Wanita iblis Jilid 09

Mode Malam
Jilid 9

SIU-LAM tak mau mendesak tuan rumah. Berpaling kepada sekalian tetamu, ia berseru nyaring:  “Meskipun sumoayku menyimpan kutungan Chit-jiau-soh, tetapi sama sekali aku bukan anak buah Beng-gak. Bahkan kamipun me mpunyai permusuhan juga kepada mereka. Jika tak percaya kalian boleh tanyakan pada Su lo-cianpwe sendiri. Walaupun dia tak tahu sampai jelas, tetapi dia telah menyaksikan  sendiri peristiwa itu!”

Berpuluh mata tetamu segera diarahkan pada Su Bo-tun. “Me mang benar,” Su Bo-tun menyahut dingin.

Tiba-tiba paderi jubah kelabu menyeletuk: “Menurut yang kuketahui, selain merupakan  tanda pengenal gero mbolan Beng-gak, tak kudengar orang menggunakan jarum itu.”

“Kutungan jarum itu, sumoay me mperoleh dari seorang lo- cianpwe. Dari mana beliau mendapatkan, akupun tak tahu,” tukas Siu-la m. “Tetapi satu hal yang dapat kuterangkan pada kalian…” tiba-tiba ia melirik ke arah meja dan serentak dengan terbeliaknya mata, ia menjerit kaget: “Hai, jarum Chit-jiau- soh…”

Gempar lah     sekalian    orang.     Cepat-cepat    mereka me mandang ke meja. Wahai… kejut mereka bukan kepalang. Di atas meja yang tadi kosong me lo mpong saat itu tahu-tahu terdapat sebatang jarum Chit-jiau-soh, jarum itu menindih sehelai kertas putih….

Su  Bo-tun mendengus dingin. Dia mbilnya kertas itu dan dibacanya. Sekalian teta mupun segera mengerumuni.

Undangan:

Diminta saudara-saudara pada nanti hari Toan-ngo (Peh- cun) datang ke lembah Toan-beng-koh di gunung Beng-gak guna menghadiri per mandian dosa  pada  pesta  Ciau-hun  (me manggil roh). Barang siapa tidak datang, akan dibasmi seluruh keluarganya!

Tertanda

Ketua Beng-gak. Su Bo-tun me mberikan surat itu kepada orang tua jenggot putih: “Cobalah Ngo-heng periksa tulisannya. Apakah serupa dengan tulisan di lain surat undangan?”

Setelah me meriksa, berkatalah jago tua itu: “Ah, aku sudah tak ingat lagi. Tetapi menurut bentuknya, surat undangan ini tak berbeda….”

Su Bo-tun mendengus dan berpaling ke arah si hitam Kim- po: “Apa pagi tadi sewaktu me nyapu, kau melihat surat itu?”

“Tidak! Baru siang tadi muridpun  menyapu lagi,  tetapi surat undangan itu belum ada!” sahut Seng Kim-po.

Su Bo-tun tak mau me nanya lebih jauh. Jarum disimpan dalam bajunya.

“Setelah menerima undangan itu, apakah Su sicu akan mengha mpiri?” tiba-tiba si paderi jubah kelabu berseru.

Su Bo-tun tertawa dingin:  “Walaupun  aku  tak  suka menca mpur i urusan lain orang, tetapi  ternyata  mereka menca mpur i urusanku. Terpaksa kali ini kulanggar peraturan. Ingin kulihat bagaimana kah orang yang mena makan dirinya sebagai ketua Beng-gak itu!”

“Ah, syukurlah kalau Su- heng sudi turun gunung. Dengan begitu jerih payahku tak sia-sia…” tiba-tiba si orang tua jenggot putih berseru lega. “Ketua Siau-lim, akan menuju ke Tang-gak guna me mimpin rapat besar para tokoh persilatan guna merundingkan langkah- langkah me nghadapi anca man itu. Rapat itu akan diadakan pada nanti bulan tiga tanggal tiga. Jadi kurang sebulan lagi. Kuharap Su-heng dapat menghadiri.”

Paderi jubah kelabu pun mena mbahi: “Rapat di gunung Beng-gak itu, menyangkut kepentingan mati hidupnya kaum persilatan. Dengan hadirnya para tokoh persilatan  dari  seluruh penjuru, kiranya kita dapat mengikat persahabatan yang luas.” Su Bo-tun hanya menyahut dingin: “Sekali sudah kuterima untuk hadir, tentu takkan ingkar. Maaf, di pondok yang begini sepi, aku tak dapat menyediakan hidangan yang sepantasnya. Jika masih ada lain urusan, silahkan me laksanakan tugas masing- masing.”

Mendengar ucapan tuan rumah yang bernada mengusir itu, berubahlah wajah sekalian tetamu. Si orang tua berjenggot putih yang pertama-tama me langkah keluar. Menyusul kedua lelaki setengah tua dan gagah dan kemudian si paderi jubah kelabu. Mereka berbondong-bondong tinggalkan pondok itu. Su Bo-tun dingin-dingin saja melihat tetamu-tetamunya pergi.

“Orang itu benar-benar tak punya perasaan sekali,” bisik Hian-song, “Ayo kita pun pergi!”

Belum Siu-la m menyahut, tiba-tiba Su Bo-tun sudah menyeletuk: “Hm, karena sudah datang, mana bisa gampang- gampang pergi….”

Menatap Siu-la m, manusia berhati dingin itu bertanya: “Apa yang hendak kau tanyakan padaku tadi, lekas bilang! Setelah itu akan kuberi kalian hajaran yang setimpal!”

Siu-la m me lihat gelagat yang kurang baik. Rupanya pertempuran dengan tuan rumah tak dapat dihindari lagi.

Dalam keadaan seperti itu ia me mutus kan lebih  baik berlaku gagah saja.

“Apakah di daerah Co-yang-ping sini hanya didia mi oleh lo- cianpwe berdua dengan murid saja?” serunya dengan tersenyum.

Su Bo-tun kerutkan kening, serunya gusar: “Jika bukan aku berdua dengan mur id, siapakah yang berani tinggal di sini!”

Siu-la m tertawa dingin: “Sebuah goha rahasia yang terletak di perut karang Co-yang-ping ini ternyata ditinggali oleh seorang wanita tua yang mender ita luka parah. Apakah lo- cianpwe tak me ngetahui hal itu?” Su Bo-tun agak terkesiap, serunya, “Sudah berpuluh tahun aku tinggal di sini, tetapi tak kuketahui hal itu. Dari mana kau mendengar ocehan se maca m itu?”

“Tetapi aku me lihatnya dengan mata kepala sendiri, masakah aku bohong! Jika tak percaya, harap lo-cianpwe ikut aku ke sana!”

“Benarkah begitu?” Su Bo-tun menegas. “Aku tak pernah bohong!”

Sejenak Su Bo-tun merenung. Sesaat kemudian ia berseru:

“Baiklah, jika berani bohong, jangan harap kalian  dapat tinggalkan tempat ini! ”

Siu-la m segera menarik tangan Hian-song dan Su Bo-tun mengikut inya. Mereka menuju ke goha rahasia di balik air terjun.

Ternyata Seng Kim-po pun mengikut i gurunya. Karena sudah paham, Siu-la m segera me masuki goha dan menyusur ke dalam lorong. Akhirnya tibalah mereka di bagian lorong yang sempit. Setelah mencapa i ujung lorong mereka berjatuhan ke bawah dan tibalah di ruang tempat si wanita berwajah seram.

Seng Kim-po menyulut api dan me lihat di tanah tulang- tulang berserakan. Siu-lam menerangkan bahwa itulah tulang-belulang si wanita berwajah seram yang tak pegang janji.

“Dia telah  menawan  sumoayku.  Ke mudian  dia mengadakan perjanjian, apabila dalam tiga bulan aku dapat mencari obat dari Ti- ki-cu Gan Leng-po ma ka sumoayku akan dilepas. Tetapi belum cukup waktunya, ketika aku ke mbali ke sini, ternyata dia telah membunuh sumoayku dan dia sendiri pun sudah mati. Karena marah,  kutendang berantakan tulang-belulangnya…!” Tiba-tiba dari gumpalan rambut yang berhamburan di tanah, Su Bo-tun me mungut sebatang tusuk kundai emas. Ketika diperiksa lebih lanjut, berubahlah wajah Su Bo-tun. Dia mengigau seorang diri: “Tak kira kalau Giok-kut-yau-ki yang namanya menggo ncangkan dunia persilatan ternyata berpuluh tahun menye mbunyikan diri dalam goha di bawah karang Co- yang-ping!”

