Pusaka Negeri Tayli Jilid 23 (Tamat)

Mode Malam
Jilid 23 Tamat

Diam2 Cu Jiang menghitung-hitung. Gerombolan sip- pat-thian-mo, selain tiga iblis yang saat itu berada disitu, hanya tinggal dua lagi yaitu iblis nomor sembilan dan iblis nomor satu. Kalau ia dapat membasmi empat iblis lagi. kekuatan mereka tentu sudah rontok.

Tetapi dia tahu bahwa iblis tua yang berada disitu, tentu sukar dihadapi. Tentu harus mencari aksi dan kesempatan untuk menghancurkan mereka. Jika mereka sempat bersatu dan melakukan pengeroyokan, akibatnya tentu sukar dibayangkan.

"Lo kiu datang?!" tiba2 lelaki tua di sebelah kiri berseru. Dan serentak itu seorang lelaki tua berpakaian hitam muncul dengan mencekal tangan seorang lelaki setengah tua yang juga berbaju hitam.

Wajah lelaki setengah tua itu pucat lesi dan gemetar ketakutan.

Lelaki tua berambut putih berpaling dan menegur tajam: "Bagaimana !"

"Dia sudah melukis barisan itu." "Boleh dipercaya?"

"Dia takut mati sekali !" "Ha, ha, ha, ha..." Cian bin koay-mo segera mengeluarkan segulung kertas, katanya: "Inilah gambar barisan itu. Setiap lukisan empat helai, harap suhu periksa."

Ia memberikan kepada iblis kedelapan yang berada dekat dengan dia, kemudian iblis kedelapan itu memberikan selembar kepada iblis tua berambut putih, sisanya dibagi- bagikan setiap orang selembar.

Dalam tempat persembunyiannya, Cu Jiang memandang dengan seksama kepada lelaki setengah tua yang tangannya dicengkeram iblis Cian-bin koay-mo.

Tetapi ternyata dia tak kenal dengan orang itu, Menurut pakaiannya, orang itu tentulah seorang tokoh Gedung Hitam yang mempunyai kedudukan tinggi.

Keempat iblis itu memeriksa teliti gambar barisan. Kemudian iblis ke sembilan atau cian-bin koay-mo (iblis seribu muka) berkata:

"Gambar itu sama dengan gambar yang  dulu dia serahkan. Agar tidak salah maka kusuruh dia membuat lagi empat lembar..."

"Waktu sudah hampir tiba, kita bekerja menurut rencana semula!" kata iblis tua rambut putih.

Cianbin koay-mo segera menarik lelaki setengah tua itu bersembunyi kearah ia datang tadi. Sedang ketiga iblis yang lain lalu berpencaran.

Terdengar suara genderang berbunyi tiga kali. Cu Jiang makin tegang. Tak perlu diragukan lagi iblis tua berambut putih itu tentulah iblis Jui bengkok atau si Genderang- pelelap nyawa, guru dari kawanan Sip pat thian mo.

Suara kentungan itu ternyata bukan kentungan biasa melainkan hamburan dari mulut iblis berambut putih itu. Memang aneh dan dahsyat sekali nadanya sehingga anak telinga hampir pecah di buatnya.

Diam2 Cu Jiang teringat akan pasangan dari iblis tua itu yakni nenek Toh hun pi peh. Jika tidak karena ia memiliki tenaga dalam yang kuat, tentulah dia sudah binasa digetar suara harpa nenek itu.

Diapun masih memikiri lelaki setengah tua yang diringkus Cian bin koay mo itu. Orang itu rupanya tahu akan rahasia barisan Ho thian tin ia harus membayangi orang itu.

Maka iapun segera menyelinap turun dari pohon dan terus mengitar menuju kesamping mencari Cian-bin koay- mo.

Bagian belakang gunung itu merupakan sebuah tempat yang turun naik seperti bentuk pelana kuda, puncak disitu seolah2 bersambung dengan puncak yang lain  seperti bentuk punggung onta.

Saat itu sudah menjelang tengah malam, Gelap sekali. Karena sampai beberapa waktu tak dapat melihat bayangan Cian bin koay-mo akhirnya Cu Jiang naik lagi ke puncak gunung.

Diatas puncak itu pohon2 tumbuh tinggi tetapi tak  berapa banyak. Dari jauh ia seperti melihat sosok bayangan bergerak dibawah pohon. Hati2 sekali Cu Jiang menghampiri.

Ternyata dibawah pohon itu memang terdapat Cian bin koay-mo. Sedang lelaki setengah tua itu diikat dengan akar pohon, rupanya jalan-darahnya telah ditutuk.

Cu Jiang membuka bungkusan dan menyisipkan pedang kutung di pinggang. Dia tak mengenakan kerudung muka dan tetap tak ganti pakaian. "Tio-huhwat." seru Cian bin koay-mo dengan nada sinis. "terpaksa menyiksamu satu malam ini.  Kalau penghancuran barisan itu berjalan lancar, engkau boleh bebas!"

Kiranya lelaki setengah tua itu hu-hwat dari Gedung Hitam. Tetapi mengapa dia dapat melukis barisan Ho thian- tin ?

Waktu amat mendesak. Cu Jiang tak mau membuang waktu. Dia terus muncul dan Cian-bin koay-mo pun cepat dapat mengetahui.

"Siapa ?" Ia berputar diri dan membentak. "Seorang pejalan gunung." sahut Cu Jiang.

Melihat perwujudan Cu Jiang, rupanya Cian bin koay- mo meremehkan, Dia terus melesat maju menghampiri dan tertawa mengekeh: "Budak kecil, pulang saja ke rumah nenekmu !"

Secepat kilat. Cian-bin koay-mo mencengkeram. Begitu hampir menyentuh dada. Cu Jiang terus menghantamnya. Sudah tentu Cian-bin koay-mo tak mengira sama sekali.

Apalagi tenaga kepandaian Cu Jiang jauh lebih tinggi.

Seketika ia menjerit ngeri dan muntah darah. “Bluk . . ." iblis itupun jatuh.

"Bangun !" bentak Cu Jiang.

Cian-bin koay-mo berbangkit dan memandang Cu Jiang dengan bengis.

"Budak, engkau siapa ?"

"Bukankah anda ini Cian-bin koay-mo ?" Cu Jiang balas bertanya.

"Bagaimana engkau tahu ?" "Aku telah mengarungi empat penjuru dunia karena hendak mencari engkau."

Cian bin koay-mo menyurut langkah. "Siapa sebenarnya engkau !"

Pelahan-lahan Cu Jiang mencabut pedangnya.

"Toan-kiam-jan Jin!" Cian-bin koay-mo memekik kaget, seraya terus loncat ke balik pohon. Tetapi Cu Jiang gunakan tata-langkah Gong-gong-poh-hwat untuk mengejar sehingga Cian-bin-koay-mo kabur matanya karena  tak dapat menentukan tempat posisi lawannya.

Cian bin koay-mo serasa bilang semangatnya ketika melihat Cu Jiang seperti lenyap. Pukulan yang dideritanya telah menyebabkan ia terluka parah.

Satu-satunya jalan yang paling selamat ialah harus lari. Dengan menghimpun sisa tenaga, dia terus  hendak ayunkan tubuh....

"Berhenti!" tiba2 segulung tenaga telak mendorong tubuhnya yang tengah melayang di udara itu terpental jatuh ke tanah lagi. Dan tahu2 Toan-kiam-jan-jin sudah berada dihadapannya.

"Toan-kiam jan-Jin ... engkau hendak mengapakan diriku ?" seru iblis itu menggigil.

Karena jejaknya sudah diketahui oleh kawanan Sip-pat- thian mo, maka Cu Jiang memutuskan akan membasmi kawanan iblis itu. Kalau tidak kelak tentu menimbulkan bahaya besar bagi negeri Tayli.

"Bagaimana selera anda tentang alam pemandangan di tempat ini?" serunya dingin.

Tubuh Cian-bin koay-mo gemetar. Tiba2 mulutnya memekik aneh dan dengan menggunakan segenap sisa tenaganya yang ada. ia hantamkan kedua tangannya kearah Cu Jiang. Dia memang sudah kalap dan tak mau mati begitu saja.

Bum . . . Cu Jiang pun menyongsongkan kedua tangan untuk mengadu kekerasan. Terdengar suara erang tertahan dan tubuh Cian bin koay-mo sempoyongan lalu rubuh.

Setelah beberapa saat menggelepar meregang jiwa, akhirnya tubuhnya pun kaku tak berkutik lagi.

Cu Jiang terkejut sekali ketika melihat wajah Cian-bin koay-mo telah berubah menjadi lain perwujudan. Tetapi dia tak sempat untuk menyelidiki hal itu dan terus lari kembali ke tempatnya tadi.

Dari puncak disebelah muka terdengar suara bentakan keras bercampur dengan pekik jeritan ngeri. Rupanya kawanan iblis itu sudah mulai mengganyang anak buah Gedung Hitam. Biar mereka saling bunuh sendiri, Cu Jiang tak mau menghiraukannya.

Ketika melihat Cu Jiang, huhwat Gedung Hitam yang diikat dengan akar pohon tadi. wajahnya berobah lesi. Cu Jiang segera menghampiri.

"Siapakah nama anda ?" tegurnya. "Lau Wi Han."

"Asal dari ?"

"Maaf tak dapat memberitahu."

Cu Jiang mendengus: "Apakah barisan Ho-thian tin itu anda yang merencanakan?"

"Ya, benar."

"Gambar barisan yang aseli, darimana anda mendapatkan ?" Hu-hwat Gedung Hitam itu deliki mata. Beberapa saat kemudian baru dia berkata dengan suara tersendat:

"Ini ... ini .. . warisan keluargaku!" "Apa katamu? Warisan dari keluarga?" "Ya."

"Siapa keluarga anda?"

"Ya . . . yalah keluarga Lau." "Ilmu barisan keluarga Lau." "Benar."

"Dalam dunia persilatan Tionggoan, rasanya tak pernah terdengar sebuah barisan dari keluarga Lau ..."

"Yang mengerti, belum pasti namanya akan termasyhur."

Cu Jiang menggeram marah: "Ketahuilah, Jika anda tak mau bicara terus terang, aku tak menjamin keselamatan jiwamu."

"Memang keteranganku itu semua sungguh2!"

"Betul? Hm, rupanya kalau belum Melihat peti mati, anda memang belum menangis . . . . " habis berkata Cu Jiang hendak menutuk perut orang itu tetapi tiba2 dia melihat jari tangan kanan orang itu hanya tiga. Jari telunjuk dan jari tengah hilang.

Seketika meluaplah bawa pembunuhan dalam benak Cu Jiang. Dia batalkan tutukannya.

"Mengapa jari tangan anda hilang dua buah?" tegurnya dengan mengertek gigi.

Seketika wajah orang itu berkerenyutan tegang dan membisu. "Bilang!" bentak Cu Jiang. "Ini . . . apa kepentinganmu?"

"Apa engkau tetap tak mau bilang?" "Tak . . . bisa memberitahu."

"Peristiwa berdarah di gunung Bu-leng san, apa engkau masih berani menyangkal tak ikut campur?"

Wajah Lau Wi Hian makin ngeri.

"Toan kiam janjin . . . engkau . . . engkau benar putera dari Dewa-pedang?"

"Ya. "

"Mengapa . . . engkau tahu?"

"Di tempat pertempuran itu terdapat kutungan jari." "Tetapi . . . tetapi hal itu hanya secara kebetulan saja.

Aku . . . aku tak tahu ..."

Karena geram, Cu Jiang menutuk perut orang itu. Lau Wi Hian meraung kesakitan. Cu Jiang memutuskan tali pengikatnya dan membuka jalan-darah yang ditutuk Cian bin koay mo tadi.

Bum . . . Lau Wi Hian rubuh dan berguling-guling di tanah. menggelepar dan meregang . . .

"Engkau mau bilang atau tidak?" "Tidak . . tahu . . ."

"Baik, akan kucincang tubuhmu," ia mematahkan sebuah dahan pohon, mengalirkan tenaga-dalam ke dahan itu dan menghardik: "Orang she Lau, kalau menggunakan pedang, engkau tentu keenakan. Sekarang aku hendak memakai dahan pohon itu agar engkau tahu bagaimana rasanya disate itu."

"Aah . . . ," Lau Wi Hian menjerit ngeri ketika dahan kayu itu menembus bahunya. Ujung dahan itu tak runcing dan tak rata. Hanya karena disaluri dengan tenaga-dalam maka dahan itu menjadi sekeras baja. Begitu menyusup ke dalam daging, sakitnya jangan dikata lagi.

