Pukulan Hitam Jilid 07

Mode Malam
Jilid ke 7

AKU tak sudi mengotori tangan!” terang-terang Sin-ciu-giam- ong menyahut.

“Aku kepingin mengganyang dagingmu, meminum darahmu!” “Sayang kau akan mati didepanku,” sahut Sin-ciu-giam-ong.

Cian Hong kerutkan alis: “Bunuhlah aku! Kalau tidak, asalkan bisa hidup tentu kau tak dapat tidur tenang selama-lamanya!”

Sin-ciu-giam-ong mendengus dingin: “kematianmu hanya menunggu saat saja. Tetapi takkan kubiarkan kau mati secara begitu sederhana. Sebelum mati kau harus menderita siksaan dulu.”

“Ting Kay-Ih, aku bersumpah tak mau hidup sekolong langit dengan kau!” teriak Cian Hong. “Hm, hm, murid Malaekat-elmaut, aku sudah sejak dulu tak mau hidup dalam satu dunia dengan gurumu!” dengus Sin-ciu-giam-ong.

“Kelak akupun juga takkan membiarkan kau hidup...”

“Kelak? Lucu!” ejek Sin-ciu-giam-ong. Kemudian ia berpaling kepada kedua setan kecil: “Jebloskan dia kedalam kamar nomor 7!”

Kedua setan itu mengiakan lalu menggusur Cian Hong kedalam sebuah kamar gelap. Sambil mendorong tubuh Cian Hong, berserulah setan kecil: “Mengasohlah baik-baik!”

Bluk, Cian Hong jatuh dilantai, ia tak punya tenaga sama sekali.

Hanya helaan napas panjang yang dihembuskan..... Tiba-tiba terdengar desis suara orang berseru parau-parau lantang: “Hm, perlu apa menghela napas panjang pendek. Kecewa kau mempunyai nasib yang luar biasa!”

Cian Hong terkejut bangun: “Siapa?” tegurnya.

Sekeliling ruang sunyi senyap. Dinding lembek membisu dingin. Tiada tampak suara seseorang. “Hai, apakah pikiranku kacau sendiri, melamun yang tidak?” diam-diam Cian Hong membatin.

Tetapi tiba-tiba suara parau itu terdengar pula: “Kau takut?”

Kali ini Cian Hong tak ragu-ragu lagi. Dia dapat membedakan arah suara itu berasal dari sebelah kanan. Dihampirinya sudut kamar, serunya: “Siapa yang berada dikamar sebelah?”

“Jangan pedulikan siapa aku! Orang yang dijebloskan dalam Neraka sini, tiada yang tahu kapan jiwanya melayang! Setiap detik, setiap saat jiwa kita direnggut maut... !”

“Neraka...,” Cian Hong gelagapan tersadar, “benarkah disini Neraka? Kalau begitu sakit-hati yang hendak kutuntut itu akan kandas selama-lamanya?”

“Bocah yang tak berguna!” suara parau itu memaki.

“Kau memaki aku?” Cian Hong terbeliak. “Siapa lagi kalau bukan kau!”

“Mengapa kau memaki aku tak berguna?”

“Disini bukan neraka sesungguhnya, mengapa kau patah semangat? Orang kuno menyatakan. 'barang siapa ketakutan, seperti sudah mati jiwanya'. Kau pun rupanya sudah mati jiwamu!”

Dampratan orang itu membangkitkan semangat Cian Hong. Serentak ia teringat akan peristiwa yang dialaminya ketika di Neraka lapis-kesatu berjumpa dengan hantu-hantu perempuan dan bagaimana tadi tahu-tahu tenaganya hilang sama sekali. Hal itu jika bukan perbuatan bangsa hantu setan, masakan manusia dapat berbuat begitu?

“Benarkah bukan neraka sesungguhnya? Tetapi mengapa segala apa terjadi secara mengherankan,” katanya.

“Itu kan perasaanmu sendiri yang tak sadar,” suara parau mendengus dingin.

Cian Hong segera menceritakan bagaimana ia kehilangan tenaganya tadi.

Orangtua itu tertawa gelak-gelak: “Segala dongeng setan ijajil itu hanya ilmu Hitam. Kau kena dikelabuhi!”

“Dikelabuhi?” Cian Hong terbeliak. “Kau kena hawa Jwan-khi!”

“Hawa Jwan-khi?”

“Benar! Bukankah pada waktu masuk kedalam tempat ini kau terbaur semacam angin berhawa dingin?” Diam-diam Cian Hong terkejut. Teringatlah bayangan dari Yu-leng-li-kui (gadis bayangan) yang terselubung diatas sutera putih. Ah, tentulah itu hanya semacam ilmu sihir untuk menggertak orang.

“Lo cianpwe,” katanya kepada orangtua itu, “aku mohon bertanya.” “Katakanlah!”

Cian Hong segera menuturkan pengalamannya ketika masuk kedalam Neraka-lapis kesatu.

“Ah, itupun hanya semacam ilmu sihir saja,” orang tua tertawa. “Sihir?” Cian Hong menegas.

“Hm, ilmu itu disebut Ciat-hun-ih-ing (pinjam nyawa memindah bayangan). Bukan suatu ilmu yang mujijat!” Cian Hong terkejut atas luasnya pengalaman orangtua itu. Tetapi diam-diam ia heran mengapa dia (orangtua) dapat dijebloskan dalam neraka disitu.

“Aku kagum sekali atas pandangan locianpwe yang teramat luas. Maukah lo-cianpwe memberitahu gelaran lo-ciaopwe yang mulia?”

“Perlu apa banyak tanya,” sahut orangtua itu dengan dingin.

Cian Hong terbelalak. Diam-diam ia memaki orangtua yang beradat aneh itu. Naman keinginannya mengetabui orangtua itu tetap menggelora, ujarnya: “Ah, lo-cianpwe tentu sudah berusia tinggi?”

“Apa pedulimu aku berumur berapa!” kembali orangtua aneh itu menyelutuk.

Sekalipun beberapa kali terbentur tembok, namun Cian Hong pantang mundur, serunya pula: “Menilik pengalaman lo-cianpwe yang sedemikian luasnya, lo-cianpwe tentu memiliki kepandaian yang sakti. Tetapi sungguh tak habis heranku mengapa locianpwe berada ditempat semacam ini!”

Kali ini membentaklah orangtua itu dengan marah: “Aku senang kemana saja tentu pergi kemana. Siapapun tak dapat menghalangi!”

“Oh, lo-cianpwe datang kemari atas kehendak lo-cianpwe sendiri?” Cian Hong terkejut.

Sahut orangtua aneh itu: “Jika aku tak masuk ke neraka, siapakah yang akan memasuki? Aku senang mencoba kehidupan dineraka, siapapun tak dapat menghalangi kedatanganku!”

Cian Hong tertawa meringis. Beberapa saat kemudian, ia hendak bertanya lagi tetapi didahului siorangtua: “Jangan banyak tanya, tidurlah! Pulihkanlah semangatmu supaya segar untuk menghadapi hukuman besok pagi. Kau harus dapat bertahan atau kau nanti akan menderita nasib ngeri selama-lamanya!” “Hukuman? Apakah besok pagi bakal dilaksanakan hukuman kepadaku?”

Tetapi pertanyaan Cian Hong kali ini tiada berbalas.

Orangtua itu diam saja. Sampai beberapa kali Cian Hong mengulangi, pun tiada penyahutan sama sekali.

Terpaksa ia keluar dari terowongan itu dan kembali kedalam ruangnya lalu berbaring ditempat tidur. Namun tak dapat matanya dibawa tidur. Pikirannya penuh dengan berbagai persoalan. Dan sekilas terbayanglah bayang-bayang yang mengerikan.

Besok pagi akan menerima hukuman berat! Dan saat itu tenaganya punah sama sekali. Keadaannya tak ubah seperti orang biasa saja. Dendam sakit hati ayah dan gurunya masih belum dapat dihimpaskan. Adakah ia ditakdirkan harus mati ditempat celaka itu?

Cian Hong menghela napas panjang.....

Tiba-tiba terdengar gemerincing suara tertawa. Cian Hong serentak loncat bangun.

“Siapa!” serunya.

Dari arah belakang terdengar penyahutan ringan: “Aku!”

Cian Hong berputar tubuh dan tampaklah sebuah bayangan langsing diatas tembok. Amboi. itulah gadis bayangan Yo-leng-li-

kui yang dijumpainya ketika di Neraka satu lapis.

“Masakan kau tak kenal padaku?” gadis bayangan itu melengking demi melihat Cian Hong kesima. “Masakan aku lupa pada bayangan nona,” jawab Cian Hong dingin-dingin.

“Tetapi apakah kau masih ingat akan perjanjian kita?” seru orang aneh itu pula. “Apa yang telah kujanjikan pada orang tentu takkan kutarik kembali,” jawab Cian Hong “Tetapi apakah kau yakin dapat melaksanakan omonganmu itu?” kata sinona lebih lanjut.

Cian Hong terkesiap. Kepada nona itu ia telah berjanji. Dalam waktu satu tahun tentu dapat mengambil kitab Pukulan Hitam untuk diberikan kepada sinona. Tetapi saat ini ia terkurung dalam neraka maut. Bagaimana ia dapat melaksanakan janjinya? Bahkan bagaimana nasibnya besok pagi, ia masih belum tahu.

Merenungkan hal itu, Cian Hong menunduk diam.

“Eh, apakah kau bermaksud hendak mengingkarinya?” tegur sinona bayangan.

“Aku bukan manusia macam begitu!” seru Cian Hong dengan geram.

“Tetapi keselamatan jiwamu sukar...”

“Kau kira aku akan dikerem selama-lamanya disarang hantu ini?”

“Kau mampu keluar dari sini?”

“Aku tak berani memastikan. Tetapi percayalah, setelah aku dapat lolos dari tempat celaka ini, tentu kuusahakan sekuat tenaga untuk melaksanakan perjanjian kita. Akan kuhaturkan kitab itu kepadamu!” kata Cian Hong.

Dengus sigadis bayangan: “Tetapi kalau tak beruntung, kau akan kehilangan jiwa disini!”

Jawab Cian Hong dengan angkuh: “ Apa boleh buat kalau memang nasibku begitu. Kalau sampai begitu, masakan kau masih memaksa aku supaya memenuhi janji?” “Tentu saja aku bukan manusia yang sekejam itu,” sigadis bayangan menyelutuk, “tetapi kuharap perjanjian itu agak dirubah!”

“Apa? Kau hendak merubah...”

“Jangan tegang dulu! Perubahan itu menguntungkan kau.”

“Ada perubahannya?” seru Cian Hong. “Maksudku kalangannya diperluas sedikit, tidak terbatas hanya kitab Pukulan hitam saja!” “Bagaimana caranya?”

Bukan menyahut, gadis-bayangan Yu-leng-li-kui malah balas bertanya: “Tahukah kau tentang 3 kitab pusaka didunia?”

“Tahu,” jawab Cian Hong. “Kitab Kuning, kitab Tanpa-tulisan dan kitab Pukulan Hitam, 3 buah kitab pusaka didunia!”

“Asal dapat mengambilkan salah sebuah dari kitab itu untukku, bolehlah sudah!” kata Yu-leng-li-kui.

“Mengapa?”

