Pendekar Latah Bagian 37

Mode Malam
 
Bagian 37

SEBAGAI kepala perkampungan besar, Song Kim-kong punya ratusan Cengting, puluhan kuda2 jempolan soal undangan merupakan urusan sepele bagi dia, Demi menjaga segala kemungkinan maka sementara waktu Hong-lay-mo-li tetap menyimpan rahasia supaya tidak menimbulkan kecurigaan orang.

"Bengcu terlalu berat kata." ujar Song Kim-kong gelak2. "Pesanmu pasti kulaksanakan secepatnya."

Song Kim-kong bukan kaum Loklim, tapi dia tahu banyak pantangan didalam Kangouw, maka diapun tidak banyak tanya lagi, segera dia keluarkan alat tulis, satu persatu dia catat nama2 yang disebut Hong-lay-mo-li.

Kata Hong-lay-mo-li setelah mengkoreksi daftar nama2 itu: "Dibawah Siu-yang-san ada sebuah desa bernama Jay-hwi- ceng, diujung desa ada sebuah rumah, didepan pintunya tumbuh sepucuk pohon besar, disa-nalah tempat tetirah guruku Kongsun In, beritahukan kepada mereka supaya berkumpul dulu disana."

Song Kim-kong kegicangan, katanya: "O, jadi gurumu Kongsun In cianpwe tinggal disana, Dua puluh tahun yang lalu pernah aku mendapat pertolongannya. Kebetulan aku mendapat kesempatan untuk menyambangi beliau. Liu lihiap masih ada pesan apa?"

"Banyak urusan yang perlu dibicarakan namun biar hal itu dirundingkan setelah kita berkumpuI, adakah berita lainnya?"

"Berita besar sih tiada, cuma dua hari yang lalu kulihat orang yang tak pernah terduga lewat disini."

"Siapakah dia?" tanya Hong-lay-mo-li.

"Liu Lihiap, tentunya kau masih ingat pengeran negeri Kim yang bantu kita melawan Wanyan Liang bukan? Kiranya dia adalah Bu-lim-thian-kiau yang kenamaan seorang pahlawan bangsa yang dipuja2 oleh rakyat negeri Kim, setelah perang berakhir baru aku mendapat tahu tentang dirinya itu."

Sekilas melengak Hong-lay-mo-H menjadi girang. tanyanya: "Orang yang tidak kau duga apakah Bu-lim-thian-kiau ini?"

"Benar, Hari itu aku sedang mengajar Ginkang beberapa murid2ku dibelakang gunung, tiba2 kulihat seorang menunggang kuda lewat dibawah gunung. Yang per-tama2 kuperhatikan adalah kuda tunggangannya, sungguh kuda jempol yang jarang ditemukan pertama kulihat jaraknya masih tujuh li dari puncak hanya setitik bayangannya, dalam sekejap tahu2 sudah tiba dibawah gunung dan lewat dengan cepat.

Walau dia bangsa Kim, namun dia melawan rajanya yang lalim, maka kuanggap dia sebagai kawan sendiri, waktu itu ingin aku memanggilnya untuk berkenalan Tapi aku merasa kurang sopan, disaat aku ragu2, kuda itu sudah lari jauh."

"Kearah mana tujuannya."

"Menyusuri sungai, Dua hari ini kusuruh anak muridmu perhatikan namun masih belum menemukan jejaknya, entah dia sudah pulang belum?"

"Kalau belum ketemu ya sudah. Kelak masih ada kesempatan untuk berkenalan"

"Benar, Memang soal ini tidak begitu penting, Tapi karena bicara soal ini malah mengingatkan aku akan sebuah hal lain"

"Hal apa lagi?"

"Liu Lihiap kau tidak punya kuda, biarlah kuberikan seekor kepadamu supaya bebas diperjalanan, meski tidak sebanding kuda Bu-lim-thian-kiau. tapi kudaku ini boleh dianggap pilihan."

Hong-lay-mo-li tidak sungkan2 lagi, katanya: "Siang hari bolong tak enak mengembangkan Gin-kang menempuh perjalanan, aku memang ingin mencari kuda, Kau suka berikan kepadaku, kebetulan malah, banyak terima kasih akan bantuanmu."

Setelah berpisah Hong-lay-mo-li seorang diri melanjutkan perjalanan menunggang kuda pemberian Song Kim-kong, kuda ini memang benar2 pilihan, dalam sehari itu dia sudah menempuh tiga ratusan li jauhnya.

Semakin dekat tujuan memang dia melihat banyak kaum jembel namun tingkat mereka yang paling tinggi cuma kantong enam, karena jarang hubungan dengan Kaypang, yang dikenalnya cuma beberapa tokoh tingkat tinggi saja, maka tiada jembel2 ini yang kenal bahwa dirinya adalah Loklim Bengcu, meski pedang tersoreng dipinggang dan kebut terselip dipunggung, mereka heran seorang gadis belia menempuh perjalanan seorang diri, tapi murid2 Kaypang tersebar diseluruh pelosok dunia, maka mereka tidak menjadi heran dan memperhatikan dirinya.

Kedua pihak menempuh perjalanannya sendiri2. Hong-lay- mo-li perlu mengejar waktu, maka diapun tidak pedulikan mereka.

Beberapa hari lagi, dengan kecepatan lari kuda Hong-lay- mo-li, ribuan li sudah ditempuhnya, pengemis yang dijumpai dijalanpun semakin jarang, Hari itu dia tengah congklangkan kudanya ditengah padang rumput yang tak berujung pangkal, tiba2 didengarnya disebelah depan ada suara pertempuran setelah dekat tampak tiga Busu negeri Kim sedang bertempur sengit melawan dua orang pengemis tua, ditanah sudah rebah lima mayat, tiga orang Kaypang, dua orang Busu negeri Kim, sementara kedua pengemis tua yang masih bertempur mati2an badannya sudah luka2, sekujur badan berlepotan darah, jelas sebentar lagi mereka takkan kuat bertahan lagi. Seketika timbul amarah Hong-lay-mo-li. bentaknya bengis: "Antek2 Kim jangan mengganas disini" lekas kuda dia keprak maju.

Satu diantara ketiga Busu yang gundul tiba2 berpaling kepadanya dengan menyeringai "Bagus, kiranya kau perempuan iblis mencampuri urusan orang lain, aku memang ingin cari perhitungan dengan kau-Mari, mari, kita ulangi bertanding sampai kalah dan menang."

Busu gundul ini bukan lain adalah Kim Cau-gak yang menjadi Koksu negeri Kim diwaktu Wanyan Liang masih hidup.

Seperti diketahui Kim Cau-gak pernah dua kali bentrok dengan Hong-lay-mo-li, pertama kali Hong-lay-mo-li mendapat bantuan Bu-lim-thian-kiau berhasil mengalahkan dia. Kedua tiga bulan yang lalu di Hwi-liong-to, mereka baru bergebrak puluhan jurus, ayahnya Liu Goan-cong lantas menghajarnya sampai Kim Cau-gak luka parah, Waktu perang Jay-ciok-ki berlangsung Kim Cau-gak masih merawat luka2nya, maka dia tidak ikut maju kemedan laga, dan karena itu maka jiwanya selamat sampai sekarang.

Setelah tiga bulan merawat luka2nya Kim Cau-gak sudah pulih seperti sedia kala. Dendamnya terhadap Hong-lay-mo-li sedalam lautan, kini berhadapan dengan Hong-lay-mo-li seorang diri, keruan besar nyalinya, dia bertekad untuk menuntut balas sakit hati, segera dia menyongsong kedatangan Hong-lay-mo-li.

