Wanita iblis Jilid 15

Mode Malam
Jilid 15

TAY HONG berpaling kepada si paderi kecil  penjaga pondok, serunya dengan bengis, “Barang milik tetamu, telah hilang. Jelas, kau tak ma mpu menjaganya. Untuk hukumannya, sementara kau harus menghadap te mbok sampai tiga tahun la manya. Lekas pulang ke Ko-san dan serahkan diri pada paderi yang berwajib!”

Dengan serta merta paderi kecil itu me mber hor mat dan tinggalkan pondok.

“Dengan  maksud  apa  Su-heng  juga   dating   ke mari?” ke mudian Tay Hong beralih tanya kepada Su Bo-tun. Ternyata itu membuat Su Bo-tun ha mper ka mbuh penyakitnya. Ia kerutkan dahi tetapi pada lain saat cepat ia dapat menekan ke marahannya lagi.

Sahutnya, “Rasanya aku tadi sudah menjawab pertanyaan itu. Aku me mburu jejak orang ini!” ia menunjuk pada Tio It- ping.

“Ke mana saja kau selama ini?” tiba-tiba Tay Hong menegur paderi kecil lainnya.

“Teecu tetap berada di sini, tak sedetikpun pergi kemana- mana,” sahut paderi kecil itu.

“Jika tetap berada di sini mengapa tidak tahu benda itu hilang?”

“Tecu telah ditutuk orang!”

“Siapa yang menutukmu? Apakah kau tak ingat sama sekali?”

Paderi itu me ngatakan bahwa orang itu yang menutup jalan darahnya itu cepat sekali gerakannya sehingga ia tak sempat mengetahui mukanya. Sebelum berpaling, jalan darahnya sudah tertutuk.

Tay Hong mengerut  kening. Tokoh-tokoh yang datang dalam perte muan itu adalah para tokoh ternama. Karena paderi kecil itu tak dapat menerangkan ciri-ciri si penutuk, maka sukarlah untuk menuduh seseorang. Dan untuk  menuduh seseorang, tentu akan menimbulkan kehebohan dan pertengkaran!

Rupanya Siau Yau-cu dan Su Bo-tun dapat mengetahui keresahan Tay Hong, kata mereka, “Kiranya tak perlulah taysu resah. Yang penting sekarang ini ialah harus menghadapi Beng-gak. Soal mencari peta itu, bisa dipertangguhkan setelah urusan Beng-gak selesai!”  Tay Hong tertawa dan menghaturkan terima kasih atas anjuran kedua tokoh itu. Tiba-tiba Tio It-ping menyeletuk, “Apakah aku boleh tinggalkan tempat ini?” katanya seraya menerobos keluar.

Tay Hong hendak mencegah tetapi entah bagaimana tangan yang sudah diulurkan, tiba-tiba ditarik ke mba li.

Su Bo-tun tertawa dingin dan mengangkat tangannya menuding ke arah punggung Tio It-ping. Tio It-ping rasakan punggungnya gemetar. Tiba-tiba ia berhenti dan berpaling sebentar lalu melanjutkan perjalanan lagi.

Mengingat hubungan la ma, Siu-la m hendak menyusul tetapi Su Bo-tun cepat menghadang, serunya, “Dia telah kututuk dengan Keng-gong-ci (menutuk dari jauh). Dalam dua belas jam lukanya tentu akan sembuh lagi. Paling tidak dalam waktu tiga bulan baru ia dapat sembuh. Saat itu kita sudah menyelesaikan urusan Beng-gak dan sudah tahu menang kalahnya. Kelak kita bias mencar inya lagi. Untuk sementara ini biarkan saja dia pergi!”

Saat itu Tio It-ping sudah lenyap. Siu-la m hanya menghela napas.

“Loni hendak bicara pada sicu. Apakah sicu bersedia?” tiba- tiba Tay Hong berkata kepada Siu-la m. Sudah tentu Siu-la m mengiakan.

“Tentang hilangnya peta itu, untuk sementara baiklah dirahasiakan. Loni secara dia m-dia m akan menyelidikinya. Jika dapat mene mukan, tentu segera loni me mberitahukan. Jika kehilangan itu sa mpai teruwar, dikuatirkan akan menimbulkan kehebohan. Dalam hal ini loni juga pengertian sicu!”

Siu-la m menganggap pendapat ketua Siau- lim-s i itu benar. Ia meluluskan. Tay Hong menyatakan andaikata peta itu belum dapat dikete mukan, nanti bila urusan Beng-gak sudah selesai, tetap ia hendak berusaha mencarinya dan  akan  menge mba likan kepada anak muda. Kemudian Tay Hong menanyakan kepada Su Bo-tun kapan akan dimulainya latihan barisan Chit-sing-tun itu.

Dengan nada bersungguh Su Bo-tun mengatakan, barisan itu tentu sudah selesai dalam lima hari lagi.

Su Bo-tu berapi-api menatap Siu-la m, serunya dengan nada dingin, “Buyung, peta Telaga Darah menyangkut nasib dunia persilatan. Aku telah menganut jalan hidupku dengan caraku sendiri. Aku tak perduli orang mengatakan aku bagaimana. Tetapi sungguh tak kunyana, dalam hari tuaku aku bakal menghadapi peristiwa begini. Sekalipun pendirianku telah kurubah, tetapi bukan berarti aku tak seganas dulu. Jika kau berani main- ma in tentang peta itu, jangan salahkan aku berlaku kejam pada mu!”

“Bagaimana maksud lo-cianpwe? Aku tak mengerti,” kata Siu-la m.

Su Bo-tun tertawa dingin, “Apakah peta mu itu benar-benar hilang?”

“Kalau t idak hilang, masakan aku begini sibuk. Dan perlu apa aku me mbohongi!” Siu- lam berteriak marah  dan  terus me langkah pergi. Dia m-dia m ia kerahkan tenaga dalam untuk menjaga diri. Karena menurut perangai orang she Su dahulu, tak mungkin dia dapat mener ima sikap kasar yang diunjuk Siu-la m seperti saat itu.

Di luar dugaan Su Bo-tun tertawa gelak-gela k dan tinggalkan pondok itu juga.

Ketika Siu- lam ke mbali ke ka mar, ternyata Hian-song sudah menunggu. Dara itu me mandang ke wuwungan ka mar dan tertawa-tawa riang ge mbira.

“Eh, adik Song, mengapa kau begitu riang ge mbira?” tegur Siu-la m.

Dara itu tertawa dan berbangkit, “Ketika sumoay mu mas ih hidup, kalian tentu rukun sekali, bukan?” Siu-la m terkejut dan terlongong-longong. Beberapa  saat ke mudian baru ia menyahut, “Benar, mengapa kau tiba-tiba menanyakan soal itu?”

“Tetapi saying dia sudah meninggal,” kata si dara tanpa menghiraukan pertanyaan orang.

Siu-la m terbeliak lagi, ujarnya, “Kita telah menguburnya di kaki bukit Po-tok-nia. Masakan kau lupa?”

Sekonyong-konyong wajah dara itu berubah gelap dan dingin. Bertanyalah dia dengan bengis, “Jika pada waktu di gunung Kiu-kio ng-san aku tak meno longmu,  apakah kau masih dapat hidup sa mpai sekarang?”

Siu-la m ma kin tak mengerti sikap dara itu, diam-dia m ia menduga jangan-jangan dara itu tak enak badan sehingga bicaranya tak karuan.

“Benar, jika tak kau tolong, aku tentu sudah mati,” sahutnya seraya maju mendekati.

“Kakekku telah menurunkan ilmu sakti sehingga dalam waktu singkat kau telah menjadi tokoh persilatan yang hebat, kau anggap budinya besar atau tidak?” ke mbali Hian-song bertanya.

“Budi Tan lo-cianpwe adalah sebesar gunung Tay-san.

Seumur hidup nanti tak kulupakan!”

Hian-song menatap wajah pemuda itu dengan tajam,  sesaat kemudian ia menitikkan dua butir air mata. Katanya dengan rawan, “Segala itu sudah la mpau, percuma diangkat ke mbali….”

“Adik Song, apakah salahku?” kata Siu- lam seraya menar ik lengan si dara. Ia kasihan pada dara itu.

Hian-song terbeliak tetapi sampai beberapa saat tak dapat berkata apa-apa. Katanya kemudian, “Se mala m telah kupikirkan masak- masak, akhirnya aku dapat me mikirkan sesuatu….”

“Apa yang kau te mukan?”

“Ke marin kulihat nona baju putih itu me mang cantik sekali….”

