Tat Mo Cauwsu Jilid 14

Mode Malam
Jilid XIV

TAT MO CAUWSU telah tersenyum.

“Memang Siauwceng juga memiliki dugaan yang serupa,” katanya. “Maka jika memang urusan ini ingin dibuat terang, biarkanlah Siauwceng mengantarkan Wie Siecu sampai bertemu dengan Pangcunya...!"

Tetapi belum lagi suara Tat Mo Cauwsu selesai, Ang Bie Tin telah habis sabar, dia mengetahui tidak mungkin bisa membujuk pendeta itu.

Dengan cepat dia mengeluarkan suara seruan yang nyaring dan tangan kanannya telah bergerak akan mencengkeram bahu si pendeta.

Gerakan yang dilakukan oleh Ang Bie Tin itu sangat cepat dan berbahaya, karena dikelima jari tangannya itu mengandung kekuatan yang dahsyat sekali.

Jika orang yang berkepandaian biasa saja diserang seperti itu, tentu akan menjadi gugup. Dan jika serangan tersebut berhasil mengenai sasarannya, pasti akan membuat pundak dan tulang pipe sang korban menjadi hancur.

Dengan hancurnya tulang pipe, maka seseorang akan bercacad, dan lenyap pulalah ilmu silat yang telah dipelajarinya.

Melihat cara menyerang Ang Bie Tin telah membuat Tat Mo Cauwsu memperoleh kesan tidak baik pada orang yang bertubuh gemuk ini. ”Hemm, dia bertangan telengas dan kejam sekali, serangan pembukaannya saja telah menghendaki kematianku !" berpikir Tat Mo Cauwsu.

Karena berpikir begitu, dengan cepat Tat Mo Cauwsu mengelakkan diri dari serangan Ang Bie Tin.

Sebagai seorang pendeta India yang memiliki kepandaian tinggi luar biasa, tidak sulit baginya untuk menghindarkan diri dari cengkeraman Ang Bie Tin.

Segera Tat Mo Cauwsu memiringkan pundaknya, sedangkan tangan kanannya juga serentak bergerak akan menghantam dada lawannya.

Ang Bie Tin melihat cara berkelit si pendeta, sambil berkelit juga telah melancarkan serangan balasan membuat dia sangat mendongkol disamping juga kaget.

Cepat2 dia menarik pulang tangannya untuk berkelit kesamping, karena jika dia meneruskan serangannya itu, niscaya dadanya sendiri yang akan tergempur oleh serangan tangan Tat Mo Cauwsu.

”Apakah engkau juga ingin menjadi pemberontak ?” tegur Ang Bie Tin dengan suara yang keras sekali.

Namun Tat Mo Cauwsu sudah tidak mau melayani, sebagai seorang yang berhati welas asih dan selalu membela keadilan, dia yakin bahwa Ang Bie Tin bukan manusia baik2.

Dari jurus yang pertama itu saja Ang Bie Tin telah mengeluarkan jurus yang sangat ganas, sehingga Tat Mo Cauwsu menduga dia sebagai orang yang tidak baik.

Tat Mo Cauwsu sebetulnya selalu menghindarkan turun tangan keras, maka sejak tadi dia hanya melontarkan dan membuat terpelanting lawan-lawannya dan memberi luka-luka ringan saja, jika memang Tat Mo Cauwsu menghendaki, sekali menggerakkan   tangannya   berarti  akan   berjatuhan beberapa korban dengan jiwa melayang, karena hal itu hanya tergantung pada Tat Mo Cauwsu saja, yang ingin mempergunakan tenaga yang ringan atau keras.

Tetapi melihat Ang Bie Tin telah melancarkan serangan2 dengan ganas, dia jadi tidak senang.

Walau bagaimana Tat Mo Cauwsu masih bisa menguasai diri, dia hanya mengelakkan diri dari serangan Ang Bie Tin.

Walaupun kepandaian Ang Bie Tin cukup tinggi namun tidak sehebat kepandaian Keuki Takashi atau Ang Ie Sian Lie Cie Cie Lian.

Dengan mudah Tat Mo Cauwsu bergerak kesana kemari mengelakkan serangan serangan gemuk dampak she Ang itu.

Ang Bie Tin yang dilayani begitu oleh Tat Mo Cauwsu jadi semakin diliputi kemendongkolan dan kemarahan, dia penasaran sekali.

Dengan mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur, tampak Ang Bie Tin telah menyerang jauh lebih hebat lagi.

Namun menghadapi Tat Mo Cauwsu, kekuatan serangan Ang Bie Tin seperti kehilangan keampuhannya.

Di saat itu, tampak Tat Mo Cauwsu telah mengelakkan serangan2 Ang Bie Tin sambil melirik kepada Wie Siu Bun.

Hati Tat Mo Cauwsu jadi terkejut, karena melihat Wie Siu Bun tengah terdesak hebat sekali dan terancam bahaya yang tidak kecil dibawah serangan2 hudtim Po Liang Cinjin, dimana tojin itu telah melancarkan totokan2 yang mematikan dengan bulu2 hudtimnya.

Seketika itu juga Tat Mo Cauwsu berpikir, bahwa dia tidak bisa membuang buang waktu lagi.

Ketika melihat Ang Bie Tin melancarkan serangan yang berikutnya  dengan  disertai  oleh  tenaga  lwekang  yang  kuat sekali, Tat Mo Cauwsu tidak berkisar dari tempatnya berdiri. Dia telah mengerahkan kekuatan seribu kati di kedua kakinya, berdiri tegak menantikan serangan Ang Bie Tin.

Waktu gempuran yang dahsyat dari Ang Bie Tin menyambar datang, dengan mengeluarkan seruan Omitohud yang perlahan sekali, tampak Tat Mo Cauwsu telah mengibaskan kedua tangannya, dia telah membuat serangan Ang Bie Tin jadi seperti membentur perbentengan yang kuat seperti tembok baja.

Tubuh Tat Mo Cauwsu sama sekali tidak bergeming waktu kepalan tangan Ang Bie Tin menghantam dadanya.

Dia telah menyalurkan kekuatan lwekangnya melindungi dadanya, maka tenaga serangan Ang Bie Tin jadi mandek disitu.

Waktu si pendek gemuk itu tengah terkejut, dia telah mengibaskan lengan jubahnya.

Seketika itu juga tubuh Ang Bie Tin telah tertolak keras, tergulung oleh kekuatan tenaga kibasan tangan Tat Mo Cauwsu.

Dalam keadaan demikian, tubuh si gemuk bergulingan ditanah beberapa kali, karena jika Ang Bie Tin berusaha untuk mempertahankan diri dari gempuran itu, dia akan terluka di dalam.

Dengan bergulingan begitu, tenaga kibasan Tat Mo Cauwsu telah berhasil dipunahkan.

Mempergunakan kesempatan seperti itu Tat Mo Cauwsu telah melompat kebelakang Po Liang Cinjin, yang tengah mendesak Wie Siu Bun.

Diulurkan tangannya untuk menjambak baju si tojin, yang maksud Tat Mo Cauwsu hendak melemparkan tubuh tojin itu. Tetapi Po Liang Cinjin juga memiliki kepandaian yang cukup tinggi, karena begitu dia mendengar menyambarnya angin serangan yang kuat sekali dibelakangnya, dia telah berkelit. Sambil menarik pulang hudtimnya, dia berbalik mengibas dengan kebutannya itu untuk menyerang Tat Mo Cauwsu.

Jika memang tadi Po Liang Cinjin membiarkan punggungnya dijambak Tat Mo Cauwsu, mungkin dia tidak akan mengalami penderitaan yang berat.

Justru karena dia mengelakkan diri dan bahkan melancarkan serangan yang tepat dengan Hudtimnya itu telah membuat Tat Mo Cauwsu mempergunakan tangan kanannya yang semula gagal menjambak punggung si tojin itu berputar tahu2 menghantam jitu sekali dada Po Liang Cinjin, sehingga tubuh tojin itu tergoncang keras mundur kebelakang sambil mengeluarkan suara pekikan yang keras sekali... dia mundur dengan muka yang pucat dan telah memuntakan darah segar beberapa kali.

Ang Bie Tin yang telah berhasil melompat berdiri pula, tidak berani melancarkan serangan kepada Tat Mo Cauwsu lagi, karena sekarang dia telah mengetahui bahwa Tat Mo Cauwsu merupakan seorang pendeta yang memiliki kepandaian jauh berada diatas kepandaiannya.

Maka dari itu, begitu melihat Po Liang Cinjin terluka, dia telah memutar tubuhnya melompat keatas kudanya, untuk melarikan kabur.

Mulutnya juga telah berteriak dengan suara yang keras sekali.

”Angin keras..!" teriaknya itu berarti menganjurkan kawannya untuk melarikan diri. Tat Mo Cauwsu dan Wie Siu Bun sama sekali tidak bermaksud mengejar lawan2nya itu.

Musuh musuhnya semua telah serabutan melompat keatas punggung kuda yang berada didekat mereka. Sama sekali mereka tidak memperdulikan apakah kuda itu kuda mereka atau bukan, yang terpenting asal bisa melarikan diri secepat mungkin.

