Tat Mo Cauwsu Jilid 12

Mode Malam
Jilid XII

TIBA-TIBA Tat Mo Cauwsu telah merobah cara bertempurnya, dengan jurus ‘Hong Liu Cut Hay' atau 'Angin Menerpa Yangliu Masuk Kelautan’, tahu2 tangan Tat Mo Cauwsu telah bergerak gerak cepat sekali.

Yang luar biasa bukanlah gerakan kedua tangannya yang cepat, tetapi angin serangan tangan Tat Mo Cauwsu yang berkesiuran, sehingga di tempat tersebut bagaikan diterpa oleh terjangan badai dan angin topan.

Keuki Takashi juga nampaknya terkejut dengan perobahan cara bersilat yang dilakukan oleh Tat Mo Cauwsu, karena begitu kedua tangan Tat Mo Cauwsu bergerak-gerak dengan lincah dan cepat, segera pula menyambar angin serangan yang tidak hentinya menerjang dirinya.

Bahkan yang membuatnya jadi kaget sekali, setiap terjangan angin serangan yang dilancarkan Tat Mo Cauwsu membuat tubuhnya jadi terhuyung berulang kali.

Tetapi Takashi juga memiliki kekuatan dan kepandaian yang  dapat  diandalkan  olehnya,  sehingga  dia  tidak  menjadi gugup menghadapi keadaan seperti ini. Bahkan cepat sekali dia mengerahkan kekuatan dikedua telapak tangannya dan menerjang dengan kekerasan.

Tat Mo Cauwsu menyadari bahayanya telapak tangan Keuki Takashi yang mengandung tenaga gwakang, dia tidak mau saling membenturkan tangannya dengan pihak lawan tersebut. Memang bisa saja dia menghadapi tenaga serangan lawannya dengan mempergunakan tenaga lwekangnya atas latihan Yoga yang dimilikinya, namun Tat Mo Cauwsu tidak mau menempuh resiko seperti itu. Dengan menggerakkan ginkangnya, tubuh Tat Mo Cauwsu berkelebat-kelebat mengelakkan serangan-serangan Keuki Takashi, sambil balas menyerang dengan tidak kalah hebatnya.

Menghadapi cara bertempur yang dilakukan Tat Mo Cauwsu, Keuki Takashi rupanya kaget bercampur penasaran, dengan mendongkol beberapa kali dia harus mengelakkan diri juga, karena pernah sekali terjadi waktu keuki Takashi tidak memperdulikan serangan Tat Mo Cauwsu dan terus menggempur dada pendeta itu, tangan Tat Mo Cauwsu singgah didadanya, sehingga tubuh Keuki Takashi jadi tergoncang hebat dan mundur dengan wajah yang pucat. Sedangkan yang mengejutkan dia justru waktu tadi tepian telapak tengannya berhasil menggempur punggung pendeta India tersebut, dia merasakan tenaga serangannya seperti lenyap karena Tat Mo Cauwsu mempergunakan ilmu (tenaga lunak) untuk menerima gempuran yang dilakukan oleh Keuki Takashi yang membuat punggungnya itu selunak kapas, dengan demikian lenyaplah daya tenaga serangan Keuki Takashi.

Jago Jepang yang bertubuh gemuk pendek itu telah berdiam diri sejenak menatap tajam pada Tat Mo Cauwsu. Hasil serangannya yang tidak memberikan hasil apa apa padanya membuat dia heran tercenung, dia tidak mengerti mengapa punggung pendeta itu bisa selunak kapas. Biasanya, jangan kata tubuh manusia, sedangkan batu atau besi dapat dihancurkan oleh gempuran pinggir telapak tangannya, karena telah dua puluh lima tahun lamanya Keuki Takashi melatih ilmunya tersebut. Bahkan selama lima tahun belakangan ini Keuki Takashi telah melatih diri dibawah tumpahan air terjun yang mengandung kekuatan mendorong mencapai ribuan kati, sehingga kepandaiannya jadi meningkat lebih hebat lagi dibandingkan dengan masa lalunya.

Selain kuda kuda kedua kakinya menjadi kuat sekali, seperti juga gunung yang tegar dan kokoh, yang tidak akan goyah oleh gempuran bagaimana kuatpun juga. Namun kenyataan yang dihadapi kini membuat dia heran. Pertamatama, dia menyerang Tat Mo Cauwsu tanpa mendatangkan hasil, punggung pendeta itu tidak berhasil dihancurkannya.  Dan begitu juga waktu telapak tangan Tat Mo Cauwsu mengenai dadanya, walaupun nampaknya sentuhan yang dilakukan Tat Mo Cauwsu mengenai dadanya itu perlahan sekali, namun berhasil membuat tergempur kuda kuda kedua kaki Keuki Takashi, sehingga diapun terhuyung mundur, bahkan merasakan sakit yang bukan main pada dadanya.

Tat Mo Cauwsu telah merangkapkan kedua tangannya, dia berkata dengan suara yang sabar : ”Siancai ! Siancai ! Siecu telah melihat, tidak selamanya kepandaian Siecu bisa diandalkan untuk merubuhkan dan menganiaya sesama manusia, bukan? Maka dari itu, alangkah bijaksananya seseorang melakukan amal kebaikan, untuk memupuk jiwa yang luhur, coba Siecu bayangkan kepandaian tanpa pemikiran yang baik mendatangkan bencana bagi sesama manusia diri sendiri, tetapi jika pemikiran tanpa kepandaian bisa menyebabkan malapetaka, Siecu pikirkan, jika Siecu tetap dengan perbuatan yang selalu menuruti hawa angkara murka, dengan mengandalkan kepandaian yang sekarang kebetulan dimiliki Siecu, bukankah hal itu akan mendatangkan bencana yang tidak kecil? Terutama untuk sesama manusia dan juga untuk Siecu sendiri jika kelak suatu saat Siecu bertemu dengan lawan yang kebetulan sekali memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari kepandaian Siecu, serta lawan Siecu itu memiliki sifat yang kejam dan bertangan telengas juga, bukankah akan mendatangkan malapetaka yang hebat untuk diri Siecu? Terlebih lagi memang didunia ini tiada yang kekal dan karma itu akan selalu ada, maka tidak bisa selamanya Siecu berada diatas, suatu saat kegetiran itu akan diterima oleh Siecu jika meneruskan perbuatan yang tidak baik ini...!”

Keuki Takashi waktu mendengar perkataan Tat Mo Cauwsu bukannya merenungkan perkataan itu, bahkan sebaliknya jadi gusar sekali. Dia berjingkrak sambil mengeluarkan suara teriakan yang mirip dengan suara tertawa atau tangis itu, mengerikan dan nada suaranya itu mengandung kesesatan. Tangan kirinya diturunkan ke dekat perutnya, sedangkan tangan kanannya per-lahan2 diangkatnya, dengan mengerahkan seluruh kekuatan inti yang dimilikinya, dia mengangkatnya sampai telapak tangan kanan itu berada diatas kepalanya.

Dengan mengeluarkan suara erangan yang mengerikan dan muka memancarkan sinar yang mengandung hawa pembunuhan, tampak Keuki Takashi telah melompat melakukan pukulan dengan kedua tangannya.

Tat Mo Cauwsu juga jadi terkejut waktu melihat cara lawannya melancarkan serangan seperti itu, dia menggidik melihat sinar mata Keuki Takashi yang memancar menyeramkan, tetapi sebagai seorang yang patuh beribadah, Tat Mo Cauwsu segera menyebut kebesaran nama Sang Buddha, sambil mengerahkan semangat murninya dikedua tangannya.

Pukulan yang kali ini dilakukan oleh Keuki Takashi tidak mungkin bisa dielakkannya, karena terlalu cepat dan kuat sekali, tubuh Keuki Takashi juga melambung ditengah udara waktu tangannya melancarkan pukulan. Maka Tat Mo Cauwsu telah berdiri dengan Tiat Lo Han (Arhad Besi), kedua kakinya seperti menancap dibumi, dan dia telah mempergunakan salah satu jurus dari Cap-peh Lo Han Kun, ilmu silat telapak tangan kosong yang memiliki ketangguhan sangat diandalkannya.

”Bukkk !” gempuran yang dilakukan oleh Keuki Takashi telah berhasil mengenai telapak tangan Tat Mo Cauwsu, tubuh mereka berdua tergetar keras sekali. Keuki Takashi telah meluncur turun dengan tubuh yang dirasakan sakit-sakit akibat dorongan tenaga Tat Mo Cauwsu, Maka dia kembali diliputi perasaan heran dan kaget, karena pukulannya yang begitu hebat, tidak bisa merubuhkan Tat Mo Cauwsu, membuat Keuki Takashi sejenak lamanya jadi berdiam diri tertegun menatap si pendeta.

Tat Mo Cauwsu berdiri tegak ditempatnya, bagaikan kedua kakinya berakar ditanah, sedikitpun tidak tergoyahkan oleh tenaga serangan yang dilakukan oleh Keuki Takashi.

