Si Rase Kumala Bab 15 : Buronan Kiau Hu-Hwat ......

Mode Malam
15. Buronan Kiau Hu-Hwat ......

Benar juga apa yang diduganya itu. Waktunya terjadi pada hari keempat sekira tengah malam. Kala itu tetamu-tetamu lain sudah pada tidur. Setelah mengganti obat pada luka Tan Wan, Siau Ih duduk bersama-sama dengan anak itu. Sekonyong-konyong terdengarlah sebuah suara yang melengking halus. Menyusul, di atas wuwungan serambi luar, terdengar seseorang berseru dengan nada yang besar.

„Orang she Siau, lekas keluar terima kematianmu!"

Siau Ih segera tahu siapa yang berbuat itu. Namun dengan tertawa mengejek dia menyahut: „Hidup bertempat tinggal, mati berliang kubur. Karena hendak mengantar jiwa, tuanmu inipun takkan mengecewakan permintaanmu itu!"

Secepat mengalungkan pedang Thian-coat-kiam ke atas bahu, Siau Ih cepat mendorong pintu dan melangkah keluar. Tapi baru sang kaki tiba disamping pintu, tiba-tiba dia teringat sesuatu: „Menurut gelagat, musuh datang dalam jumlah banyak. Kalau aku pergi, Tan Wan yang masih belum leluasa bergerak itu, pasti tak mampu membela diri. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, bukankah akan sia-sia pertolonganku itu ”

Merenung sejenak, dia mendapat suatu keputusan:

„Membasmi kejahatan adalah perbuatan mulia. Menghancurkan tindakan jahat untuk mengobati orangnya adalah yang paling tepat!" Secepat keputusan itu terkilas, secepat itu juga dia menyurut mundur dan mengeluarkan senjata rahasia kiu-go- ting-seng-ciam yang diambilnya dari mayat seorang penjahat yang bertempur di makam Gak-ong tempo hari itu. Dengan cekatnya, dia masukkan jarum-jarum yang berbentuk seperti paku ke dalam bumbung, lalu diberikan kepada Tan Wan.

„Kalau menghadapi apa-apa, harus berlaku tenang. Begitu ada orang masuk kedalam kamar sini, sambutlah dengan ini,” katanya dengan berbisik.

„Orang she Siau, kalau tetap tak mau keluar, sekalian tuan besarmu ini terpaksa akan mengobrak-abrik ke dalam sarangmu!" tiba-tiba terdengar lagi sebuah seruan.

Lebih dahulu Siau Ih salurkan lwekang kian-goan-sin-kong untuk melindungi tubuh, kemudian baru tertawa dingin menyahut: „Sebetulnya kamu sekalian harus mengucap syukur, karena saat kematianmu diperpanjang beberapa menit. Mengapa merengek-rengek begitu terburu-buru mau mampus?"

Sekali tangan menekan pintu, tubuh Siau Ih sudah lantas mencelat keluar. Sejenak menyapukan mata, dilihatnya di luar dan di belakang ruangan itu terdapat tujuh-delapan sosok bayangan.

Seluruh kamar-kamar dalam hotel yang cukup besar itu, penerangannya sudah padam semua. Dalam kesunyian tengah malam yang gelap gulita itu, hanya terdengar suara pakaian bergontaian dihembus angin malam.

Dengan bersimpul tangan, Siau Ih berdiri di depan pintu. Tampaknya tenang tapi sebenarnya dia kuatir juga. Pertama, Tan Wan masih belum dapat bergerak leluasa, kedua, kalau bertempur di dalam hotel itu tentu pembesar negeri akan turut campur tangan. Ah, lebih baik dia pancing musuh ke tempat lain dan menghancurkan mereka disana. Belum lagi dia bertindak, tiba-tiba terdengar suara gelak tertawa: „Orang she Siau, kau benar-benar berhati jantan!"

Sesosok tubuh melayang turun ditengah halaman serambi itu. Seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar, mata berkeliaran, hidung kakaktua, tangannya mencekal sepasang senjata macam cakar ayam. Dengan jumawa, dia memandang Siau Ih.

„Kau ialah Hun-san-tiau Tham Liong, bukan?" tegur Siau Ih.

