Wanita iblis Jilid 16

Mode Malam
Jilid 16

SI NONA baju merah tak me ngacuhkan. Dengan tenang ia menge masi ra mbutnya yang kusut, la lu tertawa lepas, “Jangan jual suara besar dulu. Jika tiada persiapan, masakah pihakku berani mengundang kalian!” Habis berkata ia terus melangkah maju.

Tay Hong me mberi isyarat agar keempat paderi jubah merah yang menghadang di tengah itu menyingkir me mberi jalan.

Dengan lengangnya nona baju merah itu melintasi lingkar kepungan ro mbongan orang gagah. Tiba-tiba ia berhenti lagi dan berpaling. “Di luar barisan padang bunga ini terdapat sejenis kabut beracun yang selalu bertebaran siang mala m. Kabut itu tiada berwarna dan berbau. Sebaiknya tuan-tuan jangan pergi ke mana- mana. Jika berani melanggar peringatanku, kalau sampai terkena kabut beracun, jangan sesalkan siapa-siapa!” Tanpa menunggu Tay Hong menjawab, sekali melesat nona baju merah itu sudah berada pada jarak dua tombak jauhnya. Dan setelah berlenggang-lenggok di antara gerumbul pohon bunga, pada lain kejab iapun lenyap.

Tay Hong melingkar-lingkarkan tangannya ke atas. Tiga puluh  enam   murid    Siau-lim-si    cepat    bergerak-gerak me mbentuk diri dalam sebuah susunan barisan.

Siau Yau-cu tertawa, “Bukankah barisan ini disebut barisan Lo-han-tin yang ter masyhur dari partai Siau- lim-s i?”

“Benar,” Tay Hong pun tertawa, “barisan ini jarang sekali dikeluarkan. Terdiri dari dua barisan yakni Barisan Besar dan Barisan Kecil. Barisan Besar merupakan barisan lengkap yang terdiri dari seratus delapan orang. Barisan kecil hanya terdiri dari tiga puluh enam orang. Sayang anak mur id Bu-tong-pay belum datang. Jika mere ka datang, tidak dapat loni menyangsikan barisan Ngo-heng-t ian Bu-tong-pay yang ternama itu!””

Siau Yau-cu menjawab, “Harap taysu jangan kuatir. Dalam perjalanan telah kutinggalkan tanda-tanda sandi kepada anak mur id Bu-tong-pay. Dari Beng-gwat-ciang sa mpai di te mpat ini….”

“Tetapi karena kita me majukan temponya, mungkin anak buah partai saudara tak mengetahui hal itu…” Su Bo-tun menyeletuk.

Tiba-tiba si nona baju biru tertawa melengking, “Sebaiknya mereka cepat datang saja dan sebelum tengah mala m ini sudah masuk ke dalam le mbah Coat-beng-koh sini. Dengan demikian menghe mat tenaga dan waktu kami!”

Siau Yau-cu tak mengacuhkan sindiran nona itu. Ia tertawa, “Setelah dia mbil putusan untuk me majukan kedatangan kita, telah kusuruh murid Bu-tong-pay di lereng Beng-gwat-ciang segera melapor ke Bu-tong-san. Minta supaya Bu-tong-pay segera memberangkatkan bantuan. Mungkin dalam dua  hari ini mereka tentu datang. Jika tidak hari ini tentu besok pagi!”

Tay Hong siansu menyatakan supaya Sin Cong totiang, ketua Bu-tong-pay yang sekarang supaya me mimpin sendiri, “Tentang salah paham antara Bu-tong dan Siau-lim dahulu, mudah- mudahan dalam kese mpatan ini dapat kita hapuskan,” kata ketua Siau-lim-s i.

“Jangan kuatir,” kata Siau Yau-cu, “sutit yang me njadi ketua Bu-tong-pay sekarang ini tak begitu me mandang sungguh-sungguh akan perselisihan dengan Siau- lim-s i yang la mpau. Siau-lim dan Bu-tong merupakan sumber ilmu silat yang tertua. Sedikit  salah  paham  yang  terjadi  pada  masa la mapu, telah kujelaskan pada Sin Cong sutit!”

Paderi Sin Cong ketua Bu-tong-pay yang sekarang, termasuk  mur id  keponakan  dari  Siau   Yau-cu,   maka   ia me manggil sutit.

Tay Hong tersenyum. Karena saat itu masih beberapa jam la manya dari tengah ma la m, maka ia mengajak sekalian rombongannya beristirahat me mulangkan se mangat.

Sekalian orang gagahpun duduk berse medhi dan kedua nona Beng-gak itu mas ih terkepung di tengah-tengah mereka.

Bwe Hong-swat si nona baju putih sejenak me mandang ke sekeliling ro mbongan  teta mu, ke mudian iapun duduk. Senjatanya giok-ci diletakkan di sa mping. Sejak muncul tadi, ia tetap tidak mau bicara, wajahnya tampak ha mbar.

Diantara ketiga saudara seperguruan yang digelari sebagai Beng-gak-sa m-li, dialah yang paling cantik. Hanya bedanya, si nona baju biru dan baju merah selalu r iang ge mbira dan murah tertawa, tetapi Bwe Hong-swat selalu berwajah dingin laksana kutub utara.

Si merah me metik setangkai bunga, serunya, “Sam- sumoay, bangunlah!” Bwe Hong-swat hanya mengangkat kepalanya pelahan- lahan, “Ada apa?”

“Lihatlah kedua orang yang duduk berda mpingan itu.

Mereka kasak- kusuk dengan asyik sekali!”

Dengan selalu berwajah dingin dan tak mena mpil reaksi apa-apa, berkatalah Bwe Hong-swat dengan tawar, “Apanya yang perlu dilihat. Sudahlah jangan melihatnya! Lebih baik toa-suci duduk me mulangkan tenaga. Jika terjadi pertempuran nanti, tentu akan berlangsung seru sekali!”

Si Biru tersenyum, “Jangan kuatir sumoay, suhu sudah mengadakan persiapan. Masakan kita perlu  berjerih  payah me mbuang tenaga dengan mereka.”

Sekalipun kedua nona itu bicara dengan pelahan sekali tapi bagi ro mbongan jago-jago yang sedang me musatkan panca indera itu, sudah tentu dapat mendengarkannya.

Tay Hong me mbuka mata dan me mandang kedua nona itu sejenak lalu peja mkan mata lagi.

Karena Bwe Hong-swat tak mau berdiri, Si Biru terpaksa duduk juga di sebelahnya. Serunya dengan berbisik, “Dalam pesta Ciau-hun-yan nanti, orang-orang itu pasti akan mati semua. Apakah kau tidak menghiraukan pe muda kekasihmu itu?”

Bwe Hong-swat serentak berpaling kepada toa-sucinya, “Dunia  kan  banyak   orang   lelaki,   mengapa  toa-suci mence maskan ke matian pe muda itu?”

Si nona biru tertawa, “Ih,  kiranya  tak salah suhu sering  me mujimu sebagai seorang gadis yang berhati dingin. Rupanya kaulah yang akan dijadikan pewaris suhu untuk menggantikan beliau!”

Sahut Bwe Hong-swat, “Yang muda harus menghor mat yang tua. Kepandaian toa-suci, baik dalam ilmu silat maupun dalam kecerdasan dan keganasan, jauh melebihi diriku. Masakan aku berani me lancangi toa-suci?”

Tiba-tiba wajah nona baju biru berubah gelap. Serunya dengan bersungguh, “Tetapi jika suhu me milihmu?”

Sahut Bwe Hong-swat, “Tak mungkin suhu akan me milihku. Pun andaikata me milih aku, aku pun tentu akan menyerahkan pada toa-suci.”

Nona baju biru itu merenung diam seraya me mandang awan di langit. Beberapa saat kemudian baru ia berkata, “Jika hatimu benar-benar sama dengan ucapanmu, aku tentu akan me mba las budimu!”

Kali ini mereka bicara sepelahan mungkin hingga hanya orang-orang yang berada di dekatnya saja yang mendengarnya.

Angin mala m berhe mbus di le mbah sunyi, menerbitkan suasana yang makin menyeramkan. Berpuluh-puluh jago silat ternama mengepung dua orang nona cantik. Benar-benar suatu pemandangan yang jarang terdapat.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara melengking maca m naga meringkik. Suara melengking  itu  me mecah  kesunyian ma la m, mengejutkan sekalian orang gagah yang tengah bersemedi.

Siau Yau-cu serentak berbangkit, “Nah, dia sudah datang!” serunya.

“Apakah Sin Cong totiang?” tanya Tay Hong.