Mereka telah menyaksikan bahwa Tat Mo Cauwsu  memiliki kepandaian seperti dewa saja.

Maka mereka berpikir untuk bisa meloloskan diri dari si pendeta itu dulu.

Karena Tat Mo Cauwsu dan Wie Siu Bun tidak bermaksud menghalangi mereka, dengan sendirinya semua orang itu dapat berlalu dengan cepat.

Kawan2 mereka yang terluka telah dibawa serta dengan diangkat keatas kuda dan kuda2 itupun dilarikan kembali kedalam kota.

Dalam waktu sekejap mata saja ditempat yang semula sangat ramai oleh suara bentakan2 dan seruan2 kesakitan itu telah menjadi hening dan sepi sekali.

Hanya tertinggal Tat Mo Cauwsu dan Wie Siu Bun berdua saja yang berdiri mengawasi debu yang mengepul dari derap kuda orang2 yang melarikan diri itu.

Setelah semua lawan2 itu lenyap dari pandangan mata, Wie Siu Bun menghela napas.

”Jika tidak ada Taisu, tentu siang2 jiwaku telah berada di akherat,” kata Wie Siu Bun.

Tat Mo Cauwsu tersenyum. ”Mereka bukan manusia baik2..dan mereka juga berani  mati menjual nama pemerintah untuk menggertak aku..!” kata Tat Mo Cauwsu.

Wie Siu Bun menghela napas lagi.

”Jika dilihat perkembangan yang terjadi seperti sekarang dan beberapa saat yang lalu, tampak urusan ini bukan merupakan persoalan yang kecil.... kami pihak Kaypang tentu akan menghadapi urusan yang sangat berat ...!”

Tat Mo Cauwsu telah tersenyum lagi, katanya dengan suara yang nyaring, ”Hemmm, tetapi kebathilan selalu harus lenyap dari permukaan bumi !”

”Benar Taisu ..... terima kasih atas bantuan-bantuan yang telah Taisu berikan ! Dan kami pihak Kaypang seperti mendapat bintang penolong yang benar2 bisa menyelamatkan kami dari kehancuran !"

Tat Mo Cauwsu telah mengucapkan kata2 merendah.

Mereka telah melanjutkan perjalanan pula untuk memasuki kota raja .....

Keadaan didalam kota raja tetap ramai.

Wie Siu Bun mengajak Tat Mo Cauwsu menuju ke sebuah lorong yang panjang, dan sepanjang jalan itu penuh oleh pengemis-pengemis tua muda dan kecil yang tengah memenuhi kedua tepian jalan tersebut.

Ada yang tengah berdiri lesu, ada yang tengah rebah, ada yang tengah duduk.

Mereka umumnya memberi salam hormat kepada Wie Siu Bun, dan Tat Mo Cauwsu mengetahui bahwa pengemis2 tersebut memenuhi jalan tersebut untuk mencegah orang luar yang memasuki wilayah ini, karena di markas pusat dari partai pengemis itu akan diadakan pertemuan. Disaat itu, ada seorang pengemis kecil yang menyambut Wie Siu Bun, setelah memberi hormat, pengemis kecil itu berkata dengan sikap yang menghormat sekali, ”Wie Tocu, sudah lama Pangcu menantikan kembalinya Wie Tocu. !”

Wie Siu Bun hanya mengiyakan dan dipimpin oleh pengemis kecil itu mereka telah menuju ke sebuah kuil tua yang terdapat ditempat itu.

Disekitar kuil itu tampak banyak sekali pengemis yang bertebaran, ada yang tengah tidur, ada yang ber-cakap2 dan ada pula yang tengah berdiri mengawasi Tat Mo Cauwsu dan Wie Siu Bun dengan sikap yang menghormat sekali.

Waktu itu tampak seorang pengemis setengah tua telah keluar menyambut kedatangan Wie Siu Bun, rupanya dia telah memperoleh laporan dari pengemis2 yang menyambut kedatangan Wie Siu Bun.

"Selamat datang Wie Tocu….dan juga kepada tuan penolong perkumpulan kita… maafkan kami tidak melakukan penyambutan diluar kota….!"

Dan pengemis setengah tua itu telah menjura kepada Tat Mo Cauwsu.

Kedudukan pengemis setengah baya itu rupanya sama dengan tingkat kedudukan Wie Siu Bun.

Dengan mengucapkan beberapa kata merendah tampak Tat Mo Cauwsu membalas penghormatan pengemis itu.

Dari Wie Siu Bun, Tat Mo Cauwsu mengetahui nama pengemis itu Lo Ping Siu, memang memiliki tempat kedudukan yang sama dengan Wie Siu Bun.

Dengan diantar oleh Lu Ping Siu, Tat Mo Cauwsu dan Wie Siu Bun telah memasuki kuil tua itu. Didalam kuil telah berkumpul ratusan orang pengemis, mereka semua telah berdiri dan memberi hormat waktu melihat Wie Siu Bun dan Tat Mo Cauwsu memasuki ruangan.

Pendeta India itu jadi sibuk membalas penghormatan beberapa orang pengemis penyambut.

Tat Mo Cauwsu diperlakukan dengan hormat sekali, karena rupanya pengemis2 ini telah mengetahui bahwa Tat Mo Cauwsu memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali dan telah menyelamatkan jiwa Wie Siu Bun.

Kuil tua yang dijadikan sebagai pusat markas pengemis tersebut merupakan kuil yang telah dirombak menjadi bangunan yang terbagi dalam beberapa ruangan.

Tat Mo Cauwsu dan Siu Bun telah diajak ke sebuah ruangan yang saat itu masih kosong, terdapat beberapa kursi dan meja. Lo Ping Siu telah meminta agar Tat Mo Cauwsu dan Wie Siu Bun duduk dulu, menantikan munculnya Pangcu mereka.

Selama itu Lo Ping Siu yang telah menemaninya, mengajak Tat Mo Cauwsu dan Wie Siu Bun ber-cakap2.

Sedangkan Wie Siu Bun juga telah menceritakan kepada kawannya itu mengenai beberapa peristiwa dimana dia ditolongi oleh Tat Mo Cauwsu. Jika tidak, menurut Wie Siu Bun, tentu mereka tidak dapat berjumpa lagi di saat2 sekarang ini, dan Wie Siu Bun tentunya telah terbinasa, karena orangorang yang menghadangnya justru memiliki kepandaian yang tinggi sekali.

Lo Ping Siu memuji tidak hentinya akan kehebatan Tat Mo Cauwsu, sehingga membuat pendeta India itu jadi sibuk sekali mengeluarkan kata-kata merendah. Tidak lama kemudian didalam ruangan itu masuk seorang pengemis kecil, yang berusia diantara belasan tahun. Dia menyatakan Pangcu akan segera datang.

Wie Siu Bun dan Lo Ping Siu cepat2 berdiri untuk menyambut kedatangan Pangcu mereka, sedangkan Tat Mo Cauwsu juga jadi tidak enak hati jika duduk terus, dia telah ikut berdiri disamping Wie Siu Bun.

Dari ruangan dalam tampak melangkah masuk seorang pengemis tua berusia diantara enam puluh tahun, dengan wajah yang memerah sehat dan ditangan kanannya memegang sebatang tongkat bambu, dibahunya tergemblok sebuah cupu2 arak.

Sambil melangkah masuk, mulutnya telah memperdengarkan suaranya yang nyaring : ”Selamat ! Selamat

! Ternyata Wie Tocu pandai sekali bekerja !”

Lo Ping Siu dan Wie Siu Bun cepat2 menekuk kedua kaki mereka, berlutut dihadapan lelaki tua itu, rajanya pengemis tersebut.

”Saya datang menghunjukkan hormat kepada pangcu,” kata Lo Ping Siu dan Wie Siu Bun hampir berbareng.

Ketua pengemis itu telah membangunkan kedua orang bawahannya. Kemudian menoleh kepada Tat Mo Cauwsu, merangkapkan kedua tangannya dengan tongkat dikempit diketiaknya, dia telah berkata.

”Terima kasih atas bantuan dan pertolongan yang telah diberikan Taisu kepada Kaypang.... dengan adanya Taisu, Kaypang seperti menerima bintang penolong yang bisa menyelamatkan kami ! Aku Sun Cie Po menyatakan terima kasih atas nama seluruh anggota Kaypang."

Tat Mo Cauwsu cepat2 menjura membalas penghormatan ketua pengemis itu. ”Pangcu terlalu merendah, pertemuan Siauwceng dengan Wie Siecu hanya kebetulan saja, dan secara kebetulan pula Siauwceng bisa melakukan sedikit pekerjaan membereskan persoalan yang dimiliki Wie Siecu...” kata Tat Mo Cauwsu.

Setelah masing2 mengeluarkan basa basi sekedar berkenalan, Pangcu Sun Cie Po telah mempersilahkan Tat Mo Cauwsu untuk duduk dikursi kehormatan dan Pangcu itu telah duduk pula disampingnya.

Sedangkan Wie Siu Bun dan Lo Ping Siu duduk di kursi lainnya yang berada dipinggir.

