Pukulan Hitam Jilid 02

Mode Malam
Jilid ke 2

HONG JI, Hong ji...” Kang-ou Bi-jin berteriak kaget. Tetapi saat itu Ko Cian Hong sudah terbenam dalam kepungan 36 jago- jago silat. Ia tak mendengar lagi teriakan ibunya.

Barisan Hiat Uh Lok Hoa Kiam-tin yang terdiri dari 36 jago pedang itu telah terlatih sempurna. Begitu bergerak, barisan itu seperti seekor naga bercengkerama di samudera. Sinar pedang dan bayang-bayang manusia mendampar dari delapan penjuru.

Ko Cian Hong benar-benar seperti seekor anak kambing yang tak takut pada harimau. Kedahsyatan barisan itu bukan menghancurkan nyalinya, bahkan kebalikannya malah menimbulkan kemarahannya yang meluap-luap. Ia lancarkan pukulan makin gencar! Tubuhnya menderu-deru bagai halilintar berhamburan diangkasa... Cian Hong benar-benar marah dan kalap.

Tetapi barisan pedang Hujan-darah-bunga-gugur merupakan barisan yang istimewa. Udara seolah-olah tertutup oleh sinar pedang. Makin lama makin membubung tinggi sehingga udara gelap. Hanya suara angin pukulan bergeletaran membentur pedang. Batu dan pasir berhamburan keseluruh penjuru. Sepintas pandang pertempuran itu merupakan pertempuran acak-acakan. Tetapi sebenarnya suatu pertempuran yang bertarap jurus-jurus istimewa yang jarang terdapat didunia persilatan.

Uh-hoa kiam Ih Thian-cek mengawasi barisannya dengan tersenyum-senyum. Sebaliknya Kang-ouw Bi-jin kedat kedut hatinya. Ia mengikuti gerak puteranya dengan penuh kecemasannya. Diam-diam ia siapkan kedua tangannya. Setiap saat akan turun tangan bila sang putera terancam...

Sekonyong-konyong barisan terpecah. Serentak terdengarlah jeritan ngeri. Suara pukulan mendahsyat, darah dan daging berhamburan, tubuh susul menyusul bergelimpangan jatuh. Dalam beberapa kejap, sudah ada beberapa korban yang jatuh...

Melihat barisan yang diandalkan bonyok, berobahlah seketika wajah Ih Thian-cek. Sebaliknya kendorlah kecemasan Kang-ou Bi- jin. Ia benar-benar kagum melihat kiprah puteranya yang sedemikian hebat. Dering dan taburan pedang yang sedemikian hebatnya tak mampu menerobos pukulan anak itu.

Tiba tiba...

Lingkaran sinar pedang berhamburan pecah.

Teriak jeritan memekik ngeri, tubuh-tubuh berkaparan malang melintang ditanah. Kutungan pedang bertebaran jatuh kebumi. Suatu pembunuhan besar-besaran telah berlangsung secara menegakkan bulu roma.

Tampak Cian Hong tegak dengan keringat bercucuran didahi. Kemudian ia ayunkan langkah pelahan-lahan dari medan laga. Uh- hoa-kiam atau si Hujan-pedang Ih Thian-cek berdiri seperti patung.

“Mati   seperti   pulang   ke   rumah.   Serbu   lagi!”   tiba-tiba   ia membentak  kepada  sisa  barisan  Hiat  uh-lok-hoa-kiam-tin  yang hanya tinggal beranggota 12 orang. Kedua  belas  jago  pedang  itupun  terpaksa  menghampiri  Cian Hong  lagi.  Wajah  pemuda  itu  tampak  pucat  lesi.  Tetapi  ia  tetap dahsyat dan lincah dalam menghadapi serbuan ke 12 jago pedang.

Walaupun hanya tinggal 12 orang, tetapi barisan Hiat-uh-lok hoa kiam-tin tak berkurang perbawanya.

Sinar pedang mereka masih tetap menutup angkasa. Gerak pedang tak makin berkurang bahkan malah makin segencar hujan mencurah. Empat arah delapan penjuru, berhamburan pedang ketubuh Ko Cian Hong.

Kang-ou  Bi-jin  mulai  gelisah  pula.  Ia  mengikuti  pertandingan maut  itu  dengan  penuh  perhatian.  Ia  cukup  paham  akan  barisan Hiat-uh-lok-hoa-kiam tin. Barisan itu memang lain dari yang lain. Walaupun anggotanya sebagian besar sudah gugur, namun barisan itu  tetap  dahsyat.  Dahulu  Cian-bin-su-seng  atau  Pelajar  wajah seribu (ayah Cian Hong) dapat menerobos dari barisan itu setelah barisan hanya tinggal 18 orang anggotanya.

Suatu keistimewaan dari ciri-ciri barisan itu ialah, makin banyak anggotanya yang gugur, makin hebat perbawa barisan itu. Karena Cian  Hong  saat  itu  harus  menghadapi  12  orang,  maka  ia  lebih menderita  kesukaran daripada  ayahnya  dahulu yang  menghadapi 18 jago pedang.

Mulai wajah anak muda itu mengerut susah. Tangannya kiripun mulai linu. Tiba-tiba pemuda itu mendapat akal. Ia merasa kewalahan menghadapi sekian banyak lawan. Untuk merebut kemenangan adalah tak mungkin. Ia menyadari sebuah cara yang jitu. Menangkap penjahat haruslah membekuk pemimpin dulu....

Cepat ia songsongkan pukulan kiri untuk mengundur dua orang lawan. Kemudian ia bersuit sekeras-kerasnya dan tiba-tiba ia enjot tubuhnya keudara. Ditengah udara ia berjumpalitan lalu menukik kearah kepala Ih-hoa-kiam Ih Thian-cek. Pemimpin barisan Hiat uh-lok-hoa-kiam-tin terkejut. Tetapi sudah kasip, Cian Hong saat itu sudah menerkam kepalanya. Namun Ih Cian-cek seorang jago silat yang sudah banyak pengalaman. Tak kecewa ia menjadi seorang tokoh silat kelas satu. Cepat ia gerakkan kedua tangannya untuk menggunting musuh.

Tar... terdengar letupan keras ketika tangan mereka beradu. Tetapi pada lain saat terdengarlah Ih Thian-cek menjerit kaget: “Hai, pukulan hitam...!” Betapapun ganas pemimpin barisan Hiat- uh-lo-hoa-kiam, namun ketika menghadapi Pukulan-hitam ia ngeri juga. Cepat-cepat ia enjot tubuhnya kebelakang dalam gerakan yang mengagumkan. Sekalipun begitu tetap ia terlambat setindak. Sinar hitam berkelebat menyerbu matanya. Tahu-tahu dadanya serasa pecah, darah bergolak hebat. Ia terhuyung-huyung puluhan langkah dan jatuh terduduk ditanah. Mulutnya menyembur darah sampai beberapa meter jauhnya....

Kedua belas anak buah barisan Hiat-uh-lok-hoa-kiam-tin segera berhamburan mencegat Cian Hong. Mereka berjajar-jajar melindungi ketuanya.

Dengan susah payah Ih Thian-cek menggeliat bangun. Serunya dengan nada kesakitan: “Hoa Sian-lan, hari ini aku mengaku kalah. Mungkin aku mati dibawah Pukulan-hitam. Tetapi apakah kau yakin mampu lolos dari kejaran orang Su-hay-mo-ong?”

Su-hay mo ong artinya Durjana dari Empat samudera. Hoa Sian- lan atau Kang-ou Bi-jin agak berobah mukanya. Namun ia paksakan diri berlaku setenang mungkin.

“Sudah mau mati masih goyang lidah!” serunya. “Hoa Sian-lan, lebih baik serahkan kitab itu daripada kau selalu dikejar-kejar bahaya maut!” Sahut Kang-ou Bi-jin dengan tenang: “Terus terang kuberitahukan padamu. Apabila kitab itu masih berada ditanganku tak nanti aku sampai...”

“Ah, ah, jiwaku ini... sia-sia kukorbankan...” Pemimpin barisan Hiat-uh-lok-hoa-kiam-tin itu tak dapat melanjutkan kata-katanya karena saat itu kulitnya pun berobah hitam. Tubuhnya menggigil keras. Tangannya berkelojotan meraih keatas dan pada lain kejap, rubuhlah tubuhnya menggelepar ketanah. Jago pedang yang termasjhur itupun melayang jiwanya.

Pukulan-hitam meminta sebuah korban lagi! Keduabelas anggota barisan Hiat-uh-lok-hoa-kiam-tin sesaat tak tahu apa yang harus dilakukan. Tiba-tiba salah seorang mengangkat tubuh Ih Thian cek.

Dengan bersuit nyaring ia segera loncat turun gunung. kawan- kawannyapun segera mengikuti...

Rupanya kemarahan Cian Hong masih belum reda. Melihat kawanan jago-jago pedang itu melarikan diri, ia segera loncat hendak mengejar tetapi dicegah ibunya.

“Hong-ji! Kembali!” teriaknya, “membunuh lawan habis- habisan, bukanlah laku seorang kesatrya!”

Mendengar itu Cian Hongpun berhenti dan lari menghampiri ibunya: “Mah...ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena Kang- ou Bi-jin menatapnya dengan mata berapi-api.

Cian Hong tak mengerti mengapa mendadak sontak ibunya sedemikian gusar. Ia termangu-mangu. Sesaat kemudian barulah ia memberanikan diri bertanya: “Mah. Ih Thian-cek tadi menyebut- nyebut tentang kitab kecil. Kitab apakah itu sehingga ia begitu mati- matian hendak mendapatkan?”

“Tidak, tidak apa-apa!” sahut ibunya. “Tetapi jelas aku mendengarnya tadi, mengapa mamah mengatakan tidak apa-apa?” Cian Hong menegas.

Tiba-tiba mata Kang-ou Bi-jin berkilat-kilat. Beberapa saat ia memandang kesekeliling penjuru. Seolah-olah takut kalau didengar orang.

“Ah, itulah sebuah kitab yang membawa celaka,” akhirnya ia menerangkan.

“Kitab? Kitab pembawa celaka?” Cian Hong mengulang.

“Ya, barangsiapa mendapatkan kitab itu tentu akan tertimpa bencana besar!”

“Benarkah?” Cian Hong menegas.

“Mengapa aku harus berbohong kepadamu, Hong ji!” “Kitab apakah itu, mah?”

“Salah sebuah kitab dari Tiga-kitab-mujijat di dunia!” Cian Hong terkejut: “Tiga-kitab-mujijat dalam dunia?” Kang-ou Bi-jin mengangguk.

Cian Hong makin kaget, desaknya: “Hai, apakah bukan Kitab- tanpa tulisan?”

Mendengar Cian Hong menyebut Kitab-tanpa-tulisan, bukan kepalang kejut Kang-ou Bi-jin. Dengan tegang ia menghampiri puteranya.

“Hong-ji bagaimana kau dapat mengetahui tentang Kitab-tanpa tulisan itu? Meskipun itu bukan kitab yang dikejar-kejar Ih Thian cek, tetapi kitab itu merupakan salah satu dari tiga-kitab mujijat didunia! Juga kitab itu membawa bencana besar!”

“Benar, mah!” seru Cian Hong,” kitab itu dilumuri racun. Aku pernah terkena racunnya!” “Kau terkena racunnya?” Kang-ou Bi-jin makin tegang.

