Pendekar Latah Bagian 17

Mode Malam
 
Bagian 17

Siang Ceng-hong terima sempritan itu, bertambah kepercayaannya terhadap Hong-lay-mo-li, tanya-nya: "Apa yang hendak kau tanyakan? Silakan berkata !"

"Kejadian terbunuhnya cicimu, pelan2 akan kujelaskan kepadamu. Biar kutanya dulu persoalan lain kepadamu-"

"Persoalan apa?"

"Apakah Khing Ciau tertawan oleh Cihumu? Dimana dia sekarang? Dari kejauhan aku mendengar disini ada suara pertempuran, sayang aku datang terlambat, lalu siapa yang bertempur dengan Cihumu tadi?"

Sudah tentu kecut perasaan Siang Ceng-hong, meski hati merasa jelus namun nuraninya belum terhitung bejat, apalagi barusan Hong-lay-mo-U sekaligus menolong dirinya dari cengkeraman Cihunya, maka diapun menjawab sejujurnya: "Beberapa hari yang lalu Khing Ciau terjebak oleh serdadu dipos jaga dimulut benteng Thian-bok-san, akulah yang menolongnya. jadi Cihuku tidak tersangkut paut dengan persoalan ini." "O, jadi para serdadu itu kaulah yang membu-nuhnya, bukan Clhumu?" terunjuk rasa kaget dan kurang senang pada mimik wajah Hong-lay-mo-li karena kekejamannya.

Siang Ceng-hong merasakan perubahan mimik Hong-lay- mo-li ini, tanyanya dingin: "Kenapa, apa aku salah menolong dia?"

"Tidak, terima kasih kau telah menolongnya. Bagaimana luka2nya?"

"Yang bergebrak dengan Cihuku tadi adalah dia, luka2nya sudah sembuh seluruhnya!"

Hong-lay-mo-li kejut2 kuatir, tanyanya: "Dia bergebrak dengan Cihumu? Celaka, bagaimana keadaannya sekarang?" Hong-lay-mo-li kuatir Khing Ciau ter-bokong oleh pukulan gelap Kongsun Ki yang beracun itu.

"Kau tidak usah kuatir, dia sudah pergi, malah pergi dengan hati lega dan terhibur."

"Apa maksud ucapanmu ini?" "Masa kau belum tahu?" "Tahu apa?"

"Bukankah kau suruh budak pelayanmu jalan di-depan membuka jalan?"

"Suruh pelayanku yang mana?"

"Yang mana lagi? Yaitu yang kau didik dan berparas ayu, nona San San yang sudah angkat saudara dengan Khing Ciau itu!" nada perkataannya menampilkan rasa jenis dan cemburu.

"O, jadi San San berhasil menemukan dia." mendengar berita San San, sungguh girang hati Hong-lay-moli, sehingga dia tidak memperhatikan akan mimik siang Ceng-hong serta nada cemburunya itu. "Khing Ciau tidak terluka apa2, dia pergi bersama pelayanmu itu, memangnya tidak melegakan hatimu?"

Bahwa Khing Ciau tidak kurang sesuatu apa cukup melegakan hati Hong-lay-moli, tapi kekuatiran lain timbul pula, yaitu ia kuatir Kongsun Ki mengejar mereka serta menawan mereka untuk sandera mengancam dirinya.

Diluar tahunya bahwa nyali Kongsun Ki sendiri sudah pecah, masakah dia berani mencari kesulitannya sendiri, Tapi kedua ilmu beracun itu amat lihay, betapapun Hong-lay-mo-li baru lega setelah menemui mereka, Maka dia bertanya: "Kejurusan mana mereka pergi?"

Siang Ceng-hong menuding jalan raya ditengah: "Memandang mukamu Cihuku melepas mereka pergi, mereka tidak perlu kuatir dan takut, sudah tentu pergi lewat jalan besar."

"Baik, biar kususul mereka, Ceng-moay, tunggulah aku kembali, aku mendapat pesan cicimu, aku pasti menjagamu baik2."

"Terima kasih banyak!" sahut Siaog Ceng-hong tawar, Tapi mengawasi bayangan Hong-lay-mo-li yang berlari bagai terbang itu, tak tertahan ber-kaca2 biji matanya, akhirnya bercucuran air matanya.

Dalam pada itu dengan menyeret San San, Khing Ciau mengayun langkah secepat2nya beberapa kejap lamanya, waktu berpaling dilihatnya Kongsun Ki tidak mengejar datang, baru dia dapat menghela napas lega dan menghentikan langkahnya, sungguh tak karuan perasaan Khing Ciau, senang tapi juga rawan mendelu lagi, sungguh sulit dia menentukan pilihan diantara San San dengan Cin Long-giok piaumoaynya itu, keduanya sama2 baik dan punya perbedaan pula didalam ikatan hubungan mereka.

"San-moay," kata Khing Ciau setelah napasnya mulai tenang, "Bagaimana kau bisa sampai disini?" "Musuh besar pembunuh ayahku adalah seorang jagoan di Kanglam ini, ke-mana2 aku mengejar jejaknya tidak ketemu, kebetulan aku lewat sini, tak nyana bisa kesamplok dengan kau."

"Hari itu kau pergi tanpa pamit kepadaku, membuat aku amat... amat sedih, Untung sekali hari ini aku bisa bertemu kau pula dalam saat aku menghadapi bahaya, sungguh aku tidak tahu cara bagaimana aku harus berterima kasih kepadamu."

"Khing-toako, apa benar kau tidak mengalami ci-dra apa2?"

Khing Ciau menarik napas dalam, lalu sahutnya: "Memang sedikitpun tidak merasa adanya gejala2 ganjil." sungguh kasihan sedikitpun Khing Ciau tidak-menyadari bawah bibit bencana sudah ditanam oleh Kongsun Ki didalam tubuhnya.

San San menekan perasaan hatinya: "Sungguh hatiku amat girang dapat bertemu kau disini, Tapi mau tidak mau teringat pula olehku akan seseorang."

"Siapa?" tanya Khing Ciau,

"Dimana nona Cin? Kenapa kau tidak seperjalanan dengan dia?"

"Tidak lama setelah kau pergi, seperti kau diapun pergi tanpa pamit."

"Kau tidak tahu kemana tujuannya?"

"Aku hendak ke Ling-an menemui Sin Gi-cik, kau pun kenal baik sama dia, kami boleh seperjalanan kesana untuk mencarinya."

"Maaf aku tidak bisa mengiringi perjalananmu." "Kenapa?" "Akhirnya aku berhasil mendapat tahu jejak musuh besarku, sebelum sakit hati ayah terbalas, aku tidak akan pergi ke-mana2."

BegituIah akhirnya ditengah jalan mereka berpi-sah, Khing Ciau langsung menuju ke Ling-an, sedang San San mencari jejak musuhnya yaitu Lam-san-hou Lamkiong Cau. Tujuan San San memang mengejar musuh, tapi sebab yang utama adalah dia tidak mau dirinya terlibat didalam arena asmara, sekaligus untuk memberi kesempatan untuk merangkap jodoh Cin Long- giok dengan Khing Ciau. Tapi meski dia sudah bertekad untuk korban sendiri, tak urung air mata bercucuran juga, maka dia tidak berani berpaling.

