Pusaka Negeri Tayli Jilid 10

Mode Malam
Jilid 10

Kedua jagal itu terkejut dan mundur sampai beberapa langkah Orang2 yang berlutut mengikuti upacara penjagalan Cu Jiang itupun serempak berdiri.

Cu Jiang membuka mata. Tampak seorang lelaki berumur 40 an tahun melesat ke depan  meja sembahyangan. Dia mengenakan pakaian ringkas seperti orang persilatan dan menyanggul pedang.

Melihat pendatang itu, lelaki jubah kuning emas tadi serentak pucat wajahnya. Buru2 dia membungkuk tubuh memberi hormat.

“Se-cun thosi lo Ciau Liang menghaturkan hormat ke hadapan Lwe-si-tiang."

Orang yang disebut lwe-si-tiang atau  kepala prajurit keraton (bhayangkara) menghela napas longgar.

"Ah, lo thosi tak usah banyak peradatan. Kalau aku terlambat datang, urusan ini tentu hebat akibatnya . . ." Sekalian orang berturut-turut menghaturkan hormat kepada kepala bhayangkara keraton itu, kemudian sama menyingkir ke samping.

"Mohon segera diberitahu, perintah apa yang lwe-si-tiang hendak berikan kepada kami?" kata thosi yang ternyata bernama lo Ciau Liang.

"Tahukah In thosi siapa pemuda itu?" "Dia ... . adalah . . ."

"Pewaris dari Kok-su!" tukas kepala bhayangkara itu.

"Ah!" thosi itu menjerit kaget, menyusul sekalian hadirinpun melengking kejut.

Lwe-si tiang terus menghampiri Cu Jiang melepaskan pengikat dan sumbat mulutnya.

"Ah, sausu tentu menderita kejut," serunya tegang.

Cu Jiang hanya tertawa hambar, tak berkata apa2. Keduanya segera menghampiri ke muka meja sembahyangan.

Pemilik rumah makan tadi, pucat wajahnya dan serta merta berlutut, menundukkan kepalanya sampai ke tanah.

"Hamba pantas dibunuh! Hamba pantas dibunuh!" "Sausu mengapa tak mau mengatakan diri sausu

sehingga rakyat kami hampir saja melakukan kesalahan besar," kata In thosi sembari memberi hormat kepada Cu Jiang.

"Aku tak mendapat kesempatan," sahut Cu Jiang dengan nada dingin.

Sejenak memandang ke arah rakyat yang masih dicengkam kejut dan ketakutan, berkatalah kepala bhayangkara itu kepada Cu Jiang: "Sausu, Kok-su sedang menuju ke mari, mari kita menyambutnya."

Untuk menebus dosa, kepala desa In thosi itu  mohon agar tetamu2 agung itu suka singgah di rumahnya. Tetapi kepala bhayangkara menolaknya.

"Mohon Iwe si-tiang suka memintakan ampun di hadapan Kok-su." kata In thosi.

"Kok-su selalu bijaksana."

Dalam pada itu pemilik rumah makan segera berlutut di hadapan Cu Jiang dan menyerahkan sebuah bungkusan:

"Sausu, hamba memang harus mendapat hukuman mati. Dengan ini hamba haturkan obat penawar arak beracun itu."

Sambil menyambuti, Cu Jiang mengatakan bahwa orang yang tak tahu itu tak berdosa. Sudah tentu pemilik rumah makan sangat gembira dan menghaturkan terima kasih tak terhingga atas kelapangan hati Cu Jiang.

Setelah minum obat penawar, tenaga Cu Jiang pun pulih kembali.

Walaupun Cu Jiang mengampuni tetapi kepala bhayangkara itu tetap marah:

"Hm, kalian tetap tak mau tunduk perintah.  Masih berani menggunakan obat bius untuk mencelakai orang."

Pemilik rumah makan dengan gemetar mohon ampun atas kesalahannya.

"Sausu, mari kita tinggalkan tempat ini." kata kepala bhayangkara. Sebelum pergi, Cu Jiang mengambil kutungan pedang di meja lalu bersama lwe-si-tiang melangkah pergi. Sekalian orang serempak memberi hormat.

Salah seorang pengawal dari In thosi, memberikan kudanya kepada Cu Jiang. Demikian Cu Jiang dan Iwe si- tiang segera naik kuda menyongsong Gong-gong-cu.

Beberapa saat kemudian tiba2 Cu Jiang hentikan kudanya.

"Lwe-si tiang, pelahan dulu!"

"Oh, sausu hendak memberi pesan apa ?" kepala bhayangkara hentikan kuda.

"Ah, hanya mohon tanya siapakah nama lwe-si-tiang yang mulia?"

"Aku bernama Ang Ban !"

"Oh. harap Ang Iwe-si- tiang sampaikan kepada Koksu bahwa aku hendak kembali ke Tiong goan . ."

Kepala bhayangkara itu terkejut, serunya:

"Aku tak dapat memberi keputusan. Harap menghadap Kok-su dulu."

Cu Jiang diam2 menghela napas. Dia sebenarnya malu kembali ke keraton Tayli tetapi dia tak mau menyulitkan kepala bhayangkara yang telah menolong jiwanya tadi.

Tidak jauh arah muka tampak tiga ekor kuda mencongklang datang dengan pesat.

"Koksu sudah tiba," seru Ang Iwe-si-tiang gembira.

Yang dimuka memang Gong-gong-cu. Dua penunggang kuda dibelakangnya adalah wi-su atau prajurit penjaga keraton. Cepat sekali ketiga penunggang kuda itu tiba. Gong-gong-cu loncat dari kudanya. "Nak, mengapa engkau hendak melarikan diri ?"

Cu Jiangpun turun dari kuda. "Lo cianpwe, wanpwe merasa tak layak menerima budi yang sebesar itu maka wanpwe pikir akan kembali ke Tionggoan saja."

"Ah, semuanya dapat diatur pelahan-lahan" kata Gong gong-cu kemudian berpaling dan bertanya kepada Ang Ban bagaimana tadi dapat menemukan jejak Cu Jiang.

Ketika Ang Ban selesai menceritakan semua yang terjadi pada diri Cu Jiang, Gong-gong cu banting2 kaki:

"Berbahaya, sungguh berbahaya sekali! Nak, engkau terlalu keras hati!

"Wanpwe menyesal sekali," kata Cu Jiang. "Untung tak sampai terjadi sesuatu yang menyedihkan."

"Wanpwe hendak mohon pamit kepada cian-pwe." "Jangan terburu-buru dulu." kata Gong-gong-cu lalu

memberi perintah kepada Ang Ban, "lwe-si-tiang, perintahkan agar semua kesatuan yang mencari jejak  supaya pulang. Dan haturkan ke hadapan Hong-ya, bahwa dalam beberapa hari lagi aku tentu pulang."

"Apakah untuk sementara waktu ini Kok-su tak kembali keraton?"

"Aku hendak mengurus sebuah persoalan penting harap kalian pulang."

Kepala bhayangkara itu mengiakan. Bersama kedua prajurit penjaga keraton dia memberi hormat kepada Gong- gong-cu lalu melarikan kuda. Tak berapa lama mereka lenyap dalam kegelapan.

Setelah mereka pergi, barulah dengan wajah serius Gong-gong-cu berkata: "Nah segalanya telah beres."

Cu Jiang terkejut dan heran, tanyanya: "Apa yang lo- cianpwe maksudkan dengan beres itu ?"

"Semua berjalan menurut yang kita rencanakan." "Apakah baginda meluluskan?"

"Tentu. Pernah kukatakan, kalau baginda tak meluluskan, aku akan mengundurkan diri."

"Ah, mengapa locianpwe akan bertindak begitu ?"

"Nak, soal ini menyangkut urusan besar dan kepentingan mati hidupnya dunia persilatan. Rupanya Thian telah meluluskan sehingga secara kebetulan dapat berjumpa dengan engkau. Sudah tentu aku tak mau melepaskan begitu saja sebelum selesai”

"Tetapi wanpwe sudah tak berminat kembali ke kota Tayli lagi. Harap locianpwe suka memberi maaf."

"Engkau boleh kembali pulang ke Tionggoan," kata Gong-gong cu.

"Boleh pulang ke Tionggoan ?" Cu Jiang terbeliak kaget: "Ya, untuk sementara lebih baik jangan dulu."

"Wanpwe sungguh tak mengerti maksud ucapan locianpwe."

"Dengan susah payah akhirnya aku berhasil menjelaskan Hong-ya sehingga Hong-ya meluluskan untuk menyerahkan kitab pusaka kerajaan Tayli Giok-kah-kim-keng kepadamu agar engkau dapat mempelajarinya.

Di puncak utama dari gunung Jong-san terdapat sebuah tempat yang bagus untuk berlatih silat. Di tempat itulah dulu aku memenjarakan gerombolan Sip-pat-thian-mo. Maksudku, supaya engkau seorang diri mempelajari isi kitab itu. Aturlah soal makananmu. Setiap waktu boleh suruh orang untuk mengambil "

"Wanpwe benar2 tak mengerti." "Soal apa?"