“Benar. Tetapi untunglah aku diobati oleh Kang-ou-long-tiong!” “Ah, syukur...” kata Kang-ou Bi-jin penuh rasa syukur yang tak

terhingga.

“Mah, kau belum mengatakan apa kitab itu tadi?” tiba-tiba Cian Hong bertanya.

“Oh... Kitab Kuning...”

“Kitab Kuning?” Cian Hong menegas. “Ya.”

“Lalu apa nama kitab yang ketiga?” desak Cian Hong. “Kitab Pukulan-hitam!”

“Apakah sesungguhnya kegunaan dari Tiga kitab-mujijat didunia itu?”

“Seratus tahun yang lalu, orang persilatan sudah mulai memperebutkan ketiga kitab ajaib itu. Konon kabarnya barangsiapa mampu mendapatkan salah sebuah saja, tentu dapat menjagoi dunia persilatan. Tetapi...”

Tiba-tiba mata Kang-ou Bi-jin menimpa kearah lengan kanan Cian Hong. Dipandangnya sampai beberapa saat dan mengerutlah wajahnya.

“Hong-ji, sebenarnya kau sudah dapat mempelajari Pukulan hitam atau belum?”

“Su... dah, su... dah...” Cian Hong menyahut tergagap-gagap.

Kang-ou Bi jin melangkah maju dan plak, plak, ia ayunkan lengannya kepipi Cian Hong. Seketika pipi anak itu membenjut begap!

“Lihatlah tanganmu sendiri! Kau masih berani menipu aku ah...” berseru Kang-ou Bi-jin dengan gemetar penuh kekecewaan dan kedukaan. Beberapa butir airmata mengucur dari pelapuknya. Cian Hong termangu-mangu seperti patung. Ia benar-benar tak tahu apa yang harus dikatakan. Hatinya sedih bukan kepalang.

Sebenarnya ia tak bermaksud hendak menipu mamahnya. Ia memang telah mempelajari Pukulan Hitam. Tetapi Pukulan-hitam yang hanya dapat digunakan untuk membunuh seorang. Karena ia telah membunuh jago pedang Ih Thian-cek maka lengannya yang hitam itupun berobah keasalnya lagi.

Akhirnya ia menghampiri kebelakang ibunya dan berbisik dengan penuh permintaan maaf. ”Mah, aku memang bersalah!”

“Hm, seharusnya kau tahu betapa besar harapan yang kutumpahkan pada dirimu. Dendam sedalam lautan keluarga kita, kuletakkan diatas bahumu. Tetapi siapa tahu. siapa tahu kau telah

membohongi aku.”

“Mah, anak sungguh tak berani menipumu.”

Tiba-tiba Kang-ou Bi jin berputar tubuh. Dipandangnya Cian Hong dengan penuh kemarahan.

Bentaknya: “Kau masih berani membantah.... Kau sudah bertemu dengan Malaekat-elmaut?”

“Sudah!”

“Dia memberi pelajaran Pukulan-hitam padamu?”

“Ya, tetapi yang diajarkan hanyalah Pukulan-hitam untuk membunuh satu orang dan bukan seluruh jurus ilmu Pukulan- hitam yang sakti!”

“Hanya untuk membunuh seorang?” Kang-ou Bi jin menegas. “Ya, pukulan itu hanya dapat digunakan untuk membunuh satu

orang. Dan setelah itu lenyaplah ilmu itu!”

“Mengapa dia hanya mengajarmu satu jurus dan tidak seluruh jurus?” “Karena Malaekat-elmaut hendak menggunakan tenagaku untuk membunuh 5 orang musuhnya. Setelah itu baru dia mau memberi pelajaran seluruh jurus!”

“Berapa orang musuhnya yang telah kau bunuh?” Cian Hong merenung sejenak, sahutnya: “Baru tiga orang!”

“Siapa?”

“Bu-ceng-mo-ong Lenghou Tiu, Bok-tiong-hong-cu Tang Bun-ka dan Sin-ciu-it-kiam Siang Kay-ih.”

“Apa? Sin-ciu-it-kiam Siang Kay-ih juga sudah kau bunuh?” Kang-ou Bi jin terbeliak.

Cian Hong termangu beberapa saat. Ia mengiakan : “Ya, dia sudah mati.”

“Yang mati biarlah mati. Lalu siapakah orang keempat yang harus kau bunuh?”

“Belum tahu,” jawab Cian Hong, “aku harus kembali mendapatkannya untuk menerima perintah!” “Kalau begitu, segeralah kembali padanya. Ingat, kau harus belajar ilmu Pukulan- hitam itu sampai berhasil baru kau pulang menemui aku,” kata Kang-ou Bi-jin. Habis memberi pesan, ia terus hendak berlalu.

Cian Hong mengejar. Beberapa kali ia hendak membuka mulut tetapi selalu tak jadi. Akhirnya ia beranikan diri juga.

“Mah, beritahukanlah bagaimana asal usulku dan sakit hati keluarga kita,” katanya.

Kang-ou Bi-jin berputar tubuh. Ditatapnya wajah Cian Hong dengan pandangan yang berapi-api. Pandangan yang mencurahkan kemarahan. Sampai beberapa lama kemudian berkatalah ia dengan nada gusar: “Apakah kau anggap kepandaianmu sudah tiada yang dapat melawan?” Dengan tersipu-sipu masygul Cian Hong tundukkan kepala. Kepandaian yang dimiliki saat itu, meskipun dapat digolongkan sebagai tokoh persilatan kelas satu, namun bukanlah berarti tak ada yang dapat menandingi.

Berkata pula Kang-ou Bi-jin dengan nada penuh kerawanan: “Musuh-musuh keluarga kita adalah momok-momok yang berkepandaian sakti. Dengan kepandaian yang kau miliki sekarang itu masih ibarat telur beradu dengan tanduk, anai-anai melanda api. Apa guna kuberitahukan tentang sakit hati keluarga kita pada saat sekarang?”

Pedih rasa hati Cian Hong mendengar penyahutan ibunya. Mengapa mamahnya tak mau memberitahukan asal usul dirinya. Sampai saat itu ia masih gelap dengan keadaan ayah dan keluarganya.

Tampak sepasang mata Kang-ou Bi-jin berlinang-linang airmata, ujarnya: “Hong-ji, pergilah!

Janganlah kau menyangka mamahmu kejam, tetapi benar-benar hal itu demi untuk kepentinganmu!”

Dengan tegakkan kepala, Kang-ou Bi-jin berputar tubuh dan melangkah masuk kedalam pondok. Bagaimana perasaan wanita itu, hanya dia yang dapat merasakan...

Wajah Cian Hong berubah pucat. Dendam keluarganya yang dikatakan oleh ibunya sedalam lautan itu telah membangkitkan seluruh kebenciannya. Manusia-manusia yang menjadi musuh- musuh ayahnya itu seolah-olah hendak ditelannya saat itu. Darah yang bergolak membakar tubuhnya, telah membuaskan seri wajahnya...

Tiba-tiba ia bersuit nyaring. Suaranya jauh berkumandang menyusup keangkasa. Puas menumpahkan isi hatinya, ia segera enjot tubuhnya lari turun gunung. Tak mau ia memandang kepondok tempat ibunya.

Ia telah membulatkan tekad. Tetap akan meyakinkan Pukulan- hitam guna menuntut balas pada musuh-musuh keluarganya.

Cian Hong berlari-larian menuruni gunung. Hatinya penuh berkecamuk dengan pertanyaan-pertanyaan bagaikan benang ruwet yang sukar diurai lagi.

Adalah tentu karena kecantikannya yang menonjol maka ibunya digelari orang sebagai Kang-ou Bi-jin (wanita cantik dalam dunia persilatan). Tetapi mengapa sekarang wajahnya sedemikian mengerikan! Mengapa kecantikannya berganti dengan wajah yang menjemukan? Siapakah yang telah mencacat-cacat wajah mamahnya itu...

Mengapa  Cian-bin-su-seng  yang  menurut  keterangan  ibunya adalah  ayahnya,  telah  dijebloskan  dalam  Neraka-19-lapis  selama puluhan tahun?

Teringat    akan    penjara    ngeri    Neraka-19-lapis,    serentak terbayanglah benak  Cian Hong  akan kematian mengenaskan dari Kian-gun-ciang    atau    Pukulan-jagad    yang    masih    terhitung pamannya itu. Tanpa disadari, buluroma  Cian Hong bergidik dan tubuhnya menggigil...

Dan mengapa Uh-hoa-kiam Ih Thian-cek begitu mati-matian hendak meminta Kitab Kuning dari ibunya.

Apakah rahasia kitab itu? Dan apa pula kegunaan dari kitab Tanpa-tulisan serta kitab Pukulan-hitam?

Pertanyaan yang merupakan lingkaran teka teki itu benar-benar melibat benak Cian Hong kedalam halimun tebal yang membuatnya tak dapat melihat suatu apa. Persoalan-persoalan yang sedemikian pelik itu benar-benar merupakan jaringan teka teki yang tak mungkin dipecahkan. Benaknya seolah-olah mumer!

Untuk menerobos halimun kegelapan itu satu-satunya jalan ialah harus menjalankan perintah si Malaekat-elmaut untuk membunuhkan musuh-musuhnya. Setelah itu baru ia dapat menerima pelajaran Pukulan-hitam. Dan setelah memiliki pukulan sakti itu barulah ia pulang menemui ibunya lagi guna meminta penjelasan.

Cian Hong lari, terus lari seolah-olah hendak lekas-lekas menerobos dari kegelapan awan yang menyelubungi benaknya. Ia lari sekencang-kencang. Pikirannya melayang-layang. Tak tahu ia kemana arah yang dituju. Ia membiarkan dirinya dibawa lari oleh sang kaki...

Sekonyong-konyong ia dikejutkan oleh suara bentakan orang memaki: “Keparat! Apakah matamu buta?”

Cian Hong seperti tergugah dari impian buruk. Seketika ia hentikan larinya. Agak terkejut ia ketika melihat empat jurusan berdiri sekelompok orang berpakaian warna hitam. Dia dikepung ditengah mereka. Sudah tentu ia heran.

“Apakah maksud saudara-saudara ini?” akhirnya ia menegur.

Salah seorang rombongan orang baju hitam yang berdiri ditengah segera membentaknya: “Eh, seorang gagah tentu bermata tajam. Saudara tentu sudah mengetahui isi perut kami mengapa masih bertanya lagi?”

Cian Hong makin heran, serunya : “Aku sungguh tak mengerti!” “Kalau tidak tahu itulah yang paling baik. Tetapi mengapa kau

masuk kedalam Cek-lim hutan merah sini?” “Hutan-merah?” Cian Hong mengulang seraya keliarkan matanya memandang kesekeliling. Memang saat itu ia berada disebuah hutan yang lebat. Tetapi anehnya pohon-pohon yang tumbuh disitu berwarna merah semua.

“Apakah disini yang disebut Hutan-merah?” ia menegas pula dengan heran. “Jangan berpura-pura!”

Salah seorang baju hitam tertawa mengejek dan menyeletuk : “Rencanamu sudah gamblang seperti matahari disiang hari. Jika tak lekas-lekas keluar dari Hutan-merah sini, mungkin, heh heh...”

