Pusaka Negeri Tayli Jilid 20

Mode Malam
Jilid 20

Selangkah demi selangkah dia menghampiri ke tempat Sam Bok thiancun. Langkahnya yang sarat menimbulkan suara berderak-derak yang menyeramkan. Suasana saat itu benar2 menyeramkan sekali.

Urat2 wajah Sam Bok thiancun bergeliatan menonjol.

Diapun mulai berbangkit.

Setelah lebih kurang satu setengah meter dimuka Sam Bok thiancun, Cu Jiangpun hentikan langkah.

"Budak kecil." seru Sam Buk thiancun dengan napas terengah-engah, "engkau merupakan satu-satunya lawan yang dapat mengimbangi kepandaianku selama ini, hanya salah seorang dari kita berdua yang harus hidup atau mungkin kita berdua akan sama2 terluka atau mati. Dapatkah engkau. mengatakan asal usul dirimu?"

Cu Jiang menggertak gigi.

"Putera   tunggal   dari Dewa-pedang   Cu Beng Ko." serunya.

Sepasang mata Sam Bok thiancun mendelik.

"Dengan modal apa Cu Beng Ko berani mengangkat diri sebagai dewa pedang ?"

"Tua bangka, engkau berani menghina mendiang ayahku?"

Blum

Cu Jiang menutup kata-katanya dengan sebuah hantaman dan Sam Bok thiancun pun balas menangkis. Terdengar letupan keras dan erang ngeri. Mulut Sam Bok thiancun muntah darah dan orangnyapun rubuh.

Cu Jiang juga terhuyung-huyung, setelah muntah darah diapun jatuh terduduk, pandang matanya serasa gelap. Pikirnya, kali ini kalau Sam Bok thiancun turun tangan, dia tentu mati. Dia benar2 tak mampu menggerakkan anggauta tubuhnya lagi.

Sekonyong-konyong terdengar derap langkah kaki orang dan sesaat kemudian lengking jerit seorang wanita. Hati Cu Jiang bergetar. Samar2 dia melihat dua orang wanita tetapi tak dapat melihat jelas wajah mereka.

"Ma. Sucou "

"Hai, kiranya si algojo kecil ini." "Dia " Semangat Cu Jiang serasa terbang ketika mendengar kedua wanita itu menyebut sucou (kakek guru) kepada Sam Bok thiancun. Saat itu dia sudah lebih sadar. Bayangan kedua wanita itu mulai tampak lebih jelas.

"Sekarang aku pasti mati." diam2 ia mengeluh.

Kedua wanita yang datang itu bukan lain adalah nyonya Gedung Hitam bersama puterinya.

Wajah nyonya Gedung Hitam itu membeku dingin, sepasang matanya berapi-api. Sedangkan nona itu atau yang menurut pengakuannya bernama Ki Ing, tampak pucat.

Yang berseru menyebut sucou tadi, Ki Ing juga. Dengan demikian mamanya atau isteri dari ketua Gedung Hitam itu murid pewaris dari Sam Bok thiancun.

Dengan demikian rahasia diri wanita itu yang selama ini tiada orang yang mengetahui jelas bagaimana asal usulnya, sedikit-sedikit mulai tersingkap.

Diam2 Cu Jiang teringat bagaimana manusia aneh penjaga mulut lembah dan pemilik lembah itu atau Sam Bok thiancun, dapat mengatakan kalau dia adalah Toan- kiam-jan-jin. HaI itu tentulah karena sudah mendengar laporan dari nyonya Gedung Hitam.

"Adakah dendam permusuhan antara ayah dengan ketua Gedung Hitam, juga karena mempunyai hubungan dengan Sam Bok thiancun ?" pikir Cu Jiang.

Tanpa disadari sinar matanya telah beradu dengan tatapan sinar mata Ki Ing. Tergetarlah hati Cu Jiang.

Dalam pandangannya, Ki Ing itu seorang nona yang penuh kasih dan curahan asmara. Tetapi Cu Jiang tak tersentuh hatinya. Andaikata Cu Jiang belum terikat pernikahan dengan Ho Kiong Hwa, diapun tetap sukar menerima Ki Ing karena mereka terpisah oleh jurang pemisah lebar yang berupa dendam darah dari orang tuanya masing2.

Ki Ing, nona yang pertama-tama pernah menyentuh hatinya, ternyata puteri dari musuhnya. Diam2 Cu Jiang bersyukur karena ia belum sampai menjalin hubungan kasih yang lebih dalam.

Kemudian mengerling kesamping, Cu Jiang melihat tubuh Sam Bok thiancun rebah tak bergerak di tanah. Dia mati.

"Hari ini engkau pasti mati," seru Hek Poh hujin atau nyonya Gedung Hitam. Secepat kilat  tangannya menyambar kain kerudung yang menutupi muka Cu Jiang, juga kedok mukanya.

"Hai, dia benar2 pelajar baju putih itu !" serentak Ki Ing melengking kejut.

Saat itu Cu Jiang sedang menderita luka-dalam yang parah sekali sehingga dia tak dapat berbuat apa2.

Sejenak nyonya Gedung Hitam tertegun lalu berseru. "Apakah engkau hendak meninggalkan pesan apa-apa ?"

sesaat nyonya itu menegur.

"Aku masih penasaran mengapa tak dapat membunuh kalian gerombolan Iblis ini dan menghancurkan Gedung Hitam !" sahut Cu Jiang dengan nada keras.

"Cita-citamu memang mulia, sayang engkau harus menunggu sampai penitisanmu yang akan datang," sahut nyonya Gedung Hitam.

"Ma!" tiba2 Ki Ing berseru dengan rawan. Nyonya itu berpaling kearah puterinya yang tercinta dan kerutkan alis melihat sikap anak itu.

"Nak, engkau kenapa ?"

"Apakah. engkau tak dapat melepaskannya."

"Apa ? Melepaskannya "

"Ya."

"Nak, engkau gila !" "Aku tidak gila, ma."

"Soal lain2 tak perlu kita bicarakan tetapi dari perbuatannya membunuh sucoumu itu saja, dia harus mati!"

"Yang kuat menang yang lemah hancur, itu sudah menjadi dalih dunia persilatan. Kurasa apa yang terjadi tadi memang suatu pertempuran yang layak."

"Tutup mulutmu!" bentak nyonya itu. "engkau tak menyadari apa yang engkau katakan. Jika tidak sekarang kita turun tangan, kelak tentu berbahaya akibatnya !"

Sepasang mata nona itu merah. Setelah terdiam beberapa jenak dia berkata pula:

"Ma, kali Ini lepaskanlah dia."

"Nak, jangan engkau terlalu bermanja diri, tak mungkin hal itu dapat kulakukan !"

Dalam pada itu berkat memperkeras ilmu Sim-hwat. dapatlah Cu Jiang memulihkan sebagian dari tenaganya. Dia menyadari bahwa gelagat saat itu lebih banyak celaka daripada menguntungkan. Dia benar2 penasaran kalau harus mati ditangan seorang wanita.

Dengan bercucuran airmata, Ki Ing tetap merengek: "Aku telah berhutang sesuatu perasaan kepadanya!" "Hutang perasaan apa ?"

"Perasaan, ya perasaan, tidak perlu kukatakan."

"Nak, Jika engkau lepaskan dia, apakah dia juga akan melepaskan kita ?"

"Aku akan berusaha agar dia melepaskan niatnya untuk melakukan pembalasan berdarah.."

"Suatu kegaiban ?"

"Aku tetap akan berusaha."

"Tak perlu berusaha. Melepaskan harimau pulang ke gunung, tentu akan segera menerima bencana."

"Ma, berikan kesempatan satu kali saja kepadaku !" "Jangankan satu kali, setengah kalipun tidak!"

Tiba2 Ki Ing melintang dihadapan Cu Jiang dan berseru dengan meratap.

"Kalau begitu bunuhlah aku dulu, ma!"

"Engkau benar2 sudah gila," teriak nyonya Gedung Hitam, "tak mau tahu segala apa. enyahlah !"

"Tidak!" seru Ki Ing.

Nyonya itu tak dapat berbuat apa2, dengan napas memburu keras dia berkata:

"Baiklah, jika tidak kecebur kedalam bengawan Hoanghoo, engkau tentu belum jera. Coba tanya kepadanya apakah dia mau melepaskan niatnya mencari balas atau tidak !"

Ki Ing berputar kebelakang memandang Cu Jiang.

Dipandangnya wajah pemuda itu sampai beberapa jenak. "Setelah berjumpa, apa katamu ?" akhirnya meluncur juga kata2 dari mulutnya.

"Budi kebaikan ini, tentu akan kuukir selama-lamanya dalam hatiku !" kata Cu Jiang dengan nada gemetar.

"Itu persoalan lain."

"Aku tak mau memohon belas kasihan supaya dapat hidup dan tak dapat melepaskan niatku untuk menuntut balas !"

"Tidak dapat?" seru Ki Ing dengan gemetar. "Ya, tidak dapat, " Ki Ing mengertek gigi.

"Sekarang engkau tak dapat hidup, bagaimana engkau masih kukuh mengatakan tak dapat?"

"Seorang lelaki takkan memberatkan soal mati atau hidup."

"Orang yang mati segala akan habis." seru Ki Ing, "ksatrya atau bukan, apa bedanya?"

"Itu tak perlu dipersoalkan."

"Apakah engkau benar2 tak mau mempertimbangkan lagi?"

"Tidak usah dipertimbangkan lagi"

Ki Ing banting2 kaki dan menjerit dengan sedih: "Baik, matilah dan jadilah ksatrya di neraka?"

"Nak, bagaimana? Apakah engkau masih tetap pada pendirianmu?" tiba2 nyonya Gedung Hitam menyelutuk.

Ki Ing menutup muka dengan lengan bajunya tetapi tetap tak mau menyingkir.

"Pergilah!" bentak nyonya Gedung Hitam. Tetapi Ki Ing tetap tak mau bergerak. Cu Jiang tergerak hatinya. Bahwa seorang gadis yang mencintai, tentu akan berbuat tindakan yang diluar dugaan orang.

Tiba-2 nyonya itu melesat dari samping dan terus menghantam Cu Jiang.

Buuuum.......

Terdengar erang ngeri ketika tubuh Cu Jiang terlempar sampai dua meter dan membentur sebuah batu besar. Dia muntah darah beberapa kali.

Untuk yang kedua kalinya dia harus merasakan lagi betapa rasa orang yang sekarat maut itu.

"Sudahlah kini, . . . tentu tak dapat hidup!" kembali Ki Ing menyerbu.

Nyonya Gedung Hitam mendengus:

"Hm, aku hendak membuktikan apakah dia benar2  sudah mati!"

Saat itu kesadaran pikiran Cu Jiang makin kabur. Dia merasa kematiannya sudah tak jauh. Pada waktu berpisah dengan Ang Nio Cu, nona itu pesan wanti2 agar dia berhati-hati, jangan mengagulkan kekerasan.

"Ma, mengapa engkau " Ki Ing meratap.

"Pembuktian yang tepat hanyalah kalau mencerai beraikan mayatnya!"

Walaupun keadaan Cu Jiang sudah tak sadar lagi tetapi samar2 dia masih mendengar kata2 "menceraikan mayatnya" .

Mati dengan cara apapun saja tetap mati. Tetapi mati ditangan musuh, memang suatu kematian yang tak merelakan. Darah kembali bercucuran dari mulut Cu Jiang. Dia masih belum mati rata, belum putus napasnya. Dia masih dapat merasakan penderitaan dari kematian yang akan dialaminya nanti.

