sam kong. “Mengapa?” “Ka mi berjumlah enam orang. Yang dua sudah hilang, Jika berpencar lagi, kekuatan kita makin kecil. Lebih  baik kita bersama sa ma pergi!” kata jago tua dari Swat-san pay itu.

Tek Cinpun me ndukung. Demikian juga Tay Ih siansu yang bahkan terus mendahului ja lan. Karena kuatir akan tercerai berai, ke e mpat tokoh yang lain segera mengikuti.

Tapi ternyata telah terjadi suatu hal yang diluar dugaan mereka. Dua tiga tombak jauhnya, mereka tak mendapatkan serangan gelap lagi. Tampa knya penyerang gelap tadi sudah pergi.

Setombak lagi jauhnya, mereka diujung goa. Ke empat orang itu agak bersangsi. Kiranya mereka tiba dipersimpangan dua. Sedang dihadapan muka, terbentur dinding karang. Kanan kiri terdapat dua buah tikungan.

“Eh, entah Thian Ce Toheng me nga mbil jalan yang mana ini?” tanya Cau Yan-hui.

Ciok Sam kong menghela napas. “Yang tak kumengerti, mengapa Thian Ce toheng tak mau berteriak me manggil kita. Kecuali dia binasa seharusnya dia me mberi tanda kepada kita. Jika diam diam begini, sukarlah kita menyusulnya!”

Setelah merenung beberapa saat, Cau Yan-hui berkata, “Benar, jika Tio Gan yang kepandaiannya masih dangkal, mudahlah disergap dengan ditutuk jalan darahnya. Tapi kalau tokoh maca m Thian Ce totiang yang sudah siap sedia, tentulah sukar diserang secara gelap oleh musuh. Ah, benar benar mengherankan sekali mengapa dia tiada jejaknya sama sekali.”

“Kita berenam orang, sudah dua orang yang  hilang.  Jika kita menyusur kedua tikungan kita  pasti akan berpencar. Maksud lohu, lebih baik kita berjalan bersama. Sekalipun keliru jalan tetapi kita tetap me miliki kekuatan!” Tay Ih siansu setuju de mikian juga yang lainnya. Atas permintaan Cau Yan hui, Ciok Sa m-kong segera menyalakan api untuk me meriksa keadaan kedua simpang jalan itu.

“Sebuah batu karang yang keras, Sedikitpun tiada terdapat suatu jejak….”

Cau Yan hui menghela napas setelah me meriksa jalanan. Tiba-tiba dan kanan kiri simpang ja lan itu menyembul hawa yang luar biasa dinginnya sehingga api padam seketika. Kembali jalanan disitu gelap gelap gulita.

“Simpang kiri, penuh dengan hawa yang dingin sekali. Kita ambil jalan yang sebelah kanan saja!” kata Cau Yan hui seraya terus mendahului melangkah, Kawan kawannyapun segera mengikut i.

Setengah li kemudian., lorong jalanan makin melebar. Cau Yan-hui percepat langkahnya, Ia lari. Ternyata jalanan makin la ma ma kin lebar dan akhirnya berubah merupa kan sebuah tanah datar yang luas sekali.  Hawa disitupun nyaman. Demikian penerangannya, tidak segelap seperti dalam lorong sempit tadi.

“Hai, sebuah dunia tersendiri.” teriak ketua wanita  dari Tiam jong pay itu:

Me mandang kearah dinding karang yang berbentuk mir ip dengan sarang tawon itu, berkatalah Tek Cin, “Aneh dari manakah penerangan ini?”

Sambil berkata, ia menghampiri dan me meriksa sekeliling dinding karang.

Setelah habis menyusur kesekeliling dinding karang yang bulat bentuknya itu, Tek Cin geleng-geleng kepala, “Kecuali dari lubang sinar penerangan kita Saat ini berada disebuah tempat yang buntu dan terasing dan dunia luar!”

“Waktu berharga sekali. Hayo kita cepat ke mbali dan mencari jejak kedua orang itu….” baru Ciok Sam kong berkata begitu, terdengarlah suara mendesis desis dari dinding karang sebelah kanan.

“Dengarlah! Suara apakah?” Cu Yan hui berseru kaget.

Tetapi kee mpat kawannya yang pasang telinga dengan penuh perhatian, tak dapat mendengar jelas suara itu.

Beberapa saat kemudian barulah Ciok Sam kong batuk batuk kecil, ujarnya, “Pernah kudengar orang mengatakan bahwa ditelinga atau rawa rawa di pegunungan yang terpencil sering terdapat binatang beracun dan makhluk yang ganas. Misalnya, belum berapa la ma me masuki  goha  kita  seperti me lihat seekor ular besar. Apakah….”

Belum jago tua dari Swat san pay itu selesai berkata tiba tiba terdengar getaran yang keras sekali. SAlah sebuah ujung karang merekah pecah dan ta mpaklah sebuah pintu. Seorang manus ia yang berpakaian compang camping dan muka hitam me langkah keluar….

Orang itu terkejut dia hendak menyurut mundur tetapi Ciok Sam kong cepat loncat me mbentak, “Berhenti!”

Orang itu termangu berhenti. Pada lain saat dia me langkah maju lagi.

