Pusaka Negeri Tayli Jilid 12

Mode Malam
Jilid 12

Cu Jiang melangkah masuk. Ternyata di dalamnya telah bersiap berpuluh-puluh jago silat berpakaian kuning dengan senjatanya. Tiap tiga langkah seorang baju kuning. Suatu penjagaan yang seketat pagar pedang.

Pada saat berjalan melalui mereka, mereka pun mengangkat pedang selaku hormat kepada lelaki tua baju kuning itu. Jelas lelaki tua itu tentu mempunyai kedudukan tinggi. Paling tidak tentu sebagai seorang tongcu.

Setelah berpuluh meter menyusuri jalan, tibalah Cu Jiang disebuah lapangan yang cukup luas.  Sebuah bangunan gedung bertingkat tampak berdiri dengan kokoh.

Bangunan itu tentu sudah lama dibangun, bukan didirikan oleh partai Thong-thian-kau. Mereka tentu merebutnya dari lain orang.

Tiba di tengah lapangan, lelaki tua itu berseru:

"Harap tunggu disini," kakinya terus melangkah kearah gedung.

Cu Jiang hentikan langkah. "Heh, heh, heh, heh, heh .. "Huak, huak !" Terdengar kekeh tawa seram disusul dengan Jeritan  ngeri. Cu Jiang memandang kearah suara itu dan seketika darahnya pun mendidih.

Pada tepi yang hitam dari lapangan itu, sedang berlangsung suatu penjagalan yang mengidikkan bulu roma.

Seorang pemuda dengan dandanan sebagai pelajar, duduk di sebuah kursi. Di depannya terpancang berpuluh batang tonggak. Setiap tonggak terikat seorang lelaki yang berpakaian compang-camping seperti pengemis. Tua dan muda.

Di muka tonggak, tegak sekelompok busu baju kuning mencekal pedang. Pada saat itu sudah ada empat orang pengemis yang kepalanya menggelinding ke tanah. Tanah tergenang darah merah.

Tawa kekeh tadi berasal dari mulut pemuda pelajar itu.

Jelas yang sedang dijagal itu adalah anak murid dari partai Kay pang atau pengemis.

Pemuda pelajar mengangkat tangan dan berseru: "Hayo, menerima atau tidak?"

Seorang pengemis tua, meraung dengan nada ngeri:

"Tidak bisa ! Anak murid Kay-pang lebih suka mati daripada menyerah!"

Pemuda pelajar itu tertawa dingin lalu menjulur tiga buah jari tangannya. Pedang berkelebat dan jeritan ngeri segera menusuk telinga.

Batang kepala tiga orang murid Kay-pang menggelinding lagi ke tanah. Darah menyembur tinggi ke udara.

"Berhenti!" Cu Jiang menggembor keras dan terus menghampiri. "Tunggu!" terdengar teriakan empat orang bu-su pengawal yang melangkah maju dengan membawa pedang.

Tetapi Cu Jiang tetap ayunkan langkah. Ia memandang tajam pada keempat bu-su itu.

Pemuda pelajar itu masih tetap duduk di kursinya. Dia hanya berpaling dan berseru:

"Hai, ada apa?"

Rupanya dia tak tahu akan kedatangan Cu Jiang. Dan dengan gunakan gerak-langkah Gonggong-poh-hwat, dalam dua putaran saja Cu Jiang sudah berdiri di muka pemuda pelajar itu.

Dipandangnya pemuda pelajar itu dengan tajam.  Seorang pemuda yang berumur dua puluhan tahun, berwajah sadis.

Serentak pemuda itupun berbangkit dan menghardik: "Siapa engkau!"

Belasan bu-su yang bertugas melakukan penjagalan itupun serempak mengepung. Kilau sinar pedang mereka mengerikan sekali. Tetapi Cu Jiang tenang2 saja.

"Dan engkau siapa?" Cu Jiang balas bertanya.

"Pelajar-gemar darah Kiang Ki, putera angkat dari ketua cabang partai . . . . " tiba2 dia teringat sesuatu. Wajahnya meregang dan berseru dengan tersendat:

"Apakah engkau bukan "

Sepatah demi sepatah, Cu Jiang berkata: "Toan . . . kiam ... jan ... jin "

Serentak cahaya muka Kiang Ki berobah dan tiba2 ia menyurut mundur, menendang kursi sampai terpental setombak jauhnya. Juga kawanan bu-su itupun pucat lalu mundur beberapa langkah.

"Andakah yang bernama Toan-kiam-jan-jin itu?" "Benar."

"Apa maksud kedatangan anda ke mari?" "Menantang adu pedang."

Pemuda pelajar itu terkesiap lalu tertawa sinis:

"Toan-kiam-jan jin, apakah engkau mampu hidup panjang dengan sikapmu yang congkak itu?"

Sejenak Cu Jiang mengeliarkan pandang ke arah anak murid Kay-pang yang diikat pada tonggak.

"Apakah anda gemar membunuh orang?" serunya. "Itu bukan urusanmu. "

"Lepaskan mereka!"

"Heh, heh, heh, dengan dasar apa anda memberi perintah begitu?"

"Pedang kutung!"

"Bagus ! Hari ini anda beruntung bertemu dengan leluhur dari orang yang bersenjata pedang."

"Lepaskan mereka !" "Tidak bisa!"

Namun Cu Jiang tak menghiraukan- Dengan langkah yang terpincang pincang dia menghampiri ke tempat tonggak itu.

Sekonyong-konyong setiup hujan pedang segera menghambur ke arahnya. Setiap bu su itu merupakan jago pedang kelas satu. Mereka berjumlah belasan orang. Sudah tentu perbawanya luar biasa dahsyatnya.

Sepasang tangan Cu Jiangpun serempak bergerak. Segulung angin pukulan yang sedahsyat badai segera berhamburan memekikkan telinga.

Jeritan ngeri dan teriak tertahan, disusul dengan sosok tubuh yang mencelat keempat penjuru segera tampak. Tiga dari kawanan bu su itu mencelat ke udara dan melayang sampai tiga tombak jauhnya Nyawanya pun putus seketika.

Melihat itu wajah Kiang Ki berobah merah padam. Matanya memancarkan sinar pembunuhan yang ngeri. Mencabut pedang dia terus melangkah maju dan membentak bengis:

"Toan-kiam jan jin, engkau berani membunuh anak buahku, sungguh besar sekali nyalimu."

"Tempat macam apakah ini ?" sahut Cu Jiang.

"Engkau memang hendak cari mati atau hendak menjual jiwa untuk Kay-pang?"

"Dua-duanya."

"Kalau membiarkan engkau keluar dari sini dengan masih bernyawa nama Thong - thian - kau tentu akan pudar dari dunia persilatan."

"Barangkali."

Kiang Ki makin kalap, ia tertawa seram : "Hm, engkau akan mati dengan tubuh tercincang!"

"Jangan terburu mengatakan begitu dulu. Apa lagi engkaupun tak layak berkata begitu. Sekarang katakan dulu, apa sebab anak murid Kay-pang hendak engkau jagal ?" "Sederhana sekali. Kay-pang harus enyah dari wilayah Kekuasaan partai Thong thian-kau cabang kota ini. Kalau tidak, akan dibunuh semua !"

"Apa mampu ?" "Tentu."

"Saat ini aku belum mau membunuhmu..." Belum selesai Cu Jiang berkata, tiba2 terdengar suara nyaring berteriak.

"Than cu datang !"

Sekalian bu-su serempak mundur sampai beberapa tombak, menundukkan kepala dan tubuh. Juga kawan-2 mereka yang terluka, berusaha untuk mundur.

Cu Jiang berputar tubuh, memandang ke muka. Seorang lelaki tua bertubuh tinggi besar dan berjubah kuning dengan dikawal oleh berpuluh orang, melangkah masuk. Lebih kurang lima tombak dari tempat Cu Jiang, para pengawal itu berhenti dan membentuk diri dalam formasi busur melengkung.

Sementara lelaki tua berjubah kuning itu teruskan langkah menuju ke tengah lapangan.

Pelajar-gemar-darah Kiang Ki serentak memberi hormat: "Gihu, orang ini hendak menantang adu pedang." "Kutahu," sahut lelaki tua jubah kuning itu.

Ketika beradu pandang, Cu Jiang agak terkesiap. Dari sorot mata lelaki tua itu, dapatlah ia menarik kesimpulan bahwa orang itu memiliki tenaga-dalam yang hebat sekali.

"Apakah engkau yang disebut Toan-kiam-Jan-jin?" tegur lelaki tua jubah kuning. "Benar," sahut Cu Jiang, "dan anda tentulah ketua cabang partai Thong-thian-kau yang bernama Kiam-mo. bukan?"

"Geladak! Engkau berani menyebut gelar itu seenakmu sendiri ....!" bentak Kiang Ki dengan kemarahan meluap- luap.

Tetapi Cu Jiang tak berkedip dan tak mengacuhkan. Dia tetap mencurah pandang kepada lelaki tua berjubah kuning itu.

Tiba2 lelaki jubah kuning itu tertawa, serunya:

"Engkau . ... hendak menantang adu pedang dengan aku?"

"Benar."

"Bagaimana engkau tahu gelaranku?"

