Pendekar Latah Bagian 59

Mode Malam
 
Bagian 59

"CRET" tahu2 tajam pedang si pemuda memutar miring, lengan baju Bulim-thian-kiau sendiri malah yang tergoroS robek. Agaknya Iwekang dan kepandaian pedang si pemuda diluar perkiraannya. Karena pedangnya tersampuk pergi sipemuda kaget dan gusar, kembali dia bersuit panjang, ilmu pedang yang lihay dan ganas segera dia lancarkan laksaana kilat tujuh serangan pedang dia cecar Bulim-thian-kiau.

Ternyata si pemuda kira Bu-lim-thian-kiau adalah cakar alap2 kerajaan Kim, yang akan melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan Hu-hud-si, maka dia melabraknya dengan sengit, Sultannya pertama minta pertolongan kepada Su- khong Siangjin di Hu-hud-si. Dengasi mengembangkan Lok-eng-ciang-hoat, Bu-lim- thian-kiau pergunakan tenaganya secara pas2an mematahkan semua serangan tipu pedang sipemuda, Ada kalanya diapun balas menyerang ketempat berbahaya ditubuh si pemuda, ingin dia melihat cara bagaimana si pemuda menghadapinya.

Puluhan jurus cepat sekali sudah berlalu, ilmu pedang sipemuda ganas dan tabah serta mantap, terutama perubahannya seringkali terjadi diluar dugaan2 serta amat menakjubkan, Bu-lim-thian-kiau heran dan kagum, maklumlah pengetahuan Bu-lim-thian-kiau cukup luas, ilmu pedang dari berbagai golongan dan aliran tiada yang bisa mengelabui dirinya.

Tapi setelah jajal puluhan jurus kepandaian si pemuda, sedemikian jauh dia belum berhasil mencari tahu asal usul perguruan si pemuda.

Agaknya si pemuda juga tahu Bu-lim thian-klau tidak melayaninya sepenuh tenaga, serunya gusar:

"Bagus, kau berani permainkan aku, nanti akan kubuat kau menyesalpun sudah kasep."

"Aku kan bukan musuhmu, buat apa harus adu jiwa? Bicara terus terang semuda usiamu ini memiliki kepandaian sebagus ini sungguh harus dipuji. Tapi aku tidak mengerti kenapa aku harus menyesal?"

Belum habis dia bicara, tiba2 didengarnya sipemuda berteriak keras:

"Suhu, lekas kemari."

"Bagus sekali, aku memang ingin berhadapan dengan gurumu." ujar Bu-lim-thian-kiau sambil berpaling, dilihatnya su-khong siangjin muncul dari balik pohon dengan berseri tawa. Baru sekarang Bu-lim-thian-kiau sadar, kiranya pemuda ini adalah murid preman su-khong siangjin. "Tam-tayhiap lumayan bukan kepandaian muridku ini? Hu- ji, tidak lekas kau mohon petunjuk kepada Tam-tayhiap."

"Muridmu memang tunas muda yang penuh harapan dimasa datang, usia semuda ini sudah matang kepandaianmu. Kuhaturkan selamat kepada Taysu yang sudah mendapat murid pewaris."

" Kalau mewarisi kepandaian silatku sih dia masih setimpal, namun untuk mendalami ajaran agama, sulit sekali, Maka bolehlah dikata sebagai setengah pewaris ku saja."

sudah tentu sipemuda melongo, tak pernah terpikir olehnya bahwa gurunya mempunyai teman dari bangsa musuh, dengan malu dan risih segera dia maju memberi hormat dan minta maaf, su-khong siangjin segera menerangkan.

"Tam-tayhiap ini adalah Tam-pwecu yang bergelar Bu-lim- thian-kiau, bernama Tam Ih-tiong. Dia menentang kelaliman rajanya membela bangsa Han kita, sampaipun kedudukan Pengeranpun dia tinggalkan. Kenapa kau tidak tahu diri, datang2 berbuat salah dan kurang ajar kepada Tam-tayhiap. selanjutnya jangan gegabah lagi."

"Tidak tahu tidak berdosa." ujar Bu-lim-thian-kiau tertawa "Aku suka pemuda berdarah panas seperti muridmu ini.

Tadi memang aku yang memancingnya mengembangkan ilmu pedangnya,"

setelah tahu asal usul Bu-lim-thia-kiau, sipemuda kelihatan menyesal, katanya tergagap:

"Memang aku yang salah, selanjutnya tidak setiap orang Nuchen akan kupandang sebagai Tatcu."

"Muridku ini bernama- Tiong siau-hu, ayahnya Tiong Thay- hu adalah orang sekolahan, karena tidak mau diperalat oleh kerajaan Kim dia mengasingkan diri diselokan gunung ini, Dirumah dia belajar surat dan membaca kepada ayahnya, setiap dua tiga hari datang ke Hu-hud-si, akulah yang mengajar silat ke-padanya." lalu dia berpaling dan tanya:

"Hu-ji, untuk apa malam2 kau berada disini?"

"Kudengar banyak pengemis yang berdatangan ke Hu-hud- si entah apa yang terjadi, maka ingin aku mencari tahu."

"Bu-pangcu dari Kaypang berada dikuil kita, dia kemari bersama Tam-tayhiap. Kebetulan kau boleh berkenalan dengan Bu-pangcu, kelak kalau kelana di Kangouw supaya ada orang yang menilik dan melindungimu." maka mereka bertiga kembali ke Hu-hud-si.

Di jalanan tiba2 Tiong siau-hu bertanya:

"suhu, kepandaianku sekarang apakah sudah cukup untuk bekal kelana di Kaugouw?"

"soal kepandaian sulit dikatakan," ujar su-khong siangjin, "diatas langit masih ada langit orang pandai ada yang lebih

pandai, tiada sesuatu yang mutlak dan tidak terbatas, banyak

jago2 silat pandai umpama naga sembunyi harimau mendekam di Kangouw, sudah tentu tidak sedikit yang lebih unggul dari kau. Tapi kalau hati2 dan selalu waspada, memang tiada halangan kau mencari pengalaman di Kangouw, Kenapa? apa kau ingin turun gunung?"

"Ayah hendak suruh aku ke Kang lam mencari Khing ciau Toako, menyampaikan penyesalan dan minta maaf kepadanya."

kiranya Tiong Thay-hu adalah sahabat kental Khing Tiong, ayah Khing Ciau, setelah tahu Khing ciau kembali ke Kang lam membawa pesan ayahnya batal dia menyesal, kenapa dulu dia salah paham kepada Khing Tiong yang terima menjabat pangkat dikerajaan Kim, Maka setelah putranya dewasa dia suruh anaknya menemui Khing ciau untuk mengikat hubungan baik kedua keluarga. "Oh, kau mau cari Khing ciau, Dia berada di pangkalan Hong-lay-mo-li, bulan depan mungkin akan berada di Ki-lian- san. Dengan Khing ciau akupun kenal baik sekali." demikian tutur Bu- lim-thian- kiau.

"Sungguh kebetulan, Hu-ji, kuidzinkan kau turun gunung, Beberapa hari lagi kau boleh ikut Tam-tayhiap cari pengalaman, Ada Tam-tayhiap dan Bu-pangcu yang mengawasimu, legalah hatiku." sudah tentu Tiong-siau-hu amat girang mendapat persetujuan gurunya.

setiba di Hu-hud-si, Bu su-tun belum tidur, melihat su- khong siangjin kembali, lekas dia bertanya:

"Siapa musuh yang datang?"

