Tat Mo Cauwsu Jilid 18 (Tamat)

Mode Malam
Jilid XVIII

MAKA ia telah berkelit dengan gerakan seperti orang yang sempoyongan mabok arak, tubuhnya bergoyang kekiri dan kekanan tidak hentinya, dan diwaktu itu ia juga telah beberapa kali mempergunakan serulingnya untuk menangkis. Cepat sekali serulingnya itu telah menghantam berulang kali, membuat pedang Thio Su Ing seperti tergetar dan sering hampir terlepas dari cekalannya.

Begitulah, kedua orang ini terus juga bertempur dengan saling mengeluarkan tenaga dan kepandaian mereka, terutama sekali Thio Su Ing yang telah mempergunakan ilmu pedangnya, dimana ia mempergunakan Kiam-hoat, ilmu pedang yang paling istimewa yang dimilikinya.

Sinar pedang itu ber-gulung2 menyambar kepada Yin Sui Hong. Walaupun memang tampaknya ia tidak bisa merubuhkan Yin Sui Hong, kenyataannya memang terlihat jelas betapa ia berlaku nekad, sehingga dengan kenekadannya itu, ia memaksa Yin Sui Hong harus berlaku hati2, karena Yin Sui Hong tidak mau terbinasa atau bercelaka bersama dengan lawannya. Sam Liu Taisu yang melihat jalannya pertempuran tersebut, menghela napas. Ia akhirnya merangkapkan kedua tangannya sambil memuji kebesaran sang Buddha : "Omitohud! Omitohud! Hentikanlah. hentikanlah!"

Tetapi Thio Su Ing yang tengah memutar pedangnya tersebut sama sekali tidak memperdulikan teriakan Sam Liu Taisu, ia terus dengan gencar meluncurkan tikaman dan tabasan pedangnya itu pada lawannya.

Yin Sui Hong ketika mendengar teriakan Sam Liu Taisu, cepat-cepat berkata : "Baik Taisu......!" lalu ia menggerakkan serulingnya dengan cepat, seperti kitiran, dimana berulang kali serulingnya menyampok pedang Thio Su Ing, sehingga terdengar suara berkerontangan nyaring.

Kali ini Yin Sui Hong telah menggerakkan tujuh bagian tenaga lwekangnya yang disalurkan pada serulingnya itu, sehingga serulingnya tersebut kuat sekali, walaupun membentur pedang Thio Su Ing, tokh yang tergetar adalah pedang lawannya, dan memaksa Thio Su Ing melompat mundur untuk membenarkan cekalan pedangnya.

Mempergunakan kesempatan tersebut tampak Yin Sui Hong telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat kebelakang, dengan cepat ia menghampiri Sam Liu Taisu, lalu katanya : "Taisu.... rupanya wanita itu memang harus disingkirkan. !"

Tetapi Sam Liu Taisu telah menggelengkan kepalanya beberapa kali, sambil katanya : "Omitohud.... sabar... sabar. !"

dan kemudian menoleh kepada Thio Su Ing, sambil katanya : "Nyonya. dapatkah nyonya menahan diri sebentar ?"

Muka Kie-san Nio-cu Thio Su Ing telah berobah merah padam, bentaknya : "Keledai gundul, apakah engkau hendak mencampuri urusan kami ?" Sam Liu Taisu tidak marah oleh bentakan Thio Su Ing, dengan senyum penuh welas asih, ia berkata : "Jika memang nyonya meneruskan pertempuran nyonya dengan Siecu itu, tentu yang rugi adalah nyonya sendiri......tadi telah Lolap melihat bahwa kepandaian nyonya masih berada dibawah beberapa tingkat dari kepandaian Siecu itu. !"

Muka Kiesan Niocu jadi berobah merah padam karena gusar, ia mengibaskan pedangnya :"Jika memang engkau ingin merasakan tajamnya pedang Kie Niocu, maka terimalah serangan ini......!" membarengi dengan perkataannya itu tampak Kie san Niocu telah menggerakkan pedangnya, ia menikam dengan cepat sekali ke dada Sam Liu Taisu. Gerakan yang dilakukannya merupakan tikaman yang bisa mematikan.

Tetapi Sam Liu Taisu tetap berdiri tenang ditempatnya, ia merangkapkan kedua tangannya, dan waktu itulah pedang Thio Su Ing telah menikam lengan jubah pendeta tersebut. Tetapi aneh sekali, lengan jubah yang terbuat dari kain itu seperti  telah berobah menjadi lempengan besi, karena waktu mata pedang menikam mengenai tepat, terdengar suara "trang. !"

dan sama sekali mata pedang itu tidak bisa menembusi lengan jubah tersebut.

Ternyata Sam Liu Taisu telah mengerahkan lwekangnya pada lengan jubahnya, sehingga lengan jubahnya itu telah diselubungi oleh kekuatan tenaga dalamnya yang membuat lengan jubah itu berobah seperti juga lempengan besi, yang tidak tertembuskan oleh senjata tajam.

Jika saja Thio Su Ing memiliki lwekang yang lebih tinggi dari pendeta tersebut, mungkin ia bisa memecahkan lwekang yang menyelubungi lengan jubah tersebut dan melobanginya, tetapi kenyataannya, lwekang dari Sam Liu Taisu lebih tinggi dari Kie-san Niocu tersebut. Dengan demikian, sama sekali ia tidak berdaya untuk menembusi lengan jubah itu mempergunakan mata pedangnya. Berulang kali ia menyerang, berulang kali pula mata pedangnya ditangkis oleh Sam Liu Taisu mempergunakan lengan jubahnya dan setelah pula tikaman dari Kie san Niocu telah gagal menembusinya, karena mata pedangnya itu seperti membentur lempengan besi yang keras sekali, malah membuat tangannya jadi tergetar dan pergelangan tangannya seperti menjadi lumpuh oleh berbaliknya tenaga tikaman itu, memaksa Kie san Niocu berulang kali harus melompat mundur dengan telapak tangan terasa pedih.

Disaat Kie san Niocu menikam lagi dengan tikaman yang jauh lebih kuat dan nekad, diwaktu itulah Sam Liu Taisu telah mementang sedikit kedua tangannya, kemudian waktu pedang nyonya itu menyambar dekat, ia merangkapkan kedua telapak tangannya, pedang lawannya telah dijepit oleh kedua telapak tangannya dan pedang itu tidak bisa meluncur lebih jauh, tertahan ditelapak tangan Sam Liu Taisu!

Itulah lwekang yang telah tinggi dan mahir sekali, karena Kie san Niocu walaupun telah menarik pulang pedangnya dengan seluruh kekuatan lwekang, tokh ia tidak berhasil. Begitu juga ketika ia mendorong untuk meneruskan tikamannya, pedangnya itu tidak bergeming sama sekali.

Sam Liu Taisu telah bersenyum dengan sabar, sambil katanya : "Nyonya, tenangkan hatimu, sabarlah. dengarlah

dulu kata-kata Lolap. !"

Tetapi Kie-san Nio-cu telah memperdengarkan suara bentakan bengis : "Lepaskan pedangku.... biarlah aku akan mengadu jiwa dengan engkau, keledai kepala gundul.....!" dan dengan sekuat tenaganya Thio Su Ing menarik pedangnya, namun tetap pedang itu tidak bergeming.

Sam Liu Taisu telah tertawa sabar, katanya : "Nyonya, tidak ada manfaatnya kau menuruti nafsu angkara murkamu itu !” Tetapi muka Kie-san Niocu merah padam, dia penasaran sekali, berulang kali ia telah menarik pulang pedangnya, tetap tidak bergeming dari jepitan telapak tangan pendeta tersebut.

Waktu Kie-san Niocu tengah menarik pula dengan kuat sekali, diwaktu itulah pendeta tersebut mendadak sekali mengendorkan jepitan telapak tangannya.

Karena begitu mendadak, dan juga di waktu itu ia tengah mempergunakan tenaga yang sangat kuat untuk menarik  pulang pedangnya, dengan sendirinya, telah membuat tubuh Thio Su Ing kehilangan keseimbangan tubuhnya, hampir saja ia jatuh terjengkang.

Untung saja Kie-san Niocu cepat memusatkan kekuatan lwekang pada kedua kakinya, dengan demikian tubuhnya seperti juga sebatang kayu yang akan kejengkang dan kemudian balik berdiri lagi.

Sam Liu Taisu telah berkata, "Maaf, maaf bukan maksud

Lolap hendak mempersakiti dirimu, nyonya. !"

Tetapi Kie-san Niocu telah mengeluarkan suara bentakan nyaring, dengan penasaran sekali ia melancarkan tikamantikaman lagi dengan pedangnya.

Rupanya Sam Liu Taisu sudah habis sabar melihat kepala batunya nyonya itu.

"Baiklah nyonya......engkau tidak bisa diajak bicara secara baik-baik ......!" kata Sam Liu Taisu, dan ketika pedang itu menyambar datang, diwaktu itulah Sam Liu Taisu telah menggerakkan tangan kanannya, dan mempergunakan jari telunjuknya, untuk menyentil.

"Tringgg........!" pedang lawannya telah kena disentilnya dengan keras sekali, dengan mempergunakan tenaga lwekang pada jari telunjuknya, dan hebat kesudahannya, karena pedang Kie san Niocu telah patah menjadi dua ! Muka Kie-san Niocu jadi berobah merah padam dan pucat pias bergantian. Ia kaget dan marah sekali, tetapi sekarang dia hanya mencekal pedang buntung belaka, membuat ia jadi tidak bisa menyerang kembali.

Sam Liu Taisu telah tersenyum, dengan suara yang sabar ia berkata, "Nyonya........percuma saja engkau mengumbar kemarahanmu, walaupun nyonya selalu menikam dan menyerangnya dengan jurus2 yang mematikan. Karena itu, nyonya juga harus mengerti, bahwa semua itu tidak akan membawa suatu keuntungan bagi nyonya sendiri. Jika memang nyonya berhasil membinasakan diri Siecu itu, berarti selembar jiwa akan melayang, berarti menambah dosa nyonya saja.  !

Untuk apa? Bukankah lebih baik jika kalian bersahabat dengan baik ?"

Muka Thio Su Ing berobah merah padam karena marah dan penasaran, dengan suara yang serak diliputi oleh kemarahan, ia telah berkata kepada Yin Sui Hong : "Bagus ! Rupanya engkau memang mengandalkan pendeta gundul ini untuk menghadapi aku ! Biarlah, kali ini kembali aku harus menyingkir darimu, tetapi dilain waktu, aku pasti akan mencarimu untuk memperhitungkan kembali urusan kita........!" dan setelah berkata begitu, Thio Sui Ing telah menjejakkan kakinya, tubuhnya dengan ringan telah melayang ke tengah udara dan berlari meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan Yin Sui Hong dan Sam Liu Taisu.

Sedangkan Yin Sui Hong menghela napas dalam dalam, tampaknya ia berduka.

"Ia masih juga tidak mau mengerti....!” gumamnya dengan suara yang mengandung kedukaan.

Sam Liu Taisu telah bersenyum sabar, tanyanya, "Bolehkah Lolap mengetahui pangkal urusan yang sebenarnya antara Siecu dengan nyonya itu ?" Yin Sui Hong tampak ragu2, tetapi setelah berdiam diri sejenak, ia mengangguk: ”Ya, Taisu memang patut mendengarkannya, nanti aku hendak meminta petunjuk dari Taisu. !"

Sam Liu Taisu telah mengawasi Yin Sui Hong, pendeta tersebut telah berkata dengan suara yang sabar: "Jika memang urusan itu adalah urusan pribadi, maka tidak perlu Siecu menceritakannya."

