Wanita iblis Jilid 22

Mode Malam
Jilid 22

MELIHAT ITU, Tay Ih tertawa dingin: “Jikalau tidak dengan cara menyamar lalu me nyelundup masuk ke sini, orang itu tentu sudah menyelidiki sa mpa i paham betul keadaan gereja ini!”

Berhenti sejenak, kembali paderi sakti itu berkata pula: “Kalau dugaanku tak salah, rupanya mereka telah me milih pohon siong itu untuk te mpat bersembunyi. Mereka mengenakan pakaian yang sewarna dengan daun sehingga pada ma lam hari, tak mudah dilihat orang….”

Lantang sekali Tay Ih mengucapkan kata-katanya itu seperti sengaja agar musuh mendengarnya.

Tiba-tiba Tay Ih berisik: “Harap sute bertiga siap-siap. Begitu muncul, musuh tentu akan mene mpur kita. Jangan sampai dia lolos!”

Tay To siansu yang mengetahui bahwa suhengnya (Tay Ih) hendak gunakan ilmu menimpuk dengan bok- lia m-cu untuk mengha lau keluar mus uh, buru-buru mencegah: “Suheng….”

“Aku tahu…” tukas Tay Ih seraya menimpuk dengan tangan kanan lagi. Segera terdengar beberapa bunyi mengaum di udara mala m. Beberapa saat kemudian, kemba li Tay Ih menimpuk lagi.

Saat itu ma lam telah mulai menyurut, cuaca makin terang. Tetapi orang yang berada dalam gerumbul daun itu, rupanya tak menghiraukan. Adalah Siu- lam yang gelisah dan mulai curiga….

Tiba-tiba dari sanggar pertapaan yang di tengah, terdengar sebuah suara bentakan keras. Menyusul sesosok bayangan menyelinap keluar. Melihat itu, pucatlah wajah Tay Ih, Tay Goan dan Tay Teng. Sanggar pertapaan di tengah itu, adalah tempat pertapaan dari kedua paderi tua, paman dari ketua Siau-lim-si sekarang.

Pada saat ketiga paderi itu terpukau, tiba-tiba dari gerumbul daun pohon siong, me layang keluar sesosok bayangan. Dengan mela mpaui di atas kepala  ketiga  paderi itu, orang aneh itu turun kira-kira setombak jaraknya dengan ketiga paderi angkatan Tay.

Siu-la m berteriak keras. Dengan gunakan ilmu peringan tubuh Pat-poh-teng-gong yang sakti, ia lari mengejar bayangan orang itu.

Sejak menerima pelajaran ilmu tersebut dari orang tua sakti kakek Hian-song, baru pertama kali itu Siu-la m menggunakannya. Dalam gugupnya ia tak menyadari bahwa bagaimanapun pesat kepandaian yang telah  dicapainya sampai saat itu, namun belum cukup  untuk  menggunakan ilmu Pat-poh-teng-gong (Delapan langkah menerjang udara). Hal itu baru dirasakan setelah pada loncatan pertama, ia tak dapat mencapai apa yang diinginkan!  Cepat-cepat  ia kerahkan se mangat dan pancarkan seluruh tenaganya.

Dengan dua tiga kali loncatan, ia dapat melampaui rombongan paderi dan tepat tiba di depan bayangan  orang itu. Tanpa bertanya lagi, Siu-la m terus menghanta m.

Orang itu dari kepala sa mpai ke kaki, diselubungi jubah hijau. Hanya bagian mata yang diberi lubang. Perawakannya kecil langsing. Melihat pukulan Siu-la m sangat dahsyat orang itu cepat menghindar ke kiri dengan suatu gerakan yang indah  dan gesit sekali.

Siu-la m agak terkesiap. Rasanya ia tak pernah me lihat orang dengan gerakan seperti itu. Tapi ia  tak  dapat merenung lebih la ma karena orang itu mengangkat tangan kiri dan jarinya mengha mbur kan angin taja m.

Siu-la m cepat menyongsong dengan tamparkan tangannya. Begitu kedua tenaga saling berbentur, terdengarlah letupan mengge letar di udara.

Siu-la m terkejut. Ia rasakan tenaga gerakan jari orang itu masih kuasa mene mbus ta mparannya.

Dalam pada itu, Tay Ih, Tay Goan, Tay Teng, Tay To dan lain-la in, telah tiba. Mereka segera mengepung orang berpakaian kerudung hijau itu. Kecuali Tay Ih siansu, yang lainnya sa ma menghunus senjata.

Melihat itu, orang berpakaian hitam yang menerobos keluar dari sanggar di tengah tadi, berhenti dan menghampiri ke tempat kawannya yang terkepung itu.

Wut, wut, Tay Ih siansu lepaskan dua buah pukulan, serunya: “Kalau sudah berani datang ke sini, mengapa sicu tak berani menunjukkan wajah?”

Belum orang berjubah hijau itu menyahut, tiba-tiba terdengar Tay Teng siansu mendengus dingin dan menyingkir ke sa mping.

Ternyata waktu mengha mpir i datang, orang berjubah hitam itu telah gerakkan jarinya kea rah punggung Tay Teng. Tay Teng berpaling dan menghantam. Tapi orang berjubah hitam itu sudah bersiap-siap. Tangan  kiri  cepat  menyusul, menuding. Tay Teng tak sempat menjaga  dan lengan kanannya terkena angin pancaran jari. Paderi itu mundur dua langkah. Bobol pos yang ditempati Tay Teng, telah digunakan sebaik-baiknya oleh orang baju hijau yang secepat kilat sudah menyelinap keluar dari kepungan. Begitu bersatu dengan si baju hitam, mereka berdua segera kabur.  Sekali  loncat, mereka sudah mencapai dua to mbak jauhnya.

Tay Ih kaget sekali. Saking gugupnya ia loncat ke udara dan menghantam Tay Goan siansu.

“Hai, mengapa lo-siansu…” teriak Siu- lam yang kaget karena Tay Ih  memukul  sutenya  sendiri.  Tapi  ia  tak  jadi me lanjutkan teriakannya karena ternyata habis me mukul rubuh Tay Ih meluncur lebih laju dan tiba-tiba sudah berada di belakang kedua orang berkerudung tadi.

Kini jelaslah Siu-la m apa arti pukulan tadi. Ternyata paderi itu gunakan pukulan untuk me minjam tenaga, agar laju tubuhnya dapat lebih pesat.

Rupanya Tay Ih sudah kehilangan kesabaran dan ketenangannya. Begitu turun ke tanah, dengan mengge mbor keras, ia terus lepaskan hantaman. Pukulan itu dila mbari dengan tenaga lwekang penuh sehingga menimbulkan deru angin yang dahsyat.

Tetapi kedua orang berjubah hitam dan hijau itu rupanya tak mengacuhkan. Tanpa berpaling  muka  mereka berpencaran ke sa mping.

Me mang Tay Ih pun sudah me mperhitungkan bahwa tak mungkin sekali pukul ia dapat merubuhkan musuh.  Maka ketika me mukul dengan tangan kanan, tangan kiri sudah siapkan beberapa liamcu. Begitu kedua  musuh  berpencaran ke kanan dan ke kiri, tangan kiri segera menyambit e mpat buah lia m-cu, dua ke sebelah kanan, dua ke sebelah kiri.

Paderi tua itu rupanya benar-benar  marah sekali. Timpukan lima-cu itu juga disertai dengan tenaga penuh sehingga benda-benda itu menerbitkan suara tajam. Jubah hitam berpaling dan gerakkan tangan. Tring, tring, dua buah lia m-cu berha mburan jatuh terhantam badiknya.

Sementara jubah hijau lain lagi cara menghadapinya.  Dia me lenting ke udara sehingga kedua lia m-cu itu lewat di bawah kakinya.

Tetapi karena gangguan itu, Siu-lam, Tay Teng, Tay Goan dan lain- lainnya se mpat  menyusulnya.  Siu-la m  cepat menya mbar siku lengan si jubah hita m.

Sebenarnya si jubah hitam tahu, tetapi ia pura-pura diam saja. Begitu tangan Siu-lam ha mpir menyentuh, dengan kecepatan yang luar biasa, ia menyambar tangan si pemuda. Dengan begitu posisi berubah seketika. Dari kedudukan diserang menjadi penyerang.

Cengkeram mencengkera m itu tampaknya sederhana sekali tetapi sebenarnya mereka mengguna kan ilmu gerak yang luar biasa indahnya.

Karena agak ayal, punggung tangan Siu-lam   kena tertampar jari musuh. Sakitnya sampai  menyerang ke  bahu. Ia terpaksa mundur dua langkah.