Tiba2 telinga Cu Jiang mendengar suara orang berseru: "Berhenti!" Suara itu dia cukup mengenalnya.

"Pencuri tua, apakah engkau mau cari mampus!"

"Tio Hong Hui, kalau pencuri tua ini mati tentu takkan melepaskan engkau juga !"

Menyusul terdengar suara benturan keras. Tetapi Cu Jiang sudah tak berdaya lagi, kesadaran pikirannyapun hilang.

Ketika dia siuman, bintang2 bergemerlapan di angkasa, angin berkesiuran silir dan tubuhnyapun terasa sakit.

"Hai, aku belum mati ?" serunya. "Adik kecil, engkau tak mati!"

Terkejut Cu Jiang mendengar suara itu. Cepat dia berpaling kesamping lalu menggeliat duduk. Ah, ternyata yang berada disamping adalah Ciok Yau Je yang bergelar Hanya-langit tidak dicuri.

Dia teringat ketika pingsan, samar2 dia masih mendengar suara itu.

"Lo koko, engkaukah yang menolong aku ?"

"Jangan mengatakan menolong, aku memang menyusul engkau !"

"Bagaimana lo-koko tahu ?"

"Aku berjumpa Ang Nio Cu, dia yang memberi tahu." "Oh lo koko, tempat apakah ini ?" "Masih didaerah, tak boleh berjalan. Aku tak berani membawamu keluar gunung."

Cu Jiang mencoba melakukan pernapasan. Memang hawa-murni dalam tubuhnya lemah sekali. Tulang belulangnya seperti copot dari persendian.

Tetapi dia tak mempedulikan lukanya. Dia tetap mencurahkan pikiran pada sebuah soal besar.

"Lo-koko, rasanya tadi engkau menyebut nama Tio Hong Hui, bukan ?"

"Ya, kurang sedikit saja aku remuk di tangannya.

Engkau "

"Apakah dia bukan Ratu-kembang Tio Hong Hui itu?" "Benar."

"Isteri majikan Gedung Hitam ?" tanya Cu Jiang pula. Kali ini giliran si pencuri tua yang gelagapan.

"Dia itu isteri pemilik Gedung Hitam ?" serunya terkejut. "Ya." sahut Cu Jiang.

"Bukankah dia menikah dengan Tionggoan-tay-hiap Cukat Giok?" tanya Ciok Yan Je pula.

"Memang benar " sahut Cu Jiang Ia merangkai dugaan

bahwa kemungkinan besar Cukat Giok atau kakek cacad di dasar jurang itu, tentu dicelakai pemilik Gedung Hitam. Mungkin gembong Gedung Hitam itu menyaru sebagai Bu lim-seng-hud Sebun Ong.

Itulah sebabnya mengapa Sebun Ong gelagapan dan menyangkal keras kalau dia telah membunuh Cukat Giok.

Dan Ki Ing itu tentulah puteri tunggal dari Cu Kat Giok. Ya, benar. Bukankah sau pohcu atau putera dari pemilik Gedung Hitam pernah mencoba hendak mencemarkan kehormatan Ki Ing di biara tempo hari! Sau pohcu itu mengatakan bahwa Ki Ing bukan saudaranya sungguh!

Tetapi nyonya Gedung Hitam atau Tio Hong Hui tetap memberitahu kepada Ki Ing. bahwa ayah Ki Ing itu adalah tokoh pemilik Gedung Hitam. Hm, jelas wanita itu berbohong ....

"Adik kecil, engkau lengah melamun apa?" tiba2 Ciok Yau Je menegur.

"Aku memang justeru hendak mencari Tio Hong Hui!" "Mengapa?"

Cu Jiang segera menuturkan pengalamannya bertemu dengan Cukat Giok di dasar jurang.

"Bermula engkau mengira ketua Hoa-gwat-bun Tiam Su Nio itu sebagai Tio Hong Hui, bukan?" tiba-2 Ciok Yau Je bertanya.

"Ya, karena itu maka timbul beberapa peristiwa !"

"Adik kecil, engkau harus beristirahat dulu agar cepat sembuh."

"Baik."

"Kubantu engkau "

"Tak usah, cukup lo koko menjaga  keamanan saja." "Apa engkau masih dapat melakukan pernapasan

sendiri?"

"Bisa."

"Baik, silakan mulai." Cu Jiang segera rebah, pejamkan mata dan mulai menyalurkan ilmu Sim hwat untuk menyembuhkan lukanya.

Beberapa waktu kemudian setelah bangun Cu Jiang rasakan tubuhnya panas. Ternyata saat itu matahari sudah di tengah angkasa. Ketika dia menggeliat bangun, barulah dia tahu kalau saat itu dia sedang berada di sebuah puncak gunung.

Ciok Yiu Je tertawa mengikik, serunya: "Adik kecil, apakah engkau sudah sembuh?"

"Lo koko, budi pertolonganmu, entah bagai mana aku harus menghaturkan terima kasih."

"Ah, tak perlu."

"Lo koko. apa engkau pernah mendengar nama Sam Bok thiancun?"

Ciok Yau Je kerutkan alis, terkejut. "Mengapa tiba2 engkau menyebut nama itu?" "Aku telah membunuhnya "

"Apa? Engkau   ... engkau membunuh Sam Bok thiancun?"

"Ya."

"Dimana ?"

"Ditempat aku menderita luka itu."

"Ah, karena mencurahkan pikiran untuk menolong engkau, aku sampai tak memperhatikan hal itu. Sudah berpuluh tahun Sam Bok thian-cun muncul di dunia persilatan. Mungkin umurnya sudah lebih dari seratus tahun. Dia seorang tokoh yang kejam dan buas tetapi ilmu kepandaiannya tinggi sekali. Kabarnya dulu dia sudah mati dibunuh orang-orang jago dari aliran putih tetapi ternyata sampai sekarang masih hidup. Apakah yang melukai Ang Nio Cu juga dia ?"

"Ya. pemilik Gedung Hitam itu adalah murid pewarisnya!"

"Hei." teriak Ciok Yau Je, "jika benar begitu, engkau telah berhasil menyingkap sebuah rahasia besar  yang selama ini tak diketahui dunia persilatan ..."

"Lo koko, aku hendak pergi ke lembah Ki lin-koh lagi !" "Mau apa ?"

"Mencari Tio Hong Hui dan menyelesaikan urusan Tionggoan- thayhiap."

"Baik, aku akan menemanimu." "Berapa jauhnya dari sini ?" "Lebih kurang setengah jam."

Keduanya segera lari menuruni gunung. Karena kain kerudungnya hilang maka saat itu Cu Jiang menampakkan wajahnya yang aseli. Selama dalam perjalanan dia tetap memikirkan tentang diri gadis Ki Ing yang ternyata begitu kemati-matian mencintainya. Kini setelah dapat menemukan bagai mana asal usul nona itu maka pandangannya terhadap nona itupun berobah.

Tetapi justeru karena hal itu maka diapun kehilangan faham. Asmara, benar2 merupakan sesuatu yang menggelisahkan hati manusia. Ksatrya yang gagah dan berani dapat menabas putus leher musuh, membunuh semua lawan. Tetapi berapakah jumlah ksatrya gagah yang mampu memutuskan libatan asmara, mampu membunuh asmara hatinya? Jika ia nanti akan menyingkap asal usul diri nona itu, lalu bagaimana reaksi Ki Ing? Bagaimana reaksi nona itu apabila tahu bahwa ayahnya telah memberi tugas kepadanya (Cu Jiang) untuk membunuh ibu nona itu?

Tak sampai setengah jam kemudian, mereka sudah tiba di mulut gua. Rupanya Cu Jiang sudah tak sabar lagi. Ia terus menerjang masuk seraya berteriak:

"Lo koko, mari kita masuk!" "Baik, tetapi harus hati-hati!"

Tiba ditempat Cu Jiang melakukan pertempuran kemarin, ternyata mayat manusia aneh dan Sam  Bok thiancun sudah tak kelihatan lagi. Hanya ceceran darah dan dua gunduk makam baru.

Cu Jiang menjemput kain kerudung tetapi kedok sudah tak dapat dipakai lagi.

"Lo koko. kedoknya sudah rusak." "Lempar saja, aku masih punya."

"Kurasa tak perlu lagi. Wajahku sudah terbuka dan musuhpun sudah kelihatan."

"Baik, kalau mau pakai, bilang. Lalu bagaimana kita sekarang?"

"Masuk kedalam lembah." "Ayo!"

Dangau gunakan ilmu meringankan tubuh keduanya berlincahan melintasi gunduk2 batu dan tiba didasar lembah. Tetapi yang ada hanya puing2 batu. Tio Hong Hui tentu sudah menghancurkan markasnya.

Cu Jiang kecewa. Untuk mencari Tio Hong Hui bukan hal yang gampang. "Menghancurkan markas dan mengubur kedua orang itu tentu makan waktu setengah malam. Dengan begitu Tio Hong Hui dan puterinya tentu belum lama meninggalkan lembah ini. Mereka tentu menuju ke Gedung Hitam. Jika kita kejar, kemungkinan dapat menyusul mereka,"  kata Ciok Yau Je.

Cu Jiang mengiakan. Keduanya segera meninggalkan lembah itu. Setelah keluar dari daerah gunung, Cu Jiang mengusulkan supaya mereka berpencar.

"Kita nanti bertemu di kuil tua diluar kota Keng-ciu itu, " katanya.

Ciok Yau Je setuju. Selama menempuh perjalanan Cu Jiang tak mau mengenakan kerudung muka. Kecuali beberapa pentolan Gedung Hitam, anak buah mereka  jarang yang kenal akan wajahnya.

Dua hari dua malam terus menempuh perjalanan tetapi dia tak melihat jejak wanita itu. Cu Jiang makin penasaran. Kecuali tidak mengambil jalan yang sama, tentulah wanita itu akan tersusul.

Hari kedua diwaktu petang, Cu Jiang tiba di sebuah kota kecil Bian yang. Dia memutuskan untuk bermalam. Setelah masuk kedalam kota dia memilih rumah penginapan Lu-an. Dia minta kamar di loteng agar dapat melihat setiap pejalan yang lalu di jalan situ.

Tiba2 ia melihat sebuah tandu bercat biru yang keluar dari pintu rumah penginapan. Cu Jiang terkejut dan buru2 turun loteng, mencari jongos:

"Siapakah yang naik tandu itu?"

"Seorang wanita dengan anak perempuannya. Anaknya cantik sekali dan mamanya . . ." "Uang kamarku!" cepat Cu Jiang susupkan sekeping perak ke tangan jongos, lalu melangkah keluar.

Jongos terkejut dan lari menyusul: " Tuan, terlalu banyak ini!"

"Kelebihannya, buat engkau!" tanpa berpaling Cu Jiang lanjutkan langkah. Tiba2 disebuah jalan dilihatnya tandu  itu berjalan pelahan-lahan.

Di jalan besar tak leluasa untuk turun tangan maka diapun terus mengikuti dari kejauhan.

Lebih kurang satu Ii jauhnya, pejalan mulai berkurang tetapi pada Saat itu Cu Jiangpun melihat bahwa disebelah muka tampak seorang tua berjubah hitam yang berjalan mengikuti di belakang tandu.

Cu Jiang segera cepatkan langkah dan ketika hampir dekat, orang tua jubah hitam itu tiba2 berpaling. Melihat wajah orang tua itu makin yakinlah Cu Jiang bahwa yang berada dalam tandu itu tentu Tio Hong Hui dan Ki Ing.

