Pendekar Latah Bagian 46

Mode Malam
 
Bagian 46

Untuk menghadapi gabungan kedua lawannya Kongsun Ki memang sedikit dibawah angin kini karena dicecar dengan sengit, Kongsun Ki tidak sudi adu jiwa, maka dalam seribu kesibukannya segera dia mencelat mundur berkelit, "Bret" namun tak urung ujung lengan bajunya terpapa2 katung oleh pedang Hong-lay-mo-li. Sebat sekali Hong-lay-mo-li dan Siau- go-Kian-kun mendapat peluang terus melompat jauh menerjang keluar.

Baru sekarang Kongsun Ki tersentak saciar tujuan orang mendesaknya mundur adalah hendak melarikan diri, sedikit terlambat Siau-go-Kian-kun dan Hong-lay-mo-li yang sama2 mempunyai gerakan cepat dan Ginkang tinggi sudah menerjang keluar dari arah rindang baris kedua yang dipasang Kongsun Ki.

Pembantu Kongsun Ki yang terpercaya adalah dua saudara Sek dan Hwi-liong-tocu, mereka kerja sama mempetahankan penjagaan ketat Siau-go-Kian-kun tiba2 bersuit panjang katanya:

"Gasak yang lemah lebih dulu"

Hong-lay-mo-li tahu maksudnya, gerakan mereka memang bisa serasi dan kerja sama baik sekali, langsung mereka menubruk kearah dua saudara Sek tanpa hiraukan Hwi-liong- tocu.

Dengan bantuan dua saudara Sek dan Hwi-liong-tocu sebetulnya kuat bertahan sedikitnya 7-8 jurus. Tapi sekarang Siau-go-Kian-kun btrdua khusus merabu dua saudara Sek saja, sudah tentu mereka tidak mampu berbuat banyak?

Dengan mengetuk terus membuka kipasnya Siau-go-kian kun bikin perpaduan golok kanan kiri dua saudara sek yang ketat dan rapat terpencar kedua sisi. sehingga pertahanan dan perpaduan kekuatan mereka pecah dan putus.

Memangnya letak kelihayan ilmu golok mereka terletak pada perpaduan yang ketat dan rapi serta aneh ini, kalau dinilai tingkat ilmu silat perseorangan mereka belum mencapai tingkat kelas satu. Maka dengan usaha siau-go-Kian-kun membagi kedua lawannya kedua arah yang berlawanan sekaligus memencar kekuatan pertahanan mereka, sehingga Hong-lay-mo-Li sempat menyelinap maju, "sret" pedangnya memetakan tiga kuntum sinar pedang, tahu2 Hoan-tiau-hiat sekjoh di lutut, Koan-goan-hiat dipergelangan dan Jian-kin- hiat dipundak tertutuk, seketika roboh dengan lumpuh.

Hwi-Liong-tocu memang jago kelas satu, disaat siau-go- Kian-kun menyerang sek Khong, diapun menghantam kepada siau-go-Kian-kun, namun siau-go-Kian-kun tidak hiraukan pukulan orang begitu menyampuk pergi golok sek Khong, dengan sejurus Kim-na-jiu-hoat yang lihay dia pegang dan pelintir pergelangan tangannya serta meringkusnya.

Maka terdengarlah "Blang" pukulan Hwi-liong-tocu dengan telak menghantam punggung siau-go-Kian-kun dengan keras, siau-go kian-kun terhuyung sempoyongan kedepan dua langkah sebaliknya Hwi-liong-tocu terpental balik dan terbanting keras dengan kaki tangan menghadap langit sejauh tiga tombak.

Agaknya Iwekang slau-go-Kian-kun beberapa lipat lebih kuat dari Hwi-liong-tocu, maka dia berani menerima pukulan orang. Kalau dia tidak terluka apa-apa, sebaliknya Hwi-liong- tocu terbanting pusing dan pandangan ber-kunang2, merangkak bangunpun tidak mampu lagi.

Menurut perhitungan Kongsun Ki ketiga pembantunya dapat menahan sebentar sehingga dirinya sempat mengejar datang. Tak kira siau-go-Kian-kun gunakan cara yang begini lihay untuk meruntuhkan semangat mereka, malah sek Khong ditawannya pula.

Keruan Kongsun Ki mencatos gusar, damratnya seperti kebakaran jenggot:

"jangan harap kalian bisa keluar dengan hidup Letakkan orangku dan menyerah, mungkin aku ampuni jiwa kalian."

sembari bicara langkah kakinya bagai terbang. siau-go-Kian-kun angkat sek Khong tinggi- terus memutarnya beberapa lingkaran, bentaknya:

"orang she Hoa berlaku terus terang, siang-keh-po pergi datang sesuka hatiku, buat apa harus pakai sandera kurcaci segala? Nah kukembalikan tawananku, sambutlah" diiringi hardikannya, dia lemparkan badan sek Khong.

Betapa tajam pandangan Kongsun Ki, dia tahu siau-go- kian-kun melempar dengan menggunakan ilmu meminjam benda menyalurkan Iwekang tingkat tinggi, badan orang dia anggap senjata rahasia untuk menyerang dirinya.

Kalau dia mendorong dengan kekuatan pukulan tangan, jiwa sek Khong pasti tamat oleh bentakan tenaga dahsyat sek Khong dipandangnya sebagai pembantu setia yang terpercaya, tujuan Kongsun Ki hendak mengambil hati anak buahnya, maka terpaksa Kongsun Ki merelakan mengorbankan sedikit tenaga murninya untuk menyambut badan sek Khong.

Dan karena rintangan2 ini, Kongsun Ki sudah ketinggalan sepuluhan tombak oleh siau-go-Kian-kun, saking gusarnya Kongsun Ki membentak:

" Lepas panah"

Tatkala itu Hong-lay-mo-li dan siau-go-Kian-kun kebetulan tiba ditengah lapang yang dikelilingi gulungan anak panah hujan lebat dari empat penjuru, semuanya direndam racun jahat lagi.

saking kesenangan Kongsun Ki ter-loroh2, barusan dia menangkap badan sek Khong, walau dia sendiri harus terkuras sedikit hawa murninya, namun terasa-kan pula olehnya bahwa tenaga siau-go-kian-kun banyak berkurang agaknya lawanpun terluka rada parah-

Maka saking kegirangan Kongsun Ki menyangka mereka sudah masuk perangkap tinggal meringkus saja kalau tidak terpanah mampus. Hong-lay-mo li putar kebut dan pedang untuk melindungi badan, sementara siau-go-Kian-kun gunakan kipasnya melindungi muka, panah2 beracun yang menyentuh badannya sama rontok- itulah ilmu Can-ih-cap-pwe-tiat tingkat tinggi-

Untuk sementara memang mereka dapat bertahan tidak terluka, namun karena harus melayani hujan panah sehingga ginkang mereka sedikit terpengaruh, maka jarak mereka dengan Kongsun Ki cepat sekali menjadi dekat sementara hujan panah tak berhenti ilmu Gan-i-cap-pwe-tiat paling mengurus tenaga, sedikit lena bukan mustahil mereka terluka.