Kini tahulah Siu-la m ke mana jatuhnya kata-kata dara itu. Ia hendak me mbuka mulut tetapi Hian-song sudah mendahului lagi, “Bukankah dia bersikap baik sekali padamu?”

Dia m-dia m Siu-la m menimang. Dalam keadaan sedang tegang, tak pantaslah ia melukai hati dara itu. Maka tertawalah ia, “Walaupun aku pernah berjumpa padanya….”

“Maka kau lantas tak mau padaku…” tukas si dara, “jika  dulu tahu begini, tentu aku tak mau meno long jiwa mu di Kiu- kiong-san. Biarkan aku dibunuh orang baru nanti kubunuh orang itu untuk me mba laskan sakit hatimu.”

Dia m-dia m Siu-la m mengeluh. Perangai Hian-song mudah marah. Jika hidup bersa manya, tentu sukar menghadapi.

Hian-song menghe la napas panjang, “Jika kelak aku bertemu dengan nona baju putih itu, tentu akan kuhiasi wajahnya dengan ujung pedang. Lihat saja apakah dia masih cantik lagi!”

Siu-la m teringat me mang sema lam ia bersikap agak dingin pada dara itu. Kemungkinan dara itu tersinggung perasaannya. Ia hendak menghibur, tapi tak harus mengatakan bagaimana.

Akhirnya ia alihkan pe mbicaraan, “Kini seluruh tokoh persilatan sedang mencurahkan perhatiannya untuk menghadapi Beng- gak. Soal-soal pribadi, dendam dan kasih, untuk sementara dikesampingkan. Dalam hal ini harap sumoay jangan salah paha m.” Dara yang masih sering bersifat kekanak- kanakan itu rupanya mau me mpertimbangkan ucapan Siu-la m. Setelah merenung sejenak, tampak wajahnya riang ke mbali.

“Kakek telah me mber banyak sekali ilmu kepandaian padaku. Diantaranya adalah ilmu pedang yang dahsyat sekali perbawanya. Tetapi ilmu pedang itu harus dilakukan oleh dua orang baru dapat berkembang baik. Sebaiknya kita  pelajari ilmu pedang itu agar nanti dalam saat yang diperlukan dapat kita pergunakan untuk menghadapi musuh!” katanya.

“Eh, mengapa kau tahu? Kapankah sumoay me miliki ilmu pedang itu?”

Melihat nada Siu-la m berubah ra mah, hati si darapun menjadi lunak. Ia rebahkan tubuh ke dada Siu- lam dan dengan nada manja berkata, “Engkoh  Lam, apakah kau sungguh-sungguh suka padaku?”

“Mengapa tidak?”

“Se mala m ketika melihat sikapmu dingin kepadaku, hatiku mendongkol sekali. Kuanggap nona baju putih itulah yang menjadi gara-garanya. Dia sangat cantik, siapa saja tentu  suka padanya. Semalam itu aku tak dapat tidur dan pikirku hendak mencarimu untuk me mbuat perhitungan…!”

“Eh, apakah sekarang kau mas ih marah?” tanya Siu-la m dengan tertawa.

Hian-song gelengkan kepala, “Aku telah me mbuat keputusan. Hendak kuminta kau berkata terus terang, apakah kau suka padaku atau tidak. Jika tidak, aku segera akan tinggalkan tempat ini….”

“Kau seorang anak wanita yang belum berpengala man. Kemana kah kau ingin pergi dalam dunia yang begini luasnya?”

“Sudah tentu ada yang hendak kutuju. Aku hendak mencari tahu tempat yang terpencil. Hendak kuyakinkan ajaran kakek sampai   se mpurna.   Ke mudian   aku  akan   keluar   ke dunia persilatan lagi. Lebih dulu hendak kubunuh nona baju putih itu setelah itu la lu mencar imu….”

“Apakah kau juga hendak me mbunuhku?”

“Entahlah,” sahut Hian-song, “sudah tentu aku  bencai  sekali padamu.  Tapi  tak   tahulah   aku,   apakah   hendak me mbunuhmu atau tidak….”

Tiba-tiba dara itu mengikik, “Andaikata tak membunuh, pun tentu akan kubawa kau ke sebuah lembah yang  terpencil. Akan kurantai kaki tanganmu agar kau jangan muncul ke masyarakat rama i lagi!”

Dia m-dia m Siu-la m tergetar nyalinya. Ia makin menyadari sifat dan perangai dara itu.

“Engkoh La m, kau takut atau tidak?”  ke mbali Hian-song me mbuka mulut.

“Apa kau hendak me mbuat aku supaya mati kelaparan?” tanya Siu-la m.

“Akupun akan mene mani kau di situ. Tiap  hari akan kumasakkan kau hidangan yang lezat. Seumur hidup kita takkan keluar dari tempat itu!”

“Seumur hidup?” tanya Siu- la m.

“Ya, sampai kakek nenek, hidup berdua mati bersa ma. Andaikata  kau  mati  lebih  dulu,  aku  pun   akan  segera   me mbunuh diri di sa mpingmu!”

“Kalau kau yang mati lebih dulu?”

“Kau kubunuh lebih dulu, ke mudian baru aku mau mati,” sahut Hian-song.

Tergerak hati Siu-la m mendengar pernyataan si dara yang penuh e mosi tetapi bersungguh-sungguh. Begitu besar dan mati- matian dara itu menyintai dirinya. Diam-dia m Siu-la m berjanji akan berusaha untuk mempengaruhi agar dara itu jangan terlalu keras wataknya.

Kembali Siu- lam mengungkapkan tentang suasana keprihatianan dunia persilatan menghadapi  anca man gerombo lan Beng-ga k. Ia menganjurkan supaya dara itu suka menga ma lkan ajaran-ajaran ilmu kesaktian dari kakeknya untuk me mbantu kaum persilatan.

“Baik, mari kuajarkan ilmu pedang itu,” kata Hian-song seraya menarik Siu-la m diajak keluar. Sambil mengucapkan gerakan-gerakan  ilmu   pedang   itu   secara   lisan,  iapun  me ma inkannya dengan pelahan-lahan.

Tempo berjalan dengan cepat sekali. Tak terasa sudah sepuluh hari mereka tinggal di gunung itu. Sela ma itu Siu-la m dan Hian-song giat berlatih ilmu pedang.

Begitu pula para tokoh yang telah berada di gunung itu. Masing- masing giat berlatih diri. Saling berunding tentang ilmu kesaktian.

Hari itu ketika baru saja hari mulai gelap Siu-la m dan Hian- song masih berlatih ilmu pedang. Tiba-tiba muncullah seorang paderi kecil yang mengundang kedua pe muda itu supaya menghadap pada Tay Hong siansu.

Siu-la m dan Hian-song terpaksa hentikan latihannya dan segera mengikuti paderi kecil itu.

Ketika tiba di ruangan samping, di situ telah disiapkan meja perjamuan. Di luar ruangan dijaga keras oleh seluruh paderi Siau-lim-si dengan senjata terhunus.

Tay Hong me mpersiapkan keduanya duduk.

Setelah mengajak para tokoh persilatan mengangkat  cawan, berkatalah Tay Hong siansu, “Dalam beberapa hari ini, loni telah mengir im murid- murid Siau-lim-si untuk menyelidiki ke segenap penjuru di mana kah letak gunung Beng-gak itu. Hasilnya, telah diketemukan dua buah tempat yang mencur igakan. Sekalipun untuk penyelidikan itu Siau-lim-si telah kehilangan e mpat orang jiwa mur idnya, tetapi usaha itu tak sia-sia.”

Sekalipun tokoh-tokoh tertarik perhatiannya. Karena sekalipun mereka itu terdiri dari tokoh-tokoh yang  ternama dari segenap penjuru, akan tetapi mereka benar-benar tidak tahu di mana kah letak tempat yang disebut Beng-ga k itu.”

“Hari Peh-cun sudah kurang e mpat belas hari lagi. Tetapi barisan Chit-sing-tun-heng dari Su-heng telah selesai terbentuk. Begitu pula saudara-saudara sekalianpun telah siap sedia. Maka maksud loni hendak menuju Beng-ga k lebih pagi dari hari pe mbukaannya. Lebih  lekas selesai, lebih lekas saudara-saudara dapat pulang ke rumah. Dan kedua kalinya, kedatangan kita yang beberapa hari di muka  itu,  tentu  tak me mber i kese mpatan kepada musuh untuk me mbuat persiapan-persiapan yang sempurna!” kata Tay Hong. 

