Pukulan Hitam Jilid 09

Mode Malam
Jilid ke 9

CIAN HONG menyadari bahwa tugas yang dihadapinya itu amat berat. Bahwa ia harus mengalami perjuangan berat dari tokoh- tokoh yang menguasai partai Te-gak-bun. Bahwa dalam

pertempuran itu bakal jatuh banyak korban manusia.....

Namun demi untuk menyelamatkan ayah dan membangun kembali partai Te-gak-bun, ia harus menghadapi kesemuanya itu dengan tabah....

Apa yang dibayangkan menjadi kenyataan ketika keluar dari ruang itu ia disambut oleh serbuan tiga sosok bayangan yang melepaskan pukulan dahsyat. Cian Hong yang sudah mempersiapkan diri dengan kewaspadaan segera balas memukul. Ketiga orang itu tersurut mundur sampai beberapa langkah.

Rupanya ketiga anakbuah Te-gak-bun itu terkejut. Secepat kilat mereka menyerbu lagi dan menaburkan serangan kalang kabut.

Cian Hong balas menghantam. Tiba-tiba ketiga orang itu taburkan senjata rahasia kemuka Cian Hong. Pemuda itu marah. Menampar jatuh senjata rahasia, Cian Hong lepaskan ilmu Pukulan- hitam.

Tergetarlah hati ketiga orang itu demi menyaksikan kedahsyatan pukulan pemuda itu. Tiba-tiba Cian Hong teringat: “Dahulu mereka adalah anakbuah ayahku. Hanya karena dikuasai oleh lain orang, mereka terpaksa taat. Seharusnya tak perlu kubunuh mereka. ” Pikiran itu melintas cepat sekali dibenak Cian Hong; Segera ia menarik kembali pukulannya. Ketiga orang itupun kaget. Mereka seperti hidup lagi dari neraka maut. Ketiganya terlongong-longong tegak seperti patung....

“Tahukah kau siapa aku?” bentak Cian Hong. Ternyata ketiga orang itu adalah rombongan Te-gak-si-kui atau Empat setan dari partai Te-gak. Mereka tak kenal siapa Cian Hong. Dengan terlongong-longong ditatapnya anakmuda itu.

Segera Cian Hong mengeluarkan piagam Te-gak-leng.

Diacungkannya keatas, serunya: “Tahukah kamu apa benda ini?”

Melihat piagam kekuasaan partai Te-gak-bun, serta merta ketiga Te-gak si-kui berlutut dan berseru dengan khidmat: “Piagam pimpinan partai, masakan kami tak tahu?”

Melihat mereka masih tunduk pada Te-gak-leng, Cian Hong terkesiap. Jelas bahwa mereka masih tunduk pada pimpinan. Jelas bahwa mereka itu hanya melakukan perintah karena takut.

“Aku adalah putera Ko Ko-hong. Dan kini aku menjabat sebagai ketua angkatan ke 9 dari partai Te-gak-bun!” seru Cian Hong.

Kawanan Te-gak-si-kui terperanjat.

“Tahukah kamu, siapa dan bagaimana ketua Te-gak-hun sekarang ini?” Cian Hong berseru pula dengan garang.

Salah seorang dari Te-gak-si-kui menyahut: “Hamba hanya tahu bahwa berpuluh tahun yang lampau seorang wanita telah merampas kedudukan ketua partai kita. Tetapi bagaimana perwujutannya, sampai saat ini belum pernah hamba sekalipun melihatnya!”

“Seorang wanita?” Cian Hong menegas. “Ya, berita itu memang sesungguhnya!” Kawannya  yang  seorang  menyambungi:  “Setelah  menduduki pimpinan  perkumpulan  Te-gak-bun,  wanita  itu  segera  merobah markas besar menjadi Neraka-19 lapis. Kemudian dibentuknya pula 18 buah neraka dengan diberi nama menurut urutannya!”

Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan pula: “Hamba ditugaskan dalam Neraka-lapis kedua dan langsung menerima perintah dan Sin-ciu-giam ”. sekonyong-konyong orang itu menjerit ngeri lalu

terjungkal kebelakang.

Cian Hong terkejut tetapi secepat itu pula ia melesat keluar dan membentak: “Hai, Sin-ciu-giam-ong, kalau memang jantan jangan kau ngacir pergi!”

Ternyata Sin-ciu-giam-ong telah bersembunyi ditempat gelap. Ketika mendengar salah seorang anggauta Te-gak-si-kui membocorkan rahasia, cepat-cepat ia lepaskan senjata tajam mengarah ketenggorokan orang itu. Tetapi perbuatannya itupun diketahui Cian Hong yang segera menghadang.

Sin-ciu-giam-ong tertawa mengejek: “budak she Ko, lekas serahkan Te-gak-leng ”

“Jangan ngelamun!” “Kau mau mencoba?” “Justeru aku memang ingin mengujimu!”

Tiba-tiba Sin-ciu-giam-ong melesat keluar dari tempat persembunyian dan secepat kilat menerjang si-anakmuda.

Berhadapan dengan seorang durjana besar, tak berani Cian Hong memandang rendah. Sambil menyimpan Te-gak-leng ia loncat menghindar dengan sebuah gerak melayang keudara dan menendang.

Sebenarnya Sin ciu-giam ong seorang tokoh yang bukan olah- olah saktinya. Tetapi saat itu ia berhadapan dengan seorang musuh berat yang memiliki ilmu Pukulan-hitam. Tak berani ia memandang rendah.

Namun sampai beberapa jurus telah berlangsung masih juga anakmuda itu belum menggunakan ilmu Pukulan-hitam. Ia heran. Pikirnya: “Sebelum ia sempat mengeluarkan Pukulan-hitam, lebih baik kudahului saja!”

Rencana itu telah ditumpahkan dalam serangan kilat. Dalam beberapa kejab saja ia telah melancarkan 7-8 jurus serangan yang hebat.

Cian Hong terpaksa mundur beberapa langkah. Memang dalam pengalaman, ia kalah dengan lawan.

Tetapi telinganya serempak terngiang-ngiang oleh pesan Malaekat-elmaut. Benaknyapun melayang akan keadaan sang guru yang sedemikian mengenaskan. Dan serempak dengan itu, teringatlah ia akan kesaktian ilmu Pukulan-hitam yang telah dipelajarinya. Walaupun belum mempelajarinya secara langsung dari kitab Pukulan-hitam, namun pukulan yang dimilikinya sampai saat itu juga cukup memadai kedahsyatannya.

Pada lain kejap tiba-tiba meluncurlah selarik sinar hitam kearah Sin-ciu-giam-ong...

Beberapa puluh tahun yang lampau, Sin-ciu-giam ong telah menderita kekalahan dibawah Pukulan-hitam dari Malaekat- elmaut, dan kini menghadapi Pukulan-hitam dari Cian Hong, belum-belum ia sudah gentar!

Cian Hong benci sekali kepada Sin ciu-giam-ong. Hendak dihancurkannya orang itu dengan sekali pukul. Maka dilancarkannya ilmu Pukulan-hitam dalam jurus Membelah-langit- menutup-bumi. Sin-ciu-giam-ong tersentak bingung. Dari kanan kiri ia merasa dilanda gelombang sinar hitam. Tak tahu ia harus menghindar kearah mana supaya dapat lolos.

Hek... pada lain kejap terdengar Sin-ciu-giam-ong menguak tertahan. Tubuhnya terhuyung-huyung 7-8 langkah lalu jatuh ketanah.

Cian Hong ayunkan tubuh menghampiri. Disangka Sin-ciu- giam-ong sudah mati. Maka tanpa curiga apa-apa ia menunduk hendak memeriksa.

Sekonyong-konyong ia terkejut ketika tangan Sin-ciu-giam-ong bergerak menghantamnya. Ternyata orang ini belum mati. Sebelum jiwanya putus ia masih dapat memaksakan diri menghantam dengan ilmu pukulan Khit-im-tok-hiat-ciang yang ganas.

Cian Hong terlambat mengetahui. Tubuhnya terpental sampai 7- 8 tombak dan rubuh ketanah. Ia rasakan dadanya seperti pecah, darah bergolak keras dan pingsanlah ia tak sadarkan diri lagi....

Tiba-tiba sesosok tubuh berkelebat. Te-gak-si kui terkejut dan lebih terkejut lagi ketika mengetahui yang datang itu seorang dara.

“Siapa kau!” bentak Te-gak si kui.

Ternyata yang datang itu ialah Hoa Ling-ling. Melihat Cian Hong menggeletak ditanah, tanpa menghiraukan teguran Te-gak-si-kui, nona itu segera menubruk Cian Hong.

“Ko sauhiap... Cian Hong.... Cian Hong...” serunya memanggil. Tetapi sampai sekian jenak ia memanggil, tak mendengar jawaban suatu apa.

“Mengapa ia terluka begini parah?” pada lain saat ia mengangkat kepala dan menegur Te-gak si-kui.

“Ciang bun-jin terkena pukulan Khit-im-tok-hiat-ciang dari Sin- ciu-giam ong,” sahut salah seorang Te-gak-si-kui. Melihat tubuh Sin-ciu-giam-ong menggeletak tak bernyawa ditanah, tahulah Hoa Ling-ling apa yang telah terjadi. Tetapi ia heran mengapa Cian Hong sampai terkena pukulan Khit-im-tok- hiat-ciang.

Setelah merenung beberapa saat dipondongnya tubuh Cian Hong, katanya kepada Te-gak-si kui: “Bawa aku keluar dari Neraka- lapis-kedua ini!”

“Kau hendak membawa ciang-bun-jin?” seru salah seorang Te- gak-si-kui.

“Eh, apakah dia ciang-hun-jin kalian?” balas Ling-ling dengan heran. Ciang-bun-jin berarti ketua.

“Benar, ciang-bun-jln yang ke 9 dari Te gak-bun.” Hoa Ling ling mengangguk: “Akan kuusahakan untuk menolongnya.”

Te-gak-si-kui merenung sejenak lalu membawa nona itu dari Neraka-lapis-kedua.

“Uruslah baik-baik Neraka-lapis-kedua, nanti pada suatu hari ciang-bun jin kalian pasti datang mencari kalian!” kata Hoa Ling- ling.

Te-gak-si-kui yang tinggal dua orang itupun segera memberi hormat dan undurkan diri.

Sebenarnya tak tahu Hoa Ling-ling bagaimana cara menolong pemuda yang tampaknya seperti tidur itu. Dipondongnya Cian Hong, dibawa lari menyongsong angin malam. Tak tahu kemana hendak dituju. Beberapa saat kemudian, ia berhenti. Air matanya bercucuran menetes ketubuh Cian Hong.

Cian Hong hendak membalaskan sakithati kematian ayah sinona (Hoa Ling-ling). Untuk itu iapun harus berdaya upaya untuk menolong Cian Hong. Ia harus mencari obat untuk menyembuhkan pemuda itu. Melihat pemuda itu masih belum sadar, makin bingunglah hati Hoa Ling-ling. Diletakkannya tubuh anakmuda itu dibawah sebuah pohon yang rindang.

Tiba-tiba sesosok bayangan melesat tiba.

“Suhu!” serentak menjeritlah Hoa Ling-ling dengan girang.

Ternyata yang datang itu adalah Kang-ou-jo-li atau wanita jelek dalam dunia persilatan.

“Leng-ji, apakah dia terluka?” seru King-ou-jo-li ketika melihat Cian Hong pingsan.

Ling-ling mengiakan. “Mengapa?”

“Terkena pukulan Khit-im tok-hiat ciang dari Sin-ciu giam-ong.”

“Amboi!” teriak Kang-Ou-jo-li dengan terkejut. Melihat itu bingunglah Ling-ling dibuatnya: “Apakah Khit-im-tok-hiat-ciang tiada obatnya lagi?”

