Tat Mo Cauwsu Jilid 01

Mode Malam
Jilid I

TITIK2 dari butir2 air hujan yang turun deras sekali, menyiram seluruh permukaan bumi disekitar daerah pegunungan Bie-san. Gunung yang lebat oleh semak belukar, dengan jurang2 yang dalam dan curam mengerikan itu ditambah dengan udara yang dingin menusuk tulang dan cuaca yang gelap pekat, hanya diselingi oleh kilatan2 dibarengi suara petir yang menyeramkan seperti raungan harimau luka, tentu saja disekitar daerah pegunungan tersebut bukanlah merupakan tempat yang menyenangkan untuk didiami. Hujan turun sejak pagi tadi sampai menjelang sore, air dari langit itu masih juga menyiram bumi dengan deras.

Binatang2 liar yang menjadi penghuni di sekitar hutanrimba dipegunungan Bie-san telah mencari tempat bersembunyi masing2, tidak ada seekorpun yang memperdengarkan suara mereka, bagaikan mereka takut menghadapi murkanya langit yang acapkali memantulkan kilatan2 yang menyilaukan dengan disertai oleh ledakan2 suara guntur. Memang suasana demikian cukup menyeramkan untuk seseorang berada ditempat tersebut.

Tetapi bukan berarti ditempat tersebut tidak ada manusia, karena diantara siraman air hujan yang turun begitu deras, tampak dipinggang gunung sebelah selatan, dekat dengan Lamhong (bukit selatan), tampak sesosok tubuh kecil yang tengah ber-lari2 cepat tanpa mengacuhkan ledakan2 guntur dan siraman  air  hujan  yang  deras.  Mungkin  terlampau ter-gesa2 atau memang sudah sangat letih, sosok tubuh kecil itu berulang kali jatuh, namun cepat pula dia bangun dan melanjutkan pula larinya.

Ketika tiba dipermukaan hutan kecil, tanpa memperdulikan didalam hutan tersebut ada binatang buas yang mungkin bisa mencelakai dirinya, sosok tubuh itu telah menerobos dengan cepat dan telah menerjang kedalam hutan dengan bersusah payah, karena seringkali dia jatuh bangun akibat rintangan akar2 pohon yang malang melintang dan juga hutan itu walaupun merupakan hutan yang tidak begitu luas, namun pohon2 liar yang tinggi besar bertumbuhan lebat sekali. Didalam hutan inilah siraman air hujan tidak sederas diluar rimba tadi, karena butir2 air hujan itu terbendung sebagian besar oleh daun2 pohon yang lebat rapat. Sosok tubuh itu berhenti berlari, dia berdiri bingung dibawah sebatang pohon, memandang sekelilingnya berusaha menembus kegelapan disekitarnya.

Kilat memancarkan cahayanya yang terang untuk sejenak, kemudian suara guntur telah memecahkan kesunyian disekitar tempat tersebut.

Diantara pancaran cahaya kilat yang sempat menerobos masuk diantara sela2 daun pohon2 dihutan kecil itu, sosok tubuh kecil itu ternyata tidak lain dari seorang anak lelaki berusia diantara delapan tahun. Melihat seorang anak kecil berada di-tengah2 hutan dalam suasana keganasan alam yang tengah berlangsung, telah merupakan peristiwa yang cukup mengherankan. Karena jangankan seorang anak, sedangkan seorang yang dewasapun akan takut untuk berada seorang diri di-tengah2 keganasan alam pada saat itu. Tetapi yang luar biasa lagi adalah keadaan anak kecil itu. Tubuhnya kurus kecil, pakaiannya robek disana-sini, dan juga diwajahnya yang dibasahi oleh siraman air hujan itu, tampak noda2 darah yang telah mengering. Matanya yang sebelah kiri juga  membengkak ke-hitam2an, di samping pipinya yang juga membengkak, seperti juga anak itu telah mengalami sesuatu pukulan dimukanya itu. Matanya yang bulat itu memancarkan perasaan takut waktu dia memandang kian-kemari, tubuhnya yang kurus kecil itupun telah menggigil menahan hawa udara yang dingin.

Setelah berdiri diam sejenak ditempatnya itu untuk mengurangi perasaan letih karena telah terlalu jauh ber-lari2 tanpa mengenal lelah, anak lelaki tersebut telah melanjutkan pula langkah2 kakinya. Walaupun dia tidak ber-lari2 seperti tadi dimuka hutan, namun langkah2 kakinya yang kecil itu dipentang agak lebar dan tergesa. Jika dia tidak berlari, itupun disebabkan anak ini menyadarinya bahwa didalam hutan banyak sekali tumbuh pohon2 liar dan akar2 pohon yang malang melintang, sehingga memungkinkan dia terjerunuk jika kakinya tersandung akar2 pohon tersebut. Maka untuk mencegah dia terjatuh bangun, anak ini berjalan hati2.

Jika tadi napasnya memburu keras, kini napas itu berangsur2 mulai teratur pula. Dan tampaknya anak ini mulai dapat menenangkan kembali goncangan hatinya. Waktu dia menoleh kearah belakangnya, dari mana tadi dia mendatangi, dan dilihatnya tidak ada seorangpun yang mengejarnya, anak itu telah menghela napas panjang.

“Mungkin mereka menganggap aku sudah mati dan tidak mengejar lagi...!" pikir anak itu kemudian dengan hati ragu2. “Mungkin pula mereka beranggapan aku telah terjerumus kedalam jurang atau dimakan binatang buas ..!"

Setelah terpikir begitu, anak itu telah menjatuhkan dirinya duduk numprah ditanah, dia telah menangis sesenggukan tersedu2 dengan suara yang sedih sekali. Tampaknya ada sesuatu yang membuat hatinya berduka sekali.

Masih terbayang didepan matanya, betapa beberapa saat yang lalu, puluhan orang lelaki bertubuh tinggi tegap, dengan membawa alat senjata ditangan masing2 telah mendatangi rumahnya, dengan buas menyerupai binatang yang haus darah, puluhan orang lelaki bertubuh tinggi besar itu telah mengeroyok ayahnya. Dan anak itu masih ingat benar, betapa ayahnya yang semula memberikan perlawanan atas keroyokan orang2 itu, yang berusaha gigih sekali melakukan penangkisan dan melancarkan serangan membalas, akhirnya harus terjerunuk rubuh ditanah tanpa daya lagi. Dan betapa buasnya puluhan orang lelaki itu yang telah menyerbu menghujamkan senjata mereka ke tubuh ayahnya. Anak itu hanya sempat mendengar suara jerit yang melengking dari ayahnya, jerit kematian yang menyayatkan sekali.

Tetapi anak ini tidak berdaya, dia hanya sempat berlari seperti apa yang telah dipesankan oleh ayahnya sebelum kedatangan musuh2 ayahnya itu...kemudian anak lelaki inipun berlari dengan hati yang diliputi perasaan takut, karena puluhan orang lelaki tinggi tegap itu telah melakukan pengejaran untuk membinasakan dia pula. Bahkan anak itu masih ingat diantara orang2 yang mengejarnya itu ada yang ber-teriak2 dengan suara yang keras sekali : “Kejar, jangan sampai lolos, bunuh !"

“Ya, binasakan ! Jangan biarkan lolos...!" teriak yang lainnya.

“Menabas pohon harus sampai ke-akar2nya.......!" teriak pengejarnya yang lain. “Jangan biarkan anak itu lolos, dia merupakan bibit bahaya yang besar...!"

Tetapi anak lelaki ini tidak memperdulikannya, dia telah berlari dengan sekuat tenaganya mendaki gunung Bie-san. Anak itu juga tidak mengetahui entah bagaimana dia bisa memiliki kekuatan yang menakjubkan, dimana dia bisa berlari begitu cepat dan gesit sekali, melupakan rasa sakit dilututnya yang acap kali harus membentur bumi akibat jatuh. Dan yang diingat oleh anak itu hanya satu, dia harus dapat meloloskan diri dari kejaran puluhan orang pengejarnya yang buas2 itu yang menghendaki jiwanya.