Tiba-tiba Su Bo-tun berbangkit, “Di manakah murid- mur id taysu mene mukan tempat itu? Berapakah jauhnya dari sini?”

Tay Hong menghe la napas perlahan, “Jika nona baju putih itu tidak meninggalkan peta, mungkin bertahun-tahun kita tak akan mene mukan tempat itu. Mungkin saudara-saudara akan terkejut bila mendengar bahwa ternyata yang disebut Beng- gak itu terletak di tengah lembah yang tak jauh dari sini. Maka setelah perjamuan mala m ini selesai, loni ber maksud hendak berangkat ma lam ini juga!”

Seorang tua bertubuh gemuk pendek berbangkit, serunya, “Sudah sepuluh hari aku tahankan diri tinggal di sini.  Jika kalian tak lekas-lekas ke sana, aku terpaksa akan pulang saja. Dua tahun lagi, akan kubawa jago-jago dari Se-gak kemari. Pertama-tama aku akan ke gereja Siau-lim-s i di Kosan. Jika dapat menundukkan Siau- lim-s i, barulah kuundang kalian dalam sebuah pertemuan besar. Jika dalam pertemuan itu kami jago-jago Se-gak kalah,  kujamin dalam seratus tahun  la manya, jago-jago Se-gak tidak boleh datang ke Tiong-goan!” Ternyata yang bicara itu adalah kakek pendek dari Se-gak (Tibet) ahli pukulan Bu- ing-s in-kun. Karena sudah tahu bagaimana watak si kakek yang ge mar berkelahi itu, tiada seorangpun yang mau meladeninya.

Tay Hong menjawab, “Jika ma lam  ini  loni   tak  dapat mene mukan Beng-gak, silahkan sicu pulang. Dua tahun lagi tentu loni akan menunggu kedatangan sicu ke Siau-lim-si!”

Siu-la m me lihat bahwa di antara tokoh-tokoh yang hadir dalam perjamuan mala m itu hanya Ti-ki-cu Gan Leng-po si tabib gila yang tak kelihatan. Maka ia menanyakan kepada Tay Hong.

Jawab ketua Siau-lim-s i, “Penyakit Gan Leng- po itu tak mungkin se mbuh dalam waktu yang singkat, maka loni suruh mur id- mur id me mbawanya ke gereja Siau- lim-si….”

Demikian para tokoh persilatan itu segera ma kan mala m bersama. Ternyata Tay Hong sudah mempersiapkan ransum kering. Tiap orang diberi bekal untuk tiga hari.

Tay Hong menerangkan bahwa adanya disediakan ransum itu adalah karena kemungkinan besar makanan yang dihidangkan orang Beng-gak itu dica mpur i dengan racun.

Setelah persiapan-persiapan selesai maka berangkatlah rombongan orang gagah itu di bawah pimpinan Tay Hong siansu.

Siu-la m, Hian-song dan Kat Hui berjalan bersama-sa ma. Delapan belas paderi jubah kuning dan delapan belas paderi jubah merah mengiring di belakang ro mbongan.

Setelah melintasi dua buah gundukan gunung tiba-tiba Tay Hong percepat langkahnya. Sekalipun berjumlah besar tetapi karena mereka terdiri dari tokoh-tokoh kelas satu, sekalipun berlari cepat na mun tak menge luarkan suara apa-apa. Perjalanan di atas gunung itu makin la ma  makin berbahaya. Jalanan sempit dan berlingkar-lingkar menda ki tebing yang cura m.

Kira-kira sepenanak nasi la manya, tibalah mereka di sebuah le mbah dan Tay Hongpun segera berhenti. Saat itu mala m makin larut. Di langit tiada re mbulan. Angin ma lam menderu- deru. Tay Hong mengeluarkan peta dari Bwe Hong-swat. Setelah me mer iksa lagi dengan teliti lalu merobeknya.

“Benar, me mang le mbah ini…” katanya seraya mendahului me langkah masuk.

Sekonyong-konyong empat orang paderi jubah kuning yang berada di bagian belakang rombongan, lari melindungi di depan Tay Hong.

Le mbah itu benar-benar masih liar. Setelah me masuki sampai  duapuluhan  to mbak  lebih,   terasalah   angin  menghe mbuskan suasanan keseraman.

Setelah menikung beberapa tikungan ta mpak puncak gunung yang menjulang t inggi menutupi  re mbulan sabit. Keadaan lembah ma kin gelap. Hati setiap anggota rombongan makin berdebar.

Tiba-tiba Siau Yau-cu mendengus perlahan dan menunjuk ke arah sebuah puncak yang hitam, “Apakah itu?”

Ketika sekalian orang me mandang ke muka, sa mar-samar tampak di atas puncak yang kehitam-hita man itu huruf-huruf yang berbunyi “Lembah Ke matian” atau Le mbah Maut.

“Omitohud! Kiranya tak salah lagi,” kata Tay Hong seraya percepat langkahnya.

Tiba di kaki bukit, jalanan tertutup oleh sebuah  karang kecil. Karang itu merupakan jalan buntu. Me mandang ke atas puncak tampa k tulisan Le mbah Maut itu dipasang setinggi ratusan tombak. Entah terbuat dari bahan apa. Tay Hong menghela napas dan merenung.

“Kira- kira jam berapakah saat ini?” tiba-tiba Siau Yau-cu bertanya.

Su Bo-tun yang berada di sampingnya mengatakan bahwa saat itu kira- kira menje lang pukul satu tengah mala m.

“Tulisan Le mbah Maut itu jelas dibuat oleh orang. Kalau tak salah, inilah Beng-gak yang akan kita cari itu!” kata Siau Yau- cu.

“Tetapi mengapa jalanan putus begini?” kata Tay Hong. Siau    Yau-cu   menyatakan,    “Saat   ini    tengah   mala m.

Andaikata kita  mene mukan  jalan,  tetapi karena musuh dalam

kedudukan gelap dan kita berada dalam kedudukan terang, berbahaya sekali kalau kita mendaki ke atas. Sebaiknya kita beristirahat dulu di sini sa mpai nanti terang tanah!”

Tay Hong setuju. Maka sekalian ro mbonganpun berhenti mengaso dengan duduk berse medi me mulangkan se mangat.

Setelah berselang  beberapa  jenak,  tiba-tiba  Hian-song me mbisiki Siu-la m, “Engkoh La m, ada sesuatu yang terpendam dalam hatiku. Jika tak kuberitahukan pada mu, rasanya masih mengganjal saja!”

“Apa?”

Hian-song tertawa perlahan, “Hi hi, petamu yang hilang itu sebenarnya aku yang menga mbil!”

“Apa?” Siu-la m tersentak kaget.

Dara itu tertawa mengikik dan me mbisiki ke dekat telinga Siu-la m, “Jangan gugup! Bukan aku yang mencurinya tetapi kucuri dari tangan orang la in!”

“Siapa?”

“Pamanmu Tio It-ping itu!” Sekalipun mereka bicara dengan perlahan sekali na mun tetap mengganggu persemedian sekalian orang. Mereka berpaling me ma ndang kedua anak muda itu.

“Sudahlah, mereka mengawasi kita,” kata Hian-song.

Siu-la m merasa bahwa persoalan itu penting sekali. Sekali bocor tentu akan menimbulkan kehebohan besar. Ia mengangguk dan tak mau bertanya lebih lanjut.

Suasana menjadi hening ke mbali. Walaupun di te mpat itu terdapat tak kurang dari lima-ena m puluh tokoh-tokoh persilatan, tetapi sama sekali tak kedengaran napas mere ka.

Rombongan paderi Siau-lim-si jubah kuningpun me mencar diri untuk melindungi kesela matan ro mbongan.

Di antara sekian banyak tokoh yang tengah bersemedi itu hanya Tay Hong seorang yang pikirannya tak lepas mengingat lukisan pada peta pemberian Bwee Hong-swat. Sekalipun sudah dihancurkan na mun ia masih ingat jelas tempat-tempat pada peta itu. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Berpaling  ke arah rombongannya, tampak sekalian tokoh-tokoh itu masih duduk bersemedi. Boleh dikata mereka adalah tokoh-tokoh termasyhur dari delapan penjuru.

Sekalipun ketua Beng-gak itu manusia yang me mpunyai tiga kepala enam lengan, rasanya sukar untuk menghadapi sekian banyak tokoh sakti. Seketika se mangat Tay Hong timbul.

Saat itu hari sudah mula i terang. Sekian orangpun sudah bangun. Semangat mereka tampa k segar ke mbali.