Siau Yau-cu me ngiakan, “Benar, sekalipun suitan itu bukan dari dia, tetapi dia tentu yang me mimpin ro mbongannya!”

Ketua Siau-lim-si berdiri, ujarnya, “Kalau begitu biarlah loni bersama mur id- mur id yang menya mbutinya!”

Tetapi Siau Yau-cu mencegahnya. Tak berapa lama, dari gerumbul pohon-pohon di padang bunga, bermunculan beberapa sosok bayangan. Sekalian rombongan sa ma berdiri. Cepat sekali pendatang-pendatang itu tiba. Yang paling depan seorang tua berjenggot putih menjura i sa mpai ke dada. Mengenakan jubah warna biru. Kepala besar, mata bundar dan telinga panjang.  Dia  adalah Sin Ciong totiang, ketua partai Bu-tong-pay!

Tay  Hong  siansu   bergegas-gegas   mengha mpiri  dan me mber i hor mat, “Maaf kela mbatan loni untuk menya mbuti kedatangan to-heng!”

Ketua Bu-tong-pay segera me mbalas hor mat, sahutnya dengan tertawa, “Ah, jangan taysu merendahkan diri. Karena me latih mur id- mur id dalam barisan Ngo- heng-tin, hingga sampai me mbuat taysu menunggu la ma!”

Ia berhenti sejenak lalu berkata pula, “Tetapi walaupun datang terlambat, pinto (aku) telah mengajak beberapa kochiu dari Ceng-seng-pay dan Kun-lun-pay untuk datang kemari. Mudah- mudahan kela mbatan pinto itu dapat ditebus dengan itu!”

Me mang di belakang ketua Bu-tong-pay itu tampak empat orang paderi yang usianya rata-rata sudah lebih dari lima puluhan tahun. Tetapi mereka mas ih ta mpak segar dan gagah. Terutama sinar matanya me mancar tajam sekali. Pertanda bahwa mereka adalah ahli-ahli lwekang yang berilmu tinggi. Sin Cong totiang me mperkenalkan kedua orang yang berdiri di sebelah kiri, “Kedua saudara ini adalah kedua persaudaraan Song Hong dan Song Gwat dari partai Ceng-seng-pay!”

“O mitohud!” cepat Tay  Hong  me mber i hor mat,  “Sudah la ma loni  mengagumi nama saudara berdua. Sungguh beruntung sekali hari ini!”

Kedua saudara Song itupun me mbalas hor mat, “Ah, karena suheng ka mi ketua Ceng-seng-pay belum menyudahi pertapaannya, maka tak dapat datang dan sengaja mengutus kami berdua saudara untuk me menuhi undangan taysu.”

Tay Hong menghaturkan terima kasih.

Kemudian Sin Cong mengenalkan lagi kepada kedua orang yang berdiri di sebelah kanan, “Dan inilah Thian Heng dan Thian J io kedua to-heng dari Kun- lun-pay!”

Sebelum Tay Hong me mbuka mulut, kedua ima m dari Kun- lun-pay  itupun  sudah  mendahului,  “Ketua   ka mi   sedang me menuhi undangan seorang sahabat di Thian-san dan belum pulang ma ka kami berdualah yang datang me menuhi undangan taysu!”

Kembali Tay Hong menghaturkan terima kasih.

Kata Sin Cong tojin, “Hendaknya janganlah taysu merendah diri. Saat itu sekalian orang gagah sudah sama berkumpul di sini. Kita me merlukan seorang pe mimpin untuk mengatur dan menyatukan langkah. Dalam hal ini kukira hanya taysu yang tepat menduduki jabatan itu. Mengenai diri pinto dan kedua saudara Song Hong dan Song Gwat, Thian  Heng dan Thian Jio, mereka adalah sahabat lama pinto. Maka beranilah pinto mewakili mere ka dalam pendapat ini!”

Dalam keadaan seperti saat itu akhirnya Tay Hong mau juga menerima pengangkatan itu.

Sin Cong tojin mela mbai ke belakang dan tujuh ima m yang berdiri pada jarak beberapa tombak di belakangnya segera bergegas-gegas lari mengha mpiri serta me mberi hor mat.

Ketujuh ima m itu rata-rata sudah berumur lebih dari tiga puluh tahun. Masing- masing menyanggul pedang di punggungnya.

Sin Cong tojin menunjukkan kepada mereka katanya, “Mereka adalah ketujuh murid pinto yang pinto pilih  paling baik sendiri kepandaiannya. Telah pinto latih mereka dalam barisan Ngo-heng-tin. Lima orang yang maju dan dua orang yang menjadi cadangan. Jika taysu me merlukan, setiap waktu boleh me manggilnya!”

Lagi-lagi Tay Hong menghaturkan terima kasih.

Kata ketua Bu-tong-pay pula, “Tentang sedikit salah paham antara Bu-tong-pay dan Siau-lim-pay dahulu, tak usahlah taysu me mpersoalkan lagi!”

Habis berkata ketua Bu-tong-pay itu segera berputar tubuh dan me mber i hor mat kepada Siau Yau-cu, “Tecu tak berguna, tak ma mpu me mikul beban yang amat berat ini. Harap paman guru suka me mberi bantuan dan petunjuk seperlunya!”

Jawab Siau Yau-cu, “Pergolakan dunia persilatan kali ini yakni, boleh dikata yang terhebat selama beberapa ratus  tahun  ini. Dalam  pergolakan  sekarang  ini  apabila  dapat  me lewatkan dengan sela mat aku akan mengas ingkan diri ke tempat suci. Aku akan melewatkan sisa hari tuaku dengan tenteram!”

“Di belakang gunung Bu-tong-san, terdapat beberapa tempat yang indah pe mandangan. Silahkan pa man me milih tempat yang mana, nanti akan kami bangun sebuah te mpat pertapaan. Pertama-tama, agar paman selalu dapat me mberi petunjuk pada tecu. Kedua, agar murid- mur id sekalian dapat me mba ktikan diri untuk merawat pa man!”

Siau Yau-cu tertawa, “Hal ini kelak kita bicarakan lagi. Sekarang yang penting kita harus merundingkan rencana untuk menghadapi musuh!”

Melirik kepada kedua nona yang masih duduk bersemedi, Sin Cong berbisik menanyakan kepada Tay Hong.

“Apakah taysu belum bertemu dengan ketua gero mbolan Beng-gak itu?” tanya Sin Cong tojin pula.

“Belum, orang itu nanti ma lam baru mau keluar,” jawab Tay Hong. “Kedua nona itu saat ini me mang tak ma mpu lolos dari kepungan kita. Tetapi begitu guru mereka muncul, kita tentu berabe karena dari muka dan belakang harus menghadapi musuh. Jika taysu setuju, lebih baik kita tawan dulu nona itu!”

Tay Hong diam sa mpai beberapa saat. Tiba-tiba Su Bo-tun menyeletuk, “Losiu setuju pendapat Sin Thong toheng. Kedua nona itu berkepandaian sakti. Jika lebih dulu kita  ringkus, tentu dapat mengurangkan kekuatan mereka!”

Kiu-s ing-tui-hun Kau Cin-hong juga setuju. Ia menyatakan tak usah berlaku sungkan terhadap gerombolan semaca m Beng-gak.

Beberapa orang pun menunjang pendapat itu. Karena terpisah dekat, maka kedua nona itupun dapat mendengar pembicaraan mereka.

Si baju biru me mbuka mata dan berbisik kepada si putih Bwe Hong-swat, “Keadaan ma kin gawat. Rupanya mereka hendak menawan kita. Dan suhu entah apa sudah turun dari persemediannya….”

Belum selesai ia berkata tiba-tiba terdengar bunyi genta bertalu-talu. Seketika si nona baju biru  me mberingas semangatnya, “Nah, apakah itu bukan pertanda dari suhu?”

Bwe Hong-swat menengadah me mandang ke langit, katanya, “Benar, tetapi kita harus menunggu sampai beberapa jam lagi baru sang mala m tiba!”

Si baju biru tertawa, “Apabila bertemu suhu, ji-sumoay tentu akan menceritakan tentang keadaan kita di sini. Beliau tentu segera bertindak. Jika tak dapat datang sendiri tentu akan mengir im orang untuk meno long kita.”

“Musuh yang kita hadapi saat ini, terdiri dari  jago-jago kelas satu. Jika bukan suhu sendiri yang datang, sukarlah untuk meno long kita,” kata Bwe Hong-swat. Si nona baju biru sejenak keliarkan pandangannya ke sekeliling penjuru, kemudian ia berseru, “Sumoay, bersiap-siap untuk menghadapi musuh. Rupanya kita terpaksa harus turun tangan!”

