Pusaka Negeri Tayli Jilid 09

Mode Malam
Jilid 9

"Oh !" desah Cu Jiang.

Tiba2 terdengar suara bentakan. Tandu indah Itupun berhenti di tengah jalan, Keempat penunggang kuda Pengawal Hitam masing2 loncat turun dari kuda dan mengepung tandu.

Sambil menarik tangan Cu Jiang ke samping, Gong- gong-cu mengajaknya mendekat untuk menyaksikan apa yang akan terjadi. Tiga tombak dari tempat orang2 itu, Gong-gong-cupun berhenti.

"Perlu apa kalian mengejar kami?" seru salah seorang wanita baju merah. Salah seorang dari Pengawal Hitam membentak bengis: "Lekas buka tandu itu!"

"Mau cari mati?" "Kentut!"

"Kalau berani mengapa tak mau membuka sendiri?"

Sring .... serentak Pengawal Hitam itu menabas wanita baju merah yang mengejeknya. Tetapi dengan gerak yang lincah, wanita itu dapat menghindarinya. Hanya terpaut selembar rambut tubuh dengan pedang. Sungguh mengejutkan dan mengherankan sekali.

"Maju!" serempak terdengar sebuah aba2 dan keempat Pengawal Hitam itu pun segera menyerang.

Keempat wanita penggotong tandu itupun bergerak- gerak laksana bayangan setan. Keempat Pengawal Hitam itupun menyerang dari empat jurusan.

Salah seorang Pengawal Hitam yang mendekat tandu segera mencungkilkan ujung pedang menyingkap kain layar yang menutup pintu tandu.

"Aahhh. . ." seorang Pengawal Hitam yang mengikuti dengan pandang mata akan tindakan kawannya yang mencungkil tenda tandu itu serentak menjerit kaget. Demikian pula ketiga kawannya yang lain

Ternyata yang berada dalam tandu itu adalah seorang lelaki jubah putih. Dia bukan lain adalah Pek poan koan atau Hakim Putih.

Keempat wanita baju merah cepat lari menghampiri tandu dan menutup tendanya. Bahwa tandu dari Hakim Putih dipikul oleh empat orang wanita memang aneh. Tetapi lebih menggelikan lagi bahwa Pengawal Hitam atau anak buah Gedung Hitam kemati-matian mengejarnya orang atasannya sendiri.

Kejut keempat Pengawal Hitam bukan alang kepalang. Serempak mereka menghaturkan hormat dengan pedangnya ke arah tandu.

Dari dalam tandu hanya terdengar suara orang mendengus dan tak mengucap apa2.

"Locianpwe, memang benar2 suatu pertunjukan yang menarik." kata Cu Jiang.

"Itu baru permulaan, yang lebih menarik lagi nanti di belakang."

Salah seorang dari keempat wanita baju merah itu menegur Pengawal Hitam:

"Mengapa kalian tak lekas pergi dari sini?"

Keempat Pengawal Hitam itu saling bertukar pandang lalu mundur beberapa langkah tetapi tetap tak pergi.

Tanpa pedulikan mereka lagi keempat wanita baju merah itupun segera mengangkat tandu dan berangkat lagi.

Mereka lari cepat sekali

"Nak. mari kita pergi juga," kau Gong-gong-cu.

Salah seorang Pengawal Hitam cepat menghampiri dan membentaknya: "Siapa kalian ini!"

Cu Jiang marah dan hampir tak dapat mengendalikan diri lagi. Tetapi Gong-gong-cu sudah mendahului menjawab:

"Kami berdua paman dan keponakan akan menuju ke Su jwan."

"Aku tak bertanya ke mana kalian hendak pergi tetapi siapa nama kalian! " Gong-gong-cu pura2 ketakutan:

"Aku orang tua ini orang she Ho nama Siong Ya dan keponakanku ini Ho Jin."

"Gelaran?"  "Tidak punya. " "Dari perguruan?"

"Tidak punya perguruan apa2. Kami hanya belajar sedikit ilmu silat untuk jaga diri saja, " jawab Gonggong cu.

Ketiga Pengawal Hitam segera menghampiri dan setelah memandang Gong-gong-cu dan Cu Jiang beberapa jenak, salah seorang berkata:

"Orang desa tua, biarkan mereka pergi!" Gong-gong-cu menarik tangan Cu Jiang: "Nak, mari kita lanjutkan perjalanan."

"Baik," Cu Jiang mengiakan. Terpaksa dia menahan diri dan mengikuti Gong-gong-cu.

Setelah tiba di sebuah tikungan gunung, mereka melihat sebuah tandu tadi menggeletak di tengah jalan. Keempat wanita baju merah tak kelihatan, entah di mana. Sudah tentu Cu Jiang heran dan bertanya.

"Eh, mengapa begitu ?"

Gong gong-cu hanya ganda tersenyum.

"Cobalah engkau buka kain tandu dan melihat apa yang berada dalam tandu itu." katanya.

"Apakah locianpwe kenal dengan lelaki baju putih yang berada dalam tandu itu ?" tanya Cu Jiang.

"Engkau kenal?" balas Gong-gong-cu. "Ya, dia adalah hoohwat dari Gedung Hitam yang disebut Hakim Putih."

"Tetapi dia sudah meletakkan jabatan." "Meletakkan Jabatan?" Cu Jiang heran.

"Sudah tentu. Poan-koan (hakim) itu sebuah jabatan di Akhirat. Di dunia masakan perlu dengan hakim semacam itu."

"Lo - cianpwe, wanpwe benar tak mengerti "

"Lihat saja kesana sendiri engkau tentu tahu." Namun Cu Jiang masih bersangsi.

"Aneh, mengapa keempat wanita pemikul tandu tadi membiarkan saja tandu itu di tengah jalan ?" katanya dengan penuh keheranan.

Sambil masih tertawa Gong - gong - cu berkata:

"Poan-koan sudah melepaskan jabatan, tak perlu lagi dengan mereka !"

Tetapi Cu Jiang tak mengerti. Pikirnya, kalau menurut kata Gong-gong-cu, tandu itu kosong. Tetapi dia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa tadi Hakim Putih berada di dalamnya. Apakah Gong-gong-cu ini memang ahli dalam meramal ?"

Ia maju menghampiri kemuka tandu dan ulurkan tangan kiri untuk menyingkap kain penutup, sedang tangan kanan bersiap menjaga setiap kemungkinan yang tak terduga.

Begitu kain tersingkap, kejutnya bukan kepalang sehingga ia sampai menyurut mundur tiga langkah  dan terus hendak menghantam ....

"Jangan !" cepat Gong-gong-cu berteriak mencegah. Cu Jiang turunkan tangannya. Jelas ia melihat Hakim Putih masih duduk di dalam tandu, maka dia hendak mendahului menyerangnya. Tetapi sesaat ia teringat bahwa Hakim Putih itu duduk diam saja seperti patung. Serentak timbul kecurigaannya dan ia maju pula untuk mengamati.

"Hai, dia sudah tak bernyawa !" serentak ia berteriak kaget.

"Memang," sahut Gong-gong-cu, "dia sudah beberapa lama tak bernyawa lagi."

"Bagaimana lo cianpwe dapat mengetahui?" Cu Jiang makin heran.

"Nak," kata Gong- geng-cu dengan wajah bersungguh, "hal itu bukan suatu ilmu gaib, melainkan dari ketajaman cara kita berpikir dan menarik kesimpulan. Coba engkau renungkan peristiwa tadi lagi. Bahwa kawanan Pengawal Hitam mengejar tandu itu. Jelas tentu menganggap orang di dalam tandu itu musuh mereka. Kemudian ternyata dalam tandu itu berisi Hakim Putih tetapi Hakim Putih itu tak bicara apa2 kepada Pengawal Hitam. Saat itu juga aku sudah mengetahui bahwa Hakim Putih tentu mati. Dia tentu mati di tangan pemilik tandu itu,"

"Siapakah pemilik tandu itu ?" tanya Cu Jiang.

"Dia tentu bersembunyi dibelakang tubuh Hakim Putih. Karena mayat, apabila tidak disanggah oleh orang dari belakang, tentu tak dapat duduk dengan tegak, Bukankah Hakim Putih tadi duduk tegak dan bukan bersandar pada tandu ? Dan ingat2 suara Hakim Putih yang tidak  menyahut tetapi hanya mendengus tadi. Jelas tentu berasal dari pemilik tandu itu."

"Oh." desah Cu Jiang tersipu-sipu malu-hati, "dan kenapa tandu itu sekarang diletakkan di tengah jalan ?" "Ciri yang mereka gunakan hanya dapat membingungkan orang Gedung Hitam. Tetapi untuk sementara waktu saja karena bagaimanapun juga akhirnya orang Gedung Hitam tentu tahu dan akan mengejar mereka lagi," kata Gong-gong cu.

Saat itu terdengar ayam berkokok bersahut-sahutan, menandakan bahwa hari hampir menjelang pagi.

Segera Gong-gong - cu mengajak melanjutkan perjalanan lagi agar terhindar dari kesulitan. Keduanya segera lari kearah sebuah hutan.

