Pendekar Latah Bagian 36

Mode Malam
 
Bagian 36

Karena kehabisan tenaga Hong-lay-mo-li tidak leluasa kembangkan Gin-kang untuk berkelit puluhan jurus kemudian, kepalanya sudah terasa pening.

Disaat dia menghadapi saat kritis itulah, tiba2 Kongsun Ki membentak: "Siapa itu!" belum lenyap suaranya, tampak sesosok bayangan bagai anak panah melesat tiba, belum tiba orangnya, ditengah udara sudah memukul, namun kekuatan pukulannya sebaliknya menerpa kearah Hong-lay-moli.

Hong-lay-mo-li sudah sesak napas tertekan oleh pukulan Bik-khong-ciang Kongsun Ki, tiba2 terasa segulung angin pukulan menerpa lagi, keruan bukan kepalang kagetnya. Tapi aneh sekali, walau tenaga pukulan ini amat kuat, namun terasa amat lunak sekali seketika Hong-lay-mo-li merasa badannya enteng, tanpa kuasa badannya terdorong mundur beberapa langkah, namun napasnya seketika enteng dan segar.

Sekilas tertegun, cepat sekali Hong-lay-mo-li paham duduknya perkara, kiranya orang itu menggunakan tenaga pukulan Lwekeh yang hebat, sejurus dua manfaat, disamping memutus kekuatan pukulan Bik-khong-ciang Kongsun Ki, sekaligus mendorongnya mundur beberapa langkan, sehingga dirinya bebas dari belenggu pukulan berbisa Kongsun Ki.

Sudah tentu Hong-lay-mo-li keheranan semula dia sangka Bu-lim-thian-kiau atau Siau-go-kan-kun yang menolongnya setelah dia melihat tegas, orang kiranya laki2 kekar berusia tiga puluhan, hawa sedingin ini, dia hanya memakai baju tipis, pakaiannya banyak tambalannya mirip benar dengan pengemis gelandangan.

Setelah melihat tegas muka orang, seketika heran hatinya, Serasa dimana dia pernah melihat orang ini, namun kapan dia pernah melihatnya sudah tak ingat lagi?

Terdengar laki2 itu berkata berbisik: "Kau tanya siapa aku?

Aku laki2 tak bernama yang tidak suka melihat tingkah lakumu, kau menganiaya seorang perempuan, aku tidak bisa berpeluk tangan!"

"Baik, kau suka turut campnr, marilah kau ukur kepandaianku." jengek Kongsun Ki, sebat sekali dia mendesak maju terus melayangkan telapak tangannya menampar kepala.

"Jangan adu pukulan!" teriak Hong-lay-mo-li memperingatkan, tapi sudah terlambat, "Blang" kedua pihak sudah beradu pukulan, Orang itu hanya tergeliat sedikit, Kongsun Ki sebaliknya tersurut mundur tiga langkah. Keruan kaget dan girang hati Hong-lay-mo-li, maklumlah pukulan beracun Kongsun Ki amat lihay, menurut apa yang dia ketahui, dalam kolong langit ini, kecuali ayahnya dan gurunya takkan ada tokoh yang berani beradu pukulan, namun laki2 ini berani melawan pukulan Kongsun Ki, sedikitpun tidak kelihatan terluka atau keracunan.

Namun hati Hong-lay-mo-li masih kebat kebit, kuatir orang tidak kuat bertahan lama, lekas Hong-lay-mo-li tenangkan diri menghimpun semangat kerahkan tenaga mengusir hawa beracun yang merembes ke badannya, supaya nanti dia siap membantu orang itu bila perlu.

Untung Hong-lay-mo-li membawa Pi-sia-tan buatan ayahnya, paling Hong-lay-mo-li hanya mengendus sedikit hawa beracun saja. cepat sekali rasa mual dadanya sudah hilang, semangatnya sudah pulih bergairah.

Sementara itu Kongsun Ki berdiri berhadapan dengan laki2 itu, jarak kedua pihak ada tiga tombak. Kongsun Ki lintangkan tangan, telapak tangannya tegak lurus seperti golok, matanya lekat2 mengawasi musuh, sementara laki2 itupun pasang kuda2, sebelah tangan terkepal, tangan yang lain melintang didada, keduanya beradu pandang seperti ayam jago yang saling incar mencari posisi kelemahan musuh.

Hong-Iay-mo-li tahu Kongsun Ki sudah kerahkan Hoa-hiat- to dan Hu-kut-ciang, sementara laki2 itu menggunakan "Kim- kong-ciang melindungi badan. Keduanya siaga menunggu serangan lawan, menunggu kesempatan untuk menyerang titik kelemahan lawan.

Se-konyong2 Kongsun Ki menghardik bagai guntur menggelegar secepat kilat dia menubruk maju, tampak sinar hijau berkelebat amat diluar dugaan Hong-lay-mo-li, Kongsun Ki tidak gunakan kedua ilmu berbisa, tapi mengandalkan pedang lemasnya, sekaligus dia kembangkan Yo-hun-kiam- hoat ajaran keluarganya. Ternyata setelah beradu pukulan barusan Kongsun Ki dapatkan kekuatan tenaga dalam lawan teramat tangguh, pukulan Hoa hiat-to dan Hu-kut-ciang yang dia lancarkan kena ditolak balik, untung dia sudah berhasil meyakinkan Lwekang rahasia keluarga Siang, cepat melindungi jantung, kalau tidak bukan lawan yang terluka malah diri sendiri yang terserang racunnya sendiri.

Setelah mengalami pukulan berat, semula dia masih hendak menggunakan kedua ilmu berbisa ini untuk membunuh lawan, Tapi melihat gaya dan kuda2 lawan sekokoh gunung dan setenang lautan samudra.

Sedikitpun tidak menandakan keracunan, hatinya menjadi was2 dan ragu2.

Untunglah karena keraguan ini, Kongsun Ki tidak berani gunakan ilmu beracun lagi, sebetulnya Lwe-kang laki2 itu hanya sedikit unggul, betapapun akhirnya pasti keracunan juga, kalau dinilai, Kongsun Ki akhirnya tetap lebih untung.

Kini Kongsun Ki tidak gunakan pukulan berbisa malah menggunakan pedang, justru kebetulan malah bagi laki2 itu, Kongsun Ki menubruk cepat, diapun menangkis dengan cepat, terdengar suara "tang" dibarengi kembang api berpijar, didalam waktu sesingkat itu tahu2 laki2 itu sudah cabut golok dengan jurus Liong-ih-hong-bu, pedang mestika Kongsun Ki kena ditangkisnya pergi jengeknya dingin: "Bagus, mari kutandingi kepandaian bermain senjata."

"Golok pusaka yang bagus!" tak urung Kongsun Ki berseru memuji. Maklumlah pedang lemas Kongsun Ki sendiri adalah senjata mestika yang dibikin dari baja murni yang lemas, biasanya dia buat sabuk, sembarang waktu bisa dia lolos untuk senjata, pedang mestikanya tak mampu memapas kutung golok lawan, setelah saling bentrok, kedua pihak tidak cidra sedikit-pun, maka dapatlah disimpulkan bahwa golok lawanpun senjata mestika, jelasnya kwalitet, dari bikinan golok mestika lawan tidak lebih rendah dari pedangnya.

Yang menimbulkan seruan Kongsun Ki bukan melulu golok lawan yang bagus, namun ada maksud yang lain, yaitu pada gagang golok orang ternyata disoroti sebutir jamrut mata kucing yang berkilauan sebesar kelengkeng.

