Pendekar Latah Bagian 21

Mode Malam
 
Bagian 21

Hong-lay-mo-li sendiri juga merasa heran bahwa Khing Ciau tidak kuat menahan damparan pukulan Cu-tilo yang sudah diputusnya ditengah jalan, malah harus semedi pula untuk memulihkan kesehatannya, Maka segera dia berkata: "Mungkin baru permulaan ini kau tiba di Kanglam, cuaca dan hawa disini tidak mencocoki kondisi badanmu, maka tak kau sadari bila kau sudah terhinggap demam? setelah berada dikota, biar minta Sin Gi-cik carikan tabib pandai untuk memeriksa kau."

Bahwasanya Tang-hay-liong sendiri juga belum tahu adanya ilmu Hoa-hiat-to dari aliran sesat yang berbisa itu, setelah memeriksa urat nadi Khing Ciau, didapati Khing Ciau memang tidak kurang suatu apa, maka diapun tidak ambil perhatian lebih lanjut.

Setelah merasa keadaan Khing Ciau tidak menguatirkan maka Tang-hay-liong tumplek perhatiannya kepada Sukam yang terluka parah. Badik itu amblas seluruhnya kedalam dada, terkena racun lagi, maka badannya tak kuasa lagi bertahan, maka denyut nadinya amat lemah, meski tabib Hoa Tho pada jaman Samkok dulu hidup kembali juga takkan bisa menolongnya.

Tang-hay-liong menghela napas, segera dia rangkap kedua jari tangan kanan menutuk Hong-hu-hiat yang terletak dibelakang batok kepalanya, disitulah letak sentral dari urat besar yang menembus ke otak kecil. Sukam belum putus napas, dengan tutukan ini syarafnya yang sudah lumpuh seketika bekerja lagi melebihi biasanya, sehingga pikirannya menjadi lebih sadar meski hanya dalam waktu yang amat pendek.

Pelan2 Sukam membuka mata, lekas Tang-hay-liong berbisik dipinggir telinganya: "Sukam Taysu, adakah kau punya sesuatu pesan? sebetulnya apakah yang terjadi malam ini?"

Dengan terputus2 Sukam berkata dengan lemah: "Sia-jit Hoatong, dia datang menyampaikan perintah majikanku, suruh aku berbuat demikian. Dialah yang menyerahkan bubuk Mo-kui-hoa kepadaku. Aku tidak berani membangkang perintah majikan, namun sesungguhnya aku tiada maksud membunuh Ko-gwat Siansu, maka kucari Sia-jit Hoatong dan kuajak ke-mari, supaya dia menyerahkan obat pemunahnya. Ai, sungguh tak nyana, majikanku toh langsung turun tangan membunuh Lo-siansu diluar tahuku!"

Sia-jit Hoatong yang dimaksud sudah tentu adalah Cutilo di padri asing itu, hal ini sudah diketahui oleh Tang-hay-liong, maka segera dia bertanya: "Siapakah majikanmu?"

"Durhaka kepada majikan berarti tidak setia, membunuh teman berarti tidak setia kawan pula, Aku sudah memikul dosa ini, sekali2 aku tidak akan berkhianat kepada majikanku.

Dengan mati aku menebus dosaku, kuharap kalian tidak memaksaku lagi!"

"Taysu," kata Tang-hay-liong sungguh2, "Aku bukan memaksa kau, Kami hanya ingin bikin persoalan ini jadi terang, supaya Ko-gwat Siansu tidak mati penasaran..." belum habis ucapannya, kelopak mata Sukam sudah tertutup dan kepalanya lemas tak bergerak lagi, waktu Tang-hay-liong meraba pernapasannya, ternyata sudah berhenti.

Tang-hay-liong geleng2 kepala, ujarnya: "Sia2 saja usaha kita." "Bukannya sia2, yang terang latar belakang wafatnya Ko- gwat Siansu sudah dapat kita ketahui."

"Sayang sekali, pembunuh aslinya justru masih lolos dan tetap terselubung dibelakang layar."

Setelah urusan menjadi jelas berkata Hong-lay-mo-li: "Dinilai dari kejadian nyata ini, jadi bayangan yang dikejar oleh Hoa Kok-ham dari gedung Gui-Liang-seng dan bayangan yang kau lihat melesat keluar dari biara ini adalah satu orang yang sama, dia bukan lain adalah majikan Sukam Taysu ini."

"Benar," ujar Tang-hay-liong, "kemungkinan orang itu menyamar mirip dengan Bu-lim-thian-kiau, sehingga Hoa Tayhiap kena dia kelabui juga. Tapi kalau benar orang ini bukan Bu-lim-thian-kiau, berarti pihak kita ketambahan satu musuh tangguh pula."

Sudah tentu Honglay-mo-li juga menguatirkan hal ini, namun bahwa kecurigaan terhadap Bu-lim-thian-kiau sudah dicuci bersih, maka lega jugalah hatinya.

Khing Ciau menghela napas, katanya: "Kukira padri asing begitu romantis, malam2 tamasya ditengah danau? Tak tahunya sedang bersekongkol dengan Su-kam, sayang waktu bertempur dipinggir danau tadi Liu Lihiap belum tahu juntrungannya, mustinya tidak perlu menaruh belas kasihan kepadanya."

"Padri asing ini datang dari tempat yang jauh, dalam waktu dekat tentu belum akan pergi, kelak pelan2 kita mencarinya pula. Sukam sudah mati, untuk mengetahui siapakah majikannya, hanya padri asing itulah sumber satu2nya. Ai, sayang sekali, segala kenyataan ini tidak bisa diketahui oleh Hoa Kok Ham."

Tatkala itu hari sudah terang benderang. Berkata Tang- Hay-liong: "Hayolah kita boleh berangkat" Hong-lay-mo-li manggut2, baru saja hendak berangkat tiba2 Tang-hay-liong berkata pula: "Liu Li-hiap, tunggu sebentar, kau belum boleh pergi demikian saja,"

Hong-lay-mo-li melengak, tanyanya: "Ada apa sih?" "Dandanmu seperti ini, mana boleh pergi ke-mana?" "Ya, aku memang ceroboh dalam hal ini," ujar Hong-lay-

mo-li tertawa getir. "Dalam waktu yang mendesak begini,

kemana aku harus mencari pakaian laki2?"

"Begini saja," ujar Tang-hay-liong setelah berpikir, "Pakaian Hoa Tayhiap tentunya masih tertinggal didalam kamarnya, bolehlah kau pinjam dulu kepadanya, dia tinggal dikamar pertama bagian timur dibelakang kamar samadi Hong-tiang tadi."

Merah jengah muka Hong-lay-mo-li, katanya tertawan "Ya, terpaksa aku menurut saja petunjuk cianpwe."

"Sukam Taysu ini rela bunuh diri demi kesetiaan terhadap kawan, meski tindakkannya ini terlalu gegabah, namun jiwa besarnya ini patut kita junjung juga, biar segera aku membereskan jenazahnya. lekaslah kalian salin pakaian dulu."

Hong-lay-mo-li masuk kedalam kamar Hoa Kok-ham, serta memilih seperangkat jubah panjang yang longgar, waktu dia jajal potongannya memang cocok cuma rada kepanjangan, ujung jubah menyentuh tanah, namun boleh dipakai juga.