Me mandang ke sebelah muka, Tay  Hong  sa mar-samar  me lihat sebuah jalanan yang ditana mi dengan jajaran pohon siong. Pohon itu tampaknya diatur menurut bentuk yang tertentu.

Siau Yau-cu mengha mpir i Tay Hong, “Apakah taysu sudah me maha mi ja lan-jalannya?” “Hutan pohon siong itu mungkin merupakan jalan yang harus kita te mpuh,” sahut Tay Hong.

Siau Yau-cu me mandang menurut arah yang dimaksud ketua Siau-lim-si itu. Me mang ia juga melihat gerumbul hutan pohon siong itu.

Tay Hong lalu mengajak ro mbongannya berangkat. Jalanan penuh ditumbuhi dengan rotan yang menyema k liar. Tiada jalanan sama sekali. Akhirnya setelah menempuh dengan hati- hati, dapatlah Tay Hong me mimpin ro mbongan orang gagah me lintasi hutan pohon siong itu.

Kini mereka berhadapan dengan sebuah jalanan yang  kedua sampingnya terdiri dari karang tinggi.  Jalanan  sempit itu menuju ke sebuah mulut lembah. Karang ditumbuhi pakis yang licin dan cura m. Walaupun me miliki ilmu mer ingankan tubuh yang tinggi, juga sukar untuk melintasinya. Satu- satunya jalan hanyalah me lalui ja lanan kecil itu.

Dia m-dia m Tay Hong ce mas. Jika pada kedua la mping karang itu musuh menye mbunyikan barisan penda m, tentu celakalah rombongannya.

“Harap sicu sekalian tunggu di sini dulu. Loni akan menyeberangi dulu dan setelah balik baru akan mengajak sicu…” kata Tay Hong seraya terus melangkah ke muka.

Di luar dugaan ternyata Tay Hong selamat tak mengala mi gangguan suatu apa. Kemudian ia mengajak ro mbongan orang gagah me lintasi le mbah itu. Lembah sempit itu panjangnya tak kurang dari ratusan tombak. Apabila musuh mengge lindingkan batu dari atas karang, sekalian orang gagah tentu hancur binasa se mua.

Begitu keluar le mbah, mereka melihat sebuah patung batu yang besar. Wajahnya seperti setan yang ngeri. Tangannya mence kal sebuah perisai batu yang bertuliskan, “Tanda  undangan Ciau-hun, harap tuan-tuan datang lebih pagi!” Di belakang patung itu terdapat sebuah altar batu setinggi satu tombak. Di atas altar duduk seorang manusia aneh berpakaian hitam, mence kal sehelai panji bertuliskan, “Bisa datang tak bisa pulang!”

Walaupun saat lalu sudah terang tanah, tetapi pemandangan itu cukup menyeramkan juga.

“Apakah itu juga sebuah patung?” bisik Tay Hong kepada Siau Yau-cu. Jago Bu-tong-pay itu mengge leng, “Rupanya bukan!”

Tiba-tiba Kiu-s ing-tui-hun Kau Cin-hong menimpukkan sebentuk kim-hoan (gelang e mas) ke arah manus ia aneh itu. Sekonyong-konyong orang berbaju hitam itu bersuit panjang dan kibaskan panji. Ces… kim-hoan menyusup ke dalam panji tanpa bersuara apa-apa.

Cin-hong terkejut. Ketika hendak menimpuk lagi, Tay Hong siansu mendahului berseru, “Loni adalah Tay Hong dari Siau- lim-s i. Rombongan kami yang terdiri dari para orang gagah segenap penjuru telah datang untuk me menuhi undangan ketua Beng-gak. Harap me mberitahukan kedatangan kami!”

Orang baju hitam itu menyahut dingin, “Sekarang toh belum hari Peh-cun, mengapa kalian sudah datang? Apa kepingin lekas mati?”

“Hari Peh-cun adalah ketua Beng-gak yang menetapkan. Dalam hal itu loni dan ro mbongan  loni belum me mberi persetujuan,” sahut Tay Hong.

Orang berbaju hitam itu bolang-balingkan panji sehingga menimbulkan deru angin keras. “Sebelum mendapat perintah dari ketua, siapapun tak boleh masuk ke sini. Lebih baik kalian ke mbali dulu agar bisa menikmati sinar matahari untuk beberapa hari lagi. Bila sudah tiba saatnya, jangan harap kalian bisa hidup!” Pada saat Tay Hong hendak menjawab, tiba-tiba It-ciang- tin-sam-s iang Ngo Cong-han sudah melengking, “Tidak perlu taysu melayaninya? Kita  toh sudah datang me menuhi undangan, masakan masih kurang?”

Ia terus melangkah maju dan lepaskan sebuah pukulan Biat-gong-ciang ke arah orang berbaju hitam itu.

Orang berada di atas altar batu itu tertawa seram dan kebutkan panjinya. Panji yang panjang itu cukup untuk mencapai te mpat Ngo Cong-han. Seketika pukulan biat-gong- ciang  dari   Ngo   Cong-han   terhapus   dan   panji   itu menya mbarnya.

Ngo Cong-han terkejut dan cepat-cepat lo mpat tiga langkah ke belakang. Gerakan orang berbaju hitam yang dahsyat itu mengejutkan sekalian orang gagah.

Tay Hong cepat menga mbil tongkat dari  salah  seorang mur id Siau- lim-s i lalu melangkah maju, “Ngo-heng,  biarkan loni mencobanya!”

Karena merasa tak dapat menandingi kesaktian si orang baju hita m, terpaksa Ngo Cong-han mundur.

Orang itu tetap duduk di atas altar batu. Hanya kedua tangannya bergerak-gerak, sedang tubuhnya bagian bawah tetap tidak bergerak. Lambaian panjinya dahsyat dan leluasa sekali.

Setelah maju e mpat lima langkah, berserulah Tay Hong, “Loni ingin menerima pelajaran dari sicu….”

Orang berbaju hitam itu tidak menunggu Tay Hong menyelesaikan kata-katanya terus saja  mengayunkan panjinya. Deru anginnya dahsyat sekali.

Tay Hong segera menangkisnya. Terdengar letupan keras bagai guruh. Tubuh orang berbaju hitam itu ge metar keras. Tay Hongpun tergetar. Adu kekuatan itu mengejutkan sekalian orang.  Tiba-tiba Tay Hong berseru, “Omitohud!” Dengan gunakan jurus Lat- soh-ngo-gak (mengge mpur lima gunung), ia menyapu tangan orang itu.

Tring… tring… triiingg… terdengar dering gemer incing yang me me kakkan telinga ketika terjadi lima kali adu kekuatan antara panji dengan tongkat.

Panji yang terbuat dari pada sutera putih telah hancur lebur dan kini hanya tinggal batang tonggaknya yang menyerupai tombak.

Ketua gereja Siau-lim-si yang biasanya sabar itu, saat itu benar-benar tak dapat mengenda likan ke marahannya.

Setelah sejenak memulangkan tenaga, segera ia acungkan tongkatnya lagi. Tring, tring… terdengar lagi letupan yang dahsyat. Tiba-tiba orang berbaju hitam itu muntah darah dan rubuh ke belakang. Rupanya dia telah kehabisan tenaga!

Melihat itu Tay Hong hentikan serangannya dan maju mengha mpiri. Sekonyong-konyong orang berbaju hitam itu deliki mata. Wajahnya mengerutkan derita kesakitan yang hebat. Ia melengking seram dan sebelum Tay Hong dapat menduga-duga, tiba-tiba orang itu menghantam batok kepalanya sendiri….

Tay Hong terkejut. Ia tak menyangka bahwa orang itu ternyata masih me mpunyai kekuatan menyerang. Kemarahannya yang hampir padam seketika berkobar lagi. Tring… dengan kerahkan seluruh tenaga, Tay Hong  menangkis. Orang itu muntah darah lagi, tangkai pancingnyapun terpental jatuh….

Masih ia hendak berusaha bangun. Tetapi sekonyong- konyong tubuhnya terhuyung ke muka dan jatuh terkulai. Tay Hong terkejut. Jelas ia telah menghancurkan lawan dengan lwekang sakti, tetapi mengapa orang itu tetap tak jatuh menggelinding ke bawah altar?

Tay Hong hendak loncat me mer iksa ke atas altar tetapi Siau Yau-cu sudah mendahului mela mbung ke atas  altar. Bukan kepalang kejut jago Bu-tong-pay itu ketika mengetahui bahwa kaki orang berbaju hitam itu ternyata diikat dengan rantai dan ditalikan pada sebuah tonjolan altar. Ah, makanya orang itu tak dapat jatuh menggelinding ke bawah.

