Pusaka Negeri Tayli Jilid 04

Mode Malam
Jilid 4 

Ya, memang mudah di ucapkan tetapi melakukannya sukar bukan kepalang. Siapa musuhnya itu, pun dia tak tahu. Maka dia gentayangan ke mana2 tanpa suatu tujuan yang tertentu.

Sekarang wajahnya hanya menimbulkan rasa seram dan ejekan orang tetapi tidak menarik perhatian mereka.

Setelah mendengar nasihat orang tua tadi, diapun harus menyesuaikan diri, sebagai orang biasa, orang desa yang sesuai dengan keadaannya saat itu. Dengan demikian tentu dapat menghapus kecurigaan orang.

Tengah dia berjalan. Beberapa kuda  hitam mencongklang pesat dari sampingnya. Penunggangnya mengenakan pakaian hitam, mukanya di tutup kain kerudung dan pakai mantel warna hitam.

"Pengawal hitam" diam2 Cu Jiang berteriak dalam hati.

Cepat ia kerahkan tenaga dan lari mengejar.

Tetapi karena kaki kirinya cacat, beberapa saat kemudian, ia sudah kehilangan jejak mereka. Terpaksa ia hentikan pengejarannya.

Tetapi baru ia berhenti dari arah belakang terdengar lengking tertawa.

Cu Jiang cepat berputar tubuh. Ah.... seperti disambar kilat, mulutnya segera menganga hendak berteriak tetapi tiba2 ia mengatupkannya lagi. Suara yang hendak diluncurkannya ditelannya kembali. Dari belakang tampak dua orang penunggang kuda. Yang satu, seorang puteri keraton yang cantik gilang gemilang. Dan yang satu seorang dayang cantik dalam pakaian warna biru.

Kedua dara dan bujang itu tak lain adalah kedua gadis yang telah menolong dirinya dari ancaman kelak kelompok Pengawal Hitam yang bernama Mata-sakti Ong Tiong Ki.

Ki Ing demikian nama menurut pengakuan puteri jelita itu telah memberinya pending (giok-pwe) kumala hijau tua. Benda itu masih dipakaianya.

Kini dia merasa malu sendiri. Yang lalu biarlah lalu. Dia berusaha untuk menekan perasaan hatinya, walaupun hatinya seperti disayat-sayat.

"Nona, cobalah lihat wajahnya itu . ." tiba2 Siau Hui dikejutkan suara bujang dara berseru. Ki Ing tak menanggapi kata2 bujangnya, tetapi memandang kearah Cu Jiang.

"Apakah engkau tadi mengejar rombongan itu?" tegurnya.

Cu Jiang masih tertegun, terlongong-longong dalam kerisauan hatinya. Ia tak menjawab apa2.

"Hai, nona aku bertanya kepadamu !" teriak Siau Hui. Cu   Jiang   gelagapan   dan berpaling.  "O. bertanya

kepadaku?" katanya tersendat-sendat.

Puteri cantik itu tertawa lalu mengulang pertanyaannya tadi:

"Apakah engkau mengejar rombongan penunggang kuda yang tadi ?"

"Mengejar .... ah, tidak mengejar siapa-siapa," kembali Cu Jiang menyahut dengan nada tergetar. "Bukankah engkau hendak mengejar rombongan penunggang kuda yang tadi?" masih puteri cantik itu menegas.

Hati Cu Jiang seperti disayat sembilu. Ia lantas menjawab dengan kata2 yang tolol:

"Ah. aku ... hanya iseng saja !" "Apakah engkau pernah belajar silat ?"

"Heh, heh ... hanya belajar beberapa hari saja." "Engkau tahu siapa rombongan penunggang tadi !" "Tidak. tidak tahu. Hanya tampaknya garang sekali."

"Tolol! Lain kali engkau harus hati2, jangan sampai kehilangan jiwa tanpa mengetahui apa2."

Dampratan "tolol" itu. bagaikan duri yang menusuk ulu hati Cu Jiang. Tetapi dia harus belajar sabar. Ia tidak marah melainkan tertawa dan miringkan kepala.

"Apakah sekedar iseng2 mengejar saja, bila kehilangan jiwa ?"

"Kuberitahu kepadamu, engkau juga tak  mengerti. Cukup ingat sajalah. Lain kali kalau bertemu dengan rombongan Pengawal Hitam yang berkuda, engkau lebih baik menyingkir saja."

Dalam berkata itu bau tubuh si jelita  bertebaran dihembus angin. Nadanya bagai burung kenari, berkicau. Diluar kesadaran, Cu Jiang memandang wajah si jelita yang pernah menghadiahkan pending kumala kepadanya.

Dari kata-katanya itu, ia dapat mengetahui akan kehalusan budi jelita itu. Tetapi oh, nasib . .. . dia merasa tak layak lagi menerima budi kebaikan jelita itu. Cu Jiang   terlongong-longong. Pikirannya melayang- layang

Rupanya bujang Siau Hui tak sabar, serunya. "Nona, mari kita balik saja."

"Balik ?"

"Disekitar tempat ini telah kita jelajahi semua, tetapi jejaknya tidak dapat kita ketemukan ..."

Jejaknya? Siapakah yang dimaksud dengan dia itu ?

Kembali hati Cu Jiang seperti tersayat-sayat... "Aku harus menemukan dia !" seru si jelita. "Ah, Janganlah nona terlalu merindukan dia."

"Tutup mulutmu!" bentak si Jelita," dia tentu juga belum meninggalkan tempat ini. . ."

"Apakah tidak terlalu berbahaya nona menghadiahinya pending kumala itu? Apabila loya tahu."

"Tutup mulutmu ?" kembali si jelita membentaknya lagi.

Saat itu hati Cu Jiang seperti ditusuk ujung pedang. Jelas yang hendak dicari si jelita itu bukan lain adalah dirinya.

Oh,  apakah dia masih sesuai menjadi pasangan jelita itu

?

Tidak !  Tidak ! Seribu kali tidak !  Dia  menyadari bahwa

saat itu dia bukanlah Cu Jiang beberapa hari yang lalu. Kini dia seorang manusia yang cacad.

Ah, betapa perasaan Jelita itu apabila tahu bahwa pemuda yang hendak dicarinya itu ternyata kini adalah si muka buruk yang tengah bicara dengannya. Tidakkah hati jelita itu hancur berantakan . . . . Ah, tidak! Dia harus menderita segala kehancuran hati itu. Janganlah gadis jelita itu ikut menderita. Biarlah dalam hati jelita itu tetap bersemayam suatu kenangan yang indah.

Cu Jiang merasa bahwa dia harus lekas pergi. Sesaat lebih lama berhadapan dengan puteri jelita itu, sesaat lebih lama lagi kehancuran hatinya. Mungkin dia akan gila.

Maka dengan kuatkan hati, tanpa berkata sepatahpun juga, dia terus ayunkan langkah. Dia tak berani lagi berpaling memandang jelita itu. Juga tak sepatahpun kata selamat tinggal, dia tak berani mengucapkan.

"Nona, orang itu sungguh tak tahu aturan sekali . . ." Siau Hui melengking.

"Ah, orang desa apalagi cacat," jawab si jelita," jangan engkau salahkan dia. Aku lebih merasa kasihan kepadanya daripada menyesali dia tak tahu aturan!"

Mendengar itu hati Cu Jiang bercucuran darah . . .

Terdengar kuda kedua gadis itu mulai berderap, makin lama makin jauh...

Cu Jiang jatuhkan diri diaduk di tepi jalan. Dia bagaikan seorang yang baru sembuh dari penyakit berat. Kini hanya rasa pedih yang mencengkram hatinya. Dia bagaikan seorang yang terlempar ke dalam lautan penderitaan. Makin lama makin tenggelam dan tenggelam . . .

Lama sekali dia berjuang dalam laut penderitaan itu.

Sampai pada suata saat dapatlah ia tegak lagi.

"Cu Jiang, ah, Cu Jiang! Beban hidupmu masih berat dengan tugas dendam berdarah. Kini engkaupun telah  cacat. Mengapa engkau masih tenggelam dalam lamunan asmara? Hapuslah segala perasaan asmara itu. Kuburlah apa yang engkau pernah rasakan terhadap jelita itu. Hanya dengan bersikap secara jantan itu, barulah engkau dapat menyelesaikan beban hidupmu yang maha berat itu!" katanya seorang diri.