Tapi Kim Cau-gak tidak lepaskan kedua pengemis tua itu, sebelum dia memapak maju, tangannya memukul balik dengan landasan sembilan bagian Lwekang-nya, dia pukul luka parah kedua pengemis itu sampai terguling2.

Gusar Hong-lay-mo-li bukan main, dari atas kuda dia mencelat tinggi terbang menubruk kedepan, ditengah udara kebut diayun puluhan benang kebut senjata rahasia tunggalnya dia timpukan sebagai Bwe-hoa-ciam, yang diarah adalah kedua Busu teman Kim Cau-gak.

Kedua Busu ini saat mana sedang memburu maju hendak meringkus kedua pengemis yang roboh itu, Le-kas Kim Cau- gak pukulkan Bik-khong-ciang menggetar pergi luncuran senjata rahasia Hong-lay-mo-li. Tapi satu diantaranya terkena juga oleh tusukan benang kebutnya tepat di Hiat-tonya.

Lwekang kedua pengemis itu agaknya amat tinggi, meski terluka parah, napasnya belum berhenti, se-konyong2 keduanya melompat berdiri Busu yang terkena timpukan benang Hong-lay-mo-li sedang sempoyongan, pengemis yang tinggi kurus itu segera menubruknya serta memeluknya kencang, kelima jarinya laksana jepitan besi mencekik lehernya.

Baru saja Hong-lay-mo-li mau berteriak memberi ingat supaya mereka jangan dibunuh untuk dikompes keterangannya sayang sudah terlambat "blang" pengemis yang gemuk itu sudah saling tumbuk dengan Busu yang lain, kedua kepala keduanya pecah luluh dan roboh tak berkutik lagi.

Kembali Kim Cau-gak ayun telapak tangannya kebelakang, maksudnya hendak pukul mampus pengemis yang kurus ini, sekaligus untuk menolong jiwa teman-nya, tapi cepat sekali Hong-lay-mo-li sudah menubruk tiba, serangannya bagai kilat lagi, "sret" Hun-bun-hiat Kim Cau-gak lantas ditusuknya.

Kim Cau-gak dipaksa untuk memutar haluan kekuatan pukulan telapak tangannya untuk memunahkan tusukan pedang Hong-lay-mo-li, kedua pihak tanpa kuasa tergetar mundur tiga langkah, masing2 meluputkan diri dari serangan telak lawan.

Busu yang dicekik lehernya itu mengeluarkan suara aneh seperti kodok bertengkar beberapa kali, kemudian biji matanya terbalik terus tak bergerak lagu pengemis yang mencekiknya mengeluarkan gelak tawa yang beringas dan menggiriskan, serunya: "Ter-hitung aku sudah setimpal merenggut nyawamu." ditengah gelak tawanya kedua tangan masih kencang mencekik leher orang, namun dia ikut terjungkal roboh.

Ditengah padang rumput seluas itu kini tinggal Hong-lay- mo-li dan Kim Cau-gak dua orang yang berhadapan, Kim Cau- gak menyeringai sadis, katanya. "Baik, mereka mampus seluruhnya pun baik, kita tidak usah kuatir lagi, Mari, mari, sekarang kau adu jiwa bersamaku" sambil menyeringai kedua telapak tangannya berputar selingkar terus didorong kedepan.

Pukulan yang dilatih Kim Cau-gak adalah Im-yang-ngo- hing-ciang, sekali tepukan tangannya menimbulkan badai angin dingin yang membekukan darah dan tulang.

Lekas Hong-lay-mo-li kebut juga menimbulkan segulung angin kencang, berbareng kaki mendesak maju dua langkah, Bergetar hati Kim Cau-gak, bentaknya: "Bagus, Sambut sekali pukulan lagi," telapak tangan kiri terayun, maka terbitlah segulung hawa panas yang membakar kulit.

Hong-lay-mo-li tertawa dingin, jengeknya: "Memangnya apa yang bisa kau lakukan dengan kedua pukulan telapak tanganmu atas diriku?" kebutnya diobat-abit menyapu dua arus hawa panas dingin serangan lawan, berbareng pedang ditangan kanan menyerang dengan pedang, sambil mendesak maju.

Jurus Jun-hun-ka-can yang dilancarkan ini melupakan serangan biasa dan enteng, kelihatannya tidak memakai tenaga, namun pedang menusuk dengan mengeluarkan suara mendesis.

Seperti diketahui sejak kumpul dengan ayahnya, secara langsung Hong-lay-mo-li mendapat tambahan bekal Lwekang ajaran ayahnya yang baru, kekuatan Lwekangnya sekarang sudah berlipat ganda, dengan Lwekang dl kerahkan pada ujung pedang, maka suara mendesis yang keras itu adalah kekuatan pedangnya yang menempus pertahanan kokoh dari gelombang tenaga pukulan panas dingin lawan.

Terpaksa Kim Cau-gak harus tumplek seluruh semangat dan konsentrasinya untuk memainkan sepasang pukulannya, Im-yang-ngo-heng-ciang dia mainkan sampai puncak latihannya, hawa panas dan angin dingin mendampar bergantian.

Laksana gelombang tinggi ditengah lautan teduh yang mempermainkan sebuah sampan, satu gelombang lebih besar dari gelombang yang lain, puluhan tombak disekitar arena pertempuran menimbulkan pusaran angin lesus yang kencang sampai rumput, debu dan batu2 beterbangan. Kuda tunggangan Hong-lay-mo-li tahu diri, sejak tadi sudah menyingkir ketempat jauh.

Didalam gencetan panas dingin, tak urung Hong-lay-mo-li bercucuran juga keringatnya, dia kerahkan juga seluruh kekuatan dan kepandaiannya, perpaduan ilmu pedang dan ilmu kebut dia lancarkan semahirnya, terutama ayunan kebutnya selalu membawa terjangan angin kencang setajam golok.

Dengan permainan kombinasi antara kebut dan pedang, perlawanannya jaun lebih mantap, peduli kebut atau pedang, setiap gerak tipunya merupakan serangan mematikan yang dilandasi kekuatan dalam yang dahsyat juga.

Kedua orang setanding alias sama kuat, tanpa terasa mereka sudah berhantam sengit ratusan jurus. Walau Hong- lay-mo-li mandi keringat, Kim Cau-gak sendiri napasnya sudah ngos2an seperti kerbau keletihan.

Apalagi pukulan Im-yang-ngo-hing-ciang paling memakan tenaga, setelah ratusan jurus belum lagi menang, mau tidak mau hatinya mencelos, ia insaf bila cara seperti ini terus dilanjutkan umpama akhirnya menang dia sendiri pasti jatuh sakit berat.

Dalam pertempuran sengit itu, Kim Cau-gak jadi ingin lekas mengambil kemenangan, se-konyong2 dia lancarkan sejurus serangan yang menyerempet bahaya, "Creng" jarinya menjentik dibatang pedang Hong-lay-mo-li.

Inilah ilmu Lwekang tingkat tinggi Kek-bu-joan-kang (menyalurkan kekuatan melalui benda), pedang panjang Hong-lay-mo-li kena dijentik dengan Lui-sin-ci ciang, segulung hawa panas seketika menggetar linu dan kemeng telapak tangannya, rasanya seperti diselomot bara.

Untung kepandaian Hong-lay-mo-li sekarang jauh lebih tinggi dari tiga bulan yang lalu, meski akibatnya amat menyiksa diri, namun dia masih kuat bertahan Kim Cau-gak menyerang dengan menyerempet bahaya, dengan sendirinya pertahanannya sedikit kendor dan menunjukan lobang kelemahannya.