Lalu dicarinya pula secarik kain kotak yang biasanya dibuat membungkus untuk mengikat kepala, maksudnya untuk menutupi rambut kepalanya, dibuatnya model ikalan seperti lazimnya anak2 sekolah mengenakan ikatan kain, lalu kebutan dia simpan dibalik jubah, waktu dia mengaca, dirinya kini sudah berubah menjadi pemuda sekolahan yang ganteng.

Waktu Hong-lay-mo-li keluar, sementara Tang-hay-liong sudah beres dengan jenazah Sukam Taysu, Ber-kata Tang- hay-Hong tertawa: "Bagus, orang lain menyangka kau ini pemuda sekolahan putra hartawan darimana, se-kali2 takkan menyangka kau ini seorang pendekar perempuan dari daerah utara, Nah hayolah berangkat."

Setelah meninggalkan Ko-gwat-am mereka bertiga langsung turun gunung dan tiba dipinggir danau, meski tak leluasa mengembangkan Ginkang, namun langkah mereka jauh lebih cepat dari orang2 biasa, orang pesiar sudah banyak diatas perahu yang mondar mandir.

Tampak pada sebuah perahu pesiar terdapat tiga orang laki2 berseragam pemerintahan sedang iseng ber-senang2. Namun mereka tidak peduli kan keadaan sekitarnya.

Setelah tiba dibendungan disebrang sana, berkata Tang- hay-liong: "Aku harus kembali memberi laporan kepada Li- pangcu dari Kaypang, terpaksa tidak ikut kalian menemui Sin- ciangkun."

"Kalau begitu berikan saja alamat Sin-ciangkun kepadaku, boleh kami janjikan suatu tempat untuk bertemu."

"Li-pangcu seorang satria yang berjiwa besar, laki2 yang patut diajak bersahabat. Tapi dengan kedudukanmu sekarang berada di Kanglam. Tentunya tidak leluasa berkunjung kemarkas besar Kaypang, bertemu dengan kawanan pengemis itu. Begini saja, besok pagi, boleh kau menunggu aku dibawah Liok-hap ga. Li-pangcu akan kuajak kesana menemui kau.

Liok-hap-ga berada dipesisir chi-tong-kang, diatas Gwa hun- san, dari kejauhan sudah bisa terlihat, gampang ditemukan dan mudah diingat."

Setelah mendapat alamat tinggal Sin Gi-cik mereka lantas berpisah. Setelah menyamar jadi laki2, memasuki kota bersama Khing Ciau ternyata memang tidak menemukan kesukaran, Sin Gi-cik menyewa sebuah rumah yang terletak disebuah gang dipinggiran kota yang sepi. Menurut alamat yang diberikan, tak lama kemudian mereka sudah menemukan tempat itu. Pengawal yang berjaga dluar dulu adalah anak buah Khing Kin, kenal baik dengan Khing Ciau, maka tanpa dilaporkan lebih dulu terus membawa mereka masuk.

Waktu mendekati kamar buku, dari luar Khing Ciau mendengar suara ketokan pelan2 berirama, kiranya dengan ketokan gagang pedangnya Sin Gi-cik sedang bersenandung dan berdendang membawakan syair2 ciptaannya, suaranya lantang berjiwa semangat dengan maknanya yang perwira membuat pendengarnya merasa darah mendidih. Tak tahan Khing Ciau sampai berseru memuji: "Bagus, syair bagus!"

Lekas Sin Gi-cik hentikan senandungnya memburu keluar, katanya tertawa lebar: "Kukira siapa, kiranya kau. Tuan ini..."

Hong-lay-mo-li tertawa, sapanya: "Sin-ciangkun tidak mengenalku lagi?"

Setelah Sin Gi-cik mengamati lebih seksama, diapun ter- bahak2: "0. kiranya Liu Lihiap, kau berdandan sebagai laki2, kukira sih teman Ciau-te yang baru dikenalnya, Silakan masuk, silakan masuk."

Setelah duduk Sin Gi-cik berkata puIa: "Beberapa hari yang lalu Hoa Tayhiap juga kemari menyinggung kalian pula. Liu Lihiap, apa kau sudah bertemu sama dia?"

Sikap Hong-lay-mo-li rawan, sahutnya: "Sudah ketemu.

Kemaren dia meninggalkan Ling-an, kebetulan aku menyusul datang dan bertemu sama dia."

Sin Gi-cik tidak tahu kejadian semalam, namun melihat sikap dingin Hong-lay-mo-li segera Sin Gi-cik menghibur: "Hoa Tayhiap berjiwa luhur demi kepentingan negara dia mondar mandir kian kemari, sungguh harus dipuji. Aku sudah janji untuk bertemu didalam pasukan besar, kelak Liu Lihiap masih ada kesempatan bertemu sama dia." Hong-lay-mo-li tak mau membicarakan urusan pribadi, segera ia bertanya: "Tujuan kita sama2 demi kepentingan negara dan bangsa. bertemu atau tidak bukan menjadi soal, Mendengar dendangmu tadi aku mejadi heran, adakah sesuatu yang tidak beres didalam persoalan melawan serbuan musuh? Kenapa kau berkeluh kesah?"

"Liu Lihiap, memang amat menjengkelkan kalau membicarakan soal ini, pihak keraton agaknya acuh tak acuh menghadapi situasi yang sudah gawat ini. Siapa takkan marah melihat keadaan seperti ini. Menghadapi musuh negara pihak keraton terbagi dua kelompok, sepihak menyerukan perdamaian, pihak lain berseru supaya melawan.

Ada pula yang membujuk Baginda menyingkir saja, malah ada pula yang menganjurkan uluran tangan kepada musuh untuk bersahabat dan mengaku salah, Syukurlah pihak militer dan para menteri dibawah pinpinan Tan Khong Pek dan Lau Ki Lau-ciangkun membentangkan untung rugi dan kepentingan negara, maka akhirnya diputuskan untuk melawan serbuan musuh, dan mengangkat Lau-ciangkun sebagai jendral besar untuk mempersiapkan perlawanan Sayang sekali pihak yang menentang justru berusaha merintangi dan menggagalkan maka usaha Lau-ciangkun menemui banyak hambatan terutama didalam mengusahakan ransum, di-ulur2 dan baru diberikan seperempat dari kebutuhan yang sebenarnya, Coba apakah hal ini tidak bikin kita orang2 yang cinta negeri takkan terbakar hatinya?"

Khing Ciau berkata: "Untunglah rakyat jelata sama menjunjung perjuangan Loh-ciangkun, tahu ransum tidak mencukupi, beramai2 mereka mengumpulkan dari dana2 rakyat dan kerja bakti lagi untuk menyetorkannya kepada pihak militer. Memang tidak lama aku berada dimarkas Loh- ciangkun, yang terang mendapat dukungan besar dari rakyat jelata." "Sekarang bicara soal pasukan gerilya yang kupimpin ini, waktu pamanmu meninggal akulah yang dipasrahi tanggung jawab berat ini setelah tiba di Kanglam, pihak keraton justru acuh tak acuh, sampai sekarang belum diberikan surat pengangkatan secara resmi sebagai alat negara yang fital saat ini! sebulan sudah berselang sejak aku mengajukan permohonanku, namun sampai sekarang belum ada jawaban.

Terpaksa aku harus hidup ditempat ini seperti semut  berada dalam kuali panas, betapa hatiku takkan gelisah, sehari laksana setahun."