Orang tua jubah hitam itu tak lain adalah Ki Gui Kah, kepala busu dari Gedung Hitam. Jelas dia sedang mengawal keamanan nyonya majikannya.

Agar tidak menimbulkan kecurigaan Ki Gui Kah, Cu Jiang lambatkan langkah lagi dan terpisah agak jauh. Jika turun tangan ia harus membasmi Ki Gui Kah dulu.

Tak berapa lama tandupun tiba diluar kota yang sepi. Orang di jalanpun jarang2. Cu Jiang anggap sudah waktunya untuk bergerak. Lebih dulu ia mengenakan kain cadar menutup mukanya lalu menyelinap kedalam hutan. Setelah berputar-putar mengitari jalan, dia terus loncat keluar menghadang Ki Gui Kah:

"Berhenti!" bentaknya. Ki Gui Kah berhenti. Mengamati penghadang itu, wajahnya berobah seketika.

"Apakah engkau Toan-kiam-jan-jin ?" serunya. "Benar."

"Mau apa?" "Minta nyawamu!"

Ki Gui Kah menggigil lalu menyurut mundur tiga langkah dan mencabut pedang.

Cu Jiangpun mencabut pedang dan menggembor:  "Hai..."

Tetapi pada saat itu juga. Ki Gui Kapun taburkan pedangnya sehingga Cu Jiang gelagapan dan terpaksa memutar pedangnya. Dan tepat pada saat Cu Jiang sibuk menangkis, Ki Gui Kapun terus loncat menyusup kedalam hutan.

"Hai, mau lari kemana engkau!" Cu Jiang cepat mengejar tetapi Ki Gui Kah sudah lenyap bayangannya.

"Hm, menurut peraturan Gedung Hitam, bukankah tokoh yang mempunyai kedudukan akan mendapat hukuman berat apabila takut berhadapan dengan musuh." pikirnya.

Tetapi serentak ia terbeliak karena teringat akan tujuannya. Apabila Tio Hong Hui sampai lolos, bukankah akan sia2 saja jerih payahnya itu?

Cepat ia menerobos keluar dari hutan dan dilihatnya tandu itu masih benda pada jarak berpuluh tombak. Segera mengejar dan menghadang:

"Jangan bergerak!" bentaknya. Keempat lelaki yang memikul tandu serentak meletakkan tandu dan terus lari ketakutan. Cu Jiang tak menghiraukan mereka. Menghampiri ke muka pintu tandu dia memberi perintah supaya penumpangnya keluar.

"Siapa?" terdengar lengking suara seorang wanita.

Dan sesaat kain tenda tersingkap maka sesosok tubuh gemuk segera melesat keluar. Cu Jiang terlongong-longong tak dapat berkata apa2. Sementara menyusul lagi sesosok tubuh yang langsingpun keluar dari tandu itu.

Kali ini Cu Jiang benar2 seperti terbang semangatnya sehingga dia mundur tiga langkah matanya dipentang lebar dan tubuh gemetar. Sampai lama baru dia dapat membuka mulut :

"Toanio, kiongcu, kalian..."

Yang muncul dari tandu itu bukan Tio Hong Hui dan puterinya tetapi si wanita gemuk dan puteri raja Tayli.

Bahwa wanita gemuk itu kembali ke Tionggoan  itu masih dapat dimengerti tetapi bahwasanya kiongcu dari Tayli itu juga ikut, Cu Jiang benar2 seperti bermimpi.

Puteri itupun terkejut memandang Cu Jiang, serunya dengan nada gemetar:

"Apakah engkau Cu sausu?" "Benar."

Dengan wajah sedih, wanita gemuk itu bertanya rawan: "Nak. engkau tahu aku ini siapa?"

"Bibiku."

"Oh, engkau sudah tahu." "Toa-suheng Ho Bun Cai yang memberitahukan hal itu kepadaku."

"Apakah dia masih menjabat congkoan di Gedung Hitam?"

"Dia telah tertimpa kemalangan."

"Apa katamu?" wanita gemuk membelalak. "Toa-suheng sudah . . ."

"Hai, mengapa terjadi begitu?"

"Pada saat menutup mata, toa-suheng mengatakan kalau dia dicelakai Bulim-seng-hud Sebun Ong!"

"O, Tuhan!" wanita gemuk mengeluh. Air matanya bercucuran deras.

Puteri tak mengerti apa pembicaraan mereka. Dia hanya melihat saja kedua orang itu.

Beberapa pejalan yang lalu di tempat itu terpaksa mengitari jalan karena tengah-2 jalan dipenuhi oleh tandu.

"Bibi, di sini kita mengganggu jalan, lebih baik  kita  bicara di dalam hutan," bilik Cu Jiang.

Wanita gemuk mengangguk. Setelah mengambil barang bekal dari dalam tandu, ia memimpin tangan kongcu berjalan ke arah hutan. Cu Jiang mengikuti dari belakang. Mereka memilih beristirahat di sebuah tempat yang bersih dalam hutan itu. Puteri kerutkan dahi dan berkata:

"Sausu, kitakan orang sendiri. Buka saja kerudung mukamu."

Cu Jiang mengangguk dan terus melepaskan kain cadar yang menutup mukanya.

"Hai !" tiba2 puteri menjerit kaget. Cu Jiang tahu apa yang dikejutkan puteri. Sambil tersenyum ia memberi keterangan:

"Karena beruntung bertemu dengan tabib sakti, wajahku dapat dipulihkan seperti semula."

"Apakah wajah yang sudah rusak dapat di pulihkan kembali?" puteri setengah tak percaya.

"Dapat, " sahut Cu Jiang, "tetapi itu tergantung dari  rejeki luar biasa."

"Ih, ternyata di dunia terdapat ilmu pengobatan yang dapat merobah ketentuan alam ..."

"Tetapi dewasa ini, di dunia kiranya hanya ada seorang saja yang mempunyai ilmu kepandaian seperti itu. "

"Siapa namanya?" "Kui-jiu Sin-jin."

"Enak benar kedengarannya nama itu tetapi aku asing sama sekali dengan tokoh2 Tionggoan .... sausu, engkau benar2 seorang pria yang tampan !" seru puteri.

Walaupun puteri raja tetapi kerajaan Tayli terletak didaerah selatan yang terpencil. Kebudayaan dan alam kehidupan di kerajaan itu masih serba bersahaja sehingga perangai puteri Itupun lugu, Apa yang dikandung  dalam hati terus di utarakan di mulut.

Cu Jiang tersipu-sipu merah mukanya.

"Nak, coba engkau ceritakan bagaimana toa suhengmu sampai dicelakai orang ?" si nyonya gemuk berseru dengan nada rawan.

"Dibunuh Bu-lim-seng-hud Sebun Ong." "Mengapa Sebun Ong membunuhnya ? Bukankah diantara mereka berdua tiada dendam permusuhan suatu apa ?"

"Juga terhadap tit ji, diapun berulang kali hendak mencelakai," kata Cu Jiang.

Tit-Ji berarti anak keponakan, digunakan Cu Jiang untuk menyebut dirinya kepada khuma atau bibinya.

"Kenapa ?"

"Entah, hanya dia yang tahu."

"Ah, tak nyana pertemuanku dengan toa-suhengmu di kota pegunungan itu merupakan yang terakhir kali," nyonya gemuk atau Poan toanio menghela napas.

Hidung Cu Jiang mengembang air. Dengan mengertak gigi dia bergumam:

"Sebun Ong harus membayar hasil perbuatannya !" "Bagaimana dengan semua musuh2 keluargamu ?" tanya

Poan toanio.

"Ya, memang tit-ji justeru hendak minta petunjuk bibi. Sesungguhnya permusuhan apakah yang telah terjalin antara ayah dengan ketua Gedung Hitam itu ?" Cu Jiang balas bertanya.

"Pada hakekatnya perkataan pada dalih "pohon tinggi tentu menderita angin besar, nama besar tentu terancam bahaya . .."

"Tetapi bukankah ayah sudah menyingkir mengasingkan diri ?"

"Ya. memang dia sepertinya hendak menyingkiri permusuhan."

"Lalu mengapa sampai terjadi permusuhan itu." "Lawan telah mengeluarkan Si-pay (Amanat maut), dalam pertempuran, ayahmu telah menghancurkan dua belas jago2 ko-Jiu musuh dan melukai ketua Gedung Hitam. Setelah Itu musuh lalu mengundang Sam Bok thiancun."

"Hm, Sam Bok thiancun ?” Cu Jiang terkejut.

"Ya. Apa engkau pernah mendengar nama orang itu?" "Harap bibi suka melanjutkan lagi."

"Ayahmu bukan tandingan Sam Bok thiancun. Dalam pertempuran sengit hampir saja ayahmu tak dapat meloloskan diri. Sejak itu dia merasa malu karena mengecewakan harapan kaum persilatan yang telah menyebutnya dengan gelar Kiam-seng (Dewa pedang). Dan menjaga kemungkinan musuh akan melakukan pembunuhan habis-habisan maka ayahmu lalu berusaha untuk menyembunyikan diri atau menyingkir dari kejaran musuh !"

"Tetapi musuh tatap tak mau melepaskannya?" "Dendam itu harus dibalas !" seru Poan toa-nio. "Apakah bibi tahu akan riwayat ketua Gedung Hitam ?"

"Tidak tahu. Dia adalah benggolan durjana pada masa itu. Sekalipun menyelundup menjadi congkoan di Gedung Hitam sampai bertahun-tahun, tetapi toa-suhengmu tetap tak pernah dapat melihat wajahnya yang aseli dan asal usul dirinya. Toa-suhengmu tak percaya kalau orang mampu merahasiakan diri selama-lamanya. Pada suatu hari dia pasti dapat mengetahuinya!"

"Yang jelas, iblis itu adalah anak murid pewaris dari Sam Bok thiancun!" kata Cu Jiang.

"Bagaimana engkau tahu ?" Poan toanio kaget. "Tit-ji telah dapat membinasakan Sam Bok thiancun." seru Cu Jiang dengan geram. Poan toanio menggigil.

"Apa ? Engkau dapat membunuh Sam Bok thiancun ?" "Ya."

"Dimana ?"

"Di lembah Ki-lin-koh yang terletak dibelakang gunung Kiu-kiong-san."

"Ah, nak. ini benar2 kejutan besar. Dengan kepandaianmu itu, dapatlah kiranya engkau menghibur para arwah yang telah menjadi korban keganasan momok itu."

"Tit-ji sudah terlanjur bersumpah untuk mencuci Gedung Hitam dengan darah."

"Mencuci dangau darah ?" tiba2 puteri terkejut, "mengapa harus begitu ? Apakah kecuali balas dendam berdarah, di dunia persilatan itu tiada lain urusan lagi ?"

Baginda Toa Hong-ya dari negeri Tayli menganut agama Buddha. menjunjung welas asih. Dia paling benci dengan pertumpahan darah. Puteripun sedikit banyak lelah mewarisi perangai ayahandanya.

"Apakah kiongcu tahu akan penderitaan hidupku?" Cu Jiang tertawa hambar.

"Ya. toanio yang menceritakan." "Kiongcu, bagaimana pendirian kiongcu?"

"Ah, tak perlu membicarakan soal itu. Engkau menyebut aku dengan sebutan kiongcu dan akupun memanggilmu Sausu atau ciangkun. Rasa2nya janggal. Bagaimana kalau kita berganti dengan lain sebutan saja?"