Yu-leng-li-kui terbeliak. Rupanya ia tak mengira akan menerima pertanyaan begitu. Tetapi secepat itu ia segera tertawa hambar, serunya: “Kurasa nilai ketiga kitab itu berimbang maka jika bisa mendapat salah satu, cukuplah sudah. Dan lagi hal itu melonggarkan bebanmu.

“Hanya begitu, tak ada alasan lain?” tanya Cian Hong. “Ya, hanya begitu!”

Cian Hong maju dua langkah.

“Jangan dekat-dekat kesini!” bentak Yu-leng-li-kui. Cian Hong tertawa dingin: “Biarlah aku berada didekatmu, maukah?”

“Ngaco!” bentak Yu-leng-li-kui dengan murka, “Setan dan manusia berlainan dunianya, jika kau tetap hendak mendekati, jangan salahkan aku kalau kau kubunuh. ” Cian Hong tetap tertawa: “Belum tentu!”

Ia tetap maju selangkah dan kini tinggal berapa langkah dari gadis bayangan itu.

“Berhenti!” bentak Yu-leng-li-kui dengan makin gugup, “maju selangkah lagi, tentu kubunuh!”

“Jangan membohongi hatimu!”

“Kuingatkan sekali lagi manusia dan setan kalau bertempur, ibarat telur diadu batu!”

“Setan? Hm, kau setan?” dengus Cian Hong, “jangan bermain sandiwara lagi!”

“Ketahuilah, aku adalah penguasa Neraka lapis kesatu...” “Yu-leng-li-kui!” tukas Cian Hong.

“Kalau sudah tahu jangan memikir yang tidak-tidak!” jawab Yu- leng-li-kui.

“Apakah benar neraka itu ada?”

“Apa yang diajarkan dalam agama, masakan bohong!”

“Tetapi kalau memang benar ada neraka, tempatnya tentu bukan disini. Tak ada yang disebut Neraka-lapis-kesatu, lapis kedua. Yang ada tentulah hanya dunia dan neraka saja!” seru Cian Hong Yu-leng- li-kui terkesiap: “Kau tak percaya? Lihat-lihatlah bagaimana gerakanku, bukankah tak mungkin dilakukan oleh manusia hidup? Jika bukan bangsa setan masakan aku mempunyai kesaktian semacam itu?”

Cian Hong tertawa gelak-gelak: “Jangan coba main sulap!” “Sulap?”

“Kau kira aku tak tahu? Ilmu yang kau pertunjukkan itu disebut Ciat-hun-ih-ing!” seru Cian Hong. Saking kejutnya Yu-leng-li-kui sampai menggigil.

Beberapa saat ia tak dapat bicara, “Mengapa kau tahu?” serunya. “Ilmu tak berarti semacam itu masakan dapat mengelabui aku!”

sengaja Cian Hong mengejek. “Jangan sombong...”

“Turunlah dan mari kita bercakap-cakap!”

Yu-leng-li-kui merenung sejenak lalu mengiakan: “Baik, aku akan keluar menjumpaimu!”

Ucapan itu ditutup dengan berkelebatnya bayangan sinona yang lenyap seketika.

“Hai, dimana kau?” seru Cian Hong.

“Masakan kau tak tahu,” tiba-tiba terdengar Yu-leng-li-kui berseru disebelah belakang.

Cian Hong berputar tubuh. Diluar terali besi kamarnya, Cian Hong melihat seorang nona berdiri.

Wajahnya cantik, sepasang matanya berpengaruh, sikapnya mempesonakan. Makin memandang, makin kesengsemlah hati Cian Hong, pikirannya mulai bergelora....

“Hai, mengapa aku memikirkan hal-hal yang tak patut?” tiba- tiba Cian Hong tersadar dan diam-diam memaki dirinya. Segera ia teguhkan pikirannya “Hm, daripada menyaru jadi setan jejadian, kan lebih baik berhadapan sebagai manusia biasa?” serunya.

“Manis benar mulutmu tetapi belum tentu hatimu memikirkan seperti yang kau katakan,” sindir sinona.

“Apa yang diunjukkan sikap lahir adalah mewakili isi hati. Aku bukan manusia yang lain dihati lain dimulut!”

“Mudah-mudahan,” tukas Yu-leng-li-kui, “kuharap kau tak dapat memperoleh salah satu dari ketiga kitab pusaka itu!”“

“Aku takkan ingkar janji kepadamu!” “Tidak! Kau masih mempunyai jalan kedua!” seru sinona.

Cian Hong terbelalak. Teringat ia kalau dalam perjanjian disebutkan. Jika ia gagal mendapatkan salah satu dari kitab pusaka itu, dia harus menikah dengan nona itu. Tetapi apakah hal itu mungkin? Tanpa disadari, dipandangnya pula Wajah nona yang mempesonakan itu...

Byar. tiba-tiba benaknya menghambur buyar. Serentak wajah

ibunya Kang-ou-bi-jin dan Malaekat-elmaut terbayang-bayang. Seketika tersedutlah api dendam kebencian dihatinya.

“Jangan melantur?” serunya kepada sinona.

“Tentu saja aku tak dapat memaksamu,” kata Yu-leng-li-kui dengan rawan, “tetapi sejak pertama kali aku ketemu, wajahmu

telah melekat disanubariku. Jangan-jangan asmara makin menjerat erat kalbuku. ah, tak perlu kukatakan!”

Mendengar pengakuan sinona, bergolaklah hati Cian Hong.

Sampai beberapa saat ia tak dapat bicara.

“Kut ahu bahwa asmara tidak dapat dipaksakan!” kata sinona pula, “walaupun betapa besar kasihku kepadamu, namun tampaknya setitik pun kau tak mempunyai perasaan itu. Aku tak dapat memaksamu. Tak apalah, biar aku sudah mencurahkan apa yang terkandung dalam hatiku. ”

Mau tak mau terketok juga hati Cian Hong melihat sikap sinona yang sedemikian merawankan.

Jika tidak karena terbakar oleh dendam sakit-hati, mungkin ia tentu tak dapat bertahan diri lagi.

Saat itu beberapa bayangan berlalu lalang dibenak Cian Hong....

Dara cantik bermata buta Giok-lo-sat yang berwajah dingin membeku.   dara ayu yang berwajah rawan Ping-sim-sian-cu Leng- hou Ling.....gadis elok yang berhati ganas Hai-gwa-it-kiau Siangkwan Hoa-kun....

dan masih seorang pula yakni sidara sebatang kara Hoa Ling- ling....

Dara-dara ayu itu berkecimpung dalam lubuk hatinya. Ia merasa selama itu belum pernah mengucapkan suatu apa kepada mereka tetapi wajah mereka selalu terbayang didalam hati. Adakah ia mencintai mereka? Entahlah, ia tak tahu...

Yang nyata pada saat itu, ia terketuk hati mendengar curahan kalbu dari Yu-leng-li-kui.

Dan tak lagilah ia seketus tadi ketika berkata kepada Yu-leng li kui: “Isi hati nona telah kuketahui, tetapi aku seorang loia (sebatang kara) yang mengembara tiada tempat menentu. Masakan berharga nona cintai?”

“Entahlah, tetapi aku tak dapat menindas perasaanku. ” sahut

Yu-leng-li-kui, “apalagi, ya apalagi kau adalah murid Malaekat elmaut...” tiba-tiba ia berhenti seperti telah kelepasan omong. Untung Cian Hong tak begitu memperhatikan.

“Silahkan nona pergi! Jika memang berjodoh, kelak kita pasti dapat berjumpa lagi,” kata Cian Hong.

“Baik, aku hendak berlalu,” kata sinona.

Tetapi baru tiga empat langkah, ia berpaling lagi: “Tidak, aku hendak menolongmu keluar dari sini!” “Menolong aku?” Cian Hong terkejut. Yu-leng-li-kui mengiakan.

“Tidak, terima kasih atas kebaikanmu!” diluar dugaan Cian Hong menolak.

“Meskipun kau tak mencintai aku, namun aku tetap cinta padamu! Tak dapat aku membohongi diriku. Takkan kubiarkan kau mati disini!” “Aku lebih suka mati begini. ”

“Eh, apakah kau melupakan dendam sakit hatimu?” tegur sinona serempak.

“Tetapi aku sudah tak berdaya!”

“Fui, kau sudah loyo tak punya semangat lagi, sungguh tak nyana!” bentak Yu-leng-li-kui.

“Tidak, aku bukan loyo. Tetai aku terkena racun Jwan-khi (pelemas urat). Tenagaku punah, aku tak beda seperti orang biasa lagi. Bagaimana aku mampu melaksanakan sakithatiku?”

“Oh, kiranya begitu. Benarkah tenagamu lenyap?” seru sinona. Cian Hong mengiakan.

“Cobalah kau salurkan tenagamu,” kata sinona. Dengan setengah bersangsi, Cian Hong menyalurkan tenaga pernapasannya. Hai.. mengapa tenaganya menyalur lagi seperti sediakala?

“Bagaimana ini?” teriaknya girang sekali.

Yu-leng-li-kui menerangkan: “Sebenarnya tidak ada yang perlu diherankan. Memang racun Jwan-khi dapat melenyapkan tenaga orang tetapi kekuatannya hanya tiga jam saja. Setelah tiga jam, tenaga orang akan pulih kembali.”

Kini Cian Hong baru mengerti.

“Akan kuambilkan kunci untuk membebaskan kau!” kata sinona pula seraya terus berlalu.

Cian Hong memandang bayangan nona itu dengan terlongong- longong. Saat itu jaring-jaring asmara mulai menebar dihatinya.

Tiba-tiba orang tua bernada parau yang berada disebelah kamar terdengar berkata pula: “Bagus budak, rejekimu sungguh besar!”

Cian Hong gelagapan: “Ah, janganlah lo-cianpwe menertawakan!” “Menertawakan? Sebenarnya ingin sekali aku tertawa tetapi perlulah kiranya kuperingatkan padamu.

Jangan sekali-kali kau terpikat oleh rayuan budak perempuan itu. Kalau kau tak mendengar nasehatku, kelak kau tentu menderita sendiri!”

“Sakit hati belum terhimpas, bagaimana aku hendak bersenang- senang main cinta!”

“Begitulah hendaknya!”

Sekalipun mulut memberi pernyataan garang tetapi diam-diam hati Cian Hong bergolak sendiri. Pikirannya: “Yu-leng-li-kui begitu baik kepadaku. Andainya tak mencintainya, paling tidak jangan sampai melukai hatinya!”

Segera Cian Hong alihkan pembicaraan, tanyanya: “Apakah lo- cianpwe tak sudi memberitahukan nama lo-cianpwe yang mulia?”

“Tak usah!” sahut siorangtua. Cian Hong terkesiap.

“Tetapi jika kau suka mendengarkan, akan kututurkan sebuah cerita yang aneh dan menyedihkan,” kata siorang tua pula.

Cian Hong terkejut. Perhatiannya tertarik sekali demi mendengar ucapan siorang tua. Serentak ia menyatakan suka mendengar.

“Baik, tetapi ada sebuah syarat!” kata siorangtua. “Syarat?” Cian Hong heran. Bukankah orang tua itu sendiri yang menawarkan? Mengapa sekarang mengajukan syarat?

Kata orangtua itu pula: “Mudah sekali syarat itu. Kau tak boleh menceritakan pada siapapun juga ceritaku ini!”