Dengan wajah gelap, Kang-ou-jo-li gelengkan kepala.

Isyarat itu bagaikan sebuah halilintar menyambar kepala Hoa Ling-ling. Hatinya remuk redam. Dipeluknya tubuh Cian Hong dan menangislah dara itu tersedu sedan seperti ditinggal orangtuanya.

Kang-ou-jo-li menghela napas: “Ah, kasian anak itu!”

Hanya beberapa patah kata yang diucapkan. Wanita itu lalu duduk merenung. Pikirannya bekerja mencari jalan untuk menolong Cian Hong.

Angin pegunungan menderu-deru mengantar tangis Ling-ling yang menyayu hati. Laksana irama seruling merintih-rintih tinggi rendah membawa kesedihan kelana terhampar...

Tiba-tiba Kang-ou-jo-li memekik kegirangan. “Suhu, mengapa kau bergirang?” Dengan berseri tawa, Kang-ou-jo-li menyahut: “Ada jalan untuk menolong Ko sauhiap!” Mendengar itu sinona melonjak kegirangan.

Disambarnya tangan Kang-ou-jo-li.

“Suhu, bagaimanakah mengobati racun ditubuh Ko sauhiap?” serunya dengan tegang.

Kang-ou-jo-li tersenyum simpul melihat tingkah muridnya. “Ling-ji, mengapa kau begitu memperhatikan dirinya?” ia balas

bertanya.

Dara itu menggigit bibir: “Ah, suhu, kau...” Kang-ou-jo-li tertawa gelak-gelak: “Kau harus menyahut sejujur-jujurnya kepada suhumu!”

ooOOoo

“Suhu, apakah obatnya untuk menolong dia?” si dara cepat alihkan pembicaraan, “mengapa suhu menanyaknn hal yang tiada sangkut pautnya dengan usaha menolongnya?”

Kata Kang-ou-jo-li dengan nada bersungguh: “Ling-ji, bukankah kau mencintainya?”

Syukurlah Hoa Ling-ling itu seorang dara persilatan yang berpikiran lapang. Sekalipun begitu tak urung sifat keperawanannya masih melekat juga. Ia tersipu-sipu merah mendapat pertanyaan semacam itu.

Melihat wajah muridnya kemerah-merahan, tahulah Kang-ou- jo-li bahwa gadis itu memendam sesuatu perasaan kepada Cian Hong.

“Jawablah pertanyaan itu dulu,” masih ia sengaja menggoda muridnya. “Suhu!” Hoa Ling ling melengking, “orang setengah mati kuatirnya, mengapa suhu masih sempat berolok-olok?”

“Baik, baik,” akhirnya Kang-ou-jo-li mulai beralih nada, “suhu bertanya sang murid tak mau menjawab. Kelak kalau memadukan apa-apa, jangan kau minta pertolongan suhumu...”. sejenak Kang- ou-jo-li berganti nada serieus: “Obat sih ada tetapi sukarnya bukan buatan!”

Dengan mantap Ling-ling menyambut: “Asal ada kemungkinan ditolong, betapapun sukarnya, aku bersedia untuk mencarinya!”

Kang-ou-jo-li mengangguk: “Pernahkah kau mendengar cerita orang tentang Giok-cu Bak-kim?”

Ling-ling terkejut sekali, serunya: “Giok-cu dapat memunahkan racun. Tetapi Bak-kim merupakan benda yang paling beracun didunia. Kabarnya kedua benda itu sudah disembunyikan si Hantu- mayat didalam sebuah makam rahasia. Untuk mencarinya, memang harus berani menempuh jalan yang ganas sekali!”

Giok-cu artinya mutiara giok. Dan Bak kim ialah emas hitam. “Karena itu kukatakan suatu pekerjaan yang luar biasa

sukarnya!” kata Kang-ou-jo-li.

“Suhu, benarkah Giok-cu itu dapat menyembuhkan segala macam racun?” masih Ling-ling menegas.

“Masakan aku membohongimu,” sahut Kang-ou-jo-li.

“Murid bersumpah tentu dapat memperoleh mustika Giok cu itu!” tiba-tiba Ling-ling melantang.

“Tetapi muridku,” kata Kang-ou-jo-li, “benda itu milik Hantu- mayat durjana besar dalam masa ini. Apalagi tempatnya ditaruh disuatu makam rahasia yang penuh dengan alat-alat rahasia. Mungkin sukar memperolehnya. Mungkin kau tak dapat keluar dari...” Tanpa menunggu sang suhu berkata habis, tiba-tiba Ling-ling memutus dengan nada tegas: “Sekalipun tubuhku hancur lebur, demi untuk menolongnya, aku rela mengorbankan jiwa ragaku. Apalagi dia telah menolong aku membalaskan sakithati ayahku, aku harus membalas budinya!”

Diluar dugaan Kang-ou-jo-li berseru girang: “Karena teguh sekali niatmu, suhupun akan membantumu!”

Dengan haru terima kasih yang tak terhingga Ling-ling mendekap kaki sang suhu. Kemudian ia memondong tubuh Cian Hong lagi. Keduanya segera berangkat menuju kemakam rahasia itu.

Selama dalam perjalanan itu mereka mendengar banyak sekali cerita-cerita yang menggemparkan.

Pertama:  Gerombolan  durjana  yang  digelari  sebagai  Liok-lim- sip-tiu atau 10 momok rimba persilatan (dunia penyamun). Dalam waktu  semalam  saja  telah  menjadi  mayat  berserakan  dilereng gunung Lo-san.

Kematian mereka itu disebabkan terkena racun yang amat berbisa.

Kedua : Benggolan dari Lok-yang yang digelari sebagai Lok- yang-ci-long atau Serigala dari wilayah Lok-yang, kedapatan mati diluar kota Lok-yang. Kematiannyapun serupa dengan gerombolan Liok-lim-sip-tiu, yani kena racun.

Ketiga: Murid murtad dari gereja Siau-lim-si yang bernama Sat- sing thauto (paderi Sat Sing), mendadak mati terkena racun dan mayatnya dilempar dihutan.

Ketiga peristiwa berdarah itu, walaupun yang menjadi korban golongan penjahat-penjahat besar yang kematiannya menjadikan kegembiraan rakyat jelata, namun cara kematian yang mereka derita itu benar-benar menggelisahkan!

Keduabelas orang itu mati karena sebab yang sama yakni terkena racun yang luar biasa ganasnya.

Tetapi racun apakah itu? Tak seorangpun yang mengetahui namanya. Maka berhamburan desas desus yang berliputkan keseraman. Suatu teka teki yang berhawa kabut rahasia, kegelisahan dan keseraman. Tiap-tiap orang persilatan sejak itu tak dapat tidur tenteram. Tiap malam mereka selalu dilalang bayang- bayang akan menerima kematian seperti keduabelas orang itu.

Juga tak terluput Kang-ou-jo-li dan Hoa Ling-ling. Merekapun terkejut cemas mendengar cerita itu.

Sambil berjalan memondong tubuh Cian Hong, bertanyalah Ling-ling kepada gurunya: “Suhu, menilik naga-naganya, pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan oleh seorang aneh!”

Kang-ou-jo-li mengangguk-angguk. “Anehnya, tak seorangpun mengetahui racun apakah yang digunakan oleh pembunuh itu untuk mengganas korban-korbannya!”

“Menilik kesaktian para korban-korban itu, jelas bahwa racun biasa tentu tak mampu membunuh mereka. Jelas bahwa pembunuh itu tentulah seorang tokoh yang luar biasa saktinya. Dan dalam dunia persilatan tak banyaklah jumlahnya tokoh-tokoh semacam itu.”

“Benar, memang tokoh-tokoh yang tak becus tentu tak mungkin mampu melakukan hal itu. Mungkin berhadapan muka saja, tentu sudah runtuh nyalinya,” kata Kang-ou-jo-li.

“Lalu kira-kira siapakah tokoh sakti yang melakukan peracunan itu?” tanya Ling-ling. Kang-ou-jo-li  diam  merenung.  Sampai  beberapa  lama  baru berkata  lagi:  “Yang  memiliki  kepandaian  untuk  meracun  orang tentu saja tak sedikit jumlahnya. Tetapi rasanya tiada seorangpun yang mampu melakukan peracunan itu terhadap ke 12 tokoh-tokoh termasyhur itu!”

Ling-ling kecewa. Saat itu mereka tiba disebuah jalan lembah yang terletak ditengah dua lereng gunung. Lembah penuh dengan hutan lebat yang menjulang ke langit.

Tiba-tiba Ling-ling melirik kepada gurunya dan bertanya: “Suhu, kalau dewasa itu tak terdapat tokoh-tokoh sesakti itu, baiklah kita berpaling jauh kemasa yang lampau. Tiga tahun yang lalu atau tujuh tahun, sepuluh tahun bahkan duapuluh tahun sampai tiga-puluh tahun yang lalu. Masakan tak ada tokoh semacam itu?”

Kang-ou-jo-li seperti orang disadarkan. Setelah merenung berapa jenak, tiba-tiba ia berteriak kaget: “Ah, kini tiba-tiba aku teringat akan seseorang.”

“Siapa?”

“Orang itu, pada  belasan  tahun  yang lalu telah menggegerkan dunia  persilatan.  Jangankan  tokoh-tokoh  ukuran  liok-lim-sip-tiu, sekalipun  tokoh  durjana  Gong-hong-it-siu  (si  Angin  puyuh)  yang mengepalai dunia penyamun dari 13 wilayah, orang itupun mampu membunuhnna!”

“Siapa dia, suhu?” Hoa Ling-ling makin diburu nafsu. Kang-ou- jo-li balas bertanya: “Bukankah aku pernah menceritakan padamu tentang sepasang tokoh yang disebut Hek-sim-song-coat...”

“Suhu maksudkan Hek-sim-tok-ong?” Ling ling cepat menyanggapi.

“Ya, belasan tahun yang lalu Hek-sim-tok-ong dan Hek-sim hoa to digelari sebagai Hek-sim song coat. Membunuh orang seperti membunuh lalat. Memiliki kepandaian yang sakti tiada tandingan. Terutama racun yang dimiliki Hek-sim-tok-ong itu, benar-benar luar biasa ganasnya!”

Hek sim-tok ong artinya Raja-racun si Hati-hitam.

Hek sim-hoa to artinya paderi Hati-hitam dan Hek-sim song-coat berarti Sepasang-durjana berhati-hitam.

“Paderi Hek-sim-hoa-to itu juga mempunyai ilmu pengobatan yang luar biasa. Tetapi karena keduanya jahat maka digelari sebagai Hek-sim. Hanya Hek-sim thau-to yang mampu menjelaskan peristiwa pembunuhan itu!” kata Ling-ling.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh dua buah jeritan ngeri yang timbul dari dalam lembah. Kang-ou-jo-li dan Ling-ling terkesiap kaget. Cepat-cepat mereka lari menghampiri. Berkat kepandaian yang hebat, dalam beberapa kejap saja merekapun sudah menyusup kedalam hutan. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh dua sosok tubuh yang terhampar ditanah. Dan secepat itu pula mereka melihat secercah bayangan orang melesat lenyap.

Kang-ou-jo-li banting-banting kaki: “Ah, sipembunuh dapat melarikan diri!”

Ling-ling kaget: “Rupanya orang itu seperti seorang wanita.

Ilmunya lari jauh lebih sakti dari kita!”

Kang-ou-jo-li juga mengetahui betapa sakti kepandaian orang itu. Tahu pula bahwa pengawakan orang itu memang mirip seorang wanita. Dan apabila dugaannya tak salah, wanita itu bahkan masih muda.