"Sebutan apa?" "Sesuai dengan adat istiadat Tionggoan, bagaimana kalau engkau panggil aku nona Toan dan aku menyebutmu Cu toako? "

Cu Jiang gelengkan kepala.

"Tidak! Tata-susila tak boleh dihilangkan." Puteri tundukkan kepala dan berkata sendu:

"Apakah engkau masih membenci perbuatanku ketika pertama kali aku melihat wajahmu?"

"Tidak," Cu Jiang gopoh menjawab, "sama sekali aku tak mengandung pikiran semacam itu. Memang wajahku waktu itu, aku sendiripun juga ngeri melihatnya."

"Kalau begitu engkau anggap wajahku tentu buruk?" desak puteri.

"Kiongcu secantik bidadari menjelma di dunia, bagaimana aku berani menghina?"

OdwO

Puteri mengangkat muka dan menatap Cu Jiang dengan pandang mendesak. Cu Jiang tergetar hatinya. Dia tak asing dengan sinar mata begitu dari seorang gadis Ho Kiong Hwa dan Ki Ing juga pernah menatapnya dengan pandang mata begitu, hati puteri telah terpancar keluar melalui sinar matanya.

Tetapi dia sudah beristeri, disamping diapun hanya seorang busu, sedang gadis itu seorang puteri raja, apakah dia layak menjadi pasangannya?

"Jika tidak begitu engkau tentu memandang diriku ini seorang gadis dari daerah liar," seru puteri pula dengan nada rawan. "Ah, kiongcu makin lama makin jauh," Cu Jiang tergopoh-gopoh.

Poan toanio tersenyum.

"Apakah salahnya untuk berganti dengan lain sebutan saja?"

Cu Jiang merah mukanya. "Bibi, engkau tak tahu . . ."

"Nak, kutahu Kiongcu suka kepadamu, seharusnya engkau berbahagia!"

"Bibi, aku . . ."

"Baiklah, hari masih panjang, kelak kita bicara lagi."

Cu Jiang terpaksa menurut dengan beralih pada lain pembicaraan. Dia bertanya bagaimana bibinya bersama puteri dapat tiba di Tiong goan.

Wajah Poan toanio kembali gelap.

"Waktu aku berada di istana, aku telah menerima berita dari toa-suhengmu yang mengatakan bahwa Gok jin-ji itu tak lain adalah engkau sendiri. Hari pembalasan sudah di ambang pintu. Maka akupun membulatkan tekad kembali ke Tionggoan. Kiongcu ingin sekali menikmati alam pemandangan Tiong goan yang permai dan memaksa ikut .

. ."

"Oh, dewasa ini suasana dunia persilatan sedang terancam bahaya, keselamatan jiwa kiongcu ..."

"Asal tidak menunjukkan diri tentu tiada halangan apa2." sahut Poan toanio.

"Perkumpulan Thong thian-kau dan Gedung Hitam sama2 mengincar jiwaku. Apabila mereka tahu kalau bibi dan kiongcu mempunyai hubungan dengan aku. akibatnya tentu runyam sekali . . ."

"Oleh karena itu di depan umum, hendaknya kita jangan menonjolkan hubungan itu. Di samping itu masih ada empat orang ko jiu istana Tayli yang  mengawal keselamatan kiongcu . . ."

"Apakah bibi sudah bertemu dengan Ki Siau Hong dan kawan-kawannya?"

"Hm."

"Bibi tahu juga nasib yang diderita Ong Kian?" "Ya, tahu. Berita itu sudah disampaikan ke Tayli. " "Tit-ji sungguh merasa tak enak hati."

"Bukan salahmu. Sekali orang berani turun ke gelanggang dunia persilatan, tentu tak dapat menghindari hal2 yang buruk."

"Apa petunjuk dari suhu?"

"Hanya sepatah. Jangan mengecewakan harapan baginda."

"Baik," sahut Cu Jiang tegas.

"Nak, kalau panggil aku tetap saja dengan sebutan "toanio". Aku suka dengan sebutan itu."

Cu Jiang mengiakan.

"Kita tak boleh terlalu lama disini, Kemanakah engkau hendak pergi ?" tanya Poan toanio.

"Tit-ji hendak ke Keng-ciu." "Setelah itu?"

"Ke Gedung Hitam!" "Benar! Kok-su masih mengirim sebuah pesan "

"Bagaimana?"

"Apabila tugas berat itu sudah engkau selesaikan, apabila engkau tak mau kembali ke Tayli, engkau boleh tinggal di Tionggoan."

Sejenak Cu Jiang merenung dan kemudian mengatakan bahwa soal itu kelak akan ia pertimbangkan lagi.

"Sausu sudah memutuskan untuk tidak kembali  ke Tayli!" tiba2 puteri menyeletuk.

Cu Jiang terbeliak.

"Bagaimana kiongcu dapat mengatakan demikian?" Puteri tertawa rawan, sahutnya:

"Tanyalah pada hatimu sendiri."

Cu Jiang dapat menyelami kata2 puteri itu. Jelas puteri itu menuduh bahwa dia takkan mau menerima cinta puteri, Cu Jiang tak mau menjawab. Ia berpaling kepada bibinya.

"Pemikul tandu toanio sudah melarikan diri, lalu bagaimana?"

"Nanti akan ku usahakan lagi. Eh, benar, siapakah orang tua yang mengikuti di belakang tandu tadi ?"

"Kepala pasukan pengawal dalam dari Gedung Hitam yang bernama Ki Gui Kah."

"Bagaimana engkau menyelesaikannya?" "Sayang dia dapat lolos."

Sejenak merenung Poan toanio berkata:

"Rasanya akan terjadi sesuatu yang tak terduga lagi. Karena curiga dia lalu mengikuti tandu, kemudian engkau hajar tetapi dia dapat lolos. Dia tentu penasaran.  Dan paling tidak jejak kita tentu sudah diketahuinya ..."

"Mungkin tidak begitu mencemaskan karena dia tak tahu penyamaranku."

"Bagaimana engkau dapat mengejar tandu yang kami naiki ?"

"Karena tit-ji menyangka bahwa yang berada dalam tandu ini, orang yang hendak kucari.”

"Siapa orang itu ?"

"Ratu-kembang Tio Hong Hui dan anaknya.” "Ah..."

Tiba2 kesiur angin yang lembut bertiup. Poan toanio dan puteri tak merasakan apa2 tetapi telinga Cu liang yang tajam cepat dapat menangkap kesiur angin itu dan dapat pula mengetahui bahwa ada serombongan orang yang tengah mendatangi. Serentak ia bangun berdiri.

"Toanio, ada orang datang. Lekas ajak kiong cu menuju kearah barat hutan ini. Dan yang datang bukan hanya seorang !"

Poan toanio mengangguk-angguk.

"Nak, hati2 menghadapi mereka. Selanjutnya kalau mengadakan hubungan, kita gunakan sandi rahasia."

"Baik."

"Kiongcu, mari kita berangkat," kata nyonya gemuk itu. Namun sejenak puteri menatap Cu Jiang. Bibirnya gemetar hendak mengucap sesuatu tetapi tak jadi. Dia terus mengikuti wanita gemuk itu melintasi hutan.

Cu Jiang mengantar kedua wanita itu dengan pandang penuh arti. Yang seorang, putri raja dari sebuah kerajaan di pedalaman selatan. Yang seorang, adalah bibinya, satu- satunya keluarga yang masih hidup dalam dunia.

Cu Jiang dapat menangkap apa arti sinar mata puteri yang bersinar-sinar memancarkan luapan kasih hati kepadanya.

Sementara itu suara dari kejauhan itu makin terdengar jelas, menyusup disela-sela dan Cu Jiang cepat mengenakan kain kerudung mukanya lagi dan duduk bersandar pada sebatang pohon. Kedua matanya setengah dipejamkan.

Pada lain kejab terdengar suara kata2 orang: "Ui tongcu, apakah engkau anggap lawan akan terperangkap siasat kita?"

"Tentu," sahut yang ditanya, "saat ini pengaruh Thian- thong-kau sedang berkembang sedangkan gerombolan Sip- pat-thian-mo itu sama sekali tak memandang mata pada orang persilatan ...

"Kalau siasat ini tak termakan mereka dan lawan dapat menguasai Oh-yang, kita siapkan siasat lagi di Hun yang. Dan pihak kita pasti akan keluar  sebagai  yang  utuh sendiri. "

"Li hu-hwat, bagaimana dengan tempat ini ya, disini kita mulai mempersiapkan."

Mendengar pembicaraan itu tahulah Cu Jiang bahwa mereka anak buah Gedung Hitam tetapi tujuannya bukan mengejar dia melainkan hendak mengatur siasat untuk menghadapi Thian-thong-kau.

Rombongan pendatang itu berhenti pada jarak puluhan tombak dari tempat Cu Jiang. Beberapa saat kemudian terdengar kesiur angin menggetar daun2 pohon. Diam2 Cu Jiang menimang. Kalau tujuan anak buah Gedung Hitam itu hendak mengarah tokoh gerombolan Sip-pat-thian-mo, sungguh suatu kesempatan bagus sekali baginya. Ia memutuskan, untuk sementara takkan menampakkan diri dulu.

Ia berbangkit lalu mencari tempat bersembunyi yang lebih rapat. Dari celah2 daun yang menutup tempatnya, ia dapat mengintai gerak-gerik mereka.

Ia terkejut ketika melihat dua lelaki tua baju hitam dan serupa orang Pengawal Hitam tengah menggantung empat sosok mayat pada batang pohon.

Kemudian mereka menggali liang disekeliling pohon itu. Lebih kurang sepeminum teh lamanya, keempat Pengawal Hitam itu meninggalkan tempat itu tetapi kedua lelaki tua baju hitam masih berada disitu.

"Siap!"

"Lepaskan pertandaan rahasia !"

"Jangan, tunggu sebentar lagi. Biar kaum Iblis itu mulai curiga dulu baru lepaskan pertandaan rahasia untuk menjebak mereka!"

"Kalau ketiga iblis itu tidak semua muncul ?" "Muncul satu, bunuh satu !"

Mendengar ucapan kawannya, lelaki tua baja hitam itu tertegun, kemudian berkata:

"Menurut keterangan dari korban tadi, Jika melepaskan panah-api panca-warna, menandakan kalau ada peristiwa besar. Entah apakah keterangannya dapat dipercaya."

"Tentunya dapat dipercaya." "Menurut kata Ki thongleng, Toan-kiam Jan-jin sudah muncul disekitar tempat ini, Entah mau apa dia ?"

"Hal itu mudah saja ditebak. Kalau bukan mencari sasaran kepada Gedung Hitam kita, tentulah perkumpulan Thong-thian-kau.."

"Hm, sungguh sombong sekali manusia itu berani menentang dua kekuatan besar yang merajai dunia persilatan dewasa ini !"

"Tetapi memang ilmu pedangnya luar biasa sekali. Ki thongleng mengaku bukan tandingannya."

"Bagaimana kalau ketua kita."

"Ah, Jangan membicarakan soal itu lagi!" "O, ya, ya."

"Segera saja mulai bekerja !"

"Baik," kata salah seorang tua itu lalu mengeluarkan sebuah benda dari kantong baju dan menyulut korek. Sepercik sinar bintang melayang ke udara dan pletak, benda itu meledak menghamburkan bunga api warna warni.

Melihat itu Cu Jiang tahu apa yang terjadi. Anak buah Gedung Hitam berhasil menangkap anak murid Thong thian-kau, setelah dikorek keterangannya lalu dibunuh.

Kemudian ditempat itu mereka memasang perangkap dengan melepaskan panah api sebagai umpan.