Dengan menyelinap kedalam semak belukar, dan memasuki hutan2 kecil yang memang banyak terdapat digunung Bie-san itu, maka anak ini bisa menyesatkan pengejarnya. Satu lagi keuntungan anak ini, dia memiliki tubuh yang kecil dan kurus, sehingga dia bisa menyelusup dengan leluasa ke tempat2 yang sulit ditempuh oleh orang2 dewasa yang memiliki bentuk tubuh tinggi tegap itu. Semula samar2 anak itu masih mendengar suara teriakan2 pengejarnya, tetapi akhirnya suara itu lenyap sama sekali ...... dan memang kini dia berada seorang diri ditengah2 hutan kecil itu, menangis dengan hati dirundung duka menyesali nasibnya yang buruk itu......

Hujan masih saja turun deras, tetapi air hujan tidak sederas yang jatuh kedalam hutan itu. Hanya suara air hujan yang menyiram daun2 pohon yang terdengar cukup berisik, ditambah dengan ledakan2 guntur.

Waktu anak itu tengah menangis ter-isak2, tiba2 terdengar suara yang menegur : “Anak, mengapa engkau bersedih begitu, seperti juga tengah mengalami kematian keluarga. ?"

Suara itu merupakan sesuatu yang mengejutkan sekali anak tersebut. Dia memang tengah ketakutan di-kejar2 puluhan orang, dan juga sedang berkuatir kalau2 ada salah seorang musuh2 ayahnya itu berhasil mengejarnya dan membinasakannya. Maka mendengar ada yang menegurnya seperti itu, anak tersebut merasakan semangatnya seperti terbang meninggalkan raganya, dia telah menguatkan hatinya dan melompat berdiri, kemudian tanpa menoleh kiri kanan lagi, dia telah berlari se-cepat2nya.

Tetapi baru beberapa langkah anak itu berlari, dia merasakan punggungnya dingin sekali, dan sebelum dia tahu apa2, bahunya telah ditepuk seseorang. “Anak, engkau belum menjawab pertanyaanku .....

mengapa demikian ter-gesa2 ingin berlalu?" terdengar suara yang menegur pula, parau tetapi ramah.

Tubuh anak itu jadi menggigil ketakutan, dia telah  menoleh, tetapi untuk kagetnya kembali dia tidak melihat seorang manusiapun juga.

Kembali rasa takut menyelinap kedalam hatinya, rasa takut yang jauh lebih hebat dari semula, karena kini dia telah  berpikir mungkinkah dia bertemu dengan hantu penunggu hutan ? Bukankah tadi dia merasakan betapa bahunya ditepuk seseorang ? Tetapi mengapa sekarang dia tidak melihat seorang manusiapun disekitarnya ? Bukankah tadi jelas sekali dia mendengarnya suara orang yang telah menegurnya ?

Karena berpikir begitu, anak lelaki tersebut mengeluarkan suara keluhan perlahan yang tidak jelas, keluh ketakutan, dan dia telah memutar tubuhnya untuk berlari lagi sekuat2nya.

Namun baru berlari beberapa langkah lagi2 bahunya telah ditepuk pula oleh seseorang, disertai oleh pertanyaan yang serupa seperti tadi : “Anak...engkau mendengar pertanyaanku tadi, bukan ? Engkau  belum  lagi  menjawab  pertanyaanku  itu. !"

Tubuh anak itu jadi menggigil keras, dia sudah menggigil tanpa bertenaga, karena semangatnya telah melayang seperti meninggalkan tubuhnya, sepasang lututnya dirasakan lemas sekali tidak bertenaga, tanpa sanggup mempertahankan diri anak itu telah jatuh duduk numprah ditanah, diantara daun2 kering yang rontok bertebaran disekitar tempat itu.

“Si.  siapa kau ?" tanya anak itu dengan suara yang gemetar

karena takut. “Mengapa.. mengapa aku tidak bisa melihat kau

?" Kembali terdengar suara tadi, yang parau namun perlahan sekali, diselingi oleh suara tertawa yang sabar : “Anak, engkau tampaknya ketakutan dan bersedih, apa sebenarnya yang telah engkau alami ?"

“Aku...aku.." anak itu tidak bisa meneruskan perkataannya, dia memandang sekelilingnya dengan mata yang jelalatan ingin men-cari2 orang yang telah mengajaknya bicara itu. Karena sangat ketakutan, dia tidak bisa meneruskan perkataannya itu.

“Siapa namamu anak yang manis ?" tanya suara itu lagi dengan suara yang sabar.

”Aku..... aku Sin Han....." jawab anak itu. “Namaku Sin Han."

“Sin Han! Nama yang baik ! Nama yang manis ! Engkau anak yang manis, tetapi mengapa engkau tampaknya begitu ketakutan seperti tengah di-kejar2 sesuatu. ”

Sin Han sudah ketakutan sekali, dia sudah tidak bisa bicara lagi, cepat2 dia telah menekuk kedua kakinya untuk berlutut tanpa memperdulikan orang yang mengajaknya bicara itu berada dimana.

“Ampunilah aku..... aku bukan sengaja memasuki tempatmu ini, lojinke (orang tua)....aku sedang dikejar orang2 jahat. yang ingin membunuhku !" kata Sin Han dengan suara

yang gemetar. Tampaknya anak ini benar2 ketakutan sekali. Jika tadi anak tersebut ketakutan karena di-kejar2 oleh manusia2 buas yang tidak mengenal perikemanusiaan, yang telah membinasakan ayahnya dengan kejam dan menghendaki jiwanya juga, tetapi sekarang Sin Han takut kalau2 sekarang dia tengah berhadapan dengan hantu penunggu hutan tersebut. Jika dia memanggil dengan sebutan Lojinke (kau orang tua), itulah disebabkan dia mendengar suara orang itu parau, suara seorang lelaki tua. Terdengar suara tertawa perlahan, suara tertawa yang sabar sekali.

“Sin Han, usiamu masih kecil, kau masih muda sekali, tetapi mengapa ada orang yang ingin membunuhmu? Itulah aneh sekali ! Dan kesalahan atau dosa apa yang telah kau lakukan, sehingga kau di-kejar2 begitu ?"

Mendengar pertanyaan terakhir dari orang yang tidak terlihat ujudnya tersebut, Sin Han menangis ter-isak2. Untuk sementara waktu dia tidak bisa memberikan penyahutannya.

Kembali terdengar suara tertawa yang sabar dari orang tua itu, suara tertawa yang halus sekali, seperti juga orang yang tidak terlihat ujudnya itu ingin menghiburnya dan tidak bermaksud me-nakut2inya.

“Sudahlah Sin Han, engkau jangan menangis. Ceritakanlah kesulitanmu kepadaku. !” kata orang itu lagi, sabar suaranya.

Suara yang sabar dari orang yang tidak terlihat ujudnya itu justru telah memberikan ketenteraman dihati Sin Han. Berangsur2 lenyap perasaan takutnya, dan dia yakin orang yang berbicara tanpa memperlihatkan ujudnya itu adalah seorang yang baik. Dan keberaniannya jadi pulih kembali.

Tiba2 Sin Han telah menekuk kedua kakinya, berlutut sambil menganggukkan kepalanya empat kali : “Nasibku memang buruk, ayahku telah dibunuh oleh puluhan orang yang ganas dan tidak memiliki perikemanusiaan...aku tidak mengetahui apa sebabnya ayah dikeroyok mereka, tetapi sebelum ayah menghadapi mereka, telah berpesan kepadaku, agar sedapat mungkin meloloskan diri dari tangan mereka, menghindarkan kematian...tetapi mereka justru telah mengejar terus padaku, tampaknya mereka memang menghendaki jiwaku. " “Oh, manusia2 jahat, kepada seorang anak kecil seperti engkau ini, mereka berlaku begitu kejam ! Kasihan ! Kasihan ! Lalu ?" terdengar suara orang tua itu lagi.

Sin Han tidak bisa meneruskan ceritanya, karena dia telah menangis ter-isak2. Tetapi setelah lewat sekian lama, kesedihannya berkurang, anak ini telah berkata lagi : “Dan… dan aku telah berlari tanpa mengetahui tempat apa yang kudatangi, yang terpenting dapat meloloskan diri dari kejaran mereka. !"

Tetapi waktu Sin Han baru berkata sampai disitu, justru disaat itu telah terdengar suara teriakan2 yang nyaring sekali dikejauhan. “Tentu setan kecil itu berada disekitar tempat ini! Kejar terus ! Kita harus membinasakannya, jangan biarkan dia lolos cari !"