Lekas sekali jarak kedua pihak tinggal tiga tombak. Kongsun Ki menyeringai dingin: "Tidak mau menyerah? sumoay, terutama wajahmu nan ayu jelita, sungguh sayang kalau mampus"

Tiba2 Hong-lay-mo-li membentak:

"Kongsun Ki, kalau kau tidak bertobat dan mengubah hiidupmu, lain kali kita datang kembali akan kupenggal batok anjingmu."

Kongsun Ki bahak2.

"Lain kali kalian masih ingin datang lagi? Haha, apakah bukan mimpi?"

tak nyana belum habis dia bersuara, Tiba2 Hong-lay-mo-li yang lari tiba dibawah sebuah gunungan menyelinap hilang, semula gunung itu terang tiada guanya- namun begitu Hong- lay-mo-li tempelkan punggungnya, tiba2 dia merunduk masuk, lekas sekali siau-go-kian-kun ikut lenyap dibelakangnya.

Waktu Kongsun Ki mengejar tiba dibawah gunungan itu didengarnya suara krekat-kreket, gua itu sudah tertutup rapat pula.

Keruan Kongsun Ki mencatos gusar, teriaknya: "Keparat, melihat setan belaka" dengan sengit dia menghantam beberapa kali, sehingga batu gunung hancur beterbangan, namun betapapun dahsyat kekuatan pukulannya takkan kuat merogohkan sebuah gunungan batu yang kokoh kuat? setelah pikiran tenang kepala dingin baru Kongsun Ki mencelos hatinya, batinnya:

"Kiranya gunungan ini masih ada rahasianya aku yang jadi penguasa disini tidak tahu apa£, mereka malah tahu begini jelas"

Kiranya waktu memberikan peta siang-keh-po, siang-keh- su-lo ada memberitahu akan rahasia yang di-bangun oleh majikan tua mereka. Maka tanpa sangsi Hong-lay-mo-li lari keluar dari gua dibawah tanah ini dan tiba dipuncak Hou-loan- san, karena diduga tanpa tuntunan seorang tokoh kosen Kongsun Ki takkan berani memburu mereka, maka dengan tenang dan tentram mereka sembunyi dalam hutan istirahat sambil menyembuhkan luka2 dalam dan mengusir hawa racun.

setelah masing2 menelan Pi-sia-tan buatan Liu Goan-cong semangat Hong-lay-mo-li lebih segar, namun-hatinya mendelu, katanya menghela napa2:

"Tak nyana siang Ceng-hong berubah demikian rupa." "Kukira dalam hal ini pasti ada latar belakang yang tak kita

ketahui." demikian kata siau- go- kian- kun.

yang benar siang Ceng-hong bukan seorang gadis yang takut mati, bahwa dia bersikap demikian lantaran tidak ingin merembet dan bikin susah mereka.

Tapi bahwa dia rela menikah dengan Kongsun Ki memang mempunyai maksuds penting, maksud penting apa Hong-lay- mo-li dan siau-go-kian-kun yang cerdik pandaipun takkan pernah membayangkan seluk beluk hal ini, biarlah kita ceritakan dibagian belakang. Tujuan mereka ke siang-keh-po boleh dikata gagal total terpaksa dengan rawan hati Hong-lay-mo-li iringi siao-go-kian- kun menuju ke Tay Toh- kota raja negeri Kim.

Kepandaian mereka tinggi, berpengalaman lagi maka sepanjang jalan mereka tidak pernah mengalami kesulitan, Disaat mereka tiba di Tay toh: musim semipun kebetulan sudah mendatang.

satu hari sebelum memasuki Taytoh siau-go-kian-kun keluarkan dua lembar kedok muka, hasil rampasan dari seorang maling cabul pemetik kembang soa-tam-cu yang dia hajar, dengan mengenakan kedok muka ini, maka asal usul mereka jadi tidak diketahui orang lain,

Taytoh merupakan kota raja yang dibangun dengan segala kemewahan oleh pemerintah Kim, bukan saja merupakan pusat pemerintahan menjadikan pusat perdagangan kebudayaan dan lain2.

Lalu lintas yang keluar masuk kota tak terhitung banyaknya, dengan mengenakan kedok muka, siau-go-kian- kun berdua mencampurkan diri dalam rombongan pedagang beras menyaru jadi suami istri dengan gampang masuk ke Taytoh.

Langsung mereka mencari hotel kecil dijalanan sepi dan menetap disana, setelah makan malam pura2 mencari angin mereka keluyuran keluar menuju ke gedung kediaman Bu-lim- thian-kiau yang dinamakan Ki-ong-hu.

Ki-ong-hu terletak disebelah timur, daerah yang tidak begitu ramai namun malam ini sungguh luar biasa sekali ramainya- Baru saja mereka tiba diseberang jalan yang berjajar dengan Ki-ong-hu dari kejauhan sudah kelihatan kembang api berpijar dan tetabuan musik mengalun tinggi, tambur dan gembreng ditabuh ber-talu2. Manusia berlalu lalang menuju kearah timur semua berdesakan kedepan Ki- ong-hu. Waktu mereka tiba disana kebetulan suara tambur dan gembreng ditabuh pula dengan ramai memekakkan telinga, orang disekitarnya sama bertepuk tangan seraya bersorak:

"Nah itulah tarian naga sudah mendatang- Ha, jauh lebih ramai dan megah dari cioan-siau"

Tampak sebuah liong-liong panjang tiga tombak berwarna kuning mas tengah ditarikan keluar dari istana, badan naga atau Liong ini dilapisi kain sutra tebal yang mengkilap, sementara sisiknya terbuat dari kepingan emas murni, bulu kumisnya terbuat dari batu karang laut yang memutih, sementara matanya terbuat dari jamrut sebesar buah apel, dibawah pancaran tengloleng yang dibawa puluhan gadis-jelita dikerek tinggi diutus galah tengah berjoget mendatangi dimainkan tiga puluh enam laki2, tak ubahnya seperti naga yang sedang menghibur diri selulup timbul ditengah samudra saja.

Belum lagi permainan liong- liong disini berakhir, se- konyong2 terdengar pula gembreng dan tambur ber-talu2 diiringi musik dan trompet, tampak seekor binatang Kilin yang besar tengah menari dan seperti melompat diujung jalan sana, kaki depannya terangkat mulutnya tenganga keudara, mulutnya mencaplok sebutir bola bundar yang kemilau besar itulah batu permata sebesar kepelan tangan, dua biji matanya mencorong terang seperti hidup.

Waktu Hong-lay-mo-li dan siau-go-kian-kun menegasi, tampak Kilin ini dimainkan oleh 24 laki2 kekar, setiap orang mengenakan pakaian seragam yang bersisik terbuat dari kulit binatang setiap orang memakai sabuk mengkilap putih, pada bagian tengah sabuk-nya dihiasi sejalur bintik2 kuning yang kemilau pula, kopiah yang mereka kenakanpun dari kulit2 binatang yang berbulu panjang, demikian pula sepatu panjang mereka penuh diliputi bulu2 lebat yang panjang.

Dilihat dari kejauhan, bentuk Kilin ini sungguh amat angker tak ubahnya binatang yang benar2 hidup dan gagah. Kalau seragam ke24 laki2 itu aneh tidak perlu diherankan, yang hebat adalah cara mereka main, langkah kakinya serasi dan terkontrol, lincah dan cekatan, tampak Kilin yang satu ini setiap berganti langkah selalu diiringi bunyi musik yang berlainan pula, kadang2 seperti lompat diangkasa terbang bebas, kadang2 mendekam dibumi dan bergelindingan.