Setelah mengungkit tubuh orang itu agar sekalian orang yang berada di bawah melihatnya, Siau Yau-cu lalu loncat turun lagi.

Tay Hong menghela napas, ujarnya, “Menilik jejaknya ketua Beng-gak sekarang ini tentulah seorang wanita iblis pemilik jarum Chit-jiau-soh dahulu. Asal dia sudah lenyap dunia tentu takkan mengala mi bencana lagi!”

Di sebelah muka banyak sekali patung-patung yang diukir pada karang tinggi. Ngeri juga Hian-song  dibuatnya. Tanyanya, “Engkoh Lam, jika kau dirantai di sini, kau takut tidak?”

“Kalau me mang begitu, apa dayaku?” sahut Siu-la m.

Ketika Hian-song hendak bicara, Siu-la m sudah mengajaknya berjalan lagi menyusul ro mbongan  mereka. Setiap dua tiga tombak, tentu terdapat sebuah patung. Setiap patung wajahnya diberi warna menyeramkan dan tangannya mence kal senjata aneh.

Kira-kira tiga empat lie jauhnya, mereka me mbau angin yang harum. Siau Yau-cu berhenti, serunya,  “Bunga  apakah ini, mengapa aku belum pernah me mbauinya?”

Ternyata di sebelah muka, terdapat pula sebuah hutan pohon siong yang lebat. Bau harum itu berasal dari dalam hutan tersebut. Setelah tertegun sejenak, Tay Hong minta pada Siau Yau- cu supaya suka menyelidiki keadaan hutan itu.

“Menilik keadaannya, hutan itu me mang sudah la ma sekali dan me mang sebuah hutan ala m. Pere mpuan siluman itu mena mbah lagi dengan ber maca m susunan!”

Tay Hong segera mengajak ro mbongannya me masuki hutan itu. Karena tak berapa luas, beberapa saat kemudian mereka sudah keluar dari hutan itu. Kini mereka berhadapan dengan sebidang kebun bunga. Bunga-bunga itulah yang menyiarkan bau harum. Warnanya merah semua. Di tengah taman bunga, terdapat sebuah jalan kecil yang hanya cukup dilalui seorang saja.

Tay Hong loncat ke atas jalan kecil itu lalu menyusur ke depan. Setelah me mbelo k beberapa tikungan gunung, taman bunga itupun berakhir dan kini mereka menghadapi sebuah tanah lapang yang luas. Di sekeliling penjuru tampak rumput menghijau dan  pohon- pohon  siong   bergoyang   gontai  dihe mbus angin.

Jauh di sebelah muka tampa k sebuah puncak gunung yang dikelilingi kabut. Sedemikian tebal kabut itu hingga sekalipun Tay Hong me miliki pandangan mata yang tajam, tetapi tidak dapat melihat keadaan puncak itu dengan jelas.

“Mungkin puncak itulah yang disebut Beng-ga k!” seru Siau Yau-cu.

Tay Hong mengiakan. Siau Yau-cu mengajak ketua gereja Siau-lim-si itu segera menyelidiki. Berbondong-bondong rombongan orang gagah itu lari mengha mpir i puncak misterius itu. Setelah menempuh jarak tiga e mpat li, tibalah mereka di kaki puncak gunung itu. Anehnya sekalipun sudah berada di kaki gunung, tetap mereka tak dapat melihat keadaan puncaknya.

Tay Hong kerutkan dahi, “Eh, dari manakah t imbulnya kabut yang begitu tebal itu….” Tiba-tiba Su Bo-tun nyeletuk, “Apakah taysu tidak merasakan sesuatu yang aneh pada iklim te mpat ini?”

Seketika sekalian orang seperti disadarkan. Memang saat itu, mereka rasakan hawa tiba-tiba berubah panas.

“Aku paling tak percaya terhadap segala setan. Maka akupun tak percaya bahwa di daerah Tiong-goan terdapat orang yang mahir ilmu siluman!” tiba-tiba terdengar suara tertawa mengejek. Dan orang itu bukan lain ialah  jago  pukulan Bu- ing-s in-kun dari Tibet yang bertubuh pendek gemuk.

Su Bo-tun cepat menyahut, “Padang sahara Tibet, memang tertutup salju dan jarang terdapat gunung berapi…?”

“Apa?” teriak si pendek ge muk.

Kuatir kedua orang itu akan bertengkar, Tay Hong siansu segera nyeletuk, “Di daerah tenggara sini me mang sering terdapat letusan gunung berapi. Pernah saudara dengar hal itu?”

Siau Yau-cu mena mbahi, “Apa yang dikemukakan Su-heng me mang benar. Mengapa tanah di pegunungan sini subur sekali? Tentulah karena ratusan tahun yang lalu daerah ini merupakan sebuah gunung berapi yang meletus. Laharnya menjadi tanah subur dan tertinggallah di sini sebuah puncak gunung yang tunggal. Kemungkinan besar puncak ini merupakan sisa gunung berapi….”

“Hai, apakah itu?”  tiba-tiba  Tay  Hong  berteriak  seraya me mandang ke muka.

Di antara asap kabut yang tebal, tiba-tiba muncul sebuah papan besar yang bertuliskan huruf-huruf warna merah darah, “Kabut yang me mbungkus sekeliling gunung ini mengandung racun. Jika tak menerima undangan, jangan coba mendaki ke puncak!” Melihat itu si ge muk pendek segera mundur dua langkah. Pada saat ia hendak bertanya pada Tay Hong, dari belakang papan itu muncul tiga orang wanita berjalan jajar tiga.

Rombongan orang gagah silau menyaksikan munculnya ketiga orang yang ternyata nona-nona berwajah cantik gilang- gemilang. Nona yang di tengah, usianya paling tua. Rambutnya disanggul seperti puteri istana. Di pinggang menyelip sebatang po-kia m (pedang mustika). Pinggangnya dililit oleh sebuah benda merah berbentuk seperti tanduk rusa. Dalam pakaian warna biru, ia tampa k luar biasa cantiknya!

Gadis yang mengawal di sebelah kiri, mengenakan pakaian warna merah. Rambutnya terurai sampai ke belakang pundak. Me megang sebatang hud-tim (kebut pertapaan). Punggungnya pun me nyanggu sebatang po-kia m.

Sedang gadis yang mengawal di sebelah kanan, berpakaian serba putih, berambut panjang dan me mbawa sebatang giok- cie (tongkat pendek dari batu kumala).

Mata Tay Hong yang tajam segera mengenal bahwa gadis baju putih itu bukan lain ia lah nona baju putih Bwe Hong-swat yang telah meluka i dirinya tempo hari. Saat itu wajah Bwe Hong-swat me mbeku dingin.

Ketiga orang nona berhenti ketika terpisah beberapa belas langkah dari ro mbongan orang gagah. Wajah mereka sayu sepi seolah tak menganggap kedatangan ro mbongan ta mu itu.

Nona yang berdiri di tengah agak menjurah selaku me mberi hormat pada rombongan tetamu ke mudian berkata dengan nada gemerincing seperti bunyi kelinting, “Apakah kalian hendak menghadiri pesta Ciau-hun-yan?”

“Omitohud!” Tay Hong mengucap doa, “Benar,  memang loni dan ro mbongan hendak menghadir i pesta itu!” “Suhu ka mi mengundang tuan-tuan supaya menghadiri pesta itu nanti pada hari Peh-cun. Kini masih kurang sebulan, mengapa tuan sudah datang?” seru si nona baju biru.

Tay Hong tertawa dingin, “Entah dengan  siapakah  guru sicu menetapkan hari pesta itu pada hari Peh-cun nanti?”

“Apakah lo-siansu lupa bahwa dalam tanda undangan yang diedarkan guru kami itu telah ditentukan harinya?”

Tay Hong tertawa pula, “Guru nona telah menetapkan hari itu secara sepihak. Apakah kami tak me mpunyai kebebasan untuk mengajukan usul?”

Tiba-tiba nona baju biru  itu tertawa, “Oh, lo-siansu bermaksud hendak majukan hari pesta itu?”

“Karena sudah terlanjur datang, apakah harus kembali pulang?” sahut Tay Hong.

Sejenak nona baju biru itu merenung la lu berkata, “Baiklah begitu. Karena tuan-tuan sudah datang, silahkan ikut ka mi!” Nona itu berbalik tubuh dan me langkah perlahan-lahan.

Dikawal oleh kee mpat paderi jubah merah,  Tay Hong segera mengikuti. Ro mbongan orang gagahpun segera menyusul.