Yin Sui Hong telah menggeleng perlahan, kemudian menghela napas.

"Dalam hal ini, sesungguhnya aku merasa yang telah salah pilih teman hidup.... isteri itu yang bernama Thio Su Ing, adalah seorang pendekar wanita yang memiliki kepandaian tinggi. Diwaktu gadisnya, ia merupakan seorang gadis yang cantik rupawan, dan waktu aku berkenalan dengannya, ia merupakan seorang pendekar wanita yang sangat dihormati oleh jago-jago rimba persilatan. Perkenalan kami itu, diawali dengan pertempuran untuk mengadu ilmu yang dimenangkan olehku, dan sejak saat itu Thio Su Ing jatuh cinta padaku. Dan memang aku pun sangat mencintainya. Tetapi disamping diriku, rupanya banyak pemuda lainnya yang menaruh hati pada Thio Su Ing, dimana mereka jadi menaruh perasaan tidak senang terhadap hubungan kami dan berusaha untuk merintanginya. Namun kami bisa menghadapi mereka dengan baik, mengatasi persoalan itu tanpa perlu jatuh korban. "

bercerita sampai disitu, Yin Sui Hong telah menghela napas dalam dalam, ia memandang jauh sekali, seperti juga tengah mengenang peristiwa-masa silamnya.

Sam Liu Taisu hanya mengawasi saja.

"Dan," melanjutkan pula Yin Sui Hong kemudian, "Kamipun telah menikah, puluhan tahun kami menjadi suami istri,   kami   hanya   bisa   mencurahkan   seluruh   waktu   dan perhatian kami melatih ilmu silat kami yang memperoleh kemajuan pesat sekali. Tetapi sejauh itu, kami tidak dikaruniai keturunan. Ia yang telah mengecewakan kami. Hidup kami terasa kosong, sunyi dan tidak terdapat kegembiraan lain, selain hanya melatih ilmu silat memperdalamkan kepandaian kami belaka....Sampai akhirnya diantara kami berdua sering timbul pertengkaran2 yang memang sering diawali oleh masalah anak... Tetapi akhirnya pertengkaran2 itu menjalar kebidang lain, dimana setiap hari kami bertengkar dan akhirnya kami sering mempergunakan ilmu silat kami untuk bertempur. Tentu saja aku selalu mengalah, walaupun isteriku selalu melancarkan serangan dengan nekad setiap kali ia berada dalam kemarahan yang sangat....dan peristiwa seperti itu terjadi sampai puluhan, bahkan ratusan kali, akhirnya aku merasa bahwa di antara kami tidak terdapat kecocokan lagi...hidup dalam pertengkaran2 terus menerus merupakan siksaan yang tidak kecil, maka aku telah memutuskan untuk berpisah saja. Tetapi Thio Su Ing, isteriku itu, tetap dengan keadaannya, selalu hendak bertengkar denganku, tetapi juga tidak mau diceraikan........ maka dari itu, aku dalam keadaan yang sulit sekali. Jika memang setiap hari aku harus bertengkar dan bahkan bertanding ilmu silat, melayani perangai isteriku itu, apalah gunanya semua itu...... dan setelah dapat bertahan sepuluh tahun lagi, akhirnya aku memutuskan, untuk mengambil keputusan tegas, kutinggalkan isteriku itu. aku

berusaha bersembunyi di tempat sunyi dan isteriku tentu tidak akan mengetahui jejakku, karena aku bermaksud melewati hari-hari tuaku dengan tenang. Tetapi rupanya memang isteriku itu selalu dapat saja mengikuti jejakku, maka ia bagaikan bayanganku belaka, dimana aku berada, disitu pula ia ada. Maka setiap kami berjumpa, selalu pula kami bertempur, malah akhirnya kami seperti juga dua orang  yang  bermusuhan  hebat. !" Dan Yin Sui Hong menghela napas dalam-dalam lagi, wajahnya murung bukan main.

Sam Liu Taisu menghela napas juga, ia merasa kasihan terhadap nasib dari orang she Yin tersebut. Tetapi pendeta ini berdiam diri saja, ingin mendengarkan terus cerita dari orang she Yin tersebut.

"Dan seperti apa yang Taisu lihat, tadi kami telah bertemu lagi......dan bagaikan seorang musuh besar, isteriku telah menyerangku dengan jurus-jurus silat yang bisa mematikan. Dan memang begitulah aku selalu melayaninya, berusaha memberikan pengertian padanya...... kenyataannya ia selalu keras kepala, dari perasaan cintanya terhadapku, rupanya kini telah beralih menjadi suatu perasaan marah dan dendam, sakit hati, dan juga benci. sulit sekali aku memberikan pengertian

padanya, bahwa apa yang kulakukan dulu itu hanya untuk kepentingan kami berdua, agar kami bisa memperoleh ketenteraman dengan adanya perpisahan itu, tanpa perlu setiap hari dibuntuti oleh pertengkaran-pertengkaran yang tiada hentinya. !"

Selesai bercerita sampai disitu, Yin Sui Hong telah memandang kepada Sam Liu Taisu tanyanya : "Lalu menurut pandangan Taisu cara bagaimana sebaiknya yang kulakukan untuk menyadari isteriku itu, bahkan aku menghendaki agar kami tetap bersahabat baik walaupun kami telah berpisah, janganlah menjadi pasangan musuh yang bagaikan memiliki dendam yang tiada habisnya. !"

Sam Liu Taisu menghela napas dalam-dalam.

"Itu hanya disebabkan oleh tindakan Siecu yang melakukan segalanya menuruti isi hatimu sendiri......mengapa dulu Siecu meninggalkannya begitu saja? Bukankah ada baiknya jika Siecu berusaha untuk memberikan pengertian padanya. Masalah  anak,  jika  memang  kalian  tokh  tidak  mungkin lagi memperoleh keturunan, itu sudah nasib kalian.... dan kalian boleh saja memungut anak, dan mendidiknya dengan baik. Dengan demikian, kekosongan dalam hidup kalian berdua akan terisi dengan baik !"

Yin Sui Hong menundukkan kepalanya dalam-dalam, ia menghela napas lagi, wajahnya tetap murung.

"Dalam persoalan ini, seperti apa yang telah kukatakan tadi, bahwa memang aku mengakui kesalahan berada dalam tanganku. Dulu, karena aku tidak memikirkan akibatnya akan berakhir seperti sekarang ini, dimana kami menjadi dua orang yang seperti dilibat permusuhan yang tidak berkesudahan. !"

"Jika memang urusan telah terjadi demikian, mengapa Siecu tidak berusaha untuk memberikan pengertian kepada nyonya itu, agar ia mau mengerti akan kesulitanmu itu?" tanya Sam Liu Taisu.

Yin Sui Hong menghela napas dalam2.

"Seperti yang Taisu saksikan, betapa ia sulit sekali diberikan pengertian..dan setiap kali kami bertemu, tentu ia tidak pernah memberikan kesempatan kepadaku untuk memberikan penjelasan padanya, dan ia selalu melancarkan serangan2 yang mematikan!"

Sam Liu Taisu berdiam sejenak, seperti juga tengah berpikir, sampai akhirnya ia berkata, "Atau memang Siecu tidak pernah berpikir, bahwa kalian bisa rujuk kembali ?"

Yin Sui Hong menghela napas dalam.

"Memang sejak berpisah dengan isteriku aku tidak menikah lagi, dan begitu juga halnya dengan isteriku itu, ia tidak menikah lagi...... tetapi kukira, kami telah sama sama berusia lanjut, telah lebih dari dua puluh tahun kami berpisah, dan kukira.....untuk rujuk, itulah suatu hal yang benar-benar tidak dapat kami lakukan...... kami malu oleh diri kami sendiri......

dan itulah suatu hal yang kukira tidak mungkin, Taisu.  !"

Sam Liu Taisu telah tertawa sambil katanya, "Jika memang demikian, Lolap juga tidak bisa mengatakan apa apa. !"

Yin Sui Hong menghela napas, ia menengadah memandang langit, kemudian menggumam perlahan : "Ya, semuanya berlalu  begitu  cepat.......  kini  kami  sama  sama  telah tua.......

sedangkan  aku  hampir  tujuh  puluh  tahun......dan  dia.    dia

telah hampir enam puluh tahun ! Usia yang tidak muda lagi, dan sebentar lagi kami akan masuk kubur.....mengapa pula kami harus meneruskan ganjalan yang tidak ada artinya sama sekali ini ? Mengapa ? Bukankah terlebih baik kami mempergunakan sisa waktu kami untuk mengambil murid, mewariskan seluruh kepandaian kami kepada murid itu, agar ia menjadi manusia yang berguna untuk sesama manusia. ”

"Itulah pemikiran yang baik.....” kata Sam Liu Taisu. "Jika memang Siecu dan nyonya itu bisa memiliki pemikiran yang sama seperti itu, tentu urusan bisa diselesaikan dengan baik. Memang disebabkan usia kalian yang telah lanjut, telah sama2 tua, masalah rujuk sudah tidak berarti banyak, namun dapat hidup bersama dengan tenang dan akur, bukankah itu merupakan urusan yang menggembirakan, membahagiakan, dapat ber-sama2 mencurahkan seluruh sisa hidup kalian untuk melakukan suatu kebaikan dengan mengambil seorang murid dan menurunkan seluruh kepandaian kalian, Lolap kira tentunya murid itupun akan menjadi jago yang memiliki kepandaian tangguh. !"

Yin Sui Hong telah merangkapkan kedua tangannya, ia menjura memberi hormat, sambil katanya, "Baiklah. Taisu

telah cukup banyak memberikan wejangan kepadaku, dan mungkin kelak aku akan berusaha mencari isteriku itu, untuk berusaha memberikan pengertian padanya, syukur kalau ia bisa menerima kenyataan yang ada!" Dan setelah berkata begitu, Yin Sui Hong pamitan untuk berlalu kepada hweshio yang sabar dan memiliki kepandaian tinggi tersebut.

Sam Liu Taisu hanya mengawasi kepergian orang tua itu dengan tatapan mata memancarkan belas kasih, karena pendeta ini mengetahui, kedukaan yang tengah menggeluti hati Yin Sui Hong. "Inilah suatu segi dari sekelumit perjalanan hidup.......dan tidak bisa diingkari lagi, menanam sesuatu akan memetik buahnya, menanam semangka akan memperoleh buahnya,  menanam   kericuhan,   akan   memperoleh persoalan. !"

Setelah menggumam begitu, Sam Liu Taisu melangkah perlahan-lahan meninggalkan tempat itu juga.

Pendeta tersebut telah menuju kepuncak gunung, ia memang datang ke gunung Siong San hendak menikmati keindahan alam digunung itu.

Samar-samar ia mendengar gemercik air, pendeta tersebut segera menduga pada sebuah air terjun dipuncak gunung itu. Ia segera mempercepat langkahnya dan memang tidak jauh dari tempatnya berada, tampak sebuah air terjun, walaupun tidak begitu tinggi, tetapi menambah keindahan alam di sekitar tempat tersebut, yang tenang sekali, udara yang sejuk dan juga pohon-pohon bunga yang banyak bertumbuhan ditempat itu menyiarkan harum semerbak.........

Namun, sebagai seorang hweshio yang memiliki kepandaian tinggi, Sam Liu Taisu segera mendengar suara sesuatu yang agak aneh. Terdengarnya samar, tetapi ia bisa mengetahui itulah suara pecahnya dari batu-batu yang menjadi hancur karena hantaman sesuatu yang keras sekali. Setelah berdiri sejenak ditempatnya mendengarkan sesaat suara yang aneh  tersebut,  akhirnya  Sam  Liu  Taisu  mengetahui  bahwa suara pecahnya batu-batu itu berasal dari balik air terjun tersebut.