Tetapi diluar tahunya Keuki Takashi, hati Tat Mo Cauwsu tercekat. Waktu tadi dia menangkis serangan yang dilakukan oleh Keuki Takashi, justru dia merasakan betapa tenaga tangkisannya itu tidak memberikan hasil apa apa, bahkan tenaga gempuran Keuki Takashi bagaikan membuat seluruh darah ditubuhnya telah bergolak. Untuk itu, Tat Mo Cauwsu cepat-cepat mengempos tenaga lwekangnya. Untung saja dia memang memiliki lwekang yang telah mencapai puncaknya, ditambah dengan hasil latihan tenaga Yoganya, maka dia berhasil memunahkan tenaga pukulan telapak tangan Keuki Takashi. Namun sejenak lamanya dadanya masih dirasakan sakit sekali, hal itu membuktikan bahwa tenaga pukulan Keuki Takashi walaupun tidak bisa merubuhkannya tetapi telah membuat dia tergempur didalam.

Diluar Tat Mo Cauwsu tenang2 saja, tetapi dihatinya dia agak gelisah, karena pendeta dari India ini menyadari, kalau saja Keuki Takashi melancarkan serangan beruntun seperti tadi sebanyak tiga kali lagi, kemungkinan untuk bertahan terus  tidak bisa dilakukan oleh Tat Mo Cauwsu, dia tentu akan terluka didalam.

Cepat-cepat Tat Mo Cauwsu menyalurkan kekuatan tenaga lwekangnya dibeberapa jalan darah terpenting dikepala, leher, dada dan perutnya, dia menyalurkan dengan cepat, dan perasaan sakit didadanya ber-angsur2 lenyap. Untung juga disaat itu Keuki Takashi juga tidak melancarkan serangan lagi, sebab jago Jepang itu juga tengah tertegun. Itulah suatu keuntungan bagi Tat Mo Cauwsu, dia bisa memanfaatkan keadaan seperti itu untuk melancarkan peredaran jalan darahnya yang tadi hampir macet akibat pukulan telapak tangan Keuki Takashi.

Dalam keadaan demikian Keuki Takashi sendiri berpikir dua kali untuk melancarkan serangan lagi, sebab diapun tadi merasakan dada dan perutnya sakit sekali. Dadanya sesak mengganggu napasnya disamping perasaan sakit perutnya dimana isi perutnya itu seperti terbalik. Waktu itupun Keuki Takashi baru mengakui bahwa pendeta India itu memiliki kepandaian yang tinggi sekali, mungkin lebih tinggi seurat dari kepandaiannya.

Tetapi Keuki Takashi tentu saja tidak mau memperlihatkan kelemahan dirinya, dia telah tersenyum mengejek sambil katanya, “Sebetulnya jika aku hendak mengambil jiwamu, sama mudahnya seperti aku menghantam batu tadi yang hancur luluh..! Tetapi melihat engkau memiliki kepandaian yang lumayan dan tentunya kau peroleh dengan susah payah dan latihan yang berat memakan waktu tidak singkat, aku merasa sayang bila orang seperti engkau harus binasa dibawah tanganku. Nah pergilah, kali ini aku mau memaafkan orang yang datang menggangguku ! Dan engkau merupakan orang yang pertama kalinya, yang datang kemari dan berlalu tanpa cacad...” Semula sebelum bertempur memang Tat Mo Cauwsu bermaksud meninggalkan tempat itu tanpa menimbulkan bentrokan dengan jago bertubuh pendek gemuk itu.

Tetapi sekarang, setelah bertempur dan melihat kepandaian jago Jepang itu tinggi sekali, dan memiliki sifat-sifat yang agak sesat, tentu saja membuat Tat Mo Cauwsu jadi berpikir juga. Jika membiarkan jago Jepang itu tetap dengan keadaan dan kelakuannya yang sesat, pasti akan banyak sekali berjatuhan korban-korban lainnya dikemudian hari. Sekarang saja dia telah memiliki kepandaian yang begitu tinggi, mungkin satu dua tahun lagi setelah jago Jepang ini menyelesaikan latihannya, akan mendatangkan bencana yang hebat, sebab disaat itu tentu jago Jepang ini telah memiliki kepandaian yang jauh lebih sempurna lagi.

Tat Mo Cauwsu telah merangkapkan kedua tangannya, dia menyebut perkataan, ”Siancai !” dua kali, lalu dia berkata dengan suara yang sabar sekali : ”Siecu memiliki kepandaian yang mendatangkan rasa kagum di hatiku. Siauwceng

mengakui bahwa kepandaian Siecu jarang yang bisa menandinginya. Alangkah menggembirakan jika kita mengikat tali persahabatan, dimana kita bisa bertukar pandangan mengenai ilmu silat. ”

Keuki Takashi menatap Tat Mo Cauwsu dengan sepasang alis yang memain, sejenak lamanya dia tidak menyahuti, hanya memandang dengan sorot mata yang tajam, sampai akhirnya dia mengibaskan tangannya, katanya dengan kasar : “Engkau memiliki jalanmu sendiri, sedangkan aku pun memiliki jalan sendiri maka kita asal tidak saling mengganggu itu pun telah lebih dari cukup. !”

Dengan berkata begitu, Keuki Takashi ingin mengatakan bahwa dia juga kagum atas kepandaian yang dimiliki Tat Mo Cauwsu, hanya dia tidak mau menyebutkan dan mengakuinya secara  terus  terang.  Dia  hanya  menegaskan,  jika  Tat  Mo Cauwsu kelak tidak mengganggunya, diapun tidak ingin mencari urusan kepada pendeta India itu.

Tetapi Tat Mo Cauwsu tidak puas oleh jawaban yang diberikan oleh Keuki Takashi, dia telah berkata dengan suara yang sabar : “Walaupun kita memiliki jalan yang berbeda  tetapi jika memang kita ingin mengikat tali persahabatan yang intim dan memiliki rasa pengertian, tentu banyak orang yang bisa kita selamatkan..!”

”Apa maksudmu ?“ bentak Keuki Takashi dengan suara yang tawar.

”Omitohud, atas nama Sang Buddha yang agung, maka Siauwceng ingin meminta agar Siecu tidak lagi menurut hawa nafsu untuk mencelakai sesama manusia..!!” menyahuti  Tat Mo Cauwsu dengan suara yang sabar, walaupun lawannya itu bersikap kasar sekali.

Muka Keuki Takashi jadi berobah waktu mendengar perkataan Tat Mo Cauwsu, dengan muka yang merah padam, dia telah berkata dingin : ”Jika engkau masih banyak bicara lagi, kerewelanmu itu akan merobah pendirianku... dan jika terjadi begitu, tidak bisa engkau mempersalahkan diriku jika aku menyerang lagi dirimu ! Terlebih baik, cepatlah kau angkat kaki dari tempat ini !” suara Keuki Takashi kaku dan tidak mengandung persahabatan.

Namun Tat Mo Cauwsu tenang sekali, dia telah tersenyum tawar, sambil katanya : ”Jika memang Siecu masih tidak bersedia untuk mengambil “Empat Kebenaran Mulia”, dan juga “Delapan Jalan Utama”, niscaya Siecu akan mengalami banyak kesengsaraan dikemudian hari, karena hukum karma tidak akan bisa dielakkan lagi untuk orang-orang yang banyak melakukan perbuatan-perbuatan jahat.”

Muka Keuki Takashi jadi berobah merah padam mendengar perkataan Tat Mo Cauwsu. ”Aku jahat atau baik, itu bukan urusan untukmu, bukan?” tanyanya mengejek.

”Benar, tetapi sebagai sesama manusia, Siauwceng merasa kasihan jika melihat siecu mengambil jalan yang sesat. Terlebih lagi jika dengan kepandaian yang Siecu miliki itu kelak mengancam keselamatan banyak manusia dibumi ini, maka itupun merupakan suatu kewajiban Siauwceng untuk menyadari Siecu dari jalan yang sesat itu...”

Keuki Takashi jadi gusar sekali, dia mengeluarkan suara teriakan yang mirip suara tertawa dan tangis itu, dia telah berjingkrak dengan penuh kemarahan, dan kemudian berseru gusar, “Sekarang ini coba katakan, apakah engkau memang demikian usil ingin mencampuri apa yang hendak kulakukan? Sudah kukatakan, walaupun engkau memiliki kepandaian yang lumayan tingginya, aku tidak gentar ! Jika engkau masih tidak mau cepat angkat kaki, tentu aku akan membinasakanmu atau setidak-tidaknya aku akan membuat kau bercacad...!”

Mendengar perkataan Keuki Takashi, Tat Mo Cauwsu telah berkata tawar : ”Siancai! Siancai! Memang Siecu masih belum mau melihat jalan yang terang, dan memilih jalan yang gelap pekat ..! Siauwceng memang tidak bisa memaksa..”

Keuki Takashi gusar dan penasaran, tetapi karena dia mengetahui Tat Mo Cauwsu memiliki kepandaian yang tinggi sekali, dia tidak mau cari urusan dengan pendeta itu. Maka sedapat mungkin Keuki Takashi berusaha membendung kemarahan hatinya itu.

Baru saja jago Jepang tersebut hendak berkata lagi, tiba-tiba terdengar suara tertawa mengikik, suara itu merdu sekali terdengarnya, tetapi mengandung nada yang cukup mengerikan di suara tertawanya tersebut.