"Berkelana dalam dunia persilatan, mata dan telinga harus tajam."

"Apa tujuanmu?"

Cu Jiang teringat sesuatu.. Dengan nada dan sikap yang congkak sekali ia berkata:

"Sejak turun gunung, belum pernah aku ber temu dengan lawan yang mampu menandingi kepandaianku. Kudengar setiap anggauta dari Sip-pat-thian-mo itu memiliki kepandaian hebat maka aku hendak menemui mereka satu demi satu."

"Engkau hendak menempur Sip-pat-thian-mo?" "Begitulah"

"Mungkin engkau akan kecewa." "Mengapa ?" "Karena hari ini engkau sudah keburu mati ditempat ini." "Ha, ha, ha . . . anda bermulut besar "

Kiang Ki mengisar selangkah, serunya: "Gihu, ijinkan aku yang menyempurnakannya"

"Jangan," cegah Kiam-mo, "engkau bukan tandingannya."

"Bukankah gihu mengatakan bahwa kepandaianku sekarang ini sudah dapat menghadapi jago pedang yang manapun dalam dunia penilaian di Tionggoan "

"Tetapi tidak dengan orang ini," tukas Kiam-mo. "Atas dasar apa Gihu membuat penilaian itu?" "Tenaga-dalammu belum menyamainya." "Tetapi ilmu pedangku masakan kalah ?"

"Jika tak mencekal senjata, jangan masuk  kedalam hutan. Lebih baik engkau jangan coba-coba."

"Justeru aku ingin sekali mencoba berhadapan dengan jago pedang yang sakti."

Cu Jiang mendengus dingin:

"Setiap kali pedang kutungku keluar, takkan masuk kedalam sarungnya apabila belum meminum darah."

Kiang Ki getarkan pedangnya sehingga memancarkan sinar sampai meluas, lalu berseru dengan congkak:

"Akupun juga begitu. Sebelum minum darah takkan berhenti."

Kiam-mo mundur tiga langkah, serunya: "Kalau mau mencoba silahkan. Tetapi hanya boleh sampai tiga jurus saja." Serentak meluaplah kemarahan Cu Jiang. Dia memutuskan hendak membasmi pemuda yang ber hati buas itu agar melenyapkan bahaya dalam dunia persilatan. Demikian pula ia hendak mengejutkan kawanan Sip pat thian-mo agar beramai-ramai keluar mencarinya. Ya, ia harus bertindak ganas.

"Tidak perlu," serunya, "selama ini aku hanya menggunakan satu jurus saja. "

"Peraturan yang kupegang selama ini." sahut Kiang Ki, "jika lawan belum mengucurkan darah, takkan berhenti. "

"Bagus, silahkan mulai! " "Cabutlah pedangmu."

"Menghadapi engkau, belum perlu." Kata2 yang congkak dari Cu Jiang itu benar2 meledakkan dada Kiang Ki.

"Marah merupakan pantangan dalam ilmu pedang," tiba2 Kiam-mo berseru memberi peringatan kepada pemuda yang menjadi putera angkatnya itu.

Mendengar itu Kiang Ki tenangkan diri. Ia mengangkat pedang ke atas, sorot matanya penuh dengan nafsu pembunuhan yang meluap-luap. Sementara Cu Jiang tetap memandangnya dengan tak berkedip.

Suasana senyap seketika. Seluruh mata sekalian orang tercurah ruah ke tengah lapangan. Hati mereka tegang bukan kepalang.

Walaupun belum lama timbul, tetapi kebesaran nama Thong thian kau melebihi penguasa dunia persilatan yang sekarang yakni Gedung Hitam. Bahwa orang berani datang untuk menantang adu kepandaian, tentulah dia manusia yang harus digolongkan satu diantara dua jenis: gila atau sakti. "Hai!" terdengar pekikan singa yang menggetar jantung sekalian orang. Pedang dari Kiang Ki memancar menyambar ke arah Cu Jiang. Bukan saja dengan tenaga penuh, pun jurus gerakannya luar biasa anehnya.

Selarik sinar pedang memancar lalu padam.

"Huak..." terdengar teriakan keras tetapi hanya setengah jalan berhenti Dan selesailah pertempuran yang penuh ketegangan itu.

Tampak Cu Jiang masih mencekal sebatang pedang kutung, entah bagaimana cara dia mencabut dan menyerang. Terlalu cepat bagi mata memandangnya.

Ujung pedang Kiang Ki masih menjulur maju ke muka dada Cu Jiang, hanya terpisah tiga inci dari dada. Dan sekalian orangpun masih menahan napas. Tetapi mengapa terdengar jeritan ngeri tadi? Dari mulut siapakah jeritan itu? Mengapa saat itu Kiang Ki tak melanjutkan gerak pedangnya untuk menusuk dada Cu Jiang.

Bluk .... sekonyong-konyong tubuh Kiang Ki rubuh, kepalanya terpisah dari leher, menggelinding ke tanah, diantar oleh darah segar yang menyembur seperti pancuran.

"Ai..." terdengar teriakan hiruk pikuk yang menggema.

Dan Cu Jiangpun pelahan-lahan menyarungkan pedang kutungnya.

Wajah Kiam-mo berobah hebat. Serentak dia berteriak: "Bawa pedang ke mari!"

Seorang busu baju kuning segera menghaturkan sebatang pedang. Kiam-mo mencabut pedang itu dan busu pun kembali mundur lagi.

Pedang itu memancarkan sinar dingin yang kebiru- biruan warnanya. Tentulah sebatang pedang pusaka. Maju selangkah kehadapan Cu Jiang, Kiam-mo berseru bengis:

"Budak, apakah maksud kedatanganmu kemari benar2 hendak menantang adu ilmu pedang?"

"Benar," jawab Cu Jiang. "aku telah terlanjur bersumpah. Apabila aku, Toan-kiam-jan jin masih hidup, takkan membiarkan seorang jago pedang yang manapun menjagoi dunia."

"Kecongkakanmu hebat sekali . . ." "Aku tak pandai putar lidah."

"Sejak hari ini, dunia persilatan takkan terdapat seorang manusia yang bergelar Toan-kiam-jan-jin lagi."

"Jangan anda  terlalu membanggakan diri. Mungkin nama Kiam-mo akan lenyap."

"Engkau menghendaki cara bagaimana?" "Satu jurus!"

"Sebelum engkau mati, aku takkan berhenti." "Aku tetap hanya satu jurus."

Wajah Kiam-mo membesi dan gerahamnya bergemerutukan.

"Seumur hidup baru pertama kali ini aku berjumpa dengan seorang yang bakal mati tetapi tetap congkak sekali."

Cu Jiang tak menghiraukan. Dia tetap tenang  dan dingin.

"Pujian." serunya. "Mulailah!" "Tunggu dulu, aku mempunyai syarat," tiba-tiba Cu Jiang berkata

"Apa? Engkau masih akan mengajukan syarat apa lagi?" "Ya, memang. Dan syarat itu sederhana sekali. Karena

ada Toan-kiam-jan-jin, tak boleh ada Kiam-mo. Salah satu, engkau atau aku yang harus hidup di dunia persilatan . . ."

"Ha, apa lagi!"

"Yang kalah, harus menghancurkan ilmu kepandaiannya sendiri dan selama-lamanya tak boleh muncul dalam dunia persilatan."

"Bagiku, hanya jiwamu yang akan kuminta," seru Kiam- mo.

"Baik tetapi anda pun harus menerima syaratku. Kalau tak berani, tak usah turun tangan, " kata Cu Jiang.

"Jangan banyak mulut, lekas bersiap menerima kematian!" bentak Kiam-mo.

Serentak dia melakukan sikap pembukaan yang aneh. Ujung pedang tak henti-hentinya ditarik dan dijulurkan. Hawa pedang segera berhamburan meluncur seluas satu tombak.

Hal itu menandakan bahwa segenap tenaga dalam telah dikerahkan. Rupanya dia sangat bernapsu sekali dalam satu gebrak dapat menghabisi lawan.

Suasana tegang sekali. Sekalian pengawal Kiam mo yang berada di sekeliling lapangan itu memandang dengan mata tak berkedip dan napas tertahan.

Kedua jago itu masing2 mengadakan sikap kuda2 yang tangguh dan sukar diterobos. Detik demi detik berlalu cepat. Sekalian pengawal Kiam- mo-un sudah bercucuran keringat. Mereka dicekam ketegangan dari pertempuran yang akan terjadi. Entah bagaimana nanti hasil dari pertempuran itu apabila berlangsung.

Mata Cu Jiang seperti melekat tak berkedip. Beberapa waktu kemudian, dahi Kiam-mo mulai agak berkereyutan.

"Hatimu!"

Akhirnya yang dinanti-nanti terjadi juga. Sebuah ledakan suara gemboran yang dahsyat segera disusul dengan dering benturan senjata yang seolah-2 memutuskan urat2 jantung. Setelah itu terus sirap. Sepi lagi.

Cu Jiang memasukkan kembali pedang kutungnya ke dalam sarung.