Pada saat itu timbul pula suatu peristiwa yang aneh mengejutkan. Entah bagaimana tiba2 tandu itu bergerak masuk kedalam hutan. Sudah tentu Cu Jiang terkejut. Ia berpaling dan melihat mayat Hakim Putih menggeletak di tengah jalan. Dengan begitu jelas pemilik tandu itu tadi masih berada dalam tandu dan belum melarikan diri.

Sesaat kedua orang itu masuk kedalam hutan maka terdengarlah gemuruh rombongan kuda lari mendatangi ke tempat mayat Hakim Putih.

Ternyata penunggang kuda itu ialah keempat Pengawal Hitam tadi bahkan tambah dengan seorang tua baju hitam, muka seram.

Kelima penunggang kuda itu serempak loncat turun. Salah seorang segera mengangkat mayat Hakim Putih ke atas kudanya lalu dibawanya pergi. Sedangkan yang empat orang loncat ke kudanya masing2 dan terus lari ke muka. Jelas mereka tentu hendak mengejar tandu tadi.

Brakkkk .... terdengar suara keras. Gonggong cu dan Cu Jiang cepat menghampiri ke tempat suara itu. Ternyata mereka mendapatkan tandu bagus tadi sudah hancur. Tentu dihancurkan orang tetapi siapa orangnyalah tampak bayangannya lagi.

Sejenak memandang ke sekeliling, Gonggong cu berkata: "Kali ini pemilik tanda tentu benar2 sudah pergi." "Berani menentang Gedung Hitam, jelas dia tentu bukan

tokoh sembarangan, " kata Cu Jiang.

Gong-gong-cu batuk2 kecil.

"Nak, kita ini bukan orang persilatan, lebih baik tak perlu mengurus urusan persilatan. Mari kita lanjutkan perjalanan lagi. "

Mendengar kata2 Gong-gong cu, Cu Jiang tak habis herannya. Tetapi dia segera tahu bahwa tentu ada maksudnya mengapa Gong-gong cu berkata begitu.

"Ah, aku hanya sembarangan omong saja. Baiklah, paman, mari kita lanjutkan perjalanan," akhirnya  ia berkata.

Dalam berkata-kata itu Cu Jiang mengeliarkan pandang ke sekeliling. Ia terkejut sekali ketika melihat seorang lelaki tua baju hijau, tegak berdiri dibawah pohon lebih kurang dua tombak jauhnya, dengan pandang mata yang berkilat- kilat tajam. Rambutnya merah dan mukanya juga merah.

Cu Jiang tak tahu bila dan bagaimana orang tua rambut merah itu secara tiba2 muncul disitu. Mungkin memang sejak tadi dia sudah berada disitu. Saat itu baru dia mengerti mengapa Gong-gong-cu tadi berkata supaya tak usah mencampuri urusan persilatan.

Tentulah Gong-gong-cu sudah lebih dulu melihat orang tua rambut merah itu

Karena dipandang sedemikian rupa, hati Cu Jiang tak enak. "Anda ini kutu dari mana ?" tiba2 karena tak kuat menahan perasaan, Cu Jiang berseru.

Lama sekali baru orang tua itu menyahut. "Cik bin Jin!!" tiba2 orang itu menjawab dengan nada yang menusuk telinga.

Cek bin-jin artinya Manusia-berwajah-merah. Tentu baja nama itu sebuah gelaran persilatan. Tetapi sepengetahuannya. belum pernah ia mendengar gelar yang bergelar Cek-bin-jin.

Cu Jiang alihkan pandang matanya ke arah Gong-gong- cu. Ia yakin sebagai seorang tokoh angkatan tua yang memiliki pandangan luas, tentulah Gong-gong-cu tahu. Tetapi Cu Jiang putus asa ketika memperhatikan mata Gong-gong-cu juga tampak bingung.

"Engkau tentu asing kepadaku, bukan ?" seru orang tua rambut merah pula.

"Benar, karena belum pernah mendengar," jawab Cu Jiang.

"Tetapi aku tak asing kepadamu..." Cu Jiang berdebar keras.

"Anda kenal padaku ?" tanyanya gugup. "Tentu."

"Di depan Hud, jangan suka menyulut dupa palsu.

Jangan berpura-pura, bukankah engkau ini si Gok jin-ji ?"

Cu Jiang seperti disambar halilintar kejutnya sehingga ia tersurut selangkah ke belakang.

"Siapakah Gok-jin-ji itu 7" serunya. "Engkau !" "Anda punya bukti apa ?" "Kakimu sebelah kiri!"

Cu Jiang mendesah. Ia tak menduga bahwa kakinya sebelah kiri yang cacat itu dapat dijadikan ciri dirinya. Namun ia berusaha untuk bersikap tenang dan berkata dengan nada dingin:

"Dalam dunia orang yang kaki kirinya pincang, bukan hanya Gok-jin-ji seorang?" Cek bin-jin mengekeh.

"Memang benar. Tetapi wataknya tentu tak sama." "Belum tentu, " bantah Cu Jiang.

"Tetapi kuanggap memang engkau ini!" Cu Jiang marah.

"Apa sebenarnya maksud anda? " tegurnya.

"Kalau begitu engkau mengakui, bukan?" si rambut merah Cek bin-jin balas bertanya.

Cu Jiang menyengir. Ia agak bingung. Mengaku atau tidak.

"Kalau engkau berani membuka kedok mukamu, engkau tentu tak dapat menyangkal lagi, " Cek-bin-jin mendesak.

Cu Jiang makin kaget. Kedok muka yang di pakaiannya itu sedemikian halus buatannya sehingga umumnya orang tentu tak dapat mengetahui. Tetapi nyatanya kakek rambut merah itu cepat dapat mengetahui.

Tiba2 Gong-gong-cu menyelutuk: "Bukankah anda ini yang berada dalam tandu tadi?"

Si rambut merah tertawa mengekeh: "Kalau benar lalu mau apa?" "Andapun memakai kedok muka ..." "Sama-sama, sama-sama!"

"Apakah sebenarnya tujuan anda?"

"Omong2 beberapa patah dengan Gok jin-ji." Mendengar bahwa tujuan orang hendak mencari dirinya, Cu Jiang segera menyela .

"Apakah anda hendak bicara dengan aku ?"

"O, engkau sudah mengakui dirimu ?” Cek-bin jin melanjutkan. "engkau kenal dengan Ang Nio-cu ?"

Cu Jiang terkejut. Sejenak merenung ia mengiakan. "Bagaimana pandanganmu tentang dirinya ?" tanya Cek-

bin-Jin pula.

"Aku belum pernah melihat wajahnya yang sungguh tetapi telah berhutang budi kepadanya."

"Engkau jujur. Kedatanganku kemari adalah karena hendak menyampaikan pesannya .. ."

"O, silahkan."

"Engkau masih ingat perjanjian di lembah dulu ?"

Seketika Cu Jiang terbeliak. Ia terbayang akan bayang si jelita baju hijau dan teringat akan perjanjiannya dengan Jelita itu tempo hari. Cepat ia dapat menduga apa yang akan disampaikan oleh Cek-bin-jin saat itu. Ia merasa tak enak hati namun apa boleh buat, ia terpaksa menjawab:

"Takkan melupakan."

Sejenak Cek - bin - jin keliarkan pandang lalu bertanya: "Apakah tiada halangan pamanmu palsu itu hadir disini

?" "Tak apa."

"Baik, sekarang aku hendak menyampaikan kata2 Ang Nio-cu." Cek-bin-jin mulai pembicaraan, "engkau masih ingat akan gadis lembah Ho Kiong Hwa itu?”

Walaupun sudah menduga tetapi tak urung hati Cu Jiang berdebar keras, mukanya merah padam dan keningnya mulai mengucurkan keringat dingin.

" Ya, masih ingat, " katanya terbata.

"Engkau tinggalkan dia seorang diri dalam lembah, jika sampai terjadi sesuatu, coba tanya pada hati nuranimu, apakah engkau merasa enak?"

"Aku mengira bahwa Ang Nio-cu tentu akan melindunginya. "

"Kalau terlambat datangnya?"

"Ini .... ini aku memang mengaku salah."

"Engkau merasa dirimu paling hebat, bukan?" "Ah, tidak, aku tak merasa begitu."

"Lalu mengapa engkau tak menurut apa yang Ang Niocu telah mengatur untukmu?"

Cu Jiang terlongong kemudian tertawa hambar: "Karena aku merasa diriku tak sepadan." "Apanya yang tak sepadan?"

"Ang Nio-cu tentu sudah maklum sendiri. Telah kutulis dalam surat yang kuberikan kepada Ho Kiong Hwa. "

Tetapi Cek-bin jin tetap menuntutnya:

"Jelas engkau memandang dirimu terlalu tinggi sehingga memandang rendah pada Ho Kiong Hwa." "Kusangkal tuduhan itu! " seru Cu Jiang.

"Tak mungkin Ang Nio-cu akan bertindak secara gegabah. Soal itu tentu lebih dulu sudah minta persetujuan Ho Kiong Hwa."

"Tetapi aku tak ingin menghancurkan masa remajanya yang indah."

