Si Rase Kumala Bab 28 : Ujian Terhadap Pendekar Wanita

Mode Malam
28. Ujian Terhadap Pendekar Wanita

Pemuda itu mengangguk. Begitulah setelah melalui beberapa serambi, tibalah mereka disebuah pintu bundar. Sekali dorong, pintu itu terbuka.

Di belakang pintu itu, ternyata terdapat sebuah kebun. Walaupun tidak teratur indah, namun cukup menyenangkan, ada beberapa pohon bunga. Diujung kiri kebun itu, terdapat tiga buah kamar yang bersih.

„Bung, malam ini aku nginap disini!" setelah memeriksa salah sebuah kamar, pemuda itu menyatakan setujunya. Nada suaranya melengking nyaring.

Siao-ji (jongos) terkesiap heran, justeru saat itu si pemuda sudah menyingkap kain kerudung mulutnya. Sebuah wajah yang cakap berseri-seri, dihias dengan mata dan alis yang indah.

Kembali jongos itu tertegun, pikirnya: „Ditilik dari wajah dan nada suaranya, jangan-jangan tetamu ini seorang nona yang menyaru jadi lelaki …….”

Gerak gerik Siao-ji diketahui juga oleh pemuda itu. Buru- buru dia menyuruh jongos itu pergi ambilkan air dan hidangan malam. Malah untuk menggertaknya, pemuda itu merabah tangkai pedangnya. Keruan saja jongos itu menjadi ketakutan dan buru-buru memberi hormat hendak menyediakan permintaannya itu.

Tak berapa lama, jongos kembali dengan sebaskom air panas dan seperangkat hidangan. Setelah selesai cuci muka dan makan, pemuda itu padamkan lampu lalu duduk bersemadhi di atas tempat tidur.

Ketika kentongan terdengar dipukul empat kali, tiba-tiba pemuda itu berbangkit. Memanggul pedang dibahu, meletakkan sepotong perak di atas meja, lalu mendorong pintu terus loncat ke atas wuwungan rumah.

Dari itu dia lari keluar hotel. Dengan gunakan ilmu ginkang, dia keluar kota dan berlarian dijalan yang menuju ke gunung Tiam-jong-san.

♠♠♠♠♠

Begitu tiba dikaki gunung, pemuda itu berhenti sejenak memandang kebesaran gunung Tiam-jong-san yang membujur sampai ratusan li luasnya itu. Puas merenung, pemuda itu tancap gas pula lari masuk ke daerah gunung. Karena waktu itu masih dinihari, jadi jalanan di gunung itu masih sepi orang, dengan begitu dapatlah dia gunakan ilmu berlari cepat dengan leluasa.

Sekalipun begitu karena tak paham akan jalanan disitu, jadi hampir tengah hari barulah sampai dibalik gunung. Tempat tujuannya masih belum tercapai. Pemuda itu menjadi gelisah tampaknya.

Sekilas mendapat pikiran, dia terus mendaki sebuah puncak dan memandang ke sekeliling penjuru. Tiam-jong-san dengan puncak-puncaknya yang hijau meluas, seolah-olah tiada bertepi. Bingung dia dibuatnya, hendak bertanya orang, terang tak mungkin. Kecuali siur angin membuai pohon, tiada lain makhluk yang tampak. „Di daerah gunung yang begini luasnya, kalau  aku membabi buta saja, mungkin sepuluh hari juga tak dapat mencari tempat itu ”

Sesaat berpikir begitu, tiba-tiba dia teringat sesuatu:

„Karena bernama kiap (selat), tentu ada gunung dan air. Dan konon kabarnya Lan-chui-suan itu indah seperti lukisan. Mengapa aku tak mencari tempat semacam itu ”

Kini dia berganti haluan, tak mau cari jalan besar, tetapi jalanan gunung yang kecil sempit. Lebih dari sejam dia menyusur masuk ke daerah pedalaman, namun bayangan Liu- hun-kiap tetap belum tampak.

Kala itu dia sudah berada di ujung puncak karang buntu. Disebelah belakang karang itu, terbentang jurang yang curam sekali. Sambil menghapus keringat, pemuda itu memandang ke bawah jurang dengan rasa putus asa.

