Pendekar Latah Bagian 54

Mode Malam
 
Bagian 54

Liu Goan-ka seperti menyadari sesuatu, katanya:

"Karena Jau-hwe-jip-mo Kongsun Ki sudah menjadi orang cacad, kau menempuh bahaya menolongnya perbuatan luhur dan baik ini sungguh mengagumkan."

Thay Bi gelak2, ujaruya:

"Apa tujuanku tentunya kaupun sudah tahu, Haha, Lote, sudah lama kita berkenalan, biar aku blak2an dengan kau, keuntungan yang akan kuperoleh tentu kubagi rata dengan kau. oleh karena itu kuharap Lote suka membantu." lalu dia padang kuping sejenak, lalu menambahkan.

"sebelum ceng-ling-cu kemari, biarlah kujelaskan dulu rencanaku kepadamu." lalu dia bisik2 dipinggir kuping Liu Goan-ka.

Liu Goan-ka manggut2 dan mengiakan, lekas dia menyingkap kain gordyn penutup patung pemujaan terus menyembunyikan diri.

Setelah Liu Goan-ka sembunyi, Thay Bi lantas bersuit panjang. Tak lama kemudian tampak seorang tua jubah hijau ber-lari2 muncul dimuka kuil gunung yang tak terurus ini, dia bukan lain adalah ceng-ling-cu.

Ter-sipu2 Thay Bi  menjura hormat, sapanya: "Banyak terima kasih akan pertolongan Suheng, Demi

siaute Suheng sampai sudi turun gunung." ceng-ling-cu mengerut kening, katanya: "Bukan lantaran kau aku turun gunung, urusan apa yang ingin kuselesaikan tak perlu kubicarakan aku ingin tanya kepadamu, kenapa kau bersusah payah mau menolong Kongsun Ki?"

"suheng, tahukah kau siapa Kongsun Ki sebenarnya?" "Kenapa aku tidak tahu? Dia babah mantu siang-Kian thian,

anak durhaka Kongsun In yang diusir dan tidak diakui bapaknya."

Puluhan tahun Ceng-ling-cu tidak turun gunung, kejahatan apa yang pernah dilakukan Kongsun Ki dia hanya tahu kulitnya saja, sebaliknya Thay Bi memang pandai bicara, dengan kelincahan lidahnya di tutupi semua kejahatan Kongsun Ki dengan dalih2 yang cukup beralasan.

Walau Ceng-ling-cu tahu watak sutenya namun dia sedikit tergerak dan kena dipedayai oleh uraian Thay Bi yang panjang lebar.

Lebih lanjut Thay Bi berkata:

"Apapun kesalahan Kongsun Ki, suheng kuharap kau pandang dia sebagai menantu keluarga siang, sukalah kau menolong jiwanya."

Ceng-ling-cu diam tak berbicara. Kepalanya menunduk seperti menepekur, naga2nya dia sudah terbujuk oleh obrolan Thay Bi .

Perlu diketahui ceng-ling-cu adalah anak yatim piatu, sejak kecil dia diasuh dan dididik oleh ayah Thay Bi , usianya sepuluhan tahun lebih tua dari sutenya yang satu ini, diwaktu gurunya meninggal dia mendapat pesan gurunya untuk menjaga sutenya baik2, mengajarkan silat dan mengasuhnya sampai besar.

sayang setelah Thay Bi dewasa kumpulannya dengan orang- yang jahat maka akhirnya dia terjerumus kejalan sesat Karena Ceng-ling-cu hutang budi kepada guru-nya, maka dia tidak enak bertindak keras kepada sutenya.

Waktu mudanya Ceng-ling-cu pernah dikerubut sekawanan perampok, untung mendapat pertolongan siang Kian-thian, sejak itu mereka bersahabat kental. Ceng-ling-cu paling mengutamakan budi pekerti, maka budi pertolongan siang Kian-thian masih tetap terukir dalam sanubarinya.

Walau siang Kian-thian kini sudah meninggal, namun keinginan Ceng-ling-cu membalas budi masih tak terlupakan. Kali ini disamping untuk mencari sutenya, dia pUn ingin mencari tahu keadaan siang- keh-po, pikirnya hendak menurunkan ilmu menyungsang urat nadi kepada anak2 temannya itu.

Tak nyana ditengah jalan dia ketemu Khing ciau yang tengah melatih Tay-yan-pat sek yang diketahuinya betul sebagai ilmu tunggal siang Kian-thian maka dia turun tangan menolong Khing ciau yang hampir dibunuh sutenya serta mengajarkan ilmu mujijat ciptaannya.

Kini Thay Bi menekan dirinya dengan budi guru-nya, teringat akan kebaikan perguruan selama ini, mau tidak mau dia harus memberi muka kepada Thay Bi , apalagi Thay Bi memancing supaya dia memandang muka Siang Kian-thian, tergerak pula hatinya, jelek2 Kongsun Ki memang babah mantu siang Kian-tian.

Betapapun kejahatan Kongsun Ki membuat dia ragu2 setelah berpikir sebentar, dia berkata:

"Aku bisa menolong Kongsun Ki, namun kau harus menerima dua syaratku."

girang Thay Bi bukan main, cepat dia bertanya: "Dua syarat apa?"

"Pertama, kau harus ikut aku pulang, selanjutnya dilarang turun gunung dan mencari perkara, Ketahuilah Bing-bing Taysu seorang tokoh kosen yang takkan mampu kau lukai dengan Hian-im-cimu, apa lagi Busu-tun, siau-go-kian-kun dan lain2 ksatria muda toh belum tentu kau kuat mengalahkan mereka. Kuharap kau batalkan niat semula dan membina diri kembali menjadi manusia baik2."

Ceng-ling-cu belum tahu bahwa Thay Bi sebenarnya sudah pergi ke Kong-bing-si menuntut batas kepada Bing-bing Taysu, namun gagal.

Dasar keliwat jahat, Thay Bi tidak insaf pun tidak terharu oleh nasehat suheng-nya, dalam hati dia malah membatin: "Memang kepandaian silatku sekarang bukan tandingan Bing- bing Taysu. Tapi kalau kau ajarkan menyungsang urat nadi itu kepadaku, setelah aku berhasil meyakinkan kedua ilmu beracun keluarga siang, coba saja siapa lebih unggul."

"Dan hal yang kedua, bukan kau yang harus melakukan namun aku sendirilah yang akan menyelesaikan." demikian ujar Ceng-ling-cu lebih lanjut.

"Aku bisa menolong Kongsun Ki, namun ilmu menyungsang urat nadi ciptaanku itu hanya mengurangi derita Jau-hwe-jip- mo saja, apakah bisa memulihkan Iwekangnya-aku sendiri belum tahu."

"Begitupun baik dan sudah cukup," sahut Thay Bi , dalam hati dia membatin: "sia2 kau hidup bersaudara puluhan tahun denganku, masakah watakku tidak kau selami, memangnya aku ingin Kongsun Ki pulih kesehatan dan Iwekangnya?"

Berkata Ceng-ling cu lebih lanjut:

"Kau serahkan Kongsun Ki kepadaku, mati hidupnya kau tidak perlu urus. Biar aku kehabisan tenaga setahun akan kucoba menghilangkan Jau-hwe-jip-mo yang menyiksanya."