Betapa lincah dan gesit gerakan Hong-lay-mo-li, boleh dikata didalam waktu yang sama, mendadak dia menghardik: "Kena"

"sret" bagai kilat pedangnya telak sekali mengenai badan Kim Cau-gak.

Tusukan pedang Honglay-mo ii gunakan tusukan Hiat-to yang diajarkan ayahnya, sasarannya adalah Ih-khi-hiat dibawah ketiak Kim Cau-gak, namun Kim Cau-gak membekal Hou-deh-sin-kang yang ampuh melindungi badan, begitu ujung pedang menyentuh badannya lantas tergetar membal menggelincir kesamping, sehingga tusukannya sedikit meleset.

Meski demikian ilmu tutukan Hiat-to tunggal ini tidak tepat mengenai Hiat-to yang diincar, tak urung hawa murni dari aliran Lwskeh yang dilatihnyapun sudah pecah, bagai sebuah balon yang gembos, bocor kehabisan hawa. Kim Cau-gak menggerung seperti singa terus putar badan lari sipat kuping, langkahnya masih sedemikian cepat dan enteng, walau badannya sudah terluka, betapa tinggi kepandaiannya sungguh membuat Hong-lay-mo-li kejut dan menghela napas, diam2 dia syukur.

Kiranya didalam goncetan pukulan panas dingin lawan, Hong-lay-mo-li sendiripun lama kelamaan sudah merasa payah, jikalau seratus jurus pula dilanjutkan umpama benar dia bisa menang, tentu dirinya takkan bisa jalan kaki dan jatuh sakit.

Kini bila mau dengan Ginkangnya yang tinggi, untuk mengejar Kim Cau-gak yang terluka, dalam ratusan langkah kemudian dia pasti bisa menyandaknya. Tapi beberapa pengemis itu entah mati atau masih hidup dan perlu ditolong, sedang dia sendiri sudah merasa kaki lemas tangan gemetar, diapun kuatir bila Kim Cau-gak masih ada punya begundal lain, kalau mengejarnya mungkin bisa gugur bersama.

Setelah mengatur napas menenangkan diri, tahulah Hong- lay-mo-li bahwa dirinya tidak sampai terluka dalam, segera dia periksa kelima Pengemis itu satu persatu, Diam2 bercekat hatinya, kelima murid Kay-pang ini rata2 mempunyai kedudukan tinggi didalam Kaypang, empat diantaranya berkantong tujuh, dan satu lagi berkantong delapan, dan orang yang ini dikenal oleh Hong-lay-mo-li, yaitu murid keponakan ex Pangcu Kaypang terdahulu Siang Gun-yang yang bernama Kiong Hou.

Guru Kiong Hou adalah Toa-suheng Siang Gun-yang, dan dia adalah murid tertua gurunya, maka itu usianya kira2 lebih muda sepuluhan tahun saja dari Siang Gun-yang, kini dia adalah orang tua yang sudah mendekati enam puluh tahun.

Bu Su-tun adalah murid Siang Gun-yang yang terkecil mereka boleh terhitung satu tingkatan, namun usia mereka terpaut tiga puluhan tahun, Murid Kaypang yang berkantong sembilan hanya ada empat orang, dalam generasi kedua Kiong Hou adalah tertua dari murid berkantong delapan, jadi tingkat kedudukannya didalam Kaypang adalah nomor lima.

Kaypang merupakan Pang terbesar diseluruh jagat, kecuali bentrok dimedan laga, kalau tidak para Busu negeri Kim takkan berani sembarangan mengikat permusuhan dengan pihak Kaypang,

"Kenapa Kim Cau gak hendak menyergap Kiong Hou?" dengan tanda tanya ini, lekas Hong-lay-mo-li periksa keadaan Kiong Hou.

Begitu dia memeriksa pernapasannya, diam2 dia mengeluh dalam hati, napas Kiong Hou sudah empas empis, lebih banyak menghembus keluar dari pada menghirup napas, denyut nadinya sudah hampir tak terasa lagi, sebagai ahli silat belakangan ini Hong-lay-mo-li ada sedikit mempelajari ilmu tabib dari ayah-nya, hasil pemeriksaan menyatakan bahwa Kiong Hou tergetar putus urat2 nadinya oleh pukulan dahsyat Kim Cau-gak, umpama tabib Hoa Tho pada jaman Sam Kok yang terkenal itu hidup kembali juga takkan bisa menolong jiwanya.

Hong-lay-mo-li menghela napas, lekas dia periksa murid berkantong tujuh lainnya, keadaan meraka lebih payah, kalau denyut dan napas Kiong Hou masih terasa, keempat murid kantong tujuh ini sudah dingin dan meninggal beberapa saat tadi.

Berpikir Hong-lay-mo-li. "Jiwa Kiong Hou terang tak bisa diselamatkan namun aku harus mempertahankan beberapa kejap lagi." segera dia jejalkan sebutir Siau-hoan-tan kemulut Kiong Hou, lalu memapahnya berduduk, dengan telapak tangannya menekan di Toa-cui-hiat dipunggungnya, dia kerahkan Lwekang masuk kebadan orang. Beberapa kejap kemudian, agaknya kasiat Siau-hoan-tan sudah mulai bekerja dibantu tenaga dalam Hong-lay-moli, tampak badan Kiong Hou sedikit gemetar, tak lama kemudian pelan2 membuka mata. Lekas Hong-lay-mo-li berkata: "Aku adalah Liu Jing-yau. Kiong-locianpwe masih mengenal aku?"

Kiong Hou manggut2 sedikit, sorot matanya mengunjuk rasa girang dan haru serta kejut, ini menandakan dia sudah mengenali Hong-lay-mo-li.

Lekas Hong-lay-mo-li pergencar saluran tenaga da-lamnya, setelah napas Kiong Hou tambah kuat dan terdengar samar2, lekas dia bertanya lagi: "Kionglo-cian-pwe. adakah urusan yang perlu kau pesan kepadaku?"

Kiong Hou ulurkan jari tangannya yang gemetar, bibirnya megap2 mengeluarkan suara yang amat lemah: "Pak-kau- pang ini, harap, harap kau serahkan kepada Bu Su-tun." tempat dimana jarinya menuding ada sebatang bambu warna hijau pupus, itulah pentung bambu yang biasanya dibawa setiap pengemis dalam minta sedekah untuk menghadapi anjing2 galak.

Waktu bertempur melawan Kim Cau-gak barusan, Pak-kau- pang ini terpukul lepas dan jatuh disela2 batu.

Dengan kerahkan sisa tenaganya Kiong Kou menyebut nama Bu Su-tun, namun kuatir Hong-lay-mo-li kurang jelas, dengan gemetar tangannya menggaris2 di atas tanah, Lekas Hong-lay-mo-U berkata: "Apakah Bu Su-tun murid penutup Siang Pangcu yang akhir ini diusir dari Kaypang? Aku tahu dia, Aku adalah temannya."

Kiong Hou tampak senang dan terhibur, katanya lebih lanjut: "lnilah guruku suruh aku memberikan kepada dia, kau, pergilah kau ke Siu-yang-san, temukan dia, beritahu kepadanya, ada urusan yang amat penting." sampai disini hanya bibirnya saja yang ber-gerak2, suaranya sudah tertelan didalam tenggorokan Lekas Hong-lay-mo-li salurkan tenaga dalamnya pula, tanyanya:

"Ada barang penting apa? Dimana?" tapi setelah bicara demikian banyak keadaan Kiong Hou sudah mirip lampu kehabisan minyak, saluran Lwekang Hong-lay-mo-li pun tak kuasa memperpanjang usianya, Akhirnya kepalanya tertunduk lemas, kelopak mata terkatup dan napaspun berhenti.

