Pendekar Latah Bagian 57

Mode Malam
 
Bagian 57

TAPI setelah melontarkan Bik-khong-ciang, cepat sekali Bu su-tunpun sudah menubruk tiba mengadang didepan Hun Ji- yan , kembali dia tambahi dua kali pukulan menderu, Thay Bi didesaknya mundur beberapa langkah.

Serasa hampir terbang arwah Hun Ji-yan , hatinya kebat kebit, keringat dingin gemerobyos, bersenderkan batu gunung dia beristirahat sambil mengatur napas, dengan tenang dia saksikan Bu su-tun melabrak Thay Bi dengan seru.

Tiba2 Thay Bi balikan tangan, seg ulung angin dingin melesat laksana anak paNah, Bu su-tun sedikit kedinginan, bentaknya dengan tertawa dingin:

"Hi-an-im-cimu bisa mengapakan aku?"

kekuatan Bu su-tun memang sedang jaya, apalagi dibekali tenaga raksasa, latihan Iwekangnya tinggi, jauh lebih ampuh dari He-tiang-lo, maka Hian-im-ci Thay Bi hanya sedikit mengganggu saja tanpa bisa melukai dia.

Kuatir akan keselamatan Susioknya, segera Bu su-tun berkata:

"Adik Yan lekas kau bantu He-susiok."

Hun Ji-yan mendapat ajaran Iwekang lurus dan murni dari Gobi-pay, setelah istirahat sebentar lekas sekali semangatnya sudah pulih, Sambil mengiakan bergegas dia memburu kearah IHe-tiangio.

Tapi baru saja dia melewati sebuah gunungan, masih beberapa tombak dari He-tianglo, tiba2 didengarnya seorang gelak2, katanya: "Untunglah, aku masih keburu melihat keramaian disini." semula suaranya masih berada diluar taman namun lenyap

suaranya, bayangan orangpun sudah meluncur memasuki

taman.

Yang datang bukan lain adalah komplotan Thay Bi atau menantunya juga, yaitu Liu Goan-ka, Kepandaian Liu Goan-ka tidak lebih rendah dari bapak mertuanya, Begitu berdiri tegak Liu Goan-ka sapukan pandangannya, dilihatnya delapan orang bertarung dalam tiga kelompok.

orang2 pihak He-tiang-lo dikenalnya semua. Demikian pula Bing-ciu siangjin yang menghadapi Bu-lim thian-kiaupun sejak lama dikenalnya. Tapi orang macam apa sebetulnya Ibun Hoa- kip. dia belum jelas akan asal usulnya.

"Liu-heng," teriak Bing-ciu siangjin ber-muka2,

"saudara in ialah murid kasayangan Cun-seng Hoat-ong, Kim- liang Busu dari Temujin di Mongol, semua kawan sendiri, Harap kau membantu."

Karena dirangsak Bu-lim-thian-kiau suami istri, hampir saja Bing-ciu siangjin tak sempat ganti napas, dengan susah payah dia bersuara cuma sungkan mnta tolong secara langsung kepada Liu Goan-ka, maka dia agulkan kebesaran nama Cun- seng Hoatong-si sialan yang belum kuat menandingi engkohnya Liu Goan- cong yang amat ditakutinya itu, apa lagi memikirkan kedudukan dan harta maka pikirannya semakin keblinger, sebagai seorang ahli silat dia tahu kalau He-tianglo dibantu Hun Ji-yan , maka Ibun Hoa-kip kemungkinan menghadapi mara bahaya, maka dia menubruk kesana seraya membentak:

"Jangan main keroyoki nah kau budak ini minggirlah." sembari bicara dia melontarkan pukulan kearah Hun Ji-yan

. Toa-cui-pi-jiu Liu Goan-ka jauh lebih ganas dari Gun-goan- it-sat-kang Ibun Hoa-kip.

untung Ginkang Hun Ji-yan tidak lemah, dengan gaya menyedot dada jumpalitan ditengah mega dia pinjam getaran pukulan orang melejit jauh keatas lalu dengan jurus Eng- kik,tiang-khong pedangnya menusuk kearah Liu Goan-ka, sudah tentu Liu Goan-ka tidak gampang dia tusuki Bik-khong- ciang telapak tangan kiri lekas dia pukulkan sehingga Hua Ji- yan terdampar jumpalitan tiga tombak jauhnya.

Tatkala itu Bing-ciu siang-jin, sudah tele2, tahu2 Bu-lim- thian-kiau malah memberi kelonggaran, teriak-nya:

"Bu-toako, marilah kita tukar lawan, ceng-hun, pergilah kau bantu nona Hun. Bu-toako kepala gundul ini kukerahkan kepadamu biar aku membuat perhitungan dengan bangsat she Liu ini."

Maka Jilian ceng-hun mengeroyok Thay Bi bersama Hun Ji Yan, sementara Bu su-tun menubruk kemari menghadapi Bing-ciu siang-jin.

Baru saja Bing-ciu siang-jin merasa lega dan ganti napas, tahu2 Bu su-tun memukul kearahnya. Bing-ciu siangjin jejak kaki melambung setombak lebih tingginya, kelima jari laksana cakar garuda mencengkram kebatok kepala Bu su-tun,

"Pergi."

Bu su-tun memapak dengan bentakan, angin pukulan bergolaki Bing-ciu siang-jin terpental sungsang sumbel dan melayang turun kesamping dengan gaya burung dara jumpalitan sementara Bu su-tun tersurut tiga langkah ke- belakang.

Agaknya cengkraman jari Bing-ciu siangjin merupakan ilmu kebanggaannya yang bisa mengakibatkan kematian jiwa musuh setiap jari tangannya menerbitkan jalur2 angin dingin laksana panah menyamber, se-olah2 sekaligus dia menyambit lima batang panah gelap mengincar lima Hiat-to Busu-tun. oleh karena itu Busu-tun sendiri tergentak mundur, sekaligus untuk menghindarkan diri dari ketajaman serangan lawan.

Gebrak pertama setanding tiada yang mendapat untung. Cepat sekali keduanya sudah menubruk maju saling serang pula, kali ini Bing-ciu siangjin menyerang lebih dulu, dengan Tay-kim-na-jiu dia pentang kedua telapak tangannya, setiap gerakan mengandung tipu2 perubahan rangsakannya teramat dahsyat dan gencar.

Tiga urat nadi bagian atas dan tujuh Hiat-to dibadan Bu su- tun menjadi sasaran jari2nya. Tay-kin-na-jiu yang rumit dan beragam ini tidak mudah dlpunahkan dengan jurus permainan biasa, karena ada lowongan yang tetap tak bisa dipertahankan.

Tapi Bu su-tun membentak pula: "Pergi." tidak berkelit tidak mundur, tanpa menangkis atau berusaha mematahkan serangan lawan, namun diapun balas menyerang secara keras, Tampak badannya dimiringkan, berbareng pergelangan tangan melingkar, sehingga seluruh badannya melengkung laksana Busur ditarik kencang sementara kedua telapak tangannya terdorong kedepan laksana batang panah, kekuatan tenaganya laksana gugur gunung.

Bila kedua pihak bentrok secara keras, umpama Bing-ciu siangjin tidak segera merubah serangannya, walau dia bisa melukai Bu su-tun, namun dia sendiripun terluka parah oleh pukulan Bu su-tun.

Memang tidak malu Bing-ciu siangjin sebagai guru silat dan sebuah aliran tersendiri di-saat2 genting itu, se-konyong2 jari2 yang mencengkram itu dia robah menjadi tegak membelah, kedua telapak tangan melingkar laksana gelang, satu menggontok yang lain membundar, kecepatannya laksana kilat menyambar. Didalam main pukulan ini dia tetap sembunyikan gerakan Kim-na-jiu yang lihay, namun kali ini dia utamakan kekuatan pukulannya.