Hati Khing Ciaupun tak karuan rasanya, masgul dan risau pula, Memang didalam posisi dirinya sekarang, berpisah dengan San San adalah keputusan yang bijaksana, BegituIah dengan hati tidak tenang dia menempuh perjalanan Tiba2 didengarnya ada orang mengejar dari belakang, suara seorang perempuan lagi yang sedang memanggil namanya, Khing Ciau kira San San yang putar balik, waktu dia berpaling, dilihatnya yang berlari mendatangi adalah Hong-lay-mo-li.

Kejut dan girang Khing Ciau dibuatnya, serunya: "Liu-lihiap, kaupun berada disini?"

"Lho, kenapa hanya kau seorang, mana San San?" "Baru saja dia berangkat, kalau kau ingin mencarinya,

masih dapat kau menyusulnya."

Berpikir sebentar Hong-lay-mo-li sudah tahu maksud hati San San, katanya: "Dia sih memang hendak mengejar ketenangan hatinya, biarlah dia pergi seorang diri."

Mendengar kata2 Hong-lay-mo-li terakhir ini baru Khing Ciau sadar akan isi hati San San, pikirnya: "San San mengejar ketenangan hati, hatiku justru tidak bisa tenang!" Kejap lain Hong-lay-mo-li sudah berlari datang, dengan cermat dia awasi muka Hong-lay-mo-li, tanyanya tiba2: "Khing-kongcu, sebetulnya kau terluka tidak?"

"Tidak!" sahut Khing Ciau keheranan.

"Apa benar tidak? Coba kuperiksa!" lalu dia pegang tangan kanan Khing Ciau serta memeriksa denyut nadi pergelangan tangannya.

Akhirnya Hong-lay-mo-li bingung dan tak habis mengerti, ujarnya: "Aneh, aneh, sungguh aneh!"

"Apanya yang aneh? Aku sendiri tidak merasakan apa2." "Benar, memang sedikitpun kau tidak terluka, Karena inilah

aku merasa heran."

Betapapun Hong-lay-mo-li belum menyalami seluk beluk kedua ilmu berbisa yang diyakinkan Kongsun Ki itu, jikalau Kongsun Ki menambah sedikit tenaga dalam memukul dengan Hoa-hiat-to, tempat sasarannya akan jadi kering dan layu, tapi kali ini dia hanya menutuk dengan tenaga jari yang lemah, sehingga hanya isi perut Khing Ciau saja yang keracunan, baru tiga bulan kemudian kadar racun ini akan bekerja, Siang Ceng- hong sendiri tidak melihat adanya gejala2 ini, apa lagi Hong- lay-mo-li.

"Khing Ciau," kata Hong-lay-mo-li, "pengalaman-mu di Thian-bok-san aku sudah tahu, tak perlu kesusu kau jelaskan kepadaku, mari kau ikut aku kembali."

"Kembali? Kemana?" tanya Khing Ciau tertegun, "Kembali menjemput siang Ceng-hong."

Khing Ciau terkejut, katanya: "Mienjemput siang Ceng- hong? Tapi aku perlu segera menemui Sin Gi-cik dikota raja." "Aku sendiripun hendak ke Ling-an. Ceng-hong boleh bawa bersama, pulang pergi kan hanya sebentar saja."

"Kau hendak bawa Ceng-hong seperjalanan? Ini, ini, kukira kurang leluasa?"

"Aku tahu isi hatimu, kau kuatir dia merecokimu bukan? Mumpung persoalan belum ketelanjur, aku bisa bantu kau menyelesaikan soal ini, Dalam perjalanan nanti kau boleh jalan dulu didepan, aku akan melindungimu secara diam2, tak usah kuatir Kongsun Ki bakal datang, selanjutnya Ceng-hong akan kupandang sebagai adikku sendiri, sesuai dengan pesan cicinya sebelum ajal."

"Tapi Kongsun Ki memfitnah kau dihadapannya, sedikit banyak dia sudah dendam dan sirik kepadamu, masakah dia mau percaya kepada kau?"

"Hal itu sudah kujelaskan kepadanya."

"Siapa sih yang membunuh cicinya? Aku curiga akan Giok- bin-yau-hou, ipa benar?"

"Benar separo, Giok-bin-yau-hou kerja sama dengan Cihunya, yaitu Kongsun Ki." lalu dia ceritakan kematian Siang Pek-hong dulu, serta pesannya kepada Hong-lay-mo-li untuk melindungi adiknya supaya tidak tertipu oleh Kongsun Ki.

Baru sekarang Khing Ciau paham kenapa Hong-lay-mo-li bersikap begitu baik terhadap Siang Ceng-hong, memangnya dia seorang jujur, meski dalam hati dia tidak begitu menyukai Siang Ceng-hong, tapi beberapa kali Siang Ceng-hong pernah memberi bantuan dan pertolongan kepadanya betapapun dia merasa hutang budi dan bersimpatik akan pengalaman hidupnya yang harus dikasihani. Maka dia menerima ajakan Hong-lay-mo-li, kembali menjemput Siang Ceng-hong.

Dengan berlari-lari cepat sekali mereka sudah kembali ketempat semula, Tapi bayangan Siang Ceng-hong sudah tidak kelihatan, mungkin sudah masuk rumah, pintu besarnyapun tertutup rapat, Hong-lay-mo-li suruh Khing Ciau menggedor pintu,

Tapi setelah digedor beberapa kali, dari dalam tidak terdengar sahutan, Hong-lay-mo-li lantas berteriak "Ceng- moay, akulah yang kembali!" tetap tidak mendapat jawaban, Hong-lay-mo-li jadi heran, dua kali dia berteriak lagi, namun tidak ada reaksi dari dalam, terpaksa Hong-lay-mo-li terjang pintu dan melangkah masuk, tapi keadaan kosong melompong tak tampak seorangpun.

Sudah tentu maksud baik Hong-lay-mo-li menjadi kandas, rasa rikuh Khing Ciaupun hilang di-bayangi rasa kuatir, Siang Ceng-hong mengalami sesuatu, atau dia tidak mau bertemu lagi dengan Khing Ciau? Kemana dia?"

Kemanakah Siang Ceng-hong? Biarlah kami tuturkan lebih lanjut.

Setelah Hong-lay-mo-li pergi seorang diri dengan perasaan hancur Siang Ceng-hong kembali kekamar-nya, pikirannya tidak karuan, betapapun dia tidak mau percaya begitu saja apa yang dijelaskan oleh Hong-lay-mo-li mengenai kematian cicinya, pikirnya: "Aku harus menemukan seorang anggota keluarga kita yang lama untuk membuktikan kebenaran kata2nya." disaat benaknya ber-pikir2 inilah, kebetulan seorang lama dari Siang-keh-po benar2 datang mencari dia.

Orang ini adalah Bing Cau. Bing Cau adalah orang kepercayaan Kongsun Ki yang menjadi pembantu dekatnya didalam tulis menulis, Waktu di Siang-keh-po dulu dia berulang kali menjilat dan ber-muka2 dihadapan Siang Ceng- hong, pernah pula punya pikiran yang tidak senonoh, maka Siang Ceng-hong tidak pe-dulikan dia, belakangan dia memelet dayang peribadi Siang Ceng-hong, yaitu Bik Siau.