Serentak dia melonjak bangun. Kini dia seolah terlepas dari himpitan beban yang berat. Sambil tundukkan kepala, ia melanjutkan langkahnya dengan kakinya yang pincang, Kini dia hendak menuju ke Kui-ciu lagi.

Dia tetap hendak menyembunyikan dirinya agar jangan sampai menarik perhatian orang. Maka diapun berjalan biasa tak mau gunakan ilmu berlari cepat.

Maka sampai matahari condong ke barat, dia masih belum mencapai kota Kui-ciu walau pun sudah tampak di depan mata.

Tak berapa lama awanpun mulai mengabur gelap disusul dengan suara kilat sambar menyambar dan  tak lama kemudian hujan mulai mencurah.

Karena tiada tempat tujuan yang tertentu dan tak terburu-buru mencapai suatu tempat maka Ciu Jiangpun tak tergesa-gesa. Karena hujan terus tiada hentinya, dia segera cari tempat meneduh. Memandang ke sekeliling penjuru ia melihat segerumbul hutan pohon siong. Dia duga tentu merupakan perumahan orang atau mungkin sebuah kuil.

Karena tiada orang, dia segera menggunakan ilmu lari cepat menuju ke arah hutan pohon siong itu.

Tiba di tengah hutan dia sudah basah kuyup. Walaupun tak sampai kedinginn tetapi juga tak enak rasanya. Memandang ke muka ternyata memang di situ terdapat sebuah biara. Ia girang dan terus lari menuju ke pintu biara. Biara itu sunyi senyap, tiada orang dan tiada asap pedupaan. Suasananya agak menyeramkan. Cu Jiangpun melangkah masuk.

Tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan berkelebat di lorong serambi. Ketika memandang dengan lebih seksama ternyata sosok tubuh itu bergelantungan di atas tiang penglari, kedua kakinya terangkat di atas lantai.

Cu Jiang terkejut sekali. Jelas orang itu tentu bunuh diri.

Segera ia lari menghampiri.

Uh ... ia menjerit tertahan ketika hampir tergelincir jatuh. Ternyata kakinya telah menginjak kubangan darah yang masih basah memenuhi lantai, Ketika memandang ke arah orang yang mati gantung diri itu, ia menjerit kaget.

"Hai..."

Korban itu bertubuh tinggi besar dan mengenakan jubah warna hijau. Lehernya terjirat seutas tali yang tergantung pada tiang penglari. Sebuah cempuling besi menancap dada tembus sampai ke punggungnya. Cempuling itu masih mengucurkan darah merah . . .

"Hakim Hijau!" teriak Cu Jiang ketika mengenali korban itu sebagai Hakim Hijau dari Gedung Hitam yang berilmu tinggi.

Thian-hian-cu, salah seorang tokoh dari Bu-lim Sam-cu atau tiga-tokoh dunia persilatan yang termasyhur, pun tak mampu mengalahkan Hakim Hijau itu.

Siapakah yang mampu membunuh dan menggantungnya?

Siapakah yang berani membunuh seorang tokoh terkemuka dari Gedung Hitam itu? Menilik noda darah yang masih belum kering, jelas pembunuhan itu belum lama terjadinya.

Sekonyong-konyong dari arah pintu biara terdengar suara ringkikan kuda. Cu Jiang terkejut. Pada lain saat terdengar suara orang bicara. Dan beberapa sosok tubuh segera lari masuk kedalam ruang biara.

Walaupun suasana gelap tapi Cu Jiang dapat melihat bahwa orang2 yang tengah lari menyerbu kedalam biara itu sama mengenakan mantel hitam.

"Ah, Pengawal Hitam," serunya dalam  hati. "hm,rupanya aku beruntung dapat bertemu dengan mereka!"

Cepat ia mendapat pikiran. Serentak ia melesat kedalam ruang dan bersembunyi dibelakang cekungan tempat patung.

Dia tak takut berhadapan dengan kawanan Pengawal Hitam itu dari Gedung Hitam itu. Tetapi demi melangsungkan rencananya, dia tak boleh bertindak secara gegabah.

Dia memang belum tahu pasti apakah orang Gedung Hitam itu yang membunuh kedua orang tua dan kedua adiknya. Tetapi ia tahu jelas bahwa mereka memang bernafsu sekali hendak menangkap dirinya.

Empat orang Pengawal Hitam segera menerjang masuk ke dalam ruang sembahyang.

"Hai . . . hai . . . . ! " mereka berempat menjerit kaget sekali ketika melihat mayat Hakim Hijau yang bergelantungan pada tiang penglari. Mereka tersurut mundur dengan wajah pucat seperti melihat hantu. Tempat Cu Jiang bersembunyi tepat menghadap  ke ruang sembahyangan maka dia dapat melihat jelas apa yang terjadi di ruang itu.

Menyusul masuklah dua orang Pengawal Hitam dengan mengempit seorang pemuda yang berlumuran darah. Di belakangnya mengikut seorang lelaki tinggi besar yang mengenakan jubah putih, wajahnya berbentuk bundar dan putih seperti kertas.

"Hai, mengapa ribut2 itu ! " bentak orang berjubah putih itu.

Salah seorang dari keempat Pengawal Hitam yang kaget dicekik setan tadi segera berseru dengan terbata-bata:

"Hatur hormat kepada Hu-hwat, Liok . . . Liok Hu-hwat

. . . . "

"Liok hu hwat bagaimana?" "Dibunuh orang!"

"Apa?" orang berjubah putih itu memekik kaget. Entah dengan gerakan apa, tahu2 dia sudah melesat di serambi ruang besar.

Cu Jiang menduga-duga. Menilik pakaiannya yang istimewa, hampir serupa dengan pakaian Hakim Hijau hanya warnanya yang berbeda, kemudian sebutannya juga hu-hwat (pelindung hukum), Cu Jiang menduga orang itu tentulah Pek poan-koan atau Hakim Putih.

Siapa nama Hakim Hijau, tiada seorang anak buah Gedung Hitam yang tahu. Demikian pula dengan Hakim Putih itu. Yang diketahui mereka hanya menyebut jabatannya. Jika yang berjubah hijau disebut Hakim Hijau maka yang berjubah putih itupun dipanggil Hakim Putih. Melihat keadaan Hakim Hijau seketika Hakim Putih menjerit-jerit aneh. Wajahnya pucat lesi, mata mendelik seperti orang dicekik setan.

"Bagaimana peristiwa itu?" serunya.

"Ketika hamba beramai ramai masuk, Hek-poan-koan sudah dalam keadaan begitu." sahut salah seorang Pengawal Hitam.

Kedua Pengawal Hitam yang mengepit seorang pemuda itu, ketika masuk ke dalam ruang juga tertegun.

Bum....

Tiba2 Hakim Putih menggentakkan kakinya ke lantai. Seketika ruang itu berguncang keras. Debu campur guguran tembok berhamburan rontok.

Diam2 Cu Jiang bercekat dalam hati. Rupa2nya Hakim Putih itu lebih sakti dari Hakim Hijau.

"Turunkan!" perintahnya.

"Baik," seru anak buahnya. Dua orang Pengawal Hitam segera maju. Yang seorang memeluk tubuh Hakim Hijau dan yang seorang mencabut pedang lalu melonjak menabas tali. Mayat Hakim Hijau dibaringkan dilantai.

Hakim Putih segera memeriksanya.

"Pembunuhan ini baru terjadi setengah jam yang lalu. Lekas sebar orang dan tangkaplah setiap orang yang mencurigakan dalam daerah sekeliling lima puluh li !"

"Baik " seorang Pengawal Hitam segera lari keluar.

Memandang mayat Hakim Hijau itu, tubuh Hakim Putih gemetar keras sampai gerahamnya bergemeretukan.

"Hm, ternyata ada orang yang berani terang-terangan bermusuhan dengan Gedung Hitam!" geramnya. Dari celah2 tempat persembunyiannya, Cu Jiang dapat mengintai jelas bahwa pemuda yang dibawa oleh kedua Pengawal Hitam tadi, tubuhnya mandi darah dan wajahnya menyeramkan.