Hong-lay-mo-li bersabda: "Baik, Kiong-locianpwe, legakan hatimu, urusan yang kau pesan, pasti akan kuse-lesaikan " Lalu Kiong Hou dia baringkan kesana menjemput Pak-kau- pang itu. Pak-kau-pang ini rada tergores oleh benturan batu, untung tidak rusak atau retak.

Memangnya Hong-lay-mo-li sudah curiga dibelakang pengusiran Bu Su-tun dari Kaypang pasti ada latar belakang yang terahasia, belum tentu tokoh2 Kaypang tingkat tinggi semua setuju dan seirama didalam putusan ini, sayang sekali Kiong Hou sudah ajal, sehingga dia tidak sempat minta keterangan lebih jelas dan terperinci.

Perlu diketahui Pak-kau-pang ini adalah bambu hijau pupus yang khusus tumbuh di Tay-pak-san, keras dan kuat senjata tajam biasa takkan bisa membacoknya putus. Tapi kecuali keistimewaan kekuatan dan warnanya saja tiada sesuatu yang aneh pada Pak-kau-pang ini, setelah periksa sana periksa sini Hong-lay-mo-li tetap tidak mendapatkan apa2 pada pentung bambu ini, akhirnya dia berpikir

"Kiong Hou minta aku berikan Pak-kau-pang ini kepada Bu Su-tun, setelah bertemu dengan dia di Siu-yang-san seluk beluk persoalan ini pasti bisa dibikin jelas, Kiong Hou berpesan wanti2, cukup asal aku hati2 dan menyampaikan Pak-kau- pang ini kepada Bu Su-tun saja."

Setelah menyimpan Pa-kau-pang Hong-lay-mo-li naik kudanya pula melanjutkan perjalanan, kali ini dia tidak berhenti lagi, sampai hari menjadi magrib, dia sudah memasuki Hu-gu-san didaerah Holam, diatas gunung Hong- lay-mo-li menemukan sebuah kelenteng bobrok, pintunya keropos, tembok tanah liatnyapun sudah gugur, genteng pecah atap bocor bila hujan, patung pemujaan dalam kelentengpun sudah tiada lagi, namun kebetulan bagi Hong- lay-mo-li untuk berteduh semalam.

Kuda diumbar diluar pekarangan supaya cari makan sendiri dengan membawa perbekalannya Hong-lay-mo-li masuk kedalam dan menggelar alat2 ala kadarnya untuk tidur, Pak- kau-pang dan buntalannya dia taruh disamping badannya.

Memang Hong-lay-mo-li sudah teramat capai, begitu rebah mata terkatup lantas tidur nyenyak, entah berapa lama sudah dia tidur, dialam mimpinya se-olah2 dia mendengar orang berbisik dipinggir telinganya:

"Bangun, bangun." berbareng lengannya seperti dipukul seseorang.

Sontak Hong-lay-mo-li terjaga bangun, tiba2 terasa bau harum yang aneh merangsang hidung Sebagai kawakan Kangouw Hong-lay-mo-li tahu akan obat bius, sungguh geli dan dongkol pula hatinya, sebagai bapaknya gembong2 Loklim masakah Hong-lay-mo-li dapat diselomoti dengan cara serendah ini.

Lekas dia keluarkan sebutir Pi-sia-tan terus dikulum dalam mulut, dia tetap pura2 tidur, Tak lam-a kemudian terdengar seorang berbisik lirih:" Sudah selang sepeminuman teh, boleh turun tangan bukan?" seorang segera menjawab:

"Perempuan iblis ini berkepandaian tinggi, lebih baik hati2, biarlah tunggu sebentar lagi" Hong-lay-mo-li tahu jelas kedua orang bisik2 diatas rumah. meski bisik2 suaranya seperti nyamuk, namun dengan Lwekang Hong-lay-mo-li dengan jelas dia mendengar percakapan kedua orang ini. Keruan gusar dan kaget hati Hong-lay-mo-li, bahwa orang sudah tahu asal usulnya, tapi masih berani turun tangan, tentu kedua orang ini bukan maling sembarang maling, Terdengar seorang bicara lagi diatas.

"Lebih baik kita bunuh dia saja, supaya tidak meninggalkan banyak urusan."

"Jangan," sahut seorang yang lain, "Perintah pang-cu supaya memungut balik Pak-kau-pang saja,"

Suara yang dahuluan berkata pula: "Sebetulnya menurut hematku lebih baik dibunuh saja, supaya-tidak membongkar rahasia kita."

Temannya agaknya jadi marah, sentaknya: "Hus. pangcu sendiri tidak takut rahasianya terbongkar memangnya kau perlu kuatir apa? Kau tahu siapa perempuan iblis ini? Dia Loklim Bengcu dari lima propinsi utara, apa kau hendak menimbulkan bencana besar bagi Kaypang kita?"

"Justru karena dia Loklim Bengcu, musuhnya tentu tidak sedikit Memangnya siapa yang bakal curiga terhadap kita?"

"Kalau ingin orang tidak tahu, kecuali kau tidak berbuat Kau turun tangan jahat, sedikitnya aku mengetahui. Aku akan membongkar kejahatanmu Mana boleh kau timbul pikiran jahat dan sekeji ini? Masihkah kau ingat akan undang2 Pang kita?"

Orang pertama agaknya jadi gelisah, lekas dia membela diri: "Sebetulnya aku berpikir demi kepentingan Pangcu kita, Kita mencuri Pak-kau-pang, masakah perempuan iblis ini tidak bakal curiga akan perbuatan pihak kita? Bagaimana kalau dia mencari onar kepada Pangcu?"

Temannya itu menjawab: "Pak-kau-pang adalah milik kaum kita yang sudah diketahui umum kenapa kita takut perempuan iblis ini datang mencari perkara, Pangcu pasti bisa mendebatnya, justru karena tidak ingin bentrok sama dia maka Pangcu tidak mau gunakan kekerasan, maka kita disuruh mencurinya saja, Tapi bukan lantaran kuatir terbongkar rahasianya. Kau tahu?"

"Ya, ya aku tahu." sahut orang yang bicara duluan, "Maaf akan kelancangan mulutku tadi. Anggap saja aku tak pernah mengoceh, dihadapan pangcu harap kau tidak mengungkat hal ini."

Temannya tertawa, katanya: "Asal kau batalkan niatmu, buat apa aku mencelakai kau?"

Dari pembicaraan ini baru Hong-ay-mo-li tahu akan asal usul kedua orang ini, keruan jauh diluar dugaan-nya, Pikirnya: "Kalau Hong Hwe-liong tampil sebagai Pangcu secara terus terang minta Pak-kau-pang ini dikembalikan aku takkan bisa menolaknya, dia justru suruh orang menggunakan cara rendah dan picik ini untuk mencurinya, sungguh keterlaluan.

Dan lagi pentung bambu ini hanya milik seorang Tianglo, bukan barang mestika, kenapa Hong Hwe-liong memandangnya begini penting?"

Tengah dia mereka2 ini, terdengar dua orang di-atap rumah bersuara pula: "Nah, sudah tiba waktunya bukan?"

"Baik, boleh mu!ai. tapi tetap harus hati2, jangan sampai membuatnya kaget dan terbangun." terdengar temannya menyahut.

Diam2 Hong-lay-mo-li tertawa dingin, dia tunggu mereka turun. Tapi kedua orang ini ternyata tidak turun seperti yang diduganya. Terdengar sebuah suara lirih, kiranya kedua orang tengah membuka genteng, dari lobang diatap rumah ini mereka menurunkan sebatang joran.

