Pusaka Negeri Tayli Jilid 14

Mode Malam
Jilid 14

Suara erangan tertahan dan jeritan kaget hampir serempak terdengar dan tahu2 pedang Ban Ki Hong menjulai ke tanah. Tubuhnya berhias empat lobang yang mengucurkan darah. Wajahnya lebih pucat dari orang mati. Sinar matanya redup.

Cu Jiang tegak memandangnya.

Beberapa saat kemudian tiba2 Ban Ki Hong menjerit: "Ceng-moay, aku bersalah kepadamu!" habis berkata dia

terus hendak menikam tenggorokannya sendiri. "Tring "

Cu Jiang acungkan jarinya dan pedang Ban Ki Hong pun jatuh ke tanah.

"Toan-kiam jan-jin, seharusnya engkau dapat membunuh aku dengan jurusmu tadi. Mengapa tak engkau lakukan?" serunya.

Cu Jiang tidak menyahut tetapi hatinya gelisah. ilmu pedang yang dimainkan Ban Ki Hong itu ternyata adalah ilmu simpanan dari ayahnya ialah ilmu pedang It- kiam-tui- hun.

Ia heran mengapa ayahnya mengajarkan ilmu pedang itu kepada Ban Ki Hong.

"Toan kiam Jan jin, apakah engkau hendak menyiksa diriku ?" seru Ban Ki Hong.

"Apa perlu harus begitu?"

"Mengapa engkau tak membiarkan aku mati?" "Apakah jiwa begitu rendah harganya?"

"Aku sudah tak berharga hidup lagi." "Ban Ki Hong, sedangkan sip-pat-thian-mo pun mati dibawah pedangku, apalagi engkau!"

"Tak mampu melaksanakan cita2 ayah, menerima dendam penasaran isteri. Tidak berbakti dan tidak berbudi, perlu apa aku hidup di dunia..."

"Jurus ilmu pedangmu tadi, cukup menggetarkan kaum persilatan. Mengapa tidak engkau gunakan untuk melakukan perbuatan2 yang berbudi agar arwah isterimu dapat mengasoh tenang di alam baka? Engkau malu hidup di dunia, tidakkah engkau akan lebih malu apabila bertemu dengan isterimu di alam baka?"

Seketika wajah Ban Ki Hong berobah, Dari tegang menjadi duka dan akhirnya dengan penuh rasa sesal dia mengangkat kedua tangan memberi hormat.

"Nasihat anda yang berharga, menyadarkan pikiranku yang gelap. Mohon sejak sekarang jangan..."

"Tunggu !"

"Apa anda masih ingin memberi pesan lagi ?"

"Dalam waktu setahun ini, jangan engkau gunakan jurus ilmu pedangmu itu. Kalau tak menurut engkau tentu akan mengalami bencana besar !"

"Mengapa ?" Ban Ki Hong terkejut.

Cu Jiang tak mau secara terus terang  memberitahu bahwa jurus ilmu pedang It Kiam tui-hun itu adalah ilmu simpanan mendiang ayahnya. Apabila Ban Ki Hong menggunakan tentu musuh akan tahu dan menduga dia keluarga Lamkiong, dan pasti akan membunuhnya.

"Maaf, aku belum dapat menjelaskan sekarang tetapi peringatanku itu memang keluar dari ketulusan hatiku." sahutnya. "O, aku memang memutuskan hendak hidup di pegunungan sepi untuk menemani arwah isteriku tercinta. Sejak saat ini aku takkan mengurus soal persilatan lagi."

"Bagus." Cu Jiang gembira, "waktu isteri masih hidup tak dapat pegang janji, setelah isteri meninggalpun masih mempunyai kesempatan untuk menebus kesalahan."

"Terima kasih."

"Masih ada sebuah hal lagi. Apabila engkau tak keberatan, maukah menceritakan, tentang peristiwa dari orang asing yang memberikan ilmu pedang kepadamu itu?"

Sejenak merenung Ban Ki Hongpun berkata.

"Baiklah. Peristiwa itu terjadi secara tak terduga, Jago pedang itu bersama isterinya sedang menempuh perjalanan lalu dikejar musuh. Saat itu isteri si jago pedang sedang mengandung tak mampu lari. Sedang karena melindungi istrinya, jago pedang itupun menderita luka berat. Mereka lalu kerumahku minta perlindungan. Kusembunyikan mereka dan ketika kawanan musuh datang, kukelabuhi mereka dengan keterangan yang bohong. Setelah peristiwa itu selesai, jago pedangpun lantas memberikan Jurus ilmu pedang itu kepadaku."

"Ah . .. ." Cu Jiang hampir mengucurkan air mata tetapi untung dia dapat menahan. isteri jago pedang itu tak lain adalah mamanya. Dan bayi yang dikandungnya itu adalah dirinya sendiri.

Dengan begitu jelas bahwa Ban Ki Hong itu pernah menolong jiwa kedua ayah bundanya.

"Apakah anda kenal dengan jago pedang itu?" tanya Ban Ki Hong. Cu Jiang bersangsi sejenak lalu mengatakan,  kelak setelah ada bukti baru dia akan memberi keterangan lagi

"Apakah anda masih hendak memberi pesan lagi ?"

Cu Jiang teringat bahwa Ban Ki Hong telah melepas budi yang sedemikian besar kepada ayah-bundanya dan untuk itu ayahnya telah mengajarkan sejurus ilmu Pedang istimewa, Walaupun tanpa ikatan apa2, tetapi hal itu tak ubah sebagai ikatan perguruan. .

"Bagaimana kalau kita bersahabat?" tiba2 Cu Jiang berseru.

"Anda menjadi sahabatku?" Ban Ki Hong menegas. "Benar."

"Sudah tentu aku aku menurut sekali"

"Anda lebih tua. aku . . . sebagai siaute dan anda sebagai heng-tay!"

"Ini ... ini ...”

"Toako," cepat Cu Jiang menukas, "ikatan persahabatan kita ini merupakan jodoh yang dipertemukan pedang. Bagaimana asal usul diriku, untuk sementara tak dapat memberitahu dulu. Dalam hal ini kuharap toako suka memaafkan."

Peristiwa saat itu telah menghapus semua  derita perasaan Ban Ki Hong. Derita malu karena kalah, derita kehilangan isteri tercinta.

“Baiklah, lote, aku menurut saja rencanamu."

"Apakah toako hendak kembali ke gunung Bu-leng-san?"

Teringat akan kematian isteri tercinta, Ban Ki Hong bercucuran air matanya. "Sudah tentu aku akan ke gunung lagi untuk menemani makam isteriku."

"Baiklah, toako, kelak kita berjumpa lagi di gunung itu." kata Cu Jiang.

"Hiante hendak ke mana?"

"Masih banyak urusan yang hendak kulakukan. Kelak tentu akan kuceritakan semua kepadamu, toako."

"Jadi sekarang kita akan berpisah?"

"Musuhku terlalu banyak, kurang baik kalau kita selalu bersama."

Ban Ki Hong menurut. Tiba2 Ban Ki Hong melemparkan pedangnya ke dalam sungai.

"Hai, mengapa toako lakukan hal itu?" Cu Jiang heran. "Walaupun  aku  juga  mempunyai   dendam,   tetapi aku

harus putuskan janjiku terhadap isteri. Aku takkan

menggunakan pedang lagi."

"Bagus, toako, dengan demikian arwah ensoh pasti akan tenang di alam baka, " seru Cu Jiang.

Memandang pada kain cadar yang menutup wajah Cu Jiang, Ban Ki Hong hendak berkata tetapi tak jadi.

Rupanya Cu Jiang tahu maksud Ban Ki Hong, katanya: "Toako, maaf, untuk sementara waktu ini aku tak dapat

menunjukkan mukaku."

Ban Ki Hong tertawa dan memuji Cu Jiang cerdas dan tajam pandangannya. Dia segera minta diri. Setelah saling memberi hormat. Ban Ki Hong lalu melesat pergi.

Cu Jiang masih tegak termenung memandang riak gelombang sungai. Ia merenungkan pula peristiwa kedua suami isteri itu. Apabila dia terus muncul dan menerima tantangan Ban Ki Hong. tentulah istrinya tak sampai bunuh diri.

Tetapi iapun heran mengapa untuk hal itu, isteri Ban Ki Hong sampai melakukan perbuatan yang senekad itu ?

Dan diapun tak menyangka akhirnya mengikat tali persahabatan dengan Bin Ki Hong.

Tengah melamun tiba2 ia merasa ada suatu getaran yang menyiak hawa udara. Jika tidak memiliki ilmu kepandaian yang tinggi tentu takkan mampu merasakan getaran itu.

Cu Jiang menyadari bahwa dari arah belakang tentu terdapat orang yang mendatangi. Dan pendatang itu tentu memiliki kepandaian yang tinggi. Tanpa berpaling, dia terus menegur:

"Sahabat dari mana itu?" Sebuah suara yang tak asing nadanya segera menyahut:

"Aku Ho Bun Cai!"

Cu Jiang berbalik tubuh. Dua tombak jauhnya tegak seorang lelaki. Dia tak lain adalah Ho Bun Cai yang menjabat sebagai cong-koan atau pengurus rumah tangga Gedung Hitam.

