Si Rase Kumala Bab 06 : Oh, Ayah ......

Mode Malam
6. Oh, Ayah ......

Pada zaman ahala Han, adalah seorang bernama Mo Ing dan kedua adiknya Mo Ko dan Mo Ay, bertapa di gunung Mosan dan berhasil mencapai kesempurnaan menjadi sian (dewa). Demikian cerita orang-orang tua dari zaman ke zaman. Untuk mengabadikan peristiwa itu, maka sampai sekarang gunung itu dinamakan Mosan. Goa tempat bertapa ketiga saudara itu, sampai kinipun masih ada, disebut goa keramat Hoa-yang-tong.

Gunung Mosan terletak di sebelah tenggara kabupaten Ki- yong-hian propinsi Kiangsu. Alam pemandangan disitu amat indah dan tenang. Disana sini terdapat biara-biara suci. Diantaranya yang terbesar ialah biara Siang Ceng Kiong. Biara yang dibangun dengan membelakangi gunung itu, amat besar dan megah sekali.

Kalau itu adalah permulaan musim rontok. Baru saja sang surya mengintip di ufuk timur, sinamya keemasan segera menembus kabut yang membungkus alam pegunungan itu. Laksana sang dewi baru terjaga dari peraduannya (tidur), alam pemandangan gunung Mosan makin tampak indah dengan permainya.

Adalah baru saja biara Siang Ceng Kiong selesai dengan pelajaran pagi, tiba-tiba di muka biara muncul seorang pemuda cakap berusia diantara 16-17 tahun. Walaupun pakaiannya warna biru itu terbuat dari kain kasar, namun kesederhanaan itu tak mengurangkan perbawa pemuda itu. Dia menjinjing sebuah bungkusan kecil dan berjalan mondar mandir di muka biara itu. Sejenak tertegun merenung, sejenak memandang ke biara dengan sangsi-sangsi dan sejenak mondar mandir seperti orang mencari pikiran. Beberapa saat kemudian. akhirnya dia seperti sudah mengambil ketetapan lalu melangkah masuk ke dalam pintu.

Baru saja kakinya melangkah di pintu, seorang tojin pertengahan umur sudah muncul menyongsongnya.

„Bu-liang-siu-hud, sicu dari mana?” tegurnya memberi salam keagamaan.

Pemuda itu cepat memberi hormat seraya menyahut:

„Cayhe sedang pesiar ke gunung sini, karena mendengar kemasyhuran kui-kwan (biara saudara), ingin sekali berkunjung menunaikan hormat, entah apakah diperbolehkan?"

„Ah, silahkan sicu masuk!" jawab si tojin.

Setelah menghaturkan terima kasih, pemuda itu masuk ke dalam biara. Membiluk sebuah ruangan luas, tibalah dia di muka sebuah sin-tian (ruangan pemujaan dewa). Mendongak ke atas, pemuda itu melihat ada sebuah papan besar bertuliskan tiga buah huruf “Lu-cou-tian”. Tahu dia, bahwa ruangan itu adalah tempat pemujaan dewa Lu Tun-yang atau Lu Tong-pin.

Dan memang waktu melangkah masuk, disitu terdapat sebuah arca besar dari dewa Lu Tong-pin yang memegang hud-tim (kebut pertapaan) dan memanggul sebatang pedang pusaka. Arca itu tampaknya seperti hidup. Api pedupaan bergulung-gulung menyiarkan asap wangi.

Tengah pemuda itu menikmati pemandangan di ruangan itu, tiba-tiba dari arah belakang terdengar sebuah suara berkumandang nyaring: „Bu-liang-siu-hud! Sicu tentu menunggu lama, maafkan!"

Berpaling ke belakang, pemuda itu menampak di luar pintu ruangan ada seorang tojin berjubah kuning, tengah memberi hormat kepadanya.

„Totiang keliwat sungkan, adalah sebaliknya cayhe yang hendak merepotkan Totiang untuk melihat-lihat kui-kwan,” tersipu-sipu pemuda itu balas memberi hormat.

Tojin itu menyatakan kesediaannya, karena hal itu sudah menjadi tugas kewajibannya. Kemudian atas pertanyaan si pemuda, tojin itu menerangkan bahwa nama gelarannya ialah Hian Long. Setelah saling mengucap beberapa patah kata merendah, si pemuda lalu ikut Hian Long tojin keluar dari Lu- cou-tian untuk melihat-lihat ke dalam biara.