Hanya jamrut mata kucing, ini saja nilainya cukup untuk membeli sebuah kota besar, demikian sarung goloknya disepuh emas murni, laki2 ini berdandan sebagai pengemis, namun golok mestika bernilai begitu tinggi, mau tidak mau Kongsun Ki serba ragu dan curiga?

semula Hong-lay-mo-li sendiri tidak perhatikan, setelah mendengar pujian Kongsun Ki baru dia melihat jelas, Tapi kecuali memperhatikan goloknya Itu, diapun perhatikan bentuknya, Golok yang dipakai ini adalah golok melengkung seperti bulan sabit yang biasa dibuat gaman oleh setiap kaum bangsawan negeri Kim.

Mau tidak mau timbul rasa curiganya: "Mungkinkah Iaki2- ini orang Kim? seorang gagah- yang punya pambek besar seperti Bu-lim-thian-kiau?"

Apa yang menjadi perhatian Hong-lay-mo-li akhirnya menjadi perhatian Kongsun Ki pula, sedikit merandek segera dia tekan pedang seraya membentak: "Siapa kau?"

"Peduli siapa aku? Kau tidak kenal aku, sebaliknya aku kenal kau! Kau sampah persilatan yang durhaka dan pengkhianat bangsa, berani se-wenang2 disini, jiwamu takkan kuampuni lagi? Lihat golok!"

Sinar kilat berkelebat saling gubat dan serang menyerang laksana dua naga yang berkelahi ditengah udara, kedua pihak kali ini kerahkan seluruh kepandaian dan ilmu masing2 untuk menggempur lawan, pertempuran semakin sengit Kongsun Ki dilandasi dua aliran ilmu dari lurus dan sesat, yang ia mainkan sekarang adalah Yo-hun-kiam-hoat ajaran keluarganya maka permainannya amat lancar dan lincah sekali, sesuai dengan namanya Yo-hun-kiam-hoat mengutamakan kelunakan menundukan kekerasan.

Sekaligus Kongsun Ki kerahkan Tay-yan-pat-seh ajaran lwekang dari keluarga Siang pada permainan ilmu pedangnya, maka perbawanya berlipat ganda, jurus serangannyapun menjadi lebih ganas.

Walau Lwekang nya masih lebih rendah dari lawan, tapi didalam pertempuran seru ini permainan jurus2nya jauh lebih menguntungkan, lambat laun dia berhasil merangsak lawan, sehingga laki2 itu hanya mampu membela diri belaka.

Dengan seksama Hong-lay-mo-li perhatikan pertempuran ini, tiba2 dia berteriak: "Masuk Kun-kong putar ke Sian-wi, tusuk Giok-gan-hiat!" laki2 itu tengah diserang pedang Kongsun Ki yang aneh dan lihay, disaat dia keripuhan dan tidak tahu cara bagaimana harus mengatasinya.

Tiba2 mendapat petunjuk Hong-lay-mo-li, serta merta dia bergerak menurut apa yang di-serukan, betul juga keadaannya terdesak berbalik bisa balas menyerang.

Sejak kecil Hong-lay-mo-li dididik oleh ayah Kongsun Ki, ilmu pedang keluarganya sudah dia pelajari seluruhnya dengan matang, maka kemurnian dari Yo-hun-kiam-hoat ini dia lebih matang dan apal dari Kongsun Ki, dengan memberikan petunjuk tanpa dia menggerakan kaki tangan, berarti dia sudah bergabung mengeroyok Kongsun Ki.

Keruan Kongsun Ki amat gusar, bentaknya: "Kurangajar!

Liu Jing-yau, kau malah membela musuh.luar!"

"Musuh luar apa?" jengek Hong-lay-mo-li, "Hm barusan kau sudah begitu besar nafsumu untuk membelah kepalaku!"

"Lekas masuk Le-kong, putar ke Sian-wi, pedang menusuk Thian-cu. telapak tangan gempur Hiat-hay!" kata2nya terakhir dia tujukan kepada laki2. Sudah tentu malu menyesal dan marah pula Kongsun Ki dibuatnya, mulutnya kelakep, setelah beruntun dapat punahkan beberapa jurus serangan bahaya Kongsun Ki, kini laki2 itu sudah merubah situasi berbalik dia yang lebih unggul di atas angin.

Ditengah pertempuran seru itu, tiba2 laki2 itu menghardik: "Diberi tidak membalas kurang hormat! lihat golok!" seketika sinar goloknya berkembang seperti jala, diiringi benturan yang berdering nyaring.

Kedua pihak begitu saling beradu lantas merubah gerak tipu masing2, cepatnya melebihi suara, sampaipun Hong-lay- mo-li yang punya dasar kepandaian tinggi, sudah mengawasi dengan seksama lagi, Tiba2 dilihat hanya cahaya golok dan pedang, tidak bisa membedakan bayangan kedua orang lagi.

Dengan golok cepatnya laki2 itu berhasil menekan dan mengurung lawannya, maka tidak perlu mendapat petunjuk Hong-lay-mo-li lagi. Mau tidak mau Hong-lay-mo-li memuji dan kagum dalam hati.

Baru sekarang Kongsun Ki insaf bahwa didalam meyakinkan ilmu goloknya lawanpun mempunyai keistimewaannya sendiri, sebetulnya sama2 tinggi dan sejajar tingkatannya dengan Yo- hun-kiam-hoat keluarganya.

Umpama tadi orang tidak mendapat petunjuk Hong-lay-mo- li, bila orang menggunakan ilmu goloknya ini untuk menandingipun takkan terkalahkan.

Bagi dua jago silat yang setaraf kepandaiannya, didalam pertempuran mengutamakan kesempatan terlebih dahulu untuk menyerang dan mencecar. Dengan mendapat petunjuk Hong-Iay-mo-li, laki2 ini berhasil menempatkan posisi yang lebih unggul, dari pihak diserang kini berbalik menyerang, sudah tentu ganti Kongsun Ki yang dirangsaknya mencak2. Dalam sepeminman teh, laki2 itu sudah membacok delapan puluh satu jurus. Di waktu membacokkan golok pada jurus ke delapan puluh satu, Kongsun Ki sudah tak mampu berkelit lagi, tak mampu menyentuh lantas merubah jurus permainan pula, terpaksa dia harus menyambut secara kekerasan "Tang" kuping terasa pekak, ujung pedang Kongsun Ki terpapas sedikit oleh tabasan goloknya.

Gaman kedua pihak sama2 senjata mestika, kwalitet logamnya sama, Kini ujung pedang Kongsun Ki terpapas putus sedikit, ini menandakan Lwekang si Iaki2 lebih unggul sedikit, dan lagi permainan ilmu golok orang sedemikian hebat ditambah ketajaman goloknya lagi, maka perbawanya lebih unggul dari Yo-hun-kiam-hoat yang dimainkan Kongsun Ki.

Setelah masukkan golok ke sarungnya, laki2 itu bersenjata terpapas putus, dalam keadaan serba kalah sudah tentu dia tidak berani melanjutkan pertempuran, Segera diangkat langkah seribu, tapi tak lupa dia mengolok2 untuk menutupi rasa malunya. "Hari ini kau dibantu Sumoayku, biarlah lain kesempatan kuperhitungkan kepadamu."

"Bagus, sembarang waktu aku menunggu tuntutanmu, Kau tidak cari aku, akulah yang akan mencarimu." ejek laki2 itu, kuatir Hong-lay-mo-li terluka, maka dia tidak hiraukan Kongsun Ki lagi.