Setelah melepas panah-api panca warna, kedua lelaki tua itupun cepat2 meninggalkan tempat itu. Tetapi baru dua puluh tombak jauhnya, pandang mata mereka nanar ketika melihat seorang yang wajahnya bertutup kain hitam, tegak menghadang ditengah jalan. Keduanya berhenti dan salah seorang memekik keras. "Toan-kiam Jan-jin!" Wajah kedua lelaki tua itu tampak ketakutan sekali.

"Ingin kubertanya beberapa patah kata kepada kalian," seru Cu Jiang yang saat itu dalam perwujudan sebagai Toan-kiam-Jan-jin lagi.

"Soal apa ?" seru salah seorang dengan gemetar.

"Untuk menghadapi pihak manakah rencana yang kalian siapkan dalam hutan itu," tanya Cu Jiang.

"Perlu apa engkau tanyakan hal itu?"

"Jangan bertanya apa2, cukup engkau memberi jawaban saja !"

Kedua lelaki tua itu saling bertukar pandang, kemudian tertawa mengekeh.

"Mungkin engkau tentu gembira sekali mendengarkannya. Rencana itu kami tujukan kepada iblis nomor sebelas, dua belas dan lima belas dari gerombolan Sip-pat thian mo!"

"Hm, Bagus, aku memang girang sekali, tetapi .. ." "Bagaimana ?"

"Kalian juga harus serahkan jiwa!"

Kedua lelaki tua itu pucat dan menyurut mundur beberapa langkah. Tangannya meraba pedang.

Cu Jiang tak mau membuang waktu.

"Bersiaplah menjaga diri!" serunya seraya menerjang. Mencabut pedang dan menyerang maju, hampir dilakukan dengan serempak dalam gerak yang luar biasa cepatnya. "Huak, huak" kedua lelaki tua itupun rubuh. Cu  Jiangpun bersembunyi lagi di tempat tadi. Lebih kurang menunggu sampai sepeminum teh lamanya, tiba2 muncul beberapa lelaki dalam pakaian kuning emas. Mereka terkejut melihat tubuh yang tergantung diatas pohon.

"Berhenti !" teriak salah seorang yang menjadi pimpinan rombongan, "tunggu dulu perintah dari ketiga Huhwat kita!"

Tak berapa lama, muncul tiga sosok tubuh yang tinggi besar. Sedikitpun gerak mereka tak bersuara.

Cu Jiang tegang. Jelas ketiga orang itu tentu iblis nomor sebelas, dua belas dan lima belas dari Sip pat-thian-mo.

"Kawanan kerucuk itu memang menjemukan sekali." kata salah seorang dari ketiga pendatang itu, "Ong thaubak

!"

Pimpinan rombongan baju emas tadi segera tampil memberi hormat: "Murid siap mendengar perintah."

"Lepaskan mayat itu !"

Ong thaubak mengiakan lalu memberi perintah dan empat orang baju emas segera naik keatas pohon. Mereka masing2 menurunkan sesosok mayat.

"Potong saja talinya dengan pedang," perintah Ong thaubak.

"Baik!" seru keempat baju emas lalu mencabut pedang dan membabat tali penggantung. Keempat mayat itu meluncur jatuh.

Bum . ..

Serempak pada saat mayat2 itu jatuh di tanah terdengarlah letupan keras dan asap tebal segera bergulung- gulung menyelimuti empat   penjuru. Pohon tumbang, tubuh2 manusia beterbangan.

Cu Jiang juga terpental beberapa meter dari tempat persembunyiannya, Ia rasakan seperti terjadi gempa bumi hebat.

Setelah asap menipis, barulah dia tahu apa yang terjadi. Sekeliling tempat itu penuh dengan darah dan kutungan2 anggauta badan. Mengerikan sekali. Daerah seluas lima tombak keliling, hampir sudah binasa semua.

Baru Cu Jiang berdiri, tiba2 ia mendengar suara orang menggembor. "Oo, engkau budak !"

Ia terkejut dan mengangkat muka. Ah, ternyata saat itu dia sudah dikepung olah tiga manusia aneh yang bertubuh tinggi besar. Ia terkejut dan heran mengapa ketiga iblis durjana itu tak sampai mati dalam ledakan itu.

"Budak, bukankah engkau yang disebut Toan kiam-jan- jin itu?" salah seorang iblis bertanya.

"Benar !"

"Engkau berani menggunakan siasat licik itu?"

"Rasanya aku belum pernah melakukan pekerjaan selicik itu!"

"Kalau begitu .. ."

"Ingat saja hutang piutangmu dengan pihak Gedung Hitam !"

"Budak, Mengapa engkau memusuhi pihak kami ?" "Anggap saja sebagai Jalan kearah kesejahteraan!"

"Untuk kesejahteraan  ? Ha. ha ha. ha " enam pasang

biji mata yang berapi-api mencurah kearah wajah Cu Jiang, seolah hendak menelan hidup-hidupan. Baru mendengar nama Sip-pat-thian-mo saja, orang persilatan pasti sudah menggigil nyalinya. Apalagi kalau bertemu dengan salah seorang anggautanya.

Tetapi berhadapan dengan ketiga iblis dari Sip-pat-thian- mo itu, Cu Jiang tak gentar sama sekali. Dia memang sedang mengemban tugas untuk membasmi kawanan Sip- pat-thian-mo yang ganas itu. Untuk menyelamatkan dunia persilatan dan kepentingan negeri Tayli.

"Pedang tak bermata, harap kalian suka mempertimbangkan !" seru Cu Jiang.

Tetapi peringatan Cu Jiang itu hanya disambut dengan gelak tawa oleh ketiga iblis.

"Mengapa kalian tertawa ?"

"Budak, apa yang engkau kehendaki supaya kami bertiga mempertimbangkan?"

"Hancurkan kepandaian kalian sendiri dan lekas tinggalkan dunia persilatan !"

Kembali ketiga iblis itu tertawa nyaring.

"Budak, apakah engkau tengah mengigau dalam bermimpi ?" salah seorang iblis itu berseru.

"Aku mengatakan yang sejujurnya!"

“Tetapi justeru akulah yang hendak mencincang tubuhmu."

"Rupanya kalian memaksa aku harus turun tangan !" "Akan kubeset kulitmu hidup-hidupan !" sahut ketiga

iblis itu.

Tiba2 Cu Jiang mendapat pikiran. Untuk meringankan bebannya, ia tak boleh memberi kesempatan sehingga ketiga momok itu dapat bersatu untuk mengerubutinya. Suhu dan baginda Toan Hong-ya memang menitahkan supaya kawanan Sip-pat thian mo itu jangan dibasmi semua.

Tetapi terhadap kawanan durjana semacam mereka, sukar untuk melaksanakan perintah itu.

Pelahan-lahan Cu Jiang mencabut pedang  kutung. Ketiga iblis itupun saling bertukar pandang lalu serempak mengangkat tangan mereka ...

Tiba2 dengan kecepatan seperti kilat menyambar, Cu Jiang menyerang kepada iblis yang berada disamping kanan. Dia menggunakan tenaga penuh. Terdengar suara orang tertahan, darah menyembur dan iblis itupun terhuyung-huyung empat lima langkah, bluk. ia jatuh terduduk.

Serempak pada saat itu juga pukulan dahsyat dari kedua iblis telah melanda Cu Jiang sehingga anak muda itu terpental mundur sampai lima enam langkah.

Dengan menggembor seram, kedua iblis itu terus loncat menerjang Cu Jiang seraya lepaskan empat buah pukulan maut.

Cu Jiangpun ayunkan pedang. Kiam-gi atau hawa pedang menyongsong pukulan lawan, menimbulkan benturan keras.

Cepat sekali kedua momok itu mengisar kaki berganti langkah. Mereka menyerang dari kanan kiri. Cu Jiang gunakan tata-langkah Gong-gong-poh-hwat untuk menghindar, tetapi kepandaian kedua momok itu memang bukan olah2 hebatnya.

Mereka dapat menguasai setiap gerakannya, menyerang dan menarik pukulan, dilakukan dengan sempurna. Setelah menilai posisi gerak putaran Cu Jiang, keduanya lalu menyerang gencar.

Cu Jiang terpaksa memutar pedang untuk menyerang iblis yang menyerangnya dari kanan.

"Huak . .. ." terdengar pula suara erang yang ngeri, iblis itu rubuh tetapi punggung Cu Jiang termakan pukulan iblis yang berada dikiri. Cu Jiang terseok-seok  kebelakang sampai beberapa langkah dan hampir rubuh.

Darahnya bergolak keras, pandang matanya gelap. Tetapi ia masih memiliki kesadaran pikiran. Waktu terhuyung-huyung dia menjurus ke sebelah samping.

Siut, siut, siut angin tajam yang berasal dari pancaran jari, berhembus lewat disisinya. Kurang sedikit saja dia tentu hancur tubuhnya. Angin tajam itu telah menyasar pohon dan menimbulkan tiga buah lubang.

Karena kedua kawannya sudah mati. iblis Itu marah sekali. Saat itu Cu Jiang sudah menyelinap ke belakangnya.

"Anda menduduki urutan yang ke berapa ?" Seru Cu Jiang.

Iblis itu berputar tubuh. Dia pancarkan lagi semburan tenaga-jari yang sakti seraya menyahut: "Aku berada di urutan nomor sebelas!"

"Apakah anda Kim ci-mo?" tanya Cu Jiang seraya menghindar. Tetapi baru dia tegak, punggungnya telah dilanda angin pukulan dahsyat.

"Uh .,..," ia sempoyongan hampir rubuh. Ternyata yang menyerangnya itu adalah iblis yang terluka dan jatuh terduduk itu. Saat itu Cu Jiang terhuyung beberapa langkah di mula iblis. Setelah berhenti dan berdiri tegak, ia menegur.

"Dan anda termasuk urutan yang ke berapa?" "Kelima belas !"

"Hai, anda benar2 tak bernama kosong Hek sim-mo!" seru Cu Jiang.

"Budak, Jiwamu memang alot sekali!"

"Jika begitu, yang telah mendahului berangkat itu tentulah iblis nomor dua belas Toan bing-mo ...." dalam berkata-kata itu Cu Jiang sudah melesat kemuka Kim ci-mo atau iblis Jari-emas. Ia mengangkat pedang kutung dan berseru:

"Sekarang giliran anda yang akan kuberangkatkan ke akhirat!"

"Jangan tekebur!" Kim-ci mo menggembor, mengendapkan tubuh, kedua tangan menjulur dan jari- jarinya menebar.

Saat itu Cu Jiang baru menyadari bahwa ujung jari  lawan berwarna kuning emas, seperti menjepit jarum atau paku emas. Tiga batang jarum itu telah mengenai batang pohon dan pohonpun berlubang.

Apabila dirinya sampai terkena jari emas itu, uh, ngeri juga membayangkan bagaimana akibatnya.

Barang siapa menyerang dulu, dia tentu memperoleh posisi yang kuat, Ya, benar dan Cu Jiang-pun segera kembangkan ilmu pedang Thian-te-kau-thay  dan menyerang dengan cepat.

Tring. tring....

Terdengar bunyi berdering-dering dan percikan sinar emas berhamburan, Cu Jiang rasakan bahu kirinya nyeri sekali sampai menusuk tulang. Dia tahu kalau terkena jari- emas lawan. Dari rasa sakit, ia duga Jari-emas atau Kim-ci itu tentu mengandung racun.

Huakkkkk.

Terdengar pekik seram dan tubuh Kim-ci-mo terhuyung- huyung, bluk, dia jatuh terkapar berlumuran darah.