"Tiada musuh, inilah muridku Tiong siau-hu, dia belum pernah lihat Tam-tayhiap. salah sangka menganggapnya musuh, Hu-ji main suitan memberi tanda, membuatku kaget saja." demikian su-khong siangjin menjelaskan.

Bu-lim-thian-kiaupun tuturkan kejadian barusan serta menambahkan, bahwa kepandaian Tiong siau-hu memang menonjol diantara generasi muda.

"Tam-heng, agaknya kau suka bertanding, didepan mata ada tontonan adu kepandaian yang bisa kausaksikan, Apa kau ingin melihatnya?" ujar Bu su-tun tertawa. Kata Bu-lim-thian- kiau:

"o, kau mendapat kabar apa?"

"Duta2 Mongol menyerahkan surat kepercayaan Timujin, didalam surat dinyatakan supaya negeri Kim menyerahkan Liangpiu dan tiga propensi disebelah barat. Raja Kim Wanyan Yong tengah berunding dengan para menterinya agaknya permintaan ini belum diterima, agaknya mereka sengaja hendak mengulur waktu. Duta2 Mongol itupun tidak mau pulang sebelum mendapatjawaban, apalagi anggap kepandaian tinggi, mereka ingin menundukkan jago2 Kim, maka mengusulkan supaya membuka Lui-tai, mengadu kepandaian dalam pertemuan besar dihadapan umum, Ketua panitia adu kepandaian ini adalah Tam To-hiong, semua rakyat Nuchen diperbolehkan masuk gelanggang.

Tapi Wanyan Tiang-ci ada mengeluarkan syarat ujian, hanya yang lulus saja boleh naik ke panggung, Kabarnya maksudnya ini mengandung dua tujuan dengan menguji sendiri dia ingin memilih sebarisan Busu yang diandalkan untuk memperkuat barisan Gi-lim-kun disamping kuatir ada jago yang benar2 kosen kesalahan tangan melukai Duta Mongol, mungkin bisa menimbulkan bencana."

Bu-lim-thian-kiau gusar, katanya: "Duta2 Mongol begitu congkaki biar aku lumpuhkan wibawa mereka, Kita bisa mencampurkan diri dalam kelompok penonton dulu, bergerak melihat situasi betapapun aku akan lampiaskan penasaran bangsa Kim kita."

"Memang aku ingin membuat keonaran dalam adu kepandaian itu. Cuma sebelum kita menghadiri pertandingan itu, ada urusan yang harus diselesaikan, biar besok aku yang mengurusnya."

kiranya Bu su-tun punya rencana, bukan saja hendak melumpuhkan wibawa Duta2 Mongol dalam arena pertandingan sengaja dia hendak bikin huru-hara, tujuannya mengobrak-abrik rencana gerakan militer Wanyan Tiang- ci yang hendak menggempur Ki-liansan.

" Kapan gelanggang silat ini akan dimulai?"

"Besok lusa. Ada sehari penuh bisa kita gunakan untuk mempersiapkan segalanya."

"Apa saja yang harus kita persiapkan?"

"Soal sepele. Hanya mencari tanda mabuk saja." Tiong siau-hu tiba2 menyeletuk " Kalau begitu aku ingin menonton juga, Bu-pangcu, bolehkah kau tolong carikan tanda masuk untukku? Aku mau ikut."

"Mau ikut boleh asal gurumu mengidzinkan."

"Baiklah kau boleh ikut untuk cari pengalaman." su-khong siangjin memberikan suara.

Hari kedua Bu su-tun dan Tiong siau-hu menyamar orang Nuchen ikut masuk gelanggang bersama Bu-lim-thian-kiau, tak lupa Bu su-tun kerahkan seluruh murid2 Kaypang di Taytoh siap menimbulkan huru-hara yang terbesar.

Bu su-tun dan Bu-lim-thian-kiau memakai topeng, tanpa susah payah mereka memasuki gelanggang tanpa dicurigai siapapun Agaknya kedatangan mereka sedikit terlambat, karena diatas panggung Busu brewok dari Mongol sudah berhantam melawan seorang perwira dari Gi-lim-kun, dalam waktu sepeminuman teh, perwira Kim itu dapat dipukul roboh kebawah Lui-tai oleh Busu brewok.

Dari percakapan penonton di-sampingnya, Bu-lim-thian- kiau dengar katanya Busu brewok ini beruntun sudah mengalahkan dua orang, yakin dirinya masih kuat, dia tidak mau mundur supaya diganti orang lain.

Menyusul seorang perwira Gi-lim-kun lompat naik ke atas Lui-tai, Bu-lim thian-kiau kenal perwira ini adalah wakil komandan Gi-lim-kun, yaitu Pan Kian-ho adanya.

Busu brewok gelak2 katanya: "Nah kan begitu, sejak tadi sudah kutunggu Pan-ciangkun turun gelanggang. sejak lama kudengar komandan Gi-lim-kun kalian berkepandaian tinggi, setelah berhadapan dengan pan-ciangkun, babak selanjutnya mohon Wanyan-ciangkun turun gelanggang sekalian."

Pan Kian-ho cukup tabah dan tenang, dia tahan sabar, katanya:

"Silakan memberi petunjuk." "Jangan sungkan." kata Busu brewok.

"wut" tiba2 dia mendahului menghantam, Melengkung lengan Pan Kian-ho, dia gunakan jurus Wan-kiong-sia-tiau, telapak tangan menyanggah ujung sikut, sementara dua jari tangan kanan menutuk kedada lawan.

Busu brewok bergerak dengan say-cu-yau-thau (singa geleng kepala), dimana tinjunya berkelebat ke- atas dia menggenjot muka. Tipunya ini dinamakan Ciong-thian-bau pukulan yang keras dan ganas.

Pan Kian-ho ayun tangan, dengan punggung telapak tangan dia gunakan permainan Bing-ciang menggantol keluar, Dari tinju Busu brewok rubah telapak tangan, gerak geriknya laksana burung belibis terbang miring, "Blang" kedua pihak adu pukulan, masing2 mundur selangkah, Dengan sendirinya tutukan Pan Kian-ho mengenai tempat kosong.

Mencelos hati Pan Kian-ho, namun Busu brewok juga kaget, dia tahu Iwekang Pan Kian-ho kira2 setanding dengan dirinya, untuk mengalahkannya takkan mungkin hanya menggunakan kekuatan saja.

Gebrak selanjutnya Pan Kian-ho berhantam dengan hati2. Permainan silatnya amat ketat dan rapat, dia bertahan lebih banyak dari penyerang, betapapun Busu brewok ini sudah berhantam dua babak, tenaganya sudah lemah, lama kelamaan dia kehabisan tenaga.

50 jurus kemudian, Pan Kian-ho mulai mantap permainannya, dari bertahan kini mulai balas menyerang, Ngo-heng-kun memang sudah dilatihnya dengan matang,

menggunakan tipu2 belah, susup, hantam, papas dan gempur, kelimanya serentak saling isi mengikuti unsur2 Ngo-hing, perubahannya sambung menyambung tak putus2.

Suatu ketika mendadak Pan Kian-ho menggenjot namun telapak tangannya dirubah pakai gerakan membelah, Pukulan ini dilandasi kekuatan dahsyat, Busu brewok dipaksa menangkis dengan melintangkan telapak tangannya, sudah tentu telapak tangannya terasa sakit pedas.