Siu-la m ikut menga mati tusuk kundai itu. Ternyata pada batang tusuk kundai terdapat tiga buah huruf kecil-kecil. Menilik bentuk huruf yang mencang- mencong, jelas bukan diukir tukang emas. Mungkin wanita itu sudah  menyadari kalau takkan hidup lebih la ma lagi. Maka dia mengambil tusuk kundainya dan me ngguratkan na manya dengan kuku jari.

Giok- kut-yau-ki artinya Siluman Pere mpuan Bertulang Kumala. Gelar itu dimiliki oleh Ih Ing-hoa yang cantik jelita dan sakti. Namun Siu- lam dan Hian-song tak kenal  siapa tokoh wanita itu.

Sambil me masukkan tusuk kundai ke dalam baju, Su Bo-tun berkata pula: “Sejak kapan wanita ini berse mbunyi di sini, aku sendiri tak tahu…” Ia menatap Siu-la m, katanya lebih lanjut: “Entah di manakah jenazah sumoaymu sekarang ini?”

Siu-la m mengatakan bahwa jenazah sumoaynya telah dibawa keluar dari goha itu. Katanya: “Karena lo-cianpwe tak mengetahui peristiwa ini, akupun takkan menanyakan lebih jauh. Tetapi apabila tak  keberatan,  sukalah  lo-cianpwe mencer itakan tentang riwayat hidup Giok-kut-yau-ki Ih Ing- hoa itu!”

Su Bo-tun mendengus: “Sebenarnya aku paling tak suka bicara. Tetapi karena kau sudah membawa aku mene mukan tempat persembunyian Giok-kut-yau-ki Ih Ing-hoa, baiklah akan kuceritakan riwayat wanita itu selaku terima kasihku!”

Tiba-tiba Siu-la m teringat akan jenazah sumoaynya yang ditinggalkan di perut gunung. Ia me minta agar Su Bo-tun suka bersama-sa ma datang ke te mpat itu. Ujarnya: “Asal lo- cianpwe sudah menceritakan riwayat wanita itu, aku segera tinggalkan te mpat ini dan takkan mengganggu ketentraman lo-cianpwe lagi!”

“Hm, anak muda tetapi banyak petingkah,” guma m Su Bo- tun. Namun ia mengikuti juga Siu- lam ke tempat jenazah Hui- ing. Setelah melihat tumpukan kayu kering yang menimbuni jenazah sumoaynya masih seperti tadi, Siu- lam segera minta Su Bo-tun me mula ikan penuturannya.

Su Bo-tun me mandang bintang-bintang di cakrawala, Rupanya   ia   tengah   merenung    peristiwa-peristiwa   yang la mpau. Beberapa saat kemudian barulah ia me mbuka mulut: “Giok-kut-yau-ki Ih Ing-hoa dahulu merupakan tokoh wanita sakti yang cabul dan kejam. Entah sudah berapa banyak jago-jago silat yang telah dibunuhnya. Hal itu pernah menimbulkan ke marahan dunia persilatan. Beberapa partai persilatan telah bersekutu untuk  menghancur kannya. Sungguh   tak   nyana   kalau   dia   berhasil  lolos   dan  menye mbunyikan diri di bawah karang Co-yang-ping sini?”

Ringkas sekali penuturan itu sehingga Siu- lam kurang puas, tanyanya: “Sampai di mana kah ilmu kesaktian Giok-kut-yau-ki itu?” Ia tahu Su Bo-tun tak suka bicara panjang lebar. Maka sengaja ia me mancingnya dengan pertanyaan satu demi satu.

Su Bo-tun mendengus: “Jika tidak me miliki kepandaian sakti, masakah digelari Giok- kut-yau-ki? Hm, sela ma dua puluh tahun terakhir ini kaulah satu-satunya orang yang kuajak bicara sampai la ma...” tiba-tiba ia memutar tubuh terus me langkah.

Sebenarnya Siu-lam hendak merintangi tapi pada  lain  kilas ia batalkan niatnya. Su Bo-tun menye mbunyikan diri karena tak suka bicara dengan orang. Jelas ia tentu tak banyak mengetahui tentang wanita Ih Ing-hoa. Setelah Su Bo-tun dan muridnya lenyap, Siu- lam mulai menimang rencana selanjutnya. Jumlah mus uh jauh lebih besar, untuk me mba las sakit hati gurunya, untuk se mentara sukar dilaksanakan. Akhirnya ia me mutus kan untuk  menuju ke gunung Tang- gak saja. Mungkin dalam rapat orang gagah itu nanti, ia akan mene mukan sesuatu jalan.

Ketika hal itu diutarakan, Hian-song ge mbira sekali. Siu- lam segera menga mbil jenazah sang sumoay. Jenazah itu tak jadi dibakar mela inkan hendak ditanam saja. Sehabis rapat di Tang-gak, ia hendak ke mbali lagi me nga mbil tulang-tulang sumoaynya.

Mereka terpaksa karena di sebelah depan menghadang sebuah karang yang menjulang tinggi. Ternyata di sekelilingnya dikitari oleh karang-karang tinggi sehingga merupakan sebuah le mbah mati.

Siu-la m anggap tempat itu sesuai untuk menana m jenazah sumoaynya. Ia hendak menggali tanah, tapi tiba-tiba ia teringat bahwa pedangnya telah hilang dalam perjalanan: “Sumoay, apakah kau me mbawa benda keras untuk mengga li tanah?”

Kebetulan tadi Hian-song me mungut sebuah perisai berbentuk seperti pedang pendek dari goha Giok-kut-yau-ki Ih Ing-hoa. Segera diberikannya benda itu kepada Siu-la m. Siu- lam bagai diingatkan bahwa ia sendiri pun punya perisai semaca m itu. Hanya saja warnanya kuning.

Mereka segera bekerja me mbuat liang. Siu- lam gunakan perisai kuning. Hian-song perisai putih. Setelah  selesai, jenazah Hui- ing pun dimas ukkan. Siu- lam tak sa mpa i hati menimbuni   tanah.   Dipandangnya   sosok   mayat    yang me mbujur di tanah itu dengan air mata bercucuran. Entah berapa lama suasana itu berlangsung, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sebuah suara melengking nyaring: “Ing-ji, Ing- ji!” Ketika mereka berpaling, ternyata di atas dahan pohon siong di dekat situ, hinggap seekor burung kakaktua  putih. Hai, itulah burung piaraan si wanita Ih Ing-hoa! De mikian Siu- lam teringat akan burung piaraan Giok- kut-yau-ki Ih Ing-hoa yang dapat bicara seperti manusia. Segera ia menghampiri ke bawah pohon.

“Niau-ji, Niau-ji, turunlah ke mari aku hendak bertanya padamu!” serunya sambil mela mba i.

Seperti mengerti bahasa orang, burung itu pun segera terbang ke sa mping Siu-la m. Melihat itu Hian-song loncat mengha mpiri. “Hai, suheng, bagus benar ya, burung ini….”

Siu-la m hanya tertawa. Kemudian ia bertanya pada si burung: “Hai Niau-ji, jika kau benar-benar pintar, cobalah ceritakan tentang ke matian sumoayku!”

Kakaktua putih me mandang ke lubang yang berisi jenazah Hui- ing. Tiba-tiba ia melengking: “Tidak…  tidak…  Ing-ji… tidak Ing-ji!”

Rupanya burung itu tak pernah diajar kata-kata bukan.

Maka ia hanya dapat mengatakan tidak.

“Apa katamu?” dengan gugup Siu-la m berseru. Tetapi di luar dugaan tiba-tiba burung itu terbang pergi. Siu-la m enjot tubuhnya mela mbung ke udara dan mengulangi seruannya namun burung itu tak menghiraukan.