"Bilang! "

"Auh . . . kembali lengannya tertusuk ujung dahan. Darah bercampur dengan tanah dan orang itu sudah tak seperti manusia lagi wujudnya. Dia meraung-raung seperti harimau buas.

"Kalau tak mau bilang, akan kuhias tubuhmu dengan seratus lubang tusukan."

"Bu . , nuh saja aku!" "Tidak seenak itu. bung !"

"Ya. . aku akan bilang . . dan kasihlah  aku  kematian yang lebih cepat . ."

"Bilang !"

"Be . . nar . . kedua jari tanganku ini . . memang . . dibabat putus oleh Dewa-pedang. . "

"Berapa banyak orang yang ikut dalam pengeroyokan itu?"

"Ada . . dua puluh orang lebih." "Siapa pemimpinnya?"

"Ketua . . Gedung Hitam." "Baik, sekarang terangkan asal usul barisan Ho-thian-tin itu!"

Lau Wi Hian menenangkan napas, tiba? ia menjerit kalap: "Aku memang harus mati !"

"Tentu," kata Cu Jiang dangau nada dingin. "meskipun mati sampai seratus kali, juga belum cukup. Lekas bilang, mengapa engkau mampu membentuk barisan Ho-thian-tin itu?"

"Mengapa eng . . kau menanyakan hal itu?" "Sudah tentu ada kepentingannya."

"Apakah . . engkau mau memberitahu tentang kepentinganmu itu?"

"Sudahlah, kewajibanmu hanya memberi keterangan tentang barisan itu."

"Aku . . merasa heran . . mengapa engkau mendesak pertanyaan itu . ."

Cu Jiang menggeram: "Ketahuilah, bahwa ilmu barisan Mo-thian-tin itu merupakan ilmu simpanan dari sebuah perguruan. Orang luar tak mungkin mengetahuinya."

Lau Wi Hian berhenti berguling, sepasang matanya yang merah berdarah memandang Cu Jiang sampai beberapa saat.

"Engkau .. mengapa tahu soal itu?" serunya.

"Kuberitahu yang lebih jelas lagi. Bahwa Ilmu simpanan itu adalah dari perguruanku."

Biji mata Lau Wi Hian melotot seperti mau keluar, serunya: "Perguruan . . per . . guruan . . kapan engkau masuk kedalam perguruanmu?" Cu Jiang tergetar hatinya. Tiba2 ia teringat sesuatu dan berseru bengis:

"Bukankah engkau murid pertama dari  toa-supehku Ih Se lojin?"

"Siapakah engkau . . ,. sebenarnya ?" Lau Wi  Hian makin gemetar.

"Kenalkah engkau akan orang yang bernama Yang Wi ?" "Engkau pewaris dari Yang suhu ?"

"Benar."

"Cousu yang berada di alam baka, murid berdosa besar dan dengan ini murid hendak menebus dosa itu "

terdengar jeritan ngeri dari mulut Lau Wi Hian. Mulutnya menyembur darah dan seketika putuslah jiwanya. Ternyata dia telah bunuh diri dengan menggigit lidahnya.

Murid murtad, musuh dan suheng ....

Mau tak mau tangan dan kaki Cu Jiang terasa dingin juga, Dia seolah mengalami impian buruk. Menurut keterangan dari toa-supeh (paman guru) murid pertama dari paman gurunya itu pada sepuluh tahun berselang telah pulang untuk merawat ibunya.

Tiap setahun baru murid itu berkunjung ke gua. Ternyata dia telah bekerja pada Gedung Hitam dan menjadi sebagai hu hwat.

Setelah mengubur mayat Lau Wi Hian. Cu Jiang kembali ke puncak di sebelah muka lagi. Di langit timur sudah menyemburat warna kuning. Empat penjuru puncak gunung itu penuh bertebaran sosok2 mayat.

Kemudian dia turun dan menuju ke tempel  kawanan iblis itu berkumpul beberapa taat lalu, gembong iblis Jui- beng-koh berbangkit dan memberi perintah: "Kita mulai, dibagi empat kelompok menyerbu kedalam barisan. Kita bertemu di pintu barisan. Perhatikan, setiap tempat yang terdapat tiang merah, disitu terdapat pemasangan obat peledak. jangan menyentuhnya !"

Di tempat persembunyiannya, diam2 Cu Jiang bersyukur dalam hati. Jika tidak mendengar keterangan iblis tua itu mungkin dia akan tertimpa bencana.

Keempat iblis itu segera lari turun dari puncak. Diam2 Cu Jiang mengikuti mereka. Ia sudah mengerti tentang susunan barisan Ho Hay tin itu.

Jika menggunakan kesempatan itu untuk menghancurkan ketiga iblis, maka hanya tinggal gembong iblis Jui-beng-koh yang akan berhadapan dengan ketua Gedung Hitam. Dan dia akan menyelundup untuk menolong puteri Tayli.

Rupanya serangan yang diincarkan keempat iblis telah menghasilkan jatuhnya banyak korban dari pihak Gedung Hitam. Kini mereka dapat leluasa memasuki barisan..

Cuaca pagi makin terang. Lembah yang terjepit diantara dua buah puncak, merupakan pintu barisan. Setelah saling memberi isyarat, mereka berempat lalu menyerbu masuk.

Cu Jiang memutuskan untuk mengikuti iblis nomor dua. Setelah masuk dan membiluk kesebelah kanan ia melihat disebelah muka tampak seorang tengah memotong jalan. Orang itu tentulah iblis kedua.

Keempat iblis itu memasuki barisan dengan menurutkan peta yang dibuat Lau Wi Hian, Sedang Cu Jiang sudah faham akan barisan itu. Setelah beberapa waktu mengikuti di belakang. Cu Jiang lalu melesat ke belakang iblis kedua itu dan membentak: "Tunggu dulu!" Iblis kedua terkejut dan berpaling. Tetapi sebelum ia sempat berbuat apa2, Cu Jiang sudah menyabet  batang leher iblis itu hingga jatuh terpisah dari tubuhnya.

Setelah itu dia mengitar lagi untuk mencari iblis keenam dan iblis ke sembilan. Tanpa banyak membuang tenaga, dapatlah dia membunuh ketiga Iblis dari gerombolan Sip pat thian mo itu.

Kini tinggal gembongnya yakni iblis tua Jui beng ko. Ia membobol jalan disebelah kiri dan menyusuri jejak Jui beng-ko.

Barisan itu memang rapat sekali sehingga waktu ketiga iblis dibunuh Cu Jiang, iblis tua Ju -beng koh tak tahu.

Cu Jiang tiba di bagian mata barisan yang dahulu Ang Nio Cu mengatakan pernah tersesat. Tempat itu merupakan tempat persambungan antara barisan bagian dalam dan barisan bagian luar. Kunci pemecahannya sebatang pohon siong yang pendek dan tiga gunduk kepingan batu. Asal mata barisan sudah pecah, seluruh barisan akan berantakan.

Jui-beng-koh lebih dulu tiba disitu. Pada saat dia mengangkat tangan hendak menghantam pohon siong itu, tiba2 dari tengah2 tumpukan batu muncul seseorang yang membawa sebuah bola kecil warna merah. Orang itu terus melontarkan bola merah itu kepada Jui-beng-koh.

Saat itu Cu Jiangpun muncul: Melihat bola merah melayang, tanpa disadari dia berseru: "Lekas mundur !"

Mendengar itu Jui-beng-ko pun cepat melayang mundur sampai beberapa tombak lalu bertiarap.

Bola merah itu dihembus segulung angin keras dan melayang jatuh ketengah gunduk keping batu, buum .... Terdengar ledakan dahsyat, pasir dan  tanah berhamburan muncrat, batu2 pun hancur berantakan. Beberapa saat kemudian di tempat ledakan itu telah berlobang besar.

Pohon siong pendek lenyap dan gunduk keping batu itupun rata, bahkan terdapat pula beberapa daging dan kutungan anggauta tubuh manusia yang berserakan di empat penjuru.

Suatu pemandangan aneh telah muncul. Begitu ledakan dahsyat itu sirap. lebih kurang sepuluh tombak disebelah muka, tampak muncul sebuah poh atau bangunan besar yang terbuat dari batu, Bentuknya mirip dengan sebuah benteng.

Jui-beng koh berbangkit, sambil membersihkan pakaiannya dari debu. ia memandang Cu Jiang dengan tajam, serunya : "Engkau siapa?"

"Penyerbu barisan !" sahut Cu Jiang. "Engkau telah menolong jiwaku."

Cu Jiang tertegun. Sama sekali dia tak berniat hendak menolong orang itu. Bahkan dia hendak membunuhnya. Tetapi karena tak sadar tadi dia telah meneriakinya supaya menyingkir. Dan kini secara tak sengaja, keduanya pun menjadi kawan setujuan.

"Hm, ha. ya kebetulan saja!" sahutnya.

Di pinto poh, golok dan pedang bergemerlapan. Paling tidak lima puluh orang terbagi menjadi empat lima kelompok, berjajar-jajar di depan pintu. Mereka terdiri dari laki perempuan, tua muda. Jui-beng-koh memandang kian kemari. Rupanya dia tengah mencari ketiga muridnya. Sementara jago2 dari Gedung Hitam itupun tegang wajahnya.

Tiba2 Jui beng ko mengacungkan pusakanya, sebuah genderang kecil, lalu dipukulnya. Serentak terdengar bunyi genderang meledak sehingga jantung orang2 yang berada disitu tergetar seperti mau putus.

Tung.. tung, tung . . .

Berturut-turut terdengar ledakan dahsyat macam halilintar memecah angkasa. Berpuluh-puluh jago Gedung Hitam itu kacau balau dan berbondong-bondong mundur ke dalam gedung.

Sesaat genderang berhenti, maka di depan pintu gedung itupun berserakan lebih dari dua puluh sosok mayat. Mata, hidung, mulut dan telinga mereka mengalir darah.

Ngeri juga Cu Jiang menyaksikan peristiwa itu. Nyata Jui-beng-koh memang sakti sekali.

Sekali lagi Jui beng-koh berpaling ke arah pohon siong pendek. Tetapi dia tetap tak melihat ke tiga iblis anak muridnya: "Aneh, " gumamnya.

Cu Jiang tak mau membuang tempo. Agar tidak diketahui orang siapa dirinya, ia memungut sebatang pedang dari salah seorang jago Gedung Hitam yang menggeletak di tanah. Setelah itu dia terus menyerbu masuk. Jui beng-ko cepat melesat mendahului di muka Cu Jiang. Diam2 Cu Jiang girang. Biarlah gembong iblis itu yang membuka jalan.

Gedung Hitam sesuai dengan namanya, memang merupakan sebuah bangunan yang terbuat dari batu hitam semua sehingga menimbulkan pemandangan yang menyeramkan. Juga halaman yang berada di belakang pintu besar, ditabur dengan batu hitam. Di sekeliling tepi lapangan terdapat jajaran rumah2 yang berpintu besi dan jendela dengan terali besi. Semua berwarna hitam, mirip penjara.

Cu Jiang mengikuti Jui beng koh yang berhenti di tengah lapangan. Sunyi senyap tak ada seorang pun juga.

"Siaucu, engkau tabu siapa aku ini?" Jui beng koh berpaling.

"Sama dengan aku." sahut Cu Jiang hambar. "Sama? Apanya yang sama?"

"Bukankah kita sama2 menjadi musuh Gedung Hitam?"

"O, benar. Menilik engkau hanya seorang diri saja dan mampu menghantam pelor Bi lik tan tadi, engkau tentu hebat sekali."

"Ah, harap jangan memuji."

"Waktu masuk ke dalam barisan, apakah engkau melihat ketiga anak buahku?"

"Sudah mati semua. " "Hai? Mati?"

"Ya, mayatnya malang melintang dalam barisan."

"Engkau melihat sendiri?" rambut putih dari iblis tua itu bertebaran kencang.

"Ya."

"Bagaimana kematian mereka?" "Di tangan Toan kiam jan jin."

"Toan kiam jan jin! " teriak Jui bengkok. "Ya, memang dia. Mukanya bertutup kain, kaki pincang dan pedangnya kutung."

Jui beng koh menggertakkan gigi: "Aku akan merobek robek manusia itu!"

"Ingat, disini tempat Gedung Hitam, harap jangan lupa

!" Cu Jiang deliki mata.

"Mengapa aku tak melihat bayangannya ?" "Kalau dia mau, tentu akan muncul."

