Tat Mo Cauwsu Jilid 17

Mode Malam
Jilid XVII

Pai Cing Han tidak hanya menangkis, karena begitu Bin San Siucai menarik pulang tangannya, Pai Cing Han malah membarengi menotok kearah ketiak lawannya. Totokan yang dilakukannya tersebut merupakan totokan yang disertai tenaga sinkang, kalau mengenai sasaran dengan tepat, jelas akan membuat Bin San Siucai tergempur tenaga dalamnya.

Pelajar tersebut mana mau membiarkan dirinya tertotok, cepat sekali ia telah mengeluarkan tenaga dalamnya dan berusaha menangkis lagi. Walaupun gerakannya kalah cepat dengan gerakan tangan Pai Cing Han, namun kenyataannya ia masih berhasil menangkis, dan dikala tangan Pai Cing Han masih juga meluncur lagi kearah atas dari ketiaknya, Bin San Siucai telah melompat mundur tiga langkah. Kedua orang yang masing2 memiliki kepandaian tinggi itu berdiri berhadapan. Mereka saling pandang dengan sorot mata yang tajam. Bin San Siucai yang memang bersikap selalu jenaka, telah mengeluarkan suara tertawa bergelak, sambil ejeknya : "Hemmm, kita telah main2 beberapa jurus, tentu engkau telah melihat bahwa kepandaian Bin San Siucai tidak berada disebelah bawah kepandaianmu, bukan? Mari, mari kita main-main seribu jurus lagi. !"

Pai Cing Han telah mengawasi dengan mata mendelik, katanya bengis : “Serahkan kitab pusaka itu, atau memang engkau akan kubinasakan. !”

"Jika memang engkau memiliki kesanggupan untuk membinasakan aku, silahkan....silahkan kau turun tangan......aku akan melayaninya......!" sambil menantang begitu, kembali Bin San Siucai telah tertawa terbahak-bahak keras sekali, sampai tubuhnya tergoncang. 

Bukan main mendongkol dan marahnya Pai Cing Han, sehingga tubuhnya tergetar, dan kemudian dengan mengeluarkan suara dengusan, ia melangkah maju dua  langkah, tahu2 kedua tangannya telah dirangkapkan kemudian dengan menekuk sedikit kaki kanannya serentak kedua telapak tangan itu telah mendorong, hebat sekali tenaga yang meluncur keluar dari kedua telapak tangan tersebut, sehingga bergemuruh angin terjangan yang menghantam kepada Bin San Siucai.

Bin San Siucai juga terkejut melihat cara menyerang lawannya, karena ia mengetahui bahwa itulah pukulan yang dinamakan "Im yang kun" merupakan ilmu pukulan yang hebat sekali dan terkenal didalam rimba persilatan.

Tanpa berayal, ia telah mengelakkan diri dan sambil melompat kesamping, ia juga telah membalas melancarkan gempuran dengan kepalan tangannya. Begitulah, kedua orang ini terlibat lagi dalam pertempuran yang seru sekali, tubuh mereka berkelebat2 gesit dan juga menimbulkan angin yang berkesiuran keras, dimana masing2 tengah mengerahkan tenaga dalam mereka.

Tetapi setelah lewat lagi tiga puluh jurus lebih, rupanya Bin San Siucai Lauw Ho Lun merasakan desakan yang kuat dari Pai Cing Han, yang datangnya beruntun sekali, sehingga membuat ia sulit bernapas. Cepat2 Bin San Siucai mengatur pernapasannya, dan setelah balas menyerang satu kali, ia telah melompat mundur, dan membalikkan tubuhnya untuk berlari lagi!

"Mau lari kemana kau?" bentak Pai Cing Han penuh kemarahan dan telah mengejarnya lagi dengan cepat.

Bin San Siucai mengeluarkan suara tertawa yang keras, dan ia berkata: "Kejarlah aku jika memang engkau memiliki kemampuan. !"

Mendengar ejekan tersebut, Pai Cing Han mengeluarkan seruan marah dan mempercepat larinya untuk dapat  menyandak Bin San Siucai. Begitulah mereka telah saling kejar mengejar kembali, sedangkan Bin San Siucai juga mengempos semangatnya, berusaha melepaskan diri dari kejaran Pai Cing Han.

Waktu mereka tengah saling kejar mengejar seperti itu dan tiba didekat permukaan hutan, disaat itulah Bin San Siucai melihat seseorang yang tengah duduk di bawah sebatang pohon yang cukup rindang dipermukaan hutan tersebut. Ia  melihatnya, orang itu memakai jubah sebagai seorang pendeta, seorang pendeta asing dengan hidung yang mancung dan berewokan yang lebat didagunya, rupanya tengah duduk beristirahat disitu.

Pendeta asing itupun sejak tadi tengah mengawasi kedua orang yang tengah saling kejar mengejar tersebut, dan waktu melihat kedua orang yang tengah saling kejar-kejaran itu menuju ketempatnya berada, pendeta itu berdiri dari duduknya.

Bin San Siucai telah tertawa waktu sampai didekat pendeta

itu.

"Taisu... lihatlah diriku dikejar-kejar terus menerus

olehnya, ia hendak merampok harta bendaku.  !" kata Bin San

Siucai sambil tertawa.

Waktu itu Pai Cing Han telah tiba di tempat itu juga, ia mengawasi sejenak kepada pendeta asing itu, lalu membentak kepada Bin San Siucai.

"Cepat kau kembalikan kitab pusaka itu, atau engkau benarbenar harus binasa ditanganku !" bentaknya.

Bin san siucai tertawa lagi, ia menunjuk kepada Pai Cing Han, katanya kepada pendeta asing itu : "Taisu lihat, betapa orang ini benar2 tidak kenal aturan ia telah mendesak terus

hendak merampok hartaku .....! Hemmmm, orang seperti itu pantasnya diserahkan kepada pihak yang berwajib !"

Tanpa menanti Bin San Siucai selesai berkata, Pai Cing Han telah mengeluarkan bentakan marah, tubuhnya cepat  sekali telah melompat sambil tangannya melancarkan serangan kepada Bin San Siucai.

Serangan yang dilakukan oleh Pai Cing-Han merupakan serangan yang bisa mematikan, karena angin dari serangan itu berkesiuran kuat sekali.

Pendeta asing itu tampaknya terkejut, dengan cepat tangan kanannya telah diangkat.

”Jangan mencelakai orang      !" katanya dengan suara yang

sabar, dan diwaktu itu tangannya yang diangkat telah membentur tangan Pai Cing Han, sehingga mengeluarkan suara bentrokan  yang  sangat  kuat  sekali.  Bin  San  Siucai  sendiri tertawa hahaha hehehe waktu menyaksikan hal itu. "Janganlah turun tangan begitu telengas. !"

Pai Cing Han waktu menyaksikan benturan tangannya dengan tangan pendeta asing tersebut, mengeluarkan seruan heran, karena ia merasa pergelangan tangan pendeta asing itu lunak sekali seperti kapas.

Sebagai seorang tokoh persilatan yang memiliki kepandaian tinggi sekali, disamping itu juga telah berpengalaman, seketika itu juga Pai Cing Han menyadari bahwa pendeta asing ini bukan orang sembarangan dan sinkangnya telah tinggi sekali. Ia menarik pulang tangannya, dan kemudian dengan mata memandang tajam kepada pendeta itu, Pai Cing Han menegur : "Siapakah Taisu, mengapa mencampuri urusan kami ?"

Pendeta itu merangkapkan kedua tangannya, dengan sikap yang sabar menyahuti : "Siauwceng  bergelar  Tat  Mo  Cauwsu. !"

"Oh, kiranya engkau.....!" kata Pai Cing Han sambil memperlihatkan sikap yang lebih sabar dari semula. "Engkaulah yang telah mengajari puteriku tiga jurus "Sam Kun Pa Houw"..... terima kasih atas perhatian Taisu terhadap puteriku itu."

Tat Mo Cauwsu jadi memperlihatkan perasaan heran. ”Siapakah puterimu itu? "tanyanya.

"Puteriku itu menceritakan, ketika tengah bermain perahu bersama Taisu, telah diganggu oleh Jie Liong Kim Hay, dan puteriku itu mengatakan untung saja ada Taisu yang telah turun tangan membereskan Jie Liong Kim Hay,... dan juga telah menurunkan tiga jurus ilmu pukulan "Sam Kun Pa Houw". Untuk itu aku Pai Cing Han mengucapkan terima kasih. ” Tat Mo Cauwsu telah cepat2 membalas hormat dari Pai Cing Han, kemudian katanya dengan ragu2: "Kalau begitu.....

Siecu tentunya Tocu Cie Bun To yang bernama Pai Cing Han?" "Tepat. !"

"Tetapi......mengapa tuan ini......mengatakan bahwa Siecu hendak merampas harta dan bendanya?" tanya Tat Mo Cauwsu lagi.