Waktu itu Tat Mo Cauwsu telah berkata dengan suara yang sabar : ”Selama dalam perjalanan telah terjadi banyak sekali peristiwa yang mengherankan...banyak yang menyatakan bahwa Kaypang telah berurusan dengan pihak pemerintah, benarkah itu Pangcu?"

Sun Cie Po tertegun sejenak, tetapi Wie Siu Bun cepat2 menceritakan peristiwa yang terjadi diluar pintu kota beberapa saat yang lalu.

Sun Cie Po Pangcu jadi muram mukanya, dia telah mengetuk lantai dengan ujung tongkatnya, dia bilang, ”Inilah berbahayanya orang she Auwyang itu, dia selalu mengadu dombakan partai pengemis kami dengan beberapa golongan ! Tampaknya didalam urusan ini mereka berusaha menggerogoti dan memperlemah kaypang kami, baru nanti mengadakan penyerangan.”

Dan sambil berkata begitu, tampak Sun Cie Po  Pangcu telah menoleh kepada Wie Siu Bun, dia perintahkan orangnya itu menceritakan pengalamannya.

Wie Siu Bun menceritakan jelas seluruh apa yang dialaminya. ”Hemm,” mendengus Sun Cie Po Pangcu setelah mendengar habis cerita Wie Siu Bun. "Rupanya urusan menjadi demikian hebat...semula aku hanya menganggap orang she Auwyang itu bermaksud menyelusup ke anggota Kaypang dengan maksud mempergunakan nama terang Kaypang berlindung dari kejaran musuhnya, tetapi didalam hal ini memang kita harus berhati-hati, karena dibalik peristiwa ini terselip urusan yang cukup luas ruang lingkup rencana dari orang she Auwyang itu...!" dan muka Pangcu kaypang itu jadi muram.

Tat Mo Cauwsu melihat sinar mata pangcu kaypang ini, mengetahui bahwa Sun Cie Po merupakan seorang jago yang memiliki kepandaian sangat tinggi lwekangnya juga pasti sangat sempurna, karena matanya memancarkan sinar yang sangat tajam sekali. Dilihat dari raut muka dan sikap pangcu kaypang ini tentu dia seorang yang sabar dan cerdas sekali.

Tetapi urusan yang dihadapi pihak Kay pang tampaknya bukan urusan yang kecil, karena justru perkumpulan pengemis yang tersebar diseluruh daratan Tionggoan itu tengah menghadapi ancaman dari seorang yang bernama Auwyang Siung Bun.

”Sesungguhnya...," kata Pangcu Kaypang itu, waktu  Tat Mo Cauwsu menanyakan kepadanya siapakah sebenarnya Auwyang Siung Bun. ”Orang she Auwyang itu seorang jago yang berusia telah lanjut yang berkuasa disekitar daerah Ouwlam dan beberapa kota lainnya. Dia memiliki banyak sekali pengikutnya, tetapi disamping kepandaiannya memang tinggi dan jarang orang bisa menandinginya, diapun seringkali melakukan perbuatan2 yang tidak baik, sehingga banyak musuhnya. Entah bagaimana caranya, Auwyang Siung Bun telah mengikat tali permusuhan dengan iblis nomor satu saat sekarang ini, yaitu It Cie Sin Mo (Iblis Sakti Berjari Satu) Kwee  Bo  In,  yang  kepandaiannya  jauh  lebih  tinggi  dari Auwyang Siung Bun sendiri, sehingga membuat Auwyang Siung Bun tidak berani menghadapinya dan telah melarikan diri dari tempat kediamannya, dan kemudian menyelusup menyamar sebagai anggota Kaypang didaerah yang berdekatan dengan tempatnya berada, yang dikuasai oleh wakil pangcu Kaypang Kiong Siang Han. Tetapi penyamarannya itu justru secara kebetulan diketahui olehku, seorang sahabat baik yang kebetulan berkunjung telah memberikan kisikan, sehingga aku mengutus Wie Siu Bun untuk memberitahukan hal penyamaran itu kepada Kiong Siang Han, sebab bisa membahayakan Kaypang, dimana Auwyang Siung Bun bermaksud mengadu domba Kaypang dengan pihak It Cie Sin Mo Kwee Bo In. Tetapi setelah kudengar pengalaman Wie Siu Bun, selain Kiong Siang Han berhasil dipengaruhinya, juga memang tampaknya Auwyang Siung Bun bermaksud untuk merebut kedudukan Pangcu Kaypang, menguasai perkumpulan kami ini.   ! Hai! Hai! Urusan telah terjadi demikian, kita harus dapat

mengadakan persiapan yang cepat ! Mulai besok kita sudah harus mengadakan persiapan, dengan mengirimkan beberapa orang kurir untuk menemui wakil pangcu di cabang2 daerah dan kota2 lainnya, agar mereka ber-hati2 terhadap menyelusupnya  anak  buah  Auwyang  Siung  Bun   disamping

itu merekapun harus bersiap-siap menghadapi suatu kemungkinan...!” setelah berkata begitu, pangcu Kaypang ini telah menghela napas.

Tat Mo Cauwsu juga telah tersenyum kecil, katanya, "Jika dilihat dari cara orang2 Auwyang Siung Bun mengepung kami, mereka semuanya memiliki anggota yang berkepandaian rata cukup tinggi, maka dari itu, Pangcu harus ingat jangan sampai nanti anggota Kaypang jadi korban dari keganasan mereka !"

"Tepat ! Tepat Taisu !” kata Sun Cie Po. ”Memang akupun tengah memikirkan cara yang sebaik mungkin memancing Auwyang Siung Bun agar mau muncul memperlihatkan diri ! Dengan berurusan langsung dengan dia, berarti kita bisa menghindarkan berjatuhannya korban yang tidak perlu. "

Tat Mo Cauwsu merangkapkan tangannya, dia menyebut kebesaran Sang Buddha.

"Untuk membasmi kebathilan, maka silahkan Pangcu perintahkan saja kepada Siauwceng, tugas apa yang harus Siauwceng lakukan ?” kata Tat Mo Catwsu.

Pangcu Kaypang itu jadi terkejut, cepat-cepat dia bangkit dari duduknya dan telah menjura kepada si pendeta dari India ini.

”Terima kasih atas kesediaan Taisu membantu pihak kami

!" kata Pangcu itu kemudian. ”Tidak berani kami mempergunakan kata-kata "Perintah", tetapi kami sangat mengandalkan sekali tenaga dan bantuan Taisu, agar Kaypang kami ini tidak mengalami kehancuran dari inceran orang she Auwyang itu ! Harus diketahui juga Taisu, jika Auwyang Siung Bun berhasil menguasai Kaypang, tentu bahaya untuk umum akan timbul, dia akan memanfaatkan kekompakan Kaypang untuk mendukung dia melakukan banyak perbuatan jahatnya ... disamping itu tentu saja dia akan mengorbankan Kaypang untuk menghadapi It Cie Sin Mo Kwee Bo In ... musuhnya itu !”

Tat Mo Cauwsu telah mengangguk membenarkan.

”Pikiran Pangcu ternyata sangat luas sekali..” pujinya. ”Dan Siauwceng berjanji dengan kekuatan yang ada, bersedia membantu Kaypang sekuat kesanggupan Siauwceng !”

Beberapa kali Pangcu Sun Cie Po mengucapkan terima kasihnya. Dia telah berkata lagi: ”Semoga saja dengan sinarnya Sang Buddha kami bisa mengatasi persoalan ini. "

Tetapi baru saja Pangcu Kaypang tersebut berkata sampai kesitu, justru di saat itu telah terdengar suara yang aneh sekali diluar kuil seperti suara pecahnya kaleng dan disertai dengan suara jeritan beberapa orang. Bahkan yang mengerikan sekali suara jeritan itu merupakan suara jerit kematian.

Muka Pangcu Sun Cie Po berobah jadi guram, dengan menjejakkan kakinya, tubuhnya berkelebat keluar dan ruangan itu untuk melihat apa yang terjadi.

Tat Mo Cauwsu kagum melihat ginkang yang dimiliki Pangcu Kaypang, karena tubuhnya bergerak begitu cepat sehingga tampaknya kakinya tidak menginjak lantai, ringan dan tidak bersuara.

Wie Siu Bun bertiga dengan Tat Mo Cauwsu dan Lo Ping Siu juga telah keluar menyusul Sun Cie Po.

Waktu mereka tiba diluar, tampak Pangcu itu tengah berdiri berhadapan dengan seseorang.

Tat Mo Cauwsu jadi tercengang heran, karena cepat sekali dia mengenalinya bahwa orang yang datang itu yang berdiri dihadapan Pangcu Kaypang tidak lain dan Keuki Takashi, jago Jepang yang lihay tangan dan kakinya itu.

Di dekat Keuki Takashi tampak menggeletak tiga sosok tubuh pengemis dengan kepala yang pecah dan darah bercampur otak membasahi lantai pekarangan kuil itu.

Dalam keadaan seperti ini membuat Tat Mo Cauwsu dapat menduganya, tentunya ketiga pengemis itu menjadi korban pukulan telapak tangan Keuki Takashi.