Tengah mereka bicara seorang pengawal masuk memberi laporan: "Lau Tayjin berkunjung mohon bertemu dengan Ciangkun." lalu diserahkan sebuah kartu nama warna merah.

Mendengar Lau Tayjin seketika terbangun semangat Hong- lay-mo-li dan Khing Ciau.

Agaknya Sin Gi-cik dapat meraba isi hati mereka, katanya: "Bukan Lau Ki, tapi Lau-Ce-hu keponakan Lau Ki, entah ada keperluan apa dia berkunjung kepadaku."

Hong-lay-mo-li tidak ingin asal usul dirinya diketahui orang, maka bersama Khing Ciau dia menyingkir ke belakang pintu angin, sementara Sin Gi-cik sudah suruh pengawalnya menyilakan tamunya masuk.

Begitu melangkah masuk Lau Ce-hu segera menjura kepada Sin Gi-cik, katanya: "Kan-heng, selamat, selamat!"

Sin Gi-cik melengak, tanyanya: "Selamat apa?" "Pagi tadi kuterima berita dari markas besar, bahwa

jabatanmu sudah ditentukan secara resmi sebagai Seng-bu-

long, bekerja demi kepentingan kemiliteran, maka aku diminta kau lekas pergi menerima pengangkatan ini. Bukankah kau sedang gelisah karena menunggu hal in? Kali ini bolehlah hatimu lega." "Apa aku hanya diharuskan menerima jabatan ini saja?

Tanpa ada perintah lainnya?"

"Memang jabatan Seng-bu-long terlalu merendahkan derajat dan bakatmu. namun ketentuan ini diputuskan sendiri oleh kemiliteran dengan mendapat restu dari Baginda, pertanda bahwa namamupun sudah dikenal baik oleh sang Junjungan."

"Aku tidak meributkan kedudukanku tinggi atau rendah, umpama menjadi serdadu biasa juga aku rela, apa lagi mengikuti jejak pamanmu, Cuma aku ingin tahu nasib dari pasukan rakyat yang kubawa ini, bagaimana putusan pihak keraton?"

"Terus terang paman pernah mengajukan permohonan untuk angkat kau sebagai panglima pelopor, demikian juga pasukan rakyat itu secara resmi diangkat sebagai pasukan pemerintah. Namun akhirnya diputuskan bahwa permohonan paman ini dibatalkan. Malah ada kudengar pula mengenai pasukan rakyat ini ada dua usul yang berlainan kini menunggu putusan terakhir dari Baginda."

"Dua usul bagaimana?"

Perdana menteri Tan Khong-pek mengajukan usul supaya baginda memberi hak kuasa kepada Loh-Ciangkun untuk membentuk pasukan besar dari laskar yang terpencar dibeberapa tempat, demikian juga pasukan rakyatmu menjadi sebagian dari jatah yang ditentukan. Usul kedua diajukan oleh Gui Liang seng supaya komandan Kim-wi-kun Ong Tin dimutasikan saja keluar untuk langsung memimpin pasukan rakyat ini."

"Usul kedua ini se-kali2 tidak boleh dilaksanakan." kontan Sin Gi-cik memberikan suaranya, "Kejahatan Ong Tin sebagai pembantu Cin Kui dalam mencelakai Gak Hwi sudah menjadi rahasia umum, jikalau dia berani menerima pengangkatan ini, mungkin bisa terjadi pemberontakan dari dalam."

"Memang banyak pembesar yang tahu akan bahaya ini.

Maka usul Gui Liang-seng banyak mendapat tantangan, maka sampai sekarang Baginda sendiri belum memberikan keputusannya."

Sampai disini pembicaraan mereka Lau Ce-hu lantas mohon diri, Maka Hong-lay-mo-li dan Khing Ciau keluar dari belakang pintu angin, kata Khing Ciau: "Pasukan rakyat ini dibentuk dengan jerih payah pamanku, jikalau jatuh ketangan Ong Tin, beliau pasti takkan bisa meram dialam baka."

Sin Gi-cik menggebrak meja, serunya: "Sudah tentu tidak boleh jatuh ke tangan Ong Tin, meski jiwaku harus berkorban, aku akan menentangnya habis2an. Didalam tulisan pernyataan terima kasih akan budi luhur pengangkatan diriku nanti, bukan saja akan ku-tentang kehadiran Ong Tin didalam pasukan rakyat, malah akan kubongkar kedok dan intrik para pembesar korup dan pengkhianat itu."

"Sin-ciangkun," ujar Hong-lay-mo-li menghela napas, "Keberanianmu memang patut dipuji, Meski kau pertaruhkan jiwamu dengan protes tulisanmu itu, kukira sia2 belaka, toh tulisanmu itu belum tentu bisa sampai ketangan sri baginda."

"Dari mana kau bisa tahu?" tanya Sin Gik-cik.

"Coba kau pikir, betapa jerih payah tulisan ayah Khing Ciau yang dititipkan kepada Lau Ki untuk diserahkan kepada Sri Baginda, bagaimana hasilnya sekarang?"

"Memangnya aku sedang heran akan persoalan ini. Ciau-te, kau datang kemari apa kaupun mendapat undangan raja?"

"Di undang sih memang, tapi untuk menyerahkan jiwa kepada para menteri dorna." lalu dia tuturkan pengalamannya sehingga hampir saja dirinya menjadi korban secara konyol.

Lalu Hong-lay-mo-li ikut menjelaskan seluk beluk persoalan sesungguhnya sesuai dengan hasil keterangan dari mengompes tawanannya itu.

Sin Gi-cik geleng2 kepala dan menyatakan keputus- asaanya. Khing Ciapun bersedih akan nasib tulisan jerih payah ayahnya yang bertahun2. maka diapun berdiam saja.

Hong-lay-mo-li sedang berpikir, sesaat kemudian berkata: "Sin-ciangkun, bolehlah kau tulis pernyataanmu itu, boleh kau tambahkan pula tentang karya tulisan Khing-lopek yang tertahan di tangan para menteri dorna itu."

"Bukankah tadi kau katakan tulisanku itu akan sia2. belum tentu bisa sampai ke tangan raja? Kalau benar Sri Baginda tidak akan bisa menerimanya, buat apa aku menulis?"

"Biar aku sendiri yang mengantarnya keistana." kata Hong- lay-mo-li.

Sudah tentu Sin dan Khing amat terperanjat. Kata Sin Gi- cik: "Kukira berbahaya? Jago2 pengawal didalam keraton tak terhitung banyaknya, penjagaan amat ketat."

"Kau berani peraruhkan jiwa mengadu kelaliman para menteri dorna itu, memangnya aku tidak setimpal pertaruhkan jiwaku untuk mengantar surat itu? Bukan aku suka mengagulkan diri, jago2 pengawal istana raja belum tentu mampu merintangi dan menahan aku."

Sin Gi-cik cukup tahu akan kepandaian Hong-lay-mo-li, katanya: "Baiklah, kalau tiada jalan lain, terpaksa coba2 saja. Liu Lihiap jiwa luhurmu ini, sungguh patut di hargai, terimalah hormatku!"

"Sama2 bagi kepentingan negara, toh bukan monopoli urusanmu sendiri, buat apa banyak adat lekas-lah kau tulis!"