"Ah, kan bikin susah suheng. lebih baik kau ajarkan saja ilmu menyungsang urat nadi itu kepadaku, biar aku saja yang menolong Kongsun Ki." "Tidaki ilmu menyungsang urat nadi tiada manfaatnya bagi kau. Kongsun Ki bukan orang baik, aku tidak ingin kau bergaul sama dia. Ketahuilah aku mau menolong Kongsun Ki hanya karena memandang ayahmu dan persahabatanku dengan siang Kian-thian."

Thay Bi jadi kecewa, namun dia sudah mengatur rencana maka dia tidak memaksa, katanya:

"Kalau begitu terserahlah bagaimana maksud suheng, sekarang boleh kau segera menolongnya siuman."

Ceng-ling-cu tidak tahu bahwa Kongsun Ki ditutuk Liu Goan-ka, maka sambil manggut2 segera dia membungkuk badan, disaat dia hendak memapah Kongsun Ki, suatu tragedi yang tak pernah dia bayangkan mendadak terjadi, tahu2 Thay

Bi merangkap dua jari terus menutuk ke Ti-ki-hiat di pinggang Ceng-ling-cu.

Mimpipun Ceng-ling-cu tidak menduga bahwa sutenya bakal turun tangan keji secara membokong lagi terhadap dirinya, karena tanpa siaga sedikitpun meski dia membekal Iwekang tinggi, dalam waktu sesingkat itu tak mungkin dia mengerahkan tenaga untuk melawan dan menutup hiat-to sendiri

tahu2 segulung-hawa dingin melalui Ti-ki-hiat merembes kedalam badan, seketika Ceng-ling-cu bergidik kedinginan dalam waktu singkat itu dia hamcir mematung dan tidak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi.

Begitu Thay Bi lancarkan tutukannya, Liu Goan-ka yang sembunyi dibela kang gordyn segera melompat keluar dan " wut" dia memukul dari tempat ketinggian Bian- ciang latihan Liu Goan-ka mampu menghancurkan pilar, belum lagi Ceng- ling-cu sempat menegakkan badan kembali punggungnya kena hantam dengan telak.

"Huuuuaaaah" darah menyembur se-banyak2-nya, badanpun tersungkur kedepan. Disaat badannya sempoyongan ini, Liu Goan-ka dan Thay Bi bergerak pula dari kanan kiri pukulan telapak tangan dan tutukkan jari kembali menyerang tempat2 mematikan.

Ceng-ling-cu menggerung kalap. sebat sekali badannya membalik sekaligus sebelah tangannya menghantam, tepat sekali adu pukulan dengan Liu Goan-ka, dua telapak tangan beradu mengeluarkan suara "Pyaar" bagai ledakan bom. Liu Goan-ka rasakan telapak tangannya seperti membentur papan baja yang membara, tanpa kuasa dia pun membuka mulut dan "Huuuaaaah" badan tergentak mundur tiga langkah.

sungguh tak nyana dalam keadaan luka parah Ceng-ling-cu masih begini kuat. Tapi jari Thay Bi sekali lagi kena menutuk Ku-ciang-hiat suhengnya dibawah ketiak. Kui-ciang dan Ti-ki merupakan jalan darah mematikan dibadan manusia.

Betapapun tinggi Lwe-kang Ceng-ling-cu, dua Hiat-to sekaligus ditutuk Hian-im-ci, sudah tentu tidak tahan lagi. seketika  darah dalam tubuh seraya membeku dan berhenti mengalir.

Dua kali Ceng-ling-cu kena ditutuk dengan telaki namun ini bukan pukulan yang fatal bagi jiwanya, Dia terpukul batinnya karena sute-nya yang sejak kecil dia didik dan mengasuhnya mewakili guru ternyata hari ini membokong dua kali dan hendak membunuh dirinya.

Baru sekarang dia sadar dan mengerti, kuatir bokongannya tidak berhasil sutenya masih sekongkol dengan Liu Goan-ki, dengan muslihat dan pukulan dahsyat menyergap dirinya. seketika sekujur badan menjadi dingin.

Kejahatan manusia memang sukar diramalkan sebelumnya, rasa kecewa yang merangsang hatinya jauh lebih dingin dari tutukan jari Hian-im-ci Thay Bi .

Karena Liu Goan-ka terpukul mundur Thay Bi tidak berani menubruk maju lagi. Maka Ceng-ling-cu bertanya?

"sute, apa sih maksud tujuanmu?" Thay Bi tertawa senang, sebagai seorang ahli silat, dari suara suhengnya dia tahu bahwa orang sudah terluka amat parah, ujarnya:

"suheng, puluhan tahun sudah kau membatasi aku, sekarang tiba saatnya istirahat, ilmu sifatmu kau peroleh dari ajaran ayahku, kini kau harus kembalikan seluruhnya kepadaku."

Terbalik memutih kedua biji mata Ceng-ling-cu, kata-nya: "o, aku mengerti ternyata kau menginginkan ilmu

menyungsang urat nadiku, baiklah dengan ini aku membalas budi ayahmu, Ambillah, sute, kuharap kau belajar baik2 dan selanjutnya menjadi manusia berguna."

sekali lagi matanya terbalik dengan lemas dia meloso roboh, mukanya mengunjuk mimik duka dan lara, sungguh dia mati tidak meram.

Agaknya terketuk juga sanubari Thay Bi setelah melihat suhengnya ajal, tanpa berani mengawasi muka orang dia maju mendekat serta menggagapi kantong orang meroboh keluar sejilid buku pelajaran lalu terus menendang jenazah suhengnya kesamping, lalu ditariknya kain gordyn untuk menutupi jasad Ceng-ling-cu.

selembar demi selembar Thay Bi membalik2 buku pelajaran silat itu, dilihatnya semuanya adalah pelajaran silat warisan ayahnya ditambahi sedikit hasil riset Ceng-ling-cu sendiri, karena tidak sabar dia melompat kebelakang membuka dua lembar terakhir, disitulah tertera ilmu menyungsang urat nadi ciptaan suhengnya itu.

Liu Goan ka tertawa, ujarnya:

"llmu menyungsang urat nadi hanya ada dua lembar, begini gampang lagi, Dengan dasar ilmu silat kita rasanya dalam beberapa bulan saja sudah bisa meyakinkan dengan baik, Hm, dengan sedikit bekal ilmu pengobatan yang kupelajari dulu, memangnya Kongsun Ki tidak tergenggam ditangan kita?"

agaknya dia ikut membaca dari belakang Thay Bi .

Thay Bi gelak2, menurut rencana mereka, dengan ilmu menyungsang urat nadi ini hendak memeras Kongsun, Ki untuk barter dengan kedua ilmu beracun dari keluarga siang itu, Katanya:

"sekarang kau boleh geledah badan Kongsun Ki apa dia membawa buku pelajaran ilmu keluarga Kiang? Kalau ada boleh kau membunuhnya saja."

Liu Goan-ka segera bekerja.

"Agaknya dia tidak sempat membawa atau mungkin sudah dia bakar."

katanya kemudian setelah tak menemukan apa yang ingin dicari.

"Betapapun licik dan licinnya dia, jiwanya sudah berada ditangan kita, memangnya dia bisa berbuat apa? Lote, coba kau buka tutukan hiat-tonya."

setelah Hiat-tonya terbuka tak lama kemudian Kongsun Ki siuman, begitu dia buka mata lantas melihat jenazah Ceng- ling-cu, seketika dia mengunjuk kaget dan heran.

"Lote" ujar Thay Bi tawar, "kau tahu kenapa suhengku mati?"

"Memangnya cianpwe berdua yang membunuhnya? Tapi untuk apa kalian membunuhnya?"

sebetulnya Kongsun Ki sudah meraba beberapa bagian, namun sengaja dia bertanya.

