Pendekar Latah Bagian 64

Mode Malam
 
Bagian 64

KUDA tunggangan mereka pemberian Beng Hay liong keluaran negeri Turfan yang jempolan, larinya cepat tahan jarak jauh. 5 hari kemudian, mereka sudah keluar dari wilayah negeri Sehe, dua hari lagi, sepanjang jalan semakin jarang mereka ketemukan orang, mulailah mereka memasuki gurun pasir Gobi.

Berada di padang pasir, betapapun hebat kuda mereka, takkan lebih unggul dari unta, pasir mengalir terhembus angin, kaki kuda sering kejeblos kedalam tumpukan pasir bergerak, sampai lama baru bisa dikeluarkan. Selayang pandang pasir kuning melulu, empat penjuru tak berujung pangkal, beberapa hari mereka bergulat ditengah gurun pasir belum pernah berjumpa dengan seorang lain, persediaan air mereka dikuatirkan habis.

Terik matahari terasa semakin membara, kuda merekapun sampai ter-engah2 kehabisan napas. Hari itu, tengah mereka berayun langkah dengan susah payah, tiba2 dilihatnya warna langit berubah menguning, angin ber-gulung2 membawa kisaran pasir kuning melandai dari barat ke arah timur.

Semula Hong-lay-mo-li kira yang datang hanya hembusan angin sepoi2, maka dia tidak ambil perhatian sebaliknya Hek- siu-lo yang berpengalaman sebagai saudagar yang sering mondar mandir digurun pasir berubah pucat mukanya, serunya:

"Celaka, agaknya cuaca berubah, lekas cari tempat untuk sembunyi."

Belum habis dia bicara, pasir kuning sudah berhamburan ke tengah angkasa, angin badai tahu2 sudah menerpa dengan dahsyat Gurun pasir yang tak berujung pangkal, hanya taburan kabut kuning melulu yang kelihatan. Laksana ribuan tabir kuning yang ber-lapis2 menutupi langit, matahari masih bersinar, namun cuaca menjadi petang.

"Jangan gugup, ikutilah aku." teriak Hek-siu-lo. Mereka berbalik menerjang kearah damparan badai pasir yang deras mencari jalan keluar. Kuda tunggangan Hong-lay-moli roboh menyusul kuda siau-go-kian-kun. Terpaksa mereka kambangkan Ginkang berlalu mengikuti dibelakang kuda tunggangan Hek siu-lo. Lama-kelamaan Hong-lay-mo-li rasakan napasnya sesak untunglah disaat2 kritis itu, tiba2 didengarnya Hek-siu-lo berteriak girang:

"Nah, itulah pertolongan datang"

Dalam cuaca remang2 hujan pasir, muncul bayangan unta bergerak2 dari kejauhan sana kiranya itulah kafilah bangsa Turfan yang kebetulan lewat. Para saudagar berunta itu membaris unta menjadi sebuah lingkaran besar sebagai dinding penahan damparan pasir, mendapat perlindungan dinding unta ini, berhasilkah siau-go-kian-kun bertiga beruntung dari hembusan hujan pasir.

Hek-siu-lo pandai berbagai bahasa, dengan bahasa Turfan dia ajak para pedagang itu bicara, baru diketahui bahwa rombongan saudagar ini sedang kekurangan air. Memang tempat dimana sekarang berada sudah mendekati pinggir gurun pasir, namun harus dua hari perjalanan pula baru bisa sampai dipadang rumput, ditempat itu mereka jelas takkan bisa mendapatkan air. sisa dari persediaan air mereka sudah amat minim walau tidak sampai mati kekeringan, namun deritanya cukup menyiksa.

Air yang dibawa Siau-go-kian-kun cukup banyak, tahu mereka kekurangan air, secara suka rela segera dia bagikan sekantong besar kapada mereka. Air dipadang pasir lebih berharga dari emas, sudah tentu para saudagar itu amat berterima kasih akan kebaikan hatinya, sudah tentu sewajarnya mereka lantas bersahabat. Dan siau-go-kian-kun bertigapun masuk ke dalam rombongan besar ini.

Diantara rombongan saudagar ini terdapat seorang pemuda berusia 20an, dia pandai berbahaya Han, maka dia ajak siau- go-kian-kun ngobrol tanya siau-go-kiau-kun datang dari mana, secara terus terang siau-go-kian-kun katakan dari sehe serta ceritakan situasi peperangan disana, tahu sehe sudah terjatuh dan dijajah oleh Mongol, si pemuda menghela napas gegetun.

Terunjuk rasa duka nestapa pada mimik mukanya, namun siau go-kian-kun. tidak perhatikan tingkah polahnya.

Tapi si pemuda sebaliknya menaruh perhatian terhadap siau- go-kian-kun, terutama amat perhatikan golok pusaka yang dibawanya. setelah menempuh per jalanan, dia alihkan pembicaraan pada golok dan kuda2 bagus dikatakan oleh sipemuda bahwa suku bangsa di se-ek mengutamakan dua benda sebagai impian idamannya, pertama golok pusaka dan kuda jempolan, laki2 yang menanjak dewasa harus mendapatkan sebilah golok yang bagus dan memperoleh kuda yang jempol pula. Belakangan dia minta siau- go-kian-kun perlihatkan golok itu kepadanya.

sipemuda lolos keluar golok serta me-ngamat2inya dengan rasa sayang dan terpesona siau- go-kian-kun berpikir:

"sayang golok ini Milik Li Tiang-thay yang harus kulindungi dan pasti kukembalikan kepada keluarganya, kalau tidak boleh kuberikan kepada pemuda ini."

setelah mengamat2i sebentar sipemuda berkata: "Entah darimana tuan memperoleh golok ini?"

Karena baru berkenalan, sudah tentu siau- go-kian-kun menjawab secara samar2, dikatakan itulah golok warisan keluarganya sipemuda menunjukan mimik aneh seperti tidak percaya, namun dia tidak bicara lagi dia kembalikan golok itu kepadanya.

Dua hari kemudian mereka sudah keluar dari gurun Gobi pemandangan pandang rumput berubah pula, selayang pandang hanya tetumbuhan rumput menghijau membentang lebar sampai dikaki langit.

Angin menghembus, menimbulkan alunan gelombang yang merata dan indah sekali dipandang mata, setelah kekeringan beberapa hari, seketika bangkitlah semangat mereka setiba dipadang rumput.

Malam itu mereka bermalam dipadang rumput, kaum saudagar berikan dua tenda kepada mereka dan barang2 keperluan lainnya kepada siau-go-ki-kun bertiga, Agaknya mereka tahu, adat istiadat bangsa Han, Hong-lay-mo-li menempati sebuah tenda, tenda yang lain ditempati siau- go- kian-kun dan Hek-siu-lo. Malam telah larut, didalam kelelapan tidurnya, siau-go-kian- kan seperti mendengar gerakan lirih di- luar kemah, bagi seorang yang memiliki kepandaian ulat tinggi akan segera terjaga, lenyaplah rasa kantuk siau- go-kian-kun.

Tak lama kemudian, sayup2 terdengar suara gorengan rendah. Kedengarannya: seperti binatang buas, Hek-siu-lo terjaga sambil melompat bangun, baru saja dia hendak berteriaki siau- go-kian-kun sudah menekannya dan mendekap mulutnya, lalu berbisik di-pinggir kuping:

"Bukan biruang, itulah manusia, Dia pura2 meniru gorengan binatang untuk mengelabui orang. jangan kau membuat ribut, kita lihat saja dia siapa dan apa maksudnya?"

siau-go-kian-kun pura2 tidur, sengaja dia menggoros lagi tak lama kemudian, terdengar suaara "Bret" kain tenda disobek orang, sesosok bayangan orang menerobos masuk.

pandangan mata siau- go-kian-kun amat tajam meski dimalam gelap. dilihatnya orang yang menerobos masuk ini kiranya sipemuda yang pagi tadi mengamati golok pusaka milik Li Tiang-thay itu. Dia taruh golok itu dipinggir pembaringan dengan meng-gagap dan meraba-2 akhirnya sipemuda menemukannya dan menggenggamnya kencang.

sia u- go-kian-kun sudah menduda bahwa orang akan mencuri goloknya namun mengingat pembicaraan yang akur dan asyik tadi pagi. dia segan turun tangan menangkap basah pembuatan orang terutama dia tidak ingin merusak persahabatan pikirnya dalam kesempatan lain akan dicarinya kembali saja golok itu.