"Itulah dusta belaka.    !" kata Pai Cing Han kemudian. "Ia

telah  merampas  kitab  pusaka  milikku  dan  membawanya lari.     tentu saja aku telah mengejarnya untuk meminta  pulang

padanya. !"

"Hemmm, engkau bisa saja memutar balik urusan !" kata Bin San Siucai dengan suara yang nyaring, kemudian diiringi oleh suara tertawanya yang keras. "Engkau sejak tadi telah mendesak padaku, agar menyerahkan barang dan hartaku kepadamu, jika tidak engkau hendak membinasakan aku. !"

Muka Pai Cing Han merah padam karena murka bukan main, tubuhnya sampai gemetaran keras.

"Taisu, dia seorang yang licik!" kata Pai Cing Han kemudian dengan suara mengandung kemarahan. "Biarlah aku membereskan dia lebih dulu, nanti barulah kita bercakap-cakap lagi!"

Dan tanpa menantikan jawaban Tat Mo Cauwsu, segera juga Pai Cing Han menjejakkan kakinya, tubuhnya cepat dan gesit sekali telah mencelat menerjang kepada Bin San Siucai.

Tetapi Bin San Siucai Lauw Ho Lun telah berlari-lari sambil menghindarkan diri dari segala serangan Pai Cing Han, ia berlari memutari Tat Mo Cauwsu.

Pendeta India tersebut ternyata tidak bisa berdiam diri saja. Waktu Pai Cing Han hendak melancarkan pukulan pula ke punggung Bin San Siucai, diwaktu itulah Tat Mo Cauwsu telah mengibaskan tangannya, serangkum angin yang kuat telah menangkis pukulan Pai Cing Han, membuat tubuh Pai Cing Han tergoncang keras, terpaksa orang she Pai tersebut mundur tiga langkah. Di waktu itulah Tat Mo Cauwsu juga telah menggerakkan tangannya yang satu, tahu2 ia telah menyambar pergelangan tangan Bin San Siucai, dan cepat sekali ia telah berhasil mencekal pergelangan tangan dari pelajar tua tersebut.

Bin San Siucai jadi terkejut waktu melihat tangan Tat Mo Cauwsu hendak mencekal pergelangan tangannya dan ia lebih terkejut lagi setelah merasakan pergelangan tangannya itu kena dicekal tanpa ia sempat mengelakkan diri. Kepandaian Bin San Siucai tinggi, dalam satu gebrakan seperti itu Tat Mo Cauwsu luar biasa.

”Tuan, sekarang katakanlah yang sebenarnya. apakah

memang kau yang telah mengambil kitab pusaka dari Pai Siecu itu ?" tanya Tat Mo Cauwsu sambil mengawasi Bin San Siucai dengan mata yang tajam.

Bin San Siucia hanya terkejut sejenak waktu pergelangan tangannya kena dicekal oleh Tat Mo Cauwsu, setelah itu ia memperdengarkan suara tertawanya lagi, katanya : "Jika benar apa yang hendak dilakukan Taisu? Jika tidak, apa pula yang ingin dilakukan Taisu?"

Tat Mo Cauwsu telah bersenyum dengan sikapnya yang sabar.

"Tuan ceritakan yang sebenarnya, jika memang benar Pai Siecu itu hendak merampas harta dan barangmu, maka aku akan memberikan nasehat padanya, tetapi jika engkau berdusta, untuk selanjutnya sifat buruk itu harus kau lenyapkan, karena itu bisa membahayakan dirimu sendiri. Dan jika memang benar engkau telah mengambil kitab pusaka milik Pai Siecu, kembalikanlah !" Bin San Siucai telah tertawa keras, tahu-tahu ia telah menggerakkan tangannya, ia menariknya sehingga terlepas dari cekalan Tat Mo Cauwsu. Dan sambil tetap tertawa seperti itu, tahu-tahu ia telah memutar tubuhnya, kemudian berlari dengan cepat sekali. Maksudnya hendak menjauhi diri dari Pai Cing Han dan Tat Mo Cauwsu.

Melihat kelakuan Bin San Siucai, Tat Mo Cauwsu segera dapat menerkanya, bahwa Bin San Siucailah yang telah berbohong. Maka waktu melihat Bin San Siucai Lauw Ho Lun hendak melarikan diri seperti itu, pendeta India tersebut telah tersenyum, tahu-tahu ia telah menggerakkan tangan kanannya, dengan mana ia telah menghantam ke punggung Lauw Ho Lun.

Waktu itu Bin San Siucai tengah berlari cepat sekali, karena ia memang memiliki ginkang yang tinggi, namun diwaktu ia baru berlari belasan tombak, tiba2 ia merasakan berkesiuran angin dari belakang punggungnya dan kemudian ia merasakan tenaga membetot yang kuat sekali, ia jadi kaget dan mengempos semangatnya hendak berlari terus, tetapi justru di waktu ia hendak mengerahkan tenaganya untuk berlari terus, dikala itu tubuhnya seperti telah terbetot keras sekali ke belakang dan jatuh terjengkang!

Ternyata Tat Mo Cauwsu telah mempergunakan semacam ilmu dari Yoga, karena Tat Mo Cauwsu memang telah melatih mahir ilmu Yoganya, ia bisa mempergunakan kekuatan tenaganya selain menghantam kuat menghancurkan lawan, pun dia bisa mempergunakan tenaganya untuk membetot. Dengan begitu, Bin San Siucai jadi gagal sama sekali melarikan diri. Disaat ia telah melompat bangun berdiri pula, Tat Mo Cauwsu telah berdiri disampingnya.

Bin San Siucai memandang Tat Mo Cauwsu dengan sorot mata penasaran, ia berkata: "Taisu. engkau rupanya memang

ingin main-main denganku? Tahukah engkau siapa aku?” Tat Mo Cauwsu tersenyum tawar, katanya: "Siecu rupanya memang hendak mempermainkan Pai Siecu..silahkan Siecu kembalikan kitab pusaka dari Pai Siecu yang telah diambil olehmu tadi. !"

Bin San Siucai mendongkol bukan main, ia telah mengeluarkan suara tertawa mengejek. Didalam rimba persilatan, Bin San Siucai merupakan seorang tokoh persilatan yang disegani dan dihormati, karena memang ia memiliki kepandaian yang tinggi, tetapi sekarang Tat Mo Cauwsu seperti juga tidak memandang sebelah mata padanya. "Hmmm pendeta asing ini rupanya belum mengetahui siapa aku sebenarnya.  !"

setelah berpikir begitu, Bin San Siucai berkata: "Taisu, aku Bin San  Siucai  tidak  akan  mundur  menghadapi  siapapun  juga. ,

jika memang Taisu masih hendak menahan diriku, baiklah aku akan melayani keinginan Taisu. ”

Pai Cing Han waktu itu telah melangkah menghampiri sambil berkata kepada Tat Mo Cauwsu : "Taisu. biarkan aku

yang menghadapinya. !"

Tetapi Tat Mo Cauwsu telah mengulap ulapkan tangannya, "Biarlah Pai Siecu, aku yang akan memintakan kembali kitab pusakamu itu......!" kata Tat Mo Cauwsu, kemudian memandang tajam kepada Bin San Siucai, sambil tanyanya: "Apakah Siecu masih tidak hendak mengembalikan kitab pusaka milik Pai Siecu?"

Melihat sinar mata Tat Mo Cauwsu yang tajam, Bin San Siucai merasakan hatinya agak tergoncang, tetapi kemudian ia tertawa dingin.

"Memang benar aku telah mengambil kitab pusaka milik orang she Pai itu, apa yang hendak dilakukan oleh Taisu ?" tanyanya dengan sikap yang menantang sekali.

Tat Mo Cauwsu bersenyum sabar, katanya : "Tentu saja Siauwceng  tidak  bisa  berbuat  apa-apa,  hanya  ingin  minta kerelaan dari Siecu untuk mengembalikan kitab pusaka milik Pai Siecu itu. !"

"Jika aku menolaknya?"

"Jangan membawa sikap begitu, Siecu ..... karena yang  akan menemui kesulitan adalah Siecu sendiri !" kata Tat Mo Cauwsu dengan sabar.

Tetapi Bin San Siucai merupakan seorang pelajar tua yang memiliki kepandaian tinggi dan pengalaman yang luas, ia juga tidak pernah jeri terhadap siapapun juga, maka dari itu ia sama sekali tidak gentar untuk berurusan dengan pendeta dari India itu. Jika tadi ia melihat Tat Mo Cauwsu tengah duduk dibawah batang pohon itu, ia memang sengaja menghampirinya, hanya sekedar untuk mempermainkan Pai Cing Han. Tetapi siapa sangka Tat Mo Cauwsu merupakan seorang pendeta yang memiliki kepandaian begitu tinggi. Dengan demikian, Bin San Siucai jadi bersiap sedia untuk bertempur dengan pendeta ini, yang akhirnya membela Pai Cing Han.