Segera Sam Liu Taisu menjejakkan kakinya, tubuhnya melompat gesit mendekati air terjun tersebut.

Air yang turun kebawah itu seperti juga sutera putih yang halus sekali, suara air terjun yang menimpa batu-batu dibawahnya juga terdengar semakin keras dan berisik waktu Sam Liu Taisu tiba didekatnya, namun suara pecahnya batubatupun dapat didengarnya lebih jelas.

Sam Liu Taisu mengawasi dengan sorot mata tajam menyelidik, mengawasi sekitar tempat itu. Dan akhirnya, ia melihat dibalik dari tirai air terjun tersebut tampak sesosok bayangan yang tengah menggerak-gerakkan kedua tangannya, menghantam batu batu yang besar dan menimbulkan suara yang keras dari pecahnya batu yang terpukul itu.

Sam Liu Taisu mendekati beberapa langkah, kemudian melompat menerjang tirai air terjun, ia tiba disebuah tempat yang cukup luas, merupakan tempat yang berbatu batu.

Orang yang berada dibalik tirai air terjun tersebut ternyata seorang pendeta asing, yang bertubuh tinggi dan berhidung mancung.

Sedangkan pendeta asing tersebut, ketika melihat kedatangan Sam Liu Taisu, telah menoleh dan bersenyum ramah, kemudian merangkapkan kedua tangannya memberi hormat: "Siapakah Taisu.......? Tentu ada keperluan yang hendak Taisu sampaikan kepada Siauwceng......?" katanya dengan suara yang sabar dan ramah.

Sam Liu Taisu tidak segera menyahuti, karena matanya terbeliak melihat pemandangan yang ada ditempat itu yaitu batu batu yang telah hancur sebagian menjadi bubuk dan sebagian lagi merupakan pecahan batu batu kerikil yang kecil kecil. Yang membuat Sam Liu Taisu terkejut, karena dengan adanya pemandangan seperti itu, ia bisa menarik kesimpulan bahwa pendeta asing yang berusia diantara tiga puluh tahun lebih itu, memiliki ilmu pukulan yang hebat sekali. Apa lagi tadi Sam Liu Taisu masih sempat melihat betapa pendeta asing tersebut hanya memukul dengan telapak tangan kosong belaka menghancurkan batu itu. Dengan demikian, tentunya pendeta asing itu bukan orang sembarangan.

Setelah tersadar dari tertegunnya, Sam Liu Taisu cepat2 merangkapkan kedua tangannya membalas hormat pendeta asing tersebut.

"Kebetulan sekali Lolap lewat ditempat ini dan tertarik oleh keindahan alam disekitar tempat ini," kata Sam Liu Taisu kemudian. "Dan tidak disangka2 akan bertemu dengan seorang sakti seperti Taisu...!"

Pendeta asing itu telah bersenyum dengan sikapnya yang rendah, kemudian katanya: "Sesungguhnya Siauw-ceng melewati waktu senggang ditempat ini! Seperti apa yang dikatakan oleh Taisu, bahwa tempat ini memang memiliki pemandangan yang indah... Sungguh menyenangkan untuk berdiam ditempat indah seperti ini. !"

"Siapakah Taisu??” tanya Sam Liu Taisu setelah mengawasi pendeta asing tersebut sejenak lamanya.

Pendeta asing itu telah merangkapkan kedua tangannya lagi, ia menyahuti sambil memberi hormat: "Siauw-ceng berasal dari Thian tiok (India), dan bernama Gunal Sing. tetapi sahabat sahabat didaratan Tionggoan ini memberikan gelaran kepada Siauwceng dengan sebutan Tat Mo Cauwsu !"

"Tat Mo Cauwsu ?" tanya Sam Liu Taisu dengan mata yang terbuka lebar. "Orang yang begitu terkenal sekali, yang akhir-akhir ini telah menggemparkan rimba persilatan dengan segala tindak tanduknya yang membela kebenaran....! Tidak Lolap sangka akan bertemu dengan orang liehay dan sakti itu ditempat ini, sunggah merupakan jodoh Lolap yang baik  sekali. !"

"Taisu terlalu memuji...!" Tat Mo Cauwsu cepat-cepat merendahkan diri.

Sam Liu Taisu telah memperlihatkan sikap yang bersungguh-sungguh, katanya: "Memang sebenarnya, Lolap telah banyak mendengar perihal sepak terjang Taisu. dan

terutama tahun-tahun terakhir ini, di mana banyak orang-orang gagah rimba persilatan yang merasa kagum dan hormat kepada Taisu.....! Memang telah lama juga Lolap mengandung niat hendak bertemu dengan Taisu, guna bertukar pikiran, namun selama itu belum juga memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Taisu. ”

Tat Mo Cauwsu kembali merendah, lalu katanya : "Sungguh menggembirakan ditempat ini Siauwceng bisa bertemu dengan orang yang sama-sama memeluk agama Buddha, dan tentunya kita bisa bercakap-cakap dengan menggembirakan. ”

Sam Liu Taisu mengangguk.

"Ya, seperti yang telah Lolap katakan bahwa Lolap hendak bertukar pikiran dengan Taisu. maka kesempatan yang kali ini

ada dimana Lolap bisa bertemu dengan Taisu merupakan hal yang menggembirakan sekali,  Lolap  bergelar  Sam  Liu Taisu. !''

Beginilah, kedua pendeta tersebut, yang seorang pendeta asing dari India sedangkan yang seorangnya lagi adalah pendeta dari daratan Tionggoan, telah bertemu dan gembira sekali saling tukar pikiran.

Pertama-tama yang mereka bicarakan adalah urusan agama, untuk   melihat   persamaan-persamaan   dan   kelainan2   yang terdapat pada pelajaran agama Buddha di India maupun agama Buddha didaratan Tionggoan.

Dan mereka bisa melihat betapa banyaknya persamaan pandangan2 mereka untuk agama mereka yang memang sama itu, hanya bedanya Tat Mo Cauwsu memiliki pengetahuan yang jauh lebih luas dan juga memiliki pandangan yang benar2 mendalam untuk agama tersebut. Dan Sam Liu Taisu sendiri menyadari, bahwa ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan pendeta India ini, karena bukankah agama Buddha bersumber dari negerinya Tat Mo Cauwsu itu ?

Akhirnya, Sam Liu Taisu lebih banyak bertanya kepada Tat Mo Cauwsu, dimana masih banyak pelajaran sang Buddha yang tidak dimengerti oleh Sam Liu Taisu. Tetapi setelah Tat Mo Cauwsu membentangkan dan memberikan tafsiran2nya yang mendalam, terbukalah pikiran dan pandangan Sam Liu Taisu. Betapa kagumnya Sam Liu Taisu terhadap pendeta dari India ini, yang walaupun usianya jauh lebih muda dari dia, namun memiliki pengetahuan yang begitu mendalam untuk agama mereka.

"Apakah Taisu juga mempelajari ilmu silat Tionggoan?" tanya Sam Liu Taisu kemudian, aambil melirik kepada hancuran batu-batu yang tadi telah dipukul hancur oleh Tat Mo Cauwsu.

Tat Mo Cauwsu bersenyum.

"Memang, selain Yoga dan ilmu berkelahi dari daratan India, Siauwceng juga telah mengubah ilmu silat yang disesuaikan dengan daratan Tionggoan ini....! Ilmu berkelahi dari negeri Siauwceng merupakan ilmu berkelahi yang dicampur dengan keakhlian menguasai ilmu yoga....Dan Taisu maksudkan ilmu silat itu dalam hal bertangan kosong atau bersenjata tajam ?"

"Kedua-duanya. !" "Ohhh, itulah merupakan suatu hal yang terlalu luas untuk diungkapkan, Siauw ceng akan berusaha mengungkapkan singkatnya saja. Ilmu berkelahi seperti itu, yaitu dengan bertangan kosong, jauh lebih baik jika dibandingkan dengan ilmu berkelahi dengan menggunakan senjata tajam maka

dari itu, dalam hal ini, harus diperhatikan dengan seksama, seperti yang Taisu tentunya mengetahui, didaratan Tionggoan umumnya mengandalkan ilmu berkelahi dengan mempergunakan senjata tajam, yang dianggap lebih unggul dari ilmu berkelahi dengan mempergunakan tangan kosong. Namun justru kami di India lebih mementingkan ilmu berkelahi dengan tangan kosong, yaitu dengan disertai latihan Yoga. Namun setelah bertahun-tahun Siauw-ceng mengembara didaratan Tionggoan, Siauw-ceng telah berhasil meneliti seluruh sari ilmu silat yang terdapat dinegeri ini, yang kemudian Siauw-ceng mengubahnya menjadi semacam ilmu silat yang mungkin bisa dipelajari oleh jago-jago daratan Tionggoan ini dikemudian hari. !"

"Jadi maksud Taisu, ilmu yang Taisu ciptakan itu lebih mementingkan ilmu pukulan tangan kosong........?" tanya Sam Liu Taisu.

"Itupun tidak benar keseluruhannya...!" menyahuti Tat Mo Cauwsu. "Dalam ilmu pukulan, tanpa disertai dengan latihan tenaga dalam yang mahir, tentu akan menyebabkan sia sia belaka seseorang mempelajari ilmu pukulan tangan kosong itu...... dengan demikian, harus dimengerti oleh Taisu, yang diutamakan adalah latihan tenaga dalam, kemudian diolah menjadi semacam kekuatan yang meresap kedalam diri kita, sehingga leluasa kita untuk mempergunakannya. Apa yang disebut lunak, bisa kita robah menjadi keras dan yang keras bisa kita robah menjadi lunak. itulah semacam sari pelajaran

yang akan Siauwceng siarkan. !" "Bisakah Taisu memberikan contoh ?" tanya Sam Liu Taisu kemudian, parasnya memancarkan perasaan kagum. Ia memang mengakui, bahwa jago-jago yang terdapat didaratan Tionggoan pada masa itu, lebih mementingkan senjata tajam, yang dianggap lebih tangguh dari ilmu pukulan tangan kosong. Dan Sam Liu Taisu juga tahu, sebagai seorang pendeta India, tentunya Tat Mo Cauwsu memiliki ilmu Yoga dan semacam ilmu berkelahi yang berasal dari negerinya itu, tetapi sama sekali ia tidak menyangka bahwa pendeta dari Thian-tiok tersebut ternyata memiliki pandangan yang begitu luas mengenai seluk beluk ilmu silat didaratan Tionggoan. Dengan demikian, tersirat didalam hati Sam Liu Taisu hendak mencoba berapa tinggi tenaga dalam yang dimiliki Tat Mo Cauwsu. Memang sebelum-belumnya Sam Liu Taisu telah banyak mendengar nama Tat Mo Cauwsu dari jago-jago rimba persilatan baik untuk ilmu sihir pendeta India tersebut yang benar-benar hebat sekali maupun juga ilmu bertempurnya, yang dicampur adukkan dengan ilmu Yoga. Tetapi sama sekali Sam Liu Taisu tidak menyangka bahwa Tat Mo Cauwsu sesungguhnya berkelana didaratan Tionggoan untuk melihat seluruh ilmu silat ilmu silat yang terdapat didaratan Tionggoan ini untuk diolahnya dan dicampur adukkan dengan kepandaian yang dimilikinya guna menciptakan semacam ilmu yang hebat.