Jelas sebelumnya dia tentu melakukan pertempuran hebat melawan orang2 Gedung Hitam. Menilik wajahnya, dia baru berumur dua puluhan tahun.

Memandang ketiga Pengawal Hitam, orang berjubah putih atau Hakim Putih memberi perintah:

"Siapkan semua keperluan dan bawalah jenasah pulang

!"

Ketiga Pengawal Hitam itu mengiakan lalu memberi

hormat dan mengundurkan diri.

Saat itu hujanpun sudah berhenti. Ruang itu  kini bertabur kabut malam. Hakim Putih melangkah masuk, berdiri membelakangi arca lalu berseru nyaring:

"Bawa masuk !"

Pemuda itu segera digusur kedalam.

Dalam pada itu hati Cu Jiang kebat kebit tak keruan.  Jika saja dirinya sampai diketahui Hakim Putih itu, tentulah akan menghadapi bahaya besar. Dia tak kenal siapa pemuda itu dan apa sebabnya sampai diringkus orang Gedung Hitam.

Sambil menatap pemuda itu, berserulah Hakim Putih dengan nada seram:

"Budak, dengarkan. Engkau tulis sepucuk surat untuk orang tua keras kepala itu. Suruh dia dalam waktu sepuluh hari harus menyerahkan kitab Sin-hong pit kiok untuk menukar dengan jiwamu ..."

"Tidak !" seru pemuda itu dengan keras. "Engkau kepingin mati ?"

"Seorang lelaki berani hidup mengapa harus takut mati?" seru pemuda itu dengan gagah.

"Heh, heh, heh," Hakim Putih tertawa mengekeh, "sungguh mempunyai pambek yang perwira. Tetapi apabila engkau mati, bukankah si tua keras kepala itu akan mati dengan mata terbuka . . ."

"Tutup mulutmu!"

"Baiklah," kata Hakim Putih, "sekarang aku hendak pinjam sebuah lenganmu untuk barang bukti. Apabila si tua keras kepala itu tetap tak mau menyerahkan kitab, tiap tiga hari sekali, dia akan menerima kiriman sepotong anggauta badanmu. Dan yang terakhir batok kepalamu!"

Dengan mata berkilat2 memancar api kemarahan, berserulah pemuda itu:

"Hakim Putih, iblis durjana, engkau tentu akan membayar apa yang engkau lakukan!"

Mendengar itu Cu Jiang makin membenarkan dugaannya bahwa orang yang berjubah putih Itu adalah pek-poan-koan atau Hakim Putih.

"Aku tak pernah menarik kembali kata2ku," seru Hakim Putih, "lekas potong lengan kirinya!" Salah seorang Pengawal Hitam serentak mencabut pedang. Tetapi pemuda itu tak takut.

Dengan mengernyut geraham ia memandang Pengawal Hitam itu dengan berapi2. Sikapnya benar2 menunjukkan seorang ksatrya yang tak gentar menghadapi maut.

"Sekali lagi aku hendak bertanya," seru Hakim Putih, "maukah engkau menulis surat itu?" "Huh, apa engkau kira ayahku mau menyerahkan buku itu?" dengus si pemuda.

"Apakah sebuah kitab lebih berharga dari putera tunggalnya?"

"Seumur hidup ayah tak pernah tunduk kepada orang." sahut si pemuda.

"Tetapi hal ini tentu lain ..."

"Ayahku tentu akan menuntut balas!"

"Justeru kebenaran sekali kalau dia mau ke luar dari sarangnya. Mudah untuk di urus!" sambut Hakim Putih.

"Coba sajalah!"

"Potong lengannya." teriak Hakim Patih. Pengawal Hitam yang sudah siap dengan pedang itupun segera mengangkat senjatanya ....

Cu Jiang terpukau tak tahu apa yang harus di lakukan, Ia menyadari kalau dirinya bukan tandingan Hakim Putih itu. Jika ia nekad keluar, bukan saja tak dapat menyelamatkan pemuda itu pun bahkan dia sendiripun tentu celaka.

Pada hal dia harus hidup demi melaksanakan tugasnya. Karena tegang, tanpa disadari dia telah menimbulkan suara.

Hakim Putih cepat memberi isyarat supaya Pengawal Hitam yang menabas dulu. Kemudian dia berseru bengis:

"Hai. siapa itu, hayo lekas keluar !" Cu Jiang terkejut sekali. Tetapi karena jejaknya sudah ketahuan dia harus unjuk diri saja. Maka dengan mengertak gigi dia segera merangkak keluar dari lubang tempat arca.

"Budak jorok, mengapa engkau disitu?" setelah terkejut melihat wajah Cu Jiang yang buruk, Hakim Putih segera menegur. "Aku .... meneduh disini," sahut Cu Jiang dengan membawa sikap seperti orang tolol.

"Meneduh ?" "Ya."

"Siapa yang membunuh korban diluar ruang itu ?" "Tak tak tahu !"

Mata Hakim Putih berkilat-kilat memandang Cu Jiang. Rupanya dia meneliti. Tetapi dia mendapat kesan bahwa Cu Jiang itu tak lain seorang anak desa yang cacat tubuh dan muka.

"Engkau melihat apa saja selama disini ?"

"Tidak tidak melihat apa2 kecuali, tubuh yang bergelantungan itu."

"Ho, karena ketemu aku, engkaupun harus menyerahkan jiwamu. Bereskan dia dulu !"

Mendengar itu Pengawal Hitam tadi segera lepaskan lengan si pemuda lalu menyelinap maju membacok Cu Jiang.

Cu Jiang terkejut dan terus menghindar ke samping. Walaupun karena kakinya cacat gerakannya agak kaku tetapi tetap tak dapat mengelabuhi mata Hakim Putih bahwa pemuda itu mengerti ilmu silat.

Pengawal Hitampun melongo karena tak menyangka bahwa tabasannya luput. Seketika merahlah mukanya. Pada saat ia hendak menyerang lagi tiba2 Hakim Putih sudah mendahului bertindak menyambar pergelangan tangan Cu Jiang.

Sedemikian cepat sekali gerakan Hakim Putih itu sehingga Cu Jiang tak sempat berbuat apa2 lagi. "Budak, engkau pandai benar menyelubungi dirimu. Lekas beritahu siapa engkau yang sebenarnya!" dengus Hakim Putih.

Cu Jiang tahu bahwa saat itu dirinya seperti ikan yang berada dalam jaring. Jika tak menggunakan akal, tentu ia mati.

Tiba2 Ia teringat akan pending kumala pemberian si jelita. Kata jelita itu, pada saat menghadapi bahaya supaya mengeluarkan pending itu, tentu dapat menolong.

Teringat hal itu seketika timbullah pikiran Cu Jiang. "Lepaskan !" bentaknya dengan garang.

Hakim Putih tertawa mengekeh. "Heh, heh, engkau bermimpi !"

"Aku hendak memperlihatkan sebuah benda kepada anda."

"Benda apa ?"

"Lepaskan dulu tanganku."

"Huh, masakan takut engkau mampu terbang ke langit." Hakim Putih segera lepaskan cekalannya.

Cu Jiangpun segera merogoh giok-pwe atau pending kumala yang tersimpan dalam bajunya. Kemudian disongsongkan kemuka Hakim Putih seraya berseru:

"Apakah anda kenal akan benda ini ?"

"Piagam Hitam !" tiba2 salah seorang dari Pengawal Hitam itu memekik kaget. Wajahnya pun pucat seketika.

Ketegangan hati Cu Jiang agak menurun. Ia tak tahu apa Piagam Hitam itu tetapi yang Jelas rasanya tentu akan membawa perobahan. Sejenak Hakim Patih terlongong kesima memandang benda di tangan Cu Jiang itu. Ia  menyambutnya, memeriksa sebentar lalu mengembalikan lagi kepada Cu Jiang.

"Dari mana engkau memperoleh benda itu ?" Nyali Cu Jiang makin besar.

"Tak perlu anda bertanya soal itu," sahutnya dengan hambar.

"Silahkan engkau mau kemana," akhirnya Hakim Putih menyerah.

Seorang iblis durjana yang ganas, seorang hu-hwat atau Pelindung hukum dari Gedung Hitam, ternyata tunduk pada sebuah pending kumala.

Cu Jiang benar2 tak menduga sama sekali. Dia makin heran akan diri si dara jelita Ki Ing.