Didengar dari nada suara tertawa itu yang cukup merdu, tentunya seorang wanita yang cukup cantik. Memang Tat Mo Cauwsu dan Keuki Takashi tidak perlu tunggu lama lagi, segera terlihat sesosok tubuh langsing telah meluncur cepat sekali dari atas tebing, gerakannya luar biasa cepatnya, membuktikan ilmu meringankan tubuhnya tinggi sekali. Tubuhnya itu meluncur bagaikan kakinya tidak menyentuh tanah saja. Bukan lagi rasa heran Tat Mo Cauwsu lenyap, seorang wanita cantik sekali berpakaian warna merah dan penuh perhiasan, telah berdiri dihadapannya dengan memperdengarkan suara tertawanya yang merdu, namun genit. Usia wanita ini mungkin tiga puluh tahun, tetapi disebabkan dia berpakaian robek seperti itu, dengan rambut yang disanggul menjadi dua dan dipenuhi perhiasan, membuat dia jauh lebih muda dari usianya yang sebenarnya.

Muka Keuki Takashi telah berobah ketika melihat wanita itu. Diapun telah berkata dengan suara yang dingin, ”Ang Ie sian lie (Dewi Baju Merah) Cie Cie Lian, apakah engkau  belum puas mengganggu aku, sehingga kini engkau kembali lagi ?”

Wanita cantik itu tertawa lagi, tetapi kali ini suara tertawanya sangat perlahan, disusul dengan kata2nya yang genit sekali : ”Kakakku yang tercinta, mengapa engkau selalu tidak gembira melihat kedatanganku... Apakah aku menyebalkan sekali dalam pandanganmu? Apakah aku kurang cantik ?”

Tat Mo Cauwsu mengerutkan alisnya dan didalam hatinya menyebut kebesaran Sang Buddha, karena wanita tersebut sangat genit sekali, sikapnya memperlihatkan kebinalannya, walaupun memang parasnya cantik sekali dan potongan tubuhnya sangat baik.

Keuki Takashi kembali tertawa dingin.

”Aku seorang lelaki, dan sama seperti lelaki yang lainnya, aku pun senang sekali dengan wanita-wanita cantik seperti engkau ! Tetapi sekarang, aku tengah melatih diri untuk menyempurnakan ilmuku, maka engkau harus mengerti, tidak dapat aku melayanimu... janganlah engkau mengganggu aku terus menerus. ”

”Mengganggu? Tidak ! Aku tidak mengganggumu !!” menyahuti Ang Ie Sianlie dengan suara disertai suara tertawanya yang genit. ”Aku hanya ingin selalu berdekatan dengan engkau! Terus terang kukatakan kepadamu, kakakku yang gagah, aku memang paling menyukai lelaki gagah seperti engkau ! Banyak lelaki lelaki yang memiliki muka dan tubuh yang baik, jauh lebih baik dari engkau, tetapi mereka tidak memiliki kegagahan seperti engkau, aku hanya ingin selalu berdekatan dengan engkau, tidak akan mengganggu, bolehkan kakakku yang gagah ?”

Waktu berkata-kata begitu, Ang Ie Sian lie juga telah melirik kepada Tat Mo Cauwsu lalu katanya lagi : ”Hai, hai, apakah pendeta gundul ini mengganggumu ? Biar nanti aku yang melemparkannya pergi !”

Tanpa menantikan persetujuan Keuki Takashi, Ang Ie Sianlie telah menghampiri Tat Mo Cauwsu.

Keuki Takashi memang tidak ingin mencegahnya, justru  dia girang melihat Ang Ie Sianlie ingin menempur Tat Mo Cauwsu, karena Keuki Takashi mengetahui Ang Ie Sian lie memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Telah beberapa kali sebelumnya Ang Ie Sian lie selalu datang mengganggunya, dan selama itu tidak berhasil Keuki Takashi merubuhkannya, walaupun Ang Ie Sianlie Cie Cie Lian juga tidak berhasil merubuhkan Keuki Takashi.

Setelah menghampiri kurang lebih terpisah setombak dengan Tat Mo Cauwsu, Cie Cie Lian telah mengeluarkan suara tertawa yang genit sekali. ”Pendeta gundul, apakah engkau tidak mau cepat-cepat angkat kaki, menantikan nona manismu melemparkan kau kedalam sungai itu ?” tanyanya. Suaranya merdu sekali tetapi nadanya mengancam.

Tat Mo Cauwsu merangkapkan sepasang tangannya, dia mengucapkan kebesaran Sang Buddha.

”Siancai ! Siancai ! Diantara kita tidak tersangkut urusan dan hubungan apapun juga, mengapa tampaknya kau begitu galak ?”

Seperti juga angin cepatnya, Ang Ie Sian lie tahu2 telah menggerakkan tangan kirinya untuk mencengkeram baju bagian dada dari Tat Mo Cauwsu, sambil katanya dengan suara merdu: “Kau pergilah pendeta botak, jangan banyak bicara...!”

Memang Ang Ie Sianlie memiliki ginkang yang hebat sekali, seperti tadi dia telah berhasil menuruni tebing yang begitu tinggi dengan gerakan yang gesit dan tampaknya mudah sekali selain sangat cepat.

Maka dari itu, waktu dia mengulurkan tangannya, Tat Mo Cauwsu juga terkejut karena tangan itu berkelebat sangat cepat sekali, hampir tidak bisa dilihat oleh pandangan mata biasa.

Tetapi Tat Mo Cauwsu tidak mau membiarkan tubuhnya itu disentuh tangan Ang Ie Sianlie, dia telah mengeluarkan suara tertawa tenang, lalu katanya : ”Maaf ! Maaf ! Siauwceng tidak bisa melayanimu, nona ... !” sambil berkelit dari cengkraman Ang Ie Sian lie tampak Tat Mo Cauwsu mengulur langkahnya kebelakang menjauhi diri dari Ang Ie Sianlie.

”Ihhh...! “ Ang Ie Sianlie mengeluarkan suara seruan  seram, dia kaget karena pendeta yang alim ini bisa mengelakkan diri dari cengkraman tangannya, yang dilakukannya sangat cepat sekali. “Engkau memiliki kepandaian   yang   lumayan   pendeta   botak?   Coba   terima tanganku ini...!“ dan membarengi perkataannya itu, tampak Ang Ie Sianlie beruntun telah menggerakkan kedua tangannya, ke bagian dada, dan perut Tat Mo Cauwsu.

Tetapi Tat Mo Cauwsu sudah tidak terkejut lagi, karena sekarang Tat Mo Cauwsu mengetahui bahwa wanita cantik yang ada di depannya ini memang merupakan seorang wanita yang memiliki kepandaian cukup liehay.

Waktu melihat kedua tangan Ang Ie Sianlie meluncur kearahnya, Tat Mo Cauwsu tidak menyingkir lagi, dia hanya mengibaskan lengan bajunya. Tetapi didalam hatinya pendeta ini jadi berpikir.

”Tampaknya kepandaian wanita genit ini tidak berada disebelah bawah kepandaian Keuki Takashi, jika ia si pendek itu ikut maju melancarkan serangan bersama, tentu aku akan lebih sibuk menghadapinya..!”

Kibasan tangan Tat Mo Cauwsu yang memiliki kekuatan sangat dahsyat itu membuat kedua tangan Ang Ie Sianlie jadi tersampok kesamping, sehingga wanita genit yang cantik ini terkejut sekali, dia merasakan pergelangan tangannya ngilu dan sakit.

”Ihh...!” dia mengeluarkan suara seruan tertahan lagi karena heran : ”Benar2 engkau memiliki kepandaian yang lumayan. Hai kakakku yang gagah, apakah si pendeta botak ini memang lihay ?” Dia bertanya begitu ditujukan kepada Keuki Takashi.

”Ya, dia memang memiliki kepandaian yang tidak dibawah kepandaianku,” menyahut Keuki Takashi. Jawaban itu diberikan, karena Keuki Takashi bermaksud mengingatkan kepada Ang Ie Sian Lie agar berlaku lebih hati-hati dan waspada waktu melancarkan serangan kepada Tat Mo Cauwsu. Tentu saja ia merupakan kisikan yang tersembunyi untuk Ang Ie Sian Lie. Cie Cie Lian tidak melancarkan serangan berikutnya, dia berdiri dengan sikap yang genit sekali dan tertawa tawa.

“Aneh sekali ! Dua bulan yang lalu aku heran bisa bertemu seorang gagah perkasa seperti kakakku yang tampan itu, Keuki Takashi dan kini aneh pula, bisa bertemu dengan pendeta botak yang kepandaiannya tampaknya tidak rendah..! Ditempat yang sunyi, tetapi ramai dengan manusia-manusia gagah! Bagus! Inilah tentu akan meramaikan suasana ditempat ini...”

Selesai dengan perkataaannya itu, tampak Ang Ie Sian Lie telah mengeluarkan suara seruan nyaring yang merupakan pekikan wanita yang genit sekali, tampak kedua tangannya digerak-gerakkan dengan cepat namun tangannya itu tidak ditujukan menyerang Tat Mo Cauwsu, hanya digerak gerakkan dengan diikuti oleh gerakan tubuhnya yang meliuk-liuk seperti tengah menari, memang gerakan tubuhnya itu menimbulkan rangsangan bagi orang yang melihatnya, tetapi untuk Tat Mo Cauwsu yang memiliki iman sangat kuat, dia menatapnya dengan perasaan sebal dan muak.

Namun Ang Ie Sianlie bukan sekedar menari, itulah gerakan2 ilmu pukulan yang mengandung kekuatan dahsyat sekali. Jika liuk2 tubuhnya itu yang menimbulkan kegairahan dan rangsangan, hanyalah disebabkan ingin memecahkan perhatian lawan, dan setelah berputar tujuh kali mengelilingi Tat Mo Cauwsu, tahu2 Ang Ie Sian Lie melancarkan serangan yang sangat cepat sekali, menotok dan mencengkeram bertubi2.