Orang itu tertawa sinis: „Sudah kenal kemasyhuran namaku, mengapa tak lekas-lekas serahkan jiwamu!"

Nada suaranya amat parau, macam tambur pecah. Siau Ih muak melihatnya. Diam-diam dia ambil putusan untuk melenyapkan manusia itu.

„Tham Liong, tuanmu ini meyakinkan ilmu melihat tampang muka. Menilik air mukamu bersemu gelap, tandanya kau sudah dekat ajal. Orang dahulu mengatakan 'barang siapa pernah berjumpa itu tandanya berjodoh'. Nah, akupun hendak memberi amal kebaikan, ialah hendak memilihkan tempat yang bagus untuk tempat tinggalmu selama-lamanya. Sewaktu hidup dapat mengetahui bakal tempat peristirahatan abadinya itu, adalah suatu keberuntungan. Maukah kau turut padaku menjenguk tempatmu itu?"

Siau Ih menutup olok-oloknya dengan tertawa nyaring dan sekali sang tubuh bergerak, dia sudah loncat berjumpalitan ke atas atap rumah.

Seorang anak buah Tham Liong yang menjaga di atas, sudah lantas menyerangkan golok kui-thau-to dalam jurus poan-hoa-kay-ting atau bunga melingkar menutup wuwungan.

Siau Ih tertawa dingin. Tanpa menghindar, kakinya menginjak ke atas genteng dan dengan gaya hong-pay-jan-ho (angin menggoyang bunga teratai), dia melompat sampai setengah meter. Golok kui-thau-to lewat di sisi bahu menghantam angin.

Karena terlalu banyak menggunakan tenaga, tubuh orang itu menjorok ke muka. Sudah begitu, masih Siau Ih membarengi dengan sebuah hantaman. Tubuh terlempar dan mulut menjerit seram, orang itu jatuh ke bawah halaman. Kepala pecah terbentur lantai dan jiwanya melayang.

Seorang kawannya yang melihat kejadian itu dengan kalap segera maju menusuk dengan sepasang senjata tiam-hiat- kwat (supit penutuk jalan darah) yang terbuat dari baja murni.

Tapi bukan mundur, sebaliknya Siau Ih malah menyongsong maju. Tubuh bergoyang untuk menghindar tusukan tiam-hiat-kwat dari sebelah kiri, sementara cepat luar biasa, tangan kirinya sudah mencengkeram lengan kanan lawan. Sekali ditarik, tangannya kanan membarengi dengan sebuah tamparan, “plak” ......batok kepala orang itu hancur mumur, otaknya berhamburan.

„Tham Liong, inilah contohmu!" seru Siau Ih sembari lemparkan mayat orang itu ke arah Tham Liong.

Betapa kaget dan gusarnya kepala cabang Thiat-sian-pang itu, dapat dibayangkan. Tapi dia terpaksa sibuk menghindar dulu dari timpukan „senjata" istimewa lawan itu. Ketika memandang ke atas, ternyata anak muda lawannya itu sudah loncat turun terus melompati pagar tembok.

„Mana Ong Sim-tek?" serunya seperti orang kebakaran jenggot.

„Disinilah!" seru seorang dari sebelah kiri wuwungan rumah.

„Budak dalam kamar itu, kaulah yang mengurus. Selesai itu, segera kembali ke dalam markas hun-tong. Yang lainnya, semua ikut aku mengejar!" Dengan membawa empat orang anak buah, Tham Liong segera melakukan pengejaran. Orang yang disuruh

„mengerjai" Tan Wan itu, bernama Ong Sim-tek gelar Te-ci atau tikus tanah.

Sebelumnya menggabung dalam Thiat-sian-pang, dia itu adalah seorang pencuri yang mengadakan operasinya pada malam hari. Benar ilmu silatnya tak berapa tinggi, tapi dia amat kaya akan akal-akal busuk. Berbagai kejahatan yang dilakukan Thiat-sian-pang selama ini, sebagian besar adalah tercipta dari buah pikirannya. Sebagai manusia dia senang menjilat pantat, karena itu amat dikasihi oleh Tham Liong.