"Biang" bentrokan dahsyat disusul suara "Bret", Bing-ciu siangjin terlempar setombak lebihi sementara pakaian Bu su- tun tercakar sobek oleh lawan, Kiranya dengan kekuatan sepasang telapak tangannya Bu su-tun adu kekuatan, namun didalam gerakan kedua pukulan tangan Bing-ciu siangjin dibantu tipu2 Kim-na-jiu yang tersembunyi, maka perbandingan kekuatan pukulan dia sedikit asor, namun didalam gaya permainan pukulan telapak tangan dan kelincahan jari, jelas permainannya sedikit lebih unggul.

Kalau yang satu terpental mundur dan yang lain sobek pakaiannya keduanya sama dirugikan, maka gebrak kali ini masih boleh dianggap seri.

Pertarungan selanjutnya keduanya tidak berani pandang enteng lawannya, maka cara berhantam merekapun jauh berbeda dari gebrakan yang sudah lalu. Begitu terpental mundur, dari jarak sejauh setombak itu, Bing-ciu siang-jin melontarkan pukulan, gelombang pukulannya lapat2 gemuruh laksana bunyi guntur Bu su-tun merangkap lalu membuka kedua telapak tangan dari kejauhan diapun lontarkan pukulan.

Dua pukulan dahsyat bentrok ditengah udara, seketika menimbulkan pusaran angin lesus yang membumbung tinggi ke angkasa.

Hawa seperti bergolak membawa batu pasir beterbangan, anehnya debu yang bergulung2 itu hanya ber-putar2 dihadapan mereka dalam jarak beberapa langkah, sementara kaki tangan kedua lawan yang bergebrak tidak pernah menyentuh badan lawan.

Namun setiap gerak serangan mereka selalu di selingi daya pertahanan yang kuat untuk menjaga serangan lawan, Bu su- tun tetap gunakan Tay-lim-kim-kong-ciang, sementara Bing- ciu siang-jin gabungkan Tay-kim-na-jiu dan Ngo-jin-ciang setiap gerakan tangan dan langkah kaki kedua orang sama2 mengandung perubahan yang rumit dan luas.

Cara tempur ini jelas jauh lebih sengit dan berbahaya dari berhantam jarak dekat kecuali adu pukulan, sekaligus merupakan pertandingan adu Iwekang, karena jarak beberapa langkah, Iwekang siapa lebih kuat, pukulannya lebih mantap. maka siapa lebih untung.

Didalam adu kekuatan dengan ilmu tingkat tinggi seperti ini, siapa sedikit lena, pihak lawan akan me-rangsak maju melancarkan jurus mematikan.

sebagai guru silat suatu aliran tersendiri, Bing-ciu siangjin membekal latihan puluhan tahun, tingkatan dan kematangan ilmunya sudah mencapai puncaknya, sementara Bu su-tun masih muda dan pada masa jayanya, membawa bekal tenaga raksasa lagi, latihan Tay-lik kim-kong-ciangnyapun sudah lain dari yang lain.

oleh karena itu, walau dia setingkat lebih muda dari Bing- ciu siangjin, namun dia kuat melawannya setanding sama kuat. Karena tadi sudah dilabrak Bu-lim-thian-kiau suami istri, sedikit banyak tenaga Bing-ciu siangjin surut, disinilah letak kerugiannya.

Iwekang Liu Goan-ka tidak lebih asor dari Bing-ciu siangjin, terutama ilmu Bian-ciang merupakan pukulan tunggal dalam Bulim, didalam kelembutan permainannya mengandung kekerasan, sekali pukul dia bisa bikin sebuah batu remuk menjadi bubuk.

Dalam pertempuran beberapa kali dulu, Bu-lim-thian-kiau selalu berada dibawah angin, namun kali ini sengaja dia pakai Lokieng-ciang-hoat ciptaan barunya. Lokieng-ciang hoat bergerak enteng mengembang melayang pergi datang kebetulan merupakan lawan tangguh yang selalu mengunci gerakan Bian-ciang. Sudah tentu Liu Goan-ka tidak tahu sampai dimana kelihayan, Lokieng-ciang-hoat ciptaan orang yang baru, melihat orang meluruk kepadanya dia mencemooh dingin,

"Kau bocah ini enak2 menjadi pangeran tidak mau, malah main gagah2an diBulim, berapa kali kau selalu mengganggu usahaku, He, kepandaianmu belum matang tidak setimpal kau jadi tandingan Lohu. Kembalilah berlatih beberapa tahun lagi."

"Apa, ya?" ujar Bu-lim-thian-kiau tawar,

" Hanya setahun iniku latihan belakangan ini, tapi aku beri tiga jurus peluang kepadamu." demikianlah watak Bu-lim- thian-ki-au, orang lain congkak dan sombong dia hadapi orang lebih congkak dan angkuh.

Keruan Liu Goan-ka gusar, telapak tangan kiri digoyangkan untuk memancing perhatian  Bu-lim-thian-kiau, sedang kepalan kanan menggenjot kearah muka orang. Bu-lim-thian- kiau gunakan gerakan Hong-biau-loh-hoa (angin menghembus kembang rontok) genjotan dan tabasan tangan kanan kiri Liu Goan-ka mengenai tempat kosong.

Tersirap darah Liu Goan-ka, sigap sekali kembali dia lontarkan sekali pukulan pula, Bu-lim-thian-kiau melompat keatas menghindar seraya memperingatkan:

"Masih ada sejurus, seranglah pakai pikiran, setelah tiga jurus, tiada keuntungan yang bisa kau peroleh." jurus kedua ini dia kelit secara pas2an, kekuatan pukulan telapak tangan Liu Goan-ka menyambar dari bawah telapak kakinya

Hebat memang kepandaian Liu Goan-ka, dia perhitungkan dimana Bu-lim-thian-kiau bakal meluncur turun, sebat sekali dia menerobos menduduk, posisi yang lebih menguntungkan, disaat badan orang anjlok turun, tiba2 Liu Goan-ka jejakkan kaki badan melejit berbareng dia gunakan jurus Ki-hwe-liau- thian (angkat obor menerangi langit), telapak tangannya menjojoh pusar orang. Terapung diatas udara, dikiranya Bu-lim-thian-kiau takkan bisa berkelit, umpama orang menggunakan gaya burung dara jumpalitan menukik turun, betapapun lawan dipaksa untuk balas menyerang.

Li Goan-ka seorang ahli silat, memang tidak luput dari dugaannya, memang Bu-lim-thian-kiau gunakan gerakan burung dara membalik badan, diluar perhitungannya, Bu-lim- thian-kiau tidak balas menyerang untuk mempertahankan diri.

Biasanya gerakan burung dara membalik badan dilakukan dengan badan meluncur turun kebawah, namun gerakan Bu- lim-thian-kiau kali ini adalah meluncur terbang miring kebetulan berhasil meluputkan diri dari serangan Ki-hwe-liau- thian Liu Goan-ka.

Walau bisa berkelit, namunpusarnya merasa panas dan sakit keserempet oleh angin pukulan lawan.. Maklumlah Iwekang Liu Goan-ka memang lebih unggul dalam memberi peluang tiga jurus kepada lawan ini, dia sudah perlihatkan seluruh kemahirannya.

Tujuannya hanya untuk mencari muka dan tidak terima dicemooh dan dipandang rendah, oleh karena itu, hampir saja dia terluka oleh Liu Goan ka.

