Pendekar Latah Bagian 32

Mode Malam
 
Bagian 32

Sekian lama mereka saling debat toh belum menghasilkan cara yang sempurna, Padahal hari sudah menjelang petang, Hong-lay-mo-li lebih gelisah, semua rencana sudah diatur dengan rapi, tapi mereka yang disebelah dalam tak bisa berbuat apa2, kalau gerakan kali ini tidak mendapat sambutan Yalu Hoan-ih dari dalam, pihak pasukan Song yang dipimpin Loh Bun-ing dan Iaskar rakyat yang dipimpin ayahnya tentu mengalami banyak korban umpama tidak sampai kalah, persiapan dalam dua tiga jam lagi, apa pula yang dapat mereka hasilkan secara ajaib?"

Tengah mereka kebingungan itulah, tiba2 rombongan musik diluar kembali menyambut kedatangan seseorang pembesar, Yalu Hoan-ih jadi ragu dan kuatir: "Kerabat istana yang mana pula datang kemari?"

Maka terdengar petugas diluar berseru melapor: "Jilian- cuncu datang, harap Go-ciangkun keluar menyambut !"

Hong-lay-mo-li kaget: "Jilian-cuncu? Bukankah Giok-bin- yau-hou Lian Ceng-poh?" Yalu Hoan-ih tertawa getir, ujarnya: "Memang Ji-lian Ceng- poh toaci Ceng-sia, kini sudah diangkat Cun-cu, terhitung kerabat kerajaan, Em, berapa orang yang dia bawa?"

"Ada sebarisan detasemen perempuan yang lengkap persenjataannya, semuanya puluhan orang, Masih ada seorang laki2 yang menunggang kuda berjalan di-depan sama dia."

"Cuncu palsu ini orang apa, berani berlagak begini rupa minta aku nyambut dia!" Go Ko-ji ngomel panjang pendek.

"Lekas kau ganti pakaian lengkap dan menyanding senjata, naik kuda menyambut keluar." kata Yalu Hoan-ih, "Aku juga ingin tahu maksud kedatangannya, biar keluar lebih dulu memeriksa keadaan."

Jilian Ceng-sia menyatakan kekuatirannya, Yalu Hoan-ih tertawa, ujarnya: "Aku bercampur diantara para bintara, hanya melongok diiuar pintu saja, tentu dia tidak kenal padaku lagi."

Setelah menanggalkan pakaian duka cita, Go Ko-ji ganti seragam kemiliteran lengkap dengan pangkat-nya. sementara Yalu Hoan-ih lekas sudah kembali, ka-tanya: "Mereka baru sampai pintu gerbang, Adik Sia coba terka siapa laki2 itu?"

"Kalau bukan kaum Thaykam tentulah laki2 busuk entah yang mana, peduli amat!"

"Kau salah terka, yang laki itu adalah Kongsun Ki!" "Apa? Jadi gembong iblis itu yang mengiringinya ? Wah,

kedatangannya tentu tidak bermaksud baik,"

Semula Hong-lay-mo-li juga kaget, tapi lekas dia sudah tenangkan diri, katanya:" Bagus. kebetulan kedatangannya !"

"Siapakah dia, kenapa takut sama dia?" tanya Go Ko-ji yang tidak tahu kelihayan Kongsun Ki. Yalu Hoan-ih lantas menjelaskan: "Dia adalah suheng Liu Lihiap."

"Tidak," tukas Hohg-lay-mo-li kertak gigi. "keparat itu sudah terang2an terima menjadi antek musuh, sejak kini sudah bukan suhengku lagi."

"Baiklah," kata Go Ko-ji. "Biar aku keluar menyambut apa sih maksud kedatangannya?" Yalu Hoan-ih bercampur diantara para bintara ber-bondong2 ikut menyambut keluar.

Sementara Hong-lay-mo-li dan Jilian Ceng-sia tinggal didalam membicarakan cara untuk mengatasi situasi yang semakin mendesak ini persoalan dan tipu daya apa yang mereka rundingkan baiklah kami tunda sementara.

Marilah ikuti Go Ko-ji yang keluar menyambut kedatangan Jilian-cuncu, baru saja dia memberi hormat diatas kuda secara kemiliteran, belum lagi basa basi sempat dia ucapkan, Jilian Ceng-poh sudah cekikikan, katanya: "Go-ciangkun, sejak hari ini kita boleh terhitung sejawat dalam kesatuan yang sama, atas perintah Baginda aku diutus kemari untuk menjadi penasehat kalian, inilah Hou-hu (lencana harimau) pemberian Baginda, silakan kau memeriksanya!"

Lencana harimau dalam kerajaan Kim berarti pula cap kebesaran raja yang kuasa mengerahkan pasukan, kini penasehat membawa Hou-hu umpama Baginda datang sendiri, maka dengan kebesarannya, ini ia boleh memerintah semua panglima dan perwira yang ada didalam kesatuan ini.

Kedua pihak turun dari tunggangan, diam2 bercekat hati Go Ko-ji setelah memeriksa keaslian dari lencana harimau itu, tersipu2 dia persembahkan kembali dengan kedua tangannya, katanya: "Tak nyana Cuncu sendiri yang diutus menjadi penasehat kita, maaf Siau-iciang menyambut terlambat" baru sekarang dia insaf kenapa Jilian Ceng-poh suruh dirinya keluar menyambut kedatangannya. "Ciangkun tak usah banyak peradatan, Karena aku ini orang Liau maka Baginda suruh aku menjadi penasehat dalam kesatuan bangsaku sendiri, sebagai anak perempuan sebetulnya aku tidak berani terima jabatan ini, tapi mengingat seluruh kesatuan disini adalah bangsaku sendiri, kalau bangsa lain yang menjadi penasehat, kuatir tidak akur, maka aku memberanikan diri memikul tugas ini. Go-ciengkun kita orang sendiri, selanjutnya mohon kau bisa kerja sama membantu aku berbakti bagi Baginda setelah negeri Song dapat kita caplok, negeri Liau akan bisa didirikan pula menjadi Hoan-kok, saat mana paling tidak karena jasa2 Ciangkun yang besar, bukan mustahil kita bisa angkat kau menjadi raja kecil."

Dalam mulut mengiakan, tapi dalam hati Go Ko-ji mengumpat caci.

"Kongsun-husu, majulah berkenalan dengan Go-ciangkun." Jilian Ceng-poh berkata.

Dengan sikapnya yang angkuh Kongsun Ki maju mengangguk, Go-ciangkun membalas hormat Katanya: "Agaknya Kongsun Tayjin baru datang? Agaknya kita belum pernah kenal."

Para busu2 dibelakang Jilian Ceng-poh cekikikan geli katanya: "Kongsun Tayjin adalah babah mantu Cuncu kami, kemaren baru saja menikah, sudah tentu kau belum pernah melihatnya."

Go Ko-ji terperanjat serunya: "Selamat kepada pernikahan Cuncu, maaf Siau-ciang tidak tahu, kalau tahu tentu sudah kusiapkan kadonya."

Bangga dan malu Jilian Ceng-poh, katanya: "Bagindalah yang menghendaki perkawinan ini, Baginda amat menjunjung bakat dan kecerdasannya, tanpa persiapan lagi, maka kami menikah didalam pasukan besar tanpa menyebar kartu undangan. Kelak setelah negeri Song sudah kita caplok, biar kuundang Ciangkun pesta pora."