Pedang di tangan Kiam-mo menjulai ke bawah dan orangnyapun sudah bergeser tiga langkah ke belakang. Mukanya menggigil, sorot matanya yang menyeramkanpun sudah kehilangan perbawanya. Dua alir darah mengucur dari sudut mata dan mulutnya

Kiam-mo, salah seorang tokoh dari gerombolan Sip-pat thian mo yang termasyhur, saat itu menderita kekalahan. Kekalahan yang menggemparkan, Suatu peristiwa yang benar2 orang tak mungkin mau percaya.

Suasana sunyi senyap. Tiada barang suatu pekik kejut ataupun teriakan ngeri Seluruh jago2 ko jiu dari Thong- thian-kau terlongong-longong.

Beberapa saat kemudian baru Cu Jiang terdengar membuka mulut. Nadanya dingin dan hambar tetapi mengandung perbawa yang menakutkan. "Harap anda segera melakukan syarat itu!" sepatah demi sepatah diucapkan dengan nada seberat palu menghantam paku.

Tiba2 pecah gelombang bentakan. Belasan sosok tubuh berhamburan menaburkan pedang menyerang Cu Jiang.

Huak .... huak ....

Tetapi bagaikan gelembung air tertimpa hujan, cepat sekali tubuh itu berserakan tercerai berai keempat penjuru. Yang tertinggal, empat sosok tubuh manusia yang sudah menjadi mayat.

Kiam-mo menggigil.

"Aku menunggu jawabanmu!" seru Cu Jiang.

"Engkau suruh aku menjawab apa?" Kiam-mo meraung seperti singa terluka.

"Sesuai dengan syarat yang kukatakan tadi.  Lekas engkau hancurkan ilmu kepandaian anda sendiri!"

"Tidak bisa!"

"Ho, tak kira kalau kawanan Sip pat-thian-mo yang termasyhur itu ternyata hanya kantong nasi yang tak berguna. Sungguh mengecewakan sekali. Apa yang kukatakan tentu kujalankan. Kalau anda tak mau merusak tenaga kepandaian anda sendiri, terpaksa aku yang akan mewakili "

"Engkau berani?" bentak Kiam-mo dan bertaburan sinar pedangnya mencurah kepada Cu Jiang.

Cu Jiang menggembor dan hujan sinar pedang itupun serentak lenyap, berganti dengan selarik sinar melambung ke udara. Pedang Kiam-mo terlempar ke atas.

"Auh " terdengar teriak kejut yang menggeledek. Cu Jiang mengangkat tangan dan menebarkan sebuah jari ke muka Seketika Kiam-mo mengerang tertahan. Tubuhnya yang tinggi besar terhuyung-huyung. Wajah pucat lesi.

"Sejak saat ini, dunia persilatan tak ada tokoh yang  bernama Kiam-mo lagi!" seru Cu Jiang dengan nada bengis.

Kiam-mo memandang Cu Jiang dengan sorot mata penuh dendam kesumat lalu berputar tubuh dan berjalan masuk ke dalam gedung.

Sekian banyak jago2 Thong-thian-kau, tak ada seorangpun yang berani bergerak menyerang Cu Jiang.

Dengan langkah yang terpincang-pincang, Cu Jiang segera menghampiri ke tempat tonggak. Dengan pedang menggurat putus tali yang mengikat tubuh seorang pengemis tua. Pengemis itu serta merta menghaturkan hormat.

"Terima kasih atas bantuan anda, partai kami "

Tiba2 Cu Jiang mengacungkan sebuah benda dan serentak pengemis tua itupun terkejut lalu jatuhkan diri berlutut.

"Murid Ang Ih, kepala cabang kwan-se, menghaturkan hormat ke hadapan tianglo."

"Harap bangun." seru Cu Jiang, "lencana Tiok-hu ini pemberian tianglo Kay-pang Pengemis-sakti pencabut nyawa Tong Ih Leng kepada tokoh Lam-kek-sah. Lam kek- sah minta tolong kepadaku supaya menyerahkan kembali kepada pemiliknya. Harap Ang tho cu suka mewakili menerimanya."

Pengemis tua yang bernama Ang Ik itu segera berbangkit dan menyambuti. "Lekas ajak anak buah anda tinggalkan tempat ini," kata Cu Jiang seraya menyimpan pedangnya.

Ang Ikpun segera melakukan perintah. Membebaskan anak buahnya yang terikat lalu membawa kawan2 yang menjadi korban. Sebelum pergi mereka beramai-ramai menghaturkan terima kasih kepada Cu Jiang.

Sekalian anak buah Thong thian-kau hanya melihat saja anak buah Kay-pang itu pergi tetapi tak berani  berbuat apa2.

Setelah mereka pergi barulah Cu Jiang tinggalkan tempat itu.

Berita kekalahan partai Thong-thian-kau cabang kota Kwo-se itu cepat sekali tersiar dalam dunia persilatan.

Kaum persilatan terkejut, heran dan hampir tak percaya, tetapi mereka harus menerima berita itu sebagai suatu kenyataan.

Nama Toan-kiam jan-jin menjadi buah bibir. Tantang menantang.

Kira2 empat belas li dari kota Gong-an, di tepi  jalan besar dibangun sebuah pagoda peranginan, untuk pejalan2 yang hendak beristirahat. Di tepi pagoda peranginan itu dibangun juga beberapa rumah pondok untuk kedai minuman dan orang2 jualan.

Ciat goan-thong atau pagoda Pelepas-lelah, demikian nama tempat peristirahatan itu. Kabarnya pada jaman dulu ada seorang penyair ternama yang singgah di tempat itu. Sebelum araknya habis, syair telah selesai dirangkainya. Sejak itu maka pagoda peranginan diberi nama seperti diatas. Saat itu waktu lohor. Di dalam pagoda peranginan duduk lima jago pedang yang mengenakan pakaian ringkas. Dua diantaranya berumur dua puluhan tahun, yang  dua lagi berumur tiga puluhan tahun sedang yang satu disekitar empat puluhan tahun.

Lelaki yang paling tua itu mondar-mandir menggendong tangan. Wajahnya tegang dan tak henti-hentinya memandang ke arah jalanan seperti menunggu sesuatu. Kawanan yang empat juga agak gelisah.

"Toa-suheng, kukira sudah sajalah," tiba2 salah seorang yang muda berkata.

"Apa? Sudah?" teriak lelaki yang paling tua itu dengan nada tegang. "sejak lima puluh tahun berselang ketika ciang-bun su cun (kakek guru ketua partai) kita kalah adu pedang di gunung Bo-san, nama partai Hoa san-pay seolah- olah tenggelam dalam dunia persilatan. Sekarang ini kita mendapat kesempatan yang jarang sekali datangnya untuk membangun kembali nama perguruan Hoa-san pay, bagaimana kita akan sudah begitu saja."

"Tetapi .... toa-suheng, ilmu pedang lawan memang benar2 telah mencapai tataran yang sukar dibayangkan . . ."

"Sute, sepuluh tahun lamanya aku mati-matian bersusah payah untuk berlatih ilmu pedang, apa tujuanku?"

"Membangun partai, banyak jalan yang dapat ditempuh.

Mengapa harus mengambil cara begini."

"Itu merupakan satu-satunya jalan yang tercepat. " "Apakah toa suheng yakin pasti menang?"

"Kalau tak berhasil tentu gagal. Kalau kalah tentu mati.

Apakah pendirian hidup seorang ksatria itu?" "Kukira tidak begitu." "Sute, engkau salah pilih. Seharusnya engkau menyekap diri dalam kamar dan rajin belajar agar dapat mencapai nama. Tak seharusnya engkau memilih jalan hidup sebagai seorang bu su."

"Toa-suheng, apakah engkau benar2 mempunyai pegangan?"

Rupanya lelaki yang paling tua dan dipanggil sebagai toa-suheng itu agak kurang senang, sahutnya:

"Sudahlah, ji sute, jangan merengek-rengek. Sejak mendapatkan kitab rahasia peninggalan su-cou ya (kakek guru), aku telah mempelajari dan berlatih keras selama sepuluhan tahun baru dapat mencapai hasil. Hoa-san-pay mampu atau tidak untuk bangkit kembali  dan menempatkan diri dalam jajaran Empat-besar partai- pedang, semua tergantung pada gerakan kali ini. Sejak berkunjung ke markas partai Bu-tong dan Go-bi, kepercayaan ku makin tumbuh delapan puluh persen. . ."

"Pernyataan siau sute tadi memang bukan tak beralasan. Selama dalam perjalanan beberapa kali kita sudah saling menguji ilmu pedang dengan kawan2 dari partai Bu tong dan Gobi. Ternyata hasilnya tak mengecewakan. Hal itu cukup."

"Keputusanku sudah tetap, tak perlu banyak  bicara. Coba pikir, kalau nanti aku dapat menangkan barang setengah jurus saja dari lawan, bagaimanakah akibatnya.”

“Andaikata Hoa-san-pay tak dianggap sebagai partai ilmu pedang yang paling hebat, tetapi sekurang-kurangnya tentu akan sejajar dengan partai Bu-tong dan Go-bi."

"Mudah-mudahan begitu, tetapi..." "Tetapi bagaimana ?" "Kalau tak berhasil menang?"