"Jika kitab pusaka Giok kah kim-keng itu sungguh sebuah kitab pusaka kerajaan mengapa Hong-ya tak mau mempelajarinya sendiri? Begitu pula masakan dalam kerajaan Tayli tiada seorang mentri dan hulubalang yang mampu untuk meyakinkan isi pelajaran kitab itu?"

"Pertanyaanmu bagus sekali." seru Gong gong cu, "tetapi pernah kukatakan bahwa untuk mempelajari isi kitab itu harus yang masih perjaka tulen, mempunyai pokok ilmu tenaga-dalam yang kokoh dan bakat serta kecerdasan tinggi. Ketiga syarat itu tak boleh kurang salah satu.

Hong-ya tak berputera melainkan hanya mempunyai seorang puteri tunggal. Didalam negeri Tayli tiada tunas yang luar biasa. Dan lagi kalau sembarangan saja menurunkan pada orang, besar sekali akibatnya. Kalau orang itu buruk moralnya, akibatnya tentu mengerikan."

"Apakah lo cianpwe memastikan bahwa aku ini seorang manusia baik?"

Gong gong cu tertawa.

"Nak, dalam ilmu meramalkan tampang muka rasanva aku masih dapat dipercaya."

"Apakah pusaka milik kerajaan itu, boleh diberi kau kepada orang luar?"

"Keadaan memaksa begitu. Selama gerombolan Sip pat- thian-mo itu belum terbasmi, Tayli tentu akan terancam bahaya. Gerombolan durjana itu. tentu takkan melupakan dendam kemarahannya karena telah dipenjara selama berpuluh tahun."

"Tetapi mengapa sampai saat ini mereka tak tampak melakukan kegiatan apa2?"

"Jika dianggap tenang, ketenangan itu merupakan ketenangan pada saat badai akan melanda. Sekali meletus tentu sukar diatasi lagi. Mungkin gerombolan Sip-pat thian- mo itu hendak membereskan dunia persilatan Tiong goan dulu, baru kemudian akan bergerak menghancurkan Tayli."

"Oh, apakah terdapat kemungkinan begitu?"

"Nak, bukankah sekarang engkau sudah tak mempunyai pikiran hendak melarikan diri lagi ?"

"Jika lo cianpwe tidak berkeras menahan, wanpwe tentu akan pulang."

"Sudahlah, nak, naik kuda dan ikut aku."

Sebenarnya Cu Jiang tak berminat besar tetapi karena sikap dan perlakuan Gong gong- cu ramah dan hangat, terpaksa dia menurut. Dia segera naik kuda dan mengikuti dibelakang Gong-gong- cu.

Tak lama. cuaca terang dan disebelah muka tampak beberapa orang siap menyambut kedatangan mereka.

Gong-gong-cu memberi perintah supaya menyediakan makanan dan diantar ke puncak gunung Jong-san. Setelah itu ia turun dari kuda dan bersama Cu Jiang lalu mendaki keatas gunung.

Menjelang sore mereka sudah mencapai setengah perjalanan Puncak gunung yang tertutup salju sudah nampak. Jelas puncak itu dingin sekali hawanya. Terdapatnya salju abadi, salju yang tak lumer sepanjang tahun. Menjelang petang hari, mereka tiba di tempat di mana dahulu gerombolan Sip-pat thian-mo dipenjarakan. Barisan Kim soh-tin yang sudah morat marit, masih berada di muka gua.

"Nak, di tempat inilah," Gong-gong-cu menunjuk  gua itu, "barisan itu telah kuperbaiki lagi. Engkau dapat mempelajari kitab itu dengan tenang. Tak perlu kuatir diganggu orang. Mari kita masuk."

Cu Jiang mengiakan. Diam2 dia setuju sekali. Setelah melintasi barisan, mereka masuk kedalam gua.

Gua itu merupakan gua alam yang aneh. Lebar dan bersih sekali. Gong-gong-cu ternyata sudah mempersiapkan segala sesuatu disitu. Terdapat juga kursi dan meja, tempat perapian dan lain2.

Didalam gua terdapat beberapa cekung yang menyerupai gua kecil, jumlahnya delapan buah. Setelah menyulut api, Gong-gong-cu dan Cu Jiang duduk berhadapan.

Sambil melirik ke sekeliling. Cu Jiang berkata: "Ah, rupanya locianpwe sudah mempersiapkan semuanya."

Gong gong-cu mengiakan.

"Atas jerih payah lo cianpwe, wanpwe sungguh berterima kasih sekali."

"Nak, tak usah mengatakan begitu. Sekarang mari kita membicarakan yang penting2."

Cu Jiang mengiakan.

"Apakah engkau sungguh2 rela masuk menjadi muridku?"

"Suka." "Tata peraturan tak boleh diabaikan. Apakah engkau bersedia untuk melakukan upacara mengangkat guru?"

"Tentu."

Gong-gong cu berbangkit dan mendorong kursi ke samping. Wajahnya tampak serius.

Juga Cu Jiang berbangkit dan duduk menghadap Gong gong cu. Ia membuka kedok mukanya.

Gong-gong-cu mulai berseru dengan tegas dan khidmat: "Aku Nyo Wi, tiada perguruan tiada partai persilatan.

Ilmu yang kuperoleh, sebagian kudapat secara kebetulan, sebagian dari buah ciptaanku sendiri. Engkau, menjadi muridku yang pertama. Sesungguhnya, setelah mempelajari ilmu pelajaran dalam kitab pusaka Giok-kah-kim-keng, engkau sudah cukup pantas menjadi seorang pendiri sebuah partai persilatan."

Cu Jiang berlutut dan berseru dengan penuh hormat: "Murid. Cu Jiang, menghaturkan hormat ke hadapan

suhu!"

"Apa? Namamu Cu Jiang?" seru Gong-gong-cu.

"Ya, murid adalah pelajar baju putih yang pernah bertemu dan disebut-sebut oleh kedua locianpwe Go Leng- cu dan Thian-hian-cu itu."

"Jadi pelajar baju putih itu engkau sendiri?"

"Benar, murid adalah anak sebatang kara dari Dewa- pedang Cu Beng Ko."

Gong-gong cu termangu beberapa saat. Kemudian tertawa gelak2:

"Jodoh ! Jodoh ! Inilah yang disebut jodoh! Nak, kini kepercayaanku makin besar terhadap daya penilaianku. Aku kenal baik dengan ayahmu. O, engkau mengatakan sudah sebatang kara, apakah. . ."

Dengan mata merah dan nada tersekat Cu Jiang berkata: "Ijinkanlah murid menuturkannya dengan pelahan-lahan

nanti."

"Baik!"

Cu Jiang lalu menjalankan upacara memberi hormat dengan berlutut dan membungkukkan kepala sampai tiga kali. Setelah itu baru ia memohon petunjuk suhunya. Sejak saat itu dia menjadi murid Gong-gong-cu dan menyebut Gong-gong-cu sebagai suhu.

"Engkau adalah anak keturunan dari seorang tokoh termasyhur. Tak usah  engkau menuturkan riwayatmu. Sebagai suhu, aku tetap harus menekan beberapa hal padamu agar jadi peganganmu. Kesungguhan, Kejujuran Kebajikan dan Keberanian. Empat hal itu harap engkau lakukan dan pelihara sebaik-baiknya."

"Murid berjanji akan melakukan pesan suhu."

"Menilik kaki kirimu cacat, akan kuajarkan ilmu gerak Gong gong-sim-hwat hasil ciptaanku sendiri. Ilmu itu merupakan sebuah aliran tersendiri. Agar jangan engkau awut-awutan mempelajari beberapa macam ilmu, untuk sementara waktu2 ilmu takkan kuberikan.

Curahkan segenap perhatian untuk meyakinkan ilmu pelajaran dalam kitab pusaka Giok-kah-kim-keng itu. Apa isi kitab itu, aku sendiri juga belum pernah melihat. Engkau pelajari dan berlatih sendiri."

Habis berkata Gong-gong cu mengeluarkan sebuah kitab kecil, diangsurkan kepada Cu Jiang. Anak muda itu menyambuti dengan kedua tangan. Kitab itu merupakan pusaka kerajaan Tayli. Merupakan kitab yang paling diincar oleh segenap jago persilatan, Mimpipun tidak bahwa saat itu ia telah memperolehnya. Sudah tentu dia tegang sekali.

"Bangunlah !"

Setelah memberi hormat lagi barulah Cu Jiang berbangkit.

"Duduk."

"Ah, murid tak berani."

"Jangan takut segala peradatan. Walaupun aku menjadi Kok-su tetapi perangaiku senang sebagai burung  bangau liar. Aku tak senang mengekang kebebasan dengan segala tata peraturan."