„Jalanan ini putus sampai disini. Tiam-jong-san mempunyai berpuluh puncak, tapi Liu-hun-hiap tiada jejaknya sama sekali. Kalau sampai tak berhasil, bagaimana harus mengatakan pada suhu ……. dan pula ……. bagaimana menyelesaikan persoalan itu ?”

Pemuda itu makin resah. Tiba-tiba dari karang sebelah muka yang terputus oleh jurang itu, terdengar  suara nyanyian:

Bilakah bulan purnama tiba, hendak kupersembahkan arak, Adakah istana dilangit, masih tetap senantiasa semarak?  Ingin  kunaik  angin  pulang Tapi    kukuatir    tangga    langit     terlampau     tinggi  Wahai rembulan, sinarmu mengarungi Istana     maupun     gubuk      tanpa      diskriminasi Mengapa dikau selalu tak berwajah penuh?

Nada nyanyian itu melengking tinggi, bernapaskan gagah perwira. Pemuda baju hijau itu terpikat pikirannya. Suara nyanyian itu makin lama makin dekat dan muncullah seseorang dari semak belukar. Usianya lebih kurang duapuluh tujuh tahun, bertubuh kekar dada lebar, alis tebal mata bundar.

Dia mengenakan baju dan celana pendek dari kain kasar, hingga potongan tubuhnya makin tegas. Mencekal sebatang bambu, pemuda itu berjalan pelahan-lahan sembari membuka suara.

Tampak ada orang untuk bertanya, pemuda baju hijau itu cepat enjot tubuhnya maju ketepi karang, lalu angkat tangannya tinggi-tinggi sembari berteriak keras: „Hai, saudara! Harap berhenti dulu, aku hendak mohon tanya.”

Pemuda baju pendek itu berhenti, lalu balas berseru dari tempatnya yang jauh: „Apakah saudara kesasar?”

„Bukan, aku memang sengaja datang dari jauh. Saudara tentu tinggal disini, bolehkah aku bertanya satu dua hal?"

Rupanya pemuda pakaian pendek itu menjadi curiga. Bagaimana pun juga, nada suara pemuda baju hijau itu tetap kecil, sikapnya bukan seperti orang lelaki. Dan yang paling menarik perhatian, dia menyanggul pedang. Namun pemuda baju pendek itu tak mau mengentarakan keheranannya.

„Benar, aku memang orang sini. Saudara hendak menanyakan apa?" serunya dengan tersenyum.

Pemuda baju hijau itu girang sekali, teriaknya: „Yang hendak kucari ialah Liu-hun-hiap. Kalau saudara suka menunjukkan, akan kuberi hadiah besar."

Walaupun keduanya terpisah oleh sebuah jurang selebar belasan tombak, tapi dapat tukar pembicaraan dengan jelas.

„Liu-hun-hiap adalah tempat pertapaan Shin-tok lo-sin-sian. Menilik saudara membekal pedang, tentulah seorang pendekar silat," kata pemuda baju pendek. Pemuda baju hijau itu kemerah-merahan mukanya. Buru- buru dia merendah: „Gelar pendekar silat itu, terlampau tinggi bagiku. Aku hanyalah murid Peh-hoa-kiong di Lo-hu-san yang mendapat perintah suhu untuk menghadap Shin-tok sianseng. Karena tak paham jalanan, jadi hampir setengah harian aku tak dapat menemukan tempat tinggalnya. Sukalah saudara memberi bantuan!"

Memang pemuda baju hijau itu bukan lain adalah Sik Leng- ji, pemimpin dara kiu-hong dari Peh-hoa-kiong. Dia diperintahkan suhunya untuk membawa surat kepada Shin-tok Kek. Kebetulan pula pemuda baju pendek itu, adalah Shin-tok Hou, coba tidak, pasti Leng-ji akan pulang dengan tangan kosong.

Shin-tok Hou tahu bagaimana hubungan antara Siau Ih dengan Lo Hui-yan. Dia sudah kuatir akan kepergian Siau Ih ke Peh-hoa-kiong yang merupakan daerah terlarang bagi kaum laki-laki itu. Bahwa kini ada seorang anak murid Peh- hoa-kiong datang ke Tiam-jong-san, tentulah membawa berita tentang Siau Ih.

„Kalau kau membawa berita buruk tentang Ih-te (adik Ih), biar nanti aku digegeri suhu, lebih dulu hendak kusuruh kau minum pil pahit," demikian dia mengambil putusan, terus menyambut: „Dapat membantu orang lain, adalah suatu kebahagiaan. Apalagi hanya menunjukkan jalan …….”

