Pendekar Latah Bagian 19

Mode Malam
 
Bagian 19

"Pergerakan Sin-ciangkun yang gilang gemilang sudah menimbulkan sirik para penguasa, majikan sedang diincar oleh komplotan Gui Liang-seng lagi, kalau mereka kumpul bersama, bila sampai diketahui komplotan mereka tentu berabe, Maka kami menetap disebuah kelenteng dibawah Hou-san ditepi Se- ouw "

Langkah mereka amat cepat, kejap lain mereka sudah melewati Ki-sia-nia, seluruh pemandangan Se-ouw nan permai sudah kelihatan jelas seluruhnya dari sini, Mau tidak mau jantung Hong-lay-mo-li berdegup semakin keras, Diam2 Hong- lay-mo-li berdo'a dalam hati: "Semoga Siau-go-kan-kun lebih mencocoki hati-ku, betapapun dia adalah orang Han..." mau tidak mau terbayang juga akan Bu-1im-thian-kiau.

Disaat ia melamun mendadak ia tersentak sadar oleh sorak Khing Ciau yang kegirangan, didengarnya Khing Ciau berseru: "Liu Lihiap, coba lihat betapa indah panorama Se-ouw yang terkenal diselurah dunia ini, memang tidak bernama kosong." ternyata tanpa disadari tatkala itu mereka sudah turun dari Ki- sia-nia dan tiba ditepi Se-ouw.

Pek-siu-lo menerangkan: "Yang ini adalah So-thi dan yang itu adalah Pek-thi (Bendungan putih), setelah bendungan putih itu kita akan sampai di Hou-san, Marilah kita lewat bendungan putih saja."

Waktu itu hari menjelang tengah malam, Panjang bendungan putih ini ada empat lima li, jikalau mereka mengembangkan Ginkang, dalam setengah sulutan dupa mereka sudah akan tiba di ujung sana, tapi menghadapi panorama seindah ini, Hong-lay-mo-li yang ingin segera bertemu dengan Hoa Kok-ham, mau tidak mau harus memperlambat langkahnya.

Disepanjang pinggiran bendungan ini ditanami pepokonan Yang-liu, perahu menangkap ikan atau sampan pesiar hilir mudik, titik2 sinar api kelap kelip tersebar luas dipermukaan danau yang besar ini, Begitulah sepanjang jalan mereka menjadi asyik dan berkelakar, membicarakan syair2 pujangga jaman lalu yang menggambarkan keindahan pemandangan Se-ouw.

Tengah mereka ber-cakap2, tiba2 terdengar suara percikan air yang tergayuh memecahkan kesunyian permukaan danau, Tampak sebuah perahu pesiar yang cukup besar dan mewah tengah mendatangi dan berlabuh diujung bendungan sana.

Terdengarlah nyanyian merdu yang membawakan syair gubahan Liu Eng pada jaman Han, selesai nyanyiannya, kebetulan perahupun sudah merapat didarmaga.

Mendengar suara nyanyian yang merdu, Hong-lay-mo-li dan lain2 sedang me-reka2 siapakah orang yang begitu iseng pesiar malam ditengah danau, maka tampak kerai tersingkap dari dalam muncul seorang perempuan tambun yang berbadan seperti gentong tengah berkata dengan suara melengking merdu: "Terima kasih akan persen Toa-hwesio, Siau-li tidak mengantar lebih jauh."

Sungguh tak terduga perempuan yang bernyanyi semerdu itu ternyata berbadan begitu tambun dan sedang iseng dengan seorang Hwesio. Khing Ciau dan Hong-lay-mo-li merasa lucu dan geli sebaliknya begitu melihat Hwesio itu seketika Hek-pek-siu-lo berubah air mukanya.

Hwesio itu berkulit hitam berbadan tinggi kekar, hidungnya tinggi matanya celung, kelihatannya adalah padri asing, Baru saja Hong-lay-mo-li melihat keganjilan sikap Hek-pek-siu-lo, didengarnya Hwesio itu sudah tertawa lebar, katanya: "Ha, kalian bersaudara juga berada di Ling-an? Kabarnya kalian terima menjadi kacung orang Han, kenapa tidak mau jadi kacungku saja, hm, sungguh kurangajar!" lenyap suaranya orangnyapun sudah menubruk tiba, kedua tangannya terpentang mencengkram kepada Hek-pek-siu-lo.

Sekali melejit dan salto Pek-siu-lo mundur tiga tombak, Hek-siu-lo sama2 bergerak dalam gaya yang serupa, betapapun kepandaiannya rada rendah, gerak-geriknya tidak secepat saudara tuanya, "Bret" baju dibagian tengkuknya sudah tercomot sobek.

Kepandaian silat Hek-pek-siu-lo sudah terhitung kelas wahid dalam kalangan Bulim, gaya jumpalitan merekapun aneh, merupakan kepandaian tunggal pula, tak nyana baru segebrak saja sudah kecundang oleh si Hwesio, Keruan Hong- lay-mo-li kaget.

Jeritan Pek-siu-lo kedengaran amat takut: "Liu Lihiap, cepat..."

Hwesio asing itu sudah menubruk maju pula dengan cengkraman kedua tangannya Tapi sebat sekali Hong-lay-mo-li sudah melolos pedang, dengan gerakan Ih-sing-hoan-wi dari Ginkangnya yang tmggi, bergerak belakang mencapai sasaran lebih dulu mengadang didepan padri asing itu, bentaknya: "Kepala gundul dari mana kau."

"Sret" pedangnya langsung menusuk keurat nadi penting dikedua tangan padri asing itu.

Hong-lay-mo-li melancarkan kepandaian menusuk Hiat-to dengan ujung pedangnya, ujung pedangnya runcing dan tajam, namun diwaktu melancarkan kepandaian tingkat tinggi seperti ini, bila latihannya sudah matang dan sempurna, tusukannya boleh tidak usah merobek pakaian dan tidak melukai kulit daging musuh, tapi telak menutuk Hiat-tonya. Kiranya Hong-lay-mo-li tak bermaksud melukai orang, tujuannya cuma menghalangi padri asing ini merangsak kepada Hek-pek-siu-lo.

Tak nyana padri asing ini ternyata seorang tokoh silat juga, begitu mendengar tusukan pedang Hosig-lay-mo-li tidak membawa desiran angin keras, di paderi asing tahu orang tidak berniat melukai dirinya, tujuannya hanya ingin menutuk Hiat-tonya saja, maka dia membentak:

"Budak busuk dari mana kau, berani kurangajar, serahkan pedangmu!" tak berkelit, kedua telapak tangannya terbalik malah menyongsong ke depan, dimana jari2nya mencengkram dia coba rebut pedang Hong-lay-mo-li secara kekerasan.

"Wut" telapak tangan kiri si padri asing ikut menabas, sementara kelima jari tangan kanannya meraih kegagang pedang, jarinya tertekuk keatas hendak menjepit urat nadi pergelangan tangan Hong-lay-mo-li, sejurus dua gerakan ini dilancarkan dengan keji, kalau Hong-lay-mo-li tidak lepaskan pedangnya, lengan kanannya ini bakal tertabas kutung secara mentah2 oleh telapak tangan orang, lebih celaka lagi jepitan jari2nya itupun cukup menggetar putus urat nadi di-badannya dengan kekuatan Kim-kong-ci-hoat.