"Maafkan, kelancangan murid," kata Cu Jiang terus menarik kursi dan duduk.

"Sekarang engkau boleh menuturkan riwayat hidupmu."

Sebenarnya sedih sekali apabila Cu Jiang harus menceritakan tentang keadaan keluarganya. Tetapi dihadapan suhunya, terpaksa dia harus berlaku terus terang. Ia segera menuturkan semua peristiwa yang telah dialami dan menimpa keluarganya selama ini.

Juga peristiwa yang dideritanya mengapa kakinya sampai cacat dan wajahnya rusak, semua diceritakan dengan terus terang. Hanya bagian yang mengenai soal2 asmara dengan beberapa Jelita itu, dia tak mengatakan.

"Nak. hapuslah semua kenangan lampau yang sedih itu. Sekarang engkau hanya mencurahkan segenap perhatianmu untuk mempelajari ilmu sakti dalam kitab pusaka itu. Kelak segala sesuatunya tentu dapat diatasi," kata Gong gong-cu.

Cu Jiang mengiakan. "Sekarang, mari, akan kuberimu pelajaran ilmu tata- langkah yang kuberi nama Gong-gong-poh-hwat. Keistimewaan dari ilmu gerak langkah itu, mengutamakan kaki kanan sebagai tiang utama dan  kaki kiri sebagai pembantu. Kuciptakan khusus untuk dirimu." kata Gong- gong-cu.

Cu Jiang menghaturkan terima kasih.

Dengan memberi petunjuk melalui gerak tangan dan kaki disertai dengan keterangan lisan, dalam waktu singkat saja, Cu Jiang sudah dapat menyelami.

Begitu melakukan latihan, dia sudah dapat bergerak sesuai dengan yang diajarkan suhunya. Yang kurang hanya dalam kesempurnaannya saja.

Malam itu keduanya bermalam dalam gua. Keesokan harinya menjelang siang, makanan dan alat2 perkakas yang diperlukan sudah tiba. Sementara Cu Jiang membuat perapian, Gong-gong-cupun mengatur lagi barisan Kim soh- tin.

Pada waktu makan tengah hari, Gong-gong-cu memberitahu tentang cara masuk keluar barisan itu. Setelah meninggalkan beberapa pesan kepada Cu Jiang, Gong- gong-cu lalu tinggalkan gua itu.

Cu Jiang tak mau buru2 membuka kitab pusaka Giok- kah-kim-keng melainkan berlatih lagi ilmu langkah Gong gong poh hwat. Ternyata ilmu tata langkah itu hebat sekali. Didalamnya mengandung beberapa gerak yang tak terdapat dalam pelajaran silat.

Beda sekali dengan gerak langkah dalam ilmu silat umumnya. Karena tertarik, semangatnya makin besar dan tiap hari dia giat sekali berlatih. Dalam sepuluh hari dia sudah dapat melakukan gerak tata-langkah itu dengan sempurna.

Pada hari yang kesebelas, pada saat semangatnya gembira, diapun bersiap-siap hendak membuka kitab  pusaka Giok-kah-kim-keng.

Kitab pusaka itu dibuat dengan luar biasa indahnya. Giok atau batu kumala yang menjadi tempatnya juga dipilih dari bahan batu kumala yang tinggi nilainya.

Penutup kotak kumala itu di lekat dengan stempel cap kerajaan Tayli Masih mulus tiada cacadnya, pertanda bahwa selama ini kotak kumala atau Giok-kah itu belum pernah di buka.

Cu Jiang menahan gejolak hatinya. Lebih dulu dia memberi hormat lalu dengan sikap yang khidmat ia mulai membuka tutup stempel itu.

Kotak kumala Itu tidak dikunci, maka sekali stempelnya dibuka, kotakpun terbuka. Di dalamnya berisi sebuah kitab kecil yang kalau menurut warnanya penuh bintik2, jelas sudah berumur tua sekali.

Pada sampul kitab itu tertulis empat buah huruf: Giok- kah-kim-keng.

Begitu membuka lembar pertama, terdapat tulisan huruf2 hias:

Kitab ini ditulis olah Kong yang Beng, tokoh aneh pada jaman huru hara Can Kok, tahun kedelapan dari perhitungan tahun Giau Hong.

Jika menilik tulisan itu, kitab Giok kah-kim-keng tersebut merupakan sebuah kitab kuno.

Kemudian membalik lembaran kedua, terdapat catatan yang bunyinya hampir sama seperti yang diucapkan Gonggong cu mengenai syarat2 penting dari orang yang hendak mempelajari kitab itu.

Sedang pada bagian belakang merupakan indeks atau isi kitab itu, yakni:

Bagian pertama : Pelajaran Iwekang. Bagian kedua : ilmu pukulan dan jari. Bagian ketiga : Ilmu pedang.

Tambahan: Pelajaran ilmu tenaga sakti Kim - kong - sin - kang

Membuka halaman dari Bagian pertama, disitu memuat pelajaran yang diuraikan dengan bahasa dan sastera yang dalam. Tak mudah untuk menyelami artinya.

Orang harus tekun dan mencurahkan segenap pikiran untuk mempelajari.

Sebagai putera dari tokoh silat yang mendapat gelar Sian kiam atau Dewa-pedang, Cu Jiang mempunyai pengetahuan luas dan selera tinggi tentang ilmu pedang.

Waktu membuka Bagian ketiga yang memuat pelajaran ilmu pedang, mau tak mau dia harus menghela napas. Pelajaran itu terdiri dari dua belas keterangan untuk digabungkan dalam satu jurus. Jurus itu disebut Thian-te- Kiau-thay. Untuk memahami jurus itu, tentu sukar.

Demikian mulai hari itu dia terus mempelajari kitab pusaka Giok-kah-kim-keng dengan sungguh2.

Bagian pertama menghabiskan waktu selama seratus hari. Sudah tentu hal itu dikarenakan dia sudah memiliki pokok2 dasar tenaga-dalam. Jika tidak, tentu paling sedikit harus menggunakan waktu tiga tahun. Bagian tengah atau kedua. Juga memerlukan waktu seratus hari. Dalam pelajaran ilmu gerak tubuh karena terpancang oleh kakinya yang cacad, terpaksa di hanya dapat memahami pelajaran teori atau lisan tetapi tak dapat mempraktekkan dalam latihan.

Selama itu Gong-gong-cu sudah tiga kali datang menjenguk. Dia hanya bertanya sebentar mengenai perkembangan dan kemajuan yang dicapai Cu Jiang. Setelah Itu lalu pergi lagi.

Tidak sepatahpun Gong gong cu menceritakan kepada Cu Jiang tentang kejadian diluar. Dia kuatir hal itu akan mengganggu pemusatan pikiran Cu Jiang.

Kini Cu Jiang mulai mempelajari sejurus ilmu pedang Thian-te-kiau-thay yang tiada bandingannya itu. Uraiannya terdiri dari dua belas kata. Sepuluh hari telah lalu, huruf yang pertama saja dia tak mampu mengungkap artinya.

Dia makin ngotot untuk memecahkan arti huruf itu.

Tetapi semakin ngotot, pikirannya makin kacau.

Akhirnya ia menyadari bahwa belajar dengan cara memaksa diri tentu tiada gunanya. Dan ia teringat akan sebuah pelajaran dari kaum vihara Siau-lim pay yanki "Dengan menghadap tembok untuk mengheningkan segala kerisauan pikiran." Ah, mengapa dia tak mencobanya.

Maka dia lepaskan semua pemikiran, duduk diam menghadap tembok gua. Dia memulai lagi untuk  menyelami pelajaran itu. Akhirnya ia terbenam dalam kehampaan dan terlelap dalam keadaan yang tiada.

Sehari, dua hari dan akhirnya pada hari yang ke tiga- puluh lima, terpetiklah suatu penerangan dalam hatinya. Kini kekosongan alam pikirannya mulai merekah suatu isi dan mulailah ia dapat menyelami arti dari keempat huruf yang terdepan. Dia seperti mendapat penemuan baru, sebuah alam yang memercik sinar terang.

Dengan cara itu ia melanjutkan untuk membuka tabir yang menyelimuti rahasia ilmu dalam kitab pusaka Giok kah-kim-keng itu.

Selama itu apakah Gong-gong cu menjenguk, dia tak tahu. Karena begitu mulai duduk bersemedhi, tentu  dua hari baru selesai. Kadang sampai tiga hari, lupa makan lupa minum.

Tempo berjalan cepat sekali. Tak terasa Cu Jiang telah menghabiskan waktu setengah tahun untuk mempelajari ilmu pedang itu. Setelah itu seharusnya ia mempelajari Bagian Tambahan yakni Ilmu pelajaran Kim-kong-sin-kang.