Melihat Ho Bun Cai muncul, Cu Jiang menduga bahwa ketua Gedung Hitam tentu juga berada disekitar tempat itu.

Dendam membara pula di dada Cu Jiang. Ia memutuskan, bahwa dia harus mengorek keterangan dan mulut Ho Bun Cai ini.

"Ho Bun Cai, congkoan dari Gedung Hitam, "seru orang itu setelah beberapa saat memandang Cu Jiang, "Toan-kiam jan-jin, mari kita bicara baik-baik.” "Bagus, akupun memang bermaksud begitu," sahut Cu Jiang.

"Kenalkah engkau dengan lelaki yang bertanding sejurus ilmu pedang dengan engkau tadi ?"

Cu Jiang terkejut. Rupanya orang itu sudah lama bersembunyi dan menyaksikan peristiwa tadi. Diam2 dia bersyukur karena tak memberikan keterangan lebih luas kepada Ban Ki Hong.

Tetapi pertanyaan menimbulkan hawa pembunuhan dalam hati Cu Jiang.

"Anda sudah bersembunyi diatas tembok samping  itu dan mendengarkan semua pembicaraan kami ?"

"Aku tak menyangkal."

"Lalu mengapa anda bertanya soal itu ?" "Sudah tentu ada maksudnya." "Katakanlah."

"Tetapi lebih dulu jawablah beberapa pertanyaanku itu."

"Apakah anda tahu juga akan jurus ilmu pedang orang itu?"

"Tentu saja." "Apa namanya ?"

"ilmu pedang satu Jurus It-kiam-tui hun-kiam dari Dewa pedang Cu-Beng Ko."

Cu Jiang tak terkejut karena ilmu pedang mendiang ayahnya itu memang sudah sangat terkenal di dunia persilatan.

"ilmu pedang itu memang sudah dikenal dalam dunia persilatan. Andapun tentu begitu." "Sekalipun begitu tetapi lain keadaannya !" "Apa maksudmu ?"

"Engkau tentu tak menyangkal bahwa engkau merasa heran waktu orang itu mengeluarkan jurus ilmu pedang itu bukan ?"

"Benar, lalu ?"

"Dengan bukti itu aku melihat suatu ujung dari lingkaran

. .."

"Katakan!"

"Pertama, engkau tentu pemuda yang melarikan diri dari penjara Gedung Hitam dahulu yakni Gok-jin ji..."

Cu Jiang mendengus.

"Taruh kata benar, lalu bagaimana ?" Nada Ho Bun Caipun makin tegang:

"Engkau tentu mempunyai hubungan erat dengan pelajar baju putih itu. Sekali-kali bukan seperti yang pernah engkau katakan bahwa engkau melakukan permintaan dari pelajar baju putih itu."

Hawa pembunuhan makin menebal di dahi Cu Jiang, "Berbahaya sekali penilaianmu itu?"

"Mengapa ?"

"Mungkin aku terpaksa harus turun tangan kepadaku."

Wajah Ho Bun Cai agak berobah, serunya. "Untuk menghapus mulut, bukan?"

"Mungkin saja begitu."

“Tetapi Jika aku mempunyai penilaian baru lagi ?" "Penilaian apa ?"

Ho Bun Cai mementang mata lebar2 dan berseru : "Engkau ini adalah pelajar baju putih !"

Cu Jiang menyurut mundur selangkah.

"Siapakah pelajar baju putih itu?" serunya dengan nada tergetar.

Wajah Ho Bun Cai berkerenyutan lalu berseru pelahan: "Putera mendiang Dewa pedang yang bernama Cu

Jiang!"

Tegang sekali wajah Cu Jiang. katanya tandas: "Anda tahu terlalu banyak !"

"Engkau mengakui ?"

Cu Jiang merabah tangkai pedang dan berseru: "Dan anda harus mati !"

Tubuh Ho Bun Cai gemetar dan dahinyapun beralun kernyit. Diam2 Cu Jiang heran mengapa orang itu bersikap demikian.

Memandang beberapa kali kearah pesisir sungai, Ho Bun Cai berkata pula.

"Bukankah engkau datang dari Tayli ?"

Kejut Cu Jiang sukar dilukiskan lagi. Mengapa Ho Ban Cai tahu semua tentang dirinya ? Berbahaya, itu harus dirahasiakan sekali.

"Kenalkan engkau dengan Poan toanio si wanita gemuk itu?" kembali Ho Bun Cai bertanya pula. Cu Jiang benar2 kewalahan kejutnya. Ia teringat ketika dibawa Ho Bun Cai ke Gedung Hitam, ditengah jalan bertemu kembali dengan wanita gemuk yang menjual kacang. Saat itu Ho Bun Cai tak menunjukkan reaksi apa2 kecuali mengajukan pertanyaan sederhana dan lalu memberi uang, suruh wanita gemuk itu jangan menampilkan diri di muka umum.

Juga ia terkejut ketika bertemu wanita gemuk itu dalam keraton raja Tayli.

Mengapa sekarang Ho Bun Cai tiba2 mengajukan pertanyaan tentang diri wanita gemuk itu ?

"Ya, kenal" sahut Cu Jiang. "Engkau tahu asal usulnya ?" "Soal itu aku tak tahu."

"Dia bernama Cu Han Ih."

"Hai, dia orang she Cu" seru Cu Jiang. "Bukan hanya she Cu, pun juga. "

"Juga bagaimana ?"

"Engkau mengakui apa yang kukatakan tadi semua ?" "Ya."

"Baik," kata Ho Ban Cai, "sekarang aku hendak memberitahu kepadamu bahwa jejakmu selama berada di Tayli maupun datang ke Tionggoan sini, semua adalah dia yang menyelidiki."

"Dia. dia memberi berita itu kepada anda?"

"Benar, tetapi dia hanya menyampaikan berita saja dan tak tahu jelas asal usul dirimu "

"Siapakah sesungguhnya wanita itu?" "Dia adalah adik perempuan mendiang ayahmu, jadi bibimu."

Cu Jiang seperti disambar petir kejutnya hingga dia sampai gemetar, terhuyung mundur tiga langkah. Sungguh tak pernah diduganya sama sekali bahwa wanita gemuk itu ternyata bibinya sendiri.

Lalu terbayanglah dia akan peristiwa2 yang lampau. Ketika di kota Li jwan membuka rumah makan, wanita gemuk itu sangat memperhatikan sekali dirinya. Dia ketika ia menerima Amanat-maut dari Gedung Hitam, wanita gemuk itu berusaha untuk menyembunyikan dirinya dalam kamar rahasia. Akibatnya rumah makan itu dibakar habis oleh gerombolan Gedung Hitam.

Cu Jiangpun teringat bahwa dalam pembicaraan, samar2 seadanya nyonya gemuk itu dapat mengetahui asal usul dirinya....

Jika benar seperti yang dikatakan Ho Bun Cai bahwa nyonya gemuk itu adalah adik perempuan ayahnya, tentu tidaklah mengherankan kalau nyonya gemuk itu diam2 selalu memperhatikan dan melindungi dirinya.

Tetapi yang membuat Cu Jiang tak habis bertanya mengapa Ho Bun Cai yang menjabat congkoan dari Gedung Hitam, bisa tahu semua hal ini?

"Mengapa anda bisa tahu jelas semua peristiwa ini ?" akhirnya ia meminta keterangan juga.

Tiba2 mata Ho Bun Cai berlinang-linang.

"Tahukah siapa aku ini sebenarnya ?" serunya dengan nada rawan.

Cu Jiang terkejut, gelengkan kepala.

"Aku ini sebenarnya adalah suhengmu sendiri!" Kali ini benar? Cu Jiang terkejut setengah mati. Hampir ia tak percaya akan apa yang didengarnya saat itu. Ho Bun Cai, cong koan dari Gedung Hitam itu suhengnya ? Ah, tidak, tidak mungkin.

Tetapi kalau tidak, mengapa dia bisa tahu jelas asal usulnya, keadaan rumah-tangga, tentang diri nyonya gemuk itu. Dan bahkan dia selalu mengejar jejak pelajar baju putih itu.

Tindakan2 Ho Bun Cai sebagai tokoh penting Gedung Hitam benar2 tak sesuai dengan perintah perkumpulan itu. Adakah dia seorang mata2 yang menyelundup dalam tubuh Gedung Hitam.

Diam2 timbullah percik harapan dalam benak Cu Jiang. Jika demikian halnya, tentulah dia mempunyai jalan untuk membongkar rahasia pemimpin Gedung Hitam.

Tetapi seingatnya, waktu masih hidup, mendiang ayahnya tak pernah mengatakan pernah menerima murid. Apakah Ho Bun Cai itu menggunakan siasat halus dengan mengaku sebagai murid mendiang ayahnya?

Kalau tidak, mengapa dia bisa menjabat sebagai Cong- koan Gedung Hitam? Kalau memang bukan seorang yang setia, bagaimana ketua Gedung Hitam sampai begitu percaya mengangkatnya sebagai congkoan?