Pemuda itu tegak  terlongong-lo ngong  sa mpai  beberapa la ma. Tiba-tiba ia mendapat kesimpulan bahwa mungkin burung itu pernah diganggu orang. Dan pengganggunya itu tentu mengucapkan kata-kata seperti yang  diucapkan barusan. Diam-dia m Siu- lam menyesal dan banting kaki. Setelah meninggalkan pertandaan, mereka tinggalkan te mpat itu. Mengingat rapat para orang gagah hanya tinggal kurang lebih sebulan lagi, maka Siu- lam batalkan rencananya mengantar Hian-song ke telaga Se-ou.

Entah bagaimana sejak me lihat  Siu- lam bersedih  karena ke matian sumoaynya. Hian-song berubah ramah  dan le mah  le mbut. Ia menurut saja rencana Siu-lam hendak menuju ke gunung Tang-gak atau Thaysu di mana rapat akan diselenggarakan.

Hari itu mereka tiba di kota Yan-ciu. Sela ma dalam perjalanan tak sedikit mereka berjumpa dengan orang-orang persilatan, baik secara ro mbongan maupun perseorangan. Ia duga mereka tentu tokoh-tokoh persilatan yang hendak menghadiri rapat besar di gunung Thay-san.

Dia m-dia m Siu-la m me ngagumi kewibawaan gero mbolan Beng-gak. Hanya dengan sebatang jarum dan secarik kertas saja telah dapat mengguncangkan seluruh kaum persilatan.

Saat itu Siu-la m tiba di depan sebuah rumah penginapan. Biasanya tentu jongos penginapan menghalang di depan pintu untuk me mpersilahkan teta mu. Tetapi saat itu t idak.  Rupanya penginapan sudah  penuh.  Namun  Siu-la m tetap me langkah masuk dan menanyakan ka mar pada seorang jongos.

Melihat Siu-la m berpakaian bagus, jongos itu dengan sikap manis me mber i keterangan bahwa semua kamar sudah dipesan orang. Ia mempersilahkan Siu-la m cari lain rumah penginapan saja.

Tetapi beberapa rumah penginapan yang didatangi Siu- la m, serupa saja keadaannya. Jongos selalu mengatakan kalau kamar penuh se mua. Siu-la m duga tetamu-tetamu itu tentulah tokoh-tokoh persilatan yang hendak menghadiri rapat gunung Thay-san. Oleh karena harinya masih jauh, maka mereka tentu hendak beristirahat dulu di Yan-ciu. Yan-ciu merupakan sebuah kota besar di wilayah Lula m. Sebuah kota yang ramai perdagangannya dan penuh hiburan.

“Eh, apakah karena pakaianku buruk mereka tak mau menerima kita!” tiba-tiba Hian-song menyeletuk.

Siu-la m tak mengira si dara me mpunyai perasaan begitu. Sahutnya: “Nanti setelah dapat rumah penginapan  barulah kita beli pakaian baru!”

Hian-song tertawa: “Memang pakaianku yang robek ini sudah kupakai beberapa tahun. Kakek tak mengurus i soal pakaian. Tetapi sekarang kalau berjalan bersama kau dalam pakaian begini, ah, malulah!”

Dia m-dia m Siu-la m me mperhatikan wajah dara itu. Walaupun kulitnya agak hitam tetapi sebenarnya me miliki paras yang cantik. Apabila berganti pakaian yang bagus, tentulah dara itu akan tampa k kecantikannya.

“Sudahlah sumoay. Sekalipun me ma kai pakaian yang lebih buruk lagi, aku tetap me mper lakukan sebaik sekarang ini!” katanya.

Dalam pada bercakap-ca kap itu mere ka tiba di sebuah rumah penginapan yang memaka i nama Hwe- ing-lo k. Penginapan itu sebuah gedung besar, tentu mas ih ada ka mar kosong. Segera Siu- lam me nanyakan pada jongos.

Selain rumah penginapan, pun Hwe-ing-lo k itu merupakan rumah ma kan. Ruang penuh dengan tetamu yang sedang makan. Jongos mengatakan bahwa ka mar sudah isi se mua.

“Sudah beberapa rumah penginapan kami datangi tetapi kamar penuh se mua. Penginapan ini sebuah penginapan besar, kalau satu dua kamar saja tentulah mas ih,” Siu-la m mendesak.

Jongos itu tetap gelengkan kepala: “Kami mengusahakan rumah penginapan dan menjua l makanan. Sudah tentu setiap tetamu akan ka mi sa mbut dengan girang. Masakah ka mi berani menola k?”

Siu-la m tersipu-s ipu. Baru ia hendak me langkah pergi, tiba-tiba seorang tetamu mengha mpirinya: “Jika saudara suka, bolehlah saudara me makai dua buah ka mar yang telah kupesan!”

Siu-la m agak terkejut ketika melihat yang menawari itu ternyata It-pit-boan-thian atau Pit Pengaduk Dunia Kat Thian Beng. Buru-buru ia me mberi hor mat: “Ah, tak kira dapat berjumpa dengan lo-cianpwe di sini….”

Kata jago tua itu: “Di sini bukan tempat bicara. Marilah kita ke ka marku!”

Siu-la m mengiakan. Menuju ke  ruangan dala m,  melalui dua hala man, mereka masuk sebuah ruang besar. Di tengah ruang telah disiapkan hidangan dan e mpat orang lelaki duduk saling berhadapan. Ketika me lihat kedatangan Kat  Thian- beng, serentak keempat orang itupun berdiri me mber i hor mat.

Siu-la m taka sing lagi kepada mereka bere mpat, yakni Thian Hong totiang, si Golok Sakti Lo Kun dan kedua putera Kat Thian-beng ia lah Kat Hong dan Kat Wi.

“Aha, karena di gunung Kiu- kiong-san, saudara buru-buru pergi maka tak sempat kuhaturkan terima kasih kepada mu. Sekarang sambutlah perse mbahanku secawan arak terima kasih!” Lo Kun menuang arak dan dengan kedua tangan menghaturkan kepada Siu-la m. Karena sungkan terpaksa Siu- lam meneguknya!

“Ah, lo-cianpwe kelewat menyanjung. Hanya  secara kebetulan saja aku me mbawa obat itu,” kata Siu-la m dengan merendah.

Muncullah Kat Thian-beng dari  tempat  pertapaannya karena surat undangan dari pihak Siau- lim-si mengundangnya pada bulan tiga tanggal tiga supaya hadir dalam rapat orang gagah di gunung Thay-san. Setelah rombongan Thian Hong sembuh dari lukanya, Kat Thian-beng me nceritakan siapa yang meno long mereka. Paderi itu tak mau kepalang tanggung. Tujuannya untuk me mbas mi gero mbolan Beng-ga k ma kin teguh. Kedua mur idnya disuruh pulang ke mudian ia bersama Lo Kun segera ikut Kat Thian-beng menuju ke Thay-san.

Sebenarnya Kat Thian-beng hendak suruh kedua puteranya pulang, tetapi rupanya kedua pemuda itu berkeras ikut. Terpaksa Kat Thian-beng mengijinkan juga.

Pertemuan kali ini benar la in sekali suasananya. Siu-la m mendapat perindahan dan terima kasih dari ro mbongan orang gagah itu sehingga berulang kali ia harus mengucapkan kata- kata rendah hati.

Bahkan Kat Thian-beng yang pernah bertempur dengan Siu-la m tak henti-hentinya me muji  kesaktian  pemuda  itu. Dia m-dia m kedua puteranya, Kat Hong dan Kat Wi, tak puas. Dasar darah muda, walaupun telah ditolong Siu-la m, tetapi kedua pemuda itu  masih  tetap  tak  puas  karena  ayahnya me mber i pujian. Andaikata sang ayah tak di situ, mungkin mereka sudah cari perkara untuk menantang berkelahi pada Siu-la m.

Lo Kun dan Thian Hong totiang walaupun tak percaya pada keterangan Kat Thian-beng, tetapi karena mereka tergolong orang tua, tidaklah hati mereka menjadi panas dan penasaran.

Selesai makan mala m, Kat Thian-beng suruh kedua puteranya tidur di ka mar Lo Kun. Ia dan Thian Hong menyerahkan ka marnya kepada Siu- lam dan Hian-song.