Maka dari itu terlihat Tat Mo Cauwsu mengerutkan alisnya, dia jadi men-duga2 entah hendak melakukan apa jago Jepang ini dengan mendatangi pusat perkumpulan Kay pang.

Sun Cie Po juga telah melihat ketiga orang korban dari pukulan Keuki Takashi yang menggeletak tidak bernyawa itu, membuat Sun Cie Po untuk sejenak berdiri dengan tubuh gemetar karena menahan gejolak hawa amarah di hatinya. Dia telah bilang kepada Keuki Takashi dengan suara yang dingin karena dia menindih perasaan amarahnya itu : ”Apa maksudmu datang mengacau disini..?”

Ditegur begitu bukannya menyahuti, Keuki Takashi telah tertawa ber-gelak2 dengan suara yang sangat nyaring sekali, suaranya terdengar keras bagaikan kaleng pecah,  mirip2 dengan suara tertawa dan juga suara menangis, mengerikan sekali.

Setelah puas tertawa, barulah dia berkata, ”Aku mencari Pangcu Kaypang. !!"

Sun Cie Po berseru, ”Aku sendiri yang memangku jabatan Pangcu di Kaypang...ada persoalan apakah engkau mencariku

!"

Muka Keuki Takashi tampak berobah, dia menatap Sun Cie Po dengan sorot mata yang sangat tajam, kemudian katanya dengan suara yang sangat perlahan : ”Aku membawa surat titipan dari seseorang untukmu...”

Sambil berkata begitu, Keuki Takashi telah merogoh saku bajunya, si pendek jago Jepang ini telah mengeluarkan segulungan surat yang dilemparkan kedepan Sun Cie Po.

Gerakan tangan Sun Cie Po cepat sekali, belum lagi kertas yang tergulung itu terjatuh, dia telah berhasil mengulurkan tangan menyambutinya.

Kemudian dibukanya surat itu, dibacanya huruf2 yang terdapat di kertas tersebut.

Pangcu Kaypang Sun Cie Po : Lewat kawanku yang bernama Keuki Takashi ini, ingin kusampaikan bahwa tantangan yang kau berikan kepadaku dapat diterima dengan baik! Tolong kau sampaikan, hari dan tempo yang kau tetapkan....! Soal Auwyang Siung Bun yang telah memasuki Kaypang   sebagai   tempat   berlindungnya   dibawah pengaruh nama besarmu, tidak menjadi persoalan, aku mengerti apa yang engkau maksudkan di dalam suratmu, bahwa seluruh tanggung jawab Auwyang Siung Bun diambil alih oleh kau ! Tetapi, perlu kujelaskan disini, bahwa setelah selesainya pertemuan kita nanti untuk menentukan siapa yang diatas dan siapa yang dibawah, tetap saja Auwyang Siung Bun harus mempertanggung jawabkan dosanya kepadaku, aku tetap akan mencarinya untuk memperhitungkan urusan kami...!

Tertanda

It Cie Sin Mo Kwee Bo In.

Membaca surat itu, muka Pangcu Kay pang ini telah berobah, segera dia teringat cerita Wu Siu Bun, bahwa Kiong Siang Han telah berhasil dipengaruhi oleh Auwyang Siung Bun, dan telah mengirim surat atas nama Kaypang kepada iblis nomor satu waktu itu yaitu It Cie Sin Mo Kwee Bo In.

Tentunya surat ini merupakan surat balasan dari It Cie Sin Mo Kwee Bo In terhadap surat tantangan yang dikirim oleh Kiong Siang Han, yang mempergunakan nama Sun Cie Po sebagai penantangnya.

Sedang Pangcu Kaypang ini mencari kata2 yang baik untuk menjelaskan kepada Keuki Takashi peristiwa dan urusan yang sebenarnya, saat itu jago Jepang itu telah bertanya dengan suara yang dingin : "Apakah engkau ingin memberikan jawaban atas surat itu? Jika ada balasan, aku akan menantikannya...!"

Sun Cie Po menghela napas.

”Sebenarnya didalam urusan ini terdapat kesalahmengertian... ada orang ketiga yang hendak mengadu domba antara diriku dengan sahabatmu itu, yaitu It Cie Sin Mo Kwee Bo In...!" kata Sun Cie Po kemudian. Keuki Takashi telah tertawa dingin, dia bilang dalam  bahasa Han yang kaku : "Aku tidak tahu urusan itu, yang terpenting engkau ingin memberikan balasan atau tidak.”

Sun Cie Po menghela napas lagi, diapun tidak puas melihat sikap Keuki Takashi yang begitu tawar padanya, maka dia bilang : "Baiklah, aku menantikan It Cie Sin Mo disini... Besok jam dua belas malam ! Tetapi sampaikan juga kepadanya agar jangan membinasakan seorangpun anggota Kaypang yang tidak mengetahui apa2 persoalan kami...langsung menemui aku...!"

Keuki Takashi telah tertawa mengejek lagi, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia telah melompat tinggi sekali.

Gerakan yang dilakukannya itu bukan dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh dari cabang persilatan yang biasa terdapat didaratan Tionggoan, karena dia melompat dengan gerakan yang kaku, namun tubuhnya bergerak ringan dan sekejap mata dia telah melewati dinding tembok itu lenyap di baliknya ....

Sun Cie Po menghela napas, dia memberikan surat It Cie Sin Mo Kwee Bo In kepada Tat Mo Cauwsu.

Pendeta India ini telah membaca surat dan sepasang alisnya tampak mengkerut dalam dalam.

"Jika dilihat demikian, tampaknya kepandaian si iblis It Cie Sin Mo memang luar biasa karena dia bisa mempengaruhi Keuki takashi sebagai orang suruhannya..!"

Dan Tat Mo Cauwsu telah menceritakan pertemuannya dengan Keuki Takashi beberapa saat yang lalu dimana mereka bertempur dengan hebat, dan keduanya masih belum berhasil menentukan siapa yang menang dan kalah, karena kepandaian Keuki Takashi juga memang aneh dan sempurna. Mengenai Ang Ie Sian lie Cie Cie Lian tidak diceritakan oleh Tat Mo Cauwsu, karena dia merasa malu jika teringat akan kenekadan jago wanita yang membuka pakaiannya.

Sun Cie Po jadi guram wajahnya, dia menghela napas dengan pikiran yang agak kusut.

”Jika mendengar cerita Taisu, tentunya kepandaian iblis utama It Cie Sin Mo berada di atas kepandaian Keuki Takashi, bukankah begitu Taisu ?"

Tat Mo Cauwsu mengangguk ragu2.

”Kurang lebih begitulah dugaanku, karena menurut penglihatanku Keuki Takashi tidak mudah ditundukkan, karena dia memiliki kepandaian yang tinggi sekali, tidak berada disebelah bawah kepandaianku ! Jika Iblis It Cie Sin Mo itu memiliki kepandaian yang hanya lebih tinggi sedikit dari Keuki Takashi, tentu dia tidak bisa memerintahkan Keuki Takashi sebagai pembawa suratnya !"

Sun Cie Po menganggap perkataan Tat Mo Cauwsu beralasan. Tetapi urusan telah terjadi demikian, maka Tat Mo Cauwsu menganjurkan kepada Sun Cie Po agar menantikan tibanya besok saja pertemuan itu berusaha memberikan penjelasan dan keterangan yang sesungguhnya kepada It Cie Sin Mo. Mudah2an saja pertempuran antara mati dan hidup itu bisa dijelaskan dan dibatalkan dengan pengertian si iblis.

Tetapi menurut Sun Cie Po, yang akan celaka adalah anggota2 Kaypang, yang tentunya akan banyak berguguran akibat keganasan It Cie Sin Mo jika iblis itu muncul besok malam dikuil ini.

Tat Mo Cauwsu juga jadi berkuatir, karena dia mungkin bisa menghadapi Keuki Takashi tetapi Sun Cie Po apakah sanggup menghadapi It Cie Sin Mo Kwee Bo In ? Tanda tanya itu masih belum terjawab... dan semua anggota Kaypang yang mengetahui bahwa Pangcu mereka tengah menghadapi kesulitan yang tidak kecil, telah bermuram durja, dan terdiam diri saja.

Walaupun di kuil itu berkumpul banyak sekali anggota Kaypang, tetapi disebabkan mereka itu hanya berdiam diri, dengan sendirinya telah membuat keadaan disekitar tempat tersebut jadi hening sekali. Umpama kata sebatang jarum jatuh ke lantai, suara jatuhnya itu tetap akan terdengar..

Wie Siu Bun juga agak bingung, karena dia mengetahui Tat Mo Cauwsu memiliki kepandaian yang sangat tinggi tetapi berimbang dengan Keuki Takashi, dan jika menurut perkiraan Tat Mo Cauwsu bahwa kepandaian iblis It Cie Sin Mo Kwee Bo In itu berada diatas Keuki Takashi, apakah hal ini bisa dihadapi oleh Pangcunya ?

Tanda tanya seperti itu membuat Wie Siu Bun berkuatir sekali.