Kim kong-sin-kang merupakan tataran tertinggi dari ilmu silat, serupa dengan darah dan daging pada tubuh manusia. Jarang sekali jago silat yang mampu mencapai tingkat itu. Bahkan dalam seratus tahun, kira2 baru satu orang yang berhasil.

Setelah membaca uraiannya, Cu Jiang merasa bahwa untuk memahami pelajaran itu harus memerlukan waktu berpuluh tahun. Akhirnya ia memutuskan, akan menghafalkan uraiannya dulu, baru kelak apabila ada kesempatan ia akan berlatih.

Dengan keputusan itu, Cu Jiang menganggap bahwa tugasnya mempelajari kitab Giok-kah-kim-keng sudah selesai.

Hidup selama setahun lebih dalam keadaan "hilang diri" kini Cu Jiang sudah memperoleh hasil. Selama itu dia harus menindas segala dendam perasaannya.

Kini bagaikan tahang yang telah penuh air, meluaplah semua perasaan yang telak tertampung dalam dada Cu Jiang. Tetapi dia tetap tak mau bertindak sendiri. Dia harus tunggu kedatangan Gong-gong-cu dan menunggu petunjuknya.

Jika hampir setahun dia telah mematikan semua perasaan sehingga tak tahu apa yang terjadi selama ini, kini perasaannya mulai hidup dan menyala kembali. Rasanya tempo berjalan amat lambat sekali.

Sehari seperti setahun. Dia ingin lekas2 muncul ke dunia luar. Ia ingin supaya suhunya, gong-gong-cu lekas datang.

Tetapi ah, sampai beberapa hari ternyata Gong-gong-cu tak muncul. Karena keisengan, dia melangkah keluar gua, melintasi barisan Kim-soh tin.

Pemandangan pertama yang menyegel mata adalah puncak gunung yang tertutup salju, badai yang dingin. Aneh, mengapa dia tak merasa kedinginn. Memang secara tak disadari karena ilmu kepandaiannya telah mencapai tataran tinggi, tubuhnya tahan dingin, panas dan segala macam perobahan hawa.

Dia mendaki ke puncak yang tertinggi. Dari situ ia memandang ke laut yang tampak seperti sebuah telaga besar. Gunung Ke-tiok-san yang termasyhur indah alamnya di daerah Lampak, tampak seperti sebuah menara di tepi telaga. Kota kerajaan Tayli seperti sebuah lapangan berpagar.

Cu Jiang duduk diatas sebuah gunduk es yang menonjol. Diam2 dia merenungkan perjalanan hidupnya. Sejak kecil hingga hampir mencapai usia dua-puluh tahun, dia sudah mengalami nasib yang hebat dan aneh yang mungkin orang tak pernah mengalaminya.

Kemudian dia mencabut kutungan pedang Seng-kiam. Itulah benda peninggalan ayahnya. Dan dengan kutungan pedang itulah kelak dia akan menuntut balas kepada musuh-musuhnya.

Ketika sedang tenggelam dalam lautan menung, tiba2 ia mendengar suatu bunyi yang pelahan dan halus sekali. Seolah tergetar oleh suatu kontak rasa yang tajam, dia cepat berseru.

"Hai. siapa itu ?"

Dia tetap duduk tenang seperti batu karang, tak berkisar maupun berpaling. Nada tegurannya lebih dingin dari salju yang menyelimuti sekeliling tempat situ.

"Ha, ha, ha” tiba2 terdengar suara tawa bergelak. Dan segeralah Cu Jiang tahu siapa pendatang itu. Segera dia melayang turun dari gunduk es. Tampak suhunya berdiri pada jarak dua tombak, sedang tertawa gembira.

"Suhu, murid menghaturkan hormat," katanya segera memberi hormat.

Gong-gong-cu hentikan tawa dan berkata: "Menilik nadamu, engkau tentu gelisah menunggu kedatanganku, bukan ?"

"Benar, murid memang mempunyai perasaan begitu." "Nak engkau telah berhasil dalam mempelajari ilmu

Giok-kah-kim-keng."

"Murid menghaturkan terima kasih atas petunjuk suhu." "Ha, ha... nak, itu dari usahamu sendiri yang berhasil.

Bagaimana aku engkau anggap berjasa?"

"Apabila suhu mengatakan begitu, murid tiada muka hidup lagi."

Gong gong-cu tertawa puas. "Nak satu-satunya ilmu kebanggaanku hanya Jari Gong- gong-sim-hwat. Bukan tekebur kalau kukatakan bahwa dengan ilmu itu aku dapat muncul lenyap seperti bayangan, tetapi kenyataannya hanya beberapa tokoh persilatan yang mampu menangkap suara gerak tubuhku itu.

Bahwa sekarang pada jarak lebih dari tiga tombak jauhnya, ia mampu menangkap suara kedatanganku, ilmu pendengaranmu sungguh tiada tandingannya dalam dunia persilatan."

Cu Jiang juga gembira sekali, serunya: "Ah, suhu terlalu menyanjung diriku."

"Bukan menyanjung tetapi memang kenyataan," "Tetapi kesemuanya itu adalah berkat petunjuk suhu."

"Nak,” Gong-gong cu alihkan pembicaraan, "selama mempelajari kitab Giok-kah-kim-keng itu, ilmu apa yang paling engkau senangi ?"

"Ilmu pedang."

"Coba engkau mainkan sebuah jurus untuk suhu." "Baiklah. Mohon suhu memberi petunjuk apa bila

terdapat kesalahan."

"Petunjuk? Ha, ha, ha, nak, hal itu takkan mungkin."

Cu Jiang pusatkan semangat, kutungan pedangnya dilintangkan ke muka dada ....

"Nak, dalam gudang kerajaan tak kurang senjata pusaka. Lain hari engkau boleh pilih sendiri mana yang engkau sukai "

"Suhu," sahut Cu Jiang dengan nada sarat, "benda ini adalah peninggalan mendiang ayahku. Mohon suhu luluskan agar murid dapat menggunakan kutungan pedang ini sebagai senjata untuk selama-lamanya."

Gong-gong-cu kerutkan dahi:

"Pedang itu hanya tinggal separoh, apakah tidak mempengaruhi gerak ilmu pedangmu ?"

"Selama ini murid berlatih dengan pedang kutung ini dan tak mengurangi keperbawaan ilmu pedang itu."

"Ah, hal itu memang di luar dari kelaziman."

Tiba2 saat itu seekor burung rajawali yang hanya hidup di daerah gunung es Jong-sa, terbang melayang di udara, melintas di atas kepala Cu Jiang. Serentak pemuda itu mendapat pikiran. Sekali ayun, pedang kutungpun meluncur ke udara.

"Kaok ....!" terdengar bunyi seram dan  burung yang terbang setinggi dua tombak itu segera menukik jatuh ke tanah salju. Tanah yang bertutup salju putih berhamburan dengan warna merah darah.

Gong gong-cu tertegun lalu bertepuk tangan: "Oh, aku tahu. Engkau sudah memahami inti ilmu Kim-gi (hawa pedang) tingkat tinggi. Kuucapkan selamat  kepadamu, nak!"

Cu Jiang merah mukanya tak dapat menjawab.

"Kelak akan kubuatkan sebuah kerangka untuk pedangmu itu." kata Gong-gong-cu pula.

Setelah mencabut pedang kutung, Cu Jiang menghaturkan terima kasih kepada suhunya. Gong-gong-cu mengajaknya kembali ke gua.

Setelah duduk, Cu Jiang menghaturkan kembali kitab Giok-kah kim keng itu kepada Gong gong-cu: "Murid menghaturkan kembali kitab pusaka kerajaan ini, mohon suhu menghaturkan kembali kepada Hong ya."

Setelah menyambuti dan menyimpannya, Gong-gong-cu mengangguk kepala:

"Baiklah. Sebenarnya aku memberimu waktu sampai tiga tahun. Sungguh tak kira kalau dalam waktu setahun lebih saja, engkau sudah menyelesaikan pelajaranmu."

"Hatur beritahu kepada suhu, murid belum menyelesaikan semua pelajaran."

"O, kenapa?"

"Bagian terakhir dari kitab itu merupakan Bagian Tambahan yang memuat pelajaran Kim-kong sin-kang. Murid hanya menghafalkan uraiannya tetapi belum pernah berlatih."

"Oh, Kim kong-sin-kang merupakan ilmu yang paling sakti dalam pelajaran silat. Mengapa engkau melepaskannya?"

"Murid memperhitungkan, pelajaran itu tentu memakan waktu sampai tiga-lima tahun baru selesai ..."

"Apakah engkau ingin lekas2 melaksanakan balas dendam?"

"Benar, suhu. Murid tak berani membohongi suhu." "Mm, baiklah. Karena engkau sudah faham uraiannya,

setiap ada kesempatan engkau harus melatihnya."

Cu Jiang mengiakan.