Sikap yang begitu mengindahkan dari ayahnya itu  makin me mbangkitkan nafsu Kat Hong dan Kat Wi untuk mencoba kesaktian Siu-la m. Begitu sudah menga lahkan pemuda itu barulah nanti mereka me mberitahukan pada ayahnya. Dalam keadaan begitu, mereka yakin ayahnya tentu terpaksa takkan me marahinya. Setelah berada di kamar,  Siu-la m  segera  suruh  jongos me manggil tukang jahit dan minta mala m itu dibuatkan pakaian baru untuk Hian-song. Menjelang pagi, pakaianpun sudah selesai. Ketika ganti pakaian baru, benar-benar Hian- song tampak cantik sekali. Walaupun agak hitam tetapi hitamnya manis dan sedap dipandang.

Pagi-pagi sekali Kat Thian-beng sudah datang untuk mengajak kedua muda- mudi itu ma kan pagi. Selesai makan bersama, Kat Thian-beng bertanya apakah Siu-la m berdua itu juga akan menghadiri rapat besar di Thay-san.

Dengan merendah Siu- lam menyahut: “Ah, wanpwe hanya seorang anak muda yang masih hijau ma na  diajak diundang ke rapat itu. Memang wanpwee berdua hendak menuju  ke sana untuk mena mbah pengala man dan sekalian pesiar saja.”

Berkata Kat Thian-beng dengan serius: “Sudah berpuluh tahun aku berkelana di dunia persilatan tetapi baru pertama kali ini aku berjumpa dengan seorang muda yang me miliki kepandaian luar biasa seperti saudara ini. Jika saudara mau menghadiri rapat orang gagah yang akan berlangsung di gunung itu, akulah yang akan mengusulkan kepada rapat agar menerima saudara Pui dalam barisan  terdepan  untuk mengge mpur gero mbo lan Beng-ga k!”

Mendengar ucapan sang ayah, Kat Hong dan Kat Wi makin gatal, dada mereka serasa meledak. “Dengan sebatang pit, ayah telah mengalahkan jago-jago silat dari tiga belas propinsi Kangpak dan Kangla m. Dunia persilatan mengindahkan sekali kepada ayah. Tetapi mengapa sekarang ayah menyanjung- nyanjung pada anak muda itu?” demikian rasa tak puas yang berkobar dalam hati Kat Hong dan Kat Wi. Diam-dia m mereka mencari alasan agar dapat menguji kepandaian Siu- la m.

Thian Hong dan Lo Kun juga me mpunyai anggapan yang sama. Mereka menganggap Kat Thian-beng terlalu berlebihan me muji Siu- la m. Namun sebagai paderi yang berakhlak tinggi, Thian Hong tak mau mengutarakan apa-apa. Tidak de mikian dengan watak Lo Kun yang serba terus terang. Jago tua itu tersenyum dan langsung tanpa tedeng aling-aling berkata kepada Siu-la m: “Ah, sayang kami tak sempat menyaksikan kesaktian saudara Pui.  Sejauh pengalamanku sepuluh tahun di dunia persilatan, sukar aku me mperoleh kesan bahwa saudara Pui ini me miliki kepandaian yang sakti.”

Kata-kata jago tua she Lo itu, sesuai sekali dengan isi hati Kat Hong dan Kat Wi. Kedua pe muda itupun segera me mberi dukungan tertawa hina.

Siu-la m tersipu-sipu merah, ujarnya: “Memang kepandaian wanpwe sangat terbatas, harap lo-cianpwe jangan mentertawakan.”

“Mengapa Lo-heng berkata begitu?” tiba-tiba Kat Thian- beng menukas, “Telah kusaksikan sendiri kepandaian saudara Pui ini. Bukan o mong besar, me mang banyak yang dapat menga lahkan aku tetapi yang dapat mengalahkan aku dengan sekali pukul, selama ini belum pernah ada. Tetapi saudara Pui ini ternyata ma mpu. Sekiranya dia tak sungkan mungkin aku sudah mati atau sekurang- kurangnya tentu cacad!”

“Hai, benarkah begitu?” Lo Kun berteriak  kaget-kaget heran.

“Ha, benar-benar mengherankan sekali.” Lo Kun makin tercengang. “Ketika di gunung Kiu- kiong-san jelas kusaksikan sendiri bagaimana kedua putera Kat-heng bertempur dengan dia.  Jika nona Tan ini tak segera datang, mungkin…” tiba-tiba ia teringat bahwa Siu-la m lah yang menolong dirinya. Terhadap seorang yang telah melepas budi,  tak baiklah menyerang kata-kata tajam. Buru-buru ia alihkan kata: “Ah, pertempuran berjalan seru dan masih belum ada kesudahannya.”

“Benarkah?” Kat Thian-beng berpaling menatap kedua puteranya, Kat Hong dan Kat Wi. Mereka mengiakan. Sejenak jago tua itu merenung, tiba-tiba ia me mbentak: “Ngaco belo! Masakan aku orang tua akan me mboho ngi kalian!”

Jago tua itu tak dapat mendamprat Lo Kun ma ka ia tumpahkan ke mangkelannya kepada kedua puteranya.

Tetapi paderi Thian Hong segera menyela: “Me mang apa yang dikatakan kedua putera Kat  sicu  itu benar.  Aku juga  me lihat perist iwa itu!”

Kat Thian-beng berkisar menatap Siu- la m. Dipandangnya anak muda itu tajam-taja m, tetapi ah, memang anak muda itulah yang dijumpa i dan bertempur dengannya di gunung Kiu- kiong-san!

“Ah, kiranya kita lupakan saja urusan itu. Perlu apa lo- cianpwe sibuk-sibuk hendak mencar i penjelasan pada urusan yang tak berarti itu?” buru-buru Siu- lam menjernihkan suasana karena kuatir Hian-song nanti naik pita m.

Kat Thian-beng tertawa lebar: “Ah, me mang kau seorang pemuda yang lapang dada luas pikiran, tak mau me layani ocehan mereka…” ke mudian ia mengakhiri pe mbicaraan itu: “Benar, tak perlu kita ungkat-ungkat lagi peristiwa yang telah la mpau. Mari kita segera berangkat ke Thay-san!”

Pagi itu rombongan Kat Thian-beng tinggalkan kota Yan- ciu. Di tengah jalan mereka sering berpapasan dengan orang- orang persilatan yang juga me nuju ke Thay-san.

Kat Thian-beng menceritakan kepada Siu- lam bahwa karena sudah puluhan tahun menyembunyikan diri maka jaranglah kaum persilatan yang mengena lnya.

Mendadak terdengar derap kuda lari dan dua penunggang kuda mencongklang pesat di samping mereka, tiba-tiba kuda yang sudah jauh itu berhenti, berputar dan kembali menuju ke arah Kat Thian-beng, kedua penunggangnya loncat turun dan berseru nyaring: “Aha, sudah lama kita tak berjumpa Kat- heng? Tidak lupa padaku, bukan?”

Kat Thian-beng tertawa: “Ah, siapa kaum persilatan Kanglam yang tak kenal pada saudara…?”

Siu-la m dapatkan kedua penunggang kuda itu bukan lain ialah kedua lelaki setengah tua yang pernah dijumpa inya di Coh-yang-ping.

“Walaupun menunggang kuda yang mencongklang pesat tetapi ternyata jiwi berdua mas ih dapat melihat padaku, menunjukkan bahwa ilmu lwekang kalian sekarang sudah jauh maju!” Kat Thian-beng berseru seraya mengha mpiri.

Lelaki yang berdiri di sebelah kiri me mandang Siu- lam dan Hian-song dengan berapi-api. “Apakah kedua muda- mudi itu juga bersama-sa ma Kat-heng?” tanya mereka dengan berbisik.

Kat Thian-beng mengiakan.

“Apakah Kat-heng tahu asal-usul mereka?” tanya lelaki yang di sebelah kanan.

“Kita sa ma-sa ma baru kenal,” jawab Kat Thian-beng. “Eh, mengapa saudara bertanya begitu?”

Lelaki yang di sebelah kiri yang tampaknya lebih tua,  segera menerangkan: “Beberapa hari yang lalu kami berjumpa di pondok Siu-chiu- kiau- in Su  Bo-tun.  Bukan  saja  mereka me miliki kesaktian hebat, juga menyimpan jarum Chit-jiau- soh.  Rupanya   jika   bukan   anak  buah   Beng-gak  tentu  me mpunyai hubungan dengan gero mbo lan itu!”