“Ya, lihatlah, ini bekas tapak2 kaki yang menuju kedalam hutan ini tapak2 kaki kecil ! Setan kecil itu tentu bersembunyi disekitar tempat ini .....! Cari terus !! Jangan biarkan lolos !! Biar nanti aku cingcang tubuhnya !" terdengar suara yang lainnya lagi.

Tentu saja Sin Han jadi ketakutan, mukanya jadi pucat pias, karena dia mengenali suara2 teriakan yang bengis itu adalah suara pengejar2nya. Tubuh anak itu menggigil, dan dia telah cepat2 bangkit untuk berlari pula guna menjauhi diri.....

“Jangan takut, anak manis...diamlah disana, tidak perlu engkau pergi, nanti aku akan membantui mengusir manusia2 jahat itu...!" sabar suara lelaki yang tidak memperlihatkan ujudnya itu.

Entah mengapa, suara yang sabar dari orang itu telah menghibur hati Sin Han. Dan bagaikan setitik embun yang membuat hatinya jadi tenang. Sehingga Sin Han tidak berlari lagi. Dia telah berdiam ditempatnya dan tidak memperdulikan lagi teriakan2 pengejarnya yang semakin mendekati. Walaupun hatinya masih ber-debar2 takut, tetapi kini jauh lebih tenang dari sebelumnya. Bahkan dia telah menjadi nekad : “Biarlah ! Biarlah aku terjatuh ditangan mereka dan dibinasakan mereka dengan buas! Bukankah kematian hanya terjadi satu kali ? Bukankah jika aku telah mati penderitaan dan kesengsaraan akan berakhir ? Aku ber-lari2 berusaha menghindarkan diri dari kejaran mereka, untuk apa ? Untuk apa ? Jika tokh akhirnya mereka mengejar terus dan akhirnya dapat pula menangkap diriku yang akan dibinasakannya ?"

Karena berpikir begitu, maka Sin Han tetap berdiri tenang ditempatnya.

“Bagus !" terdengar suara tanpa ujud itu. “Kau diam saja, percayalah, mereka tidak mungkin bisa menyentuh dirimu

.....!" Dan orang yang ber-kata2 itu seperti juga ingin memberikan keyakinan kepada Sin Han.

“Baik.....baik lojinke," sahut Sin Han dengan suara yang tidak begitu lancar.

Disaat itu suara dari para pengejarnya yang ber-teriak2 telah terdengar semakin mendekati, rupanya mereka telah mulai memasuki hutan kecil ini. Tentu saja hal ini telah membuat Sin Han semakin berdebar.

Tetapi dia yakin, 'hantu' penunggu hutan, yang bicara padanya tanpa memperlihatkan ujud itu akan membantunya, maka dia percaya dirinya dapat dihindarkan dari kebuasan pengejar2nya itu.

“Nah itu dia .....!" terdengar suara orang berteriak dengan nyaring, rupanya saat itu diantara pengejarnya telah ada yang melihat Sin Han.

“Benar...jangan biarkan dia lolos pula.... dia hurus dibinasakan dengan tubuh dicingcang agar dia tahu betapa dia telah   mempersulit   dan   mempermainkan   diri   kita...! Itulah ganjaran yang tepat untuknya ! Jangan biarkan dia lolos ! Bunuh ! Bunuh !"

Dan puluhan orang lelaki bertubuh tinggi tegap, dengan wajah yang menyeramkan, telah meluruk menyerbu kearah Sin Han, dengan menggerakkan senjata tajam ditangan masing2. Sikap mereka sangat menakutkan sekali, karena dari wajah mereka masing2 memantulkan sinar yang kejam, pancaran pembunuhan yang haus akan genangan darah segar......

Hati Sin Han jadi tergoncang keras, tubuhnya lemas tidak bertenaga.

Tetapi karena dia memang nekad, maka dia berdiam saja, hanya memejamkan matanya dengan hati yang berbisik : “Ayah, anakmu akan segera menyusulmu....kita akan berkumpul dengan tenang. "

Saat itu puluhan orang lelaki bertubuh tinggi besar hanya terpisah empat tombak lagi dari Sin Han, ada beberapa orang diantara mereka yang telah menggerakkan senjata tajam ditangannya melancarkan serangan akan memenggal leher anak itu. Sikap mereka kejam sekali, senjata yang terayun itu juga telah mengeluarkan angin yang tajam dan keras.

Hujan turun masih deras, suara guntur pada saat itu telah memecahkan kesunyian, menindih suara hiruk-pikuk dari teriakan2 orang2 itu yang tengah diliputi oleh nafsu membunuh.

Namun disaat suara guntur baru saja selesai, tiba2 telah disusuli oleh suara pekik nyaring dari beberapa orang yang sedang mengayunkan senjata tajam itu kepada Sin Han, tubuh mereka telah terpental keras sekali ke tengah udara, lalu ambruk terbanting ditanah dengan keras. Jerit kesakitan mereka terdengar lagi, sedangkan sisanya dari pengejar Sin Han, untuk sejenak berdiri tertegun, rupanya mereka heran berbareng kaget. Tetapi seketika mereka tersadar, dengan cepat mereka telah mengeluarkan teriakan2 bengis sambil menggerakkan senjata tajamnya menyerbu akan menabas batang leher Sin Han lagi, sikap mereka diliputi hawa pembunuhan yang mengerikan sekali.

“Bunuh setan kecil ini ! Jangan biarkan dia lolos ! Binatang busuk ! Dia harus dikirim ke neraka...!" dan beberapa senjata tajam berkilauan menyambar kearah Sin Han.

Tetapi seperti tadi, enam orang dari penyerang Sin Han telah terpental lagi dengan cepat, terbanting ditanah dengan keras. Bahkan setelah mengeluarkan jerit kesakitan, empat orang diantara mereka itu telah rubuh pingsan tidak sadarkan diri lagi…

Sisa dari pengejar Sin Han yang kurang lebih delapan orang, telah berdiri tertegun.

Dengan marah salah seorang diantara mereka telah menegur kepada Sin Han : “Setan kecil, ilmu siluman apa yang kau pergunakan ?"

Sin Han telah membuka matanya waktu mendengar pekik jerit orang2 yang rubuh itu, diapun tengah heran, dan ditegur begitu tentu saja telah membuat Sin Han jadi tambah heran. Dia tidak mengerti mengapa belasan orang penyerangnya itu telah tubuh tanpa ada sebabnya...?

Karena melihat Sin Han berdiam diri saja dengan sikapnya yang mematung begitu, kedelapan orang itu tambah penasaran. Dengan hati2 mereka mendekati Sin Han, dan dengan serentak mereka telah menggerakkan senjata tajamnya masing2 kearah Sin Han.

“Habislah jiwaku kali ini....!" mengeluh Sin Han dengan suara putus asa. Dia melihat bagaimana senjata tajam itu, pedang  dan  golok  yang  berkilauan  telah  menyambar kearah kepala, leher, dada dan perutnya. Begitu salah satu senjata tajam itu mengenai bagian tubuhnya, habislah jiwanya....

Tetapi diwaktu senjata2 tajam itu meluncur menyambar, tiba2 Sin Han melihat betapa kedelapan tubuh penyerangnya itu telah terlempar kebelakang seperti daun2 kering, terbanting keras ditanah sampai mengeluarkan suara melengking kesakitan, senjata mereka juga telah terlepas dari cekalan tangan masing-masing.

Bahkan salah seorang diantara mereka yang terlambat melepaskan senjata tajamnya yaitu sebatang pedang pendek, perutnya telah menubruk pedangnya itu, sehingga ujung pedangnya menancap menembus ke punggungnya ! Seketika jiwanya telah terbang meninggalkan raganya dan orang itu telah diam tidak berkutik lagi...... Darah segar juga telah mengalir keluar membasahi bumi.....

Pengejar2 Sin Han yang tadi telah terpelanting dan kini telah berdiri pula serta telah mengambil senjata mereka masing2, berdiri mematung dengan heran. Perasaan takut mulai menjalari mereka.

Tetapi disaat itu juga mereka menyadari ada seorang pandai yang telah melindungi Sin Han, dengan sendirinya mereka mulai gentar.

Tadi waktu mereka menyerbu mengayunkan senjata, tiba2 mereka merasakan samberan angin serangan yang kuat menghantam dada mereka masing2 yang menyebabkan mereka terpental jatuh ..... dan mereka menyadarinya hal itu tidak mungkin bisa dilakukan oleh Sin Han.