Begitu suara tambur berdentam seru dan beruntun seperti hujan derasnya Kilin itu lantas berguling2 di-tanah lapang yang luas itu- namun setiap gerak gerik pelakunya tiada satupun yang kacau atau ketinggalan semuanya dapat berlaku dengan baik, demikian sisik perak dan emas serta perhiasan mahal yang berada di-atas Kilin tiada satupun yang copot atau jatuh, 24 orang seperti tunggal begitu hebat dan bagus sekali permainan mereka sampai penonton terpesona dan kabur pandangannya-

Diam2 Hong-lay-mo-li dan siau-go-kian-kun kaget dan kagum, karena dari permainan Kilin ini, dapatlah dibuktikan bahwa ke 24 orang pemain ini pasti memiliki kepandaian silat yang setingkat tingginya, pastilah mereka adalah pelatih2 silat yang pilihan didalam pasukan Gi-lim-kun yang dibawahi Wanyan Tiang-ci.

se-konyong2 terdengar sempritan berbunyi, maka tambur dan gembreng segera berbunyi gencar lebih gencar dari tadi, rakyat yang berjubel2 menonton se-rempak berseru gegap gempita:

"Nah itulah, Ngo-hong-tian-yang telah tiba"

Tampak dari dalam istana Ki-ong-hu dilarikan keluar seekor burung Hong, setiap burung Hong dari ekor sampai keujung kepalanya ada 7- kaki tingginya, bulu burung dibuat dari anyaman mutiara dan lempengan2 emas dan perak, bagian dalamnya kosong dan disana ada dipasang puluhan buah lampu istana, setiap lampu istana ini dibuat dari kaca yang diletakkan dengan tempat2 yang serasi didalam perut burung sehingga dari luarnya kelihatan cahaya terang yang tembus dari luar.

yang menarikan burung2 Hong ini adalah 50 gadis2 cantik, pilihan dari pada biti2 istana, dengan langkah ringan gemelai, mereka melarikan ke 5 burung Hong ini seiring dengan gerakan2 tangan dan kaki mereka, burung Hong itu bisa bergerak seperti terbang mematuk- manggut, menggerakan ekor mirip sekali dengan burung hidup, kadang2 seperti pentang sayap terbang diangkasa-

suara gembreng tambur dan trompet kini berubah kalem dan solo, lagu yang dinyanyikan adalah irama penyambutan tamu dengan mendampingi naga emas burung Hong ini menari bersama, maju kearah mana menyongsong kedatangan sang Kilin, Rakyat yang melihat keramaian serempak bersorak sorai bertepuk tangan semua sama ber- teriak2:

"Burung Hong berdampingan naga menyambut kedatangan Kilin pengantar putra, tak nyana ada juga orang yang dapat memikirkan acara sebagus ini. Em. mungkin putra raja sendiri yang kawinpun tidak akan semeriah ini-"

Kebetulan Hong-lay-mo-li berada tidak jauh dari seorang tua yang ikut bersorak-sorai, segera dia ber-tanya:

"Apakah istana sedang mengadakan perayaan perkawinan?"

"Tentu sedang merayaan perkawinan kalau tidak masakah begini ramai" sahut orang tua itu.

seorang disebelahnya segera menimbrung:

"Kalian dari luar daerah bukan masalah pernikahan yang menggemparkan seluruh kota raja inipun tidak kau ketahui-"

siau-go-kian-kun tertawa- sahutnya: "Memang kami baru datang dari desa, kebetulan bisa melihat keramaian ini, beruntungan kita bisa saksikan atraksi yang jarang ada ini. Memangnya pangeran yang manakah yang menikah?"

"yang mana lagi, sudah tentu adalah Tam-pwecu" sahut orang tua itu,

"bukankah kau lihat Bagainda rajapun sampai mengantar Kilin itu? Kecuali Tam-pwecu yang satu ini, siapa lagi yang punya muka untuk mendapat penghargaan setinggi ini?"

"setahuku didalam Ki-ong-hu ada beberapa pwe-cu, benar tidak? Agaknya Tam-pwecu yang ini rada luar biasa, lalu siapakah dia sebenarnya?" tanya siau-go-kian-kun.

orang disebelah itu tertewa, sahutnya:

"Nama besar Tam pwecu sudah diketahui rakyat dikolong langit Masa kau belum pernah dengar Bu-lim-thian-kiau? yang menikah hari ini adalah Bu- lim-thian- kiau- "

Kuatir orang kurang jelas, siorang tua segera menambahkan:

"Kau ini orang desa, mungkin tidak pernah belajar silat, mungkin memang tidak tahu siapa itu Bu-lim-thian-kiau bukan? Tapi Tam-pwecu yang menentang raja lalim yang terdahulu itu. tentunya sudah kau ketahui bukan?"

"o, kiranya begitu, entah nona keluarga manakah yang mendapat berkah dapat dipersunting oleh Tam-pwecu?"

"Wah siapa mempelai perempuannya aku sih tidak tahu. Aduh, ngobrol saja sampai tidak sempat nonton lagi. Nah bagus sekali tarian itu." kata orang disebelah dengan malu2.

"Benar, tontonan begini baik kapan bisa kita nikmati, biarlah aku mendesak kedepan sana supaya lebih jelas-" demikian kata siau-go-kian-kun. setelah mendesak kesebelah depan, diantara bunyi musik yang gaduh itu, dengan ilmu mengirim suara gelombang panjang siau-go-kian-kun berkata kepada Hong-lay-mo-li:

"Kebetulan sekali kedatangan kita. Ih-tiong sedang merayakan pernikahan. Kau kira siapa gerangan mempelai perempuannya? "

"Ah- masa perlu ditanya lagi, sudah tentu jilian Ceng-hun adanya." ujar Hong- lay- mo-li-

"Apa kau tidak merasa heran?" tanya siau-go-kian-kun. "Memangnya aku sudah merasa perayaan pernikahan ini

rada ganjil. Paman Ih-tiong dan Wanyen Tiang-ci tahujelas hubungannya dengan yalu Hoan-ih. Kini yalu Hoan-ih yang memberontak itu menduduki gunung angkat diri menjadi raja, berusaha menegakkan kembali kerajaan Liau.

Kekuatan pasukan yalu Hoan-ih merupakan laskar rakyat yang paling besar kekuatannya difron belakang kerajaan Kim yang menentang politik perangnya.

Tapi malam ini jilian ceng-hun justru kawin dengan Tam Ih-tiong diistana dengan raja dan kerabat istana yang menyiapkan segala kemewahan ini, jikalau tidak mempunyai maksud2 tertentu, Wanyan yong raja yang baru ini masakah sudi melakukan semua ini? Kejadian ini benai2 terlalu sulit dipercaya."

"Cobalah kita pikirkan dari arah lain, kemungkinan pula penganten perempuannya bukan jilian ceng-hun atau memang inilah hanya muslihat Wanyan yong untuk merangkul Bu- lim- thian- kiau? "

Hong-lay-moli geleng2, katanya " Kedua perumpamaanmu tidak mungkin terjadi. Tam Ih-tiong mana sudi kawin dengan sembarang orang, betapapun besar kebijaksanaan wanyan yong, takkan mungkin membiarkan seorang musuh yang memiliki kekuatan pasukan yang menentang pemerintahannya, setiap raja tiada yang tidak selalu menguatirkan orang lain kini kakak istri yalu Hoan-ih menjadi istri Bu-lim-thian-kiau, menetap dikota raja, apakah dia tidak kuatir Bu-lim-thian-kiau menjadi bisul berbahaya diatas badannya?"