Tak nyana setelah berhasil, sipemuda tidak segera berlalu, dia malah mencabut golok dan mulut menggerundel:

" Lebih baik salah membunuh dari salah melepasnya, Tapi kiranya tidak akan salah lagi." sekilas ragu2, mendadak dia ayun goloknya terus membacok leher siau- go- kian- kun.

Ter- heran2 siau-go-kian-kun mendengar perkataannya, untung dia sudah siap. tiba2 dia mencelat sambil membalik badan, berbareng kelima jarinya menyampuk pergelangan tangan si pemuda seketika menjadi lemas dan "klontang" golok itu^jatuh ke tanah.

siau-go-kian-kun belum tahu bagaimana kepandaian sipemuda, tak tega dia melukainya, maka dia hanya gunakan sebagian kecil tenaganya, dikiranya orang takkan tahan dan terjungkal roboh. Tak kira kepandaian sipemuda cukup lumayan, golok jatuh namun dia sendiri tidak roboh, putar tubuh dengan tangkas segera dia menerobos keluar dari lobang tenda tadi. Hek-siu-lo mencelat bangun menangkapnya, namun kena ditendangnya terjungkal siau-go- kian-kun memapah Hek-siu-lo tanyanya:

"Bagaimana kau?"

"Tidak apa2. orang ini masih muda, namun berhati keji, tidak lekas kau menangkapnya"

"Goloknya tidak hilang, tangannyapun ketika kusampuki sakitnya cukup untuk menghukum perbuatannya." ujar siau- go-kian-kun tertawa, Hek-siu-lo penasaran, dia kejar keluar, namun terdengarlah seekor kuda sudah dibedal pergi, sipemuda lari naik kuda.

Para saudagar terkejut bangun dan melihat si pemuda lari menunggang kuda, mereka sama unjuk rasa heran dan kaget siau- go-kian-kun tanya pimpinan rombongan

"siapakah pemuda ini?"

"Seorang teman perkenalkan dia masuk rombongan kita menuju ke Mongol untuk suatu urusan dagang, Barang2nya malah masih tertinggal disini, entah kenapa dia mendadak lari pergi?" Tahu bahwa sipemuda bukan segolongan mereka, baru siau- go-kian-kun tuturkan kejadian tadi, pimpinan rombongan geleng2 kepala sambil menghela napas gegetun, Tak berhasil mencari tahu asal usul sipemuda, golok tidak hilang pula, siau- go-kian-kun tidak tarik panjang urusan ini. Hari kedua dia tetap melanjutkan per jalanan bersama rombongan saudagar ini

Rombongan saudagar ini sudah sering mondar mandir antara Persia, se-ek Turfan, Mongol, Tibet dan lain2 negara, maka serdadu Mongol yang jaga diperbatasan dan dikota2 banyak yang kenal mereka, sehingga siau- go-kian-kun bertiga tidak mengalami kesulitan apa2 memasuki Mongol.

Dis ini para saudagar itu berpencar menuju keberbagai tempat untuk mengumpulkan bahan obat2an, maka siau-gio- kian-kun berpisah terus menuju ke Holin.

Holin adalah ibu kota Mongol, Mongol berdiri belum lama, maka Holin masih merupakan bangunan kota serba darurat yang kasar meski sudah ada beberapa bangunan gedung, namun kebanyakan masih suka bertempat tinggal didalam kemah, siau- go-kian-kun menyewa sebidang tanah, disini dia mendirikan kemah, menyamar sebagai pedagang dari daerah lain.

setelah mendapatkan tempat berteduh, barulah dia mulai merancang rencana dan bergerak secara teratur.

Langkah pertama sudah tentu harus mencari tahu situasi dan keadaan setempat Bangunan terbesar di Ho-lin adalah biara Lama, mereka sudah tahu bahwa Kongsun Ki dikurung disana, Tapi dimana adik Hek-siu-lo di kurung, belum lagi mereka ketahui.

Tidak sedikit jumlah jago2 kosen dalam kuil Lama, yang sudah diketahui adalah Liu Goan-ka dan Thay Bi jikalau bukan kebetulan penyakit Jau-hwe-jip-mo mereka kumat, siau-go- kian-kun dan Hong-lay-mo-li tidak yakin dapat mengalahkan mereka.

sedang Pek-siu-lo dikurung tersendiri oleh Umong, hal ini lebih mudah dihadapi. Maka mereka berkeputusan untuk menolong Pek-siu-lo lebih dulu baru akan menyatroni kuil Lama, umpama gagal dengan leluasa mereka akan bisa meninggalkan Holin.

Dari teman2 Hek-siu-lo di Mongol dengan susah payah didapat keterangan, bahwa Umong adalah seorang Kim-tiang Busu yang langsung menjadi bawahan Jengis Khan, tugasnya melindungi dan menjaga istana Jengis Khan, istana Jengis Khan terletak di- utara Ajiloh, Kim-tiang Busu yang bergiliran piket berasrama disana pula, Umong dan Ibun Hoa-kip hendak memeras harta Hek-siu-lo pasti diluar tahu Jengis Khan dan gurunya.

oleh karena itu kemungkinan besar Pek-siu-lo dikurung di salah satu kemah mereka, maka mereka berencana malam itu hendak mencari tahu dulu kegunung Ajiloh, dimana tempat tinggal itu kemah Umong.

Hari itu, tengah mereka berunding tiba2 didengarnya diluar ada ramai2, siau- go-kian-kun lari keluar melihat, tampak laki perempuan, tua muda sama berebut keluar kota. siau- go- kian-kun tanya Hek-sin-Io:

"Apa yang mereka ributkan, Apakah Jengis Khan kembali?" "Bukan Khan besar mereka yang pulang, tapi salah seorang

selirnya yang dikirim kembali ke Holin"

"Selir yang mana?"

"Putri Li An-coan raja negeri sehe, Karena harus pimpin pasukannya kemedan laga, dia kirim dulu selirnya ini ke rumah. Rakyat berbondong2 ingin melihat selir junjungannya."

siau- go-kian-kun tertawa bertiga merekapun keluar kota mengikuti arus rakyat yang berbondong itu, pejabat Mongol yang ada di Holin belum lagi keluar menyambut, mereka sudah mencampurkan diri bersama rakyat banyak,

Tampak sebarisan unta dan kuda mendatangi. PeIan2 punggung unta dibebani paket2 besar kecil hasil kemenangan dari peperangan kali ini. Selir yang dimaksud duduk diatas sebuah singgasana dipunggung unta yang ditutupi kain sari, yang berjarak dekat masih bisa melihat jelas tampang selir yang satu ini meski hanya teraling oleh kain sari yang halus dan tembus penglihatan, wajahnya tampak malu2 dan murung.

Disebelah unta yang dinaikan selir adalah seekor kuda yang ditunggangi seorang laki2 berpangkat tinggi dengan kepala besar kuping besar. Dari bisik2 orang2 disebelahnya baru

Siau-go-kian-kun tahu, bahwa laki2 tromok ini adalah paman raja negeri Liau yang dulu dan belakangan lari dan menetap dinegeri Sehe.

Sekarang dia ditugaskan untuk mengantar Selir ini ke Holin Dibelakang Siau Hok, menunggang kuda besar pula, adalah Sin Bong-gwan, Sin Bong-gwan memangnya adalah pengawal pribadi siau Hok, dulu dia malang melintang dan se-wenang2 didaerah utara, akhirnya ditumpas, maka dia tidak terima kalau Hong-lay-mo-li menjabat Lok lim Beng-cu.