Untunglah selama setahun ini Bu-lim-thian-kiau digembleng oleh tiga maha guru silat, ajaran Iwekang sudah berlipat ganda, disaat badannya meluncur dan kaki hinggap ditanah, hawa murni dalam badannya sudah dia putar berkeliling tiga lingkaran, begitu hawa murni masuk kepusar, rasa sakit seketika lenyap.

seperti bayangan mengikuti bentuknya, Liu Goan-ka menubruk maju pula, Bu-lim-thian-kiau membentak:

"Tiga jurus kuberi kelonggaran, nah sekarang hadapi seranganku." sebagai angkatan lebih tua ada maksud Liu Gon-ka memberi tiga jurus peluang kepada lawan, namun belum sempat dia utarakan maksudnya, tahu2 lawan sudah melancarkan serangan yang tidak bersuara tidak menerbitkan angin, kelihatannya tangan digerakkan seperti menari tanpa pakai tenaga, namun begitu tenaga pukulan mendampar kekuatannya laksana arus air bah melandai secara mendadak.

Kaget sekali Liu Goan-ka, terpaksa dia bergerak menangkis. Bu-lim thian-kiau bergaya indah dan lembut tangannya pergi datang ketimur barat, tahu2 berada diselatan menggempur keutara, telapak tangannya ringan lincah berkelebat melayang, anehnya seperti tukang sulapan, membuat lawan bingung dan sukar menduga permainannya, sekaligus dia merangsak 18 jurus.

Betapapun Liu Goan-ka adalah seorang ahli silat yang banyak pengalaman dan luas pengetahuan, dalam waktu dekat dia memang kehabisan akal untuk mencerna permainan lawan, terpaksa dia melawan dengan ilmu Bian-ciang untuk menjaga dirii hanya bertahan tanpa balas menyerang setelah permainan Lokieng ciang-hoat Bu-lim-thian-kiau mencapai taraf tertentu.

se-konyong2 Liu Goan-ka menghardik seraya melancarkan serangan maut, dengan jurus Kim-liong-tam jiau (naga emas mengulur cakar) tahu2 jari2 tangannya menyelonong mencakar muka Bu-lim-thian-kiau, sementara telapak kiri menerobos masuk lewat bawah sikut, dia tetap gunakan pukulan Bian-ciang yang mampu meremukkan batu, namun gaya pukulannya ini dia rubah menjadi In-ciang (pukulan mengecap) mengecap kedada lawan.

Kali ini dia gunakan pukulan telapak tangan dan cakaran berbareng kalau serangannya berhasil, kalau tidak mati Bu- lim-thian-kiau pasti terluka berat, Bu-lim-thian-kiau menjengek dingin: "Bangsat tua, betapa sih garangmu, memangnya kau mampu berbuat apa terhadapku kini?"

pada detik2 gawat itulah, tahu2 badannya bergerak selincah kupu2 menari diatas kuntum kembang, secara kebetulan berkelit dari cakaran tangan Liu Goan-ka, Tapi Liu Goan-ka memang lawan tangguh, begitu cakaran tangan kanan luput telapak kiripun sudah mengecap tiba, cuma arah sasarannya saja yang berubah.

Liu Goan-ka kira lawan takkan bisa berkelit lagi, tak nyana Bu-lim-thian-kiau berputar, seringan kapas melayang tahu2 telapak tangannya terbalik, begitu tangan beradu secara langsung dia punahkan tenaga pukulan Liu Goan-ka.

Kiranya selama menggembleng diri setahun ini Bi-lim-thian- kiau sudah peras segala dayanya untuk menciptakan Lok- seng-ciang-hoat yang khusus untuk memecahkan Bian-ciang Liu Goan-ka, serangan maut Liu Goan-ka inipun sudah didalam dugaan dan perhitungannya.

Bertambah besar kejut Liu Goan-ka, baru sekarang diinsafi olehnya bukan saja Ginkang Bu-lim-thian-kiau bertambah maju, Iwekangnyapun jauh lebih tinggi dari dulu.

Maklumlah untuk memunahkan pukulan Liu Goan-ka, walau dia memakai daya geser dan tuntun, namun kalau tidak dilandasi Iwekang yang tinggi dia tetap takkan kuat mematahkan Bian-ciang Liu Goan-ka.

Yang paling mengejutkan Liu Goan-ka adalah dirasakan bahwa Lok-eng-ciang-hoat permainan Bu-lim-thian-kiau ternyata khusus untuk mematikan gerakan ilmu Bian-ciang keahliannya, setiap gerak serangannya, se-olah2 sudah dalam perhitungan lawan.

Luas pengalaman Liu Goan-ka, setelah dia tahu akan hal ini, segera dia gunakan cara tempur dengan ilmu pukulan lain, Tapi keahliannya adalah Bian-ciang, berarti dia pakai ilmu kelas dua untuk menghadapi rangsakan Bu-lim-thian-kiau, sudah tentu dia semakin kerepotan.

Namun Iwekang Bu-lim-thian-kiau masih setingkat lebih rendah dari Liu Goan-ka walau sudah maju pesat. Untung permainan pukulannya mendapat keuntungan sehingga gebrak mereka masih kuat bertahan setanding. Malah Liu Goan-ka hanya mampu bertahan oleh desakannya.

Dibabak lain, Hun Ji-yan bergabung dengan Jilian Ceng- hun menempur sin-tho Thay Bi , perkelahian tiga orang berlainan pula coraknya, Iwekang kedua orang ini terang bukan tandingan si Bungkuk, namun mereka mempunyai kepandaian tunggal perguruan masing2.

Bu-siang-kiam-hoat Hun Ji-yan sudah mewarisi kepandaian Bu-siang sinni dari Go-bi-pay. Demikian pula golok sabit Jilian ceng-hun yang mampu menutuk Hiat-to juga merupakan ilmu yang jarang ada diBulim.

Tujuan Thay Bi merebut teratai salju dari tangan Hun Ji- yan , maka begitu tiba dia lantas merangsak dengan serangan ganas, Hun Ji-yan terpental mundur sempoyongan berapa langkah oleh pukulan orang, baru saja Thay Bi menubruk maju hendak mencengkramnya, tiba2 dirasakan angin tajam menerjang dibelakangnya, tahu2 ujung golok sabit Jilian ceng- hun menusuk dari arah yang tak terduga, sasaran tusukan ini adalah Kon-g-hu-hiat dipunggung.

Thay Bi dipaksa untuk menyelamatkan jiwa sendiri lebih dulu sebelum menangkap Hun Ji-yan , sebat sekali Thay Bi kebut lengan bajunya menggulung golok orang seraya membentak: "Lepas tangan" tak nyana dari arah depan "sret" Hun Ji-yan menusuk pula dari arah yang tak terduga, kembali Thay Bi dipaksa membalikan tangan melindungi badan, dengan kekuatan 8 bagian tenaganya dia gentak miring ujung pedang Hun Ji-yan . Karena pecah perhatian lengan bajunya yang menggubat golok Jilian Ceng-hun menjadi kendor, "cret" lengan bajunya terpapas sobek sebagian, ujung golok Jilian Ceng-hun malah sekalian didorong kedepan, menutuk Ki-ta-hiat Thay Bi yang terletak diujung sikut.

Untung Thay Bi cepat berkelit, sehingga tutukan tenaga golok ini belum sepenuhnya mengenai sasaran, dan lagi Iwekangnya tinggi, lekas dia kerahkan hawa murni memunahkan daya tutukan ini sehingga lengannya itu sempat tertolong tidak sampai CaCad. Namun demikian dia rasakan sekujur lengannya linu kemeng.

Bukan buatan gusar Thay Bi , beruntun dia jentikan dua jari dengan kepandaian Hian-im-ci, samberan angin dingin setajam anak panah melesat kearah Jilian Ceng-hun. Jilian Ceng-hun bergidik kedinginan, untung tidak terluka.