Walaupun berbisik-bis ik, namun Siu- lam dapat juga menangkap pe mbicaraan itu. Ia berpaling ke arah Hian-song. Belum se mpat ia buka mulut, dara itu sudah mendahului: “Rupanya kedua orang itu me mbicarakan diri kita. Biar kuhajarnya!” Siu-la m gelengkan kepala: “Justeru aku hendak mencegahmu. Biarkan saja mereka mengoceh….”

Kat Thian-beng tertawa dingin: “Harap kalian jangan menghina orang!” Habis berkata jago tua itu segera berputar tubuh dan me langkah pergi.

Kedua lelaki itu sa mbil loncat ke punggung kuda berseru: “Kalau tak percaya omonganku, terserah saja…” Kuda dikeprak mencongklang pesat.

Setelah kedua penunggang kuda itu lenyap, Kat Thian-beng berkata kepada Lo Kun: “Thian-la m-song-gan juga ter masuk tokoh ternama. Mengapa bicaranya tak sesuai dengan pribadi?”

Tiba-tiba Lo Kun teringat bahwa se mua ro mbongan Thian Hong terkena telapak jari beracun dari nona baju merah. Hanya Siu-la m yang tidak. Segera ia me mbantah: “Menilik kedudukan Thian-la m-song-gan yang begitu menonjo l di wilayah Ciat-kang, mungkin dia tidak bohong. Dalam hal ini…” tiba-tiba ia menyadari bahwa Siu-la m dan Hian-song berada di samping. Buru-buru ia hentikan kata-katanya.

Siu-la m dan Hian-song mendengar semua pe mbicaraan itu. Untuk menumpahkan ke marahannya, mereka menga mbil cara sendiri. Siu-la m menengadah me mandang cakrawala, Hian- song tertawa ringan. Sayang ia gagal menyembunyikan seri wajahnya dari hawa ke mur kaan dan pe mbunuhan….

Kat Thian-beng kerutkan dahi: “Aku sungguh tak mengerti akan ucapan Lo-heng. Apakah Lo-heng juga menaruh curiga kalau kedua anak muda itu anak buah Beng-gak…” ia berhenti sejenak, lalu katanya pula: “taruh kata benar orang Beng-gak, tapi dia telah melepas budi besar kepada mu. Masa kau tak sungkan kepadanya.”

Nada Kat Thian-beng sengaja dikeraskan sehingga se mua orang dapat mendengar jelas. Kata Kat Hong kepada saudaranya: “Mengapa kali ini dia begitu mati- matian me lindungi budak itu, sekalipun pe muda itu telah melepas budi besar, tetapi tak nanti ayah sampai bersikap begitu. Rasanya tentu ada sebab lain!”

“Bukankah tadi ayah mengatakan kalau pemuda itu dapat mengundurkan ayah dengan sekali pukul?” sahut Kat Wi. “Ah, tetapi aku tak percaya….”

“Ayah seorang ksatria, tak nanti dia bohong!” balas Kat Hong. “Hanya saja yang kuragukan, mungkin serangan itu hanya secara kebetulan saja mengenai ayah. Mungkin karena ayah tak menduga atau mungkin karena sungkan terhadap orang penolong. Dan mungkin pula hanya kesimpulan ayah sendiri. Karena dapat mengobati ro mbongan  kita, ayah menduga anak itu tentu me miliki kepandaian sakti juga!”

Kat  Wi   merenung,  katanya   sesaat   kemudian:   “Aku me mpunyai akal untuk menjajal kepandaian pe muda itu agar ayah dapat menyaksikan sendiri! ”

Atas pertanyaan Kat Hong, Kat Wi menjelaskan: “Secara  tak sengaja kita tabrak saja budak itu. Biar dia terhuyung- huyung mundur atau kalau perlu kita tutuk jalan darahnya secepat kilat…”

Kat Hong anggap walaupun kurang se mpurna, tetapi rasanya tiada lain cara yang lebih baik dari itu. Ia menyetujui.

Siu-la m sengaja agak menjauh dari ro mbongan. Ketika Kat Wi dengan pemuda itu sekonyong-konyong ia percepat langkah dan  terhuyung-huyung  me mbentur  punggung  Siu- la m!

Siu-la m terkejut tetapi ia tak menduga je lek kalau Kat Wi sengaja hendak menabraknya. Cepat ia lo mpat ke  muka seraya ulurkan tangan hendak menahan supaya Kat Wi jangan jatuh. Kat Wi tertawa dingin. Tiba-tiba ia balikkan  tangan kanan dan mencengkera m siku Siu- la m. Sama sekali Siu- lam tak mengira bahwa pe muda itu berani terang-terangan hendak mengujinya. Seketika marahlah ia. Menarik pulang tangannya, ia berang dengan menamparkan tangan kiri dalam jurus Hong-lui-peng-hwat atau Angin dan halilintar sere mpak me nyambar.

Dari kakek Hian-song, Siu- lam mener ima ber maca m- maca m ilmu pukulan yang aneh-aneh dan jarang terdapat di dunia persilatan. Maka mimpi pun t idak Kat Wi kalau ia bakal menerima serangan yang tak diduga-duganya. Terpaksa ia loncat ke sa mping mas uk ke sawah gandum.

Melihat adiknya terpontang-panting, Kat Hong loncat mencengkeram Siu-la m. Siu-la m agak miringkan tubuh. Setelah menghindari cengkera mannya, dengan gerakan Hud- liu-te-hoa yang indah, kelima jari tangannya mencekal pergelangan tangan Kat Hong terus didorong mundur seraya berseru perlahan: “Mengapa kalian mendenda m padaku?”

Tubuh Kat Hong yang dicengkera m, diputar lalu didorong ke belakang itu, mir ip dengan sebuah gangsingan. Pe muda  itu terhuyung-huyung sa mpai beberapa langkah jauhnya.

Bukan saja kedua saudara Kat itu terlongong-longo ng, bahkan si Golok Sakti Lo Kun ikut tercengang menyaksikan kesaktian Siu- la m. Bukankah pada waktu di gunung Kiu- kiong-san, pe muda itu mas ih trondol? Mengapa dalam waktu satu dua bulan saja dia mendadak berubah sede mikian lihaynya?

Juga Kat Thian-beng tak luput dari rasa heran. Kat Thian- beng luas pengetahuan kaya pengalaman. Sekali lihat ia tahu bahwa kedua jurus yang dima inkan Siu-la m itu yang satu mirip dengan ilmu pukulan kaum Siau- lim-s i, tetapi juga yang satunya mirip dengan ilmu tutukan Nok-hiat-hud- meh dari kaum Bu-tong-pay. Heran jago tua itu dibuatnya. Mengapa seorang anak muda yang masih begitu muda, dapat me miliki bermaca m- maca m ilmu kepandaian beberapa cabang persilatan. “Nah, berilah pelajaran pada kedua anak yang berandalan itu. Jika tak diberi hajaran, mereka me mang tak kapok!” lain apa yang di batin dalam hati, lain pula apa yang dikatakan Kat Thian-beng di mulut.

Sebenarnya baru saat itu Siu-lam tahu betapa sakti ilmu yang diajarkan kakek dari Hian-song. Hanya dua jurus saja, ia sudah ma mpu me nindas serangan Kat Hong dan Kat Wi. Pada saat ia hendak lancarkan serangan ketiga, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kata-kata merendah oleh Kat Thian-beng. Ia sungkan dan cepat-cepat naik ke belakang.

Kat Thian-beng me mbentak kedua puteranya: “Apa kalian tak mau lekas- lekas minta maaf kepada Pui tayhiap dan hendak me mbikin ma lu aku?”

Kat Hong dan Kat Wi tak berani me mbantah perintah ayahnya. Mereka segera menghampiri Siu- lam dan minta maaf.

“Ah, janganlah saudara terlalu merendah. Anggaplah kita sebagai saudara saja,” kata Siu-la m.