Tak berapa la ma tibalah mereka di kaki puncak gunung yang tertutup kabut itu. Tiba-tiba nona baju biru berhenti dan me mbe lok ke sebelah kiri.

Tay Hong diam-dia m telah me mbuat persiapan. Ia selalu menjaga jarak yang tertentu dengan nona itu agar dapat menjaga setiap ke mungkinan yang tak diingini.

Tiba-tiba terdengar kesiur angin dari belakang. Su Bo-tun dan Siau Yau-cu cepatlah langkah mendahului Tay Hong dan mengikut i ketiga nona itu dari jarak yang dekat.

Nona baju biru itu berpaling dan tertawa, “Jika tuan tak percaya, mari kita jalan bersa ma-sa ma!” Kedua tokoh itu saling berpandangan. Mereka tersenyum dan terus me langkah maju mengha mpiri ketiga nona. Kiranya kedua jago itu telah menyadari bahwa saat itu tiada guna untuk bertengkar cari na ma. Ucapan si nona yang penuh ejek itu didesak tentu mengandung siasat. Maka keduanyapun menggunakan siasat jugu dan menerima tawaran si nona.

Nona baju biru itu benar-benar besar sekali nyalinya. Berjalan bersama dua tokoh sakti tanpa ia kikuk dan rendah diri. Bahkan sebaliknya malah tersenyum-senyum seolah-olah kedua tokoh itu dianggapnya sebagai orang biasa.

Ia melirik ke arah Su Bo-tun kemudian kepada Siau Yau-cu. Dengan tertawa genit, bertanyalah ia kepada jago tua Bu- tong-pay, “Eh, apakah sebuah  biji  mata mu  yang  buta  itu me mang sudah se menjak dilahirkan?”

Mata Siau Yau-cu berkilat-kilat me mancarkan api, sahutnya, “Aku sudah tua, tak apalah kehilangan sebuah mata!”

Si nona tertawa lepas, “Langit mengenal mendung, rembulan te mpo bundar setempo berkurang. Meskipun hilang sebelah mata, tetapi kepandaianmu tentu sakti!”

Siau Yau-cu menjawab dingin-dingin, “Apakah maksud nona?”

“Eh, aku selalu bicara dengan terus terang. Tak pernah mengha mbur pujian kosong!”

“Jelaskan!” seru Siau Yau-cu.

“Tetapi jika lau kujelaskan, mungkin kau nanti tak senang hati,” seru si nona. Sengaja ia berseru lantang agar didengar oleh ro mbongan tetamu.

Dia m-dia m Siau Yau-cu me maki nona yang kurang ajar itu. Tetapi ia sengaja tertawa, “Aku seorang tua yang sudah kenyang makan asam garam.  Baik atau jelek, aku sedia mendengarkan. Silahkan nona mengatakan saja!” “Biasanya seorang yang mempunyai cacad tentu dihinggapi rasa rendah diri. Justeru rasa rendah diri itu merupakan cambuk pendorong untuk mengejar kekurangan-kekurangan akibat cacadnya itu. Seperti halnya kau. Setelah menginsyafi buta sebelah mata, tentu kau akan menyempurna kan dirimu dengan  kepandaian  yang  sakti.  Kau  tentu  lebih   dapat  me musatkan perhatian untuk meyakinkan ilmu kepandaian yang hebat dan jarang dapat dipelajari orang. Kau tentu bertekad untuk menjadikan dirimu lebih unggul dari setiap orang yang tak cacad. Dan jika tak salah dugaanku, sa mpai saat ini kau tentu masih bujangan, bukan?”

Siau Yau-cu tertawa tergelak, “Penilaian nona sungguh mengagumkan. Sayang aku si orang tua ini seorang manusia yang buta rasa kasih sehingga mengecewakan setiap harapan orang!”

Nona baju biru tersenyum, “Me mang jika kau kenal rasa kasih tentu tak mungkin  kau  tetap  luntang-lantung  hidup me mbujang!”

Karena pembicaraan itu dilakukan dengan suara keras,  maka ro mbongan  orang  gagahpun  sa ma  mendengarnya. Dia m-dia m mereka geli.

Tiba-tiba si nona baju biru beralih Tanya pada Su Bo-tun, “Siapakah na ma mu?”

“Hm, seumur hidup aku tak suka bersenda gurau dengan orang,” sahut Su Bo-tun dingin.

Nona baju biru tertawa, “O, makanya wajahmu begitu dingin. Lebih banyak menyerupai sebuah patung bernyawa!”

“Hai, kau anggap aku ini orang apa? Mana aku sudi bergurau dengan seorang budak wanita seperti kau!” Su Bo- tun keluar tanduknya.

“Hi, hi,” si nona tertawa, “Kau tak suka justeru aku akan bergurau dengan kau.” “Tanganku tak kasihan pada wajah cantik dan tak kenal ampun pada siapapun. Jangan bicara tak karuan!”

“Ih, kau berhati dingin dan bertangan ganas? Kalau begitu tentu kau tak punya anak keturunan!” Ke mbali si nona baju biru me lengking.

Su Bo-tun tak dapat mengendalikan ke marahannya lagi. Cepat ia mena mpar pipi nona, “Budak hina, kau berani mengejek aku!”

Si nona menggeser tubuh sedikit ke sa mping dan balas mena mparkan lengan bajunya pada lengan Su Bo-tun, “Ah, kau me mang manusia limbung!”

Su Bo-tun terkejut. Tamparan lengan baju nona itu penuh dengan hamburan tenaga dalam yang dahsyat. Cepat ia tarik pulang tangannya berbareng dua buah jari tangan kirinya ditutukkan ke lengan si nona.

Nona baju biru itu agak mir ingkan tubuh seraya kibaskan lengan baju ke siku lengan Su Bo-tun.

“Ai, kau benar-benar berhati dingin!” serunya.  Walaupun diir ingi tertawa, tetapi tenaga yang terpancar dari lengan bajunya itu cukup dahsyat.

Mau tak mau Su Bo-tun gentar juga. Dia heran mengapa seorang gadis yang baru berumur dua puluhan tahun sudah me miliki ilmu lwekang yang sedemikian hebat. Dapat menguasai lwekang untuk disalurkan sekehendak hatinya. Nyata orang-orang Beng-gak tak boleh dipandang ringan. Demikian kesimpulannya.

Orang she Su itu cepat menarik pulang tangan kanan, berbareng dua buah jari kirinya balas menutuk siku si nona.

“Ai, sungguh  manus ia  berhati  besi,  masakan  tak  mau me mber a mpun benar-benar!” ke mbali si  nona  baju  biru  me lengking sa mbil menyurut mundur selangkah. Setelah berhasil menghindari serangan, ia kibaskan lengan baju ke arah kepala lawan.

Su Bo-tun rasakan suatu sa mbaran angin yang le mbut tetapi dingin. Ia tahu bahwa si nona telah pancarkan lwekang Im-ji-kang (lunak). Buru-buru ia menangkis  dengan  tangan kiri.

Sekarang giliran si nona baju biru yang terkejut. Gerakan tangan Su Bo-tun itu ternyata memancarkan tenaga me mbal yang kuat. Buru-buru ia tambahkan lwekang ke lengan bajunya.

Ketika terjadi benturan, seketika Su Bo-tun rasakan lengan kirinya kesemutan. Hampir ia tak kuat bertahan.

Adu lwekang itu sepintas pandang me mang seperti orang yang sedang bercanda. Lengan baju si nona cantik mele kat pada tangan Su Bo-tun. Dan nona itu berjalan lenggak- lenggok dengan gaya yang beraksi sekali.

Tetapi hal itu tak luput dari pengawasan ro mbongan orang gagah yang berjalan di belakang mere ka. Mereka melihat bagaimana lengan baju si nona melekat erat-erat pada lengan Su Bo-tun dan keduanya berjalan seperti sepasang kekasih.

Sekira tujuh delapan tombak jauhnya tiba-tiba nona baju biru itu menarik lengan ujung bajunya dari lengan Su Bo-tun seraya tertawa melengking, “Ai, sudah begini  tua  mengapa kau belum mati?”

Rasa kesemutan pada lengannya itu terasa  membuat tulang Su Bo-tun linu. Dia kuatir dalam seratus langkah lagi, tentu tak dapat bertahan.

Buru-buru ia kerahkan lwekang untuk bertahan. Ketika si nona lepaskan kaitan lengan bajunya dan berseru mengejek, iapun menyahut dingin, “Aku tak punya anak isteri, matipun tak ada yang menya mbangi kuburanku. Perlu apa aku kesusu mati?” Pada saat itu mereka t iba di ujung tikungan gunung. Tiba- tiba si nona baju biru berhenti. Ia berpaling kepada Tay Hong siansu, “Paderi tua, kita sudah tiba di le mbah Coat-beng-koh!”

