Pusaka Negeri Tayli Jilid 08

Mode Malam
Jilid 8 

Salah seorang Pengawal Hitam menampar muka imam itu hingga mulutnya berdarah dan muka bengap.

Mata   Cu Jiang   melotot   keluar, dada serasa mau meledak. Pada saat ia hendak unjuk diri tiba2 ia melihat sesosok bayangan melesat dan lenyap. Diam2 ia tahu  bahwa ditempat itu muncul seorang ko jiu atau tokoh sakti.

Terpaksa ia menahan diri dan tak mau bergerak keluar. Diam2 dia menduga-duga, siapakah bayangan itu? Imam dari biara atau orang Gedung Hitam?

Kedua Pengawal Hitam yang masuk ke dalam pondok tadi keluar pula. Salah seorang membawa sejilid kitab, dihaturkan kehadapan Bu-ceng-thay-swe Kho Kun.

"Laporan, yang kami dapatkan hanya kitab ini!"

Kho Kun menyambuti dan membacanya. "Ah, Thian-to po-lok."

"Itulah kitab pusaka dari biara kami, kalian jangan..." "Tutup mulutmu, hidung kerbau!" bentak Kho Kun

kepada imam setengah tua itu ."lebih baik engkau serahkan saja!"

"Pinto benar2 tak tahan !"

"Mm, kalau belum menghadapi peti mati engkau memang belum menangis. Kali ini engkau tak mau menyerahkan kitab, Hian-to-kwan ini akan kuhancurkan." Kho Kun mengancam.

"Kitab itu sukar didapat keduanya!"

"Hidung kerbau, jangan ngaco belo. Siapa yang membicarakan kitab itu ?"

Sekonyong-konyong sesosok bayangan melesat masuk. Seorang lelaki tua berjubah kuning emas, mata berkilat2 tajam.

"Bagus, Sebun sicu, harap memberi keadilan." imam setengah tua itu serentak berseru.

Lelaki berjubah kuning emas itu kerutkan alis, serunya: "Apa yang terjadi?"

"Mereka memaksa pinto supaya menyerahkan kitab Giok-kah-kim keng. Katanya susiok kami yang memperolehnya."

Mendengar keterangan imam setengah tua itu, Cu Jiang terkejut Kiranya kawanan anak buah Gedung Hitam itu sedang mencari kitab Giok-kah kim-keng. Yang disebut susiok atau paman guru oleh imam setengah tua itu tak lain adalah Thian-hian cu.

Padahal para imam di biara situ tak tahu bahwa ketua mereka yakni Thian hian cu sudah dibinasakan secara keji dalam penjara di bawah tanah dari Gedung Hitam.

Itulah sebabnya mengapa pondok dalam biara itu tak terawat. Kiranya pondok itu merupakan tempat semedi dari imam Thian-hian- cu.

Lalu siapakah lelaki tua yang mengenakan jubah kuning emas itu?

"Ho, kiranya Buddha-hidup Sebun Ong yang datang ini. Maaf, aku berlaku kurang hormat." seru Kho Kun dengan sinis.

Cu Jiang makin kaget. Kiranya lelaki tua berjubah kuning emas itu adalah Bu-lim-seng-hud atau Budha-hidup- dari-dunia persilatan Sebun Ong, tokoh yang sering dipuji- puji oleh ayah Cu Jiang waktu masih hidup.

Sebun Ong memiliki kepandaian yang sakti.

Dia menjalankan dharma sebagai seorang hiap-gi atau pendekar utama!.. Menolong yang lemah dan membasmi yang lalim. Itulah sebabnya orang persilatan mengagungkan dia dengan sebutan Buddha hidup dalam dunia persilatan atau Bu lim seng-hud. Sebun Ong balas memberi hormat: "Ah, terima kasih.

Tetapi siapakah kiranya nama anda yang terhormat ini ?" "Aku Bu-ceng-thay-swe Kho Kun."

"Apakah saudara Kho tak keberatan untuk mendengar sepatah kataku?"

"Ah, kurasa lebih baik anda berada diluar kalangan." sahut Kho Kun.

"Sayang aku sudah terlanjur mengetahui dan tak dapat membiarkan saja."

"Kuharap janganlah anda terlalu membanggakan kemasyhuran nama .. ."

"Ha, ha, ha..." Sebun Ong tertawa, "jangan keliwat menyanjung terlalu tinggi. Aku jarang muncul dalam dunia persilatan, bagaimana bisa membanggakan diri ? Hanya karena kepala biara disini seorang sahabatku yang lama, terpaksa aku harus ikut campur. . ."

Tiba2 Cu Jiang teringat orang tua cacat didasar jurang yang telah menolong dirinya ketika dilempar oleh orang Gedung Hitam dahulu. Kakek cacad itu bernama Cukat Giok bergelar Tionggoan tayhiap atau pendekar besar dari Tionggoan.

Karena isteri kakek cacad itu serong dengan Se-bun Ong, maka kakek cacat itu sampai dicelakai oleh Sebun Ong.

Jelas bahwa Se-bun Ong itu seorang manusia yang telah merampas isteri sahabatnya, dan mencelakai sahabat itu.

Cu Jiang pun teringat akan janjinya kepada kakek cacat Tionggoan tayhiap Cukat Giok untuk menuntut balas pada musuh yang telah mencelakainya itu. Dia akan membunuh Tio Hou Hui isteri yang serong itu dan akan mencari anak dari Cukat Giok. Tetapi melihat sikap dan  nada Sebun Ong terhadap orang Gedung Hitam, diam2 Cu Jiang bersangsi. Adakah benar Sebun Ong itu seorang manusia jahat seperti yang dikatakan kakek Cukat Giok itu ?

Tiba2 saat itu Kho Kun tertawa mengekeh dan berseru: "Sebun Ong, jangan terlalu tak tahu diri!"

Dengan wajah tenang, Sebun Ong tersenyum simpul:

"Apakah saudara Kho tak mau menerima ucapanku. . ." "Sebun Ong, jika bukan engkau, saat ini tentu sudah tak

dapat bicara di hadapanku! " tukas Kho Kun.

"Aku hanya mengharap untuk memberi penjelasan." "Apakah engkau tetap ikut campur?"

"Karena sudah begini, terpaksa aku tak dapat lepas tangan!" sahut Sebun Ong.

Kho Kun keliarkan biji mata lalu berseru:

"Baiklah, karena engkau tetap akan ikut campur, aku orang she Kho dengan memandang muka mu, akan melepaskan imam hidung kerbau ini!"

Kedua Pengawal Hitam yang meringkus imam setengah tua itu segera melepaskannya.

Imam itu gopoh menghampiri dan berdiri di samping Sebun Ong.

Kemasyhuran nama Buddha-hidup Sebun Ong benar2 amat berwibawa. Kehadirannya dapat memaksa thaubak dari Gedung Hitam mau melepaskan korbannya.

"Adakah Sebun Ong itu mampu mengelabuhi dunia persilatan agar menganggapnya sebagai seorang pendekar perwira?" Cu Jiang memutuskan hendak menunggu perkembangan selanjutnya. Ia ingin tahu bagaimana Sebun Ong akan mengatasi peristiwa saat itu.

Dengan mengangkat tangan memberi hormat, Sebun Ong menghaturkan terima kasih kepada Kho Kun.

"Ah, tak perlu, aku hanya melakukan perintah atasan saja untuk menyelesaikan urusan ini. Dan karena anda ikut campur dalam urusan ini maka kuminta anda menasehati imam itu agar menyerahkan kitab Giok-kah-kim-keng, " kata Kho Kun dengan nada dingin.