Dasar cerdik dan orang sekolahan lagi, bahan2pun sudah tersedia lengkap, dibantu Khing Ciau yang me-ngudak tinta dan menyiapkan kertas, cepat sekali Sin Gi-cik sudah tarikan potlotnya menulis ribuan kata2. Berkata Khing Ciau setelah Sin Gi-cik selesai menulis: "Kini masih terdapat satu persoalan yang masih harus dipecahkan."

"Soal apa?" tanya Sin Gi-cik.

"Betapa luas lingkungan bangunan istana raja, gedungnya ratusan banyaknya, Liu Lihiap sendiri belum tahu seluk beluk jalanannya, belum tahu dimana sang Baginda menetap, darimana dia bisa menemuinya?"

"Lau Ce-hu pernah diundang masuk ke daerah istana yang terlarang, katanya di Cia-hoa-wan terdapat sebuah Cui-ham- tong, dibangun membelakangi gunung, didepannya merupakan sebuah tebat teratai, diseke-lilingnya dibangun gardu2 indah dan pepohonan yang teratur rapi, merupakan suatu tempat tamasya yang sejuk dan permai.

Kini musim panas belum usai, tentunya Sri Baginda berada Cui-ham-tong, Asal bisa menemukan Cui-ham-tong, tulisanku mi pasti dapat di sampaikan kepada Baginda raja, umpama tidak ketemu beliau, Sri baginda akan bisa membaca tulisan ini pula-"

Hong-lay-mo-li terima surat pengaduan itu serta berkata: "Dengan adanya keteranganmu ini, lebih gampang untuk menemukannya, Kini waktunya sudah mendesak biar segera aku mempersiapkan diri." lalu dia menambahkan kepada Khing Ciau: "Ciau-te, kalau kentongan kelima aku belum pulang, kau tidak usah menungguku lagi, Besok boleh kau pergi ke Liong- hap-ga untuk menemui Tang-wan cianpwe. Tak usah kau ceritakan hal ini, supaya urusan tidak terbengkelai."

Setelah segala keperluan disiapkan, segera Hong-lay-mo-li pamitan. tatkala itu cuaca sudah mulai gelap, lingkungan istana memang teramat luas. Hong-lay-mo-li mondar mandir dulu diiuar istana menghabiskan waktu sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya, kira2 kentongan kedua dia sudah tiba diluar bilangan Cia-hoa-wan, segera dia kembangkan Gin-kang melompat keatas pagar tembok terus menyelinap masuk, untung malam cukup gelap, laksana daon jatuh entengnya gerak gerik Hong-lay-mo-li, para penjaga dan peronda tiada satupun yang melihat jejaknya.

Tampak bangunan gedung ber-lapis2, bukit palsu gardu pemandangan tersebar luas dimana2, letaknya amat strategis dan membingungkan. Untuk menjaga jangan sampai jejaknya konangan orang, Hong-lay-mo-li melesat naik kepucuk pohon, dengan Ginkang tingkat tinggi, dari pucuk pohon yang satu melenting kepucuk pohon yang lain, selincah kera seenteng burung, begitulah dia maju terus untuk menemukan letak Cui- ham-tong.

Setelah terbang beberapa puluh pucuk pohon, baru saja dia merasakan akalnya yang bagus dan bermanfaat ini, tiba2 didengarnya orang dibawah berseru heran, sekonyong2 segulung angin tajam menerpa datang dari arah samping menyerempet badannya, daon2 pohon sampai rontok berhamburan.

Kebetulan Hong-lay-mo-li hinggap diatas sebuah pucuk pohon. segera dia hentikan gerakannya dan menyembunyikan diri didalam gerombolan pohon sambil tahan napas.

Terdengar seseorang berkata dengan tertawa di-bawah: "Siangwan-ciangkun, kau memang terlalu kuatir Mungkin burung terbang saja."

"Tidak mungkin, tidak mirip bayangan burung." bantah temannya.

Mendengar pembicaraan mereka, Hong-lay-mo-li mandah diam saja sembunyi didalam gerumbulan de-daonan yang gelap tanpa bergerak.

Siangkwan-ciangkun yang dimaksud bernama Siangkwan Hu-wi, berkata: "Hati2 lebih baik, biar kucoba gebah lagi beberapa kali pukulan," "Wuh, Wut" beruntun dia lontarkan beberapa kali pukulan Bik-khong-ciang, beberapa pohon disekeliling Hong-iay-mo-li seperti terhembus angin badai bergetar dan patah dahan serta rontok daon2nya.

Bercekat Hong-lay-mo-li melihat perbawa Bik-khong-ciang orang ini, dengan cara memeriksa seperti ini, bila pukulannya benar2 terlontar menuju ke'arah Hong-lay-mo-li, terang dia takkan bisa menyembunyikan diri pula, Tengah Hong-lay-mo-li cari akal dan belum berkeputusan tiba2 "Wik!" sesosok bayangan melompat keluar dari pucuk disebelahnya menuju kepucuk pohon yang lain, sekejap saja sudah lenyap ke-dalam hutan rimbun.

Seorang yang lain itu segera tertawa, katanya: "Kiranya seekor kera yang sedang menggoda kita."

Siangkwan Hu-wi masih bersikap hati2 "Biasanya kera dipiara digunung kera dibelakang sana, sekelilingnya dikurung dengan kawat berduri, mana mungkin berada ditaman ini?" ujar Siangkwan Hu-wi terus mengejar kearah lenyapnya bayangan hitam tadi.

Temannya yang ditinggalkan lantas mengerutu: "Seperti melihat setan saja, buat apa susah2?"

Pandangan Siangkwan Hu-wi memang amat lihay, namun dia sendiri tidak berani menentukan bayangan itu pasti orang bukan kera, Tapi Hong-lay-mo-li justru kaget benar, karena dari tempatnya ini dia melihat jelas sekali bayangan itu memang orang bukan kera, Ginkang orang itu terang lebih tinggi dari dirinya, maka Siangkwan Hu-wipun kena dikelabui.

Disaat Hong-lay-mo-li mereka2 siapa gerangan bayangan hitam ini, tiba2 didengarnya sebuah suara seperti bisikan orang dipinggir telinganya: "Dari sini kearah barat setelah tiba digardu ketiga, balik kearah timur, setelah melewati sebuah bukit2an, belok lagi keutara, disana kau bisa menemukan sebuah tebat teratai, disebrang tebat ini dibawah gunung, ada sebuah bangunan gedung. nah itulah Cui-ham-tong."

Suasana sekelilingnya hening lelap, tiada tampak sesuatu yang bergerak, terang orang itu dari kejauhan menggunakan suara gelombang panjang memberi petunjuk kepada dirinya, sungguh girang bukan main hati Hong-lay-mo-li, kaget pula karena Lwekang orang begitu tinggi, mungkin Siau-go-kan- kun dan Bu-lim-thian-kiaupun bukan bandingan orang ini.

Senang pula karena orang ini memberi petunjuk, maka dia terang teman sehaluan, bukan musuh yang menyelundup ke- istana raja, Namun diapun heran dibuatnya, darimana orang tahu tujuan dirinya, apapun juga akhirnya dia menemukan tebat teratai itu, daon teratai yang besar membundar ceplok2 tersebar luas, kembang teratai sedang mekar semerbak, diam2 Hong-Iay-mo li takjup melihat pemandangan permai ini. memang Sri Baginda bisa menikmati kehidupan foya2 laksana didunia dewata.