Kiranya saat itu karena didesak orang banyak, Tay Hong siansu terpaksa me luluskan untuk menawan kedua nona itu. Tetapi justeru Tay Hong menyetujui, keadaan malah menjadi sunyi. Sekalian orang gagah berdiam diri. Rupanya mereka masih teringat akan pertempuran antara Bwe  Hong-swat lawan jago Tibet Pek Co-gi dan si nona baju biru adu lwekang dengan Su Bo-tun. Kesan-kesan itu me mbuat masing- masing harus berpikir panjang karena merasa tak ungkulan melawan kesaktian kedua nona itu.

Hal itu me mbuat kedua wakil Kun- lun-pay ima m Thian Heng dan Thian Jie, menjadi heran. Mereka melangkah ke depan.

“Ka mi berdua saudara bersedia untuk mela kukan rencana kita menawan kedua nona itu,” kata Thian Heng.

Melihat bagaimana kening kedua saudara itu menonjol tinggi dan langkah kaki mere ka ringan sekali, dia m-dia m Tay Hong menduga bahwa kedua ima m  Kun-lun-pay  itu  tentu me miliki ilmu pedang yang sakti. Dan memang partai Kun- lun- pay termasyhur ilmu pedangnya.

“Ah, jiwi toheng baru saja tiba dari perjalanan jauh. Lebih baik beristirahat dulu. Biarlah loni suruh murid- murid  saja yang turun tangan,” kata Tay Hong.

Thian Heng tertawa, “Dari jauh pinto datang sampa i saat ini belum mendirikan suatu jasa. Semoga tindakan pinto berdua ini dapat diterima sebagai sumbangsih partai Kun- lun- pay!”

“Omitohud!” seru Tay Hong siansu, “ilmu kepandaian Beng- gak luar biasa aneh dan saktinya. Partai-partai persilatan di Tiong-goan sukar menghadapi mereka. Harap jiwi toheng jangan me mandang rendah mere ka.”

Tetapi rupanya ketua wakil Kun- lun-pay itu tak mau dicegah. Thian Heng mencabut pedang dan setelah menghaturkan terima kasih atas petunjuk TayHong siansu, ia segera mengha mpiri ke te mpat dua nona.

Melihat suhengnya maju, Thian Jio pun mencabut pedang dan loncat menyusul.

Melihat kdatangan kedua ima m itu, si nona baju biru malah pejamkan mata bersikap tak mengacuhkan.

Ketika tiba di te mpat kedua nona, pertama-tama kesan yang me mbuat Thian Heng terkesiap adalah ketika melihat bentuk senjata si nona baju biru yang aneh.

“Huh, senjata apakah yang begitu aneh bentuknya? Dan entah dari bahan apa dibuatnya. Rupanya bukan dari bahan besi, pun bukan dari baja,” Thian Heng menimang-nima ng.

Kemudian ia beralih me mandang ke arah Bwe Hong-swat. Kembali ia terkesiap dan heran mengapa senjata si nona baju putih terbuat dari batu giok putih.

Tetapi karena sudah tiba di hadapan mereka, maka Thian Heng pun segera berseru, “Thian Heng adan Thian Jio dari Kun-lun-pay hendak moho n pelajaran dari nona berdua!”

Si nona baju biru segan-segan me micingkan mata dan tersenyum. Perlahan-lahan ia bangkit seraya mengajak Bwe Hong-swat, “Sumoay, bantulah!”

“Suci hendak menyuruh apa?” Bwe Hong-swat bangun. “Ilmu pedang Kun-lun-pay telah ter masyhur di dunia

persilatan,” sahut si nona baju biru.

“Kun- lun-pay termasyhur dengan ilmu pedangnya. Cobalah kau ber main- ma in barang beberapa jurus dengan mere ka,” kata si nona baju biru pada sumoaynya. Bwe Hong-swat me langkah perlahan-lahan di hadapan kedua ima m Kun- lun-pay itu. Setelah siapkan senjata giok-cu, berkatalah ia, “Maju kalian berdua!”

Seketika berubahlah wajah Thian Heng, serunya geram, “Nona ber mulut besar sekali.  Biarlah  pinto  seorang  yang me layani dulu!”

Ketika dia mengangkat  pedang, tiba-tiba Thian Jio lari mengha mpiri, “Suheng, ijinkan aku yang maju dulu!”

“Siapa yang maju sa ma saja. Tetapi yang paling baik kalau maju berdua!” seru Bwe Hong-swat dengan nada dingin. Serentak ia maju menyerang kedua orang itu.

Thian Jio mendengus. Dengan jurus Thian-li-san-hoa atau bidadari menyebar bunga, ia taburkan pedang untuk menangkis serangan Bwe Hong-swat yang menimpa Thian Heng.

“Janganlah  nona  bermulut  terlalu  o mong  besar.  Jika  ma mpu mengalahkan pinto, barulah nona boleh menghadapi suhengku!” serunya. Dalam pada berkata-kata itu, ia sudah lancarkan enam buah tusukan.

Melihat ilmu pedang Thian Jio, Siu- lam me muji dengan suara perlahan, “Ilmu pedang Kun-lun-pay benar-benar tak bernama kosong. Jika aku tak mendapat pelajaran dari Tan locianpwe, tentu tak dapat kutandingi ilmu pedang itu!”

Mendengar itu si dara  Hian-song  tertawa,  “Sebaiknya, ima m tua itu dapat me mbunuh!”

Siu-la m terbeliak. Tetapi cepat ia dapat menyadari apa yang di balik ucapan si dara itu, Ia berbatuk-batuk kecil lalu berdiam diri.

Sementara itu terdengarlah dering ge mer incing senjata beradu. Tanpa menyurut mundur sama sekali, Bwe Hong-swat telah tebarkan giok- cu untuk menangkis. Tiba-tiba Thian Jio me mbentak keras. Sebelum si nona sempat balas me nyerang, ia telah mendahului me mbolang- balingkan pedangnya. Hanya dalam sekejap mata saja ia  sudah lancarkan e mpat buah serangan pedang….

Serangan itu cepat dan deras bagaikan hujan me nyurah tetapi Bwe Hong-swat tak gugup. Dengan tenang ia mainkan giok-ci untuk mengha lau serangan itu.

Menyaksikan perte mpuran itu, Thian Heng yang lebih tua dan lebih banyak pengala mannya segra mengatahui bahwa si nona baju putih itu bukanlah seorang nona biasa, tetapi seorang nona yang sakti. Buru-bur u ia berbatuk-batuk dan berseru dengan palahan, “Sute, jangan terburu nafsu!”

Me mang Thian Jio sendiri menginsyafi bahwa nona yang dihadapinya bukan sembarang jago. Walaupun tampaknya serba luwes dan ringan gerakannya, tetapi setiap gerakan mengandung tenanga lwekang lunak. Setiap kali saling berbentur, pedangnya tentu terpental. Maka peringatan suhengnya itu makin menyadarkan pikirannya. Cepat ia mengendor kan desakannya. Tak berani lagi ia me mandang rendah pada si nona. Dengan wajah bersungguh-sungguh, ia ma inkan pedangnya agak lambat. Dari menyerang menjadi bertahan, ia  mainkan  ilmu  pedang  Thian-soan-si-cap-pwe- kia m, salah sebuah ilmu pedang istime wa dari Kun- lun-pay.

Walaupun gerakannya tampak la mbat, tapi perbawanya masih dahsyat. Pedang melanda tak henti-hentinya  seperti gelo mbang bengawan Tiang- kang.

Tetapi Bwe Hong-swat tetap bersikap  me mpertahankan diri. Dia tak mau menyerang. Sepasang giok-ci dipakai untuk me lindungi tubuh, bergerak-gerak menurut cepat lambatnya pedang lawan. Sampai tiga puluh jurus la manya, satu kalipun ia tak mau balas menyerang. Menyaksikan itu Tay Hongpun kerukan kening. Dia m-dia m ia menimang, “Ah, nona ini sudah mengandung cita-cita untuk ke mbali ke jalan benar. Musuh yang sebenarnya ialah nona baju biru itu. Jika Thian Jio tojin berte mpur secara begitu, biarpun sa mpai dua tiga ratus jurus, tetap takkan menang. Kalau toh sudah terlanjur turun tangan, sebaiknya harus menggunakan cara kilat….”