"Kalau tak mau menyerahkan?"

"Biara Hian-to-kwan ini terpaksa akan dicuci dengan darah!"

Sebun Ong berpaling ke arah imam itu.

"Han Hi, engkau sudah dengar sendiri. Jika tak menyerahkan kitab itu, akibatnya sungguh berat. Kalau paman gurumu pulang, akulah yang akan memberi penjelasan kepadanya."

Wajah imam Han Hi mengerut, serunya: "Tetapi siau-to benar2 tak tahu soal kitab itu!"

"Apakah keteranganmu itu sungguh2?" "Siau-to mana berani bohong."

"Andaikata, di tempat yang engkau ketahui mungkin menjadi tempat susiokmu menyimpannya "

"Dalam biara, hanya pondok inilah yang biasa dipakai susiok. Tiada lain tempat lagi!"

"Cobalah engkau pikir2! "

"Ini sukar siau-to tak pernah ke luar dari biara." Sebun Ong mengelus jenggot dan kerutkan alis. Dia merenung diam sampai beberapa saat.

Kho Kun tertawa dingin:

"Jika begitu, bukankah anda sudah boleh lepas tangan?" Wajah Sebun Ong mengerut serius:

"Tidak !"

Wajah Kho Kunpun mengerut gelap.

"Lalu bagaimana anda hendak mengurusnya?"

"Kasih waktu sebulan, biar kubantu Han Hi to te ini mencarinya. Di samping itu akan kukirim orang untuk mencari Thian-hian-cu, barangkali saja akan menyerahkan sesuatu."

Mendengar itu Cu Jiang mengertek gigi “Thian-hian-cu jelas sudah meninggal. Bagaimana mungkin hendak dicari "

"Mungkin hal itu sukar terlaksana." seru Kho Kun dengan hambar.

"Lalu bagaimana kalau menurut pendapat anda?" tanya Sebun Ong.

"Bertindak menurut perintah!"

"Bertindak menurut perintah?" ulang Sebun Ong. "Ya, mencuci biara Hian-to-kwan ini dengan darah."

"Karena aku berada di sini, mungkin sukar anda melakukannya."

"Sebun Ong, apakah engkau berani bermusuhan dengan Gedung Hitam?" "Aku hanya membela keadilan dan kebenaran saja!" seru Sebun Ong. Gagah sekali ucapan itu sehingga hati orang merasa kagum.

"Engkau tentu akan menyesal."

"Aku Sebun Ong, takkan menyesal apa yang telah kulakukan!"

"Sekalipun harus bertaruh dengan nyawa?" Kho Kun menegas.

"Jika perlu."

"Apakah itu berharga?”

"Dalam membela kebenaran, tiada yang disebut berharga atau tidak berharga."

"Rupanya kita harus mengadu kepandaian?"

"Orang she Ko, terus terang saja kukatakan kepadamu. Sekalipun engkau mengajak empat orang kawanmu lagi, masih bukan tandinganku, percaya tidak?"

Tring, tring .... keempat Pengawal Hitam serempak mencabut pedang. Belasan imam yang muncul di sekeliling pintu halaman mengerut alis dalam sikap hendak mengadu jiwa. Suasana tegang meregang.

Tiba2 Cu Jiang mengambil keputusan. Soal pesan kakek di dasar lembah terhadap Sebun Ong itu kelak tentu akan ia selesaikan. Tetapi saat itu yang penting dia  harus membantu pihak Hian-to-kwan.

"Kho Kun, apakah engkau benar2 hendak mencuci biara ini dengan darah?" seru Sebun Ong dengan nada gemetar.

Kho Kun deliki mata. "Rupanya memang begitu!" "Sebun sicu," teriak Han Hi tojin, "kurasa lebih baik engkau berada diluar urusan ini. Walau pun kami para imam biara Hian-to-kwan ini tak becus, tetapi kami telah bertekad hendak mempersembahkan jiwa demi membela biara kami!"

Sebun Ong pun berteriak keras:

"Jangankan aku ini sahabat karib dari Thian-hian-cu. Sekalipun orang luar tetapi demi membela Keadilan dan Kebenaran, aku tentu akan mengadu jiwa . . ."

"Sebun sicu, bersalah kepada Gedung Hitam, akibatnya .

. ."

"Sudahlah, Jangan banyak bicara." cepat Sebun Ong menukas kata2 imam itu.

Setelah mendapat isyarat mata dari Kho Kun, keempat Pengawal Hitam itu berteriak dan mulai menyerang Sebun Ong. Karena Han Hi tojin juga berada di sampingnya, diapun ikut terancam.

Entah dengan gerakan apa, tahu2 Sebun Ong sudah lolos dari serangan mereka, bahkan dia masih dapat membawa Han Hi ke luar dari kepungan. Keempat pedang lawan hanya menyerang tempat kosong.

Peristiwa itu benar2 mengejutkan orang.

Keempat Pengawal Hitam itu berteriak dan menyerang lagi. Gerakan pedang mereka, hebat bukan kepalang.

Dengan menggerakkan tangan melingkar  dan menggurat, keempat Pengawal Hitam itu terdampar mundur.

"Aku tak ingin membunuh orang, harap kalian  tahu diri." serunya.

Kho Kun tertawa mengekeh. "Sebun Ong, tak perlu pura2 berhati mulia. Pertempuran ini pertempuran mati hidup. Kalau tiada yang mati  tentu tak selesai."

Habis berkata dia terus silangkan kedua tangan dan melangkah maju.

Keempat Pengawal Hitam itupun segera mengambil tempat, mengepung dari empat penjuru.

Sebun Ong menyiak Han Hi tojin. Imam itu pun segera menghantam seorang Pengawal Hitam. Ternyata angin pukulannya juga hebat sekali. Pengawal Hitam yang berada di hadapannya, tersiak pedangnya dan orangnyapun tersurut mundur dua langkah.

Dua orang Pengawal Hitam serentak maju menyerang imam itu. Tetapi Han Hi tojin cepat melesat ke muka untuk menghindar.

Bum ....

Terdengar letupan keras ketika pukulan Kho Kun disambut oleh pukulan Sebun Ong.

Kuda2 kaki Kho Kan tergempur dua langkah ke belakang. Jelas kepandaiannya masih kalah setingkat dari Sebun Ong.

Melihat itu seorang Pengawal Hitam cepat menusuk punggung Sebun Ong dari belakang.

Tetapi Sebun Ong memang sakti. Punggungnya seperti bermata. Dia menampar ke belakang dan pedang Pengawal Hitam itupun mencelat ko udara, tepat jatuh di tempat gunungan batu.

Tetapi aneh pedang itu sama sekali tak mengeluarkan suara. Dan tahu2 Pengawal Hitam yang di belakang itu menjerit rubuh. Sekonyong-konyong dari balik gunungan batu itu muncul seorang pemuda berwajah buruk, mencekal pedang dari Pengawal Hitam yang terlempar jatuh tadi.

"Hai . . . !" sekalian orang menjerit kaget. Mereka benar2 tak percaya akan pemandangan yang dilihatnya. Setan atau manusiakah yang muncul itu? Kalau manusia mengapa wajahnya begitu menyeramkan? Tetapi kalau setan mengapa muncul di siang hari?

"Ho engkau! " tiba-tiba Kho Kun berpaling dan berseru ketika melihat yang muncul itu tak lain adalah Cu Jiang.

Sejenak menyapu pada sekalian orang yang berada di tempat itu, Cu Jiang menatap Sebun Ong dan berkata:

"Apakah anda yang disebut Bu-lim-seng-hud?"