Tetapi Sun Cie Po akhirnya memerintahkan beberapa orang pengemis untuk menyediakan meja perjamuan. Walaupun mereka golongan pengemis, untuk perjamuan tersebut ternyata telah dikeluarkan macam2 sayur yang mahal harganya, Tat Mo Cauwsu tidak mengetahui mereka itu memperoleh semua barang makanan ini dari mana.

Didalam pesta itu cukup banyak pengemis yang turut serta, sehingga keadaan menjadi ramai kembali.

Tat Mo Cauwsu malam itu bermalam di kuil tersebut, memperoleh kamar yang bersih dan teratur yang terletak dibelakang kuil itu. Tat Mo Cauwsu memang ingin menantikan sampai tibanya saat2 pertemuan diantara It Cie Sin Mo Kwee Bo In, karena pendeta India inipun tertarik sekali untuk melihat macam bagaimanakah iblis yang bisa menduduki tokoh nomor wahid untuk masa kini. XdwXkzX

Malam telah larut, hampir kentongan kedua. Keadaan dikuil tua yang dipergunakan sebagai markas Kaypang itu tampak sunyi, karena sejak sore itu Sun Cie Po telah memerintahkan anggota2 pengemis untuk memisahkan diri agar tidak berada dikuil tersebut, menghindarkan hal2 yang tidak diinginkan.

Sun Cie Po hanya memperbolehkan beberapa orang pengemis dari tingkat keempat keatas boleh berada didalam kuil, karena mereka memiliki kepandaian telah cukup tinggi, sehingga bisa menjaga keselamatan diri mereka jika diperlukan.

Waktu hampir mendekati kentongan kedua itu, Tat Mo Cauwsu telah duduk diruangan tengah kuil itu ber-sama2 dengan Sun Cie Po dan tokoh2 pengemis lainnya, termasuk Wie Siu Bun dan Lo Ping Siu.

Semuanya telah berdiam diri, sehingga ruangan itu sunyi sepi, bagaikan tidak berpenghuni, karena keadaan disekitar ruangan itu telah terbungkus oleh ketegangan. Kunjungan Iblis utama It Cie Sin Mo Kwee Bo In memang menimbulkan kesan yang agak menyeramkan, karena Kwee Bo In telah diembeli dengan perkataan "Iblis Nomor Satu” tentu tindak tanduknya akan mengerikan dan ganas sekali.

Kentongan ketiga telah dipukul terdengar dikejauhan, wajah semua pengemis2 yang berkumpul diruangan itu jadi berobah semakin tegang. Hanya mata mereka saling melirik, tetapi tidak sepatah perkataanpun yang terucapkan dari mereka.

Tetapi belum lagi begitu lama lewatnya suara kentongan itu, justru diantara keheningan itu telah terdengar suara lolongan yang panjang sekali, dicampur juga oleh suara pekik yang aneh menyerupai suara tertawa dan suara menangis. Tat Mo Cauwsu dan yang lain2nya mengetahui bahwa si iblis telah muncul. Suara pekik yang menyerupai suara tawa dan tangis itu adalah suara pekikan Keuki Takashi yang  dikenal benar oleh Tat Mo Cauwsu.

Tat Mo Cauwsu segera dapat menduganya bahwa yang tengah mendatangi itu tentu se-tidak2nya Keuki Takashi berdua dengan seseorang yang mengeluarkan suara lolongan itu, dan orang yang mengeluarkan suara lolongan itu mungkin iblis utama It Cie Sin Mo Kwee Bo In.

Keadaan bertambah tegang, dan semuanya telah menanti dengan gelisah, sedangkan suara lolongan pekikan itu semakin lama terdengar semakin jelas.

Tidak menanti terlalu lama, tampak dua sosok tubuh telah melompati dinding tembok kuil, meluncur masuk dengan gesit. Kemudian kedua sosok tubuh itu telah melangkah memasuki ruangan kuil dengan langkah2 lebar tanpa memperdulikan beberapa orang pengemis yang berdiri sebagai penyambut  tamu itu. Sikap mereka angkuh sekali.

Waktu semua orang melihat kedua orang itu, semuanya jadi bergidik.

Jika yang seorang memang Keuki Takashi yang telah mereka kenal waktu kemarin datang mengantarkan surat dari Kwee Bo In. Namun membuat mereka jadi bergidik ngeri justru disaat itu orang yang berjalan bersama Keuki Takashi merupakan seorang yang wajah dan keadaannya sangat mengerikan sekali. Kepalanya gundul dan penuh bisul-bisul, disamping itu mukanya yang kurus itu penuh daging2 menonjol sehingga tampaknya menyeramkan sekali seperti juga muka itu memang pernah terbakar api. Tubuh orang itupun sangat mengerikan, kedua tangannya pendek, sepasang kakinya panjang, sehingga keanehan itu mendatangkan ngeri dengan bentuk muka yang tidak keruan macam itu. Sun Cie Po juga tergetar hatinya waktu melihat keadaan tamunya yang seorang itu. Tetapi dengan cepat Pangcu Kaypang itu telah tertawa dan berdiri dari duduknya.

”Selamat datang ditempat kami, saudara Kwee !" katanya sambil merangkapkan kedua tangannya dia telah menjura memberi hormat.

Orang yang kepalanya penuh bisulan dan botak itu telah mengeluarkan suara tertawa aneh yang seperti suara melolong itu, dia memberi isyarat kepada Keuki Takashi, dan jago Jepang yang tangguh itu dengan patuh telah menyingkir kesamping.

Barulah orang berkepala gundul menyeramkan itu berkata dengan suara yang dingin sekali, ”Kedatanganku untuk memenuhi tantangan Pangcu Kaypang Sun Cie Po. !”

Sun Cie Po tersenyum pahit, katanya, ”Sesungguhnya, aku tidak pernah merasa menantangmu, saudara Kwee. "

”Heh ?” bertanya dingin sekali orang she Kwee itu dengan muka yang tidak sedap dilihat, dia tampaknya heran. Tetapi kemudian dia meneruskan perkataannya, ”Apakah engkau menarik tantanganmu karena merasa takut kepadaku ?”

Kwee Bo In berkata begitu dengan sikap memandang enteng dan angkuh sekali.

Tat Mo Cauwsu sejak kedatangan iblis utama ini telah memperhatikan terus.

Dia melihat bahwa Kwee Bo In tampaknya memiliki kepandaian yang tidak berada dibawah Keuki Takashi, karena selain langkah langkah kakinya yang telah meninggalkan bekas telapak kaki yang dalam ditanah, juga Keuki Takashi tampaknya begitu patuh kepadanya.

Sun Cie Po telah merangkapkan kedua tangannya, katanya : ”Tidak  pantas  jika  aku  tidak  mempersilahkan  tamu  untuk duduk dan dijamu dulu.... nanti aku akan menjelaskannya, bahwa didalam urusan ini ada orang ketiga yang ingin mengadu domba diantara kita berdua...!"

Mendengar perkataan Sun Cie Po, Kwee Bo In tiba2 tertawa dengan suara yang ber-gelak2, sehingga menggetarkan ruangan itu.

”Hahahahaha.......” suaranya itu mendirikan bulu tengkuk. ”Apakah engkau ingin maksudkan Auwyang Siung Bun yang mengadu domba kita ? Itu sudah resiko Kaypang, berani menerima dia menjadi anggota Kaypang, berarti akibatnya harus diterima oleh Kaypang pula!"

”Tetapi Auwyang Siung Bun bukan anggota Kaypang. "

menjelaskan Sun Cie Po.

”Bukan anggota Kaypang ?" suara Kwee Bo In terdengar keras sekali. Kemudian dengan muka yang berobah tambah bengis, lebih2 dengan keadaan mukanya yang menyeramkan ini, sehingga mendatangkan kesan yang tidak enak dilihat, dia meneruskan perkataannya. ”Apakah engkau ingin mempermainkan aku? Bukankah suratmu yang lalu itu telah menyatakan bahwa Auwyang Siung Bun telah diterima  menjadi anggota Kaypang dan bahkan engkau sendiri yang ingin menanggung semua urusannya itu denganku. engkau

menantang aku untuk mengadu kekuatan "

”Surat itu bukan dikirim olehku. ”

”Oh, Pangcu yang tidak bertanggung jawab !" teriak Kwee Bo In dengan suara menyerupai teriakan, dia telah berteriak dengan suara yang aneh, hampir menyerupai suara lolongan, rupanya dia telah diliputi kemarahan. ”Apakah sekarang, setelah tiba saatnya, engkau ingin menarik diri dan membatalkan suratmu itu, dengan menimpahkannya kepada orang lain?" ”Bukan begitu ...!" menjelaskan Sun Cie Po, hatinya telah mendongkol bukan main, karena belum pernah seumur hidupnya orang memperlakukan dia dengan sikap kasar seperti itu.

”Lalu kenapa engkau bicara ber-belit2 ?" tegur Kwee Bo In dengan suara mengandung kegusaran.

”Duduklah dulu, Kwee Hengtai, nanti aku akan menjelaskannya..." kata Sun Cie Po menyabarkan hatinya.