Setelah masukan golok kesarungnya, laki2 itu berpaling serta memberi hormat kepada Hong-lay-mo-li, katanya: "Liu Lihiap, kau baik2 saja."

"Terima kasih akan bantuan Hohan, aku tidak apa2, sayang bangsat itu lari. Harap tanya siapakah nama besar Hohan."

Semakin pandang Hong-lay-mo-li seperti pernah mengenalnya, demikian pula golok itu seperti pernah dilihatnya entah dimana? Demikian dalam hati dia ber-tanya2.

Laki2 itu lantas perkenalkan diri, katanya: "Aku she Bu bernama Su-tun. Liu lihiap tak usah sungkan, untung kau memberi petunjuk, kalau, tidak siapa menang siapa kalah susah diramalkan."

"Bu Su-tun" nama ini teramat asing bagi Hong-lay-mo-li, keruan dia keheranan. Agaknya laki2 itu tahu keraguan hatinya, katanya dengan tertawa "Liu lihiap tidak ingat lagi? Bukankah dulu kita pernah bertemu sekali!"

Hong-Iay-moli tertawa rikuh, katanya: "Maaf ingatanku kurang sehat, sungguh tak ingat lagi Entah dimana aku pernah bertemu dengan Bu Tayhiap?"

"Dipuncak gunung itulah." sahut Bu Su-tun, "Kejadian baru dua bulan yang lalu." puncak yang dia tudfng adalah bukit dimana Wanyan Liang bercokol dengan pasukan besarnya sebelum pertempuran Jay-ciok-ki terjadi pertempuran Jay- ciok-ki memang sudah berselang dua bulan.

Baru sekarang Hong-lay-mo-li sadar dan mengerti serunya: "O, kiranya kau adalah Hohan yang memenggal batok kepala Wanyan Liang itu." sejak pertempuran itu Hong lay-mo-li sudah berusaha mencari tahu siapakah opsir yang memenggal batok kepala Wanyan Liang. baru sekarang tanda tanya besar itu terjawab.

Kiranya Bu Su-tun ini, Sedang golok yang dia gunakan inipun sebelumnya gaman mestika milik Wanyan Liang, waktu itu sekaligus Bu Su-tun membawanya sekalian.

Bu Su-tun berkata: "Panggilan Hohan aku tidak berani terima, Hari itu Wanyan Liang terpanah jatuh dari punggung kuda oleh kalian, aku hanya menambahkan sekali tabasan saja, jasa utama tetap berada ditangan kalian."

"Kalau tidak kau jelaskan, sungguh aku tak teringat lagi. Bu Tayhiap, dandanmu kenapa berbeda jauh sekali," waktu dia memenggal kepala Wanyan Liang, orang mengenakan seragam militer dari opsir tinggi negeri Kim, dandanan Bu Su- tun sekarang adalah pengemis rudin. Cuma walau pakaiannya penuh tambalan, namun bajunya ini kelihatan masih baru dan bersih.

"Apa ya?" Bu Su-tun tertawa. "Aku hanya kembali kerupa asliku saja."

"Harap tanya apakah Bu Tayhiap anggota Kaypang, pernah apa dengan Siang pangcu?"

Sebagai Lok lim-beng-cu, sekali lihat dandanan orang Hong-lay-mo-li tahu orang tentu tokoh penting didalam Kaypang.

"Siang-pangcu adalah guruku berbudi, tapi sayang sekali bulan yang lalu beliau sudah mangkat."

Perlu diketahui Pangcu dari Kaypang Siang Gun-yang adalah Bu-lim-cianpwe, selama hidupnya menjunjung jiwa kependekaran, dimana saja dia mendapat junjungan dan sanjung puji sesama golongan, Aturan Kaypang yang ketat hanya mengijinkan anggotanya meminta, dilarang merebut, apa lagi mencuri.

Maka anggota Kaypang umumnya jarang bergaul dengan orang2 LokIim. Umpama ada hubungan pribadi sebagai sahabat karib, namun mereka bekerja menurut pambek dan angan2nya sendiri. Namun demikian, karena sesama patriot bangsa melawan penjajah Kim, sedikit banyak Hong-lay-mo-li pernah mengadakan kontak langsung dengan Siang Gun-yang, kini mendengar kabar kematiannya, mau tidak mau dia menghela napas dan nyatakan duka citanya.

Tapi lapat2 Hong-lay-mo-li merasakan adanya sesuatu yang ganjil dan mengherankan, cuma baru kenal maka tidak enak dia mengajukan pertanyaan kepada Bu Su-tun. Dan persoalan yang paling ingin dia ketahui adalah, kenapa sebagai anak murid Kaypang, Bu Su-tun koh menyelundup dan menjadi opsir tinggi didalam Gi-lim-kun kerajaan Kim, membunuh Wanyan Liang lagi, Maka Hong-lay-mo-li lantas mohon penjelasan.

"Mari kita ngobrol sambil berjalan." kata Bu Su-tun, "Liu lihiap belum makan malam bukan?"

"Hari ini sehari penuh aku berjuang ditengah sungai, boleh dikata sebutir nasipun belum sempat masuk perut, memang aku sedang cari makahan. Tahu-kah kau dimana aku bisa menginap disekitar sini?"

"Tak jauh didepan sana aku punya pondok, kalau kau tidak merasa lelah dan tidak anggap kotor tempatku boleh silakan mampir, Nah, paha kambing bakar ini silakan kau makan dulu." dari dalam kantongan yang dibawanya dia mengeluarkan sebuah paha kambing bakar yang sudah matang.

"Bagus sekali. Aku bukan putri bangsawan, masakah harus pakai pantangan segala." tanpa sungkan dia terima paha kambing itu terus digeragoti dengan lahapnya.

Bu Su-tun melanjutkan penjelasannya: "Asalnya aku kelahiran Lam-yang, ayahku jadi guru sekolah di-kampung, Waktu pasukan Kim menduduki Lamyang, aku baru berusia lima tahun. Ayah tidak sudi jadi rakyat jajahan, maka beliau bawa tujuh orang keluarganya mengungsi hendak menyebrang ke selatan.

Tak nyana ditengah jalan kesamplok pasukan musuh, seluruh keluargaku terbunuh, tinggal aku seorang, akupun tertusuk golok, untung jiwaku belum melayang, Mungkin karena aku anak kecil, musuh tidak perhatikan maka selamatlah jiwaku."

"Akhirnya aku ditolong seorang pengemis yang kebetulan lewat, setelah aku diobati, dia suruh aku ikut meminta2 sedekah, pengemis ini adalah murid Kaypang, pada suatu pertemuan diantara sesama anggota Kaypang dia membawaku hadir dan menghadap kepada Pangcu, minta pangcu sudi menerima aku jadi murid Kaypang.

Tahun itu aku berusia delapan, didalam Kaypang merupakan murid terkecil. Dua tahun kemudian, Pangcu bilang aku punya bakat menyakinkan ilmu silat, maka beliau menerimaku sebagai muridnya.

"Suhu tahu aku punya dendam keluarga sedalam lautan, beliau berkeputusan hendak menyempurnakan cita2ku untuk menuntut balas. Maka aku disuruh mempelajari kehidupan orang2 Kim, bahasa dan tulisannya. waktu aku berusia delapan belas, aku disuruh menyaru jadi orang Kim, disaat Wanyan Liang memilih orang mendirikan Gi-lim-kun, aku mendaftarkan diri dan ikut ujian, sengaja aku sembunyikan beberapa kepandaian, supaya tidak menarik perhatian orang.