Ternyata bangunan biara itu amat luas sekali, ruangan- ruangannya pun besar-besar. Walaupun memuat ratusan paderi, tapi keadaan biara itu tampak sunyi tenteram.

Disiplin para tojin disitu pun baik sekali. Setiap kali si pemuda masuk ke dalam ruangan pemujaan, tojin penjaga disitu tentu menyambutnya dengan hormat. Diam-diam pemuda itu menduga, tentulah Hian Long itu menempati kedudukan tinggi dalam biara itu sehingga mendapat penghormatan sedemikian rupa oleh para tojin. Juga dalam perkenalan sesingkat itu, tahulah pemuda itu bahwa bukan melainkan dalam ilmu keagamaan Hian Long itu amat dalam, pun ilmu silatnya juga tinggi.

Setelah mengunjungi habis seluruh ruangan-ruangan pemujaan, rupanya anak muda itu masih belum puas. Sembari tertawa dia menanyakan: „Maaf, Totiang. Apakah masih ada lainnya yang sekiranya Totiang berkenan membawa cayhe melihat-lihat?"

Dalam perkenalan singkat itu, Hian Long dapatkan bahwa tetamunya muda itu selain cakap dan gagah, pun tingkah lakunya amat sopan rendah. Sungguh seorang pemuda yang tak tercela. Hanya sayang sedikit pada kedua alisnya itu menampilkan sifat-sifat hawa membunuh. Dan sebagai seorang paderi yang berilmu, menilik dari pancaran matanya yang berkilat-kilat, dia yakin pemuda itu tentu ahli dalam ilmu lwekang. Bebarapa kali dia coba mengorek keterangan,  namun setiap kali pemuda itu selalu menyimpangkan pertanyaan atau hanya ganda tertawa saja.

Walaupun menginsyafi bahwa tetamunya itu bukan tetamu biasa, tojin itu tetap tak mengetahui apa maksud kedatangannya. Apalagi pemuda itu selalu membawa sikap yang hormat, ini lebih membingungkan. Kini mendengar pertanyaan si anak muda tadi dia merenungkan sejenak.

Kemudian setelah mengawasi wajah sang tetamu itu dirangsang dengan rasa ingin tahu, dia menyahut: „Rupanya sicu amat gemar menikmati segala sesuatu, untuk itu sebenarnya pinto tak layak membikin kecewa. Tapi memang tempat-tempat yang pantas dilihat dalam biara ini sudah pinto unjukkan tadi. Yang masih belum dilihat hanyalah sebuah taman tak terurus di belakang biara. Disitu tumbuh berpuluh- puluh batang pohon bambu merah. Kalau sicu ingin melihat, pintopun suka mengunjukinya".

Girang sekali pemuda itu mendengarnya.

„Ada sebuah taman yang begitu bagus, mengapa tak Totiang katakan tadi-tadi. Bambu merah, adalah bambu istimewa keluaran Thian Tiok (India). Lama benar kepingin melihatnya, maka sudilah Totiang membawa cayhe kesana."

Namun Hian Long masih bersangsi dan mengatakan bahwa taman itu sudah lama tak terawat. Pemuda itu tetap memintanya, maka terpaksa Hiang Long menuruti.

Sepeminum teh lamanya berjalan melalui ruangan demi ruangan, akhirnya tibalah mereka di belakang biara. Disitu terdapat sebuah jalan panjang yang menuju ke sebuah pintu besar terbuat dari kayu. Pintu itu tertutup rapat dengan sebuah gembok besar yang sudah karatan. Menandakan bahwa sudah beberapa tahun, pintu itu tak pernah dibuka.

Tiba di muka pintu, Hian Long tertegun, tapi pada lain saat dia tertawa sendiri, ujarnya: „Karena bergegas-gegas membawa sicu ke mari, pinto sampai lupa kalau pintu itu dikunci. Kalau balik mengambil anak kunci, tentu akan makan tempo, maka terpaksa pinto hendak merusakkan gemboknya saja.”

Si pemuda menghaturkan terima kasih atas kesediaan si tojin. Sesaat Hian Long lalu gunakan ibu jari dan jari telunjuk kanan, memijat pelahan-lahan pada gembok besar itu. Ajaib, gembok yang tak kurang dari berpuluh kati beratnya itu, seketika menjadi putus.

„Sakti nian Totiang,” seru si pemuda memuji.