Ikut dalam penyergapan itu, bermula dia hendak unjuk kegarangan, tapi demi menyaksikan betapa lihay dan ganasnya anak muda itu, siang-siang dia sudah copot nyalinya. Sebagai ahli pikir, segera dia dapat menentukan bahwa sekalipun pihaknya berjumlah banyak, tapi tak nanti dapat mengalahkan lawan. Diam-diam dia sudah merencanakan siasat untuk mundur saja. Bahwa tiba-tiba Tham Liong memberi perintah begitu kepadanya, telah membuatnya kegirangan.

„Sama-sama bakal berbuat jasa, tapi bagianku ini tidak mengandung bahaya. Terhadap seorang bocah yang sudah setengah mati dirangket cambuk, masakah tak dapat membekuknya," demikian pikirannya.

Dengan menghunus senjata, dia menghampiri ke dalam kamar. Senjatanya itu istimewa juga, yakni chit-sing-kian-cu atau cempuling bintang tujuh. Pintu kamar didorong, namun sebagai seorang yang licin, dia tak mau lekas-lekas masuk, melainkan menunggu dulu sampai sekian jenak. Setelah tak terdengar sesuatu yang mencurigakan, barulah dia julurkan tubuh melongok ke dalam.

Ai, kamar itu gulita. Samar-samar tampak ada sesosok tubuh berbaring di atas ranjang. Dia tentulah si anak muda yang ditolong Siau Ih siang tadi. Nyata dia terluka parah, jadi mudahlah diberesi. Demikian melamun si Tikus tanah Ong Sim-tek dengan girangnya. Tanpa banyak berpikir lagi, segera dia menerobos masuk dan terus angkat cempulingnya ..........

„Bangsat serahkan nyawamu!" tiba-tiba terdengar sebuah seruan dan “wut”, sembilan bintik benda berkilat melayang menyambar ke mukanya.

Serambutpun si Tikus tanah tak mengira bahwa dia bakal diselomoti mentah-mentah oleh si anak muda. Ini namanya

„sepandai-pandai tupai melornpat, sekali jatuh juga". Otak gerombolan Thiat-sian-pang yang telah merencanakan berpuluh-puluh perbuatan jahat, akhirnya harus menerima. ganjarannya.

Jarak keduanya begitu dekat seka!i, sedang serangan itu datangnya secara mendadak.

„Ce ........” hanya begitu saja mulut si Tikus tanah sempat berseru, karena pada lain saat seluruh mukanya serasa nyeri kesemutan, menusuk sampai ke hulu hati. Sembilan mata jarum beracun telah menyusup ke dalam mata, pipi dan janggut. Senjata terlepas, tubuh terkulai di lantai dan tujuh lubang pada mukanya mengalirkan darah. Demikian tamat riwajat seorang yang berlumuran dosa.

Sekarang mari kita ikuti keadaan Siau Ih yang memancing Tham Liong berempat ke sebuah tempat sepi di luar kota. Bermula, sekeluarnya dari hotel itu, dia berpaling ke belakang. Tham Liong dan kawan-kawan tak tampak mengejar.

„Celaka, musuh lebih pintar dan Tan Wan tentu terancam ni," demikian dia mengeluh.

Tapi baru dia hendak berputar tubuh untuk kembali, tiba- tiba dari tembok hotel itu terlihat ada beberapa sosok bayangan  loncat  keluar.  Diam-diam  dia  memperhitungkan:

„Yang dua tadi sudah dibunuh, kini muncul lima orang, jadi yang tertinggal dihotel hanya seorang saja. Rasanya Tan  Wan tentu dapat layani dan dengan demikian dapatlah dia tinggalkan kota ini.”

„Tham Liong, tempat kuburan berada disebelah muka itu," segera ia berteriak ke arah pengejarnya, lalu tanpa menunggu penyahutan lagi, dia loncat ke atas rumah penduduk disitu dan lari keluar kota.

Hun-san-tiau Tham Liong biasanya bersikap jumawa dan garang, belum pernah dia mendapat hinaan hebat seperti itu. Jadi belum bertempur, rasanya sudah setengah mati sakitnya.