Akhirnya aku berhasil menduduki nomor lima, sebetulnya setiap anggota Gi-lim-kun diharuskan punya tanda pengenal dan keterangan riwayat hidup, untung guruku luas pergaulan, diantara patriot2 bangsa Kim juga ada kenalan baiknya. setelah segalanya diatur oleh Suhu, kesulitan ini dengan gampang kita atasi, Sejak itu aku menjadi bintara didalam Gi- lim-kun.

"Seorang bintara belum punya kesempatan untuk mendekati Wanyan Liang, tanpa terasa sepuluh tahun telah berlalu, pangkatku terus menanjak, dan kesempatan baik kuperoleh dipertempuran di Jay-ciok-ki, aku berhasil memenggal kepala Wanyan Liang dengan tanganku sendiri, dendam keluargaku terhitung dapat kubalas."

"Berkat usaha berat Unsu dan bimbingannya maka aku berhasil menuntut balas, sayang disaat aku membawa batok kepala musuh kehadapan Unsu, aku hanya bisa melihat wajahnya yang terakhir kali. Waktu itu beliau sudah sakit berat, melihat batok kepala Wanyan Liang, saking kegirangan, beliau gelak2, ditengah gelak tawanya mendadak napasnya putus dan mangkatlah jiwanya." Hong-lay-mo-li segera menghibur: "Aku ingat tiga tahun yang lalu adalah hari ulang tahun gurumu yang ke tujuh puluh, usianya sudah lanjut, melihat murid kesayangannya berhasil menuntut dendam negara dan keluarga, kematiannya terang tidak perlu disesalkan, beliau pasti akan tersenyum dialam baka, Tapi entah siapa pengganti Pangcu yang baru?"

Berkerut alis Bu Su-tun, se-olah2 tidak ingin memperbincangkan persoalan ini, sahutnya: "Seorang suhengku yang mewarisi jabatannya, Toa-suhengku ini rada salah paham terhadapku, mungkin kelak aku harus mohon bantuan Liu Lihiap."

"Bila tenagaku mampu, aku pasti tidak akan menolak, silahkan Bu Tayhiap jelaskan."

"Panjang kalau diceritakan persoalan ini. Pon-dokku sudah sampai, Silakan Liu Llhiap mampir dan nanti kulanjutkan penjelasanku."

Waktu Hong-lay-mo-li angkat kepala, tampak sebuah rumah batu diatas gunung, dalam rumah ada sinar lampu yang menyorot keluar, pandangan Hong-lay-mo li amat tajam, dari kejauhan dia sudah melihat bayangan seseorang yang mirip perempuan berada didalam rumah batu itu.

Hakikatnya tidak pernah terbayang oleh Hong-lay-mo-li bahwa Bu Su-tun bakal menyembunyikan seorang perempuan dipondoknya, maka sekilas dia melengak. Maklumlah, meski anggota Kaypang tidak dilarang untuk kawin, namun keadaan Bu Su-tun berlainan sejak berumur delapan belas dia masuk kemiliteran, sepuluh tahun jadi anggota Gi-lim-kun kerajaan Kim, belum pernah kawin, begitu kembali ke Kaypang kebetulan kebentur kematian gurunya lagi, didalam waktu sesingkat ini tak mungkin menikah.

Kebiasaan Kaypang tidak pernah menerima murid perempuan, tapi perempuan ini menetap bersama dengan Bu Su-tun, tengah malam masih menyalakan lampu menunggu dia pulang, jelas hubungan mereka tentu bukan sembarangan, mau tidak mau dia mengerut kening, batinnya:

"Apakah Bu Su-tun seorang yang bersepak terjangnya tidak genah?"

Tengah dia me-reka2 dalam hati, Bu Su-tun sudah tertawa, katanya: "Liu Lihiap, malam ini sungguh amat kebetulan, kau punya seorang teman kebetulan berada ditempatku, kau tidak mengiranya bukan?"

Kini Hong-lay-mo-li sudah melihat jelas bayangan gadis dalam rumah memang seperti pernah dikenalnya, hanya dalam waktu dekat belum tersimpul dalam ingatannya, baru saja dia mau bertanya Bu Su-tun sudah berseru lantang: "Ji- yan. coba kau lihat siapa yang datang bersamaku?"

Gadis dalam rumah segera berlari keluar, begitu beradu pandang dengan Hong-lay-mo-li, keduanya sama kaget dan kegirangan tidak sempat saling tanya keduanya sudah saling berpelukan.

Setelah gejolak emosi mereka mereda, baru gadis itu bertanya: "Liu-cici, empat tahun tak bertemu bikin aku kangen sekali,"

"Hun-cici, kaupun demikian, empat tahun ini kemana kau menyembunyikan diri, kenapa tidak kau tilik aku?"

Ternyata gadis ini adalah seorang sahabat kental Hong-lay- mo-li sejak empat tahun yang lalu, yaitu putri "Hun Ting-giok guru silat kenamaan dari Lamyang yang bernama Hun Ji-yan.

Empat tahun yang lalu, disaat Hong-lay-mo-li mulai menjabat Lok-Iim Bengcu dilima propinsi daerah utara, ketenarannya mulai kumandang di Kangouw, teman baiknya Hun Ji-yan justru ketimpa suatu kemalangan, ada seorang janat mencari gara2 kepadanya.Orang jahat ini kebetulan bukan lain adalah suheng Hong-lay-mo-li, yaitu Kongsun Ki. Kongsun Ki hendak paksa Hun Ji-yan menjadi gundiknya tapi dia tidak gunakan cara paksa dan rebut, tapi secara terus terang mengajukan lamaran ke-rumah keluarga Hun, dia minta Hun Tiong-giok serahkan putrinya dan mengadakan upacara perkawinan

Diapun menyatakan bila pinangannya ditolak, dia akan selalu membuat onar dan menganggu sehingga keluarga Hun tak kuasa bercokol di Kangouw. Sudah tentu tantangan ini merupakan suatu penghinaan besar bagi Hun Tiong-giok sebagai guru silat kenamaan

Akhirnya Hun Tiong-giok dan putrinya kena dikalahkan Kongsun Ki. Kongsun Ki memberi ultimatum dalam sepuluh hari Hun Tiong-giok secara suka rela harus menyerahkan dan mengantar putrinya, Hun Tiong-giok sudah mengundang beberapa temannya untuk membantu, namun semua dapat dikalahkan dengan runyam.

Waktu itu Hun Ji-yan belum tahu bahwa Kongsun Ki adalah Suheng Hong-lay-mo-li, maka dia suruh seorang Sumoaynya minta pertolongan kepada Hong-lay-mo-li. Namun kedatangan Hong-lay-mo-li sudah terlambat satu hari, waktu sepuluh hari yang dibatasi Kongsun Ki sudah lewat.

Sudah tentu Hong-lay-mo-li gelisah, dia kira Hun Ji-yan sudah digondol pergi Suhengnya, umpama be-lum, paling tidak tentu sudah dipermainkan. Tak nyana waktu dia tiba ditujuan, keluarga Hun malah keluar menyambut dengan wajah berseri, setelah berterima kasih, lalu berkata:

"Syukurlah bangsat jahat itu sudah digebah lari. selanjutnya takkan mengganggu kita lagi, Tapi bantuanmu yang berharga, kita tetap mengukirnya didalam hati."