Tay Teng siansu yang menyaksikan dari sa mping, cepat berseru: “Pui sicu silahkan mundur. Biarlah loni yang…” tanpa menanyakan nama orang, paderi itu segera  menyerang dengan jurus Heng-soh-cian-kun (menyapu ribuan lascar). Senjata hong-pian-jan dibabatkan ke pinggang.

Tay Teng me miliki tenaga besar. Serangan  yang dilancarkan sekuatnya itu menerbitkan deru angin yang hebat.

Jubah hitam hanya mendengus dingin. Tiba-tiba ia menubruk dada Tay Teng dengan badik.

Tay Teng terkejut. Jika tak menarik hong-pian-jannya,  ia me mang dapat menghanta m pinggang lawan. Tetapi dadanyapun tentu ambling tertikam badik. Akhirnya ia terpaksa menarik pulang senjatanya sambil mundur ke belakang.

Tetapi jubah hitam itu tak mau me mberi kese mpatan lagi. Loncat me la mbung sa mpai  dua  tomba k  tinggi,  ia berjumpa litan di udara kemudian meluncur miring. Gerak itu mene mpatkan dia sejauh tiga to mbak.

Si jubah hijaupun dapat lolos dari kepungan Tay To siansu dan rombongan paderi. Kini keduanya bersatu,  siap bertempur bahu me mbahu.

Menyaksikan gerak loncatan kedua musuh  itu menggunakan ilmu mer ingankan tubuh yang sakti, Tay Ih siansu menginsyafi bahwa paderi-paderi Siau- lim-si tak mungkin ma mpu mengejarnya. Bahkan jumlah ro mbongan paderi yang begitu banyak, malah merupakan  rintangan. Serentak berserulah ia: “Tay  Goan sute, harap pimpin penjagaan di sini. Tay Teng dan Tay To sute, ikutlah aku mengejar musuh!”

Tay Teng mencekal senjata hong-pian-jan dan Tay To mence kal sepasang golok kwat-to. Mereka cepat mengikuti  Tay Ih siansu.

Siu-la m agak bersangsi. Berkatalah ia kepada seorang paderi yang berada di sampingnya: “Toa-suhu, tolong pinjam senjata toa-suhu.”

Paderi itu bersangsi. Tiba-tiba ia rasakan tangannya kesemutan dan tahu-tahu golok sudah pindah di tangan si anak muda. Ia terkejut. Ketika berpaling ternyata  Siu-lam sudah melayang di udara untuk menyusul Tay Ih dan sutenya.

Rupanya jubah hitam dan jubah hijau tak mau terlibat dalam perte mpuran dengan kawanan paderi. Dan pula agaknya mereka paham benar dengan keadaan gereja itu. Mereka lari menuju ke arah barat laut. Walaupun ketiga paderi t ingkat tinggi dari Siau-lim-s i itu mengejar dengan tenaga penuh, tetapi tetap tak mampu mende kati kedua orang berjubah itu. Mereka tetap terpisah pada jarak dua tombak. Sedangkan Siu- lam kira-kira terpisah satu tombak di belakang ketiga paderi.

Tay Ih agak kesima. Kedua orang berjubah itu ternyata dapat memilih arah di mana penjagaan tidak begitu kuat. Dan sekeluar dari lingkungan gereja, mereka akan menuju pada sebuah jalan buntu.

Demikian enam sosok bayangan, berlari-lari kejar-mengejar seperti deru angin. Tiba-tiba Tay Teng siansu melantangkan seruan O-mi-to-hud. Dalam mala m yang sunyi, nadanya bergema jauh. Belum seruan itu reda, empat orang paderi setengah tua, bermunculanlah menghadang di tengah jalan.

Kiranya seruan O-mi-to-hud itu merupakan  sandi  untuk me manggil barisan penda mping paderi Siau- lim-si yang bertugas di sekeliling tempat itu.

Begitu keempat paderi itu muncul, kedua  orang berjubah itu sudah tiba di sa mping mereka. Begitu keduanya gerakkan tangan, tiga di antara keempat paderi yang menghadang jalan itu segera terjungkal rubuh. Paderi yang masih berdiri, segera gunakan jurus Lat-soh-ng-gak (menyapu lima gunung), menghanta m dengan tongkatnya.

Tetapi kedua orang berjubah itu luar biasa cepatnya. Baru paderi itu gerakkan tongkatnya, mereka sudah melejit ke samping sehingga sabatannya mene mui angin.

Tetapi sekurang-kurangnya, rintangan itu me mberi kesempatan bagi ro mbongan Tay Ih siansu untuk menyusul datang. Tay Teng  tekankan  tongkatnya  ke  tanah  dengan me minjam tenaga tekanan itu tubuhnya mence lat ke udara dan meluncur jauh di sebelah muka. 

Baik Tay Teng maupun Tay To hanya tahu bahwa suhengnya itu me mang lebih sakti dari la in-lainnya. Tetapi baru pertama kali itulah mereka menyaksikan Tay Ih siansu gunakan ilmu meringankan tubuh jauh luar biasa. Keduanya makin menaruh rasa kagum.

Paderi yang masih bertahan tadi ketika me lihat ketiga kawannya terkapar  sebelum  se mpat  menghadang  orang, dia m-dia m hatinya menyesal.

“Murid…” ia berseru lantang dengan nada penuh sesal. Tetapi belum se mpat menyelesaikan kata-katanya, Tay Teng dan Tay To sudah melesat ke sa mpingnya.

Ketika Siu-la m yang berada di belakang tiba di sa mping paderi itu, ia berseru pelahan suruh paderi itu lekas menggotong kedua kawannya yang terluka ke dalam gereja.

Tay Ih siansu telah gunakan ilmu mer ingankan tubuh yang istimewa, yakni Leng-hong-hui-toh. Ilmu itu merupakan ilmu sakti dari perguruan Siau- lim-si. Dengan tekankan tongkat ke tanah, paderi itu mela mbung sa mpai tiga tombak tingginya. Kemudian tanpa menginjak tanah, ia hantamkan tongkatnya lagi, dengan me minja m tenaga hantaman itu, ia melayang sampai delapan-se mbilan to mbak jauhnya. Begitu melayang turun ke tanah, ia hanya terpisah setombak dari kedua musuhnya.

Tay Teng dan Tay To yang kalah sakti dari suhengnya, walaupun sudah menumpahkan seluruh tenaganya, tetapi tak dapat menyusul suhengnya.

Saat itu musuh sudah tinggalkan di lingkungan gereja Siau- lim-s i. Setelah melintasi dua buah puncak gunung, tiba-tiba mereka berhadapan dengan sebuah puncak tinggi yang buntu.

“Hai, kalian berhadapan dengan jalanan buntu. Jika tak mau berhenti, terpaksa loni akan lepaskan senjata rahasia!” Tay Ih siansu berseru nyaring. Ia tetap memegang gengsi sebagai seorang paderi yang berkedudukan t inggi. Sekalipun marah tetapi tetap tak mau menyerang secara gelap. Tetapi mana orang berjubah hitam dan hijau itu mau menggubrisnya.   Mereka  me mbe lok  dan   lari   menyusuri  la mping gunung.

Tay Ih diam-dia m menghela napas longgar. Ia kendorkan larinya. Dan ketika Tay Teng dan Tay To menyusul, ia berkata dengan bisik-bisik: “Jika me mbelo k ke sebelah kanan, walaupun jalan sukar, tetapi masih terdapat jalanannya. Tetapi jika menikung ke sebelah kiri, setelah lima lie jauhnya akan terhadang oleh jurang yang dalamnya ratusan tombak dan lebarnya empat belas-lima belas to mba k. Betapapun mereka  sakti  dalam  ilmu  ginkang,  tak  mungkin  ma mpu me la mpauinya. Baiklah kita kendorkan langkah untuk beristirahat agar dalam menghadapi ke mungkinan bertempur lagi, semangat kita sudah segar. Siu-heng hendak mengejar mereka untuk menghalangi  jangan  sa mpai  mereka  dapat me mbuat jembatan!”

Habis berkata paderi itu cepatkan larinya lagi. Saat itu Siu- lam pun tiba. Pesan Tay Ih tadi didengarnya jelas. Buru-buru ia berseru member i peringatan: “Harap toa-suhu berhati-hati. Rupanya kedua orang itu seperti anak buah Beng-ga k!”

“Harap sicu jangan kuatir. Loni tentu dapat menjaga diri…” kedengaran jauh sekali suara penyahutan Tay Ih siansu.

Tay To berpaling menatap Siu-la m dan menghaturkan maaf karena menyangka keliru. Siu-la m mengucapkan kata-kata merendah dan mengetahui bahwa diapun bersalah karena tak mau mencer itakan hal itu sebelumnya, sehingga menimbulkan kesalahpahaman.