Pan Kian-ho susuli dengan gerakan sampuk menarik tangan Busu brewok keluar, sekaligus didorong, untuk menarik balik tangan dan menangkis sudah tidak sempat lagi, terpaksa dia menyodok dengan sikut, untung Busu brewok masih keburu mematahkan serangan ini

Namun "plak" telapak tangan Pan Kian-ho menipis lengannya yang menekuk terus melompat mundur, katanya:

"Lebih baik kau istirahat saja."

sebetulnya gerakan menipis tadi bisa menebas kutung lengan Busu brewok, namun dia kuatir kalau melukai Duta2 dari Mongol, hubungan kedua negara pasti akan retaki maka sedikit menang, dia tahu diri segera menghentikan pertempuran.

Tak kira Busu brewok tidak hiraukan anjurannya, jengeknya geram:

"Menang kalah belum menentu, kenapa harus dihentikan?" begitu menubruk maju serempak dia lontarkan serangan gencar laksana hujan badai.

Agaknya dia tahu bahwa Pan Kian-ho tidak berani melukai dirinya, maka serangannya kali ini lebih ganas dan keji tanpa pikirkan keselamatan diri sendiri.

Pan Kian-ho menahan hati, terpaksa dia bergerak lebih tangkas melawan sekadarnya cukup asal mematahkan serangan lawan. Karena kuatir melukai lawannya, sebaliknya Busu brewok tanpa peduli, serangannya malah semakin telengas. sudah tentu Pan Kian-ho semakin terdesak dan berada dipihak yang dirugikan.

Mendapat angin Busu brewok semakin mentang2, mendadak dia menghardik: "siapa suruh kau mengalah?"

kini dia sudah menempatkan diri dalam posisi yang lebih unggul, sekali dia berputar dengan jurus Koay-bong-hoan-sin (ular sanca membalik badan), badan tertekuk turun sementara kepalan berputar terus menggembur dengan Tiong-thian-bau kearah dagu Pan Kain-ho.

Pan Kian-ho menekuk sikut menariknya keluar, pikirnya hendak mematahkan serangan dahsyat ini. Tak kira Busu brewok mnghardik, "Kena." sekali terjang dan mengabit, gerakannya secepat kilat dengan telak dia pegang lengan Pan- klan-ho "krak" sendi tulang lengan Pan Kian-ho dipelintirnya keseleo, seketika lengannya itu tergantung lemas kontal- kantil, saking kesakitan keringat dingin gemerobios.

Demi mempertahankan kebesaran Busu negeri Kim, dia kertak gigi menahan sakit, mendengus meringispun tidak terus melompat turun dari atas panggung. Sudah tentu para Bu-su negeri Kim sama marah dan ribut, dalam hati mereka mengumpat caci kelicikan dan kekejian Tatcu dari Mongol, namun kekuatan Mongol amat besar, negeri Kim semakin lemah, maka tak berani mereka keluar suara memaki.

Busu Brewok mondar mandir diatas panggung dengan mem Busung dada bersikap angkuh. katanya menjuru ketempat penjuru:

"Maaf, aku yang rendah kelepasan tangan mengalahkan Pan-ciangkun, kini biariah aku mohon pengajaran dari Wanyan-ciang-kun."

Wanyan Tiang-ci mandah tersenyum, sorot pandangannya tertuju kearah IHuhansia, katanya:

"Tidak gampang Sutemu bisa menang babak berakhir ini?" di-samping menyindir kata2nya inipun menyatakan dia tidak sudi berhantam dengan seorang yang sudah letih bertanding. Merah muka Huhansia, dalam hati dia mengumpat sutenya yang tidak tahu diri, baru dia hendak suruh orang turun, tiba2 seorang laki2 kekar melompat naiki katanya.

"Wanyan-ciangkun mana sudi menghadapi kau, biariah aku yang tidak ternama ini melawanmu beberapa jurus." orang ini mengenakan pakaian bangsa Nuchen, tapi orang dapat melihatnya kalau dia orang Han.

Bu-Iim thian-kiau kenal laki2 ini adalah Soa Yan-liu, murid murtad dari siau-lim-pay. Kiranya takut dibekuk oleh orang2 siau- lim-si, soa-Yan-liu menerjunkan dii kedalam kalangan Gi- lim-kun dinegeri Kim, untuk menyelamatkan diri sekaligus untuk mengejar pangkat, namun karena dia orang Han, Wanyan Tiang- ci hanya mengangkatnya sebagai kepala barisan.

Busu brewok tidak tahu asal usul soa Yan-liu, jengeknya dingin:

"Wakil komandan kalian sudah kalah, kau ini orang apa, berani menantang aku?"

soa Yan-liu ngakaki katanya:

"Aku kaum kroco, aku tidak berani menantang, aku hanya temani kau latihan saja, Tapi aku tak berani mengambil keuntunganmu, dalam 10 jurus kalau aku tak mampu memukulmu turun kebawah panggung, aku sendiri yang akan melompat jatuh."

setelah mengalahkan Pan Kian-ho, Busu brewok tahu tenaganya sudah banyak terkuras, seharusnya dia lekas mengundurkan diri, tapi dia terlanjur menantang Wanyan Tiang- ci, dia tahu Wanyan Tiang- ci pasti tak sudi melayani dirinya, kala itu dirinya boleh mengundurkan diri dengan lagak besar.

Tak kira malah soa Yan-liu ini yang maju dengan kata2 sindiran lagi, keruan amarahnya berkobar, bentaknya: "Baik, kalau ingin bertanding, takperlu dibatasi 10 jurus..." "Blang" sepasang telapak tangan beradu, Busu brewok

tampak tergeliiat sedikit, sedang soa Yan-liu tergentak mundur

tiga langkah, Kelihatannya soa Yan-liu dipihak yang dirugikan, tapi bercekat hati Busu brewok.

Kiranya disaat pukulan beradu dia rasakan pukulan lawan bagai gelombang badai menindih dadanya sampai napas sesak begitu cepat datangnya dampanan kekuatan ini, namun tahu2 lenyap pula dengan cepat, begitu dia kerahkan tenaga balas menggempur lawan kena didesaknya mundur.

Lekas Busu brewok himpun tenaga tenangkan pikiran, dalam hati dia sudah perhitungkan dalam 10 jurus sebaliknya dia yang yakin dapat memukul roboh lawan kebawah panggung.

Diluar tahunya soa Yan-liu menggunakan cara tempur main suguh untuk melemahkan hati lawan, Kiranya dia juga takut melukai Duta2 Mongol sehingga menimbulkan keonaran besar, Maka tenaga yang dia gunakan, sudah diperhitungkan dengan matang, sehingga lawan tidak terluka namun dirinya yang menang.

Untung kepandaiannya sudah dilatih mencapai taraf dimana kekuatan pukulan dapat dilancarkan sesuai jalan pikirannya tahu lawan takkan kuat melawan segera dia tarik tenaga gempurannya, maka berbalik dia yang tertolak mundur oleh perlawanan musuh.

setelah jajal sejurus kaget juga hati soa Yan-liu, namun dari gebrakan ini dia sudah meraba sampai dimana kekuatan lawan, maka dia laksanakan rencananya semula menghadapi tabrakan lawan dengan tenang dan mantap. Penonton dibawah panggung beramai2 menghitung: "jurus pertama, jurus kedua..."

soa Yan-liu sengaja hendak memancing lawan menggunakan tenaga dalamnya, beberapa jurus pendahuluan dia bersikap pasif membiarkan Busu brewok ini unjuk kegagahannya, sebaliknya Busu brewok tidak sadar bila dirinya ditipu, merasa kekuatan lawan semakin lemah hatinya girang, segera dia kerahkan Gun-goan-it-sat-kang sepenuh tenaganya, laksana hujan badai dia mencecar sengit sementara penonton dibawah panggung masih terus menghitung:

"jurus ketujuh jurus kedelapan, jurus kesembilan, wah celaka tinggal satu jurus lagi,"

Belum sirap suara dibawah panggung mendadak terdengar suara "Plak" lalu disusul suara duki duki duki duk dari langkah berat Busu Brewok yang terpental mundur, baru saja dia hampir kendalikan badannya se-olah2 ada tangan raksasa yng tidak kelihatan mendorongnya pula kembali duki duki duk langkahnya berdentam dia-atas panggung, menyurut mundur pula tiga langkah, beruntun dia terhuyung sembilan langkah dan mundur sampai diping gir panggung, belum lagi dia berdiri tegak kakinya tahu2 menginjak tempat kosong, kontan dia terjungkal jatuh dengan terjengkang, kebetulan tepat pada jurus kesepuluh dia terjungkal jatuh dari atas Lui-tai.