Sudah tentu Hong-lay-mo-li keheranan, dia minta penjelasan kepada Hun Ji-yan. Kiranya pada saat genting itu, entah darimana datangnya seorang Suseng muda yang bersenjata kipas berhasil menghajar Kongsun Ki dan menyuruhnya sumpah berat, selanjutnya tidak akan mengganggu keluarga Hun lagi, baru Su-seng muda itu melepasnya pergi, setelah mengalahkan Kongsun Ki.

Suseng yang tak diundang inipun tertawa gelak2 sambil melangkah pergi, Hun Tiong-giok belum sempat bertanya nama besarnya, belakangan baru tahu bahwa Suseng muda itu adalah Siau-go-kan-kun Hoa Kok-ham.

Dari mulut dan cerita Hun Ji-yan pula untuk pertama kali Hong-lay-mo-li mendengar tentang nama Siau-go-kan-kun Hoa Kok-ham.

Empat tahun kemudian hari ini mereka bertemu pula, keruan senangnya bukan main, tanya Hong-lay-mo-Ii: "Kalian kemari, apakah mengejar jejak Kongsun Ki?"

"Benar, murid Kaypang mendapatkan jejak Kongsun Ki. maka aku minta Bu-toako menuntutkan balas sakit hatiku, Liu- cici, tak nyana bangsat itu adalah Suhengmu."

"Bangsat ini sudah tidak kuanggap sebagai Suheng lagi.

Tujuanku pulang adalah untuk memberi laporan kepada guru supaya beliau menumpas anaknya yang durhaka, Tapi Kongsun Ki sudah berhasil meyakinkan dua ilmu berbisa dari keluarga Siang, kepandaiannya jauh berlipat ganda."

Maka Bu Su-tun lalu menceritakan kejadian tadi Tahu Kongsun Ki berhasil melarikan diri, Hun Ji-yan menghela napas dengan gegetun.

"Keadaanku sudah kalian ketahui, sekarang giliranku tanya keadaan kalian! Hun-cici, kau pandai pura2 dan mengelabui aku, kenapa Bu-toakomu tidak pernah kau perkenalkan kepadaku? Sejak kapan hubungan kalian sudah terikat?"

Merah muka Hun Ji-yan, katanya: "Cici menggoda saja. kita sendiri punya kesulitan, marilah kujelaskan didalam rumah" Ternyata mereka sama2 orang berasal Tong-pa, keluarga mereka kebetulan tetangga, Kalau ayah Hun Ji-yan guru silat kenamaan, sebaliknya ayah Bu Su-tun adalah guru sekolah dikampung, namun hubungan kedua keluarga amat akrab dan cocok. Usia Bu Su-tun tiga tahun lebih tua. Waktu keluarga Bu Su-tun hancur, usianya baru lima tahun, jadi Hun Ji-yan baru dua tahun.

Hun Tiong-giok termasuk keluarga persialatan, tingkatannya sama dengan Siang Gun-yang, Pangcu dari Kaypang, hubungan merekapun amat baik. Suatu ketika Siang Gun-yang pernah menyatakan bahwa muridnya penutup adalah orang berasal dari Lamyang, waktu ditanyakan baru Hun Tiong-giok tahu, kiranya adalah putra tangganya, yaitu Bu Su-tun.

Melihat putra temannya sudah tumbuh dewasa, Hun Tiong- giok ikut girang, mengingat hubungan kedua keluarga masa lalu, serta kasihan bahwa orang sekarang hanya sebatang kara, maka timbul keinginan Hun Tiong-giok hendak menjodohkan putrinya dengan Bu Su-tun.

Maka sejak itu, setiap ada kesempatan Hun Tiong-giok ajak putrinya datang menyambangi Bu Su-tun, lama kelamaan hubungan kedua muda mudi ini tumbuh dan intim serta mesra.

Waktu itu Hun Ji-yan berusia lima belas, gadis yang mulai mekar dan mendambakan asmara, hatinya amat kagum dan memuji kepada Bu-toako yang berkepandaian tinggi ini, selama bergaul hatinya teramat senang dan riang. Namun dia belum tahu apa artinya cinta, namun dalam pandangan orang lain, mereka sudah merupakan pasangan setimpal.

Pernah beberapa kali Hun Tiong-giok menyinggung perjodohan kedua muda mudi ini kepada Siang Gun-yang. Tapi Siang Gun-yang selalu mencari alasan dan mengulur waktu. Suatu hari mungkin karena terlalu banyak minum arak, Hun Tiong-giok naik pitam dan tanya kepada Siang Gun-yang apakah putrinya tidak setimpal jadi istri muridnya?

Waktu itu tiada orang lain, terpaksa Siang Gun-yang memberitahu sebab musababnya, seperti diketahui Bu Su-tun waktu itu memikul tugas berat, menyaru jadi orang Kim menjadi anggota Gi-lim-kun berusaha membunuh Wan-yan Liang. hal ini teramat rahasia, entah kapan dia bisa atau tidak kembali dengan selamat? Demi masa depan Hun ji-yan maka Siang Gun-yang berusaha mengulur waktu dan kalau bisa menolak perjodohan mereka.

Sudah tentu Hun Tiong-giok amat haru, namun tekadnya semakin besar, Demikian pula Hun Ji-yan yang masih hijau ini, dihadapan kedua orang tua dan pujaan hatinya dia bersumpah setia untuk menunggu Bu Su-tun kembali, bila Bu Su-tun gugur dan takkan kembali diapun takkan menikah seumur hidup. Karena haru dan merasa hutang budi akan kebaikan Hun Ji-yan dan ayahnya, maka perjodohan inipun akhirnya diresmikan.

Betapa penting dan terahasia tugas yang dipikul Bu Su-tun ini, didalam Kaypang kecuali Siang Gun-yang dan seorang Tianglo, hanya Hun Tiong-giok ayah beranak saja yang tahu.

Sudah tentu keluarga Hun amat merahasiakan hal ini dan tutup mulut serapat botol, sampaipun terhadap Hong lay-mo- li, Hun Ji-yanpun tidak berani menceritakan.

Sejak Bu Su-tun menjalankan tugasnya, mereka tidak pernah bertemu. Enam tahun kemudian terjadilah peristiwa pemaksaan Kongsun Ki, sejak peristiwa itu, Hun Tiong-giok amat penasaran dan jatuh sakit, tahun kedua akhirnya dia meninggal lantaran sakitnya.

Kuatir Kongsun Ki datang mencari gara2 lagi, Hun Ji-yan tinggalkan kampung halamannya, menuju "Go-bi-san memperdalam kepandaian silatnya diba-wah asuhan gurunya Bu-siang Sinni, Disana dia belajar lagi tiga tahun baru kembali. Tak lama setelah dia berada dirumah, Bu Su-tunpun sukses akan tugas-nya, setelah membunuh Wanyan Liang pulang berkumpul dengannya, sepuluh tahun mereka berpisah baru kumpul kembali.

Hong-laymo-li tertawa katanya: "SepuIuh tahun sudah kalian nantikan, kini pahit berlalu manisnya mulai datang, Aku perlu menunggu arak kegirangan kalian."

Merah malu Hun Ji-yan dibuatnya, katanya tertawa getir: "Masa begitu gampang membicarakan hal ini? Ai, Liu cici, kau tidak tahu Bu-toako justru kebentur kesulitan."

"Bu Tayhiap." ujar Hong-lay-mo-li, "menurut aturan Kaypang kalian, kau harus berkabung setahun dulu bukan? sepuluh tahun sudah kalian nantikan, apa halangannya menunggu setahun lagi?"

"Liu cici, aku bicara tentang persoalan sesungguhnya, kau malah menggoda saja, Soal ini sepuluh lipat lebih penting dari pernikahan kami."