Diam-diam Cian Hong menghela napas longgar, syarat yang semudah itu, tentu saja ia sanggup memenuhi. “Tampaknya syarat itu mudah tetapi harus kau timbang dulu semasak-masaknya dapat tidaknya kau menerima. Karena sesuatu hal, mudah menyanggupi tetapi sukar melaksanakan!” kata siorang tua pula.

Setelah merenung sejenak, Cian Hong menyahut: “Baik, aku tentu menyimpan rahasia itu dengan rapat!”

“Baik, aku percaya pada janjimu,” kata siorangtua. Dan mulailah ia bercerita....

“Dahulu   dunia   persilatan   pernah   timbul   dua   buah   partai persilatan.  Yang  satu  partai  Te-hu-pay  (partai  Neraka)  dan  yang satu Thian-tong-pay (partai Nirwana). Dalam waktu 10 tahun saja, kedua  partai  itu  telah  menggemparkan  seluruh  dunia  persilatan. Yang hendak kuceritakan ialah tentang Te-hu-pay.  ”

“Lo-cianpwe, Te-hu-pay apakah bukan Neraka dua-lapis itu?” Cian Hong menukas kata-kata siorang tua.

“Dengarkan saja, jangan banyak tanya!” bentak siorangtua. Kemudian ia lanjutkan bercerita: “Nama Te-hu pay termasyhur sekali. Tetapi tiada seorangpun yang menyangka bahwa ciang-bun- jin (ketua) pertama dari partai itu ternyata hanya seorang pemuda cakap. Pemuda itu memang jarang menampakkan diri.”

“Pada suatu hari, ketika partai Siau-lim-pay menyelenggarakan pertemuan para orang gagah dalam dunia persilatan, pertama kali itulah ketua Te-hu-pay menampakkan diri didepan umum. Kemunculannya menggegerkan sekalian orang gagah, merontokkan hati dara-dara jelita!” “Ia hadir dalam pertemuan besar itu hanya dengan membawa pengiring seorang kacung. Pulangnya, ditengah jalan dia dihadang oleh berpuluh gadis yang menyatakan cinta padanya....

“Apakah dia menerima?” tukas Cian Hong.

“Tidak, tidak ada seorang yang diterimanya,” sahut siorangtua. “Masakan dalam sekian banyak itu tak ada yang cantik?” tanya

Cian Hong lebih lanjut.

Orangtua menghela napas: “Ada, memang ada dua orang ”. ia

berhenti beberapa jenak baru berkata pula: “Yang seorang muncul dan mengucap beberapa patah kata lalu bergegas-gegas pergi. Yang seorang merintih-rintih membayangi!”

“Dan dia tentu goyah pikirannya,” seru Cian Hong. Orangtua mengiakan: “Benar, memang dia tergerak hatinya.”

“Jelita yang manakah yang dipilihnya?” tanya Can-hong pula. “Andaikata kau, yang manakah akan kau pilih?” orangtua balas

bertanya.

“Sudah tentu jelita yang pertama itu!” sahut Cian Hong dengan mantap.

“Pandangan siorang-gagah ternyata hampir sama,” seru siorangtua dengan gembira, “tentu saja dia tertarik dengan jelita yang muncul sebentar dan terus pergi itu. Sayang dia tak berhasil memburu jejak gadis jelita itu. Sebaliknya gadis jelita yang kedua terus menerus muncul menyatakan cintanya....

“Yang pergi, diburu. Yang meminta-minta, tak diacuhkan. Demikian ketua partai Te-hu-pay yang masih muda itu pulang kedalam markasnya dengan membawa hati rindu. Siang malam ia terkenang pada jelita pertama. Anak murid disebar keseluruh penjuru untuk mencari jejak dara jelita itu tetapi sampai tiga tahun lamanya, tetap tiada herita apa-apa. Sebaliknya, jelita yang kedua, tak putus asa selalu datang berkunjung dan menyatakan isi hatinya...”

“Betapapun kerasnya batu dan baja, akhirnya akan tembus juga oleh curahan cinta,” Cian Hong menghela napas, “dia tentu akan mengalihkan perhatiannya kepada gadis kedua itu!”

Diluar dugaan siorangtua menyahut: “Tidak! Dia tetap merindukan jelita yang lenyap secara misterieus itu. Terhadap jelita yang begitu nekad menyatakan isi hatinya, ia tak mengacuhkan sama sekali.”

Cian Hong terkesiap.

“Dan akhirnya ia memutuskan untuk keluar mencarinya sendiri!” kata siorangtua pula.

“Berhasil?”

“Ya, setelah mengembara kesegenap penjuru tanah air selama tiga tahun, akhirnya ia berhasil menemukan jelita itu. Tetapi...”

“Dia sudah menikah dengan lain orang?” tukas Cian Hong. “Bukan!” sahut siorangtua.

“Lalu...” Cian Hong heran.

“Jelita itu sudah menutup mata...”

“Hai!” Cian Hong menjerit kaget. Ia menghela napas panjang: “Sejak dulu kala, cinta itu selalu berakhir dengan kehampaan belaka!”

Siorangtua melanjutkan kata-katanya: “Dia mencari makam jelita itu. Dihadapan nisan, menangislah pemuda gagah itu dengan hati remuk rendam. Tiba-tiba muncullah jelita kedua menghiburnya...” “Sekali ini dia tentu akan menumpahkan kasihnya kepada jelita yang setia itu. Gadis pertama yang diidamkan sudah meninggal, perlu apa ia menyiksa diri...”

“Ah, ia datang. Lain kali kita sambung lagi!” tiba-tiba orangtua itu berkata dengan bisik-bisik.

Rupanya Cian Hong benar-benar kepingin sekali mengetahui akhir cerita yang menarik itu. Serunya: “Lalu bagaimana?”

“Hai, kau mengatakan apa?” tiba-tiba Yu-leng-li-kui menegurnya. Ternyata yang datang memang nona itu.

“Tidak...” Cian Hong agak gugup. Buru-buru ia balas bertanya: “Apakah kau sudah membawa kunci?”

Yu-leng-li-kui mengiakan. Segera ia membuka kunci kamar itu dan suruh Cian Hong keluar. Baru Cian Hong melangkah keluar, sekonyong-konyong Yu-leng-li-kui menutuk jalan darah. Pemuda itu rubuh. Tubuhnya cepat disanggah sinona.

“Terpaksa aku harus menyiksamu!” bisik Yu-leng-li kui. Walaupun tak berkutik, tetapi Cian Hong tetap sadar pikirannya.

Ia mengerti apa maksud sinona, tetapi tak tahu apa tujuannya. Yang

dirasakannya, Yu-leng-li-kui membawanya melalui sebuah jalan yang amat panjang. Lama sekali barulah nona itu membuka lagi jalan darah Cian Hong.

“Di Neraka-lapis-kedua banyak sekali kemungkinan- kemungkinan yang tak diinginkan. Maka terpaksa kututuk jalan darahmu, harap maafkan,” Yu leng-li-kui memberi penjelasan.

Sebenarnya Cian Hong tak ingin meninggalkan kamar tempat ia dipenjarakan tadi, karena ia masih ingin mendengar cerita siorangtua yang belum selesai. Benar-benar ia terpikat dan ingin tahu apakah ketua partai Te-hu-pay itu jadi menikah dengan jelita kedua.  “Sekarang sudah keluar dari tempat berbahaya!” tiba-tiba Yu- leng li-kui berkata.

“Terima kasih atas budi pertolonganmu nona!” kata Cian Hong.

Yu leng li-kui menghela napas: “Sampai berjumpa!” katanya seraya mengayun langkah.

“Harap berhenti dulu!” tiba-tiba Cian Hong berseru.

“Mengapa?” Yu-leng-li kui hentikan langkah. “Siapakah namamu?”

“Ini. ” Yu-leng-li-kui bersangsi beberapa saat baru berkata lagi.

“Tak usahlah. Tindakanku itu kupersembahkan sebagai tanda kasihku. Janganlah kau mengucapkan terima kasih kepadaku!”

“Nona. ” Cian Hong terharu.

“Selamat jalan!” Yu-leng-li-kui berlinang-linang mengucapkan kata perpisahan. Cepat ia berputar tubuh. Sambil menghapus airmata iapun melesat pergi.

Saat itu hari masih remang. Bintang-bintang masih meredup, angin malam masih berembus. Saat itu barulah ia teringat akan paderi Goan Thong.

“Eh, kemanakah gerangan paderi itu?” pikirnya. Segera ia berusaha untuk mencari, tetapi tak ketemu.

Disebelah tampak sebuah batu karang. Terkilas sesuatu pada pikirannya dan berlarilah ia menuju ke karang itu. Apa yang didapatinya disitu membuat darahnya mendidih.

Paderi Goan Thong menggeletak mandi darah dan dihadapannya berdiri Ping-sim-sian-cu sambil mencekal pedang kecil Sambar- nyawa!

“Hm, kiranya kau!” bentak Cian Hong. Ping sim-sian-cu menyurut kaget dua langkah, serunya: “Apa maksudmu!”

“Kau harus tak menyangkal lagi!”

“Menyangkal? Menyangkal apa?” Ping-sim-sian-cu tercengang. “Membunuh paderi Goan Thong dengan pedang Sambar-

nyawa!”

“Paderi Goan Thong? Siapakah itu?”

“Hm, pandai benar kau bermain sandiwara,” diam-diam Cian Hong memaki dalam hati. Lalu dibentaknya Ping-sim-sian-cu dengan bengis: “Siasat nona licin sekali!”

Kembali nona itu tertegun.

“Dialah paderi Goan Thong!” seru Cian Hong seraya menuding tubuh sipaderi yang membujur tak bernyawa.

“kau mempunyai dendam permusuhan apa dengan beliau?” “O,” sinona mendesah kaget, “kiranya begitu. Tetapi aku tak

membunuhnya!”

“Bukan kau? Hm bukti sudah ditanganmu bagaimana kau masih berani menyangkal?”

Ping sim-sian cu tertawa dingin : “Tidak membunuh ia tidak membunuh! Walaupun seorang anak perempuan, tetapi aku selalu menjaga kepercayaan kata-kata-ku. Caramu menuduh secara serampangan ini, entah mengandung maksud apa?”

“Mengandung maksud?” tiba-tiba Cian Hong tertawa nyaring, “sudah tentu mempunyai maksud lain...”

“Kau membunuh ayahku, belum sakithati itu kubalas sekarang kau sudah memfitnah aku jadi pembunuh. Bukankah kau hendak cari alasan untuk membunuh aku juga?”

“Kau salah. !” teriak Cian Hong gusar. “Salah? Tidak mungkin!” seru sinona. Membolak-balikkan pedang Sambar-nyawa, berserulah Ping-sim-sian cu. “Pedang ini kuambil dari tubuh paderi Goan Thong!”

Cian Hong makin meluap melihat sikap sinona: “Hendak kuselidiki latar belakangmu!” serunya.

“Latar belakangku?”

“Dengan membawa pedang Sambar-nyawa, kau tentu tahu jejak Pelajar-wajah-seribu Ko Ko-hong. Asal kau mau memberitahukan tentang dirinya, mungkin kau tak kubikin susah lagi!”

“Aku tak takut kau bikin susah!” Ping-sim sian-cu menantang. “Itu lebih baik, jangan pergi, aku hendak bertanya padamu!” seru

Cian Hong.

Sahut Ping-sim-sian-cu dengan nada mengejek: “Mau menghalangi kepergianku, tidaklah mudah. Mau bertanyapun tergantung aku suka menjawab atau tidak!”