“Engkau ini.. Jika tak pernah menolong aku ..." "Ada orang keluar!" cepat Cu Jiang menukas.

Memang saat itu disebelah muka dari pintu salah sebuah rumah, muncul seorang lelaki tua berjubah hitam dan mukanya ditutup dengan kain hitam. Dia diiring  oleh empat orang lelaki jubah hitam berwajah seram.

"Hah, hah, apakah ketua Gedung Hitam ?" Jui-beng-koh tertawa mengekeh.

"Benar." sahut lelaki berkerudung kain hitam itu dengan suara seram. "bukankah anda ini Jui-beng-koh ?"

"Benar !"

"Apa maksud kedatangan anda ?" "Hendak menyampaikan sepatah kata!"

"Kedatangan anda dengan mengadakan pembunuhan besar-besaran ini hanya perlu hendak menyampaikan sepatah kata?"

"Hm..."

Ketua Gedung Hitam terkesiap mendengar jawaban gembong iblis Jui-beng-koh yang begitu dingin. "Kata2 itu tentu penting sekali. Aku ingin mendengarnya." katanya.

"Hari ini juga. bubarkan gerombolan Gedung Hitam dan jangan muncul dalam dunia persilatan lagi!" seru Jui-beng- koh.

"Hanya itu?" "Ya."

"Ha, ha, ha ... . anda, eh, Thay-siang kaucu masakan Gedung Hitam yang begitu termasyhur akan serentak bubar hanya karena sebuah kata dari engkau tadi?"

"Menurut atau tidak, terserah saja kepadamu." "Kalau tidak menurut?"

"Dalam beberapa kejap. Gedung Hitam akan menjadi kota hantu!"

Keempat pengiring yang berada di belakang ketua Gedung Hitam mendengus geram. Tetapi ketua Gedung Hitam sendiri tertawa lagi.

"Thay-siang kaucu." serunya lantang, "jangan kelewat  tak memandang mata pada orang!"

"Memang kalian tak kuanggap semua!"

"Walaupun Gedung Hitam bukan akhirat, tetapi keadaannya hampir sama dengan neraka. Bisa masuk, tak mungkin dapat keluar!" habis berkata tiba2 pintu tertutup.

Jui-beng koh mengerling kearah Cu Jiang, serunya: "Aku hendak menghancurkan neraka ini."

Saat itu Cu Jiang sedang memperhatikan keadaan tempat itu. Tetapi selain beberapa bangunan rumah batu yang kelihatan, ia tak dapat melihat suatu apa lagi. Dia pernah ditawan dalam penjara batu Gedung Hitam. Karena menggunakan siasat pura2 jadi orang mati, ia beruntung dapat lolos. Tetapi bagaimana ia dijebloskan dalam penjara dan bagaimana ia lolos keluar, semua berada dalam tempat gelap.

Sedikitpun tak berbekas dalam ingatannya. Diam2 ia gelisah memikirkan cara untuk menolong puteri.

Jui-beng-koh mengangkat senjata genderang dan tangannya yang satupun siap hendak memukul.

"Thaysiang kaucu," ketua Gedung Hitam tertawa sinis, "seranglah, aku bersedia menerima letusan genderangmu sampai tiga kali. Tetapi lebih dulu perlu kujelaskan..."

"Apa yang hendak engkau katakan ?" Jui-beng-koh hentikan tangannya.

"Bagaimana kalau aku dapat bertahan menerima tiga kali pukulan genderangmu?"

"Aku akan mengundurkan diri selama-lamanya dari dunia persilatan dan perkumpulan Thong-thian-kau akan kububarkan!"

"Apakah kata-katamu itu dapat kupercaya ?" "Huh, masakan Jui beng ko..."

"Ah, sukar dikata !"

Cu Jiang tahu bagaimana kelicikan ketua Gedung Hitam itu. Matanya yang berkeliaran dan sikap serta nada perkataannya yang begitu tenang, jelas menunjukkan bahwa dia sedang mengulur waktu.

Dan ketua Gedung Hitam itu seorang ahli dalam obat peledak. Diam2 Cu Jiang meningkatkan kewaspadaan. Tiba2 ia memperhatikan salah seorang dari pengiring ketua Gedung Hitam, berpaling ke samping dan memberi anggukan kepala.

"Dung...." Jui-beng ko mulai menghantam genderang. Cu Jiang loncat menyerbu ke arah rumah batu di tengah. Gerakan itu mencapai lima tombak.

Dan serempak waktu itu juga, terdengar letusan dahsyat. Batu2 berhamburan, peron dari bangunan rumah di lapangan itu hancur lebur.

Ternyata rumah2 itu mempunyai pintu penghubung satu sama lain. Cu Jiang hampir saja tertimbun, untung dia sudah waspada dan terus menyusup masuk ke bagian dalam.

Setelah ledakan, berpuluh-puluh anak buah Gedung Hitam berhamburan ke luar. Lapangan yang berlapis batu hitam itu sudah hancur lebur penuh dengan lubang2 besar sampai seluas lima tombak.

Dari jendela rumah, Cu Jiang dapat menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu. Kaki dan tangan Jui beng-koh sudah hancur dan terkapar dua tombak dari pintu. Rupanya diapun berusaha hendak meloloskan diri tetapi terlambat.

"Hatur beritahu kepada pohcu, mayat setan kecil itu tak kelihatan!" terdengar sebuah suara.

"Apa?"

"Hanya iblis tua itu yang hancur!" "Lekas cari dalam rumah!" "Baik."

Berpuluh-puluh anak buah itu segera lari masuk ke dalam bangunan rumah. Cu Jiang mendapat akal. Dia lari ke bagian belakang karena orang2 Itu memeriksa bagian muka. Tetapi dia tak tahu keadaan gedung itu dan terpaksa hanya lari membabi buta saja.

Beberapa saat dia tiba di sebuah pintu bundar yang keadaannya beda dengan gedung2 lainnya. Gedung itu dikelilingi pagar tembok. Di sebelah dalam pintu, bunga2 yang aneh menyiarkan bau harum dan jajaran batu-2 gunung yang sedap dipandang.

Cu Jiang teringat bahwa dalam Gedung Hitam terdapat apa yang disebut Gedung Terlarang yang tak boleh sembarangan dimasuki orang. Rupanya gedung itu tentu Gedung Terlarang.

Setelah timbul pemikiran itu, cepat ia menyerbu masuk. Tetapi belum sempat ia berdiri tegak, empat orang sudah membentak dan menyerangnya dari kanan kiri.

Cu Jiang menyambut dengan pedang kutung. Terdengar jeritan ngeri dan dua orangpun rubuh. Kiranya keempat penyerbunya itu pengawal2 baju hitam.

Jika demikian benarlah dugaannya bahwa rumah gedung yang hendak dimasukinya itu memang Gedung Terlarang karena gedung itu khusus dijaga oleh Pengawal Hitam.

Kedua Pengawal Hitam yang lain kesima. Sementara saat itu dari ruang tengah muncul dua wanita. Cu Jiang cepat membabat kedua Pengawal Hitam itu. Yang satu rubuh dan yang satu sempat loncat meloloskan diri keluar dari pintu dan terus lenyap.

Tung, tung, tung, tung . . , dari halaman Gedung Terlarang itu segera berdentang-dentang genta peringatan bahaya.

Cu jiang terus lari ke arah kedua perempuan itu. Mereka menjerit kaget dan lari masuk tetapi Cu Jiang sudah memburu dan mengarahkan ujung pedang pada salah seorang dari mereka dan membentak: "Dimana tempat ditahannya tawanan gadis itu? Lekas bilang !"

Perempuan itu berputar tubuh hendak tetap melarikan diri tetapi dia segera menjerit karena punggung tertusuk. Cu Jiang berpaling dan mengancam perempuan yang seorang.

"Lekas bilang !"

Perempuan itu pucat dan gemetar. Dengan suara tersendat-sendat dia berkata: "Di. .. di.. sini..."

"Tunjukkan ke sana!"

Dengan langkah gontai, perempuan itu pun melangkah keluar pintu ruang dan berjalan di lorong serambi menuju ke kamar sebelah timur.

Sementara itu terdengar derap orang berlari. Perempuan itu berpaling, dahinya mengerut kesangsian.

"Lekas !" bentak Cu Jiang seraya lekatkan ujung pedang. Perempuan itu mengerang kesakitan lalu terhuyung-

huyung melangkah kedepan dan tiba dipintu ruang samping kanan.

Beberapa penjagapun muncul dan terus menyerang Cu Jiang. Cu Jiang menabas, dua orang rubuh, lainnya jeri..

Cu Jiang menendang daun pintu. Seorang dara cantik tengah berdiri kesima di tengah ruang itu. Itulah puteri Tayli.

"Kongcu, apa kenal dengan suaraku?" serunya tegang. "Bukankah anda ini sausu?" puteri itu terkejut.

Beberapa sambaran angin pedang tiba dan Cu Jiang berbalik diri membabatnya. Kembali dua orang rubuh. "Kiongcu, apa engkau dapat berjalan ?" "Tenagaku . ., dilumpuhkan."

"Lekas, kemari !"

Kiongcu melangkah keluar dari kamar dan terus lari kepada Cu Jiang. Belasan pengawal sudah siap mengepung mereka di tengah ruang.

Cu Jiang menikung. Yang penting ia harus menyelamatkan putri itu dulu. Dia berada dalam kurungan barisan, harus dapat mengendalikan nafsu untuk membalas dendam.

Segera ia mengepit tubuh puteri di tangan kiri, ia terus melangkah dengan pedang di tangan kanan.  Baru selangkah. beberapa orang itu sudah menyerangnya.

Penyerang2 itu menilik pakaiannya dapat di ketahui bahwa mereka adalah pengawal dari Gedung Terlarang. Sudah tentu kepandaiannyapun lebih tinggi dari Pengawal Hitam biasa.

Tring, tring, huak. . huak ... tiga batang pedang terpental ke udara, salah seorang penyerang itu rubuh. Cu Jiang lanjutkan langkah. Ia membabat jago2 yang mengepung itu. Empat batang pedang serempak meluncur ke arahnya.

Cu Jiang memutuskan. Untuk meloloskan diri tak ada lain jalan kecuali harus turun tangan dengan ganas.

Terdengar jeritan ngeri dan  dua orang jago Gedung Hitam menggeletak lagi. Kepungan di tengah ruang itu bobol tetapi diluar masih terdapat kepungan yang  lebih ketat lagi.

Tetapi Cu Jiang sudah nekad. Dia melangkah ke pintu bundar. Kali ini dering senjata dan jeritan seram makin hiruk. Separoh dari Jago2 yang mengepungnya itu rubuh, sedang yang separoh masih tetap menyerang.

Saat itu Cu Jiang sudah tiba di tepi pintu. Diluar pintu barisan Pengawal Hitam sudah siap menunggu. Andai tidak memikirkan keselamatan puteri, tentulah saat itu dia sudah mengamuk sepuas-puasnya.

Puteri terkejut dan pucat menyaksikan pertumpahan darah yang begitu dahsyat. Ia mendekap pinggang Cu Jiang makin kencang. Diam2 kegagahan Cu Jiang itu telah bersemi dalam hati puteri.

Rupanya barisan Pengawal Hitam itu gentar juga menyaksikan kegagahan Cu Jiang. Mereka menyurut mundur.

"Mundur !" tiba2 terdengar bentakan keras dan kawanan jago Gedung Hitam itupun serempak menyingkir ke samping sehingga terbuktilah sebuah jalan. Ternyata ketua Gedung Hitam muncul.

Cu Jiang tegang dan sangsi mampukah dalam keadaan seperti itu ia menghadapi ketua Gedung Hitam? Tetapi berhadapan dengan musuh besar, bagaimana mungkin ia takkan mengadu jiwa ?

"Lepaskan aku, engkau sukar lolos. Jangan kita berdua kehilangan jiwa. Pergilah, mereka menghendaki kitab Giok- kah kim-keng, untuk sementara tentu takkan mencelakai aku."

Kata2 itu membangkitkan keputusan Cu Jiang. Menyelamatkan puteri adalah yang penting. Ilmu kepandaiannya didapat dari kitab Giok-kah-kim-keng dan kitab itu merupakan kitab pusaka negeri Tayli. Dia merasa menerima budi besar dari baginda Toan hongya. Dia harus membalas budi itu. Satu-satunya keuntungan pada saat itu, dirinya belum ketahuan lawan, mereka mengira dia seorang jago dari Thong-thian kau.