"Baiklah, kedatangan kita malam ini memang kebetulan perayaan ini pasti diteruskan sampai pagi hari. Betapapun kita harus masuk menengok keadaannya, kita bujuk Ih-tiong dan Ceng-hun untuk selekasnya pergi saja." demikian kata siau- go-kian-kun.

"Diluar istana keadaan begini ramai, kukira didalam istana pasti tidak kurang ramainya, malah mungkin keramaian ini terus berlangsung sampai pagi. Di-bawah sorot mata banyak orang, betapa pun tinggi Ginkang kita, mana bisa masuk dengan leluasa."

Tapi siau-go-kisn-kun tidak kehabisan akal,

"Marilah kau ikut aku." katanya Tiba2-Tatkala itu kebetulan banyak pejabat yang sedang mohon diri untuk pulang, maka pintu istana dibuka lebar mengantar para tamu keluar beberapa orang pembantu istana berbondong- keluar mencarikan jalan dengan menabuh gembreng, namun karena permainan liang-liong dan Kilin serta burung Hong sedang memuncak sehingga jalanan di luar penuh sesak berjubel2, sehingga suasana sedikit kacau.

siau-go-kian-kun sengaja mendesak maju kedepan dia pura2 tak sempat minggir didepan pasukan kehormatan yang berusaha membuka jalan dan jatuh terduduk- Dua orang yang terdepan dari pasukan pembuka jalan ini segera membentak sambil angkat cambuk-

"Hayo lekas minggir."

Hong-lay-mo-ili pura2 ter-gopoh2 memburu maju menarik siau-go-kian-kun, dengan langkah memburu lekas siau-gokian- kun berdiri menyingkir melalui samping badan kedua orang ini. malah hampir saja dia membentur badan mereka. Melihat Hong-lay-mo-li berparas ayu, baru kedua orang itu tidak turun tangan hanya mulutnya saja menggerundel dengan bahaya Nuchen yang tidak dimengerti.

Hong-lay-mo-li kenal orang yang sedang mengantar tamu adalah saudara tua semarga dengan Bu-lim-thian-kiau yaitu Tam si-ing, kebetulan sorot mata Tam-si-ing sedang tertuju kearah sini, walau mereka mengenakan kedok muka, namun potongan badannya tidak mungkin berubah-

Tiba2 Tam si-ing seperti sudah kenal kedua orang ini, tiba2 bercekat hatinya. Tapi dia sedang mengantar seorang pembesar tinggi sudah tentu tidak enak berhenti mencari tahu tentang diri mereka.

Apalagi siau-go-kian-kun dan Hong-lay-mo-li berpakaian rakyat jelata seperti rakyat negeri Kim umumnya, betapa banyak orang yang pernah dijumpai pada hari ini. tentunya tidak perlu dibuat heran. Tapi hatinya masih merasakan "keanehan"pada kedua orang ini. 

Dikala hatinya me-nimang2, sementara siau-go-kian-kun berdua cepat sekali sudah menyelinap masuk diantara gerombolan orang banyak-

setelah memasuki sebuah gang kecil dan jauh dari keramaian orang banyak Hong-lay-mo-li baru menghela napa2 lega, katanya tertawa:

"Untung Tam si-ing tidak mengenali kita. em. bagaimana kita gunakan kedua benda ini?"

siau-go-kian-kun keluarkan dua lencana tembaga yang mengkilap, satu dia serahkan kepada Hong-lay-mo-li, katanya:

"inilah tanda pengenal bagi setiap orang yang diperbantukan didalam istana, asal bisa menunjukan lencana ini. penjaga akan membiarkan kita masuk" kiranya waktu bersentuhan dengan dua orang tadi, siau-go- kian-kun lancarkan ketangkasan tangan mencuri kedua lencana pengenal ini dari tangan kedua orang tadi.

Untuk menghindari kecurigaan maka mereka berputar kebelakang dan masuk melalui pintu belakang, denah bangunan Ki-ong-hu ini meliputi beberapa puluh hektar, depan belakang merupakan dua jalan raya besar, sebelum masuk siao-go-kian-kun berdua doos petasan kembang api, dihadapan penjaga pintu dia pakai alasan yang masuk akal sehingga leluasa sekali masuk kedalam istana.

Ternyata didalam istanapun ramai sekali, dimana2 ada panggung pertunjukan opera. ruang2 besar kecil penuh sesak dihadiri orang2 yang sedang makan minum, suara musik gembreng dan tambur terdengar di-mana2 seperti pasar malam saja layaknya, ramainya bukan main.

Diam2 Hong-lay-mo-li mengeluh:

" Celaka, jikalau mereka merayakan sampai pagi cara bagaimana kita bisa menemui Bu-lim-thian-kiau?"

"Kini sudah kentongan ketiga, orang2 yang bikin ribut dikamar penganten tentu sudah bubar. Aku tahu tempat tinggal Ih-tiong, biasanya dia suka menyepi diri, kamarnya berada dibilangan paling belakang ditengah taman kembang. Kukira kamar penganten malam ini pasti berada disana hayolah kau ikut aku saja."

maka dengan melewati gerombolan orang banyak yang sedang melihat opera, tanpa diketahui orang akhirnya mereka sampai dipekarangan tengah-

Diapit oleh dua gunungan yang megah lapat2 kelihatan sebuah bangunan berloteng kecil taman kembang disinipun dipajang dan dihiasi lampu2 warna warni, pajangan dan suasana didalam loteng kecil itu lebih semarak lagi-

siao-go-kian-kun berbisik tertawa: "entah mereka sudah tidur belum? Tak nyana kita bakal datang sebagai tamu yang tidak diundang untuk bikin onar di kamar penganten mereka"

"Memangnya," ujar Hong-Lay-mo-li,

"mungkin mimpipun mereka tidak menyangka bakal kedatangan kami?"

Kalau mereka tengah memikirkan keadaan Bu-lim-thian kiau. Bu-lim-thian-kiau saat manapun sedang mengenang dan merindukan mereka.

Bu lim-thian-kiau dan jilian ceng-hun sudah masuk kekamar penganten, orang- yang tadi menggoda sepasang mempelai sudah bubar semuanya. Tak pernah terpikir oleh Bu-lim-thian- kiau bahwa perkawinannya bakal diadakan semeriah ini, waktu dia tidak suka keramaian, terpaksa tadi dia harus melayani ucapan selamat para tamu sampai tangan pegal kaki lemas dan penat setengah mati.

Kini setelah kembali ke-kamar, baru dia merasa lega, pelan2 Bu-lim-thian-kaiu menyingkap kerudung merah yang menutupi muka jilian ceng-hun, katanya tertawa:

"Adik Hun, bikin kau capai saja."

sedikit meram mata jilian ceng-hun, sahutnya tertawa: "Kaupun sudah letih, h m, sungguh tak terkira. Aku bakal

menikah diistana, sekarang aku masih merasa mengambang

diantara mega, entah apakah ini sebuah impian?"

