Pusaka Negeri Tayli Jilid 22

Mode Malam
Jilid 22

Thian-put-thou terbeliak. Dia benar2 terpojok. Memang, bagaimana mungkin kalau dua orang lelaki harus merawat seorang gadis dalam perjalanan nanti.

"Lo-koko, terpaksa engkau yang tidak ikut !" Cu Jiang tertawa.

Thian-put-thou garuk2 kepalanya: "Ang Nio Cu tak dapat menunjukkan diri secara terang-terangan. Dan engkau, adik kecil, musuhmu tersebar dimana-mana. Boleh dikata setiap jalanan engkau selalu terancam bahaya. Kalau aku si tua ini ikut dalam perjalanan, tentu dapat diajak berunding apabila menghadapi sesuatu bahaya !"

"Ya." akhirnya Cu Jiang menghela napas,"kalau begitu kita harus pergi bertiga saja."

"Itulah yang tepat," Thian put-thou tertawa, “aku akan menyewa kereta dulu baru nanti kita berangkat."

Dia terus lari turun. Ang Nio Cu segera mengangkat KI Ing dibawa masuk ke hutan untuk menunggu kereta.  Sedang Cu Jiang masih tetap berjaga diatas gunduk tanah untuk mengawasi apabila pihak Gedung Hitam hendak melakukan serangan. Sejam kemudian Thian-put thou kembali dan membawa mereka turun bukit. Ternyata dia sudah mempersiapkan kereta Ang Nio Cu dan Ki Ing disuruh masuk, sedang Cu Jiang dan Thian put-thou menyaru sebagai ayah dan anak yang mengantar kereta.

Karena naik kereta mereka terpaksa harus mengambil jalan ke kota Hu-yang baru kemudian menuju ke barat.

Pada hari kedua menjelang petang, Poan toanio, Ki Sian Hong dan Ko Kun muncul menyambut. Cu Jiang menceritakan semua peristiwa yang telah terjadi. Ketiga orang itu mengucurkan airmata mendengar nasib yang diderita Song Pek Liang.

Akhirnya diputuskan, Poan toanio bertiga supaya menunggu dan bersembunyi sampai nanti Cu Jiang sudah kembali dari Busan baru bergerak lagi untuk menolong kongcu.

Sebenarnya Cu Jiang memang cemas akan keselamatan puteri Tayli itu, tetapi karena mengingat jiwa Ki Ing itu perlu diselamatkan, terpaksa ia harus menunda dulu rencananya untuk menggempur Gedung Hitam.

Mereka berpisah. Cu Jiang dan rombongannya melanjutkan perjalanan lagi. Sepanjang perjalanan tak terjadi suatu apa.

Setelah tiba di Kui-ciu, mereka naik perahu dan setelah tiba di daerah gunung, mereka menempuh perjalanan lagi dengan jalan kaki. Selama perjalanan itu, Ang Nio Cu yang bertugas merawat Ki Ing.

Waktu mendaki gunung merekapun tak mengalami kesukaran apa2. Dan kurang menggembirakan luka Ki Ing atau namanya yang aseli Cukat Beng Cu, tak berobah memburuk tetapi tetap begitu saja. Keadaan di lembah Mo-Jin kok tetap seperti dulu. Mereka berhenti di mulut lembah dan Cu Jiang lantas berseru mohon menghadap pemilik lembah.

Tak berapa lama putera dari Kui-Jin sin-jin yakni Bun Cong Beng keluar. Cu Jiang segera mengatakan maksud kedatangannya.

Sambil menjabat tangan Cu Jiang. Cong Beng berkata: "Cu-heng, engkau tentu sudah tahu bagaimana perangai ayahku yang aneh itu. Dia tak mau bertemu dengan manusia, apalagi diminta mengobati seorang anak perempuan. Tetapi karena yang minta Cu-heng, rasanya tentu lain. Harap tunggu sebentar, aku hendak memberi laporan kepada ayah."

"Sebenarnya memang berat rasa hatiku untuk mengganggu ayahmu tetapi apa boleh buat. Soal ini memang penting sekali, harap Bun-heng dapat membantu."

"Ah. tentu," kata Cong Bang. "lalu bagaimana tentang permintaan ayah tempo hari "

"Ah. syukur aku dapat melaksanakannya." kata  Cu Jiang. Setelah ia teringat akan peristiwa ketua Hoa-gwat- bun Tiam Su Nio.

Seperminum teh lamanya, Kui-jiu-sin-jin dan anaknya keluar. Cu Jiang dan kawan-kawannya Bergegas menghaturkan hormat..

Memandang ke arah Thian-put-thou dan Ang Nio Cu, Kui jiu sin jin berkata: "Karena urusanmu, aku tak dapat mengatakan apa2 lagi."

Cu Jiang menjura dan menghaturkan terima kasih. Kemudian memandang kepada Ki Ing, tabib sakti itu segera suruh membawanya masuk. Ang Nio Cu meletakkan Ki Ing di muka Kui-jiu-sin-jin. Kui jiu sin jin berjongkok dan memeriksa beberapa jenak lalu berbangkit lagi, ujarnya:

"Telat setengah hari, tak mungkin ditolong!"

"Tolong tanya, lo cianpwe, dia terkena ilmu pukulan apa?"

"Coat bun ciang!"

"Coat ban ciang?" Cu Jiang mengulang.

"Ya. Ilmu pukulan itu amat beracun sekali.  Khusus untuk melukai urat2. Apabila terkena tiada dapat tertolong. Beruntung aku masih dapat menolongnya."

"Mohon locianpwe suka menolongnya."

"Perlu beristirahat selama sepuluh hari baru dapat sembuh."

"Ini "

"Dia seorang gadis, jika tinggal di dalam lembah, kurang leluasa. Tetapi kalau tinggal di luar lembah dikuatirkan terjadi hal2 yang tak diinginkan "

"Apakah locianpwe mengijinkan kalau taciku ini menyertainya tinggal dalam lembah?" tanya Cu Jiang.

Kui jiu sinjin kerutkan dahi, akhirnya dengan suara sarat ia mengiakan.

"Taci," berseru Cu Jiang kepada Ang Nio Cu, "apakah taci tak keberatan?"

"Tidak."

"Terimalah lebih dulu terima kasihku."

"Jangan berlebih-lebihan adik Cu." seru Ang Nio Cu. "Cu-heng, mari kita masuk dan bercakap-cakap sambil minum hidangan teh." kata Cong Heng.

"Maaf, Bun-heng, mungkin aku tak dapat memenuhi permintaanmu."

"Kenapa? Apakah Cu-heng tak mau masuk ke dalam lembah?"

"Aku masih mempunyai urusan penting yang belum selesai. Selama sepuluh hari ini, biarlah kugunakan untuk menyelesaikan hal itu."

"Urusan apa saja?"

"Aku hendak menuju ke markas besar perkumpulan Thong thian kau di Pek teshia."

"Seorang diri?" "Ya."

"Tentu harus pergi?"

"Karena melakukan perintah suhu. Kalau tak lekas dilaksanakan dikuatirkan akan timbul perobahan2 yang tak diinginkan."

"Ah, kalau begitu sungguh sayang sekali."

"Maaf, biarlah lain kali saja aku pasti akan menemani Bun heng."

Setelah itu, Ang Nio Cu mengutarakan juga kekuatirannya tentang rencana Cu Jiang yang hendak menuju ke markas besar Thong thian kau seorang diri.

"Menetapi kewajiban sebagai seorang ksatrya, tiada lain jalan kecuali harus melaksanakan apa yang telah disanggupkan." "Sepuluh hari kemudian, dimana kita akan bertemu?" tanya Ang Nio Cu.

"Bagaimana kalau di gunung Keng-san?" kata Cu Jiang. "Thong thian kau merupakan sarang dari Iblis2 yang

ganas, apakah engkau .... tidak berbahaya seorang diri ke sana?"

"Jangan kuatir, taci, aku dapat menjaga diri  dengan hati2."

"Jika memang begitu, baiklah, silahkan engkau berangkat." akhirnya Ang Nio Cu melepas.

Tiba2 Kui jiu sinjin mau memberi nasehat kepada Cu Jiang:

"Nak, dunia persilatan itu penuh dengan Iblis yang jahat. Hanya dengan mengandalkan kepandaian saja tak cukup. Yang penting engkau harus berhati-hati dan waspada."

Cu Jiang menyatakan terima kasih sekali atas kebaikan manusia aneh itu.

"Silahkan berangkat, dan jangan kuatir, aku akan berusaha untuk menolong nona itu, " kata Kui jiu-sin-jin.

Kemudian manusia aneh itu berpaling kearah Thian put thou, serunya: "Apakah engkau suka menjadi tetamu dari lembah ini?"

Thian put thou tertawa gelak2, serunya: "Sudah tentu aku senang sekali tetapi maaf, aku terpaksa harus  menemani adik kecil itu agar setiap waktu yang diperlukan dapat memberi bantuan."

"Jika begitu, sampai jumpa dan selamat jalan." habis berkata Kui jiu sin jin terus masuk ke dalam lembah. Ang Nio Cu menggendong Ki Ing mengikuti masuk. Demikian pula Bun Cong Beng. "Lo koko, apakah engkau hendak menemani aku?" tegur Cu Jiang kepada Thian put thou.

"Jika engkau menolak, kita mengambil jalan sendiri-2 saja."

"Ah, tidak, bukan begitu maksudku."

Begitulah keduanya segera menuruni gunung. Disepanjang jalan, mereka tak banyak bicara. Cu Jiang terkenang akan semua peristiwa yang dialaminya di gunung Bu-san dahulu. Diam2 ia menghela napas.

Thian-put thoa deliki mata: "Adik kecil jarang sekali kudengar engkau menghela napas !"

Cu Jiang tertawa tawar: "Kata orang, dunia persilatan itu merupakan laut bahaya. Setiap hari gelombang bahaya itu bergolak dalam dua belas jam."

Thian-put thou gelengkan kepala. "Adik kecil, mengapa tiba2 engkau menjadi dewasa ?"

"Hanya merasakan kesan2 selama ini saja."

"Benar, adik kecil. Ang Nio Cu yang  begitu ngotot hendak memperjodohkan engkau, tak terduga dia sendiri jatuh cinta..."

"Lo-koko tahu hal itu?"

"Ang Nio Cu sendiri yang mengatakan kepadaku." "Hah !"

"Adik kecil, apakah sampai sekarang engkau belum pernah melihat wajah yang sebenarnya dari Ang Nio Cu ?"

"Belum."

"Dia sangat   memperhatikan   sekali   kepadamu. Ada kalanya sampai berlebih-lebihan." "Berlebih-lebihan ?"

"Ya. Orang yang diluar persoalan, tentu dapat melihat jelas. Pada waktu aku seperjalanan dengan dia, paling sedikit dia tentu menyebut namamu sampai sepuluh kali dengan nada yang mesra. Sebagai sosok wanita yang dianggap momok aneh oleh kaum persilatan, itulah dia seorang wanita yang mengerikan. Tetapi tiap saat dia menyebut namamu, sering terlepas kata2 keluhan yang bernada pernyataan hatinya kepadamu. Sudah tentu hal itu tak luput dari pengawasanku."