Cu Jiang cepat mengeluarkan mustika katak dan disusupkan ke dalam mulutnya. Kemudian ia berpaling ke arah Hek sim mo.

Iblis itu tengah merangkak bangun. Wajahnya seperti binatang yang buas.

Mustika katak itu memang bukan olah2 sakti nya. Dalam beberapa kejap saja bahu kirinya yang terluka itu sudah lenyap sakitnya. Cu Jiang muntahkan mustika itu dan disimpannya lagi.

"Budak, engkau pasti mati!" seru iblis Hek-sim mo atau Hati-hitam sambil memandang Cu Jiang.

"Iblis tua, apakah engkau memastikan bagiku?"

"Engkau telah terkena racun dari Kim ci, walaupun tenaga dalamnya sudah sempurna sekali, pun  hanya mampu bertahan untuk beberapa waktu saja. Jika tidak menggunakan tenaga, memang tak apa2. Tetapi begitu engkau bergerak mengeluarkan tenaga, racun itu akan menyerang ulu hatimu !"

"Belum pasti begitu !"

"Aku bersedia menolongmu ..."

"Ha, haa, kalau anda mati dulu, tentu tak dapat melihat aku mati, bukan ?"

Hek sim-mo mundur beberapa langkah. Wajahnya berkerenyutan lalu berseru tegang: "Walaupun   aku   dicari sebagai iblis   berhati hitam, sebenarnya tidak begitu ..."

"Bagaimana ?"

"Kalau engkau sekarang ingin hidup, aku dapat membantumu tetapi..."

"Tetapi ada syaratnya, bukan ?" "Tentu."

"Apa syaratnya ?"

"Hancurkan kepandaianmu sendiri, nanti  baru kuberitahu obat penawar."

Cu Jiang tertawa gelak2.

"Caramu itu terlalu kekanak-kanakan. Biarlah kulawan racun dalam tubuhku itu dan akan kuantar anda ke akhirat lebih dulu !"

"Coba saja kalau engkau tak percaya !" "Kalau aku turun tangan anda tentu mati !" "Tak apa, cobalah !"

Cu Jiang masukkan pedang kedalam sarung lalu berkata dengan dingin: "Bagaimana kalau kugunakan pukulan tangan saja ?"

Hek-sim-mo tertawa aneh, teriaknya: "Bagus kesombonganmu ini memang tak ada duanya dalam dunia!"

"Sebenarnya aku tak ingin membasmi habis-habisan. Silakan anda menghancurkan ilmu kepandaian anda sendiri dan kubebaskan dari kematian !" seru Cu Jiang.

"Engkau bermimpi?" "O. anda benar2 ingin mati?"

Tiba2 Hek-sim-mo ayunkan kedua tangan menghantam. Dia ingin memancing Cu Jiang supaya balas menghantam dengan sepenuh tenaga agar racun Kim-ci segera berkembang menyerang uluhatinya.

Cu Jiang memang menangkis dengan dorongkan kedua tangan. Dia menggunakan tenaga penuh.

Bum.....

Terdengar benturan keras dan seketika Hek-sim mo muntah darah lalu jatuh terduduk lagi.

"Bagaimana ?" seru Cu Jiang.

Betapapun hitam hati Hek-sim-mo tetapi ia baru rontok nyalinya ketika melihat Cu Jiang tak kurang suatu  apa. Pada hal racun Kim-ci itu ganasnya bukan kepalang.

Orang yang kepandaiannya kurang, seketika tentu mati. Dan yang kepandaiannya tinggi, hanya dapat bertahan beberapa waktu saja.

"Toan-kiam-jan-jin engkau... tidak terkena racun itu ?" serunya terbata-bata.

"Racun semacam Kim-ci masakah mampu berbuat apa2 terhadap diriku ?"

"Engkau "

"Kejahatan anda sudah melewati takaran, matipun masih enak!" Cu Jiang terus maju dan mengangkat tinju, diarahkan ke kepala Hek-sim-mo.

Saat itu Hek-sim-mo sudah tak berdaya sama sekali. Dia meraung lalu muntah darah. Pada saat tinju hendak diayunkan tiba2 Cu Jiang menghentikannya. "Budak, engkau bermaksud bagaimana?" teriak Hek-sim mo.

Saat itu tiba2 Cu Jiang teringat akan pesan suhunya agar jangan mengobral pembunuhan. Pun baginda Toan Hong- ya juga melarang pertumpahan darah apabila tak terpaksa. Cu Jiang berkata.

"Kali ini kuberi ampun jiwamu, Kuharap engkau memberitahukan kepada kawan-kawanmu, setelah dapat membubarkan Thong-thian-kau. lekaslah kalian tinggalkan dunia persilatan . . ."

0odwo0

"Huh, siapa sudi menerima ampunmu ?"

"Apa yang telah kukatakan tentu kulaksanakan, engkau akan tetap hidup tetapi ilmu kepandaianmu harus dilenyapkan agar engkau jangan berbuat kejahatan lagi."

"Bunuhlah aku!" teriak Hek-sim-mo marah, "toh nanti tentu ada orang yang akan membalaskan engkau budak . . ."

"Engkau tak dapat menuruti kehendakmu sendiri!" seru Cu Jiang dan serentak dia pancarkan tenaga-sakti dari Jari. Seketika Hek-sim-mo gemetar, meraung keras dan muntah darah.

Ilmu kepandaian dihancurkan, bagi seorang tokoh persilatan ternama, jauh lebih tersiksa daripada dibunuh. Terutama durjana2 seperti gerombolan sip-pat-thian-mo itu.

"Budak, bunuhlah aku saja !" Hek-sim-mo meraung- raung pilu.

Cu Jiang tertawa dingin: "Dengarkan, aku hendak titip pesan supaya engkau sampaikan kepada kawan kawanmu. Bahwa aku memang ditugaskan untuk membasmi gerombolan Sip-pat-thian-mo!"

Hek-sim mo menggigil keras.

Sementara Cu Jiangpun terus ayunkan langkah keluar dari hutan. Dia menghitung-hitung jumlah gerombolan Sip- pat-thian-mo yang telah diselesaikan. Hek sim-mo dan Kiam-mo telah dihancurkan ilmu kepandaiannya. Long- sim-mo, Kiau-thian-mo, Gong mo, Toa lat Sin-mo, Bu-mo dan tadi di tambah pula dengan Kim-ci mo serta Toan leng- mo, semua berjumlah tujuh iblis yang telah dibunuhnya.

Dengan demikian kedelapan belas iblis itu sekarang sudah berkurang separuh. Suhunya pernah mengatakan bahwa yang paling ditakutkan ialah apabila Lo Mo atau iblis tertua diantara mereka, masih hidup.

Sip-pat-thian mo sudah begitu menggelisahkan dunia, ketua mereka tentu lebih hebat lagi.

Kemudian ia beralih memikirkan diri putri Tayli yang mengembara ke Tiong goan itu. Sungguh berbahaya sekali tindakan puteri itu. Apalagi hanya ditemani oleh Poan toanio, tentu setiap saat terancam bahaya.

Diam2 Cu Jiang cemas. Teringat betapa sikap dan nada puteri itu kepadanya Cu Jiangpun makin gelisah. Dia menyadari dirinya hanya seorang persilatan biasa, tentu tak layak menjadi pasangan hidup puteri itu.

Juga tali pernikahannya dengan Ho Kiong Hwa sudah menjadi kenyataan, sukar untuk diputuskan lagi.

Teringat akan Ho Kiong Hwa, ia membayangkan betapa nasibnya yang malang. Gadis itu seorang yang baik, layak mendapat curahan kasihan. Saat itu dia sudah muncul dijalan besar. Sebenarnya dia hendak mengejar Jejak Ratu-bunga Tio Hong Hui dan puterinya tetapi diluar dugaan dia bertemu dengan puteri Tayli dan Poan toanio, kemudian dapat membasmi tiga iblis sip pat-thian-mo.

Hari itu dia tiba di sebuah dusun yang tak jauh dari kota Keng-ciu. Saat itu hari sudah petang tetapi dia ingin lekas2 berjumpa dengan Ang Nio Cu.

Maka setelah mengisi perut disebuah rumah-makan, iapun meneruskan perjalanan lagi. Diperhitungkannya bahwa menjelang tengah malam nanti dia tentu tiba ditempat Ang Nio Cu. Entah bagaimana keadaannya, apakah lukanya sudah sembuh.

Beberapa li jauhnya, tiba2 sesosok bayangan hitam lewat disisinya dengan menggunakan ilmu lari yang cepat. Walaupun malam gelap tetapi mata Cu Jiang yang tajam dapat melihat bahwa orang itu adalah seorang Pengawal Hitam.

Terhadap musuh besar dari Gedung Hitam, dia tak pernah mau memberi kelonggaran. Diikutinya Pengawal Hitam itu.

Beberapa waktu kemudian, orang itu  membiluk kesebuah jalan kecil dan lebih kurang satu li  jauhnya tampak sebuah pedesaan yang terdiri dari beberapa rumah kaum pemburu.

Pengawal Hitam itu lari menuju ke desa yang sunyi senyap itu. Bahkan lampu2 pun sudah dipadamkan semua.

Rupanya kehidupan mereka miskin maka merekapun sangat berhemat.

Setelah melompat pagar tembok yang pendek. Pengawal Hitam itu terus masuk ke dalam sebuah rumah yang terdiri dari tiga petak. Terdengar anjing menyalak tetapi sesaat kemudian sudah sirap lagi.

Cu Jiang dengan hati2 mengikuti masuk. "Siapa?" terdengar suara orang dari dalam rumah.

"Aku, yah, Sam Long"

"Mengapa tengah malam pulang ?" "Ada urusan penting, lekas buka pintu." "Ya, tunggu sebentar."

Penerangan dalam rumah dinyalakan dan terdengar suara wanita bergumam lalu suara anak kecil terkejut bangun.

Pintu terbuka dan masuklah Pengawal Hitam itu. Yang membuka pintu seorang lelaki setengah tua. Kemudian muncul seorang wanita muda yang mengempo bayi.

Sambil mengucal-ucal mata, lelaki tua itu  menegur: "Sam Long, ada peristiwa apa?"

"Yah, ringkasilah barang2, kita pergi dari sini!" kata Pengawal Hitam dengan gopoh.

"Ada kejadian apa sih ?" seru wanita muda itu agak gemetar.

Pengawal Hitam yang bernama Sam Long Itu belum ada tiga puluh tahun umurnya. Cakap juga wajahnya.

"Kita harus lekas2 tinggalkan tempat ini. Kalau mereka tahu, tentu celaka kita !" kata Pengawal Hitam itu.

"Katakan apa yang terjadi!" lelaki tua itu  berseru gemetar.

Pengawal Hitam itu membuka bajunya dan melongok keluar dengan pandang cemas, lalu berkata: "Yah, aku telah melarikan diri dari mereka." "Mengapa ? Apa yang terjadi ?"

"Cong-koan kami yang lama Ho Bun Cai telah dibunuh, ditanam ditepi sungai. Enam orang Pengawal Hitam yang mempunyai hubungan rapat dengan Hu congkoan, sudah ada lima orang yang dibunuh. Tinggal aku seorang maka akupun nekat melarikan diri."

"Oh !" seru lelaki itu.

"Ai !" wanita muda itupun menjerit.

Sam Long melanjutkan lagi. "Tadi aku kebetulan mendapatkan tugas meronda diluar. Ditengah jalan kawanku yang bernama Tong Co Ju memberi tahu tentang peristiwa itu maka . . . akupun segera melarikan diri.”