“Rencana? Rencana apa?” benar-benar Cian Hong heran dan marah atas tuduhan orang. Serunya pula dengan nada bengis: “Manusia bebas untuk pergi ke manapun juga. Hutan ini bukanlah milik keluargamu. Jika kalian boleh datang kemari mengapa aku tak boleh?

Jangan peduli apa yang hendak kulakukan, itu bukan urusan kalian!”

Habis menjawab tajam, Cian Hongpun lanjutkan langkahnya.

Siorang baju hitam yang kesatu tadi marah sekali. “Benar, kalau saudara tak mau pergi, tubuhmu tentu sempal!” seru orang itu- Kecongkakan Cian Hong tersinggung: “Aku tak percaya kalian mampu menghalangi perjalananku!”

serunya marah. Wut, tiba-tiba ia gerakkan sepasang tangannya.

Menderunya angin pukulan dahsyat disusul dengan jeritan ngeri. Rombongan orang berbaju hitam yang menghadang ditengah jalan itu segera menyiak kepinggir. Terbukalah seketika sebuah jalan darah. Cian Hong segera melangkah maju. Tetapi pada lain saat rombongan orang baju hitam itupun serempak menghambur pukulan. Tiba-tiba Cian Hong berputar diri dan ayunkan kedua tangannya pula. Segera terjadi pertempuran seru.

Pukulan beradu pukulan, letupan susul menyusul membisingkan telinga. Jeritan ngeripun berturut-turut menyayat hati...

Beberapa kejap kemudian, beberapa sosok tubuhpun sudah menggeletak rubuh ditanah. Tetapi kedua tangan Cian Hongpun menderita kesakitan seperti patah. Ia mundur beberapa langkah, mata berkunang-kunang.

Hanya karena hatinya keras, ia dapat paksakan diri bertahan tak sampai rubuh.

Rombongan baju hitam itu terpesona menyaksikan kesaktian anak muda itu. Pukulan pemuda itu benar-benar luar biasa. Mereka termangu-mangu tegak seperti patung.

Cian Hong mendengus, ia berputar diri terus melangkah pergi.

Melihat sianakmuda pergi rombongan baju hitam kembali tegang. Jika barang itu sempat didapat oleh pemuda itu, mereka yakin jiwa mereka tentu akan lenyap. Kecemasan itu membuat tubuh mereka menggigil keras. Dilihatnya saat itu Cian Hong sudah sejauh tiga tumbak, hampir tiba ditengah hutan Cek-lim. Beberapa anggota Baju Hitam segera loncat mengejar.

“Anak anjing, berhenti! Jika berani melangkah terus, jangan tanya dosa,” teriak salah seorang baju hitam yang rupanya menjadi pemimpin rombongan.

Cian Hong kaget. Dan lebih terkejut lagi ketika tahu-tahu orang berbaju hitam itu sudah menghadang dihadapannya.

“Eh, mengapa saudara begitu ngotot hendak melarang aku berjalan?” seru Cian Hong keheranan.

“Kuminta kau suka tinggalkan hutan ini,” jawab orang itu. “Jika kutolak?”

“Mengapa kau menolak hidangan arak tetapi minta air beracun?Kalau kau berkeras kepala aku terpaksa bertindak!”

Ancaman orang berbaju hitam itu ditutup dengan gerakan memukul. Kawanannyapun mengikuti. Kembali suara pukulan bergemuruh, sosok-sosok bayangan berkelebatan.

Cian Hong mengamuk. Beberapa kali ia dapat membuat musuh- musuhnya benyok. Tetapi rombongan Baju Hitam itu pantang mundur, Patah tumbuh hilang berganti. Satu mati maju dua. Dua mati maju empat Cara 'membanjiri mayat' semacam itu, benar-

benar membuat Cian Hong kewalahan!

Darr... tiba-tiba terdengar ledakan keras. Lima anggota Baju Hitam terdampar jatuh ketanah. Cian Hongpun terpental sampai beberapa langkah. Darahnya bergolak-golak keras dan huak tak

dapat ia menahan aliran darah yang menyembur keluar dari mulutnya. Seketika gelaplah sekeliling penjuru. Kepalanya pening, ia terhuyung-huyung akan jatuh tetapi dikuatkannya juga untuk bertahan.

Beberapa jago Baju Hitam yang tak terluka segera maju menghampiri Cian Hong. Selangkah demi selangkah mereka maju dengan wajah memancar pembunuhan. Cian Hong mendengari langkah mereka dengan penuh ketegangan. Seolah-olah tiap-tiap langkah itu bagaikan martil yang memukul jantungnya. Cepat-cepat ia kerahkan seluruh semangat untuk bersiap siap. Tetapi luka- dalam yang dideritanya cukup parah. Keadaannya bagai lilin yang sudah hampir padam...

Tiba-tiba kawanan Baju Hitam itu mengangkat tinjunya dan diayunkan pada Cian Hong. Pemuda itu cepat-cepat hendak menangkis tetapi ah     tenaganya serasa lunglai. Tangannya lentuk

tak bertenaga lagi. Seketika berobahlah wajahnya. Hatinyapun ikut tenggelam bersama rasa kecewa yang tak terhingga, ia mundur beberapa langkah.

Kawanan baju Hitam melanda. Diserbunya anakmuda itu dengan hebat. Cian Hong terancam kehancuran yang ngeri...

Sekonyong-konyong pada saat jiwa pemuda itu seperti telur diujung tanduk, sesosok bayangan hitam meluncur dari udara dan lepaskan pukulan. Bukan pukulan yang dahsyat tetapi pukulan lemah gemulai yang mengandung lwekang lunak.

Dess.... terdengar suara mendesis pelahan seperti api tersiram air. Gelombang tenaga pukulan dahsyat dari kawanan Baju Hitam itu sirna seketika.

Bukan kepalang kejut kawanan Baju Hitam.

Pukulan mereka seperti membentur gumpalan kapas yang lunak sekali. Seketika pucatlah wajah mereka.

Dan lebih kaget pula ketika memandang kemuka mereka melihat seorang nona muncul dihadapan.

“Siocia...” serta merta mereka membungkukkan diri memberi hormat seraya mundur.

Cian Hong seperti orang yang tersadar dari mimpi buruk. Berpaling kesamping iapun terbelalak kaget. Dara baju hitam yang menjadi puteri angkat Sin-ciu-it-kiam berdiri tak jauh dari tempatnya. Nona itulah yang menyelamatkan jiwanya...

Hampir Cian Hong mengucapkan terima kasih andaikan pada saat itu ia tak teringat akan kejadian yang belum lama. Bukankah nona itu yang menyebabkan ia terkena racun dari Kitab-tanpa- tulisan?...

Mulutnya terkatup pula dan dipandangnya nona itu dengan mata berkilat-kilat, penuh dendam. “Kaukah yang menolong aku?” tegurnya dingin.

Acuh tak acuh nona baju hitam itu menyahut: “Ya...”

Masih Cian Hong memandangnya dengan mata beringas, seperti seekor harimau yang hendak menelan korbannya. Tetapi pemuda itu berusaha sekuat-kuatnya untuk menekan perasaannya.

“Terima kasih,” ujarnya tawar.

“Aiihh, sinar matamu menakutkan sekali,” nona baju hitam itu melengking, “Mengapa? apakah aku berdosa padamu?”

“Hm, mengapa terjadi peristiwa seperti saat ini...” dengus Cian Hong.

“Eh, apakah maksudmu?” seru nona itu. “Apakah masih perlu kujelaskan?” Cian Hong makin sengit.

“Aku benar-benar tak mengerti!”

“Fuih Wanita berbisa didunia!” akhirnya pemuda itu tak tahan lagi, “aku tak kenal dan tak bermusuhan padamu, mengapa kau mencelakai diriku?”

“Mencelakai?” nona itu tetap heran.

“Kau suruh aku membukakan peti berisi kitab Tanpa tulisan yang berlumuran racun sehingga aku terkena racunnya!”

“O...!” dara itu seperti terkejut. Dan setelah kerlingkan biji matanya yang bagus, ia melengking kaget: “Hai, kaukatakan kitab Tanpa tulisan itu dilumuri racun? Aku sungguh-sungguh tak mengetahui tentang itu!”

“Huh, siapa yang percaya pada omonganmu!” dengus Cian Hong dengan nada muak.

“Kalau kau tak mau percaya, bagaimana aku harus mengatakan?” kata dara itu dengan nada terhiba-hiba seperti menyesal. Mendengar itu terlintas keraguan dalam hati Cian Hong. Menilik nada sinona, sepertinya seorang yang benar-benar tak bersalah.

“Apakah aku salah menuduhnya? Apakah benar-benar ia tak tahu tentang racun dalam kitab itu. Kalau ia sengaja hendak mencelakai diriku mengapa ia datang kemari menolongku lagi?” demikian perbantahan yang timbul dalam hati Cian Hong Makin direnungkan makin pudarlah kesalahan dara itu. Pada lain kejap, berobahlah pandangan Cian Hong. Ia merasa bersalah karena menuduh semena-menanya.

Dengan penuh rasa sesal ia hendak menghampiri untuk meminta maaf. Tetapi tiba-tiba terdengar suitan nyaring memecah angkasa. Dan pada lain kejap berhamburanlah berpuluh-puluh sosok tubuh menuju ketempat hutan. Dua belas orang muncul dihutan Merah situ.

Cepat sekali Cian Hong mengenal kawanan pendatang itu sebagai jago-jago pedang anakbuah barisan Hiat-uh-lok-hoa-kiam- tin. Seketika teganglah ia...

Kedua belas anakbuah barisan pedang itu segera menghampiri sinona baju hitam. Salah seorang menuding kearah Cian Hong dan meugucap beberapa patah kata kepada nona itu.

Sinona baju hitam yang berwajah buruk serentak berobah ngeri wajahnya.

“Kaulah yang membunuh Ih Thian-cek?” beberapa saat kemudian nona baju hitam itu menegur.

Melihat kawanan pendatang tadi kasak kusuk dengan sinona baju hitam, kemudian mendengar nona itu menegurnya dengan nada sengit, serentak timbullah kecongkakan hati Cian Hong: “Ya, mau apa!” “Ah, aku telah salah menolong seorang manusia yang tak kenal budi seperti kau!” damprat nona itu.

“Aku tak kenal budi? Ha, ha.... ha, ha...” Cian Hong tertawa gelak- gelak.

Wajah nona baju hitam itu sebentar berobah tegang sebentar pucat. Rupanya ia sedang mengalami pertentangan batin yang hebat. Antara kesadaran pikiran dan suara hati. Suara tertawa congkak dari Cian Hong serasa mengetuk hati nona itu.

Seolah-olah seperti melihat hal yang baru, saat itu sinona baru mengetahui jelas betapa cakap wajah pemuda itu. Hati nona itu serentak berkembang suatu perasaan. Perasaan halus yang dimiliki oleh setiap gadis remaja....

“Kau... kau manusia yang tak kenal budi Enyah!” tiba-tiba nona

baju hitam itu berganti nada sedingin es.

Memahami hati seorang dara lebih sukar daripada mencari jarum jatuh didalam laut. Pertama kali nona itu memang sengaja hendak mencelakai Cian Hong supaya terkena racun dari kitab Tanpa-tulisan. Syukur nasib Cian Hong masih baik sehingga dapat pertolongan dari tabib sakti Kang-ou-long-tiong.