Malam itu ada sedikit sinar bulan yang remang2, untung sejak kecil Hong-lay-mo-Ii ada latihan senjata rahasia, dia punya kepandaian melihat benda dimalam gelap, Tampak dikeremangan malam diujung joran ada sebuah gantolan, setelah bergelantungan. "Trap." hanya sekali berkelebat dengan tepat berhasil menggantol Pak-kau-pang disamping badannya.

Agaknya murid Kaypang yang turun tangan ini seorang ahli mancing, cara yang dia pakai memang lihay dan pintar, agaknya memang cukup ahli dalam bidang ini.

Tiba2 Hong-lay-mo-li tertawa dingin, bentaknya: "Maling kecil, mau curi barang ya? Hayo lepaskan." sekali ayun tangan dia timpukan Ceng-kong-kiam miliknya, tepat sekali kena mengiris putus tali kawat joran, maka joran dan Pa-kau-pang itu melayang jatuh pula.

Mengingat mereka adalah murid Kaypang, Hong-lay-mo-li tidak ingin membongkar kedok mereka, Hong-lay-mo-li kira setelah dia bersuara, kedua orang ini tentu kabur sipat kuping, sungguh kenyataan jauh diluar dugaannya.

Tepat disaat Pak-kau-pang jatuh menyentuh tanah, tiba2 terdengar suara ledakan disusul asap dan api menyala berkobar, seketika Pak-kau-pang itu terjilat api dan menyala, Bersamaan dengan itu sejalur panah berapi melesat turun mengincar Hong-Iay-mo-li.

Dua orang murid Kaypang diatas atap yang satu bermaksud membunuh Hong-laymo-li, sementara seorang yang lain hendak menolong jiwanya, Maka baru saja senjata gelap temannya disambitkan, dia segera membentak: "Jangan melukai orang."

"Ting " dia sambitkan sebutir Thi-lian-cu, menimpuk miring panah berapi, sejalur sinar api menyamber miring dari samping badan Hong-lay-mo-li, tak urung percikan api masih juga mengenai pakaiannya,

Hong-lay-mo-li menjengek dingin: "Memangnya kau mampu melukai aku." "Wut" dengan pukulan Bik-khong-ciang dia hantam keatas sehingga atap rumah jebol dan pecah berantakan, untung karena Hong-lay-mo-li mengingat mereka murid Kaypang, satu diantaranya berhati mulia, maka Hong-lay-mo-li tidak ingin melukai atau membunuh mereka, dengan jelas dia dengar kedua orang itu menyingkir kesamping, sebaliknya Bik-khong ciang pukulannya dia arahkan ke jurusan lain.

Namun demikian kedua murid Kaypang itu toh merasa tergetar hebat dan tak kuasa berdiri lagi, lekas mereka melompat turun dan ngacir menyelamatkan diri.

Tak sempat mengejar orang, Hong-lay-mo-li mengutamakan memadamkan api, untung Pak-kau-pang itu tahan api, lekas sekali Hong-Iay-mo-li berhasil memadamkan api sehingga pentung bambu itu belum sampai terbakar.

Cuma bagian cacat yang tergores batu itu, setelah termakan api retaknya menjadi kentara dan dalam, panjang lima dim lebar dua dim, mirip benar dikorek atau diukir oleh pisau kecil seorang ahli ukir.

Dengan menjinjing pentung bambu ini, Hong-lay mo-li mengamat2inya dengan seksama, tiba2 didapatinya sesuatu keanehan, seperti umumnya setiap ruas bambu pasti kosong bagian tengahnya tepat diujung retakan ini menonjol keluar secarik kertas yang sudah rada hangus.

Pelan2 dan hati2 sekali Hong-lay-mo-li menarik keluar kertas ini, waktu dia periksa kirannya segulung surat peninggalan yang diluntung sekecil jari kelingking, untung hanya ujungnya saja yang terbakar hangus.

Baru saja Hong-lay-mo-lj hendak membuka keuntungan kertas tipis ini, sekonyong2 terdengar jeritan orang minta tolong yang amat mengerikan, tersirap darah Hong-lay-mo-li, diam2 dia mengeluh dalam hati, lekas dia simpan kertas surat itu kedalam bajunya, dengan memanggul buntalan lekas dia mengejar keluar. Tak nyana waktu dia membungkuk badan meraih butalannya itu, tiba2 pandangan matanya terbeliak, dilihatnya sebutir benda aneh yang bersinar, kiranya itulah sebutir mutiara yang berkilauan.

Dinilai dari cahaya sinar mutiara ini, jelas mutunya tinggi, sedikitnya bernilai ratusan tail perak. sebetulnya sebutir kecil mutiara ini tidak menjadi perhatian Hong-lay-mo-li, yang membuatnya heran adalah mutiara ini jelas bukan miliknya, lalu darimana datangnya mutiara sebaik ini didalam kelenteng bobrok ini?

Sekilas melengak, cepat sekali Hong-lay-mo-li sudah paham duduknya perkara, Teringat olehnya diwaktu dia siuman dari tidurnya, terasa seperti ada semut yang menggigit dilengannya, dan karena rasa sakit inilah maka dia terjaga bangun, seketika itu pula dia mencium bau harum yang membiuskan itu.

Baru sekarang dia benar2 sadar bahwa seseorang sengaja hendak membantu dirinya, dengan mutiara kecil ini dia menimpuk dirinya sehingga dia terbangun. Kalau tiada mutiara yang disambitkan orang itu, mungkin dirinya sudah kecundang oleh murid Kaypang itu, bahkan jiwanya mungkin terenggut, demikian pula Pak-kau-pangpun ikut tercuri orang.

Lalu siapakah yang begini royal menggunakan mutiara sebagai senjata rahasia? Kenapa setelah menolong dia orang itu tidak mau muncul menemui dirinya? Bukankah aneh kejadian ini? Tiba2 teringat oleh Hong-Isy-mo-li akan seseorang, batinnya:

"Ya, pasti dia, Kecuali dia tiada orang yang menggunakan mutiara sebagai senjata rahasia, apalagi dia memiliki Ginkang setinggi itu." - Sudah tentu si'dia" yang dikira oleh Hong-lay- mo-li adalah Bu-lim-thian-kiau. Lekas sekali Hong-lay-mo-li sudah berlari keluar, Tampak bintang kelap kelip, sinar rembulan guram, alam sekelilingnya sunyi senyap, mana tampak bayangan manusia? Sampaipun kudanyapun tak kelihatan lagi.

Tapi cepat sekali Hong-lay-mo-li sudah menemukan kudanya dipinggir sebuah sungai. Kudanya tidak dibunuh orang seperti yang dia kira semula, tapi kuda inipun terbius oleh bau harum itu, daya tahan kuda jauh lebih kuat dari manusia, kebetulan waktu Hong-lay-mo-li lari mendatangi dia sudah dapat bergerak dan mendengus2 kearah majikannya.

Lekas Hong-lay-mo-li menyiram air dingin keatas kepalanya, lalu dijejalkan pula sebutir Pi-sia-tan kemulutnya, tak lama kemudian kuda ini sudah pulih seperti sedia kala.

Jeritan minta tolong tadi kumandang dari arah barat laut, Hong-lay-mo-li cemplak kudanya terus di-keprak ke arah sana, Tak lama kemudian, hidungnya mengendus baru anyirnya darah, segera dia lompat turun mencari ubek2an, akhirnya dibelakang semak2 rumput menemukan sesosok mayat.

Kebetulan saat mana fajar telah menyingsing, tampak mayat itu tengkurep, punggungnya ditusuk sebilah pisau panjang yang runcing, jelas tampak oleh Hong-lay-mo-li, bahwa orang ini adalah murid Kaypang yang tidak setuju mencelakai dirinya itu.