Tat Mo Cauwsu waktu itu telah mengangguk, sambil katanya: "Jika memang Taisu menginginkan Siauwceng memberikan contoh, hal itu bisa saja Siauwceng lakukan......tetapi tentunya Taisu mau menemani satu dua  jurus. !"

"Dengan cara apa kita bertempur ?” tanya Sam Liu Taisu. Tat Mo Cauwsu menggelengkan kepalanya.

"Tidak," sahutnya, "Kita hanya main-main dengan suatu permainan  yang  menarik.  Silahkan  Taisu  duduk  disini. !" sambil berkata begitu, Tat Mo Cauwsu telah menunjuk kepada sebuah batu.

Sam Liu Taisu tidak rewel telah duduk ditempat yang ditunjuk oleh Tat Mo Cauwsu, sedangkan Tat Mo  Cauwsu telah duduk dihadapannya.

”Silahkan Taisu menyerang diri Siauw ceng dengan seluruh kekuatan yang ada pada Taisu. !" kata Tat Mo Cauwsu lagi.

Sam Liu Taisu jadi terkejut.

"Ini. ohh, itu tidak mungkin !" kata Sam Liu Taisu.

"Apakah Taisu kuatir kalau nanti Siauwceng tidak sanggup menerima serangan Taisu ?" tanya Tat Mo Cauwsu sambil senyum.

”Begini,” kata Sam Liu Taisu kemudian. "Lolap akan memukul dengan lima bagian dari tenaga Lolap. !"

”Boleh !" mengangguk Tat Mo Cauwsu.

Sam Liu Taisu telah menarik napas dalam2, mengempos semangatnya dan mengerahkan tenaga dalamnya yang disalurkan pada kedua telapak tangannya. Ia mengerahkan lima bagian dari tenaga lwekangnya.

"Jagalah serangan....!" kata Sam Liu Taisu, yang telah mendorong kedua telapak tangannya itu kepada Tat Mo Cauwsu.

Tat Mo Cauwsu tetap duduk berdiam di tempatnya tanpa bergerak, tanpa menangkis.

"Blesss...!" kedua telapak tangan Sam Liu Taisu seperti memukul kumpulan kapas waktu kedua telapak tangan itu menghantam jitu sekali pada dada Tat Mo Cauwsu.

Sam Liu Taisu kaget bukan kepalang, ia menarik pulang kedua tangannya dengan cepat. Tat Mo Cauwsu tetap duduk tenang sambil tersenyum, lalu katanya: "Inilah yang disebut ilmu lunak, dari yang keras kita membuat menjadi lunak........Seperti Taisu ketahui, dada seorang manusia dilindungi oleh daging, tulang2 iga dan juga isi dada lainnya. Tetapi jika kita tidak melatih dengan baik untuk bagian anggota tubuh tersebut, tentu tidak bisa menerima hantaman yang mengandung kekerasan padanya yang bisa membawa kerusakan hebat.... dengan mempergunakan ilmu yang telah Siauw ceng ciptakan, dari yang keras menjadi lunak, maka Siauwceng berhasil membuat seluruh bagian dari dada Siauwceng ini bisa menerima hantaman yang bagaimana kuat sekalipun, tanpa perlu memberikan daya lawan sama sekali, tenaga hantaman itu akan punah sendirinya. !"

Sam Liu Taisu tercengang sejenak, namun akhirnya ia mengangguk, dengan penasaran ia berkata, "Baiklah, Lolap akan mencobanya satu kali lagi.....!" dan membarengi dengan selesainya perkataan Sam Liu Taisu, pendeta ini telah menggerakkan lagi kedua tangannya, ia telah menghantam dengan sembilan bagian dari tenaga dalamnya.

Tat Mo Cauwsu tetap tidak menyingkir dari tempat duduknya, ia menantikan pukulan kedua telapak tangan Sam Liu Taisu dengan tenang.

”Bukkkk !" hantaman Sam Liu Taisu mengenai tepat sekali dada Tat Mo Cauwsu, dan menimbulkan suara benturan yang keras.

Sam Liu Taisu kaget setengah mati, semula ia menduga dada Tat Mo Cauwsu akan lunak seperti tadi, seperti gumpalan kapas, tetapi untuk kagetnya, begitu kedua telapak tangannya menghantam telak, ia merasakan kedua telapak tangannya bagaikan menghantam batu karang yang tidak tergoyahkan, keras sekali, melebihi perbentengan besi sekalipun. Kedua telapak tangannya juga sakit bukan main. Malah yang membuat Sam Liu Taisu jadi lebih kaget lagi, tubuhnya tahu2 telah "terbang" dari tempat duduknya, terpental menerjang tirai air terjun, jatuh diluar dengan keras sekali.

Untung Sam Liu Taisu memiliki kepandaian yang tinggi, begitu tubuhnya menyentuh tanah, segera ia menggerakkan tangan kanannya menepuk tanah dan tubuhnya meletik bangun. Iapun cepat melompat masuk ke balik tirai air terjun, sambil merangkapkan kedua tangannya memberi hormat pada Tat Mo Cauwsu.

"Sungguh mengagumkan sekali !" kata Sam Liu Taisu kemudian. "Memang kami dari daratan Tionggoan pun mengenal akan istilah Im dan Yang, tetapi tenaga lunak dan keras itu tidak bisa dipergunakan sebaik seperti yang telah dilakukan oleh Taisu.... seperti membuat dada menjadi lunak bagaikan gumpalan kapas memunahkan tenaga hantaman lawan, dan merobah menjadi keras sekali seperti lempengan besi......benar-benar menakjubkan. !"

Tat Mo Cauwsu bersenyum.

"Ya, memang telah Siauwceng pelajari, umumnya jagojago rimba persilatan didaratan Tionggoan ini mempergunakan lwekang mereka untuk menghantam dengan kekerasan, dimana mereka melatih ilmu tenaga dalam tersebut sama halnya seperti melatih tenaga gwakang (tenaga luar). Mereka melupakan sesuatu yang kecil dari pelajaran tersebut, namun sangat besar artinya, yaitu mereka tidak menyalurkan kekuatan tenaga lwekang yang telah mereka pelajari itu untuk meresap kedalam tubuh, sehingga setiap detik, setiap saat kita menghendakinya, dengan sendirinya tubuh kita akan dapat dibuat menjadi lunak maupun menjadi keras, dilindungi oleh kekuatan tenaga itu sendiri......! Apa yang disebut hitam untuk menjadi putih, dan yang merah menjadi hijau, merupakan kata-kata yang tepat untuk ilmu yang dilatih oleh Siauw ceng. " "Apa maksud Taisu dengan perkataan yang hitam menjadi putih dan yang merah menjadi hijau ?" tanya Sam Liu Taisu tidak mengerti.

Tat Mo Cauwsu tersenyum.

”Jika kita memejamkan mata, belum tentu kita tidur, tetapi jika kita membuka sepasang mata, bukan berarti pula kita tengah sadar. Itulah makna dari apa yang telah Siauwceng katakan tadi. Seseorang melihat hitam, tetapi warna hitam itu sesungguhnya tidak ada, yang ada hanya putih. Dan jika dilihat warna merah, sesungguhnya yang ada hanyalah warna hijau. Itulah kesempurnaan dari ilmu tenaga dalam hasil ciptaan Siauwceng. Dengan cara demikian, kita bisa sekehendak hati

membuat tubuh kita menjadi lunak, menjadi keras, menjadi ringan, menjadi berat. Dan semuanya itu dapat dilakukan setiap detik kita kehendaki."

Sam Liu Taisu berpikir agak lama, tetapi akhirnya ia berjingkrak.

"Tepat !" serunya dengan gembira dan mengandung perasaan kagum. "Apa yang dikatakan oleh Taisu memang tepat ! Jika yang hitam bisa menjadi putih, dan yang merah bisa menjadi hijau, tentulah itu merupakan hal yang benar-benar berarti sekali dalam latihan tenaga dalam, dan Taisu tentunya ingin mengartikan jika kita telah melatih sempurna tenaga dalam kita sehingga kita berhasil menyalurkan meresap kedalam sekujur tubuh kita, maka akan membuat lawan kita menjadi bingung, di mana ia melihat kosong, namun sesungguhnya berisi dan jika ia melihat berisi, sesungguhnya kosong. ! Bukankah begitu maksud Taisu ?"

"Tidak tepat seluruhnya. !" menyahuti Tat Mo Cauwsu.

"Dapatkah Taisu memberikan petunjukmu lagi ?" tanya Sam Liu Taisu. "Arti dari perkataan Siauwceng tadi, memang termasuk juga akan hal yang kosong, tetapi disamping itu, yang lebih diutamakan adalah "Kosong tetapi berisi, berisi menjadi tunggal". Itulah makna yang sesungguhnya. Dengan hanya mengandalkan taktik kosong tetapi berisi, berisi tetapi kosong, itulah belum sempurna. Harus dimengerti, jika memang seorang lawan memiliki kepandaian yang sungguh-sungguh tinggi, lalu secara membabi buta kita mempergunakan taktik seperti itu, yang akan hancur adalah diri kita sendiri. Tetapi jika kita menyempurnakan hal itu, yaitu kosong tetapi berisi dan berisi menjadi tunggal, itulah kesempurnaan dari latihan tenaga dalam, dimana seluruh tenaga dalam yang telah terlatih mahir dan baik, akan disalurkan secara merata keseluruh tubuh kita, dengan demikian, dari ujung rambut sampai keujung kaki, semua anggota tubuh akan dapat kita kendalikan sesenang hati kita, dan jika diperlukan dalam saat-saat tertentu, sehelai rambut kitapun bisa dipergunakan untuk menjadi senjata yang meruntuhkan lawan. !"

Sam Liu Taisu telah merangkapkan kedua tangannya memberi hormat lagi, ia menyatakan kekagumannya yang bukan main pada Tat Mo Cauwsu. Dan dihatinya, Sam Liu Taisu mengakui, bahwa apa yang didengarnya selama ini tentang diri pendeta India tersebut memang tidak salah, dimana Tat Mo Cauwsu benar-benar seorang pendeta India yang sakti.

Seperti tadi ia telah merasakan, betapa dengan mudah sekali, tanpa menggerakkan kedua tangan atau kedua kakinya, dan juga dengan tubuh yang diam tidak bergerak di-tempatnya ia telah bisa dibuat terpental begitu rupa oleh Tat Mo Cauwsu, padahal Sam Liu Taisu didaratan Tianggoan ini sudah merupakan seorang tokoh persilatan yang memiliki kepandaian sangat tinggi. "Ada satu lagi yang hendak Lolap tanyakan, Taisu..........

yaitu ilmu silat dengan senjata tajam..... bisakah Taisu memberikan petunjukmu ?" tanya Sam Liu Taisu lagi.

Tat Mo Cauwsu bersenyum lagi, dengan sabar pendeta India ini berkata : "Mengenai ilmu silat yang mempergunakan senjata tajam baik pedang, golok, atau senjata tajam lainnya, semua itu sesungguhnya merupakan pelajaran tidak berjauhan dengan apa yang telah Siauwceng katakan tadi. jika

seseorang telah memiliki tenaga dalam yang sempurna, tentu mempergunakan senjata apa saja akan memiliki arti yang sama besarnya, sampai pun jika kita mempergunakan sebatang ranting sebagai pengganti pedang, tidak akan kalah hebatnya jika kita mempergunakan pedang yang sesungguhnya. !"