Tat Mo Cauwsu juga heran melihat seorang wanita cantik seperti Ang Ie Sian Lie Cie Cie Lian bisa memiliki kepandaian setinggi itu, walaupun usianya masih demikian muda. Dan dilihat dari caranya dia melancarkan serangan, wanita itu mempergunakan ilmu silat dari aliran Utara didaratan Tionggoan. Telah dua kali Tat Mo Cauwsu bertemu dengan aliran  ilmu  silat  dari  Utara  itu,  karena  waktu  dia memasuki daratan Tionggoan disaat itu dia sering kali bertemu dengan para jago yang memiliki kepandaian sangat tinggi.

Ang Ie Sian Lie waktu melihat serangan2 yang dilancarkannya itu tidak juga mengenai sasarannya dengan tepat, bahkan Tat Mo Cauwsu dengan menggeser-geser sedikit kakinya telah berhasil memunahkan serangan2nya.

Dengan sendirinya membuat Ang Ie Sian Lie jadi heran dan berbareng penasaran. Semakin lama gerakan kedua tangannya yang melancarkan totokan dan cengkeraman itu semakin cepat saja, dia telah mengincar bagian2 tubuh yang berbahaya dari pendeta tersebut. Jika cengkeramannya itu berhasil mengenai sasarannya, niscaya salah satu jalan darah penting ditubuh Tat Mo Cauwsu akan hancur karenanya, yang bisa mendatangkan luka berat untuk dirinya, sedangkan totokan yang dilancarkan oleh Ang Ie Sian Lie juga memiliki kehebatan yang mengerikan, sebab yang diincar jari tangannya merupakan jalan darah penting ditubuh Tat Mo Cauwsu.

”Wanita secantik ini ternyata memiliki hati yang kejam dan tangan telengas, totokan2nya selalu mengincar bagian2 yang mematikan ! Coba kalau kebetulan yang menghadapinya seorang yang berkepandaian sedang2 saja, bukankah orang itu akan menjadi celaka di tangannya ?” pikir Tat Mo Cauwsu.

Karena berpikir begitu, cepat sekali Tat Mo Cauwsu telah mengeluarkan seruan nyaring tahu2 kedua lengan jubahnya dikebutkan ke arah muka Ang Ie Sian Lie Cie Cie Lian. Gerakan itu bukan sembarang gerakan karena disertai tenaga lwekang yang sangat kuat sekali, tepat menyambar kearah muka wanita cantik she Cie itu.

Cie Cie Lian mengeluarkan seruan heran tetapi dia tidak menjadi kaget atau gugup oleh gempuran kedua lengan jubah Tat Mo Cauwsu, karena dia memang memiliki kepandaian yang   tinggi,   sehingga   dia   bisa   mengelakkannya   dengan melompat mundur dan memunahkan tenaga yang menyambar kearah dirinya.

Hanya perasaan herannya itu disebabkan dia tidak menyangka bahwa Tat Mo Cauwsu memiliki kepandaian yang diluar dugaannya.

Sambil tertawa lagi dengan sikap yang genit, tampak Cie Cie Lian telah melompat tinggi ke tengah udara menerjang Tat Mo Cauwsu, kedua tangannya dipentang, seperti juga ingin merangkul dan memeluk Tat Mo Cauwsu.

Pendeta India ini jadi terkejut. Wanita itu memang merupakan wanita yang genit sekali, dan Tat Mo Cauwsu telah mensucikan diri, maka tidak sudi Tat Mo Cauwsu bersentuhan tangan, apa lagi tubuh dengan wanita genit itu.

Gerakan yang dilakukan oleh Ang Ie Sian lie memang merupakan gerakan pancingan, dia ingin merangkul lawannya, sebab biasanya kaum lelaki jarang yang kuat menghadapi godaan nafsu birahi jika dipeluknya, sehingga bisa mendatangkan kesempatan kepada Cie Cie Lian untuk merubuhkan lawannya dengan mudah.

Namun Tat Mo Cauwsu dengan jurus 'Lee Ie Ta Teng' atau 'Ikan Lee Ie Meletik', tubuhnya cepat sekali melompat berjumpalitan kebelakang dua kali, meluncur dengan kedua kaki turun terlebih dulu dibumi.

Ang Ie Sianlie mengeluarkan suara tertawa terkikik melihat kelakuan Tat Mo Cauwsu.

”Apakah kau jijik dipeluk olehku ?” ejeknya, ”Apakah kau tidak ingin merasakan betapa mesra dan hangatnya dirangkul oleh seorang wanita secantik aku ?”

Ditegur begitu, Tat Mo Cauwsu telah merangkapkan kedua tangannya,   katanya   :   ”Siancai!   Siancai   !   Nona memiliki kepandaian yang tinggi, wajahmu juga cantik, mengapa tangan dan hatimu telengas sekali...?”

Muka Ang Ie Sianlie tidak berobah sedikitpun juga, malah dia tertawa terkikik pula dengan sikap yang jauh lebih genit.

”Memang ! Memang kepada orang-orang yang tidak kusenangi, bisa saja sekali hantam memecahkan batok kepalanya! Tetapi bagi orang-orang gagah yang memiliki kepandaian tinggi mendatangkan perasaan kagum kepadaku tentu saja aku tidak tega untuk membinasakannya, atau menurunkan tangan telengas dan kejam ... bukankah tadi aku hanya ingin memelukmu saja ?” dan kembali Ang Ie Sian lie tertawa mengikik dengan suara yang sangat centil sekali, dia juga telah melangkah maju lagi dua langkah mendekati Tat Mo Cauwsu.

Pendeta itu semakin muak melihat sikap dan tingkah laku dari wanita cantik tetapi genit dan berandalan sekali sikapnya itu, dia telah mundur menjauhi diri dari Ang Ie Sian Lie, kemudian dengan cepat dia berkata, “Omintohud! Jangan terlalu mendesak Siauwceng untuk menurunkan tangan keras

!”

Tetapi Ang Ie Sian Lie telah melangkah terus mendekati Tat Mo Cauwsu sehingga membuat pendeta itu beberapa kali harus melangkah mundur menjauhi diri.

”Kemarilah engkau !” kata Ang Ie Sian Lie dengan suara perlahan, mendesis, tetapi suaranya itu aneh sekali, mengandung kekuatan seperti menarik dan membetot, karena dia mempergunakan ilmu penarik (semacam hipnotis dimasa kini), sehingga hati Tat Mo Cauwsu jadi tergoncang.

Tetapi pendeta ini memang memiliki iman yang sangat kuat sekali, teguh bukan main. Dia telah berulang kali menyebut kebesaran sang Buddha dan berhasil menguasai goncangan hatinya. Sedangkan Ang Ie Sian Lie waktu melihat dia tidak juga berhasil menguasai pendeta itu, telah mengeluarkan lagi perkataan mendesisnya itu : ”Kemarilah..mendekatlah sayang, kemarilah !” suaranya itu membuat tubuh Tat Mo Cauwsu jadi bergidik. Walaupun bagaimana pengaruh kata-kata itu menggoncangkan hati pendeta ini.

Tat Mo Cauwsu menyadari bahwa wanita genit ini telah mempergunakan ilmu penarik untuk menguasainya. Jika kepandaian lwekang Tat Mo Cauwsu kurang kuat, tentu dia akan kena dipengaruhi dan akan menghampiri, sehingga mudah sekali Ang Ie Sianlie Cie Cie Lian menjatuhkan tangan yang menentukan.

Memang telah sering kali sebelumnya Cie Cie Lian mempergunakan ilmu penarik itu untuk menguasai lawan lawannya, dan biasanya berhasil memuaskan sekali, sehingga dengan mudah dia bisa merubuhkan lawannya. Tetapi dia gagal waktu mempergunakannya pada Keuki Takashi.

Dan kali ini pun Ang Ie Sianlie telah mengalami kegagalan lagi, karena dia tidak berhasil menguasai Tat Mo Cauwsu.

Keadaan demikian membuat Ang Ie Sian lie jadi mendongkol dan penasaran. Dia melihat Tat Mo Cauwsu bukannya menghampiri malah telah melompat kebelakang menjauhi diri.

Ang Ie Sianlie memusatkan lagi perhatiannya dan berseru pula, ”Kemarilah sayang.... kemarilah !” dan sambil berkata begitu, dia telah menggerak gerakkan tangan dan tubuhnya yang meliuk liuk, sehingga menimbulkan rangsangan.

Tat Mo Cauwsu mana bisa dikuasai dengan ilmu penyirap seperti itu? Karena iman pendeta ini sangat kuat, disamping itu sejak kecil Tat Mo Cauwsu memang telah melibat diri dan mensucikan diri dari keduniawian sehingga ilmu itu tidak ada artinya lagi sama sekali baginya. Setelah mencoba dua kali dan selalu gagal, Ang Ie Sian Lie Cie Cie Lian telah mengeluarkan suara seruan membentak, dan dia berkata : ”Baiklah, rupanya imanmu kuat sekali. Aku ingin melihat, apakah dengan mempergunakan ilmu silat engkaupun tidak bisa dirubuhkan !”