„Kejar!” serunya sambil memberi isyarat dengan sepasang arit kepada anak buahnya.

Demikian terjadi kejar mengejar antara enam orang. Orang yang dikejar itu pesat sekali larinya. Untuk menggambarkan kecepatannya itu, dapatlah diumpamakan seperti sebuah bintang jatuh.

Kepandaian dari Hun-san-tiau Tham Liong sebenarnya sudah tergolong jago kelas satu dari dunia persilatan. Itulah sebabnya dia menjabat sebagai pemimpin Thiat-sian-pang cabang Tong-thing. Sebagai pemimpin gerombolan, dia amat congkak, tiada memandang sama sekali kepada lain orang. Tapi apa yang dia alami pada malam itu, benar-benar membuatnya kelabakan.

Dalam adu lari itu, dia sudah keluarkan seluruh kepandaiannya, namun tetap tak dapat mencandak si anak muda. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, ialah sikap si anak muda yang seolah-olah sengaja mempermainkannya itu. Kalau dia lari keras, anak muda itupun cepatkan larinya. Tapi begitu dia agak kendorkan langkah, anak muda itupun perlambat larinya. Jarak keduanya tetap terpisah tiga tombak jauhnya.

„Ilmu mengentengi tubuh anak itu benar lihay sekali," akhirnya mau tak mau dia memuji sang lawan. Memang tak kecewa si Tham Liong itu menjadi benggolan pemimpin, karena walaupun hatinya panas, namun kepalanya tetap dingin.

Sekilas tersadar dia bahwa anak muda itu akan menggunakan siasat 'pancing harimau tinggalkan sarang’. Tapi pada lain saat, dia tetap hatinya lagi. Te-ci Ong Sim-tek masih disana, masakah bocah itu dapat lolos. Demikian perhitungannya, suatu perhitungan yang ternyata jauh sekali kenyataannya. Mimpipun tidak dia, bahwa pada saat itu si Tikus tanah sudah menjadi badan halus.

Setelah melompati tembok kota, Tham Liong kehilangan jejak pemuda yang dikejarnya. Dia celingukan dan hai, kiranya pemuda itu tengah tegak berdiri di muka sebuah hutan yang terpisah kira-kira duapuluhan tombak disebelah depan sana. Bergegas-gegas dia ajak sekalian anak buahnya menuju kesana.

„Bocah she Siau, sekarang coba kau mau lari kemana lagi?" serunya demi berhadapan dengan anak muda itu. Dan segera dia memberi isyarat kepada keempat anak buahnya untuk mengepung pemuda itu dari empat penjuru.

Tenang-tenang saja Siau Ih berputar tubuh, lalu mengolok:

„Tham Liong, mengapa kau terlambat? Tuanmu ini sudah menunggu lama sekali. Tu lihatlah ”

Menunjuk kesekeliling tempat itu, dengan tenang Siau Ih berkata pula: „Dimuka menghadapi sungai, disebelah  belakang berlatar hutan, sungguh suatu tempat peristirahatan yang bagus sekali. Telah kupilihkan tempat untukmu, seharusnya kau mengucap syukur!”

Hati Tham Liong seperti ditusuki jarum rasanya. Masa seorang pemimpin cabang sebuah partai yang sangat ditakuti, dikocok semau-maunya oleh seorang anak muda. Untuk melampiaskan kemarahannya, dia tertawa keras.

„Ai, Tham Liong, menilik kau begitu kegirangan, rasanya jerih payahku itu tak sia-sia juga ” „Bocah edan, jangan mengicau tak keruan!” tukas Tham Liong mengerat kata-kata Siau Ih, „kalau ada pesanan apa- apa, lekas katakan sekarang. Kalau terlambat, kau tentu menyesal!”

Wajah Siau Ih tiba-tiba berobah membesi dan dengan nada dalam, berserulah dia: „Mendapat tempat sebagus ini, masakah kau belum puas. Dibanding dengan Teng Hiong, kau sudah jauh lebih beruntung!"

Mendengar itu, Tham Liong tersurut selangkah.

„Apa? Jadi Teng-tongcu itu binasa di tanganmu?"