Sam Liu Taisu memang sering berusaha memperdalam kepandaiannya untuk mempergunakan senjata tajam, dan ia telah mempelajari delapan belas macam senjata tajam termasuk ilmu melepaskan senjata rahasia. Namun, pengetahuan dan kepandaiannya mempergunakan senjata tajam tersebut, sama liehaynya jika ia mempergunakan ilmu pukulan kedua telapak tangan kosong, sehingga akhirnya Sam Liu Taisu jarang mempergunakan senjata tajam. Setiap kali menghadapi lawannya, ia mempergunakan kedua tangan kosong belaka, yang merupakan kepandaiannya yang menakjubkan. Juga Sam Liu Taisu sering mempergunakan cabang atau ranting pohon sebagai pengganti pedang, dimana ia mempergunakan tenaga dalamnya untuk disalurkan pada cabang atau ranting pohon ditangan untuk menghadapi senjata tajam lawan. Maka penjelasan Tat Mo Cauwsu mengenal ranting pohon yang bisa dipergunakan sebagai gantinya pedang, tidak begitu mengherankannya.

"Maksud Taisu, dengan mempergunakan ranting ditangan dan kita menyalurkan kekuatan lwekang kita pada ranting itu, sehingga sama lihaynya dan tajamnya dengan pedang biasa ?" tanya Sam Liu Taisu.

Tat Mo Cauwsu menggeleng.

"Tidak tepat seluruhnya lagi," kata pendeta dari India itu. "Bagi seorang jago silat yang memang memiliki lwekang belum sempurna, sering mempergunakan lwekang itu untuk disalurkan pada benda yang dipegangnya, untuk dijadikan senjata yang ampuh. Semua itu bisa dilakukan oleh seluruh jago2 silat yang memang memiliki lwekang cukup untuk melaksanakannya. Tetapi yang Siauwceng maksudkan disini adalah sebilah pedang sangat tajam, bisa menabas dan memotong sesuatu yang memang bisa dipotong atau ditabasnya, namun jika harus memotong selempeng besi atau sebungkah batu, tentu pedang itu sendiri yang akan menjadi semplak atau rusak. Perkataan bahwa tajam itu lunak dan lunak itu tajam, merupakan perkataan yang sesuai untuk persoalan ini. !"

Kembali Sam Liu Taisu dibuat bingung oleh perkataan Tat Mo Cauwsu.

"Apa yang Taisu maksudkan ?" tanya Sam Liu Taisu. "Perkataan itu tajam, tetapi tajamnya pedang belum berarti

bisa disebut kuat. Coba Taisu buktikan, pergunakan sebilah pedang, tabaslah batu ini, dan apa akibatnya........! Bukan batu yang keras itu akan hancur, namun pedang itu sendiri yang akan rusak, bagaikan sebuah benda lunak menghantam suatu yang keras. Tetapi sekarang coba Taisu lihat, Siauwceng akan memperlihatkan, bahwa yang lunak itu tajam, yaitu dari  sesuatu yang lunak, akan memiliki ketajaman yang melebihi tajamnya pedang....” dan setelah berkata begitu, Tat Mo Cauwsu membuka angkinnya, pengikat pedangnya, yang terdiri dari sehelai kain berwarna kuning gading. Sam Liu Taisu telah mengawasi angkin Tat Mo Cauwsu dan men-duga2 apa yang hendak dilakukan oleh pendeta India tersebut.

Sambil memegangi angkinnya itu, Tat Mo Cauwsu telah berkata : "Cobalah Taisu lihat. !" dan tahu2 Tat Mo Cauwsu

telah menggerakkan tangan kanannya, yang mencekal ujung dari angkinnya itu, dimana angkin tersebut yang terdiri dari sehelai kain, yang memiliki sifat yang lemas dan lunak, tahu2 telah menjadi tegak dan kaku, kata Tat Mo Cauwsu : "Inilah yang disebut yang lunak menjadi keras, dengan cara seperti ini, kita bisa mempergunakan kelunakan untuk menghancurkan sesuatu yang keras. Tetapi yang terpenting lagi, lunak adalah tajam, lihatlah !" dan setelah berkata begitu, Tat Mo Cauwsu telah menghentak tangannya, angkinnya telah menjadi lemas dan berkibar-kibar digerakkan tangan kanan Tat Mo Cauwsu, dimana pendeta India tersebut seperti juga tengah menari, angkinnya itu telah berseliwiran kesana kemari, dan tahu-tahu telah menyambar kearah sebungkah batu yang berukuran  cukup besar, tanpa bersuara, angkin itu telah menyambar memotong batu itu menjadi dua potong besar ! Luar biasa sekali ! Angkin tersebut seperti juga menjadi senjata yang paling tajam di dunia, dimana membelah batu itu seperti membelah "tahu" dengan senjata tajam ! Tidak menerbitkan suara sama sekali, hanya tahu-tahu batu tersebut telah menjeblak dan berjatuhan menimbulkan suara berisik.

Sam Liu Taisu berdiri bengong di tempatnya, ia tidak menyangka begitu hebat kepandaian yang dimiliki Tat Mo Cauwsu.

Apa yang dikatakannya lunak adalah tajam, ternyata memang benar-benar telah dibuktikannya didepan mata hidungnya Sam Liu Taisu sendiri.

"Dan kini Taisu lihatlah lagi.....!" kata Tat Mo Cauwsu, ia telah mengerakkan angkinnya itu, yang menyambar pula  kepada sebungkah batu besar lainnya. Angkin itu lemas sekali, jatuh pada batu tersebut, menempel dibatu itu. Namun ketika Tat Mo Cauwsu menarik pulang angkinnya, tidak terdapat sesuatu yang terjadi, batu itu tetap tidak terbelah seperti tadi.

Sam Liu Taisu mengawasi dengan penuh perhatian pada batu itu, tidak ada suatu kelainan pada batu tersebut.

Sambil tersenyum Tat Mo Cauwsu melangkah mendekati batu itu, ia memonyongkan mulutnya sedikit, meniupnya. Seketika batu itu meluruk, telah hancur menjadi bubuk halus, yang sebagian telah bertebaran kemana-mana.

Pertunjukan yang telah disaksikan Sam Liu Taisu membuat pendeta ini seperti tidak mempercayai apa yang telah terjadi. Lama ia berdiri bengong mengawasi tumpukan abu dari hancuran batu itu.

"Lihatlah Taisu, tidak mungkin sesuatu yang keras dapat memenangkan yang lunak. Segala apapun, akan dapat dikuasai dengan sebaik mungkin, jika kita telah berhasil menyempurnakan latihan menurut kata-kata kosong tapi berisi, berisi menjadi tunggal. Dan buktinya telah Taisu lihat, bukan? Dengan tenaga tunggal Siauwceng telah mempergunakan sehelai angkin yang begini lemas dan sesungguhnya menurut pandangan manusia biasa tidak memiliki arti, ternyata bisa menghancurkan  sebungkah  batu  yang  besar   dan   keras   itu. !"

Sam Liu Taisu untuk sejenak lamanya tidak bisa berkatakata dan hanya berdiri bengong saja sampai akhirnya ia merangkapkan kedua tangannya, memberi hormat kepada Tat Mo Cauwsu berulang kali, katanya juga dengan hati diliputi kekaguman yang bukan main : "Taisu telah membuka mataku..........hari ini aku telah berhasil menemukan sesuatu yang sangat berharga sekali ! Terima kasih Taisu ! Terimakasih Taisu. " Begitulah Tat Mo Cauwsu dan Sam Liu Taisu ber-cakap2 beberapa saat lamanya lagi. Dan Tat Mo Cauwsu juga menyatakan bahwa ia hendak mencari sebuah tempat untuk membangun sebuah kuil, yang akan dijadikan tempat untuk menerima murid dan menyiarkan pelajarannya, baik ilmu silatnya maupun agama Buddha yang dianutnya.

Mendengar perkataan Tat Mo Cauwsu, tiba2 Sam Liu Taisu telah menjatuhkan dirinya, berlutut dihadapan Tat Mo Cauwsu.

"Jika memang Taisu tidak mentertawakan, dan juga tidak keberatan, Lolap Sam Liu Taisu ingin sekali mengangkat Taisu menjadi guru.   Inilah maksud hati yang setulusnya, Taisu,  dan

itulah suatu kebahagiaan yang tidak terkira jika saja Taisu mau meluluskan permohonan Lolap ini. "

Tat Mo Cauwsu telah mengulurkan tangannya, membangunkan Sam Liu Taisu dari berlututnya.

"Jangan Taisu berkata begitu, kepandaian yang dimiliki oleh Siauwceng mungkin tidak berarti banyak buat Taisu........Menurut penglihatan Siauwceng, Taisu sudah memiliki dasar yang baik sekali, memiliki kepandaian yang tidak rendah, jika memperoleh latihan yang baik, jelas Taisu akan bisa mencapai kesempurnaan dari ilmu yang dimiliki Taisu. !"

"Justru Lolap membutuhkan sekali petunjuk-petunjuk dari Taisu, untuk memperoleh kesempurnaan itu........dan juga disamping meyakinkan ilmu silat, Lolap juga ingin mencurahkan seluruh sisa hidup Lolap untuk lebih memperdalam pelajaran agama Buddha yang memang dianut oleh Lolap. !"

Tat Mo Cauwsu tidak segera menyahuti, ia mengangkat kepalanya, mengawasi langit, kemudian ia bersenandung dengan suara yang perlahan : ”Bunga salju turun kebumi, akhirnya mencair, manusia terlahirkan dan akhirnya kembali kebumi..........Apakah yang dicari didalam dunia ini? Hanya satu, kebajikan!"

Dan setelah bersenandung begitu, Tat Mo Cauwsu telah tertawa sambil katanya kepada Sam Liu Taisu: "Baiklah, keinginanmu kuterima. !"

"Suhu....!" Sam Liu Taisu telah menjatuhkan dirinya berlutut dihadapan Tat Mo Cauwsu, bukan main girang hatinya, dan diwaktu itu, kebahagiaan dihatinya sama halnya seperti ia memperoleh sesuatu yang sangat berharga sekali.

Rupanya Sam Liu Taisu tidak memperdulikan bahwa usianya jauh lebih tua dari Tat Mo Cauwsu, karena ia telah membuktikan, walaupun usia Tat Mo Cauwsu jauh lebih muda dari dia, tetapi ilmu silat mau pun pengetahuannya dan pandangannya dalam pelajaran agama Buddha, melebihi dia beberapa tingkat. Dan memang Sam Liu Taisu juga yakin, bahwa Tat Mo Cauwsu pantas menjadi gurunya.

Begitu juga halnya dengan Tat Mo Cauwsu, ia tidak mempersoalkan masalah usia. Persoalan itu telah dianggapnya hanyalah disebabkan oleh sang waktu belaka dan tidak memiliki suatu keharusan yang merintangi untuk hubungan seorang guru dan murid. Dan memang Tat Mo Cauwsu juga melihat bahwa Sam Liu Taisu merupakan seorang yang memiliki bakat cukup baik untuk digembleng mempelajari  ilmu silat dan pelajaran agama yang sama2 mereka anut yaitu agama Buddha.

Dan kemudian hari, Sam Liu Taisu dikenal sebagai murid pertama Tat Mo Cauwsu, murid yang membantu banyak pada gurunya tersebut, untuk mendirikan kuil Siauw Lim Sie, dan merupakan satu2nya murid Tat Mo Cauwsu yang menerima penuh seluruh pelajaran dari pendeta India yang sakti tersebut.

Setelah mengangkat guru dan murid itu selesai, Tat Mo Cauwsu merundingkan bersama Sam Liu Taisu perihal maksud Tat Mo Cauwsu yang akan memilih gunung Siong San sebagai tempat mereka membangun kuil. Dan setelah meneliti seluruh keadaan gunung tersebut, dipilihnya tempat didekat air terjun itu.