"Engkau benar2 panjang umur. Tetapi jangan harap engkau dapat lolos dari Gedung Hitam," seru ketua Gedung Hitam.

"Coba saja."

"Apa kedudukanmu dalam Thong-thian-kan?" "Maaf. soal itu tak dapat kuterangkan." "Lepaskan nona itu."

"Tidak bisa !"

"Apa tujuan mu membawanya ?" "Kita sama2 setujuan."

"Engkau tahu ... dia siapa?" "Puteri kerajaan Tayli."

"Sahabat, lepaskan dia dan engkau boleh pergi dari sini atau kalau membangkang engkau tentu mati."

"Ha, ha, sudah kukatakan, tidak bisa."

"O, kalau begitu engkau kepingin menyusul ketuamu Thay-siang kaucu itu?"

"Siasat keji, aku tak dapat menghargai."

"Terserah   apa   saja   engkau   mau   bilang, pokoknya, engkau tentu mati. ."

"Kalau tidak hidup tentu mati. Hidup itukan hanya begitu," Cu Jiang tertawa sinis.

"Heh. hah, rupanya nyalimu hebat sekali," "Tak perlu memuji."

"Baik akan kulaksanakan keinginanmu itu."

Tring. ketua Gedung Hitam mencabut pedang. Cu Jiangpun segera kerahkan seluruh semangatnya dan menghimpun segenap kekuatannya.

Saling bersiap menyerang itu berlangsung cukup lama sehingga suasana tegang sekali.

"Hait..." tiba2 Cu Jiang menyerang dulu. Dia tak mau tenaga-dalamnya terhambur sia2.

Terdengar dering senjata yang tajam dan keduanya mundur selangkah. Rencana Cu Jiang adalah hendak menyelamatkan puteri. Setelah menempatkan puteri itu disebelah lengan kiri, dia mulai menyerang lagi.

Ketua Gedung Hitam mampu menangkis. Tetapi setelah Cu Jiang menyerang yang ketiga kalinya, ketua Gedung Hitam sempoyongan beberapa langkah ke belakang. Bahu sebelah kanannya berwarna merah.

Cu Jiang tak mau menghilangkan kesempatan. Dia menyerang lagi yang keempat kalinya. Ketua Gedung Hitam menggembor, tangan kiri menghantam dan tangan kanan yang mencekal pedang-pun menabas ke atas.

Tetapi ternyata serangan Cu Jiang itu hanya gertakan kosong. setelah sudah terpisah agak jauh dari ketua Gedung Hitam, Cu Jiang terus gunakan ilmu langkah Gong-gong poh-hwat untuk melesat ke luar.

"Kejar !" teriak ketua Gedung Hitam yang terus mendahului loncat. Rombongan anak buah Gedung Hitampun segera mengikuti. Saat itu Cu Jiang sudah tiba di lapangan depan. Rombongan anak buah Gedung Hitampun tiba tetapi Cu Jiang sudah mempunyai rencana.

Setelah berhasil menghindari serangan dari muka, sekali loncat ia sudah melesat di bawah pagar tembok lalu enjot kakinya melambung ke atas tembok.

"Mau lari ke mana engkau!" ketua Gedung Hitam memburu sampai di tengah lapangan. Tetapi Cu Jiang sudah loncat turun di luar pagar tembok. Beberapa anak buah Gedung Hitam yang hendak menghadangnya, terpaksa harus melarikan diri.

Setelah melintasi dua buah puncak gunung, Cu Jiang tiba di sebuah lembah, mencari tempat yang bersih, meletakkan tubuh puteri Tayli lalu menghela napas: "Ah, akhirnya lolos juga dari sarang harimau. "

Puteri memandang pemuda itu dengan rasa terima kasih. Lama baru dia membuka mulut: "Jiang ko, aku merepotkan engkau saja! "

Tergetar hati Cu Jiang ketika dipanggil Jiang-ko atau engkoh Jiang. Ia tertawa: "Kalau kongcu sudah  selamat, aku sudah bersyukur kepada langit dan bumi."

"Apa engkau tak dapat mengganti panggilan kepadaku?" "Tata susila tak boleh diabaikan."

Setelah mengalami peristiwa penculikan itu rupanya perangai puteri yang nakal dan periang mulai berobah. Dengan tersenyum rawan dia menghela napas: "Jiang-ko, apakah engkau . . . tak mengerti hatiku?"

Sudah tentu Cu Jiang tahu, tetapi dia tak ingin menderita kepahitan lagi maka dengan nada bersungguh2 dia berkata: "Kongcu, lebih baik tinggalkan daerah Tionggoan..." "Maksudku tak lain hanya ingin menikmati keindahan alam di daerah Tionggoan."

"Tetapi dunia persilatan di Tionggoan itu penuh dengki peristiwa2 yang berbahaya. Kurang baik bagi Kongcu. "

"Apakah engkau mengusir aku?"

"Ah tidak. Aku berkata dengan maksud baik. Biarlah Ki Siau Hong dan Ko Kun yang  mengantarkan kongcu kembali ke Tayli."

"Dan engkau?" puteri kerutkan dahi.

Cu Jiang tertawa hambar: "Aku seorang persilatan, setelah urusan tugas dan peribadi sudah selesai, aku hendak menggantung pedang dan hidup menyepi ..."

"Hidup menyepi? Ah. kata2 mu seperti ucapan  orang tua. Jiang-ko, berapakah usiamu?"

"Kongcu, apa yang kualami dalam kehidupan banyak sekali ..."

"Engkau tak mau kembali ke Tayli lagi?"

"Suhu telah mengatakan, memberi kebebasan kepadaku untuk bertindak."

"Engkau belum menjawab pertanyaanku tadi."

Cu Jiang tertegun lalu keraskan hati, menjawab: "Kongcu, aku . . sangat berterima kasih atas kebaikan budimu ..."

"Sudahlah, jangan mengucapkan kata2 yang merendah begitu."

"Ini bukan kata merendah." "Lanjutkan kata-katamu."

"Aku . . sudah terikat dengan Janji pernikahan." Seketika berobahlah cahaya wajah puteri itu, serunya gemetar: "Benarkah itu?"

"Tentu saja benar . ."

"Apa engkau bukan cari alasan untuk menolak aku?"

Cu Jiang mengeluarkan dompet dari bajunya, "Inilah tanda pengikat pernikahan itu." Puteri kesima. Hatinya tentu remuk rendam. Beberapa saat kemudian barulah ia paksakan bersenyum.

"Pilihanmu tentu seorang yang jelita sekali dan cerdas..."

"Tidak, hanya seorang gadis biasa," jawab Cu Jiang penuh rasa haru karena teringat akan nasib Ho Kiong Hwa.

"Aku tak percaya."

"Ah, hal itu memang tak dapat kuhindari," kata Cu Jiang, "kongcu, bukankah engkau mengatakan tenagamu telah dilumpuhkan mereka?"

"Ya."

"Ijinkanlah aku membukanya." "Baik."

Atas pertanyaan, kongcu itu mengatakan bahwa Jalan darah Jin tok dan Tay-meh tak dapat lancar. Cu Jiang segera menjulurkan jari dan melakukan tutukan dari jarak jauh.

Cara membuka jalan darah dari jauh itu, hanya beberapa orang saja di dunia persilatan yang mampu melakukan.

"Sudah, " seru puteri seraya menggeliat. "Kongcu, mari kita tinggalkan tempat ini!" "Baik." "Daerah ini dikuasai Gedung Hitam. Mereka tentu telah menghias daerah ini dengan alat2 yang berbahaya. Maka terpaksa aku harus membawa kongcu untuk melintas gunung dan menyeberang sungai."

"Bagus, akupun senang juga." Demikian keduanya segera berangkat.

"Bagaimana kongcu sampai jatuh ketangan mereka ?" tanya Cu Jiang.

"Ketua Gedung Hitam turun tangan sendiri." "Oh..."

"Kepandaiannya memang menakjubkan sekali. Gerak langkah yang kupelajari dari paman Nyo, ternyata tak mampu menghindari dari orang itu."

Sebenarnya Cu Jiang hendak mengatakan bahwa bukan gerak Gong-gong-poh hwat itu yang salah tetapi karena tenaga-dalam puteri itu memang masih kurang sehingga tak dapat mengembangkan ilmu tersebut.

"Ya, kepandaian ketua Gedung Hitam memang hebat sekali," kata Cu Jiang karena tak mau menyakiti hati puteri. "dan otaknya memang hebat. Kalau tidak masakan dia mampu menguasai dunia persilatan Tionggoan selama belasan tahun."

"Dimana toanio ?"

"Kita akan bertemu di jalan terdekat."

Petang hari, mereka tiba di kota pegunungan. Setelah menempatkan puteri disebuah tempat yang aman, Cu Jiang masuk kedalam kota, mencari Thian put-thou Ciok Yau Je. Tokoh itu berada dalam sebuah rumah makan kecil sedang minum arak. "Adik kecil, mari kita minum arak !" serunya girang ketika melihat Cu Jiang.

"Tidak, usah ada urusan penting." "Urusan apa ?"

"Orang yang kita cari, sudah menunggu diluar kota ini." "Dia ?"

"Ya,"

"Lalu bagaimana ?"

"Kita belikan makanan dan pakaian, suruh dia menyamar ..." kata Cu Jiang, "dan apakah bisa menyediakan kuda ?"

"Berapa ekor ?"

"Cukup seekor saja. Nanti akan kuserahkan pengawalannya kepada pengawalnya."

"Baik, engkau tunggu saja disini," kata Thian-put-thou terus ngacir keluar. Hanya setengah jam kemudian Thian- put thou sudah muncul lagi dengan membawa sebuah bungkusan besar: "Makanan dan pakaian disini semua. Kudanya di luar kota, Berangkatlah dulu, nanti kutunggu dengan kuda itu."

Pada saat itu dua orang imam yang jubahnya tak keruan, masuk kedalam rumah makan itu dan duduk di pojok. Cu Jiang seperti kenal dengan mereka. Ketika mengawasi dengan seksama, ia girang sekati. Kedua imam itu tak lain adalah Ki Siau Hong dan Ko Kun.

"Lekas berangkat, tunggu apa lagi !" desak Thian put thou.

"Mereka sudah datang." "Siapa ?"

"Orang yang akan mengawal."

"Oh..." Thian-put thou yang cerdas segera dapat memahami maksud Cu Jiang.

Cu Jiang memberi sandi yang mendapat jawaban dari kedua imam palsu itu. Karena tak leluasa berbicara, Cu Jiang mengangguk kepala dan memberi isyarat "aman".

Setelah itu memberi pesan kepada  Thian-put-thou supaya mengadakan kontak dengan kedua imam itu, iapun terus keluar. Ia kuatir puteri terlalu lama menunggunya.

Alangkah kejutnya ketika tiba ditempat dan tak mendapatkan puteri berada disitu. Ia terlongong-longong bingung.

"Nak..." tiba2 terdengar sebuah suara yang tak asing bagi Cu Jiang, serentak dia menyahut: "Apakah toa-nio ?"

Seorang wanita gemuk muncul dari tempat gelap Dia bukan lain memang Poan toanio, bibi Cu Jiang sendiri.

"Toanio, engkau juga kemari ?"

"Sudah berjumpa dengan kedua imam palsu itu?" kata Poan toanio.

Cu Jiang mengangguk.

"Selama dalam perjalanan kami tak menemui rintangan suatu apa dan kebetulan sekali dapat berjumpa dengan engkau," kata Poan toanio.

"Toanio, kongcu..."

Poan toanio kerutkan dahi dan berkata dengan nada sarat: "Nak, ada beberapa pertanyaan yang kuminta engkau menjawab dengan sungguh." Cu Jiang terkejut namun ia mempersilakan bibinya mengatakan.

"Engkau anggap kongcu itu cantik tidak." "Cantik sekali."

"Bagaimana peribadinya ?"

"Periang, lincah, ah, semuanya baik." "Tetapi mengapa engkau menolaknya?" Merah wajah Cu Jiang. Ia tertawa rawan.

"Toanio, tit-ji hanya seorang kelana dalam dunia persilatan . . ."

"Begitupun suhumu, Gong-gong-cu tetapi dia pun mau menjabat sebagai Koksu. Mendiang ayahmu bergelar Dewa-pedang asal keturunanmu tidak rendah, nak."

"Ya, tetapi . . ."

"Mengapa engkau merendahkan dirimu sendiri. Jika wajahmu belum pulih seperti sekarang, aku memang tak dapat berkata apa2."