Pemuda tadi juga menyaksikan peristiwa itu. Dia memandang wajah Cu Jiang dengan ngeri. Jika Cu Jiang juga orang Gedung Hitam, bukankah akan lebih ganas lagi.

Tiba2 Cu Jiang menuding kearah pemuda itu dan berseru:

"Lepaskan dia !"

Pemuda itu terkejut bukan kepalang. Ia terlongong- longong memandang Cu Jiang.

"Apa katamu ?" Hakim Putih deliki mata. "Kukatakan, bebaskan dia !"

"Lepaskan dia ?" "Ya, benar!" "Atas dasar apa?" "Piagam Hitam ini !" sahut Cu Jiang.

Mata Hakim Putih berkilat-kilat penuh kecemasan memandang wajah Cu Jiang.

"Hal itu tak dapat kulaksanakan!" akhirnya dia berseru.

Sudah terlanjur maju, Cu Jiang pantang mundur lagi. Ia segera mendesak:

"Apakah engkau berani membantah amanat Piagam Hitam?" serunya dengan garang.

Seketika wajah Hakim Patih pucat lesi.

"Apakah yang dipertuan dari Piagam Hitam yang menyuruh engkau melakukan hal itu ?" serunya. Nadanya sudah jauh berkurang bengisnya.

Sesungguhnya Cu Jiang tak mau menjual nama si jelita untuk membereskan persoalan disitu. Tetapi bagaimana lagi. dia tak dapat melihat pemuda itu akan mati disiksa oleh kawanan Pengawal Hitam. Apabila pihak Gedung Hitam berhasil mendapatkan buku Sin-hong-pit-kiok dari ayah pemuda itu, jelas tentu akan mempersukar langkah Cu Jiang untuk melakukan pembalasan.

"Ya, benar !" akhirnya ia menyahut tegas.

Dia tahu bahwa dengan menjawab begitu dia telah melibatkan diri si Jelita Ki Ing. Walaupun pending kumala itu si jelita yang memberinya tetapi belum tentu Jelita itulah pemiliknya.

"Apakah semua akibat pemilik Piagam Hitam itu yang menanggung jawab ?" seru Hakim Putih.

Cu Jiang ibarat naik dipunggung harimau. Jika turun, dia tentu akan diterkam. Lebih baik dia naik terus, kemungkinan akan terjadi perobahan yang tak terduga-duga.

"Sudah tentu!" sahutnya tanpa ragu2 lagi. Se-olah2 dia sudah mendapat kuasa penuh dari pemilik Piagam Hitam untuk memberi jawaban begitu.

"Bagaimana engkau tahu kalau aku dan rombongan akan tiba di biara ini?" tanya Hakim Putih pula.

"Hanya secara kebetulan saja. Tetapi dengan mengambil jalan ini akhirnya tentu akan berjumpa juga, benar tidak?"

"Dimana tuan dari Piagam Hitam saat ini?" tanya Hakim Putih pula.

"Berada seratus li dari tempat ini!"

Sambil gentakkan kakinya ke tanah, Hakim Putih cepat berseru memberi perintah: "Lepaskan dia!"

Dua orang Pengawal Hitam segera membebaskan pemuda itu. Pemuda itu agak terhuyung2. Dia hendak membuka mulut tetapi Cu Jiang cepat mendahului maju, menyambar tangan pemuda itu dan diajaknya pergi:

"Hayo, kita jalan!"

Kedua pemuda itu segera melangkah keluar dan menyusup dalam kegelapan.

Hujan sudah reda dan awanpun lenyap. Bintang-bintang mulai bermunculan.

Tak berapa lama Cu Jiang dan pemuda itu tiba di jalan besar. Sambil memberi hormat, pemuda itu berkata:

"Terima kasih atas budi pertolongan saudara! "

Sambil memandang ke sekeliling, Cu Jiang menjawab: "Ah, tak usah banyak peradatan." "Tak cukup hanya menghaturkan terima kasih  tetapi  budi saudara itu akan kuukir dalam hatiku selama-lamanya

..."

"Tak usah. "

"Tolong tanya, siapakah tuan dari Piagam Hitam itu?" "Soal ini . . . maaf, aku tak dapat memberi tahu." "Mengapa saudara menolong aku?"

"Anggap saja sebagai suatu hal yang kebetulan. " "Mohon tanya siapakah nama mulia dari " saudara? " "Sebaiknya lekas saja engkau melanjutkan perjalanan "Ah, harap saudara suka memberitahu "

"Ah, perlu apa soal nama. Cukup ingat saja masakan damai dunia persilatan terdapat manusia yang begini buruk wajahnya seperti aku!"

Pemuda itu diam beberapa saat.

"Baiklah, " akhirnya dia berkata, "mudah2an lain  kali kita dapat berjumpa lagi . . . namaku Bun Cong Beng."

"Saudara Bun, lekaslah engkau melanjutkan perjalananmu, " kata Cu Jiang dengan tawar.

Bun Cong Beng tak tahu bagaimana isi hati orang yang cacad dan buruk muka itu. Terpaksa ia menghaturkan hormat untuk meminta diri.

Sambil memandang bayangan pemuda itu lenyap dalam kegelapan, Cu Jiang menghela napas panjang.

"Untung . . . , " katanya. Ia tak menyangka bahwa giok- pwe atau pending kumala itu ternyata dapat menyelamatkan dua buah jiwa. Dia juga meneruskan perjalanan. Tiba di kota Kwiciu, hari sudah malam. Jalan2 sudah tak banyak orang. Lampu menyala di setiap rumah dan pintu kotapun sudah tutup.

Pikir Cu Jiang memang hendak mencari rumah penginapan dalam kota. Tetapi mengingat hari sudah semalam itu dan lagi wajahnya yang buruk tentu menimbulkan kemuakan orang maka ia putuskan lebih baik tidur di luar kota saja.

Sambil berjalan di sepanjang jalan, dia melihat-lihat keadaan kota saat itu. Rumah2 penginapan banyak yang sudah tutup, demikian dengan rumah-rumah makan dan kedai2.

Memang rumah penginapan dan losmen di kota kecil itu hanya sebagai pondokan dari pedagang-pedagang yang malam hari singgah dan pagi2 sudah berangkat lagi. Keadaannya kurang bersih.

Tengah Co Jiang enak2 berjalan, tiba2 sesosok tubuh tinggi besar tampak berjalan menghampiri ke arahnya. Tampaknya pelahan saja dia mengayunkan langkah tetapi ternyata jalannya cepat sekali. Dalam beberapa kejab saja sudah tiba di muka Cu Jiang.

Dari penerangan lampu jalan, dapatlah Cu Jiang melihat wajah orang itu. Dan hampir saja dia menjerit kaget. Wajah orang itu pucat seperti mayat, tubuhnya kurus kering, hanya seperti tulang terbungkus kulit. Pakaiannya jubah warna biru.

Tiba2 orang aneh itu berhenti dan memandang Cu Jiang. Cu Jiang merasa sebal, buru2 dia berputar tubuh terus hendak berjalan.

"Berhenti!" tiba2 orang itu berseru dan tahu2 sudah menghadang di depannya. "Mau apa?" bentak Cu Jiang.

Masih orang tinggi aneh itu mengawasi Cu Jiang seperti seorang nyonya tengah meneliti calon menantu perempuannya. Kemudian tertawa gelak2.

"Bagus, tulangnya hebat, wajahnya juga luar biasa!"

Mendengar itu mau tak mau Cu Jiang meringis. Tetapi melihat sikap orang tinggi itu, tampaknya sangat serius, bukan seperti orang yang berolok-olok. Diam2 Cu Jiang heran.

Melihat sikapnya, Cu Jiang mendapat kesan bahwa orang tinggi itu tentu bukan manusia baik. Tetapi menilik sinar matanya yang begitu tajam, jelas orang itu tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

"Hai, inilah yang dibilang rejeki." orang tinggi itu berkata seorang diri, "mungkin memang peruntunganku besar."

Cu Jiang tak mengerti apa yang diucapkan orang itu. Dia berseru:

"Apa maksudmu ?"

Orang aneh itu tertawa gelak2:

"Melihat aku tak ketakutan, nyalimu memang hebat sekali. Tentulah engkau juga punya simpanan kepandaian."