Tiba2 didengarnya suara petikan rebab, waktu ia angkat kepala memandang kesana, tampak pada sebuah balkon  diluar gedung Cui-ham-tong itu, duduk seorang laki2, sekelilingnya dikitari pot2 kembang dari aneka ragam jenisnya. Dua dayang sedang berdiri di-samping, satu diantaranya sedang memeluk rebab. serta sedang menyetel suaranya

"Laki2 ini tentulah sang raja tua bangka itu, dalam suasana seperti ini, masih ada hati dia ber-senang2" maka terdengarlah petikan rebab itu mulai melagukan nyanyian2 yang pelan dan rawian, "Kenapa lagunya lagu sedih?" demikian Hong-lay-mo-li membatin dalam hati.

Seorang dayang yang membawa kebutan dan kipas segera berkata: "Hongsiang, siapakah yang membuat syair ini?

Ditempat seindah dan waktu senyaman ini, kenapa membawakan lagu2 yang sentimentil, menusuk perasaan saja."

Ternyata laki2 ini memang raja Song Baginda Tio Kou, katanya menghela napas: "Kau tak usah urus. Tim suruh kau nyanyi, maka kau nyanyilah,"

Terpaksa kedua dayang itu teruskan permainan rebab dan lagu2nya yang memilukan, seperti menyesali kehidupan ini, seperti meratap akan nasib yang tidak sdil, dibawakan penuh perasaan lagi sehingga Tio Kou tak sadar menyeka air matanya dengan lengan baju, Hong-lay-mo-li ikut terhanyut dalam buaian kepedihan, pikirnya:

"Disaat bangsa Kim siap menyerbu negerinya, serta mendengar syair2 keruntuhan negeri dari ciptaan ayahnya ini, dia masih terketuk hatinya dan merasa pilu serta kangen akan kebesaran kerajaan yang lalu, agaknya raja ini memang belum lalim.

Kalau dia masih mempunyai hati yang suci, setelah mendengar lagu ciptaan ayahnya ini, harus bangkit semangat dan gairahnya untuk melawan penjajahan"

Nyanyian habis rebabpun berhenti, kebetulan datang seorang Thaykam kecil mendekam di lantai melapor : "Malam ini Baginda hendak istirahat diistana mana, atau mengundang Kui-jin yang mana untuk tinggal di Cui-ham-tong saja, malam telah larut, harap Baginda segera istirahat dan memberi putusan."

Tio Kou menghela napas, ujamya: Tim mana ada hati ber- senang2? Malam ini Tim tinggal di Cui-ham tong, siapapun dilarang mengganggu ketenanganku. Kalianpun boleh mundur, biar malam ini aku bisa tidur tenang." Thaykam itu mengiakan terus mengundurkan diri. 

"Suruh lekas siapkan dupa dan air teh, malam ini Tim tidur dikamar buku saja, kalian boleh tidak usah melayani aku" Kedua dayang segera mengiakan, "Sudah disiap-kan, malam sudah larut, silakan Baginda istirahat saja,"

Kedua dayang itu segera membimbing Tio Kou masuk kekamar bukunya, tak lama kemudian datang dua orang Tai- wi (jaga malam), mondar mandir meronda diluar Cui-ham- tong

Hong-lay-mo-li membatin: "Seorang diri dia menginap di Cui-ham-tong, kesempatan baik yang sukar didapat." segera dia memotes dahan pohon dengan tenaga keras melemparkannya kedalam lebat sehingga mengeluarkan suara berisik dan air muncrat.

Kedua penjaga itu tajam pendengarannya, lekas mereka memburu datang kearah tebat, namun mereka hanya ter- tawa. katanya: "O, kiranya daon jatuh dihembus angin."

Disaat perhatian mereka terpencar, dengan Gin-kangnya yang tinggi Hong-lay-mo-li sudah melesat terbang melampaui tebat masuk kedalam Cui-ham-tong tanpa mengeluarkan suara dan tak diketahui orang.

Dari kamar buku sinar api masih menyorot keluar, cepat sekali Hong-lay-mo-li sudah menemukan tempat tinggal Tio Kou, dengan bergelantung diatas payon dia mengintip kedalam kamar Tampak Tio Kou tengah mondar mandir dikamar bukunya sambil menggendong tangan. Agaknya pikiran sedang kalut dan sering mengomel dan menggerutu, apa yang diucapkannya kurang jelas.

Akhirnya dia menghampiri meja lalu menarik laci, dikeluarkannya selembar kulit kambing, diatas kulit kambing ini ada noktah2 darah, kembali mulutnya bicara seorang diri: "Memangnya ini tulisan tangan engkohku, ai, sungguh tak nyana dia meninggal begini mengenaskan." nadanya sedih rawan, namun mimik mukanya sedikitpun tidak menampilkan rasa duka, malah dari kedua alisnya lapat2 kelihatan rasa senangnya. Ternyata engkoh Tio Kou adalah Song Khin-cong Tio Heng, bersama ayahnya Song Hwi-cong Tio Kiat tertawan oleh bangsa Kim, usia Song Hwi-cong Tio Kiat sudah tua, tak kuat disiksa dan hidup menderita didalam bui, lima tahun kemudian dia meninggal didalam penjara sebaliknya Tio Heng justru terus bertahan sampai usia enam puluh tiga, jadi selama tiga puluhan tahun dia hidup menderita didalam penjara.

Tatkala itu raja negeri Kim berada ditangan Wanyen Liang, Wanyen Liang kejam dan culas, enam tahun sejak dia pegang kekuasaan suatu hari tiba2 dia teringat akan raja Song yang sudah disekap tiga puluhan tahun ini, timbul isengnya, segera dia suruh kakek tua enam puluhan tahun bekas raja Song ini masuk gelanggang pacuan kuda berlomba dengan Yalu Goan- hi raja dari negeri Liau yang tertawan pula, lalu Wanyen Liang suruh anak buahnya pasang busur membidik kedua raja yang sedang berlomba kuda ini, Song Khingcong dan Yalu Goan-hi sama2 tembus terpanah dadanya, celaka adalah Song Khim- cong terjungkal roboh dari punggung kudanya, namun Wanyen Liang justru melarang anak buahnya membereskan dan mengebumikan jenazahnya, akhirnya mayatnya hancur lebur terinjak2 kaki kuda dan luluh bersama lumpur sebagai upacara penguburannya, Song Ko-cong mempunyai ciri didalam hatinya.

Dia amat kuatir bila negeri Kim kerahkan pasukannya mencaplok negerinya, namun diapun kuatir bila para panglimanya berhasil melabrak habis musuh, serta membawa pulang engkohnya, maka kedudukan raja-nya sekarang takkan bisa dipertahankan lagi, maka pikir punya pikir jalan yang paling tepat adalah berdamai dengan negeri Kim. sehingga dirinya bisa hidup tentram di Kanglam, dulu dengan dua belas medali emasnya, dia menarik balik pasukan Gak Hwi serta mendengar hasutan Cin Kui membunuh Gak Hui adalah karena ciri hatinya ini. Kini engkohnya sudah meninggal cirinya itu tidak perlu dikuatirkan lagi. Teringat betapa mengerikan kematian engkohnya sesuai dari apa yang dia baca dari catatan dikulit kambing ini, seketika berkobar amarahnya, maka bulat keputusannya, serunya sambil menggebrak meja: "Penjajah Kim terlalu menghina aku, hm, hm. agaknya aku harus unjuk gigi melabrak mereka habis2an."