Agaknya selama setahun berdampingan dengan tiga maha guru silat di Kong- bing-si, tidak sedikit keuntungan yang diserap oleh Jilian Ceng-hun untuk memperdalam ilmunya, terutama Iwekangnya jauh lebih tinggi dari dulu.

Memang masih bukan tandingan Thay Bi , namun dia kuat menahan serangan dingin Hian-im-ci orang. Kecuali tutukan jari Thay Bi menyentuh badannya, kalau tidak dia tidak akan terluka keracunan.

Iwekang Hun Ji-yan bahkan lebih rendahi namun gerak- geriknya lebih lincahi orangnya lebih2 cerdik dan bisa melihat gelagat Begitu melihat Thay Bi menjentik kearahnya, cepat dia gunakan lh-sing-hoan-wi (merubah bentuk pindah posisi) berkelit kesamping berbareng pedang merangkak dari arah samping dengan serangan ilmu pedang hebat.

Rasa kemeng lengan Thay Bi belum lenyap, dia hanya bisa melawan dengan Hian-im-ci jari tangan kanan, sudah tentu kekuatannya jauh berkurang, Semula gabungan Hun Ji-yan dan Jilian Ceng-hun kalang kabut namun lama kelamaan, mereka bisa kerja sama dengan baik, Maka Thay Bi di serang pontang panting hanya mampu mempertahankan diri, Mau tidak mau Thay Bi jadi menyesal, kenapa tadi dia pandang rendah musuh, sedikit lena Ki-ti-hiat tertutuk oleh ujung golok Jilian Ceng-hun.

Kini dia dipaksa untuk menahan sabar, bertahan lebih dulu, sembari kerahkan hawa murni, dia harap selekasnya lengan yang kemeng bisa bekerja normal pula, baru akan melancarkan serangan ganas kepada kedua lawan.

Kalau HunJi-yan merabu dengan pedang, sementara Jilian Ceng-hun menyergap dari samping mengikuti gerakannya Thay Bi didesak mundur sambil menahan gusar. Betapapun Iwekang nya lebih tinggi, walau melawan hanya dengan sebelah tangan dan didesak mundur terus, namun pertahanannya belum sampai kalut, dia tetap melawan dengan wajar.

Dengan Pak-kau-pang-hoat semula He-tiang-lo dapat menghajar Ibun Hoa-kip dan berada diatas angin, namun lama kelamaan dia kehabisan tenaga sendiri, Pak-kau-pang memang tidak perlu pakai banyak tenaga, namun Bik-khong- ciang Ibun Hoa-kip amat keras dan dahsyat, pentung penggebuk anjing tak mampu memukul badan orang sebaliknya dia harus kerahkan tenaga melawan gempuran pukulan lawan.

Maklumlah usianya memang sudah tua, setelah seratus jurus, jantungnya sudah ber-debar2 darah mengalir cepat dan napaspun mulai ngos2an.

Walau sibuk melawan pukulan lawan namun He-tianglo masih pasang kuping dan melirik kesekeliling-nya, dilihatnya Bu-lim-thian-kiau setanding melawan Liu Goan-ka, Bu su-tun juga sama kuat berhadapan dgn Bing-ciu siangjin.

Malah, Hun Ji-yan dengan Jiliani ceng-hun tampak lebih unggul melabrak Thay Bi , namun keunggulan ini jelas hanya sementara, kalau jangka panjang akhirnya mereka pasti dapat dikalahkan Thay Bi yang lebih ulet dan matang kepandaiannya Maka He-tianglo berpjkir:

"Usiaku hampir 70, berapa tahun lagi aku bisa hidup, biarlah aku adu jiwa saja."

Dengan sempoyongan berapa langkah He-tianglo menyemburkan darah segar dari mulutnya, Ibun Hoa-kip gelak2 senang, sebat sekali dia menubruk maju, jari2 tangan segede lobak mencengkram ke tulang pundak. Belum lagi gelak tawanya lenyap. tiba2 He-tianglo menghardik sekeras guntur, bersama pentung laksana angin puyuh kencangnya dia mengepruk musuh, keduanya sama2 menubruk dengan kekuatan penuhi maka bentrokan ini teramat keras sekali.

Ibun Hoa-kip kira lawan sudah kehabisan tenaga, sekali pukul tentu dapat robohkan orang, Tak tahunya, pukulan sepenuh tenaganya itu bukan saja tak kuasa menyampuk pergi pentung He-tianglo malah dia kena digebuk sekali dengan telak.

Aneh dan hebat sekali kekuatan gebukan pentung ini, kontan Ibun Hoakip mengerang kesakitan, darah menyembur bagai sumber air, bukan He-tianglo yang roboh malah dia sendiri yang terjungkal.

Kiranya kali ini He-tianglo menggunakan ilmu Thian mo- kay- deh-tay- hoat, semacam ilmu kepandaian Iwekang dari ilmu sesat, hingga kekuatannya tambah berlipat ganida, namun ilmu ini secara langsung- merugikan si pemakai juga karena isi badannya rusak atau terluka parah setelah melancarkan ilmu Iwekang ini.

Dimasa mudanya pernah He-tianglo mengembara ke Tibet, secara kebetulan dia berjodoh mendapat warisan kepandaian Thian-mo-kay-deh-tey-hoat ini dari seorang padri agama merah disana, waktu itu, karena ketarik maka dia mempelajarinya selama puluhan tahun tak pernah dia gunakan ilmu sesat ini.

Kali ini baru pertama kali dia manfaatkan disaat2 genting, Hasilnya memang luar biasa, dilandasi kekuatan Iwekang yang mendadak bertambah lipat ganda dengan telak dia berhasil gebuk Ibun Hoa-kip. sudah tentu orang tidak kuat melawannya.

Kembali He-tianglo angkat tongkatnya hendak kepruk batok kepala Ibun Hoa-kip membunuh jiwanya, sekonyong2 laksana seekor burung garuda "Wut" Bing-ciu siangjin menubruk datang menolong, Berbareng Bu su-tun juga menubruk tiba, namun Ginkang Bu su-tun tidak seunggul Bing-ciu siangjin, maka dia terlambat setindak, disaat pentung He-tianglo hampir mengenai Ibun Hoa-kip dengan tepat Bing ciu siangjin berhasil menangkap pentungnya,

Baru saja Bing-ciu siangjin hendak lancarkan Tay-kim na- jiu, tak nyana He-tianglo sekalian, dorong pentungnya kontan Bing-ciu siangjin seperti kena stroom aliran listrik tegangan tinggi, lekas dia lepas tangan dan mundur.

Maklumlah setelah Iwekang He-tianglo bertambah lipat ganda, setingkat lebih unggul dari Bing-ciu siangjin, Maksud Bing-ciu siangjin hendak merebut pentung orang, tak nyana dia malah tergetar oleh tenaga dalamnya, maka cepat2 dia lepas pegangan, kalau tidak mungkin urat nadinya pecah dan terluka parah.

sayang Thian-mo-kay-deh-tey-hoat merusak badan sendiri apalagi kekuatan besar itupun bertahan sementara saja, Walau He-tianglo berhasil memukul mundur Bing-ciu siangjin, seketika dia sendiripun memuntahkan darah segar, badannya limbung seperti daun pohon yang melambai tertiup angin lalu.

" Jangan lukai susiokku," hardik Bu su-tun sengit Mendadak melihat He-tianglo menyemburkan darah, sekilas Bing-ciu siangjin melongo, namun sigap sekali dia bopong Ibun Hoa-kip seraya berteriak:

"Angin kencang," segera dia melompat terbang kepagar terus melarikan diri.