" Karena dia tidak mau menyerahkan ilmu menyungsang urat nadi itu, maka kami membunuhnya, semua ini adalah untuk kebaikanmu." ujar Thay Bi . "Demikian besar budi kebaikan cianpwe kepadaku, entah dengan apa aku harus membalasnya . "

"Membalas budi sih soal gampang."

"silakan cianpwe jelaskan, aku pasti menurut saja." "Aku bisa bantu menghilangkan Jau hwe-jip-mo dengan

ilmu menyungsang urat nadi ini dalam tiga tahun, kau bakal

sehat seperti sedia kala. Tapi kau harus tahu dan meyakinkan kedua ilmu beracun itu baru kita bisa lebih memperdalam pengetahuan bidang ini unjuk menyembuhkan kau, semua ini juga demi kebaikanmu"

"Terpaksa kita harus bertindak demikian, Boleh kau anggap sebagai barter, yang terang hal ini menguntungkan bagi kedua pihak." demikian timbrung Liu Goan Ka.

"selanjutnya kita bertiga bisa tritunggal, duduk sama rendah berdiri sama tinggi, ada rejeki dikecap bersama ada bahaya dipikul berbareng. Bila kita bertiga berhasil meyakinkan kedua ilmu beracun dari keluarga siang, siapa lagi yang mampu melawan kita?"

Ter-sipu2 Kongsun Ki manggut2. Katanya:

"sudah tentu Jangan kata menguntungkan kita semua, umpama Kongsun Ki hanya bisa mempertahankan jiwa ku ini, aku pasti takkan melupakan budi cianpwe Baiklah. kita putuskan demikian saja."

Begitulah, kedua pihak sebetulnya mempunyai maksud dan rencana jahat sendiri2. Kembali Thay Bi menggendong Kongsun Ki meninggalkan kuil bobrok ini, rencana mereka pulang kegunung dan berlatih giat selama tiga tahun, baru akan keluar bersimaha raja pula diBuIim, sekaligus menuntut balas kepada para musuh.

Waktu merogoh buku silat ciptaan suhengnya Thay Bi yakin suhengnya sudah putus napas, maka dia tidak memperhatikan lebih lanjut. Tak nyana Ceng-ling-cn justru belum mati sesungguhnya.

Luka2 Ceng-ling-cu memang teramat parahi waktu Thay Bi meraba pernapasannya, memang dia sudah meninggal. Akan tetapi sebagai tokoh kosen yang tinggi Iwekangnya, napasnya berhenti lantaran hati dan batinnya teramat pilu dan marah merangsang hati. Daya hidupnya belum putus sama sekali. sebelum Thay Bi meninggalkan kuil, napasnya sudah mulai bekerja pula, namun karena badannya ditutup kain gordyn, maka Thay Bi tidak mengetahui.

setelah Thay Bi bertiga pergi, lambat laun Ceng-ling-cu siuman, lama sekali baru kembali daya ingatannya dalam waktu dekat dia sangka dirinya sedang bermimpi. Tapi waktu dia hendak bergerak sekujur badan terasa sakit dan dingin, begitu besar penderitaannya sampai tak kuasa dia merintih2.

Baru sekarang dia benar- sadar bahwa dirinya sudah dicelakai oleh sutenya.

Kini marilah kita ikuti perjalanan siau- go-kian- kun, Hong- lay-mo-li Khing Ciau, Cin Long-giok, Liok Bian dan sansan tiga pasang kekasih, sepanjang jalan mereka mengobrol panjang lebar sehingga tidak kesepian. Akhirnya mereka menyinggung tentang Ceng-ling-cu yang dikatakan sebagai orang baik yang sukar ditemukan jejaknya.

Kalau mereka tengah memperbincangkan Ceng-ling-cu, diluar tahu mereka, Ceng-ling-cu saat mana berada disuatu tempat yang tidak jauh dari tempat mereka berada, malah dalam keadaan sekarat lagi. Ternyata dalam perjalanan pulang kep-angkalan Hong-lay-mo-li, kebetulan mereka lewat daerah gunung dimana kuil beborok itu berada.

"Eh, kedengarannya seperti ada suara orang merintih2." ujar siau- go-kian- kun tiba2 memutus pembicaraan diantara enam orang, Iwekangnya paling tinggi. walau rintihan Ceng- ling-cu amat lemahi namun sayup- dia mendengarnya karena terbawa kesiur angin gunung.

Hong-lay-mo-li segera pasang kuping, sahutnya: "Benar, di atas gunung memang ada orang merintih."

" Kedengarannya orang itu terluka parah." ujar Liok Bian, waktu itu mereka sudah memanjat gunung jarak semakin dekat, maka yang lain2juga sudah dengar rintihan Ceng-ling- cu.

Cepat sekali mereka temukan kuil bobrok itu, muka Ceng- Iing-cu masih tertutup kain gordyn, karena tak punya tenaga kulit dagingnyapun sudah mengejang kaku maka dia tak mampu menyingkap kain yang menutup mukanya. Lekas sekali Hong-lay-mo-li mendaHuiui menerobos masuk dan menyingkap kain gordyn penutup mukanya, seketika dia berdiri kaget menjublek.

Malah Khing ciau berseru kaget dan berteriak:

"Bu... bukankah dia Ceng-ling-cu Lo- cianpwe? Kenapa berubah demikian rupa?"

Lekas siau-go kian- kun memapah badannya, terasa badan orang sudah kaku dingin katanya tersirap kaget:

"Dia terluka oleh tutukan Hian-im-ci Thay Bi , aneh, bukankah Thay Bi memanggilnya suheng?"

"Liu Goan-ka keparat tua itu juga membantunya." ujar Hong-lay-mo-li,

" kecuali tertutuk keracunan, diapun terpukul dengan Bian- ciang."

dari ayahnya dia pernah belajar sedikit ilmu pengobatan, segera dia periksa keadaan Ceng-Iing-cu.

"Bagaimana?" tanya Siau- go-kian- kun sesaat kemudian. Hong-lay-mo-li gelengi sambil papah Ceng-ling cu berduduki katanya lirih:

" KaLau ayah disini mungkin bisa menolongnya, Tapi mari kita berdaya upaya."

Dengan ilmu pengobatan tingkat tinggi yang pernah dipelajari dari ayahnya Hong-laymo-li menutuk tiga Hiat-to Hu- tho, Giok-Yan dan Toa-cui, lalu mengurut dan melancarkan jalan darahnya yang buntu, Tak lama kemudian Ceng-ling-cu memuntahkan sekumur riak kental.

Masing2- sebelah tangan Hong-lay-mo-li dan Siau- go-kian- kun menempel dipunggung orang menyalurkan hawa murni ketubuh orang, Tak lama kemudian tiba2 Ceng-ling-cu menghela napas, ujarnya:

" Kalian tidak perlu bersusah payahi mati hidup bagi Lohu sudah tidak perlu diperhatikan lagi. Tapi, aku tetap berterima kasih akan kebaikan ini."

"Kita tak mampu membalas budi luhur Ciangpwe, adakah pesan apa yang perlu Ciang-pwe sampaikan, kita siap bekerja sekuat tenaga."

Ceng-ling-cu angkat kepala, tanyanya kepada Hong-ley-mo-

li:

"Apakah ayahmu Liu Goan- cong?" dari cara pengobatan

yang diberikan oleh Hong-lay-mo-li dia dapat membadek asal uyul Hong lay-mo-li.

"Benar, beliau adalah ayahku."