Sudah tentu bukan kepalang girang hati Hong-lay-mo-li mendengar kata2nya ini, baru saja dia hendak masuk menyampaikan tulisan Sin Gi-cik, Tiba2 didengarnya Tio Kou bersuara heran, katanya pula: "Lho inikan bukan buku laporan, kenapa diletakkan disini?" diantara tumbukan buku- buku diatas mejanya dia mengambil sejilid buku tipis, waktu dia baca judul bukunya seketika melengak, mulutnya mengumam: "Hou-seng Khing Tiong Gi-su?" (buku peninggalan menteri terasing Khing Tiong, siapakah Khng Tiong ini? Kenapa aku tidak pernah tahu orang ini? Aneh, buku peninggalannya kenapa bisa tercampur didalam buku2 laporan ini?"

Lekas Hong-lay-mo-li mengintip kedalam, dilihatnya Tio Kou sedang memegangi buku catatan peninggalan ayah Khing Ciau yang dulu pernah dibacanya itu. keruan hatinya senang bukan main, pikirnya: "Biarlah dia membaca sekedarnya dulu, baru aku masuk menyampaikan laporan Sin Gi-cik ini."

Dengan penuh perhatian Tio Kou membaca beberapa halaman, mendadak dia berbangkit terus menguap dan menggeliat ngantuk, buku kecil tipis itupun terjatuh kelantai, Keruan Hong-lay-mo-li keheranan, tiba2 terasa dari dalam kamar terendus bau wangi, kejut Hong-lay-mo-li bukan main, "Blang" tiba2 didengarnya seseorang menerjang pintu terus melangkah masuk seraya bergelak tawa. Orang yang menerjang masuk kekamar buku ini bukan lain adalah padri aaing bernama Cutilo yang pernah dilabraknya itu Ternyata orang menggunakan obat hius yang wangi, namun tidak beracun, Lwekang Hong-lay-mo-li amat tinggi, obat bius biasa seperti ini takkan berhasil membuatnya terjatuh pulas. Karena perhatiannya dia tumplek kepada gerak gerik Tio Kou sehingga dia tidak perhatikan keadaan sekelilingnya, kini Cutilo sudah berada didalam kamar.

Baginda raja sudah berada dicengkramannya maka Hong- lay-mo-li tidak berani sembarangan bertindak.

Tampak Cutilo ter-loroh2 senang, katanya: "Raja brutal ini kiranya suka iseng di Cui-ham-tong ini. Kalau mau membunuhnya, segampang membalikan tanganku." sampai disini dia mendekati Tio Kou serta menggoyang2 kepalanya, namun Tio Kou sudah pulas tak sadarkan diri,

"Sayang majikan ada pesan, karena kau ini raja brutal, maka tidak perlu dibunuh, Hm, biarlah kau hidup ber-foya2 beberapa tahun lagi." agaknya dia amat penasaran karena harus mematuhi pesan majikannya tidak membunuh raja negeri Song ini.

Kalau Cutilo tidak tahu tujuan majikannya, Hong-lay-mo-li malah maklum bahwa musuh memang sengaja membiarkan raja brutal ini bertahan hidup, karena dia toh tidak mempunyai pambek dan tekanan untuk melawan serbuan pasukan Kim. kalau dibunuh, ganti raja yang lain, kemungkinan raja baru ini lebih pintar dan berpandangan jauh, kemungkinan tidak menguntungkan bagi gerakan mereka.

Tapi Hong-lay-mo-li heran juga, bila musuh tidak ingin membunuh Raja Song, apa pula tujuan mengutus Cutilo meluruk ke istananya ini?

Lekas sekali pertanyaan hati Hong-lay-mo li sudah terjawab, setelah melepaskan Tio Kou Cutilo kebetulan berpaling kebawah dan dilihatnya buku kecil peninggalan Khing Tiong yang terjatuh dilantai tadi, seketika dia ter- bahak2 senang.

Kata Cutilo sambil tertawa senang: "Kukira untuk mendapatkannya aku harus menggeledah seluruh isi istana ini, tak kira bisa kutemukan tanpa membuang tenaga"

Baru sekarang Hong-lay-mo-li paham maksud kedatangan Cutilo ternyata hendak mencari buku peninggalan Khing Tiong ini, Dalam catatan buku peninggalan ini besar manfaatnya membantu negeri Song untuk melawan serbuan pasukan Kim, tak heran bila musuh lebih menghargai buku ini dari pada jiwa raja negeri Song.

Cutilo segera melangkah maju serta membungkuk badan hendak menjemput buku itu, Tak nyana belum lagi jarinya menyentuh buku itu, tiba2 terasa angin tajam menerjang datang, seketika urat nadi bagian pergelangan tangannya tertusuk benang kebut Hong-lay-mo-li yang disambitkan dari luar jendela.

Dibawah landasan kekuatan Lwekang Hong lay-mo-li, tusukan benang ini tidak kalah dengan tajamnya jarum baja, meski tidak sampai terluka parah, namun kejut Cutilo bukan kepalang, secara reflek segera dia tarik balik tangannya- Cepat sekali Hong-lay-mo-li sudah menubruk masuk dari lobang jendela.

Melihat yang datang Hong-lay-mo-li gusar dan kaget Cutilo bukan main, sambil mengerung segera dia menubruk kearah Tio Kou, pikirnya hendak membekuk raja Song ini sebagai sandera untuk meloloskan diri. Tak nyana gerak gerik Hong- lay-mo-li lebih cekatan, sebat sekali tahu2 sudah mengadang didepan Tio Kou, Sret kontan dia menusuk dengan pedangnya.

Dengan bertangan kosong sudah tentu Cutilo terdesak kerepotan oleh rangsakan pedang Hong-lay-mo-li, beberapa langkah saja. punggungnya sudah menempel tembok dan tak mungkin mundur lagi. se-konyong2 terdengar suara gemuruh, tembok dibelakang Cutilo tahu2 ambrol persis dengan bentuk badan-nya, ahli tatahpun takkan bisa menjebol tembok sedemikian rapi dan persis, kejap lain Cutilo sudah menerjang keluar.

Lekas Hong lay-mo-li jemput buku tipis, karya ayah Khing Ciau itu, bersama laporan Sin Gicik dia taroh diatas meja- terus mengejar keluar dari lobang tembok seraya berteriak: "Ada pembunuh, ada pembunuh!"

Ginkang Cutilo jauh dibanding Hong-lay-mo-li, cepat sekali dia sudah tersusul oleh Hong-lay mo-li. Keruan Cutilo jadi gusar, dampratnya: "Kau budak ini kenapa selalu mencari gara2 kepadaku?"

Hong-lay-mo-li balas mengejek dingin: "Bukankah kau hendak membekuk aku? Kini biar aku yang meringkus kau".

Lekas Cutilo tanggalkan kasa merahnya terus di-sendal menungkrup keatas kepala Hong-lay-mo-li, Hong-lay-mo-li kembangkan permainan kebutnya menyampuk tungkrupan ini kesamping, sementara pedangnya ditarikan laksana kitiran terus mencecer bersama kebutnya.

Cutilopun mainkan kasanya sambil mengerahkan tenaga murninya untuk menangkis dan me matahkan serangan pedangnya, beberapa jurus telah berlalu tanpa ada ketentuan siapa bakal menang dan kalah, Cutilo tiada minat bertahan lama2, setelah mematahkan beberapa jurus serangan Hong- lay-mo-li, suatu ketika dia putar badan terus lari.