Melihat Siu-la m t idak bersikap congkak, puaslah hati kedua saudara itu. Karena masih muda mereka  masih  a mbisius sekali. Segala apa ingin menang sendiri. Syukur  mereka berhati jujur. Setelah sadar bahwa Siu-la m me mang lebih sakti, dia m-dia m mulailah mereka menaruh perindahan.

Di ja lan penuh dengan orang-orang gagah yang hendak menuju ke Thay-san. Walaupun peristiwa antara Siu-la m dengan kedua saudara Kat tadi berlangsung dalam beberapa kejab, tetapi cukuplah menarik perhatian orang. Mereka terkejut dan kagum pada Siu-la m.

Tiba-tiba terdengar derap kuda menco ngklang. Tiga ekor kuda tegar lari me ndatangi dengan cepat. Siu- lam terkejut. Yang datang itu ternyata kedua Thian- la m-song-gan dan seorang tua berjenggot putih, yang orang tua yang berada di pondok Su Bo-tun beberapa hari yang la lu. Dia m-dia m Siu- lam menge luh bahwa menilik gelagatnya, situasi mungkin akan me mburuk.

Melihat kedua Thian- la m-song-gan ke mba li lagi  dengan me mbawa seorang kawan, Kat Thian-beng mendengus dan berkata seorang diri: “Hm, tak kira Thian- la m-song-gan benar- benar me mbawa kawan hendak cari perkara!”

Walaupun berkata seorang diri tetapi jelas ucapannya itu didengarnya juga kepada paderi Thian Hong dan Lo Kun.

Cepat sekali ketiga penunggang kuda itu tiba. Begitu menghentikan kudanya si orang  tua  jenggot  putih  segera me mber i hor mat dan berseru dengan tertawa: “Ah, sudah berpuluh tahun tak berjumpa ternyata Kat-heng masih gagah sekali. Apakah mas ih ingat padaku?”

Setelah me mperhatikan seksa ma, barulah Kat Thian-beng mengetahui bahwa orang tua jenggot putih itu ternyata Tui- hong-tui atau Si Alap-alap pe mburu angin Ngo Cong-gi yang termasyhur di wilayah Kang-la m dan Kang-pak. Heran Kat Thian-beng makin menjadi-jadi, pikirnya: “Eh, mengapa Tui- hong-tui Ngo Cong-gi yang termasyhur, galang-gulung dengan Thian-la m-so ng-gan?”

“Ah, bagaimana kabarmu sela ma ini Ngo-heng?” cepat- cepat Kat Thian-beng menjawab dengan hormat. Sebagai seorang yang berpengalaman, ia tak mau me mandang rendah pada orang lain.

Ngo Cong-gi tersenyum dan me lir ik ke arah Siu- la m, serunya: “Apakah dia sudah lama berkenalan dengan Kat- heng?”

Pertanyaan yang langsung  tanpa  tedeng  aling-aling  itu me mbuat Kat Thian-beng tak senang. Dengusnya: “Apakah Ngo-heng me mpunyai dendam dengan Pui- heng ini?”

Ucapan yang bernada melindungi Siu-la m itu me mbuat Ngo Cong-gi kerutkan dahi. Sesaat kemudian barulah ia tertawa: “Aku baru sekali berte mu dengannya. Mana mempunyai dendam?”

“Bagus,” sahut Kat Thian-beng, “Pui-heng ini telah melepas budi besar kepada kami ayah dan anak. Andaikata Ngo-heng me mpunyai dendam kepadanya, haraplah suka me mandang mukaku dan jangan berlarut-larut!” Dengan kata-kata itu Kat Thian-beng hendak me ndekking (menjaga) dulu agar Ngo Cong-gi jangan me lanjutkan ma ksudnya.

Sejenak merenung segera Tui Hong-tiu  menyahut: “Baiklah, dengan me mandang Kat-heng, salah paham dengan Pui-heng itu takkan kulanjutkan lebih jauh!” Habis berkata ia keprak kudanya.

Dia m-dia m Siu- lam me mperhatikan kerut wajah orang tua berjenggot perak itu. Walaupun mulutnya berjanji kepada Kat Thian-beng, tetapi jelas sikapnya masih mengunjuk rasa tak puas. Ia duga orang tentu masih akan berusaha  untuk mencari perkara.

Tetapi ternyata dugaannya meleset. Selama dalam perjalanan, rombongan Kat Thian-beng tak menjumpai kesulitan apa-apa.

Pada tengah hari itu mereka tiba di kaki gunung Thay-san. Tokoh-tokoh persilatan yang menerima undangan tak henti- hentinya berdatangan. Pada umumnya mereka adalah tokoh- tokoh yang tergolong ko-chiu (jago kelas satu) di daerah masing- masing. Di antaranya tidak sedikit tokoh-tokoh yang sudah la ma me menda m diri, kini muncul lagi.

“Rapat besar kali ini walaupun belum tentu dapat dikatakan dikunjungi oleh seluruh tokoh persilatan di segenap tanah air, tetapi mungkin merupakan rapat yang terbesar selama seratus tahun terakhir ini. Aha, betapa senang hatiku dalam sisa hidupku ini masih dapat menikmati rapat besar kaum ksatria yang sedemikian megahnya, matipun aku sudah puas!”  kata Lo Kun dengan bersemangat. Kat Thian-beng pun merasa bahwa  rapat  besar  kali  itu  me mang di luar dugaan. Betapapun luas pengaruh dan kewibawaan gereja Siau-lim-si na mun sukarlah dipercaya kalau ma mpu menggerakkan sekian banyak kaum persilatan. Dia m-dia m Kat Thian-beng heran. Namun ia tak mau menyatakan perasaannya. Ia menyatakan bahwa sebelumnya me mang ia sudah beberapa kali pesiar ke Thay-san, maka ia menyatakan kesediaannya untuk menjadi pelopor jalan.

Gunung Thay-san yang digelari sebagai Tang-gak atau gunung timur itu, me miliki akar yang panjang sekali. Pegunungan itu mulai dari daerah Selam di teluk Liau-jiu-wan propinsi Shoatang, hingga sampai ke pesisir wetan dari kanal atau susukan Yun-ho. Puncaknya berderet-deret. Yang paling tinggi ia lah puncak Tiang-jin-hong. Puncak ini me miliki alam yang indah per mai.

Demi untuk me nyelamatkan dunia persilatan dari anca man gerombo lan Beng-gak, maka ketua Siau-lim-si menyelenggarakan rapat besar kaum persilatan di gunung itu. Undangan disebar ke seluruh pelosok tanah air.

Me mang partai Siau-lim-si dipandang sebagai pemimpin dari dunia persilatan. Sumber ilmu silat gereja Siau-lim-si dianggap sebagai barometer atau ukuran dari perkembangan ilmu silat di Tiongkok. Konon kabarnya Siau-lim-si me mpunyai tujuh puluh dua ma cam ilmu silat yang sakti.

Cerita itu turun temurun berkesan dalam dunia persilatan. Apalagi Siau-lim-si me mpunyai peraturan yang keras. Murid- mur id yang belum tamat pelajarannya tak boleh keluar ke dunia persilatan. Dan dilarang pula apabila tak terpaksa betul- betul, murid- murid Siau- lim-si itu menca mpur i urusan lain partay. Sikap dan tindakan Siau-lim-s i itu mendapat penghargaan dari golongan putih maupun golongan hita m. Kedua golongan kaum persilatan itu kebanyakan tak mau mengganggu anak murid Siau-lim-si. Demikian sekelumit sejarah dan kedudukan gereja Siau-lim- si dalam dunia persilatan. Maka tidaklah mengherankan  apabila rapat besar yang disponsori oleh Siau-lim-s i itu mendapat perhatian yang sangat besar.

Kat Thian-beng me mimpin ro mbongannya menuju ke puncak Beng-gwat-ciang. Setelah melintasi beberapa puncak, tibalah mereka di sebuah puncak yang tinggi dengan karang- karangnya yang melandai cura m! Setelah dapat menda ki puncak  itu  dan  me lanjutkan  perjalanan   kira-kira   sejam  la manya, tiba-tiba Kat Thian-beng berhenti. Ia menunjuk ke arah sebuah puncak, ujarnya: “Itulah puncak Beng-gwat- ciang. Puncaknya dikelilingi hutan pohon siong. Pemandangannya indah sekali. Di situlah aku dahulu bersama seorang sahabat menikmati re mbulan sa mbil omong-o mong tentang keadaan dunia persilatan. Ah, aku kembali lagi ke sini tetapi sahabatku itu sudah tiada di dunia lagi. Ah, hidup itu benar-benar seperti impian….”