Musabab kematiannya sudah gamblang, pembunuh itu kuatir temannya ini melaporkan maksud jahatnya maka disaat temannya ini lena dia menusuknya dari belakang dengan pisau runcing.

Sudah tentu Hong-lay-mo-li amat sedih dan haru, gegetun lagi karena kelakuannya. Namun dari kejadian ini, dia pun mendapat kesimpulan bila orang yang menolong dirinya itu benar adalah Bu-lim-thian-kiau, maka orang tentu sudah lama turun gunung dan pergi jauh. Kalau tidak dengan kepandaiannya yang tinggi, menguntit kedua murid Kaypang ini, masakah peristiwa mengenaskan ini bakal terjadi?

setelah mengebumikan jenazah murid Kaypang, Hong-lay- mo-li bertanya dalam hati: "Demi Pak-kau-pang ini, sudah ada enam murid Kaypang ajal, kini ingin aku melihat apa yang tertulis didalam gulungan kertas surat itu, Kenapa Kim Cau- gak kerahkan orang2-nya untuk mencegat Kiong Hou, kenapa pula Hong Hwe-liong mengutus orang untuk mencurinya, kemungkinan semua tanda tanya itu bisa terjawab dari gulungan kertas ini."

Dengan hati2 Hong-lay-mo-li membuka gulungan kertas itu. untung tulisan diatas kertas masih jelas terbaca meski kertasnya sudah menguning hangus.

Setelah membaca apa yang tertera diatas tulisan kertas itu, bergidik dingin Hong-lay-mo-li dibuatnya, sekian lamanya dia melenggong, Batinnya: "O, kiranya begini persoalannya, Tak heran Hong Hwe-liong berusaha memfitnah dan mencelakai Bu Su-tun. ingin merebut kembali Pak-kau-pang ini."

Kiranya apa yang terbaca oleh Hong-lay-mo-ii adalah tulisan tangan siang Gun-yang, Kaypang Pangcu yang dahulu sewaktu dia baru saja jatuh sakit, surat ini ditujukan kepada suhengnya Loh Yang-koh.

Lok Yang-koh adalah Tianglo pikun yang dikatakan Bu Su- tun, kecuali Pangcu, hanya dia orang saja yang tahu akan rahasia tugas yang dipikulnya.

Surat ini sengaja ditulis oleh siang Gun-yang khusus untuk sebagai bukti, pembukaan surat ini mengemukakan bahwa Bu Su-tun menyelundup ke negeri Kim menjabat perwira Gi-lim- kun adalah atas perintahnya, selain itu dijelaskan pula, bilamana Bu Su-tun kelak benar2 berhasil membunuh Wanyan Liang, kedudukan Kaypang Pangcu harus diwariskan kepada Bu Su-tun. Kuatir jiwa sendiri saat mana sudah ajal, maka Siang Gun- yang sengaja meninggalkan surat pesannya ini diserahkan kepada Tianglo tertua ini untuk disimpan sebagai bukti.

Pada akhir surat ini diterangkan pula, umpama Bu Su-tun tidak berhasil membunuh Wanyan Liang, setelah dia kembali, jasa dan pahalanya harus dicatat juga, mengangkatnya menjadi murid berkantong sembilan, jikalau murid2 Kaypang lainnya ada yang menaruh curiga, maka Tianglo wajib membaca dan mengumumkan keputusannya ini dihadapan rapat besar kaum Kaypang.

Kiong Hou adalah murid tertua dari Loh-tianglo ini, secara cermat Hong-lay-mo-li menganalisa satu dan lain persoalan lalu dirangkai menjadi satu, seluruh persoalan lantas dapat dibikin terang, setelah sutenya yang menjadi Pangcu meninggal Loh-tianglo sendiripun jatuh sakit parah, disamping itu diapun sudah mendapat firasat akan intrik2 Hong Hwe- liong yang hendak merebut kekuasaan, maka dia tidak berani membocorkan rahasia ini.

Karena penyakitnya dia tidak bisa hadir di-dalam pertemuan besar murid2 Kaypang tingkat tinggi di Siu-yang- san, maka dia suruh muridnya Kiong Hou mewakili dirinya dengan membawa Pak-kau-pang yang menyimpan surat rahasia Pangcu mereka, berusaha untuk diserahkan kepada Bu Su-tun.

Betapa rahasianya surat Siang-pangcu kepada suhengnya Loh Yang-koh yang menyimpannya didalam Pak-kau-pang, setelah merebut jabatan Pangcu, betapa pula jerih payah Hong Hwe-liong untuk menyelidiki hal ini, namun dengan kedudukannya sekarang, memang bukan suatu hal yang mustahil Kim Cau-gak sebaliknya adalah musuh Kaypang, diapun tahu akan rahasia ini sehingga mencegat Kiong Hou terang tujuan-nyapun ingin merebut Pak-kau-pang ini, sungguh luar biasa dan hebat akibatnya bila berhasil. Tapi dari percakapan kedua murid Kaypang yang berusaha mencuri pentung bumbu itu, Hon-g-lay-mo-li menyimpulkan bahwa Hong Hwe-liong belum sampai gila berani melakukan kejahatan yang tercela, maka lebih jelas lagi didalam memutuskan pengusiran Bu Su-tun dari Kaypang, semua orang dia kelabui, namun dia toh nyata mengusir sang Sute keluar dari Kaypang belum sampai menjurus kearah kejahatan yang lebih terkutuk, dari sini jelas terlihat bahwa Hong Hwe- liong masih punya setitik peri kemanusiaan.

Sebetulnya apakah benar Hong Hwe-liong berintrik dengan Kim Cau-gak? Hong-lay-mo-li membuat dua analisa timbal balik, dua2nya belum berani memberi keputusan.

Tapi persoalan ini cukup genting, terpaksa Hong-lay-mo-li harus waspada dan bersiaga, soalnya dia membayangkan akibatnya yang luas dan bakal merupakan bencana besar yang menyangkut jiwa raga banyak orang.

Setelah menyimpan gulungan kertas, Hong-lay-mo-li menerawang, cara bagaimana dia harus bertindak untuk menghalangi langkah2 Hong Hwe-liong, lekas dia cemplak kuda dan melanjutkan perjalanan kearah barat.

Dijalan dia tidak bertemu dengan murid2 Kaypang lagi, bayangan Bu-lim-thian-kiaupun tidak dilihatnya tapi kepada seorang penjual teh dipinggir jalan Hong-lay-mo-li mendapat keterangan bahwa seorang laki2 menunggang seekor kuda putih belum lama menuju ke-arah barat.

Semakin besar dugaannya bahwa semalam memang Bu- lim-thian-kiaulah yang menggugahnya bangun, mau tidak mau hatinya menjadi hambar dan masgul. Walau dia sudah menentukan pilihiannya, namun persahabatan-nya dengan Bu- lim-thian kiau dulu takkan mudah terlupakan.

Kuda Bu-lim-thian-kiau adalah tunggangan yang mampu menempuh seribu li dalam sehari, jelas dia takkan bisa menyandaknya. Menurut rencana semula, Hong-lay-mo-li menuju ke Yang- kok-san untuk menyambangi Bing-bing Taysu yang bersemayam di Kong-bing-si, sekaligus untuk mencari tahu jejak ayah dan Siau-go-kan-kun, sepanjang jalan tak terjadi apa2 lagi, hari itu akhirnya dia tiba di Yang-kok-san, saat mana sudah permulaan musim dingin hawa dingin kembang salju mulai turun.

Bing-bing Taysu, adalah angkatan tua yang sederajat ayahnya, maka setiba di Yang-kok-san Hong-lay-mo-li lantas turun dan menuntun kudanya sebagai rasa hormatnya kepada tokoh cianpwe ini.