"Kebetulan malah kedua orang ini datang, menghemat tenaga kita." ujar siau- go kian-kun.

"Urusan penting kita belum terlaksana, mungkin sekarang tidak leluasa turun tangan terhadap mereka".

"Betul. Tapi aku mendapat pesan Li Tiang-thay, sakit hatinya aku harus menuntutkan balas, Biarlah cari kesempatan lain waktu."

Pada saat itulah, terjadi peristiwa yang tak pernah mereka duga, Diantara gerombolan penonton yang berjejal2 itu, tiba2 menerobos keluar seorang pemuda terus menumpukan pisau terbang kearah siau Hok, gerak gerik sipemuda cekatan dan seranganpun amat cepat, belum lagi semua orang menyadari apa yang terjadi, pengawalpun baru berteriak.

"Ada pembunuh" tampak siau Hok sudah terjungkal roboh dari punggung kuda pisau terbang timpukan sipemuda telah menancap didadanya tembus kepunggung, jiwapun melayang seketika.

Mengenali pembunuh ini, Liu dan Hoa sama2 me-lengak. Kiranya sipemuda bukan lain adalah pemuda dari rombongan saudagar yang berusaha mencuri golok pusaka itu.

"Jing-yau", ujar siau-go kian-kun tertawa

" bukan aku ingin cari kesulitan, namun sekarang kita tak bisa berpeluk tangan."

sementara itu Sin Bong-gwan sudah menubruk turun mengejar sipemuda, tak sempat keluarkan golok, dia gunakan cemeti. "Tar" seraya memaki:

"Pembunuh bernyali besar, masih ingin lari?"

gerak gerik sipemuda cekatan namun tak kuasa dia meluputkan diri dari cambuk sin Bong-gwan.

sebagai tokoh silat kelas tinggi dari aliran hitam, ilmu silat sin Bong-gwan memang lihay, sipemuda lintangkan golok menangkis terasa tangannya pedas kemeng, tahu2 goloknya terbelit dan tersendai lepas oleh cambuk sin Bong-gwan. cambukan kedua sementara itu sudah menyerang tiba pula, sipemuda baru mencelat bangun, dengan telak lututnya kena di hajar, seketika dia terjungkal pula.

Cambuk ketiga sin Bong-gwan mengincar batok kepala sipemuda, mendadak sin Bong-gwan sendiri yang menjerit kesakitan cambuknya menceng kesamping, kiranya siau- go- kian-kun dan Hong-lay-mo-li sama2 melompat keluar, pergelangan tangan sin Bong-gwan tertusuk benang kebut Hong-Iay-mo-li, sehingga serangannya menceng.. Gerak Hong-lay-mo-li secepat kilat, tahu2 dia sudah berada didepan sin Bong-gwan, pedangnyapun menusuki ter-sipu2 sin Bong-gwan menyapu dengan cambuk namun dimana sinar pedang berkelebat cambuk-nya seketika putus jadi tiga jurus Hong-lay-mo-li dinamakan sam-coan-hoat-lun (memutar tiga kali roda sakti), cambuk putus gerakannya masih belum berhenti hampir saja jari2 sin Bong-gwan terpapas kutung juga.

Dalam beberapa gebrak saja sin Bong-gwan lantas tahu bahwa yang dihadapinya adalah Hong-lay-mo-li musuh buyutannya, bentaknya:

"Hm, kiranya kau iblis..."

belum habis dia bicara tahu2 terdengar suara "Ngek" teng gorokan sin Bong-gwan seperti disumbat dan leher tercekik, kata2 selanjutnya tak mampu di ucapkan.

Kiranya kuatir orang membeber asal usul Hong-lay-mo-li, siau- go-kian-kun timpukkan sebentuk mata uang tepat masuk ketenggorokannya, perhatian sin Bong-gwan tertuju kepada Hong-lay mo-li, jangan kata berkelit, belum lagi dia sempat katupkan mulut, tahu2 mata uang sudah masuk kemulutnya.

Kekuatan jentikan mata uang siau-go-kian-kun jauh lebih keras dari pegas, bukan saja gigi Sin Bong-wan rompal, tenggorokannyapun terluka parah, Memangnya dia bukan tandingan Hong-lay-mo-li, karena terluka oleh mata uang timpukan siau- go-kian-kun, sudah tentu dia menjadi keripuhan, hanya beberapa gebrak lagi, akhirnya dia mampus dengan dada tertembus pedang Hong-lay-mo-li.

Waktu sipemuda tersungkur jatuh, serdadu Mongol bersorak2 memburu kearahnya, golok pedang dan tombak serentak merabu kepadanya. untung siau- go-kian-kun bertindak cepat, sekali raih dia jinjing sipemuda bangun, berbareng tangan yang lain menangkap seorang perwira terus diputarnya seraya membentak: "Nah, bunuhlah dia" tiga golok dan sebatang tombak sama membacok dan menusuk badan si perwira, karuan serdadu Mongol itu sama berteriak kaget dan menyu-rut mundur.

siau-go-kian-kun putar badan gede si perwira sehingga beberapa serdadu jatuh sungsang sumbel

"Kau masih bisa lari? Lekas rebut kuda" seru siau- go-kian- kun kepada sipemuda.

Mengenali siau-go-kian-kun sekilas sipemuda melenggong, matanya terbelalak kaget dan heran, teriaknya:

"Kau, kau, kenapa kau tolong aku?" "Jangan banyak tanya, lekas lari dulu"

Walau lututnya terluka namun kepandaian sipemuda masih unggul dari serdadu Mongol, cepat sekali dia sudah rebut seekor kuda dan melarikan diri, lekas sekali siau-go-kian-kun, Hong-lay-mo-li dan Hek-siu-lepun sudah menerjang keluar kepungan.

setiba disuatu hutan siau- go-kian-kun tanggalkan golok serta berkata dengan tertawa:

"Tempo hari aku membual kepadamu, harap kau tidak kecil hati."

Kesima sipemuda, katanya:

"Siapakah tuan? Darimana kau peroleh golok ini? sudikah menerangkan?"

"Kau belum tahu siapa aku aku malah sudah tahu siapa kau. Kau Li-kongcu bukan Li Tiang-thay pernah..."

"Aku bernama Li Liok-ji Li Tiang-thay adalah ayahku. Golok ini..."

"Ayahmu titip golok ini kepadaku untuk diserahkan kepada Kongcu. Di Sehe aku pernah bertandang ke rumahmu, tak kira disini bertemu dengan kau, silakan Kongcu terima kembali golok ini."

Menerima golok Li Liok-ji bertanya:

" Harap tanya siapakah tuan penolong ini? Entah dimanapula tuan penolong bertemu dengan ayah?"

"Aku she Hoa bernama Kok-ham inilah Loklim Bengcu lima propinsi utara Liu Jing-yau.. Dia adalah teman karibmu, Hek- siu-lo yang pernah dipenjarakan di sehe."

Kejut girang dan was2 pula hati Li Liok-ji, kata-nya:

" Kiranya tuan penolong adalah siau-go-kian-kun pendekar latah Hoa Kok-ham yang kenamaan di Kang-ouw?"

siau-go-kian-kun golak2 seraya menarik kedok mukanya Hong-lay-mo-lipun gunakan air menghapus obat rias yang menjadikan dia ganti rupa menjadi perempuan desa setengah umur.

sekarang Li Liok-ji tidak ragu2 lagi, ter-sipu2 dia berlutut dan menyatakan terima kasih, tanyanya:

"Bagaimana keadaan ayah? Kenapa dia titipkan golok ini kepada Hoa Tayhiap?"

"Harap Kongcu tidak bersedih ayahmu, dia, su... sudah meninggal " lalu dia ceritakan kejadian dipangkalan Yalu Hoan-ih, akan kemalangan yang menimpa Li Tiang-thay. Li Liok-ji menangis sesenggukan, siau- go-kian-kun menghibur:

"Dengan tanganmu sendiri kau sudah bunuh siau Hok, sakit hati ayahmu sudah terbalas."