Ternyata Bing-ciu siangjin juga sedikit tahu tentang thian- mo-kay- deh-tay- hoat, cuma dia tidak tahu seluk beluknya yang lebih mendalam. Melihat He-tianglo menyemburkan darah dia kira orang kembali hendak melontarkan ilmu sesat yang hebat itu, karena dia ada maksud pinjam Ibun Hoa-kip untuk mengabdikasi diri kepada Temujin, supaya mendapat kepercayaan orang lagi, maka tersipu2 dia tolong jiwa Ibun Hoa-kip.

Lekas Busu-tun papah susioknya, dilihatnya muka He- tianglo pucat bagai kertas emas, napasnya lemah, bukan kepalang kejut Busu-tun, lekas dia urut dan pijat badan He- tianglo melancarkan darah mengatur pernapasannya.

Disebelah sana Thay Bi tiba2 gelak2, kini dia berbalik desak kedua lawannya mundur terus membelakangi kolam, mendadak dia dorong kedua tangan melancarkan serangan ganas kepada Hun Ji-yan , setelah dia kerahkan tenaga murninya rasa kemeng lengan kirinya sudah bilang dan bergerak lagi seperti biasa.

Tidak kuat melawan kekuatan dorongan orang, terpaksa Hun Ji-yan gunakan gerakan jumpalitan ditengah mega mundur beberapa tombak, dan "Bluk" terjatuh ketaNah, keruan kejut Jilian Ceng-hun bukan main, lekas dia lari kesana membangunkan Hun Ji-yan .

setelah memukul mundur kedua lawannya kembali Thay Bi geIak2, sekali lompat dengan enteng dia lompat terapung dipermukaan kolam yang membeku maka dengan gampang kuntum soat-lian, yang sudah mekar dia petik, Lekas sekali dia lompat naik kedaratan pula, sekaligus dia petik 6 kuntum Mo- kui-hoa yang tersisa terus tinggal pergi. " Lekas, lekas kejar, rebut kembali kedua macam kembang itu," seru He-tiaglo gelisahi sudah tentu Bu su-tun tidak maU tinggalkan orang yang perlu segera diberi pertolongan.

Tiba2 Liu Goan-ka lontarkan sekali pukulan dahsyat dia menyerang untuk mundur, disaat Bu-lim-thian-kiau miring meluputkan diri, Liu Goan-ka segera mengikuti langkah Thay Bi . Lekas sekali bayangan mereka menghidang diluar tembok. Kepandaian Bu-lim-thian-kiau paling setanding, Iwekang malah lebih asor, sudah tentu dia tidak mampu merintangi orang.

Dalam pada itu Jilian Ceng-hun sudah menolong Hun Ji-yan bangun, tahu orang tidak kurang suatu apa legalah hatinya bergegas mereka lari kesana bersama Bu-lim-thian-kiau melihat keadaan He-tianglo.

Lekas Bu-lim-thian-kiau bantu Busu-tunsalurkantenaga murninya kebadan He-tianglo seraya berkata:

"Aku masih punya sebutir siau-hoan-tan."

He-tianglo pentang matanya, katanya lemah:  "Tak usahlahi Bu-sutit, Pak-kau-pang ini kuberikan

kepadamu, Tujuh kuntum Mo-kui-hoa dan sekuntum Thian-

san-soat-lian didalam buntalanku tolong kau antar dan berikan kepada Liu Goan-cong."

"Baik, aku pasti laksanakan susiok, legakan hatimu dan rawatlah luka2mu, lekas kau telan siau-hoan-tan ini "

waktu dia hendak paksa jejalkan pil kemulut orang, tiba2 dilihatnya biji mata He-tianglo sudah tertutup, Bu-lim-thian- kiau meraba hidungnya, ternyata He-tianglo sudah putus napas. Agaknya tahu luka2nya tidak bisa sembuh, maka dia gunakan Iwekang sendiri memutus urat nadi dan mangkatlah jiwanya.

Ber-kaca2 mata Bu su-tun, katan-ya bersumpah: "susiok, pasti kutuntutkan balas kematianmu. "

Bu-lim-thian-kiau membujuk dan menghibur Busu-tun, segera mereka kerja sama mengubur jenazah He-tianglo didalam taman itu juga.

setelah urusan selesai, berkata Bu su-tun:

"Thay Bi dan Liu Goan-ka berada disini. Kongsun Ki pasti juga ada disini, Kebetulan kita meluruk kes arang persembunyian mereka, sambil memberantas mereka sekalian."

Bu-lim-thian-kiau utarakan pendapatnya:

"Mereka sudah sekongkol dengan Bing-ciu si padri siluman itu, dengan kekuatan kita sekarang, mungkin belum bisa kalahkan mereka."

"Memang benar. setelah He-susiok meninggal, kekuatan mereka lebih kuat sementara kita takkan bisa tinggal disini, sebetulnya bila ketambahan seorang tokoh, pihak kita pasti bisa menang, soal menuntut balas boleh ditunda lain kali, namun kuharap tidak berlarut terlalu lama, kuatirnya mereka malah meninggalkan Thiar-long-nia, tentu sulit mencarinya pula." demikian Bu su-tun utarakan pendapatnya.

"Kong-sun Ki sudah Jau-hwe-jip-mo, mereka takkan meninggalkan tempat ini, apalagi Ibun Hoa-kip juga terluka parah.

"Aku malah ingat seorang kosen yang bertempat tinggal didaerah sekitar sini." demikian ujar Busu-tun.

"Maksudmu pendekar perempuan Gi Kim-ling locianpwe" sela Hun Ji-yan .

"Betul." sahut Bu-lim-thian-kiau,

" mereka ibu beranak tinggal di Ciok-kehiceng yang terletak diselatan Thian-long-nia ini, kira2 200 li dari sini. Kabarnya kepandaian Ni-locianpwe tidak lebih rendah dari suaminya sin- tho Thay Bi ."

"Tapi menurut Jing-yau cici, watak Ni- locianpwe ini terlalu aneh dan kaku, Entah dia sudi menemui kita, namun marilah dicoba dahulu." timbrung Hun Ji-yan .

Waktu itu hari sudah terang tanah, setelah mengubur He- tianglo, segera mereka turun gunung, jarak 200 li tengah hari itu juga sudah mereka capai. Bu-lim-thian-kiau hanya tahu Ni Kim-ling dan putrinya tinggal di Ciok-kehiceng, namun alamat mereka yang benar tidak diketahui. Untung dimulut kampung mereka ketemu seorang bocah gembala, maka dia tanya kepada gembala kerbau ini.

"Ohi kalian tanyakan Ni-lothay dan putrinya? Mereka tinggal digedung kuno yang membelakangi gunung itu, majulah lurus lalu belok kekiri dan diujung kampung itulah letaknya, Kukira Ni-lo-thay yang jarang keluar ramah itu takkan mau menerima tamu." demikian tutur bocah gembala itu.

"Baiklah terima kasih akan keteranganmu." ujar Busu-tun "Aku tahu mereka berada dirumah,"

Cepat sekali mereka berempat sudah tiba diujung kampung dimana memang berdiri sebuah gedung kuno yang angker membelakangi gunung, Bu-lim-thian-kiau sudah kenal dengan ciok Eng, maka dia yang maju mengetok pintu, namun ditunggu sekian lamanya tiada suara dan reaksi dari dalam rumah, lalu Bu-lim-thian-kiau gunakan ilmu mengirim gelombang suara, tetap tidak mendapat penyahutan.

"Entah mereka pergi atau sengaja tidak mau terima kita? Setiba disini, marilah kita terbang masuk saja." demikian ajak Bu-lim-thian-kiau.