Agaknya pada jurus terakhir soa Yan-liu menggunakan Tay- lik-kim-kong-ciang memang ajaran murni siau- lim-si adalah pukulan Kim-kong-ciang yang membawa perbawa keras, soa Yan-liu menyerang pada waktu yang tepat lagi, sekali pukul mengandung tiga gelombang tenaga, maka tanpa kuasa lawan, dipukul-nya terhuyung tiga kali baru terjengkang jatuh ke-bawah.

setelah kalah beruntun tiga babak, para Busu negeri Kim sudah marah2 dan penasaran, kini soa Yan-liu berhasil merebut kemenangan, walau dia orang Han namun karena orang termasuk anggota Gi-lim-kun boleh dipandang orang sendiri Maka gemparlah seluruh gelanggang oleh soraksorai yang gegap gempita, Busu Brewok merangkak bangun, untung tidak terluka, segera dia ngacir kebelakang panggung.

Ditengah tampik sorak itu tiba2 seorang berkata dingin: " Hebat kepandaian soa-tayjin, nah biar aku minta

pengajaran." suaranya laksana sebatang panah yang runcing

menembus kepungan, suara gemuruh orang banyak ternyata tidak bisa menekannya, malah soa Yan-liu merasa kupirignya seperti ditusuk jarum.

Keruan hatinya kaget, waktu dia angkat kepala yang naik punggung ternyata wakil Duta Mongol, yaitu Umong, Muka Umong putih halus dengan dandannya lebih mirip pejabat sipil. Tapi kepandaian menggunakan mengirim suara gelombang panjang ini sudah memberi firasat kepada soa Yan-liu bahwa kepandaian Umong jelas lebih tinggi dari Uji Busu brewok tadi.

"Tuan datang sebagai tamu, boleh silakan mulai lebih dulu," sambut soa Yan-liu.

Umong tertawa, katanya: "Baiklah, aku tidak sungkan lagi." sikapnya lemah lembut, jauh berbeda dengan kekasaran sutenya tadi.

Dengan gerakan pelan seperti tak acuh tangannya bergerak menepuk kedepan.

Melihat gerakan tangan yang enteng seperti tidak pakai tenaga, soa Yan-liu tidak habis pikir, segera dia balas dengan sejurus Pek-wan-tam Jo (lutung putih cari jalan), telapak tangan terangkap tiba2 terpentang ditengah jalan terus menggencet kedua pundak Umong.

serangan ini merupakan tipu terlihay yang mematikan dari Lo-han-kun ajaran siau-lim-pay, Tahu lawan berkepandaian tinggi maka sekali bergerak soa Yan-liu lantas gunakan sepenuh tenaganya, Betapa dahsyat kekuatan Tay-lik-kim-kong-ciang dari siau- lim-si, sayup2 seperti ada suara guntur yang gemuruh, Tak nyana Umong tetap bersikap acuh dan seenaknya saja menyampuki katanya dengan tersenyum "soa-tayjin, tidak usah rikuh."

Begitu pukulan beradu soa Yan-liu rasakan telapak tangan orang seperti besi sembrani yang menyedot pukulan dahsyatnya malah dia sendiri tedarik maju, Lekas dia gunakan Jian-kui-tui untuk mempertahankan diri, namun demikian tak urung dia harus berputar satu lingkar.

Kiranya Umong meyakinkan lm-yang ciang (pukulan positif dan negatif), tenaga pukulannya lemah dan kuat saling berkaitan, aneh memang kepandaiannya ini, sebaliknya Kim- kong- ciang latihan soa Yan-liu belum mencapai taraf kelas satu, sudah tentu perbandingannya cukup jauh dengan "lm- yang- ciang" Umong.

Umong tertawa dingin, jengeknya: "soa-tayjin, berdirilah yang tegak." kaki melangkah mengikuti unsur2 Ngo-hing-pat- kwa, dari pos isi Gin berpindah ke kedudukan Le, sementara tangan bergerak dengan tipu Thi-bi-ba (harpa besi) punggung tangan terayun keluar secepat kilat menampar kemuka soa Yan-liu, jurus permainannya cukup keji, tamparan kemuka merupakan suatu penghinaan pula .

Keruan soa Yan-liu kaget dan gusar, namun dia tidak berani umbar kemarahannya, terpaksa dia melayani dengan sabar dan menabahkan diri, beruntung dia gunakan sam-hoan-tau- gwat dan Hong-hu-cui-liu, dengan susah payah baru dia berhasil menyelamatkan diri mematahkan serangan Umong.

Para Busu Mongol dibawah panggung menghitung beramai: " jurus kedua." jumlah mereka tidak banyak, namun semuanya bersuara keras tinggi dan nyaring.

Cepat sekali dari kedudukan Le Umong bergerak meluncur ke arah Kan "wut" kali ini dua telapak tangannya menabok bersama kedua pipi soa Yan-liu. Tenaga pukulan keras dan lunak, tanpa kuasa soa Yan-liu dibikin putar2. " jurus ketiga." Busu2 Mongol berteriak dibawah panggung.

Karena pihak lawan menyerang lebih dulu soa Yan-liu menjadi mati kutu, hanya mampu membela diri saja. serangan Umong ternyata melandai hebat laksana gelombang sungai yang ber-gulung2 tak putus2. Maka hitungan Busu Mongok dibawah panggungpun semakin cepat: jurus keempat, kelima, keenam, ketujuh..."

seperti kucing mempermainkan tikus saja, tiba2 U-mong lancarkan jurus Liong-bun-koy-long (menabur tambur dipintu naga) sejurus tiga gerakan merangsak gencar kepada soa Yan-liu, melihat serangan hebat, soa Yan-liu lekas mundur selangkah, kepalan kiri dari memukul dirubah tabasan membundar kedalam, sementara lengan kanan menikung terus digentaki dengan tipu Ho-poh-jiu (tangan menyisik) untuk. memunahkan senangan lawan.

Tak tahunya pukulan Umong bisa keras tahu2 berubah lunak, walau lengannya kena ditelikung, dia malah mumpung menariknya, berbareng kepalan kiri menggenjot menderu keras dengan Tam-kun (pukulan menjojoh), kepalannya menerobos keluar dari lobang lengannya yang tertelikung mengincar Thay-yang-hiat dipelipis so Yan-liu.

Tak sempat berkelit terpaksa Soa Yan liu memutar pundaki "Blang" dengan telak dia terima pukulan keras Umong.