Li Liok-ji menghasut air mata, katanya mewek2: "sekian lama ayah tidak kunjung pulang dalam

perjalanannya ke Ki-lian-san, aku sudah merasakan firasat jelek. siau Hok memang bermusuhan dengan keluargaku, kubunuh dia bukan lantaran dendam pribadi. Malah aku belum lagi tahu bahwa dialah biang keladi yang membunuh ayahku."

"Aku, tahu, kau bunuh Siau Hok untuk membela nusa dan bangsa, dendam negara memang lebih besar artinya dari sakit hati keluarga-" ujar Siau-go-kian-kun seraya membimbing Li Liok-ji bangun berdiri tanyanya:

"Apa kau bisa membaca bahasa Mongol?" Li Liok-ji melengak, katanya:

"Pernah belajar beberapa tahun bahasa kasaran bisa kubaca, Hoa Tayhiap untuk apa kau tanya..."

"Dalam golok ayahmu ada disimpan surat rahasia, coba kau periksa dan baca isinya?"

Li Liok-ji keluarkan surat itu serta membacanya, katanya kemudian:

"Inilah surat rahasia yang dikirim langsung dari istana Jengis Khan, Siau Hok diperintahkan untuk menjadi spion, dikatakan kalau raja kita tak mau menyerah, Siau Hok diperintahkan membunuhnya. Aneh kenapa surat rahasia ini bisa berada ditangan ayah?".

"Mungkin kurir Jengis Khan yang membawa surat rahasianya ini kepergok ayahmu ditengah jalan, karena tugasnya ke Ki-lian-san amat penting, dia tidak sempat memberi kabar kepada Baginda raja junjungannya." siau go- kian-kun menjelaskan.

Li Liok-ji manggut2, ujarnya:

"Ya, mungkin demikian oleh karena itu ayah titip golok ini kepadamu untuk diserahkan kepadaku, Bukan mustahil Siau Hok berusaha untuk merebut golok ini."

Hong-lay-mo-li menimbrung: "surat ini sebetulnya tidak begitu penting lagi artinya, Disebelah belakang masih ada kelanjutannya. Jengis Khan sedang mencari soseorang." "O, siapa yang dia cari?" tanya Hong-lay-mo-li.

"Seorang bernama Liu Goan-cong . Jengis Khan minta Siau Hok bantu mencarinya."

Hong-lay-mo-li heran, katanya:

"orang yang dicari Jengis Khan itu adalah ayahku.

Hakikatnya ayah tidak pernah kenal Jengis Khan entah untuk keperluan apa dia mencari ayahku? sungguh aneh sekali."

"Ayah berada di Kong-bing-si orang2 Jengis Khan pasti takkan bisa menemukan. sayang Jengis Khan tak berada di Holin, kalau tidak boleh kau wakili ayahmu menemuinya. sudahlah, hari sudah petang, mari kita pulang."

setelah diobati luka2nya, Li Liok-ji sudah bergerak leluasa, Dia hendak mencari rombongan saudagar itu, maka berpisah dengan siau-go-kian-kun, bertiga. Petang itu siau-go-kian-kun bertiga kembali ke Holin. Walau Holin adalah ibu kota Mongol, namun karena mereka adalah bangsa penggembala negara baru berdiri lagi, maka bangunan kota masih serba sederhana dan darurat, demikian juga Holin tak ubahnya seperti kota2 kecil di Tiongkok, tembok kotapun tidak dibangun. Maka siau- go-kian-kun bertiga dengan leluasa kembali ke rumahnya.

Penjagaan dan ronda memang diperketat namun karena siau Hok dipandang orang luar yang tidak penting artinya, selir Jengis Khanpun sudah masuk istana, maka peristiwa terbunuhnya siau Hok sudah tidak dianggap lagi.

setelah makan malam, haripun sudah menjelang malam, bergegas mereka ganti pakaian hitam, bergerak menurut rencana, menyelidik ke gunung Ajilohi

Malam gelap angin meniup keras, merupakan cuaca tepat bagi orang bergerak dimalam hari. Dengan mengembangkan Ginkang mereka bertiga menyelundup kepuncakAjiloh tanpa di ketahui oleh siapapun. Istana yang ditempati Jengis Khan dibangun di atas gunung, disekitar istana dari atas ber-lapis2 menurun didirikan kemah2 yang tersebar di-mana2, itulah kemah2 para Kim- tiang Busu yang berdinas dan bertempat tinggal, jumlahnya kurang lebih tiga empat puluhan. Entah kemah yang mana tempat tinggal Umong.

Tiba2 tampak sinar obor mendatangi, ada beberapa Busu beranjak kemari, satu diantaranya kebetulan adalah Umong, siau- go-kian-kun beramai lompat naik kepucuk pohon menyembunyikan dia Hek-siu-lo. berbisik memberitahu:

"Beberapa orang yang bersama Umong itu satu diantaranya bernama Muliha, yang lain bernama Jilaun jagoan dari Kim- tiang Busu, kepandaiannya tidak dibawah Umong, Tiga yang lain aku tidak kenal namun dari dandanan seragam mereka, dua Kim-tiang Busu, seorang lagi adalah Wisu biasa."

Lekas sekali rombongan Umong sudah dekat dan lewat dibawah pohon, terdengar Umong menggerutu.

" Urusan genting apa, selarut ini masih panggil orang."

Jilaun berkata: " inilah pesan Cepe, dia kuatir ada pembunuh yang membuat onar di istana, Khan agung tiada, maka kita harus lebih hati2 menjaga selirnya"

Umong mendengus, katanya: "Memangnya Cepe ketakutan menghadapi beberapa keparat itu? Kemungkinan mereka adalah orang2 Sehe, tujuannya hanya membunuh siau Hok.

Memangnya berani mereka petingkah diistana." yang terang Umong menguatirkan tawanannya, maka dia selalu cari alasan tidak mau bertugas di istana.

"Bukan begitu," timbrung Muliha, "kesaktian panah Cepe memangnya kau ragukan, jelas dia bukan laki2 yang penakut. Katanya orang2 yang dipergokinya itu berkepandaian tinggi, kuatir Kim-tiang Busu kita tiada yang kuat menandinginya.

Bagaimana juga, hati2 kan baik. sepuluh atau setengah bulan lagi Khan besar akan pulang, maka jangan sampai terjadi apa2 sebelum Khan besar pulang."

Diam2 terkejut hati Umong, maka rasa kuatirnya bertambah besar akan tawanannya yang diam2 dia sembunyikan didalam kemahnya, namun dia hanya menggerutu dan tetap mengikuti langkah temannya.

Muliha tak hiraukan lagi, dia berpesan kepada Wisu itu: "Pergilah kau ketempat suptay, suruh dia malam ini lebih

berhati2, ronda ditambah jaga diperketat"

suptay adalah Kim-tiang Busu yang mengepalai penjagaan dan ronda malam ini setelah mengiakan, Wisu itu segera putar kembali Lewat dibawah pohon siau-go-kian-kun, kebetulan angin meniup kencang sehingga obor ditangannya padam.

" Celaka, sekali" gerutu si Wisu, Dia lupa membawa ketikan api lagi, walau jalanan digunung sudah apal namun malam segelap ini, berjalan harus meraba2 dan metigeremet, betapapun hatinya menjadi gugup.

Badai menghembus semakin kencang, pasirpun beterbangan wisu itu tak kuat membuka mata sehingga langkahnya sempoyongan main terjang, tiba2 dia merasa seperti menabrak seseorang, orang itu lantas mencengkram dadanya, bentaknya: " Kau tidak punya mata?"

Wisu minta maaf katanya: "Oborku padam. siapa kau? Ada membawa ketikan api?"

Logat Mongol orang ini membawa aksen penduduk Holin, maka si Wisu tidak curiga.