Cukup banyak tukang2 yang dipergunakan oleh Tat Mo Cauwsu untuk membangun kuil tersebut dimana pembangunan kuil itu langsung diawasi oleh Tat Mo Cauwsu dan Sam Liu Taisu. Waktu yang dipergunakan hampir satu tahun, dan akhirnya rampunglah pembangunan kuil tersebut.

Karena Tat Mo Cauwsu memang telah memiliki nama yang sangat harum didalam rimba persilatan, dan juga ia dikagumi dan dihormati oleh orang2 gagah rimba persilatan didaratan Tionggoan, maka banyak yang berdatangan untuk ikut membantu, disamping memberi ucapan selamat kepada Tat Mo Cauwsu. Waktu kuil itu diresmikan, dan Tat-Mo Cauwsu merundingkan nama yang baik untuk kuil tersebut, banyak sekali orang2 gagah yang telah mengajukan nama yang bermacam-macam, tetapi akhirnya Tat Mo Cauwsu memilih nama untuk kuil tersebut terdiri tiga huruf "Siauw Lim Sie" (kuil Kurang Rimba).

Tat Mo Cauwsu memilih ketiga huruf tersebut, yaitu Siauw Lim Sie untuk nama kuilnya itu berdasarkan tempat dibangunnya kuil tersebut, di dekat air terjun itu memang jarang sekali terdapat pohon, dan yang terdapat disitu hanya batu-batu gunung yang berukuran besar.

Tetapi makna dari nama yang dipergunakan Tat Mo Cauwsu untuk kuilnya tersebut, memiliki arti yang sangat dalam sekali. Dengan perkataan "Kurang Rimba", Tat Mo Cauwsu hendak mengartikan bahwa tiada yang sempurna didalam dunia ini, karena itu walaupun ia merupakan tokoh persilatan yang sakti, tokh ia merasa bahwa kuilnya tersebut merupakan tempat berkumpulnya orang-orang rimba persilatan,  dan  selain  menyiarkan  pelajaran  agama  dan ilmu silat, tentu Siauw Lim Sie pun memiliki banyak kekurangankekurangannya. Dan perkataan "Lim" yang diambil dari perkataan "Bu-lim", yang artinya rimba persilatan, karena Siauw Lim Sie selain menyiarkan agama Buddha, juga memang seluruh murid murid Siauw Lim Sie mempelajari ilmu silat, dan tentu akan berkecimpung juga didalam rimba persilatan.

Sejak saat itulah Tat Mo Cauwsu telah menerima banyak murid, dan telah mengharuskan setiap murid Siauw Lim Sie mencukur rambut, menggundulkan kepala menjadi hweshio. Seluruh pelajaran agama diberikan oleh Sam Liu Taisu, dan jika memang terdapat pelajaran yang sulit, barulah Tat Mo Cauwsu sendiri yang memberikan bimbingannya.

Kuil Siauw Lim Sie sebagai pintu perguruan silat dan juga menyiarkan agama Buddha, kian hari berkembang pesat sekali. Dan didaratan Tionggoan telah terlahir sebuah pintu perguruan yang hebat dan kelak akan menjadi sebuah pintu perguruan yang paling disegani oleh semua jago-jago silat didaratan Tionggoan. !

Malah ilmu silat ciptaan Tat Mo Cauwsu yang kemudian ditulis seluruhnya dalam bentuk sebuah kitab, yang diberi  nama Tat-mo Pit-kip, yang dipecah menjadi empat bagian, yaitu Kiu Yang Cin Keng, Kiu Im Cin Keng, Ih Kin dan Swe Jwe, merupakan kitab-kitab silat yang membuat seluruh jagojago rimba persilatan menjadi ngiler untuk memilikinya, karena siapa saja yang bisa mempelajari ilmu silat yang terdapat didalam kitab itu, tentu akan menjadi seorang jago tanpa tandingan.

Dengan berdirinya pintu perguruan Siauw Lim Sie, maka ilmu silat yang terdapat didaratan Tionggoan pun mengalami banyak perobahan, karena jago-jago rimba persilatan didaratan Tionggoan lebih banyak mengikuti ajaran yang disiarkan oleh Tat Mo Cauwsu, yang lebih mengutamakan ilmu yang lurus dan juga bersih dari kesesatan.

X dwXkz X

SUARA air terjun yang jatuh menimpa batu menimbulkan irama yang tidak beraturan dipagi hari itu, dan suara burung burung yang bercicit, serta cahaya matahari yang bersinar sangat hangat, menyebabkan pemandangan sekitar tempat tersebut, yang berada dipuncak sebelah barat gunung Siong San, sangat menarik dan nyaman. Memberikan juga ketenteraman bagi siapa saja yang berada disitu, terlebih lagi dengan terdapat sebuah kuil yang dibangun megah dan luas sekali disisi air terjun tersebut, yang memiliki tiga bangunan utama dan puluhan perumahan kecil. Warna kuil itu seluruhnya terdiri dari warna merah, begitu juga halnya dengan pintu utama kuil tersebut, yang berwarna merah dengan diberi penghias ditepinya lukisan air emas. Suara pendeta yang  tengah Liam-keng dan ketukan kayu bokkie mendatangkan perasaan tenteram untuk mendengarnya.

Air terjun yang turun bergemuruh itu tepat berada dibelakang kuil tersebut, dan dihalaman belakang serta depan kuil tersebut juga terdapat cukup banyak pohon-pohon bunga, yang rupanya belum begitu lama ditanam. Keangkeran terpancar dari kuil yang megah tersebut, karena itulah Siauw Lim Sie, kuil yang telah dibangun selama satu tahun dan memakan tenaga pekerja yang banyak sekali, disamping juga kegotong royongan dari orang-orang gagah rimba persilatan yang ikut membantu membangun kuil tersebut. Sekarang, di saat kuil telah diresmikan sebagai tempat kediaman Tat Mo Cauwsu, cakal bakal pintu perguruan Siauw Lim Sie tersebut, kuil itu merupakan sumber dari penyiaran ilmu silat dan agama Buddha didaratan Tionggoan.......

Dipagi hari yang tenang seperti ini, tampak tidak jauh dari kuil Siauw Lim Sie tersebut, seorang pendeta bertubuh gemuk dengan keadaannya yang aneh, tengah berdiri memandangi kuil tersebut. Dia merupakan seorang pendeta berkepala botak dan memakai jubah kependetaannya yang telah robek di-sana sini, koyak bagaikan pakaian pengemis penuh juga dengan tambalan. Ditangan kanannya mencekal sebatang Sianthung, tongkat kependetaannya, yang pada ujungnya yang satu berukiran dalam bentuk kepala naga.

Sebagai seorang hweshio, yang mengenakan Khashe (pakaian kependetaan) yang telah compang camping seperti itu, memang keadaan pendeta tersebut merupakan suatu yang ganjil, karena iapun berada dekat sekali dengan Siauw Lim Sie, yang seluruh penghuninya terdiri dari pengikut2 sang Buddha. Memang luar biasa di tempat seperti itu bisa terdapat seorang hweshio yang berpakaian serupa itu.

Usia hweshio tersebut mungkin hampir lima puluh tahun, wajahnya biasa saja, hanya karena ia gemuk, semuanya serba bulat. Daging pipinya yang bulat, dagunya yang bulat, dan matanya yang seperti bengkak menyipit itu, dan juga hidungnya yang bundar pesek besar melebar kesamping kiri kanannya, sama sekali hweshio ini tidak memelihara kumis atau jenggot.

Lama juga hweshio yang berkhashe compang-camping tersebut berdiri mengawasi bangunan kuil Siauw Lim Sie tersebut, akhirnya ia tertawa dingin, "Hemmm, luar biasa, luar biasa, tempat yang cukup baik untuk aku  berdiam  didalamnya. !"

Ia pun telah melangkah menghampiri pintu kuil. Setelah dekat, tahu-tahu ia menggerakkan Sianthungnya kearah pintu kuil.

"Tukkk..” perlahan ketukan itu, seperti juga ia menggerakkan  Sianthungnya  tanpa  mempergunakan  tenaga. Tetapi kesudahannya hebat sekali. Daun pintu itu menjeblak terbuka dan terlepas engselnya, lalu terlempar ambruk ditanah !

Pintu kuil Siauw Lim Sie terbuat dari kayu yang tebal sekali, yang dibuat dari semacam kayu jati, selain berukuran besar dan berat, pun terpasang kuat sekali oleh puluhan engsel, namun sekali ketuk seperti itu, hweesio aneh tersebut bisa membuat daun pintu yang semula terkunci jadi terbuka menjeblak serta telah terlepas dari engselnya, merupakan hal yang mengejutkan sekali.

"Hahahahahahaha........!" hweshio aneh tersebut telah tertawa keras sekali, suara tertawanya itu seperti bergema disekitar tempat tersebut, dan karena disitu memang merupakan daerah pegunungan, suara tertawa pendeta itu seperti bergema bersahut sahutan.

"Tat Mo Cauwsu......keluarlah untuk menemui Lolap, Lu Kak Siansu !"

Suara itu nyaring sekali, mengejutkan beberapa orang  murid Siauw Lim Sie, yang segera keluar untuk melihat apa yang terjadi.

Pemandangan yang mereka lihat, yaitu pintu kuil yang telah rusak menggeletak di atas tanah, dan seorang pendeta aneh dengan pakaian compang camping tengah berteriak2 seperti itu, membuat mereka jadi berdiri tertegun.

Tetapi salah seorang diantara mereka, yang cepat sekali tersadar, telah melompat kedekat pendeta aneh tersebut, tanyanya : ”Siapakah Toa Suhu....?" tegurnya. "Mengapa merusak pintu kuil ?"

Pendeta aneh itu tertawa aneh, dan telah berkata dengan suara yang sinis, ”Pergi panggil Tat Mo Cauwsu, katakan ia harus menemui aku Lu-Kak Siansu...!" Melihat sikap pendeta berpakaian compang camping yang begitu kurang ajar, pendeta yang menegur itu, seorang hweshio berusia tiga puluh tahun telah mengerutkan sepasang alisnya.

"Toa Suhu....Jika memang Toa Suhu hendak menghadap pada Cauwsu kami, tentunya engkau harus mematuhi aturan yang baik, sikap dengan cara demikian. "

"Oho, engkau terlalu rewel. !" kata pendeta aneh tersebut,

dan telah menggerakkan Sianthungnya...Perlahan sekali gerakan yang dilakukannya itu, tetapi hebat kesudahan dan akibatnya untuk hweshio muda itu. Tubuhnya telah terpental dan terpelanting, ambruk diatas tanah dengan memuntahkan darah segar, mengerang erang kesakitan.

Beberapa orang saudara seperguruan hweshio muda itu jadi kaget dan marah. Mereka segera melompat kedekat hweshio berpakaian compang camping tersebut.

”Toa Suhu, mengapa kau membuat keonaran disini ?" bentak beberapa orang diantara mereka hampir serentak.

Tetapi hweshio aneh tersebut telah tertawa dengan suara yang panjang dan aneh, seperti suara burung hantu, kemudian ia berkata : "Kalian tidak cepat-cepat memanggil Tat Mo Cauwsu agar menemui aku ? Apa memang kalian sudah bosan hidup ?"

Tadi mereka telah menyaksikan betapa hebatnya Sianthung pendeta tersebut yang sekali menggerakkan tongkatnya telah membuat saudara seperguruan mereka terpental dan terluka parah seperti itu. Maka hweshio Siauw Lim Sie itu membawa sikap yang ber-hati2.