Seperti diketahui kedok asli Kongsun Ki sudah terbeber dihadapan orang banyak oleh Hong-Iay-mo li, terpaksa dia lari kepasukan negeri Kim. Wanyen Liang memang ingin merangkul dia, apalagi kesucian Jilian Ceng-poh sudah termakan oleh dia, untuk menghindari gejala2 yang tidak baik, sudah tentu lebih baik kalau mereka lekas menikah, maka atas prakasa Wanyen liang sendiri, mereka lantas melangsungkan pernikahan tanpa menggunakan kebesaran upacara dan pesta segala.

Ambisi Kongsun Ki memang tidak kecil, pikirnya dengan meminjam kedudukan sang istri kelak akan mencari kesempatan mengangkat diri menjadi raja di Soatang, maka terhadap Jilian Ceng-poh dia amat menurut. Karena anggap ilmu silatnya tinggi. sebagai menantu raja lagi, sudah tentu dia tidak pandang Go Ko-ji sebelah mata.

Dalam pada itu Jilian Ceng-poh berkata pula: "Urusan dinas sudah dibicarakan, Yalu-ciangkun adalah kenalan lamaku, tentunya jenasahnya belum dikebumikan silakan bawa aku untuk memberi hormat penghabisan didepan layonnya."

Diam2 Yalu Hoan-ih mengeluh dalam hati, maklumlah siluman rase ini amat cerdik dan licik, kalau dia minta Peti dibuka bukan mustahil dia bisa melihat keadaan sebenarnya: Sudah tentu Go Ko-ji,juga memikirkan hal ini, namun terpaksa juga dia bawa mereka masuk kedalam, Para biti2 itu masih ditinggal diluar.

"O, sudah masuk peti dan terpaku," ujar Ceng-poh, "kami suami istri akan menyulut dupa bersembahyang mendoakan arwahnya mendapat tempat disisi Thian." kiranya dari mulut Wanyen Tiang-ci dia sudah tahu kejadian disini, maka dia bersembahyang ala kadarnya."  Sambil mengangkat dupa pikiran Kongsun Ki melayang tidak menentu, dia tahu istrinya punya adik yang menjadi kekasih Yalu Hoan-ih, kini kekasihnya sudah mati, entah dimana adik Ceng-poh sekarang berada, kalau mungkin biar kucari kesempatan untuk memetiknya sekalian, demikian Kongsun Ki sedang melamun.

Tiba2 didengarnya Jilian Ceng-poh berteriak kaget, serunya: "Moaymoay, kau..."

Kejut dan girang Kongsun Ki dibuatnya, "kiranya dia berada disini, agaknya Thian memang mengabulkan keinginanku." baru saja dia hendak berpaling, tak nyana dua batu lantai yang diinjaknya tiba2 amblas kebawah dan munculah sebuah lobang.

Kiranya Hong-lay-mo-li sebelumnya memang sudah mengatur jebakan ini, Dengan bekal kepandaian Kongsun Ki sebetulnya takkan menjadi soal perangkap beginian, tapi karena mimpipun dia tidak menduga didalam markas pasukan Kim dirinya bakal dibokong, diapun tidak mengira bila Sumoaynya berada disini.

Karena tanpa siaga sedikitpun, batru sadar setelah terlambat tahu2 separo badannya sudah terjeblos kedalam lobang.

Dalam waku yang sama Jilian Ceng-pohpun kena diingusi, Untuk menghormati suaminya waktu bersembahyang dia terima mengikuti dibelakangnya, Begitu Kongsun Ki terjeblos, batu lantai didepan kakinya ikut anjlok, hampir saja diapun ikut terjerumus tapi teriakkannya karena dalam waktu yang sama dia melihat adiknya Jilian Ceng-sia tiba2 muncul di sampingnya.

Kongsun Ki menggerung keras, tiga batang dupa ditangannya segera dia kipatkan, kedua kakinya menjejak badanpun melejit naik Tapi betapa cepat dan tangkas gerakan Hong-lay-mo-li, begitu Kongsun Ki terjeblos dia sudah menerjang keluar dari balik tirai, dimana kebutnya terayun, tiga utas benang kebutnya melesat mengincar Ih-khi, Hoan- tiau dan Hi-tho tiga Hiat-to penting. Dua Hiat-to yang terdahulu merupakan jalan darah pelemah tubuh, Hiat-o terakhir merupakan pencacat badan.

Hebat memang kepandaian silat Kongsun Ki, tiga batang dupa yang dia kipatkan itu tak kalah hebatnya dari tiga batang panah, lekas Hong-lay-mo-li kebut jatuh dua batang yang terdepan, sayang yang ketiga melesat dan mengenai lengan Go Ko-ji yang berdiri disamping Iayon, untung cuma lecet dan sedikit terbakar saja.

Dengan memukul jatuh kedua batang dupa orang, luncuran badan Hong-lay-mo-li tidak berhenti karenanya, dalam waktu sesingkat itu Kongsun Ki sudah melompat keluar dari lobang, Lwekangnya sudah kokoh kuat, meski tiga Hiat-tonya tertimpuk dengan telak, namun dia masih kuat berdiri tanpa terluka apalagi cacat.

Cuma kedua Hiat-to terasa lemas, dalam waktu dekat darah tidak berjalan dengan normal, sehingga gerak geriknya kurang gesit, sudah tentu permainan silatnya jauh menurun.

Cepat sekali kebut dan pedang Hong-lay-mo-li sudah merangsak tiba, kebut mengurung gerak gerik lawan, pedang berkembang menyerang dengan tipu2 mematikan, ujung pedang menusuk, gagang pedang menjojoh pinggang, tajam pedangnya mengiris lutut orang.

Serempak Kongsun Ki membalas dengan gerakan Wan- kiong-sia-tiau (menarik busur memakan rajawali), telapak tangan kiri melengkung seperti busur, lengan kanan laksana batang patiah lempang kedepan, dimana jari tengahnya menjentik. "Creng" punggung pedang Hong-lay-mo-li kena diselentik. Angin pukulan bergelombang benang kebut beterbangan seperti diterpa badai, jurus Thian-lo-hud-tim serangan Hong- lay-mo-li seketika dipatahkan, tapi kekuatan selentikan jarinya paling hanya bikin sasaran pedang menceng sedikit, pedang tidak terlepas dari cekalan seperti yang diinginkannya.

Ternyata sejak terkena pukulan Liu Goan-cong dua hari yang lalu, hawa murni Kongsun Ki belum pulih, kini paling baru mencapai tujuh bagian keadaan semula. Sejak meyakinkan ilmu dari keluarga siang dan dikombinasikan dengan ajaran ayahnya, ilmu silat dan Lwekangnya memang lebih unggul dari Sumoay-nya, kini tiga bagian tenaganya belum pulih, Hiat-to terluka lagi, sehingga hawa murninya tidak lancar, maka Hong-lay-mo-li sekarang kira2 malah sedikit lebih unggul.