"Engkau salah." kata Cek-bin-jin, "Ho Kiong Hwa hanya ingin menitipkan dirinya yang sudah sebatang kara, bukan soal wajahmu buruk atau tampan."

"Tetapi orang tentu harus mempunyai rasa tahu diri sendiri."

"Sudahlah, kita persingkat saja pembicaraan ini.

Bagaimana pandanganmu terhadap Ho Kiong Hwa?" "Cantik dan cerdas Orangnya sesuai dengan namanya!" "Lalu engkau setuju atau tidak?"

"Sukar untuk melaksanakan."

Cek-bin-jin mendengus dingin: "Engkau menolak ?"

Dengan nada yang berat Cu Jiang berkata: "Budi kebaikannya takkan kulupakan seumur hidup."

"Jangan banyak pertimbangan lagi!"

"Aku telah mempertimbangkan sedalam-dalamnya." "Apakah engkau sudah pernah membayangkan akibat

penolakan terhadap kemauan Ang Nio-cu itu ?"

Cu Jiang keraskan hati, sahutnya: "Jika tak mau menerima penjelasanku, sudah tentu aku tak dapat berbuat apa2 kecuali rela menerima akibat apapun juga dikemudian hari."

"Engkau terlalu congkak!" "Ah, tidak."

"Jika saat ini kuambil jiwamu..."

Cu Jiang tersentak kaget, serunya: "Apakah  maksud anda ?"

Dengan suara dingin seram, Cek-bin-jin berkata:

"Telah kukatakan bahwa aku dimintai tolong Ang Nio- cu."

"Apakah dia minta anda supaya mencabut Jiwaku?" "Ha. ha..."

"Aku tak takut mati, tetapi saat ini, maaf, aku belum dapat menyerahkan nyawaku."

"Kenapa ?"

"Masih ada urusan penting yang belum ku selesaikan." "Aku tak peduli semua itu !"

Cu Jiang mengertak gigi, serunya: "Beri waktu setahun, aku nanti tentu akan menyerahkan diri."

"Kalau aku tak setuju ?" "Terpaksa aku harus melawan."

"Mungkin engkau tak mampu mengadakan perlawanan itu."

"Kalau begitu, salahku sendiri mengapa belajar silat tak sungguh2. Aku takkan menyesali siapa2 lagi."

Saat itu suasana tegang regang. Hawa  pembunuhan bertebaran. Kenyataan sudah jelas bahwa Cek-bin jin mampu membunuh Hakim Putih dari Gedung Hitam dan dapat membawa lari tandu seperti orang terbang. Muncul lenyapnya seolah tak meninggalkan bekas. Jelas dia seorang tokoh yang amat sakti. Dan Jelas pula bahwa Cu Jiang tentu tak mampu melawannya.

Tiba2 Gong-gong-cu tertawa gelak2 dan maju selangkah, serunya:

"Ah, sahabat ini terlampau sekali !" Cek-bin-jin deliki mata, sahutnya:

"Aku hanya mewakili permintaan tolong orang!" "Kurasa Ang Nio-cu tak bermaksud begitu.." "Bagaimana engkau tahu ?"

"Pernikahan merupakan soal besar dalam kehidupan seseorang. Harus mendapat persetujuan kedua belah pihak. Kalau tidak begitu, tentu bukan suatu perjodohan yang wajar, bahkan akan menimbulkan saling dendam diantara suami isteri !"

"Lebih baik jangan ikut campur !"

"Tetapi aku terikat keluarga dengan engkoh kecil ini." "O, berarti engkau hendak ikut turun tangan ?"

"Sahabat, walaupun tak tahu bagaimana persoalan yang sebenarnya tetapi aku telah mendengarkan pembicaraan tadi. Engkoh kecil itu tak mau dengan badannya yang cacat, akan mengecewakan masa muda diri nona itu. Dia bermaksud baik, bukan bermaksud hendak menolak kemauan Ang Nio-cu.

Dan lagi urusan ini belum sampai pada tingkat dimana orang harus putus asa. Mengapa tidak sabar menanti pada lain kesempatan yang menguntungkan dan harus menyelesaikan sekarang dengan pertumpahan darah ? Ingat, ini soal perjodohan, suatu hal yang bahagia. Bagaimana pendapat anda ?"

Agaknya Cek-bin jin tergerak mendengar kata2 Gong- gong cu. Dia diam merenung.

Cu Jiang tahu bahwa Ang Nio-cu memang bermaksud baik kepadanya. Karena Ang Nio-cu tahu akan asal usul dirinya dan sebelum dia rusak wajah dan kakinya dulu. Sedang Gong-gong cu belum tahu tentang dirinya.

Cu Jiang merasa bahwa apabila saat itu harus memutuskan perjodohan itu, memang kurang tepat. Akhirnya ia mengambil keputusan.

"Aku minta waktu setahun. Apabila pada waktu itu bertemu dengan Ang Nio-cu, aku akan memberi keputusan. Bagaimana ?"

Setelah merenung beberapa saat, baru Cek-bin-jin menjawab: "Satu tahun ?"

"Dalam setahun itu kemana saja engkau hendak pergi ?" "Aku sendiri belum tahu." Sejenak menatap Cu Jiang

dengan tajam. Cek-bin jin akhirnya berkata.

"Baiklah, kuharap engkau dapat pegang janji!" "Seorang lelaki tentu takkan menjilat ludahnya lagi" "Sampai jumpa pada lain waktu..."

"Mohon sampaikan pada Ang Nio-cu, budi kebaikannya lain waktu pasti akan kubalas."

"Sampai Jumpa !" tahu2 Cek bin-jin sudah melesat lenyap kedalam gerumbul.

"Hebat sekali !"seru Cu Jiang memuji gerakan orang yang luar biasa gesitnya itu. "Rasanya selatanku itu harus kutaruhkan kepadanya." kata Gong-gong-cu.

"Apakah locianpwe benar2 belum pernah mendengar tentang diri tokoh itu ?"

"Apa engkau tak mengetahui ?" "Mengetahui apa ?"

"Dia adalah Ang Nio cu sendiri!"

Cu Jiang seperti digambar petir kejutnya: "Hai! Dia itu Ang Nio Cu sendiri ?" "Benar."

"Tetapi Ang Nio-cu itu seorang wanita. Nada suaranya juga tak begitu."

"Aku tak mengatakan bahwa dia tadi seorang lelaki. Ada dua hal yang dapat membuktikan."

Cu Jiang meminta penjelasan.

Dengan pelahan, Gong-gong-cu berkata:

"Pertama, dia mengaku kalau orang yang ada dalam tandu dan yang memikul tanda itu empat wanita baju merah. Dengan begitu Jelas bahwa yang di dalam tandu itu tentulah seorang wanita. Kemudian kakinyapun lebih kecil dari seorang lelaki, memakai sepatu kain. Suatu hal yang janggal bagi seorang pria. Dengan begitu jelas dia tentu seorang wanita yang sedang menyaru ..."

"O, penilaian locianpwe sungguh tajam sekali. Lalu yang kedua ?"

"Yang kedua, dia menggunakan tenaga-dalam untuk merobah nada suaranya. Tetapi nada itu kalau dibanding dengan suara seorang tua pada umumnya, masih beda sekali. Tidakkah engkau merasa bahwa suaranya itu aneh dan menusuk telinga ?"

"Ah, benar, wanpwe memang tolol sekali tak dapat memikir sampai disitu ..."

"Engkau tidak tolol melainkan masih kurang pengalaman dan lagi kurang tenang."

“Terima kasih atas petunjuk lo-cian-pwe!"

"Mari kita lanjutkan perjalanan lagi," ajak Gong-gong- cu.

Singkatnya setelah lebih dari satu  bulan mengadakan perjalanan, pada hari itu mereka tiba di kota Tayli yang terletak di tepi laut.

Gong-gong-cu sudah membahu kedok mukanya, sedang Cu Jiang masih tetap memakai.

Cu Jiang merasa tegang sekali. Dia berada dalam alam dan suasana yang asing. Orang2 yang berpapasan disepanjang Jalan, baik pakaian dan bahasanya, terasa aneh dan beda dengan Tiong goan.

Banyak sekali aneka ragam keadaan yang belum pernah dilihatnya. Boleh dikata setiap seratus Ii, tentu ia melihat keadaan yang baru. Baik mengenai cara dan pakaian rakyat disitu.

Hanya untungnya, sedikit banyak penduduk disitu sedikit-sedikit mengerti bahasa Han.

Tiba di pintu kota timur, tampak penduduk memenuhi sepanjang Jalan untuk melihat. Di pintu kota berpuluh- puluh pembesar2 yang berpakaian dinas, baik dari kalangan militer maupun sipil, sudah tegak berjajar dalam dua deret untuk menyambut. Gong-gong-cu memimpin tangan Cu Jiang. Dengan mengulum senyum, tokoh itu melintasi barisan pembesar2 yang menyambut kedatangannya.

Terdengar sorak gembira menyatakan selamat datang kepada Kok su (penasehat kerajaan). Dan Gong gong-cu melambaikan tangan sebagai tanda balas menghormati.

Hampir tiba di pintu kota, seorang tua bertubuh tinggi besar dan berjubah ungu segera maju menyambut dan memberi hormat:

"Mengemban seng-ci (amanat) baginda untuk menyambut Kok-su!"