Berkata sampai disitu, tahu-tahu dia sudah melambung tinggi sampai dua tombak, terus meluncur miring ke bawah jurang.

Sudah tentu kejut Leng-ji tak terhingga. Pertama ternyata pemuda baju pendek itu mempunyai kepandaian hebat dan kedua karena jurang itu tiada tempat berpijak. Sekali jatuh, pasti akan remuk binasa. Namun matanya yang tajam segera melihat bahwa sepuluhan tombak jauhnya ternyata terdapat seutas rantai besi yang menghubungkan kedua tepi karang.

Tepat pada saat itu, Shin-tok Hou melayang turun ke atas rantai. Begitu sang kaki diinjakkan, kembali dia melambung lagi ke udara. Sebelum Leng-ji hilang kejutnya, tahu-tahu Shin-tok Hou sudah tiba dihadapannya.

„Nona adalah tetamu dari jauh, aku mewajibkan diri sebagai tuan rumah," kata Shin-tok Hou sembari tersenyum menampak kekagetan wajah Leng-ji.

„Siapa kau ini?”

„Lebih baik nona jangan menanyakan," sahut Shin-tok Hou Leng-ji marah. Maju beberapa tindak, dia cabut pedangnya

dan membentak keras: „Bilang, siapa kau ini? Kalau tetap membandel, jangan salahkan nonamu tak tahu adat!"

Kini Shin-tok Hou tampak bersungguh, jawabnya: „Karena nona memaksa, baiklah, aku adalah Shin-tok Hou salah seorang siang-thong (sepasang kacung) dari pemilik Lan-chui- suan!"

Kejut Leng-ji lebih hebat dari tadi, hingga ia sampai tak dapat berkata-kata.

„Dari tempat ribuan li nona datang kemari, apakah karena perihal Siau Ih?” kini Shin-tok Hou yang ganti bertanya.

Leng-ji terkejut gelagapan. Namun melihat sikap dingin dari anak muda itu, ya amat mendongkol. Tak kurang dinginnya menyahut: „Benar, Sik Leng-ji datang kemari karena untuk hal itu. Tolong saudara sampalkan pada Shin-tok sianseng bahwa Sik Leng-ji hendak mohon menghadap."

Dugaannya benar, Shin-tok Hou menjadi terperanjat. Pikirnya: „Jadi nyata Ih-te sudah pergi ke Lo-hu-san. Dari nada ucapan nona ini, terang Ih-te menemui kesulitan, rasanya dia tentu ditawan di Lo-hu-san."

Memikir begitu, amarahnya meluap. Menatap lekat-lekat ke arah Leng-ji, dia tertawa dingin, ujarnya: „Liu-hun-hiap sudah berada di depan mata. Hanya saja pertapaan Lan-chui-suan juga mengadakan pantangan keras seperti halnya dengan biara Peh-hoa-kiong, yakni setiap kaum wanita yang hendak datang ke Liu-hun-hiap harus lebih dahulu diuji dengan tigaratus jurus, kalau gagal, boleh pulang saja ”

Dia berhenti sejenak untuk mengawasi wajah si nona yang merah padam dirangsang kemarahannya itu. Habis itu, dia tertawa meneruskan pula: „Karena nona mendapat perintah suhu, tentu tak suka pulang tangan hampa. Apalagi ilmu kepandatan Lo-hu-san, menggetarkan dunia persilatan. Nonapun sudah melolos pedang jadi jangan pelit memberi pelajaran."

Habis berkata, kontan saja Shin-tok Hou putar batang bambunya dalam gerak han-tong-hud-liu ke arah kepala Leng- ji.

Serangan kilat itu, membuat Leng-ji terkejut, terus menyurut mundur.

Namun Shin-tok Hou teruskan menutuk bahu kiri si nona dengan gerak han-hoa-tho-lui.

Belum lagi kaki Leng-ji berdiri jejak, ujung bambu sudah tiba, keruan saja ia menjadi geregetan. Pundak agak diegoskan, ia barengi menabas bambu lawan.

Untuk itu, Shin-tok Hou turunkan bambunya ke bawah untuk diteruskan menyapu pinggang.