"Ada sebuah hal belum kumengerti." ujar Ceng-ling-cu, "aku ada budi apa dengan kau?"

"buruku adalah Kongsun In. Kongsun Ki terlampau jahat, aku boleh tidak mengakuinya sebagai su-heng, namun suso tetap harus ku- akui. sebelum ajal siang Pek-hong pernah pesan supaya aku melindungi adiknya, cianpwe ada budi terhadap siang Ceng-hong, akupun ikut merasakan kebaikan ini."

"Ah begitu. agaknya kau teramat setia kawan dan mengutamakan budi, Ayah Ceng-hong dulu menanam budi kepadaku, kalau begitu sekarang aku boleh lega hati menitipkan pesan kepadamu."

"silakan cianpwe memberi petunjuk."

"sekali ini aku amat menyesal menolong Kongsun Ki, ini memang kesalahanku sendiri, dan hal ini pulayang membuatku penasaran, Thay Bi sudah mengambil buku pelajaran silat ciptaanku, dia bersekongkol dengan Liu Goan- ka, kalau mereka berhasil meyakinkan ilmu itu mungkin seluruh perguruan silat didunia ini tidak akan hidup tentram, tiada tokoh kosen manapun yang akan mampu menindas kejahatan mereka."

" Kapan kira2 mereka berhasil meyakinkan ilmu itu?" tanya Siau- go-kian- kun.

"Dalam setahun kemungkinan Kongsun Ki bisa menyembuhkan Jau-hwe-jip-mo, itu berarti dia punya harapan untuk memulihkan ilmu silatnya, Thay Bi dan Liu Goan-ka harus belajar kepada Kongsun Ki, mereka harus belajar dari permulaan, maka waktunya lebih lama, kira2 tiga tahun akan sempurna latihan mereka."

Cing-ling-cu menganalisa jikalau mereka mau kerja sama dengan baik, sudah tentu tak pernah terpikir oleh Ceng-ling-cu bahwa tiga orang ini masing2 mempunyai rencana jahat yang menguntungkan pribadi masing2, satu sama lain mengatur muslihat untuk menjebak dan menjatuhkan yang lain.

"Demi keselamatan kaum persilatan umumnya, kuanjurkan kalian lekas memberantasnya dalam jangka setahun, namun aku harap kalian suka memberi kelonggaran dan mengampuni jiwa suteku, cukup asal melenyapkan ilmu silatnya saja." Setelah istirahat sebentar Ceng-ling-cu mengunjuk rasa kikuk dan risi, katanya:

"Liu Lihiap. masih ada sebuah hal ingin aku mohon bantuanmu."

"Locianpwe tak usah sungkan2, silakan katakan saja." "Bicara soal ini, sebelumnya aku harus minta maaf

kepadamu." Hong-lay-mo-li melengaki tanyanya:

"Mohon maaf soal apa?"

"Perlu diketahui bahwa siangkoan Pocu murid Ling-san-pay itu adalah putriku. Belum lama ini baru kuketahui bahwa dia bantu Ma Toa-ha mencari setori dengan Kaypang bertindak kasar pula terhadap Liu Lihiap. Kuharap Liu Lihiap suka memaafkan keteledoran putriku yang kurang pergaulan, sukalah mintakan maaf kepada Bu-pangcu pula."

Mendengar bahwa siangkoan Pocu adalah putri Ceng-ling- Cu, Hong-lay-mo-li merasa diluar dugaan. Beberapa kali gebrak dengan siangkoan Pocu, Hong-lay-mo-li selalu menang, tapi dia jelas mengetahui kepandaian orang jauh berbeda dengan aliran ceng-ling-cu.

Waktu tidak mengidzinkan Hong-lay-mo-li mengadukan pertanyaan, segera dia menjawab:

"Putrimu tiada permusuhan langsung dengan Kaypang. kukira sedikit salah paham ini Bu-pangcu pasti suka anggap tak pernah terjadi, Lo- cianpwe tidak usah kuatir."

Terkulum secercah senyuman lega pada muka Ceng-ling- cu, katanya:

"Beruntung mendapat janji Liu Lihiap yang simpatik, biarlah urusan keluargaku yang serba rumit itu mohon Liu Lihiap suka bantu membereskan pula."

Hong-lay-mo-li manggut2, dia kira yang dimaksud oleh Ceng-ling-cu adalah urusan putrinya pula. Terdengar Ceng-ling-cu berkata lebih lanjut:

"Ku-minta Liu Lihiap pergi memberi kabar, sebagai Bulim Beng-cu tentunya kau sibuk dengan banyak urusan, hal ini tidak perlu segera diselesaikan dalam jangka satu tahun, kalau Liu Lihiap bisa boleh sampaikan kabar beritaku ini, aku akan amat berterima kusih."

"Entah memberi kabar apa dan kepada siapa?" tanya Hong- lay-mo-li.

"Dengan ayahmu dulu aku pernah bertemu sekali, sayang tidak bersahabat kental, Tapi aku tahu sebagai pendekar besar dia bersahabat akrab dengan Bing-bing Taysu, Tentunya Liu Lihiap kenal baik dengan Bing-bing Taysu?"

"Ayah sekarang memangnya menetap di Kong-bing si tempat tetirah Bing-bing Taysu",

"Kebelulan sekali, setelah Losiu ajal, sukalah Liu Lihiap memberitahu kepada Bing-bing Taysu, Berikanlah separo pecahan kaca ini kepada Bing-bing Taysu supaya dia serahkan kepada istriku." dengan tangan gemetar dia merogoh keluar kaca bundar yang sudah pecah dan tinggal separo saja.

Hong-lay-mo-li terima separo kaca itu dengan hati dibebani berbagai tanda tanya, namun dia tidak enak tanya urusan pribadi orang.

"Liku2 persoalannya tak sempat kujelaskan." demikian kata Ceng-ling-cu lebih lanjut.

"Bing-bing Taysu tahu semua persoalanku, Aku, aku kuatir mereka ibu beranak tersesat jalan, kalau tidak lekas2 diberi peringatan dan diberi kesadaran, mungkin kelak bisa menimbulkan bencana."

sampai disini napasnya mulai memburu, suaranyapun lemah.

Hong-lay-mo-li segera memberikan janjinya: "Permintaan ciangpwe pasti kulaksanakan. Lo-cianpwe boleh pergi dengan lega hati."

Ceng-ling-cu menarik napas, dengan meronta dia berkata pula:

" Kabarnya Bing-bing Taysu pernah bersumpah untuk tidak turun gunung lagi, kalau dia tidak bisa pergi."

"Akulah yang akan pergi" lekas Hong-lay-mo-li menyambung.

"Baiki kalau Liu Lihiap sudi pergi ke Ling-ciu-san untuk menyelesaikan persoalanku, legalah hatiku." pelan- dia pejamkan matanya.

Dengan suara lirih Hong-lay-mo-li berkata:

"jangan kuatir Lo- cianpwe, pergilah dengan tenang" baru saja dia hendak berunding untuk mengubur jenazah

Ceng ling-cu dengan Siau- go-kian- kun dan lain2, tak nyana

tiba2 Ceng- ling-cu membuka mata pula, katanya:

"Masih ada sebuah hal hampir kulupakan, Khing-siuhiap. kau kemarilah."