"Telah kukatakan. Sebagai seorang kaum persilatan, janganlah kita berat akan Jiwa kita. Dengan susah payah sucouwnya telah mendirikan partai  Hoa-san-pay. Kemudian kita yang menerima warisan untuk memelihara ternyata tak mampu menjaga kelangsungan hidupnya. Apakah ini tidak memalukan ?"

Tiba2 lelaki yang paling muda itu menunjuk ke  arah jalan dan berseru: "Tuh sudah datang !"

Kelima orang itu menjadi tegang dan serempak berdiri. Dua ekor kuda lari sekencang angin dan beberapa saat tiba ditempat itu. Penunggangnya loncat turun. Ternyata dua lelaki baju hitam.

"Bagaimana kabarnya?" serentak lelaki tua yang disebut toa suheng itu bertanya.

Salah seorang lelaki baju hitam memberi hormat: "Hatur beritahu kepada ciangbun ..."

"Jangan menyebut ciangbun, belum saatnya!!" tukas lelaki tua tadi.

Orang berbaju hitam itu agak merah mukanya lalu berganti sebutan.

"Hatur beritahu kepada toa-supeh, akan segera tiba." "Segera tiba ?"

"Ya, dia berjalan lambat sekali dan tak kira kalau hanya seorang cacat..."

"Jangan banyak cakap! Sekarang dia sampai di mana?" "Kira-kira lima li."

"Baik, kalian boleh kembali ke kota." Setelah mengiakan kedua pendatang itu pun melarikan kudanya.

Dibawah bayang2 pagoda peranginan yang menjulur panjang sampai ke tengah itu, tegak berjajar kelima orang itu. Pedagang2 disekitar tempat itu sudah sama menutup dagangannya. Pejalan2 pun sudah sepi.

Tak berapa lama tampak sesosok tubuh muncul dari ujung jalan. Jalannya aneh, seperti bergoyang gontai.

"Tuh, akhirnya dia datang Juga," kata busu yang dipanggil toa-suheng.

Keempat kawannya mulai tegang. Makin dekat makin tampak kalau pendatang itu seorang berkaki pincang, mengenakan dandanan seperti sasterawan tetapi mukanya bertutup kain cadar.

"Dengarkan, sute berempat," kata lelaki yang tertua. "kamu cukup menyaksikan disamping, tak boleh ikut turun tangan. Kalau aku gagal maka tugas untuk membangun partai terletak di bahu kalian."

"Toa-suheng,kan ini hanya merupakan saling uji kepandaian, bukan ajang saling bunuh mencari balas dendam. Kalah atau menang, bukan soal," seru bu su yang paling muda.

"Benar," sahut busu yang tua, "tetapi kali ini aku berjuang untuk mengangkat nama. Seorang ksatrya hidup demi nama."

"Tetapi apakah toa-suheng tidak memikirkan beberapa jago dari Bu-tong dan Go bi yang engkau kalahkan itu, juga tidak berpikiran seperti toa-suheng juga ?"

"Itu lain persoalannya ..." Saat itu pelajar pincang sudah tiba. Tanpa menghiraukan pandang, dia terus berjalan.

Setelah sejenak memandang kearah keempat sutenya, busu yang tertua itu loncat dari pagoda peranginan lalu memberi hormat.

"Sahabat, harap berhenti dulu!"

Sasterawan pincang itu berhenti. Memandang datar kepada orang itu. Tidak berkata apa-apa kecuali hanya memandang saja.

"Aku yang rendah ini adalah Tan Bun Cau dari partai Hoa-san-pay. Bukankah sahabat ini yang disebut Toan- kiam Jan-Jin ?" seru busu yang tertua itu pula.

Memang sasterawan pincang itu tak lain adalah  Cu Jiang. Dia hendak ke kota Seng tou untuk memenuhi suatu janji.

"Ya, benar, apa maksud anda?" sahutnya dengan nada yang dingin.

"Kabarnya, anda telah mengobrak-abrik partai Thong- thian-kau cabang Kwo se. Membunuh Pelajar-gemar darah Kiang Ki dan melumpuhkan Kiam-mo ?" seru Tan Bun Biau pula.

Cu Jiang tergerak pikirannya. "Lalu apa maksud anda?"

"Aku sangat mengagumi ilmu pedangmu !" "Lalu ?"

"Sengaja aku mencari anda untuk mohon pengajaran."

"Ha, ha, ha, ha " Cu Jiang menengadah dan tertawa gelak2 seraya lanjutkan langkah. Tan Bun Ciau cepat menghadang.

"Apakah sahabat tak mau memberi pelajaran kepadaku?"

Cu Jiang terpaksa berhenti, Menatap orang itu lalu berkata dengan nada dingin:

"Aku tak punya selera !" "Menganggap hina ?" "Terserah anggapan anda."

"Toan kiam jan jin, apa engkau kira dalam dunia ini tiada yang mampu menandingi engkau?"

"Aku tak pernah mengatakan begitu. "

Keempat busu yang berjajar di dalam pagoda peranginan tak setuju melihat tindakan Tan Bun Ciau, toa-suheng mereka. Tetapi mereka tak dapat berbuat apa2.

"Apakah engkau tak berani?" seru Tan Bun Ciau menantang.

"Apa yang tak berani?" "Menguji ilmu pedang!"

"Sudah kukatakan, aku tak punya selera." "Tetapi aku justeru berselera sekali." "Menantang?"

"Terserah. " "Apa tujuanmu?"

"Untuk membuktikan apakah ilmu pedang dari partai Bu-tong pay itu sederajat dengan partai2 ilmu pedang yang lain!"

"Ha, ha, ha, ha " "Mengapa tertawa?"

Cu Jiang hentikan tawa, serunya :

"Aku bukan ukuran ilmu pedang masa ini, anda salah alamat. "

"Aku tetap akan minta pelajaran."

"Apakah anda bernafsu sekali untuk cari nama?"

Tan Bun Ciao terkesiap. Dengan mengertak gigi dia menyahut:

"Terserah akan dianggap bagaimana !" "Sudah anda pikirkan masak-masak ?" "Hmm."

"Ilmu silat itu tiada batasnya. Andaikata dapat mengalahkan aku, belum tentu anda  akan menjadi jago nomor satu dalam dunia. Dan apabila anda sampai lengah."

"Aku tak meminta nasehatmu!"

"Jadi anda tetap ngotot hendak adu pedang?" "Ya."

"Kalau aku menolak ?"

"Kecuali engkau Toan-kiam-jan Ji menyatakan menyerah,"

"Ah, Jangan terlalu mendesak orang." "Terpaksa begitu."

"Sekali lagi kuperingatkan. Anda ini bukan tandinganku."

"Harus dibuktikan dulu." "Silahkan melolos pedang!" Mendengar itu keempat murid Hoa-sanpay yang lain serempak keluar dari pagoda peranginan. Beberapa pedagang yang masih berada disitu terkejut dan cepat2 membenahi dagangannya.

Mereka mengira terjadi bentrokan dari beberapa orang persilatan yang hendak menuntut balas.

Tan Bun Ciau mencabut pedang dan terus pasang kuda- kuda. Matahari hampir tenggelam. Bayang2 orang itu makin menjulur panjang.

Cu Jiang tegak seperti patung. Kedua tangannya menjulai kebawah.

"Mengapa tak mencabut pedang?" tegur Tan Bun Ciau. "Silahkan mulai."

"Jangan keliwat sombong !"

"Anda yang menantang pertarungan ini."

Tan Bun Ciau tak mau banyak bicara, Ia salurkan tenaga-dalam kebatang pedang. Tetapi segera ia melihat sesuatu yang mengejutkan. Walaupun tampaknya diam seperti patung tetapi sikap Cu Jiang itu sukar diserang. Tan Bun Ciau masih menunda serangannya.

Keempat sutenya menghampiri dan berdiri pada jarak tiga tombak dari tempat pertempuran.

Cepat sekali sudah sepeminum teh lamanya dan  Tan Bun Cian tak uban lagi. Ia menyadari dirinya bukan tandingan lawan tetapi karena sudah terlanjur menantang, terpaksa dia harus melanjutkan.

"Haiiiiit!"

Serempak meraung keras, Tan Bun Ciau segera lancarkan serangan dengan sepenuh tenaga. Jurus itu luar biasa hebatnya dan telah dilatih dengan sempurna oleh Tan Bun Ciau. Dalam dunia persilatan, dia sudah termasuk jago kelas satu. Tetapi sayang dia cari gara2 dengan Cu Jiang.

"Trinng . . . ! " terdengar dering senjata yang nyaring sekali dan Tan Bun Ciau terhuyung-huyung mundur beberapa langkah. Pedangnya hampir jatuh.

Keempat sutenya serempak memekik kaget. Cu Jiang menyarungkan lagi pedangnya, dan berseru:

"Aku hanya menggunakan setengah jurus karena sebenarnya kita tak saling bermusuhan apa2."

Habis berkata dia terus angkat kaki melanjutkan perjalanan.

Setengah jurus? Hanya setengah jurus? Ah, mungkin orang2 tentu takkan percaya. Wajah Tan Bun Ciau pucat lesu, tubuh bergemetaran keras. Hanya setengah jurus saja, impiannya yang muluk telah hancur berantakan.

"Ya, sudahlah ..." tiba2 dia ayunkan pedang ke tenggorokannya sendiri.