Jilian Ceng-hun tidak setuju, Hun Ji-yan juga menambahkan: "Kabarnya watak Ni-locianpwe memang aneh, dia benci lakl2 terutama yang berwajah tampan. Tahun yang lalu hampir saja kepala Hoa Kok-ham bocor dihajar olehnya."

Bu su-tun tertawa, ujarnya:

"Aku tidak lebih unggul dari Hoa Kok-ham, apalagi soal tampan segala."

"Kalau Ni-locianpwe tidak mau menemui laki2, bagaimana kalau aku saja bersama Hun-cici yang masuk kedalam." demikian usul Jilian Ceng-hun.

"Begitupun Baik, cukup asal Ni-locianpwe diberitahu maksud kedatangan kita." demikian kata Bu su-tun.

Tak lama kemudian Jilian ceng-hun dan Hun Ji-yan melompat keluar pula dari temboki Bu su-tun jadi kecewa, sebaliknya Bu-lim-thian kiau bertanya:

"Bagaimana tugas kalian?"

"aneh, mereka tiada dirumah, Dari keadaan rumah yang bersih dan teratur, agaknya belum lama mereka pergi, mungkin mereka tahu kita bakal datang, maka sengaja menyingkir lebih dulu." demikian jawab Jilian Ceng-hun.

"Dia tidak sudi menemui kita, tak usah memaksa, Memangnya, kita toh hanya adu untung." bujuk Bu-lim-thian- kiau.

Kembali mereka keluar dari kampung, dilihatnya bocah gembala tadi sedang duduk dibawah pohon dimulut kampung,

"Lho. kau belum pulang?" Hun Ji-yan menegurnya. "Aku tunggu kalian disini." ujar bocah gembala.

"Ada urusan apa kau tunggu kami?" tanya Hun Ji-yan . "Kalian tidak menemukan Ni-lothay bukan?"

"kok kau tahu?" "Nyonya Ciok (maksudnya Ciok Eng) baru saja lewat, dia titip sepucuk surat supaya diserahkan kepada kalian, Kupikir kalau kalian sudah bertemu, buat apa dia titip surat kepadaku."

Hun Ji-yan girang, dia terima surat itu dan berterima kasih kepada bocah gembala. Katanya kemudian setelah membaca surat:

"Menurut apa yang tertulis dalam surat ini, agaknya mereka sudah tahu bahwa Thay Bi dan Liu Goan-ka berada di Thian- long-nia, maka sengaja mereka menyingkir ketempat lain,  Tapi kenapa dia bilang ingin bertemu dengan Jing-yau cici saja?"

"Mungkin ada urusan yang dirahasiakan kepada orang lain, sayang Liu-lihiap jauh dari sini, situasi mungkin tidak men- gidzinkan dia kemari." Bu su-tun utarakan pendapatnya.

Kata Bu-lim-thian-kiau:

"Bukankah kau hendak antar kedua macam kembang itu kepada Liu-lo-cianpwe, marilah kita kembali dulu ke Kong- bing-si, kan hanya 5-6 hari. perjalanan."

setiba di Kong-bing-si mereka temui dulu Hui-siok sinni - kakak Bu-lim-thian-kiau, Hui-siok sinni heran diluar dugaan, tanyanya:

"Kenapa kembali secepat ini?"

Lekas Bu-lim-thian-kiau ceritakan pengalaman mereka di Thian-long-nia lalujelaskan maksud kedatangan mereka.

Hui-siok sin-ni berkata tertawa:

" Kedatangan kalian kebetulan, tapi juga tidak kebetulan.

Biar kujelaskan dulu kenapa tidak kebetulan: Kongsun- cianpwe tengah meyakinkan siau- yang-sin- kang. setelah sempurna ki-keng-patmeh akan tembus dan penyakit tanpa daksa-pun sembuh. Dalam sebulan ini Bing-bing Taysu dan Liu-locianpwe harus bantu dia sebelum latihan selesai mereka takkan keluar menemui siapapun."

" Kalau demikian, biar kami titip kedua macam kembang itu kepada cici, setelah latihan mereka usai boleh cici tolong sampaikan kepada Liu-locianpwe."

Hui-siok sinni terima kedua macam kembang itu, katanya lebih lanjut:

"Kini kujelaskan kebetulan kalian datang, Dua hari yang lalu say- ci-hong mampir kemari hendak menengok penyakitmu, kau tidak duganya bukan?"

Bulim-thian-kiau betul2 heran dan merasa diluar dugaan katanya:

"Aku memang kenal say-ci-hong, namun bukan teman kental. Tak nyana dia sudi kemari menengok aku. Ada misi apa kiranya?"

"say- ci-hong memang ada maksud lain, Belakangan ini Tang- hay- liong dan say- ci-hong berada didalam laskar Yaiu Hoan-ih, Mereka mendapat kabar penting katanya wanyan Tiang- ci tengah mempersiapkan pasukan Gi-lim-kun untuk menggempur Ki-lian-san (pangkalan Ya lu Hoan-ih).. kemungkinan mereka akan bergerak dalam 2 bulan ini."

" oh jadi dia minta bala bantuan?" ujar Bu-lim-thiankiau. "Maksudnya demikian, sudah tentu say- ci-hong amat

kecewa karena kalian sudah pergi.

Karena harus mencari bantuan orang lain, aku sendiri sedang bingung cara bagaimana mengirim kabar ini kepada kalian, kebetulan kalian malah pulang, cobalah kalian pikirkan bagaimana baiknya?"

"Kota sip-hin terletak 200 li dari sini, dikota itu ada cabang Kaypang, kita bisa kesana mencari kabar lebih lanjut, setelah segalanya jelas baru kita berkeputusan disana." demikian kata Bu su-tun.

Mereka isi perut ala kadarnya terus pamitan turun gunung.

Jarak 200 li, sebelum kentongan ke 3 malam mereka sudah tiba ditujuan Ketua cabang kota sip-hin bernama Kiau Gi, melihat Pangcu malam2 berkunjung, karuan dia kaget dan girang.

Bu su-tun langsung jelaskan maksud kedatangannya, Keterangan yang diberikan Kiau tidak lebih banyak cuma dikatakan pihak laskar gerilya minta bantuan Kaypang untuk mengirim berita kilat Maka Bu su-tun segera memberi petunjuk:

"Bagus, besok pagi boleh kau kirim berita kilat menurut permintaan mereka, perintahkan pula seluruh anak murid Kaypang untuk kumpul di tempat tempat penting yang terletak diempat penjuru Ki-lian-san, kalau ada kesempatan boleh gagalkan kiriman ransum pasukan Kim dan kacau balaukan barisan belakang mereka."

Lalu Bu su-tun terangkan nama ke 4 tempat yang ditunjuk.

Kiau Gi segera catat dan bikin surat setelah diperlihatkan kepada Bu su-tun untuk dikoreksi, langsung surat itu dikirimkan.

setelah menyelesaikan tugas2 dalam Kaypang Bu su-tun berkata:

"Tam-heng, kini tinggal bicarakan urusan kita, Kukira persoalan Thian-long-nia perlu dikerjakan berbareng dengan situasi Ki-lian-san yang gawat. Pertama dengan burung dara hendak kukirim surat kilat kepada Liu-bingcu supaya datang ke Thian-long-nia. setelah kita berhasil berantas, orang2 keparat di Thian-long-nia, masih sempat menyusul ke Ki-lian- san memberi bantuan," "Bagus, lebih baik kalau undang siau-go-kian-kun sekalian, cuma ingin aku tanya, dalam 20-an hari menunggu kedatangan Liu-bingcu, apa yang harus kita kerja kan?"