Kedua kalinya berjumpa dengan pemuda itu, berubahlah seluruh pandangan nona baju hitam. Diam-diam dalam hatinya telah bersemi suatu perasaan yang indah....

Cian Hong benar-benar tak mengerti sikap nona itu. Ditatapnya wajah sinona yang buruk, kemudian ia berputar tubuh dan melangkah pergi.

Kira-kira 5-6 tombak jauhnya, ia mendengar kawanan jago-jago pedang tadi berseru kepada sinona baju hitam: “Siocia. ”

Salah seorang yang menjadi pemimpinnya segera menghampiri kedepan sinona dan mengucapkan beberapa patah kata. Cian Hong tak dapat mendengar karena mereka bicara dengan berbisik-bisik, iapun tak mengacuhkan dan lanjutkan perjalanannya.

Habis mendengar keterangan pemimpin rombongan, alis sinona baju hitam menjungkat keatas. ”Mengapa tadi-tadi kau tak mengatakan!” dampratnya.

“Hai kau, kembalilah dulu!” teriak nona itu kepada Cian Hong.

Cian Hong tertegun. Serentak ia berpaling. Pandangannya tepat beradu pada sepasang mata sinona yang berapi-api. Dia maju menghampiri.

“Apakah nona memanggilku?” tanyanya.

“Kalau bukan kau, siapa lagi!” sahut sinona baju hitam dengan ketus.

“Ada urusan apa?” “Siapa namamu?” “Aku...? Ko Cian Hong!”

“Apakah ibumu bukan Kang-ou Bi-jin Hoa Sian- ”Benar, perlu apa nona menanyakan hal itu?”

“Jangan memutus omongan! Aku bertanya lagi, apakah kau murid dari Malaekat-elmaut Wi Co chiu?”

“Hal ini... beberapa hari yang lalu telah kukatakan padamu bahwa aku bukan muridnya.” “Jangan coba mengelabuhi aku. ”

Belum sinona menghabiskan kata-katanya. Cian Hong segera mengangkat kedua tangannya keatas, serunya: “Lihat, apakah tanganku ini mirip menjadi murid si Malaekat-elmaut?”

Sinona terkesiap. Memang kedua lengan pemuda itu seperti lengan orang biasa. Tidak berwarna hitam sebagaimana murid yang telah mempelajari ilmu Pukulan Hitam. Beberapa saat nona itu termangu. Beberapa saat kemudian baru ia berkata: “Beberapa hari yang lalu, jelas kau telah membinasakan Bu-ceng-mo-ong, Bok-liong- tong-liong, Uh-hoa-kiam Ih Thian-cek dengan Pukulan-hitam. Dan pada beberapa hari yang lalu ketika pertama kali kita berjumpa jelas kulihat lenganmu kanan berwarna hitam. Pendek kata, kau tentu murid si Malaekat-elmaut atau sekurang-kurangnya pasti mempunyai hubungan erat dengan dia!”

“Ini... ini... ini...”

“Tak perlu gugup!” seru sinona, “akupun hanya ingin kau mengatakan tempat tinggal Malaekat-elmaut saja.”

“Aku... aku tak tahu!”

“Ah, mengapa kau begitu tolol? Mengatakan tempat tinggal si Malaekat-elmaut bagimu tak ada kerugian suatu apa!”

“Tetapi aku sungguh tak tahu. Bagaimana aku harus mengatakan?”

“Orang yang sadar tentu takkan bicara gelap-gelapan. Jika kau tak mau mengatakan hal itu, jangan harap kau dapat meninggalkan hutan!”

“Ah, masakan...” kata Cian Hong seraya terus berputar diri. Tetapi baru berjalan beberapa langkah, beberapa sosok bayangan sudah berkelebatan. Sebaris orang baju hitam berjajar menghadang dihadapannya “Siapa yang merintangi jalanku tentu binasa!” seru Cian Hong seraya mengangkat kedua tinjunya.

Kawanan baju hitam dan ke 12 jago pedang (anak buah Ih Thian- cek) segera menerjang dari empat jurusan.

Sebuah pukulan dapat mengundurkan dua orang baju hitam. Tetapi karena hujan pukulan dan taburan pedang sedemikian keras, terpaksa Cian Hong loncat menghindar sampai beberapa tombak. Tetapi   tak   kalah   cepat   kawanan   baju   hitam   itupun   sudah menerjangnya   lagi.   Dan   ke   12   jago   pedangpun   hamburkan pedangnya  menyerbu  Cian  Hong,  Cian  Hong  kewalahan.  Dengan kertek gigi ia kerahkan seluruh tenaganya dalam sebuah pukulan. Tar.. terdengar letupan menggelegar keras. Dengus tertahan, erang kesakitan dan rintihan ngeri segera terdengar. Darah berhamburan disusul jatuhnya beberapa sosok tubuh bermandi darah!

Cian Hong benar-benar kalang kabut. Wajahnya pucat lesi, darahnya bergolak keras. Dalam keadaan terluka-dalam yang parah ia harus melepaskan sebuah pukulan dahsyat, benar-benar membuat luka dalam tubuhnya makin parah. Dadanya berlumuran darah dari mulutnya. Dan bagaikan sebuah layang-layang putus tali, akhirnya ia jatuh terduduk ditanah....

Ketika melihat 3 orang anggota baju hitam dan lima orang jago pedang terkapar ditanah, puaslah hati Cian Hong. Serunya riang: “Masih sepadan. Sebuah nyawaku ditukar dengan delapan jiwa. ”

Ia mencoba diri untuk merangkak bangun. Tetapi ah kakinya

seberat dimuati seribu kati benda berat. Setapakpun ia tak mampu berkisar.

Justeru pada saat itu, beberapa anggota baju hitam dan ketujuh jago pedang yang masih belum terluka, pelahan-lahan menghampiri ketempatnya. Tetapi mereka tak lekas-lekas lepaskan pukulan karena takut akan kesaktian sipemuda.

Sinona baju hitam melihati gerak gerik kawanan Baju Hitam dan jago-jago pedang dengan mata berapi-api. Dengan menggigit gigi kencang-kencang ia berseru: “Hai, orang she Ko. Asal kau mau mengatakan tempat tinggal si Malaekat-elmaut, saat ini juga tentu kulepas kau pergi!”

“Dengarlah! Sekalipun aku mati tetap takkan mengatakannya!” sahut Cian Hong dengan ngotot. “Kebandelanmu itu jangan kau sesalkan nanti,” seru sinona baju hitam.

“Seorang lelaki tak nanti menyesal atas perbuatannya!” sahut Cian Hong dengan congkak.

Seketika dahi sinona mengerut gelap. Seri wajahnya menampilkan sinar pembunuhan yang buas. Dengan nada bengis segera ia memberi perintah kepada kawanan Baju Hitam: “Silahkan kau turun tangan!”

Mendapat perintah itu kawanan Baju Hitam dan beberapa jago pedang itu serempak maju menyerang Cian Hong. Tak ampun lagi tubuh Cian Hong pasti hancur lebur...

“Saat-saat yang mengerikan telah menggugah hati si-nona baju hitam. Ia merintih dalam batin: “Ah, tak seharusnya dia kubunuh. Sayang sekali! Wajahnya, sikapnya dan segala gerak geriknya... benar benar menawan hati, ah... Mengapa aku bertindak tegas itu kepadanya? Ah, aku jatuh hati padanya...”

Walaupun hatinya telah merintih-rintih mengharap kasih, namun ia tak bertindak mencegah kawanan Baju Hitam dan jago- jago pedang. Benar-benar hati seorang dara itu tukar ditebak. Batinnya cinta tetapi mulutnya berat mencegah pemuda itu dibunuh. Lebih-lebih ketika melihat betapa tenang Cian Hong menghadapi bahaya maut saat itu, sinona makin tersayat hatinya.

Pada detik jiwa Cian Hong terancam kemusnahan, tiba-tiba terdengarlah sebuah suitan nyaring menusuk ke telinga orang- orang yang berada didalam Hutan Merah. Lengking suitan itu benar-benar menyerupai letusan halilintar yang memekakkan telinga. Kawanan Baju Hitam dan jago-jago pedang, diluar kehendaknya sama hentikan pukulannya ditengah jalan. Mereka sama tegak termangu-wangu seperti patung... Lapat-lapat dari kejauhan terdengar suara orang menyanyikan lagu duka cita. Samar-samar nyanyian itu mengumandangkan irama rintihan kalbu:

Matahari gilang gemilang Mau gelap gelita

Kuhidup dalam neraka gelap Hanya mengandal hati terang Berkelana keseluruh gunung Mencuri jalan yang terang

Hai Thian ing-sin-gan, dimanakah kau Keluarkan aku dari neraka jahanam.

Mata terang Matahari pekat...

Lagu yang aneh dengan kata-kata yang sukar diketahui artinya ialah menyelimuti hati setiap orang yang berada di Hutan Merah. Entah siapakah gerangan penyanyi itu? Tetapi yang jelas, kemunculan nyanyian aneh itu telah menyelamatkan jiwa Cian Hong!

Lagu itu penuh bernada rintihan duka nestapa. Baik kawanan Baju Hitam maupun jago-jago pedang dari barisan Hiat uh lok-hoa- kiam-tin seperti tercengkam perasaannya. Tinju yang sudah mengacung pun diturunkan lagi pe-lahan-lahan. Pedang yang sudah berkilat-kilat diatas, ditukikkan kebawah lagi. Mereka seperti tersentuh oleh getar rintihan sedih dari lagu itu.

Nona baju hitampun kerutkan sepasang alis. Rupanya ia sedang berjuang keras untuk menahan serangan tenaga yang terhambur dalam nyanyian.

Kebalikannya Cian Hong merasa bersimpati (kasihan) dengan penyanyi lagu sedih itu. Entah bagaimana karena merasa kasihan, seketika timbullah semangatnya. Setelah mencari arah datangnya sipenyanyi aneh, segera ia menghampiri. Dia tegak termangu- mangu dihadapan orang itu. Ia merasa suara nyanyian orang itu merdu sekali...

Lama, lama sekali nyanyian merdu itu menguasai udara diatas. Dan sekalian orangpun diam semua. Mereka merasa tenggelam dalam suasana hampa.

Tiba-tiba nyanyian itu terputus. Kumandangnya bagai bintang jatuh dari langit. Menimpali jantung sekalian orang! Anakbuah baju hitam dan kawanan jago-jago pedang mengerut kening. Wajah mereka tampak hampa, semangatnya lesu.

Nona baju hitam itupun seperti terlongong-longong. Ia mundur beberapa langkah. Dan Cian Hongpun diluar kehendaknya melangkah maju lima langkah tetapi pada lain saat ia mundur lagi tiga langkah. Dipandangnya angkasa raja dengan rasa hampa. Hatinya terasa kosong. Dalam keadaan limbung, pemuda itu berdiri tidak, dudukpun bukan. Entah tak tahu ia apa sebabnya. yang terasa hanyalah suatu kekosongan yang lelap.

Sekonyong-konyong telinganya tersusup sebuah suara halus. Aneh, suara itu terus menyerap kedalam hati dan menyegarkan semangatnya yang loyo. Demikian dengan orang-orang yang berada dihutan situ. Mereka serasa seperti orang yang terbangun dari tidur.

Kini mereka menanti dengan penuh keheranan.