Sekonyong-konyong Ling-ling berteriak kaget. Kang-ou-jo-li melirik muridnya. Ling-lng menunjuk kearah kedua mayat ditanah, serunya: “Apakah dia bukan Gong-hong-it siu.” Ketika memandang kearah korban, wajah Kang-ou-jo-li berobah seketika. Saking kagetnya ia tersurut dua langkah dan beberapa saat kemudian baru dapat membuka mulut.

“Benar, orang itu memang Gong-hong-it-siu.....” ia beralih memandang kemayat yang lainnya. Kejutnya tak berkurang, serunya: “Aih, inilah tokoh Thian-te-coat-kiam dari golongan Putih. Keduanya dari aliran lain tetapi mengapa mati bersama di tempat yang sama? Dan sebab kematian merekapun karena. ”. ia berhenti

sejenak. Matanya tak berkedip memandang kearah kedua mayat. Kulit mereka mulai berobah hitam dan cepat sekali seluruh tubuhnya menjadi hitam semua.

Ling-ling berobah wajahnya: “Ah, benar-benar terkena racun ganas!”

“Lagi-lagi korban racun!” seru Kang-ou-jo-li. “Rasanya pembunuhan Gong-hong-it-siu dengan Thian-te-coat-kiam ini ada hubungannya dengan peristiwa ketiga pembunuhan yang menggemparkan itu,” seru Ling-ling.

“Dan kemungkinan besar pembunuhnya dilakukan oleh satu orang,” Kang-ou-jo-li menambahkan.

Jelas bahwa Gong-hong-it-su dan Thian-te-coat-kiam mati dibunuh dengan racun oleh seorang dara misterieus.

Apakah ketiga peristiwa pembunuhan yang menggemparkan itu juga dilakukan oleh gadis misterieus itu? Apakah racun yang digunakan untuk pembunuhan itu?

Kang-ou-jo-li menghampiri dan memeriksa keadaan kedua mayat itu dengan seksama. Selain kulit mereka berobah kuning- kuning hitam, tak terdapat lain luka lagi, sampai setengah jam lamanya memeriksa, Kang- ou-jo-li tetap tak dapat menemukan tanda-tanda lainnya. Benar-benar pembunuhan yang ganas dan misterieus.

“Tokoh persilatan yang mahir dalam ilmu racun hanyalah Hek- sim-tok-ong. Dan tak seorang pembunuh yang dapat lolos dari pemeriksaanku kecuali dia!” seru Kang-ou-jo-li.

“Tetapi anehnya pembunuh itu seorang gadis,” kata Ling-ling.

Kang-ou-jo-li termenung diam. Berapa saat kemudian ia berseru: “Ah, kemungkinan pembunuh itu murid dari Hek sim-tok ong Ling-ling mengiakan kemungkinan itu memang bisa, tetapi apakah latar belakang pembunuhan itu?

Kata Ling ling lebih lanjut, “Bukankah tokoh-tokoh yang dibunuh itu kebanyakan dari golongan Hitam? Dan bukankah Hek-sim-tok- ong sendiri juga tokoh golongan jahat? Mengapa ia memerintahkan muridnya membunuh-bunuhi sesama alirannya?”

Kang-ou jo-li tak dapat menjawab pertanyaan muridnya. Memang pembunuhan-pembunuhan itu merupakan teka teki yang pelik. Kang-ou-jo-li sendiripun pusing memikirkan.

“Tetapi yang menjadi korban adalah tokoh-tokoh jahat. Sekalipun pembunuhan itu dilakukan secara ganas, orangpun tak mau mumet-mumet memikirkan ” kata Ling-ling, “yang penting

kita harus segera masuk kedalam gua rahasia itu untuk menolong pemuda ini!”

“Ya, ya, kutahu isi hatimu. Kau hanya memikirkan nasib pemuda ini saja,” sahut gurunya.

“Suhu ”

Kang-ou-jo-li tertawa gelak-gelak: “Tak usah menyangkal, memang kau telah terlelap hatimu oleh Ko Cian Hong!”

Menunjuk pada kedua korban yang menggeletak ditanah, Kang ou-jo-li berkata lebih lanjut: “Walaupun semasa hidupnya mereka itu termasuk manusia-manusia jahat yang berlumuran dosa, tetapi orang yang sudah mati tak boleh dimaki-maki. Kita kubur sebaik- baiknya agar jangan mayat mereka dimakan binatang buas. Ini termasuk tindakan yang baik.”

Demikian mayat Gong-hong it-su dan Thian te-coat-kiam segera dikubur selayaknya. Pekerjaan itu hampir makan waktu setengah hari. Saat itu hari sudah mulai magrib. Kabut malam mulai menebar.

Setelah melakukan perjalanan selama 3 hari akhirnya tibalah guru dan murid itu disebuah makam. “Aneh!” tiba-tiba Kang-ou-jo- li berseru.

“Apanya yang aneh, suhu?” tanya Ling-ling.

Rumput-rumput yang tumbuh disekeliling halaman makam, tumbuh meliar bercampur semak-semak. Arca-arca yang menghias makam itupun hancur lebur berserakan. Tak sebuah arcapun yang masih utuh. Sepintas pandang, makam itu memberi kesan sebagai sebuah makam yang tak terurus.

Menunjuk    pada    arca-arca    yang    berhamburan    ditanah, berkatalah Kang-ou-jo-li, “Cobalah kau perhatikan keadaan disini. Jauh sekali bedanya dengan waktu aku datang 10 tahun yang lalu.”

Masih Ling-ling tak mengerti, serunya : “Apakah suhu maksudkan arca-arca yang morak-marik itu? Kuburan yang berada ditempat belantara begini, tentu saja tiada orang yang mengurus!”

Kang-ou-jo-li gelengkan kepala. “Kau tak menangkap maksudku. Hantu-mayat itu adalah seseorang durjana besar dalam masa ini. Selain kepandaiannya yang sakti juga pandai sekali dalam ilmu bangunan. Tak mungkin dia akan membiarkan arca-arca penghias makam ini berserakan tak keruan!”

Kang-ou-jo-li sejenak memandang kesekeliling dan kembali ia menghela napas panjang. “Makam ini telah mengalami kerusakan hebat!” serunya.

Tetapi Ling-ling yang rupanya lebih mementingkan menolong Cian Hong, berseru : “suhu, baiklah kita lekas-lekas mencari Hantu- mayat untuk meminta mustika Giok-cu. ”

“Huh, budak perempuan yang hanya mementingkan dia saja,” bentak Kang-ou ji ii dengan pura-pura marah. Ia tahu memang dara yang sedang dilanda asmara itu tentulah hanya terbayang-bayang pada sang kekasih saja.

Kang-ou-jo-li melesat kemuka sebuah arca yang tinggi besar. Setelah beberapa kali lepaskan pukulan barulah arca itu bergeser. Dan terbukalah sebuah liang terowongan.

“Lingji, mari kita masuk terowongan ini,” serunya kepada Ling ling.

“Dia?. Ling-ling memandang ke arah Cian Hong. Sengaja Kang- ou-jo-li mendengus: “Hm, didalam makam ini penuh dengan alat- alat rahasia yang berbahaya. Untuk sementara waktu, lebih baik tinggalkan dia diluar!”

Hoa Ling-ling seperti segan namun ia tak berani membangkang perintah gurunya. Ia diam saja ditempatnya.

Kang-ou-jo-li tertawa : “Kau tak tega? Masih mau membantah?” Mendengar olok-olok gurunya, melengkinglah Ling-ling :

“Sudahlah, sudahlah, suhu!”

Melihat kebandelan muridnya yang tak mau melepaskan Cian Hong, akhirnya Kang-ou-jo-lipun mengalah : “Baik, panggullah dia baik-baik dan ikutlah dibelakangku!”

Segera Kang-ou-jo-li mendahului masuk kedalam terowongan dan memanggil muridnya supaya lekas mengikutinya.

Dengan hati-hati Ling lingpun segera ikut masuk. Ternyata terowongan itu cukup lebar tetapi gelap sekali. Dengan penuh kewaspadaan Ling-ling mengikuti dibelakang gurunya.

Tiba-tiba ketika membiluk sebuah tikungan, Kaag-ou-jo-li berhenti.

“Awas, disini terdapat perkakas rahasia!” serunya.

Dengan penuh perhatian ia memeriksa tembok sebelah kanan. Tiba-tiba ia menampar. Terdengar bunyi menggelegar keras tetapi tak terdapat reaksi apa-apa lagi.

“Hai, perkakas rahasia disini sudah lenyap!” serunya kaget. “Bagus, kita dapat menghemat waktu,” seru Ling-ling.

Diluar dugaan Kang-ou-jo-li gelengkan kepala ujarnya: “Tidak, hal ini benar-benar luar biasa. Diluar makam arca-arca berserakan tak karuan. Dan kini didalam makam perkakas-perkakas rahasia tak jalan semua. Kemungkinan besar Hantu-mayat tentu tertimpa bencana. Ah, Bak-kim itu...” ia hentikan ucapannya karena kuatir membuat Ling ling putus asa.

Lewat beberapa jenak kemudian, Kang-ou-jo-li berkata pula: “Mari kita teruskan kedalam!”

Kang-ou-jo-li teruskan langkahnya menyusup kedalam. Ling- ling tahu bahwa keadaan dalam makam tidak sewajarnya. Tentu terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Dengan hati-hati sekali ia segera mengikuti dibelakang gurunya.

Apa yang diduga Kang-ou-jo-li memang benar. Bukan saja semua perkakas rahasia dalam makam iiu hancur berantakan tetapi mustika Giok cu dan Bak-kimpun telah dirampas orang.

Tanpa banyak jerih payah, Kang-ou-jo-li dan Ling-ling tiba dibagian yang paling dalam dari makam. Tiba-tiba terdengar suara orang merintih-rintih dengan nada yang lemah.

Kang-ou-jo-li terkesiap kaget.

“Celaka!” serunya. Cepat ia melesat dan mendorong sebuah pintu besi. “Ah. ”

Ling-ling terkejut. Buru-buru ia menghampiri gurunya dan bertanya: “Suhu, apa yang terjadi?”

Tetapi rupanya Kang-ou-jo-li tak menghiraukan seruan muridnya. Tanpa berpaling kebelakang, ia melangkah maju.

“Kau... kau kau terluka parah!” serunya kepada seseorang.

Ling-ling yang berada diambang pintu, melihat seorang tua berambut panjang tengah menggeletak di sebuah ranjang batu. Orangtua itu sedang meregang jiwa.

Melihat kedatangan orang, orangtua itu tampak bersemangat. Mulutnya bergerak-gerak hendak berkata tetapi tak dapat mengucap apa-apa. Ia menghela napas kecil, mata melengak terbuka untuk memandang wajah Kang-ou-jo-li.

Kang-ou-jo-li tahu bahwa orang itu sedang menderita luka parah. Buru-buru ia ulurkan tangan menjamah jalan darah Hong- gan hiat ditubuh orang itu agar tubuhnya hangat. Beberapa saat kemudian tampak wajah orangtua itu kemerah-merahan dan napasnyapun tak terengah-engah lagi.

Berapa saat lagi barulah kedengaran orang tua itu berkata dengan suara lemah. “Sudah setengah bulan... setengah bulan... baru dengan susah payah dapat bertemu padamu...”. wajah orang tua itu berseri-seri kegirangan. “Siapakah kau?” tanyanya.

“Aku orang she Toan, Toan Bu-yan. Orang persilatan menggelariku sebagai Kang-ou-jo-li!” sahut Kang-ou-jo-li dengan pelahan.

Orangtua berambut panjang itu tertawa: “Apa keperluanmu datang kemari?”

“Ada suatu hal yang hendak kumintakan pertolonganmu!”

Orangtua itu agak terkesiap, serunya: “Hendak minta tolong apa kepadaku?”