Sebaliknya Hian Long diam-diam menjadi terkesiap. Nyata melihat demonstrasi tenaga hebat begitu, si pemuda hanya memuji dengan nada yang wajar, sedikitpun tak menyatakan kekagetannya. Kalau begitu, nyata kepandaian pemuda itu sukar diukur.

Malah pada saat itu si pemuda menyusuli kata-kata:

„Meskipun cayhe seorang bunsu (sekolahan), tapi banyak bergaul dengan kaum hiapsu (orang gagah). Baik tokoh-tokoh ternama maupun tokoh-tokoh pemimpin partai persilatan, cayhe banyak yang kenal. Kui-kwancu Goan Goan Totiang adalah seorang ketua cabang persilatan yang termasyhur, entah apakah cayhe diperkenankan menghadap untuk menyampaikan hormat?"

Bahwa pemuda yang sikapnya menjadi teka teki itu kini menanyakan ketua Siang Ceng Kiong, makin membuat keheranan Hian Long menjadi-jadi. Dia menduga, tentu ada sebabnya. Namun hati berpikir begitu, wajahnya tetap tenang lalu dengan masih ramah tertawa dia menyahut: „Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, Goan Goan Totiang belum kembali dari perkelanaannya. Kemana beliau menuju, tiada seorangpun yang mengetahui. Oleh karenanya terpaksa sejak enam tahun yang lampau, pejabat kuancu dipegang oleh Hian Cin Totiang.”

Mendengar itu, si pemuda tampak kecewa. Dengan nada sesal, dia minta agar kelak apabila Goan Goan Totiang sudah pulang, sudilah Hian Long tojin menyampaikan hormatnya kepada pemimpin biara itu. Untuk itu Hian Long menyanggupinya.

Pada lain saat, sekali Hian Long mendorong pelahan-lahan, kedua daun pintu yang berat itu terpentang lebar. Mengikuti di belakang si tojin, pemuda itu melangkah masuk lalu memandang keadaan taman itu.

Benar seperti yang dikatakan Hian Long, taman biara itu tampaknya terbengkelai tak terurus. Tanahnya sih luas sekali, tapi penuh ditumbuhi rumput alang-alang dan rotan. Sebuah bungalow kecil yang berada di kebun itu, sudah hampir rubuh karena reyotnya. Satu-satunya pemandangan yang menyedapkan mata, hanyalah bunga-bunga seruni hutan yang merajalela semau-maunya memain dalam tiupuan sang angin. Tepat ditengah-tengah taman itu, berbaris berpuluh-puluh batang bambu besar yang berwarna merah. Itulah yang disebut cu-tiok atau bambu merah dari Thian Tiok.

Memeriksa ke dekat tanaman bambu itu, si pemuda dapatkan batang bambu itu amat besar lagi kokoh, wamanya merah seperti api. Ketika dijentik dengan jari, bambu istimewa itu mengeluarkan suara kumandang nyaring macam genderang berbunyi.

„Alam semesta ini penuh dengan keanehan, memang benar kiranya .....” demikian baru saja mulut pemuda itu mengeluarkan pujian, matanya segera tertumbuk akan suatu benda yang menggoncangkan hatinya. Di ujung taman  sebelah barat laut sana, tampak ada serumpun rimba kecil dari pohon hong. Di tengah-tengah rimba kecil itu, berkilat- kilat cahaya dari sebuah batu nisan .......

„Belum pernah cayhe melihat rumpunan pohon hong yang tumbuh sedemikian suburnya seperti itu, kini cayhe hendak memuaskan mata kesana!" berpaling ke arah Hian Long, pemuda itu tersenyum berkata.

Hendak Hian Long mencegahnya, tapi seperti tak mau melihatnya lagi, pemuda itu terus saja melangkah kesana. Terpaksa Hian Long cepat-cepat mengikuti dan sebentar saja mereka sudah berada dalam hutan pohon hong itu. Ternyata memang di tengah rimba kecil itu, terdapat sebuah gundukan tanah yang menonjol ke atas dan di mukanya terpasang sebuah batu nisan besar. Pada batu nisan itu terukir 13 huruf yang berbunyi:

„Tempat kuburan tulang Siau Hong anak murid yang berdosa dari Siang Ceng Kiong.”