“Kang-ou-bi-jin dan Malaekat-elmaut apakah kau yang membunuh?” seru Cian Hong.

“Tak perlu kujawab pertanyaanmu itu.”

Melihat sikap dan nada sinona, makin keraslah dugaan Cian Hong bahwa nona itulah yang membunuh mereka.

“Mau mau menjawab atau tidak?” serunya menegas.

“Tidak mau menjawab tetap tak mau menjawab. Kau berani memaksa aku?” sahut sinona.

“Bukan hanya memaksa melainkan hendak membunuhmu!” Cian Hong makin beringas Gundu mata sinona berkicup-kicup mengandung pancaran kasih. Tetapi pemuda yang diidamkan itu, bukan menyambut dengan mesra sebaliknya malah hendak membunuhnya. Ping-sim-sian cu seorang dara yang berhati tinggi; Segalanya ia ingin diatas. Sejak ketuanya dibunuh Cian Hong, gerombolan Bu- ceng-pohpun bubar. Ping-sim-sian-cu berkelana hendak menuntut balas. Tetapi entah bagaimana, api pembalasan dendam seolah-olah tersiram oleh rasa asmara. Pernah ia membulatkan pikiran hendak menyatakan isi hatinya kepada Cian Hong, tetapi kematian ayah dan pribadinya sebagai seorang perawan, membatasi nyalinya....

Kini Cian Hong hendak membunuhnya. Dara itu putus asa. Dia merasa tak dapat melampiaskan sakit hati dan tidak berani menyatakan isi hatinya. Pikirnya, lebih baik ia mati ditangan pemuda itu.

“Bunuhlah aku asal kelak kau tak menyesal!” serunya serta merta.

“Menyesal?” Cian Hong menggeram, “Tidak! Kau membunuh ibu dan guruku, masih murah kalau aku hanya membunuhmu seorang!”

Menggigillah tubuh sidara. Tiba-tiba ia tertawa hambar: “Bunuhlah aku, bunuhlah. ”

Dara itu melangkah maju. Rambutnya terurai lepas dan seperti orang  hilang kesadarannya,  ia  tertawa-tawa.  “Ha,  ha,  haa. mati

ditangan orang yang kucintai adalah bahagia.... ha, ha, haa.   ” Nadi

tertawanya penuh rintih kesedihan.

Cian Hong hangus terbakar api kemarahan. Ia lupa segala apa. Ditinjunya dada nona itu sekuat-kuatnya. “Mampus kau wanita ganas!”

Sama sekali nona itu tak mau menghindar. Ia menerima dengan tenang ketika serangkum sinar hitam yang mengandung tenaga seperti  gunung  Thaysan  mendampar  dadanya.  Bluk    terdengar

letupan  keras dan  tubuh  ping-sim-sian-cupun  terdampar sampai belasan tombak jauhnya. Nona itu rubuh ditanah. Karena anggauta dalam tubuhnya berantakan, tak dapat ia bersuara apa-apa lagi...

Cian Hong terkejut. Jelas diketahuinya nona itu tak mau menangkis maupun menghindar. “Aneh, mengapa ia tak mau melawan sama sekali?” pikirnya dengan heran.

Cepat ia loncat menghampiri: “Mengapa kau tak melawan?”

Ping-sim-sian cu kicupkan mata. Katanya dengan lemah: “Lebih baik bunuhlah aku! Pukullah sekali lagi!' Tersirap hati Cian Hong melihat keadaan nona itu: “Apakah kau merasa dosamu tak berampun?”

Sahut Ping sim sian-cu dengan nada serat: “Sejak lahir aku jarang membunuh orang. Aku senantiasa bersikap diam terhadap orang. Menurut hemat-ku, aku tak pernah berbuat jahat. Siapa tahu, sikapku yang dingin itu telah dihambarkan oleh asmara... ah, sungguh tak kira!”

“Apakah bukan kau yang membunuh Kang-ou-bi-jin dan Malaekat-elmaut?” Cian Hong gugup.

“Bahkan paderi Goan Thong itupun bukan aku yang membunuh!” kata Ping-sim-sian-cu.

Seketika teringatlah Cian Hong bagaimana tempo hari iapun dituduh membunuh orang (Siau-hun-li ) oleh si Mulut-besi Tio Sam. Ah, betapalah perasaan orang yang dituduh itu.

“Jadi kau aku salah faham!” serunya gemetar. “Kau tak salah!”

sahut Ping-sim-sian-cu. “Bagaimana lukamu?” tergopoh-gopoh mengangkat tubuh sinona.

Dengan napas makin lemah, Ping-sim-sian-cu menjawab: “Urat- urat tubuhku putus, darah menghambur kemana-mana. Sekalipun tabib sakti Hoa To hidup kembali, juga tak mampu menyembuhkan!” Kata-kata itu menyayat hati Cian Hong. Salah faham itu tak cukup hanya diganti dengan jiwa. Ia benar-benar berdosa!

“Jangan sedih, aku puas mati ditanganmu!” kata Ping-sim-sian- cu pula.

“Nona...” tak dapat Cian Hong mengutarakan hatinya yang hancur luruh.

“Maukah kau memanggilku Ling-moay?” Ping-sim-sian-cu sedikit tengadahkan kepala.

Mulut Cian Hong serasa terkancing rapat.

“Sebelum aku menutup mata, maukah kau menyebut sepatah kata itu?” kata sinona pula.

Dengan penuh permintaan maaf dan penyesalan berkatalah Cian Hong: “Ling Ling-moay!”

Wajah nona itu berseri bahagia. Digenggamnya tangan Cian Hong. Wajahnya makin pucat, napaspun bertambah lemah...

Betapa hancur hati Cian Hong sukarlah dibayangkan. Tak tahu ia apa yang harus dilakukan menghadapi saat yang memilukan itu.

“Nona....” serunya seraya cepat-cepat menempelkan telapak tangan keubun-ubun kepala Ping-sim-sian-cu.

Beberapa saat kemudian tampak sinona tersadar pula. “Nona, aku tentu berusaha untuk menolongmu”.

Ping-sim-sian-cu geleng-geleng kepala: “Percuma jiwaku hanya tinggal beberapa detik saja. Kuharap kau dapat menemukan pembunuh paderi Goan Thong. Dan, aku masih mempunyai sebuah permintaan lagi, permintaan yang terakhir ”

Cian Hong menggenggam erat tangan sinona, serunya: “Silahkan nona mengatakan!” Ping-sim-sian-cu terbatuk-batuk sejenak, kemudian bibirnya bergerak-gerak lemah “Aku.... aku... aku cinta padamu!”

Gemetar tubuh Cian Hong seketika. Dicintai orang adalah bahagia. Tetapi mengetahui hal itu dalam saat-saat yang sedemikian menyedihkan, benar-benar membuatnya seperti orang gila. Dipandangnya wajah nona itu dengan terlongong-longong....

“Maukah kau memeluk aku agar aku dapat pergi dengan tentram?” bisik Ping-sim-sian-cu.

Cian Hong bersangsi...

Walaupun mempunyai setitik curahan cinta tetapi cintanya itu lebih bersifat suatu rasa kasihan dan penyesalan dosa. Jika perasaan Cian Hong itu disebut suatu rasa cinta, mungkin hal itu agak dipaksakan.

Tetapi jelas betapa besar kasih Ping-sim-sian-cu kepada Cian Hong. Berulang kali nona merintihkan isi hatinya. Betapapun keras hati Cian Hong, akhirnyi lumer juga....

“Cian Hong,” bisik Ping-sim-sian-cu, “ijinkanlah kupanggil namamu. Pertama kali bertemu padamu, hatiku tergerak oleh sikapmu yang angkuh. Dan pada pertemuan yang kedua kalinya, ternyata kau menjadi pembunuh ayahku. Bingung aku memikirkan, cinta atau bencikah seharusnya aku kepadamu! Tetapi setelah kubuka isi hatiku dihadapan guruku, barulah aku menginsyafi bahwa aku tak dapat membohongi perasaan hatiku. Guruku juga setuju. Tetapi kini, ah. ”

“Leng hou Ling, sekarang jangan harap kau dapat meloloskan diri!” sekonyong-konyong kata-kata Ping-sim-sian-cu terputus oleh sebuah suara bernada dingin dari arah belakang. Cian Hong terkejut berpaling kebelakang. Ah, siorang baju kelabu yang mukanya berselubung kain kelabu.

“Apa maksudmu?” seru Cian Hong.

“Ini bukan urusanmu, harap jangan turut campur!” sahut siorang berselubung muka.

“Tetapi aku tetap hendak turut campur!” jawab Cian Hong. “Hm, jika kau bersedia mewakilinya, kaupun akan kubunuh

sekali!”

Melihat sikap orang yang ganas, Cian Hong menduga orang itu tentu mempunyai dendam besar dengan Ping-sim sian-cu. Tetapi untuk membuktikan dugaannya, ia mengajukan pertanyaan: “Kau mempunyai permusuhan apa dengan nona itu?”

“Dia harus kubunuh!” seru orang itu.

“Tetapi kau harus mengatakan alasannya dulu!” seru Cian Hong. “Dia seorang perempuan ganas. ”

“Ganas?” Cian Hong terkejut.

“Benar, dia membunuh nyonyah Si Kiok-ciang,” sahut orang itu.

Kejut Cian Hong sampai menyurut mundur dua langkah. Bukan karena menyayangkan kematian isteri Si Kiok-ciang si Pukulan- nomor-satu-didunia itu, melainkan jika tuduhan orang kepada Ping-sim sian-cu itu benar maka pembunuh dari Kang-ou bi-jin, Malaekat elmaut, Siau-hun-li dan paderi Goan Thong, adalah Ping- sim-sian-cu!”

“Benarkah itu?” seru Cian Hong menegas.

“Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Bukan suatu fitnah!” sahut orang itu dengan gusar.

Tiba-tiba Ping-sim-sian-cu menyelutuk: “Cian Hong jangan percaya padanya. ” “Perempuan hina, banyak sekali muslihatmu tetapi jangan harap dapat lolos dari kebenaran!” bentak orang berselubung muka itu.

Cian Hong bingung. Memang iapun melihat tadi Ping-sim-sian- cu mencekal pedang Sambar-nyawa. Dan jika mendendam kemarahan, masakan orang berselubung muka itu hendak mati- matian membunuhnya!”

Benarkah Ping-sim-sian-cu seorang pembunuh besar?” ngeri Cian Hong membayangkan! Diam-diam Cian Hong bersyukur bahwa tadi ia tak kena dirayu oleh nona itu. Seketika rasa kasihan dan menyesal tadi, hilang lenyap berganti dengan kemarahan yang meluap-luap....

“Lenghou Ling, kau sungguh mengerikan!” tiba-tiba berserulah Cian Hong dengan murka.

Napas nona itu terengah-engah keras. Luka-luka fatal (maut) yang diderita tak memungkinkan ia memberi penjelasan panjang lebar. Namun dengan memaksakan, tenaga yang masih ada, ia berseru sekuat-kuatnya: “Cian Hong, kau tertipu. Dia adalah. ”

Dees.... sekonyong-konyong orang berselubung muka muka lepaskan pukulan. Tubuh Ping-sim-sian-cu mencelat sampai tiga tombak jauhnya. Tubuhnya hancur lebur, jiwanya melayang secara mengenaskan sekali!

“Mengapa kau turunkan tenaga ganas?” Cian Hong loncat membentak.