”Baiklah, jika memang Taisu hedak main-main denganku, Bin  San  Siucai  Lauw  Ho  Lun  tidak  akan  menampiknya. !"

kata Bin San Siucai. "Silahkan Taisu memberikan petunjukmu

......!"

Tat Mo Cauwsu telah mengawasi Bin San Siucai beberapa saat lamanya, kemudian tanyanya : "Apakah ... tuan benar2 tidak hendak mengembalikan barang milik Pai Siecu itu ?"

"Hemmm, Taisu tidak perlu mencampuri urusan itu, tetapi sekarang Taisu tinggal pilih, jika memang Taisu hendak mencampuri urusan ini, berarti Taisu akan berurusan  denganku, tetapi jika memang Taisu tidak ingin terlibat dalam urusan yang tidak menggembirakan, aku orang she Lauw tentu tidak akan menolak untuk main-main denganmu, Taisu. !" Tat Mo Cauwsu tertawa sabar. "Baiklah jika memang Lauw Siecu menghendaki begitu," kata Tat Mo Cauwsu kemudian

."Terpaksa Siauwceng harus main2  denganmu  beberapa  jurus. !"

Dan Tat Mo Cauwsu mengambil sikap menanti, untuk menerima serangan.

"Silahkan. !" katanya kemudian.

Bin San Siucai menoleh memandang pada Pai Cing Han beberapa saat lamanya, kemudian ia memandang lagi kepada pendeta India tersebut, barulah kemudian ia tanpa segan-segan telah menggerakkan tangan kanannya, menghantam kearah dada pendeta India itu.

Tubuhnya berkelebat sangat cepat sekali, dimana pada kepalan tangannya itu juga mengandung tenaga sinkang yang tangguh sekali.

Tat Mo Cauwsu tidak beranjak dari tempatnya berdiri, dia telah membiarkan dadanya dihantam oleh kepalan tangan Bin San Siucai.

"Bukkk !" kuat sekali kepalan tangan Bin San Siucai telah menghantam dada pendeta tersebut, jika memang Bin San Siucai menghantam sebungkah batu, tentu batu itu akan hancur dan remuk. Tetapi kenyataannya sekarang, Tat Mo Cauwsu seperti juga tidak merasakan suatu apapun juga, walaupun dadanya telah begitu tepat dihantam oleh kepalan tangan Bin San Siucai.

Sambil tersenyum Tat Mo Cauwsu malah berkata: "Silahkan Siecu memilih bagian yang empuk. !"

Mendengar tantangan yang merupakan ejekan tersebut, Bin San Siucai yang waktu itu tengah kaget karena seperti menghantam kapas saja dan dada Tat Mo Cauwsu lunak tidak memberikan   tenaga   perlawanan,   jadi   berbalik   gusar.   Ia mengempos semangat dan tenaganya, diwaktu itulah ia telah mengeluarkan suara bentakan yang sangat kuat sekali, dibarengi dengan tangannya yang telah digerakkan untuk menghantam lagi.

Angin pukulan itu berkesiuran keras dan kembali menghantam dada Tat Mo Cauwsu, karena pendeta India tersebut memang sama sekali tidak menghindarkan diri dari gempuran itu. Dan kembali Bin San Siucai merasakan betapa kepalan tangannya itu menghantam tepat sekali pada dada Tat Mo Cauwsu, hanya dada itu lunak seperti kapas. Untuk kedua kalinya ia menemui kegagalan.

Tat To Cauwsu masih berdiri tenang di tempatnya tanpa memberikan perlawanan.

Bin San Siucai jadi malu dan penasaran mukanya berobah menjadi merah sekali. Apa lagi ketika ia melirik dan melihat Pai Cing Han tengah mengawasinya dengan bibir tersungging senyuman mengejek.

Dengan mengempos seluruh kekuatannya, Bin San Siucai telah menghantam untuk ketiga kalinya, kali ini tenaga serangannya itu dua kali lebih kuat dari tenaga serangannya yang tadi, angin serangan tersebut juga berkesiuran sangat kuat.

”Bukkkkk...!" kembali dada Tat Mo Cauwsu tergempur kuat sekali, karena pendeta tersebut sama sekali tidak berusaha mengelakkan diri.

Tetapi berbeda dengan tadi, kali ini dada Tat Mo Cauwsu keras melebihi besi, sehingga begitu kepalan tangan Bin San Siucai mengenai dadanya, menghantam dengan kuat, seketika ia mengeluarkan suara jeritan yang keras sekali, jerit kesakitan. Tubuhnya juga telah terpental beberapa tombak. Ternyata, waktu melihat Bin San Siucai menyerang lagi dengan mempergunakan kekuatan tenaga yang begitu besar, Tat Mo Cauwsu telah mengganti hawa murni yang melapisi dadanya. Jika semula Tat Mo Cauwsu mempergunakan tenaga Im (lunak), ia kini mempergunakan tenaga Yang, yaitu keras. Dengan begitu, dadanya melebihi kerasnya besi maupun baja, dan memang Bin San Siucai telah menyerangnya begitu kuat, menyebabkan tulang tangan Bin San Siucai menjadi patah, dan tubuhnya tertolak terpental begitu rupa.

Dengan meringis menahan sakit, Bin San Siucai telah berdiri.

Sedangkan Tat Mo Cauwsu telah berkata : "Maaf, maaf....

Lauw Siecu telah menyerang terlalu hebat melebihi takaran....

apakah engkau terluka ?”

Bin San Siucai memandang pada Tat Mo Cauwsu dengan sorot mata mengandung dendam. Sedangkan Pai Cing Han sambil senyum puas telah berkata : "Cepat  kembalikan kitabku. !"

Tanpa banyak bicara Bin San Siucai telah merogoh sakunya dengan mempergunakan tangannya yang tidak patah, kemudian melemparkan kitab pusaka yang semula telah dirampasnya itu kepada Pai Cing Han.

Pai Cing Han menyambuti kitab itu, yang kemudian disimpan didalam sakunya.

Bin San Siucai setelah melemparkan kitab pusaka itu kepada Pai Cing Han, tanpa berkata sepatah katapun juga, telah memutar tubuhnya dan berlari dengan cepat sekali meninggalkan tempat itu.

Tat Mo Cauwsu hanya menghela napas saja, ia berkata perlahan : "Sesungguhnya kepandaian Lauw Siecu itu cukup tinggi, hanya sayang sekali  ia  senang  mempermainkan  orang. !"

Pai Cing Han telah menghampiri dan menjura memberi hormat kepada pendeta India tersebut untuk mengucapkan terima kasihnya.

"Dimanakah putrimu sekarang ini berada, siecu ?" tanya  Tat Mo Cauwsu kemudian.

"Dia berada bersama ibunya...!” tetapi waktu berkata sampai disitu, wajah Pai Cing Han jadi berobah, ia terkejut sendirinya, karena teringat bahwa putrinya bersama istrinya berada disarang macan, dimana Bu Bok Sun dan juga Lung Kie Eng berada disitu, "Ahh, aku telah meninggalkan mereka begitu saja !" berseru Pai Cing Han, dan tanpa menantikan Tat Mo Cauwsu bertanya lagi, ia telah memutar tubuhnya untuk berlari ke markas Jie Liong Kim Hay.

Tat Mo Cauwsu heran melihat sikap Pai Cing Han, tetapi ia memang ingin bertemu lagi dengan Pai Ing Siu, yang dianggapnya jenaka dan lincah menarik hati, dimana Tat Mo Cauwsu bermaksud untuk melihat berapa jauh latihan Pai Ing Siu terhadap ketiga jurus ilmu pukulan yang telah diturunkannya. Dan Tat Mo Cauwsu juga memang hendak menurunkan beberapa jurus ilmu silat lagi kepada gadis itu, kalau saja Pai Cing Han meluluskan keinginannya itu.

Dengan gerakan yang ringan, Tat Mo Ciauwsu telah berlari cepat sekali menyusul Pai Cing Han. Karena Ginkang Tat Mo Cauwsu telah mahir sekali, mudah saja ia mengikuti  dibelakang Pai Cing Han.

Ketika sampai didepan markas Jie Liong Kim Hay, wajah Pai Cing Han jadi berobah pucat, ia tidak melihat putri dan istrinya, disamping itu juga ia sama sekali tidak melihat seorang manusiapun disekitar tempat itu. Dengan perasaan kuatir, tampak Pai Cing Han telah berlari kesana kemari sambil memanggil2 putrinya. Tetapi sejenak kemudian mukanya jadi berobah merah padam.

”Hemmmm, tentunya orang2 Jie Liong Kim Hay yang telah mempergunakan kesempatan disaat aku tidak berada disini untuk berbuat kurang ajar pada Siujie dan istriku....!" karena berpikir begitu, dengan murka tampak Pai Cing Han telah menghampiri pintu gerbang dari gedung yang dijadikan markas Jie Liong Kim Hay itu, dia murka berbareng diliputi kekuatiran.