Dimana pergelangan tangan berputar terus membalik gerakan pedangnya amat lincah belum lagi jurus pertama punah, jurus kedua sudah menyusul tiba, ujung pedangnya selalu mengincar Hiat-to2 dibadan lawan dengan ketat Kongsun Ki lancarkan pukulan berbisa, tapi dengan kebutnya Hong-lay-mo-li cukup tangguh melindungi badan, apalagi Lwekang Kongsun Ki sekarang paling hanya mampu menyampuk pergi kebutnya, untuk memukul badan orang terasa terlalu berat.

Dan lebih mengejutkan lagi, kini dia sudah tahu siapa yang menjadi lawannya, Hong-lay-mo-li masih berdandan laki2, namun permainan Yo-hun-kiam-hoat dan Thian-lo-hud-tim merupakan ajaran tunggal ayahnya, sudah tentu Kongsun Ki cukup tahu akan permainan ilmu ini, begitu gebrak dimulai dia sudah lantas tahu laki2 yang menyerang ini adalah Sumoaynya sendiri.

Tahu bahwa mereka ayah beranak tidak pernah berpisah sejak kumpul kembali, mau tidak mau semakin jeri hatinya, Sejak dua kali dirinya kena kecundang oleh Liu Goan-cong hatinya sudah jera betul2. Karena gugup dan ketakutan, maka permainan silatnya menjadi kacau.

"Sret, sret, sret" beruntun tiga serangan berantai dengan jurus Liong-bun-ko-long (memukui ombak di-pintu naga) Hong-lay-mo-li mencecar dengan gencar, Kongsun Ki tak berhasil membendung dengan kedua telapak tangannya, dia berniat lompat menyingkir, tapi Hiat-to dilututnya terluka, rasanya masih linu kemeng, sehingga gerak geriknya kurang gesit, dua serangan terdahulu berhasil dihindari, tapi serangan ketiga tepat menusuk dengkulnya pula, tak tertahan ligi Kongsun Ki terjerumus roboh ketanah, Untung Hong-1ay-mo-li masih merasa kasihan, hanya Hiat-tonya saja yang tertusuk pedang, Kalau dia lancarkan jurus berbahaya tulang lututnya tentu sudah copot dan putus, selamanya menjadi cacat.

Disebelah sana Jilian Ceng-siapun berhasil membekuk toacinya Sekaligus dia usap minyak rias dimukanya kembali pada mukanya semula, tiba2 berhadapan dengan adiknya yang galak ini, bukan kepalang kejut Jilian Ceng-poh. seperti diketahui diantara mereka tiga bersaudara Jilian Ceng-sia pernah mendapat petunjuk Liu Goan-cong, usia paling kecil, tapi kepandaian silatnya justru paling tinggi, karena Tacinya gugup dengan gampang Jilian Ceng-sia gunakan Siau-kim-na- jiu menangkap pergelangan tangannya dan menutuk Hin-to sehingga tidak berkutik lagi.

"Sam-moay" kata Jilian Ceng-poh, "kau berbuat sewenang apa pula dosamu main tangkap penasehat militer ditengah pasukan besar ini?"

Jilian Ceng-sia tertawa dingin: "Jangan kau kira Wanyen Liang sebagai sandaran hidupmu yang jaya. kau boleh selamanya hidup dalam kemewahan, Betapa gagah dan patriotnya ayah gugur dimedan laga demi membela nusa dan bangsa, ibu hidup menderita untuk membesarkan kita sebagai tunas bangsa, beliau mengajarkan untuk jadi srikandi dimedan laga, Aku tidak punya kakak seperti tampangmu yang takut mati mengangkat musuh sebagai bapak. Putra putri bangsa Liau kitapun tidak orang yang pengecut seperti dirimu."

"Jangan kau lupa akan Ih-komu, sebagai panglima besar salah satu divisi pasukan negeri Kim, sampai matinyapun dia berbakti dan memperoleh anugrah Baginda. Dia setia kepada kerajaan Kim, kau sebaliknya menghasut anak buahnya untuk berontak, dialam baka dia bakal tidak meram, Apa kau ingin jenasahnya ikut ketimpa malang karena perbuatanmu ini?"

Yalu Hoan-ih gelak2, segera dia unjuk diri dengan muka aslinya, katanya: "Coba kau lihat siapa aku? Jenazahku memang sudah hancur lebur He, he, Wanyen Liang tak berhasil mencelakai aku, kini tiba saatnya aku yang harus membunuhnya!"

Sekian lama Jilian Ceng-poh melongo, akhirnya dia menghela napas, katanya: "Selama hidup aku mengagulkan diri akan kecerdikanku, tak nyana hari ini aku terjebak dalam perangkap kalian, yah, apa boleh buat, kau tidak mengingat hubungan persaudaraan silakan kau bunuh aku saja!"

Disebelah sana Kongsun Ki yang tahu kelemahan watak Sumoaynya, pura2 membusungkan dada: "Baik, aku mati ditanganmu lebih setimpal dari pada terbunuh orang luar, Silakan kau bunuh saja dengan kepandaian silat ajaran ayahku."

Hong-lay-mo-li amat gusar, bentaknya: "Kongsun Ki. kau masih punya rasa malu? Kini aku adalah Bing-cu pasukan laskar rakyat, kau, sebaliknya menjadi antek musuh! Tak malu kau berani menyinggung nama ayahmu!" walau demikian pedang dengannya tak tega menusuknya sampai mampus

Teringat akan dendam pukulan orang tempo hari, seketika Yalu Hoan-ih naik pitam, dari seorang anak buahnya dia merebut sebuah cambuk kulit dengan sengit dia hujani hajaran kekepala dan muka Kongsun Ki. Makinya: "Pengkhianat, rasakan nasibmu hari ini!"

"Tar" cambuk kulit itu putus tergetar oleh Hou-deh-sin- kang Kongsun Ki, meski tidak terluka berat tapi muka Kongsun Ki sudah dihajarnya sampai babak belur, kepala keluar kecap.

"Ciangkun, pandanglah mukaku, sementara ampuni jiwanya, setelah urusan selesai, biar kugusur dia pulang kehadapan ayahnya."

Hong-lay-mo-li kesana bantu Jilian Ceng-sia menelikung dan mengikat kencang Jilian Ceng-poh, teringat akan perbuatan jahat orang selama ini, seketika berkobar amarah Hong-laymo-li, makinya:

"Giok-bin-yau-hou, apakah kau masih mampu mencelakai jiwa orang?"

Jilian Ceng-sia menghela napas: "Dia memang pantas dihukum mati, tapi sebelum ajal ibu ada..." merah matanya. kata2nyapun tertelan didalam tenggorokan.

Hong-lay-mo-li tahu maksudnya, katanya: "Jilian Ceng-poh, mengingat permintaan ampun adikmu, kuberi kesempatan untuk kau bertobat dan menyesali perbuatanmu selama ini.

Tapi sekarang kau harus terima nasibmu seperti ini." lalu dia suruh Yalu Hoan-ih keluarkan rantai besi yang besar, kedua orang di-rantai bersama diatas sebuah tonggak kayu, Kaki masing2 ditambahi gandulan gesi bundar yang beratnya ada puluhan kati, meski Kongsun Ki punya kepandaian setinggi langit, untuk lolos dari belenggu seberat ini, rasanya tidak mungkin.

Seluruh anak buah Yalu Hoan-ih disuruh mundur tinggal Go Ko-ji saja, Hong-Iaymo-li lantas bertanya: "Bu-iim-thian-kiau dikurung dimana?"