”Siapa yang telah menolongi anak ini ? Orang pandai mana yang main sembunyi2 seperti itu? Apakah tidak akan menjadi bahan tertawaan orang2 gagah dikalangan Kang-ouw dengan bersembunyi menyimpan ekor ?" teriak salah seorang diantara mereka, karena dia sangat penasaran sekali. Disaat itu keadaan sunyi sekali, hanya suara air hujan yang tetap deras menyiram bumi, dan sebagian lagi menyiram daun2 pohon itu.

“Keluarlah perlihatkan diri ! Kami ingin berkenalan dengan orang pandai yang pintar sembunyikan ekor !" teriak salah seorang lainnya lagi.

Tiba2 terdengar suara tertawa yang halus sekali, suara tertawa yang terdengar perlahan tetapi tajam sekali.

“Bagus ! Bagus ! Akupun tidak menyukai sifat2 pengecut si maling yang pandai menyimpan ekor ! Aku berada disini..!" terdengar suara itu menyahuti.

Puluhan orang pengejar Sin Han telah mengangkat kepala mereka, mata mereka memandang kearah puncak sebatang pohon yang cukup tinggi.

Sin Han juga mengikuti pandangan mata orang2 itu. Maka segera dia melihat dicabang pohon itu duduk setengah rebah seorang lelaki tua dengan pakaian yang agak aneh, pakaian yang compang camping penuh tambalan, seperti cara berpakaian seorang pengemis. Usianya mungkin telah lima puluh tahun lebih, wajahnya selalu riang dan segar, pipinya memerah memperlihatkan bahwa dia sehat sekali.

Pengejar2 Sin Han waktu melihat pengemis itu, telah memperlihatkan sikap terkejut, muka mereka juga berobah pucat dan tubuhnya jadi menggigil.

“Apakah..... apakah lojinke yang bergelar Sin Kun Bu Tek Lo Ping Kang (Kepalan Sakti Tanpa Tandingan) ?" tanya salah seorang diantara mereka dengan suara yang tidak begitu lancar.

“Seperti engkau lihat sendiri ! Aku paling tidak senang menyembunyikan ekor....." menyahuti orang tua yang berpakaian  seperti  pengemis  itu  sambil  tertawa  lebar.  “Dan paling tidak senang lagi jika aku harus menyembunyikan nama dan gelaran bututku itu. !”

Muka orang2 yang semula ganas menyeramkan waktu mengejar Sin Han, kini jadi pucat pias seperti secarik kertas putih, tubuh mereka juga menggigil. Bahkan salah seorang diantara mereka telah cepat2 menjura memberi hormat kepada pengemis tua itu.

“Maafkanlah...kami telah mengganggu lo cianpwe (orang yang lebih tinggi tingkat kedudukannya didalam kalangan Kang-ouw sungai telaga). Kami pamitan untuk berlalu. "

Terdengar suara tertawa orang tua itu yang nyaring sekali, waktu orang2 itu ingin memutar tubuhnya untuk berlalu dengan ter-gesa2 karena mereka sangat takut sekali kepada pengemis tua itu. Namun si pengemis tua itu telah berkata dengan suara setengah membentak : “Berhenti. ! Jangan kalian

berlalu seenaknya saja !"

Tubuh orang2 itu jadi semakin menggigil, tampaknya mereka ketakutan sekali.

Waktu dibentak orang tua berpakaian seperti pengemis itu, mereka telah menghentikan langkah kakinya masing2.

Tampaknya mereka tidak berani membangkang perintah pengemis itu, merekapun telah membalikkan tubuhnya menghadapi kearah pengemis diatas pohon itu.

“Ada...ada perintah atau petunjuk apakah locianpwe ?" tanya salah seorang diantara mereka lagi.

“Kalian manusia2 ganas dan kejam, kalian telah membinasakan ayah anak ini, kemudian kalian seperti serigala2 kelaparan telah me-ngejar2 menghendaki jiwa anak kecil ini yang masih tidak mengetahui urusan apapun juga! Maka atas tindakan kalian itu, tentu saja kalian harus menerima hukumannya. !" Dingin sekali suara orang tua itu, dia berkata dengan suara yang perlahan dan satu2. Tetapi telah membuat muka orang2 itu jadi pucat pias dan tubuh mereka jadi menggigil karena ketakutan setengah mati.

Semuanya merasakan lutut mereka jadi lemas tidak bertenaga untuk berdiri terus, dan cepat2 mereka telah berlutut kearah si orang tua berpakaian pengemis itu.

“Ampunilah kami...kami hanya menjalankan tugas yang diberikan ketua kami...!" kata mereka hampir berbareng. Rupanya orang2 ini mengetahui bahwa Sin Kun Bu Tek Lo Ping Kang merupakan seorang sakti, akhli silat dari tingkatan tua yang memiliki kepandaian luar biasa, mereka jadi  ketakutan bukan main.

“Ampuni jiwa2 anjing seperti kalian ini ?” tanya orang tua yang bergelar Sin Kun Bun Tek Lo Ping Kang itu dengan nada suara mengejek. “Apakah jika anak kecil itu berlutut dan memohon pengampunan jiwanya dari senjata2 ganas kalian itu, akan kalian luluskan permintaannya dan memberikan pengampunan kepadanya ? Ciss, aku orang tua pikun Lo Ping Kang paling segan untuk mengulurkan tangan melakukan perbuatan baik...apa lagi memberikan pengampunan untuk manusia2 berhati serigala yang kejam seperti kalian ini...! Ber-siap2lah kalian untuk menerima kematian masing2...!"

Mendengar perkataan Sin Kun Bu Tek Lo Ping Kang sampai disitu, ketakutan yang meliputi hati orang2 itu jadi semakin hebat saja.

Mereka telah berseru memohon pengampunan bahkan ada diantara mereka yang karena sangat ketakutan, telah berlutut sambil meng-angguk2kan kepalanya berulang kali diiringi oleh isak tangisnya. “Ampunilah kami ..... kami hanya melaksanakan perintah kauwcu kami.....!" kata salah seorang diantaranya sambil menangis.

“Kami memiliki anak isteri, jika kami binasa, tentu mereka akan terlantar,” kata yang lainnya.

“Ampunilah jiwa kami.....kami berjanji tidak akan melakukan kejahatan lagi.....!" sesambatan yang seorangnya lagi.

Bahkan, ada yang karena ketakutan sekali, telah tidak memikirkan perasaan malu lagi, dia telah menangis sambil bilang : “Ampunilah kami..... apa saja yang Locianpwe perintahkan tentu akan kami turuti..... kami memang bangsa anjing tidak tahu malu, dan pantas menerima hukuman se-berat2nya dari Locianpwe, tetapi ampunilah jiwa kami sekali ini. !”

Dan macam2 perkataan lagi yang diutarakan oleh orang itu, yang memohon pengampunan dari Lo Ping Kang.

Sin Kun Bu Tek Lo Ping Kang tertawa dingin, sikapnya keras sekali, dia masih duduk dicabang pohon itu, dengan kedua kaki di-ayun2kan seenaknya.

Sesungguhnya, Sin Kun Bu Tek Lo Ping Kang merupakan akhli silat ternama di Kang lam, dia merupakan seorang pendekar sakti, yang memiliki kepandaian sangat tinggi dan sulit mencari orang yang bisa menandingi kepandaiannya itu, dan juga oleh karena sepak terjangnya yang selalu membela keadilan, telah membuat namanya sangat terkenal sekali. Di kalangan jago2 golongan Putih (yaitu mengambil jalan baik untuk keadilan), dia sangat disegani dan dihormati, sedangkan dikalangan Hekto, yaitu kalangan hitam (para penjahat), namanya bagaikan momok yang sangat mengerikan sekali, dan setiap kali ada penjahat yang mendengar namanya, tentu akan cepat2 menyingkirkan diri dengan bulu tengkuk berdiri karena takutnya..... Tidaklah mengherankan jika sekarang orang2 yang tadi mengejar2 Sin Han jadi ketakutan seperti itu.

“Baiklah, kali ini kalian menerima hukuman yang ringan saja ! Tetapi jika kalian kelak melakukan kejahatan lagi, tentu aku akan mengambil jiwa2 anjing seperti kalian ini !!" kata Sin Kun Bu Tek Lo Ping Kang sambil melayang turun dengan tubuh yang ringan. Sebetulnya cabang pohon itu terpisah tinggi dari bumi, tetapi si orang tua berpakaian pengemis itu dapat melompat dengan ringan dan mudah sekali, waktu kakinya menyentuh bumi sama sekali tidak menerbitkan suara sedikitpun juga, ini menunjukkan betapa sempurnanya ilmu meringankan tubuhnya itu.