Tat Mo Cauwsu hanya berdiam diri mengawasi tingkah laku Pai Cing Han, dia juga heran melihat disekitar tempat itu tidak terdapat seorang manusiapun juga, dan tidak mengerti mengapa Pai Cing Han mengajaknya ke tempat ini.

Tetapi disebabkan Tat Mo Cauwsu melihat sikap Pai Cing Han yang tampaknya begitu gugup dan bingung, maka dia membiarkan saja Pai Cing Han menghampiri pintu gedung markas Jie Liong Kim Hay.

Dengan gusar Pai Cing Han telah mempergunakan tangan kanannya menghantam daun pintu gedung itu.

"Brakkk.....!" daun pintu tersebut terhantam pecah karena Pai Cing Han telah memukul dengan mempergunakan sinkang yang penuh.

Dengan gerakan yang lincah, tubuh Pai Cing Han juga telah melompat masuk kedalam gedung itu. Sedangkan Tat Mo Cauwsu telah menghampiri ke pintu gerbang gedung itu untuk melihat keadaan didalam gedung tersebut.

Sunyi dan sepi sekali keadaan digedung itu dan juga tampaknya memang tidak terdapat seorang manusiapun juga.

Pai Cing Han dengan gusar telah berteriak nyaring sekali : "Bu Bok Sun.... keluarlah kau. !"

Tidak terdengar sahutan. Kembali Pai Cing Han telah berteriak dengan nyaring, memanggil Bu Bok Sun, tetapi tidak terdengar suara sahutan.

Bukan main gusarnya Pai Cing Han, tubuhnya sampai gemetaran keras.

"Jika engkau tidak juga mau keluar, biarlah gedung ini akan kubakar...!" ancam Pai Cing Han dengan suara yang nyaring.

Waktu itulah terdengar suara tertawa yang dingin mengandung ejekan, dari ruang dalam telah melompat keluar sesosok tubuh, kemudian disusul dengan beberapa sosok tubuh lainnya.

Ternyata orang yang melompat keluar itu adalah Bu Bok Sun, dan juga diiringi oleh Lung Kiu Eng serta beberapa orang anak buah Lung Kiu Eng.

"Pai Tocu, mengapa kau datang kembali sambil marah2 seperti itu? Bukankah kitab pusaka yang kau kehendaki telah kuberikan ?" tanya Bu Bok Sun sambil memperdengarkan suara tertawa mengejeknya, sama sekali ia tidak memperlihatkan perasaan takut.

Muka Pai Cing Han merah padam, ia menegur dengan gusar : "Mana puteri dan istriku?"

"Mana aku tahu? Pai Tocu... bukankah mereka menyusulmu ?" tanya Bu Bok Sun dengan sikap mengejek. "Aku mana memiliki waktu untuk mengurusi mereka...!”

"Orang she Bu ...!" bentak Pai Cing Han dengan suara mengandung kemarahan bukan main. "Jika engkau tidak mengatakan terus terang mengenai diri putriku dan isteriku, akan kubinasakan kalian semuanya...!"

Mendengar ancaman Pai Cing Han, Bu Bok Sun tertawa bergelak gelak. ”Hebat ! Hebat ! Engkau ingin memusnahkan kami semua? Ohh, sungguh maksud yang baik sekali ! Aku orang she Bu sama sekali tidak akan mundur ! Tadi engkau telah meminta kitab pusaka yang kau katakan milikmu, aku telah mengalah dan memberikannya...... tetapi sekarang setelah memperoleh kitab itu engkau kembali kemari marah-marah seperti itu bahkan mengancam kami ingin dibinasakan olehmu. ! Ohhh,

apakah engkau mengenal aturan Kangouw ?"

"Hemmm, jika engkau tidak mau bicara terus terang mengenai keadaan puteriku dan isteriku itu, aku akan membuktikan ancamanku itu, kalian seluruhnya akan kubinasakan!" kata Pai Cing Han.

Bu Bok Sun memperdengarkan suara tertawa dingin sambil katanya kemudian : "Baik, baik, apa keinginanmu yang sebenarnya? Tampaknya memang engkau mencari-cari urusan dengan kami. !"

Pai Cing Han sudah tidak bisa menahan kemarahan hatinya, dengan diiringi suara teriakan yang nyaring, ia telah mencelat menerjang kepada Bu Bok Sun, cepat sekali ia telah menggerakkan kedua tangannya, dimana ia melancarkan gempuran kuat sekali.

Bu Bok Sun yang telah menduga bahwa Pai Cing Han akan melancarkan serangan kepadanya, memang telah bersiap-siap sejak tadi. Begitu melihat orang she Pai tersebut memang benar2 melancarkan serangan padanya, ia tidak tinggal berdiam diri, tanpa menanti tibanya serangan, ia telah melompat kesamping, dan membarengi menyerang ke pinggang Pai Cing Han.

Serangan yang dilakukan oleh Bu Bok Sun mengandung kekuatan tenaga sinkang yang hebat, memang kepandaiannyapun tinggi sekali. Jika belum lama yang lalu dia menyerah  kalah  kepada  Pai  Cing  Han  dan   mengembalikan kitab pusaka yang dikehendaki Pai Cing Han, waktu itu ia tengah terluka didalam, tenaga dalamnya tidak bisa kumpul dengan baik, memerlukan empat puluh hari guna mengobatinya.

Tetapi sekarang, karena ia tidak mau begitu saja diserang oleh Pai Cing Han, ia telah melancarkan serangan balasan yang lebih cepat tanpa menantikan tibanya serangan yang dilakukan Pai Cing Han, dengan harapan bisa merebut waktu. Perlu diketahui bagi seorang akhli silat yang telah memiliki kepandaian tinggi sekali, waktu yang beberapa detik sangat penting sekali. Dan Bu Bok Sun yang hendak merebut kemenangan dari waktu tersebut, telah menyerang ke pinggang Pai Cing Han mempergunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya.

Pai Cing Han melihat lawannya telah mengelakkan diri dan malah telah melompat ke samping balas menyerang tanpa menantikan tibanya serangan, ia jadi tambah mendongkol. Tanpa menarik pulang serangannya, Pai Cing Han hanya memiringkan tubuhnya dan membelokkan kedua tangannya, maka ia telah menggempur kearah Bu Bok Sun lagi.

Segera terdengar suara benturan yang kuat sekali, kekuatan tenaga Pai Cing Han telah saling bentur dengan tenaga serangan Bu Bok Sun, terdengar suara menggelegar yang kuat memekakkan anak telinga.

Tubuh Bu Bok Sun tergoncang keras, ia melangkah mundur tiga langkah kebelakang. Sedangkan Pai Cing Han hanya merasakan pergelangan tangannya tergetar dan kesemutan, namun ia tidak beranjak dari tempat berdiri, malah begitu tenaga mereka saling bentur dan diwaktu tubuh Bu Bok Sun tengah terhuyung mundur seperti itu, Pai Cing Han telah mempergunakan kesempatan tersebut untuk menyerang lagi ! Bu Bok Sun terkejut, dan ia merasakan bahwa kesempatan untuk menangkis sudah tidak dimilikinya lagi, hanya satu satunya jalan yang bisa menyelamatkan dirinya dari serangan Pai Cing Han, yaitu mengelakkan diri saja. Ia telah membuang tubuhnya ke tanah bergelindingan disitu beberapa tombak jauhnya.

Lung Kiu Eng yang melihat ancaman untuk Susioknya tersebut, juga tidak bisa berdiam diri, dengan cepat ia telah melompat kesamping Pai Cing Han, dan ditangannya tercekal sebatang golok, dengan senjata tajam tersebut ia telah membacok kearah punggung Pai Cing Han. Gerakan yang dilakukannya itu cepat sekali, angin dingin berkesiuran.

Pai Cing Han juga mengetahui bahwa dari arah belakangnya datang serangan membokong. Tanpa menoleh lagi ia telah menggerakkan tangan kanannya, ia menyentil golok itu, sehingga terdengar suara ”Tringgg.....!" yang nyaring, dan membarengi dengan itu, diwaktu golok tersebut terpental, cepat sekali ia telah menggerakkan tangannya yang satu lagi, lewat ketiaknya, dia telah menyerang dengan telapak tangannya.

Angin serangan itu berkesiuran sangat kuat dan segera terdengar suara jeritan Lung Kiu Eng, yang tubuhnya telah terpental, mengeliat-ngeliat diatas tanah tidak bisa bangun dengan segera, karena dadanya dirasakan seperti remuk akibat serangan yang dilakukan Pai Cing Han.