Dengan setengah berbisik Kang-ou-jo li berkata: “Hendak mohon pinjam mustikamu Giok-cu!”

Orang tua berambut panjang terbeliak mendengar permintaan orang. Rupanya ia tak menduga bakal menerima permintaan semacam itu. Ia menghela napas. “Ah, sungguh tak terduga-duga...”

Kini Kang-ou-jo-li-lah yang terkesiap. Baru ia hendak minta keterangan, orangtua berambut panjang itu sudah mendahului: “Untuk apa kau hendak pinjam Giok-cu?”

“Menolong orang!” “Menolong orang?”

Kang-ou-jo-li berpaling kearah Hoa Ling-ling, lalu berkata: “Ko Cian Hong.”

Oraugtua berambut panjang itu tersentak kaget. Sepasang matanya mementang lebar-lebar memancarkan sinar kemarahan.

“Apa? Ko sutit?” teriaknya dengan geram, “ah, gadis buta itu memang menjengkelkan. Jika bukan karena dia tak nanti aku sampai terluka oleh si Baju-kelabu. tiba-tiba ia berganti nada: “Dimanakah Ko sutit sekarang?”

Kang-ou jo li tak menduga sama sekali bahwa Cian Hong ternyata sutit (murid keponakan) dari orangtua berambut panjang atau Hantu-mayat (Si-mo). Diam-diam ia girang, pikirnya: “Ah, usahanya kita tentu takkan sia-sia.”

Buru-buru Kang-ou-jo-li berpaling menyuruh muridnya meletakkan Cian Hong dihadapan Hantu mayat.

“Anak itu sudah dihadapanmu. ” katanya kepada Hantu-mayat.

Orangtua berambut panjang bertanya: “Apakah dia terkena racun Bak-kim?”

Kang-ou-jo-li menggeleng. “Bukan!”

“Bukan? Habis terkena racun apa?” tanya Hantu-mayat. “Pukulan Khit-im-tok-hiat-ciang dari Sin-cu it-kiam!”

Tiba-tiba wajah Hantu-mayat berobah, tanyanya: “Sudah berapa hari?”

“Tujuh hari,” sahut Kang ou-jo-li.

Mendengar itu Hantu-mayat terpukau. Lama baru ia berkata lagi dengan nada lemas, “Tujuh hari... tujuh... hari, ah. tiada harapan

ditolong lagi.”

Gemetar tubuh Ling-ling mendengar keterangan itu. Matanya bercucuran airmata....

Tiba-tiba Kang-ou-jo-li membentak: “Bohong! Siapa tak kenal kesaktian mustika Giok-cu? Racun apakah yang tak mungkin disembuhkan mustika itu? Terang kau tak mau memberi pertolongan. Percuma kau mengaku jadi paman guru pemuda itu!”

Sahut Hantu-mayat dengan nada rawan: “Ah, kau hanya tahu satu tapi tak tahu yang lain!” Kang-ou-jo-li menatap orangtua berambut panjang itu dengan tajam.

“Memang racun pukulan Khit-im-tok-hiat-ciang atau racun Bak- kim dapat disembuhkan oleh mustika Giok-ci. Tetapi sayang waktunya sudah terlambat sekali. Andaikata baru berselang 3 hari, tentu akan kutolong sekuat-kuatnya. Tetapi sudah 7 hari, ya 7 hari... ia menghela napas putus asa, “aku tak berdaya menolongnya lagi...”

Tetapi Kang-ou-jo-li tak menghiraukan ujarnya: “Aku tak menyuruhmu mati-matian menolongnya. Cukup kau pinjamkan mustika itu padaku!”

“Ah... hantu-mayat kembali menghela napas, sudah tiga bulan yang lalu mustika itu lenyap dari tanganku!”. sekali lagi ia menghela napas, “juga Bak-kim telah dibawanya lari, ah, benar-benar menjengkelkan sekali!”

“Giok-cu dan Bak-kim hilang?” teriak Kang-ou-jo-li dengan terkejut.

“Benar, direbut oleh seorang gadis buta.” “Dan kau juga dilukainya?”

“Tidak...”

“Lalu mengapa kau terluka begini parah?” Hantu-mayat menghela napas rawan.

“Pada setengah bulan yang lalu tiba-tiba muncul seorang baju kelabu berkerudung muka. Pada saat aku tengah melakukan semedhi, dia memukul jalan darahku. Mungkin aku tak dapat bertahan hidup lama!”

Tanya Kang-ou-jo-li: “Siapakah si baju-kelabu yang berkerudung muka itu?” “Dia tak menyebutkan namanya. Dan akupun tak dapat menduga siapakah dia!” sahut Hantu-mayat.

Tiba-tiba Kang-ou-jo-li teringat bahwa pada tiga bulan terakhir ini telah terjadi tiga macam peristiwa pembunuhan yang menggemparkan. Pula tentang penyaksiannya atas pembunuhan tokoh Gong-Hong-it-si dan Thian-te-coat-kiam yang mati terkena racun.

“Bagaimanakah keadaan orang yang terkena racun Bak-kim?” tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan.

Kata Hantu-mayat, “Dalam sekejab mata tubuhnya berobah hitam dan putuslah jiwanya!”

“Hai, benar dia!” sekonyong-konyong Kang-ou-jo-li memekik. “Dia...?”  Hantu-mayat   tercengang,  serunya:  “siapa?”  Segera

Kang-ou-jo-li      menceritakan      tentang      keempat      peristiwa

pembunuhan yang didengarnya dalam perjalanan itu.

Tiba-tiba mulut Hantu-mayat menyungging senyuman, serunya: “Bagus, bagus ! Dosanya mencuri mustikaku dapat kumaafkan!”

“Eh, siapakah pencuri itu?” Kang-ou-jo-li balas bertanya.

“Telah kukatakan tadi, dia seorang gadis buta,” sahut Hantu- mayat.

“Namanya?”

“Dia tak meninggalkan nama. Hanya menyebutkan bahwa ada orang yang memberinya gelaran sebagai Giok-lo-sat!”

Selama  berkecimpung  20  tahun  dalam  dunia  persilatan  tak pernah  Kang-ou-jo-li  mendengar  tentang  tokoh  persilatan  yang bergelar Giok-lo-sat. “Giok-lo-sat?” buru-buru ia menegas. “Hm    ” Saat itu Hoa Ling-ling sudah berhenti menangis, ia mengusap pelapuk matanya dengan ujung baju. Mendengar percakapan Hantu-mayat, ia berdebar-debar. Sebentar sedih sebentar girang.

Memang belum lama ia terjun dalam dunia persilatan. Pernah juga ia mendengar tentang tokoh Giok-lo-sat, tetapi sampai saat itu belumlah ia pernah bertemu dengan tokoh itu. Menilik sepak terjangnya membunuh-bunuhi tokoh-tokoh durjana, terang Giok- lo-sat itu tentu memiliki kepandaian sakti. Untuk mencari jejaknya tentu sukar sekali.

Ling-ling hanya memikirkan keselamatan Cian Hong. Tak peduli kesukaran apapun, ia sanggup menempuhnya. Segera ia mengajak sang suhu: “Suhu, aku hendak mencarinya untuk meminjam mustika Giok cu!”

“Dia bagaikan angin yang meniup, kemanakah kau hendak mencarinya?” damprat Kang-ou-jo-li.

Namun Ling ling tetap pantang mundur, serunya: “Suhu, harap tunggu disini. Biarlah kucari dulu Giok-cu untuk menolong Ko sauhiap!”

Tanpa menunggu perkenan sang suhu, dara itu segera melesat pergi.

Terpaksa Kang-ou-jo-li mengikuti jejak muridnya yang keras kepala itu. “Hai, Ling-ji.... !” Segera ia hendak melesat menyusul. Tetapi sekonyong-konyong Hantu-mayat mencegahnya: “Kau, tunggu dulu!” Walaupun suaranya lemah tetapi penuh dengan kewibawaan. Kang-ou-jo-li terpaksa kembali dan menghampiri keranjang Hantu-mayat.

“Biarkan dia pergi!” kata Hantu-mayat dengan pelahan.

Kang ou-jo li menganggap pernyataan Hantu-mayat itu benar, ia setuju. “Sebelum menutup mata, aku hendak meninggalkan pesan kepadamu,” kata Hantu-mayat setengah berbisik.

Kang ou-jo li menghiburnya: “Kau takkan mati...”

“Tidak!” sahut Hantu-mayat, “Lukaku parah sekali. Rupanya orang baju kelabu itu mempunyai dendam permusuhan besar kepadaku. Dia sudah melepaskan pukulan maut!”

“Kejam sekali!” seru Kang-ou jo-li.

Hantu-mayat terengah-engah: “Kuharap kau dapat menolongi aku untuk mengetahui siapakah sebenarnya orang berkerudung baju kelabu itu. Ambillah kepala dan hati orang itu dan sembahyangkanlah didepan makamku nanti. Aku... baru dapat... menghimpaskan... dendam... hatiku...”. dikala mengucapkan kata- katanya yang terakhir, kepala Hantu-mayat meneliku terkulai dan putuslah napasnya.

Melihat Hantu-mayat meninggal begitu menyedihkan, bercucuranlah airmata Kang-ou-jo-li. Beberapa jenak kemudian, ia berkemak kemik mengucapkan janji: “Ya, tentu akan kulaksanakan pesanmu. Harap kau mengaso dialam baka dengan tenang!”

Setelah beberapa saat berdoa, ia mengalihkan perhatiannya kepada Cian Hong. Anakmuda itu masih tak sadarkan diri.

“Hm, aku harus menunggu sampai Ling-ling kembali membawa mustika itu baru dapat menolong anakmuda ini,” pikirnya.

Saat itu didalam makam hanya terdapat tiga insan. Kang-ou-jo- li, Cian Hong yang masih pingsan dan Hantu-mayat yang sudah menjadi mayat. Kang-ou-jo-li menjaga mereka.

Sekarang marilah kita ikuti perjalanan Hoa Ling-ling yang hendak memburu jejak Giok-lo sat.

Sekeluarnya dari makam, ia bingung tak karuan. Kemanakah ia harus ayunkan langkah memburu jejak Giok-lo-sat? Ah.... Namun gadis yang berhati keras itu pantang mundur. Setelah menetapkan pikirannya segera ia lari menuju ketimur.

Tak berapa lama tibalah ia disebuah kota kecil.

Saat itu hari sudah petang. Lampu-lampau mulai dipasang. Ia menuju kesebuah rumah penginapan yang memakai nama Sim-an.

Tetapi bukan main kecewanya ketika melangkah kepintu penginapan ia mendapat sambutan dingin dari jongos yang menghadang diambang pintu.

“Maaf nona Kamar sudah penuh semua, silahkan mencari lain penginapan,” kata jongos itu.

Walaupun mendongkol tetapi terpaksa Ling-ling mencari kelain tempat. Tetapi dirumah penginapan kedua iapun mendapat sambutan serupa. Kamar sudah penuh semua.

“Heran, mengapa penginapan-penginapan penuh semua,” diam- diam ia membatin. Masih ia mencoba kelain penginapan. Tetapi pada rumah penginapan ketiga, keempat dan seterusnya, selalu ia mendapat keterangan kamar penuh.

Ia melangkah menyusur jalan dan tibalah disebuah penginapan yang memakai nama Lam Pak. Ia bersangsi jangan-jangan ia akan ditolak lagi. Namun dicobanya juga.

Baru melangkah kemuka pintu, benar juga si jongos sudah menghadang dipintu. “Maaf, nona. Kamar sudah penuh!”

Kali ini Ling-ling benar-benar marah, bentaknya: “Ngaco!”. ia terus melangkah masuk.