Ciok Sam kong me mang tokoh angkatan tua yang termasyur didunia persilatan. Tetapi sejak beradu kepandaian dengan orang aneh di goha tadi, kecongkakannya sudah banyak menurun. Juga terhadap orang yang saat itu,  ia berlaku hati-hati. Orang itu maju, ia  segera  melangkah mundur.

“Berhenti dulu dan bicara baik!” bentak Cau Yan-hui sa mbil bolang balingkan pedang. Orang itupun menurut dan berseru:

“Siapakah engkau?” Nadanya ge merincing jernih.

“Ka mi bertanya, mengapa engkau balas bertanya?” seru Tek Cin. Orang itu tertawa dingin, “Tetamu yang yang sopan takkan mendahului tuan rumah. Beritahukanlah na ma kalian dulu!”

Cau Yan hui tergerak mendengar kata kata orang itu, serunya, “Menilik bicara mu, engkau tentu pernah belajar ilmu sastra….” tiba tiba ia melihat sekujur pakaian orang itu robek robek semua. Buru buru ketua wanita Tiam jong pay itu palingkan muka.

Rupanya orang itupun tahu apa yang dicengahkan wanita itu. Ia merasa pakaiannya me mang tak sopan. Buru buru ia loncat masuk ke dalam pintu lagi.

Takut kalau orang itu menutup pintu, buru buru Ciok Sam kong buru buru lari me mburu. Tetapi baru tiba dia mbang pintu, dadanya serasa terlanda oleh angin pukulan yang tiada bersuara. Seketika ia terhuyung tiga langkah kebelakang. Dadanya masih terasa sakit.

Cau Yan hui cepat memburu datang, “Lo-cianpwe, apakah engkau terluka berat?”

“Tak apa,” sahut jago tua itu, “budak itulah yang tadi menyerang dengan pukulan Bu-ing-sin- kun. Akupun ter makan pukulan gelap itu…. ” Ia berhenti sejenak lalu berkata pula, “Tetapi, kali ini tenaga pukulannya lebih berat dari yang tadi Untungnya akupun sudah siap sebelumnya!”

me lihat pintu batu itu masih terbuka. Cau Yan-hui segera hendak menyerbu, tetapi tiba-tiba terdengar suara orang berseru, “Jika kalian berempat tak mau menyebut nama mu, dengan salahkan aku tak kenal peradatan!”

Tek Cinpun banyak berobah setelah mendapat pengala man pahit dari orang aneh bertubuh pendek tadi. Dia tidak  sombong lagi. Ia segera menyahut, “Aku Tek Cin sedang lo siansu ini adalah Tay Ih siansu dari Siaolim Si!” “Dan siapakah yang ter makan pukulanku Bu ing-Sin kun tadi serta siapa pula wanita itu?” terdengar orang dibalik pintu itu bertanya.

“Nona ini adalah ketua dari partai Tia m-Jong pay”

“Dan aku adalah Ciok Sam kong dari Swat San Pay,” cepat Ciok Sam kongpun itu seru.

Orang yang berada didalam pintu itu menghela napas, serunya, “Harap kalian me mberikan secarik pakaian agar aku dapat keluar?”

Ciok Sam kong  berpaling  kepada  Tay  Ih  siansu  dan  me minta segera ketua Siau lim si itu suka me minja mkan jubah luarnya.

Tay Ih siansu tergugu. Jubah luar itu jubah kebesaran sebagai ketua Siau lim si. Bagaimana hendak ia pinja mkan pada orang.

Tek Cin mendesak, “Dalam saat dan tempat seperti ini, sebaiknya siansu suka me minja mkan jubah itu untuk sementara waktu!”

Tay  Ih   siansu   terpaksa   melepaskan  jubahnya   lalu dile mparkan kedalam pintu. Tak la ma ke mudian orang bermuka kotor itu me langkah keluar. Ternyata dia  masih muda, rambutnya kusut tak karuan. Seluruh tubuhnya terbungkus jubah kuning milik Tay Ih siansu. Yang rampak tersembul menonjol, hanyalah kepalanya saja.

“Siapa nama saudara.” tegur Ciok Sam-kong dengan menatup pemuda itu tajam-taja m.

Pemuda ber muka kotor itu menghe la napas panjang! “Aku bernama Kat wi!”

“Kat Wi….” Ciok Sam- kong mengulang perlahan, Ia merenung sa mpai la ma tapi tak dapat mengingat na ma itu. Tek Cin berputar tubuh dan menghadang dimuka pintu. Serunya dengan dingin, “Apakah kau yang menyerang secara gelap dilereng goha tadi?”

Kat Wi gelengkan kepala, “Aku tak pernah tinggalkan tempat ini, bagaimana bisa menyerang mu….”

Ia tertegun sejenak lalu berkata pula.”Ah, benar, Kemungkinan saudara Kat Hong!”

“Kat Wi, Kat Hong? Ah, benar benar nama yang asing bagiku!” seru Ciok Sa m-ko ng.

“Ka mi berdua saudara me mang mas ih muda dan jarang keluar dunia persilatan. sudah tentu kalian tak kenal,” kata Kat Wi.

Kemudian dengan nada yang ra mah, ia menanyakan mengapa tokoh tokoh dapat masuk ke perut gunung itu.
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Wanita iblis Jilid 36"

Post a Comment

close