Biasanya Siang Ceng-hong membencinya dan merasa sebal melihat tampang-nya, kini dia mendapat laporan pelayannya, seketika dia mengerut kening, katanya: "Untuk apa keparat ini kemari?"

"Bing Ciau merengek2, katanya ada urusan penting hendak dilaporkan berhadapan dengan Siocia, Tapi, kalau Siocia tidak mau menerima kedatangannya, biar kusuruh dia enyah saja!"

Walau benci namun sekarang Siang Ceng hong perlu mencari tahu keadaan sesungguhnya di Siaug-keh-po, meski tahu orang kepercayaan Kongsun Ki tapi tiada halangan, mendengar nadanya bagaimana terhadap kematian cicinya, maka dia berkata: "Baiklah, suruh dia masuk menemui aku."

Begitu melangkah kedalam kamar, belum lagi Siang Ceng- hong membuka suara Bing Cau sudah unjuk muka menyengir yang harus dikasihani katanya: "Ji-siocia, maaf bila aku terpaksa membawa kabar buruk kepadamu, Cubo, dia, sudah meninggal."

"Hanya karena soal ini kau kemari hendak memberitahu kepadaku?" ujar Siang Ceng-hong tawar.

Melhat Siang Ceng-hong tidak begitu sedih seperti yang diduganya, Bing Cau mengunjuk rasa heran, katanya ter- sekat: "Ji-sio-cia, soal ini, jadi kau sudah tahu?"

"Tak usah peduIi aku sudah tahu atau belum? sekarang akulah yang tanya kau, kau harus menjawab sejujurnya!"

"Ya," Bing Cau mengiakan dengan meluruskan kedua tangannya, "Memang untuk urusan ini hamba kemari utuk memberi laporan selengkapnya kepada Sio-cia."

"Atas maksudmu sendiri atau ada orang suruh kau kemari?" "Memang ada orang yang suruh aku kemari, tapi umpama

tidak disuruh, aku memang ada maksud memberi laporan kepada Sioc-a." Siang Ceng-hong tertawa dingin, katanya: "Orang yang suruh kau sudah datang sendiri Baiklah, kini bicaralah sejujurnya kepadaku, dia..."

Tak nyana Bing Cau berteriak dengan suara ge-metar: "Ji- siocia, apa katamu, orang itu, dia, dia," mana mungkin dia kemari? Dia sudah terkubur didalam bumi!!"

Siang Ceng-hong kaget, "Siapa yang kau maksud? bukankah majikanmu yang suruh kau kemari?"

"Bukan, Cubolah yang suruh aku kemari!"

Lebih kejut Siang Ceng-hong mendengar jawaban ini, tanyanya: "Apa, ciciku yang suruh kau kemari?"

"Ya, sebelum ajal, dengan berlinang air mata cicimu berpesan kepadaku, suruh aku berusaha memberi kabar kepadamu..."

"Pesan apa yang diberikan Cici kepadamu?"

"Cubo suruh aku menceritakan kejadian dirinya dicelakai kepada kau!"

"Dicelakai oleh Siau-go-kan-kun atau oleh Hong-lay-mo-li?" Bing Cau geleng2 kepala, sahutnya: "Bukan, bukan!"

"Lalu siapa?"

"Aku, aku tidak berani mengatakan." "Kenapa tidak berani?"

"Kalau kukatakan kaupun tidak akan percaya." "Percaya tidak adalah urusanku, lekas katakan!"

Badan Bing Cau gemetar, seolah2 dia akhirnya nekad, katanya keras: "Pembunuh Cubo, bukan lain adalah Cujin (majikan) sendiri." lalu dengan tajam ia tatap muka Siang Ceng-hong Siang Ceng-hong tidak merasa kaget atau diluar dugaan oleh keterangan ini, tapi karena Bing Cau adalah tangan kanan Cihunya yang dipercaya, mau tidak mau Siang Ceng-hong melengak oleh berita ini, serta merta roman mukanya menampilkan rasa hambar.

Lekas Bing Cau menambahkan "Cubo kuatir kau tidak percaya, ada sebuah barang tanda kepercayaan yang diberikan kepadaku, silakan kau periksa." lalu dia keluarkan gelang batu jode itu, Gelang ini adalah tanda pertunangan Kongsun Ki kepada Siang Pek-hong dulu, biasanya dipakai Siang Pek-Hong, sudah tentu Siang Ceng-hong kenal baik barang ini, tanyanya setelah menyambut gelang itu: "Dalam keadaan bagaimana Ciciku berikan gelang ini kepadamu, apa pula yang dia katakan?"

Bing Cau mencucurkan beberapa tetes air mata, katanya sesenggukan sedih: "Disaat Cubo menjelang ajal beliau berikan gelang ini kepadaku, Katanya aku sudah putus hubungan dengan keparat itu em, maka gelang ini dia tidak mau pakai lagi, Maka dia tanggalkan gelang ini diberikan kepadaku untuk diberikan kepada kau sebagai tanda kepercayaan. Coba lihat diatas geleng itu masih ada noktah darah cicimu."

Kalau hanya gelang ini saja siang Ceng-hong belum tentu mau percaya, namun sebagai orang kepercayaan Kongsun Ki, dia menuduh dan membuktikan bahwa Kongsun Ki adalah pembunuh istri sendiri, meski rasa curiga mau tidak mau Siang Ceng-hong rada percaya juga. 

Diluar tahunya, Kongsun Ki membunuh istri memang benar, tapi apa yang dituturkan Bing Cau adalah bualan belaka, Disaat2 jiwanya hampir ajal, saking gusar Siang Pek-hong melemparkan gelang ini keluar jendela, kebetulan dijemput Bik Siau, dan dari Bik Siau diberikan kepada Bing Cau.

Setelah menyeka air mata Bing Cau berkata lebih lanjut: "Berkat kepercayaan Cubo kepada hamba, meski badan harus hancur, tak mengejar balas budi, akupun rela terjun kelautan api! Cubo minta aku harus kerja sama dengan kau berusaha menuntut balas, kini aku terima mendengar petunjuk Siocia saja."

"Nanti dulu! masih ada hal lain yang perlu kutanya." "Masa Jisiocia belum percaya? Lahirnya saja Kongsun Ki

patuh dan tunduk serta sayang kepada istrinya, hakikatnya dia punya pikiran jahat yang di-rancangnya sejak lama, yaitu hendak membunuh cicimu."

"Bukan hal ini yang kumaksud, Menurut katamu sebelum ajal kau berada didampingnya, kecuali kau, masih ada siapa lagi",

"Ada siapa lagi, hanya hamba saja seorang."

"Tapi aku malah dengar ada orang bilang, waktu itu diapun berada disamping ciciku, namun dia kok tidak menyinggung tentang dirimu."

"Yang kau maksudnya tentunya Hong-lay-mo-li?" "Benar. Menurut katanya sebelum cici ajal, hanya dia

seorang saja yang berada disampingnya." soalnya Hong-lay- mo-li ter-buru2 hendak mengejar Khing Ciau jadi belum menutur sejelasnya kepada Siang Ceng-hong bahwa empat pembantu tertua dari Siang-keh-po pada vvaktu itupun hadir.