Dengan  wajah  keren,  ketua  Siau-lim-si  itu   maju mengha mpiri, “Harap nona suka me mbawa kami masuk!”

Karena sikap ketua Siau-lim-si penuh wibawa, si nona baju birupun tak berani berolok-o lok. Ia me mbelo k ke tikungan dan me langkah lebih dulu. Jalanan di situ hanya cukup untuk dua orang berjalan bersa ma.

Tiba-tiba Siau Yau-cu menyelinap di muka. Si nona baju merah pun menyelinap di muka Su Bo-tun. Dan nona baju putih mengikut i di belakang orang she Su itu. Maka iring- iringan itu terdiri dari: Si nona baju biru paling depan, lalu Siau Yau-cu, si nona baju putih baru kemudian Tay Hong siansu  dan ro mbongan orang gagah….

Setelah melintasi jalanan yang sempit itu, tibalah mereka di tengah lembah yang lebarnya tak kurang dari sepuluh to mbak dan panjangnya tidak dapat diketahui. Di situ  penuh ditumbuhi pohon-pohon bunga yang tengah mekar dengan warna-warni. Bentuk bunga aneh sekali seperti yang digambar oleh si nona baju putih.

Di tengah padang bunga itu, terdapat sebuah jalur jalan kecil terbuat dari pasir kuning. Si nona baju biru berpaling dan tertawa, “Harap kalian jalan perlahan-lahan saja!”

Sahut Siau Yau-cu tertawa nyaring, “Mati di padang bunga, merupakan ke matian yang puas!”

Nona itu tersenyum, “Setan mata satu, tahukah kau nama bunga-bunga ini?”

“Bunga liar di le mbah mati, apakah me mpunyai na ma yang bagus?” ejek Siau Yau-cu.

“Kuduga kaupun tak tahu namanya. Nama bunga itu ialah Siau-hun-lan (delima pelenyap nyawa). Barang siapa melihat bunga itu tentu harus mati! Dan lagi ke matiannya secara mengenaskan!” kata si nona baju biru.

Siau Yau-cu tertawa gelak, “Ha ha ha, nona mengingatkan aku akan sebuah ucapan bahwa: Orang merasa bahagia kalau mati di bawah bunga, jadi setanpun tetap puas. Bagi seorang tua seperti aku, mati di tengah sa mudra bunga benar-benar amat bahagia sekali. Tetapi bagi kau seorang gadis  cantik yang masih muda belia, bukankah sayang sekali kalau mati di tengah-tengah padang bunga.” Si nona tertawa, “Seorang yang sudah melongok di liang kubur seperti kau, ternyata masih romantis  sekali. Untunglah bunga-bunga itu tak mengerti bahasa mu tak tahu umur mu sehingga mereka tak dapat menola k rayuanmu itu!”

Jitu sekali si nona baju biru menangkis dan melontarkan makian tajam kepada orang. Ha mpir saja Siau Yau-cu hendak balas menda mprat tetapi pada lain kilas ia teringat kedudukan dirinya.  Kiranya  tak  pantaslah  kalau  orang   sebagai   dia me layani seorang gadis yang tak terlena. Apabila  nona  itu me lontarkan kata-kata yang lebih tajam lagi, bukankah ia akan lebih ma lu lagi?  Maka iapun segera mendongak me mandang ke langit dan seolah-o lah tak menghiraukan si nona lagi.

Pada akhir jalanan, mereka tiba di sebuah padang rumput yang datar. Luasnya tak kurang dari e mpat atau lima bahu. Juga di sekeliling padang rumput itu penuh bertebaran pohon- pohon bunga warna-warni yang indah.

Kembali si nona baju biru itu berhenti. Serunya dengan lantang, “Silahkan tuan-tuan beristirahat di padang rumput ini. Bila pesta Ciau-hun-yan sudah tiba, nanti  kami tentu akan  me layani lagi.”

Habis berkata nona itu segera me mber i isyarat tangan kepada kedua sumoaynya, “Mari kita pergi!”

“Harap nona jangan pergi dulu. Loni hendak mohon bertanya,” tiba-tiba Tay Hong berseru. Nona baju biru mengicup-ngicupkan mata,  sahutnya dengan diiringi tertawa, “Apakah? Silahkan!”

Dengan wajah serius, berkatalah ketua Siau-lim-s i, “Sekalipun ro mbongan kami telah menerima undangan guru nona, tetapi belumlah setuju akan ketentuan harinya. Dalam rombongan loni yang terdiri dari tokoh-tokoh persilatan terkenal ini, masing- masing me mpunyai kesibukan. Sudah tentu tak dapat menunggu la ma. Maka  harap nona agar segera menemui ro mbongan ka mi. Jika me mang sungguh- sungguh mengundang, tentulah tak keberatan jika mengatur acara pertempuran itu selekas mungkin!”

Si nona me mandang ke langit, ujarnya, “Saat ini sudah hampir petang hari. Jika suhuku hendak menyelenggarakan pesta penyambutan yang meriah, tentulah tak sa mpai  jauh ma la m. Tuan-tuan habis menempuh perjalanan jauh,  lebih baik beristirahat dulu agar nanti dapat mati  dengan  mata mera m!”

Tiba-tiba terdengar sebuah suara parau melengking dingin, “Apa  itu  pesta  meriah  atau  tidak  meriah!   Kedatanganku ke mari bukan untuk ngiler makan hidanganmu. Lekas beritahu pada gurumu. Suruh dia lekas keluar menyambut. Jangan sampai me nimbulkan ke marahanku! Kalau aku sampai marah, tentu akan kubumi hanguskan le mbah ini!”

Ketika si nona baju biru berpaling,  ternyata yang berseru itu seorang tua ge muk pendek. Bahkan orang tua itu sudah tampil keluar dari ro mbongannya.

“Ih, siapakah kau? Mengapa kau bicara seenaknya saja?” tegur si nona baju biru.

Orang tua gemuk pendek itu tertawa lepas. Serunya, “Aku me mang jarang datang ke wilayah timur. Percuma  saja kukatakan pada mu, toh seorang budak wanita seperti kau tentu tak tahu juga!” Tiba-tiba berseri wajah si nona baju biru yang selalu menyungging senyum simpul tadi ,berubah dingin, serunya, “Kalau jarang ke daerah timur, kau tentu berasal dari Se-gak!”

Orang gemuk pendek itu terkesiap. Dia heran mengapa nona itu tahu hal dirinya.

“Benar, aku me mang dari Tibet. Thian-san-sin-kun Pek Co- gi adalah aku sendiri!” sahutnya.

Si nona baju biru tertawa dingin, “Dari daerah Se-gak yang begitu jauh kau perlukan datang, benar-benar kau memang bersungguh-sungguh hati hendak mencari jalan ke matian!”

“Budak mulut lancing! Jika berani me ngoceh tak karuan, jangan salahkan aku bertindak kasar kepada mu!” Pek Co-gi marah.

“Di daerah yang kosong melo mpo ng, masa iya ada tokoh yang berkepandaian tinggi?” ejek si nona.

“Budak hina, kau berani menghinaku? Jika tak kuhajar, tentu kau belum tahu rasa!”  Pek-co-gi  berteriak  seraya mena mpar dengan tangan kanan.

Tahu bahwa orang tentu melancar kan pukulan Biat-gong- ciang, buru-buru si nona baju biru bersiap menjaga diri.  Di  luar dugaan, tiba-tiba orang ge muk menarik lagi tangannya.

Nona baju biru itu heran dan mengira kalau orang itu tak jadi me mukulnya. Tetapi  sekonyong-konyong  serangkum gelo mbang angin yang tak bersuara telah menyambarnya.

Si nona baju biru terkejut, tetapi sudah terlambat. Ia dipaksa mundur t iga langkah. Masih sebelumnya ia sudah bersiap-siap lebih dulu, kalau tidak ia tentu sudah roboh.

“Eh, ilmu pukulan apa itu?” dia m-dia m ia heran juga dibuatnya.

Me mang Bu- ing-sin- kun atau pukulan sakti tanpa bayangan, merupakan ilmu kepandaian istimewa dari partai Thian-san-pay yang berpusat di gunung Thian-san. Tak seorang tokoh persilatan di wilayah  Tionggoan  yang  dapat me miliki ilmu itu. Sekalipun si nona baju biru  tinggi kepandaiannya, iapun tak mengetahui dan kedahsyatan pukulan tanpa suara itu.