Mungkinkah tokoh durjana macam ketua Gedung Hitam itu dapat dikelabuhi begitu mudah ?

"Anda mengatakan apa ?" akhirnya ia menegas.

"Aku. adalah suhengmu."

"Engkau suhengku ?"

"Sute, dengarkanlah. Selain aku, suhu memang tak pernah menerima murid lain. Dan beliau menerima akupun sangat dirahasiakan sekali. Tak ada seorang dalam dunia persilatan yang tahu hal itu!"

Cu Jiang deliki mata. serunya.

"Bahwa ayah diagungkan sebagai tokoh Dewa-pedang, semua orang persilatan tahu. Mengapa harus merahasiakan soal menerima murid ?"

"Suhu memang memiliki pandangan jauh ke muka yang tajam. Pohon semakin tinggi semakin dilanda angin. Nama makin termasyhur makin terancam. Karena itu beliau lebih dulu telah mempersiapkan rencana."

"Tetapi mengapa engkau menghamba sebagai congkoan pada gerombolan semacam Gedung Hitam itu?"

"Demi menyelidiki sebuah rahasia!" "Rahasia apa?"

"Tentang diri ketua Gedung Hitam itu!" "Apakah sudah berhasil?"

Tiba2 seekor burung merpati terbang melintas di udara dengan mengedarkan bunyi kelinting.

Wajah Ho Bun Cai berobah dan berseru gopoh:

"Sute, lain kali saja kita bicara lagi!" habis berkata  ia terus melesat dan lenyap dari pandang mata.

Cu Jiang masih tertegun. Siapakah yang telah melepas burung merpati pos itu? Mengapa Ho Bun Cai begitu ketakutan terus bergegas pergi?

Mengapa tidak sebelum dan sesudahnya tetapi tepat  pada saat Ho Bun Cai sedang akan menuturkan soal penyelidikannya terhadap diri ketua Gedung Hitam, lalu tiba2 burung merpati pos itu tiba2 melayang di atas mereka? Sebenarnya Cu Jiang akan segera mengetahui rahasia yang diinginkan mengenai diri ketua Gedung Hitam atau tiba2 digagalkan oleh seekor buyung merpati.

Dan masih banyak hal2 lain yang perlu ditanyakan. Sudah tentu Cu Jiang penasaran sekali. Tetapi tak dapat berbuat apa2.

Ho Bun Cai, menurut pengakuannya, adalah satu- satunya murid dari mendiang ayahnya. Menurut katanya pula, dia telah mendapat perintah rahasia dari suhunya supaya menyelundup kedalam Gedung Hitam  untuk mencari tahu rahasia dari ketua Gedung Hitam.

Dan hal itu sudah dilaksanakannya selama belasan tahun. Apakah selama itu masih belum berhasil menyelidiki suatu apa? Bukankah dia menjabat sebagai congkoan yang dekat sekali hubungannya dengan ketua Gedung Hitam?

Dan jika dia mempunyai hubungan dengan nyonya gemuk, tentulah sebelumnya dia harus sudah tahu bahaya yang akan menimpa nyonya itu.

Tetapi mengapa rumah makan nyonya gemuk itu sampai dibakar oleh kawanan Gedung Hitam.

Banyak sekali rahasia yang menyelubungi diri Ho Bun Cai itu. Asal menuju gunung Keng-san tentu dapat menemuinya pula.

Setelah meninggalkan pesisir dia mengambil jalan yang besar lagi. Belum seberapa jauh berjalan tiba2 ia melihat sebuah peti warna merah, melintang di tengah jalan.

Tutup peti itu dibuang ke tepi jalan dan seorang perempuan menggeletak di samping peti mati itu.

Sudah tentu Cu Jiang terkejut sekali menyaksikan pemandangan itu. Saat itu muncul empat orang busu yang berjalan lewat samping peti mati. Rupanya mereka juga terkejut melihat pemandangan di tengah jalan itu.

Mereka menjerit dan saling berpandangan lalu lari menghampiri. Seketika wajah mereka pucat dan bergerak menyingkir.

Sudah tentu Cu Jiang makin kaget. Dia  lari menghampiri. Dan ketika menyaksikan peti mati itu, seketika tegaklah bulu romanya dan menjerit tertahan.

Di dalam peti mati ternyata berisi sesosok mayat yang telah dipotong2. Sedang yang menggeletak di samping peti mati itu mayat seorang gadis. Beberapa peralatan dari peti- mati itu berserakan di sekelilingnya.

Apakah artinya itu?

Potongan kaki dan tangan dari mayat dalam peti mau itu tak mengucurkan darah lagi. Tentulah sesudah mati, baru korban itu dipotong-potong.

"Ganas benar !" diam2 Cu Jiang memaki. Sesaat kemudian ia berjongkok untuk memeriksa mayat gadis itu. Tak terdapat barang sebuah luka pada tubuhnya, entah mati karena apa. Memegang tangannya, ternyata masih hangat.

"Ah, belum mati, mungkin masih dapat ditolong." katanya seorang diri.

Demi menolong jiwa, Cu Jiang tak mengacuhkan tata susila apa2 lagi. Ia membalikkan tubuh si gadis yang menggeletak miring.

Gadis itu baru berumur 18 an tahun. Rambut terurai, mukanya basah dengan airmata tetapi masih cantik sekali. Ketika memandang ke tubuh nya, tergetarlah darah Cu Jiang. Baju nona itu sudah robek sehingga tampak sepasang buah dudanya. Buru2 Cu Jiang berpaling muka.

Beberapa saat kemudian setelah menenangkan perasaan, akhirnya ia memutuskan, demi menolong jiwa, tak seharusnya ia mempunyai pikiran yang bukan2. Terlambat sedikit saja, jiwa nona itu pasti takkan tertolong lagi.

Dia terus bertindak, memeriksa jalan darah tubuh  si nona Hasilnya, ia mendapatkan bahwa jalan darah nona itu telah ditutuk orang. Jika tidak keburu ditolong, dia pasti mati.

Tetapi walaupun memeriksa dengan teliti, ia tak dapat meneruskan jalan darah yang mana yang telah ditutuk itu.

Lebih dulu ia akan membawa nona itu kesebuah tempat yang sepi dan pelahan-lahan berusaha untuk  membuka jalan darahnya Tetapi saat itu terang benderang, berjalan dengan menggotong seorang nona tentu akan mengejutkan orang2.

Namun kalau membiarkan saja nona itu menggeletak disitu, itu-pun menyalahi hatinnya sendiri sebagai seorang bu su.

Dia berbangkit, memandang keempat penjuru untuk mencari tempat yang sesuai. Tiba2 ia melihat sebuah thiat- pau atau lencana dari besi, menggeletak disamping peti mati.

"Amanat-maut!" Ternyata orang Gedung Hitam yang melakukan kekejaman ini," serunya. Kini dia mengerti apa sebab beberapa busu yang lalu disitu tadi, tak berani campur tangan.

Gedung Hitam mengganas lagi. Kini Cu Jiang makin mantap untuk menolong gadis itu. Ia berjongkok, menutupkan baju nona itu pada bagian dadanya lagi, lalu mengangkatnya.

Tetapi ia tertumbuk pula akan mayat dalam peti yang telah dipotong-potong itu. Apa boleh buat, yang mati biarlah mati. Yang hidup perlu ditolong ditolong dulu. Biarlah mayat dalam peti itu diurus orang2 yang lewat disitu.

Mayat dalam peti itu rautnya sudah berubah, umurnya lebih dari lima  puluh. Entah apa hubungannya dengan gadis itu.

Cu Jiang menendang Amanat maut, agar orang2 yang tiba disitu tidak takut untuk menolong orang tua yang  sudah menjadi mayat itu. Kemudian dia terus melanjutkan perjalanan menyusur sepanjang sungai.

Tetapi hampir satu li berjalan, masih juga ia belum melihat sebuah tempat yang sesuai. Tiba2 pada sebatang pohon yang tumbuh ditepi sungai, tertambat sebuah perahu nelayan.

Segera ia menghampiri perahu itu dan berseru memanggil pemiliknya.

Tukang perahu muncul. Melihat Cu Jiang membawa seorang gadis, tukang perahu itu terkejut.

"Apakah tuan hendak menyewa perahu?" "Membeli perahumu !"

"Apa ? Mau membeli ?" "Ya."

"Tuan, aku mengandalkan perahu ini untuk cari makan.

Tak kujual." "Berapa kira2 harga perahu semacam ini kalau masih baru?"

"Tidak kujual!"

"Hanya tanya saja berapa harganya?"

"Kalau baru paling tidak antara sepuluh tail perak."

"Bagaimana kalau kuberimu dua-puluh tail perak?"

Beberapa orang yang muncul lagi dari dalam ruang perah itu pun tidak percaya.

"Tuan mengatakan apa?"

"Dua puluh tail perak untuk perahumu ini."

Pemilik perahu mengusap-usap kepala dan sesaat kemudian berteriak. "Baik, kujuallah!"

Cu Jiang merogoh kepingan perak, dilemparkan kepada pemilik perahu yang menyambuti dengan tertawa gembira.

"Tuan mau mendayung sendiri atau suruh aku . . ." "Sendiri!"