Berputar biji mata Bing Cau, dia pura2 unjuk sikap gelisah dan takut2, katanya: "Ji-siocia, kau ditipu oleh Hong-lay-mo- li?"

"Ditipu apa? Bukankah kau bilang bukan Hong-lay-mo-li yang membunuh ciciku?"

"Tapi Mo-li ini punya maksud tujuan lain, Biarlah kututurkan seluruh kejadian itu, nanti kau akan paham apa tujuannya." "Baik, coba kau ceritakan!"

Memangnya Bing Cau sudah siapkan cerita bohong, katanya: "Soal ini perlu kutarik rada panjang sedikit Memang bukan Hong-lay-mo-li yang membunuh cicimu, tapi bukannya kematiannya itu tiada hubungannya dengan Hong lay-mo li. Hong lay-mo-li adalah Sumoay Kongsun Ki, lahirnya dia amat sayang dan cinta terhadap sang istri, bahwasanya hatinya berkiblat kepada Sumoaynya itu. Ji-siocia pasti kau tidak menduga akan hal ini?"

Watak Siang Pek-hong memang jelus, cemburuan, semasa hidupnya karena cemburu sang suami diam2 mencintai Sumoaynya entah berapa kali kedua suami istri ini perang mulut, Siang Ceng hong jelas akan hal ini.

Setelah mendengar cerita Bing Cau baru dia sadar dan mengerti, "O, aku tahu sudah, jadi lantaran perempuan iblis itu Kongsun Ki sampai tega hati membunuh istri sendiri, Tapi menurut apa yang kutahu Hong-lay-mo-li hakikatnya tidak menyukai Kongsun Ki!"

"Memangnya Cihumu sempit pikiran dan cupat pandangan saking ter-gila2, mana dia tahu bila sikap Sumoaynya belakangan berubah? Tapi lantaran cinta sepihak yang sudah ketelanjur ini terpaksa dia turun tangan keji kepada istri sendiri, Kukira menyesal pun dia sudah kasep."

"Belakangan bagaimana sikap Hong-lay-mo-li terhadapnya?

Katakanlah keadaan hari itu sejelasnya."

Maka mulailah Bing Ciau bercerita: "Malam itu, tiba2 aku terjaga oleh suara sempritan yang gencar, ter-sipu2 aku lari keluar, kulihat Nyo-toasiok dan Ho-toa-siok berempat ber-lari2 kearah loteng kediaman Cubo, Aku tahu pasti terjadi apa2, sebagai salah satu anggota Siang-keh-po yang sudah mendapat budi kebaikan disini, masa aku harus berpeluk tangan, segera aku ikut menyusul kesana, Tak nyana belum aku menyandak mereka, kulihat didepan em-bang didalam taman itu mereka kesamplok dengan majikan.

Kejadian yang aneh segera terjadi, aku tahu Nyo, Ho, Siau dan Li para paman itu adalah pembantu tua puluhan tahun di Siang-keh-po, tak nyana mendadak majikan justru turun tangan keji kepada mereka, aduh, mereka semua terluka!"

Memang Bing Cau pandai bercerita ditambahi gerak gerik dan mimik yang begitu menarik sehingga Siang Ceng-hong ketarik dan percaya akan ceritanya, Teriaknya: "Kejam benar Kongsun Ki keparat itu! Ai, mereka setia kepada cici, dan memanggilnya untuk membantu, tak nyana malah ketiban mala petaka! Lekas teruskan, bagaimana selanjutnya? Apakeh mereka mati oleh kekejian keparat itu?"

"Kejadian aneh beruntun terjadi pula, disaat2 gawat itu mendadak datang seorang penolong, meski mereka terluka, namun jiwanya berhasil ditolong."

"Siapa yang menolong mereka?" "Hong-lay-mo-li!"

Siang Ceng-hong sendiri pernah mendapat pertolongan Hong-lay-mo-li, katanya: "lblis ini memang berjiwa pendekar, melihat perbuatan jahat Suhengnya, segera dia turun tangan menolong keempat pembantu tua kita, hal ini tidak perlu dibuat heran."

"Ji-siocia, kalau kau berpikiran demikian, kurasa tidak benar!"

"Memangnya iblis perempuan itu punyak maksud2 tertentu

? Baik, teruskan, bagaimana akhirnya?"

Bing Cau menghela napas, katanya lebih lanjut: "Setelah Hong-lay-mo-li muncul, majikan terus dilabraknya sampai lari pontang panting dengan luka2 tertusuk pedang, Hong-lay-mo- li tidak mengejarnya, tapi malah lari keatas kediaman Cubo seorang diri!" "O, jadi dia benar2 pernah bertemu muka dengan ciciku." "Benar, tapi sebelum Cubo ajal hanya aku saja yang berada

disampingnya."

"Apa kaupun ikut naik keloteng mengikuti jejaknya?" "Tidak, peristiwa ini terlalu mendadak dan diluar dugaan,

aku sendiri tidak tahu seluk beluknya, mana berani sembarang

unjuk diri? Waktu majikan melukai keempat paman aku sembunyi dibelakang bukit2an, saking ketakutan aku sampai menjublek sekian lamanya setelah Hong-lay-mo-li pergi baru aku berani ke-luar."

"O, Hong-lay-mo-li hanya masuk sebentar terus berlalu lagi?"

"Kira2 setengah sulutan dupa, dengan tergesa2 Hong-lay- mo-li lantas berlalu, Dilihat gelagatnya dia pergi mengejar majikan."

"Jangan kau anggap keparat itu sebagai majikan lagi." "Baik. Sudah biasa hamba memanggil demikian harap Ji-

siocia maklum dan maaf."

"Apa yang kau lakukan setelah iblis perempuan itu pergi?" "Aku menduga pasti terjadi apa2, maka segera aku

memburu naik keatas loteng menjeguk Cubo, Tan-pa diundang hamba menerobos masuk kekamar Cubo, memang perbuatan yang tidak patut dan kurangajar, tapi waktu itu aku tidak banyak pikir lagi."

"Aku tidak persoalkan tetek bengek itu. Bagai-mana keadaan ciciku waktu itu?"

Kembali Bing Cau meneteskan air mata, katanya sesenggukan "Kasihan wajah Cubo sudah pucat seperti kertas, napasnya sudah kempas kempis, untung dia tahu selamanya aku amat setia terhadapnya, menaruh kepercayaan pula kepadaku. Begitu melihat aku masuk roma mukanya lantas unjuk senyum kegirangan, suruh aku duduK dipinggir pembaringan dikatakan tak usah susah payah menolongnya, aku cuma disuruh mendengar pesannya saja."

"Mungkin luka2 cici amat berat dan tahu ajalnya tidak lama lagi, maka dia perlu segera berpesan apa2. Tapi cara bagaimana dia bisa begitu percaya kepada Bing Cau? "demikian batin Siang Ceng-hong.

Tutur Bing Cau lebih lanjut: "Lalu Cubo ceritakan bagaimana dia dilukai oleh majikan, eh tidak, oleh keparat itu, beliau berpesan dua persoalan supaya aku menyampaikan kepadamu."