“Ah, me mang penjagaan ka mi yang kurang rapat sehingga musuh dapat menyelundup. Bukan salah sicu,” kata  Tay Teng.

Dalam pada bercakap-cakap itu mereka bertiga me mbe lok ke sebuah tikungan dan menghadapi sebuah jalan  se mpit yang menuju ke sebuah le mbah. Saat itu mala m sudah lenyap, fajar mula i menyingsing. Siu-la m me mandang ke muka. Dilihatnya pada ujung lembah, beberapa sosok tubuh sedang bertebaran kian ke mari.

“Rupanya Tay Ih siansu sudah bertempur dengan mus uh. Mari kita lekas susul,” katanya seraya lari. Tay Teng dan Tay To segera mengikuti.

Le mbah itu hanya sepanjang tiga, empat lie. Dalam beberapa kejap saja mereka sudah tiba di ujung le mbah. Ternyata di ujung itu merupakan sebuah ujung buntu yang berbahaya. Di situ merupakan pertemuan dua la mping gunung. Di sebelah mukanya terbentang sebuah jurang yang dalam sekali. Batu-batu gmer lap dan runcing,  bertebarang me menuhi jalan buntu itu.

Mentari pagi mulai me ma ncarkan cahayanya. Gumpalan kabut pagi, berhamburan keluar dari dasar lembah dan bertebaran me menuhi per mukaan.

Me mang saat itu Tay Ih siansu sedang bertempur seru dengan si orang jubah hita m. Tay Ih ma inkan tongkatnya menjadi hamburan beribu-ribu sinar, disertai dengan desus angin yang menderu-deru.

Sedang  si  jubah hitam  yang   menggunakan   pedang, me lancarkan serangan-serangan yang aneh dan cepat. Di dalam tekanan tongkat Tay Ih siansu yang mengaum-aum bagai badai di musim dingin, pedang orang berjubah hitam itu me lincah- lincah seperti kupu- kupu  ma in di atas bunga. Betapapun Tay Ih hendak menghancurkan, tetap lawannya dapat menghindar.

Sementara itu si orang jubah hijau hanya tegak menggendong tangan. Rupanya dia sedang menyelidiki satu jalan keluar dari karang buntu situ. Sama sekali ia tak menghiraukan perte mpuran dahsyat yang berlangsung di belakangnya. Sepintas pandang, tampak tongkat Tay Ih siansu lebih perkasa sehingga seolah-olah dia menang angin. Tetapi jika  dia mati dengan seksa ma, ternyata tidak de mikian keadaannya.

Sekali dalam lingkaran sinar tongkat yang mencurah hebat, namun orang jubah hitam itu sa ma sekali tak sibuk dan tetap ma inkan pedang dengan leluasa sekali. Jelas bahwa  dia belum menge luarkan seluruh kepandaiannya.

Melihat itu, Tay Teng me mbisiki Tay To: “Harap sute menjaga di sini, aku hendak me mbantu suheng!”

Habis berkata, Tay Teng menggembor  keras  dan menerjang dengan senjata hong-pian-jan. Tadi ketika  di ruang Tok-li-wan, ia telah didesak mundur  oleh  orang berjubah hitam itu. Ia a mat penasaran sekali dan hendak mencari kese mpatan mene mpur nya lagi.

Mendengar teriakan Tay Teng, si orang baju hijau berpaling. Tetapi ia tetap tak mau me mbantu kawannya. Rupanya ia menganggap sepi saja kepada paderi itu.

Begitu melihat bala bantuan musuh datang, orang berjubah hitam itu segera mencabut badik. Setelah dapat menipu tongkat Tay Ih dengan sebuah serangan Seng-liong-in-hong, cepat ia balikkan pedangnya menyerang Tay Teng. Menyusul badik di tangan kirinya menika m pundak kiri paderi itu.

Untuk tusukan pedang, Tay Teng mundur dua langkah lalu putar hong-pian-jannya balas menyerang.

Hong-pian-jan merupakan senjata yang panjang. Jika bertempur merapat, tentu tak leluasa digerakkan.

Rupanya tindakan Tay Teng itu tepat. Ia dapat memaksa lawan mundur tiga langkah.  Saat itu Tay Ih siansupun dapat ke mbangkan tongkatnya lagi. Ia serang lawan dengan jurus Kun-lin-toa-te. Si orang jubah hitam tak berani menangkis. Ia loncat mundur. Tay Ih tak mau me mberi hati. Ia mendesak maju.

Siu-la m yang me mperhatikan per mainan orang jubah hitam itu, mendapat kesan bahwa rasanya ia pernah berjumpa. Tapi lupa entah di mana.

Tay Ih dan Tay Teng merangsek maju. Karena tiga empat tombak lagi karang itu berakhir dengan sebuah jurang yang curam, tak mungkin ia akan mundur lagi. Ia mundur  ke samping  si  jubah  hijau.  Keduanya  segera  bersiap  bahu  me mbahu.

Tay Teng dan Tay To cepat-cepat menyusul dan berdiri di kanan-kir i Tay Ih. Kini kedua belah pihak hanya terpisah dua tiga meter.  Wajah ketiga  paderi itu tampak serius.  Begitu  pula dari kain kerudung tipis yang menutup bagian muka, tampak mata kedua orang berjubah itu tak berkesia melawan lawan. Jelas merekapun mencurahkan seluruh perhatiannya pada musuh.

“Jiwi me miliki kepandaian yang sakti. Tentu bukan tokoh yang tak bernama. Mengapa tak berani unjuk muka secara terang-terangan?” seru Tay Ih.

Namun kedua orang berjubah itu diam saja. “Apakah kalian tuli?” bentak Tay To.

Tapi rupanya kedua orang berjubah itu kebal akan segala

ejekan dan  makian. Mereka tak mau me nyahut mela inkan menatap ketiga paderi itu taja m-tajam.

Tiba-tiba si orang jubah hitam gerakkan pedang menabur ke arah ketiga paderi. Gerakan pedang yang aneh dan deras itu, me ma ksa ketiga paderi itu menangkis dengan senjatanya.

Sinar pedang gemerlapan hong-pian-jang bersatu dengan lingkaran cahaya sepasang golok, kwat-to yang dimainkan Tay To. Jalan sempit ujung le mbah itu seolah-olah tertutup oleh lingkungan sinar senjata ketiga paderi Siau-lim-s i. Memang gereja Siau-lim-si tak kecewa disebut sebagai sumber  ilmu silat. Walaupun berlainan bentuk, tapi ketiga senjata itu berkembang dalam satu perpaduan yang serasi. Selain menangkis serangan pedang lawan, pun mengurungnya dalam sebuah kepungan pagar senjata. 

Gerakan ketiga senjata paderi Siau-lim-s i itu, menimbulkan deru angin tajam yang me ngiang di telinga.

Dalam pertempuran saat itu, ketiga paderi Siau- lim-si telah mencurahkan delapan bagian dari tenaga mereka.

Sambil ma inkan pedangnya, tiba-tiba orang berjubah hitam itu loncat mundur ke sa mping kawannya. Gerakannya indah, wajar, dan tepat.

Melihat itu dia m-dia m hati Tay Ih tercekat. Pikirnya: “Musuh benar-benar punya ilmu kepandaian yang aneh luar biasa. Entah bagaimana dengan keadaan kedua susiok yang bertapa dalam sanggar itu. Tay Hui sute yang bertugas menjaga sanggar pertapaan, sejak kedua musuh  itu menerobos keluar dari dalam sanggar, sampai sekarang belum tampak muncul. Menilik gelagatnya, Tay Hui  sute  tentu mender ita sesuatu….”

Me mikir sa mpai di situ, hawa amarah Tay Ih meluap. Demi menjaga kehor matan  dan  na ma  Siau-lim-si,  ia  harus menga mbil keputusan. Ia harus bertempur mati- matian dengan musuh. Cepat ia mengeluarkan peta sutera dan kunci emas pemberian paman gurunya yang berambut putih (salah seorang paderi tua yang bertapa). Sambil menyerahkan kepada Tay To, berkatalah ia: “Harap sute berikan kepada Tay Hui sute!”

Diterima pemberian itu dengan heran, lalu Tay To menanyakan apakah ia harus pergi saat itu.

“Ya, sekarang juga. Jika tak bertemu Tay Hui sute, berikan peta dan anak kunci itu pada kepala bagian penilik Tay An sute!” sahut Tay Ih. Kini mengertilah Tay To akan  maksud  suhengnya. Serentak hatinya menjadi sayu, katanya: “Ah, mengapa suheng bertindak sedemikian.”

Tay Ih kerutkan alis dan berseru dengan bengis: “Harap jangan banyak bicara, cepat pergi.”