"Aku adalah ajudan Ibun-ciangkun," kata orang itu,

"baru kembali dari garis depan. MenyebaIkan angin badai ini, oborku sampai terbuang, Aku tidak kenal jalan disini. obormu boleh kunyalakan namun kau bantu aku mencari seorang?" Wisu ini cukup cerdik, namun orang ini membawa aksen Holin tulen disamping menyebut nama Ibun Hoa- kip pula, pikirnya penjagaan dibawah gunung cukup keras, bahwa orang ini bisa berada dis ini tentunya orang sendiri Karena dia harus segera menyampaikan perintah kepada suptay maka dia berkata:

"Aku bertugas, tak bisa ikut kau mencari orang, Kau mau cari siapa?"

"Ibun ciangkun suruh aku mengantar surat untuk Umong, suhengnya."

"Malam ini Umong sedang giliran Piket, besok saja kau temui dia."

"Malam ini aku harus mendapat tempat untuk istirahat sukalah kau bawa aku kekemahnya."

"Aku sedang men jalankan tugas penting, Begini saja pergilah sendiri ke- kemah Umong, jalan kebarat kira2 dua ratus langkah, disana terdapat sebuah panggung batu, kemah dipinggir kiri panggung batu itulah tempat tinggal Umong.

Lho, ketika nmu sudah ketemu belum? Lekas nyalakan oborku."

orang itu berkata:

"Baik, terima kasih akan petunjukmu, kau rebahlah."

Wisu itu terkejut teriaknya: "Kau, kau..." hanya dua patah kata, tahu2 ketiaknya terasa sakit terus jatuh pingsan dan rebah tak berkutik lagi.

orang yang menutuk Hiat-to Wisu ini adalah Hek-siu-lo. Dia memang pandai bicara dengan bahasa Mongol. Dia tahu  watak Busu Mongol biasanya keras dan kaku, kuatir gagal pakai ancaman dan kekerasan, maka dia gunakan tipu ngapusi orang. Liu dan Hoa segera lompat turun, mereka puji Hek-siu-lo yang pandai main sandiwara. Kata Hek-sinr lo tertawa:

"Biar goda mereka lebih lanjut, akan kumain sulapan untuk mempermainkan mereka"

"o kaupun pandai main sulapan?" ujar Hong-lay-mo-li. "Mainan lain aku tidak bisa, aku bisa merubah diri jadi

Umong." ujar Hek-siu-lo tatkala itu angin badai sudah mereda,

sesuai petunjuk si Wisu tadi, betul juga dengan mudah mereka sampai dikemah kediaman Umong. Dari dalam kemah seorang membentak: "siapa di- luar?"

Hek-siu-lo segera menyahut:

"sute, aku sudah kembali." logat bicaranya mirip benar dengan Umong.

orang yang ada didalam kemah adalah sute U-mong bernama Uji, mendengar suara suhengnya, dia menjadi heran:

"eh begini cepat kau sudah pulang?"

waktu dia singkap kerai tahu2 dilihatnya seorang keling berdiri didepannya, keruan kejutnya bukan main, teriaknya:

"Kau, siapa kau? Mana suhengku?"

Hek-siu-lo menarik kedok mukanya, katanya tertawa: "Kau minta suheng kepadaku, kebetulan akupun ingin

minta adik kepadamu.. Nah, dimana adikku kau sembunyikan?"

ditengah gelak tawanya segera dia turun tangan.

Uji memapaknya dengan pukulan, dengan gerak Kim-le- coan-peh (ikan mas menyusup gelombang), Hek-siu-lo menyanggah dengan tangan kiri, sementara telapak tangan kanan menyelinap dari bawah ketiaknya, terus memelintir dan menelikung lengan Uji. Uji meronta sekuatnya sehingga pegangan Hek-siu-lo terlepas, sebetulnya taraf kepandaian Uji tidak lebih rendah dari Hek-siu-lo, soalnya dia kaget dan belum siaga maka dia sedikit dirugikan.

sigap sekali Hek-siu-lo miring badan dan "wut" bongemnya menjotos, Uji gunakan Tay-kim-na-jiu berbalik memegang urat nadinya, Hek-siu-lo tekuk lutut merendahkan pinggang menyurut pundak, kembali kepalan kirinya menghantam.

"Tolong..." belum lenyap teriakan Uji, tahu2 terasa badannya mengejang dan lemas, suaranya terputus badanpun melingkar roboh. Kiranya pada saat yang tepat itu siau-go- kian-kun menyelinap masuk serta menutuk Hiat-tonya dengan kipas, Maka jotosan tangan kiri Hek-siu-Io dengan telak mengenai hidungnya, keruan uji menjengking kesakitan, darahpun meleleh dari hidungnya.

Hek-siu-lo menggeledah ke seluruh kemah yang kosong melompong, tiada sesuatu yang dapat diketemukan kecuali Uji. segera kakinya menginjak dada Uji membentak:

"Dimana kau sembunyikan adikku?-jika Tidak kau katakan, kurenggut jiwa anjingmu."

senak napas Uji, katanya tersendait: "Dia, dia..."

"Dia kenapa?" sentak Hek-siu-lo. Karena sesak napas dan terinjak dadanya, Uji tak mampu bersuara, didesak lagi, saking gugup dia tak mampu bicara.

Tiba2 terdengar sebuah suara tertawa berkata. "Koko, aku dibawah sini." kedengarannya suara itu

kumandang dari bawah tanah, memang itulah suara Pek-siu-

lo. sekali renggut, Hek-siu-lo jinjing badan Uji, bentaknya bengis:

"Lekas buka pintu rahasia kebawah."

Uji sempat bernapas, katanya tersengal: "Pindah-lah papan batu dibawah dipan itu." karena Hiat-to masih tertusuk dia tak mampu berkutik,

Lekas siau-go-kian-kun bekerja membalik papan batu betul juga dibawahnya adalah sebuah lobang gelap. Dengan menjinjing Uji, Hek-siu-Lo mendahului lompat turun diikuti siau-go-kian-kun. sementara Hong-lay-mo-li ber-jaga2 diluar kemah.

setelah menyulut obor, tampak mata mereka menjadi silau, ternyata dikamar dibawah tanah penuh bertumpuk mas perak, mutiara jamrud, mata kucing, batu safir berlian dan lain2 harta yang tak ternilai harganya.

Pek-siu-lo adik Hek-siu-lo duduk diatas tumpukan barang2 mestika itu Kiranya kamar batu dibawah tanah ini adalah gudang penyimpanan harta kekayaan Umong, Uji, Ibun Hoa- kip bertiga, Pek-siu-lo tertawa menyambut kedatangan saudara tuanya:

"Koko, jual beli kita kali ini tidak akan rugi, dia hendak mengeduk harta kita, malah sebaliknya kita yang bakal mengeduk harta mereka."

"Dik, jangan kau terlalu tamak." bujuk Hek-siu-lo.

"hayo lekas keluar" Pek-siu-lo menyeringai sinis, ujarnya: "Aku tak mampu bergerak,"

"Jangan kuatir, cukong punya Thian-san-soat-lian, sebentar saja kau akan bisa bergerak."

keadaan Pek-siu-lo lemas lunglai karena keracunan Mo-kui- hoa.

Dua sayap Thian-san-soat-lian dikunyahnya dan ditelan, lekas sekali Pek-siu-lo menas akan badan segar dingin amat nyaman dan semangat lekas pulih. setelah menghaturkan terima kasih Pek-siu-lo berkata: "setelah kejadian ini aku benar2 kapok, mari kita angkat semua harta ini dan serahkan kepada pasukan gerilya rakyat yang melawan Mongol."

" Ucapanmu betul," ujar Hek-siu-lo,

"Akupun punya maksud yang sama, malah seluruh harta simpanan kita itupun ingin kuserahkan seluruhnya kepada laskar rakyat"

Dua bersaudara segera mencari karung, uang mas dan perak disingkirkan sengaja mereka hanya memungut mutiara berlian jamrud dan harta lain yang lebih tinggi nilainya, setelah dua karung penuh, yang lain tak muat lagi, siau- go- kian-kun tertawa, katanya:

"Sudahlah cukup, Umong tentu amat gegetun dan mencak2 seperti kebakaran jenggot-"

Pek-siu-lo masih merasa sayang, katanya: "Ambil lagi sedikit"

Tiba2 terdengar suara benturan senjata keras, lekas siau go-kian-kun berlari keluar, tampak didalam kemah, Hong-lay- mo-li sedang berhantam dengan Umong.