Saat itu Tay Hong hendak suruh salah seorang paderi Siau- lim yang berkepandaian tinggi untuk turun ke gelanggang. Tiba-tiba Thian Jio tojin bersuit nyaring dan berubahlah permainan pedangnya!

Kiranya ima m dari Kun- lun-pay itu juga sudah me mpunyai perhitungan. Kun-lun-pay termasuk salah satu dari tiga partai yang termasyhur ilmu pedangnya. Jika dengan seorang gadis tak terkenal saja tak mampu me menangkan, tentulah Kun-lun- pay akan merosot namanya.

Dengan pemikiran itu, timbullah seketika se mangatnya. Cepat ia mengganti perma inan pedangnya. Pedang berhamburan dan sekejap lalu tubuh Bwe Hong-swat sudah terkurung oleh lingkaran sinar pedang….

Me mang para orang gagah yang hadir dalam untuk undangan pihak Beng-gak itu, tahu bahwa ilmu pedang Kun- lun-pay tak di bawah ilmu pedang partai Bu-tong-pay dan Ceng-sia-pay. Tetapi pengetahuan itu hanya didasarkan atas cerita orang. Mereka jarang melihat permainan pedang dari jago Kun-lun-pay. Maka ketika menyaksikan betapa dahsyat permainan pedang yang dilakukan oleh Thian Jio tojin saat itu dia m-dia m mereka me muji terus….

Tetapi kebalikannya Thian Heng ma lah terkejut ketika menyaksikan sutenya telah mainkan jurus Hok- mo-sa m- kiam dari ilmu pedang Thian-soan-si-cap-pwe- kia m. Ia hendak mencegah tapi sudah tak keburu lagi.  Thian Jio sudah lancarkan   jurus   pertama    Thian-ong- lo- mo.    Orangnya me mbayangi kiblatan sinar pedang. Dan sinar pedang telah berubah menjadi me lingkar jaring sinar yang mengha mbur ke kepala si nona….

Tetapi Bwe Hong-swat hanya mendengus dingin. Senjata giok-ci tiba-tiba diacungkan ke atas untuk melindungi kepala. Tring, trang… terdengar dering yang tajam ketika kedua senjata saling beradu!

“Ilmu pedang Kun-lun-pay, ternyata hanya begini  saja,” Bwe Hong-swat melengking, “kalau masih ada jurus simpanan yang lain, lekas keluarkanlah. Waktu sangat terbatas  sekali, aku segera akan balas menyerangmu.”

Ima m Thian Jio marah bukan kepalang. Dengan menggerung keras, ia lancarkan jurus kedua kim- ngo-ki- mo. Sekali  tangan  mengge liat   maka   gumpalan   sinar   yang  me menuhi keliling penjuru tadi segera berkumpaul jadi satu dan meluncur ke tubuh si nona.

Serangan saat itu telah dibarengi dengan tenaga lwekang oleh Thian Jio. Di hatinya bukan alang kepalang. Sambaran pedang menimbulkan deru angin yang keras!

Kiranya ima m Kun-lun-pay itu me mperhitungkan bahwa seperti telah terjadi beberapa kali ini Bwe Hong-swat tentu akan menangkis. Maka ia lancarkan serangannya dengan penuh tenaga.

Tetapi ternyata dugaannya meleset. Bwe Hong-swat kali ini tidak mau mengadu kekerasan tetapi miringkan tubuh ke samping lalu mundur tiga langkah.

Serangannya menemui te mpat kosong, tiba-tiba ima m Thian  Jio  me la mbung  ke   udara   dan   meluncur   turun  me mbayangi si nona. Inilah keistimewaan dari ilmu pedang Thian-soan-si-cap-pwe- kia m. Jika lawan tak ma mpu me mecah serangan itu, gerak serangan itu akan berubah menjadi serangan yang sungguh-sungguh. Tetapi jika lawan ma mpu menangkisnya, serangan itupun akan berubah menjadi sebuah serangan kosong. Apabila lawan kecele, disitulah pedang akan mengisinya dengan gerakan serangan yang akan me mbuat lawan tak berdaya….

Melihat gerakan lawan yang sede mikian dahsyatnya, diam- diam Bwe Hong-swat berpikir, “Jika aku tak melukai orang ini, tentu   akan   menimbulkan  kecurigaan   suci.   Tetapi   jika me lukainya, dikuatirkan akan menimbulkan salah paham rombongan orang gagah….” Sampai beberapa saat nona  itu tak dapat menentukan keputusan.

Tetapi ia tak sempat berpikir lebih la ma lagi karena saat itu Thian Jio sudah menyerang. Dalam gugupnya, terpaksa Bwe Hong-swat putar giok-ci dengan jurus Ji-hong-su-pit.

Thian Jio tertawa mengejek dan me mbentaknya, “Lepaskan!” ujung  pedang  menjungkit  ke  atas  kemudian me lesat menusuk siku lengan kanan lawan.

Bwe Hong-swat terkejut. Untuk menghalaunya, sudah tak keburu. Apa boleh buat, ia terpaksa lepaskan giok-ci di tangan kanannya….

Mendapat ke menangan, Thian J io makin besar hatinya.

Sekaligus ia lancarkan lima buah serangan lagi….

Bwe Hong-s wat kelabakan dibuatnya. Melihat itu, si nona baju biru merasa heran. Sambil me mutar senjatanya yang berbentuk seperti tanduk rusa, ia berseru, “Jika sumoay tak dapat melayani harap lekas menyingkir….”

Tetapi tepat pada kata-kata itu dilantangkan, Bwe Hong- swat sudah lancarkan serangan balasan. Senjata di tangan kiri berputar-putar ke kanan kiri. Serangan dahsyat dari Thian Jio telah dapat ditahannya. Dan setelah berhasil, tiba-tiba si nona ma lah susupkan senjatanya ke tengah sinar pedang musuh untuk maju menusuknya. Cepat dan hebatnya gerakan si nona itu bukan alang kepalang.

Demikianlah kedua tokoh yang bertempur merapat itu tiba- tiba pecah dan saling loncat mundur. Bwe Hong-swat me mungut giok-ci yang jatuh di tanah tadi lalu mundur dua langkah dan tegak berdiri dengan tenang.

Thian Jio pun berdiri dia m. Melihat itu Siau Yau-cu curiga dan berkata perlahan-lahan kepada Tay Hong, “Jangan-jangan Thian J io toheng itu menderita luka dala m.”

Belum selesai Siau Yau-cu berkata, tiba-tiba tubuh  Thian Jio rubuh ke belakang dan jatuh terlentang ke belakang.

Thian Heng cepat-cepat loncat mengha mpir i dan dengan sebat telah menyanggapi tubuh sutenya, lalu dibawa loncat mundur.

Wajah Thian Jio pucat lesi. Kedua matanya melotot tetapi mulut tak dapat berkata apa-apa.

“Apakah sute terluka? Lekas gunakan ilmu kita untuk mengatur ja lan darah!” kata Thian Heng. Tetapi sa mpai diulang beberapa kali, sutenya seperti tidak mendengar. Kedua mata Thian Jio tetap mendelik.

Melihat keadaan sutenya tampak menguatirkan, buru-buru Thian Heng letakkan tangannya ke dada sang sute, “Sute, lekas gunakan sim- hwat perguruan kita untuk menyalurkan peredaran darah. Apakah kau tak mendengar?”

Karena disaluri tenaga murni oleh suhengnya, mata Thian Jio tiba-tiba dapat bergerak-gerak.

“Apakah sutemu terluka berat?” seru Siau Yau-cu seraya mengha mpiri.

Thian Heng menghe la napas, “Dikuatirkan tak dapat tertolong lagi.”

Siau Yau-cu terkejut. Ia heran dan tak mengetahui ilmu apa yang digunakan si nona baju putih tadi. Namun tak mau ia menyatakan kegentaran hatinya dan dengan tenang ia berkata lagi, “Sutemu cukup  sakti, tentu takkan terjadi apa-apa padanya. Losiu sedikit-sedikit mengerti ilmu pengobatan. Bolehkan losiu me mer iksanya?”

Jago dari Kun-lun-pay itu berpikir. Kekalahan sutenya oleh seorang nona tak dikenal, telah diketahui oleh orang banyak. Peristiwa itu tak mungkin ditutupi lagi. Maka lebih baik ia berdaya untuk menolongnya.

“Baiklah, jika locianpwe suka me mberi pertolongan, kami tentu takkan me lupakan budi locianpwe,” katanya kepada Siau Yau-cu. Habis berkata jago Kun-lun-pay itu segera letakkan tubuh sutenya di tanah kemudian ia mencabut pedang dan berjalan mengha mpiri Bwe Hong-swat.