”Aku menghendaki sekarang juga kita menentukan siapa yang diatas dan siapa yang dibawah,” seru Kwee Bo In dengan suara yang aseran.

”Baiklah saudara Kwee, dengarlah baik2 ! Sebetulnya Auwyang Siung Bun telah menyelusup menyamar sebagai anggota Kaypang di dalam wilayah kekuasaan Kiong Siang Han, orangku...diapun dengan jalan kekerasan atau membujuk, telah berhasil mengatasi dan mempengaruhi Kiong Siang Han, sehingga orangku itu yang mewakiliku memegang pimpinan di daerah, telah menulis surat kepadamu, mengatas namakan padaku...! Sesungguhnya, aku sendiri ingin menangkap Auwyang Siung Bun, karena disebabkan dia, telah cukup banyak anggota Kaypang yang menderita  dan  berkorban  jiwa. ”

Mendengar penjelasan ini, tampaknya Kwee Bo In jadi heran dan tertegun.

Tetapi segera dia menduga bahwa semua ini tentu hanyalah suatu permainan dari Sun Cie Po, yang ingin membatalkan pertemuan itu dengan bermacam macam alasan.

”Aku tidak perduli akan semua itu, yang terpenting hari ini aku telah berada disini dan aku ingin melihat kepandaianmu yang berani mengangkat diri sebagai Pangcu dari perkumpulan Kaypang  !  Persoalan  Auwyang  Siung  Bun  memang  akan kuselesaikan nanti, aku akan mencarinya dan mematahkan batang lehernya. !"

Tegas sekali perkataan Kwee Bo In, dan sama sekali dia tidak memperlihatkan sikap bersahabat, bahkan dia terlalu mendesak Sun Cie Po.

Tidak ada jalan lain bagi Sun Cie Po, karena sebagai seorang Pangcu, tidak bisa dia terlalu mengalah, karena dapat menjatuhkan pamor dari kaypang. Walaupun harus menghadapi kematian, dia harus mempertahankan kehormatan dirinya untuk kemegahan kaypang.

”Baiklah !" katanya kemudian sambil mengangguk. "Apa yang Kwee hengtai inginkan, pasti akan kuiringkan..,tetapi duduklah dulu aku hendak menjamumu !!"

Tetapi Kwee Bo In benar-benar sangat aneh tindak tanduknya, dan gelar iblis pada dirinya tampaknya sesuai sekali. Sebab tanpa mengucapkan sepatah katapun juga dia telah melompat ke tepi ruangan itu, tahu-tahu tangannya telah meluncur kepada salah seorang pengemis yang berdiri disitu.

Tanpa mengeluarkan suara sedikitpun juga, tangannya bekerja cepat melancarkan cengkraman. Sebetulnya si pengemis itu bermaksud mengelakkan diri dalam keadaan kaget seperti itu, dia merupakan seorang pengemis tingkat kelima dan memiliki kepandaian yang tidak sembarangan.

Namun disebabkan gerakan tangan Kwee Bo In sangat cepat sekali, pengemis itu tidak bisa berkutik, tahu2 punggungnya telah kena dicengkeram.

Tangan Kwee Bo In yang lainnya telah bergerak lagi, dan seperti memotes sesuatu barang saja, dia telah menjambak rambut pengemis itu dan memotes kepala pengemis itu, lehernya putus dan batok kepalanya itu dilemparkan menggelinding di lantai. Semua itu terjadi singkat dan cepat sekali, diwaktu orangorang masih tertegun dengan mata terbuka lebar2, tahu2 kepala pengemis yang putus dari lehernya tanpa bisa mengeluarkan jeritan itu, telah menggelinding diatas lantai ....

Mengerikan sekali apa yang terjadi itu, membuat semua orang menggidik.

Tetapi Sun Cie Po waktu tersadar dari kagetnya, telah melompat marah.

"Dasar iblis kau....!” bentaknya. ”Orang-orangku tidak ada sangkutan apa2 dengan engkau, karena justru engkau akan mengadu kekuatan denganku, mengapa engkau menurunkan tangan telengas begitu kepada orang2ku ?"

Tetapi Kwee Bo In sambil melemparkan tubuh korbannya yang sudah tidak berkepala itu keatas lantai, tertawa bergelakgelak.

”Jika engkau ingin mengulur-ngulur waktu, maka jangan engkau sesalkan jika korban yang berjatuhan bertambah banyak !" katanya dengan suara yang menyeramkan.

Tat Mo Cauwsu sendiri yang melihat kekejaman Kwee Bo In, telah memuji kebesaran nama Sang Buddha beberapa kali. Disamping itu diapun terkejut sekali, gerakan Kwee Bo In secepat bayangan setan. Dan cara dia menangkap tawanannya itu merupakan gerakan yang luar biasa, sehingga pengemis yang menduduki tingkat kelima itu saja tidak berdaya mengelakkan diri, benar-benar luar biasa sekali kepandaian dari iblis itu. Maka bisa dibayangkan tentu kepandaian lainnya dari Kwee Bo In jauh lebih hebat dari yang diperlihatkannya itu.

Sedangkan Keuki Takashi hanya tersenyum-senyum saja waktu melihat apa yang dilakukan oleh Kwee Bo In. Sun Cie Po sudah tidak bisa menahan kemarahan dihatinya, dia melompat ke tengah ruangan yang memang telah dipersiapkan sejak siang tadi, yang dikosongkan dari kursi dan meja, sehingga cukup luas untuk dipergunakan sebagai lapangan mengadu kepandaian.

"Baik ! Baik !” kata Sun Cie Po dalam kegusaran yang tidak kepalang. "Mari ! Mari ! kita mengadu kepandaian !!"

Kwee Bo In juga tidak banyak peradatan, dia telah melompat dengan gerakan yang ringan menyusul pangcu Kaypang itu.

Begitu tiba didekat pangcu Kaypang itu, tanpa banyak bicara dia telah mengulurkan tangan kanannya dengan gerakan yang cepat sekali untuk mencengkeram.

Tetapi Sun Cie Po merupakan pengemis yang memiliki kepandaian sangat tinggi, berbeda dengan si pengemis tingkat lima tadi. Dia telah mengeluarkan suara dengusan marah dan mengelakkan diri dengan membungkukkan tubuhnya sambil tangan kanannya menggerakkan tongkatnya menyodok ke perut Kwee Bo In.

Tetapi iblis It Cie Sin Mo tersebut tidak memperdulikan sodokan tongkat bambu Sun Cie Po, dia membiarkan perutnya tersodok tongkat, sedangkan kedua tangannya telah bergerak lagi melancarkan cengkeraman.

Sun Cie Po terkejut sekali waktu melihat apa yang dilakukan lawannya.

Terlebih kaget lagi pangcu Kaypang ini, karena dia merasakan waktu ujung tongkatnya itu menyodok perut si iblis, tangannya jadi pedih, dan perut si iblis itu keras sekuat baja, memperdengarkan suara "Tokkk !” dan tongkat itu sampai melengkung, tetapi tidak memberikan hasil apa2. Sedangkan kedua tangan Kwee Bo In justru telah meluncur menyambar akan mencengkeram ke arah punggungnya.

Sun Cie Po menyadarinya, jika dia sampai terkena cengkeraman si Iblis, akan celakalah dia.

Maka mati2an Sun Cie Po melesat kesamping, dia bermaksud menjauhi diri dulu dari si Iblis.

Tetapi Kwee Bo In sama sekali tidak mau memberikan kesempatan bernapas padanya, begitu tubuh Sun Cie Po bergerak, segera si Iblis itupun melompat mengikutinya, yang membuat Sun Cie Po terdesak sekali, karena begitu kakinya menyentuh lantai, justru ke sepuluh jari tangan si iblis telah berada didekat punggungnya lagi.

Karena terdesak sekali, Sun Cie Po jadi nekad, dia sudah tidak keburu untuk mengelakkan diri dari cengkeraman itu jalan satu2nya bagi dia hanyalah menangkis dengan tongkatnya.

Dengan cepat diputarnya tongkatnya menghantam kedua tangan Kwee Bo In, ”Takkk!” terdengar keras sekali tongkat itu menghantam tangan Kwee Bo In.

Tetapi kedua tangan Kwee Bo In tetap meluncur, sedangkan tongkat itu telah patah tiga bagian!

Semangat Sun Cie Po seperti terbang meninggalkan tubuhnya, dia mengeluh didalam hatinya, dan dirasakan jari tangan Kwee Bo In telah menempel dibaju bagian punggungnya. ”Habislah aku...!" keluhnya tanpa daya lagi.

Tetapi Tat Mo Cauwsu yang sejak tadi memang telah bersiap sedia, melihat keadaan demikian telah menimpukkan sepasang sumpit yang tercekal ditangannya.

Kedua batang sumpit itu meluncur cepat sekali secara lurus sejajar menyambar kedua biji mata Kwee Bo In. Menyambarnya sumpit itu cepat sekali, tahu2 telah berada didepan muka Kwee Bo In.

Iblis itu jadi terkejut, cepat2 dia mengelak kesamping untuk menyelamatkan biji matanya dari terjangan kedua ujung sumpit itu. Tetapi gerakannya itu telah memperlambat gerakan kedua tangannya.