"Dua soal apa?"

"Pertama harus menuntut balas, Kedua supaya kau hati2, jangan tertipu oleh Hong-lay-mo-li!"

"O, cici kuatir aku tertipu? Dalam hal apa cici curiga terhadap Hong-lay-mo-li?"

"Menurut pesan Cubo, setelah Hong-lay-mo-li menemui dirinya, diapun berjanji hendak menuntutkan balas, tapi dia minta imbalan dengan ilmu pelajaran kedua ilmu beracun dari keluarga Siang kalian."

Siang Ceng-hong tidak menduga akan ambisi Hong-lay-mo- li ini, tanyanya: "Apa cici kena ditipunya men-tah2?"

"Cubo cukup cerdik dan berpengalaman beliau tahu hanya berpesan secara lisan begini saja kepadamu, masakah dia sendiri kena ditipunya? Waktu itu dia pura2 pingsan tak sadarkan diri, diatas badannya Hong-lay-mo-li tak berhasil menggeledah apa2, maka dia lantas ambil sempritan itu."

Rangkaian cerita Bing Cau ini ada kejadian yang sesungguhnya namun ada pula bualannya sendiri, karena campur aduk dan kedengarannya masuk diakal, sekaligus soal2 kecil yang menjadi perhatian dan kecurigaan Siang Ceng-hongpun sudah terjawab seluruhnya didalam ceritanya ini, tidak bisa tidak Siang Ceng-hong termakan oleh ceritanya ini. Bing Cau memang seorang licik licin dan culas, dalam ceritanya dia tidak perankan Hong-lay-mo-li sebagai orang yang tidak terlalu jahat, namun setelah Siang Ceng-hong mendengar ceritanya, serta merta timbul rasa dendam dan kesan buruk terhadapnya.

Namun masih ada bayangan curiga dalam benak Siang Ceng-hong, sesaat dia pandang Bing Cau, katanya tawar: "Bing Cau, selamanya Kongsun Ki pandang kau sebagai tangan kanan kepercayaannya, kenapa tidak kau bantu dia, malah kau berbakti kepada Cubo?"

Merah selebar muka Bing Cau, sikapnya dibuat kikuk dan main2, sahutnya gelagapan: "Hamba tidak berani bilang."

"Kenapa tidak berani?"

"Aku, aku, aku kuatir Jisiocia marah setelah mendengar penjelasanku aku, aku tidak berani menanggung akibatnya."

"Aku hanya ingini kejujuranmu dalam menjawab persoalan ini, aku pasti tidak akan salahkan kau, boleh kau katakan saja."

"Bagaimana isi hati hamba, tentunya Ji-siocia sudah tahu juga? Hamba laksana kodok buduk yang kepingin mencicipi daging bangau, Aku tahu angan2ku takkan terlaksana, namun bisa sedikit berbakti bagi orang yang kupuja, tidak sia2 hidupku ini, Apalagi Cubo begitu baik terhadapku, sebagai pembantu setia dari Siang-keh-po, aku hanya berbakti bagi kepentingan Ji-siocia. Untuk ini Cubopun ada tahu, Mohon siocia maklum dan tidak marah akan khayalan hamba ini, kalau Siocia marah, mau pukul, memaki atau mem- bunuhkupun bolehlah, aku terima dengan suka rela."

Merah malu muka Siang Ceng-hong, hatinya jeng-kel, gemes dan senang pula, Maklumlah baru saja dia menghadapi sikap dingin Khing Cau, disaat dia merasa malu dan dikendalikan derajatnya, disaat hatinya kecewa dan patah semangat Tak nyana datang laki lain yang pandang dirinya sebagai bidadari, kepincut dan ter-gila2 kepada dirinya, meski orang hanya seorang pembantu dalam keluarganya, betapapun sedikit menghibur dan angkat derajat serta meninggikan gengsinya.

Apa lagi asal usul Bing Cau bukan kelahiran keluarga rendah, ayahnya dulu adalah guru silat kenamaan, pernah menjadi kekasih San San lagi, sebaliknya San San dalam pandangan Siang Ceng-hong adalah duri tajam didepan matanya.

Disinilah letak keganjilan jiwa gadis yang baru mekar, Meski dia tidak mungkin mencintai Bing Cau, namun sikap dan pandangannya sudah berubah, tidak membencinya seperti dulu pula.

"Terima kasih akan kesetiaanmu terhadap kami kakak beradik, banyak kata2 yang tidak pantas kau ucapkan kepadaku, tapi akupun tidak akan menghu-kummu, tapi selanjutnya kularang kau sembarang buka mulut."

"Hamba tahu, Hamba hanya sekedar melimpahkan isi hati belaka."

"Kali ini kau berjasa besar bagi keluarga Siang kami, sebagai penulis Cihuku, memang kau tidak dipandang sebagai pembantu umumnya, selanjutnya tidak perlu kau membahasakan diri sebagai hamba, usiamu lebih tua dari aku, pantas kalau aku memanggilmu Bing-toako. Kami boleh berhadapan secara sejajar dan sederajat."

Keruan girang Bing Cau bukan kepalang, namun dia unjuk sikap ter-sipu2, katanya: "Bukankah menyiksa aku yang kecil? Hamba se-kali2 tidak berari." "Bing-toako, kalau kau sungkan dan menampik kebaikanku, berarti kau pandang dirimu orang luar. setelah merubah basa basi ini, masih ada pertanyaan yang perlu kuajukan."

"Baik, Nona, nona Siang."

"Bing-toako, bagaimana dengan keempat pembantu tua itu, apa masih berada di Siang-keh-po?"

"Mereka berempat dibawa semua oleh Hong-lay-mo-li." "Hah, dibawa pergi? Apa sih maksudnya? Memangnya

mereka sudi mendengar perintahnya?"

"Dia menolong mereka, bersumpah menuntut balas bagi kematian Cubo lagi, sudah tentu mereka tunduk. Apa tujuannya, aku sendiri tidak berani sembarang menduga."

Setelah berpikir akhirnya Siang Ceng-hong menjawab sendiri: "Dia mencari kau. Kongsun Ki pandang ilmu pelajaran silat itu amat berharga, masakah mandah dibiarkan dicuri orang lain? jikalau seseorang lain yang membual dan memberi pertolongan kepada para pembantu tua itu, tidak akan lepas dari ambisi-nya hendak mencaplok Siang-keh-po kita. Paling tidak dia ingin Siang-keh po dibawah kekuasaannya."

"Benar," timbrung Bing Cau, "Cubopun berpikir demikian." Siang Ceng-hong tenggelam dalam alam pikirannya Bing

Cau segera menambahkan "llmu silat iblis perempuan itu memang tinggi, demi mengincar Siang-keh-po dan ilmu silatnya, tidak segan2 dia menentang Suhengnya, untuk menuntut balas cicimu sebenarnya bisa pinjam tenaganya, Cuma imbalannya terlampau besar."

"Kita harus berusaha menuntut balas sendiri, kalau hutang budi sampai diperas dan diperalat oleh dia, celakalah kita akhirnya, Biar kuberitahu kepadamu, tadi perempuan iblis itu sudah kemari, dia minta aku ikut dia pergi."