Lo Kun mengurut-urut jenggot sa mbil tertawa: “Ah, kalau Kat-heng teringat pada sahabat lama, akupun teringat juga pada peristiwa yang lampau…” ia menengadah me mandang langit. Tiba-tiba ia bersuit nyaring untuk  melepaskan kesesakan dadanya.

“Dahulupun pernah timbul gerakan kaum persilatan untuk me mbas mi Giok-kut-yau-ki Ih Ing-hoa. Lebih dari  empat puluh lima ko-chiu persilatan berkumpul  merundingkan pembas mian itu. Kala itu aku masih berumur dua puluhan. Semangatku masih me nyala, keberanianku menonjol. Rapat kaum persilatan saat itu, dianggap orang sebagai satu peristiwa yang jarang terjadi di dunia persilatan. Dan kini, berselang puluhan tahun ke mudian, ke mba li kaum persilatan dari segenap penjuru tanah air, berkumpul di Thay-san. Bukan saja yang me mimpin rapat ketua gereja Siau-lim-s i Pek It Taysu, pun yang hadir tak terhitung jumlahnya. Betapa bahagiaku dapat menghadiri rapat kali ini!” katanya lebih  lanjut la lu tertawa puas.

“Giok-kut-yau-ki Ih Ing-hoa yang lo-cianpwe katakan tadi, apakah sekarang masih hidup?” tanya Siu-la m.

“Kejadian itu pada e mpat puluh tahun berselang. Kemungkinan wanita itu sudah meninggal… ” tiba-tiba ia berhenti. Sekilas ia teringat bahwa umur Siu-la m baru dua puluhan tahun. Serentak ia berpaling dan bertanya: “Munculnya Giok-kut-yau-ki Ih Ing-hoa terjadi pada dua puluh tahun berselang. Kini sudah jarang orang menceritakan peristiwa itu. Dari mana kau mengetahui cerita itu?”

Sebenarnya Siu-lam hendak menuturkan peristiwa yang dijumpainya dalam goha te mpat tinggal Giok- kut-yau-ki. Tetapi ketika menyadari bahwa dirinya sendiri mas ih dalam sorotan orang, ia kuatir ceritanya itu toh takkan dipercaya. Maka buru-bur u ia gelengkan kepala. “Pernah kudengar itu dari seorang lo-cianpwe. Maka aku tertarik sekali ketika kau juga menceritakan tentang diri wanita itu.”

Lo Kun tertawa: “O, wanita itu memang  sukar dinilai.  Dia me mang pernah mengacau balaukan dunia persilatan, tetapi diapun juga telah me mbuat sesuatu yang berguna bagi kaum persilatan. Jadi sukar untuk me mberi penilaian pada dirinya.”

Dalam pada bercakap-cakap itu, mereka tiba di kaki puncak Beng-gwat-ciang. Ketika hendak me ndekati, tiba-tiba  dari balik sebuah batu karang besar terdengar suara orang menyebut Omitohud. Dan serentak dengan itu muncullah dua paderi tinggi besar menghadang jalan.

Sambil lintangkan tongkat besinya, paderi yang berdiri di sebelah kiri berseru: “Apakah sicu sekalian ini hendak menghadiri rapat besar?”

Kat Thian-beng mengiakan. “Jalan di sebelah depan telah disiapkan ro mbongan penyambut  para  tetamu.  Mengapa  sicu  sekalian   tak menga mbil jalan depan tetapi naik dari belakang gunung?” tegur paderi yang berdiri di sebelah kanan.

“Aku paham akan jalanan di sini maka sengaja menga mbil jalan yang pendek,” sahut Kat Thian-beng.

Mata kedua paderi itu me ngawasi tajam kepada ro mbongan Kat Thian-beng. Katanya dengan wajah  menghor mat: “Sebagai tetamu yang menerima undangan, sicu sekalian  tentu sudah mengetahui tujuan rapat besar itu? Jalanan sebelah muka yang menuju ke tempat rapat telah disiapkan penyambutan selayaknya. Bagi mereka yang hendak menerobos secara menggelap, diminta supaya ke mba li saja….”

“Ho, kalau begitu rapat besar orang gagah ini tidak diperuntukkan se mbarangan orang?” seru Lo Kun.

“Ketua gereja kami selalu mengindahkan setiap kaum persilatan,” kata paderi yang di sebelah kiri. “tak ada yang dibedakan. Hanya rapat besar kali ini me mang mendapat penelitian yang keras dari ketua kami. Yang diundang sebenarnya mereka yang dipandang me miliki syarat-syarat yang layak. Tetapi karena kabar telah tersiar luas, yang tak menerima undangan pun berbondong-bondong datang. Terpaksa ketua kami me mpersiapkan pos-pos penyambutan tetamu. Barangsiapa yang tak menerima surat undangan, diminta dengan hor mat supaya turun kembali saja. Jika sicu sekalian me mang menerima surat undangan, harap suka menunjukkan. Ka mi pasti tak berani me mpersulit kedatangan sicu!”

Dalam ro mbongan me mang hanya Kat Thian-beng yang menerima surat undangan. Yang lain- lain tidak me nerima. Dengan tenang Kat Thian-beng me nga mbil surat undangan dari dalam bajunya: “Ketua gereja Siau-lim-si kenal baik padaku. Sungguh suatu kehor matan bagiku mener ima surat undangannya ini….”

Setelah me meriksa surat undangan itu benar-benar tulisan ketua paderi Siau- lim-s i, kedua paderi itu segera bersikap menghor mat dan me mpersilahkan Kat Thian-beng naik ke atas.

Kata Kat Thian-beng: “Sebenarnya aku merasa rendah diri menerima surat undangan itu karena kepandaianku terbatas. Agar    jangan    mengecewakan     ketua mu,     maka     aku me mberanikan diri mengaja k empat orang  sahabatku  dan me mbawa  juga  kedua  puteranya.   Jika  kalian  tak  dapat me mber i putusan, harap suka melapor pada ketuamu. Aku bersedia menunggu di sini!”

Kedua paderi itu saling tukar pandangan mata. Kemudian paderi yang sebelah kanan berkata: “Rapat besar ini bertujuan untuk merundingkan rencana me mbas mi serbuan gero mbolan yang sakti. Kepala gerombolan  pernah muncul di dunia persilatan beberapa puluh tahun yang la lu. Baru muncul berapa tahun saja, gerombolan itu sudah menggegerkan dunia persilatan,” ia berhenti sejenak la lu me lanjutkan lagi, “Karena peristiwa itu menganca m ke musnahan dunia persilatan maka ketua ka mi mengeluar kan pengumuma n, melarang paderi Siau-lim-si keluar ke dunia persilatan. Dan untuk menjaga segala ke mungkinan, ketua kami mengajak murid- murid Siau- lim-s i angkatan ketiga, ikut datang ke mari. Turut yang aku ketahui, baru pertama kali inilah sejak seratus tahun terakhir, gereja kami me ngadakan larangan seperti ini….”

“Ah,  Pek  It  taysu  benar-benar  seorang   paderi   yang me mikirkan kesela matan kaum persilatan. Sudah tentu para ksatria sangat menjunjung tinggi kepada beliau….”

Paderi yang di sebelah kiri tersenyum me lanjutkan kata- katanya: “Namun karena kuatir para ko-chiu (jago-jago kelas tinggi) Siau- lim-si angkatan ketiga itu masih belum dapat mengimbangi kekuatan musuh, maka ketua ka mi telah mengundang para kochiu dari berbagai partay untuk berkumpul di puncak Beng-gwat-jiang ini guna merundingkan rencana menghadapi gero mbolan Beng-ga k. Oleh karena bukan rapat biasa, maka hanya mereka yang dipandang layak, baru diundang. Sedang mereka yang tak terna ma, tak diundang karena sayang jika sa mpai mengorbankan jiwa secara sia-sia.”