"Toanio belum mendengarkan habis keteranganku . . . tit-ji sudah terikat perjodohan dengan orang."

Sepasang   mata   Poan   toanio  yang   besar terbelalak. "Benarkah itu?"

"Toanio mengapa aku membohongmu ?"

"Engkau tak pernah mengatakan hal itu kepadaku."

"Hal itu terjadi belum berapa lama dan Ang Nio Cu yang menjadi perantaranya . . ."

"Ang Nio Cu menjadi comblangnya?" "Ya." "Siapa gadis itu?"

"Seorang gadis yang bernasib malang, namanya Ho Kiong Hwa."

"Hm, Ho Kiong Hwa ..."

"Tetapi toanio, aku tak dapat mengecewakannya..." "Apa dia pernah melepas budi kepadamu?"

"Tidak, tetapi bagaimanapun aku tak dapat membuangnya . . . "

"Mengapa?"

Cu Jiang lalu menuturkan semua peristiwa yang menimpa diri Ho Kiong Hwa yang karena merasa telah ternoda lalu membatalkan ikatan kawin itu.

"Nak, apakah engkau keberatan untuk membatalkan ikatan itu?"

"Walaupun ke ujung langitpun aku tetap hendak mencarinya. Sebagai seorang ksatrya, aku tak mau melanggar janji. Apalagi sebelumnya dia sudah terikat perjodohan dengan aku."

"Itulah sebabnya maka engkau menolak kongcu?" "Begitulah."

"Hm, memang engkau tak bersalah, tetapi  kongcu hancur hatinya ..."

"Akupun mengetahui hal itu."

"Baik, kita sudahi saja pembicaraan tentang hal itu.

Bagaimana keadaan di Gedung Hitam?"

"Barisannya sudah hancur. Karena Thong-thian-kau juga ikut menggempur, banyak jago2 Gedung Hitam yang mati. Kekuatan Gedung Hitam sudah lemah." "Engkau pernah bertempur dengan ketua Gedung Hitam?"

"Ya, tetapi demi menyelamatkan kongcu, terpaksa untuk sementara kulepaskan dia."

"Bagaimana wajahnya yang aseli?"

"Tetapi masih belum diketahui tetapi kupercaya tak lama kedoknya tentu akan terbuka."

"Lalu pihak Sip-pat-thian-mo?"

"Hanya tinggal seorang, yakni Hui-thian Sin-mo yang kemungkinan menjaga di markas besar Thong-thian-kau. Tugas yang diberikan suhu, boleh dikata hampir selesai."

"Nak, setelah tugasmu selesai, bagaimana kira-kira rencanamu nanti?"

"Lebih dulu mencari Ho Kiong Hwa lalu mengundurkan diri dan dunia persilatan."

"Tak kembali ke Tayli untuk menjabat Tin-lian ciang-kun lagi?"

"Toanio, tit-ji tak begitu tertarik dengan pangkat." "Juga kepada diriku ini?"

"Ah, toanio, tit-ji mempunyai rencana?"

“Di gunung Bu-leng san terdapat seorang bu su yang bernama Ban Ki Hong. Dahulu pernah mendapat pelajaran ilmu pedang dari mendiang ayah. Dia senang tinggal mengasingkan diri di gunung itu.

Apabila toanio ingin meninggalkan dunia ramai, tit-ji bersedia mengantar toanio kesana. Kelak tit-ji tentu akan merawat toanio sampai tua." Poan toanio berlinang-linang air mata dan mengangguk angguk: "Baik . . . baik ..."

"Toanio, kongcu ..." "Mari ikut aku!"

Cu Jiang mengikuti wanita gemuk itu. Beberapa jenak kemudian mereka tiba di sebuah tempat yang penuh gunduk batu tinggi.

"Kongcu! Kongcu!" teriak Poan toanio. Tetapi sampai diulang beberapa kali tak terdengar penyahutan. Cu Jiang mulai gelisah.

Poan toanio segera mencari ke sekeliling tempat  itu tetapi beberapa saat kemudian ia muncul dengan dahi mengeriput: "Aneh, dia menunggu aku di sini."

Tiba2 ia melihat sesosok tubuh kecil berlari-lari mendatangi. Cepat ia meneriaki Cu Jiang dan pemuda itu pun bergegas keluar.

"O, dia adalah sahabat tit-ji, Thian-put-thou lo koko !" serunya gembira.

Memang yang datang itu Thian put thou. "Adik kecil, engkau di sini? Dan ini . . "

"Bibiku Poan toa-nio."

"O, insaf, pencuri tua menghaturkan hormat."

"Ah, terima kasih," Poan toaniopun balas memberi hormat.

Kemudian Thian-put-thou bertanya kepada Cu Jiang: "Apa engkau hendak mencari kongcu?"

Cu Jiang mengiakan. "Tak perlu engkau cari ..." "Mengapa?"

"Dia sudah pergi." "Pergi?" Cu Jiang terkejut.

"Ya, dia telah diiring oleh kedua pengawal  yang menyaru sebagai imam itu."

"Ah . . ." Cu Jiang mendesah.

"Dia hanya meninggalkan pesan kepadamu, asam di gunung, garam di laut, semoga dapat berpadu!"

Cu Jiang mengeluh dalam hati. Dia seperti kehilangan sesuatu. "Baik. perpisahan begini memang lebih baik." akhirnya ia menghela napas.

"Ya, tetapi kurang enak juga terhadap Kok-su dan baginda Toan hongya, " kata Poan toanio.

"Kalau begitu tit-ji akan menyusulnya." "Buat apa?"

Cu Jiang tertegun. Ya, kalau bertemu dengan  puteri Tayli itu apakah yang harus ia katakan. Bukankah kedua pihak akan sama menderita hatin?

"Nak, tak perlu bersedih. Biarlah urusan itu selesai sampai disini." Poan toanio menghiburnya.

"Waktu kembali ke Tionggoan, keempat pengawal itu ikut. Tetapi kini mereka hanya tinggal dua yang pulang. Bukankah suhu dan baginda akan kecewa kepada tit-ji ?"

Poan toanio menghela napas dan mengatakan bahwa kedua jago yang telah mengorbankan jiwa untuk kerajaan Tayli itu, kelak tentu akan mendapat penghargaan."

"Sudahlah, Jangan bersedih akan peristiwa yang telah lalu. Sekarang bagaimana langkahmu ?" tanya Poan toanio. "Menyerbu Gedung Hitam lagi !"

"Tidak menunggu Ang Nio Cu ?" Thian-put-thou garuk2 kepala.

"Dikuatirkan ketua Gedung Hitam itu akan meloloskan diri, tentu sukar untuk mencarinya !" kata Cu Jiang, "lo- koko. .."

"Mau menghalang diriku lagi, ya ?" Thian-put-thou deliki mata.

"Ih, bukan begitu." "Lalu bagaimana ?"

"Langkahku kali ini adalah untuk membalas dendam keluargaku."

"Tak menghendaki bantuan orang ?" Thian-put-thou menukas.

"Ai, lo-koko .. ."

"Si tua ini hanya melihat saja, tidak ikut turun tangan, bagaimana?"

Apa boleh buat, Cu Jiang hanya dapat tertawa meringis. "Baiklah kalau begitu."

Demikian ketiga orang itu segara lari menuju ke gunung lagi. Tiba di daerah markas Gedung Hitam, sudah hampir fajar hari. Karena sudah faham jalannya, maka Cu Jiang membawa Poan toanio dan Thian put thou ke puncak yang di datangi dulu.

"Toanio, dari sini lebih kurang seperempat jam lagi. kita akan tiba di Gedung Hitam! Mumpung musuh belum bersiap-siap, kita terus menyerangnya saja!"

"Baik," sahut kedua kawannya. Kali ini Cu Jiang memang hendak datang secara terang- terangan. Dia menanggalkan kedok kulit muka dan berganti dalam pakaian seperti seorang pelajar. Pedang kutung diselipkan di pinggang. Kini dia benar2 kembali seperti Cu Jiang dahulu atau si pelajar baju putih.

Tiba2 saat itu di lereng puncak yang terpaut sebuah jurang, seperti tampak berpuluh bayangan orang sedang bergerak.

"Toanio, lo koko, apakah melihat apa yang berada di lereng puncak itu?"

Thian put thou memandang ke puncak itu: "O, orang, paling sedikit sepuluh."

"Api !" tiba2 Poan toanio menunjuk ke arah markas Gedung Hitam.

Cu Jiang berpaling. Memang benar Gedung Hitam yang besar dan luas itu sedang dimakan api.

"Jangan2 mereka membakar sarangnya sendiri?" kata Thian put-thou.

Cu Jiang seperti disadarkan. Orang2 dilereng puncak sebelah muka itu, mungkin ....

"Aku hendak mencegat mereka!" ia terus loncat dan menghilang dalam kabut. Poan toanio pun mengajak Thian- put-thou menyusul.

Dengan gunakan gerak Gong-gong-poh-hwat, setelah melintasi lembah, naik gunung turun gunung, dalam beberapa waktu dapatlah Cu Jiang tiba di tempat orang2 tadi. Agar jangan membikin kaget mereka, ia sengaja memutar dari samping dan naik ke puncak. Tetapi orang2 itu ternyata sudah tak ada. Saat itu cuaca makin terang tetapi kabut di puncak gunung masih meremang, pandang mata Cu Jiang mengelilingi puncak itu tetapi tetap tak dapat menemukan apa2.

Gedung Hitam sudah dibumi hanguskan dan tentulah ketuanya sudah pergi. Thong-thian-kaupun sudah tak mempunyai kekuatan lagi untuk menyerang  Gedung Hitam.

Poan toanio dan Thian-put-thou tiba. "Bagaimana?" seru thian-put-thou. "Mereka menghilang!"

"Mungkin kita salah siasat " tiba2 Poan toanio berkata. "Bagaimana?"

"Sebenarnya kita langsung menyerbu ke Gedung Hitam, mungkin masih dapat membekuk seorang atau dua orang anak buahnya dan dapat kita korek keterangan. Sekarang sudah terlambat."

"Sosok2 bayangan tadi memang mencurigakan." "Mungkin sosok yang memusuhi Gedung Hitam."

Cu Jiang menghela napas. Menilik gelagatnya jelas ketua Gedung Hitam sudah melarikan diri entah kemana.

Tengah ketiga orang itu termenung-menung kehilangan langkah, tiba2 sesosok bayangan orang yang aneh, muncul dari hutan jauh disebelah muka. Orang itu seperti mengepit seseorang.

Tanpa bicara apa-2, Cu Jiang terus loncat memburu. Ketika dekat, ia terkejut sekali. Ternyata orang itu tak lain adalah Ang Nio Cu dan yang dikempitnya adalah Cukat Beng Cu, puteri dari Cukat Giok yang kemudian waktu menjadi anak dari ketua Gadung Hitam berganti nama Ki Ing.

Menurut perhitungan tak mungkin Cukat Bsog Cu itu dapat sembuh sedemikian cepatnya, kecuali tokoh aneh Kui jiu-sinjin mempercepat pengobatannya.

Diam2 Cu Jiang mengikuti. Ilmu meringankan tubuh dari Ang Nio Cu memang hebat sekali. Jika bukan Cu Jiang, tentu sukar untuk mengikuti.

Berlari beberapa waktu, mereka tiba ditepi puncak. Dari tempat itu melihat sebuah puncak jauh disebelah muka Puncak gunung itu dikelilingi oleh lekuk2 lembah yang lebat.

Ketika memandang kearah puncak itu seketika darah Cu Jiangpnn bergelora. Belasan sosok tubuh yang menghilang tadi ternyata sedang berjalan melintasi celah2 gunung.

Ang Nio Cu berhenti, turunkan Cukat Beng Cu dan berbisik: "Apakah disini ?"

"Ya, benar," Cukat Beng Cu mengangguk. "Kulihat ada orang yang berlari disini . ."

"Apa yang siau-moay duga memang tak salah," sahut Cukat Beng Cu. Ia membahasakan dirinya sebagai siau- moay atau adik.

"Celaka mengapa Toan-kiam Jan jin tak kelihatan bayangannya ?"

"Taci, kalau engkau seorang diri apakah tidak terlalu berbahaya.. ."

"Demi membalas dendam suhuku, aku  tak menghiraukan apa2 lagi!" Mendengar itu Cu Jiang seperti mengetahui sesuatu. Tetapi pada saat dia hendak muncul, Ang No Cu sudah menyambar Cukat Beng Cu dan terus dibawa lari lagi.