Orang2 yang tengah berlutut itu jadi girang mendengar perkataan Sin Kun Bu Tek yang menyanggupi akan memberikan pengampunan untuk mereka.

Tetapi perasaan girang itu hanya sekejap mata saja, sebab dengan gerakan tubuh yang ringan sekali dan sulit diikuti oleh pandangan mata manusia biasa, tubuh si pengemis tua itu telah melompat kian kemari diantara orang2 itu, dia juga telah menggerakkan tangannya menepuki punggung dari orang2 tersebut, sehingga terdengar suara 'plak, plok' berulang kali, dan tepukan itu perlahan sekali namun setiap kali kena ditepuk orang2 itu mengeluarkan suara jerit melengking kesakitan. Kemudian tubuh mereka lemas terkulai ditanah.

Diantara mereka ada yang mengeluarkan rintihan sambil menangis, dan telah sesambatan : “Ampunilah kami...janganlah kami dibuat bercacad, Locianpwe !" kata mereka.

Tetapi rupanya tepukan tangan dari si pengemis tua itu telah menyebabkan rusaknya tulang punggung dari orang2 itu, yang dihajar jadi patah.

Untuk selamanya di-hari2 mendatang, orang2 itu akan menjadi   manusia   bercacad,   walaupun   mereka   tidak  akan menemui kematian, tetapi selanjutnya mereka merupakan manusia2 yang tidak punya guna lagi...akan jauh lebih lemah dari manusia2 biasa yang tidak mengenal ilmu silat...!

Si pengemis tua yang memiliki gelaran "Si Pukulan Tanpa Tandingan" itu, telah berdiri tenang sambil memperdengarkan suara tertawanya yang parau, diapun telah berkata: “Pergilah kalian menggelinding ....! Apakah itu belum cukup dan kalian meminta tambahan lagi ?"

Orang2 itu jadi tambah ketakutan, mereka berusaha untuk berdiri dengan tubuh menggigil menahan sakit dan muka yang pucat pias ..... kemudian ber-ingsut2 meninggalkan hutan itu dengan bersusah payah, karena mereka sudah tidak bisa berdiri tegak dengan tulang punggung yang telah terhajar patah dan hancur itu.....

Sejak tadi Sin Han hanya mengawasi dengan pandangan mata takjub, dia melihat betapa pengemis tua itu sangat sakti sekali. Puluhan orang itu dengan mudah dibuatnya tidak berdaya. Bahkan sekarang Sin Han melihatnya, betapa pengemis tua itu ditakuti sekali oleh orang2 tersebut .....

dengan sendirinya anak tersebut telah men-duga2, entah siapa pengemis tua yang sakti ini .....

Si pengemis tua itu telah menoleh kepada Sin Han, sambil tersenyum ramah dan tanpa memperdulikan orang2 yang tengah beringsut pergi itu, dia telah berkata sabar : “Sin Han, apakah kau telah makan ? Tampaknya kau letih sekali. !"

Sambil berkata begitu, tampak si pengemis telah mengeluarkan sepotong kuwe kering dari sakunya. Tetapi kuwe itu dekil dan kotor sekali.

Disodorkannya kuwe kering itu kepada Sin Han, dan anak itu telah memandang ragu kepada kuwe tersebut. Memang perutnya lapar sekali, tetapi melihat bentuk kuwe yang tidak keruan serta dekil dan kotor sekali, tentu saja Sin Han tidak bisa menerimanya. Sebelum memakannya saja dia sudah merasa jijik. Namun hal itu tentu saja bisa menyinggung perasaan si pengemis, maka dia telah menolaknya dengan halus

: “Terima kasih locianpwe... aku masih kenyang, untukmu saja...!"

Muka si pengemis tiba2 berobah, dia telah mengeluarkan suara tertawa dingin.

“Dasar bocah tidak tahu diri dan tidak mengenal budi !" katanya kemudian dengan suara yang dingin, mengandung kemendongkolan, tampaknya dia benar2 tersinggung, karena sebagai seorang tua yang berpengalaman, dia mengetahui Sin Han telah berdusta.

“Plukk !" kuwe kering itu tahu2 telah dibantingnya ditanah, sehingga membuat Sin Han terkejut, dan anak ini jadi lebih terkejut lagi waktu mengangkat kepalanya dan melihat muka pengemis tersebut yang merah padam karena marah.

“Maafkan lojinke...bukan aku menampik pemberian lojinke, tetapi benar2 aku tidak berselera untuk makan..!" dan Sin Han hanya bisa berkata sampai disitu saja, karena dia telah ketakutan dan menangis sesenggukan.

Si pengemis menghela napas.

“Anak tidak mengenal budi !" katanya lagi. “Kau melihat pakaianku yang butut, dan juga kuweku yang butut itu, sehingga engkau tidak memandang mata kepadaku, heh ?"

“Mana...mana berani ?" sahut Sin Han.

“Hemm, rupanya engkau memang hendak menghina aku, bukan ?" tanya pengemis itu. “Aku berkasihan melihat engkau, aku menolongimu dari kejaran manusia2 jahat itu, tetapi nyatanya engkau bukannya berterima kasih, justru telah menghina aku !" kata si pengemis itu lagi. Sin Han jadi berduka sekali, dia bingung bukan main menghadapi sikap pengemis ini yang cepat sekali tersinggung.

Karena bingung Sin Han telah menekuk kedua kakinya, dia telah berlutut dihadapan si pengemis, dan meng-angguk2kan kepalanya berulang kali, sambil menangis dia telah bilang : “Maafkanlah lojinke, aku sangat berterima kasih sekali atas pertolongan lojinke, dan budi lojinke tidak mungkin aku lupakan ..... tetapi ..... tetapi ..... memang sebenarnya aku masih .....

masih ....!" Dan Sin Han tidak bisa meneruskan kata2nya itu, dia telah menangis lagi sesenggukan.

“Masih kenapa ?" tanya si pengemis tua Sin Kun Bu Tek dengan suara yang keren, tampaknya dia masih belum lenyap perasaan mendongkolnya.

”Aku tidak lapar, lojinke.  !" kata Sin Han. “Dan aku sama

sekali tidak memiliki maksud untuk menyinggung perasaan Lojinke. !"

“Hemm..!" mendengus pengemis tua itu dengan suara yang dingin. “Jika demikian, engkau ingin mengatakan, karena kuwe itu bau dan butut, maka engkau tidak bersedia untuk memakannya karena jijik, bukan ?"

Sin Han berdiam diri, dia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.

“Baiklah,” kata orang tua itu kemudian. “Engkau telah menolak kebaikanku, menolak kuweku itu, berarti engkau tidak membutuhkan bantuan dan pertolongan, maka kelak jika ada sesuatu yang terjadi lagi pada dirimu, aku tidak perlu mengulurkan tangan memberikan pertolongan kepadamu. !"

Sin Han menunduk, hatinya jadi semakin sedih saja, dan air matanya telah mengucur deras.

Tetapi si pengemis tua Sin Kun Bu Tek sudah tidak memperdulikannya, pengemis tua itu telah memutar tubuhnya untuk berlalu, meninggalkan Sin Han yang saat itu masih berlutut dengan air mata yang berlinang dipipinya......

Hujan masih turun deras, sedangkan si pengemis telah menyelinap dibalik sebatang pohon dan tidak terlihat lagi bayangannya, per-lahan2 Sin Han telah bangkit berdiri, dia telah berjalan lesu tanpa semangat.

Sin Kun Bu Tek Lo Ping Kang telah menolong dia dari ancaman bahaya pengejar2nya, dia memang ingat akan budi yang diberikan oleh pengemis itu. Tetapi Sin Han melihat sikap dan watak sifat pengemis itu agak aneh, yaitu cepat sekali tersinggung, telah memberikan kesan yang kurang baik padanya.

Dia telah berjalan terus tanpa mengetahui kemana dia harus pergi, karena Sin Han memang tidak memiliki tujuan. Dia membiarkan kedua kakinya itu melangkah sekehendaknya, dan dia juga membiarkan tetesan air hujan yang menyirami mukanya, dia tidak menyusut atau menghapusnya, karena dia seperti juga sudah tidak memiliki semangat..... dia berjalan terus dengan langkah kaki yang gontai......