"Aku ingin ke Taytoh menemui tiga Hiangcu kita disana mumpung mencari berita soal Ki-lian-san pula, Begini adik Yan, kau boleh ikut Tam-toako dan Toaso ke Ki-lian-san, tinggalah dimana sementara membantu Ya lu Hoan-ih."

Hun Ji-yan melengak ingin dia bicara, Bu-lim-thian kiaU sudah mendahului:

"Aku ingin sedikit merubah rencanamu ini." "Bagaimana?" tanya Bu su-tun

"Aku ikut ke Taytoh bersamamu, mereka boleh langsung menuju ke Ki-lian-san."

sudah tentu Jilian ceng-hun amat kuatir akan keselamatan. Bu-lim-thian-kiau namun dia tahu watak suaminya, maka dia berkata:

"Baiklah, kau pergi bersama Bu-pangcu, lega juga hatiku."

Dasar watak Bu su-tun lapang dan suka blak2an. dengan ter-bahak2 dia berkata:

"Bagus, marilah bersama kita terjang rawa naga gua harimau." lalu dia menambahkan "Kiau-thocu, untuk menjaga segala kemungkinan tolong kau utus beberapa murid Kaypang meronda disekitar Thian-long-nia, kalau kita tidak sempat datang, boleh kalian sampai kan kepada Liu-lihiap. minta dia langsung pergi menemui Ni Kim-ling locianpwe,"

Setelah perundingan selesai, hari kedua mereka berpisah menuju arah masing2. Bu su-tun dan Bu-lim-thian-kiau menuju keTaytoh - kota raja negeri Kim, sementara Hun Ji- yan dan Jilian ceng-hun menuju ke Ki lian-san.

Hari itu, Bu su-tun dan Bu-lim-thian-kiau sampai di kota Thay-tong, 300 li dari kota raja negeri Kim. Dengan langkah cepat, dua hari pasti sudah sampai dikota raja, Kata Bu su- tun:

"Di Tay-tong ada sebuah warung arak yang terkenal membuat Cu-yap-ceng kita, tidak perlu ter-gesa2 bagaimana kalau mampir kesana dulu?"

"Boleh saja. Beberapa hari ini terlalu repot keluyuran kian kemari, Memang aku ingin makan minum sepuasnya."

Bu-lim-thian-kiau menerima baik usul Bu su-tun.

Bu su-tun yang kenal jalan langsung bawa Bu-lim-thian- kiau ke warung arak yang dinamakan Gui-cian-lau, Waktu mereka tiba diatas loteng, bau arak merangsang hidung, tiada meja kosong, tamu penuh sesak. Untung pemilik warung tahu diri, segera dia persiapkan sebuah meja lain, namun karena ala kadarnya mejanya kecil, kursinyapun reyot, maka pemilik warung minta maaf.

Bu su-tun mandah tertawa, katanya:

"Kami hanya ingin minum bukan mau tamasya, tempat sempit tidak jadi soal, Nah, lekaslah bawakan seguci Cu-yap- ceng kemari."

"Ya, ya," sahut pemilik warung.

"tuan ini, maksudmu sepoci atau seguci?" tanyanya menegas, seguci arak paling kecil beratnya 10 kati, pemilik warung sangka dia salah dengar.

Bu su-tun tertawa, ujarnya:

"Benar, satu guci yang beratnya 30 kati."

sudah tentu pemilik warung terperanjat serunya: "Apakah teman2mu belum datang?"

"Hanya kami dua orang, Legakanlah, kita tidak akan gegares secara gratis, biarlah kubayar dulu, Nah, setail uang mas cukup tidak?" Pemilik warung seketika berseri lebar, katanya:

"Ah, tuan tamu salah paham, buka.n begitu maksudku, aku kuatir kalian berdua takkan bisa menghabiskan satu guci, Soal uang pembayarannya juga tidak perlu sebanyak ini."

"Tidak apa kelebihannya boleh kau persen kepada pembantumu." ujar Bu su-tun.

Cara minum Bu su-tun memang aneh dan bebal. dia bisa tidak minum sama sekali beberapa hari, namun sekali minum seguci dapat dia minum habis seorang diri, Begitulah bersama Bu-lim-thian-kiau mereka minum semangkok demi semangkok, tujuh delapan mangkok besar sudah mereka habiskan dalam sekejap mata, Bu-lim-thian-kiau akhirnya kewalahan dan menghentikan minumnya.

Tapi Bu su-tun masih belum puas malah, merasa minum pakai mangkok malah mengganggu selera, dia angkat guci arak terus tuang arak ke dalam mulutnya. Sudah tentu tamu2 lain yang hadir dalam loteng itu sama terpesona kagum melihat cara dia minum,

Rada jauh disebelah pojok sana, duduk sepasang laki perempuan yang menyanding jendela, kelihatan-nya seperti suami- istri, Yang laki berusia 30-an, memakai jubah hijau, roman mukanya kelihatan lemah lembut sepert kaum terpelajar, namun sepasang matanya berkilat tajam, bagi Bu- lim-thian-kiau yang ahli, sebatas pandang, dia tahU bahwa orang tentu seorang persilatan.

Yang perempuan 20-an tahun, berpakaian sepan dan sederhana namun berparas cantik, Tidak ketinggalan sepasang suami istri inipun tumplek perhatiannya kearah Bu su-tun yang mendemonstrasikan minum arak, Terdengar si lelaki bersuara heran, ingin dia berdiri, namun lekas yang perempuan menggeleng serta membujuk beberapa kata lirih.

sayup2 Bu-lim-thian-kiau mendengar orang berkata: "Jangan, disini bukan tempat untuk bicara."

maka tergerak hati-nya, segera dia berkata kepaada Bu su-tun:

"Apakah kau kenal sepasang suami istri yang duduk dekat jendela itu?"

Bu su-tun turunkan gucinya berpaling kesana, dilihatnya si lelaki seperti pernah dia lihat entah dimana, namun sudah tidak dia ingat lagi, "Keihatannya mereka seperti mengenalmu. "

Bu su-tun geleng2, katanya:

"Entah tidak ingat lagi, Mungkin mereka kagum melihat cara minumku, Ya aku harus mawas diri"

Kalau Bu su-tun tidak kenal suami istri ini, sebaliknya mereka kenal dia, Kiranya lelaki ini bukan lain adalah murid terbesar Tang-hay-liong, yaitu say-cwan-kiam khek Toh Eng- liang. Yang perempuan adalah istrinya yang baru dinikah song Kiau-ji putri song Kim-kong yang kaya raya didaerah Ki Joh.

Bu su-tun sedang peras otak memikir dimana dia pernah melihat Toh Eng- liang tiba2 terdengar derap langkah yang gaduh dianak tangga, muncul dua Busu dari bawah yang mengenakan mantel berbulu musang, kepalanya memakai topi berbulu lebar, dan dandanannya kelihatan mereka adalah orang Mongol.

Kedua Busu Mongol ini seorang bercambang bauk kasar seperti sikat jamban, mukanya kasar kereng, seorang malah bermuka putih halus, sikapnya culas dan kejam, setiba diatas loteng dengan sikap jumawa kedua Busu Mongol lantas berkaok2:

"siapa yang jadi Ciangkui disini, h ayo lekas sediakan tempat duduk, hm, buka warung tidak tahu melayani tamu ya?" Dengan menahan gusar terpaksa, pemilik warung maju menyapa dengan suara tawar:

"Maaf, warungku kecil tempatnya sempit kau sendiri saksikan tiada tempat duduk lagi, Maaf kalau tuan menunggu terlalu lama, bagaimana kalau kuladeni lain hari saja."