"Toa suheng, jangan . . ." keempat sutenya menjerit dan serempak lari mencegah tetapi terlambat.

Cret Tan Bun Cau rubuh mandi darah.

Karena belum jauh Cu Jiang mendengar juga peristiwa itu. Dia menghela napas tetapi tak mau berpaling. Dia merasa tak bertanggung jawab atas peristiwa sedih itu. Hal itu merupakan suatu akibat dari perbuatan seorang persilatan yang sangat ambisius atau bernafsu untuk cari nama.

Sekalipun begitu, Cu Jiang diam2 merasa sayang bahwa seorang jago pedang yang memiliki kepandaian sehebat itu harus mengakhiri hidupnya sendiri secara begitu mengenaskan.

Menjelang malam tibalah Cu Jiang di pintu selatan kota Gong-an. Jalan Lam-tay terletak di pintu selatan kota itu.

Seorang penjual obat tengah merentang tikar dan menjajakan dagangannya. Dia berteriak-teriak memanggil pembeli. Pada sebuah peti obat dilandasi selembar kain yang bertuliskan beberapa huruf, berbunyi. "Obat pusaka dari kakek moyang, khusus mengobati segala penyakit aneh yang sukar disembuhkan."

Mendengar suara penjual obat itu, Cu Jiang segera dapat mengenali siapa orangnya. Orang itu tak lain adalah Song Pek Liang, salah seorang dari Keempat jago Tayli yang ditugaskan Cu Jiang untuk menyelidiki tempat yang dijanjikan Sebun Ong.

Cu Jiang menghampiri dan memberi isyarat mata. Melihat itu Song Pek Liang segera menegur: "Tuan hendak memerlukan apa?"

"Ya apakah khusus mengobati penyakit istimewa  ?" sahut Cu Jiang.

"Benar," sahut Pek Liang, "ilmu pengobatanku dari warisan leluhur. Penyakit ayan, gila, kesetanan, luka2 dibagian tubuh yang manapun, bisul2 yang kelihatan dan tak kelihatan, angin duduk, angin jahat, tentu dapat ku sembuh kan. Bagaimana kehendak tuan ?”

Cu Jiang geli dalam hati.

"Ada seorang sanakku, menderita penyakit ulu hati, segala obat telah dicoba tetapi tak mempan ..."

"O, penyakit ulu hati ?" seru Pek Liang, "itu karena pencernaan macet, hawa darah tak dapat mengalir lancar. Setelah bertahun-tahun baru meledak. Tuan aku mempunyai resep. Tuan boleh belikan di rumah obat, tiga hari kemudian tuan boleh datang lagi kemari, nanti akan kubuatkan resep lain."

Habis berkata dia terus menulis diatas secarik kertas, lalu diserahkan kepada Cu Jiang.

"Tuan. obat dalam resep ini harganya mahal tetapi mengingat tuan tentu seorang kaya maka kurasa tuan tentu tak keberatan membelikannya."

"O, aku tahu bahan2 obat," seru Cu Jiang. "Kalau begitu kebetulan sekali."

Setelah memeriksa resep itu, Cu Jiang mengatakan apakah takerannya tidak terlalu berat.

"Tidak, tidak berat." seru Pek Liang. "justeru disitulah letak perbedaan resepku dengan resep orang lain. Kayu pwe-bok lipat dua, tidak pakai biji Ti-lip, yang penting som, harap diperbankan, belikan menurut resep."

"O, baiklah. Lalu berapa ongkosnya ?"

"Tak usah. Apabila obat itu manjur, tiga hari lagi harap datang dan tuan boleh bayar ongkosnya."

Setelah mengucapkan terima kasih, Cu Jiang-pun segera melanjutkan langkah.

Cu Jiang berotak cerdas. Sandi2 yang diselipkan dalam kata2 Pek Liang tadi, dia cepat dapat menangkap maksudnya. Yang dibilang "belikan obat menurut resep", ialah supaya bertindak menurut keterangan. Sedang "kayu pwe-bok lipat dua dan tidak pakai biji Ti-lip", berarti ada dua wanita tetapi tidak ada lelakinya. Berarti yang ada hanya si Ratu-kembang Tio Houw Hui dan putrinya. Sedang kata2 "yang penting som", artinya yalah menunjukkan Budha-hidup Sebun Ong. Sementara yang dibilang "Harganya mahal", menunjukkan bahwa lawan memiliki kepandaian tinggi.

Menurut tanda2 sandi disepanjang jalan, akhirnya Cu Jiang tiba di depan sebuah rumah gedung besar. Pintu bercat merah, gentengnya warna hijau. Beberapa pohon tua yang tumbuh di sekeliling, menjulang tinggi melampaui puncak rumah.

Baru Cu Jiang melangkah ke muka rumah, pintupun sudah terbuka dan seorang lelaki tua menyambutnya.

"Apakah yang datang ini bukan tuan Toan-kiam-jan-jin?" "Ya, benar."

"Hamba diperintah majikan untuk menyambut kedatangan tuan. Mari silahkan masuk."

Sejenak meragu, Cu Jiang segera melangkah ke  titian dan masuk ke dalam gedung. Dinding ruangan berhias sebuah lukisan pemandangan alam. Dua buah lentera dari sutera tergantung tinggi.

Di belakang tembok, merentang sebuah lorong yang terbuat dari batu putih. Tak panjang dan beberapa saat sudah tampak pintu dan jendela dari gedung utama.

Setiba di muka serambi, bujang tua itu berseru nyaring: "Tetamu sudah datang."

"Ha, ha, ha,  sahabat benar2 menepati janji!" tiba2 terdengar suara orang tertawa dan muncullah Budha-hidup Sebun Ong.

"Anda juga pegang janji." Cu Jiang balas memberi hormat. Sebun Ong mempersilakan tetamunya masuk dan duduk di tengah ruang. Seorang kacung menghaturkan teh.

"Bolehkah sekarang aku bertemu dengan nyonya Cukat dan puterinya ?" sesaat kemudian Cu Jiang berkata.

"Boleh." kata Sebun Ong lalu menggapai kacung tadi, "pergilah mengundang Cukat hujin dan siocia kemari. Katakan kalau tetamu yang ku ceritakan itu sudah datang."

Tak berapa lama muncullah dua orang wanita. Dengan nada sopan, Sebun Ong mempersilakan wanita itu masuk.

Kembali timbul keraguan dalam hati Cu Jiang. Sebun Ong benar2 bersikap seperti seorang kuncu atau gentleman. Beda sekali seperti yang di gambarkan Koh tiong-jin atau Cukat Giok tempo hari. Apakah benar2 terdapat salah faham dalam peristiwa itu.

Kedua wanita itupun melangkah masuk. Yang di muka seorang nyonya dalam pakaian sederhana. Di belakangnya mengikuti seorang gadis berumur 17-18 tahun. Cantik menyilaukan mata.

Cu Jiang serentak berdiri memberi hormat: "Maaf atas kedatanganku pada malam begini."

Sebut Ongpun memperkenalkan diri Cu Jiang sebagai Toan kiam jan-jin yang menerima permintaan tolong dari Cukat Giok.

Sejenak memandang Cu Jiang, wanita itu segera menggandeng tangan si gadis, diajak duduk di samping. Wajahnya menampilkan kedukaan. Sedang gadis itu menundukkan kepala.

"Sahabat, silahkan bicara. Kalau tak leluasa, baiklah aku mengundurkan diri " kata Sebun Ong. "Tak usah," cegah Cu Jiang kemudian berkata kepada wanita itu, "apakah nyonya itu Tio Hong Hui yang bergelar Ratu-kembang dahulu? Dan nona ini apakah puteri nyonya?"

"Ya. Kabarnya suamiku masih hidup?" "Masih."

"Mengapa dia menelantarkan kami ibu dan anak?"

"Tetapi sekalipun masih hidup, keadaannya jauh lebih menderita dari mati. "

"Ih, kenapa?"

Mata Cu Jiang memancar sinar berkilat-kilat seperti hendak menembus isi hati nyonya itu. Kemudian dengan keras ia mengucapkan kata2 sepatah demi sepatah:

"Dia telah dicelakai orang, kini menjadi orang yang  cacad tubuhnya! "

Wajah wanita itu pucat seketika dan dengan nada gemetar berseru:

"Mengapa dia sampai dicelakai orang?"

Cu Jiang tertegun. Dia agak bingung bagai mana akan menyelesaikan persoalan itu. Untuk membalas budi Cukat Giok, dia telah menyanggupi untuk menyelesaikan persoalan itu. Tetapi kenyataannya, lain seperti yang diceritakan Cukat Giok. Karena hal itu mengenai jiwa manusia, ia harus hati2 bertindak.

"Maaf. aku hendak bicara secara blak-blakan. Suami nyonya telah dicelakai oleh sahabatnya yang karib sendiri."

"Siapa! " teriak wanita itu.

Dengan mata berkilat-kilat, Cu Jiang mengerling ke arah Sebun Ong dan berseru: "Sebun tayhiap! "

"Ah . . . ! " kedua ibu dan anak itu serempak menjerit kaget.

Sebun Ong berbangkit tetapi duduk lagi dan tersenyum hambar:

"Bagaimana dasar dari tuduhan itu?"