Melihat itu Tay Hong segera mencegah,  “Harap  toheng suka merawat sute toheng yang terluka itu dan biarlah loni yang menerima pelajaran dari nona itu!”

Dua jago Kun-lun-pay yang satu sudah terluka  maka sebagai pemimpin ro mbongan, tak enaklah kata Tay Hong kalau me mbiarkan Thian Heng maju.

“Taysu adalah pemimpin ro mbongan, mana boleh bertindak sendiri. Biarlah pinto saja yang menghadapinya!” sahut Thian Heng.

Tay Hong tetap mencegahnya dan ia akan maju. Tetapi Thian Heng tetap  berkeras  hendak  maju,  “Pinto   hendak me mba las sakit hati suteku!”

Kiranya Thian Heng telah me ngetahui bahwa keadaan sutenya memang parah sekali.  Andaikata dapat tertolong jiwanya, pun ke mungkinan akan menjadi cacad. Sejak kecil ia sudah hidup bersama dan belajar bersama dengan sutenya. Hubungan keduanya sudah seperti saudara sekandung.  Maka ia sedih dan marah sekali ketika sutenya menderita penganiayaan sedemikian rupa. Ia bertekad hendak menuntut balas. Tiba-tiba didengar sebuah suara melengking  dari rombongan orang gagah, “Sudahlah, tak perlu kalian ribut mulut!”

Serentak dengan itu sesosok tubuh langsing melo mpat keluar. Itulah si dara Hian-song!

Kiranya ketika melihat Bwe Hong-swat dapat melukai Thian Jio tojin, tiba-tiba timbullah sesuatu dalam hati Hian-song. Pikirnya, “Budak itu cantik sekali dan a mat baik dengan Engkoh La m. Lebih baik menggunakan kesempatan saat ini untuk me mbunuhnya agar dia jangan selalu mengganggu pikiran engkoh La m!”

Hian-song seorang dara yang masih hijau. Dan ia paling tak dapat mengendalikan e mosinya. Apa yang dipikir tentu segera dilaksanakan seketika.

Thian Heng tak kenal siapa dara itu. Ia kuatir jangan- jangan dara itu akan kalah. Tetapi baru ia hendak mencegahnya, Hian-song sudah mencabut pedang dan loncat ke muka. Tanpa berkata apa-apa, ia terus menusuk Bwe Hong-swat dengan jurus Ki-hong-ceng- kau. 

Karena didahului, terpaksa Thian Heng mengalah.  Ia mendengus dingin dan mundur. Lalu bertanya kepada Tay Hong, “Siapakah nona itu? Mengapa dia tak tahu aturan?”

Tetapi Tay Hong hanya menjawab, “Ah, mengapa toheng masih me mandang  tinggi peradatan-peradatan yang tak berarti? Biarkan dia yang maju!”

Bwe Hong-swat putar giok-ci untuk menangkis serangan Hian-song. Begitu pedang terpental, tiba-tiba Hian-song berputar tubuh dan menabas tubuh lawan. Gerakan itu aneh sekali. Hanya seorang ahli pedang semacam Siau Yau-cu yang dapat mengetahui bahwa gerakan dara itu sesungguhnya sebuah ilmu pedang yang tergolong tingkat tinggi. Tring… ke mbali terdengar dering senjata beradu dan sekonyong-konyong Hian-song berputar ke sebelah kiri. Kali ini gerakan pedang makin dahsyat, begitu pula berputaran diri itupun lebih cepat dari yang tadi.

Sepintas pandang gerakan si dara itu memang biasa saja. Sekalian orang gagahpun tak me ngerti ilmu apa yang digunakan dara itu. Mereka hanya melihat dara itu menangkis dan menghindar.

Bwe Hong-swat pun tak mengerti apa serangan yang dimainkan dara itu. Maka iapun lagi-lagi hanya gerakkan giok- cinya untuk me nangkis.

Hian-song mengulangi gerak berputar tubuh dan menusuk pedang itu sampai e mpat kali. Setiap kali lebih dari yang terdahulu.

Anehnya setelah empat kali berturut-turut menangkis serangan Hian-song, Bwe Hong-swat ta mpak tak kuat. Nona itu terpental mundur selangkah. Ia rasakan serangan pedang si dara se makin la ma se makin dahsyat sekali.

Tiba-tiba terdengar sebuah suitan nyaring. Hian-song terkejut dan menarik pulang pedang. Berpaling ke belakang, dilihatnya sekalian orang gagahpun celingukan kian ke mari untuk mencari siapa yang bersuit senyaring itu!

Sirapnya suitan nyaring itu disusul dengan kuma ndangnya suara music yang luar biasa sedihnya. Tak tahu alat music apa yang digunakan, tetapi yang jelas suara lagunya benar-benar menyayat-nyayat hati. Mirip dengan puluhan orang yang sedang mer intih-r intih di dera ca mbuk….

Tiba-tiba Siau Yau-cu bersuit panjang. Nadanya mirip dengan nada meringkik, suaranya mene mbus awan.

Tay Hong berpaling dan berseru, “Rupanya suatu mus ic itu pertanda dari akan munculnya ketua Beng-gak!” “Telah kulantangkan suitan untuk menya mbut, apabila benar ketua Beng-gak, tentu akan terdengar dalan!” sahut Siau Yau-cu.

Tiba-tiba suara musik itu berhenti tetapi sere mpa k dengan itu terdengarlah suara genta bertalu keras tiga kali.  Mendengar itu si nona baju biru tersenyum simpul.

“Harap tuan-tuan suka bersabar sebentar lagi. Lonceng King-hun (pengejut jiwa) sudah berbunyi, suhuku tentu akan datang…” kemudian ia berseru kepada Bwe Hong-swat, “Sam- sumoay, lekas balik ke mar i!”

Bwe Hong-s wat menurut perintah sucinya.

“Hai, kita toh belum selesai, mengapa kau menyingkir ?” teriak Hian-song seraya maju menyerang lagi.

Tetapi Bwe Hong-s wat tak mengacuhkan. Ketika Hian-song hendak mengejar, Tay Hong mencegahnya, “Li-sicu, harap berhenti dulu. Nanti masih ada waktu untuk bertempur lagi.”

Hian-song menurut. Ia kemba li ke tempat Siu- la m. Katanya dengan tertawa-tawa, “Engkoh Lam, apa kau dapat menggunakan jurus yang kuma inkan tadi?”

“Tidak bisa,” sahut Siu- la m.

“Tetapi  andaikata  dapat,  belum  tentu  kau  ma mpu menge mbangkan kedahsyatannya. Oleh karena itu akupun tak mengajarkan kepada mu,” Hian-song tertawa.

Baru Siu- lam hendak menyahut, tiba-tiba musik aneh tadi terdengar lagi. Berpaling ke arah suara itu, dilihatnya dari gerumbul pohon bunga sebelah timur muncul sekelompok manus ia- manusia aneh yang berpakaian aneh.

Dua orang berjalan di muka, bertubuh tinggi besar dan mengenakan baju putih, berikat pinggang tali ra mi. Masing- masing me megang sebatang tongkat Gok-song-pang (tongkat menangis sedih). Jalannya bergoyang gontai seperti orang yang keberatan tubuh.

Di belakang kedua orang tinggi  besar  itu,  mengir ing sekelo mpok orang yang rupanya seperti setan jejadian. Merekalah yang me mbawa alat-alat tetabuhan yang mengalun lagu sedih itu!

Melihat itu Hian-song berkata kepada Siu- la m, “Engkoh Lam, mengapa manus ia- manusia itu mengerikan wujudnya? Apakah mereka sengaja berdandan begitu atau memang aslinya begitu?”

“Mana di dalam dunia terdapat setan? Mereka  tentu manus ia- manusia biasa yang menyaru,” jawab Siu-la m.

Sebenarnya agak takut juga Hian-song, tetapi setelah mendengar keterangan Siu- la m, nyalinya jadi besar lagi.

Rombongan ma nusia- manus ia aneh itu ma kin la ma makin mende kati. Ternyata di belakang rombongan manusia  setan itu tampak juga sebuah ro mbongan la in. Terdiri dari delapan wanita berpakaian serba putih, mengurai ra mbut, berkaki telanjang dan menggotong sebuah tandu berwarna hijau….

Berbeda dengan rombongan setan yang dipimpin kedua manus ia tinggi besar tadi, kedelapan wanita baju putih itu berparas cantik.

Tiba-tiba music tadipun berhenti. Rombongan  manusia setan cepat-cepat menyiak ke samping me mberi ja lan pada rombongan pere mpuan baju putih.