Disaat2 gawat itulah, tiba2 Hong-lay-mo-li perlihatkan kepandaian Ginkangnya tinggi, tak lepas pedang diapun tidak melompat berkelit, dengan Hoa-pau-biau-sin (menggeser langkah badan melayang), alas sepatunya seperti dilumuri minyak, dipermukaan jalan tanggul yang kasar ini, ternyata kakinya meluncur licin sejauh satu tumbak lebih, dengan sendirinya tabasan dan cengkraman jari padri asing mengenai tempat kosong.

Hong-lay-mo-li gusar, damratnya: "Bagus, mari coba kau rebut lagi pedangku!" dengan jurus Hmg-hun-toan-hongi pedangnya membabat miring memapas kejari2 padri masing yang belum sempat ditarik balik. Kali ini Hong-lay-mo-li menyerang tidak kepalang tanggung karena tujuan lawan terhadap dirinya barusanpun teramat keji.

Kepandaian silat padri asing inipun tidak lemah, belum sempat dia menarik tangannya, sekaligus dia susuli dengan jentikan jari, tujuan Hong-lay-mo-li hanya ingin memapas jari2 orang, maka serangannya tidak dilandasi kekuatan yang berarti, "creng" pedangnya terjentik menceng oleh Kim-kong- ci-lat si padri asing.

Padri asing itu bergelak tawa, serunya: "llmu pedangmu memang baik, Lwekangnya masih kurang, lebih baik kuterima menjadi muridku saja."

"Kepala gundul biar kau rasakan kelihayanku." jengek Hong-lay-mo-li, segera kebut dia turunkan pula, dengan pedang dan kebut serempak dia cecar musuhnya, dalam sekejap mata beruntun dia merangsak delapan jurus.

Baru sekarang padri asing ini betul2 terkesiap darahnya, Lwekang Hong-lay-mo-li ternyata tidak lebih asor dibanding dirinya! Cepat sekali disaat sipadri terdesak mundur ber- ulang2, kebutan Hong-lay-mo-li sudah terkembang ditengah udara mengepruk batok kepalanya yang gundul, meski dia berusaha berkelit dan melompat mundur, tak urung benang2 kebut yang halus itu tetap menyerempet kulit kepalanya sehingga meninggalkan jalus-2 merah.

Sejak datang ke Tionggoan padri asing ini belum pernah kebentur musuh tangguh, hari ini kecundang oleh rangsakan Hong-lay-mo-li sudah tentu berkobar amarahnya, lekas dia bergerak dengan Ban-liong-jiau-pou (naga melingkar menggeser langkah), sebat sekali badannya menyurut setombak jauhnya, tahu2 kasa merahnya sudah dia tanggalkan, bentaknya mendelik gusar:

"Budak kurangajar, berani kau menyakiti tuan besarmu, biar kubikin kau mandi di air danau dibawah sana." dimana kasa digentakkan, seperti segulung awan merah terus menungkup keatas kepala, tanpa ayal Hong-lay-mo-li angkat pedangnya, "Cret" seperti menyentuh batu atau kayu, ternyata dia tak mampu menusuk lobang kasa orang.

Kasa padri asing inipun bukan benda mestika, hanya terbuat dari kain biasa cuma lebih tebal, namun dilandasi kekuatan dalamnya, ternyata kuat menahan tusukan pedang, keruan Hong-lay-mo-li bercekat hatinya, selanjutnya diapun tak berani pandang ringan musuhnya.

Cepat sekali Hong-lay-mo-li robah permainan pedangnya, tampak delapan penjuru angin melulu bayangan sinar pedangnya disertai berkelebatnya bayangan tubuhnya, Ceng- kong-kiam ditangannya se-olah2 berubah menjadi ratusan batang banyaknya, secara serempak seperti hujan badai mencecar si padri dari berbagai penjuru, disamping itu kebutnya ikut bekerja laksana elang terbang dilangit, seperti harimau mengamuk.

Kebut menyerang dari atas, sementara pedang ber-gulung2 dari bawah, apalagi Ginkang Hong-lay-mo-li jauh lebih unggul, serangannya beratus variasi lagi, seketika si padri asing seperti terselubung oleh rangsakan gencar sehingga tak bisa banyak berkutik.

Untunglah padri asing ini membekal kepandaian Sia-kin-im- Iat tingkat tinggi, maka sedemikian jauh kasanya masih kuat menahan serangan pedang dan ke-but, setiap kali senjata lawan menyentuh kasanya, secara licin dan pas2an dengan gerakan yang lincah dia punahkan setiap gempuran lawan, sekaligus kerahkan tenaga balas menyerang, maka pedang Hong-lay-mo-li tidak kuasa melobangi kasannya.

Akan tetapi, Hong-lay-mo-li lancarkan serangan gencar bagai kilat, kebetulan pula merupakan lawan mematikan dari ilmu yang dia yakinkan, sehingga selalu dirinya terancam bahaya tanpa disadari sebelumnya, beberapa kali sudah pedang Hong-lay-mo-li tahu2 sudah menusuk tiba dari arah yang tak pernah diduga, begitu cepat dan ganas lagi, malah isi kosong serangan ini sukar diraba pula, setiap ada lobang tentu menyusup masuk, terpaksa padri asing ini harus tumplek seluruh semangat dan daya pikirnya, berjaga dan waspada, lama kelamaan keadaannya semakin payah dan terdesak dibawah angin.

Mundur lagi beberapa langkah padri asing sudah berada di pinggir danau, Hong-lay-mo-li membatin: "Kau ingin aku mandi, biar kubikin kau menjadi makanan ikan." baru saja dia pergencar rangsakannya, tiba2 padri asing menghardik keras:

"Turunlah!" tiba2 dia lontarkan pukulan dahsyat laksana gugur gunung, kiranya dia sengaja memancing Hong-lay-mo-li kepinggir danau, baru sekarang dia menggempurnya sekuat tenaga.

Padri asing ini sudah tahu akan kelihayan Hong-lay-mo-li, namun dia masih salah hitung, seinng dengan damparan angin pukulan musuh Hong-lay-mo-li berputar semakin cepat, kaki menggeser kesamping, badannya ikut doyong miring, kelihatannya seperti hendak jatuh, maka ditengah teriakan kaget Khing Ciau dan Hek-pek-siu-lo, tampak kebutnya terayun, "plak" memukul bumi, sigap sekali badannya melambung naik keudara, "sret" pedangnya menusuk lobang kasa padri asing itu.

Ternyata karena memukul sekuat tenaga, maka landasan tenaga diatas kasanya jadi berkurang, maka tusukan pedang Hong-lay-mo-li tembus melobangi kasanya.

"Baik, mari kita lihat siapa lebih lihay." damprat padri asing dengan gusar dan malu, Menyusuli tusukan pedang Hong-lay- mo-li kebutnya terayun miring, namun tertolak pergi oleh damparan pukulan angin lawan, sehingga perbawa serangannya punah. Waktu kedua pihak bergerak lagi, karena kasa sudah berlobang, seperti balon kempes, maka manfaat kasa ini sebagai senjata jauh berkurang, namun tenaga dalamnya memang kuat luar biasa, sehingga dalam waktu debat dia masih kuat bertahan dan melawan Hong-lay-mo-li dengan sengit.