Aneh. pemuda itu tampak tegak di muka nisan, pemandangannya dengan termangu-mangu. Wajahnya menampil haru kerawanan. Hian Long tojin karena berdiri di belakangnya jadi tak melihat perobahan air muka pemuda itu.

Beberapa jurus kemudian, tiba-tiba pemuda itu berputar tubuh, lalu tertawa kepada Hian Long, ujarnya: „Turut penglihatan cayhe, adanya taman ini sampai dibiarkan tak terawat, adalah karena berhubungan dengan almarhum orang yang berada dalam kuburan ini.”

„Ai, siao-sicu benar-benar cerdas!" Hian Long balas tertawa.

„Cayhe memang gemar mengetahui apa-apa. Apakah kiranya Totiang tak keberatan menceritakan kedosaan dari orang itu?” kata si pemuda.

Menurut tata peraturan persilatan, menanyakan sesuatu rahasia atau urusan intern dari sebuah perguruan atau partai, adalah suatu kesalahan besar. Juga tak nanti ada seorang persilatan yang mau membocorkan rahasia urusan intern perguruannya. Pemuda itu sudah melanggar pantangan, semestinya Hian Long tentu marah.

Tapi di luar dugaan, sedikitpun tojin itu tak mengambil dihati. Apakah dia itu seorang tokoh tolol atau naif? Bukan, Hian Long bukan seorang goblok, melainkan seorang yang cerdik. Sedikit demi sedikit dia sudah mulai jelas akan maksud kunjungan anak muda itu kesitu. Kalau tak berada-ada, masakan burung tempua terbang rendah. Demikian kata sebuah pepatah yang artinya, kalau tiada sesuatu maksud, masakan orang berjeri payah datang menyelidikinya.

“Mengibiri siasat”, artinya menurutkan siasat lawan untuk mencari tahu keadaannya (lawan). Dengan keputusan itu, tanpa tedeng aling-aling lagi, Hian Long memberi keterangan.

„Orang yang beristirahat dalam kuburan itu, turut silsilah masih suheng pinto, ialah satu-satunya murid orang luar (bukan kaum paderi) dari Siang Ceng Kiong. Dalam hal kepandaian, dia sudah memiliki seluruh ilmu kepandaian supeh pinto Goan Goan Totiang. Tapi sungguh lacur, beberapa belas tahun yang lalu karena tergoda oleh seorang wanita, dia mendapat hukuman perguruan. Dan adalah karena peristiwa itu, hampir saja biara ini mengalami kemusnahan. Dalam kedukaannya, Goan Goan Totiang biarkan saja taman ini tak terurus, kemudian beliau sendiri lalu berkelana tak ketahuan rimbanya.

Gelombang reaksi dari peristiwa itu, sampai sekarang masih tetap belum reda. Benar tampaknya tenang, tapi tetap mengandung unsur-unsur yang eksplosif (mudah meledak). Adakah nantinya peristiwa itu akan berbuntut mengakibatkan banjir darah di dunia persilatan, tak seorang pun dapat memastikan. Karena yang nyata, kematian Siau-suheng itu masih tetap menjadi teka teki besar. Adakah layak dia menerima hukuman seberat itu, masih belum dapat diketahui persoalannya yang jelas. Pinto sendiri tak begitu jelas, jadi tak dapat menerangkan sejelasnya pada Siau-sicu.”

Sembari memberi keterangan itu, Hian Long tak berkesip memperhatikan wajah si anak muda. Bahwa mimik wajah pemuda itu tampak bersungguh-sungguh, membuktikan makin benarnya dugaannya (Hian Long) tadi.

Selesai mendengar penuturan, kembali wajah pemuda itu menjadi tenang. Dengan menghela napas berkatalah dia:

„Walaupun Totiang tak dapat menjelaskan, namun dapatlah sudah cayhe mengadakan kesimpulan. Segala urusan di dunia ini, memang tak mudah menentukan hitam putihnya. Hanya saja asal segala itu disertai kebijaksanaan yang adil, artinya tak mudah dipengaruhi rangsangan hati dan membawa rnaunya sendiri, sekurang-kurangnya penilaian akan salah atau benar itu tentu mendekati yang seadil-adilnya. Turut pikiran cayhe yang picik, dalam urusan suheng totiang itu, walaupun ada sebab-sebabnya, namun keputusan Goan Goan Totiang itupun rasanya amat keburu nafsu. Entah bagaimana pendapat Totiang?”