Su Bo-tun  mendengus,  “Hm,  apa  perlunya  mereka menge luarkan   barisan   setan?   Apakah   mereka   hendak me mbikin takut kita?”

Rombongan penandu pere mpuan itupun makin dekat ke tempat ro mbongan orang gagah. Setelah meletakkan tandu, mereka mundur beberapa langkah dan tegak berjajar-jajar di belakang tandu. Sedang barisan manusia setan di belakang mereka kira- kira dua to mbak jauhnya.

Setelah menyebut kata-kata omitohud, berserulah Tay Hong, “Apakah yang di dalam tandu ini ketua Beng-ga k? Loni dan rombongan adalah tetamu-tetamu yang me menuhi undangan. Harap gakcu (ketua) jangan me mberi penyambutan dengan cara yang sera m!”

Tetapi sa mpai diulang beberapa kali, tetap tiada jawaban dari dalam tandu itu. Baik kedelapan pere mpuan cantik maupun ro mbongan manusia setan, mereka tetap me mbis u.

Betapapun sabarnya, akhirnya Tay Hong tak dapat menahan perasaannya lagi. Sekali ia acungkan tangan maka kedelapan  belas  paderi  jubah  kuning  segera  tampil mengha mpiri. Dengan mencekal tongkat merekapun segera mengha mpiri ke tempat tandu.

Kedelapan perempuan cantik itu cepat merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan golok bian-to yang tipis.

Siau Yau-cu kerutkan alis dan berbisik kepada Tay Hong, “Golok kedelapan wanita itu tajam sekali. Sebaiknya jangan sampai beradu dengan senjata mereka.”

Berserulah Tay Hong dengan nyaring, “Karena gakcu yang mengundang kami, mengapa sekarang tak mau keluar bertemu muka? Jika  gakcu tetap bersikap begitu, maaf terpaksa loni akan bertindak me langgar aturan….”

Belum selesai ketua Siau- lim-s i itu mengucap, terdengarlah suara ketawa melengking nyaring maca m bunyi kelinting dari dalam tandu, “Tak kira kalau kalian datang lebih pagi dari waktu undangannya. Karena tak keburu mengadakan persiapan maka sa mpai me mbuat kalian menunggu la ma.”

Nadanya lemah le mbut dan tenang. Selesai ucapan itu, layar penutup kelambu tersingkap perlahan-lahan dan seorang wanita yang mengenakan pakaian seperti seorang pertapa perlahan-lahan keluar dari tandu.

Ratusan mata dari rombo ngan orang gagah yang hadir di tempat itu, segera tercurah ke arah wanita itu.

Wajah wanita itu kekuning-kuningan. Alisnya tebal dan mulutnya lebar. Sekilas merupa kan raut wajah yang tak sedap dipandang. Tubuhnya langsing, tangannya putih seperti salju. Jika tak me lihat wajahnya dan hanya me mandang potongan tubuhnya tentulah mengira kalau wanita itu cantik.

Tay Hong berpaling dan berkata perlahan kepada Siau Yau- cu, “Kenalkah Siau-heng kepada wanita itu?”

Jawab jago tua Bu-tong-pay itu, “Dahulu ketika bertempur dengan wanita itu, dia mengenakan  kain  kerudung  muka hitam sehingga tak kelihatan wajahnya. Tak ingat lagi bagaimana rupanya. Tetapi aku terluka aku berhasil menyingkap kain kerudungnya dan seingatku wajahnya tidak begitu.”

Tiba-tiba Su Bo-tun mendengus, “Sekalipun kau me ma kai topeng kulit manus ia, tak nanti dapat menge labui mataku!”

Tiba-tiba wanita itu mengusap mukanya  dan tertawa, “Benar, me mang aku me ma kai topeng kulit manusia. Tetapi begitu kalian me lihat wajahku yang asli, hari kematian kalian tentu sudah dekat!”

Begitu tangan wanita itu mengusap mukanya, maka wajah yang kuning e mas segera berganti dengan wajah yang merah segar….

Dia m-dia m Tay Hong me mbatin, “Hm, entah berapa lembar topeng kulit yang dipakainya. Mengapa wajahnya bisa berubah menjadi merah.”

Terdengar wanita misterius itu tertawa pula. “Tuan-tuan adalah tetamu  dari  jauh. Sekalipun   datang ke mari hendak mengantar kematian,  tetapi sebagai tuan rumah akupun harus menya mbut dengan baik, ke mudian baru turun tangan!”

Ia menutup kata-katanya dengan guratkan tangannya ke udara dan serentak suara musikpun terdengar lagi.

Begitu musik berbunyi, dari gerumbul pohon bunga muncul sekelo mpok manus ia- manusia aneh yang wajah dan pakaiannya bermaca m- maca m warnanya. Mereka masing- masing me mbawa dua buah kursi dan me ja. Dalam sekejap saja, di tengah padang bunga itu telah disiapkan berpuluh meja perjamuan. Menyusul dengan itu, muncul pula pelayan- pelayan yang membawa hidangan. Kira-kira  sepe minum  teh la manya, meja-mejapun sudah penuh dengan hidangan dan minuman.

Wanita berpakain pertapaan itu segera member i hor mat seraya tertawa, “Silahkan tuan-tuan minum arak Ciu-hun-ciu. Perjalanan kea lam baka jauh sekali, jangan sampai saudara- saudara kelaparan di tengah jalan!”

Sejenak Tay Hong me mandang kepada rombo ngannya dan dia m-dia m ia berpikir. Mengapa munculnya rombongan pelayan itu tak dapat diketahui sama sekali. Begitu pula hidangan itu entah dari mana datangnya, tahu-tahu sudah dibawa kabur. Dan ketika me mandang ke arah padang bunga, ternyata rombongan manusia- manus ia berpakaian aneh yang me mbawa hidangan tadi, sudah tak tampak lagi bayangannya….

Tiba-tiba ia dikejutkan oleh lengking oleh tertawa dari si wanita berbaju pertapaan, “Silahkan tuan duduk seenaknya!” ke mudian wanita itu mendahului menga mbil tempat di kursi.

Siau Yau-cu berbisik kepada Tay Hong, “Baik kita menuruti permintaannya dulu. Nanti setelah tanyakan apa ma ksudnya mengundang kita, barulah kita menga mbil tindakan lebih lanjut. Sekalipun arak dan makanan mereka dica mpuri racun, tak nanti dapat mencela kai kita.”

Dia m-dia m Tay Hong menimang. Ia tak tahu apakah wanita itu benar-benar ketua Beng-gak atau bukan. Ia setuju dengan pendapat Siau Yau-cu.

“Siau-heng benar,” katanya. Kemudian ia mengacungkan tangan dan berseru nyaring, “Saudara-saudara boleh masuk dalam perja muan tetapi jangan makan dan minum.”

Habis berkata ia terus menga mbil tempat duduk berhadapan dengan wanita itu. Siau Yau-cu pun duduk di sebelah Tay Hong.

Su Bo-tun me mandang ke arah Sa m- kia m- it-pit Tio Hon Leng, Ngo Cong-han, Kui-sin-tui-hun Kau Cin-hong, dan paderi Thian-hong. Ke mudian orang she Su itu berkata dengan perlahan, “Lebih baik kita duduk di meja yang di tengah itu!”

Keenam orang itu mengerti ma ksud Su Bo-tun. Mereka segera menga mbil te mpat duduk di tengah dan dengan dia m- diam telah me mbentuk barisan Chit-sing-tun-heng-tin- hwat mengepung si wanita.

Demikian sekalian  ro mbongan  orang  gagah  segera menga mbil te mpat duduk. Meja dengan diduduki sepuluh orang. Selain wanita yang mengenakan pakaian pertapa itu, yang Sembilan orang adalah ro mbongan tetamu. Sedang kedelapan gadis berpakaian putih yang menguasai ra mbut tadi, sambil bersiap dengan golok bian-to di tangan, tegak berjajar di belakang wanita berpakaian pertapa.

Rombongan manusia aneh yang berwajah seperti setan tadi, masih tetap berdiri di tempatnya se mula.

Perjamuan itu ta mpak aneh. Sekian banyak tetamu hanya ditemui oleh seorang dari pihak tuan rumah.

Tiba-tiba wanita berpakaian pertapa itu berbangkit seraya mengangkat cawan arak, “Saudara-saudara telah jauh me mer lukan datang untuk me menuhi undangan pesta maut. Sungguh pantas dikagumi. Maka  sebagai selamat datang, marilah kita teguk cawan araknya.”