"Bagaimana menurut pengawasan lo-koko?" "Dia sangat cinta kepadamu."

"Ah, benar2 suatu hal yang mengherankan. Mungkin usianya terpaut lebih dari separoh umurku."

"Sukar di kata. Asmara itu memang ajaib. Kadang memang sukar diukur dengan nalar biasa."

"Dalam kata-katanya dia pernah kelepasan omong," kata Thian-put-thou pula.

"Soal apa ?"

"Dia menyatakan bahwa tiga kali dalam penitisan perjodohan itu telah ditentukan, siapa tahu ternyata sampai sekarang tetap hampa . ."

"Apakah dia bukan maksudkan Ho Kiong Hwa ?" "Mungkin begitu tetapi mungkin bukan begitu. Karena

waktu mengatakan begitu dia hanya seorang diri, dan aku secara kebetulan saja mendengarnya."

Cu Jiang mengangguk: "Biarlah begitu. Tetapi aku hanya mempunyai perasaan menghormat jenasah orang tuaku." Saat itu mereka sudah tiba dibawah bukit dan mendengar suara orang bercakap-cakap.

"Peraturan perguruan tak boleh dirusak !"

Kemudian terdengar suara seorang wanita yang bernada rawan: "Congkoan, karena urusan sudah begini, muridpun taat pada perintah..."

Cu Jiang dan Thian put thou terkesiap. Setelah sejenak bertukar pandang, keduanya pun segera menuju ke tempat suara itu.

Tampak ditengah hutan lebat, seorang dara yang cantik tengah berlutut di tanah. Disamping tegak seorang pemuda yang cakap dengan wajah membesi.

Tak berapa jauh dari tempat dara baju hijau itu. Juga terdapat seorang dara yang dandanannya mirip seorang puteri, mukanya memakai kain cadar.

Cu Jiang makin terkejut, Ia seperti kenal dengan mereka. Agaknya dara2 dari istana Sie-li-kiong, Melihat kearah dara baju hijau yang sedang berlutut itu. Cu Jiang segera makin yakin bahwa dugaannya itu memang benar.

Dara itu tak lain adalah dara yang pernah diperintah Bu san Sin-li untuk memikatnya masuk ke dalam istana Sin-li kiong tempo hari.

Apakah yang telah terjadi ditempat itu. Siapakah pemuda pelajar yang cakap itu ?

"Geng Siu Yin," seru dara istana itu, "karena engkau telah berhianat melanggar peraturan perguruan, walaupun aku kasihan kepadamu tetapi aku tak dapat berbuat apa2 lagi.”

Dara baju hijau yang disebut dengan nama Ceng Siu Yin Itu. mengertek gigi lalu berseru: "Congkoan, murid hendak mengajukan sebuah permohonan terakhir.. ."

"Apa ?"

"Harap lepaskan dia !"

"Tidak bisa ! Tidak seharusnya engkau membawanya ke atas gunung sehingga membocorkan rahasia perguruan kita."

"Congkoan, murid bersumpah bahwa dia tak tahu apa2."

"Yin-moay," tiba2 pemuda pelajar itu berteriak, "tak perlu engkau mintakan ampun jiwaku. Jika engkau mati akupun tak ingin hidup lagi !"

Cu Jiang dapat menduga tentang peristiwa itu. Tentulah dara yang bersama Ceng Siu Yin itu telah diutus turun gunung untuk melakukan sebuah tugas.

Dia berkenalan dengan pemuda itu. Tetapi menurut peraturan istana Sin-li-kiong, setiap murid yang turun gunung, lebih dulu harus minum pil beracun. Jika tidak pulang pada waktunya, racun itu akan bekerja dan matilah dia. Cu Jiang tahu hal itu atas keterangan Tang Yin dulu.

Dia lalu membawa kekasihnya naik gunung, jelas Siu Yin telah melanggar peraturan Istana.

Dia harus menerima hukuman yang berat. Tetapi dia merasa tergerak hatinya melihat tekad dari sepasang muda- mudi yang telah memadu kasih itu.

Sejenak memandang kearah pemuda pelajar itu, kembali dara istana itu berkata.

"Siu Yin, bagaimana dengan hasil tugasmu untuk melakukan penyelidikan itu ?" "Toan-kiam-jan-jin tidak membawa pergi Tang Yin Yin." sahut Siu Yin.

Cu Jiang terkejut. Ternyata Siu Yin turun gunung itu karena diperintah untuk menyelidiki jejaknya. Diam2 ia menghela napas. Ternyata tindakannya untuk menolong Yin Yin, menghapus racun dengan mustika Thian-ju cu sehingga Yin Yin dapat lolos dari istana Sin-li-kiong, belum diketahui oleh pihak Sin li kiong.

"Apakah engkau dapat menemukan mayatnya ?" tanya dara istana itu pula.

"Tidak."

"Lalu bagaimana engkau dapat memastikan bahwa dia tak dibawa pergi Toan-kiam-janjin ?"

"Karena selama kuselidiki, Toan-kiam-Jan-jin itu kemana-mana hanya seorang diri saja."

"Adakan kemungkinan dia tak menyembunyikan Yin Yin ?"

"Murid telah menyelidiki ke desa tempat kelahiran Yin Yin. Menurut keterangan orang desa di situ. memang pada suatu hari pernah muncul seorang gadis. Dia mondar- mandir di desa itu tetapi tak pernah bicara dengan orang. Tak lama gadis itu terus bunuh diri dengan membuang diri ke dalam sungai."

Diam2 Cu Jiang mengangguk. Ia tahu bahwa peristiwa itu hanya cerita yang dirangkai Yin Yin untuk menutupi keadaannya.

"Benarkah itu?" "Benar."

"Baik, lalu apakah engkau masih mempunyai pesan yang hendak engkau tinggalkan lagi?" "Harap lepaskan dia!" "Soal itu tak bisa."

"Congkoan, dia tak berdosa apa2."

"Dirinya yang melakukan sendiri tak dapat menyesali lain orang." Habis berkata dia berpaling kepada pemuda pelajar itu, serunya:

"Sebutir pil ini, dapat membantu engkau tak merasakan penderitaan apa2. Jika dalam kehidupan di dunia kalian tak dapat terangkap dalam perjodohan, kelak di akhirat tentu kalian dapat melaksanakan perjodohan itu. Ingat, setengah jam kemudian, segeralah kalian gali liang untuk tempat peristirahatan kalian selama-lamanya!"

Habis berkata dia terus melemparkan pil itu yang disambuti pemuda pelajar lalu tanpa ragu2 terus ditelannya.

"Engkoh Tio, aku berdosa kepadamu!" seru Siu Yin dengan pilu.

"Yin-moay, jika hidup tak dapat berkumpul biarlah kalau mati kita berada dalam satu liang! " sahut pemuda itu.

Kedua anak muda itu tak mengucurkan air mata tetapi derita perasaan hati mereka memang sangat mengibakan sekali.

Dara istana yang berpangkat congkoan atau pengurus istana Sin-li-kiong itu berputar tubuh terus melesat lenyap.

Pemuda pelajar itu mengangkat tubuh Siu Yin dan membelainya dengan pilu:

"Adik Yin, besarkanlah hatimu. Ini memang sudah takdir kita, kita harus menerimanya. Kelak dalam penitisan yang akan datang, kita tentu dapat bersatu." Rebahkan kepalanya di dada sang kekasih, Siu Yin berkata sedih: "Engkoh Tio, akulah yang bersalah, tak seharusnya aku... menerima cintamu."

"Yin-moay, aku tak menyesal karena harus mati. Dua bulan kita berkumpul rasanya melebihi lain orang yang berkumpul seumur hidup."

"Engkoh Tio, jika tahu keadaan bakal begini, dan aku . .

."

"Yin moay, waktu setengah jam itu sangat singkat sekali.

Engkau lihat bagaimana keadaan tempat ini sebagai tempat peristirahatan kita selama lamanya."

"Mari. . ." kedua sejoli itu bergandengan tangan dan ayunkan langkah tinggalkan tempat itu.

Cu Jiang menghela napas.

"Lo koko," kalanya, "cinta mereka benar2 sekokoh baja. Pemuda itu sungguh hebat, dia memandang kematian seperti pulang saja .. ."

"Aku tak mengerti maksudmu?"

Tiba2 Cu Jiang teringat akan janjinya kepada Bu-san Sin- li bahwa dia takkan membocorkan rahasia istana Sin-li kiong kepada siapapun juga. Maka kata2 yang sudah tiba dimulutnya, ditelannya kembali.

"Mari kita ikuti mereka," akhirnya ia alihkan pembicaraan.

"Adik kecil, mereka menyebut-nyebut namamu dengan dikaitkan peristiwa melarikan seorang murid," kata Thian- put-thou.

"Itu hanya salah faham tetapi maaf, aku sudah berjanji dan tak dapat memberitahu soal itu." "Baik. Tetapi apa guna kita mengikuti kedua kekasih itu?

Apakah kita hendak melihat mereka mati ?"

Sejenak keliarkan pandang kesekeliling penjuru.  Cu Jiang berbisik-bisik: "Aku mempunyai akal untuk menolong mereka."

"Sungguh !"

"Masakah aku bergurau."

Mereka terus mengikuti dan ternyata kedua pasangan itu menuju ke gua batu yang pernah dipakai Thian-put thou dan Cu Jiang tempo hari.

"Memang tempat itu bagus sekali," kata Cu Jiang.

"Lalu bagaimana engkau hendak menolong mereka?" tanya Thian-put-thou.

"Lo koko jangan campur tangan, lihat sajalah nanti."

Tiba di mulut gua, tiba2 sepasang kekasih itu tahu kalau ada orang datang. Mereka keluar dan menegur: "Siapa itu?"

"Aku, orang yang kebetulan jalan lewat gunung ini." sahut Cu Jiang. Memang saat itu dia dan Thian put thou menyaru menjadi orang biasa, kusir kereta.

"Engkoh Tio, suruh mereka pergi," seru Siu Yin dari dalam.

"Kuminta kalian segera pergi." kata pemuda pelajar itu kepada Cu Jiang berdua.

"Tetapi hari sudah tengah petang aku dan ayahku ini butuh bermalam di gua ini. Sayang telah kalian diami, ini

...."

"Maaf. terpaksa harus minta saudara berdua supaya cari lain tempat saja." "Gunung ini banyak harimau dan serigala. Kalau tidak tidur di tempat ini tentu berbahaya." bantah Cu Jiang.

Pemuda itu berpaling ke dalam, serunya:

"Yin-moay, memang nasib kita sial. Bahkan hendak moksha saja kita tak dapat tempat yang tenang."

"Waktu sudah mendesak sekali. Ke mana lagi kita harus cari tempat? Kita tutup pintu gua saja!"

Cu Jiang sengaja deliki mata dan berseru: "Tuan tadi mengatakan moksha?"

"Ya, apa engkau tahu artinya moksha itu?" "Mungkin aku salah dengar . . ."

"Tidak, memang moksha!"

"Hm, pernah kudengar cerita paderi dari kuil di desaku bahwa moksha itu artinya pulang ke Se-thian (akhirat). Alam telah menciptakan hubungan yang sungguh tak karuan, sungguh kacau. . ."