“Perempuan semacam itu tak perlu dikasihani!” sahut siorang berselubung muka acuh tak acuh. “Siapakah saudara ini?” tanya Cian Hong.

“Perlu apa banyak tanya. Cukup kau ingat saja bentuk dandananku ini!” “Tetapi apa yang saudara lakukan saat ini tentu ada maksud tertentu!”

“Dosa Lenghou Ling masih belum himpas kalau hanya dibunuh mati saja!”

“Tetapi ucapanmu samar-samar bisa menimbulkan kecurigaan orang.”

Rupanya orang berselubung muka tak sabar jawabnya: “Kelak kau tentu mengetahui. Urusan lain orang, tak perlu banyak ikut campur. Lebih baik kau jaga keselamatan dirimu sendiri!”

“Apa maksud nasehat saudara ini?” “Demi untuk kebaikanmu!” “Sukalah saudara menjelaskan.”

“Ah, itu sudah lebih dari cukup!”

“Harap saudara membuka selubung muka saudara.”

Orang itu menggeleng: “Mengapa kau hendak mendesak orang dalam kesukaran?. Memandang kelangit orang itu berkata pula: “Aku harus pergi,” katanya seraya ayunkan tubuh. Sekali bergerak ia sudah melesat melayang 7-8 tombak jauhnya....

“Tunggu!” Cian Hong tak puas dengan keterangannya. Iapun cepat loncat menghadang. “Siapa yang mampu menghalangi kepergianku?”

seru orang itu dengan congkak. Dan bagaikan seekor ikan lele, ia meletik  10-an  tombak  jauhnya.  Kecepatan  geraknya  benar-benar mengagumkan sekali.

Beberapa kali bertemu dengan orang itu, Cian Hong selalu seperti diselubungi oleh kabut keanehan. Gerak gerik orang itu penuh dengan tanda tanya yang serba misterieus. Dan kesan yang diperoleh Cian Hong, orang itu seolah-olah mengandung suatu bayang-bayang mengerikan. Belum Cian Hong dapat mengambil putusan baik mengejar orang itu atau tidak, sekonyong-konyong dua sosok bayangan putih muncul disebelah muka. Cepat sekali kedua bayangan itu berlari- lari mendatangi. Den kiranya mereka adalah dara-dara baju putih yang rambutnya disanggul macam dayang-dayang istana.

Cian Hong terkejut. Kedua dara itu baru berumur disekitar 15-16 tahun   tetapi   telah   memiliki   ilmu   meringankan   tubuh   yang sedemikian hebatnya.

Cepat sekali kedua dara itu tiba dihadapan Cian Hong. Mereka berputar-putar mengelilingi Cian Hong. Dari ujung kaki sampai keatas kepala habis dipandanginya.

“Siapa kau?” seru dara yang berdiri disebelah kiri. Nadanya angkuh, menimbulkan kesan buruk.

Cian Hongpun seorang pemuda tinggi hati, sahutnya: “Apakah kau tak kenal kesopanan?”

Dara yang berdiri disebelah kanan denguskan hidungnya: “Ini sudah merupakan kehormatan bagimu!”

“Menghormat aku?”

“Hm, kami berdua orang partai Nirwana. Tak pernah kami diperintah untuk berlaku merendah pada orang.”

Cian Hong terbeliak mendengar keterangan itu. “Partai Nirwana?” ia menegas.

“Ya!”

“Apa maksud nona berdua datang kemari?”

“Katakan dulu siapa namamu?” seru dara yang disebelah kiri. “Mengapa?”

“Untuk menentukan pertimbangan, apakah kami berdua perlu menerangkan kedatangan kami kepadamu atau tidak.” “Jika tak memberitahukan namaku?” sengaja Cian Hong memanas.

“Hm, kau cari sakit sendiri!”

Sabut Cian Hong dengan lantang: “Aku justeru hendak mencari sakit!”

“Hm, arak wangi kau tolak sebaliknya kau minta air racun. Baik, terimalah pukulanku ini!” seru dara baju putih seraya ulurkan tangan mencengkeram muka Cian Hong.

Cian Hong mengegos kesamping, tetapi cepat sekali ia dikejutkan oleh suara tertawa mengejek dan bayangan sidara yang merapat. Dengan gugup Cian Hong menangkis.

Plak, dua tangan berbentur, letupan menggelegar dan keduanya terkejut. Sidara tersurut mundur 6-7 langkah, wajahnya pucat lesi. Cian Hong tersurut setengah langkah, dahinyapun mengucur keringat...

“Hebat benar pukulanmu!” dengus dara baju putih itu.

Cian Hong tetap terpukau. Jelas kepandaian dara itu menyamai seorang jago silat kelas satu. Pada hal melirik dandanannya, dara itu menyerupai hamba sahaya.

Jika bujangnya sedemikian sakti, bagaimanakah nanti dengan majikannya?

“Nona juga lihay!” Cian Hong tertawa.

“Tetapi kalah dengan kau,” dara itu marah, “kami telah mendapat tugas dari bengcu (majikan) daripada nanti pulang mendapat hukuman, lebih baik kami bunuh diri saja!”. kata-kata itu ditutup dengan gerak serempak dari kedua dara yang hendak menghantam ubun-ubun kepalanya sendiri....

“Tunggu!” cepat-cepat Cian Hong mencegah. “Apa kemauanmu?” seru sidara.

“Jika kalian mau mengatakan maksud tujuan kalian kemari, barulah aku mengatakan siapa namaku,” balas Cian Hong.

Kedua dara itu saling berpandangan dengan ragu. Akhirnya dara disebelah kanan berseru: “Kami diperintahkan bengcu untuk mencari seseorang!”

“Siapakah bengcu kalian?” “Ketua partai Thian-tong-bun!” “Mengapa disebut bengcu?”

Bengcu berarti ketua perserikatan. Biasanya ketua sebuah perkumpulan persilatan disebut bengcu. “Karena partai Thian- tong-bun (Nirwana) menguasai dunia persilatan maka sebutan yang tepat bagi ketua kami ialah bengcu bukan pangcu.” Diam-diam Cian Hong memaki kecongkakan partai Thian-tong-bun.

“Aku tak kenal dengan bengcu kalian,” kata Cian Hong, “sudah tentu orang yang kalian cari itu bukanlah aku. Oleh karena itu kalianpun tak perlu menanyakan namaku!” terus ia berputar tubuh hendak angkat kaki.

Tetapi kedua dara itu cepat melesat kemuka: “Kau tak pegang janji!”

“Tentu saja aku menepati janji!” balas Cian Hong. “Kalau begitu katakanlah siapa namamu!”

Cian Hong terkesiap. Terpaksa ia menyebutkan siapa namanya. “Ko Cian Hong?” berserulah serempak kedua dara itu.

Cian Hong juga kaget, serunya: “Apakah palsu? Sudahlah, aku hendak pargi!”

Kedua dara itu cepat mencegah: “Yang dicari bengcu justeru kau!” Cian Hong terbelalak: “Mencari aku? Tidak mungkin!”

“Memang benar kau!” seru sidara dengan bersungguh-sungguh. “Tetapi aku tak kenal dengan bengcu kalian!” masih Cian Hong

membantah.

“Itu bukan soal, asal bertemu muka kau sudah kenal,” sahut sidara.

“Dimanakah bengcu kalian?”

“Tak jauh, mari ikut kami,” kata sidara dengan tertawa hambar. Cian Hong bersangsi.

“Takut?” tegur sidara. “Aku tak kenal kata takut!”

“Bagus, mari ikut!” dara itu segera berjalan beriringan. Sepintas pandang mereka seperti dua ekor kupu yang beterbangan.

Saat itu Cian Hong bagaikan orang naik dipanggung harimau. Dari pada turun dimakan binatang buas itu, lebih baik ia lanjutkan naik terus. Siapa tahu akan terjadi perobahan.

“Hai, untung tak dapat diraih, celaka tak dapat dihindari. Biarkan gunung golok hutan pedang, aku tetap hendak menerjang,” akhirnya Cian Hong pun mengikuti. Namun tak henti-hentinya benak Cian Hong bertanya: “Siapakah gerangan ketua Thian tong- pay itu? Mengapa dia hendak mencari aku?...”

Mereka mendaki kepuncak gunung dan akhirnya kedua dara itu menerobos sebuah hutan. Cian Hong tetap mengikuti dibelakang mereka. Tiba-tiba terdengar suara nyanyian diiring oleh tetabuhan merdu. Cian Hong terkesiap. Ketika memandang kemuka, tampak sebuah biara besar. Sebuah bangunan biara yang besar dan megah. Kedua dara itu menuju kebiara. Cian Hong memperhatikan, suara musik berasal dari biara. Nadanya penuh dengan irama kegembiraan. Sama sekali bukan nyanyian keagamaan seperti lazimnya dibiara atau gereja.

Cepat sekali mereka tiba dimuka biara dan berpaling dara itu memberi pesan Cian Hong: “Tunggulah sebentar disini!”

Cian Hong tertegun. Dipandangnya biara itu dengan penuh pertanyaan.

“Bengcu kami sedang menikmati tari-tarian dan nyanyian.

Setelah selesai barulah kita menghadap!” dara itu menerangkan.

Walaupun curiga, namun Cian Hong tak mau mengutarakan. Memandang kedalam ruang biara, tampak berpuluh gadis-gadis penari tengah asyik menari diiring irama seruling dan tetabuhan yang merdu.

Ditengah ruangan tampak seorang wanita setengah tua. Wajahnya berselubung sutera hitam sehingga tak kelihatan jelas. Disisi kanan kirinya, tegak pengawal bersenjata pedang!

Beberapa saat kemudian, suara musikpun berhenti. Rombongan gadis-gadis penari berhamburan mengundurkan diri. Salah seorang dara putih yang membawa Cian Hong segera masuk menghadap wanita yang disebut bengcu itu.

“Hatur beritahu bahwa Ko Cian Hong sudah datang,” katanya dengan penuh hormat Wanita yang disebut bengcu itu mendengus dingin: “Dimana dia sekarang?”

“Diluar biara.”

“Bawa masuk,” perintah wanita bengcu itu. Dara baju-baju putih segera keluar. Rupanya Cian Hong tak sabar menunggu, ia mendahului melangkah masuk menuju ketempat bengcu wanita itu. “Hai, jangan kurang ajar! Mengapa tak menghaturkan hormat kepada bengcu?” salah seorang lelaki setengah umur yang berbaju kuning emas, serentak berbangkit.

Cian Hong kerutkan alis: “Bengcu? Sayang aku bukan anggauta persekutuanmu jadi tak terikat dengan peraturan itu!”

Lelaki setengah umur itu marah sekali. Serunya garang: “Dalam waktu tak lama mendatang ini partai Thian tong-bun bakal menguasai dunia persilatan. Jika kau hidup didunia persilatan daerah Tiong-goan, kau harus memberi hormat kepada bengcu!”

“Garang benar!” seru Cian Hong.

Saking marahnya orang lelaki setengah tua segera hendak mencabut pedang tetapi dicegah bengcunya: “Jangan bikin gaduh!”

Lelaki setengah tua itu mengkeret nyalinya. Ia duduk lagi tetapi matanya masih memandang berapi-api kepada Cian Hong.

Karena wanita yang dipanggil bengcu itu mengenakan selubung muka warna hitam, tak dapatlah diketahui perubahan air mukanya. Cian Hong menganggap wanita itu penuh misterieus.