Tiba2 Cu Jiang berdiri dan berseru dengan nada tegang: "Cukat cianpwe  menceritakan  sendiri  kepada  ku. Anda

telah  menurunkan   tangan   ganas  kepada   nya. Mengorek

sebuah biji matanya, mengutungkan kedua kaki dan melemparkannya ke dasar jurang. Jika tak ada kenyataannya, masakan Cukat cianpwe akan merangkai cerita begitu?"

"Aku.... mengapa harus melakukan perbuatan yang tak kenal perikemanusian seperti itu?" teriak Sebun Ong dengan tegang.

"Karena hendak merebut isterinya."

"Haia. sungguh suatu fitnah yang menyakitkan hati!"

Wanita itupun segera mengelap muka dengan lengan bajunya dan dengan suara terisak-isak, berseru:

"Aku tak percaya, tak mungkin terjadi  peristiwa semacam itu ! Sepuluh tahun lamanya aku dan anakku  telah mendapat pertolongan Sebun siokhu yang memberi tempat tinggal dan menjamin kehidupan kami dengan baik. Agar tidak disangka buruk oleh orang, maka hanya setahun sekali Sebun sioksiok datang kemari. Mengapa ... ada cerita semacam itu."

Juga gadis itu rebahkan kepala ke dada ibunya dan ikut terisak-isak. Melihat adegan itu, itu tak enak hati Cu Jiang. Soal itu benar2 diluar dugaannya. Lalu bagaimana dia  harus berbuat ? Jika begitu dia perlu harus kembali ke dalam jurang untuk meminta keterangan yang jelas kepada Cukat Giok mengenai peristiwa itu.

Bungkusan bunga teratai yang harus diberikan kepada Tio Hong Hui dan bungkusan kertas yang harus diberikan kepada nona Beng Cu itu, lebih baik ditahan dulu.

Sambil mengusap air mata, wanita itu berkata pula dengan rawan:

"Apakah tidak mungkin dia menderita penyakit syaraf karena putus asa?"

Cu Jiang terkesiap. Memang hal itu mungkin.

Tiba2 nona Beng Cu mengangkat muka dan berkata dengan sedih:

"Di manakah ayah sekarang? Aku bersumpah akan mencarinya sampai ketemu . . ."

"Sahabat !" Sebun Ong cepat menanggapi lagi. "dalam soal salah paham ini, sukar untuk menjelaskan dengan kata2. Lebih baik anda menunjukkan tempat Cukat beng. Setelah bertemu dengan orangnya sendiri, segala apa tentu dapat dijelaskan!"

Cu Jiang tertegun diam.

"Apakah suamiku sudah tak dapat berjalan lagi?" tanya wanita itu.

"Hm tenaganya   sudah   hilang, umurnyapun takkan panjang lagi."

"Apakah dia minta tolong anda untuk membereskan peristiwa ini?" "Ya."

"Apa pesannya?"

"Potong kepala manusia yang mencelakai kawan dan merebut isterinya itu !"

"O, Aah .. ..." Tio Hong Hui meratap. Air matanya berderai-derai keluar.

"Lalu bagaimana anda akan bertindak ?" kata Sebun Ong dengan wajah beku.

"Memeriksa lagi persoalan ini sampai jelas."

"Mengapa anda keberatan untuk memberitahu tempat Cukat-heng !"

"Soal ini untuk sementara tak dapat, maaf."

Tiba2 wajah Sebun Ong membesi, serunya : "Sahabat, maafkan kelancanganku berbicara. Kedatangan anda ini sangat mencurigakan."

Cu Jiang tertawa meringis. Kini dia berbalik menerima tuduhan. Ia mendengus:

"Persoalan ini masih belum selesai. Aku masih akan menyelidiki sampai tenang, maaf, aku mohon diri."

"Tunggu."

"Anda masih mempunyai pesan apa lagi?"

"Sahabat datang sebagai tetamu, ijinkan aku menunaikan kewajibanku sebagai tuan rumah "

"Ah, jangan banyak peradatan."

"Lepas dari persoalan ini, apakah anda benar2 tak mau memberi muka kepada Sebun Ong?" "Aku sudah biasa berkelana seorang diri. Tak suka berkawan, maaf." habis berkata Cu Jiang menatap ke arah nona Beng Cu, kemudian melangkah keluar.

"Sahabat," Sebun Ong memburu, "setelah persoalan ini selesai, apakah sahabat tak keberatan bersahabat dengan aku ?"

"Kelak kita bicara lagi." Jawab Cu Jiang dengan nada dingin.

Sehabis keluar dari pintu, tiba2 Tio Hong Hui lari dan menghadangnya:

"Anda harus menunjukkan tempat suamiku !" "Nyonya, sekarang masih belum waktunya."

"Sudah belasan tahun kami suami isteri tak  bertemu. Kita sama2 tak mengetahui bagaimana nasib kita masing2. Mengapa anda begitu "

"Nyonya, kuminta suka bersabar beberapa waktu lagi." "Tidak, tidak !" tiba2 Tio Hong Hui menjeritkan

tangisan.

Gadis Beng Cu juga lari keluar dan dengan bercucuran airmata, berseru:

"Apakah anda benar2 tak mengetahui bagaimana perasaan suami isteri dan anak?"

Tiba2 Tio Hong Hui berlutut, disusul oleh puterinya.

Melihat keadaan itu Cu Jiang benar2 kelabakan. Ia tertusuk perasaannya Juga. Jika Tio Hong Hui memang tak bersalah dan semuanya terjadi karena salah faham, bukankah berat untuk menerima permohonan yang disertai berlutut dari Tio Hong Hui ? Bukankah Tio Hong Hui itu juga seorang cianpwe dalam dunia persilatan? Kalau memang tidak sungguh2, masakan wanita itu mau berlutut di hadapannya.

Tetapi apabila memang benar Tio Hong Hui itu menyeleweng, jika ia memberi tahu tempat Cukat Giok kepadanya, apakah itu tidak berarti merusak kepercayaan dan mencelakai Cukat Giok?

Dan ia masih mempunyai lain persoalan yang penting, jelas tak dapat menemani wanita dan puterinya itu ke gunung Bu-leng san mencari Cukat Giok.

Cu Jiang bingung dan cepat2 menghindar jauh seraya berseru.

"Nyonya, jangan bersikap begitu. Kita bisa berunding!" "Oh, anda meluluskan?" seru Tio Hong Hui penuh

harap.

Cu Jiang teringat bahwa ketika dia jatuh ke dalam jurang dan ditolong Cukat Giok, ia jelas mengetahui orangnya itu masih normal pikirannya, tidak terganggu atau menderita sakit jiwa.

Tetapi ternyata keterangan orang tua itu lain dengan kenyataan. Mana yang salah dan mana yang benar, ia masih belum tahu. Teringat akan budi pertolongan orang  tua itu, sebaiknya ia menuju ke dasar jurang menemuinya lagi agar persoalan itu jelas dan selesai.

Tio Hong Hui dan puterinya masih tetap berlutut. Sebun Ongpun muncul. Dia kerutkan dahi.

"Sahabat, persoalan ini harus selekasnya dibereskan, jangan biarkan pembunuh itu bebas berkeliaran diluar. Sebaiknya engkau luluskan permintaan mereka dan bersama-sama menemui Cukat-Heng. Hubungan darah daging, setiap orang tentu merasakan."

"Jika anda tetap menolak, lebih baik anda bunuh aku sebagai seorang wanita hina!" teriak Tio Hong Hui,

Dalam terdesak dan gugup akhirnya Cu Jiang mengangguk dan meluluskan. Tio Hong Hui dan Beng Cu serempak berbangkit.

"Mohon anda memberitahu tempat suamiku itu, agar kami dapat lekas2 menemuinya," seru Tio Hong Hui.

"Tidak, tempat itu amat rahasia sekali. Harus aku yang menjadi penunjuk jalan!"

"Ini . . . . ah, bagaimana kami berani membikin repot anda . . ."

"Aku mempunyai beban dari Cukat cianpwe untuk melindungi kebenaran."

Tio Hong Hui memandang kearah Sebun Ong dengan pandang bertanya pendapatnya.

"Sahabat." kata Sebun Ong dengan nada sarat, "bukan karena aku banyak curiga, Tetapi ke dua nyonya dan puterinya itu telah diserahkan dalam tanggung jawabku. Maka hendak kutitipkan keselamatan mereka kepadamu."

"Baik akan kulaksanakannya dengan sekuat kemampuanku."

"Apakah aku juga boleh ikut?"

"Ah, maaf, rasanya belum waktunya."

"Tetapi sahabat secara lisan mengatakan menjalankan permintaan tolong dari Cukat Heng. Adakah sahabat membawa sesuatu yang dapat dijadikan bukti?"

"Ada!" "Harap menunjukkan."

Dengan hati2 Cu Jiang segera mengeluarkan bungkusan teratai yang berisi racun sambil menunjuk, dia berkata.

"Benda inilah !"

Sesaat wajah Sebun Ong tampak berobah pada lain saat sudah tenang kembali. Kemudian berpaling kepada Tio Hong Hui:

"Ensoh, kenalkah engkau akan benda itu?" Tio Hong Hui tertegun lalu mengangguk: "Ya, memang benar."