Sun Cie Po mati2an telah melompat mundur beberapa tombak, muka Pangcu perkumpulan pengemis tersebut telah berobah pucat dan keringat dingin telah mengucur dikeningnya. Dia mengeluh, nyaris tadi dia celaka ditangan Kwee Bo In jika tidak ditolong oleh Tat Mo Cauwsu.

Kwee Bo In tidak mengejar Sun Cie Po, dia telah membalikkan tubuhnya, memandang bengis sekali kepada Tat Mo Cauwsu.

”Pendeta, kemari kau !” katanya dengan suara yang mengandung kemarahan dan memerintah.

Tat Mo Cauwsu memang telah mengambil keputusan bahwa lebih baik dia yang melayani iblis itu. Maka dia telah berdiri dari duduknya dan merangkapkan sepasang tangannya.

”Maafkan, Siauwceng ingin main2 beberapa jurus dengan kepandaian siecu.....” katanya dengan suara yang sabar dan sikap yang tetap sopan, walaupun Tat Mo Cauwsu tengah menghadapi iblis ganas seperti Kwee Bo In.

Melihat sikap dan langkah kaki Tat Mo Cauwsu yang mantap, muka Kwee Bo In memperlihatkan perasaan heran, lalu dia menoleh kepada Keuki Takashi yang tengah berdiri diam dipinggir ruangan itu, katanya, ”Diakah yang kau katakan pendeta sakti itu ?”

Keuki Takashi mengiyakan, tambahnya : ”Tetapi kepandaiannya tidak lebih tinggi dari kepandaianku !"

Tat Mo Cauwsu tersenyum. ”Memang kami pernah main2 beberapa jurus. rupanya

Keuki Takashi telah menceritakan segalanya kepada siecu !” kata pendeta India ini.

Kwee Bo In telah tertawa mengejek, sikapnya memandang remeh kepada Tat Mo Cauwsu, dia dengan temberang : "Kebetulan engkau berada disini, biarlah engkau kubereskan dulu !"

"Siancai ! Siancai ! Bukankah lebih bijaksana jika urusan diselesaikan dengan pengertian dan juga dengan jalan yang baik penuh perdamaian ?" tegur Tat Mo Cauwsu.

”Kau takut ?" tegur Kwee Bo In dengan aseran.

Tat Mo Cauwsu merangkapkan sepasang tangannya. ”Siancai ! Tidak ada yang bisa dipastikan dengan perkataan

takut dan berani. Takut itu bisa muncul didalam waktu2 yang tertentu. Tetapi bagi seseorang yang tengah ketakutan jika sudah tidak memiliki jalan lain dan dalam keadaan terdesak disuatu saat bisa muncul keberaniannya, melebihi keberanian yang sebelumnya !”

"Aku datang kemari bukan hendak mengadu bicara dengan engkau, pendeta keledai !” bentak Kwee Bo In dengan suara yang kasar sekali. "Bersiap-siaplah engkau untuk menerima seranganku !"

Karena dia telah mendengar dari Keuki Takashi bahwa Tat Mo Cauwsu memiliki kepandaian yang luar biasa, maka Kwee Bo In tidak berani terlalu ceroboh.

Tetapi dengan seusainya perkataannya itu tanpa menantikan jawaban dari Tat Mo Cauwsu, dengan cepat sekali dia telah melompat dan melancarkan serangan dengan tangan kanannya.

Gerakan yang dilakukannya tampaknya biasa saja, seperti jurus ilmu silat ”Yang Liu Menari Diatas Air", tetapi justru serangan   yang   dilakukan   oleh   Kwee   Bo   In mengandung kekuatan tenaga lweekang yang luar biasa hebatnya, anginnya berkesiuran dan Tat Mo Cauwsu segera dapat menduga bahwa serangan ini tidak bisa dipandang remeh, karena bisa  membawa bencana padanya.

Cepat sekali Tat Mo Cauwsu menggeser kedudukan kedua kakinya, dia telah meng-gerak2kan kedua tangannya yang dirangkapkan, ingin menangkap tangan Kwee Bo In.

Melihat gerakan Tat Mo Cauwsu sama sekali Kwee Bo In tidak menarik pulang tangannya itu.

Dibiarkan tangannya itu ditangkap oleh kedua tangan Tat Mo Cauwsu.

Tetapi begitu tangan Tat Mo Cauwsu hampir menyentuh tangan si iblis yang berukuran pendek itu, disaat itulah tahu2 tangan itu seperti telah berhasil diulurkan lebih panjang dari ukurannya semula.

Tahu2 jari tangannya telah melewati kedua telapak tangan Tat Mo Cauwsu dan meluncur ke arah muka pendeta itu.

Tat Mo Cauwsu kaget sekali, dia sampai mengeluarkan suara seruan nyaring.

Tetapi sebagai seorang pendeta yang berkepandaian tinggi, sama sekali Tat Mo Cauwsu tidak menjadi gugup dengan keadaan seperti ini, dengan cepat dia telah membelakangi kepalanya yang ditarik mundur, sehingga jari tangan dari It Cie Sin Mo Kwee Bo In tidak berhasil menyerang mukanya. Kedua tangannya yang berhasil menangkap pergelangan tangan si  iblis telah diisi dengan kekuatan lwekang, dia memutarnya, bermaksud akan mematahkan tangan lawannya itu.

Namun Kwee Bo In bertindak selalu dengan cepat, melihat akal liciknya dengan serangan seperti itu tidak memberikan hasil dia telah menggerakkan tangannya yang satunya lagi. Waktu tangan Kwee Bo In itu yang tertangkap kedua tangan Tat Mo Cauwsu ingin diputar, justru serangan tangan yang satunya telah menyambar datang.

Serangan yang dilakukannya itu bukan serangan sembarangan, pada kepalan tangannya itu mengandung kekuatan yang ribuan kati, sehingga angin serangan itu berkesiuran sangat keras sekali.

Tat Mo Cauwsu juga menyadari, jika dia meneruskan maksudnya memutar tangan si iblis yang satu, tentu dadanya akan tergempur serangan Kwee Bo In dengan tangannya yang satunya itu. Dan Tat Mo Cauwsu juga menyadari bahaya yang mengancamnya, maka dia membatalkan maksudnya memutar tangan si iblis, dia telah menggerakkan tangan kirinya menyampok kesamping menangkis kepalan tangan Kwee Bo In, "Bukkk !"

Suara terbenturnya kedua tangan itu menimbulkan getaran yang keras diruangan tersebut, hal ini memperlihatkan bahwa benturan itu merupakan benturan yang kuat dan keras.

Tetapi kuda2 kedua kaki Tat Mo Cauwsu menancap kuat sekali dilantai, dia tidak bergeming atau tergeser kedua kakinya dari tempatnya semula.

Bahkan menyusuli pula dengan itu, Tat Mo Cauwsu telah mengebut dengan tangannya yang satunya.

Kwee Bo In sama sekali tidak menyangka bahwa Tat Mo Cauwsu memang benar2 merupakan lawan yang tangguh sekali, dia telah cepat2 berkelit kesamping.

Namun Tat Mo Cauwsu tidak bergerak hanya sampai disitu saja, dia telah mengeluarkan suara seruan perlahan dan tahu2 kedua tangannya serentak menghantam.

Kwee Bo In melihat Tat Mo Cauwsu menggempurnya dengan cara demikian, yaitu mempergunakan waktu yang cepat sekali tetapi Kwee Bo In juga tidak mau mengalah, dia tidak mau berkelit dari serangan itu.

Dengan mempergunakan kekerasan, dia telah menangkis kedua tangan Tat Mo Cauwsu, dimana kedua tangan Kwee Bo In yang berukuran pendek itu telah menangkisnya.

Begitulah, kedua jago ini yang memiliki kepandaian luar biasa sekali telah terlibat dalam suatu pertempuran yang sangat dahsyat, dengan cepat telah belasan jurus dilewatkan.

Tetapi diantara mereka tampaknya tidak ada yang terdesak atau yang didesak.

Jika yang seorang melancarkan serangan dan gempuran, maka yang seorang lainnya membarengi dengan serangan balasan.

Begitulah bergantian mereka telah melancarkan serangan2 dan juga mengeluarkan kepandaian mereka.

Keuki Takashi telah berdiri mengawasi jalan pertempuran itu dengan tertarik.

Diam2 Keuki Takashi telah berpikir didalam hatinya : ”Waktu dulu dia bertempur dengan aku, ternyata si pendeta busuk ini tidak mengeluarkan seluruh kepandaiannya, sekarang dia memperlihatkan kepandaian yang jauh lebih tangguh dari yang dulu. Jika waktu itu dia mempergunakan kepandaian seperti sekarang ini, tentu aku tidak sanggup menghadapinya...!” dan diam2 Keuki Takashi jadi merasa kagum sekali kepada Tat Mo Cauwsu.