“Apakah kau Ko Cian Hong?” tegur bengcu wanita itu.

Cian Hong tertegun, sahutnya: “Sudah tahu mengapa masih bertanya pula?”

Beberapa saat bengcu wanita itu tertegun kemudian serunya pula: “Apa hubunganmu dengan Ho Sian-an?”

“Ibuku!”

“Dengan Ko Ko-hong?”

Bahwa ternyata wanita itu tahu banyak tentang orangtua Cian Hong, membuat pemuda itu segan menyahut pertanyaannya. Tetapi ketika ia beraduan pandang dengan wanita itu, tanpa disadari segera ia menyahut: “ayahku!” Bengcu wanita itu menerima jawaban Cian Hong dengan tenang. Tawar-tawar saja ia bertanya pula: “Mereka tentu hidup bahagia.”

Seketika wajah Cian Hong berobah duka.

“Bagaimana? Apakah ayahmu menderita?” agak terkejut bengcu wanita itu memperhatikan perobahan muka Cian Hong.

“Bukan begitu.”

“Habis, kenapa kau bermuram durja?” tanya bengcu wanita lagi.

Resah juga Cian Hong menerima pertanyaan semacam itu. Ia balas bertanya: “perlu apa kau menanyakan hal itu?”

Bengcu itu setitikpun tak mengira akan menerima pertanyaan begitu. Ia terkesiap. Sampai beberapa saat ia merenung. Tiba-tiba ia berkata seorang diri: “Mengapa aku perlu menanyakan urusan mereka? Perlu apa aku memperhatikan mereka? Aku seorang patah hati...”

Tiba-tiba ia mengangkat kepala memandang Cian Hong. “Apakah kau suka menjawab pertanyaanku tadi?”

“Mengapa aku perlu menjawab pertanyaanmu?” lagi Cian Hong mengembalikan pertanyaan dengan bertanya. Tetapi setelah berfikir sejenak segera ia menyusuli kata-kata lagi: “Siapakah kau? Apa kepentinganmu menanyakan keadaan orangtuaku?”

Wanita itu diam. Sebaliknya lelaki berbaju kuning emas yang berada disebelah kirinya segera menyahut: “Beliau adalah bengcu partai Thian-tong-bun.”

“Bengcu, sekali lagi bengcu,” Cian Hong mendengus, “masakan tak punya she dan nama...”

Lelaki baju kuning emas itu membentakkan makian tetapi dicegah lagi oleh bengcu wanita. “Tidakkah kau merasa bahwa sikapmu ini agak keterlaluan?” tegur wanita itu dengan nada ramah.

Cian Hong tersipu-sipu tak dapat menyahut. “Betapapun halnya, usiaku tentu seimbang dengan ayahmu jadi aku dapat kau anggap sebagai orang yang lebih tua. Apakah memang begitu sikapmu jika berhadapan dengan orangtua?” damprat wanita itu dengan halus, “apa kepentinganku dengan bertanyakan hal-hal itu kepadamu? Ah, mengapa kau tak mau memandang dari segi-segi kebaikan? Misalnya mengapa tak terlintas dalam dugaanmu bahwa aku ini sahabat dari ayah bundamu? Ya, mengapa kau tak mempunyai anggapan begitu?”

Cian Hong tertawa dingin, “Hati manusia sukar diketahui. Apa yang dapat meyakinkan diriku kau mengandung maksud baik? Ditilik dari sifat orang persilatan yang ingin berkuasa, rasanya sukar untuk memaksakan anggapan baik terhadap dirimu!”

Sekalian orang yang hadir dalam ruang biara itu berobah mukanya.

“Tahukah kau siapa aku ini?” diluar dugaan bengcu wanita itu bertanya dengan tenang dan ramah. “Justeru hal itu yang hendak kumohonkan keterangan padamu,” sahut Cian Hong.

Kata wanita itu, “Aku ialah. ”

“Bengcu, dalam segala hal harap jangan tinggalkan pertimbangan yang masak!” tiba-tiba lelaki berbaju kuning emas menukas.

Rupanya bengcu wanita itu tersadar. Buru-buru ia alihkan kata: “siapa diriku, belum saatnya kukatakan padamu. Tetapi dapat kuterangkan sedikit, bahwa pertanyaanku tentang ayah bundamu itu sekali-kali tidak mengandung maksud buruk!” Cian Hong terkesiap. Melihat bengcu itu berkata dengan-nada tersekat-sekat dan sikap kedua lelaki berbaju kuning emas terhadap dirinya (bengcu wanita), diam-diam Cian Hong bersangsi.

“Perlu apa kau menanyakan ayahku?” tanyanya. “Memikirkan seorang kawan lama bukan suatu kejahatan!”. “Memikirkan?”

“Ya, memikirkan dalam arti bermaksud baik,” sahut wanita. “Kau kenal ayahku?” Cian Hong makin heran.

Wanita itu tertawa: “Mengapa tidak? Belasan tahun bergaul ”

tiba-tiba ia merasa kelepasan omong dan segera menyusuli kata- kata: “hubungan cukup lama dan erat. Disamping itu juga mempunyai sejarah asal usul yang dalam!”

“Tetapi tak pernah mamah membicarakan hal itu kepadaku,” sahut Cian Hong.

Bengcu wanita itu agak terkejut: “Ibumu tak pernah membicarakan partai Thian-tong-bun?” Cian Hong mengangguk.

Selubung muka wanita itu agak bergetar. Mulutnya berkemak- kemik pelahan: “Dia sangat benci kepadaku. ”

Rupanya Cian Hong tak dengar ucapan wanita itu.

Sejenak merenung, ia berkata pula : “apakah kau sungguh tak tahu tentang keadaan ayahku?”

“Kalau tahu masakan bertanya lagi?” “Dia ditawan musuhnya!”

“Apa?” bengcu wanita berseru kaget. “Belasan tahun yang lalu, ketika aku mulai mengerti urusan dunia, tak  pernah kuberjumpa dengan ayah. Dia ditawan dan disiksa di Neraka-19 lapis!” Bengcu  wanita  itu  serentak  berbangkit:  “Neraka-19-lapis?”.  ia bergerak kaget. “Hm    ”

“Kau sebagai puteranya mengapa tak berusaha menolong ayahmu?”

Sahut  Cian  Hong  dengan  tegas:  “sampai  saat  ini  aku  belum mengetahui tempat yang sebenarnya dari Neraka-19-lapis itu. Kalau kau tahu dan  suka memberitahukan  padaku, aku akan  berterima kasih padamu seumur hidup!”

Jawab bengcu wanita itu: “Neraka-19-lapis itu merupakan pusat dari Neraka-neraka yang serba rahasia. Kecuali anakmuridnya dan beberapa   tokohnya   yang   penting,   tak   mungkin   orang   dapat mengetahui tempat gila itu!”

Cian Hong kecewa. Sebuah helaan napas panjang dihembuskan. “Tetapi tak perlu kau putus asa. Akan kubantumu,” kata bengcu

wanita.

“Aku sangat berterima kasih sekali,” serta merta Cian Hong menghaturkan terima kasih.

Bengcu wanita itu hendak berkata lagi tetapi lelaki baju kuning emas yang berada disisi kanannya segera mengerut wajah bengis, tukasnya: “ Bengcu, harap jangan lupa akan tugas yang kita lakukan!”

Wanita itu terkesiap. Tetapi cepat ia menyelutuk bengis: “Aku sudah tahu, tak usah kau ribut-ribut!”

Tetapi lelaki baju kuning emas itu tak menghiraukan. Dingin- dingin ia berseru: “Hamba hanya memperingatkan bengcu saja!”. Habis berkata ia melengoskan muka.

Saking marahnya, tubuh bengcu wanita itu menggigil. Sampai beberapa saat ia tak dapat berkata apa-apa. Suasana dalam ruang biara itupun hening lelap.

Cian Hong berdiri dengan perasaan rikuh. Segera ia menghadap pada bengcu itu dan menyatakan hendak pergi: “Maafkan, aku mohon diri,” katanya seraya terus berputar tubuh dan melangkah keluar.

Seketika berubahlah wajah lelaki baju kuning emas itu. Serentak tangannya hendak menghunus pedang.

“Tunggu!” tiba-tiba bengcu wanita itupun berseru kepada Cian Hong.

Cian Hong terkesiap, ia berpaling: “apakah bengcu memanggil aku?”

“Ya.”

“Bengcu hendak memberi pesan apa lagi?” Wanita itu termenung sampai beberapa saat seolah-olah hendak mengumpulkan keberaniannya.

“Bila seorang telah menyesal atas kesalahannya, kau anggap dapat memaafkannya?” akhirnya meluncurlah kata-kata dari mulut wanita itu.

Cian Hong heran mendapat pertanyaan semacam itu. Setelah tertegun sejenak, berkatalah ia: “Agama Budha menyerukan agar orang lekas melepaskan golok dan ganti mencari kesucian. Seorang jahat mau memperbaiki kesalahannya itulah suatu hal menggembirakan dan patut dihargai. Sudah tentu pantas dimaafkan!”

“Ah, kalau begitu legalah hatiku!” kata bengcu wanita itu.

Tiba-tiba lelaki baju kuning emas menyela lagi: “Apakah maksud bengcu mengutarakan hal-hal yang tiada penting hubungannya itu?” “Toan Bok-yu, jangan ikut campur urusanku!” bentak bengcu wanita itu.

Kalau tadi lelaki baju kuning itu selalu diam apabila disentil kali ini berani balas membentak: “Beng cu, harap jangan lupakan perintah Thay-siang bengcu!”

Cian Hong menduga tentu ada persoalan diantara bengcu wanita dengan kedua lelaki baju kuning emas itu. Tetapi ia tak dapat menyelami persoalan itu. Agaknya bengcu wanita itu keder terhadap lelaki baju kuning emas itu. Segera ia bertanya pula kepada Cian Hong : “Apakah kau murid Malaekat-elmaut?”

Cian Hong mengiakan.

“Malaekat-elmaut memiliki ilmu Pukulan Hitam. Kau tentu sudah mewarisinya!”

“Tetapi masih kalah jauh dengan suhu,” sahut Cian Hong. Bengcu wanita itu hendak bicara tetapi tak jadi.

Hanya bertanyalah ia: “Ada sebuah permintaan, entah kau suka meluluskan atau tidak?”

“Silahkan,” Cian Hong mengangguk.

“Salah satu dari tiga kitab pusaka didunia yaitu kitab ilmu Pukulan Hitam, tentu telah diwariskan gurumu kepadamu. Kau sudah mempelajari ilmu pukulan itu. Sukakah kau meminjamkan kitab itu kepadaku?”

Cian Hong kerutkan alis. “Hm, kiranya hatimu juga tak bersih,” pikirnya.

Melihat Cian Hong diam saja, bengcu wanita mengira pemuda itu tak mau meluluskan. Segera ia hendak memberi nasehat tetapi tiba-tiba lelaki baju kuning emas yang berada disisi kiri sudah serentak berbangkit dan berseru garang: “Budak, kata-kata pinjam itu sudah suatu sikap memberi muka kepadamu. Kau keberatan atau tidak, masakan kau berani menolak!”

“Pusaka didunia hanya wajib dimiliki oleh orang yang berbudi luhur. Tetapi manusia-manusia sombong seperti kau, bagaimanapun tak nanti aku sudi meminjami. Cobalah kau bisa berbuat apa kepadaku?” Cian Hong berseru marah.