Bu Bok Sun sendiri telah berdiri dengan muka beringas memandang kepada Pai Cing Han, katanya dengan sengit : "Bagus! Engkau terlalu memaksa kami ! Jika begitu, puterimu dan isterimu biarlah binasa bersama-sama kami !"

Muka Pai Cing Han jadi merah padam karena murka dan kaget.

"Katakan, apakah puteriku dan isteriku memang ditahan oleh kalian ?" tegurnya. Bu Bok Sun telah mengangguk sambil memperdengarkan suara tertawa dingin.

"Benar!" katanya kemudian. "Jika memang engkau terlalu mendesak kami, kami pun tidak takut untuk mati, tetapi puteri dan isterimu itupun akan segera menemui kematian......!" dan setelah berkata begitu, Bu Bok Sun telah merogoh saku bajunya, ia mengeluarkan sebatang panah bersuara, yang dilontarkan ketengah udara, mendesing mengeluarkan suara yang sangat nyaring.

"Orang-orang kami yang berada didalam telah bersiap-siap dengan senjata tajam di tangan, untuk membinasakan puteri dan isterimu ! Panah yang pertama itu memberikan perintah kepada mereka untuk bersiap-siap membinasakan puteri dan isterimu, dan begitu kulepaskan anak panah keduanya, berarti jiwa anak dan isterimu itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi, begitu kau memasuki gedung kami, kelak engkau hanya bisa menemui dua sosok tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi dari kedua orang yang engkau cintai itu. !"

Bukan main marah dan kuatirnya Pai Cing Han, ia telah berkata dengan suara membentak marah : "Bebaskan mereka....aku akan mengampuni kalian semua. !"

Tetapi Bu Bok Sun telah tertawa dingin, ia juga telah menimang-nimang sebatang anak panah ditangannya yang siap akan dilontarkan ketengah udara lagi. Jika memang anak panah itu dilontarkan, tentu anak buah Bu Bok Sun akan menghabiskan jiwa Pai Ing Siu dan isteri Pai Cing Han.

Pai Cing Han berdiri tertegun ditempatnya, ia mengetahui, tidak mungkin ia keburu untuk merebut anak panah itu. Jika ia melangkah maju untuk menyerang, tentu Bu Bok Sun lebih dulu dapat melepaskan anak panah bersuara itu. Dengan demikian, berarti juga keselamatan jiwa anak dan isterinya itu akan terancam kematian. Ia memang telah menduga bahwa anaknya dan isterinya ditawan oleh Bu Bok Sun, begitu ia tiba dimuka markas Jie Liong Kim Hay tersebut dan tidak melihat anak dan isterinya, dugaan seperti itu telah terdapat dibenaknya.

Pai Cing Han juga tidak tolol untuk berlaku nekad menyerbu kepada Bu Bok Sun karena begitu anak panah Bu Bok Sun dilepaskan, anak dan istrinya bisa menemui kematian. Ia juga mengetahui bahwa ancaman yang diutarakan oleh Bu Bok Sun bukan merupakan ancaman kosong belaka.

"Baiklah," kata Pai Cing Han kemudian. "Apa yang kau kehendaki ?"

”Hmm " tertawa dingin Bu Bok Sun.

"Apakah engkau masih menghendaki anak dan istrimu itu kembali kesisimu dalam keadaan masih bernyawa ?"

Pai Cing Han menggeretekkan giginya kemudian dengan gusar ia menyahuti : ''Seujung rambut saja mereka terganggu, hemmm hemmm, kau lari ke ujung dunia sekalipun tidak akan kulepaskan. !"

”Hahahaha. !" Bu Bok Sun telah tertawa keras. "Aku akan

membebaskan mereka, tetapi engkau harus memenuhi dua buah syaratku. "

"Katakan syaratmu itu.....!" kata Pai Cing Han dengan murka.

”Pertama, kau harus menyerahkan kembali kitab pusaka itu kepadaku dan berjanji untuk selanjutnya tidak akan menggangguku lagi...dan juga tidak akan berusaha untuk merebut kembali kitab pusaka itu. !" kata Bu Bok Sun.

Pai Cing Han berdiam diri sejenak, namun akhirnya ia mengangguk. ”Baik," katanya sambil merogoh sakunya mengeluarkan kitab pusaka itu, yang kemudian dilemparkan kepada Bu Bok Sun. "Terimalah kitab itu......dan kini katakan apa syaratmu yang kedua ?"

Bu Bok Sun tertawa.

”Mudah....syaratku yang kedua itu tidak sulit ! Aku hanya menghendaki kau berjanji tidak akan menginjakkan kaki pula di daratan Tionggoan untuk waktu-waktu mendatang. Jika memang engkau meluluskan syaratku yang ini, tentu putri dan isterimu akan kubebaskan...!"

Pai Cing Han tidak segera menyahuti, mukanya merah padam karena murka.

Ia sebagai seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki nama sangat terkenal, tentu saja ia tidak sembarangan memberikan janjinya.

Sekali saja ia memberikan janji, tentu ia tidak akan melanggarnya, tidak mungkin ia menjilat ludah yang telah dibuangnya !

Maka dari itu, walaupun terdengarnya memang mudah syarat dari Bu Bok Sun, tetapi sulit untuk diterima olehnya. Sekali saja dia berjanji, berarti selama hidupnya ia tidak akan menginjak daratan Tionggoan, dan hanya dapat berdiam dipulau Cie Hung To.

"Bagaimana ?" tanya Bu Bok Sun sambil tersenyum menyeringai mengejek.

Pai Cing Han membanting2 kakinya, akhirnya ia mengangguk.

Tetapi belum lagi ia berkata menyanggupi syarat kedua dari Bu Bok Sun tersebut, diwaktu itulah tampak sesosok tubuh berkelebat dengan cepat sekali ke samping Bu Bok Sun. Bu Bok Sun hanya melihat sosok tubuh yang berkelebat kedekatnya, tetapi belum lagi ia bisa melihat jelas, diwaktu itulah ia merasakan tangannya dingin, dan anak panah bersuara yang berada ditangannya telah direbut oleh sosok tubuh itu.

Dengan kaget dan marah Bu Bok Sun telah memandang kepada orang yang merebut anak panah bersuaranya itu, dan ia melihat orang tersebut tidak lain dari seorang pendeta India, yang tadi berdiri dipintu gerbang gedung itu.

"Kau ...?" suara Bu Bok Sun mengandung kegusaran.

Tetapi ia tidak bisa meneruskan kata-katanya, karena begitu melihat anak panah di-tangan Bu Bok Sun dapat direbut oleh Tat Mo Cauwsu, pendeta India tersebut, cepat bukan main tampak Pai Cing Han telah melompat ke dekat Bu Bok Sun, tangan kanannya bergerak menghantam dengan kuat sekali. Tenaga pukulan yang dipergunakannya sangat kuat sekali, dan Bu Bok Sun yang tengah terkejut dan marah karena anak panah bersuaranya dirampas oleh Tat Mo Cauwsu, tidak keburu untuk mengelakkan diri dari serangan yang dilancarkan oleh Pai Cing Han, karena itu, tidak ampun lagi tubuh Bu Bok Sun jadi terpental sambil mengeluarkan suara jeritan yang sangat keras sekali, bergulingan diatas tanah.

Tat Mo Cauwsu telah menghela napas.

”Hemmm, dia mengandung maksud jahat untuk mencelakai putri dan istrimu, Pai Siecu..... tetapi niat jahatnya itu telah digagalkan, ampunilah jiwanya !" kata Tat Mo Cauwsu.

Pai Cing Han waktu itu sesungguhnya hendak melompat kepada Bu Bok Sun untuk menghantam pula, tetapi mendengar perkataan Tat Mo Cauwsu ia jadi membatalkan maksudnya itu, ia tidak jadi menyerang Bu Bok Sun.

Orang she Bu itu telah merangkak bangun dengan muka meringis. Sedangkan Pai Cing Han menoleh kepada Tat Mo Cauwsu sambil katanya : "Taisu. aku harap kau mengawasi

orang she Bu ini, aku akan membebaskan anak dan istriku dulu. !”

Tat Mo Cauwsu mengiyakan.

Diwaktu itulah Pai Cing Han telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah mencelat ke dekat beberapa orang anak buah Jie Liong Kim Hay. Dengan kedua tangan digerakkan, ia telah menghantam mereka. Beberapa orang anak buah Jie  Liong Kim Hay yang telah berdiri tertegun ditempat mereka karena kaget menyaksikan Bu Bok Sun dirubuhkan oleh Pai Cing Han, jadi terpelanting semuanya, karena mereka terkena angin serangan yang dilancarkan oleh Pai Cing Han.

Dan tanpa memperdulikan anak buah Jie Liong Kim Hay tersebut, Pai Cing Han telah berlari menerobos masuk kedalam gedung tersebut.