Entah bagaimana perasaan Sebun Ong saat itu, girang atau terkejut. Tetapi yang jelas wajahnya kelihatan menyeringai seperti kucing tertawa. Namun dengan masih bersikap garang dia menjawab:

"Ya, siapakah sahabat ini?" "Aku Gok jin-ji."

"Gok-jin-ji?"

"Ya benar. Aku pernah bertemu beberapa kali dengan Thian-hian-cu cianpwe kepala biara di sini."

"Oh..."

Kemudian Cu Jiang berpaling menghadap Bu-ceng-thay- swe Kho Kun dan berseru datar: "Apakah anda terkejut?"

"Budak cacad, memang aku tak menduga sama sekali." sahut Kho Kun dengan sinis.

"Masih ada lagi yang akan mengejutkan hati mu! " kata Cu Jiang. "Apa?"

"Kalian pasti mati semua!"

"Budak cacad, jangan tekebur! Engkau mampu lolos satu kali. jangan harap dapat lolos lagi untuk yang kedua kali"

Kho Kun maksudkan peristiwa Cu Jiang  dapat melarikan diri dari penjara di bawah tanah dalam Gedung Hitam.

Merah mata Cu Jiang. Melangkah maju dua tindak, ia mengangkat pedang dan berseru bengis:

"Aku hendak membunuh habis kalian budak2 Gedung Hitam ini, hm!"

Tiga Pengawal Hitam, yang seorang menyerang dengan tangan kosong dan yang dua menyerang dengan pedang. Mereka bergerak cepat sekali,

Cu Jiang berputar tubuh seraya memutar pedangnya. Hauhhh  ...  terdengar  jeritan ngeri  ketika  salah seorang

Pengawal   Hitam   yang   menyerang   dengan   pedang  itu,

terpental batang kepala dan menggelinding ke lantai. Tak ampun lagi tubuhnyapun rubuh.

Kedua kawannya terlongong kaget.

Cu Jiang sudah terlanjur dirangsang hawa pembunuhan. Sekali bergerak, seorang Pengawal Hitam rubuh lagi. Kini hanya tinggal seorang Pengawal Hitam yang menggunakan pedang.

Dengan sebuah serangan yang luar biasa cepatnya, tahu2 dada Pengawal Hitam itu sudah berlubang, darah menyembur deras dan orangnyapun terhuyung mundur sampai setombak. Wajah pucat seperti mayat .... Dengan menggerung keras. Kho Kun terus menghantam.

Jurusnya aneh dan dahsyatnya bukan alang kepalang

"Berhenti!" tiba2 Sebun Ong membentak dan menangkis pukulan Kho Kun.

Sebenarnya Cu Jiang tak senang Sebun Ong mencampuri urusan itu. Tetapi karena mengingat Sebun Ong sama2 menentang Gedung Hitam, terpaksa dia agak sungkan.

"Apa maksudmu?" teriak Kho Kun. Dengan wajah serius,

Sebun Ong berseru "Maksudku hendak menenangkan keadaan ini."

"Mungkin sukar!"

"Kho Kun, engkau sudah menyaksikan sendiri kesaktian dari sahabat kecil ini. Kalau aku ikut masuk, mampukah engkau menyelamatkan jiwamu?"

"Aku tak mudah digertak !"

"Tetapi itu suatu kenyataan yang tak dapat engkau sangkal !"

Cu Jiang hendak membuka mulut tetapi rupanya Sebun Ong tahu dan mencegahnya:

"Sahabat, dalam melakukan sesuatu kita harus memikirkan akibat dibelakang hari."

Terpaksa Cu Jiang tutup mulut lagi. Ia menyadari akan akibat yang akan diterima para imam biara Hian-to kwan dari pembalasan Gedung Hitam nanti.

Kembali Sebun Ong berkata kepada Kho Kun: "Bagaimana pendapat mu tentang saranku tadi ?" "Tiga mati dan satu terluka, bagaimana harus menyelesaikan perhitungannya ?" seru Kho Kun dengan gusar.

"Juga dalam biara ini sudah empat orang imam yang binasa, apakah itu juga tak sia-sia ?" sahut Sebun Ong.

"Pihak Gedung Hitam selamanya tak pernah melepaskan musuh."

"Kata-kataku hanya sampai disini, terserah keputusanmu!"

Wajah Bu-ceng-thay swe Kho Kun berobah-robah. Rupanya dia sedang memperhitungkan untung ruginya. Lama baru dia membuka mulut:

"Sebun Ong, engkau minta waktu sebulan?" "Ya, benar."

"Apabila sampai waktunya tidak menyerahkan ?"

"Aku Sebun Ong, akan mengundurkan diri dari dunia persilatan."

"Apakah ucapanmu dapat dipercaya?" Kho Kun menegas.

"Gila ! Apakah Sebun Ong bangsa manusia yang tak dapat dipercaya ?"

"Baik. aku dapat menyetujui," kata Kho Kun terus berpaling kepada Cu Jiang.

"Budak cacat, terpaksa kita tak dapat menggunakan kesempatan kali ini, sampai Jumpa !" serunya seraya memberi isyarat kepada Pengawal Hitam yang terluka:

"Apakah engkau masih dapat jalan ?" "Ya." "Engkau bawa seorang mayat kawanmu. yang lain biar aku ..."

"Baik."

"Kho Kun, tinggalkan kitab Hiau-to-po-lok itu!" tiba2 Cu Jiang berseru dingin.

Dengan deliki mata Kho Kun segera membuang  kitab itu. Imam Han Hi buru2 memungutnya.

Para imam yang mengepung diluar pintu halaman itupun segera menyingkir.

Dengan membawa dua sosok mayat Pengawal Hitam, Kho Kun lalu melangkah keluar diikuti Pengawal Hitam yang terluka dan memanggul mayat kawannya itu.

Kawanan imam yang menunggu diluar pintu mengawasi kedua orang itu dengan mata marah.

Imam Han Hi segera menghaturkan terima kasih kepada Cu Jiang. Tetapi Cu Jiang mengatakan supaya imam itu jangan banyak peradatan untuk soal sekecil itu.

"Harap siauhiap duduk di ruang depan ..."

"Maaf, aku hendak melanjutkan perjalanan lagi, Hanya ada sepatah kata yang hendak kuhaturkan kepada totiang."

"Soal apa?"

Sejenak merenung. Cu Jiang berkata dengan nada yang berat:

"Sejak hari ini harap totiang suka membubarkan para murid dalam biara ini. Demi menjaga pembalasan dari Gedung Hitam!"

Han Hi tojin terbelalak.

Sejenak kemudian Han Hi tojin mengertek gigi, serunya: "Membubarkan mereka?" "Begitulah." sahut Cu Jiang.

"Tetapi, harus susiok-ku yang mengambil keputusan . . ."

"Thian Hian Cianpwe sudah tak dapat mengambil keputusan! "

"siauhiap maksudkan . . ."

"Thian Hian cianpwe sudah pulang ke alam kesempurnaan di dalam penjara rahasia Gedung Hitam!"

Seketika cahaya muka Han Hi berobah.

"Apakah kata2 siauhiap ini sungguh2?" serunya dengan gemetar.

"Masakan aku berani omong sembarangan? Aku juga nyawa kembalian dari neraka Gedung Hitam. Aku menyaksikannya dengan mata kepala sendiri!"

"Bu-liang-siu hud!"

Han Hi tojin menundukkan kepala.  Tubuhnya  menggigil.

"Sobat kecil, apakah benar terjadi peristiwa itu?" seru Sebun Ong dengan muka berkerenyutan.

"Benar!"