"Nona Siang, kau ingin ikut dia." Seketika berkobar rasa cemburu Siang Ceng-hong, katanya kertak gigi: "Umpama aku harus mampus, se-kali2 aku tidak sudi ikut iblis perempuan itu. Bing Cau, kini hanya kau saja yang setia kepadaku, kau harus bantu aku mencari upaya menuntut sakit hati ini." 

Melihat Siang Ceng-hong sudah terjebak dalam muslihatnya, sungguh bersorak kegirangan hati Bing Cau, namun sikapnya tetap tenang2, sahutnya: "Kepandaianku rendah, aku kuatir tidak akan mampu bantu Siocia, untunglah Cubo sudah memberi petunjuk, kebetulan pula sekarang aku sudah memperoleh cara untuk menuntut balas."

"Kau punya cara apa Bing-toako, lekas katakan!"

Dari kantong bajunya Bing Cau merogoh keluar sejilid buku tipis terus diangsurkan kepada Siang Ceng-hong, katanya: "Nona Siang, coba kau lihat buku apa ini?"

Begitu Siang Ceng-hong membuka halaman pertama, seketika dia berjingkrak, teriaknya: "lnilah tulisan ayahku."

"Coba kau lihat halaman lain." kata Bing Cau pula.

Setelah membaca beberapa lembar, semakin kaget dan bingung Siang Ceng-hong dibuatnya, jari tangannya gemetar, hampir saja dia tidak kuat memegangi buku itu. Batinnya: "Apakah ini pelajaran kedua ilmu beracun milik ayah itu?" ternyata buku pelajaran ini biasanya disimpan oleh cicinya, selamanya belum pernah Siang Ceng-hong melihatnya.

Disaat Siang Ceng-hong bingung dan curiga, Beng Cau sudah menjelaskan "Ji-sio-cia, itulah buku pelajaran ilmu beracun milik ayahmu, tentunya kaupun tahu? Untuk menuntut balas sakit hati cicimu, tergatung kepada buku ini,"

Bahwasanya Siang Ceng-hong tidak tahu apakah buku tulisan ini tulen atau palsu, cuma dia kenal betul gaya tulisan ayahnya, catatan yang teramat didalam buku memang benar adalah pelajaran Hoa-hiat-to dan Hu-kut-ciang, maka dia percaya begitu saja, mana terpikir olehnya bahwa diam2 Kongsun Ki memang sekongkol dengan Bing Cau menipunya dengan sejilid buku lain yang ditipunya dari yang asli.

Kejut dan girang Siang CeTig-hong tanyanya: "Darimana kau dapat buku pelajaran ilmu beracun ini?"

"Cubo ada bilang bahwa buku pelajaran kedua ilmu beracun ini semula sudah direbut oleh Kongsun Ki, namun dia tidak paham ajaran Lwe'kang asli dari keluarga Siang, paling hanya berlatih mencapai tingkat kelima, namun tingkah itu sudah cukup menjagoi Bulim tanpa tandingan Maka untuk menindas dan me-nundukan dia, kecuali salah satu anggota keluarga Siangpun meyakinkan ilmu yang sama sampai tingkat kesepuluh, dengan racun menggempur racun, pasti dapat menamatkan riwayatnya, setelah tahu hal ini dengan pura2 aku tetap setia kepada majikan dan mengikuti langkah Kongsun Ki si keparat itu."

"O, jadi kau berhasil mencuri dari Kongsun Ki?"

"Untung keparat itu tidak curiga kepadaku, akhirnya aku berhasil Segera aku melarikan diri."

"Bing-toako dengan menempuh bahaya kau berhasil mencuri balik buku pelajaran silat keluarga Siang kita, Budi dan kebaikanmu Ini, sukalah kau terima hormatku,"

Bing Cau pura2 ter-sipu2, serunya: "lni, ini, bukankah merepotkan hamba?" setelah membalas hormat, dia menambahkan "Nona Siang, dengan mempelajari ilmu yang termuat didalam buku pelajaran ini, kukira kita tidak perlu minta bantuan orang luar untuk menuntut balas."

"Ayah pernah berpesan sebelum mangkat, melarang kami mempelajari kedua ilmu ini. Ai, urusan sudah berkepanjangan, demi sakit hati cici, terpaksa... terpaksa..." Belum habis kata2nya tlba2 dilihatnya Bing Cau sudah berlutut dihadapannya, keruan Siang Ceng-hong kaget setengah mati, lekas dia memapahnya bangun, katanya: "Bing-toako, apa2an perbuatanmu ini."

"Ji-siocia aku setia dan bersungguh hati terhadapmu entah sukakah kau pandang aku sebagai orang sendiri?"

"Susah payah kau bekerja demi kepentingan kami, sudah tentu aku percaya penuh dan tiada pertimbangan lain, sedikitpun aku tidak pandang kau sebagai orang luar."

"Asal Ji-siocia percaya kepada hamba, hambapun takkan sangsi lagi, biarlah aku memberanikan diri bicara terus terang, "demkian kata Bing Cau dengan sikap yang harus dikasihani "Betapa hebat kedua ilmu ini, kabarnya majikan tua dulu meninggal karena Cau-hwe-jip-mo waktu latihan kedua ilmu itu siocia jelas tidak leluasa dan berbahaya latihan ilmu ini, kalau diidzinkan biar hamba saja yang mencoba dan menempuh bahaya, syukur kalau berhasil, akan kubunuh keparat itu. Tentunya Siocia tidak anggap bahwa hamba hendak mencuri belajar kedua ilmu berbisa itu?"

Lama Siang Ceng-hong terlongong, maklumlah Bing Cau serahkan dulu buku pelajaran itu, baru minta idzin untuk wakili si nona melatih ilmu beracun yang berbahaya ini, sudah tentu Siang Ceng-hong tidak akan curiga dan sangsi, bahwa orang sengaja hendak menipunya, katanya kemudian dengan menggenggam kencang tangan Bing Cau: "Bing-toako, kau begini baik, tak tahu bagaimana aku harus membalas budimu, Perlu kau ketahui menjelang ajal ayah beliau berhasil menciptakan ajaran semacam Lwekang tinggi khusus untuk mengatasi kegagalan dalam latihan kedua ilmu beracun itu.

Cuma Lwekang ini manjur atau tidak, karena belum pernah dijajal, aku sendiripun tidak berani memastikan namun setelah latihan Lwekang tinggi ini, proses latihan kedua ilmu beracun itu akan jauh lebih mudah dan lebih cepat berhasil Aku sendiri tidak berani melanggar pantangan ayah, terpaksa biar kau saja yang wakili aku."

"Terima kasih banyak akan kepercayaan Siocia kepadaku, meski terjun kelautan api atau menerjang gunung golok, aku tidak akan gentar lagi."

"Bing Toako, selanjutnya jangan kau terlalu merendahkan dirimu, sejak kini aku pandang kau sebagai kakakku, jikalau bisa menuntut balas sakit hati cici, aku pasti tidak akan sia2kan harapanmu."