"Nak, dengarkan kata-kataku," ujar Gonggong cu, "selekas engkau turun gunung, beban tugas yang terletak pada bahumu, bukan main beratnya. Membasmi durjana memelihara jalan kebenaran, sekarang, besok dan selama- lamanya. Walaupun kini engkau sudah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, tetapi Jangan sekali-kali engkau lupakan. Kecerdasan dan keberanian harus saling mengisi. Dan yang penting, jangan engkau tinggalkan kehormatan sebagai seorang ksatrya yang berbudi luhur, jangan melakukan pembunuhan sewenang-wenang."

"Murid berjanji akan melakukan semua nasehat suhu." "Karena  harus  menjaga  keamanan  kota  raja,  terpaksa

aku  tak  dapat  menemani  engkau  kembali  ke Tionggoan.

Tetapi akan kuperintahkan empat orang ko-jiu untuk mengikuti perjalananmu secara diam2 agar setiap saat yang diperlukan dapat membantumu ..."

"Baik."

"Sekarang kemasilah barang-barangmu dan mari kita turun gunung."

“Murid tak punya barang2 yang perlu dikemasi kecuali pakaian yang murid pakai ini."

"Pakailah kedok muka lagi nanti boleh engkau buka setelah berada dalam istana."

Setelah memakai kedok muka, Cu Jiang lalu bersama Gong-gong-cu turun gunung.

Lebih dari setahun melewatkan kehidupan  terasing dalam gua. menimbulkan rasa berat hati Cu Jiang untuk meninggalkan tempat itu. Jika tiada berniat akan melaksanakan dendam darah keluarganya, ia merasa lebih senang tinggal di tempat yang terpencil dan terasing dari dunia luar situ.

Menjelang sore, mereka tiba di wisma Tiau lim-kiong, Dalam setahun itu ternyata kedua bocah pelayan Gong- gong-cu sudah besar. "Ai. sausu. telah membuat aku menderita sekali," seru Ing San ketika menyongsong.

Teringat akan peristiwa meloloskan diri dengan membohongi bocah itu, diam2 Cu Jiang geli dan menyesal.

"Apakah engkau masih membenci aku ?" "Ah. tidak... sausu, masakan aku berani."

Setelah membersihkan badan dan ganti pakaian, Gong- gong cu memerintahkan supaya menyiapkan perjamuan guna menyambut dan merayakan keberhasilan Cu Jiang. Yang menemani dalam perjamuan itu adalah keempat ko- jiu istana.

Setelah memperkenalkan keempat ko jiu itu kepada Cu Jiang maka Gong-gong-cu mempersilahkan makan.

"Kongcu tiba !" sekonyong-konyong si bocah Bok Cui berseru nyaring.

Keempat ko-jiu serempak berbangkit. Walaupun ingat akan hinaan yang pernah diterimanya setahun yang lalu, tetapi demi penghormatan terpaksa Cu Jiang berdiri Juga. Hanya Gong-gong-cu yang tetap duduk.

Sesaat kemudian muncullah kongcu dengan di iring empat orang dayang istana.

Keempat ko-jiu maju menghaturkan hormat.

"Ah. tak usah banyak peradatan. Silahkan duduk," kata kongcu.

Juga Cu Jiang menghaturkan hormat. Kongcu tertawa dan berkata:

"Tempo hari aku telah berlaku kurang tata sehingga menyinggung perasaanmu. Sekarang aku sengaja datang untuk menebus kesalahan itu." Merah muka Cu Jiang, katanya:

"Ah, bagaimana aku berani berlaku kurang hormat.

Harap kongcu jangan sungkan."

Percakapan yang dilakukan secara begitu terbuka sudah tentu di Tionggoan takkan dapat dijumpai.

"Apakah kongcu mempunyai selera untuk minum secawan arak?"

"Kalau Nyo kongkong tak menganggap hal itu akan mengganggu acara, aku akan ikut duduk sebentar."

"Baik, silahkan duduk disampingku," kata Gong-gong-cu lalu memerintahkan keempat dayang itu melayani kongcu.

Setelah minta maaf keempat ko-jiu itupun duduk lagi.

Karena kehadiran puteri itu, suasana pun menjadi resmi.

Sambil mengangkat cawan arak, kongcu berkata kepada Cu Jiang:

"Sausu kuhaturkan secawan arak kepadamu." Cu Jiang terkejut dan serempak berdiri:

"Ah. mohon kongcu jangan menyebut begitu. Panggil namaku Cu Jiang saja . . ."

"Aku Toan Swi Ci. Cu sausu silahkan minum !"

Dengan kedua tangan Cu Jiang menyambut pemberian puteri dan meneguknya habis. Puteri itu pun juga meneguk secawan. Setelah itu baru Cu Jiang duduk lagi.

Kongcu juga menghaturkan secawan arak kepada Gong- gong cu seraya berkata:

"Nyo kongkong, engkau tentu tak marah kalau tadi aku memberi arak kepada muridmu lebih dulu !"

Gong-gong-cu tertawa terbahak: "Ah, tidak. Perjamuan ini memang ku peruntukkan dia."

Keduanya masing2 meneguk secawan. Sebagai tanda penghormatan, keempat ko-Jiu itupun menghaturkan arak kehormatan kepada puteri.

Beberapa saat kemudian tiba2 Khu Bun Ki, congkoan istana bergegas masuk kedalam ruangan.

"Kok-su. Hong-ya menitahkan supaya menghadap." "Ada peristiwa apa ?"

"Peristiwa besar yang gawat."

"Baik," kata Gong-gong cu seraya berbangkit. Setelah sejenak memandang kepada kongcu maka congkoan itupun bersama Gong-gong- cu lalu melangkah keluar.

Cu Jiang terkejut. Apakah yang terjadi dalam istana sehingga Hong-ya secara mendadak menitahkan Gong- gong-cu menghadap ?

Diam2 Cu Jiang gelisah.

Sepergi Gong gong cu, puteri Toan Swi Ci  dengan mengulum senyum, berkata kepada Cu Jiang: "Kuhaturkan selamat atas keberhasilan Cu sausu mempelajari ilmu-silat yang sakti. Tetapi apakah Cu sausu tak berkeberatan untuk mempertunjukkan barang sejurus saja agar dapat menambah pengalaman kami?"

Cu Jiang tahu bahwa di balik ucapan yang penuh rasa sungkan itu sebenarnya puteri hendak menitahkan dia mempertunjukkan kepandaian. Sejenak merenung, dia segera berbangkit.

"Ah, titah kongcu benar2 membuat aku mengeluarkan keringat dingin."

"Ah, sudahlah, jangan memakai kata2 yang merendah." "Baiklah, kongcu. Apakah kongcu meluluskan hamba menghaturkan secawan arak kehormatan ke hadapan kongcu?"

"Arak? Ah, Tak usah "

"Kumohon kongcu sudi memberi muka kepada hamba untuk mempersembahkan arak."

Cu Jiang terus mengambil cawan dan In Cuipun segera menuang arak sampai penuh. Dengan kedua tangan Cu Jiang mengangkat cawan kemuka dan tahu2 cawan itupun pelahan-lahan melambung keatas dan melayang kearah kongcu.

Keempat ko-jiu terbeliak dan melongo. Sedangkan putripun segera ulurkan tangan untuk menyambuti.

Keempat pahlawan dari istana itu menyadari bahwa kepandaian yang diunjukkan Cu Jiang termasuk suatu ilmu tenaga-murni tingkat tinggi.

Tidak sembarang orang persilatan yang mampu melakukan hal itu. Dengan begitu ilmu kepandaian Cu Jiang sekarang, jauh diatas keempat pahlawan istana atau ko-jiu itu.

"Mohon maaf, hamba mempertunjukan kepandaian yang jelek dihadapan kongcu," seru Cu Jiang.

Puteri pun menegak arak itu lalu dengan nada bergetar tegang berseru:

"Sausu benar2 berhasil hebat !" Sekonyong-konyong seorang istana bergegas masuk dan menghadap puteri:

"Mohon kongcu kembali ke istana!"

Putri kerutkan dahi lalu berbangkit: "Ah. maaf tak dapat menemani." Cu Jiang dan keempat pahlawan istana itu serempak berbangkit dan hendak mengantar. Tetapi puteri menolak dan suruh mereka tetap saja di ruangan melanjutkan makan.

Setelah puteri melangkah keluar diiring keempat dayang maka Cu Jiang dan keempat pahlawan istana itupun duduk kembali. Tetapi perasaan mereka tak tenang lagi. Mereka memandang pada diri puteri. Apakah yang terjadi di istana sehingga puteri di titahkan kembali ?

Setelah melanjutkan minum beberapa cawan arak yang "dingin", Gong gong cu lalu meninggalkan ruangan itu dan tak lama kembali lagi dengan wajah sarat.

Cu Jiang dan keempat pahlawan istana serempak menyambut.

"Suhu, apakah yang telah terjadi di istana ?"

"Raja Biau mengirim puteranya dengan diiring sepuluh pengawal yang sakti."