"Sobat dapat lolos dari neraka Gedung Hitam, tentu orang sukar percaya "

"Memang benar, aku sendiri juga tak pernah  mimpi dapat lolos. Tetapi rupanya Thian memang belum menakdirkan aku harus mati! "

"Apakah sahabat dapat menuturkan peristiwa itu?" "Maaf, tak dapat." "Sahabat ini dari perguruan mana? " "Soal ini ... juga sukar kuterangkan."

"Jurus ilmu pedang yang engkau mainkan tadi bukankah sama seperti ilmu pedang sakti It kiam-tui-hun dari Nabi- pedang Cu Beng Ko dahulu?"

Tergetar hati Cu Jiang seketika. Tetapi dia berusaha untuk menindas kegoncangan hatinya. Dengan tenang ia menjawab:

"Ilmu silat itu sama sumbernya. Banyak persamaannya satu dengan lain."

Dengan mata berkilat kilat, Sebun Ong memandang wajah Cu Jiang, seolah-olah hendak menembus isi hatinya.

"Mengenai pengetahuanku tentang ilmu silat yang terdapat dalam dunia persilatan Tionggoan, kurasa hanya ilmu pedang dari Nabi-pedang Cu Beng Ko itu yang sangat beda dengan ilmu pedang lain2 aliran," kata Han Hi tojin.

Diam2 Cu Jiang memuji ketajaman mata imam itu, ia tertawa hambar.

"Aku yang rendah karena masih dangkal dalam ilmu silat, tak berani menyatakan apa-apa," katanya.

"Kudengar berita yang tersiar dalam dunia persilatan bahwa Nabi-pedang Cu Beng Ko mempunyai putera yang berkelana di dunia persilatan..."

"Ah, banyak sekali hal2 dalam dunia persilatan yang tak kuketahui."

"Wajah anda itu agaknya bukan begitu aselinya tetapi karena menderita luka ..."

Kembali tergetar hati Cu Jiang. Tak mau ia melayani berbicara soal itu dan buru2 alihkan pembicaraan: "Sudah lama aku mengagumi akan kemasyhuran nama cianpwe di dunia peralatan. Sungguh beruntung sekali hari ini dapat bertemu. Jika cian-pwe tak keberatan, sudilah memberi alamat tinggal cianpwe agar kelak lain waktu dapat berkunjung"

Maksud Cu Jiang pada waktu yang diperlukan nanti, dia akan melaksanakan sebuah pesan terakhir dari Ko-tiong-jin atau kakek yang menderita dalam gua itu. Jelasnya, Cu Jiang hendak membuat perhitungan yang penghabisan dengan Sebun Ong.

"Aku tak punya tempat tinggal tertentu. Tetapi kegiatanku tak lepas dari lingkungan wilayah Kanglam dan Kangpak. Sudah tentu kita mempunyai banyak kesempatan untuk berjumpa lagi."

"Oh..." baru Cu Jiang mendesah, tiba2 sesosok bayangan berkelebat masuk. Melihat pendatang itu, Cu Jiang terlongong.

Pendatang itu seorang itu seorang kakek tua mengenakan jubah kuning telur. Cu Jiang masih ingat, ketika lolos dari neraka Gedung Hitam dan tiba disebuah kota, dia bertemu dengan orang tua itu mengaku she Gong dan menyatakan hendak memungutnya sebagai murid. Tetapi saat itu dia menolak ....

Tiba2 orang tua itu tertawa keras.

"Sebun Jite, belasan tahun tak berjumpa, engkau masih tetap awet muda dan gagah seperti dulu!" serunya.

Melihat kedatangan orang tua itu, Sebun Ongpun tertawa nyaring, serunya:

"Sungguh kebetulan sekali loko datang. Disini telah terjadi suatu peristiwa besar." "Peristiwa apa?" orang tua itu hentikan tawanya.

"Menurut berita dalam dunia persilatan, Thian-hian-cu telah mendapatkan kitab Giok-kah-kim keng.  Benarkah itu?"

"Itu hanya desus desus yang tak sesuai dengan kenyataannya."

"Jika loko yang mengatakan begitu, sudah tentu yang paling dapat dipercaya " kata Sebun Ong.

Tiba2 mata orang tua itu beralih memandang Cu Jiang.

Wajahnya cerah tersenyum.

"Engkoh kecil, tak kira kita akan bertemu lagi disini." "Sungguh gembira sekali," Cu Jiangpun segera memberi

hormat.

Dalam pada itu Han Hi tojinpun segera memberi hormat kepada kakek itu.

"Engkau ini.  "

"Han Hi. Tentulah cianpwe masih ingat ketika dalam perjamuan dihidangkan arak, cianpwe telah memberi dampratan pedas kepada susiok-ku. "

"Ah, engkau ini Han Hi, hampir aku tak ingat lagi. Tempo berlangsung cepat sekali mendorong manusia jadi tua, engkau sudah banyak berobah sekarang."

"Dimanakah Thian hian-cu ?" seru orang tua itu pula. "kakiku sudah lelah lari kesana kemari mencarinya "

Seketika wajah Han Hi pucat lesi, sahutnya sedih: "Sudah pulang ke alam baka!"

"Hah, sudah mati?" teriak orang tua itu gemetar. "Ya, sudah meninggal." "Bagaimana peristiwanya !"

"Menurut keterangan siau sicu ini. beliau telah meninggal dalam kamar rahasia Gedung Hitam "

"Benarkah itu?" serentak orang itu berseru kepada Cu Jiang dengan mata berkilat-kilat.

Cu Jiang mengiakan.

"Sudah lama kau menginjak dunia persilatan Tionggoan Kabarnya sekarang dunia persilatan Tionggoan ini sudah dikuasai oleh Gedung Hitam. Darimana engkoh kecil tahu hal itu?"

"Karena aku juga ditawan bersama Thian-hian cianpwe dalam penjara rahasia itu "

"Bagaimana engkau dapat lolos?"

"Karena mendapat bantuan Go-leng cianpwe yang mengatur siasat supaya aku lolos."

"Apakah Go-leng juga di situ?"

"Ya. Beliau juga mengalami nasib yang menyedihkan." "Hai! Bu-lim-samcu telah mati dua . . ." seru orang tua

tua dengan airmata berlinang linang.

Mendengar itu girang Cu Jiang bukan kepalang. Serentak ia berseru:

"Jika tak salah, locianpwe tentulah Gonggong-cu locianpwe, bukan?"

Orang tua itu mengangguk.

"Benar, pada waktu pertama bertemu dengan engkau, bukankah aku sudah menyebut she-ku?"

"Aku tolol sekali sehingga mudah lupa." kata Cu Jiang. "Cobalah engkau ceritakan peristiwa yang telah engkau alami." kata Gong-gong-cu.

"Kumohon dapat bicara empat mata dengan locianpwe .

. . . "

"Mengapa perlu begitu?"

"Perjalananku kali ini memang khusus  hendak mencari lo cianpwe!"

"O, baiklah, nanti kita bicara lagi," kata Gonggong-cu lalu berpaling kepada Han Hi, " Han Hi, peristiwa apakah yang terjadi dalam biara ini?"

"Gedung Hitam telah mengirim beberapa jagonya ke mari, memaksa kami supaya menyerahkan kitab Giok-kah- kim-keng. Kalau tak mau menyerahkan, biara ini akan dicuci dengan darah."

"Hm, lalu ?"

"Kebetulan Sebun sicu datang dan melerai. Tetapi tetap kami harus menyerahkan kitab itu dalam waktu satu  bulan!"