"Didalam penjara ditengah2 perkemahan pasukan besar!" "Siapa yang menjaganya?" "Delapan Kim-tiang Busu."

"Masakah Wanyen liang hanya mengutus delapan Kim-tiang Busunya untuk menjaganya? Apa dia sudah dihajar sampai jadi cacat?"

"Dihajar sih tidak, cuma dia menelan Hap-kut-san dari Cutilo, badannya jadi lemas betapapun tinggi kepandaian Bu- lim-thian kiau takkan berguna lagi Wanyen Liang hendak menyiksanya pelan2."

"Cara bagaimana baru bisa menyambangi dia?" "Harus ada idzin dari Baginda, Liu lihiap lebih baik kau

batalkan,niatmu, usahamu akan sia-2, bukan mustahil jiwamu sendiri bisa berkorban."

Hong-lay-mo-li tahu orang memancing dirinya, namun dia sudah punya persiapan yang matang, katanya dengan tertawa dingin: "Terima kasih akan maksud baikmu. Asal keteranganmu tidak bohong, setelah aku kembali baru kulepas kau, sekarang sementara kupinjam pakaianmu."

Disini Hong-lay-mo-li melucuti pakaian Jilian Ceng-poh, disana Yalu Hoan-ih juga melucuti seragam kebesaran Kongsun Ki. Para biti2 dan pasukan perempuan yang dibawa Jilian Ceng-poh semua sudah ditundukan dan dikurung dalam sebuah kemah. Dari tangan pelayan pribadi Jilian Ceng-poh, Hong-lay-mo-li mengambil buntalan perhiasannya, lalu memilih seorang bi-ti2 yang perawakannya sama dengan dirinya, lalu bertukar pakaian, setelah dia menyaru jadi dayang ini, kembali dia merias dan mendandani Jilian Ceng- sia.

Raut muka Jilian Ceng-sia mirip dengan cicinya, cuma perawakannya rada pendek, terpaksa disuruh pakai sepatu yang tinggi, setelah dia mengenakan pakaian Cuncu dan perhiasannya, orang takkan bisa membedakan siapa dirinya sebetulnya.

Waktu mereka keluar dari kamar rias, Yalu Ho-an-ih lantas menyambutnya dengan tertawa: "Adik Sia, samaranmu amat mirip, tanggung Wanyen Liang tak-kan bisa membedakan, Aku yang nyaru jadi Babah mantumu malah kurang pantas."

"Kau tak usah berhadapan dengan Wanyen Liang, tengah malam buta rata pasti gampang mengelabui orang."

Waktu itu kentongan pertama sudah lewat, Yalu Ho-kup mendesak, setelah segalanya dirundingkan segera mereka bergerak, Dengan menyamar jadi Cuncu, membawa seorang dayang pribadinya, menunggang kuda milik Jilian Ceng-poh. Hong-Iay-mo-li bertiga segera berangkat hendak menemui Wanyen Liang.

Waktu itu pasukan besar Wanyen Liang digaris depan sudah mulai bergerak siap2 menunggu waktu, maka perjalanan mereka banyak terhalang, setelah kentong kedua baru mereka tiba dibawah bukit dimana Wanyen Liang mendirikan kemahnya.

Untung pasukan yang piket dibawah bukit kenal baik dengan Cuncu, tanpa banyak pertanyaan mereka terus maju keatas bukit.

Setiba diluar istana perkemahan Wanyen Liang, perwira yang jaga diluar pintu maju menyambut, setelah tanya maksud kedatangannya, dia lantas mengerut kening, katanya: "Cuncu, kedatanganmu tidak kebetulan. Baginda sedang marah besar, aku, aku tidak berani masuk memberi laporan. Kau tahu tabiat Baginda, aku tidak berani menanggung akibatnya."

"Tapi aku ada berita penting, sedetikpun tidak boleh diulur." "Bagaimana baiknya? Begini saja, biar kuundang Ha- ciangkun keluar, biar dia memberi keputusan."

"Baiklah, lekas kau undang Ha-ciangkun keluar."

"Tugasku jaga pintu. kalau ada orang keluar, baru aku bisa minta dia memanggil Ha-ciangkun."

"Baiklah, biar aku masuk sendiri, kalau Baginda marah, biar aku sendiri yang menanggungnya."

Sudah tentu perwira jaga itu amat kaget serunya gemetar: "Cuncu, kau tidak takut dihukum, Siaujin... siaujin... hah, kebetulan Ha-ciangkun sudah keluar."

Halukay mendengar suara ribut2 diluar maka segera dia keluar, Halukay sudah kenal baik dengan Jilian Ceng-poh, dia tidak tahu bahwa Cuncu samaran dihadapannya ini adalah Jilian Ceng-sia, katanya tertawan "Cuncu, kebetulan kau datang."

"Dia mengatakan Baginda sedang marah, apa benar?" "Benar, kau bisa membujuknya, Hayo, masuk!"

Ternyata disamping cantik Jilian Ceng-poh memang pandai merayu dan aleman, suka memuji dan menjilat biasanya amat disukai Wanyen Liang, Halukay cukup tahu akan hal ini.

Dari Yalu Hoan-ih, Jilian Ceng-sia sudah belajar peradatan didalam keraton, maka dia suruh Hong-lay-moli yang menyaru dayang tunggu diluar, bersama Halukay dia melangkah masuk kekamar buku, dimana Wanyen Liang biasa menerima para pembesarnya.

Halukay suruh seorang biti2 masuk memberi laporan sambil menunggu mereka duduk, Jilian Ceng-sia segera bertanya: "Kenapa Baginda marah2."

"The-cin-ong diperairan Soatang mengalami kekalahan total, beliau sudah gugur demi negara," The-ciancong adalah tokoh kedua setelah Wanyen Liang dinegeri Kim, dalam pergerakan menyerbu ke selatan ini, Wanyen Liang pegang komando tertinggi The-cin-ong sebagai wakilnya, dengan membawa dua laksa pasukan, naik tiga ribu kapal perang, dia pimpin armadanya menuju ke selatan lewat lautan, tujuannya hendak mendarat di Propensi Kiangsoh, lalu bergabung dengan pasukan besar Wanyen liang dari utara.

Sudah tentu kabar kematian The-cinong amat menggirangkan hati Jilian Ceng-sia. tapi sikapnya pura2 kaget dan gegetun.

Tengah mereka bicara, terdengar suara gelak tawa Wanyen Liang, keruan berdetak tegang jantung Jilian Ceng-sia.

Tampak Wanyen Liang keluar diiringi dua orang, mereka adalah Wanyen Tiang-ci dan Cutilo. Kedua orang ini berilmu silat tinggi, maka dia harus bekerja menurut situasi dan melihat gelagat baru turun tangan.

Dengan tertawa Wanyan Liang berkata: "Cuncu tak usah banyak adat Baru kemaren kau kawin, hari ini sudah kuutus jadi penasehat militer, kesenangan tidak kau nikmati didalam kamar, kenapa malam2 datang kemari, baktimu sungguh harus dipuji. Kalau semua orang seperti kau, Tim takkan perlu kuatir lagi? Mana suamimu?"