"Liu Lihiap," Pek-siu-lo segera buka suara, "jangan kami lama2 berada disini, maaf kami bersaudara terpaksa ikut meramalkan suasana."

Hong-lay-mo-li tahu tujuan orang, maka dia tidak memberi tanggapan, karena demi urusan besar, disini merupakan daerah kota raja lagi, kalau pertempuran berlangsung terlalu lama dan konangan oleh pihak pemerintah, tentu membawa akibat yang tidak diinginkan.

Padri asing itu gusar, dampratnya: "Bagus, kalian berani berpihak keluar memusuhi Hudya? Memangnya masih ada tinggi rendah dalam pandangan kalian?"

Hek-siu-lo gusar, makinya: "Omong kosong, kau sendiri mengagulkan diri sebagai Hoat-ong, aku sendiri mempunyai majikan, memangnya siapa sudi kau urus?"

Pek-siu-lo justru tertawa menyengir, oloknya: "Maaf ya, kau datang ke Tionggoan, masakah tidak tahu disini ada peribahaya yang bilang diberi tidak membalas kurang hormat? Kami bersaudara bukan sengaja hendak bermusuhan dengan kau, cuma comotan-mu tadi harus kami bayar dengan comotan pula"

Pakaian Hek-siu-lo tadi tercomot sobek oleh sipadri asing, amarahnya masih berkobar, mendengar ucapan engkohnya segera dia menubruk maju, teriaknya: "Benar, mari persen kepala gundul ini dengan Hun-kin-joh-kut."

Hun-kin-joh-kut merupakan salah satu ilmu kepandaian paling lihay dalam berbagai ragam ilmu Kin-na-jiu-hoat, kedua saudara ini bisa seia sekata, kerja sama dengan baik sekali, serempak mereka kembangkan kepandaianya, maka rangsakan mereka lebih ganas dan telengas lagi.

Kasa si padri buat melawan serangan Hong-lay-mo-li, maka si padri hanya bisa menghadapi mereka dengan sebelah tangannya saja

Hek-pek-siu-lo masing2 dikanan kiri menyerang dari dua sayap Padri asing itu tahu kepandaian Pek-siu-lo lebih tinggi, kuatir pertahanan ilmu Kim-ciong-cohnya tak kuat menghadapi serangan Huti-kin-joh-kut lawan, segera dia abaikan serangan Hek-siu-lo, "Wut" dia menggempur dulu kepada Pek-siu-lo.

Lekas Hong-lay-mo-li kebutkan kebutnya, sehingga sebagian tenaga gempuran padri asing ini dipunahkan, namun demikian Pek-siu-lo masih tidak kuat menahan, badannya tergentak mundur sempoyongan beberapa langkah, sudah tentu cengkraman jari2nya pun luput.

Sebaliknya cengkraman jari Hek-siu-lo justru mengenai sasarannya dengan telak, namun tahu2 jari2 tangannya seperti menyentuh batu keras, "Puk" belum lagi Hek-siu-lo mampu mencengkram luka kulit badan sipadri, tahu2 jari sediri terasa hampir patah tulang-nya, saking kesakitan dia menjerit se-keras2nya, sigap sekali melompat mundur dengan muka pucat, keadaannya lebih mengenaskan dari saudara tuanya.

Tapi padri asing ini sendiripun amat menderita, Lahirnya dengan mudah dia mengalahkan serangan Hek-pek-siu-lo, bahwasanya tadi dia sudah kerahkan setaker kepandaiannya, terhadap Pek-siu-lo dia gunakan Kim-kong-ciang-lat, sementara menghadapi cengkram Hek-siu-lo dia gunakan Kim- ciong-coh, ilmu pelindung badan yang sakti, ditambah kepandaian menutup jalan darah.

Karena dia harus menghadapi rangsakan bersama dari tiga jurusan, sudah tentu perhatian dan kekuatannya terpencar maka cengkraman Hek-siu-lo tadi telak mengenai Ih-khi-hiat  di ketiaknya, walau tidak terluka, hawa murnipun sudah buyar, dalam waktu singkat dan mendesak ini tak mungkin dia bisa menghimpunnya kembali.

Hong-lay-mo-li belum sempat menjajagi sampai dimana taraf kepandaian dan Lwekang padri asing ini, melihat sekali gebrak orang sudah mengalahkan Hek-pek-siu-lo, untung Pek- siu-lo mendapat bantuan kebut-nya, maka dia kira padri asing ini belum keluarkan seluruh kepandaiannya, keruan hatinya ikut kaget.

"Sret, sret, sret" beruntun dia menyerang tiga kali secara berantai menusuk tiga Hiat-to penting dibadan si padri, tiga rangkai serangan pedang Hong-lay-mo-li merupakan kepandaian tunggalnya yang ganas untuk mengambil jiwa musuh, maka dia lancarkan dengan setaker kekuatannya.

Kalau Hong-lay-mo-li tidak menilai kepandaian musuh terlalu tinggi, tak mungkin dia gu nakan serangan yang mematikan ini.

Sudah tentu padri asing ini benar2 merasakan pahit getirnya, "Cret" pedang Hong-lay-mo-li kembali tembus menusuk kasanya, saking besar tenaganya pedang masih menyelonong kedepan menusuk kedadanya, terang padri asing ini takkan kuat melawan lagi, sementara kakinya sudah tepat dipinggir tanggul, disaat2 jiwanya terancam bahaya ini memang kepandaiannya amat tinggi, tiba2 kedua kakinya jejak tanah, badannya lantas melenting mumbul kebelakang, Tapi bawahnya bukan daratan, tapi air danau.

Untung perahu itu berlaju belum jauh, kira2 baru sepuluh tombak, kecuali tumbuh sayap, betapapun tinggi ilmu Ginkangnya, jangan harap sekali lompat bisa mencapai jarak sedemikian jauh.

Tampak padri asing itu meluncur dengan kepala dibawah kaki diatas, terus melorot kebawah seperti hendak terjun kedalam air, se-konyong2 kasanya yang lebar itu dia ayun kebawah dan "Byuuk!", air muncrat, kasanya seperti memukul benda keras, meminjam daya ritulan tenaga pukulan kasanya badan si padri asing membal naik kesebelah depan lagi beberapa kaki, namun tetap tak berhasil mencapai ke perahu, untung tukang perahu segera ulurkan galahnya, padri asing itu sekali raih dan sendal, badannya lantas mencelat naik dan tancap kakinya diujung perahu.

Dengan gerakan badannya yang besar dan kasar ini, menarik galah dan lompat turun diatas perahu, namun perahu itu sedikitpun tidak bergeming, maka dapatlah dibayangkan kemurnian Lwe-kangnya memang cukup mengejutkan.

Setelah berdiri tegak, padri asing itu lantas tarik galah itu, cepat sekali dia sudah dorong perahunya itu meluncur cepat ketengah danau, sebentar saja sudah pergi jauh dan tak kelihatan lagi.

"Sayang, sayang sekall," ujar Pek-siu-lo gegetun, maklumlah disaat padri asing itu jumpalitan ditengah udara tadf, bila mau Hing-lay-mo-li menyambutkan senjata rahasianya, jiwa padri asing itu pasti mampus, paling tidak mesti kejebur kedalam danau dan gebes2.

Musuh digebah lari bukan mengandal tenaganya sendiri, dalam hati Hong-lay-mo-li rada malu diri, maka dia tidak menurunkan tangan keji.