"Ada persoalan apa sih, kelihatannya Bu Tay-hiap teramat tegang?"

"Liu Lihiap, menyinggung guruku, sulit aku menjelaskan aku, aku sekarang bukan murid Kaypang lagi."

Hong-lay-mo-li melengak, tanyanya: "Kau meninggalkan Kaypang?"

"Bukan aku meninggalkan, sejak kecil aku mendapat budi besar dari guru, mana boleh meninggalkan Kaypang? Aku sekarang adalah murid buangan."

Hong-lay-mo-li amat terperanjat: "Lho, Kenapa bisa terjadi?"

"Waktu aku kembali membawa batok kepala Wan-yan Liang memberi laporan kepada Su-hu, tak lama kemudian Suhu mangkat belum lagi Toa-suheng menerima jabatan pangcu secara resmi, dihadapan layon guruku, dia mengumumkan mengusirku dari Kaypang"

Hong-lay-mo-li tidak habis mengerti, tanyanya: "Aturan apa ini? Menurut aturan, kau membunuh ra-ja negeri Kim, merupakan suatu pahala besar yang tak ternilai, Kaypang harus menjunjung kau sebagai pengganti Pangcu, kenapa malah mengusir kau keluar Kaypang?"

"Persoalannya justru terletak pada batok kepala Wanyan Liang."

"Aku semakin bingung, apa salahnya batok kepala Wanyan Liang?"

"Batok kepala Wanyan Liang tidak salah, soalnya seluruh anggota Kaypang tiada satupun yang kenal atau pernah melihat Wanyan Liang, tiada orang yang dapat membedakan tulen atau palsu, Toasuheng menuduh aku, entah dari mana aku sembarang membawa batok kepala orang, memalsunya untuk mengejar pahala serta mengelabui Kaypang lagi, sekaligus untuk menutupi dosa2 sendiri"

"Masih ada dosa apa lagi?"

"SepuIuh tahun aku jadi anggota Gi-lim-kun dinegeri Kim, semua itu guruku sendiri yang merencanakannya. Tiada orang lain yang tahu bahwa aku memikul tugas berat ini, mereka hanya tahu bahwa aku menjadi pejabat tinggi negeri Kim, Maka Toa-suheng nenambahkan tuduhannya, dikatakan aku kemaruk harta dan pangkat mengkhianati Kaypang, Setelah melihat negeri Kim kalah perang, Wanyan Liang mati, tahu situasi tidak menguntungkan, baru aku mengejar pahala dengan batok kepala Wanyan Liang yang palsu untuk hendak menipu mereka"

"Waktu kau kembali, bukankah kau sudah menghadap gurumu? Adakah orang lain itu waktu?" "Waktu itu Toa-suhengpun hadir, Tapi setelah melihat kepala Wanyan Liang Suhu lantas mangkat, tentang tugas rahasia diriku untuk membunuh Wanyan Liang tetap menjadi rahasia terbawa keliang kubur."

"Tapi sikap gurumu waktu itu sudah membuktikan bahwa kau bukan murid pengkhianat. Kalau tidak tentu dia sudah perintahkan orang meringkusmu, masakah begitu senang malah?"

"Aku pernah menangkis semua tuduhan itu. Tapi Suhu sedang sakit," kata Toasuheng "dalam sakitnya guru kurang sadar pikirannya, maka beliau percaya akan obrolanku, baru beliau merasa girang, jelasnya karena Suhu tidak membeber tugasku atas perintahnya, aku sendiripun tak bisa memberikan bukti, maka semua orang percaya akan tuduhan Toa-suheng, bahwa aku hanya diusir dari Kaypang, katanya sudah merupakan pengampunan besar bagi diriku,"

"Bukankah masih ada seorang Tianglo yang mengetahui rahasia ini?" tanya Hong-lay-mo-li.

"Tianglo ini memang masih hidup, namun usianya terlalu tua dan sering sakit2an, malah pikirannya sudah tidak genah lagi, Waktu Toa-suheng pergi tanya kepada dia, setengah harian mereka bicara tanpa hasil, hal itu tetap tak bisa dibuktikan."

Timbul curiga Hong-lay-mo-li, dia menduga persoalan ini pasti ada latar belakangnya yang amat rumit dan penting.

Berkata Bu Su-tun lebih ianjut: "Kecuali, masih ada empat orang yang tahu akan rahasia ini. pangcu dan ayah Ji-yan sudah meninggal, Tianglo tidak mau memberi kesaksian, tinggal Ji-yan seorang, banyak orang tahu dia adalah calon istriku, sudah tentu dia tidak boleh jadi saksi" "Toa-suhengmu adalah Hong Hwe-liong bukan?" tanya Hong-lay-mo-li, "Dulu aku pernah melihatnya sekali, cuma bagaimana martabatnya aku tidak tahu, bagaimana karakternya selama ini?"

"To-asuheng seorang jujur dan adil dalam tindak tanduk, banyak anggota mengaguminya."

"Liu-cici," ujar Hun Ji-yau, melihat Hong-lay-mo-li tertunduk seperti berpikir, dia bertanya "Apa kau punya urusan penting?"

"Hun-cici," ujar Hong-lay-mo-H, "kuharap kau tidak salah paham bahwa aku sengaja mencari alasan belaka, Bahwa Bu Tayhiap sendiri yang memenggal kepala Wanyan Liang kusaksikan sendiri, jangan kata dia bakal menjadi Cihuku, umpama seorang yang tidak pernah kukenal umpamanya, setelah tahu akan peristiwa yang tiada juntrungannya ini aku tetap akan tampil membantu jadi saksi, Kuatirnya hanya aku seorang saja berhadapan dengan suhengmu juga belum tentu berhasil."

"Liu-cici," ujar Hun Ji yan- "Kau adalah Loklim Bengcu dari lima propensi diutara, kata2mu pasti dapat dipercaya, Hong Hwe-liong boleh tidak percaya kepada orang lain, masakah dia tidak percaya kepadamu juga?"

"Didalam persoalan ini jelas punya latar belakang yang masih gelap, biasanya Kaypang tidak pernah kerja sama dengan-kaum Loklim, justru karena aku adalah Loklim Bengcu, jikalau aku yang tampil menjadi saksi, mungkin malah menimbulkan kecurigaan."

Agaknya Hun Ji-yan belum mengerti, tanyanya: "Kecurigaan apa?"

"Ada sebuah hal entah patut tidak kukemukakan ?" ujar Hong-lay-mo-li.

Bersinar mata Bu Su-tun. katanya: "Apakah Liu Lihiap mencurigai suhengku..." "Benar, Menurut pendapatku, bukan mustahil Hong Hvve- liong sengaja mengatur muslihat hendak menjebak kau, maka begitu besar tekadnya mengusir kau dari Kaypang, Soalnya kau berhasil membunuh Wanyan Liang, betapa besar jasa dan pahala ini, jikalau dia dengan kukuh mengatakan batok kepala itu palsu, ditambah tuduhan sebagai pengkhianat dan mengejar pangkat dan kemaruk harta, murid2 Kay-pang takkan berani mencalonkan dirimu sebagai pengganti Pangcu baru."

Memangnya Bu Su-tun adalah pemuda yang cerdik, cekatan dan serba bisa, kalau tidak masakah selama sepuluh tahun dia bisa menyelundup ke jantung musuh serta tak terbongkar kedoknya? Sudah tentu apa yang dicurigai Hong- lay-mo-li juga pernah dia pikirkan cuma dia tidak tega mengemukakannya.