"Kalau aku kemari, sudah tentu wakilku harus berada diposnya, Kemenangan sudah didepan mata, apa pula yang dirisaukan Baginda?"

Seketika timbul pula amarah Wanyan Liang, katanya uring2an: "Sungguh Tim tidak menyangka The-cinong begitu tidak becus, dua laksa pasukan kuberikan kepadanya, menghadapi dua rombongan perompak saja dia malah mati. Celaka adalah rencanaku semula jadi gagal total."

Jilian Ceng-sia tertawa, katanya: "Baginda tidak usah kuatir, yang harus dikuatirkan bukan soal kekalahan The- cinong, Baginda punya kepandaian otak yang tiada taranya, kini akan terbukti kejayaan negeri kita, asal Loh Bun-ing dapat dikalahkan, bukankah Kang-lam tetap bakal kau caplok juga? serangan malam ini merupakan titik tolak dari pementuan kesuksesan Baginda. bukankah sekaligus akan membuktikan kebesaran Baginda pula?"

Pujian mu;uk2 yang lain dari yang lain dari Jilian Ceng-sia benar2 mengetuk sanubari Wanyan Liang, katanya gelak2: "Bagus, mulutmu yang mungil ini memang pandai bicara," tiba2 tergerak hatinya, tanyanya: "Lalu apa pula yang harus kukuatirkan pula didalam rencana penyerangan ini? Oh, ya, tadi katanya kau hendak melaporkan situasi, ada urusan apa?"

"Go Ko-ji ada maksud memberontak, untung hal itu belum menjadi kenyataan, tapi harus hati2 dan di-jaga, Oleh karena itu tidak bisa tidak aku harus kemari memberi laporan,"

Wanyan Liang terkejut serunya: "Ada kejadian ini? Tim cukup baik terhadap Go Ko-ji, kini kuberi jabatan komando tertinggi dalam operasi keselatan ini, memangnya dia tidak berterima kasih dan membalas kebaikan budiku ini?"

"Sejak Yalu Hoan-ih mati mendadak, anak buahnya curiga kematiannya karena keracunan, untung mereka tidak bisa membuktikan, tidak berani dibeber dihadapan umum tapi soal ini sudah tersebar diluar dan menjadi rahasia umum diseluruh pangkalan besar ini."

Cutilo tertawa dingin, selanya, "Aku menggunakan racun Mo-kui-hoa, kematiannya tidak menunjukan gejala2 yang mencurigakan mereka tidak mendapatkan bukti, peduli kabar angin segala, mereka toh tak bisa berbuat apa2."

Wanyan liang mendengus, katanya: "Tekad tempur pasukan goyah, betapapun merupakan suatu kerugian bagi Tim." Sudah tentu Cutilo tahu maksud dari kata2 Wanyan liang yang tidak langsung menyalahkan dirinya ini, seketika sikapnya kikuk dan menyengir risi.

Berkata Jilian Ceng-sia lebih lanjut: "Mereka sudah memperoleh bukti."

Seketika kereng dan beringas muKa Wanyan Liang, tanyanya: "Bukti apa yang mereka dapatkan?"

"Setelah Hongsiok kesana melayat, waktu membuka peti mati ternyata mengendus bau busuk, semakin tebal curiga mereka Maka mereka undang tabib tentara, layon dibuka pula hendak memeriksa jenazah, begitu layon terbuka pula, celakalah!"

"Kenapa celaka?" tanya Wanyan Liang.

"Hakikatnya tidak perlu diperiksa lagi," selintas pandang mereka lantas tahu bahwa pemimpin mereka memang mati dikerjain orang, Karena jenazah dalam layon seperti dicacah hancur oleh bacokan golok menjadi puluhan potong!"

"Lho, apakah yang telah terjadi?" Wanyan liang tidak mengerti.

Pucat seketika roman muka Wanyan Tiang-ci, lekas dia berlutut mohon ampun, katanyaj "Akulah karena untuk menjaga segala kemungkinan menggunakan tenaga dalam, dari luar layon kuhiancurkan jazat Yalu Hoan-ih."

Untuk membebaskan diri dari tanggung jawab ini, lekas Cutilo menambahkan: "Setelah kena racun Mo-kui-hoa, masakah dia masih bisa hidup, Hong-siok, seharusnya kau percaya kepadaku."

Kata Wanyan Liang: "Tak usah kalian saling ngomel, perkara sudah terjadi, harus secepatnya disiapkan untuk menambal kesalahan ini, Bagaimana akhirnya?" Wanyan Tiang-ci merupakan seorang tangan kanannya yang paling dipercaya dan amat besar bantuannya sebagai pamannya lagi, meski kurang senang, Wanyan Liang tidak enak memaki dan menyalahkan dia.

"Sudah tentu mereka jadi marah dan bergolak, karena didukung semua anak buahnya Go Ko-ji sudah siap hendak memberontak. Tapi urusan amat penting, maka mereka tidak berani bicara terang2an dan bergerak seketika, Kebetulan waktu itu aku diutus kesana sebagai penasehat, segera kurangkul mereka didalam satu haluan. Go Ko-ji pandang aku sebagai orang sendiri, seluruh persoalan dia laporkan kepadaku, pikirnya hendak membujuk aku ikut dalam gerakan mereka, secara diplomasi aku mengulur waktu dan mencari alasan, sambil membujuk mereka untuk bersabar sementara, setelah mereka percaya benar, kutinggalkan suamiku, langsung aku kembali kesini memberi laporan" Wanyan liang mendengar dengan amat cermat dan hati2, segera dia bertanya:

"Cara bagaimana kau bisa menipu Go Ko-ji?"

"Go Ko-ji ingin tahu kenapa pemimpinnya dibikin mati, apakah hal ini dikehendaki oleh Baginda sendiri, atau hanya perbuatan Hong-siok tanpa sepengetahuan Baginda? jikalau memang maksud Baginda, diapun ingin tahu, Baginda hanya ingin melenyapkan dia seorang, atau hendak metnberantas semua pasukan bangsa Liau mereka."

Seketika Wanyan Liang mengerti, katanya: "O, Tim mengerti, Agaknya Go Ko-ji masih berat akan kedudukan tinggi dan kehidupan mewah, maka dia suruh kau kemari mencari tahu maksud hati Tim, untuk bergerak sesuai keadaan. jadi kalau dia tahu Tim hanya ingin melenyapkan Yalu- Hoan-ih seorang, dia tidak akan memberontak?" "Baginda memang cerdik, begitulah maksud Go Ko-ji sebenarnya, Dia percaya aku pasti akan bantu kesulitannya maka dia mau melepas aku kemari. Karena disamping aku ini bangsa Liau, punya hubungan kekeluargaan sejak leluhur kami dulu, dengan Yalu Hoan-ih, suamikupun kutinggal disana, umpama aku tidak harus bekerja demi kepentingan seluruh pasukan bangsa Liau kami, akupun harus pikirkan  keselamatan suamiku."

Apa yang diuraikan Jilian Ceng-sia masuk akal dan dapat diterima pikiran sehat. Segera Wanyan liang berkata dengan suara kereng: "Asal Go Ko-ji belum bertekad memberontak, masih gampang persoalan ini diselesaikan"

"Tapi banyak anak buahnya yang berkobar tekadnya. mungkin Go Ko-ji bisa terhasut dan terdesak oleh keadaaan, jikalau tidak lekas diselesaikan, mungkin bisa timbul keonaran besar."