"Tak peduli keruan atau tidak keruan, silakan saudara berdua pergi. Maaf, gua ini tak dapat kuberikan kepada lain orang."

"Tidak bisa! " Cu Jiang berkeras. "Apa yang tidak bisa?"

"Bahwa tuan tadi mengatakan moksha, jelas tentu mencari kematian. Ujar orang tua mengatakan melihat kematian tidak menolong, berarti dosa . . ."

"Silakan pergi, aku tak mempunyai waktu untuk adu lidah. Yin-moay, kita . . ."

"Tunggu dulu! Mengapa kalian, sedikitpun tak punya rasa kemanusian?" "Apa maksudmu?"

"Kalau kalian memang hendak mencari kematian, mengapa harus memilih segala macam cara.  Mengapa harus bersembunyi tak mau didekati orang? Kalau aku dan ayahku sampai dimakan harimau, apakah aku takkan jadi setan penasaran?"

Wajah Siu Yin mulai pucat dan menjerit kesakitan yang hebat, ia berseru tersendat-sendat: "Engkoh Tio . . . aku . . . tak . . . kuat ..."

Pemuda itu cepat memeluknya: "Yin-moay, mari kita ke puncak di sebelah depan itu. Kita  cari lain tempat dan biarlah gua ini ditempati mereka."

"Baik."

"Biar kupanggulmu, Yin-moay." kata pemuda itu terus memeluk tubuh kekasihnya lalu dibawa lari. Melihat gerakannya dia tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi juga.

Cu Jiang mengangguk. "Lo koko, hati budi pemuda itu baik sekali."

"Hm, jangan menyiksa orang, lekas engkau tolong mereka!"

Keduanya lalu melesat. Menjelang petang mereka tiba di karang buntung. Sambil membopong kekasihnya, pemuda itu selangkah demi selangkah menghampiri ke tepi karang.

"Tunggu, tunggu! " teriak Cu Jiang.

Pemuda itu terkejut dan berputar tubuh. Dia terkejut lalu membentak keras2:

"Oh, kiranya sahabat ini orang persilatan. Apa maksudmu hendak mempermainkan aku?" "Sekarang aku sudah sadar, Bahwa kalau melihat orang menderita tak menolong, itu berdosa. Maka aku buru2 mengejar kemari, " Cu Jiang tertawa.

"Sahabat sengaja hendak mencari-cari alasan untuk bertengkar?" kata pemuda itu dengan nada bengis.

"Betapapun buruknya tetapi hidup itu lebih baik dari mati. Kalian masih muda, mengapa sependek itu pikiran kalian?"

Pemuda itu berputar tubuh dan lanjutkan  langkah menuju ke tepi karang buntung. Cu Jiang melesat menghadangnya.

"Kongcu, mengapa pikiran kongcu begitu gelap?" serunya.

Melihat gerakan Cu Jiang, pemuda itu terkejut, Siu Yin yang masih dalam pondongannya makin tampak pucat, keringatnya bercucuran deras. Rupanya dia tengah menderita kesakitan hebat.

Cu Jiang mengangguk: "Rupanya nona itu menderita keracunan yang bersifat pelahan bekerjanya."

Pemuda   itu   merentang   mata   dan   berseru gemetar: "Sahabat, engkau dapat mengetahui?"

"Tentu, " sahut Cu Jiang, "kalau tak tahu bagaimana dapat mengatakan?"

"Sahabat, apakah engkau dapat menolongnya?" "Hm, soal ini bukan main-main."

"Sahabat, bukan hanya dia, aku sendiri pun termakan racun ganas, tetapi..."

"Tetapi bagaimana ?"

"Katanya, racun itu tak dapat diohati siapapun juga." "Bagaimana kalau kucobanya?" Pemuda itu memandang Cu Jiang dengan pandang bersangsi. Wajah pemuda yang biasa saja itu apakah mampu untuk menolongnya.

"Letakkan dia" tiba2 Cu Jiang berseru. "Jika sahabat tak dapat menolongnya ?"

"Mudah. Engkau boleh lanjutkan keputusan untuk terjun kebawah jurang itu."

"Kalau racun dalam tubuhku sudah bekerja sehingga aku tak dapat berjalan?"

"Aku bersedia unjuk melakukan pesanmu apa saja." "Benarkah itu ?"

"Ucapan seorang lelaki seperti kuda lepas dari kandang."

"Baik," pemuda itu segera meletakkan gadis kekasihnya. Wajah pemuda itu sendiripun mulai berobah cahayanya. Rupanya racun dalam dirinya juga sudah mulai bekerja.

"Engkoh Tio, apakah aku harus mengalami penderitaan yang lebih lama lagi ?" gumam Sio Yin.

"Yin-moay, mungkin Tuhan bermurah hati untuk menolong kita."

Cu Jiang mengeluarkan mustika laba2 pemberian Bu-san Sin li. Ia menjepitnya dengan kedua jari dan berseru: "Kulumlah dalam mulut nona, tentu sembuh."

Sepasang mata Sin Yin yang sudah redup tiba2 membelalak lebar2 dan serentak timbullah pula tenaganya. Dia bergeliat bangun seraya berseru gemetar:

"Mustika laba2 !"

"Nona kenal barang ini ?" "Engkoh Tio, kita... ketolongan !" seru Siu-Yin dengan kegembiraan yang meluap-luap.

"Benarkah Itu. Yin-moay ? Oh, Tuhan terima kasih !" Kemudaan Siu Yin memandang lekat2 pada wajah Cu

Jiang. Beberapa saat kemudian, dengan nada gemetar ia berseru: "Bukankah anda ini Toan kiam jan-jin ?"

Cu Jiang mengangguk.

Setiap orang persilatan tentu kenal akan nama Toan kiam jan-jin. Maka menggigillah pemuda pelajar itu demi mendengar nama itu.

"Anda .. . anda ... Toan kiam Jan-Jin ? Ah, sudah lama aku mengagumi nama anda, sayang selama itu tak ada rejeki untuk bertemu. Ah, maafkan kalau tadi aku berlaku kurang hormat.”

"Sudahlah, rupanya kita dapat bertemu ini karena memang berjodoh," kata Cu Jiang. Ia segera menyerahkan mustika laba2 itu dan dengan tangan gemetar Siu Yin menyambut lalu dimasukkan ke dalam mulut.

Hanya dalam beberapa jenak saja. wajahnya yang sudah pucat itu, pelahan-lahan berobah merah segar lagi.

Beberapa saat kemudian Siu Yin dapat berdiri, memuntahkan mustika itu dan disusupkan ke-mulut kekasihnya.

Setelah beberapa waktu, pemuda itu menyerahkan kembali mustika kepada Cu Jiang. katanya: "Namaku Tio Ki Hung, selama hidup aku pasti takkan melupakan budi anda."

"Ah, tak perlu saudara mengingat pertolongan sekecil ini," kata Cu Jiang. Diam2 ia memperhatikan sepasang kekasih yang penuh kesetiaan itu. Ia tahu bahwa Siu Yin usianya sudah setengah abad umurnya. Hanya karena mengandalkan obat Giok-sik-leng-lu, maka dia dapat mempertahankan kecantikan seperti masa remaja.

Sedangkan Tio Ki Hong lebih kurang baru berumur dua puluhan tahun. Apakah mereka memang sudah ditakdirkan menjadi jodoh ataukah karena kekhilafan.

Bagaimana reaksi pemuda itu apabila mengetahui keadaan Siu Yin yang sebenarnya?

Walaupun pikirannya berkata begitu tetapi Cu Jiang tak mau mengatakan apa2.

"Sauhiap, persoalan Tang Yin Yin yang meloloskan diri dari Sin li kiong itu..."

"Dia mati secara mengenaskan sekali." "Tidak, dia tidak mati."

"Apa? Dia tidak mati ?"

"Tidak, Dia masih hidup dengan selamat. Akulah yang menolongnya dengan mustika ini.”

"O, mengapa orang2 di desanya mengatakan kalau dia bunuh diri ke dalam sungai."

"Dia memang pintar. Siasat itu kena sekali " "Dimana dia sekarang?"

"Ah, aku sendiri tak tahu."

Saat itu hari sudah gelap, Cu Jiang menganjurkan supaya kedua kekasih itu segera tinggalkan tempat itu. Demikian setelah menghaturkan terima kasih, Tio Ki Hong dan Siu Yin segera mohon diri. "Lo-koko, bagaimana kita sekarang ?" tanya Gu Jiang. "Lanjutkan perjalanan lagi !" seru Thian-put thou.

Kedua orang itupun segera lari menuruni puncak dan menuju ke jalan besar.

Selama dalam perjalanan ia tak henti-hentinya Cu Jiang menyatakan kecemasannya terhadap diri puteri Tayli.

"Adik, menurut pendapatku, untuk saat ini lebih baik jangan engkau menuju ke Pek-te shia." tiba2 Thian put thou berkata.

"Mengapa?"

"Segala persoalan itu ada urutan tingkatannya. Yang mana harus cepat2 dikerjakan dan yang mana  boleh pelahan sedikit. Thong-thian-kau takkan pindah tempat sedang keselamatan kongcu menguatirkan.

Lebih dulu harus menolong kongcu itu ke Gedung Hitam. Dikuatirkan nanti timbul lain2 perobahan yang tak kita inginkan."

"Tetapi aku sudah berjanji dengan Ang Nio Cu . . ." "Hm, bukankah kalian sudah saling berjanji akan

bertemu di gunung Keng-san? Bukankah hal itu takkan terganggu?"

Cu Jiang kerutkan kening merenung, Akhirnya Ia dapat menyetujui pendapat Thian-put-thou untuk menuju ke Keng-san.

^0dooow0^

Demikian pada hari itu mereka tiba di kota Kui-cia. Setelah beristirahat makan di sebuah kedai di luar kota, tiba2 Cu Jiang menanyakan apakah dalam kota Kui-cia itu tak ada cabang perkumpulan Thong-thian-kau.

"Hm, ya."

"Karena lo ko-ko pernah mencuri pil Hoa-tok tan dari Ngo tok mo. tentulah lo koko paham keadaan markas cabang itu."

"Tentu."

"Kurasa aku hendak menyelesaikan Iblis Ngo tok mo sekalian."

"Baik, karena engkau membekal mustika yang dapat mengobati racun, maka dapatlah engkau menghadapinya."

Tiba2 jongos menghampiri dan berkata bisik2: "Apakah tuan berdua tetamu dari lain daerah?" "Ya, kenapa?"

"Lebih baik tuan segera tinggalkan tempat ini." "Mengapa?"

"Kota ini sedang diserang wabah penyakit. Tiap hari tentu jatuh korban."

"Apa ? Wabah penyakit ?"

"Ya, mengerikan sekali. Warung inipun kami bersiap- siap hendak menutupnya dalam dua tiga hari lagi."

"Terima kasih."

Setelah jongos pergi, Thian-put-thou kerutkan dahi, katanya: "Aneh, aneh, ditempat ini tidak di serang banjir atau kebakaran maupun peperangan, mengapa terjangkit wabah penyakit menular ?" "Lebih baik menyingkir saja daripada harus menerjang bahaya," kata Cu Jiang.