"Sama satu kaum saling bunuh membunuh, menandakan bahwa dunia persilatan akan mendekati hari kiamat!" seru Gong-gong-cu.

Sebun Ong Juga menghela napas rawan.

"Dunia persilatan memang tak pernah mengenyam hari2 damai. Dari dahulu sampai sekarang selalu terjadi pergolakan yang tak kunjung habis," katanya.

"Han Hi. lalu bagaimana tindakanmu?" tegur Gong- gong-cu pula.

"Tiada lain pilihan kecuali harus menyingkir ke lain tempat " "Demi menyelamatkan suatu pembunuhan besar, terpaksa aku harus cepat2 bertindak, tak boleh berayal.. ."

"Cianpwe hendak ke mana ?" "O, aku harus pergi."

"Loko selalu datang dan pergi dengan bergegas-gegas" seru Sebun Ong,

"sepuluh tahun tak berjumpa apakah kita tak dapat menikmati omong kosong ?"

Gong gong-cu tertawa.

"Hari masih panjang, kita masih dapat berjumpa pada lain kesempatan untuk minum arak se puas-puasnya dengan lote. Tetapi hari ini aku benar2 harus mengecewakan lote!"

"Menurut ucapan loko tadi, apakah kitab Giok kah-kim- keng itu masih berada di Istana terlarang negeri Tay-li ?"

"Ya,"

"Haa desas desus dunia persilatan itu sungguh berbahaya sekali sehingga Thian-hian-cu dan Go-leng-cu sampai menderita nasib malang."

"Tetapi pada suatu hari, Gedung Hitam harus membayar kesemuanya itu," seru Gong-gong-cu dengan geram.

Mendengar itu Cu Jiang tak tahan untuk diam. Serentak ia berseru:

"Dewa sakti dari manakah sebenarnya ketua Gedung Hitam itu?"

"Mungkin tiada seorang dalam dunia persilatan yang tahu akan dirinya," Sebun Ong menyeletuk.

Memberi isyarat tangan kepada Cu Jiang. Gong-gong-cu lalu mengajaknya. "Engkoh kecil, mari kita berangkat. Saudara2, sampai jumpa !"

"Ijinkan wanpwe mengantar" kata Han Hi. Tetapi dicegah Gong-gong-cu.

Habis itu Gong-gong-cu sudah mendahului melesat keluar. Setelah memberi hormat kepada Sebun Ong dan Han Hi tojin, Cu Jiangpun segera menyusul.  Karena sebelah kakinya pincang, maka larinyapun tidak stabil.

"Engkoh kecil, kita cari tempat yang sepi, jangan sampai terdengar orang." kata Gong-gong-cu.

Cu Jiang mengiakan.

Gong-gong cu berjalan dimuka dan Cu Jiang mengikuti dibelakang. Setengah li kemudian, Cu Jiang sudah ketinggalan jauh. Walaupun dia memiliki tenaga dalam yang hebat tetapi karena sebelah kakinya cacad, walaupun larinya masih jauh lebih cepat kalau ditanding dengan jago silat biasa tetapi karena bertanding dengan tokoh semacam Gong-gong-cu, sudah tentu terpaut jauh sekali.

Rupanya Gong gong cu tahu hal itu. Ia lambatkan larinya, kemudian berseru: "Kita ke puncak bukit itu!"

Cu Jiang mengangguk. Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di puncak bukit itu dan duduk di atas batu dalam hutan.

Lebih dulu Gong gong cu memetik beberapa ranting pohon, di tancapkan di sekeliling tempat itu. Lalu mengumpulkan batu besar kecil diletakkan diantara pagar2 ranting itu. Setelah itu baru duduk dengan Cu Jiang.

Sebagai putera dari seorang tokoh silat yang termasyhur sudah tentu Cu Jiang memiliki pengetahuan yang luas. "Ah, kiranya lo cianpwe ahli sekali dalam soal barisan Ki-bun." serunya.

"Demi menjaga ketenangan, terpaksa harus berbuat begitu," sahut Gong-gong-cu.

"Barisan apakah yang locianpwe susun ?"

"Barisan Thian-lotin, bagian yang mudah dirobah dari barisan Kim-soa-tin."

"Ah. aku buta sama sekali tentang ilmu itu," kata Cu Jiang.

"Marilah kita mulai bicara. Coba engkau dulu yang bicara, mengapa engkau mencari aku," kata Gong-gong-cu.

Cu Jiang agak bersangsi. Apakah ia harus menceritakan siapa dirinya ataukah menurut pesan Go-leng cu saja. Sejenak merenung, ia berkata:

"Aku telah berjanji untuk melaksanakan pesan Go-leng cu cianpwe, untuk menyampaikan pesan lisan dari beliau. .

."

"Katakanlah !"

"Thian-hian cu dan Go leng cu berdua lo cianpwe,  karena berita2 fitnah di dunia persilatan, telah ditangkap dan dijebloskan dalam penjara Gedung Hitam Dipaksa harus menyerahkan kitab. Menunjukkan dimana kitab Giok-kah-kim-keng. Karena kedua lo-cianpwe itu memang tak tahu dan tak dapat memberi keterangan, akhirnya disiksa sampai mati..."

“Terkutuk! Teruskan ceritamu!"

"Go-leng-cu cianpwe pesan, bahwa tunas yang luar biasa itu adalah pada diri Pelajar baju putih. Harap locianpwe mencarinya sampai ketemu !" "Pelajar baju putih ?" "Ya."

"Hanya itu pesannya?" "Ya, hanya begitu."

Gong-gong-cu memandang Cu Jiang tajam2, kemudian sepatah demi sepatah ia berkata:

"Menurut penilaianku, tunas luar biasa itu tak  lain adalah engkau sendiri!"

Cu Jiang gemetar.

"Ah, masakan aku berani menerima pujian setinggi itu dari locianpwe !"

"Itu memang kenyataan, bukan pujian kosong. Tempo hari aku pernah mengatakan kalau akan menunggu kesempatan, sekarang .. ."

Ia hentikan kata-katanya dan memandang Cu Jiang. Rupanya dia hendak menunggu bagaimana reaksi anak muda itu.

Cu Jiang tahu akan maksud orang. Sengaja dia bertanya pula.

"Jika ingin memberi petunjuk, harap  locianpwe katakan."

"Apalagi kalau bukan persoalan tempo hari itu pula." "Hendak mengambil murid?" ulang Cu Jiang.

Wajah Gong-gong-cu membesi, katanya:

"Engkoh kecil, dari daerah Tay-li di ujung selatan menuju ke utara kali ini, tujuanku bukan hendak mencari pewaris melainkan demi suatu rencana besar dalam dunia persilatan " "Demi suatu rencana besar dalam dunia persilatan ?" Cu Jiang terkejut.

"Benar," kata Gong-gong-cu, "karena salah langkah akhirnya Thian-hian-cu dan Go-leng-cu telah membuat kesalahan besar. Akibatnya dunia persilatan telah menderita bencana. Harus diusahakan untuk menolong. Karena itu maka Bu-lim Sam-cu bergerak untuk mencari tunas luar biasa itu !"

Tertarik perhatian Cu Jiang mendengar keterangan itu. "Dapatkah lo cianpwe memberi penjelasan selengkapnya

?" tanyanya.

Gong-gong-cu menghela napas, ujarnya. "Sudah tentu dapat kujelaskan kepadamu, tetapi..."

"Bagaimana ?"

"Bersediakah engkau menjadi bintang penolong dari keadaan yang sudah morat marit itu."

"Aku belum jelas persoalannya..."

"Jika engkau menyatakan bersedia, barulah dapat kuberitahu."