Seketika terunjuk nafsu membunuh pada roman muka dan sorot mata Wanyan Liang, keculasan hatinya terunjuk diantara kedua alisnya, sorot matanya yang berkilat tajam menyapu pandang dari muka Jilian Ceng-sia, beralih kemuka Wanyan Tiang-ci, katanya tawar: "Hong-siok, untuk ini aku perlu tenagamu."

Kebat kebit hati Wanyan Tiang-ci, lekas dia berlutut katanya: "Akulah yang menyebabkan keonaran ini, siiakan bunuh aku untuk menentramkan hati mereka."

Wanyan liang gelak2, katanya: "Hong-siok salah paham akan kehendakku, Tim ingin kau pergi membunuh orang, bukan membunuhmu, Kau berani tidak?"

Seperti dibebaskan dari hukuman, terhibur hati Wanyan Tiang-ci, sahutnya: "Baginda ada perintah, menempuh lautan api atau gunung golok, hamba takkan menolak."

"Bawalah seribu pasukan Gi-lim-kun, lekas kau kesana dan perintihkan mereka berkumpul untuk mendengar tugas, boleh kau babat habis mereka yang punya maksud memberontak, Go Ko-ji boleh sementara kau tahan, Seribu pasukan Gi-lim- kun cukup tidak?"

"Menantu raja (maksudnya Kongsun Ki) ada disana menguasai keadaaan, membunuh beberapa perwira yang memberontak seribu orang lebih dari cukup."

"Bagus, segera kau berangkat, cuma Cuncu sementara harus tinggal disini menunggu kabar baik, Tenagamu amat kuperlukan juga untuk bantu Tim menguasai situasi disini."

Dengan tipu memancing harimau meninggalkan gunung Jilian Ceng-sia berhasil menipu Wanyan Liang mengutus Wanyan Tiang-ci pergi, diam2 terhibur hati-nya, pikirnya: "Rencana sudah berjalan baik, tinggal aku berdaya menipu obat penawar dari Cutilo."

"Nah apa pula yang kau kuatirkan sampai mengerut kening segala?" tanya Wanyan Liang.

"Hamba menguatirkan Bu-lim-thian-kiau."

"Bu lim-thian-kiau sudah terkurung, apa pula yang kau kuatirkan?"

"Hong-lay-mo-li belum tertangkap, mungkin dia bisa datang menolongnya, Tam Ih-tiong dijuluki Bu-lim-thian-kiau. kalau mereka kerja sama beberapa Busu saja masa kuat melawannya."

Wanyan Liang gelak2, ujarnya: "Kalau Hong-lay-mo-li berani datang dia akan masuk kedalam jaring, umpama dia bisa menolongnya keluar, Bulim-thian-kiau tidak akan bisa pergi."

"Kenapa tawanan yang ditolong tidak bisa dibawapergi?" Cutilo unjuk sikap sombong, katanya: "Cuncu tidak tahu,

didalam minuman Bu-Iim-thia-kiau Siauceng ada memberi Hap-kutsan Meski kepandaian silatnya setinggi langit juga tak berguna lagi, Masakah perempuan iblis itu mampu menggendong laki2 segede itu lolos dari kepungan tiga ribu pasukan Gi-lim-kun?"

Wanyan Liang seperti tersentak sadar, tanyanya: "Ha! ini Tim pernah kasih tahu kepadamu, kenapa kau melupakannya? "

"Bukan hamba melupakan, soalnya hamba masih kuatir, Belakangan ini kudengar sebuah kabar, keadaan rada berubah, Maka hamba usulkan supaya Baginda mengadakan perubahan..."

"Kau tahu perubahan apa?" tanya Wanyan Liang.

"Kakek tua yang muncul bersama perempuan iblis hari itu, katanya adalah ayahnya."

"Memangnya kenapa kalau ayahnya?"

"Nama ayahnya itu adalah Liu Goan-cong, kabar-nya laki2 bangsa Han satu2nya yang berhasil lolos pada dua puluh tahun daIam pencurian pusaka diistana raja dulu. Kini mereka ayah dan anak kumpul kembali, laksana harimau tumbuh sayap, maka kita harus lebih waspada?"

Bercekat hati Wanyan Liang, tapi berkata: "Beta-papun tinggi kepandaian Liu Goan-cong, memangnya dia bisa menggondol Tam Ih-tiong pergi, Tim akan suruh mereka hati2."

"Bukan saja ilmu silat Liu Goan-cong tinggi, kepandaian pengobatannyapun luar biasa, kabarnya nomor satu diseluruh dunia, Bukan mustahil dia bisa mengobati racun Bu-lim-thian- kiau, tiga ribu pasukan Gi-lim-kun belum tentu bisa menghalangi mereka bertiga." "Sia-jit Hoatong," tanya Wanyan Liang, "Setelah keracunan Hap-kut-san, apa perlu menggunakan obat penawar tunggal dari perguruanmu sendiri?"

"Kecuali ada Thian-san-soat-lian dan beberapa racikan obat mahal, Aku tidak percaya Liu Goan-cong mampu menangkal obat2 itu, apa lagi dia tidak tahu racun apa yang mengeram dalam badan Bu-lim-thian-kiau."

Berkerut alis Wanyan Liang, katanya: "Kalau begitu, caramu ini tidak seratus persen aman!"

"ltulah menurut apa yang kutahu, bila Lwekang sudah terlatih ketingkat sempurna, tahu cara memutar balik jalan darah, umpama terkena Hap-kut-san, lambat laun masih bisa memulihkan tenaganya juga."

"Tapi Tim tidak ingin segera membunuhnya, Cun-cu, agaknya kaupun ahli dalam bidang racun? Kapan kau pernah mempelajarinya?"

Jilian Ceng-sia pura2 kikuk, sahutnya menunduk dengan muka merah: "Harap Baginda memberi ampun kepada suamiku yang tidak berterus terang."

"Apa? suamimu mengelabui apa kepadaku?"

"Sebetulnya dia pernah menikah, istri tuanya adalah putri besar dari Siang Kian-thian gembong iblis besar yang kenamaan dua puluh tahun yang lalu. Tapi istrinya sudah mati, aku terima menikah dengannya, maka soal ini tidak kuperpanjang lagi."

"Hah, persoalan sekecil ini tidak menjadi soal, Lalu kau punya cara apa untuk menahan Bu-lim-thian-kiau dengan aman?"

"Hamba mendapat petunjuk dari suami untuk kemari memberi obat Racun yang diberikan kepadaku kasiatnya sama dengan Hap-kut-san, tiada obat penawarnya dalam dunia ini, Untuk memunahkannya harus digunakan ilmu tutuk tunggal dari perguruannya, Cara tutukan ini ada timbal balik, bukan saja bisa menawar racun, juga bisa menambah kadar kerja racun menurut kehendak sendiri, Cara tutuk Hiat-to ini, akupun sudah belajar dari suamiku."

Dengan obrolannya Jilian Ceng-sia berhasil menipu Wanyan Liang, katanya senang: "Kalau kau punya cara yang lebih manjur untuk melumpuhkan Bu-lim-thian-kiau dari pada Hap- kut-san, Tim akan makan tidur dengan tenang, Lekaslah kau menengoknya di tempat kurungannya."