Suara aneh itu makin lama makin dekat tetapi siapa orangnya belum juga muncul. Penyiksaan perasaan itu membuat mereka tegang sekali sehingga sama menahan napas...

Tiba-tiba mata sekalian orang tersilau oleh suatu cahaya terang.

Sekeliling penjuru seolah-olah gemilang.

Apa yang disaksikan saat itu menyebabkan mereka menghela napas. Puas dan legah...  

“Ah, tak kusangka didunia terdapat gadis yang sedemikian cantiknya, “Cian Hong menumpah pujian untuk melonggarkan debur jantungnya yang bergolak-golak.

Kiranya 10-an tombak dari tempat orang-orang berdiri, tampak seorang dara baju putih yang luar biasa cantiknya. Tubuhnya yang langsing   semampai,   wajahnya   yang   cantik   gilang   gemilang, bagaikan seorang dewi yang baru turun dari kahyangan.

Sekalian orang tak berani memandang. Mereka seperti kena pesona sama menundukkan kepala. Tak berani mereka mengawasi. Hanya nona baju hitam yang berani memandangnya lekat-lekat. Iapun kagum atas kecantikan dara baju putih itu. Tetapi pada lain saat, ia menghela napas panjang. Helaan napas yang bernada Sayang dan kecewa.

“Sayang, Sayang. Gadis secantik bidadari itu buta matanya,” gumamnya.

Memang dara baju putih yang cantik jelita itu, ternyata kedua matanya buta. Sekalipun begitu, kecantikannya tak terpengaruh karenanya...

Demikian dengan sekalian orang yang berada disitu. Bermula mereka mengagumi bahwa Tuhan telah menciptakan seorang insan yang sedemikian sempurna kecantikannya. Tetapi dikala mereka mengetahui cacad sidara, suatu perasaan iba dan Sayang menyertai nasib dara itu.

Dara baju putih itu melangkah pe-lahan-lahan. “Saudara- saudara, aku hendak mohon tanya. Dimanakah terdapatnya burung Thian-eng itu?” serunya dengan hambar.

Pertanyaan yang diucapkan dengan rasa iba itu membuat sekalian orang tergetar hatinya. Mereka tak berani sembarangan menjawab karena kuatir memberi penyahutan salah yang dapat melukai perasaan dara itu.

Beberapa saat kemudian dara itu kembali mendengus : “O, tadi kalian berkelahi. Apakah kedatanganku ini mengganggu kalian?”

Lagi sekalian orang membisu. Mereka hanya saling berpandangan satu sama lain.

“Tetapi cara berkelahi seorang dikeroyok beberapa orang tadi, kurasa tidaklah pada tempatnya. Kurang layak,” kata dara itu pula.

Nona baju hitam terbeliak kaget. Dipandangnya dara itu sekali lagi dengan seksama. Jelas bahwa dara itu buta kedua matanya tetapi mengapa ia tahu apa yang telah terjadi tadi?

Dara baju putih itu mengangkat tangannya yang halus dan mulai menghitung kawanan Baju hitam serta ketujuh jago pedang, ujarnya “Tigabelas orang mengerubut satu orang, benar-benar bukan ksatria...”. Tiba-tiba ia menunjuk pada si nona baju hitam ia mendamprat: “Dan kau nona, hatimu hitam sekali. Memberi perintah pada mereka supaya melakukan pengeroyokan!”

Bukan kepalang kejut si nona baju hitam. Ia termangu beberapa saat. Tiba-tiba wajahnya menyembul hawa pembunuhan.

Dara baju putih itu alihkan kata-katanya kepada Cian Hong: “Kau lelaki ini, juga tak berguna, sehingga kena dihajar babak belur. Kelak harus belajar ilmu silat yang tinggi dan harus giat berlatih. Jangan belajar dengan setengah hati dan menghambur-hamburkan waktu!”

Wajab Cian Hong merah padam mendengar dampratan sidara. Malunya bukan kepalang. Jika mampu ia hendak melarikan diri masuk kedalam tanah saja.

Sinona baju hitam yang tak dapat mengendalikan kemarahannya segera membentaknya: “Disini bukan urusanmu, lekas enyah!” “Ai, selama  16  tahun  ini belum pernah  ada orang yang  berani berkata  sekasar  begitu  kepadaku.  Kau  merupakan  satu-satunya orang yang berlaku kasar padaku. Rupanya kau telah makan hati macan. Jika tak mengingat sesama kaum wanita hm...”

“Apa? Kau kira aku takut padamu?” sidara baju hitam melengking sengit.

“Tiada orang yang harus takut pada orang. Tetapi barangsiapa bermulut lancung tentu akan mendapat pelajaran yang pahit!” sahut sidara baju putih.

“Setitikpun aku tak percaya seorang gadis buta seperti kau dapat melakukan hal itu,” jawab nona baju hitam.

Tak mau kalah rupanya sidara baju putih dalam berdebat. Ujarnya: “Pelajaran ilmu silat, sukar dijajaki dalamnya. Sekalipun aku tak mempunyai kepandaian yang mengagumkan orang tetapi kalau hanya melayani ilmu pencak cakar kucing dari kalian bertiga, rasanya masih bisa!”

Ringan kedengarannya ucapan itu tetapi isinya seperti sebuah martil yang memalu kepala nona baju hitam.

Nona baju hitam itu tergugah keangkuhannya. Dia yang dimanjakan dalam keangkuhan ilmu silat warisan keluarganya yang termasjhur menjagoi dunia persilatan mana dapat menerima damprat semacam itu. Sepasang alisnya tampak mengerut keatas.

“Kau sudah mengucapkan kata-kata takabur. Jika aku tak dapat menghilangkan mukamu, aku bersumpah tak mau jadi orang,” serunya.

Sebagai sambutan, tampak wajah dara baju putih mengerut gelap. Tegak berdiri diantara tiupan angin, tampak kecantikannya makin menonjol jelas. Diam-diam Cian Hong kuatir akan keselamatan dara buta itu. Betapapun saktinya kepandaian yang dimiliki namun dara itu buta kedua matanya. Mengandal ketajaman alat pendengarannya saja tentu akan mengurangkan kelihayannya.

Saat itu nona baju hitam memberi syarat dengan kicupan mata lalu loncat beberapa tombak kesamping.

Ia tak mau turun tangan tetapi memberi perintah kepada anak buahnya.

Keenam jago baju hitam dan 7 jago pedang segera bergerak mengepung sidara baju putih Tiba-tiba dara baju putih itu berseru nyaring: “Dalam perkelahian tentu sukar menghindari luka dan mati. Untuk yang terakhir kalinya, kuminta saudara mundur saja daripada menderita kematian secara penasaran!”

Ketiga belas jago-jago itu tertegun. Tanpa disadari mereka hentikan langkah.

“Gadis buta, jika takut mati lebih baik haturkan maaf saja. Aku tentu suka memberimu ampun !” tiba-tiba nona baju hitam berseru.

“Apakah kau tak mendengar jelas ucapanku?” sahut sidara baju putih, “akulah yang kasihan pada orang-orangnya. Bukan hendak menyombongkan kepandaian tetapi aku benar kecewa karena berhadapan dengan lawan yang tak sepadan. Sekali aku turun tangan pasti mereka binasa atau terluka parah. Itulah sebabnya aku tak mau sembarangan menggerakkan tangan. Karena sekali bergerak tentu tak mau memberi ampun lagi kepada lawan!”

“Ha, ha...” nona baju hitam tertawa gelak-gelak.”Kau terlalu berlebih-lebihan. Siapa yang akan mandi darah mana dapat diketahui lebih dulu!”

“Memang sebelum bertempur tak dapat diketahui. Tetapi kulihat ketigabelas anakbuahmu itu tak lebih dari kantong-kantong nasi yang tak berguna. Mereka pasti mati. Maka kuperingatkan dulu agar mereka jangan mati secara sia-sia.”

“Sudahlah, jangan banyak kekuatiran. Mati hidup ditangan yang Kuasa. Silahkan kau turun tangani!” tukas nona baju hitam.

“Yang mati bukan kau, sudah tentu kau tak pusing!”

“Benar-benar gadis buta yang bawel... seru nona baju hitam dengan marah. Karena merah padam wajahnya yang buruk tambah semakin jelek lagi.

“Ayo, mulailah!” serunya kepada anakbuah baju hitam, “hajar mulut sibuta itu dan remukkan tulang belulangnya!”

Perintah itu mendapat sambutan serempak. Enam orang baju hitam dan 7 jago pedang segera bergerak.

Tujuh batang pedang menghambur diudara dibarengi oleh hujan pukulan dari keenam anakbuah baju hitam. Pada lain saat bertaburan sinar pedang menghambur ketubuh sidara buta.

Dara baju putih tenang-tenang saja menyungging senyum. Ujung bayunya yang berkibar terhembus angin makin makin menambah kawibawaannya.

Melihat itu bukan main gelisah Cian Hong Nona baju hitam tertawa. Belum sirap nada tertawanya tiba-tiba cuaca matahari seolah-olah berobah gelap. Cian Hong dan nona baju hitam merasa pandangannya seperti tertutup oleh kabut gelap. Menyusul terdengar lengking jeritan ngeri dari beberapa anakbuah baju hitam.

Mulut nona baju hitam terkatup seketika. Tertawanya berganti dengan nganga mulut dan beliak mata. Keringat dinginpun segera menurun deras dari tubuhnya. Saking kejutnya ia sampai menggigil gemetar... Pemandangan yang tampak ditengah hutan sungguh mengerikan buluroma. Kutungan anggota tubuh orang berserakan ditanah. Kutungan pedangpun tersebar dimana-mana. Tujuh jago pedang dari barisan Hiat-uh-lok-hoa-kiam-tin yang termasjhur dan keenam anakbuah baju hitam sama menggeletak dengan jiwa melayang...

Cian Hong menyurut kaget sampai dua langkah. Apa yang dilihatnya benar-benar tak dapat dipercaya. Kebalikannya dara baju putih itu tetap tegak berdiri ditempatnya dengan sikap yang tenang sekali.

Gerakannya membunuh kesebelas lawan tadi, hanya berlangsung dalam sekejap mata saja. Baik Cian Hong maupun sinona baju hitam sama sekali tak mengetahui jurus permainan ilmu apa yang digunakan dara baju putih itu tadi.

Sinona baju hitam tegak seperti patung yang kehilangan semangat. Sepatahpun ia tak dapat berkata.

Dara baju putih tertawa melengking : “Ih, kau menyaksikan sendiri bukan? Aku benar-benar tak mau sembarang turun tangan. Tetapi sekali bergerak tentu hebat akibatnya. Kuharap hal itu jangan menyalahkan diriku tetapi harus menyalahkan mengapa mereka tak dapat menyakinkan ilmu kesaktian sampai sempurna!”

Wajah nona baju hitam membiru, serunya dengan nada berat: “Ah, tak kira gadis sesuci kau ternyata sedemikian ganas!”

“Kau menuduh aku ganas?” tanya sidara. “Lalu bagaimana harus mengatakan?”

“Taruh kata benar, tetapi tetap kalah ganas dengan kau.” “Aku? Bagaimana keganasanku?” seru sinona baju hitam.