Cu Jiang terpaksa mengikuti Bayangan orang yang tampak berjalan di celah gunung tadi, tiba2 lenyap. Cu Jiang terpaksa hentikan langkah. Tetapi Ang Nio Cu tetap maju, bahkan rupanya ia sengaja berjalan ditengah celah gunung itu.

Tiba2 timbul pikiran Cu Jiang. Jika dia mengitari gedung itu tentulah dia akan dapat menemukan rombongan orang tadi. Dan kalau dia berhati-hati bersembunyi dibalik batu atau pohon, tentulah mereka takkan mengetahui.

Segera ia lakukan hal itu. Saat itu Ang Nio Cu tiba ditempat dimana rombongan orang tadi menghilang. Ang Nio Cu berhenti disitu. Cu Jiangpun segera bersembunyi dibalik segunduk batu besar, terpisah tiga tombak dari tempat Ang Nio Cu.

"Ang Nio Cu sengaja datang hendak bertemu!" seru Ang Nio Cu dengan nyaring tetapi tak ada penyahutan.

Sekali lagi Ang Nio Cn mengulangi: "Jika tak mau menampakkan diri, aku terpaksa akan menghancurkan sandera ini!"

Sandiwara ? Apakah ketua Gedung Hitam bersembunyi disitu ?

Waktu Cu Jiang dan Thian-put thou tak berkutik menghadapi ancaman wakil ketua Gedung Hitam yang hendak meledakkan obat pasang, tiba2 Cukat Beng Cu muncul dan minta tali penarik bahan peledak itu dari tangan Li Ing Bo, wakil ketua Gedung Hitam.

Ternyata dia meneriaki Cu Jiang dan Thian put-thou supaya lari dan tidak mau menarik tali itu. Li lng Bo marah lalu melepaskan pukulan beracun yang hampir saja menewaskan jiwanya. Dengan tindakan itu tentulah Cukat Beng Cu sudah tahu asal-usul dirinya. Pikir Cu Jiang.

Sekarang Ang Nio Cu membawanya ketempat itu, mungkin mereka berdua sedang menggunakan apa yang disebut Gok-ji ki atau siasat Menyakiti-diri.

Tetapi bukankah wakil ketua Gedung Hitam Li Ing Bo itu sudah tahu penghianatannya ? Apakah siasat Gok-Ji ki itu akan berhasil. Merenung hal itu, Cu Jiang gelisah.

"Heh, heh, heh, heh..." terdengar suara orang tertawa mengekek sinis. Beberapa sosok tubuh dari arah lain, muncul berlarian mendatangi. Yang paling depan adalah ketua Gedung Hitam sendiri, dibelakangnya diiring oleh dua orang pengawal Gedung Terlarang.

Melihat musuh muncul, darah Cu Jiang mendidih, hawa pembunuh meluap-luap.

"Ang Nio Cu." seru ketua Gedung Hitam, ”hebat juga engkau dapat menemukan tempat rahasia disini. . ."

"Thian maha pemurah!" tukas Ang Nio Cu. "Bebaskan dia!"

"Boleh, tetapi ada syaratnya !" "Syarat bagaimana?"

"Engkau harus bertempur, lawan aku satu lawan satu, Iain orang tak boleh membantu."

"Hi, ha. ha, ha . . . Ang Nio Cu, tak ada lain hal yang lebih bagus dari syarat yang engkau ajukan itu!"

"Masih ada lagi," kata Ang Nio Cu, "budak perempuan ini telah kututuk jalan darahnya dengan ilmu tutuk yang istimewa. Jangan engkau coba2 bertindak licik untuk merebutnya.

Kecuali aku, tak mungkin lain orang mampu membuka jalan darahnya yang tertutuk itu. Jika tak kubuka, dalam waktu sejam, dia tentu mati!"

"Engkau pintar sekali ..."

"Bagimu masih tak terhitung apa2."

"Ang Nio Cu, kalau engkau mati, bukankah putriku yang tersayang itu akan ikut mati juga ?"

"Hal itu tergantung dari rejekimu !" "Baik, mari kita mulai."

"Suruh anakbuahmu itu mundur agak jauh."

"Kalian mundur," ketua Gedung Hitampun memberi perintah dan kedua pengiringnyapun segera mundur sejauh lima tombak.

Ang Nio Cu juga loncat mundur dua tombak untuk meletakkan Cukat Beng Cu di kaki puncak. Dan secara kebetulan tepat di depan Cu Jiang bersembunyi.

Pemuda itu kerutkan dahi. Dia tahu mungkin Ang Nio Cu tak dapat menandingi kesaktian ketua Gedung Hitam. Bukankah tindakannya itu berbahaya sekali ? Dendam tak terbalas, dirinyapun mungkin binasa sendiri.

Ang Nio Cu kembali maju lagi. Dia membawa pedang Cu Jiang yang tempo hari dijadikan barang tanda pengikut perjodohan dengan Ho Kiong Hwa, Ketua Gedung Hitam juga mencabut pedang. Setelah saling menatap beberapa saat, mereka lalu mulai bergerak. Ilmu pedang Ang Nio Cu memiliki gaya aneh dan dahsyat dari sumber perguruan agama. Begitu bertempur, keduanya sukar dilerai lagi.

Cu Jiang mengikuti pertempuran itu dengan penuh perhatian. Dia tahu bahwa Ang Nio Cu mempunyai dendam darah yang hebat dengan ketua Gedung Hitam.

Diam2 Cu Jiang menimang, jika dia keluar dan menggantikan Ang Nio Cu tentu tak punya kesempatan lagi untuk melampiaskan dendam kesumatnya.

Tetapi kalau tak turun tangan, Ang Nio Cu tentu tak dapat membunuh ketua Gedung Hitam itu.

Pertempuran berjalan makin seru dan menakjubkan. Sekonyong-konyong dua sosok tubuh diam2 telah menyelinap ke tempat Cukat Beng Cu dan terus ulurkan tangan hendak menyambar nona itu.

Cu Jiang terkejut. Cepat dia menjulurkan jari untuk memancarkan ilmu Jari-sakti kepada kedua orang itu. Tetapi sebelum ia sempat melakukannya. tiba2 kedua orang itu mengerang terus rubuh, Cu Jiang diam2 menghela napas longgar.

Kiranya Ang Nio Cu sudah menyiapkan langkah untuk menghadapi perbuatan musuh yang hendak mengganggu Cukat Beng Cu.

Tetapi saat itu Ang Nio Cu sudah mulai terdesak oleh pedang ketua Gedung Hitam. Dengan mati-matian  Ang Nio Cu harus bertahan diri walaupun dengan pontang- panting.

"Huak..." terdengar mulut Ang Nio Cu menguak dan tubuhnya sempoyongan. "Berhenti!" saat itu Cu Jiang tak dapat menahan diri lagi dan terus melayang keluar.

"Adik !" teriak Ang Nio Cu girang sekali.

Ketua Gedung Hitam mundur tiga langkah seraya berseru gemetar : "Toan-kiam-jan-jin !"

Sepasang mata Cu Jiang memancar hawa pembunuhan, gerahamnya bergemerutuk.

"Tua bangka, dengarkan yang jelas, aku bernama Cu Jiang putera tunggal dari Dewa pedang Cu Beng Ko!"

Kembali ketua Gedung Hitam mundur dua langkah dengan wajah terkejut. Cu Jiang menghampiri maju dan terus mencabut pedang kutung dari pinggangnya.

Ketua Gedung Hitam memandang Cukat Beng Cu dengan mata penuh kemarahan, serunya:

"Budak hina, engkau berani  mengkhianati aku?" "Bangsat   tua,    aku   hendak   menyayat-nyayat   daging

tubuhmu.  Sekarang,  bukalah  kedok  mukamu  !" teriak Cu

Jiang.

Mata ketua Gedung Hitam berkeliaran ke samping tetapi Cu Jiang segera menghardik:

"Jahanam, Jangan coba2 cari akal busuk, jangan harap engkau dapat lolos!"

Cukat Beng Cu berbangkit terus lari kesisi Ang Nio Cu.

Ketua Gedung Hitam mendengus geram. Ia terus mainkan pedang menyerang Cu Jiang. Serangannya itu dilancarkan dengan sepenuh tenaga. Tampaknya dia bernapsu sekali dirangsang kegugupan.

Cu Jiang membentak lalu memainkan ilmu pedang It- kiam-tui-hun ajaran mendiang ayahnya. Begitu terjadi benturan, terdengarlah suitan nyaring di udara dan ketua Gedung Hitam itu terus hendak berputar tubuh.

Tetapi Cu Jiang sudah menjagai hal itu. Dia loncat membayangi dengan ujung pedang kutung sehingga ketua Gedung Hitam itu terpaksa berbalik tubuh lagi untuk melayaninya.

Rupanya kedua belah pihak sangat bernafsu sekali untuk membunuh lawan. Setiap jurus yang  dilancarkan selalu jurus2 maut yang dahsyat.

Terdengar bentakan nyaring campur erang tertahan dan tubuh ketua Gedung Hitampun berlumur warna merah. Dia sempoyongan. Cu Jiang tak mau memberi ampun lagi. Ia menyerang dengan sebuah Jurus ilmupedang It-kiam-tui- hun.

Tring, tring....

Ketua Gedung Hitam mundur lagi beberapa langkah tetapi ia masih dapat menangkis serangan maut lawan.

Cu Jiang makin kalap. Bagai harimau haus darah, dia terus menyerang lagi. Terdengar erang pelahan dan tubuh ketua Gedung Hitaaa bertambah luka baru pula.

"Aku hendak menghias mayatmu dengan seribu tusukan." seru Cu Jiang.

"Hm. . . .!" ketua Gedung Hitam menggembor dan balas menyerang seperti orang kalap. Delapan buah jurus yang aneh dan ganas, disertai dengan seluruh tenaganya, dilancarkan dengan hebat, Cu Jiang sibuk juga menangkis dan terdesak mundur dua langkah.

Jika dia menggunakan ilmu pedang Thian-te-kau-thay dari kitab pusaka Giok-kah-kim-keng, ketua Gedung Hitam tentu tak mampu bertahan sampai lima Jurus. Tetapi karena hendak membalas dendam maka ia tetap mempergunakan ilmu pedang ajaran ayahnya. Itulah sebabnya maka ketua Gedung Hitam mampu balas menyerang.

Delapan jurus yang dilancarkan ketua Gedung Hitam telah selesai. Kini Cu Jiang mulai balas menyerang. Dia tetap menggunakan ilmu pedang It-kiam-tui-hun.

Tring . . . terdengar pekik kejut dan pedang ketua Gedung Hitam itupun mencelat ke udara. Cu Jiang julurkan pedang buntung lurus ke muka. Mengarah dada lawan. Ketua Gedung Hitam ketakutan dan  mundur tetapi Cu Jiang tetap mendesak maju.

Suasana gelanggang pertempuran diliputi hawa pembunuhan. Tak ada seorangpun pihak Gedung Hitam yang tampak. Mungkin karena melihat gelagat buruk mereka sudah bersembunyi.

Setelah terus menerus mundur, akhirnya ketua Gedung Hitam tertutup jalan oleh segunduk batu besar.

"Hiaaat . . . !" sekali pedang menggurat, Cu Jiang berteriak kaget. Ia memang mencongkel kedok muka ketua Gedung Hitam. Tetapi begitu wajah aseli dari lawan terlihat jelas ia sendiri terkejut bukan kepalang. Kiranya ketua Gedung Hitam itu tak lain adalah Bulim seng-hud atau Buddha hidup Sebun Ong.

Buddha hidup yang begitu diagungkan sebagai tokoh yang berhati mulia, ternyata seorang biang durjana yang selama berpuluh puluh tahun telah meneror dunia persilatan. Hampir Cu Jiang tak percaya apa yang dilihatnya. Rahasia besar dalam dunia persilatan kini telah tersingkap. Tiong goan tay hiap Cukat Giok benar. Yang merampas isteri dan puterinya memang Sebun Ong.

Cu Jiang teringat bahwa ketika menghembuskan napas yang terakhir, toa suhengnya Ho Bun Cai pernah mengucapkan kata "Sebun Ong" . Tetapi Cu Jiang tak menyadari hal itu.

"Sebun Ong, belasan tahun engkau dapat mengelabuhi mata dunia persilatan. Tetapi akhirnya Thian menghukummu juga, ha, ha, ha "

Cukat Beng cu berbalik diri. Rupanya ia tak sampai hati melihat keadaan ayah tirinya yang selama ini memperlakukan ia dengan baik. Ia belum tahu akan nasib ayahnya sendiri.