Tetapi sekalian tetamu diam saja. Tiada seorangpun yang menya mbuti ajakan wanita itu.

Tay Hong siansu me mberi hor mat seraya bertanya, “Undangan gak-cu kepada kami, sesungguhnya bermaksud apa? Harap gak-cu sudi menjelas kan!”

Wanita itu tertawa longgar, “Eh, bukankah telah kulakukan? Cawan pertama tadi adalah selaku hatur terima kasih bahwa kalian telah sudi me menuhi undangan untuk hadir dalam pesta maut ini….”

Tiba-tiba Su Bo-tun menekan cawan araknya. Cawan itupun ambles masuk ke dala m. Ke mudian berseru dingin, “Ah, belum tentu. Jika tak percaya, silahkan gak-cu segera turun tangan.”

Wanita berpakaian pertapa itu tertawa mengekeh, “Kalian lebih dulu sudah terkena racun. Maka tak perlu harus turun tangan, kalian tak mungkin hidup lebih la ma dari dua  belas jam lagi!”

Mendengar itu terkejutlah sekalian orang gagah. Buru-buru mereka menyalurkan napas untuk mengetahui apakah kata- kata wanita itu benar.

Melihat sekalian tetamunya ketakutan, wanita itu tersenyum simpul. Tiba-tiba ia mengusap mukanya lagi dan serentak dengan itu wajahnya yang berwarna merah segar tadi, tiba-tiba berubah menjadi hitam lega m. Karena tersenyum maka ta mpaklah deretan giginya yang putih.

“Racun yang menyusup ke tubuh saudara memang tiada berwarna dan tiada berbau. Tetapi ganasnya bukan kepalang. Kecuali ra muan obat yang kubuat, di dunia  tak mungkin terdapat obat yang dapat menolong jiwa kalian…” kata wanita itu. Karena dapatkan pernapasan tak kurang suatu apa, Kau Cin-hong marah dan me mbentaknya, “Jangan ngaco-belo jual gertakan kosong!”

Habis berkata jago she Kau itu segera berbangkit  lalu diikuti oleh Ngo Cong-han, Ngo Cong-gi, Kat Thian-beng, Tio Hong-kwat dan Thian Hong totiang. Mereka siap hendak menyerang.

Wanita aneh yang berpakaian pertapa itupun  tertawa tawar. Seolah-olah ia tak mengacuhkan sikap keenam orang pemberingas itu.

“Kalau kalian tak percaya, silahkan coba menyedot napas yang panjang. Tentu kalian merasakan agak berbeda dengan biasanya!”

Kau Cin-hong menurut. Ia  menyedot  napas  panjang.  Ia me mbau bau bunga yang wangi, lain tidak. Saking marahnya Kau Cin-hong segera lontarkan sebuah hantaman kepada wanita itu, “Jangan coba menggertak ka mi dengan segala ocehan kosong!”

Wanita itu diam saja. Ia tak mau menghindar maupun menangkis. Ta mpa knya ia me mbiarkan dirinya dipukul.

Kau Cin-hong menjadi kelabakan sendiri. Karena orang diam saja, ia mengurangi tenaga pada pukulannya.

Tetapi alangkah terkejutnya ketika t inju mengena i tubuh wanita itu, terasa seperti me mbentur segumpa l pakis atau lumut yang licin sekali. Tinju menggelincir  ke sa mping. Untunglah Kau Cin-hong tadi sudah mengurangi tenaga pukulannya. Kalau tidak orang tentu terbawa oleh tinjunya yang mengge lincir ke sa mping itu.

Melihat peristiwa itu, kagum Ngo  Cong-han  bukan kepalang. Dengan mengge mbor keras, iapun lontarkan sebuah pukulan keras. Dia duduk paling dekat dengan wanita itu. Maka pukulannya diarahkan pada ja lan darah di punggung orang.

Tetapi wanita berpakaian pertapa itu tetap tak mengacuhkan dan tertawa kepada Tay Hong siansu, “Bagi kalian hanya terbuka dua buah jalan. Jalan hidup atau jalan mati…..”

Tiba-tiba Ngo Cong-han mendengus tertahan dan  tahu- tahu tubuh ke samping. Melihat itu buru-buru Su Bo-tun mengangkat tangan kanan dan melepaskan tenaga dalam untuk menyanggah tubuh Ngo Cong-han. Siau Yau-cu pun tak kurang sigapnya. Ia ulurkan tangan me nyalurkan napas!

Tay Hong bertanya dengan nada dingin, “Kalau jalan hidup itu bagaimana? Kalau jalan mat ipun bagaimana?”

Wanita berpakain pertapa kembali tersenyum lalu menyahut, “Jika ingin hidup, harus  segera  mengangkat sumpah berat. Bahwa sejak hari ini kalian harus menur ut segala perintahku. Tak boleh me mbantah. Tetapi jika menghenda ki jalan mati, itupun malah lebih  mudah. Asal kuperintahkan me mbunyikan lagu mengantar ke matian, racun dalam tubuh kalian tentu segera bekerja. Tak seorangpun dari rombongan kalian yang dapat me lihat matahari esok pagi!”

Mendengar nada wanita itu tampaknya bersungguh- sungguh, diam-dia m Tay Hong menimang, “Ditilik dari kesungguhan bicaranya, kemungkinan ro mbonganku me mang telah keracunan. Tetapi setelah melangkah  masuk  ke  dalam le mbah Coat-beng-koh tadi, tak ada anggota rombongan yang minum air walaupun hanya setitik saja. Aneh, mengapa dia mengatakan aku dan ro mbongan terkena racun?”

Maka berserulah ia dengan tersenyum, “Loni benar-benar tak mengerti ucapan gak-cu tadi. Sejak me masuki lembah ini, tak setitik air yang diminum ro mbongan loni. Entah bagaimana bisa keracunan?” Su Bo-tun kerutkan dahi dan berseru juga, “Karena datang menghadiri undangan gak-cu, tentang soal mati-hidup sudah tak kami hiraukan lagi. Terkena racun atau tidak, takkan ka mi pikirkan sa ma sekali….”

Tiba-tiba ketua Bu-tong-pay dari ima m Sin Cong menyeletuk, “Lebih baik segera kita mulai bertanding  saja agar diketahui siapa yang menang atau kalah!”

Sekalian orang gagah serempa k berbangkit dan teganglah suasana saat itu.

Wanita pertapa itu mengusap mukanya lagi. Seri wajahnya yang berwarna hitam tiba-tiba berubah menjadi biru muda. Dan dengan tertawa seram berserulah ia, “Karena kalian ingin buru-buru turun tangan, baiklah! Tetapi apakah kalian hendak maju serempa k atau satu persatu?”

Ringan kedengarannya suara tertawa wanita itu, tetapi sesungguhnya telah mene mbus ke dalam telinga sekalian orang seperti jarum yang menusuk. Kecuali Tay Hong siansu dan beberapa tokoh sakti, lain-lain orang yang mendengar tertawa itu, hatinya tergetar keras. Apalagi kalau  melihat wajah si wanita yang seram, mungkin orang biasa tentu sudah me larikan diri.

Beberapa tokoh yang sudah siap menyerang tadi begitu mendengar tantangan si wanita, malah terkesiap dan  tak dapat berbuat apa-apa.

Setelah hening beberapa jenak, Su Bo-tun berseru dingin, “Undanganmu kepada sekalian orang gagah itu, jelas bermaksud me mandang rendah. Aku….”

“Aku bersedia me njadi orang pertama yang hendak menguji kepandaian orang yang dijuluki sebagai tokoh no mor satu di dunia persilatan!” tiba-tiba sebuah suara telah mendahului Su Bo-tun. Ketika sekalian orang berpaling, ternyata yang bicara itu adalah si jago ge muk dari Tibet. Pek Co-gi, jago Tibet yang bergelar Bu- ing-sin- kun perlahan-lahan me langkah maju.

Wanita berpakaian pertapa itu tertawa melengking, “Mendengar kata-katamu, agaknya kau ini bukan orang yang menerima undanganku….”

“Benar, aku me mang datang dari Segak dan tak menerima undanganmu. Aku hanya kepingin menyaksikan kesaktianmu….”

Kembali wanita itu tertawa menge keh, “Bagus! Sungguh kebetulan sekali kau datang sendiri sehingga aku tak perlu mencari jauh-jauh….”

Pek Co-gi tertawa dingin. Tangan kanannya diangkat dan mena mpar, “Cobalah dulu pukulanku Bu-ing-s in-kun ini!”