Dan lenyap tertawa genitnya. Sikapnya jadi ber-sungguh2, dia telah melompat menyerang dengan kekuatan yang sangat penuh dikedua tangannya, Ang ie Sian Lie memang merupakan seorang wanita yang sulit dicari tandingannya dimasa kini !  Dia sebetulnya merupakan murid dari seorang sakti yang sudah mengasingkan diri.

Tetapi setelah lulus dari pelajaran pintu perguruannya, Ang Ie Sian Lie telah mengembara dalam daratan Tionggoan, cepat sekali mengangkat nama ! Tetapi tahun demi tahun, karena belum pernah dirubuhkan orang dan setiap pertempuran selalu dimenangkannya, sehingga membuat Ang Ie Sian Lie semakin congkak dan angkuh saja, sampai akhirnya dia memiliki sifat yang telengas sekali.

Waktu dia berusia dua puluh lima tahun, Ang Ie Sian Lie Cie Cie Lian telah berkenalan dengan seorang pemuda tampan bernama Siangkoan Hu, seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi sekali. Setelah memupuk percintaan dan hubungan mereka sampai dua tahun, Siangkoan Hu telah meninggalkannya begitu saja dan menolak cinta Ang Ie Sian Lie, sehingga Cie Cie Lian jadi patah hati dan sakit hati kepada kaum lain jenisnya itu. Untuk selanjutnya pula Ang Ie Sian Lie telah melakukan banyak perbuatan perbuatan mempermainkan pihak kaum pria. Semakin tinggi kepandaian pria yang ditemuinya, maka semakin bersemangat Ang Ie Sian Lie untuk mempermainkan pria tersebut. Dengan sendirinya semakin lama Ang Ie Sian Lie disamping disegani dia juga ditakuti, karena setiap pria yang berhasil ditundukinya akan dibinasakannya dengan cara halus yaitu dengan berbagai jalan memperdayakan lelaki itu, sampai akhir sang korban menemui kematian, baik kematian dalam putus asa dan patah hati, atau memang dibinasakan oleh Ang Ie Sian Lie sendiri.

Dalam keadaan seperti ini telah membuat banyak pria yang berlaku hati-hati menghadapi Ang Ie Sian Lie. Memang semakin tinggi usianya, Ang Ie Sian Lie semakin cantik saja tampaknya, semakin matang dan menarik.

Kini melihat kegagalan untuk kedua kalinya terhadap Tat Mo Cauwsu, karena yang pertama kali dia berusaha menguasai Keuki Takashi, Ang Ie Sian Lie jadi penasaran.

Disaat dia mengeluarkan suara bentakan yang keras, kedua tangannya mulai melancarkan serangan serangan yang sangat kuat sekali karena Ang Ie Sian Lie telah mengerahkan seluruh tenaga lwekangnya dikedua tangannya.

Tat Mo Cauwsu juga merasakan serangan yang kali ini diterimanya dari Ang Ie Sian Lie lebih kuat dari yang semula, maka Tat Mo Cauwsu berlaku hati2.

Untuk belasan jurus Tat Mo Cauwsu selalu main kelit saja dari setiap serangan lawannya yang cantik itu.

Keuki Takashi telah mengawasi terus jalannya pertempuran antara Tat Mo Cauwsu dengan Ang Ie Sian Lie, karena dia melihatnya betapa ilmu Tat Mo Cauwsu memang sempurna sekali, tidak ada lowongan kelemahannya.

Dengan memperhatikan begitu, justru Keuki Takashi bermaksud men-cari2 kelemahan Tat Mo Cauwsu dan Ang Ie Sian Lie.

Jika dia bertempur sendiri memang sulit untuk melihat dan mencari kelemahan lawan. Tetapi sekarang, dengan menyaksikan dari luar gelanggang, seharusnya dia lebih mudah mencari kelemahan lawannya itu. Tetapi Keuki Takashi menemui kesulitan sewaktu mencari kelemahan pada diri pendeta India itu. Demikian juga, dia hanya menemui sebagian kecil dari kelemahan Ang Ie Sian Lie. Dia melihat Cie Cie Lian memiliki ginkang yang mungkin berada diatas dirinya sendiri tetapi tenaga lwekang wanita itu masih berada disebelah bawah tenaga lwekangnya sendiri.

Hal ini mungkin disebabkan ilmu silat yang dipelajari oleh Ang Ie Sian Lie merupakan kepandaian untuk kaum wanita, sehingga mengandalkan kegesitan dan kurang memperhatikan hal2 untuk kekerasan.

Waktu itu Tat Mo Cauwsu agak sibuk juga mengelakkan diri berulang kali dari gempuran2 yang dilakukan oleh Ang Ie Sian Lie.

Jika lawan pendeta India ini seorang lawan pria yang memiliki kepandaian setinggi Ang Ie Sian Lie, mungkin Tat Mo Cauwsu tidak akan serepot seperti itu, sebab justru kini yang dihadapannya adalah wanita yang genit dan centil sekali.

Beberapa kali sebenarnya Tat Mo Cauwsu melihat lowongan dari penjagaan kedua tangan Cie Cie Lian.

Waktu Tat Mo Cauwsu melancarkan serangannya itu kearah jalan darah berbahaya didekat dada si wanita cantik yang genit ini, justru Cie Cie Lian sengaja tidak mengelakkan diri, sambil membusungkan dadanya yang montok berisi itu Cie Cie Lian telah berseru disertai tertawanya: ”Ya, usaplah yang lembut, sayangku...!”

Keruan saja Tat Mo Cauwsu jadi kaget setengah mati, sampai dia menarik pulang tangannya cepat-cepat. Dan kesempatan seperti itu telah dipergunakan sebaik mungkin oleh Ang Ie Sian Lie, dia telah membarengi dengan melancarkan gempuran yang sangat kuat sekali. Serangan yang dilakukan oleh Tat Mo Cauwsu jadi gagal ditengah jalan, dan dia menarik pulang tangannya. Gerakan itu meminta waktu beberapa detik. Tetapi beberapa detik dari jarak menarik tangannya itu dibarengi dengan serangan Cie Cie  Lian, maka membuat Tat Mo Cauwsu jadi kelabakan harus cepat-cepat mengelakkan diri mengatur gerakan kedua kakinya.

Memang Tat Mo Cauwsu berhasil mengelakkan diri, tetapi peristiwa seperti itu selalu terulang lagi saja, di mana memang Ang Ie Sian Lie selalu mempergunakan akal licik dengan sengaja memancing serangan Tat Mo Cauwsu jatuh dibagian tubuhnya yang tertentu, yang membuat Tat Mo Cauwsu selalu tidak berani menyentuhnya dan berulang kali harus membatalkan serangannya dengan menarik pulang tangannya.

Melihat cara pendeta itu menghadapi dirinya, Ang Ie Sian Lie segera dapat menangkap kelemahan dari pendeta ini.

Suatu kali waktu Tat Mo Cauwsu melompat mundur untuk menjauhi diri dari Ang Ie Sian Lie, disaat itulah tampak Ang Ie Sian Lie telah tertawa genit sambil tangannya memegang kedua tepian bajunya dibagian dada. Tahu-tahu dia membuka bajunya itu, sehingga tampaklah dua buah dadanya yang putih mulus dan bulat berisi itu, membuat Tat Mo Cauwsu jadi terpaku dan terkejut bukan main.

Pendeta ini cepat-cepat memejamkan matanya sambil menyebut nama Sang Buddha.

Tetapi Ang Ie Sian Lie bukannya berdiam diri saja, justru kesempatan itu tidak disia-siakannya, dengan menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat tinggi sekali menghantam ke arah batok kepala Tat Mo Cauwsu yang bulat licin itu.

Angin serangannya berkesiuran sangat kuat, karena Ang Ie Sian Lie melancarkan gempurannya itu dengan bersungguhsungguh dan mengerahkan tenaga lwekang sepenuhnya. Tat Mo Cauwsu sendiri tidak berani membuka matanya, karena jika dia membuka matanya, berarti dia akan melihat pemandangan tidak sedap lagi, dimana dia akan melihat kedua buah dada dari wanita cantik yang genit itu yang telah dibuka bergelantung menantang sekali..

XdwXkzX

TETAPI karena memang Tat Mo Cauwsu memiliki kepandaian yang sangat tinggi, disamping itu diapun memiliki pendengaran yang sangat tajam dan terlatih, maka begitu mendengar berkesiuran angin serangan yang menyambar kearah kepalanya dengan kuat, si pendeta telah mengebutkan lengan jubahnya sambil memusatkan tenaga lwekangnya.

Tangan Ang Ie Sian Lie berhasil dilibatnya, sehingga kekuatan daya serangan dari wanita yang genit dan nekad memperlihatkan sebagian tubuhnya untuk merebut  kemenangan itu, telah gagal sama sekali.

Namun Ang Ie Sian Lie tidak berhenti hanya sampai disitu saja, dia telah mengeluarkan suara seruan sambil menarik tangan kanannya membarengi mana tangan kirinya telah meluncur melancarkan gempuran.

Tat Mo Cauwsu terpaksa menghadapi wanita ini dengan memejamkan matanya.