Siau-lim-si me mpunyai aturan keras. Melihat suhengnya marah, Tay To tak berani berayal lagi. Segera ia  minta  diri dan terus pergi.

Tay Ih mengantar kepergian sutenya dengan tersenyum. Wajahnya yang tegang tadi, lenyap seketika. Seolah-olah ia seperti telah terlaksana harapannya. Baginya seperti sudah bebas dari suatu beban kewajiban di dunia.  Ringan pikirannya, ringan pula hatinya. Mati hidup bukan soal.

Sambil kibaskan tongkatnya, ia berbisik kepada Tay Teng: “Harap sute menyingkir. Aku hendak mencoba ilmu kepandaian Siau-lim-s i. Apakah memang benar dianggap sebagai bintang Pak-tou di angkasa persilatan….”

Paderi itu tertawa sejenak, lalu berkata pula: “Di antara persaudaraan tingkat Tay, Tay Ti suhenglah yang paling tinggi kepandaiannya. Tetapi dia telah binasa ketika bertempur dengan wanita berkerudung. Tay Hong suheng yang hanya setingkat di bawah Tay Ti suheng, hilang  di  Beng-gak. Sedang loni sendiri yang hanya terpaut tak berapa tinggi dengan para sute menyadari kekurangan itu dan tak henti- hentinya selama berpuluh tahun meyakinkan ilmu perguruan gereja kami. Maka kini loni hendak menguji sampa i di mana pelajaran yang telah loni capai. Harap sute menjaga di luar gelanggang, jangan ikut turun tangan.”

Sederhana sekali rangkaian kata-kata Tay Ih itu. Tetapi nadanya kokoh laksana paku menancap. Dia telah mencapai ilmu pelajaran agama yang tinggi sehingga me miliki toleransi yang kuat. Sekalipun telah bertekad hendak mengadu jiwa, namun ia tak mau mengha mbur ucapan yang melukai hati orang.

“Baiklah,” Tay Teng mengiyakan.

“Obat manjur juga diperuntukkan penyakit yang belum takdirnya mati. Agama tak dapat  mempengaruhi orang yang me mang  tak  berjodoh!”  Tay   Ih   berseru   nyaring   lalu  me langkah maju.

Paderi sudah bertekad untuk mengadu jiwa. Dia tak menghiraukan lagi soal ke matian. Setapak demi setapak ia maju melangkah.

Rupanya orang berjubah hitam itu terpesona menyaksikan ketenangan Tay Ih. Pedang segera diacungkan  lurus  ke muka, sedang badik di tangan kiri, ditumpangkan di atas pedang. Dengan pelahan iapun maju me nyongsong….

Ketika terpisah dua-tiga meter, keduanya  berhenti. Masing- masing saling  tegak berhadapan dengan siapkan senjatanya.

Siu-la m terkesiap menyaksikan duel maut yang akan berlangsung itu. Dia m-dia m ia me mbatin: “Tay Ih siansu seorang paderi tingkat tinggi dari Siau-lim-si. Aku harus berusaha mencegah petempuran maut ini….”

Ia berpaling. Tampak  wajah  Tay  Teng  siansu  berduka me mandang Tay Ih, tetapi paderi itu tak berani mencegah suhengnya.

Melihat itu Siu-la m tak mau betrayal  lagi.   Dengan mengge mbor keras, ia enjot tubuhnya menerjang orang berjubah hitam itu dengan jurus Hong-lui- kiau- ki atau angin dan kilat saling berbentur….

Pedang yang diacungkan lurus ke muka dada itu tiba-tiba digerakkan oleh si orang jubah hita m. Seketika itu juga berhamburanlah beribu-r ibu letikan bunga api, disusul dengan dering ge merincing suara senjata beradu. Hebat sekali taburan pedang-pedang orang berjubah hitam itu. Bukan saja senjatanya, bahkan Siu-la m sendiripun terkurung dalam selubung sinar pedang.

Dahsyat dan serunya adu senjata itu berlangsung dalam sekejap   mata,   sehingga   Tay   Ih   siansu   tak    sempat  me mbantunya lagi.

Pada saat Siu-lam ta mpak terancam bahaya kehancuran, sekonyong-konyong terdengar orang berjubah hitam itu mendengus dingin dan mundur beberapa langkah!

Sambil lintangkan golok kwat-to, Siu-la m tegak berdiri dan berseru dingin: “Jangankan hanya me ma kai pakaian lelaki, biar menjadi tumpukan debu, jangan harap engkau ma mpu menge labuhi mataku!”

Perubahan itu mengejut kan sekali. Bahkan Tay Ih siansu sampai tak mengerti, ilmu pedang apa yang digunakan si anak muda untuk mengundur kan lawan.

Kiranya pada saat menghadapi tekanan lawan yang hebat di mana Siu- lam merasa tak ma mpu lagi me lawan, sekonyong- konyong ia teringat akan ilmu Hud-hwad-bu-pian (pelajaran Buddha itu t iada batasnya), ilmu ajaran dari kakeknya Hian- song. Cepat ia gerakkan tangan kiri dalam jurus itu dan bingunglah si orang jubah hita m. Plak, dadanya termakan tinju, seketika jantungnya serasa bergoncang keras dan mundurlah ia ke belakang….

Karena dalam keadaan terdesak, Siu-lam hanya gunakan seperempat bagian  tenaganya.  Maka  setelah  beristirahat me mulangkan napas, orang jubah hitam itu dapatkan dirinya tak kurang suatu apa.

Tiba-tiba ia mencabut  kerudung hitam yang menutup mukanya, lalu tertawa: “Ih, ingatanmu kuat  sekali!” Tangannya bergerak dan jubah hitam yang dikenakannya itu segera lepas. Kini orang berjubah hitam itu berubah menjadi seorang nona yang cantik jelita. Pada saat si jubah hitam menangga lkan jubahnya, si jubah hijaupun melepaskan jubahnya juga. Dalam sekejap saja, kedua orang berjubah itu telah berubah menjadi dua orang nona cantik.

“Hm, besar sekali nyali kalian,” Siu-la m tertawa dingin. Kemudian berpaling kepada Tay Ih, serunya: “Kedua nona ini adalah murid pere mpuan dari ketua Beng-gak….”

Sepasang mata paderi Siau-lim-si itu berkilat-kilat tajam menga mati kedua nona itu, ujarnya: “Oh, kiranya dua orang li- sicu.”

Paderi itu me mberi hor mat.

Nona jubah hijau yang kini berpakaian warna merah, tertawa melengking: “Tak usah pura-pura menghor mat, paderi tua. Lebih baik bicara terus terang saja. Kau mau apa, lekas bilang!”

“Ka mi kaum pertapaan, tak suka dengan berbohong. Bagaimanakah keadaan kedua tianglo yang sedang melakukan pertapaan itu?” tanya Tay Ih.

Si nona jubah hitam yang kini mengenakan pakaian warna biru, tersenyum: “Apakah orang tua gundul dan berambut putih itu?”

Tay Ih tergetar hatinya ketika mendengar nona itu dapat mengatakan tepat keadaan susioknya. Tetapi ia cepat menekan kece masannya dan mengiyakan.

Si nona baju biru tertawa mengikik: “Kedua orang tua itu, masing- masing telah kuberi tiga buah tusukan. Mati atau hidup, aku tak tahu!”

Ucapan yang diucapkan seenaknya itu benar-benar sangat menusuk sekali hati Tay Ih. Katanya dengan nada berat: “Kalau begitu, susiok kami itu sudah binasa di tangan li-s icu!” Tay Teng dan Tay To sudah sejak tadi tak dapat menekan kesedihannya. Mendengar ucapan yang terakhir itu, mata mereka berlinang- linang.

Si nona baju merah tiba-tiba mela mba i ke arah Siu- la m, serunya tertawa: “Hai, kekasih tak berbudi, rupanya engkau banyak gembira, ya?”

Saat itu Siu- la mpun sedang dicengkam oleh kedukaan karena kematian kedua paderi tua itu. Kini mendengar seruan nona baju merah itu, makin terkejut. Apakah Hong-swat sudah ditangkap mereka?

“Apa kesalahanku?” tanyanya.

Si merah  tertawa  mengikik:  “Adikku  si  Hong-swat  itu me mang dibutakan oleh cinta. Dia m-dia m ia melepaskan musuh. Kini dia dipaksa oleh suhu agar mencebur ke mulut gunung berapi. Saat ini tubuhnya tentu sudah menjadi  abu….”

Mendengar itu kepala Siu- lam seperti dihantam palu besi: “Benarkah itu?” ia menegas.

Si merah kicapkan matanya dan menatap Siu-la m, lalu tertawa: “Setiap patah keteranganku tadi, adalah suatu kenyataan seperti matahari yang kita lihat!”