"Tidak, disini tentu ada apa-apanya . ."

"Ada apanya ? Apakah maksud lo ko-ko, wabah itu tidak wajar dan buatan manusia ?"

"Benar, dalam dunia persilatan memang tak jarang hal itu terjadi."

"Tetapi apa tujuan orang hendak mencelakai jiwa manusia yang tak berdosa ?"

"Mungkin jiwa, harta benda atau mungkin untuk sesaji sembahyangan."

Tiba2 diluar jalan tampak beratus-ratus rakyat,  tua muda, besar kecil, laki perempuan berjalan berduyun-duyun dalam keadaan yang kacau balau.

"Apakah yang telah terjadi ?" Thian-put-thou memanggil seorang jongos dan bertanya.

"Selain Malaekat-hidup yang hendak menyembuhkan wabah penyakit itu, apa lagi. "

"Malaekat hidup ?" "Ya."

"Bisa mengobati wabah penyakit ?"

"Bukan saja bisa mengobati, pun dapat melindungi. Asal orang mau minum air suci dari Malaekat-hidup itu, Jiwanya tentu selamat."

"Dimana Malaekat hidup itu ?"

"O, di biara Sian-yu kwan lebih kurang sepuluh li dari sini."

"Bagaimana wajah Malaekat-hidup itu?" "Ini .. . tak ada orang yang pernah melihatnya? Yang minta air-jimat, cukup datang menghadap  dan menyerahkan uang sembahyangan. Heh heh... tak mungkin Malaekat-hidup itu akan menipu. Kabarnya pagi2 tadi seorang bernama Ma Han Lim berasal dari kota. pura2 menyaru sebagai orang miskin yang hendak mohon air- Jimat. Dia dikenali oleh Malaekat hidup dan seketika rubuh mati..."

"O. sudah berapa lama Malaikat hidup itu muncul ?" "Rasanya belum lama."

"Baik," setelah membayar rekening, Cu Jiang dan Thian- put thou segera melangkah keluar, Thian  put-thou mengajak Cu Jiang untuk menyaksikan keramaian itu.

"Apakah lo-koko hendak campur tangan?"

"Tidak belum semudah begitu. Kukira Malaekat  hidup itu tentulah perbuatan dari kaum Thong thian kau. Mereka hendak memperdayai rakyat, mengumpulkan harta benda dan pengikut ?"

"Mungkinkah begitu ?" Cu Jiang menegas.

"Jangan lupa bahwa iblis Ngo-tok-mo itu seorang ahli penyebar racun yang lihay."

"O," tiba2 Cu Jiang teringat. Keduanya segera ayunkan langkah menuju ke biara Sian-yu-kwan. Dimuka biara itu berkerumun penuh sesak dengan orang2. Suasananya seperti pasar malam.

Cu Jiang dan Thian-put-thou berhasil menyusup ke dekat pintu biara. Di muka pintu dijaga empat orang imam yang mencegah orang berdesak-desakan hendak masuk. Orang2 itu harus masuk satu persatu. Setelah beberapa waktu menunggu akhirnya Cu Jiang mendapat giliran masuk. Keempat imam itu memandangnya lalu menegur.

"Apa tidak membawa uang lilin?"

"Ada," kata Cu Jiang. Dia segera dipersilahkan masuk.

Cu Jiang ikut dalam urut-urutan orang yang masuk ke dalam ruang besar. Sebuah meja sembahyangan yang besar, diterangi dengan lilin yang terang benderang.

Orang yang hendak minta air mantra harus berlutut memberi hormat lalu menyerahkan uang dan imam yang menjaga di pinggir meja memberikan selembar kertas hu (mantra) warna kuning.

Menunggu hampir setengah jam, baru Cu Jiang bisa berada nomor dua dari orang yang paling depan. Di depannya itu seorang tua perut gendut, pakaian bagus. Dia tampaknya tegang sekali. Cu Jiang hanya terpisah tiga langkah dari orang tua gendut itu.

Begitu tiba di muka meja, orang itu terus berlutut dan berkemak kemik memanjatkan doa: "Hamba Ut Toa Ki, mohon dengan sangat agar Sin-sian (malaekat) menurunkan belas kasihan untuk menyembuhkan lima orang keluarga hamba yang sakit."

Tiba2 dari balik tirai dibelakang meja terdengar suara orang: "Ui Toa Ki. Sin-sian menitahkan agar engkau menghaturkan seribu tail emas."

Orang itu gemetar dan berkata dengan tersendat-sendat : "Hwat sin-sian .... hamba .... hamba tidak kaya ..."

"Ui Toa Ki, ini bukan jual beli yang boleh tawar menawar. Apakah lima orang jiwa tak berharga seribu tail ? Apalagi itu suatu dana kebaikan untuk kepentingan orang banyak."

"Baik .. , baik . .. hamba baru membawa dua ratus. "

"Baik. sisanya boleh suruh orang mengantar kemari." "Ya, ya," ia segera menyambuti beberapa lembar kertas

kuning, keringatnya bercucuran deras sekali. Rupanya ia gemetar karena harus mengeluarkan biaya yang begitu banyak.

"Bakar kertas hu itu dan abunya terus telan saja. Segala macam penyakit tentu hilang. Nah, pergilah!" seru orang dibelakang kain tirai pula.

Setelah menyerahkan uang dua ratus tail, orang gendut itupun terus merangkak keluar pintu samping.

Sekarang giliran Cu Jiang. Dia agak ragu-ragu tetapi mengingat dia hendak menyelidiki, terpaksa ia lakukan juga upacara itu. Berat rasa hatinya harus berlutut memberi hormat kepada kain tirai.

Thian put thou tak tampak, entah menyelinap ke mana saja.

"Lekas, jangan mengganggu lain orang yang menunggu giliran !" imam di pinggir meja berseru.

Cu Jiang terpaksa melakukan juga. Dia berkata: "Tecu bernama Cu Jiang kebetulan lewat di desa ini, mohon Sin- sian suka memberikan hu untuk menjaga wabah penyakit itu."

Habis berkata ia terus ulurkan tangan dimasukkan dalam lubang diatas meja. Tetapi saat itu juga tangannya telah disambut oleh sebuah tangan yang memancarkan tenaga- dalam kuat. Dia terkejut dan mengakui bahwa apa yang diduga lo koko Thian put thou memang benar. Malaikat-hidup itu seorang jago silat yang berilmu tinggi.

Cu Jiangpun segera memancarkan tenaga-dalam untuk bertahan. Ternyata orang didalam itu tidak lemah. Diapun pancarkan tenaga dalam lebih hebat lagi. Cu Jiang mendapat akal. Dia pura2 meringis kesakitan.

"Orang she Cu engkau terkena penyakit aneh. Bila hendak mengobatimu. Masuk dari pintu samping sebelah kanan !"

"Engkau membawa uang lilin tidak ?" seru imam yang menjaga disamping meja.

"Berapa ?" "Sebutir mutiara."

"Baik, bangunlah !"

Tangan yang menjabat tangan Cu Jiang itupun mengendor dan Cu Jiang segera berbangkit. Sejenak merenung ia terus melangkah masuk pintu samping kanan.

Begitu tiba di ruang besar pandang matanya terbentur pada pemandangan yang mengejutkan.

Ruang itu sekelilingnya ditutup dengan kain layar. Malaikat Hidup itu juga tidak kelihatan berada di situ. Hanya dua orang lelaki baju hitam memandang berkilat- kilat ke arah Cu Jiang. Juga terdapat seorang imam yang duduk bersila dengan mata menunduk.

Suasana dalam ruang itu sungguh menyeramkan. Salah seorang dari kedua lelaki baju hitam segera menggapai ke arah Cu Jiang.

"Mari, ikut aku." Cu Jiang mengangguk dan mengikutinya. Setelah melintasi ruang besar itu, ia tiba di sebuah halaman besar yang sunyi senyap, Setelah tiga kali melintasi halaman barulah ia tiba di sebuah bangunan rumah yang dikelilingi pagar tembok tinggi. Rupanya bangunan itu merupakan tempat tinggal para Imam.

Setelah membawa masuk Cu Jiang, lelaki baju hitam itu diam2 terus menyelinap pergi. Seorang lelaki tua Jubah kuning, duduk dibagian yang tinggi dalam ruang bangunan itu. Matanya berkilat-kilat memandang Cu Jiang sampai beberapa saat.

"Sahabat, kepandaianmu hebat juga" serunya. Cu Jiang tertegun, serunya. "Kedatanganku kemari hendak meminta hu."

"Aku tahu."

"Lalu mengapa aku diundang kemari?" "Kasih tahu dulu nama perguruanmu!"

"Apa hubungan hal itu dengan pengobatan penyakitku ?" "Jangan bertanya, engkau hanya wajib menjawab !"

"Aku tak mempunyai perguruan, kepandaianku berasal dari keluargaku sendiri."

"Siapa ayahmu ?"

"Dahulu dia seorang piausu."

"Engkau berlatih dengan senjata apa ?" "Pedang."

"Bagus!" seru orang tua jubah kuning itu lalu meneriaki orangnya. Seorang lelaki berpakaian hitam muncul dari pintu samping dengan membawa pedang. Cu Jiang tak mengerti apa yang akan terjadi. "Cu Ing Jit. engkau boleh bertanding pedang  dengan dia." seru orang tua jubah kuning. Memang Cu Jiang menggunakan nama Cu Ing Jit.

"Bertanding pedang ? Mengapa harus begitu?" Cu Jiang terkejut.

"Jangan tanya !"

"Kedatanganku kemari bukan untuk bertanding ilmu pedang," Cu Jiang membantah.

"Jangan banyak bicara !"

Akhirnya Cu Jiang memutuskan. Ia akan menurut saja perintah orang. Ia ingin tahu apa saja tujuan mereka. Segera ia menuju ketengah halaman. Lelaki baju hitam itupun menyerahkan sebatang kepada Cu Jiang.

"Sahabat, engkau harus mengeluarkan seluruh kepandaianmu kalau tidak engkau tentu menyesal." katanya.

Memang Cu Jiang tak membawa pedang kutungnya. Pedang kutung itu dibungkus kain dan dibawa Thian put- thou.

"Menyesal bagaimana?" tanya Cu Jiang seraya menyambuti pedang.

"Terluka atau mati, engkau sendiri yang menanggung akibatnya."

"Ini mengadu kepandaian atau bertanding dengan taruhan jiwa?"

"Kalau tak bertanding sungguh2, tentu tak dapat diketahui kepandaianmu yang sesungguhnya!"

"Aku tak mengerti apakah maksudnya semua ini ?" "Tak perlu tanya. Nanti engkau tahu sendiri, Itupun kalau engkau masih hidup."

Cu Jiang kerutkan dahi. Ia benar2 tak mengerti apa maksud orang itu.

"Lekas cabut pedang !" seru orang itu.

Cu Jiang terpaksa menurut, Lelaki baju hitam itupun segera menghunus pedangnya dan terus menaburkannya dalam suatu gerak lingkaran yang menimbulkan tebaran sinar pedang.

"Sahabat, kita saling menyerang dalam tiga jurus !" "Baik."