"Baik, kami akan turun."

"Angkat semua barang-barangmu."

Dengan gembira tukang perahu itu segera memindahkan semua barangnya, menyapu lantai geladak sampai bersih lalu mempersilakan Cu Jiang.

"Tuan, perahu ini menjadi milikmu!" tukang perahu dan beberapa kawannya segera loncat ke daratan.

Cu Jiang terus loncat ke dalam perahu.

Meletakkan si nona di atas tempat tidur kayu yang butut dan dia sendiri terus naik ke atas geladak. Dan perahupun mulai meluncur terbawa arus. Tak berapa lama perahu tiba di sebuah rumpun ilalang. Cu Jiang hentikan perahu. Setelah menambatkan pada sebatang pohon, dia terus masuk ke dalam ruang. Gadis itu masih pingsan. Kalau tak lekas ditolong tentu mati.

Cu Jiang mulai memeriksa lagi jalan darah nona itu. tetapi baru diketahuinya bahwa jalan darah yang tersumbat itu terletak pada bagian bawah perut. Ah .... Cu Jiang terkesiap. Bagaimana mungkin seorang pria akan mengurut jalan darah di bawah perut seorang gadis?

Cu Jiang ki mengucurkan keringat dingin. Dia benar2 diuji hatinya. Betapa tidak, baju si gadis yang robek itu memperlihatkan dua gunduk buah dadanya yang putih. Sedang tubuh si gadis yang menyiarkan bau harum, benar2 membuat Cu Jiang berdebar-debar.

Seharusnya dia suruh saja beberapa jago Tayli yang mengawalnya itu untuk melakukan pekerjaan menolong si nona. Tetapi kemanakah harus mencari mereka.

Dan tentu memakan waktu menemukan mereka, si nona sudah tak dapat ditolong lagi.

Akhirnya ia nekad. Dengan pejamkan mata ia mulai bekerja. Melepaskan baju si nona lalu membuka celananya dan pelahan-lahan tangannya mulai mengurut jalan darah dibawah perutnya. Tangannya gemetar dan bajunyapun basah kuyup dengan keringat.

Orang yang telah menutuk jalan darah sinona itu memang ganas sekali serta memiliki ilmu tutuk yang lihay. Jika tak bertemu tokoh semacam Cu Jiang, tentu sukarlah nona itu tertolong jiwanya.

Setelah selesai membuka Jalan darah sinona, Cu Jiang sandarkan diri pada dinding ruang dan napasnya terengah- engah seperti orang yang habis kerja berat. Tak berapa lama, napas nona itu makin lancar dan tak lama kemudian dia membuka mata, memandang ke sekeliling.

"Siapa engkau ?" tiba2 ia melonjak kaget ketika melihat Cu Jiang.

"Toan-kiam-Jan-jin !" "Toan-kiam jan jin?" "Benar."

Gadis itu menyiak rambutnya yang menutup muka. Ketika menunduk dan melihat bajunya robek2, marahnya bukan kepalang.

"Kuhantam mampus engkau, iblis Jahanam !" serunya seraya menghantam.

Karena jaraknya amat dekat, hampir berhadapan, maka Cu Jiang tak dapat menghindar. Jika menangkis, ia kuatir akan melukai nona. Terpaksa ia menyambar pergelangan tangannya.

"Nona, engkau salah faham!"

"Salah paham? Kalian kawanan anjing Gedung Hitam, harus dibunuh!"

Ia meronta tetapi tak mampu terlepas. Akhirnya ia menghantam kepala Cu Jiang dengan tangan kiri. Tetapi kembali Cu Jiang menyambar pergelangan tangannya.

"Nona harap tenang. Cobalah ingat lagi peristiwa yang engkau alami."

"Tak perlu, engkau atau aku yang mati..."

Karena kedua tangannya dikuasai, nona itu ayunkan kaki menendang dada Cu Jiang. Cu Jiang miringkan tubuh lalu mendorong si nona ke ranjang lagi:. "Salahkah aku karena menolongmu?"

Dara itu tertegun lalu menangis. Cu Jiang melengos memandang ke luar jendela. pemandangan yang dihadapinya saat itu benar2 menggetarkan hatinya.

"Harap nona jangan menangis. Aku hendak bertanya kepadamu." beberapa saat kemudian Cu Jiang berseru.

Nona itu menurut tetapi masih terisak-isak, katanya: "Siapakah nama sauhiap?"

"Toan-kiam-jan Jin."

"Aku mohon tanya nama anda,” "Aku tak punya nama lain."

"Apakah sauhiap yang menolong aku?" "Ya "

"Mengapa berada di perahu ini ?" "Untuk menolong jiwa nona." "Dan jenasah ayahku?"

"Oh, itu .. .. ayahmu..."

Airmata nona itu bercucuran lagi dan dengan mengertak gigi mengiakan.

"Siapa nama nona?" "Pui Ji-Ji."

Cu Jiang tergetar. Sungguh sebuah nama yang menarik.

"Maukah nona Pui menuturkan tentang peristiwa yang nona alami ?"

Ji ji mengusap airmatanya lalu dengan menahan isak bercerita: "Ayahku bernama Pui Lim, seorang busu. Ayah bekerja sebagai pengawal dari gedung Tio gisu dikota Seng tou. Mamaku sudah meninggal, kami hanya hidup berdua ayah dengan anak . . .

"Ah, tahukah nona siapa pembunuh ayah nona itu ?" "Tahu. Kawanan iblis dari Gedung Hitam."

"Apa sebabnya ?"

"Kabarnya ketika Tio gi-su menjabat di kota raja, secara tak sengaja pernah mendapat sebuah mutiara dari seorang utusan negeri lain, mutiara itu disebut Hiat-liong-cu."

"Hat liong-cu ?" Cu Jiang terkejut.

"Ya. mutiara itu mempunyai khasiat untuk menolak bahaya api, air dan segala racun. Maka menjadi incaran orang persilatan ...

"Lalu ?"

"Sebulan yang lalu, pada malam hari datanglah seorang bunsu (sastrawan) yang menyampaikan perintah tuannya, minta supaya dalam waktu setengah bulan, ayah mencuri mutiara itu dan menyerahkan kepadanya. Kalau tidak. keselamatan Jiwa ayah tak terjamin.”

Cu Jiang mengangguk. Diam ia menduga, bun-su pertengahan umur itu tentulah Ho Bun Cai, yang mengaku sebagai suhengnya.

Pui Ji ji mengucap airmatanya pula.

"Ayah seorang yang berhati lurus. Sudah tentu dia tak mau melakukan pekerjaan hina itu terhadap Tio gisu yang baik budi. Tetapi dia takut akan ancaman gerombolan Gedung Hitam. Begitu sudah tiba waktu yang dijanjikan, ayah lalu minta berhenti, membawa aku pulang ke kampung halaman." Tetapi ketika tiba di Kun ciu, kita telah disergap mereka. Aku seorang anak perempuan, setelah ayah bundaku meninggal, bagaimana aku dapat hidup "

Ia mengusap air matanya lagi.

"Beberapa kali hendak bunuh diri, selalu digagalkan oleh orang yang baik hati. Kali ini bersama ayah pulang ke kampung, akhirnya dibunuh oleh musuh. Ayah dibunuh dan akupun juga dicelakai." sampai disini gadis itu menangis tersedu sedan.

"Hutang jiwa harus bayar jiwa. Harap nona lihat saja." seru Cu Jiang dengan menggeram.

Ji-ji memandang Cu Jiang lalu mendadak. Melihat bajunya compang camping ia menangis makin keras sehingga Cu Jiang sibuk menghiburnya.

"Selama kawanan iblis itu masih merajalela memang banyak sekali orang sengsara. Nona termasuk salah seorang korban keganasan mereka."

Ji-ji tiba2 berbangkit dan berseru: "Budi kebaikan siauhiap. kelak dalam penitisanku yang akan datang, tentu ku balas!"

Habis berkata dia terus melangkah keluar. "Nona mau ke mana?" buru-2 Cu Jiang mau cegah.

"Akan menyusul ayah!"

"Ah, mengapa nona bertindak begitu? Apakah ayah nona akan meram di alam baka?"

"siauhiap . . . aku . . . aku . . . bagaimana dapat hidup dalam dunia ini!"

"Duduk dan marilah kita bicara yang tenang."

Ji-ji menurut, lalu bertanya dengan masih terisak-isak: "Apakah yang harus kukatakan?"

"Silahkan, apa saja yang nona hendak katakan."

Sambil menunduk, nona itu berkata: "Ah, sebenarnya aku ini seorang manusia yang tak kenal budi "

"Ya, silakan bilang apa saja. Di sini tak ada orang lain. " "Walaupun  aku  bukan  anak  seorang  keluarga ternama

atau   berpangkat,   tetapi   akupun   mengerti tentang  susila

seorang wanita. "

"Bagaimana?"

"Ini. suruh harus mengatakan bagaimana?"

"Tak apa. Nona hendak mengatakan apa saja, aku takkan marah."

Pui Ji ji mengangkat muka memandang Cu Jiang, katanya:

"Diambil isteri atau dijadikan pelayan, mohon siauhiap suka menerima diriku."