"Apa yang dikehendaki Toa Suhu sesungguhnya ?" tanya mereka. "Aku ingin bertemu dengan Tat Mo Cauwsu... panggil dia keluar ! Atau memang aku perlu masuk tanpa undangan lagi ?" menyahut hweshio itu dengan suara yang dingin.

"Baiklah, karena Toa Suhu telah melakukan keonaran disini, dan melukai seorang saudara seperguruan kami, kau harus kami tangkap...." kata salah seorang murid Siauw Lim Sie yang segera maju untuk mencekal lengan pendeta aneh itu.

Sedangkan murid2 Siauw Lim Sie yang lainnya telah memencar diri untuk mengurung pendeta tersebut.

Tetapi pendeta aneh itu telah tertawa lagi keras sekali, kemudian memutar Sianthungnya, maka disaat tongkat itu diputarnya berkesiuran angin yang kuat sekali, tidak ampun lagi, tanpa memiliki kesempatan untuk mengelakkan diri, murid murid Siauw Lim Sie itu yang berjumlah delapan orang, telah berhamburan terpental dan semuanya terluka memuntahkan darah segar !

"Ilmu iblis......!" menggumam dua orang murid Siauw Lim Sie yang terluka paling ringan, malah salah seorang dari mereka telah berlari dengan sisa tenaga yang ada padanya, untuk masuk kedalam kuil, guna melaporkan keributan itu.

Pendeta aneh tersebut telah mengeluarkan suara tertawa yang panjang dan menggema ditempat itu, lalu disusul dengan kata-katanya : "Tat Mo Cauwsu apakah engkau tidak mau keluar menemui aku......? Atau memang engkau menghendaki semua murid-murid Siauw Lim Sie terluka dan mampus diujung tongkatku ini?”

Tetapi baru saja perkataan pendeta aneh itu selesai diucapkan, disaat itulah tampak bergegas keluar beberapa orang pendeta. Mereka merupakan murid murid Siauw Lim Sie dari tingkat kedua. Jalan paling depan dari murid murid Siauw Lim Sie tingkat kedua itu, tampak Sam Liu Taisu. Tadi ia telah menerima  laporan  bahwa  diluar  kuil  timbul  keributan  oleh tingkah seorang pendeta aneh, yang memiliki sifat telengas dan kejam sekali, yang telah mengacau.

Ketika sampai didepan pendeta aneh itu yang menamakan dirinya Lu Kak Siansu, Sam Liu Taisu telah merangkapkan tangannya memberi hormat.

"Omitohud ! Omitohud ! Siapakah Toa Suhu. mengapa

menimbulkan kekacauan disini ?" tanya Sam Liu Taisu dengan suara yang sabar.

Lu Kak Siansu telah memperdengarkan suara tertawanya yang tidak sedap ditelinga kemudian ia berkata dengan nada yang mengejek : "Aku ingin bertemu dengan Tat Mo Cauwsu bukan dengan kau !"

Sam Liu Taisu telah bersenyum sabar, ia berkata : "Cauwsu tengah berada dalam kamar semedhi, tidak bisa diganggu.....maafkan, Toa Suhu tentu kecewa dengan hal ini..! Lolap Sam Liu yang akan mewakilinya untuk menerima petunjuk-petunjuk dari Toa Suhu, agar nanti bisa lolap menyampaikannya kepada Cauwsu. !"

"Hemmm.....!" mendengus pendeta aneh itu, "Engkau anggap apa aku ini yang disambut dengan segala manusia seperti engkau. pergilah !"

Sambil membentak begitu, ia telah menggerakkan tongkatnya, yang menyambar kepada Sam Liu Taisu.

Tetapi Sam Liu Taisu memiliki kepandaian yang tinggi. Sebelum ia mengangkat guru pada Tat Mo Cauwsu, Sam Liu Taisu memang telah memiliki kepandaian yang tinggi, dengan demikian sekarang setelah menjadi murid Tat Mo Cauwsu, dengan sendirinya ia memperoleh kemajuan yang pesat untuk ilmu silatnya. Melihat menyambarnya tongkat pendeta aneh itu, Sam Liu Taisu telah memiringkan tubuhnya kekanan, dan kemudian menyentil jari telunjuknya.

"Tukkkk !" tongkat itu telah kena disentilnya dengan kuat, sampai tongkat itu jadi miring karenanya.

Pendeta aneh itu sesungguhnya menggerakkan tongkat kependetaannya dengan mempergunakan tenaga dalam yang tangguh sekali.

Sama halnya seperti tadi murid2 Siauw Lim Sie telah bisa dirubuhkan dengan gerakan tongkatnya tersebut. Tetapi sekarang, di waktu tongkatnya bisa disanggah dan dibuat miring arahnya oleh sentilan jari telunjuk Sam Liu Taisu membuat pendeta aneh tersebut benar2 jadi terkejut sekali, ia sampai mengeluarkan suara seruan tertahan, dan cepat-cepat menarik pulang tongkatnya.

Tetapi Lu Kak Siansu bukan hanya menarik pulang tongkatnya untuk berdiam diri, ia telah menggerakkan tongkatnya itu lagi menyerampang pada Sam Liu Taisu.

Menyambarnya Sianthung si pendeta aneh itu kuat sekali, karena ia mempergunakan tenaga dalam beberapa kali lipat lebih kuat dibandingkan dengan tadi.

Sam Liu Taisu yang hanya dalam satu jurus telah melihat bahwa kepandaian Lu Kak Siansu ini memang tinggi sekali, ia telah berlaku hati-hati.

Ketika tongkat hampir tiba, Sam Liu Taisu mengelakkan diri. Tubuhnya melompat kesamping, dan berbareng dengan itu, ia telah menghantam dengan telapak tangannya.

Namun pukulan telapak tangan dari Sam Liu Taisu mengenai tempat kosong. Lu Kak Siansu bisa mengelakkannya dengan mudah. Walaupun serampangan tongkatnya itu gagal mengenai sasaran, ia tidak berhenti disitu saja, tongkatnya menyambar terus akan mengemplang kepala Sam Liu Taisu.

"Toa suhu, engkau keterlaluan....!" kata Sam Liu Taisu yang habis sabar, kemudian ia bersilat dengan gesit sekali, kedua tangannya menyambar-nyambar. Tiga kali beruntun Sam Liu Taisu mengelakkan diri, dan setelah itu ia berhasil menghantam telak sekali punggung Lu Kak Siansu.

Namun pukulan telapak tangan Sam Liu Taisu seperti mengenai daging yang berminyak, seperti menghantam tubuh belut, licinnya bukan main, telapak tangannya melejit, dan tenaga serangannya punah dengan sendirinya.

Lu Kak Siansu tertawa ber-gelak2 keras sekali, ia memutar tongkatnya.

"Engkau pendeta bawel yang mencari mampus !" kata Lu Kak Siansu, "Sudah kukatakan, kau panggil Tat Mo Cauwsu, jiwamu tidak akan mengalami bencana.      tetapi engkau tidak

tahu diri.    !" dan kata2nya itu telah disusul dengan tongkatnya

yang bergerak sangat cepat sekali, men-deru2 seperti angin topan yang bergulung menyambar kepada Sam Liu Taisu, mengurung tubuh pendeta Siauw Lim Sie ini.

Sam Liu Taisu juga kaget melihat hebatnya kepandaian Lu Kak Siansu, sama sekali ia tidak menyangka, pendeta yang berpakaian compang camping seperti ini bisa memiliki kepandaian yang begitu tangguh.

Tetapi disebabkan dirinya telah diserang begitu hebat oleh putaran tongkat Lu Kak Siansu, yang telah memutar tongkatnya dengan mempergunakan tenaga lwekangnya yang tinggi dan mahir sekali, Sam Liu Taisu juga tidak bisa berdiam diri, ia memberikan perlawanan.

Lewat belasan jurus, Sam Liu Taisu segera menyadari bahwa  lawannya  menang  satu  tingkat  kepandaiannya,  maka Sam Liu Taisu telah mengempos semangatnya dan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.

Mereka bertempur dengan seru, semakin lama Sam Liu Taisu jatuh dibawah angin dan terdesak, napas pendeta Siauw Lim Sie ini juga telah memburu keras, dimana ia tampaknya letih sekali, telah mempergunakan tenaga yang berlebihan.

Lu Kak Siansu sambil menyerang tertawa tidak hentinya, tampaknya semakin lama ia semakin bersemangat.

Diwaktu itu murid2 Siauw Lim Sie lainnya berdiri menyaksikan jalannya pertempuran tersebut dengan hati yang ber-debar2. Mereka tidak bisa membantuinya, karena dengan berdiri diluar gelanggang saja, terpisah sepuluh tombak lebih, mereka masih merasakan hebatnya samberan angin dari putaran tongkat Lu Kak Siansu.

Disaat Sam Liu Taisu tengah terdesak seperti itu, terdengar seseorang berkata : ”Mengapa harus bertempur seperti ?" dan disusul dengan terlihatnya seorang pendeta India yang sudah berusia antara empat puluh tahun lebih, melangkah mendekati gelanggang pertempuran. Itulah Tat Mo Cawsu cakal-bakal dari pintu perguruan Siauw Lim Sie tersebut.

"Suhu !" teriak Sam Liu Taisu girang bukan main melihat datangnya gurunya. Semangat bertempurnya jadi bangkit lagi.

Tetapi Tat Mo Cauwsu yang telah melangkah kedalam gelanggang pertempuran itu, telah mengibaskan ujung jubahnya ke arah tongkat Lu Kak Siansu. Luar biasa sekali, tongkat yang tengah menyambar kearah Sam Liu Taisu dengan memiliki tenaga mengemplang ribuan kati itu, telah kena disampok terpental, dan bahkan terlepas dari cekalan tangan Lu Kak Siansu, dimana telapak tangan Lu Kak Siansu telah pecah, menimbulkan perasaan pedih bukan main. Lu Kak Siansu kaget bukan kepalang, ia mengeluarkan suara seruan dan melompat mundur, mengawasi Tat Mo Cauwsu dengan mata terpentang lebar.

Sam Liu Taisu telah berdiri disisi gurunya, guru besar Siauw Lim Sie tersebut.

Tat Mo Cauwsu merangkapkan kedua tangannya, dengan sabar ia berkata : "Omitohud.... apa yang dikehendaki oleh Taisu ?"

Lu Kak Siansu mengawasi sejenak lamanya kepada Tat Mo Cauwsu, kemudian mengeluarkan suara dengusan tertawa dingin.

"Engkaukah Tat Mo Cauwsu ?" tanyanya dengan suara teguran yang tidak enak didengar. Walaupun tadi ia telah merasakan kebutan lengan baju Tat Mo Cauwsu yang kuat sekali, tokh ia tidak menjadi jeri.

Tat Mo Cauwsu mengangguk sabar.

"Benar.... apakah Taisu memerlukan sesuatu dari Siauwceng ?" tanya Tat Mo Cauwsu sambil tersenyum sabar, sama sekali tidak terlihat perasaan marah diwajahnya atau perasaan tidak senang karena pendeta aneh ini telah mengacau dikuilnya.

Lu Kak Siansu tertawa bergelak gelak.

"Bagus! Bagus! Akhirnya kesampaian juga maksudku ! Kedatanganku kemari memang hendak bertemu denganmu guna mengadu ilmu. !" kata Lu Kak Siansu.

Tat Mo Cauwsu merangkapkan kedua tangannya.

"Siancai ! Siancai ! Apakah Taisu telah memikirkannya masak-masak mengenai maksud Taisu itu......?" tanya Tat Mo Cauwsu. "Dengan kedatanganku kemari tentu saja telah kupertimbangkan dengan baik sebelumnya. !" menyahuti Lu

Kak Siansu dengan sikap yang berang. "Hemmm, Tat Mo Cauwsu merupakan pendiri Siauw Lim Sie tetapi aku tidak percaya bahwa kau memiliki kepandaian yang begitu tinggi dan sakti seperti cerita dari sahabat-sahabatku. !"