"Siapakah padri asing ini?" Tanya Hong-lay-mo-li, "dari mana kau bisa bermusuhan dengan lawan yang tangguh ini?"

"Kepala gundul ini bernama Cutilo, asalnya orang India bagian timur, di negerinya sana dia mengangkat diri sebagai Hoat-ong, Belakangan dia hijrah ke Tur-fan, menjabat ketua dibiara Kim-po-thi, disana dia sekongkol dengan para pejabat yang berkuasa berbuat se-wenang2, raja turfan belakangan mengangkatnya sebagai imam negara. Terus terang kami berduapun dari bangsa india, sejak kakek moyang kita sudah menetap di turfan beberapa turunan, secara tradisi kita berdagang perhiasan setelah Cutilo menduduki jabatannya sekarang, dikatakan kami sebangsa dengan dia, maka kami harus menjadi pembantunya, dia paksa kami mencukur rambut menjadi Hwesio. Sudah tentu kami tidak mau diperbudak olehnya, terpaksa lari ke Tionggoan sini."

Ternyata karena persoalan inilah akhirnya Hek-pek-siu-lo baru mau merendahkan diri menjadi pembantu Siau-go-kan- kun, karena mereka tahu kepandaian majikan mereka yang tinggi, sekaligus mencari pelindung bila jejak mereka konangan oleh Cutilo.

Berkata Pek-siu-lo lebih lanjut: "Bangsat itu jauh berada di Turfan, entah karena apa tahu2 berada di-sini, sungguh mengherankan. Menurut apa yang ku tahu Turfan ada hubungan persahabatan dengan negeri Kim, dengan Lam- song meski bertetangga justru rada kurang akur."

"Sayang majikan tiada disini," timbrung Hek-siu-lo, "kalau tidak kepala gundul ini pasti dihajarnya kalang kabut."

Tiba2 tergerak hati Hong-lay-mo-li mendengar ucapan Hek- siu-lo, tanyanya: "Tempat tinggal kalian berada diatas gunung atau dibawah gunung?"

"Kelenteng tempat tingggal kami bernama Ko-gwat-bio, terletak dilamping bukit, nah itulah sudah kelihatan dari sini."

Hong-lay-mo-li membatin dalam hati: "Siau-go-kan-kun berkepandaian tinggi, telingan dan matanya amat tajam Tempat tinggalnya tidak jauh dari sini, dalam malam gulita yang sepi ini, masakah dia tidak mendengar pertempuran dan suara jeritan Hek-pek-siau-lo tadi? Kenapa tidak lekas dia memburu datang?"

Semakin dipikir semakin ganjil, segera Hong-lay-mo-li bertanya pula: "Siapa saja yang tinggal didalam biara itu?" "Ada ketuanya Ko-gwat Siansu, seorang Hwesio kecil, Hwesio kelana dari tempat lain dan seorang Hwesio penjual minyak api dan dupa."

"Orang2 itu bisa main silat?"

"Hwesio cilik dan Hwesio menjual minyak dan dupa agaknya hanya bisa main beberapa jurus ilmu Kimthau yang biasa saja, Ko-gwat siansu sebaliknya seorang ahli, dia sering membicarakan ilmu silat dengan majikan, pernah pula kami lihat dia mainkan Lo-han-kun, Lwekangnya memang tidak lemah. Bagaimana kepandaian sejati Hwesio kelana itu, kami sih tidak tahu, namun kamipun pernah dengar dia bicara soal ilmu silat dengan majikan, Lwekangnya lumayan juga."

Hek siu-lo heran, tanyanya: "Liu Lihiap, untuk apa kau tanyakan ilmu silat mereka? Ko-gwat Taysu adalah teman baik majikan, dia tidak akan bermusuhan dengan kita."

Belum lagi Hong-lay-mo-li mienjawab, Pek-siu-lo sudah sadar dan mengerti, katanya: "Ya, kejadian ini memang rada ganjil."

"Apanya yang ganjil?"

"Orang yang pernah latihan Kunthau, gampang terjaga dan siaga, tak mungkin tertidur pulas, Masakah pertempuran kami yang gaduh tadi tidak membuat kaget penghuni biara itu?

Kenapa majikan kitapun tidak terlihat bayangannya?"

"Darimana kau tahu bila mereka, tidak terjaga dari tidurnya, kalau mereka tidak mau keluar bagaimana?" debat Hek-siu-lo.

"Tidak mungkin." sahut Pek-siu-lo, "waktu Cutilo mencengkram kami tadi, kami pernah menjerit, masakah majikan tidak mendengar suara kami. Ginkangnya tinggi, bila dia terjaga tentu sejak tadi sudah berada disini, Aih, kuduga tentu ada gejala yang tidak benar disana, mungkin Ko-gwat siansu ketimpa halangan." Tapi Hek-siu-lo malah menggerundel: "Majikan kita berkepandaian tinggi, dia berada didalam biara, memangnya apa yang bakal terjadi disana?"

Namun demikian mereka masih merasa kuatir, maka dengan Hong-lay-mo-li membuka jalan bergegas mereka lari menuju kesana tanpa hiraukan pemandangan indah lagi, Dibawah petunjuk Pek-siu-lo cepat sekali mereka sudah manjat gunung, sebentar saja sudah tiba didepan Ko-gwat- bio.

Hek-pek-siu-lo memang tinggal dibiara ini, namun karena dia membawa tamu, apa lagi Hong-tay-mo-li1 adalah Bu-lim- bengcu dari lima propinsi daerah utara, maka Pek-siu-lo bekerja menurut aturan Kangouw umumnya, diambang pintu dia berseru melapor lebih dulu:

"Liu Lihiap dan Khing-kongcu sudah tiba bersama, harap majikan keluar menyambutnya."

Dalam waktu sesingkat ini jantung Hong-lay-mo-li berdebar2, Pikirnya: "Aku mengharap pertemuan dengan Siau- go-kan-kun, kenapa setiba disini aku jadi rada takut menemui dia? Ou, apakah lantaran Bu-lim-thian-kiau? Apa yang harus kulakukan..."

Ternyata didalam sanubari Hong-lay-mo-li yang paling dalam, Bu-lim-thian-kiau tetap menempati posisi yang sama dengan Siau-go-kan-kun, sungguh dia sendiri belum bisa berkeputusan dan sulit menentukan pilihan, kepada siapa nanti dirinya pasrahkan hidup hari depannya.

Dengan tak berkesip Hong-lay-mo-li mengawasi daun pintu, menunggu sambutan Siau-go-kan-kun, tak nyana setelah di- tunggu2 tiada terdengar suara apa2 dari dalam, Suara laporan Pek-siu-lo menggunakan ilmu mengirim gelombang suara, biara sekecil ini, kalau didalam ada orang tentu sudah mendengar. Mau tidak mau Hong-lay-mo-li jadi gelisah, katanya: "Mungkin terjadi apa2 didalam biara? Tak usah gunakan peraturan segala, hayolah kita masuk saja."

Setelah memasuki Tay-hiong-po-tiam keadaan gelap gulita, biasanya diatas meja sembahyang tidak pernah padam, namun kini tidak tersulut lagi apinya, Baru saja Pek-siu-lo keluarkan ketikan hendak menyulut api, tiba2 terasa kakinya menyentuh sesuatu benda, dari perasaan sentuhan ini dia dapat merasakan bahwa yang berada dibawah kakinya adalah badan manusia.