Kejut Cu Jiang bukan kepalang. "Mengapa nona mengatakan begitu ?" Sambil terisak-isak Ji Ji berkata.

"Aku bukan seorang gadis yang tak punya rasa malu.

Jika siauhiap tak meluluskan, aku lebih baik mati”

"Eh, bagaimana begitu ?" Cu Jiang kelabakan dibuatnya. "Siauhiap sudah... menyentuh tubuhku. Bagaimana

aku. dapat menikah dengan lain orang lagi ?"

Cu Jiang tertawa meringis. "Nona, hal itu kulakukan demi membuka jalan darah guna menolong jiwamu. Sama sekali aku tak bermaksud melakukan perbuatan yang hina..."

"Ya .... maka kecuali mati, tak ada jalan lain yang layak kutempuh !"

"Nona juga seorang puteri persilatan, mengapa terlalu terikat pada peraturan yang begitu?"

"Itu bukan tata aturan." seraya menarik dada bajunya sehingga kedua buah dadanya berguncang-guncang lagi.

Sekilas teringat akan tindakannya membuka jalan darah nona itu, merahlah muka Cu Jiang. Betapapun dia seorang muda yang masih berdarah panas.

Iapun teringat akan hubungannya dengan si Jelita Ho Kiong Hwa. Belum dia menyelesaikan perjodohan yang hendak diatur Ang Nio Cu. sekarang sudah bertambah dengan seorang nona lagi.

"Ah, apa wanita itu memang tak layak ditolong ?" pikirnya. Teringat akan perjanjiannya dengan Ang Nio Cu, iapun terkesiap. Waktu perjanjiannya dengan Ang Nio Cu sudah lebih dari setahun. Bagaimana nanti kalau bertemu dengan Ang Nio Cu lagi ?

Dan bagaimana dia harus menyelesaikan gadis yang bernama Pui Ji-ji ini ?

"siauhiap, aku sudah menebalkan kulit muka untuk mengutarakan isi hatiku. Sekarang bagaimana jawaban siauhiap?" seru Ji-ji pula.

Cu Jiang gemetar tangannya. Ia bingung. Kalau menolak tentulah akan menyinggung perasaannya dan tentulah nona itu akan nekad bunuh diri. Sampai lama ia memutar otak baru kemudian berkata: "Nona Pui, musuhku tak terhitung banyaknya. Entah pagi entah sore, setiap saat jiwaku terancam. Harap engkau pikir yang masak lagi."

"Tidak! Keputusanku sudah tetap, tak dapat dirobah lagi!"

"Percuma saja engkau ikut aku. Engkau tentu tak bahagia..."

"Tidak peduli, siauhiap mati akupun akan ikut mati! "

Mendengar kenekadan gadis itu, mau tak mau tergerak juga hati Cu Jiang. Terus terang, walaupun demi untuk melakukan pertolongan, tetapi dia telah menyentuh bagian yang paling dirahasiakan oleh seorang gadis. Menilik wajahnya, Ji-jipun tak kalah dengan Ho Kiong Hwa, bahkan dengan puteri raja Tayli.

Tetapi dia sendiri? Ah, ketika teringat akan wajahnya yang sudah rusak, dinginlah hatinya.

"Tidak, aku seorang cacad!"

Tanpa banyak pikir, Ji ji kontan menjawab: "Bagiku, bagaimanapun wajah dan keadaan siauhiap, pokok aku dapat melayani siauhiap!"

"Pada satu saat nona pasti kecewa!" "Tidak!" teriak Ji ji.

"Tetapi maaf, aku tak dapat nona."

Mendengar itu Ji ji memandang rawan ke arah Cu Jiang, lalu berbangkit hendak melangkah keluar. Cu Jiang terpaksa mencegahnya lagi.

"Apakah siauhiap meluluskan?" "Kita rundingkan lagi." "Aku tak berani mengharap menjadi isteri siauhiap. Pokok asal siauhiap suka menerima diriku, aku sudah bahagia."

"Nona yakin kalau aku belum beristeri?"

"Tak jadi apa. Sebagai isteri atau selir, pun boleh." "Jangan mencinta secara buta. Silahkan duduk," tiba2 Cu

Jiang   lepaskan  cekalannya   dan  tiba2   Ji-jipun terhuyung

jatuh ke dada pemuda itu.

Cu Jiang bicara sambil duduk. Bahwa sesosok tubuh yang lembut dan harum tiba2 menekan dadanya, ia gugup dan hendak mendorongnya. Tetapi sepasang lengannya secara tak sengaja telah memegang dua gunduk daging lembut yang menghias dada si nona. Seperti kena aliran stroom, dia cepat2 menarik kembali.

Ji-ji seperti tergelitik geli dan makin merapat ke dada Cu Jiang. Cu Jiang kehilangan diri dan terlongong. Hawa harum makin menyerbak hidung dan darah mudanya pun makin mengelora.

Walaupun dia seorang patung malaekat yang terbuat dari baja, tetapi dalam menghadapi saat seperti itu, tentu akan luluh juga. Apalagi dia hanya seorang manusia biasa, seorang anak muda yang masih panas darahnya. Mempunyai gelora asmara atau perasaan.

Tubuh Ji ji menggigil tak henti-hentinya. Bau harum dari tubuhnya makin membius. Suasana saat itu sunyi senyap sehingga napaspun terdengar.

Darah Cu Jiang makin deras, jantungnya mendebur keras sekali dan napaspun makin berat. Tubuhnya terasa panas. Ji-ji menengadahkan muka. sepasang bibirnya yang mungil merah gemetar. Matanya memancarkan sinar bening yang penuh pesona. Ah, saat itu pria manakah di dunia ini yang sanggup menghadapi tantangan semacam itu?

Cu Jiangpun berantakan imamnya. Ia dapat ditundukkan. Serentak kedua lengannya yang kokoh memeluk pinggang si nona, matanya menatap mata si dara. Dan Ji jipun pasrah bagai seekor domba. Pada lain kejap, dua pasang bibir telah merapat dengan hangat.

Sejak dahulu kala hingga sekarang, seorang ksatria sukar untuk melawan godaan wanita cantik. Dan Cu  Jiangpun tak terkecuali.

Pada saat keduanya terbenam dalam kehangatan ciuman yang mesra. Tiba2 Cu Jiang melihat wajahnya terbayang pada biji mata Ji-ji. Ia melihat bahwa saat itu mukanya tertutup kain cadar. Dan seketika timbullah rasa ngeri apabila sekarang akan wajahnya yang telah rusak itu.

Buruk muka! Cacat kaki! Tubuh berlumur darah musuh Bahu memikul beban berat!

Serentak ia menyiak dara itu lalu berkisar ke haluan perahu dan menghembus napas longgar.

"Sungguh berbahaya!" diam2 ia berseru. Karena didorong, Ji Ji terpelanting jatuh telentang. Dia menjerit kaget:

"Koko. engkau kenapa ?"

"Kita tak boleh melakukan begitu !" "Kenapa ?" "Soal yang menyangkut kepentingan seumur hidup, masakan diselesaikan karena secara kebetulan ?"

"Tetapi aku sudah menjadi milikmu!"

"Itu persoalan lain !"

Ji ji tetap tak mau bangun dan mulai menangis seraya berseru rawan:

"Koko, apakah engkau tak mau lagi kepadaku ?"

Dengan mengertek gigi, Cu Jiang menjawab: "Aku tak mengatakan kalau tak menghendaki engkau."

"Tetapi engkau memperlakukan begitu!" "Nona Pui "

"Mengapa tak mau memanggil namaku saja?"

Cu Jiang terpesona lagi tetapi untung dia dapat menahan diri.

"Ji ji "

"Ehm. "

"Kalau kita mau menikah, harus ada yang menjadi perantara dan saksi."

"Langit yang menjadi perantara, sungai menjadi saksi.

Apakah itu tidak cukup?"

"Tidak, Ji ji, harus tunggu sampai lain waktu."

"Lalu aku. seorang gadis yang sudah sebatang kara dan

mengembara di dunia persilatan, apakah Gedung Hitam mau membiarkan saja?"

Memang betul. Gedung Hitam pasti takkan membebaskan dia. Lalu bagaimana baiknya? Dia sendiri pun sudah sebatang kara. Tiada rumah tiada keluarga. "Ji-ji, apakah engkau punya keluarga yang dapat engkau ikuti?" serunya.

"Oh, engkau hendak menghindari aku . . ."

"Bukan begitu. Aku masih mempunyai banyak persoalan besar yang harus kukerjakan. Engkau harus mempunyai tempat tinggal yang aman."

"Lalu besok bagaimana?"

"Setelah urusanku selesai, aku tentu akan mengambilmu sebagai isteri."

"Memperisteri diriku? Engkau... belum beristeri?" "Belum."

"Kekasih?"

Serentak terkilas bayang2 Ki Ing dan Ho Kiong Hwa dalam benak Cu Jiang. Walaupun kedua jelita itu memang menaruh hati kepadanya, tetapi belum dapat digolongkan sebagai kekasih. Maka dia pun gelengkan kepala dan menyahut: "Tidak punya."