"Budak, aku menyerah, bunuhlah !" seru Sebun Ong dengan menarik napas.

"Sebun Ong, mengapa engkau memusuhi ayahku?" "Dia tak layak mendapat gelar Dewa-pedang."

"Engkau . . . jahanam tua, hanya karena merasa iri saja, sampai hati untuk membunuh seluruh keluargaku. Engkau bukan manusia "

"Bunuhlah aku!"

"Tidak begitu cepat engkau harus mati, crat ..." pedang buntung menusuk bahu kiri Sebun Ong, darah mengucur deras, "ini untuk Cukat Giok lo cianpwe!"

Cret . . . kembali ujung pedang menusuk tembus bahu kanan. "Dan ini untuk Toa suhengku Ho Bun Cai . . ! "

Sebun Ong berobah menjadi manusia darah. Ia terkulai tetapi Cu Jiang mencengkeram dada dan mengangkatnya: "Jahanam, mengapa dulu2 engkau tak mau bertobat!" "Engkau . . engkau . . keji sekali . ."

"Dan yang ini adalah untuk arwah keluargaku . . . cret! " pedang itupun menembus ulu hati Sebun Ong. Seketika dia terkulai putus nyawanya.

Cu Jiang lalu berlutut menghadap ke barat.

"Ayah, mama, adikkku, paman Liok...aku telah membalas dendam dan hendak menghancurkan kepala musuh..."

Ang Nio Cu maju mencegahnya: "Adik Jiang orang yang mati, sudah himpas dosanya. Dia sudah menerima buah dari pberbuatannya!"

Cu Jiang menurut. Memandang ke segenap penjuru, ia berkata: "Sisanya tentu masih..."

"Tempat ini merupakan sarang rahasia dari Gedung Hitam yang penuh lorong2 berbahaya. Mereka tentu sudah melarikan diri..." tiba2 Cukat Beng Cu menyela.

"O, nona Cukat, aku masih ada sesuatu yang belum sempat kuberitahu kepadamu."

Sambil menggigit gigi, nona itu berkata: "Waktu mamaku mati karena racun, diapun sudah menerangkan sedikit . ."

"Tentang ayah nona?"

"Ayah sudah meninggal dunia." "Tidak, beliau masih hidup!"

"Ayah masih hidup?" seketika gemetarlah tubuh Cukat Beng Cu.

Cu Jiang lalu menuturkan semua peristiwa yang dialaminya bersama Cukat Giok, serta soal dompet yang diserahkan kepada mama Cukat Beng Cu. Nona itu menangis tersedu-sedu.

Tiba2 dia berputar tubuh dan ayunkan tangan ke mayat Se bun Ong. Tetapi setengah jalan, dihentikan lagi: "Ah, sudahlah ..."

"Nona, inilah barang titipan ayah nona yang telah diberikan kepadamu," kata Cu Jiang seraya menyerahkan dompet dari Cukat Giok. Dengan tangan gemetar, Cukat Beng Cu menyambutinya.

Kemudian Cu Jiang bertanya kepada Ang Nio Cu mengapa dapat muncul lebih pagi di gunung Keng-san itu.

"Luka adik Beng Cu sembuh lebih cepat dari waktunya. Kami segera menuju kemari. Mata2 Gedung Hitam mengatakan kepada adik Beng Cu bahwa wakil ketua Li lng Bo telah mati dibunuh orang Thong thian-kau. Maka ketua itu tak tahu tentang perbuatan adik Beng Cu yang berpaling haluan. Pada saat kami tiba, ternyata markas Gedung Hitam sudah hancur. Dan dari seorang anak buah, adik Beng Cu tahu kalau tempat ini merupakan tempat persembunyian rahasia dari ketua Gedung Hitam . . ."

"Oh, maka taci lalu menggunakan siasat Gok-ji-ki untuk memikat supaya Sebun Ong keluar !"

"Ya, tetapi aku salah..." "Mengapa?"

"Tak tahu kekuatan diri sehingga apabila engkau tak muncul, akibatnya tentu sukar dibayangkan!"

"Ah, itu karena Sebun Ong memang sudah sampai umurnya mati!"

Tiba2 dua sosok bayangan berlari mendatangi. Ternyata keduanya adalah Poan toanio dan Thian put thou. Lebih dulu Cu Jiang memperkenalkan Ang Nio Cu dan Cukat Beng Cu kepada bibinya.

"Ho, sungguh tak kira kalau ketua Gedung Hitam itu ternyata Sebun Ong !" seru Thian-put-thou.

Dengan berlinang-linang. Poan toanio berkata: "Nak, kini arwah ayah bundamu, adik-adikmu dan kawan2 yang telah mati dengan penasaran tentu akan terhibur di alam baka!"

Tiba2 Cu Jiang memperhatikan bahwa pada waktu Cukat Beng Cu membuka dompet dari ayahnya, nona itu tampak terlongong-longong.

"Nona Cukat !" tak terasa Cu Jiang berseru menegurnya.

Cukat Beng Cu tundukkan kapala. Mulutnya mendesis lalu berpaling ke samping memandang Ang Nio Cu.

Cu Jiang mengikuti dengan pandang mata.Di lihatnya di tangan nooa itu terdapat sebuah kumala yang berwarna hijau kehitam-hitaman. Di bawah batu kumala itu terdapat pula secarik kertas yang berisi beberapa tulisan.

"Apakah itu bukan Lencana Hitam ?" diluar kesadaran, mulut Cu Jiang mendesir.

Cukat Beng Cu memandang Cu Jiang dengan pandang mata yang aneh, Kemudian ia mengeluarkan  sebutir kumala dari bajunya lalu diletakkan di sisi kumala tadi. Ah, benar2 sepasang batu kumala hitam yang baik bentuk dan warnanya seperti pinang dibelah dua.

"Apakah artinya itu ?” Cu Jiang berseru heran. Wajah nona itu nampak pilu.

"Kedua untai kumala ini sebenarnya merupakan sepasang. Ayah dan ibu masing2 menyimpan satu.Milik mendiang, ibu telah diserahkan kepadaku." sampai disini ia hentikan kata-katanya.

Wajahnya mengerut tegang, entah  mengandung perasaan marah atau dendam, kemudian melanjutkan pula: "Kemudian kumala yang menjadi milikku itu, kujadikan sebagai tanda diriku dan disebut Hek-hu. Hanya... begitulah

!"

"O, benar." kini Cu Jiang menyadari. "waktu nona memberikan kumala itu kepadaku, kecuali dalam lingkungan anak buah Gedung Hitam, diluar memang tak ada pengaruhnya apa2. Kiranya karena hal itu..."

"Cu siangkong, tadi engkau mengatakan bahwa ayahku telah dicelakai Sebun Ong?"

"Keterangan itu menurut cerita ayah nona sendiri." "Aku. ingin bertemu dengan ayahku !"

"Lembah rahasia itu hanya mempunyai sebuah jalan. Dan pada musim kemarau barulah dapat mencapai ke tempat itu. Aku bersedia mengantar nona ke sana. ."

"Kapan ?"

"Setelah kubasmi iblis yang terakhir dari gerombolan Sip- pat thian-mo itu !"

"Iblis yang mana ?" Poan toanio menyela. "Iblis ke satu yang disebut Hui-thian Sin-mo. "

"Tak perlu engkau buang tenaga!" "Kenapa ?"

"Iblis kesatu sama2 hancur binasa dengan wakil ketua Gedung Hitam Li Ing Bo. Hui-thian Sin-mo mati akibat bahan pasang yang diledakkan Li Ing Bo tetapi Li Ing Bopun akhirnya mampus karena dibunuh biang iblis Jui- beng-koh."

"Ah. " Cu Jiang menghela napas longgar, Kini tugasnya

ialah selesai. Musuh besar telah dl-tumpas, tak ada  lagi yang harus diresahkan. Tiba2 la teringat akan nasib Ho Kiong Hwa, calon isterinya itu.

Saat itu Ang Nio Cu mengambil surat dari tangan Cukat Beng Cu setelah membaca dia berseru: "Bagus, adik Beng Cu, akulah yang akan mengaturnya."

Cukat Beng Cu tertawa tersipu-sipu lalu tundukkan kapala. Sudah tentu sekalian orang heran melihat kasak- kusuk kedua orang itu.

Ang Nio Cu beralih memandang Cu Jiang.

"Adik Jiang, sekali lagi aku hendak menjodohkan engkau."

"Apa? Taci mengatakan apa?" Jiang terbeliak. "Akan menjadi comblangmu !"

Poan toanio dan lain2, memandang heran  ke-arah wanita yang mukanya selalu ditutup dingin kain selubung itu.

"Aku benar-2 tak mengerti !" seru Ca Jiang.

"Bacalah sendiri," seru Ang Nio Cu seraya menyerahkan kertas itu kepada Cu Jiang. Cu Jiang menyambuti dan membacanya. Serentak merahlah wajah anak muda itu. Hatinya mendebur keras dan mulut ternganga tak dapat berkata sepatahpun jua.

Ternyata surat itu berbunyi, minta kepada Beng Cu akan menikah dengan orang yang menyampaikan pesan dari ayahnya itu. Memang bagi Beng Cu itu merupakan suatu perintah dari ayahnya. Tetapi sebenarnya, sebelum peristiwa itu terjadi, diapun sudah jatuh hati kepada pemuda itu. Sudah tentu peristiwa itu merupakan suatu kebenaran yang tak terduga-duga sama sekali.

"Adik Jiang, bagaimana maksud mu?" desak Ang Nio Cu.

Dengan wajah merah. Cu Jiang menyahut tergagap ”Taci. engkau tentu tahu sendiri . . . jangan mengolok-olok aku !"

"Siapa sih yang mengolok-olok engkau ?"

"Ho Kiong Hwa, adalah taci yang menjodohkan." "Benar, tetapi peristiwa itu sudah lampau."

"Pernikahan bukan seperti mainan kanak2. Aku Cu Jiang, takkan menjadi seorang manusia yang mengecewakan hati orang. "

"Ho Kiong Hwa sendiri yang memutuskan tali perjodohan itu, bukan salahmu."

"Tidak!"

"Apakah adik Beng Cu tak layak menjadi pasangan hidupmu?"

Mendengar ucapan itu barulah Poan toanio dan yang lain2 tahu duduk persoalannya.

"Taci .... engkau sungguh .... keterlaluan!" teriak Cu Jiaug.

"Sudah tentu adik Beng Cu tak dapat berkata apa2. Disamping hal itu merupakan perintah ayahnya, pun bagaimana dulu hubungannya dengan engkau, dia sudah memberitahu kepadaku. Pelajar baju putih, lencana Kumala Hitam sebagai saksi!"

Memandang ke arah Beng Cu yang tundukkan kepala. Cu Jiang mengusap keringat pada dahinya dan berseru rawan: " Memang Ho Kiong Hwa malang sekali nasibnya. Tetapi ke ujung langitpun, aku tetap akan mencarinya."

"Dalam kehidupan yang sekarang ini, tak mungkin dia mau menemui engkau! " kata Ang Nio Cu dengan rawan.

"Tetapi aku tetap akan mencarinya!"

"Hatinya keras sekali, jangan mendesak dia ke arah jalan buntu . . ."

"Taci, jangan lupa, engkaulah yang jadi comblangnya!" "Adik Jiang, aku takkan lupa."

"Kalau begitu, seharusnya taci bantu menyelesaikan soal itu."

"Itu sudah takdir, kita manusia tak berdaya merobahnya."

Tiba2 Beng Cu mengangkat muka dan dengan mata berkaca-kaca, dia berseru: "Taci, tali perjodohan itu memang sudah digariskan oleh takdir. Harap jangan membicarakan lagi soal ini."

"Nona Cukat, harap nona suka memaklumi kesukaranku." seru Cu Jiang.

"Tak mungkin aku dapat memaklumi. Engkau hanya melaksanakan apa yang dipesan ayah dan akupun menghaturkan terima kasih kepadamu Ya, memang, bermula .... aku pernah jatuh hati kepada pelajar baju putih itu. Tetapi peristiwa itu sudah lampau Cu sauhiap, engkau bukan pelajar baju putih yang dahulu. Pelajar baju putih yanbg dahulu juga bukan Toan-kiam-jan-jin yang sekarang ini..."

Nada nona itu mengandung getar2 isak. Dan Cu Jiang pun bungkam tak dapat menyahut.

"Adik Beng Cu, serahkan semua ini kepadaku." Ang Nio Cu menepuk bahu Cukat Beng Cu dan menghiburnya.