Bu-Lim-thian-kiau mengelus rambutnya- tanyanya: "Apa kau senang?"

jilian Ceng-hun angkat kepalanya menatapi muka Bu-lim- thian-kiau yang tampan ganteng, dengan puas dia manggut katanya: "Malam ini adalah hari bahagia kenapa aku tidak senang.

Terus terang pernikahan semewah ini kurang mencocoki seleraku, aku kuatir tak-kan bisa betah dan krasan hidup didalam lingkungan istana yang dibatasi adat dan peraturan."

Bu-lim thian-kiau manggut2, katanya:

"Akupun tidak akan tinggal lama di istana, setelah malam ini, kita bisa minggat secara diam2, terjun kembali ke Kangouw."

"Baik sekali" ujar jilian ceng-hun,

"kita bisa menyambangi jing-yau cici-"

Bu-lim-thian-kiau jadi ter-mangu2 terkenang akan hubungan intimnya dulu dengan Liu jing-yau yang pernah dia puja2 namun takdir memang sudah menghendaki perjodohan orang tidak bisa dipaksakan, baru sekarang pula dia lebih memahami akan kebenaran ini, selanjutnya dia hanya bisa pandang mereka sebagai teman karib, bertekad pula untuk mengasihi dan mencintai sang istri sepenuh hati-

"Tam-long" bisik jilian Ceng-hun, "apa yang sedang kau lamunkan?" Bu-lim-thian-kiau tertawa, katanya:

"Aku sedang pikir, bila Hoa Kok-ham dan Liu jing-yau bisa hadir dalam pernikahan kita ini, betapa akan menyenangkan. entah mereka sudah menikah belum? sebagai penganten baru kita menyambangi mereka entah betapa mereka akan kegirangan."

"Entah terlalu banyak minum arak. kepalaku terasa sedikit pusing. Tam-long, bagaimana perasaan-mu?"

"Takaran minumku jauh lebih besar. em, ya akupun rada pusing, marilah lekas istirahat." Tiba2 terbayang perasaan hambar dan gugup pada muka jilian ceng-hun, katanya:

"Aku mendapat firasat se-olah2 ada sesuatu yang ganjil.

Tam-long, jangan keburu tidur"

Bu-lim-thian-kau melengak, katanya:

"Apa yang ganjil?"

sesaat diapun mulai menyadari, terasakan sesuatu yang memang janggal pada dirinya.

"Tam-long, ingin aku mohon petunjuk ilmu silat kepadamu.

Cara bagaimana kau mengerahkan Iwe-kang dalam ajaran Pan-yok-ciang-lat? Coba kau mainkan supaya kulihat."

Dimalaman penganten permintaan jilian ceng-hun tentunya keliwat batas dan tidak masuk akal, namun Bu-Lim-thian- kiaupun sudah merasakan adanya firasat jelek, maka dia tidak menaruh prasangka aneh terhadap permintaan jilian ceng- hun.

Dengan ragu2 dan bimbang Bu-lim-thian-kiau ber-kata: "Baiklah, biar kumainkan sebentar." sembari bicara

sekenanya dia menyamber sebuah mainan singa2an yang terbuat dari tembaga untuk menindih kertas atau surats, begitu dia kerahkan tenaganya, "Tang" singa tembaga itu jatuh berkerontangan, kiranya karena Bu-lim-thian-kiau kerahkan tenaga meremas singa tembaga ini, jarumnya terasa sakit luar biasa tanpa sadar segera dia lepaskan cekalan-nya.

Kejadian luar biasa yang tak mungkin terjadi ini sungguh amat mengejutkan sekali, seketika mereka beradu pandang dengan melongo dan air muka pucat.

Maklumlah betapa tinggi dan kuat Iwekang Bu-lim-thian- kiau, yang dia gunakan adalah Pan-yok-ciang-lat yang mampu membelah pilar, singa tembaga itu sebetulnya bisa dia remas hancur namun singa tembaga itu tidak kurang suatu apa, malah jari2 sendiri yang kesakitan.

Lama sekali baru Bu-lim-thian-kiau seperti tersentak sadar dari kebingungannya, teriaknya kaget:

"Adik Hun, memang kurang benar kita sudah ditipu dan dipermainkan. Aneh, bagaimana kita bisa dipermainan begini rupa?"

Pucat pias muka jilian Ceng-hun, katanya:

"Ternyata Iwekangkupun tak mampu kukerahkan, coba kau pikir, cara bagaimana kita dikerjai orang? Mungkinkah arak yang kita minum tadi arak beracun?"

"Tidak mungkin?" gumam Bu-lim-thian-kiau,

"Ma-sakah pamanku tega meracuni aku? Dan lagi kalau racun arak masuk keperut, aku akan segera merasakan.."

Begitulah sekian lamanya mereka ber-pikir2 dan tidak habis mengerti kenapa tenaga mereka hilang tanpa keruan paran, pada halarakyang mereka minum juga disuguhkan dan diminum tamu2 dan paman mereka, malahan Thay-kam (sida2) utusan yang mewakili raja memberi selamatpun minum arak dalam satu poci yang sama.

Tapi kenyataan mereka berdua sama2 kehilangan tenaga, kenyataan yang tak bisa dibantah ini cara bagaimana harus dibuktikan? Disaat mereka keheranan dan tidak habis mengerti itulah, tiba2 terdengar langkah kaki orang mendatangi.

Dengan terbelalak pucat dan setengah menjerit jilian ong- hun berkata:

"Tam-long, mungkinkah sebelum kita mengenyam hidup bahagia elmaut sudah merenggut jiwa kita lebih dulu, mereka..."

Bu-lim-thian-kiau hanya tertawa getir, katanya: "Sekarang kita sudah sama kehilangan kepandaian silat, kalau benar ada orang hendak merenggut nyawa kita apa pulayang dapat kita lakukan."

langkah kaki sudah tiba didepan pintu, belum lagi mereka mengetuk pintu, Bu-lim-thian-kiau malah membukanya lebih dulu.

Waktu Bu-lim-thian-kiau angkat kepala, tampak yang datang adalah pamannya yang tadi menjadi wali pernikahannya, jendral besar yang berkuasa dalam tampuk kemiliteran Tam To-hiong. seorang lain adalah Wanyan Tiang- ci yang mewakili Baginda raja menyampaikan selamat pernikahannya, dengan kedudukannya sebagai paman raja dan komandan Gim-lim-kun.

Walau Bu-lim-thian-kiau sudah siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal menimpa dirinya, tapi ditengah malam buta ini pamannya sendiri datang kekamar pengantennya sesaat dia menjadi berdiri melongo dan kaget.

sejenak Bu-lim-thian-kiau melenggong, lalu sapanya: "Hong-siok Tayjin, paman, sungguh tak nyana malam

selarut ini kalian masih sudi bertandang kemari maaf siautit

tidak menyambut semestinya." Tam To-hiong berkata:

"Bagus kalian belum tidur, aku memang ada kabar gembira yang perlu kusampaikan kepadamu."

Wanyan Tiang-ci menimbrung:

"Benar, Tam-siheng, aku kemari untuk menyampaikan selamat kepadamu"

Bu-lim-thian-kiau menahan amarah hatinya, katanya: "Terima kasih akan kehadiran Hong-siok dalam perjamuan

tadi, demikianpua anugrah yang diberikan Baginda takkan kulupakan selama hidup- Tapi selamat pernikahan ini tadi sudah kuterima, masih ada ucapan selamat apa lagi?"