Kecuali ambisi suhengnya ini teramat besar ingin menduduki jabatan tinggi, biasanya Hong Hwe-liong tiada punya ciri2 yang harus dicela. Demi situasi dan kepentingan besar pihak Kaypang, supaya tidak timbul perpecahan dalam tubuh Kayuang maka dia mandah terima segala tuduhan atas dirinya.

Berkata Hong-lay-mo-li lebih lanjut: "Oleh karena itu bila aku yang tampil sebagai saksi Hong Hwe-liong akan semakin curiga, dikatakan bahwa Bu Tayhiap sengaja mohon bantuan kaum Lo-lim sebagai tulang punggungnya hendak merebut kekuasaan."

Bu Su-tun menghela napas, katanya: "Sebetulnya tiada niatku untuk menjabat Pangcu, aku hanya ingin mencuci bersih penasaranku ini, dan kembali keharibaan Kaypang, untuk membalas budi besar Kaypang terhadapku."

Untuk mencuci penasaran ini, urusan harus dibeber dihadapan umum." ujar Hong-lay-mo-li "Aku akan berusaha mengundang para Bulim cianpwe dan orang gagah di Kangouw yang secara langsung menyaksikan kejadian itu dari dekat. Entah kapan pertemuan besar pihak Kaypang kalian akan diadakan?"

"Menurut kebiasaan Kaypang, pejabat Pangcu yang baru harus mengadakan rapat besar sekali, didalam rapat besar inilah Tianglo akan mengumumkan secara terbuka dan setelah upacara pelantikan diresmikan, baru Pangcu baru ini boleh diakui secara resmi. Tugas2 baru secara langsung sudah harus ditangani oleh Pangcu baru ini, maka Hong-lay-mo-li ajukan pertanyaan ini.

"Aku sudah diusir, segala persoalan Kaypang tidak boleh turut campur. Tapi secara kebetuIan, beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan seorang murid Kaypang yang kukenal baik datang dari tempat jauh, dia belum tahu bahwa aku sudah terusir dari Kaypang, dia memberi kabar kepadaku, tapi aku hanya tahu tempatnya tidak tahu kapan rapat besar itu akan diadakan."

"Dimana tempatnya?" tanya Hong-lay-mo-li. "Diatas Siu-yang-san."

Seketika Hotig-Iay-mo-li unjuk rasa keheranan, serunya: "Apa, Siu-yang-san yang terletak dalam wilayah Liangciu maksudmu?"

"Benar, Katanya semua murid2 kantong kelima keatas dari seluruh Kaypang harus berkumpul di Siu-yang-san, Temanku itu murid kantong ketujuh, menjabat Thocu disebuah kota perbatasan, sepuluh tahun yang lalu dari pusat dia dimutasikan kesana.

Dikira-nya aku sudah murid kantong kelima menurut dugaannya, maka dia bertanya kenapa aku tidak berada di Siu-yang-san? Aku tidak suka bohong, maka kujelaskan apa sebenarnya tentang diriku kepadanya. Dia sih percaya kepadaku, dan merasa penasaran juga akan nasibku, Tapi mengingat aturan2 Kaypang yang keras, maka tanggal dan waktunya rapat dimulai tidak dia beritahukan kepadaku.

"Aneh," ujar Hong-Iay-mo-li, "Kenapa ditentukan di Siu- yang-san? Tahukah kau seluk beluknya?"

Siu-yang-san merupakan gunung yang belum terbuka, lalu lintas didaerah gunung ini belum seramai tempat lain, pantasnya rapat besar Kaypang diadakan di Tionggoan yang dekat dan gampang dicapai.

Kini Pangcu baru Kaypang justru kumpulkan murid2 Kaypang dipuncak Siu-yang-san yang masih belukar, sudah tentu berlawanan dengan kebiasaan, Kebetulan dibawah gunung Siu-yang-san terdapat sebuah desa bernama Jay-hwi- ceng, didesa inilah guru Hong-lay-mo-li yaitu Kongsun In tetirah.

"Aku sendiri sudah pesimis dan segan campur urusan Kaypang, maka bagaimana seluk beluknya akupun tidak tahu, Aku sendiri sedang keheranan, apakah tempat itu dipilih untuk mengelabui pihak penjajah Kim yang berkuasa disini?"

Seperti diketahui Hong-lay-mo-li memang hendak pulang menemui gurunya, jadi kebetulan malah dia sekaligus bisa mengurus peiistiwa ini, apalagi ditempat kediaman gurunya dia bakal bertemu dengan ayahnya pula.

Dua tiga puluh tahun yang lalu, nama mereka sudah menggetarkan Bulim, tentu para Tianglo Kaypang masih kenal baik akan kebesaran nama mereka. Dan lagi ayahnyapun menyaksikan juga Bu Su-tun memenggal kepala Wanyan Liang, maka kedua orang tua ini boleh diminta bantuannya untuk menjadi saksi didalam rapat besar ini untuk mencuci bersih penasaran Bu Su-tun.

Maka Hong-lay-mo-li lantas menjelaskan rencananya, katanya: "Sekarang juga aku menuju ke Siu-yang-san, sepanjang jalan aku akan menyebar Lok-lim-cian, akan kuundang beberapa pemimpin pasukan gerilya, dan para Enghiong kenamaan di Kang-ouw untuk menjadi saksi. Yakin usahaku akan bisa mencuci bersih nama baikmu yang tercemar."

Ter-sipu2 Bu Su-tun menjura, katanya: "Liu Li-hiap, banyak terima kasih akan bantuanmu yang berharga, sekarang aku tidak perlu banyak omong, pendek kata budimu akan selalu terukir didalam sanubariku."

Lekas Hong-lay-mo-li balas menjura, katanya: "Malam ini, tiada bantuanmu, aku pasti sudah celaka oleh kekejian Kongsun Ki"

"Liu Lihiap, dijalan banyak persoalan yang perlu kau selesaikan, sebagai murid buangan, tak enak aku ikut hadir dalam rapat besar itu, disamping itu dengan Ji-yan, aku memang punya urusan pribadi yang harus lekas diselesaikan, kira2 dua hari lagi baru aku berangkat."

"Baik, setiba kalian di Siu-yang-san, boleh kalian pergi dulu ke Jay-hwi-ceng mencariku, Diujung desa ada sebuah rumah, didepan pintu ada sebuah pohon besar, nah. disitulah tempat tetirah guruku."

"O, jadi gurumu tinggal dibawah gunung Siu-yang-san, baik sekali kalau begitu." kata Hun Ji-yan.

Berkata Bu Su-tun dengan tertawa: "Kalian sudah lama tidak ketemu, tentu banyak bahan percakapan, Biar aku pergi mencari makan untuk persiapan Liu Lihiap besok pagi."

Setelah Bu Su-tun pergi, Hong-lay-mo-li tertawa, katanya: "Bu-toakomu begitu sayang dan besar perhatiannya terhadapmu."

"Memangnya, tiba saatnya kita bicara dari hati kehati, Liu- cici. kau sudah punya pujaan hati belum?"

"Belum." sahut Hong-lay-mo-li dengan muka merah. "Jangan kau kelabui aku, semuanya aku sudah tahu, Beberapa hari yang lalu kami sudah bertemu dengan Siau-go- kan-kun Hoa-kok-ham."

"Apa benar?" tak terasa Hong-lay-mo-li bertanya, "Apa saja yang dia katakan?"