Jongos buru-buru melesat menghadang” “Harap nona auka cari lain penginapan saja” “Aku menginap disini tentu membayar. Mengapa kau merintangi? Bohong kau, kamar-kamar masih ada yang kosong!” bentak Ling-Iing.

Karena tak dapat menghalangi, jongos itu merengek-rengek meminta-minta: “Harap nona suka memberi ampun padaku, tolonglah nona. ”

Sebenarnya jika jongos itu bersikap kurangajar, Ling-ling hendak memberinya pengajaran. Tetapi demi melihat sikap orang yang meminta kasihan, Ling-ling bersangsi.

“Memberi ampun? Beritahukan apa sebenarnya !” serunya. Dengan nada tersekat-sekat jongos menerangkan: “Karena pada waktu akhir-akhir ini dikota ini terjadi beberapa peristiwa berdarah. Dan yang menjadi korban adalah orang-orang persilatan. Agar jangan sampai terlibat kesulitan maka pemilik penginapan memerintah supaya menolak orang persilatan yang hendak menginap disini.”

Diam-diam Ling-ling terkejut, tanyanya pula: “Dimana terjadinya pembunuhan itu?”

“Semuanya terjadi dihotel Sim An, tetapi ada yang terjadi... di ”

“Apakah terjadi dihotel ini?” tukas Ling-ling. Seketika merahlah wajah sijongos, ia mengangguk.

“Bagaimanakah berlangsungnya pembunuhan?”

“Korban-korban itu menginap dihotel tetapi keesokan harinya mereka sudah menjadi mayat yang tubuhnya berwarna hitam seperti kena racun,” menerangkan sijongos.

“Hm, perbuatan Giok-lo sat,” diam-diam Ling-ling berkata dalam hati. Kini mulailah ia mempersiapkan rencana untuk mencari jejak Giok-lo sat. Ia bertanya lagi: “Kapankah peristiwa pembunuhan itu terjadi?”

Jongos garuk-garuk kepala, menyahut: “Kemarin!” Tiba-tiba dari arah jalanan terdengar derap kuda mencongklang. Ling-ling berpaling. Seekor kuda tegar berbulu hitam mulus muncul.

Ling-ling terkesiap tetapi pada lain saat ia mempunyai rencana, pikirnya: “Bagus!”

Kuda hitam itu ternyata menghampiri kehotel Sim An. Ling-ling segera tinggalkan hotel Lam Pak. Dari kejauhan diam-diam ia memperhatikan perawakan sipenunggang kuda. Seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar.

Kuda hitam berhenti dimuka penginapan Sim An.

Karena dihentikan secara mendadak, kuda itu meringkik keras dan kedua kaki depan melonjak keatas. Seorang tinggi besar segera menepuk punggung kuda itu: “Binatang, jangan kurang ajar!”

Jongos berlari-lari keluar. Demi melihat seorang tinggi besar yang berwajah seram, cepat-cepat jongos itu bersenyum-senyum dan memberi hormat: “Tuan, maaf kamar disini sudah penuh semua, silahkan ... “

Belum habis ia berkata, siorang tinggi besar sudah membentaknya diserempaki dengan mengulurkan cambuknya keudara:” Tuan besar sekali sudah datang kemari, tak peduli ada atau tidak ada kamar, aku harus menginap disini!”

Jongos itu mengkerut nyalinya. Berhadapan dengan seorang tetamu yang begitu kasar, ia terpaksa mengalah.

“Silahkan masuk tuan!” katanya dengan hormat. Sekali ayunkan tubuh, sitinggi besar loncat turun dari kudanya, “Aku menghendaki kamar yang besar dan yang indah!” “Baik tuan,” sahut sijongos.

Masih sitinggi besar itu memberi perintah lagi: “Mandikan kudaku dan kasih makan yang kenyang.”

Habis berkata ia turun melangkah masuk, seakan-akan masuk kedalam rumahnya sendiri.

Jongos terpaksa melakukan perintahnya. Sambil menarik kendali kuda, ia menggerutu panjang lebar: “Jalan kesorga tak mau sebaliknya malah masuk kedalam neraka. Hm, terserah!”

Tiba-tiba telinganya terngiang oleh sebuah suara melengking tajam: “Apa maksud kata-katamu itu!”

Saking kagetnya jongos itu sampai melonjak.

Ketika berpaling, ternyata yang muncul itu ialah sinona yang pernah ditolak menginap disitu. Seketika itu pucatlah wajah sijongos, tubuhnya gemetar: “Nona, toa lihiap.... mohon kau...”

“Jawab yang benar, atau jiwamu kucabut!” “Ya... tay-lihiap...” “Apakah  hotelmu  pernah  terjadi   pembunuhan?”   Jongos  itu

mengicupkan mata, sahutnya: “Hm, yang menjadi korban adalah

seorang penjahat besar!”

“Siapakah lelaki tinggi besar yang minta menginap tadi?

Kenalkah kau?” tanya Ling-ling pula.

Jongos itu agak gugup: “Dia, dia, dia..,. Kui-kam-jin. Seorang penjahat yang termasyhur didaerah Kanglam. Gemar merampok dan merusak wanita. Penduduk memandangnya sebagai si momok. Setiap orang tentu kenal!”

Ling-ling mengangguk.

“Apakah dia tidur dikamar ruang belakang yang indah itu?” tanyanya.

Jongos mengangguk. “Baik, pergilah kau melakukan pekerjaanmu,”

akhirnya Ling-ling suruh jongos itu berlalu. Jongos-pun cepat- cepat masuk.

Malam itu gelap. Bumi seolah-olah diselimuti oleh keremangan yang pekat. Hotel Sim An merupakan losmen yang paling besar dikota kecil itu.

Malam merayapi kesunyian. Makin larut makin senyap. Hotel Sim An sunyi sekali. Hanya dengkur tetamu-tetamu tidur berkumandang ditengah kesunyian.

Lapat-lapat terdengar kentongan dipalu tiga kali. Sekonyong- konyong dikamar istimewa yang terletak di bagian belakang losmen itu, berkelebat sesosok bayangan. Dengan gerakan seringan daun kering gugur ditanah, pendatang itu tiba dimuka kamar.

Dari cahaya bintang remang yang meningkah wajah tetamu malam itu, jelas kalau seorang wanita. Seorang nona.

Nona itu mengetuk daun pintu kamar tiga kali dengan perlahan- lahan dan memanggil: “Kui kiam-jiu, mengapa kau tak lekas keluar?”

Seruan itu segera mendapat sambutan dari penghuni kamar yang melesat keluar dari jendela. Orang itu adalah sitinggi besar yang datang pada petang hari tadi.

Melihat orang sudah keluar, dengan suatu gerakan yang segesit burung walet, nona itu segera melesat kedalam ruang tengah.

Kini keduanya saling berhadapan. Sitinggi besar memandang nona itu tajam-tajam dan beberapa jenak kemudian berseru: “Giok- lo-sat, tuanmu telah lama menunggu kau!”

Nona itu tertawa mengikik, sahutnya: “Malam ini aku memang hendak menyempurnakan kau!” Jawab Kui-kiam-jiu sitinggi besar dengan nada sarat: “Selama 3 bulan ini, entah berapa banyaknya orang gagah dari dunia Rimba hijau (penyamun) yang kau binasakan. Sebenarnya kau mempunyai dendam apa dengan orang-orang gagah Rimba Hijau itu?”

Sahut nona yang dipanggil Giok-lo-sat dengan tenang: “Sebenarnya aku tak semata-mata membunuh hanya kaum Rimba Hijau saja.”

Cepat Kui-kiam-jiu menyelutuk: “Paderi Sat-sing, Serigala dari Lokyang, Liok-lim-sip-tiau. yang manakah yang bukan golongan

Rimba Hijau!”

“Jago pedang Thian-te coat-kiam bukankah juga bukan golongan penyamun!” tak kurang tangkasnya Giok-lo-sat sigadis buta menyanggapi.

“Tetapi apakah tujuanmu melakukan pembunuhan yang mengerikan itu?” tegur Kui kian-jiu. “Kau ingin tahu?” seru sinona buta.

“Ya!”

“Baik, agar kau jangan menjadi setan penasaran, akan kuberitahukan!”

Kui-kiam-jiu mendengus: “Hm, belum dapat dipastikan siapakah yang akan menjadi setan tanpa kepala malam ini!”

“Jangan banyak cakap!” bentak Giok-lo-sat, “jawablah, kenalkah kau pada seorang wanita yang bernama Pik Hay-cu!”

Serentak saat itu Kui-kiam-jiu merasa seperti disambar petir.

Wajahnya merah padam seperti piting direbus.

“Kau kenal padanya?” Giok-lo-sat mengulangi pertanyaannya pula. Walaupun nona itu melantangkan pertanyaan dengan nada yang tawar tenang, tetapi dalam pendengaran Kui-kiam-jiu seperti ayunan ujung pisau yang menggurat-gurat ulu hatinya. Tubuhnya serentak menggigil keras.

“Kau... kau...kau siapa?” tanyanya tersendat-sendat. “Giok... lo... sat... sahut sinona.

Tiba-tiba Kui-kiam-jiu berputar diri dan... loncat melarikan diri...

Kui-kiam-jiu cepat sekali gerakannya tetapi ternyata sinona buta Giok-lo-sat lebih cepat lagi: “Mau lari kemana kau!” teriaknya seraya melesat. Tahu-tahu ia sudah menghadang dimuka Kui-kiam- jiu.

Dalam keadaan terdesak, Kui-kiam-jiu menjadi nekad. Dengan tenaga penuh ia menghantam. Tetapi nona itu hanya tertawa mengikik. Sekali tangan bergerak ia gunakan dua buah jari untuk menutuk lambung orang.

Kut-kiam-jiu kaget sekali karena pukulan kedua tangannya itu seperti menyusup kedalam lautan kapas. Buru-buru ia hendak menarik pulang tangannya tetapi sebelum sempat, ia ratakan lambungnya sakit kesemutan.

“Aduh...!” ia menjerit dan rubuh ketanah!

Giok-lo-saat mendengus dingin. Diangkatnya tubuh Kui-kiam- jiu lalu dibawanya kedalam kamar dan diletakkan diatas ranjang. Kemudian nona itu mengeluarkan sebuah benda yang berwarna hitam diletakkan ditubuh Kui kiam-jiu. Berapa saat saja, tubuh Kui- kiam-jiu berobah menjadi hitam.

Setelah melihat korbannya berwarna hitam, barulah nona ini berbangkit dan menyimpan lagi benda hitam. “Hm, akan kubuat kalian menjadi setan hitam dengan racun Bak- kim!” dengusnya menggeram. Nadanya penuh dendam kebencian yang hebat.

Puas menumpahkan dendamnya, Giok-lo sat hendak berlalu.

Tiba-tiba ia membentak: “Hai, siapakah itu?”

Bentakan itu bersambut dengan melayangnya sesosok tubuh dari atas wuwungan rumah. Ah, ternyata juga seorang nona.

Belum ditegur, nona itu sudah mendahului menegur: “Giok-lo sat, sekalipun yang kau bunuh itu durjana-durjana yang wajib dilenyapkan tetapi caramu melenyapkan mereka itu kelewat ganas!”

Giok-lo-sat marah: “Apa pedulimu Siapa kau?”

“Aku orang she Hoa, namaku Ling-ling,” sahut nona itu.

“Hoa Ling-ling,” seru Giok-lo-sat dengan nada keren, “karena kau berani mengintai perbuatanku, tak dapat kubiarkan kau hidup!”

Giol-lo-sat menutup ancamannya dengan sebuah gerakan menyerang. Tetapi Hoa Ling-ling yang sudah siap, cepat-cepat loncat mundur sampai beberapa tombak, serunya: “Eh, aku tak bermaksud berkelahi dengan kau ”

“Kau mencari aku?” tanya Giok-lo-sat. “Ya.”