Keruan kejut Pek-siu-lo bukan main, belum lagi dia bersuara, disebelah samping Khing Ciau sudah menjerit kaget, ternyata diapun menendang sesosok mayat, hampir saja dia kesandung jatuh.

Lekas2 Pek-siu-lo menyulut api, tampak yang rebah diatas lantai adalah Hwesio kecil dan Hwesio penjual dupa dan minyak, badan mereka sudah kaku dingin, terang bukan mati lantaran tertutuk Hiat-tonya. Tak sempat memeriksa kematian mereka, lekas Pek-siu-lo bawa Hong-lay-mo-li masuk kehilangan belakang mencari- Hong-tiang Ko-gwat Siansu dan majikannya.

Baru saja mereka memasuki serambi samping yang membelok ke kiri, tiba2 tampak sesosok bayangan terpantek diatas lantai, sebelah kakinya sudah melangkah kedepan, kedua tangannya terpentang bergaya seperti hendak menubruk.

Lekas Pek-siu-lo maju menyulut muka orang, ternyata adalah Hwesio kelana itu, tidak kelihatan luka2 tapi kedua matanya melotot bundar amat menakutkan, mati hidupnya belum diketahui dengan membesarkan hati, Pek-siu-lo maju meraba badan orang, terasa badan orang amat dingin seperti es, sekali dorong Hwesio kelana ini lantas roboh tetap dengan gayanya semula, ternyata Hwesio kelana ini pun sudah mati. Sebenarnya Hek-pek-siu-lo dulu juga termasuk gembong iblis yang suka membunuh orang, saat ini mau tidak mau mengkirik juga dibuatnya, teriaknya: "Ko-gwat Siansu, Hoa Tayhiap, Hoa Tayhiap!" sudah tentu tidak mendengar penyahutan, Kamar Hoa Kok ham dibelakang, kebetulan mereka harus lewat kamar semadi Hong-tiang, tanpa hiraukan tata kesopanan lagi, segera dia dorong pintu dan melongok kedalam. Tampak Ko-gwat Siansu tengah duduk samadi diatas ranjangnya.

Tampak alisnya turun mata terpejam, kedua tangan terangkap didepan dada, sikapnya wajar dan tenang, keadaannya mirip benar dengan padri2 yang bersimpuh didalam lukisan gambar, Beramai2 Hong-lay-mo-li berempat merubung kedepan pembaringan, namun tidak" dirasakan sama sekali.

Pek-siu-lo jadi Iega, segera dia maju menghormat "Hongtiang Siang-jin, tamu sudah tiba, Apakah yang terjadi dalam biara ini, apa kau tahu?"

Ko-gwat siansu tetap tak bergeming. Sejak tadi Hong-lay- mo-li mengawasi Ko-gwat siansu dengan sek-sama, tiba2 ia berteriak: "Aneh, beliau bukan samadi, Lo-siansu juga dibinasakan orang."

Pek-siu-lo berjingkat kaget, teriaknya: "Apa? Lo-sian-su juga dicelakai orang?" sebenarnya dengan bekal kepandaian Pek-siu-lo, selintas pandang dia sudah tahu bahwa Ko-gwat siansu tidak tertutuk dan terluka apa2. Hong-lay-mo-li mengatakan dia di binasakan orang, meski tahu ilmu silat orang amat tinggi, Pek-siu-lo tetap belum mau percaya.

Hek-siu-lo menimbrung dengan suara keras: "Lwekang Lo- siansu sudah latihan puluhan tahun, betapa tinggi kepandaiannya ? Masakah bisa dicelakai begini gampang? Ai, wah, celaka! Memang dicelakai orang!" sembari bicara Hek- siu-lo maju sambil menarik Ko-gwat Siansu, tak nyana tangannya menyentuh badan Ko-gwat siansu yang sudah dingin kaku, urat nadinyapun tak berdenyut lagi.

Mau tidak mau Hek-pek-siu-lo harus percaya bahwa Ko- gwat-Siansu memang sudah meninggal sejak beberapa waktu lamanya, seketika merinding dan berdiri bulu kuduk Hek-pek siu-lo, mereka sangsi apa yang disaksikan ini berada dalam impian buruk sesaat kemudian baru hati mereka tenang kembali, kata Pek-siu-lo:

"Uh Lihiap, cara bagaimanakah kematiazmya? Kepandaian Ko-gwat Siansu kira2 hampir setanding dengan majikan kami, ingin aku tahu cara apa yang digunakan orang untuk membunuhnya?" ternyata Pek-siu-lo masih mempunyai setitik harapan, semoga Hong-lay-mo-li tahu bahwa orang meninggal lantaran keracunan, sebagai ahli menggunakan racun, mereka siap memberi pertolongan.

Hong-lay-mo-lipun tak tahu luka2 apa yang menyebabkan kematiannya. Katanya: "Pastilah perbuatan seorang tokoh lihay yang memililiki Lwekang tinggi dari aliran Lwekeh, dengan kekuatan pukulan telapak tangannya menggetar putus seluruh Ki-keng-pat-meh dibadannya, maka dari luar tidak menunjukan gejala yang mencurigakan."

Dengan seksama Pek-sm-lo ikut memeriksa, memang Ko- gwat Siansu bukan mati karena keracunan, karena betapapun lihaynya racun yang digunakan, setelah korbannya meninggal ditengah kedua alis dan diatas hidungnya akan bersemu hitam, namun sikap Ko-gwat-Siansu begini tenang dan wajar, tidak menunjukan gejala keracunan.

Dan lagi mengandal kepandaiannya yang tinggi, segala macam racun takkan mungkin membinasakan secepat ini, sebelum ajal pasti dia akan meronta2, masakah bisa duduk tenang bersimpuh seperti orang samadi. Pek-siu-lo menggumam: "Aku tak percaya tokoh mana dalam dunia ini yang memiliki Lwekang setinggi ini, dalam satu lintasan melayangkan tangannya saja dapat menggetar putuskan seluruh "Ki-keng-pat-meh Ko-gwat Taysu, beliau mati tanpa dia sendiri menyadari akan kematiannya."

Pembunuh Ko-gwat Suansu terang adalah tokoh silat yang berkepandaian amat tinggi, sudah tentu Hong-lay-mo-li amat menguatirkan keadaan Siau-go-kan-kun yang menghilang tak keruan parannya, demikian juga Hek-pek-siu-lo memikirkan hal yang sama. Bergegas mereka lari kebelakang kekamar tinggal Soau-go-kan-kun, namun disini mereka tidak menemukan apa2.

Disaat mereka kebingungan dan pikiran kacau, se- konyong2 terdengar kumandang gelak tawa keras yang bergema dialas pegunungan, semakin lama gelak tawa itu semakin tinggi menembus angkasa, jelas kedengaran gelak tawa itu amat sedih, putus asa, marah dan menghina, berbagai macam perasaan campur aduk dalam gelak tawanya itu.

Meski suara ini kedengaran dari tempat nan jauh, namun kedengarannya seperti halilintar menggelegar ditengah angkasa sampai ku-ping terasa pekak.