Tat Mo Cauwsu telah berdiri didekat Bu Bok Sun, menjagai orang she Bu tersebut. Karena kalau sampai Bu Bok Sun berhasil melepaskan anak panah bersuaranya, Pai Cing Han tentu tidak berhasil untuk menolongi jiwa anak dan isterinya.

Tidak lama kemudian tampak Pai Cing Han telah muncul kembali bersama Pai Ing Siu dan isterinya. Sedangkan si gadis kecil waktu melihat Tat Mo Cauwsu, telah mengeluarkan seruan girang sambil berlari menghampiri pendeta India tersebut : "Taisu. kau berada disini?"

Tat Mo Cauwsu bersenyum, ia mengusap usap rambut anak itu, katanya: "Bagaimana apakah "Sam Kun Pa Houw" telah kau pelajari dengan baik ?"

Pai Ing Siu menggeleng sambil tersenyum manis. "Belum.....  dalam  waktu  yang  begitu  singkat  aku  mana

memiliki  waktu  untuk  melatih  diri  lebih-lebih  ayah  telah

mengajak aku untuk mendatangi tempat ini. !" Tat Mo Cauwsu mengangguk sambil katanya: "Kelak kau harus melatih diri baik-baik. !"

Pai Ing Siu mengiakan.

Pai Cing Han telah mengajak Tat Mo Cauwsu, anaknya dan isterinya meninggalkan gedung tersebut. Sedangkan Bu Bok Sun dan Lung Kiu Eng hanya bisa mengawasi saja tanpa bisa mengatakan apa-apa. Begitu pula waktu kitab pusaka yang berada didalam saku Bu Bok Sun diambil kembali oleh Tat Mo Cauwsu, dan diserahkan kepada Pai Cing Han, Bu Bok Sun tidak bisa berbuat apapun juga selain hanya menghela napas dalam-dalam.....

*dw*kz*

NAMA Tat Mo Cauwsu semakin lama semakin terkenal, segala tindak tanduknya di daratan Tionggoan telah didengar oleh banyak jago2 daratan Tionggoan, terutama sekali jago2 yang memiliki kepandaian tinggi dan juga telah hidup mengasingkan diri untuk menekuni ilmu mereka. Tetapi nama Tat Mo Cauwsu yang begitu terkenal, dan juga disertai cerita2 yang menarik mengenai petualangan pendeta dari India, yang sesungguhnya bernama Gunal Sing tersebut, ternyata merupakan cerita yang seperti sebuah dongeng saja, karena padanya dapat dijumpai berbagai peristiwa dan kejadian, dimana ia seperti memiliki ilmu sihir.

Padahal Tat Mo Cauwsu lebih banyak mempergunakan kepandaian ilmu silatnya yang dicampur pemakaiannya dengan ilmu Yoga yang dikuasainya dengan baik. Mengenai ilmu sihir, ia hanya mempergunakannya jika tengah berhadapan dengan para penjahat yang memiliki ilmu sesat itu, dengan demikian munculnya Tat Mo Cauwsu didaratan Tionggoan merupakan sesuatu yang menarik perhatian dari tokoh-tokoh persilatan didaratan Tionggoan itu sendiri. Terlebih lagi orang-orang yang menceritakan tentang kesaktian Tat Mo Cauwsu umumnya tokoh-tokoh sakti jago Rimba Persilatan didaratan Tionggoan itu seperti Pai Cing  Han, Tocu dari pulau Cie Hung To, sehingga lebih menarik lagi kisah petualang Tat Mo Cauwsu. Menurut Pai Cing Han, yang bercerita kepada tokoh-tokoh persilatan yang memiliki kepandaian setinggi dia, bahwa Tat Mo Cauwsu merupakan seorang pendeta yang memiliki kepandaian sulit ditandingi. Pai Cing Han juga menceritakan ia telah pernah selama beberapa bulan lamanya berada bersama-sama dengan Tat Mo Cauwsu, dengan demikian ia telah melihat betapa ilmu dan kepandaian pendeta India tersebut memang benar-benar luar biasa sekali.

Dengan banyaknya jago-jago rimba perpersilatan, yang merupakan tokok-tokoh saktinya, bercerita mengenai  kehebatan kepandaian Tat Mo Cauwsu, dengan sendirinya nama Tat Mo Cauwsu semakin terkenal saja.

Namun nama yang terkenal seperti itu, membuat Tat Mo Cauwsu agak repot juga, karena cukup banyak tokoh2 persilatan yang tertarik mendengar kisah petualang Tat Mo Cauwsu lalu turun gunung mencari pendeta India tersebut, untuk mengadu ilmu. Walaupun cukup mudah Tat Mo Cauwsu selalu merubuhkan lawan2nya, namun tidak urung dengan diganggu terus menerus oleh puluhan orang tokoh sakti tersebut, membuat Tat Mo Cauwsu harus menghadapi perbagai pertempuran. Dengan begitu, dengan berjatuhnya jago2 sakti daratan Tionggoan tersebut ditangan Tat Mo Cauwsu, telah membuat nama Tat Mo Cauwsu semakin terkenal dan disegani oleh para tokoh2 sakti didaratan Tionggoan.

Dan tidak kurang pula banyak orang2 rimba persilatan yang berusaha mencari jejak Tat Mo Cauwsu, guna memohon pendeta dari India tersebut menerima mereka menjadi muridnya, untuk menuruni ilmu dan kesaktian dari pendeta India  tersebut.  Tetapi  sejauh  itu  Tat  Mo  Cauwsu  belum bersedia untuk menerima murid karena ia merencanakan, jika memang telah tiba waktunya, ia hendak membuka sebuah pintu perguruan silat, yang dihubungkan dengan pelajaran agama Buddha, dan ia baru akan menerima murid untuk dididiknya, baik ilmu silat dan Yoga, juga akan dididiknya ilmu agama dari pelajaran Sang Buddha.

Selama berkelana didaratan Tionggoan memang Tat Mo Cauwsu selain meneliti setiap kepandaian dari tokoh2 persilatan didaratan Tionggoan, juga ia mencari tempat yang sekiranya sesuai baginya guna mendirikan sebuah gedung untuk dijadikan tempat mengajar dan menerima murid, mengembangkan ilmu dan kepandaiannya.

Namun sejauh itu, Tat Mo Cauwsu masih juga belum menemui tempat yang cocok dihatinya, maka ia masih mengembara juga dengan selalu menemui berbagai peristiwa yang menegangkan, karena cukup banyak jago2 daratan Tionggoan yang berusaha menguji kepandaiannya. Namun selalu Tat Mo Cauwsu berhasil merubuhkan lawan2 yang membuat namanya semakin terkenal. Disamping itu, Tat Mo Cauwsu juga memupuk persahabatan dengan banyak tokohtokoh persilatan Tionggoan, yang menaruh perasaan hormat kepada pendeta sakti tersebut yang berasal dari India, dimana kepandaiannya yang begitu istimewa, boleh dikata selama didaratan Tionggoan, hampir tidak ada orang yang sanggup menandinginya.

Karena terlalu seringnya Tat Mo Cauwsu bertempur dengan tokoh-tokoh persilatan didaratan Tionggoan, maka ia bisa mempelajari setiap kepandaian dan ilmu silat dari berbagai aliran. Setelah ditelitinya, maka ia memperoleh kesimpulan, seluruh ilmu dari berbagai pintu perguruan tersebut, memiliki sumber dan inti satu, yang sama, dan juga hampir bersamaan pula inti kekuatannya dengan kepandaian ilmu silat Tat Mo Cauwsu sendiri. Hanya saja, cara mengembangkan ilmu silat itu sendiri yang berbeda beda, sehingga menyebabkan jumlah gerak dan cara untuk bersilat yang berlainan.

Waktu tengah berkelana itu, Tat Mo Cauwsu juga sering meluangkan waktunya untuk menulis setiap ilmu yang telah berhasil diolahnya menjadi sejurus ilmu silat yang hebat sekali, yang telah diringkaskan dan dijadikan intinya belaka, tetapi mengandung kehebatan yang luar biasa. Sejurus demi sejurus telah ditulisnya dengan rapi, dan akhirnya setelah kitab itu rampung di-kemudian hari merupakan kitab ilmu silat yang paling luar biasa didaratan Tionggoan yang biasa disebut Tat Mo Pitkip atau Ih-kin dan Swee-jwe. Kitab ilmu silat yang diciptakan oleh Tat Mo Cauwsu tersebutlah yang merupakan kitab ilmu silat yang paling diincer oleh setiap tokoh tokoh rimba persilatan didaratan Tionggoan, selain didalamnya terdapat ilmu pukulan, ilmu pedang dan mempergunakan senjata lainnya pun di situ terdapat pelajaran untuk melatih Lwe-kang guna mencapai kesempurnaan tenaga dalam, dalam bentuk sinkang, tenaga sakti yang merupakan tenaga  murni dari Tantian terus ke urat besar di belakang kepala, membuat seseorang bisa mencapai puncak kesempurnaan dalam melatih tenaga lwekangnya.