“Awas, sambutlah. . ." "Silahkan !"

Lelaki baju hitam itu berubah merah wajahnya. Segera ia menyerang dengan jurus yang ganas. Cu Jiang hanya gunakan tiga bagian tenaganya untuk menghadapi.

Tring tring .. . pedang saling beradu dan kekuatan kedua belah fihak ternyata berimbang.

"Kali ini harap hati2!" seru orang baju hitam itu seraya menyerang dengan gerak yang cepat dan dahsyat. Ujung pedang mengarah ketiga buah jalan darah didada Cu Jiang.

Kali ini Cu Jiang gunakan lima bagian tenaganya untuk menangkis dan dapat mengimbangi.

"Sahabat," orang itu tertawa dingin. "engkau  selalu hanya bertahan. Serangan yang ketiga ini memastikan hidup matimu. Waspadalah !"

Dalam berkata-kata itu pedangpun sudah meluncur cepat. Tampaknya orang itu menggunakan seluruh kepandaiannya untuk menyerang. Terpaksa Cu Jiang gunakan delapan bagian tenaganya untuk bertahan.

Tring .. . pedang orang baju hitam itu terpental dan orangnyapun tersurut mundur dua langkah.

"Sudah cukup ?"

"Sahabat, sekarang giliranmu yang menyerang !" "Ah, tak usah."

"Tidak bisa." orang itu berkeras.

"Selama ini aku hanya menyerang cukup satu jurus saja." "Apa engkau hanya mampu menyerang dalam satu jurus

saja ?"

"Katakan begitu." "Baik."

Cu Jiang memutuskan, sebelum ia Jelas akan keadaan orang, ia takkan menggunakan jurus yang ampuh. Ia akan menggunakan delapan bagian tenaga dan setengah dari Jurus Thian te-kiau-thay. Sekalipun begitu, perbawanya masih tetap dahsyat.

Tring .... orang itu mundur sampai beberapa langkah. Ujung pedang Cu Jiang mengarah ke dada dan terus membayanginya, terpisah hanya satu dim tetapi tidak ditusukkan.

Wajah orang itu berobah menyeramkan.

"Bagus, boleh masuk kemari !" seru orang tua berjubah kuning.

Cu Jiang hentikan serangannya dan mengembalikan pedang kepada orang baju hitam itu. "Ilmu pedangmu menarik sekali," orang tua jubah kuning itu memuji.

"Ah, jangan memuji." "Engkau lulus ujian !" "Lulus ujian ? Apa artinya ?"

"Engkau akan diangkat sebagai pengawal dari perkumpulan kita!"

"Tetapi kedatanganku kemari karena hendak minta obat. bukan untuk melamar menjadi pengawal .. ."

"Engkau tak boleh menolak !"

Cu Jiang menyeringai heran lalu bertanya perkumpulan apakah yang akan dimasukinya itu.

"Thong-thian kau!"

Mendengar itu benar2 Cu Jiang kagum akan ketajaman mata Thian put-thau. Thian put thou dengan cepat dapat menduga bahwa wabah penyakit di kota itu adalah buatan dari kaum Thian-thong-kau hendak mengumpulkan dana dan mencari pengikut.

"Tong-thian kau ?" Cu Jiang pura2 terkejut.

"Ya. Perkumpulan Thong thian kau dalam waktu yang tak lama lagi akan bergerak untuk menguasai dunia. Sahabat, kesempatan yang engkau peroleh ini tak sembarang orang bisa mendapatkan. Aku adalah hu-hwat dari cabang Thong-thian-kau kota Kui-ciu, Engkau jelas sekarang ?"

"Tetapi, aku ... "

"Jangan banyak bicara ! Engkau tak dapat memilih lain." "Jika aku tak ingin menjadi pengawal Thong thian-kau ?" Orang tua jubah kuning itu bertepuk tangan dan pintu samping terbuka. Diatas meja tampak beberapa butir kepala manusia yang masih berlepotan darah.

"Seperti itulah !" serunya.

Melihat itu bergidiklah bulu roma Cu Jiang Seketika hawa pembunuhan meluap-luap dalam dadanya. Tetapi dia pura2 bersikap kaget, serunya:

"Aku . . . suka menerima "

Pintu itupun tertutup lagi. Kemudian lelaki tua berjubah kuning itu segera memerintahkan orang berbaju hitam supaya membawa Cu Jiang keluar menunggu perintah.

"Aku masih mempunyai seorang kawan yang datang bersama, aku hendak memberitahu kepadanya dulu . ."

"Tidak boleh !"

"Ikut aku !" lelaki baju hitam itu melambai kepada Cu Jiang.

Dengan membawa sikap seperti enggan, Cu Jiang mengikuti orang itu masuk ke dalam halaman samping. Dalam ruang terdapat empat orang pemuda yang mengerut dahi. Rupanya mereka juga terpilih menjadi pengawal Thong-thian-kau. Melihat kedatangan Cu Jiang. merekapun diam tak mengacuhkan.

"Tunggulah disini, Jangan coba2 membuat rencana yang tidak-tidak, tak ada orang yang mampu keluar dengan masih bernyawa dari tempat ini" habis berkata lelaki baju hitam itu terus ngeloyor pergi.

Kini kelima orang itu saling berpandangan tanpa berkata-kata apa.

Tak berapa lama, dari lain ruangan terdengar  suara orang dan gemerincing pedang lalu erang jeritan ngeri. Tentulah seorang calon sedang diuji dan karena kepandaiannya kurang lalu menemui kematian.

Seperminun teh lamanya, terdengar lagi suara pertempuran. Tetapi kali ini rupanya dengan adu pukulan, tidak menggunakan pedang.

Setelah berhenti beberapa waktu, seorang lelaki tua kurus berumur lebih kurang lima puluhan tahun,  dibawa masuk ke dalam ruang itu. Begitu melihat orang itu, diam2 Cu Jiang bersorak dalam hati. Orang itu tak lain adalah lo- kokonya yakni Thian put-thou. Dia telah lulus dari ujian.

Dengan langkah bergoyang gontai, Thian-put-thou melangkah masuk. Setelah pengawal baju hitam itu pergi, dia terus melangkah kedepan mata kepada Cu Jiang, serunya: "Aku si tua ini sungguh masih punya rejeki besar. Dalam umur yang  begini tua, aku masih mendapat kesempatan untuk mengangkat nama."

Keempat pemuda yang lebih dulu berada dalam  ruang itu tak menyahut.

Thian-put-thou Ciok Yau Hong itu sudah berumur delapan puluh tahun, rambutnya putih. Tetapi karena dia menyaru, maka sukarlah orang mengenalinya.

"Ha, ha." Cu Jiang menyambut tawa gembira.

Thian-put-thou kerutkan alis lalu berkata dan menyerahkan bungkusan pedang kutung: "Adik kecil, inilah barangmu !"

"Terima kasih." Cu Jiang menyambutinya.

Beberapa waktu kemudian, masuklah lelaki jubah kuning dengan dua orang pengawal baju hitam. Mereka memandang rombongan enam orang yang berada dalam ruang itu lalu berkata dengan nada sarat: "Saudara2 telah mendapat kehormatan untuk menjadi pengawal perkumpulan kami. Lebih dulu kami hendak menghaturkan selamat. Kemudian akan membagikan tugas menurut urutan kepandaian kalian.

Sekarang, beberapa pil ini dapat menambah tenaga dan kekuatan, pemberian khusus dari Malaikat hidup sebagai tanda menyambut kedatangan kalian."

Kedua pengawal baju hitam lalu maju dan membagikan sebutir pil merah kepada setiap orang. Setelah menyambuti, keempat pemuda itu tampak bersangsi untuk menelan.

"Jangan tak menghargakan kebaikan Hwat-sin-sian (Malaekat hidup), makanlah!"

Setelah memberi kicupan ekor mata, Cu Jiang terus menelan pil itu demikian pula Thian-put thou. Melihat itu keempat pemuda itupun segera mengikuti.

Lelaki jubah kuning tertawa serunya: "Bagus, sebentar lagi akan disalurkan hidangan, silakan nanti kalian menikmati sepuas-puasnya, Malam ini kita nanti mengadakan pertemuan!"

"Bagus! Thian put-thou bertepuk tangan, sudah tiga bulan aku si tua ini tak pernah makan enak dan sebulan tak pernah minum arak!"

Sejenak memandangnya lelaki jubah kuning itupun segera meninggalkan ruang itu.

Menjelang petang, memang benar muncul orang yang mengantar hidangan dan arak. Walaupun tak terdiri diri masakan yang lezat tetapi juga cukup untuk membuat lidah bergoyang. Saat itu keempat pemuda tadi sudah berobah sikapnya. Mereka bicara dan tertawa. Wajahnya yang mengerut, sudah lenyap. Thian-put thou juga seperti berobah adanya.

Diam2 Cu Jiang sudah mengulum katak mustika, kemudian diam2 menaruhkan mustika itu ke dalam cawan araknya dan lalu ditukarkan dengan cawan Thian-put thou.

Setelah minum, tak berapa lama tingkah laku Thian-put thou sudah normal kembali. Tetapi dia tak mengetahui hal itu.

Menjelang tengah malam, dua orang pengawal baju hitam muncul dan salah seorang berseru mengajak mereka berangkat.

Mereka keluar dan biara itu menyusur jalan menuju ke barat.

Setelah tiba ditempat yang sunyi. Cu Jiang baru turun tangan menotok jalan darah kedua pengawal baju hitam itu.

"Hah, apa-apaan itu ?" keempat pemuda itu berteriak kaget.

Cu Jiang tak sempat memberi penjelasan lagi, dengan cepat dia berkata:

“Pil yang saudara telan tadi, mengandung racun. Sekarang akan kuberi obat dan setelah itu silakan saudara pergi !"

Tanpa memberi kesempatan. Cu Jiang memaksa keempat orang itu supaya mengulum katak-mustika. Mereka menurut. Beberapa saat kemudian mereka seperti sadar.

"Mengapa tak lekas pergi!" bentak Thian-put thou. Keempat pemuda itu memberi hormat lalu melesat pergi. “Lo koko, kita tunggu dulu beberapa waktu lagi." bisik Cu Jiang.

"Apa maksudmu?"

"Tunggu mereka datang kemari hendak memberi pertolongan kepada kedua orangnya ini..

"Apa tak kuatir kalau kita akan ketahuan ?"

"Tak apa, kalau secara gelap tak dapat kita harus menempuh dengan cara yang terang-terangan. Silahkan lo koko menyingkir dulu."

"Mengapa?"

"Yang ku arah hanyalah si Iblis Ngo-tok-mo itu. Jika aku bertindak seorang diri, tentu lebih leluasa !"

"Apakah engkau hendak membuang aku?"

"Ah, Jangan lo koko berpendapat begitu. Berbicara soal pengetahuan dan pengalaman sudah tentu aku tak menang dengan lo-koko. Hanya kali ini dalam menghadapi jago2 dari Kawanan iblis ..."

"Sudahlah, Jangan panjang lebar. Dimana kita nanti akan berjumpa?"

"Di warung kecil yang kemarin kita singgahi itu. Disebelahnya terdapat sebuah penginapan, bagaimana kalau kita bertemu di situ !"