Leng-ji keripuhan. Setiap serangannya, selalu dapat ditindas malah mendapat serangan balasan secara cepat. Terpaksa dengan mendongkol, ia main mundur. Cepat sekali, mereka sudah bertempur belasan jurus. Timbul keangkuhan Leng-ji, kalau ia tak mampu mengatasi pemuda itu, keharuman nama Peh-hoa-kiong, pasti akan jatuh. Saat itu kebetulan ujung bambu si anak muda menusuk ke arah tenggorokannya.

Dia menunggunya dengan tenang. Begitu hampir tiba, secepat kilat dia miringkan kepala sembari ayunkan pedang membacok lengan kanan Shin-tok Hou.

Kini gilirannya Shin-tok Hou yang kelabakan. Dia tak menyangka si nona akan gunakan gerakan yang amat berbahaya begitu. Terpaksa dia enjot tubuhnya loncat mundur.

Tapi Leng-ji tak mau memberi hati. Serangan pertama berhasil dia mencecernya lagi dengan lima buah serangan berturut-turut. Keadan berganti, sekarang Shin-tok Hou yang main mundur.

Memang sebagai kepala dari kiu-hong, Leng-ji telah menerima warisan kepandaian dari Hun-si-sam-sian. Untuk memberantas kesombongan lawan dan demi menjaga pamor perguruannya, Leng-ji keluarkan ilmu pedang it-goan-kiam- hwat, yakni ilmu kebanggaan Peh-hoa-kiong yang termasyhur.

Memang lihay sekali ilmu pedang itu. Sesaat tubuh Shin-tok Hou seperti dilibat oleh sinar pedang.

Walaupun hanya menjadi kacung pelayan dari Si Rase Kumala, namun sejak kecil Shin-tok Hou mendapat gemblengan ilmu silat dari tokoh lihay itu. Dibanding dengan Siau Ih, sebenarnya dia lebih lihay. Sekalipun hanya mencekal sepotong bambu, tapi kehebatannya tak berkurang.

Ditepi karang jurang yang curam, terjadilah pertempuran dari dua jago muda yang lihay. Kepandaian mereka terpaut tak seberapa. Gesit lawan cepat, tangkas tanding lincah. Hanya dalam beberapa kejap saja, keduanya sudah bertempur sampai seratusan jurus lebih. Terbatas oleh keadaan jasmaniah, dalam hal ilmu lwekang wanita agak kalah dengan kaum pria. Apalagi dasar kepandaian Leng-ji memang setingkat lebih rendah dari Shin- tok Hou.

Makin lama dara dari Peh-hoa-kiong itu makin lelah, keringat mengalir deras, napas terengah-engah. Namun sekalipun kekalahan sudah terbayang di depan mata, Leng-ji tak mau menyerah mentah-mentah. Ia robah taktik, dari menyerang menjadi bertahan.

Sebaliknya Shin-tok Hou makin gagah. Sejak kecil mendapat gemblengan dari si Rase Kumala, dia memiliki pancaindera yang tajam sekali. Tahu si nona sudah hampir menyerah, dia segera, keluarkan ilmu pukulan ji-i-san-chiu.

Sebuah ilmu pukulan terdiri dari seratusdelapan jurus yang menggetar dunia persilatan. Seketika itu, Leng-ji terkurung oleh hujan jari. Kekalahan Leng-ji makin jelas.

„Dari pada membikin jatuh pamor perguruan, lebih baik aku gugur bersama dia," demikian Leng-ji membulatkan tekadnya.

Kini ia menjadi tenang. Saat itu ujung bambu menusuk  tiba, sedang tangan kiri Shin-tok Hou pun bergerak menghantam pundaknya. Ia cepat laksanakan rencananya.

Untuk tutukan bambu, ia goyangkan pundaknya menghindar. Tapi untuk hantaman tangan si anak muda, ia malah memapaki maju sembari membacokkan pedangnya. Biar ia menerima pukulan, tapi dada lawanpun tentu akan pecah.

Shin-tok Hou terkejut sekali. Buru-buru dia tarik pulang tangan kiri, tubuhnya cepat dimiringkan ke samping.

“Siut,” pedang Leng-ji hanya terpisah satu dim menyambar di atas pundaknya. Karena tabasannya luput, Leng-ji menjorok ke muka. Dalam posisi miring tadi, secepat kilat Shin-tok Hou gunakan jurus oh-yang-kiau-hun atau telentang memandang awan, ujung bambu cepat dibalikkan untuk menghantam pedang.