Suatu kali karena serangan Ang Ie Sian Lie datang dari dua jurusan, dari atas dan bawah, pendeta itu agak bingung, karena dengan memejamkan matanya dia jadi tidak mengetahui gerakan apa yang dilakukan oleh Ang Ie Sian Lie. Dia membuka matanya, tetapi Tat Mo Cauwsu terpaksa menyebut kebesaran nama Sang Buddha beberapa kali sambil cepat2 memejamkan matanya lagi, karena justru begitu dia membuka matanya, segera dia melihat dada Ang Ie Sian Lie sangat menantang  sekali,  yang  terpisah  jaraknya  tidak  jauh dengan dia, karena wanita genit yang centil itu melancarkan serangan ke dada si pendeta India dengan mengambil jarak yang dekat.

Serangan Ang Ie Sian Lie telah meluncur tiba ke tubuh Tat Mo Cauwsu yang sudah tidak keburu menangkisnya, karena pendeta itu justru tengah kaget melihat dada terbuka dari wanita genit yang centil itu yang jarak pisahnya tidak jauh sehingga terlihat jelas dan tegas sekali, membuat hati Tat Mo Cauwsu tergoncang keras. Sedangkan saat itu serangan Ang Ie Sian Lie telah hinggap tepat sekali di perut dan didadanya. Perut Tat Mo Cauwsu kena ditendang kaki kiri dari wanita genit itu dan dadanya terhantam oleh tangan kanan dari Ang Ie Sian Lie.

Tubuh Tat Mo Cauwsu terhuyung beberapa langkah, dia mengeluarkan keluhan kesakitan.

Tetapi Tat Mo Cauwsu tidak berani membuka matanya lagi, dia juga menyadari jika bertempur dengan memejamkan mata seperti itu dan hanya mengandalkan telinganya mendengari menyambarnya angin serangan, dirinya bisa menghadapi bahaya yang tidak kecil, sebab lawannya itu bukanlah lawan yang ringan.

Cepat sekali Tat Mo Cauwsu telah mengambil keputusan, dia mengeluarkan suara seruan dan telah menjatuhkan  tubuhnya duduk bersila ditanah. Kedua tangannya digerakkan berputar.

Dengan cara demikian, Tat Mo Cauwsu telah memaksa Ang Ie Sian Lie yang saat itu akan melancarkan serangan lagi kepadanya harus melompat mundur menjauhi darinya, karena kebutan lengan jubah pendeta India itu mendatangkan angin yang bergulung-gulung kuat sekali.

Dalam keadaan begitu, tampak Ang Ie Sian Lie telah melompat kebelakang beberapa tombak. Tat Mo Cauwsu tetap tidak berani membuka matanya, dia tetap duduk bersila dengan kedua mata yang tertutup rapat. Tat Mo Cauwsu telah mengambil keputusan untuk menghadapi serangan2 Ang Ie Sian Lie dengan mempergunakan pertahanan diri saja, dengan cara demikian lebih mudah, karena dia bersila, berarti ruang gerak Ang Ie Sian Lie juga terbatas sekali.

Waktu itu Ang Ie Sian lie telah tertawa mengikik katanya dengan nada yang genit sekali, ”Wahai pendeta yang baik dan alim, mengapa kau memejamkan mata seperti itu? Apakah engkau tidak mengetahui, jika bertempur dengan mempergunakan cara seperti itu berarti kau membahayakan dirimu sendiri? Sedangkan serangan2ku akan semakin hebat !”

Tat Mo Cauwsu tidak melayani perkataan Ang Ie Sian Lie, dia hanya duduk bersemadhi sambil mengeluarkan lwekangnya dan membaca liamkeng perlahan sekali.

Ang Ie Sian Lie tertawa mengejek dengan nada yang centil sekali, diapun telah berkata lagi, ”Baiklah jika memang engkau dilarang untuk melihat sesuatu yang tidak pantas, apakah engkau akan melarikan diri jika aku membuka seluruh pakaianku dihadapanmu ?”

Mendengar ancaman Ang Ie Sian Lie, Tat Mo Cauwsu mendesir kuatir dan dia ketakutan juga kalau2 wanita yang genit dan centil ini benar2 membuktikan ancamannya. Bukankah hal itu membahayakan sekali jika sampai Ang Ie Sian Lie yang tidak tahu malu itu mencopotkan seluruh pakaiannya dan melancarkan serangan2 yang hebat kepadanya sedangkan sama sekali Tat Mo Cauwsu tidak bisa membuka matanya ?

Menyadari akan keadaannya yang terancam itu, Tat Mo Cauwsu telah berucap: “Omitohud!“ beberapa kali dia membaca Liamkeng jauh keras lagi, kemudian bersiap sedia menantikan serangan dari wanita genit itu. Tetapi Ang Ie Sian Lie sengaja ingin mempermainkan pendeta ini, ia telah berdiam diri saja mengawasi Tat Mo Cauwsu tanpa melancarkan serangan.

Tat Mo Cauwsu jadi heran karena serangan tidak kunjung tiba dan tidak ada angin berkesiuran dari tangan wanita yang cantik dan genit itu. Tetapi untuk membuka matanya Tat Mo Cauwsu tidak berani, karena dia kuatir kalau dia membuka matanya justru bukan hanya melihat dada menantang dari wanita itu yang terbuka keseluruhannya, pun akan melihat seorang wanita genit yang bugil dihadapannya karena melepaskan seluruh pakaiannya... pikiran seperti itulah yang telah membuat Tat Mo Cauwsu tidak berani membuka matanya.

Keuki Takashi yang menyaksikan jalannya pertempuran jadi seperti itu, telah tertawa terpingkal-pingkal.

”Heii, pendeta botak !” kata Keuki Takashi dengan bahasa Han yang agak kaku. ”Dengan bertempur memejamkan kedua mata, engkau tidak mungkin menang menghadapi Ang Ie Sian Lie Cie Cie Lian ! Dia memiliki kepandaian yang tinggi sekali, tidak berada dibawah kepandaianku ! Buka saja matamu, dan kau serang dia dengan jurus2 silatmu yang hebat, walaupun matamu nanti terlanjur menyaksikan pemandangan yang dipantangkan oleh agamamu ! Bukan nanti engkau bisa berdoa memanjatkan permintaan ampun setelah pertempuran itu selesai ?”

Mendengar perkataan Keuki Takashi, Tat Mo Cauwsu jadi mendongkol sekali, karena dia mengetahui benar bahwa Keuki Takashi sedang mengejeknya. Tetapi dalam keadaan demikian Tat Mo Cauwsu memang tidak berdaya dan tidak memiliki keberanian untuk membuka kedua matanya, dia berdiam diri saja dan membaca terus liamkeng tidak henti2nya. Ang ie Sian lie telah tertawa mengikik dengan nada yang memuakkan bagi Tat Mo Cauwsu.

”Pendeta botak, jika engkau tetap memejamkan mata seperti itu, aku akan membuka seluruh pakaianku dan memelukmu,” ancam Ang Ie Sian Lie.

Tat Mo Cauwsu jadi terkejut sekali.

”Jika kau mendekat, aku akan melancarkan serangan yang sungguh2 yang bisa mematikan...” kata Tat Mo Cauwsu dalam kaget dan mendongkolnya !

”Jika menyerang, aku mengelak lagi..!” kata Ang Ie Sian Lie yang jadi senang bisa mempermainkan pendeta tersebut.

Tat Mo Cauwsu jadi kewalahan juga, dia mengeluh. Didalam hatinya dia jadi berpikir, apakah dia meninggalkan saja tempat ini ?

Disaat itu Ang Ie Sian Lie telah berkata lagi, ”Nah, kau lihatlah, aku mulai menanggalkan pakaian atasku...!”

Hati Tat Mo Cauwsu jadi tidak tenteram dan akhirnya tetaplah keputusannya, walaupun bagaimana dia harus melarikan diri meninggalkan tempat ini. Dia melarikan diri bukan karena dia takuti kepandaian lawannya tetapi karena dia muak dengan kecentilan dan kegenitan lawannya yang cabul ini.

Setelah berdiam diri sejenak lagi, Tat Mo Cauwsu telah melompat bangun.

Ang ie Sian Lie menduga si pendeta bermaksud akan melancarkan serangan, dia bersiap sedia untuk menghadapinya.

Tetapi siapa tahu Tat Mo Cauwsu telah memutar tubuhnya dan membuka matanya, kemudian tanpa mengatakan suatu apapun juga Tat Mo Cauwsu sudah mementang kedua kakinya lebar2, kabur secepat mungkin dengan mempergunakan ginkangnya.

Ang Ie Sian Lie waktu melihat kelakuan Tat Mo Canwsu, telah tertawa ter-pingkal2 karena dia menganggap peristiwa ini lucu dan menyenangkan hatinya.

Begitu juga Keuki Takashi telah tertawa ter-gelak2 karena dia menganggap perbuatan Ang Ie Sian Lie memang keterlaluan, namun menimbulkan kelucuan yang sangat untuk dirinya, terlebih lagi Tat Mo Cauwsu tampaknya seperti menjadi agak tolol menghadapi wanita genit centil ini.

Waktu itu Tat Mo Cauwsu telah berlari terus tanpa memperdulikan kedua orang itu mentertawai kelakuannya, dia berlari terus dengan cepat, sehingga tubuhnya seperti juga melayang secepat angin.

Setelah berlari puluhan lie, dan yakin telah berhasil menjauhi diri dari Ang Ie Sian Lie, Tat Mo Cauwsu baru berhenti berlari, dia menghela napas sambil berulang kali mengucapkan kebesaran sang Buddha.