„Mengapa tidak! Pembesar korup, bangsa penjahat, setiap orang berhak memberantasnya!" Siau Ih tertawa dingin.

Saking marahnya, rambut Tham Liong sampai menjingrak semua. Dengan suara mengguntur, berteriaklah dia: „Dicari tiada dapat, jebul ketemu datang sendiri. Bocah, apa kau masih mengangkangi jiwamu?"

Ke-jiao-lian atau arit cakar ajam ditangan kiri, bergerak dalam jurus swat-koa-gin-kau (menyanggul miring kait perak) menyerang pundak lawan, berbareng ke-jiao-lian di tangan kanannya, membabat perut dalam gerak to-thih-kim-teng atau menjinjing terbalik lampu emas.

Melihat serangan itu. masih Siau Ih tertawa dengan tenangnya: „Ai, karena kau minta buru-buru mati, tuanmu pun terpaksa akan mempersingkat waktu.”

Kedua bahu bergerak dan orangnya pun sudah melesat beberapa meter. Baru Tham Liong hendak mengejar, dari arah belakang terdengar sebuah seruan: „Bunuh ayam tak perlu pakai golok kerbau. Tongcu, silahkan mundur, biar kami berempat maju memberesi bocah edan itu!"

Yang berkata itu ternyata ialah keempat anak buahnya yang sudah tegak berdiri di empat jurusan sembari siap dengan senjatanya. „Bocah itu adalah yang dimaui oleh Kiau hu-hwat. Dapat meringkusnya mati atau hidup, tetap akan mendapat hadiah besar. Saudara-saudara, hati-hatilah!" kata Tham Liong seraya mundur.

Siau Ih tegak dengan tenangnya. Sepasang alisnya yang tebal, tampak menjungkat sedikit dan sambil tertawa sinis, dia berseru: „Tempat ini cukup luas. Jangan kata hanya empat orang, sekalipun empatpuluh mayatpun tetap bisa masuk!”

Saat itu, orang yang mengepung disebelah kiri dengan bersenjata pedang song-bun-kiam dan kawannya yang mengepung dari sebelah kanan dengan kapak baja, sudah lantas maju menyerang. Satu menabas kepala, satu membabat perut. Tapi hanya dengan gerakan menyurut yang diiring tertawa dingin, dapatlah sudah Siau Ih menghindarinya. “Wut”, kedua senjata itu saling bersimpangan.

Habis mundur, Siau Ih cepat miringkan tubuh sembari dorongkan sepasang tangannya kekanan kiri. Belum kedua pengepung dari sebelah muka dan belakang sempat bergerak, tahu-tahu sudah tersambar angin pukulan yang keras hingga terdorong mundur sampai setengah meter. Gebrak pertama, keempat orang itu sudah terdesak.

Sekalipun begitu, mereka bukan kerucuk yang lemah. Dengan senjata terhunus, kembali mereka maju menyerang. Karena bergabung jadi satu, jadi serangan keempat orang itupun berganda hebatnya. Pedang song-bun-kiam, golok gan- leng-to, kapak baja dan rujung kiu-ciat-kong-pian, berseliweran laksana badai meniup salju.

Setiap serangan, tentu mengarah jalan yang mematikan. Baik maju menyerang maupun mundur menghindar, mereka berempat itu teratur dalam gaya yang rapi indah. Begitulah dalam beberapa detik saja, pertempuran sudah berjalan tigapuluhan jurus. Keempat orang itu makin lama, makin garang. „Kalau tak mengeluarkan pukulan sakti, entah sampai berapa lama pertempuran ini akan selesai,” demikian Siau Ih berpikir, secepat itu pula dia segera merobah gerakannya, dari bertahan menjadi menyerang. Ilmu permainan tun-yang-cap- peh-ciat dikeluarkannya.

Tun-yang-cap-peh-ciat itu adalah ilmu pedang ciptaan dari si Dewa Tertawa Bok Tong. Bertahun-tahun tokoh itu memutar otak menciptakan ilmu pedang itu yang digabung dengan gerakan kaki ceng-hoan-kiong-leng-liong-poh. Jadi sampai dimana kelihayannya, tak perlu diberi komentar lagi.