Seketika itu Leng-ji rasakan pedangnya seperti ditekuk oleh suatu tenaga kuat. Baru ia mengeluh celaka, tahu-tahu telinganya dipekakkan oleh suara benda yang mengiang nyaring, „tring …….”

Pedang Leng-ji yang terbuat dari baja murni, telah putus menjadi dua! Saking kagetnya, Leng-ji sampai loncat ke belakang.

Shin-tok Hou tak mau mengejar, melainkan berseru dengan senyum tawa: "Maafkanlah, nona. Biar kulaporkan pada suhu kedatangan nona ini."

Wajah pemimpin kiu-hong itu pucat lesi, matanya memerah darah. Ucapan pemuda itu, amat menusuk sekali. Serentak pedang dibanting ke tanah, ia berteriak geram: „Aku akan mengadu jiwa padamu!"

Teriakan itu ditutup dengan loncatan menghantam.

„Kalau nona belum puas, Sin-tok Hou terpaksa melayani," seru Shin-tok Hou sambil tertawa dan menghindar ke samping.

Karena sudah kalap, Leng-ji gunakan ilmu pukulan istimewa ciptaan Hun-si-sam-sian, yakni can-hoa-chiu. Setiap pukulan dan hantaman selalu dipusatkan ke arah bagian yang fatal (mematikan) dari tubuh si anak muda.

Sampai tigapuluh jurus, ia merangsang dengan hebat seolah-olah seperti hendak menelan lawan.

Namun walaupun terkurung, Shin-tok Hou tetap dapat menghadapi dengan tepat. Hanya saja kini, anak muda itu tak berani bersikap sombong lagi. Dia bertempur dengan hati-hati. Pertempuran sengit itu berlangsung dari tengah hari  sampai lohor. Dua-duanya tampak mulai tele-tele. Wajah Shin- tok Hou merah padam, dahinya berketesan keringat.

Leng-ji pucat lesi, napasnya senin kemis. Pelahan-lahan ia mulai terdesak mundur hingga sampai ke tepi jurang.

Sekonyong-konyong Shin-tok Hou menggerung keras. Dengan gerak ngo-ting-gui-san, dia dorongkan kedua tangannya ke arah lawan.

Leng-ji ibarat sebuah pelita yang kehabisan minyak, iapun buru-buru mendorongkan sepasang tangannya ke muka. Ia sudah nekad, sehingga lupa pada kenyataan. Kalau kedua hantaman itu saling berbentur, akibatnya sudah dapat diperhitungkan. Kalau tidak terluka parah, nona itu pasti akan terlempar jatuh dalam jurang ……..

Dalam saat yang tegang meruncing itu, tiba-tiba dari arah karang diseberang sana, terdengar seorang berseru nyaring:

„Hou-te, tahan!"

Shin-tok Hou memberi reaksi cepat. Tangan kiri ditarik, tangan kanan dibuat melindungi dada lalu loncat mundur.

Selagi Leng-ji kesima, sesosok tubuh melayang ke arah karang itu. Ia hanya melihat yang datang itu baik potongan pakaian, maupun perawakan dan usianya, hampir sama dengan Shin-tok Hou. Tapi siapa dianya itu, Leng-ji tak sempat memperhatikan lebih lanjut karena ia merasa tubuhnya seperti melayang-layang hendak rubuh.

Diperas habis tenaganya, geram pedih memikirkan tugasnya yang belum selesai itu, telah membuatnya ngenas lahir dan batin. Sedikit saja tubuhnya yang lemah gemelai itu terhuyung, tak ampun lagi ia tentu terlempar jatuh ke dalam jurang ……..

„Aku Shin-tok Liong, menghaturkan maaf atas kesembronoan adikku tadi. Kedatangan nona kemari, aku sudah mengetahui. Liu-hun-hiap berada disebelah karang itu. Tapi karena nona lelah, lebih baik beristirahat dulu, nanti kuantarkan kesana." kata pemuda yang baru datang itu.

Leng-ji tersadar. Waktu membuka mata, dilihatnya Shin-tok Liong dan Shin-tok Hou loncat menghampiri. Betapa malu dan geramnya, sukar dilukis. Hanya mengingat tugas yang diberikan suhunya belum selesai, terpaksa ia menekan perasaannya.