Siang Kian-thian memang orang kosen dalam menggunakan racun, Kongsun Ki adalah menantunya hal ini sudah didengar oleh Cutilo, maka dia berkata.

"Kiranya ilmu permainan racun ada cara yang begitu aneh dengan kombinasi ilmu tutuk segala, Harap Ba-ginda memberi idzin biar pinceng ikut Cuncu, supaya pinceng menambah pengalaman."

Sudah tentu permintaan ini cocok dengan keinginan Jilian Ceng-sia, katanya girang: "Dengan didampingan Hoatong sebagai seorang yang ahli didalam bidang permainan racun, malah aku bisa mohon petunjuk nanti kepadamu."

Dengan rasa gembira Jilian Ceng-sia lalu mohon diri kepada Baginda, bersama Cutilo mereka keluar. Tak tahunya setelah keluar dari lingkungan kemah istana ini sesuatu yang tak terduga terjadi, keruan rasa senangnya seketika tersapu.

Seperti diketahui Hong-lay-mo-Ii yang menyamar jadi dayang pribadi Jilian Ceng-sia menunggu diluar kemah, kini bayangannya ternyata tidak kelihatan entah kemana.

Keruan jantung Jilian Ceng-sia kebat kebit dan mengeluh dalam hati. Maklumlah kini Wanyan Liang sudah tidak punya pelindung yang berarti, yang ketinggalan hanya Kiu-lo Siang- jin, orang terang bukan tandingan Hong-lay-mo-li. Menurut perhitungan Jilian Ceng sia dengan kesempatan ini supaya Hong-lay-mo-li membekuk Wanyan Liang, dijadikan sandera untuk membebaskan Bu-lim-tnian-kiau.

Kalau hal ini tidak terlaksana dengan gabungan kekuatan mereka berdua tentu dengan mudah membekuk Cutilo serta memaksanya menyerahkan obat pemunah, Tapi Hong-lay-mo- li tidak kelihatan bayangannya, perhitungannya yang masak menjadi hampa belaka.

Jilian Ceng-sia tidak tahu Hong-lay-mo-li menyingkir sendiri, atau rahasia samaran sudah konangan? Sudah tentu dia tidak berani bertanya kepada Wisu yang jaga diluar, didalam saat2 yang genting dan merupakan kunci dari sukses usahanya ini, terpaksa dia keraskan kepala, seorang diri ikut Cutilo ketempat kurungan.

Semoga sebelum kedok aslinya konangan dia berhasil menipu obat pemunahnya dari tangan Cutilo.

Sebetulnya kemanakah Honglay-mo-li?

Seperti diketahui seorang diri Hong-lay-mo-li harus tinggal diluar dan mondar mandir diserambi bilangan luar perkemahan, semua percakapan didalam kemah didengarnya dengan jelas, dalam hati amat girang.

Pada waktu Wanyan Tiang-ci keluar membawa tugas. hari itu tanggal tiga belas, sinar bulan cukup benderang, Hong-lay- mo-li sudah menyelinap kesamping, sembunyi dibelakang bayangan pohon yang gelap, tapi sekilas Wanyan Tiang-ci, masih melihat bayangannya.

Tersirap darah Wanyan Tiang-ci, bentaknya: "Siapa disana?

Keluar!"

Terpaksa Hong-Iay-mo-li keluar menyapa kepada Wanyan Tiang-ci, katanya: "Hamba datang bersama Cuncu melayani kepergiannya!" sengaja dia bicara merubah suara. Pakaian Hong-lay-mo-li dandanan dayang dan mukapun sudah dimake-up mirip benar dengan para biti2, Wanyan Tiang-ci tertawa geli dalam hati: "Potongan badan dayang ini mirip benar dengan perempuan iblis itu. Masakah sebesar langit nyalinya berani menyaru sebagai dayang pribadi Cuncu."

Sebetulnya Wanyan Tiang-ci amat teliti dan cerdik, kalau ada tempo untuk mengajukan pertanyaan pasti dia bisa melihat kepalsuan Hong-lay-mo-li. Tapi tugas cukup penting tiada tempo lagi mengurus tetek-bengek, Katanya: "Kau tahu peraturan tidak?"

Hong-lay-mo-li pura2 ter-sipu2, sahutnya: "Hamba belum tahu melanggar aturan apa?"

"Apa Cuncu tidak berpesan supaya kau tunggu di-luar istana Keluar, keluar!"

Apa boleh buat terpaksa Hong-lay-mo-li melengkah keluar, Wanyan Tiangci lalu berpesan kepada Wisu yang jaga: "Kalau Cuncu memanggil baru kau panggil dia untuk melayani."

Memberi laporan palsu dan memancing Wanyan Tiang-ci pergi adalah rencana yang diatur oleh Hong-lay mo-li dan Jilian Ceng-sia Tapi setelah itu dengan obrolannya sendiri  yang mendapat ilham mendadak, Jilian Ceng-sia berhasil menipu Cutilo pula, hal ini belum diketahui oleh Hong-laymo-li.

Keruan hatinya gelisah, disaat dia mondar mandir dan kehabisan akal, tiba2 dilihatnya seorang perwira muda melengkah men-datangi, dari jauh dia sudah memperhatian Hong-lay-mo-li, begitu Hong-lay-mo-li angkat kepala balas mengawasi dia, orang menjadi kikuk, sapanya: "Kau datang bersama Cuncu bukan? Kenapa mondar mandir sendirian disini?" agaknya perwira muda ini kepincut kecantikan Hong- lay-mo-li maka dia membesarkan nyali maju menghampiri dan ajak bicara. Tergerak hati Hong-lay-mo-li, katanya: "Tahukah kau dimana tempat penjara?"

Perwira muda ini melengak, katanya: "Untuk apa kau hendak ke penjara?"

"Cuncu suruh aku menengok keadaan seorang tawanan." "Apakah Bu-lim-thian-Hiau?" kiranya tadi siang Jilian Ceng-

poh pernah mengunjungi Bu-lim-thian-kiau dipenjara,

kebetulan perwira muda piket disana.

"Benar, Kini Cuncu sedang menemani Baginda, maka dia suruh aku wakili menengoknya, Menyampaikan beberapa patah kata kepadanya."

Terhadap penyamaran Hong-lay-mo-li perwira muda ini tidak curiga, cuma dia masih ragu2 mengenai suatu hal maka dia tidak segera menjawab.

Hong-lay-mo-li tahu apa yang diragukan orang, katanya: "Baginda sedang sibuk, Tadi Cuncu mengundangku masuk kedalam, Baginda langsung memberikan sebuah benda kepadaku suruh aku pergi seorang diri, setelah diluar baru aku ingat tanpa teman yang menunjuk jalan kearah mana aku harus pergi ke penjara,"

"O, jadi kau sudah mendapat perintah langsung dari Baginda."

"Tanpa idzin Baginda masakah aku berani pergi? siapakah nama Ciangkun, sudikah kau membawaku kesana?"