“Mengapa?”

“Kau kenal Ko Cian Hong?” Ling-ling balas bertanya. Mendengar nama Ko Cian Hong, Giok-lo-sat mendesis  pelahan.

Hatinya   bergolak   keras.   Tak   tahu   ia   apakah   perasaan yang

dikandungnya saat itu.

Walaupun tak dapat melihat tetapi gundu matanya berkicup- kicup bagaikan memancar getaran kasih. “Kenal,” beberapa saat kemudian ia menjawab, “gelar Giok-lo sat itu juga dia yang memberikan kepadaku, Apakah maksudmu mengatakan pemuda itu kepadaku?”

Hoa Ling-ling mendesis lirih. Ia merapikan rambutnya yang kusut tertiup angin malam. “Harap kau menolongnya!” katanya. “Menolongnya? Dia kenapa?”

“Terkena racun pukulan Khit-im-tok-hiat-ciang!” Giok-lo-sat berusaha keras untuk menekan hatinya yang bergolak. Jawabnya dengan tawar: “Tetapi aku tak mampu.”

“Kau mampu!” seru Ling-ling.

“Aku? Tidak, pukulan Khit im-tok-hiat-ciang itu merupakan ilmu pukulan istimewa yang mempunyai racun ganas tersendiri!” bantah Giok-lo-sat.

Kata Ling-ling dengan sungguh-sungguh: “Jika kau memang tak mampu menolongi ya akupun tak nanti perlu mencarimu. Ketahuilah, asal kau mau meminjamkan mustika Giok im milik Hantu-mayat, aku tentu dapat menolongnya!”

“Gioi-cu dapat menolongnya?” Giok-lo sat menegas. “Hm.”

Tiba-tiba Giok lo-sat kerutkan dahi, serunya: “Tetapi aku tak suka meminjamkan barang itu kepadamu!”

Bermula Ling-ling mengira saat ketemu Giok-lo-sat tentulah mudah meminjam mustika itu. Ia tak mengira sama sekali bahwa Giok-lo-sat ternyata menolak permintaannya.

“Dengan begitu kau tak suka menolong Ko Cian Hong?” ia menegas. Sebenarnya penolakan itu sudah cukup menyatakan pendirian Giok-lo sat. Namun walaupun dengan harapan tipis akan memperoleh jawaban lain, tetap Ling-ling mengulang lagi.

Tenang sekali Giok-lo sat menyahut: “Dia bukan anak bukan kadang dengan aku. Mengapa aku harus menolongnya?”

Setitikpun Ling ling tak menyangka bahwa Giok-lo-sat akan mengatakan kata-kata yang begitu getas. Ia kerutkan dahi: “Sesama umat manusia, wajiblah tolong menolong. Mengapa kau begitu getas...!”

Belum Ling ling berkata habis, Giok-lo-sat sudah menukas: “Dunia persilatan penuh badai angin, hujan darah. Setiap orang memiliki rasa mementingkan diri sendiri; Coba katakan, siapakah yang benar-benar rela membantu orang dengan lulus hati.”

“Jika kau tak bersikap bersahabat dengan orang, masakan mengharap orang akan membantumu!” Ling-ling mendampratnya dengan halus.

Giok-lo-sat mendengus. Sahutnya dengan nada dingin: Kepandaian yang kumiliki sukar disaingi orang. Apalagi aku memiliki mustika Bak kim dan Giok-cu. Aku tak perlu mengharap bantuan orang lagi!”

“Hm, tak kira hatimu begitu buruk...!”

“Aku tak merugikan orang dan orangpun tak merugikan aku. Aku tak suka menolong orang dan tak mengharap pertolongan orang. Inilah garis hidup yang lurus. Mengapa kau memaki-maki semaumu sendiri?”

“Bak-kim dan Giok-cu juga bukan milikmu. Kau merampasnya dari tangan sipemilik Hantu-mayat!” Giok-lo-sat tertawa mengikik: “Mustika dunia, harus dimiliki orang yang berjodoh. Hantu-mayat orang yang tak punya kepandaian, buktinya dapat kurebut. Jika kau punya kepandaian, silahkan merebut dari tanganku!”

“Perempuan hina, aku hendak meminta pelajaranmu!” Ling-lion tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi dan menutup kata- katanya dengan sebuah serangan.

Walaupun kedua matanya buta tetapi Giok-lo-sat dapat mengetahui setiap gerak serangan dari Ling-ling.

Ia loncat kebelakang lalu balas memukul dengan tangan kanan. Melihat jurus serangan Giok-lo-sat istimewa sekali, getarlah hati

Ling-ling. Berputar tubuh ia mengadakan 3 buah serangan kilat. Ia

lancarkan serangan istimewa juga. Seketika tubuh Giok-lo-sat terkurung oleh angin pukulannya.

Tetapi Giok-lo-sat sidara buta itu memang sakti sekali. Dengan gerakan yang luar biasa indah dan gesit, ia dapat menghalau serangan Ling-ling dan mendesaknya mundur.

Namun Ling-ling telah dihayati oleh dua tujuan.

Pertama, demi untuk menolong Cian Hong dan kedua kalinya karena marah melihat sikap Giok-lo-sat yang tak simpati. Walaupun tahu kalau kalah sakti, tetapi ia nekad merangsang musuh.

Giok-lo sat berputar, serunya: “Hm, tidak tahu diri. Jika dalam tiga jurus tak dapat mengalahkan kau, Giok-cu akan kuhaturkan padamu dengan kedua tanganku.”

Ling-ling kertek gigi, sahutnya: “Berani omong besar, jangan menyesal nanti!”

Nona itu dengan nekad menyerang. Dua buah serangan kilat ia lancarkan sehebat-hebatnya. Giok-lo-sat bergerak laksana bayangan. “Silahkan menyerang sepuas-puasmu!. Ia berlincahan gesit sekali dan dua buah serangan telah dihindarinya.

Kejut Ling-ling bukan kepalang. Namun hatinya tetap teguh. Dengan diiring sebuah pekikan nyaring ia lontarkan sebuah pukulan yang dahsyat. Pukulan itu diisi dengan seluruh tenaga dalamnya.

Plak ditengah kelarutan malam yang sunyi tiba-tiba terdengar

suara tamparan keras. Tahu-tahu Ling-ling merasa pipinya ditampar oleh sebuah tangan yang kuat dan terhuyung-huyunglah ia mundur beberapa langkah. Ia mendekap mukanya, menangis tersedu-sedu. Bukan karena sakitnya dipipi melainkan hatinya sakit, pedih dan geram sekali.

“Karena memandang sama-sama kaum wanita barulah kuberimu tamparan sebagai sedikit pengajaran!” seru Giok-lo-sat.

Marah dan putus asa menyebabkan Ling-ling tak dapat bicara. Giok-lo-sat mendengus hambar. Segera ia berputar tubuh hendak melesat pergi. Tiba-tiba ia berpaling dan berseru: “Tahukah kau apa sebab aku tak mau menolong Ko Cian Hong?”

“Hm, kau manusia berhati dingin. Masakan aku tak tahu!” Mendengar itu Giok-lo-sat tertawa mengekeh.

Ling-ling berhenti menangis, serunya: “Apa yang kau tertawakan? Apakah kata-kataku salah?”

“Kita adalah sesama kaum, kau tentu mengetahui perasaan hati wanita...” Giok-lo-sat menengadah memandang cakrawala, “seorang gadis yang telah memberikan hatinya kepada seorang pemuda dan cintanya itu tiada bersambut, gadis itu tentu akan mendendam kebencian!” Tanpa menghiraukan orang yang diajak bicara itu mengerti atau tidak, Giok-lo sat terus melesat pergi.

Tetapi baru melayang keluar pagar tembok, tiba-tiba nona itu membentak keras: “Hai, siapa yang berani mengintai aku!”

Diluar losmen itu ternyata sebuah rimba kecil yang disana sini ditumbuhi pohon-pohon besar. Teguran Giok-lo-sat itu mendapat sambutan sebuah tertawa tajam.

Dengan kepandaiannya Ilmu Thing-hong-pian-wi atau mendengar-angin-mengenal-tempat, tahulah Giok-lo-sat bahwa disebelah depan telah muncul seseorang.

Memang dugaannya tepat. Beberapa langkah dihadapannya tegak seorang setengah tua dalam dandanan saperti seorang sasterawan. Wajahnya mengulum senyum sinis, ia maju menghampiri lima langkah kemuka Giok-lo-sat.

“Hm, tak kira didunia terdapat seorang yang berani menyaingi sifatku berhati hitam!”

Giok-lo-sat tergetar hatinya. Kau berhati hitam atau putih, bukan urusanku. Jangan bicara semaumu sendiri ”

“Membunuh guru, merebut kitab, melakukan pembunuhan secara ganas. Masakan kau mampu menandingi kehitaman hatiku itu!” seru orang itu.

Giok-lo-sat gemetar.

“Apakah perbuatanku tidak sejajar dengan Hek sim-jin?” serunya.

Sasterawan itu terkesiap kaget: “Hai, mengapa kau tahu gelaranku?”

“Air dilaut tak mencampuri air disumur. Bagaimana aku tahu kau siapa?” balas Giok-lo-sat. “Bukankah kau menyebut aku Hek-sim-jin?”

“Kulihat sepak terjangmu serba ganas tak kenal kasihan, tidak punya peri-kemanusiaan. Kecuali manusia yang berhati Hek-sim, tentulah takkan berbuat sedemikian!”

Sasterawan itu tertawa menyeringai: “Tetapi hatimupun hitam juga!”

“Masih jauh tingkatannya!” sahut Giok-lo-sat. “Tidak!” sahut sasterawan itu, “misalnya dalam peristiwa tadi. Asal kau mau membantu tentu dapat menolong jiwa seseorang. Tetapi kau menolak getas!”

“Dia tak mempunyai ikatan budi dengan aku, mengapa aku harus menolooginya? Bukankah hal itu tak sesuai dengan hatiku yang hitam?” balas Giok-lo-sat.

Sepasang mata sasterawan itu berkilat-kilat memandang Giok- lo-sat dengan tajam. Beberapa saat kemudian ia mendengus dingin.

“Mengapa kau mendengus?” tegur Giok-lo-sat.

Jawab sasterawan setengah tua dengan nada dingin: “Jika ditilik sepak terjangmu selama tiga bulan terakhir ini, pembunuhan- pembunuhan yang kaulakukan itu mungkin lebih ganas dari tindakanku!”

Wajah sidara buta yang ayu tersembul kerut kerut kemurkaan. Serempak hatinyapun berkobar permusuhan. Namun ia berusaha keras untuk menindas perasaannya dan berkatalah dengan tawar: “Tetapi mereka memang pantas menerima nasib itu!”

Kawanan durjana dan bangsa penjahat memang harus dibasmi. Tetapi caranya membunuh mereka itu terlalu kejam sekali. Apalagi kau seorang perawan dara.”

Bagaikan lahar gunung, meletuslah kemarahan Giok-lo-sat: “Bukan tidak ada sebabnya kubunuh mereka!” “Apa? Kau mempunyai dendam dengan mereka?” sasterawan itu berteriak kaget.

“Ya, merekalah yang membuat aku sengsara dan menderita kenistaan hidup... tiba-tiba dara itu merasa kelepasan omong. Seketika ia diam.

“Dendam permusuhan apa?” desak sasterawan. “Suka? kuberitahukan!”

“Kalau begitu kau bukan termasuk orang yang berhati hitam.”

Giok-lo-sat penasaran, serunya dengan geram: “Masakan kau juga manusia berhati hitam?”