Waktu Sin Han tiba dipermukaan hutan yang lainnya disebelah barat, hujan masih turun deras, tetapi Sin Han tidak memperdulikannya, dia berjalan terus dengan langkah yang per-lahan2, sedangkan air hujan telah membasahi sekujur tubuhnya....

Waktu Sin Han tengah berjalan begitu, tiba2 dia merandek, menahan langkah kakinya.

Samar2 dia mendengar suara tertawa yang panjang dan menyeramkan sekali, suara tertawa itu menimbulkan perasaan yang mengerikan, karena didalam suara tertawa itu seperti mengandung hawa pembunuhan.... Saat itu tubuh Sin Han telah menggigil karena menahan perasaan takut, dia telah mengawasi kesekelilingnya. Anak ini rupanya kuatir kalau2 orang2 yang tadi me-ngejar2 dirinya itu akan datang pula mengganggunya. Dan Sin Han telah ber-siap2 untuk berlari kalau saja ada orang2 yang hendak mencelakainya.

Tetapi disekitar tempat itu tidak terlihat seorang manusiapun juga, dan hanya suara tertawa yang menyeramkan itu belaka terdengar semakin nyaring dan jelas.

Sin Han telah menghela napas.

“Kematian memang tidak perlu ditakuti, mengapa aku harus di-kejar2 oleh perasaan takut ! Jika memang aku telah ditakdirkan untuk mati ditangan orang2 itu, mengapa aku harus takut ? Bukankah jika aku mati, berarti aku bisa berkumpul dengan ayahku ? Dan hal itu bukankah sangat menggembirakan sekali ?"

Karena berpikir begitu, hati Sin Han agak tenang, dia telah mengawasi sekelilingnya.

Tetapi tetap Sin Han tidak melihat seorang manusiapun juga, hanya disaat itu terlihat diantara kegelapan malam, cahaya putih yang berkilauan dari tempat yang agak jauh.

Sin Han heran, cahaya itu cukup menarik perhatian, dan dia men-duga2 entah cahaya apa itu yang terlihat cukup jauh.

Setelah berdiri sejenak, dan cahaya itu tetap kelihatan, begitu pula suara pekik atau jerit yang diselingi suara tertawa yang menyeramkan tetap terdengar, Sin Han telah mengayunkan langkah kakinya menghampiri tempat itu. Karena dia jadi tertarik ingin mengetahui benda apakah yang bisa mengeluarkan cahaya berkilauan itu, dan suara jeritan serta  tertawa  menyeramkan  itu,  entah  suara  siapa      karena baru saja mengalami ketegangan, maka kali ini hati Sin Han agak tabah, dia telah menghampiri terus mendekati cahaya itu.

Setelah berada dekat dengan cahaya itu, Sin Han berlaku lebih waspada. Dia mengawasinya dengan mata memandang kesekitar tempat tersebut. Tidak ada seorang manusiapun juga. Hanya suara tertawa dan jerit yang menyeramkan itu tetap didengarnya semakin jelas dan dekat.

Sin Han tahu, tentunya orang yang mengeluarkan suara tertawa maupun jerit yang menyeramkan itu bukan sebangsa manusia baik2, tetapi perasaan ingin tahunya, dan juga karena dia memang tidak memiliki tujuan, maka Sin Han semakin mendekati dari arah mana sinar berkilauan itu terlihat.

Disaat itu, tampak dikejauhan sinar berkilauan itu semakin jelas dan kadang kala lenyap ditelan kegelapan malam, lalu tampak pula.

Hati Sin Han jadi berdebar juga waktu telah berada dekat dengan tempat dimana terpantul cahaya berkilauan itu. Dia maju lagi mendekati, tetapi tiba2 tubuhnya jadi menggigil, perasaan takut menyelinap kedalam dirinya, karena dia melihat dibawah sebatang pohon, tampak tumpukan tulang2 tengkorak manusia..... tulang2 itu merupakan tulang tangan dan kaki,  yang ditumpuk meninggi sampai setengah tombak ! Tulang2 tersebutlah yang memancarkan sinar berkilauan.......

Sepasang mata Sin Han terpentang lebar2, dia telah mengawasi dengan hati yang tergoncang keras sekali, disamping itu diapun telah melihat jelas, bahwa tulang2 tengkorak dari tangan dan kaki manusia itu banyak sekali jumlahnya. Suara tertawa yang menyeramkan masih sempat didengarnya satu kali, setelah itu lenyap dan keadaan disekitar tempat itu kembali sepi dan sunyi sekali.

Sin Han telah menghela napas. “Entah ..... siapa yang mengumpulkan tulang2 kerangka tangan dan kaki manusia ini ?" berpikir Sin Han didalam hatinya, perasaan takut yang luar biasa telah meliputi diri anak ini.

Tetapi baru saja dia berpikir sampai disitu, tiba2 dari arah belakangnya dia merasakan samberan angin yang keras dan dingin sekali.

“Dukk !" tahu2 punggungnya telah terhajar keras sekali oleh sesuatu, menimbulkan perasaan sakit yang bukan main, disusul dengan tubuhnya yang telah terjerambab dan jatuh terjerunuk, sehingga dari hidungnya mengucurkan darah, anak ini jadi menjerit kesakitan.

Dengan merangkak Sin Han kemudian bangkit berdiri, dia telah memandang kesekelilingnya. Tetapi tidak ada seorang manusiapun disekitar tempat itu. Dan seketika itu pula dia jadi teringat kepada 'hantu', karena melihat kembali tumpukan tulang kerangka tangan dan kaki manusia yang menggunung itu, tubuhnya jadi menggigil ngeri dan dia bergidik dengan bulu tengkuk berdiri meremang....

Tetapi sedang Sin Han berdiri diam ber-siap2 untuk berlari lagi, tiba2 dia merasakan dari arah belakangnya telah menyambar lagi angin yang keras, dan seperti tadi, punggungnya telah terhajar pula dengan keras, membuat dia terjerambab pula tanpa berdaya.

Cepat2 Sin Han melompat bangun dengan mempergunakan sisa tenaganya, dia telah memutar tubuhnya untuk melihat kebelakangnya, tetapi tetap dia tidak melihat seorang manusiapun juga.

Keadaan disekitar tempat itu gelap pekat dengan air hujan yang turun masih deras sekali, saat itu menjelang tengah malam. Tentu saja hal ini membuat Sin Han tambah ketakutan, lututnya dirasakan lemas. Dengan mengerahkan seluruh sisa tenaganya, dia mementang kakinya untuk berlari lagi.

Tetapi belum lagi dia berhasil mewujudkan maksud hatinya itu, dari arah belakangnya telah menyambar pula angin serangan yang kuat sekali, angin serangan itu menimbulkan perasaan sakit, sebab Sin Han merasakan punggungnya seperti juga dibentur benda keras. 

“Bukkkk !" tubuh anak itu terguling lagi ditanah, bahkan jauh lebih hebat dari yang tadi dialaminya, karena itu tubuhnya terguling sejauh beberapa tombak, ber-guling2 dengan menderita kesakitan yang sangat hebat.

Waktu itu, Sin Han tidak bisa segera bangkit berdiri, dia merangkak dengan menahan sakit, tetapi tubuhnya telah rubuh terguling di tanah dan tidak sanggup untuk berdiri, dia hanya bisa mengeluarkan suara rintihan belaka.

Terdengar suara tertawa yang sangat menyeramkan sekali, suara itu terdengar menyakitkan pendengaran telinga, seperti me-nusuk2, bahkan nada suara tertawa itu mengandung hawa pembunuhan yang mengerikan sekali.

Sin Han berusaha untuk bangkit pula, sebetulnya dengan menderita kesakitan hebat seperti itu, Sin Han sudah tidak sanggup mempertahankan diri dan akan pingsan.

Namun mendengar suara tertawa yang menyeramkan itulah membuat Sin Han jadi ketakutan setengah mati, dan perasaan takutnya itu yang telah membuat Sin Han jadi mempertahankan dirinya tidak sampai rubuh pingsan. Dia masih berusaha merangkak berdiri untuk melarikan diri.

Sayangnya tenaganya seperti telah terbang meninggalkan raganya,   dan   kedua   kakinya   seperti   tidak   mau  menuruti perintahnya, dimana kedua kakinya itu telah gemetaran karena sudah tidak bertenaga sama sekali.