Sehabis berkata paderi itu bergiliran me mandang Siu- la m, Kat Hong dan Kat Wi, ujarnya: “Untuk menjaga hal itu, maka ketua telah member i perintah keras kepada kami, agar kepada mereka yang tak menerima  undangan supaya  dipersilahkan ke mbali saja. Hal ini bukan bermaksud apa-apa, melainkan karena ketua kami menyayangkan pengorbanan yang sia-sia. Maka kunjungan Kat tayhiap kami sa mbut dengan rasa syukur. Kemudian Kat kongcu dan sicu lain- lainnya, dengan hormat kami persilahkan kembali saja….”

Kat Thian-beng berpaling ke arah kedua puteranya dan Siu- la m. Diam-dia m ia me mbenarkan ucapan kedua paderi itu. Sejenak merenung, berkatalah ia kepada kedua puteranya: “Sewaktu hendak  ke  Tang- gak  sini  aku  belum  se mpat  me mber itahukan ibumu. Sekarang salah satu dari kalian berdua yang boleh ikut aku, yang satunya segeralah pulang kasih tahu pada ibumu.”

Di hadapan sekian banyak orang, ia sungkan me mberi dampratan. Maka dengan alasan ibu, ia tahu kedua puteranya itu tentu menurut. Tetapi di luar dugaan,  kedua  anak muda itu tak menyahut apa-apa melainkan saling berpandangan.

Tiba –tiba Siu- lam me langkah ma ju ke hadapan kedua paderi, ujarnya: “Tindakan ketua kalian untuk me mbas mi gerombo lan yang menganca m dunia persilatan, me mang suatu perbuatan yang mulia dan pantas dihargai. Tetapi dengan cara yang hanya menerima undangan yang diperbolehkan ikut ke rapat itu, mungkin tidak tepat karena sikap itu dapat ditafsirkan seperti ber maksud me mandang remeh pada kaum persilatan lainnya. Apakah yang  ketua kalian tak kenal lalu tak diundang?”

Siu-la m me ma ng sengaja hendak me mancing ke marahan kedua paderi itu. Ia benci terhadap sikap kedua paderi itu  yang mulutnya saja mengucap kata-kata merendah dan hormat tetapi sikapnya seperti algojo bengis.

Pancingannya berhasil. Kedua paderi itu tampak tak  senang. Paderi yang di sebelah kiri segera berseru: “Entah bagaimana  yang  sicu  ma ksudkan  tetapi  ka mi   hanyalah me laksanakan perintah ketua kami untuk mencegah orang- orang yang tak membawa undangan.  Jika  sicu  yakin  akan ma mpu naik ke atas, dapatlah kami tunjukkan jalannya. Jalan di gunung bagian muka, didirikan lima buah pos penjagaan. Jika sicu ma mpu menerobosnya, ketua kami tentu tak punya alasan lagi untuk meno lak kedatangan sicu. Sicu  pasti  diterima dan diperlakukan sebagai mereka yang menerima undangan!”

Mendengar itu, Siu-lam berpaling me mandang Kat Thian- beng. Diam-dia m pemuda itu menimang: “Untuk menga mbil jalan ke muka gunung, tentu jauh dan  makan  waktu. Ternyata selain di depan, pun di bagian belakang  gunung telah dijaga ketat oleh paderi Siau-lim-s i, jika paderi itu tadi mengatakan bahwa pos-pos penjagaan di bagian muka dapat dilalui oleh mereka benar-benar me mpunyai kepandaian sakti tentu tak ada bedanya dengan pos penjagaan di belakang gunung. Jelas paderi itu hendak me mberi  isyarat  halus, bahwa  penjagaan  di  sinipun  boleh  diterobos  juga   asal  ma mpu! ”

“Jalanan gunung bagian depan, sangat jauh.  Boleh  aku  me lalui penjagaan di sini dengan syarat seperti yang taysu katakan tadi?”

Kedua paderi itu menyurut mundur dua langkah. Wajah mereka mengerut gelap, sahutnya: “Terus terang kami beritahukan kepada sicu. Kelima pos penjagaan di depan gunung itu, walaupun hanya diperuntukkan menyambut tetamu-tetamu yang me mbawa undangan, tetapi dapat juga dilalui dengan ilmu kesaktian yang unggul. Demikian dengan pos penjagaan di belakang gunung ini. Hanya ketahuilah sicu. Pos penjagaan di depan gunung. Mereka yang mema ksa hendak melalui penjagaan di depan gunung harus  dapat menga lahkan penjaga-penjaga di situ. Bila berhasil,  dapat naik terus. Bila gagal, hanya dipersilahkan pulang tanpa diganggu kesela matan jiwanya. Tetapi pos penjagaan di belakang gunung sini, lain halnya. Kalau gagal mela lui pos di sini, kesela matannya tak terjamin!”

Dengan kata-kata itu si paderi hendak me mperingatkan Siu-la m supaya jangan gegabah bertindak. Kalau gagal menerobos penjagaan di situ, jiwanya pun terancam kebinasaan!

Siu-la m sudah bulat tekadnya. Ia tetap hendak menuntut balas atas kematian  gurunya.  Walaupun  andaikata  ia  tak ma mpu me mbunuh musuh itu, asal musuh dapat dibunuh beramai-ra mai oleh sekalian orang gagah, iapun sudah puas.

“Terima kasih atas keterangan yang taysu berikan. Jika taysu berdua sudi mengijinkan aku naik, budi taysu tentu kuingat sela ma- la manya. Namun jika taysu tetap melarang, maaf, terpaksa akupun tetap hendak me lintasi….”

Belum selesai Siu- lam berkata, tiba-tiba kedua paderi itu loncat dan me lenyapkan diri di balik batu besar. Tetapi mereka berseru dari te mpat perse mbunyiannya: “Jika sicu hendak menggunakan kekerasan, baiklah sicu keluar dari bagian depan saja. Ketahuilah bahwa pedang dan tombak tak bermata, apakah sicu tak kecewa!”

Berkata Siu-la m kepada Kat Thian-beng: “Lo-cianpwe silahkan naik lebih dahulu. Wanpwe hendak mendobrak kawanan paderi yang mengha lang jalan ini. Apakah mereka benar-benar sekokoh dinding baja…” tiba-tiba ia merasa kelewat me mbanggakan diri maka buru-buru ia hentikan bicaranya.

Kat Thian-beng hanya tertawa: “Aku paling paham tempat di sini. Biar kute mani kalian bersa ma-sa ma naik ke atas.”

Kesempatan itupun tak disia-siakan Kat Hong dan Kat Wi. Mereka minta kepada ayahnya agar diperkenankan ikut menghadiri rapat. Alasan mereka rapat  besar kaum kesatria itu belum tentu dalam seratus tahun terjadi lagi. Mereka ingin sekali me na mbah pengala man.

Di hadapan orang banyak, tak enak rasanya Kat Thian- beng hendak mengutarakan kesulitan hatinya. Maka ditatapnya kedua puteranya itu dengan marah: “Rapat besar  ini adalah rapat dari para tokoh  terke muka.  Mengijinkan kalian hadir, itu tak layak. Dalam rapat orang tak boleh bertindak se maunya sendiri….”

Kat Hong dan Kat Wi berjanji akan me ntaati. Dalam pada itu Siu-la m pun me minta kepada Hian-song supaya jangan menimbulkan onar. Habis me mberi pesan, ia segera loncat menerjang ke muka.

Sejak pertempuran di le mbah Po-to-kang, kini ia menyadari bahwa kepandaiannya maju sekali. Apalagi Hian-song berada di sampingnya. Ia mempunyai keyakinan dapat menerobos penjagaan paderi Siau- lim-si.

Kat Thian-beng yang tahu kepandaian Siu- la m, juga percaya kalau anak muda itu tentu berhasil.  Maka  iapun segera me mbis iki kedua puteranya dengan nada setengah menda mprat: “Tuh lihat, umurnya sebaya dengan kalian tetapi kepandaiannya entah berapa kali lipat ganda dari kalian…” tiba-tiba ia teringat bahwa ia sendiri pun tak dapat bertahan menerima pukulan Siu- la m. Dengan me ma ki puteranya berarti mena mpar muka sendiri.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Wanita iblis Jilid 09"

Post a Comment

close