Ter-sipu2 Khing ciau menjura. katanya:

"Wanpwe mendapat budi besar dari cianpwe, Lo-cianpwe ada pesan apa harap suka katakan saja, Wanpwe pasti melaksanakan"

"Tay-yan-pat-sek latihanmu sudah mencapai tingkat tujuh pada tahap itu baru kau boleh meyakinkan kedua ilmu beracun itu, kalau tidak meski kau tahu cara menyungsang urat nadi kau bisa juga mengalami bahaya Jau hwe-jip-mo. Ingatlah hal ini baik2."

"Lo-cianpwe tak usah kuatir. hakikatnya Wanpwe tiada minat meyakinkan kedua ilmu beracun itu" sahut Khing Ciau. "Baik sekali, kalau begitu aku tidak perlu kuatir." habis bicara kembali Ceng- ling-cu pejamkan mata, kali ini dia benar- mangkat dengan tenang.

Khing ciau amat haru sampai dia meneteskan air mata mengingat kebaikan orang, bukan saja mengajarkan ilmu mukjijat, sebelum ajal orang malah want2 pesan dan memperhatikan keselamatannya .

Maka mereka berenam kerjasama menggali liang lahat dan menyiapkan segala keperluan untuk mengebumikan jenazah Ceng-ling-cu. Memang mereka bukan sanak kadang dari Ceng- ling-cu, namun melihat kakek tua baik hati bajik dan luhur budi ini akhirnya meninggal secara penasaran dan terkubur di pegunungan liar, mau tidak mau mereka merasa haru dan sedih.

setelah mengubur Ceng-ling-cu hari itujuga mereka melanjutkan perjalanan.

"Kini kita memikul dua tugas." demikian kata siau-go-kian- kun ditengah jalan,

"pertama, dalam jangka setahun kita harus bisa menumpas Kongsun Ki, Liu Goan Ka dan Thay Bi sebelum ilmu mereka sempurna dilatih. Kedua, memberi kabar kepada Bing-bing Taysu."

"Kabar untuk Bing-bing Taysu boleh ditunda sementara, tiga bulan lagi ayah pasti datang kepangkalanku, pulangnya dia bisa menyampaikan kabar itu, hanya jejak ketiga bangsat itu yang sukar ditemukan."

"Berita dari Kaypang paling cepat dan tepat masakah dalamjangka setahun tak bisa menemukan jejak mereka, nanti kalau ketemu dengan Bu su-tun, boleh kita minta bantuannya."

"siangkoan Pocu adalah murid Ling-san-pay, Konon Ling- san-pay pecah menjadi dua sekte utara dan selatan, sekte selatan dipimpin Beng-ciu siangjin, ciangbun sekte utara ditangan seorang Nikoh yang bergelar ceng-ling suthay."

"Benar," siau go-kian-kun mengiakan, "memangnya kenapa?"

"Nikoh ini berjuluk Ceng-ling suthay, mungkinkah dia istri Ceng-ling-cu? setelah mereka suami istri berpisah baru dia cukur gundul menjadi biarawati?"

"Dugaanmu kemungkinan betul. Hal ini sungguh menarik perhatianku. Kelak bila Bing-bing Taysu tak mau turun gunung, biar aku temani kau pergi ke Ling-ciu-san."

Tiga bukan yang lalu waktu Hong-lay-mo-li meninggalkan pangkalannya adalah musim dingin, tiga bulan kemudian waktu dia kembali musim semipun tengah menyambut kedatangannya, setiba mereka dikaki bukit Kim-keh-nia, melepas mata memandang beratus, kembang warna waru, berkembang mekar semarak memenuhi lapisan gunung yang terbentang luas tak berujung pangkal.

Kembali kesarang sendiri, kebetulan disambut musim semi lagi, seketika bergairah semangat Hong-lay-mo-li, katanya:

"Kok- ham, marilah kita berlomba Ginkang, jangan bikin kaget para peronda dan penjaga, apakah mereka tahu kedatangan kita? Adik Ciau, kalian lekas menyusul aku. tahu2 kita sudah tiba dimarkas, supaya Tai Mo kaget dan girang diluar dugaan."

Memangnya Hong-lay-mo-li seorang ahli Ginkang, setelah mendapat petunjuk ayahnya lagi maka kemajuannya berlipat ganda, kini boleh dikata sudah sem-purna, Ginkang Siau- go- kian- kun setingkat masih berada dibawahnya, namun diapun tidak lemahi dengan mengembangkan Pat-pao-kan-sian (delapan langkah mengejar tenggeret) sekaligus mereka melewati belasan pos penjagaan yang berlapis2 tanpa diketahui. Lekas sekali Hong-lay-mo-li tengah mengitari jurang air terjun yang terbentang luas mengairi sawah ladang bersusun dilamping gunung, tak jauh di atas sana markas besar sudah kelihatan, se-konyong2 terdengar seorang menghardik nyaring:

"Siapa?" dua batang panah kecil tahu2 ditimpuk mengincar mukanya. suara bentakan perempuan ini rasanya sudah amat dikenal.

Panah kecil ini ditimpuk dari jarak puluhan tombak, namun daya luncurnya masih begitu kencang, malah tepat mengincar dua Hiat-to Hong-lay-mo-li.

Hong-lay-mo-li heran, sekali ayun kebut dia pukul jatuh kedua panah kecil ini. cepat sekali penimpuk panahpun sudah muncul.

Hong-lay-mo-li seketika tertawa sapanya: "Adik sia, kiranya kau. Kapan kau kemari?" "Liu-bingcu" ujar perempuan itu,

"kiranya kau telah kembali. Aku yang jadi tamu malah menyambut kedatangan tuan rumah . "

Cepat sekali siau-go kian-kunpun sadah meluncur tiba, katanya tertawa:

"Kau juga menggunakan panah timpukan, wah agaknya luar biasa kepandaianmu."

Perempuan ini bukan lain adalah Jilian Ceng-sia, dulu dia belum pernah berkunjung kepangkalan Hong-lay-mo-li.

Tengah mereka bicara disini dikejauhan terdengar panah bersuara melambung ke angkasa cepat sekali disambut tiupan terompet yang bersahutan. Kata Jilian ceng-2ia:

"Masih ada siapa lagi yang datang sama kalian?" "Memang masih ada Khing ciau, Cin Long-gioki dan Liok Bian, Agaknya jejak mereka sudah diketahui oleh peronda atau penjaga pos." ujar Hong-lay-mo-li.

Cepat sekali tampak dari atas bukit Tai Mo bawa anak buahnya menyongsong turun menyambut kedatangan mereka, sudah tentu senangnya bukan main melihat Hoa dan Liu sudah pulang katanya:

"Cici Jilian sudah datang dua hari, dia menunggu Bingcu pulang."

"Bagus, marilah kita bicara didalam." ujar Hong-lay-moli. "para saudara tidak usah banyak adat memberi

penyambutan segala."

Setelah duduk Hong-lay-mo-li bertanya:

"Waktu berjalan cepat sekali, bagaimana keadaan cihumu?" waktu berpisah di Taytoh sembilan bulan yang laiu Jilian cengsia dan Ya lu Hoan-ih mengantar Bu-lim-thian-kiau bersama Jilian Ceng-hun ke Keng-bing-si, maka Hong-lay-mo- li bertanya tentang cihunya. 

"Tiga bulan yang lalu waktu aku menengoknya kesana, kulihat semangatnya sudah pulih sebagian besar, menurut Bing-bing Taysu. tak usah setahun ilmu silatnya pasti sudah pulih seluruhnya." demikian tutur Jilian Ceng-sia

"Cihu tahu aku akan kemari, maka dia titip kabar supaya disampaikan kepada mu, katanya dia pasti datang menghadiri pesta pernikahanmu." -

merah jengah muka Hong-lay-mo-li, hatinya amat senang. "Nah aku belum tanya maksud kedatanganmu?" ujar Hong-

lay-mo-li.