“Mengapa tidak!” tiba-tiba sasterawan setengah tua itu menghela napas. Katanya dengan nada penuh penyesalan: “Aku adalah Hek-sim-jin Thia Tat-hu! Kau tak kenal?”

Sekonyong-konyong wajah Giok lo-sat mengerut lelap, bentaknya: “Thia Tat-hu, memang sudah lama aku hendak mencarimu!”

“Mengapa mencari aku!” seru Hek-sim-jin. Singkat sekali Giok- lo sat menjawab: “Membunuhmu!”

Hek-sim-jin Thia Tat-hu tertawa mengekeh: “Kau mempunyai permusuhan?”

“Selamanya aku tak membunuh tanpa alasan!” sahut Giok-lo-sat. “Kita tak saling kenal, mengapa mempunyai dendam

permusuhan?”

Dengan murka Giok-lo-sat berseru: “Dengan menahan derita kehinaan, aku tetap bertahan hidup sampai sekarang. Tujuanku tak lain hanyalah untuk membunuhmu saja!”

Jawab Hek-sim-jin Thia Tat-hu keheranan: “Tak dapat kuingat permusuhan apa yang terjadi diantara kita!” Giok-lo-sat berteriak nyaring: “Dendam sebesar bengawan. Hinaan seluas telaga. Kau masih tak mengerti. Tak apalah. Nanti kalau sudah keakhirat boleh kau tanyakan pada raja Akhirat!”

Mendengar kata-kata sinona yang sedemikian menusuk perasaan, marahlah Hek-sim-jin: “Biasanya tanpa kenal kasihan ku- bunuh-bunuhi orang-orang yang tak bersalah padaku. Apalagi kini kau hendak membunuhku, lebih tak dapat memberimu ampun lagi!”

“Malam ini darahmu tentu akan menyiram rimba ini!” seru Giok-lo sat yang secepat kilat terus menyerang dada Hek-sim-jin.

Melihat orang menyerang dengan jurus yang amat ganas, Hek- Sim-jinpun angot penyakitnya. Ia juga mengeluarkan jurus yang istimewa.

Ditengah malam yang gelap tampak dua sosok bayangan bergulung-gulung laksana dua ekor kupu-kupu. Suara bentakan diseling deru angin pukulan, membuat daun-daun pohon yang berada disekeliling 5 tombak jauhnya berhamburan ketanah.

Yang seorang, seorang dara sakti yang tengah dilanda kebencian dendam. Yang satu seorang manusia berhati hitam yang tega membunuh guru dan merebut kitab pusaka sang guru. Keduanya saling mengeluarkan jurus-jurus yang luar biasa.

Keduanya hanya mencurahkan perhatian untuk menghancurkan lawan. Mereka tak menyadari bahwa seorang tak dikenal telah melayang turun dari sebatang pohon dan melihat pertempuran itu.

Orang itu diam-diam kagum atas jurus-jurus serangan yang digunakan Giok-lo-sat. Walaupun Hek-sim-jin dapat mengimbangi tetapi  dalam  waktu  singkat tak  mungkin  ia  dapat mengalahkan sinona, Sekonyong-konyong sepasang tangan Hek-sim-jin diangkat keatas dan didorongkan sekuat-kuatnya. Seketika itu Giok-lo-sat dihambur oleh gulung-gulung sinar hitam. Tetapi rupanya telinga sidara buta itu luar biasa tajamnya. Seolah-olah dapat melihat ancaman itu, gunakan gerak penyesat untuk menghindari, lalu balas menyerang.

Tetapi kali ini Gok lo sat berhadapan dengan seorang tokoh Hek sim-jin yang sakti, ia memberondong sinona dengan hamburan sinar-sinar hitam.

Untunglah mata Giok-lo-sat buta hingga tak gentar melihat hamburan sinar hitam. Ia terhuyung-huyung dua langkah kebelakang dan muntahkan segumpal darah segar. Buru-buru ia mengulum mustika Giok-cu kedalam mulutnya.

Mustika Giok-cu merupakan benda ajaib yang dapat menyembuhkan segala macam racun. Tak berupa lama Giok-lo- satpun pulih tenaga dalamnya.

“Thia Tat-hu, ilmumu Pukulan Hitam tak berguna malam ini!” serunya mengejek. Untuk membuktikan pernyataannya, segera ia lepaskan sebuah pukulan yang penuh tenaga-dalam.

Hek-sim-jin terkejut sekali, pikirnya: “Hm, budak perempuan ini benar-benar sakti. Karena sesuatu sebab dalam tubuhku, aku hanya dapat mempelajari ilmu Pukulan Hitam sampai tiga bagian saja. Sekalipun begitu banyak sudah jago-jago sakti yang kukalahkan. Boleh dikata selama ini tiada seorang jago persilatan yang mampu menandingi aku. Tetapi celaka, hari ini aku benar-benar ketemu batu!”

Kiranya ilmu Pukulan Hitam itu harus diyakinkan dengan cara yang istimewa. Ialah harus dipelajari oleh seorang kemudian orang itu harus menyalurkan seluruh tenaga-dalamnya kepada orang kedua. Setelah itu barulah kesaktian Pukulan Hitam dapat dikembangkan dengan sempurna.

Sekalipun hatinya gentar namun sifat-sifat congkak dan ganas dari Hek-sim-jin melarangnya pantang mundur. Dengan kedua tangannya ia berturut-turut melepaskan 7-8 serangan.

Rupanya orang yang melayang turun dari pohon tadi mengetahui tanda-tanda kekalahan Hek sim-jin sudah hampir mendekati.

“Berhenti!” tiba-tiba ia membentak keras.

Kedua orang yang bertempur itupun segera loncat mundur.

Orang itu melangkah maju dan memberi hormat. “Cujin (majikan), pertempuran baik disudahi sampai sekian saja!” kata orang itu.

Giok lo-sat mendengus dingin: “Thia Tat-hu, tidak gampang kau hendak melarikan diri!”

Hek-sim-jin mengerut bengis: “Siapa kau? Mengapa mencampuri pertempuran ini?”

Kata orang itu dengan tenang: “Masakan cujin lupa pada hamba Tio Sam si Mulut-besi?”

Hek-sim-jin memandang tajam orang itu lalu mendengus: “Aku tak peduli kau Tio Sam si Mulut-besi atau Mulut-lumpur, pokoknya enyahlah!”

Orang yang mengaku dirinya Tio Sam si Mulut-besi itu heran mengapa tuannya tak kenal padanya. Katanya: “Harap cujin suka mengingat-ingat lagi. Dua puluh tahun yang lalu hamba pernah melayani cujin belajar kitab!”

Serentak Hek-sim-jin membentak: “Aku tak kenal padamu, jangan merengek-rengek sanak kadang.” Orang itu tetap tenang. Hanya ia heran sekali mengapa Hek-sim- jin yang pernah menjadi majikannya lupa sama sekali kepadanya. Dipandangnya Hek-sim-jin dengan lamat-lamat. “Ah, benar,” katanya dalam hati, dia adalah majikanku. Mengapa lupa padaku?”

“Dahulu siang malam aku selain melayanimu, mengapa cujin lupa sama sekali?” katanya.

Giok-lo-sat sebal melihat percakapan mereka, bentaknya: “Thia Tat-hu, malam ini kita harus selesai siapa yang berhak hidup dan siapa yang harus mati...”. kata-kata itu diserempeki dengan sebuah gerak menutup kedua tangan kedada dan melangkah maju.

Tiba-tiba orang yang menyebut dirinya Tio Sam si Mulut-besi itu segera melangkah menghadang Giok-lo-sat.

“Nona, ijinkan aku berkata sepatah,” katanya.

“Lekas katakan!” jawab Giok-lo-sat ringkas. “Dia bukan Thia Tat- hu!”

Giok-lo-sat terkesiap tetapi cepat-cepat berseru: “Tidak mungkin! Dia sendiri mengaku sebagai Hek-sim-jin Thia Tat-hu, mengapa kau mengatakan bukan?”

“Nona, dia benar-benar bukan Thia Tat-hu!” seru orang itu. “Hm, kalau bukan habis siapakah dia?”

Orang yang mengaku sebagai Tio Sam si Mulut-besi itu merenung sejenak lalu berseru : “Dia ialah yang digelari orang sebagai Cian ”

Baru orang itu mengucap begitu, sekonyong-konyong Hek-Sim- jin menghantamnya: “enyah kau!”

Karena tak menyangka sama sekali bakal menerima serangan, orang yang menyebut dirinya sebagai Tio Sam itu terpental beberapa belas langkah dan membentur sebatang pohon, ia rubuh tak dapat bangun lagi...

Giok-lo-sat tertawa mengikik.

Hek-sim jin memandangnya dengan bengis: “Apa itu cujin, tuan besar Hek-sim-jin Thia Tat-hu segala macam tetek bengek. Kau hendak mengganggu aku hendak mencemoohkan namamu dengan segala macam sebutan. Ngaco belo!”

Orang yang mengaku Tio Sam itu menahan kesakitan, serunya: “Cujin, mengapa kau bersusah payah mengaku sebagai durjana?”

Dengan murka sekali si Hek-sim-jin menghampiri. “Berhenti!” tiba-tiba Giok-lo-sat berseru membentaknya.

Hek-sim-jin berpaling: “Api maksudmu mencegah aku?” “Ksatrya besar, orang gagah perwira, tak seharusnya membunuh

orang lemah yang sudah kalah dengan kita!” sahut Giok-lo-sat Hek-

sim jin malu hati. Tiba-tiba ia berputar tubuh dan batalkan niatnya hendak melabrak orang yang menyebut dirinya sebagai Tio Sam itu.

“Apakah kau sungguh-sungguh Hek-sim-jin Thia Tat-hu?” seru Giok-lo-Sat dengan rada bersungguh.

Dengan nada yang girang, menjawablah yang ditanya: “Seorang lelaki selalu tak mau mengganti nama. Hek-sim-jin Thia Tat-hu tak pernah bertindak cara gelap-gelapan. Dulu Hek-sim-jin sekarangpun tetap Hek-sim-jin. Si Tio Sam bermulut lumpur itulah yang mengaku-aku tak keruan hendak merusak namaku.”

Seru Giok-lo sat dengan nada sarat: “Jika benar-benar kau Hek- sim-jin, aku tak dapat memberimu ampun lagi!”

“Aku Hek-sim-jin masakan takut padamu!” seru Hek-sim-jin dengan murka. Kaki Giok-lo-sat berkisar dan tiba-tiba tanganpun diangkat: “Sambutlah ini!”. wut berbareng tangan memukul terdengarlah

deru angin kuat menyambar Hek-sim-jin.

Hek-sim-jin cepat-cepat menangkis. Tetapi ia rasakan angin pukulan Giok-lo-sat itu terlalu kuat sehingga ia terhuyung mundur sampai 3 langkah. Tubuhnya terhuyung-huyung.

Giok-lo-sat merangsang lagi. Dengan sekuat tenaga Hek-sim-jin lontarkan Pukulan Hitam tetapi tak mampu mencegah badai pukulan yang dilepas Giok-lo-sat.

Dalam sekejap mata pecah lagilah pertempuran dahsyat antara kedua orang itu. Mereka tetap hendak melanjutkan pertempuran yang belum selesai tadi.

Tio Sam si Mulut-besi terluka parah. Beberapa saat kemudian baru ia dapat bangkit. Rupanya ia tak sakit hati karena dipukul tuannya tadi. Bahkan ia merasa gelisah atas keadaan tuannya yang mulai terdesak lawan itu.

Pelahan-lahan ia menghampiri. Rupanya ia hendak memberi bantuan kepada Hek-sim-jin. Tetapi deru angin dahsyat dan kedua tokoh yang sedang bertempur mati-matian itu merupakan lingkaran baja yang menghalangi ia maju.