"setelah menikah apa kau tidak memikirkan usaha demi kehidupan keluarga? Betapa pentingnya hal ini, tapi kau tidak usah kuatir, untuk ini Baginda raja sudah mengatur bagimu, masakah tidak patut aku memberi selamat pula kepadamu?"

"Apa maksud Hong-ciok (Paman raja) aku tidak tahu dan tidak perlu tahu- Paman, ada sebuah hal aku ingin tanya kepadamu namun ini bukan soal yang menggembirakan." kata Bu- lim-thian- kiau.

"Aku sudah duga kau akan mengajukan pertanyaan ini. Tentunya kau sudah menyadari bahwa ilmu silatmu punah bukan? inikah satu hal yang menggembirakan bagi dirimu, bagi keluarga Tam kita, semuanya akan membawa manfaat yang berguna."

Memutih muka Bu-lim-thian-kiau, katanya:

" Kalau demikian, jadi paman memang sengaja mengatur tipu daya ini untuk mencelakai aku?"

Tam To-hiong menarik muka, katanya:

"Aku bertindak untuk kebaikanmu siapa bilang mau mencelakai kau malah?"

"Baik atau buruk kita kesampingkan dulu. Aku hanya ingin tahu arak racun apa yang kuminum? em. Baginda adalah raja dari satu negara, paman adalah kepala dari satu keluarga, jika lalu raja dan paman menghendaki aku bunuh diri, aku akan mati tanpa menyesal Tapi Ceng-hun tidak berdosa, kuharap kalian suka memberi obat penawarnya."

"Tidak," sela jilian ceng-hun,

"Kita suami istri tidak dilahirkan pada tahun bulan dan hari yang sama, namun biarlah mati pada saat yang bersamaan, itulah pengharapanku yang terakhir-" "Kalian jangan terlalu ngelantur soal mati segala. Tiada orang yang hendak mencelakai kalian, arak yang kalian minumpun bukan arak racun" kata Tam To-hiong. Bu-lim- thian-kiau setengah percaya katanya:

"Apa benar bukan arak racun? Kenapa..." Wanyan Tiang- ci tertawa timbrungnya:

"Kenapa ilmu silatmu punah? Kau tidak usah gelisah, marilah duduk, biar kujelaskan. Arak yang kau minum tadi memang bukan arak racun. Bagi orang biasa memang tidak menimbulkan reaksi apa2, kalau tidak masakah pamanmu berani minum, demikianjuga masakah kami berani beri ong- kongkong minum? Coba kau pikir usia ong-kongkong sudah setua itu- tidak pernah latihan silat lagi. kalau dia minum arak racun, meski ada obat penawarnya, jiwanya juga tak bisa diselamatkan lagi-"

Tergerak hati Bu-Hm-thian-kiau, katanya:

"Bagi orang biasa tidak menimbulkan reaksi sebaliknya untuk orang persilatan apa pula reaksinya? o, ya, Hong-siok Tayjin, kuingat tadi kau menghindar diri waktu kusuguh arak dari poci arak yang sama."

"Tam-siheng memang pintar," ujar Wanyan Tiang-ci, "tebakanmu sudah benar sebagian, kagum sungguh

kagum. Arak yang kau minum akan menimbulkan reaksi lain

bagi seorang jago silat yang memiliki Iwekang tinggi."

"Reaksi apa yang akan timbul padaku?" tanya Bu-lim-thian- kiau dengan alis tegak-

"Arak itu tidak beracun, namun memang ada kami beri sedikit puyer yaitu obat aneh yang dinamakan Hoa-kang-san, obat yang dulu diberikan oleh Cutilo, pendeta dari Thian-tiok itu Kasiatnya bisa memunahkan Iwekang orang yang meminumnya. Kau tetap akan bisa main silat namun tidak bertenaga lagi, Keadaaan-mu tak ubahnya seperti manusia biasa."

Bukan kepalang amarah Bu-lim-thian-kiau, katanya menatap pamannya:

"paman, mimpipun keponakan tidak pernah pikir, bahwa kau... kau..."

"Keponakan Tiong, kau kira aku mencelakai kau? Aku malah menolongmu, dulu kau bertindak sesuka hatimu menentang kebijaksanaan pemerintah karena kau memiliki kepandaian. Kini maksudku supaya kau jadi rakyat jelata yang bakti terhadap negara dan keluarga."

"Paman" ujar Bu-lim-thian-kiau duduk lemas di-atas kursi "daripada kaupunahkan Iwekangku, lebih baik kalau kau

bunuh aku saja."

"Tam-siheng," timbrung Wanyan Tiang-ci,

"kau kehilangan kepandaian silat, Bu-lim-thian kiau tidak akan bisa kaupakai ragi. Tapi kau bakal mendapatkan pangkat tinggi hidup mewah serba kecukupan, apakah ini kurang setimpal?"

"Sekarang aku sudah paham seluruhnya apa kehendak kalian. Baginda raja sudi memberi amnesti kepadaku, tentunya juga ada imbalan yang perlu kuberikan, coba kalian jelaskan tugas apa yang harus ku-kerjakan?"

"Tam-siheng memang gampang diajak bicara," ujar wanyan Tiang-ci.

"baiklah kita bicara secara blak2an biar kujelaskan maksud kedatangan kami malam ini."

Bu-im-thiam-kiau pura2 pasang kuping, katanya: "Mohon Hong-siok memberi petunjuk-" "Petunjuk sih tidak berani kuberikan. Hanya maksud Baginda raja yang kusampaikan, Baginda ingin kau melakukan dua tugas untuk kerajaan."

"Dua tugas apa? Asal aku bisa melakukan, aku pasti kan bekerja demi menunjukan baktiku kepada Baginda."

"Kedua hal ini gampang sekali kalau kau mau melaksanakan.." ujar wanyan Tiang-ci,

"pertama kaburnya adik ong-ki (maksudnya jilian Ceng- hun) ada didalam pasukan ya lu Hoan-ih, entah mereka sudah menikah belum?"

"Aku tidak tahu." ujar jilian ceng-hun,

" muslihat apa yang kalian tujukan kepada mereka?" "Terlalu berat ucapan penganten perempuan. Terhadap

adikmu aku tetap baik seperti terhadap yalu Hoan-ih."

"Adik Hun" ujar Bu-lim-thian kiau meremas tangan jilian Ceng-hun.

"terhadap orang tua kita harus menurut saja, jangan kurang ajar-"

jilian Ceng-hun tahu apa maksud perkataan suaminya, tersipus dia memberi hormat minta maaf. sudah tentu Wanyan Tiang-ci bisa melihat sikap dan mimik mereka yang berbeda dari biasanya, namun karena yakin kedua orang ini sudah berada dalam genggamannya, maka dia berkata lebih lanjut:

" urusan pertama ini amat mudah dikerjakan yaitu kau diminta oleh Baginda untuk mengundang yalu Hoan-ih kemari"

"o." jilian ceng-hun menyeletuk

"maksud kalian ingin supaya yalu Hoan-ih menyerah. Tapi kalau dia tidak mau terima?"