Hujan salju cukup lebat, tanah tandus sudah berubah menjadi dingin beku oleh bunga2 salju, sementara kembang salju laksana kapas beterbangan diangkasa, sebagai gadis kelahiran tanah utara, Hong-lay-mo-li tidak takut menghadapi hawa dingin ini, menghadapi pemandangan alam yang sudah amat dikenalnya, tak urung terbayang olehnya akan keindahan alam dikampung halaman

Tanpa terasa hujan salju sudah mereda, pemandangan seindah lukisan ini sungguh mempesonakan, sambil menikmati keindahan kebesaran alam Hong-iay-mo-li terus beranjak naik keatas, tak lama kemudian Kong-bing-si sudah kelihatan dari kejauhan diantara tabir putih yang berkilau bagai lautan teduh itu, tiba2 terbayang warna merah menyolok segar ditengah lautan salju itu, kiranya tak jauh disamping Kong-bing-si, teidapat puluhan pucuk kembang Bwe merah, saat mana kembangnya sedang mekar semarak laksana gincu, maka perbedaan warna yang kontras ini kelihatan amat menyolok sekali.

Sembari jalan Hong-lay-mo-li merasa gegetun dan kagum akan pemandangan alam yang permai ini, pada saat itulah tiba2 didengarnya irama seruling yang mengalun tinggi kumandang dari dalam hutan Bwe sana seketika Hong-lay-mo- li berdiri menjublek, Apakah Bu-lim-thian-kiau? Agaknya nasib memang mempermainkan dirinya, bahwa tujuannya kemari hendak mencari Siau-go-kan-kun, takdir justru menghendaki dia berjumpa dulu dengan Bu-lim-thiam- kiau?

Belum lenyap pikiran kalutnya, tiba2 suara seruling berganti nyanyian merdu dan lincah dari seorang gadis. Gadis yang nyanyi itu sedang beranjak keluar dari rumpun kembang, hanya seorang saja, jadi tanpa Bu-lim-thian-kiau. sungguh kejut dan girang Hong-lay-mo-li bukan buatan, lekas dia memburu maju menggenggam tangan gadis ini, katanya:

"Lho-kohkau? Bagaimana kaupun bisa berada disini? Mana Tam-kong-cu? Bukankah dia sudah kemari?"

Ternyata gadis ini bukan lain adalah Jilian Ceng-hun.

Seperti diketahui senjatanyapun sebatang seruling, katanya dengan tertawa: "Liu-cici, aku sih sudah sudah tahu bilakau akan datang, cuma tak nyana kedatanganmu begini cepat,"

Hong-lay-mo-li melengak, baru saja dia hendak tanya dari mana orang tahu, tiba2 Jilian Ceng-hun angkat kepala berseru lantang: "Toa-ci, tamu sudah datang, lekas keluar."

Kembali Hong-lay-mo-li melengak, katanya: "O, Toacimu juga disini? Kalian sudah akur?" Hong-lay-mo-li kira Toaci yang dia panggil adalah Giok-bin-yau-hou Jilian Ceng-poh, maka dia merasa keheranan.

Jilian Ceng-hun cekikikan, katanya: "Toaci yang ini bukan kakak yang tidak berbudi itu, aku sih bersama dengan Toaci- nya:" habis bicara merah mukanya-baru sekarang Hong-lay- mo-li tahu Toaci-nya yang dimaksud adalah kakak Bu-lim- thian-kiau yaitu Hui-siok Sinni. Betul juga dilihatnya Hui-siok Sinni sudah berlari keluar dari Kong-bing-si.

Dengan tertawa Hui-siok Sinni menghampiri katanya: "Liu Lihiap, sudah beberapa hari kami menunggumu. Tentu kau tak kira kami menetap disini bukan?" Memang Hong-Iay-mo-li tidak menyangka, namun menduga mereka punya hubungan erat dengan Bing-bing Taysu, maka diapun tidak perlu terlalu heran, katanya:

"Sungguh kebetulan sekali, kedatanganku hendak menghadap kepada Bing-bing Taysu, Darimana kalian tahu aku akan kemari?"

"Maksud kedatanganmu sudah kami ketahui," ujar Hui-siok Sinni, "Mari silakan masuk bicara didalam biara."

Sesudah duduk tak tahan Hong-iay-mo-li bertanya-"Apakah Bing-bing Taysu ada didalam? Mohon dilaporkan kepadanya, katakan bahwa putri Liu Goan-cong mohon bertemu."

"Kau sudah disini, tidak perlu ter-gesa2 menemui beliau. persoalan yang ingin kau tanyakan aku bisa wakilkan Bing- bing Taysu menjawab, Kebetulan kita ada kesempatan duduk ngobrol, akupun ada omongan perlu bicara dengan kau."

Hong-lay-mo-li keheranan, katanya: "Persoalan yang ingin kuketahui kalian bisa menjelaskan?"

"Sampaipun tanda tanya dalam hatimu akupun bisa menjawabnya, Baiklah aku akan menjawab satu persatu tanda tanya yang mengganjel dalam hatimu, pertama kau ingin tahu apakah Siau-go-kan-kun pernah kemari? Kedua kenapa kami berdua tinggal disini? Ketiga kenapa sampai detik ini Bing-bing Tay-su belum keluar? Benar tidak?"

Merah muka Hong-lay-mo-li dikorek isi hatinya, katanya dengan manggut2: "Dan ayahku? Entah beliau pernah kemari?"

"Ayahmu belum kemari, Siau-go-kan-kun sebalik-nya pernah mampir."

"Kenapa mendadak ayah merobah rencana perjalanannya?" demikian batin Hong-lay-mo-li. Untuk kekuatirannya ini Hui-iok Sinni sekaligus memberi jawaban: "Ilmu silat ayahmu teramat tinggi, pasti takkan terjadi sesuatu yang merugikan, Ditengah jalan dia bertemu dengan Siau-go-kan-kun, titip kabar dan suruh dia menyampaikan salamnya kepada Bing-bing Taysu. Katanya ada urusan penting di Siau-yang-san perlu segera dia selesaikan, apa lagi dia harus berputar ke Ko-gwan dulu untuk membereskan urusan penting, baru akan menuju ke Siu-yang- san, maka dia tidak sempat mampir ke Kong-bing-si, Katanya setelah kembali dari Siu-yang-san baru beliau akan datang kemari bercengkeraman dengan Bing-bing Taysu,"

Rada lega hati Hong-lay-mo-li, pikirnya: "Ada urusan penting ditempat guruku? Mungkinkah ado sangkut pautnya dengan rapat besar pihak Kaypang?"

"Sebagai orang beribadah aku tidak perlu tahu persoalan apa yang terjadi di Siu-yang-san dan Ko-gwan. Tapi kedatangan Siau-go-kan-kun kali ini malah bikin terang persoalan antara kami kakak beradik dengannya." sampai disini dia tertawa kikuk.

"Baru sekarang aku tahu. nona Liu, pujaan hati yang benar2 kau cintai adalah Siau-go-kan-kun bukan adikku, Tempo hari aku sendiri kebingungan, sampai bertindak secara iseng, pernah aku omong kepada Siau-go-kan-kun, aku sudah minta maaf kepadanya."

Dengan muka merah Jilian Ceng-hun menggenggam tangan Hong-lay-mo-li. katanya: "Dulu akupun ada sedikit salah paham terhadapmu, Liu-cici, sekarang aku mohon maaf kepadamu."