Wanita itu heran mengapa tak terdengar desis angin pukulan jago Tibet  itu. Tetapi keheranannya itu segera terjawab ketika tahu-tahu dadanya terlanda tenaga dahsyat. Tubuhnya berguncang keras sehingga tak dapat berdiri tegak. Setelah bahunya bergoyang-goyang beberapa kali barulah ia dapat berdiri tegak lagi.

Mendapat hasil, Pek Co-gi tak mau me mber i kese mpatan lagi. Dengan kedua tangannya ia lepaskan beberapa pukulan.

Tiba-tiba wanita itu mengacungkan  tangan ke atas. Manusia- manusia aneh yang berada di belakangnya  segera me mbunyikan alat-alat tetabuhannya dan seketika terdengarlah suara mus ic yang menusuk telinga. Dan serempak dengan itu, wanita itupun mulai goyang-goyangkan lengan bajunya dan menar i.

Wanita itu menari tetapi tari bukan se mbarang tari. Dari gerak lengan bajunya itu berha mburanlah tenaga lwekang lunak yang sakti. Bukan saja tenaga pukulan Pek Co-gi terhapus, pun dapat  me mantulkan  tenaga  me mbal  yang me landa kepada jago Tibet itu.

Bermula Pek Co-gi hanya merasakan tenaga pukulannya terpental balik, tetapi makin la ma ma kin terasa dahsyat….

Dia m-dia m Su Bo-tun me mperhatikan perke mbangan itu. Dilihatnya Pek Co-gi makin tak tahan. Segera ia  berbangkit dan mulai menga mbil posisi sebagai penggerak (kepala) barisan Chit-sing-tun-heng-tin-hwat.

Melihat Su Bo-tun bertindak, maka Tio Hong-swat, Ngo Cong-han, Kat Thian-beng, Kau Cin-hong dan Thian Hong totiang serta Ngo Cong-gi yang sudah beristirahat tadi berbangkit dan menga mbil posisi masing- masing. Mereka bergerak cepat sekali. Dalam sekejap mata sudah terbentulah barisan Chit-sing-tun-heng-tin itu. Wanita itu dikepung di tengah-tengah.

Tiba-tiba wanita itu taburkan kedua tangannya. Setelah berhasil mengundur kan Pek Co-gi, sekonyong-konyong ia loncat mundur dan menyelundup ke dalam gerumbul pohon bunga.

Kedelapan gadis baju putih dan rombongan manus ia aneh penabuh mus ic, segera mengikuti di belakang wanita itu. Mereka menyelinap ke dalam gerumbul bumi.

“Lo-siansu, mari kita kejar!” seru Su Bo-tun kepada Tay Hong seraya mendahului loncat ke muka.

Sebagai seorang ketua sebuah partai persilatan yang besar, sudah tentu Tay Hong harus menjaga diri. Setelah merenung sejenak, barulah ia menyetujui ajakan Su Bo-tun itu. Tetapi pada saat itu, Su Bo-tun dan ro mbongan wanita berpakaian pertapa tadi, sudah lenyap ke dalam gerumbul pohon bunga. Dan ketika berpaling ke belakang, ternyata si nona baju biru dan Bwe Hong-swat pun sudah tak ta mpa k lagi. Siau Yau-cu menyambut pedangnya dan berseru, “Dikuatirkan Su-heng terpancing siasat wanita siluman  itu. Ayo, kita lekas menyusulnya!”

Rombongan orang gagah segera bergerak maju. Sambil berjalan mereka bolang-ba lingkan senjatanya me mbabati pohon-pohon bunga yang tumbur di kedua tepi jalan. Terdengar gemuruh pohon-pohon yang tumbang dan daun- daun yang berhamburan ke mana- mana.

Padang bunga itu ternyata cukup luas. Setelah pohon- pohon bunga dibabati, mereka me lihat padang bunga itu  makin menurun. Agaknya seperti sebuah lereng gunung yang me landai ke bawah.

Siau Yau-cu me mperhatikan keadaan di sekeliling. Dilihatnya sebuah karang yang menjulang tinggi sekali hingga mencapai ketinggian beratus tombak. Sebuah karang yang tak mungkin dicapai sekalipun orang me miliki ilmu ginkang yang sakti.

Dia m-dia m Siau Yau-cu me mperhitungkan.

Jika wanita siluman itu benar-benar telah berada di karang tinggi yang puncaknya tertutup kabut tebal itu, jelas Su Bo-tun tentu tak berhasil menyusulnya. Maka satu-satunya jalan hanyalah harus melintasi gerumbul pohon yang terbentang di sebelah muka itu. 

Dalam pada itu, Siau Yau-cu dan ro mbongannya telah tiba di ujung penghabisan dari gerumbul pohon bunga. Dan keadaan di sini tiba-tiba berubah. Karang-karang yang belasan tombak t ingginya, berjajar mengeliling la mping gunung. Merupakan sebuah le mbah batu yang se mpit me manjang. Tetapi mulut lembah batu itu hanya cukup dimasuki  dua orang. Dinding le mbah licin dan melanda i runcing sehingga sukar untuk dipanjat. Siau Yau-cu berhenti dan berpaling, serunya, “Selain ganas, siluman pere mpuan itu ternyata cerdik sekali. Lembah  yang me mang menyeramkan keadaannya ini telah dibangun lagi menjadi sebuah tempat yang berbahaya. Kita yang tak kenal keadaan di te mpat ini, tentu akan mender ita kerugian. Kanan kiri te mpat ini merupakan jalan buntu dan satu-satunya jalan hanya lembah batu yang se mpit itu. Rupanya Su-heng telah dipikat perempuan siluman itu agar masuk ke dalam lembah.”

“Apa boleh buat, marilah kita masuk ke lembah ini,” sahut Tay Hong.

Tiba-tiba dari salah sebuah ujung le mbah, muncul dua orang bertubuh tinggi besar dan berpakaian serba putih. Mereka masing- masing mencekal  tongkat gok-tong-pang. Dengan langkah bergoyang-gontai mereka melangkah keluar.

Siau Yau-cu berbisik- bisik, “Kedua orang itu adalah pelopor jalan ketika si perempuan siluman hendak muncul tadi. Terang kalau pere mpuan siluman itu berada dalam le mbah ini. Dan Su-heng kebanyakan tentu sudah masuk. Sebaiknya kita lekas menyerbu masuk.”

Tay Hong menima ng. Menilik se mpitnya le mbah, lebih baik hanya beberapa orang saja yang masuk. Kalau kebanyakan orang, malahan tak le luasa.

Kemudian ketua Siau- lim-s i itu berkata kepada sekalian orang gagah, “Dalam le mbah se mpit ini kemungkinan musuh tentu menyembunyikan barisan yang kuat. Harap saudara- saudara menunggu di luar sini dulu. Biarlah loni dahulu yang masuk meninjau ke dala m.”

Dengan pedang di tangan, Siau Yau-cu segera melangkah masuk ke dalam le mbah.

Melihat itu, kedua lelaki tinggi besar tadi segera percepat langkahnya untuk menyambut. Sedang Tay Hong yang menyusul Siau Yau-cu segera me mbis iki jago tua dari Bu-tong- pay itu, “Harap Siau-heng mundur dulu. Rupanya tongkat kedua orang itu berat sekali. Di dalam le mbah tak le luasa bertempur, biarlah loni yang menghadapi mereka!”

Karena mengetahui ketua Siau- lim-si itu me mang me miliki tenaga yang dahsyat, maka Siau Yau-cu pun  segera menyingkir ke sa mping me mberi jalan.

Tay Hong segera maju. Baru ia melewati  Siau  Yau-cu, kedua orang tinggi besar itupun sudah tiba di hadapannya. Salah seorang yang di sebelah kiri mendengus dingin dan tahu-tahu tongkat segera menghantam ke dada Tay Hong dengan jurus Tay-san-ya-ting atau gunung Tay-san menindih puncak.

Tongkat pertapaan atau siang-ciang yang dibawa Tay Hong itu ha mpir dua meter panjangnya. Untuk dibuat bertempur dalam le mbah yang sesempit itu, terang tak leluasa. Maka Tay Hong segera mengganti caranya mencekal. Ia mencekal di bagian tengah tongkat itu sehingga seperti orang me ma kai toya pendek. Dengan me mutar- mutar tongkat ia melawan kedua orang tinggi besar itu.

Tring tring… terjadilah benturan keras antara tiga batang tongkat. Diam-dia m Tay Hong terkejut atas tenaga lawannya yang dapat menahan tongkatnya.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Wanita iblis Jilid 16"

Post a Comment

close