"Nak, walaupun dunia ini lebar sekali, tetapi tak mungkin kita dapat bersembunyi," kata lelaki tua itu.

"Tetapi kita tak dapat menunggu kematian tanpa berdaya apa-apa. . ."

"Bawalah isterimu pergi sejauh mungkin. Biarlah aku tetap menjaga warisan leluhur kita ditempat ini. Matipun aku ingin berkubur disini!"

San Long bertekuk lutut dihadapan ayahnya dan meratap: "Anak tidak berbakti, mohon ayah..."

"Kita akan menuju kemana ?" "Kota Pek-te-shia."

"Apa ? Pek-te-shia ... mengapa ?"

"Kota itu merupakan daerah kekuasaan perkumpulan Thong-thian-kau. Disana pengaruh Gedung Hitam tidak seberapa." "Tetapi kota itu ribuan li jauhnya. Mampukah kita mencapai kesana dengan selamat?"

"Yah, jangan hiraukan soal itu, kita nanti akan menyamar "

"Bangun !"

Sam Longpun berbangkit, pipinya bercucuran air mata. isterinyapun pucat dan berkata dengan gemetar: "Dulu lebih baik engkau jangan masuk perkumpulan Gedung Hitam itu."

"Ah, tak perlu menyesali hal itu, tak ada gunanya. Aku berhutang budi kepada Ho congkoan yang telah menolong jiwaku. Dialah yang minta kepadaku supaya masuk sebagai pengawal dari Gedung Hitam. Sudah tentu aku tak dapat menolak."

"Ah," isterinya menghela napas.

"Pergilah kalian berdua, aku tetap akan tinggal disini." sahut lelaki tua itu berkata dengan mantap.

Sam Long menangis: "Yah. mereka tentu takkan melepaskan engkau."

Tetapi orang tua itu tetap kukuh: "Aku sudah tua, tak tahan menempuh bahaya sejauh perjalanan itu "

Tiba2 dari ruang tengah melayang sebuah benda yang tepat jatuh keatas meja, tring ....

"Amanat Maut!" teriak Sam Long ketika melihat benda itu. Seketika ia menggigil seperti orang sakit demam. Wajahnya pucat seperti mayat.

Lelaki tua dan isteri Sam Long juga kaget. Bayinya menangis. "Ah, habis riwayat kita sekarang" Sam Long mengernyut geraham.

Sebuah suara seram terdengar dari ruang tengah. "Kang Sam Long, keluarlah!" seru suara itu.

Sejenak memandang kepada ayah dan isterinya Sam Long menendang pintu dan melangkah keluar. Ayah dan isterinyapun mengikuti ke pintu.

Dihalaman muka tampak empat sosok tubuh. Yang tiga mengenakan pakaian hitam seperti Sam Long dan yang seorang lelaki tua berlengan tunggal. Ditingkah cahaya bulan remang, wajah orang tua itu tampak menyeramkan sekali.

Sam Long memberi hormat di hadapan orang berlengan satu itu. "Menghaturkan hormat kepada congkoan !"

Lelaki berlengan tunggal itu tertawa seram: "Kang Sam Long, tak usah banyak omong, tahukah engkau akan peraturan Gedung kita ? Bagaimana tindakanmu ?"

Rupanya Sam Long sudah menentukan keputusan. Dengan suara tenang dia berkata: "Cong-koan, hamba tahu akan kesalahan hamba, terserah bagaimana hukuman yang hamba terima. Tetapi hamba hendak mengajukan sebuah permohonan !"

"Apa ?"

"Mohon keluarga hamba dibebaskan dari hukuman ..” "Engkoh Sam..." wanita muda menjerit dan menangis.

Bayinya juga ikut menangis keras.

Lelaki tua berlengan satu itu berpaling ke arah seorang pengawal: "Jangan sampai membikin kaget para tetangga sekeliling. Hentikan tangis mereka !" Pengawal Hitam itu segera mencabut pedang dan menghampiri. Melihat itu Sam Long berseru kepada isterinya: "Lekas masuk jangan bersuara."

Dengan wajah sedih dan takut, wanita itu mendekap mulut anaknya dan masuk kedalam. Pengawal Hitam itu melanjutkan langkahnya.

Kang Sam Long juga mencabut pedang  dan  berteriak: "Li San Beng, jangan membunuh orang yang tak berdosa. Semuanya aku yang bertanggung jawab !"

Lelaki berlengan tanggal mengangkat tangan, memberi isyarat agar Li Sin Bang kembali ke tempatnya lagi.

Kemudian lelaki lengan satu itu memandang Sam Long, serunya: "Kang Sam Long, engkau berani mencabut pedang?"

"Congkam, mohon keluargaku yang tak berdosa ini diberi ampun. Hamba rela menerima hukuman apapun juga!" jawab Sam Long.

"Sekarang jawablah beberapa pertanyaanku dengan terus terang," kata lelaki lengan satu itu, "kesatu, masukmu ke dalam Gedung Hitam adalah Hu congkoan yang mengusulkan. Lalu tugas apa yang Ho Bun Cai berikan kepadamu?"

"Tidak memberi tugas apa2." kata Sam Long dengan keraskan hati.

"Hm. dalam sekian tahun, apa saja yang engkau telah lakukan untuknya ?"

"Hamba bertugas sebagai Pengawal Hitam dan selalu bertindak menurut perintah atasan. Tak pernah hamba melakukan sesuatu yang melanggar peraturan." "Ah, baik sekali engkau hendak menghindar. Engkau tentu kenal jelas tentang diri Ho Bun Cai . . ."

"Hamba tak tahu."

"Dan kaki tangannya itu ?"

"Cong-kam, hamba benar2 tak tahu." "Rupanya semua pertanyaanku itu sia2 saja." "Hamba menjawab dengan sejujurnya." "Baik Pengawal, kemarilah!"

Ketiga Pengawal Hitam serempak menghadap.

"Seret keluar orang2 dalam rumah itu tetapi jangan sampai menimbulkan suara gaduh !"

Setelah mengiakan ketiga Pengawal Hitam segera melangkah kedalam rumah. Tetapi secepat itu Sam Longpun sudah melintangkan pedang menghadang.

"Congkam, apakah hendak memaksa hamba melawan ?" serunya dengan bengis.

"Engkaukan sudah melawan !"

"Silakan . . ." seru Sam Long mengucap sepatah kata, tiba2 lengan congkam itu berayun dalam gerak setengah- lingkar lalu kembali lagi ke tempatnya.

Telapak tangan Sam Long terkulai dan pedangnyapun terlepas. Dia tegak seperti patung. Jelas jalan darahnya  telah ditutuk oleh lelaki bertangan tunggal itu.

Ketiga Pengawal Hitam menyerbu ke dalam, menyeret isteri Sam Long dan ayahnya. Memang mereka tak menjerit dan menangis karena jalan-darahnya sudah ditutuk. Sepasang mata Sam Long merah membara, keringat bercucuran deras. Walaupun tak dapat berkutik tetapi mulutnya masih dapat bicara.

"Jika keluarga sampai dibunuh, aku Kang Sam Long sekalipun jadi setan, tetap akan jadi setan untuk membalas dendam ini !" serunya.

Lelaki tua berlengan tunggal itu hanya menyambut dengan tertawa iblis. Berpaling kearah Pengawal Hitam yang membawa bayi: "Bawa ke-sampingnya!"

Pengawal Hitam itu segera membawa bayi …..

^^Jilid 20 Halaman 26/27 Hilang^^

……hendaki orang   tua dan perempuan itu hidup.

Janganlah engkau ikut campur urusan ini !"

Cu Jiang tak menghiraukan, ia memberi peringatan keras kepada kedua Pengawal Hitam itu.

"Dengarkan, serambut saja kalian berani mengganggu kedua orang itu, kalian pasti kucincang !"

Kedua Pengawal Hitam itu gemetar.

Kemudian Cu Jiang berpaling lagi kepada Li Ho. serunya: "Lengan anda yang putus itu bukankah terjadi ketika di gunung Bu-leng-san dahulu?"

Wajah Li Ho berobah seketika, serunya. "Budak, apakah engkau benar2 putera dari Cu Beng Ko ?"

"Orang she Li, sudah lama aku mencarimu !" "Siapa namamu ?"

"Cu Jiang !"

"Hm, bukankah dahulu eagkau sudah terlempar kebawah jurang " "Tuhan belum menghendaki aku harus mati." "Tidak ! Tidak ! Engkau . . . tentu si Gok-jin ji itu."

Serentak Cu Jiang mencabut kain penutup muka dan tampaklah wajahnya yang tampan. Melihat itu Li Ho menyurut mundur.

"Engkau ,.. pelajar baju putih itu ?" "Benar,"

"Umurmu sungguh panjang .. ."

"Li Ho, siapakah yang turun tangan waktu di gunung dahulu itu ?"

"Engkau kira aku tentu mau memberitahu ?" "Mungkin."

"Engkau ngimpi!"

Cu Jiang maju selangkah, matanya berapi-api, serunya: "Li Ho, engkau hendak membayar apa yang telah engkau lakukan selama ini?"

"Budak," teriak Li Ho. "selangkah engkau berani maju lagi, lelaki dan wanita ini tentu kuhabisi jiwanya !"

Cu Jiang berpaling kearah kedua Pengawal Hitam, serunya: "Kurasa mereka takkan berani melakukan."

"Coba saja kalau engkau tak percaya !"

"Ya, aku memang hendak mencoba . . ." Sambil mengangkat pedang kutung, Cu Jiang maju selangkah lagi.

Cring, Li Ho juga mencabut pedang. Sekali-pun lengannya tinggal satu tetapi sikapnya memang masih berwibawa. Jelas bahwa ilmu pedangnya tentu hebat. Keduanya saling mencurah perhatian, menunggu kesempatan. Dalam pada itu Kang Sam Long-pun mencabut pedang dan menghampiri ke samping kedua Pengawal Hitam.

Jika kedua Pengawal Hitam itu berani membunuh ayah dan isterinya, diapun akan menyerang.

Sampai beberapa saat masih belum terjadi gebrakan tetapi saat itu kepala Li Ho sudah bercucuran keringat dan matanya mulai berkunang-kunang. Dalam mata seorang ahli pedang, tanda2 itu sudah menunjukkan  suatu kesalahan yang fatal.

"Hait . . . tring . . . ngekkk !"

Terdengar gemboran, denting benturan dan suara menguak ngeri. Hanya dalam sekejap mata, mautpun sudah menyambar nyawa. Lima buah tusukan celah menghias tubuh Li Ho. Dia terhuyung-huyung lalu jatuh terduduk.

Cu Jiang cepat berputar tubuh dan menghadap ke arah kedua Pengawal Hitam : "Lepaskan !"

Kedua Pengawal Hitam itu ngeri dan tanpa  disadari telah melepaskan ayah dan isteri Kang Sam Long.

Melihat itu Kang Sam  Long buru2 menyarungkan pedang lalu menarik kedua ayah dan isterinya. Cu Jiangpun memancarkan tenaga dari jari untuk membuka jalan darah kedua orang yang tertutuk itu.

"Kang Sam Long, lekas benahi2 barang-mu dan tinggalkan tempat ini !" seru Cu Jiang lalu mengambil dua butir beng cu (mutiara) dan dilemparkan: "Benda ini rasanya cukup untuk membuat rumah baru lagi." Kang Sam Long terlongong-longong mengawasi Cu Jiang. Bibirnya bergerak-gerak tetapi tak dapat mengeluarkan kata2.