Hampir saja perasaan Siu-lam jatuh lebih dalam gelo mbang kedukaan yang me landanya bertubi-tubi. Tiba-tiba  ia kiblatkan kwat-to dan membentak: “Jika berita itu benar, jangan harap kalian pergi dari le mbah ini dengan sela mat!”

Si Merah masih tertawa mengikik: “Aih, apakah  engkau tidak takut hidup seorang diri? Dengan kepandaian yang engkau punyai sekarang ini, apakah engkau berani berkata sebesar itu?”

Berkata Tay Ih siansu dengan nada seram: “Jika kedua li- sicu hendak pergi, mudahlah. Sebelumnya harus me mbuat loni menjadi sesosok mayat!” ia loncat terus menerjang  si  nona baju biru.

Sejak muda, ia sudah mencukur ra mbut, masuk me njadi paderi. Selama berpuluh-puluh tahun ia hanya hidup dalam lingkungan kesucian dan ketenangan. Belum  pernah  ia  menga la mi kesedihan seperti saat itu. Berita ke matian kedua paman gurunya merupa kan kedukaan yang pertama kali dideritanya sepanjang hidup. Luapan kedukaan, diha mburkan dalam serangan tongkatnya yang dahsyat.

Mau tak mau si baju biru gentar juga. Ia bergeliat mundur lima langkah. Tetapi paderi Siau-lim-si yang sudah dirundung kedukaan dan ke marahan itu, tidak mau me mberi a mpun lagi. Dengan mengge mbor keras ia merangsek maju dengan jurus Gong-hong-ho-siu atau Badai menderu-deru.

Nona baju biru itu mundur pula beberapa langkah sehingga saat itu ia berada di tepi jurang.

Tay Ih me mburu. Bagaikan bayangan melekat, tongkatnya telah mengha mbur dalam jurus Pat-hong-hong-oe atau Hujan angin delapan penjuru. Jika nona itu tak mau menangkis lagi, tentu ia akan terdesak jatuh ke dalam jurang.

Akhirnya karena tak dapat mundur lagi, nona itu putar pedangnya dalam  jurus  Yap-hwat-soh-thian  atau  Api  liar me mba kar langit. Pedang berha mburan menya mbut tongkat. Sedang badik di tangan kiri, menusuk mengarah ke dada.

Serangan tongkat yang dilambari oleh hawa ke marahan dari paderi Siau-lim-si itu, hebatnya bukan alang kepalang. Sekalipun lwekangnya tinggi, tetap ia tak dapat menahan amukan paderi itu. Hanya ilmu yang dimilikinya itu luar biasa. Dapat dikendalikan menurut kehendak hatinya. Ia salurkan lwekang, pedang digelincirkan ke sa mping terus dile mparkan.

Tay Ih terkejut. Ia tak menyangka  bahwa nona itu masih ma mpu menimpukkan pedang. Lontaran itu me mbuat tongkatnya menghajar angin. Nona baju biru itu mengeluarkan per mainan tingkat tinggi. Begitu dapat menahan tongkat, badik di tangan kiri terus berkelebat menabas tangan si paderi dan menghambur jubahnya.

Serangan badik itu cepatnya bagaikan kilat, sehingga Tay Ih tak sempat menghindar maupun menangkis. Terpaksa ia kendorkan serangan tongkatnya, gunakan tangan kiri untuk menya mbar pergelangan tangan si nona.

Gerakan Tay Ih itu agak dapat meringankan tekanan si nona.  Jika  nona  itu  tetap  me mapas   dengan  badiknya, me mang lengan kanan Tay Ih terancam kutung.  Tetapi tangan kiri nona itu pun terancam cengkeraman si paderi. Sudah tentu bukan sembarangan cengkeraman, tapi cengkeraman yang akan menghancurkan urat nadi.

Rupanya nona baju biru itu masih sayang akan kehilangan lengannya yang putih, cepat-cepat ia endapkan tangannya ke bawah. Tapi dengan berbuat begitu, tusukan badiknyapun luput. Cepat-cepat ia menyelinap ke sa mping.

Kini kedua saling berhadapan  lagi. Pertempuran selanjutnya berlangsung sangat seru. Keduanya tak berani ayal. Karena siapa lambat pasti akan terkurung dan dikuasai lawan. Keduanya sama menginsyafi bahwa masing- masing telah bertemu dengan lawa yang benar-benar setanding kepandaiannya.

Sepeminum teh la manya, tiba-tiba Tay Ih berseru: “Harap li-sicu berhati-hati!” paderi itu menutup kata-katanya dengan sebuah pukulan dari jarak jauh.

Meniup angin dahsyat segera melanda nona itu. Tetapi rupanya nona itu sudah siap siaga. Ia gerakkan tangan kanannya. Serangkum tenaga lunak, melancar menyongsong angin   pukulan   si   paderi.    Tiba-tiba   ia    menjerit    dan me mba likkan tangan kanannya ke sa mping. Seketika itu Tay Ih seperti tersedot sehingga tubuhnya condong ke muka. Buru-buru ia hendak menar ik pulang pancaran lwekangnya. Tetapi serempak dengan itu,  sinar putih berge merlapan berha mburan menusuk dadanya….

Begitu dapat menghapus tenaga pukulan si paderi, segera nona baju biru itu melancarkan serangan kilat. Beberapa jalan maut dari tubuh si paderi seketika terancam.

Dalam keadaan terdesak, tiba-tiba Tay Ih mengge mbor keras dan lepaskan tendangan Koan-im-ciok atau kaki dewi Koan-im. Yakni sebuah tendangan yang tergolong salah satu ilmu dari ketujuhpuluh dua ilmu pusaka gereja Siau-lim-s i.

Nona baju biru me ndengus dingin. Tiba-tiba ia me nggeliat ke sa mping tetapi badiknya tetap mengarah ke dada lawan.

Cres,,, duk… terdengar dua maca m suara. Yang satu berasal dari badik si nona yang berhasil menggurat pecah baju paderi terus me mbelah bahunya hingga tulangnya kelihatan. Tetapi serempa k dengan itu, kaki Tay Ih yang mendahului gerak penghindaran si nona tadi, telah berhasil menendang tubuh nona itu. Tubuh nona baju biru itu terpental melayang ke udara, membentur dinding karang di sebelah kanan lalu jatuh ke tanah….

Si nona berhasil menusuk bahu Tay Ih, tetapi Tay Ih pun berhasil menendang tubuh si nona. Adalah karena tendangan itu maka tusukan si nona menjadi berkurang dahsyatnya.  Kalau tidak, tusukan itu tentu dalam dan me mbinasakan Tay Ih. Pun adalah karena tusukan itu maka tendangan Tay Ih menjadi berkurang kekuatannya. Coba tidak, tubuh nona itu tentu sudah hancur berkeping-keping.

Kedua-duanya sama-sa ma terluka.

Nona baju biru itu terbanting ke tanah dan hampir pingsan, tetapi badiknya   masih   tergenggam   di  tangan.   Sambil me megang dinding karang ia berbangkit bangun. Wajahnya pucat pasi. “Paderi tua, kepandaianmu hebat benar! Ilmu tendanganmu tadi benar-benar luar biasa!” serunya.

Tay Ih menundukkan kepala. Dilihatnya jubahnya berlumuran darah. Dengan sikap serius berseru: “Ilmu kepandaian Beng-gak me mang luar biasa. Tak heran kalau  Tay Hong sute dan ketigapuluh enam paderi houw-hwat, binasa se mua di Beng-ga k!”

Tiba-tiba  terdengar  Tay  Teng  berseru  Omitohud.   Ia  me langkah mengha mpiri  Tay Ih siansu: “Suheng harap beristirahat. Biarlah siaute yang meminta pelajaran dari orang Beng-gak!”

Nona baju biru  itu tertawa dingin: “Bagus, majulah engkau!” Sa mbil picingkan mata, tangannya menjamah karang. Wajahnya pucat sekali.

Tay Teng benar-benar marah karena suhengnya telah mendapat luka. Dia hendak menuntut pe mbalasan pada nona baju biru itu. Tetapi ketika ia hanya terpisah beberapa meter dari nona itu, ternyata si nona tetap tegak berdiri sambil pejamkan mata.

Tay Teng mengangkat senjat hong-pian-jan dan terus hendak diayunkan, tetapi tiba-tiba terkilas sesuatu: “Ah, rupanya dia benar-benar luka parah dan kehabisan tenaga.  Jika selagi dalam keadaan tak berdaya, dia kuhajar mati, apabila peristiwa ini sampai tersiar di luar, bukan saja aku dihina  orang,  pun  na ma  gereja  Siau-lim-si  tentu   akan dice mooh orang…, tetapi, iapun secara keji telah menyerang kedua susiok yang sedang bertapa.  Terhadap orang seperti  itu apa guna me ma kai segala maca m susila….”