Yang tampak kini hanyalah sesosok bayangan warna hijau. Dalam radius dua tombak persegi, terbitlah angin badai yang menderu-deru, sehingga batu-batu dan pasir sama berhamburan kemana-mana. Hanya sekejap peralihan itu berganti, dan kini Siau Ih lah yang memegang inisiatip menyerang. Keempat anak buah Tham Liong itu, bukan melainkan tak dapat menyerang lagi, pun malah terkendali. Gerakan ilmu silat yang aneh dan lihay luar biasa dari anak muda itu, telah membuat pandangan keempat orang itu menjadi kabur. Berkali-kali mereka saling tubruk dan gasak sendiri.

Lewat limapuluh jurus lagi, keempat orang itu sudah tak berdaya lagi. Mereka seolah-olah terlibat dalam lingkaran angin pukulan Siau Ih. Bukan melain keempat orang itu saja yang kini serasa terbang semangatnya, pun Hun-san-tiau Tham Liong yang berdiri di sebelah sana, menjadi terkejut setengah mati. Dia insyaf, beberapa saat lagi tentulah keempat orangnya itu akan celaka. Buru-buru dia hendak meneriaki mereka, tapi pada saat itu keadaan dalam gelanggang sudah terjadi perobahan.

Tanpa menghiraukan tekanan angin keras, keempat orang itu serentak maju menyerang dengan berbareng. Melihat kekalapan mereka itu, Siau Ih terpaksa tertawa sinis „Kalau memang hendak serahkan jiwa, itulah mudah!" Dalam berseru itu, orangnyapun sudah melambung ke udara. Kira-kira berada empat tombak di atas, diam-diam Siau Ih sudah kerahkan lwekang kian-goan-sin-kong ke arah tangannya. Ditengah udara, dia segera berjumpalitan, kepala di bawah kaki di atas. Kemudian dengan jurus song-liong-po- cu atau sepasang naga melibat tiang, dia gerakan kedua tangannya. Bagaikan terhampar angin puyuh, keempat orang itu segera terjorok ke muka. “Trang, tring”, senjata mereka saling beradu satu sama lain.

Siau Ih sudah mempunyai rencana. Begitu keempat orang itu saling menumpuk jadi satu, dia lantas gunakan pukulan bu- ciang-kan-lim menghantam ke bawah.

Melihat ancaman itu, Tham Liong tak mau tinggal diam lagi. Sekali enjot, dia loncat ke atas menghantam dengan sepasang aritnya.

Karena tengah meluncur turun, jadi Siau Ih tak dapat menghindar. Namun itu bukan halangan baginya. Dengan bergeliatan macam badan ular, dia dapat mengegos serangan arit itu dengan indahnya. Dan sewaktu kakinya menginjak bumi di depan hutan itu, disana terdengarlah empat buah jeritan yang menyeramkan.

Pukulan bu-ciang-kan-lim yang dilancarkan dengan lwekang kian-goan-sin-kong tadi, telah meremukkan batok kepala keempat orang itu. Tulang kepala remuk, benak berhamburan, darah muncrat dan tubuhnya terkapar malang melintang

Tham Liong tercengang mendelu. Serangannya luput, keempat anak buahnya binasa, sedang disebelah sana si anak muda tegak berdiri, menyeringai ejek.

„Tham Liong, dengan jurus bu-ciang-kan-lim, telah kuantarkan anak buahmu pulang keakhirat. Mereka tentu sudah tertawa girang disana!”

Sebenarnya jeri juga Tham Liong akan kelihayan anak muda itu. Namun teringat bahwa dalam beberapa jam saja, pemuda itu telah membinasakan enam orang anak buahnya, kemarahannya tak dapat dikendalikan lagi. Dengan suara parau macam tambur pecah, dia berseru: „Malam ini kalau aku tak dapat membeset kulitmu, biarlah aku pakai rok dan berbedak pupur saja ”

„Kau kan sudah berpakaian ringkas, perlu apa pakai rok lagi. Tentang bedak pupur, kalau kau memang gemar, nanti akan kukirim satu doos,” tukas Siau Ih dengan tertawa gelak- gelak.