Umong tersenyum katanya: "Maaf, tulang pundakmu tidak terpukul remuk bukan,?" mulutnya bicara ramahi namun gerakan tangannya amat keji, telapak tangan terangkap mendadak dia mendorong, setelah kena hantaman, saking sakit pandangan soa Yan-liu sudah ber-kunang2, tenaganya menjadi lumpuh, mana dia kuat menahan pukulan Umong, maka dengan cepat badannya terdorong mundur kebelakang. Mundurnya ini berbeda dengan Busu brewok tadi, tampak badannya berputar2 seperti gangsingan sekaligus berputar 8 kali sampai dipinggir panggung masih tak kuasa kendalikan badan terus terjungkal jatuh kebawah.

jurus sembilan," seru Busu Mongol dari bawah panggung sambil gelak tawa. Kalau Busu brewok dalam 10 jurus dipukul jatuh dari panggung oleh soa Yan-liu, kini Umong memukulnya jatuh hanya dalam sembilan jurus, malah cara jatuh dan keadaannya-pun lebih runyam.

Umong lekas rangkap tangan menjura keempat penjuru, katanya:

" Untung beruntung. Maaf, maaf. siapa pula yang sudi memberi petunjuk?" Para Busu negeri Kim merasa malu dan marah dengan mata melotot membara. Tapi Umong begitu lihay, tiada seorangpun yang berani tampil keatas melawannya.

Dengan sikap ramah dan bergaya Umong berpaling menghadapi Wanyan Tiang- ci, katanya bersoja:

"Sudah lama kudengar ilmu silat Wanyan-ciangkun setinggi langit, entah sudikah memberi petunjuk? "

Dengan tertawa Wanyan Ti-ang-ci berdiri, katanya: "Baiklah, aku iringi U-ciangkun, sepuluh atau delapan

jurus."

Bercekat hati Umong, dia tahu Wanyan Tiang-ci adalah jago kosen terlihay dari negeri Kim, namun dia Tidak, percaya dalam sepuluh jurus orang mampu mengalahkan dirinya.

segera dia pusatkan pikiran gairahkan semangat katanya. "Silakan Wayan-ciangkun memberi petunjuk." habis

kata2nya dia menyerang lebih dulu malah. Wanyan Tiang- ci berdiri sekokoh gunung, setelah telapak tangan Umong tiba didepan matanya baru perlahan dan enteng dia menutuk dengan sebuah jarinya.

"Cret" terdengar suara lirih, tersipu2 Umong tarik tangannya. Kiranya Wanyan Tiang- ci yang mengepalai lembaga penyelidikan gambar lukisan rahasia Hiat-to-tong-jin berhasil menyelami 7 lembar, maka ilmu tutuknya nomor 2 diseluruh jagat (yang pertama Liu Goan-coang), maka tudingan jarinya ini tepat menutuk ke Ling-gam-hiat dipinggir telapak tangan Umong.

Hiat-to ini merupakan pangkal dari siau-yang-sin-mehi kalau kena tertutuk, lengan Umong terang akan menjadi cacad.

Untung gerakan perubahan Umong cukup cepat, kelima jarinya dia tekuk menjadi kepelan sehingga tu-tukan orang tidak mengenai Ling-gan-hiat, berbareng dia gunakan ilmu gulat yang pasti dimiliki oleh setiap Busu Mongol, dari tepukan telapak tangan dia rubah menjadi gantolan dan Cengkraman, kalau sekali Cengkram dan pegang berhasil jari lawan akan dipuntirnya patah.

Tapi gerakan wanyan Tiang- ci ternyata juga tidak lambat disaat lawan merubah serangan, tiba2 Wanyan Tiang- ci gunakan Ting-san-gua-hou (naik gunung numpak harimau), langkahnya maju setindak lalu tiba2 diubah menjadi Tio-thian- it-cu-hiang (sebatang dupa menuding langit) gerakan jarinya dirubah pula menjadi Tong-cu-pay-koan-im (anak kecil menyembah kepada Koan-im) pukulan telapak tangan, kedua tangannya terang kap secara kekerasan menghantam kepalan Umong.

Gerakan kedua pihak amat cepat, berhadapan lagi maka siapapun takkan bisa main kelit lagi, begitu kepalannya menghantam Umong menyusul sapuan tangan kirinya, mengadu Am- yang-sian- ciang . "Biang" beruntun dua kali suara bentrokan laksana tambur berdentang. Umong tergentak tiga langkahi Wanyan Tiang- ci hanya tergeliat sedikit.

"Betapapun jangan sampai sepuluh jurus aku dikalahkan." demikian batin Umong, maka dia bertahan saja tanpa menyerang, dengan berputar satu lingkaran dipunahkan tenaga yang menerjang dirinya, setelah berdiri tegak kedua telapak tangan berpelukan didepan dada, mengawasi gaya serangan lawan lebih lanjut Wanyan Tiang- ci tertawa geli melihat sikap orang, segera dia lancarkan serangan pukulan telapak tangan dan tutukan jari, pukulan menggenjot dada, jari mengincar urat nadinya.

Umong gerakan kedua tangannya melingkar melindungi dada, sebagai seorang ahli silat sudah tentu Wanyan Tiang- ci tidak bisa dia kelabui. Maka terdengar "sret, cret" beruntun Wanyan Tiang- ci menutuk tiga kali, dengan jari sebagai pedang, serangan jarinya ini teramat lihay dan ganas, maka tenaganyapun terhimpun menjadi jaluran tajam.

Umong tidak kuasa punahkan kekuatan jari orang, tak kuasa dia harus mundur pula beberapa langkah. Busu negeri Kim menjadi girang dan ber Jingkrak tampik sorak pula.

sekejap saja 6 jurus, sedikit lega hati Umong, segera dia tabahkan hati tetap bertahan tidak balas menyerang, dia yakin 4 jurus lagi pasti dirinya mampu bertahan.

Tak nyana tiba-tiba Wanyan Tiang-ci berkata: "U-ciangkun, berdirilah tegaki" se-konyong2 tapak tangannya membelah, kali ini dia gunakan tenaga pukulan yang dahsyat.

Diam2 bersorak girang hati Umong, segera dia gunakan keahliannya, pinjam tenaga menggempur serangan, kedua tangannya menuntun dan menarik, pikirnya hendak membanting Wanyan Tiang-ci dengan kepandaian gulatnya. Tak nyana begitu dia geraki kedua tangannya, kekuatan pukulan lawan yang dahsyat tahu2 sirna tak berbekas. Bagi seorang jago silat yang kosen dapat menggunakan tenaga sesuka hatinya, sedapat mungkin Umong masih mampu, tapi takkan semahir Wanyan Tiang-ci yang sudah mencapai taraf tinggi. kejadian ini benar2 diluar rtugaannya, sehingga dia kehilangan imbangan badan, karena tak sempat mengerem diri, langkahnya terhuyung.

Cepat sekali Wanyan Tiang-ci sudah gerakijarinya, secepat kilat berhasil menutuk IHiattonya. Kalau Umong mengalahkan Soa Yan-liu dalam- 9 jurus, kini Wanyan Tiang-ci hanya 8 jurus menutuk Hiat-tonya.

Tampak seperti orang mabuk layaknya Umong mencak2 menarikan kaki tangannya seraya tertawa hahahihi seperti orang gila. Melihat keadaannya yang lucu dan menggelikan ini, semua orang menjadi heran dan bingung, maka terdengariah gelak tawa yang ramai dibawah panggung diselingi tepuk tangan.

Setiba dipinggir panggung Umong masih me-nari2, maka dia-pun terjungkal jatuh. Busu Mongol segera merubung maju memapahnya bangun seraya bertanya:

"Kenapa kau?" sepasang mata Umong terbeliak memutih, keringat gemerobyos dengan mulut menyeringai tawa tak henti2nya.

Kiranya Umong tertutuk Siau-yau-hiat oleh ilmu tutuk tunggal Wanyan Tiang-ci. siau-yau-hiat bukan Hiat-to mematikan, namun kalau totokan Hiat-to ini tidak lekas dipunahkan, dia akhirnya akan mati lemas setelah tertawa terus menerus.