Cu Jiang menyimpan kembali.

"Sahabat, karena sudah ada keputusan. harap masuk kedalam lagi, akan kuhaturkan arak terima kasih ..."

"Ah, tak perlu."

"Mengapa sahabat menolak?" "Adatku memang begitu."

"Apakah sekarang sahabat akan membawa Toasoh dan puterinya?"

"Kita bertemu di kota Li-Jwan." "Ah, Li Jwan jauh sekali. Kapan ?" "Dalam sepuluh hari."

"Jika begitu, baiklah."

Sepeninggal Cu Jiang dari rumah itu, dia masih berkabut kegelapan. Antara kata Cukat Giok dengan kenyataan tidak sama. Hal itu berarti dia masih terlibat dalam persoalan yang belum selesai. Malam sudah larut. Jalan2 sepi. Tak mungkin dia akan mencari rumah penginapan. Terpaksa dia berjalan dengan langkah tertatih-tatih.

Tiba di tempat Pek Liang menjajakan dagangannya, ia melihat sebuah tanda sandi. Ia mengikutkan pandang matanya kearah yang ditunjuk oleh tanda sandi itu. Diatas segunduk tembok ia melihat beberapa corat-coretan yang melukiskan seorang lelaki tengah dikejar anjing.

Diujung muka, terlukis beberapa ekor anjing, dibawahnya diberi tulisan yang berbunyi: "Kawanan anjing milik keluarga siapa?"

Sepintas pandang, lukisan itu merupakan corat  coret yang biasa dilakukan anak-anak nakal pada tembok2 rumah. Tetapi bagi Cu Jiang hal itu merupakan petunjuk rahasia bahwa saat itu dia sedang dikuntit orang. Selain itu juga sedang terancam oleh beberapa kawanan musuh yang belum di ketahui golongannya.

Cu Jiang terkejut heran. Siapa yang secara diam2 mengikuti perjalanannya itu? Orang2 Thong-thian-kau, Gedung Hitam atau...

Ah, tetapi dia tak gentar. Setelah melalui pintu kota dan berjalan di jalan yang sepi, ia merasa di belakangnya terdapat seseorang yang mengikuti.

Tetapi dia pura2 tak tahu.

Tak berapa lama berjalan, tibalah Cu Jiang disebuah rumah berhala kecil yang terletak di tepi Jalan. Cepat ia gunakan tata langkah Gong-gong-poh-hwat, menyelinap bersembunyi.

Tetapi orang yang mengintil itu cerdik sekali. Dia berhenti tak mau ikut masuk. Cu Jiang tak mengacuhkan. Dia naik keatas wuwungan dan duduk bersemedhi. Semalam tak terjadi suatu apa. Tetapi ketika keesokan harinya dia hendak melanjutkan perjalanan, tiba2 ia mendengar suara orang mendengus. Kejutnya bukan kepalang dan cepat2 Ia berpaling kearah suara itu, tempat ia bersembunyi, diujung wuwungan belakang, tampak seorang lelaki tua tengah tidur melingkar dan mendengkur.

Kapan orang tua itu muncul, sama sekali tak diketahuinya. Yang jelas ketika semalam dia naik keatas wuwungan, ia tak melihat sesosok bayangan manusiapun.

Ah....

Suatu hal yang benar2 mengejutkan hatinya. Karena kalau menilik ilmu kepandaian yang dimilikinya sekarang, tak mungkin dia tak mengetahui. Jangankan manusia, barang semut berjalanpun ia dapat menangkap suaranya. Dengan begitu jelas orang tua itu bukan  orang sembarangan.

Oh, apakah dia yang menguntitnya selama ini ?

Setelah menenangkan pikiran, Cu Jiang batuk2. Orang tua itu membalikkan tubuh dan mengingau:

"Siapa yang lebih dulu sadar dalam mimpi, segala urusan aku dapat mengetahui sendiri. Belum puas tidur diatas wuwungan rumah berhala uh, mahluk apa yang mengganggu mimpiku ?"

Kini Cu Jiang semakin Jelas.. Orang tua itu tak lain adalah Ciok Yau to bergelar Thian-put loya atau Hanya- langit-yang-tak-dicuri.

Jelas orang tua itu datang belakangan dan bukan karena secara kebetulan tetapi tentu mempunyai tujuan.

"Aku manusia, bukan binatang." serunya. Pencuri sakti itu membuka besar-besar mata sambil bangun, ia lalu memandang Cu Jiang dan tertawa meringis:

"Oh, sungguh kebetulan sekali ! Kiranya Toan-kiam-jan jiu !"

Sepasang mata Cu Jiang memancar sinar berkilat-kilat, serunya dingin:

"Apa maksud anda mengikuti aku?"

"Mengikuti ? Tidak, tidak! Aku kemalaman dan terpaksa tidur disini."

"Apa benar begitu ?"

"Percaya atau tidak. terserah !"

“Didalam dunia itu jangan terjadi hal secara kebetulan seperti kali ini .." Cu Jiang terus melayang turun dan ayunkan langkah. Nada dan suaranya sungguh jumawa sekali.

"Hai, menganggap dunia ini tiada tandingannya. Lambat atau cepat tentu akan mengantar Jiwa dibawah kun (rok) si Ciok Liu !" terdengar orang tua itu mengigau seorang diri.

Cu Jiang terkesiap tetapi dia tak mau menghiraukan dan pura2 tak dengar.

Sinar matahari mulai menghangatkan bumi.

Di Jalan pun sudah banyak orang. Cu Jiang singgah disebuah kedai makan lalu melanjutkan perjalanan lagi. Dalam sepuluh hari dia harus tiba di Li jwan, bertemu dengan Tio Hong Hui dan puterinya.

Sebenarnya dia segan kembali ke dasar jurang yang menyeramkan itu. Tetapi apa boleh buat. Diam2 ia menimang, berpisah sekian lama, kemungkinan Ko-tiong Jiu Cukat Giok itu sudah meninggal dunia. Karena pada waktu berpisah, orang tua itu mengatakan bahwa tak lama lagi dia tentu sudah mati. Jika Cukat Giok benar2 sudah mati, bukankah persoalan Itu akan terbeku selama-lamanya ?

Saat itu dia sedang menempuh jalan yang sepi. Walaupun dengan kaki sebilah pincang tetapi kecepatannya mengejutkan orang.

Tiba2 ia merasakan sesuatu yang mencurigakan. Serasa ada orang yang bersembunyi. Sengaja ia lambatkan langkah.

Tak berapa lama berjalan, pada jarak sepuluh tombak dari tepi jalan, ada sebuah gunduk tanah  digerumbul pohon. Rupanya gunduk itu, masih baru dan didepannya dipasang sebilah papan batu yang bertulis:

"Toan-kiam-jan jin dikubur disini."

Melihat itu Cu Jiang tertawa gelak2. Dia segera menghampiri. Memang benar, gunduk tanah itu  masih baru. rupanya orang2 itu hendak mencegat, membunuh dan menguburkan dia disitu.

Selesai memeriksa dia lalu duduk bersemedhi dibawah sebatang pohon tua, diatas lutut, kemudian pejamkan mata.

Beberapa saat kemudian semula mendengar suara yang lembut. Dan dua musuh tentu mulai bergerak tetapi dia diam saja.

Setiup angin dahsyat segera melanda kearah kepalanya.

Huak.... terdengar jeritan ngeri disusul dengan sosok tubuh yang jatuh. Tanpa membuka mata, pedang kutung di acungkan keatas dan hawa pedang memancar sampai dua tombak, merontokkan ranting dan daun2..

"Ha. ha, ha Toan-kiam-Jan-jin sungguh hebat sekali !" Suara gelak tawa itu menggetarkan empat penjuru angkasa.

Cu Jiang menurunkan pedang, membuka mata dan berbangkit. Kedua matanya memancarkan sinar berapi-api. Didepannya melintang sesosok mayat dari seorang busu baju kuning.

Mungkin karena melibat Cu Jiang duduk pejamkan mata, busu itu terus melancarkan serangan. Tetapi akibatnya dia sendiri yang mati.

Dua tombak jauhnya, tampak seorang aneh berjubah kuning. Mulutnya mencolot, tulang pipinya menonjol, biji matanya banyak putih dari hitamnya. Tingginya tak kurang dari dua meter.

Cu Jiang cepat mengenali orang aneh itu sebagai si Iblis gila atau Gong Mo yang dahulu pernah memukulnya dengan pukulan Thian-kong-sat.

Tetapi rupanya iblis itu tak kenal siapa sebenarnya Toan- kiam jan-jin. Dia tentu tak mengira bahwa Toan kiam-Jan Jin itu tak lain adalah pemuda Gok-jin-Ji yang dahulu itu.

Melihat orang yang telah mencelakai dirinya menjadi cacat, seketika meluaplah hawa pembunuhan Cu Jiang. Tetapi ketika keliarkan mata ke sekeliling, ia terkejut juga.

Ternyata sekeliling empat penjuru, telah dikepung tak kurang dan lima puluhan orang. Pelahan-lahan mereka maju menghampiri.