"Kami mohon bantuanmu untuk menolong kesulitan kita." "Apakah pasukan besar Kim menyerbu kepandaian kalian?" "Tidak. Tapi mereka sudah menyiapkan pasukan Gilim-kun dibantu pasukan berkuda dari Yu-ciu. Ai-ciu dan Kiciu untuk mengepung kita. Kemungkinan dalam sebulan ini, mereka pasti mulai turun tangan."

"Kedatanganmu amat kebetulan, dengan kaum patriot di Kang lam aku sudah ada kontaki dalamjangka dua bulan ini kita akan bergerak secara besar2-an sekaligus dibeberapa tempat, Kukira kalau sekaligus bergerak digaris belakang musuh kita saling bantu membantu dengan gerakan serentak ini pasti sekaligus menguntungkan kedua pihak."

Lalu Hong- lay- mo li bentangkan rencana kerja besar mereka, serta memberikan petunjuk2 bagi Tai Mo dan san san untuk menambah pos2 penjagaan, tak lupa dia gunakan alat2 rahasia seperti yang dia lihat di siang- keh-po atas ciptaan Kongsun Ki di Kim-keh-nia untuk menjaga seggla kemungkinan.

Kepada Jilian cengsia dia menahannya untuk beberapa hari, Tapi karena Yalu Hoan-ih sedang menunggu kabar baiknya, maka Jilian ceng-sia hanya tinggal tiga hari di Kim-keh-nia.

Dalam tiga hari ini Hong-lay-mo-li mengadakan inspeksi ketat ke seluruh pangkalannya, dimana dia memberi petunjuk dan penambahan pos penjagaan, dimana pula perlu dipasang alat2 rahasia, kaIa lainnya dia mengobrol dengan Jilian ceng- sia tentang liku2 kehidupan orang Kangouw serta tokoh- kosen yang aneh dan lihay, tidak lupa mereka tukar pikiran dalam ilmu silat. Cepat sekali tiga hari sudah berlaIu.

Hari keempat Jilian ceng-sia mohon diri, Hong- lay moli menahannya dulu untuk dijamu makan minum, sehingga keberangkatan Jilian ceng-sia tertunda setengah hari. Tak nyana tengah mereka makan minum, Hong-lay-mo-li mendapat sepucuk surat yang di luar dugaannya.

Itulah surat dari Bu su-tun Kaypang Pangcu yang dikirim lewat burung dara, surat itu tiba disalah satu cabang Kaypang yang takjauh letaknya dari cabang Kay-pang ini diantar dengan naik kuda lari cepat ke pangkalan Hong-lay-mo-li.

Karena surat penting dan kilat dibawa burung dara lagi, maka isi surat cekak-aos, Dia minta Hong- lay- moli atau siau- go-kian-kun lekas menyusul ke Thian-long-nia untuk bertemu, sudah tentu lebih baik bila mereka berdua bisa kesana.

Hong- lay mo-Ii keheranan ujarnya:

" Entah kebentur urusan genting apa Bu su-tun sampai minta kita menyusulnya ke sana?"

Siau- go-kian- kun tertawa:

"Aku kan bukan cukat Liang, mana bisa meramal isi hati orang. Tapi mengingat hubungan baik kita dengan Bu su-tun, adalah pantas kalau kita segera memenuhi panggilannya."

"sudah tentu," ujar Hong lay-mo-Ii tiba2 dia ingat sesuatu: " Kampung tempat tinggal No locianpwe ibu beranak (istri

dan putri Thay Bi ) bukankah terletak tidak jauh dari Thian-

long-nia?"

"Benar, ciok-kehiceng terletak dua ratus li diselatan Thian- long-nia." sahut Siau- go- kian- kun.

"Bukan mustahil Thay Bi , Liu Goan-ka dan Kong-sun Ki bertiga justru sembunyi di sekitar Thian-long-nia."

"Rekaanmu masuk akal, Thay Bi hendak merebut putrinya, demikian pula Liu Goan-ka hendak minta kembali bininya, mereka pasti sembunyi tak jauh dari Ciok-kehiceng untuk turun tangan se-waktu2. Kalau begitu kita harus lekas kesana untuk menghadapi ketiga bangsat ini."

Hong-lay-mo-li gelengi, ujarnya,

"Tidaki kau tetap tinggal dipangkalan, biar aku sendiri yang pergi."

Siau- go-kian- kun melenggong, katanya: "Kukira biar aku saja yang pergi, situasi sekarang justru seperti mega mendung yang hampir turun hujan lebat, sebagai Liok-lim-Bingcu, kau harus selalu berada dipangkalan."

"Tidaki aku justru ingin me- lihat- situasi diluar sekaligus mampir kebeberapa tempat untuk menemui para pemimpin gerilyawan, gerakan besar paling cepat baru dua bulan lagi akan dimulai. sekembaliku dari Thian-long-nia, masih sempat mengatur segalanya."

Tiba2 Tai Mo menyeletuk:

"Liu-cici kali ini aku ingin ikut kau. Tugas- rutin dalam pangkalan san san cici juga sudah apal betul, untuk ini kuharap dia suka memikul tanggung jawab lebih berat."

seperti ingat dan menyadari sesuatu san san tertawa, katanya:

"Ah, antara saudara sendiri kenapa sungkan? Memang beberapa tahun ini kau selalu disekap dalam pangkalan, perlu juga melemaskan otot mengencerkan otaki perjalanan ke Thian long-nia harus lewat kampung kelahiranmu, kau bisa mampir kesana."

Dari nada dan mimik percakapan kedua pembantunya ini Hong-lay-mo-li menduga pasti ada persoalan apa2 yang belum dia ketahui, maka dia menjawab:

"Baiklah kampung kelahiranmu berada di Ko-gwan, letaknya seratus li disebelah barat laut Thian-long-nia, sekembali dari sana boleh aku iringi kau pulang ke- tempat kelahiranmu, itu. Baiki kau boleh ikut aku pergi" -

Mendapat persetujuan sudah tentu senang Tai Mo bukan main.

setelah segalanya dibicarakan Hong-lay-mo-li ber-kata: "Adik sia, sebetulnya aku hendak menjamu perpisahanmu, kini aku sendiri juga hendak pergi."

"Memangnya aku berat meninggalkan cici, kebetulan kita bisa kumpul lagi beberapa hari diperjalanan."

kiranya untuk pergi ke Thian-long-nia dan Kilian-san mereka searah, dalam seribu li perjalanan setiba di Lam-Iha baru akan berpisah kearah masing2.

orang banyak mengantar Hong-lay-mo-li bertiga turun gunung, kata siau-go-kian-kun:

"Bu su-tun antar siang ceng-hong ke Kong-bing-si, pasti dia sudah bertemu dengan Bu-lim-thian-kiau, kenapa dalam surat tidak dia singgung?"

"Surat itu ditulis ter-gesa2, dikirim lewat burung dara lagi, sudah tentu harus ditulis secara pendek."

"Mungkin demikian, namun aku kurang lega hati, dengan kecepatan lari kalian dalam jangka tiga atau lima hari sudah bisa tiba di tempat tujuan, kalau ada tempo tiada halangan kalian mampir dulu ke Kong-bing-si."

"Kalau dijalan tidak menemukan sesuatu yang luar biasa, aku sih ingin saja mampir ke Kong-bing-si supaya ayah dan guruku kaget dan kegirangan."

sebetulnya diapun ingin tahu keadaan Bu-lim thian-kiau, namun dia sungkan mengatakan.