"Lari kemana?" bentak Hong-lay-mo-li, laksana burung kembali kesarangnya tahu2 badannya melejit keatas lewat diatas kepala orang serta mengadang di-depannya, Ginkang Hong-lay-mo-li memang jauh lebih unggul, kemanapun Cutilo melarikan diri, selalu Hong-lay-mo-li mendahului mencegat didepannya. Insaf takkan bisa lari Lagi, Cutilo jadi kalap dan gusar: "Baik, biar aku adu jiwa dengan kau budak ini!" segera dia menubruk balik, ilmu silat mereka mempunyai kehebatannya masing2. Lwekang Cutilo memang lebih tinggi, namun bicara soal variasi permainan silat terang Hong-lay-mo-li lebih unggul, kalau pertempuran berlangsung lama, dengan Gin- kangnya yang tinggi bukan sulit Hong-lay-mo-li untuk menguras habis tenaga lawan, kini Cutilo bertempur seperti banteng ketaton dan nekad, terpaksa Hong-lay-mo-li harus bertahan diri.

Tak lama kemudian terdengarlah derap langkah berlari2 mendatangi suara orang berteriak? riuh dari berbagai penjuru memburu datarig, para Wisu itu ber-teriak2: "Lekas tangkap pembunuh!"

"Nah itulah pembunuhnya disini!" yang tiba lebih dulu adalah Siangkwan Hu-wi yang tadi hampir menemukan jejak Hong-lay-moli, Diam2 Hong-lay-mo-li senang dalam hati, batinnya: "Lwekang orang ini tidak lemah, padri asing ini takkan bisa lolos meski dia tumbuh sayap " Melihat dua orang yang tidak dikenalnya sedang bertempur dengan sengit, Siangkwan Hu-wi jadi tertegun namun cepat sekali dia sudah memberikan aba2: "Tangkap kedua orang ini!" maklumlah dengan "kedudukannya yang tinggi bertanggung jawab dalam bilangan istana ini, tengah malam buta rata dan orang luar masuk kemari peduli pembunuh atau bukan, terang kesalahannya tidak kecil

Anak buahnya segera menyerbu bersama, ada yang menyerang Cutilo, ada pula yang menyerang Hong lay-mo-li. Keruan Hong-lay-mo-li amat gusar, serunya: "Kalian memang gegabah, padri asing inilah pembunuh, aku ini malah hendak meringkusnya." "Peduli kau siapa, letakan senjata dan menyerah, kalau kau bukan pembunuh, setelah persoalan dibikin terang, kulepas kau pergi" demikian kata Siangkwan Hu-wi.

"Aku harus meletakan senjata? Berarti kau sengaja hendak melepas pembunuh ini! Tanpa bantuanku, memangnya kalian mampu membekuk pembunuh ini?"

Siangkwan Hu-wi amat angkuh, segera dia mendengus gusar: "Bocah takabur, kau berani pandang rendah alat negara, ingin aku tahu betapa tinggi kepandaianmu biar kuringkus kau dulu. Lihat pukulan!"

Hong-lay-mo-li berkelit, katanya: "Seharusnya kau pantas diajar adat kalau kulukai kau padri asing ini yang akan memungut keuntungan."

Sudah tentu Siangkwan Hu-wi semakin marah, segera dia lontarkan pula pukulannya, Hong-lay-mo-li ayun kebutnya mematahkan pukulannya, sebat sekali tahu2 dia sudah menyelinap diantara dua Wisu, baru saja dia hendak melabrak kearah Cutilo, tahu2 beberapa Wisu sudah mengadang pula didepannya.

"Krak krak!" tiba2 terdengar tulang patah, ternyata dua Wisu sudah dipuntir putus lehernya dengan Jiong-jiu-hoat Cutilo, disusul kasa merahnya mengebut, dua bintara Kim-wi- kun kena disengkelit jatuh, begitu keras jatuhnya sampai kelenger, Cutilo segera menerjang keluar kepungan.

Hong lay-mo-li rada gugup, tanpa hiraukan segala akibatnya. kebutnya dia ayun lebih kencang, beberapa Wisu kena dikebutnya sampai tertutuk jatuh lemas. lekas sekali diapun sudah mengejar kesana.

Tampak Siangkwan Hu-wi sedang bergebrak dengan Cutilo.

Kepandaian Siangkwan Hu-wi memang tidak lemah, melihat Cutilo melukai dan membunuh anak buahnya, segera dia menerjang maju merintangi perbuatan kejam orang lebih jauh. Meski kepandaian Siangkwan Hu-wi tinggi, dibanding Cutilo dia masih lebih asor, beruntun mereka beradu tiga kali pukulan, telapak tangan Siangkwan Hu-wi sampai linu kemeng, kena dikebut kasa lawan lagi, kontan dia terhuyung beberapa langkah hampir saja roboh. Tak sempat melukai orang Cutilo ambil langkah seribu pula.

Ginkang Hong-lay-mo-li lebih tinggi, kebetulan dia menyusul tepat pada waktunya, pedang segera menusuk kepunggung orang, insaf takkan bisa ungkulan adu lari. Cutilo terpaksa membalik badan melabraknya.

Cepat sekali Siangkwan Hu-wi sudah memburu tiba, Hong- lay-mo-li segera menyambut dengan tertawa dingin: "Sekarang sudah percaya kepadaku belum?"

Walau hati kurang senang, namun setelah dirugikan mau tidak mau Siangkwan Hu-wi rada percaya akan ucapan Hong- lay-mo-li Terpaksa dia berkata merendah: "Memang aku yang salah paham, terima kasih akan bantuan Congsu (orang gagah), Nanti kalau pembunuh ini ketangkap, pasti jasamu kulaporkan kepada Baginda."

"Siapa kesudian terima hadiah rajamu, jangan cerewet lekas gempur dia!"

Karena rasa sangsinya hilang, segera Siangkan Hu-wi pimpin anak buahnya menggempur dengan sengit

Terkepung dalam lapisan tembok manusia, Cutilo bertempur dengan gagah dan mati2an. semangat Hong-lay- mo-li semakin berkobar, dengan sengit diapun tempur lawannya. Tiga tokoh silat masing2 kerahkan segala kemampuannya bertempur dengan seru, kapan anak buah Siangkwan Hu-wi pernah saksikan pertempuran seperti ini, tanpa terasa mereka menyurut mundur jauh terdesak oleh gelombang badai dari kekuatan pukulan dan kebut serta kasa yang saling samber dan simpang siur. Terpaksa mereka mengepung diluar gelanggang, Hanya empat orang pembantu Siangkwan Hu-wi yang berkepandaian rada tinggi ikut terjun ketengah gelanggang mengeroyok Cutilo.

Untuk menghadapi Hong-lay-mo-li seorang saja Cutilo sudah merasa berat, kini dibantu Siangkwan Hu-wi dan keempat anak buahnya, sudah tentu keadaannya semakin terdesak dan amat berbahaya "Sret" tiba2 tusukan pedang meluncur, kasa Cutilo seketika berlobang oleh pedang Hong- lay-mo-li, sudah tentu perbawanya semakin menurun, "Blang" pukulan Siangkwan Hu-wi ikut mendarat dipundak orang, untuk membalas rasa malunya tadi pukulan Siangkwan Hu-wi amat keras, namun telapak tangan seketika melepuh besar karena tertolak oleh ilmu pelindung badan Cutilo, hampir saja tulang pundak Cutilo terpukul remuk, keruan sakitnya bukan main. Lekas Hong-lay-mo-li susuli sekali tusukan lagi, untung hanya menggores luka panjang dilengannya saja.