Dia menyadari apa yang akan dihadapi saat itu. Rupanya Thong thian kau telah mengirim berpuluh-puluh jago sakti untuk membunuhnya. Mereka tentu marah mendengar berita Thong thian-kau cabang Siok-ciu telah diobrak-abrik dan ketuanya yakni Kiam Mo. menjadi manusia lumpuh dan cacat seumur hidup. "Toan-kiam jan jin," seru Gong Mo dengan nyaring, "liang sudah disediakan untukmu. Jika ingin mayatmu utuh, masuklah sendiri ke dalam liang kuburmu itu!"

Cu Jiang mendengus dingin: "Gong Mo, liang itu untukmu sendiri!"

"Engkau tahu namaku?" Gong Mo terkejut. "Bukan baru sekarang ini!"

"Siapakah engkau ini?"

"Tak usah bertanya. Aku keluar demi menumpas kawanan iblis seperti engkau dan kawan-kawan mu itu."

"Ha, ha. ha ... . engkau adalah manusia kedua yang paling congkak yang kujumpai didunia ini!"

"Siapa yang kesatu?" "Gok-jin-ji budak gila itu."

Diam2 Cu Jiang geli tetapi ia berseru dengan nada dingin:

"Sayang engkau takkan bertemu orang yang ketiga lagi!" "Apa maksudmu?"

"Sejak saat ini dunia persilatan takkan terdapat nama Gong Mo lagi!"

Karena marah Gong Mo tertawa nyaring: "Akan ku tangkap hidup-hidupan untuk kusiksa sepuas hatiku. "

"Asal engkau mampu." sahut Cu Jiang. "aku sih tak memilih kematian cara apa saja."

"Bagus, engkau ini memang budak . .." Gong Mo maju dua langkah sehingga hanya terpisah tidak sampai dua meter. Cu Jiang lekatkan pandang matanya, menyalurkan tenaga dalam ke tangan. Suasana tegang sekali, diliputi hawa pembunuhan. Tiba2 Gong Mo dorongkan kedua tangannya, menghantam Cu Jiang.

Pedang berkilat, dengan sepenuh tenaga Cu Jiang pancarkan ilmu pedang Thian-tay kiau-thay.

Angin pukulan menderu dahsyat, hawa pedang pun meroket angkasa. Jeritan ngeri, erang tertahan serempak terdengar.

"Huak "

"Auh. "

Cu Jiang terdorong tiga langkah ke belakang. Darah dalam tubuhnya bergolak-golak, pukulan Thian-kong-sat dari Gong Mo hampir memberantakan tenaga kong gi yang dipancarkan Cu Jiang untuk melindungi tubuhnya.

Jika setahun yang lalu, dia tentu mati karena pukulan itu. tetapi sekarang ia mampu bertahan.

Jubah Gong Mo mengalirkan darah merah. Bluk ....

tubuhnya yang tinggi besar segera terjungkal rubuh ke tanah dan tak dapat bangun lagi untuk selama-lamanya.

"Hai ...." pecahlah teriak kejut dari sekalian anak buah Thong-thian-kau.

Benar2 mereka tak percaya pada peristiwa yang dilihatnya saat itu. Seorang anggauta Sip-pat thian mo yang termasyhur, ternyata hanya dengan sebuah jurus saja, sudah terbunuh mati.

Secepat kilat dua batang pedang segera menerjang Cu Jiang. Cu Jiangpun cepat memutar pedang kutungnya.

Huak. . . huak . . . kembali di atas tanah bertambah lagi dengan dua sosok mayat. Menyusul tiga pedang menyerang lalu pekik bentakan, jeritan ngeri. Darah, sinar golok, bayangan pedang, angin pukulan dan deru sambaran senjata rahasia, bertubi-tubi menggemuruh ....

Hutan itu segera berobah menjadi tempat pembunuhan. Jago2 Thong-thian-kan susul menyusul rubuh. Setiap kali Cu Jiang menggerakkan pedang, paling sedikit tentu ada seorang musuh yang rubuh.

Mayat makin lama makin menumpuk. Tetapi jago2 Thong-thian kau itu seperti kerasukan setan. Mereka menyerang dengan jurus2 maut. Mereka tak menghiraukan mati.

Cu Jiang merah matanya. Diapun ikut kalap seperti lawan. Pakaiannya penuh berlumur percikan darah.

"Mundur ...!" tiba2 terdengar sebuah bentakan menggeledek.

Kawanan jago itupun berhamburan mundur. Dari sejumlah lima puluhan orang, kini mereka hanya tinggal belasan orang.

Dua orang aneh berjubah warna kuning, serempak maju ke dalam gelanggang. Keduanya berwajah menyeramkan.

Cu Jiang menjulurkan pedangnya ke bawah, pedang itu masih mengucurkan darah.

Kedua pendatang itu yang seorang memegang senjata Tok kak thong jiu atau Orang-tembaga-berkaki-satu dan yang lain mencekal Ki bi-thiat kun atau tongkat besi. Kedua senjata itu termasuk senjata berat. Jelas keduanya tentu memiliki tenaga yang kuat sekali.

Sepasang mata mereka berkilat-kilat memancarkan sinar buas sekali seperti singa mencium darah. "Rupanya kalian berdua ini juga anggauta dari Sip pat thian mo?" tegur Cu Jiang.

"Benar, aku adalah Bu Mo yang termasuk pada jajaran ke tujuh belas." sahut orang yang mencekal tongkat besi.

"Dan aku iblis yang ketiga belas. Toa-lat-sin-mu. Budak, aku takkan berhenti sebelum mencincang tubuhmu! "

"Kalian akan maju berdua atau . . ."

"Heh, heh, heh .... Sip pat thian-mo selalu  bertempur satu lawan satu."

"Siapa yang akan maju dulu?" "Aku."

"Silakan ! Aku masih ada lain urusan penting. Tak dapat lama disini."

Bu Mo mundur setombak jauhnya. Sementara setelah siap dengan senjata Tok-kak-thong-jin. maka dengan tertawa seram, Toa-lat-cin-mo atau Iblis-sakti-bertenaga besar segera melancarkan serangan menghantam kepala Cu Jiang dengan sekuat-kuatnya.

Cu Jiang menangkis dengan pedangnya.

Tring . . . senjata Tok-kak-thong-jin tertolak tetapi adu tenaga itu menggetarkan tubuh Cu Jiang sehingga darahnya bergolak keras.

Tok-kak-thong Jin atau naga berbentuk orang berkaki satu merupakan senjata yang berat. Sedang pedang adalah senjata ringan, hanya mengutamakan kelincahan dan  tenaga si pemakai.

Kalau bukan Cu Jiang, tentu tak ada orang berani mengadu pedang dengan Tok-kak-thong-Jin tetapi pun jika bukan Toa lat sin-mo, tentu sudah mati di bawah pedang  Cu Jiang.

Toa-lat-sin-mo juga terkejut bukan kepalang. Dia tak menyangka lawan berani mengadu pedang dengan gada yang berat. Dan lebih kaget lagi ketika ia merasakan akibat dari benturan senjata itu. Ternyata lawan memiliki tenaga dalam yang hebat sekali.

Pada saat Toa lat-sin-mo masih tercengkram terlongong keheranan. Cu Jiangpun sudah bergerak menyerang dengan jurus Thian te kun-thay.

"Uh.." cepat Toa lat sin-mo lintangkan gada Tok kak thong-jin untuk melindungi tubuhnya.

Iblis itu memang hebat dan cepat bergerak tetapi sayang masih kalah cepat setindak dengan Cu Jiang.

Serentak terdengar seruan tertahan dan keduanyapun loncat berpencar diri. Dada Toa-lat sin-mo berhias dengan suatu luka sepanjang setengah meter, darahnya bercucuran.

Melihat dirinya terluka, Sin-mo marah sekali. Dengan menggerung seperti singa kelaparan, dia menyerang dahsyat.

Wut.. tongkat besi dari Bu Mopun ikut menyerang. Kalau dua iblis maju serempak, dahsyatnya sukar dilukiskan.

Cu Jiang terkejut dan cepat menggunakan gerak-langkah Gonggong-poh-hwat untuk menghindar.

Kedua iblis itu menggeram dan serempak  berputar tubuh.

Sebenarnya Cu Jiang hanya menyelinap ke belakang, bukan melarikan diri. "Bukankah Sip-pat-thian-mo itu selalu bertempur satu lawan satu?" serunya mengejek.

"Kecuali terhadap engkau karena engkau harus mati," sahut Bu Mo dengan menyeringai.

Dan kedua iblis itu lantas menyerang lagi. Deru angin sambaran dan dua buah senjata berat mereka, menimbulkan letupan2 macam halilintar menyambar.

Kali ini Bu Mo benar2 ngotot sekali. Dia menumpahkan segenap kepandaiannya. Dia cepat merobah permainannya dalam jurus Ya-con-pat-hong atau bertempur-empat-arah- pada-malam-hari.

Suatu jurus yang sederhana.. Tetapi dimainkan oleh seorang iblis macam Bu Mo, jurus itu berobah menjadi gerak yang hebat.

Saat itu Cu Jiang melihat suatu lubang kesempatan. Sehabis menghindari serangan, dia terus menghantam punggung Sin-mo.

0oodwoo0
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pusaka Negeri Tayli Jilid 12"

Post a Comment

close