Dengan muka membesi kaku, Huhansia segera maju menjinjing Umomg dan menepuknya sekali di Hu-tho-hiat dibelakang pinggang Umong, maka berhentilah tawa Umong dan terkulai lemas, Namun biji matanya mendelik gusar kearah Wanyan Tiang-ci. Huhansia segera mendorongnya kebelakang panggung seraya mengomeli

"Jangan kau bikin aku malu dihadapan umum." Tutukan Wanyan Tiang-ci menggunakan ilmu tunggal,

bahwa Huhansia bisa punahkan tutukannya, hal ini membuatnya kaget Tapi demi gengsi dan wibawa diri sendiri dan untuk seluruh lapisan Busu negeri Kim, se-kali2 dia pantang menyerah, namun dia juga sulit bertindak terhadap Duta2 Mongol.

Dengan muka kaku dingin Huhansia segera naik panggung, katanya sinis:

"sejak lama kudengar Wan-yan-ciangkun adalah jago kosen nomor satu, kiranya memang tidak bernama kosong, Kini giliranku mohon pengajaran dari Ciang kun."

"Tidak berani Gurumu berilmu silat tinggi, akupun sudah lama mengaguminya," ujar Wanyan Tiang-ci.

"Terima kasih, Mari kita berjabatan tangan." sembari bicara Huhansia ulur tangan berjabatan dengan Wanyan Tiang-ci.

Wanyan Tiang-ci tahu orang hanya meminjam berjabatan untuk mengukur Iwekangnya, maka diapun tidak mau kalah perbawa, sewajarnya diapun ulur tangan genggam tangan orang. Tak kira begitu tangan kedua pihak saling genggam terus tak kuasa ditarik pula.

Kiranya kekuatan Iwekang mereka memang setanding setelah adu tenaga, pihak mana yang tarik tangan, dia akan terluka atau mampus oleh getaran tenaga dalam lawannya.

Gun-goan it-sat-kang Huhansia sudah diyakinkan sampai puncak tertinggi, sekali dia lancarkan tenaganya dahsyat dan ganas sekali, Wanyan Tiang-ci himpun hawa murni di Tan- thian, memusatkan pikiran dan kekuatan dengan bertahan mantap. Kalau yang satu menyerang yang lain bertahan, saluran tenaga dalam Huhansia merembes lewat telapak tangan, damparan-nya laksana gelombang pasang lautan teduh yang menggempur batu gunung, gelombang yang satu lebih dahsyat dari gelombang yang lain, siau-yang-king-meh Wanyan Tiang-ci menjadi sasaran utama.

Tapi pertahanan Wanyan Tiang-ci sekokoh gunung tenang dan mantap. tidak tergoyahkan. Hebat memang Iwekangnya, bukan saja bertahan, kekuatan pertahanannya ini malah mengandung kekuatan terendam yang selalu bisa balas menggemcur lawan sembarang waktu.

Dalam sekejap. keringat mulai gemerobyos membasahi badan keduanya, hati masing2 juga mengeluh. Maklumlah adu kekuatan dalam amat berbahaya, jikalau kekuatan kedua lawan setanding siapapun tiada yang mau kalah, maka adu kekuatan ini takkan ada akhirnya sebelum keduanya mati kehabisan tenaga Iwekang Huhansia lebih keras, sebaliknya Wanyan Tiang-ci punya lebih kuat dan murni sebelum punahkan damparan tenaga lawan kalau Wanyan Tiang-ci menarik tangan, seluruh urat nadinya pasti akan tergetar putus, sebaliknya kalau adu kekuatan ini dilanjutkan berlarut2, Huhansia sendiri juga akan terluka isi perutnya oleh serangan balik tenaga murni Wanyan Tiang-ci.

Sebagai ahli2 silat mereka sama tahu, gugur bersama bakal mengakhiri pertandingan ini. Tapi walau tahu maut tengah mengintai jiwa mereka, namun tiada sepihak yang mau mengalah, keadaan menjadi kaku, muka kedua orangpun semakin buruk, lebih jelek dari orang menangis.

Penonton dibawah panggung menjadi ribut dan bisik2, mereka tidak tahu kenapa setelah jabatan tangan kedua orang ini malah mematung tak bergerak saling genggam.

se-konyong2 terdengar seorang tertawa lebar, se-runya: "Tayjin, jangan terlalu banyak adat." tampak seorang laki berbaju kasar tahu2 melompat naik ke panggung, Kecuali Bu su-tun dan Tiong siau-hu yang kenal orang ini, seluruh hadirin tiada yang mengenalnya, sudah tentu semua orang keheranan.

Dengan mengenakan topeng tipis Bu-lim-thian-kiau melompat terbang ke atas panggung, Wanyan Tiang-ci sudah tentu tidak mengenalnya, dia kira anak buah Huhansia yang hendak membokong dirinya, sebaliknya Huhansia juga kuatir anak buah Wanyan Tiang-ci membokongnya, maka keduanya membentak bersama tanpa berjanji:

"siapa berani mengganggu disini?" mulut bicara namun tenaga tak berani kendor, Namun adu kekuatan jago2 kosen pantang terpecah perhatiannya, karena keduanya merasa jeri, maka keringat dingin ber-ketes2.

Bu-lim-thian-kiau berdiri didepan mereka, katanya sambil bersoja:

"Maaf Tayjin berdua akan kelancangan ku, disini aku yang rendah mohon maaf." dengan merangkap kedua tangan dia membungkuki kelihatannya dia memberi hormat kepada Wanyan Tiang-ci dan Hu-hansia, bahwa dirinya bukan ingin mengganggu namun kenyataannya dengan menjura ini dia telah tolong mengakhiri adu kekuatan yang akhirnya bakal gugur bersama ini.

Kekuatan wanyan Tiang-ci dan Huhansia tengah berkutet dan bertahan sama gagahnya, begitu keterjang oleh kekuatan lunak yang dilancarkan dengan Bik-khong-ciang Bu-lim-thian- kiau ini, kebetulan menimbulkan reaksi lunak dan menentramkan, sehingga kedua pihak sempat ganti napas, dengan sendirinya secara wajar keduanya terpisah mundur tanpa kurang suatu apa.

Iwekang Bu-lim-thian-kiau belum tentu lebih tinggi dari kedua orang ini namun dia dapat bertindak secara tepat dan pas, maka elmaut yang mengintai jiwa kedua orang ini dapat dihindarkan. sudah tentu Wanyan Tiang-ci dan Huhansia sama2 bersyukur, namun juga merasa kaget dan heran.

Bukan saja Bu-lim-thian-kiau mampu memisah mereka, orangpun bertindak secara adil.

Bu-lim-thian-kiau menjura lagi, katanya:

"Aku hanya rakyat jelata negeri Kim, maaf bahwa aku yang rendah mengganggu dia-tas panggung, soalnya menurut pengumuman, setiap rakyat negeri Kim boleh naik kepanggung bertanding maka aku memberanikan diri kemari entah Wanyan-ciangkun mengidzinkan aku mohon pengajaran kepada orang Mongol ini?"

Wanyan Tiang-ci memang ingin mencari orang, apa lagi orang telah menolong jiwanya, disamping dia ingin melihat sampai dimana tingkat kepandaian Bu-lim-thian-kiau, maka dia berkata:

"Bagaimana pendapat Tuan?"

Kini Huhansia merasa simpatik kepada Bu-lim-thian-kiau, maka dengan gelak tawa dia berkata:

"Pertemuan hari ini adalah adu kepandaian untuk persahabatan, peduli dia pejabat pemerintah atau rakyat jelata? Aku ingin menghadapi jago2 kosen negeri kalian, baiklah silakan congsu (orang gagah) ini memberi petunjuk."