Dua pertentangan yang timul dalam batinnya menyebabkan paderi Tay Teng tak segera bertindak. Untuk sesaat tak tahu ia bagaimana harus berbuat?

Tiba-tiba nona baju biru itu me mbuka mata dan tertawa: “Eh, mengapa kau tak turun tangan?” Belum Tay Teng menyahut, kemba li si nona baju biru itu sudah tertawa mengikik seraya berkata pula: “Uh, karena kau tak mau bertindak, akupun tak mau sungkan lagi!” tiba-tiba tubuhnya bergetar dan tahu-tahu orangnya sudah maju merapat terus menusuk dada si paderi!

Sama sekali Tay Teng  tak  menyangka  bahwa  nona  itu me mbuktikan kata-katanya dengan perbuatan yang tangkas. Karena ia pakai senjata hong-pian-jan yang panjang maka begitu nona itu merapat mendekatinya, Tay Teng tak dapat menggerakkan senjatanya. Jalan satu-satunya, terpaksa ia buang tubuhnya berjumpalitan ke belakang.

“O, kau hendak lari?” seru si nona baju biru seraya melesat me mbayangi lawan. Badik berlincahan menusuk kian ke mari. Sekaligus ia telah lancarkan tujuh jurus serangan hebat.

Ketujuh jurus serangan itu mengarah dada sehingga Tay Teng kelabakan. Begitu cepat dan gencar si nona menyerang secara merapat sehingga Tay Teng tak punya kesempatan lagi untuk me mainkan hong-pian-jan. Senjata panjang yang berat itu malah merupakan suatu beban menghalangi gerakannya.

Saat itu Tay Ih sudah me mbuka mata. Setelah melakukan penyaluran darah, ia berhasil mengurangi rasa sakit pada luka di bahunya. Begitu melihat sutenya terancam bahaya maut, ia jadi gelisah. Dilihatnya Siu-la m mas ih bertempur seru dengan si nona baju merah dan Tay To yang disuruhnya mengantar surat tadi, belum muncul ke mbali.

Selagi ia ragu-ragu apakah ia harus turun tangan mengerubut i si nona yang hebatnya dapat merosotkan gengsi gereja Siau-lim-si, tiba-tiba terdengar suara si nona baju biru itu me lengking dan hamburkan badiknya menabur tubuh Tay Teng. Karena tak keburu menghindar, dada Tay Teng termakan sebuah tusukan. Darah bertetesan membasahi jubahnya. Tay Ih siansu telah me mperhatikan kesemuanya itu. Jika ia tak lekas bertindak, dalam tiga e mpat jurus lagi tentulah sutenya, Tay Teng, akan binasa di bawah taburan badik si nona baju biru.

Didahului dengan sebuah gemboran keras mulailah Tay Ih menyalur kan seluruh tenaganya ke tangan dan dada, lain saat, sebuah pukulan dahsyat telah dilontarkan….

Paderi Siau- lim-s i itu me mang me miliki tenaga lwekang yang tinggi. Sekalipun  terluka, namun tak me ngurangi kedahsyatan tenaganya.

Me mang si nona baju biru saat itu sudah mengetahui keadaan lawan. Dalam dua tiga jurus saja dia pasti dapat merubuhkannya. Tak mau ia me mberi kese mpatan lagi. Didesaknya Tay Teng dengan serangan yang gencar sekali.

Tengah asyik mengakhiri perte mpuran, tiba-tiba ia merasa dilanda oleh setiup angin kuat. Dadanya terasa sesak dan tubuhpun terpaksa mundur dua langkah.

Tetapi karena menggunakan tenaga penuh, luka di bagian lengan kiri Tay Ih siansupun me mbengka k lagi dan mengucurkan darah.

Tetapi pertolongan itu tak sia-sia. Karena si nona baju biru menyurut mundur, Tay Teng pun mendapat kese mpatan  untuk bergerak. Secepat kilat ia ke mbangkan hong-pian-jan untuk me lakukan serangan balasan,

Hantaman Tay Ih tadi benar-benar me mbuat tubuh si nona gemetar. Luka dalam yang dideritanya tadi mulai terasa lagi. Tenaganya makin habis dan tubuhnya le mas. Sudah tentu ia tak ma mpu menghadapi serangan dahsyat dari Tay Teng.

Dalam sekejap saja, kedudukan mereka berubah. Yang diserang menjadi penyerang. Nona baju biru  itu hanya andalkan kelincahannya untuk bergerak kian ke mari, menghindari serangan bertubi-tubi dari Tay Teng. Tetapi betapapun juga akhirnya dalam lima jurus saja, tubuhnya terasa makin kaku dan tak le luasa bergerak.

“Sute, jangan sampai binasakan jiwanya. Pentalkan pedangnya dan tangkaplah ia hidup- hidup!” berkata Tay Ih dengan berat.

Dengan pakaian berlumuran darah, Tay Teng tiba-tiba berseru membentak nona itu agar lepaskan senjatanya. Dan saat itu, hong-pian-jan telah menindih di atas batang pedang lawan.

Nona baju biru itu benar-benar sudah tak bertenaga lagi. Tindihan hong-pa in-jan itu me maksa si nona harus lepaskan pedangnya. Tay Teng maju selangkah dan me nyusuli sebuah tendangan ke lutut. Tetapi nona itu masih dapat menggeliat dan balas mengge mpur dari sebelah kiri.

Sebenarnya gerakan nona itu tangkas sekali. Tetapi karena tenaganya sudah habis dan luka dalamnya kumat, gerakannya agak la mban dan sekalipun lututnya selamat tetapi pahanya termakan kaki si paderi. Nona itu berputar-putar lalu rubuh….

Tay Teng cepat memburu dan menutuk jalan darahnya. Ia menghe la napas. Tiba-tiba ia se mpoyongan ke belakang dan bluk…. Jatuhlah paderi itu ke tanah. Hong-pian-jannya menghanta m karang.

Ternyata diapun terluka parah. Darahnya banyak keluar. Sekalipun tenaganya sudah habis tetapi  ia  masih mengerahkan sisa tenaganya yang terakhir untuk mengir im tendangan. Maka setelah menutuk jalan darah nona itu, ia sendiri t idak dapat bertahan lagi!

Dalam pertempuran yang dahsyat itu, tiga jago sakti telah mender ita luka parah. Walaupun tahu sutenya terluka, namun karena dirinya sendiri sedang mengatasi darahnya yang bergolak akibat lukanya, Tay Ih tidak se mpat menolong Tay Teng. Kini yang masih bertempur mati- matian hanya tinggal Siu- lam dengan si nona baju merah. Saat itu mentari pagi mulai mengintip dari celah dinding langit timur. Tay Teng dan si  nona baju merah rebah di tanah. Tay Ih  duduk bersandar pada dinding karang, menyalur kan pernapasan.

Siu-la m dan nona baju merah sudah bertempur hampir seratusan jurus. Namun masih belum ada yang kalah atau menang.

Siu-la m mainkan golok kwat-to dalam ilmu pedang ajaran si kakek (kakek dari Hian-song). Walaupun ia belum mencapai kesempur naan dalam latihannya, tetapi dapat menghadapi serangan-serangan maut dari lawan.

Me mang sela ma pertempuran itu berlangsung, si nona selalu unggul. Tetapi pada saat Siu- lam terdesak dan tidak berdaya, ia segera mengeluarkan jurus istimewa ajaran si kakek. Setiap kali jurus aneh itu keluar, si nona pasti terhalau mundur.

Di luar kesadaran, Siu-la m seperti mendapat pasangan untuk berlatih. Kini ia makin mengerti keindahan ilmu pedang ajaran kakek Tan itu. Di sa mping itu, ia pun mulai merasa heran karena ilmu per mainan nona itu ternyata sealiran dengan ilmu ajaran si kakek Tan. Berulang kali terjadi adegan di mana kedua senjata mereka saling berkelebat ke tempat kosong atau saling berbenturan secara tepat dan serasi sekali. Sudah tentu nona baju merah itu terkejut juga.

Siu-la m me nginsyafi bahwa dengan bertempur seperti itu, tak aka nada yang kalah. Jelas sudah, bahwa sumber kepandaian mereka berdua, berasal dari satu rumpun.

Me mang dalam hal tenaga dan ke mahiran, si nona baju merah lebih unggul. Tetapi dalam variasi per mainan, Siu-la m lebih menang. Terutama jurus Jiau-toh-cu-hua itu. Tiap kali dimainkan lawan tentu terhalau mundur. Sayang Siu-la m hanya dapat mainkan dua jurus saja, seperti yang dapat diingatnya.