Tangan kiri orang berbaju kuning emas serentak mencabut pedang dan berserulah ia dengan gusar: “Aku Toan Bok-co hendak mencoba berapakah hebatnya kepandaianmu!”

Memang Cian Hong muak melihat sikap kedua lelaki baju kuning yang mengapit bengcu wanita itu. Begitu melihat Toan Bok co menghampiri, cepat ia bersiap: “Bagus, aku memang ingin menerima pelajaranmu!”

Tiba-tiba lelaki baju kuning yang berada disebelah kanan bengcu wanitapun melesat kemuka. Kiranya orang itu adalah Toan Bok-yu. Dengan mata berapi-api Toan Bok yu menghunus pedang ditangan kanan.

Sedang Toan Bot co mencekal pedang ditangan kiri. Keduanya maju menghampiri Cian Hong.

Toan Bok-yu mendemontrasikan pedangnya dengan sebuah gerakan yang menimbulkan tiga gulung sinar pedang.

“Kami berdua saudara Toan, disebut sebagai Thian-te-song kiam. Kau berani menyambut?” serunya dengan congkak. Thian-te song kiam artinya sepasang pedang mas jagoi dunia.

“Silahkan maju!” Cian Hong menyambutnya. Kedua saudara Toan itu tertawa iblis: “Hm, kau memang bosan hidup!”

Dari kanan dan kiri serempak menghambur sinar putih bergemerlapan kearah Cian Hong. Mau tak mau Cian Hong terkejut juga menyaksikan pemainan pedang mereka yang luar biasa hebatnya. Cepat ia berlincahan menghindar.

Tetapi Thian-te-song-kiam benar-benar merupakan sepasang sinar pedang maut. Bagaikan sepasang bianglala, kedua sinar pedangpun menyamhar kabawah dan atas. Yang satu membabat dada yang satu memapas kaki.

Cian Hong benar-benar kaget. Baru ia berhasil menghindari, serangan lain sudah menaburnya. Cian Hong bersuit nyaring Ia mencelat kesamping. Tangannya kanan melontarkan sebuah pukulan kearah kepala Toan Bok-co.

Demikian dalam ruang biara yang cukup luas, terjadilah pertempuran dahsyat antara tiga sosok bayangan yang berkelebatan macam bianglala berpagutan.

Bengcu wanita duduk sambil mengawasi pertempuran itu dengan penuh perhatian. Tiba-tiba ia mengeluh kaget dan berbangkit dari tempat duduknya. Hatinya tegang sekali.

Kiranya pedang kedua saudara Toan itu bagaikan bayangan yang selalu melekat kemanapun Cian Hong bergerak. Baik menghindar kekanan maupun menyingkir kekiri, Cian Hong tetap d bayangi sinar pedang musuh. Setelah jurus ketiga dari ilmu pedang Thian- lui-te tiam, Cian Hong benar-benar terancam bahaya. Itulah yang membuat bengcu wanita tegang....

Cian Hong menampar dan sinar pedangpun menghamburnya pula. Tiba-tiba telinga Cian Hong terngiang oleh suara halus macam ngiang nyamuk: “Menyurut mundur dan pukullah dengan jurus Hoa-khi-leng-hong!”

Serempak bangunlah semangat Cian Hong. Ia tak menghiraukan lagi siapa yang membisiki dengan ilmu menyusup suara itu. Cepat ia gunakan tangan kanan untuk memukul dengan jurus Hoa khi- leng-hong (menghapus hawa membeku bianglala) Dess sinar

pedang musuh bergulung-gulung seperti gumpal ombak surut. Ternyata pukulan Cian Hong itu mengarah jalan darah Khi hay hiat diperut Toan Bo co. Toan Bok-co dapat melukai Cian Hong tetapi iapun pasti akan remuk perutnya. Dan ternyata Toan Bok co masih sayang akan perutnya. Lebih baik ia batalkan tusukannya....

Serangan Cian Hong itu mengejutkan kedua lawannya.

“Budak, terimalah dua jurus yang terakhir!” seru Toan Bok yu. Kedua saudara itupun mulai menyerang lagi. Pedang mereka mencari sasaran dibagian perut.

Suara ngiang nyamuk kembali menyusup ditelinga Cian Hong: “Sambil loncat keatas, lepaskan jurus Beng-hou-jut-lim!”

Dan Cian Hong pun menurut. Sambil meraung seperti harimau, ia ayunkan tubuh keudara, menerobos keluar.

Kedua saudara Toan cepat-cepat menghadang dari kanan dan kiri.

“Kanan kiri merentang busur, gunakan jurus Liat-ciok-gui pay!” kembali suara nyamuk mengiang ditelinga Cian Hong.

Cian Hong melakukan bisikan itu. Dengan seluruh tenaga ia gerakkan kedua tangannya dalam jurus Liat-ciok-gui-pay atau menghancurkan batu membuka nisan!

Tiba-tiba terdengar jeritan nyaring. Cian Hong mundur dua langkah. Ketika memandang kemuka dilihatnya kedua saudara Toan itu terhuyung-huyung beberapa langkah. Pedang mereka terlepas. Jelas bahwa mereka menderita luka parah....

Cian Hong alihkan pandangannya kepada beng-cu wanita. Wanita itu memberi isyarat tanda agar Cian Hong jangan membocorkan rahasia tadi. Kini tahulah Cian Hong bahwa yang memberi kisikan dengan ilmu menyusup suara tadi, bukan lain dari wanita itu. Dipandangnya bengcu wanita itu dengan mata yang memancar rasa berterima kasih....

Kedua saudara Toan tegak lagi. Dahi mereka basah kuyup dengan keringat.

“Kali ini hanya kuberi sedikit hajaran. Tetapi lain kali kalau berjumpa, tentu tak kuberi ampun lagi,” dengus Cian Hong. Kemudian ia berseru kepada wanita setengah tua. “Bengcu. ”

“Tak usah bicara yang tak perlu,” keras wanita itu, kau telah melukai anakbuahku, masakan kau mau melarikan diri?”

Cian Hong kaget: “Apa maksud bengcu?” Wanita itu mendengus: “Aku takkan membikin susah padamu. Asal kau menyerahkan kitab itu, akan kubikin habis urusan ini.”

Perobahan sikap yang diunjuk wanita itu, benar-benar membuat Cian Hong bingung. Kawan atau lawankah wanita itu sebenarnya? Tetapi jelas tadi secara diam-diam wanita itu telah mengajarnya cara menghancurkan kedua saudara Toan. Apakah hal itu tak mengunjukkan isi hati yang terkandung siwanita terhadap dirinya?

“Keinginan bengcu itu mungkin sia-sia,” akhirnya ia menjawab. “Karena   kau   tak   mau   menyerahkan   kitab   itu?”   siwanita

menegas.

“Bukan begitu. ” “Habis?”

“Kitab Pukulan Hitam sejak belasan tahun yang lalu telah hilang!”

“Jatuh ditangan siapa?” bengcu wanita itu terbeliak kaget. “Dilarikan oleh suheng-ku yang murtad. Ketika guru sedang

menderita luka parah, dia merebut kitab itu dan dibawa minggat!” “Siapakah suhengmu yang murtad itu?” seru bengcu wanita. “Hek-sim-jin Thiat Tat-hu!”

Wanita setengah tua merenung sampai lama, serunya: “Didunia persilatan tak terdapat nama seperti itu!”

“Akupun sedang mencarinya!” sahut Cian Hong. “Apakah benar kitab Pukulan hitam itu dilarikan Hek-sim-jin?” bengcu wanita itu menegas.

“Apakah bengcu tak percaya padaku?” Cian Hong balas bertanya.

Bengcu itu terkesiap. Ada sesuatu yang terkandung dalam hatinya. Cian Hong merasa bahwa tempat itu bukan suatu tempat yang aman baginya. Buru-buru ia berseru: “Aku mohon diri, sampai berjumpa lagi!”

Bengcu itu agak bingung. Hendak menahan tetapi agaknya iapun hendak suruh pemuda itu lekas tinggalkan tempat itu. Lama baru ia memberi jawaban: “Baiklah!”

Cian Hong segera melesat pergi tetapi kedua saudara Toan mengejarnya. Cian Hong marah. Dengan menggembor keras, segera ia ayunkan kedua tangannya dalam pukulan sakti Gui-thian- kwan-te (membuka langit menutup bumi). Seketika berhamburanlah berpuluh-puluh tangan.

Kedua saudara Toan tarik pulang pedangnya. “Enyah!” teriak Cian Hong seraya lancarkan pukulannya. Kedua saudara Toan itu terpental kebelakang sampai 4-5 langkah. Mereka benar-benar terpukau menyaksikan pukulan sianakmuda yang luar biasa. Dan dipandangnya saja ketika pemuda itu melangkah keluar.

Cian Hong tak mempunyai tujuan tertentu. Pikirannya diliputi oleh berbagai persoalan. Terutama yang meliputi diri wanita setengah umur yakni bengcu partai Thian tong bun itu. Apakah hubungannya dengan kedua saudara Toan? Bukankah wanita itu yang menjadi bengcu? Tetapi mengapa kedua saudara Toan berani menguasainya? Dan yang lebih membingungkan pikiran Cian Hong ialah tentang hubungan wanita itu dengan ayahnya Pelajar-seribu- muka. Jelas wanita itu mempunyai hubungan erat....

Untuk melonggarkan kesesakan dadanya, Cian Hongpun menghela napas panjang-panjang. Tiba-tiba langit menumpuk gumpalan awan gelap, suatu pertanda hujan akan turun....

“Celaka, hujan akan turun!” Cian Hong terkejut Sejauh mata

memandang, sekeliling penjuru merupakan hutan sunyi. Tiba-tiba matanya tertumbuk oleh sebuah rumah gubuk yang jauh disebelah timur. Buru-buru ia lari menghampiri. Tetapi belum mencapai tempat itu, hujanpun sudah mencurah. Tepat-tepat ia kencangkan larinya dan meneduh dibawah teralis rumah itu.

Baru ia hendak mengetuk pintu, dari pintu terdengar suara seorang anak perempuan melengking: “Yah, tidak mudah kudapat kitab ini!”

Cian Hong terkesiap. Agaknya ia pernah mendengar suara itu tetapi entah dimana ia agak lupa. Seketika timbullah keinginannya tahu, ia mengintip dari sela-sela dinding dan kejutnya bukan kepalang.

Kiranya yang berada dalam pondok itu adalah si-nona Hay-gwa- it-kui Siangkwan Hoa-kun dengan ayahnya Su-hay-mo ong Siangkwan Yap!

Ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan kitab itu, Cian Hong berusaha agar jangan menimbulkan suara yang mengejutkan mereka.

Su-hay-mo-ong tertawa mengekeh: “Hoa-kun, pintar benar caramu menipu budak itu supaya membuka kotak besi!” Hay gwa-it-kiau tertawa aleman: “Setelah mendapat kitab itu tentulah tak sukar ayah untuk menguasai dunia persilatan!”

Sahut Su hay-mo-ong dengan gembira: “Tetapi entah ilmu kesaktian apa yang termaktub dalam kitab itu?”

“Kitab itu termasuk salah satu dari tiga kitab pusaka didunia. Tentu berisi ilmu pelajaran sakti tiada taranya!” Hay gwa-it-kiau memberi ulasan.