Habis berkata dia terus menerkam.

Sudah tentu Cu Jiang terkejut sekali. Terkaman orang aneh itu tak memberi kesempatan dia untuk menghindar lagi. Belum sempat ia mencari akal tahu2 tangannya sudah dicengkeram orang tinggi itu. Arus hawa lunak segera memancar dari ujung kuku jari orang itu.

Pada lain saat Cu Jiang rasakan tubuhnya lemas tak bertenaga lagi, Ia hendak bicara tetapi mulut hanya menganga saja tak dapat bersuara. Dalam keadaan seperti itu tiada lain daya kecuali hanya pasrah nasib saja.

"Apa maksud orang aneh ini ? Mengapa dia mencelakai diriku ?" pikirnya. Diam2 ia harus mengakui kebenaran dari kata orang bahwa dunia persilatan itu penuh dengan hal2 yang aneh, berbahaya.

Tiba2 orang aneh itu mengangkat tubuhnya lalu dipanggul diatas bahu terus dibawa lari secepat terbang. Tak berapa lama tibalah dia disebuah bangunan gedung besar. Cu Jiang sempat memperhatikan bahwa bangunan itu merupakan sebuah gedung yang sudah kosong dan tak terurus, halamannya penuh dengan rumput dan sarang gelagasi.

Orang aneh itu bersuit keras lalu melambung keatas, melayang turun ke dalam gedung dengan gerakan yang seperti orang terbang.

Pada lain kejap tampak sebuah ruang besar yang terang benderang. Sesosok2 tubuh manusia berhilir mudik tetapi tak terdengar suara apa2.

Bum....

Cu Jiang dibanting di tanah sehingga tulangnya seperti patah, mata bekunang. Tetapi karena menderita tutukan yang aneh, dia tak dapat bersuara merintih apa2.

Orang aneh itu menendangnya dan terbukalah jalan darahnya yang tertutuk itu.

Cu Jiang terus berdiri. Begitu memandang ke sekeliling, semangatnya serasa terbang dan bulu romanya meregang berdiri semua, keringat dingin membanjir keluar.

Di atas lantai rebah empat sosok mayat yang sudah rusak dan menyiarkan bau amat busuk. Di kedua samping, berdiri enam orang aneh yang wajahnya menyeramkan. Setiap orang aneh itu masing-2 menyeret seorang pemuda yang berumur sekitar dua puluhan tahun. Menilik dandanannya, keenam pemuda itu berasal dan keturunan yang berbeda- beda. Hanya suatu ciri yang  sama yalah mereka rata2 berwajah cakap.

Keenam pemuda itu pucat lesi. Tubuhnya menggigil keras.

Di tengah ruang duduk seorang tua berjubah hitam, wajahnya berwibawa tetapi dahinya memancarkan cahaya yang menyeramkan.

Sesaat orang tua itu membuka suara, nadanya seperti bukan suara manusia hidup.

"Lo-jit, engkau yang datang terakhir ?" Orang aneh yang membawa Cu Jiang tadi segera menyahut:

"Hampir saja tak dapat menyerahkan apa-apa." "Engkau membawa mahluk aneh semacam itu?"

"Lo toa, budak ini mempunyai bahan tulang yang luar biasa. Wajahnya? lo-toa, apakah tidak memenuhi syarat ?" sahut orang aneh yang membawa Cu Jiang itu.

Mata orang tua berjubah hitam itu memandang Cu Jiang sehingga Cu Jiang sampai menggigil. Sinar mata orang berjubah hitam itu benar2 luar biasa tajamnya sehingga terasa seperti menembus ke ulu hati.

"Ho, ho," orang tua Jubah hitam itu mengangguk2 seraya memuji.

Cu Jiang benar2 tak tahu apa yang dihadapi itu.

Orang tua jubah hitam berpaling kearah kedua samping dan berseru: "Tidak pakai semua !"

Serentak keenam orang aneh itu menghantam keenam pemuda tawanannya. Terdengar jeritan ngeri ketika tubuh keenam pemuda itu hancur lebur.

Melihat perbuatan yang sekeji itu hampir dada Cu Jiang meledak. Sepasang matanya seperti akan memancarkan darah.

Baru pertama sepanjang hidupnya ia melihat perbuatan yang sekejam itu. Kiranya mayat2 yang berhamburan di lantai itu tentulah juga mengalami nasib serupa dengan ke enam pemuda itu.

"Iblis keparat!" tanpa sadar, Cu Jiang berteriak memaki.

Sepasang mata orang tua jubah hitam itu mendelik seperti mau menelan orang. Tiba2 dia tertawa gelak2:

"Benar2 bernyali besar. Lo-jit, pilihanmu tepat sekali. Bahan macam itu baru layak menjadi pewaris  kita bersama!"

Mendengar itu barulah Cu Jiang tahu.  Ternyata kawanan manusia aneh itu sedang mencari calon murid yang akan dijadikan ahli waris mereka. Hanya caranya memang kejam sekali. Kasihan sekali ke enam pemuda itu. Mereka harus mati tanpa dosa.

Setelah beberapa saat memandang Cu Jiang, orang tua jubah Imam itu berkata pula:

"Datanglah ke hadapanku sini!"

Cu Jiang menyadari bahwa dirinya saat itu berada dalam genggaman orang2 jahat yang buas. Tak mungkin dia dapat lolos. Maka dengan kuatkan hati dia segera maju ke hadapan orang tua berjubah hitam. "Oh, orang cacat!" ke enam manusia aneh itu serempak berteriak

Orang tua jubah hitam tertawa aneh:

"Lebih baik. Ciri itu dapat mewakili ciri khas kita!"

Habis berkata ia ulurkan tangan dan menjamah  tubuh Cu Jiang. Tiba2 dia tertawa girang sekali.

Setelah berhenti tertawa, orang tua jubah hitam itu berpaling memandang kepada ke enam orang aneh yang berada di samping kanan dan kiri.

"Saudara2, kita harus cepat melaksanakan rencana kita. Kamu berenam, yang dua menuju ke markas Bu-tong-pay, yang dua ke vihara Siauw-lim dan yang dua ke perguruan Thay-kek-bun. Sekarang juga berangkatlah. Paling lama sebulan harus sudah kembali lagi ke sini."

Ke enam orang aneh itu mengangguk lalu berbondong2 pergi.

Kemudian orang tua jubah hitam itu berpaling kepada Cu Jiang, serunya:

"Budak, peruntunganmu besar!" "Peruntungan apa?" Cu Jiang menggeram.

"Kami bertujuh akan menggemblengmu menjadi jago nomor satu di dunia!"

"Ah, sukar melaksanakan." "Apa? Engkau tak suka?" "Tak perlu kupikir lagi!"

"Ho, masakan engkau boleh semaumu sendiri? Lo-jit . . "

Orang aneh yang membawa Cu Jiang tadi segara menyahut: "Apakah toako hendak memberi pesan?"

"Kukembalikan dia supaya engkau harus. Tetapi

jangan sampai terjadi apa2."

"Takkan meleset," seru orang aneh seraya terus menutuk tubuh Cu Jiang, seketika Cu Jiang rasakan tenaganya lenyap bahkan berdiri saja tak kuat.

"Hm, kalian buang tenaga percuma saja!" serunya geram.

"Jangan ngaco belo!" orang aneh itu menyambar tubuh Cu Jiang terus dibawa lari  ke dalam. Setelah melalui halaman yang tak terawat, mereka tiba di sebuah kamar yang hanya di terangi oleh sinar cuaca dari celah2 jendela. Di situ seperti terdapat tempat tidur dan selimut.

"Untuk sementara waktu, engkau boleh pinjam tempat kediamanku di sini!"

Bum .... Cu Jiang di lempar ke atas pembaringan, kemudian orang aneh itu keluar lagi dan menutup pintunya.

Sambil tidur terlentang memandang ke atas, Cu Jiang tertawa hambar terhadap peristiwa2 aneh yang di alaminya selama ini.

"Bagaimana aku dapat lolos dari cengkeraman iblis itu?" Cu Jiang mulai menimang2.

Dia turun dari pembaringan tetapi tenaganya masih lemas sekali Namun dia paksakan diri juga walaupun langkahnya masih sempoyongan sehingga dia jatuh ke pembaringan lagi. Dia menghela napas putus asa.