"Dengan tubuh yang cacat ini, mungkin aku..."

"Jangan merendahkan dirimu. Semuanya akan diatur beres. Yang penting, engkau bersedia atau tidak ?"

"Bukankah langkah yang pertama harus mengangkat guru kepada locianpwe ?"

"Dunia persilatan mempunyai peraturan tersendiri.

Hubungan itu memang masih diperlukan."

"Mengapa locianpwe belum memandang penting kepada seorang cacat seperti diriku ?" "Karena bakatmu yang luar biasa." "Bakatku yang begini jelek "

"Sudahlah, jangan merendah diri."

Cu Jiang merenung. Menghadapi pilihan yang sepenting itu yang menjadi murid lain perguruan, bukan suatu hal main2. Sekali salah pilih, akan menyesal seumur hidup.

Gonggong cu seorang tokoh terkemuka dalam aliran putih, Dia mendapat penghargaan diangkat sebagai Kun-su atau penasehat kerajaan Tayli.

Ucapan dan tindakannya tentu dapat dipertanggung jawabkan.

Kebetulan pula ketiga tokoh Bu-lim atau Bu-lim Sam-cu itu sama menaksir dirinya. Apakah itu bukan suatu jodoh yang hebat ?

Setelah mempertimbangkan beberapa saat, akhirnya Cu Jiang mengambil keputusan, serunya:

"Baik, aku bersedia. Tetapi, aku hendak menghaturkan sepatah kata."

"Bilanglah!" kata Gong-gong-cu.

"Wanpwe mempunyai beban untuk membalas sakit hati ayah bunda. Apakah tindakan wanpwe kelak dapat wanpwe lakukan sendiri ?" kata Cu Jiang yang berganti dengan sebutan wanpwe kepada Gong-gong-cu.

Tanpa banyak pikir, Gong-gong-cu serentak menyahut: "Sudah tentu boleh saja, asal jangan sampai melanggar

kesusilaan tata persilatan."

"Masih ada sebuah hal lagi, untuk sementara waktu ini. wanpwe tak dapat memberitahu asal usul diri wanpwe " "Boleh. Apa masih ada lain lagi ?" "Tidak ada."

Tepat pada saat itu dari arah biara Hian-hu kwan mengepul asap tebal.

Seketika wajah Gong-gong-cu berobah, serunya:

"Celaka, Hian-hu-kwan telah dirampok mereka." "Tentulah perbuatan orang Gedung Hitam." Cu Jiang

menggeram.

"Engkau tunggu saja di sini. Walaupun menyaksikan apa2, jangan engkau melangkah ke luar dari barisan  ini. Aku hendak menengok ke Hian-tou-kwan," kata Gong- gong-cu.

"Silahkan," kata Cu Jiang.

Tubuh Gonggong cu menggeliat dan melayang beberapa tombak terus lenyap.

Cu Jiang marah melihat perbuatan orang Gedung Hitam yang selalu melakukan pengacauan, pembunuhan dan kekejaman. Selama berpuluh tahun seolah dunia persilatan telah di teror oleh gerombolan Gedung Hitam dan tak ada seorang tokoh persilatan yang berani menentang.

Tiba2 ia melibat beberapa sosok bayangan lari ke lereng gunung. Makin lama makin mendaki ke puncak. Saat itu  Cu Jiang dapat melihat jelas, mereka adalah anak buah Gedung Hitam yang terdiri dari enam Pengawal Hitam, tiga orang tua baju hitam. Diantaranya terdapat Pangeran- tanpa-perikemanusian Kho Kun.

Cu Jiang serentak berbangkit. Tetapi tiba2 ia teringat akan pesan Gong-gong cu. Terpaksa ia duduk lagi. Kesembilan orang itu naik ke atas puncak dari beberapa jurusan. Makin lama makin dekat. Sudah tentu Cu Jiang tegang sekali.

Tetapi sungguh heran sekali. Tiba di tepi barisan ranting dan batu yang tampaknya berserakan tak teratur itu, mereka berhenti. Dan aneh pula. Mereka seolah-olah tak  melihat Cu Jiang. Sedang Cu Jiang. Sedang Cu Jiang dapat melihat jelas gerak-gerik mereka.

"Aneh, jelas naik ke puncak ini mengapa tak kelihatan.

Apakah dapat terbang ke langit? " kata salah seorang tua.

Kho Kun memandang kian kemari lalu berkata: "Rasanya puncak ini agak aneh "

Dingin2 saja Cu Jiang memandang tingkah ulah mereka.

Diam-diam ia kagum kepada Gong-gong-cu.

"Ah, kalau dulu ayah juga belajar ilmu gaib begini, tentulah tak sampai mengalami nasib yang menyedihkan." diam2 ia teringat akan ayahnya.

Sekonyong-konyong ke sembilan orang itu terkesiap kaget, menundukkan tubuh memberi hormat lalu menyisih ke sebelah kanan dan kiri.

Dua sosok tubuh tiba2 muncul. Yang pertama, mengenakan Jubah hitam dan mukanya ditutup dengan cadar hitam. Dari atas kepala sampai ujung kaki semua tertutup dengan kain hitam. Hanya terdapat dua buah lubang untuk kedua matanya yang berkilat-kilat tajam sekali.

Sedang yang dibelakangnya seorang sasterawan pertengahan umur. Dia adalah congkoan atau pengurus besar dari Gedung Hitam, bernama Ho Bun Cai. Seketika meluaplah darah Cu Jiang. Dia memastikan bahwa orang yang seluruh tubuhnya tertutup Jubah hitam itu tentulah pemimpin Gedung Hitam. Ah, tak sangka  kalau ia mempunyai kesempatan untuk melihatnya.

Sebenarnya ingin sekali ia menerjang keluar dari barisan. Tetapi kesadaran pikirannya mengharuskan dia bersabar. Ia menyadari bahwa saat itu masih terlalu jauh untuk melakukan pembalasan kepada musuh.

Dilanda oleh kebencian sakit hati dan diamuk oleh gemuruh amarah, hampir saja membuat Cu Jiang kalap.

Kepala Gedung Hitam dan Ho congkoan berdiri diluar barisan dan tengah memperhatikan barisan itu. Kesembilan anak buah Gedung Hitam tadi jangankan bergerak, mengangkat kepala yang masih menunduk saja tak berani.

Beberapa waktu kemudian baru pemimpin Gedung Hitam itu berkata dengan nada yang aneh. "Ho congkoan, apakah engkau melihat sesuatu ?"

"Menurut penglihatan kami, agaknya seperti sebuah barisan aneh." kata Ho congkoan.

"Benar," kala pemimpin Gedung Hitam," Gong-gong-cu memang ahli dalam hal itu. Menurut pendapatmu, barisan apakah itu ?"

"Ini kami tak berani sembarangan menebak,"

Pemimpin Gedung Hitam  mengguratkan kaki pada tanah dan mulutnya menghafal:

"Seng, Si, Keng .... ah, salah, Kung ... disini ujung akhirnya. Bagaimana kalau kita memasukinya ?"

"Kami menurut perintah," kata Ho congkoan.

Ketuanya segera melangkah kedalam barisan.  Melihat itu Cu Jiang segera bangkit lagi  dan bersiap seraya memandang kedua orang itu. Begitu kedua orang itu mendekat, dia hendak turun tangan lebih dulu.

Pemimpin Gedung Hitam dan Ho cong koan berjalan di kanan kiri. Lebih kurang tiga meter berjalan, mereka berputar-putar kian kemari tetapi tetap dalam lingkungan seluas satu tombak.