"Siauwceng memang tidak memiliki kepandaian apa apa....... dan juga tidak ada sesuatu yang pantas untuk dipertandingkan. Sekarang coba Taisu jawab........!" Dan berkata sampai disitu Tat Mo Cauwsu memandang Lu Kak Siansu dengan sinar mata yang tajam dan wajah yang bersungguh-sungguh, sehingga membuat Lu Kak Siansu yang semula menatap Tat Mo Cauwsu dengan sikap menantang, jadi tidak berani terlalu lama menentang tatapan mata Tat Mo Cauwsu yang angker itu, ia jadi menundukkan kepalanya.

"Jika memang benar kita nanti bertanding, dan Taisu memperoleh kemenangan, apa keuntungannya buat Taisu ?"

”Banyak! Aku akan menjadi pemimpin kalian !" menyahuti Lu Kak Siansu cepat. "Dan semua orang-orang rimba persilatan tentu mengetahui bahwa Tat Mo Cauwsu hanya memiliki nama kosong, dan sesungguhnya Lu Kak Siansu merupakan jago nomor satu di dalam rimba persilatan. !"

"Baik !" kata Tat Mo Cauwsu sabar. "Jika memang Taisu hendak memimpin kami, silahkan, kami menerima kehadiran Taisu dengan kedua tangan terbuka dan hati yang senang. !

Dan Siauw Lim Sie juga selalu terbuka untuk setiap orang yang sungguh2 sujud untuk melaksanakan ajaran2 sang Buddha.....Mengenai keinginan Taisu, agar Taisu merupakan  seorang jago nomo satu didalam rimba persilatan, sekarangpun memang telah tercapai ! Taisu merupakan jago tanpa tandingannya. Murid2 Siauwceng telah banyak yang luka, dan Siauwceng-pun mengaku kalah. !" Muka Lu Kak Siansu jadi berobah merah.

"Kau hendak menghinaku, heh ?" bentak Lu Kak Siansu gusar.

Tat Mo Cauwsu tersenyum sabar.

"Kita tidak memiliki persoalan dan permusuhan apa2 juga, sebagai seorang pengikut sang Buddha, tentu Taisu juga tahu, tiada gunanya menanam benih permusuhan..... juga bukankah kita sama-sama penganut ajaran Sang Buddha? Mengapa hanya disebabkan ingin disebut diri sebagai jago nomor satu, harus saling bertempur mempertaruhkan jiwa?"

”Tetapi aku menghendaki kau menemani aku main-main beberapa jurus, agar aku bisa melihat berapa tinggi kepandaianmu yang begitu dipuji-puji oleh orang-orang rimba persilatan! Terimalah pukulanku ini......!" dan tanpa banyak komentar lagi, Lu Kak Siansu telah menggerakkan tangan kiri dan tangan kanannya serentak, ia telah menyerang dengan hebat, dengan mempergunakan kekuatan tenaga lwekang yang penuh. Tadi ia telah merasakan kebutan ujung lengan baju Tat Mo Cauwsu, yang membuat tongkatnya terlepas dari cekalannya dan telapak tangannya pecah terluka, sehingga sekarang ia menyerang dengan kuat sekali, bersungguhsungguh.

Tat Mo Cauwsu sabar sekali, dengan wajah welas asih, ia memuji akan kebesaran Sang Buddha.

"Siancai.....Siancai......” katanya. "Jangan menuruti bisikan hati yang tidak baik, Taisu.....!" dan waktu itu kedua tangan dari Lu Kak Siansu telah menyambar dekat pada tubuhnya, Tat Mo Cauwsu sama sekali tidak mengelak, hanya mengulurkan kedua tangannya, tahu2 mencekal pergelangan kedua tangan Lu Kak Siansu. Bagaikan dijapit oleh japitan besi, Lu Kak Siansu merasakan pergelangan tangannya sakit luar biasa, dan iapun tidak bisa meneruskan pukulannya itu. Bahkan ketika ia  hendak menarik pulang kedua tangannya itu, ia tidak berdaya sama sekali, walaupun ia telah mempergunakan seluruh tenaga lwekangnya, kedua tangannya itu tidak bergeming dalam cekalan Tat Mo Cauwsu.

Muka Lu Kak Siansu jadi merah padam, ia penasaran  bukan main.

"Lepaskan cekalanmu !" bentaknya sengit.

Tat Mo Cauwsu menyahuti, "Baik !" dan ia melepaskan cekalannya.

Tetapi begitu cekalan tangan Tat Mo Cauwsu dilepaskan, begitu tubuh Lu Kak Siansu terpental ke tengah udara.

Tetapi Lu Kak Siansu memiliki kepandaian yang tinggi, ia berpoksay beberapa kali ditengah udara, waktu tubuhnya meluncur turun, ia telah tiba lebih dulu dengan kedua kakinya menginjak tanah, maka ia tidak perlu sampai terguling.

"Saudara Taisu, apa yang dilakukan oleh Taisu tidak ada gunanya. !" kata Tat Mo Cauwsu dengan sabar.

"Hemm, terimalah seranganku lagi..jika memang aku kalah ditanganmu, biarlah aku Lu Kak akan mengangkat kau menjadi guruku !" dan membarengi dengan perkataannya itu, Lu Kak Siansu telah menerjang lagi.

Tetapi Tat Mo Cauwsu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Waktu serangan tangan Lu Kak Siansu yang mengandung maut itu tiba, ia membiarkan menghantam tubuhnya.

Anehnya, bukan Tat Mo Cauwsu yang terpental oleh pukulan yang kuat dan mematikan itu, justru Lu Kak Siansu sendiri yang terpental keras sekali, tubuhnya terapung diudara, dan terbanting diatas tanah.

Nyali Lu Kak Siansu mulai pecah, tetapi ia penasaran sekali.

Beberapa kali ia mengulangi serangannya, namun berulang kali pula ia harus terbanting keras.

Akhirnya dengan nekad, Lu Kak Siansu telah memutar kedua tangannya seperti titiran, dan kemudian dibarengi dengan lompatan tubuhnya yang pesat, ia telah menerjang menggerakkan kedua tangannya, menyerang hebat sekali. Itulah serangan yang merupakan pukulan untuk mengadu jiwa, yang bisa mematikan kedua pihak.

Tat Mo Cauwsu merangkapkan kedua tangannya sambil memuji akan kebesaran sang Buddha, lalu berkata dengan sabar : "Taisu telah cukup  pelajaran  yang  Siauwceng  berikan. !" dan waktu gempuran yang dilancarkan oleh Lu

Kak Siansu hampir tiba pada sasaran, diwaktu itulah cepat sekali Tat Mo Cauwsu bergerak setengah memutar, dan tahutahu ia telah berada dibelakang Lu Kak Siansu yang tengah meluncur ditengah udara, cepat sekali Tat Mo Cauwsu mengulurkan tangannya mencekal baju dipunggung pendeta tersebut.

Cengkeraman Tat Mo Cauwsu begitu kuat, dan tubuh Lu Kak Siansu yang tengah melayang ditengah udara, jadi tertahan, turun tidak, meluncurpun tidak.

Lu Kak Siansu terkejut bukan main, ia berusaha menggerakkan kedua tangannya untuk  menyampok kebelakang.

Tetapi hatinya lebih kaget lagi waktu ia merasakan seluruh tenaganya seperti lenyap dari raganya. Lemaslah Lu Kak Siansu pecahlah nyalinya dan ciutlah hatinya. Habis pula harapannya bisa melakukan perlawanan. Ia jadi berdiam diri saja, tergantung ditengah udara dalam cengkeraman tangan Tat Mo Cauwsu.

Sedangkan Tat Mo Cauwsu telah melemparkan tubuh Lu Kak Siansu, diiringi perkataannya: "Kembalilah ke jalan lurus, Taisu. !"

Lu Kak Siansu yang tenaganya telah lenyap, menduga tubuhnya akan terbanting keras diatas tanah. Tetapi kenyataannya tubuhnya itu meluncur dengan baik dan juga ia jatuh dengan kedua kaki terlebih dulu, sama sekali tidak terbanting.

Cepat bukan main Lu Kak Siansu telah memutar tubuhnya, melompat ke dekat Tat Mo Cauwsu, kemudian menekuk kedua kakinya berlutut dihadapan Tat Mo Cauwsu.

"Cauwsu-ya (guru besar), terimalah murid murtad ke jalan Sang Buddha. !" kata Lu Kak Siansu.

"Sang Buddha maha pengasih dan penyayang, jika memang engkau setulus hati hendak kembali ke jalan Sang Buddha, maka pintu Sang Buddha terbuka lebar untukmu !"

Bukan main gembiranya Lu Kak Siansu, ia menganggukanggukkan kepalanya berulang kali, sampai keningnya menghantam tanah dengan keras sekali. Tadi ia telah merasakan hebatnya Tat Mo Cauwsu, yang hanya beberapa jurus telah membuatnya tidak berdaya. Kini benar2 Lu Kak Siansu tunduk pada kehebatan pendeta India itu, yang menjadi guru besarnya Siauw Lim Sie ini.

Begitulah, Lu Kak Siansu telah diangkat menjadi murid Tat Mo Cauwsu. Walaupun kepandaian Lu Kak Siansu lebih tinggi dari Sam Liu Taisu, tetapi disebabkan ia diterima dalam pintu perguruan Siauw Lim Sie untuk menjadi murid pintu perguruan ini lebih belakang dari Sam Liu Taisu, dengan sendirinya ia menjadi Sute (adik seperguruan) Sam Liu Taisu. Dalam hal ilmu silat Lu Kak Siansu memang menang setingkat dari Sam Liu Taisu, tetapi mengenai pelajaran agama Buddha, ia tertinggal jauh sekali oleh Sam Liu Taisu. Untuk membuang kenangan masa lalunya, dimana Lu Kak Siansu dulu banyak melakukan perbuatan2 yang kejam dan telengas, juga ia merupakan seorang hweshio yang jahat, maka setelah diterima menjadi murid Siauw Lim Sie, Lu Kak Siansu mengganti nama gelarannya menjadi Sin Ceng Siansu yang berarti pendeta yang baru. Dengan mempergunakan gelarnya yang baru itu, SinCeng Siansu telah mulai dengan hidupnya yang baru, penuh dengan welas kasih terhadap sesamanya.

Dan kelak Sin Ceng Siansu merupakan seorang tokoh yang terkemuka dari Siauw Lim Sie, yang telah banyak sekali melakukan perbuatan perbuatan mulia, mengangkat nama Siauw Lim Sie menjadi sangat terkenal dan harum.

Hari hari telah lewat, dan Siauw Lim Sie pun tetap berkembang dengan murid muridnya yang semakin banyak, begitu juga ilmu silat Siauw Lim Sie yang tersiar semakin luas.

TAMAT

KISAH "Tat Mo Cauw Su" telah tamat, tetapi jika memang para pembaca ingin mengetahui perkembangan dari pintu perguruan tersebut, dimana Tat Mo Cauwsu akan terlibat  dalam perbagai persoalan yang ditimbulkan oleh tokoh2 aneh dan sakti daratan Tionggoan, yang tidak senang dengan berdirinya kuil Siauw Lim Sie tersebut, dapat anda mengikutinya dalam kisah "BADAI DI SIAUW LIM SIE".
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Tat Mo Cauwsu Jilid 18 (Tamat)"

Post a Comment

close