Berobahlah wajah Hian Long tojin saat itu. Sampai sekian jenak dia tak dapat mengeluarkan kata-kata. Mengapa? Ini tak lain karena disebabkan kelancangan pemuda itu. Orang persilatan paling menjunjung tinggi paras suhunya. Bahwa pemuda itu sudah berani memberi keritik terhadap Goan Goan Totiang, itu sama artinya dengan menghina.

Dengan wajah murka, Hian Long segera akan mendampratnya tapi pemuda itu yang rupanya insyaf akan kelancangannya, buru-buru mendahuluinya: „Rasanya sudah terlalu lama membikin repot Totiang, maka dengan ini cayhe hendak minta diri.”

Hiang Long terpaksa menahan diri. Begitulah keduanya kembali masuk lagi ke dalam biara. Setiba di ruang Lu-cou- tian, pemuda itu berhenti lalu mengeluarkan sekeping perak hancur lebih kurang sepuluhan tail, lalu menyerahkannya pada Hian Long, ujarnya: „Karena terburu-buru datang kemari, cayhe tak membekal banyak uang. Uang yang tak berarti ini mohon Totiang suka menerima selaku tanda hormat cayhe kepada para Hud di sini.”

Sejak dari taman tadi, sebenarnya Hian Long sudah kurang senang. Tapi untuk jangan dikata kurang hormat, terpaksa dia sambuti pemberian tetamunya itu juga.

„Bu-liang-siu-hud, mohon Siau-sicu suka memberitahukan nama yang mulia, agar pinto dapat mencatatnya dalam buku sumbangan

„Atas budi kebaikan totiang, sudah selayaknya dihaturkan terima kasih. Dengan ini Siau Ih mohon diri!” sahut si pemuda sembari memberi hormat.

Mendengar dua patah kata “Siau Ih", kejut Hian Long bukan kepalang. Tapi pada saat dia terbeliak kaget itu, si anak muda sudah melangkah keluar pintu biara terus berjalan pergi

......

JJJ

Jauh malam, kentongan terdengar dipukul tiga kali. Cahaya dewi malam nan lemah sejuk seolah-olah tengah membuai- buai (membuat tidur) alam dan hutan di sekeliling biara Siang Ceng Kiong. Sunyi senyap, damai di seluruh dunia.

Sekonyong-konyong di bawah kaki gunung Mosan itu, muncul sesosok bayangan hitam. Bagaikan asap bergulung- gulung, bayangan itu “terbang" mendaki ke atas menuju ke biara Siang Ceng Kiong. Tiba di muka pintu biara, bayangan itu berhenti. Kiranya dia adalah seorang yang mengenakan pakaian ringkas wama biru, mukanya ditutupi kain selubung warna hitam, di belakang bahunya menyanggul sebatang pedang pandak, sementara tangannya menjinjing sebuah bungkusan kecil. Sejenak tertegun di muka pintu biara, dia lalu berputar tubuh terus mengitar tembok menuju ke taman di belakang biara. Tiba di belakang tembok taman, dengan sebuah gerak ciam-liong-seng-thian atau naga silam melambung ke udara, dia loncati tembok yang dua tombak tingginya itu.

Menginjak di dalam lingkungan taman, sejenak dia memandang ke sekeliling penjuru. Setelah mendapatkan tiada barang sesosok bayangan orang, barulah hatinya legah. Pelahan-lahan dia ayunkan langkah menghampiri rimba kecil pohon hong yang berada di ujung barat laut dari taman itu.

Begitu tiba disitu, langsung dia berhenti di muka kuburan yang ada batu nisannya itu. Setelah beberapa saat diam tertegak disitu, bungkusan yang dijinjingnya itu diletakkan di atas tanah. Kemudian dengan khidmatnya, dia membungkukkan tubuh, mengulurkan tangan kanan merabah batu nisan. Sekali mengusap, maka tulisan yang terpahat pada batu nisan itu, hancur musna. Hanya dalam beberapa detik saja, dia dapat membuat rata lagi permukaan batu nisan itu, hanya saja kini makin tipis.

Selesai bekerja, mulutnya kedengaran menghela napas longgar. Pada lain saat, dia segera gunakan dua buah jari telunjuk dan tengah, menggurat kepermukaan batu nisan. Pada batu itu kini tampak melekuk delapan buah huruf berbunyi:

„Peristirahat Siau Hong yang belum jelas penasaran dosanya.”