Luapan amarah telah membuat Tham Liong menggerung seperti macan. Maju ke muka dia menabas pundak lawan dengan gerak song-liong-jut-cui atau sepasang naga muncul di air.

Tampak orang menyerang dengan kalap. Siau Ih kisarkan tubuh menghindar. Dan sekali geliatkan bahu, maka pedang Thian-coat-kiam yang menyelip dibahunya itu sudah terhunus di tangannya. Justeru kala itu Tham Liong sudah menyerang lagi. Lebih dahulu, dia menghindar ke samping,  kemudian baru balas menusuk dada orang dengan gerak kim-ciam-than- hay atau jarum emas menyusup ke laut.

Melihat gemerlap pedang si anak muda yang memancarkan sinar kehijau-hijauan menyilaukan, Tham Liong sudah  terkejut. Dan demi menampak serangan lawan yang walaupun lambat tapi ternyata cepat penuh dengan perobahan, dia tak berani menangkis, melainkan buru-buru menyurut mundur. Tapi belum lagi sang kaki berdiri jejak, dengan tertawa dingin lawan sudah melambung ke udara dan menusukkan ujung pedangnya dalam jurus liong-sing-it-si.

Mimpipun tidak dia bahwa anak yang begitu mudanya, memiliki gerakan yang sedemikian tangkasnya. Seketika pecahlah nyalinya dan belum lagi dia sempat memikir daya untuk memecahkan serangan lawan, tahu-tahu ujung pedang sudah tiba di dadanya, untuk menghindar terang sudah terlambat. Sudah jamaklah kiranya, bahwa manusia itu tentu sayang sekali akan jiwanya. Lebih-lebih kalau berada dalam bahaya yang menentukan hidup matinya.

Demikianpun Tham Liong. Dalam saat-saat yang genting itu, timbullah pikirannya. Kaki memaku tanah, tubuh condong ke belakang. Secepat dia menggunakan gerak gan-loh-ping- sat atau burung belibis jatuh di pasir itu, secepat itu pula dia teruskan dengan gerak le-hi-to-joan-boh atau ikan lehi membalik badan menyusup ke dalam ombak.

Dalam posisi miring, dia teruskan buang tubuhnya ke samping sampai tiga tombak. Sekalipun begitu, tak urung baju bagian dadanya tergurat lubang beberapa dim.

Keringat dingin membasahi tubuhnya. Mendongak ke muka, didapatinya anak muda lawannya itu tegak berdiri melintangkan pedang di dada. Mulutnya mengulum senyum getir. Benci sekalipun Tham Liong kepada anak muda itu, namun karena insyaf bukan tandingannya, dia pikir kalau tak lekas-lekas angkat kaki tentu akan menjadi seperti keempat anak buahnya tadi.

Selama gunung masih menghijau, masakah takut tak mendapat kayu bakar. Demikian peribahasa mengatakan yang berarti, selama hayat masih dikandung badan, tentulah masih dapat melakukan pembalasan lagi.

„Malam ini aku ada urusan penting, lain hari akan kuselesaikan hutangmu itu!" seru Tham Liong dan secepat kilat berputar tubuh, dia lantas loncat kabur.

Benar Siau Ih cerdas, tapi karena kurang pengalaman jadi dia tak menyangka sama sekali bahwa lawan akan lari begitu tiba-tiba. Selagi dia masih terkesiap, Tham Liong sudah dua tombak lebih jauhnya.

„Hai, hendak lari kemana kau, bangsat?“ serunya. Tapi baru dia hendak mengejar, dilihatnya hari sudah mulai fajar. Dia teringat akan Tan Wan yang berada di dalam hotel seorang diri serta kedua penjahat yang telah dibunuhnya itu. Terpaksa dia hentikan langkah.

„Bangsat, kalau tuanmu ini tiada punya urusan penting, tak nanti kau dapat lolos semudah itu,” serunya sembari memetik serangkum dahan pohon, lalu diayunkan.

„Dahan-dahan ini kuhadiahkan untuk bekal perjalananmu!”
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end"

(Regards, Admin)

0 Response to "Si Rase Kumala Bab 15 : Buronan Kiau Hu-Hwat ......"

Post a Comment

close