Busu berjambang bauk kasar merengut dengusnya: "Ladeni lain hari. Kau kira kami kaum gelandangan yang

tidak punya kerja, setiap hari boleh menunggu tempat duduk kosong diwarungmu? Besok kita harus tiba di Tay-toh, mana ada tempo kemari lagi."

Pemilik warung angkat pundak membuka kedua tangan, ujarnya:

"Nah, apa boleh buat."

" Kenapa apa boleh buat?" jengek Busu bermuka halus dingin,

"kenapa kalau orang lain yang datang kau bisa siapkan tempat untuk dia?" sembari bicara matanya melirik kearah Bu su-tun dan Bu-lim-thian-kiau, jelas kata2nya ditujukan kepada mereka.

Pemilik warung kaget dalam hati, tersipu2 dia ber-kata: "Tadi masih bisa dipaksakan menaruh meja kursi, sekarang,

dimana aku harus menempatkan tempat duduk,"

Mendengar perkataan kedua Busu Mongol, diam2 Bu-lim- tliian-kiau mencelos, dengan seksama dia awasi mereka, Busu yang bermuka cakap halus bermata tajam berkilat, sementara Thay-yang-hiat dipelipis Busu jambang bauk menonjol keluar, sebagai seorang ahli silat Bu-lim-thian-kiau tahu bahwa mereka orang2 kosen.

Bu su-tun, masih sibuk dengan guci araknya keributan anggap tidak dia dengar sama sekali. "Baik,ah, kau bilang tak ada tempat duduk, biar kami cari sendiri" kata Busu muka halus.

Bu-lim thian- kiau sudah siap menghadapi propokasi mereka, tak nyana kedua Busu ini hanya lewat dipinggir meja mereka tanpa berhenti.

sejak tadi Toh Eng-liang dan song Kiau-ji sudah perhatikan kedua Busu ini, melihat mereka menghampiri malah berhenti dipinggir meja mereka, diam2 mereka sudah siaga.

Didengarnya Busu muka halus seperti berkata seorang diri:

"Tempat duduk dekat jendela ini cukup Baik," mendadak dia berseru sambil berpaling:

"ciangkui, kemarilah kau."

"Mau apa kau," bentak Toh Eng-liang berdiri.

Busu muka halus tuding meja meraka serta berkata kepada pemilik warung:

"Katamu tiada tempat, bukankah disini masih ada dua kursi? Lekas bawakan dua pasang sumpit dan seguci arak,"

sudah tentu ciangkui kelabakan, katanya:

"Kalau ingin menempati meja ini, silakan minta idzin dan permisi dulu kepada kedua tamu ini."

"Kalian Tatcu Busuk ini tak tahu aturan, siapa sudi semeja dengan kalian." demikian damrat song Kiau-ji gusar,

"kau kira kami boleh sembarang dipermainkan?" Busu muka halus berkata:

"Kalian tidak suka, silakan cari tempat lainnya, kami ingin duduk di meja dekat jendela ini."

Busu brewok malah lebih kasar lagi, dengan angkuh dia lantas tarik kursi dan duduk sambil bertolak pinggang, katanya cengar cengir: "Nyonya muda, mari silakan kau temani kami makan minum ? Ha h a, wangi benar, bolehkah kau suguh aku secangkir lebih dulu."

Toh Eng-liang berjingkrak berdiri jengeknya dingin, "Baik, aku saja yang suguh secawan."

Dari tempat duduknya Bu-lim-thian-kiau mengawasi, dinilainya jari2 tangan Toh Eng- liang pegang poci arak dengan mulut mengarah ke muka Busu brewok terus di dorong ke depan, tutup poci sudah terbuka, maka arak yang masih panas itu seketika menyiram ke-depan.

Lebih lihay lagi mulut poci yang runcing itu sengaja diarahkan Thay-yang-hiat dipelipis Busu brewoki inilah serangan yang lihay dan keji.

sekilas melihat gerakan orang Bu-lim-thian-kiau segera berbisik kepada Bu su-tun:

" Kiranya laki2 ini adalah muridnya Tang- hay- liong, coba bagaimana Bu-su Mongol ini menghadapinya? "

Tampak Busu brewok itu membuka mulut sebaya menghirup sekuatnya, maka isi arak dalam poci yang tertuang itu tersedot bersih ke dalam mulutnya. Demikian pula mulut poci yang didorong Toh Eng- liang kena digigit olehnya.

Diam2 Bu-lim-thian-kiau terkejut melihat kehebatan Lweang Busu brewok ini, maklumlah dengan hanya kekuatan gignya dia kuat menggigit poci yang didorong dengan kekuatan Toh Eng- liang yang besar, betapa hebat Iwekangnya, jelas beberapa lipat lebih unggul dari Toh Eng- liang.

Melihat suaminya kecundang, tiba2 song Kiau-ji samber sumpit terus menutuk ke pergelangan tangan Busu brewoki Namun Busu muka halus segera ikut menyamber sepasang sumpit dan sekali jepit laksana tanggem saja sumpit song Kiau-ji terjepit tak mampu bergeming lagi, begitu cepat gerakan kedua pihak sampai song Kiau-ji tidak sempat menarik tangan, malah dia tertarik berdiri oleh daya sedot tarikan lawan.

Busu muka halus ini lebih kurang ajar lagi, katanya menyengir:

"Nyonya ayu, lakimu menyuguh arak kepada temanku, kaupun harus suguh hidangan kepadaku Nah, marilah kita bermain cinta saja."

Melihat istrinya dihina, memuncak amarah Toh Eng-liang, sekuat tenaga dia gentak poci arak ditangannya, "krak" mulut poci tergigit putus, Busu brewok gelak2, tiba2 dia buka mulut, kutungan mulut poci tahu2 diterjang semprotan sejalur arak, Agaknya Busu Brewok kerahkan tenaga dalam mendesak arak yang berada didalam perutnya menyembur keluar.

Dengan Hong-tiam-thau Toh Eng-liang luputkan diri dari sambaran kutungan mulut poci, celaka adalah semburan arak lawan tak kuasa dihindarkan, tahu2 dia rasakan seluruh muka dan dadanya panas pedas dan basah kuyup matanya pedas tak kuat terbuka.

Kuatir lawan melancarkan serangan lanjutan lekas Toh Eng- liang melompat jumpalitan keluar dari Jendela.

Saking marah Song Kiau-ji merah padam, dengan sengit dia lepas sumpit terus mencabut pedang dan menusuk kedada lawan, kembali Busu muka halus geraki sumpitnya menjepit ujung pedangnya pula, Goda-nya pula:

"Nyonya elok, caramu menyuguh seperti ini apa tidak terlalu kasar? Lebih baik kita main cinta saja."

Baru saja Busu muka halus hendak merebut pedang Song Kiau-ji. tiba2 dirasakan angin tajam menyambar batok kepalanya, kiranya Bu-lim-thian-kiau turun tangan, diapun gunakan sepasang sumpit sebagai senjata rahasia, masing2 ditujukan kepada kedua Busu Mongol. Busu muka halus kaget, insaf menghadapi lawan tangguhi lekas dia lepas Jepitan sumpit terus diputar untuk menyampuk jatuh senjata rahasia yang menyambar datang.

"Krak" tahu2 sepasang sumpit Busu Muka halus menjepit patah sumpit sambitan Bu-lim-thian-kiau, namun dia sendiri tersentak mundur tiga langkah oleh daya sambitan Bu-lim- thian-kiau yang kuat dan "Blang" punggungnya menumbuk dinding sampai tempok jebol dan runtuh berhamburan.

Keruan para tamu yang hadir bergegas bubar menyelamatkan diri

(Bersambung ke Bagian 58) 
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 57"

Post a Comment

close