Keruan tergetar hati Hong-lay-mo-li, Hek-pek-siu-lo kontan berjlngkrak girang, teriaknya: "Majikan masih hidup, eh, kenapa dia lari kepuncak sambil gelak tawa?"

Tanpa berjanji mereka memburu keluar terus ber-lari2 kencang kearah datangnya gelak tawa itu. Belum lagi gelak tawa itu berhenti, tiba2 terdengar pula alunan irama seruling yang bening merdu kumandang juga dari puncak gunung, meski gelak tawa itu kumandang keras tinggi seperti menembus langit, namun irama seruling itu masih kedengaran jelas dan jernih. Seruling inipun melagukan irama yang pilu menyedihkan se-olah2 penasaran dan amat direndahkan, namun didalam keadaan apa boleh buat, kedengarannya mengandung rasa dongkol dan uring2an.

Memangnya hati mereka sedang risau dan gelisah, mendengar irama seruling ini, semakin kacau pikiran mereka, tak terasa mereka ikut dibuai dalam suasana duka cita.

Sedikit hati merasa tentram Hek-pek-siu-lo segera mendekap kuping dan berteriak kejut: "ltulah seruling Bu-lim- thian-kiau."

Hong-lay-mo-li menjadi hambar dan hampa, seperti kaget dan kehilangan semangat mulutnya seperti menjawab seperti menggumam: "Benar, itulah Bu-lim-thian-kiau."

Kini setelah mendengar gelak tawa Siau-go-kan-kun, menyusul mendengar pula irama seruling Bu-lim-thian kiau, keduanya sama2 mengandung arti yang mendalam, seketika dia dibuat paham dan sadar:

"Ya, sejak mula Bu-lim-thian-kiau sudah menaruh hati kepadaku, namun dia menyangka aku sudah punya ikatan erat dengan Siau-go-kan-kun, maka dia menyangka tak berjodoh dengan aku dan tak berani mengajukan pinangan?

Di luar tahunya keadaan justru terbalik, dengan Siau go- kan-kun paling kami baru saling kenal namanya saja belum pernah berhadapan secara langsung, malah hubunganku dengan Bu-lim-thian-kiau laun lebih intim dari pada Siau-go- kan-kun."

Menghadapi persoalan yang rumit dan kejadian didepan dada ini, Hong-lay-mo-li menjadi bingung dan risau, entah kepada siapa dirinya harus mengikat jodoh dan menentukan pilihan ? "Eh," Khing Ciau berseru heran," aneh benar mereka itu, kenapa mereka dipuncak adu tenaga, yang satu tertawa yang lain meniup seruling? Keduanya sama2 sedih."

Pek-siu-lo mendadak berteriak: "Tidak benar, nada gelak tawa majikan lapat2 kurasakan mengandung nada membunuh!"

Maka terdengarlah ditengah gelak tawa Siau-go kan-kun, suaranya berkata: "Antar bangsa memang berbeda, Kau sudah membunuh Ko-gwat Siansu, bagaimana juga kau ini memang pangeran bangsa Kim!"

Kata2 ini bagai bunyi geledek yang berbunyi di-pinggir telinga Hong-lay-mo-li, keruan tersirap darah-nya: "Bagaimana mungkin yang membunuh Ko-gwat siansu adalah Bu-lim- thian-kiau?"

Terdengar Bu-lim-thian-kiau menjawab: "Seorang Iaki2 sejati kalau tidak dipercaya orang lain, buat apa harus putar lidah berdebat? Siau-go-kan-kun, kau menuduh aku yang membunuh, biarlah anggap memang aku yang membunuh!"

Kenapa harus pakai "anggap" kau yang membunuh?" ejek Siau-go-kan-kun dingin, "kepandaian menutup Hiat-to memutus urat nadi dengan Tun-yang-lo-khi, kecuali kau Bu- lim-thian-kiau, siapa lagi yang mampu melakukan dikolong langit ini?"

Semakin mencelos hati Hong-lay-mo-li mendengar ini, dia sendiri pernah merasakan betapa lihay Tun-yang-lo-khi Bu- lim-thian-kiau, Tapi dia sendiri sudah tahu akan pambek dan jiwa serta sepak terjang Bu-lim-thian-kiau, maka tak pernah terpikir olehnya bahwa kemungkinan Bu-lim-thian-kiau bakal melakukan pembunuhan ini.

Terdengar nada Siau-go-kan-kun semakin marah serunya lantang: "Hubungan kita belum intim, namun pambek masing2 sama tahu, selamanya aku mengira kau Bu-lim-thian-kiau adalah seorang tokoh menonjol, seorang genius dari negeri Kim, siapa tahu kau tetap adalah pangeran Kim, terhitung aku salah berkenalan dengan kau, sejak sekarang, hubungan kita anggap putus!" agaknya kedua pihak sudah siap bergebrak.

Se-konyong2 terdengar sebuah suara serak tua menyela: "Hoa-tayhiap, sukalah berpikir lebih cermat sebelum bertindak."

Itulah suara Tang-hay-liong, keruan Hong-lay-mo-li kaget dan senang Terdengar Tang-hay-liong berkata pula: "Hoa Tayhiap, berita adanya serbuan negeri Kim keselatan, bukankah dia, dia yang membocorkan lebih dulu kepadamu?"

Kembali Hoa Hok-ham bergelak tawa seperti orang gila dengan angkuhnya, Hubungan Tang-hay-liong dengan Hoa Kok-ham cukup mendalam, namun mendengar gelak tawanya ini, ia jadi kurang senang, katanya: "Hoa Tayhiap, kenapa tertawa, apakah Lohu salah omong?"

"Benar, berita itu memang dia yang membocorkan lebih dulu, Tapi untuk mengerahkan pasukan besar sedemikian banyaknya, mereka harus menyedot serdadu dari berbagai kabupaten, kota dan menggiring rakyat untuk bantu mengangkut perbekalan, memangnya serbuan mereka keselatan bisa selalu mengelabui mata kuping orang banyak? Umpama dia tidak membocorkan berita ini lebih dulu, cepat atau lambat aku tetap akan tahu juga! Kalau hal itu dia lakukan tidak lebih hanya hendak menipu kepercayaanku belaka !"

"Hoa Tayhiap!" Tang-hay-liong mengerut kening. "lni, ini... kuharap kau berpikir dengan kepala dingin,

menurut pendapatku..." nadanya dia tidak sependapat dengan ucapan Hoa Kok-ham.

Namun Bu-lim-than-kiau sudah tidak sabar lagi, jengeknya dingin: "Hoa Kok-ham, kupandang kau sebagai ksatria dari Bangsa Han, siapa tahu ternyata akupun keliru berkenalan dengan kau, Hm, hm, yang terang kau menilai orang dengan jiwa seorang kerdil. Aku tahu besar hasratmu untuk membunuhku, tidak lain lantaran kau merasa jelus dan iri hati!"

Lekas Tang-hay-liong menyela: "Hoa Tayhiap se-kali2 bukan orang yang berjiwa sempit, Tam-koncu, ucapanmu ini rada berat kedengarannya" sedapat mungkin Tang-hay-liong berusaha melerai pertikaian kedua orang.