"Oh apakah keperluannya 7" "Meminang."

"Meminang?" ulang Cu Jiang terkejut. "Ya, meminang tuan puteri."

"Aah..." desah Cu Jiang. "lalu bagaimana keputusan Hong ya ?"

"Sudah tentu tak meloloskan." "Kalau begitu tolak saja." "Ah, tidak semudah itu."

"Murid tak mengerti apa yang suhu maksudkan," kata Cu Jiang.

"Menurut adat istiadat suku Biau. Kalau tak dapat mengikat hubungan keluarga, akan dianggap musuh!" "Musuh ?"

"Ya," kata Gong-gong-cu, "mereka menganggap penolakan itu sebagai suatu hinaan besar. Mereka tak segan mengadakan pertumpahan darah dan menganggap sebagai musuh bebuyutan."

"Seorang putera raja sebuah suku yang masih belum beradab berani meminang Kongcu. Sungguh tak tahu diri !" seru Cu Jiang.

"Mungkin ada lain maksud yang tersembunyi." "O, mohon suhu suka menjelaskan."

"Putera raja Biau itu bernama Kopuhoa, sikapnya congkak sekali. Bukan melainkan menimang kongcu, pun juga menuntut kitab pusaka Giok-kah-kim-keng sebagai emas kawin."

"Gila !" teriak Cu Jiang.

"Diantara barisan pengawalnya, terdapat enam orang suku Han. Menurut pengamatanku, keenam orang itu merupakan jago silat kelas satu."

"Lalu bagaimana keputusan Hong-ya ?"

"Hong-ya belum dapat memberi keputusan dan menitahkan aku menghadap dan mengusahakan siasat menghadapi mereka."

"Maksud suhu bagaimana?"

"Menolak berarti pertumpahan darah, tak ada lain penyelesaian lagi."

"Penumpahan darah?" Cu Jiang menegas terkejut. "Benar,  memang  harus  begitu. Tetapi  sukarnya, selama

ini   Hong-ya   selalu   melarang   untuk   suatu pertumpahan

darah." "Dimanakah rombongan tetamu itu ?" "Di Wisma Tamu Agung."

"Hanya beberapa belas orang saja berani datang ke kerajaan tayli untuk meminang puteri dan menuntut kitab pusaka, Benar2 suatu perbuatan yang keliwat batas .. ."

"Menurut penilaianku mereka tentu mempunyai rencana."

"Lalu rencana suhu untuk menghadapi mereka ..." "Terpaksa menurut peraturan suku Biau, menerima

tantangan mereka." "Menerima tantangan ?"

"Ah, penumpahan darah kali ini memang sukar dihindari."

Kemudian Gong gong cu berkata kepada keempat pahlawan itu.:

"Karena anda berempat ini berasal dari Tionggoan, lebih baik malam ini jangan unjuk diri. Silahkan anda kembali ke tempat peristirahatan."

Keempat pahlawan istana itu mengiakan memberi hormat lalu meninggalkan ruangan.

Setelah itu Gong gong-cu berkata pula kepada Cu Jiang: "Bebanmu sangat berat. Saat ini belum saatnya untuk

tampil. Pakailah kedok mukamu lagi. Hong-ya titahkan aku supaya mengangkat engkau sebagai Tin tian ciangkun . . ."

Tin tian-ciang-kun artinya jenderal kota kerajaan. Cu Jiang terkejut.

"Suhu, murid tak ingin menjadi menteri !" "Nak, pangkat itu tiada mempunyai ikatan terhadap dirimu. Yang penting, dalam menghadapi anak raja Biau itu, engkau tak boleh keluar tanpa gelar. Nanti engkau menghadap baginda dan lakukan apapun titahnya."

Cu Jiang mengiakan.

"Gantilah pakaian dulu. Semua telah tersedia dalam kamarmu."

Pada saat Cu Jiang kembali ke kamarnya benar juga di situ telah tersedia seperangkat pakaian baju dan topi besi, sepasang sepatu dan sebatang kerangka pedang yang bertabur mutiara, memancarkan sinar yang kilau kemilau. Itulah kerangka pedang yang telah dijanjikan Gong-gong cu kepada Cu Jiang.

Bocah Ing Sanpun masuk dan membantu Cu Jiang untuk mengenakan pakaian itu. Setelah selesai ia berkaca. Hampir saja ia tak mengenali dirinya lagi. Diam2 ia tertawa geli. Tak kira kalau dia bakal jadi seorang jenderal kerajaan.

"Sausu, Kok-su menunggu!" seru Ing San.

Cu Jiang segera melangkah keluar. Tiba di muka paseban, Gong gong cu sudah menyongsong  dengan tertawa gelak2:

"Nak, ah, sungguh gagah benar, mari kita ke wisma Seng-bu-tian!"

Seng-bu-tian atau wisma Ketetapan-pangkat. Merupakan sebuah gedung mewah dengan enam belas pilar dari batu marmar yang amat besar dan kokoh.

Di bawah sinar lampu yang terang, tampak penuh berjajar barisan wisu (pengawal utama). Di tengahnya terdapat meja panjang. Toan Hong-ya atau baginda Toan dari negeri Tayli duduk di tengah meja. Di sebelah kanannya, Gong-gong-cu yang berpangkat Kok-su (penasehat kerajaan.) di sebelah kirinya adalah Toan Swi Ci, puteri raja.

Di belakang Hong-ya berdiri menteri urutan istana yakni Khu Bun Ki congkoan dan kepala bayangkara istana Ang Ban.

Di samping jajaran tiang sebelah kanan, tampak seorang panglima yang mengenakan pakaian seragam besi. Dia adalah Tin tian-ciangkun Cu Jiang.

Pada dua kotak di samping luar tiang pilar, adalah rak senjata. Delapan belas macam senjata berjajar-jajar dalam rak itu.

Di muka wisma itu terdapat sebuah tanah lapang. Pada kedua samping lapangan itu, didirikan dua buah panggung datar yang berbentuk seperti sayap burung belibis.

Di sebelah kiri, duduk para pegawai kerajaan bagian sipil maupun militer. Sedang di sebelah kanan, dideret  depan dan di tengah2, tampak seorang pemuda yang mengenakan pakaian aneh.

Di belakangnya dikawal oleh sepuluh orang. Yang empat orang busu (militer) berumur pertengahan abad. Sedang yang enam orang tua. Walaupun kesepuluh pengawal itu mengenakan pakaian suku Biau namun masih dapat dilihat bahwa empat dari keenam orang tua dan dua dari ke empat lelaki pertengahan umur itu, bukan orang Biau melainkan orang Han. Telinga mereka tidak pakai anting-anting seperti umumnya lelaki suka Biau.

Suasana tanah lapang itu sunyi senyap tetapi tegang sekali.

Seorang lelaki Biau tua, berdiri lalu dengan bahasa Han yang lancar, berseru: "Lohu adalah Beng Kiu, kepala dari Thian-ji-tong. Mendapat titah dari Lo-ong (raja) untuk mengiring siau ong ( raja muda ) Kopuhoa berkunjung ke mari untuk meminang. Sungguh suatu hinaan besar bagi suku kami bahwa peminangan kami itu telah ditolak.

Lohu mewakili lo-ong untuk menantang adu kepandaian pada para pahlawan kerajaan ini dalam lima kali bertanding. Yang memenangkan tiga kali pertandingan, dianggap menang. Jika pihak kami yang  beruntung menang, mohon supaya permintaan kami diluluskan semua."

Habis berkata dia duduk kembali.

Mendengar itu seluruh hulubalang dan perwira kerajaan Tayli serempak berobah air-mukanya. Mereka marah.

Gong-gong cupun segera berdiri dan berseru dengan suara nyaring:

"Aku, Tayli Koksu, atas nama baginda, menerima baik tantangan tetamu!"

Seketika suasanapun tegang regang.

Sesaat Gong gong-cu duduk kembali, Kopuhoa, putera kepala suku Biau segera apungkan tubuh melayang ke tengah gelanggang Dengan tertawa menyeringai, dia berseru:

"Kudengar bahwa kongcu kerajaan Tayli itu seorang puteri yang ahli dalam ilmu sastera dan pandai dalam ilmu silat. Biarlah dalam pertandingan pertama ini kumohon supaya kongcu yang keluar untuk menyambut tantanganku." Seketika seluruh hadirin gemuruh. Toan Hong-ya kerutkan alis dan memandang dengan pandang meminta pendapat kepada Gong-gong-cu.

Dengan berbisik-bisik Gong-gong cu menghaturkan pendapatnya. Toan Hong-ya tampak mengangguk angguk kemudian Gong gong cu bisiki puteri Toan Swi Gi. Setelah itu baru berseru nyaring:

"Kongcu bertubuh lemah lembut dan berharga. Tetapi karena Ong cu ( pangeran ) mengajukan tuntutan begitu, sungkan untuk menolak. Baginda telah menurunkan titah, dalam pertandingan itu jangan menggunakan pedang atau tombak tetapi cukup dengan tangan kosong. Barang siapa terkena totokan, dia harus mengaku kalah. Entah bagaimana pendapat Ong-cu?"