"Ternyata Hoa Tayhiap adalah teman baik dengan Bu- toako, Hari itu kami bertemu ditengah jalan, begitu adu muka keduanya sama ter-bahak2. mendadak terus berhantam."

Hong-lay-mo-li keheranan, tanyanya: "Lho, teman baik kok berkelahi?"

"Waktu itu akupun keheranan, aku tidak tahu bila mereka teman baik, maka aku tampil kedepan bujuk mereka menghentikan berkelahi Hoa Tayhiap gelak2, serunya: "Siau- bu, kepandaianmu betul2 maju pesat."

Bu-toako juga gelak2, ujarnya: "Sama2, tak usah sungkan, Kita berpisah sepuluhan tahun, berkelahi tetap sama kuat."

"Dari percakapan mereka baru aku tahu, semasa hidup ayah Hoa Tayhiap dulu adalah kawan baik Siang Pangcu, dimasa kecil dulu kedua orang ini sering bertemu, sering pula ribut berkelahi saling mengukur kepandaian. Sayang aku tidak tahu akan hubungan mereka, Hoa Tayhiap pun tidak tahu aku adalah calon istri Bu-toako. setelah menolong kami ayah beranak, aku belum sempat menyatakan terima kasih kepadanya."

"Pernah Bu-toako membicarakan soal Kaypang dengan dia?"

"Hoa Tayhiap sudah tahu akan wafatnya Siang-pangcu, Waktu Bu-toako menjelaskan bahwa sekarang dia bukan anggota Kaypang lagi, Hoa Tayhiap malah gelak2, katanya tawar: "Tidak jadi murid Kaypang memangnya apa ruginya? Bukankah sama saja kau tetap bisa menjadi pendekar? Kenapa harus dirisaukan persoalan yang menyebalkan tak usah disinggung lagilah." Bukan saja dia tidak menanyakan sebab musabab kenapa Bu-toako diusir dari Kaypang, malah dia alihkan pokok pembicaraan. Sudah tentu Bu-toako tidak enak menyinggung kesukarannya. selanjutnya dia malah tanya tentang dirimu."

Melonjak jantung Hong-lay-mo-li, tanyanya: "Tanya tentang diriku?"

"Dia sudah tahu akan hubunganku dengan kau, dia tanya akan kabarmu, Kulihat begitu besar perhatiannya terhadapmu sudah kuduga hubungan kalian tentu tidak sembarangan sayang aku tak bisa memberi tahu apa2, dengan kecewa hari itu juga dia lantas pamitan."

"Adakah dia mengatakan tujuannya?"

"Katanya dia hendak pergi ke Kong-bing-si di Yang-kok-san, Dia malah memberitahu, katanya dalam jangka sepuluh hari ini kau pasti akan pulang ke-utara, minta bantuan kami untuk memperhatikan, jikalau bertemu atau tahu jejakku, dia minta kita memberi kabar kepadamu, supaya kau tahu tujuannya."

Mendengar kabar ini, Hong-lay-mo-li merasa diluar dugaan, seperti diketahui menurut kabar yang diberikan oleh Tang- hay-liong, bahwa Hoa Kok-ham hendak menemui gurunya, kenapa sekarang merubah tujuan pula?

Hongtiang Kong-bing-si Eing-bing Taysu adalah kawan  lama ayah Hong-lay-mo-li, waktu berpisah ayahnya ada pesan, katanya hendak pergi ke Kong-bing-si lebih dulu, baru akan menyusut ke Jay-hwi-ceng, dalam perjalanan pulang keutara Hong-lay-mo-li ada dianjurkan untuk mampir ke Kong-bing-si lebih dulu untuk tanya tentang dirinya, sekaligus menyambangi padri angkatan tua yang sakti itu. Yang-kok-san terletak di Siamsay, sedang Siu-yang-gan berada di Kamsiok, kedua gunung berjarak ribuan li, tapi sejajar dalam perjalanan, kalau jalan lewat pegunungan paling hanya memerlukan ratusan li saja, jaraknyapun lebih dekat.

Disamping merasa diluar dugaan, hati Hong-lay-mo-li pun merasa senang, dinilai dari persoalan ini menandakan bahwa Hoa Kok-ham masih ada perhatian terhadap dirinya, agaknya malah sudah memahami dirinya, Kalau tidak dengan wataknya yang angkuh dan tinggi hati, pasti takkan melimpahkan maksud keinginannya ingin bertemu dengan dirinya.

Agaknya Hun Ji-yan seperti meraba isi hatinya, godanya dengan tertawa: "Kulihat Hoa Tayhiap ada maksud terhadapmu, bagaimana kau? Kalian memang pasangan yang setimpal, jangan kau sia2kan jodoh yang baik ini."

Merah muka Hong-ay-mo-li, sahutnya lirih: "Masih jauh sekali, masakah cepat sekali lantas membicarakan soal jodoh segala?"

Hari kedua pagi2 benar, Bu Su-tun pulang dari berburu, bertiga mereka makan bersama sekenyang-nya, tak lupa Bu Su-tun memberikan rangsum kering untuk bekal diperjalanan Hong-lay-mo-li, setelah menjanjikan untuk bertemu pula di Jay-hwi-ceng, Hong-lay-mo-li lalu minta diri.

Demi menolong kesukaran sahabat, tak sempat Hong-lay- mo-li kembali kepangkalannya lebih dulu, dia tahu Song Kim- kong tinggal di karesidenan Liok-hap, sebagai tokoh Bulim yang kenamaan, pernah memimpin pasukan gerilya lagi, letaknya paling dekat pula, maka langsung dia menuju ke Liok-hap.

Perjalanan seratusan li ditempuh Hong-lay-mo-li dalam waktu singkat, sebelum hari gelap dia sudah tiba ditempat tujuan, Melihat kedatangannya yang mendadak ini, sudah tentu Song Kim-kong kejut2 girang. Sapanya: "Liu Lihiap, angin apa yang meniupmu kemari? Kita memang sedang mengharap2 kedatangan-mu, kuharap kali ini kau sudi menetap lima hari di-tempatku, orang2 kita bisa kuundang dalam waktu sesingkat itu untuk menemuimu."

"Maaf, segera aku harus berangkat pula, Beberapa kawan memang aku perlu bantuannya kedatanganku memang mohon bantuanmu untuk mengumpulkan mereka"

"Boleh saja, Silakan minum teh duIu, Hayolah bicara didalam." sebagai kawakan Kangouw, melihat Hong-lay-mo-li tergesa2 dia tahu orang pasti sedang menunaikan tugas penting, maka secara langsung dia tanya bantuan apa yang dia perlukan.

Kata Hong-lay-mo-li setelah duduk: "Kuharap bantuanmu mengundang teman2 untuk berkumpul ke Siu-yang-san.

Diantara mereka harus ada dari golongan Loklim, orang2 gagah dan Enghiong- Bila perlu boleh kau menyebar kartu undangan, untuk kaum Loklim aku akan mengundang mereka dengan Lok-lim-cian. Untuk persoalan apa setelah berkumpul di Siu-yang-san baru sempat kujelaskan, Tentunya kau percaya kepadaku."

Ada latar belakang apa dibalik pengusiran Bu Su-tun dari Kaypang?

Kenapa Hoa Kok-ham menuju ke Kong-bing-si dan minta Hong-Iay-mo-Ii menyusul ke-sana?

Tokoh macam apa pula si Bungkuk yang sekongkoI dengan Kongsun Ki? persoalan apa yang melibatkan permusuhan mendalam dengan Bing-bing Taysu?

(Bersambung ke bagian 37)
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 36"

Post a Comment

close