Habis menggurat, orang berpakaian hitam itu membuka bungkusannya dan mengeluarkan sebuah benda, diletakkan di muka, batu nisan. Disulutnya lilin dan dupa, lalu berlututlah dia dihadapan kuburan itu dengan khidmatnya. Ditengah rimba kecil pada malam nan pekat sunyi itu, sang angin berkesiur meniup api lilin. Sang tenggoret meringkik nyaring, burung-burung kukkubeluk merintih-rintih, menambahkan kerawanan suasana. Tengah orang berkerudung itu bersembahyang, tiba-tiba dari sebelah luar rimba terdengar berkesiurnya pakaian orang. Rupanya orang berkerudung itu mencium bau. Sekali rangkum, api lilin dipadamkan. Baru dia hendak berputar tubuh, terdengarlah sudah sebuah suara nyaring: „Bu-liang- siu-hud! Apa yang pinto duga kiranya benar, karena Siau-sicu berkunjung pula kemari!"

Terpisah setombak jauhnya dari rimba pohon hong itu, berdirilah sesosok tubuh berpakaian warna kuning yang bukan lain ialah Hian Long tojin adanya! Serta merta orang berkerudung itu menghampiri dan berdiri menghadapinya.

Kiranya Hian Long sudah menduga bahwa anak muda yang datang ke biara itu, tentu akan kembali lagi pada malamnya. Rupanya anak itu mempunyai hubungan rapat dengan mendiang Siau Hong. Maka dari itu, Hian Long lalu siapkan empat orang anak murid Siang Ceng Kiong angkatan ke tiga, untuk pada tengah malam meronda ke taman belakang.

Pertama-tama yang dilihatnya, ialah sinar api yang kelap kelip ditengah rimba pohon hong. Makin cenderunglah dia bahwa memang anak itu masih ada hubungan darah dengan suhengnya (Siau Hong). Benar tindakan masuk secara diam- diam ke dalam taman itu, termasuk pelanggaran, tapi Hian Long anggap bersembahyang dikuburan orang tua adalah suatu kebaktian yang utama. Oleh karenanya, diapun tak mau membikin kaget dan hanya berseru dari luar rimba.

Baru saja dia berseru, atau orang berkerudung yang diduga keras tentu si pemuda she Siau siang tadi, sudah menyongsong keluar. Hian Long tak puas dengan tindakan anak muda itu. Tambahan lagi, ketika melirik ke arah kuburan didapatinya tulisan semula pada batu nisan itu sudah berobah bunyinya. Suatu tulisan yang benar-benar membangkitkan amarah Hian Long. Namun diam-diam dia terperanjat juga melihat kelihayan ilmu pemuda itu. „Bahwa Siau-sicu tengah malam buta berkerudung muka datang kemari sudah mengabaikan peraturan. Tambahan pula merusak nisan dan mengganti tulisannya, apakah maksud sicu itu?" tegur Han Long dengan nada berat.

Memang orang yang mengenakan kerudung muka itu, ialah Siau Ih. Adanya dia berbuat begitu, karena terpaksa. Pertama karena hendak mengindahkan pesan ayah angkatnya supaya jangan cari setori dengan kawanan paderi Siang Ceng Kiong. Kedua kalinya, selama dendam penasaran almarhum ayahnya itu masih belum tercuci, hatinya tetap tak rela.

Oleh sebab itulah dia terpaksa menyaru dan memakai kerudung muka tengah malam menyambang kuburan ayahnya. Tak terduga, rencananya itu sudah di tangan Hian Long semua. Kini dia berada dalam posisi serta salah.

Teguran tajam dari Hian Long tadi, sampai tak terjawabnya untuk beberapa saat. Sampai sekian lama merenung cari alasan, tetap otaknya buntu, jadi dia diam membisu saja.

Sudah tentu hal itu diartikan lain oleh Hian Long yang tampak makin meradang. Diiring dengan sebuah tertawa dingin, berkatalah penilik biara itu: „Menilik kepandaian Siau- sicu yang luar biasa itu, tentulah Siau-sicu ini anak murid dari perguruan yang terkenal. Tapi dengan perbuatan Siau-sicu kali ini, amatlah memalukan. Kalau benar Siau-sicu mempunyai hubungan darah dengan mendiang Siau-suheng, asal Siau-sicu bersumpah dihadapan para sin (malaekat) di biara sini untuk mengakui kesalahan, demi melihat muka sesama saudara seperguruan, pinto rela menghabiskan urusan ini sampai disini saja. Harap Siau-sicu suka mempertimbangkannya!"