"Sudah. Hati-hati saja di jalan." "Terima kasih."

Habis memberi pesan Thian put thou terus berputar tubuh dan melangkah pergi. Tapi belum berapa jauh sudah kembali lagi.

"Apakah lo koko hendak memberi pesan lagi?" "Hampir saja aku melupakan sebuah urusan besar." "Urusan apa."

"Soal wabah penyakit itu. Sebenarnya itu merupakan racun yang bekerjanya lambat. Perbuatan keji dari pihak Thong-thian kau itu tentu dilakukan dengan cara diam2 menyebarkan racun dalam sumur2 rumah rakyat. Jika tak memperoleh obat yang tepat tentu akan  menimbulkan bencana..."

"Baiklah."

"Kita bekerja secara terpisah..." "Bagaimana tindakan lo koko?"

"Hi, hi, kerjaan lama. Malam ini aku hendak berziarah ke biara Sin yu kwan, menjenguk si Malaekat hidup itu. Mereka memberi hu, pada hal itu tentu dilumuri dengan obat penawar racun. Di samping itu akan menggali tanah baru."

"Apa maksud lo-koko?"

"Menganjurkan supaya penduduk jangan menggunakan air dari sumur tetapi membuat sumur baru atau menggunakan air sungai. agar terhindar dari keracunan."

"Bagus !"

"Sudahlah, pencuri tua akan mulai bekerja !" habis berkata Thian put thou terus melesat sampai beberapa tombak dan pada lain saat sudah lenyap dalam kegelapan.

Diam2 Cu Jiang kagum akan ilmu meringankan tubuh lo kokonya itu. Kecuali tata langkah Gong-gong pon hwat, rasanya dalam dunia persilatan tak ada lain ilmu yang mampu menandingi gerakan Thian put-thou itu. Beberapa waktu kemudian, tampak beberapa sosok bayangan berlari-lari mendatangi. Yang di muka tak lain adalah orang tua jubah kuning itu.

Cu Jiang serentak menyongsong dan berseru: "Laporan kepada hu hwat, telah terjadi peristiwa besar."

Rombongan pendatang itu berhenti. Orang tua jubah kuning memandang kedua pengawal baju hitam yang menggeletak di tanah lalu berseru:

"Peristiwa apa ?"

"Kita menerima serangan gelap yang tak terduga-duga !" "Dan orang2 itu kemana ?"

"Dibawa mereka !"

"Mengapa engkau tidak ikut dibawa?"

"Uh . .. hamba bukan kerbau. Dengan kepandaian yang kumiliki, mereka tak mampu membawa aku."

"Apakah kedua orang itu mati?"

"Tidak, hanya ditutuk jalan-darahnya tetapi entah dengan ilmu tutukan apa, aku tak mengerti."

"Siapa musuh yang menyerang itu?"

"Semua mengenakan pakaian hitam  sampai mukanyapun tertutup kain hitam..."

"O, kutahu. Tentulah pihak Gedung Hitam hendak mencari gara-gara."

Orang tua jubah kuning itu terus memeriksa kedua anak buahnya yang menggeletak di tanah itu. Tetapi sampai beberapa saat dia tak berhasil apa2. Jelas diapun tak tahu ilmu tutuk apa yang digunakan musuh untuk menutuk jalan darah ke dua orang itu. Diam2 Cu Jiang geli. Memang dia mempergunakan ilmu tutukan dari kitab Giok kah-simkeng. Tokoh-2 silat pada umumnya tentu tak mengerti ilmu tutukan itu.

"Bawa mereka pulang ke markas !" teriak lelaki jubah kuning dengan marah.

Rombongan anak buahnya segera memanggul kedua korban itu Kemudian mereka melanjutkan perjalanan lagi,.Tak berapa lama tiba di sebuah pedesaan.

Setelah saling memberi sandi rahasia, mereka lalu masuk. Lingkungan markas itu memang luas dan besar. Sepanjang jalan terdapat pos2 penjagaan yang ketat.  Sampai jalan masuk tentu dijaga oleh pengawal. Cu Jiang dibawa kesebuah ruang oleh seorang pengawal. 

Dalam ruang itu beberapa anak buah tengah bergembira ria, bersorak dan mabuk-mabukan sehingga mereka tak mengacuhkan kedatangan Cu Jiang.

Cu Jiang duduk disebuah meja dekat jendela.

Dia tak mau membuang waktu. Keselamatan  puteri Tayli selalu membayangi benaknya. Urusan di tempat itu harus selesai malam itu. Paling lambat sampai besok pagi.

Tiba2 seorang thau-bak atau kepala kelompok, muncul di pintu dan melongok ke dalam.

"Ong San Ko. kalian berenam nanti menjelang tengah malam harus pergi ke biara Sianyu-kwan untuk mengganti penjagaan di sana !"

Ternyata kawanan anak buah yang berada dalam ruangan itu tengah berjudi dan minum arak. Salah seorang yang bermuka hitam mengangkat muka dan berseru:

"Li thaubak, apakah engkau yang memimpin kami?" "Hm." "Siapakah yang menjadi Malaekat hidup besok pagi?" "Song hu-hwat."

"Uh, sukar dilayani . .."

"Ong Sam Ho, jangan kuatir, lain orang malah mudah." "Apa yang harus kita sediakan?"

"Mudah saja, bawakan seguci air yang sudah bertuliskan huruf2 mantra."

"Harus meminta kepada Song hu-hwat?" "Tak usah, besok aku yang membawanya."

“Saudara2, mari kita lanjutkan permainan lagi sampai puas," si wajah hitam itu berseru lalu memegang lagi kartunya.

Kemudian thaubak yang disebut orang she Li itu berseru kepada Cu Jiang: "Thamcu memanggil, mari ikut aku!"

"Baik," Cu Jiang berbangkit lalu melangkah. Dia masih membawa bungkusan pedang.

"Hai. bung, taruh saja barang itu disini. Tak ada orang yang mau mencurinya."

"Tetapi ini . . . tak dapat terpisah dari aku." "Apa berisi pusaka?"

"Hampir begitulah."

Salah seorang anak buah yang tengah bermain judi itu, menyelutuk:

"Kabarnya pendatang baru itu berkepandaian tinggi sehingga Tio si su saja kalah . . ." "Mungkin akan diberi jabatan yang keras. Karena walaupun kepandaiannya tinggi tetapi orangnya dingin." sambut Ong Sam Ho.

Cu Jiang tertegun. Dipanggil oleh pimpinan tentu tak boleh membawa bungkusan barang. Tetapi di mana dia harus menaruh bungkusan pedang itu.

"Lekas apa engkau suruh thamcu menunggu sampai lama?" teriak Li thaubak.

Karena belum mendapat akal, terpaksa Cu Jiang membawa bungkusan pedangnya. Thaubak itu hanya tertawa tapi tak berkata apa2.

Setelah melalui berlapis-lapis penjagaan, mereka tiba di sebuah ruang besar yang diterangi dengan lampu besar.

"Anggauta yang baru itu telah menghadap." seru Li thaubak.

"Suruh masuk."

Li thaubak melirik kepada Cu Jiang dan menyuruhnya dia sendiri yang masuk. Cu Jiang mengangguk. Ia masuk dan melangkah naik ke atas titian dan masuk ke dalam ruang. Dalam ruang Itu terdapat sebuah meja besar, rupanya sebagai tempat untuk memberi perintah. 

Di belakang meja itu duduk seorang tua berjubah kuning emas Matanya berkilat-kilat merah seperti mata ular sehingga menimbulkan rasa seram. Pada kedua samping meja terdapat delapan kursi dari kayu jati. Tetapi baru berisi tiga orang lelaki tua dan seorang lelaki setengah tua berjubah kuning.

Cu Jiang menduga bahwa lelaki tua berjubah  emas duduk dibelakang meja pimpinan itu tentulah iblis Ngo tok- mo. "Menghaturkan hormat kepada thamcu." begitu masuk Cu Jiang memberi hormat kepada lelaki di meja pimpinan itu.

"Oh, engkau membawa apa itu?" "Perlengkapan bekal."

Ngo tok mo mengerling memandang ke arah tiga lelaki tua jubah hitam yang duduk di sebelah kanan.

"Ku congkoan !"

"Siap !" seru salah seorang lelaki jubah hitam itu. "Sediakan semua persiapan dan tunggu perintah dari

thancu."

"Di ruang Bu-thia," katanya pula. "Baik."

Ruang Bu-thia atau tempat berlatih silat saat itu terang benderang. Di panggung telah hadir tokoh2 pimpinan yang berada dalam ruang tadi.

Di bawah panggung terbentang sebuah lapangan seluas tiga tombak. Di sekeliling lapangan itu berjajar-jajar dua puluhan orang busu atau jago silat, tua dan muda.

Cu Jiang ditempatkan di pintu masuk. "Song huhwat !" seru Ngo-tok-mo.

Lelaki tua Jubah kuning berdiri dari tempat duduk dan memberi hormat.

"Siapa namanya?" "Cu Ing Jit."

"Kepandaiannya tergolong tingkat ke berapa?" "Dalam ujian, dengan sebuah jurus dia dapat mengalahkan Tio sisu, rupanya bisa digolongkan kelas satu."

"Kelas satu?" "Ya,"

"Suruh seorang busu kelas satu untuk bertanding dengan dia ?"

"Baik."

Lelaki jubah kuning itu berpaling kearah busu yang duduk pada Jajaran kedua dan berseru: "Kwee sisu, cobalah dia barang sejurus !"

Seorang bu-su berumur lebih kurang 40an tahun segera berbangkit dan mengiakan. Dia melangkah ke tengah gelanggang, memberi hormat ke arah panggung lalu berputar tubuh dan berdiri di samping.

"Cu Ing Jit, pilihlah senjata dan bertandinglah dengan Kwee si-su !"

Sebenarnya Cu Jiang sudah sebal tetapi apa boleh buat, dia harus bersabar lagi. Tanpa menyahut ia terus menghampiri rak senjata dan sembarangan saja mengambil sebatang pedang lalu menuju ke gelanggang dan  berhadapan dengan jago yang bernama Tio si-su. Tangan kirinya tetap mencekal bungkusan pedang kutung.

Orang she Tio itu kerutkan kening dan  berseru : "Letakkan bungkusanmu itu."

"Tak usah !" Cu Jiang tersenyum. "Mengapa engkau begitu sombong ?"

"Bukan sombong tetapi aku memang selamanya hanya menggunakan sebelah tangan saja." "Kita bertandang sejurus saja." "Silakan menyerang dulu!" "Tidak, engkau yang mulai dulu"

"Si su adalah tokoh terkemuka dalam perkumpulan kita, bagaimana aku berani berlaku kurang hormat"

"Jika begitu, siap2lah menyambut seranganku ini!" pedang dileburkan dan berhamburan hawa dingin melanda Cu Jiang. Jalan-darah yang penting diseluruh tubuh, dari atas sampai bawah. terancam ujung pedang. Hebatnya membuat orang leletkan lidah.

Saat itu Cu Jiang tak berani menunjukkan siapa dirinya. Dia hanya menangkis. Terdengar dering pedang beradu dan serangan Kwee si-su itu semua dapat ditangkisnya. Merah padam muka jago she Kwee itu.