“Kau berpura-pura kasihan untuk memikat simpati orang. Agar dia... ia menunjuk kearah Cian Hong, “terkena racun ganas dari kitab Tanpa-tulisan. Pada hal maksudnya kau hendak mengkangkangi sendiri kitab itu.

Keganasan semacam itu, jauh lebih hebat dari tindakanku tadi!”

Cian Hong seperti disadarkan. Dipandangnya sinona baju hitam dengan dendam kebencian.”Wanita berbisa!” dampratnya.

Dampratan itu membuat hati sinona baju hitam seperti diguyur air dingin. Tetapi secepat itu juga ia segera menjawab: “Jangan “Bukan Aku yang membunuhnya!” teriak Cian Hong. Nona baju hitam terkesiap. Serunya pula: “Tetapi jelas dia mati ditanganmu!”

Cian Hong gelagapan tak dapat menyahut. Ia hanya kepal- kepalkan tinju erat-erat. Tubuhnya gemetar.

Tiba-tiba sinona baju hitam melangkah kehadapan dara baju putih, bentaknya: “Tigabelas jiwa juga harus diperhitungkan!”

“Kau hendak membuat perhitungan bagaimana?” tanya si dara buta.

“Hutang jiwa bayar jiwa!”

“He, jika aku harus membayar jiwa, wah, aku mesti menyediakan seratus jiwa untuk mengganti korban-korban yang telah kubunuh. ”

“Siapa kau!” bentak dara baju hitam.”Jangan unjuk keliaran!” “Kau tak tahu?” “Katakanlah!”

“Jika aku tak mau mengatakan?”

“Didalam hutan Merah sini mana kau dapat membawa kemauanmu sendiri!”

Kata-kata itu ditutup dengan melangkah maju dua tindak kemuka dan lengan kanan nona baju hitam itu segera diangkat keatas. Sebuah pukulan yang luar biasa dahsyat dan luar biasa dibabatkan kedada si dara.... Pukulan ganas itupun dilancarkan dengan kecepatan yang luar biasa.

Namun dara baju putih tetap tenang-tenang saja. Tidak menghindar pun tidak menangkis.

Sekonyong-konyong terdengar suara suitan melengking nyaring. Seketika itu Cian Hong rasakan jantungnya hampir putus. Semangatnyapun hilang.

Sinona baju hitampun terkejut. Cepat-cepat ia tarik pulang pukulannya dan loncat mundur sampai lima tombak.

“Eh, mengapa kau tak jadi memukul?” dara buta itu berseru.

Seolah-olah ia melihat apa yang dilakukan nona baju hitam.

“Hm, kuampuni selembar jiwamu anjing!”

“Lucu! Mau memukul tetapi sebelum buluromaku tersentuh lalu Buru-buru ditarik lagi. Tetapi tak malu menyangkal mau memukul. Ayo, jika kau memang mempunyai kepandaian, kita tentukan siapa yang lebih unggul kepandaiannya!” dara baju putih menantang.

“Dara brandal!” damprat nona baju hitam, “jangan kau mengangkat dirimu setinggi langit. Jika kau mampu keluar dari Hutan Merah ini, aku tak mau memakai she keluargaku Siangkwan lagi!”

“O, kau orang she Siangkwan? Tentulah keturunan orang persilatan. Ya, ya, setiap orang persilatan takut mendengar nama Hay-gwa-it-kiau Siangkwan Hoa-kun-lho!”

“Karena tahu namaku, kau tentu juga orang persilatan. Mengapa tak mau menyebutkan namamu!” seru sinona baju hitam.

“Kalau kau sampai tak tahu itu menandakan kebodohanmu!” “Gadis yang tak tahu malu, cis...” nona baju hitam memaki. Saat itu suara suitan makin keras sehingga telinga hampir pecah.

Nona baju hitam loncat menyingkir beberapa tombak lagi.

“Aku masih mempunyai urusan penting. Hari ini kuampuni jiwamu. Tetapi lain kali aku tetap akan minta ganti jiwa padamu!” serunya. Sekali enjot tubuh, nona baju hitam itupun sudah lenyap.

Dara buta berbaju putih tak mau mengejar. Ia menghampiri kemuka Cian Hong. Tegurnya: “Siapakah nama saudara?

Cian Hong terbeliak, sahutnya: “Ko Cian Hong. Siapa nama nona?”

“Aku...? Ah, lebih baik tak kukatakan saja!” “Kau marah?”

“Tidak!”

“Mengapa tak mau mengatakan?” desak Cian Hong.

Sebenarnya ia tak pandai bicara. Apalagi berhadapan dengan seorang dara yang sedemikian cantiknya. Namun karena terdorong oleh rasa ingin tahu, terpaksa ia membuka mulut juga. Karena sidara diam saja, iapun tak mau mendesak terus.

“Apakah nona benar-benar buta?” akhirnya lewat beberapa jenak ia bertanya dengan ragu-ragu.

“Tentu! sahut sidara, “kalau tidak masakan aku sudi berpura- pura menjadi orang buta? Ah, didunia orang butalah yang paling menderita. Tak dapat menikmati keindahan gunung dan alam yang indah permai. Dimana-mana mendapat ejek cemoohan. Ah, benar- benar menyedihkan sekali...!”

“Tetapi nona mendapat simpati orang-orang. Dan apakah kiranya tiada obat yang dapat menyembuhkan penglihatan nona?” tanpa disadari Cian Hong terbawa dalam percakapan asyik.

“Ada tetapi susahnya bukan kepalang!” “Kalau tak keberatan silahkan nona mengatakan. Mungkin aku dapat membantu!”

“Sungguh? Ah, kau baik sekali. Apakah kau pernah mendengar tenang sejenis burung yang disebut Thian-eng?” seru sidara penuh harap.

“Belum pernah.”

Dara itu menghela napas kecewa: “Ah, asal bisa mendapatkan burung Thian-eng itu, biji matanya dipindahkan kekelopakku, akupun tentu dapat melihat dunia lagi!”

Diam-diam Cian Hong telah membulatkan tekad. Kelak ia tentu akan menjelajahi seluruh penjuru untuk mencari burung itu.

“Biarlah nona yang secantik bidadari itu dapat menikmati sinar matahari lagi,” pikirnya.

Nona baju putih itu kebutkan lengan baju, ujarnya; ”Dapatkah kau memberi bantuan padaku?”

“Mengenai hal apa?”

“Berdasarkan kepandaian, perawakan dan perangaiku, tolong kau berikan sebuah nama untukku!”

“Eh... eh mana aku mampu...”

“Janganlah merendah diri!” tukas sidara, “aku yang minta tentu menerima dengan puas. Tak nantiku menyesal!”

Cian Hong memandang wajah dara buta itu sepuas-puasnya. Kecantikan yang gilang gemilang benar-benar mempesonakan. Buru-buru ia alihkan pandang ketanah.

Ah, ditanah tampak terkapar beberapa sosok mayat. Tiba-tiba terlintas sesuatu pada benaknya. “Ya, ya, aku teringat sesuatu. Tetapi apakah nona takkan marah kepadaku?” tanyanya.

“Katakan lekas! Mengapa aku marah?”

“Giok-lo-sat!”

Habis mengucap, Cian Hongpun menyurut mundur tiga langkah. Ia bersiap-siap menghadapi kemungkinan sinona marah.

Giok-lo-sat artinya Dewi Kumala yang kejam. Cantik wajahnya tetapi ganas sepak terjangnya.

Diluar dugaan sidara baju putih tertawa gemerincing. Serunya memuji: “Bagus, pilihan yang bagus sekali! Pakaianku yang serba putih dan tubuhku yang menurut orang cantik gemulai, memang tepat mandapat julukan Giok (kumala). Dan Losat (ganas) tentulah karena kau melihat pembunuhan yang kulakukan tadi. Sekali turun tangan  13  jiwa  melayang.  Bagus,  bagus,  sejak  saat  ini  aku  akan memakai nama Giok-lo-sat yang kau pilihkan itu...!”

Dara baju putih merenung sejenak lalu berkata pula: “Tetapi perlulah kujelaskan sedikit. Benar memang aku ganas sekali terhadap lain orang, membunuh dengan tak kenal kasihan. Tetapi terhadap kau, aku merasa bersahabat dan takkan berlaku kejam!”

Cian Hong terkesiap.

“Tahukah kau dewasa ini siapa yang paling sakti didunia persilatan?” tiba-tiba dara itu bertanya pula. Ko Cian Hong berpikir sebentar. Sahutnya: “Sukar dikata. Setiap aliran ilmusilat masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri- sendiri. Untuk menunjuk siapa paling sakti, itulah sukar!”

“Baik, katakan saja siapa yang paling termasjhur?” dengan cerdik sidara berputar jalan.

“Termasjhur... Ko Cian Hong belum lama keluar kedunia persilatan. Dalam anggapannya, manusia yang paling menggidikkan buluroma adalah pemilik dari Neraka-l9 lapis. Tetapi ia tak tahu siapa nama tokoh itu. Maka tak dapat ia melanjutkan kata-katanya.

“Siapakah?” desak sidara.

Cian Hong teringat seseorang: “Malaekat-elmaut... Wi Co-chiu!” sahutnya serentak.

“Benarkah itu?” “Kira-kira begitulah!”

Tiba-tiba wajah Giok-lo-sat berubah gelap. Serunya dengan bengis: “Baik, dalam waktu yang singkat, akan kubunuh orang itu!”

Mendengar itu Cian Hong seperti dipagut ular. Ia menggigil keras dan menyurut mundur beberapa langkah. Wajahnya merah padam.

Setelah memulihkan kegoncangan hatinya, berkatalah Cian Hong: “Apa katamu?”

“Kukatakan dalam waktu singkat ini, Malaekat-elmaut tentu kubunuh,” jawab sidara.

“Hai, kiranya kau benar-benar seorang Giok-lo-sat! Tak ada hujan tak ada angin kau gemar membunuh orang!” seru Cian Hong.

“Tepat!” sahut sidara, “ucapanmu itu yang separuh bagian memang benar. Karena kau telah memberikan nama Giok-lo-sat kepadaku, aku tak akan mencelakai dirimu. Tetapi tuduhanmu aku gemar membunuh orang tanpa alasan, tidaklah benar!”

“O, kau mempunyai permusuhan dengan Malaekat-elmaut?” Cian Hong agak kaget.

“Tidak!”

“Tidak bermusuhan mengapa kau hendak membunuhnya?” Cian-hong benar-benar tak mengerti kata-kata dara buta itu.

Tenang-tenang dara baju putih itu berkata: “Karena aku hendak menjadikan nama Giok-lo-sat menjadi buah bibir yang menggetarkan setiap sanubari orang persilatan!”

“Amboi. !” Cian Hong menjerit kaget, “kau hendak membunuh

Malaekat-elmaut supaya namamu termasjhur?”

“Tak salah!” jawab sidara, “untuk mengangkat nama Giok-lo-sat aku terpaksa harus membunuh-Malaekat-elmaut. Agar dunia persilatan tahu kesaktian Giok-lo-sat. Rasanya tiada lain jalan kecuali harus mengorbankan Malaekat-elmaut!”

Cian Hong mengerut alis. Kemarahannya tak dapat ditahan lagi, serunya sengit: “Jika kau tetap hendak melanjutkan niatmu aku bersumpah menjadi musuhmu!”