"Baik," ujar Wanyan Tiang-ci, "Tamu agung dari Mongol menerima, maka kau harus minta pengajaran dengan haiti2, jangan kurang ajar."

Wanyan Tiang-ci kuatir Bu-lim-thian-kiau tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi berlaku kasar melukai Duta Mongol, maka kata2nya memberi peringatan secara tidak langsung. maksudnya cukup asal bisa menutul dan mengalahkan musuh saja, setelah memberi pesan Wanyan Tiang-ci segera mundur kesamping. "Conghu ini boleh keluarkan seluruh kepandaian, tidak usah kuatir," kata Huhansia mengerut kening, Maklumlah sebagai orang yang tinggi hati setelah mendengar ucapan Wanyan Tiang-ci dia merasa kurang senang.

Dia tahu Bu-lim-thian-kiau berkepandaian tinggi, namun dia yakin dapat mengalahkannya, apalagi diapun yakin Bu-lim- thian-kiau tidak bermaksud jahat, maka sikapnya pura2 ramah menganjurkan orang bertanding secara terbuka.

Bu-lim-thian-kiau gelak2, katanya: "Baik, dengan kepandaian cakar kucingku biar aku mendapat pengajaran dari tamu agung,"

setelah basa basi ala kadamya maka pertempuran-pun dimulai. Gebrak pertama Bu-lim-thian-kiau gunakan jurus2 yang tadi pernah dimainkan, Wanyan Tiang-ci, sama2 jurus kepandaian dari Hiat-to-tong-jin, dua jari terangkap laksana tanggem besi menjojoh dada Huhansia, dalam sejurus mengincar tujuh Hiat-to lawan, jurus gayanya dengan Wanyan Tiang-ci mirip satu sama lain namun apa yang dilancarkan Bu- lim-thian-kiau jauh lebih matang, lebih mahir.

"Bagus." seru Huhansia, pergelangan tangan membundar terus, terbuka dan terangkap lagi, dia lancarkan Toa-kim-na- Jiu-hoat yang lihay sekali, dalam sejurus diapun mengincar tujuh Hiat-to yang terpencar ditubuh Bu-lim-thian-kiau, pakaian Bu-lim-thian-kiau melambai laksana burung camar melintasi gelombang samudra, ber- kali2 berkelebat dan berkelit tahu2 dia sudah berpindah kedudukan sekaligus mematahkan rangsakan lawan, namun jari tengahnya tetap mengincar Ih-gi-hiat Huhasia.

Keduanya sama2 jago kosen, gerakannya sudah diperhitungkan sekali sentuh terus melompat mundur, maka serangan mereka belum dilancarkan sepenuh tenaga, untuk berjaga supaya tidak di selomoti lawan. Begitulah gebrak saling tubruk dan lompat main gesit dan ketangkasan ini cukup sengit juga dibanding adu kekuatan secara kekerasan Bu-lim-thian-kiau mendapat peluang melancarkan serangan, maka dia mencecar dengan hebat.

Namun setiap jurus setiap tipu serangan lawan satu persatu dengan tabah dipunahkan oleh Huhansia, walau tidak sampai terdesak dibawah angin, namun dia terdesak mundur dan bertahan lebih hati2.

20 jurus dengan cepat telah berlalu, Huhansia tetap belum berhasil menempatkan posisi dirinya dalam keadaan seimbang, sebaliknya permainan Keng-sin-ci-hoat Bu-lim- thian-kiau semakin lincah hebat dan menakjubkan, tapi ganas juga, yang diincar kalau bukan Hiat-to mematikan tentu Hiat- to yan- g bisa membuat badan orang lumpuh.

Dengan tabah Huhansia melayani serangan semakin keji tak ubahnya ingin adu jiwa, serta merta dia melirik dengan pandangan mendelik kearah Wanyan Tiang-ci.

sudah tentu Huhansia tidak tahu, bukan lantaran sikap Bu- lim-thian-kiau berubah, justru disinilah letak kejujuran terus terangannya. Waktu Huhansia dan Wanyan Tiang-ci adu kekuatan tadi, kalau mau dengan mudah dia bisa membokongnya sampai mati.

Namun sebagai seorang ksatria sudah tentu dia takkan sudi berbuat serendah dan sekotor itu, maka diwaktu dia memisah tadi, dia mengambil jalan tengah dan adil tidak membantu Wanyan Tiang-ci, kini setelah dia sendiri yang gebrak melawan Huhansia, sudah tentu keadaan jauh berbeda.

Kini dia pandang Huhansia sebagai musuh bangsanya sudah tentu turun tangannya tidak kenal kasihan, serangannya ganas dan keji. Wanyan Tiang-ci masih berdiri dipinggir panggung menonton pertempuran. Waktu Huhansia melirik dengan sorot gusar kepadanya, sudah tentu Wanyan Tiang-ci menjadi kaget dan keheranan. Tapi lekas sekali setelah melihat beberapa gebrak serangan silat Bu-lim-thian-kiau dia lantas tahu siapa gerangan laki2 yang memisah dan kini sedang melawan Huhansia.

Keng-sin-ci-hoat yang dipelajari Wanyan Tiang-ci dari gambar rahasia Hiat-to-tong-jin tidak lengkap. karena 18 lembar yang lain tercuri oleh Liu Goan- cong.

Didalam lembaga penyelidikan rahasia gambar Hiat-to- tong-jin dulu, sebagai pangeran sudah tentu Bu-lim-thian kiau juga pernah mempelajarinya. Wanyan Tiang-ci juga tahu bahwa apa yang dapat dipelajari Bu-lim-thian-kiau lebih matang lebih banyak dari dirinya.

Apalagi belakangan setelah keluar dari ista na Bu- lim- thian- kiau pernah mendapat petunjuk langsung dari Liu Goan- cong, maka jelas sekali begitu dia lihat Bu-lim-thian-kiau main dengan ilmu tutuk lihay, dengan sendirinya dia lantas tahu, siapa gerangan laki2 desa yang melawan Huhansia ini.

Sudah tentu kaget Wanyan Tiang-ci bukan main setelah tahu laki2 yang sedang gebrak melawan Duta Mongol ini adalah Bu-lim-thian-kiau perasaan hatinya serba kontras, disamping penasaran karena Duta2 Mongol ini terlalu congkak dan ingin melampiaskan dongkol, namun dia juga kuatir bila Bu-lim-thian-kiau menimbulkan onar besar, mencelakai Duta2 Mongol, terang dirinyalah yang akan menanggung akibatnya. Apalagi setelah dipelototi sekali oleh Huhansia, hatinya semakin bingung dan gundah.

Lekas sekali disaat hatinya kebingungan, situasi pertempuran sudah berubah, Mendadak Huhansia balas merangsak dengan sengit tiba2 kedua lengan terpentang seraya melompat tinggi setombak laksana burung garuda mematuk mangsanya dari tengah udara.

"Byyaaarr^" dua kekuatan pukulan beradu, Badan Bu-lim- thian-kiau tergeliat sedikit limbung lekas dia berputar sekali menghilangkan daya tekanan pukulan lawan. Tapi cepat sekali Huhansia sudah menubruk maju seraya mencecar lebih gencar lagi.

Agaknya Huhansia menjadi sengit dan nekad, dia harap dari kalah dia bisa merebut kemenangan tubrukan keras dengan pentang kedua tangan Huhansia ini, memang ingin paksa Bu-lim-thian-kiau adu kekuatan dengan dia.