Wajah Kopuhoa berseri cerah. Tetapi karena mukanya penuh dengan gurat2 dan tato, maka tawanyapun bukan sedap dipandang melainkan menyeramkan hati.

"Baik, aku setuju !" serunya. "Bertanding dengan cara bagaimana?"

"Gulat !"

Sudah tentu kata2 itu diluar dugaan orang. Gulat memang menjadi ciri permainan khusus dari suku Biau. Dalam adu gulat itu tentu orang harus bergumul, mencengkram, berpelukan dan lain2 gerak yang merapat. Dengan mengusulkan cara begitu, jelas anak raja Suku Biau itu tentu mngandung tujuan yang buruk.

Belum orang habis dilanda kejut, tiba2 terdengar Gong gong-cu berseru lebih menggemparkan.

"Tantangan itu diterima. Tetapi terbatas hanya dalam sepuluh jurus." Kopuhoa gembira sekali. Dia menyurut ke belakang tiga langkah dan mulai pasang kuda-kuda.

Gong-gongcu memberi isyarat anggukan kepala dan berbangkit dan menuruni titian masuk ke lapangan.

Walaupun tak mengerti ilmu gulat tetapi Cu Jiang dapat menduga bahwa adu permainan itu tentu akan saling mencengkram dan banting membanting. Dalam hal ini, berpakaian ringkas akan lebih leluasa geraknya.

Padahal puteri mengenakan celana panjang dan baju semacam jubah yang menjulur sampai ke lutut. Bukankah hal itu akan menghambat gerakannya ?

Dia cemas tetapi kemudian dia teringat akan Gong-gong cu. Ia percaya penuh dan mengagumi kecerdasan gurunya itu. Jika Gong-gong-cu mengijinkan puteri maju ke medan, tentu dia sudah mempunyai rencana memenangkan pertandingan itu.

Menghadapi Kopuhoa yang bertubuh tinggi besar, puteri bersikap tenang sekali. Seolah tiada terjadi suatu apa.

Adalah anak raja suku Biau itu sendiri yang tampak kelabakan. Betapa tidak. Berhadapan dengan seorang puteri yang secantik bidadari, semangat Kopuhoa seperti terbang melayanglayang.

Kini semua perhatian tertumpah ruah kearah lapangan. Jika puteri sampai kalah atau sampai dibuat malu oleh Kopuhoa, Kerajaan Tayli akan menderita hinaan besar.

Dengan mengangkat kedua tangan memberi hormat seperti lazimnya orang Tionggoan, Kopuhoa berseru:

"Sungguh suatu peristiwa yang paling bahagia dalam hidupku bahwa saat ini aku mendapat kesempatan untuk melihat wajah tuan putri." "Ah, jangan memuji." Toan Swi Ci tertawa.

"Walaupun rakyatku tinggal di daerah yang terpencil tetapi kemewahan dan kebesaran istana kami, tak kalah dengan negeri tuan puteri. Dan aku adalah putera pewaris raja "

Toan Swi Ci mengangkat tangan dan menukas:

"Saat ini kita sedang adu pertandingan. Jangan membicarakan soal2 lain"

Muka putera raja Biau itu makin hitam lalu berkata dengan sinis:

"Kalau aku yang menang, apakah tuan puteri takkan mencari alasan lain "

"Sekarang masih terlalu pagi untuk mengatakan hal itu!" "Hm, silahkan bergerak dulu!"

"Ong-Cu seorang tetamu, silahkan turun tangan dulu !" "Jika begitu, maaf!"

Dalam gaya macan lapar, Kopuhoa terus menerkam Toan Swi Ci. Gaya gerakannya aneh sekali. Berbeda dengan ilmu silat di Tionggoan. Sekalian orang menahan napas. Kalau puteri yang bertubuh lemah gemulai itu sampai kena terdekap, ah ....

Sekalian orang tak tahu bagaimana puteri bergerak. Yang mereka lihat hanya sesosok bayangan berkelebat dan tahu2 Kopuhoa sudah menubruk angin karena puteri sudah pindah ke lain tempat.

Tetapi Kopuhoa tidak berhenti sampai disitu saja. Berturut-turut dia menerkam sampai tiga kali tetapi tiada yang kena. Bahkan ujung pakaian puteri saja dia tak mampu menyentuh. Rombongan jago2 yang mengiring Kopuhoa, serempak berobah cahaya mukanya.

Sepintas memandang tahulah Cu Jiang bahwa puteri sedang menggunakan gerak langkah ajaran Gong-gong-cu. Diam2 Cu Jiang menghela napas longgar. Ilmu ciptaan Gong-gong cu itu memang luar biasa sekali. Tak ubah seperti gerak bayangan setan. Walaupun tak dapat mengalahkan musuh tetapi jangan harap musuh mampu mengalahkannya.

Karena malu akhirnya marahlah Kopuhoa. Wajahnya yang hitam tampak makin hitam sehingga menyeramkan sekali.

"Hai, ilmu apakah yang seperti gerak setan itu ?" teriaknya kalap.

"Ah, hanya permainan anak kecil saja." sahut puteri dengan lenggang.

"Apakah ini sudah dianggap bertanding?" "Mengapa tidak dianggap ?"

"Tetapi tuan puteri selalu menghindar saja."

"Apakah hal itu melanggar peraturan pertandingan?

Sudah tiga jurus, silahkan melanjutkan lagi! "

Geraham Kopuhoa tampak bergemerutukan karena menahan kemarahan. Dia mulai menyerang lagi, makin dahsyat dan keras. Tetapi gerak tubuh puteri luar biasa sekali, cepat dan aneh.

"Berhenti! Sudah sepuluh jurus"

Tiba2 karena tak kuat menahan ketegangan hatinya, Cu Jiang berteriak. Kopuhoa-pun terpaksa hentikan serangannya. "Maaf." seru puteri.

Tiba2 Kopuhoa mencabut goloknya. Melihat para jago2 Tayli yang berjajar di muka wisma serempak merabah senjatanya.

Seketika suasana tegang sekali. Pertumpahan darah tak dapat dihindari lagi.

Melihat itu Beng Kiu, kepala daerah gunung Thian ji tong segera berseru:

"Ong-cu, pertandingan baru berjalan satu kali. Kita harus melaksanakan menurut rencana!"

Toan Swi Ci tertawa dingin lalu melangkah ke luar gelanggang, kembali ke dalam wisma lagi.

Rupanya Kopuhoa tak dapat menahan perangainya yang kasar. Sambil membolang-balingkan golok, dia berseru menggeledek:

"Untuk pertandingan kedua, tetap aku yang akan maju!"

Melihat itu Toan Hong-ya kerutkan dahi lalu berpaling kepada Gong-gong-cu yang berada di sampingnya:

"Koksu, terserah kepadamu untuk menyelesaikan mereka

!"

Gong-gong cu berdiri lalu memberi hormat kepada raja

setelah itu dia duduk lagi. Sejenak memandang ke segenap penjuru, tiba2 dia berseru:

"Li ciangkun. harap tampil ke gelanggang!" Seorang lelaki berjubah Imam segera maju ke tengah gelanggang. Setelah menghadap baginda dan memberi hormat kepada baginda diapun terus memberi hormat juga kepada Gong- gong cu. Setelah itu baru menghadapi Kopuhoa dan pelahan-lahan mencabut pedang. "Silahkan Ongcu menentukan bagaimana cara pertandingan ini harus dilakukan?"

"Jika ada salah seorang yang rubuh  baru pertandingan itu berhenti! " seru Kopuhoa dengan geram.

"Silahkan!" seru ciangkun atau hulubalang yang bernama Li Kong Hi itu.

Tanpa banyak bicara lagi Kopuhoa terus menyerang. Cepat sekali kedua jago itu terlibat dalam serang menyerang yang seru dan dahsyat.

Keduanya sama2 bertubuh tinggi besar dan tenaga kuat. Mereka berimbang kekuatannya. Dalam beberapa kejab saja sudah melangsungkan tujuh sampai delapan jurus.

Tampak Kopuhoa kalap sekali cara bertempurnya. Dia menyerang dengan jurus2 yang dahsyat dan adu jiwa. Sama sekali dia tak menghiraukan pertahanan.

Setelah mencapai jurus yang ke lima puluh, tampak Li ciangkun sudah mulai lelah. Tetapi pertandingan itu tak dapat dihentikan sebelum ada salah satu yang rubuh. Atau ada yang mau mengaku kalah.

Tampak Gong-gong-cu kerutkan dahi. Jelas dia gelisah. "Hai! Huak..."