Untuk menghadapi tokoh dari selat Liu-hun-hiap yang tersohor aneh sifatnya itu, ia harus mengumpulkan tenaga. Demikianlah segera ia duduk bersila menyalurkan napas. Ketika membuka mata, ternyata matahari sudah condong kebarat.

Dengan semangat segar, ia berbangkit. Dikala memberesi pakaiannya yang kucal, matanya tertumbuk akan kutungan pedangnya yang berserakan di tanah.

Seketika ia tertawa pilu, namun pada lain saat ia keraskan hati, terus ayunkan langkah menuju ke jembatan rantai. Setelah agak meragu sebentar, ia segera enjot tubuhnya ke muka. Dengan gunakan ginkang yan-cu-sam-jo-cui atau burung seriti tiga kali menyentuh air, ia berloncatan di atas rantai besi dan loncat ke tepi karang diseberang.

Begitulah setelah melalui jalanan kecil, kira-kira sepeminum teh lamanya, tibalah ia disebuah pintu batu yang atasnya terdapat plakat nama Liu-hun-hiap dan Shin-tok Liong sudah menunggu disitu.

„Tuanku mempersilahkan nona masuk," katanya sembari tersenyum. Sekali mendorong pelahan-lahan, pintu itu terbuka. Dia persilahkan si nona masuk.

Begitu masuk, Leng-ji rasakan matanya amat sedap menampak pemandangan alam disitu. Indah bagai lukisan, demikian satu-satunya komentar dalam hatinya. Diantara rindangnya pohon-pohon bunga, tampak sebuah pondok. „Tuanku tengah menunggu. Harap nona ikut,” kata Shin- tok Liong sembari cepatkan langkahnya.

Leng-ji pun mengikutinya. Setelah melintasi padang bunga, tibalah mereka di muka sebuah pondok. Pemandangan pertama yang mengejutkan hati Leng-ji ialah Shin-tok Hou saat itu tampak sedang berlutut menghadap tembok.

„Karena melanggar peraturan, adikku telah dihukum,” buru- buru Shin-tok Liong memberi penjelasan.

Diam-diam Leng-ji memuji kebijaksanaan Shin-tok Kek  yang disohorkan sebagai orang yang berwatak aneh kaku itu. Otomatis, amarahnya tadi banyak berkurang, sebagai gantinya kini timbul rasa menghormat pada tuan rumah.

Tiba-tiba tirai bambu yang menutupi pintu pondok itu tersingkap. Seorang pemuda bertubuh kokoh kekar, muncul keluar. Dia mempersilahkan Leng-ji masuk.

Bahwa dalam beberapa detik lagi bakal berhadapan dengan seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi, mau tak mau hati Leng-ji berdebar keras. Debar hatinya itu berobah menjadi semacam kecemasan demi membayangkan bagaimana nanti sikap tuan rumah apabila menerima surat dari suhunya.

Melangkah masuk, ia dapatkan ternyata pondok itu tak seberapa besar, namun dirawat resik sekali. Disebuah dipan pendek yang bertutupkan tikar sulaman lukisan kepala naga, duduk dua orang.

Yang kiri usianya antara empatpuluhan tahun. Wajahnya agung, mengenakan kain kepala dan pakaian sebagai orang pelajar. Yang sebelah kanan, adalah seorang tua gemuk pendek. berwajah merah. Rambut dan jenggotnya sudah  sama putih, seri wajahnya riang tertawa.

Leng-ji agak tertegun, lalu menjurah memberi hormat kepada orang pelajar itu, ujarnya: „Wanpwe Sik Leng-ji anak murid Hun-si-sam-sian dari biara Peh-hoa-kiong. mohon menghadap pada Shin-tok sianseng.”

Memang tokoh pertengahan umur yang dandanannya seperti orang pelajar itu, bukan lain ialah si Rase Kumala Shin- tok Kek. Tenang-tenang saja dia sapukan mata ke arah Leng- ji.

Sejenak bersenyum, berkatalah dia dengan nada ramah:

„Lohu sudah keliwat lama mengasingkan diri, tentang peradatan tak terlalu mempersoalkan, harap nona duduk."
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Si Rase Kumala Bab 28 : Ujian Terhadap Pendekar Wanita"

Post a Comment

close