"Ah, aku sungguh beruntung sekali." Ji-ji tertawa cerah, Secerah bunga di pagi hari.

Namun hati Cu Jiang kecut. Pada suatu saat apabila dara itu tahu  wajahnya yang rusak, apakah dia akan tetap merasa bahagia ?

"Tak   mungkin   engkau   bahagia   !" katanya dengan hambar.

"Mengapa ?" Ji-ji heran.

"Bukan saja takkan bahagia, pun engkau bahkan akan kecewa !"

Sambil menyiak rambutnya yang terurai Ji-ji deliki mata. "Mengapa?"

"Aku seorang cacat!" Cu Jiang tertawa masam. "Kakimu pincang?"

"Masih ada yang lebih hebat lagi." "Bagaimana hebatnya?" "Wajahku sudah rusak !"

"Itu lebih baik!" "Apa maksudmu ?"

"Aku tak kuatir engkau direbut orang." "Ah, itu nanya omongan iseng saja."

"Koko, aku menginginkan hatimu, tak peduli engkau ini cacat bagaimana saja."

Memang kebaikan seorang Jelita itu sukar sekali ditolak dan Cu Jiangpun tergerak mendengar pernyataan itu. Ia memeluk Ji Ji dan berkata dengan nada tegang:

"Ji Ji, aku tak berharga untuk cintamu yang begitu besar."

Ji-Jipun rebahkan kepala di dada Cu Jiang dan berbisik: "Koko, Jangan berkata begitu. Jiwaku adalah engkau

yang telah menghidupkan."

"Oh. engkau dasarkan pada membalas budi?" "Sebagian, tetapi yang penting "

"Apa ?"

Ji ji menggeser kepalanya menyusup kedada pemuda itu dan dengan manja berkata: "Engkau sudah tahu tetapi pura2 tak tahu biar aku malu..."

Cu Jiang mengusap-usap bahu si dara. “Ji ji, aku cinta kepadamu." katanya.

"Ah, koko, aku seperti bermimpi mendengar ucapanmu itu. Matipun aku puas."

Cu Jiang tak berkata lagi. Ia benar2 tenggelam dalam lautan asmara yang menghanyutkan. Kepasrahan Ji-ji dengan wajahnya yang cantik, senyum menggiurkan dan tubuh yang putih mulus membias keharuman itu, telah melelapkan kesadaran Cu Jiang.

Dia sudah tak dapat menguasai diri lagi dan tangannyapun mulai melepaskan pakaian si dara dan...

"Toan-kiam jan-jin, engkau cari mati!" tiba2 dalam saat yang gawat. Cu Jiang mendengar lengking seruan  orang dari atas geladak.

Tidak keras tetapi cukup menusuk telinga. Jelas orang itu tentu memiliki tenaga-dalam yang kuat ?

Cu Jiang terkejut. Nafsunya hilang seketika dan serentak dia loncat keluar ke geladak. Tetapi diluar hanya gerumbul rumput ilalang yang menggunduk di sekeliling dan debur arus sungai, tak tampak barang seorang manusiapun jua.

"Koko, ada apa ?"

Cu Jiang berpaling dan suruh dara itu tetap berada dalam ruang bawah. Setelah mengeliarkan pandang ke sekeliling penjuru, lalu berseru dengan sarat.

"Sahabat dari mana itu ? Mengapa tak mau unjuk diri?" "Toan-kiam Jan-jin, engkau cari mampus. Bukan

begitukah caranya ?" Suara itu berasal dari balik pohon. Nadanya suara seorang wanita yang tak asing lagi. Cu Jiang tegang sekali. Orang itu tak lain adalah yang hendak ditemuinya tetapi ia takut bertemu, ialah Ang Nio Cu. Apakah semua yang terjadi dalam perahu itu telah diketahui semua olehnya ?

"Bukankah anda ini Ang Nio Cu ?" "Ho, kiranya engkau masih mengenal!" "Hendak memberi pesan apa?" "Engkau sudah mati dua kali."

Cu Jiang terkejut.

"Bagaimana aku sudah mati sampai dua kali?" "Tidak percaya?"

"Bukan tidak percaya, tetapi tak mengerti."

"Engkau ternyata juga romantis sekali sehingga tak tahu mati. "

"Apa maksud anda ?"

"Tanya sendiri kepada dirimu !"

Wajah Cu Jiang merah tetapi dia terus menjawab:

"Aku   tak    melakukan  perbuatan   seperti yang anda katakan itu."

Ang Nio Cu tertawa sinis. "Masih menyangkal?" "Tak perlu."

"Apakah engkau anggap aku terlalu usil mencampuri urusanmu?"

"Aku tidak menganggap begitu." "Lalu mengapa tak mau mengakui?"

“Ya, memang aku telah menolong seorang nona."

"Dan perahu itu memang sebuah tempat in-de-boy yang asyik "

"Hanya agar dapat tenang mengobatinya." "Dan untuk mengantar jiwamu."

"Mengapa anda tak mau berkata terus terang?"

Tiba2 dari bawah ruang perahu terdengar Ji-ji berseru terkejut:

"Koko, aku takut."

"Tak perlu," kata Cu Jiang, "orang itu tak bermaksud jahat."

Ang Nio Cu tertawa dingin "Toan-kiam jan-jin, engkau sungguh tak tahu atau hanya pura2 saja?"

"Benar2 aku tak mengerti ucapan anda, " seru Cu Jiang. "Engkau akan mengerti. Bawalah siluman rase itu ke

darat sini!"

"Apa? Siluman rase "

"Ya, jangan sampai dia dapat lolos!"

Dari ruang perahu terdengar pula Ji-ji berseru gemas: "Koko, engkau percaya pada omonganku atau dia?" Cu Jiang agak bingung.

"Aku tak mengerti bagaimana sebenarnya urusan ini? " "Sederhana sekali."

"Sederhana?" "Benar. Hanya wanita yang tahu jelas hati wanita, " kata Ji ji.

"Bagaimana?" tanya Cu Jiang. "Dia mungkin mencintaimu!"

Tergetar hati Cu Jiang mendengar kata2 Ji-ji itu. “Ang Nio Cu tak mungkin mencintai dirinya. Tetapi wanita itu memang menjadi jomblang untuk menjodohkan dirinya dengan Ho Kiong Hwa. Tetapi apakah kata2 Ji-ji itu benar .

. ."

"Atas budi pertolongan anda kepadaku, aku pasti takkan melupakan " serunya kepada Ang Nio Cu.

"Itu soal lain. " sahut Ang Nio Cu, "aku hendak menangkap siluman rase itu."

"Mengapa?"

"Apa engkau tergila-gila kecantikannya?" "Aku bukan manusia semacam itu!"

"Kalau tidak, lekaslah lakukan permintaanku tadi." "Aku mohon penjelasan dulu."

"Segera engkau akan tahu.”

"Apakah anda tak mau memberi keterangan?" "Tidak!"

"Ini apakah tidak berani anda mencelakai orang?"

"Kecuali kalau engkau memang sudah tak ingin hidup lagi"

"Harap anda jangan membuat teka teki "

"Tahukah engkau dia itu siapa?" "Dia bernama Pui Ji ji, dicelakai oleh gerombolan Gedung Hitam . . ."

"Dan engkau percaya?"

"Aku melihat dengan mata kepala sendiri." "Seluruh peristiwa?"

Cu Jiang terbeliak.

"Dia menggeletak di tengah jalan dan kutolong . . ." "Seorang ksatrya akan dikelabuhi dengan cara

keksatriyaan. Toan  kiam-jan  jin, masih  banyak hal2   yang

perlu engkau pelajari. Ilmu silat bukan suatu jaminan dapat mengatasi segala apa.

"Apakah dia . . ."

"Dia memainkan perannya dengan sempurna sekali. Dan ini memang keistimewaan dari wanita2 yang telah dilatih."

"Dia menjalankan peran?"

Tiba2 dari ruang perahu Ji-ji melengking keras: "Biar aku mengadu jiwa dengan dia ..."

"Ji-ji, tenanglah, jangan keluar!" cegah Cu Jiang.

"Tetapi koko .... apakah engkau mampu melindungi keselamatanku?"

"Bila perlu, tentu."

"Tetapi koko fitnah itu amat berbisa. Dia pandai mengada-ada untuk merangkai fitnah . . ."

"Sudahlah, jangan bergerak."

"Tetapi . . . aku . . . toh sudah tak menghiraukan soal  mati hidup lagi!" serunya dengan nada marah dan  putus asa. Dan arah daratan terdengar Ang Nio Cu berseru pula:

"Toan kiam-jan-jin, pernahkah engkau mendengar nama Hoa Goet?"

Tergetar hati Cu Jiang seketika. Baru beberapa hari saja dia menghadapi peristiwa gerombolan wanita2 cabul itu. Sudah tentu dia tahu.

"Tahu," Cu Jiang menggeram, "mereka perempuan2 hina yang harus dilenyapkan."

"Bagus, bunuhlah lebih dulu siluman dalam perahu itu!" "Dia .... juga . . ."

Cu Jiang berputar tubuh memandang Ji ji.