Siau Ih yang tengah mencari pikiran tadi, menjadi marah. Lebih-lebih kalau mengingat nasib ayah bundanya yang belum tentu hilir mudiknya (kesalahannya) itu.

„Hem,” dia mendengus lalu menyahut: „Pantaskah kau mengucapkan begitu? Kalau tak mengindahkan pesan ayahku dan servis (pelayananmu) siang tadi, tentu sudah kubikin cacad tubuhmu!"

Betapa gusarnya Hian Long dapat dibayangkan. Namun sebagai seorang paderi yang sudah dalam ilmunya, dia tetap berusaha mengendalikan diri, serunya: „Siau-sicu, pernah apa kau dengan Siau-suheng? Kalau memang masih ada hubungan darah, masih pinto suka mengalah kali ini, tapi kalau tidak .....

„Kalau tidak, mau apa kau?" tukas Siau Ih tertawa dingin.

„Pinto terpaksa akan ambil tindakan!"

„Ha, ha ..... Siau Ih tertawa lebar, serunya: „yang baik tentu tak datang. Kata orang macam itu, belum tentu benar!"

Habis berkata, dia mundur beberapa tindak dan secepat itu pula tangannya sudah siap dengan pedang Thian-coat-kiam Pedang dipalangkan di dada, dengan nada jumawa, dia menantang : ''Siau Ih, dengan hormat menanti pengajaran!"

Ingin menang, adalah perasaan yang pada umumnya tentu dimiliki orang. Kaum paderipun tak terkecuali. Provokasi itu, telah membuat Hian Long seperti dibakar.

„Kata orang bahwa pahlawan itu sudah kentara sewaktu kecilnya, memang tak salah. Karena demikian yang sicu kehendaki, terpaksa aku akan melayani dengan kebut hun-ciu ini!" sahut Hian Long dengan keren. Segera dia memberi isyarat kepada keempat tojin kawannya, supaya menyingkir ke samping.

Siau Ih mendengus dan berbareng tangan kiri bergerak, pedang di tangan kanan membabat perut lawan dalam gerak hong-soh-lok-hoa atau angin meniup jatuh daun.

Melihat serangan si anak muda yang luar biasa dan penuh berisi lwekang itu, bukan kepalang kejut Hian Long. Pikirnya: ”Oh, makanya dia begitu congkak. Serangannya ini, tak sembarang orang persilatan dapat menyambuti!” Dia tak berani menyambuti, lalu loncat menghindar beberapa langkah. Bersuit nyaring, Siau Ih mengikuti laksana bayangan. Pedang Thian-coat-kiam membolang-baling dalam tiga rangkaian serangan kilat, kian-gwat-cay-hun (menggunting rembulan memotong bintang), tiang-hong- koan-jit (bianglala menutup matahari) dan to-sia-sing-ho (air sungai mengalir terbalik). Ribuan sinar bertaburan seluas satu tombak, bagaikan sebuah hujan sinar yang mencurah dari langit.

Dalam serangan serupa itu, Hian Long hanya dapat main mundur, sedikitpun dia tak mampu membalas.

Tiba-tiba Siau Ih tarik pulang serangannya. Tertawa memanjang, dia berseru: „Totiang, bukankah tadi kau hendak menindak cayhe? Tapi mengapa kini tak mau membalas? Bukankah itu memberi kemurahan pada cayhe?”

Terperanjat, kagum dan marah adalah perasaan yang mengaduk dibenak Hian Long. Benar-benar dia tak  menyangka bahwa ilmu pedang pemuda itu sedemikian dahsyatnya. Rasa memandang rendah, kini bagai tertiup angin.

„Siau-sicu, kata-kata tajam tak usah dilancarkan. Dalam seratus jurus, kalau pinto kalah, bagaimana nanti keputusan kwan-cu, pintolah yang menanggungnya semua!" akhirnya dia mengeluarkan gengsi.

Siau Ih tertawa, sahutnya: ''Totiang cekat bertindak cekat ucapan. Dalam seratus jurus kalau cayhe tak dapat menang, terserah bagaimana Totiang hendak memberi hukuman!"