“Itu tadi hanya sedikit hajaran, jika  mulut mu  masih lancang, jangan salahkan aku si orang tua berlaku keja m!” Pek Co-gi tertawa keras.

Wajah si nona berubah pucat. Setelah merenung sa mpai beberapa saat, tiba-tiba ia melesat dan dengan senjatanya yang berbentuk aneh, ia menusuk si kakek pendek.

Pukulan Bu-ing-sin- kun si kakek itu telah me lukai bagian dalam dari tubuh si nona. Untung berkat lwekangna yang tinggi, setelah menyalurkan darahnya beberapa saat, lwekangnyapun pulih ke mbali. Dan secepat itu ia balas menyerang.

Si kakek pendek kibaskan lengan baju untuk mena mpar senjata berbentuk seperti tanduk rusa dari si nona.

Jago tua dari Tibet itu terkejut. Cepat ia menyurut mundur tetapi tak kalah cepatnya tahu-tahu si nona sudah menyusuli dengan sebuah tutukan jari….

Hebat dan cepatnya bukan kepalang. Karena tak menduga, terpaksa Pek Co-gi menangkis nya. Seketika ia rasakan tangannya linu. Buru-buru ia menariknya pulang.

Setelah berhasil menutuk, nona baju biru itu loncat setombak jauhnya seraya tertawa, “Itulah yang  dinamakan ilmu tutukan Cian-hun-it-ci. Untuk me mbayar pukulanmu tadilah. Jika masih penasaran, nanti kita selesaikan lagi!”

Melihat kesaktian nona itu, dia m-dia m tergetarlah hati rombongan orang gagah.

Pek Co-gi me mer iksa tangannya. Ternyata bekas tutukan nona itu telah meninggalkan tanda biru sebesar mata uang loga m. Jika tutukan itu mengenai jalan darah yang berbahaya, tentu akan membawa maut. Dia m-dia m jago tua itu menghela napas. “Ah, ternyata daerah Tiong-goan penuh dengan jago- jago yang sakti. Benar-benar tak boleh dipandang enteng…” kecongkakkan jago Tibet itupun menurun beberapa derajat.

“Omitohud!” seru Tay Hong, “Harap nona suka berhenti dulu. Loni hendak bicara. Yang di hadapan nona saat ini adalah puluhan orang gagah. Apakah nona bertiga yakin dapat mengatasi mere ka?”

Sejenak nona baju biru keliarkan matanya me mandang ke sekeliling. Dia m-dia m ia mengakui ucapan ketua Siau-lim-si. Ia me mperhitungkan, tenaganya bertiga sukar menghadapi rombongan tetamu. Suhu mereka tentu tak mungkin tahu peristiwa dan buru-buru datang meno long.

Dan lagi, serangan Bu-ing-sin- kun dari Pek Co-gi tadi cukup me mber kesan padanya bahwa rombongan orang gagah itu tentu sakti-sakti semua. Dengan pe mikiran itu, tidak beranilah ia bersikap so mbong kepada tetamunya.

“Bagaimana?” serunya dengan tertawa untuk menutupi kecemasan hatinya, “Apakah lo-s iansu hendak me maksa ka mi bertiga saudara tinggal di sini mene mani ro mbonganmu?”

Sebagai seorang ketua partai persilatan gereja yang termasyhur, sudah tentu Tay Hong tidak biasa mengucapkan kata-kata yang tidak genah. Maka untuk beberapa saat ia tak dapat menjawab.

“Loni adalah umat beragama, tak pernah berkelakar hal-hal yang tak pantas,” akhirnya dapat juga ia paksakan mencari jawaban.

“Menilik sikap dan gaya bicara, rupanya lo-siansu ini pemimpin dari ro mbo ngan tetamu yang mengunjungi pesta di Beng-gak?” seru si nona.

Tay Hong mengucapkan kata-kata merendah diri. “Jika belum saatnya perjamuan, ke mungkinan guruku tak akan keluar,” kata si nona pula.

“Ah, kiranya tak  layaklah  kalau  guru  nona  itu  terlalu  me megang harga diri. Bukankah para tamu undangannya sudah datang? Mengapa dia tak mau keluar  menya mbut?” kata Tay Hong.

“Uuh, karena kalian tidak me menuhi tanggal yang termaksud dalam undangan itu!”

Kata Tay Hong pula, “Rombongan ini telah sa ma me mbe kal ransum kering. Tak usah guru nona sibuk menyiapkan perjamuan itu!”

Dia m-dia m si nona baju biru menima ng, “Uh, menilik gelagatnya, paderi tua ini hendak menahan aku bertiga sebagai barang jaminan. Saat ini suhu belum selesai mengadakan persiapan. Jika kuge mpur mereka, ke mungkinan suhu tak akan datang menolong. Jelas hal itu tak menguntungkan. Lebih baik kujelaskan siasat mengulur waktu saja.”

Maka tertawalah ia dengan genit, “Ah, saat ini suhu belum turun dari persemedhiannya. Kemungkinan tentu tak dapat lekas datang ke sini….”

“Kalau begitu terpaksa loni minta nona bertiga  tinggal di sini untuk se mentara. Begitu suhu nona muncul, silahkan nona berlalu!” kata Tay Hong.

Nona baju biru berpaling kepada kedua sumoaynya dan tertawa, “Lihat, mereka hendak menjadikan kita bertiga sebagai sandera?”

Su Bo-tun tertawa dingin, “Bukan mela inkan me njadi sandera saja. Jika guru kalian main mengulur waktu dan tak mau lekas- lekas keluar, lebih  dulu  kalian  kami bunuh  baru ke mudian karang ini kami jadikan karang abang!” Si nona baju biru melengking, “Besar nian mulut mu!

Apakah kau yakin dapat me mbakarnya? Hm….”

“Saat ini sukar dikata,” Tay Hong menyeletuk. “Meskipun dunia persilatan me mpunyai peraturan-peraturan  tetapi karena tindakan guru nona itu kelewat batas hingga menimbulkan ke marahan umum, maka sukarlah untuk menghindarkan   tindakan    itu.    Apabila    tiba    waktunya ke mungkinan  lonipun  tentu  kewalahan  untuk  mencegah ke marahan mereka!”

Dia m-dia m si nona baju biru gelisah, pikirnya, “Keadaan musuh belum diketahui jelas. Seharusnya kulaporkan pada suhu. Tetapi jika paderi tua ini hendak menahan aku di sini, sungguh menyulitkan!”

Sebenarnya tujuan Tay Hong siansu untuk menahan ketiga nona itu bukan lain untuk menjaga ke mungkinan di padang bunga itu telah dipasangi alat rahasia.

Setelah merenung sejenak, nona baju biru tertawa, “Baiklah, jika kalian hendak bertemu dengan guruku, biarlah kuundangnya keluar!”

Berkata Tay Hong, “Kalian berjumlah tiga, masakan harus nona yang pergi?”

Nona baju biru tertawa dan me mpersilahkan ketua Siau- lim-s i untuk menunjuk siapa.

Mulailah Tay Hong siansu me lakukan penga matan menjatuhkan pilihannya. Ber mula ia me mandang si nona baju biru, ke mudian perlahan-lahan beralih kepada si nona baju putih atau Bwe Hong-swat. Baru ia hendak me mbuka mulut untuk me minta nona itu saja yang pergi, tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Ah, jika kupilih nona Bwe, kalau sa mpai menimbulkan kecurigaan gurunya, bukankah akan me mbuat segala rencana berantakan dan mencela kakan nona itu?” Dengan cepat Tay Hong berganti pilihan. Ia menunjuk pada nona baju merah, “Biarlah nona itu saja yang melapor!”

Nona baju biru me mberi kecupan mata kepada sumoaynya itu, “Ji-sumoay, rupanya paderi tua terpikat kepada mu!”

Nona baju merah  berbangkit perlahan-lahan, serunya tertawa, “Apakah suruh aku me mberitahukan suhu?”

“Sa mpai tengah mala m jika suhu nona belum juga muncul, janganlah menuduh loni manus ia yang kejam… ” dan melirik si nona baju biru serta si putih Bwe Hong-swat, ia berkata pula, “Dan kedua nona saudara seperguruanmu ini jangan harap dapat tinggalkan te mpat ini dengan mas ih bernyawa!”

“Dan padang bunga inipun akan me njadi padang api!” Kiu- sing-tui-hun Kau Cin-hong mena mbahi.
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Wanita iblis Jilid 15"

Post a Comment

close