"Soal ini memang menyangkut perasaan dukacita." kata Poan toanio, "nasib yang menimpa Ho Kiong Hwa sungguh menyedihkan sekali sehingga dia melarikan diri karena putus asa. Disamping menunjukkan sifatnya yang suci, pun dia tentu menderita luka hati yang dalam sekali . . ."

"Ku kira juga begitu, jangan menambahkan luka hati pada nona yang bernasib malang itu!" seru Thian put-thou.

"Nah, bagaimana pendapat taci? " seru Cu Jiang.

Tetapi Ang Nio Cu tetap berkeras: " Soal diri Ho Kiong Hwa, aku yang bertanggung jawab!"

Cukat Beng Cu tertawa rawan:

"Sudahlah, harap kalian jangan bertengkar tentang hal ini. Aku sendiri memang juga bernasib malang. Belasan tahun aku menganggap seorang bangsat sebagai ayahku yang tersayang. Budi kebaikan saudara-2 selama ini, akan kubawa seumur hidup dan sekarang aku hendak mohon diri

. . ."

"Jangan pergi!" seru Ang Nio Cu.

Cu Jiang benar2 serba salah. Beberapa saat kemudian baru dia dapat berkata:

"Nona Cukat, kalau hendak menemui ayah nona, harus kuantar." Nona itu memandang Cu Jiang lalu berkata: "Cukup sauhiap mengatakan letak tempat dan jalannya, aku tentu dapat mencarinya sendiri!"

"Adik Jiang, bagaimana keputusanmu?" Ang Nio Cu mendesak.

"Maaf, aku tak dapat menurut perintah taci, " kata Cu Jiang.

Ang Nio Cu memandang Cu Jiang dengan dengan pandang aneh, penuh dengan arti dan penuh pula dengan berbagai luap perasaan hati. Tiada seorangpun yang dapat menebak bagaimana isi hati wanita misterius ini.

Lama, lama sekarli baru dia kedtengaran berkataq dengan nada rarwan memilukan:

"Adik Jiang, apabila Ho Kiong Hwa tak berada dalam dunia fana ini?"

Seketika wajah Cu Jiang berobah tegang, serunya tegas: "Mengapa taci mengatakan begitu?"

"Aku hanya mengatakan saja."

"Tetapi   mengapa  taci berkata begitu, tentulah ada sebabnya?"

"Jawablah, janganlah hiraukan lain2 sebab lagi!"

Cu Jiang menggerinyit gigi dan berkata dengan tandas. "Jika dia benar2 mati, akupun akan mencari

jenasahnya!"

"Kalau ketemu lalu apa yang hendak engkau lakukan?" "Akan kutanam dan aku akan menjaga makamnya

selama hidupku." Singkat kata2 itu tetapi artinya cukup menyatakan bagaimana keras dan setia hati Cu Jiang terhadap rasa cinta itu. Sekalian orang itu tergetar hatinya mendengar pernyataan pemuda itu.

Cukat Beng Cu tertawa rawan:

"Cu sauhiap, aku sangat menghormati engkau. Aku gembira sekali karena kenal dengan engkau dan bersahabat," serinya.

"Adik Jiang, Ho Kiong Hwa tentu tidak menghendaki begitu," seru Ang Nio Cu dengan gemetar.

"Seharusnya dia tak perlu memberi pengorbanan begitu besar." kata Cu Jiang.

"Dia ibarat., . bunga yang sudah terpetik . ." kata2 yang terakhir itu diucapkan Ang Nio Cu dengan berbisik.

"Aku tak menghiraukan, soal itu bukan kesalahannya, hanya nasib buruk yang membuatnya menderita!"

"Mengapa nona Ang berkeras hendak melaksanakan hal itu ?" tiba2 Poan toanio menegur.

Terpaksa Poan toanio menyebut nona Ang, karena ia tak tahu nama dan she yang sesungguhnya dari Ang Nio Cu. Demikian pula raut dan wajahnya. Hanya karena Ang Nio Cu itu berbahasa taci adik kepada Cu Jiang, iapun menyebutnya dengan kata "nona Ang".

"Pernah apakah nona itu dengan engkau, nona Ang ?!" Poan toanio mendesak lagi.

"Hampir sama orangnya. Kepalanya dua, tetapi jiwanya satu."

"Kata2 dan tindakan nona, sungguh sukar dirobah ..." Tiba2 Cu Jiang berkata dengan wajah serius: "Toanio, kuminta pembicaraan itu selesai sampai disini saja."

"Adik Jiang," seru Ang Nio Cu, "yang dikata tidak berbakti itu ada tiga hal. Tidak punya keturunan termasuk salah satu. Engkau harus menikah."

"Arwah ayah bunda di alam baka, tentu dapat mengampuni diriku yang tidak berbakti ini." sahut  Cu Jiang.

"Apakah engkau benar2 tak mau merobah pendirianmu

?"

"Tidak !"

"Apakah engkau tetap hendak bertemu dengan Ho Kiong

Hwa?"

Tergetar hati Cu Jiang mendengar pertanyaan itu. Dia benar2 pusing dikacau ucapan Ang Nio Cu yang dibolak- balik berulang kali. Ia hanya nyalangkan mata dan memandang Ang Nio Cu tanpa berkata sepatah kata.

Bahkan Cukat Beng Cu, Poan toanio dan Thian-put-thou juga tertegun.

"Adik Jiang, jawablah !" sekali lagi Ang Nio Cu mendesak.

"Tidak hanya ingin saja." seru Cu Jiang penuh ketegangan. "bahkan aku bersumpah, takkan berhenti berusaha sebelum dapat mencarinya !"

"Aku dapat memberitahunya supaya bertemu dengan engkau. . ."

"Sungguh?" teriak Cu Jiang.

"Kapankah aku pernah bohong kepadamu." Karena dicengkam ketegangan, Cu Jiang sampai gemetar.

"Taci, dia ... sebenarnya berada dimana ?" serunya. Dengan ketenangan yang rawan. Ang Nio Cu menjawab:

"Jangan   tanyakan dulu   dia berada di mana. Untuk berjumpa dengan dia, hanya ada syaratnya !"

"Bagaimana syaratnya !"

"Engkau harus meluluskan perjodohanmu dengan nona Beng Cu !"

Poan toanio dan Thian-pui-thou menghela napas. Wajah merekapun berobah cahayanya.

Dahi Cu Jiang tampak berkerenyut keras.

"Sekalipun Cu sauhiap meluluskan, aku pun tak mau. Aku tak menghendaki diriku menjadi seorang yang tak kenal kebajikan."

"Jangan ikut bicara!" Ang Nio Cu deliki mata kepada Beng Cu.

Benak Cu Jiang benar2 kacau balau.

"Taci, jangan menyiksa diriku, aku tak  kuat menderitanya putus asa.”

"Sama sekali aku tak bermaksud hendak menyiksamu," kata Ang Nio Cu dengan dingin, "adik Jiang, asmara murni memang demikian."

"Aku tak percaya !" "Mau bukti?"

"Ya."

"Tetapi engkau mau meluluskan soal pernikahanmu dengan Beng Cu atau tidak?" "Tidak dapat."

"Hm, kalau begitu dalam hidupmu sekarang ini engkau takkan berjumpa dengan Ho Kiong Hwa untuk selama- lamanya !"

"Tidak ! Aku pasti akan mencarinya... tetapi aku tak dapat melalaikan hal itu. Taci, engkau sungguh kejam !"

Airmata Cu Jiang berderai-derai membasahi kedua pipinya.

Suasana di tempat itu tenggelam dalam kesunyian yang lengang. Kesunyian yang menghimpit dada dan menekan perasaan.

Beberapa waktu kemudian baru Ang Nio Cn berkata pula dengan nada yang berbeda:

"Adik Jiang, aku mau mengalah selangkah. Tetapi setelah engkau bertemu dengan Kiong Hwa, diapun akan mengajukan permintaan kepadamu. Apakah engkau mau meluluskan ?"

Saat itu pikiran Cu Jiang sudah kacau. Tanpa banyak pertimbangan lagi dia terus berseru:

"Baik, dia dimana. "

"Disini !"

Sekalian orang mencurah pandang kepada Ang Nio Cu. Tampak Ang Nio Cu dengan tangan gemetar mulai menyingkap kain merah yang menutup wajahnya...

"Hai !"

Serempak orang2 itu menjerit kaget, Cu Jiang terhuyung- huyung mundur beberapa langkah. Serasa bumi yang dipijaknya itu amblong. Langit ambruk, dunia berputar-putar keras sehingga tubuhnyapun hendak terjungkal roboh.

Ang Nio Cu . . . ternyata juga Ho Kiong Hwa calon mempelai Cu Jiang. Peristiwa itu benar2 diluar dugaan orang.

Ang Nio Cu sendiri yang berkeras menjadi comblang untuk menjodohkan Cu Jiang dengan Ho Kiong Hwa. Tetapi kemudian dia sendiri juga yang memutuskan tali perjodohan itu. Kemudian dia juga berkeras untuk melangsungkan perjodohan antara Cu Jiang dengan Cukat Beng Cu.

Tidakkah kesemuanya itu mengejutkan hati Cu Jiang sehingga dia seperti disambar petir rasanya.

"Engkau . . . engkau . . . Kiong Hwa ..." Cu Jiang menuding kearah Ang Nio Cu dan berseru tergagap-gagap.

Ang Nio Cu atau Ho Kiong Hwa tertawa rawan. Dua butir airmata mengembang pada kedua matanya. Tetapi dia sudah bersiap-siap dan dengan sekuat tenaga dapat menahan segala gejolak perasaannya.

"Adik Jiang, bukankah tadi engkau sudah meluluskan, begitu bertemu dengan aku, engkau harus menurut perkataanku?"

"Ya ... . aku memang berjanji begitu." kata Cu Jiang setengah berbisik.

"Jika begitu, kuminta engkau mau melangsungkan perjodohan dengan adik Beng Cu!"

"Tidak! Tidak bisa, matipun aku tak dapat melakukan  hal itu!" teriak Cu Jiang.

Mendengar itu pucatlah wajah Cukat Beng Cu. Ia mengerang pelahan lalu ayunkan tubuh melesat pergi. "Hai. nona Cukat, hendak ke manakah engkau? " teriak Poan toanio seraya lari mengejar.

Melihat itu Ho Kiong Hwa berseru tajam:

"Jika engkau tak mau meluluskan hal itu, jangan harap engkau dapat bertemu dengan aku untuk selama-lamanya . .

."

Pada saat mengucapkan kata2 yang terakhir itu Ho Kiong Hwa atau Ang Nio Cupun sudah melayang beberapa tombak dengan gerak yang mengejutkan sekali. Hanya dalam beberapa loncatan saja, dia sudah berada di puncak dan menghilang kedalam hutan.

"Aya, celaka nih. Yang satu ngacir, yang satu lari . . ." teriak Thian-put-thou terus lari mengejar Ho Kiong Hwa.

Kini yang tinggal di tempat itu hanya Cu Jiang seorang. Kaki tangannya serasa lunglai. Pikirannya kosong melompong.

Dia kehilangan diri. Beberapa waktu kemudian baru terdengar mulutnya mengigau:

"Walaupun dunia ini teramat luas, aku tetap akan mencarinya ..."

Perlahan-lahan dia ayunkan langkah. Tak tahu ke mana ia harus pergi. Ia membiarkan kakinya berjalan membawa raganya.

Ia rasakan saat itu amat letih. Sejak bertahun-tahun ia selalu dikejar-kejar oleh peristiwa yang malang, menelan berbagai penderitaan lahir dan batin, terjerat datam jaring2 asmara dan melakukan pertempuran2 maut.

Kini setelah semua peristiwa itu telah usai dia masih harus menghadapi penyelesaian soal perjodohan yang rumit. Ia dapat merasakan derita hati yang dialami Ang Nio Cu alias Ho Kiong Hwa. Dia harus menghibur dan menerimanya sebagai isteri yang tercinta.

"Dapatkah cinta itu dibagi?" teringat pula urusan perjodohannya dengan Cukat Beng Cu.

"Tetapi Kiong Hwa begitu tulus ikhlas. Jika aku menolak Beng Cu, Kiong Hwapun tak mau menjadi isteriku. Memang aneh pendiriannya. Tetapi dia berhati mulia, ah..."

Cu Jiang menghela napas.

0-Tamat-0
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pusaka Negeri Tayli Jilid 23 (Tamat)"

Post a Comment

close