"Ho Bun Cai itu suhengku, engkau harus mengerti dan lekaslah pergi !" seru Cu Jiang.

Kang Sam Long mendesah kejut, memungut  mutiara lalu menghaturkan hormat: "Budi anda akan kuukir sampai mati!" habis berkata dia terus memimpin tangan ayah dan istrinya masuk kedalam rumah.

Tiba2 kedua Pengawal Hitam loncat hendak melarikan diri. Tetapi Cu jiang cepat membentak: "Berhenti !"

Kedua Pengawal Hitam itu terpental kembali ketempatnya semula dan tahu2 Cu Jiang  sudah menghadang dimuka mereka.

"Menurut peraturan Gedung Hitam, anak buah yang melarikan diri dari lawan, akan dihukum mati!"

Wajah kedua Pengawal Hitam itu pucat seperti mayat.

Mengangkat pedang kutung. Cu Jiang berseru: "Mati dalam pertempuran merupakan kematian yang gemilang dari seorang ksatrya. Sekarang hunuslah pedang kalian dan siaplah membela diri!"

Kedua Pengawal Hitam itu sejenak melihat kearah congkam mereka yang masih duduk ditanah. Dengan gemetar keduanya menyurut mundur.

"Lekas cabut pedang. Aku hanya menyerang dalam satu jurus, Jika kalian mampu membela diri tentu akan kulepaskan pergi !"

Kedua Pengawal Hitam Itu saling bertukar pandang lalu mencabut pedang. "Awas, terimalah seranganku !" Cu Jiang  berseru, pedang berkelebat dan terdengarlah jerit auman ngeri memecah kesunyian malam. Kedua Pengawal Hitam terkapar dalam kubangan darah.

Setelah menyelesaikan kedua Pengawal Hitam, Cu Jiang menghampiri ketempat Li Ho:

"Orang she Li, membunuh, memperkosa, engkau tentu turut ambil bagian, bukan ?"

Li Ho membisu.

Cu Jiang menengadahkan kepala. Sekilas terbayang akan pemandangan delapan belas bulan yang lalu. Darah, kepingan daging dan tubuh yang telanjang.

"Li Ho, engkau mau menjawab atau tidak, sama juga.

Aku akan mencincang tubuhmu !"

Wajah Li Ho berkerenyutan menyeramkan sekali. Dengan lengannya yang tinggal satu itu dia berusaha untuk berbangkit. Cu Jiang pelahan-lahan mencabut pedang dan sekali ayun, Li Ho menjerit ngeri lalu jatuh terduduk lagi.

Pedang kutung berulang kali bergerak kian kemari, seiring dengan jeritan ngeri yang berturut-turut, Li Ho telah berobah menjadi manusia darah yang terkapar dan meregang-regang. Dia harus menderita siksaan yang hebat sebelum jiwanya melayang...

Cu Jiang menghela napas. Setelah memasukkan pedang, ia lantas membuang mayat Li Ho ke-dalam sumur dan ditutup. Saat itu sudah lewat tengah malam. Dia terus lari menuju kejalan besar dan melanjutkan perjalanan ke kota Kang ciu.

Tiba ditempat Ang Nio Cu terluka, haripun sudah menjelang fajar. Saat itu tentulah Ang Nio Cu masih tidur. Dia sungkan untuk membangunkan dan terpaksa mondar- mandir di luar biara.

Tetapi beberapa waktu kemudian, dia tak sabar lagi terus masuk kedalam biara. Sengaja dia batuk2 dan memberati langkah kakinya.

Tiba2 dia merasakan sesuatu yang tak wajar. Batuk dan langkah kaki berat, tentu akan mengejutkan mereka tetapi mengapa tetap sunyi senyap saja.

Ya, benar, paling tidak Ang Nio Cu tentu menyuruh salah seorang muridnya untuk berjaga diluar tetapi  mengapa tak seorangpun yang tampak?

Tiba2 dipintu ruang tempat Ang Nio Cu dirawat, tampak pintu terbuka dan keadaannya sunyi saja.

"Taci..." Cu Jiang berteriak keras. Tak ada penyahutan. Ia memperhitungkan tentulah Ang Nio Cu sudah sembuh dari lukanya, masakan sampai tak tahu kalau ada orang masuk kedalam biara itu.

Dengan cemas Cu Jiang terus melesat masuk kedalam ruang. Ah, tempat tidur tua kosong melompong, tak ada orangnya sama sekali. Apakah Ang Nio Cu sudah pindah ke lain tempat? Toh, tak mungkin. Bukankah dia sudah berjanji akan bertemu ditempat itu ?

Cu Jiang memandang ke sekeliling ruang untuk mencari sesuatu jejak. Tiba2 pandang matanya terbeliak dan hatinya berdebar keras. Di lantai terdapat bekas darah dan bekas2 pertempuran. Celaka! Ang Nio Cu tentu telah menderita bencana.

Tiba2 ia mendengar helaan napas orang dari  sudut ruang. Ah. Cu Jiang menjerit kaget dan cepat melesat ketempat itu. Sesosok tubuh manusia yang berlumuran darah rebah di lantai. Dia adalah seorang anak buah Ang Nio Cu. Napasnya sudah lemah sekali.

Cu Jiang berjongkok dan berteriak:

"Apakah yang telah terjadi ? Kemana mereka?"

Tetapi nona itu tak menjawab lagi. Cu Jiang kucurkan keringat dingin. Memeriksa denyut nadi tangan nona itu, ia mengeluh dalam hati. Urat-nadi jantungnya sudah tak normal jalannya. Rasanya sukar ditolong lagi.

Cu Jiang bingung. Satu-satunya jalan untuk mendapat keterangan harus bertanya kepada nona itu. Segera ia mencekal tangan nona itu dan menyalurkan tenaga-murni.

Beberapa saat kemudian tampak mata nona itu bergerak- gerak dan mulutnya menghembus napas.

"Engkau masih mengenal aku ? Di mana dia?" seru Cu Jiang.

Mulut nona itu bergerak-gerak tetapi tak dapat mengeluarkan kata2. Cu Jiang menghapus keringat di jidanya lalu menyaluri tenaga-murni lagi.

Akhirnya wanita itu dapat mengeluarkan suara lemak seperti ngiang nyamuk : "Nona Thong-thian Keng-cia . . . cabang, . . markas. .."

"Nona? Siapa dia ?" Cu Jiang gopoh menegas. Tetapi wanita itu menghembuskan napas yang terakhir, kepala terkulai dan melayanglah jiwanya.

Cu Jiang terpaksa lepaskan cekalannya. Sesaat ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Siapa yang dimaksudkan nona itu ? Kawanan pengiring itu selalu menyebut Ang Nio Cu sebagai majikan.

Lalu pengiring yang dua orang, Soa Tan Hong dan Gu Kiau, kemanakah mereka ? Thong-thian Kang-ciu, Jelas berarti partai Thong thian- kau di Kangciu. Tetapi dimanakah letak cabang markasnya?

Ia menggali lubang untuk mengubur mayat wanita itu. Sampai terang tanah Cu Jiang masih termenung-menung dalam biara untuk merenung siasat.

Kembali ia terkejut ketika daun pintu yang berlumuran darah, Juga diluar biara. Ia segera menuruti bekas2 ceceran darah itu yang menuju ketepi hutan. Mengeliarkan pandang, seketika lunglailah semangatnya. Hampir saja dia rubuh.

Dua sosok mayat rebah berselang. Jelas kedua mayat itu adalah Song Tan Hong dan Gi Kiau. Karena ketiga pengiringnya sudah dibunuh, jelas Ang Nio Cu tentu menderita bencana.

Setelah beberapa saat termenung seperti patung karena menyaksikan kebiadaban orang persilatan yang gemar melakukan pembunuhan, akhirnya Cu Jiang mengubur kedua mayat itu.

Matahari bersinar gemilang tetapi dalam pandangan Cu Jiang, tak lain hanya darah merah.

Tiba2 terdengar langkah kaki orang. Cu Jiang cepat berpaling ke belakang. Tiga tombak jauhnya, tampak tegak seorang baju merah yang mukanya bertutup kain.

"Taci, engkau... tak kena apa2 ?" serentak Cu Jiang berteriak kegirangan.

Memang yang muncul itu adalah Ang Nio Cu.  Tetapi dia tak menjawab melainkan melangkah maju beberapa langkah. Ketika mata saling beradu. Cu Jiang tergetar hatinya. Sinar mata Ang Nio Cu sedemikian rupa seperti yang belum pernah dilihatnya selama ini. "Taci, apakah yang telah terjadi?" seru Cu Jiang.

"Adik, engkau telah datang," kata Ang Nio Cu dengan nada rawan, "tetapi... terlambat . . ."

"Apa? Terlambat?" Cu Jiang makin kaget. "Dendam telah terjadi, tak dapat dihapus kembali!"

Cu Jiang melesat maju dan berseru gemetar: "Taci, sebenarnya apakah yang telah terjadi ?"

"Engkau sudah melihat mayat2 itu?"

"Ya, sudah kukubur. Siapa yang membunuhnya." "Kedua iblis Hong-gwat-mo dan Thian-kau-mo beserta

belasan anak buahnya."

Marah Cu Jiang meluap-luap. Iblis Hong-gwat mo pernah ia kalahkan ketika berjumpa dibiara Lian hoa yan di luar kota Li-jwan dulu. Tetapi Thian-kau-mo dia belum pernah bertemu.

"Apakah Thian-kau-mo itu termasuk iblis yang ke empat belas?" tanyanya.

"Benar, dia menjabat sebagai ketua cabang kota Keng ciu, dibantu oleh Hang-gwat-mo "

"Bagaimana peristiwa itu telah terjadi?"

"Demi kepentingan isterimu Ho Kiong Hwa!" Hati Cu Jiang tergetar keras: "Karena dia?"

"Hm."

"Bagaimana urusannya?"

"Ketika dia menuju ke biara tua, dia telah dibuntuti musuh "

"Perlu apa musuh hendak mengikutinya?" "Karena kecantikannya!" "Dimana dia sekarang?" "Pergi jauh!"

"Dimana letak cabang Keng ciu itu?"

"Dari sini delapan li menuju ke timur akan terdapat sebuah gedung. "

Cu Jiang diam sejenak lalu mengertek gigi: "Aku hendak membuat perhitungan ..." "Tunggu !" Ang Nio Cu mencegah.

"Taci hendak memberi pesan apa lagi?" "Bagaimana dengan perjalananmu kemari?" "Dapat membasmi iblis tua!"

"Siapa?"

"Sam-bok thian cun, guru dari ketua Gedung Hitam." "Ah."

"Aku akan pergi dan nanti kita bicara lagi!" "Aku masih hendak bicara."

"Silakan."

Ang Nio Cu berdiam sejenak, katanya: "Pedang yang engkau serahkan untuk tanda pengikat pernikahan itu Ho Kiong Hwa telah menyerahkan kembali kepadaku. "

"Kenapa?"

"Dia minta kepadaku supaya menyerahkan kepadamu. Tetapi kupikir, akan kuminta kepadamu supaya benda itu kusimpan sebagai kenang-kenangan. Tentang gelang kumala yang dia berikan kepadamu, dia minta supaya engkau simpan sebagai kenangan selama-lamanya .. ."

"Apakah artinya ini?" Cu Jiang terkejut. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi.

"Tali pernikahan itu diputuskan !"

-oo0dw0oo-
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pusaka Negeri Tayli Jilid 20"

Post a Comment

close