"Ah, untuk lolos dari tempat ini rasanya lebih tukar dari naik ke langit. Siapakah manusia2 aneh itu?" pikirnya.

Tiba2 ia teringat akan pelajaran yang diberikan ayahnya tentang ilmu membebaskan diri dari tutukan. Segera ia duduk di pembaringan dan mulai menyalurkan pernapasan. Tetapi astaga. Ternyata sama sekali dia tak mampu melakukan pernapasan lagi. Jelas ilmu tutuk dari manusia aneh itu memang bukan olah2 hebatnya. Harapannyapun bagai awan tertiup angin.

Akhirnya ia memutuskan lebih baik tidur di pembaringan saja. Pikirannyapun mulai melayang. Memang untuk melakukan pembalasan, harus menempuh dengan cara apa saja. Seperti keadaannya saat itu. Jelas dia sudah tak berdaya. Jika ia tetap berkeras kepala, tentulah tak mungkin dapat melaksanakan pembalasan dendamnya itu.

Ah, lebih baik menurut saja bagaimana kehendak manusia2 aneh itu. bahkan ia akan memanfaatkan ilmu kesaktian yang diterimanya dari mereka untuk kelak melaksanakan rencananya.

Jelas kawanan manusia aneh itu memiliki ilmu kesaktian yang hebat. Jika dia berhasil menyerap kepandaian mereka, bukankah ia akan menjadi seorang tokoh yang hebat. Dengan begitu masakan dia tak mampu menuntut balas.

Tetapi diapun masih ingat. Bahwa sejak dulu sampai sekarang, perbuatan Jahat dan Baik itu takkan tegak berjajar. Dia sebagai putera seorang jago pedang yang termasyhur, apabila sampai ikut pada aliran  Hitam, tentulah arwah kedua orang tuanya takkan meram di alam baka.

Dia menduga lebih lanjut. Bahwa tindakan kawanan manusia aneh itu tentu mempunyai tujuan tertentu. Dia mau menerima pelajaran ilmu silat dari mereka atau tidak, tentu tetap akan dikuasai mereka.

"Piagam Hitam!" Tiba2 ia teringat akan benda itu. Serentak semangatnya bangkit kembali. Piagam Hitam itu mempunyai pengaruh besar sekali atas anak buah Gedung Hitam. Apakah piagam itu juga dapat memberi pengaruh kepada kawanan manusia aneh itu supaya tunduk? Ah, mungkin saja.

Pikirannya seraya longgar dan tak lama kemudian ia jatuh pulas.

Ketika bangun, sinar matahari sudah menerobos masuk dari jendela. Di atas meja terdapat beberapa makanan bakpao daging sapi. Juga disediakan minuman teh.

Pikir Cu Jiang, makan dulu baru nanti cari pikiran  lagi. Ia segera duduk di pinggir pembaringan dan mulai makan.

Hampir setengah jam lamanya ia makan. Setelah itu ia segera meronta turun dari pembaringan. Tetapi ia tak mampu membuka pintu. Apa boleh buat, terpaksa dia harus buang hajat ditempat itu. Seumur hidup baru pertama kali itu ia mengalami hal yang seperti itu.

Kembali ia duduk diatas pembaringan. Tiba-tiba orang aneh tadi membuka pintu dan masuk, memandang kepadanya dan tertawa menyeringai:

"Budak, seleramu makan hebat juga !"

Walaupun bernada tertawa, tetapi sikapnya tertawa itu membuat orang gemetar.

Cu Jiang segera mengeluarkan pending kumala lalu disongsongkan:

"Apakah engkau kenal benda ini ?"

Manusia aneh itu menyambuti lalu memeriksanya dan terus dikembalikan pada Cu Jiang lagi.

"Barang mainan perempuan dan cewek2. Hm, apakah pikiranmu sudah limbung ?" serunya. Cu Jiang seperti diguyur air dingin. Ternyata pending kumala yang begitu ditaati oleh anak-buah Gedung Hitam, sedikitpun tak mempunyai pengaruh apa2 kepada manusia aneh itu.

"Budak, sabarkanlah hatimu. Engkau akan tinggal disini sebulan lamanya. Sesudah itu dunia ini milikmu. Hai, mengapa engkau berak disini ? Baiklah, pintunya tak kututup. Kalau mau buang air, engkau boleh keluar."

"Hm..." Cu Jiang mendesus sebagai penyaluran.

Orang aneh itu keluar dan kembali Cu Jiang rebah di pembaringan. Kini dia merasa sudah tiada harapan untuk lolos lagi. Karena itu diapun tak perlu tergesa-gesa mengejar waktu.

Malam tiba. Orang aneh itu muncul membawa makanan. Tanpa berkata apa2, dia terus keluar lagi. Cu Jiangpun tak mau banyak pikir. Kalau di suruh makan diapun makan. Dia memang tak mau mati kelaparan. Dia harus hidup terus sampai rencananya selesai.

Memang yang menjadi cita2 hidupnya, tak lain hanya menuntut balas dendam kematian ayah-bunda dan kedua adiknya. Hanya itu. Dia tak mengandung cita2 lain lagi.

Habis makan, dia duduk lagi di dekat jendela. Memandang keluar jendela, bintangpun sudah rebah ke barat. Malam sudah larut.

Tiba2 ia mendengar suara kelinting yang tajam. Suara kelinting sebenarnya biasa saja, tetapi di tempat  dan suasana seperti itu mau tak mau Cu Jiang merasa aneh juga.

Bermula Cu Jiang merasa meragukan telinganya. Tetapi setelah mendengarkan dengan seksama memang ia mendengar suara kelinting itu kedengaran seperti dari jauh tetapi dekat sekali. Sebentar dari arah barat tetapi sebentar lagi dari arah timur.

Yang membuatnya heran ialah suara kelinting itu terdengar nyaring sampai menusuk telinga. Dan juga berirama mengalunkan kerawanan musim rontok dan gemercik air mencurah dari gunung.

Tanpa disadari, Cu Jiang terpikat perhatiannya.

Akhirnya ia terbenam dalam alunan suara kelinting itu.

Beberapa saat kemudian ia rasakan hatinya terang. Seolah seperti suatu tenaga aneh yang bertebaran dalam hatinya. Pelahan-lahan dia mulai turun dari pembaringan, melangkah ke luar, menuju ke arah suara kelinting itu. Setelah melintasi halaman, dia berhadapan dengan pintu.

Dia merasa tubuhnya melayang ke atas dan melampaui pintu itu dan tiba2 suara kelintingpun lenyap. Tahu2 ia dapatkan dirinya berada di luar halaman.

Apakah aku bermimpi? Tanyanya dalam hati. Ia menggigit jari tangannya. Ah, masih sakit. Jelas dia tak bermimpi, ia memandang ke sekeliling penjuru. Dalam kegelapan malam, sayup2 dia melihat sebuah hutan.

Apakah artinya itu? Apakah ada orang sakti yang membantunya? Ah, tak mungkin.

Buru2 dia salurkan pernapasan. Ah, ternyata darahnya telah lancar. Uratnya yang tertutukpun sudah bebas. Tenaganya kini pulih lagi.

Dia terlongong-longong heran.

Beberapa waktu kemudian baru dia berkata: "Orang sakti siapakah yang menolong aku ini?"

Tiada penyahutan apa2. Sunyi senyap di sekeliling tempat itu. Se konyong2 dia mendengar suara bentakan yang nadanya seperti tak asing lagi:

"Bagus. Kim Leng hujin, ternyata engkau masih hidup!"

Cu Jiang tahu bahwa suara itu adalah suara orang tua berjubah hitam. Tetapi siapakah yang di sebut Kim Leng hujin atau nyonya Kelinting Emas itu?

Mengapa suara kelinting itu dapat membebaskan jalan darahnya yang telah tertutuk oleh manusia aneh? Apakah Kim Leng hujin itu memang sengaja datang hendak menolongnya?

Tiba2 terdengar suara si manusia aneh yang menawan Cu Jiang itu:

"Mengapa nyonya hendak memusuhi kami bersaudara lagi?”

Terdengar suara seorang wanita tua menyahut:

"Tian Heng, akupun tak menyangka bahwa kalian bangsa yang suka menghindar dari kesukaran, ternyata juga masih hidup!"