Cian Hong tergetar hatinya: “Jangan-jangan kitab Tanpa- tulisan!” batinnya.

Tiba-tiba Su-hay-mo-ong berseru: “Hoa-kun lekas bukalah kitab Bu-ji-thian-keng itu!”

Cian Hong terkesiap. Apa yang diduganya ternyata benar. Kitab itu memang benar Bu-ji-thian-keng (kitab tanpa tulisan). Dan timbullah dendamnya terhadap Hay-gwa-it-kiau yang telah menipunya membuka bungkusan kitab itu. Dilekatnya mata kecelah pintu untuk mengetahui lebih jelas.

Hay-gwa-it-kiau sedang memegang sebuah kitab tipis dan ayahnya segera menghampiri: “Hoa-kun, lekas buka!”

Nona itu tengadahkan kepala tertawa bangga lalu membuka kitab. Karena dari kejauhan, Cian-heng tak dapat melihat keadaan kitab itu. Tetapi yang jelas dia melihat wajah ayah dan anak itu berobah pucat dan mulut mereka menjerit kaget.

“Hai, mengapa kosong melompong!” teriak Su-hay mo ong.

Hay-gwa-it-kiau beberapa kali membolak-balik lembaran kitab.

Tetapi kosong semua, tiada bertuliskan sebuah hurufpun juga.

“Huh, bagaimana ini Su hay-mo ong mengeluh tak henti- hentinya .Tiba-tiba ia mengangkat muka dan berseru nyaring : “Siapakah yang diluar itu? Mengapa tak mau unjuk diri?” Cian Hong terperanjat. Baru ia hendak unjuk diri tiba-tiba dari arah belakang rumah terdengar suara tertawa gelak-gelak dan pintu belakang terpentang. Seorang wanita tua yang berambut putih dan wajah ngeri melangkah masuk...

Saat itu baru Cian Hong tahu bahwa yang dimaksud Su-hay-mo- ong bukan dirinya melainkan sinenek buruk muka itu.

Su-hay-mo-ong agak terkejut, serunya: “Tak kira kau yang datang Kui-bo!”

Nenek berambut putih itu karena berwajah buruk, digelari dunia persilatan sebagai Kui-bo atau nenek-buruk-muka.

Kui-bo tertawa menyeringai. “Heh, heh, kau Hay-gwa-yap-jin (orang liar seberang lautan), mengapa tak lekas enyah dari dunia persilatan Tiong-goan agar mukamu selamat?”

Merah padam muka Su-hay-mo-ong, serunya: “Apa maksudmu?”

“Maksudku?” Kui-bo mendengus. Menunjuk pada kitab Bu-ji- thian-keng ia berseru: “Lekas serahkan kitab itu padaku supaya tidak rusak!”

“Itu toh kitab tanpa tulisan, buat apa kau mengambilnya?”

Kini Su hay-mo-onh tersadar, ujarnya: “Oh, Bu-ji thian keng, kiranya kitab tanpa tulisan...”

“Ya, apa gunanya mendapat kitab tanpa tulisan. Lebih baik serahkan saja padaku sebagai kebaikan budi!”

“Hm,” tiba-tiba Hay-gwa-it-kiau melengking, Bu-ji-thian-keng tak ternilai harganya. Kalau tidak masakan orang persilatan mau mati-matian merebutnya?”

“Berapa besarkah nilainya?” Kui-bo balas bertanya. Hay-gwa-it-kiau terbeliak tak dapat menyahut. Juga Cian Hong yang mengikuti pembicaraan mereka, tak mengetahui pertanyaan Kui-bo.

Buru-buru Su-hay-mo-ong menyanggapi: “Jangan kau bermain lidah. Aku tahu bahwa Bu-ji thian-keng itu tentu mempunyai kegunaan. Sekalipun tak bertuliskan apa-apa, tetapi tentu ada gunanya!”

Kui-bo meraung: “Siangkwan Yap, tindakanmu berarti merusak kitab pusaka?”

Su hay-mo-ong tertawa dingin: “Jika kau takut merusak kitab pusaka, mengapa kau tak mau berterus terang mengatakan kegunaannya. Aku berjanji akan memanfaatkan sebaik-baiknya!”

“Enakmu!” lengking Kui-bo. “Lalu bagaimana?”

“Kita adakan persetujuan, mau tidak?” seru Kui-bo. “Persetujuan bagaimana?

“Akan kuterangkan hal-hal yang penting tentang kitab itu tetapi kau harus memberi kesempatan padaku untuk ikut bersama- samamempelajari isi kitab itu. Kau setuju?”

“Enakmu!” lengking Su-hay-mo-ong menirukan gaya Kui bo tadi.

“Belum pasti aku yang lebih enak!” sangkal Kui Bo. “Mengapa tidak?” lengking Hay-gwa-it-kui, “dengan enak-enak kau mendapat kesempatan untuk mempelajari isi kitab Bu-ji-thian keng!”

“Budak perempuan, cobalah kau pikir!” seru Kui bo, “ jika tak kuterangkan rahasia kitab itu, jangan harap seumur hidup kau dan ayahmu dapat menggunakan kitab itu. Apakah itu tak sia-sia?”

Su-hay-mo-ong diam-diam mengakui ucapan nenek itu benar. “Siangkwan Yap, kau boleh mempertimbangkan usulku itu!” seru Kui bo pula.

Su-hay-mo-ong tersenyum meringis.

“Kau menerima atau tidak!” Kui-bo berseru marah.

“Akupun bukan seorang nenek yang suka merengek-rengek minta kasihan. Kalau kau tak setuju, hapuskan saja!” habis berkata ia terus berputar diri hendak berlalu.

“Kui-bo jangan buru-buru pergi dulu!” tiba-tiba Su-hay-mo-ong berseru.

Kui-bo berhenti diambang pintu, serunya: “Kau setuju atau tidak, jangan memanggil-manggil orang seperti anak kecil!”

“Baiklah,” akhirnya dengan nada terpaksa Su-hay-mo-ong berseru.

Kui-bo tertawa dan melangkah masuk lagi, ia duduk dihadapan Su-hay-mo-ong. Sejenak memandang kitab Bu-ji thian-keng, ia berkata memberi peringatan. “Dalam tukar menukar perjanjian ini, kita harus bersungguh-sungguh dan jujur.”

“Tentu!” Su-hay-mo-ong menyeringai. “Jangan mengandung pikiran yang jahat. Sekalipun kitab berada ditanganmu, tetapi kau tahu siapa Kui-bo itu. Aku tak takut kau akan menghianati janji!”

“Sudahlah, aku Siangkwan Yap juga seorang lelaki yang tahu harga perjanjian!”

“Begitulah sebaiknya.”

“Harap lekas menerangkan rahasia kitab itu,” tiba-tiba Hay-gwa- it-kiau menyelutuk.

Kui-bo balikkan selaput matanya: “Sebenarnya Bu-ji-thian keng itu mempunyai tulisan tentang ilmu kepandaian yang sakti!” Su-hay mo-ong dan Hay gwa it-kui hanya geleng-geleng kepala bersangsi. Dipandangnya Kui-bo dengan mata bertanya.

“Kalian kira aku bohong?” teriak Kui bo.

Sambil membalik-balik lembaran Bu ji-thian-keng, berkatalah Su-hay-mo-ong: “Kenyataan sukar dibantah!”

Kui bo ketawa tawar: “Benar, memang kenyataan sukar dibantah... Tahukah kalian asal usul Bu-ji-thian-keng itu?”

Kembali Su-hay-mo-ong dan anaknya menggeleng.

Kui-bo tertawa gelak-gelak: “Ho, memang tak aneh kalau kalian tak tahu... baiklah, akan kuceritakan asal usulnya tanpa syarat suatu apa!”

Cian Hong yang berada diluar pintu makin merangsang keinginantahunya.

Mulailah Kui-bo bercerita: “Berpuluh tahun yang lalu, diseberang lautan terdapat sebuah pulau yang disebut Sian-li-kang (karang tapak dewi). Siangkwan Yap, karena lama tinggal diluar lautan, kau tentu pernah juga mendengarnya, bukan?”

Su-hay mo ong mengangguk: “Sering kudengar cerita orang dan pernah juga kuselidiki sendiri, tetapi...”. tiba-tiba ia tak melanjutkan.

“Tetapi kau tentu tak mengerti apa sebabnya kau dihalau pergi dari pulau itu, bukankah begitu?” tukas Kui bo.

Terpaksa dengan tebalkan kulit, Su hay-mo-ong menjawab: “penghuni pulau itu, memiliki kepandaian sakti. Aku tak melihat bayangan seorang manusiapun juga tetapi anehnya tahu-tahu aku diusir keluar dari pulau itu. Hampir saja jiwaku melayang...”

Kui-bo tertawa: “Untung kau tahu gelagat!” Diluar pintu kembali Cian Hong terkejut. Tokoh sakti seperti Su- hay-mo ong dengan mudah dapat dihalau oleh orang pulau Karang- dewi (Sian-li-kang). Betapakah hebat kepandaian orang-orang Sian-li-kang itu!

Kui-bopun melanjutkan ceritanya: “Dipulau Sian-li-kang tinggal seorang sakti. Dia tak punya nama. Orang-orang memberinya gelaran sebagai Bu Yu lojin (orangtua Tak-kenal susah). Berapa tinggi ilmu kesaktiannya, tak seorangpun yang dapat mengukur. Dia mempunyai seorang anak perempuan bernama Pek Hay cu. Pek Hay-cu kemudian dinikahkan dengan murid kasayangan Bu Yu lojin yang bernama Tang hay-ki hiap. Setahun kemudian Pek Hay-cu melahirkan seorang puteri. Pada saat itu Bu Yu lojinpun sudah menutup mata. Rupanya Pek Hay-cu jemu dengan penghidupan dipulau. Diam-diam ia meninggalkan pulau dengan membawa salah sebuah kitab pusaka warisan ayahnya...” “Apakah kitab Bu-ji-thian- keng?” Hay-gwa-it-kiau menyelutuk.

“Benar,” sahut Kui-bo, “Bu Yu lojin telah mencatat ilmu Sian-li- ki-poh yang paling disayanginya dalam kitab kecil itu!”

Hay-gwa-it-kiau mengacungkan kitab Bu-ji-thian-keng, serunya: “Tetapi tidak ”

“Budak perempuan, omonganku belum selesai!” bentak Kui-bo,” setelah menulis dalam kitab Bu-ji-thian keng itu. Bu Yu lojin segera membenam kitab itu dalam sumberair Cin-kut-cui, sebuah sumber air yang luar biasa dipulau Sian-li-kang. Setelah direndam selama tiga bulan, tulisan dalam kitab itupun lenyap semua!”

Diluar pintu Cian Hong terkesiap. Tulisan direndam air sudah tentu hilang. Mengapa Kui-bo mengatakan kitab itu masih ada tulisannya? Tak terkecuali Su-hay-mo-ong. Ia buru-buru bertanya : “Oh, kiranya begitu. Tetapi apakah ada cara untuk membuat tulisan yang hilang itu timbul kembali?”

Sahut Kui-bo: “Sudah tentu ada!”

Su-hay-mo-ong gugup. Buru-buru ia hendak mendesak Kui-bo agar lekas mengatakan rahasia untuk menimbulkan tulisan yang hilang itu....

Kui bo tertawa mengekeh.
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pukulan Hitam Jilid 07"

Post a Comment

close