Sekalian menteri dan pembesar serempak membongkokkan tubuh memberi hormat.

Dengan suara nyaring. Gong-gong-cu menyambut: "Ah. sungguh berat untuk menerima penyambutan begini."

Saat itu Cu Jiang merasa seperti berada dalam keadaan yang hanya dapat dijumpai dalam impian. Dia tak dapat berkata apa2. Sebagai seorang Kok-su. kedudukan Gong- gong-cu itu hanya setingkat dibawah baginda Tayli.

Demikian deretan menteri dan pembesar2 kerajaan Tayli itu segera memasuki kota.

Cu Jiang menjadi pusat perhatian orang menilik wajahnya yang biasa saja, orang tak melihat sesuatu pada dirinya. Tetapi mengapa Kok-su berjalan berjalan berdampingan dan menggandeng tangannya ?

Para pembesar itu segera kasak kusuk untuk merangkai dugaan tentang diri Cu Jiang.

Pada saat memasuk jalan yang menuju ke istana, disitu telah dipersiapkan meja perjamuan. Empat orang pemuda dan pemudi cantik, tegak di kedua sisi meja. Meja itu tiada hidangan apa2 kecuali tiga buah piala kumala, sebuah teko perak.

Tiga orang gadis mengangkat piala kumala dan menuang kedalam tiga cawan lalu serempak menghaturkan kehadapan Gong-gong-cu:

"Hong-ya berkenan memberi arak untuk pelepas lelah."

Wajah Gong-gong-cu serentak berobah serius. Dia membungkuk tubuh dan berseru penuh khidmat:

"Menghaturkan terima kasih atas budi yang dilimpahkan Hong-ya."

Ia menyambuti cawan, satu demi satu diteguknya habis.

Sebuah tandu yang dipikul olah delapan orang segera disediakan di muka meja. Orang tua jubah ungu tadi maju dua langkah dan berseru :

"Silahkan Kok-su naik kedalam tandu !"

"Terima kasih." kata Gong-gong-cu lalu memimpin tangan Cu Jiang dan diajak naik tandu.

"Ah, lebih baik wanpwe berjalan di belakang tanda saja," Cu Jiang tersipu-sipu.

"Jangan, tidak menguntungkan kalau engkau berjalan kaki. Lebih baik duduk bersama aku saja," kata Gong gong- cu.

Teringat akan kakinya yang pincang, apabila berjalan tentu akan menimbulkan perhatian orang, maka Cu Jiangpun menurut. Dia duduk disebelah Gong-gong-cu.

Demikian tandu segera diangkat oleh kedelapan pemikul bertubuh kekar. Sepanjang Jalan masuk kedalam kota, ternyata negeri Tayli yang kecil itu juga amat ramai. Jalan raya terbuat daripada marmer, rumah2 penduduk, rumah makan yang berjajar-jajar disepanjang jalan, dihias dengan mewah sebagai tanda penyambutan atas kedatangan Kok- su.

Beberapa saat kemudian tibalah mereka di pintu gerbang istana raja. Diatas pintu gerbang yang tinggi itu terpancang tiang bendera. Sedang di kanan kiri pintu, berhias sepasang singa batu yang besar sekali.

Melalui pintu gerbang, merupakan sebuah lapangan seluas setengah bau yang juga ditutup dengan batu marmer semua. Didepan pintu gerbang istana itu dijaga oleh delapan belas wi-su atau pengawal istana yang bersenjata.

Tandu diturunkan dibawah titian. Belasan pembesar berpakaian kebesaran segera menyambut. Satu demi satu Gong-gong-cu membalas hormat mereka.

Setiap orang tentu memandang Cu Jiang dengan mata terkejut tetapi tiada yang berani bertanya. sekalipun demikian tetapi Cu Jiang merasa likat sendiri.

Dibelakang pintu terdapat pula sebuah lapangan luas, terbuat dari marmer, dibelah menurut bentuk palang. Empat keliling lapangan itu berjajar-jajar bangunan gedung yang besar. Sepanjang jalan bertumbuhan pohon siong yang hijau.

Seorang tua berpakaian kuning, keluar menyambut dari tengah lorong berbentuk palang itu dan berseru lantang:

"Hong-ya melimpahkan amanat karena habis menempuh perjalanan jauh, Kok-su tentu lelah dan dipersilahkan beristirahat dulu."

Gong gong cu menghaturkan hormat dan menyatakan terima kasih. Setelah itu baru orang tua baju kuning itu tertawa seraya maju menghampiri: "Ah, Kok-su tentu lelah."

"Ah, tidak. Semoga Hong-ya sehat selalu," sahut Gong- gong-cu dengan hormat.

"Hong-ya sehat dan bahagia."

"Semoga cong-koan juga sehat2 saja." kata Gong-gong- cu kepada orang tua baju kuning. Dia pembesar istana yang berpangkat cong-koan.

"Ah, doa keselamatan untuk Kok-su juga." kata orang tua baju kuning itu.

"Baiklah, lain waktu kita bercakap-cakap lagi "

"Silahkan, Kok-su. O. tuan ini...." mata orang tua baju kuning itu memandang Cu Ciang.

Gong-gong-cu tertawa gelak2, serunya: "Dia adalah muridku yang baru kuperoleh waktu didaerah Tionggoan !" Kemudian ia berpaling kepada Cu Jiang: "Inilah Khu Bun Ki, cong koan istana. Masih banyak hal2 yang engkau perlu meminta bantuannya."

"Khu cong koan, terimalah hormatku," Cu Jiangpun secara menghaturkan hormat.

"Ah, tak usah banyak peradatan." kata Khu Bun Ki yang menjabat cong-koan atau pembesar urusan istana Itu.

Kemudian Gong-gong-cu pun meminta kepada rombongan pembesar yang menyambutnya tadi supaya kembali ke tempat masing2. Demikian setelah berbicara basa-basi dengan beberapa pembesar istana yang mengerumuninya itu, akhirnya Gong-gong-cu mengajak Cu Jiang menuju ke lorong kiri dan melangkah ke jalan besar yang rindang dengan pohon2.

Sesungguhnya istana raja Tayli itu tak lebih hanya sebesar gedung kediaman seorang menteri Kerajaan di negeri Tionggoan. Paling bedanya hanyalah istana Tayli itu dihias dengan sebuah lapangan.

Setelah melalui beberapa pintu halaman, akhirnya Gong- gong-cu dan Cu Jiang tiba dimuka sebuah pintu berbentuk rembulan.

Begitu melangkah, Cu Jiang segera merasakan suatu suasana yang baru. Pagoda kecil tempat beristirahat yang terbuat dari batu, tiang2 pilar yang tinggi bersih dan terbuat dari batu marmer, menghias sebuah gedung yang tenang.

Dari dalam gedung itu muncul dua orang anak yang berlari-lari menyambut: "Kok-su sudah pulang ...!"

Dengan penuh kasih sayang Gong-gong cu mengelus- elus bahu kedua bocah itu seraya berkata: "Ing San, Bok Ci, beri hormat kepada Sausu !"

Cu Jiang diam2 menghela napas longgar. Dengan bijaksana Gong-gong-cu dapat menghindarkan kesulitan Cu Jiang dengan memberinya sebutan sebagai sausu atau guru muda.

Juga ketika memperkenalkan kepada Khu Bun Ki, congkoan atau menteri rumah-tangga istana, Gong-gong cu juga tak menyebut nama Cu Jiang.

Sejenak memandang ke arah Cu Jiang kedua bocah itu berturut-turut memberi hormat.

"Ing San menghaturkan hormat kepada sau-su." kata salah seorang bocah itu sambil berlutut.

"Bok Cui menghaturkan hormat," kata bocah yang seorang pula. Keduanya segera berlutut di hadapan Cu Jiang.

"Bangunlah!" buru2 Cu Jiang mengangkat mereka.

Kedua bocah itupun lalu mundur ke samping. Gong-gong-cu melambai dan suruh Cu Jiang mengikutinya masuk.

"Rumahku ini bebas, tak perlu sungkan" katanya.

Gong-gong-cu menuju ke sebuah bangunan gedung di tengah pagar bunga. Walau pun tidak berapa besar tetapi gedung itu amat bersih dan sedap. Pada papan yang besar tertulis tiga buah huruf "Tiau-tim-tian" atau wisma Pembersih Debu.

Alat perabot dalam ruang gedung itu terdiri dari barang2 antik yang jarang terdapat. Ing San membawa Cu Jiang ke belakang untuk mandi dan tukar pakaian.

Setelah itu Bok Cui datang mengundangnya supaya makan. Ruang makan berada di tengah kolam. Walaupun bukan tergolong jenis yang mewah tetapi hidangannyapun terdiri dari masakan yang mahal dan lezat.

Gong-gong-cu sudah menanti di situ dan Cu Jiangpun segera duduk berhadapan di sebelah bawah.

"Anggap engkau telah kuberi pencucian debu," Gong- gong cu.

"Ah, terima kasih."

"Sebelum pengangkatan resmi sebagai guru dengan murid, kita masih sebagai kawan," kata Gong gong-cu pula, "Jangan engkau sungkan."