Terdengar suara bentakan disusul oleh jeritan tertahan. Li ciangkun terhuyung mundur beberapa lagi. Bluk, dia jatuh tak dapat bangun lagi. Dadanya sebelah kanan memancarkan darah.

Kopuhoa tertawa gelak2: "Ha, ha, dua kali pertandingan ini, anggap saja serie!"

Dua orang busu segera turun ke gelanggang untuk mengangkut hulubalang Li. Kesempatan itupun digunakan Beng Kiu untuk mempersilahkan Kopuhoa mundur:

"Harap Ong-cu beristirahat. Pertandingan ke tiga biarlah Auyang huhwat yang melakukan!"

Kopuhoa menurut dan kembali ke tempat duduknya. Empat orang Han yang berpakaian seperti suku Biau serempak berbangkit. Dan entah dengan gerak apa, tahu2 sudah melayang ke tengah gelanggang.

Dari gerak itu saja dapatlah diketahui bahwa mereka tentu jago yang berisi.

Salah seorang yang tua, memberi hormat ke arah Gong gong cu:

"Hamba Auyang Jong-san, huhwat dari istana raja Biau, akan menyambut pertandingan yang ketiga ini!"

"Koksu, dia tentu sakti sekali," bisik Toan Hong-ya kepada Gong gong-cu.

Gong gong cu mengangguk, kemudian  memberi perintah:

"Ang wi tiang, silahkan ke luar!"

Ang Ban, kepala prajurit bhayangkara keraton segera mengiakan dan turun ke gelanggang.

Setelah saling berhadapan, berkatalah Auyang Jong san dengan nada yang tajam:

"Anda hendak memakai senjata apa ?" "Dan anda sendiri ?"

"Sepasang daging tangan."

"Akupun akan melayani dengan sepasang tangan juga." "Silahkan." "Silahkan."

Sejenak saling membidik pandang Auyang Jong-san menggembor keras dan terus menghantam. Ang Ban menangkisnya Rupanya keduanya hendak saling mengukur kekuatan tenaga lawan.

Bum!

Terdengar letupan keras dan angin berhamburan menderu sehingga lampu2 obor bergoncang2. Sungguh suatu adu pukulan yang dahsyat sekali.

Auyang Jong san masih tetap tegak ditempat sedangkan Ang Bau tersurut mundur dua langkah.

"Ah, kali ini akan kalah lagi," diam2 Cu Jiang mengeluh. Tetapi pada saat itu Auyang Jong sanpun sudah menggembor keras dan menyerang Ang Ban.

Jurus yang digunakan aneh sekali. Selama menyerang belum habis sejurus sudah berganti lain jurus lagi.

Baru setengah jalan Ang Ban menyambut, dia sudah mengerang dan muntah darah. Tubuhnya terhuyung- huyung.

Auyang Jong-san tak memberi ampun lagi. Maju ke muka ia menghantam kepala Ang Ban sekeras-kerasnya.

"Hai!" terdengar teriak kejut dari empat penjuru. "Jangan melukai orang."

Tiba2 terdengar bentakan menggeledek dan tahu2 di tengah gelanggang telah bertambah seorang yang sudah menyambar tubuh Ang Ban. Bagaimana dia loncat ke tengah gelanggang dan menarik tubuh Ang Ban, tiada seorangpun yang melihat jelas. Auyang Jong-san terkejut dan mundur tiga langkah lalu membentak:

"Anda telah merusak peraturan pertandingan!"

"Adu kepandaian bukan bertujuan membunuh. Li ciangsuu tadi sudah menderita luka.  Jika anda hendak melukai orang lagi berarti menghina rakyat Tayli! " seru orang itu.

"Anda siapa?"

"Tin-tian ciangkun!"

"Bagus, pertandingan keempat akulah yang maju!" "Aku bersedia melayani."

"Dengan senjata apa?" "Cukup tangan kosong."

"Bagus! Jika kali ini aku menang, pihak kami telah menang tiga kali dan kalah satu kali. Dengan demikian jelas kemenangan tentu ditangan kami."

"Ah, mungkin anda akan kecewa!"

"Hm, kenyataan akan berbicara, mulailah! " "Tunggu, aku hendak menyatakan sesuatu . .." "Silahkan."

"Dalam gebrak   pertama, anda harus mengerahkan seluruh tenaga!"

"Lho, kenapa?"

"Karena   anda   bakal   tak   punya   kesempatan untuk menyerang lagi." Ucapan dari Tian-tian ciangkun Cu Jiang yang begitu congkak, membuat wajah Auyang Jong-san merah padam, rambut menjingkrak dan mata melotot.

"Auyang huhwat, bertempur sampai mati baru berhenti!" tiba2 Kopuhoa berseru marah.

"Hm, apakah ciangkun sudah mendengar perintah Ong- cu kami?" Auyang Jong-san berseru mengejek.

"Sudah, mengapa?" "Berani menerima?"

"Hong ya tak meluluskan pembunuhan!" tiba2 Gong- gong-cu berteriak.

Kopuhoa tertawa keras:

"Memangnya Hong ya seorang junjungan yang penuh kasih sayang atau karena "

"Jangan kurang ajar! " bentak Cu Jiang.

"Engkau berani menghina Ong cu kami !" Kopuhoa balas membentak.

Melihat ketegangan itu, buru2 Beng Kiu mencegah. "Ongcu sukalah memikirkan kepentingan besar. Kita

datang kamar hendak meminang." Kemudian dia berseru nyaring:

"Menurut tata peraturan, setiap penantang berhak untuk menentukan cara pertandingan."

Mendengar itu Gong gong-cu segera menghaturkan laporan kepada Hong-ya:

"Hong   ya, agaknya pertumpahan darah tak dapat dihindari lagi." Toan Hong-ya gelengkan kepala dan menghela  napas, tak berkata apa2.

"Tin-tian ciangkun, silahkan engkau menentukan keputusan sendiri."

Cu Jiang memberi hormat kearah Gong-gong-cu lalu menghadap musuh dan berseru dengan nada dingin:

"Harap anda pertimbangkan lagi, karena anda bakal tiada kesempatan menyerang lagi."

"Engkau tak berani menerima tantanganku tadi." "Rasanya anda ini orang persilatan dari  Tionggoan. Aku

tak   sampai   hati  melihat   mayatmu   dibuang   ke  bawah

gunung."

Auyang Jong - san terkesiap. Matanya berkilat2 memancarkan sinar pembunuhan.

"Saat ini kita sedang adu kepandaian. Kesudahannya akan menyangkut hubungan kedua belah pihak. Entah  menjadi kawan atau lawan. Dan akulah sebagai pihak yang menantang."

Sejenak merenung, akhirnya Cu Jiang menjawab: "Baiklah, aku menerima tantanganmu untuk bertempur

sampai mati!"

Mendengar itu suasana berubah tegang sekali. Sekalian orang, terutama rombongan pihak Tayli berdebar-debar.

Auyang Jong-san segera silangkan kedua tangannya lalu pelahan-lahan dijulurkan lurus ke muka dada. Sepasang telapak tangannya berwarna hitam. Jelas dia memiliki ilmu tangan beracun yang ganas.

Sudah tentu sekalian menteri hulubalang Tayli was-was akan keselamatan jenderal baru yang baru saja dilantik itu. Yang membuat pihak Tayli tegang dan cemas ialah apabila pertandingan itu dimenangkan pihak tetamu lagi, jelas puteri Toan Swi Ci akan diperisteri Kopuhoa.

Tampak Cu Jiang tegak berdiri bagaikan gunung karang. Diam2 dia telah menyalurkan tenaga-murni untuk melindungi seluruh tubuhnya.

Tiba2 saja Toan Hong-ya berpaling:

"Kok-su, adakah dia dapat diandalkan?"

"Jika tidak, Jelas waktu setahun itu akan sia-sia belaka !" sahut Gong gong-cu.

"Kok-su, pertandingan itu menyangkut kepentingan negara..."

"Harap Hong-ya suka lepaskan pikiran, tentu takkan mengecewakan!"

Puteri Toan Swi Ci Juga gelisah. Bahkan paling gelisah sendiri. Karena pertempuran itu menyangkut nasib dirinya. Jika kalah, jelas dia tentu akan menjadi isteri Kopuhoa yang memuakkan itu.

Saat itu ditengah gelanggang, Cu Jiang dan Auyang Jong-san saling berhadapan. Selurun perhatian orang tertumpah ruah pada kedua orang itu.

Keduanya sama2 berdiri tegak mengambil sikap dan bersiap-siap menyalurkan seluruh tenaga murni. Siapa yang lengah atau lemah, tentu akan lenyap jiwanya.

Suasana hening lelap Maut mulai bertebaran

"Hait...!!" sekonyong-konyong Auyang Jongsan berteriak keras dan kedua tangannya yang berwarna hitam itupun segera menghantam.

“Bum ... bum..." =00o-d^w-o00=
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pusaka Negeri Tayli Jilid 10"

Post a Comment

close