"Dia adalah adik suamimu, menurut apa yang kutahu, biasanya dia amat hormat dan patuh terhadap kalian suam istri. Dengan ada surat tangan tulisanmu, setelah dijelaskan untung ruginya secara keseluruhannya membujuknya tunduk kepada kerajaan, masakah dia tidak mau terima?"

Bu-lim-thian-kiau tertawa getir, katanya:

"yalu Hoan-ih bukan seorang yang kemaruk harta dan kedudukan tinggi, kalau dia tetap menolak bagaimana?"

"Hm. Berani dia menolak Baginda akan kerahkan pasukan untuk menumpasnya." sela Tam To-hiong, jumlah pasukannya tidak lebih hanya 5 laksa, untuk melawan pasukan besar negeri Kim kita, tak ubahnya seperti telur membentur batu.

Kalah menang hanya terpaut satu garis belaka cukup asal kau membujuknya dengan kata2 halus dan membeberkan keuntungannya kalau dia tidak goblok, masakah kukuh pendapat dan keras kepala."

"Baiklah soal pertama ini kesampingkan dulu, masih ada soal kedua. Harap Hong-siok suka menjelaskan supaya bisa kita rundingkan bersama" demikian ujar Bu-lim-thian-kiau.

"Baiklah biar kujelaskan seluruhnya. Kepala brandal Hong- lay-mo-li Liu jing-yau dan siang-go-kian-kun Hoa Kok-ham adakah teman baikmu, benar tidak?"

"Benar" sahut Bu-lim-thian-kiau tawar, "memang-nya kau ingin merekapun menyerah?"

"Bukan, aku hanya minta kalian mengundangnya kemari untuk bertemu dengan kalian."

"o, masakah Baginda juga memperhatikan temanku memberi idzin aku berkumpul dengan temanku, sungguh kebetulan, namun entah untuk apa aku harus mengundang mereka kemari?"

Wanyan Tiang-ci menyeringai dingin- " Kau pura2 bodoh atau memang tidak mengerti?" "Maaf siautit memang kurang jelas, harap Hong-sioksuka menjelaskan."

Wanyan Tiang-ci menekan amarahnya, katanya:

"Baiklah aku bicara blak2an. Hong-lay-mo-li adalah Loklim Beng-cu bahayanya lebih besar dari yalu Hoan-ih terhadap kita. Kini dia gabung dengan siau-go-kian-kun yang ada hubungan erat dengan kaum penentang Kim dinegeri song selatan. sekarang, sebelum kedua orang ini dilenyapkan mana Baginda raja bisa tidur nyenyak? jelas kedua orang ini takkan mau tunduk kepada kerajaan kita, maka harus berdaya upaya untuk memancing mereka datang, hehe kerja selanjutnya, kalian boleh tidak usah turut campur."

Bu-lim-thian-kiau berkata dingin:

"Jadi kau ingin kami mengatur tipu daya menangkap mereka, jelasnya itu berarti kau ingin supaya aku menjual atau mengkhianati kawan."

"Peduli kau anggap jual kawan atau mengkhianati teman, dengan cara menipu atau mengundangnya," demikian Tom To-hiong menekan dan mengancam

"demi negara demi keluarga dan demi kau sendiri, malam ini kau harus menentukan pilihan, sekarang juga kau harus menulis surat itu."

Bu-lim-thian-kiau mengiakan, pelan2 dia menuju kemeja kecil dipinggir ranjang. Tam To-hiong kira dia hendak menyiapkan alat tulis, tak kira Tiba2 Bu-lim-thian-kiau malah meraih keluar sebatang pedang yang dicantel diatas ranjang.

Keruan kecutnya bukan main, bentaknya:

"Apa yang hendak kau lakukan?" cepat sekali Bu-lim-thian- kiau sudah angkat pedang dan menusuk kedada sendiri, jarak Tam To-hiong cukup dekat namun karena tidak menduda, kejadianpun berlangsung cepat, tak sempat lagi dia menolong, dengan terbelalak dia hanya mengawasi pedang yang kemilau itu sudah menusuk kebadan Bu-lim-thian-kiau.

Tapi aneh juga badan Bu-lim-thian-kiau hanya bergetar sedikit, tidak segera roboh, darahpun tidak kelihatan mengucur keluar.

Tiba2 Wanyan Tiang-ci tertawa, katanya:

"Tam-gwanswe tidak usah gelisah, takkan mati." pada saat itulah terdengar "trang" pedang ditangan Bu-lim-thian-kiau tiba2 terpental jatuh, "blang" pintu kamarpun diterjang terbuka, dua orang laksana ngin puyuh menerjang masuk-

Kiranya karena Iwekang Bu-lim-thian-kiau sudah punah- tenaganya lebih lemah dari laki2 biasa- Mak-sudnya hendak bunuh diri, namun pedang hanya menembus pakaiannya, tenaganya tidak mampu melukai-

Hong-lay-mo-li yang sembunyi diluar jendela karena gugupnya tidak memikirkan hal ini, semula mereka tidak ingin bikin ribut, namun karena ingin menolong Bu-lim-thian-kiau terpaksa mereka menerjang masuk, siau-go-kian-kun timpukan sekeping uang tembaga memukul jatuh pedang Bu- lim-thian-kiau.

Mereka mengenakan kedok muka maka empat orang dalam kamar belum mengenalinya. Begitu menerjang masuk segera mereka bekerja menurut tujuannya sendiri2, siau-go-kian-kun menolong Bu-lim-thian-kiau, sementara Hong-lay-mo-li menubruk kearah Wanyan Tiang-ci-

TamTo-hiong berdiri dekat Bu-lim-thian-kiau, sebagai jendral perang yang sudah punya pengalaman walau kejadian amat mendadak dan mengejutkan, namun dia tidak gugup karenanya.

Cepat dia jemput pedang Bu-lim-thian-kiau yang jatuh seraya membentak "Bangsat yang bernyali besar." pedang terayun segera dia menusuk kearah siau-go-kian-ku n yang menubruk datang.

sebagai keturunan keluarga jendral, TamTo-hiong mampu memimpin pasukan laksaan besarnya, delapan belas alat senjata perang mampu dia mainkan. Tapi bicara soal ilmu silat, mana dia bisa menandingi siao-go-kian-kun? Bukan saja tidak pernah latihan Iwekang, kepandaiannya pun hanya peranti berperang dimedan laga, maka cukup siau-go-kian- kun- gunakan tiga bagian tenaganya, dia sudah tidak bisa berkutik lagi.

sekali kebut dengan lengan baju siau-go-kian-kun bikin pedang Tam To-hiong menceng kesamping seketika terasa telapak tangannya pedaa sakit, baru sekarang Tam To-hiong tahu kedatangan musuh tangguh.

Baru saja dia pentang mulut hendak berteriak, tahu-tahu laksana guntur menggelegar orang tidak sempat menutup kuping cepatnya, siau-go-kian-kun sudah menutuk Hiat-to pelemasnya.

Disebelah sana Hong-lay-mo-li sudah melabrak Wanyan Tiang-ci. sebagai jago kosen nomor satu dinegeri Kim, sudah tentu kepandaian wanyan Tiang-ci tak bisa dibanding Tam To- hiong. sret, sret, sret, beruntun tiga kali serangan pedang Hong-lay-mo-li semua kena dipunahkan oleh Wanyan Tiang-ci dengan kepandaian Khong-jiurji-peksto- Tapi Wanyan Tiang-ci tidak mampu merampas pedangnya.