Keruan berdenyut jantung Bing Cau, hampir saja dia tak kuasa menahan gejolak hatinya hendak mem-beber duduk perkara yang sebenarnya. Tapi mengingat kebaikan Kong-sun Ki, terpaksa dia abaikan maksud baik Siang Ceng-hong.

Ternyata kedatangan Bing Cau kali ini sebelumnya memang sudah bersekongkol dengan Kongsun Ki untuk menipu Siang Ceng-hong, sebagai bangkotan bangsat yang licik dan licin, sebelumnya Kongsun Ki sudah mengatur dua tipu daya, pertama dia sendiri yang berperan melakukan muslihatnya, namun gagal, terpaksa dia memperalat Bing Cau, melaksanakan tipu dayanya yang kedua.

Dasar cerdik pandai, setelah memperoleh buku pelajaran kedua ilmu beracun itu, dengan tekun dia menyalin duplikat sejilid buku yang lain yang bentuk dan gaya tulisannya dia tiru sedemikian rupa sehingga tidak bisa dibedakan mana yang palsu dan yang tulen, dengan buku tiruan inilah dia suruh Bing Cau menemui Siang Ceng-hong untuk menipunya.

Didalam jiplakan yang tiruan ini ada juga tulisan sesungguhnya, sehingga Siang Ceng-hong tidak curiga. Dengan memberikan buku tiruan ini kepada Bing Cau, sudah tentu Kongsun Ki kuatir bila Bing Cau mengkhianati dirinya, bila Bing Cau berlatih menurut apa yang termuat didalam buku tiruan ini, didalam tiga bulan pasti Cau-hwe-jip-mo. Namun demikian Kongsun Ki masih belum lega hati, sebelum Bing Cau berangkat dia gunakan Hoat-hiat-to menggablok punggung Bing Cau tepat pada jalan darah besarnya, dalam jangka tiga bulan bila Bing Cau tidak kembali memberi laporan, kadar racun bakal bekerja dan tamatlah riwayatnya.

Bing Cau sendiri mempunyai perhitungan pula, sejak putus hubungan dengan San San, tidak mengoreksi kesalahan sendiri dia malah dendam kepada Khing Ciau, untuk menuntut balas insaf bukan tandingan lawan, Kongsun Ki tahu akan isi hatinya, maka diberikan janji bila dia menunaikan tugas dengan baik, kelak akan diangkat jadi murid. Oleh karena itu Bing Cau semakin setia dan mati kutu, apa lagi Kongsun Ki sudah menabas dirinya dengan Hoa-hiat-to.

Apa yang diceritakan kepada Siang Ceng-hong adalah cerita yang sudah dikarang dan direncanakan dulu dengan Kongsun Ki. Tahu bahwa perbuatan jahatnya tidak dapat mengelabui Siang Ceng-hong pula, maka dihadapan Siang Ceng-hong, Bing Cau disuruh memaki dirinya sebagai keparat pembunuh, muslihatnya ternyata berhasil menggaet kepercayaan Siang Ceng-hong.

Menurut rencana setelah Bing Cau berhasil menipu ajaran Lwekang tingkat tinggi itu lantas dia persembahkan kepada Kongsun Ki. Siang Ceng-hong sendiri tidak pernah latihan kedua ilmu beracun itu, Bing Caupun hanya pura2 latihan saja dihadapan-nya, atau boleh juga bilang otaknya memang tumpul selama ini belum mendapat kemajuan, maklumlah betapa tinggi kedua ilmu beracun ini, dalam dua tiga bulan belum nampak hasilnya memang tidak perlu dibuat heran.

Sudah tentu Bing Cau amat girang mendapat janji Siang Ceng-hong, katanya: "Hong-moay, iblis perempuan itu bilang mau kembali, lekaslah kita tinggalkan tempat ini saja."

Siang Ceng-hong tertawa lebar, katanya: "Bing-toako, apa yang kau katakan, selanjutnya aku dengar petunjukmu, Baik, mari kita berangkat!" sebagai orang yang sudah terombang ambing laksana perahu ditengah lautan teduh tiada pegangan dan tiada sandaran lagi, terpaksa Siang Ceng-hong percayakan dirinya kepada Bing Cau begitu saja, sudah tentu tidak dia sadari bahwa nasib dirinya selanjutnya sudah dia pasrahkan kepada Bing Cau mentah2.

Setelah membenahi barang2 seperlunya dengan kedua pelayannya Siang Ceng-hong ikut Bing Cau pergi.

Sudah tentu waktu Hong-lay-mo-li dan Khing Cau menyusul balik, rumah ini sudah kosong, Diam2 Hong-lay-mo-li mengeluh, katanya kuatir: "Jikalau Ceng-hong terjatuh ketangan Cihunya, bagaimana aku harus memberi pertanggungan jawab kepada cicinya dialam baka?"

Bing Cau ajak Siang Ceng hong menempuh perjalanan lewat jalan kecil dan sudah jauh, Hong-lay-mo-li mencari ubek2an lewat jalan besar tentu sia2 saja usahanya, Terpaksa mereka menduga2 saja, urusan penting lainnya sedang menunggu penyelesaian, tiada senggang mencari jejak Siang Ceng-hong lagi. Maka akhirnya mereka berkeputusan pergi ke Lingan lebih dulu.

Sepanjang jalan Hong-lay-mo-li berkesempatan memberi penjelasan kepada Kinng Ciau mengenai peristiwa yang dialaminya, Begitulah tanpa menemui kesulitan lagi, hari ketiga menjelang magrib mereka sudah tiba di Kik-sia-nia.

Bukit disini tidak begitu tinggi, namun pepohonan disini kebanyakan adalah kembang Tho, pemandangan danau indah permai berhawa sejuk lagi, begitulah sambil menempuh perjalanan mereka mengobrol sambil menikmati panorama.

Sekonyong2 dikesunyian magrib diatas pegunungan ini, lapat2 mereka mendengar benturan senjata keras dari balik bukit sebelah depan sana, bertaut alis Hong-lay-mo-li, katanya: "Tokoh Kangouw dari mana yang sedang bertarung disini, bikin rusak panorama permai disini, mari kita tengok kesana." dengan mengembangkan Ginkang secara diam2 mereka menembus hutan terus menuju kebukit didepan itu, setelah dekat baru mereka bisa melihat jelas. Seorang laki2 setengah umur berpakaian sastrawan sedang bertempur melawan tiga laki2 kekar dengan sengit

Laki2 sekolahan itu menggunakan senjata potlot baja, ketiga lawannya menggunakan alat senjata yang sama, tangan kiri pegang golok, tangan kanan menyekal sebuah gelang baja, perawakan dan bentuk muka mereka hampir mirip satu sama lain.

Laki2 sekolahan itu mainkan sepasang potlotnya dengan ilmu tutuk yang hebat dan lihay, Tapi ketiga Iawannyapun tidak lemah, gelang2 baja ditangan kanan mereka justru senjata peranti mengancing potlot lawan, bila potlot sampai terkacip oleh gelang lawan, pasti akan tertarik lepas dari cekalan, sementara golok ditangan kiri dibuat membela diri disamping menyerang bila ada kesempatan, tiba2 menerobos keluar dari tengah2 gelang, tahu2 sudah membacok pula dari arah lain, gerak dan serangan ketiganya dapat kerja sama dengan rapi dan ketat, jarang terlihat kepandaian macam ini di Bulim.