“Eh, mengapa?” Giok-lo-sat mengerut heran, “O, Malaekat- elmaut itu gurumu? Atau bapakmu? Kalau benar begitu, baiklah. Aku bersedia batalkan rencanaku!”

“Bukan ayahku, juga bukan guruku!” seru Cian Hong.

“Lalu apamu? Mengapa kau begitu marah ketika aku hendak membunuhnya? Bukankah tindakanku itu berarti akan mengangkat nama Giok-lo-sat cemerlang diangkasa persilatan?”

“Cara itu keliwat ganas!” “Tetapi aku harus berlaku seganas mungkin agar sesuai dengan nama Giok-lo-sat yang kau berikan!”

Dan tanpa menunggu Cian Hong bicara lagi, tiba-tiba Giok-lo-sat enjot tubuhnya. Bagai sebuah peluru meluncur, ia menerobos keluar dari Hutan-Merah dan lari dengan pesat sekali.

Cian Hong tak mampu mencegahnya. Ia memandang bayangan gadis buta yang aneh itu dengan suatu keputusan.

“Aku akan berdaya menghalangi tindakannya mencelakai Malaekat-elmaut,” diam-diam ia bertekad.

Baru ia membulatkan keputusan, tiba-tiba terdengar jeritan ngeri memecah angkasa. Cian Hong menengadah memandang keatas. Ah, sesosok bayangan kelabu meluncur kearahnya. Tanpa banyak pikir, Cian Hong segera enjot tubuhnya keudara. Cep....

disongsongnya tubuh orang itu. Orang itu tak melawan ketika dibawa turun kebawah.

Setelah diletakkan ditanah, Cian Hong terbeliak. Kiranya orang itu bukan lain adalah sitabib sakti Kang-ou-long-tiong. Tabib itu bergeliatan bangun.

“Ah, jika tak kau tolong, aku pasti binasa,” katanya dengan pelahan.

“Agaknya lo-cianpwe menderita luka parah,” kata Cian Hong. “Hm ”

“Kenapa?”

“Apa lagi kalau bukan karena rusa Cian-lian-hiat-lok!” sahut sitabib.

Cian-lian-hiat-lok artinya Rusa-darah yang sudah berumur Seribu tahun. Cian Hong terkejut sekali. Serunya dengan nada penuh maaf, “Akulah yang mencelakai lo-cianpwe sehingga jadi begini. Jika lo- cianpwe tak memberi pertolongan dengan perpindahan darah, masakan lo-cianpwe akan menderita seperti sekarang?”

“Itu sudah kemauan takdir. Usah kau sesalkan!”

“Apakah rusa Cian-lian-hiat-lok sudah lo-cianpwe peroleh?” tanya Cian Hong.

“Sudah!”

“Lalu mengapa lo-cianpwe tak lekas memakannya untuk obat?” “Ah...,” Kang-ou-long-tiong menghela napas. “Kenapa lo-

cianpwe?”

Kang-ou-long-tiong menjawab rawan: “Didalam Hutan Merah ini aku beruntung mendapat seekor rusa Cian-lian-hiat-lok dan telah mendapatkan sebotol darahnya. Tetapi ketika hendak kuminum tiba-tiba muncullah seorang durjana yang merebut- botol.”

“Durjana? Siapa?” Cian Hong kaget.

“Durjana itu cukup besar namanya. Tigapuluh tahun berselang dia pernah mengaduk aduk dunia persilatan. Tokoh-tokoh golongan Putih maupun Hitam banyak yang jatuh ditangannya. Setiap orang persilatan gentar hatinya mendengar namanya...”

“Siapakah orang itu?” tukas Cian Hong. “Su-hay mo-ong Siangkwan Yap!”

“Su-hay-mo-ong? Jadi darah rusa Cian-lian-hiat-lok dirampasnya?”

“Tidak!” “Lalu apa yang terjadi dengan lo-cianpwe tadi? Mengapa lo- cianpwe begitu ketakutan sekali? Mengapa tak lekas meminumnya saja?”

“Ah, darah rusa itu tak ada padaku!”

Bukan kepalang kejut Cian Hong. “Hilang?” ia menegas. “Tidak!”

“Lalu...”

“Kusembunyikan disebuah tempat rahasia!” “Biarlah kuambilkan untuk lo-cianpwe.”

Tabib Kang-ou-long tiong memandang anak muda itu dari ujung kaki sampai keatas kepala. “Botol berisi darah rusa itu berada di...” tiba-tiba ia hentikan ucapannya.

Cian Hong memandang sitabib dengan heran. Tiba-tiba Kang- ou-long-tiong berkata pula: “Ah, mereka datang...”

“Siapa?”

“Anak buah Su-hay-mo-ong!”

Baru    Kang-ou-long-tiong    mengucap    habis    kata-katanya, terdengar  suara  berkeresek  pohon  terinjak.  Dan  pada  lain  kejap dihutan situ muncul 2-5 puluh orang berpakaian hitam.

Melihat rombongan pendatang itu bukan kepalang kejut Thian hong. Kiranya anakbuah Su-hay mo-ong serupa benar pakaiannya dengan anakbuah Hay-gwa-it-kiau Siangkwan Hoa-kun tadi.

“Apakah Hay-gwa-it-kiau dengan Su-hay-mo-ong mempunyai hubungan?” diam-diam ia membatin.

Seorang anakbuah Su-hay-mo-ong maju kehadapan Kang-ou- long-tiong dan menuding tabib itu: “Dimana kau sembunyikan darah rusa. Lekas bilang!” bentaknya. “Aku tak mempunyai alasan untuk mengatakan,” sahut Kang-ou- long-tiong dengan dingin.

“Kalau membangkang, awas jiwamu!” orang itu mengancam. “Botol  berisi  darah  rusa   itu  telah  memeras   jerih  payahku.

Dengan  susah  payah  baru  kuberhasil  memperolehnya. Masakan

enak saja kau hendak mengambilnya!”

“Ngaco! Kau mau mengatakan atau tidak!” bentak orang itu. “Sampai mati aku tak sudi mengatakan!” sahut sitabib tak

gentar.

“Rupanya kepalamu keras sekali. Lihat serangan!” orang itu menutup kata-katanya dengan ayunkan sebuah pukulan.

Tubuh Kang-ou-long-tiong penuh berlumuran luka-luka. Darahnya banyak hilang. Adalah karena ia berkepandaian sakti maka sampai saat ia masih dapat bertahan diri dan melayani bicara. Ia gugup sekali melihat orang itu menyerang. Buru-buru ia menyingkir mundur. Tetapi ia bukan lagi Kang-ou-long-tiong yang dulu. Sambaran angin pukulan orang menyebabkan tubuhnya terhuyung-huyung beberapa langkah. Ia jatuh terduduk ditanah.

Orang baju hitam melangkah maju, menghardik: “Bagaimana, apa kau masih tak mau mengatakan tempat penyimpanan botol darah rusa itu?”

Kang-ou-long-tiong gusar sekali. “Tidak semudah itu sahabat!”

Sepasang mata sibaju hitam berapi-api. “Kau benar-benar bosan hidup!” serunya seraya lepaskan sebuah pukulan kedada sitabib. Apabila kena dada tabib itu pasti remuk bubuk.

Melihat kebiadaban orang, Cian Hong tak dapat berpeluk tangan lagi, serentak ia menerjang dengan sebuah pukulan dahsyat. Dar....

terdengar letupan keras disusul hamburan debu keudara. Anakbuah Su-hay-mo-ong itu terpental sampai tiga tombak jauhnya. Ia memandang Cian Hong dengan penuh dendam kebencian.

“Hai, anak liar mana ini berani turut campur plas!” belum ia

menyelesaikan kata-katanya, Cian Hong sudah menampar mukanya.

“Awas, kalau berani berkata kasar, aku tak sungkan lagi!” bentak Cian Hong.

“Siapakah saudara?” orang itu segera merobah nada dan kata- katanya.

“Ko Cian Hong,” jawab Cian Hong, “dengan Hay-gwa-it-kiau Siangkwan Hoa-kun kau menyebut apa?”

“Siocia!” sahut orang itu.

“Apakah ia anak perempuan Su-hay-mo-ong?”

“Ya,” jawab orang baju hitam. Beberapa saat kemudian ia mengeluh kaget, “. ih, apakah saudara bukan puteranya Kang-ou-

bi-jin yang telah membunuh banyak saudara-saudara kita?”

“Ya, mau apa?”

“Bagus, hari ini kau harus serahkan jiwamu di Hutan Merah sini!”

Beberapa sosok baju hitam berhamburan menabur pukulan kearah Cian Hong. Angin pukulan menderu-deru dari empat penjuru. Perbawa dahsyat sekali. Seolah-olah gunung rubuh...

Dengan kerutkan gigi, Thian-hong menangkis. Terdengar ledakan keras. Debu dan pasir berhamburan.

Daun dan ranting berguguran. Darah dan anggota tubuh berserakan. Jerit dan tubuh susul menyusul berjatuhan ketanah... Kepala Cian Hong pening, matanya berkunang-kunang dan terhuyung-huyunglah ia beberapa langkah kebelakang. Huak....

mulutnya menyembur segumpal darah segar. Bayunya berlumuran semua.

Untung saat itu Kang-ou-long-tiong menyanggapinya.

Dipihak kawanan Baju Hitam ada lima orang yang mati. yang lain-lain segera maju menghampiri lagi. Dalam keadaan seperti saat itu, mau tak mau gentar juga hatinya.

“Ah, kau juga menderita karenaku,” Kang-ou-long-tiong mengeluh.

“Tidak, locianpwe,” sahut Cian Hong dengan tegas. “Jika tempo hari lo-cianpwe tak menolong diriku, tentu tak perlu mencari rusa Cian-lian-hiat-lok dan sudah tentu takkan menderita peristiwa seperti saat ini!”

Cian Hong kerahkan seluruh perhatikan karena saat itu kawanan baju hitam sudah makin dekat. “Kang-ou-long-tiong,” teriak salah seorang baju hitam yang rupanya menjadi pemimpin, “lekas katakan dimana kautaruh rusa itu. Nanti dapat kami bebaskan jiwamu!”

“Hm, jika kukatakan kalian tentu takkan lepaskan kami berdua,” sahut sitabib.

“Huh, manusia yang bosan hidup!” dengan geram sekali orang itu memukulkan kedua tangannya.

Tiba-tiba Kang-ou-long-tiong tekankan tangannya kanan kejalan darah Leng-tay-hiat Cian Hong, serunya pelahan: “Kita satukan sisa tenaga kita untuk melawannya!”

Seketika itu Cian Hong rasakan tubuhnya seperti disaluri hawa panas dan semangatnya yang sudah letih mendadak segar kembali. Cepat ia menangkis dengan sepenuh tenaga. Kembali terdengar letupan yang dahsyat dan hamburan pasir yang membubung tinggi. Daun-daun berhamburan, hujan darah mulai turun dan jeritan ngeri menusuk telinga.

Pemandangan makin mengerikan. Tanah berserakan tubuh- tubuh yang sudah menjadi mayat. Tak seorangpun dari kawanan baju hitam yang masih dapat berdiri. Semua rubuh ditanah. Beberapa saat terdengar suara rintihan menyayat-nyayat...

Tiba-tiba salah seorang baju hitam menggeliat bangun. Demikian seterusnya kawanan baju hitam itu satu demi satu bangun lagi. Mereka berjumlah 9 orang.