Dulu pernah dua kali Hong-lay-mo-li bergebrak dengan Wanyan Tiang-ci, waktu itu Hong-lay-mo-li belum memperoleh tambahan ilmu dari ajaran ayahnya. kedua bentrokan itu HongJay-mo-li selalu sedikit dirugikan.

Kini setelah kepandaian silatnya maju berganda, dalam tiga gebrakan saja, dia sudah mendesak wanYen Tiang-ci dan unggul diatas angin. sudah tentu Wanyan Tiang-ci merasa kenal benar akan permainan pedangnya Tiba2 dia tersentak kaget, bentaknya:

"siapa kau?"

"Bukankah kalian minta Tam Ih-tiong mengundang kami kemari minum arak pernikahannya? Tidak perlu kalian susah payah, tanpa diundang kamipun sudah datang." demikian ejek Hong- lay- mo- li-

jilian ceng-hun tertegun, tepat sekali dia berjingkrak girang, teriaknya:

"Kiranya jing-yau-cici-"

Bu-lim-thian-kiau kira dirinya bermimpi hampir dia tidak percaya akan tatapan matanya sendiri yang mendelong, tanpa merasa diapun berteriak girang:

"Hoa-heng, apakah kau?"

siau-go-kian-kun sudah menutuk Hiat-to Tam To-hiong, lalu mendorongnya kesamping, katanya tertawa:

"Ih-tiong-heng, bikin kau kaget saja. Masih untung, kita sempat datang minum arak pernikahanmu."

Begitu tahu mereka berdua keruan bukan kepalang kejut Wanyan Tiang-ci, namun sebagai jago kosen nomor satu dari negeri Kim sudah tentu dia tidak mandah menyerah? "Wut" kontan dia menjotos dengan kepalannya menerjang minggir kebut Hong-lay-mo-li, berbareng tangan yang lain terbalik bergerak dengan Kim-na-jiu sekaligus memunahkan sejurus tutukan Hiat-to Hong-lay-mo-li-jotosan dan pukulan telapak tangannya ini dilancarkan dengan ganas dan garang, merupakan keahliannya untuk merebut kemenangan dikala kepepet, walau belum mampu mengalahkan Hong-lay-mo-li namun dia berhasil mendesak lawan mundur setapak-

Hebat memang kepandaian wanyan Tiang-ci gerak geriknyapun sebat sekali, begitu melontarkan pukulan, tanpa berpaling serentak kakinya menggelisir dengan langkah sehat menerobos kearah pintu.

Kiranya kedua gerangan ganasnya itu hanya untuk mempertahankan diri, melindungi diri untuk mundur secara teratur, pikirnya mumpung Hong-lam-mo-li kena dia desak mundur hendak menerobos keluar melarikan diri

Tak nyana siau-go-kian-kun ternyata sudah dapat meraba akal liciknya, lebih cepat dari gerakan orang tahu2 dia sudah menyerobot lebih dulu mengadang di-pintu, kipasnya terayun dan mengebas, dia menutuk ke Hiat-to besar dipunggung orang.

Terangkat telapak tangan WanYan Tiang-ci lalu menggulung kebelakang dengan mengembangkan Hun-kinjoh- kun hoat, jarinya menangkap ujung kipas telapak tangan yang lain menabas pergelangan tangan, memunahkan serangan balas menyerang.

siau-go-kian-kun mandah tertawa dingin, tidak kalah kalah ringkasnya tangannya menggantol balik kalau Wanyan Tiang- ci menyikut dan menjojoh, sementara telapak tangan siau-go- kian-kun bagai sayap belibis, menipis miring lewat disamping, diapun gunakan cara yang sama seperti lawan berbareng menelikung dan menggempur sendi tulang disikut Wanyan Tiang-ci.

Badan wanyan Tiang-ci sedikit limbung, sehingga sodokan sikutnya mengenai tempat kosong, lekas dia bantu menggunakan tangan kiri, namun cepat sekali kipas lempit siau-go-kian-kunpun sudah merubah permainannya, ujung kipasnya yang runcing telah mengancam Lau-kiong-hiat dipusat telapak tangannya.

Lau-kiong-hiat merupakan pusat Hiat-to yang menembus ke siau-yang-king-men, sudah tentu Wanyan Tiang-ci tidak berani membiarkan Hiat-tonya ini tertutuk, terpaksa dia mundur setapak- Tapi begitu berpaling, tampak ujung pedang Hong-lay-mo-li yang kemilau sudah mengancam didepan dadanya karena tidak sudi main keroyok maka Hong-lay-mo-li sengaja diam saja bersiap siaga dibelakang orang.

siau-go-kian-kun menarik kipasnya seraya tertawa besar, katanya dengan laku hormat yang dibuat2:

"Hong-siok Tayjin, bukankah kau ingin mengundang kami minum arak penganten? Beginikah sikap kasar-mu terhadap tetamu? Maaf ya, jikalau kau masih ingin pakai kekerasan kamipun tidak akan sungkan lagi terhadapmu-"

gebrakan secepat kilat beberapa jurus barusan antara Wanyan Tiang-ci kontrak siau-go-kian-kun berlangsung dalam waktu singkat, namun dalam beberapa jurus itu. masings sudah sama keluarkan ilmu simpanannya yang paling tinggi dan lihay, taraf kepandaian kedua pihak secara langsung sudah samas dipamerkan dalam gebrakan kilat tadi, sedikitpun Wanyan Tiang-ci tidak berhasil memperoleh sedikit keuntungan secara paksa dirinya ditolak balik.

Baru sekarang dia insaf bahwa kepandaian siau-go-kian- kun ternyata memang sudah tidak seperti dulu, kepandaiannya tiga bagian masih lebih unggul dibanding Hong-lay-mo-li. Kalau dulu dia kira2 setanding alias sama kuat melawan siau-go-kian-kun, kini dila harus terima kalah-

Tahu dirinya tiada harapan lolos, Wanyan Tiang-ci jadi patah semangat namun sikapnya tetap angkuh, katanya menjengek:

"Apa keinginan kalian? umpama kepandaian kalian setinggi langitjuga hanya dua orang. Kalian kira bisa melindungi kedua temanmu lari keluar dari onghu? Baiklah, kalau berani boleh kau bunuh aku saja-"

"Benar, memang sulit kami meloloskan diri dari onghu." ujar siau-go-kian-kun. "oleh karena itu perlu kami mohon bantuanmu untuk mengantar kami keluar-"

"Dibawah pandangan orang banyak kalian minta aku mengantar keluar onghu? He, he, terlalu muluk pikiran kalian, jangan kata aku tidak sudi. umpama aku mau, hal itupuntak mungkin kulakukan sudah jangan cerewet, lekaslah kalian bunuh aku saja."

Cara bagaimana siao-go-kian-kun berdua menyelamatkanBu-lim-thian-kiau dari Ki-ong-hu yang terjaga ketat itu?

Tokoh2 kosen siapa pula yang harus dihadapi Hong-Lay- mo-li berdua sebelum berhadapan dengan Kongsun Ki yang sudah tumbuh besar kekuatannya?

(Bersambung ke Bagian. 47)
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 46"

Post a Comment

close