Setelah berdiri sejenak untuk beristirahat, Tat Mo Cauwsu melanjutkan perjalanan. Selama dalam perjalanan, hari telah semakin gelap, karena sang malam telah menyelimuti bumi. Setelah berjalan lagi beberapa jauh barulah Tat Mo Cauwsu mengasoh di batang sebuah pohon, dia telah tidur dengan nyenyak. Keesokan paginya waktu matahari mulai memancarkan sinarnya, Tat Mo Cauwsu telah terbangun dari tidurnya. Malam itu dia tidur dibawah sebatang pohon dengan duduk bersemedi, maka begitu dia membuka matanya, segera dia bisa melompat berdiri.

Karena semalam dia tidur nyenyak sekali dirasakan tubuhnya segar kembali. Dia menggeliat sejenak kemudian melanjutkan perjalanan pula. Satu harian lamanya Tat Mo Cauwsu melakukan perjalanan dengan singgah dua kali di dua buah kampung yang dilaluinya. Selama itu dia tidak menjumpai peristiwa yang berarti, tetapi waktu sore harinya, kembali Tat Mo Cauwsu terlibat dalam urusan yang membuat dia harus menghadapinya dengan bersungguh-sungguh, karena sore itu dia menghadapi urusan yang diluar dugaannya.

Sebetulnya sore itu Tat Mo Cauwsu telah sampai dimuka perkampungan Liu khe cung, sebuah perkampungan kecil yang didirikan oleh orang-orang she Liu. Seluruh penduduk dikampung itu she Liu, karena memang waktu didirikan perkampungan itu oleh beberapa orang keluarga she Liu, mereka telah memutuskan tidak akan menerima orang dari lain she (marga) untuk menjadi penduduk kampung ini. Tetapi setelah lewat beberapa keturunan, kini dikampung tersebut terdapat satu dua keluarga yang berlainan she.

Tat Mo Cauwsu bermaksud untuk bermalam dikampung ini dengan meminta salah seorang penduduk bersedia menerima bermalam dirumahnya, tetapi waktu Tat Mo Cauwsu tengah melangkah memasuki pintu kampung, matanya tanpa sengaja telah melihat seorang pengemis tua yang rambutnya tumbuh agak panjang riap riapan tidak teratur, tengah duduk dengan tubuh meringkuk dan mengeluarkan suara rintihan perlahan.

Sebetulnya kalau Tat Mo Cauwsu saat itu tidak mau ambil tahu keadaan pengemis itu, dia tidak akan terlibat oleh urusan yang akhirnya membuat Tat Mo Cauwsu harus menghadapi urusan yang agak berat dan mengharuskan dia berhadapan dengan beberapa persoalan yang aneh.

Perasaan kasihan membuat Tat Mo Cauwsu menghampiri pengemis tua itu, dilihatnya selain pakaiannya yang tambal sana tambal sini, juga pakaian itu kotor sekali, lusuh dan telah dekil  bukan  main.  Pengemis  tua  itu  pucat  pias  wajahnya, tubuhnya kurus sekali, sehingga pakaian itu bagaikan menyelubungi tulang yang dibungkus kulit saja.

Tampaknya pengemis itu tengah menderita kesakitan yang cukup berat, karena dia merintih terus menerus dengan kedua tangan memegangi perutnya.

”Omitohud.... apakah ada sesuatu yang bisa Siauwceng lakukan untuk meringankan penderitaan siecu ?” tanya Tat Mo Cauwsu dengan suara yang ramah.

Pengemis tua itu, yang semula merintih dengan memejamkan matanya, telah terkejut dan mengangkat kepalanya menatap sejenak pada Tat Mo Cauwsu tetapi setelah melihat yang menegurnya seorang hweshio asing dia menggelengkan kepalanya.

”Terima kasih... aduhhh... percuma kau tidak mungkin bisa menolongi diriku yang tengah menderita ini ” kata pengemis

tua itu dengan suara yang putus asa.

Tat Mo Cauwsu yakin, sedikitnya dia bisa menolongi pengemis ini, maka katanya : “Walaupun Siauwceng tidak mengetahui penderitaan apa yang tengah diderita oleh Siecu, tetapi Siauwceng kira, kalau memang Siecu menjelaskan, tentu Siauwceng bisa menolong sedikit penderitaan itu.”

”Percuma saja, kau mungkin bisa menolong diriku, kalau saja... kalau saja..” si pengemis tidak bisa melanjutkan perkataannya itu dia telah ter-aduh2 lagi.

”Kalau saja. mengapa, Siecu ?“ tanya Tat Mo Cauwsu jadi

tertarik. “Coba kau jelaskan.”

Pengemis tua itu tidak segera menyahuti, karena dia masih merintih rintih beberapa kali.

Peluh tampak memenuhi mukanya, dan wajahnya yang pucat itu seperti menahan sesuatu penderitaan yang tidak ringan. ”Sayang engkau seorang pendeta..coba kau seorang tabib, mungkin engkau bisa menolong aku..itupun baru mungkin ...” berkata sampai disini, kembali pengemis tua itu telah teraduh aduh lagi dengan suara yang menyedihkan, tampak perutnya  itu benar2 menderita kesakitan yang luar biasa hebatnya.

Tat Mo Cauwsu jadi heran, dia telah bertanya : “Walaupun Siauwceng bukan tabib tetapi jika memang Siecu memerlukan tabib bukankah siauwceng bisa bantu memanggilkannya. ?”

tanya Tat Mo Cauwsu.

Si pengemis kembali merintih beberapa kali, tetapi untuk sejenak matanya bersinar-sinar waktu mendengar perkataan Tat Mo Cauwsu.

“Benar juga,” katanya kemudian. “Mungkin ada tabib yang bisa dicari oleh taisu..tetapi... tetapi sayang sekali, sayang sekali, tidak mungkin tabib yang biasa-biasa saja bisa menyembuhkan lukaku. ”

”Luka? Apa Siecu terluka? Jika hanya untuk mengobati beberapa luka2 saja, Siauwceng kira masih bisa Siauwceng mengobatinya. ”

Si pengemis telah teraduh aduh, untuk sejenak lamanya dia seperti tidak melayani Tat Mo Cauwsu, karena saat itu dia tengah digeluti oleh perasaan sakit yang hebat, tubuhnya duduk ter-bungkuk2 dengan sepasang tangan yang memegangi perutnya, dia seperti juga merasakan kesakitan yang luar biasa di perutnya itu.

Tat Mo Cauwsu yang melihat ini jadi merasa iba dan kasihan kepada si pengemis.

”Anggota tubuhmu yang mana Siecu yang terluka ?” tanya Tat Mo Cauwsu.

Si pengemis masih mengerang beberapa kali sampai akhirnya   dia   berkata   :   ”Bukan   terluka,   tetapi   aku.   aku keracunan,    dengan    racun    yang    bekerja    hebat  sekali....

aduhh...bukan tadi aku telah mengatakan bahwa tidak sembarangan tabib yang bisa mengobati lukaku ini, karena racun yang dipergunakan musuhku itu memang benar-benar sangat dahsyat cara bekerjanya.  !” dan berkata sampai disitu si

pengemis telah mengerang erang lagi dengan suara yang memelaskan sekali.

Tat Mo Cauwsu melihat muka pengemis tua itu yang pucat pasi juga dipenuhi oleh peluh yang bercucuran, tampaknya pengemis ini menahan perasaan sakit yang hebat sekali.

”Jika memang Siecu hanya terkena serangan racun, mungkin Siauwceng memiliki obat yang cocok sebagai penawarnya,” kata Tat Mo Cauwsu kemudian sambil merogoh saku jubahnya.

”Obat penawarnya ?” tanya si pengemis sambil melirik dan me-rintih2 lagi.

”Ya, Siauwceng memiliki pil “Cut Sie Tok Wan”, pil untuk melawan racun, walaupun racun yang bagaimana hebat, biasanya dapat dilenyapkan dengan menelan tiga butir pil ini, yang terbuat dari sari embun dan Soat lian, dicampur juga dengan beberapa macam ramuan yang memiliki khasiat tinggi,” dan sambil berkata begitu Tat Mo Cauwsu telah mengeluarkan botol obatnya yang berwarna hijau dari jubahnya, dia juga telah membuka tutup botol itu, sehingga seketika itu disekitar tempat tersebut tersiar bau harum yang semerbak dari obat tersebut.

Mata si pengemis telah bersinar memperlihatkan harapan lagi, dia telah berkata : ”Apakah.. apakah pil obat itu bisa melenyapkan juga racun ular Kim Tok (Racun Emas) ?”

Tat Mo Cauwsu terkejut. Walaupun dia berasal dari daratan India, namun telah cukup lama Tat Mo Cauwsu berkelana didaratan Tionggoan. Diam-diam Tat Mo Cauwsu mengetahui bagaimana hebatnya racun ular Kim Tok itu, karena begitu terkena, tentu sang korban akan terbinasa dalam waktu tidak lebih dari sepasang hio.