Melihat itu tenanglah hati Cu Jiang. Dia tak mengerti ilmu barisan maka diapun tak berani gegabah melangkah keluar. Dia taat perintah Gong-gong-cu untuk tetap tinggal ditempatnya.

Beberapa saat kemudian kedua pimpinan Gedung Hitam itupun mundur lagi.

"Bagaimana baiknya Ho congkoan?" ujar ketua Gedung Hitam.

"Jaga pohon menunggu kelinci, setiap tempat kita jaga", sahut Ho cong-koan.

"Walaupun cara itu agak bodoh tetapi tiada lain cara yang lebih baik dari itu. Perintahkanlah!" seru ketua Gedung Hitam.

Ho cong-koan berseru kepada Kho Kun:

"Kho thaubak. perintahkan anak buah supaya mengepung bukit ini dengan rapat!"

Kho Kun mengiakan dan rombongan anak buah Gedung Hitampun segera berpencar melakukan perintah.

Suasana puncak sunyi kembali. Diam2 Cu Jiang gelisah. Jika Gong gong cu kembali, jelas tentu akan kepergok. Entah dapatkah dia menghadapi ketua Gedung Hitam? Jumlah mereka begitu besar, hebat sekalipun Gong-gong cu, paling2 hanya dapat menyelamatkan diri lari. Gong-gong-cu dapat lolos tetapi bagaimana nasib dirinya? Bukankah dia akan terkepung dan akhirnya mati kelaparan dalam barisan?

Andaikata gerombolan Gedung Hitam itu menarik anak buahnya dan tinggalkan bukit itu, tetapi dia tetap tak mampu ke luar dari barisan. Bukankah hal itu sama artinya dia akan mati kelaparan?

Memandang ke arah biara, api masih tampak berkobar. Tentulah biara itu habis dimakan api. Ah, siasat orang Gedung Hitam memang busuk sekali.

Setengah jam telah berlalu tetapi suasana masih sunyi. Kepala Cu Jiang mulai bercucuran keringat. Mengapa Gong-gong-cu belum kembali? Apakah dia disergap musuh? Ah, benar2 dia harus mati dalam barisan itu. Pikir  Cu Jiang.

Cu Jiang tak mengerti sama sekali tentang ilmu barisan. Thian-lo-tin atau barisan Jala-langit, asing sama sekali baginya.

Pada saat pikiran tegang hati gelisah, tiba2 bahunya ditepuk orang dari belakang. Ia tersentak kaget dan berpaling, ah kiranya Gong-gong-cu.

"Kapan locianpwe datang? " serunya gembira.

Tetapi wajah Gong gong-cu muram dan hanya mendengus geram.

"Bagaimana keadaan Hian-tou-kwan ?" tanya Cu Jiang pula.

"Jadi tumpukan puing." "Dan para imam ?" "Tak ada yang hidup." "Kejahatan Gedung Hitam memang sudah melampaui batas!"

"Jika kesaktian persilatan tak berkembang, kawanan durjana tentu timbul dan menginjak-injak peri- kemanusian."

"Apakah locianpwe bertempur?"

"Tidak. Masih belum saatnya. Membasmi beberapa kerucuk, takkan dapat menolong keadaan."

"Pemimpin Gedung Hitam sudah unjuk diri..." "Ya, kutahu."

"Kenalkah locianpwe padanya ?" "Tidak."

"Apakah locianpwe kepergok mereka ?" "Tidak."

"Tidak? Lalu..,."

"Buyung, engkau heran, bukan? Sebenarnya aku tak mempunyai keistimewaan melainkan hanya kepercayaan pada diri sendiri. Kalau aku mau menyembunyikan diri, tak mungkin mereka dapat mencari aku. Kalau tidak begitu masakah aku mendapat gelar ……

Jilid 8 Halaman 25/26 Hilang

….. jaga mereka jangan sampai lolos, kututup goa itu dengan barisan Kiat-soh-tin (barisan Kunci Emas).”

"Mengapa tidak dibasmi saja agar jangan menimbulkan bahaya dikemudian hari ?" tanya Cu Jiang.

Gong-gong-cu menghela napas: "Mungkin sudah kehendak Thian. Raja Tayli Toan hong- ya memang penganut agama Buddha, beliau tak mengijinkan pembunuhan "

"Lalu?" tanya Cu Jiang.

"Peristiwa Sip-pat Thian-mo dijebloskan dalam gua lio tiada seorang persilatan yang tahu. Beberapa tahun kemudian Thian-hian-cu dan Go-leng-cu datang ke daerah selatan dan menyelidiki gunung Jongsan. Tanpa sengaja mereka mengetahui seorang keadaan Sip pat thian-mo. Pada waktu itu karena dirangsang kebanggaan, aku kelepasan omong, mengatakan bahwa tiada manusia dalam dunia ini yang mampu memecahkan barisan Kim-soh-tin itu. Tak terduga, ucapanku itu diterima dengan sungguh- sungguh.."

"Apakah hubungan antara Sam-cu itu?" tanya Cu Jiang pula.

"Sebenarnya tiada hubungan apa2, melainkan hanya kenalan saja. Tetapi entah bagaimana dunia persilatan menamakan kami bertiga sebagai Bu-lim Sam-cu. Bermula Thian-hian-cu hanya bergelar Thian hian dan Go-leng-cu juga Go-leng. Sedang aku Gong gong-cu. Kemudian kaum persilatan menganggap kita sebagai tiga-serangkai atau Sam-cu. hanya begitulah ..

"Oh.  " desah Cu Jiang.

"Disamping Thian-hian dan Go-leng itu masih memiliki rasa ke-Aku-an dan berusaha untuk lebih dari orang lain, dan karena mengira bahwa dalam barisan Kim-soh-tin itu tentu terdapat kitab pusaka negeri Tayli yakni kitab Giok- kah-kim-keng, maka timbullah nafsu mereka. Setelah mempelajari keadaan barisan itu selama sepuluh tahun, akhirnya mereka berhasil memecahkan. Untuk yang kedua kali mereka datang ke Jongsan lagi dan dapat memecahkan Kim-soh-tin dan melepaskan Sip-pat Thian-mo..."

"Ah. makanya kedua locianpwe itu selalu menyesali dosanya sendirinya yang telah salah langkah sehingga menimbulkan bencana besar."

"Hal itu mungkin memang sudah jalannya Karma. Mereka berdua harus menerima akibatnya dengan kematian yang menyedihkan."

"Dari sumber mana maka dunia persilatan timbul desas desus bahwa kedua cianpwe telah

<<Jilid 8 dw Halaman 29/30 kz Hilang>>

Selama itu tak sedikit Gong-gong-cu harus berhenti tetapi sebelum musuh memergoki dia sudah melesat ke lain tempat. Belum sampai setengah jam kemudian, dia sudah lari belasan li jauhnya tanpa diketahui sama sekali  oleh anak buah Gedung Hitam.

Setelah tiba diluar hutan barulah Gong-gong-cu meletakkan Cu Jiang. Gong-gong-cu mengeluarkan sehelai kedok muka yang terbuat dari kulit manusia, diberikan kepada Cu Jiang.

"Pakailah kedok kulit ini!"

Cu Jiang menurut. Setelah mengenakan kedok kulit, kini wajahnya yang buruk lenyap dan dia telah menjelma sebagai seorang lelaki pertengahan umur. Wajahnya berwarna semu ungu.

Sementara Gong-gong- cupun juga mengenakan kedok kulit dan menyamar sebagai seorang tua berwajah hitam, memelihara dua jalur jenggot. Ia membuka baju dan kini mengenakan jubah warna biru. dengan penyamaran itu mereka telah menjadi manusia baru. Tak seorangpun yang mengenal dan mengira siapa diri mereka itu sebenarnya.