"Maaf. sekarang harap menyambut seranganku." seru Cu Jiang. ia terus gunakan salah sebuah jurus dari ilmu pedang Thian te kiau thay. Pedang menyerang datar dan lurus ke muka tetapi Kwee si su kelabakan tak dapat menangkis dan terpaksa mundur tiga langkah. Wajahnya menyeringai tak sedap dipandang.

Cu Jiang tak mau mengejar. Ia menarik pulang pedangnya.

"Cukup!" seru Ngo-tok-mo "persidangan dibubarkan, tujuh hari kemudian akan diadakan pengangkatan jabatan yang resmi."

Selain bu su serempak berdiri dan memberi hormat. Ngo tok mopun segera masuk kedalam pintu samping. Sementara seorang bu-su lain mengantarkan Cu Jiang kembali kedalam kamar peristirahatannya. Keenam bu su yang berjudi tadi sudah selesai dan siap menunggu perintah. Diatas meja terdapat sebuah botol, tentulah berisi air hu atau mantra.

Tak berapa lama, Li thaubak bergegas datang dan berkata:

"Cu In Jit, kamar ini hanya tinggal engkau seorang, silakan beristirahat, jangan pergi kemana-mana."

"Baik."

Ketujuh orang itupun segera tinggalkan ruangan. Cu Jiang menutup pintu dan memadamkan lampu lalu rebah di ranjang. Dia memikir-mikir bagaimana tindakan yang akan dilakukan.

Saat itu sudah lewat tengah malam, suasana sunyi sekali. Kecuali hanya terdengar derap langkah dari para peronda, tak terdengar apa2 lagi.

Cu Jiang memutuskan untuk bertindak. Ia berganti pakaian dan mengenakan kain kerudung muka, membawa pedang kutung. Setelah siap dalam penyamaran sebagai Toan-kiam-jan-jin, dia terus ke luar.

Para peronda itu hanya anak buah biasa. Sudah tentu mereka tak dapat mengetahui gerak-gerik Cu Jiang.

Gedung itu mempunyai banyak sekali ruangan sehingga sukar untuk mencari tempat Ngo tok-mo. Dia menuju ke sebuah ruang yang paling akhir sendiri lalu bersembunyi di ujung yang gelap.

Tiba2 sesosok bayangan masuk ke dalam ruang dan berseru: “Hamba Lu Goan, mohon menghadap hun than- ciang untuk menghaturkan laporan penting!"

Semangat Cu Jiang timbul seketika. Ternyata dia telah menemukan ruang yang tepat. Dari dalam ruang itu terdengar suara Ngo-tok-mo yang menusuk telinga: "Soal penting apa?"

"Cong-than, memberitahukan sebuah peristiwa yang penting!"

"Katakan!"

"Menurut laporan rahasia, puteri Tayli yang pesiar ke Tiong goan telah ditawan oleh pihak Gedung Hitam. Dan tokoh yang bernama Toan-kiam-jan-jin itu ternyata telah menjabat pangkat sebagai Tin tian ciang-kun (jenderal bhayangkara keraton) Tayli. Diapun murid dari Koksu Gong gong-cu. Pimpinan mengumumkan, supaya setiap ketua cabang menyelidiki tentang gerak gerik Toan kiam- janjin. Kalau menemukannya tak boleh bergerak sendiri tetapi harus cepat2 memberi laporan karena ketua hendak turun tangan sendiri untuk membereskannya."

"Oh." seru Ngo tok-mo.

"Murid masih ada sebuah hal yang perlu murid haturkan."

"Hal apa?"

"Kedua anak buah kita yang tertutuk jalan-darahnya itu tak dapat diobati sehingga binasa. Kamipun berhasil menangkap lima anak buah Gedung Hitam  dan setelah kami paksa menelan pil Ok-tim-wan, mereka memberi keterangan bahwa Gedung Hitam tak mempunyai jago2 unggul didaerah Kwi ciu. Gedung Hitam tak tahu menahu tentang peristiwa itu."

"Lu ciangleng. bagaimana pendapatan sendiri ?" "Kuanggap Cu Ing Jit yang baru saja kita terima menjadi

pengawal itu, mencurigakan . . ." "Apa alasannya ?" "Dari kelima calon yang hendak kita terima menjadi bu- su. ternyata yang empat dapat meloloskan diri, hanya tinggal dia seorang yang selamat. Dan pula menilik gerak ilmu pedangnya seperti bukan berasal dari ilmu pedang aliran Tionggoan. Dia masih belum mau  menunjukkan  ilmu kepandaiannya yang sesungguhnya. Sebenarnya waktu di biara Sian-yu-kwan dia sudah disuruh menelan pil In- seng-wan, tetapi ternyata pikirannya masih sadar dan tingkah lakunya juga tetap biasa "

"Hal itu aku memang sudah melihatnya. Kalau menurut Lu ciangleng, bagaimana kita akan menyelesaikan orang itu?"

"Segera membuka sidang peradilan dan seluruh tong-cu harus hadir."

"Baik."

Ciangleng atau pembawa amanat orang she Lu itu segera bergegas keluar. Cu Jiang loncat ke luar dari tempat gelap. Ia mendorong pintu ruang tengah tetapi ruang itu kosong. Dia terus melangkah masuk.

"Siapa?"

"Aku."  "Engkau siapa?"

"Orang yang anda hendak cari itu!"

Ngo tok-mo segera membawa lampu keluar. Begitu melihat siapa yang berada dalam ruang itu, dia berteriak gentar: "Engkau Toan-kiam-jan jin?"

"Heh, heh, benar," Cu Jiang tertawa mengekeh, "silakan engkau berteriak minta tolong atau memanggil bala bantuan anak buahmu!" Ngo-tok-mo deliki mata. Ia menyulut lilin besar dalam ruang itu kemudian mempersilakan tetamunya duduk.

"Tak usah," Cu Jiang menolak. "Kita akan bercakap cakap." "Tak perlu!"

"Lalu apa maksudmu datang kemari?"

"Katakan saja, untuk menagih hutang darah dari rakyat!" "Ha, ha. ha, ha "

"Hm, rupanya engkau tenang2 saja? "

Segulung bau harum bertebaran menyusup hidung. Cu Jiang segera menyadari bahwa saat itu Ngo-tok-mo sedang menebarkan racun harum. Tetapi dia tenang saja karena mempunyai katak-mustika.

"Toan kiam-jan-jin, engkau benar2 bernyali besar karena berani menyusup masuk ke dalam markas ini. Entah bagaimana engkau harus menderita kematian nanti."

"Mungkin kebalikannya, bukan aku tetapi engkau!" "Mengapa engkau tak mencoba mengerahkan

tenagamu?"

"Apa maksudmu?"

"Ketahuilah, dalam lingkungan tempat kamar ku, penuh dengan racun2 berbisa. Sekali melangkah kedalam lingkaran daerah racun itu, dewapun pasti mati juga!

"Benarkah itu?" "Engkau "

"Bagaimana kepandaianmu kalau dibanding dengan nenek Teh-hun-pi-peh?" Wajah Ngo tok-mo seketika berobah. Sesaat kemudian dia menenangkan diri, mempersiapkan kedua tangan untuk menjaga diri dengan ketat.

Cu Jiang harus memburu waktu. Dia tak mau tenaganya diperas terlalu lama disitu. Dengan membentak keras, ia terus ayunkan pedang kutung. Harus cepat2 dapat membunuh iblis itu maka dia gunakan seluruh tenaganya.

Ngo tok-mo tak dapat menghindar mundur. Kanan kiripun telah tertutup oleh sinar pedang. Tak ada lain jalan kecuali harus mengadu jiwa. Maka diapun lancarkan serangan balasan.

Huak.... terdengar suara menguak ngeri, disusul dengan darah menyembur. Tangan Ngo tok mo masih menuding Cu Jiang dan mulut menganga seolah-olah ia tak puas harus menemui keakhiran hidup seperti itu. Tetapi nasib sudah digariskan. Dia tetap terkulai dan rubuh ke tanah.

Pada saat lawan melancarkan serangan balasan tadi, Cu Jiang pun sudah mundur beberapa langkah. Darahnya bergolak keras.

Jeritan ngeri dari Ngo-tok-mo itu telah mengejutkan kawanan peronda. Mereka segera memburu masuk ke  ruang itu. Cu Jiang membakar kain tirai dan kelambu. Begitu terbit kebakaran, terompet pertandaan segera berbunyi. Seluruh markas di makan api.

Sekali sudah turun tangan, Cu Jiang tak mau kepalang tanggung. Dia terus melepas api untuk membakar markas. Setelah seluruh markas menyala, barulah dia lari menuju ke biara Sian-yu-kwan.

Tetapi saat itu ternyata biara Sian-yu-kwan juga sedang kacau balau tak keruan. Malaikat-hidup yang biasa memberikan obat, hilang entah ke mana. Sedang seguci hu yang baru saja diangkut ke biara itu juga lenyap.

Siapakah yang berani melakukan perbuatan itu?

Lelaki jubah kuning yang hendak mengganti giliran sebagai Malaikat hidup, berjingkrak-jingkrak seperti kebakaran jenggot. Dia memerintahkan seluruh anak buah biara itu untuk mencari secara diam2 tak boleh menyiarkan. Karena kalau hal itu sampai bocor, tentulah permainan mereka akan ketahuan orang.

Tiba di biara Sian yu kwan. Cu Jiang melihat waktu sudah hampir mendekati fajar. Dia terus menyelinap masuk ke bagian belakang.

"Siapa itu ?"

Terdengar orang menegur dan terdengar pula  suara sosok tubuh yang jatuh ke tanah.

Lelaki jubah kuning lari memburu ke halaman. Sejenak memandang ke empat penjuru, ia berseru bengis: "Sahabat dari manakah yang berkunjung kemari?"

"Aku datang hendak menghadap Malaikat-hidup." terdengar suara penyahutan dari arah tempat yang gelap.

Lelaki jubah kuning itu terkejut dan dengan gemetar ia berseru pula: "Siapakah sahabat ini?"

Tiba2 dihadapannya muncul seorang yang mengenakan kain kerudung muka.

"Engkau . , . Toan kiam janjin? " "Benar! "

"Engkau . . , engkau . .. hendak mengapa?"

"Hendak menumpas kedosaanmu yang berani menyaru menjadi Malaikat dan mencelakai rakyat!" "Tolong . . !" teriak lelaki jubah kuning memanggil anak buahnya.

Beberapa anak buahnya segera berhamburan muncul. Empat orang yang mengenakan pakaian seperti imam serta busu terus menyerang Cu Jiang. Tetapi hampir serempak, mereka menjerit ngeri dan rubuh.

Lelaki jubah kuning itu tahu akan kelihayan Toan-kiam jan jin yang mampu mengalahkan nenek Toh-hun pipeh atau guru dari gerombolan iblis Sip-pat-thian mo.

Maka pada saat keempat anak buahnya menyerang Cu Jiang, diapun terus menyelinap pergi dan menghilang  dalam kegelapan.