Hal ini telah membuat Sin Han jadi mengeluh.

“Habislah aku kali ini, tentu tulang2 tangan dan kakiku akan menjadi tumpukan di tulang2 itu juga....!" berpikir anak ini dengan hati yang ber-debar2.

Suara tertawa yang mengerikan itu telah berhenti,  kemudian terdengar suara teguran yang menyeramkan, “Anak busuk, apa maksudmu ber-indap2 datang kemari ingin mengintai ?”

Sin Han menguatkan hatinya, dia menoleh kesekelilingnya. Kosong, tetap tidak terlihat seorang manusiapun juga disekitar tempat itu.

Tetapi waktu dia menoleh kearah belakangnya, diantara tumpukan tulang2 kerangka tangan dan kaki itu, semangatnya seperti terbang meninggalkan raganya, tubuhnya jadi lemas. Diantara derai air hujan yang deras itu dilihatnya sesosok tubuh hitam berdiri tegak, dengan rambut yang riap2an tidak teratur dan pakaian serba hitam, serta wajah yang menyeramkan. Sepasang mata yang besar dengan bentuk yang agak aneh dan juga dengan sinarnya yang tajam menakutkan, tengah menatap dan memandangi dirinya. Tentu saja hal itu telah membuat Sin Han mengeluarkan suara keluhan tertahan, dan telah rubuh pingsan.......

“Hemm.....!" sosok tubuh itu telah mendengus dengan suaranya yang dingin, dia telah mengibaskan lengan bajunya, maka dari lengan bajunya itu telah menyambar keluar angin serangan yang menyampok kearah tubuh Sin Han.

Tubuh anak itu terpental, tetapi waktu terbanting ditanah, justru dia telah tersadar dari pingsannya, karena sampokan angin kibasan lengan baju itu menotok jalan darah Hiat Kung Hiat didekat pinggangnya, sehingga dia tersadar dari pingsannya.

Waktu Sin Han membuka matanya, yang per-tama2 dilihatnya adalah sosok tubuh hitam dengan rambut yang riap2an itu, makluk yang mengerikan sekali. Sin Han mengeluarkan suara keluhan, dan rebah lemas tanpa sanggup berdiri.

“Anak busuk, cepat katakan, siapa namamu ?" bentak makluk menyeramkan itu dengan suaranya yang sember dan menakutkan sekali. Dan dia juga telah mengulurkan tangan kanannya menjambak baju didada sianak ini, kemudian diangkatnya sehingga tubuh Sin Han tergantung ditengah udara.

Tentu saja Sin Han jadi tambah ketakutan, sebab dia telah dapat melihat dengan jelas wajah orang yang menyeramkan itu, karena jarak mereka jadi dekat sekali.

Disaat itulah Sin Han telah berkata dengan suara gemetar : “Ampun...ampun...aku tidak bermaksud mengintai...!" katanya dengan ter-bata2.

“Hemm...!" makluk menyeramkan itu telah mendengus dengan suara yang dingin sekali, dan air hujan yang turun tampaknya tidak dihiraukan. “Telah sepuluh tahun aku berdiam ditempat ini, dan tidak seorang manusiapun kuijinkan menginjakkan kakinya ditempat ini! Siapa yang datang, berarti orang itu harus mampus ! Lihatlah, telah berapa banyak orang yang kubinasakan ..itulah tulang2 mereka...!"

Sambil berkata begitu, makluk menyeramkan tersebut telah menunjuk kearah tumpukan tulang2 kerangka tangan dan kaki.

Tubuh Sin Han jadi menggigil tambah ketakutan saja. “Kau .... kau manusia atau..... atau " tetapi Sin Han tidak

bisa meneruskan perkataannya, karena dia benar2 ketakutan sekali.

“Kau ingin bertanya apakah aku ini manusia atau hantu, bukan ?" kata orang itu menyanggapi perkataan Sin Han. “Hemm, hemm,” dan setelah tertawa dingin mengejek seperti itu, makluk menyeramkan tersebut telah mengangkat tubuh Sin Han tinggi2, dia menggerakkan tangannya dan telah membanting tubuh Sin Han keras sekali diatas tanah.

Tentu saja Sin Han jadi kesakitan luar biasa, anak ini sampai mengeluarkan suara jeritan yang keras sekali.

Sedangkan makluk menyeramkan itu telah berkata tanpa memperdulikan penderitaan Sin Han : “Kau boleh menganggap aku sebagai manusia, boleh ! Menganggap aku sebagai hantu, juga boleh !" dingin sekali suaranya.

Semangat Sin Han benar2 telah terbang meninggalkan raganya, dan anak ini juga menyadarinya bahwa kematian sudah terbayang diambang mata.

Maka dari itu, dia telah mengeluh dan memejamkan matanya, saking ketakutan dia sudah tidak bisa ber-kata2 atau juga menatap ke makluk menyeramkan itu.

Melihat sikap Sin Han, makluk menyeramkan tersebut yang memelihara rambut riap2an menutupi sampai kepundaknya, telah mengeluarkan suara tertawa dingin, tahu2 dia telah menggerakkan tangannya, dan telah berkata sambil mengibas : “Bangun !" tubuh Sin Han telah tersampok oleh segumpalan tenaga kibasan yang sangat kuat sekali. Disaat itulah, dengan cepat sekali kibasan itu membuat tubuh Sin Han jadi terapung, dan kemudian ambruk terbanting diatas tanah lagi dengan keras sekali, sehingga Sin Han merasakan kepalanya pusing dan matanya ber-kunang2. Dalam keadaan demikian, makluk menyeramkan itu telah membentak lagi : “Bangun ! Bangun ! Ayo berdiri !"

Sin Han memaksakan dirinya untuk merangkak berdiri, dia telah merasakan tulang2 ditubuhnya pada ngilu, tetapi karena sangat ketakutan, anak ini bisa juga berdiri, walaupun dengan kedua lutut yang menggigil keras.

“Bagus ! Sekarang engkau harus dicopoti tulang tangan dan kakimu. !" kata makluk itu.

“A. apa ?" tanya Sin Han dengan suara tersendat, dia kaget

bukan main.

Dalam keadaan demikian, tentu saja Sin Han tidak berdaya. Tetapi mendengar tulang tangan dan tulang kakinya ingin dicopoti oleh makluk mengerikan tersebut, telah membuat Sin Han disamping ketakutan, juga jadi gugup dan kaget. betapa

hebat jika sampai benar2 tulang kaki dan tangannya itu dicopoti oleh makluk tersebut, tentu dia akan menderita sekali, apalah artinya untuk hidup terus ?

Sin Han telah memejamkan matanya, dia telah jadi nekad. “Jika engkau ingin membunuhku, bunuhlah !" katanya

dengan nekad.

Mendengar perkataan anak itu, mendadak makluk menyeramkan itu telah mengeluarkan suara tertawa yang sangat menakutkan sekali, dia telah mengeluarkan  suara seruan, dan tahu2 tubuhnya berkelebat seperti bayangan.

“Bukkk !!" tahu2 pundak Sin Han kena dipukulnya dengan tepukan telapak tangan, sakitnya luar biasa, Sin Han sampai merintih kesakitan, tubuhnya juga telah terhuyung, kemudian terguling ambruk diatas tanah, diair yang menggenang, sehingga mukanya juga telah berlepotan dengan air lumpur itu.

“Bocah busuk, engkau harus menuruti perintahku !" Dan setelah berkata begitu, tampak makluk menyeramkan tersebut telah menggerakkan tangannya, dia bermaksud akan mencekal tangan Sin Han, dan akan menariknya dengan kuat, untuk mencopoti tulang tangan anak tersebut.

Sin Han telah memejamkan matanya, tetapi disaat itu dia merasakan cekalan tangan makluk itu semakin keras dan menimbulkan sakit ditangannya, mendadak didengarnya suara bentakan dari makluk menyeramkan tersebut, seperti seruan kaget. Kemudian Sin Han merasakan cekalan tangan makluk tersebut telah mengendor dan terlepas, sehingga mengherankan Sin Han.

Cepat2 Sin Han membuka matanya, dia melihat makluk menyeramkan itu telah berdiri menghadapi kearah sebatang pohon sambil membentak bengis, “Siapa yang telah main2 dan bergurau dengan Kim Kut Mo Sat ?”