Selintas pandang Hong-lay-mo-li dapat menilai, bila satu lawan satu ketiga laki2 itu terang bukan tandingan laki2 sekolahan, namun dengan gabungan dan kerja sama mereka yang ketat dan lihay itu, laki2 sekolahan lambat laun terdesak dibawah angin.

"Aneh benar senjata ketiga orang itu, Liulihiap kau tahu asal usul mereka?"

"Ketiga orang itu aku tidak kenal, laki2 sekolahan itu aku malah sudah kenal."

"Siapakah dia?" "Dia itulah Thi-pit-su-seng Bun Yat-hoan."

Dalam kalangan Bulim di Kanglam nama Bun Yat-hoan amat terkenal, Khing Ciau pernah dengar nama besarnya, katanya: "Kabarnya orang ini termasuk golongan pendekar di bilangan Kanglam ini, perlukah kita membantunya ?"

"Biarkan dulu, Kita bertindak melihat gelagat." sahut Hong- lay-mo-li. Mereka mengintip dari balik pohon.

Tiba2 terdengar Bun Yat-hoan membentak: "Sat-lotoa, kau keliru mencari aku, memang ada persengketaan apa aku dengan kalian bersaudara?"

Laki2 yang tertua segera tertawa dingin, ejeknya: "Siapa suruh kau menolak kebaikanku? Siau-go-kan-kun menyelundup ke Kanglam, aku tahu kau sahabat baiknya, tak mau bantu aku tentu kau membantu dia, hm, hm, memangnya aku membiarkan kau pergi memberi kabar kepada dia?"

Bun Yat-hoan ter-bahak2, katanya: "Sat-lotoa, kau pandang apa aku orang sbe Bun ini? Memangnya aku Bun Yat-hoan seorang rendah yang sudi menjual kawan? He-he, memang aku ingin merasakan arak hukuman kalian!" tiba2 gerakan sepasang potlotnya diperkencang, potlot dikiri melintang dan digariskan miring, sementara potlot kanan menusuk kedepan, se-konyong2 kedua potlot menggaris sebuah bundaran lagi, maka terdengarlah suara benturan nyaring yang memekakkan telinga, ternyata didalam satu jurus, beruntun dia gempur ketiga lawannya, sehingga orang kedua dan ketiga didesaknya mundur, sementara potlot ditangan kanan dalam sejurus mengincar tujuh Hiat-to dibadan Sat-lotoa.

Diam2 Hong-lay-mo-li memuji dalam hati: "Thi-pit-su-seng memang tidak bernama kosong, kepandaian ilmu tutuknya cukup setanding dengan Bu-lim-thian-kiau. Dalam jaman ini yang mampu mengalahkan kepandaian ilmu tutuknya ini mungkin hanya ayahku (Liu Goan-ka) saja." Berkata Sat-lotoa sinis: "Hebat benar ilmu tutuk-mu! Orang she Bun, agaknya kau lebih senang arak hukuman dan mengukur kepandaian kami, baik, kitapun takkan sungkan lagi kepadamu." dengan siulan panjang dia memberi aba2, serempak Sat-loji dan Sat-losam merangsak maju bersama, golok mereka menerobos dari gelang bajanya, mereka menyerang dengan golok sementara gelang baja untuk perisai, bergebrak dalam jarak dekat, rangsakan golok mereka laksana ular beracun menjulurkan lidah, yang diincar adalah kedua ketiak Bun Yat-hoan.

Bun Yat-hoan tahu diantara ketiga lawannya ini, Sat-lotoa berkepandaian paling tinggi, maka dia tidak berani menghadapi sepenuh hati akan serangan dari kedua sayap ini, sebelah potlotnya melintang melindungi badan, badannya tiba2 berputar, sekaligus dia tangkis kedua golok musuh, belum lagi badannya berhenti tahu2 kakinya sudah menggeser kedudukan berada di hadapan Sat-lotoa, dengan sejurus Li- khong-sia-ciok (Li Khong memanah batu), potlot kanan meluncur lempang seperti anak panah menusuk kedada Sat- lotoa. Se-konyong2 Sat-lotoa malah menghardik: "Lepaskan" gelang bajanya tiba2 dia timpukan,

Khong Ciau keheranan melihat serangan lucu mi, tanyanya berbisik: "Lho, koh malah senjata orang she Sat yang lepas tangan?"

Belum habis ia berkata, tahu2 Hong-lay-mo-li sudah menjerit: "Celaka!" sebat sekali dia melompat keluar dari tempat sembunyinya,

Tampak gelang baja yang ditimpukan Sat-lotoa itu sudah membelit potlot kanan Bun Yat-hoan, berputar seperti roda besi sampai berbunyi keresekan, kembang apipun berpercik.

Dalam waktu yang sama serempak golok pendek Loji dan Losam sudah menyerang tiba dari kanan kiri pula sementara golok Sat-lotoa membelah kedada! Walau Lwekang Lo-jl dan lo-sam rada rendah, namun kepandaian mereka cukup lihay, bagaimana juga potlot ditangan kiri Bun Yat-hoan harus melayani serangan ini, paling sedikit setengah tenaganya terpental. Oleh karena itu setengah tenaganya lagi ditangan kanan susah menahan tekanan besar dari pusaran gelang baja lawan yang dahsyat Kalau dia tidak melepaskan diri dari lingkaran gelang, tangan kanan bukan mustahil bisa tertindas remuk.

Apa boleh buat, segera dia berkeputusan lekas dia lepas pegangan kelima jari-nya, "Tang" dengan membelit potlot baja dan gelang masih berputar kencang itu mencelat tinggi ketengah udara.

Ilmu tutuk dengan sepasang potlot baja Bun Yat-hoan bukan saja merupakan kepandaian tunggalnya, ilmu Ginkangnyapun tinggi sekali, disaat gawat itu, se-konyong2 tungkak kakinya berputar, laksana anak panah tiba2 badannya melejit mundur, setelah melemparkan sebatang potlotnya, berarti sudah melepaskan beban yang menindih dirinya, dengan sendiri kekuatan ditangan kiri pada potlotnya menjadi kuat, membarengi gerakan mundur itu, potlotnya menggaris dengan kuat, kontan golok pendek Sat-lo-ji dan Sat-losam ter- ketuk jatuh, celaka lagi pundak Sat-losampun tergores luka, darah merembes membasahi pakaian.

Sat-lotoa membentak: "Orang she Bun, lari kemana?"

Bun Yat-hoan ketinggalan sebatang potlot, dia insaf dirinya terang bukan tandingan Sat-si-sam-hiong, diam2 hatinya mengeluh.

Kedatangan Hong-lay-mo-li justru tepat pada waktunya, begitu dia menerobos keluar hutan, kebetulan gelang dan potlot yang terbang itu memapak kedatangannya, sigap sekali kebutnya terkembang, sekali kebut dan tarik dia membelit potlot lalu gelang diketuknya jatuh dengan gagang kebutnya, sementara badan tetap meluncur kedepan turun diantara Sat- lotoa dan Bun Yat-hoan. 
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 17"

Post a Comment

close