Tetapi ternyata Cu Jiang lebih gesit. Begitu tiba dalam hutan di belakang biara, baru lelaki tua jubah kuning itu menghela napas longgar dan hendak menyembunyikan diri, tiba2 sesosok bayangan berkelebat dan:

"Malaikat-hidup, mau mengumpat kemana engkau?" terdengar teriakan disertai munculnya Toan kiam jan jin di hadapannya.

Lelaki jubah kuning melongo seperti kehilangan semangat.

"Malaikat hidup, bagaimana kalau engkau bunuh diri saja?" Cu Jiang tertawa dingin.

Tiba2 lelaki tua jubah kuning itu mengangkat kedua tangannya dan menghantam. Karena gugup ketakutan, dia telah menggunakan seluruh tenaganya.

"Hm, rupanya engkau mau membangkang! " Cu Jiang menyelinap dan ayunkan tangan. Lelaki jubah kuning itu mengaum, terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang dan muntah darah. "Uh..." Cu Jiang memburu dan menutukkan jarinya.

Lelaki tua jubah kuning itupun rubuh.

Cu Jiang menjinjing tubuh orang itu, lari kembali ke biara, menyingkap kain tirai dan mengikat lelaki jubah kuning itu pada kursi.

"Malaikat hidup, begitu hari terang, rakyat yang minta air hu kepadamu itu akan memberi peradilan!"

"Toan kiam janjin, bunuhlah aku!" seru lelaki jubah kuning itu.

Cu Jiang menutuk jalan darah gagu di  tenggorokan orang itu, katanya: "Enak kalau engkau harus mati. Masakah permainan tadi dari Thong thian kau tak ada urusannya lagi?"

Sepasang mata lelaki jubah kuning itu seperti mau pecah. Dadanya diamuk amarah dan kembali dia muntah darah. Tetapi ilmu kepandaiannya sudah dirusak dan mulutnya tak dapat bicara, Tak ada lain jalan baginya kecuali hanya pasrah nasib.

Cu Jiang berdiri di muka ruang sambil mencekal pedang kutung. Kawanan anak buah yang diperintah untuk mencari gentong air hu yang hilang itu mulai  kembali lagi ke biara.

Tetapi mereka telah disambut Cu jiang. Cu Jiang tak mau membunuh, melainkan hanya merusak tenaga kepandaian mereka.

Hari baru saja fajar tetapi di luar pintu biara sudah banyak orang yang berkerumun untuk minta air hu. Mereka antri. Cu Jiang tertawa puas, lalu tinggalkan biara itu. Begitu masuk kedalam biara, rakyat tentu akan mengetahui peristiwa dalam biara itu. Cu Jiang kembali menyamar seperti pemburu dan lari keluar kota untuk menemui Thian put thou di rumah penginapan. Ternyata Thian put thou memang sudah menunggu.

"Adik kecil, bagaimana keadaannya?"

"Rakyat akan menghakimi. Tetapi air hu itu "

"Oh. telah kuserahkan kepada pimpinan partai Kay pang disini untuk membagi-bagikan kepada penduduk."

Keduanya lalu melanjutkan perjalanan. Hari itu mereka tiba di sebuah kota kecil didaerah pegunungan. Dari situ mulai memasuki gunung tempat markas Gedung Hitam.

Ternyata kota kecil disitu sudah dikuasai pihak Gedung Hitam. Tiga empat kali mereka bertemu dengan orang2 Gedung Hitam yang bertanya tentang diri mereka.

Untung Thian-put thou banyak pengalaman. Dia dapat memberi jawaban yang menghilangkan kecurigaan orang, Menilik hal itu, jelas bahwa penjagaan Gedung Hitam tentu luar biasa ketatnya.

Mereka singgah disebuah rumah makan. Waktu makan. Cu Jiang berbisik-bisik meminta agar Thian put thou tinggal di kota itu.

"Uh, engkau memang selalu hendak mencampakkan aku saja "

"Bukan begitu. Aku terlanjur bersumpah hendak melakukan balas dendam itu dengan tanganku sendiri."

"Tetapi bukankah tujuanmu kemari karena hendak menolong puteri dari Tayli itu ?"

"Melakukan pembalasan, sekalian untuk  menolong orang dan mungkin masih ada lain2 hal lagi." "Apakah tenagaku tak engkau butuhkan ?"

"Tentu. Maka kuminta lo koko tinggal disini agar setiap waktu yang diperlukan, dapat memberi bantuan kepadaku."

"Baiklah, toh percuma saja aku ngotot, engkau tentu tak mau merobah pendirianmu."

Cu Jiang tertawa dan minta maaf karena selama  ini selalu suka membawa adat menuruti kemauannya sendiri.

Thian-put thou hanya tertawa dan mengajaknya melanjutkan makan dan minum. Setelah selesai, mereka lalu berpisah. Cu Jiang berangkat masuk ke gunung. Dia tak mau mengambil jalan biasa melainkan melintas gunung dan desa yang lebih dekat.

Selain mempersingkat waktu, pun pos2 penjagaan Gedung Hitam juga sukar untuk mengetahui.

Menjelang petang, tibalah dia di puncak yang terdapat kuil gunung. Kuil itu dulu pernah dibuat tempat sau-pohcu atau putera dari ketua Gedung Hitam, melarikan Ki Ing dan hendak mencemarkan kehormatan nona itu.

Saat itu malam tiada rembulan, hanya bintang2 bertaburan di langit. Tiba2 Cu Jiang melihat tak berapa jauh dari tempatnya berdiri, terdapat dua gunduk tanah kuburan. Dia terkejut dan heran.

Segera tempat itu dihampirinya. Ternyata tak ada batu nisannya dan gundukan tanah itupun penuh ditumbuhi dengan rumput tinggi. Dengan begitu tak dapat diketahui siapakah yang dikubur didalam tanah itu.

Didepan tanah kuburan yang tak bernama itu terdapat sebuah batu besar yang berbentuk seperti kerbau mendekam. Dia naik keatas gunduk batu itu dan menimang-nimang langkah selanjutnya. Dia lalu membuat guratan tentang peta yang dibuai Ih Se lojin, paman gurunya dahulu.

Tindakan itu memang tepat sekali. Apabila  terlambat, dia tentu akan mengalami nasib yang mengerikan. Pada saat jarinya merabah permukaan batu itu, ia seperti merasakan batu itu terdapat guratan, serentak ia menghapus pakis yang memenuhi batu itu.

Kini ia melihat jelas bahwa pada permukaan batu itu terdapat dua buah guratan yang melukiskan sebuah topi imam dan sebuah kopiah pendeta.

Apakah artinya itu ?

Setelah merenung beberapa saat, tiba2 ia tersadar. Jelas bahwa yang dikubur dalam dua buah gunduk tanah itu tentulah kedua tokoh dari Bu-lim Sam-cu yakni Thian-hian cu dan Go-leng-cu.

Ternyata toa suhengnya, Ho Bun-cai, tak ingkar  janji. Dia benar2 mengubur jenazah kedua tokoh itu dengan sebaik-baiknya. Dan agar tidak diketahui orang, maka dia hanya membuat dua buah guratan gambar topi dan kopiah.

Penemuan itu hanya membuat hatinya sedih mengenangkan peristiwa2 yang telah lampau. Kedua tokoh Bu-lim Sam-cu telah binasa demikian pula Ho Bau Cai, toa suhengnya, pun mati dibunuh oleh Gedung Hitam.

Ia harus membalas semua dendam darah itu. ia tak tahu bagaimana nanti kesudahan dari tindakannya menggempur markas Gedung Hitam itu.

Sekonyong-konyong terdengar suitan nyaring memecah kesunyian. Cu Jiang menduga tentulah kawanan anak buah Gedung Hitam yang sedang melakukan ronda. Untuk sementara ia tak mau turun tangan dan akan bersembunyi dulu. Ia segera melayang masuk kedalam hutan dan bersembunyi di atas dahan sebuah pohon yang lebat.

Tepat pada saat itu muncul empat orang lelaki tua bertubuh tinggi besar. Salah seorang rambutnya putih mengkilap, Cu Jiang dapat melihat jelas bahwa kemungkinan besar keempat orang itu bukan dari Gedung Hitam. Keempat orang itu tiba2 berhenti lalu duduk bersila di muka gunduk kuburan.

"Suhu, kapan kita mulai turun tangan ?" seru salah seorang yang duduk di sebelah kanan kepada lelaki tua berambut putih yang duduk ditanah.

"Setelah terang tanah !" "Masih ada waktu."

"Kita bunuh dulu beberapa kelinci dan anak cucunya."

"Tetapi tidakkah hal itu akan membuat mereka tahu dan memperkeras penjagaan ?"

"Ah. tak apa. Mereka hanya mengandalkan barisan Ho thian-tin saja."

Orang yang duduk di sebelah kiri berseru sinis: "Asal Gedung Hitam sudah dibasmi dan  Toan-kiam-janjin menyerahkan batang kepalanya, perkumpulan kita tentu akan menjadi yang dipertuan dalam dunia persilatan."

Cu Jiang terkejut. Kiranya beberapa orang itu adalah tokoh2 terkemuka dari gerombolan Sip-pat-thian-mo. Sungguh kebetulan sekali. Jika mereka menyebut kakek berambut putih itu dengan panggilan suhu, bukankah kakek itu tokoh iblis yang bernama Jui- beng-koh? Barisan Ho-thian-tin merupakan salah satu dari ilmu barisan Ki bun ceng coat. Dan ilmu ajaran Ki bun ceng coat itu berasal dari perguruan Thay hi bun.

Mengapa mereka tahu akan nama barisan itu? Dan mengapa pihak Gedung Hitam dapat menyusun barisan semacam itu?

Cu Jiang teringat bahwa toa-supeh (paman guru) pernah menyuruh dia menyelidiki, siapakah orang yang dapat menyusun barisan itu.

Tiba2 salah seorang dari keempat lelaki tua itu berkata: "Kali ini jika tak mengandalkan ilmu kepandaian merobah muka dari Kiu-te (saudara yang kesembilan) sehingga dapat menyusup kedalam Gedung Hitam tentu sukar untuk mengetahui siapa yang menyusun barisan itu..."

Cu Jiang menimang. Kiu-te adik kesembilan tentulah dimaksud Cian-bin Koay-mo atau Iblis-seribu muka yang tercantum pada urutan ke sembilan dalam gerombolan Sip- pat-thian-mo.

Mengapa mereka hendak mencari orang yang menyusun barisan itu ? Apa maksudnya ?

Cu Jiang segera memasang telinga untuk mendengarkan pembicaraan mereka lebih lanjut.

"Lo pat, rupanya Thian memberkahi kita," kata lelaki yang berada di sebelah kiri.

"Tetapi harus membantu diri sendiri dulu baru Thian akan membantu kita." sahut orang tua berambut pulih.

"Lo-liok, yang paling menakutkan adalah si Toan kiam jan-jin itu..."

"Ji-ko," kata kawannya yang disebut Lo-liok atau saudara yang keenam, "keadaan kita memang sudah berantakan. Yang mati dan yang cacad. Dendam darah ini, negeri Tayli harus membayar seratus kali lipat."

-oo0dw0oo-
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pusaka Negeri Tayli Jilid 22"

Post a Comment

close