Sebetulnya alasan yang dikemukakan Hong-lay-mo-li kurang mantap, tapi masuk diakal sebaliknya perwira muda ini tahu dan melihat sendiri Hong-lay-mo-li datang bersama Cun- cu maka dia tidak curiga, disamping ingin menjilat Cuncu melalui dayangnya yang cantik ini. Segera dia memperkenalkan diri: "Aku bernama Maiban, anggota bayangkari, untung sekarang aku bebas tugas, marilah kau ikut aku."

Tak lama kemudian Maiban membawa Hong-lay-mo-li kesebuah kamar kurungan, Demi mengambil hati, tanpa dimintai Maiban menemui kepala penjara menjelaskan maksud kedatangan Hong-lay-mo-li. Tapi Bu-lim thian-kiau diserahkan delapan Kim-tiang Bun-su untuk menjaganya, maka dia hanya mengantar dan menyerahkan hal ini kepada ketua dari delapan Busu itu.

Ketua Kim-tiang Busu berkata: "Kau menyambangi Tam Ih- tiong, apa sudah punya idzin dari Baginda?"

"Ada sebuah Hu-hou (medali harimau) pemberian Baginda." "Coba keluarkan biar kuperiksa." Dengan hati kebat kebit

Hong-lay-mo-li- keluarkan medali harimau pemberian Jilian

Ceng-sia itu Busu yang satu ini biasanya adalah pengawal pribadi Wanyan Liang, kenal baik akan medali harimau ini, Maka dia serahkan kembali medali itu dan berkata:

"Baiklah, mari ikut aku." dia suruh anak buahnya membuka pintu penjara, semestinya dia hendak menemani Hong-lay- mo-li masuk kedalam.

Hong-lay-mo-li segera berbisik: "Cuncu suruh aku menyampaikan pesannya, mungkin aku harus bicara sedikit lama dengan tawanan. jangan kau biarkan orang lain masuk."

Sekilas Busu itu melengak, segera dia mengiakan, Malah dia sendiripun tak berani masuk.

Begitu berada didalam kamar penjara, Hong-lay-mo-li kerahkan ketajaman matanya, dilihatnya Bu-lim-thian-kiau duduk menggelendot tembok dengan kaki tangan diborgol Waktu Honglay-mo-li datang mendekati ternyata dia diam saja tanpa pedulikan dirinya. Bu-lim-thian-kiau mengira yang datang adalah Busu penjaga, maka dia bersikap acuh tak acuh, sebetulnya dia memang sudah siap berkorban, beberapa hari ini keadaan kondisi badannya semakin lemah dan payah, sepertii pohon yang semakin layu, hati kecewa dan patah semangat semoga dia tidak tersiksa lebih lanjut, lebih baik kalau lekas mangkat.

Sungguh senang dan pilu hati Hong-lay-mo-li. Pelan2 da mendekati Bu lim-thian-kiau, lalu berbisik di-sampingnya: "Coba kau buka matamu, lihat siapa yang datang?"

Se-konyong2 mendengar nama yang sudah amat dikenalnya ini, sungguh kejut dan girang Bu-lim-thian-kiau bukan kepalang, teriaknya berjingkrak berdiri:

"Kau..." lekas Hong-lay-mo-li mendekat muIutnya, katanya lirih: "Benar, inilah aku! jangan bicara keras."

Dalam kegelapan Bu-lim-thian-kiau tidak melihat jelas raut muka Hong-lay-mo-li, samar2 dia hanya membedakan perempuan yang berdandan sebagai dayang. Tapi suara Hong-lay-mo-li cukup dikenalnya.

Tapi kejadian ini terlalu mokal dan susah dipercaya, maka Bu-lim-thian-kiau menegas: "Kau, siapa kau sebenarnya?"

Hong-lay-mo-li tersenyum, dengan lirih dia membisiki apa2 dipinggir telinga Bu lim-thian-kiau.

"Apakah kita didalam mimpi?" tanyanya kemudian? "Jing- yau, bagaimana kau bisa kemari?"

"Tak bisa kujelaskan sekarang, Ih-tiong, kita harus cari daya untuk melarikan diri."

"Tidak mungkin, aku terkena racun Hap-kut-san, setindakpun tak kuat jalan."

Hong-lay-mo-li lolos pedang pusakanya memotong bergol dikaki tangan Bu-lim-thian-kiau, katanya: "Coba kau telan obatku ini." "Apakah ini obat penawarnya? Masakah Cutilo sudi berikan kepadamu?"

"lnilah Pik-sia-tan buatan ayahku sendiri mungkin kasiatnya bisa sedikit memulihkan tenagamu."

"Dengan menempuh bahaya sebesar ini kau kemari menengok aku, sungguh aku amat berterima kasih Tapi aku tidak bisa bikin kau susah, kau lekaslah kau pergi! Tak usah dicoba lagi."

"Aku tahu kekuatiranmu, umpama tenagamu pulih sedikit tetap tidak bisa membantu kepadaku?"

"Kau harus tahu disini ada Wanyan Tiang-ci, Cutilo dan jago2 kosen lainnya, masih ada tiga ribu pasukan Gi-lim-kun, betapapun kita takkan bisa lolos, Kau tetap dalam samaranmu sebelum rahasiamu konangan, masih sempat sekarang kau meloloskan diri, Jing-yau kau sudah menengok diriku, hatiku boleh puas dan terhibur, matipun aku meram dan tidak menyesal"

Pilu hati Hong-lay-mo-li mendengar keterus terangan orang, sebetulnya dia ada maksud merangkapkan jodoh Bu- lim-thian-kiau dengan Jilian Ceng-hun, mengharap pula bisa rujuk kembali dengan Siau-go-kan-kun.

Sejak saat ini mereka bertiga tetap sebagai sahabat karib.

Tapi waktu amat mendesak tiada tempo Hong-lay-mo-li pikirkan persoalan lain, para Busu yang piket di-luar mondar mandir, tiba2 tergerak benak Hong-lay-mo-li mendengar derap kaki mereka, katanya: "lh-tiong, aku punya akal bagus, kita tidak usah menerjang pakai kekerasan. Telanlah dulu obat ini, sebentar kusuruh kepala Busu itu masuk, setelah tutuk Hiat- tonya, kau boleh pakai bajunya, dengan topi lebarnya menutup muka, ditengah malam begini, belum tentu mereka bisa mengenali dirimu." "Cara ini tetap berbahaya, Meski bagus akalmu, belum tentu bisa berjalan lancar." Bu-lim-thian-kiau kukuh pendapat.

"Bagaimana juga harus dicoba dulu, umpama gagal toh lebih baik dari pada terima nasib! Ih-tiong tekadku tak bisa diubah lagi, kalau kau tidak mau keluar, biar aku temani kau disini, kita boleh mati bersama-" Hong-lay-mo-li bicara dengan tegas dan tandas, apa boleh buat akhirnya Bu-lim-thian-kiau terima obat itu terus ditelannya

Dapatkah Bu-lim-thian-kiau tertolong oleh usaha Hong-Iiay- mo-li berdua saja?

Bagaimana nasib Wanyen Liang dengan pasukan besarnya dalam pertempuran melawan pasukan Song yang menjepit dari segala jurusan?

Dapatkah Kongsun Ki meloloskan diri dari tahanan Yalu Hoan-ih?

(Bersambung ke bagian 33)
*** ***
Note 25 oktober 2020
Cersil terbaru hari ini akan diupload pukul 20.00 WIB
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 32"

Post a Comment

close