Tahun demi tahun telah lewat, tanpa terasa telah tujuh  tahun lamanya pendeta dari Thian-tiok (India) tersebut berkelana didalam daratan Tionggoan, dan nama Tat Mo Cauwsu semakin harum dan disegani oleh para jago-jago rimba persilatan. !

O o odwo o O

SIONG SAN merupakan pegunungan yang tidak begitu tinggi, tetapi bicara mengenai keindahan panorama yang terdapat disekitar pegunungan tersebut, dimana keindahan alam dengan pohon-pohon bunga yang beraneka warna dan juga dengan hawa udara yang senantiasa hangat disepanjang musim, tidak kalah jika dibandingkan dengan pemandangan alam  yang terdapat dipegunungan Heng-san, Kun Lun, maupun Cauwsan. Dengan demikian, Siong San merupakan pegunungan  yang cukup ramai dikunjungi oleh orang2 yang pesiar dan hendak menikmati keindahan alam di pegunungan tersebut.

Waktu itu, hari masih pagi, dan kabut yang mulai menipis terkena cahaya matahari pagi yang hangat, dan pohon-pohon bunga yang tengah mekar indah, tampak seseorang tengah berjalan dengan langkah kaki yang perlahan-lahan dan menikmati keindahan alam disekitar pegunungan tersebut.

Orang itu adalah seorang lelaki berusia lanjut, mungkin telah tujuh puluh tahun, memelihara jenggot yang panjang dan telah memutih, dengan kumis yang terpilin panjang dan rapi, ia mengenakan baju berwarna putih, merupakan thungsia (baju panjang) memakai kopiah yang berwarna kuning gading. Ditangan kanannya tampak sebatang seruling yang digerakgerakkan perlahan memukuli telapak tangannya yang satunya. Wajahnya sabar sekali, dan ia benar-benar tengah meresapi keindahan pemandangan alam yang terdapat disekitar tempat itu. Beberapa kali terdengar pujiannya yang perlahan, menunjukkan bahwa dia sangat mengagumi keindahan alam ditempat tersebut.

Setelah berjalan beberapa saat lamanya, akhirnya ia mengangkat serulingnya, dibawa kebibirnya, kemudian ditiupnya perlahan mengayun, muncul irama yang lembut dan merdu sekali, membawakan lagu "Hung Cing Hoa", ciptaan dari pujangga terkenal dimasa pemerintahan dinasty Shang, yang bernama Chou In Lie, yang waktu itu menjabat pangkat sebagai penyair istana, yang selalu mendampingi Kaisar Chou Wang, untuk menghiburnya dengan segala macam sajak yang indah dan juga dengan syair-syair lagu yang akan mengiringi Tai Chi, selir Kaisar Chou Wang menari dihadapan Kaisar. "Hung Cing Hoa" memang merupakan lagu yang memiliki keindahan yang luar biasa, dan lelaki tua yang berada digunung Siong San tersebut telah membawakannya dengan baik lagu itu lewat serulingnya, ia benar-benar meresapi sekali keindahan alam dari gunung tersebut, yang seperti juga lukisan yang indah menarik hati.

Selesai membawakan lagu "Hung Cing Hoa" tersebut, orang tua itu menghela napas dalam-dalam, kemudian dia menggumam dengan suara yang perlahan : "Hai, hai, jika saja aku bisa hidup demikian tenang seperti pohon bunga bwee, pohon ci tan, yang semuanya tumbuh begitu indah dan jauh dari jamahan tangan manusia, dalam suasana yang tenang dan menyenangkan ini, benar2 merupakan keadaan yang sangat menyenangkan sekali. Haruskah aku hidup mengasingkan diri

ditempat ini. ?"

"Omitohud ! Omitohud !" terdengar seseorang menimpali perkataan orang tua itu disusul dengan munculnya seseorang yang memiliki potongan tubuh tinggi besar, dan ia mengenakan pakaian pendeta, jubah yang kebesaran dan bergombrangan, berkibar kibar terhembus oleh siliran angin. Dialah seorang pendeta berusia lima puluh tahunan berwajah bersih berseri seri, dengan senyum yang menghiasi bibirnya. "Apa yang dikatakan oleh Siecu merupakan perkataan yang tidak sulit untuk dilaksanakan, tenangkan hati, bersihkan pikiran, dan nikmati keindahan yang ada Siecu akan memperoleh apa yang siecu kehendaki "

Orang tua yang mencekal seruling ditangannya, telah menoleh kepada pendeta itu, ia memandang dengan sikap yang mengandung perasaan heran, lalu tanyanya : ”Siapakah Taisu itu? Tentunya Taisu tinggal disekitar tempat ini. ”

Pendeta itu menggelengkan kepalanya, ia berkata sabar : "Lolap kebetulan lewat ditempat ini dan mendengar lagu  "Hung Cing Hoa" yang Siecu bawakan tadi, sungguh merdu dan menarik sekali, begitu halus menggugah hati...! Lolap bergelar Sam Liu Taisu, bolehkah Lolap mengetahui nama Siecu yang mulia ?"

Orang tua itu meng-gerak2kan seruling ditangannya, ia menghela napas sambil memandang jauh sekali, katanya kemudian. "Mega telah buyar, air telah mengalir, angin telah bersilir pergi, begitu juga halnya dengan diriku Taisu, maka aku telah mempergunakan nama Yin Sui Hong, itulah namaku, Taisu...!"

Pendeta itu mengangguk.

"Dan dari nama Siecu, memang diketahui bahwa Siecu memiliki pengetahuan yang luas dan mengerti  akan  keindahan. " kata pendeta tersebut.

"Tetapi sayang sekali, walaupun namaku Yin Sui Hong, kenyataannya aku tidak bisa untuk hidup tenang seperti Mega, Air dan Angin....... dimana aku selalu diliputi oleh pergolakan yang tidak hentinya, oleh banjir darah, oleh pertempuran, oleh pertikaian, dan oleh segala macam persoalan di dalam rimba persilatan........!” dan setelah berkata begitu, kembali Yin Sui Hong menghela napas dalam2, ia memandang jauh sekali, kearah gumpalan awan yang tengah bergeser sedikit diatas langit.

Pendeta itu tertawa, dengan ramah ia berkata : "Tetapi Siecu tentu memaklumi, bahwa mega tidak selamanya bergumpal dan menjadi satu dalam bentuknya yang tetap, karena akan pecah dan berobah2 dalam berbagai bentuk, begitu pula hal dengan air yang mengalir, baru melewati berbagai batu dan kerikil, dimana harus berliku2 menuruti bentuk dari sungai atau laut yang ditempati. Semakin luas tempat yang didiaminya, yaitu jika saja ia berdiam di laut, berarti ia harus berani menjadi gelombang yang dahsyat penuh dengan segala kekuatan yang ada, menerjang karang2 yang keras dan kuat. Dan begitu pula halnya dengan angin, tidak selamanya bersilir dengan lembut menyenangkan, tetapi sering juga harus berhembus dengan keras dan kuat, menjadi badai dan tofan yang mengerikan. Maka Siecu tidak ada sesuatu didunia ini yang akan kekal abadi, kita harus dapat melihat kenyataan ini dan dapat menyesuaikan diri. !"

Yin Sui Hong termenung sejenak, seperti juga meresapi perkataan pendeta tersebut, tetapi tiba2 sekali ia memukul pahanya dengan serulingnya, mukanya menjadi cerah, kemudian memasukkan serulingnya pada libatan ikat pinggangnya, merangkapkan tangannya, menjura memberi hormat kepada pendeta itu, Sam Liu Taisu.

"Terima kasih, terima kasih...!" kata Yin Siu Hong kemudian dengan wajah berseri2. "Taisu telah membuka mata dan pikiranku. terima kasih atas kata-kata petuah Taisu !" dan

Yin Sui Hong telah membungkukkan tubuhnya sampai tiga kali.

Sam Liu Taisu telah tersenyum, dengan ramah ia berkata : "Ya, begitu pula halnya dengan manusia, tidak selamanya ia akan hidup tenang, juga akan mengalami pergolakan disuatu saat, tidak selalu selamanya gembira, terkadang ia akan berduka, tidak selamanya ia akan tidur, karena suatu kali ia akan terbangun. Dan juga tidak selamanya ia akan berdiam  diri, karena suatu saat ia harus menggerakkan kedua tangan dan kakinya, tidak selamanya harus memandang keindahan, karena suatu saat ia harus memandang keburukan yang ada. Maka dari itu Siecu, tidak selamanya pula Siecu dapat mengecap ketenangan yang diharapkan Siecu, karena suatu saat Siecu juga harus berani menghadapi pergolakan. Tidak bisa pula Siecu mendambakan kemuliaan jika memang Siecu belum juga merasakan penderitaan. Tidak mungkin pula Siecu dapat mengharapkan kesempurnaan jika memang Siecu belum juga dapat membersihkan hati dari segala kekotoran yang ada. !"