Bagaimanakah keadaan Bu-lim thian-kiau belakangan ini? Baiklah kita kesampingkan dulu perjalanan Hong-lay-mo-li dan TaiMo, kini marilah kila ikuti perjalanan Bu su-tun yang menemui Bu-lim thian-kiau di Kong-bing si, serta pengalaman yang mereka alami selama sebulan akhir- ini.

Tengah hari itu Bu su-tun dan Hun Jiyan mengantar siang Ceng-hong sampai di Kong-bing-si. Huisiok sinni yang mendapat kabar segera keluar menyambut mereka, melihat siang Ceng-hong senangnya bukan main, sebagai angkatan muda, lazimnya Bu su-tun, minta menghadap kepada Bing- bing Taysu, Liu Goan-cong dan Kongsun In, namun karena mereka bertiga sedang menyekap diri dalam kamar saling memperdalam dan memperbincangkan ilmu silat maka sementara tutup pintu tak boleh diganggu siapapun.

Terpaksa Bu su-tun berkata :

"Kalau begitu, tak perlu buru2 menemui para beliau toh aku menetap beberapa hari disini, Harap tanya saja, dimana sekarang adikmu? Kenapa nona Jilian tidak kelihatan?"

"Mereka pergi kebelakang gunung sedang latihan disana." sahut Hui-siok sinni.

Bu su-tun girang, katanya:

"oh, adikmu sudah boleh latihan? jadi kesehatannya sudah pulih?"

Hui siok sinni tertawa lebar, ujarnya:

"Boleh kau saksikan sendiri, Maaf aku harus menyediakan tempat buat siang-sumoay, tak bisa menemani kalian."

Hui-siok sudah tahu pahit getir hidup siang Ceng-hong, disamping iba diapun simpatik kepadanya, maka dia menerima dan menyediakan tempat bagi mereka ibu beranak.

Bu su-tun sama Hun Ji yan melangkah kebelakang gunung, musim semi bunga sedang mekar dengan semaraki pemandangan alam seindah ini sungguh amat mempesonakan. Dengan mengobrol dan memuji keindahan panorama Bu dan Hun beranjak manjat gunung, setelah akhirnya tiba dibelakang gunung, dari kejauhan tampak sebuah aliran bungai ber-liku2 menembus kedalam hutan kembang Tho, Bu su-tun segera berkata:

"Tuh, Lihat bayangan didalam air," dengan seksama Hun Ji yan pandang kesana dilihatnya bayangan dua muda mudi yang terbalik dipermukaan air, lengan melambaikan dan meringankan langkah mereka beranjak memasuki hutan kembang Tho.

Tampak Bu- lim-Thian- hiau ternyata sedang meng gerakan kaki tangan di tanah lapangan terbuka ditengah hutan. Jilian ceng hun menonton diluar gelanggang.

Dengan suara lirih Hun Ji Yan berkata:

"llmu pukulan telapak tangan yang di mainkan itu begitu lembut gemelai, entah sudah berapa bagian tenaganya yang dapat pulih."

Ternyata gerak gerlk kaki tangan Bu- lim-Thian- kiau sedikitpun tidak menerbitkan deru angin, maka Hun Ji Yan belum bisa menyelaminya

Dalam hutan diliputi suara kumbang yang beterbangan memetik madu. Agaknya Bu-lim-thian-kiau konsentrasikan segaIa perhatiannya dalam latihan ilmu pukulan ini, dengan lincah dia berlompatan diantara kuntum kembang, langkahnya enteng dan lincah sambung menyambung laksana air mengalir seperti mega mengembang, sementara kedua telapak tangannya menari turun naiki selulup timbul seperti kupu^ yang menari diantara kuntum kembang, sehingga orang yang menyaksikan menjadi kabur dan pusing kepalanya.

Akan tetapi tiada sekuntum kembang dipucukpohon yang rontok karena permainan kedua telapak tangannya, demikian pula kumbang2 yang sedang memetik madu tiada yang terkejut karenanya. Cepat sekali tahu2 Bu-lim thian-kiau menarik tangan menghentikan permainannya. Baru saja Bu

su-tun hendak keluar menemui mereka, tiba2 didengarnya Bu- lim-thian-kiau berkata:

"Adik Hun, kau anggap kumbang2 ini mengganggu ketenanganmu biarlah kuhukum mereka ala kadarnya." Lekas tangannya dia meraih segenggam rumput hijau terus diremas diantara kedua telapak tangannya, terus diayunkan keatas, seketika kumbang2 yang beterbangan itu tiba2 sama berjatuhan.

Perlu diketahui dalam ilmu tingkat tinggi dikenal adanya memetik daon menegangkan kembang dapat melukai orang sampai mati, demikian juga menimpali jatuh kumbang yang sedang terbang bagi Bu su-tun bukan suatu hal yang mustahil dan tak perlu dibuat heran.

Tapi dengan mendemonstrasikan kepandaian menimpuk kumbang dengan rumput, sekaligus membuktikan bahwa Iwekangnya kini sudah pulih malah lebih tinggi dan lihay dari dulu.

Keruan Bu su-tun kegirangan, baru saja dia hendak Iari keluar memberi selamat, tak nyana kejadian selanjutnya betul- membuatnya kaget heran dan melongo. Didengarnya Jilian Ceng-hun tengah berkata.

"Kenapa berbuat sekejam itu, jiwa mereka toh tidak berdosa?"

"Siapa bilang aku membunuh mereka?" ujar Bu-lim thian- kiau tertawa. Betul juga belum habis dia bicara, kumbang2 yang jatuh itu tahu2 pentang sayap beterbangan pula, semula masih lemah dan terbang rendahi namun cepat sekali sudah pulih seperti sedia kala terbang ke pucuk pohon.

Kejut dan girang kagum lagi, tanpa kuasa Bu su-tun berseru memuji: "Hebat, Mengagumkan" maklumlah bagi seorang ahli Iwekang tidak sukar melukai orang dengan menimpuk kembang atau daon, apa lagi membunuh kumbang, lebih gampang lagi, Tapi pukulan Bu- lim-Thian- kiau ini menggunakan Lwe-kang yang diperhitungkan dengan tepat cukup untuk menjatuhkan kumbang tanpa melukai sedikitpun, paling hanya semaput sebentar, lekas sekali kumbang inipun sudah kuat terbang lagi. Betapa tinggi dan mumpuni latihan Iwekangnya ini, kiranya sudah mencapai taraf yang tiada taranya.

Bu- lim-Thian- kiau sebetulnya sudah tahu akan kehadiran mereka kini setelah bertemu muka dan berhadapan kedua pihak girangnya bukan buatan.

"Selamat Tam-heng berhasil meyakinkan ilmu mukjijat, buka saja kepandaian semula sudah pulih, malah lebih tinggi dari semula." demikian puji Bu su-tun.

"Ini berkat petunjuk para cianpwe yang berharga. Bu-heng baru saja diangkat jadi Pangcu, masa kau punya waktu buat dolan kemari? Apakah ada urusan penting pula minta bantuan cianpwe yang mana turun gunung?" taya Bu- lim-Thian- kiau.

"Aku kemari mengantar sumoaymu." sahut Bu su-tun. Bu lim-thian-kiau tertegun, katanya:

"sumoayku yang mana?"