"Mari kita lanjutkan perjalanan. Kita cari rumah makan di kota yang terdekat dari sini." kata Gong-gong-cu.

"Lo cianpwe, kita ambil jalan mana ?"

"Naik perahu ke Sujwan, mengitari daratan lalu masuk ke wilayah Hun - lam. Kurasa itulah jalan yang paling singkat !"

"Tetapi tetap makan waktu sebulan."

"Ah, tak sampai, mari kita berangkat." Sekeluarnya dari hutan mereka lagi berjalan di jalan besar, Sambil berjalan Gong-gong-cu berkata:

"Buyung, agaknya dengan waktu berjumpa padaku tempo hari, sekarang engkau sudah berbeda..."

"Apanya yang berbeda ?"

"Keng, go, sin, semua telah berobah."

Keng artinya semangat. Go hawa murni dan sin artinya jiwa. Diam2 Cu Jiang kagum akan pengamatan Gong-gong- cu yang teliti. Diantara ketiga Sam-cu, rasanya Gong gong- cu ini lebih lihay segalanya dari kedua rekannya.

Cu Jiangpun lalu menceritakan bagaimana ketika berhadapan dengan Samsat (algojo ketiga) dari gerombolan Kiu-te-sat, ia masih kalah setingkat.

"Rupanya itu sudah kehendak Thian, nak, dengan begitu aku tak perlu membuang banyak tenaga dan pikiran," kata Gong-gong-cu dengan perasaan lega.

Diam2 Cu Jing menimang. Jelas bahwa tujuan Gong gong-cu hendak membawanya ke daerah selatan itu yalah hendak mengambilnya sebagai murid dan menempanya menjadi seorang kojiu

Hal itu dipersiapkan untuk membasmi kawanan Sip-pat- thian-mo. Tetapi pada umumnya, demikian ia berpikir, tentulah guru itu lebih tinggi kepandaiannya dari murid.

Belum tentu murid itu dapat menyerap semua pelajaran yang diturunkan gurunya. Jika begitu, mengapa Gong-gong cu itu tidak mau menghadapi gerombolan Sip-pat-thian-mo itu sendiri saja ? Bukankah itu lebih singkat waktunya dan lebih praktis daripada harus bersusah payah mencari murid?

Dengan pemikiran itu segera ia bertanya.

"Kalau dahulu locianpwe mampu menangkap Sip-pat- thian-mo, mengapa sekarang locianpwe harus bersusah payah mencari murid?"

Gong-gong-cu tertawa:

"Buyung, lain dulu lain sekarang. Telah  kukatakan bahwa aku berhasil menangkap gerombolan Sip-pat-thian- mo itu adalah berkat menggunakan siasat. Tetapi kawanan iblis itu bukan manusia bodoh. Mereka tak mungkin terjebak lagi untuk yang kedua kalinya."

"Kelak kalau berhadapan dengan mereka boanpwe harus menggunakan siasat atau kepandaian?"

"Kedua-duanya," sahut Gong-gong-cu.

"Kalau kepandaian kurang dan kecerdikan tak cukup?" desak Cu Jiang.

Gong-gong-cu tertawa gelak2:

"Buyung, kutahu isi hatimu. Tetapi akupun tentu sudah mempertimbangkan. Apabila kedua syarat itu masih belum cukup, tentu aku tak berani sembarangan menyuruh engkau menghadapi mereka." "Benar. memang wanpwe juga mempunyai pikiran begitu."

"Bukankah telah kukatakan bahwa aku masih mempersiapkan sesuatu lagi "

Tetapi Cu Jiang tak dapat menduga persiapan apa yang telah dirancang Gong-gong-cu itu. Dia diam saja.

Beberapa saat kemudian Gong-gong-cu memecah kesunyian:

"Buyung, kuberitahu kepadamu dengan terus terang. Atas kemurahan baginda Toan Hong-ya yang memberi ijin kepadaku untuk mencari calon jago itu, baginda berkenan akan memberikan kitab pusaka kerajaan Giok-kah-kim- kang."

“Kitab Giok-kah-kim-keng ?" Cu Jiang terkejut.

"Ya, itulah yang kumaksud bahwa aku mempunyai persiapan lain."

Kini Cu Jiang baru menyadari mengapa ketiga Bu-lim Sam-cu sama2 hendak mencari tunas baru yang akan ditempa menjadi kojiu sakti. Kiranya mereka memang sudah membuat perjanjian.

"Tetapi kitab Giok-kah-kim-keng itu adalah pusaka kerajaan Tay-li." masih Cu Jiang ingin mendapat keterangan yang jelas.

"Ya, memang kitab pusaka kerajaan."

"Jika begitu, apakah tak mungkin diantara menteri2 dan Jenderal2 kerajaan yang mempelajari kitab itu."

"Baginda tak mengijinkan," kata Gong-gong-cu, "sampai saat ini belum seorangpun yang pernah mempelajari kitab itu." "Wanpwe sungguh tak mengerti."

"Untuk mempelajari kitab Giok-kah-kimkeng harus mempunyai tiga buah syarat. "

"Apakah ketiga syaraf itu ?" Cu Jiang makin heran.

Dengan tenang Gong-gong-cu berkata: "Pertama, orang itu harus memiliki kecerdasan yang tinggi dan bakat yang luar-biasa. Kedua, harus masih seorang perjaka. Ketiga harus memiliki dasar ilmu tenaga dalam yang kuat. Tampaknya ketiga syarat itu memang tak berat, tetapi untuk menjadi seorang yang sekaligus memiliki tiga syarat itu sukarnya seperti mencari jarum dalam lautan."

"Apakah locianpwe menganggap diri wanpwe memiliki ketiga syarat itu ?" tanya Cu Jiang dengan gemetar.

Gong-gong-cu berpaling memandang Cu Jiang dan berkata dengan tandas:

"Memiliki semua bahkan lebih !" Pada saat itu tiba2 sebuah tandu lewat. Memandang tandu itu tiba2 mulut Cu Jiang mendesuh kejut. Tandu itu diangkat oleh empat wanita baju merah, yang kakinya besar dan alis tebal. Jalannya seperti orang lari. Hanya dalam beberapa kejap saja sudah berada belasan tombak jauhnya.

"Nak, banyak nian hal2  yang aneh dalam dunia  persilatan itu. Engkau harus membiasakan diri untuk tidak heran melihat sesuatu yang heran."

Serta merta Cu Jiang menghaturkan terima kasih. Nasehat orang tua itu memang benar2 tepat dan berharga sekali.

Tiba2 terdengar derap kuda berlari deras. Debu dan kotoran berhamburan tebal ke arah Gong-gong-cu dan Cu Jiang. Cu Jiang marah. Tetapi ketika melihat Gong gong-cu tenang2 saja, diam2 ia malu hati sendiri.

Ketika memandang ke muka, tampak penunggang kuda itu bermantel hitam.

"Pengawal Hitam! " seru Cu Jiang.

Gong gong cu menyahut hambar. "Pertunjukan bagus akan berlangsung!"

"Bagaimana locianpwe dapat mengetahui?" Cu Jiang heran.

"Keempat penunggang kuda itu jelas mengejar tandu indah tadi. Siapa yang berada dalam tandu itu, memang masih sukar diketahui. Tetapi kalau menilik  keempat wanita yang membawanya begitu lihay, tentulah  orang yang berada dalam tandu itu bukan tokoh sembarangan . ."

000ood-eoo00
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pusaka Negeri Tayli Jilid 08"

Post a Comment

close