Panjang lebar Sam Liu Taisu sudah memberikan penjelasan. Kembali Yin Sui Hong telah merangkapkan kedua tangannya menjura mengucapkan terima kasih.

"Sekarang aku Yin Sui Hong baru menyadari, bahwa semua itu yang disebut hidup. Dan memang dalam keadaan detik ini, diwaktu sekarang kita bernapas, merupakan apa yang disebut hidup, tanpa memandang kemarin dan esok. Hidup itu adalah saat  ini  sekarang  ini.  Terima  kasih  Taisu,  terima  kasih......

mataku telah terbuka lebar, pikiranku telah terbuka oleh petuah Taisu.... dan memang hidup ini harus diterima dengan kenyataan yang ada pada sekeliling kita.   !" dan dengan  wajah

yang puas, Yin Sui Hong telah bernyanyi dengan suara yang nyaring menyatakan kegembiraan hatinya.

Sam Liu Taisu tampak gembira telah bisa memberikan petuah yang bisa diterima oleh Yin Sui Hong, ia hanya mengawasi dengan bersenyum.

Namun belum lagi Yin Sui Hong selesai dengan nyanyian itu, telah terdengar seseorang mendesis dengan suara yang menghina : "Cisss......manusia tua yang sudah mau mampus masih membayangkan kesempurnaan dan kegembiraan. !"

dan membarengi dengan perkataan itu, tampak berkelebat sesosok bayangan yang gesit sekali, tubuhnya bergerak begitu ringan dan juga hinggap dihadapan Yin Sui Hong dan Sam Liu Taisu tanpa menimbulkan suara. Ternyata ia seorang wanita berusia antara lima puluh tahun, rambutnya dikonde dan diberikan perhiasan dibeberapa bagian, disamping itu parasnya masih cukup cantik, sisa-sisa kecantikan dimasa mudanya. Dipinggangnya tampak tergantung sebilah pedang panjang, dengan gaunnya yang berwarna jingga dan angkin yang berwarna merah.

"Kau......Kie-san Nio-cu (Nyonya dari Kie-san) Thio Su Ing?" tanya Yin Sui Hong dengan suara seperti terkejut. Wanita tua itu, Thio Su Ing telah tertawa dengan suaranya yang nyaring.

"Sudah kukatakan, kemana saja kau pergi, tetap akan kukejar......jangan harap engkau terlepas dari tanganku !" katanya.

"Tua bangka yang sudah mau mampus seperti engkau masih hendak mencicipi ketenangan? Hmm, jangan harap! Jangan harap! Sebelum kau mampus, jangan harap kau akan kulepaskan!"

Muka Yin Sui Hong jadi berobah berduka, ia berkata dengan suara yang tawar: "Hubungan kita telah putus dengan yang lain, kita sudah tidak memiliki hubungan apa2 lagi, mengapa engkau selalu mengintili aku terus?"

"Ha ha ha...." tertawa Thio Su Ing dengan suara yang nyaring. "Engkau memang sudah bukan apa2ku lagi, engkau juga seorang manusia yang telah menghancurkan hidupku!  Aku  mencintaimu,  tetapi  engkau  mempermainkan  aku.   dan

kini, dikala kita sudah sama2 tua, engkau hendak memisahkan diri begitu saja.   maka sebelum engkau terbinasa, jangan harap

engkau bisa melepaskan diri dariku. !"

Yin Sui Hong menghela napas lagi. Ia menoleh kepada Sam Liu Taisu, katanya dengan suara yang mengandung penyesalan: "Seperti Taisu lihat.... telah lebih dari sepuluh tahun wanita ini selalu mengejar-ngejar diriku....bahkan tidak jarang dengan mempergunakan akal licik ia hendak mencelakaiku, dan juga tidak jarang pula ia menimbulkan urusan didalam rimba persilatan dengan menjual namaku, sehingga banyak orang-orang rimba persilatan yang mencari diriku, yang membuat seringnya terjadi pertempuran antara aku dengan orang-orang rimba persilatan, dan akhirnya menimbulkan permusuhan-permusuhan diantara kami....! Hemm, seperti apa yang Taisu katakan tadi, bahwa semua itu tidak ada yang kekal abadi, maka ketenangan yang baru saja kuperoleh tadi telah lebih dari cukup menggembirakan hati, walaupun kini aku harus menghadapi pergolakan lagi. !"

Dan setelah berkata begitu, tanpa menanti jawaban Sam Liu Taisu, Yin Sui Hong telah menoleh kepada Thio Su Ing, katanya: ”Baiklah, sekarang katakanlah, apa yang kau kehendaki ?"

Thio Su Ing telah tertawa terbahak-bahak, sampai tubuhnya tergoncang, kemudian katanya dengan suara yang dingin: "Hemmm, kau menanyakan apa yang diinginkan? Baik ! Baik ! Sejak dulu aku telah mengatakan, bahwa aku menghendaki jiwamu !"

Dan berbareng dengan perkataannya itu Thio Su Ing telah meraba gagang pedangnya dan kemudian mencabutnya, ia telah menggerakkan pedangnya tersebut ditengah udara, sehingga memperdengarkan suara mendengung yang sangat nyaring, membuktikan bahwa ia memiliki tenaga lwekang yang mahir.

Sam Liu Taisu telah mengawasi dengan sorot mata yang bimbang, ia telah melihat bahwa Yin Siu Hong dengan Thio Su Ing rupanya dulu memiliki hubungan satu dengan yang  lainnya, maka dari itu, untuk sementara waktu lamanya ia tidak bisa mengucapkan kata-kata, selain hanya mengawasi saja.

Sedangkan Yin Sui Hong telah bersenyum pahit, katanya: "Telah ratusan kali kita selalu bertanding, sesungguhnya jika memang aku hendak mencelakai dirimu, sama mudahnya seperti membalik telapak tanganku....tetapi engkau benar2 tidak tahu diri dan selalu mendesak diriku demikian rupa. !"

Tetapi belum lagi Yin Sui Hong selesai dengan perkataannya itu, diwaktu itulah Thio Su Ing telah mengeluarkan  suara  bentakan  nyaring:  "Awas  serangan.   !"

pedangnya telah berkelebat dengan cepat, dimana mata  pedang yang tajam berkilauan itu telah menyambar kearah dada Yin Sui Hong, gerakan yang dilakukannya selain cepat juga merupakan jurus yang mematikan.

Tetapi Yin Sui Hong memang memiliki kepandaian yang tinggi, karena serangan yang mematikan seperti itu, yang datangnya begitu cepat dan dahsyat, dengan mudah ia telah berhasil mengelakkannya, tubuhnya melejit kesamping kanan sejauh lima tombak.

Namun Thio Su Ing juga tidak mendiamkan begitu saja, begitu melihat tikamannya yang pertama gagal, cepat sekali ia telah melangkah kekanan dua tindak, lalu pedangnya menyambar dengan miring kearah perut Yin Sui Hong, gerakan itu juga merupakan jurus yang bisa mematikan. Dengan demikian, telah membuat Yin Sui Hong tidak bisa berlaku ayal, karena jika ia terlambat mengelakkan diri, jelas akan membuat dirinya bercelaka ditangan Thio Su Ing.

Cepat dan gesit sekali ia berkelit, dan kemudian mempergunakan seruling ditangan kanannya itu, diketuknya perlahan pedang tersebut, dan terdengar suara "Tranggg. !"

dan Thio Su Ing merasakan telapak tangannya pedih, serta pedangnya itu tergetar, karena memang ketukan seruling yang dilakukan oleh Yin Sui Hong mengandung kekuatan lwekang yang tangguh sekali.

Thio Su Ing mengeluarkan suara seruan tertahan, tubuhnya cepat melompat ke tengah udara beberapa tombak, sambil memutar pedang panjangnya yang berkelebat2 menyambar kearah Yin Sui Hong.

Gerakan yang dilakukan oleh Thio Sui Ing merupakan tikaman pedang dengan mempergunakan jurus "Seratus Mata Pedang" membuat pedangnya itu tergetar keras sekali dan mata pedang itu telah berobah menjadi banyak mengincar berbagai bagian tubuh Yin Sui Hong, karena pedang itu digetarkan, dan sesuai dengan nama jurus tersebut, yaitu "seratus Mata pedang", maka mata pedang ditangan Thio Sui Ing tersebut seperti telah berobah menjadi seratus banyaknya, mengincar jalan2 darah mematikan tubuh lawannya!

Yin Sui Hong tidak merasa jeri menghadapi tikaman aneh seperti itu, karena ia telah mengetahui dengan betul sampai berapa tinggi kepandaian yang dimiliki oleh wanita yang pernah menjadi isterinya tersebut.
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Tat Mo Cauwsu Jilid 17"

Post a Comment

close