Dingin tengkuk Cutilo, batinnya: "Tak nyana ajalku akan tamat disini baru saja dia kerahkan tenaga murni untuk menggetar putus urat nadi sendiri untuk bunuh diri supaya tidak tertawan musuh, tiba2 terdengar lengking sebuah suitan panjang kumandang dari tempat jauh.

Begitu keras suitan ini sampai kuping orang pekak. Hong- lay-mo-li terkejut "Siapa yang memiliki Lwekang setinggi ini?" tengah dia mekreka2 dilihatnya Cutilo unjuk rasa kegirangan segera dia menjawab dengan suitan panjang pula.

Seketika Hong-lay-mo li berteriak "Celaka, musuh kedatangan bantuan tangguh! Lekas bunuh saja padri asing ini!"

Cutilo bergelak tawa, serunya: "Sekarang kalian masih ingin membunuh aku? Kematian sudah diambang mata kalian!" belum lenyap kata2nya, tampak dari dalam hutan sebelah sana sesosok bayangan hitam menerjang keluar, ditengah deru angin yang kencang, belum lagi orangnya tiba, senjata rahasia sudah menyamber tiba lebih dulu.

Lekas Hong-lay-moli angkat pedang mengiris, terasa pedangnya memapas sesuatu benda yang lunak2 keras, keruan hatinya heran, setelah dia menegasi, ternyata itulah sekuntum kembang mawar yang besar.

Siangkwan Hu-wi menghantam jatuh sekuntum mawar lain yang menyamber kearahnya, kembang jatuh namun kelopak kembangnya masih utuh seperti tidak pernah disentuh, pada saat yang sama terdengar dua jeritan ngeri disebelah sana, dua Wisu yang sedang mengerubut Cutilo tahu2 terjungkal roboh, demikian pula dua temannya yang lain sama2 menjerit kesakitan.

Tak urung mencelos juga hati Hong-lay mo-li, insaf Lwekang dan kepandaian pendatang ini lebih tinggi dari dirinya. Kiranya pendatang ini menggunakan kepandaian ilmu kembang terbang memetik daon untuk melukai orang.

Lwekang tingkat tinggi yang tiada taranya, kelopak kembang atau daon pohonpun cukup disambitkan untuk menyerang dan mengancam jiwa orang.

Cepat sekali bayangan hitam itu sudah menubruk tiba bagai angin puyuh, Orang ini mengenakan cadar untuk menutupi mukanya yang kelihatan hanya kedua biji matanya yang bersinar terang.

Dua orang pembantu Siangkwan Hu-wi yang tidak terluka segera memapak maju, orang itu tertawa dingin: "Kalian berani turun tangan terhadapku?" masih dalam jarak setombak "Ces, ees" dua kali jarinya menjentik, dua orang yang memapak maju itu seketika terkulai roboh tanpa bersuara.

Terkesiap hati Hong-lay-mo-li, teriaknya: "Jadi kau inilah orangnya yang semalam memalsu Bu-lim-thian-kiau!" ternyata ilmu menjentik jari membunuh kedua orang ini, bukan lain kepandaian menutup hiat-to menggetar pecah urat nadi dengan Lo-khi untuk membunuh Ko-gwat siansu itu. Lwekang orang memang tidak lebih rendah dari Bulim-thian-kiau.

Orang itu tertawa dingin pula, katanya: "Genduk ayu. tajam benar matamu." tahu2 jarinya tertuding menjojoh kearah Hong-lay-mo-li. Dimana Hong-lay-mo-li ayun kebutnya, tenaga jari lawan seketika dikebutnya hilang, namun sisa tenaga orang masih menyerempet sedikit mukanya, rasanya dingin dan linu.

Keruan Hong-lay-mo-li gusar, "Sret" kontan pedangnya balas menusuk, namun orang itu sudah menarik tangannya, berbareng badannya berputar menghadapi Siangkwan Hu-wi, kembali jarinya menjojoh, Siangkwan Hu-wi kerahkan setaker tenaganya pada telapak tangan terus memukul, "plok" seketika telapak tangannya pecah berdarah.

Dengan pukulan telapak besi secara kekerasan dia berani menahan tenaga jari orang, hanya terluka saja, terhitung nasibnya masih untung, Sebat sekali seperti langkahnya limbung tahu2 Hong-lay-mo-li sudah menyelinap kedepan mengadang dide-pan Siangkwan Hu-wi, siap untuk menghadapi serangan lawan.

Orang berkedok ini kebaskan lengan bajunya yang longgar, lekas Hong-lay-mo-li mainkan pedangnya, dengan sejurus Hian-niau-hoat-soa (burung camar meng-garis pasir) pedangnya menggaris miring, dengan kelunakan yang membawa kekerasan, didalam satu jurus sekaligus dia menyerang tiga tempat penting dibadan musuh.

Ternyata orang berkedok tidak berkelit, sambil berseru memuji. lengan bajunya tetap dikebaskan, maka terdengar suara nyaring seperti beradunya senjata keras, pedang Hong- lay-mo-li berhasil memapas lengan baju lawan, namun rasanya seperti membentur senjata keras, meski tidak gentar, namun Hong-lay-mo-li kaget dan heran dibuatnya. Tanpa ayal lekas dia kembangkan kombinasi permainan kabut dan pedang yang dahsyat kebut kadang2 kaku lempang peranti menutuk hiat-to seperti potlot baja, menyerang dari sayap kanan kiri.

Lengan baju orang itu dilarikan naik turun mengeluarkan deru angin yang bergelombang, semua rangsakan kebut dan pedang Hong-lay-mo-li kena di-sampuk balik seluruhnya Dalam sekejap saja tiga puluh enam jurus permainan kombinasi ilmunya sudah dilontarkan seluruhnya, namun orang berkedok itu mainkan lengan bajunya dengan gencar pula, dalam sekejap itu diapun sudah lancarkan tiga puluh enam jurus permainannya, sehingga seluruh tipu2 Hong-lay- mo-li kandas ditengah jalan.

"Genduk ayu memang hebat," demikian puji orang berkedok, "Tak heran Siau-go-kan-kun dan Bu-lim-thian-kiau sama ter-gila2 kepadamu!"

Hong-lay-mo-li memang menyamar jadi laki2, tidak menjadi soal penyamarannya di ketahui lawan, lebih mengejutkan bahwa asal usulnyapun sudah diketahui musuh, tahu pula pertikaian Steu-go-kan-kun dan Bu-lim-thiasvkiau lantaran dirinya, keruan Hong-lay-mo-li tambah kaget.

Baru sekarang pula disadarinya bahwa orang berkedok inilah yang mengadu domba sehingga terjadi pertikaian salah paham itu, keruan semakin sengit hatinya, meski tahu dirinya bukan tandingan lawan, sekuat tenaga dia gempur musuh mati2-an. "Creng" tiba2 orang itu ulurkan jari tengahnya menjentik pedang Hong-lay-mo-ll, sementara telapak tangan menabas, jari menutuk, hebat luar biasa, setelah rangsakannya kandas berbalik Hong lay-mo-li terdesak mundur dibawah angin.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 21"

Post a Comment

close