Hong-lay-mo-li menjadi kikuk dan risi, katanya tertawa: "Urusan sudah berlalu, tak perlu disinggung lagi, Em, kalau begitu setelah peperangan Jay-ciok-ki untuk kedua kalinya kalian bertemu." "Ya, pertama diperjalanan ke Kanglam, waktu itu dia berada bersama Ong Ih-ting. Tak kira beberapa hari yang lalu kita bertemu lagi disini, Baru aku tahu setelah dia meninggalkan pangkalan Ong Ih-ting ada titip kabar kepadamu, maka aku menduga dalam beberapa hari ini kau pasti kemari."

""Siau-go-kan-kun sudah bertemu dengan Bing-bing Taysu?"

"Tidak, Tapi dia minta aku menyampaikan omongannya kepada Bing-bing Taysu."

"Apakah Bing-bing Taysu sedang keluar?" "Tidak."

"Kalau didalam kenapa tidak kelihatan?"

"Bin-g-bing Taysu sedang menyekap diri dalam kamar meyakinkan ilmunya, sampai nanti malam baru latihan ilmunya berakhir. Kebetulan waktu Siau-go-kan-kun datang, beliau disaat keadaan kritis, kita tidak berani mengganggunya, maka dia belum sempat menemuinya."

Menutup pintu meyakinkan ilmu merupakan cara latihan Lwekang tingkat tinggi dari aliran Hud, kalau berhasil dengan sukses memang besar sekali paedahnya, tapi bahayanyapun teramat besar, disamping tak boleh diganggu, kemungkinan bisa Cau-hwe-jip-mo.

Berkata Hui-siok Sinni lebih lanjut: "Sekarang biarlah kujawab pertanyaanmu satu persatu, setelah kau tahu persoalannya tentu paham sendirinya."

"Pertanyaan kedua adalah: kenapa aku tinggal disini?" sampai disini tiba2 Hui-siok Sinni unjuk rasa kikuk dan rawan, tanyanya: "Tahukah kau pernah apakah Bing-bing Taysu dengan aku? Bing-bing Taysu adalah mertuaku!" Sungguh jawaban ini amat diluar dugaan Hong-lay-mo-li, setelah menghela napas Hui-siok Sinni melanjutkan "Suamiku yang tak berbudi itu bernama Bok Ji-sin, Busu kepercayaan Wanyan Liang dimasa hidupnya, dia hendak mencelakai jiwa kami kakak beradik, maka akhirnya berpisah dengan aku, persoalan ini kabarnya Sam-moay sudah pernah memberitahu kepadamu?"

Hong-lay-mo-li hanya manggut2 saja tidak memberi komentar supaya tidak menambah kedukaannya.

"Sekarang aku sudah beribadah, tidak perlu takut menghadapi persoalan yang memilukan Bing-bing Taysu adalah mertuaku, namun Bok Ji-sin bukan anak kandungnya sendiri, Sabelum Bing-bing Taysu mencukur rambut adalah seorang tokoh Bulim, sepak terjangnya suka menolong yang lemah menindas kejahatan, dia bertekad tidak mau bekerja bagi kerajaan.

Karena tidak punya anak, seorang teman dekatnya sebelum ajal titip anaknya supaya mengasuh dan mendidiknya sebagai putra angkatnya, anak ini adalah suamiku Bok Ji-sin yang  tidak berbudi itu.

"Karena dia putra teman baiknya, Bing-bing Taysu terlalu memanjakan dia. setelah tamat belajar silat Bok Ji-sin kemaruk pangkat dan kedudukan, setelah meninggalkan ayah angkatnya, dia lantas menempuh jalan hidupnya ke pintu kerajaan, bekerja keras untuk mencapai kedudukan tinggi, akhirnya dia berhasil menjadi pengawal pribadi Wanyan Liang, belakangan diangkat sebagai wakil komandan Gi-lim-kun.

Dasar berhati jahat, entah berapa rakyat tak berdosa yang menjadi korban keganasannya.

"Aku ini istrinya, tapi perbuatan jahat apa saja yang dia lakukan, semula sedikitpun aku tidak tahu. Sampai dia berusaha mempralat ku hendak mencelaki jiwa adikku, baru aku membuka kedok aslinya. "Tapi perbuatannya selama itu sudah diketahui oleh mertuaku, Dan karena itulah saking marah, beliau lantas cukur gundul menjadi Hwesio, dengan patah semangat dia tidak mau mencampuri urusan duniawi lagi."

"Setelah berpisah dan menjadi musuh suamiku sendiri karena dikampung halaman tak bisa bercokol lagi, disamping tinggal ditempat lama hanya meninggalkan kenangan pahit belaka, Maka aku lari ke Kanglam dan mencukur rambut di Hian-li-koan digu-nung Ki-sia-nia."

"Sejak terakhirnya peperangan Jay-ciok-ki dengan adik Ceng-hun kami tak berhasil menemukan adikku, diluar dugaan bertemu dengan Siau-go-kan-kun, dari penuturannya aku tahu bahwa mertuaku menjadi Hwesio di Kong-bing-si. Tapi Siau- go-kan-kun sendiri tidak tahu bahwa Bing-bing Taysu adalah mertuaku. setengah bulan yang lalu bersama jimoay aku tiba disini."

Hui-siok Sinni berhenti sebentar menyeka air matanya, katanya lebih lanjut: "Mertuaku tidak menyalahkan aku, malah membujuk dan menghiburku. Katanya beliau sudah tahu kejahatan Bok Ji-sin, karma akan menentukan nasibnya, Yang harus disalahkan malah dia sendiri sebagai ayah angkat tidak membimbing dan mengasuhnya ke jalan benar. sejak kecil terlalu memanja dan mengumbar adatnya yang jahat. Beliau suruh aku tidak perlu bersedih hati karena hal ini. sebagai orang beribadat, apa yang sudah lalu biarlah pergi." 

Haru Hong-lay-mo-li mendengar ceritanya ini, mau tidak mau terbayang juga akan suhengnya Kong-sun Ki yang menempuh kejalan sesat juga, bukan mustahil kelak nasibnya akan jauh lebih mengenaskan.

"Sekarang biarlah aku bicara soal mertuaku, Kedatangan kami amat kebetulan, karena mertuaku hendak mulai latihan ilmunya dengan menyekap diri, dengan jimoay aku bisa menjadi pelindung yang jaga keselamatannya." Hong-lay-mo-li bertanya: "Ilmu silat Bing-bing Taysu tak terukur tingginya, kenapa masih memerlukan tutup pintu meyakinkan ilmu segala?"

"Kata mertuaku seorang musuhnya yang tangguh sudah tahu akan jejaknya disini, secara sumbar musuh itu menyebar kabar, katanya hendak meluruk kemari membuat perhitungan. Beberapa tahun belakangan ini beliau mendalami ajaran Budha, sehingga latihan silatnya rada terbengkelai, maka beliau perlu tutup pintu meyakinkan semacam ilmu mujijat yang hebat sekali."

"Siapakah musuh tangguhnya itu?" terkesiap darah Hong- lay-mo-li, "Bing-bing Taysu sampai sedemikian besar perhatiannya untuk menghadapinya ?"

"Beliau tidak mengatakan siapa musuhnya itu. Hanya dikatakan permusuhan sejak dia masih premanan, orang itu hanya menuntut kepada dia, aku cukup menjaganya saja, tidak perlu ikut campur, Agaknya beliau kuatir aku sembrono ikut turun tangan. Walau-musuh tangguh, kalau dia benar2 datang, masakah aku harus berpeluk tangan saja?"

"Nanti tengah malam latihan Bing-bing Taysu akan berakhir dan berhasil sempurna, kalau dia datang tidak perlu dibuat takut lagi- Yang harus dikuatirkan musuh tiba sebelum latihannya berakhir." demikian Jilian Ceng-hun nyatakan isi hatinya.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 37"

Post a Comment

close