Ternyata setiba di istana Umong yang jantung selalu dag dig dug mencari alasan dan minta diijinkan oleh Cepe untuk kembali kekemahnya dulu, Cepe adalah komandan Kim-tiang Busu, Umong seharusnya tunduk akan perintahnya. Namun mengingat guru Umong adalah jago andalan Jengis Khan cepe rikuh untuk memaksanya, setelah mengerut kening, akhirnya dia meluluskan permintaan Umong .

Mimpipun Umong tidak duga didalam kemah sendiri bakal kepergok dengan Hong-lay-mo-li, begitu berhantam Umong lantas terkena senjata rahasia Hong-lay-mo-li, dua utas benang kebut orang mengenai Hiat-tonya. Untuk sementara Umong yang meyakinkan Gun-goan-it-sat-kang masih kuat bertahan, namun keadaannya sudah gawat. "Ada pembunuh, Ada mata2 lekas datang." teriak Umong seraya jumpalitan kebelakang pikirnya hendak terjang keluar kemah.

"Lari kemana" bentak siau- go-kian-kun seraya lontarkan B ik-khong-ciang, Umong tersungkur jatuh .

"Sret" pedang Hong-lay-mo-li menusuk tembus tulang pundak Umong, kontan Umong menjerit roboh dan semaput

"Bukan aku berlaku kejam, soalnya keparat ini terlalu jahat Baiklah, kita lepas api bakar saja kemah ini, segera kita berlalu"

"Lho kan malah mengejutkan musuh menunjukkan jejak kita?" bantah siau-go-kian-kun.

"Tujuanku memangnya ingin bikin mereka geger dan kalut.

Kita tinggalkan tempat ini, segera menuju ke Lama-kiong,"

siau-go-kian-kun mengerti maksudnya, katanya: "Betul, akal bagus Kalau disini terjadi kebakaran, jago2 Lama dimana tentu diminta bantuannya kemari."

Tatkala itu Hek-Pek-siu lo sudah keluar, dengan obornya Hek-siu-lo segera membakar kemah. Dari bawah Uji ber- teriak2:

"sukalah kalian bermurah hati, jangan aku dibakar mati." siau-go-kian-kun berkata: "Keparat inipun jahat, tapi bukan

pelaku utama, Baiklah selamatkan jiwanya."

Pek-siu-lo menyeretnya keluar terus menendangnya sekali, tulang rusuk Uji patah dua, namun Hiat-tonya yang tertutuk dibebaskan, karena terluka parah dan tak mampu ber jalan Uji merangkak meninggalkan kemahnya yang mulai berkobar.

suptay komandan ronda segera ber-lari2 datang dengan anak buahnya, suara tanduk tanda bahaya segera ditiup, Lekas sekali para Busu ber-lari2 dari berbagai penjuru, genta besar di istana yang piranti memberi tanda bahayapun ber- talu2.

siau-go-kian-kun dan lain2 kembangkan Ginkang sudah lari ke dalam hutan waktu para Busu sibuk memadamkan api, mereka dengan selamat sudah tiba di-bawah gunung.

siau-go-kian-kun lantas berpesan kepada Hek-Pek-siu-lo: "Kalian meninggalkan Holin dulu, tunggulah kami di Kim-

gu-poh diluar kota." Kim-gu-poh adalah tempat dimana Hek- Pek-siu-lo menyimpan hartanya, hal ini sudah dilaporkan kepada siau- go-kian-kun. Maka merekapun berpisah.

Kuil Lama dan istana Jengis Khan dibangun bertautan antara dua puncak yang berlainan, lekas sekali para Lama dipuncak sebrang bisa melihat kobaran api di puncak sebelahnya, namun jalan gunung sukar dan berbahaya, malam gelap lagi meski jaraknya dekat, tapi untuk naik turun gunung memerlukan waktu sejam. Waktu siau- go-kian-kun dan Hong- lay-mo-li tiba dipuncak gunung, para Lama sedang ber-lari2 turun-

Mereka sembunyi diatas pohon, para Lama itu perlu segera lari kesana memberi bantuan, sudah tentu tak perhatikan jejak mereka.

Jumlah Lama yang keluar memberi bantuan cukup banyak, sisanya yang tunggu Kuil segera menutup pintu, dan tiada yang berani keluar. Dalam bilangan Kuil Lama yang cukup besar ini terdapat beberapa pucuk pohon tua, kebetulan buat sembunyi siau- go-kian-kun berdua, namun burung yang bersarang dipohon ini terkejut terbang.

Dua Lama yang berjaga dibawah pohon terkejut dan mendongaki disaat mereka perhatikan suara burung, Liu dan Hoa lekas kembangkan Ginkang dari arah yang lain melesat ke atas kuil terus sembunyi dilekukan genteng. Dipekarangan sana empat Lama sedang mendatangi namun merekapun tidak melihat jejak bayangan Liu dan Hoa, Kedua Lama itu, membalik masuk sambil menggerutu: "Ternyata burung cari gara2"

Baru saja siau- go-kian-kun merasa senang bahwa usahanya berhasil, tiba2 terasa kesiur angin dingin yang tajam laksana panah melesat ke arah dirinya, berbareng seorang membentak: "Menggelundunglah turun"

Kontan siau-go-kian-kun bergidik kedinginan, kakinya terpeleset dan meluncur kebawah dari atas genteng, untung dia keburu mengerem dan gunakan gaya bergantung diatas payon, ujung kaki menggantol dan menyendal kembali dia melejit naik keatas.

Namun lekas sekali si Bungkuk Thay Bi sudah menubruk tiba kedua tangannya menyerang bersama, kekiri menyerang siau-go-kian-kun, kekanan menghantam Hong-lay-mo-li.

siau- go-kian- kun terkejut akan kehebatan pukulan si Bungkuk yang lebih kuat dari beberapa bulan yang lalu, namun dia tidak mundur, namun dipaksa untuk balas menyerang untuk bertahan, dimana kipasnya bergerak dia tutuk Lau-kiong-hiat ditelapak tangan Thay Bi .

Thay Bi kipatkan tangan berusaha merebut kipas Siau-go- kian-kun. Tapi disaat lawan mengubah gerakan, siau-go-kian- kun sudah melejit dengan gerakan burung dara jumpalitan dia pindah kesebelah atas tepat diwuwungan rumah.

Dalam waktu yang sama, Hong-lay-mo-li kebutkan kebutnya mengincar muka orang, dengan kekuatan pukulannya yang keras Thay Bi bikin kebutnya tertolak buyar, namun pedang ditangan kanan Hong-lay-mo-li keburu menusuk tiba, baru saja Thay Bi melayani kipas siau-go-kian- kun, dia jadi kerepotan dan terpaksa melompat menyingkir "cret" jubah kulit musang berbulu Thay Bi terpapas sobek sebagian "Kiranya kalian sepasang bedebah ini." maki Thay Bi , "memangnya kalian ingin aku antar jiwa kalian bersama menghadap Giam-lo-ong?"

"Betul," ejek siau-go-kian-kun

" akulah yang hendak merenggut jiwamu" setelah mundur, kedua orang sama2 merangsak maju, Dengan mendapat bantuan Hong-lay-mo-li, ilmu tutuk dengan kipas siau- go- kian-kun dapat dikembangkan dengan bagus dan lihay.

Thay Bi terdesak membela diri saja, untuk mempertahankan dia mandah repot, sudah tentu tak sempat lagi menggunakan Hian-in-ci kebanggaannya.

Beruntun para Lama yang berada dibawah segera lompat naik keg enteng, bentaknya: "Maling bernyali besar dari mana berani mempermainkan Hudya"

satu diantaranya melihat Hong-lay-mo-li adalah seorang perempuan, gusarnya bukan kepalang, makinya:

"Tempat suci bersih mana boleh kau perempuan siluman ini bikin kotor disini? Hayo menggelundung pergi" menurut peraturan kuil Lama, kaum perempuan dilarang memasukinya.