Memang disadari adu kekuatan amat ber-bahaya, namun dia yakin dirinya akan kuat bertahan cukup lama, kalau Wanyan Tiang-ci takut menghadapi akibatnya, tentu orang akan bertindak memisah dan sekaligus menolong jiwanya pula.

Adu kekuatan berarti dia mencegah Bu-lim-thian-kiau menggunakan ilmu tutuknya yang lihay, karena disadarinya bahwa ilmu ini merupakan ancaman bagi jiwanya.

sayang sekali Bu-lim-thian-kiau cukup cerdik pandai, bukan dia takut adu kekuatan, soalnya sebelum dia tahu sampai dimana kekuatan lawan, dia tidak akan bertindak secara gegabah secara sia2.

Dengan ilmu meminjam tenaga punahkan kekuatan tingkat tinggi, diluar tahu lawan dia menyembunyikan beberapa bagian tenaganya, tidak mau adu kekerasan, setelah dicoba dan dipancingnya beberapa kali, dirasakan walau kekuatan pukulan Huhansia teramat keras dan ganas namun sudah menunjukan gejala2 yang terasakan bahwa kekuatannya itu tidak akan kuat bertahan lama, setelah tahu keadaan lawan yang sesungguhnya, kalau adu kekuatan jelas dirinya bakal menang, namun dia menggunakan cara lain.

Tiba2Bu lim-thian-kiau merubah permainannya, dengan Lok-eng-ciang-hoat yang enteng lincah laksana mega mengembang air mengalir, betapapun deras dan hebat gempuran pukulan lawan, dia tetap melayani dengan enteng, mantap dan tenang. Agaknya sengaja dia gunakan permainan lunak melawan kekerasan. semakin tempur keduanya semakin bernafsu dan sengit panggung seluas itu yang kentara hanya bayangan Bulim- thian-kiau melulu. Huhansia menyerang sembari membentak2, gerakan kaki tangannya membawa deru angin kencang, pertempuran yang seru ini membuat penonton dibawah panggung menjadi kabur pandangan dan menahan napas.

suasana menjadi sepi lengan sampaipun jarum jatuh ketanahpun bisa didengar. Disaat kedua orang ganti serangan dengan gerakan indahi baru penonton bersorak.

Bu su-tun dan Tiong sau-hu menonton mencampurkan diri diantara orang banyak, lama kelamaan merekapUn kesima sampai lupa diri, Penonton dibelakang saling berdesakan ingin menonton lebih dekat, sehingga tanpa terasa Tiong siau-hu ikut terdesak pergi datang mengikuti arus manusia yang ber- jejal2 itu sehingga dia berpisah dengan Bu su-tun. Iwekang Bu su-tun kuat dan tinggi, dia berdiri sekokoh gunung, orang2 yang mendesaknya malah tersingkir kesamping, sebaliknya Tiong siau-hu laksana batu kecil yang keterjang arus ikut bergelundungan pergi datang.

setelah beberapa langkah dia keterjang kian kemari baru tiba2 sadar, begitu dia berpaling bayangan Bu su-tun sudah tidak kelihatan lagi, karena gugup lekas dia gunakan tenaga Jian-kin-tui supaya dirinya tidak keterjang pula, Teriaknya:

"Bu-pangcu. Bu-pangcu," kebetulan penonton bersorak sorai, sehingga suara panggilannya tertelan.

Tiba2 seseorang entah sengaja atau tidak dengan kuat menumbuk Tiong siau-hu, walau sudah kerahkan Jian-kin-tui, tak urung Tiong siau-bu masih keterjang sempoyongan, dari samping seseorang memegang bahunya seraya berkata:

"Engkoh cilik, berdirilah yang tegak."

Waktu Tiong siau-hu berpaling, dilihatnya orang yang menahan badannya berpakaian pelajar, bermuka cakap halus, sikapnya lemah lembut. "Terima kasih-" kata Tiong siau-hu ter-sipu2, namun dalam hati dia merasa keheranan.

Pelajar itu tertawa, katanya: "Pertempuran diatas panggung begitu sengit dan hebat, apa kau kenal siapa yang melawan Duta Mongol itu?"

Mencelos hati Tiong siau-hu, sahutnya: "Mana aku bisa tahu."

"Kudengar kau memanggil Bu-pangcu, siapakah Bu-pangcu itu? Pangcu dari pang mana?"

"Agaknya saudara salah dengar," sahut Tiong siau-hu rada gugup,

"aku mencari Pho-cengcu tuan tanah dikampung yang datang bersamaku."

Pelajar ini tersenyum lebar, katanya: "saudara tak usah kaget dan curiga, kita boleh terhitung teman sendiri. Bu- pangcu yang kau panggil tadi tentunya Bu su-tun dari Kaypang bukan."

Betapapun Tiong siau-hu memang orang gunung yang belum pernah bergaul, maka dia bertanya:

"siapakah nama besar saudara, pernah apa dengan Bu- pangcu?" belum habis dia bicara, mendadak terasa badannya menjadi kejang.

Mulut terbuka namun suara tidak keluar kiranya sekaligus dia sudah ditutuk Hiat-to lemas dan Hia-to bisunya, Dua orang dikanan kiri memapahnya keluar dari gerombolan orang banyak. Bu su-tun tumplek perhatian menonton, sehingga tak disadari apa yang telah terjadi atas diri Tiau-hu.

Kini permainan Bu-lim-thian-kiau dengan Lokieng-ciang- hoat semakin lincah dan gesit, keadaan sekarang sedikit tenang, namun kenyataan serang menyerang kedua pihak sudah memuncak tegang seumpama Busur panah yang sudah terpentang sekali anakpanah dilepas musuh pasti terpanah mampus.

selama ini Wanyan Tiang-ci masih beJum dapat memecahkan cara tempur Bu-lim-thian-kiau yang menakjubkan ini, hanya Bu su-tun saja yang memuji dan kagum bukan main karena dia pernah melihat keseluruhan dari ilmu Lokieng-ciang-hoat itu.

Dengan jurus Eng-kik-tiang-khong, Huhansia desak Bu-lim- thian-kiau mundur, kini ganti dia yang balas merangsak dengan sengit dari bertahan balas menyerang, dikiranya lawan tak berani melukai dirinya, maka serangannya semakin keji dan dilandasi seluruh kekuatannya.

Namun dia juga tahu bahwa Bu-lim-thian-kiau belum melawan sepenuh tenaganya, cuma tidak disadarinya bahwa Bu-lim-thian-kiau memang mengatur tipu daya karena wataknya yang angkuh dan pandang musuh lebih rendah, sebaliknya Huhansia salah paham kira orang takut melukai Duta Mongol.

Mendapat angin Huhansia tidak sia2kan kesempatan. serangannya semakin gencar, Tujuan Bu lim thian-kiau memang menguras tenaga orang, Tapi rangsakan Huhansia laksana gempuran gelombang ombak yang dahsyat tak putus2.

Tapi Bu-lim-thian-kiau kembang-kan kelincahan berlompatan kian kemari, 30-an jurus Huhansia menyerang dengan sengit, namun ujung baju orangpun tak bisa disentuhnya. Lambat laun baru Huhansia menyadari tenaganya semakin lemah, sedikit lengah karena menyadari kesalahan ini.

Mendadak Bu-lim-thian-kiau menubruk seraya melancarkan pukulan, tunjuk timur hantam barat, incar selatan menggempur utara. Huhansia menjadi kerepotan, menangkis ke timur tahu2 serangan datang dari barat "plak" pundaknya kena pukul dengan telak,

(Bersambung keBagian60)
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 59"

Post a Comment

close