Kembali Hoa Kok-ham gelak tawa: "Kau seorang Kuncu (sosiawan), aku seorang Siau-jin (manusia rendah)? Hehe, kau Kuncu ini tengah malam buta rata, apa yang kau lakukan didalam kamar rahasia Gui Ling-seng? Sebagai pangeran dari negri Kim, kenapa pula menjadi tamu agung dari seorang pejabat tinggi dari negeri Song? Berani kau berkata bila kau bukan duta rahasia Wanyen Liang? Menyelundup ke Kanglam dengan muslihat dan rencana keji, melakukan persekongkolan yang tak boleh dilihat orang?"

Bu-lim-thian-kiau melengak, serunya gusar: "Hoa Kok-ham, mungkin kau melihat setan ditengah hari bolong !"

"Benar, tapi bukan disiang hari, tapi tengah malam buta rata melihat setan! Meski gelap gulita, mataku ini belum lagi lamur, waktu kau lari keluar dari gedung Gui Liang-seng, meski kau terbakar menjadi abupun dapat kukenali!"

Mendengar ini Tang-hay-liong tersirap jantungnya, dia tahu Hoa Kok-ham tidak sembarang menuduh orang tanpa bukti dan keyakinan, maka tuduhannya terhadap Bu-lim-thian-kiau terang boleh diparcaya, Tang-hay-liong jadi sadar, betapapun orang adalah pangeran Kim, omongannya tidak boleh seratus persen dipercaya maka dengan perasaan tak tenang Tang- hay-liong tidak turut bicara lagi.

Sebetulnya Hong-lay-mo-li lebih percaya dan yakin akan perbuatan dan jiwa Bu-lim-thian-kiau. Tak nyana Bu-lim-thian-kiau hakikatnya tidak mau memberi penjelasan, katanya dingin: "Dihadapanku boleh kau memfitnah se-mena2, tiada yang perlu kujelaskan kepadamu? sebetulnya kaupun tidak perlu menggunakan tuduhanmu ini sebagai alasan, biarlah aku bongkar rahasia isi hatimu?"

"Aku punya rahasia isi hati apa malu diketahui orang?" "Bukan malu dilihat orang, namun tak berani diutarakan

kau hanya karena seorang perempuan, maka besar hasratmu

untuk membunuh aku Tam Ih-tiong! Kukatakan kau- jelus dan iri bukan karena ilmu silatku, yang terang kau takut bila aku selangkah berada dihadapanmu merebut hati sang pujaan!

Haha, Siau-go-kan-kun, Tidak salah bukan kubongkar isi hatimu? Tapi, kau, kau..."

Berubah air muka Hoa Kok-ham, bentaknya: "Tutup mulutmu!" kipas dibuka kembali dia berteriak "Omong kosong, hari ini biar kau atau aku yang mampus. Sambut seranganku!"

Lekas Bu-lim-thian-kiau meniup serulingnya dengan gerakan melintang, suaranya melengking seperti batu pecah, se-olah2 dia hendak lampiaskan kedongkolan hatinya melalui tiupan serulingnya Tapi tiupan nya ini hasil dari gemblengan Tun-yang-ci-khi yang dilatihnya dengan kepandaian tinggi, maka kebasan kipas Hoa Kok-ham kena disampuk minggir.

Sudah tentu Hoa Kok-ham semakin murka, damrat-nya: "Dengan hawa murni menutup Hiat-to kau bunuh Ko-gwat Siansu, tapi ingin melukai aku, jangan harap begitu  gampang!" mulut bicara sementara kipasnya tetap bergerak dibarengan telapak tangan kiri ikut menggempur, beruntun dia melontarkan dua kali pukulan, belum lagi tenaga pukulan pertama punah, pukulan susulan kedua sudah melandai tiba pula, laksana gelombang samudra saling kejar sambung menyambung, begitu keduanya tergabung seketika berubah segulung gelombang dahsyat, kekuatan pukulannya ini sungguh laksana gugur-gunung.

Dengan pukulan tangan ini dia menyapu buyar hawa murni Bu-lim-thian-kiau, begitu kipas terlempit dia gunakan sebagai Ngo-hing-kiam, menutuk pundak dengan kipas bergerak miring datar, kedua sisi kipasnya itu memang tumpul, tapi dilandasi kekuatan tenaga dalamnya, bila kena terpapas, serangan ini tidak kalah hebatnya dari senjata tajam umumnya.

Dalam mengakhiri kata2nya tadi, kipas dan pukulan telapak tangan sudah serempak dia mainkan, secepat kilat dia sudah menyerang tujuh delapan jurus, setiap jurus merupakan tipu2 yang mematikan.

Menghadapi rangsakan keras dan hebat ini Bu-lim-thian- kiau tidak sempat meniup serulingnya lagi, beruntun mundur tiga langkah, dia gunakan dua jarinya menjentik, segulung angin runcing laksana panah menerobos tanpa bersuara ditengah dampar-pukulan Hoa Kok-ham yang dahsyat itu, betapa kuat tenaga pukulan Hoa Kok-ham ini, ternyata tak mampu membendung dan mematahkan tenaga jentikan jari yang hebat ini.

Dalam gusarnya mau tidak mau Hoa Kok-ham merasa kagum pula, batinnya: "Pan-yok-sin-ci yang hebat! Hari ini Hoa Kok-ham benar2 kebentur musuh tangguh!"

Dengan jari Bu-lim-thian-kiau melawan pukulan telapak tangan, seruling kontrak kipas, serulingnya itu dimainkan selincah naga menari, laksana ular sakti mengamuk, beruntun dia patahkan rangsakan tipu2 kipas Hoa Kok-ham yang gencar sederas hujan badai, lama kelamaan situasi berimbang dan terus bertahan sama kuat.

Berkata Bu-lim-thian-kiau dengan tertawa rawan: "Sejak lama kita sama2 kagum, memang besar hasrat-ku mengadu kepandaian, sayang sekali kali ini kita bukan mengkukur kepandaian namun hanya untuk mengadu jiwa! Begitupun baik, memangnya aku tahu tidak berjodoh, dapat mati demi sicantik yang kupuja, matipun tak penasaran."

Terasa tawa rawan orang amat menusuk perasaan, Hoa Kok-ham mau tidak mau berpikir: "Apa benar lantaran memperebutkan Hong-lay-mo-li aku hendak membunuh dia?" sebelum Bu-lim-thian-kiau membongkar bayangan hatinya ini, dia sendiripun belum tahu akan rahasia hatinya sendiri, Bu- lim-thian-kiau pernah muncul digedung Gui Liang-seng, apalagi kematian Ko-gwat Siansu menambah keyakinan kecurigaannya kepada Bu-lim-thian-kiau pula, maka dengan nekad dia menuduh dan melabrak Bu-lim-thian-kiau mati2an jadi apa benar didalam tujuan membunuh Bu-lim-thian-kiau demi kepentingan umum, ada terselip pula rasa jelus dan cemburu ?

Dia sendiripun susah membedakan Kenyataan kepandaian silat Bu-lim-thian-kiau memang setanding dengan dirinya, maka begitu timbul nafsunya membunuh, kuatir tujuannya gagal, maka segera dia lancarkan serangan membadai dengan seluruh tumpuan kemampuannya.

Terdengar Tang-hay-liong berkata dengan perasaan terpukul: "Tam-kongcu pernah menanam budi kepadaku Hoa Tayhiap, maaf kalau Losiu berpeluk tangan menonton saja,"

Maklumlah pertempuran kedua orang ini, sudah merupakan pertandingan antar bangsa yang saling bermusuhan jadi jauh berbeda dengan pertandingan silat umumnya di Kangouw.