Maka pe muda itu berusaha untuk me ngenang ke mbali jurus-jurus selanjutnya dari ajaran kakek Tan itu.  Asal ia dapat mema inkan barang satu jurus lagi saja, nona itu tentu dapat dikalahkan.

Tetapi akibatnya karena pikirannya ditumpahkan untuk mengga li ingatannya, konsentrasinya menjadi terganggu. Dua kali ujung pedang si nona ha mpir menus uk ke dada. Untung hanya baju bagian luar saja yang robek!

“Berhenti!” tiba-tiba nona itu berseru seraya menyurut mundur.

Siu-la m pun hentikan pedang dan tegak berdiri dan berseru: “Mengapa?”

Sejenak nona itu mengerlingkan mata ke arah si nona baju biru yang rebah di tanah, ke mudian berkata: “Ilmu pedangku dan ilmu golokmu, setali tiga uang….”

“Hanya begitu?” tukas Siu- lam seraya maju menabas dengan jurus Hian-to-tui-yang.

Si nona menangis sa mbil melanjutkan bicaranya: “Dari mana engkau me mpelajari ilmu per ma inan golok itu?”

“Ilmu silat, beratus jenis tetapi satu sumber. Wajar kalau ada beberapa gerak yang bersamaan. Perlu apa  engkau heran tak keruan?”

Wut, wut, kembali ia menabas dua kali.

Si nona baju merah tebarkan pedangnya.  Terdengar  dering ge merincing dari senjata saling beradu. Setelah dapat menahan golok Siu- la m, ke mbali nona itu berseru lagi: “Apakah sumoayku Hong-swat yang mengajarkan kepada mu?”

“Jangan me mfitnah orang!” bentak Siu- la m. Nona itu tertawa mengikik: “Toh orangnya sudah tidur dalam genangan lahar gunung. Sekalipun engkau mengakui, juga tak apa!”

Mendengar itu seketika meluaplah kesedihan hati Siu- la m. Bayangan Hong-swat yang gemar mengena kan pakaian serba putih dengan wajahnya yang sayu, kemudian melintas dalam kenangannya. Ia menghela napas: “Apakah ia sudah mati sungguh-sungguh….”

Si nona baju merah tertawa: “Lahar gunung berapi dapat menghancur kan baja. Sekalipun tubuhnya terbuat dari besi dan baja, tentu akan hancur luluh juga….”

Seketika terkenanglah Siu-la m akan peristiwa-peristiwa yang dialaminya selama ini. Banyak nian hal-hal sedih yang menimpa dirinya. Ciu Hui-ing hilang di Po-ta-kang. Tan Hian- song beberapa bulan yang la lu, merasa seperti hidup dalam impian. Hilangnya Cui Hui- ing di karang  Po-to-kang, lenyapnya Hian-song diha mbur angin puyuh. Dan kini muncul berita buruk lagi tentang ke matian si putih Bwe Hong-swat di dalam le mbah gunung berapi. Kese muanya itu merupakan derita hidup yang menghancurkan perasaan. Dua butir  air mata menitik keluar….

Tengah ia mela mun tiba-tiba ia dikejutkan oleh berkelebatnya sinar pedang si nona baju merah yang me nusuk ke dadanya.

Serangan itu cepat sekali datangnya sehingga Siu-la m tak sempat menangkis. Terpaksa ia loncat mundur. Tetapi nona baju merah itu tak mau me mberi hati. Ia mendahului menyerang lagi dengan cepat. Dalam sekejap saja, lima jurus serangan telah dilancarkan.

Siu-la m benar-benar kelabakan. Betapapun ia berusaha untuk menghindar, namun akhirnya lengan kanannya termakan sebuah tusukan. Sakitnya bukan kepalang sehingga goloknya terlepas. Dalam gugup ia menghanta m dengan  jurus Hud-hwat-bu-pian….

Ilmu pukulan Hud-hwat-bu-pian itu me mang luar biasa. Penuh perubahan yang sukar diduga. Walaupun tahu, tetapi nona baju merah itu tak ma mpu lepaskan diri. Terpaksa ia loncat mundur.

Tetapi Siu-la mpun tak mau me mberi kese mpatan juga. Tangan kirinya menghanta m pundak sehingga nona itu terpental dua langkah dan ke mudian menyusul sebuah tendangan.

Seketika nona itu rasakan pundaknya kesemutan sehingga pedangnyapun hampir terlepas. Belum hilang kejutnya, tendangan  Siu-la m  sudah   datang.   Tak   kuasa   lagi   ia me mpertahankan keseimbangan tubuhnya dan terlemparlah ia beberapa belas langkah jauhnya….

Di belakang nona itu terbentang sebuah jurang yang dalam sekali. Apabila mundur lagi, nona itu pasti akan terjerumus ke jurang.

Siu-la m me mungut goloknya, terus maju menyerang lagi. Sekalipun ia percaya bahwa tak mudahlah untuk mendesak nona itu kecebur ke dalam jurang namun ia tetap mencobanya.

Tetapi alangkah kagetnya ketika melihat nona itu benar- benar terpelanting ke dalam jurang. Tengah ia terpukau, tiba- tiba tubuh nona yang me luncur ke bawah itu me mbubung ke atas lagi. Menusuk dinding karang jurang,  tubuh nona  itu  me lenting ke per mukaan jurang dan melayang ke daratan lagi.

Melihat itu Siu- lam cepat me mburu. Belum kaki nona itu menginjak tanah, Siu-la m sudah menyapukan golok dengan jurus Ping-sat-lah-gan atau burung belibis me layang datar.

“Apakah kau sungguh hendak me mbunuh aku?” lengking nona itu. Siu-la m tertegun. Hanya sedetik ia berhenti,  tetapi cukuplah sudah bagi si nona untuk gerakkan pedangnya menangkis golok Siu-la m.  Dan secepat kilat ia balas menyerang. Begitu Siu- lam mundur, si nonapun dapat menginjak tanah.

“Ai, sekarang kepandaianmu maju sekali?” serunya dengan tertawa.

Melihat nona itu sudah tegak di tanah, Siu- lam tersadar dari kesalahannya.  Ia  tertipu.  Kini   kese mpatannya untuk menga lahkan nona itu lenyap. Dan pertempuran dahsyat tentu akan dialaminya lagi.

“Hm, jangan harap kalian dapat lolos dari te mpat ini!” dengusnya.

Si nona mengangkat kepala dan me mandang ke arah sucinya yang masih me nggeletak di tanah. Ia tersenyum: “Kedua paderi tua itu lebih parah dari toa-suciku. Siapa yang dapat bangun lebih dahulu dan menyalur kan napas, dialah yang akan menang. Mereka tengah berjuang untuk bangun. Siapa yang akan menang, sekarang belum ketahuan!”

Dia m-dia m Siu- lam me mbenarkan  kata-kata nona itu. Apabila dua jago sakti bertempur, tentu dua-duanya akan mender ita   luka   berat.   Tanpa   tersadar,   ia    berpaling me lihatnya…. Wut, ia kaget sekali ketika tiba-tiba tersambar oleh serangkum angin dingin. Buru-buru ia menyurut mundur. Ah, ternyata nona itu telah menyerangnya ketika ia sedang berpaling tadi. Untung hanya ikat kepala saja yang terpapas!

Me mang nona itu menyadari bahwa tak mungkin ia dapat menga lahkan Siu-la m. Maka ia gunakan siasat me mikat perhatian orang lalu menyerangnya dengan tiba-tiba. Dan sebenarnya serangannya itu pasti dapat melenyapkan jiwa si anak muda. Sayang karena pahanya yang tertendang tadi masih belum pulih, gerakannyapun kurang lincah. Baru bergerak, Siu-lam sudah mengetahui dan dapat menyurut mundur.

Setelah menenangkan hatinya, Siu-lam  menghardiknya: “Hm. Orang Beng-ga k benar-benar licik dan keji. Segala akal jahat tak sungkan digunakan!”

Nona itu tertawa datar, seolah-olah tidak tersinggung mendengar da mpratan itu: “Dalam bertempur, kepandaian dan akal harus sa ma-sa ma digunakan. Biarlah engkau mendapat pelajaran dari pengala man-penga la man tadi!”

“Apakah begitu yang disebut akal? Hm, tak ma lu engkau mengatakan begitu!” Siu-la m menutup kata-katanya dengan sebuah pukulan dalam jurus Ping-ho-tang-gui.

Menyadari bahwa sebelah kakinya masih belum pulih, si nona segera gerakkan pedangnya untuk menangkis serangan. Ketika senjata mereka saling beradu, terdengarlah lengking suara yang me mua kkan telinga.