"Baik !"

"Lepaskan kedok mukamu."

Begitu Cu Jiang membuka kedoknya, kedua bocah yang berdiri disamping itu menjerit tertahan. Gong gong cu melirik dan merekapun buru2 tundukkan kepala, Betapa perasaan hati Cu Jiang, dapat dibayangkan. Setelah makan malam selesai, barulah mereka masuk kedalam ruang tamu yang telah disiapkan. Semalam itu benak Cu Jiang penuh diliputi berbagai pikiran sehingga semalam suntuk tak tidur.

Pagi2 sekali Ing San sudah berseru pelahan2 dimuka pintu:

"Sausu, utusan baginda datang, harap sausu mandi dan ganti pakaian."

Cu Jiang buru2 bangun. Selesai mandi dan ganti  pakaian, Gong-gong-cupun sudah memangginya. Buru2 dia keluar dan menghaturkan selamat.

"Hongya akan menerima engkau." "Ya, wanpwe tahu."

"Ikut aku."

Mereka melalui pintu samping, berjalan disepanjang lorong marmar putih. Dinding keraton tinggi sekali. Tiba diujung lorong, mereka berhadapan dengan sebuah pintu gerbang bercat merah.

Didalam pintu merupakan sebuah taman yang indah, penuh dengan aneka bunga yang aneh. Lorong  yang menuju ke ruang istana, terbuat dari marmer putih.

Ditepi titian dimuka pintu ruang, sudah menyambut Khu Bun Ki menteri pengurus istana.

"Hong-ya menunggu Kok-su." seru Khu Bun Ki.

Setelah mengemasi pakaiannya, Gong-gong-cu suruh Cu Jiang menunggu di situ sedang dia terus naik ke titian dan masuk kedalam istana.

Beberapa waktu kemudian, baru menteri Khu Bun Ki berseru memangginya: "Gok-Jin-Ji, silahkan naik." Dengan langkah yang pincang, Cu Jiang segera meniti titian dan naik ke atas. Ruang mana tampak berkilau- kilauan bergemerlapan. Zamrud permata menghias segenap ruang.

Di tengah ruang tampak duduk seorang lelaki tua berjubah kuning. Wajahnya keren tetapi sikapnya amat ramah. Usianya disekitar 50-an tahun. Sedang Gong-gong- cu duduk disebelah samping bawah.

"Apakah ini raja Tayli ?" pikir Cu Jiang. Tetapi sebelum ia sempat berkata apa2 Gong-gong-cu sudah berseru:

"Haturkan hormat kepada Hong-ya!" Cu Jiangpun segera berturut:

"Menghaturkan hormat kepada Hong-ya."

"Bangunlah, disini ruang paseban muka, tak  perlu banyak peradatan," seru orang berjubah kuning itu.

"Terima kasih, Hong-ya," seru Cu Jiang lalu berdiri. Ketika mengangkat muka dan beradu pandang dengan pria jubah kuning itu, hati Cu Jiang bergetar.

"Hong-ya, walaupun wajahnya buruk, tetapi anak muda itu seorang tunas yang berbakat luar biasa."

"Um.." pria Jubah kuning itu hanya mendesah tetapi tak berkata apa2.

"Mohon Hong-ya menurunkan titah." seru Gong-gong- cu pula.

Sampai beberapa saat baru pria jubah kuning itu berseru: "Koksu, untuk sementara tunda dulu."

Wajah Gong-gong-cu agak berobah. "Hong-ya, walaupun tua tetapi rasanya mata hamba masih dapat mengenal barang..."

Pria jubah kuning memotong, serunya: "Koksu, besok pagi kita berunding lagi."

Gong-gongcu berbangkit dan membungkuk tubuh dalam2, serunya:

"Hamba menerima perintah, mohon mengundurkan diri."

Tubuh Cu Jiang terasa agak gemetar. Hanyalah karena memandang mukanya buruk, rupanya raja Tayli itu kurang berkenan dalam hati. Tampaknya sia2 saja perjalanan ke negeri Tayli itu.

"Nak, mari kita kembali dulu," kata Gong-gong-cu dengan tenang.

Cu Jiang terkejut dan buru2 memberi hormat kepada raja seraya mohon diri. Kemudian ia mengikuti Gong gong-cu kembali ke wisma Tiau-tiok-tian, tempat kediaman Gong- gong cu.

"Nak, jangan putus asa, aku akan berusaha untuk menembus persoalan ini."

Cu Jiang hanya tertawa hambar.

"Terserah bagaimana locianpwe hendak mengatur," katanya

"Nak, apabila sampai gagal, akupun hendak meletakkan jabatan."

"Ah, jangan locianpwe bertindak begitu. Manusia berusaha, Thian yang memutuskan. Aku tak bernafsu nekad untuk menginginkan sesuatu."

"Ya kutahu isi hatimu, nak, beristirahatlah dulu." Kembali ke kamarnya, perasaan Cu Jiang tak keruan rasanya. Pikirnya, bagaimana ia dapat lolos dari istana terlarang itu. Kesan yang telah dialaminya, membangkitkan pula dendam kebencian yang sudah mengendap beberapa waktu.

Pada saat dia sedang dilanda oleh luap amarah yang sukar dikendalikan, tiba2 ia mendengar gemerincing suara tawa seorang gadis yang berasal dari ruang di  sebelah muka. Ia duga tentulah gadis2 pelayan atau dayang istana disitu.

"Bagaimana latihan badan?"

tiba2 terdengar suara Gong gong-cu tertawa keras.

"Mau sembunyi tapi takut dapat diketahui," seru gadis itu.

"Ha, ha, ha "

"Kabarnya Nyo kongkong ketika di Tionggoan telah menerima seorang murid hebat ?"

"Ih, bagaimana engkau tahu ?"

"Hm, segala apa yang terjadi di negeri ini, dari atas sampai ke bawah, tiada yang tak kuketahui."

"Engkau lihay sekali!"

"Ucapan Nyo kongkong sukar dipercaya." "Ih ?"

"Bukankah Nyo kongkong pernah mengatakan tak mau menerima murid?"

"Oh. .. soal itu, lain dulu lain sekarang." "Orang tua tetapi tak malu!" "Mengapa engkau tak mengatakan "tua tetapi tidak mati?

"

"Berbicara  dengan   sungguh2,   Nyo   kongkong, apakah

aku boleh berkenalan dengan dia?"

Mendengar itu hati Cu Jiang bergetar keras. Siapakah gadis itu? Mengapa dia menyebut Gong-gong-cu sebagai kongkong ( kakek )? Menurut kata gadis itu. Gong-gong cu itu orang she Nyo Dan kalau menilik nada  pembicaraannya, gadis itu jelas bukan dayang istana. Lalu siapakah dia?"

Tiba2 terdengar Gong-gong-cu tertawa: "Kongcu lebih baik jangan kenal dia."

Kali ini Cu Jiang benar2 tergetar hatinya. Ternyata gadis itu adalah kongcu atau puteri raja. Pembicaraan  kedua orang itu bebas sekali dan tak terikat oleh adat istiadat istana. Rupanya di istana itu. peraturan antara pria dan wanita bukan merupakan larangan.

Kerajaan kecil yang terletak di sebelah selatan itu menyerupai suatu kerajaan tersendiri.

"Kenapa tak boleh?" puteri itu melengking. "Tak sedap dipandang!" sahut Gong gong cu.

"Asal dapat melihat bagaimana macam orang yang mampu mendorong Nyo kongkong sampai merobah keputusan takkan menerima murid. Soal sedap atau tak sedap dipandang, aku tak peduli!"

"Engkau tak mengerti." "Apanya yang tak mengerti?" "Kelak kita bicara lagi. " "Setelah mendapat murid baru, rupanya Nyo kongkong tak sayang padaku Toan Swi Ci lagi, ya?"

Tergerak hati Cu Jiang. Toan Swi Ci, oh, nama puteri itu Toan Swi Ci.

"Apakah engkau tetap akan melihat?"

"Tentu, kalau tidak aku tentu tak dapat setiap waktu datang ke mari untuk meminta pelajaranmu."

"Baik, nak, keluarlah menemui kongcu!"

Kejut Cu Jiang seperti disambar petir. Dia harus keluar bertemu puteri raja itu? Ah tidakkah wajahnya begitu menyeramkan orang? Bagaimana mungkin dia ketemu seorang puteri raja dengan wajah begitu?

Tetapi ah, kalau toh menyeramkan,kan hanya satu kali saja Selanjutnya puteri raja itu tentu tak mau bertemu dengan dia lagi.

Setelah mengambil keputusan dia terus melangkah ke luar.

Begitu melangkah ke dalam ruang, seketika terpancar penerangan yang gemilang. Tampak seorang dara secantik bidadari tengah duduk berhadapan dengan Gong-gong-cu. Usianya baru diantara 16-17 tathun.

"Aah..." Toan Swi Ci menjerit kaget, wajahnya berobah tegang.

Betapa perasaan Cu Jiang saat itu sukar dilukiskan. Malu, marah, benci dan dendam campur aduk  menjadi satu. Serentak ia berputar tubuh dan melangkah keluar.