"Apakah engkau benar perempuan jalang dari gerombolan Hoa-gwat bun?" tegurnya dingin. Karena benci sekali kepada pemimpin Hoa gwat-bun yang telah bersekongkol dengan Sebun Ong untuk menipunya, maka begitu bicara dia terus gunakan kata2 yang kasar.

Wajah Ji-ji berobah seketika.

"Aku tak tahu apa itu Hoa gwat-bun. Fitnah itu benar2 merupakan siasat busuk dari orang Gedung Hitam!" serunya tak kalah keras.

Cu Jiang tahu bahwa Ang Nio Cu merupakan musuh bebuyutan dengan Gedung Hitam.

"Tak usah menyinggung-nyinggung Gedung Hitam.

Bilang terus terang!" bentaknya.

"Aku matipun tak apa, karena manusia semacam diriku yang bernasib jelek tentu tetap jamak," Ji-ji mengertek gigi, lalu melesat keluar.

"Hai, mau apa engkau," Cu Jiang cepat menghadangnya. "Koko, engkau dan aku, dalam kehidupan sekarang tak dapat terangkap sebagai suami isteri, biarlah kelak dalam penitisan yang akan datang kita berjumpa lagi! " seru Ji ji dengan kalap.

"Jangan sampai dia lolos!" teriak Ang Nio Cu.

Tetapi pada saat itu Ji ji sudah loncat ke dalam air. Cu Jiang ulurkan tangan hendak menyambar tetapi saat itu lengannya terasa kesemutan seperti terkena tusukan. Terpaksa dia lepaskan cekalannya, blung. Tubuh Ji-Jipun tercebur dalam air dan tak lama lenyap ditelan arus.

Cu Jiang memandang terlongong-longong kearah sungai. "Ai, dia nekad mengubur diri dalam sungai," pikirnya.

Sampai lama tak terdengar suara Ang Nio Cu. Cu Jiang mulai curiga, pikirnya: "Dia mendesak orang sampai mati, apakah terus ngacir ?"

"Mengapa anda tak berkata lagi?" serunya.

Tak ada penyahutan. Cu Jiang mulai gelisah. Apakan benar2 Ang Nio Cu memang hendak memfitnah  Ji-ji supaya mati? Kalau tidak mengapa sekarang dia diam saja ?

Pikir dia tiba pada suatu kesimpulan Bahwa oleh karena kepentingan peribadi, Ang Nio Cu tak segan untuk memfitnah seorang dan sehingga mati secara begitu sia-sia.

Diam2 ia merasa bertanggung jawab akan kematian Ji ji. Mengapa dia begitu saja mau percayai omongan Ang Nio Cu.

Tiba2 ia rasakan lengannya yang terkena tusukan tadi mulai menyerang ke atas bahunya. Ketika memeriksanya pada tempat bekas tusukan ia telah memupuk sebuah lingkaran darah warna merah hitam. "Racun!" seketika ia terkejut sekali. Segera dia kerahkan tenaga-dalam untuk menghentikan peredaran racun itu.

Kini dia harus merombak semua pikirannya tadi. Pada waktu hendak mencebur ke dalam sungai dan dicekalnya, Ji ji telah menusuknya dengan benda beracun. Jelas apa yang dikatakan Ang Nio Cu itu benar semua.

Sebun Ong menggunakan Cian Su Nio ketua Hoa gwat- bun dan muridnya yang bernama Soh-hun li untuk menyamar sebagai Ratu kembang Tio Hong Hui dan anak gadisnya, telah terbongkar rahasianya. Mungkin mereka hendak menggunakan siasat racun untuk membunuhnya.

Kepala Cu Jiang mulai terasa pusing, pandang matanyapun berkunang-kunang. Dia duduk bersandar pada dinding geladak. Kesadaran pikirannya mulai kabur.

Entah sampai berapa lama, ketika membuka mata, ia masih dapatkan dirinya berada diatas perahu. Tetapi sudah berbaring diatas tempat tidur kayu dalam ruang perahu. Diatas geladak duduk seorang wanita yang mukanya ditutup dengan kain merah. Siapa lagi kalau bukan Ang Nio Cu.

Cu Jiang coba untuk menyalurkan tenaga dalam, ia rasakan agak lancar. Hanya lengannya yang terluka tadi, seolah-olah tak ada atau mati-rasa.

"Apakah aku . . . terkena racun?"

"Ya." Ang Nio Cu menjawab dingin. "racun yang ganas sekali Racun Toan-bun tok dari perkumpulan Hoa-gwat- bun!"

"Toan bun-tok?"

"Hm. racun yang tiada obatnya lagi. Sedang yang punya racun sendiri juga tak punya obat penawarnya. Kecuali terhadap musuh besar atau lawan yang harus dilenyapkan jiwanya, racun itu tak sembarangan digunakan.”

Serasa terbang semangat Cu Jiang mendengar keterangan itu.

"Kalau begitu, aku .... pasti mati, " katanya dengan nada getar.

"Mungkin!"

Tiba2 Cu Jiang mendengar suara orang merintih pelahan. Ternyata dibawah kolong geladak yang terletak di muka tempat tidur itu menggeletak seorang dara yang basah kuyup. Hai, Pui Ji ji!

Dengan mengertek gigi, Cu Jiang menggeliat bangun dan berseru geram:

"Akan kubunuhnya . . ."

"Jangan bergerak dulu." cegah Ang Nio Cu, "sudah kuminumkan pil tik-tok wan kepadamu. Tetapi dayanya hanya dapat melindungi jiwa dalam waktu yang terbatas. Jika engkau marah maka racun itu akan berkembang dan menyerang ulu hatimu. Biarlah sekarang dia merasakan buah yang di tanamnya."

Cu Jiang memandang ke arah Ji ji yang ternyata seekor ular berbisa Gadis itu tengah memandangnya dengan sorot mata memohon kasihan.

"Engkau bernama Rase Kumala! " bentaknya. "Ya..."

"Murid dari Hoa gwat-bun?" "Hm."

"Mengapa engkau mencelakai aku?" "Menjalankan perintah atasan." "Perintah dari Ciam Su Nio?" "Ya."

"Mengapa?" "Entah."

"Engkau . . . jalang hina, sampah dunia persilatan. Engkau bermain sandiwara dengan bagus sekali. Sekarang tamatlah riwayatmu."

"siauhiap .... aku berbuat begitu lantaran terpaksa . . ." "Hm,  benar,  karena terpaksa. Entah berapa banyak  jiwa

yang melayang karena perbuatanmu yang terpaksa itu.  Aku

terpaksa harus mencincang mu . . ." Ang Nio Cu melesat ke muka.

"Siluman ini pura2 membuang diri ke dalam sungai tetapi sebenarnya dia hendak meloloskan diri. Ketika aku menyelam ke dalam air ternyata dapat membekuknya."

Kemudian ia alihkan mata memandang berkilat2 kepada Rase Kumala, serunya.

"Rase kecil, engkau bunuh dirimu sendiri saja!"

"Ang cianpwe." Rase Kumala merintih-rintih. "mohon suka mengampuni jiwaku seorang perempuan hina ini."

"Seorang pendekar pedang yang menyinari dunia persilatan, saat ini sedang menghadapi kematian. Apakah engkau berharap hidup?"

Tahu bahwa sia2 saja ia memohon hidup, Rase Kumala nekad. Mencabut tusuk kundai pada sanggulnya ia terus menusuk sikunya sendiri. Hanya dalam beberapa kejap saja, dari ketujuh lubang tubuhnya mengalirkan darah. putuslah jiwanya.

"Apakah yang digunakan untuk menusuk tangannya juga tusuk kundai itu? " seru Cu Jiang.

"Ya, memang benda itu," kata Ang Nio Cu. "dinamakan Toan hun-emn. Cobalah renungkan, betapa besar kesempatan yang diperolehnya untuk membunuh engkau?"

Cu Jiang terkejut dan diam2 menyesal. Teringat akan adegan2 yang romantis itu, wajahnya makin merah. Memang benar, pada saat pikirannya limbung dirangsang nafsu, mudah sekali bagi Rasa Kumala untuk membunuhnya.

Jika Ang Nio Cu tak keburu datang, dia tentu sudah mati. Dia makin mendapat pengalaman, betapa ganas, licik dan keji insan2 dalam dunia persilatan itu.

Menurut Ang Nio Cu. racun Toan-bun tok itu tiada obatnya. Dengan begitu jelas dia tentu mati. Mati dia tak masalah. Tetapi kalau harus mati di tangan perempuan jalang semacam gerombolan Hoa-gwat-bun, dia benar2 tak rela.

"Masih ingat perjanjian tempo hari?" tiba2 Ang Nio Cu menegurnya.

"Masih."

"Lalu bagaimana keteranganmu?"

"Saat ini aku sudah terkena racun Toan hun tok. Aku tentu mati. Apa guna aku harus memberi keterangan?"

"Tidak! Seorang ksatrya harus pegang janji. Selama engkau masih dapat bicara, harus melaksanakan janji itu!"

Cu Jiang tertawa meringis. "Lalu . . . apa yang harus kukatakan?"

"Cukup mengatakan, engkau suka atau tidak suka mengambil Ho Kiong Hwa sebagai isteri?"