Kini keduanya berte mpur dengan hati-hati dan tak berani me mandang rendah lawan.

Siu-la m lancarkan serangannya tetapi nona itu tak mau bergerak dan hanya bertahan diri saja. Ia kuatir sekali dari gerakannya, pemuda itu akan mengetahui tentang pahanya yang terluka karena tendangan tadi.

Dengan begitu pertempuran itu merupakan perte mpuran adu  kekerasan.  Suara   senjata   beradu   bordering-dering me mecah kesunyian le mbah.

Duapuluh jurus Siu- lam telah lancarkan serangannya. Karena me lihat nona itu tetap tak mau berkisar dari tempatnya, ia curiga dan hentikan serangannya.

Nona itu tersenyum, tegurnya: “Ai, mengapa engkau tak menyerang?” Siu-la mpun balas bertanya: “Dan me ngapa engkau diam tak bergerak? Hm, aku tak percaya kalau engkau memang sengaja hendak adu kekerasan dengan aku….”

“Lenganmu terluka tidak r ingan. Darah banyak keluar.

Sepuluh jurus lagi, engkau tentu tak kuat.”

Siu-la m tertawa gelak-gelak: “Jangan harap engkau dapat menge labuhi aku lagi!” Tangan kiri diluruskan ke muka dada, serunya: “Cobalah engkau terima pukulanku ini!” ia menutup kata-katanya dengan sebuah hantaman.

Melihat pe muda itu gunakan ilmu pukulan yang sakti seperti beberapa kali tadi, terkejutlah nona itu. Sebab setiap kali pe muda itu me ngeluarkan ilmu pukulan tersebut, tentu ia tak ma mpu menangkis. Na mun sebelum ajal berpantang maut, tak mau ia mati konyol. Pedang segera  ditaburkan dalam sebuah lingkaran sinar yang melindungi dirinya.

Siu-la m yakin bahwa pukulan sakti ajaran kakek Tan (Kakek dari Hian-song) itu me mpunyai perubahan yang luar biasa. Ia tak takut lawan menggunakan pedang. Setelah memusatkan ingatannya untuk mengingat, tiba-tiba ia rubah pukulannya menjadi ta mparan.

Me mang jurus Hud-hwat-bu-pian (ajaran Buddha  tiada batasnya) sekalipun hanya satu jurus tetapi mengandung perubahan yang tiada batasnya. Apabila  sudah menguasainya, musuh tentu tak berdaya. Karena sebelum orang bergerak tentu sudah ditindas oleh gerakan Hud-hwat- bu-pian yang penuh dengan segala perubahan. Disebut mengandung perubahan, bukan sembarang gerak perubahan tetapi diambil dari sari terjadinya Langit, Bumi, dan Manusia. Sekali bergerak, musuh tentu tertindas gerak-ger iknya.

Sebenarnya perubahan memukul menjadi mena mpar yang dilakukan Siu- lam itu terjadi secara mendadak karena melihat nona itu me mutar pedang. Tetapi ternyata hal itu benar- benar mengejutkan si nona. Tahu-tahu siku lengannya terasa kesemutan, pedangnya terlepas jatuh. Dan secepat  kilat tangan Siu-la m segera mencengkera m pergelangan tangan lawan.

Siu-la m sendiri pun terkesiap. Ia tak menyangka kalau ilmu Hud-hwat-bu-pian ternyata begitu sakti. “Ah, kalau  tahu begini, tak perlu tadi aku me mbuang banyak waktu dan tenaga,” pikirnya.

Ia termenung- menung, sehingga lengah untuk segera mengerahkan tenaga menguasai lawan. Adalah karena kelengahan itu, ia harus mender ita.

Sebenarnya nona itupun terpukau karena tercengkeram itu. Dalam hati ia sudah mengeluh pasti habis riwayatnya. Tetapi ketika merasa Siu-la m hanya me megang  saja, seketika timbullah reaksinya. Dengan cepat ia gunakan tangan kiri mencengkeram siku lengan kanan pe muda itu juga.

Siu-la m terkejut tapi sudah terla mbat, pergelangan tangannya yang kanan sudah dicengkeram si nona. Goloknyapun terlepas juga.

Kini keduanya saling me ncengkeram dan sa ma-sama kesemutan. Siu-la m mengeluh. Sebenarnya ia sudah menang tetapi karena melamun, kini keadaannya malah berbalik sama- sama luka.

Makin la ma mereka sa ma-sa ma merasakan separuh tubuhnya seperti kaku dan tenaganya pun makin lenyap….

“Rupanya hari ini kita akan mati bersa ma. Apakah kau benar-benar tak mau me lepaskan cengkeramanmu? Hm, kau pun tak nanti ma mpu lepas dari cengkera manku… ” tiba-tiba nona itu me mbuka suara.

“Apa yang kau ma ksudkan dengan mati bersama?” sahut Siu-la m dingin: “Hm, benar-benar tak punya malu!”

Nona itu malah tertawa mengikik:  “Seorang pria  dan seorang gadis, saling bercekalan tangan. Orang lain mengira kita sedang bercumbu rayu. Siapa tahu sebenarnya kita sedang bergandengan tangan menuju ke akhirat!”

Dia m-dia m Siu- lam mengakui kebenarannya. Memang saat itu benar-benar merupakan detik-detik ke matian. Barang siapa lengah, pasti hancur.

Kembali nona itu tertawa: “Apakah kau mendengarkan tentang kematian sam-sumoayku itu?”

“Tak perlu!” jawab Siu- lam dengan dingin, “Aku tak mau percaya padamu lagi.”

Tiba-tiba nona itu berubah wajahnya. Kaki kiri diangkat terus digempur kan ke perut Siu-la m. Tetapi Siu-la m sudah siap siaga. Ia sudah berulang kali mender ita tipu muslihat nona itu. Begitu didengkul, ia cepat mendorong seraya menyingkir ke sa mping.

Oleh karena mereka mas ing- masing saling mencengkera m, gerakan itu menimbulkan akibat yang hebat. Gempuran  kakinya luput, menyebabkan nona itu terjerembab.  Dan karena terjerembab, Siu-lam pun ikut tertarik sehingga ia tak dapat menguasai keseimbangan tubuhnya lagi dan ikut jatuh. Keduanya berguling-guling mengha mpir i tepi jurang….

Untung Siu- lam dapat mengaitkan kakinya pada segunduk batu sehingga tubuhnya dapat tertahan. Ketika berpaling ke belakang, bulu kuduknya berdiri. Sebuah jurang curam yang sama sekali tak ta mpa k dasarnya terbentang di bawah kakinya.

Tetapi si nona baju merah yang sudah bertekad untuk mati bersama, ma lah berusaha sekuat-kuatnya untuk bergeliatan ke bawah.

Saat itu terjadi adegan yang tegang. Keduanya saling mencengkeram. Yang satu bertahan, yang satu berusaha supaya tergelincir ke dalam jurang! Tiba-tiba terdengar suara lemah: “Pui sicu harap bertahan beberapa saat lagi.”

Cepat Siu-lam mengenal suara itu sebagai suara Tay Ih siansu. Kalau ia merasa longgar perasaannya adalah tidak demikian   dengan   si   nona.    Nona    itu   tentu   sudah  me mperhitungkan ke mungkinan paderi itu sadar dan me mberi bantuan pada Siu-la m. Maka ia menga mbil keputusan nekad. Lebih baik bersama-sa ma mat i terce mplung ke dalam jurang!

Sekonyong-konyong nona itu mengangkat muka dan benturkan bibirnya ke muka Siu-la m. Sudah tentu Siu-la m kaget dan miringkan kepala, menghindari. Begitu ia mir ingkan kepala, si nona menyerempa ki dengan me ndorong tubuh pemuda itu!

Terdengar suara bergemuruh dahsyat. Batu yang dibuat pertahanan kaki Siu- lam tadi, telah jebol dan mengge linding ke dalam jurang! Dan tubuh kedua orang itu meluncur maju lagi beberapa langkah. Siu-lam   tak  se mpat  berpaling. Kakinya bergeliatan untuk mencari panjatan. Tetapi ah, hanya tanah yang datar semua.

Saat itu separuh tubuhnya sudah merosot ke dalam mulut jurang. Asal nona itu mendorongnya lagi, mereka tentu akan me luncur ke bawah….

Tiba-tiba ia melihat siku lengan kanan nona itu seperti ada tanda tembong (kulitnya merah) sebesar mangkuk.  Seketika  ia teringat akan ucapan kedua suami isteri tua yang pernah meno longnya ketika keluar dari Beng-gak. Serentak ia berteriak kaget.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Wanita iblis Jilid 22"

Post a Comment

close