"Nak, kembalilah !" teriak Gong-gong-cu.

Tetapi Cu Jiang tak menghiraukan. Dia terus menuju ke ruang di belakang dan duduk terlongong diatas kursi. "Engkau menyebabkan dia tertusuk perasaannya." tiba2 terdengar suara Gong-gong-cu dari ruang depan.

"Aku tak mengerti mengapa Nyo kongkong menjatuhkan pilihan padanya ?"

"Itulah sebabnya kukatakan tadi, kalau engkau tak mengerti."

"Harap Nyo kongkong suka memberi petunjuk."

"Aku memilih bakat tulangnya yang luar biasa, bukan dari air mukanya."

"Kalau begitu. . . aku hendak minta maaf kepadanya." "Tak usah."

"Siapa namanya ?" "Gok jin-ji."

"Gok-jin-ji? Ah, rasanya itu bukan suatu nama.

Dikalangan rakyat juga tak terdapat orang she Gok." "Itu nama gelarannya."

"Yang kutanyakan nama sebenarnya." "Dia tak punya nama."

"Ih, aneh. Masakan orang tak punya nama."

"Kongcu yang baik, banyak sekali hal2 dalam dunia persilatan yang tak engkau ketahui."

Sampai disitu Cu Jiang tak mau mendengarkan lagi. Ia memandang kearah almari rak buku yang penuh dengan buku. Ia segara mengambil sebuah. Ternyata sebuah buku sejarah. Membuka beberapa halaman, ia tak ada selera membacanya lalu menukar dengan yang lain. Juga tak senang. Setelah mengembalikan buku itu dia terus melangkah ke luar halaman. Kebun halaman penuh dengan aneka bunga yang belum pernah  dilihatnya. Hatinya terasa agak lapang.

Sekonyong-konyong sesosok tubuh yang rasanya sudah pernah dikenal, mendadak berjalan pelahan-lahan dititian belahan Jalan-setapak di tengah kebun bunga. Ketika memperhatikan, hampir saja Cu Jiang memekik.

Itulah si wanita gemuk, pemilik rumah makan yang telah dibakar oleh orang Gedung Hitam, Tetapi mengapa wanita gemuk itu berada di istana Tayli ?

Kenangan lama muncul kembali. Ia hendak menemui wanita gemuk itu dan memperkenalkan dirinya. Selagi dia masih bersangsi, wanita gemuk itupun, sudah tiba beberapa langkah di mukanya.

"Hai, engkau!" teriak wanita gemuk itu terkejut.

Cu Jiang menahan luapan perasaannya dan bersikap tenang: "Ya, memang aku."

"Masih ingat kepada wanita penjual kacang yang menjajakan dagangannya di kota kecil tempo hari ?"

"Tentu."

"Bukankah engkau bersama seorang sasterawan pertengahan umur . . ."

"Ya, benar, tetapi aku segera berpisah dengan dia." Dengan tegang wanita gemuk itu memandang Cu Jiang,

serunya :

"Lalu bagaimana harus menyebutmu ?" "Aku bernama Gok Jin ji."

"Yang kumaksudkan sebutannya." "Mereka memanggil dengan sebutan sausu." "Sausu?"

"Ya."

"Apakah sausu ikut Kok - su yang baru datang dari Tionggoan itu?"

"Ya."

"Bagaimana keadaan sasterawan yang telah memberi bantuan uang kepadaku itu ?"

Cu Jiang tak mau mengatakan bahwa orang yang dimaksud wanita gemuk itu sesungguhnya adalah seorang cong koan dari Gedung Hitam. Dia hanya menjawab sembarangan saja.

"Dia baik2 saja. Apakah aku boleh menyebutmu dengan panggilan toanio ?"

"Ah, jangan, sausu ! Aku hanya salah seorang tukang masak."

"Bukan soal. Aku seorang persilatan. Kaum persilatan tak membedakan pangkat dan kedudukan."

"Kalau sausu menghendaki, terserah. Memang orang2 di istana sini memanggil aku begitu."

"Bagaimana toanio dapat datang kemari?" "Menghindari musuh."

"Ah.." Cu Jiang hanya mengaduh tetapi tak mau bertanya lebih lanjut. Dia tahu yang dimaksud musuh tentulah pihak Gedung hitam.

Diam2 Cu Jiang merasa menyesal. Kesemuanya itu adalah gara-garanya. Jika dia tak mencampuri urusan si jelita Ho Kiong Hwa tentu tak sampai bentrok dengan  orang Gedung Hitam dan takkan diberi Amanat Maut.

Wanita gemuk itupun tak perlu melindungi dirinya dan tak sampai rumah makannya dibakar orang Gedung Hitam dan orangnya harus lari menyembunyikan diri dari kejaran pihak Gedung Hitam.

"Maaf toanio, kelak budimu tentu akan kubalas," diam2 Cu Jiang berjanji dalam hati.

Sambil memandang lekat2 pada wajah Cu Jiang, wanita gemuk itu berkata:

"Sausu, maaf, tetapi memang benar engkau ini mirip dengan seseorang yang kenal baik dengan aku..."

"Siapa ?" Cu Jiang terkejut.

"Usianya sebaya dengan sausu, juga sinar matanya, bahkan perawakannya. Hanya, ah, mungkin dia sudah tak berada di dunia lagi.."

"Dia mempunyai hubungan apa dengan toanio ?" "Keluarga."

"Keluarga? Apa ikatannya dalam keluarga dengan toanio

?"

"Ah, sudahlah, tak perlu dibicarakan lagi. Aku sedih

kalau mengingat dia."

"Cu Jiang, kasih tahu pada toanio, bahwa pemuda yang dikenangnya itu saat ini berdiri dihadapannya. Hanya karena  wajahnya  rusak,  engkau  tak mengenalnya "

tiba2 hati Cu Jiang melantang.

Tetapi dia berusaha untuk menekan perasaannya.

Saatnya belum tiba, pikirnya. Saat Itu bocah Ing San bergegas memanggil. "sausu !" katanya kepada Cu Jiang, dan kepada wanita gemuk, bocah itupun berseru: "Toanio, aku mencarimu kemana-mana."

"Ada apa?"

"Siang nanti kongcu hendak bersantap di wisma Tiau- tim-tian. Koksu pesan agar disiapkan hidangan."

"O, baiklah, aku segera menyiapkannya." wanita gemuk itu memberi hormat kepada Cu Jiang lalu bergegas pergi.

Cu Jiang kerutkan dahi. Ada sesuatu yang melintas dalam benaknya.

"Ing San, aku hendak jalan-2 ke luar istana ini, " katanya. "Sausu hendak pesiar melihat-lihat luar?"

"Ya."

"Biarlah kulaporkan pada Koksu dulu." "Ya, silahkan."

Bocah itu gopoh2 pergi dan tak lama kemudian dia muncul kembali seraya tertawa:

"Koksu mengijinkan tetapi supaya dekat2 saja dan cepat kembali. Juga pesan supaya sausu mengenakan kedok muka."

Cu Jiang girang sekali, ia masuk ke kamar dan mengenakan kedok muka.

"Hayo, kita ke luar."

Ing San yang mengiring dan menjadi penunjuk jalan. Mereka keluar dari pintu samping dan setelah melalui beberapa lorong akhirnya keluar dari istana.

Saat itu sedang ramai-ramainya orang berjualan. Pasar2 penuh sesak dengan orang berjual beli. Rupanya Ing San jarang sekali mendapat kesempatan seperti itu. Dia tampak gembira sekali. Sepanjang jalan selalu nyerocos ngoceh sembari menuding kesana kesini.

Cu Jiang hanya mengiakan saja tetapi hatinya tak memikirkan soal itu. Diam2 dia mengasah otak untuk mencari jalan bagaimana dapat kembali ke Tiong goan.

Kesan yang diterimanya ketika menghadap raja Tayli tak menyenangkan hati. Lebih baik dia kembali ke Tionggoan saja.

Tak terasa hampir separoh kota telah dijelajahi dan saat itu mereka tiba di pintu kota utara. Sengaja Cu Jiang bersikap gembira, serunya:

"Ing San. kabarnya pemandangan laut Ki-hay itu indah sekali. Mari kita ke sana . . ."

Ing San menengadah memandang matahari, serunya: "Sausu, sekarang sudah saatnya kita harus pulang." "Lebih baik kita makan di luar saja."

"Jangan! Koksu pesan, agar sausu menemani kongcu makan siang."

"Ing San, aku justeru takut menghadapi peristiwa itu . . ." "Kenapa?"

"Wajahku yang begini buruk, masakan layak duduk bersama kongcu?"

"Kongcu sering berkunjung ke wisma Tian-tim-tian. Dan kongcu tentu akan lebih sering datang, lama kelamaan tentu biasa."

"Itu soal besok, Ing San. Lebih baik hari ini kita pesiar sampai puas." "Hamba tak berani, takut pada Koksu "

Melihat sikap bocah itu, tergeraklah hati Cu Jiang. Ia mendesak:

"Jangan kuatir, segala kesalahan aku yang tanggung nanti. Engkau hanya menjadi penunjuk jalan. Tak nanti Koksu akan marah kepadamu."