Sekonyong-konyong terdengar lengking teriakan nyaring dan tubuh Hek-sim-jin bagaikan sebuah bola melayang keudara. Bum..... Hek-sim-jin jatuh beberapa tombak jauhnya....

Dengan cemas Tio Sam bergegas-gegas lari menghampiri untuk memberi pertolongan. Tetapi ia kalah cepat dengan Giok-lo-sat yang sekali loncat sudah tiba dihadapan Hek-sim-jin. Tangan nona buta itu menggenggam Bak-tim, benda beracun yang paling ganas didunia. Dipandangnya wajah Hek-sim-jin lekat-lekat, serunya: “Akan kusuruh kau menikmati betapa rasanya benda ini!”. Cet, secepat kilat ia segera susupkan Bak-kim kemulut Hek-sim jin.

“Kau, kau ganas sekali!” Hek-sim jin menggeliat dan mendampratnya.

Giok-lo sat menarik kembali Bak-kim, katanya dengan geram: “Kubunuhmu bukanlah sukar. Pek Hay-cu, kau kenal padanya?”

Wajah Hek-sim jin berobah seketika, serunya kaget: “Kau... kau...

kau ”

Pada saat Hek-sim-jin tergagap-gagap, Giok-lo-sat sudah ayunkan tubuh melesat beberapa tombak. Terdengar ia tertawa nyaring, makin lama makin jauh....

Saat itu si Tio Sampun sudah tiba disamping Hek-sim-jin.

Tampak wajah Hek-sim-jin mulai berwarna hitam.

“Cujin, mengapa kau bersusah payah mengaku sebagai durjana Hek-sim-jin!” seru Tio Sam dengan sedih.

Saat itu Hek sim-jin sedang pejamkan mata menyalurkan peredaran darah. Mendengar seruan Tio Sam, ia segera membuka mata.

“Kau siapa? Mengapa tak henti-hentinya menyebut aku sebagai tuanmu!” serunya dengan geram.

Tio Sam si Mulut-besi setengah merintih berkata: “Cujin, kau ”

“Aku terang Hek-sim-jin, mengapa kau selalu...” belum habis Hek-sim-jin berkata ia pingsan. Hawa amarah telah menyerang hulu hati dan membeku. Ditambah pula dengan racun Bak-kim yang mulai bekerja, gemetarlah tubuhnya dan ia jatuh pingsan tak ingat diri lagi! Dengan mengerahkan sisa tenaganya, orang yang menyebut dirinya Tio Sam si Mulut-besi itu segera mengangkat tubuh Hek Sim jin. Dengan langkah terhuyung-huyung ia membawanya kedalam hutan.

Fajar mulai menebar, menyibak kegelapan malam. Tiba-tiba dari balik sebatang pohon besar, muncul seorang gadis muda, itulah Giok-lo-sat. Rupanya dia belum meninggalkan tempat itu.

Tergerak hatinya melihat perbuatan orang yang mengaku sebagai Tio Sam si Mulut besi, katanya seorang diri: “Ah, benar- benar seorang bujang setia!”

Masih ia tak mengerti mengapa bujang yang menyebut diri sebagai Tio Sam si Mulut besi itu menyatakan Hek sim jin majikannya. Dan menurut keterangan bujang itu, Hek-sim-jin itu ternyata bukan Hek-sim jin yang aseli..

Antara kedua orang itu timbul perselisihan. Tio Sam mengaku Hek-sim-jin itu tuannya tetapi Hek sim jin merasa tak kenal dengan si Tio Sam. Bukankah suatu keganjilan?

Tetapi akhirnya Giok-lo-sat membuang hilang peristiwa- peristiwa aneh itu.. menganggap hal itu tak ada hubungan dengan dirinya.

“Aku harus melanjutkan pembunuhan sampai kawanan manusia-manusia itu lenyap didunia!” akhirnya ia menetapkan keputusan.

Segera ia ayunkan langkah menyongsong mentari pagi yang telah menembus halimun pagi. Ia terkesiap dan berhenti. Walaupun buta tetapi ia merasa silau juga terkena sinar matahari.

Pada lain saat ketika ia hendak melanjutkan perjalanan tiba-tiba sesosok bayangan melayang diudara. “Tunggu dulu nona!” Demi mendengar suara orang itu, tergetarlah hati Giok-lo-sat. Walaupun ia tak dapat melihat namun telinganya tajam sekali. Tentulah segera ia tahu siapa pendatang itu.

Tetapi cepat sekali Giok-lo-sat menekan getaran hatinya dan berseru dengan nada dingin: “Bukankah kau ini Ko sauhiap, Ko Cian Hong?”

Memang pendatang itu bukan lain adalah Ko Cian Hong yang menderita pukulan beracun Khit-im-tok-hiat-ciang dari Sin-ciu-it- kiam. Pemuda itu loncat kehadapan Giok-lo-sat. Wajahnya tampak pucat lesi.

“Benar, aku Ko Cian Hong,” serunya.

“Perlu apa kau memanggil aku?” tegur Giok-lo-sat dengan nada tawar.

Cian Hong kerutkan dahi: “Hatimu yang hitam, sepak terjangmu yang ganas, benar-benar membuat orang menggigil ngeri!” geram Cian Hong.

“Itu bukan urusanmu!” jawab Giok-lo-sat. “Jika nona hanya karena hendak mengisi nama Giok-lo-sat supaya benar-benar sesuai lalu bertindak menggegerkan dunia persilatan, tak boleh tidak aku terpaksa bertanya!” kata Cian Hong.

Jawab Giok lo sat: “Tiga bulan yang lalu, memang segala sepak terjangku kutujukan untuk mengangkat nama itu. Tetapi setelah itu pembunuhan yang kulakukan terhadap beberapa durjana itu, sama sekali bukan karena mencari kemasyhuran nama!”

Cian Hong terkesiap.

“Kalau begitu, tindakan nona sekarang ini mempunyai lain tujuan lagi,” seru Cian Hong.

Giok-lo-sat mengangguk. Tetapi kerut wajahnya menampilkan kegelisahan dan kerawanan. “Apakah kau mempunyai permusuhan dengan mereka?” tanya Cian Hong heran.

“Permusuhan? Tidak!” sahut Giok-lo-sat. Cian Hong meregangkan alis, serunya dengan dingin: “Kau...”

Giok-lo-sat cepat membentaknya: “Hal ini menyangkut suatu hinaan besar. ” ia berputar tubuh membelakangi Cian Hong. Diam-

diam ia mengusapkan ujung baju kematanya yang bercucuran air mata.

“Aku akan membunuh orang supaya benar-benar layak menjadi seorang durjana wanita yang bergelar Giok-lo-sat,” ujarnya geram.

Mendengar itu menggigillah hati Cian Hong, ujarnya dalam hati: “Hm, benar-benar berbahaya sekali angan-angannya itu!”

“Beberapa tahun terakhir ini tak seorangpun yang memperhatikan diriku. Dunia ini hampa bagiku. Tak pernah aku mendapat kasih sayang orang. Dan akupun memang tak mengharap orang akan mencintaiku. ”

“Kau salah nona. Didunia ini kita dapat memperoleh kasih sayang dimana-mana ” buru-buru Cian Hong menghiburnya.

Tiba-tiba Giok lo sat berputar tubuh menghadapi Cian Hong lagi, serunya: “Kasih sayang? Apa perlunya kasih sayang. Hidup tanpa menikmati cinta, hanyalah seperti ikan tanpa air atau burung yang kehilangan kebebasannya. Apakah artinya hidup begitu?”

Ketika memandang akan kecantikan Giok-lo-sat yang sedemikian menonjol, diam-diam Cian Hong tergetar hatinya.

“Enyahlah kau, enyahlah yang jauh!” tiba-tiba Giok-lo-sat memekik keras.

“Nona, harap tenangkan hatimu ” bujuk Cian Hong dengan iba. “Sudah cukup aku hidup dalam kesunyian dan kegelapan. Jika kau tak mau pergi terpaksa akan kubunuhmu juga!” teriak Giok-lo- sat seperti orang kalap.

Sudah tentu Cian Hong makin tak mau pergi. Dan memang tujuannya mencari Giok lo-sat itu ialah hendak meminta kembali mustika milik Hantu-mayat yang dirampas nona itu. Saat itu luka dalam tubuh Cian Hong mulai terasa. Dahinya mengucurkan butir- butir keringat sebesar kedele.

Mengapa Cian Hong tahu-tahu dapat menyusul Giok-lo sat kesitu? Bukankah ia dalam keadaan tak sadar sejak menerima pukulan Khit-im-tok-hiat-ciang?

Kiranya setelah diminumi pil Siok-beng tan oleh Kang ou jo li, serta  disaluri  tenaga-murni  oleh  wanita  itu,  Cian  Hong  dapat tersadar. Tetapi jiwanya hanya dapat hidup tak lebih dari 12 jam.....

“Kau, kau benar-benar tak mau enyah?” bentak Giok-lo sat dengan bengis. Secercah keangkuhan gadis itu, membertik dalam sanubarinya.

Dan sampai saat itu, Cian Hong masih sungkan untuk mengutarakan maksud kedatangannya kepada nona itu. Ia berkomak-kamik hendak bicara tetapi sepatahpun tak dapat mengeluarkan kata-kata.

“Kalau hendak omong, lekas katakan atau segera kugebahmu pergi!” kembali Giok-lo-sat berseru dingin.

Merahlah wajah Cian Hong.

“Aku hendak meminjam mustika Giok-cu pada nona,” akhirnya Cian Hong memberanikan diri berkata.

“Takkan kupinjamkan padamu!” kata Giok lo-sat dengan getas.

Mau tak mau Cian Hong terkesiap juga mendengar perkataan begitu getas. Rasa malu membakar mukanya. “Apakah nona benar-benar tak mau memberi pinjam?” serunya dengan nada keras.

“Masakan tak meminjamkan ada yang tak sungguh-sungguh?” lengking Giok-lo-sat.

“Mustika Giok-cu dan Bak-kim itu adalah milik supehku (paman guru). Bagaimana nona hendak mengangkanginya?” seru Cian Hong.

“Benda itu memang ada padaku. Apa kau mampu merebutnya?” ejek Giok-lo-sat.

“Kalau terpaksa, apa boleh buat!” sambut Cian Hong.

Giok-lo-sat tertawa hina: “Kepandaian yang kau miliki, masih jauh dari kurang!”

Seketika berobahlah wajah Cian Hong, serunya: “Sekalipun bukan tandingan nona, namun aku tetap hendak mencobanya. Harap nona menerima seranganku ini!”. Cian Hong menutup kata- katanya dengan sebuah gerakan memukul dengan tangan kanan.

Gok-lo-sat menghindar lalu balas memukul. Cian Hong kagum- kagum heran atas gerakan sinona yang luar biasa anehnya. Namun dia juga seorang pemuda yang keras kepala. Dengan sepenuh tenaga, ia lancarkan jurus Membelah-langit-menutup bumi yakni jurus yang istimewa dari ilmu Pukulan Hitam.

Angin menderu keras, menggoncang-goncangkan rambut Giok- lo-sat. Tiba-tiba nona itu melengking: “Kau cari mati!” Cian Hong rasakan pandangannya gelap dan tahu-tahu siku lengannya dicengkeram Giok-lo-sat. Cian Hong tersipu-sipu malu. la menghela napas dan tundukkan kepala.

Giok-lo-sat mendengus dan lemparkan tangan sipemuda: “Enyahlah!” Cian Hong terhuyung-huyung sampai 4-5 langkah. Malunya bukan kepalang.

”Ksatrya sedia dibunuh tetapi jangan dihina. Bunuhlah aku...”
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pukulan Hitam Jilid 09"

Post a Comment

close