"Persetan dengan aturan Busukmu," maki Hong-lay-mo-li, "kaulah yang menggelundung turun" sekali kebut dia guling

tongkat si Lama terus ditarik dan didorong meminjam tenaga lawan, betul juga Lama tersungkur roboh dan terguling jatuh ke bawah.

sisa tiga lama yang lain dipapak Hong-lay-mo-li. Dengan mengembangkan pedang dan kebut, sekejap saja para Lama itu kena dirobohkan dengan tertutuk Hiat-tonya, salah seorang malah terkebut remuk tulang pundaknya dan terguling jatuh dan terbanting mampus.

Waktu Hong-lay-mo-li membalik hendak membantu siau- go-kian-kun melawan Thay Bi , se-konyong2 terdengar jerit lengking orang kesakitan yang mengerikan, namun bukan Thay Bu yang teriak kesakitan, sekilas Hong-lay-mo-li melengak, segera dia tahu, bahwa tempat itu adalaah kamar dimana Kongsun Ki dikurung kini penyakit Jau-hwe-jip-mo kebetulan kumat dan tersiksa hebat.

Jerit kesakitan yang tersiksa itu amat mengerikan, disusul terdengarlah gelak tawa orang yang lebih mendirikan bulu roma orang, itulah gelak tawa Liu Goan-ka, kelihatannya dia sedang menyeringai seram, namun dalam nada lawannya terasakan juga kegetiran yang luar biasa.

"Pergilah tolong orang, aku kuat melayani bangsat tua ini." kata siau-go-kian-kun. Tahu siau-go-kian-kun masih kuat bertahan beberapa kejap lagi, maka setelah melancarkan tiga kali tusukan mendesak Thay Bi mundur, Hong-lay-mo-li segera melambung tinggi lompat ke wuwungan seberang dan mencari tempat kurungan Kongsun Ki.

Waktu dia meluncur tutrun dan memandang kedalam melalui jendela, dilihatnya Liu Goan-ka duduk bersimpuh uap putih mengepul dari kepalanya.

Kongsun Ki sebaliknya sedang ter-guling2 sambil men-jerit2 diatas lantai.

suasana menjadi geger dalam kuil Lama, namun keributan diluar anggap tidak dengar sama sekali oleh Liu Goan-ka.

Kongsun Ki masih menjerit dan ber-teriak2 sampai serak, dia tetap duduk menonton sambil menyeringai dingin, seperti menikmati derita yang dialami Kongsun Ki.

Namun terbayang juga pada sorot mata, dan mimik mukanya bahwa dirinyapun di rundung rasa ketakutan dan kegetiran yang mengerikan juga, maka gelak tawanya kedengaran lebih jelek darijeritan Kongsun Ki.

Baru saja Hong-lay-mo-li mau terjang masuki Tiba2 dilihatnya Kongsun Ki merangkak bangun badannya semendeh dinding dengan napas sengal mulut tidak menjerit lagi, Jau- hwe-jip mo merupakan derita yang luar biasa dan mirip orang biasa terkena penyakit kanker yang sedang kumat, jadi kumatnya menurut waktu2 tertentu.

Agaknya saat kumat penyakit Kong-sun Ki sudah berselang, maka dia bisa bernapas lega. Akhirnya diapun ter-kekeh2 dingin. Melotot mata Liu Goan-ka, bentaknya: "Belum cukup kau tersiksa? Kau tertawa apa?"

"Liu Goan-ka, jangan kau kesenangan" jengek Kongsun Ki dingin,

"Betul, memang sudah kenyang aku tersiksa, namun kaupun takkan kuat menahannya, syukurlah Thian Yang Maha kuasa cukup adil, dengan mata kepalaku sendiri, aku bisa saksikan kau mengalami siksa yang luar biasa, Kini Jau-hwe- jip-mo sudah mulai kumat dibadanmu, paling lama sebulan kau berumur lebih panjang dari aku."

Baru sekarang Hong-lay-mo-li mengerti, bahwa Liu Goan- kapun sudah mengalami Jau-hwe jip-mo seperti Kongsun Ki, cuma berbeda soal waktu saja. Dia duduk bersimpuh, agaknya tengah mengerahkan hawa murni dengan kekuatan Iwekang untuk mengurangi dan menekan bekerjanya Jau-hwe-jip-mo sehingga deritanya tidak terlalu hebat.

Memang Liu Goan-ka memiliki dasar ajaran Iwekang dari aliran murni, maka derita yang dialami dari akibat Jau-hwe-jip- mopaling ya sebegitu saja, belum seberat dan separah Kongsun Ki, maka dia masih kuat bertahan dan kelihatannya tak ubahnya seperti orang2 biasa.

"Hm," Liu Goan-jka menggeram, jengeknya dingin, " Kongsun Ki, walau aku tertipu olehmu, sayang kau hanya bisa saksikan Jau-hwe-jip-mo mulai kumat dibadanku namun aku malah bisa saksikan kau mampus dengan mengerikan.

Tahukah kau, kau takkan bisa hidup lebih lama untuk melihat sinar matahari besok pagi jiwamu akan terenggut pada kejap lain disaat penyakitmu kumat lagi" Kongsun Ki tertawa, katanya: "Memangnya itulah yang kuinginkan, Sebaliknya kau ingin hidup setengah mati, mau mati setengah hidup,"

"Kau kira aku biarkan kau mampus demikian saja? Kalau penyakitmu kumat terakhir kali, akan ku-putus Ki-king-pat- mehmu, maka kau akan rasakan siksa dan derita yang terhebat didunia ini."

Bergidik seram bulu kuduk Hong-lay-mo-Ii tak mau dia dengar lebih lanjut, "Blang" dia pukul jendela terus menerjang masuki bentaknya:

"Liu Goan-ka, kejam benar caramu. Kau tak kira aku bakal kemari bukan?"

Tak berubah roman muka Liu Goan-ka, malah gelak2, serunya: "Aku sudah duga kau budak ini pasti datang, Haha, kebetulan kau kemari supaya aku bisa bunuh seorang lagi sebagai pengiring Kongsun Ki ke alam baka"

Liu Goan-ka menganggap remeh tusukan prdang Hong-lay- mo-li dia tetap duduk bersimpuh ditempatnya tanpa bergerak, maka dapatlah dibayangkan senjata tajam itu pasti akan menghunjam dadanya, namun pada detik2 kritis itulah, s emili sebelum ujung pedang Hong-lay-mo-li mengenai badannya, tiba2 telapak tangan Liu Goan-ka terbalik segulung tenaga lunak yang tak bersuara mendadak menerjang keluar.

"Plak" pedang Hong lay mo-li terpental ke samping, kekuatan pukulannya masih menerjang kedepan sehingga terali jendela terhantam putus berantakan, betapa hebat kekuatan pukulannya ini Hong-lay-mo-li rasakan dadanya sesak, kejutnya bukan kepalang, Bahwa menjelang kumatnya Jau-hwe-jip-mo, tenyata Iwekang Liu Goan-ka masih selihay ini, mau tidak mau Hong-lay-mo-li bergidik dibuatnya.

Namun dia tahu kesempatan hari ini adalah yang paling Baik, kalau dia tidak manfaatkan kesempatan ini, bukan saja takkan dapat menolong Kongsun Ki, kemungkinan dirinya bersama Hoa Kok-ham takkan lolos dari bahaya.

oleh karena itu, meski diri tidak yakin, namun dia tetap menyerang dengan gencar, pedang dan kebut serentak merabu kepada Liu Goan-ka.