Namun sungguh hebat pengemis ini bisa bertahan demikian lama, dan hanya perutnya saja yang sakit, padahal setiap korban racun Kim Tok, tentu tubuhnya seluruhnya akan menjadi hitam hangus. Melihat ini, Tat Mo Cauwsu segera menyadari bahwa pengemis ini tentu bukan pengemis sembarangan, setidak tidaknya dia pasti memiliki lwekang yang sangat kuat yang telah dipergunakan untuk melawan dan menahan menjalarnya racun ular Kim Tok kejantungnya, sekali saja racun itu berhasil menjalar terus ke jantungnya, niscaya jiwa si pengemis sudah tidak bisa dipertahan lagi, walaupun kemudian dia memperoleh pil obat dari dewa.

“Kapan Siecu terkena racun itu ?” tanya Tat Mo Cauwsu kemudian dengan suara yang mengandung rasa tertarik untuk mengetahui.

“Kurang lebih tujuh jam lalu....” menyahuti pengemis itu dengan suara yang bersusah payah dan ter-sendat2.

“Sudah begitu lama..?” tanya Tat Mo Cauwsu tercengang. ”Ya, aku berusaha melawannya ... melawannya dengan

lwekangku, tetapi kukira satu jam lagi, habislah kekuatanku, dan racun itu pasti dengan cepat akan menjalar ke jantungku ... maka disaat itu sudah tidak ada harapan lagi buatku hidup lebih lanjut ! Sesungguhnya saat sekarang ini aku tengah memiliki tugas yang berat dan penting sekali, menyesal sekali aku harus terluka seperti ini, sehingga tugas yang tengah kupikul ini akan terlantar karenanya...”

Berkata sampai disitu, pengemis telah merintih lagi dengan suara yang menyedihkan. Dia telah terbungkuk bungkuk dengan kedua tangan memegangi erat2 perutnya, tampaknya dibagian perutnya itulah dia menderita kesakitan yang hebat. Tat Mo Cauwsu cepat-cepat mengeluarkan enam pil obatnya, dia mengangsurkan kepada si pengemis.

”Coba   siecu   menelan   pil    'Cut    Sie    Tok    Wan’    ini. sebetulnya dengan tiga butir saja sudah bisa menawarkan

racun2 biasa, tetapi karena racun Kim Tok merupakan racun yang cukup hebat dan daya kerjanya keras, coba siecu menelannya enam butir. ”

Si pengemis telah memandang ragu2 sejenak, tetapi karena dia tahu tidak lama lagi dia tidak tahan dari serangan racun itu dan akan terbinasa, maka tidak ragu2 lagi dia menelan obat tersebut.

Jika memang hweshio yang memberikan obat itu bermaksud jahat kepadanya dan memberikan pil beracun, paling tidak dia tokh akan mati juga, malah lebih cepat dan penderitaannya berakhir lebih cepat lagi.

Setelah menelan keenam butir pil itu, berangsur-angsur suara rintihannya berkurang, sampai akhirnya dia sudah tidak merintih lagi, karena perutnya sudah tidak terlalu sakit seperti tadi, walaupun si pengemis masih merasakan dipusatnya (pusar) denyutan denyutan yang cukup sakit, bagaikan usus2nya itu akan terputuskan oleh sesuatu kekuatan didalam perutnya.

“Terimakasih Taisu, obatmu ternyata mujarab sekali,” kata si pengemis dengan bibir gemetar berusaha tersenyum. “Maafkan aku tidak bisa menjura menyatakan terima kasihku, karena sekujur tubuhku masih lemas sekali.”

Tat Mo Cauwsu tidak menyahuti karena waktu itu ada dua orang lelaki setengah baya yang lewat dijalan itu tengah menuju ke dalam perkampungan. Kedua lelaki itu hanya berdiam diri dan memandang sekilas kepada si pengemis dan si pendeta,   mereka   telah   meneruskan   langkah   kaki  mereka, seperti juga apa yang terjadi itu tidak menarik perhatian mereka.

Dengan sabar Tat Mo Cauwsu telah berkata: ”Sebetulnya keenam butir pil itu belum tentu dapat melenyapkan racun Kim Tok, karena tidak seperti biasanya, Siecu tampaknya belum sehat, maka setidak tidaknya pil itu bisa memperpanjang usia Siecu. Tadi Siecu mengatakan memiliki urusan yang penting, pergilah Siecu menyelesaikannya, dan ambillah ini dua belas pil “Cut Sie Tok Wan”, jika nanti dalam perjalanan engkau merasakan racun itu mulai bekerja lagi, maka di waktu itu kau boleh menelannya enam butir pula..”

Si pengemis telah menyambuti kedua belas butir pil itu, dimasukkan kedalam saku bajunya yang dekil, sambil menyatakan terima kasihnya.

”Aku si pengemis miskin Ciam Kiam Sin Kay (pengemis sakti pedang jarum) Wie Siu Bun tidak akan melupakan budi kebaikan Taisu. Bolehkah aku mengetahui nama besar yang harum dari Taisu ?”

Tat Mo Cauwsu segera mengeluarkan kata-kata merendah, kemudian dia baru bilang: ”Sesungguhnya nama Siauwceng Gunal Sing, tetapi didaratan Tionggoan ini Siauwceng selalu dipanggil dengan sebutan Tat Mo Cauwsu..!”

”Tat Mo Cauwsu ?” berseru si pengemis dengan suara terkejut dan wajah memperlihatkan sikap agak aneh.

Tat Mo Cauwsu juga jadi heran.

”Kenapa? Adakah sesuatu yang aneh?” tanya Tat Mo Cauwsu waktu melihat sikap orang itu.

”Sudah lama aku si pengemis miskin Wie Siu Bun mendengar kebesaran nama guru besar...!” kata pengemis she Wie  itu.  Dia  menyebut  Tat  Mo  Cauwsu  sebagai  guru besar karena perkataan Cauwsu memang bisa berarti juga guru besar yang artinya hampir bersamaan dengan perkataan Taisu.

”Sebetulnya nama besar tidak ada artinya sama sekali, yang terpenting perilaku kita...,” kata Tat Mo Cauwsu merendah. ”Dan selama berkelana didaerah Tionggoan, selama itu pula belum ada sesuatu yang dapat kulakukan..”

Wie Siu Bun telah tertawa dengan bibir terpentang lebar, cepat2 dia berkata : ”Taisu terlalu merendahkan diri....

sesungguhnya nama Taisu telah tersebar luas didaratan Tionggoan ini. Mungkin untuk orang2 Bulim didaratan Tionggoan mulai mengetahui siapa Taisu dan telah mendengar juga betapa kepandaian yang luar biasa ! Dengan berjumpa Taisu disini, berarti aku si pengemis miskin masih dilindungi Thian, karena benar-benar aku bertemu dengan bintang penolong..”

Mendengar perkataan si pengemis, setelah mengucapkan beberapa kali kebesaran nama Sang Buddha, Tat Mo Cauwsu kemudian mengeluarkan kata-kata merendah.

”Taisu, seperti tadi aku si pengemis miskin she Wie telah mengatakan bahwa aku memiliki urusan yang penting dan berat sekali, maka aku lancang sekali ingin meminta bantuan Taisu, bisakah Taisu membantuku ?” tanya si pengemis.

Tat Mo Cauwsu tersenyum sabar dan ramah, dia berkata : ”Siancai ! Siancai! Persoalan dan bantuan yang bisa Siauwceng lakukan tentu akan Siauwceng lakukan! Katakanlah Siecu, janganlah berlaku sungkan seperti itu. ”

Si pengemis ragu ragu sejenak, tetapi kemudian dia berkata dengan sikap yang agak hati-hati : ”Urusan ini sangat penting sekali Taisu, menyangkut keselamatan beberapa ratus jiwa manusia. ” Kini giliran Tat Mo Cauwsu yang terkejut, karena dia kaget mendengar urusan itu menyangkut dengan keselamatan jiwa manusia, terlebih lagi dalam jumlah yang demikian besar.

”Urusan penting apakah yang tengah Siecu lakukan sehingga bisa menyangkut keselamatan jiwa manusia begitu besar jumlahnya ?” tanya Tat Mo Cauwsu kemudian.

Si pengemis Wie Siu Bun ragu2, sampai akhirnya dia telah berkata : “Ya, kalau ingin diceritakan cukup panjang, tetapi mungkin racun Kim Tok yang mengeram didalam tubuh ini tidak dapat dibendung terlalu lama dan akan bekerja kembali sehingga akan menyebabkan kematian untukku..! Maka dari itu baiklah aku menceritakan secara singkat saja agar Taisu mengetahuinya ..!”

”Ya, jika siecu tidak keberatan, ceritakanlah ! Jika memang untuk urusan yang benar dan keadilan, Siauwceng tentu bersedia untuk membantu...” kata Tat Mo Cauwsu cepat.

Wie Siu Bun menghela napas lagi, dia kemudian baru berkata : “Sesungguhnya aku tengah membawa sepucuk surat dari Pangcu dipusat, untuk disampaikan kepada Kiong Siang Han, pangcu daerah yang berkuasa di seputaran Souwciu. Isi surat pangcu pusat itu singkat sekali, hanya memerintahkan agar pangcu di daerah she Kiong tersebut menangkap seorang penjahat yang menyelusup ke dalam barisan Kaypang yang berada dalam kekuasaannya, dan orang itu...” berkata sampat disitu Wie Siu Bun ragu2, tidak meneruskan perkataannya, dia telah menatap Tat Mo Cauwsu beberapa saat lamanya, baru kemudian berkata: “Orang itu she Auwyang dan bernama Siang Ban.” 
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Tat Mo Cauwsu Jilid 12"

Post a Comment

close