Suara teguran itu sangat seram sekali, nada suaranya mengandung kegusaran yang sangat. Makluk menyeramkan itu telah membahasakan dirinya dengan gelaran Kim Kut Mo Sat (Iblis Tulang Emas).

Ternyata waktu Kim Kut Mo Sat mencekal tangan Sin Han, dan bermaksud menarik tangan anak itu untuk dicopotinya dari tubuh Sin Han, tahu2 dari arah belakangnya telah menyambar sepotong batu kecil.

Dan tentu saja samberan batu kecil itu bukan merupakan samberan biasa saja, karena samberan batu itu mengandung kekuatan yang sangat dahsyat sekali.

Tetapi karena Kim Kut Mo Sat memang memiliki kepandaian yang tinggi, disamping tubuhnya yang gesit, maka dia dapat bergerak dengan lincah dan gesit sekali, kemudian telah mengeluarkan suara teriakan yang nyaring, tahu2 dia  telah memutar tubuh sambil memiringkan pundaknya, sehingga samberan batu itu mengenai tempat kosong. Kim Kut Mo Sat telah menjadi marah, dia tahu bahwa ada seseorang yang telah menyerang dia.

Itulah sebabnya dia batal mencopotkan tangan Sin Han dan telah membalikkan tubuhnya memandang bengis kepada tempat dari mana menyambarnya batu yang menyerang punggungnya tadi.

Terdengar suara tertawa mengikik perlahan, kemudian disusul kata2 mengejek : “Kukira Kim Kut Mo Sat merupakan makluk menakutkan yang memiliki kepandaian tinggi, tidak tahunya nama yang digempari itu hanyalah nama kosong seperti gentong belaka. !"

Itulah suara ejekan yang sangat meremehkan sekali, sehingga membangkitkan kemurkaan makluk menyeramkan itu.

“Wutttt ...!" tahu2 tangan kanannya telah digerakkan, dari telapak tangannya itu menyambar angin serangan yang sangat kuat sekali, kearah mana suara itu berasal.

“Bukk !" kuat luar biasa angin serangan itu telah menghajar batang pohon bagian atas, tetapi tidak terlihat sesuatu apapun juga.

Makluk menyeramkan itu hanya melihat batang pohon itu ber-goyang2, dan dia jadi semakin marah serta mendongkol. Dengan cepat dia telah mengeluarkan suara bentakan dan telah melancarkan serangan pula beberapa kali. Tetapi hanya batang pohon itu saja yang ber-goyang2. Daun2 pohon dan juga air hujan telah meluruk jatuh ketanah.

Selain dari itu, tidak terlihat sesuatu apa pun juga. Tentu saja makluk menyeramkan Kim Kut Mo Sat jadi tambah penasaran dan mendongkol bukan main.

“Mengapa harus main sembunyi2 begitu, jika memang seorang gagah, keluarlah memperlihatkan tampang...!" bentak Kim Kut Mo Sat dengan suara yang bengis. “Aku akan memperlihatkan apakah Kim Kut Mo Sat memang hanya menang nama saja...!"

“Nama kosong, kepandaian kosong !" teriak suara yang disertai tertawa mengejek. “Itulah dinamakan gentong kosong, simanusia bodoh ..... hihihi, masih ingin pentang mulut selebar2nya mengeluarkan angin busuk.., sungguh lucu… Seorang Kim Kut Mo Sat hanya berani kepada seorang anak kecil yang tidak berdaya !!"

Tubuh Kim Kut Mo Sat jadi menggigil keras sekali, dia diliputi kemarahan yang sangat. Dengan mata yang jalang dan bersinar tambah mengerikan, dia telah membentak dengan keras sekali, “Jika engkau tidak ingin memperlihatkan diri, aku tentu akan melakukan sesuatu dan engkau nanti jangan me-

-ngatakan aku keterlaluan ! Aku akan memaksa kau keluar !"

“Hihihihi, jika memang benar2 engkau sanggup melakukannya, mengapa engkau tidak menjalankannya !!?" terdengar suara menantang itu.

Tentu saja kemarahan si makluk menyeramkan Kim Kut Mo Sat sudah melewati takaran, sehingga dengan mengeluarkan raungan murka, tahu2 tubuhnya telah melompat kearah dari mana datangnya suara itu, yaitu dari puncak sebatang pohon di balik daun2 pohon yang lebat itu, sambil melompat dia mengayunkan kedua tangannya silih berganti dengan beruntun, dan dari tangannya itu mengeluarkan angin yang kuat sekali, sehingga terdengar suara Bukk, bukk, buk, beberapa kali, dibarengi juga dengan rontoknya sebagian daun daun pohon itu, disertai juga dengan butir2 air hujan yang semula berada di-sela2 daun2 pohon tersebut.

Orang yang bersembunyi dibalik daun2 pohon yang rimbun itu rupanya tidak menyangka Kim Kut Mo Sat akan melancarkan serangan sehebat ini, dengan sendirinya dia jadi mengeluarkan teriakan kaget, dan tubuhnya telah cepat2 melompat mundur dari tempat bersembunyinya. Dia gesit sekali, belum lagi tiba angin serangan itu, dia telah melompat ke puncak pohon yang lainnya, yang berada disebelah kanannya.

Tetapi Kim Kut Mo Sat yang tengah diliputi oleh hawa kemarahan, telah melancarkan serangan berikutnya tanpa menanti tubuhnya meluncur turun. Kedua tangannya itu telah digerakkan beruntun beberapa kali, dari kedua tangannya itu telah keluar angin serangan yang sangat dahsyat sekali.

Disaat itulah dia telah melihat sesosok tubuh kecil yang pindah kepohon lain, maka dia mendesak terus.

Beberapa kali hal itu terjadi, dan akhirnya rupanya sosok tubuh itu tidak bisa mengelakkan diri lagi dari serangan Kim Kut Mo Sat, dia telah mengeluarkan suara dengusan dingin, dan menangkisnya waktu berada disalah satu cabang pohon.

“Bukkkk !" dua kekuatan telah saling bentur, dan Kim Kut Mo Sat telah meluncur turun ke tanah. Tetapi sosok tubuh itu sendiri tidak bisa mempertahankan dirinya, dia telah tergelincir dari batang pohon itu, tubuhnya meluncur turun ke tanah juga.

Sosok tubuh itu telah mengeluarkan seruan agak heran dan kaget, tetapi dia juga liehay, maka dia telah berjumpalitan dan hinggap ditanah tanpa kurang suatu apapun juga.

Kim Kut Mo Sat sebetulnya saat itu telah menggerakkan kedua tangannya, karena dia telah ber-siap2 ingin melancarkan serangan susulannya lagi.

Tetapi ketika melihat orang yang berada dihadapannya itu, dia jadi tertegun.

Sepasang matanya yang memang telah besar bentuknya itu, jadi dipentang lebih besar dan lebar, memancarkan sinar yang menakutkan sekali. ”Kau...?" tanyanya dengan suara tertahan.

Sosok tubuh kecil yang meloncat turun dari cabang pohon itu ternyata seorang gadis kecil yang berusia diantara belasan tahun, mungkin baru sebelas tahun, wajahnya kecil mungil berpotongan kuaci, manis sekali. Matanya juga memancarkan sinar yang bening, mulutnya yang kecil manis itu tersenyum dengan sikap yang meremehkan simakluk menyeramkan Kim Kut Mo Sat, tidak sedikitpun diperlihatkan olehnya perasaan takut atau jeri kepada makluk menyeramkan yang tukang copot tulang ini. Semula Kim Kut Mo Sat menduga bahwa lawannya itu adalah seorang akhli silat yang sakti, seorang yang telah lanjut usia. Maka bisa dibayangkan perasaan herannya waktu dia melihat bahwa yang berdiri dihadapannya ini, yang telah mempermainkan dirinya adalah seorang gadis kecil yang masih bau susu. !

Gadis kecil itu telah tertawa cekikikan lagi dengan suaranya yang jenaka, dia telah berkata dengan suara yang dingin : “Kau yang bergelar Kim Kut Mo Sat bukan ? Nah, sekarang engkau telah membuktikan bukan, bahwa engkau tidak memiliki kepandaian apa2 yang luar biasa...bukankah menghadapi  diriku, si kecil nakal ini engkau tidak berdaya apa2. ?"

Dan setelah berkata begitu, si gadis kecil yang jenaka ini telah tertawa cekikikan lagi.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Tat Mo Cauwsu Jilid 01"

Post a Comment

close