Liu Goan-ka tetap duduk bersimpuh ditempatnya, hanya dengan sedikit mengebas lengan baju kembali dia tangkis tusukan pedang Hong lay-mo-li, terasakan pedangnya seperti menusuk diatas kapas yang lunak, sehingga tenaganya tak kuasa dikerahkan ujung pedang meleset ke samping.

setelah berhaisil mematahkan tusukan pedang Hong-lay- mo-li dengan ilmu Iwekang tinggi, Liu Goan-ka susulkan lengan baju sebelah kiri menyampuk kebut Hong lay-mo-li. Beruntun Hong-Iay mo-li sudah merangkak tiga puluh lima jurus namun seujung rambut orangpun tak mampu disentuhnya.

Tatkala itu, Hoa Kok-ham masih berhantam sengit diatas, genteng melawan Thay Bi , siau-go-kian-kun kembangkan Ginkangnya berlompatan melewati atas wuwungan rumah, Thay Bi mengejar dengan kencang.

Baru saja siau-go-kian-kun mau lompat ke wuwungan ketiga, tahu2 terasa punggungnya kesemutan dingin, rasa dingin yang luar biasa menyusup tulang merangsang badan, hampir saja dia terperosok jatuh dari genteng ternyata Thay Bi kembali lancarkan Hian-im-ci, Toa-cui-hiat dipunggung Hoa Kok-ham kena diserangnya.

Untung selama setahun ini Hoa Kok-ham mendapat tambahan ajaran Iwekang dari Bing bing Taysu, kemurnian Iwekangnya sudah mencapai taraf yang cukup sempurna, walau Hiat-tonya terserang, namun belum sampai fatal.

Kembali dia perlihatkan ketangkasannya, ujung kaki menggantol ujung genteng, badan jumpalitan terbalik seraya keluarkan kipas dan digoyang dia tangkis tutukan susulan dari Thay Bi yang lebih lihay.

Kembali kedua orang bergebrak diatas genteng kaca yang mengkilap Iicin, siau-go-kian-kun. walau masih kuat bertahan, jelas dia takkan mampu meloloskan dari dari libatan Thay Bi .

Hanya beberapa gebraki kembali Thay Bi mendapat kesempatan melontarkan dua kali Hian-im-cipula, kekuatan tutukan bertambah kuat, betapa tinggi Iwekang siau-go-kian- kun, mau tidak mau dia bergidik dan gemetar seperti orang terserang demam malaria.

Karena pertempuran gaduh ini, sudah tentu para Lama sama ber-bondong2 keluar. Beberapa Lama yang memiliki Ginkang tinggi lompat naik kegenteng. Namun Thay Bi menyambut mereka dengan gelak tawa:

"Kalian boleh menonton saja. Nah kau bocah ini jangan harap bisa lari lagi, menyerahlah saja."

dimana jari2nya tertekuk dan menuding, kembali dia lontarkan Hian-im-ci.

Diam2 siau-go kian- ku n sudah mengeluh, kali ini dia jelas takkan kuat lagi melawan, tak nyana terasakan badannya hanya sedikit kedinginan, jauh lebih ringan dari yang terdahulu, malah dilihatnya Thay Bi sendiri yang bergemetaran dengan badan meliuk menahan sakit, sudah tentu hal ini betul2 diluar dugaan siau-go-kian-kun..

Kiranya hari ini adalah saatnya Jau-hwe-jip-mo Thay Bi kumat, Hian- im-ci paling menguras tenaga, beruntun lima kali dia lancarkan tutukan tutukan dingin, sehingga Jau hwe-jip- mo menyerang lebih cepat dari waktu semestinya.

Thay Bi meyakinkan Iwekang dari aliran sesat, walau tinggi Lwe-kangnya, namun jauh tidak semurni latihan Liu Goan-ka, maka kalau Liu Goan-ka masih kuat bertahan dari d erita Jiau- hwe-jip-me namun Thay Bi malah tidak kuat lagi. Begitu Jau-hwe-jip mo kumat, dia tidak kuat lagi bertempur terpaksa harus melarikan diri.

sudah tentu siau-go-kian-kiui tidak biarkan orang lari, sekali ujung kaki menutul seringan burung seriti badannya melambung keatas dengan gerakan garuda menembus mega, kipasnya mengepruk ke arah Thay Bi . Hong-bu-hiat dibelakang kepalanya terketuk dengan telak, Thay Bi menyerot keras seperti singa terluka, badannya seketika ter- guling2 diatap genteng terus menggelundung kebawah, genteng2 kaca pecah berantakan mengeluarkan suara ribut, dengan mengeluarkan suara jeritan yang menyayatkan hati Thay Bi terbanting mampus kebawah, badannya meringkel seperti trenggiling.

Ternyata tutukan kipas siaw- go-kian-kun bikin hawa murni Thay Bi ludes, karena tak tahan menderita siksa Jau-hwe-jip- mo, sebelum badannya jatuh tadi Thay Bi sudah buyarkan Iwekangnya dan putuskan urat nadi maka melayanglah jiwanya.

Menyaksikan kematian Thay Bi yang begitu mengenaskan, berdebar juga jantung siau-go kian-kun. Beberapa Lama yang mengejar datang seketika menghentikan langkah setelah melihat Thay Bi mampus ditangan siau- go-kian-kun. sebelum mereka bergerak mengeroyoknya,

dia sudah berlompatan melewati dua pucuk bangunan, menuju kekamar tahanan Kongsun Ki.

Hong-Iay-mo-li sudah berhantam puluhan jurus dengan Liu Goan-ka, terasakan gerakkan Liu Goan-ka semakin kuat dan berat, disaat dia merasa kepayahan, siau-go-kian-kun datang kipasnya menyampuk dan mencongkel sehingga se jurus serangan keji LiaU Goan-ka dapat dipunahkan.

Liu Goan-ka tetap duduk tak bergerak, tangannya sibuk menangkis dan membendung serangan setiap jurus dan tipu, dua jago silat kelas tinggi yang dia hadapi, namun sikapnya mantap. balas menyerang lagi.

Tak lama kemudian para Lamapun berdatangan siau- go- kian- kun bertahan dipintu, dengan kipasnya dia tutuk roboh tiga Lama yang hendak menerobos masuki ilmu tutuk siau-go- kian-kun lain dari yang lain, bagi orang yang tertutuk Hiat- tonya, terasa sekujur badan menjadi kesemutan seperti disusupi ribuan ular, tulang sekujur badan berkretekan seperti putus dan terlepas sakitnya bukan main, maka ketiga Lama itu sama bergulingan sambil meregang jiwa.

Lama yang lain terkejut dan mundur dengan darah tersirap. tiada berani maju lagi, Memang mereka kapok dan tak berani maju namun juga tidak mau bubar, lalu mereka gunakan senjata rahasia. Dengan kipasnya siau-go-kian-kun tangkis balik dua orang kena dilukai lagi, maka Lama yang lain menyingkir lebih jauh dan sembunyi ditempat yang terlindung dari serangan senjata rahasia sambil menimpuk.

Karena sibuk merintangi para Lama, siau go- kian- kun hanya kadang kala membantu Hong-lay-mo-li. Mendadak Liu Goan-ka lompat bangun, katanya gelak2: "Kalian kira aku sudah Jau hwe-jip- mo, lalu berani meluruk kemari hendak merenggut jiwaku? Hehe, h a- h a hah biar kalian tahu kelihayanku. Betul, Liu Goan-ka memang akhirnya mampus, namun aku ngin kalian mampus lebih dulu dihadapanku"

Ditengah gelak tawanya, beruntun Liu Goan-ka lancarkan empat kali pukulan. kekuatan pukulannya mendampar laksana angin badai, Liu dan Hoa laksana sampan kecil yang terombang ambing ditengah lautan teduh, hanya bisa meronta tak mampu balas menyerang.

Ternyata saat kumat Jau-hwe-jip-mo Liu Goan-ka kini sudah berselang, maka dia bisa kerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang. Latihan kedua ilmu beracun keluarga siang yang diyakinkan Liu Goan-ka sudah mencapai sembilan puluh prosen, memiliki Lwe-kang murni sebagai landasan lagi, maka begitu kekuatannya pulih, betapapun tangguh kekuatan gabungan Liu dan Hoa, mereka merasa payah dan kewalahan juga.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 64"

Post a Comment

close