"Kim Leng hujin, jangan melukai perasaan orang!" Kim Leng hujin tertawa gelak2.

"Ha ha, sebenarnya apa yang kukatakan itu hanyalah hal yang wajar."

Kini Cu Jiang tahu bahwa orang tua jubah hitam yang menjadi pimpinan dari kawanan manusia itu, bernama Tian Heng.

"Tak perlu adu lidah tajam. Apakah maksud kedatanganmu ini?" seru Tian Heng pula.

"Aku sedang mencari orang?" "Mencari orang? Siapa?"

Tergerak hati Cu Jiang. Ia segera pasang perhatian. "Putera dari Lau Toa Hu di Seng-tou."

"Ha, ha, sungguh heran. Kim Leng hujin yang tak dapat didekati orang, ternyata menjadi..."

"Tutup mulutmu!" bentak Kim Leng hujin, "anak itu adalah cucu keponakanku jauh."

"Oh, makanya. Tetapi mengapa engkau mencari kemari?"

"Kudengar kalian telah menangkap seorang pemuda yang berbakat bagus!"

Saat itu baru Cu Jiang tahu bahwa wanita yang disebut sebagai Kim Leng hujin itu ternyata hendak mencari cucunya, bukan hendak menolong dia.

Memang peristiwa dalam dunia ini sering kali terjadi secara kebetulan yang tak terduga-duga. Kim Leng hujin mencari cucunya dan membunyikan kelinting dan dialah yang menerima manfaatnya, jalan darahnya yang tertotok telah terbuka.

Iapun teringat akan sepuluhan anak muda yang menjadi korban pembunuhan kawanan manusia aneh kemarin itu. Kemungkinan salah seorang tentulah putera dari Lau Toa Hu dari kota Seng-tou itu.

"Di sini tak ada orang itu!" tiba2 Tian Heng pemimpin kawanan manusia aneh berseru.

"Benar tidak ada?" Kim Leng hujin menegas. "Masakan bohong."

"Tian Heng, kalau kelak aku dapat membongkar peristiwa itu?" "Aku menurut saja apa keputusanmu." "Baik," katanya.

Karena merasa bahwa pembicaraan kedua orang itu  tiada sangkut pautnya dengan dirinya, Cu Jiang segera mengambil keputusan untuk melarikan diri. Dia tak berani mengambil jalan besar. Juga tak mau kembali ke kota Kui- ciu.

Ia tahu kawanan manusia aneh itu tentu tak mau melepaskan dirinya begitu saja. Mereka tentu akan tetap mencarinya kemanapun saja.

Maka dia tak mendengarkan lagi pembicaraan mereka dan terus lari masuk ke dalam hutan belantara. Menjelang terang tanah, dia sudah mencapai berpuluh2 li jauhnya. Andaikata dia tak cacat, mungkin sudah mencapai ratusan li.

Saat itu dia berada di perbatasan Hin-san.

Di sebelah timur adalah deretan pegunungan Keng-san. Dia segera mengambil jalan besar. Setelah berhenti di sebelah kedai, ia melanjutkan perjalanan lagi.

Tetapi kemanakah dia harus pergi? Ah, dia tak punya tujuan tertentu.

Tak berapa lama ia mendengar bunyi kelinting kaki kuda berlari. Buru2 dia tundukkan kepala dan menyingkir ke tepi jalan. Tetapi kuda itupun berhenti juga di sebelahnya. Sudah tentu Cu Jiang tak enak hati.

"Nona, itulah dia!" tiba2 terdengar suara seorang gadis.

Longgarlah perasaan hati Cu Jiang tetapi saat itu juga dia tegang sekali. Itulah suara dari Siao Hui bujang dari si jelita Ki Ing. Cu Jiang teringat bahwa dia pernah menggunakan Piagam Hitam atas nama jelita itu. Tak tahu ia bagaimana nanti akan memberi pertanggungan jawab kepada nona jelita itu.

Pada saat itu nona cantik yang berada diatas kuda, berpaling ke arah Cu Jiang. Ah, siapa lagi kalau bukan si jelita Ki Ing.

Jelita itu hentikan kudanya dan menegur:

"Benarkah engkau mempunyai pending dari kumala hijau?"

Cu Jiang terkejut dan menyahut dengan gelagapan:

"Benar, nona... tetapi bagaimana nona tahu hal itu?" "Hai, kiranya engkau pandai berpura-pura. Hampir tak

dapat mengenali engkau."

"Apa kata nona ?" Cu Jiang tegang sekali.

"Dari mana engkau memperoleh giok-pwe itu ?"

Cu Jiang sudah mendapat akal. Dengan wajah serius ia menjawab:

"Bukankah nama nona ini nona Ki Ing ?" "Bagaimana engkau tahu ?" balas si jelita. "Panjang juga kalau diceritakan ..."

"Panjang atau pendek harus engkau ceritakan!"

"Sungguh nona," kata Cu Jiang, "apabila nona tak bertanya, hampir saja aku lupa."

"Ceritakan yang jelas."

"Cerita itu harus mulai dari awal..." "Lekas!" "Aku seorang desa. Kadang aku berburu ke  hutan. Belum lama ini ketika berada di gunung Thian san aku telah berjumpa dengan seorang kong cu yang tampan . . ."

Ki Ing serentak loncat turun dari kudanya dan berseru tegang:

"Seorang pemuda berbaju putih?" "Benar, nona," Cu Jiang mengangguk. "Teruskan..."

"Tetapi kongcu itu telah menderita kecelakaan yang tak terduga. "

Seketika berobah cahaya wajah jelita itu dan serentak ia berseru dengan nada gemetar: "Menderita kecelakaan bagaimana?"

"Menderita luka parah sekali !" "Luka parah ?"

"Ya."

"Lalu ?"

Cu Jiang segera mengambil pending kumala dari dalam bajunya dan berkata:

"Dia minta tolong kepadaku untuk menyerahkan kembali kumala ini kepada nona. Dan dia bilang "

Air mata si jelita mulai berlinang-linang hendak menetes. "Bilang apa?" serunya nada beriba-iba.

Hati Cu Jiang seperti disayat-sayat rasanya. Namun kuatkan perasaannya.

"Kongcu itu mengatakan," katanya, "dia kuatir takkan dapat hidup lebih lama di dunia. Benda itu tak boleh sampai jatuh ke lain orang, jika Thian masih memberi umur panjang kepadanya, belum tentu dapat berjumpa lagi dengan nona. Namun kalau memang ditakdirkan sampai disitu saja hidupnya maka cinta kasih nona itu pasti akan dibawanya ke akhirat dia bersumpah, kelak pada penitisan yang akan datang, tentu akan melaksanakan tali asmara dengan nona."

Jelita Ki Ing tak tahan lagi untuk membendung air matanya yang berderai-derai menumpah ke tanah. Dengan suara sedih dia berseru:

“Tidak... dia takkan mati... dia takkan..."

Bujang Siau Huipun mengucurkan airmata. Buru2 ia mengusapnya dengan ujung baju.

Menghadapi keadaan seperti itu, hampir saja Cu Jiang pingsan. Jelas sudah betapa besar dan suci kasih si jelita itu tertumpah kepadanya. Betapa ingin saat itu dia memeluk si jelita dan mengatakan: “Ing, kekasihku, engkau tak tahu betapa besar cintaku kepadamu "

Tetapi ah, nasib. Kini dia telah berobah menjadi seorang pemuda yang buruk wajah. Tidakkah si Jelita itu akan hancur hatinya apabila mengetahui keadaan dirinya saat itu?

"Tidak ! Biarlah aku yang menderita sendiri!"

"Tidak ! Bukan nasib, tetapi manusia gila itu yang membuat diriku begini sengsara. Tuhan tidak menakdirkan aku harus berwajah begini buruk. Ke dua orang tuaku pun melahirkan aku dengan wajah yang cakap.

Hanya manusia jahanam itu yang telah merusak wajahku. Merekalah yang harus ku balas. Mereka harus mengalami penderitaan yang lebih hebat dari diriku." Setelah terjadi pergolakan dalam hatinnya, dapatlah Cu Jiang menemukan letak dirinya. Dia huras kuatkan  hati. Dia harus hidup. Dia membuang kesamping segala penderitaan dalam asmara. Dia masih mempunyai tugas besar untuk menghimpas dendam berdarah dari keluarga dan dirinya sendiri.