Kawanan baju hitam itu kembali menghampiri Cian Hong dan sitabib. Langkah-langkah kaki mereka terdengar berat. Menandakan bahwa mereka telah menderita luka parah.

Cian Hongpun loncat berdiri juga. Ketika beradu pandang dengan ke 9 baju hitam itu, keringat dinginpun mengucur. Suatu nyeri kesakitan menusuk uluhatinya. Sedemikian sakit sehingga ia terhuyung lagi dan jatuh...

Ke 9 orang baju hitam itu serempak mengangkat tangan mereka.

Sedangkan kedua lengan Cian Hong sudah lunglai.

Menderu-derulah angin pukulan yang dihamburkan ke 9 Baju hitam. Cian Hong mengeluh, ia merapatkan mata pasrah nasib. Ia pasti mati, pikirnya...

Tetapi alangkah kejutnya ketika terdengar suitan nyaring disusul dengan jeritan ngeri. Cepat ia membuka mata. Ah, benar-benar ia tak percaya pada matanya. Ke 9 jago baju hitam itu terpental mundur sampai 4-5 tombak. Mulut mereka berlumuran darah. Dan ada 3 orang yang menggeletak ditanah!

Kejadian itu membuatnya menggigil. Terkejut dan ngeri ia melihat pertolongan yang tak terduga-duga itu. Ngeri karena jatuhnya korban-korban pada kawanan baju hitam. Terkejut karena yang memberi pertolongan itu bukan lain ialah Ceng-thian-it-kiau sinenek berambut putih...

Cian Hong memandang nenek itu dengan pandangan berterima kasih. Tetapi ia tak mengucapkan sepatah kata.

Rambut Ceng-thian-it-kiau yang putih berkibar-kibar kibar, serunya tawar: “Ah, ketemu lagi dengan kau!” Jawab Cian Hong dengan angkuh: “Tentu akan kubalas budi pertolonganmu ini...”

“Tidak, aku tak mengharap balasanmu...”

“Tetapi aku tentu akan membalas budimu. Aku tak senang hutang budi pada orang, baik hutang dendam maupun budi,” tukas Cian Hong.

“Kalau kau benar-benar hendak membalas budi, cukuplah kau terangkan tempat tinggal si Malaekat-elmaut itu saja!”

“Tidak, akan kubalas budimu dengan lain cara!” Cian Hong tetap menolak.

“Aku tak kepingin!”

“Tetapi aku tak dapat memberitahukan alamat Malaekat-elmaut. “Mengapa?”

“Karena... dia tak mau melihatmu!”

Wajah Ceng-thian it-kiau mengombak kerut. Tampak kerut itu tegang bagai orang yang tengah dirundung pikiran keras.

“Jadi kau pernah ketemu dengan dia?” serunya tegang. “Sudah tentu!”

“Dia masih hidup?”

“Masih. Tetapi sekalipun belum mati, hidupnya lebih menderita dari orang mati!” Mendengar itu Ceng-thian-it-kiau terkesiap. Dia seperti tertusuk perasaannya. Tetapi ia seorang yang berpengalaman. Apapun yang dirasakan selalu dapat dikendalikan.

“Ah, seharusnya kau memberitahukan tempat tinggalnya padaku,” katanya membujuk.

“Tidak bisa!”

“Akan kubuatmu bicara!”

Mendengar Ceng-thian-it-kiau begitu nekad, Cian Hong menduga tentu akan menggunakan kekerasan. Tetapi dalam kekerasannya itu tercampur juga dengan suatu permohonan. Kalau mengingat beberapa kali wanita itu menyelamatkan jiwanya rasanya tiada alasan untuk menolak permintaannya. Namun Malaekat-elmaut telah memesannya wanti-wanti agar jangan memberitahukan tempat tinggalnya kepada siapapun juga. Ia tak berani melanggar pesan itu.

“Maaf, aku tak dapat,” akhirnya ia menyahut dengan rawan.

Tiba-tiba wajah Ceng-thian-it-kiau membesi. Tiba-tiba ia berkelebat dan plak ditamparnya muka Cian Hong.

Tamparan itu membuat kepala Cian Hong puyeng, mata berkunang-kunang dan terhuyung-huyunglah ia jatuh. Ujung mulutnya mengumur darah...

“Kalau tetap tak mau bilang, terpaksa aku tak sungkan!” kata Ceng-thian-it-kiau.

Cian Hong memandang nenek itu dengan penuh geram.

Sahutnya: “Tamparanmu menghapus budimu.

Kita tak punya hutang piutang lagi!”

“Budak keras kepala, aku punya cara menyuruhmu bicara,” tiba- tiba Ceng-thian-it-kiau melesat kesamping Cian Hong. Tetapi serempak dengan itu terdengarlah suara bentakan dari belakang: “Bu Peng ci, perhitungkan dulu jiwa muridku yang kau bunuh!”

Rupanya nada suara orang itu tak asing bagi Ceng-thian-it-kiau. Serentak meluaplah nafsu pembunuhannya. Secepat kilat ia berputar tubuh...

Cian Hong dapatkan pendatang itu seorang lelaki bertubuh gemuk bermuka bundar. Pakaiannya aneh. Jenggotnya yang hanya tumbuh beberapa lembar bergoncangan mengikuti dagunya yang bergerak-gerak bicara.

“Siangkwan Yap, berani membunuh muridmu tentu berani bertanggung jawab!” sahut Ceng-thian-it-kiau dengan garang.

“O, kiranya itulah Su-hay mo-ong Siangkwan Yap,” pikir Cian Hong. Agak terkejut juga ia.

Mata Su-hay-mo-ong Siangkwan Yap yang besar bundar berkeliaran. Dipandangnya nenek itu dengan bengis : “nenek siluman, besar nian mulutmu!”

“Hm, jika mulutmu kotor, aku terpaksa...” “Kau mau apa?” tantang Su-hay-mo-ong.

Mata Ceng thian-it kiau berapi-api. Ia mengangkat lengannya yang kurus. Serunya: “Kedua lenganku besi ini tak dapat memberimu ampun...”

“Heh, heh... heh... Su-hay-mo ong tertawa mengekeh. Nadanya berkumandang menembus udara.

Nafsu membunuh makin menebal didahi nenek berambut putih itu. Sekonyong-konyong tubuhnya melesat dan kedua lengannya berayun. Cepatnya bagai kilat menyambar.

Su-hay-mo-ong serentak berhenti tertawa dan menyelinap kesamping. Ceng-thian it-kiau makin bernafsu. Bagaikan seekor kupu-kupu ia menerjang lagi. Terdengar suara bergeletaran keras dan kedua sosok tubuh itupun berkelebatan kian kemari.

Saat itu Kang-ou-long tiong yang menggeletak ditanah berusaha untuk menggeliat bangun. Ia dapat berdiri tetapi masih terhuyung- huyung. Melihat itu Ko Cian Hong segera menghampiri. Ia tahu tabib itu tentu menderita luka-dalam yang parah.

Dipapahnya tabib itu : “Lo-cianpwe, apakah lukamu parah?”

Kang-ou-long-tiong gelengkan kepala. Ia menghela napas tetapi setengah jalan berhenti.

“Akulah yang menyebabkan lo-cianpwe menderita Thian hong mengeluh seorang diri.

“Kau, kau... jangan berpikiran begitu, aku...” “Bagaimana?”

“Inilah nasib, sudah takdir. Siapapun tak dapat menghindari lagi.”

“Apakah tiada daya lain? Lo-cianpwe terluka karena menolong aku. Bagaimanapun juga aku harus berdaya untuk menolong locianpwe. Kalau tidak, hatiku tak tenteram!” kata Cian Hong dengan penuh kerawanan.

Kang-ou-long-tiong tertarik mendengar kata-kata pemuda itu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, ujarnya: “Ah, hampir aku lupa. Botol berisi darah rusa itu kutaruh...”

Ia memandang Cian Hong. Pemuda itu tahu kalau sitabib kuatir didengar orang. Buru-buru ia dekatkan telinganya.

“Kutaruh dalam sebatang pohon kayu yang tak jauh dari sini,” bisik tabib itu.

Cian Hong girang sekali: “Biar kuambilkan untuk lo-cianpwe.” “Tunggu, disamping pohon itu terdapat sebuah batu besar sebagai tandanya. Hati-hatilah!”

“Jangan kuatir lo-cianpwee,” dalam berkata itu Cian Hong sudah melesat beberapa langkah. Tetapi ia terpaksa berhenti. Dihadapannya tampak 6 orang baju hitam menghadang.

Cian Hong kerutkan alis: “Apakah maksud saudara?”

Karena melihat Cian Hong dibisiki sitabib, kawanan baju hitam itu menduga tentu diberitahu apa.. Maka dicegatnyalah pemuda itu.

“Kalau tiada urusan, harap saudara jangan tinggalkan tempat ini!” kata salah seorang baju hitam.

Saat itu Su-hay mo-ong masih tarung seru dengan Ceng-thian-it kiau. Berulang-ulang terdengar mereka beradu pukulan dengan dahsyat.

“Aku mau pergi atau tidak, itu sesukaku. Apa kau berhak membatasi kebebasanku?” sahut Cian Hong.

“Kalau kau pergi, tidak mudah!”

Cian Hong insyaf bahwa kalau saat itu ia tak segera menerobos, apabila Su-hay-mo-ong dan Ceng-Thian-it-kiau sudah selesai bertempur, tentu sukar sekali. “Aku mau pergi!” serunya seraya melepas sebuah pukulan keras.

Sebenarnya saat itu karena terluka, tenaga Cian Hong banyak berkurang. Tetapi didalam kemarahan memang dapat menimbulkan hal-hal yang diluar kemampuan. Pukulan Cian Hong itu membangkitkan arus tenaga yang dahsyat sekali. Anginnya terdengar menderu-deru... 

Keenam baju hitam itupun terkejut. Dengan gugup mereka balas memukul. Dar, dar, dar... terdengar letupan berkali-kali. Keenam baju hitam itu terpecah belah membuka sebuah jalan. Cian Hong seperti orang kalap. Dilancarkannya hujan pukulan. Akhirnya keenam baju hitam itu kewalahan. Mereka tercengang menyaksikan kegagahan sianak muda.

Sesaat mereka tertegun, dengan kecepatan seperti kilat, Cian Hong menerjang lolos terus lari sekencang-kencangnya. Setelah jauh barulah ia berhenti.

Disekelilingnya hanya pohon-pohon yang subur, tiada sebatangpun yang layu. Ia mencari-cari kian kemari dan akhirnya menemukan juga pohon layu itu. Ditepuk-tepuknya batang pohon itu. Tengahnya seperti berlubang. Dengan girang segera ia merogoh kedalam batang. Tetapi sampai beberapa saat ia tak menyentuh benda apa-apa.

Ah... ia kecewa dan putus asa. Keringat dingin bercucuran membasahi tubuh. Kemanakah botol berisi darah itu? Apakah telah dicuri orang? Siapakah pencurinya?”

Rasa cemas dan lesu membuatnya lupa untuk menarik tangannya dari lobang pohon. Pikirannya tak keruan.

“Apakah kau hendak mencari benda ini?” tiba-tiba terdengar suara seseorang.

Cian Hong tersentak kaget....

(Bersambung)
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pukulan Hitam Jilid 02"

Post a Comment

close