"Sausu, tindakan sausu itu berarti tak menghormat pada kongcu "

"Pagi tadi ketika melihat wajahku, kongcu tampak ngeri. Kalau aku tak pulang, bukankah sesuai dengan kehendak hatinya?"

Ing San termenung sejenak, katanya:

"Hong-ya hanya mempunyai seorang puteri, amat disayanginya "

"Tak punya putera?" "Tidak."

Pada saat itu mereka sudah ke luar dari kota. Ing San hentikan langkah. Cu Jiang berpaling kepadanya:

"Begini sajalah. Apakah di tepi laut ada rumah makan?" "Ada, rumah makan Ong-hay-loh, mewah dan bersih,

ramai tetapi tenang."

"Ah, bahasa Han-mu lancar sekali."

"Memang ayah bundaku orang Tionggoan. Mereka berdagang sampai ke Tayli dan aku dipilih menjadi pelayan Koksu.”

"O, kalau begitu . . . begini sajalah. Engkau pulang dulu dan memberitahu Koksu. Katakan aku sedang bertemu dengan seorang sahabat dari Tionggoan dan masih omong2 di rumah makan. Terpaksa sore nanti baru pulang. Akan kutunggumu di rumah makan Ong hay loh sana, bagaimana?"

"Apakah tak apa2?"

"Tak apa, lekas engkau pulang dan kembali cari aku lagi."

"Apakah sausu tahu di mana letak rumah makan Ong- hay-loh itu?"

"Uh, masakan tak dapat bertanya orang?" "Tetapi . . ."

Tetapi Cu Jiang cepat menepuk bahu bocah itu dan berseru:

"Ai, sudahlah, pulang dan kutunggu kedatanganmu lagi.

Hari ini kita akan pesiar sampai puas."

Sebenarnya Ing San takut dimarahi Koksu tetapi dalam hati ia memang senang kalau dapat pesiar diluar. Akhirnya ia mau juga menurut perintah Cu Jiang dan harus berangkat pulang.

Setelah bocah itu jauh, barulah Cu Jiang dapat menghela napas longgar. Ia pun melanjutkan langkah. Setelah tiba pada jalan yang terakhir dalam kota, seharusnya belok ke kanan baru akan tiba di rumah makan Ong hay-loh. Tetapi Cu Jiang sengaja belok ke kiri.

Walaupun kakinya pincang hingga tak leluasa berlari- lari, karena ia memiliki tenaga-dalam yang kokoh, walaupun hanya mengandalkan kaki kanan berlari, pun tetap cepat sekali. Jago silat biasa tak mungkin dapat mengimbangi larinya.

Ia takut Gong-gong-cu akan mengirim orang untuk mengejarnya, maka ia lari terus tanpa berhenti. Arah yang ditujunya, sama dengan ketika ia datang ke Tayli, hanya Jalannya yang berbeda.

Menjelang petang hari setelah memperkirakan mencapai seratusan li, tibalah dia disebuah kota kecil di pegunungan. Penduduknya separoh suku Han separoh penduduk pribumi. Tetapi yang digunakan disitu adalah bahasa Han.

Diam2 ia menimang Pada saat bocah Ing San pulang memberitahu kepada Gong gong cu, tentulah Gong-gong-cu akan perintahkan orang untuk mencarinya di dalam kota.

Untuk sementara waktu. Gong-gong cu tentu tak menduga kalau ia sudah meloloskan diri. Pada saat Gong gong-cu menyadari kalau dia minggat, tentu sudah tak keburu lagi untuk memerintahkan orang mengejarnya. Apa lagi jalanan, bukan melainkan satu.

Setelah memperhitungkan hal itu, dia masuk kedalam kota dan beristirahat dalam sebuah kedai minum yang diusahakan orang Han.

Rumah makan kecil itu tiada sesuatu hidangan yang enak. Tetapi Cu Jiang tak memikirkan soal itu. Ia pesan makanan dan arak.

Kini pikirannya mulai merancang rencana. Lebih baik menempuh perjalanan pada malam hari atau siang. Walaupun tenaga-dalamnya sudah bertambah lihay tetapi ilmu silatnya masih kurang. Sedang musuh yang dihadapinya terdiri dari tokoh2 lihay, Lalu bagaimana langkahnya apabila dia kembali ke Tionggoan nanti?

Dalam waktu merenung dan menimang-nimang pikiran itu tak terasa ia telah menghabiskan arak dan minta tambah lagi. Tetapi daya arak itu bahkan menambah kedukaan hatinya. Pemilik kedai seorang lelaki pertengahan umur, mengenakan pakaian warna hitam dari kain kasar. Tetamu hanya sedikit, berikut Cu Jiang hanya tiga orang. Pemilik kedai itu menghampiri dan duduk pada sebuah meja lain.

"Apakah tuan ini orang Han ?"

"Ya," sahut Cu Jiang. "Berdagang atau .." "Oh, aku .. . menjenguk sahabat."

"Siapakah sahabat tuan ? Jelek2 aku sudah kenal dengan semua penduduk disini."

"Ah, tak perlu. Aku sudah tahu. Sahabatku itu menjadi tabib di kota kerajaan Tayli."

"O, tabib ? Siapakah namanya ?"

Sebenarnya Cu Jiang hanya sekenanya saja menjawab. Tak tahunya pemilik kedai itu malah mendesak terus. Untung dia memakai kedok muka sehingga cahaya air muka tak terlihat orang.

"Orang she Ih," katanya hambar.

Tiba2 pemilik kedai itu menepuk pahanya sendiri dan tertawa gembira:

"O, apa bukan Sin-Jiu Ih Hoa?" "Ya, dia!"

"Ah, sungguh tak tahu adat, maaf. Tabib besar In Hoa, namanya harum mewangi didaerah selatan. Entah berapa banyak jiwa yang telah ditolongnya. Dia mampu menghidupkan kembali orang yang sudah mati!" seru pemilik rumah makan itu dengan gembira.

Cu Jiang geli dalam hati. Dia hanya sembarangan saja menyebut sebuah she, eh, kiranya memang ada seorang tabib yang bernama Ih Hoa. Pemilik rumah makan itu masuk dan keluar lagi dengan membawa poci perak, sepiring ayam panggang dan sepasang sumpit.

"Harap tuan suka dahar sebagai tanda hormat kami," katanya dengan tertawa.

"Ah, apakah artinya ini ?" Cu Jiang heran.

"Terhadap seorang sahabat dari Ih toa-koh jiu (tabib negara) kepada siapa aku pernah berhutang budi, sudah sepantasnya kalau aku menghaturkan hormat."

Ia menuang arak ke cawan Cu Jiang dan ke cawannya sendiri lalu mempersilahkan pemuda itu minum dan dahar.

Cu Jiang mengucapkan kata2 basa-basi tetapi pemilik rumah makan itu mendesaknya supaya jangan sungkan, Terpaksa Cu Jiang minum juga.

"Arak yang hebat," serunya memuji. Pemilik rumah makan lalu menuang lagi. Berturut turut Cu Jiang menegak sampai tiga cawan. Tetapi beberapa kejab kemudian ia rasakan matanya ngantuk sekali, sampai sukar dibuka. Ia terkulai, rebahkan kepalanya di meja dan tak ingat  apa2 lagi.

Entah berselang berapa lama, ingatannya mulai timbul kembali. Ia rasakan sekujur tubuhnya tak enak dan kaki tangannya tak dapat digerakkan. Bahkan terasa seperti lunglai. Ia mendengar suara ribut2 dan bau asap dupa wangi.

Ketika membuka mata, kejutnya bukan kepalang. Ternyata saat itu dirinya sedang terikat pada sebatang tonggak. Sekelilingnya penuh dengan orang, ada yang duduk ada yang berdiri. Masing2 membawa obor. Bau asap kayu cendana, timbul dari unggun api. Tempat itu merupakan sebuah lapangan terbuka. Menilik pagar-pagar yang terpancang di sekeliling, seperti merupakan sebuah pasar.

Di sebelah muka, disiapkan meja sembahyangan, bunga dan lilin. Di atas meja diberi sebuah sin-pay atau nisan yang bertulis beberapa huruf, berbunyi:

Arwah mendiang tabib Sin-jiu Ih Hoa.

Cu Jiang tercengang tak tahu apa yang terjadi. Bukankah karena menganggap Cu Jiang itu seorang sahabat dari Ih Hoa maka pemilik rumah makan lalu menyediakan arak dan hidangan ayam panggang? Mengapa tahu terjadi adegan seperti saat itu?

Cu Jiang sudah tentu tak kenal siapa tabib Ih Hoa itu dan bagaimana peribadinya. Dan hanya karena menjawab pertanyaan, ia sekenanya saja mengatakan hendak menjenguk seorang sahabat orang she Ih. Ai, mengapa tahu2 jadi begini...

Di samping meja tegak delapan lelaki berjubah panjang. Salah seorang tak lain adalah pemilik rumah makan itu sendiri.

Menilik gelagatnya, jelas mereka tentu bermaksud buruk terhadap Cu Jiang. Tentulah pemilik rumah makan itu telah mencampuri obat ke dalam arak.