"Putri supekmu siang Kian-thian, yaitu siang Ceng-hong." Bu-lim thian-kiau amat diluar dugaan, ujarnya:

"Bagaimana mungkin? Bukankah kabarnya dia diculik Kongsun Ki dan dijadikan..."

"Benar, dengan cara kotor dan rendah Kengsun Ki memaksanya jadi istri, namun masih banyak liku2 persoalan didalamnya. Kini siang- keh-po sudah diduduki orang- kita, sumoaymupun sudah menuntut balas dengan tangannya sendiri" lalu dengan singkat dia ceritakan muslihat siang Ceng- hong yang menipunya dengan ilmu paisu sehingga Kongsun Ki Jau- hwe-jip- mo.

sungguh senang, duka dan lega pula hati Bu-lim-thian-kiau, katanya:

"Menyenangkan juga cara sumoay menuntut balas, namun nasibnya sungguh harus dikasihani." Jilian Ceng-hun menimbrung:

"Tapi siang-sumoay boleh terhitung mendapat berkah setelah mengalami nasib buruk ini, Kita selanjutnya bisa berkumpul bersama didalam satu keluarga meski berlainan suku."

seperti diketahui Bu- lim-thian-kiau dari bangsa Kim, sesuai pedoman hidup kakek guru mereka untuk hidup rukun berdampingan secara damai di antara kelainan suku-2 bangsa.

Bu-lim-thian-kiau manggut2, "Benar, marilah lekas kita pulang melihat keadaan siang-sumoay . "

Berempat mereka berajak pulang, tiba ditelaga pencuci pedang, tiba2 terdengar percakapan seorang anak2 laki2 dengan ibunya, semua jaraknya masih jauh dan tak jelas soal apa yang mereka bicarakan setelah dekat terdengar anak laki2 itu berkata pula:

"Kabar-nya barusan datang seorang Hun-cici, apa ibu tidak menunggu dia?" ibunya menghela napas, ujarnya

"sebelumnya aku ingin bertemu dengan dia, tapi tak keburu lagi, kau saja yang sampaikan permintaan maaf ibu kepadanya."

"Lha. aku sendiri belum lagi kenal dengan Hun-cici ini."

"Anak bodohi kau tidak mengenalnya, paman pasti akan memberitahu kepada kau. Baiklah sekarang aku mau pulang, dua bulan lagi aku kemari"

Tampak seorang perempuan setengah baya beranjak keluar dari dalam hutan, seorang anak lak2 berusia sepuluhan tahun mengantarnya keluar, perempuan itu berkata:

"Siau-lam, kau pulanglah."

habis berkata dia putar tubuh terus lompat turun dari atas batu cadas, gerak Ginkangnya lincah enteng dan gemelai indah. "siapakah perempuan ini." tanya su-tun dengan suara berbisik,

Bu- lim-Thian- kiau menjawab dipinggir kupingnya: "Putri Thay Bi , istri Liu Goan-ka yang minggat

meninggalkan dia."

Bu su-tun melongo, kebetulan perempuan itu sudah melihat rombongan Bu su-tun yang mendatangi keruan mimik mukanya kikuk dan malu2, katanya:

"Kau nona Hun bukan ? sungguh kebetulan aku, aku hendak pergi."

"Tentunya kau adalah bibi ciok?Jing-yau cici amat kangen kepadamu, dia minta aku menyampaikan salamnya kepadamu. "

Perempuan ini memang putri Thay Bi dan Ni Kim-ling, tunangan Bing-bing Taysu di waktu remaja dulu, seperti diketahui karena menguatirka n putranya direbut Liu Goan-ka atau ayahnya, maka siau-lam - putranya itu dia titipkan kepada pamannya - Liu Goan- cong di Kong-bing-si.

setelah menyampaikan salam Hong-lay-mo-li, Hun Ji Yan bertanya:

"Apakah bibi tak bisa tinggal sehari saja."

"Jangan, Masih ada urusan harus cepat kuselesaikan di rumahi maaf ya, bagaimana keadaan Jing-yau?"

"Dia baik2 saja. Bu lan yang lalu setelah merebut siang- keh-po, kini sudah pulang kepangkalannya . "

"Apakah nona Hun hendak pergi ketempatJing-yau?"

"Tiga bulan lagi dia akan melangsungkan pernikahan, sudah tentu aku akan hadir dalam pesta pernikahan-nya."

"syukurlah, bila nona Hun dalam bulan ini bisa bertemu dengan jing- yau, tolong minta dia sebelum menikah mampir dulu kerumahku ada sedikit persoalan perlu kurundingkan sama dia." - agaknya ada sesuatu yang tidak enak dia jelaskan kepada orang lain, sudah tentu Hun Ji-yan tidak enak tanya tentang persoalan apa, maka merekapun berpisah.

"Ciok-kehiceng tidak jauh dari Thian-long-nia, lusa boleh kita mampir ke rumahnya untuk menemui mereka ibu dan anak." demikian ujar Bu su-tun.

"Lho, kalian mau ke Thian-long-nia?" tanya Bu-Lim-thian- kiau.

"He-tianglo, satu2nya sesepuh Pang kita yang masih hidup tinggal di Thian-long-nia, aku hendak minta dia turun gunung." ujar Busu-tun.

Bu- lim-Thian- kiau berkata:

"Kemaren ciok Eng datang, kabarnya di Thian-long-nia dia pernah melihat jejak Thay Bi dan Liu Goan Ka, untung dia tidak sampai kenangan mereka."

"Agaknya karena kedua orang jahat inilah, maka dia merasa perlu lekas kembali untuk membantu ibu-nya." demikian ujar Bu su-tun.

"Tujuan kita memang hendak ketempat He-tianglo di

Thian-long-nia, kebetulan kita bisa menumpas kedua jahanam tua itu, Dengan mendapat bantuan kita tentu tidak sukar Nilocianpwe menumpas mereka." demikian timbrung Hun Jiyan.

Waktu mereka tiba di Keng-bing-si, Bing-bing Taysu Liu Goan-cong dan Kongsun In sudah mengakhiri pelajaran yang mereka rundingkan maka Busu-tun berdua sebera mengha para maha guru silat ini, terutama dia menanyakan kesehatan Kongsun In.

Kongsun ln tertawa, ujarnya: "syukur mendapat banyak bantuan Bing-bing Taysu dan Liu-heng, penyakit tanpa daksaku ada harapan bisa sembuh. Dua bulan lagi yakin aku bisa menjadi wali pernikahan jing- yau. Kedatangan Bu-pangcu apakah membawa kabar apa?"

Bu su-tun lantas tuturkan tugasnya serta kejadian belakangan ini mengenai nasib siang Ceng-hong dan siang- keh-po, demikian pula keadaan Kongsun Ki yang Jau hwe-jip- mo.

Kongsun In menghela napas rawan, ujarnya:

"Anak jahanam itu memang keliwat takaran kejahatannya, adalah jamak kalau dia mengalami nasib sejelek itu" Bu su-tun diam saja,

Berhenti sebentar Kongsun ln kembali tanya : "Bagaimana keadaan siang Ceng-hong?"

Apa tujuan Bu-Lim-thian-kiau menyertai Bu su-tun ke Thian-long-nia? Bagaimana nasib He-tianglo yang direbek musuh.

Kuatkah Bu su-tun dan Bu-lim-thian-kiau membendung serbuan Bing-ciu sianjin, Ibun Hoa-kip, Thay Bi dan Liu Goan- ka? Barang apa yang mereka incar dari tempat kediaman He- tianglo?

(Bersambung ke Bagian 55)
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 54"

Post a Comment

close