Hian Long tak mau adu lidah. Pikiran dipusatkan, lwekang dikerahkan. Sekali kebutan hun-ciu, dia gunakan jurus Sian- jin-chit-loh (dewa menunjuk jalan) menusuk dada Siau Ih. Baru ujung hun-ciu sampai di tengah jalan, tiba-tiba dibalik, ujungnya disabatkan ke arah jalan darah kian-king-hiat si anak muda. "Bagus!" teriak Siau Ih. Bahu digoyangkan untuk menghindari serangan, pedang dibabatkan ke lambung kanan lawan.

Pertempuran saat itu, memasuki babak baru. Tidak seperti tadi, kini keduanya balas membalas menyerang. Sebatang kebut hun-ciu yang digunakan Hian Long itu, sudah diyakinkan selama duapuluhan tahun lebih. Waktu dimainkan, hanya lingkaran sinar putih yang kelihatan berputar-putar dan menderu-deru. Setiap serangannya tentu jalan darah yang diarah.

Sebaliknya Siau Ihpun sudah mewarisi kepandaian si Dewa Tertawa. Ilmu pedangnya itu disebut lui-im-kiam-hwat atau ilmu pedang suara halilintar. Sinar berkilat-kilat diiring angin menderu-deru, dapat mengoyakkan semangat orang. Dan yang lebih hebat lagi, dia berbareng gunakan juga apa yang disebut ceng-hoan-kiu-kiong-leng-long-poh atau gerak lincah kiu-kiong-poh (bentuk kuda-kuda kaki) bolak-balik. Jadi hanya slnar berkelebatnya pedang saja yang menyambar-nyambar, sedang orangnya seperti bayangan setan yang, berkelebatan kian kemari Saking hebat deru sambaran anginnya, pohon- pohon disekeliling itu sama bergoyang-goyang, daun-daunnya berhamburan jatuh .........

Benar-benar Hian Long puyeng dibuatnya. Gerakan tubuh yang aneh dan ilmu pedang si anak muda yang luar biasa itu, belum pernah dia melihat selama ini. Lewat jurus yang ke sembilanpuluh, Hian Long sudah kelabakan. Kebut hun-ciunya dimainkan makin gencar, saluran lwekangnya pun makin ditambah. Bayangan putih yang mengandung sambaran tenaga kong-gi, ditaburkan ke arah si anak muda. Hanya kurang sepuluh jurus lagi, biar bagaimana dia harus dapat bertahan.

Sekejap lagi akan sudah cukuplah seratus jurus yang dijanjikan itu. Sekonyong-konyong terdengar Siau Ih bersuit nyaring. Jari kiri dipentang dan dalam jurus heng-tui-pat-bhe (melintang dorong delapan kuda), tangan kiri memancarkan semacam hawa serangan yang amat panas, sementara pedang di tangan kanan berhamburan menabur ke atas kepala Hian Long.

Hian Long terpaksa mundur selangkah, namun hawa dingin dari sinar pedang lawan terasa sudah tiba di atas kepalanya. Jalan satu-satunya hanyalah loncat ke samping. Tapi justeru itulah yang dimaukan Siau Ih Begitu Hian Long loncat, sekonyong-konyong pedang Thian-coat-kiam ditarik, menyusul jari tangan kirinya laksana kilat sudah menekan batok kepala orang.

Kali ini benar-benar Hian Long mati kutu. Mimpipun tidak ia duga kalau dirinya bakal diburu dengan terkaman macam begitu. Bagaimana pun juga, dia tak sempat lagi akan menghindar. Sesaat terasa kepalanya dingin, kopiah pertapaannya sudah dijambret oleh Siau Ih. Kini berdirilah anak muda itu dengan tenangnya disebelah sana, tangan kanan mencekal pedang, tangan kiri memegang koplah.

Selebar muka penilik biara Siang Ceng Kiong itu seperti kepiting direbus. Rasanya dia tak dapat menyembunyikan muka lagi.

„Cayhe menghaturkan terima kasih atas pelajaran Totiang tadi. Mohon akan membawa kopiah ini sebagai tanda mata, sekian cayhe akan mohon diri!

Habis berkata, anak muda itu sudah enjot tubuhnya loncat melalui pagar tembok.

---oo0dw0ooo---
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| cersil terbaru hari ini [Pendekar Latah (Tiao Deng Kan Jian Lu)] akan di upload pada Pukul 20.00 WIB."

(Regards, Admin)

0 Response to "Si Rase Kumala Bab 06 : Oh, Ayah ......"

Post a Comment

close