"Tho-si telah tiba!" tiba2 terdengar lelaki tua yang berdiri di tepi meja itu berseru nyaring.

Tho-si adalah sebutan untuk pembesar atau kepala daerah dari suku golongan minoritas (kecil) yang hidup di daerah Lam bong atau Tionggoan sebelah barat-daya

Suasana hening seketika. Dari jauh tampak mendatangi sebuah rotan panjang yang menyerupai ular api. Ternyata mereka terdiri dan berpuluh-puluh lelaki berpakaian pendeta, memegang obor dan berjalan menuju ke lapangan. Diantara cahaya api itu, tampak sebuah tandu besar. Cu Jiang duga, yang berada dalam tandu itu tentu tho-si.

Selekas memasuki lapangan, rombongan obor itu segera berpencar dengan rapi sehingga lapangan terang benderang seperti siang.

Tandu berhenti di muka meja sembahyangan. Orang2 yang berdiri di tepi meja segera maju menghampiri.

Seorang pengawal yang bersenjata golok, segera membuka tenda penutup tandu dan seorang lelaki bertubuh tinggi besar mengenakan jubah kuning emas, melangkah ke luar dari dalam tandu. Dengan mata berkilat-kilat ia memandang ke sekeliling.

Bagai rumput tertiup angin, sekalian orang yang berada di lapangan itu, segera berlutut memberi hormat.

Lelaki yang menyambut ke muka tandu itu-pun juga membungkukkan tubuh memberi hormat. Rupanya ke delapan orang yang tegak berjajar di kedua samping meja itu merupakan tokoh2 penduduk yang terkemuka.

Lelaki tua jubah kuning emas lalu berjalan pelahan-lahan menuju ke muka meja. Ia mengangkat tangan selaku membalas penghormatan orang2 itu. Kemudian ia duduk di kursi yang telah disediakan. Kedelapan pengiring bersenjata golok, tegak berjajar di belakangnya.

Orang2 yang berlutut tadipun bangun. Tetapi tiada seorangpun yang berani membuka mulut. Suasana masih tetap hening lelap.

Cu Jiang rasakan benaknya masih memar sehingga ia tak jelas apa yang terjadi di tempat itu. Delapan penduduk terkemuka yang berjajar pada kedua samping meja sembahyangan, berdiri di tepi tempat duduk lelaki tua berjubah kuning.

Setelah beberapa jenak menatap Cu Jiang,  lelaki berjubah kuning emas itu baru berkata: "Apakah hanya dia seorang?"

"Ya," jawab seorang tua berjubah panjang. "semalam dia singgah di kedai Tio lopan. Dalam pembicaraan, dia telah kelepasan omong, Tio lopan segera menghidangkan arak obat untuk meringkusnya..."

"Apakah sudah pernah ditanya?"

"Belum, kami menantikan loya yang memeriksanya." "Tio lopan." seru lelaki tua jubah kuning emas itu.

Pemilik rumah makan segera mengiakan. "Kapan dia singgah di kedaimu?"

"Baru semalam."

"Dia berkata apa saja ?"

"Katanya hendak berkunjung ke daerah selatan menjenguk seorang sahabat. Aku curiga dan mendesaknya, Dia mengatakan sahabatnya itu orang she Ih. Segera kuhidangkan arak obat sehingga dia rubuh dan ternyata memang terdapat bukti."

"Bukti ?"

"Kutungan pedang!" kata pemilik rumah makan, menjemput sebilah kutungan pedang, diangkat tinggi2 lalu diletakkan kembali.

Bukan main marah Cu Jiang. Kutungan pedang itu adalah benda peninggalan mendiang ayahnya. Ia tak menduga orang akan menggeledah dirinya dan menganggap benda itu sebagai barang bukti.

Wajah lelaki tua jubah kuning emas itu tampak gelap. Dengan penuh dendam ia memandang Cu Jiang lalu ke segenap hadirin dan terakhir berseru dengan lantang:

"Tabib Ih, seorang tabib yang budiman dan pandai, menyelamatkan jiwa manusia dari cengkeraman maut. Didaerah ini beliau merupakan dewa penolong yang sangat dipuja dan dihormati. Sungguh tak kira kalau orang yang begitu baik akhirnya harus mengalami nasib menyedihkan dibunuh oleh serombongan lima orang.

Sudah empat pembunuh yang membayar dosanya. Arwah tabib Ih masih melayang-layang di daerah ini sehingga pembunuh2 itu kebingungan dan menyerahkan diri. Pada tubuh mendiang tabib Ih, masih tertanam sebilah pedang kutung. Dan karena dibadan orang itu-pun terdapat kutungan pedang, maka bukti kejahatannya sudah jelas, tak perlu ditanya lagi..."

Beratus-ratus mata yang penuh dendam kemarahan mencurah pada Cu Jiang. Kini Cu Jiang baru menyadari persoalannya. Ternyata dia telah didakwa sebagai pembunuh tabib Ih Hua. Padahal ia tak kenal sama sekali siapa dan bagaimana tabib Ih itu.

"Ah, jika aku tak membantah, tentu akan mati konyol," pikir Cu Jiang.

"Tho-si, apakah ucapan anda itu benar ?" serunya. "Soal apa ?" sahut lelaki tua berjubah kuning emas.

"Anda tak boleh hanya dengan kesimpulan dugaan saja lalu menjatuhkan hukuman terhadap orang yang tak berdosa..." "Apa engkau tak berdosa?"

"Aku seorang pejalan yang kebetulan lalu didaerah ini. Kutungan pedang itu adalah peninggalan ayahku. Bagaimana engkau jadikan bukti sebagai alat pembunuh tabib itu ?"

"Itu menurut katamu."

"Mengapa tak mencocokkan dulu kedua kutungan pedang itu ?"

“Jenasah tabib mulia itu tak boleh diganggu. Kutungan pedang masih berada pada Jenasah dan ikut dikubur."

"Aku sama sekali tak kenal siapa tabib Ih itu. . ."

"Tutup mulutmu ! Percuma engkau membantah. Lekas sumbat mulutnya !"

Seorang pengiring segera maju. Merobek baju Cu Jiang lalu menyumpalkan pada mulut pemuda itu.

Hampir melotot keluar mata Cu Jiang karena menahan kemarahannya. Tetapi dia tak berdaya. Tenaganya masih merana, tenaga-dalam masih di hanyut obat dalam arak tadi.

Jika saat itu dia mau menyebut nama Gong gong-cu, persoalan tentu akan berobah. Tetapi dia memang berhati tinggi. Tak mau dia mengemis pertolongan orang.

"Mulai sembahyang !" teriak lelaki berjubah kuning emas.

Seorang laki tua yang mengenakan pakaian warna biru segera maju ke depan meja sembahyangan. Kawan- kawannya yang lain mundur dan berjajar di belakang tho-si. Sementara thosi itupun segera menghadap meja. "Mulai! Satu dua.... tiga," dengan suara aneh lelaki berjubah biru itu berteriak.

Thosi berturut-turut tiga kali melakukan sembahyangan dengan dupa dan menancapkan pada sebuah tempat dupa.

"Berlutut !" lelaki jubah biru itu berteriak nyaring dan panjang.

Seluruh hadirin segera berlutut. Suasana hening, tegang dan seram. Cu Jiangpun berdiri bulu kuduknya. Kini ia menyadari apa yang akan terjadi. Dia akan dijadikan sesaji sembahyangan,

"Penghormatan dimulai. Satu .. . dua .. tiga " kembali lelaki berjubah biru itu berseru. Sekalian hadirin segera membungkukkan kepala hingga sampai ke tanah.

"Menghaturkan sesaji !"

Dua orang lelaki baju merah muncul dari meja sembahyangan. Yang seorang membawa panci kayu warna merah. Dalam panci kayu itu terdapat basi dari tembikar. Sedang yang seorang mencekal sebatang pisau sebesar kuping kerbau.

Setelah maju memberi hormat dihadapan meja, keduanya lalu menghampiri Cu Jiang.

Semangat Cu Jiang serasa terbang. Dia tak nyana bahwa dirinya akan mati dalam keadaan yang begitu menyedihkan. Jauh di daerah pedalaman Lam bong dan disembelih seperti babi.

Kedua Jagal itu berdiri di kanan kiri Cu Jiang.

Dengan kata2 dalam bahasa Han yang kurang lancar, jagal yang memegang pisau itu berkata pelahan-lahan:

"Semoga dalam penitisanmu besok, engkau  akan menjadi orang baik!" Orang yang membawa panci kayu, mengertek gigi:

"Dia memang jahat sekali. Jangan cepat2 di bunuh tetapi harus disayat pelahan agar dia tahu rasa!"

Jagal yang memegang pisau itu segera mengangkat pisau dan ujung pisaupun mulai digerakkan ke tenggorokan Cu Jiang. Dan Cu Jiang karena tak berdaya hanya pejamkan mata pasrah nasib.

"Tahan!" sekonyong-konyong terdengar suara bentakan keras yang mengejutkan sekalian orang.

O0xxdw-kzxx0O
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pusaka Negeri Tayli Jilid 09"

Post a Comment

close