Sukar untuk mengatakan perasaan hati Cu Jiang saat itu. Dia ingin membuka kain penutup muka Ang Nio Cu. Ingin ia melihat bagaimana wajah yang sebenarnya dari wanita yang misterius itu. Masakan tahu dia pasti mati karena racun itu, masih tetap didesak untuk memberi jawaban tentang pernikahan dengan Ho Kiong Hwa.

"Apakah anda tak memikirkan kepentingan nona Ho?" tanyanya.

"Kepentingan apa?"

"Aku tak lama tentu mati. Apakah hal itu tidak menelantarkan hidupnya . . ."

"Itu lain persoalan."

"Anda tetap hendak menjadi jomblang untuk nya?" "Benar, semua aku yang memutuskan!"

"Aku sungguh tak mengerti ..."

"Tak usah banyak pikir, engkau suka atau tidak?"

Cu Jiang kewalahan. Pikirnya: "Aku toh pasti mati. Dan karena menjaga gengsi maka Ang Nio Cu sampai bertindak begitu. Ia pun merasa bahwa dirinya tak sembabat menjadi jodoh Ho Kiong Hwa”

Setelah merenung beberapa saat. akhirnya  ia mengangguk :

"Baik, aku menurut."

"Tetapi apa keluar dari ketulusan hatimu?" "Tentu. Masakan dalam persoalan yang begitu penting, aku hanya berolok-olok ?"

"Baik, ini sudah menjadi keputusan," kata Ang Nio Cu, lalu mengambil sebuah benda dan dilemparkan Cu Jiang, katanya:

"Terimalah, itu tanda pengikat dari fihak isterimu."

Cu Jiang menyambuti dan memeriksa. Sebuah kantong kecil sulaman. Dia tertegun. Sebenarnya dia sembarangan saja menyetujui karena toh tak dapat hidup lama. Tak kira Ang Nio Cu begitu serius dan menyerahkan tanda panjar pengikat perjodohan.

"Bukalah, mengapa terlongong saja?" seru Ang Nio Cu pula.

Cu Jiang meringis. Ia melakukan perintah. Ternyata kantong itu berisi sepasang anting-anting dari kumala hijau.

"Engkau menyerahkan apa?* "Aku tak punya apa?."

"Kalau begitu, pakai pedang ini saja," dari bajunya merah yang gerombyongan, dia mencabut sebatang pedang.

"Memakai pedang anda sebagai pengikat?" Cu Jiang heran.

"Pedang ini milikmu "

"O . . .. benar, milikku "

Ang Nio Cu mencabut pedang dari kerangkanya dan bertanya:

"Apa masih mengenali ?"

"Thiat-kiam." teriak Cu Jiang. Dia tak  menyangka bahwa pedang thiat-kiam (besi) miliknya akan jatuh ditangan Ang Nio Cu. Kini baru dia teringat. Ketika dia dihantam dan dilempar ke dasar jurang oleh ketiga tokoh Sip-pat thian-mo, pedang itupun jatuh entah dimana. Tentulah Ang Nio Cu menemukannya disekitar lembah buntu itu.

"Bagaimana ?" tegur Ang Nio Cu. "Baik," kata Cu Jiang.

"Ingat baik-baik! Sejak saat itu nona Ho Kiong Hwa itu adalah calon isterimu yang resmi!" kata Ang Nio Cu dengan tandas.

Cu Jiang meringis. Ia merasa seperti bermimpi. Kini dia sudah mempunyai isteri. Apabila racun itu tak dapat disembuhkan, bukankah Ho Kiong Hwa akan menjadi Ong bun-koa atau janda yang belum dikawin.

Setelah menyimpan pedang thiat-kiam, berkata pula Ang Nio Cu :

"Mari kita berunding mencari jalan menyembuhkan racun itu."

Cu Jiang terkesiap.

"Bukankah anda mengatakan bahwa racun Toan-bun-tok itu tiada obatnya lagi?"

"Benar. Tetapi ada seorang yang mungkin dapat menyembuhkannya."

"Siapa ?"

"Dia berwatak nyentrik sekali, sukar diajak kenal. Tetapi demi menolong jiwa, terpaksa harus menempuh jalan itu..."

"Siapakah dia itu?"

“Ban Yok ih yang bergelar Kui-Jiu sin-Jin atau manusia sakti bertangan setan" "Kui-Jiu-sin Jin Ban Yuk Ih.. ..rasanya aku pernah mendengar nama itu."

"Kepandaiannya dalam ilmu pengobatan, dalam dunia ini tiada yang melawan. Tetapi wataknya angkuh dan menjengkelkan sekali. Kecuali dia suka menolong sendiri, tak mungkin dia dipaksa untuk memberi obat kepada orang sekalipun akan diancam bunuh "

"Apakah dia benar2 mampu menyembuhkan racun dalam tubuhku ?"

"Kemungkinan besar."

"Berapa lama aku dapat hidup?"

"Aku mempunyai sepuluh butir pil Bi-tok-wan, dapat membekukan racun itu supaya jangan menjalar. Kalau tiap hari makan sebutir, engkau pasti mampu bertahan hidup sampai sepuluh hari. "

"Sepuluh hari!" "Ya."

"Di mana tempat tinggal Kui-jiu-sin-Jin Bun Yok Ih itu?"

"Didalam lembah dibelakang puncak Sin li hong gunung Busan."

Sejenak memperhitungkan perjalanannya, Co Jiang berkata:

"Masih keburu, tetapi. "

"Tetapi bagaimana?"

"Apakah dia mampu menyembuhkan racun itu masih menjadi pertanyaan, Dan apakah dia mau memberi obat, juga masih menjadi soal." "Asal mampu menyembuhkan saja. suka tak suka, mau tak mau, dia harus mengobati"

"Memakai kekerasan ?* tanya Cu Jiang.

"Cara apapun dihalalkan asal dapat mencapai tujuan." "Kalau begitu harap tunjukkan jalannya."

"Aku akan menemanimu."

Cu Jiang terkesiap. Ia tak nyana Ang Nio Cu yang dimasyhurkan dunia persilatan sebagai seorang momok ganas, ternyata baik sekali kepadanya.

Dengan nada singkat Cu Jiang menyatakan bahwa dia tak berani merepotkan Ang Nio Cu.

"Sudahlah, jangan banyak cakap. Apakah engkau dapat mendayung perahu?" tukas Ang Nio Cu.

"Ya."

"Mari kita berangkat dengan perahu." Sejenak merenung Cu Jiang menyatakan bahwa hal itu kurang leluasa.

"Mengapa?"

"Dengan naik perahu tentu sukar untuk menyembunyikan jejak. Dan akupun tak pandai berenang. Apabila musuh menyerang, tentu sukar untuk menghadapi.

"Ya, benar juga. Kalau begitu kita masing2 mengambil jalan sendiri. Dan nanti bertemu di Busan, bagaimana?"

Cu Jiang setuju.

"Ingat, tiap hari harus minum sebutir pil Bik-tok wan itu, dan jangan marah!" Ang Nio Cu memberi peringatan lagi.

"Ya, aku akan mengingat hal itu." Ang Nio Cu berkata sambil botol dilemparkan kepada Cu Jiang:

"Itulah pil Pik-tok-wan hanya tinggal sembilan butir, dapat memperpanjang usiamu sembilan hari. Hati2 menjaganya."

Sambil menyambuti, Cu Jiang menghaturkan terima kasih.

"Kita berjalan berpisah, tenggelamkan saja perahu ini," kata Ang Nio Cu terus loncat ke darat dan tak berapa kejab sudah lenyap.

Dengan gemas Cu Jiang memandang mayat Rase Kumala. kemudian dia menghantam papan lantai perahu, setelah itu loncat ke daratan. Perahu mulai menyelam dan tak lama sudah tenggelam.

Karena buru2 menuju ke Busan, terpaksa ia putar kembali ke Kui-ciu. Tak sampai setengah li ia melihat sebuah tandu warna hijau dipikul oleh empat lelaki gagah, berjalan seperti terbang.

Dalam sekejab saja sudah tiba. Jelas keempat lelaki pemikul tandu itu tentu bangsa kaum persilatan.

Cu Jiang tak mau cari perkara. Ia menyingkir ke pinggir.

Dan tandu itupun cepat sekali sudah berlalu.

Tiba2 telinga Cu Jiang terngiang ia sebuah suara lembut sekali. Mungkin orang lain tentu tak mungkin dapat mendengar.

"Itulah si pembunuh besar, lekas, jangan cari gara2 kepadanya! " ngiang suara lembut itu.

"Apa dia Toan- kiam jan jin?"

"Benar, memakai penutup muka, kakinya pincang, masakan ciri2 itu masih belum cukup jelas!" Cu Jiang berpaling memandang, Ia terkejut ketika melihat pada bagian belakang tandu itu terdapat pertandaan dari keempat kojiu dari Tayli yang mengikuti perjalanannya selama ini. Tanda rahasia itu berbunyi: "Tolong orang dalam tandu."

O0oood0wooo0O
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pusaka Negeri Tayli Jilid 14"

Post a Comment

close