Tetapi berbeda dengan Keuki Takashi, justru disaat itu Pangcu Kaypang Sun Cie Po telah berpikir : "Kepandaian mereka berdua tampak berimbang, luar biasa sekali....! untung saja hari ini aku telah menerima kedatangan Tat Mo Cauwsu.. jika tidak, tentu kaypang akan dihancurkan oleh iblis bertangan telengas ini ! sekarang aku baru terbuka mata dan pikiranku bahwa diatas gunung yang tinggi masih ada yang lebih tinggi...Hemmm jika dibandingkan dengan kepandaian mereka berdua, maka kepandaianku seperti tidak ada artinya, sia-sia aku telah melatih diri dengan waktu selama lima puluh tahun....” dan Sun Cie Po jadi mengawasi jalannya pertempuran itu dengan mata yang terpentang lebar lebar dan sikap tertegun, dari matanya terlihat sinar kagum kepada kedua orang yang tengah bertempur dengan kepandaian yang aneh dan luar biasa itu.

Semua orang yang berada diruangan itu, yaitu pengemis2 lainnya, telah merasakan diri mereka jadi kecil sekali waktu melihat kepandaian kedua orang yang tengah bertanding itu, karena mereka telah menyaksikan bahwa kalau mereka yang menghadapi salah seorang di antara kedua itu tentunya dalam satu atau dua jurus saja mereka akan jatuh rubuh... diam2 mereka jadi berjanji didalam hati masing2 untuk berlatih sekuat kesanggupannya di-hari2 mendatang nanti.

Sedangkan Kwee Bo In yang melihat lawannya dapat menghadapi serangan serangannya tanpa terdesak sedikitpun juga semakin lama jadi semakin penasaran.

Beberapa kali It Cie Sin Mo Kwee Bo In telah mengeluarkan jurus-jurus yang jauh lebih hebat, dengan disertai oleh tenaga lwekang yang lebih kuat.

Kenyataan Tat Mo Cauwsu tetap dapat menghadapi serangan si iblis dengan baik, bahkan berulang kali Tat Mo Cauwsu juga telah balas menyerang.

Setiap serangan yang dilancarkan Tat Mo Cauwsu tidak kalah dahsyatnya dari si iblis Kwee Bo In.

Tetapi disebabkan kedua orang ini memang memiliki kepandaian yang berimbang, mereka telah bertempur dengan berimbang pula. Serang menyerang silih berganti, jurus demi jurus  telah  lewat,  hampir  seratus  jurus  lebih  telah  mereka lewatkan tetapi belum ada tanda-tanda salah satu pihak diantara mereka itu akan terdesak karenanya.

Keadaan seperti ini telah membuat Tat Mo Cauwsu juga jadi penasaran sekali. Dia telah mengawasi cara dan jurus-jurus silat yang dipergunakan Kwee Bo In. Waktu dia melihat cara menyerang Kwee Bo In selalu menghantam dan mengincer bagian atas, mengingat kedua tangannya memiliki ukuran yang pendek dibandingkan dengan ukuran tangan manusia dewasa lainnya, maka jarak jangkau yang bisa diperoleh dari kedua tangan ini sangat terbatas.

Tat Mo Cauwsu jadi mempergunakan keuntungan yang tidak begitu besar, tetapi bagi Tat Mo Cauwsu memegang peranan tidak kecil. Dengan mengambil kelemahan dari ukuran kedua tangan lawannya itu, Tat Mo cauwsu melancarkan serangan yang beruntun dan tidak hentinya menyambarnyambar kebagian bawah, mulai dari perut sampai ke kaki, sehingga membuat Kwee Bo In segera terlihat agak sibuk untuk menangkis atau mengelakkan diri.

Iblis itu mengetahui juga bahwa Tat Mo Cauwsu mempergunakan kelemahannya itu untuk mendesaknya, dia jadi gusar bukan main, sampai suatu kali dia berjingkrak.

Kemudian dia telah menggerakkan kedua tangannya mendorong keras ke arah Tat Mo Cauwsu.

Sebetulnya saat itu Tat Mo Cauwsu ingin melancarkan gempuran yang cukup kuat dengan jurus ”Siang Liong Cut Hay" atau ”Sepasang Naga Muncul dari Lautan", tetapi tenaga mendorong yang dilakukan oleh Kwee Bo In bukan main cepatnya, memaksa Tat Mo Cauwsu membatalkan serangannya dan cepat2 mengelakkan diri.

Mempergunakan kesempatan itu, tampak Kwee Bo In telah melompat mundur menjauhi diri. ”Engkau licik !" teriaknya dengan marah. ”Jika memang engkau memiliki kepandaian yang tinggi mengapa engkau tidak bertempur dengan cara yang baik ?"

Tat Mo Cauwsu tersenyum sabar.

”Saudara Kwee, jika engkau ingin melihat tinggi atau rendahnya ilmu silat, bukan cara demikian, karena dengan bertempur, cara apa saja dipergunakan asal tidak mempergunakan cara yang sesat..." menyahuti Tat Mo Cauwsu. "Tetapi justru beberapa kali sempat Siauwceng melihat betapa kau telah mempergunakan jurus2 yang agak sesat, tenaga lwekangmu juga mulai terperangkap oleh kesesatan, itu bisa membahayakan dirimu sendiri jika engkau tidak bisa segera merobah dan melatih diri dengan lwekang dari aliran yang lurus bersih, karena jika sudah tiba waktunya kelak, justru lwekang yang agak sesat itu akan meledak dan mencelakai dirimu sendiri..."

Kwee Bo In kaget juga hatinya, dia tidak menyangka  bahwa pendeta yang menjadi lawannya ini memiliki mata yang sangat tajam, sampai soal lwekangnya yang memang agak  sesat itu diketahuinya. Tetapi perasaan kagetnya itu tidak diperlihatkan dimukanya, sambil tertawa dingin dia telah berkata :

”Itu bukan urusanmu ! Baiklah, karena sekarang tidak terlihat orang she Auwyang itu, biarlah lain kali aku akan datang kembali...!" setelah berkata begitu, tanpa memperdulikan semua orang tengah memandangi padanya, Kwee Bo In menoleh pada Keuki Takashi, katanya, ”Mari kita pergi. "

Baru kata2nya itu terdengar, tubuhnya telah bergerak cepat sekali, tahu-tahu telah berada diatas dinding tembok pekarangan kuil tersebut. Keuki Takashi telah mengikuti gerakan Kwee Bo In, dia telah menyusulnya dengan cepat, setelah mendelik kepada Tat Mo Cauwsu.

Setelah kedua orang itu, Kwee Bo In dan Keuki Takashi lenyap dari pandangan mata, Sun Cie Po dan pengemis2 lainnya bisa bernapas lega.

Pangcu Kaypang itu cepat2 menghampiri Tat Mo Cauwsu, dia merangkapkan tangannya, memberi hormat kepada pendeta itu.

"Terima kasih atas bantuan Taisu yang menyelamatkan Kaypang dari malapetaka !" kata Sun Cie Po.

Tat Mo Cauwsu cepat-cepat mengeluarkan kata-kata merendah, tidak mau dia menerima kata-kata pujian. Sedangkan Sun Cie Po telah mengeluarkan sebuah pay, tanda yang terbuat dari besi, ia memberikannya kepada Tat Mo Cauwsu.

"Tiat Pay ini merupakan lambang milikku, maka jika Taisu menemui kesulitan disuatu tempat, perlihatkan saja Tiat Pay (Pay besi) ini kepada pengemis mana saja, tentu kebutuhan Taisu akan terpenuhi...” kata Sun Cie Po sambil mengangsurkan Pay itu kepada Tat Mo Cauwsu.

Sesungguhnya Tat Mo Cauwsu ingin menolak pemberian itu, tetapi dia kuatir kalau2 nanti menyinggung perasaan tuan rumah, maka dia menerimanya juga. Dimasukkannya Pay itu kedalam saku jubahnya sambil mengucapkan terima kasih.

Sun Cie Po telah perintahkan beberapa orang pengemis untuk membereskan ruangan dan mengatur meja perjamuan, kepala pengemis ini telah menjamu Tat Mo Cauwsu lagi.

Beberapa hari lamanya Tat Mo Cauwsu berkumpul dengan para pengemis itu, dia telah membicarakan banyak persoalan dengan Sun Cie Po.

Terutama sekali bagi Pangcu Kaypang itu, dia menanyakan pendapat Tat Mo Cauwsu bagaimana caranya yang terbaik untuk mengatasi persoalan Auwyang Siung Bun.

”Persoalan itu termasuk persoalan keluarga Kaypang, maafkan Siauwceng tidak berani mencampurinya...” kata Tat Mo Cauwsu dengan rendah hati.

Pangcu Kaypang itu tidak menjadi kurang senang, dia telah mengerti persoalan dan kedudukan Tat Mo Cauwsu, hanya saja dia masih bilang : "Jika memang suatu kali nanti kebetulan Taisu bertemu dengan orang she Auwyang itu, tolong Taisu nasehatkan dia, agar tidak menimbulkan persoalan, karena dengan menyelusupnya dia ke dalam barisan pengemis, berarti dia telah memancing malapetaka untuk perkumpulan Kaypang kami...”
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Tat Mo Cauwsu Jilid 14"

Post a Comment

close