Kini dia telah menyerahkan kembali pending kemala itu kepada pemiliknya. Berarti dia telah menyelesaikan salah satu dari sekian rencananya.

"Lalu apa katanya lagi ?" tiba2 Jelita itu bertanya. "Tidak ada lagi."

"Bagaimana engkau tahu akan kegunaan giok pwe ini ?" tanya si Jelita pula.

"Kongcu itu yang memberitahu kepadaku. Dia kuatir  aku tak berhasil menyampaikan benda itu kepada nona."

Ki Ing menyambuti pending kumala pengikat asmara itu Air matanya bercucuran....

"Nona." kata Siau Hui dengan lemah lembut, "orang baik tentu akan dilindungi Tuhan. Jangan nona kelewat bersedih sehingga dapat mengganggu kesehatan nona."

Ki Ing memandang tajam2 kepada Cu Jiang serunya: "Engkau menggunakan pending ini untuk menolong

seseorang ?" "Ya."

"Apa hubungannya orang itu dengan dirimu ?"

"Tak ada hubungan apa2, hanya karena belas kasihan saja."

"Engkau sungguh bernyali besar. " "Mengapa ?"

"Engkau tahu siapa yang menangkap orang itu ?" "Menurut kata2 yang kudengar, mereka adalah dari

Gedung Hitam..."

"O, engkau mengacau sekali. Sudah cukup kalau engkau tunjukkan benda ini untuk menolong jiwa orang, tetapi mengapa engkau masih mendesak mereka supaya melepaskan orang itu."

Diam2 Cu Jiang merasa bahwa perbuatannya itu memang keterlaluan. Tetapi karena hal itu sudah terlanjur dan ia merasa bahwa sebagai seorang pemuda yang berjiwa kesatria harus berani bertindak menentang kelaliman, maka diapun harus berani mempertanggung jawabkan.

Untung sekarang wajahnya telah tertutup dengan bekas2 noda hitam sehingga orang sukar untuk mengenalinya lagi. Beberapa saat kemudian ia meminta maaf:

"Mohon nona suka memberi maaf."

"Hm, sudahlah, karena sudah terlanjur, tak  perlu diungkit lagi."

"Sungguh tak kusangka.... bahwa giok-pwe yang begitu kecil ternyata mempunyai daya perbawa yang begitu hebat. Mohon tanya, apakah nona pemilik dari giok-pwe itu ?"

"Soal ini.... tak perlu engkau tanyakan. Apakah kongcu itu mengatakan namanya kepadamu ?"

"Tidak."

"Dimana dia mendapat luka?"

"Di tengah gunung Bu-leng-san, kira2 perjalanan sehari dari Li jwan."

"Siapa yang melukainya ?" "Kongcu tak mengatakan."

"Apakah engkau tak berusaha untuk memberi pertolongan kepadanya ?"

Cu Jiang membuat gerakan tangan seperti orang yang putus asa.

"Kongcu itu aneh dan keras wataknya. Setelah menyerahkan giok-pwe ini dia terus suruh aku lekas pergi. Katanya, musuh masih berkeliaran disekeliling tempat itu. Dan katanya, lukanya itu luka dalam, tak sembarang tabib dapat mengobati."

Walaupun terpaksa harus merangkai kata2 kosong, tetapi dapatlah alasan2 itu diterima akal. Dan dibawakan dengan cepat dan lancar, mau tak mau Ki Ing percaya juga.

Sekalipun begitu perasaan Cu Jiang seperti di iris dengan pisau. Dia terpaksa harus berbohong demi menjaga agar nona itu jangan sampai hancur hatinya.

Ki Ing menghela napas rawan. "Siapakah namamu?" tiba2 ia bertanya.

"Ah, aku tak memakai nama lagi. Orang2  memanggil aku si Gok-jin-ji."

"Gok-jin-ji?" "Ya."

Gok-jin-ji artinya Anak sengsara. "Apakah  karena khusus hendak mengantarkan benda ini lalu engkau turun gunung?"

"Boleh di kata begitu."

"Kalau begitu, silahkan engkau kembali ke gunung lagi." Cu Jiang gelengkan kepada, "Tidak, aku takkan pulang ke gunung lagi."

Ki Ing kerutkan alis. "Kenapa?"

"Aku sudah sebatang kara dan hidup sengsara.  Tak punya sanak keluarga tak punya tempat tinggal dan masih cacat begini. Sering aku menerima hinaan dan cemoohan orang. Maka aku hendak mengembara saja untuk cari sesuap nasi."

"Ah, kurasa tak perlu," kata Ki Ing, "antarkanlah aku ke tempat engkau bertemu dengan kongcu tempo hari. Setelah itu selesai kucarikan tempat untukmu menetap dengan tenang."

"Ah, terima kasih atas kebaikan nona," sahut Cu Jiang. "O, kalau begitu, bagaimana kalau kuberimu uang untuk

modal berdagang saja ?"

"Terima kasih, kongcu sudah memberi tak sedikit uang kepadaku."

"Apakah engkau tak mau menunjukkan jalan ?"

"Bukan tak mau, nona. Tetapi aku sudah bersumpah takkan kembali ke gunung lagi."

"Kalau kuwajibkan engkau menunjukkan jalan ?" "Sekalipun nona membunuh aku, aku tetap tak mau

melanggar sumpahku."

Seketika wajah si Jelita Ki Ing berobah. Tetapi pada saat itu terdengar gemuruh derap kaki kuda berlari. Pada lain kejap tampak empat ekor kuda mencongklang tiba. Ternyata mereka empat orang Pengawal Hitam.

Melihat mereka seketika meluaplah kemarahan Cu  Jiang. Ketika melalui tempat Cu Jiang bertiga dua orang Pengawal Hitam agak melambatkan kudanya, kemudian memacunya lagi kencang2. Mereka seolah tak menghiraukan ketiga anak muda itu.

Cu Jiang merasa heran. Apakah kawanan Pengawal Hitam itu jeri akan Piagam Hitam? Sesaat Cu Jiang merasa makin heran akan diri si jelita Ki Ing yang tak diketahui riwayatnya itu.

"Apakah nona itu..." Tiba2 timbul pikirannya untuk menyelidiki, katanya.

"Dunia persilatan mengatakan bahwa kawanan Pengawal Hitam itu suka malang melintang mengunjuk keganasan. Tetapi rasanya kenyataannya lain."

"Kenapa ?" Ki Ing bertanya dengan dingin.

"Tidakkah nona tadi menyaksikan sikap kedua Pengawal Hitam yang memandang kita dengan pandang meremehkan

?"

"Mungkin kita tak salah apa2." "Tetapi kurasa tidak..."

"Lalu ?"

"Karena mempunyai hubungan dengan nona." "Dengan aku? Hubungan apa?"

"Karena nona sebagai pemilik Piagam Hitam,  mereka tak berani..."

"Engkau keliru." kata Ki Ing tetapi terus tak mau melanjutkan kata-katanya.

Cu Jiang melanjutkan usahanya untuk menyelidiki. "Adakah tiada seorangpun dalam dunia persilatan yang tahu jelas akan keadaan Gedung Hitam ?"

Ki Ing menatap sejenak pada Cu Jiang lalu menyahut dingin.

"Mungkin."

"Apakah nona juga tak tahu ?"

"Ai, benar2 sangat rahasia sekali..."

"Bagaimana, engkau mau menunjukkan jalan atau tidak

?"

Cu Jiang tundukkan kepala lalu menyahut: "Aku tak

mau melanggar sumpahku sendiri, mohon nona sudi memaafkan."

"Baik, mengingat engkau telah melakukan permintaannya dengan baik untuk memberikan  giok-pwe ini kepadaku, akupun tak mau menyusahkanmu !" habis berkata si jelita terus loncat keatas kuda dan mengajak Siau Hui pergi.

Ooo0dw0ooO
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| cersil terbaru hari ini [Musuh Dalam Selimut (Hui Hong Tjiam Liong)] akan diupload pada pukul 20.00 WIB."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pusaka Negeri Tayli Jilid 04"

Post a Comment

close