Sudah tentu pernyataan Tang-hay-liong ini sama2 diluar dugaan dan menimbulkan kesan kedua pihak yang berlainan Siau-go-kan-kun berpikir: Meski aku tidak bermaksud minta bantuannya, tapi Lo-cianpwe ini biasanya amat membenci kejahatan membunuh musuh dipandangnya sebagai tugas mulia. Tapi sekarang dia menyatakan berpeluk tangan menonton saja, memangnya dia masih belum percaya bila Bu- lim-thian-kiau adalah musuh umum dari negeri Song raya kita? Kalau tidak, masakah dia hanya mementingkan budi pertolongan pribadi seseorang, tanpa hiraukan dendam negara?"

Sementara Bu-limthian-kiau juga membatin: "Kukira dia bakal melerai perselisihan ini, tak kira dua mandah peluk tangan menonton saja. Pernyataannya tadi membuktikan bahwa dia sudah termakan oleh hasutan Hoa Kok-ham, kalau tidak, aku pernah menolong jiwanya, tidak pantas dia berpeluk tangan saja!

Hehe, aku berusaha mencegah kelaliman dan mencegah serbuan Wanyen Liang keselatan, jelas perjuanganku bakal menguntungkan kepentingan rakyat dan negara kedua pihak, namun pambekku justru selalu menghadapi rintangan dan kegagalan, kehadiranku disini dicurigai oleh orang2 Song, sungguh merupakan suatu tragedi yang menyedihkan memangnya siapa pula yang sudi menyelami dan merasakan keluhuran tujuanku ini?" karena sedih, tanpa terasa air mata berlinang dikelopak matanya.

Akan tetapi karena kobaran emosinya, gerakan tipu2 silahnyapun dilancarkan demikian gencar dan aneh, semakin tempur semakin gagah dan kuat, serangan Hoa Kok-ham yang membadai ternyata kandas ditengah jalan, selalu mendapat rangsakan balasan yang tak kalah hebatnya pula.

Bahwa Tang-hay-liong sendiri belum berani menempatkan dirinya pada salah satu pihak, apalagi Hong-lay-mo-li yang tersangkut didalam persoalan ini, sudah tentu hatinya semakin hambar dan mendelu, apalagi setelah mendengar omongan Bu-lim-thian-kiau yang blak2an, seketika dia terlongong, siapa lagi perempuan yang dimaksud Bu-lun-thian-kiau kalau bukan dirinya? malu, senang dan serba susah sanubari Hong-lay-mo- li, malu karena Bu-lim-thian-kiau membongkar persoalan secara terbuka. Senang karena kedua tokoh puncak tinggi ini sama2 jatuh hati dan naksir kepada dirinya, Serba susah karena menghadapi peristiwa yang terjadi didepan matanya, dia sendiri bingung dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan ?

Meski perasaan tidak tentram, namun Hong-lay-mo-Ii berempat tetap beranjak naik dan tiba diatas puncak. Sudah tentu Bu-lim-thian-kiau dan Siau-go-kan-kun sama2 melihat kedatangannya, pertempuran sedang memuncak adu jiwa, sudah tentu kehadirannya amat menggetar sanubari mereka, namun tiada yang berani pecah perhatian untuk menyapa kepadanya.

Dalam keadaan demikian, kedua orang ini sama2 kikuk dan malu, meski ada kesempatan bicara, merekapun tidak akan leluasa buka mulut.

Tanpa bersuara langsung Hong-lay-mo-li mendekati Tang- hay-liong, dari sorot mata orang, Tan-hay-liong sudah melihat kepiluan hatinya, orang ingin minta penjelasan duduk persoalannya kepada dirinya. Maka dengan suara lirih Tang- hay-liong berkata: "Ai, aku sendiripun tidak tahu bagaimana seluk beluk persoalannya? Aku tidak berani bilang Bu-lim- thian-kiau adalah utusan rahasia negeri Kim yang punya tujuan jahat dan merugikan kepentingan negeri Song kita, tapi aku percaya Siau-go-kan-kiin sekali tidak akan memfitnah orang se-mena2."

Hong-lay-mo-li punya pikiran yang sama, cuma kepercayaannya terhadap Bu-lim-thian-kiau lebih besar dari Tang-hay-liong. Maka dalam keadaan yang serba runyam ini, terpaksa dia tinggal diam, ikut peluk tangan menonton saja.

Kedua tokoh kosen ini sama keluarkan kepandaian sakti masing2, keduanya unjuk ketrampilan, kelincahan dan gemblengan ilmu silat yang tiada taranya.

Pukulan angin Siau-go-kan-kun berderai keempat penjuru, menderu kencang menerbangkan batu dan pasir, enam tujuh tombak sekitarnya angin masih bergelombang tinggi, sebaliknya hawa murni yang tertiup keluar dari seruling Bu- lim-thian-kiau tidak bersuara, namun perbawanya bisa mencapai beberapa tombak pula, kulit badan yang tersentuh terasa panas seperti menyentuh bara, amat mengejutkan.

Khing Ciau yang menyingkir jauh diluar gelanggang tidak tahu pertikaian apa yang terjadi, dilembari kesetiaannya terhadap nusa dan bangsa, melihat Siau-go-kan-kun mundur ber-ulang2 seperti terdesak dibawah angin, segera dia berseru:" Liu Lihiap, lekas kau turun tangan saja! Menghadapi anjing Kim buat apa harus pegang peraturan Kangouw segala?"

Namun Hong-lay-mo-li berdiri kaku seperti patung, se-olah2 tidak mendengar seruan Khing Ciau, bahwasanya hatinya sedang kalut dan gundah, tidak tahu apa yang harus dia lakukan, sesaat kemudian baru dia menarik napas, namun tetap diam saja.

Messki sedang bertempur sengit, namun panca indra Siau- go-kan-kun amat tajam dan selalu memperhatikan situasi sekelilingnya, sudah tentu helaan napas Hong-lay-mo-li didengarnya juga, serasa ribuan kati yang membenam kedalam relung hatinya. Tak urung hatinya membatin:

"Agaknya Liu Jing-yau memang kepincut terhadap Tatcu ini, tidak bantu aku, dia malah menghela napas gegetun!" saking kecewa, tiba2 dia gelak tawa lagi, permainan silatnya serempak berubah, seperti orang gila dengan kalap dia merabu dengan gencar.

Ternyata mereka sama2 kuat dan setanding, bahwa Siau- go-kan-kun menyurut mundur tadi, bukan lantaran terdesak, namun sengaja dia menyimpan tenaga untuk balas memberondong dengan pukulan mematikan bagi lawan, Kini begitu rasa congkak dan angkuhnya kumat, belum tiba saat yang dinantikan namun dia sudah melancarkan serangan terbuka. "Anjing Kim" makian Khing Ciau dirasakan amat menusuk kuping dan sanubari Bu-lim-thian-kiau, saking berduka hatinya menjadi dingin dan putus asa, bahwa gadis yang dipujanya diam saja mendengar dirinya dicaci maki tanpa mau memberi penjelasan, keruan hancur luluh perasaannya, setelah dia melirik kearah Hong-lay-mo-li, mendadak pecahlah tangisnya gerung2.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 19"

Post a Comment

close